BAB I

PENGANTAR & PRINSIP
PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Definisi Ilmu Kedokteran Forensik

• Cabang spesialistik ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran
untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan.
• Sinonim:
- Kedokteran Kehakiman
- Legal Medicine
- Medical Jurisprudenc
- Forensic Medicine
- Clinical Forensic
- Pathology Forensic.
• Forensik tidak sama dengan Hukum Kedokteran (Medical Law)
Peran Kedokteran Forensik
Menentukan:
1. Mengapa: Di Masyarakat kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum menyangkut
tubuh manusia. Sejarah ¬ forum
2. Bagaimana: Manfaatkan ilmu secara optimal & penuh kejujuran, serta pemeriksaan
KF terhadap korban hidup/mati/bagian tubuh manusia
3. Untuk: Menemukan kelainan, bilamana timbul, penyebab & sebab cedera,
penyebab, mekanisme, saat & cara kematian, serta identifikasi
10 SUB BAB dalam Ilmu Kedokteran Forensik, yaitu:
1. Autopsi Forensik , berbeda dengan autopsi anatomi
2. Patologi Anatomi Forensik
3. Toksikologi Forensik dan Kimiawi Forensik
Misalnya : berkaitan dengan obat-obatan psikotropika yang bisa diperiksa dengan
sampel urin
4. Parasitologi Forensik / Entomologi Forensik
Misalnya : apabila pada autopsi ditemukan larva lalat, ini harus diperiksa oleh bagian
parasitologi forensik supaya bisa membantu menemukan waktu kematian
5. Odontologi Forensik : pemeriksaan gigi
6. Antropologi Forensik : pemeriksaan seluruh tubuh dari tulang sampai gigi
7. Radiologi Forensik
Termasuk disini adalah photo-photo, CT-Scan, dan USG.
Alat Bantu diatas dapat dipakai sebagai alat bukti pada proses hukum.
8. Traumatologi Forensik
Trauma terdiri dari : trauma fisik, trauma kimia, dan balistik (senjata api), dll
9. Psikiatri Forensik
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap pelaku, dimana pelaku melakukan kejahatan
berdasarkan adanya gangguan jiwa dan bagian ini dilakukan oleh psikiater ataupun
psikolog.
10. Laboratorium Forensik
Tidak hanya pemeriksaan kimiawi, PA, toksikologi tapi juga DNA yang diambil dari
jaringan yang tidak cepat membusuk.Misal : rambut, percikan darah
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
ilmu pengetahuan yang menggunakan multidisiplin ilmu dgn tujuan
untuk membuat terang suatu perkara pidana dan membuktikan ada
tidaknya kejahatan atau pelanggaran dgn memeriksa barang bukti
(Physical Evidence) dalam perkara tersebut.
ada surat permintaan penyidik
ada surat persetujuan keluarga/korban/terdakwa untuk pemeriksaan
legalitas hukum pengiriman Barang Bukti/korban atau terdakwa untuk
pemeriksaan
1
Skema 1. Fungsi dokter (Attending physician dan assessing physician)
Skema 2. Proses pembuatan VER
Proses penyidikan perkara pidana
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
ada surat permintaan penyidik
ada surat persetujuan keluarga/korban/terdakwa untuk pemeriksaan
legalitas hukum pengiriman Barang Bukti/korban atau terdakwa untuk
pemeriksaan
2
a. menerima laporan/informasi dan atau melihat langsung terjadinya perkara, masuk
Berita Acara Pemeriksaan (BAP)
b. mencari informasi/memeriksa TKP dan para saksi peristiwa serta pemeriksaan para
saksi
c. melakukan konsultasi terhadap para ahli untuk pemeriksaan barang bukti
korban/terdakwa atas dasar legalitas hukum
d. penyidikan lebih lanjut atas informasi/keterangan para ahli
e. pemberian label terhadap barang bukti mati dan surat permintaan pemeriksaan/
konsultasi kepada yang lebih berwenang
f. pengawalan langsung terhadap pengiriman/konsultasi Barang Bukti atau kasus
korban/terdakwa untuk pemeriksaan tertentu
g. pendekatan dan penjelasan kepada keluarga korban atau korban untuk macam
pemeriksaan Kedokteran Forensik dan persetujuannya (Informed Consent)
Dalam proses pemeriksaan medis
• kesiapan Barang bukti/korban/terdakwa dan penyidik (termasuk keluarga bila perlu)
• penyidik siap melihat langsung pemeriksaan dan mengamankan lingkungan, mencatat
serta membuat dokumentasi fakta pada korban/BB akibat peristiwa
• penyidik siap sebagai konsultan peristiwa dan penghubung keluarga sesuai kebutuhan
pihak medis
• penyidik siap menerima BB yang lain yang terdapat pada korban/BB untuk
pemeriksaan lebih lanjut atau untuk barang bukti di sidang pengadilan
• menyerahkan jenazah korban atau korban hidup kepada keluarga setelah pemeriksaan,
pengobatan dan perawatan dianggap selesai
• menerima hasil pemeriksaan medis, sementara atau definitif
• bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pemeriksaan medis (Perda, SK Direktur
RS, Pasal 136 KUHAP)
Dalam proses sidang pengadilan
• koordinasi penyidik, jaksa, hakim, terdakwa, para saksi/saksi ahli dan penasehat
hukum serta keluarga korban/terdakwa
• pertanggunganjawab masing-masing para saksi, saksi ahli, penyidik serta terdakwa
atau korban hidup yang dapat/siap di sidang
• pengawalan dan pengamanan lingkungan, terdakwa, korban hidup dan para
saksi/saksi ahli
• surat panggilan para saksi/saksi ahli, korban hidup dan terdakwa
• kesiapan alat bukti, barang bukti untuk dipertanggungjawabkan dalam forum
• kesiapan forum sidang pengadilan sesuai hukum yang berlaku
• kesiapan para saksi ahli termasuk dokter untuk mengucapkan sumpah di forum sidang
pengadilan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
ada surat permintaan penyidik
ada surat persetujuan keluarga/korban/terdakwa untuk pemeriksaan
legalitas hukum pengiriman Barang Bukti/korban atau terdakwa untuk
pemeriksaan
3
Kerahasiaan
• kerahasiaan hukum, medis oleh profesi masing-masing
• tanpa/bebas rahasia dalam forum sidang pengadilan khususnya para saksi/saksi ahli
dan penyidik
• kerahasiaan medis dan hukum tetap terjaga di luar forum pengadilan sebelum dan
sesudah perkara selesai
• ada sanksi terhadap para personalia pemegang rahasia
Prinsip hasil pemeriksaan medis
• obyektif sesuai pengamatan/pemeriksaan pihak medis
• berdasarkan norma atauran/standart pelayanan medis, khususnya standar pelayanan
kedokteran forensik
• landasan utama berdasarkan ilmu kedokteran orientasi ilmu hukum
• dapat dipertanggungjawabkan secara medis berorientasi / tidak berorientasi dengan
ilmu hukum
Informed concent
• prinsipnya merupakan hak korban/keluarga korban untuk dilakukan pemeriksaan
berdasarkan informasi dari pihak penyidik (Pasal 134 KUHAP)
• penyidik perlu koordinasi dengan tim medis dan keluarga korban untuk, menentukan
macam pemeriksaan (PL, autopsi, TKP, penunjang, dll)
• penyidik memiliki Pasal 222 KUHP dalam menentukan pemeriksaan jenazah (PL,
autopsi)
• Jadi Informed Consent :
- dari pihak penyidik untuk tim medis dan penyidik berupa surat permintaan V
et R
- dari korban/keluarga korban – antara pihak penyidik, tim medis dan keluarga
korban berupa surat persetujuan keluarga
- dari keluarga korban – untuk :
o pangruti jenazah (agama)
o pengawetan jenazah (penundaan pemakaman dan WNA)
o pengiriman/transportasi jenazah (Ambulance dan pesawat terbang)
Rekam Medis
• Rekam medis tertuang/tertulis dalam status korban, berkaitan dengan segala macam
pemeriksaan medis serta hasilnya
• V et R adalah merupakan laporan data dari RM murni yang sudah dianalisis dari data
RM dan pertanggungjawabnya
• RM bersifat rahasia medis, Rumah Sakit, pribadi dan hukum (HAM, PP 10 tahun
1966 dan Pasal 170 KUHAP).
• Pelepasan rahasia di sidang pengadilan bebas sanksi (Pasal 48, 49, 50, 51 KUHP),
bila diluar sidang sanksinya menurut hukum yang berlaku.
• RM dan IC berdasarkan hukum tertulis dari Permenkes RI.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
4
Tabel 1. Perbedaan visum et repertum dan surat keterangan medis
Perbedaan : V et R Surat Keterangan Medis
Korban/penderita Merupakan barang bukti
medis
Merupakan pasien
Pembuat Dokter Dokter atau dokter gigi
Awal kontrak/
permintaan
pemeriksaan
Kontrak pemeriksaan
dari pihak berwenang
(polisi, jaksa, hakim)
Kontrak pemeriksaan dari
pasien sendiri
Format laporan Dalam bentuk visum et
repertum
Dalam bentuk surat
keterangan medis (misal
surat keterangan sehat)
Penyerahan laporan Diserahkan kepada
pihak pemohon
Diserahkan hanya kepada
pasien
Masa berlaku Sampai berakhirnya
proses peradilan
Ada batas waktu
tertentenggang waktu
tertentu)
Informed consent Tidak diperlukan Harus ada
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
5
menentukan
sebab, cara,
dan mekanisme
kematian
BAB II
VISUM ET REPERTUM
PENGERTIAN
• Menurut bahasa: berasal dari Bahasa Latin yaitu Visum (sesuatu yang dilihat) dan
Repertum (melaporkan).
• Menurut istilah: adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan
sumpah jabatannya terhadap apa yang dilihat dan diperiksa berdasarkan keilmuannya.
• Menurut Lembaran Negara (Staatsblad) 350 tahun 1937: Suatu laporan medik
forensik oleh dokter atas dasar sumpah jabatan terhadap pemeriksaan barang bukti
medis (hidup/mati) atau barang bukti lain, biologis (rambut, sperma, darah), non-
biologis (peluru, selongsong) atas permintaan tertulis oleh penyidik ditujukan untuk
peradilan.
MAKSUD DAN TUJUAN PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM
Maksud pembuatan VeR adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yang sah
di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidangan
berlangsung. Jadi VeR merupakan barang bukti yang sah karena termasuk surat sah sesuai
dengan KUHP pasal 184.
Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184, yaitu:
1. Keterangan saksi
2. Keterangan ahli
3. Keterangan terdakwa
4. Surat-surat
5. Petunjuk
Ada 3 tujuan pembuatan VeR, yaitu:
1. Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim
2. Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat
3. Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan
VeR yang lebih baru
Pembagian Visum et Repertum
Ada 3 jenis visum et repertum, yaitu:
1. VeR hidup
VeR hidup dibagi lagi menjadi 3, yaitu:
a. VeR definitif, yaitu VeR yang dibuat seketika, dimana korban tidak memerlukan
perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak menghalangi pekerjaan
korban. Kualifikasi luka yang ditulis pada bagian kesimpulan yaitu luka derajat I
atau luka golongan C.
b. VeR sementara, yaitu VeR yang dibuat untuk sementara waktu, karena korban
memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga menghalangi
pekerjaan korban. Kualifikasi luka tidak ditentukan dan tidak ditulis pada
kesimpulan.
Ada 5 manfaat dibuatnya VeR sementara, yaitu
• Menentukan apakah ada tindak pidana atau tidak
• Mengarahkan penyelidikan
• Berpengaruh terhadap putusan untuk melakukan penahanan sementara
terhadap terdakwa
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
6
menentukan
sebab, cara,
dan mekanisme
kematian
• Menentukan tuntutan jaksa
• Medical record
c. VeR lanjutan, yaitu VeR yang dibuat dimana luka korban telah dinyatakan
sembuh atau pindah rumah sakit atau pindah dokter atau pulang paksa. Bila
korban meninggal, maka dokter membuat VeR jenazah. Dokter menulis
kualifikasi luka pada bagian kesimpulan VeR.
2. VeR jenazah, yaitu VeR yang dibuat terhadap korban yang meninggal. Tujuan
pembuatan VeR ini adalah untuk menentukan sebab, cara, dan mekanisme kematian.
3. Ekspertise, yaitu VeR khusus yang melaporkan keadaan benda atau bagian tubuh
korban, misalnya darah, mani, liur, jaringan tubuh, tulang, rambut, dan lain-lain. Ada
sebagian pihak yang menyatakan bahwa ekspertise bukan merupakan VeR.
Skema 3. Klasifikasi visum
Pembagian lain visum et repertum:
1. menurut peristiwa:
a. VeR perlukaaan
b. VeR kejahatan seksual
c. VeR psikiatrik
d. VeR jenazah
2. menurut barang bukti:
a. VeR hidup
b. VeR mati
3. menurut sifat :
a.VeR sementara, lanjutan, definitif
b.VeR barang bukti benda, ekshumasi, TKP
Susunan Visum et Repertum
Ada 5 bagian visum et repertum, yaitu:
1. Pembukaan
Ditulis ‘pro justicia’ yang berarti demi keadilan dan ditulis di kiri atas sebagai
pengganti materai.
2. Pendahuluan
Bagian pendahuluan berisi:
• Identitas tempat pembuatan visum berdasarkan surat permohonan mengenai jam,
tanggal, dan tempat
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
7
SEMENTARA DEFINITIF LANJUTAN
Tidak terdapat
kualifikasi luka
Pada
kesimpulan
terdapat
Kualifikasi luka
Pasien sembuh,
pindah dokter,
pinadah RS,
pulang paksa
atau meninggal
Pada
kesimpulan
terdapat
kualifikasi
menentukan
sebab, cara,
dan mekanisme
kematian
SEBAGIAN MENYATAKAN
BUKAN VISUM.
melaporkan keadaan
benda atau bagian tubuh
korban
KLASIFIKASI VISUM
VISUM HIDUP VISUM MATI EKSPERTISE
• Pernyataan dokter, identitas dokter
• Identitas peminta visum
• Wilayah
• Identitas korban
• Identitas tempat perkara
3. Pemberitaan
Pemberitaan memuat hasil pemeriksaan, berupa:
• Apa yang dilihat, yang ditemukan sepanjang pengetahuan kedokteran
• Hasil konsultasi dengan teman sejawat lain
• Untuk ahli bedah yang mengoperasi ¬ dimintai keterangan apa yang diperoleh.
Jika diopname ¬ tulis diopname, jika pulang ¬ tulis pulang
• Tidak dibenarkan menulis dengan kata-kata latin
• Tidak dibenarkan menulis dengan angka, harus dengan huruf untuk mencegah
pemalsuan.
• Tidak dibenarkan menulis diagnosis, melainkan hanya menulis ciri-ciri, sifat, dan
keadaan luka.
4. Kesimpulan
Bagian kesimpulan memuat pendapat pribadi dokter tentang hubungan sebab akibat
antara apa yang dilihat dan ditemukan dokter dengan penyebabnya. Misalnya jenis
luka, kualifikasi luka, atau bila korban mati maka dokter menulis sebab kematiannya.
5. Penutup
Bagian penutup memuat sumpah atau janji, tanda tangan, dan nama terang dokter
yang membuat. Sumpah atau janji dokter dibuat sesuai dengan sumpah jabatan atau
pekerjaan dokter.
Kualifikasi Luka
Ada 3 kualifikasi luka pada korban hidup, yaitu:
1. Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C
Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau tidak
menghalangi pekerjaan korban. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 352
ayat 1.
2. Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B
Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit atau menghalangi
pekerjaan korban untuk sementara waktu. Hukuman bagi
3. Luka berat / luka derajat III / luka golongan A
Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6, yaitu:
- Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa bahaya maut
(NB : semua luka tembus yang mengenai kepala, dada atau perut dianggap
membawa bahaya maut)
- Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban selamanya
- Hilangnya salah satu panca indra korban
- Cacat besar
- Terganggunya akan selama > 4 minggu
- Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu
Prosedur Permintaan, Penerimaan, dan Penyerahan Visum et Repertum
Pihak yang berhak meminta VeR
1. Penyidik, sesuai dengan pasal I ayat 1, yaitu pihak kepolisian yang diangkat negara
untuk menjalankan undang-undang.
2. Di wilayah sendiri, kecuali ada permintaan dari Pemda Tk II.
3. Tidak dibenarkan meminta visum pada perkara yang telah lewat.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
8
4. Pada mayat harus diberi label, sesuai KUHP 133 ayat C.
Syarat pembuat:
• Harus seorang dokter (dokter gigi hanya terbatas pada gigi dan mulut)
• Di wilayah sendiri
• Memiliki SIP
• Kesehatan baik
Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat
VeR korban hidup, yaitu:
1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.
2. Langsung menyerahkannya kepada dokter, tidak boleh dititip melalui korban atau
keluarganya. Juga tidak boleh melalui jasa pos.
3. Bukan kejadian yang sudah lewat sebab termasuk rahasia jabatan dokter.
4. Ada alasan mengapa korban dibawa kepada dokter.
5. Ada identitas korban.
6. Ada identitas pemintanya.
7. Mencantumkan tanggal permintaan.
8. Korban diantar oleh polisi atau jaksa.
Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat
VeR jenazah, yaitu:
1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.
2. Harus sedini mungkin.
3. Tidak bisa permintaannya hanya untuk pemeriksaan luar.
4. Ada keterangan terjadinya kejahatan.
5. Memberikan label dan segel pada salah satu ibu jari kaki.
6. Ada identitas pemintanya.
7. Mencantumkan tanggal permintaan.
8. Korban diantar oleh polisi.
Saat menerima permintaan membuat VeR, dokter harus mencatat tanggal dan jam,
penerimaan surat permintaan, dan mencatat nama petugas yang mengantar korban. Batas
waktu bagi dokter untuk menyerahkan hasil VeR kepada penyidik selama 20 hari. Bila
belum selesai, batas waktunya menjadi 40 hari dan atas persetujuan penuntut umum.
Lampiran visum
• Fotografi forensik
• Identitas, kelainan-kelainan pada gambar tersebut
• Penjelasan ¬ istilah kedokteran
• Hasil pemeriksaan lab forensik (toksikologi, patologi, sitologi,
mikrobiologi)
Catatan dr Iwan Aflanie, Sp.F, M.Kes :
- Penyidik yang boleh meminta dilakukan visum minimal berpangkat AIPDA.
- Pangkat polisi dari yang paling bawah ( ¬ = setara dengan/nama dulu) :
i. BRIPDA ¬ SERDA
ii. BRIPTU ¬ SERSU
iii. BRIPKA ¬ SERKA
iv. BRIGADIR ¬ SERSAN MAYOR
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
9
v. AIPDA ¬ PELDA
vi. AIPTU ¬ PELTU
vii. IPDA ¬ LETDA
viii. IPTU ¬ LETTU
ix. AKP ¬ KAPTEN
x. KOMPOL ¬ MAYOR
xi. AKBP ¬ LETKOL
xii. KOMBES ¬ KOLONEL
- Paragraf dalam visum tidak boleh terpotong.
- Pemberitaan = objektif medis
- Kesimpulan = subjektif medis karena berupa pendapat dari penulis visum
- Pada kesimpulan, penulisan harus didahulukan yang paling berat lukanya, bahkan
luka yang paling ringan kadang tidak ditulis.
- Pada kesimpulan harus ditulis poin2, misal :
• terdapat luka tusuk akibat persentuhan benda tajam (I.9,10)
• saat kematian kurang dari dua jam dari saat pemeriksaan (I.3,4,5)
- CARA PEMBUATAN VISUM
Penulisan visum menyangkut 4 hal dibawah ini :
1. lokasi luka
2. koordinat luka (x,y)
o kepala, badan, kemaluan ¬ x = sumbu tubuh (yang di ambil dari
potongan sagital tubuh)
o ekstremitas ¬ x = garis tengah ekstremitas
o y = titik anatomis terdekat
3. jenis luka
a. luka tertutup ¬ Langsung disebut namanya, misal luka
memar, luka lecet geser, luka lecet tekan
b. luka terbuka
- benda tajam
• Tepi luka rata
• Sudut keduanya tajam atau salah satu sudutnya tajam
(luka tusuk ¬ keduanya tajam, luka iris ¬ salah satunya tajam)
• Tidak terdapat jembatan jaringan (jarinngan yang
terputus tidak sempurna)
• Bila melewati daerah berambut, maka rambutnya akan
terpotong
• Termasuk didalamnya : luka tusuk, luka iris, luka
bacok
- benda tumpul
º Tepi luka rata
º Sudut keduanya tumpul
º Terdapat jembatan jaringan
º Bila melewati daerah berambut, maka rambutnya tidak terpotong
º Termasuk didalamnya : luka robek, patah tulang terbuka
º Luka robek terjadi karena gaya yang datang lebih besar daripada
gaya elastisitas jaringan kulit dan jaringan tulang dibawahnya.
4. ukuran luka
- luka terbuka ¬ panjang x lebar x dalam
- luka tertutup ¬ panjang x lebar
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
10
- untuk luka yang tidak ada ujungnya misal berbentuk bulat, maka tentukan
diameternya dengan mencari titik tengah dari luka tersebut, luka lecet geser
juga harus dicari titik tengahnya untuk menentukan ukurannya.
BAB III
CARA, SEBAB, DAN MEKANISME KEMATIAN
Cara kematian = macam kejadian yang bertanggung jawab terhadap kematian
Cara Kematian :
1. Wajar : karena penyakit
2. Tidak wajar : pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan
KECELAKAAN, BUNUH DIRI ATAU PEMBUNUHAN ?
Kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan merupakan permasalahan yang harus
dapat dijawab, dibuat terang dan jelas oleh dokter dan khususnya oleh penyidik, karena
baik kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan membawa implikasi yang berbeda-beda,
baik ditinjau dari sudut penyidikan maupun proses peradilan.
1. Kematian karena kecelakaan
Kematian karena kecelakaan (accidental death) masih merupakan kasus yang
masuk didalam ruang lingkup penyidikan. Dalam kasus kecelakaan ini penyidik sering
dihadapkan dengan kasus dimana tanda-tanda kekerasan jelas terlihat akan tetapi tidak
ada satu petunjuk pun atau tanda-tanda yang mengarah akan adanya unsur-unsur kriminal
sebagai penyebab kecelakaan itu sendiri. Yang termasuk didalam pengertian kecelakaan
disini adalah :
Kematian yang terjadi sewaktu seseorang penderita kelainan didalam kehidupan
seksualnya, dan melampiaskan hasrat seksual yang tidak wajar tersebut dengan cara-cara
yang tidak wajar pula. Kematian disini dikenal dengan autoerotic death.
Kematian karena tergantung atau accidental hanging death, biasa terjadi pada anak-anak;
dimana anak-anak tersebut tersangkut lehernya dipinggir tempat tidur yang mempunyai
jaruji, atau tersangkut lehernya pada percabangan pohon yang berbentuk V.
Kematian karena tersumbatnya jalan udara pernafasan oleh sesuatu benda (Chocking
death). Hal ini sering terjadi pada orang-orang jompo, dimana gigi palsunya tertelan atau
gumpalan daging yang menyumbat jalan udara pernafasan secara tidak langsung.
Kematian karena tubuh mendapat tekanan yang sangat hebat (Crushing death), sehingga
dinding dada tidak dapat berkembang dengan demikian berarti pernafasan akan terhenti.
Kematian karena arus listrik atau electrical shock deaths sering terjadi pada waktu musim
hujan dan orang menutupi kebocoran-kebocoran yang ada akan tetapi dengan tidak
disadari terpegang kabel beraliran listrik yang isolatornya tidak baik, atau korban
memegang atap seng yang bersentuhan dengan kabel listrik tadi.
Kematian karena tenggelam seringkali terjadi terutama dimusim hujan yang
menyebabkan banjir. Pada umumnya kematian karena tenggelam bersifat kecelakaan,
non-kriminal sehingga pembedahan mayat pada kasus tenggelam sering tidak diperlukan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
11
Namun kemungkinan adanya unsur kriminal tetap harus difikirkan terutama jika ada
petunjuk-petunjuk kearah itu.
Dalam kasus-kasus kematian karena kecelakaan seperti yang diuraikan, Penyidik,
dokter atau bahkan orang awam dengan mudah dapat melihat dan menemukan tanda-
tanda kekerasan yang dapat diklasifikasikan sebagai luka lecet, luka memar, luka bakar
karena arus listrik, tanda-tanda tergantung yang jelas dan tanda-tanda mati lemas.
Akan tetapi dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik ternyata tidak ada
unsur kriminalnya. Dalam kasus seperti ini tentu penyidik dihadapkan pada permasalahan
apakah korban perlu dilakukan bedah mayat atau cukup hanya pemeriksaan luar saja.
Perlu tidaknya suatu tindakan atau langkah yang harus diambil tergantung
sepenuhnya pada Penyidik sebagai pimpinan penyidikan jika menurut Penyidik memang
tidak ada unsur kriminal maka pemeriksaan luar saja cukup dan dapat dipertanggung
jawabkan serta tidak bertentangan dengan peraturan (H.A.P.) yang berlaku. Akan tetapi
bila penyidik berkesimpulan akan adanya unsur memerintahkan dokter untuk melakukan
pembedahan mayat demi kelengkapan alat bukti di persidangan.
2. Bunuh diri atau pembunuhan ?
Bunuh diri atau pembunuhan dapat diketahui dari pemeriksaan di TKP, pemeriksaan
mayat, pemeriksaan benda-benda bukti lainnya, informasi para saksi dan lain sebagainya.
Pemeriksaan di TKP
Pada bunuh diri, tempat yang dipilih biasanya tersembunyi, pintu dikunci dari
dalam, keadaan ruangan tenang dan teratur rapih, alat yang sering dipakai
biasanya alat yang ada di dalam ruangan itu sendiri, alat tersebut biasanya masih
ada, sering didapatkan surat-surat peninggalan yang isinya berkisar pada
keputus-asaan atau merasa bersalah; korban berpakaian rapih dan dalam
keadaan baik.
Pada pembunuhan, tidak ada tempat yang tertentu, keadaan ruang kacau balau
dan sering ada barang yang hilang, alat yang dipakai biasanya alat yang
dibawa/dipersiapkan oleh pembunuh sehingga biasanya alat tersebut tidak
ditemukan di tempat kejadian, pakaian korban tidak beraturan dan sering
terdapat robekan dan mungkin pula dapat ditemukan surat yang bernada
ancaman.
Keadaan bercak darah, pada bunuh diri darah berkumpul pada satu
tempat/tergenang, bercak yang terdapat pada pakaian distribusinya teratur
mencari tempat yang terendah tergantung dari tempat luka yang mengeluarkan
darah. Pada kasus pembunuhan, bercak atau genangan darah tidak beraturan
menunjukkan arah pergerakan dari korban sewaktu korban berusaha
menghindar, dapat tampak bercak darah yang menunjukkan bahwa korban
diseret, bercak darah juga sering tampak mengotori dinding terutama jika
korban tersudut pada dinding.
Pemeriksaan mayat
Pada kasus dengan menggunakan senjata tajam
Pada bunuh diri daerah yang dipilih adalah daerah leher, dada, perut
bagian atas atau pergelangan tangan, sering ditemukan luka-luka percobaan
yang berjalan sejajar baik disekitar luka yang fatal maupun pada bagian tubuh
lain. Pada pembunuhan tidak ada tempat khusus, jumlah luka sering lebih dari
satu, adanya luka pada bagian belakang merupakan ciri khas pembunuh, pada
lengan dan telapak tangan sering didapatkan luka-luka tangkis; pada beberapa
kasus kadang-kadang korban selain ditusuk juga dihantam dengan bagian
tumpul dari senjata sehingga selain luka akibat benda tajam didapatkan luka
akibat benda tumpul.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
12
Mutilasi
Pada beberapa kasus pembunuhan, tidak jarang tubuh korban setelah meninggal
dunia dirusak, dipotong-potong menjadi beberapa bagian; tindakan tersebut dikenal
dengan sebutan mutilasi. Mutilasi serta perusakan tubuh korban yang telah menjadi mayat
dimaksudkan pula untuk menghilangkan identitas korban, dengan demikian penyidikan
akan menjadi sulit; dan tindakan tersebut memang ditujukan untuk menghilangkan jejak
si pembunuh.
Di dalam kasus mutilasi terdapat 4 masalah pokok yang harus diperoleh
kejelasannya baik bagi dokter yang membuat Visum et Repertum dan khususnya bagi
penyidik dalam usaha untuk mendapatkan kelengkapan barang bukti sehingga proses
penyidikan dan peradilan dapat berjalan dengan lancar. Masalah pokok tersebut adalah :
1. Apakah bagian-bagian “tubuh” itu memang berasal dari tubuh manusia ?
2. Jika bagian-bagian tubuh tersebut memang berasal dari manusia, apakah
berasal dari orang yang sama/satu individu ?
3. Identitasnya ?
4. Apa yang menyebabkan kematian ?
Masalah pokok yang pertama penting harus diperoleh kejelasannya, yaitu bila
tubuh korban dipotong-potong menjadi bagian yang kecil-kecil, sehingga dengan
pemeriksaan visual sukar dipastikan, maka perlu di lakukan pemeriksaan secara serologis,
yaitu test precipitin.
Masalah pokok yang kedua tidak sulit untuk diselesaikan bila tubuh korban tidak
terlalu banyak dipotong-potong, yaitu dengan melakukan pemeriksaan yang teliti dari
tepi/pinggir potongan tubuh dan dibandingkan dengan tepi/pinggir potongan tubuh lainya,
apakah cocok atau tidak, bila memang berasal dari satu orang maka didalam melakukan
rekonstruksi tersebut akan didapat bentuk yang sesuai.
Penentuan identitas tidak sulit bila tubuh korban dalam keadaan cukup baik,
didalam hal ini maka pemeriksaan sidik jari, gigi, medis serta pemeriksaan perhiasan
sangat bermanfaat bila dilakukan denga cermat, tepat dan teliti.
Penyebab kematian korban dapat diketahui bila keadaan tubuh yang terpotong-
potong tersebut masih lengkap dan dalam penentuan penyebab kematian ini pemeriksaan
toksikologis serta pemeriksaan laboratoris lainnya harus dilakukan.
Contoh kesimpulan Visum et Repertum pada kasus mutilasi
Ke-tujuh potong bagian-bagian tubuh yang diperiksa ternyata merupakan satu
kesatuan yaitu dari tubuh laki-laki dewasa. Luka-luka terbuka dan patah tulang pada
kepala disebabkan karena kekerasan benda tajam dan tumpul. Adapun kekerasan tajam
lainnya yang menjadikan tubuh korban menjadi tujuh potongan dilakukan setelah korban
meninggal dunia. Sebab matinya orang ini agaknya karena kekerasan tumpul pada kepala.
Melihat sifat dari ujung-ujung tulang yang terpotong agaknya pemotongan
dilakukan dengan gergaji dan penggergajian dilakukan pada posisi tubuh korban
terlentang.
Dari kesimpulan Visum et Repertum seperti di atas telah tercakup empat masalah
pokok yang harus dapat diperoleh kejelasannya didalam melakukan pemeriksaan kasus
mutilasi, dengan demikian proses penyidikan (termasuk interogasi dan rekonstruksi), serta
proses peradilan dapat berjalan dengan lancar.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
13
Tabel. Cara Kematian Akibat Senjata Tajam
Faktor Pembunuhan Bunuh diri
TKP Lokasi
Kondisi
Pakaian
Senjata
Surat peninggalan
Variabel
Tidak teratur
Tertembus
Tidak ada
Tidak ada
Tersembunyi
Teratur
Terbuka, luka tampak jelas
Ada
Ada (seringkali)
Luka Titik anatomis
Jumlah (fatal)
Luka percobaan
Luka tangkis
Tanda pergulatan
Mutilasi*
Arah irisan
Variabel
Satu atau lebih
Tidak ada
Ada (biasanya)
Ada (biasanya)
Ada (dapat)
Variabel
Tertentu
Biasanya Satu
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Sejajar
*) Mutilasi adalah memotong tubuh korban menjadi beberapa bagian yang dilakukan
setelah korban mati, dengan maksud untuk menghilangkan identitas korban dan
memudahkan si-pelaku kejahatan menyembunyikan membuang tubuh korban.
Pada kasus dengan menggunakan benda tumpul
Benda tumpul seperti batu, tongkat, batang pohon, kursi atau kepalan tangan
hampir selalu dapat dipastikan hanya digunakan pada kasus pembunuhan, bunuh diri
dengan benda tumpul sangat jarang, karena biasanya akan mendatangkan rasa nyeri yang
hebat dan perlu waktu yang lama.
Pada kasus dengan menggunakan senjata api
Pada bunuh diri dengan senjata api, daerah yang dipilih adalah pelipis, dahi, mulut
dan dada. Letak serta arah dari luka itu sendiri tergantung dari keadaan korban, kidal atau
tidak.
Pada pembunuhan tidak ada tempat khusus untuk dijadikan sasaran tembaknya
luka tembak masuk yang terdapat pada bagian belakang menunjukkan kasus
pembunuhan. Pada kasus kecelakaan tidak ada ciri khusus, dalam hal ini pemeriksaan di
TKP serta informasi para saksi penting.
Bila didalam tubuh korban ditemukan anak peluru maka anak peluru tersebut
perlu dicatat dan dilaporkan dengan jelas perihal ukuran panjang, garis tengah/kaliber,
warna logam, jumlah dan arah galangan serta berat dari anak peluru dan cacat yang ada.
Pemberian tanda pada bagian dasar dan atau bagian hidung anak peluru harus dibuat, hal
mana untuk memudahkan untuk mengingat kembali dipersidangan dan untuk
menghindari kemungkinan tertukarnya barang bukti yang penting tersebut.
Apakah korban seorang kidal ?
Untuk dapat mengetahui apakah seorang korban itu kidal atau tidak dapat
dilakukan dengan pemeriksaan yang sederhana, pemeriksaan tersebut adalah sebagai
berikut :
Pertama-tama ditentukan titik-titik yang sama letaknya pada kedua lengan korban,
misalnya titik-titik tersebut letaknya 10 sentimeter dari siku. Kemudian dengan alat
pengukur atau jika tidak ada dapat dipakai benang, diukur lingkaran lengan atas kiri dan
kanan pada ketinggian sesuai dengan titik yang sudah ditentukan.
Jika ternyata lingkaran lengan kanan lebih besar dari lingkaran lengan kiri, ini
berarti korban sehari-hari lebih sering/lebih aktif menggunakan tangan kanannya. Bila
lingkaran pada lengan kiri lebih besar dari lingkaran lengan kanan, ini berarti korban
adalah seorang yang kidal.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
14
Pada kasus dengan menggunakan alat penjerat
Pada penggantungan jika kasusnya bunuh diri, maka alat penjerat yang terdapat
pada leher berjalan dengan letak simpul pada sebelah atas, jumlah lilitan sekali atau sering
berulang kali, simpulnya simpul hidup, jejas jerat yang sebenarnya merupakan luka lecet
tekan berwarna merah coklat dengan perabaan seperti perkamen dan letaknya sesuai
dengan letak alat penjerat menekan leher, di sekitar jejas jerat dapat ditemukan
gelembung-gelembung dan pelebaran pembuluh darah yang merupakan tanda intra vital.
Tanda-tanda asfiksia/mati lemas yaitu bintik-bintik pendarahan pada mata, muka
dapat dilihat. Jika korban lama dalam keadaan tergantung lebam mayat pada ujung-ujung
anggota gerak akan tampak. Muka korban tampak sembab, lebih gelap, mata dapat
menonjol keluar demikian pula halnya dengan lidah.
Pada pembunuhan alat penjerat berjalan mendatar, biasanya satu lilitan dengan
simpul mati dan letak alat penjerat umumnya lebih kebawah, menjauhi rahang bawah dan
kelenjar gondok, pada daerah leher mungkin terdapat tanda-tanda bekas pencekikan yang
berbentuk luka lecet seperti bulan sabit atau luka memar, pada keadaan yang demikian
tulang lidah korban dapat patah.
Selain karena mati lemas/asfiksia, kematian pada kasus penjeratan dapat oleh
karena hal lain/mekanisme kematian lain, seperti reflek vagal yang menyebabkan
terhentinya denyut jantung, otak tidak mendapat oksigen cukup oleh karena jeratannya
sangat kuat menekan semua pembuluh darah yang menuju ke otak atau karena terjadinya
patah atau diskolasi ruas tulang leher yang berakibat putusnya sumsum tulang belakang.
Penjeratan dengan tangan (manual strangulation)
Penjeratan dengan mempergunakan tangan sendiri adalah hal yang tidak mungkin,
oleh karena dengan adanya tekanan pada leher akan menyebabkan terjadinya kehilangan
kesadaran dan dengan sendirinya tekanan pada leher tersebut akan terhenti. Dengan
demikian penjeratan dengan tangan atau pencekikan selalu merupakan kasus
pembunuhan.
Kelainan yang didapatkan pada korban adalah adanya jejas kuku (luka lecet tekan
berbentuk garis lengkung), yang sering pula disertai dengan adanya memar di daerah
tersebut. Jika pencekikan dilakukan dengan mempergunakan satu tangan yaitu tangan
kanan maka jejas kuku ataupun memar akan tampak lebih banyak pada daerah leher
sebelah kiri (akibat tekanan dari empat jari), sedangkan pada sebelah kanan hanya sedikit
(akibat tekanan dari ibu jari).
Kelainan akan tampak lebih jelas dan luas khususnya pada orang-orang tua
dimana jaringan di daerah leher sudah sedemikian longgarnya. Pada pemeriksaan dalam
akan tampak adanya pendarahan pada jaringan dibawah kulit dan otot yang sesuai dengan
jejas kuku; patahnya tulang lidah, rawan gondok sering ditemukan pada kasus
pencekikan.
Pada kasus pencekikan dimana tersangka pelakunya dengan segera dapat
ditangkap, maka pemeriksaan kuku dari si tersangka tersebut (dengan mengerok kuku
bagian dalam), harus dikerjakan dengan tujuan mencari jaringan kulit atau darah dari
korban yang terbawa pada kuku si tersangka pelaku pencekikan tersebut; demikian pula
pemeriksaan zakar untuk mencari sel-sel epitel dinding vagina bila motif seksual
merupakan alasan untuk melakukan pencekikan korban tersebut.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
15
Tabel. Cara Kematian Pada Penggantungan
Faktor Pembunuhan Bunuh diri
TKP Lokasi
Kondisi
Pakaian
Alat
Surat/catatan
peninggalan
Kamar
Variabel
Tidak teratur
Variabel
Berasal dari si
pembunuh
Tidak ada
Variabel, bila
terkunci dikunci
dari luar
Tersembunyi
Teratur
Rapih dan baik
Berasal dari alat yang
tersedia di tempat
Ada (seringkali)
Terkunci dari dalam
Alat penjerat Simpul
Lilitan
Arah
Jarak simpul
dengan tumpuan
Mati (biasanya)
Hanya sekali
Mendatar
Lebih dekat
Hidup
Sekali tapi sering
berulang kali
Serong keatas
Jauh
Korban Jejas jerat
Perlawanan
Luka-luka lain
Jarak dengan
lantai
Jejas berjalan
mendatar
Ada (biasanya)
Ada (sering
didaerah leher)
Jauh
Jejas, merah coklat
seperti perkamen;
serong
Tidak ada
Tidak ada (biasanya)
Luka percobaan
dapat ditemukan
Dekat, seringkali
masih menempel
* dijerat kemudian digantung
3. Penyidikan pada kasus kematian karena terbenam
Kematian karena terbenam atau tenggelam adalah salah satu bentuk dari mati
lemas/asfiksia, dimana asfiksia tersebut dapat disebabkan karena korban terbenam
seluruhnya atau sebagian terbenam didalam benda cair.
Penyidikan pada kasus-kasus tersebut perlu dilakukan dengan baik. Penyidikan
ditujukan terutama untuk mendapat kejelasan apakah korban masih hidup sewaktu
terbenam ataukah sudah menjadi mayat sewaktu dibenamkan, juga untuk penentuan
apakah kasus terbenam itu kasus kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan.
Tanda-tanda pada pemeriksaan luar
- Tubuh korban tampak pucat, teraba dingin dimana proses penurunan suhu
mayat dalam hal ini kira-kira dua kali lebih cepat, dengan penurunan suhu
rata-rata 5F per jam dan biasanya suhu mayat akan sama dengan suhu
lingkungan salam waktu sekitar 5-6 jam.
- Lebam mayat berwarna merah terang seperti halnya pada kasus keracunan
gas CO, lebam mayat terdapat di daerah kepala, leher dan bagian depan
dada.
- Dari lubang dan mulut keluar busa halus berwarna putih, ini merupakan
petunjuk bahwa korban memang mati terbenam atau mati karena asfiksia
pada umumnya. Busa tersebut lama-lama akan berwarna kemerahan dan bila
dihilangkan busa tersebut akan keluar lagi khususnya bila dada korban
ditekan.
- Mata tampak kongestif dan terdapat bintik-bintik perdarahan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
16
- Pada tangan korban dapat ditemukan sedang menggenggam benda-benda
pasir, dahan atau rumput (ingat cadaveric spasm), bila keadaan ini
didapatkan pada kasus hal tersebut merupakan petunjuk kuat bahwa
kematian korban karena terbenam atau menunjukkan intravitalitas.
Tanda-tanda pada pemeriksaan dalam/bedah mayat
- Busa halus dan benda-benda yang terdapat didalam air (pasir, tumbuhan
dsb) akan dapat ditemukan dalam saluran pernafasan/batang tenggorok dan
cabang-cabangnya. Diatomae yaitu ganggang bersel satu dapat ditemukan
dalam paru-paru dan organ tubuh lainnya.
- Pada terbenam di air tawar (fres water drowning), paru-paru sangat
mengembang, pucat, berat dan bila ditekan akan mencekung, keadaan mana
dikenal dengan nama emphysema aquasum, teraba krepitasi dan paru-paru
tersebut akan tetap bentuknya bila dikeluarkan dari rongga dada, dan pada
pengirisan setiap potongan akan mempertahankan bentuknya, pada
pemijitan keluar sedikit busa dan sedikit cairan.
- Pada kasus yang terbenam dalam air seni (salt waterdrowning), paru-paru
berat, penuh berisi air, perabaan memberi kesan seperti meraba jelly dan bila
dikeluarkan dari rongga dada bentuknya tidak akan bertahan sedangkan pada
pengirisan tampak banyak cairan yang keluar.
Jika pada pemeriksaan ditemukan keadaan yang berbeda dengan keadaan
di atas hal ini masih mungkin, dimana kematian bukan karena mati lemas akan
tetapi oleh karena hal-hal lain; misalnya karena hiperventilasi (pada perenang
yang pandai oleh karena terlalu di forsir sebelum berenang, hal ini akan
menyebabkan korban akan kehilangan kesadaran akibat kekurangan oksigen
sebelum timbul impuls untuk bernafas. Reflek juga dapat menyebabkan
kematian pada kasus terbenam, perangsangan pada reseptor dalam paru-paru
akan menimbulkan spasme/kekejangan pada pangkal tenggorok dan terhentinya
pernafasan. Inhibili atau penghambatan jantung oleh karena stimulasi vagal juga
dapat menyebabkan kematian, didalam hal ini masuknya air secara tiba-tiba
kedalam pangkal hidung dan pangkal tenggorok (naso faring dan laring).
- Dalam lambung dan organ-organ dalam tubuh serta sumsum tulang dapat
ditemukan pula benda-benda asing yang berasal dari dalam air, seperti
Lumpur, tumbuhan dan secara mikroskopis dapat dilihat adanya ganggang.
Pada setiap kasus terbenam bedah mayat perlu dilakukan terutama bila
penyidik mempunyai dugaan adanya unsur kriminal pada kasus yang
bersangkutan.
Diagnosa kasus kematian karena terendam dapat ditegakkan terutama bila
ada tanda-tanda yang menunjang diagnosa tersebut, yaitu: tangan menggenggam
erat sesuatu benda, adanya busa halus dalam saluran pernapasan/pipa udara,
adanya air (dengan isinya bila ada) dalam lambung, gambaran paru-paru yang
khas serta ditemukannya diatomae didalam alat-alat dalam tubuh dan sumsum
tulang.
Hipoksia dan asfiksia
Hipoksia adalah suatu keadaan dimana sel gagal untuk melangsungkan metabolisme
secara efisien. Istilah hipoksia lebih tepat bila dibandingkan dengan istilah anoksia, yang
banyak dipakai pada masa-masa lalu.
Hipoksia dapat dibagi menjadi 4 grup, yaitu : (1) anoksik atau hipoksia, dimana
oksigen tidak dapat masuk ke dalam aliran darah; (2) anemik, dimana darah tidak dapat
membawa oksigen yang cukup untuk jaringan; (3) stagnan, dimana oleh karena sesuatu
sebab terjadi kegagalan sirkulasi; (4) histotoksik, dimana oksigen yang terdapat di dalam
darah tidak dapat dipakai oleh jaringan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
17
Histotoksik-hipoksia sendiri dapat dibagi 4 kelompok, yaitu : (1) Histotoksik-
hipoksia ekstraselular, dimana enzim pernafasan jaringan keracunan, misalnya pada
keracunan sianida, sedangkan pada kebanyakan golongan hipnotika/obat tidur dan obat
bius aktivitas enzim tersebut ditekan; (2) Histotoksik-hipoksia periselular, dimana
oksigen tidak dapat masuk sel oleh karena permeabilitas membran sel menurun, seperti
yang terjadi pada keracunan eter atau khloroform; (3) Substrate histotoxic hyoixia,
dimana tidak tersedia dengan cukup bahan makanan untuk metabolisme yang efisien; (4)
Metabolite histotoxic hypoxia, dimana endproducts dari pernafasan seluler tidak dapat
dibuang, sehingga metabolisme selanjutnya tidak berlangsung, seperti pada keadaan
uremia dan keracunan gas karbon dioksida.
Asfiksia dapat diberi batasan secara umum sebagai pelbagai macam keadaan
dimana pertukaran udara pernafasan yang normal terganggu. Dua penyebab utama dari
asfiksia, yaitu oleh karena terjadinya obstruksi pada saluran pernafasan (dikenal juga
dengan istilah asfiksia mekanik), dan oleh karena terhentinya sirkulasi; pada kedua
keadaan tersebut terjadi reduksi oksigen dalam darah (hipoksia), dan elevasi karbon
dioksida (hypercapnoea).
Pemeriksaan post-mortal pada kasus-kasus yang meninggal karena mengalami
penekanan pada daerah leher dan obstruksi saluran pernafasan adalah sebagai
berikut ;
Sianosis
Yang mudah dilihat pada pembuluh darah kapiler, seperti pada ujung-ujung jari dan bibir
dimana penilaiannya harus hati-hati oleh karena variabelnya cukup besar. Setelah 24 jam
post-mortal sianosis yang ada biasanya merupakan perubahan post-mortal, tidak adanya
sianosis tidak berarti bahwa korban tidak terjadi sianosis.
Kongesti
Kongesti sistemik dan kongesti pada paru-paru serta dilatasi jantung kanan adalah
merupakan tanda klasik pada kematian karena asfiksia.
Darah tetap cair
Merupakan salah satu indikasi adanya asfiksia, walaupun validitasnya masih
diperdebatkan dan sering diperdebatkan dengan aktifitas fibrinolisin.
Edema paru-paru
Untuk itu perlu paru-paru ditimbang untuk mengetahui beratnya, walaupun hanya
mempunyai arti sedikit didalam hal penentuan kematian karena obstruksi saluran
pernafasan, dan sering dijumpai pada kasus-kasus yang lain.
Perdarahan berbintik (petechial haemorrhages)
Yang mudah dilihat pada kulit dan alat-alat dalam, seperti pada permukaan jantung,
permukaan paru-paru, daerah katup pangkal tenggorok (epiglotis), biji mata dan kelopak
mata.
Pendarahan bintik-bintik ini disebabkan karena terjadinya perubahan permeabilitas
kapiler sebagai akibat langsung dari hipoksia dank arena peningkatan tekanan
intrakapiler.
Patahnya tulang lidah dan tulang rawan gondok
Tulang lidah dapat patah oleh karena mengalami tekanan atau kompresi langsung dari
samping (lateral), ataupun karena tekanan yang tidak langsung. Tekanan yang langsung
terjadi misalnya pada kasus pencekikan, sedangkan tekanan yang tidak langsung
dimungkinkan oleh karena adanya tekanan kebawah kesamping dari tulang rawan gondok
atau tekanan pada daerah antara tulang lidah dan tulang rawan gondok.
Patahnya tulang lidah karena tekanan yang tidak langsung tersebut dimungkinkan oleh
karena tulang lidah terfiksasi dengan kuat oleh otot-otot pada permukaan atas dan
permukaan depan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
18
Tulang rawan gondok sering patah pada bagian cornusuperior, yang dimungkinkan karena
adanya traksi pada jaringan ikat yang menghubungkan tulang lidah dan tulang rawan
gondok (thyrohyoid ligament).
Pada kasus dengan menggunakan racun
Jika racun yang dipakai itu mempunyai bau atau mempunyai sifat korosif seperti
halnya asam sulfat pekat, maka pada umumnya kasusnya adalah kasus bunuh diri; hal ini
akan lebih ditunjang bila racun yang bersifat korosif tadi menyebabkan luka bakar yang
teratur mulai dari mulut, mengalir kedagu, leher bagian depan dan dada pada bagian
tengah.
Pada kasus keracunan pembedahan mayat dan pemeriksaan toksikologis untuk
mendapatkan racun pada tubuh korban mutlak harus dilakukan, oleh karena dari hasil
pemeriksaan tersebut akan dapat diketahui apakah sebab matinya korban karena
keracunan atau karena hal lain misalnya di bekap dan racunnya dituangkan kemulut
korban setelah korban mati.
Pembunuhan dengan racun biasanya memerlukan persiapan yang teliti dengan
dibekali pengetahuan yang memadai pula. Jika yang dipakai adalah racun yang bersifat
korosif pembunuhan dapat dengan mudah diketahui, oleh karena pelaku kejahatan
biasanya menyiram korbannya, dengan demikian bercak “luka bakar” pada korban sangat
tidak beraturan.
Pada keracunan morfin kematian pada umumnya bersifat kecelakaan, oleh karena
korban tidak mengetahui dengan tepat berapa dosis morfin yang masuk kedalam
tubuhnya. Pembunuhan dengan menyuntik morfin dapat pula terjadi, yang biasanya
dilakukan oleh para pengedar morfin yang takut korban membuka cara operasi
pengedaran morfin.
4. Penyidikan pada kasus penembakan
Dalam menghadapi kasus penembakan khususnya yang berakibat fatal, penyidikan
harus dapat memperoleh kejelasan dari permasalahan sebagai berikut :
- Apakah luka yang diperiksa memang benar luka tembak,
- Apakah luka tembak tersebut luka tembak masuk atau luka tembak keluar,
- Termasuk jenis apa senjata yang menyebabkan luka,
- Pada jarak berapa penembakan dilakukan,
- Dari arah mana penembakan dilakukan,
- Bagaimana posisi korban dan posisi penembak,
- Apakah penembakan tersebut yang menyebabkan kematian, dan
- Berapa kali korban terkena tembakan.
Untuk dapat memperoleh kejelasan tersebut perlu diketahui :
Luka masuk, sebab akibat yang ditimbulkan.
a. Akibat api (flame effect) : Luka bakar, dimana kulit yang terbakar tampak
kering, hangus dan kaku pada perabaan.
b. Akibat asap (smoke effect) : Jelaga, dimana kelim jelaga akan tampak
sebagai suatu lapisan berwarna kelabu kehitaman disekitar lubang luka
mudah dihilangkan dengan cara dihapus.
c. Akibat butir-butir mesiu (gun powder effect): tatto/stippling, dimana
kelim tatto akan tampak sebagai bintik-bintik hitam yang bercampur dengan
luka lecet dan pendarahan, dan tidak dapat dihilangkan bila dihapus oleh
karena butir-butir mesiu tersebut masuk kedalam kulit.
d. Akibat anak peluru (bullet effect): luka terbuka yang dikelilingi oleh kelim
lecet; dan bila senjata yang dipakai itu sering dibersihkan maka pada dinding
luka dan kelim lecet akan didapatkan pula kelim kesat/kelim lemak.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
19
e. Akibat partikel logam (metal effect): “fouling”, yang tampak sebagai luka-
luka lecet atau luka-luka robek kecil-kecil disekitar lubang luka; hal ini
disebabkan oleh partikel-partikel logam yang terbentuk akibat goresan
antara anak peluru dengan laras yang beralur, partikel logam tersebut dapat
masuk kedalam kulit atau menempel pada pakaian.
f. Akibat moncong senjata (muzzle effect): Jejas laras, hal ini dapat terjadi
pada kasus luka tembak temple dan tampak sebagai suatu luka lecet tekan
atau memar yang bentuknya sesuai dengan moncong senjata.
g. Kelainan pada tulang, yang akan tampak jelas pada tulang yang berbentuk
pipih misalnya tengkorak, dimana kerusakan pada permukaan tulang bagian
luar (tabula externa) akan lebih kecil bila dibandingkan dengan kerusakan
pada bagian dalam (tabula interna), ini akan memberikan gambaran lubang
yang berbentuk corong. Pada luka tembak keluar terjadi keadaan yang
sebaliknya.
Luka tembak keluar, dimana dapat memberikan informasi dalam beberapa hal, yaitu :
- Arah tembakan,
- Sikap dari korban pada saat penembakan, dan
- Jumlah peluru yang masih terdapat pada tubuh korban.
Pada umumnya luka tembak masuk dan luka tembak keluar tidak mempunyai
kelim lecet. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam terjadinya perbedaan
besarnya luka tembak keluar tersebut antara lain ;
- Velocity (kecepatan) dari anak peluru sewaktu keluar,
- Luasnya permukaan anak peluru pada tempat keluar,
- Yawing & tumbling of the bullet (pergerakan anak peluru yang tidak
beraturan dalam tubuh dan pergerakan berputar menurut poros memanjang
(end to end))
- Ada tidaknya fragmen-fragmen tulang yang ikut keluar,
- Ada tidaknya tulang dibawah kulit tempat luka tembak keluar, dan
- Ada tidaknya benda yang menekan kulit pada tempat keluarnya anak peluru.
Luka tembak masuk akibat senjata api yang tidak beralur (Entrance Shotgun Wound);
akan tampak kelainan yang disebabkan oleh komponen-komponen yang keluar
sewaktu penembakan, yaitu : mesiu, api, asap, pellet dan sumbat peluru (wad).
Luka tembak keluar akibat senjata api yang tidak beralur dapat membantu didalam
menentukan arah tembakan dan sikap korban sewaktu penembakan, yang pada
umumnya akan memberikan gambaran yang variabel akan tetapi pada umumnya
lukanya berbentuk bundar atau oval dengan tepi yang terangkat keluar (everted
margins).
Pemeriksaan mikroskopis dari luka tembak masuk.
Pemeriksaan ini diperlukan pada kasus-kasus yang meragukan, kelainan yang
didapatkan pada dasarnya merupakan akibat dari trauma mekanis dan thermis.
Kompresi dari epithel, elongasi, distorsi dan tampaknya perdarahan serta butir-
butir mesiu, nekrosis koagulatip dan sembabnya epithel dan vakuolisasi sel-sel
basal, demikian pula menjadi piknotiknya inti sel dan pada pewarnaan dengan
H.E> akan lebih banyak mengambil warna biru (basophilic staining), adalah
merupakan kelainan yang dapat ditemukan pada pemeriksaan mikroskopis.
Pemeriksaan kimiawi dari luka tembak masuk
Prinsipnya adalah dapat dideteksinya unsur-unsur yang terdapat dalam mesiu,
misalnya: pada smokeless goundpowder dapat dideteksi nitrit dan cellulosa
nitrate; sedangkan pada black powder black gunpowder yang dapat dideteksi
adalah karbon, nitrit, sulfid, sulfat, karbonat, tiosianat dan tiosulfat; sedangkan
pada senjata yang lebih modern timah hitam, antimon dan merkuri.
Pemeriksaan secara radiologis
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
20
Pemeriksaan dengan sinar-X ini dapat banyak membantu didalam hal mencari
anak peluru dan partikel logam dalam tubuh korban, menentukan apakah korban
merupakan korban penembakan dengan senjata api yang tidak beralur dan pada
kasus khusus, yaitu dimana jumlah anak peluru lebih banyak dari jumlah luka
tembak pada penembakan dengan senjata api yang beralur (tandem bullet
injury).
Internal ricochet
Internal ricochet dapat terjadi bila kekuatan anak peluru tidak cukup untuk
dapat menembus dari jaringan tubuh, misalnya pada kasus dimana anak peluru
mengenai kepala. Dengan demikian dapat terjadi variasi dari perjalanan anak
peluru didalam kepala yang perlu diketahui, yaitu : Single- ricochet, double-
ricochet, inner tangential at contralateral side, inner tangential at contra lateral
side and ricochet dan inner tangential at entrance side.
5. Penyidikan pada kasus kematian karena terbakar
Didalam melakukan pemeriksaan korban yang terbakar, dokter harus dapat
memberikan kejelasan kepada penyidik dalam hal:
- Apakah korban dalam keadaan hidup atau mati sewaktu kebakaran itu mulai
terjadi?
- Penyebab kematian.
- Identitas korban.
- Perlukaan yang diakibatkan secara langsung oleh api.
- Adanya racun, obat-obatan dan alkohol didalam tubuh korban.
- Cara kematian, kecelakaan atau pembunuhan.
Untuk dapat menentukan apakah korban dalam keadaan hidup atau mati sewaktu
kebakaran itu mulai terjadi mutlak harus dilakukan pembedahan mayat dan
pemeriksaan toksikologis.
Pada korban yang masih hidup sewaktu kebakaran itu mulai berlangsung, pada
pembedahan mayat akan ditemukan adanya pengumpulan dari jelaga didalam
saluran pernafasan serta adanya pembengkakan pada daerah tersebut khususnya
katup pangkal tenggorok (epiglotis), serta pita suara dan daerah sekitarnya.
Pada pemeriksaan toksikologis akan dapat diketahui bahwa didalam darah
korban mengandung gas karbon-monoksida (CO), dalam bentuk COHb dengan
saturasi diatas 10%.
Bila didalam peristiwa kebakaran itu banyak terbentuk asap yang mengandung
gas CO, maka kematian dapat disebabkan karena keracunan gas tersebut; dan ini
dapat diketahui antara lain dari lebam mayat yang berwarna merah bata (cherry
red), serta alat-alat dalam tubuh yang juga berwarna merah bata, warna tersebut
disebabkan oleh karboksihemoglobin (COHb).
Pada tubuh korban juga dapat ditemukan gelembung-gelembung (skin blisters),
dimana gelembung pada orang yang mati terbakar akan tampak kemerahan pada
dasarnya, cairannya banyak mengandung protein dan pada pemeriksaan
mikroskopis menunjukkan adanya reaksi vital, yaitu sel-sel radang; dimana
semua keadaan tadi tidak akan dijumpai pada orang yang sudah mati pada saat
kebakaran itu mulai berlangsung.
Penyebab kematian pada kasus kebakaran dapat dikarenakan oleh pelbagai hal,
diantaranya :
- Panas yang tinggi sekali yang dapat berakhir dengan serangan jantung yang
fatal.
- Keracunan gas CO, dimana dalam darah korban akan didapatkan saturasi
COHb diatas 60%.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
21
- Shock sebagai akibat dari luka-luka yang diderita serta akibat uap gas yang
panas.
- Luka-luka yang fatal akibat tertimpa dinding atau atap yang roboh.
- Pembengkakan paru-paru (pulmonary edema), akibat panas yang mengiritasi
paru-paru.
- Pembengkakan saluran pernafasan bagian atas yang mengakibatkan
obstruksi saluran pernafasan sehingga korban tidak dapat bernafas.
Penentuan identitas pada kasus yang mati terbakar amat penting, khususnya bila kasus
yang dihadapi merupakan kasus pembunuhan. Bila tubuh korban terbakar
dengan sempurna maka penentuan identitas tidak mungkin. Akan tetapi pada
kebanyakan kasus pembakaran tersebut tidak sempurna, didalam kasus seperti
ini maka penentuan identitas dapat dilakukan, terutama penentuan identitas dari
gigi, perhiasan logam dan kelainan didalam tubuh korban seperti adanya tumor
pada rahim, adanya pen besi penyambung tulang, sebagian pakaian dan lain
sebagainya yang sukar hancur bila dibakar.
Pada tubuh yang terbakar (mayat atau orang hidup), kulit akan dapat pecah berbentuk
celah hingga dapat disangka sebagai akibat dari benda tajam, demikian pula
dengan pecahnya tulang-tulang yang kesemuanya itu dapat diketahui dan
dibedakan dengan luka-luka atau kelainan yang didapat sewaktu korban masih
hidup, diantaranya dengan ada tidaknya perdarahan serta reaksi intra vital
lainnya.
Pemeriksaan toksikologis pada korban harus dilakukan dalam hubungannya untuk
mencari kejelasan dan pengarahan penyidikan.
Para pecandu alkohol, narkotika obat tidur serta obat bius lainnya oleh karena
kesadarannya terganggu seringkali mati terbakar oleh karena mereka lupa
mematikan rokok, kompor, lampu dan lain sebagainya. Jika dari hasil
penyidikan dapat diketahui bahwa mereka itu memang para pecandu dan
menyalah gunakan obat (drug abuser), maka kematian korban bersifat
kecelakaan; akan tetapi bila penyidikan tersebut tidak memberi hasil seperti
tersebut diatas maka kemungkinan kasus pembunuhan haruslah dipikirkan.
Pada umumnya kematian karena terbakar bersifat kecelakaan, akan tetapi bila pada
pemeriksaan mayat dan dari hasil penyidikan didapatkan keadaan-keadaan yang
menentangkan kecurigaan seperti yang telah disinggung pada 5.1.; 5.2.; 5.3.;
5.4.; dan 5.5., maka pembunuhan sebagai perbuatan orang lain haruslah
dijadikan pedoman utama didalam penyidikan sampai didapat hasil yang baik.
6. Anggapan yang tidak tepat dalam penyidikan kasus pembunuhan
Dalam zaman yang sudah maju dan modern seperti sekarang masih tetap hidup
dikalangan masyarakat termasuk dalam kalangan penyidik sendiri anggapan-anggapan
yang keliru dan tidak tepat mengenai kasus pembunuhan. Anggapan-anggapan tersebut
terdapat di negara-negara yang sudah maju. Berikut ini tertera beberapa anggapan yang
perlu mendapatkan perhatian khusus, yaitu :
Pembunuhan akan selalu dapat segera diketahui.
Si-pembunuh akan selalu kembali ke tempat dimana kejahatan itu dilakukan.
Arah mata dari korban atau posisi lengan korban merupakan petunjuk ke arah mana
si-pembunuh melarikan diri.
Ekspresi wajah korban, terkejut atau ketakutan akan selalu menetap tidak berubah.
Tubuh yang telah tidak bernyawa tidak dapat memberikan keterangan apa-apa.
Rambut dan kuku akan terus tumbuh walaupun korban telah tewas.

7. Kematian mendadak yang disebabkan oleh penyakit
Kematian mendadak yang disebabkan oleh penyakit (Unexpected Death due to
Natural Disease), pada seseorang terutama bila kematian tersebut terjadi di tempat umum,
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
22
seperti di hotel dan khususnya bila terjadi pada seorang tersangka pelaku kejahatan atau
seorang tahanan; merupakan peristiwa yang sensitif sehingga perlu diselesaikan secara
tuntas dan cepat.
Adapun penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan kematian secara mendadak
adalah :
Penyakit pada susunan saraf pusat, yang sering adalah perdarahan spontan yang
disebabkan karena korban menderita penyakit darah tinggi, atau perdarahan
karena penyakit pengerasan pembuluh darah (arteriosklerosis). Perdarahan
spontan yang diakibatkan kedua keadaan tersebut terjadi didalam otak/intra
selebral.
Kematian dapat juga disebabkan karena terjadinya perdarahan di bawah selaput
lunak otak (perdarahan sub-arachnoid), secara spontan, oleh karena pembuluh
nadi menggembung setempat dan dapat pecah sewaktu-waktu, khususnya bila
korban melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Penyakit ini biasanya
menyerang anak muda, merupakan penyakit bawaan dan dikenal dengan nama
aneurysma berry.
Penyakit pada sistem kardio-vaskuler, merupakan penyebab kematian mendadak
yang tersering, khususnya penyakit pada pembuluh darah koroner, baik hanya
berupa penyempitan maupun penyumbatan.
Penyakit jantung yang juga dapat menyebabkan kematian mendadak adalah :
peradangan, penyakit pada katup serta pecahnya batang nadi tubuh (aorta)
dimana pecahnya aorta sering dihubungkan dengan penyakit pada pembuluh
nadi jantung (miocard infark).
Penyakit pada sistem pernafasan, yang tersering di Indonesia adalah perdarahan
akibat penyakit tuberkulosa/TBC, dimana darah tersebut menyumbat saluran
pernafasan. Oleh karena adanya perdarahan tersebut sering terjadi kesalahan
penafsiran, yaitu dikaitkan dengan adanya kekerasan.
Penyakit paru-paru lainnya yang juga dapat menyebabkan kematian mendadak
antara lain ialah : infeksi (pneumonia) asma bronkhiale, bronkhiektasis serta
penyakit diphteria.
Penyakit pada sistim gastrointestinal dan sistim uro-genitalis, penyakit pada
sistim gastrointestinal atau sistim pencernaan yang tersering menyebabkan
kematian mendadak adalah penyakit tukak lambung (maag), dimana
manifestasinya adalah muntah darah. Penyakit hati yang kronis (sirosis hepatis)
juga dapat menyebabkan perdarahan di lambung oleh karena terjadi
perbendungan pembuluh balik, dan kemudian pecah ke dalam lambung dan
akhirnya dimuntahkan.
Yang perlu diingat oleh dokter, dalam menghadapi kasus kematian mendadak,
terutama bila dokter tidak pernah merawat korban, maka sebaiknya dokter
jangan membuatkan surat keterangan kematian; kecuali jika ia yakin bahwa
kematian korban menurut pengetahuannya tidak disebabkan oleh tindakan
kekerasan. Pada kasus kecelakaan, yang berarti merupakan kematian yang tidak
wajar dan mungkin akan ada penuntutan, dokter jangan membuat surat
keterangan kematian. Untuk itu dokter harus melakukan pemeriksaan tubuh
mayat dengan teliti sekali. Jika ada kecurigaan setelah ia melakukan
pemeriksaan, maka pihak keluarga dianjurkan melapor kepada polisi dan
kemudian dibuatkan visum et repertumnya.
Sikap penyidik dalam kasus mati mendadak, penyidik harus melakukan tindakan-
tindakan sebagai berikut :
1. Jangan mengajukan pertanyaan yang mendatangkan syok.
2. Tentukan keadaan sekitar korban dan memperkenalkan diri
dengan semua anggota keluarga.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
23
3. Berusaha untuk mendapatkan informasi baik di dalam hal
penyakit atau perlukaan dari korban sebelum korban meninggal dunia.
4. Perhatikan tubuh korban :
- Adakah tanda-tanda kekerasan atau perlawanan.
- Adakah tanda-tanda keracunan.
- Adakah tanda-tanda bahwa korban pernah mendapatkan perawatan atau
pengobatan.
Sebab Kematian = penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab terhadap timbulnya
kematian
Sebab kematian :
1. Penyakit : gangguan SCV, SSP, respirasi, GIT, urogenital
2. Trauma :
a. mekanik : - tajam : iris, tusuk, bacok
- tumpul : memar, lecet, robek, patah
- senjata api (balistik)
- bahan peledak/bom
b. fisik : - suhu : dingin, panas
- listrik/petir
c. kimiawi : - asam
- basa
- intoksikasi
Mekanisme Kematian = gangguan/kelainan fisiologik dan atau biokimia yang
bertanggung jawab terhadap timbulnya kematian
Mekanisme kematian : 1. Mati lemas (asfiksia)
2. Perdarahan
3. Kerusakan organ vital
4. Refleks vagal
5. Emboli, dll
Mekanisme kematian bisa kombinasi beberapa mekanisme
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
24
BAB IV
IDENTIFIKASI FORENSIK
Definisi :
• Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup
maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut.
• Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang
yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.
Tujuan Identifikasi forensik :
1. Kebutuhan etis & kemanusiaan
2. Pemastian kematian seseorang secara resmi & yuridis
3. Pencatatan identitas untuk keperluan administratif & pemakaman
4. Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata
5. Pembuktian klaim asuransi, pensiun dll
6. Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal (bila ada)
Peran Identifikasi :
1. Pada Orang Hidup
o semua kasus medikolegal
o penjahat atau prajurit militer yang melarikan diri
o orang yang didakwa pelaku pembunuhan
o orang yang diakwa pelaku pemerkosaan
o identitas bayi baru lahir yang tertukar, untuk menentukan siapa orang
tuanya
o anak hilang
o orang dewasa yang karena sesuatu hal kehilangan uangnya
o tuntutan hak milik
o untuk kepentingan asuransi
o tuntutan hak pensiun
2. Pada jenazah, dilakukan pada keadaan;
o kasus peledakan
o kasus kebakaran
o kecelakaan kereta api atau pesawat terbang
o banjir
o kasus kematian yang dicurigai melanggar hukum
Ada dua metode, yaitu ;
a. Identifikasi Komparatif
- Dalam komunitas terbatas
- Data antemortem & postmoterm tersedia
b. Identifikasi Rekonstruktif
- Komunitas korban tidak terbatas
- Data antemortem tidak tersedia
Cara Identifikasi yang biasa dilakukan :
1. Secara visual ¬ keluarga/rekan memperhatikan korban (terutama wajah). Syarat :
korban dalam keadaan utuh. Kelemahan : sangat dipengaruhi faktor sugesti dan
emosi
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
25
2. Pengamatan pakaian ¬ catat: model, bahan, ukuran, inisial nama & tulisan pada
pakaian. Sebaiknya : simpan pakaian atau potongan pakaian (20x10 cm), foto
pakaian
3. Pengamatan perhiasan ¬ catat : jenis (anting, kalung, gelang, cincin dll), bahan
(emas,perak, kuningan dll), inisial nama. Sebaiknya : simpan perhiasan dengan baik
4. Dokumen : KTP, SIM, kartu golongan darah, dll
5. Medis ¬ pemeriksaan fisik : tinggi & berat badan, warna tirai mata, adanya luka
bekas operasi, tato
6. Odontologi ¬ bentuk gigi & rahang : khas, sangat penting bila jenazah dalam
keadaan rusak/membusuk, perlu diingat : dental record di Indonesia masih sangat
terbatas
7. Sidik jari ¬ tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama mudah dan
murah
8. Serologi ¬ menentukan golongan darah (memeriksa darah dan cairan tubuh
korban)
Ada 2 tipe orang dalam menentukan golongan darah
- Sekretor: gol.darah dapat ditentukan dari px. darah, air mani, dan cairan tubuh
lain
- Non sekretor: gol.darah hanya dapat ditentukan dari px. darah
9. DNA ¬ sangat akurat,t tapi mahal
10. Ekslusi ¬ biasanya digunakan pada korban kecelakaan masal, menggunakan
data/daftar penumpang
Metode pemeriksaan terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Identifikasi primer :
Merupakan identifikasi yang dapat berdiri sendiri tanpa perlu dibantu oleh kriteria
identifikasi lain.
• DNA : memerlukan keahlian dan kondisi khusus.
• Sidik Jari : sukar dilakukan pada kondisi jenazah yg membusuk.
• Odontologi : dental record di Indonesia masih terbatas.
Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan 2-3 metode
pemeriksaan dengan hasil (+).
2. Identifikasi sekunder
Tidak dapat berdiri sendiri, perlu didukung kriteria identifikasi yang lain.
Cara sederhana : melihat langsung ciri seseorang dengan memperhatikan perhiasan,
pakaian dan kartu identitas yang ditemukan.
Cara Ilmiah : melalui teknik keilmuan tertentu seperti medis dll.
Pada jenazah yang telah membusuk ditentukan :
• Ras
• Jenis Kelamin
• Perkiraan umur
• Tinggi badan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
26
PENENTUAN JENIS KELAMIN
Tabel. Penentuan jenis kelamin
Penentuan secara umum
wajah, potongan tubuh, bentuk rambut, pakaian, ciri-ciri seks, buah dada
Pemeriksaan mikroskopik dari ovarium dan testis
Pemeriksaan histologis/kromosom.
Prinsip: berdasarkan pada kromosom
Bahan pemeriksaan: kulit, leukosit, sel-sel selapu lendir pipi bagian dalam, sel-sel rawan,
korteks kelenjar suprarenalis, dan cairan amnion
Metode
- Px. Kromosom dari biopsi kulit dengan fiksasi merkuri-klorida setengah jenuh dlm 15
% formol saline
- Px. Sel PMN leukosit¬ melihat drumstick
Kemungkinan dijumpai drumstick pada wanita lebih banyak bila dibanding pria
- Px. Struktur inti darah putih dan dari kulit (ketepatan 100%)
Penentuan dengan rangka
Pembeda Laki-laki Perempuan
Ukuran secara
umum
Besar Kecil
Arsitektur lebih kasar lebih halus
Tulang panggul
indeks iscium-pubis lebih kecil indeks iscium-pubis lebih besar15%
Indeks tersebut diukur dari ischium dan pubis dari titik dimana mereka
bertemu pada acetabulum
Tengkorak
Glabela¬ bony Glabela¬ datar
Margin supraorbita melingkar Margin supraorbita tajam
Luas perluasan processus
mastoideus lebih besar
Luas perluasan processus
mastoideus lebih kecil
Platum besar, membentuk huruf
U
Palatum kecil, membentuk parabola
Occipital condylus¬ besar Occipital condylus¬ kecil
Dibedakan atas ciri-ciri: tonjolan di atas orbita (supra orbita ridges),
processus mastoideus, palatum, bentuk rongga mata dan rahang bawah.
Ciri tersebut tamapk jelas pada usia 14-16 tahun
Tulang Panjang lebih panjang, lebih berat, lebih
kasar, dan impressio-nya lebih
banyak
lebih pendek, lebih ringan, lebih
halus, dan impressio-nya lebih
sedikit
Tulang Dada manubrium sterni wanita separuh panjang corpus sterni
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
27
PENENTUAN UMUR
- Bayi baru lahir
Penentuan umur kehamilan, viabilitas, berat badan, panjang badan, pusat penulangan
(bermakna pada bagian distal os femoris), tinggi badan (jarak antara kepala sampai ke
tumit/crown-heel, jarak antara kepala ke tulang ekor/crown-rup)
Px. Penunjang¬ radiologis (sinar X) ¬ menilai timbulnya epiphyse dan fusinya
dengan diaphyses.
- Anak-anak & dewasa < 30 thn
Persambungan spheno-occipital terjadi dalam umur 17-25 thn (pada wanita 17-20
thn), unifikasi tulang selangka mulai umur 18-25 thn & menjadi lengkap usia 31 thn
ke atas, corpus vertebrae sblm usia 30 thn menunjukkan alur-alur yang berjalan radier
pada bagian permukaan atas & bawah
- Dewasa > 30 thn
Perkiraan dengan memeriksa tengkorak, yaitu sutura-suturanya.
Sutura sagittalis, coronaria, dan lamboidea mulai menutup pada usia 20-30 thn, sutura
parietomastoidea dan sutura squamosa menutup usia lima tahun kemudian – 60 thn,
sutura sphenoparietale menutup usia 70 thn.
PENENTUAN TINGGI BADAN
Melalui pengukuran tulang panjang :
o femur 27% dari tinggi badan
o tibia 22% dari tinggi badan
o humerus 35% dari tinggi badan
o tulang belakang dari tinggi badan
Formula STEVENSON :
o TB = 61,7207 + (2,4378 x panjang Femur) + 2,1756
o TB = 81,5115 + (2,8131 x panjang Humerus) + 2,8903
o TB = 59,2256 + (3,0263 x panjang Tibia) + 1,8916
o TB = 80,0276 + (3,7384 x panjang Radius) + 2,6791
Formula TROTTER dan GLESER :
o TB = 70,37 + 1,22 (panjang Femur + pjg Tibia) + 3,24
Pengukuran dengan osteometric board & tulang harus kering
Melakukan identifikasi jenazah kepada :
• Jenazah tidak dikenal
• Jenazah yang membusuk atau kerangka
• Kasus penculikan anak
• Kasus bayi tertukar
• Keraguan siapa orang tua anak
Identifikasi korban bencana massal :
• Organisasi Interpol
• Secara internasional identifikasi korban massal adalah tanggung jawab polisi
• Interpol Disaster Victim Identification Standing Comittee yang beranggotakan 114
negara di dunia dan bersidang setahun sekali di Lyon, Prancis.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
28
Yang harus dilakukan :
Fase I :Unit Penanganan di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa), Kegiatan:
• Membuat sektor-sektor/zona pada TKP dengan ukuran 5 x 5 m.
• Memberi tanda setiap sektor.
• Memberikan label pandang dan label oranye pada jenazah dan potongan jenazah
diikat pada tubuh/ibu jari kaki korban.
• Memberikan label putih pada barang-barang pemilik tercecer.
• Membuat sketsa dan foto tiap sektor
• Evakuasi dan transportasi jenazah dan barang, dengan :
- Memasukkan jenazah dan potongan jenazah dalam karung plastik dan
diberi label sesuai nomor jenazah.
- Memasukkan barang-barang yang terlepas dari tubuh korban dan diberi
label sesuai nomor jenazah.
- Diangkut ketempat pemeriksaan dan penyimpanan jenazah dan dibuat
berita acara penyerahan kolektif.
Fase II : Unit postmortem :
• Menerima jenazah/potongan jenazah dan barang dari unit TKP.
• Registrasi ulang dan pengelompokan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh, tidak
utuh potongan jenazah dan barang-barang.
• Membuat foto jenazah.
• Mencatat semua ciri-ciri korban sesuai formulir interpol
• Mengambil sidik jari korban dan golongan darah (Ident/Labfor).
• Mencatat gigi-gigi korban (Odontogram).
• Membuat Ro. Foto jika perlu.
• Melakukan autopsi.
• Mengambil data-data ke unit pembanding.
Fase III : Unit ante mortem
• Mengumpulkan data-data nama korban dari daftar penumpang serta data semasa
hidup seperti foto dan lain-lain yang dikumpulkan dari instansi tempat korban bekerja,
keluarga/kenalan, dokter-dokter gigi pribadi, polisi (sidik jari).
• Memasukkan data-data yang masuk dalam formulir yang tersedia formulir AM
Kuning.
• Mengelompokkan data-data Ante Mortem.berdasarkan :
o Jenis kelamin
o Umur
o Kewarganegaraan
• Mengirimkan data-data yang telah diperoleh ke unit pembanding data
Fase IV
Unit pembanding data (rekonsiliasi)
• Cek dan recek hasil unit pembanding data.
• Mengumpulkan hasil identifikasi korban.
• Membuat surat keterangan kematian untuk korban yang dikenal dan surat-surat lain
yang diperlukan.
• Menerima keluarga korban.
• Publikasi yang benar dan terarah oleh komisi identifikasi sangat membantu
masyarakat mendapat informasi yang terbaru dan akurat.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
29
Fase V
• Dilakukan Evaluasi
Dilakukan evaluasi yang komprehensif terhadap masing-masing fase
BAB V
TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP)
Definisi :
Suatu tempat penemuan barang bukti atau tempat terjadinya peristiwa tindak pidana atau
kecurigaan suatu tindak pidana, merupakan suatu persaksian.
Penyidik:
1. melakukan pengamatan/observasi TKP
2. membuat sketsa/foto
3. penanganan korban
4. penanganan terhadap pelaku/kerugian lain
5. penanganan terhadap barang bukti
KUHP pasal 20 ¬ minta bantuan dokter, apakah kasus pidana atau tidak
Jika dokter tidak mau ¬ sanksi KUHP pasal 24
Bantuan dokter dapat berupa:
1. persiapan ¬ permintaan tertulis atau tidak, catat tanggal permintaan, siapa peminta,
lokasi dimana, dan alat pemeriksa TKP
2. biaya ¬ ditanggung yang meminta
3. jika korban masih hidup ¬
• identifikasi secara visual: pakaian secara visual terhadap perhiasan, dokumen,
kartu pengenal lainnya
• identifikasi medik ¬ dari ujung rambut sampai kaki termasuk gigi dan
identifikasi sidik jari
4. jika korban mati ¬ buat sketsa foto ¬ situasi ruangan, lihat TKP (porak-poranda
atau tenang):
• identifikasi ¬ lihat bab identifikasi
• lihat tanatologi ¬ suhu rektal, lebam mayat, kaku mayat. (1. kulit pucat, 2.
relaksasi otot, 3. penurunan suhu, 4. perubahan mata, 5. lebam mayat, 6. kaku
mayat, 7. pembusukan)
• lihat lukanya ¬ lokasi luka, garis tengah luka, banyak luka, ukuran luka (cm
ditulis sentimeter), sifat luka:
o tepi luka (jika ditautkan berbentuk garis atau tidak)
o sudut luka (tumpul atau tidak)
o jembatan jaringan (terpotong atau tidak)
o ada lecet atau memar di sekitar luka
o tanda: fraktur atau krepitasi tulang
o dasar luka (bersih atau tidak)
o koordinat luka
Kesan: luka akibat benda tajam/tumpul, dll
• darah
o warna merah/tidak
o tetesan, genangan, atau garis
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
30
o melihat bentuk/sifat darah ¬ dapat diperkirakan sumber darah
º darah bundar tepi kecil ¬ darah jatuh vertikal jarak = 60 cm
º darah bundar, tepi seperti jarum ¬ darah jath vertikal jarak 60-
120 cm
º darah bundar, tepi garis seperti roda ¬ darah jatuh secara
vertikal jarak > 120 cm
º darah bulat lonjong ¬ darah jatuh arahnya miring
o distribusi darah
º dari dada ke kaki
º bentuk genangan (bunuh diri), morat marit (pembunuhan)
o sumber
º dari arteri (pancaran lebih jauh dan warna lebih terang)
º darah merah berbuih ¬ dari saluran respirasi
º darah coklat hitam ¬ dari saluran cerna
Tabel. Bentuk dari bercak darah
Bentuk Bercak Arah Jatuhnya dan
Jarknya
Deskripsinya
Vertikal
Sampai 60 Bercak bundar dengan
tepi rata
Bercak bundar dengan
tepi terdapat bundaran
kecil-kecil
Vertikal
60-120 cm Bercak bundar dengan tepi
terdapat tonjolan-
tonjolan seperti
jarum
Vertikal
Diatas 120 cm
Bercak bundar dengan
tepi bergerigi seperti roda
pedati
Miring
Bervariasi dengan
kecepatan jatuhnya
Bentuk lonjong seperti
tanda seru atau seperti
bowling
5. identifikasi lanjutan
• ada sperma atau tidak
• pengambilan darah : jika di dinding kering ¬ dikerok, jika pada pakaian ¬
digunting
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
31
• darah basah/segar ¬ masukan termos es ¬ kirim ke lab kriminologi
6. identifikasi lanjutan
• rambut
• sperma kering atau tidak secara visual ¬ sinar UV
• air ludah, bekas gigitan ¬ bisa ditentukan golongan darah
7. membuat kesimpulan di TKP
• mati wajar atau tidak
• bunuh diri ¬ genangan darah, TKP tengang tidak morat-marit, ada luka
percobaan, luka mudah dicapai oleh korban, tidak ada luka tangkisan, pakaian
masih baik
• pembunuhan ¬ TKP morat marit, luka multipel, ada luka yang mudah dicapai
ada yang tidak, luka di sembarang tempat, pakaian robek, ada luka tangkisan
karena perlawanan
• kecelakaan
• mati wajar ¬ karena penyakit
Dengan melihat keadaan TKP lakukan :
1. penentuan mati wajar atau tidak
2. menentukan saat kematian
3. menentukan cara kematian/menentukan diagnosis mati
Tugas dokter di TKP ¬ untuk membantu visum dan autopsi apakah sesuai dengan TKP
atau tidak.
Kesimpulan
Kesimpulan pada visum TKP harus berisi:
1. Perkiraan saat kematian
Ditentukan berdasarkan :
a. Lebam mayat (livor mortis)
b. Kaku mayat (rigor mortis)
c. Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
d. Pembusukan (decomposition)
e. Umur larva lalat yang ditemukan dalam jenazah.
2. Sebab akibat luka
Dari pemeriksaan luka dapat disimpulkan benda yang mengakibatkan luka:
• Karena persentuhan benda tumpul
• Karena persentuhan benda tajam
• Karena tembakan
• Ledakan granat dsb
Sebab kematian (cause of death) hanya dapat ditentukan secara pasti dengan
pemeriksaan luar dan dalam, jadi tubuh mayat mutlak harus diotopsi.
3. Cara Kematian (manner of death)

Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
32
Gambar. Sketsa TKP yang salah
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
33
Gambar. Sketsa TKP yang benar
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
34
BAB VI
TANATOLOGI
Pengertian
o Thanatos : yang berhubungan dengan kematian
o Logos : ilmu
Adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari kematian dan perubahan
yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Atau
Ilmu yang mempelajari tentang mati dan diagnostik mati dan perubahan postmortem dan
faktor-faktor yang mempengaruhi serta kegunaan apa saja.
Fungsi Tanatologi :
o Menegakkan diagnosis mati
o Memperkirakan saat kematian
o Untuk menentukan proses cara kematian
o Untuk mengetahui sebab kematian
Penentuan Mati
Dicetuskan DECLARATION OF SYDNEY pada tahun 1968
o Penentuan seseorang telah meninggal harus berdasarkanatas pemeriksaan klinis, dan
bila perlu dibantu denganpemeriksaan laboratoris.
o Apabila hendak dilakukan transplantasi jaringan, makapenentuan bahwa seseorang
telah meninggal harusdilakukan oleh 2 orang dokter atau lebih, dan dokter ini
bukanlah dokter yang akan mengerjakan transplantasi nanti
Istilah Mati :
o Mati somatis/mati klinis : 3 sistem (SSP, SCV, Sist.respiratory) mati ¬
ireversibel/menetap, tetapi beberapa organ & jaringan masih bisa berfungsi sementara
¬ memungkinkan untuk transplantasi. Aktivitas otak dinyatakan berhenti bila : EEG
mendatar selama 5 mnt
o Mati seluler/molekuler : kematian organ & jaringan, sesaat setelah kematian
somatis ( otak & jar.saraf +5 menit setelah mati klinis, otot +4 jam setelah mati klinis,
kornea +6 jam setelah mati klinis). Dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat
mengalami mati seluler dalam waktu 4 menit; otot masih dapat dirangsang (listrik)
sampai kira-kira 2 jam pasca mati, dan mengalami mati seluler setelah 4 jam; dilatasi
pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin 0,1% atau penyuntikan sulfat atropin
1% ke dalam kamera okuli anterior, pemberian pilokarpin 1% atau fisostigmin 0,5%
akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam pasca mati. Kulit masih dapat berkeringat
sampai lebih dari 8 jam pasca mati dengan cara menyuntikkan subkutan pilokarpin
2% atau asetilkolin 20%; spermatozoa masih bertahan hidup beberapa hari dalam
epididimis; kornea masih dapat ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai
untuk transfusi sampai 6 jam pasca mati.
o Mati suri : Dalam stadium somatic death perlu diketahui suatu keadaan yang
dikenal dengan istilah mati suri atau apparent death. Mati suri ini terjadi karena proses
vital dalam tubuh menurun sampai taraf minimum untuk kehidupan, sehingga secara
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
35
Definisi Mati
Berhentinya ketiga sistem yaitu kardiovaskular, respirasi , dan sistem saraf pusat,
yang merupakan satu unit kesatuan dan tidak terkonsumsinya oksigen.
klinis sama dengan orang mati. Dalam literatur lain mati suri adalah terhentinya ketiga
sistem kehidupan yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan
peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut
masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur
(barbiturat), tersengat aliran listrik, kedinginan, mengalami anestesi yang dalam,
mengalami acute heart failure, mengalami neonatal anoxia, menderita catalepsy dan
tenggelam.
o Mati serebral : kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversibel, kecuali batang
otak dan serebelum (SCV dan respirasi masih berfungsi)
o Mati otak/batang otak : kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang
irreversibel, termasuk batang otak dan serebelum
Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem respirasi :
1. Tidak ada gerak napas pada inspeksi dan palpasi.
2. Tidak ada bising napas pada auskultasi.
3. Tidak ada gerakan permukaan air dalam gelas yang kita taruh diatas perut korban
pada tes Winslow.
4. Tidak ada uap air pada cermin yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut
korban.
5. Tidak ada gerakan bulu burung yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut
korban.
Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem saraf :
1. Areflex
2. Relaksasi
3. Pergerakan tidak ada
4. Tonus tidak ada
5. Elektoensefalografi (EEG) mendatar/flat selama 5 menit
Ada 6 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem kardiovaskuler :
1. Denyut nadi berhenti pada palpasi.
2. Detak jantung berhenti selama 5-10 menit pada auskultasi.
3. Elektro Kardiografi (EKG) mendatar/flat.
4. Tes magnus : tidak adanya tanda sianotik pada ujung jari tangan setelah jari tangan
korban kita ikat.
5. Tes Icard : daerah sekitar tempat penyuntikan larutan Icard subkutan tidak berwarna
kuning kehijauan.
6. Tidak keluarnya darah dengan pulsasi pada insisi arteri radialis.
Tanda Kematian Tidak pasti :
• Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit
• Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit
• Kulit pucat
• Tonus otot menghilang dan relaksasi
• Pembuluh darah retina mengalami segmentasi bergerak ke arah tepi retina dan
kemudian menetap
• Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
36
Diagnosis mati
Hilangnya seluruh ataupun pergerakan/aktivitas refleks hilang
Tanda Kematian Pasti :
• Lebam mayat (livor mortis)
• Kaku mayat (rigor mortis)
• Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
• Pembusukan (decomposition, putrefaction)
• Adiposera atau lilin mayat
• Mumifikasi
Terjadinya adipocere dan mummifikasi dapat dikatakan jarang dijumpai oleh karena
memerlukan berbagai factor, kondisi yang tidak selamanya ada, khususnya di Indonesia.
Perubahan post mortem :
• Kulit wajah pucat : krn sirkulasi berhenti, darah mengendap
terutama pembuluh darah besar
• Relaksasi primer : krn tonus otot tidak ada → rahang bawah
melorot
• Perubahan pada mata : pandangan mata kosong, refleks (-)
• 10-12 jam → keruh kornea
• Penurunan suhu mayat (algor mortis): karena perpindahan panas
ke dingin melalui konduksi, konveksi dan radiasi serta evaporasi
Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus Post Mortem Interval (PMI) oleh
Glaister dan Rentoul :
- Formula untuk suhu dalam derajat Celcius
PMI = 37
o
C - RT
o
C +3
- Formula untuk suhu dalam derajat Fahrenheit
PMI = 98,6
o
F - RT
o
F
1,5
Faktor-Faktor yang mempengaruhi penurunan suhu mayat:
1. Faktor Lingkungan, semakin besar perbedaan antara suhu tubuh dengan
suhu lingkungan¬ semakin cepat penurunan suhu mayat.
2. Suhu Tubub sebelum kematian, kematian karena perdarahan otak,
kerusakan jaringan oatak, penjeratan dan infeksi akan selalu didahului dgn
peningkatan suhu¬mempengaruhi penafsiran dari perkiraan saat kematian.
3. Intensitas dan kuantitas aliran atau pergerakan udara
4. Keadaan tubuh dan pakaian yang menutupi, yaitu lemak tubuh,
tebalnya otot serta tebalnya pakaian.
• Perubahan biokimia
Ada 3 contoh perubahan biokimia pada fase lanjut post mortem, yaitu :
1. Perubahan plasma, yaitu peningkatan kadar kalium, pospor, CO & asam laktat dan
penurunan kadar glukosa & pH.
2. Perubahan humor vitreus yang berupa peningkatan kadar kalium yang terjadi antara
24 sampai 100 jam post mortem.
3. Perubahan jantung berupa adanya chicken fat clot (bekuan lemak ayam) yaitu
bekuan darah post mortem menyerupai lemak ayam yang berwarna merah
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
37
Penurunan suhu = 10x(37-temperatur rektal)
= ..... jam
8
kekuningan. Bekuan ini biasanya kita temukan pada jantung mayat yang mati
dengan proses kematian lama.
• Perubahan pada kulit :
Lebam mayat (livor mortis, post mortum lividity, post mortum suggilation, post
mortum hypostasis) : terjadi karena pengendapan butir-butir ertirosit karena adanya
gaya gravitasi sesuai dengan tubuh, berwarna biru ungu tetapi masih dalam pembuluh
darah. Timbul 20-30 menit dan setelah 6-8 jam lebam mayat masih bisa ditekan dan
masih bisa berpindah tempat. Suhu tubuh yang tinggi dapat mempercepat timbulnya
lebam mayat.
Terbentuknya lebam mayat terjadi karena kegagalan sirkulasi, dan aliran balik vena
gagal mempertahankan darah mengalir melalui saluran pembuluh darah kapiler
akibatnya butir sel darahnya saling tumpuk memenuhi saluran tersebut dan sukar
dialirkan di tempat lain (fenomena kopi tubruk). Gaya gravitasi meyebabkan darah
yang terhenti tersebut mengalir ke area terendah.
Korban meninggal ¬ peredaran darah berhenti ¬ stagnasi ¬ akibat gravitasi ¬
darah mencari tempat yang terendah ¬ terlihat bintik-bintik merah kebiruan.
Timbul : 30 menit setelah kematian somatis dan intensitas maksimal (menjadi
lengkap) setelah 8-12 jam post mortal. Sebelum waktu ini, lebam mayat masih dapat
berpindah-pindah, jika posisi mayat diubah, misalnya dari terlentang menjadi
tengkurap. Namun setelahnya, lebam mayat sudah tidak dapat hilang (fenomena kopi
tubruk).
Tidak hilangnya lebam mayat pada saat itu, dikarenakan telah terjadinya perembesan
darah kedalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh darah akibat tertimbunnya
sel – sel darah dalam jumlah yang banyak, adanya proses hemolisa sel-sel darah dan
kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan demikian penekanan pada
daerah lebam yang dilakukan setelah 8 – 12 jam tidak akan menghilang. Hilangnya
lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat memberi indikasi bahwa suatu lebam
belum terfiksasi secara sempurna. Atas dasar keadaan tersebut, maka dari sifat-sifat
serta distribusi lebam mayat dapat diperkirakan apakah pada tubuh korban telah
terjadi manipulasi merubah posisi korban.
Lokalisasi : tempat yang terendah
Kecuali : bagian tubuh yang
- tertekan dasar
- tertekan pakaian
Perbedaan antara lebam mayat & hematom ¬lihat bab traumatologi
¬ letak lebam mayat tidak berubah, bila posisi mayat tidak diubah.
Warna lebam mayat:
- Normal : Merah kebiruan
- Keracunan CO : Cherry red
- Keracunan CN : Bright red
- Keracunan nitrobenzena : Chocolate brown
- Asfiksia : Dark red
Warna Lebam Mayat
Lebam mayat sering berwarna merah kebiru-biruan, tetapi bervariasi, tergantung
oksigenasi sewaktu korban meninggal. Bila terjadi bendungan, hipoksia, mayat
memiliki warna lebam yang lebih gelap karena adanya hemoglobin tereduksi dalam
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
38
pembuluh darah kulit. Lebam mayat merupakan indikator kurang akurat dalam
menentukan mekanisme kematian, dimana tidak ada hubungan antara tingkat
kegelapan lebam mayat dengan kematian yang disebabkan asfiksia. Sering kematian
sebab wajar oleh karena gangguan koroner atau penyakit lain memiliki lebam yang
lebih gelap. Terkadang area lebam mayat berwarna terang dan dilanjutkan dengan
area lebam mayat berwarna lebih gelap. Hal ini akan berubah seiring memanjangnya
interval post mortem. Sering kali warna lebam mayat merah terang atau merah muda.
Kematian yang disebabkan hipotermia atau terpapar udara dingin selama beberapa
waktu, seperti tenggelam, dimana warna lebam mayat dapat menentukan penyebab
kematian, tetapi relatif tidak spesifik oleh karena mayat yang terpapar udara dingin
setelah mati (terutama bila mayat yang di dalam lemari es mayat) dapat terjadi
perubahan lebam dari merah padam menjadi merah muda.
Mekanismenya belum pasti, tetapi sangatlah jelas merupakan hasil dari perubahan
hemoglobin tereduksi menjadi oksihemoglobin. Hal ini dapat dimengerti pada kasus
hipotermia, dimana metabolisme reduksi dari jaringan gagal mengambil oksigen dari
sirkulasi darah.
Diketahui bahwa lebam mayat yang merah padam berubah menjadi merah muda pada
batas horizontal anggota tubuh bagian atas, warna lebam pada anggota tubuh bagian
bawah tetap gelap, sehingga perubahan secara kuantitatif lebam dapat ditentukan,
dimana hemoglobin lebih mudah mengalami reoksigenasi karena eritrosit kurang
mengendap pada bagian lebam.
Perubahan lainnya pada warna lebam lebih berguna. Pada keracunan gas
karbonmonoksida, lebam mayat akan berwarna merah bata atau cherry red, yang
merupakan warna dari karboksi-hemoglobin (COHb). Keracunan sianida akan
memberikan warna lebam merah terang. Oleh karena kadar oksi hemoglobin (HbO)
dalam darah vena tetap tinggi. Pada keracunan zat yang dapat menimbulkan
methemoglobinemia, seperti pada keracunan kalium khlorat, kinine, anilin, asetanilid
dan nitrobensen, lebam akan berwarna coklat-kebiruan (slaty) oleh karena adanya
methemoglobin yang berwarna coklat serta adanya sianosis. Pada kasus tenggelam
atau pada kasus dimana tubuh korban berada pada suhu lingkungan yang rendah,
maka lebam mayat khususnya yang dekat letaknya dengan tempat yang bersuhu
rendah, akan berwarna merah terang. Ini disebabkan karena suhu yang rendah akan
mempengaruhi kurva dissosiasi dari oksi-hemoglobin. Kematian yang disebabkan
sepsis dimana Clostridium perfringens sebagai agen infeksi, bercak berwarna pucat
keabuan dapat terkadang terlihat pada kulit, Walaupun hal ini tidak timbul pada
lebam. Pemeriksaan laboratorium sederhana yaitu test resistensi alkali dapat juga
dilakukan, yaitu dengan menetesi contoh darah yang telah diencerkan dengan
NaOH/KOH 10%. Pada CO, warna tetap beberapa saat oleh karena resistensi,
sedangkan pada CN, warna segera menjadi coklat oleh karena terbentuknya hematina
alkali. Pada anemi berat, lebam mayat yang terjadi sedikit, warna lebih muda dan
terjadi biasanya lebih lambat. Begitu juga pada kematian dengan perdarahan yang
banyak, maka warna lebam mayat akan berwarna lebih muda. Pada poliasitemia
sebaliknya lebam mayat lebih cepat terjadi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pembentukan lebam mayat adalah:
viskositas darah, termasuk berbagai penyakit yang mempengaruhinya, kadar Hb, dan
perdarahan (hipovolemia).
Kepentingan mediko-legal
Secara medikolegal yang terpenting dari lebam mayat ini adalah letak dari warna
lebam itu sendiri dan distribusinya. Perkembangan dari lebam mayat ini terlalu besar
variasinya untuk digunakan sebagai indikator dari penentuan saat mati. Sehingga
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
39
lebih banyak digunakan untuk menentukan apakah sudah terjadi manipulasi posisi
pada mayat.
Kegunaan lebam mayat pada kedokteran forensik yaitu:
1. Merupakan tanda pasti dari kematian.
2. Dapat dipakai untuk menaksir saat kematian.
3. Dapat menentukan apakah posisi jenasah pernah dirubah atau tidak
4. Kadang – kadang dapat untuk menduga sebab kematian.
• Perubahan pada otot
Rigor mortisberasal dari bahasa latin Rigor berarti “stiff” atau kaku, dan mortis yang
berarti tanda kematian (sign of death). Livor mortis terjadi karena adanya kelenturan
otot setelah mati karena adanya metabolisme tingkat selular masih berjalan berupa
pemecahan cadangan glikogen→energi→ADP→ ATP. Selama masih ada
energi→aktin miosin masih regang.
Jika glikogen otot habis dan energi tidak ada maka ADP tidak bisa jadi ATP → ADP .
Menurut Szent-Gyorgyi di dalam pembentukan rigor mortis peranan ATP sangat
penting. Rigor mortis terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan untuk
memisahkan ikatan aktin dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot. Namun karena
pada saat kematian proses metabolisme tidak terjadi sehingga tidak ada produksi
ATP. Karena kekurangan ATP sehingga kepala miosin tidak dapat dilepaskan dari
filamen aktin, dan sarkomer tidak dapat berelaksasi. Karena hal ini terjadi pada semua
otot tubuh maka terjadilah kekakuan dan tidak dapat digerakkan.ATP dibutuhkan
untuk mengambil kembali kalsium ke dalam retikulum sarkoplasma dari sarkomer.
Untungnya ketika otot berelaksasi, kepala miosin dikembalikan keposisinya, siap dan
menunggu untuk berikatan dengan sisi dari filamen aktin. Sebab tidak ada ATP yang
bisa digunakan, pelepasan ion kalsium tidak dapat kembali ke retikulum sarkoplasma.
Ion kalsium bergerak melingkar di samping sarkomer dan menemukan cara untuk
berikatan dengan sisi filamen tebal dari protein regulator.
Skema Terjadinya Rigor Mortis
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
40
Timbul : 1-3 jam postmortem (rata-rata 2 jam), dipertahankan 6-24 jam, dimulai dari
otot kecil : rahang bawah, anggota gerak atas, dada, perut dan anggota bawah
kemudian kaku lengkap. Menurun setelah 24 jam.
Faktor yang mempercepat terjadinya rigor mortis, yaitu :
o Aktivitas fisik pra kematian / pre mortal.
Pada orang yang melakukan aktivitas yang berlebihan sebelum kematiannya, rigor
mortis akan terjadi lebih cepat. Onset dari rigor mortis menjadi cepat dan
durasinya menjadi singkat juga dapat terjadi pada penyakit yang menyebabkan
kelelahan otot yang sangat sehingga katabolismenya meningkat seperti kolera,
cacar, tifus abdominalis, tuberkulosis, kanker, uremia, penyakit ginjal kronis,
tetanus, serangan epilepsi, hidrofobia, skorbut, rematik akut, meningitis,
septikemia, piemia dan penyakit abdomen lainnya. Pada keadaan ini rigor mortis
hanya berlangsung 1 – 2 jam saja, sehingga sering tidak terlihat oleh pemeriksa.
Pada kasus tersambar petir, dimana rigor mortis terjadi secara cepat dan
menghilang secara cepat sering tidak terlihat pada waktu pemeriksaan. Keracunan
striknin dosis kecil, racun slinal, natrium salisilat, racun penyebab kejang,
alkaloid, karbon monoksida, dinitroortocresol (DNOC) pentachlorphenol, dan
penghambat cholinesterase, luka gorok pada leher, luka listrik dan luka tembak
menyebabkan onset dari rigor mortis yang berlangsung cepat dan mempunyai
durasi yang berlangsung singkat.
o Suhu tubuh tinggi.
o Konstitusi berupa tubuh kurus.
o Suhu lingkungan tinggi.
Pada lingkungn yang bersuhu tinggi dan lembab, seperti pada daerah tropis, onset
rigor mortis berlangsung cepat dan durasinya pun berlangsung singkat. Sebaliknya
pada lingkungan bersuhu rendah dan kering, onset rigor mortis ini berlangsung
lambat dan durasinyapun berlangsung lebih lama. Pada daerah yang sangat dingin,
rigor mortis dapat terhambat munculnya secara tak terbatas dan bila sudah muncul
dapat menetap sampai lebih dari 3 minggu
o Umur yaitu anak-anak dan orang tua.
o Gizi yang jelek.
Kekakuan yang menyerupai kaku mayat :
1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor)
o akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat
mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal
o kaku mayat timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh
relaksasi primer, mayat langsung mengalami kekakuan secara terus-menerus
sampai terjadi relaksasi sekunder
o Terlihat pada kasus : bunuh diri dengan pistol atau senjata tajam, mati
tenggelam, mati mendaki gunung, pembunuhan dimana korban menggenggam
robekan pakaian pembunuh.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
41
Tabel. Perbedaan Rigor Mortis dan Cadaveric Spasm
Pembeda Rigor Mortis Cadaveric Spasm
Waktu
timbul
Dua jam setelah meninggal.
Rigor mortis lengkap setelah 12
jam.
Sesaat sebelum meninggal (intravital)
dan menetap.
Faktor
predisposisi
- Kelelahan, emosi hebat, ketegangan,
dll.
Etiologi Habisnya cadangan glikogen
secara general.
Habisnya cadangan glikogen pada
otot setempat.
Pola
terjadinya
kaku otot
Sentripetal, dari otot-otot kecil
kemudian otot besar.
Kaku otot pada satu kelompok otot
tertentu.
Kepentingan
medikolegal
Untuk penentuan saat kematian. Untuk menunjukkan sikap terakhir
masa hidupnya. Biasanya pada kasus
pembunuhan, bunuh diri, dan
kecelakaan.
Suhu mayat Dingin. Hangat.
Kematian
sel.
Ada. Tidak ada.
Relaksasi
primer
Ada Tidak ada
Timbulnya Lambat Cepat
Lamanya Cepat hilang Lambat hilang (dipertahankan)
Koordinasi
otot
Kurang Baik
Lokasi otot Menyeluruh Setempat (yang aktif)
Rangsangan
sel.
Tidak ada respon otot. Ada respon otot.
Kaku otot. Dapat dilawan dengan sedikit
tenaga.
Perlu tenaga kuat untuk melawannya.
2. Heat stiffening :
o kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas
o serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku,
paha dan lutut,membentuk sikap petinju (pugilistic attitude) pada kasus mati
terbakar
3. Cold stiffening
o terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan
lemak subkutan dan otot
• Pembusukan :
Autolisis
o Tubuh membentuk enzim merusak sel dari
nukleus→sitoplasma→dinding→hancur
Mikroorganisme : bakteri patogen dalam sekum
o Setelah mati → daya tahan tubuh turun karena leukosit menurun → kuman
mudah masuk ke pembuluh darah → media baik untuk tumbuh kuman →
hancurkan darah dan bentuk amonia dan H
2
S → pertama kali terlihat didaerah
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
42
kanan pada fossa iliaka kanan tepatnya disekum terlihat warna ungu (livide)
yang merupakan reaksi Hb dan H
2
S → methsulf –Hb.
o Gas pembusukan masuk ke pembuluh darah → pembuluh darah melebar
sehingga perut menggembung → pecahnya kapiler di alveoli → keluar darah
lewat hidung.
o Pembusukan dimulai 48 jam postmortem, belatung pada 36 jam kemudian.
Proses pembentukan belatung:
Mayat dihunggapi lalat¬lalat bertelur di mayat¬ larva¬ belatung.
c. Pembusukan dapat dikenali dari adanya warna hijau kemerah-merahan pada
dinding perut bagian kanan bawah ¬ berlanjut dengan terbentuknya gelembung-
gelembung yang berisi cairan kehitaman ¬ tubuh menggelembung, lidah keluar,
bibir membengkak dan mencucur, bola mata menonjol keluar, kulit ari mngelupas
¬ pecahnya dinding perut dan hancurnya bagian tubuh yg lunak.
Tabel . Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pembusukan mayat
Faktor dari dalam Faktor dari Luar
Umur
Bayi yang belum makan apa-apa paling
lambat terjadi pembusukan
Mikroorganisme/sterilitas
Konstitusi tubuh
Tubuh gemuk lebih cepat membusuk
daripada tubuh kurus
Suhu optimal
yaitu 21-38
0
C (70-100
0
F) mempercepat
pembusukan. Berhenti pada suhu 212
0
F
Keadaan saat mati
Udem, infeksi dan sepsis mempercepat
pembusukan. Dehidrasi memperlambat
pembusukan
Kelembaban udara
Kelembaban udara yang tinggi
mempercepat pembusukan
Seks
Wanita baru melahirkan (uterus post
partum) lebih cepat mengalami
pembusukan
Sifat medium.
Hukum Casper ¬Udara : air : tanah = 8 :
2 : 1 (di udara pembusukan paling cepat, di
tanah paling lambat).
“ kaedaan mayat setelah 1 minggu di udara
terbuka sama dengan 2 minggu di dalam air
sma dengan 8 minggu keadaan mayat di
dalam tanah atau kuburan”

Golongan alat tubuh berdasarkan kecepatan terjadi pembusukan :
a. cepat : otak, lambung, usus, uterus hamil/post partum
b. lambat : jantung, paru, ginjal, diafragma
c. paling lambat : prostate, uterus yang tidak hamil
Tabel. Perbedaan Bulla Intravital dan Bulla Pembusukan
Bulla
Intravital
Perbedaan Bulla Pembusukan
Kecoklatan Warna kulit ari Kuning
Tinggi Kadar albumin & klor Bulla Rendah atau tidak ada
Hiperemis Dasar bulla Merah pembusukan
Intraepidermal Jaringan yang terangkat Antara epidermis & dermis
Ada Reaksi jaringan & respon darah Tidak ada
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
43
Variasi-variasi pembusukan:
a. Mummifikasi
o Terjadi bila temperatur turun, kelembaban turun → dehidrasi viceral sehingga
kuman-kuman tidak berkembang → tidak terjadi pembusukan → mayat
mengecil, bersatu berwarna coklat kehitaman, struktur anatomi masih lengkap
sampai bertahun-tahun.
o Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga
terjadi pengeringan jaringan
o Syarat terjadinya mummifikasi :
º Suhu relatif tinggi
º Kelembaban udara rendah
º Aliran udara baik
º Waktu yang lama (12-14 minggu)
o Yang terlihat pada mummifikasi adalah penyusutan bentuk tubuh, kulit padat
hitam seperti kertas perkamen
b. Adipocare
o Terjadi karena hidrogenisasi asam lemak tidak jenuh (asam palmitat, asam
stearat, asam oleat) dihidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh yang relatif
padat .
o Suhu tinggi → kelembaban tinggi → lemak → asam lemak → pH turun →
kuman tidak bisa berkembang → asam lemak → dehigrogenase →
penyabunan → mayat menjadi kebalikannya mumifikasi.
o Syarat terjadinya adiposera :
º Suhu rendah, kelembaban tinggi
º Lemak cukup
º Aliran udara rendah
º Waktu yang lama
Perkiraan Saat Kematian
• Perubahan pada mata : Kekeruhan menyeluruh pada kornea terjadi kira-kira 10-12
jam pasca mati
• Perubahan dalam lambung : Pengosongan lambung yang terjadi dalam 3-5 jam
setelah makan terakhir, misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam
sedangkan makan besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna.Kecepatan
pengosongan lambung ini dipengaruhi oleh penyakit-penyakit saluran cerna,
konsistensi makanan dan kandungan lemaknya.
• Perubahan rambut : Panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk
memperkirakan saat kematian, kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari
• Pertumbuhan kuku : Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1 mm/hari
• Perubahan dalam cairan serebrospinal : Kadar nitrogen asam amino kurang dari
14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, Kadar nitrogen non protein
kurang 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam
• Metode Entomologik : Larva Musca domestica mencapai panjang 8 mm pada hari
ke-7, berubah menjadi kepompong pada hari ke-8, menjadi lalat pada hari ke-14.
Larva Sarcophaga cranaria mencapai panjang 20 mm pada hari ke-9, menjadi
kepompong pada hari ke-10 dan menjadi lalat pada hari ke-18. Necrophagus species
akan memakan jaringan tubuh jenazah. Sedangkan predator dan parasit akan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
44
memakan serangga Necrophagus. Omnivorus species akan memakan keduanya baik
jaringan tubuh maupun serangga. Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada
jenazah sesudah 1-2 hari postmortem. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem.
Sedangkan larva dewasa yang akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari.
• Reaksi supravital : Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih
sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Rangsang listrik dapat
menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati, mengakibatkan
sekresi kelenjar sampai 60-90 menit pasca mati, trauma masih dapat menimbulkan
perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati
Grafik Perubahan Pada Tubuh Post Mortem
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
45
BAB VII
ASFIKSIA
Terminologi
Asfiksia berasal dari bahasaYunani, yaitu terdiri dari “a” yang berarti “tidak”, dan
“sphinx” yang artinya “nadi”. Jadi secara harfiah, asfiksia diartikan sebagai “tidak ada
nadi” atau “tidak berdenyut”. Pengertian ini sering salah dalam penggunaannya.
Akibatnya sering menimbulkan kebingungan untuk membedakan dengan status anoksia
lainnya
Definisi :
Merupakan suatu keadaan dimana suplai O
2
ke jaringan berkurang
Penyebab :
Penyebab asfiksia terbagi 2 yaitu, penyebab asfiksia wajar dan tidak wajar. Penyebab
asfiksia wajar karena penyakit seperti difteri, tumor laring, asma bronkiale,
pneumotoraks, pneumonia, COPD, reaksi anafilaksis, dan lain-lain. Penyebab asfiksia
tidak wajar karena emboli, listrik, racun (barbiturat), dan adanya halangan udara masuk
ke saluran pernapasan secara paksa.
Pembagian menurut London :
1. Hipoksik-hipoksia (Keadaan dimana oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi
darah) : kadar oksigen yang memang rendah atau gangguan masuk, biasanya karena
gangguan sist.respirasi : hipoksia mekanik : intraluminer (co : tersedak) &
ekstraluminer (co : pencekikan, penjeratan)
2. Anemik-hipoksia (Darah tidak dapat membawa O
2
yang cukup untuk metabolisme ) :
biasanya Hb yang kurang atau volume darah yang kurang
3. Stagnan-hipoksia (Terjadinya kegagalan sirkulasi) : biasanya gangguan pembuluh
darah, jantung, vagal refleks, emboli, dekomp kordis
4. Histotoksik-hipoksia (HH) (Keadaan yang mengakibatkan O
2
tdk bisa digunakan
jaringan)
a. HH ekstraseluler : gangguan enzim, contoh keracunan CO
b. HH periseluler : gangguan permeabilitas membran sel, contoh keracunan
eter/kloroform
c. HH substrat : bahan/substrat yang tidak cukup
d. HH metabolit : gangguan metabolisme karena end product tidak dapat
dieliminir, contoh uremia, keracunan CO
2
Hipoksik hipoksia bisa terjadi karena:
1. strangulation by suspension / hanging / penggantungan
2. manual strangulation / throttling (cekikan)
3. strangulation by ligature / jeratan
4. simulated suicidal hanging / pembunuhan yg dibuat seperti gantung diri
5. Suffocation :
a. smothering / pembekapan
b. chocking / tersedak
c. gagging / mulut disumbat dg kain lalu diikat ke belakang
6. tenggelam/drowning
7. external pressure of the chest / asfiksia traumatik
8. inhalation of suffocation gases
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
46
Stadium asfiksia versi I :
× stadium inspirasi dispneu
• sesak napas saat inspirasi
• TD dan nadi meningkat
• Cemas, gelisah, berat kepala, takut, tinitus, vertigo
• Sianosis
× stadium ekspirasi dispneu
• sesak saat ekspirasi ¬ Kadar CO
2
tinggi ¬ kejang
• pada saat relaksasi ¬ relaksasi spingter ani ¬ keluar kotoran
• relaksasi spingter OUI ¬ ada sperma
× stadium apneu
• kesadaran yang menurun ¬ koma
• pupil melebar
• reflek cahaya negatif
• TD hampir tidak terukur
• Nadi tidak teraba
× stadium akhir
Stadium asfiksia versi II :
1. Stadium dispneu :
Defisiensi oksigen pada sel-sel darah merah dan akumulasi karbondioksida dalam
plasma akan merangsang pusat pernafasan di medulla. Hal ini akan mengakibatkan
gerak pernafasan yang cepat dan kuat, peningkatan denyut nadi dan sianosis terutama
dapat diamati pada wajah dan tangan.
2. Stadium konvulsi.
Pertama adalah kejang klonik, setelah itu kejang tonik, terakhir terjadi spasme
opistotonik. Pupil menjadi lebar dan denyut jantung menjadi pelan. Hal ini terjadi
dimungkinkan karena meningkatnya kerusakan dari nukleus-nukleus pada otak
karena defisensi oksigen.
3. Stadium apneu
Depresi pusat pernafasan semakin dalam sehingga pernafasan menjadi semakin lemah
dan dapat berhenti. Timbullah keadaan tidak sadar dan keluarnya cairan sperma
secara tidak disadari (involunter). Dapat juga terjadi keluarnya urine dan faeces secara
tidak disadari walaupun jarang. Hal ini terjadi karena terjadi relaksasi sfingter.
4. Stadium final
Pada stadium ini terjadi kelumpuhan pernafasan secara lengkap. Setelah beberapa
kontraksi otomatis dari otot-otot aksesoris pernafasan dileher, kemudian pernafasan
berhenti. Jantung mungkin masih berdenyut setelah beberapa waktu setelah respirasi
berhenti.
Gambaran Postmortem pada Asfiksia
Karena asfiksia merupakan mekanisme kematian, maka secara menyeluruh untuk
semua kasus akan ditemukan tanda-tanda umum yang hampir sama, yaitu:
Pada pemeriksaan luar :
© Muka dan ujung-ujung ekstremitas sianotik (warna biru keunguan) yang
disebabkan tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO2 daripada HbO2.
© Tardieu’s spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra. Tardieu’s spot merupakan
bintik-bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran kapiler darah setempat.
© Lebam mayat cepat timbul, luas, dan lebih gelap karena terhambatnya pembekuan
darah dan meningkatnya fragilitas/permeabilitas kapiler. Hal ini akibat
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
47
meningkatnya kadar CO2 sehingga darah dalam keadaan lebih cair. Lebam mayat
lebih gelap karena meningkatnya kadar HbCO2.
© Busa halus keluar dari hidung dan mulut. Busa halus ini disebabkan adanya
fenomena kocokan pada pernapasan kuat.
Pada pemeriksaan dalam :
© Organ dalam tubuh lebih gelap & lebih berat dan ejakulasi pada mayat laki-laki
akibat kongesti / bendungan alat tubuh & sianotik.
© Darah termasuk dalam jantung berwarna gelap dan lebih cair.
© Tardieu’s spot pada pielum ginjal, pleura, perikard, galea apponeurotika, laring,
kelenjar timus dan kelenjar tiroid.
© Busa halus di saluran pernapasan.
© Edema paru.
© Kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan seperti fraktur laring, fraktur
tulang lidah dan resapan darah pada luka.
PENGGANTUNGAN
(Hanging/Strangulation By Suspension)
+ Definisi
Penggantungan (hanging) merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada leher
akibat adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban.
+ Mekanisme
Saluran udara tertutup karena pangkal lidah terdorong ke atas belakang, kearah
dinding posterior pharynk. Pallatum molle dan uvula terdorong ke atas, menekan
epiglotis sehingga menutup lubang larynk.
+ Sebab Kematian
1. Asfiksia
2. Gangguan sirkulasi darah otak karena tertekannya vena jugularis dan atau arteri
carotis sehingga terjadi serebral anoxia
3. Vagal reflex (Shock)
4. Kerusakan batang otak atau sumsum tulang belakang
+ Cara Kematian
1. Bunuh diri (paling sering)
2. Kecelakaan
3. Pembunuhan
+ Alat penggantung :
- alat penggantung dengan permukaan yang luas (co: sarung) ¬ menyebabkan
tekanan hanya pada permukaan saja, sehingga yang terjepit hanya vena (vena
jugularis) sehingga muka bengkak&kebiruan, kongesti vena, mata menonjol
karena bendungan
- alat penggantung dengan permukaan yang kecil (co: tali jemuran) ¬ menyebab
tekanan besar ke dalam, selain vena, arteri juga terjepit ¬ wajah pucat , mata
tidak menonjol
+ Adanya air liur yang keluar dari mulut
+ Lidah menonjol ¬ jika gantungan di bawah gld tiroid
+ Ada air mani atau feses karena ada relaksasi spingter
+ Ada jejas pada leher tepi meninggi, warna merah kecoklatan, pada palpasi keras
seperti kertas perkamen, arahnya miring ke arah simpul.
+ Ada resapan darah di bawah kulit di bawah otot ¬ pada m.
sternokleidomastoideus, m. supra/infrahyoid, m. hyoglosus.
+ Fraktur os hyoid
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
48
+ Edema pada plika vokalis
+ Mati gantung bisa bunuh diri/tidak maka lakukan:
- Periksa TKP
º Ada persiapan gantung diri atau tidak
º Jika 1 meter ¬ tidak mungkin gantung diri
º Bunuh diri ¬ tidak terlalu jauh jaraknya, dan TKP tenang tidak
morat marit
- Simpul dilihat
º Simpul hidup ¬ bunuh diri
º Simpul mati ¬ dibunuh
º Bunuh diri ¬ ikatan membentuk sudut, tidak ada tanda
perlawanan, tidak ada luka lecet atau memar, simpul tali bisa dikeluarkan dari
kepala
- Jika tanda tanda diatas tidak ada ¬ kecelakaan
Tabel. Perbedaan penggantungan pada bunuh diri dan pembunuhan
PEMBEDA PENGGANTUNGAN PADA
BUNUH DIRI
PENGGANTUNGAN PADA
PEMBUNUHAN
Usia Lebih sering terjadi pada usia remaja
dan dewasa.
Tidak mengenal batas usia, karena
tindakan pembunuhan dilakukan oleh
musuh atau lawan dari korban dan tidak
bergantung pada usia.
Tanda jejas
jeratan.
Bentuknya miring, berupa lingkaran
terputus (noncontinous) dan terletak
pada bagian atas leher.
Berupa lingkaran tidak terputus,
mendatar, dan letaknya di bagian tengah
leher, karena usaha pembunuh (pelaku)
untuk membuat simpul tali.
Simpul tali. Biasanya hanya satu simpul yang
letaknya pada bagian samping leher.
Biasanya lebih dari satu pada bagian
depan leher dan simpul tali tersebut
terikat kuat.
Riwayat
korban.
Biasanya korban mempunyai riwayat
untuk bunuh diri dengan cara lain.
Sebelumnya korban tidak mempunyai
riwayat untuk bunuh dir.
Cedera. Luka-luka pada tubuh korban yang
bisa menyebabkan kematian mendadak
tidak ditemukan pada kasus bunuh diri.
Cedera berupa luka-luka pada tubuh
korban biasanya mengarah pada
pembunuhan.
Tangan. Tidak dalam keadaan terikat, karena
sulit untuk gantung diri dalam keadaan
tangan terikat.
Tangan yang dalam keadaan terikat
mengarahkan dugaan pada kasus
pembunuhan.
PEMBEDA PENGGANTUNGAN PADA
BUNUH DIRI
PENGGANTUNGAN PADA
PEMBUNUHAN
Kemudahan. Pada kasus bunuh diri, mayat biasanya
ditemukan tergantung pada tempat
yang mudah dicapai oleh korban atau
di sekitarnya ditemukan alat yang
digunakan untuk mencapai tempat
tersebut.
Pada kasus pembunuhan, mayat
ditemukan tergantung pada tempat yang
sulit dicapai oleh korban dan alat yang
digunakan untuk mencapai tempat
tersebut tidak ditemukan.
Tempat
kejadian.
Jika kejadian berlangsung di dalam
kamar, dimana pintu, jendela,
ditemukan dalam keadaan tertutup dan
terkunci dari dalam, maka kasusnya
pasti merupakan bunuh diri.
Bila sebaiknya pada ruangan ditemukan
terkunci dari luar, maka penggantungan
adalah kasus pembunuhan.
Tanda-tanda Tidak ditemukan pada kasus gantung Tanda-tanda perlawanan hampir selalu
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
49
perlawanan. diri. ada kecuali jika korban sedang tidur,
tidak sadar atau masih anak-anak.
Gambar. Kasus penggantungan
Sebab kematian pada gantung diri
1. tekanan jalan napas ¬ asfiksia ¬ O
2
yang masuk paru kurang
2. suplai O
2
ke otak berkurang ¬ penakanan arteri karotis comunis ¬ vena jugularis
tertekan ¬ bendungan vena ¬ gagal jantung
3. vagal reflek ¬ pusat saraf vagus di bagian depan leher, tanda sianosis tidak ada
¬ kemungkinan mati karena reflek vagal
penekanan sinus karotikus di belakang gld tiroid ¬ gangguan blok jantung ¬ kardiak
arrest
4. karena edema laring ¬ karena obstruksi napas ¬ tanda asfiksia nampak
5. spasme laring
Ada 4 penyebab kematian pada penggantungan , yaitu :
1. Asfiksia
2. Iskemia otak akibat gangguan sirkulasi
3. Vagal reflex (shock)
4. Kerusakan medulla oblongata atau medulla spinalis
Rusaknya medulla oblongata atau medulla spinalis pada penggantungan (hanging)
disebabkan patahnya tulang leher. Kita dapat temukan biasanya pada hukuman mati.
Ada 3 cara kematian pada penggantungan (hanging), yaitu :
1. Bunuh diri (paling sering) .
2. Pembunuhan, termasuk hukuman mati .
3. Kecelakaan, misalnya bermain dengan tali lasso, tali parasut pada terjun payung, dan
penggunaan tali untuk mendapat kepuasan seks.
Ada 4 hal yang bukan petunjuk bagi kita tentang cara kematian pada kasus
penggantungan (hanging), yaitu :
1. Mata melotot.
2. Lidah terjulur.
3. Keluar mani, urin, darah, atau feses.
4. Jenis simpul (simpul hidup atau simpul mati).
Ada 8 hal yang perlu kita lakukan pada pemeriksaan tempat kejadian, yaitu :
1. Memastikan korban apakah masih hidup atau telah mati.
2. Mencari bukti yang menunjukkan cara kematian.
3. Memperhatikan jenis simpul tali gantungan.
4. Mengukur jarak antara ujung kaki korban dengan lantai.
5. Memperhatikan letak korban di tempat kejadian.
6. Cara menurunkan korban.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
50
7. Mengamankan bekas serabut tali.
8. Memperhatikan bahan penggantung.
Ada 3 bukti yang bisa menunjukkan kepada kita tentang cara kematian korban, yaitu :
1. Ada tidaknya alat penumpu korban, misalnya bangku dan sebagainya.
2. Arah serabut tali penggantung.
3. Distribusi lebam mayat.
Serabut tali penggantung yang arahnya menuju korban dapat memberikan
petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan bunuh diri. Sebaliknya, arah serabut tali yang
menjauhi korban menjadi bukti bahwa korban dibunuh lebih dahulu sebelum digantung.
Distribusi lebam mayat harus kita perhatikan secara seksama, apakah sesuai
dengan posisi mayat ataukah tidak. Jenis simpul tali gantungan penting kita perhatikan
karena dapat kita jadikan sebagai patokan apakah korban melakukan bunuh diri ataukah
korban pembunuhan. Simpul tali, baik simpul hidup maupun simpul mati, bilamana
melewati lingkar kepala korban dapat menunjukkan korban melakukan bunuh diri.
Apabila simpul tali tidak dapat melewati lingkar kepala korban dapat menandakan korban
dibunuh lebih dahulu sebelum digantung. Simpul hidup harus kita longgarkan secara
maksimal untuk membuktikannya.
Cara kita menurunkan korban dengan memotong tali gantungan diluar simpul tali.
Sebelum memotong, kita membuat 2 ikatan lalu kita potong secara miring diantara
keduanya. Tindakan ini untuk mencegah terurainya serabut tali gantungan. Setelah itu,
kita mengamankan bekas serabut tali gantungan tadi baik serabut tali yang mengikat leher
korban maupun serabut tali yang diikatkan pada tempat gantungan. Hal ini penting kita
lakukan untuk pemeriksaan kasus ini lebih lanjut.
Bahan dan ukuran diameter penggantung penting juga kita perhatikan. Bahan
yang keras dan berdiameter kecil meninggalkan tanda alur jerat yang semakin jelas.
Bahan penggantung yang dapat digunakan pada kasus penggantungan (hanging) antara
lain tali, kawat, selendang, ikat pinggang, sprei yang disambung, dan lain-lain.
Ada beberapa hal yang dapat kita jumpai pada pemeriksaan luar dan dalam
autopsi. Ada 5 bagian tubuh korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan
luar autopsi, yaitu:
1. Kepala.
2. Leher.
3. Anggota gerak (lengan dan tungkai).
4. Dubur.
5. Alat kelamin.
Ada 4 bagian kepala korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan
luar autopsi, yaitu :
1. Muka.
2. Mata.
3. Konjungtiva.
4. Lidah.
Muka korban penggantungan (hanging) akan mengalami sianosis dan terlihat
pucat karena vena terjepit. Selain terjepitnya vena, pucat pada muka korban juga
disebabkan terjepitnya arteri.
Mata korban penggantungan (hanging) melotot akibat terjadinya bendungan pada
kepala korban. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya vena-vena kepala tetapi arteri
kepala tidak terhambat.
Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban penggantungan (hanging)
terjadi akibat pecahnya vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena
asfiksia.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
51
Lidah korban penggantungan (hanging) bisa terjulur, bisa juga tidak terjulur.
Lidah terjulur apabila letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea. Lidah
tidak terjulur apabila letaknya berada diatas kartilago tiroidea.
Gambar. tardieu spot
Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging) berbentuk lingkaran (V
shape). Alur jerat berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Alur jeratan pucat.
2. Tepi alur jerat coklat kemerahan.
3. Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan.
Alur jeratan yang simetris / tipikal pada leher korban penggantungan (hanging)
menunjukkan letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban. Alur jeratan yang
asimetris / atipikal menunjukkan letak simpul disamping leher.
Deskripsi leher korban penggantungan (hanging) yang penting kita berikan antara lain
:
1. Lokasi luka.
2. Jenis luka.
3. Lokasi simpul jeratan (belakang dan samping leher).
4. Jenis simpul jeratan (simpul hidup dan simpul mati).
Lokasi luka pada leher korban penggantungan (hanging) dapat berada di depan,
samping dan belakang leher. Luka yang berada di depan leher kita ukur dari dagu atau
manubrium sterni korban. Luka yang berada di samping leher kita ukur dari garis batas
rambut korban. Luka yang berada di belakang leher kita ukur dari daun telinga atau bahu
korban.
Jenis luka korban penggantungan (hanging) terdiri atas luka lecet, luka tekan dan luka
memar. Penting juga kita mendeskripsikan mengenai warna, lebar, perabaan dan keadaan
sekitar luka. Anggota gerak korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya
lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai.
Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut. Dubur
korban penggantungan (hanging) dapat mengeluarkan feses. Alat kelamin korban dapat
mengeluarkan mani, urin, dan darah (sisa haid). Pengeluaran urin pada korban
penggantungan disebabkan kontraksi otot polos pada stadium konvulsi atau puncak
asfiksia. Lebam mayat dapat kita temukan pada genitalia eksterna korban.
Ada 4 bagian tubuh korban penggantungan (hanging) yang kita perhatikan saat
melakukan pemeriksaan dalam autopsi, yaitu :
1. Kepala.
2. Leher.
3. Dada dan perut.
4. Darah.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
52
Kepala korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan tanda-tanda bendungan
pembuluh darah otak, kerusakan medulla spinalis dan medulla oblongata. Kedua
kerusakan tersebut biasanya terjadi pada hukuman gantung (judicial hanging).
Leher korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya perdarahan dalam
otot atau jaringan, fraktur (os hyoid, kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea),
dan robekan kecil pada intima pembuluh darah leher (vena jugularis).
Dada dan perut korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya
perdarahan (pleura, perikard, peritoneum, dan lain-lain) dan bendungan / kongesti organ.
Darah dalam jantung korban penggantungan (hanging) warnanya lebih gelap dan
konsistensinya lebih cair.
PENJERATAN
(Strangulation By Ligature)
Definisi
Jerat (strangulation by ligature) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban
akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat badan
korban.
Mekanisme
Tertutupnya jalan nafas akibat larynk yang tertekan kebelakang kearah dinding
pharynk sehingga lumen tertutup oleh karena mendapat tekanan dari samping dan dari
depan. Tekanan dari depan akan menutup jalan nafas, sedangkan dari samping akan
menutup pembuluh darah disamping leher, biasanya hanya vena yang tertutup.
Karena tekanan tidak sekeras hanging sehingga muka tidak sianotik. Tekanan
pada vena jugularis dan tekanan tidak komplit pada arteri carotis menyebabkan perdarah
kecil-kecil pada wajah, konjungtiva, scalp, dan fascia m.temporalis. kemungkinan dapat
terjadi pula vagal refleks.
Alat yang biasanya dipakai: sapu tangan, handuk, tali, kaos kaki, dasi, stagen, selendang,
ikat pinggang, kabel listrik dan lain-lain.
Sebab Kematian
1. Asfiksia
2. Gangguan sirkulasi otak
3. Vagal refleks
Cara kematian
1. Pembunuhan (paling sering)
2. Bunuh diri
3. Kecelakaan
Ciri-ciri
• kekuatan jerat pada ujung tali jerat, pada gantung ¬ kekuatan karena berat badan
• jejas penjeratan bersifat horisontal bersilangan di atas dan dibawah
• tanda asfiksia
• kausa mati menyerupai gantung diri
• pemeriksaan lokal menyerupai gantung diri hanya bedanya pada penjeratan, jejeas
bersifat horisontal
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
53
Pembunuhan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita jumpai pada
kejadian infanticide dengan menggunakan tali pusat, psikopat yang saling menjerat, dan
hukuman mati (zaman dahulu).
Kecelakaan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita temukan pada
bayi yang terjerat oleh tali pakaian, orang yang bersenda gurau dan pemabuk. Vagal
reflex menjadi penyebab kematian pada orang yang bersenda gurau.
Bunuh diri pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mereka lakukan dengan cara
melilitkan tali secara berulang dimana satu ujung difiksasi dan ujung lainnya ditarik.
Antara jeratan dan leher mereka masukkan tongkat lalu mereka memutar tongkat tersebut.
Pemeriksaan tempat kejadian pada kasus jeratan (strangulation by ligature) kita lakukan
secara rutin sebagaimana pada kasus yang lain. Kita hendaknya memperhatikan jeratan
pada leher korban dan cara melepaskan jeratan dari leher korban.
Ada 5 hal yang penting kita perhatikan pada kasus jeratan (strangulation by ligature),
antara lain :
1. Arah jerat mendatar / horisontal.
2. Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan (hanging).
3. Jenis simpul penjerat.
4. Bahan penjerat misalnya tali, kaus kaki, dasi, serbet, serbet, dan lain-lain.
5. Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan
untuk menjerat.
Pemeriksaan autopsi pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mirip kasus
penggantungan (hanging) kecuali pada :
1. Distribusi lebam mayat yang berbeda.
2. Alur jeratan mendatar / horisontal.
3. Lokasi jeratan lebih rendah.
PENCEKIKAN
(Manual Strangulasi/Throttling)
Definisi
Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher
korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah.
• pakai tangan 1 atau 2
• bersifat pembunuhan
• status lokalis
o luka memer bulat panjang
o luka lecet bentuk bulan sabit ¬ jika pakai tangan kiri ¬ jempoknya di
kiri
• diagnosis menyerupai gantung diri
• sebab kematian menyerupai gantung diri
Mekanisme
Tertutupnya jalan nafas dengan satu atau dua tangan menekan leher sehingga menekan
sisi-sisi larynx dan menutup glotis. Bila tangan ditekan pada bagian depan larynx akan
menutup lumen dengan menyempitkan diameter anteropostrior. Bila juga pangkal lidah
terdorong kebelakang atas (seperti pada hanging) dan glotis tertutup. Pada pemeriksaan
rekonstruksi sukar dilakukan karena tekanan pada leher sebentar dan juga karena
elastisitas jaringan leher.
Sebab Kematian
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
54
Ada 3 penyebab kematian pada pencekikan , yaitu :
1. Asfiksia
2. Iskemia
3. Vagal reflex
Cara Kematian
Ada 2 cara kematian pada kasus pencekikan yaitu :
1. Pembunuhan (hampir selalu).
2. Kecelakaan, biasanya mati karena vagal reflex.
Ada 3 cara melakukan pencekikan (manual strangulasi), yaitu :
1. Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban.
2. Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.
3. Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.
Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini
disebut mugging.
Ada 3 hal yang penting kita perhatikan pada pemeriksaan luar dari autopsi kasus
pencekikan (manual strangulasi), antara lain :
1. Tanda asfiksia.
2. Tanda kekerasan pada leher (penting).
3. Tanda kekerasan pada tempat lain.
Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar autopsi yang dapat kita temukan antara lain
adanya sianotik, petekie, atau kongesti daerah kepala, leher atau otak. Lebam mayat akan
terlihat gelap.
Ada 2 tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari, yaitu :
1. Bekas kuku.
2. Bantalan jari.
Gambar. Pencekikan dengan bekas kuku dan goresan pada sisi leher
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
55
Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark, yaitu luka lecet yang
berbentuk semilunar/bulan sabit. Kadang-kadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku.
Perhatikan pula tangan yang digunakan pelaku, apakah tangan kanan (right handed)
ataukah tangan kiri (left handed). Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku (susunan
bekas kuku) juga tak luput dari perhatian kita. Tanda kekerasan pada tempat lain dapat
kita temukan di bibir, lidah, hidung, dan lain-lain. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi
kita bahwa korban melakukan perlawanan.
Ada 4 hal yang penting kita cari pada pemeriksaan dalam autopsi bagian leher korban
pada kasus pencekikan (manual strangulasi), yaitu :
1. Perdarahan atau resapan darah.
2. Fraktur.
3. Memar atau robekan membran hipotiroidea.
4. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Perdarahan
atau resapan darah dapat kita cari pada otot, kelenjar tiroid, kelenjar ludah, dan
mukosa & submukosa pharing atau laring. Fraktur yang paling sering kita temukan
pada os hyoid. Fraktur lain pada kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea.
SUFFOCATION
Definisi
Obstruksi jalan nafas sehingga menghalangi masuknya udara kedalam paru-paru yang
mengakibatkan terjadinya asfiksia
Terbagi atas pembekapan (smothering), Chocking, gagging.
1. PEMBEKAPAN (SMOTHERING)
Pembekapan (smothering) adalah suatu suffocation dimana lubang luar jalan napas
yaitu hidung dan mulut tertutup secara mekanis oleh benda padat atau partikel-partikel
kecil.
• penutupan pada mulut dan hidung
• tanda asfiksia jelas
• rekonstruksi tangan yang dipakai ¬ pakai tangan kiri ¬ jempol di kiri pipi
korban
Ada 3 penyebab kematian pada pembekapan (smothering), yaitu :
1. Asfiksia
2. Edema paru
3. Hiperaerasi
Edema paru dan hiperaerasi terjadi pada kematian yang lambat dari pembekapan
(smothering).
Ada 3 cara kematian pada kasus pembekapan (smothering), yaitu :
1. Kecelakaan (paling sering)
2. Pembunuhan
3. Bunuh diri
Ada 3 cara kecelakaan pada kematian kasus pembekapan (smothering), yaitu :
1. Tertimbun tanah longsor atau salju.
2. Alkoholisme.
3. Bayi tertutup selimut atau mammae ibu.
Ada 3 cara pembunuhan pada kasus pembekapan (smothering), yaitu:
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
56
1. Hidung dan mulut diplester.
2. Bantal ditekan ke wajah.
3. Serbet atau dasi dimasukkan ke dalam mulut.
Ada 3 cara bunuh diri pada kasus pembekapan (smothering), yaitu :
1. Menggunakan plester atau kantong plastik.
2. Bantal yang diikatkan ke kepala.
3. Menggunakan dasi atau serbet.
Ada 3 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus pembekapan
(smothering), yaitu :
1. Mencari penyebab kematian.
2. Menemukan tanda-tanda asfiksia.
3. Menemukan edema paru, hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang lambat.
Ada 3 hal penting yang kita cari untuk menemukan penyebab kematian pada kasus
pembekapan (smothering), yaitu :
1. Jika kita menemukan bantal, cari apakah ada tanda-tanda kekerasan.
2. Cari ada tidaknya trauma tumpul di sekitar hidung dan mulut.
3. Mencari ada tidaknya kain, handuk, dasi, serbet, atau pasir dalam rongga mulut.
Burking merupakan kombinasi antara pembekapan (smothering) dengan external pressure
on the chest / traumatic asphyxia. Pelaku melakukan burking dengan cara terlebih dahulu
melumpuhkan korban lalu menelentangkan korban dan pelaku duduk diatas dada korban
(traumatic asphyxia). Satu tangan pelaku menutup hidung atau mulut korban (smothering)
sedangkan tangan yang lain menekan rahang ke atas.
2. TERSEDAK (CHOCKING)
Tersedak (chocking) adalah suatu suffocation dimana ada benda padat yang masuk dan
menyumbat lumen jalan udara.
• oleh karena benda asing
• tanda asfiksia jelas
• awalnya batuk keras ¬ asfiksia ¬ mati
Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu :
1. Kecelakaan (paling sering)
2. Pembunuhan (kasus infanticide)
Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada kasus tersedak
(chocking), yaitu :
1. Gangguan refleks batuk pada alkoholisme.
2. Pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam
mulutnya.
3. Tonsilektomi, aspirasi, dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter.
Ada 4 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus tersedak
(chocking), yaitu:
1. Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Juga kadang-kadang ada
tanda kekerasan
1. di mulut korban.
2. Menemukan tanda asfiksia.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
57
3. Mencari tanda-tanda edema paru, hiperaerasi dan atelektasis pada kematian
lambat.
4. Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses.
3. GAGGING
Pada perampokan ada kalanya korban setelah diikat agar tidak mudah berteriak mulut
disumbat dengan kain yang diikat dari mulut ke belakang kepala (gagging). Dalam hal ini
palatum molle tertekan pada pharynk.
ASFIKSIA TRAUMATIK
Asfiksia traumatik (external pressure of the chest) adalah terhalangnya udara untuk masuk
dan keluar dari paru-paru akibat terhentinya gerak napas yang disebabkan adanya suatu
tekanan dari luar pada dada korban.
• penekanan rongga dada, rongga perut, diafragma
• penekanan dari luar
• co: desak desakan ¬ O
2
kurang ¬ asfiksia
Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu :
1. Kecelakaan (paling sering)
2. Pembunuhan (misalnya burking)
Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada korban kasus asfiksia
traumatik (external pressure of the chest), yaitu :
1. Terjepit antara lantai dengan elevator, antara 2 kendaraan, atau antara dinding
dengan kendaraan yang mundur.
2. Tertimbun runtuhan benda atau bangunan, pasir, atau batubara.
3. Berdesakan di pintu sempit akibat panik.
Ada 2 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi korban kasus asfiksia
traumatik (external pressure of the chest), yaitu :
1. Mencari tanda kekerasan di dada.
2. Menemukan tanda asfiksia.
TENGGELAM
Tenggelam (drowning) adalah suatu suffocation dimana jalan napas terhalang oleh air /
cairan sehingga terhisap masuk ke jalan napas sampai alveoli paru-paru.
Ada 2 jenis mati tenggelam (drowning) berdasarkan posisi mayat, yaitu :
1. Submerse drowning
2. Immerse drowning
Submerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk ke
dalam air, seperti bagian kepala mayat.
Immerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke
dalam air.
Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan penyebabnya, yaitu :
1. Dry drowning
2. Wet drowning
Dry drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi sedikit air sedangkan wet drowning
adalah mati tenggelam dengan inhalasi banyak air.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
58
Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning, yaitu :
1. Spasme laring (menimbulkan asfiksia).
2. Vagal reflex / cardiac arrest / kolaps sirkulasi.
Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning, yaitu :
1. Asfiksia.
2. Fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar.
3. Edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut).
Ada 4 cara kematian pada kasus tenggelam (drowning), yaitu :
1. Kecelakaan (paling sering).
2. Undeterminated.
3. Pembunuhan.
4. Bunuh diri.
Ada 2 kejadian kecelakaan pada kasus mati tenggelam (drowning) yang dapat kita
jumpai, yaitu :
1. Kapal tenggelam.
2. Serangan asma datang saat korban sedang berenang.
Penyebab mati tenggelam (drowning) yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita
ketahui cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air.
Ada 2 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian pembunuhan pada kasus
mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Biasanya tangan korban diikat yang tidak mungkin dilakukan oleh korban.
2. Kadang-kadang dapat kita temukan tanda-tanda kekerasan sebelum korban
ditenggelamkan.
Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati
tenggelam (drowning), yaitu :
1. Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya.
2. Kita dapat temukan suicide note.
3. Kedua tangan / kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban.
4. Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat.
Pada pemeriksaan luar autopsi, tidak ada patognomonis untuk mati tenggelam. Ada 7
tanda penting yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Kulit tubuh mayat terasa basah, dingin, pucat dan pakaian basah.
2. Lebam mayat biasanya sianotik kecuali mati tenggelam di air dingin berwarna
merah muda.
3. Kulit telapak tangan / telapak kaki mayat pucat (bleached) dan keriput (washer
woman's hands/feet).
4. Kadang-kadang terdapat cutis anserine / goose skin pada lengan, paha dan bahu
mayat.
5. Terdapat buih putih halus pada hidung atau mulut mayat (scheumfilz froth) yang
bersifat melekat.
6. Bila mayat kita miringkan, cairan akan keluar dari mulut / hidung.
7. Bila terdapat cadaveric spasme maka kotoran air / bahan setempat berada dalam
genggaman tangan mayat.
Ada 5 tanda penting yang yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning) pada
pemeriksaan dalam autopsi, yaitu :
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
59
1. Paru-paru mayat membesar dan mengalami kongesti.
2. Saluran napas mayat berisi buih. Kadang-kadang berisi lumpur, pasir, atau rumput
air.
3. Lambung mayat berisi banyak cairan.
4. Benda asing dalam saluran napas masuk sampai ke alveoli.
5. Organ dalam mayat mengalami kongesti.
Di daerah tropis, tubuh mayat pada kasus mati tenggelam (drowning) mulai membusuk
pada hari ke-2 sedangkan di daerah dingin, membusuk setelah 1 minggu. Pembusukan
tersebut ditandai oleh terkelupasnya kulit ari. Jika pembusukannya merata, tubuh mayat
akan mengapung di permukaan air. Keadaan ini disebut floaten. Floaten biasanya terjadi
pada hari ke-3 sampai hari ke-6.
Perbedaan Tempat
Air laut Air Tawar
Paru paru besar dan berat Paru-paru besar dan ringan
Basah Relatif ringan
Bentuk besar kadang overlapping Bentuk biasa
Ungu biru dan permukaan licin Merah pucat dan emfisematous
Krepitasi tidak ada Krepitasi ada
Busa sedikit dan banyak cairan Busa banyak
Dikeluarkan dari torak akan mendatad
dan ditekan akan menjadi cekung
Dikeluarkan dari toraks tapi kempes
Mati dalam 5-10 menit, 20 ml/kgBB Mati dalam 5 menit, 40 ml.kgBB
Darah:
1. BJ 1,0595 -1,0600
2. Hipertonik
3. hemokonsentrasi dan edema
paru
4. hipokalemia
5. hipernatremia
6. hiperklorida
Darah:
1. BJ 1,055
2. hipotonik
3. hemodilusi/hemolisis
4. hiperkalemia
5. hiponatremia
6. hipoklorida
Resusitasi lebih mudah Resusitasi aktif
Tranfusi dengan plasma Tranfusi dengan PRC
Ada 7 tanda intravitalitas mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Cadaveric spasme.
2. Perdarahan pada liang telinga tengah mayat.
3. Benda air (rumput, lumpur, dan sebagainya) dapat kita temukan dalam saluran
pencernaan dan saluran pernapasan mayat.
4. Ada bercak Paltauf di permukaan paru-paru mayat.
5. Berat jenis darah pada jantung kanan berbeda dengan jantung kiri.
6. Ada diatome pada paru-paru atau sumsum tulang mayat.
7. Tanda asfiksia tidak jelas, mungkin ada Tardieu's spot di pleura mayat. Pada kasus
mati tenggelam (drowning), dapat kita temukan tanda-tanda adanya kekerasan
berupa luka lecet pada belakang kepala, siku, lutut, jari-jari tangan, atau ujung
kaki mayat.
Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam (drowning), yaitu :
1. Percobaan getah paru (lonset proef).
2. Pemeriksaan diatome (destruction test).
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
60
3. Penentuan berat jenis (BD) plasma.
4. Pemeriksaan kimia darah (gettler test).
Adanya cadaveric spasme dan tes getah paru (lonset proef) positif menunjukkan bahwa
korban masih hidup saat berada dalam air.
Percobaan Getah Paru (Lonsef Proef)
Kegunaan melakukan percobaan paru (lonsef proef) yaitu mencari benda asing
(pasir, lumpur, tumbuhan, telur cacing) dalam getah paru-paru mayat. Syarat
melakukannya adalah paru-paru mayat harus segar / belum membusuk.
Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef) yaitu permukaan paru-paru
dikerok (2-3 kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris permukaan paru-
paru. Kemudian teteskan diatas objek gelas. Syarat sediaan harus sedikit mengandung
eritrosit. Evaluasi sediaan yaitu pasir berbentuk kristal, persegi dan lebih besar dari
eritrosit. Lumpur amorph lebih besar daripada pasir, tanaman air dan telur cacing. Ada 3
kemungkinan dari hasil percobaan getah paru (lonsef proef), yaitu :
1. Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain.
2. Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain.
3. Hasilnya negatif.
Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita
interpretasikan bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya positif dan ada sebab
kematian lain maka ada 2 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu korban mati
karena tenggelam atau korban mati karena sebab lain. Jika hasilnya negatif maka ada 3
kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu :
1. Korban mati dahulu sebelum tenggelam.
2. Korban tenggelam dalam air jernih.
3. Korban mati karena vagal reflex / spasme larynx.
Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita simpulkan
bahwa tidak ada hal hal yang menyangkal bahwa korban mati karena tenggelam. Jika
hasilnya negatif dan ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban telah mati
sebelum korban dimasukkan ke dalam air.
Pemeriksaan Diatome (Destruction Test)
Kegunaan melakukan pemeriksaan diatome adalah mencari ada tidaknya diatome
dalam paru-paru mayat. Diatome merupakan ganggang bersel satu dengan dinding dari
silikat. Syaratnya paru-paru harus masih dalam keadaan segar, yang diperiksa bagian
kanan perifer paru-paru, dan jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan
tersebut.
Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian
perifer (100 gr) lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4. Biarkan
selama 12 jam kemudian panaskan sampai hancur membubur & berwarna hitam.
Teteskan HNO3 sampai warna putih lalu sentrifus hingga terdapat endapan hitam.
Endapan kemudian diambil menggunakan pipet lalu teteskan diatas objek gelas.
Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu bentuk atau besarnya bervariasi dengan dinding
sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di tengah sel.
Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronis. Untuk hepar
atau lien, tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari penyerapan
abnnormal gastrointestinal.
Penentuan Berat Jenis (BD) Plasma Penentuan berat jenis (BD) plasma bertujuan
untuk mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya hemokonsentrasi pada
air laut dengan menggunakan CuSO4. Normal 1,059 (1,0595-1,0600); air tawar 1,055; air
laut 1,065. Interpretasinya ditemukan darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui
berat jenisnya.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
61
Pemeriksaan Kimia Darah (Gettler Test)
Pemeriksaan kimia darah (gettler test) bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan
kalium. Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar, mengandung
Cl lebih rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na menurun dan kadar K
meningkat dalam plasma. Korban yang mati tenggelam dalam air laut, mengandung Cl
lebih tinggi pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na meningkat dan kadar K
sedikit meningkat dalam plasma.
Pemeriksaan Histopatologi
Pada pemeriksaan histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di
sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot.
Catatan dr. Mursad Abdi, Sp.F
• di air tawar atau air laut
• ada lumpur ¬ masuk air ¬ ke dalam alveoli
• tanda-tanda tenggelam
o asfiksia pada umumnya
o muka bengkak, hitam, mata menonjol
o perdarahan pada telinga ¬ tekanan intra telinga meningkat ¬ pemb.
Darah telinga tengah pecah
o buih halus keluar dari mulut
o lidah menonjol, dan ada bekas gigitan pada lidah
o bulu roma berdiri
o kaku mayat muncul 0,5 jam post mortem
o cadaferik spasme
o pakaian basah, kuku keriput
o lebam mayat lebih gelap ¬ hemokonsentrasi karena air asin
o jika tenggelam di air tawar ¬ hemodilusi ¬ eritrosit pecah, hiperkalemia
¬ aritmia ¬ kematian
o pembusukan di leher ¬ air masuk ke saluran napas (bengkak)
o ada air mani
• autopsi ke arah leher
o ada benda di saluran napas, buih, buih halus di laring, trakea, bronkus dan
sisa-sisa lumpur
o orang mati di air tawar ¬ NaCl lebih tinggi di ventrikel kiri daripada di
ventrikel kakan
o autopsi ¬ pada gaster ¬ lumpur dari TKP
o pada paru ¬ air masuk
º ada krepitasi (ada air dan udara di alveoli). Paru ditekan tidak
kembali (emfisema aquatum)
º tepi tumpul
º berat paru >> normal
º tes air ¬ sedot dari alveoli ¬ bandingkan dengan air dari tempat
tenggelam
º tes diatom
o sebab kematian
º asfiksia ¬ air dan enda asing masuk ke lumen saluran napas
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
62
º refleks vagal
º edema laring
º air ¬ Hemodilusi/hemokonsentrasi ¬ eritrosit pecah ¬ K+
keluar ¬ hiperkalemia ¬ fibrilasi ventrikel
INHALATION OF SUFFOCATING GASSES
Inhalation of suffocating gasses adalah suatu keadaan dimana korban menghisap gas
tertentu dalam jumlah berlebihan sehingga kebutuhan O
2
tidak terpenuhi.
• kekurangan O
2
di suatu tempat/daerah sekitarnya (daerah tambang)
• tanda asfiksia
• tanda intoksikasi CO
2
• tanda trauma seperti kejatuhan batu
Ada 3 cara kematian pada korban kasus inhalation of suffocating gasses, yaitu menghisap
gas:
1. CO
2. CO
2
3. H2S
Gas CO banyak pada kebakaran hebat. Gas CO
2
banyak pada sumur tua dan gudang
bawah tanah. Gas H2S pada tempat penyamakan kulit.
Catatan dr. Mursad, Sp.F :
• Tanda sianosis berupa tubuh tampak sianosis disektar mulut, hidung, ekstremitas atas
dan bawah. Pada anak-anak lebih tampak pada mulut dan hidung sedangkan orang
dewasa terlihat pada ekstremitas atas dan bawah.
• Tanda intrapital pada strangulasi adalah air liur yang bersebrangan dengan simpul.
• Pada gantung diri kekuatan dari berat badan dan kekuatan pada ujung-ujung tali.
• Pada jeratan jejas berupa jejas horizontal dan lebih rendah.
• Pada kasus pencekikan jejas jerat bertbentuk bintang.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
63
BAB VIII
TRAUMATOLOGI
Definisi :
Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang trauma atau
perlukaan, cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), yang
kelainannya terjadi pada tubuh karena adanya diskontinuitas jaringan akibat kekerasan
yang menimbulkan jejas.
Ada tiga hal yang ciri khas/ hasil dari trauma yaitu :
1. Adanya luka
2. Perdarahan dan atau skar
3. Hambatan dalam fungsi organ
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan
oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik
, atau gigitan hewan atau juga gangguan pada ketahanan jaringan tubuh yang disebabkan
oleh kekuatan mekanik eksternal, berupa potongan atau kerusakan jaringan, dapat
disebabkan oleh cedera atau operasi.
Luka di klasifikasikan dapat dibagi berdasarkan :
1. Jenis penetrasi yang terbagi atas luka
tusuk, luka insisi, luka bacok, luka memar, luka robek, luka tembak dan luka gigitan.
2. Tingkat kebersihan dari kontaminasi
bakteri terbagi atas luka bersih, luka bersih yang terkontaminasi, luka terkontaminasi
dan luka kotor.
3. Waktu terjadinya terbagi atas luka akut
(sebelum 8 jam) dan luka kronis
Deskripsi luka :
1. Lokalisasi (Letak luka terhadap garis ordinat atau aksis pada tubuh. Garis yang
melalui tulang dada dan tulang belakang dipakai sebagai ordinat.)
2. Ukuran, ditentukan :
 Ditentukan panjang luka
 Jumlah luka
 Sifat luka
 Ada atau tidaknya benda asing pada luka
 Luka terjadi saat masih hidup atau korban sudah mati
 Menyebabkan kematian atau tidak
 Cara terjadinya luka : bunuh diri, kecelakaan dan pembunuhan
3. Jenis kekerasan yang menjadi penyebab luka
 Luka akibat kekerasan mekanis:
• Luka akibat kekerasan oleh benda tumpul
• Luka akibat kekerasan oleh benda tajam
• Luka akibat kekerasan oleh tembakan senjata api
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
64
 Luka akibat kekerasan fisis:
• Luka akibat kekerasan oleh suhu tinggi atau
rendah
• Luka akibat kekerasan auditorik
• Luka akibat kekerasan oleh arus listrik dan petir
• Luka akibat kekerasan radiasi
 Luka akibat kekerasan kimiawi:
• Luka akibat kekerasan oleh asam kuat
• Luka akibat kekerasan oleh basa kuat
• Intoksikasi
Klasifikasi trauma (berdasarkan sifat dan penyebab) :
1. Trauma Mekanik (Kekerasan oleh benda tajam, kekerasan oleh benda tumpul,
tembakan senjata)
2. Trauma Fisik (Suhu, listrik dan petir, akustik, radiasi, tekanan udara)
3. Trauma Kimia (Asam basa atau kuat)
NB : Ada yang memisahkan trauma senjata api tersendiri (balistik) terpisah dari trauma
mekanik
Patofisiologi Trauma
Transmisi energi pada trauma dapat menyebabkan kerusakan tulang, pembuluh darah dan
organ termasuk fraktur, laserasi, kontusi, dan gangguan pada semua sistem organ,
sehingga tubuh melakukan kompensasi akibat ada trauma bila kompensasi tubuh tersebut
berlanjut tanpa dilakukan penanganan akan mengakibatkan kematian seseorang.
Mekanisme kompensasi tersebut adalah :
1. Aktivasi sistem saraf simpatik menyebabkan peningkatan tekanan arteri dan
vena, bronkhodilatasi, takikardia, takipneu, capillary shunting, dan diaforesis.
2. Peningkatan heart rate. Cardiac output sebanding dengan stroke volume
dikalikan heart rate. Jika stroke volume menurun, heart rate meningkat.
3. Peningkatan frekuensi napas. Saat inspirasi, tekanan intrathoracik negatif. Aksi
pompa thorak ini membawa darah ke dada dan pre-loads ventrikel kanan untuk
menjaga cardiac output.
4. Menurunnya urin output. Hormon anti-diuretik dan aldosteron dieksresikan
untuk menjaga cairan vaskular. Penurunan angka filtrasi glomerulus menyebabkan
respon ini.
5. Berkurangnya tekanan nadi menunjukkan turunnya cardiac output (sistolik) dan
peningkatan vasokonstriksi (diastolik). Tekanan nadi normal adalah 35-40 mmHg.
6. Capillary shunting dan pengisian trans kapiler dapat menyebabkan dingin, kulit
pucat dan mulut kering. Capillary refill mungkin melambat.
7. Perubahan status mental dan kesadaran disebabkan oleh perfusi ke otak yang
menurun atau mungkin secara langsung disebabkan oleh trauma kepala.
Trauma Mekanik
Trauma tumpul :
Benda tumpul : benda yang permukaannya tidak mampu utk mengiris
Dua variasi utama dalam trauma tumpul adalah:
- Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam
- Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam
Sifat luka akibat persentuhan dengan permukaan tumpul :
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
65
1. Memar (kontusio, hematom)
2. Luka Lecet
- Luka Lecet Tekan
- Luka Lecet Geser
3. Luka Robek
4. Patah tulang
Gambar Trauma Tumpul :

a. Luka memar ¬ diskontinuitas pembuluh darah & jaringan dibawah kulit tanpa
rusaknya jaringan kulit
Teraba menonjol ¬ pengumpulan darah di jaringan sekitar pembuluh darah rusak
Bentuk luka ¬ Menyerupai benda yang mengenai
b. Luka Lecet ¬ tjd pd epidermis – gesekan dgn benda yang permukaannya kasar
Luka Lecet Tekan ¬ arah kekerasan tegak lurus pd permukaan tubuh, epidermis
yang tertekan ¬ melesak kedalam
Luka Lecet Geser ¬ arah kekerasan miring/membentuk sudut ¬ epidermis
terdorong & terkumpul pd tmpt akhir gerak benda tersebut
Luka Lecet Regang ¬ diskontinuitas epidermis akibat peregangan yang letaknya
sesuai dengan garis kulit
c. Luka robek ¬ terjadi pada epidermis/jaringan dibawahnya akibat kekerasan yang
mengenainya melebihi elastisitas kulit/jaringan
Syarat : kekuatan peregangan > elastisitas kulit
d. Patah tulang
o Bentuk : bergantung pada sifat benda penyebab
o Perubahan berdasarkan waktu
o Dampak patofisiologi : perdarahan, disfungsi, kerusakan jaringan sekitar, emboli
lemak dan sumsum tulang
Fraktur tulang kepala :
Terjadi akibat trauma langsung terhadap skull. Adanya fraktur tidak selalu disertai dgn
adanya cedera otak namun manunjukkan adanya benturan yg cukup kuat dan sebaikknya
dievaluasi untuk tau ada tidaknya cedera tambahan.
Benturan pada kepala dapat terjadi pada 3 jenis keadaan :
1. Kepala diam dibentur oleh benda yang bergerak
2. Kepala yang bergerak membentur benda yang diam
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
66
3. Kepala yang tidak dapat bergerak karena bersandar pada benda yang lain dibentur Oleh
benda yang bergerak (kepala tergencet)
Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa coup yang disebabkan oleh
hantaman pada otak bagian dalam pada sisi yang terkena dan contre coup terjadi pada sisi
yang berlawanan dengan arah benturan.
Luas dan tipe fraktur ditentukan oleh beberapa hal, yaitu :
- Besarnya energi yang membentur kepala (Energi kinetik objek)
- Arah Benturan
- Bentuk tiga dimensi objek yang membentur
- Lokasi Anatomis tulang tengkorak tempat benturan terjadi
Tipe Fraktur pada cedera kepala, yaitu :
1. Fraktur simple : Pecahnya tulang kepala yg tidak disertai kerusakan kulit
2. Fraktur Linear : Pecahnya tulang kepala yg menyerupai garis tipis tanpa distorsi
tulang
3. Fraktur depresi : Pecahnya tulang kepala dengan penekanan sebagian tulang
kedalam otak.
4. Fraktur compound : Pecahnya tulang disertai dengan rusak atau hilangnya kulit
Tergantung kecepatan dan gaya
- depressed jika permukaan yang mengenai kepala tidak luas
- radial
- hole/stellata jika benda yang mengenai kepala permukaannya kecil dan
berkecepatan/berenergi tinggi, contoh : luka tembak
Jika kepala bergerak ke permukaan rata & diam : patah linear
Fraktur basis c ranii :
Fraktur yg terjadi pada tulang yg membentuk dasar tengkorak.
- gaya langsung ke basis cranii
- gaya ke dagu melalui rami mandibulae
Adanya Rhinorea jika bercampur dgn darah kadang2 sulit dibedakan dengan epistaksis.
Beberapa cara untuk membuktikan adanya rhinorea yaitu :
1. Darah tersebut tidak akan membeku karena bercampur CSS
2. Tanda “Double Ring atau Hallo Sign” yaitu jika setetes cairan diletakkan diatas
kertas tissue/koran maka darah akan terkumpul ditengah dan sekitarnya masih
terbentuk rembesan cairan (CSS) yg membentuk cincin kedua yg mengelilingi
lingkaran pertama.
3. Pemeriksaan Beta-2-transferrin yg merupakan marker spesifik untuk CSS.
- Jika terdapat kecurigaan adanya fraktur, jangan memasang NGT krn dapat
melewati lempeng kribriformis yang sudah fraktur dan masuk ke intracranial.
- Jika fraktur melibatkan kanalis optikus, dapat mencederai N. Optikus
sehingga tjd gangguan visus.
Ring fraktur : gaya dari atas ke bawah
Perdarahan intrakranial :
Dapat berbentuk lesi fokal (Perdarahan epidural, perdarahan subdural, kontusio dan
perdarahan intraserebral) maupun lesi difus.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
67
• Epidural hematom : clot terletak diluar duramater, namun di dalam tengkorak
– Arteri meningea media
– Temporal (50%), oksipital (15%)
– Prognosis baik bila dilakukan penanganan segera karena cedera otak
disekitarnya biasanya terbatas.
• Subdural/subarachnoid bleeding : >> ditemukan pada penderita dengan cedera
kepala berat.
– Terjadi karena robeknya vena bridging, sinus draining, focus laserasi atau
kontusio
– Delayed : subdural
– Spontan : leukemia, tumor, infeksi
– Kerusakan otak biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih buruk
dari hematoma epidural
– Mortalitas umumnya 60% namun mungkin diperkecil oleh tindakan
operasi yg sangat segera dan pengelolaan medis agresif.
● Kontusi dan hematom intraserebral : hampir selalu berkaitan dengan hematoma
subdural
– >> di lobus frontal dan temporal
Cedera Difus membentuk kerusakan otak berat progresif yang berkelanjutan, disebabkan
oleh meningkatnya jumlah cedera akselerasi deselerasi otak.
Doktrin MONROE-KELLIE :
V
blood
+ V
brain
+ V
LCS
= konstan
Konsep utama : volume intrakranial selalu konstan (rongga kranium tidak mungkin
mekar). Tekanan Intrakranial (TIK) yang normal tidak berarti tidak ada lesi massa
intakranial, karena TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai penderita mencapai
titik dekompensasi dan memasuki fase ekspansional.
TIK normal : 50-200 mmH
2
O (4-15 mmHg)
Kapasitas ruang cranial : otak (1400 g), LCS (75 mL), darah (75 mL)
Perubahan kompensatoris dapat melalui :
- pengalihan LCS ke rongga spinal
- peningkatan aliran vena dari otak
- sedikit tekanan pada jaringan otak
peningkatan TIK sampai 33 mmHg (450 mmH
2
O) akan menurunkan aliran darah otak
secara signifikan
Trauma tajam :
Benda tajam: benda yg permukaannya mampu mengiris shg kontinuitas jaringan hilang
- Luka iris ¬ dalam luka < panjang irisan luka
arah trauma sejajar permukaan kulit
- Luka tusuk ¬ dalam luka > panjang luka
arah trauma tegak lurus permukaan kulit
- Luka bacok ¬ dalam ± = panjang luka
arah trauma ± 45° dari permukaan kulit dan tergantung beratnya benda
yang di pakai.
Ciri-ciri luka karena benda tajam :
+ Tepinya rata
+ Sudut luka tajam
+ Tidak ada jembatan jaringan
+ Sekitar luka bersih tidak ada memar
+ Bila lokasinya pada kepala maka rambutnya terpotong
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
68
Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa :
1. Luka iris atau sayat (panjang > dalam)
2. Luka Tusuk (dalam > panjang > lebar) ada beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk
luka tusuk seperti reaksi korban atau saat pisau keluar sehingga lukanya menjadi tidak
khas adapun pola yang sering ditemukan yaitu :
a. Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian ditusukkan
kembali melalui saluran yang berbeda
b. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut,
sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan
kulit seperti ekor.
c. Tusukan masuk kemudian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga
saluran luka menjadi lebih luas
d. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam
sebagai landasan, sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada
bagian superfisial
e. Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk
ireguler dan besar.
3. Luka Bacok (panjang = dalam) luka ini tergantung dua faktor yaitu :
a. Jenis senjata biasanya senjata yang digunakan sedikit tajam/ tajam dan relatif berat
seperti kapak atau parang.
b. Tenaga yang digunakan biasanya lebih besar dari luka tusuk atau luka iris.
Tabel. Perbedaan luka pada trauma tajam dan trauma tumpul
Pembeda Tajam Tumpul
bentuk luka Teratur tidak
Tepi Rata tidak rata
jembatan jar tidak ada ada/tidak
folikel rambut terpotong ya/tidak tidak
dasar luka garis/titik tidak teratur
sekitar luka Bersih Bisa lecet/memar
Tabel. Perbedaan hematom (luka memar) dan lebam mayat
HEMATOM LEBAM MAYAT
Kejadian intravital Kejadian post mortem
Terdapat pembengkakan Pembengkakan (-)
Darah tidak mengalir Darah akan mengalir keluar dari
pembuluh darah yang tersayat
Penampang sayatan nampak merah
kehitaman
Jika dialiri air penampang sayatan
nampak bersih
Tabel. Ciri-ciri luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh
diri atau kecelakaan
Pembeda Pembunuhan Bunuh Diri Kecelakaan
Lokasi luka Sembarang Terpilih Terpapar
3 luka
Banyak Banyak > 1
Pakaian Terkena Tidak Terkena
Luka tangkisan (+) (-) (-)
Luka percobaan (-) (+) (-)
Cedera Sekunder Mungkin ada (-) Mungkin ada
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
69
LUKA TEMBAK
A. ARTI KLINIS LUKA TEMBAK
Dalam praktik banyak terdapat hal tentang luka tembak masuk pada tubuh manusia.
Seperti kita ketahui kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis dan subkutis. Jika dilihat
dari elastisitasnya, epidermis kurang elastis bila dibandingkan dengan dermis. Bila sebutir
peluru menembus tubuh, maka cacat pada epidermis lebih luas dari pada dermis.
Diameter luka pada epidermis kurang lebih sama dengan diameter anak peluru, sedangkan
diameter luka pada dermis lebih kecil. Keadaan tersebut dikenal sebagai kelim memar
(contusio ring).
B. JENIS SENJATA DAN AMUNISI
I. MACAM-MACAM JENIS SENJATA KECIL
A. Ada lima jenis senjata kecil:
1. Pistol
2. Senapan
3. Senapan tabur
4. Senapan sub-mesin
5. Senapan Mesin
Pada seluruh jenis senjata tersebut, terkecuali senapan tabur, terdapat rifling interior
pada larasnya.
B. Rifling adalah serangkaian alur pilin paralel yang memotong panjang kaliber
larasnya.
1. Metal yang ada diantara alur-alurnya disebut lands.
2. Jumlah alur bisa beragam mulai dari 2 sampai 20 dengan arah bidik sesuai arah jam
(kanan) atau sebaliknya (kiri).
a. Hampir semua pistol memiliki 5 atau 6 alur pilin ke kanan
Pada Colt alur pilinnnya adalah ke kiri.
b. Pada senapan centerfire, hampir semua senjata memiliki alur pilin ke arah
kanan dengan jumlah pilin antara 4 sampai 6.
c. Alur pilin senjata .22 rimfire umumnya ke kanan dengan jumlah alur
antara 4.5 atau 6.
3. Rifling mengimpartasikan putaran rotasi peluru ketika meluncur dalam laras.
Kegunaan putaran ini adalah untuk menstabilkan peluncuran peluru ketika
ditembakkan ke udara, dan menjaga kejatuhannya.
II. SENJATA API
Klasifikasi Senjata Api
Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil peledakan mesiu,
dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya.
Proyektil yang dilepaskan dari suatu tembakan dapat tunggal, dapat pula tunggal
berurutan secara otomatis maupun dalam jumlah tertentu bersama – sama.
1
Senjata api
dapat dikelompokan menjadi:
A. Berdasarkan Panjang Laras:
1. Laras pendek.
• Revolver, Mempunyai metal drum (tempat penyimpanan 6 peluru) yang berputar
(revolver) setiap kali trigger ditarik dan menempatkan peluru baru pada posisi siap
untuk di tembakkan.
• Pistol, peluru disimpan dalam sebuah silinder yang diputar dengan menarik
picunya.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
70
Gambar 1. Senjata api laras pendek
Gambar 2. pistol semi otomatis Gambar 3. Revolver
2. Laras panjang
Senjata ini berkekuatan tinggi dengan daya tembak sampai 3000 m, mempergunakan
peluru yang lebih panjang. Dibagi menjadi dua yaitu:
• Senapan tabur : Senapan tabur dirancang untuk dapat memuntahkan butir-butir
tabur ganda lewat larasnya, sedangkan senapan dirancang untuk memuntahkan
peluru tunggal lewat larasnya, moncong senapan halus dan tidak terdapat rifling.
• Senapan untuk menyerang: Senapan ini mengisi pelurunya sendiri, mampu
melakukan tembakan otomatis sepenuhnya, mempunyai kapasitas magasin yang
besar dan dilengkapi ruang ledak untuk peluru senapan dengan kekuatan sedang
(peluru dengan kekuatan sedang antara peluru senapan standard dan peluru pistol).
Gambar 4. Senjata api laras panjang
B. Berdasarkan Alur Laras
1. Laras beralur (Rifled bore)
Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya, permukaan dalam laras
dibuat beralur spiral dengan diameter yang sedikit lebih kecil dari diameter anak
peluru, sehingga anak peluru yang didorong oleh ledakan mesiu, saat melalui laras,
dipaksa bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya, dan ini akan memperoleh gaya
sentripetal sehingga anak peluru tetap dalam posisi ujung depannya di depan dalam
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
71
lintasannya setelah lepas laras menuju sasaran. Alur laras ini dibagi menjadi dua yaitu,
arah putaran ke kiri (COLT) dan arah putaran ke kanan (Smith and Wesson).
Gambar 5. Senjata api beralur
A. Senjata api dengan alur ke kiri
- dikenal sebagai senjata tipe COLT
- kaliber senjata yang banyak dipakai: kaliber 0.36; 0.38; dan 0.45
- dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban yaitu adanya
goresan dan alur yang memutar ke arah kiri bila dilihat dari basis anak peluru.
B. Senjata api dengan alur ke kanan
- dikenal sebagai senjata api tipe SMITH & WESSON ( tipe SW )
- kaiber senjata yang banyak dipakai: kaliber 0.22;0.36;0.38;0.45; dan 0.46
- dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban yaitu adanya
goresan dan alur yang memutar ke arah kanan bila dilihat dari bagian basis anak
peluru.
Dalam memberikan pendapat atau kesimpulan dalam visum et repertum tidak
dibenarkan menggunakan istilah pistol atau revolver, oleh karena perkataan pistol itu
mengandung pengertian bahwa senjatanya termasuk otomatis atau semi otomatis,
sedangkan revolver berarti anak peluru berada dalam silinder yang akan memutar bila
tembakan dilepaskan. Dan oleh karena dokter tidak melihat peristiwa penembakannya,
maka yang hanya disampaikan adalah, misalnya: senjata api kaliber 0,38 dengan alur ke
kiri.
2. Laras tak beralur atau laras licin (Smooth bore)
Senjata api jenis ini dapat melontarkan anak peluru dalam jumlah banyak pada satu
kali tembakan. Contohnya adalah shot gun.
III. KALIBER
A. Kaliber sebuah senjata ditentukan oleh diameter moncong yang diukur dari land ke
land. Ketentuan ini tidak selalu diikuti bahkan kaliber yang ditetapkan untuk sebuah
senjata sangat perlu diperdebatkan.
1. Dalam sistem metrik yang digunakan di Eropa, kaliber senjata mengenali
diameter peluru dan panjang kelongsongnya dalam milimeter. Jadi sebuah
kelongsong ukuran 7.62 x 39 mm menembakkan peluru berukuran 7.62 mm
dalam diameter yang dilepaskan dari sebuah kelongsong peluru dengan panjang
39mm.
B. Istilah Magnum dalam pengertian sebuah pistol atau senapan, merujuk pada kekuatan
ekstra sebuah peluru yang didorong dengan kecepatan yang lebih besar. Pada
senapan tabur, istilah Magnum berarti meningkatnya berat mesiu pellet atau butir-
butir peluru tabur dengan kecepatan yang umumnya tidak meningkat.
C. Kaliber sebuah senapan tabur dikenali liwat ukurannya. Ukuran yan paling umum
adalah 12, 16, 20 dan .410. Diameter moncongnya adalah:
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
72
1. 0729 inci untuk ukuran 12;
2. 0.615 inci untuk ukuran 20; dan
3. 0.410 inci untuk ukuran .410
D. Apakah senapan tabur itu berukuran 12, 16 atau 20, butir-butir peluru tabur didorong
kira-kira pada kecepatan yang sama. Perbedaannya, kelongsong ukuran 12
menampung lebih banyak butir-butir peluru tabur daripada yang berukuran 16 yang
punya daya tampung butir-butir peluru tabur lebih dari yang berukuran 20.
IV. AMUNISI
A. Amunisi senjata dengan putaran rotasi peluru dibagi dalam dua kategori yaitu
centerfire atau rimfire - tergantung lokasi primernya.
1. Pada peluru rimfire, komposisi primernya terletak pada bibir kelongsong peluru
dengan mesiu yang berhubungan dengan yang primer.
a. Pada saat penembakan, pemantiknya menghancurkan bibir kelongsong peluru,
meledakkan komposisi primernya, menyulut bubuknya.
b. Saat ini amunisi rimfire hanya terbagi dalam tiga kaliber - 22 Short, 22Long
Rifle dan 22 Magnum.
c. Amunisi rimfire bisa digunakan baik pada pistol maupun senapan.
2. Umumnya amunisi adalah pusat ledakannya (centerfire). Pada pusat peledakan
kelongsong, kesulitan pokok terletak pada bagian tengah dasar kelongsong.
Ketika ditembakkan, pemantiknya menghantam tengah-tengah dasar primer
yang memantik komposisi primer yang selanjutnya memantik mesiunya.
B. Kelongsong peluru biasanya terbuat dari kuningan, meskipun ada yang terbuat dari
aluminium dan baja.
1. Ketika diledakkan, kelongsong peluru mengandung gas dari hasil pemantikan
mesiu.
2. Kebanyakan peluru pistol bentuknya lurus sedang peluru senapan berbentuk leher
botol (bottle neck)
3. Pada amunisi komersial, kaliber dan nama pabrik pembuatnya dicap pada dasar
peluru.
4. Pada amunisi militer, nama pabrik dan tahun pembuatan amunisinya
(baik berbentuk tulisan maupun kode) dicap pada dasar peluru.
C. Mesiu yang digunakan dalam kelongsong peluru adalah mesiu tidak mengandung
asap, campuran dari nitrocellulose, dimana nitroglycerin bisa ditambahkan ataupun
tidak ditambahkan. Ujud mesiu di Amerika Serikat umumnya adalah:
1. disk (flake atau serpihan) atau bola dalam pistol dan senapan tabor
2. silindrikal atau mesiu bola pada senapan laras panjang
D. Pelor merupakan bagian dari peluru yang lepas dari moncongnya ketika senjata
ditembakkan
1. Oleh karena velositasnya yang tinggi, pusat penembak pelor senjata
harus terbungkus metal baik secara penuh ataupun sebagian.
a. Pada umumnya pembungkusnya terbuat dari tembaga atau copper alloy tetapi
bisa juga dari baja
b. Matanya terbuat dari timah tetapi untuk peluru-peluru militer bisa dari leburan
baja atau gabungan keduanya.
2. Amunisi yang sepenuhnya terbungkus metal - pembungkusannya menyelubungi
pucuk dan sisi-sisi pelurunya.
3. Semua amunisi militer, termasuk amunisi pistol, haruslah berbungkus metal
secara penuh.
4. Pada amunisi semi-jacket, ada mata timah dengan bungkus tembaga menutupi
sisi-sisinya dan biasanya dasar pelurunya dengan mata yang menonjol pada
ujungnya.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
73
5. Sebagai kebiasaan, peluru timah digunakan pada revolver; peluru berbungkus
metal penuh digunakan pada pistol otomatis.
6. Saat ini amunisi pistol umunya menggunakan peluru semi-jacket, iasanya dengan
rancangan pucuk yang kosong, baik disengaja untuk dipasang pada
revolver maupun pistol otomatis.
7. Amunisi .22 Short dan Senapan Laras Panjang (long rifle) dipasang dengan
pelor timah; amunisi Magnum .22 beramunisi jacket metal penuh atau semi-
jacket.
8. Konfigurasi pelurunyapun bervariasi
a. Amunisi pistol biasanya:
i. moncong bulat
ii. potongan semi-wad
iii. hollow point atau
iv. wad cutter (berbentuk silindris)
b. Amunisi senapan centerfire:
i. full metal jacket atau
ii. semi-jacket
iii. dengan ujung spitzer atau pucuk bulat
E. Hampir semua badan senapan tabur dibuat dengan sekam plastik dan kepala kuningan
dengan pucuk yang mengatup
1. Dibalik ujung yang sobek terdapatlah pellet atau butir-butir peluru
tabur (tembakannya), lalu gumpalan dan bubuk.
2. Pabrik yang berlainan menggunakan bahan gumpalan serta desain gumpalan
yang berbeda pula. Ukuran dan pabrik pembuat amunisi dapat dikenali liwat
gumpalan yang diambil
3. Federal dan Remington menggunakan gumpalan plastik sedang Winchester
punya ciri-ciri khas yaitu menggunakan gumpalan dari kertas maupun
cardboard. Tetapi ada beberapa produk Winchester yang menggunakan
gumpalan plastik.
4. Pellet yang digunakan untuk berburu burung atau binatang-binatang kecil disebut
birdshot. Diameter pellet atau butir-butir peluru tabur birdshot bervariasi
5. Pellet yang digunakan polisi untuk bela diri dan pengejaran disebut buckshot.
a. buckshot yang paling umum digunakan adalah #4 dan 00;
b. buckshot #4 berdiameter .24 inci;
c. yang 00 berdiameter .33 inci;
d. Ciri-cirinya, buckshot dipasang dengan bungkusan serbuk putih bahan plastik
yang ketika ditembakkan akan dikeluarkan bersamaan dengan buckshot dan
gumpalan.
F. Sementara, umumnya muatan untuk senapan tabur mengandung birdshot atau
buckshot, tetapi ada juga yang bermuatan gotri senapan
1. Peluru gotri senapan tabur sungguh-sungguh adalah misil timah yang besar :
a. berbentuk peluru seperti peluru gotri American Foster
b. Peluru gotri Brenneke dari Eropa mirip dengan peluru gotri Foster hanya saja
diberi gumpalan cardboard yang menempel pada alasnya, atau:
c. jam pasir (hourglass) berbentuk bulat sabot
2. Serangkaian tulang siku dan alur pilin terdapat di sepanjang permukaan peluru
gotri American Foster maupun Brenneke.
3 Berat peluru gotri ini berkisar antara kira-kira 350 sampai 490 grain (kesatuan
berat di Inggris) tergantung ukuran.
4. Peluru gotri sabot punya konfigurasi jam pasir dan terbungkus dalam dua buah
plastik
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
74
a. Seluruh himpunan, dua buah plastik yang menyelimuti peluru gotri berikut
peluru gotrinya meluncur keluar melalui larasnya.
b. Sementara keluar, kedua buah plastiknya terlepas dan misil jam pasirnya terus
meluncur menuju sasarannya
V. PERBANDINGAN BALISTIK PELURU
A. Peluru
1. Ketika sebuah peluru ditembakkan melalui larasnya, penembakan meninggalkan
dua jenis tanda pada peluru:
a. karakteristik kelas dan
b. karakteristik individual
2. Karakteristik Kelas adalah pembuatan dan model senapan, contohnya, jumlah
lands dan alur pilin; kepadatan pilin; kedalaman alur pilin serta arahnya.
3. Karakteristik Individual adalah tanda-tanda yang dibuat pada peluru oleh
ketidaksempurnaan dalam laras yang hanya ada pada laras individual itu sendiri.
Tanda-tanda inilah yang dipakai para penyelidik senjata untuk mengenali peluru
yang ditembakkan oleh senjata tertentu.
B. Kelongsong Peluru
1. Kelongsong peluru juga punya tanda-tanda yang berasal dari pemantik, pelontar
dan juga dari magasin.
2. Tanda-tanda ini dapat dipakai untuk mengenali asal kelongsong peluru senjata
yang spesifik.
3. Kadang-kadang, sidik jari dapat ditemui pada kelongsong peluru yang telah
ditembakkan.
C. Sidik jari pada senjata, khususnya pistol umumnya jarang dipakai. Jadi, rekomendasi
sidik jari pada sebuah senjata, umumnya tidak menguntungkan.
C. MEKANISME LUKA TEMBAK
Pada luka tembak terjadi efek perlambatan yang disebabkan pada trauma mekanik
seperti pukulan, tusukan, atau tendangan, hal ini terjadi akibat adanya transfer energi dari
luar menuju jaringan. Kerusakan yang terjadi pada jaringan tergantung pada absorpsi
energi kinetiknya, yang juga akan menghamburkan panas, suara serta gangguan mekanik
yang lainya.
3,4
Energi kinetik ini akan mengakibatkan daya dorong peluru ke suatu
jaringan sehingga terjadi laserasi, kerusakan sekunder terjadi bila terdapat ruptur
pembuluh darah atau struktur lainnya dan terjadi luka yang sedikit lebih besar dari
diameter peluru.
Jika kecepatan melebihi kecepatan udara, lintasan dari peluru yang menembus
jaringan akan terjadi gelombang tekanan yang mengkompresi jika terjadi pada jaringan
seperti otak, hati ataupun otot akan mengakibatkan kerusakan dengan adanya zona-zona
disekitar luka.
4
Dengan adanya lesatan peluru dengan kecepatan tinggi akan membentuk
rongga disebabkan gerakan sentrifugal pada peluru sampai keluar dari jaringan dan
diameter rongga ini lebih besar dari diameter peluru, dan rongga ini akan mengecil sesaat
setelah peluru berhenti, dengan ukuran luka tetap sama. Organ dengan konsistensi yang
padat tingkat kerusakan lebih tinggi daripada organ berongga. Efek luka juga
berhubungan dengan gaya gravitasi. Pada pemeriksaan harus dipikirkan adanya kerusakan
sekunder seperti infark atau infeksi.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
75
Gambar 6. Mekanisme luka tembak
D. KLASIFIKASI LUKA TEMBAK
1. Luka Tembak Masuk:
• luka tembak tempel
• luka tembak jarak dekat
• luka tembak jarak jauh
2. Luka Tembak Keluar (luka tembus)
Tabel. Perbedaan luka tembak masuk dan keluar
Luka tembak masuk Luka tembak keluar
Ukurannya kecil (berupa satu
titik/stelata/bintang), karena peluru
menembus kulit seperti bor dengan
kecepatan tinggi
Ukurannya lebih besar dan lebih tidak
teratur dibandingkan luka tembak
masuk, karena kecepatan peluru
berkurang hingga menyebabkan
robekan jaringan.
Pinggiran luka melekuk kearah dalam
karena peluru menmebus kulit dari
luar
Pinggiran luka melekuk keluar karena
peluru menuju keluar.
Pinggiran luka mengalami abrasi Pinggiran luka tidak mengalami abrasi.
Bisa tampak kelim lemak. Tidak terdapat kelim lemak
Pakaian masuk kedalam luka, dibawa
oleh peluru yang masuk.
Tidak ada
Pada luka bisa tampak hitam, terbakar,
kelim tato atau jelaga.
Tidak ada
Pada tulang tengkorak, pinggiran luka
bagus bentuknya.
Tampak seperti gambaran mirip kerucut
Bisa tampak berwarna merah terang
akibat adanya zat karbon monoksida.
Tidak ada
Disekitar luka tampak kelim ekimosis. Tidak ada
Luka tembak masuk Luka tembak keluar
Perdarahan hanya sedikit. Perdarahan lebih banyak
Pemeriksaan radiologi atau analisis
aktivitas netron mengungkapkan
adanya lingkaran timah / zat besi di
sekitar luka.
Tidak ada
Faktor-faktor yang mempengaruhi cedera akibat senjata api :
• Jenis peluru
• Kecepatan peluru
• Jarak antara senjata api dengan tubuh korban saat penembakan
• Densitas jaringan tubuh dimana peluru masuk
Jarak antara senjata api dengan tubuh korban saat penembakan
1. Jika senjata ditembakkan pada jarak yang sangat dekat atau menempel
dengan kulit :
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
76
 Jaringan subkutan 5 sampai 7,5 cm disekitar luka tembak masuk
mengalami laserasi
 Kulit disekitar luka terbakar atau hitam karena asap. Kelim tato terjadi
karena bubuk mesiu senjata yang tidak terbakar.
 Rambut di sekitar luka hangus.
 Pakaian yang menutupi luka terbakar karena percikan api dari senjata.
 Walaupun jarang bisa ditemukan bercak berwarna abu-abu atau putih di
sekitar luka. Hal ini terjadi jika bubuk mesiu tidak berasap dan tidak terdapat
bagian kehitaman pada kulit.
2. Tembakan jarak dekat
 Jaraknya adalah 30-45 cm dari kulit.
 Ukuran luka lebih kecil dibandingkan peluru
 Warna hitam dan kelim tato lebih luar disekitar luka
 Tidak ada luka bakar atau kulit yang hangus.
3. Tembakan jarak jauh
 Jaraknya adalah di atas 45 cm.
 Ukuran luka jauh lebih kecil dibandingkan peluru.
 Kehitaman atau kelim tato tidak ada
 Bisa tampak kelim lecet. Jika peluru menyebabkan gesekan pada lubang
tempat masuk dan menyebabkan lecet, maka di sebut kelim lecet.
Deskripsi Luka Tembak
1. Lokasi
 jarak dari puncak kepala atau telapak kaki serta ke kanan dan kiri garis
pertengahan tubuh
 lokasi secara umum terhadap bagian tubuh
2. Deskripsi luka luar
 ukuran dan bentuk
 lingkaran abrasi, tebal dan pusatnya
 luka bakar
 lipatan kulit, utuh atau tidak
 tekanan ujung senjata
3. Residu tembakan yang terlihat
 grains powder
 deposit bubuk hitam, termasuk korona
 tattoo
 metal stippling
4. Perubahan
 oleh tenaga medis
 oleh bagian pemakaman
5. Track
 penetrasi organ
 arah
 kerusakan sekunder
 kerusakan organ individu
6. Penyembuhan luka tembakan
 titik penyembuhan
 tipe misil
 tanda identifikasi
 susunan
7. Luka keluar
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
77
 lokasi
 karakteristik
8. Penyembuhan fragmen luka tembak
9. Pengambilan jaringan untuk menguji residu
Efek Luka Tembak
Pada saat seseorang melepaskan tembakan dan kebetulan mengenai sasaran yaitu
tubuh korban, maka pada tubuh korban tersebut akan didapatkan perubahan yang
diakibatkan oleh berbagai unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api
tersebut.

Adapun komponen atau unsur-unsur yang keluar pada setiap penembakan
adalah:
• anak peluru
• butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar
• asap atau jelaga
• api
• partikel logam
Bila senjata yang dipergunakan sering diberi minyak pelumas, maka minyak yang
melekat pada anak peluru dapat terbawa dan melekat pada luka. Bila penembakan
dilakukan dengan posisi moncong senjata menempel dengan erat pada tubuh korban,
maka akan terdapat jejas laras. Selain itu bila senjata yang dipakai termasuk senjata yang
tidak beralur (smooth bore), maka komponen yang keluar adalah anak peluru dalam satu
kesatuan atau tersebar dalam bentuk pellet, tutup dari peluru itu sendiri juga dapat
menimbulkan kelainan dalam bentuk luka.

Komponen atau unsur-unsur yang keluar pada
setiap peristiwa penembakan akan menimbulkan kelainan pada tubuh korban sebagai
berikut:
1) Akibat anak peluru (bullet effect): luka terbuka.
Luka terbuka yang terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:
• Kecepatan
• Posisi peluru pada saat masuk ke dalam tubuh
• Bentuk dan ukuran peluru
• Densitas jaringan tubuh di mana peluru masuk
Peluru yang mempunyai kecepatan tinggi (high velocity), akan menimbulkan
luka yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan peluru yang kecepatannya lebih
rendah (low velocity). Kerusakan jaringan tubuh akan lebih berat bila peluru mengenai
bagian tubuh yang densitasnya lebih besar.
Pada organ tubuh yang berongga seperti jantung dan kandung kencing, bila terkena
tembakan dan kedua organ tersebut sedang terisi penuh (jantung dalam fase diastole),
maka kerusakan yang terjadi akan lebih hebat bila dibandingkan dengan jantung dalam
fase sistole dan kandung kencing yang kosong; hal tersebut disebabkan karena adanya
penyebaran tekanan hidrostatik ke seluruh bagian.
Mekanisme terbentuknya luka dan kelim lecet akibat anak peluru:
a. Pada saat peluru mengenai kulit, kulit akan teregang
b. Bila kekuatan anak peluru lebih besar dari kulit maka akan terjadi robekan
c. Oleh karena terjadi gerakan rotasi dari peluru (pada senjata yang beralur atau rifle
bore), terjadi gesekan antara badan peluru dengan tepi robekan sehingga terjadi
kelim lecet (abrasion ring)
d. Oleh karena tenaga penetrasi peluru dan gerakan rotasi akan diteruskan ke segala
arah, maka sewaktu anak peluru berada dan melintas dalam tubuh akan terbentuk
lubang yang lebih besar dari diameter peluru
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
78
e. Bila peluru telah meninggalkan tubuh atau keluar, lubang atau robekan yang terjadi
akan mengecil kembali, hal ini dimungkinkan oleh adanya elastisitas dari jaringan
f. Bila peluru masuk ke dalam tubuh secara tegak lurus maka kelim lecet yang
terbentuk akan sama lebarnya pada setiap arah
g. Peluru yang masuk secara membentuk sudut atau serong akan dapat diketahui dari
bentuk kelim lecet
h. Kelim lecet paling lebar merupakan petunjuk bahwa peluru masuk dari arah
tersebut
i. Pada senjata yang dirawat baik, maka pada klim lecet akan dijumpai pewarnaan
kehitaman akibat minyak pelumas, hal ini disebut kelim kesat atau kelim lemak
(grease ring/ grease mark)
j. Bila peluru masuk pada daerah di mana densitasnya rendah, maka bentuk luka yang
terjadi adalah bentuk bundar, bila jaringan di bawahnya mempunyai densitas besar
seperti tulang, maka sebagian tenaga dari peluru disertai pula dengan gas yang
terbentuk akan memantul dan mengangkat kulit di atasnya, sehingga robekan yang
tejadi menjadi tidak beraturan atau berbentuk bintang
k. Perkiraan diameter anak peluru merupakan penjumlahan antara diameter lubang
luka ditambah dengan lebar kelim lecet yang tegak lurus dengan arah masuknya
peluru
l. Peluru yang hanya menyerempet tubuh korban akan menimbulkan robekan dangkal,
disebut bullet slap atau bullet graze
Gambar 13. Bullet graze
m.Bila peluru menyebabkan luka terbuka dimana luka tembak masuk bersatu dengan
luka tembak keluar, luka yang terbentuk disebut gutter wound
2) Akibat butir-butir mesiu (gunpowder effect): tattoo, stipling
a. Butir – butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar akan masuk ke dalam
kulit
b. Daerah di mana butir-butir mesiu tersebut masuk akan tampak berbintik-bintik
hitam dan bercampur dengan perdarahan
c. Oleh karena penetrasi butir mesiu tadi cukup dalam, maka bintik-bintik hitam
tersebut tidak dapat dihapus dengan kain dari luar
d. Jangkauan butir-butir mesiu untuk senjata genggam berkisar sekitar 60 cm
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
79
e. Black powder adalah butir mesiu yang komposisinya terdiri dari nitrit, tiosianat,
tiosulfat, kalium karbonat, kalium sulfat, kalium sulfida, sedangkan smoke less
powder terdiri dari nitrit dan selulosa nitrat yang dicampur dengan karbon dan
gravid
Gambar 14. Powder tattoing
3) Akibat asap (smoke effect): jelaga
a. Oleh karena setiap proses pembakaran itu tidak sempurna, maka terbentuk asap atau
jelaga
b. Jelaga yang berasal dari black powder komposisinya CO2 (50%) nitrogen 35%, CO
10%, hydrogen sulfide 3%, hydrogen 2 % serta sedikit oksigen dan methane
c. Smoke less powder akan menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit
d. Jangkauan jelaga untuk senjata genggam berkisar sekitar 30 cm
e. Oleh karena jelaga itu ringan, jelaga hanya menempel pada permukaan kulit,
sehingga bila dihapus akan menghilang.
4) Akibat api (flame effect): luka bakar
a. Terbakarnya butir-butir mesiu akan menghasilkan api serta gas panas yang akan
mengakibatkan kulit akan tampak hangus terbakar (scorching, charring)
b. Jika tembakan terjadi pada daerah yang berambut, maka rambut akan terbakar
c. Jarak tempuh api serta gas panas untuk senjata genggam sekitar 15 cm, sedangkan
untuk senjata yang kalibernya lebih kecil, jaraknya sekitar 7,5 cm
5) Akibat partikel logam (metal effect): fouling
a. Oleh karena diameter peluru lebih besar dari diameter laras, maka sewaktu peluru
bergulir pada laras yang beralur akan terjadi pelepasan partikel logam sebagai
akibat pergesekan tersebut
b. Partikel atau fragmen logam tersebut akan menimbulkan luka lecet atau luka
terbuka dangkal yang kecil-kecil pada tubuh korban
c. Partikel tersebut dapat masuk ke dalam kulit atau tertahan pada pakaian korban.
6) Akibat moncong senjata (muzzle effect): jejas laras
a. Jejas laras dapat terjadi pada luka tembak tempel, baik luka tembak tempel yang
erat (hard contact) maupun yang hanya sebagian menempel (soft contact)
b. Jejas laras dapat terjadi bila moncong senjata ditempelkan pada bagian tubuh,
dimana di bawahnya ada bagian yang keras (tulang)
c. Jejas laras terjadi oleh karena adanya tenaga yang terpantul oleh tulang dan
mengangkat kulit sehingga terjadi benturan yang cukup kuat antara kulit dan
moncong senjata
d. Jejas laras dapat pula terjadi jika si penembak memukulkan moncong senjatanya
dengan cukup keras pada tubuh korban, akan tetapi hal ini jarang terjadi
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
80
e. Pada hard contact, jejas laras tampak jelas mengelilingi lubang luka, sedangkan
pada soft contact, jejas laras sebetulnya luka lecet tekan tersebut akan tampak
sebagian sebagai garis lengkung
f. Bila pada hard contact tidak akan dijumpai kelim jelaga atau kelim tato, oleh
karena tertutup rapat oleh laras senjata, maka pada soft contact jelaga dan butir
mesiu ada yang keluar melalui celah antara moncong senjata dan kulit, sehingga
terdapat adanya kelim jelaga dan kelim tato.
7) Pengaruh pakaian pada luka tembak masuk
Jika tembakan mengenai tubuh korban yang ditutup pakaian, dan pakaiannya cukup
tebal, maka dapat terjadi:
• Asap, butir-butir mesiu dan api dapat tertahan pakaian
• Fragmen atau partikel logam dapat tertahan oleh pakaian
• Serat-serat pakaian dapat terbawa oleh peluru dan masuk ke dalam lubang luka
tembak
F. DESKRIPSI LUKA TEMBAK
Kepentingan medikolegal deskripsi yang adekuat dari luka senjata api bergantung
pada besarnya potensi seorang korban meninggal. jika korban masih hidup, deskripsi
singkat dan tidak terlalu detail. dokter mempunyai tanggung jawab yang utama untuk
memberikan penatalaksanaan gawat darurat. membersihkan luka, membuka dan
mengeksplorasi, debridement dan menutupnya, kemudian membalut adalah bagian
penting dari merawat pasien bagi dokter. penggambaran luka secara detail akan dilakukan
nanti, setelah semua kondisi gawat darurat dapat disingkirkan. oleh karena singkatnya
waktu yang dimiliki untuk mempelajari medikolegal, seringkali dokter merasa tidak
mempunyai kewajiban untuk mendeskripskan luka secara detail. deskripsi luka yang
minimal untuk pasien hidup terdiri dari : lokasi luka, ukuran dan bentuk defek, lingkaran
abrasi, lipatan kulit yang utuh dan robek, bubuk hitam sisa tembakan (jika ada), tato (jika
ada), dan bagian yang ditembus/dilewati.
1,3,4
penatalaksanaan luka, termasuk debridement,
penjahitan, pengguntingan rambut, pembalutan, drainase, dan operasi perluasan luka.
Pada korban mati, tidak ada tuntutan dalam mengatasi gawat darurat. meskipun
demikian, tubuhnya dapat saja sudah mengalami perubahan akibat penanganan gawat
darurat dari pihak lain. sebagai tambahan, tubuh bisa berubah akibat perlakuan orang-
orang yang mempersiapkan tubuhnya untuk dikirimkan kepada pihak yang bertanggung
jawab untuk menerimanya. di lain pihak, tubuh mungkin sudah dibersihkan, bahkan
sudah disiapkan untuk penguburan, luka sudah ditutup dengan lilin atau material lain.
penting untuk mengetahui siapa dan apa yang telah dikerjakannya terhadap tubuh korban,
untuk mengetahui gambaran luka.
a. Jarak tembakan
efek gas, bubuk mesiu, dan anak peluru terhadap target dapat digunakan dalam
keilmuan forensik untuk memperkirakan jarak target dari tembakan dilepaskan.
perkiraan tersebut memiliki kepentingan sebagai berikut : untuk membuktikan atau
menyangkal tuntutan; untuk menyatakan atau menyingkirkan kemungkinan bunuh diri;
membantu menilai ciri alami luka akibat kecelakaan. meski kisaran jarak tembak tidak
dapat dinilai dengan ketajaman absolut, luka tembak dapat diklasifikasikan sebagai
luka tembak jarak dekat, sedang, dan jauh.
1,3,4
b. Arah tembakan
luka tembak yang tepat akan membentuk lubang yang sirkuler serta perubahan warna
pada kulit, jika sudut penembakan olique akan mengakibatkan luka tembak berbentuk
ellips, panjang luka dihubungkan dengan pengurangan sudut tembak. senapan akan
memproduksi lebih sedikit kotoran, kecuali jika jarak dekat. petunjuk ini berguna
untuk pembanding dengan shotgun. luka tembak yang disebabkan shotgun dengan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
81
sudut olique akan membentuk luka seperti anak tangga. jaringan juga berperan serta
dalam perubahan gambaran luka karena adanya kontraksi otot.
G. CARA PENGUKURAN JARAK TEMBAK DALAM VISUM ET REPERTUM
Bila pada korban terdapat luka tembak masuk dan tampak jelas adanya jejas laras,
kelim api, kelim jelaga atau kelim tato, maka perkiraan penentuan jarak tembak tidak
sulit. Kesulitan timbul bila tidak ada kelim-kelim tersebut selain kelim lecet
.1
Bila terdapat
kelim jelaga, berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 30 cm, kelim tato berarti
korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 60 cm dan seterusnya. Sedangkan kelim api
menunjukan bahwa korban ditembak dari jarak yang sangat dekat sekali, yaitu maksimal
15 cm.
(B)
C C
A B A B
D D

D
D
(C) A α
B C
Keterangan Gambar
1. (A) anak peluru yang masuk sesara tegak lurus dapat diketahui dari perkiraan diameter
anak peluru adalah AB-CD.
(B) Anak peluru masuk dengan pembentukan sudut, besarnya sudut tersebut (sinus),
adalah CD/AB. Arah anak peluru diketahui dari kelim lecet yang tersebar.
(C) Bila AB adalah jarak antara tumit/lantai dengan luka tembak masuk diketahui
demikian pula besarnya sudut masuknya, dengan demikian jarak BC dan panjangnya AC
dapat di hitung, sisi miring pada segitiga ABC tidak lain adalah merupakan lintasan anak
peluru.
B ¬ kaliber
A


b
a
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
82
Sin α = b/a
Keterangan gambar :
(A) Besarnya sudut masuk anak peluru dan kaliber diameter dari anak peluru seperti yang
dimaksud dalam gambar di atas besarnya sudut masuk (sinus) b/a sedangkan kaliber dari
anak peluru adalah b.
(B) Cara melakukan pengukuran di dalam memeriksa kasus penembakan, diukur dengan
mengambil patokan tumit dan garis tengah tubuh melalui tulang punggung untuk
memperrkirakan arah tembakan dari luar depan atau belakang atau samping dan sudutnya.
H. PEMERIKSAAN KHUSUS PADA LUKA TEMBAK MASUK
Pada beberapa keadaan, pemeriksaan terhadap luka tembak masuk, sering dipersulit
oleh adanya pengotoran oleh darah, sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan dengan
baik.

Untuk menghadapi penyulit pada pemeriksaan tersebut dapat dilakukan prosedur
sebagai berikut:
• Luka tembak dibersihkan dengan hydrogen-peroxide 3%
• Setelah 2-3 menit luka tersebut dicuci dengan air, untuk membersihkan busa yang
terjadi dan membersihkan darah.
• Dengan pemberian hydrogen-peroxide tadi, luka tembak akan bersih dan tampak jelas,
sehingga deskripsi luka dapat dilakukan dengan akurat.
• Selain secara makroskopik, dapat juga dengan pemeriksaan khusus: pemeriksaan
mikroskopik, pemeriksaan kimiawi, dan pemeriksaan radiologik.
a) Pemeriksaan Mikroskopik

Perubahan yang tampak diakibatkan oleh dua faktor, yaitu: trauma mekanik dan
termis, pada luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat perubahan mikroskopis
yang terjadi adalah:
• Kompresi epitel, disekitar luka tampak epitel yang normal dan yang mengalami
kompresi, elongasi, dan menjadi pipihnya sel-sel epidermal serta elongasi dari inti
sel
• Distorsi dari sel epidermis di tepi luka yang dapat bercampur dengan butir-butir
mesiu
• Epitel mengalami nekrosis koagulatif, epitel sembab, vakuolisasi sel-sel basal
• Akibat panas, jaringan kolagen menyatu dengan pewarnaan HE, akan lebih banyak
mengambil warna biru (basophilic staining)
• Tampak perdarahan yang masih baru dalam epidermis (kelainan ini paling dominan,
dan adanya butir-butir mesiu)
• Sel-sel pada dermis intinya mengerut, vakuolisasi dan piknotik
• Butir-butir mesiu tampak sebagai benda tidak beraturan, berwarna hitam atau hitam
kecoklatan
• Pada luka tembak tempel “hard contact”, permukaan kulit sekitar luka tidak
terdapat butir-butir mesiu atau hanya sedikit sekali; butir-butir mesiu akan tampak
banyak pada lapisan bawahnya, khususnys di sepanjang tepi saluran luka
• Pada luka tembak tempel “soft contact”, butir-butir mesiu terdapat pada kulit dan
jaringan di bawah kulit
• Pada luka tembak jarak dekat, butir-butir mesiu terutama terdapat pada permukaan
kulit, hanya sedikit yang ada pada lapisan-lapisan kulit
b)Pemeriksaan Kimiawi

• Pada “black gun powder” dapat ditemukan kalium, karbon, nitrit, nitrat, sulfas,
sulfat, karbonat, tiosianat dan tiosulfat
• Pada “smokeless gun powder” dapat ditemukan nitrit, dan selulosa-nitrat
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
83
• Pada senjata api yang modern, ditemukan timah, barium, antimony, dan merkuri
• Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan dari peluru sendiri dapat
ditemukan timah, antimon, nikel, tembaga, bismuth, perak, dan thalium
• Pemeriksaan atas unsur-unsur tersebut dapat dilakukan terhadap pakaian, di dalam
atau di sekitar luka
• Pada pelaku penembakan, unsur-unsur tersebut dapat dideteksi pada tangan yang
menggenggam senjata
c) Pemeriksaan dengan Sinar-X

Pemeriksaan radiologik ini umumnya untuk memudahkan dalam mengetahui letak
peluru dalam tubuh korban.
• Pada “tandem bullet injury” dapat ditemukan dua peluru walaupun luka tembak
masuknya hanya satu.
• Bila pada tubuh korban tampak banyak pellet tersebar, maka dapat dipastikan
bahwa korban ditembak dengan senjata jenis “shotgun”, yang tidak beralur, dimana
dalam satu peluru terdiri dari berpuluh pellet.
• Bila pada tubuh korban tampak satu peluru, maka korban ditembak oleh senjata api
jenis “rifled”.
• Pada keadaan dimana tubuh korban telah membusuk lanjut atau telah rusak,
sehingga pemeriksaan sulit, maka dengan pemeriksaan radiologik ini akan dengan
mudah menentukan kasusnya, yaitu dengan ditemukannya anak peluru pada foto
rontgen
d)Pemeriksaan baju pada korban luka tembak

Pemeriksaan korban luka tembak tidak lengkap tanpa pemeriksaan defek baju yang
dibuat oleh peluru.
Pada tempat yang sesuai dengan luka tembak masuk

• Serat-serat pakaian akan terdorong ke dalam.
• Bila ditembakan dari jarak dekat atau jarak sangat dekat, dapat terlihat pengotoran
bewarna hitam yang disebabkan oleh butir-butir mesiu yang tidak terbakar dan
akibat jelaga yang menempel pada pakaian.
• Bila senjata dirawat dengan baik maka di tepi dan di bagian pakaian yang robek
terdapat pengotoran oleh minyak pelumas yang berwarna kehitaman.
Pada tempat yang sesuai dengan luka tembak keluar
1,9
• Serat-serat pakaian akan terdorong keluar.
• Di pinggir atau di sekitar robekan mungkin didapatkan pengotoran oleh darah, atau
jaringan tubuh korban yang hancur dan terbawa keluar. Seperti otak atau serpihan
tulang.
• Tepi lubang pada pakaian tampak terangkat, hal ini menunjukkan bahwa peluru
keluar melalui lubang tersebut.
TRAUMA FISIK
1. Dry Heat (Burn Heat / Luka Bakar)
Dry heat (burn heat / luka bakar) adalah luka bakar yang diakibatkan oleh
persentuhan tubuh dengan api atau benda panas (bukan cairan).
Ada 2 reaksi dari tubuh korban :
1. Reaksi lokal
2. Reaksi umum
Ada 4 reaksi lokal dari tubuh korban :
• Eritem dengan ciri-ciri : epidermis intak, kemerahan, sembuh
tanpa meninggalkan sikatriks.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
84
• Vesikel, bulla & bleps dengan albumin atau NaCl tinggi.
• Necrosis coagulativa dengan ciri-ciri : warna coklat gelap hitam
dan sembuh dengan meninggalkan sikatriks (litteken).
• Karbonisasi (sudah menjadi arang).
Derajat luka bakar :
Luka akibat suhu tinggi (luka bakar)
× Luka bakar derajat 1 (superficial burn)
× Luka bakar derajat 2 (partial thickness burn)
× Luka bakar derajat 3 (full thickness burn)
× Luka bakar derajat 4 (hitam bagai arang, nekrotik)
Ada 3 reaksi umum dari tubuh korban :
1. Heat exhaustion
2. Heat stroke / sun stroke / pingsan panas
3. Heat cramp
Ada 8 gejala heat exhaustion :
1. Badan panas
2. Pusing
3. Pucat
4. Berkeringat
5. Otot lemah
6. Suhu tubuh turun
7. Nadi irreguler
8. Kolaps sirkuler
Ada 3 hal yg dapat ditemukan pd autopsi sebagai tanda adanya reaksi heat exhaustion :
1. Arteriosklerosis arteri coronaria.
2. Darah berwarna gelap di jantung.
3. Organ dalam mengalami kongesti.
Heat stroke / sun stroke / pingsan panas diakibatkan oleh terjadinya paralisis centrum di
medulla. Keadaan ini dapat terjadi pada udara yang panas (1000 Fahrenheit) dan lembab
serta telah berlangsung beberapa hari.
Ada 6 gejala heat stroke / sun stroke / pingsan panas :
1. Badan panas
2. Pusing
3. Sakit kepala
4. Nadi cepat & penuh
5. Kolaps sirkuler
6. Shock sampai beresiko mati dengan tubuh kemerahan
Ada 6 hal pada autopsi tanda adanya reaksi heat stroke :
1. Darah berwarna merah gelap.
2. Organ mengalami kongesti.
3. Perdarahan otak, epicardium, endocardium atau bundle of his.
4. Degenerasi sel-sel ganglion.
5. Kongesti (edem berat).
6. Perdarahan kecil pada ventrikel III & IV.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
85
Heat cramp dapat terjadi pada individu yang bekerja dalam ruangan yang bersuhu tinggi.
Kita dapat melakukan terapi terhadap reaksi heat cramp dengan menggunakan campuran
air & garam atau larutan PZ IV bila korban mengalami konvulsi.
Ada 5 gejala umum dry heat (burn heat / luka bakar), yaitu :
• Nyeri yang sangat hebat ¬ shock dan kematian.
• Pugillistic attitude / coitus attitude berupa ekstremitas fleksi, kulit
menjadi arang & mengelupas. Ekstremitas fleksi akibat koagulasi protein. Ekstremitas
fleksi tidak sampai menimbulkan rigor mortis.
• Otot merah gelap, kering, berkontraksi dan jari-jari
mencengkeram.
• Bukan tanda intravital.
• Fraktur tengkorak ¬ pseudoepidural hematom (bedakan dengan
epidural hematom).
Pseudoepidural Hematom: Warna bekuan darah coklat. Konsistensi rapuh. Bentuk otak
mengkerut seluruhnya. Garis patah tidak menentu.
Epidural Hematom: Warna bekuan darah hitam. Konsistensi kenyal. Bentuk otak cekung
sesuai dengan bekuan darah. Garis patah melewati sulcus arteria meningea.
Penyebab kematian pada kasus dry heat ada 3 kategori, yaitu :
• Cepat : shock primer (neurogenis) & asfiksia
• Sedang : shock dehidrasi
• Lambat : shock dehidrasi, acute renal failure, infeksi & sepsis,
ulcus curling, autointoksikasi, dan pneumonia hipostatik.
Luas dry heat (burn heat / luka bakar) dapat kita tentukan dengan menggunakan RULE
OF NINE, yaitu :
 9% : permukaan kepala & leher; dada; punggung; perut; pinggang;
ekstremitas atas kanan; ekstremitas atas kiri.
 18% : permukaan ekstremitas bawah kanan; ekstremitas bawah kiri.
 1% : permukaan alat kelamin.
Tingkat II yaitu luas dry heat 30% ¬ membahayakan jiwa.
Kematian karena gas karbon monoksida (CO) :
 Biasanya terjadi pada kebakaran gedung besar.
 Biasanya dry heat (burn heat / luka bakar) hanya sedikit.
 Ada jelaga pada lubang hidung.
 Saluran napas terdapat jelaga atau lendir; mukosa edema & kemerahan.
 Lebam mayat yang berwarna merah cherry akibat terbentuknya senyawa HbCO
(hemoglobin tereduksi).
 Diagnosis pasti dapat kita tentukan dengan melakukan pemeriksaan saturasi, yaitu
lebih 10%. Gas karbon monoksida (CO) 210 kali lebih kuat dari gas oksidan (O2)
dalam mengikat hemoglobin.
2. Trauma Dingin (Cold Trauma)
Insiden trauma dingin (cold trauma / frost bite / immertion foot) jarang terjadi dan
biasanya terdapat di negara yang bermusim dingin. Lokasinya bisa pada tangan, kaki,
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
86
hidung, telinga, dan pipi. Ada 2 cara kematian kasus trauma dingin (cold trauma / frost
bite / immertion foot), yaitu :
1. Kecelakaan
2. Pembunuhan (infanticide)
Ada 2 reaksi dari tubuh korban trauma dingin :
1. Reaksi lokal
2. Reaksi umum
Ada 2 reaksi lokal :
 Kulit korban pucat akibat vasokonstriksi ¬ kemerahan akibat vasodilatasi karena
paralisis vasomotor center.
 Kulit korban lalu berubah menjadi merah kehitaman, membengkak (skin blister),
gatal dan nyeri. Kemudian timbul gangren superfisial yang irreversibel.
Ada 8 reaksi umum :
 Kulit korban pucat dan menggigil. Kita dapat menemukan cutis anserina.
 Kepucatan yang bercampur warna sianosis. Hal ini karena darah "dipaksa" masuk
kembali ke dalam pembuluh darah perifer akibat organ dalam mengalami
kongesti.
 Lethargy, koma, dan akhirnya mati bila tubuh korban lama terpapar dingin.
 Pada pemeriksaan autopsi, jantung korban berisi darah berwarna merah cerah.
 Organ dalam mengalami kongesti hebat.
 Tengkorak korban dapat retak pada bagian sutura.
 Lebam mayat berwarna merah cerah yang bercampur bercak berwarna merah
gelap.
 Cairan tubuh korban berubah menjadi es jika tubuh korban lama baru kita
temukan.
3. Trauma listrik (Electrical Injury)
Ada 2 jenis tenaga yaitu :
 Tenaga listrik alam seperti petir dan kilat.
 Tenaga listrik buatan meliputi arus listrik searah (DC) seperti telepon (30-50 volt)
dan tram listrik (600-1000 volt) dan arus listrik bolak-balik (AC) seperti listrik rumah,
pabrik, dll
Arus listrik bergerak dari tempat yang berpotensial tinggi ke potensial rendah.
Arahnya sama dengan arah gerak muatan-muatan positif (berlawanan arah dengan
elektron-elektron).
Bagian-bagian listrik, antara lain :
1. Arus listrik (I)
a. Arus listrik searah atau direct current (DC)
mengalir secara terus menerus ke satu arah, dipakai dalam industri
elektrolisis, misalnya pada pemurnian dan pelapisan/penyepuhan logam. Juga
digunakan pada telefon (30-50 volt), dan kereta listrik (600-1500 volt).
Sumber misalnya baterai dan accu.
b. Arus listrik bolak-balik atau alternating current (AC)
mengalir bolak-balik, digunakan di rumah-rumah dan pabrik-pabrik, biasanya
110 volt atau 220 volt, jauh lebih berbahaya daripada arus DC, tubuh manusia
4-6 kali lebih sensitif terhadap arus AC.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
87
2. Frekuensi listrik
Satuan : cycle per second atau hertz, yang paling sering digunakan 50 dan 60
hertz, yang paling tinggi 1 jt hertz dengan voltage 20.000-40.000 volt tidak begitu
berbahaya dapat digunakan sebagai diatermi. Tubuh sangat tidak peka terhadap
frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah, contohnya kurang dari 40 hertz
atau lebih dari 1.000 hertz.
3. Tegangan (voltage/V)
Satuan : volt. 1 volt = tenaga listrik yang dibutuhkan untuk menghasilkan
intensitas listrik sebesar 1 ampere melalui sebuah konduktor (penghantar) yang
memiliki tahanan sebesar 1 ohm.
 Voltase rendah (110-460 V) misalnya penerangan, pabrik,
tram listrik.
 Voltase tinggi (= 1.000 V) misalnya transpor arus listrik.
 Voltase sangat tinggi (20.000-1.000.000 V) misalnya deep X-rays therapy
dan diatermi. Diatermi : frekuensi 1 juta Hz dan tegangan 20 ribu - 40 ribu
volt. Kuat arus yang sering kita gunakan dibawah 6 ampere. LET GO
CURRENT = kuat arus dari aliran listrik dimana korban masih bisa
melepaskan diri darinya.
4. Tahanan/hambatan listrik (resistance/R)
Satuan : ohm. Menurut hukum Ohm, besarnya intensitas listrik (I) sama
dengan besarnya tegangan/voltage (V) dibagi dengan tahanan (R) dari medium.
Panas yang terjadi tergantung dari :
1. banyaknya arus
2. lamanya kontak
3. besarnya hambatan
Hal ini sesuai dengan rumus :
Keterangan : W = panas yang dihasilkan (kalori)
I = kuat arus (ampere)
R = hambatan (ohm)
t = waktu (detik)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efek Listrik pada Tubuh
1. Jenis / macam aliran listrik
Arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). Banyak kematian akibat sengatan arus
listrik AC dengan tegangan 220 volt. Suatu arus AC dengan intensitas 70-80 mA ¬
kematian, sedangkan arus DC dengan intensitas 250 mA masih dapat ditolerir tanpa
menimbulkan kerusakan.
2. Tegangan / voltage
Hanya penting untuk sifat-sifat fisik saja, sedangkan pada implikasi biologis kurang
berarti.Voltage yang paling rendah yang sudah dapat menimbulkan kematian
manusia ¬ 50 volt. Makin tinggi voltage akan menghasilkan efek yang lebih berat
pada manusia baik efek lokal maupun general.+60% kematian akibat listrik arus
listrik dengan tegangan 115 volt. Kematian akibat aliran listrik tegangan rendah
terutama oleh karena terjadinya vibrilasi ventrikel, sementara itu pada tegangan
tinggi disebabkan oleh karena trauma elektrotermis.
3. Tahanan / resistance
Tahanan tubuh bervariasi pada masing-masing jaringan, ditentukan perbedaan
kandungan air pada jaringan tersebut. Tahanan yang terbesar terdapat pada kulit
tubuh, akan menurun besarnya pada tulang, lemak, urat saraf, otot, darah dan cairan
tubuh. Tahanan kulit rata-rata 500-10.000 ohm.
Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya, hal ini
bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut, kelenjar
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
88
V
I = ---
R
W = I
2
R t
keringat dan lemak. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang kering.
Menurut hitungan Cardieu, bahwa berkeringat dapat menurunkan tahanan sebesar
3000-2500 ohm. Pada kulit yang lembab karena air atau saline, maka tahanannya
turun lebih rendah lagi antara 1200-1500 ohm. Tahanan tubuh terhadap aliran listrik
juga akan menurun pada keadaan demam atau adanya pengaruh obat-obatan yang
mengakibatkan produksi keringat meningkat.
Pertimbangkan tentang ”transitional resistance”, yaitu suatu tahanan yang
menyertai akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara konduktor dengan tubuh
atau antara tubuh dengan bumi, misalnya baju, sarung tangan karet, sepatu karet, dan
lain-lain.
4. Kuat arus / intensitas /amperage
Adalah kekuatan arus (intensitas arus) yang dapat mendeposit berat tertentu
perak dari larutan perak nitrat perdetik. Satuannya : ampere. Arus yang di atas 60 mA
dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan vibrilasi ventrikel.
Tabel. mengenai efek aliran listrik terhadap tubuh (Lobl. O, 1959)
mA Efek
1,0 Sensasi, ambang arus
1,5 Rasa yang jelas, persepsi arus
2,0 Tangan mati rasa
3,5 Tangan terasa ringan dan kaku
4,0 Parestesia lengan bawah
5,0 Tangan tremor dan lengan bawah spasme
7,0 Spasme ringan yang luas sampai lengan atas
10,0 Dapat sengaja melepaskan diri dari arus listrik
15,0 Kontraksi otot-otot fleksor mencegah terlepas dari aliran listrik
20,0 Kontraksi otot yang sangat sakit
Dikatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas ketahanan seseorang,
pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran dan kematian akan terjadi pada
kuat arus 100 mA atau lebih.
KOEPPEN menggolongkan akibat kecelakaan listrik dalam 4 kelompok yaitu :
a. Kelompok I : kuat arus < 25 mA AC (DC antara 25-80 mA) dengan transitional R
yang tinggi¬ efek yang berbahaya (-).
b. Kelompok II : kuat arus 25-80 mA AC (DC 80-300 mA) dg transitional R < dari
kel.I ¬ hilangnya kesadaran, aritmia dan spasme pernafasan.
c. Kelompok III : Kuat arus 80-100 mA AC (DC 300 mA - 3A), transitional R < dari
kel. II. Jk t = 0,1-0,3s , efek biologisnya sama dg kel. II. Jk > 0,3s ¬ vibrilasi
ventrikel irreversibel.
d. Kelompok IV : kuat arus > 3A ¬ cardiac arrest
5. Adanya hubungan dengan bumi / earthing
Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah yang
basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan
mengggunakan alas sepatu yang kering, karena pada keadaan pertama tahanannya
rendah.
6. Lamanya waktu kontak dengan konduktor
Makin lama korban kontak dengan konduktor ¬ makin banyak jumlah arus
yang melalui tubuh ¬ kerusakan tubuh akan bertambah besar & luas. Dengan
tegangan yang rendah ¬ spasme otot-otot ¬ korban malah menggenggam
konduktor ¬ arus listrik akan mengalir lebih lama ¬ korban jatuh dalam keadaan
syok yang mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi ¬ segera terlempar atau
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
89
melepaskan konduktor atau sumber listrik yang tersentuh, karena akibat arus listrik
dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot,
termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut.
7. Aliran arus listrik (path of current)
Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk
sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus listrik (point of entry) & letak
titik keluar bervariasi ¬ efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai
berat. Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagiah tubuh lebih berbahaya daripada jika
masuk dari sebelah kanan. Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada
dalam posisi aliran listrik tersebut.Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang
tanpa alas kaki lebih berbahaya kalau terkena aliran listrik, sepatu dapat berfungsi
sebagai isolator, t.u sepatu karet
8. Faktor-faktor lain
a. adanya penyakit-penyakit tertentu yang sudah ada pada korban
sebelumnya, seperti penyakit jantung, kondisi mental yang menurun,dsb, yang
dapat memperberat efek listrik pada tubuh manusia sampai timbulnya kematian.
b. Antisipasi terhadap syok.
c. Kelengahan atau kekuranghati-hatian.
d. Luas kontak dengan arus listrik.
e. Kesadaran adanya arus listrik.
f. Kebiasaan dan pekerjaan.
g. Konstitusi tubuh yaitu tubuh kurus dan gemuk.
Cara Kematian
Paling sering : kecelakaan, jarang terjadi karena pembunuhan atau bunuh diri.
Oleh karena itu pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP) sangat penting.
Patofisiologi
Elektron mengalir secara abnormal melalui tubuh menghasilkan cedera dengan atau
kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama elektrik pada
jantung dan otak, atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun eksternal
melalui panas dan pembentukan pori di membran sel. Arus yang melalui otak, baik
voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan penurunan kesadaran segera karena
depolarisasi saraf otak. Arus AC dapat menghasilkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya
melalui dada. Aliran listrik yang lama membuat kerusakan iskemik otak terutama yang
diikuti gangguan nafas. Seluruh aliran dapat mengakibatkan mionekrosis, mioglobinemia,
dan mioglobinuria dan berbagai komplikasi. Selain itu dapat juga mengakibatkan luka
bakar.
Sebab Kematian
Kebanyakan oleh energi listrik itu sendiri. Sering trauma listrik disertai trauma
mekanis. Ada kasus karena listrik yang menyebabkan korban jatuh dari ketinggian, dalam
hal ini sukar untuk mencari sebab kematian yang segera.
Sebab kematian karena arus listrik yaitu :
1. Fibrilasi ventrikel
Bergantung pada ukuran badan dan jantung.DALZIEL (1961) memperkirakan
pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari lengan
ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Yang paling berbahaya adalah jika arus listrik
masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki yang berlawanan/kanan.
Kalau arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan yang satu dan keluar melalui tangan
yang lain maka 60% yang meninggal dunia.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
90
2. Paralisis respiratorik
Akibat spasme dari otot-otot pernafasan, sehingga korban meninggal karena
asfiksia, sehubungan dengan spasme otot-otot karena jantung masih tetap berdenyut
sampai timbul kematian. Terjadi bila arua listrik yang memasuki tubuh korban di atas
nilai ambang yang membahayakan, tetapi masih di batas bawah yang dapat
menimbulkan ventrikel fibrilasi. Menurut KOEPPEN, spasme otot-otot pernafasan
terjadi pada arus 25-80 mA,sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pd arus 80-100 mA.
3. Paralisis pusat nafas
Jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak, disebabkan juga oleh trauma
pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi koagulasi dan akibat efek hipertermia. Bila
aliran listrik diputus, paralisis pusat pernafasan tetap ada, jantung pun masih
berdenyut, oleh karena itu dengan bantuan pernafasan buatan korban masih dapat
ditolong. Hal tersebut bisa terjadi jika kepala merupakan jalur arus listrik.
Pemeriksaan Korban
1. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP)
Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya kena
listrik, kadang-kadang ada busa pada mulut.Yang perlu dilakukan pertama kali adalah
mematikan arus listrik atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu kering. Lalu kemudian
korban diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal dunia. Bilamana belum ada lebam
mayat, maka mungkin korban dalam keadaan mati suri dan perlu diberi pertolongan
segera yaitu pernafasan buatan dan pijat jantung dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah
sakit. Pernafasan buatan ini jika dilakukan dengan baik dan benar masih merupakan
pengobatan utama untuk korban akibat listrik. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai
korban menunjukkan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti.
2. Pemeriksaan Jenazah
a. Pemeriksaan Luar
Sangat penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan
pada kulit. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda listrik
atau current mark/electric mark/stroomerk van jellinek/joule burn. Current mark
adalah tanda luka akibat listrik dan merupakan tempat masuknya aliran listrik.
Tanda-tanda listrik tersebut antara lain :
• Terkecil sebesar kepala jarum dengan warna kemerahan
• Tanda lain berupa bula
• Current mark berbentuk oval, kuning atau coklat keputihan
atau coklat kehitaman atau abu-abu kekuningan dikelilingi daerah kemerahan
dan edema sehingga menonjol dari jaringan sekitarnya (daerah halo). Cara
mencari t.u pada telapak tangan atau telapak kaki dan sebelumnya harus dicuci
dulu dengan sabun dan bila perlu disikat. Metalisasi akibat panas yang
ditimbulkan sedemikian besar sehingga ion-ion asam jaringan bereaksi dengan
ion-ion logam dari kawat atau kabel membentuk garam dan menyebar di
jaringan. Warna yang terjadi tergantung bahan logam, misalnya dari besi akan
tampak warna hitam kecoklatan, tembaga warna coklat kemerahan, dan
aluminium warna perak. Luka keluar dari luka listrik (electrical burn) tidak
khas dapat berupa luka lecet, luka robek, atau luka bakar. Sepatu korban dan
pakaian dapat terkoyak.
• Tanda yang lebih berat yaitu kulit menjadi hangus arang,
rambut ikut terbakar, tulang dapat meleleh dengan pembentukan butir
kapur/kalk parels terdiri dari kalsium fosfat
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
91
• Endogenous burn/Joule burn terjadi jika kontak dengan tubuh
lama sehingga bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat
menjadi hitam dan hangus terbakar
• Eksogenous burn dapat terjadi bila tubuh terkena arus listrik
tegangan tinggi yang sudah mengandung panas, sehingga tubuh akan hangus
terbakar dengan kerusakan yang sangat berat dan tidak jarang disertai dengan
patahnya tulang-tulang
• Panas yang timbul pada suatu waktu demikian besarnya
sehingga kawat listrik menguap dan mengkondensir di jaringan tubuh/electric
metalisasi
b. Pemeriksaan Dalam
Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada otak
didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada daerah
ventrikel III dan IV. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui aliran listrik
dan berhenti pada fase diastole, sehingga terjadi dilatasi jantung kanan. Pada paru
didapatkan edema dan kongesti. Pada korban yang terkena listrik tegangan tinggi,
Custer menemukan pada puncak lobus salah satu paru terbakar, juga ditemukan
pneumothorak, hal ini mungkin sekali disebabkan oleh aliran listrik yang melalui
paru kanan. Organ viscera menunjukkan kongesti yang merata. Petekie atau
perdarahan mukosa gastro intestinal ditemukan pada 1 dari 100 kasus fatal akibat
listrik. Pada hati ditemukan lesi yang tidak khas., sedangkan pada tulang, karena
tulang mempunyai tahanan listrik yang besar, maka jika ada aliran listrik akan
terjadi panas sehingga tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium
fosfat yang menyerupai mutiara atau pearl like bodies.
1
Otot korban putus akibat
perubahan hialin. Perikard, pleura, dan konjungtiva korban terdapat bintik-bintik
pendarahan. Pada ekstremitas, pembuluh darah korban mengalami nekrosis dan
ruptur lalu terjadi pendarahan kemudian terbentuklah gangren.
c. Pemeriksaan Tambahan
Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada current mark.
Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik tetapi
sangat menolong untuk menegakkan bahwa korban telah mengalami trauma
listrik.
Hasil pemeriksaan akan terlihat sebagai berikut :
• Ada bagian sel yang memipih, pada pengecatan dengan metoxyl
lineosin akan bewarna lebih gelap dari normal
• Sel-sel pada stratum korneum menggelembung dan vakum
• Sel dan intinya dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun
secara palisade
• Ada sel yang mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel
yang rusak dari stratum korneum
• Folikel rambut dan kelenjar keringat memanjang dan memutar ke
arah bagian yang terkena listrik.
Petir (Lightning)
Lightning / eliksem adalah kecelakaan akibat sambaran petir. Petir termasuk arus searah
(DC) dengan tegangan 20 juta volt dan kuat arus 20 ribu ampere.
Ada 3 keadaan yang berpotensi besar terkena petir :
1. Berada di tanah lapang.
2. Berada dibawah pohon yang tinggi.
3. Kehujanan dan memakai perhiasan yang terbuat dari logam.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
92
Ada 3 kelainan akibat sambaran petir :
1. Efek listrik.
2. Efek panas.
3. Efek ledakan.
Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir :
• Current mark / electrik mark / electrik burn. Efek ini termasuk
salah satu tanda utama luka listrik (electrical burn).
• Aborescent markings. Tanda ini berupa gambaran seperti pohon
gundul tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit korban sebagai reaksi
dari persentuhan antara kulit dengan petir (lightning / eliksem). Tanda ini akan hilang
sendiri setelah beberapa jam.
• Magnetisasi. Logam yang terkena sambaran petir (lightning /
eliksem) akan berubah menjadi magnet. Efek ini termasuk salah satu tanda luka listrik
(electrical burn).
Ada 2 efek panas akibat sambaran petir :
• Luka bakar sampai hangus. Rambut, pakaian, sepatu bahkan
seluruh tubuh korban dapat terbakar atau hangus.
• Metalisasi. Logam yang dikenakan korban akan meleleh seperti
perhiasan dan komponen arloji. Arloji korban akan berhenti dimana tanda ini dapat
kita gunakan untuk menentukan saat kematian korban. Efek ini juga termasuk salah
satu tanda luka listrik (electrical burn).
Efek ledakan akibat sambaran petir (lightning / eliksem) terjadi akibat perpindahan
volume udara yang cepat & ekstrim. Setelah kilat menyambar, udara setempat menjadi
vakum lalu terisi oleh udara lagi shg menimbulkan suara menggelegar/guntur / ledakan.
Cara kematian korban akibat sambaran petir : kecelakaan.
TRAUMA KIMIAWI
¤ Asam kuat & basa kuat
¤ Asam kuat ¬ mengkoagulasikan protein ¬ luka korosif yang kering, kertas spt
kertas perkamen.
¤ Basa kuat ¬ memembentuk reaksi penyabunan ¬ luka basah, licin ¬ kerusakan
sampai terus kedalam
Bahan kimia yg bersifat korosif dpt dibagi dalam 4 golongan :
¤ Asam organik yg bersifat korosif, ¬ asam oksalat, asam asetat, asam sitrat dan
asam karbol.
¤ Asamanorganik yg bersifat korosif ¬asam fluoride, asam klorida, asam nitrat dan
asam sulfat.
¤ Kaustik alkali ¬kalium hidroksida, kalsium hidroksida, natrium hidroksida dan
amoniak.
¤ Garam logam berat ¬merkuri klorida, zinc klorida dan stibium klorida.
Ciri luka akibat kimiawi :
¤ Asam karbol ¬luka bakar dimana kulit yang terkena akan berwarna kelabu
keputihan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
93
¤ Asam oksalat ¬kulit berwarna kelabu kehitaman.
¤ Asam sulfat dan asam klorida ¬ kulit mula-mula akan berwarna kelabu kmdn
jadi hitam.
¤ Asam nitrat ¬ kulit berwarna merah kecoklatan yang disertai dengan perdarahan.
¤ Zinc klorida ¬ kulit berwarna keputih-putihan, sedangkan
¤ Merkuri klorida ¬kulit yg terkena berwarna biru keputihan + perdarahan.
¤ Ciri trauma akibat asam ¬ kering, cokelat kemerahan dan pd perabaan teraba
padat dan keras
¤ Ciri trauma akibat basa ¬ bengkak, edem, warna cokelat kemerahan dan pada
rabaan teraba lunak dan licin.
HUBUNGAN ANTARA “HASIL/CEDERA” DENGAN “PIDANA”
LUKA RINGAN:
Luka ringan adalah :
• Luka yang tidak mengakibatkan sakit atau halangan dalam melakukan pekerjaan
• Misalnya memar atau lecet:
– Yang berdasarkan lokasi dan luasnya dianggap tidak mengakibatkan
gangguan fungsi
Ps 352 kuhp: maks 3 bulan
Luka sedang :
Luka sedang adalah :
Luka/cedera diantara luka berat dan luka ringan
Misalnya :
– Vulnus laceratum
– Vulnus scissum
– Fracture
yang tidak mengancam nyawa namun membutuhkan perawatan lebih lanjut dan
menghalangi pekerjaan untuk sementara waktu
Pasal 351 (2) KUHP: Maks 2 Tahun 8 Bulan
Pasal 353 (1) KUHP: Maks 4 Tahun
LUKA BERAT:
Menurut Pasal 90 KUHP Luka berat adalah :
• Tak dapat diharapkan sembuh
• Mengancam nyawa
• Halangan bekerja permanen
• Kehilangan salah satu indera
• Cacat berat
• Kelumpuhan
• Tak dapat berpikir 4 minggu atau lebih
• Gugurnya kandungan
PS 351 (3) KUHP: Maks 5 Tahun
PS 353 (2) KUHP: Maks 7 Tahun
PS 354 (1) KUHP: Maks 8 Tahun
PS 355 (1) KUHP: Maks 12 Tahun
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
94
RINGKASAN
LUKA AKIBAT BENDA TAJAM
DEFINISI
 Kelainan pada tubuh akibat persentuhan dengan benda tajam sehingga kontinuitas
jaringan hilang
KLASIFIKASI
 Luka iris (incised wound)
 Luka tusuk (stab wound)
 Luka bacok (chop wound)
CIRI LUKA
 Tepi luka rata
 Sudut luka lancip
 Rambut terpotong
 Tidak ditemukan jembatan jaringan
 Tidak ditemukan memar atau lecet disekitarnya
DESKRIPSI LUKA
 Jumlah luka
 Lokasi luka
 Ukuran luka
 Ciri-ciri luka ( tepi luka,sudut luka, adakah jembatan jaringan, memar atau luka
lecet, adakah rambut ikut terpotong, adakah sesuatu yang keluar dari lubang)
 Benda asing
 Intravitalitas luka
 Luka tersebut mematikan atau tidak
LUKA IRIS (INCISED WOUND)
 Luka akibat benda bermata tajam dengan tekanan ringan dan goresan pada
permukaan tubuh
Ex.pisau, pecahan kaca, pisau,silet, pedang, potongan seng
 Bentuk luka:
- Celah : // arah serat elastis/otot
- Menganga : ⊥ arah serat elastis/otot
- Asimetris : miring thdap serat elastis/otot
 Ciri-ciri:
1. tepi dan permukaan luka rata
2. sudut luka lancip
3. ≠ jembatan jaringan
4. rambut terpotong
5. luka memar/lecet (-)
6. tidak mengenai tulang
7. panjang luka > dalam luka
 Sebab kematian pada luka iris:
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
95
1. Langsung : perdarahan, emboli udara, aspirasi darah
2. Tidak langsung : infeksi atau sepsis
CIRI LUKA IRIS PADA BUNUH DIRI
 Lokasi luka pada daerah tubuh mematikan atau dapat dijangkau (leher,
pergelangan tangan, lekuk siku, lekuk lutut, lipat paha)
 Luka percobaan
 Tidak ditemukan luka tangkisan di bagian tubuh lain
 Pakaian disingkirkan pada daerah luka
LUKA IRIS PADA PEMBUNUHAN
 Luka di sembarang tempat
 Luka tangkisan (+)
 Luka percobaan (-)
 Pakaian ikut terkoyak akibat benda tajam
LUKA TUSUK
Bentuk luka :
1. pada parenkim dan tulang : sesuai penampang alat
penyebabnya
2. pada kulit/otot :
- alat pisau
// serat elastis otot : spt celah, ⊥ serat elastis otot :
menganga, miring thd serat elastis otot : asimetris
- alat ganco/lembing
celah bila luka di daerah pertemuan serat elastis/otot
bulat : sesuai penampang alat
- alat penampang segitiga atau segiempat
bintang berkaki tiga atau empat
CIRI-CIRI LUKA TUSUK
 Tepi luka rata
 Sudut luka tajam, pada sisi tumpul alat, sudut luka < tajam
 Pada sisi tajam alat, rambut ikut terpotong
 Memar disekitar luka
 Dalam luka > panjang luka
Sebab Kematian pada Luka Tusuk:
 Langsung : perdarahan, kerusakan alat tubuh yang penting, emboli udara
 Tidak langsung : sepsis / infeksi
Cara kematian pada luka tusuk:
 Pembunuhan
 Bunuh diri
 Kecelakaan
LUKA TUSUK PEMBUNUHAN
 Lokasi di sembarang tempat
 Jumlah luka > 1
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
96
 Adanya tanda perlawanan
 Luka tusuk percobaan (-)
LUKA TUSUK BUNUH DIRI
 Lokasi pada alat tubuh yang penting/ dapat dijangkau (dada, perut)
 Jumlah luka yang mematikan > 1
 Luka tusuk percobaan (+) disekitar luka utama, bergerombol
 Luka tangkisan (-)
 Pakaian disingkirkan terlebih dahulu
 Tangan yang memegang senjata kadang mengalami cadaveric spasm
 Lokasi pada alat tubuh yang penting/ dapat dijangkau (dada, perut)
 Jumlah luka yang mematikan > 1
 Luka tusuk percobaan (+) disekitar luka utama, bergerombol
 Luka tangkisan (-)
 Pakaian disingkirkan terlebih dahulu
 Tangan yang memegang senjata kadang mengalami cadaveric spasm
LUKA TUSUK DI KEPALA
 Hampir selalu karena pembunuhan
 Kematian karena rusaknya perdarahan, rusaknya organ vital
 Bentuk luka membantu identifikasi senjata
LUKA TUSUK DI LEHER
 Korban meninggal karena terpotongnya arteri carotis, vena jugularis, pharyng,
trakea
 Terpotong a. carotis : perdarahan banyak, trombus a.cerebralis
 Terpotong v. jugularis : emboli udara menyumbat a. pulmonalis
 Terpotong trachea: aspirasi darah ke paru-paru
LUKA TUSUK DADA
Kerusakan jantung, paru, a.v. besar
LUKA TUSUK ABDOMEN
Kerusakan organ dalam, perdarahan banyak
LUKA TUSUK EKSTREMITAS
Sering luka tangkisan, kematian akibat perdarahan
LUKA BACOK (Chop Wound)
 Luka akibat benda atau alat berat
 Mata tajam atau agak tumpul
 Suatu ayunan
 Tenaga agak besar
 Pedang, celurit, kapak, baling-baling kapal.
Ciri-ciri:
 Besar
 Tepi tergantung mata senjata
 Sudut tergantung mata senjata
 Kerusakan tulang, bagian tubuh terputus
 Memar/lecet di sekitar luka
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
97
Cara kematian
 Pembunuhan, kecelakaan
Sebab kematian
 Langsung : perdarahan, kerusakan organ vital, emboli udara
 Tidak langsung : sepsis/ infeksi
LUKA AKIBAT BENDA TUMPUL
• Luka ¬ hilang/rusaknya sebagian jaringan tubuh
• Kekerasan benda tumpul ¬ kasus paling banyak terjadi.
• Cara kejadian¬ terutama berupa kecelakaan lalu lintas
• Sebab kematian korban kekerasan benda tumpul ---- kerusakan organ vital,
perdarahan, syok, infeksi.
• Benda tumpul :
- Benda tidak bermata tajam
- Konsistensi keras atau kenyal
- Permukaan dapat halus atau kasar, kadang dijumpai benda dengan bagian
tajam dan tumpul (misalnya clurit)
• Pembagian kekerasan benda tumpul
b. Localized
- Mengenai sebagian kecil dari tubuh, akibat kekerasan benda dengan luas
tertentu yang relatif kecil
- Dijumpai pada :
Serangan manusia (ditinju, dipukul kayu dsb)
Serangan binatang (disepak kuda)
Tubrukan atau jatuh
c. Generalized
- Mengenai sebagian besar atau seluruh tubuh
- Cara kejadian :
Terlempar (kecelakaan lalu lintas, terjadi dari tempat tinggi
Tergilas/tertindih (tertimpa bangunan runtuh)
Terkoyak kecelakaan lalu lintas
• Menurut jaringan atau organ yang terkena dan mengalami kerusakan
Kulit
- Luka lecet (abrasion)
- Luka memar (contusion)
- Luka retak, robek, koyak (laceration)
Kepala
- Mengenai tengkorak
- Jaringan intrakranial
Leher dan tulang belakang
Dada
- Mengenai tulang-tulang
- Mengenai organ dalam
Perut
- Mengenai organ parenkim
- Mengenai organ berongga
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
98
Anggota gerak
- Mengenai tulang dan sendi
- Mengenai jaringan lunak
LUKA LECET (ABRASION)
• Kerusakan yang mengenai lapisan atas dari epidermis akibat kekerasan dengan
benda yang mempunyai permukaan yang kasar, sehingga epidermis menjadi tipis,
sebagian atau seluruh lapisannya hilang
• Ciri luka lecet :
- Sebagian atau seluruh epitel hilang
- Permukaan dapat tertutupi oleh eksudasi yang mengering (krusta)
- Timbul reaksi radang
- Biasanya tidak meninggalkan jaringan parut
• Ante mortem
Warna coklat kemerahan karena eksudasi
Mikroskopis : Terdapat sisa epitelium dan tanda-tanda intravena
• Post mortem
- Tampak mengkilap, warna kekuningan
- Mikroskopis : Epidermis terpisah sempurna dari dermis dan tidak ada
tanda intravena
- Sering terjadi pada daerah penonjolan tulang
LUKA MEMAR (CONTUSION)
• Kerusakan adalah jaringan subkutan sehingga pembuluh darah kapiler rusak dan
pecah ¬ darah meresap kejaringan sekitar.
• Bagian yang mudah mengalami memar ¬ mempunyai jaringan lemak
dibawahnya dan berkulit tipis
LUKA ROBEK (LACERATION)
• Seluruh tebal kulit mengalami kerusakan dan jaringan bawah kulit. Epidermis
terkoyak, folikel rambut, kelenjar keringat, dan sebacea mengalami kerusakan.
• Bila sembuh dapat menimbulkan jaringan parut
• Luka robek mudah terjadi pada kulit dengan adanya tulang di bawahnya.
Tabel. Perbedaan luka robek dan luka iris
Luka Robek Luka Iris
Memar dan lecet + -
Rambut Utuh Terpotong
Jembatan
jaringan
+ -
Sudut/tepi luka Tumpul Tajam
LUKA RETAK
• Luka pada kulit daerah tubuh yang ada tulang tepat di bawah kulit tersebut
(Misal : kepala dan tulang kering)
• Akibat dari kekerasan benda tumpul yang mempunyai pinggiran (tepi meja, tepi
pintu dll)
Tabel. Perbedaan Luka retak dan luka iris
Pembeda Luka Retak Luka Iris
Tepi Luka Tidak Tajam Tajam
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
99
Sudut Luka Tidak Tajam Tajam
Permukaan Luka Tidak Rata Rata
Jembatan Jaringan + -
Rambut Tercabut Terpotong
Memar/ lecet sekitar luka + -
Kekerasan Benda Tumpul Pada Kepala
• Kelainan pada tengkorak berupa patah tulang
- Fraktur basis kranii (patah tulang dasar tengkorak)
o umumnya keluar darah dari hidung, mulut, telinga
o bila patahan mengenai atap bola mata¬Brill hematom
- Fraktur vault kranii (patah tulang atap tengkorak)
• Kelainan pada otak, menimbulkan
Contusio serebri (memar otak)
o Perdarahan kecil di permukaan otak tanpa disertai kerusakan arrachnoid di
atasnya
Lacerasio cerebri (robek otak)
o Kerusakan pada white matter dan gray matter, disertai robeknya
arrachnoid. Ada 2 macam :
Coup
Counter coup
Edema serebri
• Kelainan pada selaput otak
- Epidural haemorrhage (perdarahan di atas selaput tebal otak)
o Robekan pembulut darah diluar duramater (tersering ¬ a. meningea
media)
o Darah merembes diantara otak dan tulang ¬ membeku
- Subdural haemorrhage (perdarahan di bawah selaput tebal otak)
- Subarachnoid haemorrhage (perdarahan di bawah selaput laba-laba otak)
o Pecahnya vena serebri posterior
COMOSIO SEREBRI (Gegar otak)
• Gangguan fungsi otak akibat trauma kepala
• Tanpa dapat ditemukan kelainan anatomi di otak
• Gejala klinis :
- Pingsan sebentar (hingga sampai 15 menit)
- Muntah
- Pusing
- Amnesia
- Tidak ada kelainan neurologis
CEDERA KEPALA
PENDAHULUAN
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
100
Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah ruda paksa
tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara.
Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia
produktif, dan sebagian besar karena kecelakaan lalulintas.
I. FISIOLOGI KEPALA
Cairan serebrospinal dihasilkan oleh plexus khoroideus sebanyak 20 ml/jam. CSS
mengalir dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III,
akuaduktus dari sylvius menuju ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke dalam
sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoidea yang terdapat pada sinus sagitalis
superior. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga
mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan intrakranial.
Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan
dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari.
Tekanan intrakranial (TIK) dipengaruhi oleh volume darah intrakranial, cairan
serebrospinal dan parenkim otak. Dalam keadaan normal TIK orang dewasa dalam
posisi terlentang sama dengan tekanan CSS yang diperoleh dari lumbal pungsi yaitu
4–10 mmHg. Kenaikan TIK dapat menurunkan perfusi otak dan menyebabkan atau
memperberat iskemia. Prognosis yang buruk terjadi pada penderita dengan TIK lebih
dari 20 mmHg, terutama bila menetap.
Pada saat cedera, segera terjadi massa seperti gumpalan darah dapat terus
bertambah sementara TIK masih dalam keadaan normal. Saat pengaliran CSS dan
darah intravaskuler mencapai titik dekompensasi maka TIK secara cepat akan
meningkat. Sebuah konsep sederhana dapat menerangkan tentang dinamika TIK.
Konsep utamanya adalah bahwa volume intrakranial harus selalu konstan, konsep ini
dikenal dengan Doktrin Monro-Kellie.
Otak memperoleh suplai darah yang besar yaitu sekitar 800ml/min atau 16% dari
cardiac output, untuk menyuplai oksigen dan glukosa yang cukup. Aliran darah otak
(ADO) normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml per 100 gram
jaringan otak per menit. ADO dapat menurun 50% dalam 6-12 jam pertama sejak
cedera pada keadaan cedera otak berat dan koma. ADO akan meningkat dalam 2-3 hari
berikutnya, tetapi pada penderita yang tetap koma ADO tetap di bawah normal sampai
beberapa hari atau minggu setelah cedera.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
101
II. MEKANISME DAN PATOLOGI
Cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung atau tanpa benturan
langsung pada kepala. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal atau difus dengan atau
tanpa fraktur tulang tengkorak.Cedera fokal dapat menyebabkan memar otak,
hematom epidural, subdural dan intraserebral. Cedera difus dapat mengakibatkan
gangguan fungsi saja, yaitu gegar otak atau cedera struktural yang difus.
Dari tempat benturan, gelombang kejut disebar ke seluruh arah. Gelombang ini
mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar, akan terjadi kerusakan
jaringan otak di tempat benturan yang disebut “coup” atau ditempat yang
berseberangan dengan benturan (contra coup).
Gambar. Mekanisme cedera kepala
Lesi akselerasi - deselerasi
Gaya tidak langsung bekerja pada kepala tetapi mengenai bagian tubuh yang lain
tetapi kepala tetap ikut terkena gaya. Oleh karena adanya perbedaan densitas antara
tulang kepala dengan densitas yang tinggi dan jaringan otak dengan densitas yang lebih
rendah, maka jika terjadi gaya tidak langsung maka tulang kepala akan bergerak lebih
dahulu sedangkan jaringan otak dan isinya tetap berhenti, sehingga pada saat
tulang kepala berhenti bergerak maka jaringan otak mulai bergerak dan oleh
karena pada dasar tengkorak terdapat tonjolan-tonjolan maka akan terjadi gesekan
antara jaringan otak dan tonjolan tulang kepala tersebut akibatnya terjadi lesi
intrakranial berupa:
1
Hematom subdural, hematom intraserebral, hematom
intraventrikel, Contra coup kontusio. Selain itu gaya akselerasi dan deselerasi akan
menyebabkan gaya tarikan ataupun robekan yang menyebabkan lesi diffuse berupa:
Komosio serebri, diffuse axonal injury.
Perbedaan anatomis otak anak membuatnya lebih rentan daripada otak orang
dewasa untuk jenis cedera tertentu yang menyertai cedera kepala. Proporsi kepala anak
lebih besar dibanding dengan luas permukaan tubuh, dan stabilitasnya tergantung pada
ligamen daripada struktur tulang. Otak anak-anak memiliki kadar air yang lebih tinggi,
88% dibanding 77% pada orang dewasa, yang membuat otak lebih lembut dan lebih
rentan terhadap trauma akselerasi-deselerasi. Bayi dan anak-anak mudah menoleransi
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
102
peningkatan tekanan intrakranial (TIK) lebih baik karena memiliki sutura yang
terbuka. Perdarahan intrakranial mungkin terjadi sebagai hasil dari terpotongnya atau
robekan struktur vaskular.
2,11
Gambar .Pergeseran otak akibat akselerasi dan deselerasi
III. PATOFISIOLOGI
Gangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang dapat
menyebabkan heniasi jaringan otak melalui foramen magnum, sehingga jaringan otak
tersebut dapat mengalami iskhemi, nekrosis, atau perdarahan dan kemudian korban
dapat meninggal.Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa.
Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa, yang terjadi
karena berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena
aliran darah ke otak yang menurun, misalnya akibat syok.
IV. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis ditentukan berdasarkan derajat cedera dan lokasinya. Derajat
cedera dapat dinilai menurut tingkat kesadarannya melalui sistem GCS, yakni metode
EMV (Eyes, Verbal, Movement).
1. Kemampuan membuka kelopak mata (E)
• Secara spontan 4
• Atas perintah 3
• Rangsangan nyeri 2
• Tidak bereaksi 1
2. Kemampuan komunikasi (V)
• Orientasi baik 5
• Jawaban kacau 4
• Kata-kata tidak berarti 3
• Mengerang 2
• Tidak bersuara 1
3. Kemampuan motorik (M)
• Kemampuan menurut perintah 6
• Reaksi setempat 5
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
103
• Menghindar 4
• Fleksi abnormal 3
• Ekstensi 2
• Tidak bereaksi 1
V. PEMBAGIAN CEDERA KEPALA
Adapun pembagian trauma kapitis adalah:
• Simple head injury
• Commotio cerebri
• Contusion cerebri
• Laceratio cerebri
• Basis cranii fracture
Simple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera
kepala ringan.Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai
cedera kepala berat.Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat
pasien tiba di Rumah Sakit.
1. Simple Head Injury
Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan:
• Ada riwayat trauma kapitis
• Tidak pingsan
• Gejala sakit kepala dan pusing
2. Commotio Cerebri
Commotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung
tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan
jaringan otak.Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah
dan tampak pucat.
Vertigo dan muntah mungkin disebabkan lesi pada labirin atau
terangsangnya pusat-pusat dalam batang otak.Pada commotio cerebri mungkin
pula terdapat amnesia retrograde, yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang
terbatas sebelum terjadinya kecelakaan.Amnesia ini timbul akibat terhapusnya
rekaman kejadian di lobus temporalis. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat
adalah foto tengkorak, EEG, pemeriksaan memori.
3. Contusio Cerebri
Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di
dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata, meskipun
neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus. Hal penting untuk terjadinya
lesi contusi ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan
pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif.Akselerasi
yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala.Oleh karena itu, otak membentang
batang otak terlalu kuat, sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap
lintasan asendens retikularis difus. Akibat blokade itu, otak tidak mendapat input
aferen dan karena itu, kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung.
Timbulnya lesi contusio di daerah “coup”, “contrecoup”, dan
“intermediate coup” menimbulkan gejala defisit neurologik yang bisa berupa
refleks babinsky yang positif dan kelumpuhan UMN. Setelah kesadaran pulih,
penderita biasanya menunjukkan “organic brain syndrome”.
2,5
Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang
beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas, autoregulasi pembuluh darah
cerebral terganggu, sehingga terjadi vasoparalitis. Tekanan darah menjadi rendah
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
104
dan nadi menjadi lambat, atau menjadi cepat dan lemah. Juga karena pusat
vegetatif terlibat, maka rasa mual, muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul.
2
Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi
dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek.
4. Laceratio Cerebri
Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan
robekan piamater.Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan
subaraknoid traumatika, subdural akut dan intercerebral. Laceratio dapat
dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung.
Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan
oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed
terbuka. Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan
yang hebat akibat kekuatan mekanis.
5. Fracture Basis Cranii
Fractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior, fossa media dan fossa
posterior. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena.
Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala:
• Hematom kacamata (brill) tanpa disertai subconjungtival bleeding
• Epistaksis
• Rhinorrhoe
Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala:
• Hematom retroaurikuler, Ottorhoe
• Perdarahan dari telinga
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan foto roentgen basis kranii.
Komplikasi :
• Gangguan pendengaran
• Parese N.VII perifer
• Meningitis purulenta akibat robeknya duramater.
• Adanya cairan LCS yang bercampur darah. Kebocoran LCS dapat
diperiksa dengan “double ring” atau “halo sign”, yaitu jika setetes cairan
darah yang dicurigai mengandung LCS diletakkan diatas tissue/koran,
maka darah akan terkumpul ditengah dan sekitarnya terbentuk perembesan
yang membentuk cincin kedua.
Adapun pembagian cedera kepala lainnya:
• Cedera Kepala Ringan (CKR) → termasuk didalamnya Laseratio dan
Commotio Cerebri
o Skor GCS 13-15
o Tidak ada kehilangan kesadaran, atau jika ada tidak lebih dari 10
menit
o Pasien mengeluh pusing, sakit kepala
o Ada muntah, ada amnesia retrogad dan tidak ditemukan kelainan
pada pemeriksaan neurologist.
• Cedera Kepala Sedang (CKS)
o Skor GCS 9-12
o Ada pingsan lebih dari 10 menit
o Ada sakit kepala, muntah, kejang dan amnesia retrogad
o Pemeriksaan neurologis terdapat lelumpuhan saraf dan anggota
gerak.
• Cedera Kepala Berat (CKB)
o Skor GCS <8
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
105
o Gejalnya serupa dengan CKS, hanya dalam tingkat yang lebih
berat
o Terjadinya penurunan kesadaran secara progesif
o Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas.
VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hal yang dapat dilakukan pada pasien dengan trauma kapitis adalah:
1. CT-Scan
Untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek.
2. Lumbal Pungsi
Untuk menentukan ada tidaknya darah pada LCS harus dilakukan sebelum 6 jam
dari saat terjadinya trauma
3. EEG
Dapat digunakan untuk mencari lesi
4. Roentgen foto kepala
Untuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang tengkorak
VII. DIAGNOSA
Berdasarkan :Ada tidaknya riwayat trauma kapitis
Gejala-gejala klinis : Interval lucid, peningkatan TIK, gejala laterlisasi
Pemeriksaan penunjang.
VIII. KOMPLIKASI
Komplikasi jangka pendek :
1. Hematom Epidural
o Letak : antara tulang tengkorak dan duramater
o Etiologi : pecahnya A. Meningea media atau cabang-cabangnya
o Gejala : setelah terjadi kecelakaan, penderita pingsan atau hanya nyeri kepala
sebentar kemudian membaik dengan sendirinya tetapi beberapa jam kemudian
timbul gejala-gejala yang memperberat progresif seperti nyeri kepala, pusing,
kesadaran menurun, nadi melambat, tekanan darah meninggi, pupil pada sisi
perdarahan mula-mula sempit, lalu menjadi lebar, dan akhirnya tidak bereaksi
terhadap refleks cahaya. Ini adalah tanda-tanda sudah terjadi herniasi tentorial.
o Akut (minimal 24jam sampai dengan 3x24 jam)
º Interval lucid
º Peningkatan TIK
º Gejala lateralisasi → hemiparese
o Pada pemeriksaan kepala mungkin pada salah satu sisi kepala didapati
hematoma subgaleal.
o Pemeriksaan neurologis menunjukkan pada sisi hematom pupil melebar. Pada
sisi kontralateral dari hematom, dapat dijumpai tanda-tanda kerusakan traktus
piramidalis, misal: hemiparesis, refleks tendon meninggi dan refleks patologik
positif.
o CT-Scan : ada bagian hiperdens yang bikonveks
o LCS : jernih
2. Hematom subdural
o Letak : di bawah duramater
o Etiologi : pecahnya bridging vein, gabungan robekan bridging veins dan
laserasi piamater serta arachnoid dari kortex cerebri
o Gejala subakut : mirip epidural hematom, timbul dalam 3 hari pertama
Kronis : 3 minggu atau berbulan-bulan setelah trauma
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
106
o CT-Scan : setelah hari ke 3 diulang 2 minggu kemudian
Ada bagian hipodens yang berbentuk cresent.
Hiperdens yang berbentuk cresent di antara tabula interna dan parenkim otak
(bagian dalam mengikuti kontur otak dan bagian luar sesuai lengkung tulang
tengkorak)
Isodens → terlihat dari midline yang bergeser
3. Perdarahan Intraserebral
Perdarahan dalam cortex cerebri yang berasal dari arteri kortikal, terbanyak
pada lobus temporalis. Perdarahan intraserebral akibat trauma kapitis yang berupa
hematom hanya berupa perdarahan kecil-kecil saja. Jika penderita dengan
perdarahan intraserebral luput dari kematian, perdarahannya akan direorganisasi
dengan pembentukan gliosis dan kavitasi. Keadaan ini bisa menimbulkan manifestasi
neurologik sesuai dengan fungsi bagian otak yang terkena.
4. Oedema serebri
Pada keadaan ini otak membengkak.Penderita lebih lama pingsannya, mungkin
hingga berjam-jam. Gejala-gejalanya berupa commotio cerebri, hanya lebih berat.
Tekanan darah dapat naik, nadi mungkin melambat. Gejala-gejala kerusakan
jaringan otak juga tidak ada. Cairan otak pun normal, hanya tekanannya dapat
meninggi.
• TIK meningkat
• Cephalgia memberat
• Kesadaran menurun
Komplikassi jangka Panjang :
1. Gangguan neurologis
Dapat berupa : gangguan visus, strabismus, parese N.VII dan gangguan N. VIII,
disartria, disfagia, kadang ada hemiparese
2. Sindrom pasca trauma
Dapat berupa : palpitasi, hidrosis, konsentrasi berkurang, libido menurun, mudah
tersinggung, sakit kepala, kesulitan belajar, mudah lupa, gangguan tingkah laku,
misalnya: menjadi kekanak-kanakan, penurunan intelegensia, menarik diri, dan
depresi.
Gambar. Petunjuk Cedera Kepala
Kekerasan Benda Tumpul Pada Leher Dan Tulang Belakang
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
107
• Pada leher : perdarahan otot/ # tlg leher
º † :spasme laring, refleks vagal
= emfisema => asfiksia
• Pd tlg.belakang :
Kekerasan langsung :# / luksasi
Tdk langsung : # / dislokasi
• Pd Dada:
1.Mengenai tulang :
o a.tulang iga (transverse/obliq #)
= †: syok hematothoraks, pneumothoraks
o b.sternum: (costae 2-4)=> robekan pericardium/jantung
o c.skapula (jarang)
o d.klavikula :tdk menyebabkan kematian
2.Mengenai organ dalam dada : dpt trjadi lepas dr fiksasi,
crushed/contused,robek,pecah, laserasi krn #costae
o a.pericardium:robekan krn #costae/ sternum
o b.jantung & paru: lepas dr fiksasi, contusi,robek,pecah, laserasi
o c.Diafragma: kiri sring robek, krn kanan trlindung hepar
• Pd Perut
Umumnya trjadi: contusi, laserasi ,ruptur, lepas dr fiksasi
1.Organ parenkim
o a.hepar :kontusi, laserasi
o komplikasi ruptur : syok segera,internal bleeding, infeksi
o b.lien: ruptur bntuk Y,H / L
o keluhan: nyeri perut kiri atas,pucat,haus,nadi cpt,dyspne
o komplikasi: internal bleeding
o c.ginjal: retroperitoneal bleeding, luka rongga dlm:hematuri
o d.pankreas: tjd ruptur vertikal, † krn syok & perdarahan
o e.adrenal: kanan mdh trluka, umumnya luka brsama organ lain
2.Organ berongga
o a.lambung: trauma lokal hipokondria kiri=>kontusi,ruptur dinding
lambung.
o b.usus/duodenum: sering luka stinggi L2, bs ruptur jika penuh cairan
o c.kandung seni: jika penuh mudah ruptur
• Pelvis
Trauma=> Becken #
Misal: - jatuh dr ketinggian
- tergilas roda=> luksasi sakroiliaka,simpisiolisis, # Rr.os
pubis/sacrum
bisa disertai robekan perineum, scrotum,uretra,vagina & anus
Kekerasan Benda Tumpul Pada Anggota Gerak
1.Tulang & Sendi
a.kekerasan lsg: dislokasi, #, rusak hebat jaringan skitar
b.tdk langsung: bukan pd tempat kontak (ct.caput femur keluar dr acetabulum saat
trgilas mngenai tgh femur)
c.muscular action (jarang)
2.Mengenai Bagian Lunak
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
108
a.timbul luka lecet,memar,robek dlm brbagai derajat
b.gilasan roda mobil: avulsi, kekerasan yg hebat =>ekstremitas teramputasi dan hancur
Komplikasi fatal: syok, perdarahan,infeksi(osteomyelitis), trombose & embolisme
TRAUMA THERMIK
º Trauma thermik
1. Hyperthermis
2. Hypothermis
º Kematian karena luka bakar :
- Biasanya karena kecelakaan
- Sering pada orang tua dan anak-anak
- Dapat terjadi pada kasus pembunuhan dan bunuh diri
º Klasifikasi luka bakar :
1. Luka bakar thermis : Adalah kelainan akibat kontak permukaan luar dan dalam
dari tubuh dengan panas fisik
Penyebabnya :
- Luka bakar oleh panas kering (burns/dry heat), misal : sinar matahari, panas
api, benda padat yang panas
- Luka bakar oleh panas basah (scalds/moist heat)
2. Luka bakar kimia
3. Luka bakar listrik
Hyperthermis
º Korban dengan luka bakar akan mengalami beberapa kemungkinan :
1. Sembuh tanpa bekas : bila luka bakarnya hanya berupa erythema /vesikel yang
tanpa disertai kerusakan jaringan bawah kulit
2. Sembuh dengan bekas (jaringan parut) : bila luka bakar disertai kerusakan seluruh
tebal kulit disertai kerusakan jaringan bawah kulit
3. Berakhir dengan kematian
Perubahan yang terjadi pada korban luka bakar :
º Panas ¬ permeabilitas kapiler darah ¬ cairan intraseluler keluar ke interstitial.
- 1% luka bakar ¬ cairan tubuh yang keluar ke interstitial 0,5-1%
blood volume
- Bila blood volume hilang 20% ¬ terjadi cardiac failure ¬ shock
- Pengeluaran cairan tubuh terbanyak pada 6-8 jam pertama
- Insensible water loss
- komposisi cairan bulla hampir sama cairan plasma
º Eritrosit ¬ rapuh dan pecah karena panas
º Akut renal failure karena : shock, timbunan Hb, dan pecahnya eritrosit
º Cortison release meningkat
º Dapat terjadi curling ulcers pada lambung, akut dilatasi/paralise usus
º Neurogenic shock karena nyeri hebat
º Asfiksia akibat edem laring akibat terhirup udara sangat panas
º Keracunan akut gas CO atau gas toksik lain ¬ anoksia ¬ mati lemas
Gradasi luka bakar
Ditentukan oleh :
1. Luas daerah yang terbakar
2. Tinggi rendahnya temperatur /panas yang membakar tersebut
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
109
3. Lamanya kontak dengan kulit
No. 2 dan 3 menentukan dalamnya luka bakar
Rule of Nine untuk menentukan luasnya luka bakar :
Permukaan kepala dan leher 9%
Permukaan dada 9%
Permukaan punggung 9%
Permukaan perut 9%
Permukaan pinggang 9%
Permukaan ekstremitas atas kanan 9%
Permukaan ekstremitas atas kiri 9%
Permukaan ekstremitas bawah kanan 9%
Permukaan ekstremitas bawah kiri 9%
Permukaan alat kelamin 1%
Tingkatan dalamnya luka bakar menurut Boyler (1814) :
Tingkat I : hanya mengenai epidermis
Tingkat IIA : superfisial, mengenai epidermis dan lapisan atas corium
Tingkat IIB : dalam, mengenai epidermis dan lapisan dalam corium
Tingkat III : mengenai seluruh tebal kulit, subcutan, otot dan tulang
Tabel. Derajat dalamnya luka bakar
Tingkat luka bakar Klinis Tusukan
jarum
I Hiperemia Hiperestesi
IIA Basah, Bulla (+) Hiperestesi
IIB Basah, Bulla , keputihan Hiperestesi
III Kering, putih, hitam Anestesi
Gradasi luka bakar menurut American College of Surgeon :
º Kritis
a. Anak-anak : - luka bakar Tk II > 15%
- luka bakar Tk III > 10%
b. Dewasa : - luka bakar Tk II > 30%
- luka bakar Tk III > 10%
c. Luka bakar Tk III pada tangan, kaki, wajah, atau yang memberi
komplikasi pada tractus respiratorius atau ada fraktur tulang
º Sedang
a. Anak-anak : - luka bakar Tk II (10-15%)
- luka bakar Tk III (2-10%)
b. Dewasa : - luka bakar Tk II (15-30%)
- luka bakar Tk III (2-10%)
º Ringan
a. Anak-anak : - luka bakar Tk II < 10%
- luka bakar Tk III <2%
b. Dewasa : - luka bakar Tk II < 15%
- luka bakar Tk III <2%
Pemeriksaan Kematian Pada Korban Luka Bakar
º Pemeriksaan TKP
Tujuan :
a. Menentukan korban masih hidup/sudah meninggal
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
110
b. Menentukan perkiraan saat kematian
c. Menentukan sebab/akibat dari luka bakar
d. Membantu mengumpulkan barang bukti
e. Menentukan cara kematian
º Menentukan apakah korban masih hidup/sudah meninggal ¬ alat yang digunakan
stetoskop dan senter
º Menentukan perkiraan saat kematian, data yang diperlukan :
1. penurunan suhu tubuh
2. lebam mayat
3. kaku mayat
4. tanda-tanda pembusukan
5. umur larva pada jenazah yang sudah membusuk
Pada luka bakar yang dalam dan total, terdapat kesukaran memperoleh data pada :
Sikap puguilistik pada luka bakar total
Lebam mayat sulit ditentukan pada korban yang hangus terbakar
¬ Perlu diketahui jam ditemukan korban meninggal dan jam terakhir korban
terlihat hidup
º Menentukan sebab/akibat dari luka bakar :
1. Luka bakar oleh cairan (scalds)
- Derajat I : berupa kemerahan (hiperemia)
- Derajat II : berupa gelembung berair (vesikula)
¬ disebabkan : siraman air panas, cipratan minyak panas
2. Luka bakar panas (dry heat)
¬ Dapat disebabkan : tersentuh botol panas, terjilat nyala api, pakaian
korban yang terbakar, kejadian kebakaran besar
º Membantu mengumpulkan barang bukti :
o Barang bukti di sekitar lokasi korban diperlukan untuk mengungkapkan lokasi,
sumber, penyebab luka bakar. Dapat juga dinilai dari posisi korban pada waktu
ditemukan dan bagian yang terkena luka bakar.
o Barang bukti dapat berupa : puntung rokok, kompor yang meledak, tangki
bensin yang mudah terbakar, termos, sumber uap panas.
º Cara kematian pada luka bakar
Perlu diperhatikan beberapa hal :
1. Penyakit-penyakit yang mungkin menyebabkan kecelakaan, misal :
epilepsi, hipertensi
2. Keadaan barang-barang di sekitar korban, misal : pada kasus bunuih diri
barang-barang di sekitar korban tidak berantakan
3. Adanya tanda-tanda kekerasan lain selain luka bakar, misal : luka-luka
akibat benda tajam/tumpul yang mungkin terjadi sebelum terbakar.
SEBAB KEMATIAN PADA LUKA BAKAR
1. Syok (hipovolemik maupun neurogenik
2. Infeksi
3. Akut Renal Failure
4. Edema laring
5. Keracunan akut gas CO atau gas-gas toksik yang lain
IDENTIFIKASI KORBAN
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
111
- Dilaksanakan pada pemeriksaan TKP maupun pada waktu pemeriksaan jenazah
- Data korban : tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, umur, warna kulit, warna
mata dan rambut
- Tanda pengenal khusus pada tubuh : jaringan parut, tatto
- Simpan potongan kain yang tidak terbakar
- Catat dan simpan barang pribadi milik korban
- Kumpulkan sampel rambut yang tidak terbakar
- Buat pemeriksaan gigi dan bila mungkin buat sidik jarinya
- Buat pemeriksaan radiologik
- Tentukan golongan darah
OTOPSI PADA KORBAN YANG MENINGGAL KARENA LUKA BAKAR
THERMIK
º Pemeriksaan Luar
a. Kulit : keadaan luka, luas luka, dalam luka
Tanda-tanda reaksi vital: daerah yang berwarna merah pada perbatasan antara
daerah yang terbakar
b. Heat Stiffening
Ditemukan kekakuan pada otot-ototnya ¬ koagulasi protein-protein otot yang
terkena panas
Tidak terjadi rigor mortis
Fleksi pada sensi siku, lutut, paha ¬Pugillistic attitute
c. Lebam Mayat : sukar dilihat
OTOPSI PADA KORBAN YANG MENINGGAL KARENA LUKA BAKAR
THERMIK
Pemeriksaan Dalam
Tidak ditemukan kelainan yang spesifik
º Sistem Pernafasan :
- Makroskopis : paru menjadi lebih berat dan mengalami konsolidasi
- Kelainan yang sering : edema laringopharing, tracheobronchiolitis,
pneumonia, kongesti paru, edema paru interstitial, ptechiae pada pleura,
adanya pigmen karbon yang melekat pada mukosa saluran nafas
º Jantung : edema interstitial dan fragmentasi miokardium ¬ tidak khas
º Hati : perlemakan hati, bendungan, nekrosis, hepatomegali ¬ tidak khas
º Limpa dan kelenjar getah bening : edema dan nekrosis dari limfoid germinal
centre dan infiltrasi makrofag
º Ginjal : tidak terpengaruh langsung, perubahan yang terjadi akibat dari
komplikasinya Luka bakar fatal ¬ pembesaran ginjal
º Saluran Pencernaan : Curling’s ulcer yang kadang mengalami perforasi
º Kelenjar endokrin
º Thyroid : Berat & aktifitas kelenjar thyroid meningkat
º Thymus : involusi akibat hiperaktifitas kelenjar adrenal
º Adrenal : kenaikan kadar steroid dalam darah dan urin, penimbunan lemak,
bendungan sinusoid pada korteks dan medulla
º Susunan Saraf Pusat
Edema, kongesti, kenaikan tekanan intrakranial, herniasi dari tonsilla serebellum
melewati foramen magnum serta adanya perdarahan intrakranial
º Sistem muskuloskeletal
o Otot, tendo, tulang ¬ jarang terpengaruh
º Fraktur patologis
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
112
HYPOTHERMIS
º Sistemik Hypotermi
º Lokal Hypothermi
Pada hypothermy terjadi:
- Penurunan denyut nadi
- Respiratory rate & tidal volume menurun
- Paralisis usus
- Erosi dan hemoragik pada lambung
- Pankreatitis
- Diuresis
- Hemokonsentrasi
RESUME
Patologis forensik juga disebut penentu cara kematian. Cara kematian diartikan
sebagai gaya dalam terjadinya sebab kematian. 4 cara kematian yaitu alamiah,
kecelakaan, bunuh diri/suicide dan homicide.
Sebab kematian adalah penyakit atau cedera atau luka yang dimulai serangkaian
kejadian yang bertanggung jawab dalam menyebabkan kematian
Mekanisme kematian adalah gangguan atau kelainan fisiologik dan atau biokimia
yang bertanggung jawab terhadap timbulnya kematian.
Trauma penyebab kematian dikelompokkan jadi trauma mekanik, kimiawi,
suhu/fisik, listrik.. Trauma mekanik dibagi kategori tajam dan tumpul. Trauma tumpul
dibagi senjata api dan bukan senjata api. Trauma senjata api dapat dibagi kecepatan
rendah dan kecepatan tinggi. Trauma bedah dibagi trauma penetrasi atau bukan penetrasi.
Trauma penetrasi mencakup luka tembak dan luka tusuk. Trauma bukan penetrasi primer
kecelakaan motor atau terjatuh.
Trauma mekanik
Cedera kekerasan tajam
Trauma mekanik terjadi saat kekerasan fisik melebihi kekuatan regangan
jaringan/kulit saat kekerasan terjadi. Kekerasan tajam menunjukkan cedera dari benda
tajam seperti pisau, pedang, kapak. Factor penting yang benar adalah objek tumpul
menghasilkan laserasi dan objek tajam menghasilkan luka insisi. Sebagai catatan lagi luka
tajam pinggir/tepi luka yang membedakan dengan cedera yang dihasilkan objek tumpul.
Kematian dari trauma tumpul dan tajam melalui berbagai mekanisme, tapi trauma tajam
umumnya menyebabkan kematian dengan perdarahan luar. Artinya pembuluh darah
utama arteri pada jantung harus mengalami kerusakan yang hebat sehingga dapat
menyebabkan kematian akibat trauma tajam.
Trauma tumpul
Trauma tumpul dapat menyebabkan kematian umumnya apabila pada jaringan
otak terdapat kerusakan yang jelas. Namun, trauma tumpul dapat merobek jantung dan
pembuluh aorta, yang menyebabkan perdarahan hebat, atau menghasilkan komplikasi
lainnya.
Luka tembak
Senjata api akan menghasilkan jenis luka tumpul yang khusus. Luka akibat senjata
api adalah luka umum yang terdapat pada kasus pembunuhan dan bunuh diri pada negara
Amerika Serikat. Luka tembak bisa digolongkan berdasarkan bahan yang digunakan
untuk melontarkan peluru. Bahan yang umum digunakan adalah bubuk mesiu dan bubuk
tanpa asap (nitroselulosa). Namun, penggunaan bubuk mesiu sangat jarang terlihat,
karena itu bahan tanpa asap yang sering digunakan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
113
Perbedaan lainnya yang dapat dilihat adalah senjata laras panjang dan laras
pendek. Kebanyakan kasus kematian didapatkan pada senjata laras panjang – rifle atau
handgun--. Senjata antik atau shotgun digolongkan pada jenis senjata laras pendek.
Luka bisa dibedakan atas dasar lingkar tengah dari proyektil atau peluru.
Umumnya kombinasi dari ukuran metrik dan Inggris digunakan untuk membedakan jenis
senjata yang digunakan.
Lebih penting lagi, berdasarkan luka yang dihasilkan, adalah kecepatan dari
proyektil peluru. Kerusakan luka tembak akan bertambah sebagaimana kecepatan peluru
bertambah. Karena itu, terdapat perbedaan kuantitatif antara proyektil berkecepatan tinggi
dengan proyektil berkecepatan rendah. Titik potong antara kecepatan tinggi dan rendah
berkisar 300 meter per detik.
Jenis penggolongan yang lain dari luka senjata api ialah dari kemampuan peluru
untuk memberi luka tembus atau luka tidak tembus. Suatu luka yang tidak tembus akan
mempunyai satu luka masuk dan tidak memiliki luka keluar. Sesuai dengan hal ini adalah
peluru harus ditemukan dari setiap luka tak tembus. Suatu luka tembus akan memiliki
luka masuk peluru dan luka keluar. Sejalan dengan hal ini maka tidak akan ditemukan
peluru di dalam tubuh.
Ketika suatu senjata ditembakkan, tenaga yang melontarkan peluru adalah gas
yang dihasilkan dari pembakaran cepat dari bubuk mesiu atau bubuk tanpa asap. Dalam
hal ini disinggung hanya bubuk tanpa asap, karena bubuk mesiu jarang digunakan. Untuk
menyalakan bubuk tanpa asap, adalah penting untuk mempunyai media pencetus awal
yang menyalakan api. Pada semua selongsong peluru kecuali pada senjata dengan kaliber
22 (juga disebut senjata api rim karena media pencetusnya terdapat pada sekeliling
selongsong), pemantik awal adalah sebuah mangkuk kecil yang terdapat pada bagian
dalam belakang selongsong. Menghantam (atau memanaskan) media ini akan menyalakan
api, dan kemudian akan membakar bubuk tanpa asap. Proses pembakaran yang cepat akan
menghasilkan sejumlah besar karbon monooksida, nitrogen dioksida, karbon dioksida dan
gas lainnya.
Seberapa jauh masing-masing komponen akan terlontar adalah dasar untuk
menentukan jarak dari laras senjata dengan korban saat senjata api ditembakkan. Produk
gas, termasuk logam berat, dan sejumlah asap dari gas karbon yang tidak terbakar, akan
terlempar hanya beberapa inchi. Efek dari gas akan menghasilkan apa yang disebut
dengan luka kontak langsung dan tidak kontak. Yang terlihat dari penghitaman kulit.
Sebagai tambahan, kulit akan menunjukkan variasi luka robekan karena gas yang
mengenai kulit akan merusak jaringan kulit. Terakhir, karbon monooksida akan bereaksi
dengan hemoglobin dan myoglobin pada luka yang menghasilkan karboksihemoglobin
dan karboksimyoglobin. Senyawa ini akan berwarna merah terang, dibandingkan dengan
warna merah gelap dari hemoglobin dan myoglobin yang normal.
Sebagaimana jarak antara laras dengan kulit bertambah jauh, efek dari gas akan
berkurang dan hanya bubuk yang tidak terbakar dan peluru yang mampu menembus kulit.
Bubuk yang tidak terbakar yang menembus kulit akan menghasilkan semacam tatto atau
klem pada sekitar luka peluru. Luka jenis ini disebut luka tembak dengan jarak
intermediat. Kebanyakan pistol akan menghasilkan klem ini ketika jarak kulit pada laras
sekitar setengah sentimeter sampai satu meter. Pola luka akan membesar saat jarak
bertambah jauh. Pada jarak satu meter, kecepatan bubuk akan melambat sehingga tidak
mampu untuk menembus kulit. Kecepatan 100 meter per detik merupakan kecepatan
umum yang dibutuhkan untuk menghasilkan penetrasi.
Luka dengan jarak tembak yang jauh sedikit mendapat efek dari gas dan bubuk.
Karena luka tembak dengan jarak yang jauh sangat sedikit menimbulkan efek selain dari
efek akibat peluru, jarak tembak susah ditentukan karena pakaian dan benda lain dan
menghalangi efek dari gas dan bubuk. Luka tembak jauh akan sedikit terdapat asap, jelaga
dan klem. Suatu luka tembak jarak jauh yang umum akan memiliki defek kulit yang
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
114
melingkar dan tanda mengelupas di sekitar sisinya. Lingkar tengah dari defek kulit akan
menunjukkan lingkar tengah dari peluru yang digunakan, tapi hal ini tidak selalu nyata
karena terdapat perbedaan kecil antara diameter peluru yang umum digunakan oleh
masyarakat sipil. Peluru memiliki berbagai jenis ukuran dari 0,22 inchi sampai 0,45 inchi.
Perbedaan 0,2 inchi tidak mudah untuk dilihat oleh pengamat.
Faktor utama yang menentukan ukuran luka tembak masuk jarak jauh adalah
elastisitas dari kulit. Kulit orang yang lebih muda lebih elastis dari pada kulit orang yang
lebih tua. Kulit yang elastis kerusakannya akan lebih kecil. Luka oleh caliber 0,38 inchi
pada orang berusia 20 tahun mungkin akan terlihat sama pada luka oleh caliber 0,22 atau
0,25 inchi pada orang berusia 50 tahun. Secara jelas, untuk memastikan kaliber senjata
dari luka kontak tidak mungkin, karena jenis luka sedikit hubungannya dengan jenis
kaliber dalam merobek kulit.
Luka tembak keluar tipe lukanya berupa luka laserasi. Meskipun dalam ilmu
konvensional menyatakan bahwa luka tembak keluar lebih besar dari luka tembak masuk,
namun ini tidak selalu terjadi, sebagaimana dapat terlihat, luka kontak lebih besar dari
pada luka keluar.
Perkiraan kecepatan sebuah peluru keluar bisa dilihat dari tampilan pada luka
tembak keluar. Luka tembak keluar yang tampak kecil dan berbentuk celah dan memiliki
sedikit laserasi kecil pada daerah sekitar memiliki kecepatan yang lambat dan peluru
biasanya akan ditemukan di dekat badan mayat (atau bahkan di pakaian). Sebaliknya, luka
tembak keluar dengan banyak laserasi pada daerah sekitar memiliki kecepatan yang tinggi
; senjata dengan kecepatan tinggi biasanya ditemukan pada militer dan pemburu dengan
senjata panjang.
Luka tembak keluar akan terlindungi atau terhalau jika korban tembak
mengenakan pakaian ketat konstriktif seperti jaket kulit tebal atau pakaian yang terbuat
dari kain tenunan ketat, atau terdapat bahan seperti dinding kering yang dapat ditembus
peluru keluar yang akan melindungi kulit. Dihalaunyaluka tembak keluarakan terlihat
seperti luka tembak masuk. Lihat Gambar 4.10 yang cukup mewakili fenomena ini.
Sering, tepi abrasi lebih luas dari pada yang biasanya terlihat pada luka tembak masuk;
hal ini dapat membantu dalam membedakan dua jenis lukatembak. Penting untuk catatan
bahwa luka tembak masuk memilki gambaran unik jika luka tembak masuk dihalangi atau
dihalau. Luka tembak masuk akandihalau oleh jaringan lunak dan tulang; itulah sebabnya
tepi abrasi muncul di sekitar luka tembak masuk. Kulit ditekan untuk beberapa waktu
sebelum peluru menembus bahan menopang, kemudian hidung peluru menggarut kulit.
Jika kulit tidak terlindungi, maka peluru akan merobek kulit dan abrasi tidak terjadi.Hal
tersebut Ini khas pada kasus luka tembak keluar.
Perlindungan luka tembak keluar dan masuk dengan target pertengahan biasanya
tidak yang hanya dapat dilihat. Penting bentukan segi empat panjang dari luka tembak
masuk. Luka tembak masuk secara umum berbentuk lingkaran ketika peluru ditembakkan
dari senapan, karena peluru memutar dengan cepat pada aksis 90 derajat dari tujuannya,
bergerak melalui udara menuju titik pusat arah dari gerakannya.
Perputaran menyebabkan luka tembak masuk pada peluru menjadi bentuk
lingkaran atau mungkin lonjong jika peluru mengenai kulit pada sudut selain 90 derajat.
Jika peluru memasuki bagian tubuh, seperti yang ditunjukkan pada peluru dapat goyang.
Peluru tidak goyang ketika ditembakkan dari senjata yang dibuat dari barel. Peluru akan
goyang jika melewati medium yang lebih pekat daripada udara. Meskipun demikian,
peluru yang memantul atau melewati orang lain sebelum mengenai orang kedua akan
goyang. Jika pada saat masuknya peluru seperti penembakan langsung, itu akan
menghasilkan bentuk peluru tembak masuk. Peluru tembak keluar memiliki pengertian
bahwa hal itu disebabkan oleh peluru yang melewati seseorang.
Luka pada peluru disebabkan karena pembentukan lubang yang sementara saat
peluru melewati tubuh seseorang, kolapsnya lubang, dan gelombang shock pada
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
115
pembentukan kolaps. Ketika sebuah peluru mengenai seseorang, ia akan bergerak lebih
cepat daripada kecepatan saat berada di jaringan, sehingga hal itu akan mendorongnya
keluar. Jaringan yang cedera akan memecahkan poin, namun tidak pecah. Ini hanya pecah
pada kecepatan yang lebih lambat daripada perjalanan peluru. Pada kasus kecepatan
tinggi pada senjata api yang panjang dimana keceptannya 1000 meter per detik, peluru
akan melewati tubuh seluruhnya sebelum terjadi proses kerusakan.
Peningkatan kecepatan proyektil dapat menghasilkan jelaga pada luka masuk dan
efek karbon monooksida pada luka keluarnya. Untungnya, untuk menentukan arah,
perubahan ini terdapat pada bagian dalam dari luka keluar. Ketika jaringan akhirnya
terkoyak, jaringan ini akan tertarik menuju kembali menuju tempat luka di mana peluru
masuk dan dibelakangnya dikarenakan adanya elastisitas jaringan dalam menerima peluru
berkecapatan tinggi. Retraksi ini akan menciptakan cavitas sementara yang besarnya akan
setingkat dengan energi kinetik dari peluru. Cavitas kemudian akan secara bertahap
kolaps setelah meregang beberapa kali. Adanya saluran dari gelombang dan kolaps
cavitas sementara akan merusak jaringan di tempat di mana peluru masuk dan di jaringan
sekelilingnya. Besarnya kerusakan yang ada tergantung dari organ yang ada, tapi bahkan
untuk peluru pistol yang relatif lambat, diperkirakan, umumnya, tiga kali dari diameter
peluru. Untuk peluru dari senjata berkecepatan tinggi, besarnya kerusakan mungkin dapat
sepuluh kali lebih besar dari diameter peluru.
Kerusakan jantung akan menyebabkan penurunan drastis tekanan darah yang
terjadi seketika, dan menurunkan perfusi ke otak. Namun, otak masih akan berfungsi
selama 10 sampai 15 detik setelah kehilangan perfusi. Karena itu, seseorang masih masih
dapat menusukan ujung pisau bayonetnya kepada lawannya di dalam 10 sampai 15 detik
setelah ditembak di dadanya. Sebuah luka tembak pada organ yang kurang vital akan
lebih memberikan banyak waktu. Karena itu, konsep dari “stopping power” tidak selalu
tepat. Setiap janis senjata api mempunyai “stoppong power” jika digunakan untuk
menembak seseorang di kepala. Sebaliknya semua jenis senjata api tidak akan memiliki
“stopping power” jika ditembakkan pada bagian selain kepala.
Trauma tumpul lainnya
Contoh trauma tumpul lainnya yang paling sering terdapat pada masyarakat
adalah tabrakan dengan media transportasi, umumnya dengan kendaraan bermotor.
Kematian yang terjadi dari kejadian tersebut umumnya digolongkan dalam kecelakaan.
Jarang kasus tabrakan masuk dalam jenis pembunuhan ataupun bunuh diri.
Umumnya, dengan mengecualikan luka tembak, trauma tumpul pada pembunuhan
pada orang dewasa memerlukan luka yang bersifat mematikan pada kepala. Luka pada
daerah lain jarang menghasilkan kematian. Pada anak-anak, jejas mematikan umumnya
karena trauma kepala, tapi trauma dada dan abdomen dengan adanya robekan dari organ
dalam, seperti limfa, hati dan jantung juga sering ditemui.
Dua istilah lainnya perlu dipelajari. Pertama adalah kontusio. Suatu kontusio
adalah pengumpulan darah pada jaringan di luar jaringan vaskular darah. Umumnya
dikarenakan trauma tumpul yang merusak jaringan cukup hebat untuk menyebabkan
kebocoran darah dari pembuluh darah yang kecil. Suatu konsep penting bahwa pola dari
benda yang digunakan untuk menghantam bisa didapat pada orang yang dihantam. Pola
luka semacam itu penting untuk menentukan tipe benda yang digunakan sebagai senjata.
Istilah penting kedua lainnya ialah hematom. Hematom adalah tumor darah. Hema
berasal dari kata heme, bahasa Latin untuk darah, dan toma adalah bahasa Latin untuk
tumor. Hemtom adalah kontusio dengan lebih banyak darah. Secara khusus, trauma
tumpul pada kepala sering menimbulkan hematom, dikenal dengan istilah “telur angsa”.
Trauma kimia
Kematian dari trauma ini meliputi kematian yang dihasilkan dari penggunaan obat
dan racun. Obat yang umum ditemukan dalam praktisi forensik jarang membunuh secara
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
116
langsung, namun berperan dalam sebagai 5% faktor kontribusi dalam trauma kematian.
Obat itu adalah etil alkohol, yang juga disebut ethanol. Ethanol merupakan bahan aktif
dalam bir, anggur, dan minuman yang diawetkan. Ethanol mungkin obat dengan sejarah
penyalahgunaan obat terlama, dan merupakan jenis obat yang sering disalahgunakan pada
zaman sekarang. Alkohol merupakan bahan yang diharamkan oleh agama Islam dan
beberapa kepercayaan Kristiani, tapi pelarangan tidak cukup kuat untuk menghilangkan
alkohol sebagai agen penyebab pada kebanyakan luka trauma.
Alkohol juga dapat membunuh secara langsung. Obat ini merupakan salah satu
pendepresi sistem saraf pusat; bekerja dengan memperlambat reaksi dan komunikasi dari
otak menuju neuron batang otak. Pada kadar rendah intoksikasi, kurang dari 0,03 gram
persen dari kadar alkohol darah, seimbang dengan 330 mililiter bir dengan kandungan
ethanol 5 %, kebanyakan orang akan menyadari akan adanya peningkatan dari waktu
reaksi, mungkin dikarenakan perlambatan dari neuron inhibisi. Pada kadar konsentrasi
alkohol darah lebih dari 0,03 gram persen, menunjukkan adanya penurunan fungsi otak
dan perlambatan waktu reaksi. Pada kadar 0,25 gram persen, seseorang yang belum
pernah terekspos dengan ethanol sebelumnya akan menuju status koma jika tidak
dirangsang. Rangsangan akan memicu kembalinya sejumlah kesadaran. Pada kadar
alkohol darah sekitar 0,30 gram persen, orang tersebut akan masuk dalam koma yang
dalam. Dia tidak akan bisa diintervensi dan akan bernafas cukup pendek untuk kemudian
akan meninggal. Kematian akibat kurangnya oksigen bisa dihasilkan oleh overdosis
alkohol. Kematian semacam ini jarang terjadi, dikarenakan sesorang yang tidak pernah
terekspos alkohol akan mulai muntah saat kadar alkhohol darahnya sekitar 0,10 gram
persen dan absorpsi lebih lanjut akan terhenti. Kematian karena overdosis alkohol
umumnya didapat pada suatu kontes di mana peserta harus meminum minuman keras
sebanyak banyak nya. Dengan jumlah besar alkohol, reflek muntah dapat ditekan sebelum
terinisiasi, memicu pada kematian.
Jumlah yang disebutkan di atas untuk penyalahgunaan dari alkohol. Orang yang
mengkonsumsi alkohol dan kebanyakan obat terlarang lainnya membentuk semacam
toleransi yang menyebabkan efek alkohol dalam obat menghilang dalam kadar tertentu.
Sebagai contoh, seseorang dengan konsentrasi alkohol darah lebih dari 0,30 gram persen
sering terlihat pada pengemudi kendaraan.
Penyalahgunaan obat lain selain alkohol menghasilkan kematian umumnya
melewati mekanisme yang sama. Obat semacam ini contohnya barbiturat, diazepam, dan
opiat. Obat ini menghasilkan peningkatan derajat koma diikuti dengan penghentian nafas
dan kematian yang bertahap. Mariyuana adalah sebuah pengecualian untuk
penyalahgunaan obat. Mariyuana tidak menghasilkan kematian lewat suatu proses
overdosis. Kokain merupakan pengecualian lainnya. Kokain merupakan stimulan sistem
saraf pusat. Kematian karena kokain lebih jarang dibandingkan dengan kematian oleh
obat depresan. Pada dosis tinggi, kokain menghasilkan kejang, peningkatan suhu tubuh
yang tajam, dan detak jantung yang tidak terkontrol adalah kumpulan mekanisme
keracunan kokain yang telah dilaporkan dapat memicu kematian.
Walau bukan jenis penyalahgunaan obat, karbon monooksida merupakan senyawa
kimia umum yang menghasilkan kematian. Merupakan suatu senyawa tidak berbau,
berwarna, gas hasil proses pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang
mengandung karbon. Kematian karena CO mungkin karena kecelakaan, bunuh diri dan
pembunuhan.
Sianida merupakan senyawa yang serupa dengan CO melalui intervensinya
dengan oksigenasi otak, bekerja langsung pada enzim mitokondria pada otak. Sianida
terdiri dari karbon dan nitrogen. Seperti CO, sianida juga dapat dihasilkan oleh proses
pembakaran, tapi efeknya dalam menghasilkan kematian tidak begitu berperan. Sianida
umumnya terdapat pada bentuk garam natrium dan potasium yang digunakan secara luas
pada industri pengelatan dan pemurnian logam. Sianida mempunyai bau yang khas.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
117
Baunya seperti kacang almond dan adapat dideteksi dalam jumlah yang sedikit seperti
satu bagian per sejuta atau 0,00001 persen oleh orang yang telah ahli dalam melacak
sianida. Sayangnya, tidak sebanyak 50 persen dari populasi yang mampu mencium
sianida. Patologis forensik mampu mencium sianida atau memperkerjakan seseorang yang
mampu menciumnya. Seorang patologis yang membuka rongga perut dari korban yang
melakukan bunuh diri dengan menelan potasium sianida dapat terbunuh oleh adanya gas
yang dilepaskan.
Trauma suhu
Kontak dengan panas yang berlebihan ataupun dingin dapat menghasilkan
kematian. Hipotermia merupakan suhu\dingin yang berlebihan;hipertermia adalah panas
yang berlebihan. Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian melalui kerusakan
pada mekanisme normal yang menjaga suhu tubuh sekitar 37 derajat celcius. Dalam
kedua jenis kematian, beberapa tanda-tanda nyata dapat ditemukan pada autopsi untuk
memberikan diagnosis pasti yang menyebabkan kematian. Ketidaadaan permintaan
diagnosis pada penyebab lain kematian pasangan dengan riwayat terpapar pada
lingkungan baik hipertemia maupun pada hipotermia diharapkan.
Kematian akibat hipotermia umumnya terjadi pada individu yang mabuk alkohol
dan terkena suhu dingin. Suhu udara hanya 5 derajat celcius (41 derajat Fahrenheit) telah
dilaporkan menyebabkan kematian akibat hipotermia. Keracunan alkohol mengurangi
respon terhadap dingin dengan meningkatkan hilangnya panas tubuh karena dilatasi
pembuluh darah di permukaan tubuh.
Kematian akibat hipertermia umumnya terjadi pada orang tua di kota-kota utara
dan pada bayi tertinggal di parkir mobil akibat gelombang panas. Kemampuan untuk
mempertahankan homeostasis menurun pada usia lanjut. Pemanasan dilakukan pada
hipotermia dan kematian sering tidak terlihat di populasi orang usia lanjut, meskipun
kelompok ini adalah rentan. Namun, di negara-negara utara, unit dweling tua sering
kekurangan AC, dan gelombang panas sering dikaitkan dengan sejumlah besar kematian
orang tua. Anak kecil yang yang berada di mobil yang tertutup sangat rentan terhadap
hipertermia. Suhu di dalam sebuah mobil di bawah sinar matahari dapat melebihi 60
derajat celcius (140 derajat Fahrenheit) dan dapat berakibat fatal pada 10 menit.
Luka bakar termal disebabkan oleh hipertermia lokal. Secara umum, suhu di atas
65 derajat celcius (150 derajat Fahrenheit) akan menghasilkan luka bakar termal pada
kontak langsung dengan obyek selama beberapa menit. Kematian akibat panas terjadi
dalam berbagai situasi, dari paparan cairan panas untuk luka bakar maupun dari
hidrokarbon. Kematian akibat luka bakar biasanya tidak langsung terjadi dan timbul dari
komplikasi setelah perawatan medis. Mekanisme kematian umumnya kegagalan organ
multipel.
TRAUMA ELEKTRIK
Aliran listrik melalui seseorang dapat menghasilkan kematian oleh sejumlah
mekanisme yang berbeda. Jika rangkaian arus bolak balik (AC) pada tegangan rendah (di
bawah 1000 volt) melintasi jantung, maka akan mengalami fibrilasi ventrikel, bergetar
secara nonpropulsive kemudian tidak dapat diresusitasi dalam beberapa menit. Fibrilasi
jantung karena AC bertindak sebagai alat pacu jantung. AC di Amerika alternatif dari
positif ke negatif 3.600 kali per menit (2500 kali per menit di Eropa). Fibrilasi ventrikel
menghasilkan sekitar 300 quivers per menit,. tegangan rendah mungkin atau tidak
menghasilkan listrikTerbakar, tergantung lamanya paparan dengan sirkuit. Paparan dalam
waktu yang lama diperlukan untuk menghasilkan suatu luka bakar.
ASFIKSIA
Klasifikasi trauma mekanik terbatas pada kematian karena asfiksia tumpang tindih
dengan sebab lain, kematian karena asfiksia disebabkan gangguan oksigenasi di otak.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
118
Asfiksia ini dapat terjadi dari sebab mekanik (strangulasi), sebab kimiawi (racun sianida),
sebab listrik (listrik tegangan rendah)
Tenggelam adalah kematian akibat sesak napas dari perendaman di dalam air atau
cairan lain. Beberapa kematian akibat terendam terjadi bukan akibat asfiksia namun
karena hipotermi. Paparan pada seseorang dengan suhu air di bawah 20 derajat celcius (68
derajat Fahrenheit) akan mengakibatkan kematian akibat hipotermia setelah paparan
berjam-jam. Paparan terhadap suhu air mendekati 0 derajat Celcius (32 derajat
Fahrenheit) akan menghasilkan kematian dalam hitungan beberapa menit. Korban
tenggelam meninggal sebagai akibat dari asfiksia, suatu gangguan oksigenasi pada otak.
Seseorang biasanya berusaha untuk menjaga kepalanya di atas air sehingga ia dapat terus
menghirup udara. Ketika hal ini menjadi sulit, ia akan berjuang untuk mempertahankan
jalan napas, dan hal ini meningkatkan kebutuhan oksigen. Menghirup air akan
meningkatkan kepanikan. Air yang masuk ke bagian belakang tenggorokan secara refleks
akan tertelan. Hai ini akan mentransmisikan suatu tekanan negatif yang berkaitan dengan
terhirupnya air ke telinga bagian tengah melalui tabung Eustachius yang terbuka saat
menelan. Air yang tertelan akan masuk kedalam perut. Upaya lebih lanjut untuk bernapas
menyebabkan air masuk ke saluran napas atas, memicu batuk dan inhalasi refleks
tambahan. Ketika air memasuki saluran udara kecil, dinding-dinding otot napas akan
kejang, sehingga melindungi alveoli atau kantung-kantung udara kecil dari apapun yang
masuk kecuali udara. kejang yang terjadi setara dengan serangan akut asma yang parah
dengan terperangkapnya udara di paru-paru. Kehilangan kesadaran umumnya terjadi
dalam 1 sampai 2 menit awal perjuangan untuk bernapas, meskipun mungkin kesadaran
dapat terjadi lebih lama jika udara segar dapat diperoleh. Kehilangan kesadaran dapat
diikuti oleh upaya paksa inhalasi dan muntah. Henti jantung terjadi beberapa menit
kemudian. Ketika jantung kembali berdetak, tekanan yang dihasilkan jantung pada
sirkulasi paru akan meningkat pesat dan bagian kanan dari jantung akan terdilatasi dari
peningkatan tekanan jantung dan myungkin akibat dari peningkatan volume darah akibat
terabsorpsinya air dari paru.
Yang dapat ditemukan pada otopsi korban tenggelam sangat tergantung dari
apakah tenggelam tersebut mengikuti kejadian-kejadian yang telah disebutkan diatas. Jika
saat masuk ke air seseorang telah mengalami penurunan kesadaran, banyak tanda dari
kepanikan yang menjadi tidak terlihat karena seseorang yang telah mengalami penurunan
kesadaran tidak bisa menjadi panik.
Kepanikan terjadi akibat pengiriman tekanan negatif dari saluran napas bagian
atas ke telinga tengah. Tekanan negatif bersama-sama dengan perubahan asfiksia lain
dalam hasil faktor pembekuan darah di perdarahan ke dalam sinus mastoideus. Selain itu,
air dan bahan dalam air akan ditemukan di sinus frontal, ethmoidal dan di perut.
Paru-paru akan menjadi hiperinflasi sebagai akibat dari spasme otot yang
melindungi alveoli. Paru-paru pada umumnya akan lebih berat dari biasanya, karena
penambahan air yang teraspirasi dan cairan yang terakumulasi di paru pada seluruh
asfiksia.
Organisme uniseluler kecil yang disebut diatom ditemukan di hampir seluruh air
segar dan air garam di dunia. Organisme ini memiliki silika pada dinding selnya sehingga
dengan demikian dapat melawan degradasi oleh asam. Pada tahap akhir dari tenggelam,
air yang teraspirasi dan mengandung diatom adalah disirkulasikan oleh jantung yang
masih berdetak ke semua organ. Diatome tidak selalu ditemukan di sumsum tulang. Jadi,
mengeluarkan sumsum tulang, mencampurnya dengan asam kuat, dan memeriksanya di
bawah mikroskop untuk mencari diatom dapat memastikan kasus tenggelam. Sejak di air
terdapat berbagai jenis diatom pada daerah yang berbeda dan waktu yang berbeda, maka
dapat dimungkinkan untuk menentukan waktu dan tepat pada kasus tenggelam dengan
mengidentifikasi diatom. Teknik ini terutama berguna jika tubuh telah terdekomposisi dan
kaku.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
119
Asfiksia dapat diakibatkan berbagai sebab termasuk strangulasi manual (dengan
tangan) dan strangulasi akibat ikatan. Strangulasi manual menyempitkan saluran nafas
dengan menekan leher. Banyak tulisan mengenai penemuan adanya fraktur dari tulang
hyoid pada strangulasi manual. Sebenarnya, hal ini relatif jarang dan terlihat terutama
pada wanita tua yang menderita osteoporosis yang mengakibatkan fraktur pada tulang
hyoid menjadi lebih mudah. Gambar 4.17 menunjukkan fraktur tulang hyoid. Perhatikan
perdarahan sekitar tempat fraktur. Hal ini sangat penting untuk diketahui, karena patahnya
tulang hyoid sangat mudah terjadi ketika mengeluarkan saat pemeriksaan berlangsung.
Jika fraktur terjadi dan tidak ada perdarahan, berarti faktur terjadi setelah kematian.
Hal lain yang lazim ditemukan pada strangulasi manual adalah fraktur dari kornu
pada kartilago tiroid. Kornu tersebut terletak di laring atau pita suara dan di depan dari
tulang belakang bagian leher. Jika kerongkongan ditekan untuk mencegah mengalirnya
air, kornu akan dipaksa tertekan kearah belakang mengenai tulang belakang. Hal lain
yang lazim ditemui ialah perdarahan pada otot di leher. Otot – otot tersebut bersama –
sama disebut otot yang terikat (strap) dan dapat mengalami memar akibat strangulasi
manual.
Strangulasi akibat ikatan baik yang disebabkan oleh penggantungan ataupun
penjeratan, tidak melibatkan fraktur hyoid, fraktur kornu kartilago tiroid ataupun
perdarahan otot – otot pada leher. Secara umum, hal yang sering ditemukan ialah asfiksia
dan adanya bekas jeratan di leher.
Saat seseorang meninggal ada sejumlah perubahan yang terjadi yang dapat
digunakan untuk memperkirakan saat kematian : rigor mortis, livor mortis, dan algor
mortis.
Rigor mortis adalah kekakuan otot yang terjadi setelah kematian seseorang. Hal
ini terjadi reaksi kimiawi saat glikogen normal ditemukan dalam otot digunakan
berlebihan sesaat kematian dan tidak dibentuk kembali. Rigor mortis umumnya
dipertahankan sampai periode 24 jam hingga 36 jam setelah kematian.
Livor mortis adalah perubahan warna tubuh yang terjadi akibat pengendapan sel
darah merah setelah sirkulasi darah berhenti. Ini dapat dilihat beberapa menit setelah
kematian, dimana sel darah merah meningkat mengendap karena infeksi atau penyakit
lain. Umumnya warna kulit seseorang livor mortis adalah livid/kebiruan. Dapat dilihat
satu jam atau sesaat setelah kematian. Pada beberapa individu kulit hitam, mungkin tidak
terlihat kebiruan. Jika seseorang meninggal dan kehilangan darah dalam volume banyak,
kebiruan mungkin juga tidak terlihat. Kebiruan jadi lengkap , maksudnya dengan
penekanan tidak hilang yaitu 12 jam setelah kematian. Kebiruan lambat laun hilang
dengan pemisahan setelah 36 jam.
Algor mortis adalah dingin setelah kematian. Dengan menekan dengan ibu jari
dekat tubuh yang telanjang suhu sekitar 18
o
C, ke 20
o
C. 1,5
o
C suhu tubuh akan turun tiap
jam untuk 8 jam pertama. Suhu tubuh normal 37
o
C, jadi jika tubuh meninggal 4 jam suhu
tubuh akan jadi 31
o
C.
STUDI KASUS
Kasus 1
Seorang polisi dipanggil oleh seorang pria yang mengatakan bahwa ia menembak
tetangganya. Dia menceritakan pada polisi bahwa tetangganya menyerang dia dengan
sebilah pisau saat ia sedang menggendong anak bayinya. Dia mengatakan bahwa dia
merasa diri dan anaknya terancam, sehingga ia mengambil senjata apinya, dan menembak
tetangganya hingga meninggal. Pegawai toko di seberang jalan tempat kejadian yang
mendengar percekcokan keduanya juga menyatakan hal yang sama dengan cerita si
penembak. Kakak laki-laki si penembak yang datang ke tempat kejadian sesaat setelah
percekcokan terjadi juga menyatakan hal yang sama.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
120
Keluarga korban meminta saya untuk menilik kembali kasus tersebut untuk
menentukan apa yang terjadi. Keluarga korban tidak senang dengan jaksa yang tidak
menuntut si penembak. Saya meninjau foto-foto tempat kejadian, foto autopsy, dan
laporan autopsy, dan setelah itu pergi ke tempat kejadian. Disana, ditemukan lobang
peluru, namun tidak terdapat darah. Gambar 4.19 dan 4.20 menunjukkan lubang peluru di
lorong beberapa bulan setelah penembakan. Gambar 4.21 menunjukkan tubuh korban
yang terbaring ketika polisi datang.
Penembakan dikatakan terjadi di tempat rendah, namun lubang peluru terdapat di
tangga atas. Seperti yang akan didiskusikan di bab berikutnya, bahwa penentuan jarak
antara senjata dan orang yang ditembak dapat dipastikan. Pada korban terdapat dua
tembakan senjata api – yang satu jarak jauh dan yang lain jarak dekat. Dengan demikian,
jarak penggunaan senjata ialah lebih dari 3 kaki untuk tembakan yang pertama dan
kemudian ditembakkan lagi beberapa inci lebih jauh dari tembakan pertama.
Hal lain yang dapat ditentukan ialah arah peluru yang mengenai tubuh dan organ
dalam. Satu tembakan mengenai sisi samping abdomen. Hal tersebut tidak mengenai
arteri utama dan keluar dari tubuh pada sisi yang lain. Peluru mengenai dinding dan
merupakan tembakan jarak jauh. Tembakan jarak dekat mengenai belakang kepala.
Pelurunya menyebabkan pergeseran otak dari depan ke belakang dan sedikit ke atas.
Hal lain yang penting diketahui dari luka tembak ialah lama waktu antara luka dan
pingsannya korban. Luka tembak abdomen yang tidak mengenai pembuluh utama dapat
memberikan efek dalam hitungan jam, hari atau bahkan lebih. Luka tembak di belakang
kepala yang menyebabkan pergeseran otak akan mengakibatkan koma dalam waktu
singkat.
Pada kasus ini, bukti fisik menyangkal pengakuan dari si penembak. Tembakan di
abdomen merupakan tembakan pertama. Si penembak dalam posisi berdiri ketika
menembakkan senjatanya yang mengakibatkan lubang di dinding. Tembakan pertama
ditembakkan dari jarak lebih dari 3 kaki, yangmana dalam hal ini bukan merupakan jarak
yang tergolong cukup dekat untuk dapat menyebabkan ancaman dengan menggunakan
pisau bagi si penembak. Tembakan kedua merupakan efek yang terjadi akibat korban
berusaha untuk melarikan diri melalui tangga sehingga terkena di belakang kepala.
Catatan dr.Mursad, Sp.F :
• Jenis trauma bisa menimbulkan gangguan fisik tetapi tidak ada discontinuetas dari
jaringan tubuh dan gangguan psikis.
• Kekerasan meliputi kekerasan mekanik, fisik dan kimia.
• Kekerasan mekanik berupa :
o Persentuhan tajam : Luka memar, lecet dan laserasi.
o Persentuhan tumpul : Luka tusuk, iris dan bacok.
o Senjata api : Luka tembak masuk dan luka tembak keluar. Luka tembak sendiri
berdasarkan jarak terdiri dari : jarak jauh, sangat dekat, dekat dan tempel.
• Kekerasan kimia berupa : asam kuat dan basa kuat.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
121
BAB IX
ABORSI
DEFINISI
Peristilahan aborsi sesungguhnya tidak kita temukan pengutipannya dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam KUHP hanya dikenal istilah pengguguran
kandungan. Istilah “aborsi” yang berasal dari kata abortus bahasa latin, artinya “kelahiran
sebelum waktunya”. Sinonim dengan kata itu mengenal istilah “kelahiran yang
premature” atau miskraam (Belanda), keguguran.
Abortus berdasarkan definisi medis adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Anak baru mungkin hidup di luar
kandungan kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu.
Ada yang mengambil batas abortus bila berat anak kurang dari 500 gram, setara dengan
umur kehamilan 22 minggu. Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia /
berat lahir janin viable (yang mampu hidup di luar kandungan), akhirnya ditentukan suatu
batasan abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram
atau usia kehamilan 20 minggu.(terakhir, WHO/FIGO 1998 = 22 minggu).
Dari aspek kedokteran forensik yang diartikan dengan keguguran kandungan adalah
pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadia perkembangannya sebelum masa kehamilan
yang lengkap tercapai (38-40 minggu). Dari segi medikolegal maka istilah abortus,
keguguran, dan kelahiran prematur mempunyai arti yang sama dan menunjukkan
pengeluaran janin sebelum usia kehamilan yang cukup.
KLASIFIKASI
Secara garis besar abortus dapat di bagi dalam 2 kelompok, yaitu:
1. Abortus dengan penyebab yang wajar (abortus spontanea), yaitu abortus yang terjadi
dengan sendirinya, disebut juga keguguran.
2. Abortus yang sengaja dibuat (abortus provokatus/induksi abortus), yaitu abortus
disengaja atau digugurkan, merupakan 80 % dari semua kasus abortus. Abortus yang
disengaja ini dapat bersifat murni medisinalis, tetapi dapat pula bersifat medisinalis
kriminalis tergantung dari pelaku abortusnya yang dapat dibedakan antara :
1. abortus provokatus medisinalis (terapeutik) atau legal abortion yaitu abortus yang
dilakukan atas indikasi medis, dilakukan oleh tenaga yang terdidik khusus untuk
melakukannya dengan baik dan bukan dilakukan untuk mempertahankan nama
baik atau kehormatan keluarga. Biasanya dengan alat-alat dengan alasan bahwa
kehamilan membahayakan dan dapat membawa maut bagi ibu contohnya ibu
dengan penyakit jantung, hipertensi, kanker leher rahim, dan lain-lain.
2. abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis.
Dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dilakukan oleh tenaga yang umumnya
tidak terdidik khusus, termasuk oleh wanita hamil itu sendiri. Ini disebut juga
illegal abortion.
ABORTUS PROVOKATUS ATAS INDIKASI MEDIS
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
122
Umumnya setiap negara ada undang-undang yang melarang abortus buatan, tetapi
larangan ini tidaklah mutlak sifatnya. Di Indonesia berdasarkan undang-undang,
melakukan abortus buatan dianggap suatu kejahatan. Akan tetapi abortus buatan sebagai
tindakan pengobatan, apabila itu satu-satunya jalan untuk menolong jiwa dan kesehatan
ibu serta sunguh-sungguh dapat dipertanggung jawabkan dapat dibenarkan dan biasanya
tidak dituntut. Indikasi medis akan berubah-ubah menurut perkembangan ilmu
kedokteran. Di negara Swedia, Swiss, dan beberapa negara lainnya, membenarkan
indikasi yang bersifat sosial medis, humaniter, dan egenetis, bukan semata-mata untuk
menolong ibu, tetapi juga dengan pertimbangan keselamatan anak, jasmani, dan rohani.
Walaupun beberapa ahli telah banyak berdebat tentang kemungkinan perluasan indikasi
medik, namun sampai saat ini di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah
demi menyelamatkan nyawa ibu. Jadi tidak dibenarkan melakukan abortus atas indikasi :
o Ekonomi : takut miskin atau kekurangan
o Etnis : baik akibat perkosaan atau akibat hubungan diluar nikah.
o Sosial : kuatir adanya penyakit turunan, janin cacat.
Indikasi melakukan abortus terapeutik:
1. Faktor kehamilannya sendiri
o Ectopic pregnancy yang terganggu
o Abortus yang mengancam disertai dengan perdarahan yang terus-menerus, atau
jika janin telah meninggal (missed abortion).
o Mola hydatidosa
o Kelainan plasenta
2. Penyakit diluar kehamilannya :
o Karsinoma cervix uteri
o Karsinoma mammae yang aktif
3. Penyakit sistemik ibu :
o Preeklampsia/Eklampsia
o Penyakit jantung organik disertai dengan kegagalan jantung
o Penyakit ginjal
o Diabetes melitus berat
o Gangguan jiwa, disertai kecenderungan untuk bunuh diri. Pada kasus seperti ini
sebelum melakukan tindakan abortus harus berkonsultasi dengan psikiater.
Dalam melakukan tindakan abortus atas indikasi medik, seorang dokter perlu mengambil
tindakan-tindakan pengamanan dengan mengadakan konsultasi pada seorang ahli
kandungan yang berpengalaman dengan syarat:
(1) Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk
melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai
dengan tanggung jawab profesi.
(2) Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi).
(3) Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat.
(4) Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga / peralatan yang memadai,
yang ditunjuk pemerintah.
(5) Prosedur tidak dirahasiakan.
(6) Dokumen medik harus lengkap.
ABORTUS PROVOCATUS CRIMINALIS
Aborsi kriminal adalah kerusakan atau pengguguran janin dari rahim ibu oleh orang lain
secara paksa, yaitu, jika tidak ada indikasi terapeutik untuk operasi. Kejahatan ini
dinyatakan sebagai tindak pidana jika aborsi yang dilakukan berakibat fatal. Jika wanita
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
123
tersebut meninggal akibat prosedur yang dilakukan oleh aborsionis dan orang lain yang
berkaitan dengan kejahatan tersebut, seperti ahli anestetik atau perawat, akan dituntut
dengan pasal pembunuhan. Bahkan saudara atau teman yang menemaninya ke aborsionis
dinyatakan bersalah sebagai rekan kejahatan, jika dapat dibuktikan bahwa orang tersebut
mengetahui tujuan kunjungannya. Hukum menekankan pada maksud-maksud ilegal di
balik tindakan dan tentang semua hal yang berhubungan dengan kejahatan sebagai
prinsip-prinsip kesalahan. Yang termasuk dalam kategori ini adalah individu yang
memberi anjuran dan meresepkan obat-obatan, atau berusaha menggugurkan kandungan
dengan cara lain; jika terjadi kematian akibat tindakannya, mereka dinyatakan bersalah
oleh hukum.
Tidak ada perbedaan hukum untuk pengguran fetus pada awal kehamilan atau pada akhir
masa kehamilan, karena keduanya disebut aborsi. Dalam sebagian besar yuridiksi, fetus
pada awal kehamilan sebelum digugurkan dinyatakan memiliki kehidupan yang sama
dengan fetus pada akhir masa kehamilan. Aborsi yang dilakukan pada awal masa
kehamilan sama bersalahnya dengan yang dilakukan pada akhir masa kehamilan.
Mengenali Tindakan Abortus Provocatus
Abortus provocatus yang dilakukan menggunakan berbagai cara selalu
mengandung resiko kesehatan baik bagi si ibu atau janin. Seorang dokter perlu mengenali
kelainan yang dapat timbul akibat pelbagai macam cara yang digunakan untuk melakukan
pengguguran kriminal ini agar benar-benar dapat membantu secara maksimal pihak
penyidik.
Kekerasan mekanik lokal dapat ditakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan
dari luar dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain, seperti melakukan
gerakan fisik berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian bawah, kekerasan
langsung pada perut atau uterus, pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya.
Kekerasan dapat pula 'dari dalam' dengan melakukan manipulasi vagina atau
uterus. Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun
atau air panas pada portio; aplikasi asam arsonik, kalium permanganat pekat, atau iodium
tinctuur; pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks; atau manipulasi
serviks dengan jari tangan. Manipulasi uterus, dengan melakukan pemecahan selaput
amnion atau dengan penyuntikan ke dalam uterus.
Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja
yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan atau penyemprotan cairan
biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson type syringe, sedangkan cairannya
adalah air sabun, desinfektan atau air biasa/air panas. Penyemprotan ini dapat
mengakibatkan emboli udara.
Obat/zat tertentu, racun umum digunakan dengan harapan agar janin mati tetapi si
ibu cukup kuat untuk bisa selamat.
Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang mengandung minyak eter
tertentu yang merangsang saiuran cerna hingga terjadi kolik abdomen, jamu perangsang
kontraksi uterus dan hormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi
mukosa uterus.
Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah (takaran), sensitivitas individu
dan keadaan kandungannya (usia gestasi).
Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nenas muda,
bubuk beras dicampur lada hitam, dan lain lain. Ada juga yang agak beracun seperti
garam logam berat, laksans dan lain lain; atau bahan yang beracun, seperti strichnin,
prostigmin, pilokarpin, dikumarol, kina dan lain lain.
Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata
sangat efektif. Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
124
Teknik-Teknik Aborsi pada klinik aborsi :
1. Dilatasi Dan kuret (D & C)
2. MR (Kuret dengan penyedotan)
3. Peracunan dengan menyuntikan larutan garam pekat
4. Penguguran dengan mengunakan kimia protaglandin
5. Operasi bedah kaisar/histerotomi
6. D&X (Intact dilatation & extraction = partial birth abortion)
CARA-CARA ABORTUS
Cara-cara yang dipakai untuk melakukan abortus atas indikasi medik adalah:
1. Vaginal
- Ketuban dipecah
- Dilatasi cervix uterus
- Injeksi 10 unit oxytocin intra-uterin
2. Abdominal : Sectio Caesarea
Cara-cara melakukan abortus criminalis :
1. Mengunakan obat-obatan yang diminum
2. Menggunakan kekerasan mekanik (umum dan lokal)
3. Dilatasi dan kuretasi, biasanya hal ini hanya dilakukan oleh dokter atau bidan.
Obat-obatan
Biasanya obat-obatan yang diberikan per-oral tidak menyebabkan abortus kecuali
diberikan dalam jumlah besar sehingga bersifat toksik kepada wanita hamil tersebut.Patut
diingat tidak ada satupun obat/kombinasi obat peroral yang mampu menyebabkan rahim
yang sehat mengeluarkan isinya tanpa membahayakan jiwa wanita yang meminumnya.
Karena itulah seorang “abortir profesional” tidak mau membuang-buang
waktu/mengambil resiko melakukan abortus dengan menggunakan obat-obatan.
Klasifikasi obat-obat yang digunakan adalah :
1. Obat yang bekerja langsung pada uterus
o Echolics (golongan obat yang meningkatkan kontraksi uterus).
o Emmenagagonum (merangsang terjadinya menstruasi. Untuk menyebabkan
abortus harus diberikan dalam dosis yang besar dan berulang).
2. Obat-obat yang menimbulkan kontraksi GIT.
o Yang paling sering digunakan adalah emetik tartar.
o Castrol oil; magnesium sulfate / sodium sulfate
3. Obat yang bersifat racun sistemik
o Racun tumbuhan (buah pepaya yang masih mentah, buah nenas yang masih
mentah, madar juice, Buah Daucus carota).
o Racun logam (yang paling sering digunakan adalah cairan timah yang
mengandung oksida timah dan minyak zaitun).
Kekerasan Mekanik
Tindakan kekerasan yang bersifat umum :
o Penekanan pada abdomen, misalnya pukulan, tendangan
o Menggunakan ikatan yang kencang pada bagian abdomen.
o Latihan olahraga yang keras misalnya bersepeda, meloncat, menunggang kuda,
mendaki gunung, berenang, naik turun tangga.
o Mengangkat barang-barang berat.
o Pemijatan uterus melalui dinding abdomen.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
125
Tindakan kekerasan yang bersifat lokal :
o Merobek selaput amnion, yaitu dengan memasukkan benda tajam seperti kateter,
jarum, dll kedalam rongga uterus.
o Pernggunaan ganggang laminaria yang diamternya berukuran 0,4 - 0,5 cm.
Ganggang ini direndam dalam air dan dimasukkan kedalam ostium uteri. Dengan
demikian akan menyebabkan robeknya selaput amnion dan terjadi abortus.
o Stik abortus, yaitu berupa potongan kayu yang dibungkus dengan kain, kemudian
dicelupkan kedalam madar juice, arsen atau phelavai juice dan dimasukkan
kedalam ostium uteri. Hal ini akan menyebabkan kontraksi uterus dan abortus.
o Menyalurkan listrik tegangan rendah, menyebabkan kontraksi uterus dan
mengeluarkan hasil konsepsi.
Pemeriksaan Kasus Abortus
Korban hidup
Pada korban hidup perlu diperhatikan tanda kehamilan misalnya perubahan pada
payudara, pigmentasi, hormonal, mikroskopik dan sebagainya. Perlu pula dibukti adanya
usaha penghentian kehamilan, misalnya tanda kekerasan pada genitalia interna/eksterna,
daerah perut bagian bawah.
1. Ibu
1. Tanda-tanda kehamilan
- striae gravidarum
- uterus yang membesar
- hiperpigmentasi aerola mammae
2. Tanda-tanda partus
- ditemukan cairan
- bercak darah pada vagina
- vagina yang longgar
- laserasi dan luka yang terdapat pada vagina
- serviks membuka, bisa terdapat dan bisa juga tidak terdapat robekan.
3. golongan darah
2. Janin
1. umur janin
2. golongan darah janin
Korban mati
Temuan autopsi pada korban yang meninggal tergantung pada cara melakukan abortus
serta interval waktu antara tindakan abortus dan kematian. Abortus yang dilakukan oleh
ahli yang terampil mungkin tidak meninggalkan bekas dan bila telah berlangsung satu
hari atau lebih, maka komplikasi yang timbul atau penyakit yang menyertai mungkin
mengaburkan tanda-tanda abortus kriminal.
Lagi pula selalu terdapat kemungkinan bahwa abortus dilakukan sendiri oleh wanita yang
bersangkutan. Pada pemeriksaan jenazah, TEARE (1964) menganjurkan pembukaan
abdomen sebagai langkah pertama dalam autopsi bila ada kecurigaan akan abortus
kriminalis sebagai penyebab kematian korban.
Pemeriksaan luar dilakukan seperti biasa sedangkan pada pembedahan jenazah, bila
didapatkan cairan dalam rongga perut, atau kecurigaan lain, lakukan pemeriksaan
toksikologik.
Uterus diperiksa apakah ada pembesaran, krepitasi, luka atau perforasi. Lakukan pula Tes
emboli udara pada vena kava inferior dan jantung. Periksa alat-alat genitalia interna
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
126
apakah pucat, mengalami kongeti atau adanya memar. Uterus diiris mendatar dengan
jarak antar irisan 1 cm untuk mendeteksi perdarahan yang berasal dari bawah.
Ambil darah dari jantung (segera setelah tes emboli) untuk pemeriksaan toksikologilk.
Ambil urin untuk tes kehamilan / toksikologik dan pemeriksan organ-organ lain dilakukan
seperti biasa.
Pemeriksaan niikroskopik meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda
kehamilan, kerusakan jaringan yang merupakan jejas/tanda usaha penghentian kehamilan.
Ditemukannya sel radang PMN menunjukkan tanda intravitalitas.
Pemeriksaan post mortem abortus criminalis bertujuan :
o Mencari bukti dan tanda kehamilan
o Mencari bukti abortus dan kemungkinan adanya tindakan kriminal dengan obat-
obatan atau instrumen.
o Menentukan kaitan antara sebab kematian dengan abortus.
o Menilai setiap penyakit wajar yang ditemukan.
Pemeriksaan Ibu :
1. Pemotretan sebelum memulai pemeriksaan
Identifikasi umum
o Tinggi badan, berat badan, umur. Pakaian; cari tanda-tanda kontak dengan suatu
cairan, terutama pada pakaian dalam.
o Catat suhu badan, warna dan distribusi lebam jenasah.
o Periksa dengan palpasi uterus untuk kepastian adanya kehamilan.
o Cari tanda-tanda emboli udara, gelembung sabun, cairan pada :
- arteri coronaria
- ventrikel kanan
- arteri pulmonalis
- arteri dan vena di permukaan otak
- vena-vena pelvis
o Vagina dan uterus di-insisi pada dinding anterior untuk
menghindari jejas, kekerasan yang biasanya terjadi pada dinding posterior
misalnya perforasi uterus. Cara pemeriksaan: uterus direndam dalam larutan
formalin 10% selama 24 jam, kemudian direndam dalam alkohol 95% selama 24
jam, iris tipis untuk melihat saluran perforasi. Periksa juga tanda-tanda kekerasan
pada cervix uteri (abrasi, laserasi).
o Ambil sampel semua organ untuk menilai histopatologis.
o Buat swab dinding uterus untuk pemeriksaan mikrobiologi.
o Ambil sampel untuk pemeriksaan toksikologis :
- isi vagina
- isi uterus
- darah dari vena cava inferior dan kedua ventrikel
- urin
- isi lambung
- rambut pubis
Pemeriksaan janin
- Umur janin
- Golongan darah
Pemeriksaan toksikologik dilakukan untuk mengetahui adanya obat/zat yang dapat
mengakibatkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
127
penghentian kehamilan, misalnya yang berupa IUFD (Intra-Uterine Fetal Death) dan
pemeriksaan mikroskopik terhadap sisa-sisa jaringan.
Pertimbangan-pertimbangan saat autopsi
Saat melakukan autopsi untuk kasus aborsi, ahli patologi harus membuat catatan khusus
tentang kondisi rahim dan genitalia, serta deskripsi umum tentang mayat. Panjang, lebar
dan ketebalan uterus, ketebalan dinding uterin, panjang rongga uterin, lingkar sirkumferen
internal dan eksternal, panjang serviks, diameter corpus luteum, dan ukuran sisa-sisa
janin, harus dicatat. Pemeriksaan dilakukan pada tuba ovarium dan payudara. Bagian-
bagain janin harus dicari dalam saluran genital dan rongga peritoneal. Luka-luka
instrumental dan tanda-tanda tenaculum harus diidentifikasi. semua organ dalam rongga
abdominal dapat menyebabkan peritonitis supuratif, seperti appendiks, kandung kemih
atau perut, harus diperiksa. Semua kondisi tubuh yang dapat menyebabkan aborsi
spontan, seperti penyakit jantung dan hydatidiform mole, harus diperiksa. Kondisi-
kondisi septik tubuh harus diperiksa dengan cermat. Vena-vena uterin dan ovarian harus
diurutkan dengan cermat sampai ke bagian tubuh yang lebih besar untuk mengetahui
terjadinya phlebitis purulen. Pengguanan terapeutik sulfonamid dan obat-obatan antibiotik
lainnya dapat menghambat perkembangan bakteri dalam kultur post-mortem.
Pemeriksaan kimiawi harus dilakukan pada otak dan viscera parenkimatom, jika perlu.
Harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis pada mukosa uterin untuk mengetahui apakah
terjadi villi chorionic. Struktur-struktur lainnya, seperti tuba, ovarium, appendiks, ginjal,
limpa, hati, pankreas, jantung, paru-paru, dan organ-organ lainnya yang terlihat abnormal
harus diperiksa/dipotong.
Jika terdapat sisa-sisa janin, dapat dilakukan pemeriksaan X-ray untuk mengetahui pusat-
pusat osifikasi. Hal ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan. Benda-benda
asing, instrumen, juga harus diawetkan sebagai bukti, jika ditemukan dalam tubuh.
Dalam banyak kasus, sisa-sisa janin tidak mudah diidentifikasi. jika seorang wanita
meninggal saat aborsi, janin atau bagian dari janin, akan ditemukan dalam saluran genital.
Kadang-kadang, terjadi perforasi uterus dan janin dipaksakan masuk ke rongga peritoneal,
ini akan ditemukan saat autopsi. Biasanya, tubuh janin telah diangkat, dan daerah plasenta
ditandai oleh penonjolan sirkuler pada batas-batas uterus di sekitar fundus, kondisi ini
akan bertahan selama beberapa hari.
Perforasi dapat terjadi dalam berbagai ukuran dan bentuk, bervariasi mulai dari stellata
kasar dan kecil yang terbuka dan berdiameter kurang lebih 1 cm, banyak potongan stellata
yang berbentuk oval atau ireguler, dan terlihat seperti-kawah yang kadang menonjol pada
fundus uterin. Kadang, ditemukan dua atau beberapa perforasi pada fundus, atau terjadi
perlukaaan fundus dan serviks akibat penggunaan kuret Uterus paling mudah mengalami
perforasi adalah jenis bicornuate, karena operator yang ragu-ragu, menduga bahwa rongga
uterus lebih panjang dan melukai dindingnya pada bagian cornua yang terpisah. Luka
pada serviks uteri terjadi sebanyak kurang dari separuh perlukaan instrumental pada
uterus, sebagian diantaranya berupa ekskavasasi crateriform dalam dinding servikal,
sedangkan yang lainnya mengalami perforasi ke dalam rongga abdominal melalui dinding
uterus. Perforasi tersebut berbentuk stellata dan mengarah ke atas mungkin akibat
penggunaan instrumen seperti kayu .
Perforasi pada rongga vaginal jarang terjadi pada aborsi yang dilakukan oleh seorang
operator, namun paling sering terjadi pada aborsi yang dilakukan sendiri. salah satu kasus
yang dihadapi oleh penulis adalah seorang ibu hamil yang melukai rongga vaginanya
menggunakan jarum panjang, yang ditusukkan ke dalam perut dan usus beberapa kali
sehingga terjadi peritonitis septik.
Kasus-kasus aborsi yang mengakibatkan perforasi saluran genital dan organ
abdominal harus dirujuk ke rumah sakit untuk merawat gejala dan agar dokter bedah
dapat melakukan laparotomi. Dalam berbagai kasus, operator dapat memperbaiki luka
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
128
dengan melakukan penjahitan, sedangkan dalam kasus lainnya, operator dapat
mengangkat rahim, atau reseksi intestinal. Jika pasien meninggal, dokter bedah harus
menyerahkan semua organ, jaringan atau benda asing yang diperoleh saat operasi untuk
diperiksa dan menyimpan catatan klinis kasus yang akurat.
Ukuran daerah plasenta bervariasi sesuai dengan usia kehamilan dan jumlah hari setelah
aborsi. Setelah melakukan kuretase pada bagian plasenta yang tersisa pada dinding uterin,
berupa penyimpangan villi chorionic dan syncytial giant cell, ini dapat dilihat melalui
pemeriksaan mikroskopis pada daerah plasenta. Karena plasenta merupakan bagian dari
janin, ini merupakan bukti nyata terjadinya kehamilan, yang bertolak belakang dengan
sel-sel decidual yang merupakan jaringan dari ibu dan bukan, merupakan indikasi yang
jelas. villi chorionic dan syncytial giant cell akan menetap selama beberapa hari kemudian
menghilang, satu-satunya kriteria yang tersisa adalah ukuran dan bentuk rahim, kondisi
payudara dan corpus luteum ovarium.
Penemuan janin atau sisa-sisanya biasanya berguna untuk memastikan usia
kehamilan saat aborsi dilakukan. Jadi, kita harus mengetahui perkembangan janin selama
masa kehamilan. Pemeriksaan sinar roentgen pada bagian-bagian janin yang besar akan
menunjukkan pusat-pusat osifikasi dalam berbagai tulang, ini dapat digunakan untuk
menentukan usia bagian-bagian tersebut. Biasanya akan terbentuk produk perkembangan
pembuahan ovum selama dua minggu pertama masa kehamilan. Mulai dari minggu
pertama sampai ke lima, selama periode tersebut, akan terjadi perkembangan berbagai
organ dan menghasilkan bentuk yang jelas, organisme ini disebut sebagai embrio. Setelah
minggu kelima, disebut sebagai janin.
Dalam suatu kasus aborsi yang telah terjadi selama beberapa hari dan tidak ada sisa-sisa
janin dalam rahim, sulit untuk membuktikan fakta bahwa telah terjadi kehamilan atau usia
kehamilan sebelum aborsi dilakukan. Bagian-bagian janin yang tersisa, membran atau
jaringan plasenta, dan terjadinya infeksi intra-uterine akan menganggu atau menghambat
proses involusi uterus. Nekrosis sisa-sisa janin, membran dan jaringan plasenta akan
mempersulit pemeriksaan mikroskopis.
Dimensi uterus yang diukur saat autopsi merupakan satu-satunya data yang dapat
diandalkan oleh ahli patologis untuk memperkirakan usia kehamilan. Dalam kondisi
tidak-hamil, uterus berbentuk seperti buah pir dan memiliki panjang 3 inci, lebar 2 inci
dan ketebalannya 1 inci. Selama dua bulan pertama masa kehamilan, terjadi pembesaran.
Pada akhir bulan ketiga, panjang rahim akan mencapai 4 sampai 5 inci, panjang serviks
mencapai 1 cm dan panjang corpus uteri mencapai 3 sampai 4 inci; pada akhir bulan
keenam, uterus akan membesar, corpus akan membentuk globular dan serviks memendek.
Pada akhir bulan keempat, panjang uterus mencapai 5 sampai 6 inci; pada akhir bulan
keenam panjangnya akan mencapai 6 inci; pada akhir bulan ke tujuh, panjangnya
mencapai 8 inci; pada akhir bulan ke delapan, panjangnya mencapai 9,5 inci; dan pada
akhir bulan ke sembilan, panjangnya mencapai 10,5 sampai 12 inci.
Setelah proses kelahiran, rahim akan berkontraksi dan dindingnya menebal.
Setelah dua hari post-partum, panjangnya akan mencapai 7 inci dan lebar 4 inci; pada
akhir minggu pertama akan berkontraksi sampai panjangnya 5 inci; setelah dua minggu
panjangnya mencapai 4 inci. Setelah dua bulan ukuran uterus akan kembali normal jika
involusi telah sempurna. Dimensi uterus setelah aborsi sulit ditentukan; jika pasien hidup
sebentar setelah ekspulsi janin, ukuran uterus jelas akan berkurang, namun tidak ada
standar ukuran involusinya setelah aborsi dalam berbagai usia kehamilan. Pemeriksa
hanya dapat menentukan dimensi uterus seakurat mungkin dan menarik kesimpulan
sendiri sesuai dengan pengalamannya menghadapi kasus semacam itu. Ukuran pembuluh
darah dan limfatik uterus akan bertambah selama masa kehamilan dan akan tetap
meregang selama puerperium sampai masa involusi lewat. Peningkatan vaskularitas ini
akan meningkatkan kerentanan gravid uterus terhadap perdarahan dan infeksi.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
129
Payudara akan membesar selama masa kehamilan, akibat terjadinya hiperplasia
kelenjar-kelenjar payudara. Pada wanita yang tidak hamil, jaringan kelenjar berupa
beberapa duktus dan sejumlah alveoli dalam suatu stroma fibrosa yang padat, namun
seiring dengan perkembangan kehamilan, cabang-cabang duktus dan jaringan kelenjar
akan berproliferasi dan jumlahnya bertambah. Pada akhir bulan kedua, payudara akan
membesar dan memiliki konsistensi noduler saat dipalpasi. Beberapa bulan setelah sekresi
air susu yang disebut sebagai kolostrum, yang keluar dari payudara saat diberi tekanan
ringan. Pada akhir masa menyusui, sekresinya sangat banyak, jika payudara dipotong,
akan keluar banyak cairan susu dari permukaan yang dipotong. Selama masa kehamilan,
puting susu akan terlihat lebih menonjol, dan aerola di sekitarnya semakin meluas dan
pigmentasinya bertambah; Ukuran kelenjar Montgomery, kelenjar sebaseous dalam aerola
akan bertambah selama masa menyusui dan membentuk nodul subkutan pendek.
Sebagian urin yang diperoleh post-mortem dari kandung kemih harus disimpan
dan dapat digunakan dalam Uji ASCHHEIM-ZONDEK untuk menguji kehamilan, jika
diperoleh dalam waktu satu minggu setelah aborsi. Dalam beberapa kasus aborsi,
kematian yang terjadi disebabkan oleh infeksi piogenik parah dan urin mengandung
bakteri yang akan membunuh binatang-binatang yang digunakan dalam pengujian dan
mengurangi kegunaan reaksi.
KETERKAITAN ABORSI DENGAN PIHAK LAIN
Sebelum kita mengetahui apakah hubungan antara seorang dokter dengan seorang yang
hendak menggugurkan kandungan harus dianggap kontrak terapeutik, yang selanjutnya
menyebabkan pihak lain tertutup kemingkinan untuk mengetahinya termasuk aparat
hukum, maka perlu disikapi oleh kita semua apabila dalam pelayanan dokter tersebut
berdimensi pidana, petugas aparat hukum dimungkinkan untuk menentukan langkah-
langkahnya. Atau dengan kata lain pihak kepolisian boleh melakukan penyidikan dan juga
tindakan lain yang diwenangkan oleh hukum.
Dalam pasal 7 KUHAP telah memberikan kewenangan kepada penyidik untuk:
(1) Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana.
(2) Melakukan tindakan pertama saat ditempat kejadian
(3) Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri
tersangka
(4) Melakukan penagkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan.
(5) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat
(6) Mengambil sidik jari dan memotret tersangka
(7) Mengambil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi
(8) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan
pemeriksaan perkara
(9) Mengadakan penghentian penyidikan
(10) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Dari dan berdasarkan ketentuan KUHAP, khususnya yang berkaitan dengan penyidikan,
maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada larangan bagi pihak penyidik untuk melakukan
penyidikannya pada tempat-tempat yang telah, sedang atau akan terjadinya tindak pidana,
termasuk tempat yang patut diduga didalamnya akan dilakukan tindak pidana. Demikian
juga tempat praktek dokter yang disinyalir di dalamnya ada praktik aborsi yang illegal.
Chrisdiono M. Achadiat dalam artikelnya yang berjudul “Aborsi dalam Perspektif Etika,
Moral dan Hukum”, memberikan catatan sebagai berikut :
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
130
(1) Bahwa dalam penjelasan Pasal 10 KODEKI disebutkan antara lain, “Ia (baca;
Dokter Indonesia) harus berusaha mempertahankan hidup mahluk insani. Berarti
bahwa menurut agama dan undang-undang negara maupun menurut Etika
kedokteran seorang dokter tidak dibolehkan :
(a) Menggugurkan kandungan (abortus provocatus)
(b) Mengakhiri hidup seorang penderita, yang menurut ilmu pengetahuan tidak
mungkin akan sembuh (euthanasia).
(2) Bahwa pada bagian lain penjelasan pasal 10 Kodeki tersebut ditegaskan antara
lain bahwa abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan,
apabila merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut
(abortus provocatus thetapeuticus) (dikutip dari buku Kode Etik Kedokteran
Indonesia terbitan 1986, halaman 33).
Di negara bagian New York, jika seorang dokter dituntut melakukan aborsi ilegal, ijin
praktek kedoktarannya di negara bagian tersebut akan dicabut secara otomatis.
ABORTUS DITINJAU DARI SEGI MEDIKOLEGAL
Sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia, setiap usaha untuk mengeluarkan hasil
konsepsi sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai adalah suatu tindak pidana,
apapun alasannya. Dalam tahun-tahun terakhir ini beberapa negara dimana legalisasi
abortus provocatus masih bersifat terbatas, seakan-akan timbul suatu revolusi dalam sikap
masyarakat dan pemerintahannya terhadap tindakan pengguguran kandungan, sehingga
terjadi perubahan-perubahan hukum-hukum abortus yang berlaku, dan muncul hukum-
hukum abortus dengan pembatasan tertentu sampai hadir tanpa pembatasan.
Hukum abortus diberbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai
berikut:
1. Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda dan Indonesia
(sebelum ada UU No. 23 Tahun 1992, tentang kesehatan).
2. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik, seperti di Kanada,
Thailand, dan Swiss.
3. Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu),
seperti di Prancis dan Pakistan.
4. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial-medik, seperti di Islandia,
Inggris, Skandinavia, dan India.
5. Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti Jepang, Polandia,
dan Serbia. (Menghindari penyakit keturunan, janin cacat)
6. Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan, seperti di Bulgaria dan
Hungaria.
Meskipun dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak terdapat satupun
pasal yang memperbolehkan seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik,
sekalipun untuk menyelamatkan jiwa si ibu, dalam prakteknya dokter yang melakukannya
tidak dihukum, bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut diterima
hakim. Abortus atas indikasi medik ini kini diatur dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
Terdapat beberapa pasal yang mengatur abortus provokatus :
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Pasal 229
1. Barangsiapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya
diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
131
pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib,
bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian
maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 341
Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan
atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam, karena
membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 342
Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan
bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian
merampas nyawa anaknya, diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan
rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang
turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau
menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas
tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara
paling lama lima belas tahun.
Pasal 348
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun enam bulan.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
Pasal 349
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut
pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang
diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat
ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam
mana kejahatan dilakukan.
Berdasarkan pasal-pasal tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pihak-
pihak yang dapat mewujudkan adanya pengguguran kandungan adalah:
(1) Seseorang yang melakukan pengobatan atau menyuruh supaya berobat terhadap
wanita tersebut, sehingga dapat gugur kandungannya.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
132
(2) Wanita itu sendiri yang melakukan upaya atau menyuruh orang lain, sehingga dapat
gugur kandungannya.
(3) Seseorang yang tanpa izin menyebabkan gugurnya kandungan seseorang.
(4) Seseorang yang dengan izin meyebabkan gugurnya kandungan seseorang wanita.
(5) Seseorang yang dimaksud dalam angka 1, 2, 3, dan 4 termasuk di dalamnya dokter,
bidan, juru obat, serta pihak lain yang berhubungan dengan medis.
Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang
Kesehatan :
Pasal 15
Ayat (1) : “Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun,
dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan
norma kesopanan”.
Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin
yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu.
Ayat (2)
Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil
tindakan medis tertentu, sebab tanpa tindakan medis tertentu itu, ibu hamil dan janinnya
terancam bahaya maut.
Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga
yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya, yaitu seorang dokter ahli
kebidanan dan penyakit kandungan.
Butir c : Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang
bersangkutan, kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan
persetujuannya, dapat diminta dari suami atau keluarganya.
Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan
peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah.
Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan
antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,
tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan, sarana
kesehatan yang ditunjuk.
Pasal 80
Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang
tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana
dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Hukum dan Aborsi
Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin
termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis”
Yang menerima hukuman adalah:
1. Ibu yang melakukan aborsi
2. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
3. Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi
Wewenang dokter dalam menjalankan praktek aborsi adalah :
1. Dalam menjalankan profesinya seorang dokter terkait dengan kode etik profesi, dalam
hal ini Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki). Dalam Kodeki tersebut tercakup
hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban seorang dokter ketika menjalankan profesi
kedokteran: yakni kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
133
teman sejawat, dan kewajiban terhadap diri sendiri. Jadi, Kodeki merupakan pedoman
tingkah laku bagi para dokter Indonesia ketika melaksanakan profesinya atau tegasnya
pedoman dalam melaksanakan kewajiban sebagai dokter Indonesia.
2. Bahwa dalam penjelasan pasal 10 Kodeki antara lain Dokter Indonesia harus berusaha
mempertahankaan hidup makhluk insani. Berarti bahwa baik menurut agama dan
undang-undang negara maupun menurut Etik kedokteran seorang dokter tidak
dibolehkan:
a. Menggugurkan kandungan (abortus provocatus);
b. Mengakhiri hidup seorang penderita, yang menurut ilmu pengetahuan
tidak mungkin akan sembuh (euthanasia).
c. Bahwa pada bagian lain penjelasan pasal 10 Kodeki ditegaskan antara lain
bahwa abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan, apabila
merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus
provocatus therapeuticus).
d. Dikatakan bahwa Kodeki membenarkan aborsi dengan beberapa syarat
dan menyelamatkan jiwa ibu adalah indikasi yang diperkenankan menurut
KODEKI.
3. Bahwa, dalam penjelasan pasal 15 ayat (1) UU Kesehatan disebutkan bahwa
"Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun
dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan
dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan
jiwa ibu dan atau janin yang dikandungnya, dapat diambil tindakan medis tertentu."
Jadi satu-satunya indikasi yang diperkenankan menurut UU Kesehatan ialah
menyelamatkan jiwa si ibu hamil.
Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).
4. Bahwa, pihak-pihak yang diperbolehkan melakukan aborsi adalah dokter ahli
kebidanan dan penyakit kandungan, sesudah meminta pertimbangan dari tim ahli
yang terdiri dari pelbagai bidang keilmuan. Dengan demikian menurut UU Kesehatan,
tidak semua dokter boleh melakukan tindakan aborsi.
5. Sarana yang dipakai dalam praktek aborsi (tindakan pengguguran kandungan) hanya
dapat dilakukan di sarana kesehatan tertentu, yakni sarana kesehatan yang memiliki
tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh
pemerintah
6. Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan,
kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya, dapat
diminta dari suami atau keluarganya.
7. Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain
mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga
kesehatan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan, sarana kesehatan
yang ditunjuk.
Upaya Mengurangi Abortus Buatan Ilegal Di Kalangan Tenaga Kesehatan
Para dokter dan tenaga medis lainnya, hendaklah selalu menjaga sumpah profesi dan kode
etiknya dalam melakukan pekerjaan. Jika hal ini secara konsekwendilakukan pengurangan
kejadian abortus buatan ilegal akan secara signifikan dapatdikurangi.
Dalam deklarasi Oslo (1970) tentang pengguguran kandungan atas indikasimedik,
disebutkan bahwa moral dasar yang dijiwai seorang dokter adalah butir LafalSumpah
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
134
Dokter yang berbunyi : ”Saya akan menghormati hidup insani sejaksaat pembuahan : oleh
karena itu Abortus buatan dengan indikasi medik,hanya dapat dilakukan dengan syarat-
syarat berikut”:
1. Pengguguran hanya dilakukan sebagai suatu tindakan terapeutik.
2. Suatu keputusan untuk menghentikan kehamilan, sedapat mungkin disetujui
secara tertulis oleh dua orang dokter yang dipilih berkat kompetensiprofesional
mereka.
3. Prosedur itu hendaklah dilakukan seorang dokter yang kompeten di instalasiyang
diakui oleh suatu otoritas yang sah.
4. Jika dokter itu merasa bahwa hati nuraninya tidak memberanikan iamelakukan
pengguguran tersebut, maka ia hendak mengundurkan diri danmenyerahkan
pelaksanaan tindakan medik itu kepada sejawatnya yang lainyang kompeten.
5. Selain memahami dan menghayati sumpah profesi dan kode etik, para tenagakesehatan
perlu pula meningkatkan pemahaman agama yang dianutnya.
Melalui pemahaman agama yang benar, diharapkan para tenaga kesehatandalam
menjalankan profesinya selalu mendasarkan tindakannya kepadatuntunan agama.
Pandangan Pro-Life Abortus
Kelompok Pro-life menganggap aborsi adalah suatu tragedi fatal yang
tersembunyi. Dipandang dari sudut agama, jelas aborsi sama sekali tidak diperbolehkan.
Aborsi menyangkut kebijakan politik suatu negara. Seorang dokter harus tetap berpegang
teguh pada etik kedokteran Primum non nocere — pertama-tama, jangan merugikan.
Setiapmanusia termasuk yang belum lahir memiliki hak untuk hidup, dan hak
seseorang untuk hidup merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia.Sel telur dan sperma
masing-masing memang memiliki kehidupan, tapi itu sama sekali bukan kehidupan
manusiawi. Kehidupan manusiawi baru terjadi pada saat pembuahan, yaitu pada
embryo.Apapun bentuknya, apabila merupakan hasil pembuahan sel telur dan sperma, itu
adalah suatu bentuk kehidupan baru dan punya hak yang suci untuk tetap hidup.Tidak
peduli janin yang dikandung itu normal atau cacat.
Pandangan Pro-Choice
Pro-choice merupakan pandangan politik dan etik dimana seorang wanita
memiliki kuasa penuh atas kesuburan dan kehamilannya. Hal ini menyangkut hak
reproduksi yang didalamnya terdapat pendidikan seksual, akses terhadap aborsi,
kontrasepsi, dan perawatan kesuburan, serta perlindungan legal terhadap paksaan akan
aborsi. Individu dan organisasi yang mendukung posisi ini melakukan gerakan Pro-
choice.
Penganutpro-choice percaya bahwa wanita harus memiliki akses terhadap aborsi
yang aman dan legal, sama halnya terhadap paksaan aborsi. Beberapa orang menilai
aborsi merupakan pilihan terakhir dan fokus terhadap sejumlah situasi dimana aborsi
merupakan pilihan yang perlu untuk dilakukan. Diantara situasi ini adalah wanita yang
diperkosa, wanita yang kesehatan dan kehidupan dirinya dan janinnya beresiko,
kontrasepsi yang gagal, atau wanita yang merasa tidak dapat membesarkan anak.
Menurut penganut Pro-Choice, kehamilan seorang wanita merupakan hak asasi
manusia yaitu hak reproduksi. Seorang wanita berhak untuk mengambil keputusan atas
apa yang akan dilakukan terhadap diri sendiri termasuk dengan kehamilan atau
reproduksinya. Penganut aborsi percaya bahwa wanita memiliki hak untuk memutuskan
untuk mengakhiri kehamilannya. Dalam pandangan penganut “Pro-choice”, seorang bayi
yang berada dalam kandungan seorang ibu, tidak memiliki hak asasi manusia.
Penganut Pro-choice memperbolehkan wanita untuk memilih cara atau metode
yang digunakan untuk aborsi anak yang tidak diinginkannya. Biasanya metode aborsi
dilakukan berdasarkan usia dari janin.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
135
Masalah aborsi adalah masalah kesehatan perempuan yang juga merupakan
kesehatan masyarakat. Sehingga praktik aborsi perlu dilegalkan karena alasan banyak
perempuan yang menjadi korban praktik aborsi ilegal, tidak aman, dan tidak
bertanggungjawab sebagaimana opini yang dituliskan Kartono Mohamad, dokter dan
mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia(IDI).
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
136
BAB X
INFANTICIDE
Definisi (Menurut pasal 341 KUHP):
pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, segera atau beberapa saat
setelah dilahirkan, karena takut diketahui bahwa ia telah melahirkan anak
Inggris : Batasan infanticide sampai 12 bulan
Unsur yang terkandung :
pembunuhan, oleh ibu kandung, motivasi psikis dan waktu (baru lahir)
UU tentang pembunuhan anak
 KUHP 341 : pembunuhan anak sendiri tanpa rencana (maks. 7 th)
 KUHP 342 : pembunuhan anak sendiri dengan rencana (maks. 9 th)
 KUHP 343 : orang lain yang melakukannya /turut melakukan (pembunuhan
biasa)
 KUHP 305 : membuang (menelantarkan) anak dibawah usia 7 th (maksimum 5
tahun 6 bulan)
 KUHP 306 : bila berakibat luka berat atau mati (maks 7,5-9 th)
 KUHP 308 : ibu membuang anaknya yang baru lahir (seperdua dari KUHP 305
dan 306)
 KUHP 181 : menyembunyikan kelahiran/kematian (9 bulan)
Motif Infanticide :
• Anak yang tidak sah
• Warisan
• Orang tua yang terlalu miskin
• Pada beberapa keluarga, bayi perempuan dianggap kurang berarti
• Wanita tuna susila yang tidak menghendaki kelahiran anak
Tujuan Pemeriksaan untuk membuktikan :
º Pengertian “pembunuhan bayi” mengharuskan untuk membuktikan :
- Lahir hidup
- Kekerasan
- Sebab kematian
º Pengertian “baru lahir” mengharuskan penilaian :
- Cukup bulan atau belum dan usia kehamilan
- Usia pasca lahirnya
- Viabel atau tidak
º Pengertian “takut diketahui” dibuktikan dengan tidak adanya tanda-tanda
perawatan
º Pengertian “si ibu membunuh anaknya sendiri” harus dibuktikan bahwa mayat
anak yang diperiksa adalah anak dari tersangka
Pemeriksaan Kedokteran Forensik untuk memperoleh kejelasan dalam hal:
• Apakah bayi tersebut dilahirkan mati atau hidup?
• Berapakah umur bayi tersebut (intra dan ekstrauterin)?
• Apakah bayi tersebut sudah dirawat?
• Apakah sebab kematiannya?
• Apakah pada anak tersebut di dapatkan kelainan bawaan yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak?
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
137
Lahir Hidup (live birth)
keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap, yang setelah pemisahan,
bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain, tanpa mempersoalkan usia gestasi,
sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan uri dilahirkan
Lahir mati (still birth)
Jika bayi dilahirkan setelah melewati usia kehamilan 28 minggu dan setelah dilahirkan
tidak pernah menunjukkan adanya tanda kehidupan
Dead born :
bila kematian telah terjadi di dalam rahim (IUFD)
Tanda-tanda lahir hidup:
Anamnesis : adanya tangis bayi
Pemeriksaan :
1. Dada :
º mengembang
º diafragma sudah turun sampai sela iga 4-5
º tepi paru menumpul
º beratnya kira-kira 1/35 berat badan akibat semakin padatnya
vaskularisasi paru
2. Paru
Pemeriksaan makroskopik paru :
 Paru sudah mengisi rongga dada & menutupi sebagian kandung jantung
 Berwarna merah muda tidak merata
 Pleura yang tegang & menunjukkan gambaran mozaik karena alveoli sudah terisi
udara
 Konsistensi sperti spons, teraba derik udara
 Pada pengisian paru dalam air keluarnya gelembung udara dan darah
 Berat paru bertambah hingga dua kali (1/35 kali berat badan) karena berfungsinya
sirkulasi darah jantung paru
 Uji apung paru positif
Pemeriksaan mikroskopik paru :
alveoli paru yang mengembang sempurna dengan atau tanpa emfisema obstruktif
3. Saluran Cerna
O Adanya udara dalam saluran cerna
O Lambung dan usus : terdapat darah, mekonium, & cairan amnion ¬
menunjukkan bahwa bayi telah melakukan usaha pernafasan & pada saat inspirasi
menelan cairan tersebut
O Adanya cairan susu menunjukkan bayi telah hidup untuk beberapa waktu
lamanya
4. Perubahan ginjal dan kandung kemih :
(tidak begitu spesifik & tidak bisa diandalkan)
O Kristal asam urat mungkin terdapat pada pelvis ginjal.
O Pembentukan urin (+/-)
5. Perubahan pada telinga tengah :
(kurang dapat diandalkan)
Pemeriksaan WREDIN diperiksa jaringan konektif gelatin pada telinga tengah yang
akan berubah menjadi berisi udara jika bayi telah melakukan pernafasan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
138
Lahir mati (still born)
 Ditandai :
- janin yang tidak bernafas
- denyut jantung (-)
- denyut nadi tali pusat (-)
- gerakan otot rangka (-)
 Maserasi ¬ 8-10 hari kematian in utero
 Vesikel atau bula ¬ 3-4 hari kematian in utero
 Dada : belum mengembang, iga datar & diafragma setinggi iga ke 3-4
 Pemeriksaan makroskopik paru :
 paru-paru masih tersembunyi di belakang
 kandung jantung atau telah mengisi rongga dada
 berwarna kelabu ungu merata seperti hati
 konsistensi padat
 derik udara (-)
 pleura yang longgar
 berat paru kira-kira 1/70 kali berat badan
 Uji apung paru : negatif
 Mikroskopik paru : adanya tonjolan yang berbentuk seperti bantal bertambah
tinggi dengan dasar menipis, tampak seperti gada
 Mekonium : berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua terlihat dalam
brokhioli & alveoli
 Kolon :
dapat menggelembung berisi mekonium tanda usaha untuk bernafas
Umur bayi intra dan ekstra uterin
Rumus HAASE
- Usia kehamilan 1-5 bulan :
Panjang kepala-tumit (cm) = kuadrat umur gestasi (bulan)
- Usia kehamilan > 5 bulan :
Panjang kepala-tumit (cm) = umur gestasi (bulan) x 5
Tabel. Hubungan pusat penulangan dan umur bayi
Pusat Penulangan Pada Umur (bulan)
Klavikula 1,5
Tulang panjang (diafisis) 2
Iskium 3
Pubis 4
Kalkaneus 5-6
Manubrium sterni 6
Talus Akhir 7
Sternum bawah Akhir 8
Distal femur Akhir 9/setelah lahir
Proksimal tibia Akhir 9/setelah lahir
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
139
Kuboid Akhir 9/setelah lahir (bayi wanita
lebih cepat)
Viable
Bayi/janin yang dapat hidup di luar kandungan
• umur kehamilan > 28 minggu
• PB (kepala-tumit) > 35 cm
• PB (kepala-tunggging) > 23 cm
• BB > 1000 garam
• lingkar kepala > 32 cm
• tidak ada cacat bawaan yang fatal
Bayi cukup bulan (matur)
• umur kehamilan > 36 minggu
• PB (kepala-tumit) > 48 cm
• PB (kepala-tungging) 30-33 cm
• BB 2500-3000 gram
• lingkar kepala 33 cm.
• lanugo sedikit : pada dahi, punggung & bahu
• pembentukan tulang rawan telinga sudah sempurna
• diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih
• kuku-kuku jari telah melewati ujung jari
• garis telapak kaki > 2/3 bagian depan kaki
• testis sudah turun ke dalam skrotum
• labium minus sudah tertutup labium majus yang telah berkembang sempurna
• kulit berwarna merah muda yang setelah 1-2 minggu berubah menjadi lebih pucat
atau coklat kehitaman
• lemak bawah kulit cukup merata sehingga kulit tidak berkeriput (kulit pada bayi
prematur berkeriput)
Usia Pasca Lahir
Udara dalam saluran cerna
- Di lambung : baru saja lahir, belum tentu lahir hidup
- Di duodenum : > 2 jam
- Di usus halus : 6-12 jam
- Di usus besar : 12-24 jam
Mekonium keluar seluruhnya: > 24 jam
Perubahan tali pusat :
- Kemerahan di pangkalnya : 36 jam
- Kering : 2-3 hari
- Puput/lepas : 6-8 hari, kadang 20 hari
- Sembuh : 15 hari
- a/v umbilikalis menutup : 2 hari
Ductus arteriosus menutup : 3-4 mgg
Ductus venosus menutup : > 4 mgg
Eritrosit berinti hilang : > 24 jam
Tanda-tanda perawatan (Bukan termasuk infanticide)
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
140
 Tali pusat yang terpotong rata dan diikat diujungnya, diberi antiseptik dan perban
(bisa hilang sebelum diperiksa)
 Jalan napas bebas
 Vernix caseosa tidak ada lagi
 Berpakaian
 Air susu di dalam saluran cerna
Hubungan ibu dan anak
 Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak
 Mencari data antropologi yang khas pada ibu dan anak
 Memeriksa golongan darah ibu dan anak
 Sidik jari & DNA
Pemeriksaan Mayat Bayi
• Bayi cukup bulan, prematur atau nonviable
• Kulit : sudah dibersihkan atau belum, keadaan verniks kaseosa, warna, berkeriput
atau tidak
• Mulut : adakah benda asing yang menyumbat
• Tali pusat : sudah terputus atau masih melekat pada uri
• Kepala : apakah terdapat kaput suksadenum, molase tulang tengkorak
• Tanda kekerasan
• Mulut : apakah terdapat benda asing & perhatikan palatum mole apakah terdapat
robekan
• Rongga dada
• Tanda asfiksia : berupa TARDIEU’s spots pada permukaan paru, jantung, thymus,
epiglottis
• Tulang belakang : apakah terdapat kelainan kongenital & tanda2 kekerasan
• Periksa pusat penulangan : pada femur, tibia, calcaneus, talus & cuboid
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
141
BAB XI
KEJAHATAN SEKSUAL
Pengertian
Kejahatan seksual (sexual offences) adalah salah satu bentuk dari kejahatan tubuh yang
merugikan kesehatan dan nyawa manusia. Ilmu Kedokteran Forensik berguna dalam
fungsi penyelidikan, yaitu untuk:
1. menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan
2. menentukan adanya tanda-tanda kekerasan
3. memperkirakan umur
4. menentukan pantas tidaknya korban buat kawin
Kekerasan seksual merupakan segala kekerasan, baik fisik maupun psikologis, yang
dilakukan dengan cara-cara seksual atau dengan mentargetkan seksualitas. Definisi
kekerasan seksual ini mencakup pemerkosaan, perbudakan seksual, dan bentuk-bentuk
lain kekerasan seksual seperti penyiksaan seksual, penghinaan seksual di depan umum,
dan pelecehan seksual.
Pembagian
Terdapat dua macam bentuk kekerasan seksual, yaitu ringan dan berat.
Macam-macam kekerasan seksual ringan :
 pelecehan seksual
 gurauan porno,
 siulan, ejekan dan julukan
 tulisan/gambar
 ekspresi wajah,
 gerakan tubuh
 perbuatan menyita perhatian seksual tak dikehendaki korban, melecehkan dan
atau menghina korban.
 Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis
kekerasan seksual berat.
Macam-macam kekerasan seksual berat:
 Pelecehan, kontak fisik: raba, sentuh organ seksual, cium paksa, rangkul,
perbuatan yang rasa jijik, terteror, terhina
 Pemaksaan hubungan seksual
 Hubungan seksual dgn cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan
 Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain, pelacuran tertentu.
 Hubungan seksual memanfaatkan posisi ketergantungan / lemahnya korban.
 Tindakan seksual + kekerasan fisik, dengan atau tanpa bantuan alat yang
menimbulkan sakit, luka, atau cedera.
Perundang-undangan
Persetubuhan tertera pada Bab XIV KUHP
Tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan
Persetubuhan dalam perkawinan
• Pasal 288 KUHP
Persetubuhan di luar Perkawinan
• Dengan persetujuan si wanita
- Tanpa ikatan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
142
≈ wanita < 15 tahun : (287 KUHP)
≈ wanita > 15 tahun : (284 KUHP)
- Dengan Ikatan
≈ wanita < 21 tahun
- Pemberian/janji uang/barang (293 KUHP)
- Asuhan/Pendidikan (294 KUHP)
≈ wanita > 21 tahun
- Bawahan (294 KUHP)
- Dalam pengawasan (294 KUHP)
• Tanpa Persetujuan si wanita
- Dengan Kekerasan (285 KUHP)
- Si wanita pingsan/tidak berdaya (286 KUHP)
Perbuatan Cabul (289 KUHP)
Fungsi Penyelidikan:
1. Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan
Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana alat kelamin laki-laki masuk ke dalam
alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya
pancaran air mani.
Pemeriksaan dipengaruhi oleh : besarnya zakar dengan ketegangannya, seberapa jauh
zakar masuk, keadaan selaput dara serta posisi persetubuhan.
Adanya robekan pada selaput dara hanya menunjukkan adanya benda padat/kenyal
yg masuk (bukan merupakan tanda pasti persetubuhan). Jika zakar masuk
seluruhnya &keadaan selaput dara masih cukup baik, pada pemeriksaan diharapkan
adanya robekan pd selaput dara. Jika elastis, tentu tidak akan ada robekan.
Adanya pancaran air mani (ejakulasi) di dalam vagina merupakan tanda pasti
adanya persetubuhan. Pada orang mandul, jumlah spermanya sedikit sekali
(aspermia), sehingga pemeriksaan ditujukan adanya zat-zat tertentu dalam air mani
seperti asam fosfatase, spermin dan kholin. Namun nilai persetubuhan lebih rendah
karena tidak mempunyai nilai deskriptif yang mutlak atau tidak khas.
2. Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan
Kekerasan tidak selamanya meninggalkan bekas/luka, tergantung dari penampang
benda, daerah yang terkena kekerasan, serta kekuatan dari kekerasan itu sendiri.
Tindakan membius juga termasuk kekerasan, maka perlu dicari juga adanya racun
dan gejala akibat obat bius/racun pada korban.
Adanya luka berarti adanya kekerasan, namun tidak ada luka bukan berarti tidak ada
kekerasan. Faktor waktu sangat berperan. Dengan berlalunya waktu, luka dapat
sembuh atau tidak ditemukan, racun/obat bius telah dikeluarkan dari tubuh. faktor
waktu penting dalam menemukan sperma.
3. Memperkirakan umur
Tidak ada satu metode tepat untuk menentukan umur, meskipun pemeriksaannya
memerlukan berbagai sarana seperti alat rontgen untuk memeriksa pertumbuhan
tulang dan gigi. Perkiraan umur digunakan untuk menentukan apakah seseorang
tersebut sudah dewasa (> 21 tahun) khususnya pada homoseksual/lesbian serta pada
kasus pelaku kejahatan. Sedangkan pada kasus korban perkosaan perkiraan umur
tidak diperlukan.
4. Menentukan pantas tidaknya korban buat dikawin
Secara biologis jika persetubuhan bertujuan untuk mendapatkan keturunan,
pengertian pantas/tidaknya buat kawin tergantung dari: apakah korban telah siap
dibuahi yang artinya telah menstruasi, namun untuk bukti hal ini korban perlu diisolir
untuk waktu cukup lama. Bila dilihat Undang-Undang Perkawinan, yaitu pada Bab II
pada pasal 7 ayat 1 berbunyi : perkawinan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
143
19 tahun dan wanita sudah mencapai 16 tahun. Namun terbentur lagi pada masalah
penentuan umur yang sulit diketahui kepastiannya.
Pemeriksaan Medis
1. Anamnesis
Anamnesis umum memuat:
- Identitas : Nama, umur, TTL, status perkawinan,
- Spesifik : Siklus haid, penyakit kelamin, peny. kandungan, peny. lain, pernah
bersetubuh, persetubuhan yang terakhir, kondom ?
Anamnesis khusus memuat waktu kejadian
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umum memuat :
- Kesan penampilan (wajah, rambut), ekspresi emosional, tanda-tanda bekas
kehilangan kesadaran / obat bius / needle marks.
- Berat badan, tinggi badan, tanda vital, pupil, refleks cahaya, pupil pinpoint, tanda
perkembangan alat kelamin sekunder, kesan nyeri ?
Pemeriksaan fisik khusus memuat:
- Pembuktian persetubuhan :
ada / tidak penetrasi penis ke vagina / anus / oral
ejakulat / air mani pada vagina / anus
- Bukti Penetrasi :
• Robekan hymen, laserasi (mencakup perkiraan waktu)
• Variasi : - korban 3 hari yang lalu / lebih
- hymen elastis
- penetrasi tidak lengkap
• Bukti Ejakulat/air mani (mencakup perkiraan waktu)
• Perlekatan rambut kemaluan
• Ejakulat di liang vagina
3. Pemeriksaan Pakaian
- rapi / tidak,
- robekan? lama/baru, melintang? pada jahitan? kancing putus?
- bercak darah
- air mani
- lumpur / kotoran lain di TKP ?
4. Pemeriksaan Laboratorium
- cairan dan sel mani dalam lendir vagina
- pemeriksaan terhadap kuman N. gonorrhoea sekret ureter
- pemeriksaan kehamilan
- toksikologik darah dan urin
Pembuktian Adanya Kekerasan
- Luka2 lecet bekas kuku, gigitan (bite marks), luka2 memar
- Lokasi : Muka, leher, buah dada, bagian dalam paha dan sekitar alat kelamin
Perkiraan Umur
Umur berkaitan dengan KUHP
- Dasar berat badan, tinggi badan, bentuk tubuh, gigi, ciri-ciri kelamin sekunder
- Pemeriksaan sinar X : standar waktu penyatuan tulang
Penentuan sudah atau belum waktunya dikawin
Pertimbangan kesiapan biologis : menstruasi,
Wanita sudah ovulasi / belum : vaginal smear
Berdasar umur ? : > 16 th
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
144
Pemeriksaan terhadap Pelaku
- Upaya pengenalan persetubuhan,
- Bercak sperma, darah, tanah dan pakaian, robekan.
- Bentuk tubuh : memungkinkan tindakan kekerasan.
- Tanda cedera : perlawanan korban ?
- Rambut terlepas.
- Pemeriksaan menyeluruh alat kelamin : mampu seksual ? cedera ?
- Tanda infeksi gonokokus,
- Sekret
- Smegma
Pemeriksaan Penentuan gol. Darah
- Serologis air mani (antigen ABO) pada orang yg ’sekretor’
- Di cocokkan dengan golongan darah (pelaku / korban)
Homoseksual
- Homoseksual merupakan salah satu bentuk kejahatan seksual
- Didalam Pasal 292 KUHP, terdapat ancaman hukuman bagi seseorang yang cukup
umur yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain yang sama kelaminnya yang
belum cukup umur
Penatalaksanaan Korban Kekerasan Seksual
- Profesi kedokteran : Sesuai standar pemeriksaan korban kekerasan danpembuatan
visum et repertumnya
- Kendala → belum berkembangnya Ilmu Kedokteran Forensik Klinik di Indonesia
- Didirikannya Pusat Krisis terpadu bagi perempuan dan anak-anak
- Menerima dan menatalaksana kekerasan terhadap perempuan, kekerasan fisik maupun
seksual, secara terpadu sehingga diharapkan dapat memperkecil trauma psikologis
akibat viktimisasi lanjutan pada korban.
Penting diketahui:
1. Sperma masih dapat ditemukan dalam keadaan bergerak dalam vagina 4-5 jam
setelah persetubuhan.
2. Pada orang yang masih hidup, sperma masih dapat ditemukan (tidak bergerak)
sampai sekitar 24-36 jam setelah persetubuhan, sedangkan pada orang mati sperma
masih dapat ditemukan dalam vagina paling lama 7-8 hari setelah persetubuhan.
3. Pada laki-laki yang sehat, air mani yang keluar setiap ejakulasi sebanyak 2-5 ml,
yang mengandung sekitar 60 juta sperma setiap mililiter dan 90% bergerak (motile)
4. Untuk mencari bercak air mani yang mungkin tercecer di TKP, misalnya pada sprei
atau kain maka barang-barang tersebut disinari dengan cahaya ultraviolet dan akan
terlihat berfluoresensi putih, kemudian dikirim ke laboratorium.
5. Jika pelaku kejahatan segera tertangkap setelah kejadian, kepala zakar harus
diperiksa, yaitu untuk mencari sel epitel vagina yang melekat pada zakar. Ini
dikerjakan dengan menempelkan gelas objek pada gland penis (tepatnya sekeliling
korona glandis) dan segera dikirim untuk mikroskopis.
6. Robekan baru pada selaput dara dapat diketahui jika pada daerah robekan tersebut
masih terlihat darah atau hiperemi/kemerahan. Letak robekan selaputn dara pada
persetubuhan umumnya di bagian belakang (comisura posterior), letak robekan
dinyatakan sesuai menurut angka pada jam. Robekan lama diketahui jika robekan
tersebut sampai ke dasar (insertio) dari selaput dara.
7. VeR yang baik harus mencakup keempat hal tersebut di atas (fungsi penyelidikan),
dengan disertai perkiraan waktu terjadinya persetubuhan. hal ini dapat diketahui dari
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
145
keadaan sperma serta dari keadaan normal luka (penyembuhan luka) pada selaput
dara, yang pada keadaan normal akan sembuh dalam 7-10 hari.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
Minta keterangan dari pihak keluarga,
teman dekat, atau polisi dan
melakukan pemeriksaan
146
BAB XII
KEMATIAN MENDADAK
DEFINISI
CARA KEMATIAN
Kasus kematian mendadak merupakan kematian tidak wajar .
Kematian mendadak merupakan peristiwa yang tidak terduga terjadi sekonyong-
konyongnya tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Kematian mendadak dapat terjadi saat
dalam tugas, perjalanan, atau saat bekerja, atau tidur, atau melakukan sesuatu yang
emosional. Sedang tempatnya sangat bervariasi, bisa di kendaaraan, hotel, rumah, kantor,
penginapan dan rekreasi.
Pada umumnya kasus kematian mendadak bervariasi antara 50–80 tahun, dan yang
terbanyak adalah pihak laki-laki mengingat motivasi kerja dan bepergian. Berbagai
penyakit dapat menimbulkan kematian mendadak antara lain penyakit jantung, hipertensi
(cardio vascular), dan penyakit-penyakit metabolisme antara lain diabetes melitus dan
hyperlipidemi (kolesterol, triglycerid) dan metabolisme protein antara lain asam urat dan
urium. Maka pada usia tersebut di atas pada berbagai instansi dilakukan check up
terutama pada menjelang purna tugas.
Yang termasuk kematian mendadak :
1. Kematian terjadi seketika
Contoh ¬ teman bertamu, duduk, kemudian meninggal
2. Kematian tidak terduga
Contoh ¬ seorang pasien nyeri perut dengan diagnosis gastritis akut kemudian
diperiksa dan ternyata meninggal
3. Kematian tidak diketahui penyebabnya
Contoh ¬ orang ditinggal di rumah masih sehat kemudian keesokan harinya
meninggal
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
Minta keterangan dari pihak keluarga,
teman dekat, atau polisi dan
melakukan pemeriksaan
147
Kematian yang terjadi secara tiba-tiba disebabkan penyakit alamiah dimana tidak ada
unsur trauma dan atau keracunan, dimana orang tersebut sebelumnya tampak sehat
Gambar. Skema cara menangani kasus kematian mendadak
Penyebab kematian ditinjau secara per-organ :
1. Sistem kardiovaskuler
-Penyakit jantung koroner
-Trombus pada ramus circumflexa a. coronaria sinistra
-Trombus pada ramus ascendens a. coronaria dextra et sinistra
-Infark miokard akut
-Penyakit katup jantung
-Temponade jantung
-Trombo-emboli
-Infeksi otot jantung
-Kelainan kongenital
-Pecahnya aneurisma aorta
-Penyempitan atau penebalan ramus descenden a. Coronoria sinistra (arteri yg
mensuplai darah bagi pace marker
Penting untuk diingat!!!
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
Morat-marit atau tidak Pintu terkunci
Harta benda yang hilang
Korban diasuransikan atau tidak
Apakah didapatkan tanda2 kelainan pd
korban
Usia, Riwayat penyakit
Keterangan mengenai
kesehatan terakhir, Riwayat
pengobatan (berobat ke mana)
Tingkah laku yang aneh
Apakah sedang bertengkar
Apakah sehabis makan
Apakah kedatangan tamu
MENYIMPULKAN KEMUNGKINAN KEMATIAN MENDADAK
Mati wajar karena penyakit ¬ didapatkan penyakit pembuluh darah koroner (sehabis aktivitas
fisik, bertengkar).
Mati tidak wajar ¬ didapatkan tanda-tanda kekerasan di tubuh
KEMATIAN
MENDADAK
Minta keterangan dari pihak keluarga,
teman dekat, atau polisi dan
melakukan pemeriksaan
TANYAKAN
Hal-hal yg perlu
diketahui dari
orang tentang
korban
Keadaan sekitar
korban
148
Penyumbatan/thrombus dan penyempitan/penebalan ¬pembuluh darah tidak bisa
melebar saat dibutuhkan ¬berkurang suplai darah ke pace marker saat melakukan
aktivitas fisik ¬ hipoksia ¬ Fibrilasi atrium ¬ kematian
Kematian mendadak akibat serangan jantung/karena penyakit jantung, biasanya sudah
dapat diduga yaitu kematian setelah orang tsb melakukan kerja fisik yg berlebihan,
misalnya melakukan persetubuhan yg bukan dgn isteri atau setelah olah raga
2. Sistem saraf pusat
-Perdarahan otak ¬ pecahnya aneurisma cerebri, pecahnya a. Lenticulostriata
Pecahnya aneurisma cerebri ¬ biasanya merupakan penyebab kematian
mendadak pada dewasa muda
Pecahnya a. Lentikulostriata¬ pasin hipertensi , biasanya didahului rasa sakit
kepala, pusing, mual dan kemudian jatuh.
-Trombus a. cerebri media, posterior (cabang Circulus WILLISI)
-Perdarahan subarachnoid, epidural, dan subdural serta intracerebral bleeding
-Pelebaran Circulus WILLISI
-Perdarahan cerebellopontinus
-Tumor, radang, meningitis, ensefalopati, ensefalitis
-Atherosklerotik
3. Sistem pernapasan
-Edem paru
-Pneumonia
-Bronchopneumonia
-Tuberkulosis
-Emfisema pulmonum
-Status asmatikus
-Benda asing
-Edema glottis
-Kanker paru
-Laringitis difteri
-Emboli udara
-Kolaps jaringan paru
-TBC paru dengan caverne pecah
Perdarahan akibat tuberkulosa¬ menyumbat saluran pernapasan¬ kematian
mendadak
4. Sistem gastrointestinal
-Pecahnya varises esofagus
-Ulkus gastrikum kronis
-Perdarahan saluran cerna
-Apendisitis
-Trauma abdomen
-Obstruksi usus ¬ dehidrasi ¬ meninggal
-Invaginasi
-Megacolon congenital / HIRSCHPRUNG’s Disease
-Hernia inkarserata
-Perdarahan
-Radang pankreas, kandung empedu
-Ruptur hernia, limpa
-Abses hati yang pecah
5. Sistem urogenitalia dan organ reproduksi
-Perdarahan, perdarahan uterus yang hebat
-Gagal ginjal akut
-Gangguan fungsi ginjal oleh batu, infeksi, tumor
-Sindrom nefrotik
-Glomerulonephritis
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
149
-Ruptur saluran kemih
-Kista ovarium terpelintir
-Kehamilan ektopik terganggu
-Eklampsia
BAB XIII
TOKSIKOLOGI FORENSIK
DEFINISI
Toksikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sumber,
karakteristik dan kandungan racun, gejala dan tanda yang disebabkan racun, dosis fatal,
periode fatal,dan penatalaksanaan kasus keracunan. Periode fatal merupakan selang waktu
antara masuknya racun dalam dosis fatal rata-rata sampai menyebabkan kematian pada
rata-rata orang sehat.

Dalam berbagai kepustakaan, terdapat berbagai pengertian tentang keracunan
(poisoning) dan intoksikasi. Beberapa kepustakaan menyatakan pengertian keracunan dan
intoksikasi berbeda, dimana keracunan dinyatakan sebagai overdosis yang mempunyai
efek sentral sedangkan intoksikasi merupakan overdosis yang bersifat umum baik sentral
maupun perifer. Namun kepustakaan lain menyatakan keracunan dan intoksikasi memiliki
pengertian yang sama.

Berbagai definisi racun telah dipublikasikan berdasarkan sudut pandang yang
berbeda dari berbagai ahli. Semua definisi memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri
dalam interpretasi dan banyak definisi yang tumpang tindih satu dengan lainnya.
Paracelcus (1493-1541) yang lebih dikenal sebagai Theopraxis Bombastus von
Honhenheim, orang yang pertama mendefinisikan racun, menyatakan semua substansi di
alam adalah racun hanya dosis yang membedakan substansi tersebut racun atau bukan
(sola dosis facit venenum). Ahli toksikologi SEINEN (1989) menyatakan racun adalah
substansi yang diberikan secara berlebihan sehingga toksikologi dianggap sebagai
pengetahuan tentang sesuatu yang berlebihan (toxicology is the knowledge of too much).
SANGSTER secara lebih rinci menyatakan tentang sumber substansi yang
dianggap racun. Keracunan dianggap sebagai cidera yang diakibatkan konsentrasi
berlebihan dari substansi eksogenous (dari luar tubuh manusia).

Toksikologi forensik ¬ Pemeriksaan racun dan keracunan yang berhubungan dengan
perkara pidana atau perdata.
Kata Racun, tidak disebutkan dalam undang-undang yang berlaku di Indonesia
KUHAP ps 133 ayat 1 : hanya ada kata “keracunan”
KUHP ps 356 : ada kata “meracuni” ¬ penyaniayaan
Racun ¬ zat/bahan yang dalam jumlah tertentu bila terjadi kontak atau masuk kedalam
tubuh akan menyebabkan penyakit dan/atau kematian.
Sumber Racun :
- Racun rumah tangga : desinfektan, detergen, insektisida
- Racun pertanian : pestisida, herbisida
- Racun kedokteran : hipnotika, sedatif, analgetika, obat
o penenang, antidepresan, antibiotika
- Racun industri : asam dan basa kuat, logam berat
- Racun bebas : opium, ganja, sianida, racun pada jamur
Cara Masuk :
• Mulut/peroral
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
150
• Saluran pernafasan/inhalasi
• Suntikan/parenteral
• Perrektal
• pervaginal
• Melalui kulit
Skema. Cara masuknya racun ke tubuh
MEKANISME KERJA RACUN
1. Titik tangkap kerja
- Gangguan sistem enzim
Arsen dan Hg : enzim sulfhidril
- Gangguan transport O2 Ekstraseluler
Ex : CO
- Inaktivasi asetilkolin esterase
Ex : insektisida organofosfat, karbamat
2. Spektrum kerja
- sistemik
- lokal
Racun yang bekerja lokal :
• zat-zat korosif : lisol, asam kuat, basa kuat
• iritan : arsen, HgCl2,
• anestetik : kokain, asam karbol
Racun yang bekerja sistemik
• narkotika, barbiturat dan alkohol ¬ terutama berpengaruh terhadap
susunan saraf pusat
• digitalis dan asam oksalat ¬ terutama berpengaruh terhadap
jantung
• karbonmonoksida dan sianida ¬ terutama berpengaruh terhadap
sistem enzim pernafasan dalam sel
• cantharides dan HgCl2 ¬ terutama berpengaruh terhadap
ginjal
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
151
Racun yang bekerja lokal & Sistemik :
- asam oksalat
- asam karbol
- arsen
- garam Pb
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERJA RACUN
• Cara Pemberian
• Keadaan Tubuh : umur, keadaan umum, kebiasaan, hipersensitifitas
• Racunnya sendiri : Dosis, konsentrasi, bentuk dan kombinasi fisik, addisi dan
sinergisme, antagonisme
Cara pemberian, pada umumnya racun akan paling cepat bekerja pada tubuh jika
masuk secara inhalasi, kemudian secara injeksi (i.v, i.m, dan s.k), ingesti, absorbsi
melalui mukosa dan yang paling lambat jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh melalui
kulit yang sehat.
Umur, pada umunya anak-anak dan orang tua lebih sensitif terhadap racun bila
dibandingkan dengan orang dewasa, tetapi pada beberapa jenis racun, seperti barbiturat
dan belladonna, justru anak-anak lebih tahan.
Kesehatan, pada orang-orang yang menderita penyakit hati atau penyakit ginjal
biasanya akan lebih mudah keracunan bila dibandingkan dengan orang yang sehat. Pada
mereka yang menderita penyakit yang disertai dengan peningkatan suhu atau penyakit
pada saluran pencernaan, penyerapan racun biasanya jelek, sehingga jika pada penderita
tersebut terjadi kematian, kita tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa
kematian penderita diakibatkan oleh racun.
Kebiasaan, faktor ini berpengaruh dalam hal dosis racun yang dapat menimbulkan
gejala-gejala keracunan atau kematian, yaitu karena terjadinya toleransi.
Hipersensitif (alergi-idiosinkrasi), banyak preparat-preparat seperti vitamin B1,
penisilin, streptomisin dan preparat-preparat yang mengandung yodium menyebabkan
kematian, karena si korban sangat rentan terhadap oreparat-preparat tersebut.
Dosis, besar kecilnya dosis racun akan menentukan berat ringannya akibat yang
ditimbulkan, dalam hal ini tidak boleh dilupakan adanya toleransi/intoleransi individu.
Pada intoleransi, gejala keracunan akan tampak walaupun racun yang masuk ke dalam
tubuh belum mencapai level toksik.
Konsentrasi, untuk racun-racun yang kerjanya dalam tubuh bersifat lokal, misalnya
zat-zat korosif, konsentrasi lebih penting bila dibandingkan dengan dosis total. Keadaan
tersebut berbeda dengan racun yang bekerja secara sistemik, dimana dalam hal ini
dosislah yang berperan dalam menentukan berat ringannya akibat yang ditimbulkan oleh
racun tersebut.
Bentuk, racun yang berbentuk cair tentunya akan lebih cepat menimbulkan efek bila
dibandingkan dengan racun yang berbentuk padat.
Seseorang yang menelan racun dalam keadaan lambung kosong, tentu akan lebih cepat
keracunan bila dibandingkan dengan orang yang menelan racun dalam keadaan
lambungnya berisi makanan.
Addisi dan sinergisme. Barbiturate misalnya, jika diberikan bersama-sama dengan
alkohol, morfin atau CO, dapat menyebabkan kematian, walaupun dosis barbiturate yang
diberikan jauh dibawah dosis letal
Antagonisme, kadang-kadang dijumpai kasus dimana seseorang memakan lebih dari
satu macam racun, tetapi tidak mengakibatkan apa-apa, oleh karena racun-racun tersebut
saling menetralisir.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
152
Dalam hal klinik sifat antagonistik ini dimanfaatkan untuk pengobatan, misalnya nalorfin
dan naloxone dipakai untuk mengatasi depresi pernafasan dan oedema paru-paru yang
terjadi pada keracunan akut obat-obat golongan narkotika.
TOKSISITAS RACUN
Dalam pemeriksaan keracunan harus diperhatikan kondisi-kondisi yang
mempengaruhi fatalitas racun pada korban, baik pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan. Banyak substansi yang hanya bersifat toksik dalam jumlah yang
besar tetapi ada yang bersifat toksik meskipun jumlahnya kecil. Demikian juga adanya
substansi tertentu secara tersendiri tidak bersifat toksik atau toksisitasnya rendah tetapi
dengan adanya substansi lain, menyebabkan substansi tersebut menjadi toksik.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan korban hidup, antara lain :

1. Toksisitas intrinsik
Ikatan kimia (struktur kimia) suatu zat secara intrinsik membentuk sifat racun zat
tersebut,misalnya unsur sodium.
2. Dosis dan bioavailabilitas
Farmakokinetik untuk substansi yang bersifat sistemik sangat tergantung dosis zat
yang masuk ke dalam tubuh dan kecepatan metabolisme zat terutama di organ
detoksifikasi (hati). Metabolisme zat di dalam hati sebelum beredar ke dalam
sirkulasi sistemik (first pass effect) sangat menentukan toksisitas zat yang masuk ke
dalam tubuh secara oral.
3. Konsentrasi
Fatalitas beberapa zat tergantung konsentrasi seperti halnya gas karbonmonoksida
(CO), asam kuat dan basa kuat.
4. Frekuensi dan waktu paruh
Seringnya kontak, lama kontak (durasi) dan waktu paruh zat yang kontak juga
mempengaruhi toksisitas racun.
5. Cara masuk zat ke dalam tubuh
Cara masuk zat ke dalam tubuh sangat menentukan kecepatan kecepatan absorbsi dan
beredarnya zat secara sistemik. Pemekaian zat per oral relatif lebih lambat
dibandingkan secara injeksi dan inhalasi.
6. Ko-medikasi
Adanya zat lain (ko-medikasi) dapat meningkatkan toksisitas zat dengan toksisitas
rendah atau mengubah zat yang tidak toksik menjadi toksik. Alkohol merupakan ko-
medikasi yang paling sering digunakan, yang dapat meningkatkan efek depresan dari
obat-obat yang menekan sistem saraf pusat.
7. Kondisi pemakai
Kondisi korban harus diperiksa dengan teliti terhadap adanya penyakit-penyakit yang
melibatkan sistem metabolisme dan detoksifikasi, dimana penyakit tersebut dapat
meningkatkan toksisitas suatu zat. Demikian juga halnya faktor umur, jenis kelamin,
status gizi, reaksi alergi, dan idiosinkrasi.
KERACUNAN DALAM BIDANG MEDIS
Pelayanan forensik klinis kasus keracunan pada prinsifnya adalah
mengumpulkan bukti-bukti penggunaan racun dan menginterpretasikannya dalam bentuk
sertifikasi yang dapat dijadikan bukti da dapat diterima di pengadilan. Informasi yang
melatarbelakangi keracunan menjadi salah satu bukti yang perlu digali dan dikumpulkan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
153
Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu
atas dasar dari tujuan pemeriksaan itu sendiri. Yang pertama bertujuan untuk mencari
penyebab kematian, misalnya kematian karena keracunan morfin, sianida, keracunan
karbonmonoksida serta keracunan insektisida dan lain sebagainya. Yang kedua, dan ini
sebenarnya yang terbanyak kasusnya akan tetapi belum banyak disadari, adalah untuk
mengetahui mengapa suatu peristiwa, misalnya peristiwa pembunuhan, kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan pesawat udara dan perkosaan dapat terjadi. Dengan demikian tujuan
yang kedua bermaksud untuk membuat suatu rekaan rekonstruksi atas peristiwa yang
terjadi, sampai sejauh mana obat-obatan atau racun tersebut berperan sehingga kecelakaan
pesawat udara misalnya, dapat terjadi.
BENTUK KERACUNAN BERDASARKAN MOTIF
Salah satu tujuan pelayanan forensik klinik adalah memberikan informasi atau
fakta-fakta yang membuat terang kasus keracunan yang mencurigakan termasuk motif
yang melatarbelakangi kasus tersebut. Dalam kasus tindak pidana harus dibuktikan
adanya perbuatan yang salah (actua rheus) dan situasi batin yang melatarbelakangi
tindakan tersebut (men rhea). Motif keracunan harus ditentukan sebagai unsur men rhea,
apakah timbul akibat kecerobohan (recklessness), kealpaan (negligence) atau kesengajaan
(intentional).

Secara umum, motif keracunan dapat dibedakan menjadi dua bentuk (tipe)
berdasarkan korban keracunan, yaitu:

1. Tipe S (spesific target)
Menunjukkan bahwa korban keracunan hanya orang tertentu dan biasanya antara
pelaku dan korban sudah saling kenal. Motivasi yang biasanya melatarbelakangi,
antara lain: uang, membunuh, pembunuhan lawan politik dan balas dendam.
Keracunan tipe S berdasarkan terjadinya dibagi ke dalam dua sub grup yaitu:
a. Sub grup S tipe S/S (spesific/slow) dimana keracunan terjadi secara
perlahan dan direncanakan oleh pelaku.
b. Sub grup Q tipe S/Q (spesific/quick) dimana keracunan terjadi secara
mendadak dan tanpa perencanaan sebelumnya.
Pemeriksaan terhadap korban keracunan tipe S/S perlu mendapat perhatian lebih
sebab kegagalan pembuktian tanda-tanda keracunan oleh dokter sangat sering
membuat kasus tersebut menjadi kasus tersebut menjadi kasus pembunuhan yang
sempurna (the perfect murder). Pembunuhan yang sempurna adalah kematian korban
yang sesungguhnya akibat tindaan pidana tetapi dokter menyatakan sebagai kematian
wajar karena faktor penyakit. Kasus pembunuhan yang sempurna terjadi bukan karena
keahlian si pembunuh, tetapi akibat kegagalan dokter mengenali tanda-tanda
keracunan pada korban.
2. Tipe R (random target)
Terjadi pada korban yang acak. Motivasi bentuk keracunan ini biasanya ego, sadistik,
dan teror. Berdasarkan kejadiannya keracunan tipe R dibagi:
a. Sub grup S tipe R/S (random/slow), terorisme merupakan salah satu benuk
keracunan tipe ini bila racun yang dipakai sebagai alat untuk menjalankan teror.
b. Sub tipe Q tipe R/Q (random/quick).
PEMERIKSAAN PERISTIWA KERACUNAN
Meliputi :
• Pemeriksaan TKP
• Pemeriksaan korban
- pemeriksaan dalam
- pemeriksaan luar
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
154
• Pemeriksaan Toksikologi
- pengambilan dan pengumpulan bahan
PEMERIKSAAN TKP
Pemeriksaan TKP Penting untuk proses penyidikan selanjutnya
Tujuan :
• Menentukan korban hidup/ meninggal
• Mengumpulkan barang bukti
• Memperkirakan cara kematian
• Menentukan saat kematian
PEMERIKSAAN FORENSIK KLINIK TERHADAP KORBAN KERACUNAN
Pemeriksaan korban keracunan pada prinsipnya sama secara medis maupun
secara forensik klinis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.
Perbedaan yang ada adalah pada hasil akhir pemeriksaan, berupa sertifikasi yang memberi
batuan pembuktian hukum terhadap korban. Sertifkasi yang dimaksud adalah
diterbitkannya visum et repertum peracunan.

Dalam pemeriksaan forensik klinis, anamnesis dapat bersifat autoanamnesis bila
korban kooperatif atau alloanamnesis baik terhadap keluarga koban atau penyidik.
Beberapa hal yang perlu ditekankan dalam anamnesis :

- Jenis racun
- Cara masuk racun (route of administration) : melalui ditelan, terhisap bersama
udara pernafasan, melalui penyuntikan, penyerapan melalui kulit yang sehat atau kulit
yang sakit, melalui anus atau vagina.
- Data tentang kebiasaan dan kepribadian korban
- Keadaan sikiatri korban
- Keadaan kesehatan fisik korban
- Faktor yang menigkatkan efek letal zat yang digunakan seperti penyakit, riwayat
alergi atau idiosinkrasi atau penggunaan zat-zat lain (ko-medikasi)
Dalam pemeriksaan fisik, harus dicatat semua bukti-bukti medis meliputi tanda-
tanda mencurigakan pada tubuh korban seperti bau tertentu yang keluar dari mulut atau
saluran napas, warna muntahan dan cairan atau sekret yang keluar dari mulut atau saluran
napas, adanya tanda suntikan, dan tanda fenomena drainage. Gejala-gejala dan perlukaan
tertentu harus dicatat seperti kejang, pin point pupil atau tanda gagal napas. Demikian
juga terhadap luka-luka lecet sekitar mulut, luka suntikan atau kekerasan lainnya. Bau-
bau tertentu harus dikenali dalam pemeriksaan seperti bau amandel pada keracunan
sianida, bau pestisida atau bau minyak tanah yang dipakai sebagai pelarut.

Pengambilan dan analisis sampel dilakukan dengan mengambil sisa muntahan,
sekret mulut dan hidung, darah serta urin. Bila racun per oral, analisis isi lambung harus
dilakukan secara visual, bau dan secara kimia. Skrening racun diambil dari sampel urin
dan darah.

Hasil akhir pemeriksaan forensik klinik adalah diterbitkannya Visum et
Repertum Peracunan yang merupakan salah satu alat bukti sah di pengadilan. Prosedur
penerbitan Visum et Repertum Peracunan sesuai dengan prosedur medikolegal penerbitan
visum dimana harus dibuat berdasarkan Surat Permintaan Visum resmi penyidik (Pasal
133 KUHAP). Dalam Visum et Repertum peracunan ditentukan kualifikasi luka akibat
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
155
peracunan, dimana penentuannya berdasarkan penilaian efek racun terhadap metabolisme
dan gangguan fungsi organ yang diakibatkan oleh racun.

PEMERIKSAAN FORENSIK KASUS KERACUNAN TERHADAP KOBAN
YANG SUDAH MENINGGAL
Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan keracunan
pada korban yang sudah meninggal antara lain:
1. Pemeriksaan post mortem
a. Pemeriksaan luar
Pada pemeriksaan luar untuk kasus keracunan, kemungkinan didapatkan:
- Racun jenis tertentu mengeluarkan bau aroma yang khas, misalnya asam
hidrosianida, asam karbonat, kloroform, alkohol, dll. Untuk menjaga
keutuhan jenazah tidak boleh menggunakan cairan desinfektan yang
mempunyai bau (aroma).

- Pada permukaan tubuh jenazah mungkin ditemukan bercak-bercak yang
berasal dari muntahan, feses dan kadang-kadang jenis racun itu sendiri.

- Perubahan warna kulit, misalnya menjadi kuning pada keracunan fosfor
dan keracunan akut akibat unsur tembaga sulfat.

- Keadaan pupil mata dan jari tangan yang lemas atau mengepal.

- Pemeriksaan lubang pada tubuh jenazah untuk melihat adanya tanda-tanda
bekas zat korosif atau benda asing.

- Livor mortis yang khas, merah terang, cherry red atau merah coklat (bila
racunnya menyebabkan perubahan warna darah sehingga warna lebam
jenazah mengalami perubahan.

b. Pemeriksaan dalam
Pada umumnya tanda-tanda keracunan tampak pada traktus gastrointestinal,
terutama jika keracunan akibat zat korosif atau iritan. Perubahan yang terjadi
adalah:
- Hiperemia
Warna kemerahan pada membran mukosa paling jelas terlihat pada bagian
cardiac lambung dan pada bagian curvatura major. Warnanya adalah merah
gelap dan hiperemia ini bentuknya bisa merata atau bercak, misalnya pada
keracunan arsen hiperemia adalah merah merata.
Perubahan warna juga bisa muncul karena berbagai unsur lainnya seperti sari
buah. Asam nitrat menyebabkan warna kuning pada usus. Hiperemia harus
dibedakan dengan kongesti vena secara menyeluruh yang terjadi pda
kematian akibat asfiksia. Gambaran yang membedakan dengan hiperemia
yang disebabkan oleh penyakit adalah pada hiperemia karena penyakit
sifatnya merata dan terdapat pada seluruh permukaan serta tidak berupa
bercak, selain itu gambaran membran mukosa lebih banyak terkena pada
kasus keracunan.
- Perlunakan
Keadaan ini terjadi pada keracunan korosif, lebih sering terlihat pada kardiak
lambung, kurvatura mayor, mulut, tenggorokan dan esofagus. Jika disebabkan
karena penyakit, gambaran ini hanya tampak pada lambung. Juga harus
dibedakan dengan perlunakan post mortem yang terdapat pada bagian yang
lebih rendah dan mengenai seluruh lapisan dinding lambung. Pada bagian
yang mengalami perlunakan tidak ada tanda-tanda inflamasi.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
156
- Ulserasi
Paling sering ditemukan ditemukan pada curvatura major lambung dan harus
dibedakan dengan tukak peptik yang paling sering terdapat di curvatura minor
lambung dan ditandai dengan adanya hiperemia di sekitar tukak tersebut.
- Perforasi
Sangat jarang terjadi, kecuali pada kasus keracunan asam sulfat. Perforasi
juga bisa terjadi akibat tukak kronis, tetapi bentuk perforasi pada kasus ini
biasannya lonjong atau bulat, pinggirnya melekuk ke arah luar dan lambung
menunjukkan tanda-tanda perlekatan dengan jaringan sekitar.
2. Pemeriksaan kimia/toksikologi pada organ tubuh bagian dalam
Ditemukannya jenis racun pada darah, feses, urin atau dalam organ tubuh merupakan
bukti yang memastikan bahwa telah terjadi keracunan. Racun bisa ditemukan dalam
lambung, usus halus, dan kadang-kadang pada hati, limpa dan ginjal. Organ tubuh dan
bahan yang diperiksa antara lain :
- Urin dan feses
- Darah
- Lambung dan isinya
- Bagian dari usus halus (duodenum dan jejunum)
- Hati
- Setengah bagian dari masing-masing ginjal
- Otak dan medulla spinalis, terutama pada keracunan striknin
- Uterus dan organ-organ yang berkaitan dengan uterus, jika ada kecurigaan abortus
kriminalis
- Paru-paru terutama pada keracunan kloroform
- Tulang, rambut, gigi dan kuku
- Organ tubuh lainnya yang dicurigai mengandung racun.
3. Pengumpulan bukti-bukti dari sekitar tempat kejadian
KUNCI PEMBUKTIAN KASUS KERACUNAN
Dalam pembuktian kasus keracunan sebagai tindak pidana, banyak hal yang
harus dibuktikan dan dalam pembuktiannya banyak melibatkan dokter forensik klinis. Hal
yang dibuktikan antara lain :

1. Bukti hukum (legally proving): bukti hukum yang dapat diterima di pengadilan
(adminissible) sangat tergantung dari keaslian bukti tersebut sehingga
penatalaksanaan terhadap bukti-bukti pada korban sangat diperlukan. Terlebih lagi
pada kasus tindak pidana yang memerlukan standar pembuktian dengan tingkat
kepercayaan yang lebih tinggi yaitu sampai tidak ada keraguan yang beralasan.
2. Pembuktian motif keracunan
3. Kondisi yang memungkinkan dapat diperolehnya racun seperti adanya resep, toko
obat atau toko yang menyediakan substansi yang digunakan.
4. Bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan korban, gangguan kepribadian, kondisi
kesehatan, dan penyakit serta kesempatan dilibatkannya racun.
5. Bukti kesengajaan (intentional)
6. Bila korban meninggal harus ditentukan sebab kematian korban adalah racun
dengan menyingkirkan sebab kematian yang lainnya.
7. Bukti peracunan adalah homicide.
Dari 7 bukti pembuktian kasus keracunan tersebut, tampak bantuan dokter sangat
diperlukan dalam beberapa langkah terutama :

Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
157
• Pengumpulan, pencatatan dan interpretasi bukti keracunan medis dalam
upaya memberikan pembuktian hukum
• Menemukan bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan, kondisi fisik dan
keadaan psikiatri korban
• Penentuan sebab kematian bila korban dengan mengeklusi penyebab
kematian lainnya
MEKANISME KERJA RACUN DALAM TUBUH MANUSIA
1. Racun yang bekerja lokal atau setempat, zat-zat korosif : lisol, asam kuat, basa
kuat, yang bersifat iritan : arsen, HgCl
2
, yang bersifat anestetik : kokain, asam karbol
2. Racun yang bekerja secara sistemik
- narkotika, barbiturat dan alkohol; terutama berpengaruh terhadap susunan saraf
pusat
- digitalis dan asam oksalat; terutama berpengaruh terhadap jantung
- karbonmonoksida dan sianida, terutama berpengaruh terhadap sistem enzim
pernafasan dalam sel
- insektisida golongan “chlorinated hydrocarbon” dan golongan fosfor organik
- cantharides dan HgCl
2
, terutama berpengaruh terhadap ginjal.
3. Racun yang bekerja secara lokal dan sistemik
- asam oksalat
- asam karbol
- arsen
- garam Pb
KERACUNAN SIANIDA
Sianida adalah racun yang digunakan baik untuk bunuh diri, kecelakaan atau
pembunuhan. Meskipun diagnosis autopsi tentang keracunan sianida sangat jarang
diragukan, analisis toksikologi mungkin sulit untuk interpretasi akibat destruksi maupun
produk sianida dalam tubuh yang sudah mati dan bahkan pada sampel darah yang
disimpan untuk menunggu diperiksa. Keracunan sianida akut merupakan kasus yang
paling sering dilaporkan sendiri, dalam beberapa kasus biasanya garam natrium maupun
kalium ikut masuk ke saluran cerna. Hal ini bisa tiba-tiba maupun dalam kecelakaan kerja
(industri) yang dalam beberapa kasus garam-garam tersebut ikut dilibatkan, atau mungkin
gas-gas yang dibebaskan dari beberapa proses komersil.
Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, cara masuk ke dalam tubuh
dapat secara :
- inhalasi, misalnya gas HCN (gas penerangan, sisa pembakaran seluloid, fumigasi
kapal)
- oral, yaitu garam CN yang dipakai pada peyepuhan emas, pengelasan besi dan
baja, serta fotografi dan amigdalin yang didapat dari singkong, ubi dan biji apel
Setelah diabsorbsi, CN masuk ke dalam sirkulasi sebagai CN bebas dan tidak
dapat berikatan dengan Hb kecuali dalam bentuk methemoglobin akan terbentuk
sianmethemoglobin. CN akan mengaktifkan enzim oksidatif beberapa jaringan secara
radikal, terutama sitokrom oksidase juga merangsang pernapasan bekerja pada ujung
sensorik sinus (kemoreseptor) sehingga pernapasan cepat. Dengan demikian proses
oksidasi-reduksi dalam sel tidak berlangsung dan oksihemoglobin tidak dapat berdisosiasi
melepaskan O
2
ke sel jaringan sehingga timbul anoksia jaringan. Hal ini merupakan
keadaan paradoksal karena korban meninggal akibat hipoksia tetapi darahnya kaya akan
O
2
.

Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
158
Takaran toksik per oral untuk HCN adalah 60-90 mg, sedangkan KCN atau
NaCN adalah 200 mg. Gas CN 200-400 ppm akan menyebabkan kematian dalam 30
menit sedangkan gas CN 20000 ppm akan menyebabkan meninggal seketika.
Penemuan Autopsi pada Keracunan Sianida
Tanda dan gejala keracunan akut CN yang ditelan dapat dengan cepat
menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian dapat timbul dalam beberapa menit.
Dalam interval yang pendek antara menelan racun sampai kematian, korban mengeluh
merasa terbakar pada kerongkongan dan lidah, hipersalivasi, mual, muntah, sakit kepala,
vertigo, photophobia, tinitus, pusing, kelelahan dan sesak napas. Dapat pula ditemukan
sianosis pada muka, keluar busa dari mulut, nadi cepat dan lemah, napas cepat dan
kadang-kadang tidak teratur, refleks melambat, udara pernapasan berbau amandel.
Menjelang kematian sianosis nyata dan timbul kedutan otot-otot berlanjut dengan kejang
dengan inkontinensia urin dan alvi. Racun yang diinhalasi menimbulkan palpitasi,
kesukaran bernapas, mual muntah sakit kepala, salivasi, lakrimasi, iritasi mulut dan
kerongkongan, pusing, kelemahan ekstremitas, kolaps, kejang, koma, dan meninggal.

Pemeriksaan luar jenazah dapat tercium bau amandel yang merupakan tanda
patognomonik untuk keracunan CN. Selain itu didapatkan sianosis pada wajah dan bibir,
busa keluar dari mulut, dan lebam jenazah berwarna merah terang. Pemeriksaan
selanjutnya biasanya tidak memberikan gambaran yang khas.
Dari luar, ada banyak variasi dalam penampilanya. Yang klasik, lebam mayat
dikatakan menjadi berwarna merah bata, sesuai dengan kelebihan oksi hemoglobin
(karena jaringan dicegah dari penggunaan oksigen) dan ditemukannya
cyanmethemoglobin. Banyak deskripsi lebam mayat yang mengarah pada kulit yang
berwarna merah muda gelap atau bahkan merah terang, terutama bergantung pada
daerahnya, yang mana dapat dibingungkan dengan karboksi hemoglobin.
Mungkin bau sianida ada pada tubuh dan dapat dikenal, tapi perlu diketahui
bahwa banyak orang tidak bisa mendeteksi bau ini, kemampuan menciumnya
berhubungan dengan genetik (bukan berdasarkan pengalaman). Ini penting diketahui oleh
ahli patologi dan pegawai kamar mayat, bahwa keracunan sianida dapat membawa resiko.
Para petugas terkait menjadi sakit dan untuk sementara mengalami gangguan fungsi
setelah mengautopsi mayat bunuh diri yang telah menelan sejumlah besar kalium sianida.
Diasumsikan mungkin akibat menghirup hidrogen sianida dari isi perut mayat ketika
melakukan pemeriksaan organ dalam.
Pada autopsi dapat tercium bau amandel waktu membuka rongga dada, perut dan
otak. Darah, otot dan penempang organ berwarna merah terang. Juga ditemukan tanda-
tanda asfiksia. Pemastian diagnosis keracunan CN dilakukan dengan pemeriksaan
toksikologis terhadap isi lambung dan darah.

Perut dapat berisi darah maupun rembesan darah akibat erosi maupun pendarahan
di dinding perut. Jika sianida berada dalam larutan encer, mungkin ada sedikit kerusakan
pada perut, terpisah dari warna merah muda pada mukosa dan mungkin beberapa
pendarahan berupa petechiae. Mungkin juga sianida tersebut menjadi kristal / bubuk putih
yang tidak dapat larut, dengan bau seperti almond.
Seperti kematian yang biasanya berlangsung cepat, sedikit bagian dari sianida
dapat sudah melewati masuk ke dalam sel cerna. Esofagus dapat mengalami kerusakan,
terutama pada bagian mukosa esofagus yang ketiga yang lebih bawah, yang bisa
mengalami perubahan post mortem dari regurgitasi isi perut melalui relaksasi sphincter
jantung setelah mati. Organ lain tidak menunjukkan perubahan yang spesifik dan
diagnosis dibuat berdasarkan ceritanya, bau dan warna kemerahan pada jaringan dalam
tubuh maupun kulit.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
159
Analisis Toksikologi
Darah, isi perut, urin dan muntahan harus diserahkan ke laboratorium,
membutuhkan perhatian khusus bahwa sampel terhindar dari resiko dalam
pengemasannya, transportasinya atau tidak dikemasnya sampel tersebut. Pemerikasaan
laboratorium harus dilakukan dan diperhatikan jika ada kemungkinan terjadinya
keracunan sianida.
Jika kematian mungkin disebabkan oleh inhalasi gas hidrogen sianida, paru-
parunya harus dikirim utuh, dibungkus dalam kantong yang terbuat dari nilon (bukan
polivinil klorida).
Penting untuk membawa sampel ke laboratorium sesegera mungkin (dalam
beberapa hari) untuk menghindari struktur sianida yang tidak seperti aslinya lagi dalam
sampel darah yang telah disimpan. Hal ini biasanya dapat terjadi akibat suhu ruangannya,
sehingga jika ada penundaan, adanya kulkas pendingin menjadi penting. Jika
dibandingkan, beberapa sampel positif sesungguhnya dapat menurun kualitasnya pada
penyimpanan. Lebih dari 70% isi sianida dapat hilang setelah beberapa minggu, akibat
reaksi dengan komponen jaringan dan konversi menjadi thiosianad.
Dikatakan bahwa tidak ada struktur sianida yang tidak seperti aslinya lagi, sianida
yang ditemukan dalam jumlah cukup adalah bukti bahwa sianida masuk dalam tubuh
yang mana hal itu sendiri tidak normal dan dikonfermasi sebagai barang bukti dari
terjadinya keracunan.
KERACUNAN KARBONMONOKSIDA
Karbonmonoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
merangsang selaput lendir. Sumber CO berasal dari hasil pembakaran tidak sempurna
motor yang menggunakan bahan bakar bensin. CO diserap melalui paru, sebagian besar
diikat oleh Hb, afinitas COHb 208-245 kali afinitas O
2
. Bila korban dipindahkan ke udara
bersih, kadar COHb berkurang 50% dalam waktu 4,5 jam dan setelah 6-8 jam darah tidak
mengandung COHb lagi. Gejala keracunan CO berkaitan dengan kadar COHb dalam
darah

Tabel.Gejala yang ditimbulkan akibat keracunan CO
Saturasi
COHb
Gejala
10 % Tidak ada
10% - 20% Rasa berat pada kening, sakit kepala ringan
20% - 30% Sakit kepala, berdenyut pada pelipis
30% - 40% Sakit kepala keras, lemah, pusing,penglihatan buram, mual dan muntah,
kolaps
40% - 50% Sama dengan gejala di atas tetapi dengan kemungkinan besar kolaps atau
sinkop. Pernapasan dan nadi cepat, ataksia.
50% - 60% Sinkop, pernapasan dan nadi bertambah cepat, koma dengan kejang
intermitten, pernapasan Cheyne-Stokes
60% - 70% Koma dengan kejang, depresi jantung dan pernapasan, mungkin meninggal
70% - 80% Nadi lemah, pernapasan lambat, gagal napas dan meninggal.
Autopsi pada keracunan CO dapat memberikan petunjuk penyebab kematian.
Salah satu contoh keracunan CO mati didalam mobil dengan AC yang dibiarkan tetap
menyala, dengan gambaran patologi dari luar atau eksterna langsung tertuju pada CO.
Pada autopsi penampilan yang paling jelas adalah warna pada kulit terutama pada post-
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
160
mortem hipostasis. Pada autopsi biasanya relatif mudah untuk menentukan korban yang
meninggal pada keracunan CO dengan melihat warna lebam mayat yang berupa cherry
red pada kulit, otot, darah dan organ-organ interna, akan tetapi pada orang yang anemik
atau mempunyai kelainan darah warna cherry red ini menjadi sulit dikenali. Warna klasik
“ Chery-pink” pada CO-Hb sebagai bukti jika saturasi darah kira-kira >30%. Dibawah ini
secara jelas <20%, tidak tampak adanya warna. Pada konsentrasi ini jarang
mengakibatkan kematian. Terkadang sianosis yang semakin gelap cenderung menutupi
warna kulit, tapi batas pasa hipostasis dan warna bagian dalam dapat terbukti.

Pemeriksaan dalam untuk keracunan yang tidak lama terjadi ditemukan jaringan
otot, viscera dan darah yang berwarna merah terang. Kadang-kadang ditemukan tanda-
tanda asfiksia dan hiperemia viscera. Pada otak besar dapat ditemukan petekie di
substansia alba bila korban bertahan hidup lebih dari 30 menit.

Pada korban keracunan CO yang sempat mendapat pertolongan dan baru
meninggal beberapa saat (hari) kemudian, maka kadar COHb dalam darah sudah kembali
rendah dan lebam mayat tidak akan berwarna merah terang. Mekanisme kematian pada
kasus ini adalah anoksia jaringan otak, yang pada pemeriksaan jenazah petekie pada
substantia alba otak atau gambaran infark atau ensephalomalacia yang simetris. Pada
kondisi demikian, diagnosis kematian akibat keracunan CO ditegakkan dengan bantuan
pemeriksaan di TKP atau gambaran klinis saat korban baru dirawat.

Saran lain mengenai indikasi CO adalah ketika jaringan dimasukkan dalam
larutan garam untuk kepentingan histologis, mereka tidak terjadi pewarnaan secara cepat
sama seperti jaringan normal dan tetap merah muda sepanjang periode. Jika keracunan
CO dicurigai pada autopsi, test yang cepat dengan menambah beberapa tetes darah pada
10% cairan NaOH di kaca gelas yang memberi latar putih. Darah normal akan segera
menjadi hijau kecoklatan tapi jika terdapat monoksida, warnanya akan menjadi merah
muda, seperti tidak ada met-Hb yang terbentuk. Bagaimanapun juga test kasar tidak
disarankan sebagai alternative yang digunakan.
KERACUNAN INSEKTISIDA
Insektisida merupakan bahan yang digunakan untuk membunuh serangga.
Pestisida dalam arti yang luas mencakup insektisida, fungisida, rodentisida, dll, yang
digunakan untuk mengendalikan hama. Kasus kematian akibat insektisida seringkali
merupakan kematian akibat bunuh diri menggunakan bahan pembunuhan serangga
golongan karbamat yang digunakan luas dimasyarakat. Selain itu keracunan juga
disebabkan oleh faktor ketidaksengajaan pada proses penyemprotan. Pembunuhan dengan
racun jenis ini jarang terjadi.
Insektisida yang sering digunakan, antara lain :

1. golongan fosfat organik : malation, paration, paraxon, diazinon
2. golongan karbamat : carbaryl, baygon
3. golongan hidrokarbon yang diklorkan : DDT, lindane
Berdasarkan cara kerjanya, golongan organofosfat dan karbamat dikategorikan
ke dalam antikolinesterase. Pada golongan organofosfat inhibisinya bersifat irreversibel,
sedangkan golongan karbamat bersifat reversibel. Inhibisi mengakibatan terjadinya
akumulasi asetilkoloin, rangsangan pada saraf kolinergik diperpanjang. Kematian terjadi
karena gagal napas dan henti jantung. Gejala klinis berupa gangguan penglihatan, sukar
bernapas, saluran pencernaan hiperaktif. Tanda dan gejala lain yang sering terjadi antara
lain sakit kepala, kelemahan otot, hiperhidrosis, lakrimasi, salivasi, miosis, sekresi saluran
napas, sianosis, papil edem, konvulsi, koma, dan hilangnya kontrol terhadap sfingter.

Pada pemeriksaan dalam ditemukan tanda pembendungan pada alat dalam. Di
dalam lambung ditemukan cairan yang terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan cairan
lambung dan lapisan larutan insektisida. Mukosa lambung dan usus bagian atas tampak
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
161
hiperemis dan mengalami perdarahan submukosa. Juga dapat tercium bau pelarut
insektisida. Limpa, otak dan paru tampak edem dan kongesti. Kerusakan jaringan hati
biasanya merupakan penyebab kematian pada keracunan kronis.

KERACUNAN DDT
Cara kerja : Merangsang sistem saraf pusat
Keracunan akut: Bisa terjadi secara tidak sengaja atau karena upaya bunuh diri.
Gejala : Mual, muntah, tremor, kejang, inkoordinasi, paralisis, edema paru, koma dan
akhirnya meninggal.
Dosis fatal : 30 gram
Periode fatal : 24 jam
Penatalaksanaan:
1. bilas lambung
2. suntikan atropine
3. fenobarbital bisa digunakan
4. simtomatik
5. tidak boleh diberikan makanan yang mengandung minyak atau lemak
Keracunan kronis
Biasanya akibat inhalasi atau penyerapan kulit dalam jangka waktu yang lama.
Gejala-gejala:
- tidak nafsu makan
- gelisah
- insomnia
- tremor
- kejang dan koma
Penatalaksanaan:
1. Hindari makanan mengandung minyak dan lemak
2. Fenobarbital dapat digunakan untuk mengendalikan tremor
KERACUNAN ORGANOFOSFAT
Racun ini dapat diserap melalui berbagai jalur.
Cara Kerja
Racun mempengaruhi neuromuscular junction dan sinaps pada ganglion. Efeknya adalah:
a. efek muskarinik, misalnya mual, muntah, kejang otot abdomen, keringat, salvias,
dan spasme bronkus
b. efek nikotinik, misalnya fasikulasi dan fibrilasi otot, takikardi, takipne
c. efek pada sistem saraf pusat, misalnya pusing, tremor, ataksia, koma, dan
meninggal
d. air mata merah; yaitu karena berkumpulnya porfirin pada kelenjar lakrimalis.
Gejala-gejala
Bergantung dari cara masuknya racun kedalam tubuh.
Tahap awal: sakit kepala, mual, muntah, dada terasa tertekan, miosis, pandangan kabur
dan mulut berbusa
Tahap lanjut: muntah, 53-150 mg intramuscular atau 100-400 mg melalui oral.
Periode fatal : 1 sampai 3 jam
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
162
Penatalaksanaan
1. Diberikan suntikan atropine sulfat 2 mg secara intramuskuler. Suntikan ini bisa
diulangi jika perlu sampai mencapai dosis maksimum yaitu 50 mg. Atropine akan
menghambat efek muskarinik dan efek racun pada susunan saraf pusat.
2. bilas lambung dilakukan dengan larutan kalium permanganate
3. jika dengan atropine tidak ada perbaikan, diberikan reaktivator kolinesterase yang
spesifik seperti diacelyemonoxial (DAM) atau Pyridine 2-aldoxima methiodide
(P2AM)
4. suntikan fenobarbital diberikan untuk mengatasi kejang-kejang
5. pengobatan simtomatik seperti pemberian oksigen, aspirasi atau trakheostomi
dilakukan jika perlu. Dehidrasi dan syok harus segera diatasi
Autopsi
1. ditemukan tanda-tanda asfiksia
2. mukosa lambung mengalami inflamasi disertai dengan perdarahan petekia
3. paru-paru tampak mengalami edema, inflamasi dan perdarahan
Kepentingan dari segi medikolegal
1. keracunan paling sering terjadi karena upaya bunuh diri
2. keracunan karena ketidaksengajaan adalah pada penyemprotan
3. pembunuhan dengan racun jenis ini jarang terjadi
KERACUNAN ARSEN
As
2
O
3
atau arsen trioksida atau disebut juga acidum arsenicosum merupakan
senyawa yang sering dan penting artinya dalam hubungannya dengan keracunan. As
2
O
3
ini berupa serbuk putih atau kadang kristal halus dengan sedikit rasa (lemah) bahkan
dapat dikatakan tidak berasa sama sekali dan tidak berbau. Mudah larut dalam asam
lambung, dalam bentuk gas biasanya berbau bawang putih. Senyawa arsenik ini banyak
ditemukan dalam bidang pertanian (rodenticide), industri (sebagai pengotoran dari zat
warna, mordant) maupun dalam bidang pengobatan (sedian-sedian yang mengandung
arsenikum baik sebagai senyawa anorganik maupun organik). Bentuk lain dari arsenikum
ini adalah Arsine dan Ethylarsine dimana berada dalam bentuk gas.
Arsen dalam bentuk metal tidak beracun, yang beracun adalah dalam bentuk
garam. Arsen mengiritasi jaringan, menekan sisem saraf dan menghalangi respirasi. Arsen
tidak berwarna, tadak berbau (As
2
O
3
) dan tidak berasa. Bentuknya seperti bubuk giling,
tidak larut dalam air. Jumlah yang sangat sedikit sudah dapat membunuh seseorang (30-
300 mg). Cara kerja keracunan akut berupa gangguan metabolisme seluler dengan
menghambat sistem enzim sulfhidril, selain itu arsen dianggap merupakan racun kapiler
dan menyebabkan dilatasi kapiler. Timbulnya gejala biasanya dalam waktu 2 jam setelah
masuknya racun. Arsen menyebabkan :
- rasa terbakar pada tenggorokan, retrosternum dan epigastrium; rasa sangat haus
disertai mual, muntah dan diare
- nyeri akut pada abdomen, mungkin karena perforasi lambung
- tenesmus yang disertai tinja berwarna hitam karena banyak mengandung darah
dan banyak mengandung cairan seperti diare pada kolera
- berkurangnya produksi urin, terdapatnya sel darah merah pada urin dan
selanjutnya dapat mengalami gagal ginjal
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
163
- gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit mengakibatkan dehidrasi dan kejang
otot. Pasien menjadi gelisah
- tanda syok akan menonjol pada tahap menjelang kematian
- koma, kejang dan meinggal
Ada 4 tipe gejala keracunan:
1. Acute Paralytic
Timbul mendadak setelah korban keracunan dengan dosis besar serta absorbsinya berjalan
sangat cepat. Gejala yang menonjol adalah akibat depresi susunan saraf pusat yang hebat
khususnya pusat-pusat vital dimedulla, antara lain:
- Circulatory collapse dengan tekanan darah turun/rendah
- Denyut nadi cepat dan lemah
- Pernafasan sukar dan dalam
- Stupor atau semicomatous
- Kadang-kadang kejang dan adakalanya tampak/ tidak tampak gejala iritasi
gastrointestinal
Kematian terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam.
2. Gastrointestinal Type
Merupakan gejala yang paling utama dijumpai dan khas, akibat lesi-lesi pada lambung,
usus maupun organ-organ parenchym segera setelah keracunan, timbul muntah dan
diikuti diarrhea setelah 1-2 jam kemudian.
- Rasa sakit dan cramp pada perut
- Rasa haus yang hebat, sakit tenggorokan
- Mulut terasa kering
- Muntah berkepanjangan, kadang-kadang bercampur darah
- Profuse diarrhea dengan faeces bercampur darah.
Gejala klinis diatas sangat inddividual, dimana satu penderita condong menunjukkan
gejala profuse diarrhea sebagai gejala utama, yang lain lebih condong menunjukkan
gejala muntah atau kombinasi dari gejala-gejala tersebut pada penderita lainnya.
Bila kasus keracunan lebih hebat maka timbul gejala seperti muka kebiruan dan cemas,
kulit pucat dan dingin, cramp pada kaki bagian atas, delirium, albuminuria, retensi urin,
serta dehidrasi akibat hilangnya cairan tubuh.
Kematian terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari dan apabila penderita dapat
melewati serangan pertama, masih ada kemungkinan untuk bertahan hidup.
3. Subacute Type
Timbul apabila senyawa arsenikum diberikan dalam dosis kecil berulang kali dalam
interval waktu tertentu, atau akibat pemberian dalam dosis besar tetapi tidak segera
menimbulkan kematian dan menimbulkan efek keracunan selama dieksresikan (slow
excretion).
Gejalanya:
- Degenerasi toksik pada hepar yang kemudian berkembang menjadi
acute/subacuteyellow atrophy disertai toxic jaundice hebat.
- Perdarahan multiple pada lapisan sub serosa jaringan
- Traktus Gastrointestinal mengalami inflamasi dan kronis serta diarhea
berkepanjangan
- Cramp dan dehidrasi
- Ginjal mengalami nephrosis dengan albuminuria dan hematuria
- Skin eruption, bengkak seluruh tubuh, beberapa kasus tampak penderita
mengalami keratosis kulit, berat badan menurun serta keadaan umum korban
makin buruk.
Kematian dapat terjadi beberapa hari kemudian.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
164
4. Chronic Type
Type ini dapat berkembang/ terjadi setelah gejala akut mereda. Tampak gejala-gejala:
- Paralyse dan atrofi otot-otot tangan dan kaki sebagai akibat neuritis kronis disertai
dengan degenerasi saraf yang dimulai dari bagian perifer dan berjalan ke arah
sentral.
- Anaesthesia
- Rambut dan kuku rontok
- Kadang tampak gastroentritis kronis disertai anoreksia, nausea, dan diare
- Kulit mengalami hiperkeratosis dan hiperpigmentasi
- Mata mengalami hiperkeratosis, kelopak mata bengkak
- Garis melintang pada kuku berwarna putih.
- Hiperkeratosis terutama tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki
Pada kasus racun arsen dalam bentuk serbuk arsen, pasien akan batuk darah
dengan dahak yang berbusa, gangguan pernapasan dan sianosis. Selanjutnya mungkin
mengalami edema paru akut. Kematian mendadak akibat syok mungkin terjadi karena
arsen dalam dosis tinggi. Tetapi pada beberapa kasus, arsen dalam jumlah besar akan
menyebabkan muntah sehingga mengeluarkan sebagian besar racun tersebut dan
pasiennya selamat. Pada beberapa kasus, gejala-gejala pada sistem pencernaan sangat
minimal, bahkan tidak sama sekali. Pasien merasa pusing, nyeri prekordium, delirium,
kehilangan kesadaran dan meninggal. Paralisis seluruh anggota badan mungkin terjadi
sebelum kematian.

Pada kasus kematian akibat keracunan arsen, pemeriksaan luar didapatkan tanda-
tanda dehidrasi, seperti mata cekung dan penonjolan tulang-tulang wajah. Pada
pemeriksaan dalam, mukosa mulut biasanya normal tetapi bisa tampak tanda-tanda
inflamasi. Mukosa sistem pencernaan mengalami inflamasi, berwarna merah disertai
perdarahan submukosa. Membran mukosa mempunyai rugae dan di antara rugae bisa
ditemukan lendir yang kental dan mengikat partikel racun. Isi lambung berwarna gelap.

Untuk mendiagnosis keracunan akibat arsen dilakukan pemeriksaan toksikologi
pada isi lambung. Pada kasus keracunan kronis, pemeriksaan terhadap rambut, kuku, dan
tulang akan memberikan hasil positif.

KERACUNAN ALKOHOL
Alkohol ada 2 jenis:
• Etil alkohol / Etanol (C
2
H
5
OH)
• Metil alkohol / Metanol (CH
3
OH)
Alkohol bersifat racun bagi otak. Alkohol murni berupa cairan yang bening, mudah
menguap dan mempunyai aroma yang khas.
Alkohol terdapat pada berbagai jenis minuman, misalnya:
• Alkohol absolut : 99,9%
• Rectified spirit (alkohol yang dimurnikan) : 90%
• Methylated spirit (alkohol denaturasi) : 95%
• Rum dan minuman keras lainnya : 50-60%
• Whisky, Gin dan Brandy : 40-45%
• Port, Sherry : 20%
• Anggur (wines) : 10-15%
• Bir : 4-8%
• Berbagai jenis minuman keras daerah : 5-10%
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
165
Metabolisme
Absorpsi terutama dari usus halus (80%) dan lambung (20%). Konsentrasi alkohol
dalam darah sudah bias ditemukan dalam waktu 5-10 menit setelah meminum alkohol.
Kadar puncak dalam darah adalah 30 menit setelah meminum alkohol. Dibutuhkan waktu
yang lama agar kadar puncak alkohol dalam darah ini bisa menyebabkan habituasi
(ketergantungan) dan keadaan lainnya seperti gastritis dan anemia.
Proses absorpsi semakin cepat jika terdapat air dalam saluran usus atau lambung
dalam keadaan kosong. Wine (anggur) merupakan jenis minuman yang paling cepat
penyerapannya.
Metabolisme alkohol terutama terjadi di hati (90%) dan mengalami oksidasi. Sisa
yang 10% diekslresikan melalui kulit, paru-paru, kelenjar liur dan ginjal. Alkohol bisa
menjadi sumber energy yang baik, dimana setiap 1 gram dapat menghasilkan 7 kalori.
Jenis keracunan alkohol
Keracunan alkohol bisa bersifat:
• Akut
• Kronis

KERACUNAN ALKOHOL AKUT
Terdiri atas 3 tahap:
1. Tahap merasa dalam keadaan senang
Pasien sadar dan merasa senang karena penekanan pada pusat-pusat hambatan di otak,
keadaan ini disebut fenomena pelepasan (release phenomenon). Tahap ini bisa
berlangsung lama dan dapat terlihat pada semua kasus. Tanda-tandanya:
• Muka merah
• Pasien sangat banyak bicara
• Pasien kehilangan pengendalian diri
• Gangguan pada pengendalian gerakan-gerakan halus, misalnya meminum
air, memasukkan benang ke dalam jarum. Ada kalanya pasien menjadi:
• Berperilaku kasar
• Bersifat sentimental
• Inkoordinasi
• Pupil sedikit mengalami dilatasi dan bereaksi terhadap cahaya
• Pernafasan berbau alkohol
Perlahan-lahan pasien akan memasuki tahap kebingungan
2. Tahap kebingungan
Keadaan ini adalah akibat penekanan pada pusat-pusat lainnya pada otak sehingga
berkaitan dengan:
Inkoordinasi-ataksia atau gerakan yang lambat
Pasien tidak dapat berjalan lurus
Percakapan tidak jelas, inkoheren dan sengau
Penglihatan kabur
Kemudian pasien akan memasuki fase setengah sadar dan akhirnya menjadi tidak
sadarkan diri. Pada tahap ini pasien masih bisa dibangunkan dengan suara yang kuat
atau cubitan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
166
3. Tahap koma
Sebelum memasuki tahap ini pasien masih bisa sembuh dan kembali pada tahap
pertama. Tetapi perlahan-lahan pasien akan memasuki tahap koma.
• Pernafasan lambat dan mendengkur
• Denyut nadi cepat dan halus
• Pasien tidak dapat dibangunkan walaupun dengan guncangan keras
• Suhu tubuh di bawah normal (hipotermia)
• Pupil sedikit mengalami konstriksi
• Kematian terjadi karena;
- Penekanan pada pusat otak yang lebih tinggi
- Anoksia otak akut
- Pneumonia atau edema paru
• Sebelum kematian mungkin mengalami kejang-kejang
Dosis fatal
Dosis bukan hanya tergantung dari jumlah yang diminum, tetapi juga bergantung
pada kebiasaan seseorang dan jenis minumannya. Misalnya alkohol absolut sebanyak 5 oz
dapat berakibat fatal. Untuk anak-anak berusia dibawah 12 tahun, alkohol absolut
sebanyak 2 oz juga sudah dapat berakibat fatal.
Pada buku lain juga mengatakan takaran alkohol untuk menimbulkan keracunan
bervariasi tergantung dari kebiasaan minum dan sensitivitas genetik perorangan.
Umumnya 35 gram alkohol menyebabkan penurunan kemampuan untuk menduga jarak
dan kecepatan serta menimbulkan euforia. Alkohol sebanyak 75-80 gr akan menimbulkan
keracunan akut dan 250-500 gram alkohol takaran fatal. Kadar alkohol darah dari
konsumsi 35 gram alkohol dengan menggunakan rumus:
A= C x P x R
A : jumlah alkohol yang diminum
C : kadar alkool darah(mg%)
P : berat badan(kg)
R : konstanta (0,0007)
Bagi orang dewasa, dosis sebanyak 150-200 mL alkohol absolut sudah dianggap
bisa berakibat fatal.
Periode fatal
Jika alkohol diminum dalam jumlah yang banyak oleh seseorang yang tidak mempunyai
kebiasaan minum alkohol bisa menyebabkan kematian dalam beberapa menit. Periode
fatal bisanya antara 12-24 jam, pada beberapa kasus bisa agak panjang yaitu antara 5-6
hari
Penatalaksanaan
Jika pengobatan diberikan pada saat yang tepat sebelum pasien masuk dalam tahap koma,
yaitu ketika refleks tubuh sudah tidak ada dan mata mengalami konstriksi dan tidak
bereaksi terhadap cahaya, maka kemungkinan besar dapat sembuh.
• Untuk mengeluarkan racun bisa diupayakan agar pasien muntah secara mekanis
yaitu dengan menekan orofaring. Zat kimia perangsang muntah hanya digunakan jika
keadaan umum pasien cukup baik.
• Bilas lambung harus dilakukan walaupun pasien dalam keadaan tidak dapat
dikendalikan. Bahan yang dperoleh dari bilasan lambung yang pertama diambil untuk
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
167
bilasan kimia, kemudian bilas lambung dilanjutkan sampai hasil bilasan lambung
tidak mengandung bau alkohol.
• Berikan minuman hangat seperti teh atau kopi
• Penafasan buatan serta oksigen diberikan jika ditemukan adanya tanda-tanda
penekanan pernafasan
• Obat stimulansia sepert coramine, nikethamide diberikan dalam bentuk suntikan
• Upayakan agar suhu tubuh pasien selalu hangat
• Untuk mengatasi asidosis, diberikan soda bikarbonat melalui oral
• Jika pasien gelisah diberikan mephenisine dengan dosis 1-3 gram
• Jika perlu diberikan 1000 cc glukosa 10% serta garam fisiologis secara intravena,
kedalam larutan tersebut ditambahkan insulin 15 unit, vitamin B1 200 mg.
niasinamida 200 mg dan vitamin C 1000 mg
• Antibiotik diberikan sebagai tindakan profilaksis terhadap infeksi paru-paru
Pasien diawasi dan diperhatikan tanda-tanda penyembuhan, yaitu;
• Pasien kembali memasuki tahap kebingungan
• Ukuran pupil kembali normal
• Mulai timbul gejala mual dan muntah
Gambaran Post-Mortem
1. Pemeriksaan luar
• Kaku mayat dan pembusukan lebih lambat terjadi. Mayat penderita bisa
bertahan lebih lama.
• Kongesti pada konjungtiva sangat jelas
2. Pemeriksaan dalam
• Bau alkohol bisa tercium dari isi lambung dan organ tubuh lainnya
• Dinding lambung hiperemis, berwarna merah dan isi lambung berwarna
coklat
• Organ tubuh lainnya mengalami kongesti
• Edema otak sangat jelas terlihat dari jarak antara gyrus otak yang semakin
sempit
Bagian tubuh yang diperlukan untuk pemeriksaan kimia:
• Darah
• Paru-paru
• Otak
Pada bahan yang diambil tidak boleh ditambahkan zat pengawet dan pemeriksaan
dilakukan sesegera mungkin.
KERACUNAN ALKOHOL KRONIS
Keadaan ini terjadi karena meminum alkohol dalam jangka waktu yang lama. Korban
biasanya adalah penderita psikosis atau neurosis, sehingga alkohol digunakan sebagai
pelarian dari kenyataan hidup.
Gejala yang dialami:
• Nafsu makan menurun, mual, muntah dan diare
• Tremor pada tangan dan lidah
• Gangguan daya ingat dan kemampuan menilai
• Jika telah berlangsung lama bisa menyebabkan hipoproteinemia yang
mengakibatkan edema anasarka
• Selain mengalami stres psikologis, pasien juga mengalami neuritis perifer dan
demensia yang akan semakin nyata pada tahap akhir
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
168
• Pasien kemudian secara tiba-tiba mengalami koma dan pingsan
Penatalaksanaan
• Keadaan ini bisasanya adalah masalah psikiatri karena berbagai masalah yang
melatarbelakangi kebiasaan minum alkohol tersebut
• Kebiasaan minum alkohol harus dikurangi dengan memberikan tablet antabuse
(Tetra erthylthiuram disulphide) dengan dosis 0,25 sampai 0,75 gram per hari. Tablet
antabuse hanya diberikan dengan persetujuan pasien karena keadaan pasien akan
sangat memburuk jika setelah mendapat tablet Antabuse pasien kembali meminum
alkohol. Untuk tujuan yang sama bisa juga diberikan tablet Temposil (Citrated
calcium carbimide) dengan dosis 50 mg per hari.
• Makanan dengan gizi yang seimbang
• Pemberian multivitamin untuk mengatasi adanya defisiensi. Pemberian vitamin ini
harus tetap diberikan untuk jangka waktu yang cukup lama
Gambaran Post-Mortem
• Mukosa lambung tampak menunjukkan hiperemi dan hipertrofi
• Hati dan ginjal mengalami kongesti. Pada hati terdapat infiltrasi lemak dan
perubahan sirosis
• Jantung membesar dan menunjukkan adanya infiltrasi lemak
Mabuk Alkohol
Keadaan mabuk adalah jika seseorang meminum alkohol dalam jumlah yang sangat
banyak sehingga orang tersebut tidak dapat menguasai dirinya baik secara fisik dan
mental, dengan demikian dia tidak mampu untuk bertindak dengan baik dan aman pada
dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya.
Kepentingan dari segi medikolegal
1. Alkoholisme adalah keadaan dimana setelah meminum alkohol secara berlebihan
seseorang tidak dapat menjaga kesehatannya, tidak mampu melakukan kegiatan
bermasyarakat atau keduanya. Secara farmakologi dampak yang terjadi adalah akibat
toleransi dan ketergantungan tubuh.
Dampak yang terjadi dari segi medikolegal adalah:
• Kecelakaan lalu-lintas
• Kecelakan industri
• Gangguan hubungan antar pribadi (masalah perkawinan)
• Cedera
• Pembunuhan
2. Alkohol bisa diperiksa melalui darah dan urin. Hal ini sangat berguna untuk
menerangkan mengenai kasus kematian mendadak, kecelakaan lalu lintas dll. Pada
beberapa kecelakaan industri, sering seseorang tersangka menyatakan bahwa dirinya
dalam keadaan mabuk sebagai upaya pembelaan.
Kadar alkohol dalam darah sangat bervariasi tergantung kepada oksidasi jaringan.
Kadar alkohol dalam urin lebih stabil tetapi hasil pemeriksaan melalui urin ini
menjadi kurang bermakna karena senyawa lainnya seperti aseton, eter, paraldehida
juga bisa menunjukkan hasil pemeriksaan seperti alkohol.
Kadar alkohol dalam darah dan dampaknya adalah sebagai berikut:
• 0,1% Orang akan merasa gembira
• 0,15% Batas keamanan untuk mengemudikan kendaraan
bermotor di jalan raya
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
169
• 0,2% Tingkat intoksikasi menengah
• 0,2-0,4% Kesadaran menurun mengakibatkan delirium
stupor
• 0,5% Koma
• 0,6% Asfiksia darah
Reaksi alkohol pada setiap orang berbeda-beda dan reaksi alkohol pada orang yang sama
juga berbeda-beda pada setiap waktu bergantung pada faktor lingkungan dan sifat dasar
orang tersebut
Alkohol merupakan penyebab ketergantungan dan keracunan paling sering. Seorang
dokter akan sering menghadapi masalah seperti ini. Dengan demikian harus ada suatu
bentuk pendekatan yang sistematis untuk memeriksa pasien.
Kelainan pada keracunan kronis alkohol:
1. Pada saluran pencernaan : alkohol dalam takaran tinggi dalam waktu lama akan
menimbulkan kelainan pada selaput lendir mulut, kerongkongan dan lambung
berupa gastritis kronis.
2. Pada hati akan terjadi penimbunan lemak dalam sel hati, SGOT dan SGPT,
trigliserida dan asam urat meningkat.
3. Pada jantung dapat terjadi kardiomiopati alkoholik dengan payah jantung kiri dan
kanan dengan distensi pembuluh balik leher, nadi lemah dan edema perifer. Pada
jantung akan terlihat hipertrofi kedua ventrikel, fibrosis endokardial dengan tanda
trombi mural pada otot jantung.
4. Pada otot akan ditemukan miopati alkoholik dan histologis di jumpai atrofi serat
dan perlemakan jaringan otot.
Sebab dan mekanisme kematian
Mekanisme kematian terutama akibat gagal hati dan ruptur varises esofagus akibat
hipertensi portal. Pada autopsi bisa ditemukan memar pada cortex cerebri, hematom sub-
dural akut dan kronis. Depresi pernafasan terjadi pada kadar alkohol otak lebih besar dari
450 mg%. pada 500-600 mg% dalam darah, penderita biasanya meninggal dalam 1-4 jam
setelah koma selama 10-16 jam.
Pemeriksaan Kedokteran Forensik
1. Pada orang yang masih hidup dapat diientifikasi dari bau alkohol yang keluar dari
udara pernafasan.
2. Pemeriksaan kadar alkohol darah: baik pemeriksaan udara pernafasan atau urin
atau dari darah vena
3. Kelainan pada orang yang sudah meninggal tidak khas. Mungkin ditemukan
gejala yang sesuai dengan asfiksia. Seluruh organ menunjukkan tanda perbendungan,
darah lebih encer, berwarna merah gelap.
4. Mukosa lambung tanda perbendungan, kemerahan dan tanda inflamasi tapi
kadang-kadang juga tak tampak kelainan.
5. Otak dan darah berbau alkohol.
6. Pada pemeriksan histologis dapat dijumpai edema dan pelebaran pembuluh darah
dan selaput otak, degenerasi bengkak keruh, pada bagian parenkim organ inflamasi
mukosa saluran cerna.
7. Pada jantung, gambaran serat lintang otot jantung menghilang, hialinisasi, edema
dan vakuolisasi serabut otot jantung.
Laboratorium
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
170
Untuk korban meninggal dapat diperiksa kadar alkohol dalam otak, hati atau
cairan tubuh seperti cairan serebrospinal. Penentuan kadar alkohol dalam daram lambung
saja tanpa menentukan kadar alkohol dalam darah hanya menunjukkan orang tersebut
telah minum alkohol. Pada mayat, alkohol dapat berdifusi dari lambung ke jaringan
sekitarnya termasuk ke dalam jantung sehingga bisa diambil darah dari pemeriksaan
darah vena perifer seperti di daerah cubiti dan femoralis.
Metode sederhana untuk menentukan kadar alkohol dalam darah disebut teknik
modifikasi mikrodifusi (CONWAY) yaitu
1. Masukkan 2 mL reagen Anti ke dalam ruang tengah. Reagen anti dibuat dengan
melarutkan 7,7 mg kalium dikromat ke dalam 150 mL air + 280 mL asam sulfat dan
terus diaduk. Encerkan dengan 500 mL aquadest.
2. Sebarkan 1 mL darah/urin dalam ruang sebelah luar dan masukkan 1 mL kalium
karbonat dalam ruang yang berlawanan.
3. Tutup sel mikrodifusi dan goyangkan dengan hati-hati. Biarkan terjadi difusi
selama 1 jam pada suhu ruang. Angkat tutup dan amati perubahan warna pada reagen
4. Apabila reagen berwarna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. Tetapi apabila
warna kuning kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80 mg%, sedangkan
warna kekuningan sekitar 300 mg%.
KERACUNAN NARKOTIKA
Kematian akibat narkotika lebih sering karena kecelakaan. Pada pemeriksaan
kasus kematian akibat narkotika, perlu diperhatikan akan adanya bekas suntikan yang
baru dan lama. Pada para pemakai narkotika dengan suntikan dapat ditemukan
pembesaran kelenjar limfe regional. Kadangkala ditemukan tatto pada tempat yang tidak
lazim, misalnya pada lipat siku, yang dimaksudkan menutupi bekas suntikan.

Kematian akibat narkotika paling sering melalui terjadinya depresi napas. Pada
pemeriksaan jenazah akan ditemukan kelainan pada paru berupa pembendungan hebat
dan edema paru hebat, narcotic lung atau gambaran pneumonia lobaris. Pembendungan
ditemukan pula pada organ-organ tubuh lainnya.

Pemeriksaan toksikologi dilakukan terhadap darah dan urin. Selain itu,
pemeriksaan toksikologi juga dilakukan pada cairan empedu serta tempat masuknya
narkotika tersebut (jaringan sekitar suntikan pada pemakai narkotika suntikan, nasal swab
pada mereka yang melakukan sniffing, isi lambung pada mereka yang menelan narkotika).
PEMERIKSAAN TOKSIKOLOGI PADA KEMATIAN AKIBAT KERACUNAN
Investigasi kematian akibat keracunan dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Mengumpulkan keterangan riwayat keracunan dan spesimen yang sesuai
Saat ini, terdapat banyak bahan yang beredar di masyarakat yang dapat
menyebabkan kematian jika dicerna, diinjeksi, atau terinhalasi. Ahli toksikologi
harus membatasi sejumlah material yang dianalisis. Sebelum memulai analisis,
penting sekali dilakukan pengumpulan informasi yang mungkin berkaitan dengan
fakta keracunan. Ahli toksikologi harus memperhatikan usia, jenis kelamin, berat
badan, riwayat kesehatan, dan pekerjaan korban, pemberian terapi sebelum
meninggal, temuan pada autopsi, obat yang terdapat pada korban, dan interval waktu
antara onset gejala dan kematian.

Pengumpulan spesimen untuk analisis toksikologi biasanya dilakukan saat
dilakukan autopsi. Spesimen dari sejumlah cairan tubuh dan organ penting untuk
mengambarkan afinitas obat dan racun terhadap jaringan tubuh. Spesimen harus
dikumpulkan sebelum jenazah diawetkan, dimana proses ini dapat merusak atau
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
171
melarutkan racun dan membuat deteksi menjadi tidak memungkinkan. Contohnya
CN dirusak oleh proses pembalseman.

2. Analisis toksikologi
Sebelum memulai analisis, ahli toksikologi harus mempertimbangkan
beberapa faktor yaitu: jumlah spesimen yang tersedia, sifat dasar temuan racun dan
biotransformasi racun. Pada kasus keracunan dengan racun yang masuk per oral, isi
saluran cerna harus dianalisi pertama kali, ketika sejumlah residu racun yang tak
terabsorbsi masih ditemukan. Selanjutnya urin dapat dianalisis, karena ginjal
merupakan organ ekskresi utama untuk kebanyakan racun dan racun dalam
konsentrasi tinggi sering ditemukan pada urin. Setelah absorbsi pada saluran cerna,
obat atau racun pertama-tama dibawa ke hepar sebelum memasuki sirkulasi sistemik,
oleh karena itu, analisis pertama dari organ dalam dilakukan pada hepar. Jika racun
tertentu diduga atau diketahui terlibat pada kasus kematian, ahli toksikologi memilih
menganalisis pertama-tama jaringan dan cairan dimana racun terkonsentrasi.

3. Interpretasi terhadap hasil analisis
Setelah mengumpulkan keterangan-keterangan tentang riwayat kasus
keracunan, mengumpulkan laporan hasil analisis berdasarkan toksisitas, distribusi,
dan biotransformasi dan membandingkan hasil analisis dengan kasus serupa yang
pernah dilaporkan pada literatur yang berkualitas atau kasus serupa dari
pengalamannya sendiri.

Pemeriksaan toksikologi diperlukan pada kondisi seperti kasus kematian
mendadak yang terjadi pada seseorang maupun sekelompok orang, kematian yang
dikaitkan dengan tindakan abortus, kasus perkosaan atau kejahatan seksual lainnya,
kecelakaan transportasi, khususnya pada pengemudi dan pilot, kasus penganiayaan dan
pembunuhan (selektif), kasus yang memang diketahui atau pasti diduga menelan racun,
kematian setelah tindakan medis, penyuntikan, operasi dan lain sebagainya.

GEJALA YANG MENYERUPAI KERACUNAN (APPARENT INTOXICATION)

a. Koma hipoglikemik
b. Cerebrovasculer accident (CVA)
c. Exhaustion setelah kejang atau setelah pemakaian MDMA
d. Trauma otak dan kematian otak
e. Meningitis
f. Flash black setelah penyalahgunaan obat
g. Gejala withdrawal
h. Idiosinkrasi dan reaksi hipersensitivitas
i. Syok neurogenik
Gejala tak terduga dari penyakit tertentu seperti penyakit Lyme atau tumor otak.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
172
BAB XIV
PEMERIKSAAN DALAM FORENSIK (AUTOPSI)
PERSIAPAN SEBELUM DILAKUKAN PEMERIKSAAN DALAM
1. Gunakan apron yang terbuat dari plastik warna putih, bisa juga menggunakan jas
lab.
2. Menggunakan sepatu tinggi yang terbuat dari karet.
3. Kedua tangan ditutup dengan sarung tangan rangkap supaya tidak tercemar bahan-
bahan dari mayat.
PEMBEDAHAN MAYAT
+ Mayat yang dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal)
dengan sepotong balok kecil.
+ Pemeriksa berada disebelah kanan jenazah untuk yang menggunakan tangan kanan
tetapi jika menggunakan tangan kiri, pemeriksa berada disebelah kiri jenazah.
+ Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai di bawah dagu,
diteruskan kearah umbilicus dan melingkari umbilicus di sisi kiri dan seterusnya
kembali mengikuti garis pertengahan badan sampai di daerah simfisis pubis. Potong
agak tegas sehingga tidak merusak kulit.
+ Buka daerah dalam, pada daerah dada potong sampai ke tulang, lepaskan otot. Insisi
pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuat irisan
pendek yang menembus sampai peritoneum. Dengan jari telunjuk dan jari tengah
tangan kiri yang dimasukkan ke dalam lubang insisi ini, maka dinding perut dapat
ditarik atau diangkat ke atas untuk menghindari terpotongnya alat-alat dalam.
+ Kulit thorax dan jaringan otot dibawahnya dipegang dengan erat dengan tangan kiri,
yaitu sebaiknya dijepit diantara ibu jari disebelah medial dan jari-jari lain disebelah
lateral. Kemudian jaringan kulit dan otot tersebut ditarik kearah lateral hingga
jaringan yang menegang tersebut dapat dipotong dengan pisau pada tangan kanan;
pisau diarahkan ke bagian lateral dan posisi pisau kurang lebih tegak lurus pada
costae dan sewaktu mengiris otot-otot yang masih melekat pada costae dibersihkan.
+ Pada bagian leher, yang dilepaskan adalah bagian kulitnya saja, sedangkan otot-
ototnya dibiarkan saja.
+ Memeriksa ketinggian diafragma untuk mendeteksi adanya pneumothorax atau
hematothoraxyang ditandai dengan penurunan diafragma.
+ Memeriksa rongga perut apakah terdapat darah, cairan atau pus. Perhatikan juga
dinding perut. Dinding perut yang normal adalah licin, putih, tidak ada fibrin, tidak
ada resapan darah pada otot dan kulit agak tebal.
+ Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat ± 1 cm
medial dari batas tulang rawan dengan masing-masing iga. Posisi pisau miring
dengan ditekan oleh tangan kiri. Dimulai dari iga kedua terus kea rah caudal.
Lepaskan dengan tajam agar tidak memotong alat-alat didalamnya. Pemeriksa berdiri
dibagian kepala jenazah.
+ Melepaskan daerah clavicula dengan memotong iga kesatu kearah lateral dan medial
pada sendi sternoclavicula.
+ Lakukan pemeriksaan lebar mediastinum dan periksa juga apa yang ada di rongga
dada kiri dengan menarik paru kiri dan jantung untuk mengetahui apakah ada cairan
atau darah.
+ Kantung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan
mengikuti bentuk huruf Y terbalik dari tengah. Perhatikan apah rongga kandung
jantung terisi cairan atau darah. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung
jantung maupun pada permukaan jantung sendiri.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
173
+ Cairan jantung normal: kuning, jernih, ukuran bervariasi 10-20 mL
+ Selanjutnya pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan dasar mulut
menyusuri tepi rahang bawah hingga masuk rongga mulut, gunakan hak agar lebih
mudah. Otot dasar mulut terpotong seluruhnya, sehingga lidah bias dipegang dengan
tangan.
+ Potong tulang leher sehingga laring, faring medial dari arteri karotis.
+ Mengeluarkan organ-organ dada dari tulang leher kemudian ditarik dengan tangan
kiri sehingga semuanya terangkat.
+ Temukan esofagus dan ikat serta dipotong proksimal dari ikatan tadi sehingga alat
leher dan dada bisa dilepaskan.
+ Cari pangkal usus halus yang paling pangkal (retroperitoneal) yaitu duodenum dan
dibuat 2 ikatan dan dipotong diantaranya agar isis duodenum tidak keluar. Dengan
tangan kiri memegang pada ujung distal dan mengangkatnya maka mesenterium yang
melepaskan usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat pada
usus.Pengirisan dilakukan dengan pisau diletakkan tegak lurus pada usus dan
digerakkan maju mundur seperti gerakan mengegrgaji. Pengirisan dilakukan
sepanjang usus halussampai ileum terminalis. Pada daerah caecum pengirisan
dilakukan terhadap mesocolon dengan memotong mesocolon pada bagian lateral dan
colon ascendens. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati, lapis demi lapis agar tidak
teriris ginjal kanan serta duodenum pars retroperitonealis.
+ Pada daerah colon transversum lepaskan perlekatan antara colon dan lambung.
Mesocolon kembali diiris disebelah lateral dari colon descendens dengan
memisahkannya juga dari limpa dan ginjal kiri. Colon sigmoid dapat dilepaskan dari
dinding rongga perut dengan memotong mesocolon di bagian belakangnya.
+ Rectum dipegang dengan tangan kanan, mulai dari bagian distal dan mengurutnya
kearah proksimal agar isi rectum dipindahkan ke colon sigmoid dan rectum dapat
diikat dengan 2 ikatan, untuk kemudian diputus diantara 2 ikatan tersebut.
+ Untuk melepaskan alat rongga panggul dan perut, pengirisan dilakukan dengan
memotong diafragma yang dekat/melekat pada dinding dada dari kanan dan kiri,
masing-masing ginjal sampai memotong a. iliaca comunis.
+ Alat rongga panggul dilepaskan dengan melepaskan peritoneum didaerah simfisis,
kandung kencing serta alat-alat lainnya. Buli-buli dilepaskan dengan memasukkan
tangan subperitoneum, alat-alat seperti uretra, rectum, dan pada wanita (vagina)
terangkat. Pada pria, alat panggul setingga prostat dan wanita 1/3 proksimal vagina.
+ Pemeriksaan kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala dimulai dari
prosessus mastoideus, melingkari kepala kearah puncak dan berakhir pada prosessus
mastoideus sisi lain. Kulit kepala kemudian dikupas kearah depan sampai kurang
lebih 1-2 cm di atas batas orbita dan kearah belakang sampai protuberantia occipitalis
externa. Perhatikan permukaan luar tulang tengkorak apakah ada tanda kekerasan
baik resapan darah maupun garis/patah tulang. Membuka rongga tengkorak dengan
penggergajian tulang tengkorak melingkari daerah frontal ± 2 cm di atas margo
supraorbitalis, di temporal ± 2 cm di atas daun telinga. Pemotongan otot temporalis
agar jika telah selesai dimaksudkan dapat dijadikan tempat jahitan menyatukan
kembali atap tengkorak dengan bagian lain tengkorak.
+ Setelah tengkorak dilepaskan duramater digunting mengikuti garis pemotongan
tengkorak.
+ Otak dikeluarkan dengan memasukkan dua jari tangan kiri digaris pertengahan
daerah frontal. Dengan sedikit menekan bagian frontal akan tampak falk cerebri yang
dapat dipotong sampai dasar tengkorak. Kedua jari tangan kiri dapat sedikit
mengangkat bagian frontal dan memperlihatkan nn.olfactorii, nn.optici yang
kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. Setelah otak dikeluarkan,
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
174
duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus dilepaskan untuk mengetahui
apakah dasar tengkorak utuh.
+ Pada bagian otak harus diperiksa apakah terdapat perdarahan subdural, subarachnoid,
contusio dan laserasi. Perdarahan subdural dengan penyiraman darah akan hilang
berbeda dengan subarachnoid. Iris batang otak, potong secara horizontal. Pada otak
besar lihat dan catat apakah ada perdarahan, infark atau edem cerebri. Jika agak gelap
pada daerah tersebut, lakukan pengirisan, curiga ada contusio.
+ Pemeriksaan alat dalam dimulai dari lidah, esofagus sampai meliputi alat tubuh
lainnya.
+ Letakkan bagian depan esofagus dibagian bawah untuk melihat isi selaput lendir
Esofagus dilihat dari trachea apakah ada varises atau striktur.
+ Pembukaan trachea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang
(bagian jaringan ikat pada cincin trachea) sampai mencapai cabang bronchus kanan
dan kiri. Perhatikan adanya benda asing, busa, darah serta keadaan selaput lendirnya.
+ Periksa tulang thyroid bila baik. Jaringan lunak lapisan otot sampai terlihat apakah
ada perdarahan. Kekerasan pada daerah leher yang sifatnya lunak, sehingga
perdarahan hanya sampai jaringan otot tidak sampai subkutis.
+ Lepaskan jantung dari jaringan sekitarnya seperti paru. Inspeksi paru apakah ada
perdarahan (aspirasi darah), edem, luka, atau sisa-sisa infeksi sebelumnya.
Normalnya berwarna merah kelabu agak ungu dan pada perabaan seperti busa dan
ada derik udara. Paru dibelah untuk melihat penampangnya, apakah ada
cairan/darah/busa. Jika busa banyak maka curiga adanya edem paru. Timbang paru,
normalnya 225-300 gram.
+ Periksa jantung dengan melihat adanya perdarahan atau sikatriks. Periksa pembuluh
nadi koroner dibagian depan a. coronaria dinilai dengan cara dipotong sehingga
terlihat penampangnya . pembuluh darah tidak menebal atau kolaps.
+ Buka daerah atrium, potong vena cava superior dan inferior sehingga terbuka. Cara
membuka daerah atrium kanan, tusuk pisau sampai ventrikel kanan lalu potong
kearah lateral sehinga atrium dan ventrikel kanan terbuka. Lihat adanya kelainan,
periksa katup dan ukur panjang katup serambi dan bilik kanan. Lakukan hal yang
sama pada sisi jantung kiri.
+ Periksa penampang sehat ventrikel apakah ada sikatriks, tebal otot ventrikel dan kiri
diukur.
+ Arteri coronaria jantung dipotong sedikit-sedikit apakah ada perkapuran atau
penebalan.
+ Pemeriksaan rongga perut. Limpa dilepaskan dari jaringan sekitarnya, periksa
permukaan, warna dan kelainannya. Potong untuk melihat penampangnya, lakukan
pengikisan untuk menilai adanya jaringan ikat.
+ Angkat diafragma dan lepaskan.
+ Posterior diletakkan di atas, rapikan daerah urogenital, cari kelenjar suprarenal kanan
dan kiri kemudian lepaskan. Bentuknya tidak teratur atau trapezium, korteks kuning
dan medulla coklat. Tractus urinarius dipisahkan dari yang lainnya.
+ Aorta dibuka sampai arteri renalis dari atas ke bawah dilihat permukaannya. Ginjal
dibelah, normalnya 1/3 dari tebal ginjal dan periksa calyx-nya.
+ Pankreas dipisahkan dari jaringan sekitarnya lalu nilai penampangnya.
+ Hati : permukaanya licin, rata, tepi tajam, warna merah coklat (normal). Kemudian
dibelah dan lihat penampangnya tampak kelenjar hati yang jelas. Lambung dibuka
dan dilihat penampangnya.
RANGKUMAN FILM OTOPSI
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
175
I. PERSIAPAN MELAKUKAN OTOPSI :
- Pembedah memakai baju tugas dokter di ruang otopsi berwarna putih
- Memakai apron
- Memakai sepatu karet tinggi
- Memakai sarung tangan rangkap agar tidak tertular bahan-bahan dari jenazah.
- Pembedah berdiri pada sebelah kanan jenazah
- Jenazah pada posisi terlentang, ganjal pada bagian leher dan bahu sehingga leher
bagian depan terbuka atau terpapar seluruhnya.
II. PROSEDUR MELAKUKAN OTOPSI :
- Irisan dimulai dari dagu lurus ke bawah sampai suprapubik. Pada daerah pusat
(umbilikus) potongan sedikit melingkar ke kiri.
- Potongan harus tegas, tidak berulang-ulang dan dalam. Lakukan satu kali dan
cukup dalam agar tidak merusak kulit. Irisan pada dinding dada dan perut harus
lebih dalam daripada leher. Umumnya potongan akan lebih dalam pada bagian dada
dan perut.
- Pada bagian perut : bagian epigastrium ditembus, kemudian kedua jari (telunjuk
dan tengah) masuk kedalam dan mengangkat otot dari dinding perut.
- Pada bagian dada : otot-otot dilepaskan dari tulang iga dengan ibu jari tangan kiri
terletak didalam dan 4 jari lainnya berada di luar. Pastikan bahwa otot tidak banyak
tertinggal di iga.
- Pada bagian leher : hanya melepaskan kulitnya saja. Otot-otot dibiarkan melekat
pada alat-alat leher dibawahnya.
- setelah bagian leher, dada, dan perut terbuka PERIKSA :
a. Ketinggian diafragma? Jika menurun mungkin
terjadi hematothoraks/pneumothoraks dan periksa cairan di dalamnya. Jika ada
penurunan maka akan dilakukan test khusus.
b. Pada rongga perut:
• Adakah cairan, darah dan pus?
• Bagaimana keadaan dinding perut?
• Apakah selaput peritoneum bagus (licin, putih dan tidak ada fibrin-fibrin)?
• Apakah ada resapan darah pada otot?
• Berapa ketebalan lemak dan kulit?
III. PEMBUKAAN RONGGA DADA :
- Dimulai dari tulang iga 2 ke bawah, potong tulang rawan iga ± 1 cm medial dari
persambungan tulang rawan iga dan iga dengan cara pisau miring dengan tekanan
tangan kiri kemudian lepaskan dengan tajam agar sternum mudah dilepaskan.
- Sekarang kita lepaskan rawan iga dan tulang dada dari bawahnya dengan cara
melepaskan secara tajam.
- Usahakan pisau tadi menghadapnya keatas sehingga tidak memotong organ-organ
dibawahnya tetapi betul-betul hanya melepaskan jaringan dan otot-otot, jaringan
ikat dari tulang sternum.
- Kemudian pemeriksa akan berdiri diarah kepala.
- Kemudian kita akan melepaskan daerah clavicula yaitu dengan cara memotong,
tadi sudah dipotong sampai iga kedua, kemudian iga satu akan dipotong dengan
sedikit kearah lateral.
- Kemudian akan masuk kemedial, masuk kedalam sendi sternoclavicula, dipisahkan
pas pada sendinya sehingga akan nanti terlepas sternum dan rawan iga ini dari
claviculanya.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
176
- Ini akan dipertunjukkan, ini gambar, benang ini adalah gambar potongan yang akan
kita lakukan. Anda lihat sendiri sekarang.
- Untuk memudahkan, sternum didorong kearah yang berlawanan, pada saat
memotong clavicula kanan, sternum didorong kearah kiri.
- Kemudian anda melakukan pemeriksaan berapa lebar mediastinum terutama
dikaitkan dengan paru-paru, diantara kedua paru-paru berapa lebarnya, setelah itu
dicatat.
- Selanjutnya diperiksa juga apa yang terdapat didalam rongga dada, misalnya
rongga dada kiri, kemudian mengambil atau menarik paru-paru dan dada kiri.
Sekarang kita melihat kedalam rongga dada apakah ada cairan dan darah.
- Kemudian kantung jantung kita buka dengan memotongnya berbentuk huruf Y
terbalik, benang putih itu memperlihatkan bagaimana kita memotong dari atas atau
mungkin dari tengah terlebih dahulu, kemudian dipotong berikutnya berbentuk
huruf Y. Akan diperlihatkan bagaimana cara melakukannya.
- Setelah terbuka periksalah dari rongga kantung jantung tadi apakah ada cairan atau
darah dan lain-lain. Kalau ada maka dikeluarkan dan diperiksa diukur seberapa
banyak.
- Cairan yang normal adalah berwarna kuning jernih, ukurannya sangat bervariasi
10-20 ml.
IV. MENGELUARKAN ALAT-ALAT RONGGA LEHER
- Kemudian kita akan mengeluarkan alat-alat rongga leher dengan melakukan
tusukan didaerah anda perhatikan dulu didaerah dagu, diberi hak untuk menarik
atau membuat sedemikian rupa sehingga daerah leher tadi terbuka.
- Kemudian akan dilakukan potongan seperti pada yang ditunjukkan oleh benang tadi
yaitu melingkari bagian dalam dari tulang rahang bawah.
- Lakukan tusukan pada dagu tepat dibelakang tulang rahang bawah sampai masuk
kedalam rongga mulut. Artinya dasar mulut atau otot dasar mulut harus terputus
seluruhnya.
- Kalau sudah terpotong otot-otot dasar mulutnya maka terlihat bahwa lidah bisa
dipegang oleh tangan.
- Daerah langit-langit pada palatum mole dipotong dengan menggunakan dasar
adalah tulang leher, dipotong ke bawah sampai tulang leher, lepas seluruhnya
hingga pharynx, larynx dan esofagus terangkat seluruhnya. Potongan pada leher
kira-kira sebelah medial arteri carotis.
- Setelah terlepas, kemudian dilepaskan dari pembuluh-pembuluh dan organ-organ
subclavicula dengan cara: tangan kiri memegang bagian tengah kemudian
dilakukan pemotongan dengan menggunakan dasar tulang leher, semua alat-alat
subclavicula dipotong, sehingga alat leher dan dada dapat dikeluarkan.
- Cara melepaskan alat leher dan dada adalah dengan memasukkan tangan kiri,
kemudian jari telunjuk dan jari tengah menjepit alat leher. Kemudian tarik dengan
tangan kiri sehingga seluruh alat leher dan dada terangkat.
- Kemudian cari esofagus disebelah kiri aorta, pisahkan secara tumpul dengan jari
kemudian ikat dengan benang agar isi lambung tidak keluar melalui esofagus.
Setelahdiikat, dipotong di proximal ikatan.
- Setelah itu lepaskan semua alat-alat leher dan dada dengan memotong jaringan
yang berada disekitarnya dengan menggunakan dinding dada sebagai alas.
V. MENGELUARKAN ALAT-ALAT RONGGA PERUT
- Usus besar dan usus halus akan dikeluarkan .
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
177
- Cari pangkal usus halus yang masuk kedalam daerah retroperitoneal yaitu
duodenum.
- Kemudian lakukan ikatan 2 buah, lalu potong diantaranya.
- Cara melepaskan usus halus adalah dengan menarik usus halus ke atas kemudian
potong pada omentumnya. Cara memotong seperti ini dapat sekaligus untuk
memeriksa usus halus.
- Sampai di caecum kemudian periksa appendix secara makroskopis. Lalu lepaskan
caecum sampai seluruh usus besar terlepas.Sampai ke rectum usus di urut supaya
kotoran naik keatas , setelah bersih kemudian ikat.
- Pada rectum, usus diurut keatas dengan tujuan untuk membersihkan kotorannya.
Setelah yakin bersih, ikat pada pangkalnya kemudian ikat lagi agak keatas dan
dipotong diantara kedua ikatan.
- Kemudian dilanjutkan dengan pemotongan diafragma yang dimulai dari dinding –
dinding dada sebelah kanan yang kemudian diangkat kesebelah kiri dengan bantuan
tangan kiri untuk melindungi organ – organ yang ada dibawahnya. Demikian juga
dengan diafragma pada bagian yang sebelah kiri caranya sama dengan yang sebelah
kanan dengan cara memotong diafragma menyusuri dinding dada, kemudian
setelah terlepas alat –alat rongga perut akan keluar semua dengan penarikan.
- Kemudian dilakukan pemisahan alat-alat rongga panggul dengan jaringan
sekitarnya. Buli-buli atau kandung kencing dilepaskan dari sekitarnya dengan cara
memasukkan tangan kira-kira subperitoneum, kemudian melepaskan jaringan
sekitarnya sehingga seluruh jaringan terlepas, agar alat alat seperti uretra,rectum
dan pada wanita yaitu vagina terlepas dari jaringan sekitarnya dan kemudian
dipotong. Pada laki laki setinggi prostat dan pada wanita setinggi sepertiga
proksimal dari vagina. Kemudian dilakukan juga pemotongan pembuluh-pembuluh
iliaca sehingga seluruhnya terlepas.
VI. MEMBUKA KEPALA
- Pada daerah kepala diikatkan melingkar benang putih, sebagai tanda posisi kulit
kepala yang akan dipotong, yaitu mulai belakang telinga kanan sampai telinga kiri.
Kulit kepala dikelupas, mula-mula dengan pisau tumpul, dibantu secara tajam dari
permukaan, sampai kearah depan hingga ke supra orbita dan bagian belakang
sampai kearah oksipital yang paling tengah.
- Kepala dibuka dengan cara membuat irisan pada kulit kepala dimulai dari
processus mastoideus melingkari kepala kea rah puncak kepala (vertex) dan
berakhir pada processus mastoideus sisi lainnya. Kulit kepala kemudian dikupas
kea rah depan sampai kurang lebih 1-2 cm di atas batas margo supraorbitalis dan ke
arah belakang sampau sejauh protuberantia occipitalis externa. Perhatikan dan catat
kelainan yang didapatkan, baik pada permukaan dalam kulit kepala maupun pada
luar tengkorak. Untuk membuka rongga tengkorak dilakukan penggergajian tulang
tengkorak melingkar di daerah frontal kurang lebih 2 cm di atas margo
supraorbitalis kea rah temporal 2 cm di atas daun telinga. Penggergajian harus hati-
hati dan dihentikan setelah tebal tulang tengkorak telah terlampaui. Atap tengkorak
selanjutnya dilepas dengan pahat T dengan mencongkel garis penggergajian.
- Setelah atap tengkorak dilepaskan diperhartikan adanya kelainan pada permukaan
dalam atap tengkorak maupun pada duramater yang tampak. Duramater kemudian
digunting mengikuti garis penggergajian dan daerah subduraldiperiksa apakah ada
perdarahan, pengumpulan darah.
- Otak dikeluarkan dengan memasukkan 2 jari tangan kiri di garis pertengahan
daerah frontal antara baga otak dan tulang tengkorak. Dengan sedikit menekan baga
frontal akan tampak falk serebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar
tengkorak. Kedua jari tangan kiri tersebut kemudian mengangkat baga frontal dan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
178
memperlihatkan nn. Olfaktorius, nn optikus yang kemudian dipotong sedekat
mungkin pada dasar tengkorak. Pemotongan lebih lanjut dilakukan pada aa. Carotis
interna yang memasuki otak serta saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak.
Dengan memiringkan kepala mayat ke salah satu sisi serta jari-jari tangan kiri
sedikit menarik/mengangkat baga pelipis sisi yang lain, tentorium cerebelli akan
jelas tampak dan mudah dipotong dimulai dari foramen magnum ke arah lateral
menyusuri tepi belakang karang tengkorak (os petrosum).
- Kepala kemudian dikembalikan pada posisi semula dan batang otak dapat dipotong
melintang dengan memasukkan pisau sejauh-jauhnya dalam foramen magnum.
- Dengan tangan kiri menyanggah daerah baga occipital, dua jari tangan kanan dapat
ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang telah terpotong kemudian
menarik bagian bawah otak ini dengan gerakan meluksir hingga keluar dari rongga
tengkorak.
- Setelah otak dikeluarkan, duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus
dilepaskan dari dasarnya agar dapat diperhatikan adanya kelainan pada dasar
tengkorak.
- Timbang otak. Perhatikan permukaan luar dari otak dan catat kelainan yang
ditemukan. Pada daerah ventral perhatikan keadaan sirkulus willisi. Perhatikan
bentuk cerrbellum. Pisahkan otak kecil dari otak besar dengan melakukan
pemotongan pada pedenculus cerebri kanan dan kiri. Otak kecil ini kemudian
dipisahkan llagi dari batang otak dengan melakukan pemotongan pada pedunculus
cerebella. Otak besar diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa.
Lakukan pemotongan otak besar secara melintang, perhatikan penampang irisan.
Perhatikan dan catat setiap kelainan yang dapat ditemukan.
- Otak kecil diperiksa penampangnya dengan membuat irisan melintang catat
kelainan yang ditemukan.
- Batang otak diiris melintang mulai daerah pons, medulla oblongata samapai ke
bagian proksimal medulla spinalis. Perhatikan dan catat setiap kelainan.
- Kalau kita mencurigai daerah yang berwarna agak gelap, maka daerah tersebut kita
sayat sedikit dan kita lihat apakah ada perdarahan pada massa kelabunya(substansia
grisea),kalau tidak ada berarti bukan. Selanjutnya kita lakukan pemeriksaan dengan
pemotongan otak kita lihat penampangnya. Kemudian timbang untuk mengetahui
beratnya.
VII. PEMERIKSAAN ALAT RONGGA LEHER DAN DADA
- Kemudian kita akan melakukan pemeriksaan alat-alat rongga leher dan dada.
- Letakkan bagian depannya ke bawah sehingga bagian belakangnya terlihat dari
esofagus pada bagian teratas. Dari kerongkongan sampai esofagus dibelah dan
dibuka untuk melihat apakah ada isinya dan bagaimana keadaan selaput lendirnya.
Kemudian esofagus dipisahkan dari trakea. Singkirkan agak ke samping kemudian
kita membuka trakea dengan gunting sampai percabangannya sampai ke paru-paru.
Hal yang sama kita menilai apakah ada isinya dan bagaimana keadaan selaput
lendirnya.
- Selanjutnya kita memeriksa tulang hyaoid (tulang lidah), tulang rawan gondok, dan
tulang cincin apakah ada kelainan dan patah tulang.
- Kemudian dibalik dan kita melakukan pemeriksaan pada leher bagian depan. Pada
daerah ini kita memeriksa lapis demi lapis jadi jaringan lunak mulai dari jaringan
ikat kita lepaskan sampai dengan otot kita lepaskan sambil memeriksa apakah ada
perdarahan di antara otot. Pemeriksaan otot-otot leher ini berguna untuk
mengetahui adakah kekerasan pada leher yang sifatnya agak lunak sehingga
perdarahan akan terlihat di otot-otot tapi tidak terlihat di subkutis.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
179
- Dengan terkelupasnya otot-otot maka kita dapat melihat kelenjar gondok. Kelenjar
gondok ini kemudian kita pisahkan. Inilah kelenjar thyroid yang sudah lepas, dan
dinilai bagaimana warna, konsistensinya, apakah ada kelainan atau resapan darah.
- Jantung kita pegang dan kita tarik ke atas sehingga ada diatas dan kita lepaskan dari
jaringan sekitarnya pada sejauh mungkin dari jantung.
- “Inilah kelenjar gondok. Inilah kelenjar tiroid yang sudah terlepas. Dinilai
bagaimana warnanya, konsistensinya, dan adakah kelainan di dalamnya, atau
resapan darah.
- “Jantung kita pegang ditarik ke atas sehingga kita lihat dia di atas, dan kita
lepaskan dari jaringan sekitarnya.
- “Paru-paru di periksa dengan cara: pertama inspeksi, dilihat apakah ada daerah-
daerah perdarahan, daerah-daerah aspirasi darah, atau cidera, atau luka-luka,
infeksi sebelumnya, atau perlekatan dan sebagainya. Umumnya pau-paru yang
normal berwarna merah kelabu agak ungu. Kemudian kita melakukan perabaan.
Paru yang normal akan teraba seperti busa atau spons, atau teraba derik udaranya.
- Sesudah kita periksa seluruhnya baru kita melakukan pemotongan. Kita pisahkan
dulu dari jaringan sekitarnya, kemudian paru akan dibelah untuk melihat
penampangnya. Pada penampang kita lihat apakah mengalir cukup darah dari
potongan, dan cairan atau busa. Adanya darah dan busa yang berlebihan
menunjukkan adanya oedema paru dan perbendungan. Paru-paru ditimbang. Paru –
paru yang normal memiliki berat kurang lebih antaa 225 – 300 gram. Pada paru-
paru ini terlihat lebih dari 400, mungkin sedikit oedema.”
- “jantung diperiksa dengan, mulai dari bagian anterior. Jadi anterior terletak di atas,
tentu saja berarti daerah yang tipis dindingnya, yaitu daerah kanan. Kemudian kita
nilai permukaannya adakah bercak-bercak perdarahan, bercak-bercak sikatriks, atau
titik-titik perdarahan. Kemudian kita periksa pembuluh nadi koroner bagian depan.
Arteri koroner kita nilai dengan cara memotong daerah tersebut sehingga melihat
penampangnya. Ini yang dipotong adalah pada daerah arteri -- ramus desendens
arteri carotis sinistra. Yang terlihat ini adalah pembuluh nadi yang masih tidak
menebal dindingnya dan masih kolaps artinya dia tidak mengalami asklerotik.
- “Dan dibuka lebih dahulu, dengan cara pertama-tama kita buka dahulu pada daerah
atrium. Hubungkan terlebih dahulu antara lubang atau muara dari vena cava
superior dengan vena cava inferior, sehingga akan telihat satu lubang yang besar
pada daerah jantung, atau atrium kanan. Kemudian tusukkan pisau hingga ke
ventrikel sampai mendekati apeks dan dipotong ke arah lateral, sehingga terbuka
baik atrium maupun ventrikel kanan. Kita periksa kemudian adakah kelainan,
lepaskan beberapa jaringan yang masih mengikat. Kemudian anda periksa katup
serambi-bilik kanan. Jadi diperiksa adakah kelainan dan kemudian diukur. Ukuran
ini adalah ukuran lingkaran katub serambi bilik kanan
- Kemudian potong dengan gunting dari ujung bawah atau apeks ke atas mendekati
lebih kurang 1 cm dari sisi septum dan keluar di arteri pulmonalis. Ditemukan
katup pulmonalis, kemudian diperiksa ada kelainan atau tidak, lalu diukur.
- Lanjutkan pemeriksaan pada jantung sisi kiri, jantung sebelah kiri ototnya lebih
tebal, ukur aorta. Lakukan pemeriksaan penampang sekat ventrikel dengan cara
meletakkan di atas meja dan memotong dengan arah mendatar, maka terlihat
penampang otot-otot sekat ventrikel, yang diperiksa adalah apakah ada bercak-
bercak perdarahan atau bercak-bercak sikratik.
- Tebal otot jantung ventrikel kanan kiri dan sekat ventrikel diukur dengan cara
membuat potongan tegak lurus, kemudian diukur ototnya pada potongan
penampang tadi.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
180
- Demikian halnya dengan dinding sebelah kiri lebih tebal, ototnya tanpa lemak. Ini
arteri koronaria jantung,diperiksa apakah ada sumbatan pada bagian muara atau
apakah ada pengapuran atau ketebalan.
- Kemudian kita lakukan pemeriksaan ke alat-alat rongga perut. Limpa dilepaskan
dari jaringan sekitarnya.
- Kemudian diperiksa permukaannya, warnanya, adakah kelainan, kemudian
dipotong untuk melihat penampangnya. Dilakukan pengikisan, pada limpa yang
normal tidak banyak terjadi fibrosis. maka pada pengikisan jaringan akan banyak
yang ikut terbawa. Kemudian limfa di timbang. Saat menimbang bagian belakang
atau posterior terletak diatas. Kemudian rapikan daerah urogenitalnya, kemudian
kita akan mencari kelenjar supra renal, kiri maupun kanan, diafragma diangkat,
sehingga disana terlihat jaringan yang terletak di sub diafragma, disana akan
ditemukan kelenjar supra renal.
- Ini adalah kelenjar anak ginjal sebelah kanan. Kelenjar supra renal dilepaskan,
kemudian dilepaskan dari jaringan sekitarnya, kelenjar supra renal ini bentuknya
biasanya tidak beraturan, trapezium, segitika dan seterusnya. Kalau kita potong
penampangnya akan terlihat daerah kuning (kortexnya kuning), daerah tengahnya
atau medullanya berwarna coklat. Dengan cara yang sama dicari juga, dilepaskan
kelenjar supra renal yang sebelah kiri, dilepaskan dan dipisahkan, kemudian traktus
urinarius dipisahkan dari yang lain, yaitu ginjal, ureter dan buli-buli, berikut rectum
yang melekat pada daerah sekitar buli-buli. Aorta dibuka dari atas kebawah,
kemudian diteliti adakah kelainan, dilaporkan , kemudian pada percabangannya ke
arteri renalis dibuka untuk menuju kearah ginjal dan melihat apakah ada kelainan
atau tidak.
- Ini adalah jaringan traktus urinarius, ginjal, ureter dan buli-buli , jadi kemudian
nanti diperiksa dengan membelah ginjal, periksa ginjalnya, penampangnya dan
kemudian membelah mengikuti ureter sampai ke buli-buli. Kemudian membuka
ginjal dengan memotong jaringan ikat ginjal, dibuka dengan menggunakan pingset.
Pada perinsipnya pada waktu kita memotong ginjal, sedikit saja untuk memotong
simpai ginjal. Dan simpai ginjal ini dikupas dilepaskan dari jaringan ginjalnya
secara tumpul. Baru kemudian kita periksa permukaan luar ginjal, dan setelah itu
kita membelah ginjal. Penampang ginjal diperhatikan, dinilai, Ginjal yang baik
korteksnya kira kira menempati 1/3 dari total ginjal. Kita bisa lihat daerah korteks
dan medulla dibedakan, kemudian kita periksa kaliksesnya, lalu “radiks”, kandung
kencing.
- Pankreas dicari, dipisahkan dari sekitarnya dan kemudian kita nilai deskripsinya.
Setelah kita deskripsi dilakukan pemotongan untuk melihat penampangnya dan
kemudian ditimbang. Diperiksa, lepaskan jaringan diafragma dari hati. Hati
diperiksa permukaannya, permukaan hati yang baik biasanya berwarna merah
coklat, permukaan licin, tepi tajam dan permukaan rata dan kemudian pada waktu
pemotongan melihat penampang, maka penampangnya memperlihatkan gambaran
kelenjar hati yang jelas.
- Lambung dibuka berisi sisa makanan diantaranya terlihat nasi dan selaput lendir.
Selaput lendirnya berwarna putih kemerahan.
- Rongga tengkorak kosong kemudian otak masuk dalam rongga tengkorak
- Setelah itu tulang tengkorak ditutup kembali
- Dijahit dimulai dari ujung sebelah kanan
- Ini bekas-bekas jahitan padat dan tidak longgar
- Persiapan jahitan tubuh
- Tulang dada di jahit kembali, didekatkan iga-iganya
- Bekas irisan kurang lebih tiga jari, masukkan kembali organ ke dalam perut
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
181
- Dijahit mulai dari tepi atas tulang kemaluan sesuai dengan bekas potongan terus ke
atas, mulai lagi didekatkan dan dijahit rapi dengan benang nilon
- Jenazah dicuci dari kumpulan-kumpulan darah
- Kemudian jenazah diangkat untuk disimpan diletakkan di dalam kulkas.
Skema. Langkah Melakukan Otopsi
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
182
OTOPSI
Persiapan Melakukan otopsi
Prosedur melakukan otopsi
Mengeluarkan alat2 rongga leher
Pembukaan rongga dada
Mengeluarkan alat2 rongga perut
Membuka kepala
Pemeriksaan alat rongga leher dan dada
BAB XV
ASPEK MEDIKOLEGAL PELAYANAN MEDIS DAN MALPRAKTIK MEDIS
Dalam bermasyarakat, terdapat interaksi antara satu warga dengan warga lain.
Orang akan menilai suatu perbuatan tertentu apakah perbuatan yang baik atau tidak. Bila
kebanyakan orang sudah memiliki penilaian yang sama maka terjadilah suatu “nilai”.
Masyarakat kemudian menggunakan “nilai” tersebut dalam kehidupan sehari-hari,
mengajarkannya kepada anaknya, dan seterusnya sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan
yang sudah diterima secara umum (kadang memiliki sanksi bila dilanggar) akan dianggap
sebagai suatu “norma”. Norma tersebut dapat berupa “perintah”, dapat pula berupa
“larangan” dan “anjuran”.
Adapun norma yang berlaku di masyarakat adalah:
1. Norma Agama:
norma yang mengatur hubungan manusia dengan penciptanya dan sesama manusia.
2. Norma Kesusilaan:
mengatur hidup orang pribadi
3. Norma Kesopanan:
mengatur hidup antar manusia
4. Norma Hukum:
mengatur ketertiban hidup masyarakat
Begitu juga dalam profesi kedokteran ada norma-norma yang berlaku yang
disebut sebagai norma profesi. Ada 3 macam norma yang mengikat dokter dalam
pelaksanaan profesi kedokteran yaitu:
1. Norma disiplin (disciplinary norm)
2. Norma etika (ethical norm)
3. Norma hukum (legal norm)
Norma Disiplin (Disciplinary Norm)
Norma disiplin yang dimaksudkan di sini adalah disiplin Ilmu Kedokteran itu
sendiri. Kompetensi dokter diperoleh melalui penguasaan ilmu dan teknologi kedokteran.
Berdasarkan ilmu kedokteran inilah disusun standar profesi medik.
Norma Etika (Ethical Norm)
Norma-norma etika yang mengikat pelaksanaan profesi kedokteran dikenal
dengan sebutan etika kedokteran (medical ethics). Etika kedokteran dirumuskan sendiri
oleh kalangan profesi medik. Wujud dari etika kedokteran adalah Kode Etika (Code of
Medical Ethics). Etika kedokteran mengatur etika jabatan kedokteran dan etika asuhan
kedokteran.
Etika jabatan kedokteran mengatur sikap:
a. Dokter terhadap sejawat
b. Dokter terhadap paramedis
c. Dokter terhadap masyarakat
d. Dokter terhadap pemerintah
Etika asuhan kedokteran mengatur etika dokter terhadap penderita yang menjadi
tanggung jawabnya.
Norma Hukum (Legal Norm)
Norma hukum yang mengikat profesi kedokteran dikenal dengan istilah hukum
kedokteran (Medical Law). Karena tenaga medik merupakan salah satu tenaga kesehatan,
selain terikat oleh ketentuan hukum kedokteran, dokter juga terikat oleh ketentuan hukum
kesehatan (Health Law).
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
183
Hukum Kedokteran dan Hukum Kesehatan dibuat oleh lembaga negara yang
berwenang (lembaga legislatif). Keduanya terwujud dalam berbagai bentuk peraturan
perundang-undangan, seperti:
Þ UU No. 23/1992 tentang Kesehatan
Þ UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran
Þ PP No. 32/1996 tentang Tenaga Kesehatan
Þ Permenkes No. 585/1989 tentang Informed Consent
Dalam menjalankan profesi kedokteran harus berdasarkan pada Principles-
Based Ethics¬Prima Facie yang dikemukakan oleh T.Beauchamp & Childress (1994) &
Veatch (1989). Prima Facie terdiri atas:
a. Beneficence
prinsip ‘berbuat baik’
b. Non-malfeasance
prinsip tidak merugikan
c. Autonomy
prinsip menghormati otonomi untuk melakukan atau memutuskan apa yang
dikehendaki terhadap dirinya sendiri
d. Justice
prinsip keadilan
Dalam profesi kedokteran mengutamakan:
1. Kebebasan Profesi
2. Etika Kedokteran
3. Rahasia Kedokteran
Upaya Kesehatanadalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Upaya kesehatan ibarat
kereta api dengan banyak gerbong.
Lokomotif ¬ Ilmu & Teknologi
Rel ¬ Moralitas dan etika profesi
Rambu-rambu & petugas ¬ Hukum
Tindakan Medik adalah tindakan profesional dokter terhadap pasien dengan
tujuan memelihara, meningkatkan, memulihkan kesehatan atau
menghilangkan/mengurangi penderitaan.
Hukum adalah keseluruhan asas dan aturan tentang perbuatan manusia yang
ditetapkan atau diakui oleh otoritas tertinggi.
Ada “daerah singgung” antara pelayanan medik dan hukum !!
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
184
• Dokter dan pasien adalah dua subyek hukum yang terkait dalam hukum
kedokteran. Keduanya membentuk hubungan medik dan hubungan hukum.
• Dalam melaksanakan hubungan antara dokter dan pasien, pelaksanaan hubungan
antara keduanya selalu diatur dengan peraturan-peraturan tertentu agar terjadi
harmonisasi dalam pelaksanaannya
Hubungan Dokter – Pasien dalam ilmu kedokteran umumnya berlangsung sebagai
hubungan biomedis aktif-pasif yang disebut juga hubungan medik.
Pola Hubungan Dokter Pasien berdasarkanKeadaan Sosial Budaya dan Penyakit Pasien
Activity-Passivity
Pola hubungan klasik, disini dokter “seolah-olah” dapat melaksanakan ilmunya tanpa
campur tangan pasiennya, dengan motivasi altruistis
Dalam keadan: pasien tidak sadar atau gawat darurat atau gangguan mental berat
Guidance-Cooperation
Membimbing dan kerjasama. Walaupun dokter mengetahui banyak, ia tidak semata-mata
menjalankan kekuasaan, namun mengaharapkan kerjasama pasien yang diwujudkan
dengan menuruti anjuran dan nasihat dokter
Dalam keadaan penyakit pasien yang tidak terlalu berat.
Penyakit baru.
Mutual Participation
Filosofi pola ini berdasarkan pemikiran bahwa setiap manusia memiliki martabat dan hak
yang sama. Pasien berperan secara aktif dalam pengobatan dirinya.
Dalam keadaan pasien cukup intelek, penyakit kronis atau ingin memelihara
kesehatannya
Hubungan Karena Kontrak (Transaksi Terapeutik)
Hubungan kontraktual terjadi karena para pihak yaitu dokter dan pasien diyakini
mempunyai kebebasan dan kedudukan yang setara. Kedua belah pihak lalu mengadakan
suatu perikatan/perjanjian dimana masing-masing pihak harus melaksanakan peran atau
fungsi terhadap yang lain. Peranan tersebut berupa hak dan kewajiban .
Secara yuridis sering dipermasalahkan apakah tidndakan medis yang tidak
mengenakkan/menyakitkan itu dapat dimasukkan dalam pengertian
penganiayaan yang merupakan konsep hukum pidana .
Sebenarnya kualifikasi yuridis mengenai tindakan medik tidak hanya mempunyai arti
bagi hukum pidana saja, melainkan juga bagi hukum perdata dan administratif.
Masalah Pidana : melukai orang lain
Masalah Perdata : melakukan perjanjian
Masalah Administratif : harus memiliki ijin praktek yang sah
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
185
Dokter
Aktif
Superior ?
Pasien
Pasif
Kepercayaan
Secara materil, suatu tindakan medik tidak bertentangan dengan hukum bila:
1. Mempunyai indikasi medis guna mencapai suatu tujuan yang konkrit
2. Sesuai dengan standar yang berlaku dalam ilmu kedokteran
3. Terlebih dahulu mendapat persetuan dari pasien
Hubungan Dokter-Pasien
Þ Pada awalnya hubungan dokter-pasien bersifat vertikal (hubungan atas-bawah).
Þ Hubungan dokter-pasien pada masa itu dipengaruhi oleh doktrin medical
paternalism (doctor knows his patient’s best interest).
Þ Doktrin medical paternalism adalah perwujudan dari asas beneficence.
Þ Hubungan semacam ini dikatakan juga sebagai hubungan yang bersifat
paternalistik, sebagaimana hubungan antara bapak dengan anak.
Perubahan Paradigma Hubungan Dokter-Pasien
Seiring dengan makin menguatnya kesadaran pasien akan hak-haknya
(especially the right to self-determination), pola hubungan dokter-pasien berubah kearah
hubungan bersifat horisontal (hubungan setara).
Paradigma hubungan dokter-pasien berubah dari medical paternalism menuju
patient’s autonomy.
Hubungan Hukum Antara Dokter & Pasien
Þ Hubungan hukum adalah hubungan menurut kaca mata hukum
Þ Menurut kacamata hukum (Indonesia), hubungan dokter-pasien merupakan
sebuah perikatan.
Þ Perikatan adalah hubungan antara 2 subjek hukum yang melahirkan hak dan
kewajiban pada masing-masing pihak
Hukum Perikatan
Þ Sebagai sebuah perikatan, maka hubungan dokter dan pasien tunduk pada hukum
perikatan.
Þ Hukum perikatan adalah seperangkat aturan hukum yang mengatur tentang
perikatan
Þ Aturan-aturan hukum yang mengatur tentang perikatan terdapat dalam Buku ke 3
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW).
Þ Buku ke 3 BW antara lain menerangkan tentang sumber-sumber perikatan dan
syarat sahnya perjanjian.
Sumber Perikatan
Perikatan bisa terjadi karena 2 macam sebab:
1. Karena Undang-undang
Hubungan hukum antara Bapak dengan Anak merupakan contoh perikatan yang
lahir karena UU. Anak berhak mendapatkan warisan karena memang UU menentukan
demikian.
2. Karena Perjanjian
Hubungan hukum antara penjual dg pembeli merupakan contoh perikatan yang lahir
karena suatu perjanjian.
Syarat Sahnya Perjanjian
Pasal 1320 BW / KUHPer menentukan bahwa suatu perikatan sah apabila
keempat syarat dibawah ini terpenuhi:
1. Adanya kecakapan bertindak
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
186
2. Adanya kesepakatan
3. Adanya obyek tertentu
4. Adanya sebab yang halal
Perikatan Dokter-Pasien
Perikatan dokter-pasien bisa terjadi baik karena undang-undang maupun karena
perjanjian. Ketika dokter memberikan pertolongan kepada pasien gawat darurat yang
berada dalam keadaan tidak sadar, terjadilah sebuah perikatan antara si dokter dan si
pasien.
Perikatan ini bersumber pada undang-undang. Tindakan dokter memberikan
pertolongan kepada si pasien dilakukan atas perintah undang-undang bukan karena
permintaan si pasien.
Þ Dalam situasi normal perikatan antara dokter dengan pasien bersumber pada
perjanjian
Þ Kedatangan pasien ke tempat praktik dokter atau ke RS menunjukkan adanya
kehendak si pasien untuk mengadakan perikatan.
Þ Penerimaan oleh pihak dokter/RS menunjukkan adanya kesediaan untuk
mengadakan perikatan
Þ Tindakan medis yang kemudian dilakukan menunjukkan bahwa perikatan benar-
benar telah terjadi.
Jenis Perikatan
Þ Perikatan antara dokter dan pasien bisa berbentuk resultaats verbintenis ataupun
berbentuk inspanning verbintenis
Þ Resultaat verbintenis adalah perikatan yang didasarkan pada hasil kerja (outcome)
tertentu.
Þ Inspanning verbintenis adalah perikatan yang didasarkan pada usaha yang
sungguh-sungguh.
Resultaats Verbintenis
Þ Dalam perikatan semacam ini, dokter dianggap telah memenuhi perikatan apabila
hasil kerja (outcome) yang dijanjikan kepada si pasien telah dipenuhi
Þ Misalnya dalam tindakan pencabutan gigi, dokter dianggap telah memenuhi
perikatan secara sempurna bila gigi yang dimaksudkan telah dicabut secara sempurna.
Inspanning Verbintenis
Þ Dalam perikatan semacam ini, dokter dianggap telah memenuhi perikatan apabila
ia telah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengobati si pasien.
Þ Obyek perikatan adalah berupa ‘usaha sungguh-sungguh untuk kesembuhan
pasien’ dan bukan kesembuhan itu sendiri.
Þ Hubungan perikatan semacam ini sering dinamakan pula dengan istilah transaksi
terapetik.
Prestasi
Þ Memenuhi perikatan sama dengan memenuhi kewajiban dalam perikatan
Þ Obyek perikatan dalam ilmu hukum disebut dengan istilah prestasi. Seseorang
yang telah memenuhi kewajibannya dengan sempurna di dalam suatu perikatan
dikatakan telah memberikan prestasi atau telah berprestasi
Þ Prestasi dapat berupa memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, atau tidak
melakukan sesuatu.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
187
Wan-Prestasi
Þ Kegagalan dalam memenuhi perikatan atau dalam memenuhi kewajiban disebut
dengan istilah wan-prestasi.
Þ Dalam suatu perikatan yang lahir karena perjanjian, wan-prestasi sama maknanya
dengan ingkar janji.
Þ Seseorang dikatakan telah melakukan wan-prestasi apabila ia:
º Tidak berprestasi sama sekali
º Berprestasi tetapi tidak sesuai
º Berprestasi tetapi terlambat
Hak-hak pasien
1. Hak pasien atas perawatan
2. Hak untuk menolak cara perawatan tertentu
3. Hak untuk memilih dokter yang merawat
4. Hak atas informasi
5. Hak untuk menolak perawatan tanpa izin
6. Hak atas rasa aman
7. Hak untuk mengakhiri perawatan
8. Meminta pendapat dokter lain
9. Mendapatkan isi rekam medis
Kewajiban pasien
1. Memberikan informasi secara lengkap dan jujur tentang
kesehatannya
2. Mematuhi nasehat & petunjuk dokter
3. Mematuhi ketentuan yang berlaku
4. Memberikan imbalan jasa
Kewajiban dokter
1. Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan
SOP
2. Merujuk pasien bila tidak mampu
3. Menjaga rahasia pasien
5. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan
6. Menambah & mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
Hak dokter
1. Memperoleh perlindungan hukum
2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi &
standar prosedur operasional
3. Memperoleh informasi yang lengkap & jujur dari pasien
atau keluarganya
4. Menerima imbalan jasa
Rekam Medis
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam
Medis dijelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada
pasien pada sarana pelayanan kesehatan.
Dalam penjelasan Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran, yang dimaksud dengan
rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
188
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien.
Selain dokter dan dokter gigi yang membuat/mengisi rekam medis, tenaga kesehatan lain
yang memberikan pelayanan langsung kepada pasien dapat membuat/mengisi rekam
medis atas perintah/pendelegasian secara tertulis dari dokter dan dokter gigi yang
menjalankan praktik kedokteran.
Rahasia Medis Menurut Hipokrates
Definisi :
Rahasia Medis adalah segala sesuatu yang diketahui oleh karena atau pada saat
melakukan pekerjaan di bidang kedokteran
Sanksi bagi yang membocorkan rahasia medis:
Pasal 322 KUHP
1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena
jabatan atau pencahariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling
banyak sembilan ribu rupiah.
2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanya
dapat dituntut atas pengaduan orang itu.
Pasal 112 KUHP
Barang siapa dengan sengaja mengumumkan surat-surat, berita-berita atau
keterangan-keterangan yang diketahui harus dirahasiakan untuk kepentingan negara, atau
dengan sengaja memberitahukan atau memberikan kepada negara asing, kepada seorang
raja atau suku bangsa, diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun
ASPEK MEDIKOLEGAL
Dalam pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun diluar rumah sakit tidak
tertutup kemungkinan timbul konflik. Konflik tersebut dapat terjadi antara tenaga
kesehatan dengan pasien dan antara sesama tenaga kesehatan (baik satu profesi maupun
antar profesi). Untuk mencegah dan mengatasi konflik biasanya digunakan etika dan
norma hukum yang mempunyai tolok ukur masing-masing. Oleh karena itu dalam praktik
harus diterapkan dalam dimensi yang berbeda. Artinya pada saat kita berbicara masalah
hukum, tolok ukur norma hukumlah yang diberlakukan. Pada kenyataannya kita sering
terjebak dalam menilai suatu perilaku dengan membaurkan tolok ukur etika dan hukum.
A. Sejarah Medikolegal
o 2980-2900 SM : Imhotep
o 1700 SM : Hammurabi
o 1400 SM : Hittites
o 44 M : Anthitius, Julius Caesar, Forum
o 600 M : Ming Yuang Shih Lu
o 1241-1253 M : “ Kematian yang Mencurigakan “:
Record of Washing Away of Wrongs
(Cina)
o 1302 M : Autopsi Medikolegal di Bologna
o 1823 M : Sidik Jari
o 1958 M : Patologi Forensik sebagai Spesialis
o Di Indonesia : Sejak zaman Kolonial; terutama
Jakarta-Surabaya.
- 70 Spesialis Forensik di 15 Kota
- PUSLABFOR di 5 Kota besar Indonesia
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
189
B. Prinsip Kerja Medikolegal
o Prinsip Kedokteran
- Sumpah, Etik, Standar Operasional Prosedur
o Kebebasan Profesi
- Obyektif Ilmiah, Impartial, Menyeluruh
- Prosedural
o Berhak Menerima Imbalan
- Berdasarkan Upayanya
- Tidak berdasar hasil akhir
Gambar. Prinsip Kerja Medikolegal
C. Prosedur Medikolegal
Tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan
dengan pelayanan untuk kepentingan hokum.
D. Tugas Pokok Medikolegal
Tugas pokok Medikolegal adalah membantu proeses hukum melalui pembuktian
ilmiah kedokteran :
• Dokumentasi Informasi/Prosedur
• Dokumentasi Fakta
• Dokumentasi Temuan
• Analisis dan kesimpulan
• Presentasi (Sertifikasi)
• Masa Penyelidikan / Penyidikan
o Pemeriksaan TKP
o Analisis
• Masa Penyidikan
o Visum et Repertum
o BAP Saksi Ahli
o Keterangan Ahli
• Di Persidangan
o Sebagai saksi ahli Pemeriksa : - Menjelaskan V et R
o Menjelaskan kaitan temuan VeR dengan barang bukti lain
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
190
o Menjelaskan segala sesuatu dri sisi Ilmiah
• Konfidensialitas Dokter
o Hindari : Talk too Soon, Talk too much, Talk to wrong person
E. Lingkup Prosedur Medikolegal
1. Pengadaan Visum et Repertum
2. Pemeriksaan Kedokteran terhadap tersangka
3. Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan di
dalam persidangan
4. Hubungan V et R dengan Rahasia Kedokteran
5. Tentang Surat Keterangan Medik dan Surat Keterangan Kematian
6. Kompetensi pasien mengahadapi proses pemeriksaan penyidik
F. Aspek Medikolegal pada kegawatdaruratan
Karakteristik Pelayanan Kegawatdaruratan
Dipandang dan segi hukum dan medikolegal, pelayanan gawat darurat berbeda
dengan pelayanan non-gawat darurat karena memiliki karakteristik khusus. Beberapa isu
khusus dalam pelayanan gawat darurat membutuhkan pengaturan hukum yang khusus dan
akan menimbulkan hubungan hukum yang berbeda dengan keadaan bukan gawat darurat.
Beberapa Isu Seputar Pelayanan Gawat Darurat
Pada keadaan gawat darurat medik didapati beberapa masalah utama yaitu:
1. Periode waktu pengamatan/pelayanan relatif singkat
2. Perubahan klinis yang mendadak
3. Mobilitas petugas yang tinggi
Hal-hal di atas menyebabkan tindakan dalam keadaan gawat darurat memiliki
risiko tinggi bagi pasien berupa kecacatan bahkan kematian. Dokter yang bertugas di
gawat darurat menempati urutan kedua setelah dokter ahli onkologi dalam menghadapi
kematian. Situasi emosional dari pihak pasien karena tertimpa risiko dan pekerjaan tenaga
kesehatan yang di bawah tekanan mudah menyulut konflik antara pihak pasien dengan
pihak pemberi pelayanan kesehatan.
Hubungan Dokter Dan Pasien Dalam Keadaan Gawat Darurat
Dokter-pasien dalam keadaan gawat darurat sering merupakan hubungan yang
spesifik. Dalam keadaan biasa (bukan keadan gawat darurat) maka hubungan dokter-
pasien didasarkan atas kesepakatan kedua belah pihak, yaitu pasien dengan bebas dapat
menentukan dokter yang akan dimintai bantuannya (didapati azas voluntarisme).
Demikian pula dalam kunjungan berikutnya, kewajiban yang timbul pada dokter
berdasarkan pada hubungan yang telah terjadi sebelumnya (pre-existing relationship).
Dalam keadaan darurat hal di atas dapat tidak ada dan azas voluntarisme dan kedua belah
pihak juga tidak terpenuhi. Untuk itu perlu diperhatikan azas yang khusus berlaku dalam
pelayanan gawat darurat yang tidak didasari atas azas voluntarisme.
Apabila seseorang bersedia menolong orang lain dalam keadaan darurat, maka ia
harus melakukannya hingga tuntas dalam arti ada pihak lain yang melanjutkan
pertolongan itu atau korban tidak memerlukan pertolongan lagi. Dalam hal pertolongan
tidak dilakukan dengan tuntas maka pihak penolong dapat digugat karena dianggap
mencampuri/ menghalangi kesempatan korban untuk memperoleh pertolongan lain (loss
of chance).
Peraturan Perundang-Undangan Yang Berkaitan Dengan Pelayanan Gawat Darurat
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
191
Pengaturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelayanan gawat darurat
adalah UU No 23/1992 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medis, dan Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988
tentang Rumah Sakit.
Pengaturan Penyelenggaraan Pelayanan Gawat Darurat
Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah tegas
diatur dalam pasal 5l UU No.29/2004 tentang Praktik Kedokteran, di mana seorang
dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. Selanjutnya,
walaupun dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan tidak disebutkan istilah pelayanan
gawat darurat namun secara tersirat upaya penyelenggaraan pelayanan tersebut
sebenamya merupakan hak setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang
optimal (pasal 4) Selanjutnya pasal 7 mengatur bahwa “Pemerintah bertugas
menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat”
termasuk fakir miskin, orang terlantar dan kurang mampu. Tentunya upaya ini
menyangkut pula pelayanan gawat darurat, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah
maupun masyarakat (swasta).
Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan
pelayanan gawat darurat 24 jam sehari sebagai salah satu persyaratan ijin rumah sakit.
Dalam pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang muka sebagai
persyaratan pemberian pelayanan.
Dalam penanggulangan pasien gawat darurat dikenal pelayanan fase pra- rumah
sakit dan fase rumah sakit. Pengaturan pelayanan gawat darurat untuk fase rumah sakit
telah terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah Sakit, di
mana dalam pasal 23 telah disebutkan kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan
pelayanan gawat darurat selama 24 jam per hari.
Untuk fase pra-rumah sakit belum ada pengaturan yang spesifik. Secara umum
ketentuan yang dapat dipakai sebagai landasan hukum adalah pasal 7 UU No.23/1992
tentang Kesehatan, yang harus dilanjutkan dengan pengaturan yang spesifik untuk
pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit Bentuk peraturan tersebut seyogyanya
adalah peraturan pemerintah karena menyangkut berbagai instansi di luar sektor
kesehatan.
Masalah Lingkup Kewenangan Personil Dalam Pelayanan Gawat Darurat
Hal yang perlu dikemukakan adalah pengertian tenaga kesehatan yang berkaitan
dengan lingkup kewenangan dalam penanganan keadaan gawat darurat. Pengertian tenaga
kesehatan diatur dalam pasal 1 butir 3 UU No.23/1992 tentang Kesehatan sebagai berikut:
tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan
serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan. Melihat ketentuan tersebut nampak bahwa profesi kesehatan memerlukan
kompetensi tertentu dan kewenangan khusus karena tindakan yang dilakukan
mengandung risiko yang tidak kecil.
Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No.23/1992 tentang
Kesehatan dapat dilihat dalam pasal 32 ayat (4) yang menyatakan bahwa “pelaksanaan
pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya
dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk
itu“. Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari tindakan
seseorang yang tidak mempunyai keahlian dan kewenangan untuk melakukan
pengobatan/perawatan, sehingga akibat yang dapat merugikan atau membahayakan
terhadap kesehatan pasien dapat dihindari, khususnya tindakan medis yang mengandung
risiko.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
192
Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam melakukan tindakan medik
diatur dalam pasal 50 UU No.23/1992 tentang Kesehatan yang merumuskan bahwa
“tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai
dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan”.
Pengaturan di atas menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di rumah sakit, di
mana pada dasarnya setiap dokter memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai
tindakan medik termasuk tindakan spesifik dalam keadaan gawat darurat. Dalam hal
pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan maka yang bersangkutan harus
menemelakukanrapkan standar profesi sesuai dengan situasi (gawat darurat) saat itu.
Pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit umumnya tindakan pertolongan
pertama dilakukan oleh masyarakat awam baik yang tidak terlatih maupun yang teriatih di
bidang medis. Dalam hal itu ketentuan perihal kewenangan untuk melakukan tindakan
medis dalam undang-undang kesehatan seperti di atas tidak akan diterapkan, karena
masyarakat melakukan hal itu dengan sukarela dan dengan itikad yang baik. Selain itu
mereka tidak dapat disebut sebagai tenaga kesehatan karena pekerjaan utamanya bukan di
bidang kesehatan.
Jika tindakan fase pra-rumah sakit dilaksanakan oleh tenaga terampil yang telah
mendapat pendidikan khusus di bidang kedokteran gawat darurat dan yang memang
tugasnya di bidang ini, maka tanggungjawab hukumnya tidak berbeda dengan tenaga
kesehatan di rumah sakit. Penentuan ada tidaknya kelalaian dilakukan dengan
membandingkan keterampilan tindakannya dengan tenaga yang serupa.
Masalah Medikolegal Pada Penanganan Pasien Gawat Darurat
Hal-hal yang disoroti hukum dalam pelayanan gawat darurat dapat meliputi
hubungan hukum dalam pelayanan gawat darurat dan pembiayaan Pelayanan gawat
darurat.
Karena secara yuridis keadaan gawat darurat cenderung menimbulkan privilege
tertentu bagi tenaga kesehatan maka perlu ditegaskan pengertian gawat darurat. Menurut
The American Hospital Association (AHA) pengertian gawat darurat adalah. An
emergency is any condition that in the opinion of the patient, his family, or whoever
assumes the responsibility of bringing the patient to the hospital-enquires immediate
medical attention. This condition continues until a determination has been made by a
health care professional that the patient’s life or well-being is not threatened.
Adakalanya pasien untuk menempatkan dirinya dalam keadaan gawat darurat
walaupun sebenarnya tidak demikian. Sehubungan dengan hal itu perlu dibedakan antara
false emergency dengan true emergency yang pengertiannya adaiah:
A true emergency is any condition clinically determined to require immediate
medical care. Such conditions range from those requiring extensive immediate
care and admission to the hospital to those that are diagnostic
probmelakukanlems and may or may not require admission after work-up and
observation.
Untuk menilai dan menentukan tingkat urgensi masalah kesehatan yang dihadapi
pasien diselengganakanlah triage. Tenaga yang menangani hal tersebut yang paling ideal
adalah dokter, namun jika tenaga terbatas, di beberapa tempat dikerjakan oleh perawat
melalui standing order yang disusun rumah sakit.
Selain itu perlu dibedakan antara penanganan kasus gawat darurat fase pra-
rumah sakit dengan fase di rumah sakit. Pihak yang terkait pada kedua fase tersebut dapat
berbeda, di mana pada fase pra-rumah sakit selain tenaga kesehatan akan terlibat pula
orang awam, sedangkan pada fase rumah sakit umumnya yang terlibat adalah tenaga
kesehatan, khususnya tenaga medis dan perawat. Kewemelakukannangan dan tanggung
jawab tenaga kesehatan dan orang awam tersebut telah dibicarakan diatas. Kecepatan dan
ketepatan tindakan pada fase pra-rumah sakit sangat menentukan survivabilitas pasien.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
193
Hubungan Hukum Dalam Pelayanan Gawat Darurat
Di Amerika dikenal penerapan doktrin Good Samaritan dalam peraturan
perundang-undangan pada hampir seluruh negara bagian. Doktrin tersebut terutama
diberlakukan dalam fase pra-rumah sakit untuk melindungi pihak yang secara sukarela
beritikad baik menolong seseorang dalam keadaan gawat darurat. Dengan demikian
seorang pasien dilarang menggugat dokter atau tenaga kesehatan lain untuk kecederaan
yang dialaminya. Dua syarat utama doktrin Good Samaritan yang harus dipenuhi adalah:
1. Kesukarelaan pihak penolong. Kesukarelaan dibuktikan dengan tidak ada
harapan atau keinginan pihak penolong untuk memperoleh kompensasi dalam bentuk
apapun. Bila pihak penolong menarik biaya pada akhir pertolongannya, maka doktrin
tersebut tidak berlaku.
2. Itikad baik pihak penolong. Itikad baik tersebut dapat dinilai dan tindakan
yang dilakukan penolong. Hal yang bertentangan dengan itikad baik misalnya
melakukan trakeostomi yang tidak perlu untuk menambah ketemelakukanrampilan
penolong.
Dalam hal pertanggungjawaban hukum, bila pihak pasien menggugat tenaga
kesehatan karena diduga terdapat kekeliruan dalam penegakan diagnosis atau pemberian
terapi maka pihak pasien harus membuktikan bahwa hanya kekeliruan itulah yang
menjadi penyebab kerugiannya/cacat (proximate cause). Bila tuduhan kelalaian tersebut
dilamelakukankukan dalam situasi gawat darurat maka perlu dipertimbangkan faktor
kondisi dan situasi saat peristiwa tersebut terjadi. Jadi, tepat atau tidaknya tindakan tenaga
kesehatan perlu dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang berkuamelakukanlifikasi
sama, pada pada situasi dan kondisi yang sama pula.
Setiap tindakan medis harus mendapatkan persetujuan dari pasien (informed
consent). Hal itu telah diatur sebagai hak pasien dalam UU No.23/1992 tentang
Kesehatan pasal 53 ayat 2 dan Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medis. Dalam keadaan gawat darurat di mana harus segera
dilakukan tindakan medis pada pasien yang tidak sadar dan tidak didampingi pasien, tidak
perLu persetujuan dari siapapun (pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989).
Dalam hal persetujuan tersbut dapat diperoleh dalam bentuk tertulis, maka lembar
persetujuan tersebut harus disimpan dalam berkas rekam medis.
Kematian Pada Instalasi Gawat Darurat
Pada prinsipnya, setiap pasien yang meninggal pada saat dibawa ke IGD (Death
on Arrival) harus dilaporkan kepada pihak berwajib. Di negara Anglo-Saxon digunakan
sistem koroner, yaitu setiap kematian mendadak yang tidak terduga (sudden unexpected
death), apapun penyebabnya, harus dilaporkan dan ditangani oleh Coroner atau Medical
Examiner. Pejabat tersebut menentukan tindakan iebih lanjut apakah jenazah harus
diautopsi untuk pemeriksaan lebih lanjut atau tidak. Dalam keadaan tersebut surat
keterangan kematian (death certificate) diterbitkan oleh Coroner atau Medical Examiner.
Pihak rumah sakit harus menjaga keutuhan jenazah dan benda-benda yang berasal dari
tubuh jenazah (pakaian dan benda lainnya) untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Indonesia tidak menganut sistem tersebut, sehingga fungsi semacam coroner
diserahkan pada pejabat kepolisian di wilayah tersebut. Dengan demikian pihak POLRI
yang akan menentukan apakah jenazah akan diautopsi atau tidak. Dokter yang bertugas di
IGD tidak boleh menerbitkan surat keterangan kematian dan menyerahkan
permasalahannya kepada POLRI.
Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas
Kesehatan DKI Jakarta Nomor 3349/1989 tentang berlakunya Petunjuk Pelaksanaan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
194
Pencatatan dan Pelaporan kematian di Puskesmas, Rumah Sakit, RSB/RB di wilayah DKI
Jakarta yang telah disempurnakan tanggal 9 Agustus 1989 telah ditetapkan bahwa semua
peristiwa kematian rudapaksa dan yang dicurigai rudapaksa dianjurkan kepada keluarga
untuk dilaporkan kepada pihak kepolisian dan selanjutnya jenazah harus dikirim ke
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan visum et repertum. Kasus yang tidak
boleh diberikan surat keterangan kematian adalah:
• meninggal pada saat dibawa ke IGD
• meninggal akibat berbagai kekerasan
• meninggal akibat keracunan
• meninggal dengan kaitan berbagai peristiwa kecelakaan
Kematian yang boleh dibuatkan surat keterangan kematiannya adalah yang cara
kematiannya alamiah karena penyakit dan tidak ada tanda-tanda kekerasan.
MALPRAKTIK MEDIS
Istilah malpraktik berasal dari kata mala, artinya tidak baik, dan praktik yang
artinya pelaksanaan pekerjaan. Dalam bidang kesehatan, malpraktik medis merupakan
pelaksanaan pekerjaan dokter secara tidak baik. Jadi, malpraktek adalah praktek
kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur
operasional. Untuk malpraktek dokter dapat dikenai hukum kriminal dan hukum sipil.
Malpraktek kedokteran terdiri dari 4 hal yaitu tanggung jawab kriminal, malpraktik secara
etik, tanggung jawab sipil, dan tanggung jawab public.
Menurut Prof.Dr.dr.Daldiyono, seorang dokter dinilai baik apabila:
1. Dokter meletakkan kepentingan pasien lebih tinggi daripada kepentingan dokter
dalam memperoleh pembayaran.
2. Pasien dapat merasakan apakah dokter bekerja demi diri pasien atau demi uang.
3. Dokter bekerja sesuai dengan kompetensinya kecuali dalam keadaan darurat
pertolongan atau penyelamatan nyawa.
4. Dokter bekerja dengan melaksanakan standar pelayanan medis yang telah ditentukan
oleh Konsil Kedokteran Indonesia.
5. Dokter bekerja dengan melaksanakan standar prosedur operasional yang telah
ditentukan oleh profesinya bila bekerja mandiri atau yang telah ditentukan oleh
institusinya, misalnya puskesmas, rumah sakit, dan sebagainya.
Pengertian malpraktik medis menurut World Medical Association (WMA) (1992)
adalah : “ medical malpractice involves the physician’s failure to conform to the standart
of care for treatment of the patient’s condition, orlack of skill, or negligence in providing
care to the patient, which is the direct cause of an injury to the patient”
4
. Dari definisi di
atas dapat ditarik kesimpulan bahwa malpraktik dapat terjadi karena tindakan yang
disengaja (intentional), seperti pada misconduct tertentu, tindakan kelalaian (negligence),
ataupun suatu kekurang-mahiran/ ketidak-kompetenan yang tidak beralasan.
Menurut W.L. Prosser dalam buku The Law of Torts yang dikutip oleh Dagi, T.F
dalam tulisannya yang berjudul Cause and Culpability di Journal of Medicine and
Philosophy Vol. 1, No. 4, 1976, unsur malapraktik adalah (1) Adanya perjanjian dokter-
pasien; (2) Adanya pengingkaran perjanjian; (3) Adanya hubungan sebab akibat antara
tindakan pengingkaran itu dengan musibah yang terjadi; (4) Tindakan pengingkaran itu
merupakan penyebab utama dari musibah dan; (5) Musibah itu dapat dibuktikan
keberadaannya.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
195
Menurut Hubert W. Smith tindakan malpraktek meliputi 4D, yaitu :
1. Duty to use due care (kewajiban)
Tidak ada kelalaian jika tidak ada kewajiban untuk mengobati. Hal ini berarti
harus ada hubungan hukum antara pasien dan dokter/ rumah sakit. Dengan adanya
hubungan hukum, maka implikasinya adalah bahwa sikap tindak dokter (atau tenaga
medis lainnya) di rumah sakit tersebut harus sesuai dengan standar pelayanan
medisagar pasien jangan sampai menderita cedera karenanya.
Dalam hubungan perjanjian dokter dengan pasien, dokter haruslah bertindak
berdasarkan adanya indikasi medis, bertindak secara hati-hati dan teliti, bekerja
sesuai standar profesi serta sudah ada informed consent. Keempat tindakan di atas
adalah sesuai dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran No. 29 tahun 2004 Bab
IV tentang Penyelenggaraan Praktik Kedokteran, yang menyebutkan pada bagian
kesatu pasal 36, 37 dan 38 bahwa seorang dokter harus memiliki surat izin praktek,
dan bagian kedua tentang pelaksanaan praktek yang diatur dalam pasal 39-43.
Sesuai dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran Pasal 45 ayat (1)
menyebutkan bahwa setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan
dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
Sebelum memberikan persetujuan pasien harus diberi penjelasan yang lengkap akan
tindakan yang akan dilakukan oleh dokter.
Selain itu, ketika dia menjalankan praktik kedokteran wajib untuk membuat
rekam medis, yang sudah diatur dalam undang-undang parktek kedokteran pasal 46.
Rekam medis harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan
kesehatan dan harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang
memberikan pelayanan atau tindakan.
2. Dereliction (breachof duty/adanya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas)
Apabila sudah ada kewajiban, maka dokter (atau tenaga medis lainnya) di
rumah sakit tersebut harus bertindak sesuai standar profesi yang berlaku. Jika
terdapat penyimpangan dari standar tersebut, maka ia dapat dipersalahkan.
3. Damage (injury/kerugian)
Unsur ketiga untuk penuntutan malpraktik medik adalah cedera atau kerugian
yang diakibatkan kepada pasien. Walaupun seorang dokter atau rumah sakit dituduh
telah berlaku lalai, tetapi jika tidak sampai menimbulkan luka/cedera/kerugian
(damage, injury, harm) kepada pasien, maka ia tidak dapat dituntut ganti-kerugian.
Istilah injury tidak saja dalam bentuk fisik, namun kadangkala juga termasuk dalam
arti gangguan mental yang hebat.
4. Direct Causation (Proximate Cause/penyebab langsung )
Untuk berhasilnya suatu gugatan ganti-rugi berdasarkan malpraktik medik,
maka harus ada hubungan kausal yang wajar antara sikap tindak tergugat (dokter)
dengan kerugian (damage) yang diderita oleh pasien sebagai akibatnya. Tindakan
dokter itu harus merupakan penyebab langsung. Hanya atas dasar penyimpangan
saja, belumlah cukup untuk mengajukan tuntutan ganti-kerugian. Kecuali jika sifat
penyimpangannya itu sedemikian tidak wajar sehingga sampai mencederai pasien.
Namun apabila pasien tersebut sudah diperiksa oleh dokter secara adekuat, maka
hanya atas dasar suatu kekeliruan dalam menegakkan diagnosis saja, tidaklah cukup
kuat untuk meminta pertanggungjawaban hukumnya.
Meskipun demikian, pada kenyataannya tidak semua sengketa medik yang
memenuhi unsur 4-D berakhir dengan proses peradilan. Hal ini terjadi akibat adanya
unsur kelima kelalaian; yaitu willing plaintiff (keinginan menggugat).
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
196
Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktik medis, sekaligus
merupakan bentuk malpraktik medis yang paling sering terjadi. Kelalaian dapat terjadi
dalam 3 (tiga) bentuk, yaitu :
1. Malfeasance; melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/ layak
(unlaw atau improper). Misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang
memadai.
2. Misfeasance; melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan
dengan tidak tepat (improper performance). Misalnya melakukan tindakan medis
yang menyalahi prosedur.
3. Nonfeasance; tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya.
Tingkat-tingkat kelalaian oleh hukum hanya dibedakan 2 (dua) ukuran tingkat :
1. Yang bersifat ringan, biasa – (culpa levis); yaitu apabila seseorang tidak melakukan
apa yang seorang biasa, wajar, dan berhati-hati akan melakukan, atau justru
melakukan apa yang orang lain yang wajar tidak akan melakukan di dalam situasi
yang meliputi keadaan tersebut.
2. Yang bersifat kasar, berat – (culpa lata); yaitu apabila seseorang dengan sadar dan
dengan sengaja tidak melakukan atau melakukan sesuatu yang sepatutnya tidak
dilakukannya.
Menurut Prof. Leenen suatu tindakan medik harus memenuhi syarat :
1. Harus ada indikasi medik,
2. Dilakukan berdasarkan standar,
3. Dilakukan dengan teliti dan hati-hati,
4. Harus ada informed consent.
Setiap tindakan medis mengandung resiko buruk, sehingga harus dilakukan
tindakan pencegahan ataupun tindakan guna mereduksi resiko tersebut. Resiko yang dapat
diterima adalah sebagai berikut:
1. Resiko yang derajat propabilitas dan keparahannya cukup kecil, dapat diantisipasi,
diperhitungkan atau dapat dikendalikan, misalnya efek samping obat, perdarahan
atau infeksi pada pembedahan, dan lain-lain.
2. Resiko yang derajat propabilitas dan keparahannya besar pada waktu tertentu, yaitu
apabila tindakan medis yang beresiko tersebut harus dilakukan karena merupakan
satu-satunya cara yang harus ditempuh terutama dalam keadaan gawat darurat.
JENIS MALPRAKTIK
Jika diukur menurut berat-ringannya maka malpraktik yang dilakukan oleh
profesi kedokteran dapat dibedakan menjadi malpraktik etika, malpraktik disiplin dan
malpraktik hukum. Untuk mengetahui lebih jelas perbedaan-perbedaan antara malpraktik
etika, disiplin dan hukum dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. Perbedaan etika, disiplin dan hukum
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
197
BIDANG SIFAT TUJUAN SANKSI
Etika
Intern (self
imposed
regulation)
Memelihara harkat
martabat profesi dan
menjaga mutu
Teguran, skorsing,
pemecatan sebagai
anggota
Disiplin
Hukum publik
(ada unsur
pemerintah dan
awam)
Melindungi
masyarakat
(termasuk anggota
profesi)
Teguran, skorsing,
pencabutan izin
Hukum
Berlaku umum
(bersifat memaksa)
Menjaga tata tertib
masyarakat luas
Hukum perdata
= ganti rugi
Hukum Pidana
= sanksi badan dan
atau pencabutan izin
Gambar. Proses Investigasi Kasus malpraktek
PENCEGAHAN MALPRAKTIK MEDIS
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
198
Praktik kedokteran bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja,
melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang
berkompetensi dan mendapatkan izin dari institusi yang berwenang dan bekerja sesuai
dengan standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya.
Untuk memastikan bahwa para dokter yang berpraktik adalah benar telah
memiliki kompetensi dan kewenangan medis dan yang sesuai dengan standar medis dan
etika profesi maka perlu adanya UU Praktik Kedokteran. UU Praktik Kedokteran
dimaksudkan untuk mencapai akuntabilitas profesi dan layanan kedokteran.
Prof.Dr.dr Daldiyono mengatakan bahwa seharusnya yang diperlukan adalah
dokter yang bijak. Dalam filsafat kedokteran, dokter bijak diharapkan memiliki criteria:
1. Pendidikan kedokteran berkelanjutan
2. Praktik kedokteran bermutu dan beretika (manusiawi) (good clinical practice)
3. Sistem dan cara pelayanan kesehatan bermutu serta beretika (good clinical
governance).
Apabila seorang dokter telah terbukti dan dinyatakan telah melakukan tindakan
malpraktek maka dia akan dikenai sanksi hukum sesuai dengan UU No. 23 1992 tentang
kesehatan. Dan UU Praktek kedokteran dalam BAB X Ketentuan Pidana Pasal 75 ayat (1)
yang berbunyi “setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29
ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling
banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”. Sehubungan dengan hasil keputusan
Mahkama Konstitusi pasal tersebut telah mengalami revisi, dimana salah satu keputusan
dari Mahkama Konstitusi adalah ketentuan ancaman pidana penjara kurungan badan yang
tercantum dalam pasal 75, 76, 79, huruf a dan c dihapuskan. Namun mengenai sanksi
pidana denda tetap diberlakukan.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
199
Gambar. Tanggung jawab Dokter dalam Upaya Pelayanan Kesehatan
Di negara-negara maju terdapat Dewan Medis (Medical Council) yang bertugas
melakukan pembinaan etika profesi dan menanggulangi pelanggaran-pelanggaran yang
dilakukan terhadap etik kedokteran.
Di Negara kita IDI telah mempunyai Majelis Kehormatan Etik Kedokteran
(MKEK), baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Walaupun demikian, MKEK
ini belum lagi dimanfaatkan dengan baik oleh para dokter maupun masyarakat.
Masih banyak kasus yang keburu diajukan ke pengadilan sebelum ditangani oleh
MKEK. Oleh karena fungsi MKEK ini belum memuaskan, maka pada tahun 1982
Departeman Kesehatan membentuk Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik
Kedokteran (P3EK) yang terdapat pula di pusat dan di tingkat propinsi.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
200
Tugas P3EK ialah menangani kasus-kasus malpraktek etik yang tidak dapat
ditanggulangi oleh MKEK, dan memberi pertimbangan serta usul-usul kepada pejabat
berwenang.Jadi instansi pertama yang akan menangani kasus-kasus malpraktek etik ialah
MKEK cabang atau wilayah. Masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk
ke P3EK Propinsi dan jika P3EK Propinsi tidak mampu menanganinya maka kasus
tersebut diteruskan ke P3EK Pusat.
Demikian juga kasus-kasus malpraktek etik yang dilaporkan kepada propinsi,
diharapkan dapat diteruskan lebih dahulu ke MKEK Cabang atau Wilayah. Dengan
demikian diharapkan bahwa semua kasus pelanggaran etik dapat diselesaikan secara
tuntas.
Tentulah jika sesuatu pelanggaran merupakan malpraktek hukum pidana atau
perdata, maka kasusnya diteruskan kepada pengadilan. Dalam hal ini perlu dicegah bahwa
oleh karena kurangnya pengetahuan pihak penegak hukum tentang ilmu dan teknologi
kedokteran menyebabkan dokter yang ditindak menerima hukuman yang dianggap tidak
adil.
Ilustrasi Kasus
1. Seorang ibu membawa anaknya yang menderita penyakit gondong/bengok
(parotitis), kepada dokter. Oleh dokter anak tersebut diberi injeksi Penisilin, anak
tersebut ternyata tidak tahan dan kemudian segera meninggal.
Dokter dalam kasus ini telah melakukan penyimpangan yaitu di dalam hal pemberian
injeksi Penisilin oleh karena penyebab penyakit gondong adalah virus, sedangkan
virus tidak dapat dimatikan oleh Penisilin.
2. Seorang dokter memberikan injeksi Penisilin kepada pasien penderita penyakit
kencing nanah, si pasien ternyata meninggal tidak lama setelah penyuntikan.
Kesalahan dokter di dalam kasus ini ialah : ia tidak melakukan anamnesa,
menanyakan apakah pasien tersebut tahan terhadap Penisilin, apakah ia tidak punya
penyakit alergi dan tidak dilakukan skin test terlebih dahulu.
3. Seorang dokter ahli ilmu ural dalam sakit (patologanatom) melakukan kekeliruan
di dalam diagnosa dari jaringan yang diperoleh dari ahli kandungan, akibat dari
kekeliruan tersebut ahli kandungan melakukan operasi pengangkatan rahim
(histerektomi), yang seharusnya tidak perlu dilakukan.
4. Seorang penderita kanker payudara diberi pengobatan dengan penyinaran, yang
menyebabkan hangusnya kulit penderita tersebut. Dalam kasus ini dokter bersalah
oleh karena, ia tidak memberikan penjelasan terlebih dahulu akan komplikasi yang
dapat terjadi bila seseorang mendapat penyinaran.
5. Seorang wanita meninggal dunia beberapa saat setelah dilakukan tindakan
pengguguran kandungan. Di dalam pemeriksaan ternyata rahim wanita robek
sehingga terjadi pendarahan yang berakibat fatal. Dokter yang melakukan tindakan
tersebut ternyata kurang berhati-hati di dalam melakukan pengguguran tersebut
sehingga terjadi robekan pada rahim.
Di dalam menghadapi kasus-kasus seperti tersebut di atas yaitu terjadinya luka-luka atau
kematian pada seseorang sehubungan dengan tindakan kedokteran, maka penyidik
memerlukan visum et repertum (VER), di mana di dalam VER tersebut harus memuat
kejelasan di dalam hal :
a. Bagaimana keadaan korban/pasien yang sebenarnya dalam kaitan dengan upaya
pembuktian apakah diagnosa yang dibuat dokter tersebut tepat, ini untuk dapat
menjelaskan tepat tidaknya tindakan/pengobatan yang dilakukan oleh tersebut dengan
kata lain apakah indikasinya tepat.
b. Apakah terdapat hubungan sebab akibat antara tindakan dokter dengan kematian
atau perlukaan pada tubuh korban. Dengan perkataan lain apakah penyebab kematian
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
201
korban disebabkan tindakan yang dilakukan oleh dokter, apakah luka-luka yang
terdapat pada tubuh korban memang disebabkan oleh tindakan dokter.
Selain mendapatkan kejelasan seperti yang dimaksud di atas, maka di dalam menghadapi
kasus penyimpangan di dalam praktek kedokteran, penyidik perlu mengadakan
konsultasi/meminta keterangan dari organisasi profesi yang bersangkutan (IDI dan
organisasi spesialisasi yang terdapat dalam tubuh IDI), yaitu dalam kaitannya untuk
mendapatkan kejelasan apakah dalam kasus yang dihadapi itu memang terdapat
penyimpangan, khususnya di dalam melakukan prosedur kedokteran yang sudah
digariskan oleh Ikatan Indonesia atau organisasi spesialisasi lainnya.
Perlu diketahui bahwa untuk mengetahui apakah seorang dokter telah melakukan
penyimpangan atau tidak tergantung dari berbagai faktor di antaranya : kondisi dan
fasilitas setempat serta standarisasi pendidikan yang diperoleh dokter dari Perguruan
Tinggi dimana dokter tersebut mendapatkan keahlian. Jadi tidak dapat diambil suatu
patokan atau kriteria yang sama untuk seluruh Indonesia.
Dengan demikian jelas diperlukan koordinasi antara Penyidik dengan organisasi profesi,
sesuai dengan kasusnya, tidak lain agar mendapat kejelasan yang sebaik-baiknya.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
202
Catatan tambahan Bimbingan dr.Iwan @flanie selasa, 1 pebruari 2011
Bab XVII Mal praktek
Perjalanan penyakit alamiah
Sengaja Lalai
Resiko
Bisa dicegah Tidak bisa dicegah
Lalai
Cukup salah satu terpenuhi di anggap malpraktek
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
203
Kematian akibat
tindakan medis
Tidak melakukan sesuati yang harusnya dilakukan
Melakukan sesuatu yang harusnya tidak dilakukan
Oleh orang yang sekualifikasi pada situasi dan kondisi yang
identik
BAB XVI
AUTOPSI
Pengertian Autopsi
Autopsi = sendiri dan opsis = melihat. Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh
mayat, meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan
menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas
penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab
akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.
Berdasarkan tujuannya ada 2 jenis autopsi, autopsi klinik dan autopsi forensik/
autopsi mediko-legal.
Autopsi klinik diakukan terhadap mayat seseorang yang menderita penyakit, di
rawat di rumah sakit tetapi kemudian meninggal.
Tujuan dilakukannya autopsi klinik adalah:
a. Menentukan sebab kematian yang pasti
b. Menentukan apakah diagnosis klinik yang dibuat selama perawatan sesuai dengan
diagnosis postmortem
c. Mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan diagnosis klinik dan
gejala-gejala klinik
d. Menentukan efektifitas pengobatan
e. Mempelajari pelajaran lazim suatu proses penyakit
f. Pendidikan para mahasiswa kedokteran dan para dokter
Untuk autopsi klinik mutlak diperlukan izin dari keluarga terdekat mayat yang
bersangkutan.
Untuk mendapatkan hasil maksimal, yang terbaik adalah malakukan autopsi klinik
yang lengkap meliputi pembukaan rongga tengkorak, dada, perut/panggul, serta
pemeriksaan seluruh organ-organ dalam. Jika keluarga menolak dapat dilakukan autopsi
klinik parsial, pada satu atau dua rongga tertentu. Jika keluarga masih menolak, kiranya
dapat diusahakan suatu needle necropsy terhadap organ tubuh tertentu, kemudian
dilakukan pemeriksaan histopatologik.
Autopsi forensik atau autopsi mediko-legal dilakukan terhadap mayat seseorang
berdasarkan peraturan undang-undang dengan tujuan :
a. Membantu dalam hal penentuan identitas mayat
b. Menetukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara dan saat kematian
c. Mengumpulkan dan mengenali benda-benda bukti untuk penetuan identitas benda
peyebab serta identitas pelaku kejahatan
d. Membuat laporan tertulis yang obyektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum
e. Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas serta
penuntutan terhadap orang yang bersalah.
Untuk melakukan autopsi forensik, diperlukan surat permintaan
pemeriksaan/pembuatan visum et repertum dari yang berwenang, yakni pihak penyidik.
Izin keluarga tidak diperlukan. Dalam melakukan autopsi forensik, mutlak diperlukan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
204
pemeriksaan yang lengkap. Autopsi forensik harus dilakukan oleh dokter. Dalam autopsi
klinik dan forensik, kelainan sekecil apapun harus dicatat dan pemeriksaan harus
dilakukan sedini mungkin.
Persiapan Sebelum Autopsi
Sebelum autopsi dimulai, beberapa hal perlu mendapat perhatian :
a. Apakah surat-surat yang berkaitan dengan autopsi yang akan dilakukan telah
lengkap.
b. Apakah mayat yang akan di autopsi benar-benar adalah mayat yang dimaksudkan
dalam surat yang bersangkutan.
c. Kumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap
mungkin.
d. Periksalah apakah alat-alat yang diperlukan telah tersedia.
Beberapa Hal Pokok Pada Autopsi Forensik
Dalam melakukan autopsi forensik, beberapa hal pokok perlu diketahui :
a. Autopsi harus dilakukan sedini mungkin.
b. Autopsi harus dilakukan lengkap.
c. Autopsi dilakukan sendiri oleh dokter.
d. Pemeriksaan dan pencatatan seteliti mungkin.
Sebab, Cara dan Mekanisme Kematian
Sebab mati adalah penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab atas
terjadinya kematian.
Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian.
Cara kematian wajar (natural death) bila akibat suatu penyakit semata-mata.
Cara kematian tidak wajar (unnatural death) bila akibat kecelakaan, bunuh diri
dan pembunuhan.
Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokomiawi yang
ditimbulkan oleh penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat
terus hidup.
Tehnik Autopsi :
Tehnik Virchow :
Tehnik ini mungkin merupakan tekhnik autopsi tertua. Setelah dilakukan
pembukaan rongga tubuh, organ-organ dikeluarkan satu per satu dan langsung diperiksa.
Dengan demikian kelainan-kelainan yang terdapat pada masing-masing organ dapat
segera dilihat, namun hubungan anatomik antar beberapa organ yang tergolong dalam
satu sistem menjadi hilang. Dengan demikian, tekhnik ini kurang baik bila digunakan
pada autopsi forensik, terutama pada kasus penembakan dengan senjata api dan
penusukan dengan senjata tajam, yang perlu dilakukan penentuan saluran luka, arah serta
dalamnya penetrasi yang terjadi.
Tehnik Rokitansky :
Setelah rongga tubuh dibuka, organ dilihat dan diperiksa dengan melakukan
beberapa irisan in situ, baru kemudian seluruh organ-organ tersebut dikeluarkan dalam
kumpulan-kumpulan organ (en bloc). Tekhnik ini jarang dipakai, karena tidak
menujukkan keunggulan yang nyata. Tekhnik ini pun tidak baik digunakan autopsi
forensik.
Tehnik Letulle:
Setelah rongga tubuh dibuka, organ leher, dada, diafragma, dan perut dikeluarkan
sekaligus (en masse), Kepala diletakkan diatas meja dengan permukaan posterior
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
205
menghadap ke atas. Plexus coeliacus dan kelenjar paraaorta diperiksa. Aorta dibuka
sampai arcus aorta dan Aa. Renales kanan dan kiri dibuka serta diperiksa.
Aorta diputus di atas muara a. renalis. Rektum dipisahkan dari sigmoid. Organ
urogenital dipisahkan dari organ lain. Bagian proksimal jejunum diikat pada dua tempat
dan kemudian diputus antara dua ikatan tersebut dan usus dapat dilepaskan. Esofagus
dilepaskan dari trakea, tetapi hubungannya dengan lambung dipertahankan. Vena cava
inferior serta aorta diputus di atas diafragama dan dengan demikian organ leher dan dada
dapat dilepas dari organ perut.
Dengan pengangkatan organ-organ tubuh secara en masse ini, hubungan antar
organ tetap dipertahankan setelah seluruh organ dikeluarkan dari tubuh. Kerugian tekhnik
ini adalah sukar dilakukan tanpa pembantu serta agak sukar dalam penanganan karena
panjangnya kumpulan organ-organ yang dikeluarkan sekaligus.
Tehnik Ghon:
Setelah rongga tubuh dibuka, organ leher dan dada, organ pencernaan bersama
hati dan limpa, organ urogenital diangkat keluar sebagai tiga kumpulan organ (bloc).
Peralatan Untuk Autopsi
a. Kamar autopsi
b. Meja autopsi
c. Peralatan autopsi
d. Pemeriksaan untuk pemeriksaan tambahan
e. Peralatan tulis menulis dan fotografi
Pemeriksaan Luar
Sistematika pemeriksaan adalah :
1. Label mayat
2. Tutup mayat
3. Bungkus mayat
4. Pakaian mayat
5. Perhiasan mayat
6. Benda Disamping mayat
Disertakan pula pengiriman benda disamping mayat (misal bungkusan atau tas).
Lakukan pencatatan teliti dan lengkap
7. Tanda Kematian
Pencatatan tanda kematian berguna untuk penentuan saat kematian,. Jangan lupa
mencatat waktu/saat dilakukan pemeriksaan.
a. Lebam mayat
Catatan letak/distribusi lebam mayat, adanya bagian tertentu di daerah lebam
mayat yang justru tidak menunjukkan lebam (karena tertekan pakaian terbaring di
atas benda keras dan lain-lain). Warna dari lebam mayat serta intensitas (hilang
dengan penekanan/sedikit hilang/tidak menghilang sama sekali).
b. Kaku mayat
Catat distribusi kaku mayat serta derajat kekakuan pada beberapa sendi (daerah
dagu/tengkuk, lengan atas, siku, pangkal paha, sendi lutut) dngan menentukan
apakah mudah/sukar dilawan
Apabila ditemukan spasme kadaverik (cadaveric spasm), harus dicatat dengan
sebaik-baiknya, karena spasme kadaverik memberi petunjuk apa yang dilakukan
korban saat terjadi kematian).
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
206
c. Suhu tubuh mayat
Kriteria penurunan suhu tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan, namun
kadang masih membantu dalam perkiraan kematian. Pengukuran suhu dengan
menggunkana termometer rektal. Jangan lupa mencatat suhu ruangan pada saat
yang sama.
d. Pembusukan
Tanda pembusukan yang pertama tampak berupa kulit perut sebelah kanan bawah
yang berwarna kehijau-hijauan, Pada pembusukan lebih lanjut, kulit ari telah
terkelupas, terdapat gambaran pembuluh superfisial yang melebar berwarna biru
hitam, ataupun tubuh yang telah mengalami penggembungan akibat pembusukan
lanjut.
e. Lain-lain
Mencatat perubahan tanatologik lain yang mungkin ditemukan, (misalnya
mummifikasi/adipocare).
8. Identifikasi umum
Catat jenis kelamin, bangsa atau ras, warna kulit, keadaan gizi, tinggi dan berat badan,
keadaan zakar yang disirkumsisi, adanya striae albicantes pada dinding perut.
9. Identifikasi Khusus
Catat segala sesuatu yang dapat digunakan untuk penentuan identitas secara khusus.
a. Rajah/tatto
Tentukan letak, bentuk, warna serta tulisan tatto yang ditemukan. Bila perlu buat
dokumentasi foto.
b. Jaringan parut
Catat seteliti mungkin jaringan parut yang ditemukan, baik yang timbul akibat
penyembuhan luka maupun yang terjadi akibat tindakan bedah.
c. Kapalan (Callus)
Dengan mencatat distrubusi callus, kadangkala dapat diperoleh keterangan
berharga mengenai pekerjaan mayat yang diperiksa semasa hidupnya.
Pada pekerja/buruh pikul, ditemukan kapalan pada daerah bahu, pada pekerja
kasar lainnya ditemukan kapalan pada telapak tangan atau kaki.
d. Kelainan pada kulit
Adanya kutil, angioma, bercak hiper atau hipopigmentasi, eksema, dan kelainan
lain seringkali dapat membantu penentuan identitas.
e. Anomali dan cacat pada tubuh
Kelainan anatomis pada tubuh perlu dicatat dengan seksama dan teliti.
10. Pemeriksaan Rambut
Dimaksudkan untuk membantu identifikasi. Pemcatata dilakukan terhadap distribusi,
warna, keadaan tumbuh, serta sifat dari rambut tersebut (halus/kasar, lurus/ikal).
11. Pemeriksaa Mata
Periksa kelopak mata terbuka/tertutup, adanya tanda-tanda kekerasan serta kelainan
lain yang ditimbulkan oleh penyakit dan sebagainya. Periksa keadaan selaput lendir
kelopak mata (warna, kekeruhan, pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan,
bercak perdarahan).
Pemeriksaan bola mata (tanda kekerasan, kelainan seperti pysis bulbi, pemakaian
mata palsu dan sebagainya)
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
207
Pemeriksaan selaput lendir bola mata (adanya pelebaran pembuluh darah, bintik
perdarahan atau kelainan lain).
Pemeriksaan kornea/selaput bening mata (jernih/tidak, kelainan fisiologis (ptysis
bulbi) atau patologis (leucoma)).
Pemeriksaan iris/tirai mata (warnanya, kelainan yang ditemukan)
Pemeriksaa pupil/teleng mata (ukurannya, besar ukuran pada kanan dan kiri,
kelainan).
12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Pemeriksaan meliputi bentuk daun telinga dan hidung. Mencatat pula kelainan serta
tanda kekerasan. Periksa dari lubang hidung/telinga adanya keluar cairan/darah.
13. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut
Meliputi bibir, lidah, rongga mulut, serta gigi geligi. Adanya kelainan/tanda
kekerasan. Memeriksa dengan teliti keadaan rongga mulut akan adanya benda asing.
Terhadap gigi geligi, dilakukan pencatat jumlah gigi yang terdapat, adanya yang
hilang/patah/tambalan/bungkus logam, adanya gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan
(staining) dan sebagainya.
Data gigi geligi merupakan alat yang berguna untuk identifikasi bila terdapat data
pembanding.
14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan
Pada mayat laki-laki, catat apakah alat kelamin mengalami sirkumsisi.
Catat kelainan bawaan yang mungkin ditemukan, adanya manik-manik yang ditanam
di bawah kulit, keluarnya cairan dari lubang kemaluan, serta kelainan yang
disebabkan oleh penyakit atau sebab lain. Pada dugaan telah terjadi suatu
persetubuhan beberapa saat sebelumnya, dapat diambil preparat tekan menggunakan
kaca objek yang ditekankan pada daerah glands atau coronaglandis yang kemudian
dapat dilakukan pemeriksaan terhadap adanya sel epitel vagina menggunakan teknik
laboratorium.
Pada mayat wanita, periksa keadaan selaput dara dan komisura posterior akan
kemungkinan adanya tanda kekerasan. Pada kasus dengan persangkaan telah
melakukan persetubuhan beberapa saat sebelumnya, jangan lupa melakukan
pemeriksaan laboratorium terhadap sekret/cairan linag senggama.
Lubang pelepasan perlu mendapat perhatian. Pada mayat yang sering mendapat
perlakuan sodomi, mungkin ditemukan anus berbentuk corong yang selaput lendirnya
sebagian berubah menjadi lapisan bertanduk dan hilangya rugae.
15. Lain-lain
Perlu diperhatian akan kemungkinan terdapatnya :
a. Tanda perbendungan, ikterus, warna kebiru-biruan pada kuku/ ujung-ujung jari
(pada sianosis) atau adanya edema/sembab.
b. Bekas pengobatan berupa bekas kerokan, tracheotomi, suntikan, pungsi lumbal,
dan lain-lain.
c. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh, kepingan, atau
serpihan cat, pecahan kaca, lumuran aspal, dan lain-lain.
16. Pemerikaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
208
Pada pemeriksaan tersebut , perlu dilakukan pencatatan yang teliti dan objektif
terhadap :
a. Letak luka
Sebutkan regio anatomis luka yang ditemukan, mencatat letaknya yang tepat
menggunakan koordinat terhadap garis/titik anatomis yang terdekat.
b. Jenis luka
Tentukan apakah merupakan luka lecet, luka memar, atau luka terbuka.
c. Bentuk luka
Menyebutkan bentuk luka yang didapatkan. Pada luka yang terbuka sebutkan
bentuk luka setelah luka dirapatkan.
d. Arah luka
Dicatat dari arah luka (melintang, membujur, atau miring)
e. Tepi luka
Perhatikan tepi luka rata, teratur, atau bentuk tidak beraturan.
f. Sudut luka
Pada luka terbuka, apakah sudut luka merupakan sudut runcing, membulat atau
bentuk lain.
g. Dasar luka
Dasar luka berupa jaringan bawah kulit atau otot, atau bahkan merupakan rongga
badan.
h. Sekitar luka
Lihat terdapat adanya pengotoran, terdapat luka/tanda kekerasan lain sekitar luka.
i. Ukuran luka
Diukur dengan teliti, pada luka terbuka diukur juga setelah luka dirapatkan.
j. Saluran luka
Dilakukan secara in situ. Termukan perjalanan luka, serta panjang luka. Penentuan
ini baru dapat dilakukan pada saat pembedahan mayat.
k. Lain-lain
Pada luka lecet jenis serut, pemeriksaan teliti terhadap pemukaan luka terhadap
pola penumpukan kulit ari yang terserut dapat mengungkapkan arah kekerasan
yang menyebabkan luka tersebut.
17. Pemeriksaan terhadap patah tulang
Tentukan letak patah luka yang ditemukan serta catat sifat/jenis masing-masing patah
tulang yang terdapat.
PEMBEDAHAN MAYAT
Pengeluaran Alat Tubuh
Mayat yang akan dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan
(diganjal) dengan sepotong balok kecil. Dengan demikian, kepala akan berada dalam
keadaan fleksi maksimal dan daerah leher tampak jelas.
Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai dibawah dagu,
diteruskan kearah umbilicus dan melingkari umbilicus disisi kiri dan seterusnya kembali
mengikuti garis pertengahan badan sampai di daerah simpisis pubis.
Pada daerah leher, insisi hanya mencapai kedalaman setebal kulit saja. Pada
daerah dada, insisi kulit sampai kedalaman mencapai permukaan depan tulang dada
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
209
(sternum) sedangkan mulai di daearh epigastrium, sampai menembus ke dalam rongga
perut.
Insisi berbentuk huruf I diatas merupakan insisi yang paling ideal untuk suatu
pemeriksaan bedah mayat forensic. Pada keadaan tertentu, bila tidak mengganggu
kepentingan pemeriksaan, atas indikasi kosmetik dapat dipertimbangkan insisi kulit
berbentuk huruf Y, yang dimulai pada kedua puncak bahu. Insisi pada daerah dada
sebelah kanan dan kiri dipertemukan pada garis pertengahan kira-kira setinggi insisura
jugularis. Dengan insisi berbentuk huruf Y, maka pengeluaran alat-alat leher menjadi
lebih sukar.
Insisi pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan
membuat irisan pendek yang menembus sampai peritoneum. Dengan jari telunjuk dan jari
tengah tangan kiri yang dimasukkan kedalam lubang insisi ini, maka dinding perut dapat
ditarik/diangkat keatas. Pisau diselipkan diantara dua jari tersebut dan insisi dapat
diteruskan sampai ke simpisis pubis. Disamping berfungsi sebagai pengangkat dinding
perut, kedua jari tangan kiri tersebut berfungsi juga sebagai pemandu (guide) untuk pisau,
serta melindungi alat-alat dalam rongga perut dari kemungkinan teriris oleh pisau.
Dengan memegang dinding perut bagian atas dan memuntir dinding perut tersebut
kearah luar (dilakukan dengan ibu jari disebelah dalam/sisi peritoneum dan 4 jari lainnya
disebelah luar/sisi kulit), dinding dada dilepaskan dengan memulai irisan pada otot-otot
sepanjang arcus costae. Pelepasan dinding dada dilakukan terus kearah dada bagian atas
sampai daerah tulang selangka dan kesamping sampai garis ketiak depan. Pengirisan pada
otot dilakukan dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (blade) yang tegak lurus
terhadap otot. Dengan demikian, dinding dada telah dibebaskan dari otot-otot pectorales,
dan kelainan yang ditemukan dapat dicatat dengan teliti.
Kelainan pada dinding dada dapat merupakan resapan darah, patah tulang maupun
luka terbuka. Kulit daerah leher dilepaskan dari otot leher yang berada dibawahnya.
Perhatikan akan adanya tanda kekerasan maupun kelainan-kelainan lainnya.
Pada dinding perut, diperhatikan keadaan lemak bawah kulit serta otot-otot
dinding perut, cacat tebal msing-masing serta lika-luka bila terdapat.
Rongga perut diperiksa dengan mula-mula memperhatikan keadaan alat-alat perut
secara umum. Bagaimana penyebaran tirai usus (omentum), apakah menutupi seluruh
usus-usus kecil, ataukah mengumpul pada sutu tempat akibat adanya kelainan setempat.
Periksalah keadaan usus-usus, adakah kelainan volvulus, intususepsi, infark, tanda-tanda
kekerasan lainnya. Bila mayat telah mengalami operasi sebelumnya, perhatikan pula
bagian/ alat-alat perut yang mengalami penjahitan, reseksi atau tindakan lainnya.
Perhatikan adakah cairan dalam rongga perut, bila terdapat cairan, catat sifat dari cairan
tersebut serous, purulen, darah atau cairan keruh. Dinding perut sebelah dalam
diperhatikan keadaan selaput lendirnya. Pada selaput lendir yang normal, tampak licin
dan halus berwarna kelabu mengkilat. Pada kelainan peritonitis, akan tampak selaput
lendir yang tidak rata, keruh dengan fibrin yang melekat
Tentukan pula letak sekat rongga badan (diafragna), dengan membandingkan
tinggi difragma terhadap iga digaris pertengahan selangka (midelavicular line).
Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat setengah
sampai satu sentimeter medial dari batas rawan tulang masing-masing iga. Dengan bagian
perut pisau dan bidang pisau (knife blade) yang diletakkan tegak lurus, rawan iga
dipotong mulai dari iga ke 2 terus kearah kaudal. Pemotongan ini dapat dilakukan dengan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
210
mudah pada mayat yang masih muda karena bagian rawan belum mengalami penulangan.
Dengan tangan kanan memegang gagang pisau dan telapak tangan kiri menekan
punggung pisau. Pisau digerakan memotong rawan iga-iga tersebut mulai dari iga kedua
sampai daerah arcus costae. Lakukan hal yang sama pada sisi tubuh yang lain
Dengan memotong insersi otot-otot diafragma yang melekat pada dinding dada
bagian depan sebelah bawah, perlekatan sternum dengan pericardium dapat dilepaskan.
Iga pertama dipotong dengan meneruskan irisan pada iga kedua kearah
kraniolateral, dengan demikian, irisan dihindarkan dari mengenai manubrium sterni yang
keras. Setelah rawan iga pertama terpotong, pisau dapat diteruskan kearah medial
menyusuri tepi bawah tulang selangka untuk mencapai sendi antara tulang selang dan
tulang dada (articulation sternoclavicularis) dan memotongnya. Bila ini telah dilakukan
pada kedua sisi maka bagian depan dinding dada telah dapat dilepaskan.
Perhatikan pertama-tama letak paru terhadap kandung jantung. Biasanya dengan
mencatat bagian kandung jantung yang tampak antara kedua tepi paru-paru. Kandung
jantung yang tampak 1 jari diantara paru-paru menunjukkan keadaan pengembangan paru
yang berlebihan (pada edema paru atau emfisema paru).
Dengan tangan, paru dapat ditarik kearah medial dan rongga dada dapat diperiksa,
apakah terdapat cairan, darah atau lainnya.
Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan
mengikuti bentuk huruf Y terbalik. Perhatikan apakah rongga kandung jantung terisi oleh
cairan atau darah. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada
permukaan depan jantung sendiri.
Iga-iga dipotong mulai rawan iga ke-2 ke arah latero kaudal . Iga pertama
dipotong ke arah latero cranial untuk menghindari manubrium sterni.
Tentukan berapa jari kandung jantung tampak antara kedua paru. Kandung
jantung dibuka dengan gunting mengikuti huruf Y terbalik.
Pada dugaan thrombosis a. pulmonalis, permukaan depan bilik jantung kanan
diiris memanjang sejajar dengan septum jantung kurang lebih 1 cm lateral dari septum,
kemudian diperpanjang dengan gunting ke arah a.pulmonalis.
Alat-alat leher dikeluarkan bersama-sama dengan alat rongga dada, sedangkan
usus halus mulai dari yeyenum sampai rectum dilepaskan tersendiri, kemudian alat dalam
rongga perut dikeluarkan bersama alat dalam rongga panggul.
Pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan insersi otot-otot
dasar mulut pada tulang rahang bawah. Irisan dimulai tepat di bawah dagu, menembus
rongga mulut dari bawah. Insisi diperlebar ke kanan maupun ke kiri. Lidah ditarik ke
bawah sehingga dapat dikeluarkan dari tempat bekas irisan.
Palatum molle diiris sepanjang perlekatannya dengan palatum durum sampai
bagian lateral dari plica pharingea. Dengan meneruskan pemotongan sampai ke
permukaan depan dari tulang belakang dan sedikit menarik alat-alat leher ke arah bawah
maka seluruh alat leher dapat lepas dari perlekatannya.
Lakukan pemotongan pembuluh darah dan saraf di belakang tulang selangka
dengan lebih dulu menggenggam pembuluh darah dan saraf tersebut. Lepaskan perlekatan
antara paru-paru dengan dinding rongga dada. Dengan tangan kanan memegang lidah dan
dua jari tangan kiri yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri hilus paru, alat rongga dada
ditarik ke arah kaudal sampai keluar dari rongga paru.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
211
Lepaskan esophagus bagian kaudal dari jaringan ikat sekitarnya dan buat dua
ikatan di atas diafragma.
Esofagus digunting antara kedua ikatan tersebut. Tangan kiri menggenggam
bagian bawah alat rongga dada tepat di atas diafragma dan lakukan pengirisan terhadap
genggaman tersebut. Alat leher dan alat dalam rongga dada dapat dikeluarkan seluruhnya.
Usus-usus dilepaskan dengan melakukan dua ikatan pada awal jejunum.
Pengguntingan dilakukan di antara dua ikatan yang dibuat agar isi duodenum tidak
tercecer. Tangan kiri mengangkat ujung distal dan mengangkatnya, maka mesenterium
yang melekat usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat usus. Pengirisan
dilakukan seperti gerakan menggergaji dan dilakukan sepanjang usus halus sampai
daearah ileum terminalis. Pada daerah caecum, pengirisan dilakukan terhadap mesokolon,
dengan memotong mesokolon pada bagian lateral dan kolon asendens pada daerah ini.
Pada daerah kolon transversum, lepaskan perlekatan antara kolon dan lambung.
Mesokolon kembali diiris di sebelah lateral dari kolon descendens dengan
memisahkannya juga dari limpa dan ginjal kiri. Kolon sigmoid dapat dilepaskan dari
dinding rongga perut dengan memotong mesocolon di bagian belakangnya.
Rectum dipegang dengan tangan kanan, mulai dari distal diurut ke arah proksimal.
Rectum diikat dengan dua ikatan, kemudian diputus di antara dua ikatan tersebut. Setelah
dilakukan pelepasan usus halus dan usus besar dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang
usus tersebut.
Untuk melepaskan alat rongga perut dan panggul dilakukan pengirisan dimulai
dengan memotong diafragma dekat insersinya pada dinding rongga badan. Pengirisan
diteruskan ke arah bawah, sebelah kanan dan kiri, lateral dari masing-masing ginjal
sampai memotong a.iliaca communis.
Alat rongga panggul dilepaskan dengan melepas peritoneum di daerah simfisis
(alat rongga panggul terletak retroperitoneal). Kandung kencing serta alat lain dipegang
dengan tangan kiri sampai ke belakang bersama-sama rectum. Pemotongan melintang
dilakukan setinggi kelenjar prostat pada mayat laki-laki dan setinggi sepertiga proksimal
vagina pada mayat perempuan. Alat rongga panggul kemudian dilepaskan seluruhnya dari
perlekatan dengan sekitarnya dan diangkat bersama-sama dengan alat rongga perut yang
telah dilepaskan terlebih dahulu.
Pemeriksaan pada kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala,
dimulai pada prosesus mastoideus, melingkari kepala ke arah vertex, dan berakhir pada
prosesus mastoideus sisi lain. Pengirisan dibuat sampai pisau mencapai periosteum. Kulit
kepala kemudian dikupas, ke arah depan sampai kurang lebih 1-2 cm di atas batas orbita
(margo supraorbitalis) dan ke arah belakang sampai sejauh protuberantia occipitalis
externa. Perhatikan dan catat kelainan pada permukaan dalam kulit kepala maupun
permukaan luar tulang tengkorak. Kelainan yang biasa ditemukan adalah tanda kekerasan,
baik merupakan resapan darah maupun garis retak/patah tulang. Untuk membuka rongga
tengkorak dilakukan penggergajian tulang tengkorak, melingkar di daerah frontal sejarak
kurang lebih 2 cm di atas margo supraorbitalis, di daerah temporal kurang lebih 2 cm di
atas daun telinga. Pada daerah temporal penggergajian dilakukan setelah otot temporalis
dipotong dengan pisau terlebih dahulu. Pada daerah temporal ini penggergajian dilakukan
melingkar ke belakang ±2 cm sebelah atas protuberantia occipitalis externa , dengan garis
penggergajian membentuk sudut ±120
o
dari garis penggergajian terdahulu. Atap
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
212
tengkorak selanjutnya dilepas dengan menggunakan pahat berbentuk T (T-chisel) dengan
jalan mendongkel pada garis penggergajian.
Setelah atap tengkorak dilepaskan pertama-tama dilakukan penciuman bau yang
keluar, sebab pada beberapa jenis keracunan dapat tercium bau yang khas. Dilakukan
pengamatan kelainan pada permukaan dalam atap tengkorak maupun pada duramater.
Kelainan dapat berupa luka pada duramater, perdaraahan epidural, dll. Duramater
kemudian digunting mengikuti garis penggergajian, dan daerah subdural diperiksa adanya
perdarahan, pengumpulan nanah, dsb.
Otak dikeluarkan dengan memasukkan dua jari tangan kiri di garis pertengahan
daerah frontal, antara baga otak dan tulang tengkorak. Bagian frontal sedikit ditekan,
tampak falk cerebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar tengkorak. Kedua
jari tangan kiri kemudian sedikit mengangkat baga frontal dan memperlihatkan
nn.olfactorius, nn.opticus, yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar
tengkorak. Pemotongan lebih lanjut dapat dilakukan pada aa.karotis interna yang
memasuki otak serta saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan memiringkan
kepala mayat, serta jari-jari tangan kiri sedikit menarik/mengangkat baga peliris
(temporalis) sisi lain, tentorium cerebelli tampak jelas dan mudah dipotong, dimulai dari
foramen magnum ke lateral menyusuri tepi belakang tulang karang otak (os petrosum).
Potong saraf-saraf otak yang keluar pada dasar tengkorak. Perlu diperhatikan bila
tentorium cerebelli tidak dipotong maka otak kecil akan tertinggal dalam rongga
tengkorak.
Kepala dikembalikan ke posisi semula dan batang otak dipotong melintang
dengan memasukkan pisau sejauh-jauhnya dalam rongga magnum.
Dengan tangan kiri menyangga daerah baga occipital, dua jari tangan kanan dapat
ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang terpotong, kemudian menarik bagian
bawah otak dengan gerakan memutar/meluksir hingga keluar dari rongga tengkorak.
Setelah otak dikeluarkan, duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus
dilepaskan dari dasarnya, agar dapat diperhatikan adanya kelainan pada dasar tengkorak.
Pemeriksaan Organ/Alat Dalam
Dimulai dari lidah, esophagus, trachea, dst sampai seluruh alat tubuh. Otak
biasanya diperiksa terakhir.
1. Lidah
Diperhatikan permukaan lidah, adakah bekas gigitan, baik baru maupun lama. Bekas
gigitan yang berulang dapat ditemukan pada penderita epilepsi. Bekas gigitan dapat
pula terlihat pada penampang lidah. Pengirisan lidah sebaiknya tidak sampai teriris
putus agar setelah otopsi mayat masih tampak berlidah utuh.
2. Tonsil
Perhatikan permukaan maupun penampang tonsil, adakah selaput, gambaran infeksi,
nanah, dsb. Ditemukan tonsilektomi kadang membantu dalam identifikasi.
3. Kelenjar gondok
Otot-otot leher harus dilepaskan dari perlekatannya di sebelah belakang. Dengan
pinset bergigi pada tangan kiri, ujung bawah otot-otot leher dijepit dan sedikit
diangkat, dengan gunting pada tangan kanan, otot leher dibebaskan dari bagian
posterior. Setelah otot leher di angkat, kelenjar gondok tampak jelas dan dapat
dilepaskan dari perlekatannya pada rawan gondok dan trakea. Perhatikan ukuran dan
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
213
beratnya. Periksa apakah permukaannya rata, catat warnanya, adakah perdarahan
berbintik atau resapan darah. Lakukan pengirisan di bagian lateral pada kedua baga
kelenjar gondok dan catat perangai penampang kelenjar ini.
4. Kerongkongan (esophagus)
Dibuka dengan jalan menggunting sepanjang dinding belakang. Perhatikan adanya
benda-benda asing, keadaan selaput lendir, dll (misalnya striktur, varices).
5. Batang tenggorok (Trakhea)
Pemeriksaan dimulai pada mulut atas batang tenggorok, dimulai dari epiglotis.
Perhatikan adakah edema, perdarahan, benda asing, dll. Perhatikan pula pita suara
dan kotak suara. Pembukaan trakea dilakukan dengan melakukan pengguntingan
dinding belakang sampai cabang bronkus kiri dan kanan. Perhatikan adanya benda
asing, busa, darah, serta keadaan selaput lendirnya.
6. Tulang lidah (os hyoid), rawan gondok (cartilago thyroidea) dan rawan cincin
(cartilago cricoidea)
Tulang lidah kadang ditemukan patah unilateral pada kasus pencekikan. Tulang lidah
terlebih dahulu dilepaskan dari jaringan sekitarnya dengan pinset dan gunting.
Perhatikan adanya patah tulang, resapan darah. Rawan gondok dan rawan cincin
seringkali juga menunjukkan resapan darah pada kasus dengan kekerasan pada
daerah leher (pencekikan, penjeratan, gantung).
7. Arteri carotis interna
Arteri carotis communis dan interna biasanya tertinggal melekat pada permukaan
dekat ruas tulang leher. Perhartikan tanda kekerasan sekitar arteri ini. Buka arteri
dengan menggunting dinding depannya dan perhatikan keadaan intima. Bila
kekerasan pada daerah leher mengenai arteri ini, kadang dapat ditemukan kerusakan
pada intima di samping terdapatnya resapan darah.
8. Kelenjar kacangan (thymus)
Biasanya telah menjadi Thymic fat body pada orang dewasa, namun kadang masih
dapat ditemukan pada status thymicolymphaticus. Kelenjar thymus terletak melekat
di sebelah atas kandung jantung. Pada permukaanya perhatikan adanya perdarahan
berbintik serta kemungkinannya adanya kelainan lain.
9. Paru-paru
Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Tentukan permukaan paru. Pada
paru yang mengalami emphysema dapat ditemukan cekungan bekas penekanan iga.
Perhatikan warnanya, serta bintik perdarahan, bercak perdarahan akibat aspirasi
darah ke dalam alveoli (tampak pada permukaan paru sebagai bercak berwarna
merah-hitam dengan batas tegas), resapan darah, luka, bulla, dsb.
Perabaan paru yang normal teraba seperti spons. Pada paru dengan proses
peradangan, perabaan dapat menjadi padat atau keras.
Penampang paru diperiksa setelah melakukan pengirisan paru mulai apex sampai ke
basal, dengan tangan kiri memegang paru pada daerah hilus. Pada penampang paru
ditentukan warnanya serta dicatat kelainan yang mungkin ditemukan.
10. Jantung
Jantung dilepaskan dari pembuluh darah besar yang keluar/masuk ke jantung
dengan jalan memegang apex jantung dan mengangkatnya serta menggunting
pembuluh tadi sejauh mungkin dari jantung.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
214
Perhatikan besarnya jantung, bandingkan dengan kepalan tinju kanan mayat.
Perhatikan adanya resapan darah, luka, atau bintik-bintik perdarahan. Pada otopsi
jantung, ikuti sistematika pemotongan dinding jantung yang dilakukan dengan
mengikuti aliran darah di dalam jantung.
Pertama-tama jantung diletakkan dengan permukaan ventral menghadap ke atas
yang dipertahankan terus sampai otopsi jantung selesai. Vena cava superior dan
inferior dibuka dengan menggunting dinding belakang vena-vena tersebut. Dengan
gunting buka pula aurikel kanan. Perhatikan adanya kelainan pada aurikel kanan
maupun atrium kanan.
Dengan pisau panjang, masuki bilik jantung kanan sampai ujung pisau menembus
apeks di sisi kanan septum dengan mata pisau mengarah ke lateral, lakukan irisan
menembus tebal otot dinding sebelah kanan sehingga rongga bilik jantung kanan
terlihat. Ukur lingkaran katup trikuspidal serta memeriksa keadaan katup, apakah
terdapat penebalan, benjolan atau kelainan lain. Tebal dinding bilik kanan diukur
dengan terlebih dahulu membuat irisan tegak lurus pada dinding belakang bilik
kanan, 1 cm di bawah katup.
Irisan dinding depan bilik kanan menggunakan gunting, mulai dari apeks,
menyusuri septum pada jarak ½ cm, ke arah atas menggunting dinding depan
a.pulmonalis dan memotong katup semilunaris pulmonal. Katup diukur lingkarannya
dan keadaan daun katupnya dinilai.
Pembukaan serambi dan bilik kiri dimulai dengan menggunting dinding belakang
vv.pulmonales, disusul dengan pembukaan aurikel kiri. Dengan pisau panjang, apeks
jantung sebelah kiri dari septum ditusuk, lalu diiris ke lateral sehingga bilik kiri
terbuka. Ukur lingkaran katup mitral serta penilaian terhadap keadaan katup. Tebal
otot jantung sebelah kiri diukur pada irisan tegak yang dibuat 1 cm di bawah katup
pada dinding belakang. Dengan gunting dinding depan bilik kiri dipotong menyusuri
septum pada jarak ½ cm, terus ke arah atas, membuka juga dinding depan aorta dan
memotong katup semilunaris aorta. Lingkaran katup diukur dan daun katup dinilai.
Pada daerah katup semilunaris aorta dapat ditemukan dua muara aa.coronaria kiri
dan kanan. Untuk memeriksa keadaan a.coronaria tidak boleh menggunakan sonde
karena dapat mendorong trombus yang mungkin ada.
Pemeriksaan nadi jantung ini dilakukan dengan membuat irisan melintang
sepanjang jalannya pembuluh darah. Arteri coronaria kiri berjalan di sisi depan
septum, dan a,coronaria kanan keluar dari dinding pangkal aorta ke belakang. Pada
penempang irisan diperhatikan tebal dinding arteri, keadaan lumen, serta
kemungkinan terdapat trombus.
Septum jantung dibelah untuk melihat kelainan otot, baik kelainan degeneratif
maupun kelainan bawaan.
Nilai pengukuran pada jantung normal orang dewasa adalah sebagai berikut :
ukuran jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat, berat sekitar 300 gram, ukuran
lingkar katup serambi bilik kanan sekitar 11 cm, yang kiri sekitar 9,5 cm, lingkaran
katup pulmonal sekitar 7 cm dan aortal sekitar 6,5 cm. Tebal otot bilik kanan 3
sampai 5 mm, sedangkan yang kiri sekitar 14 mm.
11. Aorta thoracalis
Pengguntingan pada dinding belakang aorta thoracalis dapat memperlihatkan
permukaan dalam aorta. Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur, ateroma
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
215
atau pembentukan aneurisma. Kadang-kadang pada aorta dapat ditemukan tanda
kekerasan merupakan resapan darah atau luka. Pada kasus kematian bunuh diri
dengan jalan menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi, bila korban mendarat dengan
kedua kaki terlebih dahulu, seringkali ditemukan robekan melintang pada aorta
thoracalis.
12. Aorta abdominalis
Bloc organ perut dan panggul diletakkan di atas meja potong dengan permukaan
belakang menghadap ke atas aorta abdominalis digunting dinding belakangnya mulai
dari tempat pemotongan aa.iliaca communis kanan dan kiri. Perhatikan dinding aorta
terhadap adanya penimbunan perkapuran atau atheroma.
Perhatikan pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari aorta abdominalis ini,
terutama muara aa. renalis kanan dan kiri. Mulai pada muaranya, aa. renalis kanan
dan kiri dibuka sampai memasuki ginjal. Perhatikan apakah terdapat kelainan pada
dinding pembuluh darah yang mungkin merupakan dasar dideritanya hipertensi renal
bagi yang berangkutan.
13. Anak ginjal (glandula suprarenalis)
Kedua anak ginjal harus dicari terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan lanjut
pada bloc alat rongga perut dan panggul. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena
bila telah dilakukan pemeriksaan atau telah dilakukan pemisahan alat rongga perut
dan panggul, anak ginjal sukar ditemukan.
Anak ginjal kanan terletak di bagian mediokranial dari kutub atau ginjal kanan,
tertutup oleh jaringan lemak, berada antara permukaan belakang hati dan permukaan
bawah diafragma. Untuk menemukan anak ginjal sebelah kanan ini, pertama-tama
digunting otot diafragma sebelah kanan.
Pada tempat yang disebutkan di atas, lepaskan dengan pinset dan gunting jaringan
lemak yang terdapat dan akan tampak anak ginjal yang berwarna kuning kecoklat-
coklatan, berbentuk trapezium dan tipis. Anak ginjal kemudian dibebaskan dari
jaringan sekitarnya dan diperiksa terhadap kemungkinan terdapatnya kelainan
ukuran, resapan darah dan sebagainya.
Anak ginjal terletak di bagian medio-kranial kiri kutub atas ginjal kiri, juga tertutup
dalam jaringan lemak, terletak antara ekor kleenjar liur perut (pancreas) dan
diafragma. Dengan cara yang sama seperti pada pengeluaran anak ginjal kanan, anak
ginjal kiri yang berbentuk bulan sabit tipis dapat dilepaskan untuk dilakukan
pemeriksaan dengan seksama.
Pada anak ginjal yang normal, pengguntingan anak ginjal akan memberikan
penampang dengan bagian korteks dan medulla yang tampak jelas.
14. Ginjal, ureter dan kandung kencing
Kedua ginjal masing diliputi oleh jaringan lemak yang dikenal sebagai capsula
adipose renis. Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali menyebabkan
resapan darah pada capsula ini. Dengan melakukan pengirisan di bagian lateral
kapsula, ginjal dapat dibebaskan.
Untuk pemeriksaan lebih lanjut, ginjal digenggam pada tangan kiri dengan pelvis
renis dan ureter terletak antara telunjuk dan jari tengah. Irisan pada ginjal dibuat dari
arah lateral ke medial, diusahakan tepat di bidang tengah sehingga penampang akan
melewati pelvis renis. Pada tepi dapat di“cubit” dan kemudian dapat dikupas secara
tumpul. Pada ginjal yang normal, hal ini dapat dilakukan dengan mudah. Pada ginjal
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
216
yang mengalami peradangan, simpai ginjal mungkin akan melekat erat dan sulit
dilepaskan. Setelah simpai ginjal dilepaskan, lakukan terlebih dahulu pemeriksaan
terhadap permukaan ginjal. Adakah kelainan berupa resapan darah, luka-luka ataupun
kista-kista retensi.
Pada penampang ginjal, perhatikan gambaran korteks dan medula ginjal. Juga
perhatikan pelvis renis akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal, tanda peradangan,
nanah dan sebagainya.
Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis renis, terus mencapai
vesika urinaria. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu, ukuran penampang, isi
saluran serta keadaan mukosa.
Kandung kencing dibuka dengan jalan menggunting dinding depannya mengikuti
bentuk huruf T. perhatikan isi serta selaput lendirnya.
15. Hati dan kandung empedu
Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati, yang pada keadaan biasa
menunjukkan permukaan yang rata dan licin, berwarna merah-coklat. Kadangkala
pada permukaan hati dapat ditemukan kelainan berupa jaringan ikat, kista kecil,
permukaan yang berbenjol-benjol, bahkan abses.
Pada perabaan, hati normal memberikan perabaan yang kenyal. Tepi hati biasanya
tajam. Untuk memeriksa penampang, buatlah 2 atau 3 irisan yang melintang pada
punggung hati sehingga dapat terlihat sekaligus baik bagian kanan maupun kiri hati.
Hati yang normal menunjukkan penampang yang jelas gambaran hatinya. Pada hati
yang telah lama mengalami perbendungan dapat ditemukan gambaran hati pala.
Kandung empedu diperiksa ukurannya serta diraba akan kemungkinan terdapatnya
batu empedu. Untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu, dapat
dilakukan pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini sambil
memperhatikan muaranya pada duodenum (papilla Veteri). Bila tampak cairan
coklat-hijau keluar dari muara tersebut ini menandakan saluran empedu tidak
tersumbat. Kandung empedu kemudian dibuka dengan gunting untuk
memperlihatkan selaput lendirnya yang seperti beludru berwarna hijau-kuning.
16. Limpa dan kelenjar getah bening
Limpa dilepaskan dari sekitarnya. Limpa yang norml menunjukkan permukaan yang
berkeriput, berwarna ungu dengan perabaan lunak kenyal. Buatlah irisan penampang
limpa, limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas, berwarna coklat-merah
dan bila dikikis dengan punggung pisau, akan ikut jaringan penampang limpa.
Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa.
Catat pula bila ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar.
17. Lambung, usus halus dan usus besar
Lambung dibuka dengan gunting pada curvature mayor.
Perhatikan isi lambung dan simpan dalam botol atau kantong plastik bersih bila isi
lambung ini diperlukan untuk pemriksaan toksikologik atau pemeriksaan laboratorik
lainnya. Selaput lendir lambung diperiksa terhadap kemungkinan adanya erosi,
ulserasi, perdarahan/resapan darah.
Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan
terdapatnya kelainan bersifat ulcerative, polip dan lain-lain.
18. Kelenjar liur perut (pancreas)
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
217
Pertama-tama lepaskan lebih dahulu kelenjar liur perut ini dari sekitarnya. Kelenjar
liur perut yang normal mempunyai warna kelabu agak kekuningan, dengan
permukaan yang berbelah-belah dan perabaan yang kenyal. Perhatikan ukuran serta
beratnya. Catat bila ada kelainan.
19. Otak besar, otak kecil dan batang otak
Perhatikan permukaan luar dari otak dan catat kelainan yang ditemukan. Adakah
perdarahan subdural, perdarahan subarachnoid, kontusio jaringan otak atau
kedangkalan bahkan sampai terjadi laserasi.
Pada oedema cerebri, girus otak akan tampak mendatar dan sulkus tampak
menyempit. Perhatikan pula akan kemungkinan terdapatnya tanda penekanan yang
menyebabkan sebagian permukaan otak menjadi datar.
Pada daerah ventral otak, perhatikan keadaan sirkulus Willis. Nilai keadaan
pembuluh drah pada sirkulus, adakah penebalan dinding akibat kelainan ateronia,
adakah penipisan dinding akibat aneurysma, adakah perdarahan. Bila terdapat
perdarahan hebat, usahakan agar dapat ditemukan sumber perdarahan tersebut.
Perhatikan pula bentuk serebelum. Pada keadaan peningkatan tekanan intra cranial
akibat edema serebri misalnya, dapat terjadi hemiasi serebelum kea rah foramen
magnum, sehingga bagian bawah serebelum tampak menonjol.
Pisahkan otak kecil dari otak besar dengan melakukan pemotongan pada pedunculus
cerebri kanan dan kiri. Otak kecil ini kemudian dipisahkan juga dari batang otak
dengan melakukan pemotongan pada pedunculus cerebelli.
Otak besar diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa. Lakukan
pemotongan otak besar secara koronal/melintang, perhatikan penampang irisan.
Tempat pemotongan haruslah sedemikian rupa agar struktur penting dalam otak besar
dapat diperiksa dengan teliti. Kelainan yang dapat ditemukan pada penampang otak
besar antara lain adalah: Perdarahan pada korteks akibat contusio cerebri, perdarahan
berbintik pada substansi putih akibat emboli, keracunan berbiturat serta keadaan lain
yang menimbulkan hipoksia jaringan otak Infark jaringan otak, baik yang bilateral
maupun yang unilateral, akibat gangguan perdarahan oleh arteri, abses otak,
perdarahan intra cerebral akibat pecahnya a. lenticulostriata dan sebagainya.
Otak kecil diperiksa penampangnya dengan membuat suatu irisan melintang, catatlah
kelainan perdarahan, perlunakan dan sebagainya yang mungkin ditemukan.
Batang otak diisir melintang mulai daerah pons, medulla oblongata sampai kebagian
proksimal medulla spinalis. Perhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan.
Adanya perdarahan di daerah batang otak biasanya mematikan.
20. Alat kelamin dalam (genitalia interna)
Pada mayat laki-laki, testis dapat dikeluarkan dari scrotum melalui rongga perut. Jadi
tidak dibuat irisan baru pada scrotum. Perhatikan ukuran, konsistensi serta
kemungkinan terdapat resapan darah. Perhatikan pula bentuk dan ukuran dari
epididinus. Klenjar prostat diperhatikan ukuran serta konsistensinya.
Pada mayat wanita, perhatikan bentuk serta ukuran kedua indung telur, saluran telur
dan uterus sendiri. Pada uterus diperhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan,
resapan darah ataupun luka akibat tindakan abortus provakatus. Uterus dibuka
dengan membuat irisan berbentuk huruf T pada dinding depan, melalui saluran
serviks serta muara kedua saluran telur pada fundus uteri. Perhatikan keadaan selaput
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
218
lender uterus, tebal dinding, isi rongga rahim serta kemungkinan terdapatnya
kelainan lain.
21. Timbang dan catatlah berat masing-masing alat/organ
Sebelum mengembalikan organ-organ (yang telah diperiksa secara makroskopik)
kembali ke dalam tubuh mayat pertimbangkan terlebih dahulu kemungkinan
diperlukannya potongan jaringan guna pemeriksaan histopatologik atau
diperlukannya organ guna pemeriksaan toksologik.
Potongan jaringan untuk pemeriksaan histopatologik diambil dengan tebal maksimal
5 mm. potongan yang terlampau tebal akan mengakibatkan cairan fiksasi tidak dapat
masuk ke dalam potongan tersebut sengan sempurna. Usahakan mengambil bagian
organ di daerah perbatasan antara bagian yang normal dan yang mengalami kelainan.
Jumlah potongan yang diambil dari setiap organ agar disesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing kasus. Potongan ini kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi
cairan fiksasi yang dapat merupakan larutan formalin 10% (= larutan formaldehida
4%) atau alcohol 90-96% dengan jumlah cairan fiksasi sekitar 20-30 kali volume
potongan jaringan yang diambil.
Jumlah organ yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi disesuaikan dengan
kasus yang dihadapi serta ketentuab laboratorium pemeriksa. Sedapat mungkin setiap
jenis organ ditaruh dalam botol tersendiri. Bila diperlukan pengawetan, agar
digunakan alcohol 90%. Pada pengiriman bahan untuk pemeriksaan toksologik,
contoh bahan pengawet agar juga turut dikirimkan disamping keterangan klinik dan
hasil sementara autopsi atas kasus tersebut.
PERAWATAN MAYAT SETELAH AUTOPSI
− Setelah autopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan ke dalam rongga tubuh.
− Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan
ke dalam rongga tengkorak.
− Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka
ronggadada.
− Jahitlah kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari bawah dagu
sampai ke daerah simfisis.
− Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit
otot temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi.
− Bersihkan tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak
keluarga.
AUTOPSI PADA DUGAAN KEMATIAN AKIBAT EMBOLI UDARA
Terbukanya pembuluh darah akibat trauma, kadangkala dapat menyebabkan
timbulnya emboli udara. Dikenal 2 jenis emboli udara berdasarkan letak dari emboli
tersebut, emboli udara vena (= emboli udara paru) dan emboli udara arterial (= emboli
udara sistemik).
Untuk membuktikan terdapatnya emboli udara, perlu dilakukan teknik autopsi
yang khusus, menyimpang dari teknik autopsi rutin. Pada dasarnya, pembuktian
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
219
dilakukan dengan memperlihatkan adanya udara dalam system vena atau arteri dengan
membuka arteri atau vena tersebut di bawah permukaan air.
Pada pembukaan kulit leher dalam melakukan autopsi rutin, vena daerah ini
mudah terpotong terutama vena jugularis. Bila ini terjadi, maka terdapat kemungkinan
masuknya udara post mortal ke dalam pembuluh darah tersebut. Pada pengangkatan alat
leher kemudian, terjadi manipulasi terhadap leher dan kepala sehingga udara yang masuk
tadi berpindah dan masuk ke dalam jantung. Hal tersebut di atas akan menghasilkan
pemeriksaan yang salah (false positive) dan karenanya harus dihindari, dengan jalan tidak
membuka daerah leher sebelum dilakukan pemeriksaan emboli.
Pemeriksaan emboli udara vena
Dengan mengingat kemungkinan terjadinya hasil false positive seperti yang
diuraikan di atas, maka pembukaan kulit dimulai dari setinggi incisura jugularis ke bawah
sepanjang garis median. Kulit bagian leher dibiarkan utuh untuk sementara dan jangan
ganjal bahu mayat dengan malok. Kulit dan otot dinding dada serta rongga perut dibuka
seperti biasa. Rawan iga dipotong mulai dari iga ke-3 ke arah kaudo-lateral. Insersi otot
diafragma dipotong untuk melepaskan bagian bawah stemum dan iga. Kemudian bagian
depan dinding dada ini dilepaskan dengan terlebih dahulu menggergaji tulang dada
(stermum) melintang setinggi iga ke-3.
Tindakan memotong tulang dada setinggi iga ke-3 ini dilakukan untuk mencegah
terpotongnya pembuluh darah besar yang berjalan di belakng iga ke-2 dan tulang
selangka.
Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan memanjang pada
tempat yang letaknya paling tinggi ( di pertengahan kandung jantung) sepanjang 5 sampai
7 sentimeter. Ke dalam kandung jantung kemudian diisikan air sehingga seluruh jantung
terdapat di bawah permukaan air (terendam). Kadang-kadang jantung cenderung untuk
mengapung. Dalam hal ini tekanlah jantung dengan jari tangan kiri dan jagalah agar
jantung tetap terendam. Dengan pisau organ, tusuklah ventrikel kanan dekat dengan
permulaan a. pulmonalis sampai menembus ke dalam bilik kanan. Dengan melakukan
pemutaran bidang pisau (knife blade) sebanyak 90 derajat, maka lubang tusukan
diperlebar. Perhatikan apakah terdapat gelembung udara yang keluar dari lubang tersebut.
Dengan cara yang sama, ventrikel kiri juga dilubangi dan perhatikan juga apakah terdapat
gelembung udara yang keluar.
Pada kasus dengan emboli udara vena, udara kan terkumpul dalam bilik kanan
jantung dan karenanya, pada pemeriksaan akan ditemukan keluarnya gelembung udara
dari lubang yang dibuat pada bilik kanan, sedangkan dari bilik jantung kiri tidak terdapat
gelembung udara yang keluar.
Bila pada pemeriksaan tidak keluar gelembung baik dari bilik kanan maupun kiri,
maka kemungkinan terdapatnyaemboli udara vena dapat disingkirkan.
Bila pada penusukkan bilik kanan dan kiri keduanya memberikan gelembung
udara, maka hal ini dapat disebabkan oleh adanya emboli udara vena disertai defek
septurn, atau diakibatkn oleh terbentuknya gas pembusukan dalam bilik jantung kanan
maupun yang kiri. Dalam hal ini kemungkinan terdapatnya emboli udara vena tidak dapat
dipastikan maupun disingkirkan
Di samping dilakukan pemeriksaan seperti tersebut di atas, beberapa hal dapat
menyokong akan adanya emboli udara vena. Antara lain adalah: distensi jantung sebelah
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
220
kanan akibat tekanan udara. Vena cava, bilik kanan a. pulmonalis dan v v. coronariae
yang berisi darah yang berbuih dan berwarna merah terang. Vena cava inferior yang
mengalami distensi, tetapi sangat sedikit atau sama sekali tidak terisi darah.
Pemeriksaan emboli udara arteril
Untuk membuktikan adanya emboli udara arterial, lakukan persiapan pemeriksaan
seperti pada pemeriksaan emboli udara vena. Dengan jantung yang seluruhnya terdapat di
bawah permukaan air, lakukan pemotongan permulaan a. coronaria kiri dengan jalan
mengirisnya pada bagian arterior septum dan perhatikan apakah terdapat gelembung
udara yang keluar. Bila perlu dapat dilakukan pengurutan sepanjang septum dari arah
apex jantung kea rah tempat pengirisan. Dalam menilai hasil pemeriksaan emboli udara
arterial ini perlu diperhitungkan kemungkinan terbentuknya gas pembusukan dalam
pembeluh itu sendiri.
AUTOPSI PADA KASUS DENGAN PNEMOTORAKS
Pada kekerasan yang mengenai daerah dada, dapat terjadi patah tulang iga yang
mengakibatkan tertusuknya paru dan selanjutnya menimbulkan pnemotoraks. Dalam hal
demikian, pembuktian dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan cara membuka
rongga dada di bawah permukaan air untuk melihat keluarnya gelembung udara.
Kulit daerah dada yang telah dilepaskan dan dinding dada dipegang pada tepi
bebasnya sedemikian rupa sehingga membentuk semacam kantong dengan dasar dinding
dada. Ke dalam kantong ini kemudian diisi air. Dengan sebuah skapel, dinding dada diiris
di bawah permukaan air sampai menembus ke rongga dada. Pengumpulan udara dalam
rongga dada pada pnemotoraks akan menyebabkan ke luar gelembung udara dari lubang.
Pemeriksaan pnemotoraks dapat pula dilakukan dengan menggunakan semperit
gelas yang besar (ukuran 25 sentimeter kubik) dan jarum trokar. Semperit diisi setengah
penuh, lalu dengan jarum trokat, sela iga ditusuk. Adanya pengumpulan udara dalam
rongga dada akan menyebabkan keluar gelembung udara ke dalam air dalam semperit.
AUTOPSI PADA DUGAAN KEMATIAN AKIBAT EMBOLI LEMAK
Kematian akibat emboli lemak dapat terjadi pada kasus trauma tumpul terhadap
jaringan lemak atau patah tulang panjang pada orang dewasa. Butir lemak yang berasal
dari jaringan lemak atau sumsum tulang dapat memasuki aliran darah dan menyebar ke
eluruh tubuh. Pada otak, butir lemak ini dapat menyumbat pembuluh otak yang kecil dan
mengakibatkan kematian.
Diagnosa emboli lemak dapat ditegakkan bila dalam pembuluh darah dapat
ditemukan butir lemak ini ( fat globule). Untuk melihat ini, dilakukan pemeriksaan
histopatologik dengan pewarnaan khusus untuk lemak, misalnya SUDAN III. Butir lemak
akan diwarnai menjadi berwarna merah-jingga. Pada pengerjaan/ processing jaringan
untuk pembuatan preparat histopatologik, hendaknya dihindari proses rutin yang dalam
perjalanannya akan melarutkan butir lemak yang terdapat dalam pembuluh darah tersebut.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
221
AUTOPSI PADA KASUS DENGAN KELAINAN PADA LEHER
Untuk dapat melihat kelainan pada leher dengan lebih baik, perlu diusahakan agar
daerah leher bersih dari kemungkinan terdapatnya ”genangan” darah. Untuk itu dilakukan
usaha agar darah yang terdapat dalam pembuluh darah leher dapat dialirkan ke tempat
lain.
Pemotongan kulit dimulai dari incisura jugularis ke arah simfisis pubis.
Pembukaan rongga dada dan perut dilakukan seperti pada autopsi rutin. Pengeluaran alat
leher ditangguhkan untuk sementara.
Lakukanlah pemotongan kulit kepala, penggergajian tengkorak serta pengeluaran
otak. Pindahkan ganjal yang semula terdapat pada daerah tengkuk sedemikian rupa
sehingga daerah leher terletak paling tinggi. Dengan mengeluarkan otak dan alat dada
dengan jalan memotong trachea setinggi incisura jugularis (atau dapat pula hanya jantung
saja yang dikeluarkan) maka darah yang terdapat dalam pembuluh darah leher dapat
dialirkan ke arah kepala dan dada, dan lapangan leher menjadi bersih. Dengan demikian,
kelainan berupa resapan darah yang kecil pun dapat terlihat jelas.
Setelah pemeriksaan daerah leher selesai, maka pengeluaran/pengangkatan alat
leher dapat dilakukan seperti pada autopsi rutin.
AUTOPSI PADA MAYAT BAYI BARU LAHIR
Pada pemeriksaan mayat bayi yang baru dilahirkan, perlu pertama-tama
ditentukan apakah bayi lahir hidup atau lahir mati.
Seorang bayi dinyatakan lahir hidup apabila ada pemeriksaan mayatnya dapat
dibuktikan bahwa bayi telah bernafas.
Bayi yang telah bernafas akan memberikan ciri di bawah ini:
a. rongga dada yang telah mengembang
pada pemeriksaan didapati diafragma yang letaknya rendah, setinggi iga ke 5 atau 6
b. paru telah mengembang
pada bayi yang belum bernafas, kedua paru masih menguncup dan terletak tinggi
dalam rongga dada.
Pada bayi yang telah bernafas, paru tampak mengembang dan telah mengisi sebagian
besar rongga dada. Pada permukaan paru dapat ditemukan gambaran mozaik dan
gambaran marmer.
c. uji apung paru memberikan hasil positif
- uji apung paru dilakukan untuk membuktikan telah terdapatnya udara dalam
alveoli paru.
- Setelah alat leher diangkat, lakukanlah pengikatan setinggi trachea. Hindari
sebanyak mungkin manipulasi terhadap jaringan paru. Alat rongga dada kemudian
dikeluarkan seluruhnya untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam air. Perhatikan
apakah kedua paru terapung.
- Pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan mengapungkan paru kanan dan kiri
secara tersendiri. Lakukanlah pemisahan lobus paru, apungkan kembali dalam air.
Selanjutnya buatlah 5 potongan kecil (k.l 5 mm x 10 mm x 10 mm) dari masing-
masing lobus dan apungkan kembali.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
222
- Pada paru yang telah mengalami pembusukan, potongan kecil dari paru dapat
mengapung sekalipun paru tersebut belum bernafas.
- Mengapungnya potongan kecil paru yang telah mengalami pembusukan ini
disebabkan oleh pengumpulan gas pembusukan tersebut dapat didesak keluar.
- Potongan kecil paru yang telah bernafas, terapung karena adanya udara dalam
alveoli, yang dengan penekanan antara 2 karton tidak akan terdesak keluar.
- Uji apung paru dinyatakan positif bila setelah dilakukan pemeriksaan
pengapungan, potongan paru yang telah ditekan antara dua karton sebagian besar
masih tetap mengapung.
d. Pemeriksaan mikroskopik memberikan gambaran paru yang telah bernafas
Pada pemeriksaan mikroskopik akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang telah
terbuka dengan dinding alveoli yang tipis.
Pada pemeriksaan bayi baru lahir, perlu pula dilakukan pemeriksaan teliti
terhadap kepala, mengingat kepala bayi yang dapat mengalami moulage pada saat
kelahiran, mungkin dapat menimbulkan cedera pada sinus di kepala. Untuk meneliti hal
ini, kepala bayi harus dibuka dengan tehnik khusus yang menghindari terpotongnya sinus
tersebut sehingga dapat dinilai dengan sebaik-sebaiknya.
Kulit kepala dibuka dan dikupas seperti pada mayat dewasa. Tulang tengkorak
bayi baru lahir masih lunak sehingga pembukaan tengkorak dapat dilakukan dengan
gunting (tidak perlu menggunakan gergaji). Untuk menghindari terpotongnya sinus
sagitalis superior, guntinglah os parietale pada jarak 0,5 sampai 1 cm lateral dari garis
median, dimulai pada daerah fontanel besar ke arah belakang sampai bagian posterior
tulang ubun-ubun untuk kemudian membelok ke arah lateral. Di depan, pengguntingan
dilanjutkan ke arah tulang dahi yang pada jarak 1-2 cm dari batas lipatan kulit, membelok
ke arah lateral. Dengan demikian, pada garis median sinus sagitalis tetap utuh. Os
parietalis kanan dan kiri kini dapat dibuka ke arah lateral seperti membuka jendela.
Dengan menarik baga otak besar ke arah lateral, sinus sagitalis superior, falk
serebri dan sinus sagitalis inferior dapat diperiksa akan adanya robekan, resapan darah
maupun perdarahan. Dengan menarik baga occipitalis ke arah kranio lateral, tentorium
cerebelli serta sinus lateralis, sinus occipitalis dapat diperiksa.
Otak bayi kemudian dikeluarkan dengan cara seperti pada mayat dewasa, atau
dikeluarkan terpisah, baga kanan dan kiri.
Jaringan otak bayi baru lahir biasanya lebih lunak dari jaringan otak dewasa.
Untuk dapat melakukan pengirisan dengan baik, kadang perlu dilakukan fiksasi dengan
formalin 10%, baik dengan merendam otak tersebut atau melakukan penyuntikan
imbibisi.
Untuk menentukan usia dalam kandungan (gestational age) mayat bayi, dapat
dilakukan pemeriksaan terhadap pusat penulangan.
Pusat penulangan pada distal femur dan proksimal tibia
Buat irisan melintang pada kulit daerah lutut sampai tempurung lutut. Dengan
gunting ligamentum patellae dipotong dan patella disingkirkan. Dengan pisau, lakukan
pengirisan distal femur atau proksimal tibia mulai dari ujung, lapis demi lapis ke arah
metaphyse. Pusat penulangan akan tampak sebagai bercak berwarna merah homogen
dengan diameter lebih dari 5 mm di daerah epiphyse tulang.
Pusat penulangan pada tallus dan calcaneus
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
223
Untuk mencapai tallus dan calcaneus, telapak kaki bayi dipotong mulai tumit ke
arah depan sampai sela jari ke 3 dan 4. Dengan melebarkan potongan pada kulit, tallus
dan calcaneus dapat dipotong longitudinal untuk memeriksa adanya pusat penulangan.
AUTOPSI PADA KASUS PEMBUNUHAN ANAK
Pembunuhan anak merupakan tindak pidana yang khusus, yaitu pembunuhan yang
dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak kandungnya, pada saat dilahirkan atau beberapa
saat setelah itu, karena takut diketahui orang bahwa ia telah melahirkan.
Pada pemeriksaan korban pembunuhan anak, pertama-tama harus dibuktikan
bahwa korban lahir hidup. Untuk ini pemeriksaan ditujukan terhadap telah bernafasnya
paru korban.
Pemeriksaan berikutnya dititikberatkan pada penyebab kematian, yang terjadi
sebagai akibat tindakan kekerasan. Pada kasus pembunuhan anak yang ditemukan di
Jakarta, pembunuhan biasanya dilakukan dengan cara pembekapan, penyumbatan,
pencekikan atau pengikatan leher.
Untuk memenuhi syarat waktu dilakukannya pembunuhan, yaitu pada saat
dilahirkan atau tidak berapa lama setelah itu, pemeriksaan ditujukan terhadap sudah atau
belum ditemukannya tanda perawatan pada bayi.
Pada tindak pidana pembunuhan bayi, faktor psikologik ibu yang baru melahirkan
diperhitungkan sebagai faktor yang meringankan, keadaan tersebut menyebabkan si ibu
melakukan pembunuhan tidak dalam keadaan kesadaran yang penuh, dan dalam keadaan
demikian, pada si ibu belum sempat timbul rasa kasih sayang serta keinginan untuk
merawat bayinya. Jadi pada kasus pembunuhan anak, si bayi belum mendapat perawatan.
Pemeriksaan terhadap maturitas, viabilitas bayi diperlukan bila pada pemeriksaan
didapati keraguan akan hal lahir hidup atau lahir mati. Pada bayi-bayi yang lahir
immature atau non viable, kemungkinan lahir hidup tentunya lebih kecil dibandingkan
dengan bayi yang lahir mature dan viable.
AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN AKIBAT KEKERASAN
Pemeriksaan terhadap luka :
a. Penyebab luka
Gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda yang
mengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk bulat
panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulnya marginal haemorrhage.
Luka lecet tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka.
b. Arah kekerasan
Pada luka lecet geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini sangat
membantu dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara.
c. Cara terjadinya luka
- luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka.
Bagian tubuh yang biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu
kecelakaan. Daerah terlindung ini misalnya daerah ketiak, sisi depan leher, lipat
siku, dan lain-lain.
- Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian
tubuh. Pada korban pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan, dapat
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
224
ditemukan luka tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan
bawah atau telapak tangan.
- Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan
(tentative wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar.
d. hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati
- harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata
disebabkan oleh kekerasan yang menyebabkan luka
- harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar
luka yang terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital)—perhatikan tanda
intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka
- tanda intravitalitas : ditemukannya resapan darah, proses penyembuhan
luka, sebukan sel radang, pemeriksaan histo-enzimatik, pemeriksaan kadar
histamin bebas dan serotonin jaringan
Kecelakaan lalu lintas
a. luka akibat kekerasan pertama oleh kendaraan (first impact)
- ditimbulkan oleh persentuhan bagian kendaraan dengan tubuh
- perhatikan bentuk/gambaran luka serta letaknya (harus diukur dari tumit)
- luka biasanya berupa luka lecet tekan
b. luka akibat terjatuh
- pada tubuh korban dapat ditemukan luka lain yang terjadi akibat
terjatuhnya korban setelah persentuhan pertama dengan kendaraan
- berupa luka lecet geser atau luka robek
c. luka akibat tertindas (rollover)
luka akibat lindasan ban kendaraan memberikan gambaran yang khas berupa jejas
ban.
Kecelakaan terbakar
Pada tubuh yang terbakar intravital, akan ditemukan luka bakar yang
menunjukkan reaksi vital jaringan terhadap panas berupa eritema, vesikel atau bula.
Tanda intravitalitas lain adalah ditemukannya jelaga dalam saluran pernafasan dan
pencernaan serta peningkatan kadar COHb dalam darah.
Tubuh yang terbakar hangus pada daerah kepala sering memberikan pseudo-
epidural hematome. Setelah tulang tengkorak dibuka, pada aderah diluar durameter
terdapat massa yang padat berwarna coklat dan rapuh disertai jaringan otak yang
menyusut. Bedakan dengan epidural hematome, pada pemeriksaan menunjukkan
gumpalan yang berwarna merah hitam, agak kenyal disertai tanda penekanan lokal pada
baga otak. Pada epidural hematome, selalu ditemukan garis patah tulang yang melalui
sulcus a.meningea yang berjalan pada tabula interna tulang tengkorak.
Kecelakaan akibat benda bermuatan listrik
Adanya luka masuk listrik hanya apabila persentuhan tersebut menghasilkan
cukup panas. Luka tampak sebagai bagian tengah berwarna coklat kehitaman, kering dan
mencekung dikelilingi oleh tepi yang meninggi. Sekitar luka terdapat daerah pucat
berbentuk halo yang dikelilingi oleh kulit yang hiperemis.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
225
Pada kulit yang basah atau bila tempat persentuhan luas, luka masuk listrik tidak
dapat terbentuk.
Pada kasus kecelakaan tersentuh benda bermuatan listrik, bagian tubuh yang
sering terkena adalah bagian yang terbuka terutama pada tangan.
Gambaran luka keluar listrik seringkali tidak khas.
Kecelakaan akibat tembakan senjata api
Pada umumnya, luka tembak masuk hanya terdiri dari satu luka saja. Pada
pemeriksaan penting ditentukan arah masuknya anak peluru yang dapat diketahui dari
bentuk kelim lecet yang terjadi.
Dari morfologi luka tembak masuk, dapat dibedakan luka tembak masuk yang
diakibatkan oleh tembakan senjata api yang dilepaskan dari berbagai jarak.
Luka tembak masuk jarak jauh
- luka terjadi semata-mata oleh kekerasan yang ditimbulkan anak peluru
- pada luka tembak masuk,hanya akan ditemukan lubang luka dan kelim lecet saja.
Luka tembak masuk jarak dekat
- gambaran luka ditimbulkan oleh kekerasan anak peluru dan butir-butir mesiu yang
tidak habis terbakar
- ditemukan lubang luka, kelim lecet, kelim tatto yang merupakan bintik-bintik
berwarna hitam di sekitar lubang luka
Luka tembak masuk jarak sangat dekat
- gambaran luka ditimbulkan oleh kekerasan anak peluru, sisa mesiu yang tidak
habis terbakar, asap serta udara panas yang keluar pada suatu penmbakan
- tampak lubang luka, yang dikelilingi oleh kelim lecet, kelim tatto, kelim jelaga
dan kelim api.
Luka tembak tempel
Luka dihasilkan oleh tembakan senjata api dengan ujung laras yang ditekankan
pada kulit. Pada saat terjadi ledakan, udara yang mengembang akan bersama-sama anak
peluru, butir mesiu yang tidak habis terbakar dan asap masuk ke dalam tubuh dan
menyebabkan peningkatan tekanan di daerah sub kutis, mengakibatkan jejas laras pada
kulit berupa luka lecet tekan. Saluran luka tampak berdinding hitam oleh butir mesiu yang
tidak habis terbakar dan asap. Bila daerah yang mengalami luka tembak tempel
mengandung jaringan padat yang keras di bawah kulit, misalnya pada daerah dahi, maka
peregangan yang dialami kulit dapat sedemikian besarnya dan menimbulkan luka robek,
sehingga luka tembak tempel memberikan gambaran berbentuk bintang.
Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan
- dapat dilakukan dengan benda tumpul, benda tajam, maupun senjata api.
- Pembunuhan dengan kekerasan tumpul, luka dapat terdiri dari luka memar, luka
lecet maupun luka robek. Perhatikan adanya luka tangkis yang terdapat pada daerah
ekstensor lengan bawah
- Pembunuhan dengan kekerasan tajam, perhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut
luka, keadaan sekitar luka serta lokasi luka. Cari kemungkinan terdapatnya luka
tangkis di daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan.
- Luka biasanya terdapat beberapa buah, distribusi tidak teratur
- Pembunuhan dengan senjata api, penembakan dapat dilakukan dari berbagai jarak
dan luka yang ditemukan dapat merupakan luka tembak masuk jarak dekat, sangat
dekat atau jarak jauh dan jarang luka tembak tempel.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
226
Bunuh diri dengan kekerasan
- Pada seseorang yang bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari ketinggian/
menabrakkan diri pada kendaraan akan ditemukan luka akibat kekerasan tumpul
- Pada seseorang yang bunuh diri dengan benda tajam, luka mengelompok pada
tempat tertentu antara lain pergelangan tangan, leher atau daerah prekordial. Luka
beberapa buah yang berjalan kurang lebih sejajar dan dangkal (luka percobaan)
dengan sebuah luka yang mematikan.
- Pada seseorang yang bunuh diri dengan senjata api, luka berupa luka tembak
tempel yang menempati lokasi pelipis, rongga mulut atau dada sebelah kiri
- Pada autopsi kasus dengan luka yang menembus ke dalam tubuh, misalnya
tembakan senjata api atau tusukan senjata tajam, perlu ditentukan arah serta jalannya
saluran luka dalam tubuh mayat.
AUTOPSI KASUS KEMATIAN AKIBAT ASFIKSI MEKANIK
Pada pemeriksaan mayat, akan ditemukan tanda asfiksi berupa lebam mayat yang
gelap dan luas, bendungan bola mata, busa halus pada lubang hidung, mulut dan saluran
nafas, bendunagn pada alat dalam, serta Tardieu spot.
Peristiwa yang menjadi penyebab dan tanda-tandanya :
1. Mati akibat pembekapan
Terdapat tanda kekerasan berupa luka memar atau lecet tekan sekitar hidung & mulut.
Paling sering merupakan pembunuhan.
2. Mati akibat penyumbatan
Ada benda asing pada rongga mulut, atau sisanya jika telah dikeluarkan.
3. Mati akibat pencekikan
ada luka memar atau lecet tekan pada leher, karena kuku pelaku. Tulang lidah kadang
patah unilateral.
4. Mati akibat penjeratan
kadang masih ada jerat/tali pada leher korban, simpulnya tetap dipertahankan. Jerat
biasanya horizontal dan letaknya rendah. Dia juga meninggalkan jejas lecet tekan
yang melingkari leher. Umumnya, simpul mati = pembunuhan, simpul hidup = bunuh
diri.
5. Mati tergantung
arah jerat tidak mendatar, tapi membentuk sudut yang membuka ke arah bawah.
Selain itu, letak jerat lebih tinggi. Lebam mayat ada di ujung tangan & kaki. Terdapat
resapan darah bawah kulit pada pembedahan mayat.
6. Mati akibat dada tertekan
disebut juga asfiksi traumatik. Ada luka memar atau lecet pada dada.
AUTOPSI PADA KEMATIAN AKIBAT TENGGELAM
Pada kasus mati tenggelam, harus dibuktikan masuknya air ke dalam paru bagian
distal. Caranya dengan memeriksa kadar elektrolit darah dari jantung kiri dibandingkan
jantung kanan, karena tenggelam akan menimbulkan terjadinya hemodilusi atau
hemokonsentrasi, tergantung pada tekanan osmotik cairan tempat tenggelam. Dapat juga
dilakukan pemeriksaan diatome melalui pemeriksaan getah paru.
Pada mayat dapat ditemukan kedua paru mengembang berisi air, juga lambung
dan benda asing yang tertelan. Selain itu, terdapat gambaran cutis anserina akibat
kontraksi mm.erector pilli. Bila mayat terendam cukup lama, bisa ditemukan kulit telapak
tangan dan kaki yang keriput (washer woman hand). Bila ada cadaveric spasm bisa
ditemukan benda atau tumbuhan air yang tergenggam.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
227
AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN AKIBAT RACUN
Pada dugaan mati akibat racun, pertama kali harus dicium bau yang keluar dari
tubuh mayat karena hidung pemeriksa dapat beradaptasi jika berlama-lama bersama
mayat. Setelah itu, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium toksikologi untuk
pemastian racun penyebab.
Kematian Akibat Keracunan Insektisida
Pada pemeriksaan luar dapat ditemukan luka bakar warna coklat agak cekung di
kulit sekitar mulut, juga ada bendungan serta warna lebam mayat yang biru gelap dan
ujung jari serta kuku yang kebiruan.
Pada bedah mayat ditemukan tanda bendungan alat dalam, dua lapis cairan di
lambung yaitu asam lambung dan larutan insektisida. Untuk toksikologi dapat diambil isi
lambung, darah dan jaringan hati.
Kematian akibat gas CO
Pada pemeriksaan luar ditemukan lebam mayat yang berwarna merah terang.
Pemastian sebab kematian dengan penemuan kadar CO-Hb yang tinggi dalam darah. Pada
bedah mayat terdapat bintik perdarahan pada substansi putih otak atau gambaran infark
yang simetrik. Hal ini disebabkan terjadinya anoksi otak.
Kematian akibat sianida
Pada pemeriksaan mayat sering tercium bau sianida (bau amandel) dan lebam
mayat merah terang. Pemeriksaan selanjutnya tidak memberikan gambaran yang khas.
Diagnosis pasti dengan periksa toksikologi terhadap isi lambung dan darah.
Kematian Akibat Keracunan Barbiturat
Sering terjadi akibat bunuh diri atau kecelakaan karena over dosis. Terjadi depresi
nafas yang menjadikan hipoksia sehingga lebam mayat berwarna gelap. Terdapat juga
vesikel atau bula simetrik pada kulit.
Pada bedah mayat ditemukan bendungan alat dalam, paru yang edem dengan busa
halus dalam saluran nafas, bintik darah pada substansi putih otak. Pemastian dengan
ditemukan barbiturat dalam darah dan urine juga toksikologi isi lambung.
Kematian akibat narkotika
Lebih sering terjadi akibat kecelakaan. Perlu diperhatikan adanya bekas suntikan
yang baru atau lama, pembesaran kelenjar limfe regional. Kadang ada tato di tempat yang
tidak wajar (cth. di lipatan siku, tempat biasa menyuntik).
Mati akibat narkoba sering karena depresi nafas. Pada bedah mayat ditemukan
kelainan paru berupa bendungan dan edema hebat pada paru, narcotic lung atau gambaran
pneumonia lobaris. Toksikologi dilakukan pada darah, urine, cairan empedu serta tempat
masuk suntikan. Dpat juga ditemukan vesikel/ bula seperti pada keracunan CO atau
barbiturat.
Kematian akibat keracunan arsenikum
Ada 2 jenis, yaitu keracunan akut dan kronis. Pada akut, pemeriksaan luar mayat
menunjukkan tanda dehidrasi hebat pada tubuh. Terdapat perdarahan sub mukosa, erosi
dan ulserasi sepanjang saluran cerna. Ada bubuk putih dan arsen trioksida pula pada
daerah itu. Pada kronis, ada kelainan pigmentasi kulit, garis putih pada kuku serta tubuh
yang kahektis. Terdapat kelainan histologik degeneratif pada hati dan ginjal. Toksikologi
pada isi lambung, darah dan urine.
AUTOPSI PADA KASUS KEMATIAN MENDADAK
Mati mendadak adalah kematian yang terjadi dalam waktu relatif singkat pada
orang yang sebelumnya tampak sehat, dan kematian yang tidak/belum jelas sebabnya.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
228
Untuk penyebabnya harus selalu diingat kemungkinan terjadinya keracunan yang
memerlukan pemeriksaan toksikologi.
Penyebab mati mendadak biasanya menyangkut sistem kardiovaskular (SKV),
pernafasan dan susunan saraf pusat (SSP). Pada SKV meliputi infark miokard, penyakit
jantung iskemik, sumbatan mendadak pembuluh koroner, pecahnya aneurisma aorta atau
miokarditis akibat virus. Pada sistem nafas biasanya berupa kelainan paru akibat
perdarahan kavernae atau peradangan. Sedangkan pada SSP umumnya perdarahan akibat
pecahnya a.lentikulostriata, akibat ruptur aneurisma pada Circulus willisi, kelainan
degeneratif atau malaria serebri. Diagnosis pasti seringkali memerlukan pemeriksaan
Histo PA berbagai organ tubuh.
AUTOPSI PADA KEMATIAN AKIBAT TINDAK ABORTUS
Biasa terjadi pada wanita yang mengalami abortus tersebut. Terjadi perdarahan
karena ruptur uteri akibat kekerasan yang ditimbulkan oleh pengurutan dengan tangan
atau alat yang membuat perforasi uterus. Selain perdarahan, kematian juga dapat akibat
emboli udara saat pembuluh darah atau sinus marginalis terbuka. Pemeriksaan yang dapat
dilakukan dengan menemukan udara dalam bilik jantung kanan atau vena cava inferior.
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
229

Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
230
Gambar 1. Kaku mayat (rigor
mortis) dimulai 1-2 jam sesudah
kematian dan menetap hingga 10-
12 jam pada suhu 75
o
F
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology
Gambar 2. Lebam Mayat
( Livor Mortis)
Lebam mayat ini akan menetap
setelah 8-10 jam
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
231
Gambar 3. Lebam Mayat ( Livor
Mortis)
Lebam mayat terkadan mirip dengan
luka, dapat dibedakan dengan melakukan
insisi, pada insisi lebam mayat tidak
ditemukan darah maupun bekuan darah
Source: Color Atlas of Forensic
Gambar 4. Pembusukan
(Decomposition)
Pembusukan dapat diawali
dengan kulit yang berubah
menjadi hijau dan tampak perut
mengembung karena ada nya
penumpukan gas-gas yang
dibentuk oleh bakteri
Source: Color Atlas of Forensic
Gambar 5. Pembusukan
(Decomposition)
Adanya peningkatan tekanan
organ dalam mengakibatkan
keluarnya dara dari lubang hidung
dan mulut, sehingga harus
dibedakan dengan adanya
trauma.
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
232
Gambar 6. Adipocere
Terjadi karena hidrogenisasi asam lemak tidak jenuh (asam
palmitat, asam stearat, asam oleat) dihidrogenisasi
menjadi asam lemak jenuh yang relatif padat.
Syarat terjadinya: suhu rendah, kelembaban tinggi, lemak
cukup, aliran udara rendah, waktu yang lama
Gambar 7. Mummifikasi
Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan
yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan
jaringan.
Pada mummifikasi tidak terjadi pembusukan, mayat
mengecil, kulit padat hitam seperti kertas perkamen,
struktur anatomi masih lengkap sampai bertahun-
\
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
233
Gambar 8. Rembesan Darah
Adanya gambaran resapan darah
yang berasal dari fraktur tengkorak
kepala dibedakan dengan memar
jika tidak bekas luka disekitar mata
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology
Gambar 9. Pendarahan
Adanya gambaran resapan darah
yangberasal dari pendarahan
multipel dari bawah kulit kepala
Source: Color Atlas of Forensic
Gambar 10. Fraktur basis kranii
Source: Color Atlas of Forensic Pathology
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
234
Gambar 11 .Perdarahan
Subarachnoid
Dapat segera dilihat setelah
dibuka tulang kepala dan
durameter
Gambar 12. Ruptur cerebral
aneurisma
Source: Color Atlas of Forensic
Gambar 13. Perdarahan epidural
Darah terakumulasi di luar
durameter
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
235
Gambar 14. Perdarahan
subdural
Darah terakumulasi
dibawah durameter
Source: Color Atlas of
Forensic Pathology
Gambar 15. Kontusi
cerebral
Source: Color Atlas of
Forensic Pathology
Gambar 16. Fraktur
depresi yang membentuk
pola bulat karena
kekerasan benda tumpul
(Palu)
Source: Color Atlas of
Forensic Pathology
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
236
Gambar 17. Luka tembak
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology
Gambar 18. Luka tembak
Kiri (luka masuk)tepi lebih
reguler, kanan (luka
keluar)tepi ireguler
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology
Gambar 19. Luka tembak
Pada luka tembak warna merah
diakibatkan adanya karbon
monoksida pada luka masuk
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
237
Gambar 20. Gantung diri
Lebam pada gantung diri tekonsentrasi pada daerah
ekstemitas
Gambar 21. Tardieu spot
pada Gantung diri
Tardieu spot di akibat kan
pecahnya kapiler-kapiler
pad kaki
Source: Color Atlas of
Forensic Pathology
Gambar 22. Gantung diri
Jejas jerat sesuai dengan
pola penggantung (tali)
Source: Color Atlas of
Forensic Pathology
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
238
Gambar 23. Gantung diri
Petechie pada mata sebagai tanda asfiksia
Source: Color Atlas of Forensic Pathology
Gambar 24. Gantung diri
Terdapat pendarahan pada trakea akibat strangulasi
Source: Color Atlas of Forensic Pathology
Gambar 25. Pencekikan
Terdapat pendarahan
pada lidah akibat
pencekikan
Source: Color Atlas of
Forensic Pathology
Roman’s 4n6 Ed. 20 by Syaulia, Andirezeki, Wongso
239
Gambar 26. Luka bakar
Kematian pada luka bakar yang diakibatkan keracunan
karbon monoksida kulit berubah menjadi merah
dibedakan dengan kulit yang menjadi merah akibat luka
bakar langsung
Source: Color Atlas of Forensic Pathology

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful