Seni Murni dan Seni Terap Seni murni atau art adalah seni yang lahir karena dorongan

murni estetik, yaitu keinginan akan pengkomunikasian pengkomunikasian atau pengekspresian hal-hal yang indah yang dirasakan atau dialami seseorang tanpa adanya maksud-maksud lain diluarnya. Adapun seni terap (seni terapan) atau applied art adalah jenis seni yang kehadirannya justru karena akan dimanfaatkan untuk kepentingan lain selain ekspresi estetika, semisal kepentingan agama, politik, atau kebutuhan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pada awalnya semua jens seni itu selalu menyandang tugas untuk melayani masyarakat dalam kehidupanya sehari-hari, dari patung perwujudan nenek moyang sampat keris atau topeng ‘hudoq’ dari Kalimantan Timur. Semua adalah seni terap. Di Eropa, seni terap terasa menonjol pada saat Revolusi Industri di mana dampaknya banyak politikus dan ekonomi menyokong perkembangan seni murni, dengan motivasi tertentu, sehingga di sisi lain seni murni pun memperoleh hikmahnya. Tumbuhlah pada saat itu museummuseum dan galeri seni dan akademi-akademi seni yang didukung oleh pemerintah yang didorong oleh pandangan bahwa seni berlainan dengan produk mesin dan bahkan bahwa seni harus diaplikasikan pada barang-barang buatan mesin tersebut. Pada awal abda XX hal ini mendapat reaksi keras dari penganut Fungsionalisme yang berusaha untuk menolak kehadiran ornament karena dianggap sebagai tidak ada gunanya seperti yang ditulis oleh Adolf Loos bahwa ornament adalah criminal (vide ante, ‘Stilisasi’) dan tulisan Deutscher Werkbund, Forn ohne Ornament (1924). Seni Kriya Salah satu contoh dari seni terap yang paling dominan adalah seni kriya yang kiranya juga merupakan salah satu contoh dari seni yang paling tua. Sementara itu masyarakat kriya di luar-apapun namanya-tetap tenang-tenang saja, tidak ada keinginan untuk mengubah sikap ataupun jenis karya yang digelutinya. Sebelum membahas perjalanan dan perkembangan seni kriya lebih lanjut, perlu diketengahkan sekali lagi hakikat dari jenis kesenian ini. Yang tidak boleh dilupakan adalah, bahwa sesuai dengan namanya, seni kriya harus terbuat dengan rapi, dengan kekriyaan atau craftsmanship yang tinggi dan dengan mengindahkan tatacara teknis yang benar, maksudnya,penentuan bahan dan teknik kerja sesuai dengan bentuk yang akan dicapai, perhatian atas perawatan dan sfat-sifat bahannya, serta penyelesaian atau finishing secara penuh. Terutama pada saat seni kriya Indonesia sedang mengalami krisis craftsmanship seperti sekarang ini, hal tersebut perlu sekali diketengahkan, jangan sampai seni kriya kehabisan semuanya, kehilangan predikat seninya dan kehilangan pula hakikat kekriyaannya.

kain batik menjadi kemeja atau taplak meja. begitu pun wayang kulit. seni kriya berorientasi pada keindahan atau memiliki fungsi dekoratif. dan wayang kulit untuk memvisualisasikan cerita-cerita masa lalu yang penuh kephlawanan. Ketiga. bejana keramik menjadi hiasan ruang dalam atau halaman karena perubahan dalam situasi dan kondisi kebutuhan masyarakat. Itulah konotasi terhadap seni kriya : teknik pembuatannya sangat canggih dan ditekankan pada pembuatan tangan (di dalam bahasa Inggris ‘crafts’ lebih luas tebanya daripada ‘handicrafts’ karena di sana sini ada juga bantuan mesin). Kiranya semua setuju bahwa bentuk penampilan keris adalah sangat indah-dan dibuat dengan craftsmanship yang tinggi pula-dan dalam fungsinya sebagai aksesoris pakaian pria keris juga mampu memperindah siapa saja yang memakainya. Keris pun adalah barang guna yang semula berfungsi sebagai senjata dalam membela diri. Sejauh factor-faktor tersebut masih melekat pada sesuatu benda kiranya bisa saja benda itu disebut sebagai seni kriya. jamban bunga. sangat indah buatnya dan dijaman modern ini disamping fungsinya sebagai sarana visualisasi cerita dan sarana pendidikan masyarakat juga dikemas sebagai hiasan dinding untuk memperindah ruangan. Dan. berbagai bejana dari keramik untuk menyimpan atau menempatkan cairan atau barang-barang lainnya. jamban bunga adalah juga indah dan memperindah interior dan eksterior. kriya tradisi besar atau kriya adi luhung dan kriya tradisi kecil atau kriya rakyat. dalam banyak hal amsih berurusan dengan penunjangan terhadap kebutuhan sehari-hari manusia. sampai wayang kulit. yaitu cenderung indah atau bertugas memperindah. filsafat dan pendidikan. semuanya tidak luput dari konotasi tersebut. yaitu ‘kriya industri’ . dan bentuknya inah dan menarik. tetapi sudah sejak lama beralih fungsi menjadi aksesoris dandanan pria dan lambat-lambat tetapi pasti alih fungsi seperti ini akan berjalan terus. kriya seni. kain batik.Kedua seni kriya memiliki tendensi sebagai barang guna atau applied arts karena seni kriya bermula dari pembuatan benda-benda yang diciptakan manusia untuk menyandang fungsi guna dalam kehidupan sehari-hari seperti batik atau kain tenun untuk bahan pakaian. Maka dengan ini kita mengenal seni kriya. Dari keris. Satu lagi yang masih harus dibahas.