P. 1
diabetik retinopati

diabetik retinopati

|Views: 55|Likes:
Published by Irene Djedoma

More info:

Published by: Irene Djedoma on Oct 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2013

pdf

text

original

PEMBAHASAN Retinopati diabetik merupakan penyebab kebutaan paling sering ditemukan pada usia dewasa, dimana pasien diabetes

memiliki risiko 25 kali lebih mudah mengalami kebuataan dibanding nondiabetes. Di antara perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur okuler ini yang paling sering menyebabkan komplikasi kebutaan yaitu retinopati diabetik. Retinopati diabetik merupakan penyebab kebutaan paling sering ditemukan pada usia dewasa antara 20 sampai 74 tahun. Durasi diabetes, adalah hal yang paling penting, dimana insiden retinopati diabetik setelah 50 tahun sekitar 50% dan setelah 30 tahun mencapai 90%. Pada kasus ini, pasien adalah wanita berusia 59 tahun yang memiliki riwayat diabetes melitus tipe 2 sejak ± 5 tahun yang lalu. Berdasarkan prevalensi kejadian retinopati diabetik, pasien dengan riwayat DM tipe 2 memiliki resiko tinggi ±25 kali lebih tinggi dibandingkan populasi non- DM. Kontrol glukosa darah yang buruk, berhubungan dengan perkembangan dan perburukan retinopati diabetik. Hipertensi yang tidak terkontrol, biasanya dikaitkan dengan bertambah beratnya retinopati diabetik dan perkembangan retinopati diabetik proliferatif pada DM tipe I dan II. Pada kasus ini, pasien memiliki riwayat DM tipe 2 yang sedang menjalani pengobatan dengan menggunakan tablet metformin. Kadar gula darah puasa terakhir pasien adalah 143 mg/dL dengan tekanan darah terakhir yang diukur saat ke poli mata adalah 160/90 mmHg tanpa konsumsi obat antihipertensi. Hal ini tentu menjadi faktor resiko yang potensial terhadap terjadinya retinopati diabetik. Retinopati diabetik biasanya asimtomatis untuk jangka waktu yang lama. Hanya pada stadium akhir dengan adanya keterlibatan macular atau hemorrhages vitreus maka pasien akan menderita kegagalan visual dan buta mendadak. Gejala Subjektif yang dapat dirasakan dapat berupa kesulitan membaca, penglihatan kabur, penglihatan gand, penglihatan tiba-tiba menurun pada satu mata, melihat lingkaran-lingkaran cahaya jika telah terjadi perdarahan vitreus, melihat bintik gelap dan cahaya kelap-kelip. Pada kasus ini, pasien datang ke poli mata dengan keluhan kabur pada kedua mata yang bersifat progresif yang dirasakan sejak 5 bulan yang lalu. Awalnya pasien masih bisa menggunakan handphone dan mampu mengenali orang, namun lama kelamaan pandangan kabur semakin memberat sehingga pasien sudah tidak mampu mengenali orang dari jarak 2-3

meter dan tidak menggunakan handphone lagi. Pada pasien ini, pasien tidak mengeluhkan nyeri pada mata, hal ini disebabkan karena kelainan pada retinopati diabetik terjadi pada retina dimana neurosensoris pada retina tidak memberikan suplai sensibel. Kelainan-kelainan yang terjadi pada retina tidak menimbulkan nyeri akibat tidak adanya saraf sensoris pada retina. Gejala objektif pada retina yang dapat dilihat berupa mikroaneurisma yang merupakan penonjolan dinding kapiler terutama daerah vena dengan bentuk berupa bintik merah kecil yang terletak dekat pembuluh darah terutama polus posterior, perubahan pembuluh darah berupa dilatasi pembuluh darah dengan lumennya ireguler dan berkelok-kelok seperti sausage-like, Soft exudate yang sering disebut cotton wool patches merupakan iskemia retina, hard exudate yang merupakan infiltrasi lipid ke dalam retina, edema retina, bahkan terbentuknya pembuluh darah baru (neovaskularisasi). Pada kasus ini, tanda-tanda objektif yang mendukung diagnosis diabetik retinopati berdasarkan pemeriksaan visus, funduskopi, slit lamp, dan pemeriksaan dengan lensa 78 dioptri yang memberikan gambaran 3D retinopati mendukung diagnosis ke arah diabetik retinopati non proliferatif yang berupa : Pemeriksaan lokal OD 3/60 Normal Tenang Tenang Jernih Normal Bulat, regular, sentral Positif PSC Jernih Pemeriksaan Visus Palpebra Konjungtiva Palpebra Konjungtiva Bulbi Kornea Kamera Okuli Anterior Iris/Pupil Refleks Pupil Lensa Vitreous OS 1/60 Normal Tenang Tenang Jernih Normal Bulat, regular, sentral Positif PSC Jernih

Funduskopi: Papil nervus II: bulat +/+, batas tegas CDR 0,3 Retina : eksudat (+) ODS 4 kuadran, dot (+), blot (+) Makula : eksudat (+)

Retinopati diabetik dan berbagai stadiumnya didiagnosis berdasarkan pemeriksaan stereoskopik fundus dengan dilatasi pupil.Oftalmoskopi dan foto funduskopi merupakan gold standard bagi penyakit ini. Klasifikasi Retinopati Diabetik berdasarkan ETDRS Retinopati Diabetik Non-Proliferatif 1. Retinopati nonproliferatif minimal : terdapat ≥ 1 tanda berupa dilatasi vena, mikroaneurisma, perdarahan intraretina yang kecil atau eksudat keras. 2. Retinopati nonproliferatif ringan sampai sedang : terdapat ≥ 1 tanda berupa dilatasi vena derajat ringan, perdarahan, eksudar keras, eksudat lunak atau IRMA. 3. Retinopati nonproliferatif berat : terdapat ≥ 1 tanda berupa perdarahan dan mikroaneurisma pada 4 kuadran retina, dilatasi vena pada 2 kuadran, atau IRMA pada 1 kuadran. 4. Retinopati nonproliferatif sangat berat : ditemukan ≥ 2 tanda pada retinopati non proliferative berat.

Pada kasus ini, pasien didiagnosis sebagai retinopati nonproliferatif derajat berat kriteria ETDRS, dimana didapatkan blot dan clot pada 4 kuadran retina tanpa adanya neovaskularisasi. Pada pasien ini juga ditemukan adanya CSME yang terjadi akibat hiperglikemia yang tidak terkontrol sehingga terjadi penurunan perisit pada endotel pembuluh darah retina dan menyebabkan pembuluh darah retina menjadi tipis dan mudah rapuh. Hal inilah yang menyebabkan aneurisma dan eksudat cairan ekstraselular bahkan terjadinya perdarahan. Prinsip utama penatalaksanaan dari retinopati diabetik adalah pencegahan. Hal ini dapat dicapai dengan memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan retinopati diabetik nonproliferatif menjadi proliferatif. 1. Pemeriksaan rutin pada ahli mata

Pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi retinopati diabetik pemeriksaan mata rutin merupakan hal yang penting dilakukan untuk mencegah komplikasi lanjut dan perburukan. Berdasarkan beratnya retinopati dan risiko perburukan penglihatan, ahli mata mungkin lebih memilih untuk megikuti perkembangan pasien-pasien tertentu lebih sering karena antisipasi kebutuhan untuk terapi.9 Jadwal Pemeriksaan Berdasarkan Temuan Pada Retina Abnormalitas retina Normal atau mikroaneurisma yang sedikit Retinopati Diabetik non proliferatif ringan Retinopati Diabetik non proliferatif sedang Retinopati Diabetik non proliferatif berat Edema makula Retinopati Diabetik proliferatif Follow-up yang disarankan Setiap tahun Setiap 9 bulan Setiap 6 bulan Setiap 4 bulan Setiap 2-4 bulan Setiap 2-3 bulan

2. Kontrol Glukosa Darah dan Hipertensi Meskipun kontrol glukosa darah secara intensif tidak dapat mencegah terjadinya retinopati diabetik secara sempurna, namun dapat mengurangi resiko timbulnya retinopati diabetik dan memburuknya retinopati diabetikyang sudah ada.Secara klinik, kontrol glukosa darah yang baik dapat melindungi visus dan mengurangi resiko kemungkinan menjalani terapi fotokoagulasi dengan sinar laser. UKPDS

menunjukkan bahwa control hipertensi juga menguntungkan mengurangi progresi dari retinopati dan kehilangan penglihatan. 3. Fotokoagulasi Grid photocoagulation, suatu teknik penggunaan sinar laser dimana pembakaran dengan bentuk kisi-kisi diarahkan pada daerah edema yang difus. Terapi edema macula sering dilakukan dengan menggunakan kombinasi focal dan grid photocoagulation. 4. Injeksi Anti VEGF Bevacizumab (Avastin) adalah rekombinan anti-VEGF manusia. Sebuah studi barubaru ini diusulkan menggunakan bevacizum intravitreus untuk degenerasi makula terkait usia. Dalam kasus ini, 24 jam setelah perawatan kita melihat pengurangan

dramatis dari neovaskularisasi iris, dan tidak kambuh dalam waktu tindak lanjut 10 hari. Pengobatan dengan bevacizumab tampaknya memiliki pengaruh yang cepat dan kuat pada neovaskularisasi patologis.Avastin merupakan anti angiogenik yang tidak hanya menahan dan mencegah pertumbuhan prolirerasi sel endotel vaskular tapi juga menyebabkan regresi vaskular oleh karena peningkatan kematian sel endotel. Untuk pengunaan okuler, avastin diberikan via intra vitreal injeksi ke dalam vitreus melewati pars plana dengan dosis 0,1 mL.Lucentis merupakan versi modifikasi dari avastin yang khusus dimodifikasi untuk penggunaan di okuler via intra vitreal dengan dosis 0,05 mL.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->