You are on page 1of 12

Realisme dan Neorealisme

Hubungan Internasional yang muncul sebagai salah satu subyek akademik yang relatif masih muda, lahir dengan adanya perdebatan-perdebatan atau yang dalam istilah lain lebih dikenal sebagai “Great Debates” antar teoritisi-teoritisi HI yang ada. Perdebatan awal membahas tentang apa itu sebenarnya realisme atau dalam bahasa lain disebut juga sebagai realpolitik. Menurut Jack Donnely, realisme merupakan suatu term yang sangat luas yang digunakan di berbagai bidang. Sebut saja filosofis, realisme sains, dll. Lebih lanjut Donnely menambahkan, yang dimaksud dengan political realism dalam Hubungan Internasional adalah suatu tradisi yang menekankan sisi imperatif suatu negara untuk mendapatkan power politics sesuai dengan national interest-nya1[1]. Definisi ini mungkin berbeda, namun secara umum tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Gilpin dalam artikel tersebut menyatakan bahwa realisme menekankan pada perjuangan politik yang dipengaruhi oleh human selfishness („egoism‟) dan tidak adanya pemerintahan internasional (‘anarchy’) sehingga dibutuhkan kekuatan dalam kehidupan politik yang berupa power dan security. Keohanne menambahkan bahwa rasionalitas dan state-centrism juga merupakan inti utama premis-premis kaum realis. Untuk dapat lebih memahami pemikiran dan asumsi dasar realis, Donnely mencontohkan dengan Thomas Hobbes dan realism klasiknya. Thomas Hobbes merupakan salah seorang tokoh realis yang terkenal dengan karyanya yang berjudul Leviathan. Tiga asumsi dasar Hobbes dalam karyanya tersebut adalah bahwa manusia itu sama, manusia berinteraksi pada kondisi anarki, dan manusia dilingkupi oleh kompetisi. Asumsi Hobbes ini mempengaruhi manusia agar tetap dapat berrtahan dalam state of nature dimana yang kuatlah yang bisa menang karena tidak ada pemerintah atau kekuatan yang mngatur mereka (anarki). Pendapat Hobbes ini tak jauh berbeda dari pendapat-pendapat sebelumnya, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa asumsi dasar realis adalah human selfishness („egoism‟) konsekuensi dari asumsi man are equal, anarchy (tidak adanya pemerintahan tunggal atau international order), power, dan rationality. Lantas, apa yang dimaksud dengan neorealisme? Apa bedanya dengan realisme itu sendiri? Dalam artikel tersebut Donnely tidak menyebutkan secara gamblang mengenai 1[1] Jack Donnely, „Realism‟, in Scott Burchill, Andrew Linklater, „Theories of International Relations, Third Editions‟, 2005, Palgrave Macmillan

„Realism‟. yang kedua mereka adalah aktor-aktor yang rasional. Waltz juga menambahkan bahwa sistem internasional merupakan anarki yang terbentuk karena interaksi negara-negara di dalamnya sehingga memaksa mereka untuk mengambil tindakan tertentu guna mempertahankan diri. John. setiap negara menggunakan beberapa kapabilitas militer ofensif. Selain itu. setidaknya ada persamaan dan perbedaan antara realism dan neorealism. Mearsheimer. Dalam beberapa literatur lain. lebih fokus pada human beings atau manusia itu sendiri sedangkan structural realism memfokuskan pada apa yang disebut Waltz sebagai unit atau negara. „Theories of International Relations. . Waltz dianggap sebagai tokoh neorealisme itu sendiri. Perbedaan antara keduanya adalah realism. Palgrave Macmillan 3[3] J. tujuan utama negara adalah survival. hal ini juga dijadikan alasan mengapa kaum realis memandang bahwa power sangat penting bagi suatu negara dalam struktur internasional. Structural realism mengabstrakkan segala atribut negara kecuali kapabilitasnya (power)agar terlihat jelas dampak adanya anarki dan distribusi kapabilitas (power). Pertama adalah great powers adalah aktor utama dalam world politics. Third Editions‟. seperti yang dicontohkan Hobbes. Dengan demikian akan timbul suatu pemikiran bahwa power sangat penting untuk dimiliki dimana man are equal atau states differ from its capabilities. in Scott Burchill. negara tidak akan pernah dapat memastikan niat/perilaku negara-negara lainnya. setidaknya ada lima asumsi mengapa negara membutuhkan power. Structural realism. Ketiga. Persamaan keduanya adalah asumsi dasar bahwa sistem/struktur internasional adalah anarki. Keempat. yang juga seorang structural realis.neorealisme tetapi structural realism yang dimotori oleh Kenneth Waltz. Sehingga struktur politik internasional hanya berbeda dari distribusi kekuatan negara-negara yang ada atau dengan kata lain percaturan internasional bergantung pada seberapa banyak great powers2[2]. Ini juga yang membawa Waltz agar menggunakan sistem balance of power. Andrew Linklater. Berdasarkan uraian di atas. Mearsheimer 2[2] Jack Donnely. Dan kelima dalah bahwa negara-negara adalah aktor-aktor yang rasional yang mampu memaksimalkan segala cara agar tetap survive3[3]. Argument Waltz bahwa sistem internasional itu anarki adalah bahwa perbedaan antar negara hanya terletak pada kapabilitasnya (power) bukan fungsinya. dimana apabila ada aktor lain yang kuat maka harus diimbangi dengan kekuatan yang sama. Menurut Mearsheimer. 2005. sehingga kestabilan dapat tercapai. Kedua.

Dimana tiap-tiap aktor yang “rasional‟ tadi mencoba untuk selalu waspada terhadap apapun yang terjadi di sekitarnya. Andrew Linklater. „Theories of International Relations. in Scott Burchill.menambahkan bahwa power merupakan suatu tujuan bagi kaum realis. 2005. in Scott Burchill. Palgrave Macmillan [3] J. sedangkan menurut kaum structural realis. Third Editions‟. „Realism‟. Andrew Linklater. Mearsheimer. John. Palgrave Macmillan . [1]Jack Donnely. Third Editions‟. Third Editions‟. Andrew Linklater. terutama ancaman dari aktor-aktor lain yang sama-sama berada dalam ketidakpastian dan dalam sistem yang anarki. Mearsheimer. „Theories of International Relations. „Theories of International Relations. Structural realism. 2005. Berdasarkan sedikit uraian di atas terlihat bahwa fokus utama pada studi HI pertama kalia dalah tentang masalah survival. „Realism‟. „Realism‟. Palgrave Macmillan [2] Jack Donnely. John. power merupakan alat untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu survival4[4]. in Scott Burchill. [4] J. Referensi : Jack Donnely. Structural realism. 2005.

menyatakan bahwa hubungan internasional atau hubungan antar negara adalah hubungan kerjasama dan nonkonfliktual. Realisme menyatakan bahwa manusia sering bertindak irasional dan amoral. Sehingga. Ketiga. Menurut David Sidorsky. pertama merupakan suatu konsepsi tentang manusia yang menginginkan kebebasan dan kemampuan untuk menggunakan pilihan rasional secara bebas. Menurutnya.Liberalisme dan Neorealisme Liberalisme merupakan suatu filosofi sosial dan politik yang lahir di Eropa pada zaman pertengahan setelah jatuhnya Imperium Roma pada abad 476 sampai awal berdirinya Renaissance pada tahun 1300an dan 1400an. Adanya pandangan positif ini mendorong kaum liberal agar dibentuknya suatu institusi yang dapat menjamin perdamaian setelah Perang Dunia I. tidak menyangkal bahwa manusia akan bersikap demikian. liberalisme merupakan sesuatu yang memandang sejarah dapat berkembang lebih baik melalui campur tangan manusia terhadap institusi sosial[1]. Namun. dan politik yang dapat menguntungkan semua pihak yang dinamakan harmony of interest[3]. Memandang hubungan internasional dalam konteks konflik atau bahkan perang. liberalisme merupakan perspektif akan institusi sosial yang terbuka bagi keinginan individu. ekonomi. kaum liberal sepakat dengan kaum realis yang memandang bahwa sistem internasional adalah anarki. Namun. liberalisme yang menjunjung tinggi akal pikiran manusia yang rasional menganggap bahwa manusia yang memiliki banyak kepentingan. Institusi tersebut yaitu Liga BangsaBangsa yang merupakan wadah bagi seluruh negara untuk dapat menyelesaikan konflik tanpa harus mengobarkan perang. liberalisme. menurut kaum liberalis hal ini hanyalah memandang sebagian kecil dari realitas yang ada. Kaum liberal mengharapkan agar hubungan internasional dipahami secara menyeluruh dan tidak melupakan bahwa kerjasama antar negara merupakan salah satu hal yang utama. dan lebih mementingkan kepentingan pribadi sehingga konflik antar manusia tidak dapat dihindari. Kedua. perhitungan kaum liberal ini keliru sehingga muncullah . perdamaian dapat dicapai dengan kerjasama antar negara sehingga konflik kepentingan dapat dihindari. akan cenderung memilih jalan kolaborasi dan kerjasama sebagai metodenya[2]. sedangkan realisme memandang manusia secara pesimis. Secara umum. Liberalisme. kaum liberal percaya akan kemungkinan terbentuknya suatu tatanan sosial. kaum liberal yang berangkat dari asumsi bahwa pada dasarnya manusia adalah baik. Namun. liberalisme memiliki pandangan yang optimis terhadap manusia. Secara tidak langsung.

kaum neoliberal menganggap bahwa dengan adanya rezim dan organisasi internasional kerukunan hubungan kerjasama antar negara dapat terjamin. Kaum neoliberal yang menggunakan pilihan rasional dan game theory percaya bahwa kerjasama antar negara dapat ditingkatkan meskipun tidak ada hegemon yang bermain di dalamnya. kaum neoliberal berpendapat bahwa kestabilan sistem internasional dapat tercapai dengan adanya rezim dan institusi internasional yang telah dibentuk tadi. merupakan bukti bahwa hubungan antar negara merupakan hubungan konfliktual. yang mampu mengatur dan mengarahkan perilaku negaranegara dalam hubungan internasional. Namun. Pendapat ini dibantah oleh kaum liberal yang menganggap bahwa perang terjadi akibat pemerintahan yang tidak demokratis dan militaristik[4]. rezim internasional dan organisasi internasional merupakan alat yang dapat menjamin keberlangsungan kerjasama antar negara. adanya kenyataan (Perang Dunia II). Secara tidak langsung baik liberalisme maupun neoliberalisme bersikap optimistik akan hubungan internasional. Adanya kemajuan di bidang ekonomi maupun teknologi membuat negara-negara semakin tergantung satu sama lain. kaum neoliberal memiliki kepercayaan yang lebih besar akan terbentuknya kerjasama antar negara dibandingkan dengan konflik antar negara. . Menurut kaum realis.Perang Dunia II. Maka dari itu. Kaum liberal baru (neoliberal). Rezim internasional dapat memaksa perilaku negara untuk menaati kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Sehingga. Dengan demikian. Ketergantungan antar negara ini menjadi salah satu dasar bagi kaum liberal baru (neoliberal) dalam memandang hubungan internasional selanjutnya. perdamaian dimuka bumi dapat tercapai. EEC) maupun internasional (GATT). Rezim internasional juga dapat meningkatkan kepercayaan antar negara anggotanya[5]. secara tidak langsung sepakat dengan kaum neorealis yang menyatakan bahwa sistem internasional yang anarki dan negara merupakan kunci utama dalam hubungan internasional. Perbedaan mendasar adalah liberalisme lebih menekankan sifat dasar manusia yang baik sehingga hubungan antar negara akan diwarnai oleh kerjasama sedangkan neoliberalisme menekankan pada sistem internasional yang anarki dan aktor negara dalam hubungan internasional. Menurutnya. Hal itu dibuktikan dengan adanya organisasi-organisasi regional (e.g ASEAN.

Pengantar Studi Hubungan Internasional. Pustaka Pelajar. secara tidak langsung dapat memberikan keuntungan kepada negara dalam kerjasama internasional. Dan hubungan antar manusia cenderung dipahami sebagai kerjasama antar negara. . sehingga kerjasama antar negara justru tidak akan menguntungkan baginya.Menurut penulis. Adanya pemahaman ini menurut penulis merupakan hal yang keliru. Pustaka Pelajar. Palgrave Macmillan. pp. 2005. International Relations. Houghton Mifflin Company. Third Editions’. pp. yaitu dengan memberikan ancaman atau bahkan mengobarkan perang.44-67 Jackson. Perspectives and Controversies. p.141 . p. ‘Theories of International Relations. 2005. power sejatinya tidak boleh diabaikan. International Relations. Robert and George Sorensen. 2005. Mereka berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik sehingga kerjasama cenderung dipilih sebagai metode dalam hubungan dengan sesamanya. Penulis tidak sepenuhnya sependapat dengan pernyataan ini karena pada kenyataannya kaum liberal lupa bahwa terkadang manusia itu bersifat egoistik. 2005. Walaupun mereka berpendapat bahwa hubungan internasional lebih ditekankan dalam hubungan kerjasama. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Houghton Mifflin Company. Referensi : Keith L. Shimko. Shimko. Andrew Linklater dkk. Dengan adanya power. baik kaum liberal maupun neoliberal tidak memandang power sebagai suatu hal yang penting.139-179 Scott Burchill. Sedangkan konflik antar negara dianggap lebih dapat menyelesaikan masalahnya. pp. kaum liberal terlalu memandang lebih akan sifat dasar manusia yang baik. 2005. Perspectives and Controversies. Robert and George Sorensen. Selanjutnya. Power dapat diartikan sebagai suatu bargaining positions tersendiri yang mampu menaikkan image suatu negara.51 [1] [2] Jackson.55-83 Keith L.

Pada era tersebut Marx menyaksikan kehidupan yang sangat menyedihkan dimana anak-anak bekerja menjadi buruh tanpa mendapat perlindungan hukum. dll) juga harus dilibatkan. Marx memandang bahwa kaum kapitalis hanya menyandarkan fondasinya kepada aspek ekonomi saja. „Theories of International Relations. menjadikannya berpikir bahwa agama hanyalah sebuah racun. p. Abad dimana Revolusi Industri lahir di Inggris. Marx memandang akan adanya pembagian kelas dan konlik yang menjadi fitur menonjol dalam kehidupan kapitalis. p. 2005.65 Marxisme dan NeoMarxisme (Strukturalisme) Untuk memahami marxism.[3] [4] Shimko. cit. Andrew Linklater. Third Editions‟. menjadikan adanya konflik kepentingan antar kelas.58 [5] ibid. Hal ini disebabkan karena Marx berpendapat . op. melainkan hubungan yang diwarnai konflik dan eksploitatif. Dari sini Marx menemukan istilah kapitalisme. Karl Marx merupakan salah seorang filsuf Jerman yang lahir pada pertengahan abad ke-19. Marx memandang hubungan antar keduanya bukan sebagai hubungan yang mutualistis. . „Liberalism‟. budaya. Namun menurut Marx. p. Palgrave Macmillan. Ketidaksetaraan ekonomi dan eksploitasi menurut Marx adalah penyebab mendasar timbulnya konflik sosial. politik. Adanya hubungan yang berdasarkan pada ketidaksetaraan dan eksploitasi. dalam memandang suatu fenomena sosial semua struktur (seperti sosial. Marx menambahkan bahwa doktrin agama yang menganggap kesejahteraan ekonomi tidaklah penting.52 Scott Burchill. Pembagian kelas tersebut didefinisikan Marx sebagai adanya kelas borjuis yang dimotori oleh kaum kapitalis dan kaum proletar yang merupakan kaum pekerja. sebaiknya berangkat pula dari pemahaman mengenai pemikiran Karl Marx mengenai Revolusi Industri. Hidup dalam dunia yang demikian. dalam Scott Burchill. Kapitalisme didefinisikan sebagi suatu sistem ekonomi dimana para pemilik modal (kaum kapitalis/kaum borjuis) menguasai sendi-sendi perekonomian. dkk. yang nantinya menjadi landasan bagi kaum marxis tentang marxism. ekonomi. Hal ini dikarenakan Marx melihat bahwa apa yang diterima oleh kaum pekerja tidak sesuai dengan apa yang telah mereka berikan kepada kaum kapitalis.

yang berangkat dari asumsi dasar Marx tersebut. Jadi. Terminologi core dan periphery bukan didasarkan dalam konteks keruangan atau geografis melainkan atas dasar hubungan ekonomi. Structuralism juga memandang bahwa hubungan internasional diwarnai oleh kelas-kelas. Sama halnya seperti agama. selain itu hubungan tersebut tercermin atas hubungan high-profit dan low-profit. untuk memahami hubungan internasional perlu dipahami pula bahwa hubungan tersebut ada dalam sistem kapitalisme internasional yang berdasar pada ketidaksetaraan. melainkan negara dalam konteks domestik. kaum Marxist menganggap bahwa dunia terbagi atas negara-negara Utara yang penuh kesejahteraan. Yang dimaksud dengan structuralism sebenarnya hampir sama dengan Marxism itu tadi. Adanya pembagian ini sesuai dengan teori sistem dunia-nya Emmanuel Wallerstein. dan lemah[2]. Bagi kaum Marxist. yang lebih ditekankan oleh structuralism adalah bahwa sistem kapitalisme internasional membuat negara-negara tebagi menjadi kelas-kelas yaitu core. industri dan kapitalistik dan negara-negara selatan yang miskin. memandang bahwa hubungan antar negara dalam sistem internasional sama halnya dengan hubungan antar kelas sesuai yang dicetuskan Marx. hubungan antar negara dianalogikan dengan hubungan antar kelas borjuis (negara-negara utara yang maju) dan proletar (negara-negara selatan yang miskin). yang juga melibatkan akumulasi capital. Asumsi-asumsi Marx yang demikianlah yang diadopsi oleh kaum Marxist dan membentuk Marxism. Kaum marxis. politik juga dipahami dalam konteks ada kaitannya dengan ekonomi. Wallerstein menganggap bahwa ekonomi dunia yang kapitalistik merupakan suatu sistem sosial yang terintegrasi atas pembagian tenaga kerja.bahwa ide atau gagasan yang menganjurkan orang-orang untuk menerima ketidaksetaraan (dalam bidang ekonomi) merupakan pendukung kapitalisme. Namun. semi-periphery. Prinsipnya adalah konstruksi komoditas berdasarkan rantai produksi melintas batas negara. eksploitasi dan konflik kelas. Karl Marx sebenarnya tidak berbicara banyak tentang negara dalam konteks hubungan internasional. Marx menganggap bahwa negara tidak pernah bersikap netral dan hanya menjalankan kebijakan berdasarkan kepentingan ekonomi atau dengan kata lain negara hanya menjalankan kepentingan kaum kapitalis[1]. dan periphery. Hubungan antara world capital dengan . Berbeda dengan dua mainstream HI lainnya yang memandang bahwa dunia terdiri dari banyak negara yang berdaulat yang berinteraksi satu saa lain baik dalam konflik maupun kerjasama. Hubungan antara core-periphery merupakan hubungan monopoli dalam sector produksi dan juga hubungan yang kompetitif.

Berikutnya. Menurut hemat penulis. tidak adanya pengkuan hak asasi manusia.world labour dan juga hubungan antara world capitalist dan world labour[3]. Penulis akan menghadirkan kritikan terhadap marxism maupun structuralism. karena keduanya menganggap bahwa lebih baik adanya kesetaraan atas semua hal pada manusia. padahal power maupun kekuatan militer juga penting dalam percaturan politik ionternasional. penulis dapat menyimpulkan bahwa hubungan antar negara ditentukan oleh struktur poerekonomian dunia yang kapitalistik yang membagi negara-negara berdasarkan fondasi ekonominya (kapital). hanya memperhitungkan system dunia berdasar atas sudut pandang ekonomi saja. Masyarakat dunia tidak dapat digabungkan secara langsung menjadi suatu komunitas bersama. Padahal. Atau dengan kata lain struktur kapitalisme global harus diganti dengan sosialime dimana tidak akan ada lagi kaum borjuis/kapitalis dan kaum proletar/kaum pekerja. Sehingga harus ada perubahan yang revolusioner dengan menghapuskan kelas-kelas tersebut agar terdapat kesetaraan antara semua pihak dan tidak ada lagi pembagian kelas. keduanya hanya memperhitungkan tentang sistem perekonomian dunia yang didominasi oleh kapitalisme yang membuat dunia terbagi atas kelas-kelas. karena memiliki identitas pribadi masing-masing atau adanbya nasionalisme. Kaum strukturalis. . adanya idealisme ini menurut hemat penulis utopis. Bagi kaum marxist kestabilan sistem internasional atau perdamaian dapat dicapai dengan menghilangkan kelas-kelas tersebut atau bagi structuralism menghilangkan struktur kapitalisme global. Secara tidak langsung. membuat kaum marxist merasa bahwa perlu adanya suatu perubahan atau revolusi. Adanya ketidaksetaraan dalam berbagai bidang terutama bidang ekonomi.

yang dimaksud dengan region internasional adalah kumpulan sejumlah negara yang dihubungkan atas dasar kondisi geografis dan ketergantungan bersama5[1]. p. ‘The inter-state structure of the modern world system’. Kerjasama antar negara dapat mengarah pada suatu fenomena yang disebut „regionalisme‟. Houghton Mifflin Company. pp. Region dalam perspektif hubungan internasional merupakan unit terkecil dari suatu negara yaitu nation-state. Istilah regionalisme berasal dari kata „regional‟ ditambah „isme‟. Sedangkan menurut Joseph Nye. Berdasarkan asumsi tersebut. in Keen Booth. baik itu aktor negara maupun non-negara.56-57 [1] [2] [3] ibid. „The inter-state structure of the modern world system‟. Houghton Mifflin Company. International Relations. Sedangkan regional merupakan dua atau lebih negara (nation-state) yang letaknya secara geografis berdekatan. maka Nye menyatakan bahwa regionalisme merupakan wilayah yang dibentuk berdasarkan formasi region6[2]. Shimko. International Theory:Posistivism and Beyond. Pemikiran Nye ini menunjukkan bahwa regionalisme dapat dipahami dengan . 58 Immanuel Wallerstein. Interaksi yang timbul ini dapat berupa kerjasama ataupun konflik.87-10 Keith L. pp. International Theory:Posistivism and Beyond. Perspectives and Controversies.Referensi : Keith L. 2005. pp. International Relations. in Keen Booth.87-88 Regionalisme suatu Pengantar Hubungan internasional terdiri atas berbagai macam interaksi antar aktor-aktor di dalamnya. Perspectives and Controversies. Berdasarkan pengertian tersebut maka regionalisme dapat dimaknai secara sederhana sebagai suatu kerjasama regional. Shimko. 2005.44-67 Immanuel Wallerstein. pp.

Justifikasi dari hal ini adalah ideologi.menggunakan pendekatan fisik. Pembentukan regionalisme semacam ini didasarkan atas motif ekonomi yang juga dilandasi pertimbangan geografis negara-negara anggotanya. Adanya fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain berakhirnya perang dingin yang juga mengakhiri blok-blok pada era tersebut. regionalisme hanyalah suatu rekaan atau kontruksi sosial dari anggotanya yang mendefinisikan batas-batas region tersebut7[3]. Secara sederhana NATO dipahami sebagai perjanjian pertahanan antara negara-negara yang berada di kawasan Atlantik Utara. Pada era sesudah perang dingin. Ravenhill justru berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang „murni‟ region. Regionalisme seperti yang dinyatakan oleh Fawcett ini merupakan regionalisme tradisional yang terjadi di era sebelum perang dingin. Dalam artikel Ravenhill. Sejarah awal kemunculan regionalisme ini tidak dapat dipahami secara pasti. Berbeda dengan Nye. menurut para ekonom kesejahteraan ekonomi dapat dicapai lebih maksimal jika hambatan-hambatan dikurangi. Lebih lanjut mereka menuturkan bahwa akan lebih efisien melakukan suatu negosiasi dengan banyak negara daripada dengan suatu negara atau suatu grup kecil9[5]. Pada era perang dingin. namun hal ini dibantah oleh para ilmuwan politik yang menyatakan bahwa perdagangan regional semacam ini hanya akan mengurangi kesejahteraan dalam konteks global. Selain itu. Motif-motif regionalisme era ini lebih bersifat politis. maka penulis sependapat dengan Columbis yang berpendapat bahwa hubungan kerjasama adalah berdasarkan kepentingan bukan semata wilayah. Berdasarkan beberapa contoh tersebut. terbentuk pula Gerakan Non-Blok (GNB) yang tidak memihak pada salah satu blok tersebut. apakah anggotanya didasarkan atas letak geografis atau tidak? Karena keinginan Turki untuk masuk menjadi anggota Uni Eropa masih menjadi perdebatan. Salah satu contoh adalah dengan adanya Free Trade Area (FTA). seperti (Asean Free Trade Area) AFTA atau (North Atlantic Free Trade Area) NAFTA. regionalisme terbentuk akibat adanya dua blok yang saling berseteru yaitu blok barat dan blok timur. namun Amerika Serikat juga merupakan bagian dari NATO. Ravenhill mencontohkan tentang Uni Eropa. karena pasca Perang Dunia 2 negara-negara di dunia memandang security sebagai sesuatu yang sangat penting. seperti letak geografis negara-negara anggotanya. muncul yang dinamakan „new regionalism‟ atau suatu bentuk regionalisme baru. Asumsi para ekonom . Contoh konkrit lainnya adalah NATO. namun adanya regionalisme dalam hubungan internasional dipahami oleh Louise Fawcett dengan adanya kesadaran regional dan keinginan negara-negara untuk melakukan sesuatu yang terbaik di lingkungan regional mereka8[4]. Sehingga dibutuhkan suatu „collective security’ yang dapat menjamin keamanan mereka. Hal ini membawa konsekuensi pada timbulnya keinginan untuk mewujudkan suatu kerjasama internasional yang lebih dilandasi akan motif-motif ekonomi.

2002. p. p. Global Political Economy. Global Political Economy. Regionalism in World Politics. Oxford University Press. pp. John. pp. Global Political Economy. Regionalism in World Politics. 7-36 Ravenhill. Second Edition. 172-209 [1]Joseph Nye.11 [2] Ibid.9 [5] John Ravenhill. Oxford University Press. Oxford University Press. 2002. secara implisit penulis memandang bahwa pemikiran para ilmuwan politik tersebut justru memberikan justifikasi akan terbentuknya kerjasama ekonomi internasional yang diwujudkan dalam bentuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). p. Oxford University Press. Menurut hemat penulis. Di sisi lain. Oxford University Press. in Louise Fawcett & Andrew Hurrel (eds).176-177 . Regionalism in World Politics. Second Edition. 2007. 2002. Referensi : Fawcett.11 [3] John Ravenhill. Oxford University Press. „Regionalism in Historical Perspectives’. Second Edition. in Louise Fawcett & Andrew Hurrel (eds).tersebut diyakini penulis sebagai salah satu motif terbentuknya Uni Eropa yang manjadikan Eropa sebagai suatu pasar tunggal bagi negara-negara anggotanya. 2007. p. Jadi dengan kata lain.174-175 [4] Louise Fawcett. And Hurrel. regionalisme dapat dipahami sebagai suatu „foreign economic policy‟ yang dijalankan oleh negara-negara yang berkepentingan untuk tetap mempertahankan status-quo nya. adanya kerjasama ekonomi baik secara regional maupun internasional tak lepas dari motif-motif politik yang ada di dalamnya. p. Louise. Adanya regionalisme sebagai salah satu fenomena yang cukup ramai dibicarakan saat ini merupakan salah satu strategi pemerintah dan juga para pelaku ekonomi lainnya yang ada dalam suatu negara untuk mencapai kemakmuran yang lebih baik.