Revolusi Industri Ekstractive Di Indonesia

Oleh : suparlan1

Negara indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai rantai atau pola hubungan yang sangat erat antar satu pulau dengan yang lain, sehingga proses pengelolaan sumber daya alam tidak bisa di lakukan secara sektoral, karena di setiap pulau mempunyai fungsi tersendiri dalam keberlanjutan ekosistem antar pulau. Aktifitas yang menghasilkan dampak negatif terhadap terhadap sebuah pulau akan berimplikasi pula pada pulau yang lain. Namun hal ini tidak berlaku dalam pertambangan di indonesia, yang secara jelas bahwa undang-undang pertambangan no 11 tahun 1967 memposisikan setiap daratan yang ada di indonesia dapat dilakukan eksploitasi “pertambangan”, sedangkan lautan diposisikan sebagai tempat pembuangan limbahnya. Fakta ini telah di gulirkan pemerintah indonesia pada era orde baru, dengan penandatangan berbagai kontrak karya pertambangan di indonesia, di antaranya adalah freeport dan newmont. Bahkan dalam buku yang di terbitkan WALHI dan JATAM awal mula industri ekstraktif masuk ke indonesia adalah kontrak karya freeport dengan Indonesia di era pemerintahan Soeharto. Dan anehnya dalam kontrak karya tersebut memiliki keistimewaan pemegang kontrak asing, misalnya jika terjadi tumpang tindih lahan antar sektor maka kuasa pertambangan yang di menangkan, dan jika wilayah kontrak karya menyentuh tanah rakyat maka rakyatlah yang harus menyingkir. Kasus kontrak karya ini yang pada akhirnta di jadikan rujukan untuk menyusun UU pertambangan no 11 tahun 1967 hingga sampai saat ini. Pada akhirnya sistem perlindungan terhadap sumber daya alam di indonesia semakin lemah dan mendapatkan porsi yang sangat kecil di bandingkan dengan nilai investasi perusahan - perusahan besar yang datang ke indonesia. Hal ini pula yang memberikan implikasi keleluasaan sistem Pengelolaaan industri ekstraktif yang ada di indonesia saat ini yang lebih di dominasi oleh pemodal dibandingkan dengan pemerintah indonesia. Pemerintah indonesia dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah hanya sebagai eksekutor atau lebih ke arah legalitas perizinan di dalam pengelolaan industri ekstraktive di indonesia. Jika posisi seperti yang terjadi saat ini mana rakyat jelas menjadi korban di dalam skenario pengelolaan industri ekstraktif yang ada saat ini. Seknario ini yang harus dirubah menjadi lebih mengedepankan posisi pemerintah pusat, daerah dan masyarakt sebagai subyek di dalam pengelolaan industri ekstraktif yang ada, dengan melakukan penguatan dan kejelasan peran dari pemerintah di dalam pengelolaan industri ekstraktif di semual level. Jika ini tidak terjadi maka industri ekstraktif tidak akan memberikan kontribusi apapun pada negara dalam hal ini pemerintah pusat, daerah dan masyarakat. Untuk itu negara wajib mengambil alih peran dan posisinya di dalam pengelolaan industri ekstraktif di indonesia dengan memegang prinsif tidak ada kontrak karya yang dapat menjamin keuntungan tinggi dari penanam modal asing langsung. Dengan begitu sharing peruntukan akan dapat di hitung secara jelas, tegas dan transparan hingga di level daerah dan komunitas. Fakta yang terjadi kerusakan akibat industri ekstraktive sungguh luar biasa, jatam menyampaikan contoh bahwa Untuk mendapatkan 1 gram emas di tambang PT Freeport dihasilkan 2480 ribu gram limbah, sedangkan di pertambangan Barisan Tropikal Mining, Sumatera Selatan, dibutuhkan setidaknya 104 liter air untuk mendapatkan 1 gram emas. Krisis air merupakan masalah yang selalu dijumpai disemua lokasi pertambangan. Penurunan kuantitas dan kualitas air terjadi karena operasi pertambangan membutuhkan air dalam jumlah besar sementara kualitas air juga
1

. Direktur Eksekutif WALHI Yogyakarta Periode 2005-2008

menurun karena rusaknya sistem hidrologi tanah. Sementara limbah tambang berpotensi mencemari kawasan perairan sekitar, baik karena rembesan air asam tambang, rembesan logam berat ataupun buangan lumpur tailing, kegiatan inipun juga berlanjut pada pengelolaan hasil pertambangan menjadi barang mentah, dari seluruh proses hasil produksi dari industri ekstraktive berbentuk barang setengah jadi guna pemenuhan kebutuhan ekspor ke negara-negara di dunia dengan harga yang relatif murah untuk di ubah menjadi barang jadi dan di kembalikan lagi ke indonesia dengan harga yang sangat tinggi. Dari seluruh proses pelaksanaan industri ekstraktif juga belum berhitung tentang kebutuhan energi yang di gunakan selama proses operasional pelaksanaanya hingga menciptakan produks setengah jadi. Kontek otonomi daerah dalam perkembangan industri ekstraktif justru memberikan ruang yang bebas untuk mempermudah perizinan secara langsung dari daerah, walau pada pengambilan keputusan pemerintah daerah hanya sebagai langkah awal untuk mendapatkan persetujuan semata, sedangkan pelaku utamanya tetap ada di level pemerintah pusat. Dan pada realitanya pemerintah daerah juga tidak dapat melakukan perlindungan terhadap hak-hak rakyat. Contoh kasus yang baru bari ini terjadi adalah kasus rencana pertambangan pasir besi di kabupaten kulonprogo yogyakarta, dimana komunitas yang di mungkinkan akan terkena dampak langsung secara tegas dan jelas melakukan peolakan, namun faktanya pemerintah daerah dengan tangan dingin tetap menjalankan kontrak karya tanpa melihat pertimbangan masyarakat yang akan terkena dampak langsung. Hal ini membuktikan bahwa otonomi daerah dalam pelaksanaan industri ekstrakctive justru memperparah pola komunikasi pemerintah daerah dengan masyarakat. Di samping pada persoalan itu otonomi daerah juga akan mempersulit kontrol terhadap jumlah investasi dari industri ecstraktive yang akan masuk ke daerahdaerah yang ada di indonesia. Seperti halnya yang terjadi di propinsi Kaltim tercatat sekitar 500 industri yang beroperasi, sedangkandi sulawesi tenggara di perkirakan mencapai 100 industri lebih, hal ini membuktikan otonomi daerah berimplikasi pada tidak terkendalinya investasi yang masuk ke level daerah propinsi ataupun kabupaten. Sehingga bisa di simpulkan bahwa adanya otonomi daerah justru memperparah laju eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan industri. Pada kondisi riil yang terjadi saat ini besaran pajakpun dari industri ekstraktif tidak di dasarkan pada prosentase dari hasil produksi yang di hasilkan ataupun di dasarkan pada implikasi kerugian darai berbagai aspek namun di dasarkan pada kesepakatan kontrak karya awal yang di lakukan pemerintah baik di level pusat maupun daerah dengan pihak pemodal atau investasi asing. Padahal posisi proses kontrak karya industri ekstraktif sendiri masih belum memenuhi dan memiliki unsur keterlibatan public atau komunitas, termasuk di dalamnya adalah perhitungan implikasi dampak lingkungan dan konflik sosial yang di timbulkan. Sebut saja freeport, bagaimana implikasi dampak sosial yang di timbulkan maupun di level kondisi lingkungan. Dari hasil pantuan WALHI dan Jatam grafik struktur ekonomi masyarakat papua dari tahun 1975 hingga 2002 tidak ada perubahan secara signifikan paska masuknya PT Freeport. Begitu juga dengan hasil sharing pendapatan negara dalam hal ini pemerintah baik di level pusat dan daerah juga tidak cukup untuk mengkalkulasi pergantian dampak yang di timbulkan. Dari hasil kajian keuntungan negara dari PT freeport secara langsung mencapai 3,8 milyar $ per tahun, namun biaya pemulihan lingkungan secara riil akibat dampak yang di timbulkan mencapai 6,9 milyar $ per tahun. Jika ini di hitung dan di kalkulasi maka negara justru merugi 3,1 Milyar $ per tahun.

Fakta di atas mengungkapkan bahwa Industri ekstraktif terkelola dengan sangat eksklusif baik dari hulu hingga hilirnya, implikasi dampak yang di hasilkan dari industri ekstraktif kepada negara juga masih menjadi tanda tanya besar, karena prosesnya yang masih memposisikan pemerintah pusat dan daerah hingga ke level komunitas sebagai obyek dalam pengelolaannya. Karena tidak ada peran penting dalam penguasaan sistem industri ekstraktif di indonesia. Industri ekstraktif masih menjadi alat eksploitasi sumber daya alam di indonesia yang terstruktur dan di legalkan oleh pemerintah indonesia melalui sebuah kebijakan pemerintah. Untuk mengembalikan kedaulatan negara dalam pengelolaan industri ekstraktif di indonesia maka negara harus melakukan beberapa langkah untuk menghentikan monopoli industri ekstraktif oleh pihak investasi asing dengan pertama : Negara harus melakukan kajian ulang terhadap kontrak karya industri ekstraktif yang ada pada saat rezin orde baru hingga sekarang kedua : Negara harus mampu Mengambil alih peran pemodal asing dalam pengelolaan industri ekstraktif ketiga : negara harus mampu menjamin bahwa otonomi daerah sebagai wujud integritas masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya alam guna menghapus kentalnya dominasi pusat dalam memonopoli kekuasaan keempat : Mendorong pengelolaan industri ekstraktif untuk menghasilkan produk-produks jadi guna menghentikan laju ekspor ke negara-negara di dunia kelima : Memposisikan pemerintah daerah dan masyarakat sebagai subyek di dalam pengelolan sumber daya alam di indonesia dengan memegang 3 prinsif : tata kuasa, tata kelola dan tata manfaat yang di tuangkan di dalam kebijakan otonomi daerah. Tata kuasa yang di maksud adalah peran pemerintah daerah dan masyarakat lokal menjadi satu kesatuan keputusan untuk peruntukan wilayah sesuai dengan status fungsinnya yang di legalkan dalam kebijakan tata ruang di level lokal, sedangkan tata kelola dapat di jabarkan bagaimana peran pengelolaan industri ekstraktif lebih di dominasi oleh kepentingan lokal, pada tata manfaat peran lokal harus mampu melakukan kajian implikasi dampak baik yang negatif maupun posistif secara terbuka dan independen guna mendapatkan keputusan secara jelas pengaruh terhadap ekosistem setempat. Kekuatan daerah adalah mempersatukan kekuatan lokal dalam satu kerangka kebersamaan dan keterbukaan untuk keadilan sosial dan lingkungan

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful