ANALISIS PERKEMBANGAN PRODUKSI, KONSUMSI, LUAS PANEN, DAN HARGA KOMODITI

(PROP. SUMATERA BARAT, SUMATERA UTARA DAN ACEH DARUSSALAM)

PROP. SUMATERA BARAT 1. Analisis Perkembangan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Konsumsi

Komoditi tanaman pangan dan hortikultura yang diusahakan di daerah Sumbar adalah padi, jagung, kentang, kol/kubis, bawang merah, cabe, manggis, pisang, alpokat, markisa, dan jeruk. Dari data perkembangan produksi dari tahun 2000 ke tahun 2001, komoditi yang mengalami peningkatan produksi adalah komoditi manggis, pisang, alpokat, dan jeruk. Sedangkan produk lainnya mengalami penurunan seperti terlihat pada tabel (lampiran 1). Prosentase peningkatan komoditi mulai dari yang terbesar berturut-turut adalah alpokat (21 %), jeruk (16 %), manggis (13 %) dan terakhir pisang (9 %). Sedangkan prosentase penurunan produksi yang terbesar berturut-turut adalah kentang/kol dan kubis masing-masing sebesar 50 %, bawang merah (38 %), jagung (12 %), cabe (7 %), markisa (3%), padi (1 %). Namun penurunan ini belum menunjukkan angka yang sebenarnya, disebabkan data tahun 2001 merupakan angka sementara. Hal ini diperkuat dengan perkiraan produksi produksi tahun 2002 dibandingkan produksi tahun 2001 sebagaimana terlihat pada tabel lampiran 1. Berdasarkan data n tahun sebelumnya (tidak ada informasi), rata-rata komoditi mengalami peningkatan, kecuali pada produk padi (mengalami penurunan tipis), jagung dan alpokat.
Tabel 1. Pertumbuhan Produksi Komoditi TPH di Prop. Sumbar Th. 20002001
Komoditi Padi Jagung Kentang Tahun 2000 1,759,059 56,386 26,260 2001 1,742,246 49,702 13,229 Pertumb. (%) -1 -12 -50

Kol Bw. Merah Cabe Manggis Pisang Alpokat Markisa Jeruk

66,693 14,461 31,693 7,374 59,549 5,508 14,802 37,214

33,430 9,033 29,493 8,363 65,035 6,681 14,380 42,991

-50 -38 -7 13 9 21 -3 16

H:/Home/Shinta/Stk/Trend Komoditi Daerah Sumatera.doc

b. Analisis Perdagangan Antar Daerah Tanaman Pangan dan Hortikultura (Analisis Hubungan Produksi, Konsumsi dan Harga) Dari segi konsumsi masyarakat daerah Propinsi Sumbar, ratarata tingkat konsumsi dari komoditi yang dihasilkan di daerah tersebut berada di bawah angka produksinya, kecuali pada komoditi kentang (Th. 2001) dan bawang merah (Th. 2001). Ini menunjukkan bahwa sebagian besar produk yang dihasilkan di daerah tersebut telah mencukupi konsumsi masyarakat lokal. Kelebihan produk dapat dijual ke daerah/propinsi di sekitarnya, seperti Sumut, Aceh, dan propinsi lainnya di Sumatera dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas transportasi yang dibutuhkan. Pada komoditi kentang, terjadi kelebihan permintaan, yaitu sebesar 5.578,8 ton pada tahun 2001 (42,17 %). Kebutuhan ini dapat dipenuhi dari propinsi Sumatera Utara yang juga menghasilkan kentang dengan tingkat produksi yang lebih tinggi. Begitu pula dengan Bawang merah pada tahun 2001, dengan kelebihan permintaan sebesar 3.247 ton. Melihat perkiraan konsumsi yang mengalami stagnansi pada tahun 2002 (?), di mana produksi keseluruhan jenis komoditinya lebih kecil dari tingkat konsumsi tersebut (kelebihan produksi ditunjukkan pada tabel di bawah), menunjukkan bahwa potensi produk untuk dilemparkan/dijual ke daerah/propinsi yang terdekat dengan daerah tersebut masih ada. Terutama untuk komoditi padi, pada tahun 2000, hanya sebesar 32 persen dari produksinya yang dikonsumsi oleh masyarakat lokal. Sebagian besar lainnya (68 %) harus dijual ke daerah lain. Keadaan yang hampir sama terjadi pada tahun 2001. Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam mengkaji potensi perdagangan antar daerah adalah waktu panen yang sedikit berbeda dengan daerah Propinsi Sumatera Utara. Walaupun rata-rata produksi yang dihasilkan di Sumatera Barat relatif lebih kecil 2

daripada yang dihasilkan Sumatera Utara, tetapi terjadi perbedaan dalam waktu panen. Selisih waktu panen ini memungkinkan terjadinya perdagangan antar daerah. Waktu panen raya Jeruk di Sumatera Utara adalah bulan Agustus – Desember. Sedangkan di Sumatera Barat terjadi pada periode Mei – Agustus. Oleh karena itu pada bulan Mei sampai bulan Juli kebutuhan masyarakat Sumut dapat dipasok dari Sumbar. Selisih over supply yang terjadi pada komoditi jeruk di Sumbar pada tahun 2000 sebesar 21.119,61 ton (56,75 %) dan 26838 ton (62,43 %) pada tahun 2001. Begitu pula dengan komoditi manggis, yang berpotensi untuk dilakukannya perdagangan lintas daerah. Pada bulan Januari dan Februari kebutuhan masyarakat Sumut akan manngis dapat dipasok dari Sumbar. Karena data harga antara komoditi yang dihasilkan oleh kedua daerah (Sumbar dan Sumut) tidak dalam waktu yang sama, maka tidak dapat dilakukan analisis tentang perbedaan harga tersebut. Hal ini mengingat variabel harga sangat cepat berfluktuasi dan memiliki faktor penyebab yang sangat kompleks. Hanya saja jika diasumsikan bahwa harga kentang di Sumut sama dengan harga pada bulan sebelumnya, yaitu Rp 1.883/ kg, sedangkan di Sumbar Rp 2.880/kg, terjadi perbedaan harga yang cukup signifikan. Dengan harga yang lebih rendah ini, komoditi kentang dari Sumut dapat berkompetisi dalam harga sekaligus dapat memenuhi kelebihan permintaan kentang di Sumbar seperti yang telah disebutkan sebelumnya (kondisi tahun 2001). Analisis ini tentu saja belum mempertimbangkan biaya transportasi antar daerah yang dapat meningkatkan harga pokok penjualan kentang tersebut per kilogramnya. Hanya saja berdasarkan informasi yang tersedia, bahwa alat transportasi dari Sumatera Utara dalam kondisi baik dan lancar, yang memungkinkan biaya transportasi dapat ditekan. Analisis Perkembangan Luas Area, Produksi dan Konsumsi Tanaman Perkebunan Analisis Data Th. 200 – 2001 Komoditi yang dihasilkan berdasarkan data komoditi unggulan tanaman perkebunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Propinsi Sumbar adalah karet, kelapa dalam, kelapa sawit, casia vera, kopi, gambir, dan kakao. Perkembangan luas area dari tahun 2000 ke tahun 2001 (angka sementara) rata-rata 3

mengalami peningkatan (lihat tabel lampiran 2), kecuali pada tanaman kelapa dalam (-3,01%). Peningkatan terbesar berturutturut adalah kopi (36.42%), kelapa sawit (33.31%), kakao (23.04%), casia vera (12.47%), karet (8.4%) dan gambir (4.96%). Adapun perkembangan produksinya dari tahun 2000 ke tahun 2001 (angka sementara), sebagian besar komoditi mengalami peningkatan kecuali pada komoditi karet (-0,14 %). Peningkatan terbesar berturut-turut adalah kelapa sawit (80,15%), casia vera (44,34%), kopi (31,35%), kakao (19,75%), gambir (16.68%) dan kelapa dalam (5,72%). Analisis Data Th. 2001 – 2002 (angka sementara) Perkembangan luas areal dari tahun 2001 ke tahun 2002 (angka sementara), rata-rata komoditi mengalami peningkatan yang cukup signifikan, kecuali pada tanaman kelapa dalam. Namun hal ini belum menunjukkan kondisi perkembangan akhir tahun 2002, disebabkan masih berjalannya tahun 2002. Penurunan luas areal pun cukup tipis, yaitu sebesar 3,1 %. Dengan kondisi angka sementara ini, prosentase pertambahan luas areal terbesar secara berturut-turut adalah kopi (26.7 %), kelapa sawit (25.21%), kakao (18.73 %), casia vera (11,08 %), karet (7.35 %) dan gambir (4.73 %). Begitu pula untuk produksinya, perkembangan produksi tahun 2002 dibandingkan tahun 2001, rata-rata produk mengalami peningkatan kecuali pada komoditi karet. Komoditi ini mengalami penuruan tipis, yaitu 0,14 persen. Peningkatan produksi terbesar secara berturut-turut adalah kakao (49.03%), kelapa sawit (44.49%), casia vera (30.72%), kopi (24.1%), dan gambir (14.29%) dan kelapa dalam (5.41%). Analisis Hubungan antara Produksi dan Luas Areal Th. 2001 - 2002 Dengan ketersediaan angka sementara ini, ditunjukkan bahwa sekalipun pada komoditi karet luas arealnya mengalami peningkatan sebesar 7,35 persen, tetapi produksinya mengalami penurunan sebesar 0,14 persen. Namun hal ini cukup wajar mengingat tanaman perkebunan yang mempunyai waktu berproduksi yang cukup panjang. Sebaliknya untuk tanaman kelapa dalam, walaupun luas areal menurun pada tahun 2002, tetapi produksinya mengalami peningkatan kecil sebesar 5,41 persen. Yang cukup menonjol adalah komoditi kelapa sawit, luas arealnya yang besar pada tahun 2001 (263.641 Ha), pada tahun berjalan 2002 (tahun belum berakhir), sudah mengalami perluasan area menjadi 317.587 (25,21%) 4

dibarengi dengan peningkatan produksinya sebesar 44,49 %. Data ini menunjukkan perkembangan yang pesat dari komoditi kelapa sawit Sumbar. Jika merujuk pada perkembangan angka produksi tahun sebelumnya, tahun 2000 ke tahun 2001, komoditi ini memang mengalami peningkatan produksi yang cukup fantastis, yaitu sebesar 80,15 %. Namun sayangnya data ini tidak didukung oleh data konsumsi daerah, sehingga tidak dapat ditunjukkan berapa persen kelebihan produksi yang berpotensi untuk dijual ke daerah lain/luar negeri. Namun ternyata tidak hanya komoditi kelapa sawit yang memperlihatkan perkembangan produksi yang menggembirakan. Berdasarkan data Pertumbuhan Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan Sumatera Barat Tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 2001 (lampiran 4), terdapat 4 komoditi yang cukup menonjol perkembangannya, yaitu tanaman obat-obatan (1.618,92%), gardamon (235%), teh (139,53 %) dan cengkeh (148,04%). Dan peningkatan keempat komoditi ini didukung dengan peningkatan luas areal lahan, yang masing-masing peningkatannya adalah pada tanaman obat-obatan (739,27 %), gardamon (7,84 %), teh (61,73 %) dan cengkeh (13,74 %). B. 1. PROP. SUMATERA UTARA Analisis Perkembangan Produksi dan Luas Panen

Komoditi hortikultura unggulan yang diusahakan di daerah Sumbar adalah bawang merah, cabe, jeruk, kentang, markisa, pisang, salak, tomat, terong Belanda, wortel, kol, rambutan, manggis dan durian. Data perkembangan produksi dari komoditi-komoditi tersebut dari tahun 1998 sampai tahun 2002 (angka proyeksi) ditunjukkan pada tabel lampiran 4. Dari data tahun 2000 ke tahun 2001 menunjukkan bahwa keseluruhan jenis komoditi jumlah produksinya mengalami peningkatan. Kecenderungan perkembangan produksi menunjukkan peningkatan yang cukup baik, hal ini dapat dilihat pada angka proyeksi tahun 2002, yang menunjukkan kecenderungan yang meningkat dibanding tahun 2001; walaupun jika dilihat dari prosentase pertumbuhannya, terdapat 3 komoditi yang mengalami penurunan yang diindikasikan dengan angka minus, yaitu pada komoditi bawang merah (-0,04 %), markisa (-0,02 %) dan pisang (0,08 %). Sedangkan komoditi lainnya mengalami peningkatan. 5

Dilihat perkembangan jumlah produksi dari tahun 2000 ke 2001, prosentase peningkatan yang cukup besar adalah pada komoditi Terong Belanda (123 %), walaupun jumlahnya tergolong masih kecil, disusul oleh jeruk (42 %), manggis (24 %), sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah.

6

Tabel 2. Pertumbuhan Komoditi Hortikultura Unggulan Prop. Sumut Th. 2000 - 2001
Komoditi Bw. Merah Cabe Jeruk Kentang Markisa Pisang Salak Tahun Pertumb.(%) 2000 2001 39,855 42,836 7 139,978 160,608 15 148,313 210,634 42 259,238 278,129 7 14,952 15,401 3 91,054 95,013 4 191,705 232,212 21 39,012 87 78,548 345,737 23,923 5,347 72,110 71123 13 7 15 24 11

Tomat 133,934 Terong Belanda 39 Wortel 69,490 Kol 324,070 Rambutan 20,767 Manggis 4,322 Durian 64,737

2.

Analisis Potensi Perdagangan Antar Daerah Jika dibandingkan dari komoditi yang dihasilkan antara Prop. Sumut dengan Prop. Sumbar, ditunjukkan bahwa terdapat 8 komoditi yang sama-sama dihasilkan di kedua daerah, yaitu bawang merah, cabe, jeruk, kentang, markisa, pisang, kol dan manggis. Namun secara keseluruhan berdasarkan data tahun 2000 & 2001, ditunjukkan bahwa jumlah produksi yang dihasilkan daerah Sumut lebih tinggi dibandingkan Sumbar, kecuali manggis. Dengan tidak mempertimbangkan jumlah konsumsi masyarakat lokal Prop. Sumut (karena tidak ada informasi), maka hal ini memungkinkan untuk penjualan antar daerah. Jika harga jual komoditi dari Prop. Sumut tersebut dapat bersaing, maka hal ini memungkinkan. Diperkuat dengan kemudahan dan kelancaran transportasi yang tersedia di daerah Sumut, memungkinkan penekanan pada biaya transportasi, yang pada akhirnya dapat membuat penetapan harga jual yang bersaing. Namun perlu pula untuk mempertimbangkan angka konsumsi di daerah lain tersebut. Jika ternyata produksi di daerah tersebut telah mencukupi konsumsi masyarakatnya, maka akan lebih baik dicari alternatif daerah yang memang justru kekurangan persediaan produksi komoditi tersebut. Seperti pada komoditi salak, tomat, Terong Belanda, wortel, rambutan, dan durian. Komoditi-komoditi ini tidak diproduksi oleh 7

daerah Sumbar, tentu saja ini sangat berpotensi untuk dilakukan perdagangan dengan daerah tersebut. Di sisi lain, pada komoditi manggis, walaupun juga diproduksi di daerah Sumut, tetapi jumlahnya masih lebih kecil daripada produksi daerah Sumbar. Hal tersebut juga didukung oleh angka konsumsi masyarakat Sumbar yang nol (?) (tidak ada informasi apakah data tidak tersedia atau memang tidak ada konsumsi), maka daerah Sumut jika kelebihan permintaan, daerah dipasok dari daerah Sumbar. Komoditi-komoditi yang dibutuhkan masyarakat Sumut tetapi tidak diproduksi di daerah tersebut adalah : bawang putih, bawang bombay, apel, anggur, lengkeng, peer, stroberry, kiwi dan mangga. Namun keseluruhan komoditi ini juga tidak diproduksi di daerah Sumbar. Oleh karena itu daerah Sumut harus mencari alternatif lain untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakanya. Mengenai harga, disebabkan informasi harga komoditi daerah Sumbar dan daerah Sumut berbeda waktunya, maka tidak dapat dilakukan analisis. C. PROP. ACEH DARUSSALAM Komoditi perikanan yang dihasilkan di daerah Nangroe Aceh Darussalam adalah Ikan Tuna/Cakalang, Ikan Kerapu, Udang Tambak, udang laut, Ikan Mas dan Teri. Perkembangan produksi secara keseluruhan dari tahun 1999 sampai tahun 2000 mengalami peningkatan, kecuali Teri. Dan pada tahun 2000 (angka sementara) terjadi penurunan produksi pada Udang Tambak dan Ikan Mas dengan tingkat penurunan yang kecil. Jika diproyeksikan, terjadi kecenderungan yang cukup baik, bahwa terjadi peningkatan yang landai dari tahun 1999 sampai tahun 2003, kecuali pada teri. Pada ikan Teri terjadi penurunan yang cukup berarti dari tahun 1999 ke tahun 2000, yang kemudian mulai terangkat sedikit pada tahun 2001. (Nilai numerik dapat dilihat pada tabel lampiran 5). Dilihat dari sisi konsumsi masyarakat, tingkat produksinya masih lebih tinggi dari tingkat konsumsinya. Hal ini menunjukkan terdapat kelebihan produk yang dapat dijual ke daerah lain. Berhubung tidak ada informasi mengenai komoditi perikan di daerah Sumut dan Sumbar, maka perdagangan antar daerah ini tidak dapat dianalisis. Dari trend yang dapat dilihat dari grafik (kasus 1999 – 2003) terjadi peningkatan konsumsi dari tahun ke tahun, kecuali pada teri di tahun 2000. 8

Perkembangan harga untuk seluruh komoditi perikanan dari tahun 1999 sampai tahun 2000 mengalami peningkatan. Hal ini berdampak pada angka proyeksi tahun 2002 dan 2003 yang mengalami peningkatan. Ini menunjukkan kondisi harga yang cukup baik untuk usaha perikanan di Aceh.
Tabel 3. Harga Komoditi Perikanan di Prop. N. Aceh Th. 1999-2003 Komoditi Tuna/Cakalang Kerapu Udang Tmbk Udang Laut Ikan Mas Teri 1999 8.600 13.000 54.000 30.000 11.500 4.000 2000 9.000 16.000 57.000 35.000 12.500 4.500 2001 1.300 18.000 65.000 40.000 12.500 5.000 2002 13.500 22.000 70.000 45.000 13.500 6.000 (Rp) 2003 15.000 25.000 85.000 65.000 15.000 7.500

Tabel 4. Konsumsi Komoditi Perikanan di Prop. N. Aceh Th. 1999-2003 Komoditi Tuna/Cakalang Kerapu Udang Tmbk Udang Laut Ikan Mas Teri 1999 3.730,05 2.238,03 2.279,47 1.243,35 704,56 4.849,06 2000 3.890,57 2.356,43 2.446,64 1.363,70 1.042,83 4.211,44 2001 3.849,50 2.405,94 2.405,94 1.363,36 1.002,47 4.210,39 2002 3.889,60 2.486,13 2.446,03 1.403,46 1.042,57 4.250,49

(ton)

2003 4.091,11 2.526,86 2.486,75 1.443,56 1.082,94 4.291,66 (ton) 2003,00 4556,60 2738,60 2727,50 1556,60 1155,30 4736,80

Tabel 5. Produksi Komoditi Perikanan di Prop. N. Aceh Th. 1999-2003 Komoditi Tuna/Cakalang Kerapu Udang Tmbk Udang Laut Ikan Mas Teri 1999,00 4171,60 2484,20 2546,10 1405,50 813,70 5405,80 2000,00 4336,90 2671,40 2719,50 1539,70 1153,10 4675,80 2001,00 4358,50 2684,70 2705,90 1544,30 1149,60 4699,10 2002,00 4423,90 2711,50 2714,00 1552,00 1151,90 4713,20

Note : Hasil analisis ini berdasarkan dari informasi yang masuk dari daerah-daerah.

9