1

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Latar belakang daripada praktikum bilangan Reynold ini agar mahasiswa mampu mengerti maksud dari percobaan tentang Bilangan Reynold, dimana perhitungan tentang Bilangan Reynold sangat diperlukan dalam industri, dan juga agar mahasiswa mengerti karaktristik suatu aliran yang mengalir dalam suatu pipa . Prinsip bilangan Reynold dapat juga digunakan dalam sistem pendingin di unit ”cooling water”. Dimana apabila Bilangan Reynold telah dihitung maka kita dapat mengetahui aliran fluida melalui pipa, saluran, peralatan proses, proses agitasi dalam dengan turbulensi hasil pengadukan akan menaikkan energi aktivasi dari reaktan sehingga kecepatan reaksi akan semakin meningkat. Fluida dapat mengalir di dalam pipa atau dalam saluran menurut dua cara yang berlainan. Pada rate aliran rendah, penurunan tekanan di dalam fluida bertambah secara langsung menurut kecepatan fluida sedangkan pada rate tinggi pertambahan itu jauh lebih cepat lagi. Perbedaan antara kedua jenis itu akan diterangkan lebih jelas dalam bab selanjutnya. I.2 Perumusan masalah Perumusan masalah pada percobaan tentang Bilangan Reynold ini adalah : 1. Bagaimana cara mengetahui karakteristik aliran transisi, turbulen, dan laminer dari fluida yang mengalir di dalam pipa lurus. 2. Bagaimana cara menetapkan bilangan Reynold untuk aliran laminer dan turbulen dengan cara mengatur perubahan kecepatan alir fluida di dalam pipa. I.3 Tujuan Percobaan tentang Bilangan Reynolds ini bertujuan untuk : 1. Mempelajari karakteristik aliran laminar, transisi, dan turbulen dari fluida yang mengalir di dalam pipa lurus.

2

2. Menetapkan bilangan Reynold untuk aliran laminer dan turbulen dengan cara mengatur perubahan kecepatan alir fluida di dalam pipa. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Dasar Teori Suatu fluida dapat mengalir melalui pipa dengan cara yang berbeda, yaitu dibedakan menjadi aliran laminar, aliran transisi dan aliran turbulen yang bergantung pada kecepatan aliran fluida. Pada kecepatan fluida yang relatif rendah fluida mengalir tanpa adanya pencampuran secara lateral atau tidak terjadi arus eddy. Aliran ini dinamakan aliran laminar. Sedangkan aliran turbulen merupakan aliran fluida dengan kecepatan yang lebih tinggi, sehingga terjadi arus eddy yang mengakibatkan terjadinya pencampuran secara lateral. Aliran transisi merupakan suatu aliran yang terjadi akibat pengaruh dari aliran laminar juga aliran turbulen. (Geankoplis, 1997) Telah ditemukan secara percobaan untuk banyak fluida bahwa gaya F (Newton) Berbanding lurus dengan kecepatan terhadap luas penampang Pada pola aliran laminar berlaku Hukun Newton tentang viskositas yang dirumuskan sebagai berikut: F ∆v = − µ. z ………………………………………………….(1) A ∆y

Dimana: F adalah gaya (Newton) A adalah luas area pelat yang digunakan (m2) µ adalah viskositas cairan (Pa.s) ∆v adalah kecepatan aliran (m/s) ∆y adalah jarak (m)

3

Gerakan fluida pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu vikous dan nonviskous. Fluida nonviskous, yaitu dengan viskositas sama denagn nol (µ =0) tidak ada dalam kenyataan. Namun banyak permasalahan dimana asumsi µ = 0 akan menyederhanakan analisa permasalahan. (Mc Cabe, 1993) Fluida yang mengikuti Hukum Newton tentang viskositas dinamakan Fluida Newtonian. Dalam Fluida Newtonian, kecepatan bergeser (shear rate, dvz/dy) berbanding lurus dengan gaya geser (shear strees, τyz). Maksudnya viskositas tersebut konstan dan tidak bergantung pada kecepatan bergesrnya. Konstanta perbandingan ini dikenal dengan viskositas, yang didefinisikan dengan persamaan: dvz ………………………………………………….(2) dy

τ yz = µ .

Dengan: τ adalah gaya geser F/A (N/m2) µ adalah viskositas absolut fluida (Pa.s) Pada fluida non-Newtonian tidak terdapat hubungan yang linier antara kecepatan berger dan gaya gesernya. Fluida ini dapat dibagi ke dalam dua bagian berdasarkan pada sifat shear strees atau shear ratenya, yaitu fluida yang shear streesnya tidak bergantung pada pada waktu (time-independent) dan fluida yang shear streesnya bergantung pada waktu (time-dependent).
Bingham plastic Pseudoplastic Shear Strees ( τ ) Newtonian Dilatant

0
Gradien Kecepatan (du/dy)

Gambar II.1 Grafik tegangan-geser vs gradien-kecepatan pada fluida Newton dan non-Newton.

4

(Mc Cabe, 1993) Viskositas dalam fluida Newtonian tergantung pada temperatur dan tekanan, walaupun nilainya tidak besar. Viskositas gas naik terhadap temperatur menurut pendekatan persamaan:
n

µ  T  =  ………………………………………………...(3) µ o  492 
Dimana: µ adalah viskositas pada temperatur absolut T (oR) µo adalah viskositas pada 32o F atau 492o R n adalah konstanta Perbandingan antara viskositas absolut dengan densitas fluida (µ/ρ), sering digunakan. Properti ini disebut viskositas kinematik yang diekpresikan dalam satuan Stoke. Ada beberapa fenomena yang dapat diamati dari adanya viskositas suatu fluida. Salah satunya adalah tipe aliran laminar dan aliran turbulent. (Mc Cabe, 1993) Perbedaan antara kedua jenis aliran pertama kali ditunjukkan dalam percobaan klasik dari Osborne Reynolds, yang dilaporkan pada tahun 1883. Percobaannya ditunjukkan pada gambar I.2.1. Air dialirkan secara steady state melalui pipa transparant dengan kecepatan aliran dikontrol dengan valve pada akhir pipa. Aliran steady air yang diberi zat warna yang baik dimasukkan dari jet seperti pada gambar dan pola aliran diamati. Pada laju aliran air yang rendah, pola zatwarna beraturan dan membentuk garis atau aliran tunggal. Tidak ada pencampuran lateral dari fluida dan fluida mengalir pada garis aliran . Dengan menempatkan tambahan jet atau point lain dalam luasan pipa, terlihat bahwa tidak ada pencampuran di setiap bagian dari tabung dan fluida mengalir pada garis lurus paralel. Tipe aliran ini disebut aliran laminar atau viskos. Bila laju aliran air ditingkatkan, akan dicapai suatu kecepatan yang disebut kecepatan kritis, dimana benang-berwarna itu menjadi bergelombang dan berangsur-angsur hilang karena zat warna itu tersebar secara seragam di dalam keseluruhan penampang aliran air.

5

Perilaku air-berwarna itu menunjukkan bahwa air itu tidak lagi mengalir menurut gerakan laminar, tetapi bergerak ke mana-mana dalam bentuk aliran silang dan pusaran. Gerakan jenis ini dinamakan aliran turbulent. (Mc Cabe, 1993) Transisi dari aliran laminar ke aliran turbulen dalam pipa selain tergantung pada kecepatan, juga tergantung pada densitas fluida, viskositas fluida, serta diameter pipa. Jika variabel-variabel tersebut dikombinasikan maka akan diperoleh suatu bilangan Reynold yang tidak berdimensi, sebagai berikut : Nre = ρ.D. v μ

Dimana : D

Nre = v µ ρ

= = = =

bilangan Reynold kecepatan fluida viskositas fluida densitas fluida

diameter pipa

(Geankoplis, 1997) Hasil eksperimen menunjukkan bahwa perubahan dari aliran laminar menuju turbulen terjadi pada range bilangan Reynold yang luas. Untuk aliran laminar biasanya ditunjukkan dengan harga bilangan Reynold yang kurang dari 2100. Sedangkan nilai di atas 4000, aliran akan menjadi turbulen, kecuali dalam kasus khusus. Diantara 2100 – 4000 merupakan aliran gabungan antara kedua profil aliran yaitu laminer dan turbulen yang disebut aliran transisi.
Air Zat warna

(a)

6

Air

Zat warna

(b)

Air

Zat warna

(c) Gambar I.2 Profil aliran zat warna dalam percobaan Reynolds : (a) aliran laminer, (b) aliran transisi, ( c ) aliran turbulent Agar zat warna dapat digunakan dalam mengamati tipe aliran, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain: 1. Mudah diamati (warnanya kontras dengan fluida yang diukur) 2. Tidak bereaksi dengan fluida 3. Dapat bercampur / larut dengan fluida (Geankoplis,1997) Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fluida Newtonian, transisi dari aliran laminer ke aliran turbulent bukan hanya fungsi dari kecepatan, tetapi juga fungsi dari densitas fluida, viskositas fluida dan juga diameter pipa. Variabelvariabel ini dikombinasikan menjadi Bilangan Reynold, yang tidak berdimensi. Instabilitas aliran yang menghasilkan aliran turbulent ditentukan oleh perbandingan kinetik atau gaya inersia terhadap gaya viskositas dalam aliran fluida. Gaya inersia adalah proporsional terhadap ρ.v2 dan gaya viskositas proporsional terhadap µ.v/D, dan perbandingan (ρ.v2)/( µ.v/D) adalah Bilangan Reynold.

7

Untuk pipa circular yang lurus, ketika nilai dari Bilangan Reynold kurang dari 2100, alirannya selalu laminer. Ketika nilainya diatas 4000, alirannya akan turbulent, kecuali untuk kasus yang amat khusus. Diantara 2100 dan 4000 disebut daerah transisi, alirannya bisa viskous ataupun turbulent, tergantung pada detail peralatannya. (Mc Cabe, 1993) Aliran turbulent dapat dihasilkan tidak hanya pada air yang mengalir dalam pipa. Secara umum, hal ini bisa dihasilkan baik dari hasil kontak antara aliran dengan perbatasan yang padat, yang disebut turbulensi dinding (wall turbulance) atau hasil kontak antara dua lapisan fluida yang bergerak dengan kecepatan yang berbeda, yang disebut turbulensi bebas (free turbulance). Turbulensi dinding terjadi ketika fluida mengalir dalam saluran yang tertutup ataupun terbuka, atau melalui benda padat yang tercelup. Turbulensi bebas terjadi ketika suatu aliran keluar dari salurannya menuju tempat dimana terdapat fluida yang stagnant, atau ketika lapisan batas memisah dari dinding padat dan mengalir melalui fluida yang lebih pekat. Turbulensi bebas ini sangat penting dalam proses pengadukan. (Mc Cabe, 1993) Aliran turbulent mengandung banyak pusaran kecil (Eddies) dalam berbagai ukuran di dalam aliran. Eddies yang berukuran besar terbentuk secara terus menerus, pecah menjadi ukuran yang lebih kecil. Dan akhirnya eddies yang terkecil dilenyapkan oleh geseran viskous (viscous shear). Untuk fluida non-Newtonian tidak mempunyai nilai viskositas yang tunggal yang tidak tergantung pada shear rate. Definisi Bilangan Reynold untuk fluida sembarang , secara umum digunakan definisi dari Power Law, yaitu:
n'

N Re, n = 2

3− n'

n' 2− n'  n'  D .ρ .v ……………………………(4)   K'  3n'+1 

Dimana: D = Diameter pipa (m) V = Kecepatan rata-rata di dalam pipa (m/s) n’ = indeks sifat aliran

8

ρ = Densitas fluida (kg/m3) K’= Indeks koreksi aliran (kg/m.s2-n’) Untuk aliran transisi: (4n'+2)(5n'+3) ………………………………...(5) 3(3n'+1) 2

N Re, nc = 2100

Pada percobaan ini digunakan pipa kaca pada posisi horizontal dengan pengontrol jenis aliran fluida yang menggunakan zat warna sebagai pendeteksinya. Percobaan ini dilakukan dengan mengalirkan air menuju pengontrol laju aliran yaitu valve disertai dengan mengalirkan zat warna, sehingga propil aliran dapat teramati pada setiap variabel kecepatan. Untuk fluida dengan aliran rendah , aliran zat warna cenderung membentuk garis lurus , begitu seterusnya hingga zat warna akan tersebar merata pada fluida yang berkecepatan tinggi. Kecepatan dimana terjadi perubahan tipe aliran disebut kecepatan kritikal. Asumsi yang digunakan pada percobaan ini antara lain; kecepatan aliran fluida tetap (sistem steady state), jenis fluida yang digunakan adalah fluida Newtonian , tidak terjadi perubahan suhu. (Geankoplis, 1997) I.3 Aplikasi Industri Prinsip bilangan Reynold dapat digunakan di Industri sebagai contoh pada sistem pendingin di unit ”cooling water”. Air sumur dipompa masuk ke ”cooling water basin”. Discharge dari ”cooling water basin” dilewatkan pada ”sand filter”, kotoran akan di blowdown sedangkan filtratnya dikembalikan ke ”cooling tower”. Air pendingin (cooling water supply) yang telah digunakan oleh user (misalnya heat exchanger) masuk ke cooling tower pada temperatur 45 0C. Aliran air yang akan masuk ke dalam cooling tower dibuat turbulen, agar cepat terjadi penurunan temperature menjadi 35 0C (di dalam cooling tower dilengkapi dengan fan). Selain itu kegunaan dari percobaan reynold number ini pada industri adalah untuk menghitung pressure drop dan laju alir pada packed bed pada pabrik yang utamanya

9

menggunakan evaporator dan juga menghitung aliran udara yang masuk pada tabung pivot, biasanya digunakan pada industri gas. Berikut ini adalah hasil dari percobaan Reynold
1.

Harga bilangan Reynold pada daerah trantition adalah sensitif untuk aliran

turbulen pada aliran yang masuk pada pipa dan gerakan mekanik. Ketika peringatan khusus diambil untuk menghindari keturbulenan dari kasus yang berbahaya lainnya, aliran laminer dijaga pada harga R = 2 . 104 .
2.

Ketika lairan masuk pada keturbulenan tinggi, aliran turbulen tidak akan

dijaga pada pipa dengan jarak yang besar dari lubang yang masuk ketika R kurang dari 2 . 103 . • Aliran laminer pada Pipa Untuk aliran laminer pada pipa smooth-walled cylindrical tube diasumsikan aliran dalam keadaan steady dan uniform yang berarti bagian tabung disyaratkan tidak dekat dengan lubang masuknya fluida. • Aliran Turbulen pada Pipa Untuk kondisi yang tetap dan seragam pada aliran turbulen yang ada di setiap tempat pada pipa kecuali yang dekat dengan lubang untuk masuknya fluida akan berlawanan dengan keadaan pada aliran laminer. Pipa yang digunakan adalah bagian circular dan pendek. a. bilangan Reynold. b. aliran laminer. c. d. e. • Sifat-sifat keturbulenan Ketahanannya atau sesuatu yang lain, umumnya lebih tinggi untuk aliran turbulen daripada aliran laminer. Kenaikan ketahanan dengan penambahan Ketahanan lebih sensitif terhadap kekasaran kecepatan lebih cepat aliran turbulen daripada aliran laminer. pada dinding pipa untuk aliran turbulen daripada aliran laminer. Profil kecepatan lebih fuller daripada untuk Profil kecepatan tidak selalu tergantung pada

10

Karakteristik keturbulenan adalah fluktuatif terhadap tekanan atau kecepatan pada titik yang tidak signifikan dengan fluktuatif pada titik lain daripada jarak yang pendek, misalnya : jika mempertimbangkan suatu titik pada komponen kecepatan adalah positif kemudian tampak sebagai komponen kecepatan yang sama pada titik yang berdekatan juga positif. Keturbulenan dapat dibangkitkan dengn berbagai cara selain dari aliran melalui pipa. Pada umumnya, keturbulenan dapat terjadi karena kontak antara arus aliran dengan batas padat atau karena kontk antara dua lapisan fluida yang bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Jenis keturbulenan ada dua macam, yaitu : • Keturbulenan dinding (wall turbulence) Keturbulenan dinding terjadi bila fluida menglir melalui saluran tertutup atau terbuka. • Keturbulenan bebas (free turbulence) Keturbulenan bebas terjadi dalam aliran jet di dalam massa fluida stagnan (diam) dan bila ada lapisan bebas yang memisahkan dari dinding padat dan mengalir melalui keseluruhan fluida. Keturbulenan bebas sangat penting dalam operasi pencampuran. • Intensitas dan skala keturbulenan Medan-medan keturbulenan dicirikan oleh dua parameter rata-rata, parameter yang pertama mengukur intensits medan dan menunjukkan kecepatan rotasi pusaran dan energi yang terkandung di dalam pusaran yang ukurannya tertentu. Parameter kedua menentukan ukuran pusaran tersebut. • Kecepatan distribusi Pengukuran kecepatan distribusi pipa circular pada jarak yang berbeda dari pusat dan pada jarak yang diinginkan dari pipa bagian dalam ditunjukkan bahwa pada aliran laminer dan aliran turbulen, fluida yang berada pada tengahtengah pipa dapat berpindah dengan cepat daripada fluida yang berada pada dinding pipa.

11

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN II.1 Variabel Percobaan 1. Bukaan valve dari kecil ke besar: 16%,36%,56%,76%,96% 2. Bukaan valve dari besar ke kecil: 96%,76%,56%,36%,16% II.2 Bahan yang Digunakan Air 1. Zat warna (KMnO4) II.3 Alat yang Digunakan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Stopwatch Beaker Glass 100 ml Seperangkat alat Nre Viskometer Picnometer Timbangan elektrik II.4 Metodologi Percobaan 1. Memeriksa seluruh peralatan yang dipergunakan untuk percobaan NRe. 2. Menetapkan sifat fisis fluida seperti densitas dan viskositas serta dimensi pipa.

12

3. Menuangkan larutan zat warna pada tempatnya. 4. Melakukan percobaan pada keadaan diameter pipa dan jenis fluida tetap sedangkan variabel yang dipilih yaitu kecepatan alir fluida (air). 5. Mengatur kecepatan alir fluida dengan cara mengatur pembukaan kran sesuai variabel percobaan. 6. Menginjeksikan larutan zat warna melalui tabung kapiler ke aliran fluida didalam pipa. 7. Mengamati setiap gerakan zat warna atau pola aliran zat yang mengalir pada setiap kecepatan fluida yang ditentukan 8. mencatat debit yang keluar dari pipa pada setiap pembukaan kran yang ditetapkan.

II.5 Diagram alir Mulai

Memeriksa seluruh peralatan yang dipergunakan untuk percobaan

13

Menetapkan sifat fisis fluida seperti densitas dan viskositas serta dimensi pipa Menuangkan larutan zat warna pada tempatnya

Melakukan percobaan pada keadaan diameter pipa dan jenis fluida tetap sedangkan variabel yang dipilih yaitu kecepatan alir fluida (air)

Mengatur kecepatan alir fluida dengan cara mengatur pembukaan kran sesuai variabel percobaan.

Menginjeksikan larutan zat warna melalui tabung kapiler ke aliran fluida didalam pipa.

Mengamati setiap gerakan zat warna atau pola aliran zat yang mengalir pada setiap kecepatan fluida yang ditentukan

mencatat debit yang keluar dari pipa pada setiap pembukaan kran yang ditetapkan. Selesai II.6 Gambar rangkaian alat

14

7

1

2

3 4 9 5 6

1 0

1

2

1 1 8

Keterangan : 1. Selang air pengisi 2. Reservoir 3. Tempat KMnO4 4. Kran KMnO4 5. Tabung kapiler 6. Pipa kaca 7. Pipa overflow 8. Kerangka besi penyangga 9. Kran keluaran 10. Belokan pipa 11. Bak pembuangan 12. Kran air pengisi reservoir

15

Ppt ie

Viskometer Ostwald Keterangan: 1. Tempat menimbang 2. Penunjuk massa 3. Tombol reset 4. Tombol on-off 1 2 3 4 Timbangan elektrik

Picnometer

Stopwatch

16

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN IV.1Hasil Percobaan Tabel IV.1.1 Hasil Pengamatan untuk valve dari bukaan kecil ke bukaan besar % Bukaan 16 36 56 76 96 t pada vol t 1000 viscometer 11.88 7.8 9.99 7.7 9.78 7.5 9.57 7.3 9.39 7 Densitas ( m picno + air ) 148.9596 148.757 148.6768 148.5916 148.5221 Diameter Pipa 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 Jenis Aliran Laminer Laminer Laminer Turbulen Turbulen

Tabel IV.1.2 Hasil Pengamatan untuk valve dari bukaan besar ke bukaan kecil % Bukaan 96 76 56 36 16 t pada vol t 1000 viscometer 9.39 7 9.55 7.4 9.6 7.6 9.73 7.6 9.94 7.9 Densitas ( m picno + air ) 148.5221 148.534 148.5535 148.6768 148.7055 Diameter Pipa 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 Jenis Aliran Turbulen Turbulen Laminer Laminer Laminer

IV.2 Hasil perhitungan ρair = 0.995 g/cm3 pada suhu 300C (Literatur ; Geankoplis,1997) µair = 8.007 10-3 g/cm.dt pada suhu 300C (Literatur ; Geankoplis,1997)

17

Berat picno kosong = 48.9530 gr Tabel IV.1.1 Hasil Perhitungan untuk valve bukaan kecil ke bukaan besar % bukaan 16 36 56 76 96 Q (cm3/dt) 84.17508 100.1001 102.2495 104.4932 106.4963 V (cm/dt ) 131.5236 156.4064 159.7648 163.2706 166.4004 ρ (gr/cm3) 1.000066 0.99804 0.997238 0.996386 0.995691 µ3 (g/cm.dt) 0.007464 0.007353 0.007157 0.00696 0.006669 Nre 15859.91079 19105.37516 20036.02963 21036.66958 22358.7825 Jenis aliran Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen

Tabel IV.1.2 Hasil Perhitungan untuk valve bukaan besar ke bukaan kecil % bukaan 96 76 56 36 16 Q (cm3/dt) 106.4963 104.712 104.1667 102.7749 100.6036 V (cm/dt) 166.4004 163.6126 162.7604 160.5858 157.1932 ρ (gr/cm3) 0.995691 0.99581 0.996005 0.997238 0.997525 µ3 (g/cm.dt) 0.006669 0.007051 0.007243 0.007252 0.007541 Nre 22358.7825 20795.85076 20143.13012 19874.003 18715.36527 Jenis aliran Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen

BAB V PEMBAHASAN V.1 Hubungan antara NRe vs densitas Suatu fluida dapat mengalir dengan cara yang berbeda, yang dibedakan menjadi tiga macam aliran, yaitu aliran laminar, aliran transisi dan aliran turbulen. Untuk menentukan jenis aliran ini terlebih dahulu harus mengetahui nilai dari Nre

18

(bilangan Reynold-nya). Dimana nilai Bilangan Reynold itu sendiri juga bergantung pada bukaan valvenya, semakin besar variabel bukaan valve maka nilai Bilangan Reynoldnya juga akan semakin tinggi begitu juga sebaliknya dimana variabel bukaan valve yang semakin kecil menyebabkan nilai Bilengan Reynoldnya semakin rendah. Akan tetapi nilai dari Bilangan Reynold tidak bergantung hanya dengan variabel bukaan valve tetapi juga bergantung pada densitas fluida, viskositas fluida, serta diameter pipa, seperti halnya yang digambarkan pada rumus berikut ini : Nre = Dimana : D Nre = v µ ρ (Geankoplis, 1997) Maka dari rumus yang ada dapat dilihat bahwa Bilangan Reynold sebanding dengan densitas, dimana semakin besar variabel bukaan valvenya maka harga bilangan Reynoldnya juga akan semakin tinggi dan densitasnya juga akan semakin tinggi pula demikian juga sebaliknya semakin rendahnya variabel bukaan valvenya maka harga bilangan Reynoldnya juga akan semakin rendah dan densitasnya akan semakin turun juga, pernyataan ini digunakan untuk fluida yang dipakai berbeda, apabila fluida yang dipakai sama maka harga densitasnya konstan. = = = = ρ.D. v Μ

bilangan Reynold kecepatan fluida viskositas fluida densitas fluida

diameter pipa

19

Grafik hubungan antara Densitas dan Nre
1.001 1 Densitas 0.999 0.998 0.997 0.996 0.995 0 5000 10000 Nre 15000 20000 25000

V.1.1 Grafik hubungan antara NRe vs densitas variable bukaan kecil ke besar
Grafik hubungan antara Densitas dan Nre
0.998 0.9975 Densitas 0.997 0.9965 0.996 0.9955 18000

19000

20000 Nre

21000

22000

23000

V.1.2 Grafik hubungan antara NRe vs densitas variable bukaan besar ke kecil Percobaan yang telah dilakukan dibuat grafik V.1.1 dan V.1.2 tidak sesuai dengan apa yang tertera pada literatur, pada percobaan variabel bukaan kecil ke besar ataupun sebaliknya tidak sesuai dengan literatur karena seharusnya harga Nre pada grafik terus naik dan densitas tetap konstan tapi harga Nre pada grafik diatas terlihat turun. V.2 Hubungan antara NRe vs kecepatan fluida Jika dilihat dari persamaan bilangan Reynold seperti yang telah dijelaskan diatas maka NRe adalah sebanding dengan kecepatan aliran fluida, yaitu dimana variabel bukaan valve yang semakin besar menyebabkan harga Nre juga semakin besar yang berarti harga dari kecepatan fluida juga semakin besar begitu juga sebaliknya, yaitu variabel bukaan yang semakin rendah harga Nrenya juga semakin rendah, maka harga dari kecepatan fluidanya juga akan semakin rendah pula.

20

(Geankoplis, 1997)
Grafik hubungan antara Kec. Fluida dan Nre
180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 0 5000 10000 Nre 15000 20000 25000

V.2.1 Grafik hubungan antara NRe vs kecepatan fluida variable bukaan kecil ke besar
Grafik hubungan antara Kec. Fluida dan Nre
168 166 Kec. Fluida 164 162 160 158 156 18000 19000 20000 Nre 21000 22000 23000

V.2. 2 Grafik hubungan antara NRe vs kecepatan fluida variable bukaan besar ke kecil Dapat dilihat dari grafik V.2.1 dan V.2.2 dapat dilihat bahwa semakin besar harga Nre maka harga dari kecepatan fluidanya juga akan semakin besar, hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa NRe adalah sebanding dengan kecepatan aliran fluida. V.3 hubungan antara NRe vs viskositas Dilihat dari rumus hubungan bilangan Reynold, densitas, viskositas dan kecepatan alir adalah bilangan Reynold berbanding terbalik dengan viskositas, yakni apabila bukaan valve semakin besar maka harga bilangan Reynoldnya juga akan semakin besar tetapi harga viskositasnya akan semakin kecil begitu juga

Kec. Fluida

21

sebaliknya. Akan tetapi viskositas seharusnya konstan dalam hal ini dikarenakan fluida yang dipakai pada saat praktikum adalah sama.
Grafik hubungan antara Viskositas dan Nre
0.0076 0.0075 0.0074 0.0073 0.0072 0.0071 0.007 0.0069 0.0068 0.0067 0.0066 0 5000 10000 Nre 15000 20000 25000

V.3.1 Grafik hubungan antara NRe vs viskositas variabel bukaan kecil ke besar
Grafik hubungan antara Viskositas dan Nre
0.0076 0.0075 0.0074 0.0073 0.0072 0.0071 0.007 0.0069 0.0068 0.0067 0.0066 18000

Viskositas

Viskositas

19000

20000 Nre

21000

22000

23000

V.3.2 Grafik hubungan antara NRe vs viskositas variabel bukaan besar ke kecil Dari grafik V.3.1 menunjukkan harga bilangan Reynold yang semakin tinggi maka harga viskositas yang diperoleh akan semakin rendah dan pada grafik V.3.2 menunjukkan harga bilangan Reynold yang semakin rendah maka harga viskositas yang diperoleh juga akan semakin rendah pula. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa bilangan Reynold berbanding terbalik dengan viskositas untuk fluida yang berbeda, untuk fluida yang sama nilai viskositasnya konstan. Kesalahan ini disebabkan karena : 1. Pengaturan rate volumetrik bukaan tidak sama karena valve tak dapat mengatur jumlah fluida yang mengalir secara tepat.

22

2. Terdapat pada human error dimana pada saat praktikum, praktikan kurang teliti dalam hal pengambilan sample. V.4 hubungan antara kec fluida vs densitas Jika dilihat dari persamaan bilangan Reynold (Geankoplis, hal.60) maka NRe adalah sebanding dengan kecepatan aliran fluida, sedangkan NRe juga sebanding dengan densitas fluida yang terukur dalam percobaan. Akan tetapi dalam percobaan digunakan fluida yang sama, jadi harga dari densitasnya adalah konstan.

Grafik hubungan antara Kec. Fluida dan Densitas
1.0005 1 0.9995 0.999 0.9985 0.998 0.9975 0.997 0.9965 0.996 0.9955 0.995 0 50 100 Kec. Fluida 150 200

V.4.1 Grafik hubungan antara kec fluida vs densitas variabel bukaan kecil ke besar
Grafik hubungan antara Kec. Fluida dan Densitas
0.998 0.9975
Densitas

Densitas

0.997 0.9965 0.996 0.9955 156

158

160

162
Kec. Fluida

164

166

168

V.4.2 Grafik hubungan antara kec fluida vs densitas variabel bukaan besar ke kecil Akan tetapi pada hasil percobaan yang diperoleh dibuat grafik IV.2.4.1 dimana pada variabel bukaan valve yang semakin besar maka harga kecepatan

23

fluidanya juga akan semakin besar dan densitas yang ada juga semakin besar akan tetapi pada IV.2.4.2 dimana pada variabel bukaan valve yang semakin kecil maka harga kecepatan fluidanya juga akan semakin kecil tetapi densitas yang ada semakin tinggi, seharusnya harga densitas yang diperoleh adalah konstan. Hal ini tidak sesuai dengan literatur, disebabkan karena : 1. Terdapat pada human error dimana pada saat praktikum, praktikan kurang teliti. 2. Pengaturan rate volumetrik bukaan tidak sama karena valve tak dapat mengatur jumlah fluida yang mengalir secara tepat.
3.

Pada saat pengukuran sample terdapat campuran antara air dengan zat warna (KMnO4) sehingga menyebabkan densitas menjadi naik maupun turun karena zat warna bisa menambah berat.

V.5 Hubungan antara kecepatan fluida vs viskositas. Jika dilihat dari persamaan bilangan Reynold (Geankoplis, hal.60) maka NRe adalah sebanding dengan kecepatan aliran fluida, sedangkan viskositas fluida yang terukur dalam percobaan adalah konstan.
Grafik hubungan antara Kec. Fluida dan Viskositas
0.998 0.9975 Viskositas 0.997 0.9965 0.996 0.9955 0.0066

0.0068

0.007

0.0072

0.0074

0.0076

Kec. Fluida

V.5.1 Grafik hubungan antara kec fluida vs viskositas variabel bukaan kecil ke besar

24

Grafik hubungan antara Kec. Fluida dan Viskositas
0.998 0.9975 Viskositas 0.997 0.9965 0.996 0.9955 0.0066

0.0068

0.007

0.0072

0.0074

0.0076

Kec. Fluida

V.5.2 Grafik hubungan antara kec fluida vs viskositas variabel bukaan besar ke kecil Akan tetapi pada hasil percobaan yang diperoleh dibuat grafik V.5.1 dimana pada variabel bukaan valve yang semakin besar maka harga kecepatan fluidanya juga akan semakin besar dan viskositas yang ada semakin turun akan tetapi pada V.5.2 dimana pada variabel bukaan valve yang semakin kecil maka harga kecepatan fluidanya juga akan semakin kecil tetapi kecepatan fluida yang ada semakin rendah. Hal ini tidak sesuai dengan literatur, disebabkan karena : 1. Pengaturan rate volumetrik bukaan tidak sama karena valve tak dapat mengatur jumlah fluida yang mengalir secara tepat. 2. Terdapat pada human error dimana pada saat praktikum, praktikan kurang teliti pada saat mengukur dan menimbang sample.
3.

Pada saat pengukuran sample terdapat campuran antara air dengan zat warna (KMnO4) sehingga menyebabkan densitas menjadi naik maupun turun karena zat warna bisa menambah berat. Pada percobaan digunakan KMnO4 yang berfungsi sebagai zat warna,

karena dengan adanya zat warna maka dapat diketahui pola aliran yang ada, apakah itu laminer, transisi atau turbulent. Menggunakan larutan KMnO4 karena larutan KMnO4 sesuai dengan syarat zat warna yang dapat digunakan untuk mengamati tipe aliran, syaratnya yaitu : 1. Mudah diamati (warnanya kontras dengan fluida yang diukur) 2. Tidak bereaksi dengan fluida

25

3. Dapat bercampur / larut dengan fluida (Geankoplis,1997) Suatu fluida dapat mengalir melalui pipa dengan cara yang berbeda, yaitu dibedakan menjadi aliran laminar, aliran transisi dan aliran turbulen yang bergantung pada kecepatan aliran fluida. Pada kecepatan fluida yang relatif rendah fluida mengalir tanpa adanya pencampuran secara lateral atau tidak terjadi arus eddy. Aliran ini dinamakan aliran laminar. Sedangkan aliran turbulent merupakan aliran fluida dengan kecepatan yang lebih lebih tinggi, sehingga terjadi arus eddy yang mengakibatkan terjadinya pencampuran secara lateral. Aliran transisi merupakan suatu aliran yang terjadi akibat pengaruh dari aliran laminar juga aliran turbulent. (Geankoplis, 1997) Dari percobaan yang diperoleh dapat terlihat perbandingan setelah dihitung dengan rumus bilangan Reynold yang ada, yaitu : Hasil percobaan Variabel aliran percobaan 16 36 56 76 96 96 76 56 36 Turbuken Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen Turbulrn Turbulen Turbulren Turbulen Hasil perhitungan Variabel aliran percobaan 16 36 56 76 96 96 76 56 36 Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen Turbulen

16 Turbulen 16 Turbulen Hasil percobaan tidak sesuai dengan hasil perhitungan,hal ini dikarenakan: 1. Pengamatan terhadap profil aliran fluida yang kurang tepat karena tidak adanya batasan yang tepat mengenai berubahnya bentuk aliran zat warna, dari jenis aliran fluida laminer, transisi, dan turbulen.

26

2. Pengaturan rate volumetrik bukaan tidak sama karena valve tak dapat mengatur jumlah fluida yang mengalir secara tepat

27

BAB VI KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Semakin besar variabel bukaan valve maka kecepatan alirnya semakin besar pula sehingga nilai Bilangan Reynoldnya akan semakin tinggi 2. Bilangan Reynold tidak bergantung hanya dengan variabel bukaan valve tetapi juga bergantung pada densitas fluida, viskositas fluida, diameter pipa. 3. Nilai NRe hasil perhitungan dan aliran yang diperoleh nilai Nre lebih besar dari 4000, jadi aliran yang diperoleh adalah turbulen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful