MAHKAMAH AGUNG DAN GAGASAN KEKUASAAN KEHAKIMAN YANG IDEAL

Oleh Eman Suparman I. LATAR BELAKANG PENULISAN DAN PERUMUSAN MASALAH

lazim dipahami, yaitu frase “Mahkamah Agung” dan frase Kehakiman”. Masing-masing frase tersebut

M

elalui judul di atas

penulis hendak mencoba mengurai

pemahaman atas dua frase1 yang dalam wacana hukum di Indonesia, kedua frase itu telah dipertautkan dan sangat “Kekuasaan boleh jadi memiliki pengertian

sendiri-sendiri, yang bisa saja berbeda atau mungkin juga sama. Akan tetapi dalam kenyataannya, kedua frase di atas, telah lama bertaut atau dipertautkan sehingga dalam wacana Hukum Indonesia memiliki makna tertentu yang utuh. Makna tertentu yang utuh tersebut dapat dijumpai dalam pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ’45) yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut: “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut Undang-undang”. Dari rumusan pasal di atas, sepintas dapat diketahui bahwa apa yang disebut dengan Mahkamah Agung adalah salah satu badan atau lembaga yang memiliki tugas melaksanakan kekuasaan kehakiman. Oleh karena, menurut pasal tersebut, di samping Mahkamah Agung masih ada lain-lain badan kehakiman yang juga menjadi pelaksana kekuasaan kehakiman yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang.
1

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata frasa (frase) berarti gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif. Dalam konteks tulisan berikut ini, “Mahkamah Agung “ dianggap sebagai satu frase, begitu juga halnya dengan “Kekuasaan Kehakiman”. Oleh karena itu judul tulisan di atas akan tampak terdiri atas dua frase.

1

Apakah yang dimaksud dengan kekuasaan kehakiman itu? 2. Untuk hal tersebut dengan jelas dapat dijumpai dalam penjelasan resmi pasal 24 dan 25 UUD ‘45. Apakah Kriteria kekuasaan kehakiman yang ideal itu? 4. harus diadakan jaminan dalam Undang2 peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. terdapat beberapa masalah yang perlu ditelusuri jawabannya lebih lanjut. adalah sebagai berikut: 1. 2 . 74. karena penulis mencermati selama ini ada sinyalemen dari berbagai kalangan bahwa telah terjadi gangguan terhadap badan-badan pelaksana kekuasaan kehakiman dalam mewujudkan gagasannya yang ideal.2 Pengertian kekuasaan Negara yang merdeka. demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Lihat Pasal 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Faktor-faktor apakah yang mungkin dapat mempengaruhi pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang merdeka? II. dimaksudkan bahwa kekuasaan kehakiman terpisah dari kekuasaan pemerintahan dan Kekuasaan Perundang-undangan serta merdeka dari pengaruh kedua kekuasaan itu. LNRI Tahun 1970 No.Terhadap persoalan di atas penulis tertarik untuk melakukan kajian lebih lanjut. Dari manakah sumber kekuasaan kehakiman yang harus dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut Undang-undang tersebut? 3. Dalam kerangka rencana kajian tersebut. Bahkan penjelasan tersebut masih menguraikan sebuah harapan yakni: “…Berhubung dengan itu. Adapun salah satu alasan mengapa masalah kekuasaan kehakiman yang ideal ini menarik untuk dikaji. BEBERAPA BATASAN DAN PENGERTIAN “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan Negara yang merdeka untuk menyelenggarakan Indonesia”.

“Kesejahteraan para hakim yang dimaksud antara lain meliputi gaji serta tunjangan para hakim sebagai pejabat negara dengan segala konsekuensinya”. AI Wisnubroto. Yang pasti profesi PNS yang bernama hakim yang selama ini masih menjadi salah satu bagian dari kekuasaan eksekutif memang dituntut sikapnya yang mandiri serta memiliki kemerdekaan sikap dalam menjatuhkan putusannya. halaman 18. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) tersebut gaji pokok hakim dinaikan 100 % sehingga jumlahnya menjadi dua kali lipat gaji pokok Pegawai Negeri Sipil (PNS). juga tidak seluruhnya dapat diterima. termasuk di dalamnya jaminan peningkatan kesejahteraan para hakim.4 Masalah pro dan kontra tentang adanya perbedaan sistem penggajian antara hakim dengan PNS yang bukan hakim tidak terlalu menarik untuk dikaji. Oleh karena itu hakim sebagai organ pelaksana kekuasaan kehakiman. 1997. Salah satu bukti dari upaya tersebut adalah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1994 tentang Peraturan Gaji Hakim.. Jaminan tentang kedudukan para hakim yang dimaksud dalam kaitan ini tidak lain adalah jaminan kemandirian hakim sebagai aparatur penyelenggaraan peradilan. sehingga tidak bernaung di bawah kekuasaan eksekutif dengan berbagai macam atributnya yang kaku.undang tentang kedudukan para hakim. 4 Ibid. Yogyakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya.3 Upaya ke arah itu telah lama dilakukan oleh pemerintah. Hakim dan Peradilan di Indonesia dalam beberapa aspek kajian. Terhadap kebijakan itu seorang penulis memberi komentar: “…merupakan sesuatu yang menggembirakan mengingat selama ini sebagai PNS gaji pokok hakim disamakan dengan gaji pokok PNS lain yang jelas tidak seimbang dengan beratnya tugas dan tanggung jawab hakim”. Akan tetapi adanya asumsi bahwa tanggung jawab hakim lebih berat dari PNS lainnya. idealnya memang merupakan pejabat negara yang bukan bagian dari PNS. halaman 38. 3 3 .

halaman 17. halaman 17. “peradilan adalah pelaksanaan hukum dalam hal konkrit adanya tuntutan hak.7 K. (2) kekuasaan yudikatif (kekuasaan kehakiman). No. golongan dalam masyarakat. Op. 6 5 4 .6 Jika demikian tugas pokok dari kekuasaan kehakiman. 9 Vol. Wantjik Saleh. Wantjik Saleh. sehingga dikhawatirkan pihak yang lemah akan dirugikan”. R. kejujuran. Berdasarkan isyarat konstitusi di atas. maka pemberian kebebasan kepada kekuasaan kehakiman dalam melaksanakan peradilan memang sudah selayaknya. Sistem Peradilan di Indonesia. Jakarta: Simbur Cahaya.M. halaman 2. apalagi yang namanya kekuasaan pemerintahan yang biasanya memiliki jaringan yang kuat dan luas.Sebagaimana telah diketahui bahwa kekuasaan negara itu terdiri atas tiga jenis. dalam Jurnal Hukum.. memeriksa. Sudikno Mertokusumo. Hal itu disebabkan karena perbuatan mengadili adalah perbuatan yang luhur untuk memberikan suatu putusan terhadap suatu perkara yang semata-mata harus didasarkan kepada kebenaran. 4 Tahun 1997. dan (3) kekuasaan eksekutif. dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan. Cit. dan keadilan. Atau dengan kata lain. baik oknum. yaitu: (1) Kekuasaan legislatif. 7 K. fungsi mana dijalankan oleh suatu badan yang berdiri sendiri dan diadakan oleh negara serta bebas dari pengaruh apa atau siapa pun dengan cara memberikan putusan yang bersifat mengikat dan bertujuan mencegah ‘eigenrichting’ ”. Kehakiman dan Peradilan. maka “…kedua kekuasaan yang berada berdampingan dengan kekuasaan kehakiman itu tidak boleh mencampuri segala urusan peradilan yang merupakan realisasi Kekuasaan Kehakiman”. 1976. Oleh karena itu kekuasaan kehakiman memang mutlak “…harus dijauhkan dari tekanan atau pengaruh dari pihak manapun.5 Sementara itu yang dimaksud dengan peradilan sebagai realisasi dari kekuasaan kehakiman mengandung arti: menerima.

seperti eksekutif dan legislatif. SUMBER-SUMBER KEKUASAAN DAN KEKUASAAN KEHAKIMAN Sebagai salah satu bentuk kekuasaan di dalam negara. karena memuat ketentuan-ketentuan yang bertentangan dengan UUD ’45”.8 Sedangkan dalam pasal 1 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985. didefinisikan dalam Undang-Undang tentang Mahkamah Agung. 5 . Kekuasaan Kehakiman (kekuasaan yudikatif) sebenarnya setara dengan kekuasaankekuasaan negara yang lainnya. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh-pengaruh lain”.Mahkamah Agung sebagai salah satu badan yang melakukan kekuasaan kehakiman. Lihat Konsiderans Menimbang huruf “a” dari Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970. Hakikat kekuasaan menurut 8 9 Lihat Pasal 2 UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. UUD ’45 menyerahkan pengaturan selanjutnya kepada undang-undang” (Pasal 24 ayat (2) UUD ’45). Mochtar Kusumaatmadja di dalam tulisannya pernah mengemukakan perihal kekuasaan dan sumbernya. LNRI 1985 Nomor 73. Demikian pula halnya mengenai “susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman itu. Namun UUD ’45 teramat singkat sehingga sama sekali tidak menyebutkan dari mana sumber kekuasaan kehakiman itu berasal. sebagai berikut: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua lingkungan peradilan. III. Mahkamah Agung disebut juga Lembaga Tinggi Negara sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat RI Nomor III/MPR/1978. Oleh karena itu kemudian lahir Undang-undang tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 14 tahun 1970.9 Sepintas akan dikaji terlebih dahulu mengenai hakikat kekuasaan dan sumber-sumbernya. Undang-undang tersebut keluar sekaligus mencabut undang-undang sebelumnya yang dianggap “tidak merupakan pelaksanaan murni dari pasal 24 UUD ’45.

