LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

OBAT-OBAT SISTEM SARAF OTONOM (AKTIVITAS KOLINERGIK DAN ANTIKOLINERGIK)
Disusun oleh : Kelompok 3 D Iqbal Safaat H Dewi Sulastri Tutuh Maftuhah Nurahma Purnamasari Jane Aprilianto 10060309054 10060310115 10060310117 10060310118 10060310119

Hari,Tanggal Praktikum : Rabu, 17 Oktober 2012 Hari, Tanggal Laporan Asisten : Rabu, 24 Oktober 2012 : Suwendar, S.Si., M.Si., Apt

LABORATORIUM TERPADU FARMASI UNIT D PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2012
1

I. Pendahuluan Sistem saraf Otonom Sistem saraf otonom berperan dalam memelihara keseimbangan dalam organisme, juga mengatur fungsi –fungsi yang tidak ada berada dibawah kesadaran dan kemauan setra terlibat dalam pengaturan metabolisme sel. Berdasarkan morfologinya sistem saraf otonom dibagi menjadi dua yaitu :
  Sistem Simpatikus : Perangsangan sistem saraf simpatikus menyebabkan reaksi ergotropik yaitu meningkatkan kemampuan untuk bekerja dan berhubungan dengan luar. Sistem Parasimpatikus : Perangsangan sistem saraf parasimpatikus menyebabkan reaksi tropotropik,yaitu meningkatnya semua proses yang berfungsi untuk aktivitas pengembalian.

Obat obat Sistem saraf Otonom ( aktivitas kolinergik dan Antikolinergik) Atropin Nama & Struktur Kimia (Sinonim) atropin Nama lain atropin : Atropine sulfate a-(Hydroxymethyl)benzeneacetic acid 8-mehtyl-8-

azabicyclo(3.2.1)oct-3-yl ester tropine topate, d,l- hyosciamine. C17H23NO3•1/2H2O4S. Kelarutannya : 1 g larut dalam 400 ml air,50 ml air panas,3 ml etanol,60 ml eter dan dalam 1 ml kloroform. Atropin sulfat mudah larut dalam air. (mursidi, 1989) Atropin adalah senyawa berbentuk kristal putih,rasa sangat pahit,titik lebur 115° dan terdiri dari amine antimuscarinic tersier. Atropin merupakan antagonis reseptor kolinergik yang diisolasi dari Atropa belladona L, Datura stramonium L dan tanaman lain dari family Solanaceae. (mursidi,1989) Atropin merupakan agen preanestesi yang digolongkan sebagai antikolinergik atau parasimpatolitik. Atropin sebagai prototip antimuskarinik mempunyai kerja menghambat efek asetilkolin pada syaraf postganglionik kolinergik dan otot polos. Hambatan ini bersifat reversible dan dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebihan atau pemberian antikolinesterase. (Achmad, 1986)
2

Mekanisme kerja Atropine memblok aksi kolinomimetik pada reseptor muskarinik secara reversible (tergantung jumlahnya) yaitu, hambatan oleh atropine dalam dosis kecil dapat diatasi oleh asetilkolin atau agonis muskarinik yang setara dalam dosis besar. Hal ini menunjukan adanya kompetisi untuk memperebutkan tempat ikatan.. (Jay dan Kirana, 2002) Atropin dapat menimbulkan beberapa efek, misalnya pada susunan syaraf pusat, merangsang medulla oblongata dan pusat lain di otak, menghilangkan tremor, perangsang respirasi akibat dilatasi bronkus, pada dosis yang besar menyebabkan depresi nafas, eksitasi, halusinasi dan lebih lanjut dapat menimbulkan depresi dan paralisa medulla oblongata. Efek atropin pada mata menyebabkan midriasis dan siklopegia. Pada saluran nafas, atropin dapat mengurangi sekresi hidung, mulut dan bronkus. Efek atropin pada sistem kardiovaskuler (jantung) bersifat bifasik yaitu atropin tidak mempengaruhi pembuluh darah maupun tekanan darah secara langsung dan menghambat vasodilatasi oleh asetilkolin. Pada saluran pencernaan, atropin sebagai antispasmodik yaitu menghambat peristaltik usus dan lambung, sedangkan pada otot polos atropin mendilatasi pada saluran perkencingan sehingga menyebabkan retensi urin (Hidayat, 2005) Farmakologi dan kegunaan atropin Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa daun kecubung mengandung alkaloida atropina yang dapat di gunakan dalam pengobatan dengan memanfaatkan senyawa-senyawa atropin yang dilaporkan memiliki berbagai aktifitas biologis yang menarik, seperti di antaranya dapat di gunakan sebagai antiasmatik (gibbs, 2000), antireumatik (anonim, 2006), antispasmodik, mydriasis dan cyclopedia pada mata (jones, 1987),analgetik (anonim, 2004), antitusif dan antidote untuk keracunan organophosphor. Atropin dan kebanyakan obat-obat antimuskarinik tersier diabsorbsi dengan baik dari usus dan dapat menembus membrane konjuktiva. Reabsobsinya diusus cepat dan lengkap, seperti alkaloida alamiah lainnya, begitu pula dari mukosa. Reabsorbsinya melalui kulit utuh dan mata tidak mudah. (Jay dan Kirana, 2002) Atropin dan senyawa tersier lainnya didistribusikan meluas kedalam tubuh setelah penyerapan kadar tertentu dalam susunan saraf pusat (SSP) dicapai dalam 30 menit sampai 1
3

jam, dan mungkin membatasi toleransi dosis bila obat digunakan untuk memperoleh efek perifernya. Didistribusikan keseluruh tubuh dengan baik. Atropin cepat menghilang dari darah setelah diberikan dengan massa paruh sekitar 2 jam kira-kira 60% dari dosis diekskresikan kedalam urine dalam bentuk utuh. Sisanya dalam urine kebanyakan sebagian metabolit hidrolisa dan konjugasi. Efeknya pada fungsi parasimpatis pada semua organ cepat menghilang kecuali pada mata. Efek pada iris dan otot siliaris dapat bertahan sampai 72 jam atau lebih. Spesies tertentu, terutama kelinci memiliki enzim khusus satropin esterase yang membuat proteksi lengkap terhadap efek toksik atropine dengan mempercepat metabolisme obat. Ekskresinya melalui ginjal, yang separuhnya dalam keadaan utuh. Plasma t 1/2 nya 2-4 jam. (Betram, 2004). Kolinergika atau parasimpatomimetika adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya, singkatnya berfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang, timbullah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur. Efek kolinergis faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dan lain-lain, memperkuat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah, memperlambat pernafasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar ( memperbesar sekresi saliva ) kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata, kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin, dilatasi pembuluh dan kotraksi otot kerangka, menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya (Tan Hoan Tjay & Rahardja, 2002). Reseptor kolinergika terdapat dalam semua ganglia, sinaps, dan neuron postganglioner dari SP, juga pelat-pelat ujung motoris dan di bagian Susunan Saraf Pusat yang disebut sistem ekstrapiramidal. Berdasarkan efeknya terhadap perangsangan, reseptor ini dapat dibagi menjadi 2 bagian, yakni: (Tan Hoan Tjay & Rahardja, 2002).

4

A. Reseptor Muskarinik Reseptor ini, selain ikatannya dengan asetilkolin, mengikat pula muskarin, yaitu suatu alkaloid yang dikandung oleh jamur beracun tertentu. Sebaliknya, reseptor muskarinik ini menunjukkan afinitas lemah terhadap nikotin. Dengan menggunakan study ikatan dan panghambat tertentu, maka telah ditemukan beberapa subklas reseptor muskarinik seperti M1, M2, M3, M4, M5. Reseptor muskarinik dijumpai dalam ganglia sistem saraf tepi dan organ efektor otonom, seperti jantung, otot polos, otak dan kelenjar eksokrin. Secara khusus walaupun kelima subtipe reseptor muskarinik terdapat dalam neuron, namun reseptor M1 ditemukan pula dalam sel parietal lambung, dan reseptor M2 terdapat dalam otot polos dan jantung, dan reseptor M3 dalam kelenjar eksokrin dan otot polos. Obat-obat yang bekerja muskarinik lebih peka dalam memacu reseptor muskarinik dalam jaringan tadi, tetapi dalam kadar tinggi mungkin memacu reseptor nikotinik pula (Mary J. Mycek, dkk, 2001). Sejumlah mekanisme molekular yang berbeda terjadi dengan menimbulkan sinyal yang disebabkan setelah asetilkolin mengikat reseptor muskarinik. Sebagai contoh, bila reseptor M1 atau M2 diaktifkan, maka reseptor ini akan mengalami perubahan konformasi dan berinteraksi dengan protein G, yang selanjutnya akan mengaktifkan fosfolipase C. Akibatnya akan terjadi hidrolisis fosfatidilinositol-(4,5)-bifosfat (PIP2) menjadi diasilgliserol (DAG) dan inositol (1,4,5)-trifosfat (IP3) yang akan meningkatkan kadar Ca++ intrasel. Kation ini selanjutnya akan berinteraksi untuk memacu atau menghambat enzim-enzim atau menyebabkan hiperpolarisasi, sekresi atau kontraksi. Sebaliknya, aktivasi subtipe M2 pada otot jantung memacu protein G yang menghambat adenililsiklase dan mempertinggi konduktan K+, sehingga denyut dan kontraksi otot jantung akan menurun (Mary J. Mycek, dkk, 2001). B. Reseptor Nikotinik Reseptor ini selain mengikat asetilkolin, dapat pula mengenal nikotin, tetapi afinitas lemah terhadap muskarin. Tahap awal nikotin memang memacu reseptor nikotinik, namun setelah itu akan menyekat reseptor itu sendiri. Reseptor nikotinik ini terdapat di dalam sistem saraf pusat, medula adrenalis, ganglia otonom, dan sambungan neuromuskular. Obat-obat yang bekerja

5

nikotinik akan memacu reseptor nikotinik yang terdapat di jaringan tadi. Reseptor nikotinik pada ganglia otonom berbeda dengan reseptor yang terdapat pada sambungan neuromuskulular. Sebagai contoh, reseptor ganglionik secara selektif dihambat oleh heksametonium, sedangkan reseptor pada sambungan neuromuskular secara spesifik dihambat oleh turbokurarin (Mary J. Mycek, dkk, 2001). Stimulasi reseptor ini oleh kolenergika menimbulkan efek yang menyerupai efek adrenergika, jadi bersifat berlawanan sama sekali. Misalnya vasokonstriksi dengan naiknya tensi ringan, penguatan kegiatan jantung, juga stimulasi SSP ringan. Pada dosis rendah, timbul kontraksi otot lurik, sedangkan pada dosis tinggi terjadi depolarisasi dan blokade neuromuskuler (Tan Hoan Tjay & Rahardja, 2002). Kolinergika dapat dibagi menurut cara kerjanya, yaitu zat-zat dengan kerja langsung dan zat-zat dengan kerja tak langsung. Kolinergika yang bekerja secara langsung salah satunya adalah pilokarpin.Pilokarpin ini bekerja secara langsung terhadap organ-organ ujung dengan kerja utama yang mirip efek muskarin dari ACh. Semuanya adalah zat-zat amonium kwaterner yang bersifat hidrofil dan sukar larut memasuki SSP, kecuali arekolin (Tan Hoan Tjay & Rahardja, 2002). PILOKARPIN

Salah satu kolinergika yang sering digunakan dalam pengobatan glaukoma adalah pilokarpin. Alkaloid pilokarpin adalah suatu amin tersier dan stabil dari hidrolisis oleh asetilkolenesterase. Dibandingkan dengan asetilkolin dan turunannya, senyawa ini ternyata sangat lemah. Pilokarpin menunjukkan aktivitas muskarinik dan terutama digunakan untuk oftamologi. Penggunaan topikal pada kornea dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris. Pada mata akan terjadi suatu spasme akomodasi, dan penglihatan akan terpaku pada jarak tertentu, sehingga sulit untuk memfokus suatu objek. Pilokarpin juga
6

merupakan salah satu pemacu sekresi kelenjar yang terkuat pada kelenjar keringat, air mata, dan saliva, tetapi obat ini tidak digunakan untuk maksud demikian. Pilokarpin adalah obat terpilih dalam keadaan gawat yang dapat menurunkan tekanan bola mata baik glaukoma bersudut sempit maupun bersudut lebar. Obat ini sangat efektif untuk membuka anyaman trabekular di sekitar kanal Schlemm, sehingga tekanan bola mata turun dengan segera akibat cairan humor keluar dengan lancar. Kerjanya ini dapat berlangsung sekitar sehari dan dapat diulang kembali. Obat penyekat kolinesterase, seperti isoflurofat dan ekotiofat, bekerja lebih lama lagi. Disamping kemampuannya dalam mengobati glaukoma, pilokarpin juga mempunyai efek samping. Dimana pilokarpin dapat mencapai otak dan menimbulkan gangguan SSP. Obat ini merangsang keringat dan sekresi salivasi yang berlebihan (Mary J. Mycek, dkk, 2001).

II.

Tujuan Percobaan

 Mempunyai keterampilan dalam melakukan pengujian aktivitas kolinergik dan antikolinergik suatu obat pada hewan percobaan.  Memahami efek berbagai oabt sistem saraf otonom dalam pengendalian fungsi atau aktivitas organ viseral tubuh

III. Bahan alat dan hewan percobaan Bahan : Atropine, pilokarpin, thiopental, NaCl fisiologis, kertas saring, metilen blue Alat: Alat suntik 1 ml, sonde oral, bejana pengamatan Hewan : Mencit sekelamin

7

IV. Prosedur Mencit dibagi menjadi 4 kelompok tiap kelompok terdiri dari tiga ekor

Semua mencit disuntik dengan thiopental (i.p)

Setelah muncul gejala sedasi, mencit diberi perlakuan

Kelompok 1 kontrol diberi NaCl fisiologis

Kelompok 2 diberi pilokarpin (p.o)

Kelompok 3 diberi pilokarpin (p.o) setelah muncul efek diberi atropine (p.o)

Kelompok 4 diberi atropine (p.o) setelah muncul efek diberi atropine (p.o) Semua mencit disimpan dalam bejana kaca yang telah diberi alas kertas saring yang ditaburi metilen bule

Dilakuakan pengamatan pengeluaran saliva pada kertsa saring stiap 5 menit,

Diameter bercak saliva pada kertas saring diukur

8

Setiap kali pengamatan kertas saring diganti dengan yang baru

Pengamatan dilakukan selama 30 menit, dimulai dimulai setelah pemberian NaCl fisiologis (kel.1), Pilokarpin (kel. 2 dan 3), atropin (kel.4)

Dilakukan perhitungan persen inhibisi salvias berdasarkan data diameter bercak saliva untuk setiap kelompok dengan menggunakan persamaan

%I= [(Φbsawal - Φbst) / Φbsawal] x 100% Keterangan : %I Φbst = persen inhibisi. Φbsawal = diameter bercak saliva awal. = diameter bercak saliva waktu (t)

V. Data Pengamatan Tabel Pengamatan Kelompok 1 No. Mencit 5' 1 2 3 4.a 4.b Kontrol Pilokarpin Pilokarpin + Atropin Atropin Atropin + Pilokarpin 0 1,90 1,50 0,90 Diameter Bercak Saliva (d = mm) 10' 0 1,84 1,10 0 15' 0 2,37 0,90 0 20' 0 2,57 0,57 0 25' 0 1,55 0,50 0 30' 0 1,50 0,45 0 -

Keterangan : - = mencit yang mati

9

Grafik Kelompok 1
3 2.5 diameter saliva (mm) 2 1.5 1 0.5 0 5 0 10 0 15 0 20 waktu (menit) 1.9 1.5 1.1 0.9 0.9 0.57 0 25 0.5 0 30 0.45 0 2.57 2.37 1.84 1.55 1.5 kontrol pilokarpin pilokarpin + atropin atropin atropin + pilokarpin

Tabel Pengamatan Kelompok 2 No. Mencit 5' 1 2 3 4 Kontrol Pilokarpin Pilokarpin + Atropin Atropin + Pilokarpin 0 1,65 0,89 0,50 Diameter Bercak Saliva (d = mm) 10' 0 1,85 1,39 1,57 15' 0 2,96 2,14 1,82 20' 0 2,71 1,33 3,96 25' 0 1,64 1,09 4,09 30' 0 1,15 0,85 4,10

10

Grafik Kelompok 2
4.5 4 diameter saliva (mm) 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 5 1.65 0.89 0.5 0 10 0 15 0 20 waktu (menit) 0 25 1.85 1.57 1.39 2.14 1.82 1.33 2.96 2.71 3.96 4.09 4.1

kontrol pilokarpin 1.64 1.09 1.15 0.85 0 30 pilokarpin + atropin atropin + pilokarpin

0

Tabel Pengamatan Kelompok 3 No. Mencit 5' 1 2 3 4 Kontrol Pilokarpin Pilokarpin + Atropin Atropin + Pilokarpin 0 5,00 3,50 0,50 Diameter Bercak Saliva (d = mm) 10' 0 3,60 3,80 0,60 15' 0 3,00 4,70 0,90 20' 0 3,00 4,70 0,30 25' 0 2,10 4,10 0,90 30' 0 1,50 5,40 1,20

11

Grafik Kelompok 3
6 diameter saliva (mm) 5 4 3 2 1 0 0.9 3.5 5 3.8 3.6 3 3 2.1 0.5 0.6 0.3 0 0 0 0 0 0 5 10 15 20 25 30 menit waktu (menit) 0.9 1.5 1.2 5.4 4.7 4.7 4.1 kontrol pilokarpin pilokarpin + atropin atropin + pilokarpin

Persen inhibisi saliva

% I = [(Φbsawal – Φbst) / Φbsawal ] x 100%

Mencit 2 T10 : % I = [(Φbsawal – Φbst10) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 28% T15 : % I = [(Φbsawal – Φbst15) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 40% T20 : % I = [(Φbsawal – Φbst20) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 40% T25 : % I = [(Φbsawal – Φbst25) / Φbsawal ] x 100% X 100% X 100% X 100%

12

%I = %I = 58% T30 :

X 100%

% I = [(Φbsawal – Φbst30) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 70% X 100%

Mencit 3 T10 : % I = [(Φbsawal – Φbst10) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -8,5% T15 : % I = [(Φbsawal – Φbst15) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -34% T20 : % I = [(Φbsawal – Φbst20) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -34% T25 : % I = [(Φbsawal – Φbst25) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -17% T30 : % I = [(Φbsawal – Φbst30) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -54% Mencit T10 : 4 X 100% X 100% X 100% X 100% X 100%

% I = [(Φbsawal – Φbst10) / Φbsawal ] x 100%
13

%I = %I = -20% T15 :

X 100%

% I = [(Φbsawal – Φbst15) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -80% X 100%

T20 :

% I = [(Φbsawal – Φbst20) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 40% X 100%

T25 :

% I = [(Φbsawal – Φbst25) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -80% X 100%

T30 :

% I = [(Φbsawal – Φbst30) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -140% X 100%

Tabel Pengamatan Kelompok 4 No. Mencit 5' 1 2 3 4 Kontrol Pilokarpin Pilokarpin + Atropin Atropin + Pilokarpin 0 0 1,00 0 Diameter Bercak Saliva (d = mm) 10' 0 0,84 1,32 0,88 15' 0 0,90 0,42 1,87 20' 0 1,51 0 2,32 25' 0,96 2,83 0 2,12 30' 0 2,54 0,47 2,10

14

Grafik Kelompok 4
3 diameter saliva(mm) 2.5 2 1.5 1 0.5 0 5 0 10 0 15 1 1.32 0.88 0.84 0.9 0.42 0 20 0 25 0 30 1.87 1.51 0.96 0.47 0 2.32 2.83 2.54 2.12 2.1 kontrol pilokarpin pilokarpin + atropin atropin + pilokarpin

waktu (menit)

Tabel Pengamatan Kelompok 5 No. Mencit 5' 1 2 3 4 Kontrol Pilokarpin Pilokarpin + Atropin Atropin + Pilokarpin 0,30 0,20 3,70 0,95 Diameter Bercak Saliva (d = mm) 10' 0 2,10 2,25 1,00 15' 0 3,10 3,40 1,10 20' 0 2,50 3,10 0,78 25' 0 2,60 3,10 1,15 30' 0 0,80 3,30 0,60

15

Grafik Kelompok 5
4 3.5 3 diameter saliva (mm) 2.5 2 1.5 1 0.5 0 5 0.95 0.3 0.2 10 1 1.1 0.78 0 15 20 waktu (menit) 0 25 0 30 1.15 0.8 0.6 0 2.25 2.1 3.7 3.4 3.1 3.1 2.5 3.1 2.6 kontrol pilokarpin pilokarpin + atropin atropin + pilokarpin 3.3

0

Tabel Pengamatan kelompok 6 No. Mencit 5' 1 2 3 4 Kontrol Pilokarpin Pilokarpin + Atropin Atropin + Pilokarpin 0 1,88 3,26 0,49 Diameter Bercak Saliva (d = mm) 10' 0 2,93 2,58 3,57 15' 0 2,30 3,72 5,62 20' 0 2,85 4,34 3,22 25' 0 2,00 4,27 4,58 30' 0 1,41 3,43 7,28

16

Grafik Kelompok 6
8 7 diameter saliva(mm) 6 5 4 3 2 1 0 5 0.49 0 10 0 15 0 20 waktu (menit) 0 25 0 30 3.26 1.88 4.34 3.57 2.93 2.58 3.72 3.22 2.85 2.3 2 1.41 0 5.62 4.58 4.27 3.43 kontrol pilokarpin pilokarpin + atropin atropin + pilokarpin 7.28

Tabel Rata-Rata No. Mencit 5' 1 2 3 4 Kontrol Pilokarpin Pilokarpin + Atropin Atropin + Pilokarpin 0,05 1,77 2,31 0,49 Diameter Bercak Saliva (d = mm) 10' 0 2,19 2,07 1,52 15' 0 2,44 2,55 2,26 20' 0,16 2,52 2,34 2,12 25' 0 2,12 2,18 2,57 30' 0 1,48 2,32 3,06

17

Grafik rata -rata
3.5 3 diameter saliva (mm) 2.5 2 1.77 1.5 1 0.5 0 5 0.49 0.05 10 0 15 0 20 waktu (menit) 0.16 25 0 30 0 1.52 1.48 2.31 2.55 2.44 2.26 2.52 2.34 2.12 2.57 2.18 2.12 2.32 kontrol pilokarpin pilokarpin + atropin atropin + pilokarpin 3.06

2.19 2.07

Persen inhibisi saliva rata-rata

% I = [(Φbsawal – Φbst) / Φbsawal ] x 100%

Mencit 2 T10 : % I = [(Φbsawal – Φbst10) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -23,72% T15 : % I = [(Φbsawal – Φbst15) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -11,41% T20 : % I = [(Φbsawal – Φbst20) / Φbsawal ] x 100% X 100% X 100%

18

%I = %I = -3,27% T25 :

X 100%

% I = [(Φbsawal – Φbst25) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 15,87% X 100%

T30 :

% I = [(Φbsawal – Φbst30) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 30,18% X 100%

Mencit 3 T10 : % I = [(Φbsawal – Φbst10) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 10,38% T15 : % I = [(Φbsawal – Φbst15) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -23,18% T20 : % I = [(Φbsawal – Φbst20) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 8,23% T25 : % I = [(Φbsawal – Φbst25) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 6,83% T30 : % I = [(Φbsawal – Φbst30) / Φbsawal ] x 100% %I = X 100%
19

X 100%

X 100%

X 100%

X 100%

%I = -6,4% Mencit T10 : 4

% I = [(Φbsawal – Φbst10) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -210,2% X 100%

T15 :

% I = [(Φbsawal – Φbst15) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -48,68% X 100%

T20 :

% I = [(Φbsawal – Φbst20) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = 6,19% X 100%

T25 :

% I = [(Φbsawal – Φbst25) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -21,22% X 100%

T30 :

% I = [(Φbsawal – Φbst30) / Φbsawal ] x 100% %I = %I = -19,06% X 100%

VI. PEMBAHASAN Pada praktikum farmakologi kali ini akan dibahas mengenai obat-obat system saraf otonom, dimana dilakukan pengujian terhadap penggunaan obat – obatan yang berpengaruh pada system saraf otonom (SSO) yang diujicobakan pada 4 ekor mencit dengan perlakuan yang berbeda – beda yaitu pada mencit 1 diberikan NaCl fisiologis sabagai control, mencit 2 diberikan pilokarpin, mencit 3 diberikan pilokarpin kemudian atropin, dan mencit 4 diberikan atropine, setelah 30 menit kemudian baru diberikan pilokarpin. Semua obat diberikan dengan rute yang
20

sama yaitu secara oral. Sebelum semua mencit diberikan obat, mencit disuntik dengan thiopental secara interaperitonal dengan tujuan agar mencit tersebut tertidur atau menurunkan aktivitasnya. Selain itu, pembiusan mencit dilakukan karena dalam keadaan tertidur biasanya terjadi salivasi, diman salivasi ini akan digunakan sebagai parameter dalam pengujian obat-obat system saraf otonom. Dalam literature disebutkan bahwa secara umum system saraf otonom terbagi menjadi 2 bagian yaitu system saraf simpatik dan system saraf parasimpatik, dimana kedua system saraf ini memperlihatkan fungsi yang antagonis. Bila yang satu menghambat suatu fungsi organ maka yang lain memicu fungsi organ tersebut. Saliva yang merupakan salah satu kelenjar dalam system pencernaan, akan meningkatkan aktivitasnya jika distimulasi oleh system saraf parasimpatik, tetapi sebaliknya, jika diberikan obat-obat yang aktivitasnya berlawanan dengan system parasimpati yaitu obat simpatomimetik, maka aktivitas kelenjar saliva akan menurun.(farmakologi dan terapi ed.5 hlm. 30-31) Berdasarkan data pengamatan dari kelompok 3 diketahui bahwa pada mencit satu yang diberikan obat NaCl fisiologis tidak mengeluarkan saliva sedikitpun yang dibuktikan dengan tidak adanya bercak saliva pada kertas yang telah diberi metilen blue yang diamati mulai dari menit ke 5 sampai menit ke 30, ini menandakan bahwa mencit 1 tidak mengalami aktivitas kolinergik ataupun antikiolinergik karena tidak diberikan obat yang dapat mempengaruhi kedua system tersebut, sehingga tidak memicu adanya rangsangan saraf-saraf otonom. Sedangkan pada mencit kedua yang diberikan pilokarpin setelah diamati pada 5 menit pertamayang terlihat adanya bercak saliva pada kertas yang telah diberi metilen blue sehingga bercaknya dapat terlihat jelas, ini menandakan bahwa mencit mengalami efek kolinergik karena adanya hipersalivasi. Hal ini disebabkan karena pilokarpin merupakan obat kolinergik yang merangsang saraf parasimpatik, dimana efeknya akan mengaktifkan kelenjar-kelenjar pada tubuh yang salah satunya pada kelenjar saliva. Berdasrkan literature obat kolinergik adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatik, karena melepaskan asetilkolin (ACh) di ujung-ujung neuronya. Efek kolinergis yang ditimbulkan juga merangsang atau menstimulasi sekresi kelenjar ludah, sehingga hal tersebut dapat memicu terjadinya heprsalivasi sehingga mencit mengeluarkan saliva yang banyak karena pilokarpin merupakan salah satu pemicu sekresi kelenjar saliva. Pada menit ke-10, 15, 20, 25, dan 30,
21

diameter salivanya makin kecil yang seharusnya pada literature disebutkan bahwa pilokarpin dapat meningkatkan salivasi, hal ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu : 1. Pilokarpinya habis dikeluarkan pada menit-menit awal 2. Efek pilokarpinnya habis 3. Kesalahan dalam pengukuran diameter saliva 4. Mencit tidak selalu mengeluarkan saliva pada menit-menit tertentu 5. Dll. Pada mencit ketiga yang diberi pilokarpin kemudian atropine, setelah diamati pada 5 menit pertama memang mengeluarkan saliva karena ada efek dari pilokarpin tersebut tetapi setelah diamati pada menit ke- 10, 15, 20, 25, dan 30, aktivitas salivasinya makin meningakat yang seharusnya menurun karena diberi atropine. Berdasarkan literature, atropine merupakan obat yang digolongkan sebagai antikolinergik atau bersifat simpatomimetik yang bekerja memblokade asetilkolin endogen maupun eksogen. Pada saluran cerna yaitu mengurangi sekresi saliva, sehingga pemberian atropine seharusnya dapat menurunkan produksi saliva karena mukosa mulut mencit kering. Ini bisa disebabkan karena beberapa faktor yaitu : 1. Pada menit ke-5 dan 10 kemungkinan obat atropine yang bekerja karena terdapat penurunan saliva, kemudian pada menit ke-15 sampai 30 obat pilokarpin yang bekerja sehingga pengeluaran saliva meningkat. 2. Faktor pada mencit ke-2 juga berlaku pada mencit ke-3. Pada mencit keempat yang diberi atropine dulu kemudian pilokarpin dengan rentan waktu 30 menit diketahui pada menit ke-5 mencit mengeluarkan saliva sedikit karena masih ada efek dari obat atropine, pada menit ke-10 sampai ke-30, pengeluaran mencit cenderung makin meningkat waluapun pada menit ke-20 sempat menurun, hal ini disebabkan karena beberapa faktor diantaranya yaitu : 1. Efek dari obat atropinya telah habis pada waktu ke-25 dan ke-30 2. Faktor pada mencit ke-2 juga berlaku pada mencit ke-4. Pada data pengamatan grafik rata-rata, diketahui bahwa pada garis biru (kontrol) tidak ada peningkatan ataupun penurunan, sedangkan pada garis merah (pilokarpin), mengalami
22

peningkatan tetapi pada menit ke-30 menurun. Hal ini bias disebabkan karena efek pilokarpin sudah habis. Pada garis hijau (pilokarpin+atropin) terdapat saliva yang menandakan adanya efek pilokarpin, tetapi pada menit ke-10 sampai ke-30 cenderung terjadi penurunan aktivitas salivasi, ini dikarenakan obat atropine mulai bekerja. Pada garis ungu (atropine+pilokarpin), pada menit ke-5 mengeluarkan sedikit saliva, ini menandakan obat atropine bekarja, kemudian pada menit ke-10 sampai ke-30 cenderung terjadi peningkatan aktivitas salivasi, ini menandakan adanya efek pada pemberian obat pilokarpin. Pada persen inhibisi saliva rata-rata mencit 2 yang diberi pilokarpin, berdasarkan data perhitungan diketahui cenderung mengalami adanya stimulasi dari pemberian obat pilokarpin yang ditandai dengan tanda (–) pada hasil akhir perhitungan persen inhibisinya Pada persen inhibisi saliva rata-rata mencit 3 yang diberi pilokarpin kemudian atropine, berdasarkan data perhitungannya diketahui efek dari atropine lebih bekerja daripada pilokarpin yang ditandai dengan nilai positif pada hasil akhir perhitungan persen inhibisinya. Pada persen inhibisi saliva rata-rata mencit 4 yang diberi atropine kemudian pilokarpin, berdasarkan data perhitungan diketahui bahwa efek pilokarpin cenderung lebih bekerja dari pada atropine yang ditandai dengan tanda (-) pada hasil akhir perhitungan persen inhibisinya yang menandakan adanya stimulasi dari obat pilokarpin.

UJI STATISTIK  Uji Statistik pada menit ke 5
Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Kontrol Pilokarpin Pair 2 Kontrol Pilokarpin+Atropin Pair 3 Kontrol Atropin+PIlokarpin Pair 4 Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin ,0500 1,7717 ,0500 2,3083 ,0600 ,4880 1,7717 2,3083 1,7460 ,4880 N 6 6 6 6 5 5 6 6 5 5 Std. Deviation ,12247 1,79299 ,12247 1,31448 ,13416 ,33611 1,79299 1,31448 2,00339 ,33611 Std. Error Mean ,05000 ,73199 ,05000 ,53663 ,06000 ,15031 ,73199 ,53663 ,89594 ,15031

23

Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol & Pilokarpin Kontrol & Pilokarpin+Atropin Kontrol & Atropin+PIlokarpin Pilokarpin & Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin & Atropin+PIlokarpin 5 ,065 ,917 6 6 5 6 Correlation -,429 ,519 ,768 ,352 Sig. ,395 ,292 ,129 ,494

Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin 1,25800 2,00962 ,89873 -1,72167 -2,25833 -,42800 -,53667 Std. Deviation 1,84890 1,25533 ,24833 1,81185 Std. Error Mean ,75481 ,51249 ,11106 ,73968

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin -1,23727 3,75327 1,400 -3,66196 -3,57572 -,73635 -2,43808 Upper ,21863 -,94094 -,11965 1,36475 t -2,281 -4,407 -3,854 -,726

24

Paired Samples Test df Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+Pilokarpin 4 ,234 5 5 4 5 Sig. (2-tailed) ,071 ,007 ,018 ,501

Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin adalah 1,7717 dan standar deviationnya adalah 1,79299. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,0500 dan standar deviationnya adalah 0,12247. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,1 atau dengan tingkat kepercayaan 90%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,071. Karena 0,071 < 0,1 maka adanya pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 90%. Untuk Pengaruh Pilokarpin+Atropin terhadap Kontro (Pair 2) diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,3083 dan standar deviationnya adalah 1,31448. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,0500 dan standar deviationnya adalah 0,12247. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,007. Karena 0,007 < 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk Pengaruh Atropin+pilokarpin terhadap kontrol (pair 3) dapat diketahui nilai ratarata untuk Atropin+pilokarpin adalah 0,4880 dan standar deviationnya adalah 0,33611. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,031. Karena 0,031 < 0,05 maka adanya Atropin+pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%.
25

Untuk Pengaruh pilokarpin+atropin terhadap pilokarpin dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,3083 dan standar deviationnya adalah 1,31448. Sedangkan nilai rata-rata untuk Pilokarpin adalah 1,7717 dan standar deviationnya adalah 1,79299. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,1 atau dengan tingkat kepercayaan 90%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,501. Karena 0,501 > 0,1 maka adanya pilokarpin+Atropin tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin dimana hubungan keduanya tidak bermakna yang artinya tidak adanya efek pada penambahan Pilokarpin+atropin dengan tingkat kepercayaan 90%. Untuk Pengaruh atropin+pilokarpin terhadap pilokarpin dapat diketahui nilai rata-rata untuk Atropin+pilokarpin adalah 0,4880 dan standar deviationnya adalah 0,3361. Sedangkan nilai rata-rata untuk Pilokarpin adalah 1,7460 dan standar deviationnya adalah 2,00339. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,234. Karena 0,234 > 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin Tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin dimana hubungan keduanya tidak bermakna yang artinya Tidak adanya efek pada penambahan atropin+pilokarpin dengan tingkat kepercayaan 95%.  Uji Statistik Pada menit ke 10
Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Kontrol Pilokarpin Pair 2 Kontrol Pilokarpin+Atropin Pair 3 Kontrol Atropin+PIlokarpin Pair 4 Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin ,0000 2,1933 ,0000 2,0733 ,0000 1,5240 2,1933 2,0733 2,2640 1,5240 N 6 6 6 6 5 5 6 6 5 5 Std. Deviation ,00000 ,95962 ,00000 1,02481 ,00000 1,19701 ,95962 1,02481 1,05529 1,19701 Std. Error Mean ,00000 ,39176 ,00000 ,41838 ,00000 ,53532 ,39176 ,41838 ,47194 ,53532

Paired Samples Correlations

26

N Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol & Pilokarpin Kontrol & Pilokarpin+Atropin Kontrol & Atropin+PIlokarpin Pilokarpin & Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin & Atropin+Pilokarpin 5 6 . 6 . 5 . 6

Correlation . . . ,892

Sig.

,017

,220

,722

Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol – Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin ,74000 1,41082 ,63094 -2,19333 -2,07333 -1,52400 ,12000 Std. Deviation ,95962 1,02481 1,19701 ,46652 Std. Error Mean ,39176 ,41838 ,53532 ,19046

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+Pilokarpin -1,01176 2,49176 1,173 -3,20039 -3,14880 -3,01028 -,36958 Upper -1,18628 -,99787 -,03772 ,60958 t -5,599 -4,956 -2,847 ,630

27

Paired Samples Test df Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol – Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+Pilokarpin 4 ,306 5 5 4 5 Sig. (2-tailed) ,003 ,004 ,047 ,556

Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin adalah 2,1933 dan standar deviationnya adalah 0,95962. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,0000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,003. Karena 0,003 < 0,05 maka adanya pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk Pengaruh pilokarpin+atropin terhadap kontrol dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,0733 dan standar deviationnya adalah 1,02481. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,004. Karena 0,004 < 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk pengaruh atropin+pilokarpin terhadap kontrol dapat diketahui nilai rata-rata untuk Atropin+pilokarpin adalah 1,5240 dan standar deviationnya adalah 1,19701. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,047. Karena 0,047 < 0,05 maka adanya Atropin+pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%.
28

Untuk pengaruh pilokarpin+atropin terhadap pilokarpin dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,0733 dan standar deviationnya adalah 1,02481. Sedangkan nilai rata-rata untuk Pilokarpin adalah 2,1933 dan standar deviationnya adalah 0,95962. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,556. Karena 0,556 > 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin yang artinya hubungan keduanya tidak bermakna dan tidak adanya efek pada penambahan Pilokarpin+atropin. Untuk pengaruh atropin+pilokarpin terhadap pilokarpin dapat diketahui nilai rata-rata untuk atropin+pilokarpin adalah 1,5240 dan standar deviationnya adalah 1,19701. Sedangkan nilai rata-rata untuk Pilokarpin adalah 2,2640 dan standar deviationnya adalah 1,05529. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,556. Karena 0,306 > 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin yang artinya hubungan keduanya tidak bermakna dan tidak adanya efek pada penambahan Pilokarpin+atropin.

Uji Statistika pada Menit ke 15
Paired Samples Statistics Mean N 6 6 6 6 5 5 6 6 5 5 Std. Deviation ,00000 ,82652 ,00000 1,68175 ,00000 1,92552 ,82652 1,68175 ,92332 1,92552 Std. Error Mean ,00000 ,33743 ,00000 ,68657 ,00000 ,86112 ,33743 ,68657 ,41292 ,86112

Pair 1

Kontrol Pilokarpin

,0000 2,4383 ,0000 2,5467 ,0000 2,2620 2,4383 2,5467 2,4520 2,2620

Pair 2

Kontrol Pilokarpin+Atropin

Pair 3

Kontrol Atropin+PIlokarpin

Pair 4

Pilokarpin Pilokarpin+Atropin

Pair 5

Pilokarpin Atropin+PIlokarpin

29

Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol & Pilokarpin Kontrol & Pilokarpin+Atropin Kontrol & Atropin+PIlokarpin Pilokarpin & Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin & Atropin+Pilokarpin 5 -,229 ,711 6 . 6 . 5 . 6 ,688 Correlation . . . ,131 Sig.

Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol – Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+Pilokarpin ,19000 2,31799 1,03664 -2,43833 -2,54667 -2,26200 -,10833 Std. Deviation ,82652 1,68175 1,92552 1,26410 Std. Error Mean ,33743 ,68657 ,86112 ,51606

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol – Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+Pilokarpin -2,68817 3,06817 ,183 -3,30571 -4,31155 -4,65285 -1,43492 Upper -1,57095 -,78178 ,12885 1,21825 t -7,226 -3,709 -2,627 -,210

30

Paired Samples Test df Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol – Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+Pilokarpin 4 ,863 5 5 4 5 Sig. (2-tailed) ,001 ,014 ,058 ,842

Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin adalah 2,4383 dan standar deviationnya adalah 0,82652. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,0000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,001. Karena 0,001 < 0,05 maka adanya pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk pengaruh pilokarpin+atropin terhadap kontrol diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,5467 dan standar deviationnya adalah 1,68175. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,014. Karena 0,014 < 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk pengaruh atropin+pilokarpin terhadap kontrol diketahui nilai rata-rata untuk Atropin+pilokarpin adalah 2,2620 dan standar deviationnya adalah 1,92552. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,1 atau dengan tingkat kepercayaan 90%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,058. Karena 0,058 < 0,1 maka adanya Atropin+pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 90%.
31

Untuk pengaruh pilokarpin+atropin terhadap pilokarpin diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,5467 dan standar deviationnya adalah 1,68175. Sedangkan nilai rata-rata untuk Pilokarpin adalah 2,4383 dan standar deviationnya adalah 0,82652. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,842. Karena 0,842 > 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin yang artinya hubungan keduanya tidak bermakna dan tidak adanya efek pada penambahan pilokarpin+atropin. Untuk pengaruh atropin+pilokarpin terhadap pilokarpin diketahui nilai rata-rata untuk atropin+pilokarpin adalah 2,2620 dan standar deviationnya adalah 1,92552. Sedangkan nilai ratarata untuk Pilokarpin adalah 2,4520 dan standar deviationnya adalah 0,92332. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,863. Karena 0,863 > 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin yang artinya hubungan keduanya tidak bermakna dan tidak adanya efek pada penambahan pilokarpin+atropin. 

Uji Statistika pada menit ke 20
Paired Samples Statistics Mean N 6 6 6 6 5 5 6 6 5 5 Std. Deviation ,00000 ,52884 ,00000 1,98876 ,00000 1,56073 ,52884 1,98876 ,59070 1,56073 Std. Error Mean ,00000 ,21590 ,00000 ,81191 ,00000 ,69798 ,21590 ,81191 ,26417 ,69798

Pair 1

Kontrol Pilokarpin

,0000 2,5233 ,0000 2,3400 ,0000 2,1160 2,5233 2,3400 2,5140 2,1160

Pair 2

Kontrol Pilokarpin+Atropin

Pair 3

Kontrol Atropin+PIlokarpin

Pair 4

Pilokarpin Pilokarpin+Atropin

Pair 5

Pilokarpin Atropin+PIlokarpin

32

Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol & Pilokarpin Kontrol & Pilokarpin+Atropin Kontrol & Atropin+PIlokarpin Pilokarpin & Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin & Atropin+PIlokarpin 5 -,091 ,884 6 . 6 . 5 . 6 ,734 Correlation . . . ,097 Sig.

Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin ,39800 1,71842 ,76850 -2,52333 -2,34000 -2,11600 ,18333 Std. Deviation ,52884 1,98876 1,56073 1,64030 Std. Error Mean ,21590 ,81191 ,69798 ,66965

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol – Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+Pilokarpin -1,73570 2,53170 ,518 -3,07831 -4,42707 -4,05390 -1,53806 Upper -1,96835 -,25293 -,17810 1,90472 t -11,688 -2,882 -3,032 ,274

33

Paired Samples Test df Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol – Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+Pilokarpin 4 ,632 5 5 4 5 Sig. (2-tailed) ,000 ,035 ,039 ,795

Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin adalah 2,5233 dan standar deviationnya adalah 0,52884. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,0000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,000. Karena 0,000 < 0,05 maka adanya pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk pengaruh pilokarpin+atropin terhadap kontrol diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,3400 dan standar deviationnya adalah 1,98876. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,035. Karena 0,035 < 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk pengaruh atropin+pilokarpin terhadap kontrol diketahui nilai rata-rata untuk Atropin+pilokarpin adalah 2,1160 dan standar deviationnya adalah 1,56073. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,039. Karena 0,039 <

34

0,05 maka adanya Atropin+pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk pengaruh pilokarpin+atropin terhadap pilokarpin diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,3400 dan standar deviationnya adalah 1,98876. Sedangkan nilai rata-rata untuk Pilokarpin adalah 2,5233 dan standar deviationnya adalah 0,52884. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,795. Karena 0,795 > 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin yang artinya hubungan keduanya tidak bermakna dan tidak adanya efek pada penambahan pilokarpin+atropin. Untuk pengaruh atropin+pilokarpin terhadap pilokarpin diketahui nilai rata-rata untuk atropin+pilokarpin adalah 2,1160 dan standar deviationnya adalah 1,56073. Sedangkan nilai ratarata untuk Pilokarpin adalah 2,5140 dan standar deviationnya adalah 0,59070. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,632. Karena 0,632 > 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin yang artinya hubungan keduanya tidak bermakna dan tidak adanya efek pada penambahan pilokarpin+atropin.  Uji Statistika Pada menit ke 25
Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Kontrol Pilokarpin Pair 2 Kontrol Pilokarpin+Atropin Pair 3 Kontrol Atropin+PIlokarpin Pair 4 Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin ,1600 2,1200 ,1600 2,1767 ,1920 2,5680 2,1200 2,1767 2,2340 2,5680 N 6 6 6 6 5 5 6 6 5 5 Std. Deviation ,39192 ,51080 ,39192 1,87956 ,42933 1,68510 ,51080 1,87956 ,47820 1,68510 Std. Error Mean ,16000 ,20853 ,16000 ,76733 ,19200 ,75360 ,20853 ,76733 ,21386 ,75360

35

Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol & Pilokarpin Kontrol & Pilokarpin+Atropin Kontrol & Atropin+PIlokarpin Pilokarpin & Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin & Atropin+PIlokarpin 5 -,601 ,284 6 6 5 6 Correlation ,681 -,567 -,149 ,018 Sig. ,136 ,240 ,811 ,973

Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin -,33400 2,00921 ,89855 -1,96000 -2,01667 -2,37600 -,05667 Std. Deviation ,37667 2,12654 1,79970 1,93894 Std. Error Mean ,15377 ,86816 ,80485 ,79157

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin -2,82877 2,16077 -,372 -2,35529 -4,24834 -4,61063 -2,09146 Upper -1,56471 ,21500 -,14137 1,97813 t -12,746 -2,323 -2,952 -,072

36

Paired Samples Test df Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin 4 ,729 5 5 4 5 Sig. (2-tailed) ,000 ,068 ,042 ,946

Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin adalah 2,1200 dan standar deviationnya adalah 0,51080. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,1600 dan standar deviationnya adalah 0,39192. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,000. Karena 0,000 < 0,05 maka adanya pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,1767 dan standar deviationnya adalah 1,87956. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,036. Karena 0,036 < 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk Atropin+pilokarpin adalah 2,5680 dan standar deviationnya adalah 1,68510. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,039. Karena 0,039 < 0,05 maka adanya Atriopin+pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%.
37

Uji Statistika pada menit ke 30
Paired Samples Statistics Mean N 6 6 6 6 5 5 6 6 5 5 Std. Deviation ,00000 ,58319 ,00000 2,03760 ,00000 2,70752 ,58319 2,03760 ,65196 2,70752 Std. Error Mean ,00000 ,23808 ,00000 ,83185 ,00000 1,21084 ,23808 ,83185 ,29156 1,21084

Pair 1

Kontrol Pilokarpin

,0000 1,4833 ,0000 2,3167 ,0000 3,0560 1,4833 2,3167 1,4800 3,0560

Pair 2

Kontrol Pilokarpin+Atropin

Pair 3

Kontrol Atropin+PIlokarpin

Pair 4

Pilokarpin Pilokarpin+Atropin

Pair 5

Pilokarpin Atropin+PIlokarpin

Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol & Pilokarpin Kontrol & Pilokarpin+Atropin Kontrol & Atropin+PIlokarpin Pilokarpin & Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin & Atropin+PIlokarpin 5 -,003 ,996 6 . 6 . 5 . 6 -,370 Correlation . . . ,471 Sig.

Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin -1,57600 2,78676 1,24628 -1,48333 -2,31667 -3,05600 -,83333 Std. Deviation ,58319 2,03760 2,70752 2,31737 Std. Error Mean ,23808 ,83185 1,21084 ,94606

38

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin -5,03622 1,88422 -1,265 -2,09535 -4,45500 -6,41783 -3,26527 Upper -,87132 -,17833 ,30583 1,59860 t -6,230 -2,785 -2,524 -,881

Paired Samples Test df Pair 1 Pair 2 Pair 3 Pair 4 Kontrol - Pilokarpin Kontrol - Pilokarpin+Atropin Kontrol - Atropin+PIlokarpin Pilokarpin Pilokarpin+Atropin Pair 5 Pilokarpin Atropin+PIlokarpin 4 ,275 5 5 4 5 Sig. (2-tailed) ,002 ,039 ,065 ,419

Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin adalah 1,4822 dan standar deviationnya adalah 0,58319. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,0000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,002. Karena 0,002 < 0,05 maka adanya pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk pilokarpin+Atropin adalah 2,3167 dan standar deviationnya adalah 2,03760. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,05 atau dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika memperhatikan nilai signifikansi,
39

terlihat dari output nilai signifikansi 0,039. Karena 0,039 < 0,05 maka adanya pilokarpin+Atropin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 95%. Dari data diatas dapat diketahui nilai rata-rata untuk Atropin+pilokarpin adalah 3,0560 dan standar deviationnya adalah 2,70752. Sedangkan nilai rata-rata untuk kontrol adalah 0,000 dan standar deviationnya adalah 0,0000. Dari data tersebut dapat diketahui perbedaan efek peningkatan salivasi antara kontrol dengan pilokarpin. Pengujian bisa menggunakan tingkat signifikansi 0,1 atau dengan tingkat kepercayaan 90%. Jika memperhatikan nilai signifikansi, terlihat dari output nilai signifikansi 0,065. Karena 0,065 < 0,1 maka adanya Atriopin+pilokarpin memberikan efek pada peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan 90%.

VII. KESIMPULAN    Pilokarpin merupakan obat yang bersifat kolinergik yaitu dapat meningkatkan stimulasi saliva Atropine merupakan obat yang bersifat antikolinergik yaitu dapat menurunkan aktivitas salivasi. Uji statistik pada peningkatan pilokarpin perbandingnnya dengan control memberikan adanya efek peningkatan salivasi mencit dengan tingkat kepercayaan pada : o Menit ke-5 = 90% o Menit ke-10 = 95% o Menit ke-15 = 95% o Menit ke-20 = 95% o Menit ke-25 = 95% o Menit ke-30 = 95%  Uji statistic pada inhibisi perbandingannya antara pilokarpin dengan pilokarpin+atropine dan pilokarpin dengan atropine + pilokarpin pada menit ke-5, Tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin  Uji statistic pada inhibisi perbandingannya antara pilokarpin dengan pilokarpin+atropine dan pilokarpin dengan atropine + pilokarpin pada menit ke-10, tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin.
40

Uji statistic pada inhibisi perbandingannya antara pilokarpin dengan pilokarpin+atropine dan pilokarpin dengan atropine + pilokarpin pada menit ke-15, tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin.

Uji statistic pada inhibisi perbandingannya antara pilokarpin dengan pilokarpin+atropine dan pilokarpin dengan atropine + pilokarpin pada menit ke-20, tidak memberikan pengaruh pada pilokarpin.

41

VIII. Daftar Pustaka Achmad.S. A. 1989. Analisis Metabolit Sekunder. UGM press. yogyakarta. Amrun Hidayat. M. 2005. Alkaloid Turunan Triptofan. (di akses tanggal19 oktober 2012). http//www.wikipedia.com/turunan-triptofan.html Anonim. 1985. Tanaman obat Indonesia jilid II. Depkes RI. Jakarta. Anonim. 2000. Informatorium obat nasional Indonesia. Depkes RI. Jakarta. Jay,than hoon dan kirana,raharja. 2002. Obat-obat penting. Gramedia Jakarta. Robinson,T. 1991. Kandungan organik tumbuhan tinggi. ITB. Bandung. Tanu, ian.2007. Farmakologi Dan Terapi edisi 5. Jakarta: FKUI Katzung,B.G., 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik (Buku 3 Edisi 8). Penerbit Salemba Medika; Jakarta

.

42

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful