P. 1
tambahan SJSN

tambahan SJSN

|Views: 30|Likes:
Published by Elya Chairunnisa

More info:

Published by: Elya Chairunnisa on Oct 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

A.

Program Jaminan Kesehatan Program Jaminan Kesehatan Nasional disingkat Program JK adalah suatu program Pemerintah dan Masyarakat/Rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh (komprehensif) bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera. 1. Substansi a. Program JK diselenggarakan berdasarkan mekanisme asuransi sosial (social insurance) dengan kepesertaan wajib. b. Program bersifat wajib dan diarahkan mencakup seluruh rakyat (universal coverage) yang akan dicapai secara bertahap. Pada satu saat nanti seluruh rakyat wajib menjadi peserta tanpa kecuali. Melalui prinsip ini tercipta subsidi silan g antara yang sehat kepada yang sakit, antara yang kaya kepada yang miskin, dan antara yang muda kepada yang tua. Penduduk yang telah menjadi peserta dan menginginkan manfaat tambahan di luar program JK dapat memiliki asuransi kesehatan tambahan dengan membeli asuransi kesehatan komersial, jaminan kesehatan sukarela atau membayar dari kantong sendiri. Penduduk yang telah menjadi peserta asuransi sukarela dapat meneruskan kepesertaannya. c. Manfaat JK diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan dengan pengendalian biaya dan pelayanan menggunakan teknik managed care. d. Manfaat program JK yang dijamin bersifat komprehensif sesuai dengan kebutuhan medik. e. Program JK diselenggarakan berdasarkan prinsip ekuitas dimana peserta mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan mediknya dan membayar iuran sesuai dengan kemampuan ekonominya yang diwujudkan dengan pembayaran iuran sebesar prosentase tertentu dari upah bagi pekerja di sektor formal atau sejumlah tertentu bagi pekerja di

sektor informal dan pemerintah membayarkan iuran bagi mereka yang tidak mampu. 1) Iuran bagi rakyat yang menerima upah ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari upah yang ditanggung bersama antara majikan dan karyawan. 2) Iuran bagi pekerja infomal diperhitungkan dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi peserta melalui suatu formula atau jumlah tetap per bulan atau per tahun yang akan dikembangkan oleh Komite Aktuaria dari BPJS. 3) Rakyat yang tidak memiliki penghasilan tetap atau tidak mampu mengiur, sebagian/seluruh iuran akan mendapat bantuan iuran dari pemerintah pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah. f. Seorang peserta tetap memperoleh jaminan apabila ia pindah tempat tinggal atau pindah pekerjaan (prinsip portabilitas). g. Undang-undang dan peraturan yang terkait menggariskan agar program JK dikelola oleh secara independen dengan manajemen yang transparan dan akuntabilitas yang tinggi. 2. Kelembagaan Program JK dikelola oleh suatu BPJS sesuai dengan yang ditetapkan UU SJSN. Pengelola JK akan hanya khusus menangani jaminan kesehatan yang nantinya mengelola seluruh jaminan kesehatan bagi pegawai negeri, pegawai swasta, pekerja di sektor informal. Penggabungan ini dimaksudkan untuk menjamin terjadinya efisiensi yang tinggi, portabilitas, dan pengendalian pelayanan yang memadai. Saat penggabungan akan dikaji secara terus-menerus oleh DJSN dengan memperhatikan kemampuan BPJS, kesiapan fasilitas kesehatan, dan kesiapan pemberi kerja swasta bergabung. Bagi penduduk tidak mampu dimana iurannya dibayarkan oleh Pemerintah tersedia dua opsi yaitu bergabung dengan BP yang ada atau Pemerintah mendirikan lembaga khusus dengan tetap mengaju pada UU SJSN. Masing-masing pilihan mempunyai kelebihan dan kelemahan. Apabila mendirikan lembaga baru, diperkirakan himupunan iuran tidak mampu memberikan manfaat pelayanan yang memadai mengingat dana terhimpun terbats, kebutuhan pelayanan tinggi, cross subsidi terbatas karena hanya diantara

masyarakat tidak mampu dan biaya operasional lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bergabung dengan BP yang telah ada. 3. Mekanisme a. Kepesertaan 1) Peserta JK terdiri atas peserta pekerja formal (pegawai pemerintah, pekerja swasta, baik bersifat tetap maupun tidak tetap), peserta yang mempunyai penghasilan atas usaha sendiri (swakarya atau sektor informal seperti petani, nelayan, dll) dan penduduk yang tidak atau belum memiliki penghasilan (kelompok tidak mampu). Anggota keluarga peserta berhak menerima manfaat JK. 2) Rekruitmen kepesertaan dilakukan secara bertahap dengan perluasan cakupan dilaksanakan dengan memperhatikan azas kemudahan pengumpulan iuran secara rutin dengan prioritas sebagai berikut :

a) Pemberi kerja wajib mendaftarkan seluruh tenaga kerjanya kepada BPJS. b) Bagi pemberi kerja yang pada saat Undang-undang JSN diundangkan telah menjadi peserta pada suatu badan, secara bertahap kepesertaannya disesuaikan dengan Undang-undang SJSN. c) Kelompok kerja di sektor informal mendaftarkan diri melalui kelompok usahanya/ koperasi atau secara individual ke BPJS. Pada tahap awal, kelompok ini menjadi peserta secara sukarela yang nantinya secara bertahap menjadi peserta wajib. d) Penduduk yang tidak mampu termasuk keluarga miskin (gakin) dan kelompok khusus akan ditetapkan dan didaftarkan oleh pemerintah daerah kepada BPJS. e) Fasilitas kesehatan (Health Care Provider) seperti rumah sakit, dokter praktek, klinik, laboratorium, apotik dan lainnya yang berminat melayani peserta SJSN melakukan kontrak dengan BPJS dan harus mematuhi persyaratan yang ditetapkan BPJS. Selanjutnya fasilitas kesehatan tersebut melayani peserta dan anggota keluarganya kemudian mengklaim biaya pelayanan tersebut, baik dimuka ataupun setelah pelayanan diberikan, kepada BPJS. BPJS berhak melakukan

pengendalian mutu dan utilisasi pelayanan guna meningkatkan efektifitas dan efisiensi program JK. 3) Perluasan cakupan kepesertaan diutamakan dimulai dari penerima upah yang saat ini belum memiliki JK dari salah satu badan penyelenggara jaminan sosial yang ada sekarang ini.

4) Dipertimbangkan untuk memperluas cakupan kepada orang tua pekerja sebagai suatu konsep extended family untuk mempercepat pencapaian cakupan universal, dimana pekerja membayar iuran tambahan sebesar 1% dari upahnya untuk menanggung orang tua atau mertuanya yang sah. 5) Kepesertaan tetap berlaku apabila seseorang mengalami perubahan status pekerjaan seperti pemutusan hubungan kerja (PHK)/pensiun/cacat total tetap yang menyebabkan seseorang peserta kehilangan kemampuan untuk memperoleh penghasilan dan membayar iuran. 6) Untuk efektifitas percepatan kepesertaan maka BPJS diberikan kewenangan memeriksa kebenaran pelaporan pemberi kerja/ peserta yang harus dilakukan secara terus menerus disertai upaya persuasif dan intensif serta pelayanan yang bermutu. b. Manfaat 1) Sesuai dengan prinsip asuransi sosial, manfaat diberikan dengan

mempertimbangkan besaran kontribusi secara keseluruhan (bukan orang per orang atau kelompok per kelompok) guna mengoptimalkan kegotong-royongan diantara peserta. Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi, maka program JK diselenggarakan melalui pengendalian mutu, pembiayaan yang optimal, serta pemberian pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan medik. 2) Manfaat JK bersifat pelayanan individual yang mempunyai kebutuhan medik yang luas mencakup pelayanan promotif - preventif, seperti imunisasi dan Keluarga Berencana. 3) Paket jaminan harus memadai dan dirasakan manfaatnya dalam rangka menjamin kesinambungan program dan tingkat kepuasan peserta. Pelayanan disesuaikan dengan standar kebutuhan peserta yang dapat berubah dan

kemampuan keuangan BPJS. Paket jaminan JK ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun. 4) Pemeliharaan kesehatan diberikan oleh penyelenggara pelayanan kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta yang memenuhi standar tertentu dan berizin. Apabila tidak tersedia fasilitas pelayanan dimaksud, kepada peserta diberikan kompensasi. 5) Manfaat rawat inap diberikan di rumah sakit pemerintah / swasta di kelas standar. Manfaat kelas standar (bukan pelayanan mediknya, tetapi pelayanan non medik). Pada awalnya pelayanan non medik dapat berbeda antara kelompok yang berpenghasilan tinggi dengan yang

rendah dan penduduk miskin yang iurannya dibayarkan pemerintah. Akan tetapi pada akhirnya nanti, semua pelayanan medik dan pelayanan non mediknya akan diberikan secara sama yaitu setara dengan perawatan kelas II RS swasta saat ini bagi semua peserta. Peserta khusus yang preminya dibayarkan oleh pemerintah pada tahap awal juga dapat dijamin hanya untuk pelayanan rawat inap jika jumlah iuran dari pemerintah tidak mencukupi untuk menjamin secara komprehensif. 6) Pemeriksaan deteksi dini (screening) terhadap penyakit/kondisi tertentu seperti pap smear, potensi penyakit akibat kerja, dll diberikan secara berkala kepada peserta yang memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan kemampuan keuangan BPJS. 7) Standar pelayanan medik termasuk standar manajemen pelayanan medik serta obat akan diatur oleh Departemen Kesehatan dan tidak akan diatur dalam UU SJSN. 8) Besarnya tarif pembayaran pelayanan kesehatan kepada fasilitas kesehatan ditetatapkan bersama oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah, Asosiasi fasilitas kesehatan, dan Kantor Cabang BPJS sesuai dengan standar dan harga yang wajar di wilayah tersebut dan ditinjau setiap dua tahun sekali. 9) Dalam pembayaran manfaat pelayanan kesehatan, BPJS melakukan koordinasi dengan badan penyelenggara lainnya (seperti PT Jasa Raharja untuk kecelakaan

lalu lintas) dengan menggunakan prinsip indemnitas (jumlah total penggantian biaya pelayanan kesehatan tidak melebihi jumlah biaya pada fasilitas kesehatan (incurred cost) berdasarkan tarif yang telah ditetapkan. 10) Pembayaran kepada fasilitas kesehatan dilakukan secara prospektif (paket pelayanan dan besarnya pembayaran per paket ditetapkan dimuka) dan peserta dapat diharuskan untuk membayar sebagian kecil biaya (urun biaya) untuk pelayanan tertentu sebagai alat untuk mengendalikan pemanfaatan yang berlebih atau mengendalikan biaya pelayanan. c. Iuran 1) Untuk peserta yang menerima upah, iuran ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerja dalam porsi yang sama (50:50). Hal ini dengan pertimbangan bahwa pekerja dan keluarganya perlu turut bertanggung njawab atas kesehatan mereka. Konsepsi ini diberlakukan di banyak

negara. Disamping itu Pemberi kerja dapat mengkompensasi iuran yang dibayarkan oleh peserta sebagai tambahan upah. Besaran iuran akan diperhitungkan dengan analisis aktuaria tiap dua tahun. 2) Iuran untuk pekerja formal ditentukan secara berkala dengan Peraturan Pemerintah. Mengingat biaya pelayanan kesehatan meningkat dengan cepat. 3) Iuran bagi pekerja di sektor informal ditetapkan dengan formula/jumlah tetap yang akan dikembangkan oleh DJSN dengan mempertimbangkan kemampuan pendapatan penduduk dan tingkat kemahalan pelayanan kesehatan di suatu daerah. 4) Iuran bagi peserta pensiunan ditentukan secara berkala dengan Peraturan Pemerintah. 5) Pekerja yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dibebaskan dari pembayaran iuran maksimum 6 (enam) bulan. Setelah itu apabila peserta tidak mampu mengiur, mereka maasuk dalam kelompok tidak mampu. 6) Dalam masa transisi jumlah iuran yang harus kembali kepada peserta dalam bentuk pelayanan dan dana cadangan sekurang-kurangnya 85% dan secara

bertahap dinaikkan sampai 95% dari total iuran. Pada tahun ke 11 tidak boleh melebihi 5% dari total iuran yang diterima untuk program 7) Paling sedikit 80% dari iuran yang terkumpul di suatu daerah dapat dirundingkan untuk dialokasikan bagi pembayaran pelayanan kesehatan di daerah. Sisanya akan diperhitungkan untuk biaya rujukan ke daerah lain, cadangan teknis, biaya operasional program JK dan untuk menstimulansi peningkatan fasilitas pelayanan medik di daerah.

A. Kepesertaan 1. Pengertian Peserta adalah semua penduduk yang membayar iuran sesuai dengan ketentuan masing-masing program. Yang dimaksud penduduk adalah WNI yang berada di dalam maupun di luar negeri dan Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal di Indonesia untuk masa paling sedikit 6 (enam) bulan. Untuk program jangka pendek, WNA yang bekerja di Indonesia wajib membayar iuran atau menjadi peserta. Sedangkan unutk program jangka panjang, hanya WNA yang tak menjadi peserta jaminan sosial yang sama di negara asalnya dan ada perjanjian timbal balik dengan negara tersebut yang diwajibkan menjadi peserta. 2. Sifat kepesertaan Pada prinsipnya setiap penduduk wajib menjadi peserta, akan tetapi upaya penegakan hukum atas kepesertaan tersebut diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan kesiapan teknis pengumpulan iuran dan kelayakan program. 3. Kewajiban peserta Setiap peserta wajib membayar iuran secara teratur. Pemberi kerja wajib memotong iuran dari upah pekerja, menambahkan iuran yang menjadi tanggung

jawabnya dan membayarkan ke rekening BPJS setiap awal bulan. Bagi pekerja di sektor informal seluruh iuran ditanggung oleh peserta. Penduduk di sektor informal dan yang tidak bekerja dan tidak mampu tetap wajib menjadi peserta dengan iuran yang ditanggung, akan tetapi sebagian atau seluruh iurannya (tergantung tingkat kemiskinannya) dibayarkan oleh Pemerintah. 4. Hak peserta Setiap peserta berhak memperoleh manfaat sesuai ketentuan program. Persyaratan dan tata cara memperoleh manfaat diatur oleh peraturan perundangan SJSN. Yang dimaksudkan dengan persyaratan adalah kejadian yang menimbulkan hak seperti kejadian sakit merupakan syarat peserta berhak mendapatkan jaminan kesehatan sedangkan memasuki usia pensiun merupakan syarat untuk memperoleh hak pensiun. 5. Syarat kepesertaan a. Setiap peserta harus mempunyai Nomor Identitas Jaminan Sosial b. Setiap peserta harus membayar iuran, baik yang dibayarkan dari upah sendiri, dari pemberi kerja, oleh orang tua sebagai peserta, maupun oleh Pemerintah. 6. Pendaftaran peserta a. Pendaftaran peserta di sektor formal. Pemberi kerja di sektor formal, sesuai dengan jumlah pekerja yang dimilikinya, wajib mendaftarkan dan membayarkan iuran seluruh pekerjanya dan seluruh pimpinannya ke BPJS paling lama satu bulan setelah terjadinya hubungan kerja. Dalam pendaftaran peserta tersebut, pemberi kerja wajib melampirkan data pribadi pekerja secara lengkap beserta daftar anggota keluarga yang akan menjadi ditanggung oleh peserta. Termasuk dalam daftar anggota adalah orang tua atau mertua yang sah. Formulir lengkap pekerja dapat diambil dari kantor cabang BPJS dan dari website BPJS. b. Pendaftaran oleh kelompok. Pekerja sektor informal yang memiliki kelompok usaha atau koperasi mendaftarkan diri dan anggota keluarganya melalui organisasi usahanya. Organisasi usaha seperti koperasi atau asosiasi usaha wajib mendaftarkan anggotanya dan anggota keluarga mereka ke BPJS sebagaimana pemberi kerja wajib mendaftarkan pekerjanya. c. Pendaftaran oleh pekerja yang bersangkutan. Pekerja sektor informal yang tidak menjadi anggota asosiasi atau koperasi di bidang usahanya mendaftarkan diri

mereka dan anggota keluarganya ke BPJS secara perorangan. Sesuai pentahapan, DJSN akan menetapkan kriteria/persyaratan pekerja sektor informal yang dapat mendaftarkan diri pada suatu tahap tertentu. Persyaratan pendaftaran ini diperlukan untuk menjamin bahwa pekerja dapat membayar iuran secara teratur. d. Pendaftaran oleh Pemerintah (kelompok khusus/tak mampu). Kelompok khusus seperti penduduk di sektor informal yang tergolong penduduk miskin yang berhak mendapat bantuan atau subsidi iuran menjadi peserta melalui pendaftaran oleh instansi pemerintah daerah yang bertanggung-jawab untuk itu, sesuai dengan peraturan perundangan. 7. Tanda kepesertaan Setiap peserta yang telah didaftarkan atau mendaftarkan diri, termasuk anggota keluarganya, Kantor cabang BPJS akan memberikan Kartu BPJS yang merupakan kartu identitas yang diperlukan untuk mendapatkan hak manfaat. Penerbitan kartu sementara oleh kantor cabang BPJS harus diselesaikan pada hari yang sama sedangkan kartu BPJS tetap harus sudah diselesaikan paling lambat dalam waktu satu minggu. 8. Perluasan kepesertaan Kepesertaan mencakup seluruh penduduk dan dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan penyelenggaraan dan kelayakan program. BPJS, Pemberi Kerja, Pekerja, Pemerintah dan Masyarakat perlu bersama-sama mengupayakan perluasan kepesertaan dimaksud. B. Manfaat 1. Pengertian Hak peserta yang dijamin SJSN bervariasi sesuai dengan jenis program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang layak. 2. Jenis manfaat Manfaat program JSN terbagi menjadi dua golongan besar yaitu: a. Manfaat dalam bentuk dana tunai lump-sum maupun berkala b. Pelayanan kesehatan/kedokteran 3. Jumlah manfaat Besarnya santunan untuk masing-masing program bervariasi sesuai program. Pada prinsipnya manfaat diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal. Dalam

hal pelayanan kesehatan, kebutuhan dasar yang minimal bukanlah pelayanan yang murah atau yang hanya diberikan oleh dokter atau puskesmas, akan tetapi seluruh kebutuhan yang secara medik perlu diberikan kepada yang bersangkutan, khususnya yang tidak sanggup dipikul sendiri. Manfaat diberikan di tempat pelayanan yang dapat dijangkau peserta dengan mekanisme yang sederhana. 4. Lama jaminan / manfaat Masing-masing program mempunyai batas maksimum atau jumlah tertentu dalam pemberian manfaat sesuai dengan ketentuan masing-masing program. Badan penyelenggara harus menyampaikan tentang hak-hak peserta dan cara memperolehnya. 5. Penerima manfaat Program SJSN memberikan manfaat kepada dua jenis penerima, sesuai dengan ketentuan masing-masing progam a. Peserta Program Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kecelakaan Kerja hanya diberikan kepada peserta apabila peserta masih hidup. Apabila peserta telah meninggal, manfaat JHT dan pensiun publik diberikan kepada ahli waris yang berhak. c. Peserta dan anggota keluarganya. Jaminan kesehatan diberikan kepada peserta dan seluruh anggota keluarganya sedangkan jaminan kematian hanya diberikan kepada anggota keluarga (ahli waris) yang berhak menerimanya.

6. Pembayaran manfaat a. Jaminan Kesehatan

Jaminan kesehatan diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan milik Pemerintah maupun milik Swasta yang mengikat kontrak dengan BPJS. Apabila tidak ada fasilitas pelayanan kesehatan dimaksud, maka diberikan kompensasi sebagai pengganti sesuai standar. Pembayaran BPJS kepada fasilitas kesehatan didorong kepada pembayaran prospektif, pembayaran yang besarannya disepakati dimuka oleh kedua belah pihak. Dengan pembayaran prospektif ini, maka perlu disusun paket-paket pelayanan dan tarif yang harus dibayar oleh BPJS. Pembayaran prospektif dapat dilakukan dengan cara pembayaran kapitasi,

paket, per hari rawat, ataupun berdasarkan per diagnosis. Pembayaran kapitasi adalah pembayaran kepada fasilitas kesehatan yang berdasarkan jumlah peserta dalam keadaan sehat yang diperhitungkan per kapita per bulan. Pembayaran per diagnosis adalah pembayaran berdasarkan jenis penyakit, bukan berdasarkan jumlah pelayanan yang diberikan. Pembayaran prospektif merupakan cara pembayaran yang efektif dan efisien sehingga dana JSN dapat terkendali. b. Jaminan Kecelakaan Kerja Jaminan kecelakaan kerja memiliki dua jenis manfaat yaitu yang berupa pelayanan kesehatan dan berupa uang apabila peserta menderita cacat sementara ataupun cacat tetap permanen. Pembayaran untuk manfaat yang berupa pelayanan akan dilakukan sama dengan yang dilakukan untuk jaminan kesehatan. Namun demikian, untuk manfaat yang berbentuk uang tunai, yang merupakan pengganti pendapatan selama peserta tidak mampu bekerja akibat kecacatan, dibayarkan secara berkala kepada peserta yang memenuhi syarat. c. Jaminan Hari Tua, Pensiun, dan Kematian 1) Secepat-cepatnya lima tahun sebelum memasuki masa pensiun, pekerja mengajukan permintaan pembayaran jaminan hari tua dan pensiun kepada kantor BPJS. Dalam hal peserta meninggal dunia sebelum usia pensiun, maka ahli waris harus melaporkan kematian peserta sekaligus mengisi permohonan pembayaran JHT dan pensiun. Seluruh iuran JHT dan hasil pengembangannya dibayarkan kepada ahli waris. Sedangkan uang pensiun dibayarkan secara berkala kepada ahli waris yang sah. 2) Dalam hal peserta meninggal dunia, ahli waris juga berhak mendapatkan jaminan kematian. Pemberi kerja atau ahli waris mengajukan permintaan pembayaran jaminan kematian disertai dokumen yang diperlukan.

C. Iuran dan Dana JSN 1. Pengertian a. Iuran JSN adalah sejumlah dana berupa prosentase tertentu dari gaji atau upah atau penghasilan yang dibayarkan secara teratur oleh peserta dan pemberi kerja

untuk memenuhi pembayaran manfaat bagi peserta di kemudian hari dan memenuhi biaya operasional penyelenggaraan JSN. b. Dana JSN atau Dana adalah himpunan iuran peserta beserta hasil pengembangannya dan sumber lain yang sah yang diamanatkan peserta kepada BPJS untuk dikelola dan diinvestasikan guna memenuhi pembayran manfaat bagi peserta di kemudian hari c. Keseluruhan Dana adalah milik peserta yang diperuntukkan bagi pemenuhan hak peserta di kemudian hari. 2. Sifat himpunan dana Dana yang terkumpul dan hasil pengembangannya merupakan Dana Amanat (trust funds) yang berarti bahwa dana tersebut tidak dapat digunakan oleh BPJS kecuali disetujui oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebagaimana yang diatur dalam undang-undang. 3. Besar iuran Besarnya iuran untuk masing-masing program diatur lebih lanjut dalam Bab V tentang program-program. 4. Sumber iuran Iuran untuk program SJSN bersumber dari : a. Pekerja b. Pemberi kerja. Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah termasuk dalam kategori Pemberi Kerja untuk Pegawai Negeri, TNI dan Polri, serta pensiunan PNS dan TNI-Polri. c. Pemerintah (untuk yang penduduk yang tidak mampu) 5. Frekuensi pembayaran iuran Setiap pekerja yang mempunyai pendapatan bulanan seperti upah, bonus dan hasil penjualan barang atau jasa wajib membayar iuran secara bulanan. Bagi pekerja di sektor formal, pemberi kerja wajib memungut dan menambahkan pembayaran iuran serta membayarkan iuran ke BPJS. Pemerintah Daerah wajib membayarkan iuran bagi pegawainya dan bagi penduduk yang tidak mampu yang iurannya ditanggung Pemerintah. 6. Pengumpul dan pengelola dana

Badan JSN yang dalam hal ini Direktorat Administrasi JSN yang dibentuk dengan undang-undang ini bertanggung jawab mengumpulkan, mengelola, dan

membayarkan manfaat kepada peserta atau fasilitas kesehatan dalam hal manfaat diberikan dalam bentuk pelayananan kesehatan. 7. Pembayaran Iuran a. Iuran dibayar oleh pemberi kerja untuk seluruh pekerjanya setiap bulan melalui rekening BPJS di bank-bank yang ditunjuk, paling lambat tanggal 15 untuk iuran di bulan yang bersangkutan. b. Keterlambatan pembayaran iuran dikenakan denda yang ditanggung oleh pemberi kerja.

8. Penggunaan dana Dana yang terkumpul hanya dapat digunakan sesuai dengan peraturan perundangundangan ini. Dana yang belum digunakan untuk pembayaran manfaat akan diinvestasikan dalam berbagai instrumen investasi yang akan diatur secara ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan dana. 9. Pertanggungjawaban BPJS harus membuat laporan akun peserta dan menyampaikannya kepada peserta setiap tahun. Selain itu, BPJS harus membuat pertanggung-jawaban

penyelenggaraan JSN secara berkala kepada Presiden. Laporan neraca keuangan SJSN yang telah diaudit harus dipublikasikan di media masa di tingkat Nasional dan di tingkat Daerah sebagai suatu upaya keterbukaan manajemen. 10. Pengawasan Pengawasan penyelenggaraan JSN dilakukan oleh badan audit internal yang dibentuk di lingkungan BPJS dan Badan Audit Eksternal (Badan Pemeriksa Keuangan dan atau Akuntan Publik) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karena BPJS merupakan badan penyelenggara JSN, maka harus dikembangkan Sistem Akuntansi Khusus Dana Publik yang dikelola oleh BPJS. 11. Investasi

Investasi dana amanat dilakukan oleh BPJS sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan UU SJSN. Investasi harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, keamanan Dana, solvabilitas, likuiditas, dan transparansi. D. Biaya Operasional Program 1. Biaya Operasional Program Jaminan Kesehatan (JK) dan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Biaya operasional adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk mengelola BPJS dari mulai pendaftaran peserta sampai pembayaran manfaat. Yang termasuk biaya operasional adalah biaya upah pengelola, direksi, anggota DJSN, bonus prestasi, kewajiban iuran JSN, biaya bahan dan alat habis pakai, biaya gedung dan kantor, biaya listrik, air dan komunikasi, biaya transportasi, dan biaya perjalanan yang terkait dengan penyelenggaraan SJSN. Program JK dan JKK merupakan program jangka pendek dalam arti manfaatnya dapat segera dinikmati, yaitu bahwa iuran yang dihimpun kemungkinan digunakan pada tahun yang sama. Karena himpunan (pool) program ini yang bersifat nasional dan besar, dapat terjadi efisiensi yang sangat tinggi. Pengalaman negara-negara lain menunjukkan bahwa biaya operasional yang dibutuhkan paling banyak hanya 5% (lima persen) dari iuran yang diterima setahun. Oleh karenanya, biaya operasional yang meliputi biaya gaji/upah pengelola, administrasi, pengadaan yang dibutuhkan, perjalanan, dan bonus pengelola akan dibatasi maksimum 5% (lima persen). Tentu saja, pada awal penyelenggaraan JSN, jumlah peserta dalam himpunan belum cukup besar, karenanya dalam 10 tahun pertama biaya operasional dimungkinkan dapat mencapai maksimum 15%. 2. Biaya Operasional Program Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP) dan Jaminan Kematian (JKm). Program JHT dan JP merupakan program yang manfaatnya dinikmati dalam program JHHT dan JP merupakan program jangka panjang, yaitu bahwa iuran yang terkumpul akan dihimpun dan diinvestasi sampai peserta memasuki usia pensiun. Akumulasi iuran peserta dapat mencapai 40 tahun, baru hak peserta timbul. Oleh karenanya, akan terhimpun dana yang besar sekali yang dapat dikelola oleh BPJS. Untuk mengelola program yang dananya sangat besar tersebut, tidak diperlukan biaya operasional yang diambil dari iuran peserta.

Program JKm merupakan program santunan yang diberikan pada ahli waris pada saat peserta meninggal dunia. Biaya operasional cukup diambil dari sebagian kecil maksimum 5% dari hasil pengembangan Dana. Sudah barang tentu pada tahap awal dimana himpunan peserta belum cukup besar, prosentase hasil

pengembangan yang dapat digunakan untuk biaya operasional dapat lebih besar. Setiap tahun DJSN akan menghitung prosentase hasil pengembangan yang boleh digunakan untuk biaya operasional. E. Mekanisme Pembentukan dan Pengembangan Kelembagaan 1. Kelembagaan SJSN Segera setelah UU SJSN diundangkan, Presiden membentuk DJSN dengan tugas membantu Presiden di dalam menetapkan kebijakan umum dan sinkronisasi penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional. b. Tata Kerja BPJS / Manajemen Operasional SJSN

Tata kerja BPJS Akan diatur secara rinci dengan Peraturan Pemerintah sesuai dengan UU SJSN. BAB VII PENEGAKAN HUKUM A. Akses Informasi Sebagai suatu sistem, SJSN telah dirancang dengan memperhatikan kondisi pelaksanaan berbagai program jaminan sosial saat ini dan proyeksi yang akan datang. Secara substantif, materinya memuat aturan mengenai kelembagaan, mekanisme kerja dan berbagai kewajiban yang terkait dengan operasional sistem. Untuk lebih menjamin bekerjanya sistem tersebut, perlu diatur ketentuan mengenai penegakan hukumnya baik dalam bentuk sanksi administratif maupun sanksi pidana. Secara strategis, keduanya diperlukan sebagai pemaksa bagi kepatuhan dan ketaatan pihak-pihak terkait guna terwujudnya Sistem JSN yang efektif dan memadai sebagaimana yang diharapkan. Dalam hal tertentu, pengenaan sanksi di atur secara berjenjang. Artinya, apabila sanksi administratif tidak efektif untuk memaksa pelaksanaan kewajiban, maka diterapkan sanksi pidana.

B. Sanksi Administratif Sanksi administratif dikenakan terhadap pelanggaran ketentuan mengenai kewajiban membayar iuran. Bentuknya berupa denda yang dikenakan setelah terlebih dahulu diberikan peringatan dalam jangka waktu yang cukup. Pihak-pihak yang berpotensi melakukan pelanggaran ini adalah pemberi kerja dan pekerja. Bentuk pelanggaran lazimnya berupa keterlambatan pembayaran iuran atau mendaptarkan sebagian saja pegawai. Karenannya, sanksinya ditetapkan dalam formula perhitungan denda sebesar 1 % (satu persen) dari iuran pokok perbulan untuk paling lama dua belas bulan. Apabila setelah dilakukan pemeriksaaan ternyata terdapat kekurangan

pembayaran iuran, maka peserta yang bersangkutan diwajibkan melunasi kekurangannya itu disertai dengan denda yang ditetapkan sebesara satu persen sebulan yang dihitung dari jumlah kekurangan tersebut untuk paling lama dua belas bulan. Selanjutnya apabila selewatnya batas waktu dua belas bulan ternyata peserta tetap tidak memenuhi kewajiban membayar iurannya, maka terhadap tindak pelanggaran itu dikenakan sanksi pidana. C. Sanksi Pidana Sanksi pidana diarahkan pada pelanggaran kewajiban, baik yang dilakukan oleh pemberi kerja di sektor formal maupun di sektor informal, serta badan penyelenggara. Sanksi pidana bagi pemberi kerja dikenakan apabila pemberi kerja tersebut tidak melaksanakan kewajiban mendaftarkan pekerjanya kepada badan penyelenggara. Khusus bagi pemberi kerja di sektor informal kewajiban untuk mendaftarkan tersebut berlaku untuk dirinya dan pekerjanya. Betapapun sanksi seperti itu diperlukan sebagai upaya pemaksa bagi pemenuhan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Yang pasti, sanksi pidana tidak di arahkan kepada peserta. Hal ini perlu ditegaskan mengingat kewajiban ini bukan menyangkut pembayaran iuran kepesertaan, tetapi lebih kepada kewajiban untuk mendaftarkan diri dan pekerja sebagai peserta SJSN. Di beberapa negara yang telah mengembangkan sistem seperti ini, sanksi pidana juga ditentukan bagi peserta yang tidak membayar iurannya. Hal ini dimungkinkan mengingat sistem yang diberlakukan telah mengharuskan setiap peserta membayar sendiri secara langsung iuran kepesertaan, karenanya sanksi

pidana dapat diberlakukan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh peserta tersebut. Adapun sanksi pidana bagi pemberi kerja yang tidak mendaftarkan pekerjanya atau tidak memungut iuran dari pekerja, ditetapkan secara kumulatif, yaitu hukuman kurungan dan denda. Sanksi seperti itu tidak mengurangi ataupun menghapus kewajiban pembayaran iuran yang tertunggak. Bahkan, apabila pelanggaran diulang kembali, maka harus dikenakan sanksi tambahan. Sanksi pidana juga diberlakukan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh badan penyelenggara, yaitu dalam hal badan penyelenggara tidak melaksanakan kewajiban memberikan manfaat program sebagaimana di tetapkan. Dalam hal tindak pelanggaran itu terjadi karena kesalahan direksi dan/atau komisaris, maka pidana denda diperberat dengan pidana kurungan. D. Penyidikan Mengingat bentuk-bentuk pelanggaran yang diancam dengan sanksi pidana tersebut secara tehnis tidak pelik dan bersifat sederhana, maka penyidikannya tidak perlu dilakukan oleh pejabat penyidik khusus (PPNS). Penyidikan cukup dilakukan oleh penyidik kepolisian sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. BAB VIII MASA PERALIHAN Sistem Jaminan Sosial Nasional dimaksudkan untuk menjamin adanya satu sistem penyelenggaraan secara nasional. Untuk mewujudkan adanya satu sistem yang berskala nasional diperkirakan membutuhkan waktu yang panjang. Oleh sebab itu dalam jangka pendek lembaga-lembaga yang sekarang ada dapat melanjutkan program-programnya berdasarkan ketentuan masing-masing sambil menyesuaikan diri terhadap satu sistem nasional sebagaimana dimaksud dalam UU SJSN. Prinsip-prinsip yang akan diterapkan dalam masa peralihan adalah sebagai berikut: 1. Tidak merugikan peserta yang telah mengikuti program jaminan sosial yang sedang diselenggarakan oleh PT. Jamsostek, PT. Askes, PT. Taspen dan PT. Asabri;

2. Memanfaatkan personil, sistem dan kekayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang ada tanpa harus menimbulkan pemutusan hubungan kerja atau kerusakan sistem yang ada; 3. Melakukan perubahan sistem, program, maupun kekayaan yang ada secara bertahap sehingga tidak menimbulkan gejolak di kalangan personil maupun peserta jaminan sosial yang ada sesuai UU SJSN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->