P. 1
Hilang

Hilang

|Views: 0|Likes:
Published by Sofyan Yayan

More info:

Published by: Sofyan Yayan on Oct 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2014

pdf

text

original

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri.

Banyak sekali eksperimen yang dilakukan untuk kelihatan lebih keren. Hati-hati, dokter jiwa punya komentar sendiri bagi yang suka latah, ikut-ikutan tanpa tahu apa maknanya. Ciyus, miapah? Contohnya ya itu tadi, beberapa orang memang kelihatan imut saat mempelesetkan ungkapan ‘serius demi apa’ jadi ‘ciyus miapah‘. Karena kelihatan keren, banyak yang kemudian ikut-ikutan dan sekarang mudah sekali menemukan orang bilang ‘ciyus miapah’ di berbagai tempat. Kecenderungan untuk ikut-ikutan, kadang tanpa tahu maknanya sering dilabeli dengan istilah ‘alay‘ yang konon merupakan singkatan dari anak layangan. Sama seperti ‘ciyus miapah‘ sebenarnya, istilah alay sendiri juga produk ikut-ikutan karena tidak jelas apa maknanya. Terkait hal itu, dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K) dari RS Jiwa Soeharto Heerdjan Grogol punya komentar tersendiri. “Jika bangga dengan predikat alay itu yang krisis identitas karena dia tidak bisa menentukan pilihan, jadi hanya sekadar mengikuti mainstream supaya diakui teman-teman,” kata dr Suzy yang bidang spesialisasinya adalah psikiatri anak dan remaja, Memang berlebihan untuk dikatakan sebagai gangguan jiwa, namun krisis identitas bisa memicu kerentanan untuk mengalaminya. Terlebih, para remaja yang mengalami krisis identitas umumnya memiliki masalah dengan latar belakang emosional, misalnya mudah cemas dan tidak percaya diri. Pola asuh yang salah dari orang tua selama di rumah umumnya bisa menjadi penyebab yang lebih dominan. Misalnya sejak kecil dididik dengan terlalu permisif, apa-apa diperbolehkan lalu akhirnya tidak terbentuk ketahanan terhadap berbagai permasalahan saat bersosialisasi. Remaja yang mengalami krisis identitas cenderung lebih labil, mudah ikut-ikutan dan terpengaruh oleh lingkungan. Meski tidak selalu jadi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, faktor risiko ini bisa memicu gangguan jiwa lainnya seperti gangguan emosi maupun tingkah laku. Tawuran adalah salah satu contoh konkretnya sumber : detikHealth, Senin (Oct 29, 2012).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->