Untuk itu kita membutuhkan hukum. 12 Op. karena karisma nuansanya sedikit berlainan dengan kejujuran atau moral yang tinggi.Mochtar Kusumaatmadja. hanya sedikit bedanya yakni di atas tidak disebutkan unsur karisma sebagai salah satu sumber. Dari tulisan Mochtar Kusumaatmadja di atas. kekuasaan itu untuk dapat bermanfaat harus ditetapkan ruang lingkup. Cit. 11 Ibid. karisma. (4) kekuatan senjata. halaman 10. wewenang. dan batas-batasnya. Pengertian ini sejalan dengan apa yang telah dikemukakan di atas. (5) kekayaan (uang) atau kekuatan ekonomi lainnya. Unsur karisma dirasakan perlu untuk diulas.11 Adapun sumber kekuasaan dapat bermacam-macam. “dalam pelbagai bentuknya itu tetap sama yaitu kemampuan seseorang untuk memaksakan kehendaknya pada pihak lain”. Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional. tergantung [daripada] bagaimana kita menggunakannya. dan (6) dalam keadaankeadaan tertentu kejujuran atau moral yang tinggi dan pengetahuan juga tidak dapat diabaikan sebagai sumber-sumber kekuasaan. arah.10 Selanjutnya beliau mengemukakan: Kekuasaan itu sendiri (an sich) tidak baik atau buruk. Sekali ditetapkan hendaknya pengaturan kekuasaan dipegang teguh. Nomor 1 Tahun 1970. halaman 9. halaman 9. sebagaimana disebut sebagai 10 Mochtar Kusumaatmadja.12 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.. Inilah inti dari pengertian bahwa kekuasaan itu harus tunduk pada hukum. Akan tetapi karena sifat-sifat dan hakikatnya. Kekuasaan didefinisikan sebagai: “Kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan. dapat dicermati kemudian disimpulkan bahwa sumber kekuasaan itu dapat berupa: (1) wewenang formal (formal authority). 6 . (3) pengaruh politik atau kegamaan. dalam Majalah Ilmu Hukum PADJADJARAN. Ia merupakan suatu unsur yang mutlak bagi kehidupan masyarakat yang tertib bahkan setiap bentuk organisasi yang teratur.. (2) kekuatan fisik. atau kekuatan fisik”.

Akan tetapi belum tentu sebaliknya. itu berarti dapat dirunut bahwa sumber asli dari kekuasaan kehakiman pada hakikatnya juga berasal dari rakyat. Artinya wewenang yang diperoleh resmi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang sah. Mungkin saja karisma dapat lahir karena seseorang memiliki kejujuran atau moral yang amat tinggi atau terpuji. hingga tulisan ini disusun penulis belum pernah mengetahui perihal adanya kewajiban penyelenggara kekuasaan kehakiman untuk menyampaikan pertanggung-jawaban atas tugas dan kewajibannya kepada seluruh rakyat sebagai pemberi kekuasaan. Bahkan mengenai hal itu pun sama sekali tidak pernah dianggap penting untuk dilakukan. Akan tetapi. Jika sumber kekuasaan kehakiman dapat dipastikan berasal dari ketentuan undang-undang yang mengatur kekuasaan tersebut. Menyimak paparan di atas. maka Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 dengan segala perubahan dan perbaikannya melalui undang-undang yang baru dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.salah satu sumber kekuasaan di atas. Manakala demikian. menjadi sumber bagi penyelenggaraan kekuasaan kehakiman di Indonesia. tampaknya kekuasaan kehakiman yang diamanatkan oleh UUD ’45 untuk diselenggarakan oleh Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang. karena selama ini kekuasaan 7 . Mengapa demikian? Hal itu disebabkan Undang-undang yang menjadi dasar kekuasaan kehakiman itu dihasilkan bersama oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (pasal 5 ayat (1) UUD ’45). Karisma mengandung arti “keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya”. seseorang yang berkarisma lantas otomatis ia memiliki kejujuran atau moral yang tinggi. boleh jadi sumbernya semata-mata pada wewenang formal.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas. golongan. Separoh bagian yang lainnya dikuasai oleh Mahkamah Agung sebagai salah satu badan penyelenggara Buktinya. Departemen Kehakiman tercatat dalam skenario sejarah penegakan hukum di Indonesia telah memerankan fungsinya sebagai penguasa atas separoh sosok pribadi hakim.kehakiman dianggap merupakan bagian dari kekuasaan eksekutif. Sebuah perkembangan baru di negara ini yakni terhitung mulai tanggal 29 Oktober 1999 urusan-urusan yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dicoba dieliminir dari lingkungan kekuasaan eksekutif. tuntutan dari UUD ’45 itu sendiri sudah amat jelas. sehingga si penyusun penjelasan 8 . sehingga cukup jika yang melaporkan tanggung jawabnya dilakukan oleh Presiden saja. Lebih lanjut urusan organ peradilan dari tingkat yang paling rendah hingga yang tertinggi seyogianya harus diurus oleh lembaga yudikatif sendiri. Salah satu upayanya antara lain dihapus dan berganti namanya Departemen Kehakiman menjadi Departemen Hukum dan Perundang-undangan. Mahkamah Agung-lah (yudikatif) yang berkompeten untuk menilai hakim bawahan pada pengadilan rendahan. Upaya ini tentu saja bermaksud mengeluarkan urusan-urusan yang berkenaan dengan organ peradilan yang adalah penyelenggara kekuasaan kehakiman dari tubuh eksekutif. kekuasaan kehakiman. yakni kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka. serta penghasilan dan sistem penggajiannya selama itu berada di bawah kendali Departemen Kehakiman (eksekutif). Lima dekade lebih sedikit. baik atau buruknya dalam memberikan pertimbangan putusan. Demikian strategisnya kekuasaan kehakiman dalam konteks kekuasaan negara dalam arti makro. artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Sementara itu urusan yang menyangkut benar atau tidaknya. Semoga saja hal itu merupakan salah satu upaya ke arah pemurnian kembali dari pelaksanan pasal 24 UUD ’45 yang selama kurun yang lampau seakan kurang dihiraukan pembiasannya. pangkat.

(2) Baik menurut aturan dan kesepakatan masyarakat manusia yang sehat dan berakal sehat di manapun dan apa pun bangsanya. khususnya menyangkut kekuasaan kehakiman menjadi menyimpang dari konstitusi yang telah disepakati para pendiri negara ini. sesuatu yang dicita-citakan atau dianganangankan oleh setiap manusia yang sehat jasmani dan juga berakal sehat. Hal itu jelas dapat dijumpai dari pasal 25 dan 24 UUD ’45 beserta penjelasan resminya. Akibat penafsiran asas kekeluargaan yang keliru dan bias itulah maka selama ini sendi-sendi utama dalam berbangsa dan bernegara. Adalah sangat autentik keinginan para perumus UUD ’45 untuk menciptakan kekuasaan kehakiman yang merdeka. terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Dalam kehidupan masyarakat manusia. Persoalannya kemudian. Dalam konteks gagasan kekuasaan kehakiman yang ideal. serta (3) Baik menurut individu yang menilai dan memiliki sifat dan kecenderungan untuk baik itu sendiri. yakni: (1) Baik berdasarkan aturan Tuhan Yang Maha Pencipta. tentu saja kriteria kekuasaan kehakiman yang ideal itu sebagaimana yang dicita-citakan atau diangan-angankan oleh para pendiri Republik Indonesia. selalu sesuatu yang baik. KRITERIA KEKUASAAN KEHAKIMAN YANG IDEAL Kata “Ideal” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti “sesuai dengan yang dicita-citakan atau diangan-angankan atau dikehendaki”.resmi UUD ’45 menguraikan seperti itu. mengapa para penyelenggara negara ini dalam perjalanan sejarahnya membuat penafsiran yang lain dari apa yang dicita-citakan atau diangan-angankan para pendahulunya itu? Jawaban untuk hal itu tidak mudah untuk dicari. IV. Tulisan ini pun tidak bermaksud untuk mencari jawaban 9 . Ukuran baik itu sendiri harus objektif dan universal. Oleh karena itu tidak memiliki cukup alasan untuk mengatakan bahwa mekanisme penyelenggaraan negara Indonesia berdasarkan UUD ’45 itu berlandaskan pada asas kekeluargaan. Kriteria baik sekurang-kurangnya harus didasarkan pada tiga ukuran.

adalah Kepala Negara. 13 . Upaya pemurnian pelaksaan pasal 24 dan 25 UUD ’45 sebenarnya telah dilakukan tatkala UU Nomor 14 Tahun 1970 diundangkan. kewajiban.tersebut. Namun sekurang-kurangnya berusaha mengingatkan bahwa selama ini telah berlangsung sesuatu tindakan yang kurang sesuai dengan harapan semula para pendiri negara ini. Meskipun di Indonesia Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dipegang oleh satu orang. Cetak miring oleh penulis. Apakah pasal ini telah mengindikasikan bahwa pengisian lembaga tinggi negara yang bernama Mahkamah Agung itu telah sesuai dengan cita-cita konstitusi UUD 1945 atau tidak. yang pasti DPR sebagai wakil rakyat telah terlibat dalam pencalonannya.. Pasal 2 UU Nomor 14 Tahun 1985. dan wewenang kedua jabatan itu secara konstitusional berlainan. namun tugas. Penjelasan pasal tersebut kembali menegaskan bahwa “kekuasaan kehakiman yang merdeka mengandung arti kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan negara lainnya. hak. Di dalam pasal 1 Undang-undang tersebut kembali ditegaskan cita-cita konstitusi di atas. upaya penegasan akan cita-cita kekuasaan kehakiman yang merdeka itu diulang kembali. tegas menyebut: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua lingkungan peradilan. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh-pengaruh lain”.”. Eman Suparman 10 . Demikian pula ketika Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung diundangkan. Demikian pula jika diperhatikan siapa yang mengangkat Hakim Agung.13 Dalam hal pengangkatan Hakim Agung. yaitu: “Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan…”. Undang-undang Mahkamah Agung mengatur bahwa “Hakim Agung diangkat oleh Kepala Negara dari daftar nama calon yang diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat” [Pasal 8 ayat (1)].

Bukankah persoalan campur tangan kekuasaan eksekutif itulah yang menjadi isu sentral tidak merdekanya kekuasaan kehakiman selama ini? Masalah selanjutnya adalah Bagaimana mungkin Mahkamah Agung sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman dapat sepenuhnya merdeka. 11 . ada baiknya jika disimak lebih lanjut secara saksama Undang-undang tentang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985. Pemerintah. dan Mahkamah Agung yang pelaksanaannya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku bagi lembaga masing-masing”. Dalam ayat (1) diuraikan: “Daftar nama calon Hakim Agung yang berasal baik dari kalangan Hakim karier maupun dari luar kalangan Hakim karier disusun berdasarkan konsultasi antara Dewan Perwakilan Rakyat. Sangat kental nuansa keterlibatan kekuasaan eksekutifnya di sana. ketika itu. Secara substansial Undang-undang tentang Mahkamah Agung masih memberikan toleransi atas keterlibatan kekuasaan eksekutif terhadap yudikatif. Terbukti Undang-undang tentang Mahkamah Agung masih memuat ketentuan semacam itu. Akibatnya UU tersebut masih mengesankan kuatnya pengaruh pemerintah terhadap kekuasaan kehakiman di dalamnya. Lebih-lebih penjelasan ayat (2) yang tegas menyebut Pemerintah adalah Menteri yang bersangkutan. mari disimak penjelasan resmi atas pasal 8 UU Nomor 14 Tahun 1985 tersebut. Dari penjelasan dua ayat di atas diperoleh gambaran betapa pengaruh pemerintah terhadap kekuasaan kehakiman belum sama sekali tereliminasi.Dalam rangka melakukan kajian atas kemerdekaan kekuasaan kehakiman ini. Buktinya. Dalam ayat (2) diuraikan: “Yang dimaksud dengan “Pemerintah” adalah Menteri yang bersangkutan”. Oleh karena yang dimaksud dengan Menteri dalam ayat itu tidak lain adalah Menteri Kehakiman. Masalahnya Undang-undang tersebut di sana sini masih mengandung anasir-anasir pencambur-bauran kekuasaan.

termasuk diantaranya dua orang Hakim Agung. Lev. Oleh karena itu sangat beralasan jika dalam menyongsong “Era Indonesia Baru” sebelum Kabinet Persatuan Nasional 1999-2004 terbentuk. tetapi kecenderungan pemerintah sendiri yang terlalu luas jangkauan kekuasaannya. maka bukan gagasannya yang tidak deal. antara lain. 1990. Demikian jelasnya apa yang menjadi ius constituendum (das sollen) dari para founding fathers Republik Indonesia tentang kekuasaan kehakiman yang ideal. halaman 50. Upaya tersebut terutama dilakukan untuk mereduksi kecenderungan terlalu luasnya kekuasaan pemerintah (Presiden) berdasarkan UUD ’45 terhadap kekuasan-kekuasaan negara yang lainnya. organisasi kehakiman yang mandiri. menyusun seperangkat usulan untuk pasal-pasal konstitusi yang berkenaan dengan organisasi dan kekuasaan kehakiman. Barangkali ada baiknya sedikit menengok apa yang pernah diupayakan semasa Pemerintahan Orde Lama.14 Terhadap hal tersebut Lev Daniel S. Tugas utama para penyelenggara negara di masa-masa yang akan datang adalah mengembalikan kekuasaan kehakiman itu kepada porsi yang sesuai dengan das sollen-nya. dengan pengangkatan sebagai hakim untuk seumur hidup”. dipimpin dan dikelola oleh Mahkamah Agung. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) berupaya mengamandemen UUD ’45. Jika dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan Indonesia kemudian diinterpretasikan berbeda dengan cita-citanya semula. bukan berarti Indonesia tidak pernah memiliki gagasan ideal tentang kekuasaan kehakiman. Ketika itu tahun 1956 sejumlah hakim. Hukum dan Politik di Indonesia Kesinambungan dan Perubahan. Jakarta: LP3ES. 14 12 . “Pasal-pasal tersebut memuat ketentuan.sedangkan pengisian organ-organnya saja yakni para hakim agungnya diangkat dengan keterlibatan pemerintah? Apabila demikian adanya norma yang mendasari kekuasaan kehakiman di Indonesia.

Wirjono Prodjodikoro menggambarkan Kabinet dan Mahkamah Agung setaraf.15 Tindakan menghapus Departemen Kehakiman dan menggantinya menjadi Departemen Hukum dan Perundang-undangan. halaman 72. Akan tetapi persoalannya tidak sesederhana yang dibayangkan. boleh jadi merupakan reaktualisasi gagasan lama dalam rangka memurnikan pelaksanaan pasal 24 dan 25 UUD ’45. relevan kiranya apa yang diungkapkan Daniel S. Fungsi kekuasaan kehakiman yang dimaksud antara lain sebagai lembaga yang mengontrol atau mengawasi pelaksanaan hukum atau perundang-undangan (produk legislatif) oleh lembaga eksekutif (pemerintah). Op. masing-masing tunduk pada kemauan Parlemen. Lev. sesungguhnya terkait erat dengan fungsi kekuasaan kehakiman itu sendiri. Cit.. Masalah berat masih menghadang di depan. Lembaga pengadilan sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman belum sepenuhnya diberi wewenang untuk mengawasi badan-badan lainnya dalam pemerintahan.. 13 .16 Padahal gagasan kekuasaan kehakiman yang merdeka yang diadopsi Indonesia dari konsep aslinya17 itu. Menurutnya. Lev berikut ini: “Kemandirian badan kehakiman mengandung harapan meningginya prestise dan kemampuan forum kelembagaan mereka dan bahkan 15 16 17 Daniel S. Menutup paparan pada bagian ini. Ibid. Kabinet mengangkat pegawainya sendiri dan Mahkamah Agung mengangkat dan mengelola para hakim”. Bahkan wewenang demikian cenderung untuk dipertahankan dan tidak pernah akan diberikan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan politik. “…berarti harus dilepaskannya pengadilan dari Kementrian Kehakiman dan dikuranginya pengawasan pihak eksekutif terhadapnya. halaman 51 Yang dimaksud dengan konsep aslinya adalah Ajaran Trias Politica dari Montesquieu.selanjutnya memberikan komentar.

. Ram yang diputus bebas. Isi surat tersebut adalah permintaan agar Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat mengajukan permohonan Peninjauan Kembali terhadap putusan pidana atas nama Ram Gulumal alias V.19 Ironisnya akhir-akhir ini sorotan terhadap profesi hakim sebagai pejabat yudikatif amat gencar.b. atau dengan kata lain jika badan kehakiman dapat dibedakan secara tajam dari birokrasi pemerintahan”. Lev. Namun kenyataannya.20 Merebaknya isu tersebut semakin kuat dengan munculnya “kasus dugaan kolusi yang terjadi di Mahkamah Agung RI” yang menggegerkan masyarakat pada awal tahun 1996. dalam menjalankan tugasnya. hakim tidak berada di ruangan yang hampa. BEBERAPA FAKTOR YANG MUNGKIN DAPAT MEMPENGARUHI PELAKSANAAN KEKUASAAN KEHAKIMAN YANG MERDEKA Sebagai pejabat yudikatif..18 V. seorang hakim dituntut memiliki jiwa yang teguh dalam mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka. Op.akan menyebabkan para hakim lebih tanggap terhadap kepentingan profesional. 18 19 20 Daniel S. 14 . termasuk di dalamnya sistem kekuasaan. Adapun alasan mengapa harus diajukan permohonan peninjauan kembali. Op. Kasus yang amat mempermalukan lembaga penyelenggara kekuasaan kehakiman itu bermula dari bocornya “Surat Rahasia” Ketua Muda Bidang Pidana Umum yang ketika itu dijabat oleh H.. Cit. halaman 84 Baca AI Wisnubroto. halaman 398. Wakil Ketua MA RI kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Adi Andojo Soetjipto u. Ia terkait dengan sistem yang ada. tanggal 19 Desember 1995 Nomor 18/Pidum/XII/95. Apalagi jika badan ini dapat bekerja sesuai dengan ketentuan formal. Bahkan muncul istilah Kolusi Peradilan dengan tuduhan hakim dagang hukum. Cit. halaman 48. Ibid. AI Wisnubroto.

Pengaruh dari kekuasaan pemerintah (eksekutif) ini yang paling pertama dan boleh jadi cukup dominan. Jakarta: Pustaka Forum Adil Sejahtera. Adi Andojo Soetjipto dapat dibaca dalam buku Menyingkap Kabut Peradilan Kita. misalnya berupa kekayaan (uang) atau kekuatan ekonomi lainnya. 1996 halaman 53-87. Mahkamah Agung memiliki tugas yang terbatas. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. sehingga segala tindakannya menjadi tidak merdeka. bahwa hakim sebagai organ kekuasaan kehakiman berada pada dua kubu.karena telah didapatkan adanya kolusi antara terdakwa/penasihat hukumnya dengan Majelis Hakim Agung yang mengadili perkara tersebut. Kedua jenis pengaruh di atas boleh jadi merupakan jenis pengaruh yang paling dominan dan paling efektif hasilnya. Kalau pun tidak dikatakan tidak ada lagi sama sekali. Sementara yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat Mengenai Kronologis Terjadinya Masalah Kolusi di Mahkamah Agung ditulis oleh H. Sebagaimana telah diutarakan terdahulu. Wujud pengaruh yang pertama dari kekuasaan pemerintah (eksekutif) dapat berupa tekanan langsung maupun tidak langsung melalui sistem birokrasinya. yaitu hanya melakukan pengawasan atas hal-hal yang berkaitan dengan masalah teknis yustisial. Kedua bentuk pengaruh di atas pada dasarnya memiliki tujuan yang serupa. Lebih-lebih pada masa lalu Peradilan di Indonesia berada pada konsep dualisme birokrasi.21 Berdasarkan sumber dan wujudnya. pengaruh yang bersumber dari faktor kekuasaan lain. Oleh karena hampir dapat dipastikan tidak ada faktor-faktor lain yang memiliki tingkat signifikansi setara dengan kedua jenis sumber pengaruh di atas. sekurang-kurangnya terdapat dua jenis pengaruh yang secara dominan memiliki potensi untuk menyelewengkan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka. 21 15 . Terhadap para hakim rendahan. pengaruh yang bersumber dari kekuasaan pemerintah (eksekutif). Pertama. Sedangkan bentuk pengaruh yang kedua bisa saja sangat konkrit. dan Kedua. yakni melakukan tekanan terhadap pemegang kekuasaan kehakiman.

Adapun pengaruh dari faktor kekuasaan lain yang diyakini secara umum adalah pengaruh dari kekayaan (uang) atau kekuatan ekonomi lainnya. dan (3) Kasus gugatan Majalah Tempo melawan Departemen Penerangan. Untuk jenis pengaruh yang kedua ini. adalah merupakan 22 Lihat AI Wisnubroto. Tuduhan adanya mafia peradilan yang dikemukakan oleh salah seorang mantan Hakim Agung beberapa tahun yang lalu.administratif kepegawaian dan penggajian kewenangannya berada di bawah kendali Departemen Kehakiman (eksekutif). dugaan adanya kolusi bahkan korupsi. Apalagi jika kekuasaan eksekutif cenderung bersifat arogan”. Pendekatan-pendekatan “non juridis” sangat diperlukan. 16 . sebagai berikut: “Bagi sebagian besar praktisi hukum. di lingkungan peradilan bukanlah suatu yang aneh atau mengejutkan. halaman 85.22 Beberapa contoh kasus yang memberi indikasi adanya pengaruh kekuasaan eksekutif terhadap putusan hakim antara lain (1) Putusan Mahkamah Agung mengenai Peninjauan Kembali perkara Gugatan Warga Kedung Ombo yang lahan garapan dan miliknya tergenang atau digenangi oleh air Waduk Kedung Ombo. (2) Putusan atas gugatan tanah adat terhadap Pemerintah Propinsi DT I Irian Jaya (Kasus Henock Hebe Ohee). Seorang penulis memaparkan hasil pengamatannya yang patut menjadi perhatian. tidak heran bila kemudian “pihak-pihak tertentu dari kalangan eksekutif lalu memanfaatkan kekuasaan melalui sistem birokrasinya untuk mempengaruhi kebebasan hakim dalam menjalankan fungsinya.. timbullah fenomena korupsi dan kolusi yang menyelewengkan kekuasaan kehakiman yang merdeka. Oleh karena itu. Cit. Op. Sudah tidak menjadi rahasia di kalangan Pengacara. bahkan tidak jarang lebih menentukan dari faktorfaktor juridis. bahwa mereka tidak boleh bergantung hanya kepada argumentasi-argumentasi juridis untuk memenangkan perkara yang mereka tangani di Pengadilan.

Sebagai salah satu sumber kekuasaan. banyak hakim tertangkap basah ketika menerima uang suap di kantornya. Tidak seperti pada masa nilai-nilai tradisional masih kuat. Dengan demikian kedua-dua jenis pengaruh itu memiliki kesetaraan dalam menggelincirkan kemerdekaan kekuasaan kehakiman. Menarik kiranya jika paparan berikut ini disimak sekaligus dijadikan sebagai penutup pada bagian kelima ini. Sebab. Kasus Pemalsuan Keputusan Mahkamah Agung pernah terbongkar beberapa tahun lalu.indikasi bagaimana mengkhawatirkannya tingkat kolusi di lingkungan peradilan di Indonesia”. 24 Dikutip oleh Yasonna H. 1987 halaman 108.24 Mencermati penuturan seorang penulis di atas. “Kelihatannya pendewaan materi dalam dua dekade ini semakin terlihat dominan. Jabatan saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan penumpukan harta. 1996. Orang yang mampu menumpuk kekayaan dan menunjukkan gaya hidup mewah dipandang sebagai orang yang berhasil dan mempunyai status sosial yang tinggi. semakin yakin bahwa kekayaan (uang) atau kekuatan ekonomi lainnya merupakan salah satu sumber kekuasaan. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. Pada masa Operasi Tertib Pusat (Opstibpus) tahun 1970-an akhir sampai awal tahun 1980-an. kekayaan (uang) ternyata pengaruhnya tidak kalah dominan jika dibandingkan dengan pengaruh kekuasaan pemerintah (eksekutif). dan Fungsi. 23 17 . “Sebenarnya kasus kolusi yang mencoreng wajah Mahkamah agung bukanlah hanya sekali ini saja.23 Selanjutnya Yasonna mengemukakan. Jakarta: LP3ES. [17]. tanpa mempersoalkan apakah harta Lihat Yasonna H. Korupsi: Sifat. Jakarta: Pustaka Forum Adil Sejahtera. halaman 17-38. Kolusi: Fenomena atau Penyakit Kronis. Hakim tersebut meminta uang suap kepada seorang nyonya sebesar 50 juta rupiah untuk memenangkan perkaranya”. dalam Menyingkap Kabut Peradilan Kita. Laoly dari Syed Hussein Alatas. Laoly. Pada saat ini status sosial sudah ditentukan dengan keberhasilan mengakumulasi harta kekayaan.

Batasan apa yang benar dan tidak benar. Ketiga. Bila ditelusuri hakikat sumbernya. Seperti telah dikemukakan bahwa pengaruh yang acapkali sangat dominan dalam menggelincirkan pemegang kekuasaan kehakiman. PENUTUP Mengakhiri seluruh paparan dalam penulisan makalah ini. Kedua. Laoly. 18 . Akibatnya korupsi dianggap sebagai suatu hal yang wajar saja. Bahkan orang-orang yang tidak menggunakan kesempatan yang ada dianggap sebagai orang-orang aneh”. Keempat. Baik pengaruh kekuasaan maupun kekayaan atau uang dan yang sejenisnya. halaman 17-38. penulis mencoba menyimpulkan sebagai berikut: Pertama.25 V. Kekuasaan kehakiman dalam suatu negara adalah cabang ketiga dari kekuasaan negara yang keberadaannya setara dengan cabang-cabang kekuasaan negara yang lainnya. yakni kesepakatan rakyat. [33]. Tentu saja jika dirunut lebih jauh akan bermuara pada Causa Prima. yakni Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai Sumber dari segala Sumber. sehingga kekuasaan tersebut sudah seyogianya terbebas dari pengaruh kekuasaan negara atau kekuasaan pemerintahan yang lainnya. seluruh cabang kekuasaan dalam negara memiliki sumber yang sama dan hanya satu. sah dan tidak sah menjadi kabur. Kekuasaan Kehakiman termasuk kriteria yang ideal manakala kekuasaan tersebut dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang serta terbebas dari pengaruh apa pun dan siapa pun. Cit.tersebut diperoleh secara halal atau tidak.. sehingga tindakannya tidak lagi merdeka sebagaimana harapan dan idealnya 25 Yasonna H. Op.

halaman 53-87. SOETJIPTO. SALEH. Yogyakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya.. Hakim dan Peradilan di Indonesia dalam Beberapa Aspek Kajian.. SUBEKTI. “Sistem Peradilan di Indonesia”. 4. Jakarta: Pustaka Forum Adil Sejahtera. halaman 5-16. LAOLY.M. Menyingkap Kabut Peradilan Kita. Sudikno. Kehakiman dan Peradilan. Daniel S. dalam Jurnal Hukum. “Uraian Secara Kronologis Terjadinya Masalah Kolusi di Mahkamah Agung”. Mochtar. Hukum dan Politik di Indonesia Kesinambungan dan Perubahan. Yasonna H.. Nomor 1 September 1970. halaman 1-8. Jakarta: LP3ES. “Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional”.. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. Aldentua & Tumpal Sihite (ed). Jakarta: Forum Adil Sejahtera. Kolusi: “Fenomena atau Penyakit Kronis”. LEV. K. 19 . A I. R.sebuah kekuasaan kehakiman adalah pengaruh kekuasaan pemerintah (eksekutif) dan kekayaan (uang) atau kekuatan ekonomi lainnya. 1980. 1996. SIRINGORINGO. DAFTAR BACAAN KUSUMAATMADJA. Bandung: Alumni. dalam Menyingkap Kabut Peradilan Kita. Nomor 9 Vol. 1997. 1997. 1996. WISNUBROTO. 1996. Kekuasaan Mahkamah Agung RI. Wantjik. Jakarta: Pustaka Adil Sejahtera. R. dalam Menyingkap Kabut Peradilan Kita Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. 1976. 1990. MERTOKUSUMO. dalam Majalah PADJADJARAN. Adi Andojo. halaman 17-38. Jakarta Simbur Cahaya.