BAB I RUANG LINGKUP ETIKA Setelah mempelajari bagian ini, diharapkan memahami: a.

Pengertian etika, obyek, sistematika dalam etika. b. Pengertian moral dan norma. c. Perbedaan antara etika dengan etiket dan kode etik, amoral dan immoral, etika dengan moral. d. Pengertian dan unsur kesadaran moral serta kaidah dasar moral e. Memahami ruang lingkup etika A. Pengertian Etika

Istilah etika memiliki beragam makna berbeda. Ada yang menyebutkan bahwa etika adalah semacam penelaahan, baik aktivitas penelaahan maupun hasil penelaahan itu sendiri. Pendapat lain menyebutkan bahwa etika adalah kajian moralitas. Sedangkan moralitas adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa itu benar dan salah, atau baik dan jahat. Meskipun etika berkaitan dengan moralitas, namun tidak sama persis dengan moralitas. Etika merupakan studi standar moral yang tujuan eksplisitnya adalah menentukan standar yang benar atau yang didukung oleh penalaran yang baik, dan dengan demikian etika mencoba mencapai kesimpulan tentang moral yang benar dan salah, dan moral yang baik dan jahat. Etika bisnis merupakan etika terapan. Etika bisnis merupakan aplikasi pemahaman kita tentang apa yang baik dan benar untuk beragam institusi, teknologi, transaksi, aktivitas
1

dan usaha yang kita sebut bisnis. Etika bisnis merupakan studi standar formal dan bagaimana standar itu diterapkan ke dalam system dan organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-orang yang ada didalam organisasi. Banyak yang keberatan dengan penerapan standar moral dalam aktivitas bisnis. Beberapa orang berpendapat bahwa orang yang terlibat dalam bisnis hendaknya berfokus pada pencarian keuntungan financial bisnis mereka dan tidak membuangbuang energy mereka atau sumber daya perusahaan untuk melakukan pekerjaan baik. Etika seharusnya diterapkan dalam bisnis dengan menunjukan bahwa etika mengatur semua aktifitas manusia yang disengaja, dan karena bisnis aktivitas manusia yang disengaja, etika juga hendaknya berperan dalam bisnis. Argument lain berpandangan bahwa, aktivitas bisnis, seperti juga aktivitas manusia lainnya, tidak dapat eksist kecuali orang yang terlibat dalam bisnis dan komunitas sekitarnya taat terhadap standar minimal etika. Bisnis merupakan aktifitas kooperatif yang eksistensinya mensyaratkan prilaku eksis. Dalam masyarakat tanpa etika, seperti ditulis filsuf Hobbes, ketidakpercayaan dan kepentingan diri yang tidak terbatas akan menciptakan “perang antar manusia terhadap manusia lain”, dan dalam situasi seperti itu hidup akan menjadi “kotor, brutal, dan dangkal”. Karenanya dalam masyarakat seperti itu, tidak mungkin dapat melakukan aktivitas bisnis, dan bisnis akan hancur. Karena bisnis tidak dapat bertahan hidup tanpa etika, maka kepentingan bisnis yang paling utama adalah mempromosikan prilaku etika kepada anggotanya dan juga masyarakat luas. Etika hendaknya diterapkan dalam bisnis dengan menunjukan bahwa etika konsisten dengan tujuan bisnis, khususnya dalam mencari keuntungan. Contoh merck dikenal karena budaya etisnya yang sudah lama berlangsung, namun ia tetap merupakan perusahaan yang secara spektakuler mendapatkan paling banyak keuntungan sepanjang masa. Sebagian besar orang akan menilai perilaku etis dengan menghukum siapa saja yang mereka persepsi berprilaku tidak etis, dan menghargai siapa saja yang mereka persepsi berprilaku etis. Pelanggan akan melawan perusahaan jika mereka mempersepsi ketidakadilan yang dilakukan perusahaan dalam bisnis lainnya, dan mengurangi minat
2

mereka untuk membeli produknya. Karyawan yang merasakan ketidakadilan, akan menunjukkan absentisme lebih tinggi, produktivitas lebih rendah, dan tuntutan upah yang tinggi. Sebaliknya, ketika karyawan percaya bahwa organisasi adil, akan senang mengikuti manajer. Melakukan apapun yang dikatakan manajer, dan memandang keputusan manajer sah. Ringkasnya, etika merupakan komponen kunci manajemen yang efektif. Dengan demikian, ada sejumlah argument yang kuat, yang mendukung pandangan bahwa etika hendaknya diterapkan dalam bisnis. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1988) merumuskan pengertian etika dalam tiga arti sebagai berikut: -Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. -Kumpulan asas atau nilai yang berkenan dengan ahklak. -Nilai mengenai benar dan salah yang dianut masyarakat. Etika berasal dari kata Yunani „Ethos‟ (jamak – ta etha), berarti adat istiadat. Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat. Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tatacara hidup yg baik, aturan hidup yang baik dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yang lain. Moralitas berasal dari kata Latin Mos (jamak – Mores) berarti adat istiadat atau kebiasaan. Pengertian harfiah dari etika dan moralitas, sama-sama berarti sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia yang telah diinstitusionalisasikan dalam sebuah adat kebiasaan yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang ajek dan terulang dalam kurun waktu yang lama sebagaimana laiknya sebuah kebiasaan. Etika sebagai filsafat moral tidak langsung memberi perintah konkret sebagai pegangan siap pakai. Etika dapat dirumuskan sebagai refleksi kritis dan rasional mengenai : 1. Nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia
3

2. Masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma moral yang umum diterima Etika sebagai sebuah ilmu yang terutama menitikberatkan refleksi kritis dan rasional, a). Mempersoalkan apakah nilai dan norma moral tertentu memang harus dilaksanakan dalam situasi konkret terutama yang dihadapi seseorang, atau etika mempersoalkan apakah suatu tindakan yang kelihatan bertentangan dengan nilai dan norma moral tertentu harus dianggap sebagai tindakan yang tidak etis dan karena itu dikutuk atau justru sebaliknya b). Apakah dalam situasi konkret yang saya hadapi saya memang harus bertindak sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakatku ataukah justru sebaliknya saya dapat dibenarkan untuk bertindak sebaliknya yang bahkan melawan nilai dan norma moral tertentu. Etika sebagai Ilmu menuntut orang untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional. Dengan menggunakan bahasa Nietzcshe, etika sebagai ilmu menghimbau orang untuk memiliki moralitas tuan dan bukan moralitas hamba Dalam bahasa Kant, etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan bukan secara heteronom. Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya. Menurut Martin [1993] : etika didefinisikan sebagai "the discipline which can act as the performance index or reference for our control system". Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standard yang akan mengatur pergaulan manusia didalam kelompok sosial

4

Tahun 1953 Fagothey, mengatakan bahwa etika adalah studi tentang kehendak manusia, yaitu kehendak yang berhubungan dengan keputusan yang benar dan yang salah dalam tindak perbuatannya.Pada tahun 1995 Sumaryono menegaskan bahwa etika merupakan studi tentang kebenaran dan ketidakbenaran berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan melalui kehendak manusia dalam perbuatannya. Obyek Etika Obyek etika menurut Franz Magnis Suseno (1987) adalah pernyataan moral. Apabila diperiksa segala macam moral, pada dasarnya hanya dua macam : pernyataan tentang tindakan manusia dan pernyataan tentang manusia sendiri atau tentang unsur-unsur kepribadian manusia seperti motif-motif, maksud, dan watak. Ada himpunan pernyataan ketiga yang tidak bersifat moral, tetapi penting dalam rangka pernyataan tentang tindakan. Skemanya adalah sebagai berikut :

Pandangan Moral
Etika

Pernyataan Moral

Persoalan Moral 1. Pernyataan tentang tindakan manusia, 2. Pernyataan tentang manusia sendiri

3. Pernyataan bukan moral.

5

Dalam melihat skema tersebut Ahmad Charis Zubair (1987) dalam perinciannya adalah : 1. Dalam beberapa pernyataan kita mengatakan bahwa suatu tindakan tertentu sesuai atau tidak sesuai dengan norma-norma moral dan oleh karena itu adalah betul, salah, dan atau wajib. Contoh: “Engkau harus mengembalikan uang itu”. “Mencuri itu salah”, “Perintah jahat tidak boleh ditaati”, disebut pernyataan kewajiban. 2. Orang, kelompok orang dan unsur-unsur kepribadian (motif, watak, maksud, dan sebagainya) kita nilai sebagai baik, buruk, jahat, mengagumkan, suci, memalukan, bertanggung jawab, pantas ditegur, disebut : pernyataan penilaian moral. 3. Himpunan pernyataan ketiga yang harus diperhatikan adalah penilaian bukan moral. Contoh: Mangga itu enak, Anak itu sehat. Mobil itu baik, Kertas ini jelek, dan sebagainya. Perbedaan penting pernyataan di atas : 1. Pernyataan kewajiban tidak mengenal tingkatan. Wajib atau tidak wajib, betul atau salah, tidak ada tengahnya. 2. Penilaian moral dan bukan moral mengenal tingkatan. Mangga dapat agak enak, enak sekali. Watak dapat amat jahat atau agak jahat; dan sebagainya. Sistematika Etika. Etika dapat dibagi menjadi etika deskriptif dan etika normatif. Etika deskriptif hanya melukiskan, menggambarkan, menceritakan apa adanya, tidak memberikan pernilaian, tidak memilih mana yang baik dan mana yang buruk, tidak mengajarkan bagaimana seharusnya berbuat. Contohnya sejarah etika. Sedangkan etika normatif sudah memberikan pernilaian mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Etika normatif dapat dibagi menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum membicarakan prinsip-prinsip umum, seperti
6

apakah nilai, motivasi suatu perbuatan, suara hati dan sebagainya.Etika khusus adalah pelaksanaan dari pada prinsip-prinsip umum, seperti etika pergaulan, etika dalam pekerjaan dan sebagainya. Pembagian etika yang lain adalah etika individual dan etika sosial. Etika individual membicarakan perbuatan atau tingkah laku manusia sebagai individu. Misalnya tujuan hidup manusia. Etika sosial membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan orang lain. Misalnya; baik/buruk dalam keluarga, masyarakat, negara. (Sunoto, 1982, hal. 5-6)

Etika dan Moral Moral berasal dari kata Latin „Mos‟ jamaknya „Mores‟ yang berarti adat atau cara hidup. Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral dan atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai.Sedang etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai yang ada. Ajaran moral adalah ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, khotbah-khotbah, peraturan-peraturan apakah lisan atau tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Sumber langsung ajaran moral adalah pelbagai orang dalam kedudukan yang berwenang, seperti orang tua dan guru, para pemuka masyarakat dan agama, dan tulisan para bijak seperti kitab Wulangreh karangan Sri Sunan Pakubuwono IV.Etika bukan suatu sumber tambahan bagi ajaran moral tetapi filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran dan pandangan moral.Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran-ajaran moral tidak berada ditingkat yang sama. Yang mengatakan bagaimana kita harus hidup, bukan etika melainkan ajaran moral. Etika mau mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral. Jadi etika sekaligus kurang dan lebih dari ajaran moral. Kurang karena etika tidak berwenang untuk menetapkan apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak. Lebih karena etika

7

berusaha untuk mengerti mengapa, atau dasar apa kita harus hidup menurut normanorma tertentu. (Franz Magnis Suseno, 1987, hal. 14) Etika pada hakekatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, normanorma dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut

pertanggungjawaban dan mau menyingkatkan kerancuan (kekacauan). Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat noral yang dikemukakan dipertanggungjawaban. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral. Sedangkan kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Normanorma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul-salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas. (Franz Magnis Suseno, 1987, hal. 18) Amoral dan Immoral Kata Inggris „amoral‟ berarti tidak berhubungan dengan konteks moral., diluar suasana etis, non-moral. Immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk, tidak etis.Jadi kata „amoral‟ sebaiknya diartika sebagai „netra dari sudut moral‟. Etika dan Etiket. Dalam rangka menjernihkan istilah, harus disimak perbedaan antara etika dan etiket. Kerapkali dua istilah ini dicampuadukkan begitu saja, pada hal perbedaan diantaranya sangat hakiki. Namun demikian dua istilah itu ada persamaannya. Persamaan antara etika dan etiket adalah pertama, etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah-istilah ini hanya dipakai mengenai manusia. Hewan tidak mengenal etika maupun etiket. Kedua, baik etika maupun etiket mengatur perilaku manusia secara normatif, artinya, memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. (Bertens, 1993, hal. 9)

8

Perbedaan sangat penting antara etika dan etiket menurut Bertens (1993, hal. 9-10) ada empat macam, yaitu : 1. Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Diantara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya, cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. Misalnya, jika saya menyerahkan sesuatu kepada atasan, saya harus menyerahkannya dengan menggunakan tangan kanan. Dianggap melanggar etiket, bila orang menyerahkan sesuatu dengan tangan kiri. Tetapi etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan; etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan ya atau tidak. Mengambil barang milik orang lain tanpa izin, tidak pernah diperbolehkan. „Jangan mencuri‟ merupakan suatu norma etika. Apakah orang mencuri dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri disini sama sekali tidak relevan. Norma etis tidak terbatas pada cara perbuatan dilakukan, melainkan menyangkut perbuatan itu sendiri. 2. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain hadir atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Misalnya, ada banyak peraturan etiket yang mengatur cara kita makan. Dianggap melanggar etiket, bila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja, dan sebagainya. Sebaliknya, etika selalu berlaku, juga kalau tidak ada saksi mata. Etika tidak tergantung pada hdir tidaknya orang lain. Larangan untuk mencuri selalu berlaku, entah ada orang lain hadir atau tidak. 3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan, bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Contoh yang jelas adalah makan dengan tangan, di suatu daerah tertentu mungkin masih dianggap sopan, namun di Jawa makan yang sopan harus pakai sendok. Lain halnya etika, etika jauh lebih absolut. „Jangan mencuri‟, „jangan bohong‟, „jangan membunuh‟ merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar atau mudah diberi „dispensasi‟. 4. Jika kita berbicara tentang etiket, kita hanya memandang manusia dari segi lahiriahnya saja, sedang etika menyangkut manusia dari segi dalam.
9

Pengertian dan Macam-macam Norma. Pada mulanya berarti alat tukang batu atau tukang kayu yang berupa segitiga. Pada perkembangannya norma berarti ukuran, garis pengarah, atau aturan, kaidah bagi pertimbangan dan penilaian. Nilai yang menjadi milik bersama di dalam satu masyarakat dan telah tertanam dengan emosi yang mendalam akan menjadi norma yang disepakati bersama. Segala hal yang kita beri nilai baik, cantik atau berguna akan kita usahakan supaya diwujudkan kembali di dalam perbuatan kita. Sebagai hasil usaha itu timbullah ukuran perbuatan atau norma tindakan. Norma itu kalau telah diterima oleh anggota masyarakat selalu mengandung sanksi dan pahala. Tidak dilakukan sesuai norma – hukuman; celaan dan sebagainya. Dilakukan sesuai dengan norma – pujian; balas jasa dan sebagainya.

Jadi kalau dibuat skema adalah :

Penilaian Nilai

Norma

Ada banyak macam norma. Ada norma-norma khusus, yaitu norma yang hanya berlaku dalam bidang dan situasi yang khusus, misalnya bola tidak boleh disentuh oleh tangan, hanya berlaku kalau dan sewaktu kita main sepak bola dan kita bukan kiper. Disamping norma khusus ada juga norma umum. Norma umum ada 3 macam, yaitu : 1. Norma Sopan santun Norma ini menyangkut sikap lahiriah manusia. Meskipun lahiriah dapat mengungkapkan sikap hati dan karena itu mempunyai kualitas moral, namun sikap
10

lahiriah sendiri tidak mempunyai kualitas moral. Orang yang melanggar norma kesopanan karena tidak mengetahui tatakrama di daerah itu, atau dituntut oleh situasi, tidak melanggar norma moral.
2. Norma Hukum

Norma hukum adalah norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma hukm adalah norma yang tidak dibiarkan dilanggar. Hukum tidak dipakai untuk mengukur baik buruknya seseorang sebagai manusia, melainkan untuk menjamin tertib umum. Jadi yang melanggar norma hukum pasti dikenai sangsi. Tetapi norma hukum tidak sam dengan norma moral.
3. Norma Moral

Norma moral adalah tolok ukr yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Maka dengan norma moral, kita benar-benar dinilai. Itulah sebabnya penilaian moral selalu berbobot.Manusia tidak dilihat dari salah satu segi melainkan sebagai manusia. Apakah seseorang sebagai warga negara yang selalu taat, atau seorang munafik. Apakah kita ini baik atau buruk, itulah yang menjadi permasalahan moral. Ketiga macam norma kelakuan itu, manakah yang mengalah apabila ada tabrakan diantara keduanya ? Bahwa norma sopan santun mengalah baik terhadap norma-norma hukum maupun norma-norma moral. Bagaimana kalau norma hukum bertabrakan dengan norma moral ? Misalnya, seorang ayah yang sama sekali tidak mempunyai uang lagi, di satu pihak ia berwajib (moral) untuk memberi makan kepada anak istri, di lain pihak satu-satunya jalan untuk membuat ia melanggar norma hukum, yaitu dengan mengambil uang orang lain secara diam-diam. Thomas Aquinas berpendapat, bahwa suatu hukum yang bertentangan dengan hukum moral (hukum kodrat dalam istilah Thomas Aquinas) kehilangan kekuatannya. Kesimpulannya, bahwa terhadap norma-norma moral muncul sebagai kekuatan yang amat besar dalam hidup manusia. Norma-norma itu lebih besar pengaruhnya dari pada pendapat-pendapat masyarakat pada umumnya dan bahkan juga dari pada segala macam penguasa.

11

B. Pengertian Kesadaran Moral. Sifat moral itu bukan suatu sifat lahiriah belaka, tetapi suatu unsur dalam kesadaran kita, yang menyertai kesadaran tentang norma-norma. Sifat moral suatu norma merupakan sifat yang kita sadari, kalau kita masuk dalam suatu keadaan dimana norma itu perlu dilakukan. Karena itu etika harus bertolak dari fenomena kesadaran moral. Jadi fenomena keasadaran moral adalah apa saja yang terdapat/muncul dalam kesadaran moral. Kesadaran moral, itu muncul apabila kita harus memutuskan sesuatu yang menyangkut hak dan kebahagiaan orang lain. Contoh, jika seseorang mengembalikan uang pinjaman tetapi ada kelebihan yang baru diketahui setelah orang itu pulang. Tetapi wajib untuk mengembalikan uang itu. Kesadaran yang menyatakan wajib itulah disebut kesadaran moral. Kesadaran moral merupakan faktor penting untuk memungkinkan tindakan manusia selalu bermoral, berperilaku susila, lagi pula tindakannya akan sesuai dengan norma yang berlaku. Kesadaran moral didasarkan atas nilai-nilai yang benar-benar esensial, fundamental.Perilaku manusia yang berdasarkan atas kesadaran moral, perilakunya akan selalu direalisasikan sebagaimana yang seharusnya, kapan saja dan di mana saja.

Unsur Kesadaran Moral. Unsur-unsur pokok dalam kesadaran moral memperlihatkan suatu struktur: a. Bahwa kewajiban yang membebaninya bersifat mutlak, b. Dan itulah demikian karena melaksanakan kewajiban itu memang merupakan kewajiban setiap orang. c. Dan bahwa dengan mengambil keputusan untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan kewajiban itu. d. Bahwa kewajiban itu masuk akal dan pantas disetujui.

e. Dengan demikian sekaligus menentukan nilainya sendiri.
12

Dari struktur itu menunjukkan ada tiga unsur dalam kesadaran moral menurut Franz Magnis Suseno yaitu : a. Mengungkapkan kesadaran bahwa kewajiban moral itu bersifat mutlak. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral itu ada, dan terjadi di dalam setiap hati sanubari manusia, siapa pun, dimanapun dan pakan pun. Kewajiban tersebut tidak dapat ditawar-tawar, karena sebagai keawajiban maka andaikata dalam pelaksanaannya tidak dipatuhi berarti suatu pelanggaran moral. Tentang rasa wajib ini menunjukkan bahwa suara batin harus selalu ditaati, karena suara batin justru sebagai kesadaran bahwa seseorang merasa mempunyai beban atas kewajiban mutlak, untuk melaksanakan sesuatu, tidak ada kekuatan apa pun yang berhak mengganggu pelaksanaannya. Norma moral dibedakan dengan norma-norma lainnya oleh karena disertai kewajiban mutlak untuk melaksanakannya. b. Mengungkapkan rasionalitas kesadaran moral. Kesadaran moral dapat dikatakanrasional, karena berlaku umum, lagi pula terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Dinyatakan pula sebagai hal yang obyektif dapat diuniversalisasikan, artinya dapat disetujui, berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam situasi sejenis. Dalam masalah rasionalitas kesadaran moral itu manusia meyakini bahwa akan sampai pada pendapat yang sama sebagai suatu masalah moral, asal manusia bebas dari paksaan dan tekanan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak berfihak, bersedia untuk bertindak sesuai dengan kaidah yang berlaku umum, pengetahuan jernih dan mengetahui informasi. c. Mengungkapkan segi tanggung jawab subyektif (Kebebasan) Atas kesadaran moralnya seseorang bebas untuk mentaatinya. Bebas dalam menentukan perilakunya dan di dalam penentuan itu sekaligus terpampang pula nilai manusia itu sendiri. (Achmad Charris Zubair, 1987, hal. 54-55) Sedangkan Poedjawijatno berpendapat bahwa kata hati (istilah lain dari

kesadaran moral) bertindak sebagai berikut :

13

a. Index atau petunjuk. Memberi petunjuk tentang baik-buruknya sesuatu tindakan yang mungkin akan dilakukan seseorang. b. Iudex atau hakim. Sesudah tindakan dilakukan, kata hati menentukan baik-buruknya tindakan. c. Vindex atau penghukum. Jika ternyata itu buruk, maka dikatakan dengan tegas dan berulangkali bahwa buruklah itu. Notonagoro berpendapat unsur dari kesadaran moral itu adalah : a. Sebelum. Sebelum melakukan tindakan, kata hati sudah memutuskan satu di antara 4 hal, yaitu : memerintahkan, melarang, menganjurkan, dan atau membiarkan. b. Sesudah. Sesudah melakukan tindakan, bila bermoral diberi penghargaan, bila tidak bermoral dicela, atau dihukum. (Achmad Charris Zubair, 1987, hal. 55) Kewajiban moral adalah kewajiban yang mengikat batin seseorang lepas dari pendapat masyarakat teman maupun atasan. Kewajiban moral mempunyai ciri yang membedakan dari semua kewajiban yang lain yaitu tidak dapat ditawar-tawar dan bersifat mutlak. Tokoh yang memperhatikan adanya sifat mutlak dari kewajiban moral adalam Immanuel Kant. Immanuel Kant membedakan dua kewajiban moral yaitu: 1. Imperatif hipotetis (perintah bersyarat). Contoh, seorang pelatih memberi perintah kepada pelari A „jangan merokok‟. Perintah ini berlaku secara hipotetis yaitu agar A dapat mencapai prestasi yang tinggi. 2.Imperatif kategoris (perintah tanpa syarat/mutlak). Contoh, seseorang yang pernah meminjamkan uang Rp 100,- kemudian menerima pengembalian Rp. 400,- maka seseorang itu harus mengembalikan uang kelebihannya. Kesadaran untuk mengembalikan uang itu adalah kesadaran moral yang tegas, karena orang mengalami bagai suara yang bicara dalam batin. Jadi yang membedakan norma moral dengan norma lainnya adalah karena adanya kesadaran akan kewajiban mutlak untuk melakukannya. Kaidah Dasar Moral.

14

Sekurang-kurangnya ada dua kaidah atau norma dasar yang tidak tergantung satu sama lain, yaitu : a. Kaidah sikap baik. Dengan kaidah maksimalisasi-akibat-baik dimaksudkan prinsip bahwa kita wajib bertindak sedemikian rupa sehingga ada kelebihan maksimal dari akibat baik dibandingkan dengan akibat buruk.Tetapi jelaslah bahwa kaidah ini hanya berlaku kalau kita menerima kaidah yang lebih dasar lagi, yaitu bahwa kita harus membuat yang baik dan mencegah yang buruk.Hanya berdasarkan kaidah ini kita wajib untuk mengusahakan suatu kelebihan dari pada akibat-akibat yang baik. Kaidah sikap baik mendasari semua norma moral. Kita pada dasarnya kecuali kalau ada alasan khusus, mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bersikap baik dalam arti; memandang seseorang/sesuatu tidak hanya sejauh berguna bagi saya; menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan seseorang/sesuatu berkembang demi dia itu sendiri. b. Kaidah keadilan. Keadilan disini adalah keadilan dalam membagikan yang baik dan yang buruk. Kaidah ini mengandung kewajiban untuk memberi perlakuan yang sama kepada semua orang dalam pembagian dari pada yang baik dan yang buruk dalam pemberian bantuan dan tugas-tugas, dan fungsi-fungsi sosial dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan mereka. (Franz Magnis Suseno, 1987, hal. 103-105) C.Ruang Lingkup Etika 1. Macam Etika

15

Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya perilaku manusia, yaitu: a. Etika diskriptif, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikerjar oleh manusia dalam hidup ini sebagai suatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku/sikap yang akan diambil. b. Etika Normatif, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan. Secara umum Etika dapat dibagi menjadi: 1. Etika Umum berbicara mengenai norma dan nilai moral, kondisi-kondisi dasar bagi manusia untuk bertindak secara etis,bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika, lembaga-lembaga normatif dan semacamnya. 2. Etika Khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud: Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis: cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan/tindakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada akibatnya.

Etika Khusus dibagi lagi menjadi 3: a. Etika Individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.

16

b. Etika Sosial berbicara mengenai kewajiban dan hak, sikap dan pola perilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. Etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan. Karena kewajiban seseorang terhadap dirinya berkaitan langsung dan dalam banyak hal mempengaruhi pula kewajibannya dengan orang lain, dan demikian pula sebaliknya. Etika sosial menyangkut hungan manusia dengan manusia lain. Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian/bidang. Dan pembahasan bidang yang paling aktual saat ini adalah mengenai: a). Sikap terhadap sesama b). Etika keluarga c). Etika profesi d). Etika politik e). Etika lingkungan f). Etika ideology c. Etika Lingkungan Hidup, menjelaskan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya dan juga hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada lingkungan hidup secara keseluruhan. 2. Macam-Macam Norma Norma memberi pedoman tentang bagaimana kita harus hidup dan bertindak secara baik dan tepat, sekaligus menjadi dasar bagi penilaian mengenai baik buruknya perilaku dan tindakan kita.

Macam Norma : a. Norma Khusus b. Norma Umum
17

- Norma Sopan santun - Norma Hukum - Norma Moral Norma-norma Khusus adalah aturan yang berlaku dalam bidang kegiatan atau kehidupan khusus, misalnya aturan olah raga, aturan pendidikan dan lain-lain. Norma-norma Umum sebaliknya lebih bersifat umum dan sampai pada tingkat tertentu boleh dikatakan bersifat universal. Norma Sopan santun / Norma Etiket adalah norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah dalam pergaulan sehari-hari. Etika tidak sama dengan Etiket. Etiket hanya menyangkut perilaku lahiriah yang menyangkut sopan santun atau tata krama Norma Hukum adalah norma yang dituntut keberlakuannya secara tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu dan niscaya demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Norma Moral, yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Norma moral ini menyangkut aturan tentang baik buruknya, adil tidaknya tindakan dan perilaku manusia sejauh ia dilihat sebagai manusia. Ada beberapa ciri utama yang membedakan norma moral dari norma umum lainnya ( kendati dalam kaitan dengan norma hukum ciri-ciri ini bisa tumpang tindih) : 1. Kaidah moral berkaitan dengan hal-hal yang mempunyai atau yang dianggap mempunyai konsekuensi yang serius bagi kesejahteraan, kebaikan dan kehidupan manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok. 2. Norma moral tidak ditetapkan dan/atau diubah oleh keputusan penguasa tertentu. Norma moral dan juga norma hukum merupakan ekspresi, cermin dan harapan masyarakat mengenai apa yang baik dan apa yang buruk. Berbeda dengan norma hukum, norma moral tidak dikodifikasikan, tidak ditetapkan atau diubah oleh pemerintah. Ia lebih merupakan hukum tak tertulis dalam hati setiap anggota masyarakat, yang karena itu mengikat semua anggota dari dalam dirinya sendiri. 3. Norma moral selalu menyangkut sebuah perasaan khusus tertentu, yang oleh beberapa filsuf moral disebut sebagai perasaan moral (moral sense). 3. Teori Etika
18

a. Etika teleologi Etika teleologi yaitu etika yang mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibatnya yang ditimbulkan atas tindakan yang dilakukan. Suatu tindakan dinilai baik, jika bertujuan mencapai sesuatu yang baik,atau akibat yang ditimbulkannya baik dan bermanfaat. Misalnya : mencuri sebagai etika teleology tidak dinilai baik atau buruk. berdasarkan tindakan itu sendiri, melainkan oleh tujuan dan akibat dari tindakan itu. Jika tujuannya baik, maka tindakan itu dinilai baik. Contoh seorang anak mencuri untuk membiayai berobat ibunya yang sedang sakit, tindakan ini baik untuk moral kemanusian tetapi dari aspek hukum jelas tindakan ini melanggar hukum. Sehingga etika teologi lebih bersifat situasional, karena tujuan dan akibatnya suatu tindakan bisa sangat bergantung pada situasi khusus tertentu. Karena itu setiap norma dan kewajiban moral tidak bisa berlaku begitu saja dalam situasi sebagaimana dimaksudkan. Filosofinya;” Egoism” : Perilaku yang dapat diterima tergantung pada konsekuensinya. Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya.Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung

menjadihedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar. Memaksimalkan kepentingan kita terkait erat dengan akibat yang kita terima.· Filosofi “ Utilitarianism”: Semakin tinggi kegunaannya maka semakin tinggi nilainya. Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah “the greatest happiness of the greatest number”, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar. b. Teori Deontologi Teori Deontologi yaitu : berasal dari bahasa Yunani , “Deon“ berarti tugas dan “logos” berarti pengetahhuan. Sehingga Etika Deontologi menekankan kewajiban manusia untuk
19

bertindak secara baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibatnya atau tujuan baik dari tindakanyang dilakukan, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada diri sendiri. Dengan kata lainnya, bahwa tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindkan itu. Contoh : jika seseorang diberi tugas dan melaksanakanny sesuai dengan tugas maka itu dianggap benar, sedang dikatakan salah jika tidak melaksanakan tugas. 4. Hubungan antar etika, moral dan hukum Tahun 1927-1987 Lawrence Konhberg menyatakan bahwa etika dekat dengan moral. Lawrence menyatakan bahwa pendidikan moral merupakan integrasi berbagai ilmu seperti psikologi, sosiologi, antropologi budaya, filsafat, ilmu pendidikan, bahkan ilmu politik. Lawrence mencatat enam orientasi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Orientasi pada hukuman, ganjran, kekuatan fisik dan material. Orientasi hedonistis hubungan antarmanusia. Oreintasi konformitas. Orientasi pada otoritas. Orientasi kontrak social. Orientasi moralitas prinsip suara hati, individual, konprehensif, dan universal.

Tahun 1991 menurut Sony Keraf, moralitas adalah system nilai tentang bagaimana kita harus hidup dengan baik sebagai manusia. Tahun 1987 Frans Magnis Suseno, memiliki pernyataan sepaham bahwa etiak adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran, sedangkan ,yang memberi manusia norma tentang bagaimana manusia harus hidup adalah moralitas.
20

Tahun 2002 Jan Hoesada, mencatat beberapa factor yang berpengaruh pada keputusan atau tindakan tidak etis dalam sebuah perusahaan: a. b. c. d. e. Kebutuhan individu Tidak ada pedoman Perilaku dan kebiasaan individu Lingkungan tidak etis Perilaku atasan

5. Berbagai macam etika yang berkembang di masyarakat

Etika dikelompokkan kedalam dua jenis: 1. Etika deskriptif, merupan etika yang berbicara mengenai suatu fakta, yaitu tentang nilai dan perilaku manusia terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya dalam kehidupan masyarakat.

21

2. Etika Normatif, merupakan etika yang memberikan penilaian serta himbauan kepada manusia tentang bagaimana harus bertindak sesuai norma yang berlaku. Tahun 1991 Sony Keraf mencatat adanya dua macam, norma umum dan norma khusus. Norma umum merupakan norma yang memiliki sifat universal dan di kelompokkan menjadi tiga kelompok: a. Norma sopan santun, yaitu norma yang menyangkut tata cara hidup dalam pergaulan sehari-hari. b. Norma hukum, yaitu norma yang memiliki keberlakuan lebih tegas karena diatur oleh suatu hokum dengan jaminan hukuman bagi pelanggarnya. c. Norma moral, merupakan norma yang sering digunakan sebagai tolok ukur masyarakat untuk memnentukan baik buruknya seorang sebagai manusia. Sistem Penilaian Etika a. Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah padaperbuatan baik atau jahat, susila atau tidak susila. b. Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifatbaginya atau telah mendarah daging, itulah yang disebutakhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bilatelah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya adalah dari dalam jiwa; dari semasih berupa angan-angan, cita-cita, niathati, sampai ia lahir keluar berupa perbuatan nyata. Tiga Tingkat Nilai Perbuatan a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadiperbuatan, jadi masih berupa rencana dalamhati, niat. b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatannyata, yaitu pekerti. c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatantersebut, yaitu baik atau buruk
22

Realisasi Kebaikan a. Tujuan baik, tetapi cara untuk mencapainyayang tidak baik. b. Tujuannya yang tidak baik, cara mencapainya ;kelihatannya baik. c. Tujuannya tidak baik, dan cara mencapainyajuga tidak baik. d. Tujuannya baik, dan cara mencapainya juga terlihat baik 6. Etika dan tantangan masa depan Sebagai contoh munculnya teknologi computer maka manusia seharusnya diuntungkan dengan berfungsinya jejak-jejak memori akibat operasi otak dan mental seperti berfikir, menghitung, dan merencanakan sesuatu.Beberapa pendapat mengemukakan bahwa kemudahan yang ditawarkan computer nyata-nyata menimbulkan ketergantunga manusia terhadap teknologi. Perubahan yang terjadi pada cara berpikir manusia sebagai salah satu akibat perkembanghan teknologi tersebut, sedikit berpengaruh terhadap pelaksanaan dan cara pandang manusia terhadap etika dan norma-norma dalam kehidupannya. Teknologi sebenarnya hanya alat yang digunakan manusia untuk menjawab tantangan hidup.Faktor manusia dalam teknologi sangat penting.Sebenarnya teknologi dikembangkan untuk membantu manusia dalam melaksanakan aktivitasnya.

23

BAB II HUBUNGAN ETIKA DAN FILSAFAT
Setelah mempelajari bagian ini, diharapkan memahami: a. Pengertian apa itu filsafat. b. Obyek, metode dan cirri-ciri dalam filsafat sehingga bias membedakan dengan ilmu-ilmu lain. c. Asal dan peranan serta kegunaan filsafat. d. Pembagian (cabang-cabang) filsafat sehingga mengerti bahwa etika adalah merupakan salah satu bagian dari filsafat. e. Hubungan antara etika dan filsafat

A. Pengertian Filsafat Pengertian filsafat, dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli filsafat dan ahli filsafat lainnya selalu berbeda. Dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi yakni secara etimologi dan secara terminilogi. 1. Arti secara etimologi. Kata filsafat yang dalam bahasa Arab „falsafah‟ yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah „philosophy‟, adalah berasal dari bahasa Yunani „philosophia‟. Kata philosophia terdiri dari kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalamdalamnya. Seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582 – 496 SM). Arti filsafat pada saat itu belum begitu jelas, kemudian pengertian filsafat itu diperjelas seperti halnya yang banyak dipakai sekarang ini digunakan oleh para kaum sophist dan juga oleh Socrates (470 – 399 SM). (Lasiyo dan Yuwono, 1985, hal. 1) 2. Arti terminologi. Dalam arti terminologi maksudnya arti yang dikandung oleh istilah atau statemen „filsafat‟.Lantaran batasan filsafat itu banyak, maka sebagai gambaran dikenalkan beberapa batasan. a. Plato.
24

Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. b. Aristoteles. Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan). c. Al Farabi. Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. d. Rene Descartes. Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. e. Immanuel Kant. Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang didalamnya tercakup masalah epistemologi (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui? f. Langeveld. Filsafat adalah berpikir tentang masalah-masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu masalah-masalah yang mengenai makna keadaan, Tuhan, keabdadian dan kebebasan. g. Hasbullah Bakry. Ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. (Abbas Hamami M., 1976, hal. 2-3) h. N. Driyarkara. Filsafat adalah permenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebab „ada‟ dan „berbuat‟ permenungan tentang kenyataan (reality) yang sedalamdalamnya, sampai ke „mengapa‟ yang penghabisan. i. Notonagoro.
25

Filsafat itu menelaah hal-hal yang menjadi obyeknya dari sudut intinya yang mutlak dan yang terdalam, yang tetap dan yang tidak berubah, yang disebut hakekat. j. IR. Poedjawijatna. Filsafat ialah ilmu yang berusaha untuk mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. (Lasiyo dan Yuwono, 1985, hal. 11) Sedangkan Ali Mudhofir (1996) memberikan arti filsafat sangat beragam yaitu : - Filsafat sebagai suatu sikap Filsafat adalah suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta. Sikap secara filsafat adalah sikap menyelidiki secara kritis, terbuka, toleran dan selalu bersedia meninjau suatu problem dari semua sudut pandangan. - Filsafat sebagai suatu metode. Filsafat sebagai metode artinya sebagai cara berfikir secara reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunakan alasan, berfikir secara hati-hati dan teliti. Filsafat berusaha untuk memikirkan seluruh pengalaman manusia secara mendalam dan jelas. - Filsafat sebagai kelompok persoalan. Banyak persoalan abadi yang dihadapi manusia dan para filsuf berusaha memikirkan dan menjawabnya.Beberapa pertanyaan yang diajukan pada masa lampau telah dijawab secara memuaskan.Misalnya pertanyaan tentang ide-ide bawaan telah dijawab oleh John Locke pada abad ke 17. Namun masih banyak pertanyaan lain yang dijawab sementara. Disamping itu juga masih banyak problem-problem yang jawabannya masih diperdebatkan atau pun diseminarkan sampai hari ini, bahkan ada yang belum terpecahkan. - Filsafat sebagai sekelompok teori atau sistem pemikiran. Sejarah filsafat ditandai dengan pemunculan teori-teori atau sistem-sistem pemikiran yang terlekat pada nama-nama filsuf besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Spinoza, Hegel, Karl Marx, August Comte, dan lain-lainnya. - Filsafat sebagai analisa logis tentang bahasa dan penjelasan makna istilah. Kebanyakan filsuf memakai metode analisis untuk menjelaskan arti suatu istilah dan pemakaian bahasa.Beberapa filsuf mengatakan bahwa analisis tentang arti bahasa
26

merupakan tugas pokok filsafat dan tugas analisis konsep sebagai satu-satunya fungsi filsafat. Para filsuf analitika seperti G.E. Moore, B. Russell, L. Wittgenstein, G. Ryle, J.L. Austin dan yang lainnya berpendapat bahwa tujuan filsafat adalah menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara menjelaskan arti istilah atau ungkapan yang dipakai dalam ilmu pengetahuan dan dipakai dalam kehidupan seharihari. Mereka berpendirian bahwa bahasa merupakan laboratorium para filsuf, yaitu tempat menyemai dan mengembangkan ide-ide. - Filsafat merupakan usaha untuk memperoleh pandangan yang menyeluruh. Filsafat mencoba menggabungkan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai ilmu dan pengalaman manusia menjadi suatu pandangan dunia yang konsisten.Para filsuf berhasrat meninjau kehidupan tidak dengan sudut pandangan yang khusus sebagaimana dilakukan oleh seorang ilmuwan.Para filsuf memakai pandangan yang menyeluruh terhadap kehidupan sebagai suatu totalitas.Menurut para ahli filsafat spekulatif (yang dibedakan dengan filsafat kritis), dengan tokohnya C.D. Broad, tujuan filsafat adalah mengambil alih hasil-hasil pengalaman manusia dalam bidang keagamaan, etika, dan ilmu pengetahuan, kemudian hasil-hasil tersebut direnungkan secara menyeluruh. Dengan cara ini diharapkan dapat diperoleh beberapa kesimpulan umum tentang sifat-sifat dasar alam semesta, kedudukan manusia di dalamnya serta pandangan-pandangan ke depan. Para filsuf seperti Plato, Aristoteles, Thomas

Aquinas, Hegel, Bergson, John Dewey dan A.N. Whitehead termasuk filsuf yang berusaha untuk memperoleh pandangan tentang hal-hal secara komprehensif.(Ali Mudhofir, 1996, hal. 2-6). Dengan memperhatikan batasan-batasan yang tentunya masih banyak yang belum dicantumkan, maka dapat ditarik benang merahnya sebagai kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakekatnya. Filsafat bukannya mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah hakekat dari suatu fenomena. Hakekat adalah suatu prinsip yang menyatakan sesuatu adalah sesuatu itu. Filsafat adalah usaha untuk mengetahui segala sesuatu. Ada/Being merupakan implikasi dasar. Jadi segala sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu pasti dia
27

adalah bieng. Filsafat mempunyai tujuan untuk membicarakan keberadaan. Jadi filsafat membahas lapisan yang terakhir dari segala sesuatu atau membahas masalahmasalah yang paling dasar. Tujuan filsafat adalah mencari hakekat dari sesuatu obek/gejala secara mendalam. Sedangkan pada ilmu pengetahuan empiris hanya membicarakan gejalagejala. Membicarakan gejala untuk masuk ke hakekat itulah dalam filsafat. Untuk sampai ke hakekat harus melalui suatu metode-metode yang khas dari filsafat. Kalau digambarkan dalam suatu bagan perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan empiris adalah :

Subyek

Gejala

Hakekat ( Filsafat )

Ilmu Pengetahuan

Jadi dalam filsafat itu harus refleksi, radikal , dan integral. Refleksi disini berarti manusia menangkap obyeknya secara intensional dan sebagai hasil dari proses tersebut yakni keseluruhan nilai dan makna yang diungkapkan manusia dari obyekobyek yang dihadapinya. Radikal adalah berasal dari kata radix (berarti akar). Jadi filsafat itu radikal berarti filsafat harus mencari pengetahuan sedalam-dalamnya (sampai keakarakarnya). Radikalitas disini berarti dalam pengertian sejauh akal manusia mampu menemukannya, sebab filsafat tidak akan membicarakan yang jelas berada di luar jangkauan akal budi yang sehat. Filsafat tidak membatasi obyeknya seperti ulmuilmu pengetahuan. Disamping itu filsafat itu radikal karena berusaha untuk mencari hakekat dari obyek yang dibahas. Filsafat tidak berhenti pada pengetahuan periferis (kulit atau penampakannya) tetapi filsafat ingin menembus hingga inti masalah

dengan mencari manakah faktor-faktor yang fundamental yang membentuk adanya sesuatu.
28

Filsafat itu integral berarti mempunyai kecenderungan untuk memperoleh pengetahuan yang utuh sebagai suatu keseluruhan. Jadi filsafat ingin memandang obyeknya secara integral. B. Obyek Filsafat. Obyek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai obyek, yang dibedakan menjadi dua yaitu : obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat. Obyek material. yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Boleh juga obyek material adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Obyek material mencakup apa saja, baik hal-hal konkrit atau pun hal yang abstrak. Obyek material dari filsafat ada beberapa istilah dari para cendekiawan, namun semua itu sebenarnya tidak ada yang bertentangan. 1. Mohammad Noor Syam berpendapat, „Para ahli menerangkan bahwa obyek filsafat itu dibedakan atas obyek materia atau obyek materiil filsafat; segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, baik materiil konkrit, phisis maupun non-materiil abstrak, psikhis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional, spirituail, nilai-nilai. Dengan demikian obyek filsafat tak terbatas‟. (Mohammad Noor Syam, 1981, hal. 12) 2. Poedjawijatna berpendapat,‟Jadi obyek materia filsafat ialah; ada dan yang mungkin ada. Manakah obyek filsafat dengan obyek segala dari keseluruhan ilmu atau dapatkah dikatakan bahwa filsafat itu keseluruhan dari segala ilmu yang menyelidiki segala sesuatunya juga?‟. Dapat dikatakan memang, bahwa obyek filsafat yang kami maksud obyek materianya – sama dengan obyek materia dari ilmu seluruhnya. Akan tetapi filsafat tetap filsafat dan bukanlah merupakan kumpulan atau keseluruhan ilmu‟. (Poedjawijatna, 1980, hal. 8) 3. Dr. Oemar Amir Hoesin berpendapat masalah lapangan penyelidikan filsafat adalah: „Oleh karena manusia mempunyai kecenderungan hendak berpikir tentang segala sesuatu dalam alam semesta, terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada. Obyek sebagai tersebut di atas itu adalah menjadi obyek material filsafat‟.
29

4. Louis O Kattsoff berpendapat, „lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia‟. (Burhanuddin Salam, 1988, hal. 39) 5. Drs. H.A. Dardiri berpendapat, „obyek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan‟. Kemudian apakah gerangan segala sesuatu yang ada itu? Segala sesuatu yang ada dapat dibagi dua, yaitu : 1. Ada yang bersifat umum, dan 2. Ada yang bersifat khusus. Ilmu yang menyelidiki tentang hal ada pada umumnya disebut ontologi. Sedangkan ada yang bersifat khusus dibagi dua, yaitu ada yang mutlak, dan ada yang tidak mutlak. Ilmu yang menyelidiki tentang ada yang bersifat mutlak disebut theodicea. Dan ada yang tidak mutlak dibagi lagi menjadi dua yaitu alam dan manusia. Ilmu yang menyelidiki alam disebut kosmologi dan ilmu yang menyelidiki manusia disebut antropologi metafisik. (H.A. Dardiri, 1986, hal. 1314) 6. Abbas Hamami M. berpendapat, „sehingga dalam filsafat obyek materil itu adalah ada yang mengatakan, alam semesta, semua keberadaan, masalah hidup, masalah manusia, masalah Tuhan dan lainnya. Karena itulah maka untuk menjadikan satu pendapat tentang tumpuan yang berbeda itu akhirnya dikatakan bahwa segala sesuatu yang „ada‟ lah yang merupakan obyek materil‟. (Abbas Hamami M., 1976, hal. 5-6) Setelah meneropong berbagai pendapat dari para hali tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa obyek material dari filsafat adalah sangat luas yaitu yang mencakup segala sesuatu yang ada. Sedangkan persoalan-persoalan dalam kefilsafatan mengandung ciri-ciri seperti yang dikemukakan Ali Mudhofir (1996) yaitu : - Bersifat sangat umum. Artinya persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan obyek-obyek khusus. Dengan kata lain sebagian besar masalah kefilsafatan berkaitan ide-ide besar. Misalnya, filsafat tidak menanyakan “berapa harta yang anda sedekahkan dalam satu bulan?” Akan tetapi filsafat menanyakan “apa keadilan itu?”.
30

- Tidak menyangkut fakta. Dengan kata lain persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan-persoalan yang dihadapi dapat melampaui pengetahuan ilmiah. - Bersangkutan dengan nilai-nilai (values), artinya persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan pernilaian baik nilai moral, estetis, agama dan sosial. Nilai dalam pengertian ini adalah suatu kualitas abstrak yang ada pada sesuatu hal. - Bersifat kritis, artinya filsafat merupakan analisis secara kritis terhadap konsepkonsep dan arti-arti yang biasanya diterima dengan begitu saja oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis. - Bersifat sinoptik, artinya persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan. - Bersifat implikatif, artinya kalau sesuatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, maka dari jawaban tersebut akan memunculkan persoalan baru yang saling berhbungan. Jawaban yang dikemukakan mengandung akibat-akibat lebih jauh yang menyentuh kepentingan-kepentingan manusia. Obyek formal filsafat. Obyek formal yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana obyek material itu disorot. Obyek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Satu obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbedabeda. Misalnya obyek materialnya adalah “manusia” dan manusia ini ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya. Obyek formal filsafat yaitu sudut pandangan yang menyeluruh, secara umum, sehingga dapat mencapai hakekat dari pada obyek materialnya. (Lasiyo dan Yuwono, 1985, hal. 6). Jadi yang membedakan antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain terletak dalam obyek material dan obyek formalnya. Kalau dalam ilmu-ilmu lain obyek materialnya membatasi diri, sedangkan pada filsafat tidak membatasi diri. Sedangkan pada obyek formalnya membahas obyek materialnya itu sampai ke hakekat atau esensi dari yang dihadapinya.
31

C. Metode Filsafat. Kata metode berasal dari kata Yunani methodos, sambungan kata depan meta (ialah : menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata benda hodos (ialah : jalan, perjalanan, cara, arah) kata methodos sendiri lalu berarti: penelitian, metode ilmiah, hipotesa ilmiah, uraian ilmiah. Metode ialah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. (Anton Bakker, 1984, hal. 10) Sebenarnya jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan definisi dari para ahli dan filsuf sendiri. Karena metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakekat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Lantaran banyaknya metode ini, Runes dalam Dictionary of Philosophy sebagai mana dikutip oleh Anton Bakker menguraikan sepanjang sejarah filsafat telah dikembangkan sejumlah metode-metode filsafat yang berbeda dengan cukup jelas. Yang paling penting dapat disusun menurut garis historis sedikitnya ada 10 metode, yaitu : 1. Metode Kritis : Sokrates, Plato. Bersifat analisa istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak, akhirnya ditemukan hakekat. 2. Metode Intuitif : Plotinus, Bergson. Dengan jalan instrospeksi intuitif, dan dengan pemakaian simbol-simbol diusahakan pembersiahan intelektual (bersama dengan persucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pikiran. Bergson: dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan. 3. Metode Skolastik : Aristoteles, Thomas Aquinas, Filsafat Abad Pertengahan. Bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik-tolak dari definisi-definisi atau prinsipprinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik kesimpulan-kesimpulan. 4. Metode Geometris : Rene Descartes dan pengikutnya.

32

Melalui analisa mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakekat-hakekat „sederhana‟ (ide terang dan berbeda dari yang lain); dari hakekat-hakekat itu dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya. 5. Metode empiris : Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume. Hanya pengalamlah menyajikan pengertian benar; maka semua pengerian (ideide) dalam introspeksi dibandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian disusun bersama secara geometris. 6. Metode Transendental : Immanuel Kant, Neo-Skolastik. Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisa diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian. 7. Metode Fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme. Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakekat-hakekat murni. 8. Metode Dialektis : Hegel, Marx. Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis, sintesis dicapai hakekat kenyataan. 9. Metode neo-positivistis. Kenyataan dipahami menurut hakekatnya dengan jalan mempergunakan aturanaturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta). 10.Metode analitika bahasa : Wittgenstein. Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. (Anton Bakker, 1984, hal. 21-22) Dari sepuluh metode tersebut hanya beberapa metode yang khas bagi filsafat yang dianggap paling penting dan berpengaruh sepanjang sejarah filsafat. Metode yang khas itulah yang dibahas oleh Anton Bakker dalam bukunya Metode-metode Filsafat yakni metode kritis (Sokrates, Plato), metode intuitif (Plotinus, Henri Bergson), metode skolastik (Thomas Aquinas), metode geometris (Rene Descartes), metode eksperimentil (David Hume), metode kritis-transendental (Immanuel Kant, Neo-Skolastik), metode dialektis (Hegel), metode fenomenologis (Husserl, Eksistensialisme), dan metode analitika bahasa (Ludwig Wittgenstein). Sedangkan

33

metode neo-positivistis tidak diuraikannya karena sebenarnya bukanlah metode yang khas filsafat tetapi hanya metode-metode ilmu eksakta sendiri, dan metode linguistik. Penjelasan secara singkat metode-metode filsafat yang khas adalah :
1. Metode Kritis dari Plato dan Sokrates.

Metode ini bersifat praktis dan dijalankan dalam percakapan-percakapan. Sokrates tidak menyelidiki fakta-fakta, melainkan ia menganalisis pendapat-pendapat atau aturan-aturan yang dikemukakan orang. Setiap orang mempunyai pendapat-pendapat tertentu. Seorang negarawan misalnya mempunyai pendapat tertentu mengenai keahliannya, kepada mereka dan kepada warga negara Athena lainnya, Sokrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai pekerjaan mereka dan soal-soal praktis dalam hidup seorang manusia. Sokrates selalu mulai dengan menganggap jawaban pertama sebagai suatu hipotesis dan dengan pertanyaan lebih lanjut ia menarik segala konsekuensi yang dapat

disimpulkan dari jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena membawa konsekuensi-konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain. Hipotesis kedua ini diselidiki dengan pertanyaan-pertanyaan lain dari pihak Sokrates dan seterusnya begitu. Metode Sokrates tersebut biasanya disebut “dialektika” karena dialog atau wawancara mempunyai peranan hakiki di dalamnya. Dalam suatu kutipan yang terkenal dari dialog Theaitetos, Sokrates sendiri mengusulkan nama lain untuk menunjukkan metodenya, yaitu maieutike tekhne (seni kebidanan). Seperti ibunya adalah seorang bidan, tetapi Sokrates tidak menolong badan bersalin, melainkan Sokrates membidani jiwa-jiwa. Sokrates sendiri tidak menyampaikan pengetahuan, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan ia membidani pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain. Dan dengan pertanyaan lebih lanjut ia menguji nilai pikiran-pikiran yang sudah dilahirkan. Dengan cara dialog tersebut Sokrates menemukan suatu cara berpikir induksi, maksudnya berdasarkan beberapa pengetahuan mengenai masalah-masalah khusus memperoleh kesimpulan pengetahuan yang bersifat umum. ( Sudarsono, 1993, hal. 88-90)
34

2. Metode intuisi dikembangkan oleh Plotinus dan Henri Bergson. Guna menyelami hakikat segala kenyataan diperlukan intuisi yaitu suatu tenaga rohani, suatu kecakapan yang dapat melepaskan diri dari akal, kecakapan untuk menyimpulkan serta meninjau dengan sadar. Intuisi adalah naluri yang telah mendapatkan kesadaran diri, yang telah diciptakan untuk memikirkan sasaran serta memperluas sasaran itu menurut kehendak sendiri tanpa batas. Intuisi adalah suatu bentuk pemikiran yang berbeda dengan pemikiran akal, sebab pemikiran intuisi bersifat dinamis. Fungsi intuisi ialah untuk mengenal hakikat pribadinya atau „aku‟ dengan lebih murni dan untuk mengenal hakikat seluruh kenyataan. Hakikat yang sebenarnya, baik dari „aku‟ maupun dari „seluruh kenyataan‟ oleh intuisi dilihat sebagai „kelangsungan murni‟ atau „masa murni‟, yang keadaannya berbeda sekali dengan „waktu‟ yang dikenal akal. Akal, jika ingin mengerti keadaan suatu kenyataan, kenyataan itu dianalisis,

dibongkar dalam banyak unsur. Unsur yang satu dibedakan dengan yang lain, dipisahkan dari yang lain, dan ditempatkan yang satu di samping yang lain serta sesudah yang lain, artinya: akal memikirkan kembali unsur-unsur itu dalam ruang dan waktu. Kerja akal yang demikian itu oleh Bergson disebut kerja yang sinematografis. Prinsip metode Plotinus adalah harmoni, maksudnya adalah mengumpulkan banyak bahan dari beberapa filsuf lain kemudian dibanding-bandingkan dan ditimbangtimbang kembali sehingga dapat diberi tafsiran baru. Selanjutnya ia cari kebenaran dengan jalan yang sangat rumit (kompleks). 3. Metode Skolastik dengan tokoh yang terkenal ialah Aristoteles dan Thomas Aquinas. Metode skolastik sering disebut sintetis deduktif. Sering nama metode skolastik dipakai untuk menguraikan metode mengajar, seperti terjadi di sekolah-sekolah dan universitas-universitas; bukan hanya dalam filsafat, melainkan dalam semua ilmu, seperti pula : hukum, kedokteran, ilmu pasti, dan artes. Namun itu belum cukup. Kalau dicari metode filsafat Thomas Aquinas, pertama-tama harus diteliti cara berpikir, cara menguraikan dan membuktikan ajarannya.
35

Filsafat Thomas Aquinas dihubungkan erat sekali dengan teologia. Sekali pun demikian pada dasarnya filsafatnya dapat dipandang sebagai suatu filsafat kodrati yang murni. 4. Metode geometris dan metode empiris. Rene Descartes menjadi tokoh pencetus metode geometris dan metode empiris didukung oleh Hobbes, Locke, Berkeley dan Hume. Kedua metode tersebut memiliki tempat tersendiri dalam upaya pencarian nilai-nilai kefilsafatan secara radikal dan hakiki. Rene Descartes berpendapat bahwa ada ketersusunan alami dalam kenyataan yang ada hubungannya dengan penegrtian manusia. Disamping itu ia berusaha keras untuk menemukan yang benar. Adapun yang harus dipandang sebagai yang benar adalah apa yang jelas dan terang (clear and distictly). Berbeda halnya dengan metode empirisme yang diolah Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume. Thomas Hobbes telah menyusun suatu sistem yang lengkap, Ia berpangkal kepada empirisme secara konsekuen. Sekalipun ia berpangkal pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan rasionalisme dalam bentuk suatu filsafat materialistis yang konsekuen pada zaman modern. Baginya filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum, sebab filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat, atau tentang penampakanpenampakan yang sedemikian seperti yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asal-usul yang sedemikian seperti yang dapat dimiliki dari mengetahui terlebih dahulu akibatakibatnya. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati, sedang maksudnya adalah mencari sebab-sebabnya. Adapun peralatannya adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dalam pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bentuk pengertian-pengertian yang ada di dalam kesadaran kita. Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian: ruang, waktu, bilangan dan gerak, yang diamati pada benda-benda yang bergerak. Menurut Hobbes tidak semua yang diamati

36

pada benda-benda itu adalah nyata. Yang benar-benar nyata adalah gerak dari bagianbagian kecil benda-benda itu. Segala gejala pada benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya yang ada pada si pengamat saja. (Sudarsono, 1993, hal. 9195) 5. Metode transendental : Kant, Neo-Skolastik. Aliran rasionalisme dan empirisme akhirnya diatasi oleh filsafat Immanuel Kant. Filsafatnya terutama ditekankan kepada aktivitas pengertian dan penilaian manusia. Jadi dalam hal ini tidak menurut aspek atau segi kejiwaan sebagaimana dalam empirisme akan tetapi sebagai analisis kritis. Menurut Kant, pemikiran telah mencapai arahnya yang pasti di dalam ilmu pengetahuan alam, seperti yang telah disusun oleh Newton. Ilmu pengetahuan alam itu telah mengajar kita, bahwa perlu sekali kita terlebih dahulu secara kritis menilai pengenalan atau tindakan mengenal itu sendiri. 6. Metode Dialektis : Hegel , Karl Marx. Jalan untuk memahami kenyataan bagi Hegel adalah mengikuti gerakan pikiran atau konsep. Asal saja mulai berpikir secara benar, ia akan dibawa oleh dinamika pikiran itu sendiri, dan akan dapat memahami seluruh perkembangan sejarah pula. Struktur di dalam pikiran adalah sama dengan proses genetis dalam kenyataan, maka metode dan teori atau sistem tidak dapat dipisahkan. Karena mengikuti dinamika di dalam pikiran dan kenyataan itu, maka metode Hegel disebut metode dialektis. Dialektis itu diungkapkan sebagai tiga langkah yaitu dua pengertian yang bertentangan, kemudian didamaikan (tesis – antitesis – sintesis) 7. Metode fenomenologi : Husserl. Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani “fenomenon” yang berarti sesuatu yang tampak, atau gejala. Fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau suatu aliran yang membicarakan tentang gejala.

37

Pada prinsipnya dengan metode fenomenologi yang dibangun oleh Husserl ingin mencapai “hakikat segala sesuatu”, maksudnya ialah agar mencapai “pengertian yang sebenarnya” atau “hal yang sebenarnya” yang menerobos semua gejala yang tampak. Usaha untuk mencapai hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan. Husserl mengemukakan tiga macam reduksi yaitu : 1. Reduksi fenomenologis , kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita, dengan maksud supaya mendapatkan fenomen dalam wujud yang semurnimurninya. 2. Reduksi eidetis, penyaringan atau penempatan dalam tanda kurung segala hal yang bukan eidos atau inti sari atau hakikat gejala atau fenomenon. Jadi hasil reduksi kedua ialah “penilikan hakikat”. Disini melihat hakekat sesuatu. Inilah pengertian yang sejati. 3. Reduksi transendental, yang harus ditempatkan di antara tanda kurung dahulu ialah eksistensi dan segala sesuatu yang tiada hubungan timbal balik dengan kesadaran murni, supaya dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri. 8. Metode analitika bahasa : Wettgenstein. Metode ini dapat dinilai cukp netral sebab sama sekali tidak mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya dalam metode ini ialah semua kesimpulan dan hasilnya senantiasa didasarkan kepada penelitian bahasa yang logis. (Sudarsono, 1993, hal. 96 – 102) D. Ciri-ciri Filsafat. Pemikiran kefilsafatan menurut Drs. Suyadi MP mempunyai karakteristik sendiri yaitu : menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Hal ini sama dengan pendapat Drs. Sri Suprapto Wirodiningrat yang menyebut juga pikiran kefilsafatan mempunyai tiga macam ciri, yaitu: menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Lain halnya Sunoto menyebutkan ciri-ciri dari berfilsafat yaitu: deskriptif, kritik atau analitik, evaluatik atau normatif, spekulatif dan sistematik. 1. Menyeluruh.

38

Artinya pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satu sudut pandangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu lain, hubungan ilmu dengan moral, seni dan tujuan hidup. 2. Mendasar. Artinya pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial obyek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi tidak hanya berhenti pada periferis (kulitnya ) saja tetapi sampai tembus ke kedalamannya. 3. Spekulatif. Artinya hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran-pemikiran selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru. Meskipun demikian tidak berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah mencapai keselesaian. (Sri Suprapto Wirodiningrat, 1981, hal. 113-114) Sedangkan menurut Ali Mudhofir (1996) ciri-ciri berfikir secara kefilsafatan adalah: 1. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara radikal. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akar. Berfikir secara radikal adalah berfikir sampai keakarakarnya. Berfikir sampai ke hakekat, essensi atau sampai ke substansi yang difikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan inderawi. 2. Berfikir secara kefilsafat dicirikan secara universal (umum). Berfikir secara universal adalah berfikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum, dalam arti tidak memikirkan hal-hal yang parsial. Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dari ummat manusia. Dengan jalan penjajagan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang universal. 3. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual. Yang dimaksud dengan konsep di sini adalah hasil generalisasi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-

39

proses indivual. Dengan ciri yang konseptual ini maka berfikir secara kefilsafatan melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari. 4. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara koheren dan konsisten. Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir (logis). Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi. 5. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik. Sistematik berasal dari kata sistem. Yang dimaksud dengan sistem adalah kebulatan dari sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap sesuatu masalah, para filsuf atau ahli filsafat memakai pendapat-pendapat sebagai wujud dari proses berfikir yang disebut berfilsafat. Pendapat-pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu. 6. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara komprehensif. Yang dimaksud komprehensif adalah mencakup secara menyeluruh. Berfikir secara kefilsafatan berusaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan. 7. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara bebas. Sampai batas-batas yang luas maka setiap filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural atau pun religius. 8. Berfikir secara kefilsafatan dirikan dengan pemikiran yang bertanggung jawab. Seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berfikir sambil bertanggung jawab. Pertanggungjawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya sendiri. Disini nampaklah hubungan antara kebebasan berfikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya. Fase berikutnya ialah cara bagaimana ia merumuskan fikiran-

fikirannya agar dapat dikomunikasikan pada orang lain. (Ali Mudhofir, 1996, Hal. 13-15) E. Asal dan Peranan Filsafat Asal Filsafat Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk „berfilsafat‟ yaitu : a. Keheranan.

40

Banyak filsuf menunjukkan rasa heran (dalam bahasa Yunani „Thaumasia‟) sebagai asal filsafat. Plato misalnya mengatakan : “Mata kita memberi pengamatan bintangbintang, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat”. b. Kesangsian. Filsuf-filsuf lain, seperti misalnya Augustinus (254 – 430 M) dan Rene Descartes (1596 – 1650 M) menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran, tetapi kemudian ia ragu-ragu. Apakah ia tidak ditipu oleh pancainderanya kalau ia heran? Apakah kita tidak hanya melihat yang ingin kita lihat ? Dimana dapat ditemukan kepastian ? Karena dunia ia penuh dengan macam-macam pendapat, keyakinan dan interpretasi. c. Kesadaran akan keterbatasan. Manusia mulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya itu sangat kecil dan lemah terutama bila dibandingkan dengan alam sekelilingnya. Manusia merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan atau kegagalan. Dengan kesadaran akan keterbatasan dirinya ini manusia mulai berfilsafat. Ia mulai memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas (Harry Hamersma, 1988, hal. 11) Peranan Filsafat. Menyimak sebab-sebab kelahiran filsafat dan proses perkembangannya, sesungguhnya filsafat telah memerankan sedikitnya tiga peranan utama dalam sejarah pemikiran manusia. Ketiga peranan yang telah diperankannya itu ialah sebagai pendobrak, pembebas, dan pembimbing. (Jan Hendrik Rapar, 1996, hal. 25-27) Pendobrak. Berabad-abad lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan. Dalam penjara itu, manusia terlena dalam alam mistik yang penuh sesak dengan hal-hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite. Manusia menerima begitu saja segala penuturan dongeng dan takhayul tanpa mempersoalkannya lebih lanjut. Orang beranggapan bahwa karena segala dongeng dan takhayul itu merupakan bagian yang hakiki dari warisan tradisi nenek moyang,

41

sedang tradisi itu benar dan tak dapat diganggu-gugat, maka dongeng dan takhayul itu pasti benar dan tak boleh diganggu-gugat. Oleh sebab itu, orang-orang Yunani, yang dikatakan memiliki “suatu rasionalitas yang luar biasa”, juga pernah percaya kepada dewa-dewi yang duduk di meja perjamuan di Olympus sambil menggoncangkan kahyangan dengan sorakan dan gelak tawa tak henti-hentinya. Mereka percaya kepada dewa-dewi yang saling menipu satu sama lain, licik, sering memberontak dan kadang kala seperti anak-anak nakal. Keadaan tersebut berlangsung cukup lama. Kehadiran filsafat telah mendobrak pintu-pintu dan tembok-tembok tradisi yang begitu sakral dan selama itu tak boleh diganggu-gugat. Kendati pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa filsafat benar-benar telah berperan selaku pendobrak yang mencengangkan. Pembebas. Filsafat bukan sekedar mendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbagai mitos dan mite itu, melainkan juga merenggut manusia keluar dari dalam penjara itu. Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya. Demikian pula, filsafat membebaskan manusia dari belenggu cara berpikir yang mistis dan mitis. Sesungguhnya, filsafat telah, sedang dan akan terus berupaya membebaskan manusia dari kekurangan dan kemiskinan pengetahuan yang menyebabkan manusia menjadi picik dan dangkal. Filsafat pun membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak jernih. Filsafat juga membebaskan manusia dari cara berpikir tidak kritis yang membuat manusia mudah menerima kebenaran-kebenaran semu yang menyesatkan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa filsafat membebaskan manusia dari segala jenis “penjara” yang hendak mempersempit ruang gerak akal budi manusia. Pembimbing. Bagaimanakah filsafat dapat membebaskan manusia dari segala jenis “penjara” yang hendak mempersempit ruang gerak akal budi manusia itu? Sesungguhnya, filsafat hanya sanggup melaksanakan perannya selaku pembimbing.
42

Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang mistis dan mitis dengan membimbing manusia untuk berpikir secara rasional. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang picik dan dangkal dengan membimbing manusia untuk berpikir secara luas dan lebih mendalam, yakni berpikir secara universal sambil berupaya mencapai radix dan menemukan esensi suatu permasalahan. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak jernih dengan membimbing manusia untuk berpikir secara sistematis dan logis. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang tak utuh dan begitu fragmentaris dengan membimbing manusia untuk berpikir secara integral dan koheren. F. Kegunaan Filsafat. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa dengan belajar filsafat semakin

menjadikan orang mampu untuk menangani pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu khusus. Jadi filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan-pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan lingkup tanggung jawabnya. Kemampuan itu dipelajarinya dari dua jalur : secara sistematik dan secara historis. Pertama secara sistematik. Artinya filsafat menawarkan metode-metode mutakhir untuk menangani masalah-masalah mendalam manusia, tentang hakekat kebenaran dan pengetahuan, baik biasa maupun ilmiah, tentang tanggung jawab dan keadilan, dan sebagainya. Jalur kedua adalah sejarah filsafat. Di sini belajar untuk mendalami, menanggapi, serta belajar dari jawaban-jawaban yang sampai sekarang ditawarkan oleh para pemikir dan filsuf terkemuka. Menurut Franz Magnis Suseno (1991) sekurang-kurangnya ada tiga kemampuan yang memang sangat dibutuhkan oleh segenap orang yang di zaman sekarang harus atau mau memberikan pengarahan, bimbingan, dan kepemimpinan spiritual dan intelektual dalam masyarakat, yaitu : 1. Suatu pengertian lebih mendalam tentang manusia dan dunia. Dengan mempelajari pendekatan-pendekatan pokok terhadap pertanyaan-pertanyaan manusia yang paling

43

hakiki, serta mendalami jawaban-jawaban yang diberikan oleh para pemikir besar umat manusia, wawasan dan pengertian kita sendiri diperluas. 2. Kemampuan untuk menganalisis secara terbuka dan kritis argumentasiargumentasi, pendapat-pendapat, tuntutan-tuntutan dan legitimasi-legitimasi dari pelbagai agama, ideologi dan pandangan dunia. 3. Pendasaran metodis dan wawasan lebih mendalam dan kritis dalam menjalani studi-studi di ilmu-ilmu khusus, termasuk teologi. Menurut sebagian para filsuf kegunaan secara umum dari filsafat adalah: a. Plato merasakan bahwa berpikir dan memikirkan itu sebagai suatu nikmat yang luar biasa sehingga filsafat diberi predikat sebagai keinginan yang maha berharga. b. Rene Descartes yang termashur sebagai pelpor filsafat modern dan pelopor pembaharuan dalam abad ke 17 terkenal dengan ucapannya “Cogito ergo sum” (Karena berpikir maka saya ada). Tokoh ini menyangsikan segala-galanya, tetapi dalam serba sangsi itu ada satu hal yang pasti, ialah bahwa aku bersangsi dan bersangsi berarti berpikir. Berfilsafat berarti berpangkalan kepada suatu kebenaran yang fundamental atau pengalaman yang asasi. c. Alfred North Whitehead seorang filsuf modern merumuskan filsafat sebagai berikut : “Filsafat adalah keinsyafan dan pandangan jauh ke depan dan suatu kesadaran akan hidup pendeknya, kesadaran akan kepentingan yang memberi semangat kepada seluruh usaha peradaban”. d. Maurice Marleau Ponty seorang filsuf modern Existensialisme mengatakan bahwa “Jasa dari filsafat baru ialah terletak dalam sumber penyelidikannya, sumber itu adalah eksistensi dan dengan sumber itu kita bisa berpikir tentang manusia”. ( Burhanuddin Salam, 1988, hal. 110-111) Disamping kegunaan secara umum, filsafat juga dapat berguna secara khusus dalam lingkungan sosial-budaya menyebutkan ada lima, yaitu :
1. Bangsa Indonesia berada di tengah-tengah dinamika proses medernisasi yang

Indonesia. Franz Magnis Suseno (1991)

meliputi semakin banyak bidang dan hanya untuk sebagian dapat dikemudikan melalui kebijakan pembangunan. Menghadapi tantangan modernisasi dengan
44

perubahan pandangan hidup, nilai-nilai dan norma-norma itu filsafat membantu untuk mengambil sikap yang sekaligus terbuka dan kritis. 2. Filsafat merupakan sarana baik untuk menggali kembali kekayaan kebudayaan, tradisi-tradisi, dan filsafat Indonesia serta untuk mengaktualisasikannya. Filsafatlah yang paling sanggup untuk mendekati warisan rohani tidak hanya secara verbalistik, melainkan secara evaluatif, kritis dan reflektif, sehingga kekayaan rohani bangsa dapat menjadi modal dalam pembentukan terus-menerus identitas modern bangsa Indonesia. 3. Sebagai kritik ideologi filsafat membangun kesanggupan untuk mendeteksi dan membuka kedok-kedok ideologis pelbagai bentuk ketidakadilan sosial dan pelanggaran-pelanggaran terhadap martabat dan hak-hak asasi manusia yang masih terjadi. 4. Filsafat merupakan dasar paling luas untuk berpartisipasi secara kritis dalam kehidupan intelektual bangsa pada umumnya dan khususnya dalam kehidupan intelektual di universitas-universitas dan lingkungan akademis. 5. Filsafat menyediakan dasar dan sarana sekaligus bagi diadakannya dialog diantara agama-agama yang ada di Indonesia pada umumnya dan secara khusus dalam rangka kerja sama antar-agama dalam membangun masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila. G. Pembagian (cabang-cabang) Filsafat. Filsafat secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kelompok yakni filsafat sistematis, dan sejarah filsafat. Filsafat sistematis bertujuan dalam pembentukan dan pemberian landasan pemikiran filsafat. Didalamnya adalah meliputi logika, metodologi, epistemologi, filsafat ilmu, etika, estetika, metafisika, filsafat ketuhanan (theologi), filsafat manusia, dan kelompok filsafat khusus seperti filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat komunikasi, dan lain-lain. Sedangkan sejarah filsafat adalah bagian yang berusaha meninjau pemikiran filsafat di sepanjang masa. Sejak jaman kuno hingga jaman modern. Bagian ini meliputi sejarah filsafat Yunani (Barat), India, Cina dan sejarah filsafat islam.
45

Pembagian/Cabang filsafat menurut para ahli. a. Louis O Kattsoff menyebutkan bahwa cabang-cabang filsafat adalah : Logika, metodologi, metafisika, epistemologi, filsafat biologi, filsafat psikologi, filsafat antropologi, filsafat sosiologi, etika, estetika, dan filsafat agama. b. The Liang Gie membagi filsafat sistematis menjadi : 1. Metafisika (filsafat tentang hal ada). 2. Epistemologi (teori pengetahuan) 3. Metodologi (teori tentang metode) 4. Logika (teori tentang penyimpulan). 5. Etika (filsafat tentang pertimbangan moral). 6. Estetika (filsafat tentang keindahan). 7. Sejarah filsafat. (Lasiyo dan Yuwono, 1985, hal. 19) c. Harry Hamersma membagi cabang-cabang filsafat menjadi : 1. Filsafat tentang pengetahuan : epistemologi, logika, kritik ilmu-ilmu. 2. Filsafat tentang keseluruhan kenyataan : a. Metafisika umum (ontologi) b. Metafisika khusus terdiri dari : teologi metafisik, antropologi, kosmologi. 3. Filsafat tentang tindakan : etika dan estetika. 4. Sejarah filsafat. (Harry Hamersma, 1988, hal. 14) d. IR. Poedjawijatna membagi filsafat itu menjadi : ontologia, theodicea, antropologia, metaphysica, ethica, logica (minor dan mayor), aesthetica. e. Plato membedakan lapangan-lapangan filsafat ke dalam tiga macam cabang yaitu : Dialektika, Fisika, dan Etika. f. Aristoteles merumuskan pembagian filsafat ke dalam empat macam cabang yaitu : 1. Logika. Ilmu ini bagi Aristoteles dianggap sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat. 2. Filsafat teoritis (filsafat nazariah). Dalam cabang ini tercakup tiga macam ilmu yaitu : a. Ilmu fisika yang mempersoalkan dunia materi dari alam nyata ini. b. Ilmu matematika yang mempersoalkan benda-benda alam dalam kuantitasnya (mempersoalkan jumlahnya)
46

c. Ilmu metafisika yang mempersoalkan tentang hakikat segala sesuatu. Menurut Aristoteles ilmu metafisika inilah yang paling utama dari filsafat, atau intinya filsafat. 3. Filsafat Praktis (falsafah amaliah). Dalam cabang ini tercakup tiga macam ilmu yaitu : a. Ilmu etika yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup perseorangan . b. Ilmu ekonomi yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam keluarga (rumah tangga). c. Ilmu politik yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam negara. 4. Filsafat Poetika (kesenian). (Hasbullah Bakry, 1986, hal. 14-15) Dari pembagian cabang-cabang filsafat menurut beberapa tokoh tersebut, tampak luas bidang yang menanggapi persoalan-persoalan kefilsafatan. Oleh karena sangat luasnya cakupan filsafat maka sering ada kesulitan untuk membahas setiap masalah sampai tuntas. Berdasarkan tiga jenis persoalan filsafat yang utama yaitu persoalan tentang keberadaan, persoalan tentang pengetahuan, persoalan tentang nilai-nilai, maka cabang filsafat adalah : a. Persoalan keberadaan (being) atau eksistensi (existence). Persoalan keberadaan atau eksistensi bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu metafisika. b. Persoalan pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth). Pengetahuan ditinjau dari segi isinya bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu epistemologi. Sedangkan kebenaran ditinjau dari segi bentuknya bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu logika. c. Persoalan nilai-nilai (values). Nilai-nilai dibedakan menjadi dua, nilai-nilai kebaikan tingkah laku dan nilai-nlai keindahan. Nilai-nilai kebaikan tingkah laku bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu etika. Nilai-nilai keindahan bersangkutan dengan cabang filsafat yaitu estetika. Berikut ini pengertian dari cabang-cabang filsafat yang utama : Logika adalah cabang filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Lapangan dalam logika adalah azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat
47

dan sehat. Dengan mempelajari logika diharapkan dapat menerapkan azas-azas bernalar sehingga dapat menarik kesimpulan dengan tepat. Persoalan-persoalan logika antara lain : apa yang dimaksud dengan pengertian?, Apa yang dimaksud dengan penyimpulan?. Apa aturann-aturan untuk dapat menyimpulkan secara lurus?. Apa macam-macam silogisme? Apa macam-macam sesat pikir? Epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesahihan pengetahuan. Sedangkan filsafat ilmu mempelajari tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara bagaimana mendapatkannya. Dengan belajar epistemologi dan filsafat ilmu diharapkan dapat membedakan antara pengetahuan dan ilmu serta mengetahui dan menggunakan metode yang tepat dalam memperoleh suatu ilmu serta dapat mengetahui kebenaran suatu ilmu itu ditinjau dari isinya. Persoalan-persoalan dalam epistemologi antara lain adalah bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu? Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh? Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinilai? Apa perbedaan antara pengetahuan a priori dengan pengetahuan a posteriori? Etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik-buruk. Dengan belajar etika diharapkan dapat membedakan istilah yang sering muncul seperti etika, norma, dan moral. Disamping itu dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu, dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah-kaidah etika. Jadi obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan yang diakukan secara sadar dan bebas. Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. Persoalan-persoalan dalam etika diantaranya adalah : Apa yang dimaksud „baik‟ atau „buruk‟ secara moral? Apa syarat-syarat sesuatu perbuatan dikatakan baik secara moral? Bagaimanakah hubungan antara kebebasan kehendak dengan perbuatan-perbuatan susila? Apa yang dimaksud dengan kesadaran moral? Bagaimanakah peranan hati nurani dalam setiap perbuatan manusia? Estetika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan. Obyek dari estetika adalah pengalaman akan keindahan. Dengan belajar estetika diharapkan
48

dapat membedakan antara estetika filsafati dan estetika ilmiah, berbagai macam teoriteori keindahan, pengertian seni, penggolongan seni, nilai seni, aliran-aliran dalam seni dan teori penciptaan dalam seni. Persoalan-persoalan estetis dianataranya adalah: apakah keindahan itu? Keindahan bersifat obyektif ataukah subyektif? Apa yang merupakan ukueran keindahan? Apa peranan dalam kehidupan manusia? Bagaimanakah hubungan keindahan dengan kebenaran? Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang-ada.

Metafisika membicarakan sesuatu disebalik yang nampak. Dengan belajar metafisika orang justru akan mengenal akan Tuhannya, dan mengetahui berbagai macam aliran yang ada dalam metafisika. Persoalan-persoalan metafisis dibedakan menjadi tiga yaitu persoalan ontologi, persoalan kosmologi, dan persoalan antropologi. Persoalan ontologis diantaranya adalah apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan atau eksistensi itu? Bagaimanakah penggolongan dari ada, keberadaan atau eksistensi? Apa sifat dasar kenyataan atau kebaradaan? Persoalan kosmologis bertalian dengan asal-mula, perkembangan dan struktur atau susunan alam, misalnya jenis keteraturan apa yang ada dalam alam? Apa hakikat hubungan sebab dan akibat? Apakah ruang dan waktu itu? Persoalan antropologi (manusia) seperti bagaimana terjadi hubungan badan dan jiwa? Apa yang dimaksud dengan kesadaran? Manusia sebagai makhluk bebas atau tak bebas?

49

BAB III ETIKA KEILMUAN

Setelah mempelajari bagian ini diharapkan memahami : a. Problem etika ilmu pengetahuan apakah ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai. b. Pendekatan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi ilmu pengetahuan. c. Sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh ilmuwan.

A. Pengantar. Ilmu berupaya mengungkapkan realitas sebagaimana adanya, sedangkan moral pada dasarnya adalah petunjuk-petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia. Hasil-hasil kegiatan keilmuan memberikan altenatif-alternatif untuk membuat keputusan politik dengan berkiblat kepada pertimbangan-pertimbangan moral. Ilmuwan mempunyai tanggung jawab profesional, khususnya di dunia ilmu dan dalam masyarakat ilmuwan itu sendiri dan mengenai metodologi yang dipakainya. Ilmuwan juga memikul tanggung jawab sosial, yang bisa dibedakan atas tanggung jawab legal yang formal sifatnya, dan tanggung jawab moral yang lebih luas cakupannya. Ilmu dan moral termasuk ke dalam genus pengetahuan yang mempunyai karakteristik masing-masing. Tiap-tiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya. Komponen tersebut adalah ontologi, epistemologi dan aksiologi. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Buku IA Filsafat Ilmu, 1984/1985, hal. 88) Ontologi merupakan asas dalam menetapkan batas/ruang lingkup yang menjadi obyek penelaahan serta penafsiran tentang hakekat realitas dari obyek penelaahan

tersebut. Epistemologi merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Aksiologi merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut.

50

Agar mendapatkan pengertian yang jelas mengenai kaitan antara ilmu dan moal maka kajiannya harus didekati dari ketiga komponen tiang penyangga tubuh pengetahuan yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi. Namun sebelum sampai pendekatan dari ketiga hal tersebut dibahas dahulu tentang antara etika, moral, norma dan kesusilaan, kemudian pengertian dan ciri-ciri ilmu. Bahasan ditutup dengan bagaimana sikap ilmiah yang harus dimiliki seorang ilmuwan. B. Problema Etika Ilmu Pengetahuan Penerapan dari ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadang-kadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan lebih lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanggung jawab etis, merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi harus

memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, kepentingan generasi mendatang, dan bersifat universal, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Tanggung jawab ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut juga tanggung jawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi di masamasa lalu, sekarang maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Hal ini tentu saja menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkannya dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh. (Achmad Charris Zubair, 2002) Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tepat dalam kehidupan manusia. Tetapi harus menyadari juga apa yang seharusnya dikerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan
51

serta martabat manusia yang seharusnya, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap Khaliknya. Jadi sesuai dengan pendapat Van Melsen ( 1985) bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghambat ataupun meningkatkan keberadaan manusia tergantung pada manusianya itu sendiri, karena ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang teknologi memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, yakni kedewasaan untuk mengerti mana yang layak dan yang tidak layak, yang buruk dan yang baik. Tugas terpenting ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menyediakan bantuan agar supaya manusia dapat sungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia saja tetapi juga merupakan hasil perkembangan dan kreativitas manusia itu sendiri. C. Ilmu : Bebas Nilai atau tidak bebas nilai. Rasionalisasi ilmu pengetahuan terjadi sejak Rene Descartes dengan sikap skeptismetodisnya meragukan segala sesuatu, kecuali dirinya yang sedang ragu-ragu (Cogito Ergo Sum). Sikap ini berlanjut pada masa Aufklarung, suatu era yang merupakan usaha manusia untuk mencapai pemahaman rasional tentang dirinya dan alam. Persoalannya adalah ilmu-ilmu itu berkembang dengan pesat apakah bebas nilai atau justru tidak bebas nilai. Bebas nilai yang dimaksudkan adalah sebagaimana Josep Situmorang (1996) menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Paling tidak ada tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu : 1. Ilmu harus bebas dari pengandaian-pengandaian yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti : faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya.

52

2. Perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri. 3. Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal. Tokoh sosiologi, Weber, menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas nilai tetapi ia juga mengatakan bahwa ilmu-ilmu sosial harus menjadi nilai yang relevan. Weber tidak yakin ketika para ilmuwan sosial melakukan aktivitasnya seperti mengajar atau menulis mengenai bidang ilmu sosial itu mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan tertentu atau tidak bias. Nilai-nilai itu harus diimplikasikan bagian-bagian praktis ilmu sosial jika praktek itu mengandung tujuan atau rasional. Tanpa keinginan melayani kepentingan segelintir orang, budaya, maka ilmuwan sosial tidak beralasan mengajarkan atau menuliskan itu semua. Suatu siakp moral yang sedemikian itu tidak mempunyai hubungan obyektivitas ilmiah. (Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, 2001) Kehati-hatian Weber dalam memutuskan apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak, bisa dipahami mengingat disatu pihak obyektivitas merupakan ciri mutlak ilmu pengetahuan, sedang di pihak lain subyek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya. Tokoh lain Habermas sebagaimana yang ditulis oleh Rizal Mustansyir dan Misnal Munir (2001) berpendirian teori sebagai produk ilmiah tidak pernah bebas nilai. Pendirian ini diwarisi Habermas dari pandangan Husserl yang melihat fakta atau obyek alam diperlukan oleh ilmu pengetahuan sebagai kenyataan yang sudah jadi. Fakta atau obyek itu sebenarnya sudah tersusun secara spontan dan primordial dalam pengalaman sehari-hari, dalam Lebenswelt atau dunia sebagaimana dihayati. Setiap ilmu pengetahuan mengambil dari Lebenswelt itu sejumlah fakta yang kemudian diilmiahkan berdasarkan kepentingankepentingan praktis. Habermas menegaskan lebih lanjut bahwa ilmu pengetahuan alam terbentuk berdasarkan kepentingan-kepentingan teknis. Ilmu pengetahuan alam tidaklah netral, karena isinya tidak lepas sama sekali dari kepentingan praktis. Ilmu sejarah dan hermeneutika juga ditentukan oleh kepentingan-kepentingan praktis kendati dengan cara yang berbeda. Kepentingannya ialah memelihara serta memperluas bidang aling pengertian
53

antar manusia dan perbaikan komunikasi. Setiap kegiatan teoritis yang melibatkan pola subyek-subyek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang yaitu pekerjaan, bahasa, dan otoritas. Pekerjaan merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam, bahasa merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, sedang otoritas merupakan kepentingan ilmu sosial. D. Pendekatan Ontologis. Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? (Jujun S Suriasumantri, 1985, hal. 34) Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Obyek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca-pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologis tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistemologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah.(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984/1985, hal. 88) Dalam kaitannya dengan kaidah moral bahwa dalam menetapkan obyek

penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat merubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia dan mencampuri permasalahan kehidupan. Disamping itu secara ontologis ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakekat realitas sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. E. Pendekatan Epistemologi Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan.
54

Dalam kaitan

dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?(Jujun S Suriasumantri, hal 34-35) Landasan epistemologi ilmu tercermin secara operasinal dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan : (a) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun. (b) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut dan (c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataannya secara faktual. ( Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984/1985, hal. 9) Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan penjelasan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik terhadap kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berfikir kritis.(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, . 1984/1985, hal 91) Dalam kaitan dengan moral maka dalam proses kegiatan keilmuan setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.

55

F. Pendekatan Aksiologi Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihanpilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional? (Jujun S Suriasumantri, hal. 34-35.) Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemslahatan manusia. Dalam hal ini maka ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia dan kelestarian/keseimbangan alam. Untuk kepentingan manusia tersebut maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi atau agama. G. Sikap Ilmiah yang harus Dimiliki Ilmuwan Ilmu bukanlah merupakan pengetahuan yang datang demikian saja sebagai barang yang sudah jadi dan datang dari dunia khayal. Akan tetapi ilmu merupakan suatu cara berpikir yang demikian dalam tentang sesuatu obyek yang khas dengan pendekatan yang khas pula sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang ilmiah. Ilmiah dalam arti bahwa sistem dn struktur ilmu dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Disebabkan oleh karena itu pula ia terbuka untuk diuji oleh siapapun. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang di dalam dirinya memiliki karakteristik kritis, rasional, logis, obyektif, dan terbuka. Hal ini merupakan suatu keharusan bagi seorang ilmuwan untuk melakukannya. Namun selain itu juga masalah mendasar yang dihadapi ilmuwan setelah ia membangun suatu bangunan yang kokoh kuat adalah masalah kegunaan ilmu bagi kehidupan manusia. Memang tak dapat disangkal
56

bahwa ilmu telah membawa manusia kearah perubahan yang cukup besar. Akan tetapi dapatkah ilmu yang kokoh, kuat, dan mendasar itu menjadi penyelamat manusia bukan sebaliknya. Disinilah letak tanggung jawab seorang ilmuwan, moral dan akhlak amat diperlukan. Oleh karenanya penting bagi para ilmuwan memiliki sikap ilmiah. Manusia sebagai makhluk Tuhan berada bersama-sama dengan alam dan berada di dalam alam itu. Manusia akan menemukan pribadinya dan membudayakan dirinya bilamana manusia hidup dalam hubungannya dengan alamnya. Manusia yang merupakan bagian alam tidak hanya merupakan bagian yang terlepas darinya. Manusia senantiasa berintegrasi dengan alamnya. Sesuai dengan martabatnya maka manusia yang merupakan bagian alam harus senantiasa merupakan pusat dari alam itu. Dengan demikian, tampaklah bahwa diantara manusia dengan alam ada hubungan yang bersifat keharusan dan mutlak. Oleh sebab itulah, maka manusia harus senantiasa menjaga kelestarian alam dalam keseimbangannya yang bersifat mutlak pula. Kewajiban ini merupakan kewajiban moral tidak saja sebagai manusia biasa lebih-lebih seorang ilmuwan dengan senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam yang juga bersifat mutlak. Para ilmuwan sebagai orang yang profesional dalam bidang keilmuan sudah barang tentu mereka juga perlu memiliki visi moral yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral inilah di dalam filsafat ilmu disebut juga sebagai sikap ilmiah. (Abbas Hamam M., 1996, hal. 161) Sikap ilmiah harus dimiliki oleh setiap ilmuwan. Hal ini disebabkan oleh karena sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai suatu pengetahuan ilmiah yang bersifat obyektif. Sikap ilmiah bagi seorang ilmuwan bukanlah membahas tentang tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial untuk melestarikan dan keseimbangan alam semesta ini, serta dapat dipertanggungawabkan kepada Tuhan. Artinya selaras dengan kehendak manusia dengan kehendak Tuhan. Sikap ilmiah yang perlu dimiliki para ilmuwan menurut Abbas Hamami M., (1996) sedikitnya ada enam , yaitu :

57

1. Tidak ada rasa pamrih (disinterstedness), artinya suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang obyektif dengan menghilangkan pamrih atau kesenangan pribadi. 2. Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap pelbagai hal yang dihadapi. Misalnya hipotesis yang beragam, metodologi yang masing-masing menunjukkan kekuatannya masingmasing, atau , cara penyimpulan yang satu cukup berbeda walaupun masing-masing menunjukkan akurasinya. 3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indera serta budi (mind). 4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan merasa pasti (conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian. 5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan, sehingga selalu ada dorongan untuk riset, dan riset sebagai aktivitas yang menonjol dalam hidupnya. 6. Seorang ilmuwan harus memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu untuk kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia, lebih khusus untuk pembangunan bangsa dan negara. Norma-norma umum bagi etika keilmuan sebagaimana yang dipaparkan secara normatif berlaku bagi semua ilmuwan. Hal ini karena pada dasarnya seorang ilmuwan tidak boleh terpengaruh oleh sistem budaya, sistem politik, sistem tradisi, atau apa saja yang hendak menyimpangkan tujuan ilmu. Tujuan ilmu yang dimaksud adalah objektivitas yang berlaku secara universal dan komunal. Disamping sikap ilmiah berlaku secara umum tersebut, pada kenyataannya masih ada etika keilmuan yang secara spesifik berlaku bagi kelompok-kelompok ilmuwan tertentu. Misalnya, etika kedokteran, etika bisnis, etika politisi, serta etika-etika profesi lainnya yang secara normatif berlaku dan dipatuhi oleh kelompoknya itu. Taat asas dan kepatuhan terhadap norma-norma etis yang berlaku bagi para ilmuwan diharapkan akan menghilangkan kegelisahan serta ketakutan manusia terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Bahkan diharapkan manusia akan semakin percaya pada ilmu yang
58

membawanya pada suatu keadaan yang membahagiakan dirinya sebagai manusia. Hal ini sudah barang tentu jika pada diri para ilmuwan tidak ada sikap lain kecuali pencapaian obyektivitas dan demi kemajuan ilmu untuk kemanusiaan. Yang perlu diperhatikan bagi para ilmuwan khususnya di Indonesia adalah sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa, khususnya etika keilmuan dijelaskan bahwa etika keilmuan

dimaksudkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan teknologi agar warga bangsa mampu menjaga harkat dan martabatnya, berpihak kepada kebenaran untuk mencapai kemaslahatan dan kemajuan sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya. Etika ini diwujudkan secara pribadi ataupun kolektif dalam karsa, cipta, dan karya, yang tercermin dalam perilaku kreatif, inovatif, inventif, dan komunikatif, dalam kegiatan membaca, belajar, meneliti, menulis, berkarya, serta menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Etika keilmuan menegaskan pentingnya budaya kerja keras dengan mengharagai dan memanfaatkan waktu, disiplin dalam berpikir dan berbuat, serta menepati janji dan komitmen diri untuk mencapai hasil yang terbaik. Disamping itu, etika ini mendorong tumbuhnya kemampuan menghadapi hambatan, rintangan, dan tantangan dalam kehidupan, mampu mengubah tantangan menjadi peluang, mampu menumbuhkan kreativitas untuk penciptaan kesempatan baru, dan tahan uji serta pantang menyerah.

59

BAB IV ETIKA PROFESI

Setelah mempelajari bagian ini, diharapkan memahami: a. b. c. d. e. f. Hakikat manusia sebagai makhluk yang bekerja. Hubungan antara pekerjaan dan profesi. Hubungan antara profesi dan profesional. Hubungan antara profesi pada umumnya dengan prfesi luhur. Prinsip etika profesi pada umumnya dan etika profesi luhur Organisasi dan Kode etik profesi.

A. Manusia Dan Kebutuhannya Mengapa manusia harus bekerja? Benarkah hanya untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan hidupnya? Atau karena memiliki alasan lain, tidak sekedar memenuhi kebutuhan hidup? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dilontarkan untuk memahami hakikat manusia sebagai makhluk yang bekerja, bahwa terlepas sebagai usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya, manusia adalah makhluk pekerja. Sebagai makhluk yang istimewa, untuk melengkapi kehidupannya manusia harus bekerja keras dan berkarya. Karya tersebut dilakukan dalam memenuhi kebutuhankebutuhan yang ada dalam kehidupannya. Bicara tentang kebutuhan manusia, W. MacDougall dalam bukunya Introduction to Social Psychology berpendapat bahwa ada paling sedikit tujuh macam dorongan naluri manusia, yaitu : 1. Dorongan untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini memang merupakan suatu kekuatan biologi yang juga ada pada semua makhluk di dunia ini dan yang menyebabkan bahwa semua jenis makhluk mampu mempertahankan hidupnya di muka bumi ini. 2. Dorongan sex. Dorongan ini malahan telah menarik perhatian banyak ahli psikologi, dan berbagai teori telah dikembangkan sekitar soal ini. Suatu hal yang jelas adalah
60

bahwa dorongan ini timbul pada setiap individu yang normal tanpa terkena pengaruh pengetahuan, dan memang dorongan ini memp[unyai landasan biologi yang mendorong makhluk manusia untuk membentuk keturunan yang melanjutkan jenisnya. 3. Dorongan untuk usaha mencari makan. Dorongan ini tidak perlu dipelajari, dan sejak bayi pun manusia sudah menunjukkan dorongan untuk mencari makan, yaitu dengan mencari susu ibunya atau botol susunya, pengetahuan tentang adanya hal-hal itu tadi. 4. Dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia. Dorongan ini memang merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai makhluk kolektif. 5. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya. Dorongan ini merupakan sumber dari adanya beraneka warna kebudayaan di anatar makhluk manusia karena adanya dorongan ini manusia mengembangkan adat yang memaksanya berbuat tanpa dipengaruhi oleh

konformdengan manusia sekitarnya. 6. Dorongan untuk berbakti. Dorongan ini mungkin ada dalam naluri manusia, karena manusia merupakan makhluk, yang hidup kolektif, sehingga untuk dapat hidup bersama dengan manusia lain secara serasi ia perlu mempunyai suatu landasan biologi untuk mengembangkan rasa altruistik, rasa simpati, rasa cinta dan sebagainya, yang memungkinkannya hidup bersama itu. 7. Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak. (Koentjaraningrat, 1986) Sedangkan AFC Wallace, seorang ahli etnopsikologi dalam bukunya Culture and Personality berpendapat bahwa ada dua kebutuhan manusia yakni kebutuhan organik dan kebutuhan psikologi. Kebutuhan organik: makan dan minum, istirahat dan tidur, sex, keseimbangan suhu, buang hajat, dan bernafas. Kebutuhan psikologi: pengendoran ketegangan dan bersantai, kemesraan dan cinta, kepuasan altruistik (kesempatan berbuat baik atau berbakti kepada orang lain), kepuasan ego, kehormatan, kepuasan dan kebanggaan mencapai tujuan. (Koentjaraningrat, 1986) Abdulkadir Muhammad (2001) mengklasifikasikan kebutuhan manusia menjadi empat kelompok sebagai berikut:
61

a. Kebutuhan ekonomi (material). Kebutuhan ekonomi merupakan yang bersifat material, baik harta maupun benda yang diperlukan untuk kesehatan dan keselamatan hidup manusia. Kebutuhan ini misalnya sandang, pangan dan papan. b. Kebutuhan psikis (non-materi). Kebutuhan psikis, merupakan kebutuhan yang bersifat non-material untuk kesehatan dan ketenangan manusia secara psikologi, biasa juga disebut kebutuhan rohani seperti misalnya agama, pendidikan, hiburan, dan lain-lain. c. Kebutuhan biologis (proses regenerasi). Kebutuhan biologi, merupakan kebutuhan untuk kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi. Kebutuhan ini sering disebut juga kebutuhan seksual yang diwujudkan dalam perkawinan, membentuk keluarga dan lain sebagainya. d. Kebutuhan pekerjaan (kebutuhan akan status dan derajat). Kebutuhan pekerjaan, merupakan kebutuhan yang bersifat praktis untuk mewujudkan kebutuhankebutuhan yang lain. Kebutuhan pekerjaan ini misalnya adalah profesi, perusahaan dan lain sebagainya. (Teguh Wahyono,2006, p. 44-45) B. Pekerjaan, Profesi Dan Profesional. Profesi merupakan bagian dari pekerjaan, namun tidak setiap pekerjaan adalah profesi. Sebagai contoh, seorang petugas staf administrasi tidak masuk dalam golongan profesi karena untuk bekerja sebagai staf administrasi seseorang bisa berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, pengetahuan dan pengalaman, namun tidak

demikian halnya dengan akuntan, pengacara, dokter yang membutuhkan pendidikan khusus sesuai dengan bidangnya dan memiliki pengalaman kerja beberapa tahun. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang mengandalkan ketrampilan dan keahlian khusus yang didapatkan melalui pengalaman kerja pada orang yang terlebih dahulu menguasai ketrampilan tersebut. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pengemban profesi tersebut untuk terus memperbaharui ketrampilannya sesuai perkembangan teknologi. 1. Pengertian Profesi.

62

Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian,

sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Bulle dalam Teguh Wahoyono (2006, p. 48) mendefinisikan profesi sebagai bidang usaha manusia berdasarkan pengetahuan, di mana keahlian dan pengalaman pelakunya diperlukan oleh masyarakat. Definisi ini meliputi tiga aspek, yaitu ilmu pengetahuan tertentu, aplikasi kemampuan/kecakapan, dan berkaitan dengan

kepentingan umum. Dari beberapa uraian mengenai profesi di atas, dapat diberikan beberapa catatan tentang profesi sebagai berikut: a. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang mengandalkan ketrampilan atau keahlian khusus yang tidak didapatkan pada pekerjaan-pekerjaan pada umumnya. b. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan sebagai sumber utama nafkah hidup dengan keterlibatan pribadi yang mendalam dalam menekuninya. c. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pengemban profesi tersebut untuk terus memperbaharui ketrampilannya sesuai perkembangan teknologi. Kemudian, dari berbagai pengalaman tentang profesi, tercatat dua hal tentang profesi khusus yang dibedakan dari prefesi-profesi pada umumnya. Dua kategori yang dianggap sebagai profesi khusus tersebut adalah profesi yang melibatkan hajat hidup orang banyak dan profesi yang merupakan profesi luhur dan menekankan pengabdian. Profesi pada umumnya dan profesi luhur. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk

menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Jadi perbedaan antara profesi dan pekerjaan pada umumnya ialah bahwa profesi memiliki keahlian yang khas.

63

Diantara profesi-profesi pada umumnya terdapat profesi-profesi yang khusus. Kekhususannya ialah bahwa hakikatnya terjadi dalam suatu pelayanan pada manusia atau masyarakat. Jadi meskipun orang yang menjalankan profesi itu hidup daripadanya – itu haknya; ia dan keluarganya harus hidup – akan tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah hidup itulah yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kesediaan untuk melayani sesama. Profesi-profesi yang pada hakikatnya merupakan suatu pengabdian itu disebut profesi luhur. Hubungan antara profesi pada umumnya dan profesi luhur. Ada dua prinsip etika profesi pada umumnya. Yakni setiap pemegang profesi harus dituntut agar ia menjalankan secara bertanggung jawab, dan agar ia tidak

melanggar hak-hak pihak lain. Pemegang profesi bertanggung jawab dalam dua arah, yaitu: 1. Kita diharapkan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang kita lakukan dan terhadap hasilnya. Dengan kata lain menjalankan sebuah profesi mengandung tuntutan agar hasilnya bermutu. Mutu ini mempunyai beberapa segi. Kita harus mengusahakan agar kita sendiri menguasai tugas dengan sebaik-baiknya, agar kita kompeten. Kita harus terus-menerus meningkatkan penguasaan atas profesi yang kita jalankan. Cara kita bekerja harus efisien dan efektif. Hasil pekerjaan kita harus sekurang-kurangnya sesuai dengan yang dapat diharapkan oleh pemakai/orang yang akan memanfaatkannya. 2. Kita harus bertanggung jawab terhadap dampak pekerjaan kita pada kehidupan orang lain. Kepentingan langganan, lingkungan, ancaman potensial terhadap lingkungan alamiah, kepentingan regional, nasional dan kepentingan negara; semuanya itu perlu diperhatikan. (Franz Magnis suseno, 1991) Pemegang profesi harus hormat terhadap hak orang lain. Prinsip ini tak lain adalah tuntutan keadilan. Keadilan menuntut agar kita memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Dalam rangka pelaksanaan sebuah profesi tuntutan keadilan itu berarti: di dalam pelaksanaannya kita tidak bolah melanggar hak orang, atau lembaga lain, atau pun hak negara.
64

Jadi tuntutan etika profesi dapat dirumuskan dalam sebuah prinsip tanggung jawab sebagai berikut : dalam segala usaha bertindaklah sedemikian rupa, sehingga akibatakibat tindakan tidak dapat merusak, bahkan tidak dapat membahayakan atau mengurangi mutu kehidupan manusia dalam lingkungannya, baik mereka yang hidup pada masa sekarang, maupun generasi-generasi yang akan datang. Menurut Franz Magnis Suseno (1991) ada dua prinsip etika profesi luhur, yakni: 1. Mendahulukan kepetingan pasien/klien. Tuntutan dasar etika profesi luhur yang pertama ialah agar profesi itu dijalankan tanpa pamrih. Itu tidak berarti bahwa dokter atau penasehat hukum tidak boleh minta pembayaran dari pasien/kliennya. Ia berhak agar dapat hidup dari profesinya. Tetapi pembayaran itu tidak menjadi tujuan pelaksanaan profesi. Jadi ia diharapkan menjalankan profesi demi kebaikan pasien/klien. 2. Pengabdian pada tuntutan luhur profesi. Etika profesi luhur menuntut agar tuntutan profesi tetap dipegang walaupun bertentangan dengan keinginan pasien. Oleh karena itu banyak profesi luhur memiliki kode tik. Kode etik adalah kumpulan kewajiban yang mengikat para pelaku profesi itu dalam mempraktekkannya. Kode etik tidak dapat ditetapkan dari luar, misalnya oleh pemerintah, melainkan harus ditetapkan oleh para pelaku profesi itu sendiri. Jadi etika profesi luhur menuntut agar orang yang menjalankannya, dalam keadaan apa pun menjunjung tinggi tuntutan profesinya. Tuntutan etika profesi luhur jelas sekali menuntut kejelasan dan kekuatan moral yang tinggi. Terutama ada tiga ciri kepribadian moral yang dituntut dari pemegang profesi luhur, yakni: 1. Berani berbuat dengan bertekad. Pertama dituntut agar ia bertekad untuk bertindak sesuai dengan tuntutan profesinya. Artinya, harus memiliki kepribadian moral yang kuat. Ia bukan orang yang mengikuti perasaan dan emosinya saja, jadi yang diselewengkan dari kewajiban oleh perasaan malu, malas, takut, sentimen, benci, orang yang asal diperintah oleh atasan,
65

melupakan kewajibannya. Jadi, ia mesti orang bertekad yang tidak mundur dari apa yang diketahui merupakan kewajibannya, meskipun ia ditekan atau diancam. 2. Kesadaran berkewajiban. Profesi harus mempunyai kesadaran tajam tentang tuntutan etika profesinya. Artinya, ia mentaatinya tidak hanya sebagai hobi, atau karena rekan-rekan profesi juga mentaatinya, melainkan karena yakin sedalam-dalamnya bahwa tuntutan etika profesi itu merupakan kewajiban yang berat. 3. Idealisme. Semua tuntutan-tuntutan etika profesi luhur hanya dapat dipenuhi oleh orang yang memiliki idealisme. Idealisme dalam arti bahwa ia sungguh-sungguh, tanpa pamrih, mau melayani sesama menurut jalur-jalur profesinya. Orang yang hanya pragmatis, apalagi yang hanya mencari kepentingannya sendiri tidak memadai bagi profesi luhur ( Franz Magnis Suseno, 1991) Profesi dan Profesional. Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan

sebagainya. Sejalan dengan itu, maka timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak pengertian profesi. Profesi bisa dikatakan pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Sedanghkan profesional adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang. atau belum tentu termasuk dalam

66

Jadi perbedan antara profesi dan profesional dapat diindentifikasi sebagai berikut: PROFESI : - Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus. - Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu). - Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup. - Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam. PROFESIONAL : - Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya. - Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu. - Hidup dari situ. - Bangga akan pekerjaannya. CIRI-CIRI PROFESI Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu : 1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun. 2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi. 3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat. 4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa

67

keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus. 5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi. Dengan melihat ciriciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang semakin baik. PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI : Menurut Keraf (1993, p. 49-50), antara lain: 1. Tanggung jawab Setiap orang penyandang profesi tertentu harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap profesi, hasil dan dampaknya yang ditimbuilkan tersebut terapat dua arti: - Tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan atau fungsinya (by function), artinya keputusan yang diambil dan hasil dari pekerjaan tersebut harus baik serta dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan standard profesi, efisien dan efektif. - Tanggung jawab terhadap dampak atau akibat dari tindakan dari pelaskanaan profesi (by profession) tersebut terhadap dirinya, rekan kerja dan profesi,

organisasi/perusahaan da masyarakat umum lainnya, serta keputusan atau hasil pekerjaan tersebut dapat memberikan manfaat dan berguna yang baik bagi dirinya atau pihak lainnya. Prinsipnya, sebagai profesional harus berbuat yang baik (beneficence) dan tidak untuk berbuat sesuatu kejahatan (non maleficence). 2. Kebebasan. Para profesional memiliki kebebasan dalam menjalankan profesinya tanpa merasa takut atau ragu-ragu, tetapi tetap memiliki komitmen dan bertanggung jawab dalam
68

batas-batas aturan main yang telah ditentukan oleh kode etik sebagai standar perilaku profesional. 3. Kejujuran. Jujur dan setia serta merasa terhormat pada profesi yang disandangnya, mengakui akan kelemahannya dan tidak menyombongkan diri, serta berupaya terus untuk mengembangkan diri dalam mencapai kesempurnaan bidang keahlian dan profesinya melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman.. 4. Keadilan. Dalam menjalankan profesinya, maka setiap profesional memiliki kewajiban dan tidak dibenarkan melakukan pelanggaran terhadap hak atau mengganggu milik orang lain, lembaga atau organisasi, hingga mencemarkan nama baik bangsa dan negara. Disamping itu harus menghargai hak-hak, menjaga kehormatan nama baik, martabat dan milik bagi pihak lain agar tercipta saling menghormati dan keadilan secara obyektif dalam kehidupan masyarakat. 5. Otonomi. Dalam prinsip ini, seorang profesional memiliki kebebasan secara otonom dalam menjalankan profesinya sesuai dengan keahlian, pengetahuan dan kemampuannya, organisasi dan departemen yang dipimpinnya itu melakukan kegiatan operasional atau kerja yang terbebas dari campur tangan pihak lain. Apa pun yang dilakukannya itu adalah merupakan konsekuensi dari tanggung jawab profesi, kebebasan, otonom merupakan hak dan kewajiban yang dimiliki bagi setiap profesional. SYARAT-SYARAT SUATU PROFESI : - Melibatkan kegiatan intelektual. - Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus. - Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan. - Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
69

- Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen. - Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi. - Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat. - Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik. Seorang pelaku profesi harus memiliki sifat-sifat berikut: a. Menguasai ilmu secara mendalam di bidangnya. Sebuah profesi akan mengandalkan suatu pengetahuan khusus yang dimiliki oleh sekelompok profesional agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Seorang yang profesional adalah seseorang yang menguasai ilmu secara mendalam di bidangnya, tidak setengah-setengah atau sekedar tahu saja sehingga benar-benar memahami hakikat pekerjaan yang ditekuninya. b. Mampu mengkonversi ilmu menjadi ketrampilan. Ketrampilan berarti dapat melakukan praktik-praktik atau kegiatan khusus sesuai tugas dan pekerjannya dengan baik. Orang yang profesional adalah orang yang tidak sekedar tahu banyak hal tentang sebuah ‟teori‟, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kegiatan yang dilakukan. c. Selalu menjunjung tinggi etika dan integritas profesi. Biasanya pada setiap profesi, khususnya profesi luhur atau profesi yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, terdapat suatu aturan yang disebut ‟kode etik‟ profesi. Misalnya ada kode etik pengacara, kode etik kedokteran, kode etik wartawan dan sebagainya. Kode etik tersebut merupakan aturan main dalam menjalankan sebuah profesi yang harus ditaati oleh semua anggota profesi yang bersangkutan. (Teguh Wahyono, 2006, p. 50-51) Seorang yang profesional adalah seseorang yang menjalankan profesinya secara benar dan melakukannya menurut etika dan garis-garis profesionalisme yang berlaku pada profesinya tersebut. Untuk menjadi seorang yang profesional, seseorang yang melakukan pekerjaan dituntut untuk memiliki beberapa sikap sebagai berikut:

70

a. Komitmen tinggi. Seorang profesional harus mempunyai komitmen yang kuat pada pekerjaan yang sedang dilakukannya. b. Tanggung jawab. Seorang profesional juga harus bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan yang dilakukannya sendiri. c. Berpikir sistematik. Seorang prefesional harus mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya. d. Penguasaan materi. Seorang profesional harus menguasai secara mendalam bahan/materi pekerjaan yang sedang dilakukannya. e. Menjadi bagian masyarakat profesional. Seyogyanya seorang profesional harus menjadi bagian dari masyarakat dalam lingkungan profesinya. (Teguh Wahyono, 2006, p. 51) Profesionalisme merupakan suatu tingkah laku, suatu tujuan atau suatu rangkaian kwalitas yang menandai atau melukiskan coraknya suatu “profesi”. Profesionalisme mengandung pula pengertian menjalankan suatu profesi untuk keuntungan atau sebagai sumber penghidupan. Disamping istilah profesionalisme, ada istilah yaitu profesi. Profesi sering kita artikan dengan “pekerjaan” atau “job” kita sehari-hari. Tetapi dalam kata profession yang berasal dari perbendaharaan Angglo Saxon tidak hanya terkandung pengertian “pekerjaan” saja. Profesi mengharuskan tidak hanya pengetahuan dan keahlian khusus melalui persiapan dan latihan, tetapi dalam arti “profession” terpaku juga unsur suatu “panggilan”. Dengan begitu, maka arti “profession” mengandung dua unsur. Pertama keahlian dan kedua unsur panggilan. Sehingga seorang “profesional” harus

memadukan dalam diri pribadinya kecakapan teknik yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaannya, dan juga kematangan etik. Penguasaan teknik saja tidak membuat seseorang menjadi “profesional”. Kedua-duanya harus menyatu. Berkaitan dengan profesionalisme ini ada dua pokok yang menarik perhatian dari keterangan ENCYCLOPEDIA-NYA PROF, TALCOTT PARSONS mengenai profesi dan profesionalisme itu.

71

PERTAMA ialah bahwa manusia-manusia profesional tidak dapat di golongkan sebagai kelompok “kapitalis” atau kelompok “kaum buruh”. Juga tidak dapat dimasukkan sebagai kelompok “administrator” atau “birokrat”. KEDUA ialah : bahwa manusia-manusia profesional merupakan suatu kelompok tersendiri, yang bertugas memutarkan roda perusahaan, dengan suatu leadership status. Jelasnya mereka merupakan lapisan kepemimpinan dalam memutarkan roda perusahaan itu. Kepemimpinan di segala tingkat, mulai dari atasan, melalui yang menengah sampai ke bawah. Profesionalisme merupakan suatu proses yang tidak dapat di tahan-tahan dalam perkembangan dunia perusahaan modern dewasa ini. PARSONS tidak tahu arah lanjut proses profesionalisasi itu nantinya, tapi menurutnya, bahwa keseluruhan kompleks profesionalisme itu tidak hanya tampil kedepan sebagai sesuatu yang terkemuka,

melainkan juga sudah mulai mendominasi situasi sekarang. Dalam perkembangannya perlu diingat, bahwa profesionalisme mengandung dua unsur, yaitu unsur keahlian dan unsur panggilan, unsur kecakapan teknik dan kematangan etik, unsur akal dan unsur moral. Dan kedua-duanya itulah merupakan kebulatan unsur kepemimpinan. Dengan demikian, jika berbicara tentang profesionalisme tidak dapat kita lepaskan dari masalah kepemimpinan dalam arti yang luas. Menurut SOEGITO REKSODIHARJO (1989), arti yang diberikan kepada kata “profesi” adalah suatu bidang kegiatan yang dijalankan oleh seseorang dan merupakan sumber nafkah bagi dirinya. Meskipun lazimnya profesi dikaitkan dengan tarap lulusan akademi / universitas, suatu profesi tidak mutlak harus dijalankan oleh seorang sarjana. Didalam masyarakat Indonesiapun kita telah mengenal berbagai profesi non-akademik, seperti misalnya, profesi bidan, pemain sepak bola, atau petinju “profesional”, dan bahkan “profesi tertua di dunia”. Walaupun obyek yang ditangani dapat berupa orang atau benda fisik, yang menjadi penilaian orang tentang suatu profesi ialah hasilnya, yaitu tentang mutu jasa atau baik buruk penanganan fungsinya. Dalam situasi yang penuh tantangan dan persaingan ketat seperti sekarang ini, kunci keberhasilan profesi terletak pada TARAF
72

KEMAHIRAN ORANG YANG MENJALANKAN. Taraf kemahiran demikian hanya dapat diperoleh melalui proses belajar dan berlatih sampai tingkat kesempurnaan yang dipersyaratkan untuk itu tercapai. Dalam proses ini tidak terapat jalan pintas. Bagi seseorang yang berbakat dan terampil, proses itu mungkin dapat terlaksana secara lebih baik atau lebih cepat dari pada orang lain yang kurang atau tidak memiliki kemampuan itu. Bagi golongan terakhir ini, apabila mereka tidak bersedia untuk bersusah payah melebihi ukuran biasa untuk menguasai sesuatu kejujuran, pilihan terbaik ialah untuk mencari profesi lain yang lebih sesuai dengan bakat mereka. Dalam lapangan kerja, atasan seharusnya menilai kemampuan orang bukan sematamata atas dasar diploma atau gelarnya, tetapi atas dasar kesanggupannya untuk mewujudkan prestasi berupa kemajuan nyata dengan modal pengetahuan yang ada padanya. Dalam praktek, kita jumpai bahwa tidak semua orang mampu

mendayagunakan pengetahuannya dalam pekerjaan. Tidak jarang kita jumpai seorang sarjana yang mampu bekerja secara rutin. Sebaliknya seorang non-sarjana yang kreatif ternyata mampu memberi bukti kesanggupan berkembang dan menambah aneka bentuk faedah baru dengan dasar pengetahuannya yang relatif masih terbatas itu. Diploma dan gelar bukan jaminan prestasi seseorang. Prestasi harus diukur di satu pihak dengan hasil yang diperoleh dari seseorang dan di lain pihak dengan tolak ukur yang dikaitkan dengan kemampuan yang semestinya ada pada orang itu. Diploma hanya memberi harapan tentang adanya kemampuam itu, tetapi kemampuan nyata harus dibuktikan melalui hasil penerapan pengetahuan yang ditandai dengan diploma tadi dalam pekerjaannya. Untuk memperoleh kemampuan demikian, pengamalan merupakan guru yang terbaik. Tanpa kesanggupan untuk menarik pelajaran dari pengalamannya, seseorang tidak akan mengalami proses kemajuan dan pematangan dalam pekerjaan. Orang yang sudah puas dengan perolehan tanda lulus atau gelar saja dan tidak meneruskan proses belajarnya dari praktek bekerja, akan mengalami kemunduran dalam dunia yang dinamis ini dan akan tertinggal dari yang lain. Di bawah ini dikemukakan beberapa ciri profesionalisme :
73

1. Profesionalisme menghendaki sifat mengejar kesempurnaan hasil (perfect result), sehingga kita di tuntut untuk selalu mencari peningkatan mutu. 2. Profesionalisme memerlukan kesungguhan dan ketelitian kerja yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman dan kebiasaan. 3. Profesionalisme menuntut ketekunan dan ketabahan, yaitu sifat tidak mudah puas atau putus asa sampai hasil tercapai. 4. Profesionalisme memerlukan integritas tinggi yang tidak tergoyahkan oleh “keadaan terpaksa” atau godaan iman seperti harta dan kenikmatan hidup. 5. Profesionalisme memerlukan adanya kebulatan fikiran dan perbuatan, sehingga terjaga efektivitas kerja yang tinggi. Ciri di atas menunjukkan bahwa tidaklah mudah menjadi seorang pelaksana profesi yang profesional, harus ada kriteria-kriteria tertentu yang mendasarinya. Lebih jelas lagi di kemukakan oleh Tjerk Hooghiemstra bahwa seorang yang dikatakan

profesional adalah mereka yang sangat kompeten atau memiliki kompetensikompetensi tertentu yang mendasari kinerjanya. Kompetensi menurut Tjerk Hooghiemstra, Hay group, The Netherlands pada tulisannya yang berjudul “Integrated Management of Human Resources:, Kompetensi adalah karakteristik pokok seseorang yang berhubungan dengan unjuk kerja yang efektif atau superior pada jabatan tertentu. ANGGAPAN BAHWA

PROFESIONALISME DAPAT DIHARAPKAN ANJURAN, TIDAKLAH BENAR

MUNCUL SEKEDAR DENGAN

Selanjutnya diuraikan bahwa perlu dibedakan antara unjuk kerja superior dengan rata-rata. Kompetensi dapat berupa motiv, sifat, konsep diri pribadi, attitude atau nilainilai, pengetahuan yang dimiliki, keterampilan dan berbagai sifat-sifat seseorang yang dapat diukur dan dapat menunjukkan perbedaan antara rata-rata dengan superior. Apa yang dikemukakan oleh Lyle M. Spencer dalam bukunya berjudul “Competence
74

at Work” tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan Tjerk

Hooghiemstra sebelumnya; Kompetensi adalah karakteristik pokok seseorang yang berhubungan dengan atau menghasilkan unjuk kerja yang efektif dan atau superior pada jabatan tertentu atau situasi tertentu sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Karakteristik pokok mempunyai arti kompetensi yang sangat mendalam dan merupakan bagian

melekat pada pribadi seseorang dan dapat menyesuaikan sikap pada berbagai kondisi atau berbagai tugas pada jabatan tertentu. Ada lima karakteristik kompetensi : motiv, sikap, konsep diri (attitude, nilai-nilai atau keterampilan. C. Organisasi Dan Kode Etik Profesi. Organisasi Profesi. Tujuan umum sebuah profesi adalah memenuhi tanggung jawabnya dengan standar profesionalisme tinggi sesuai bidangnya, mencapai tingkat kinerja yang tinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat 4 kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh sebuah profesi yaitu: a. Kredibilitas. Bahwa masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi yang dimiliki sebuah profesi. b. Profesionalisme. Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh pemakai jasa sebuah profesi sebagai profesional di bidangnya. c. Kualitas Jasa. Adanya keyakinan bahwa semua pelayanan yang diberikan pelaku sebuah profesi memenuhi standar kinerja yang tinggi. d. Kepercayaan. Pemakai jasa sebuah profesi harus merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika profesional yang melandasi pemberian jasa tersebut sehingga menimbulkan kepercayaan yang tinggi pada profesi yang bersangkutan. Untuk memenuhi keempat hal tersebut, dalam rangka menetapkan standar kualitas, menetapkan prinsip-prinsip profesionalisme, dan menciptakan kepercayaan atas hasil kerja profesi di mata masyarakat maka diperlukan sebuah organisasi yang mengatur dan melakukan standardisasi terhadapnya. Organisasi itulah yang disebut organisasi profesi. imaginasi diri), pengetahuan dan

75

Beberapa profesi penting di Indonesia telah memiliki organisasi profesi yang secara formal diakui oleh pemerintah maupun masyarakat pengguna jasa profesi tersebut. Organisasi-organisasi profesi tersebut diantaranya adalah:    Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Merupakan organisasi profesi yang mengatur standar profesionalisme dan aturan etika bagi profesi dokter di Indonesia. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Merupakan organisasi profesi yang mengatur standar profesionalisme dan aturan etika bagi profesi akuntan di Indonesia. Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Merupakan organisasi profesi insinyur Indonesia yang terdiri dari anggota-anggota yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknik seperti teknik mesin, teknik elektro, teknik kimia dan lain sebagainya.  Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI). Merupakan organisasi profesi yang mengatur standar profesionalisme dan aturan etika sarjana farmasi atau apoteker di Indonesia.  Dan lain-lain. Pada dasarya, organisasi profesi memiliki empat fungsi pokok dalam kerangka peningkatan profesionalisme sebuah profesi, yaitu: a. Mengatur keanggotaan organisasi. Dalam hal ini, organisasi profesi menentukan kebijakan tentang keanggotaan, struktur organisasi, syarat-syarat keanggotaan sebuah profesi dan kemudian lebih lanjut lagi menentukan aturan-aturan yang lebih jelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. b. Membantu anggota untuk dapat terus memperbaharui pengetahuannya sesuai

perkembangan teknologi. Organisasi profesi melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi anggotanya untuk meningkatkan pengetahuan sesuai

perkembangan dan tuntutan masyarakat yang membutuhkan pelayanan profesi tersebut. Organisasi profesi merupakan jembatan antara perkembangan yang terjadi di masyarakat dengan para pelaku profesi yang menjadi anggotanya. c. Menentukan standardisasi pelaksanaan sertifikasi profesi bagi anggotanya. Sertifikasi merupakan salah satu lambang dari sebuah profesionalisme. Dengan kepemilikan sertifikasi yang diakui secara nasional maupun internasional maka orang akan melihat tingkat profesionalisme yang tinggi dari pemegang sertifikasi
76

tersebut. Organisasi profesi berperan dalam mengatur pelaksanaan sertifikasi profesi bagi anggotanya, termasuk mengatur syarat-syarat sertifikasi, teknis pelaksanaan sertifikasi dan sebagainya. d. Membuat kebijakan etika profesi yang harus diikuti oleh semua anggota. Etika profesi merupaka aturan yang diberlakukan untuk seluruh anggota organisasi profesi. Aturan tersebut menyangkut hal-hal yang boleh dilakukan maupun tidak serta pedoman keprofesionalan yang digariskan bagi sebuah profesi. e. Memberi sanksi bagi anggota yang melanggar etika profesi. Sanksi yang diterapkan bagi pelanggaran kode etik prefesi tentunya mengikat semua anggota. Sanksinya bervariasi, tergantung jenis pelanggaran, dan bisa bersifat internal organisasi seperti misalnya black list atau bahkan sampai dikeluarkan dari organisasi profesi tersebut. Kode Etik Profesi Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional yang menjadi anggota dari sebuah organisasi profesi. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik adalah pelaku profesi tersebut dapat menjalankan tugas dan kewajiban serta memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada pemakai jasa profesi tersebut. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan-perbuatan yang tidak profesional. Jadi kode etik ibarat kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi itu dimata masyarakat. Pada dasarnya, kode etik profesi menyatakan prinsip pengakuan profesi akan tanggung jawabnya kepada publik pemakai jasa profesi tersebut serta rekan kerja profesi. Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi sekalipun, dan memandu anggotanya dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya serta merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya.

77

Prinsip-prinsip dasar di dalam etika profesi menurut Teguh Wahyono (2006, p. 121-122) antara lain dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Prinsip Standar Teknis. Setiap anggota profesi harus melaksanakan jasa profesional yang relevan dengan bidang profesinya. Profesi dilakukan sesuai keahliannya dan dengan hati-hati. Anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. b. Prinsip Kompetensi. Setiap anggota profesi harus melaksanakan pekerjaan sesuai jasa profesionalnya dengan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan. Setiap anggota juga mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir. c. Prinsip tanggung jawab profesi. Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukan. Pelaku profesi harus bertanggung jawab penuh terhadap setiap pekerjaan atau jasa profesional yang dilakukannya. d. Prinsip kepentingan publik. Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak memberikan jasa profesionalnya dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme. e. Prinsip integritas. Pelaku profesi harus menjunjung nilai tanggung jawab profesional dengan integritas setinggi mungkin untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik yang menggunakan jasa profesionalnya. f. Prinsip obyektivitas. Setiap anggota harus menjaga obyektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Dalam hal ini, pelaku profesional harus mengesampingkan kepentingan pribadi dalam menjalankan tugas. g. Prinsip kerahasiaan. Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
78

h. Prinsip perilaku profesional. Setiap anggota harus berperilaku konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi yang diembannya. Kode etik profesi supaya dapat berfungsi dengan semestinya, maka biasanya : kode etik dibuat oleh profesi itu sendiri. Kode etik harus menjadi hasil (pengaturan diri) dari profesi. Pelaksaan kode etik diawasi terus-menerus. Pada umumnya kode etik akan mengandung sanksi-sanksi yang dikenakan pada pelanggar kode. Kasus-kasus pelanggaran akan dinilai dan ditindak oleh suatu ‟dewan kehormatan‟ atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu.

79

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN

Setelah mempelajari bagian ini, diharapkan memahami: a. Pengertian hak dan kewajiban. b. Jenis-jenis hak c. Hubungan antara hak dan kewajiban.

A. Hakikat dan Jenis Hak. Hakikat hak. Hak merupakan klaim yang dibuat oleh orang atau kelompok yang satu terhadap yang lain atau terhadap masyarakat. Orang yang mempunyai hak bisa menuntut bahwa orang lain akan memenuhi dan menghormati hak itu. Hak adalah klaim yang sah atau klaim yang dapat dibenarkan. Misalnya seorang penodong mengklaim harta milik

penumpang dalam kereta api. Disini klaim itu tidak sah. Tetapi kalau kondektur kereta api menuntut agar penumpang membayar karcisnya, inilah klaim yang bias dibenarkan dan karenanya harus dipenuhi oleh yang bersangkutan. Berdasarkan contoh tersebut maka pengertian hak bisa dirumuskan dalam beberapa pengertian seperti yang terdapat dalam bukunya Achmad Charris Zubair (1987, p. 59-60) : Pengertian hak: wewenang atau kekuasaan secara etis untuk mengerjakan, meninggalkan, memiliki, mempergunakan atau menuntut sesuatu. Hak adalah panggilan kepada kemauan orang lain dengan perantaraan akalnya, perlawanan dengan kekuasaan atau kekuatan fisik untuk mengakui wewenang yang ada pada fihak lain. Supaya hak bisa terlaksana harus ada fihak lain yang memenuhi tuntutan hak itu. Keharusan untuk memenuhi hak tersebut disebut kewajiban.
80

-

Hak ialah semacam milik, kepunyaan, yang tidak hanya merupakan benda saja, melainkan pula tindakan, fikiran dan hasil fikiran itu (Poedjawijatno, 1972, p. 44)

Unsur yang ada dalam meninjau hak menurut Achmad Charris Zubair (1987) adalah: a. Subyek hak bukan hanya seorang, tetapi juga kelompok yang berupa lembaga, badan hukum. Seperti Negara, masyarakat dan sebagainya. b. Adanya hak pada tiap manusia dan lembaga hukum tadi menimbulkan kewajiban pada orang atau lembaga-lembaga lain untuk memenuhi hak tadi. c. Materi hak adalah tujuan atau obyek hak manusia. Hak manusia selengkapnya adalah pencapaian kebahagiaan sempurna. d. Asas hak adalah alas an untuk memperoleh hak yang riil. Asas hak itu juga suatu realitas yang harus ada pada manusia sebagai personalitas. Sumber hak. Poedjawijatno (1986, p. 61) berpendapat bahwa sumber hak adalah kemanusiaan. Manusialah yang mempunyai hak. Timbulnya dari kemanusiaanya. Manusia sebagai individu istimewa yang disebut pribadi, individu yang berbudi dan berkehendak. Demi kepribadiannya ini manusia yang satu berbeda dengan manusia yang lain. Ia mempunyai hak yang sema-mata kepunyaannya sendiri dan tidak boleh diambil alih oleh manusia lain. Yang jelas dalam hal ini ialah manusia itu ada dan hidup, maka ia berhak akan hidup itu, ia berbudi dan berkehendak, maka ia berhak atas keyakinan budinya dan kemerdekaan kehendaknya. Dengan demikian, jika ada orang lain yang memusnahkan atau mengurangi hak itu, disebut perkosaan. Karena itulah hak manusia sebenanrnya timbul dari kemanusiaan. Hak yang muncul dari asas manusia ini disebut hak asasi manusia. Di samping pendapat tentang sumber hak yang berasal dari manusia dan kemanusiaannya, ada pendapat yang mengatakan sumber hakiki hak asasi tentulah pada Tuhan sendiri. Drijarkara (1966, p. 42) berpedapat bahwa apa yang disebut kesusilaan pada hakikatnya aalah perkembangan yang sejati kodrat manusia. Dengan demikian maka ditunjukkan dasar kesusilaan yang terletak pada kita sendiri. Kesusilaan adalah tuntutan kodrat, tidak menghendaki kesusilaan berarti memperkosa kodrat kita sendiri.
81

Tiap perbuatan yang tidak susila, merupakan perkosaan kodrat. Dengan demikian nampaklah bahwa kodrat menjadi dasar kesusilaan. Namun dalam berfikir tentang kesusilaan, manusia selalu mencari dasar yang lebih tinggi lagi, dasar yang terakhir. Itulah sebabnya kesusilaan bagaimanapun juga selalu dihubungkan dengan Tuhan.

Ketuhanan adalah dasar dari seluruh kesusilaan. Ketuhanan adalah dasar dan tujuan dari kesusilaan. Tanpa ketuhanan tidak mungkin ada kesusilaan yang berkembang betyulbetul. Jenis-jenis hak: 1. Hak legal dan hak moral. Hak legal adalah hak yang didasarkan atas hukum dalam salah satu bentuk. Hak legal berasal dari undang-undang, peraturan hukum atau dokumen legal lainnya. Misal, jika negara mengeluarkan peraturan bahwa para veteran perang memperoleh tunjangan setiap bulan, maka setiap veteran yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, berhak untuk mendapat tunjangan tersebut. Kalau hak legal berfungsi dalam sistem hukum, maka hak moral berfungsi dalam sistem moral. Hak moral didasarkan atas prinsip atau peraturan etis saja. Misal janji yang diadakan secara pribadi oleh dua teman, tidak menampilkan hak legal dan hanya terbatas pada hak moral saja. Seorang suami atau istri berhak bahwa pasangannya akan setia padanya. Walaupun hak legal tidak dengan sendirinya merupakan hak moral, namun yang ideal adalah bahwa hak legal pada dasarnya merupakan suatu hak moral juga. Disisi lain, hak moral sering kali pantas diberi dasar hukum pula. Hak moral akan lebih efektif dan mempunyai kedudukan lebih kukuh dalam masyarakat, jika didukung dan dilindungi oleh status hukum. 2. Hak khusus dan hak umum. Hak khusus timbul dalam suatu relasi khusus antara beberapa manusia atau karena fungsi khusus yang dimiliki orang satu terhadap orang lain. Jadi hak ini hanya dimiliki oleh satu atau beberapa manusia. Misal jika Ali meminjam Rp. 10.000 dari Bambang
82

dengan janji akan mengembalikannya dalam dua bulan, maka Bambang disini mendapat hak yang tidak dimiliki orang lain. Dalam hak khusus disini termasuk juga privilese atau hak istimewa. Orang yang mendapat gelar kehormatan, mempunyai hak untuk menyandang lencana yang berhubungan dengannya. Hak umum dimiliki manusia bukan karena hubungan atau fungsi tertentu, melainkan semata-mata karena ia manusia. Hak ini dimiliki oleh semua manusia tanpa kecuali. Disinilah dikenal dengan hak asasi manusia. 3. Hak individual dan hak sosial. Hak yang dimiliki individu-individu terhadap negara. Negara tidak boleh menghindari atau mengganggu individu dalam mewujudkan hak-hak ini, seperti hak mengikuti hati nurani, hak beragama, hak berserikat, hak mengemukakan pendapat. Individu itu bebas untuk mengikuti hati nurani dan mewujudkan hak-hak lainnya. Disamping itu ada jenis hak lain yang dimiliki manusia bukan terhadap negara, melainkan justru sebagai anggota masyarakat bersama dengan anggota-anggota lainnya. Hak-hak ini bisa disebut sosial. Misal hak atas pekerjaan, hak atas pendidikan, dsb. Apakah ada hak yang bersifat absolut? Para ahli etika mengatakan bahwa kebanyakan hak adalah hak prima facie atau hak pada pandangan pertama, artinya hak itu berlaku sampai dikalahkan oleh hak lain yang lebih kuat. Dengan kata lain, kebanyakan hak tidak bersifat absolut. Misal hak atas kehidupan tentu merupakan hak yang penting, tetapi bukan hak yang absolut. Setiap manusia mempunyai hak atas kehidupan, artinya hak tidak akan dibunuh oleh orang lain, tetapi hak ini tidak berlaku dalam keadaan apa pun. Sebenarnya rumusannya „setiap orang mempunyai hak tidak akan dibunuh oleh orang lain tanpa alasan yang cukup‟. Kadang-kadang memang ada alasan yang cukup. Misal menjalankan tugas membela tanah air dalam keadaan perang atau melaksanakan hukuman mati di negara di mana hukum memungkinkan hukuman itu. Bagaimanapun pendapat orang tentang etis tidaknya hukuman mati, tidak pernah bias dikemukakan

83

sebagai argument yang sah bahwa hak atas kehidupan itu bersifat absolut. Walaupun hak itu sangat penting dan hakiki, namun tidak sampai bersifat absolut. Contoh yang lain yakni hak atas kebebasan. Setiap manusia berhak untuk hidup bebas. Tidak seorang pun boleh ditahan begitu saja atau dirampas kebebasannya. Tetapi hak ini juga pasti tidak absolut, karena dapat dikalahkan oleh hak lain. Seorang pasien psikiatris yang berbahaya bagi masyarakat di sekitarnya dapat saja dipaksa untuk dirawat inap dalam rumah sakit jiwa, sekalipun ia sendiri tidak mau. Tentu saja, orang ini tidak bersalah dan mempunyai hak seperti semua orang lain. Tetapi haknya atas kebebasan dalam hal ini dapat dikalahkan, karena orang lain pun mempunyai hak untuk dilindungi terhadap bahaya yang mengancam jiwa mereka. Halangan utama yang mengakibatkan suatu hak tidak bisa absolut adalah

terjadinya konflik antara hak-hak. Hampir setiap hak bisa bentrok dengan hak lain. Seperti dalam contoh di atas, konflik bisa terjadi antara hak satu orang dan hak orang lain. Pasien psikiatris itu mempunyai hak atas kebebasan seperti orang lain dan karena itu ia berhak juga untuk menolak, bila ia dibujuk untuk masuk rumah sakit jiwa dengan suka rela. Disisi lain, masyarakat mempunyai hak untuk tidak diganggu oleh pasien psikiatris yang berbahaya itu. Dan hak terakhir ini ternyata lebih kuat, hingga harus dimenangkan. Disini terlihat adanya konflik antara hak negatif aktif (hak kebebasan) dan hak negatif pasif (hak keamanan), di mana hak macam terakhir ini lebih kuat. B. Kewajiban dan Keadilan Pengertian Kewajiban. Wajib pada dasarnya ialah kebaikan yang dengan keharusan dibebankan kepada kehendak kita yang merdeka untuk dilaksanakan (Drijarkara, 1966, p.29). Tuhan mempunyai hak terhadap makhluknya. Sedangkan makhluk hanya mempunyai kewajiban terhadap Tuhan, bukan hak. Secara vertikal, makhluk mempunyai sematamata kewajiban terhadap khalik. Pada horizontal hak dan kewajiban itu dipertahankan sama.

84

Dalam pelaksanaan kewajiban, terletak apa yang disebut tanggung jawab manusia. Dipandang dari segi ini, tanggung jawab berarti sikap atau pendirian yang menyebabkan manusia menetapkan bahwa dia hanya akan menggunakan

kemerdekaannya untuk melaksnakan perbuatan yang susila. Keharusan dari wajib adalah keharusan „principium identitatis‟, artinya manusia itu harus berlaku sebagai manusia, jika tidak, dia pungkiri kemanusiaannya. Tanggung jawab berarti mengerti perbuatannya. Dia berhadapan dengan

perbuatannya, sebelum berbuat, selama berbuat, dan sesudah berbuat. Dia mengalami diri sebagai subyek yang berbuat dan mengalami perbuatannya sebagai obyek yang dibuat. Tanggung jawab ialah kewajiban menanggung bahwa perbuatan yang dilakukan oleh seorang alah sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Berani bertanggung jawab, bearrti bahwa seorang berani menentukan, berani memastikan bahwa perbuatan ini sesuai dengan tuntutan kodrat manusia dan bahwa hanya karena itulah perbuatan tadi dilakukan. Hubungan antara hak dan kewajiban. Pandangan yang disebut ‟teori korelasi‟ mengatakan setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain, dan sebaliknya setiap hak seseorang berkaitan dengan kewajiban orang lain untuk memenuhi hak tersebut. (Bertens, 1993, p. 193) Teori korelasi perlu diakui bahwa memang sering terdapat hubungan timbal balik antara hak dan kewajiban, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa hubungan itu mutlak dan tanpa pengecualian. Tidak selalu kewajiban satu orang sepadan dengan hak orang lain. Malahan dalam konteks kewajiban legal, tidak selalu ada hak yang sesuai dengannya. Misal, Pengemudi mobil wajib berhenti bila lampu lalu lintas merah menyala, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa orang lain berhak agar pengemudi tertentu berhenti. Sering kali ada kewajiban moral tanpa ada hak yang sepadan dengannya. Misal setiap orang mempunyai kewajiban moral untuk bersikap murah hati. Jika seseorang kebetulan kaya raya, ia tidak menyatakan sikap etis yang benar, kalau tidak bersedia
85

membagi kelebihannya dengan orang

yang sangat membutuhkan. Hal itu adalah

kewajibannya. Tetapi itu tidak berarti bahwa orang tertentu berhak untuk dibantu oleh orang kaya itu. John Stuart Mill membedakan antara kewajiban sempurna dan kewajiban tidak sempurna. Kewajiban sempurna selalu terkait dengan hak orang lain, sedangkan kewajiban tidak sempurna tidak terkait dengan hak orang lain. Kewajiban sempurna didasarkan atas keadilan. Orang mempunyai kewajiban ini, jika orang lain boleh menuntut agar sesuatu diberikan kepadanya atau dilakukan baginya. Hal itu paling jelas dalam kasus hak-hak khusus. Kewajiban tidak sempurna tidak didasarkan keadilan, tetapi mempunyai alasan moral lain, misalnya. Berbuat baik atau kemurahan hati. Pengemis yang tertentu tidak berhak atas bantuan saya, biarpun berkewajiban untuk berbuat baik. (Bertens, 1993, p. 194) Keadilan. Kesadaran dan pelaksanaan untuk memberikan kepada pihak lain sesuatu yang sudah semestinya harus diterima oleh pihak lain itu, sehingga masing-masing pihak mendapat kesempatan yang sama untuk melaksanakan hak dan kewajibannya tanpa mengalami rintangan atau paksaan. Memberi dan menerima yang selaras dengan hak dan kewajibannya, itulah keadilan. Menurut Aristoteles dan Notonagoro (Dalam Achmad Charris Zubair, 1987, p. 68-69) ada 4 macam wujud keadilan yakni: a. Keadilan tukar-menukar. Yaitu suatu kebajikan tingkah laku manusia untuk selalu memberikan kepada sesamanya, sesuatu yang menjadi hak pihak lain, atau sesuatu yang sudah semestinya harus diterima oleh pihak lain itu. Dengan adanya keadilan tukarmenukar, terjadilah saling memberi dan saling menerima. Keadilan itu timbul di dalam hubungan antar-manusia sebagai orang-seorang terhadap sesamanya di dalam masyarakat.

86

b. Keadilan distributif atau membagi. Yaitu suatu kebajikan tingkah laku masyarakat dan alat penguasanya untuk selalu membagikan segala kenikmatan dan beban bersama, dengan cara rata, dan merata, menurut keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani maupun rohani. Keadilan dalam membagi ini, terdapat dalam hubungan antara masyarakat dengan warganya. c. Keadilan sosial. Yaitu suatu kebajikan tingkah laku manusia di dalam hubungan dengan masyarakat, untuk senantiasa memberikan dan melaksanakan segala sesuatu yang menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan bersama sebagai tujuan akhir dari masyarakat atau negara. d. Keadilan hukum. Yaitu mengatur hubungan antara anggota dan kesatuannya untuk bersama-sama selaras dengan kedudukan dan fungsinya untuk mencapai kesejahteraan umum.

87

BAB VII

ETIKA KOMPUTER,SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

Pada bagian sebelumnya telah dibahas bahwa perkembangan teknologi yangterjadi dalam kehidupan manusia, memberikan banyak perubahan pada cara berpikirmanusia, baik itu dalam usaha pemecahan masalah, perencanaan, mau pun juga

dalampengambilan keputusan. Perubahan yang terjadi pada cara berpikir manusia sebagai salahsatu akibat adanya perkembangan teknologi tersebut, sedikit banyak akan berpengaruhterhadap pelaksanaan dan cara pandang manusia terhadap etika dan normanorma dalamkehidupannya. Selanjutnya pada bagian ini, Anda akan di ajak secara lebih khususmempelajari etika dibidang komputer, mulai dari tinjauan sejarah sampai pembahasan isu-isu pokok dalam penerapannya.

A.Sejarah Etika Komputer Sesuai awal penemuan teknologi komputer di era 1940-an, perkembangan etikakomputer juga dimulai dari era tersebut dan secara bertahap berkembang menjadi sebuahdisiplin ilmu baru dimasa sekarang ini. Perkembangan tersebut akan dibagi menjadibeberapa tahap seperti yang akan dibahas berikut ini.

88

1.Era 1940-1950-an

Munculnya

etika

komputer

sebagai

sebuah

bidang

studi

dimulai

dari

Pekerjaanprofesor Norbert Wiener selama Perang Dunia II (pada awal tahun 1940-an) profesor dariMIT ini membantu mengembangkan suatu meriam antipesawat yang mampu menembak jatuh sebuah pesawat tempur yang melintas di atasnya.Tantangan universal dari proyek tersebut menyebabkan Wiener dan beberaparekan kerjanya harus memperhatikan sisi lain dari sebuah perkembangan teknologi,yaituetika. Pada perkembangannya, penelitian di bidang etika dan teknologi tersebut akhirnyamenciptakan suatu bidang riset baru yang disebut cyberneticsatauthe science of information feedback systems Konsep cybernetics tersebut dikombinasikan dengankomputer digital yang dikembangkanp ada waktu itu, membuat Wiener akhirnya menarik beberapa kesimpulan etis tentang pemanfaatan teknologi yang sekarang dikenal

dengansebutan Teknologi Informasi (TI).Dalam konsep penelitiannya, Wiener meramalkan terjadinya revolusi sosial dankonsekuensi etis dari perkembangan teknologi informasi. Di tahun 1948, di dalambukunya Cybernetics: Control and Communication in the Animal and the Machine ia mengatakan: "It has long been clear to me that the modern ultra-rapid Computing machine was in principle an ideal central nervousSystem to an apparatus for automatic control; and that its input and output need not be in the form of numbers or diagrams. It might very well be, respectively, the readings of artf'icialsense organs, such as photoelectric cells or thermometers,and the performance of motors or solenoids ....
89

We arealready in a position to construct artificiall machines of almost any degree of elaborateness of performance. Long before Nagasaki and the public awareness of the atomic bomb, it had occurred to me that we were here in the presence of another social potentiality of unheard-of importance for good and for evil..." (Bynum, 2OOI)Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Wiener mengungkapkan bahwa mesinkomputasi modern pada prinsipnya merupakan system jaringan syaraf yang jugamerupakan peranti kendali otomatis. Dalam pemanfaatan mesin tersebut,manusiaakandihadapkan pada pengaruh social tentang arti penting teknologi tersebut yang ternyatamampu memberikan " kebaikan ", sekaligus " malapetaka ".Pada tahun 1950, Wiener menerbitkan sebuah buku yang monumental, berjudulThe Humon Use of Human Beings. Walaupun Wlener tidak menggunakan istilah "etikakomputer" dalam buku tersebut,ia letakkan suatu fondasi menyeluruh untuk analisa danrisetl tentang etika komputer. Istilah etika computer sendiri akhirnya umum digunakanlebih dari dua decade kemudian.Buku Wiener ini mencakup beberapa bagian pokok tentang hidup manusia, prinsip-prinsip hukum dan etika di bidang komputer. Bagian-bagian pokok dalam buku tersebut adalah sebaga bierikut ( Bynum,2 001): 1. Tujuan hidup manusia. 2. Empat prinsip-prinsip hukum. 3. Metode yang tepat untuk menerapkan etika. 4. Diskusi tentang masalah-masalah pokok dalam etika komputer. 5. Contoh topik kunci tentang etika computer

Dasar-dasar etika computer yang diberikan Wiener berada jauh di depanwaktunya, dan hampir diabaikan untuk beberapa dekade. Dalampandangannya,pengintegrasian teknologi computer ke dalam masyarakat akan segeramenimbulkan" revolusi industry yang kedua". Dalam revolusi industri tersebut, perubahandapat terjadi secara radikal. Adalah suatu pekerjaan besar bagi pelaku di dalamnya untuk memperhatikan keanekaragaman tugas dan tantangan.Para pekerja harus melakukanpenyesuaian dalam pekerjaannya; pemerintah harus menetapkan peraturan dan hukumbaru; bisnis dan industry harus menciptakan kebijaksanaan baru dalam praktiknya;organisasi
90

professional harus mengembangkan kode etik yang baru untuk anggotamereka; sarjana sosiologi dan psikologi harus belajar dan memahami gejala sosial danpsikologis baru; dan ahli filsafat harus memikirkan kembali konsep-konsep etika yangtelah ada,dan banyak hal lain yang harus dipikirkan. 2.Era 1960-an

Pada pertengahan tahun 1960, Donn Parker dari SRI lnternasional Menlo Park california melakukan berbagai riset untuk menguji penggunaan komputer yang tidak sahdan tidak sesuai dengan profesionalisme di bidang komputer. Waktu itu

Parkermenyampaikan sesuatu ungkapan yang menjadi titik tolak penelitiannya, yaitu: "That when people entered the computer cbnter they left their Ethics at the door." ( Fodora nd Bynum, 7992)Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa ketika orang-orang masuk pusatkomputer, mereka meninggalkan etika mereka di ambang pintu. Selanjutnya, Parkermelakukan riset dan mengumpulkan berbagai contoh kejahatan komputer dan aktivitaslain yang menurutnya tidak pantas dilakukan para pofesional komputer. Dalamperkembangannya, ia menerbitkan "Rules of Ethics in lnformation Processing" Atau peraturan tentang etika dalam pengolahan informasi.Parker juga dikenal menjadi pelopor kode etik profesi bagi profesional di bidangkomputer, yang ditandai dengan usahanya pada tahun 1968 ketika ditunjuk untuk memimpin pengembangan. Kode Etika Profesional yang pertama dilakukan untuk Association for Computing Machinery (ACM) Dalam dua dekade

berikutnya,Parkermelanjutkan penelitiannya dan menghasilkan buku, artikel, sampai pidato-pidatomengenai etika komputer. Walaupun pekerjaan Parker belum

menyajikan suatu kerangkateoritis umum mengenai etika tersebut, berbagai
91

pemikiran yang telah diberikan tokoh inimenjadi tonggak sejarah etika komputer setelah Wiener. 3.Era 1970-an Era ini dimulai ketika sepanjang tahun 1960, Joseph Weizenbaum, ilmuwankomputer MIT di Boston, menciptakan suatu program komputer yang disebut ELIZA.Didalam eksperimenpertamanya,ELIZAiaciptakansebagaitiruandari"Psychotherapist Rogerian "yang melakukan wawancara dengan pasien yang akan diobatinya.Weizenbaum dikejutkan oleh reaksi dari penemuan sederhananya itu, di manabeberapa dokter jiwa melihatnya sebagai bukti bahwa komputer akan segera melakukanotomatisasi psikoterapi. Bahkan, sarjana-sarjan computer MIT yang secara emosionalterlibat dengan komputer berbagi pikiran tentang hal tersebut. Hal itu akhirnya

membawaWeizenbaum pada suatu gagasan akan munculnya "model pengolahan informasi" tentangmanusia yang akan datang dan hubungannya antara manusia dengan mesin. BukuWeizenbaum,Computer Power and Human

Reason[Weizenbaum,9761], menyatakanbanyak gagasan dari hal tersebut. Dari buku tersebut, banyak pemikir terilhami tentangperlunya etika komputer.Perkembangan etika komputer di era 1970-an juga diwarnai dengan karya WalterManer yang sudah mulai menggunakan istilah"computer ethics"untuk mengacu padabidang pemeriksaan yang berhadapan dengan permasalahan etis yang diciptakan olehpemakaian teknologi komputer waktu itu. Maner menawarkan suatu kursus eksperimentalatas materi pokok tersebut padaOld Dominion University in Virginia. Sepanjang tahun1970 sampai pertengahan 1980, Maner menghasilkan banyak minat pada kursus tentangetika komputer setingkat universitas. Tahun 1978, ia juga memublikasikan sendirikaryanya Starter Kit in Computer Ethics, yang berisi material kurikulum dan pedagogiuntuk para pengajar universitas dalam pengembangan pendidikan etika computer.

92

4.Era 1980-an

Tahun1980-an, sejumlah konsekuesi sosial dan teknologi informasi yang etismenjadi isu publik di Amerika dan Eropa. Hal-hal yang sering dibahas adalahcomputerenabled crimeatau kejahatan komputer, masalah-masalah yang di sebabkan karenakegagalan system komputer, invasi keleluasaan pribadi melalui database komputer danperkara pengadilan mengenai kepemilikan perangkat lunak. Pekerjaan tokoh-tokoh etikacomputer sebelumnya seperti Parker, Weizenbaum, Maner dan yang lain, akhirnyamembawa etika komputer sebagai suatu displin ilmu baru. Pertengahan 80-an, James Moor dari Dartmouth College Menerbitkan artikelmenarik yang berjudul"What Is Computer Ethics?"sebagai isu khusus pada

JurnalMetaphilosophy [Moor,1995]. Deborah Johnson dariRensselaer Polytechnic Institute menerbitkan buku teksComputer Ethics[Johnson, 1985], sebagai buku teks

pertamayang digunakan lebih dari satu dekade dalam bidang itu. 5.Era 1990-an Sampai Sekarang Sepanjang tahun 1990, berbagai pelatihan baru di Universitas, pusat riset,konferensi, jurnal, buku teks dan artikel menunjukkan suatu keanekaragaman yang luastentang topik di bidang etika komputer. Sebagai contoh, pemikir

seperti Donald GotterbarnKeith Miller; Simon Rogerson, dan Dianne Martinseperti juga banyak organisasi profesional komputer yang rnenangani tanggung jawab sosial profesi tersebut,seperti

93

Electronic

Frontier

FoundationACM-SIGGAS-

memimpin

proyek

yang

relevanuntuk melakukan riset mengenai tanggung jawab profesional di bidang komputasi. paraahli computer di Inggris, Polandia, Belanda,dan Italia

menyelenggarakan ETHICOMPsebagai

rangkaian konferensi

yang dipimpin

olehSimon RogersonTerdapat pulakonforensi besar tentang etika komputerCEPE yang dipimpin oleh Jeroen van Hoven, serta di Australia terjadi riset terbesar etikakomputer yang dipimpin oleh Chris Simpson dan Yohanes

Weckert.Perkembangan yang cukup penting lainnya adalah kepeloporanSimon Rogersondari De Montfort University (UK), yang mendirikan Centre for Computing and Social Responsibility. Di daiam pandangan Rogerson, ada kebutuhan dalam pertengahan tahun1990 untuk sebuah "generasi kedua" yaitu tentang pengembangan etika komputer: The mid-1990s has heralded the beginning of a second generation of Computer Ethics. The time has come to build upon and elaborate the conceptual foundation whilst, in parallel, deueloping the frameworks within which practicalaction can occur, thus reducing the probability of unforeseeneffects of information technology application [Rogerson,Bynum, 19971].Berkat jasa dan kontribusi pemikiran yang brilian dari para ilmuwan di bidangetika komputer, dimulai dari wener, parker, weizenbaum, sampai pada Rogerson, akhirnyaetika computer menjadi salah satu bidang ilmu utama pada banyak pusat riset danperguruan tinggi di dunia yang akan terus dikembangkan mengikuti perkembangankomputer itu sendiri. 6.Etika Komputer di Indonesia

94

Sebagai negara yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi komputer,Indonesia pun tidak mau ketinggalan dalam Mengembangkan etika di bidang tersebut.Mengadopsi pemikiri-pemikiran dunia di atas, etika di bidang komputer berkembangmenjadikurikulum wajib yang dilakukan oleh hampir semua perguruan tinggi di bidang computerdi Indonesra. Meskipun banyak perguruan tinggi yang tidak langsung menyebut bidangstudinya sebagai etika komputer, tetapi banyak di antara mereka memasukkan etikakomputer tersebutpada bidang studi yang relevan. Seperti misalnya UKSW Salatiga melalui FakultasTeknologi Informasi memasukkan etika computer pada mata kuliah Etika Profesi BidangTI, dan sebagainya.1950-an Nober Wiener( Pofesor MIT )1960-an Donn Parker( SRI internasionalMenlo Park California)1970-an J.WeizenbaumWalter Maner1980-an James Moor( Dartmouth College )1990-an Donald Gotterbarn,s/d Sekarang Keith Miller,Simon

Rogerson,Dianne Martin dll. B. Beberapa Pandangan dalam Cakupan Etika Komputer Melihat sejarah perkembangan komputer yang telah dibahas di atas, disiplin ilmuyang dikenal sebagai "etika komputer" praktis belum ada sejak tahun 1940 sampai tahun 1960. Istilah tersebut mulai muncul setelah Walter Maner di tahun 1970,dan beberapapemikir aktif etika komputer mulai memasukkan dan mendeskripsikan etika computersebagai sebuah bidang studi.Ketika memutuskan untuk menggunakan istilah "etika komputer" padapertengahan tahun 70-an, Walter Maner menggambarkan bidang tersebut sebagai bidangilmu yang menguji "permasalahan etis yang menjengkelkan, yang diciptakan olehteknologi komputer". Maner berpendapat bahwa beberapa permasalahan etis sebelumnyasudah ada, diperburuk oleh munculnya komputer yang menimbulkan permasalahan barusebagai akibat penerapan teknologi informasi.Sementara Deborah Johnson (1985) dalam bukunya Computer Ethics ,menggambarkan bidang ini sebagai satu studi tentang cara yang ditempuh oleh komputermemiliki standar moral baru, yang memaksa kita sebagai penggunanya untuk menerapkannorma-norma baru pula di dalam dunia yang "belum dipetakan". Johnsonmerekomendasikan etika terapan dengan pendekatan konsep dan prosedur
95

penggunaandari utilitarianisme dan kantianisme. Namun, berbeda dengan Maner, ia tidak percayabahwa computer menciptakan permasalahan moral baru secara keseluruhan. baginya,komputer member sebuah“new twist" ke isu-isu etis sebelumnya yang telah ada.James Moor mendefinisikan etika computer di dalam artikelnya "What IsComputer Ethics"" [Apakah Etika Komputer ltu?] yang ditulis pada tahun 1985. Dalamartikel tersebut, Moor mengartikan etika komputer sebagai bidang ilmu yang tidak terikatsecara khusus dengan teori ahli filsafat mana pun dan kompatibel dengan pendekatanmetodologis yang luas pada pemecahan masalah etis. Moore mengungkapkan etikacomputer sebagai suatu bidang yang lebih luas dlbandingkan dengan yang didefinisikanoleh Maner atau Johnson. Moor

menggambarkan etika komputer sebagai bidang yangterkait dengan "policy Vocuums" and"conceptual muddles"atau kebijakan ruanganhampa dan konseptual yang campur aduk mengenai aspek sosial dan penggunaan secaraetis teknologi informasi: A typical problem in computer ethics arises because there isa policy vacuum about how computer technology should beused. Computers prouide us with new capabilities and these , in turn give us new choices for action.Often,either no policies for conduct in these situations exist or existing policies seeminadequate. A central task of computer ethicsi s to determinewhat we should do in such cases, that is, formulate policies toguideo ur actions...One difficulty is that along with a policyvocuum there is often a conceptual vacuum. Although a problem in computer ethics may seem clear initially, a littlereflection reveals a conceptual muddle. Wha is needed ln such cases is an analysis that provides a coherent conceptual framework within which to formulate a policyf or actlon. (Bynum,2001).Dari kutipan di atas,terlihat bahwa suatu masalah khas dalam etika computermuncul karena adanya suatu kebijakan yang belum jelas tentang bagaimana teknologikomputer harus digunakan. Komputer melengkapi kita dengan berbagai kemampuan barudan ini pada gilirannya member banyak pilihan baru untuk tindakan yang dapatdilakukan.Satu tugas etika komputer adalah menentukan apa yang perlu kita lakukan didalamnya. Dalam kasus ini adalah merumuskan kebijakan untuk memandu tindakan kita.secara lebih lanjut, Moor mengatakan bahwa teknologi computer itu sebenarnya memilikisifat revolusioner karena memiliki" logically
96

malleable"Computers are logically malleable in that they can be shaped and molded to do any actiuity that can be characterized in terms of inputs, outputs and connecting logicaloperations.. Because logic appliese uerywher,the potentialapplications of computer technology appear limitless. Thecomputer is the neirest thing we haue to a uniuersal tool. Indeed, the limits of computers are largely the limits of our own creatiuity.(Moor, 1985)Komputer disebut” Iogicallymalleable”karena bisa melakukan aktivitas apapundalam membantu tugas manusia. Hal ini terjadi karena komputer bekerja menggunakansuatu logika pemrograman tertentu yang bisa dibuat oleh programernya. Logikapemrograman tersebut terhubung dimana-mana sehingga potensi aplikasi teknologikomputer tampak tiada habisnya. Komputer merupakan suatu alat yang universal. Tentusaja batas computer adalah seberapa besar batas dari kreativitas manusia sendiri.Menurut Moor, revolusi komputer sedang terjadi dalam dua langkah. Langkahyang pertama adalah“pengenalanteknologi”di mana teknologi komputer dapatdikembangkan dan disaring. Ini telah yang terjadi di Amerika sepanjang empat puluhtahun pertama setelah Perang Dunia yang kedua. Langkah yang kedua adalah "penyebaran teknologi”di mana teknologi mendapatkan integrasi ke dalam aktivitasmanusia sehari-hari dan ke dalam institusi sosial, mengubah seluruh konsep pokok, sepertiuang ( money ),pendidikan ( educotion ), kerja ( work ) dan pemilihan yang adil (fair elections). Dua tahap revolusi komputer menurut Moor Cara Moor menggambarkan bidang etika computer sangat sugestif dan kuat sertaberakar di dalam suatu pemahaman tentang bagaimana revolusi teknologi berproses.Sekarang ini, pengertian yang diberikan Moor adalah salah satu pengertian terbaik yangada menyangkut bidang etika komputer tersebut.Meskipun demikian, ada beberapa jalan lain untuk memahami etika komputersesuai pendekatan teori yang luas ini. Pendekatan lain dilakukan Wiener (1950) di dalambukunyaThe Human Use of Human Beings, dan juga yang didiskusikan oleh Moor dalam "What ls Computer Ethics?" Menurut alternatif ini, etika computer mengidentifikasi danmeneliti dampak teknologi informasi terhadap nilai-nilai manusiawi seperti kesehatan,kekayaan, kesempatan, kebebasan, demokrasi, pengetahuan, keleluasaan pribadi,keamanan, pemenuhan diri, dan seterusnya.ini adalah pandangan etika komputer secaralebih luas dalam penerapan etika,sosiologi komputasi, penilaian teknologi,hukumkomputer,dan
97

bidang-bidang yang berhubungan dengan itu dan mempekerjakankonsep,metodologi serta teori dari disiplin ilmu ini. Kesuksesan dari pemahaman etikakomputer ini dicerminkan ketika pemikiran tersebut didiskusikan dalam konferensi

utamaseperti National Conference on Computing and Values (1991),dan riset-riset lainnya.Pada tahun 1990, Donald Gotterbarn memelopori suatu pendekatan yang berbedadalam melukiskan cakupan khusus bidang etika komputer. Dalam pandangan Gotterbarn,etika komputer harus dipandang sebagai suatu cabang etika profesional, yang terkaitsemata-mata dengan standar kode dan praktik yang dilakukan oleh para profesional dibidang komputasi: "There is little attention'paid to the domain of professionalethics -- the ualues thatguide the day-to-day actiuities of computing professionals in their role as professionals. Bycomputing professional I mean anyone inuolued in thedesign and deuelopment of computer artifacts...The ethicaldecisions made duringt hed euelopment of these artifacts hauea direct relationship to many of the issues discussed under thebroader concept of computer ethics..." (Gotterbarn 1991).Dengan pandangan di atas, pengertianprofessional-ethics melekat erat dalam etikakomputer.Dengan kepeloporannya tersebut,Gotterbarn akhirnya dilibatkan dalamsejumlah aktivitas terkait dengan penelitian di bidang etika komputer,sepertico-authoringpada pembuatan ACMCode of Ethics and Professional Conduct yang ke tiga sertamenetapkan standar perizinan untuk software engineer . C.Isu-Isu Pokok Etika Komputer

98

Berikut akan dibahas sekilas tentang isu-isu pokok yang berhubungan denganetika di bidang pemanfaatan teknologi komputer. 1. Kejahatan Komputer Perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, selain membawa dampak positif bagi umat manusia, di sisi lain juga mengundang tangan-tangan kriminl untuk beraksi, baik untuk mencari keuntungan materi maupun sekedar iseng. Hal inimemunculkan fenomena khas yang sering disebut computercrime atau kejahatan di duniakomputer.Kejahatan komputer dapat diartikan sebagai "Kejahatan yang di timbulkan karena penggunaan komputer secara ilegal" (Andi Hamzah, 1989). Selanjutnya, seiring dengan perkembangan pesat teknologi komputer, kejahatan bidang ini pun terus meningkat.Berbagai jenis kejahatan komputer yang terjadi mulai dari kategori ringan sepertipenyebaran virus, spam email, penyadapan transmisi sampai pada kejahatan-kejahatankategori berat seperti misalnya Carding (pencurianm elalui internet), DoS (Denial of Servicesa) atau melakukan serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan target sehinggaia tak dapat memberikan layanan lagi,dan sebagainya. 2. Cyber Ethics Salah satu perkembangan pesat di bidang computer adalah internet.

Internet,akronim dari Interconection Networking, merupakan suatu jaringan yang menghubungkankomputer di seluruh dunia tanpa dibatasi oleh jumlah unit menjadi satu jaringan yang bisasaling mengakses. dengan internet tersebut,satu komputer dapat berkomunikasi secaralangsung dengan komputer lain di berbagai belahan dunia.Perkembangan internet memunculkan peluang baru untuk membangun danmemperbaiki pendidikan,bisnis,layanan pemerintahan,dan

demokrasi. Namun,permasalahan baru muncul setelah terjadi interaksi yang universal di antara pemakainya.Harus dipahami bahwa pengguna internet berasal dari berbagai negara yang mungkin sajamemiliki budaya, bahasa dan adat istiadat

99

yang berbeda-beda. Di samping itu, penggunainternet merupakan orang-orang yang hidup dalam dunia Anonymouseyang tidak memiliki keharusan menunjukkan identitas asli dalam berinteraksi. Hal itu membuat kitatidak saling mengenal dalam arti kata yang sesungguhnya atau bahkan satu penghunidunia maya mungkin tidak akan pernah bertatap muka dengan penghuni yang lainnya.Sementara itu, munculnya berbagai layanan dan fasilitas yang diberikan dalam internetmemungkinkan seseorang untuk bertindak tidak etis.Permasalahan-permasalahan tersebut di atas, menuntut adanya aturan dan prinsipdalam melakukan komunikasi via internet. Salah satu yang dikembangkan adalah Netiket atau Nettiquette, yang merupakan salah satu etika acuan dalam berkomunikasimenggunakan internet. Seperti halnya

berkomunikasi melalui surat atau bertatap muka,berkomunikasi dengan internet memerlukantatacarasendiri. Netiket yang paling seringdigunakan mengacu kepada standar netiket yang ditetapkan oleh IETF (The Internet EngineeringTask Force) IETF adalah suatu komunitas masyarakat internasional yangterdiri dari para perancang jaringan,operator,penjual dan peneliti yang terkait denganevolusi arsitektur dan pengoperasian Internet. Organisasi ini terbuka bagi individu dimana pun dan siapa pun yang terkait dengan internet. Untuk lebih jelasnya,kita dapatmengunjungi situs resmi organisas inidiwww.ietf.org.dalam

kegiatannya,IETF terbagi menjadi kelompok-kelompok kerja yang menangani beberapa topik seputer internet baik dari sisi teknis maupun non teknis,termasuk di dalamnya menetapkanNetiquette Guidelines yang terdokumentasi dalam Request For Comments(RFC):1855. 3. E-commerce Selanjutnya,perkembangan pemakaian internet yang sangat pesat jugamenghasilkan sebuah model perdagangan elektronik y ng disebut Electronic Commerce(e-commerce). Secara umum dapat dikatakan bahwa e-commerce adalah sistemperdagangan yang menggunakan mekanisme elektronik yang ada di jaringan internet. E-commerce merupakan warna baru dalam dunia perdagangan, di mana kegiatanperdagangan tersebut dilakukan secara elektronik dan online. Pembeli tidak harus datangke toko dan memilih barang secara langsung, melaikan cukup melakukan browsing
100

didepan komputer untuk melihat daftar barang dagangan secara elektronik. Jika mempunyaikeputusan membeli,ia cukup mengisi beberapa form yang disediakan, kemudianmengirimkannya secarao nline. Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit atautransfer bank, dan kemudian pulang ke rumah menunggu barang datang.Dalam pelaksanaannya e-commerce menimbulkan beberapa Isu

menyangkut aspek hukum perdagangan dalam penggunaan system yang terbentuk secaraon line networkingmanagement tersebut. Beberapa permasalahan tersebut antara lain menyangkut prinsip-prinsip yurisdiksi dalam transaksi, permasalahan kontrak dalam transaksi elektronik,masalah perlindungan konsumen, masalah pajak (taxation), kasus-kasus pemalsuan tandatangan digital, dan sebagainya.Dengan berbagai permasalahan yang muncul menyangkut perdagangan viainternet tersebut,diperlukan acuan model hukum yang dapat digunakan sebagai standartransaksi. Salah satu acuan internasional yang banyak digunakan adalahUncitral Model Law on Electronic Commerce 1996 . Acuan yang berisi model hukum dalam transaksi e-commerce tersebut diterbitkan oleh UNCITRAL sebagai salah satu komisi internasionalyang berada di bawah naungan PBB. Model tersebut telah disetujui oleh GeneralAssembly Ressolution No 51/162 tanggal 16 Desember 1996. 4. Pelanggaran Hak Atas Kekayaan Intelektual Sebagai teknologi yang bekerja secara digital, komputer memiliki sifat keluwesanyang tinggi. Hal itu berarti bahwa jika informasi berbentuk digital maka secara mudahseseorang dapat menyalinnya untuk berbagi dengan orang yang lain. Sifat itu di satu sisimenimbulkan banyak keuntungan, tetapi di sisi lain juga menimbulkan permasalahan,terutama menyangkut hak atas kekayaan

intelektual.Beberapa kasus pelanggaran atas hak kekayaan intelektual tersebut antara lainadalah pembajakan perangkat lunak,softlifting(pemakaian lisensi melebihi kapasitaspenggunaan yang seharusnya), penjualan CDROM illegal atau juga penyewaan perangkatlunak ilegal.Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat pembajakanperangkat lunak cukup tinggi. survei yang dilakukan

101

Business software Alliance(BSA)pada tahun 2001, menempatkan lndonesia pada peringkat ketiga terjadinya pembajakanterbesar dunia. Dengan peringkat tersebut Indonesia berada di bawah Vietnam sebagaiperingkat pertama dan china sebagai peringkat kedua. Kebanyakan pembajakan diIndonesia adalah pembajakan yang di lakukan olehend user seperti penggunaan satulisensi untuk banyak PC, pelanggaran kontak lisensi serta pemuatan perangkat lunak bajakan di PC. 5. Tanggung Jawab Profesi Seiring perkembangan teknologi pula, para profesional di bidang komputer sudahmelakukan spesialisasi bidang pengetahuan dan sering kali mempunyai posisi yang tinggidan terhormat di kalangan masyarakat. Oleh karena alasan tersebut, mereka memilikitanggung jawab yang tinggi, mencakup banyak hal dari konsekuensi profesi yangdijalaninya. Para profesional menemukan diri mereka dalam hubungan profesionalnyadengan orang lain, mencakup pekerja dengan pekerjaan, klien dengan profesional,profesional dengan professional lain,serta masyarakat dengan profesional.Hubungan ini melibatkan suatu keanekaragaman minat, dan kadang-kadang minatini dapat masuk ke dalam bertentangan satu sama lain. para profesional computer yangbertanggung jawab, tentunya sadar dengan konflik kepentingan yang mungkin terjadi danberusaha untuk

menghindarinya.Organisasi profesi di AS, seperti Association for Computing Machinery (ACM) danInstitute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE), sudah menetapkan kode etik,syarat-syarat pelaku profesi dan garis-garis besar pekerjaan untuk membantu paraprofesional computer dalam memahami dan mengatur tanggung-jawab etis yang harusdipenuhinya.Di Indonesia, organisasi profesi di bidang computer yang di dirikan sejak tahun1974 yang bernama IPKIN (lkatan Profesi Komputer dan Informatika), juga sudahmenetapkan kode etik yang disesuaikan dengan kondisi perkembangan pemakaianteknologi komputer di
Indonesia. Kode etik profesi tersebut menyangkut kewajibanpelaku profesi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi,kewajiban pelaku profesiterhadap masyarakat, kewajiban pelaku profesi terhadap sesama pengemban profesiilmiah, serta kewajiban pelaku profesi terhadap sesame umat manusia dan lingkunganhidup.Munculnya kode etik profesi tersebut tentunya memberikan gambaran adanytanggung jawab yang tinggi bagi para pengemban profesi bidang komputer untuk menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai 102

seorang profesional dengan baik sesuai garis-garis profesionalisme yang ditetapkan.Isuisu pokok di bidang etika komputer seperti di atas, yaitu computer crime,cyber ethics, hak atas kekayaan intelektual, perdagangan elektronik serta tanggung jawabprofesi akan dibahas lebih mendalam pada setiap bab selanjutnya dari buku ini

BAB VIII TIJAUAN MENGENAI PROFESI DI BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI A. Pendahuluan

Profesi adalah suatu lapangan kerja yang memerlukan pendidikan khusus, yang berakhir dengan suatu gelar dari lembaga pendidikan tinggi serta mengakui adanya kewajiban terhadap masyarakat dan memiliki kode etik yang mengikat setiap orang yang menyandang profesi tersebut. Sumber yang lain mengatakan bahwa profesi adalah kelompok lapangan kerja khusus, dalam melaksanakan kegiatan memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi, untuk memenuhi kebutuhan rumit manusia, menggunakan keahliannya secara benar, penguasaan pengetahuan yang luas tentang sifat manusia, kondisi masyarakat, serta memiliki disiplin etika pada profesi tersebut. B, Pekrjaan di bidang TI sebagai Profesi
103

Untuk menyatakan apakah suatu pekerjaan termasuk profesi atau bukan, kriteria pekerjaanituharusdiuji.Sebagai contoh, pekerjaan sebagai staf operator komputer (sekedar mengoperasikan), tidak masuk dalam golongan profesi jika untuk bekerja sebagai staf operator tersebut tidak membutuhkan latar belakang pendidikan tertentu. Adapun seorang Software Engineer dapat dikatakan sebagai sebuah profesi karena seseorang yang bekerja sebagai software engineer haruslah berpengetahuan dan memiliki pengalaman kerja di bidangnya. Aagar dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya secara baik dan benar, serang software engineer perlu terus mengembangkan bidang ilmu dalam pengembangan perangkat lunak, seperti: Bidang ilmu metodologi pengembangan perangkat lunak, manajemen sumber daya, mengelola kelompok kerja dan komunikasi. Ciri-ciri seseorang yang professional adalah: 1. Memiliki pengetahuan yang tinggi di bidang profesinya. 2. Memiliki profesi yang tinggi dibidang profesinya. 3. Memiliki pengetahuan yang luas tentang manusia dan masyarakat, budaya, seni, sejarah dan komunikasi. 4. Tanggap terhadap masalah client, faham terhadap isyu-isyu etis serta tata nilai klient-nya. 5. Mampu melakukan pendekatan multidispliner. 6. Mampu bekerja sama. 7. Bekerja dibawah disiplin etika. 8. Mampu mengambil keputusan didasarkan pada kode etik, bila dihadapkan pada situasi dimana pengambilan keputusan berakibat luas terhadap masyarakat. C, Berbagai macam posisi pekerjaan di bidang TI System Analyst: Seorang yang bertanggung jawab atas penelitian, perencanaan, pengkoordinasian, dan merekomendasikan pemilihan perangkat lunak dan system yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi bisnis atau perusahaan.

104

Analyst Programer: Merancang, membuat „code‟ (program) dan menguji program untuk mendukung perencanaan pengembangan aplikasi system. Web Designer: Mengembangkan rancangan inovatif aplikasi web-based serta isi dari aplikasi tersebut. System Programmer/Software Engineer: Terbiasa dengan pengembangan software „lifecycles‟, memiliki keterampilan dalam mendesain aplikasi, menyiapkan program menurut spesifikasi, dokumentasi/„coding‟ dan pengujian. IT Executive: Memelihara kecukupan, standard dan kesiapan systems/infrastruktur untuk memastikan pengoperasiannya dapat efektif dan efisien. Menerapkan prosedur IT dan proses untuk memastikan data terproteksi secara maksimum. IT Administrator: Menyediakan implementasi dan administrasi yang meliputi Local Area Network(LAN), Wide Area Network (WAN) dan koneksi dial-up, firewall, proxy serta pendukung teknisnya. Network Administrator: Mengurusi dan mengoperasikan jaringan LAN maupun WAN, manajemen system serta dukungan terhadap perangkat kerasnya. Database Administrator: Bertanggunga jawab untuk administrasi dan pemeliharaan teknis yang menyangkut perusahaan dalam pembagian system database. System Engineer: Menyediakan rancangan system dan konsultasi terhadap pelanggan, memberikan respon terhadap permintaan technical queries serta dukungannya, termasuk melakukan pelatihan teknis ke pelanggan dan IT Administrator. Network Support Engineer: Melaksanakan komunikasi dan analisa system networking, mendisain perencanaan untuk integrasi, mendukung jaringan pada internet, intranet dan ekstranet. Menganalisa dan ikut ambil bagian dalam pengembangan standarisasi keamanan dan implementasi mengendalikan untuk keamanan LAN dan WAN.
105

Helpdesk Analyst: Me-„remote‟ permasalahan troubleshoot melalui email/telephone dengan cara mengambil alih kendali para pemakai via LAN/WAN koneksi. Perencanaan, mengkoordinir dan mendukung proses bisnis, system dan end-user dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. ERP Consultant: Meberikan nasehat teknis ataupun fungsional pada implementasi solusi ERP. Harus mempunyai beberapa pengetahuan tertentu dalam rangka memetakan proses. Account Manager: Bertanggung jawab untuk kemajuan penjualan suatu solusi dan/atau produk serta target pendapatan. Business Development Manager: Secara umum mengetahui kebutuhan akan pelanggan. Memiliki ketajaman yang diperlukan dalam menopang dan

menguntungkan bisnis. Mempunyai kemampuan luas yang mampu menyerap dan berkomunikasi jelas tentang bisinis kompleks serta konsep teknologi. IT Manager: Mengatur kelancaran dari system IT. Troubleshooting dan membantu organisasi dalam menangani permasalahan IT. Sesuai dengan pengembangan IT yang baru dalam bidang yang diperlukan. Project Manager: Perencanaan, member arahan dan melaksanakan aktivitasmanajemen proyek untuk suatu divisi/area. Monitor progress terhadap jadwal dan anggaran proyek. Bias juga mengalokasikan atau membantu mengalokasi sumber daya sesuai dengan hasil proyek yang harus diselesaikan. D.Pekerjaan di bidang TI dalam standar Pemerintah Mengingat pentingnya teknologi informasi bagi pembangunan bangsa maka pemearintah pun merasa perlu membuat standarisasi pekerjaan dibidang teknologi informasi bagi pegawainya. Institusi pemerintah telah mulai melakukan klasifikasi pekerjaan dalam bidang teknologi informasi sejak tahun 1992. Klasifikasi pekerjaan ini mungkin masih belum dapat mengakomodasi klasifikasi pekerjaan pada teknologi

106

informasi secara umum. Terlebih kagi, deskripsi pekerjaan masih kurang jelas dalam membedakansetiapselpekerjaan.Pegawai Negri Sipil yang bekerja dibidang teknologi informasi, disebut pranata computer. Beberapa penjelasan tentang pranata computer sebagai berikut : Pengangkatan Pegawai Negri Sipil dalam jabatan Pranata Komputer ditetapkan oleh Mentri, Jaksa Agung, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinngi Negara. Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1.Syarat-Syarat Jabatan Pranata Komputer Bekerja pada satuan organisasi instansi pemerintah dan bertugas pokokmembuat, memelihara dan mengembangkan dan mengambangkan system dan atau program pengolahan dengan computer.
 

Berijazah serendah-rendahnya SarjanaMuda / D3 atau yang sederajat. Memiliki pendidikan dan atau latihan dalambidang computer dan pengalamanmelakukan kegiatan di bidang computer.

Memiliki pengetahuan dan atau pengalaman dalam bidang tertentu yang berhubungan dengan bidang computer.

Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan sekurangkurangnya bernilai baik

Jenjang dan Pangkat Pranata Komputer: NO Jabatan Pranata Komputer Pangkat Pengatur Muda Tingkat I Pengatur Pengatur Tingkat I Penata Muda Penata Muda Tingkat I Penata Penata Tingkat I Gol/Ruang II/b II/c II/d III/a III/b III/c III/d

1 Asisten Pranata Komputer Madya 2 Asisten Pranata Komputer 3 Ajun Pranata Komputer Muda 4 Ajun Pranata Komputer Madya 5 Ajun Pranata Komputer 6 Ahli Pranata Komputer Pratama 7 Ahli Pranata Komputer Muda
107

8 Ahli Pranata Komputer Madya

Pembina

IV/a IV/b IV/c IV/d

9 Ahli Pranata Komputer Utama Pratama Pembina Tingkat I 10 Ahli Pranata Komputer Utama Muda Pembina Utama Muda

11 Ahli Pranata Komputer Utama Madya Pembina Utama

Untuk tetap berada pada jalur profesionalitasny, pemerintah juga menetapkan bahwa Pranata Komputer harus dapat mengumpulkan angka kredit minimal. Angka kredit minimal yang harus dikumpulkan adalah :
     

Asisten Pranata Komputer Madya sebanyak 20 angka kredit Asisten Pranata Komputer sebanyak 20 angka kredit Ajun Pranata Komputer Muda Sebanyak 20 angka kredit Ajun Pranata Komputer Madya sebanyak 50 angka kredit Ajun Pranata Komputer sebanyak 50 angka kredit Ahli Pranata Komputer Pratama sebanyak 100 angka kredit

E. Pedoman Standar Kompetensi Pranata Komputer Pedoman Penetapan Standar Kompetensi untuk Jabatan Fungsional Pranata Komputer ditujukan untuk dipergunakan oleh Tim Penilai, Pejabat Kepegawaian, dan Pejabat Fungsional Pranata Komputer sebagai bahan acuan seorang PNS untuk menjadi Pejabat Fungsional Pranata Komputer. Pengertian Pendidikan adalah suatu proses belajar-mengajar dalam bidang pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional, yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan yang telah diakreditasi oleh lembaga yang berwenang. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
108

Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan dan Pelatihan adalah salah satu jenis pendidikan non formal yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan seseorang dalam bidang tertentu. Pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap profesional yang harus dimiliki oleh Pejabat Fungsional Pranata Komputer adalah pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap profesional di bidang Teknologi Informasi. Kualifikasi pendidikan adalah syarat pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap profesional yang harus dipenuhi oleh Pejabat Fungsional Pranata Komputer. Bidang Ilmu Teknologi Informasi adalah semua bidang ilmu yang berhubungan dengan pengetahuan Dasar Matematika, Teori Ilmu Komputer, Perangkat Keras, Organisasi Komputer, Perangkat Lunak, Data dan Sistim Informasi, Metodologi Komputasi, Aplikasi Komputer, dan Lingkungan Komputasi Unsur Kompetensi Standar kompetensi yang perlu dimiliki oleh Pejabat Fungsional Pranata Komputer dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik meliputi unsur pendidikan, pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap profesional. Unsur Pendidikan a. Pendidikan Formal Pejabat Fungsional Pranata Komputer harus memenuhi persyaratan pendidikan sebagai berikut: 1. Tingkat Terampil

109

Pendidikan minimal yang dipersyaratkan menjadi Pranata Komputer Tingkat Terampil adalah SLTA/D-I. Apabila calon mempunyai ijazah D-III atau lebih tinggi dalam jurusan yang diperkenankan maka tidak memerlukan diklat penjenjangan.. 2. Tingkat Ahli Pendidikan minimal yang dipersyaratkan menjadi Pranata Komputer Tingkat Ahli adalah S1/D-IV. Apabila calon mempunyai ijazah dalam jurusan yang diperkenankan maka tidak memerlukan diklat penjenjangan. b. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Terdapat dua jenis diklat, yaitu: 1. Diklat Fungsional Penjenjangan Pranata Komputer Diklat Fungsional Penjenjangan Pranata Komputer adalah diklat yang diwajibkan bagi PNS yang akan memangku Jabatan Fungsional Pranata Komputer pada jenjang tertentu, kecuali yang mempunyai ijazah minimal D-III (untuk tingkat terampil), atau S1/D-IV (untuk tingkat ahli) di bidang teknologi informasi. Aturan mengenai Diklat Fungsional Penjenjangan Pranata Komputer ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala BPS tersendiri. 2. Diklat Teknis Pranata Komputer Diklat Teknis adalah diklat yang diselenggarakan untuk meningkatkan

keahlian/keterampilan yang lebih spesifik pada bidang teknologi informasi. 8 Unsur Pengetahuan Unsur pengetahuan yang dimiliki adalah: a. Memahami Sistem Penilaian dan Administrasi Pranata Komputer;
110

b. Memahami konsep, teknik dan aplikasi teknologi informasi antara lain: 1. Memahami teknologi komputer; 2. Memahami sistem operasi komputer; 3. Memahami pemanfaatan aplikasi komputer di lingkungan perkantoran; 4. Memahami teknik pemrograman; 5. Memahami teknologi penyimpanan dan pengambilan data; 6. Memahami teknologi jaringan komputer; 7. Memahami cara pembuatan dokumentasi program; 8. Memahami etika penggunaan sistem komputer. Unsur Keterampilan Keterampilan yang dimiliki oleh seorang Pranata Komputer Tingkat Terampil menurut jenjang jabatannya adalah: a. Jenjang Pranata Komputer Pelaksana Pemula 1. Mengoperasikan komputer; 2. Melakukan perekaman data. b. Jenjang Pranata Komputer Pelaksana 1. Mengoperasikan komputer; 2. Melakukan perekaman data; 3. Memasang dan/atau memelihara sistem komputer;

111

4. Memasang dan/atau memelihara sistem jaringan komputer; 5. Melakukan pemrograman dasar. c. Jenjang Pranata Komputer Pelaksana Lanjutan 1. Melakukan perekaman data; 2. Melakukan pemrograman menengah; 3. Menerapkan sistem operasi komputer. d. Jenjang Pranata Komputer Penyelia 1. Melakukan pemrograman lanjutan; 2. Menerapkan sistem operasi komputer. 9 2.4. Unsur Keahlian Keahlian yang dimiliki oleh seorang Pranata Komputer Tingkat Ahli menurut jenjang jabatannya adalah: a. Jenjang Pranata Komputer Pertama 1. Mengimplementasikan sistem komputer dan program paket; 2. Mengimplementasikan database; 3. Mengimplementasikan sistem jaringan komputer; 4. Merancang sistem informasi. b. Jenjang Pranata Komputer Muda 1. Menganalisis sistem informasi;
112

2. Merancang sistem informasi; 3. Merancang sistem komputer; 4. Merancang dan mengembangkan database; 5. Merancang sistem jaringan komputer. c. Jenjang Pranata Komputer Madya 1. Merencanakan sistem informasi; 2. Mengembangkan sistem informasi. d. Jenjang Pranata Komputer Utama 1. Merumuskan visi dan misi sistem informasi; 2. Merumuskan strategi sistem informasi. Unsur Sikap Profesional Sikap Profesional yang dimiliki oleh seorang Pranata Komputer antara lain: a. Dapat merencanakan pekerjaan yang akan dilaksanakan; b. Dapat melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana yang disusun dengan penuh tanggung jawab; c. Dapat menyusun laporan dari pekerjaan yang dihasilkan; d. Mampu mengembangkan diri; e. Disiplin; f. Mandiri.

113

Kualifikasi Pendidikan Formal PNS yang akan memangku Jabatan Fungsional Pranata Komputer tetapi tidak mempunyai kualifikasi pendidikan formal dalam bidang ilmu teknologi informasi, wajib mengikuti Diklat Fungsional Penjenjangan Pranata Komputer. Kriteria Kualifikasi Pendidikan Formal Kriteria untuk melakukan kualifikasi pendidikan formal mempertimbangkan halhal sebagai berikut: a. Gelar atau sebutan pendidikan formal; b. Jurusan atau program studi pendidikan formal; c. Transkrip atau daftar mata kuliah yang diselesaikan. 3.2. Prosedur Penetapan Kualifikasi Pendidikan Formal Untuk memastikan bahwa pendidikan formal memenuhi kualifikasi yang disyaratkan, maka Tim Penilai melakukan penetapan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: a. Apabila gelar atau sebutan pendidikan formal yang disandang adalah Sarjana Komputer atau sejenisnya, maka pendidikan formal tersebut dapat dikualifikasikan sebagai pendidikan di bidang teknologi informasi. b. Apabila persyaratan butir 1 di atas tidak terpenuhi, maka harus dilihat jurusan atau program studi yang diselesaikan. Apabila jurusan atau program studi pendidikan formal menyebutkan jurusan bidang teknologi informasi, maka pendidikan formal tersebut dapat dikualifikasikan sebagai pendidikan di bidang teknologi informasi.

114

c. Apabila persyaratan butir 2 di atas tidak terpenuhi, maka harus dilihat transkrip atau daftar mata kuliah yang diselesaikan. Penetapan kualifikasi berdasarkan transkrip mengikuti tata cara penetapan bidang ilmu teknologi informasi seperti tercantum pada anak lampiran. Kualifikasi transkrip atau daftar mata kuliah mengikuti ketentuan sebagai berikut: 1. Apabila jumlah bobot (sks) mata kuliah bidang ilmu teknologi informasi 60% atau lebih dari semua mata kuliah yang diselesaikan, maka pendidikan formal tersebut dapat dikualifikasikan sebagai pendidikan di bidang teknologi informasi. 2. Apabila di bawah 60%, maka pendidikan formal tersebut tidak dapat dikualifikasikan sebagai pendidikan di bidang teknologi informasi. d. Apabila dianggap sesuai, maka Tim Penilai menerbitkan Surat Penetapan Kualifikasi Pendidikan Formal.

115

BAB IX MENINGKATKAN PROFESIONALISME DI BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI Setelah mempelajari bab ini diharapkan dapat diperoleh pengetahuan: a. Sertifikasi profesional di bidang teknologi informasi b. Peningkatan profesional di bidang TI c. Jenis – jenis sertifikasi Cisco Teknologi Informatika sebagai salah satu bidang yang paling cepat berkembang menuntut para profesionalnya untuk ikut bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan jaman baik itu perkembangan revolusi dari hardware dan evolusi dari software. Karena hal tersebut dibutuhkan suatu persiapan agar meningkatkan SDM di bidang TI, tidak hanya dari sudut kuantitas tetapi juga kualitas yang mumpuni dan mampu bersaing. Agar dapat meningkatkan profesionalisme di bidang TI dibutuhkan dasar konsep dan ilmu pengetahuan yang kuat tentang bidang TI tersebut sesuai perkembangan dan kebutuhan jaman. Tidak hanya itu, diperlukan juga suatu persiapan jangka panjang agar terbentuk seorang profesional yang memiliki visi yang luas dalam menghadapi perubahan era TI. Tidak hanya pengetahuan yang perlu ditingkatkan, tetapi juga harus mengemkembangkan mental dan emosional diri yang berguna dalam mengukur ketekunan dan loyalitas kepada profesinya. Salah satu upaya yang perlu dilakukan pemerintah dalam pengembangan SDM tersebut bisa melalui kerjasama dengan Vendor Certification yang mempunyai standar sertifikasi berdasarkan kompetensi nasional di bidang TI. Dengan adanya sertifikasi kompetensi akan lebih mudah menyiapkan SDM TI yang dapat bersaing secara global.

116

Untuk menjadi profesional yang memiliki standard sertifikasi dapat ditempuh lewat dua cara, yaitu melalui sertifikasi berorientasi produk dan sertifikasi berorientasi profesi. Maksud dari orientasi produk misalnya melewati pendidikan yang disediakan vendorvendor seperti Microsoft, CISCO, Red Hat, Oracle, dll. Sedangkan berorientasi profesi yaitu suatu sertifikasi yang diberikan hanya berdasarkan profesi tertentu seperti Network Support and Administration, Home Technology Installation, dsb. Akan tetapi dalam menempuh pendidikan bersertifikasi ini tidaklah mudah. Biasanya kendala umum yang paling sering terjadi adalah masalah dananya yang sangat mahal. Lalu masih adanya keragaman dari standard sertifikasi tersebut. Di beberapa negara ada yang mengeluarkan standard sertifikasinya sendiri melalui inisiatif pemerintahannya, akan tetapi yang paling banyak diakui dan dipakai adalah sertifikasi dari industri (vendor). Sehingga timbul ketidaksesuaian jika seorang profesional memiliki sertifikat dari vendor tetapi ingin bekerja di perusahaan negeri. A.Menjadi Profesional dengan Sertifikasi. Alasan pentingnya sertifikasi profesionalisme dibidang IT adalah untuk menjadikan pekerja di bidang IT menjadi seorang yang expert. Manfaatadanyasertifikasiprofesionalisme: 1) Ikut berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih profesional 2) Pengakuan resmi pemerintah tentang tingkat keahlian individu terhadap sebuah profesi 3) Pengakuan dari organisasi profesi sejenis, baik tingkat regional maupun internasional 4) Membuka akses lapangan pekerjaan secara nasional, regional maupun internasional 5) Memperoleh peningkatan karier dan pendapatan sesuai perimbangan dengan pedoman skala yang diberlakukan
117

Teknologi Informasi ( IT ) merupakan teknologi yagn selalu berkembang baik secara revolusioner ( seperti misalnya perkembangan dunia perangkat keras ) maupun yang lebih bersifat evolusioner ( seperti yang terjadi pada perkembangan perangkat lunak ). Hal itu mengakibatkan bahwa pekerjaan di bidang Teknologi Informasi menjadi suatu pekerjaan di mana pelakunya harus terus mengembangkan ilmu yang dimilikinya untuk mengikuti perkembangan Teknologi Informasi tersebut. Artinya, seseorang yang sudah sampai pada level “ahli” di satu bidang pada saat ini, bisa ketinggalan pada bidang yang sama di masa depan jika tidak mengikuti perkembangan yang ada 1.Peningkatan Profesionalisme Syarat profesionalisme yang harus dimiliki pekerja IT : a) Dasar ilmu yang kuat dalam bidangnya sebagai bagian dari masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan abad 21. b) Penguasaan kiat-kiat profesi yang dilakukan berdasarkan riset dan praktis, bukan hanya merupakan teori atau konsep. c) Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan. Penyebab rendahnya profesionalisme pekerja IT : 1) Masih banyak pekerja IT yang tidak menekuni profesinya secara total. 2) Belum adanya konsep yang jelas dan terdefinisi tentang norma dan etika profesipekerja dibidang IT. 3) Masih belum ada organisasi profesional yang menangani para profesional dibidang IT. Alasan pentingnya sertifikasi profesionalisme dibidang IT :

118

1) Bahwa untuk menuju pada level yang diharapkan, pekerjaan di bidang TI membutuhkan expertise. 2) Bahwa profesi dibidang TI, dapat dikatakan merupakan profesi menjual jasa dan bisnis jasa bersifat kepercayaan. B. Manfaat adanya Sertifikasi Profesionalisme : 1) Ikut berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih profesional 2) Pengakuan resmi pemerintah tentang tingkat keahlian individu terhadap sebuah profesi 3) Pengakuan dari organisasi profesi sejenis, baik tingkat regional maupun internasional 4) Membuka akses lapangan pekerjaan secara nasional, regional maupun internasional 5) Memperoleh peningkatan karier dan pendapatan sesuai perimbangan dengan pedoman skala yang diberlakukan Sertifikasi Berorientasi Produk 1. Sertifikasi Microsoft Jenis-jenis Sertifikasi Microsoft : a. Microsoft Certified Desktop Support Technicians ( MCDSTs ) b. Microsoft Certified Systems Administrator ( MCSAs ) c. Microsoft Certified Systems Engineer ( MCSes ) d. Microsoft Certified Database Administrator ( MCDBAs ) e. Microsoft Certified Trainers ( MCTs )

119

f. Microsoft Certified Application Developers ( MCADs ) g. Microsoft Certified Solution Developers ( MCSDs ) h. Microsoft Office Specialists ( Office Specialist ) 2. Sertifikasi Oracle Jenis-jenis Sertifikasi Oracle : a. Oracle Certified Associate ( OCA ) b. Oracle Certified Professional ( OCP ) c. Oracle Certified Master ( OCM ) 3. Sertifikasi CISCO Jenis-jenis Sertifikasi CISCO : a. Cisco Certified Networking Associate ( CCNA ) b. Cisco Certified Networking Professional ( CCNP ) c. Cisco Certified Internetworking Expert ( CCIA ) 4. Sertifikasi Novell Jenis-jenis Sertifikasi Novell : a. Novell Certified Linux Professional ( Novell CLP ) b. Novell Certified Linux Enginer ( Novell CLE ) c. Suse Certified Linux Professional ( Suse CLP ) d. Master Certified Novell Engineer ( MCNE
120

Sertifikasi Berorientasi Profesi 1. Institute for Certification of Computing Professionals a. Certified Data Processor ( CDP ) b. Certified Computer Programmer ( CCP ) c. Certified Systems Professional ( CSP ) 2. Institute for Certification of Computing Professionals a. Entry Level Computer Serivce b. Network Support and Administration c. Computer and Information Security d. Home Technology Installation e. IT Project Managemen Hambatan Pelaksaan Sertifikasi 1. Biaya yang mahal 2. Kemampuan yang kurang memadai terhadap penguasaan materi sertifikasi

121

BAB X ETIKA DUNIA MAYA ( CYBERWORLD ETHICS) DAN ETIKA BISNIS DALAM TEKNOLOGI INFORMASI Setelah mempelajari bagian ini, diharapkan memahami: a. b. c. d. Karakteristik dan keunikan dunia cyber. Pentingnya etika di dunia cyber. Penanggulangan cybercrime. Memahami etika profesi dalam dunia bisnis

A. Etika Dunia Maya ( Cyberworld Ethics) Sejak terciptanya, dunia maya selalu menjadi kontroversi. Kekhawatiran akan pergeseran nilai sosial masyarakat menjadi sangat tinggi ketika komputer telah menjadi gaya hidup yang tidak bisa terelakkan bagi masyarakat modern. Nilai-nilai dimana dulu masyarakat saling bertemu dan mengunjungi satu sama lain, kini mulai bergeser dengan saling berkomunikasi melalui dunia maya. Dunia maya pun dibanjiri dengan „warga negara‟ baru yang tidak terpisahkan ruang dan waktu. Dari situ muncul lah berbagai komunitas didunia maya demi memuaskan keinginan dan kebutuhan manusia akan informasi. Seiring dengan perkembangan sebuah dunia baru, yaitu dunia maya, maka konvensikonvensi, etika, dan hukumpun harus dibuat demi menjaga eksistensi dunia maya. Karena posisinya yang rentan dengan atmosfer kejahatan, dunia maya menjadi sosok yang cukup ditakuti berbagai kalangan. Dari mulai hacking,cracking sampai carding. Orang bisa dengan semaunya mengirimkan email kepada banyak orang tanpa peduli orang yang dikirimi itu menginginkannya atau tidak. Orang bisa menerobos masuk ke dalam komputer lain untuk memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. Dan banyak hal lain lagi yang dalam dunia nyata jelas jelas mereka bisa disamakan dengan tindak kriminal. Kemudian yang patut kita sadari sebagai bangsa yang menjunjung tinggi etika kesopanan, maka ada beberapa hal sebenernya yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi didunia cyber. Banyak dari kita yang acuh tak acuh terhadap etika ini, dan tentu saja kita bisa menyamakannya dengan “orang yang tidak beradab” atau “orang
122

yang tidak mengerti etika”Tahun 2008 yang lalu seorang Yahudi, pengamat manajemen bisnis bernama Yehezkiel A.G, membuat “The Ten Commandement of Computer Ethics”, sebutan untuk etika berkomputer yang dia formulasikan. Kalo melihat namanya memang sangat Yahudi sekali, karena mirip dengan 10 Perintah Tuhan yang diperintahkan kepada Moses yang sampe sekarang masih ada di Perjanjian Lama. The Ten Commandement of Computer Ethics, atau terjemahan lepasnya 10 Perintah Etika berkomputer berisi : 1. Jangan menggunakan komputer untuk merugikan orang lain 2. Jangan melanggar atau mengganggu hak atau karya komputer orang lain 3. Jangan memata-matai file-file yang bukan haknya 4. Jangan menggunakan komputer untuk mencuri 5. Jangan menggunakan komputer untuk memberikan kesaksian palsu 6. Jangan menduplikasi atau menggunakan software tanpa membayar 7. Jangan menggunakan sumberdaya komputer orang lain tanpa sepengetahuan yang bersangkutan 8. Jangan mencuri kekayaan intelektual orang lain 9. Pertimbangkan konsekuensi dari program yang dibuat atau sistem komputer yang dirancang 10. Selalu mempertimbangkan dan menaruh respek terhadap sesama saat menggunakan komputer Dan sebagai masayarakat dunia maya yang teregistrasi secara otomatis, maka sudah sepantasnyalah kita tetap menjaga dan mematuhi etika dunia cyber ini. Saya rasa dengan perkembangan teknologi yang cukup cepat dan dengan diiringi netizen (warga negara dunia maya) yang beretika, maka dunia maya bukan lagi menjadi dunia yang perlu diwaspadai secara berlebihan. B. Etika Bisnis Dalam Teknologi Informasi Setiap bidang kehidupan manusia termasuk dalam wilayah pertanggungjawaban moral. Khususnya pemegang profesi harus dituntut dua hal yakni agar menjalankannya secara bertanggung jawab dan tidak melanggar hak-hak pihak lain.Sebagai pebisnis diharapkan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan dan terhadap
123

hasilnya. Orang-orang bisnis harus sadar tentang dimensi etis dan belajar bagaimana mengadakan pertimbangan yang baik dan etis maupun ekonomis dan bagaimana pertimbangan etis dimasukkan ke dalam kebijakan perusahaan. Etika bisnis termasuk etika profesi sehingga harus dikembangkan oleh para profesional orang-orang bisnis sendiri. Berdasarkan keahlian khusus dalam bisnis , terbuka kemungkinan bagi kaum profesional pebisnis untuk mengekploitasi klien atau subyek layanannya. Dengan kata lain profesi mengandung kemungkinan bahaya penyalahgunaan. Dari kenyataan bahwa profesi mengandung kemungkinan bahaya penyalahgunaan inilah maka menjadi jelas bahwa profesi tidak dapat dilepaskan dengan etika. Suatu profesi bukan hanya suatu cara untuk mencari nafkah saja, melainkan suatu bidang pekerjaan yang menuntut suatu bidang pekerjaan yang memerlukan suatu

standar kompetisi dan tanggung jawab. Karena profesi menyangkut tanggung jawab, maka termasuk dalam standar profesional yang ditetapkan oleh organisasi atau himpunan profesi guna menjamin mutu layanan dan juga melindungi hubungan kepercayaan dengan klien adalah standar etis yang perlu dipatuhi oleh pemegang profesi yang bersangkutan. Muncul persoalan dalam profesi pebisnis, sebenarnya sikap-sikap etis apa yang harus dimiliki oleh pelaku bisnis, agar dalam pelayanan kepada klien bisa menjadi baik, dan pada gilirannya usaha bisnis dapat berhasil dan berkembang baik dalam jangka panjang. Oleh karena itu pembahasan untuk menjawab persoalan tersebut sarat dengan muatan filosofis terutama pendekatan secara etika.

1. Cakupan Etika Bisnis. Masalah etika bisnis atau etika usaha akhir-akhir ini semakin banyak dibicarakan. Hal ini tidak terlepas dari semakin berkembangnya dunia usaha di berbagai bidang. Kegiatan bisnis yang makin merebak baik di dalam maupun di luar negeri, telah menimbulkan tantangan baru, yaitu adanya tuntutan praktik bisnis yang baik, yang etis, yang juga menjadi tuntutan kehidupan bisnis di banyak negara di dunia. Transparansi yang dituntut oleh ekonomi ghlobal menuntut pula praktik bisnis yang etis. Dalam ekonomi pasar global, kita hanya bisa survive jika mampu bersaing. Untuk bersaing harus ada daya saing yang dihasilkan oleh produktivitas dan efisien. Untuk itu pula,
124

diperlukan etika dalam berusaha atau yang dikenal dengan etika bisnis karena praktik berusaha yang tidak etis dapat mengurangi produktivitas dan mengekang efisiensi dalam berbisnis. Richard T. De George (1986) dalam Teguh Wahyono (2006, p. 155-156) memberikan empat macam kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai cakupan etika bisnis. a. Penerapan prinsip-prinsip etika umum pada praktik-praktik khusus dalam bisnis. b. Etika bisnis tidak hanya menyangkut penerapan prinsip etika pada kegiatan bisnis, tetapi merupakan ’meta-etika’ yang juga menyoroti apakah perilaku yang dinilai etis atau tidak secara individu dapat diterapkan pada organisasi atau perusahaan bisnis. c. Bidang penelaahan etika bisnis menyangkut asumsi mengenai bisnis. Dalam hal ini, etika bisnis juga menyoroti moralitas sistem ekonomi pada umumnya serta sistem ekonomi suatu negara pada khususnya. d. Etika bisnis juga menyangkut bidang yang biasanya sudah meluas lebih dari sekedar etika, seperti misalnya ekonomi dan teori organisasi. Pada keempat bidang tersebut, etika bisnis membantu para pelaku bisnis untuk melakukan pendekatan permasalahan moral dalam bisnis secara tepat dan sebaliknya mendekati permasalahan yang terjadi pada bisnis dengan pendekatan moral yang mungkin sering diabaikan. Etika bisnis akan membuat pengertian bahwa bisnis tidak sekedar bisnis, melainkan suatu kegiatan yang menyangkut hubungan antar manusia sehingga harus dilakukan secara ‟manusiawi‟ pula. Etika bisnis akan memberikan pelajaran kepada para pelaku bisnis bahwa bisnis yang ‟berhasil‟, tidak hanya bisnis yang menuai keuntungan secara material saja melainkan bisnis yang bergerak dalam koridor etis yang membawa serta tanggung jawab dan memelihara hubungan baik antar manusia yang terlibat di dalamnya. Jika disimpulkan, etika bisnis memiliki tujuan yang paling penting yaitu menggugah kesadaran tentang dimensi etis dari kegiatan bisnis dan manajemen. Etika bisnis juga menghalau pencitraan bisnis sebagai kegiatan yang ‟kotor‟ penuh muslihat dan dipenuhi oleh orang-orang yang menjalankan usahanya dengan licik.

125

2. Prinsi-prinsip Etika Bisnis. Secara umum, prinsip-prinsip yang berlaku dalam kegiatan bisnis yang baik sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia. Demikian pula, prinsip-prinsip itu sangat erat terkait dengan sistem nilai yang dianut oleh masingmasing masyarakat. Bisnis Jepang akan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakat Jepang. Eropa dan Amerika Utara akan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakat tersebut dan seterusnya. Demikian pula prinsip-prinsip etika bisnis yang berlaku di Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakat Indonesia. Tanpa melupakan kekhasan sistem nilai dari setiap masyarakat bisnis, secara umum menurut Sonny Keraf ( 1998) ada beberapa prinsip etika bisnis yakni : a. Prinsip otonomi. Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Orang bisnis yang otonom adalah orang yang sadar sepenuhnya akan apa yang menjadi kewajibannya dalam dunia bisnis. Jadi orang yang otonom adalah orang yang tahu akan tindakannya, bebas dalam melakukan tindakannya, tetapi sekaligus juga bertanggung jawab atas tindakannya. Kesediaan bertanggung jawab merupakan ciri khas dari makhluk bermoral. Orang yang bermoral adalah orang yang selalu bersedia untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Secara khusus dalam dunia bisnis, tanggung jawab moral yang diharapkan dari setiap pelaku bisnis yang otonom mempunyai dua arah, yakni tanggung jawab terhadai diri sendiri dan tanggung jawab moral yang tertuju kepada semua pihak terkait yang berkepentingan (stakeholders) yakni konsumen, penyalur, pemasok, investor, atau kreditor, karyawan, masyarakat luas, relasi-relasi bisnis . b. Prinsip kejujuran. Ada tiga lingkup kegiatan bisnis modern yang sadar dan mengakui bahwa kejujuran dalam berbisnis adalah kunci keberhasilan, termasuk untuk bertahan dalam jangka panjang, dalam suasana bisnis penuh persaingan yang ketat. Ketiga itu adalah: a. Kejujuran relevan dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Dalam mengikat perjanjian dan kontrak tertentu, semua pihak secara a priori saling percaya satu sama lain, bahwa masing-masing pihak tulus dan jujur dalam membuat
126

perjanjian dan kontrak itu dan lebih dari itu serius serta tulus dan jujur melaksanakan janjinya. Kejujuran ini sangat penting artinya bagi kepentingan masing-masing pihak dan sangat menentukan relasi dan kelangsungan bisnis masing-masing pihak selanjutnya. b. Kejujuran juga relevan dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Dalam bisnis modern penuh persaingan, kepercayaan konsumen adalah hal yang paling pokok. c. Kejujuran juga relevan dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan. Kejujuran dalam perusahaan justru inti dan kekuatan perusahaan itu. c. Prinsip keadilan. Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Keadilan menuntut agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya. d. Prinsip saling menguntungkan. Prinsip saling menuntungkan menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak. Prinsip ini bisa mengakomodasi hakikat dan tujuan bisnis. e. Prinsip integritas moral. Prinsip ini terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baiknya atau nama baik perusahaannya. Prinsip ini merupakan tuntutan dan dorongan dari dalam diri pelaku dan perusahaan untuk menjadi yang terbaik dan dibanggakan. Sejalan dengan pendapat Sonny Keraf tersebut adalah menurut Frans Magnis Suseno (1991) bahwa sebuah usaha bisnis hanya dapat lestari dan berkembang baik dalam jangka waktu menengah dan panjang apabila usaha itu berdasarkan: saling

kepercayaan, dan kepentingan semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh adanya usaha itu, merasa secukupnya diperhatikan. Oleh karena itu unsur etika bisnis yang pertama adalah atas dasar saling percaya hubungan bisnis yang lestari dapat dibangun. Dalam jangka panjang hubungan bisnis yang benar-benar menguntungkan, memerlukan saling kepercayaan, dan itu mengandaikan bahwa
127

bisnisman jujur terhadap yang lain. Jadi, kejujuran merupakan salah satu prasyarat keberhasilan bisnis. Tanpa kejujuran saling kepercayaan tidak dapat tumbuh, dan tanpa saling kepercayaan bisnis tidak dapat maju. Kejujuran, dan sikap-sikap etis pada umumnya, tidak sekedar merupakan tuntutan moral, melainkan termasuk tuntutan efisiensi bisnis sendiri. Sikap terhadap pekerjaan yang perlu dimiliki orang bisnis agar ia secara mental memadai dengan job-nya menurut Frans Magnis Suseno (1991) adalah tekad untuk tak pernah menipu, tekad untuk tidak melepaskan sesuatu dari tangannya yang tidak mencapai mutu yang seharusnya, cinta pada mutu/kualitas hasil produksinya dan kemampuan untuk merasa bangga apabila kualitasnya baik, lepas dari laku-tidaknya, ia mendahulukan kemajuan perusahaannya terhadap keuntungannya sendiri, maka ia tak pernah akan melakukan korupsi terhadap perusahaannya sendiri, ia bangga atas kemajuan usahanya. Ia tidak tahan melihat perusahaannya terlantar, kotor, tidak efisien. Ia secara emosional terlibat padanya dan tidak menganggapnya semata-mata sebagai sarana pendapatan pribadinya. Unsur etika bisnis yang kedua adalah kepentingan semua pihak diperhatikan oleh bisnisman. Stake-holders-approach menunjukkan bahwa perhatian terhadap

kepentingan semua pihak yang secara nyata berkepentingan dalam usaha bukan hanya merupakan tuntutan etika bisnis, melainkan jaminan terbaik agar perusahaan itu dalam jangka panjang dapat berkembang dengan baik. Jadi, pimpinan bisnis yang bijaksana tidak hanya mencari untung sendiri saja melainkan akan memperhatikan semua pihak yakni manajemen, para karyawan dan buruh, pemilik, langganan/konsumen dan langganan/produsen, dan orang-orang yang secara tidak langsung terlibat seperti orang-orang di sekitarnya, dari segi kesempatan kerja, dari apakah perusahaan itu menguntungkan atau merugikan local business

people, dari dampaknya pada sarana lalu lintas, lingkungan hidup, pemerintah daerah, negara dan umat manusia pada umumnya. Jadi perhatian pada semua pihak yang

terkena oleh tindakan kita adalah salah satu tuntutan etika yang paling dasar. 3. Bisnis di Bidang Teknologi Informasi. Bisnis di bidang teknologi informasi memiliki tujuan dan format yang sama dengan bisnis-bisnis di bidang lainnya. Yang berbeda hanyalah obyek bisnisnya, yaitu
128

teknologi informasi. Sesuai dengan kegiatan dalam dunia teknologi informasi maka bisnis di bidang ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori sebagai berikur: a. Bisnis di bidang industri perangkat keras. Bisnis di bidang ini merupakan bisnis yang bergerak di bidang rekayasa perangkat-perangkat keras pembentuk komputer. Hal ini seperti yang dilakukan produsen-produsen perangkat keras seperti IBM, Compaq, Seagate, Cannon, Hewlet Packard dan lain sebagainya. b. Bisnis di bidang rekayasa perangkat lunak. Bisnis ini bergerak di bidang rekayasa perangkat lunak atau perangkat lunak komputer. Dalam lingkup yang kecil, bisnis ini bisa saja dilakukan oleh individu atau seseorang yang menguasai teknik-teknik rekayasa perangkat lunak. Teknik rekayasa yang dimaksud adalah kegiatan engineering yang meliputi analisis, desain, spesifikasi, implementasi, dan validasi untuk menghasilkan produk berupa perangkat lunak yang digunakan utnuk memecahkan masalah pada berbagai bidang. Sedangkan dalam lingkup yang lebih besar, bisnis rekayasa perangkat lunak ini adalah seperti yang dilakukan oleh perusahaan perangkat lunak raksasa Microsoft, Corel Corporation, Adobe dan lain sebagainya yang melahirkan perangkat-perangkat lunak utama dalam operasional komputer. c. Bisnis di bidang distribusi dan penjualan barang. Setelah bisnis di bidang industri menghasilkan suatu produk, dalam hal ini adalah produk komputer, maka bagian bisnis ini bertugas menjual dan mendistribusikan produk-produk insdustri tersebut. Bisnis teknologi informasi di bidang penjualan dilakukan oleh vendor-vendor komputer dan atau individu-individu yang melakukan tugas sebagai salesmen produk tersebut. Posisi sales dalam bisnis TI memegang peranan penting karena posisi tersebut merupakan ujung tombak keberhasilan industri TI pada umumnya. Seorang sales di bidang TI di samping harus memiliki persyaratan seperti sales pada umumnya berpenampilan menarik, luwes, komunikatif, mampu berinteraksi dengan baik dan memiliki killer instinc yang bagus, juga harus memiliki penguasaan yang baik terhadap bidang TI sebagai product knowledge. d. Bisnis di bidang pendidikan teknologi informasi. Bisnis di bidang pendidikan dilakukan mulai dari lembaga-lembaga kursus komputer sampai pada perguruan tinggi di bidang komputer. Seiring perkembangan yang pesat di bidang TI,
129

persaingan bisnis di bidang ini juga cukup ketat. Pendidikan di bidang TI bukan hanya berorientasi pada bagaimana mengoperasikan produk-produk hasil TI, tetapi juga bagaimana menciptakan, memelihara dan mengembangkan produk-produk tersebut. e. Bisnis di bidang pemeliharaan teknologi informasi. Banyak pelaku bisnis yang bergerak di bidang pemeliharaan produk-produk TI. Pemeliharaan tersebut bisa saja dilakukan oleh pengembang melalui divisi technical support-nya atau ada juga yang dilakukan oleh lembaga-lembaga bisnis yang memang memiliki spesialisasi di bidang maintenance dan teknisi. (Teguh Wahyono, 2006, p. 158-160)

4. .Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial Ibarat sebuah mobil, laju mobil penting untuk dapat mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan.Mobil melaju karena injakkan pedal gas pengemudinya dan berhenti kerena injakan pedal rem. Injakanpedal gas mobil diperlukan agar mobil dapat melaju dan injakan pedal rem diperlukan agar mobil melaju dengan selamat. Begitu pula sebuah perusahaan bergerak karena beraksinya sumber daya manusia bersama-sama sumberdaya yang lain. Agar aksi manajemen perusahaan berjalan selamat perlu memperhatikan etikabisnis dan tanggung jawab sosial. Etika dan tanggung jawab sosial perupakan rem perusahaan agar berkerja tidak bertabrakan dengan pemegang kepentingan perusahaan, seperti pelanggan,

pemerintah, pemilik, kreditur, pekerja dan komunitas atau masyarakat. Hubungan yang harmonis dengan pemegang kepentingan akan menghasilkan energi positif buat kemajuan perusahaan. Alasan atas kode etik : a. Meningkatkan kepercayaan publik pada bisnis.

130

b. Berkurangnya potensial regulasi pemerintah yang dikeluarkan sebagai aktivitas kontrol. c. Menyediakan pegangan untuk dapat diterima sebagai pedoman. d. Menyediakan tanggungjawab atas prilaku yang tak ber-etika. 5. Pertimbangan tanggung jawab sosial a. Pelanggan (Customers) b. Pekerja (Employees) c. Pemegang saham (Stockholders) d. Kreditur (Creditors) e. Masyarakat (Communities) 6. Tanggung jawab sosial kepada pelanggan (Social Responbility to customers) a. Bagaimana Memastikan Tanggung jawab Bisnis : -Tetapkan kode etika. -Monitor keluhan pelanggan. -Memperoleh umpan balik pelanggan b. Bagaimana memastikan tanggungjawab Pemerintah : -Peraturan Keamanan Produk. -Peraturan Periklanan. -Peraturan Persaingan Industri.

131

7. Tanggung jawab sosial kepada pekerja ( sosial responbility to employees ) a. Keamanan Pekerja (Employee Safety) -Memastikan Tempat kerja yang aman bagi pekerja. b. Perlakuan pekerja -Memastikan tidak ada diskriminasi. c. Kesamaan kesempatan (Equal Opportunity) -Kesamaan Kesempatan/Hak sipil d. Bagaimana memastikan tanggung jawab Bisnis : -Keluhan Prosedur. -Kode etik. -UU Ketenaga kerjaan 8. Tanggung jawab sosial kepada kreditor ( sosial responsibility to creditors) a. Kewajiban Keuangan. b. Informasikan kreditur jika mempunyai permasalahan keuangan 9. Tanggung jawab sosial kepada lingkungan ( sosial responsibility to the environment) a. Pencegahan polusi udara: -Peninjauan kembali proses produksi. -Petunjuk Penyelenggaraan pemerintah

132

b. Pencegahan polusi daratan: -Peninjauan kembali proses produksi dan pengemasan. -Menyimpan dan mengirim barang sisa beracun ke lokasi pembuangan 10. Tanggung jawab sosial kepada masyarakat ( Social responbility to community ) a. Sponsori peristiwa masyarakat lokal. b. Sumbangkan kepada masyarakat tidak mampu.

133

BAB XI PERLINDUNGAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA TERHADAP PELANGGARAN HAK CIPTA UNTUK PROGRAM KOMPUTER Setelah mempelajari bagian ini, diharapkan memahami: a. Tinjauan umum Undang-Undang Hak Cipta. b. Pendaftaran Hak Cipta. c. Pelanggaran dan bagaimana mengatasi pelanggaran hak cipta.

A. Latar Belakang Pelanggaran Hak Cipta Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Copyright‟s violation)Hak Cipta Kekayaan Intelektual (HAKI) pertama kali disahkan pada tahun 1981 oleh Mahkamah Agung Amerika setelah kasus Diamond Vs Diehr bergulir. Hak paten atau hak cipta kekayaan intelektual sangat penting karena memberikan hak kepada perusahaan software tertentu untuk melindungi hasil karyanya dari pembajakan oleh perusahaan software lain sekaligus memberikan peluang bagi mereka untuk menjadikan software buatannya sebagai komoditas finansial yang dapat mendorong pertumbuhan industri. Dengan adanya hak cipta terhadap software, apabila terjadi pembajakan terhadap software tersebut maka pelakunya dapat dituntut secara hukum dan dikenakan sanksi yang berat. Maka, para perusahaan software pun berlomba-lomba mematenkan produknya tidak peduli betapa mahal dan sulitnya proses pengeluaran hak paten tersebut. Namun di satu sisi, hak cipta kekayaan intelektual memberikan masalah baru terkait dengan aplikasinya oleh para pengguna di seluruh dunia.Disebarluaskannya penggunaan floppy disk drive pada PC hingga alat yang saat ini populer yaitu CD-RW dan DVDRW membuat kasus pembajakan software semakin marak di seluruh dunia. Kemampuan alat ini untuk menciptakan software lebih banyak dimanfaatkan oleh pengguna komputer untuk menggandakan software dengan mudah tanpa mengurangi kualitas
134

produknya. Bahkan produk hasil penggandaannya akan berfungsi sama seperti software yang asli. Selain mengakibatkan kerugian pada perusahaan komputer yang menciptakan software, pembajakan juga mengakibatkan pelanggaran terhadap hak cipta kekayaan intelektual (HAKI).Memang tak dapat dipungkiri bahwa makin meluasnya penggunaan teknologi komputer untuk kantor maupun pribadi memungkinkan setiap individu di seluruh dunia untuk menggandakan software tanpa diketahui oleh pemilik hak cipta sehingga pembajakan software sulit untuk diawasi dan ditindak. Namun sejauh ini berbagai upaya tengah dilakukan pemerintah dan produsen software untuk melindungi properti intelektual hasil inovasi mereka dari pembajakan. Pemerintah mengeluarkan aturan hukum berkaitan dengan undang-udang tentang hak cipta kekayaan intelektual (HAKI) yang berisi tentang tata cara perlindungan software, berbagai bentuk pembajakan serta sanksi bagi pelaku pembajakan sofware. Aturan hukum ini tentunya akan mencapai titik keberhasilan apabila diikuti dengan penegakan hukum yang mendasar dimana kalangan korporat, pemerintahan, hingga para penegak hukum juga diharuskan menggunakan software asli dalam pemakaian teknologi di lingkungan mereka. B. Pembatasan Hak Cipta Untuk Program Komputer Pembatasan Hak Cipta untuk program komputer Close Source berdasarkan UUHC pasal 14 huruf g, yaitu terhadap pembuatan salinan cadangan suatu program komputer oleh pemilik copy program komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri. Karena seorang pembeli hanya memiliki hak sebatas untuk menggunakan atau mengambil manfaat dari program komputer untuk kepentingannya sendiri tanpa batas waktu, sehingga jika kemudian pembeli program komputer menggandakan kembali atau menyewakan program komputer tersebut untuk tujuan komersil itu tidak dibenarkan. Karena dalam jangka waktu 50 tahun suatu program sudah mengalami perubahan dan pemodifikasian sangat pesat. Sehingga tidak mustahil, program yang diumumkan 50 tahun yang lalu saat ini sudah tidak digunakan lagi, bahkan sudah tidak dikenal oleh generasi pengguna komputer sekarang. Contoh konkrit adalah program Lotus 123 yang

135

kurang lebih 10 tahun yang lalu begitu dikuasai oleh para pengguna namun sekarang jarang sekali ada pengguna yang masih menggunakan program ini untuk dijalankan pada komputernya. Maksud dan tujuan dibatasinya jangka waktu perlindungan untuk setiap karya cipta agar pada karya tersebut ada fungsi sosialnya menjadi tidak terpenuhi untuk karya cipta program komputer. Sebabnya nilai ekonomis dari sebuah program kurang lebih hanya tiga tahun, setelah waktu tersebut program akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bermunculan program-program baru, program lama akan dengan sendirinya ditinggalkan. Perlu diingat bahwa penggunaan program komputer bukan untuk dinikmati karena keindahan dan estetikanya, tetapi karena kegunaannya atau berhubungan dengan fungsi dari program komputer itu sendiri. Ditambah lagi, dalam UUHC ada ketentuan yang mengecualikan program komputer dari tindakan perbanyakan yang dilakukan secara terbatas oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan, atau pendidikan dan pusat dokumentasi yang komersil yang semata-mata dilakukan untuk kepentingan aktivitasnya sehingga tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta. Dengan demikian tidak mengherankan jika sekarang banyak terjadi pembajakan program komputer, karena kebutuhan masyarakat terhadap komputer meningkat tetapi tidak diikuti dengan kemampuan membeli lisensi dengn harga relatif mahal, juga masyarakat tidak mempunyai cara lain untuk mendapatkan program dengan harga murah selain dengan membeli CD program bajakan. Hak Untuk menuntut Jika Terjadi Pelanggaran Indonesia telah memberikan perlindungan terhadap program komputer melalui UUHC yang terus disempurnakan, terakhir pada tahun 2002. C. Bentuk-Bentuk Pelanggaranterhadap Program Komputer Open Source Untuk pelanggaran Hak Cipta dibidang komputer selain karena dilakukan perbanyakan dan pendisribusian tanpa izin dari pemegang Hak Cipta ada juga sebab lain yaitu apabila antara dua buah program komputer memiliki Source Code yang sama. Maka dimungkinkan telah terjadi peniruan terhadap salah satu program komputer, namun seberapa besarkah kesamaan dari Source Code tersebut sehingga dikatakan melanggar Hak Cipta. Konsep UUHC kita tidak memberikan perlindungan memberikan
136

perlindungan yang bersifat kuantitatif, yaitu yang mengatur seberapa besar kemiripan antara kedua program komputer. Untuk pelanggaran Hak Cipta dibidang komputer selain karena dilakukan perbanyakan dan pendisribusian tanpa izin dari pemegang Hak Cipta ada juga sebab lain yaitu apabila antara dua buah program komputer memiliki Source Code yang sama. Maka dimungkinkan telah terjadi peniruan terhadap salah satu program komputer, namun seberapa besarkah kesamaan dari Source Code tersebut sehingga dikatakan melanggar Hak Cipta. Konsep UUHC kita tidak memberikan perlindungan memberikan perlindungan yang bersifat kuantitatif, yaitu yang mengatur seberapa besar kemiripan antara kedua program komputer. 1. Dalam lisensi ini biasanya mencakup ketentuan, 2. Software tersebut boleh diinstal hanya pada satu mesin. 3. Dilarang memperbanyak software tersebut untuk keperluan apapun (biasanya pengguna diberi kesempatan membuat satu buah backup copy). 4. Dilarang meminjamkan software tersebut kepada orang lain untuk kepentingan apapun. Berdasarkan batasan di atas maka tindakan menginstal program komputer ke dalam lebih dari satu mesin atau diluar ketentuan yang dikeluarkan oleh satu lisensi, pinjam meminjam program komputer dan menginstalnya, mengkopi atau memperbanyak program komputer tersebut, dapat dikategorikan sebagai tindakan pembajakan. Untuk pelanggaran Hak Cipta program komputer di Indonesia, paling banyak dilakukan pada Microsoft Software yaitu dengan dilakukan perbanyakan program komputer tanpa seijin perusahaan Microsoft. Menurut Microsoft ada lima macam bentuk pembajakan software, diantaranya: 1. Pemuatan ke Harddisk: Biasanya dilakukan seseorang saat membeli personal komputer generik di toko komputer, yang oleh penjual langsung di install satu sistem operasi yang hampir seratus persen adalah Windows.

137

2. Softlifting: Jika sebuah lisensi dipakai melebihi kapasitas penggunaannya seperti ada lima lisensi tetapi dipakai di sepuluh mesin komputer. 3. Pemalsuan: Penjualan CDROM ilegal d.Penyewaan Software. 4. Downloading Ilegal: Mendownload sebuah program komputer dari internet. Hukum copyright atau Hak Cipta yang melindungi ekspresi fisik dari suatu ide misal tulisan, musik, siaran, software dan lain-lain tumbuh ketika proses penyalinan dapat dibatasi tetapi untuk saat ini sulit untuk mencegah dilakukan penyalinan tersebut sehingga usaha untuk menerapkan monopoli pada usaha kreatif menjadi tidak beralasan. Pada era tahun 1980 sampai dengan 1986 ketika perusahaan software sangat kuatir dengan masalah penyalinan ini, mereka memanfaatkan teknik proteksi disk yang membuat orang sulit menyalin disk atau program. Tetapi hal ini menyebabkan pengguna mengalami kesulitan untuk menggunakannya, maka setelah perusahaan perangkat lunak menyadari bahwa mereka tetap memperoleh keuntungan yang besar dari hal lain seperti servis dan pembelian perangkat lunak asli yang tetap tinggi maka mereka meniadakan proteksi penyalinan ini. Batasan-batasan yang diberikan oleh UUHC terhadap penggunaan program komputer menyebabkan banyak perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar Hak Cipta. D. PERANGKAT LUNAK BEBAS DAN LISENSI 1. Lisensi Perangkat Lunak Komputer Lisensi erat kaitannya dengan hak cipta. Lisensi adalah pemberian ijin tentang pemakaian sesuatu (Dalam hal ini perangkat lunak komputer) yang diberikan oleh pemilik atau pemegang hak cipta atas sesuatu tersebut.Lisensi tidak harus dituangkan dalam bentuk tertulis dan bersifat normal karena pada dasarnya hanya sebagai pemberian izin. Tetapi , akan lebih baik kalau lisensi tersebut di formalkan sehingga diketahui oleh pihak-pihak lain, baik yang akan menggunakan maupun tidak. Jika kita kembali mengutip Undang-Undang Hak Cipta Republik Indonesia maka Pasal 2 ayat 2 menyatakan sebagai berikut : “Pencipta dan atau pemegang Hak cipta atas karya sinematografi dan Program
138

Komputer memiliki Hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial…” Dari pasal tersebut memang terlihat bahwa sebenarnya pemegang hak cipta memiliki kebebasan untuk “mengizinkan” atau “melarang” penggunaan sebuah ciptaan tanpa sepengetahuannya. Meskipun demikian, pada program computer komersil yang dikembangkan oleh vendor atau perusahaan besar, sering kali isi lisensi sudah di tetapkan secara sepihak. Hal itu bisa di pahami karena program komersil memang dibuat dan dikembangkan untuk dijual atau dikomersilkan. Menurut Microsoft dalam ” The Hallowen Document”, terdapat beberapa jenis lisensi yang dapat digunakan untuk program komputer. Beberapa jenis lisensi tersebut antara lain : a.Lisensi Commercial Adalah Jenis lisensi yang biasa ditemui pada Perangkat lunak yang dibuat dengan lisensi ini perangkat lunak seperti Microsoft dengan Windows dan Office, Lotus, Oracle dan sebagainya.memang dibuat untuk kepentingan komersial sehingga pemakai yang ingin menggunakannya harus membeli atau mendapatkan izin penggunaan dari pemegang hak cipta. b.Lisensi Trial Software Adalah jenis lisensi yang biasa ditemui pada perangkat lunak untuk keperluan demo dari sebuah perangkat lunak sebelum diluncurkan ke masyarakat. Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk menggunakan, menyalin, atau menggandakan perangkat lunak tersebut secara bebas.Namum karena bersifat demo, sering kali perangkat lunak dengan lisensi ini tidak memiliki fungsi dan fasilitas selengkap versi komersialnya. Lagipula, perangkat lunak versi demo biasanya dibatasi oleh masa aktif tertentu. Contoh: Program Adobe Photoshop CS Trial Version 30 for days. c.Lisensi Non Commercial Use Biasanya diperuntukkan untuk kalangan pendidikan atau yayasan tertentu di bidang social. Sifatnya yang tidak komersial, biasanya gratis tetapi dengan batasan penggunaan tertentu. Contoh: Perangkat lunak yang memiliki lisensi
139

ini adalah program star office yang dapat berjalan di bawah system operasi Linux dan Windows sekaligus. d.Lisensi Shareware Mengizinkan pemakainya untuk menggunakan, menyalin, atau

menggandakan tanpa harus meminta izin pemegang hak cipta. Berbeda dengan trial software, Lisensi ini tidak dibatasi oleh batas waktu dan memiliki feature yang lengkap. Lisensi ini biasanya ditemui pada perangkat lunak perusahaan kecil. Beberapa contoh lisensi ini: Winzip, Paint Shop Pro, ACD See. e.Lisensi Freeware Biasanya ditemui pada perangkat lunak yang bersifat mendukung atau memberikan fasilitas tambahan. Contohnya: Plug in Power point, Adobe PhotoShop. f.Lisensi Royalty-Free Binaries Serupa dengan freeware, hanya saja produk yang ditawarkan adalah library yang berfungsi melengkapi perangkat lunak yang sudah ada dan bukan merupakan suatu perangkat lunak yang berdiri sendiri.

g.Lisensi Open Source Adalah lisensi yang membebaskan penggunannya untuk menjalankan, menggandakan, menyebarluaskan, mempelajari, mengubah dan meningkatkan kinerja perangkat lunak. Berbagai jens lisensi open source seperti lisensi GNU/GPL, the FreeBSD, the MPL. Sedangkan jenis-jenis perangkat lunak yang memakai lisensi ini, misalnya Linux, sendmail, apache dan FreeBSD. Dalam system lisensi, Open Source menjadi suatu alternative perkembangan program computer yang memiliki kekuatan hukum sendiri. 2. Perangkat Lunak Bebas Perangkat lunak bebas ialah perangkat lunak yang mengizinkan siapa pun untuk menggunakan, menyalin, dan mendistribusikan, baik dimodifikasi atau pun tidak, secara gratis atau pun dengan biaya.Pemberian lisensi program komputer, diwarnai dengan dua kecenderungan utama. Kecenderungan pertama adalah pemberian lisensi yang semata-mata untuk penggunaan kode-kode biner atau yang juga disebut
140

Binary Code dari program komputer. Selanjutnya, kecenderungan kedua adalah pemberian lisensi program dengan menyertakan Source Code dari program komputer.Contoh program komputer yang menggunakan lisensi yang hanya memberikan binary codenya adalah Microsoft Windows, Microsoft Office, Adobe Acrobat. Adapun contoh lisensi yang memberikan Source code adalah GPL, Mozila, BSD. Seorang pencipta, baik selaku penipta pertama atau sebagai pengembangan program computer turunan mempunyai kebebasan untuk menentukan hasil lisensi yang akan dipergunakan untuk karya cipta program komputernya.Richard Stallman (1994), pendiri Free Software Foundation di www.gnu.org menuliskan alasan munculnya perangkat lunak bebas.Para pemilik (perangkat Lunak) sering mengatakan bahwa mereka teraniaya ataupun “menderita kerugian ekonomi” jika programnya disalin oleh para pengguna (secara tidak sah). Padahal penyalinan tersebut tidak mempunyai dampak langsung terhadap pemilik, dan juga tidak menganiaya siapa pun. Para pemiliknya hanya dapat merugi jika orang harus membayar untuk salinan tersebut…

3. Filosofi Perangkat Lunak Bebas Free Software Foundation (FSF), dalam Free Software Definition, menyebutkan definisi perangkat lunak bebas sebagai berikut : Free software is a matter of the users freedom to run, copy, distribute, study, change and improve the software. Dari definisi tersebut, dinyatakan bahwa perangkat lunak bebas ialah perihal kebebasan, bukan harga. Perangkat lunak bebas mengacu pada kebebasan para penggunanya untuk menjalankan, menggandakan, menyebarluaskan, mempelajari, mengubah dan meningkatkan kinerja perangkat lunak. Lebih tepatnya lagi, kebebasan tersebut mengacu pada empat jenis kebebasan bagi para pengguna perangkat lunak: a. b. Kebebasan untuk menjalankan program untuk tujuan apa saja. Kebebasan untuk mempelajari bagaimana program itu bekerja sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
141

c.

Kebebasan untuk menyebarluaskan kembali hasil salinan perangkat lunak tersebut sehingga dapat membantu orang lain yang ingin menggunakannya.

d.

Kebebasan untuk meningkatkan kinerja program, dan dapat menyebarkannya ke khalayak umum sehingga semua menikmati keuntungannya. Suatu program merupakan perangkat lunak bebas jika setiap pengguna memiliki semua dari kebebasan tersebut. Dengan demikian setiap pengguna seharusnya bebas menyebarluaskan salinan program itu dengan atau tanpa modifikasi (perubahan),secara gratis ataupun dengan memungut biaya penyebarluasan, kepada siapa pun dan dimana pun.kebebasan untuk melakukan semua hal di atas berarti anda tidak harus meminta atau pun membayar untuk keperluan izin kepada pemegang hak cipta program tersebut. Kebebasan untuk menggunakan sebuah program berarti kebebasan bagi siapa pun, baik perorangan atau pun organisasi untuk menggunakan pada komputer jenis apa pun, untuk kegiatan apa pun, tanpa perlu memberi tahu para pengembang atau pun pihak-pihak lainnya secara khusus. Untuk memperoleh kebebasan melakukan perubahan serta memublikasikan versi yang lebih baik, pengguna harus memiliki akses pada kode program tersebut. Jadi, memiliki akses merupakan syarat mutlak untuk perangkat lunak bebas.

Ada suatu aturan yang disepakati dalam filosofi perangkat lunak bebas sebagai berikut: “ jika anda membuat program tersedia dalam cara tertentu, maka anda juga harus membuatnya tersedia dalam cara tertentu juga “ Artinya, jika kita mendapatkan perangkat lunak secara bebas maka kita juga harus menyediakan untuk pengguna lain secara bebas juga. Perhatikan bahwa aturan tersebut masih memberikan pengguna pilihan untuk menentukan apakah program itu akan dipublikasikan atau tidak. 2.4 Studi Kasus : Komunitas Pengguna LINUX Linux juga merupakan salah satu sistem operasi yang disebarkan secara luas dengan gratis di bawah lisensi GNU General Public Lisence (GPL), yang berarti juga source code Linux tersedia. Linux juga adalah suatu sistem operasi yang bersifat multitasking, multiconsole, freeware dan freesource yang dapat berjalan di berbagai platform termasuk prosesor
142

intel 386 maupun yang lebih tinggi. Linux dapat berinteroperasi secara baik dengan sistem operasi lain, termasuk Apple, Microsoft dan Novell. DWahyono (2005) dalam buku Pemograman Shell Linux, menginventaris delapan alasan utama mengapa orang mempelajari pemograman dalam sistem operasi Linux. 1. Linux gratis dan bebas Semua perangkat lunak Linux bisa didapat gratis berdasarkan lisensi GNU General Public License atau lisensi-lisensi lain yang mirip dengan itu. Berdasarkan lisensi ini, siapa pun bisa mendapatkan program baik dalam bentuk source code (yang bisa dibaca manusia) maupun binary code (yang bisa dibaca mesin). Ini berarti pula bahwa program dalam Linux tersebut dapat diubah, diadaptasi, maupun dikembangkan lebih lanjut oleh siapa saja. 2. Linux dapat dijalankan pada berbagai Platform Salah satu alasan utama yang membuat orang tertarik belajar linux adalah kemampuan sistem operasi Linux yang bisa dioperasikan dalam berbagai platform. 3. Kompatibilitas dengan sistem operasi lain Linux bisa berinteraksi dengan operating sistem lain melalui tiga cara. Tiga cara tersebut adalah kompatibilitas file dan filesystem, kompatibilitas network dan emulasi (simulasi) operating sistem. Dalam hal kompatibilitas file dan file sytem, Linux bisa menggunakan file-file dari operating sistem lain, dalam artian bisa membaca dan menulis format file tersebut. Hampir semua format file standar industri di dukung oleh aplikasi-aplikasi Linux, kecuali beberapa format spesifik vendor atau produk. Adapun emulasi operating sistem menyediakan kompatibilitas di lain sisi. Seperti misalnya paket DOSEMU menyediakan kompatibilitas dengan DOS, dan proyek WINE menyediakan kompatibilitas (terbatas) dengan Windows, dan beberapa paket emulasi komersial, untuk emulasi dengan sistem operasi lain.

4.

Sistem Linux mendukung berbagai jenis perangkat keras. Salah satu keunggulan Linux juga adalah bahwa Sistem Linux mendukung berbagai jenis perangkat keras PC. Meskipun demikian, mungkin saja perangkat keras yang
143

didukung oleh Linux tidak sebanyak Windows 9X, tetapi mungkin lebih banyak daripada Windows NT. Ini berarti bahwa Linux mendukung berbagai jenis mouse, video cards, motherboard chipsets, scanners, printers, juga berbagai jenis disk seperti IDE, EIDE, SCSI, MFM, RLL, dan ESDI. Tidak ketinggalan bahwa linux mendukung CDROM, sound card dan sebagainya.

5.

Linux memiliki tingkat kestabilan dan keamanan yang tinggi.

Sebagai sistem operasi yang dikembangkan dari sistem operasi UNIX yang memang pada awalnya diperuntukkan bagi jaringan komputer, Linux memiliki tingkat stabilitas dan sekuritas yang tinggi.

6.

Linux mendukung berbagai jenis bahasa pemrograman.

Ini juga alasan pokok mengapa orang belajar pemrograman pada Linux. Sebagai sistem operasi, Linux sudah mengintegrasikan beberapa paket bahasa pemrograman sperti Java, C/C++, Perl, PHP, dan masih banyak lagi. Artinya, jika anda adalah seorang programmer yang berkecimpung dalam penggunaan bahasa pemrograman maka anda tidak akan merasa kesulitan dalam memakai Linux.

7.

Kemudahan scripting. Linux memiliki keunggulan kemudahan pengolahan konfigurasi, karena hampir semua informasi konfigurasi linux disimpan dalam file-file teks sehingga gampang dimodifikasi dengan script. Linux juga menyediakan berbagai peralatan scripting, yang memungkinkan anda untuk menulis FILE. Script-script ini bisa dijalankan secara manual, maupun dijadwalkan untuk waktu tertentu, bahkan bisa memiliki tampilan mode grafis seperti layaknya Windows. Jadi, penambahan beberapa ratus user yang datanya diambil dari spreadsheet misalnya, bisa dilakukan dengan mudah di Linux, tetapi hampir tidak mungkin dilakukan di NT.

8.

Kemudahan pelacakan kesalahan.
144

Kemudahan pelacakan kesalahan pada Linux tersebut terjadi karena Linux tidak menyembunyikan informasi dari user. Selanjutnya, salah satu kunci keunggulan Linux adalah komunitas penggunanya, yang memenangkan InfoWorld‟s award for best support tahun 1997 mengungguli semua penyedia jasa technical support komersial. Perkembangan pesat Linux tersebut juga dipengaruhi oleh adanya dukungan pemerintah yang telah mengeluarkan Inpres No.2 tahun 2001 tentang penggunaan komputer dengan aplikasi komputer berbahasa Indonesia dan Inpres No 6 tahun 2001 tentang pengembangan dan pendayagunaan telematika di Indonesia.

2.5 Hak Cipta dalam Perangkat Lunak Bebas.

Perangkat lunak bebas, bukan berarti bahwa perangkat tersebut tanpa pemilik atau pemegang hak cipta. Pengakuan hak cipta atau perangkat tersebut terlihat dari kewajiban penggunanya untuk tetap mencantumkan hak cipta dalam pendistribusiannya. Lisensi open source yang diberikan sebenarnya hanya melingkupi kegiatan menyalin, mendistribusikan dan memodifikasi perangkat lunak. Pemegang lisensi boleh menyalin dan mendistribusikan sama persis dari Source Code progam yang diterimanya dalam media apa pun dengan syarat harus menyampaikan pemberitahuan yang jelas tentang hak cipta dan penyangkalan terhadap garansi yang sepatutnya pada salinan, menyimpan secara utuh semua pemberitahuan yang mengacu pada lisensi ini dan ketiadaan garansi apa pun, dan memberi kepada penerima lainnya sebuah salinan dari lisensi ini bersama program.

Irianti (2003) memberikan 4 hal tentang ketentuan menyalin, mendistribusikan dan memodifikasi perangkat lunak bebas sebagai berikut :

·

Pemegang lisensi boleh memodifikasi satu atau lebih salinan program atau bagian dari program yang ia miliki sehingga membentuk suatu karya baru yang berdasarkan

145

program, dan menyalin serta mendistribusikan modifikasi atau karya seperti yang telah disebutkan di atas dengan syarat harus memenuhi. · Harus membuat berkas-berkas yang termodifikasi membawa pemberitahuan yang jelas bahwa ia telah mengubah berkas-berkas disertai dengan tanggal perubahan. · Karya yang disebar atau disebar atau diedarkan, baik seluruhnya atau sebagian atau dihasilkan dari satu program atau dari berbagai bagian program dilisensikan secara kesuluruhan tanpa biaya kepada seluruh partai ketiga di bawah lisensi tersebut. · Jika program yang dimodifikasi saat dijalankan dapat membaca perintah-perintah secara interaktif dan mulai menjalankan sesuatu dengan cara yang paling wajar maka pemegang lisensi harus mencetak atau menampilkan suatu pengumuman termasuk pemberitahuan hak cipta dan tidak adanya garansi atau jika si pemegang lisensi menyediakan garansi maka pemakai boleh mengedarkan program tersebut berdasarkan suatu kondisi atau persyaratan dan harus diberitahukan kepada pemakai bagaimana cara melihat salinan dan lisensi tersebut.

Tinjauan Regulasi Kejahatan di Internet 1. Pengertian Cybercrime

Merupakan bentuk-bentuk kejahatan yang timbul akibat pemanfaatan internet

2. Karakteristik

· Ruang lingkup kejahatan cybercrime bersifat global, seringkali dilakukan secara transnasional · sifat kejahatan tidak menimbulkan kekacauan yang terlihat, ketakutan akan kejahatan tersebut tidak mudah timbul · pelaku kejahatan memiliki ciri khusus yaitu kejahatan dilakukan oleh orang -orang yang menguasai penggunaan internet beserta aplikasinya, tidak terbatas usia · modus operandi menggunakan teknologi informasi · kerugian yang ditimbulkan bersifat material dan non material seperti uang, waktu,
146

nilai, jasa, harga diri. bahkan sampai pada kerahasiaa n informasi.

3 . Jenis Cybercrime berdasarkan jenis aktivitasnya

a. Unauthorized Access adalah kejahatan yang terjadi ketika seseorang memasuki jaringan komputer secara tidak syah tanpa ijin, probing dan portscanning merupakan contoh dari kejahatan ini, salah satu program yang populer adalah nmap(linux) , superscan ( windows) b. Ilegal content adalah kejahatan yang dilakukan dengan cara memasukan content ( biasanya untuk memberikan informasi palsu, fitnah bahkan gambar-gambar porno public figur)

c. Penyebaran virus secara sengaja Penyebaran biasanya dilakukan melalui email ,sehingga pengguna tidak menydarinya

d. Data Forgery Kejahatan dengan memalsukan data pada dokumen umen penting yang ada di internet e. Cyber espionage merupakan kejahatan dengan mematai jaringan pihak lain, dengan cara memasuki jaringan pihak sasaran f. Cyberstalking adalah jenis kejahatan untuk mengganggu atau melecehkan seseorang dengan media internet berupa teror g. Carding merupakan kejahatan yang dilakukan untuk mencuri nomor kartu kredit milik orang lain dan digunakan untuk transaksi perdagangan di inrernet e. Hacking dan Cracking istilah hacker biasanya mengacu pada sesorang yang punya minat besar untuk mempelajari system computer secara detail dan bagaimana meningkatkan
147

kapabilitasnya, sifatnya netral, sedang kan cracker ialah hacker yang sering melakukan aksi –aksi perusakan di internet, memanfaatkan kemampuan untuk hal yang negative. f. Cybersquatting and Typosquating merupakan kejahatan yang dilakukan dengan mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha menjual kepada perusahaan tersebut dengan lebih mahal, sedang typosquating adalah kejahatan dengan membuat plesetan domain ( mirip domain orang lain) g. Hijacking ialah tindakan megcopy software ( software piracy) karena sangat luwesnya internet itu sendiri h. cyber terrorism Suatu tindakan yang cybercrime termasuk cyber terorisme jika mengancam pemerintah atau warganegara, termasuk craking ke situs pemerintah atau militer.

DAFTAR PUSTAKA

148

Abbas Hamami M., Filsafat (Suatu Pengantar Logika Formal – Filsafat Pengetahuan), Yogyakarta, Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat UGM, 1976, (Diktat). -----------------, “Kebenaran Ilmiah”, dalam Filsafat Ilmu, Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM, Liberty bekerja sama dengan YP Fak. Filsafat UGM, Yogyakarta, 1996. Abdulkadir Muhammad, Etika Profesi Hukum, Penerbit Seribu, 1997. Achmad Charris Zubair, Kuliah Etika, Jakarta, Rajawali Pers, 1987.
--------------, Dimensi Etik dan Asketik ilmu Pengetahuan Manusia : Kajian Filsafat Ilmu, Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI), Yogyakarta, 2002. Arief Wibowo, ‘Etika Profesi dan Budi Pekerti’, Hand out kuliah di Universitas Budi Luhur, 2006.

Bakker, Anton., Metode-metode Filsafat, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1984. Bertens, K., Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta, Yayasan Kanisius, 1975. ----------------, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1988, Cet. Keenam. ---------------, Etika, Jakarta, PT Gramedia, 1993. Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta, PT Bina Aksara, 1988, Cetakan kedua. Dardiri, H.A., Humaniora, Filsafat dan Logika, Jakarta, CV Rajawali, 1986.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Buku IA Filsafat Ilmu, Universitas Terbuka, Jakarta, 1984/1985

Daryl Koehn, Landasan Etika Profesi, Kanisius, Yogyakarta, 2000, Judul asli The Ground of Profesional Ethics, alih bahasa Agus H. Hardjana. Endang Daruni Asdi, Sejarah Filsafat Barat Abad Pertengahan, Yogyakarta, Yayasan Pembinaan Fak Filsafat UGM, 1978, (Diktat). Franz Magnis Suseno, Etika Dasar, Yogyakarta, Kanisius, 1987.
149

---------------, Kuasa dan Moral, Jakarta, Gramedia, 1986.
Frans Magnis Suseno, dkk., Etika Sosial buku panduan mahasiswa, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991.

Harry Hamersma, Pintu Masuk ke Dunia Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1988, Cetakan keenam. --------------, Tokoh-tokoh Filsafat Barat, Jakarta, PT Gramedia, 1983.
Hasbullah Bakry, Sistematik Filsafat, Jakarta, Wijaya, 1986, Cetakan kedelapan

Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius, 1990, Cetakan keenam. -------------------, Sari Filsafat India, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1985, Cetakan ketiga. Herlina Jayadianti, „Teknologi Komunikasi, CyberCrime,dan Cyberlaw‟, dalam Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 3, Nomor 1 Januari – April 2005, Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UPN Veteran Yogyakarta. Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat,Yogyakarta, Kanisius, 1996. Jujun S Suriasmantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta, 1984 Ketetapan-ketetapan MPR Pada Sidang Tahunan MPR 2001, Sinar Grafika, Jakarta, 2002.
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Aksara Baru, Jakarta, 1986.

Lasiyo dan Yuwono, Pengantar Ilmu Filsafat, Yogyakarta, Liberty, 1985. Magfirah, Esther Dwi, „Kriminalitas di Internet‟ 2005, dalam www.solusihukum.com Mohammad Noor Syam, Pengantar Tinjauan Pancasila dari Segi Filsafat, Malang, Laboratorium Pancasila IKIP Malang, 1981, (Diktat). Poedjawijatna, Pembimbing Kearah Alam Filsafat, Jakarta, PT Pembangunan, 1980, Cetakan kelima.
150

--------------, Tahu dan Pengetahuan Pengatar ke Ilmu dan Filsafat, Jakarta, Bina Aksara, 1983. -------------, Etika Filsfat Tingkah Laku, Bina Aksara,Jakarta, 1986.
Rizal Mustansyir dan Misnal munir, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001 Rismawaty, Kepribadian & Etika Profesi, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2008. Ramli, Ahmad, ‘Prinsip-prinsip Cyber Law dan Kendala Hukum Positif Dalam Menanggulangi Cyber Crime’ Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, 2004.

Sri Suprapto Wirodiningrat, „Metafisika Indonesia‟ dalam Pengantar Kealam Pemikiran Kefilsafatan Prof. Dr. Mr Drs. Notonagoro, Yogyakarta, Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat UGM, 1981, (Bunga Rampai). Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta, PT Rineka Cipta, 1993. Sunoto, Bunga Rampai Filsafat, Yogyakarta, Yayasan Pembinaan Fak. Filsafat UGM, 1982.
Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Bumi Aksara, Jakarta, 2005.

-----------, Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia Suatu Pengantar, Bumi Aksara, Jakarta, 2008, cetakan ketiga. Sonny Keraf, Etika Bisnis: membangun Citra Bisnis Sebagai Profesi Luhur, Kanisius, Yogyakarta, 1991. Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Liberty bekerja sama dengan YP Fak. Filsafat UGM, 1996. Teguh Wahyono, Etika Komputer dan Tanggung Jawab Profesional di Bidang Teknologi Informasi, ANDI, Yogyakarta, 2006 Van Melsen, A.G.M., Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita, PT Gramedia, Jakarta, 1985, Terjemahan K. Bertens, Judul asli “Wetenschap en Verantwoordelijkheid”.

151

RIWAYAT SINGKAT PENULIS

152

1. Sukamto,MM.MPd. lahir di Purwworejo, 20Juli 1965. Agama Islam. Pendidikan Dasar di SD Negeri JombangNgombol,Purworejo,Jawa Tengah,Sekolah Menengah Tingkat Pertama di SMP Negeri Ngombol, Purworejo, Jawa Tengah, dan masuk Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Purworejo Jawa Tengah. Pendidikan Tinggi Sarjana di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendididan (STKIP) Purnama Jakarta, lulus Sarjana tahun i1993.Magister Ilmu Manajemen di Sekolah Pascasarjana STIE IPWIJA Jakarta, lulus 2000. Dan mengambil Program Pascasarjana MIPA pada Universitas Indraprasta PGRI Jakarta Tahun 2007, Lulus tahun 2009.Menjadi Kepala Sekolah SMP Esti Bakti Jakarta tahun 1994-2000, menjadi Kepala Sekolah SMP Yasporbi II Jakarta Tahun 2001-2009, Menjadi Koordinator sekolah Yasporbi tahun 2009-2011, Dosen Statistik pada STIE Pelita Bangsa tahun 2002-2004, Dosen Etika Profesi dan Manajemen Proyek Pada Unindra Tahun 2010- sekarang Karya-karya ilmiah tentang ilmu filsafat, Pancasila, humaniora dan masalah budaya baik dalam bentuk buku atau artikel telah banyak dipublikasikanKarya ilmiah yang dipublikasikan dalam bentuk buku adalah Matematika Untuk Kelas 8 dan 9 diterbitkan Bumi Mandiri Jakarta (2007), dan Lembar Kerja IPA Kelas 9 diterbitkan Widya Utama tahun 2004 Jakarta. Pemenang Ke satu dalam penulisan artikel Pendidikan dengan Judul Potret Guru Penyelenggara Yayasan Esti Bakti bekerjasama dengan Gramedia. 2. Drs. Surajiyo, M.Si. lahir di Sleman Yogyakarta, 27 September 1963. Agama Islam.

Pendidikan Dasar di SD Negeri Sendangharjo II Sendangrejo, Minggir, Sleman, Yogyakarta, tingkat menengah pertama di SMP Negeri Sendangsari, Minggir, Sleman, dan tingkat atas masuk Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri V di Godean Sleman Yogyakarta. Pendidikan Tinggi Sarjana di Universitas Gadjah Mada Fakultas Filsafat, lulus Sarjana tahun 1987.Magister Ilmu Komunikasi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta, lulus 2009. Tahun 1989 - 2008 menjadi dosen tetap pada Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( IISIP ) Jakarta dengan tugas mengasuh mata kuliah : Dasar-dasar Ilmu Filsafat, Dasar-dasar Logika, Ilmu Budaya Dasar, dan Pancasila. Mulai tahun 2008 sampai dengan sekarang menjadi dosen tetap pada Universitas Indraprasta PGRI Jakarta dengan tugas mengasuh mata kuliah : Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, Filsafat Ilmu, Ilmu Sosial Dasar, dan Etika Profesi. Jabatan Akademik Sejak tahun 2001 Lektor Kepala. Karya-karya ilmiah tentang ilmu filsafat, Pancasila, humaniora dan masalah budaya baik dalam bentuk buku atau artikel telah banyak dipublikasikanKarya ilmiah yang dipublikasikan dalam bentuk buku adalah Ilmu Filsafat Suatu Pengantar diterbitkan Bumi Aksara Jakarta (2005), dan Dasar-dasar Logika diterbitkan Bumi Aksara Jakarta (2006). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia suatu Pengantar 153

diterbitkan Bumi Aksara (2007), Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi diterbitkan Inti Prima Jakarta (2009). Karya ilmiah dalam bentuk artikel diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Internasional dan Nasional yang terakreditasi dan Majalah Ilmiah Nasional seperti Journal Anthropological Theory, Jurnal Ilmiah WIDYA YUSTISIA, Majalah WIDYA, Majalah Humaniora, Jurnal Filsafat, Jurnal Kampus Tercinta, Jurnal Universitas Pelita Harapan, Majalah GEMA, Majalah Parameter, Majalah DIGNA, Majalah Sociae Polites , Jurnal TAJDID, Jurnal Lex Jurnalica, Jurnal Law Review, Jurnal Ilmu Komunikasi COGITO, Jurnal ilmu seni dan desain Ultim Art, sebagainya. 3. Sriyono,S.Kom,MP.d, Lahir di Pacitan Jawa Timur Tanggal 7 Januari 1968, Agama Islam, Pendidikan Dasar di Sekolah , melanjutkan ke sekolah Menegah pertama di, Kemudian dan

Melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru di , Menempuh Pendidikan Tinggi di STMIK Budi Luhur Manajemen Informatika Lulus tahun 2006, Pascasarjana FIPS Unindra PGRI lulus tahun 2010, Menjadi Guru Kewirausahaan pada SMK Kesdam Jaya tahun 2009-2012, Menjadi Dosen Tetap dan Dosen Pembimbing Akademik Dengan Mata Kuliah Etika Profesi dan Manajemen Proyek Pada UNINDRA PGRI tahun 2010- sekarang, Menjabat Panwaslu Depok tahun 2012 sekarang

154

155

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful