Globalisasi dan Buah Impor: Dominasi Buah Impor di Pasar Tradisional Indonesia

Abstract Indonesia is one of the actors of globalization. When the barrier of imported product was opened since Indonesia signed the FTA deal with other countries, various product produced in foreign countries were marketed in Indonesia in large quantity including imported fruit. Globalization affects the flooding of imported fruits in the Indonesian traditional market. Many fruits produced by other countries could be found easily in Indonesian traditional market following the government embracing the free market system. Indonesia's inability to compete with other producer countries, such as China, in terms of price and quality meant imported fruit was beginning to dominate the domestic market. This study tried to answer the question why imported fruits could be found easily in Indonesian traditional markets. Keyword: globalization, imported fruit, traditional market. Pendahuluan Jika ditanya apa itu globalisasi maka semua orang akan menjawab dalam berbagai versi, ada yang mengatakan globalisasi adalah modernisasi, yang lain mengatakan globalisasi adalah liberalisasi, bahkan ada yang mengatakan globalisasi adalah bentuk westernisasi dan lain sebagainya. Jawaban-jawaban yang begitu banyak tersebut mungkin akan membingungkan, manakah di antara jawaban tersebut yang paling tepat. Untuk mengetahuinya, sebelumnya marilah kita berkaca pada kisah tiga orang buta dengan seekor gajah. Alkisah ketiga orang buta tersebut diperintahkan untuk menjelaskan rupa gajah. Orang buta pertama meraba telinga gajah hingga ia menyimpulkan bahwa gajah itu bentuknya pipih. Orang buta kedua meraba belalai gajah hingga ia menggambarkan bahwa gajah itu panjang seperti ular. Dan orang buta ketiga meraba badan gajah sehingga ia menyimpulkan bahwa gajah itu besar. Kisah ini menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat memahami sesuatu sesuai dengan pengalamannya. Sama halnya dengan memahami globalisasi. Makna globalisasi yang memiliki berbagai macam versi diakibatkan dari perbedaan pengalaman dari orang yang memaknainya. Namun tetap jika melihat dengan kacamata yang luas maka jawaban-jawaban tersebut semuanya adalah benar.

Dalam tulisan ini penulis tidak akan menjelaskan secara luas dan panjang lebar menyangkut makna dari globalisasi. Cukup dengan mengambil salah satu bagian dari globalisasi, penulis berusaha menjelaskan fenomena membanjirnya produk buah impor pada pasar tradisional Indonesia dalam kacamata globalisasi yang berkaitan dengan dimensi liberalisasi. Menurut Jan Art Scholte pengertian globalisasi mencakup lima dimensi yang masing-masingnya mempengaruhi mempengaruhi karakteristik interaksi aktor-aktor dalam ekonomi politik internasional.1 Salah satunya adalah dimensi liberalization. Globalisasi mengandung arti adanya proses liberalisasi atau pengurangan dan peniadaan hambatan tarif dan non-tarif yang dikenakan oleh negara terhadap aliran barang dan jasa dalam rangka menciptakan perekonomian global yang terbuka dan dikendalikan oleh mekanisme pasar.2 Buah Impor di Indonesia Era globalisasi dan perdagangan bebas berimplikasi pada semakin ketatnya persaingan antara produk-produk yang dihasilkan oleh negara-negara tidak terkecuali produk hortikultura semisal buah. Masuknya Indonesia dalam World Trade Organization (WTO), AFTA, AANZ (Asean Australian New Zealand), Indonesia – Malaysia, IJ-EPA (Indonesian Japan Economic Partnership Agreement) serta kesepakatan perdagangan bebas antara Cina dan ASEAN (ChinaASEAN Free Trade Area/ACFTA) pada tahun 2004 dan mulai berlaku sejak 1 Januari 2010, adalah sebuah bentuk aplikasi nyata globalisasi yang diterapkan Indonesia. Kesepakatan tersebut, pada dasarnya mempunyai komitmen untuk mengurangi hambatan perdagangan, mengurangi subsidi ekspor, mengurangi tarif impor, mengurangi bantuan domestik yang mendistorsi pasar. Dengan resminya Indonesia bergabung pada kesepakatan-kesepakatan tersebut, Indonesia telah memantapkan diri mengintergrasikan pasar dalam negerinya kepada pasar yang lebih luas yakni pasar regional dan Internasional. Konsekuensi logis dari itu semua adalah dibukanya kompetisi antara aktor-aktor terkait. Dengan dibukanya keran globalisasi dengan wujud perdagangan bebas, hal tersebut dapat menjadi tantangan dan sekaligus menjadi peluang yang besar bagi setiap negara termasuk Indonesia. Tantangan dan peluang tersebut juga berlaku bagi industri holtikultura di Indonesia yang salah satunya adalah buah. Salah satu masalah Indonesia yang masih mengemuka selama beberapa tahun belakangan ini adalah derasnya arus penetrasi buah impor. Ironis memang, ketika Indonesia yang terkenal sebagai negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati
1

Aleksius Jemadu, Politik Global dalam Teori dan Praktik, 2008, Yogyakarta; Graha Ilmu, hal. 229. 2 Ibid. hal 229.

termasuk buah-buahan. Buah lokal di Indonesia memiliki keanekaragaman dengan nilai eksotika yang cukup tinggi baik dari bentuk buah, rasa maupun aroma, seperti buah manggis, pepaya, pisang, salak, dan mangga harus tenggelam cukup dalam di pasar lokal dengan membanjirnya buah-buah impor termasuk yang berasal dari negara subtropis.3 Dari gambar 1.1 dapat dilihat bahwa buah impor terbesar buah segar di Indonesia didominasi oleh buah jeruk, apel dan pir. Anehnya lagi buah-buah yang diimpor oleh Indonesia dan ternyata cukup besar jumlahnya termasuk diantaranya adalah jenis buah yang merupakan buah lokal tropis seperti pisang, jambu biji, mangga, pepaya, dan durian.4 Data Kementerian Pertanian menyebutkan, pada 2005, impor buah-buahan Indonesia sebanyak 413.410,6 ton senilai US$234,07 juta. Sedangkan pada 2010 melonjak menjadi 601.965,0 ton senilai US$591,68 juta.5 Seiring berlakunya Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) sejak awal 2010 lalu, impor buah dari China pun semakin pesat. Pada triwulan I/2011 ini, impor buah-buahan terutama untuk jenis jeruk mandarin dan pir dari China melambung tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor buah seperti jeruk mandarin dari China di kuartal satu 2011 sekira US$85 juta atau melonjak 25 persen dari kuartal satu tahun lalu sekira US$68 juta.6 Impor pir dari China periode Januari-Maret 2010 nilainya sekitar 11 juta dolas AS. Ternyata periode yang sama tahun 2011 nilai impornya telah melonjak menjadi sekitar 30 juta dolar AS atau meningkat sekitar 170 persen.7 Meskipun Indonesia juga mengekspor beberapa jenis buah lokal ke berbagai negara, namun jika melihat neraca perdagangan ekspor-impor, Indonesia selalu mengalami defisit perdagangan yang cukup besar (lihat Gambar 1.2). Contohnya saja sepanjang 2010 Indonesia mengalami kerugian dalam perdagangan buah-buahan dengan Cina, dengan defisit 600 juta dolar AS atau setara Rp5,4 triliun.8 Secara ekonomi jika terjadi defisit neraca perdagangan
3

Kristina Ananingsih, Mendongkrak Potensi Buah Lokal di Pasar Global (online), http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6206218231_1411-7924.pdf, diakses pada 20 Juni 2011. 4 Ibid.

5

_______, Buah Impor dan Rezim Ekonomi Pencitraan (online), http://www.kabarbisnis.com/read/2820381, diakses pada 20 Juni 2011. 6 Suwandi (eds), Indonesia Tak Pantas Ekspor Buah (online), http://www.waspada.co.id/index.php? option=com_content&task=view&id=197867&Itemid=, diakses pada 20 Juni 2011. 7 Faisal, Harga Murah, Buah China Serbu Pasar Indonesia (online), http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/05/26/harga-murah-buah-china-serbu-pasarindonesia, diakses pada 20 Juni 2011. 8 Win, Perdagangan Buah Indonesia Defisit Rp 5,4 T (online), http://3detik.com/perdagangan-buah-indonesia-defisit-rp54-t/, diakses pada 20 Juni 2011.

maka akan menyebabkan berkurangnya devisa negara. Besarnya impor buah juga akan berdampak luas pada kondisi petani lokal dan pada akhirnya akan menurunkan daya saing buah nasional. Gambar 1.1 Data Impor Buah Segar Tahun 2002 dan 2004

Gambar 1.2 Neraca Ekspor-Impor Buah Indonesia Tahun 2005-2010

Buah Impor di Pasar Tradisional Untuk lebih meyakinkan para pembaca, penulis beserta kawan-kawan satu kelompok melakukan penelitian mengenai penyebaran buah-buah impor pada pasar-pasar tradisional yang terletak di kota Yogyakarta. Kami mengambil sampel pasar tradisional Kranggan, Gamping, Condro, dan Lempuyangan. Berdasarkan pantauan kami pada keempat pasar tradisional tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir 50% produk buah-buahan yang ada di lapak para pedagang didominasi oleh produk buah impor. Biasanya produk buah impor tersebut

adalah apel, pir, jeruk, kelengkeng, dan anggur. Apel didatangkan dari Amerika dan Cina, pir dari Cina, jeruk dari Brazil, Cina, dan Argentina, kelengkeng dari Thailand, sedangkan Anggur didatangkan dari Amerika. Menurut salah satu distributor yang kami temui di pasar Induk Gamping Yogyakarta, produk buah impor banyak disukai para pembeli dikarenakan berbagai macam faktor diantaranya adalah tampilannya yang menarik, harganya yang relatif murah dibandingkan buah lokal, dan juga kualitasnya tidak kalah dengan produk lokal. Masih menurut distributor tesebut, produk buah Impor dapat bersaing dengan buah tuan rumah karena mereka dapat menjaga kualitas buah-buah yang mereka impor mulai dari dipetik dari pohonnya hingga sampai ke negara tujuan. Mereka menggunakan sistem pengawetan yang bagus sehingga meskipun buahbuah impor tersebut mengalami perjalanan yang memakan waktu lama, dua sampai tiga minggu, namun buah tersebut masih tetap segar sampai pada tangan konsumen, berbeda dengan buah lokal yang 2-3 hari sudah busuk. Selain itu mata rantai jalur distribusi buah impor sangat efisien dan efektif sehingga dapat menekan harga (lihat gambar 1.3). Buah impor juga selalu ada disetiap musim, berbeda sekali dengan buah lokal yang sangat tergantung pada musim dan cuaca. Tidak mau percaya begitu saja, kami bertanya pada salah satu pedagang buah lainnya di pasar tradisional Condro Yogyakarta, menurut pedagang tersebut ia mengamini apa yang dikatakan pedagang di Pasar Gamping sebelumnya. Menurutnya para pembeli masih bersikap rasional dalam membeli buah, jika ada yang murah dan kualitasnya bagus mereka akan membeli buah itu.

Gambar 1.3 Skema Rantai Tataniaga Buah Impor
China Amerika Serikat Thailand

Pusat Pengimpor Buah yang ada di Jakarta ( ex.PT. Laris Manis)

Cabang Pengimpor Buah yang ada di Yogyakarta (Pasar Induk Gamping)

Pedagang Buah di pinggir jalan

Pasar Tradisional

Gerai toko buah, minimarket

Pada awalnya target pasar buah impor adalah golongan berpendapatan menengah keatas melalui supermarket dan gerai khusus buah, namun tidak membutuhkan waktu lama, kemudian buah impor merambah ke pasar-pasar tradisional di berbagai pelosok daerah bahkan sampai ke pedesaan. Bukan hanya pasar tradisional di Yogyakarta, buah-buah impor juga menyebar di berbagai pasar tradisional di kota-kota lainnya. Buah impor merajai pasar-pasar tradisional yang ada di Medan. Hampir 80% pasar tradisional di Medan umumnya telah menjual buahbuahan impor.9 Di Solo lebih dari 50 persen buah impor telah merangsek ke Pasar Gede. 10 Di pasar tradisional di Kota Dumai, Riau buah impor asal Malaysia dan Singapura membanjiri gerai-gerai pedagang buah.11 Fenomena membanjirnya buah impor di pasar-pasar tradisional ini menunjukkan begitu rentannya Indonesia dalam arus globalisasi.

Analisis Bergabungnya Indonesia ke dalam rezim internasional seperti World Trade Organization (WTO), AFTA serta ACFTA menandakan Indonesia telah benar-benar bergabung menjadi salah satu aktor dalam proses globalisasi. Namun tidak elok rasanya jika hanya puas menjadi aktor globalisasi tanpa memperhatikan apakah aktor yang dimaksud adalah aktor yang aktif ataukah pasif. Di era globalisasi dimana peluang sangat terbuka lebar
9

Elvidaris Simamora, Buah Impor Makin Berkuasa di Pasar Lokal (online), http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/05/18/34872/buah_impor_makin_berkua sa_di_pasar_lokal/#.Tf8OaltWnIU, diakses pada 20 Juni 2011. 10 Andi Penowo, Pasar Gede Kebanjiran Buah Impor (online), http://bisnis.timlo.net/baca/9199/pasar-gede-kebanjiran-buah-impor, diakses pada 20 Juni 2011. 11 Benny N Joewono, Buah Impor Asal Malaysia Banjiri Pasar (online), http://www.rockto.com/launcher/42763/regional.kompas.com/read/2011/03/16/16534945/B uah.Impor.Asal.Malaysia.Banjiri.Pasar, diakses pada 20 Juni 2011.

semestinya oleh Indonesia dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan memposisikan diri sebagai subjek dari globalisasi bukannya menjadi objek penderita. Namun fakta dilapangan berbicara sebaliknya, realita yang ada menggambarkan begitu rentannya Indonesia dalam menghadapi globalisasi tertutama sekali dalam globalisasi pertanian. Tidak perlu bersusah payah mencari bagian mana yang dimaksud oleh penulis yang mengatakan bahwa Indonesia sangat rentan pada globalisasi pertanian. Dengan berjalan sebentar saja ke pasar tradisional yang ada di sekitar kita maka akan ditemukan dengan mudah berbagai macam jenis buah impor yang hampir mendominasi di lapak-lapak pedagang buah. Arus globalisasi yang tidak akan dapat dibendung lagi bukanlah menjadi persoalan mengapa buah impor begitu mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, karena memang Indonesia sudah benar-benar terintegrasi dengan sangat dalam pada proses globalisasi dan tidak mungkin lagi keluar dari proses globalisasi tersebut, atau mudahnya Indonesia dapat dikatakan sudah pada kondisi point of no return. Globalisasi jika merujuk pada Jan Art Scholte selain memiliki diminesi libralization juga memiliki dimensi internationalization, maksudnya meningkatnya hubungan lalu lintas batas antara aktor-aktor internasional seperti yang terwujud dalam aliran barang, jasa, modal, teknologi dan manusia, maka sudah menjadi suatu keharusan dalam pergaulan internasional.12 China sebagai negara berideologi komunis saja sejak era Den Xiaoping menerapkan kebijakan yang terkenal dengan istilah pintu terbuka, karena China memang telah menyadari kebijakan isolasi yang dilakukannya selama era Mao tidak membuat China semakin maju namun sebaliknya. Jadi yang salah bukan pada globalisasinya. Jika ada alasan yang mengatakan bahwa Indonesia belum siap dengan adanya globalisasi karena Indonesia masih tergolong negara yang berkembang maka alasan terebut nyata-nyata tidak pada tempatnya. Menengok negara asal dimana buah impor itu didatangkan yakni kebanyakan dari China, Thailand, dan Malaysia pertanyaan pun muncul apakah mereka bukan termasuk negara yang berkembang. Tentu saja mereka adalah negara berkembang layaknya negara Indonesia. Lalu mengapa Indonesia begitu mudah dibanjiri oleh produk buah impor. Menurut Sucipto yang merupakan dosen dan peneliti Teknologi Industri Pertanian (TIP) Universitas Brawijaya. Ada sejumlah kondisi yang menstimulus peningkatan impor buah di Indonesia;

Pertama, rendahnya bea masuk (BM), yang ditetapkan berdasarkan skema Most Favored Nation (MFN), sebagai wujud kerja sama multilateral dalam World Trade

12

Aleksius Jemadu, Politik Global dalam Teori dan Praktik, 2008, Yogyakarta; Graha Ilmu, hal. 229.

Organization (WTO). BM apel 5%, misalnya, berlaku jauh sebelum dimulai ACFTA. Hal ini menurunkan daya saing apel Malang beberapa tahun terakhir.

Kedua, longgarnya aturan impor. Standar mutu yang ketat belum diberlakukan. Produk impor membahayakan konsumen pun lolos. Riset Setyabudi, dkk (2008) menunjukkan kontaminasi formalin dan pestisida pada buah impor di pasar tradisional dan swalayan. Formalin berkadar 0,10- 122,11 ppm ada pada apel, durian, pir, dan lengkeng. Pestisida jenis klorpirifos ditemukan pada jeruk lokan dan mandarin marcot dari toko buah. Karena itu, standar mutu buah impor perlu diperketat.

Ketiga, dibukanya banyak pelabuhan ekspor-impor pangan yang memudahkan tersebarnya buah impor ke berbagai wilayah Indonesia. Karena Itu , perlu penataan ulang fungsi pelabuhan. Ini akan memudahkan pengawasan impor ilegal dan melindungi produk domestik.

Keempat, lemahnya sistem logistik dan infrastruktur di Indonesia. Akibatnya, biaya kirim buah ke Jakarta dari Tiongkok lebih murah disbanding dari Pontianak. Di tingkat konsumen, harga buah nasional lebih mahal dari buah impor. Jeruk mandarin dijual Rp 17.000 per kg, sedang jeruk pontianak dan jeruk medan masih Rp 20.000 per kg. Sungguh ironis.

Kelima, penanganan pascapanen buah tropis yang musiman tidak memadai. Gudang penyimpanan buah tropis merupakan disalahkan memilih buah impor. fasilitas langka. Stok, mutu, dan harganya berfluktuasi sepanjang tahun. Secara pragmatis, pedagang, dan konsumen tak dapat

Keenam, pengelolaan buah yang banyak dikonsumsi rakyat dan buah unggulan ekspor belum sebanding dan optimal. Buah belum menjadi tanaman utama petani yang berlahan terbatas. Pedagang dan eksportir enggan berinvestasi jangka panjang di budidaya buah. Kondisi ini semakin memperkecil stok buah nasional.13 Dari apa yang dikatakan oleh Sucipto, dapat disimpulkan bahwa kesalahan bukan

terletak pada globalisasinya namun Indonesia sebagai aktor globalisasi lah yang tidak dapat memaksimalkan peluang dari globalisasi tersebut. Sehingga dapat dikatakan apa yang terjadi pada fenomena maraknya buah-buah impor di pasar tradisional semata-mata disebabkan karena
13

Sucipto, ACFTA dan Daya Saing Produk Pertanian (online), http://www.investor.co.id/opini/acfta-dan-daya-saing-produk-pertanian/11570, diakses pada 20 Juni 2011.

kesalahan dari pihak Indonesia sendiri. Jika saja Indonesia dapat memanfaatkan dengan maksimal peluang dari adanya globalisasi bisa jadi buah lokal dari petani Indonesia lah yang mendominasi sebagian besar pasar-pasar tradisonal yang ada di negara lain. Dan terkait maraknya buah impor di pasar tradisional juga menunjukkan bahwa fenomena globalisasi sudah merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan umat manusia. Bahkan globalisasi diam-diam sudah mengambil tempat dalam hiruk pikuk manusia yang sedang sibuk melakukan transaksi jual beli barang di pasar tradisional. Ibarat air yang disumbat namun pasti ia akan menemukan jalan keluarnya, seperti itulah globalisasi, meskipun dalam tempat yang tradisional sekalipun globalisasi tetap dapat ditemukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful