Penanganan Keracunan Organofosfat

Organofosfat adalah nama umum ester dari asam fosfat. Pada tahun 1930an organofosfat digunakan sebagai insektisida, namun pihak militer Jerman mengembangkan senyawa ini sebagai neurotoksin selama perang dunia kedua.

Struktur umum organofosfat Gugus X pada struktur di atas disebut “leaving group” yang tergantikan saat organofosfat menfosforilasi asetilkholin serta gugus ini paling sensitif terhidrolisis. Sedangkan gugus R1 dan R2 umumnya adalah golongan alkoksi, misalnya OCH3 atau OC2H5. Organofosfat dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain, fosfat, fosforothioat, fosforamidat, fosfonat, dan sebagainya. Pada tahun 1983 dilaporkan angka mortalitas keracunan pestisida yang tidak disengaja mencapai 7 per 10 juta laki-laki dan 0,5 per 10 juta wanita. Biasanya, sekitar 20.000 kasus intoksikasi organofosfat dilaporkan setiap tahunnya. Pada tahun 1998, American Association of Poison Control Centers melaporkan sebanyak 16.392 jiwa terpapar organofosfat dan 11 jiwa diantaranya mengalami kematian. Anak-anak yang terpapar senyawa ini sepertinya lebih besar di negara berkembang karena anak-anak banyak yang bekerja di ladang pertanian atau disewa sebagai buruh pertanian. Penggunaan organofosfat sebagai agen bunuh diri ternyata di negara berkembang lebih besar. Bunuh diri dan keracunan organofosfat menyebabkan 200.000 kematian setiap tahunnya di negara berkembang. Penelitian tentang keracunan pestisida selama satu tahun (1999-2000) di tujuh rumah sakit di Jawa melaporkan 126 kasus, 100 kasus terjadi pada pria dan 26 kasus terjadi pada wanita. Sebanyak 11% dari kasus terjadi pada orang dewasa berusia 22-55 tahun. Penyebab keracunan antara lain karena kesengajaan (43%), pekerjaan (37%) dan kecelakaan (16%). Keracunan tersebut paling banyak disebabkan oleh pestisida golongan organofosfat. B. Mekanisme Aksi Organofosfat mempunyai aksi sebagai inhibitor enzim kholinesterase. Kholinesterase adalah enzim yang berfungsi agar asetilkholin terhidrolisis menjadi asetat dan kholin. Organofosfat mampu berikatan dengan sisi aktif dari enzim ini sehingga kerja enzim ini terhambat. Akibatnya jumlah asetilkholin dalam sipnasis meningkat sehingga menimbulkan stimulasi reseptor possinap yang persisten. Asetilkholin terdapat di seluruh sistem saraf, terutama sekali asetilkholin berperan penting pada sistem saraf autonom. Senyawa ini berperan sebagai neurotransmiter pada ganglia sistem saraf simpatik dan parasimpatik, yang mana senyawa ini berikatan dengan reseptor nikotinik. Inhibisi kholinesterase pada ganglia sistem saraf simpatik dapat menimbulkan midriasis, takikardi, dan hipertensi. Sedangkan, penghambatan kholinesterase pada ganglia sistem saraf parasimpatik menimbulkan efek miosis, bradikardi, dan salivasi.

Asetilkholin juga merupakan neurotransmitter posganglionik pada saraf parasimpatik yang secara langsung mempengaruhi jantung, bermacam-macam kelenjar, otot polos bronchial. Tidak seperti reseptor pada ganglia, reseptor pada organ ini adalah reseptor muskarinink. C. Biotransformasi Bioaktivasi senyawa ini terdiri dari desulfurisasi oksidasi yang sebagian besar terjadi di hati tetapi tidak secara eksklusif. Metabolisme dilakukan oleh enzim Sitokrom P450 yang mendorong terbentuknya oxon atau oksigen yang analog dengan induk pestisida. Berbagai macam enzim Sitokrom P450 terlibat dalam aktivasi organofosforotioat menjadi oxon-oxonnya dengan spesifitas substrat yang berbeda. Sebagai contoh, diazinon diaktivasi oleh CYP2C19, sementara parathion diaktivasi oleh CYP3A4/5 dan CYP2C8, dan Klorpyrifos diaktivasi oleh CYP2B6. Aktivasi organofosfat tidak hanya melalui desulfurisasi oksidasi tetapi reaksi lain juga dapat mengaktivasi senyawa ini. Sejalan dengan hal tersebut, insektisida organofosfat mengalami oksidasi tioeter (pembentukan sulfoksida S=O, diikuti pembentukan sulfon O=S=O) yang terjadi pada sebagian leaving group yang juga dikatalis oleh Sitokrom P450. Sebagai contoh, pada kasus organofosfat disulfoton, sulfoksida dan sulfon lebih poten sebagai inhibitor kolinesterase dibandung senyawa induknya. Pada biotransformasi pestisida senyawa diubah menjadi metabolit yang lebih poten. Hal tersebut berbeda dengan metabolisme senyawa lain yang bertujuan untuk deaktivasi atau mengubah senyawa menjadi tidak toksik. D. Penatalaksanaan Keracunan Untuk mengatasi keracunan karena toksikan, tindakan yang perlu dilakukan adalah stabilisasi pasien, dekontaminasi, dan pemberian antidotum. 1. Stabilisasi Pasien Pemeriksaan saluran nafas, pernafasan, dan sirkulasi merupakan evaluasi primer yang harus dilakukan serta diikuti evaluasi terhadap tanda dan symptom toksisitas kolinergik yang dialami pasien. Dukungan terhadap saluran pernafasan dan intubasi endotrakeal harus dipertimbangkan bagi pasien yang mengalami perubahan status mental dan kelemahan neuromuskular sejak antidotum tidak memberikan efek. Pasien harus menerima pengobatan secara intravena dan monitoring jantung. Hipotensi yang terjadi harus diberikan normal salin secara intravena dan oksigen harus diberikan untuk mengatasi hipoksia. Terapi suportif ini harus diberikan secara paralel dengan pemberian antidotum. 2. Dekontaminasi Dekontaminasi harus segera dilakukan pada pasien yang mengalami keracunan. Baju pasien harus segera dilepas dan badan pasien harrus segera dibersihkan dengan sabun. Proses pembersihan ini harus dilakukan pada ruangan yang mempunyai ventilasi yang baik untuk menghindari kontaminasi skunder dari udara. Pelepasan pakaian dan dekontaminasi dermal mampu mengurangi toksikan yang terpapar secara inhalasi atau dermal, namun tidak bisa digunakan untuk dekontaminasi toksikan yang masuk dalam saluran pencernaan. Dekontaminasi pada saluran cerna harus dilakukan setelah kondisi pasien stabil. Dekontaminasi saluran cerna dapat melalui pengosongan orogastrik

atau nasogastrik, jika toksikan diharapkan masih berada di lambung. Pengosongan lambung kurang efektif jika organofosfat dalam bentuk cairan karena absorbsinya yang cepat dan bagi pasien yang mengalami muntah. Arang aktif 1g/kg BB harus diberikan secara rutin untuk menyerap toksikan yang masih tersisa di saluran cerna. Arang aktif harus diberikan setelah pasien mengalami pengosongan lambung. Muntah yang dialami pasien perlu dikontrol untuk menghindari aspirasi arang aktif karena dapat berhubungan dengan pneumonitis dan gangguan paru kronik. 3. Pemberian Antidotum a) Agen Antimuskarinik

Agen antimuskarinik seperti atropine, ipratopium, glikopirolat, dan skopolamin biasa digunakan mengobati efek muskarinik karena keracunan organofosfat. Salah satu yang sering digunakan adalah Atropin karena memiliki riwayat penggunaan paling luas. Atropin melawan tiga efek yang ditimbulkan karena keracunan organofosfat pada reseptor muskarinik, yaitu bradikardi, bronkospasme, dan bronkorea. Pada orang dewasa, dosis awalnya 1-2 mg yang digandakan setiap 2-3 menit sampai teratropinisasi. Untuk anak-anak dosis awalnya 0,02mg yang digandakan setiap 2-3 menit sampai teratropinisasi. Tidak ada kontraindikasi penanganan keracunan organofosfat dengan Atropin. b) Oxime

Oxime adalah salah satu agen farmakologi yang biasa digunakan untuk melawan efek neuromuskular pada keracunan organofosfat. Terapi ini diperlukan karena Atropine tidak berpengaruh pada efek nikotinik yang ditimbulkan oleh organofosfat. Oxime dapat mereaktivasi enzim kholinesterase dengan membuang fosforil organofosfat dari sisi aktif enzim. Pralidoxime adalah satu-satunya oxime yang tersedia. Pada regimen dosis tinggi (2 g iv load diikuti 1g/jam selam 48 jam), Pralidoxime dapat mengurangi penggunaan Atropine total dan mengurangi jumlah penggunaan ventilator. Dosis yang direkomendasikan WHO, minimal 30mg/kg iv bolus diikuti >8mg/kg/jam dengan infus. Efek samping yang dapat ditimbulkan karena pemakaian Pralidoxime meliputi dizziness, pandangan kabur, pusing, drowsiness, nausea, takikardi, peningkatan tekanan darah, hiperventilasi, penurunan fungsi renal, dan nyeri pada tempat injeksi. Efek samping tersebut jarang terjadi dan tidak ada kontraindikasi pada penggunaan Pralidoxime sebagai antidotum keracunan organofosfat.
Kasus-kasus toksisitas organofosfat:

Menurut WHO, WHO (World Health Organisation) 3 juta orang yang bekerja pada sektor pertanian di negara-negara berkembang terkena racun pestisida dan sekitar 18.000 orang diantaranya meninggal setiap tahunnya. Sepanjang kurun waktu 2004-2008 terjadi keracunan fatal insektisida sebanyak 20 orang. Sembilan belas kasus (95%) meninggal karena bunuh diri menggunakan Carbanat dan satu

orang (5%) keracunan organosfosfat karena kecelakaan. Korban wanita sebanyak 80% dan kebanyakan berusia antara 20 – 59 tahun. Semua korban bekerja pada pekerja yang tidak ada hubungannya dengan insektisida antara 20 – 59 tahun. Semua korban bekerja pada pekerja yang tidak ada hubungannya dengan insektisida. Penyalahgunaan insektisida untuk tujuan bunuh diri mungkin terjadi oleh karena ketersediaannya di tingkat keluarga maupun kemudahan untuk memperoleh di pasaran. Organofosfat Lebih dari 50.000 komponen organofosfat telah disynthesis dan diuji untuk aktivitas insektisidanya. Tetapi yang telah digunakan tidak lebih dari 500 jenis saja dewasa ini. Semua produk organofosfat tersebut berefek toksik bila tertelan, dimana hal ini sama dengan tujuan penggunaannya untuk membunuh serangga. Beberapa jenis insektisida digunakan untuk keperluan medis misalnya fisostigmin, edroprium dan neostigmin yang digunakan utuk aktivitas kholinomimetik (efek seperti asetyl kholin). Obat tersebut digunakan untuk pengobatan gangguan neuromuskuler seperti myastinea gravis. Fisostigmin juga digunakan untuk antidotum pengobatan toksisitas ingesti dari substansi antikholinergik (mis: trisyklik anti depressant, atrophin dan sebagainya). Fisostigmin, ekotiopat iodide dan organophosphorus juga berefek langsung untuk mengobati glaucoma pada mata yaitu untuk mengurangi tekanan intraokuler pada bola mata. a) Struktur Komponen Organofosfat Organophosphat disintesis pertama di Jerman pada awal perang dunia ke II. Bahan tersebut digunakan untuk gas saraf sesuai dengan tujuannya sebagai insektisida. Pada awal synthesisnya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP), parathion, sarin dan schordan yang sangat efektif sebagai insektisida, tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang terus dan ditemukan komponen yang poten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap orang (mis: malathion), tetapi masih sangat toksik terhadap insekta.

struktur komponen organofosfat

b) Mekanisme Toksisitas Organosphosfat

Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan kematian, tetapi diperlukan lebih dari beberapa mg untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa. Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis asetylcholin menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah asetylkholin meningkat dan berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

Acetylcholine Receptors

Penghambatan kerja enzim terjadi karena organofosfat melakukan fosforilasi enzim tersebut dalam bentuk komponen yang stabil.

Tabel Nilai LD50 Insektisida Organofosfat

c. Gejala Keracunan Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang timbul sangat bergantung pada adanya stimilasi asetilkholin persisten atau depresi yang diikuti oleh stimulasi.saraf pusat maupun perifer. Tabel. Efek muskarinik, nikotinik dan saraf pusat pada toksisitas organofosfat Efek 1. Muskarinik Gejala Salivasi, lacrimasi, urinasi dan diaree (SLUD) Kejang perut Nausea dan vomitus Bradicardia Miosis Berkeringat Pegal-pegal, lemah Tremor Paralysis Dyspnea Tachicardia Bingung, gelisah, insomnia, neurosis Sakit kepala Emosi tidak stabil Bicara terbata-bata Kelemahan umum Convulsi Depresi respirasi dan gangguan jantung Koma

2. nikotinik

3. sistem saraf pusat

Gejala awal seperti SLUD terjadi pada keracunan organofosfat secara akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik sehingga kandungan asetil kholin dalam darah meningkat pada mata dan otot polos.

Penatalaksanaan Penanganan Kasus Keracunan Organofosfat Seperti bahan kimia beracun lainnya, organofosfat dapat meracuni orang dengan beberapa cara: melalui kulit dan mata, melalui mulut (dengan menelan), atau melalui udara (dengan bernapas). Setiap kasus keracunan, tindakan yang diambil untuk orang yang terpapar berbeda tergantung cara pemaparan. a) Bila kulit terkena organofosfat Kebanyakan keracunan organofosfat terjadi akibat terserapnya organofosfat melalui kulit. Hal ini terjadi ketika organofosfat dituang dan tumpah, atau terciprat ketika campuran organofosfat diaduk sebelum disemprotkan, atau ketika Anda menyentuh tanaman yang baru saja disemprot. Organofosfat juga dapat menyentuh kulit melalui pakaian atau ketika Anda mencuci pakaian yang terkena organofosfat. Kulit yang ruam dan iritasi adalah gejala awal terjadinya keracunan melalui kulit. Mengingat bahwa gejala kulit tersebut bisa terjadi karena hal-hal lain, seperti reaksi terhadap tanaman tertentu, gigitan serangga, infeksi, atau alergi, maka sulit untuk mengetahui apakah gejala yang timbul ini akibat organofosfat atau reaksi terhadap hal lain. Bicarakanlah dengan pekerja lainnya untuk mengetahui apakah mereka mengalami reaksi yang serupa saat bekerja dengan tanaman pangan yang sama. Jika Anda bekerja dengan organofosfat dan mengalami ruam kulit, lebih baik segera ditangani seolah-olah gejala tersebut disebabkan oleh organofosfat. Perawatan
           

Jika tubuh Anda atau orang lain terkena organofosfat: Organofosfat dapat melekat di kulit, rambut dan pakaian walaupun Anda tidak dapat melihat atau menciumnya. Cucilah dengan sabun setiap kali selesai menggunakan organofosfat. Cepat ganti pakaian yang terkena percikan organofosfat. Segera cuci bagian tubuh yang terkena organofosfat dengan sabun dan air dingin. Jika organofosfat masuk ke mata, cucilah mata dengan air bersih selama 15 menit. Jika kulit Anda melepuh akibat organofosfat: Bersihkan dengan air dingin. Jangan lepaskan apa pun yang menempel di luka tersebut. Jangan oleskan salep, minyak, atau mentega. Jangan pecahkan kulit yang melepuh.Jangan lepaskan kulit yang terkelupas. Tutup kulit yang melepuh dengan kasa steril, jika ada. Jika rasa sakit tidak hilang, segera cari bantuan pengobatan! Bawalah wadah organofosfat atau informasi nama organofosfat yang digunakan. Hal ini perlu untuk memberikan pengobatan yang tepat.

b) Bila organofosfat tertelan Organofosfat dapat tertelan jika seseorang makan, minum, atau merokok di kebun sambil bekerja dengan organofosfat, atau meminum air yang sudah terkontaminasi oleh organofosfat. Anak-anak

dapat memakan atau meminum organofosfat terutama jika organofosfat disimpan dalam wadah yang juga digunakan untuk menyimpan makanan, atau dibiarkan di tempat terbuka atau di tempat yang rendah, mudah terjangkau oleh anak-anak. Perawatan
  

   

Bila seseorang menelan organofosfat Bila orang tersebut tidak sadar, baringkan dalam posisi miring dan pastikan ia tetap bernapas. Bila orang tersebut tidak bernapas, cepat berikan bantuan pernapasan dari mulut ke mulut. Memberi pernapasan bantuan dari mulut ke mulut dapat membuat Anda terpapar organofosfat juga, jadi gunakan masker saku, sepotong kain, atau kantong plastik tipis yang tengahnya sudah dilubangi sebelum Anda memberi pernapasan bantuan dari mulut ke mulut. Cari kemasan organofosfatnya dan segera baca label atau informasi yang tertera. Label ini akan menjelaskan apakah Anda harus membuatnya memuntahkan racunnya atau tidak. Bila orang tersebut dapat minum, berikan banyak air bersih untuk diminum. Carilah pertolongan medis. Jika mungkin, bawalah selalu label atau nama organofosfat agar mendapat pertolongan yang paling tepat. Jangan sampai muntah bila label melarang muntah. Bila Anda menelan organofosfat yang mengandung bensin, minyak tanah, xylene, atau cairan lain yang mengandung bahan bakar, jangan pernah muntah karena akan memperburuk kondisi. Disamping itu, jangan biarkan orang tersebut muntah bila ia tidak sadarkan diri, bingung, atau tubuhnya gemetar. Bila Anda yakin label menyatakan boleh dimuntahkan, berikan orang tersebut: segelas air garam atau 2 sendok makan tumbukkan daun-daunan beraroma keras (seperti seledri, kemangi, atau daun-daunan lokal lainnya) dengan 1 atau 2 gelas air hangat. Ajak penderita bergerak terus; ini akan membantu muntah lebih cepat. Setelah muntah, berikan arang aktif atau arang bubuk. Hal ini akan membantu menyerap sisa racun yang masih ada di dalam perut. Campurkan ½ cangkir arang aktif atau 1 sendok makan arang bubuk dengan air hangat dalam gelas besar. Arang bubuk dibuat dari kayu yang dibakar, atau bahkan dari roti bakar atau tortilla (roti tipis dari jagung, biasa dimakan orang Mexico) bakar. Arang aktif lebih baik daripada arang bubuk, namun arang bubuk juga dapat dipakai. JANGAN gunakan arang briket karena beracun!! Setelah orang tersebut muntah, atau bahkan bila ia tidak muntah, Anda dapat memperlambat penyebaran racun dalam perjalanan ke dokter dengan memberikannya minuman: 1 butir putih telur, atau segelas susu sapi murni. Minum susu tidak mencegah keracunan organofosfat namun dapat memperlambat penyebaran racun.

Jika seseorang menelan organofosfat dan tidak mengalami sakit perut hebat, mereka dapat minum sorbitol atau magnesium hidroksida (campuran air dengan magnesium hidroksida yang menghasilkan cairan berwarna putih susu). Obat ini akan menyebabkan diare yang mengeluarkan racun dari dalam tubuh.

Kapan menggunakan atropin Atropin adalah obat untuk mengatasi keracunan dari jenis organofosfat tertentu yang disebut organofosfat dan karbamat. Jika label pada kemasan menyatakan agar menggunakan atropin, atau jika dikatakan bahwa organofosfat itu merupakan “cholinesterase inhibitor” (suatu bahan kimia yang menghentikan proses ensim kholinesterase), gunakan atropin sesuai petunjuk. Jika label tidak menganjurkan penggunaan atropin, jangan gunakan.

Atropin hanya digunakan untuk keracunan organofosfat atau karbamat. Atropin TIDAK dapat mencegah keracunan tetapi hanya menunda dampak keracunan. Atropin sebaiknya tidak digunakan sebelum penyemprotan. PENTING: Jangan memberikan obat-obat ini untuk masalah keracunan organofosfat: obat tidur (sedatif), morfin, barbiturat, phenothiazine, aminophylline, atau obat lain yang memperlambat atau mempersulit pernapasan karena akan membuat orang tersebut berhenti bernapas. c) Bila Organofosfat Terhirup Bila organofosfat dilepas ke udara, kita menghirupnya melalui hidung dan mulut. Begitu masuk ke paru-paru, dengan cepat organofosfat masuk ke dalam darah dan menyebar racun ke seluruh tubuh. Beberapa organofosfat tidak berbau sehingga sulit diketahui keberadaannya di udara. Umumnya bentuk organofosfat yang menyebar di udara adalah fumigan (pengasap), aerosol, pengabut, bom asap, pest strips (organofosfat yang dilekat pada potongan kertas), penyemprot, dan residu dari penyemprotan. Anda dapat pula menghirup debu organofosfat di tempat penyimpanan, atau saat sedang digunakan di dalam ruangan tertutup seperti rumah kaca, atau ketika sedang diangkut ke lahan pertanian. Debu yang mengandung organofosfat di udara dapat menyebar dan mengotori wilayah yang jauh dari tempat dimana bahan ini digunakan. Dengan demikian debu organofosfat mudah masuk ke dalam rumah-rumah. Bila Anda merasa telah menghirup organofosfat, segeralah menjauh dari organofosfat! Jangan tunggu sampai kondisi memburuk. Perawatan Jika Anda atau orang lain menghirup organofosfat:
      

Tinggalkan segera daerah di mana ia menghirup racun, terutama jika dalam ruangan tertutup. Hiruplah udara segar. Longgarkan pakaian untuk memudahkan bernapas. Duduk dengan posisi kepala diangkat dan bahu ditegakkan. Bila orang tersebut tidak sadarkan diri, baringkan dalam posisi miring • dan awasi agar ia dapat bernapas dengan lancar. Bila orang tersebut tidak bernapas, segera lakukan pernapasan dari mulut ke mulut Carilah pertolongan medis. Bawa serta label informasi atau nama organofosfatnya. Jika ragu-ragu, segeralah keluar!

Gejala klinis : 1. SLUDGE : salivasi, lakrimasi, urinasi, diare, gejala GI tract dan emesis 2. Miosis 3. Bronchokonstriksi dengan sekresi berlebihan, anak tampak sesak dan banyak mengeluarkan lendir dan mulut berbusa dan bau organofosfat yang tertelan ( bawang putih/garlic) 4. Bradikardia sampai AV block 5. Lain-lain : hiperglikemia,fasikulasi,kejang,penurunan kesadaran sampai koma. 6. Depressi pusat pernafasan dan sistem kardiovaskular Penatalaksanaan : 1. Lepaskan baju dan apa saja yang dipakai, dicuci dengan sabun dan siram dengan air yang mengalir bahkan meskipun keracunan sudah terjadi sampai 6 jam. 2. Lakukan kumbah lambung,pemberian norit dan cathartic 3. Atropinisasi

Atropin berfungsi untuk menghentikan efek acetylcholine pada reseptor muscarinik, tapi tidak bisa menghentikan efek nikotinik. Pada usia < 12 th pemberian atropin diberikan dengan dosis 0,05 mg/kg BB IV pelan-2 dilanjutkan dengan 0,02 0,05mg/kg BB setiap 5 - 20 menit sampai atropinisasi sudah adekwat atau dihentikan bila : · Kulit sudah hangat, kering dan kemerahan · Pupil dilatasi · Mukosa mulut kering · Heart rate meningkat Pada anak usia > 12 tahun diberikan 1 - 2 mg IV dan disesuaikan dengan respon penderita. Pengobatan maintenance dilanjutkan sesuai keadaan klinis penderita,atropin diteruskan selama 24 jam kemudian diturunkan secara bertahap. Meskipun atropin sudah diberikan masih bisa t erjadi gagal nafas karena atropin tidak mempunyai pengaruh terhadap efek nikotinik ( Kelumpuhan otot ) organofosfat. 4. Pralidoxim Bekerja sebagai reaktivator dari cholin esterase pada neuromuscular junction dan tidak mempengaruhi fungsi CNS karena tidak dapat melewati blood brain barrier. Diberikan sesudah atropinisasi dan harus dalam < 36 jam paparan. Dosis pada anak < 12 tahun 25 - 50 mg/kgBB IV,diulangi sesudah 1 – 2 jam,kemudian diberikan setiap 6 - 12 jam bila gejala masih ada. 5. Tidak boleh diberi morphine ( depressi pernafasan ), methylxanthine ( menurunkan ambang kejang ), loop diuretic. 6. Pemberian oksigen kalau ada distres nafas,kalau perlu dengan pernafasan buatan. 7. · · Pengobatan supportif : Hipoglikemia : glukosa 0,5 - 1g /kg BB IV. Kejang : diazepam 0,2 - 0,3 mg/kgBB IV.