P. 1
BAB III

BAB III

|Views: 317|Likes:
Published by Jerry Christian

More info:

Published by: Jerry Christian on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2015

pdf

text

original

BAB IV

HYDRAULIC FRACTURING
Hydraulic fracturing (perekahan hidrolik) adalah suatu teknik stimulasi yang
digunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan produktivitas sumur.
Produktivitas sumur yang menurun atau kecil ini dapat berupa adanya zona skin
disekitar lubang sumur dimana harga permeabilitas zona skin (k
skin
) lebih kecil dari
harga permeabilitas formasi (k
formasi
), atau formasi dengan cadangan yang besar
tetapi harga permeabilitas formasinya relatif kecil, atau juga karena formasi yang
ketat (consolidated). Gambar 4.1. memperlihatkan skematik proses stimulasi
hydraulic fracturing.

Gambar 4.1.
Skematik Proses Stimulasi Hydraulic Fracturing
(9)
Tujuan dari perekahan hidrolik adalah terbentuknya saluran konduktif dan
kontiniu yang menembus zona skin (yang mengalami kerusakan), jauh ke dalam
reservoir. Untuk mencapai tujuan itu, pada perekahan hidrolik perlu dibentuk
saluran konduktif dan kontinyu yang berupa rekahan dengan menginjeksikan fluida
perekah dengan laju dan tekanan tertentu diatas tekanan rekah batuannya.
4.1. Mekanika Batuan
Batuan dalam bumi akan mengalami tegangan-tegangan yang diakibatkan
oleh gaya-gaya yang bekerja atau dikenakan kepadanya. Gambar 4.2.
memperlihatkan skematik normal stress dan shear stress pada batuan
In-situ Stress : gaya per unit area
0
Δ
lim σ

·
A

,
_

¸
¸
ΔA
ΔF
………………………………………...…….....…(4-1)

Gambar 4.2.
Skematik Normal Stress dan Shear Stress
(8)
Overburden Stress : gaya akibat beban formasi diatasnya
dz (z) ρ g σ
H
0
ov

·
…………………………………..………………...(4-2)
171
dimana rata-rata gradient (g) berkisar 0.95 – 1.1 psi/ft ; densitas formasi (ρ)
berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa densitas batuan berkisar antara 125
hingga 200 lb/ft
3
.
Strain : deformasi/alterasi posisi relatif titik-titik pada benda yang dikenakan
stess. Strain dikomposisikan sebagai perubahan panjang dan perubahan
angular.
1
1 1
lim ε
*
0 1

·

………………………………………..…………….....(4-3)

Gambar 4.3.
Elemen Tegangan dan Bidang Rekahan
(8)
Gambar 4.3. memperlihatkan Elemen Tegangan dan Bidang Rekahan.
Penjabaran akan hal ini adalah perbandingan poisson (poisson ratio) dimana apabila
suatu benda ditekan ke satu arah tertentu, maka benda itu bukan saja mengalami
perubahan panjang (memendek) sepanjang arah pembebanan, melainkan juga akan
melebar kearah lateral (gaya yang kecil). Atau didefinisikan sebagai rasio dari
ekspansi lateral terhadap kontraksi longitudinal.
172
v =
1
2
ε
ε

……………………………………………………….....(4-4)
dimana ε
1
dan ε
2
masing-masing adalah strain arah tegak lurus satu sama lainnya.
Harga v berkisar antara 0.15 – 0.30 dan untuk batupasir = 0.25, sedangkan untuk
shale = 0.27.


Gambar 4.4.
Penggambaran Mengenai Efek Poisson
(8)
Atau dengan persamaan sebagai berikut :
E = 2 G(1 + v) ……………………………………………………......(4-5)
dimana : E = (slope) Modulus Elastisitas Young, psi
Gambar 4.4. memperlihatkan penggambaran mengenai efek poisson
Modulus Elastisitas Young merupakan ukuran kekenyalan (stiffness) dimana untuk
batuan harganya berkisar antara 1 x 10
6
(soft rock) sampai dengan 10 x 10
6
(hard
rock). Dalam perekahan hidrolik dikenal istilah plane-strain modulus (E`) yang
ditulis sebagai berikut :
E` = E / (1 – v
2
) …………………………………………………......(4-6)
173
dimana untuk sandstone :
E` = 1.07 E dan v = 0.25
Hubungan antara stress dan strain dapat digambarkan dengan grafik stress vs strain
pada Gambar 4.5., sebagai berikut :


Gambar. 4.5.
Grafik Hubungan Stress vs Strain
(8)
Ketika suatu sumur dibor, maka tegangan yang bekerja pada batuan akan
mengalami perubahan. Suatu pendekatan perhitungan perubahan atau kelainan ini
dibuat dengan asumsi batuan elastis, lubang sumur lurus dan silindris serta sumbu
sumur vertikal. Sedangkan gaya-gaya tangensial yang bekerja disekitar lubang
sumur adalah dua kali tegangan horizontalnya, sehingga tekanan yang diperlukan
untuk merekahkan batuan secara vertikal adalah jumlah dari tekanan yang
diperlukan untuk mengurangi compressive stress pada dinding lubang sampai nol
ditambah tensile strength dari batuannya, atau :
t t f
S σz
v 1
v 2
S σh 2 P +

· + ·
…………………..……..……..…..(4-7)
dimana :
174
P
f
= Internal pressure, psi
S
t
= Tensile strength batuan, psi
Dengan menggunakan kisaran tensile strength 0 sampai 500 psi untuk batupasir dan
limestone, maka akan didapat harga tekanan yang diperlukan untuk membuat
rekahan vertikal yaitu antara :
D 0,44 0
0,18 1
D 1,0 x 0,18 x 2
P
f
· +

·
psi
500 D 0,74 500
0,27 1
D 1,0 x 0,18 x 2
P
f
+ · +

·
psi
Menurut Hubert dan Willis, tekanan injeksi dasar sumur minimum yang
diperlukan untuk menjaga rekahan tetap terbuka adalah sedikit lebih besar dari
tegangan yang bekerja pada bidang rekahan tersebut, dan masuknya fluida ke dalam
formasi akan mengurangi besarnya tekanan yang diperlukan untuk tekanan vertikal.
Dalam hal rekahan horizontal, tekanan yang diperlukan untuk menahan atau
mengembangkan rekahan sama dengan efektif overburdennya pada kedalaman
rekahan. Dengan demikian rekah horizontal akan terjadi bila :
P
f
= δ
z
...………………………..…….……………....…………....(4-8)
Pendekatan ke dalam maksimum dimana rekah horizontal terjadi, kecuali dalam
daerah di bawah kompresif aktif dapat ditentukan dari persamaan-persamaan diatas
dengan anggapan :

σz S σz
v 1
v 2
t
> +


…………………..………………..……..………..(4-9)
Bila diketahui gradien tekanan vertikal (overbuden) adalah 1 psi/ft, poison ratio
0.25 dan tensile strength 1000 psi, maka kedalaman maksimum rekah horizontal
adalah 3000 ft. Untuk rekahan yang terjadi pada sudut tertentu (θ) dari horizontal,
Crittendon menyajikan suatu rumus tekanan rekah sebagai berikut :
1
]
1

¸

,
_

¸
¸


− +

,
_

¸
¸

+ · θ cos
v 1
v 2
1
v 1
v 2
1
2
P
P
ov
f
..……………....……..…(4-10)
175
dimana :
P
ov
= tekanan overbuden, psi
θ = sudut yang diukur dari horizontal
Gambar 4.6.
Jenis-jenis Arah Rekahan
(1)

Jenis-jenis rekahan dapat dilihat pada Gambar 4.6. Untuk mengetahui
hubungan antara efek perekahan terhadap produktivitas sumur dapat ditinjau
dengan mengetahui sifat-sifat atau karakteristik fluida injeksi, karakteristik fluida
reservoir, dan karakteristik batuan reservoirnya disekitar daerah perekahan.
R.D.Carter mendiskripsikan persamaan untuk menghitung luas daerah perekahan
176
baik dengan perekahan secara vertikal maupun horizontal. Asumsi yang digunakan
untuk menghitung luas daerah perekahan adalah :
1. Luas rekahan uniform
2. Aliran fluida perekah ke dalam formasi linear dan arah aliran
tegak lurus permukaan rekahan.
3. Kecepatan aliran di dalam formasi pada setiap titik dipermukaan
rekahan adalah fungsi waktu titik alirnya.
4. Fungsi keceptan V = F(t) sama untuk setiap titik di dalam formasi.
5. Tekanan di dalam rekahan sama dengan tekanan injeksi didepan
formasi serta harga konstannya.
4.2. Mekanika Fluida Stimulasi Hydraulic Fracturing
Fluida perekah dipergunakan untuk membuat rekahan yang cukup besar,
sehingga proppant dapat masuk ke dalam rekahan tanpa mengalami bridging
(mampat) atau settling (pengendapan). Oleh karena itu, fluida perekah harus
mempunyai viskositas yang tinggi dan faktor kehilangan fluida harus diperkecil
dengan sifat wall building dengan penggunaan polimer.
4.2.1. Rheology
Sifat rheology digunakan untuk mendapatkan harga viskositas yang cukup
berdasarkan besarnya harga shear rate dan shear stressnya. Di dalam rheology
dikenal jenis fluida sebagai berikut : newtonian, bingham plastic dan power law.
Untuk fluida newtonian berlaku hubungan berikut :
τ = μ γ ……………………………………………………….…...(4-11)
dimana : τ = shear stress
γ = shear rate
μ = viskositas (air = 1)
Sedangkan untuk fluida bingham plastic berlaku :
τ = μ γ + τ
y
………………………………………...……………(4-12)
dimana :
τ
y
= yield point (fluida Newtonian = 1)

177


Gambar 4.7.
Harga Shear Rate vs Shear Stress pada Fluida Newtonian
dan Fluida Non Newtonian
(8)
Dan untuk fluida power law berlaku hubungan :
τ = K γ” …………………………………………………......………(4-13)
Perbedaan ketiga jenis fluida tersebut diperlihatkan pada Gambar 4.7., dimana
gambar tersebut memperlihatkan hubungan antara shear rate dan shear stress untuk
fluida power law pada skala log-log. Adapun jenis fluida perekah adalah jenis fluida
power law. Berdasarkan pendekatan jenis fluida power law, maka besarnya
viskositas semu dapat ditentukan dengan persamaan :
Μ
app
=
n` 1
γ`
K` 47880

……………………………….………………..(4-14)
dimana :
K’ = consistency index
= K
n`
n` 4
1 n` 3
1
]
1

¸
+
, untuk pipa
= K
n`
n` 3
1 n` 2
1
]
1

¸
+
, untuk annulus
n’ = flow behavior index
178

Gambar 4.8.
Plot antara Shear Rate vs Shear Stress
untuk Fluida Power law pada Skala log-log
(8)
4.2.2. Leak-off Fluid (kebocoran fluida)
Kehilangan fluida (leak-off) adalah terjadinya aliran fluida perekah masuk
ke dalam formasi. Hal ini disebabkan karena tingginya tekanan fluida yang
dipompakan ke formasi, sehingga menyebabkan volume rekahan yang terjadi
berkurang serta proppant akan mengalami pemampatan dan mengendap. Leak-off
merupakan faktor penting dalam penentuan geometri rekahan.
Cooper et al. mendiskripsikan harga koefisien leak-off total (C
tot
) yang
terdiri dari tiga mekanisme yang terpisah sebagai berikut :
1. Viscosity controlled (Cμ), adalah suatu kehilangan fluida yang dipengaruhi
oleh viskositas. Penentuan besarnya harga Cμ didapat dengan persamaan :
Cμ = 0.0469
1
μ
ΔP φ k
……………………………….…….....(4-15)
dimana :
k = permeabilitas batuan

φ
= porositas batuan
μ
1
= viskositas filtrate
ΔP = beda tekanan antara fluida didepan dinding dengan tekanan di pori-
pori batuan
179
2. Compressibility controlled (Cc), adalah suatu kehilangan fluida yang
dipengaruhi oleh kompressibilitas. Penentuan besarnya harga Cc dapat
dilakukan dengan persamaan :
Cc = 0.0374 ΔP
µ
φ
f
C k
………………………………..……...(4.16)
dimana :
C
f
= kompresibilitas tital formasi, psi
-1
μ = viskositas fluida formasi yang bisa bergerak pada kondisi reservoir,
cp
3. Wall building mechanism (Cw), yang terbentuk dari residu polimer di
dinding formasi yang menghalangi aliran ke formasi. Hal ini penting untuk
membatasi fluida yang hilang ke formasi. Harga Cw dihitung berdasarkan
percobaan di laboratorium. Gambar 3.9. menunjukkan hubungan antara volume
filtrat kumulatif terhadap akar dari waktu hasil analisis di laboratorium, dimana
harga Cw merupakan kemiringan pada daerah linier.

Gambar 4.9.
Plot Hasil Laboratorium untuk Mencari Cw
(8)
dimana :
Cw = (0.0164) m/A
m = kemiringan
A = Luas core yang dipakai
180
Spurt = Fluida yang masuk pertama kali dalam jumlah relatif besar karena
bertemu media berpori sebelum terbentuknya filter cake. Spurt
time adalah waktu untuk mencapai bagian plot yang lurus.
Dari ketiga mekanisme diatas, maka besarnya koefisien leak-off total adalah
sebagai berikut :
C
tot
=
( ) { }
1/2
2 2 2 2 2
Cw Cμ 4Cc Cμ Cw Cw Cμ
Cw Cc Cμ 2
+ + +
………………....(4-17)
Adapun jumlah kehilangan fluida yang masuk ke dalam pori batuan dapat
ditentukan dengan persanmaan :
V = Vs + 2 C
tot
t …………………………………..…………..(4-18)
dimana : Vs = leak-off rate
4.2.3. Fluida Perekah dan Additive
Fluida yang dipakai dalam operasi perekahan hidrolik (hydraulic fracturing)
dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :
1. Water base fluid (Fluida Perekah dengan bahan dasar air)
2. Oil base fluid (Fluida perekah dengan bahan dasar minyak)
3. Emulsion base fluid / Acid Base Fluid (Fluida perekah dengan bahan dasar
asam).
Water Base Fluid
Dewasa ini penggunaan water base fluid sebagai fluida perekah semakin luas, dan
sepertiga dari sumur-sumur yang ada menggunakan water base fluid sebagai fluida
fracturing.
Beberapa keuntungan yang didapat adalah :
1. Tidak ada resiko kebakaran
2. Tersedia dalam jumlah yang banyak dan harganya murah
3. Dapat mengurangi terjadinya friction loss
4. Viskositasnya yang rendah, hal ini akan lebih mudah dalam pemompaan.
5. Specific gravity air yang tinggi akan memberikan kekuatan penopang yang
lebih besar pada propping agent
181
Oil Base Fluid
Oil base fluid digunakan sebagai fluida perekah mempunyai keuntungan
sebagai berikut :
1. Mempunyai viskositas yang tinggi sebagai sifat alamiahnya
2. Laju injeksi yang rendah untuk peretakan dangkal atau dalam
3. Dapat dijual kembali setelah pemakaian
Acid Base Fluid
Acid base fluid secara umum mengikuti pola dari water base fluid, beberapa
keuntungan yang diperoleh antara lain :
1. Reaksinya lamban
2. Tidak terlalu mahal
3. Viskositasnya tinggi dan mudah didapat
Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki oleh setiap fluida perekah adalah :
1. Stabil dan tidak menyebabkan kerusakan formasi
2. Mempunyai friction loss pemompaan yang rendah
3. Mampu membawa bahan pengganjal ke dalam rekahan yang dibuat.
Pada operasi perekahan hidrolik (hydraulic fracturing), proses
pemompaannya adalah sebagai berikut :
1. Prepad, yaitu fluida dengan viskositas rendah dan tanpa proppant, biasanya
minyak, air, dan atau foam dengan gel berkadar rendah atau friction reducer
agent, fluid loss additive dan surfactant atau KCl untuk mencegah damage, dan
ini dipompakan didepan untuk membantu memulai membuat rekahan.
Viskositas yang rendah dapat masuk ke matrik lebih mudah dan mendinginkan
formasi untuk mencegah degradasi gel.
2. Pad, yaitu fluida dengan viskositas lebih tinggi, juga tanpa proppant dipompakan
untuk membuka rekahan, melebarkan, dan mempertinggi rekahan sekaligus
mempersiapkan jalan bagi slurry yang membawa proppant. Viskositas yang
lebih tinggi mengurangi leak-off (kebocoran fluida meresap masuk ke formasi).
Pad diperlukan dalam jumlah cukup agar tidak terjadi terjadi 100 % leak-off
sebelum rekahan terjadi dan proppant ditempatkan.
182
3. Slurry dengan proppant, yaitu proppant dicampur dengan fluida kental, proppant
ditambahkan sedikit demi sedikit selama pemompaan, dan penambahan
proppant ini dilakukan sampai harga tertentu pada alirannya (tergantung pada
karakteristik formasi, sistem fluida, dan gelling agent). Berfungsi untuk
mengembangkan rekahan menjauhi sumur serta membawa proppant untuk
mengisi rekahan agar tidak menutup kembali setelah tekanan pemompaan
dikurangi.
4. Flush, yaitu fluida berupa cairan dasar yang dipompakan dibelakang slurry
dengan proppant, untuk mendesak slurry sampai dekat dengan perforasi,
viskositasnya tidak terlalu tinggi dengan friction yang rendah.
Dalam operasi perekahan hidrolik (hydraulic fracturing) suatu fluida
perekah harus menghasilkan friction yang kecil tetapi mempunyai viskositas yang
tinggi untuk dapat menahan proppant, dan dapat diturunkan kembali setelah operasi
dengan mudah. Dalam hal ini additive atau zat tambahan diperlukan untuk
mengkondisikan fluida perekah sesuai dengan kebutuhan. Adapun additive yang
perlu ditambahkan dalam fluida dasar adalah sebagai berikut :
1. Thickener, berupa polimer yang ditambahkan sebagai pengental fluida
dasar. Contohnya adalah guar, HPG (Hydroxypropyl Guar Gum), CMHPG
(Carboxymethyl Hydroxypropyl Guar), HEC (Hydroxyethylcellulose) dan
Xantan gum.
2. Crosslinker, (pengikat molekul agar rantai menjadi panjang) diperlukan
untuk meningkatkan viskositas dengan jalan mengikat satu molekul atau lebih
sehingga proppant yang dibawa tidak mengalami pengendapan (settling) serta
memperkecil leak-off fluida ke formasi. Fluida linier akan mengalami
penurunan viskositas karena kenaikan temperatur atau pertambahan shear.
Kalau viskositasnya kurang dari 100 cp dan 170 det
-1,
maka proppant akan
mengendap. Dalam beberapa hal viskositas bisa turun sampai 20 cp pada suhu
175
o
F, sehingga harus digunakan crosslink agent, yang biasanya organometalic
atau transition metal compounds yang biasanya borate, titan dan zircon. Metal
ini membentuk ikatan dengan rantai guar dan HPG menghasilkan polimer
183
dengan viskositas besar. Pada Tabel 4.1 berikut ini menunjukkan perbandingan
crosslink borate, titan, dan zircon.
Tabel IV.1.
Perbandingan Crosslink Borate, Titan, dan Zircon
(8)
Borate Zircon dan Titan
Crosslink cepat atau ditunda Crosslink cepat atau ditunda
Crosslink reversibel Crosslink permanen
Tidak degradasi karena shear Sensitif terhadap shear
Temperatur tinggi 225
o
F Temperatur tertinggi 325
o
F
Friksi tekanan besar Friksi tekanan kecil
pH = 8 - 10 pH variabel
Crosslink borate tidak sensitif terhadap shear (karena yang terlepas dapat terikat
kembali), maka di crosslink zircon maupun titan sekali terlepas tidak dapat
diregenerasi kembali. Karena itu keduanya hanya dipakai pada delayed
crosslink yaitu crosslink yang dibuat hanya di formasi, tidak dibuat di
permukaan atau di tubing yang mungkin akan memberikan shear di pompa,
pipa, dan lain-lain.
3. Buffer, (pengontrol pH) dimana pada pencampuran setempat, polimer dalam
bentuk powder ditambahkan dalam fluida dasar. Untuk dapat terpisah dengan
baik, pH harus berkisar 9, yang didapat dari pencampuran dengan basa seperti
NaOH, NH
4
OH, asam asetat, dan asam sulfamic (HSO
3
NH
3
).
4. Bactericides/biocides, (anti bakteri) dimana bakteri penyerang polimer
merusak ikatan polimer dan mengurangi viskositasnya, sehingga perlu
ditambahkan anti bakteri seperti glutaraldehyde, chlorophenate
squaternaryamines dan isothiazoline. Zat tersebut perlu ditambah ditanki
sebelum air ditambahkan, karena enzim yang terlanjur dihasilkan bisa memecah
polimer. Bactericides tidak dipergunakan apabila fluida dasarnya minyak.
5. Gelling agent, (pencampur gel) untuk menghindari menggumpalnya gel
(fish eye), seringkali gel dicampur terlebih dahulu dengan 5% methanol atau
184
isopropanol. Penggunaan zat ini bisa diperbesar kadarnya untuk formasi yang
sensitif.
6. Fluid Loss additive, fluid loss harus diperkecil. Untuk formasi homogen,
biasanya sudah cukup dengan filter cake yang terbentuk di dinding formasi.
Material yang umum dipakai antara lain : pasir 100-mesh, silica fluor (325-
mesh), baik untuk rekahan kecil alamiah (silica flour 200-mesh untuk rekahan
kecil < 50 micron dan 100-mesh untuk yang lebih besar >50 micron), Oil
Soluble Resins, Adomite Regain (Con Starch), Diesel 2-5 % (diemulsikan),
Unrefined Guar dan Karaya gums.
7. Breakers, untuk memecahkan rantai polimer sehingga menjadi encer
(viskositasnya kecil) setelah penempatan proppant agar produksi aliran minyak
kembali mudah dilakukan. Breakers harus bekerja cepat, konsentrasinya harus
cukup untuk mengencerkan polimer yang ada.
Untuk pemilihan fluida perekah yang sesuai, harus dipenuhi kriteria sebagai berikut
:
1. Memiliki harga viskositas cukup besar, yaitu 100 – 1000 cp pada
temperature normal.
2. Filtrasi yang terjadi jangan sampai menutup pori-pori batuan.
3. Stabil pada tekanan tinggi.
4. Tidak bereaksi dengan fluida reservoir, karena dapat menimbulkan endapan
yang menyebabkan terjadinya kerusakan formasi.
5. Tidak membentuk emulsi di dalam lapisan reservoir.
6. Viskositas cairan dapat berubah menjadi kecil setelah terjadinya perekahan,
sehingga mudah disirkulasikan keluar dari sumur.
7. Dari segi ekonomi harus memiliki harga yang relatif murah.
185

Gambar 4.10.
Petunjuk Pemilihan Fluida Perekah untuk Sumur Minyak (Economides)
(8)

Economides memberikan arahan mengenai pemilihan fluida perekah
berdasarkan temperatur formasi, sensitivitas terhadap air, permeabilitas, tekanan
reservoir, dan tinggi fracture, seperti terlihat pada Gambar 4.10.
4.3. Material Pengganjal (Proppant)
Proppant merupakan material untuk mengganjal agar rekahan yang
terbentuk tidak menutup kembali akibat closure pressure ketika pemompaan
dihentikan dan diharapkan mampu berfungsi sebagai media alir yang lebih baik
bagi fluida yang diproduksikan pada kondisi tekanan dan temperatur reservoir yang
bersangkutan. Pemilihan proppant akan menentukan konduktivitas (wkf), dimana :
Konduktivitas rekahan = Lebar rekahan x Permeabilitas
Sehingga semakin kontras permeabilitas di rekahan, akan semakin besar pula
produktivitas tanpa mengesampingkan segi ekonomis dalam pemilihan proppant
186
atau ukuran rekahan. Semakin keras formasinya, maka diperlukan proppant yang
makin keras. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan proppant antara
lain :
♦ Ukuran butir (granularitas)
♦ Distribusi (uniform)
♦ Kualitas (kandungan impurities)
♦ Derajat kebundaran dan kehalusan permukaan butirannya (roundness dan
sphericity)
4.3.1. Jenis Proppant
Beberapa jenis proppant yang umum digunakan sampai saat ini adalah pasir
alami, pasir berlapis resin (Resin Coated Sand), dan proppant keramik (Ceramic
Proppant).
1. Pasir Alami
Berdasarkan sifat-sifat fisik yang terukur, pasir dapat dibagi ke dalam kondisi
baik sekali, baik, dan dibawah standart. Golongan yang paling baik menurut
standart API adalah premium sands yang berasal dari Illinois, Minnesota, dan
Wisconsin. Biasanya disebut ‘Northern Sand”, “White Sand”, “Ottawa Sand”,
atau jenis lainnya misalnya “Jordan Sand”, dimana jenis-jenis ini memiliki ciri
well rounded, kadar quartz tinggi, sanggup menahan berat, SG = 2.65.
Golongan yang baik juga berasal dari Hickory Sandstone di daerah Brady,
Texas, yang memiliki warna lebih gelap daripada pasir Ottawa. Umumnya
disebut “Brown Sand”, “Braddy Sand”, atau “Hickory Sand”, dimana jenis-
jenis ini memiliki ciri angular, kadar quartz tinggi, sanggup menahan berat, SG
= 2.65 serta memiliki kelebihan harganya yang lebih murah dibanding pasir
Ottawa.
2. Pasir Berlapis Resin (Resin Coated Sand)
Lapisan resin akan membuat pasir memiliki permukaan yang lebih rata (tidak
tajam), sehingga beban yang diterima akan terdistribusi lebh merata di setiap
bagiannya. Ketika butiran proppant ini hancur karena tidak mampu menahan
beban yang diterimanya, maka butiran yang hancur tersebut akan tetap melekat
187
dan tidak tersapu oleh aliran fluida karena adanya lapisan resin. Hal ini tentu
saja merupakan kondisi yang diharapkan, dimana migrasi pecahan butiran (fine
migration) penyebab penyumbatan pori batuan bisa tereliminasi. Proppant ini
sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Pre-cured Resins
Berat jenisnya sebesar 2.55 dan jenis ini dibuat dengan cara pembakaran
alam proses pengkapsulan.
b. Curable Resins
Penggunaan jenis ini lebih diutamakan untuk menyempurnakan kestabilan
efek pengganjalan. Maksudnya adalah proppant ini dinjeksikan dibagian
belakang (membuntuti slurry proppant) untuk mencegah proppant mengalir
balik ke sumur (proppant flow back). Setelah membeku, proppant ini akan
membentuk massa yang terkonsolidasi dengan daya tahan yang lebih besar.
3. Proppant Keramik (Ceramic Proppant)
Proppant jenis ini dikelompokkan menjadi empat golongan sebagai berikut :
a. Keramik berdensitas rendah (Low Density Ceramic)
Jenis ini memiliki berat jenis hampir sama dengan pasir (SG = 2.7),
memiliki kemampuan untuk menahan tekanan penutupan (Clossure
pressure) sampai 6000 psi, serta banyak digunakan di Alaska.
b. Keramik berdensitas sedang (Inter mediate Ceramic)
Jenis ini lebih ringan dan lebih murah dibandingkan Sintered Bauxite,
memiliki specific gravity 3.65. Karena harganya yang mahal maka proppant
ini hanya digunakan untuk mengatasi tekanan yang benar-benar tinggi.
Proppant jenis ini mampu menahan tekanan sebesar 12000 psi, biasa
digunakan untuk temperature tinggi dan sumur yang sour (mengandung
H
2
S).
c. Resin Coated Ceramic
Suatu jenis baru yang merupakan kombinasi perlapisan resin dan butiran
keramik. Jenis ini terbukti memberikan kinerja yang lebih baik. Khusus
188
untuk resin coated proppant, variasi yang dimunculkan semakin banyak.
Resin Coated Ceramic memiliki ketahanan terhadap closure pressure
sebesar 15000 psi dan temperature hingga 450
o
F.
4.3.2. Spesifikasi Ukuran Proppant
Alasan pentingnya ukuran dan distribusi proppant dalam operasional
perekahan hidrolik (hydraulic fracturing), adalah :
♦ Bridging, agar bisa mulus maka dipakai patokan ukuran lebar rekahan
harus sekitar empat kali ukuran proppant
♦ Cocok dengan ukuran perforasinya
♦ Konduktivitas merupakan fungsi dari ukuran proppant
Gambar 4.11.
Bentuk Proppant yang Dibesarkan dengan Mikroskop
4)
4.3.3. Konduktivitas Rekahan
Sifat fisik proppant yang mempengaruhi besarnya konduktivitas rekahan
antara lain :
189
1. Kekuatan proppant , apabila rekahan telah terbentuk maka tekanan formasi
akan cenderung untuk menutup kembali rekahan tersebut yang dinotasikan
sebagai closure stress (stress yang diteruskan formasi kepada proppant pada
waktu rekahan menutup, yang besarnya = {(G
f
x D)-P
wf
}). Sehingga
proppant harus dapat menahan closure stress tersebut.
Kekuatan dari proppant sangat penting untuk obyek perekahan. Gambar
4.16. menunjukkan fines (butiran kecil pecahan proppant) yang terjadi
karena closure stress.
2. Ukuran proppant , dimana semakin besar ukuran proppant, biasanya
memberikan permeabilitas yang semakin baik.
Gambar 4.12.
Konduktivitas Bermacam-macam Ukuran Proppant Hickory
terhadap Closure Pressure
4)
3. Kualitas proppant , dimana prosentase kandungan impurities yang besar
dapat memberikan pengaruh pada proppant pack.
Kualitas proppant buruk bila banyak impuritis-nya (zat tambahan yang
mengotori). Adanya carbonate, feldspar, atau oksida besi di proppant akan
berakibat merusak konduktivitas. Gambar 4.13. menunjukkan pengaruh
dari kontaminasi feldspar pada konduktivitas. Untuk proppant berukuran
6/20 sampai 30/50, maksimum kelarutan didalam menurut API maksimum
harus 2%.
190
Gambar 4.13.
Pengaruh Kandungan Feldspar pada Konduktivitas
4)
4. Bentuk butiran proppant , semakin bulat dan halus permukaannya, semakin
tahan tekanan.
Bentuk butiran proppant (proppant grain shape) yang ditentukan oleh
roundness (halusnya permukaan) dan sphericity (bulatnya butiran) yang
sangat penting tergantung dari closure stress-nya. Karena stress permukaan
akan merata pada bentuk yang bulat, halus, maka pada harga stress tinggi,
makin halus/bulat, maka makin tahan tekanan, sehingga konduktivitas akan
tetap tinggi. Roundness dan sphericity ditentukan oleh skala Krumbein
(Gambar 4.14.), misalnya 0,7 R dari skala tersebut adalah lebih baik dari
0,6 R.
191
Di industri perminyakan umumnya R dan S untuk Krumbein Shape Factor
diambil minimum 0,6 untuk pasir alamiah dan 0,7 untuk pasir industri
(buatan).
Gambar 4.14.
Faktor Bentuk Krumbein (Shape Factor)
4)
Gambar 4.15. menunjukkan pengaruh roundness pada konduktivitas rekahan.
192
Gambar 4.15.
Pengaruh Roundness terhadap Konduktivitas
4)
5. Konsentrasi (densitas) proppant , yang akan berpengaruh dalam transportasi
proppant dan penempatannya dalam rekahan, dimana proppant dengan
densitas yang tinggi akan membutuhkan fluida berviskositas tinggi untuk
mentransport ke dalam rekahan.
Gambar 4.16.
Pengaruh Closure Stress terhadap Bermacam-macam Jenis dan
Ukuran Proppant Saat Terjadinya Fines
4)
Kekuatan dari proppant sangat penting untuk obyek perekahan. Gambar
4.16. menunjukkan fines (butiran kecil pecahan proppant) yang terjadi karena
closure stress.
5. Bentuk Butiran Proppant
Bentuk butiran proppant (proppant grain shape) yang ditentukan oleh
roundness (halusnya permukaan) dan sphericity (bulatnya butiran) yang sangat
penting tergantung dari closure stress-nya. Karena stress permukaan akan merata
pada bentuk yang bulat, halus, maka pada harga stress tinggi, makin halus/bulat,
maka makin tahan tekanan, sehingga konduktivitas akan tetap tinggi. Roundness
dan sphericity ditentukan oleh skala Krumbein (Gambar 4.17.), misalnya 0,7 R
dari skala tersebut adalah lebih baik dari 0,6 R.
Di industri perminyakan umumnya R dan S untuk Krumbein Shape Factor
diambil minimum 0,6 untuk pasir alamiah dan 0,7 untuk pasir industri (buatan).
193
Gambar 4.17.
Faktor Bentuk Krumbein (Shape Factor)
4)
Gambar 4.18. menunjukkan pengaruh roundness pada konduktivitas rekahan.
Gambar 4.18.
194
Pengaruh Roundness terhadap Konduktivitas
4)
Gambar 4.19.
Bentuk Proppant yang Dibesarkan dengan Mikroskop
4)
Roundness dapat memberi pengaruh pada stress yang tinggi dan mungkin
tidak pada stress rendah. Sebagai contoh, Brady sand kurang bulat dibanding
Ottawa, tetapi lebih baik konduktivitasnya pada closure stress d ibawah 5000 psi,
tetapi Ottawa akan lebih baik konduktivitasnya daripada Brady kalau stress di atas
5000 psi. Gambar 4.19. menunjukkan pembesaran dari pasir Brady, Ottawa,
Carbo-Prop, Carbolite, Interprop plus, dan LWP plus.
Kelima faktor tersebut sebelumnya adalah faktor-faktor yang jelas,
sedangkan faktor-faktor lain sebagai tambahan yang dianggap turut mempengaruhi
konduktivitas suatu rekahan yaitu:
1. Embedment
Jika proppant melesak masuk ke formasi, hal ini disebut embedment, dan
akan mengurangi konduktivitas. Selain itu juga menyebabkan fines terbentuk dari
pecahan formasi. Embedment adalah fungsi dari kekuatan proppant maupun
kekerasan formasi. Formasi lunak dengan proppant yang sangat keras akan jelek
195
pengaruhnya. Pengujian pada formasi dapat dilakukan dengan penctometer test
ball-point tetapi hasilnya kurang memuaskan.
Dalam program komputer biasanya untuk standar proppant di formasi 2
lb/ft
2
maka embedment dianggap 0,2 lb/ft
2
= ½ diameter kadar butiran disetiap sisi
rekahan.
2. Environmental Effect (Pengaruh Lingkungan)
Stress formasi dapat menyebabkan hancur/pecahnya proppant atau erosi
formasinya sendiri karena bergesekan dengan proppant. Embedment juga dapat
menimbulkan stress. Selain itu ada juga pelarutan silika misalnya pada glass bead.
Juga untuk jangka waktu yang panjang, permeabilitas rekahan dapat menurun, baik
karena waktu atau temperatur. Misalnya pada 8000 psi dan 275°F, Ottawa sand
dapat turun permeabilitasnya dari 41 darcy ke 0,32 kali yaitu tinggal 13 darcy
dalam 100 jam.
3. Kualitas Proppant
Kualitas proppant buruk bila banyak impuritis-nya (zat tambahan yang
mengotori). Adanya carbonate, feldspar, atau oksida besi di proppant akan
berakibat merusak konduktivitas. Gambar 4.20. menunjukkan pengaruh dari
kontaminasi feldspar pada konduktivitas. Untuk proppant berukuran 6/20 sampai
30/50, maksimum kelarutan didalam menurut API maksimum harus 2%.
196
Gambar 4.20.
Pengaruh Kandungan Feldspar pada Konduktivitas
4)
4. Residu Fluida Perekah
Pori-pori dari batuan formasi sering tertutup oleh residu dari fluida perekah
bahan dasar air (water based fluid). Hal ini kadang-kadang dapat menyebabkan
pengurangan secara drastis dari produktivitas formasi. Hal ini terutama bila kadar
residu polymer tinggi, kalau konsentrasi polymer tinggi. Di sini dapat dijelaskan
bahwa bila konsentrasi polymer tinggi, misalnya dari pengujian diketahui bahwa
pada titanate crosslink HPG, permeabilitasnya akan turun dari 51% ke 34% dari
keadaan awal 100%. Bila HPG-nya dinaikan dari 40 ke 50 lb/1000 gal, konsentrasi
proppant direkahan akan rendah dan stress di rekahan akan relatif tinggi sehingga
porositas rekahan akan berkurang. Residu terutama terbentuk dari degradasi
polymer yang digunakan untuk menaikkan viskositas. Juga adanya fluid loss di
mana polymer-nya tertinggal di bagian belakang sehingga konsentrasi polymer
197
tersebut akan naik, yakni bisa mencapai lima sampai tujuh kali. Selain itu bisa
disebabkan oleh adanya filter cake yang jenuh dengan polymer. Di sini penggunaan
breaker yang tepat dapat mengurangi pengaruh residu tersebut.
Secara umum, pengurangan konduktivitas sedemikian sehingga
mengakibatkan sisa permeabilitas :
• X/L gels tersisa : 10 - 50 %
• Linear gels tersisa : 45 - 70 %
• Emulsi tersisa : 65 - 80 %
• Foam tersisa : 80 %
Gambar 4.21. memperlihatkan persen dari permeabilitas yang dapat dicapai
untuk penggunaan bermacam-macam fluida perekah dan Jordan sand dengan
breaker.
Gambar 4.21.
% Permeabilitas yang Dapat Dicapai oleh Bermacam-macam
Fluida Perekah dan Proppant Jordan 20/40
4)
Sedangkan Gambar 4.22. dan menunjukkan konduktivitas sebagai fungsi
dari placement fluid (fluida perekah-nya dan breaker-nya).
198
Gambar 4.22.
Konduktivitas sebagai Fungsi dari Fluidanya
4)
5. Pengaruh "Lingkungan" Lainnya
Kenaikan stress pada proppant dengan waktu karena tekanan reservoir yang
turun akibat produksi fluida hidrokarbon, dapat menyebabkan mengecilnya
konduktivitas. Pengaruh lain adalah adanya pengasaman di mana walaupun asam
HCl tidak merusak proppant, tetapi mud acid dapat merusak kebanyakan pasir dan
keramik. Temperatur yang tinggi atau air garam yang korosif akan dapat
merugikan, jadi di sini tergantung proppant dan sifat kimia fluidanya.
Berdasarkan semua hal di atas, maka dalam prakteknya, konduktivitas yang
diberikan oleh banyak publikasi (termasuk oleh perusahaan servis) setelah
dilakukan koreksi tekanan masih hasus dikurangi dengan 50 - 60%. Jadi misalnya
harga konduktivitas rekahan = 5000 md-ft maka hanya menjadi sekitar 2000 - 2500
md-ft.
4.3.4. Transportasi Proppant
199
Penempatan proppant dalam rekahan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti
kecepatan pengendapan proppant (settling), waktu penempatan pad dan proppant,
serta tinggi maksimum ruang rekahan yang dapat ditempati proppant.
Secara matematis perhitungan untuk faktor-faktor di atas adalah sebagai berikut :
1. Kecepatan pengendapan proppant (v
set
) :
( )
( )
n'
1
f p p
p set
1 2n' 72.K'.
. n'.d 3
d .
n' 108
1 n' 2
v

,
_

¸
¸
+

,
_

¸
¸ +
·
ρ ρ
.....................................................(4-19)
2. Waktu pengendapan proppant (t
set
) :
Adalah waktu mengendapnya proppant didalam rekahan.
set
f
set
60.v
h
t ·
.......................................................................................(4-20)
3. Tinggi maksimum pengendapan proppant (h
fp
)
2
t . v
h h
prop set
f fp
− · ............................................................................(4-21)
4.4. Model Geometri Perekahan
Untuk menghitung pengembangan rekahan, diperlukan prinsip hukum
konversi momentum, massa dan energi, serta kriteria berkembangnya rekahan, yang
berdasarkan interaksi batuan, fluida dan distribusi energi.
Secara umum model geometri perekahan adalah:
1. Model perekahan dua dimensi (2-D)
Tinggi tetap, aliran fluida satu dimensi (1-D)
2. Model Perekahan pseudo tiga dimensi (P-3-D)
Perkembangan dengan ketinggian bertambah, aliran 1 atau 2D
3. Model 3 dimensi (3-D)
Perluasan rekahan planar 3D, aliran fluida 2D
Dalam penjelasan di sini hanya akan dibicarakan model perekahan 2D,
karena masih bisa dipecahkan secara manual dengan bantuan matematika atau
grafis. 3D memerlukan komputer canggih atau PC yang canggih tetapi
membutuhkan waktu agak lama (dan butuh data yang lengkap mengenai stiffness
200
matrix, variasi stress, dan lain-lain) sedangkan model software P3DH bisa untuk PC
dan dijual oleh beberapa perusahaan antara lain oleh SSI, Meyer & Assoc.
Intercomp, Holditch & Assoc., NSI Technologies Inc dan beberapa yang lain adalah
yang paling umum dipakai saat ini.
Di bawah ini akan dibicarakan tiga model dimensi perekahan, yakni :
1. Howard & Fast (Pan American) serta diolah secara metematika oleh Carter
2. PKN atau Perkins, Kern (ARCO) & Nordgren
3. KGD atau Kristianovich, Zheltov (Russian Model ) lalu diperbaharui oleh
Geertsma dan de Klerk (Shell).
1. PAN American Model
Howard dan Fast memperkenalkan metode ini yang kemudian dipecahkan
secara matematis oleh Carter. Untuk lebih jelasnya terlihat pada Gambar 4.23.
Untuk menurunkan pesamaannya maka dibuat beberapa asumsi :
a. Rekahannya tetap lebarnya
b. Aliran ke rekahan linier dan arahnya tegak lurus paa muka rekahan.
c. Kecepatan aliran leak-off ke formasi pada titik rekahan tergantung dari
panjang waktu pada mana titik permukaan tsb mulai mendapat aliran.
d. Fungsi kecepatan v = f(t) sama untuk setiap titik di formasi, tetapi nol pada
waktu pertama kali cairan mulai mencapai titik tersebut.
e. Tekanan di rekahan adalah sama dengan tekanan di titik injeksi di formasi,
dan dianggap konstan.
201
Gambar 4.23.
Skematis Model Carter
(8)
Dengan asumsi tersebut Carter menurunkan persamaan untuk luas bidang
rekah satu sayap :
( )
1
1
]
1

¸

− +

,
_

¸
¸
· 1
W
t 4C
W
t π 2c
erfc e
4ππ
W q
A(t)
2
W πt 2c
2
i
…………....……..(4-22)
atau
( )
1
]
1

¸

− + · 1
π
2x
x erfc e
4ππ
W q
A(t)
2
x
2
i
………………………..…………(4-23)
dimana:
w t C x π 2 · ,
A(t) = luas, ft
2
untuk satu sisi pada waktu t
q = adalah laju injeksi, cuft/men,
W = lebar rekahan, ft,
t = waktu injeksi, menit dan
C = total leak off coeffisient
2. PKN dan KGD
PKN adalah model pertama dari 2D yang banyak dipakai dalam analisa
setelah tahun 1960-1970. Metode ini digunakan bila panjang (atau dalam) rekahan
jauh lebih besar dari tinggi rekahan (x
f
>>h
f
). Apabila sebaliknya, dimana tinggi
rekahan jauh lebih besar dari kedalamannya (x
f
<<h
f
) maka metode KGD-lah yang
harus dipilih. Sebenarnya ada bentuk lain yang disebut radial atau “berbentuk mata
202
uang logam”(penny shape) kalau x
f
= h
f
, tetapi jarang dipakai. Gambar
4.24.menunjukkan skematik dari geometri model PKN.

Gambar 4.24
Skematik dari Pengembangan Linier Perekahan
Menurut Metode PKN
(2)

Dalam Persamaan harga E sering diganti dengan G, yaitu Modulus Shear
Elastis yang hubungannya dengan Modulus Young adalah :
( ) v 1 2
E
G
+
·
…………......................................................................(4-24)
Gambar 4.25.menunjukkan skematik dari geometri model KGD.Tabel 4.2.
menunjukkan persamaan-persamaan yang dibuat berdasarkan metode PKN dan
KGD serta Tabel 4.3. menunjukkan harga dari koefisien-koefisien pada persamaan
tersebut apabila dilakukan perhitungan dengan metode matrik, misalnya panjang h,
L, w dalam meter, sedangkan bila dalam satuan ft, maka harus dibagi dengan 3.28.
203

Gambar 4.25
Skematik dari Pengembangan Linier Perekahan
Menurut Metode KGD
(2)
Tabel IV.2.
Persamaan-persamaan untuk Mencari Panjang Rekahan L,
Lebar Rekahan Maksimum w, dan Tekanan Injeksi p dan
dianggap Laju Injeksi Konstan
(8)
Model
Geometri
L(t) W(0,t) ρ(0,t) - σ
H
Model PKN
5 / 4
5 / 1
4
f
3
o
1
t
h ) v 1 (
q G
C
1
1
]
1

¸

µ −
5 / 4
5 / 1
f
2
o
2
t
Gh
q ) v 1 (
C
1
1
]
1

¸

µ −
4 / 1
3
3
o
f
3
) v 1 (
L Gq
H
C
1
1
]
1

¸


µ
Model KGD
3 / 2
4 / 1
3
f
3
o
4
t
h ) v 1 (
q G
C
1
1
]
1

¸

µ −
3 / 1
4 / 1
3
f
3
o
5
t
Gh
q ) v 1 (
C
1
1
]
1

¸

µ −
4 / 1
2 3
3
f o
f
4
L ) v 1 (
h Gq
H 2
C
1
1
]
1

¸


µ
Tabel IV.3.
Harga C1 sampai C6 pada Tabel 4.

2.
(8)
204
Model
Geometri
C
Satu
Sayap
Dua
Sayap
PK
C1 0.60 0.395
C2 2.64 2.00
C3 3.00 2.52
PKN
C1 0.68 0.45
C2 2.50 1.89
C3 2.75 2.31
KGD
C1 0.68 0.48
C2 1.87 1.32
C3 2.27 1.19
Kedua metode geometri perekahan tersebut menganggap bahwa tinggi
rekahan sama panjang dengan tebal reservoir. Peter Valko dan Economides
memberikan solusi untuk bentuk PKN dan KGD dengan mempertimbangkan
pengaruh kombinasi fluida non-newtonian dan adanya fluid-loss (laminar).
Penurunannya menggunakan harga viskositas apparent pada fluida non-
newtonian. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut :
1
]
1

¸

− +

,
_

¸
¸
+

· 1
2
) ( )
2
exp(
2
4
2
π
β
β β
π
erfc
L
C
f
h
i
q
p
S w
f
x
..................................(4-25)
dimana :
p
S w
t
L
C
2
2
+

·
π
β
...........................................................................................(4-26)
x
f
= panjang satu sayap rekahan, m
S
p
= spurt loss, m
C
L
= koefisien fluid loss, m/det
1/2
t = waktu, detik
q
i
= laju injeksi, m
3
/det
h
f
= tinggi rekahan di sumur, m
w
(0)
= lebar rekahan di sumur, m
205
n’ = flow behaviour index
E’ = plain strain modulus, Pa

w
= lebar rekahan rata-rata, m
K’ = consistency index, Pa detik
½
Untuk PKN :
( )
2) n' 2 (
1
'
f
x .
n' 1
f
h .
n'
i
q
2) (2n'
1
K'
2) (2n'
n'
n'
n' 14 . 2 1
2) (2n'
n'
98 . 3
2) n' 2 (
1
15 . 9
) 0 (
+
1
1
]
1

¸

+
×
+
1
]
1

¸
+
+
×
+
·
E
w
...................................................................................................................(4-27)
Dengan asumsi bahwa shape faktor :

w
= π/5 w
(0)
......................................(4-28)
Dan P
net
= ∆P
f
=
)
f
(2h
(0)
w E'

,
_

¸
¸
........................................................................(4-29)
Untuk KGD :
( ) ( )
2) n' 2 (
1
' .
n'
f
h
2
f
x .
n'
i
q 2 2n'
1
' K
2 n' 2
n'
n'
n' 2 1
2 2n'
n'
24 . 3
2 n' 2
1
1 . 11
) 0 (
+
1
1
]
1

¸

+
×
+
1
]
1

¸
+
+
×
+
·

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
E
w
.............................................................................................................(4-30)
Dengan asumsi shape faktor :

w
= π/4 w
(0)
.................................................(4-31)
Dan P
net
= ∆P
f
=
( )
f
4x
(0)
w E'
.........................................................................(4-32)
Tabel IV.4.
Harga Fungsi untuk Persamaan Mark-Langenheim untuk Term Fluid Loss
(8)
206


Persamaan-persamaan baik untuk PKN maupun KGD harus diselesaikan secara
coba-coba (trial error) karena harga

w
dan x
f
harus dihitung bersamaan.
207
4.5. Pelaksanaan Hydraulic Fracturing
Hydraulic fracturing berhubungan dengan pemakaian fluida bertekanan
yang digunakan untuk merekahkan batuan reservoir atau menghubungkan rekahan-
rekahan yang sudah ada sebelumnya (rekahan alami). Setelah batuan atau formasi
rekah, diteruskan dengan pemakaian fluida bertekanan untuk memperbesar rekahan.
Akhirnya terbentuk rekahan baru dan saluran untuk aliran fluida yang lebih besar.
Rekahan ini mungkin bergabung dengan rekahan alami yang sudah ada sebelumnya
sehingga menambah luas daerah pengurasan reservoir.
Dengan tekanan tinggi, fluida dilanjutkan masuk dalam formasi batuan
untuk membentuk rekahan selanjutnya. Lanjutan perekahan ini sampai ke formasi
yang lebih dalam. Fungsi pertama kali fluida perekah yang masuk ke dalam rekahan
adalah sebagai pengisi untuk memecah dan menyangga rekahan. Untuk mencegah
agar rekahan tidak menutup pada saat pompa dihentikan, diharuskan menambah
material pengganjal (proppant) ke dalam fluida perekah. Material pengganjal akan
menjaga rekahan tetap terbuka setelah pekerjaan pemompaan dilakukan sehingga
rekahan akan lebih mempermudah aliran minyak atau gas menuju lubang bor.
4.5.1. Pemompaan Fluida Perekah
Pada pekerjaan hydraulic fracturing digunakan empat macam fluida perekah
yang mempunyai komposisi yang berbeda berdasarkan fungsinya. Fluida-fluida
tersebut adalah prepad, pad, slurry, dan flush fluid yang dipompakan ke dalam
sumur dengan urutan sebagai berikut :
1) Prepad, yaitu fluida dengan viskositas rendah dan tanpa proppant, biasanya
berupa minyak, air, atau foam, dengan gel berkadar rendah atau friction reducer
agents, fluid loss additive, dan surfactant atau KCl, untuk mencegah damage,
dan ini dipompakan di bagian paling depan untuk membantu memulai membuat
rekahan. Viskositas yang rendah dapat lebih mudah masuk ke matriks batuan
dan selanjutnya mendinginkan formasi untuk mencegah degradasi gel. Tetapi
prepad tidak dipakai untuk temperatur relatif reservoir yang rendah ataupun
gradien rekah relatif-nya rendah.
208
2) Pad, fluida dengan viskositas yang lebih tinggi, juga tanpa proppant,
dipompakan untuk membuka rekahan dan membuat persiapan awal agar lubang
dapat dimasuki slurry dengan proppant. Viskositas yang lebih tinggi dapat
mengurangi leak-off, yakni kebocoran fluida karena meresap masuk ke dalam
formasi. Pad diperlukan dalam jumlah yang cukup agar tidak terjadi 100%
leak-off sebelum rekahan terjadi dan proppant ditempatkan. Kemungkinan
screen-out premature yakni kemacetan injeksi proppant karena fluidanya hilang
secara prematur, dapat dikurangi dengan menaikan laju injeksi, volume pad atau
efisiensi sistem fluida. Volume pad dilaporkan sebagai prosentasi dari total
slurry dengan proppant yang umumnya 25 - 45% namun bisa lebih tinggi lagi
untuk pekerjaan di mana terdapat rekahan alamiah sehingga screen-out sangat
mungkin terjadi. Walaupun demikian, bila terlalu banyak pad akan
membutuhkan banyak air, biaya, maupun dapat menyebabkan formation
damage.
3) Slurry, dimana proppant dicampur dengan fluida kental. Proppant akan
ditambahkan sedikit demi sedikit selama pemompaan pada fluida kental, dan
penambahan proppant ini dilakukan sampai harga tertentu pada alirannya,
tergantung dari karakteristik formasi, sistem fluida, dan gelling agent. Pekerjaan
yang efisien adalah dapat menempatkan banyak proppant dengan fluida perekah
minimum sehingga biayanya akan rendah.
4) Flushing, yaitu fluida untuk mendesak slurry sampai mendekati perforasi,
dan merupakan fluida dengan viskositas yang tidak terlalu tinggi (seperti
prepad) dengan tingkat friksi yang rendah.
Selama masuk ke formasi, fluida akan mengalami leak-off yaitu fluida bocor
dan meresap ke dalam formasi. Karena prepad viskositas-nya rendah maka akan
banyak yang meresap, sedangkan pad juga akan meresap walaupun tidak sebesar
prepad. Leak-off terutama terjadi pada ujung rekahan. Makin lama maka akan
makin banyak prepad atau pad yang masuk ke formasi sehingga fluida yang berada
di belakangnya yang menyusul yang juga akan mengalami leak-off, akan naik kadar
proppant-nya. Di sini dapat dikatakan bahwa dengan mendekati tip (ujung)
rekahan, maka kadar proppant akan mendadak naik tinggi.
209
Karena adanya gaya gravitasi, maka proppant akan turun ke bawah
(settling) di mana akan bergantung pada viskositas, ukuran proppant, serta densitas
fluida atau proppant. Untuk fluida yang encer di mana proppant akan banyak turun
ke bawah, maka kenaikkan kadar proppant di bagian ujung rekahan tidak begitu
tinggi seperti halnya bila fluidanya kental. Pada fluida kental ini proppant dapat
ditransport sampai jauh ke dalam rekahan.
Pada perekahan hidrolik diinginkan agar proppant padat seragam dengan
konduktivitas yang maksimum. Selain itu distribusinya harus merata di seluruh
rekahan dan proppant tetap di cairan sampai rekahan menutup. Adanya proppant
yang mengendap sebelum sampai ke tempatnya, atau membentuk bank yaitu bukit
proppant yang macet karena mengendap, tidak dapat bergerak jauh dengan
distribusi tidak merata sangat tidak diinginkan pada proyek perekahan hidrolik ini.
Ada dua mekanisme yang mempengaruhi hal-hal tersebut di atas, yaitu :
1. Transportasi horizontal oleh aliran fluida perekah.
2. Settling vertikal karena perbedaan densitas antara fluida dan proppant.
Sedangkan pengaruh dari settling proppant adalah :
1. Menyebabkan adanya daerah yang bersih dari proppant pada
bagian puncak rekahan, yakni hanya terisi fluida rekahan (clean fluid).
2. Menyebabkan adanya daerah dengan konsentrasi proppant yang
tinggi di bagian tengah rekahan (slurry)
3. Mungkin terjadi bukit pengendapan proppant (bank) di dasar
rekahan.
Gambar 4.26. memperlihatkan skematika dari ketiga hal tersebut di atas.
Gambar 4.26.
Skema Pengendapan Proppant
4)
210
4.5.2. Analisa Tekanan Perekahan
Hydraulic fracturing adalah suatu proses yang rumit karena menyangkut
banyak hal seperti aliran fluida, sifat fluida, batuan, proppant, dan lain-lain serta
bentuk/ geometri rekahan yang tidak diketahui secara pasti. Hasil pengukuran
tekanan dan selama perekahan berlangsung dapat dipakai untuk memberikan
beberapa kesimpulan yang dapat digunakan untuk evaluasi selama atau sesudah
pekerjaan tersebut (misalnya: hasil rekahannya bagaimana, apakah kadar proppant
perlu dinaikkan atau tidak, dan sebagainya) maupun untuk pekerjaan dimasa
mendatang, yaitu untuk mendapatkan parameter sehingga pekerjaan hydraulic
fracturing selanjutnya dapat lebih baik. Gambar 4.27. memperlihatkan hasil umum
dari plot tekanan versus waktu pada suatu proses injeksi perekahan. Analisa tekanan
lebih mudah diinterpretasikan kalau aliran fluida perekahnya konstan, tanpa ada
perkembangan rekahan yang dipercepat, formasinya homogen, tanpa ada proppant
bridging, atau ada rekahan alamiah, terbukanya perforasi yang tadinya ada sebagian
yang tertutup atau bercabangnya rekahan dan sebagainya. Dalam analisa tekanan ini
juga akan dapat dideteksi apakah rekahannya bergerak secara PKN atau KGD atau
radial (jarang). Dalam beberapa hal, adanya proppant bridging atau pecahnya
rekahan baru dari yang sudah ada dapat juga ditentukan dari analisa tekanan.
Gambar 4.27. menunjukkan suatu treatment pada formasi gas sandstone
yang keras (tight) setebal 40 ft. Dalam gambar tersebut ditunjukkan semua fase dari
tekanan, yaitu selama pemompaan, penurunan tekanan dengan tertutupnya rekahan,
waktu pada saat proppant terhimpit, dan pressure fall-off karena fluid loss. Closure
pressure, Pc, juga tercatat di situ. Kelakuan tekanan selama pemompaan adalah
sama dengan Gambar 4.28. (stage 2 dan 3) dan dapat diinterpretasikan dengan
jalan yang sama. Penurunan tekanan stage 1 tidak akan terlihat di situ (pada
Gambar 4.27.) karena waktunya relatif singkat dan kebetlan lapisan tidak cukup
tebal. Tekanan yang hampir konstan pada 1 jam terakhir pemompaan (45-46)
menunjukkan penembusan barier. Net pressure sekitar 1000 psi, berarti perbedaan
stress dengan barier juga sekitar 1000 psi. Setelah injeksi, terjadi penurunan tekanan
waktu rekahan menutup karena fluida loss ke formasi, laju penurunan tekanan
211
sebanding dengan loss-nya. Titik di mana proppant mulai tertekan dapat dilihat dari
defleksi penurunan tekanan. Harga ini adalah sekitar 1/8 (x net pressure) di bawah
fracture close on proppant, ΔP
prop
dan makin kecil harga ini maka makin banyak
proppantnya (rekahan hanya tertutup sedikit). Setelah rekahan menutup, penurunan
tekanan tergantung hanya pada tekanan transient reservoir dan akhirnya tekanan
akan mencapai tekanan reservoirnya.
Gambar 4.27.
Kelakuan Tekanan Pada Umumnya Pada Hydraulic Fracturing
10)

Persamaan Dasar
Pada Gambar 4.27. terlihat kelakuan tekanan dimulai pada injeksi fluida
treatment dan dilanjutkan dengan penghentian pemompaan (ISIP=Initial Shut-In
Pressure) di mana dari sini akan dimulai penurunan tekanan sampai rekahan mulai
menutup bersamaan dengan fluid loss, sampai rekahan sudah tertutup (fracture
closes) dan fluid loss masih berlanjut dengan laju penurunan tekanan yang berlainan
hingga menuju ke tekanan reservoirnya. Baik pada kenaikan tekanan pada waktu
injeksi maupun grafik penurunan selama penutupan rekahan dan penurunan
tekanan, telah dianalisa secara kualitatif maupun kuantitatif yang terutama
212
dilakukan oleh Nolte
10)
. Dalam Gambar 4.27. tersebut kenaikan tekanan sebentar
pada waktu rekahan mulai pecah tidak terlihat karena waktunya amat singkat.
Harga closure pressure adalah harga rata-rata stress minimum di mana rekahan
terjadi dan harganya sedikit di bawah titik defleksi (fracture closes on proppant)
karena proppant masih termampatkan sampai berhenti dan tekanan ini disebut
Pc=σ
c

min
. Net Pressure (ΔP
f
) adalah suatu harga tekanan di depan rekahan di atas
minimum pressure untuk menyebabkan rekahan tetap terbuka yang dirumuskan
sebagai:
ΔP
f
= P
net
= p
f
- σ
c
.............................................................................. (4-33)
di mana p
f
adalah BHTP (Bottom Hole Treating Pressure) dan σ
c
atau sering
disebut Pc merupaka datum atau referensi dari analisa tekanan (sebagai analogi
yang dalam PBU (DST,UKL) disebut Pi atau initial pressure). Bila ΔP
f
’ adalah
tekanan rata-rata dari maksimum tekanan di sumur sampai di tip rekahan (ujung
rekahan), maka Nolte memperkenalkan variabel β (fluid flow gradient) di mana:
β = ΔP
f
’/ ΔP
f
.......................................................................................(4-34)
di mana ΔP
f
’=p
f
’- Pc dan p
f
’ adalah tekanan rata-rata di dalam rekahan. Nolte juga
memperkenalkan batasan rekahan, c
f
(fracture compliance) yang dihubungkan
dengan lebar rekahan ( w ) di mana:
( ) Pc p c P c w
f f f f
− · ∆ ·
...................................................................(4-35)
dan
( )
¹
¹
¹
'
¹

·
radial untuk
KGD untuk X
PKN untuk h
E
c
f
f
f
2
3 32
2
2
π
πβ
........................................................(4-36)
di mana : E’ adalah kekenyalan batuan dan (32/3π
2
)≈1
Persamaan (4-36) digunakan dengan syarat bila X
f
/ h
f
>0.67 maka menggunakan
model PKN, bila <0.39 maka menggunakan KGD, dan bila dalam range 0.4-0.662
maka menggunakan model radial. Nolte juga memberikan pendekatan harga β
213
untuk Persamaan (4-37) yaitu untuk saat di mana pompa telah dihentikan dan
rekahan mulai menutup.
( ) ( )
¹
¹
¹
'
¹ + + ′ + ′
·
Radial
KGD
PKN a n n
32 3
9 . 0
3 2 2 2
2
π
β
..................................................(4-37)
di mana n’ = flow behavior index dan a = tingkat degradasi dari viskositas polymer
dari sumur sampai tip rekahan karena shear maupun panas, untuk viskositas konstan
a=0, untuk variasi linier a=1 (secara efektif viskositas dianggap nol di tip).
Tekanan Selama Pemompaan
Persamaan untuk interpretasi tekanan selama pemompaan diturunkan oleh
Nolte sebagai berikut :
( )
n
f
i
n
f f
h
q
P c
K
dx dp

+ ′

,
_

¸
¸



1 2
..............................................................(4-38)
Bila diintegrasikan dengan Pc dianggap konstan, maka:
( ) 2 2
1
1 2
+ ′ ′
+ ′
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸

≈ ∆
n
f
n
f
i
n
f
f
X
h
q
c
K
P .......................................................(4-39)
dengan memasukkan faktor compliance,c
f
, untuk ketiga model pada Persamaan
(4-36) dengan untuk radial, R = X
f
= 0.5 hydraulic fracturing maka :
Untuk :
PKN : ( )
( )
( ) 2 2
1
1 3
2 2
1
1 2
+ ′
+ ′
+ ′

+ ′
1
1
]
1

¸

′ ∞ ∆
n
n
f
f
n
n
i
n
f
h
X
q K E P ........................ (4-40)
KGD : ( )
( )
( ) 2 2
1
2
2 2
1
1 2
1
+ ′
′ ′
+ ′

+ ′
1
1
]
1

¸

′ ∞ ∆
n
n
f
n
f
n
n
i
n
f
X h
q K E P ..................(4-41)
Radial : ( )
( )
( ) 2 2
1
3
2 2
1
1 2
1
+ ′

+ ′

+ ′
1
]
1

¸

′ ∞ ∆
n
n
n
n
i
n
f
R
q K E P ........................ (4-42)
214
Sedangkan karena lebar rekahan,
f f
P c w ∆ ·
, maka dengan mengalikan bagian
kanan dari Persamaan (4-40), (4-41), (4-42) dengan harga c
f
untuk masing-masing
model akan menghasilkan :
PKN :
( )
[ ]
( ) 2 2
1
1
2 2
1
+ ′
′ −
+ ′ ′

,
_

¸
¸ ′

n
f
n
f
n n
i
X h
E
q K
w ............................... (4-43)
KGD :
( )
( ) 2 2
1
2
2 2
1
+ ′

+ ′ ′
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸ ′

n
n
f
f
n n
i
h
X
E
q K
w ……………………….(4-44)
Radial :
( )
[ ]
( ) 2 2
1
2
2 2
1
+ ′
′ −
+ ′ ′

,
_

¸
¸ ′

n
n
n n
i
R
E
q K
w ……………………….(4-45)
Pada semua persamaan di atas, untuk semua model tekanan dan lebar
rekahan tergantung pada rheologi fluida perekah (consistency index K’ dan flow
behavior index n’), laju injeksi q
i
, Modulus Young E, dan tergantung pada panjang
rekahan (Xf atau R). ΔP
f
akan naik pada model PKN dan akan turun pada KGD dan
Radial. Selain tiu telah diturunkan :
Bila fluid efficiency η0, maka luas bidang rekahan satu sisi A
f
:
PKN , KGD : A
f
= 2 X
f
h
f
………………………………………. (4-46)
Radial : A
f
= π R
2
…………………………………………. (4-47)
Bila η1, X
f
∞ t
1/2
(PKN,KGD) dan R ∞ t
1/4
(Radial), maka:
PKN : X
f
∞ t
(2n’+2) / (2n’+3)
……………………………………...(4-48)
KGD : X
f
∞ t
(n’+1) / (n’+2)
………………………………………..(4-49)
Radial : R ∞ t
(2n’+2) / (3n’+6)
……………………………………….(4-50)
sehingga net pressure menjadi :
PKN : ΔP
f
∞ t
1/ 4(n’+1)
(η0) ………………………….(4-51)
ΔP
f
∞ t
1/(2n’+3)
(η1) ………………………….(4-52)
KGD: ΔP
f
∞ t
-n’/(2n’+1)
(η0) ………………………….(4-53)
ΔP
f
∞ t
-n’/(n’+2)
(η1) ………………………….(4-54)
Radial : ΔP
f
∞ t
-3n’/ 8(n’+1)
(η0) ………………………….(4-55)
ΔP
f
∞ t
-n’/(n’+2)
(η1) ………………………….(4-56)
215
Mendeteksi Geometri dari Analisa Tekanan
Gambar 4.28. menunjukkan evolusi dari geometri rekahan selama injeksi
berlangsung pada formasi dengan batas-batas barier ber-stress tinggi. Jadi rekahan
berkembang jauh tapi tidak melewati/keluar dari batas formasinya.
Gambar 4.28.
Evolusi dari Geometri Rekahan Selama Injeksi dengan
Barier Ideal dan Stress Besar
10)
Dalam banyak hal, shale di atas dan di bawah sandstone atau limestone
biasanya memang stress-nya lebih besar dari batuan produktifnya. Pada saat
pertama rekah, rekahan akan bergerak radial (point source pada Stage 1). Untuk
perforasi segaris, bisa terjadi KGD (line source). Dengan ini untuk masa permulaan,
maka net pressure bisa menurun seperti pada hal radial atau KGD dan biasanya
kemiringan pada log-log plot adalah antara -1/8 dan -1/4 tergantung harga n’,
efisiensi η, dan masuknya (line source atau point source). Makin kecil ke arah -1/8,
makin mungkin kalau radial; tetapi untuk η = 1, radial akan sama dengan KGD
216
(Persamaan 4-54 dan 4-56). Penurunan tekanan menunjukkan pertumbuhan yang
radial dengan hambatan yang lebih kecil sementara rekahan tumbuh. Stage 1 ini
hanya singkat saja untuk formasi tipis atau kalau treatment-nya relatif besar.
Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa setelah fasa radial tadi mencapai barier
akan terjadi model PKN. Dengan naiknya tekanan, maka rekahan akan maju seperti
terlihat pada Stage 2. Untuk PKN di sini, kemiringannya 1/4 -1/8 tergantung dari
η=1 sampai 0 (Persamaan 4-51 dan 4-52). Untuk PKN ini kalau bariernya
mempunyai stress-stress yang masih tinggi, maka akan tetap tumbuh demikian
(secara PKN), tetapi kalau net pressure ΔP
f
melampaui harga sedikit di bawah
perbedaan stress Δσ, maka rekahan bisa melebar keluar menembus barier dan
dengan ini ΔP
f
bisa mendekati konstan (Stage 3). Kalau salah satu barier tidak
cukup kuat, maka pertumbuhan bisa mendekati radial kembali ke satu arah (atas
atau bawah yang lemah).
Jadi dengan melihat net pressure yang turun lalu naik dapat menunjukkan
PKN (kemiringan < 1/4) tetapi kalau malah konstan, mungkin rekahan menembus
barier. Besarnya net pressure mendekati harga stress barier dan bisa untuk
mengkalibrasi stress yang didapat dari log. Sedangkan Stage 2 dapat digunakan
untuk menentukan tinggi rekahan dan penetrasinya (X
f
) di Persamaan 4-40 serta
lebar rekahan dari Persamaan 4-43. Umumnya harga net pressure sulit digunakan
untuk interpretasi pada Stage 1 karena waktunya singkat dan turun terus tak
menentu (efek poreoelastik).
4.6. Pengukuran Tinggi Rekahan Setelah Hydraulic Fracturing
Pengukuran tinggi rekahan adalah penting untuk mengetahui keefektifan
dari pelaksanaan pekerjaan perekahan, untuk menghitung kelakuan produksi
sumurnya dan untuk memeriksa ketelitian model yang digunakan apakah PKN,
KGD, atau radial, yang bisa dipakai untuk pekerjaan lain di lapangan tersebut di
waktu yang akan datang. Juga dengan mengetahui tinggi rekahan maka bisa
dihitung panjang rekahan dengan lebih baik yang nantinya akan meliputi
perhitungan produktivitasnya. Dan juga bila terjadi perbedaan menyolok antara
217
model dan hasil pengukuran yang sebenarnya maka dapat digunakan untuk
mendesain pada masa mendatang.
Alat pengukur yang dipakai pada masa kini adalah :
• Temperatur Logging
• Gamma Ray Logging
• Metode Seismic
• Borehole Televiewer
• Formation Microscanner
• Noise Logging
• Spinner Survey
Teknik di atas mungkin langsung mengukur ataupun harus diintepretasikan
dahulu dan beberapa di antaranya hanya jelas pada lubang tanpa selubung (casing).
4.6.1. Temperatur Logging
Log tempereatur dilakukan sebelum dan sesudah perekahan untuk melihat
interval yang didinginkan oleh injeksi fluida perekahan. Thermal konduktivitas
batuan akan mempengaruhi hasilnya. Dobkins
4)
menganjurkan sirkulasi sebelum
adanya perekahan dan Gambar 4.37. menunjukkan hasil dari survei temperatur
tersebut. Untuk sumur sangat dangkal kadang-kadang temperaturnya akan tidak
jelas bedanya.
Tinggi rekahan yang ditunjukkan oleh temperatur survei adalah tinggi
rekahan yang terjadi dan bukan tinggi yang diisi proppant. Kalau temperatur survei
dilakukan lama setelah perekahan selesai, maka hasilnya sering tidak jelas lagi.
Dengan melakukan berkali-kali temperatur survei bisa didapat gambaran yang agak
lengkap mengenai bentuk rekahannya seperti yang terlihat pada Gambar 4.30.
218
Gambar 4.29.
Temperatur Log Sebelum dan Sesudah Perekahan
10)
Gambar 4.30.
Temperatur Survey yang Dilakukan Beberapa Kali
Untuk Menggambarkan Situasi Perekahan
10)
4.6.2. Gamma Ray Logging
219
Zat radioaktif sering dimasukkan ke dalam fluida perekah atau pada
proppant-nya diberi zat radioaktif tersebut sehingga nantinya mudah mendeteksi
dengan gamma ray yang lalu dibandingkan dengan gamma ray log sebelum
perekahan. Kesulitannya adalah kadang-kadang hasilnya tidak jelas karena zat
radioaktif ada yang tertinggal di sumur dan untuk banyak zona sukar dibedakan
kalau hanya menggunakan satu isotop. Pada akhir-akhir ini digunakan spectral
gamma log dan mampu melakukan pengecekan kalaupun terdapat banyak zona.
Gambar 4.31. menunjukkan kombinasi survey gamma ray dengan temperatur log.
Gambar 4.31.
Gamma Ray Dikombinasikan dengan Temperatur Survey
10)
4.6.3. Spectral Gamma Ray
Karena isotop tunggal tidak dapat membedakan material mengandung
radioaktif yang ada dalam sumur, celah/rekahan semen, ataupun rekahannya
sendiri, maka penggunaannya perlu dikombinasikan dengan alat lain, misalnya
dengan temperatur survey. Anderson
4)
mendiskusikan penggunaan “high-
220
resolution, germanium crystal, gamma ray spectroscopy tool” yang bisa
membedakan antara energi yang dikeluarkan oleh masing-masing sumber. Gambar
4.32. memperlihatkan suatu contoh di mana terlihat di situ rekahan dari kedalaman
3800 – 4200 ft. Perhitungan geometri rekahan dengan model 3D dan data sumur
lain menunjukkan bahwa rekahan adalah antara 4000 dan 4150 ft. Anderson
menganjurkan bahwa dengan menggunakan crossplot data dari total photo sum
versus background window count rate akan dapat dibuat crossplot gamma ray
spectral dengan dua trend, garis A dan B pada Gambar 4.33. Data A menunjukkan
data dari sumur dan rekahan semen di sekitarnya, sedangkan data B berasal dari
rekahan yang dalam. Dengan memisahkan data yang tidak berhubungan dengan
memplot data B saja, maka akan didapat Gambar 4.34. yang memperlihatkan
bahwa rekahan antara 4090 – 4170 ft mendekati model 3D.
Gambar 4.32.
Gamma Ray Sebelum dan Sesudah Perekahan
10)
221
Gambar 4.33.
Cross Plot Data Spectral Gamma Ray
10)
Gambar 4.34.
Log yang Menunjukkan Lokasi Material Radioaktif
untuk Menunjukkan Rekahan
10)
4.6.4. Multiple Isotop Tracking
222
Kemampuan untuk mendeteksi lebih dari satu material radioaktif akan
sangat berguna dalam menentukan misalnya tiga tingkat pelaksanaan perekahan,
dimana setiap tingkat diberi zat berlainan, misalnya antimon dan scandium. Dengan
setiap isotop memberi emisi yang berlainan maka gamma ray spectroscopy tool
dengan detektor natrium iodide, akan dapat menghitung laju sinar versus kedalaman
untuk ketiga perekahan tersebut. Gambar 4.35. memperlihatkan dua isotop untuk
dua tingkat perekahan. Pertama perekahan pada kedalaman 6456 – 6483 ft dan
dicek dengan scandium 46. Perforasi atas 6378 – 6384 ft direkahkan setelah bridge
plug dipasang sedalam 6420 ft dan dicek dengan iridium 192. Di sini terlihat bahwa
perekahan kedua tidak merekahkan bagian bawah interval seperti yang diinginkan.
Gambar 4.35.
Dua Isotop Digunakan untuk Mengoreksi
Perekahan Dua Tingkat
10)
Contoh kedua yakni pada Gambar 4.36. dengan menggunakan dua isotop
untuk satu tingkat perekahan. Pad pertama menggunakan scandium 46 dan
proppant dengan iridium 192. Di sini yang terukur hanyalah iridium karena
223
scandium-nya masuk ke dalam rekahan, hal yang memang seharusnya demikian
kalau perekahan berjalan dengan baik.
Gambar 4.36.
Dua Isotop Digunakan untuk Mengoreksi Apakah
Pad dan Slurry Berurutan
10)
4.6.5. Metode Seismik
Ada dua macam cara yang digunakan dalam metode seismik untuk
mengukur tinggi rekahan dan geometrinya. Yang pertama dilakukan bersamaan
dengan pelaksanaan perekahan dan yang kedua dilakukan setelah perekahan selesai,
dan keduanya masih dalam tingkat eksperimental.
Seismik Selama Perekahan Berlangsung
Teknik passive borehole seismic dilakukan dengan menurunkan alat seismik
ke sumur dengan kabel seperti pada geophysic untuk profil seismik vertikal. Alat
tersebut dilekatkan pada casing di bagian bawah perforasi. Sementara perekahan
berlangsung, setiap 0,1 – 0,3 detik diukur mikroseismik-nya. Karena orientasi alat
dapat diukur, maka gelombang mikroseismik-nya akan dapat menentukan arah
rekahan dan geometrinya. Perlu diketahui bahwa metode ini tidak akan baik untuk
224
rekahan yang alamiah. Dobecki
4)
memberikan keterangan interpretasi seismik ini di
mana setiap data dianalisa untuk gelombang kejadian P dan S. Interval waktu
kemudian dikonversikan ke jarak sumbernya, yang dalam hal ini adalah shear
failure batuan selama perekahan berlangsung, karena baik kecepatan gelombang
kompresional maupun shear medianya telah diketahui. Gambar 4.37. menunjukkan
pekerjaan Dobecki tersebut.
Gambar 4.37.
Hasil Monitoring Selama Perekahan
dengan Metode Seismik
10)
Seismik Setelah Perekahan
225
Metode ini bekerja seperti di atas tetapi dengan tambahan sumber suara.
Martin
4)
memberikan contoh di lapangan dengan metode shear-wave polarization
dan splitting. Contoh lapangan menunjukkan bahwa polarisasi gelombang S dan
penundaan split shear tadi dapat dipergunakan untuk menghitung azimuth
anisotropi. Dengan ini orientasi rekahan dapat diketahui dan juga dengan konsep ini
bisa diketahui geometri dan tinggi suatu rekahan.
4.6.6. Borehole Televiewer
Alat ini adalah yang paling teliti karena seakan-akan rekahan dipotret oleh
alat ini, namun sayang alat ini tidak dapat melihat melalui casing. Alat lain seperti
downhole video camera telah diperkenalkan di Indonesia pada permulaan tahun
1996 tetapi juga sukar melihat di belakang casing, jadi hanya untuk sumur open
hole.
4.6.7. Formation Microscanner
Dengan menggunakan prinsip resistivity untuk membuat bayangan (image)
dari dinding sumur sekaligus dapat mengetahui ketinggian dari rekahan. Digunakan
hanya untuk open hole.
4.7. Perhitungan Peningkatan Produktivitas
Pada bagian ini, akan dibicarakan mengenai evaluasi dari hydraulic
fracturing, yaitu untuk mengetahui apakah pelaksanaan hydraulic fracturing tersebut
berhasil untuk menaikkan produktivitas formasi atau tidak. Naik tidaknya
produktivitas formasi dapat dilihat dari parameter-parameter indikatornya.
4.7.1. Parameter Indikator Peningkatan Produktivitas
Ukuran atau parameter indikator yang menunjukkan ada tidaknya
peningkatan produktivitas formasi adalah faktor skin (S), permeabilitas formasi
rata-rata (K
avg
), Inflow Performance Relationship curve (IPR), perbandingan
Productivity Index (PI), dan perbandingan laju alir (q) sebelum dan sesudah
perekahan dengan tekanan alir dasar sumur (P
wf
) yang sama. Permeabilitas formasi
rata-rata dapat dihitung dengan metode Howard & Fast. Asumsi yang digunakan
226
adalah aliran Pseudo Steady State. Permeabilitas formasi rata-rata setelah perekahan
(Kavg) yang dihitung dengan persamaan Howard & Fast adalah sebagai berikut:

,
_

¸
¸
×
,
_

¸
¸
+ ×

,
_

¸
¸
·
Xf
re
Log
K rw
Xf
Log
kf
rw
re
Log
K
avg
1 1
...................................................... (4-57)
di mana:
h
Wf Kf h K
kf
× + ×
· ...................................................... (4-58)
K
avg
= permeabilitas formasi rata-rata, mD
r
e
= jari-jari pengurasan sebelum perekahan, ft
r
w
= jari-jari sumur, ft
X
f
= panjang rekahan 1 sayap, ft
K = permeabilitas efektif sebelum perekahan, mD
h = interval perforasi, ft
K
f
×W
f
= konduktivitas efektif rekahan, mD ft
Gambar 4.38.
Perbandingan Langsung PI Sebelum dan Sesudah
Perekahan dari IPR
4)
P
wf
, psi
Laju Alir, q, B/D
P
R
PI
F
PI
P
227
Analisa terhadap kenaikan produktivitas sumur dapat juga ditinjau
berdasarkan kinerja aliran fluida formasi ke lubang sumur atau kelakuan formasi
produkif yang digambarkan dalam bentuk kurva IPR (Inflow Performance
Relationship) seperti pada Gambar 4.38 tersebut. Kurva IPR sesudah perekahan
(PI
F
) terlihat lebih jauh/ panjang daripada kurva IPR sebelum perekahan (PI
P
) dan
gambaran seperti inilah yang dikatakan bahwa hydraulic fracturing telah berhasil.
Adapun metode yang digunakan dalam pembuatan kurva IPR adalah metode Pudjo
Sukarno untuk aliran fluida dua fasa dengan memperhitungkan faktor skin. Metode
ini dikembangkan dengan menggunakan simulasi reservoir hipotesis dengan
memperhitungkan faktor skin. Simulator nantinya akan menghasilkan hubungan
antara laju produksi minyak dengan tekanan alir dasar sumur pada suatu kondisi
reservoir tertentu. Hasil analisa regresi menghasilkan persamaan untuk membuat
kurva IPR, yaitu sebagai berikut :
2
4 2
2
5 3 1
0
max
1 @ Pd a Pd a
Pd a Pd a a
q
q
S
o
o
+ +
+ +
·
·
……………………………….. (4-59)
di mana: q
o
= laju alir minyak @Pwf, STB/D
q
o max
= laju alir minyak maksimum, STB/D
Pd = Pwf/Pr, psi
a
1
,a
2
,…..,a
5
adalah konstanta persamaan yang merupakan fungsi dari
faktor skin dan dicari dari persamaan berikut :
a
n
= c
1
e
(c2×S)
+ c
3
e
(c4×S)
........................................................................ (4-60)
di mana: S = faktor skin
n = 1, 2, 3, 4, atau 5
Harga c
1
sampai dengan c
4
ditentukan dengan Tabel 4-5 berikut ini.
Tabel IV -5
228
Konstanta c
1
, c
2
, c
3
, dan c
4
5)
a
n
c
1
c
2
c
3
c
4
a
1
0.182922 - 0.364438 0.814541 - 0.055873
a
2
- 1.476950 - 0.456632 1.646246 - 0.442306
a
3
- 2.149274 - 0.195976 2.289242 - 0.220333
a
4
- 0.021783 0.088286 - 0.260385 - 0.210801
a
5
- 0.552447 - 0.032449 - 0.583242 - 0.306962
Ukuran keberhasilan dari hydraulic fracturing dapat juga dilihat dari
perbandingan indeks produktivitasnya (PI), seperti yang terlihat pada Gambar
4.38. Dari Gambar 4.38., jika dihitung maka dapat dilihat bahwa indeks
produktivitas setelah perekahan (PI
F
) lebih besar dari indeks produktivitas sebelum
perekahan (PI
P
) sehingga perekahan bisa dikatakan berhasil. Perbandingan PI
sebelum dan sesudah perekahan dapat dihitung dengan berbagai metode. Makin
besar harga perbandingannya berarti makin tinggi tingkat keberhasilan hydraulic
fracturing.
4.7.2. Perbandingan Indeks Produktivitas
Baik untuk sumur gas ataupun sumur minyak, pengaruh perekahan dapat
dinyatakan sebagai harga perbandingan antara indeks produktivitas sesudah dan
sebelum perekahan. Persamaan yang umum digunakan untuk menyatakan
perbandingan tersebut adalah dari Prats, Tinsley et. al., dan McGuire dan Sikora
untuk sumur pada keadaan steady state dan pseudo-steady state serta Tannich dan
Nierode.
4.7.2.1. Metode Prats
Metode Prats
13)
adalah metode yang pertama kali digunakan dan sangat
sederhana. Kelemahan dari metode ini adalah bahwa semua keadaan dianggap
ideal. Metode Prats dijabarkan lewat persamaan :
229

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
·
f
w
e
o
L
re
r
r
J
J
5 , 0
ln
ln
.................................................................................. (4-61)
di mana :
Lf = setengah panjang rekahan dua sayap(Xf)
Anggapan dalam persamaan Prats adalah :
• keadaan steady state
• di daerah silinder
• fluida incompressible
• konduktivitas rekahan tidak terbatas
• tinggi rekahan sama dengan tinggi formasi
Sebagai contoh, bila L
f
= 500 ft, r
e
= 2106 ft (spasi sumur 320 acres,
segiempat), r
w
= 0,354 ft, maka akan menghasilkan J/J
o
= 4,08 untuk Persamaan
(4-61) di atas.
4.7.2.2. Metode Tinsley, Van Poollen, dan Saunders
Tinsley, Van Poollen, dan Saunders menggunakan model electrolytic untuk
membuat grafik J/J
o
dan grafik ini bisa digunakan untuk bermacam-macam
ketinggian rekahan. Gambar 4.39. dan Gambar 4.40. memperlihatkan hasil
perhitungannya yang juga menganggap keadaan steady state, reservoir silindris,
fluida incompressible dan r
e
/r
w
untuk model ini dianggap sama dengan model
lapangannya (pengaruh perbedaan diabaikan). Tinsley juga melakukan studi
perekahan setengah tebal formasi dan menganggap seluruh rekahan terisi proppant.
230
Gambar 4.39.
Korelasi Tinsley, Van Poollen, dan Saunders untuk Perbandingan
Indeks Produktivitas dengan h
f
/h =1
4)
Gambar 4.40.
Korelasi Tinsley, Van Poollen, dan Saunders untuk Perbandingan
Indeks Produktivitas dengan h
f
/h =0.5
4)
4.7.2.3. Metode McGuire dan Sikora
231
Dengan menggunakan studi analog elektrik, maka McGuire dan Sikora
membuat analogi perekahan di lapangan. Grafik ini adalah yang paling umum
digunakan. Anggapannya adalah :
• aliran pseudo-steady state
• laju aliran konstan dengan tanpa aliran dari luar batas re
• daerah pengurasan segiempat sama sisi
• aliran incompressible
• lebar rekahan sama dengan lebar formasi
Perbandingan produktivitas untuk aliran stabil, p
wf
konstan, adalah seperti
pada keadaan pseudo-steady state. Pada Gambar 4.41., absis dari grafik McGuire-
Sikora adalah konduktivitas relatif dan ordinatnya adalah skala tingkat kenaikan
produktivitas. Di sini faktor skala tingkat digunakan untuk merubah daerah
pengurasan selain dari 40-acre (16ha) dan harga L
e
/r
w
untuk lapangan yang
dianalisa.
Gambar 4.41.
Grafik McGuire-Sikora untuk Menunjukkan
Kenaikan Produktivitas dari Perekahan
13)
232
Beberapa kesimpulan dapat diperoleh dari grafik McGuire-Sikora :
• Pada permeabilitas rendah dengan perekahan yang konduktivitasnya
tinggi, maka hasil dari kenaikan produktivitas akan makin besar terutama
karena panjang rekahan dan bukan dari konduktivitas relatif rekahan.
• Untuk suatu panjang rekahan (L
f
), maka akan ada konduktivitas rekahan
optimal. Menaikkan konduktivitas rekahan lebih lanjut tidak akan
menguntungkan. Misalnya untuk harga L
f
/L
e
= 0,5, kenaikan konduktivitas
selanjutnya tidak akan ada artinya untuk harga relative conductivity di atas
10
5
.
• Maksimum kenaikan perbandingan indeks produktivitas teoritis untuk
sumur yang tidak rusak (damage) adalah sebesar 13,6.
Gambar 4.42.
Modifikasi Grafik McGuire-Sikora oleh Holditch
4)
Selanjutnya Holditch
4)
membuat suatu simulasi dengan alat finite-difference
simulator yang lebih mutakhir dan membandingkannya dengan grafik McGuire-
Sikora. Dalam hal ini, asumsinya sama yakni suatu sumur dengan pusat di tengah
233
reservoir segiempat sama sisi tanpa aliran di luar batasnya, alirannya agak
compressible, tinggi rekahan sama dengan lebar formasi, dan alirannya pseudo-
steady state. Hasil yang diperoleh adalah sama dengan grafik McGuire-Sikora
walaupun ada beberapa perbedaan detail. Di mana ada perbedaan, hasil yang
diperoleh Holditch adalah yang benar. Gambar 4.42. memperlihatkan grafik dari
simulator Holditch.
4.7.2.4. Metode Tannich dan Nierode
Tannich dan Nierode membuat grafik seperti pada grafik McGuire-Sikora
tetapi untuk gas, di mana pengaruh non-Darcy turut diperhitungkan. Metodenya
menggunakan dua grafik, yang pertama merupakan bagian dari stimulasi karena
perubahan aliran reservoir yang hampir sama dengan grafik McGuire-Sikora, dan
yang kedua memberikan jumlah stimulasi yang dihasilkan akibat pengurangan
pengaruh aliran radial. Dengan ini maka :

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
·
'
'
'
'
,
,
, , o g
o g
o g
g
o g
g
J
J
J
J
J
J
.......................................................................... (4-62)
Bagian pertama yang menunjukkan perubahan pola aliran reservoir
diperlihatkan pada Gambar 4.43., di mana perbandingan indeks produktivitas
dikalikan dengan faktor skala yang mana merupakan fungsi dari panjang rekahan
tanpa dimensi dan konduktivitas aliran relatif non-Darcy (C
nr
). Persamaan (4-63)
menunjukkan harga C
nr
yang meliputi aliran non-Darcy di rekahan melalui
koefisien turbulen di rekahan (β
f
).
Menurut Cooke, harga β
f
dapat dikorelasikan dari laboratorium. Gambar
4.43. menunjukkan C
nr
sebagai absis, dan bisa dihitung dari persamaan :
e
wf e g f
nr
r
p p
zT
k
w
C
640 , 2
) (
12
2 2

·
γ β
µ
................................................... (4-63)
234
Gambar 4.43.
Rasio Stimulasi dari Modifikasi Pola Aliran pada Sumur Gas
4)
Sedangkan bagian kedua yang merupakan kontribusi dari pengurangan
aliran non-Darcy pada batuannya sendiri diberikan pada grafik Gambar 4.44.
Gambar 4.44.
Kenaikan Produktivitas dari Hilangnya Tahanan
Aliran Non-Darcy di Dekat Sumur
4)
Kenaikan produktivitas ditunjukan sebagai fungsi kebalikan dari kemiringan
(n) dari grafik back pressure (tekanan balik) dan kelompok aliran non-Darcy
235
formasi (G
nf
). Seperti yang terlihat pada Persamaan (4-64), G
nf
mengandung β
yaitu faktor non-Darcy formasi yang mempengaruhi aliran non-Darcy di batuan.
Harga specific gravity dapat dicari dari buku Handbook of Gas Engineering (Katz).
1
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸

·
2
2
2 2 2
128 . 1
ln
1 59 . 27
) (
w
e
w
wf e g
nf
r
r
r zT
p p k
G
µ
γ β
......................... (4-64)
Seringkali eksponen dari Gambar 4.54. diabaikan atau sering juga
pengaruh aliran non-Darcy formasi telah hilang karena adanya pengasaman matriks
yang efisien atau pengerjaan perekahan sebelumnya. Dalam hal ini yang
diperhitungkan hanya komponen dari modifikasi pola aliran reservoir saja.
4.7.2.5. Metode Raymond dan Binder
Bilamana sumur memang mulanya mengalami damage, maka hasil
kenaikan produktivitas akan jauh di atas harga yang diberikan oleh McGuire dan
Sikora. Padahal dalam hal permeabilitas yang besar, damage sangat mungkin terjadi
karena adanya mud filtrate loss selama pemboran berlangsung, dan perekahan
hidrolik adalah salah satu cara yang paling baik kalau damage-nya dalam (selain
tidak bereaksi negatif dengan formasi). Raymond dan Binder
4)
menurunkan
persamaan untuk sumur damage yang distimulasi dengan asumsi bahwa rekahannya
terbatas, alirannya pseudo-steady state, dan daerah pengurasannya berbentuk
silindris.

,
_

¸
¸
+

,
_

¸
¸
− +

,
_

¸
¸
− +
+

,
_

¸
¸
− +

,
_

¸
¸
− +

,
_

¸
¸
+

,
_

¸
¸
·
f
e
f
d
f
f
d
f
w
d
f
d
d
d
e
w
d
d
o
L
r
k
k
w
r
k
k
w
L
k
k
w
r
k
k
w
r
k
k
r
r
r
r
k
k
J
J
ln
1
1
ln
1
1
ln
ln ln
π
π
π
π
........... (4-65)
236
Persamaan di atas cukup baik untuk L
f
/L
e
≤ 0,5, seperti yang telah
dibandingkan oleh mereka dengan grafik McGuire-Sikora. Harga k/k
d
dan r
d
/r
w
dapat dicari dari PBU (UKL) dari harga s sebagai berikut :

,
_

¸
¸
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
·
w
d
d
r
r
k
k
s ln 1
........................................................................... (4-66)
dan r
d
dapat diestimasi atau bila dari laboratorium dapat dengan pendekatan untuk
k
d
/k, akan dapat dicari harga r
e
.
4.7.2.6. Metode Morse dan Von Gonten
Pada formasi dengan permeabilitas yang rendah dan rekahan yang panjang,
aliran steady state atau pseudo-steady state tidak akan dicapai sampai waktu lama,
yakni bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan, sehingga dalam hal ini metode
McGuire-Sikora tidak dapat dipakai. Untuk itu aliran unsteady state sebelum
mencapai keadaan stabil harus diperhitungkan. Morse dan von Gonten membuat
studi mengenai fluida agak kompresibel untuk kasus tekanan alir dasar sumur dan
laju aliran yang konstan. Gambar 4.46. memperlihatkan suatu perbandingan antara
J sesaat (instanteneous, selama unsteady state laju aliran konstan) dengan J
o
(PI
sebelum direkahkan dan stabil laju produksi/tekanan). Perbandingan ini diplot
terhadap dimensionless time, yaitu :
2
c T
Lcd
L c
t k 0002637 , 0
t
µ Φ
·
............................................................................. (4-67)
dengan parameter L
f
/L
c
(perbandingan panjang rekahan dengan radius pengurasan)
bervariasi dari 0,0 ke 1,0 hasilnya dibuat untuk daerah pengurasan segiempat sama
sisi dan rekahan dengan konduktivitas tak terhingga.
Pada Gambar 4.45. harga J/J
o
akan mencapai harga stabil pada harga t
LcD

0,25 tak tergantung dari panjang rekahannya. Di sini terlihat bagaimana harga J/J
o
yang besar mula-mula, makin panjang rekahan, makin besar J/J
o
versus waktu pada
mula-mulanya. Harga ini lebih nyata terlihat pada Gambar 4.46. yang menyatakan
harga J/J
o
versus waktu untuk panjang rekahan yang tetap (L
f
/L
c
= 0,5), untuk
237
beberapa harga permeabilitas dengan parameter lainnya tetap. Di sini terlihat bahwa
harga J stabil pada waktu kurang dari 1 hari untuk k = 100 md tetapi butuh waktu
10.000 hari (27,4 tahun) untuk stabil pada 0,01 md.
Gambar 4.47. sama seperti Gambar 4.45. tetapi dinyatakan dalam harga
p
wf
yang konstan. Di sini J/J
o
juga akan stabil pada t
LcD
≅ 0,25. Waktu dan ukuran
pengaruh unsteady state bisa dilihat pada Gambar 4.48. untuk parameter-parameter
reservoir tertentu dan harga permeabilitas yang bervariasi.
Gambar 4.45.
Perbandingan Produktivitas vs Waktu Dimensionless
Dengan Laju Aliran Konstan
4)
Gambar 4.46.
Perbandingan Produktivitas vs Waktu Sebenarnya
Dengan Laju Aliran Tetap
4)
238
Gambar 4.47.
Perbandingan Produktivitas vs Waktu Dimensionless
Dengan P
wf
Konstan
4)
Gambar 4.48.
Perbandingan Produktivitas, P
wf
Konstan
4)
239

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->