You are on page 1of 21

LAPORAN KASUS STASE 6 PROGRAM POKOK PUSKESMAS Permasalahan target Balita Timbang yang Tak Tercapai Pada Program

KIA Di Puskesmas Jatilawang

Disusun Oleh

Ndaru Kartyka Sari Arga Ilyasa K Riky widiaresa N

K1A004023 K1A005051 K1A005093

Pembimbing : dr. Diah Krisnansari

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2010 LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS STASE 6 PROGRAM POKOK PUSKESMAS Permasalahan Target Balita Timbang yang Tak Tercapai Pada Program KIA Di Puskesmas Jatilawang

Disusun untuk memenuhi sebgian syarat dari Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas/ Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Disusun Oleh : Ndaru Kartyka Sari Arga Ilyasa K Riky widiaresa N K1A004023 K1A005051 K1A005093

Telah dipresentasikan dan disetujui Tanggal……

Preceptor Lapangan

Preceptor Fakultas

dr. Zaenal Arifin

dr. Diah Krisnansari

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan kepaniteraan klinik muda tentang “Evaluasi program Puskesmas” di Puskesmas Jatilawang Kabupaten Banyumas. Laporan ini merupakan salah satu syarat dalam melaksanakan kepaniteraan klinik Pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Kedokteran Komunitas dan Ilmu Kesehatan Masyarakat di Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman, yang dilaksanakan selama 6 minggu di Puskesmas Jatilawang, Kabupaten Banyumas.. Penyusunan laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih atas saran, masukkan, dan bimbingan dalam penyusunan Laporan ini kepada: 1. dr. Zaenal Arifin, selaku dokter puskesmas yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan laporan ini 2. TIM IKK/IKM Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman 3. Para petugas Kesehatan Puskesmas Jatilawang yang telah banyak memberikan bantuan dan pengetahuan bagi kami 4. Rekan-rekan Koas IKK/IKM Unsoed. 5. Keluarga, yang tiada henti memberikan dukungan dalam pendidikan kami 6. Semua pihak yang telah membantu dan tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini banyak terdapat kekurangan, sehingga diharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat sebaik-baiknya bagi semua pihak.

Jatilawang, februari 2010

Penyusun DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………............ BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………............... A. LATAR BELAKANG ……………………………………………………. B. TUJUAN PENULISAN ………………………………………………….. C. MANFAAT PENULISAN ……………………………………………….. BAB II ANALISIS POTENSI DAN IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS A. SWOT ……………………………………………………………………… B. IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS DARI HASIL ANALISIS SWOT.... BAB III PEMBAHASAN ISU STRATEGIS DAN ALTERNATIF YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK MENGANTISIPASI ISU STRATEGIS TERSEBUT............................................................................................................... .. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………………....... A. KESIMPULAN …………………………………………………….. B. SARAN ……………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………. LAMPIRAN …………………………………………………………………………

I.

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Keberhasilan pembangunan berperan penting dalam meningkatkan mutu dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Berdasarkan Kepmenkes no. 128 tahun 2004 Puskesmas adalah penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan untuk jenjang tingkat pertama. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas sebagai pusat pembangunan kesehatan

memegang peranan yang penting karena fungsi dari puskesmas adalah mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan pokok yang menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya. Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat. Misi pembanguan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembanguan kesehatan nasional, yaitu: menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya; mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya; memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan, dan

keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan puskesmas; memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan

masyarakat beserta lingkungannya. Menuju terlaksananya visi dan misi tersebut perlu dilakukan analisis situasi kesehatan khususnya di Puskesmas Jatilawang sebagai puskesmas

rawat inap satu-satunya di wilayah Jatilawang dan sekitarnya. Disamping letaknya sangat strategis, dukungan lintas sektoral dan dukungan wilayah sekitar Rawalo menjadikan pengembangan Puskesmas Jatilawang diharapkan mampu melaksanakan misi tersebut dan menjadi kebangggaan bagi masyarakat Jatilawang dan sekitarnya dibidang kesehatan. Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan dasar pada masyarakat, dalam pelaksanaan kegiatannya dijalankan dalam bentuk 6 program pokok Puskesmas. Namun pada umumnya program pokok Puskesmas ini belum dapat dilaksanakan secara optimal. Adanya keterbatasan dan hambatan baik di Puskesmas maupun masyarakat dalam pelaksanaan program pokok Puskesmas maka untuk mengatasinya harus berdasarkan skala prioritas sesuai permasalahan yang ada, dengan memanfaatkan potensi yang ada di masyarakat dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan, telah diakui semua pihak. Untuk itu, Puskesmas melakukan koordinasi terhadap semua upaya dan sarana pelayanan yang ada di wilayah kerjanya sesuai dengan kewenangannya serta melaksanakan pembinaan terhadap peran serta masyarakat dalam upaya meningkatkan status kesehatan. Dalam tatanan Otonomi Daerah di bidang Kesehatan, Sistim Informasi Kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting artinya bagi suatu wilayah itu sendiri misalnya di Kecamatan Jatilawang, yaitu sebagai sarana penyedia indikator-indikator yang menunjukkan tercapai atau tidaknya kegiatankegiatan yang telah dilaksanakan. Tujuan pelaksanaan program posyandu yang salah satunya adalah mempertahankan posyandu dan meningkatkan status gizi kesehatan pada ibu dan anak maka pemasyarakatan posyandu diharapkan partisipasi masyarakat meningkat ditandai dengan kedatangan ibu ke Posyandu secara rutin tiap bulan. (Depkes RI. 1994) Diantara kegiatan sistem informasi posyandu yaitu ketrampilan dalam pengisian KMS, KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak. KMS harus dibawa ibu setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa kesehatan anak dengan demikian pada tingkat keluarga KMS

merupakan laporan lengkap bagi anak yang bersangkutan, sedangkan pada lingkungan kelurahan bentuk pelaporan tersebut dikenal dengan SKDN. Pengertiannya S adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu, K adalah jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS, D adalah jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini, N adalah jumlah balita yang naik berat badanya. Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan penimbangan (K/S), kesinambungan kegiatan penimbangan

posyandu (D/K), tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan (D/S), kecenderungan status gizi (N/D), efektifitas kegiatan (N/S). (Suhardjo. 1996) Dari enam program pokok yang telah dijalankan, salah satu program yaitu KIA dengan gizi Berdasarkan data yang ada pada tahun 2009 jumlah angka kunjungan balita yang ditimbang belum memenuhi target yang diharapkan sebesar 80%. B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum Mampu menganalisis masalah kesehatan dan berbagai metode pemecahan masalah kesehatan masyarakat 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui gambaran umum keadaan kesehatan di wilayah Kecamatan Jatilawang. b. Mengenal dan mengetahui gambaran umum Puskesmas Jatilawang sebagai pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama. c. Mengetahui secara umum program dan cakupan program Puskesmas Jatilawang. d. Mengetahui pelaksanaan dan keberhasilan program-program kesehatan di Puskesmas Jatilawang Kabupaten Banyumas. e. Menerapkan cara identifikasi masalah f. Menentukan prioritas dan penyebab masalah kesehatan g. Menentukan alternatif pemecahan masalah kesehatan masyarakat h. Menganalisis kekurangan dan kelebihan pelaksanaan program-program Puskesmas Jatilawang C. MANFAAT PENULISAN

a. Sebagai bahan wacana bagi Puskesmas untuk memperbaiki kekurangan yang mungkin masih ada dalam 6 program pokok Puskesmas Jatilawang. b. Sebagai bahan pertimbangan bagi Puskesmas untuk melakukan evaluasi dalam kinerja Puskesmas. c. Sebagai bahan untuk perbaikan Puskesmas kearah yang lebih baik guna mengoptimalkan mutu pelayanan kepada masyarakat pada umumnya dan individu pada khususnya. d. Sebagai bahan untuk memperbaiki kekurangan yang masih dimiliki oleh Puskesmas.

II. ANALISIS POTENSI DAN IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS
A. Analisis SWOT Puskesmas Jatilawang yang wilayah kerjanya membawahi 11 desa saat ini hanya dibantu oleh dua Puskesmas Pembantu (PUSTU) di desa Gentawangi dan desa Bantar. Kondisi ini sebenarnya dirasa pihak Puskesmas sangat memberatkan, mengingat wilayah kecamatan Jatilawang sangat luas, bahkan ada beberapa daerah perbukitan yang sulit dijangkau alat transportasi. Data tahun 2009 menunjukan jumlah tenaga medis, paramedis, dan non-medis. Berdasarkan data yang ada pada tahun 2009 jumlah angka kunjungan balita yang ditimbang belum memenuhi target yang diharapkan sebesar 80%. Puskesmas Jatilawang yang memiliki wilayah kerja sebanyak 11 desa, berdasarkan dari data sekunder yang ada menunjukan jika desa Bantar merupakan desa yang paling rendah dalam pencapaian target yang diharapkan. Target yang tercapai hanya 62,7% ini jauh dari SPM sebesar 80%. Apabila kita menggunakan analisa SWOT mengenai masalah Gizi pada progaram penimbangan balita didapat informasi sebagai berikut : a. Strength  Puskesmas Jatilawang memiliki letak yang strategis, yaitu di tepi jalur utama Purwokerto-Jakarta-Bandung, sehingga memudahkan akses layanan kesehatan. Memiliki sarana dan prasarana kesehatan yang cukup lengkap, seperti laboratorium dan instalasi gawat darurat dengan peralatan yang cukup memadai.   Memiliki sarana non kesehatan yang cukup memadai, yaitu dua sepeda motor kantor dan satu mobil Puskesmas Keliling. Memiliki tenaga kesehatan yang loyal dan mau bekerja keras untuk kemajuan Puskesmas. b. Weakness  Kurangnya pemberian informasi melalui tenaga kesehatan dan

pemasangan poster yang menunjukkan tentang pentingnya penimbangan balita di posyandu.

c. Opportunity  Warga Jatilawang kurang perhatian khususnya orang tua balita, hal ini dilihat dari masih kurangnya anka kunjungan balita dalam kegiatan posyandu sehingga jumlah balita yang ditimbang sedikit.  Banyak warga Jatilawang yang mudah dijadikan kader kesehatan, saat ini sudah terbentuk kader kesehatan di bidang Imunisasi, KB, dan Posyandu, baik balita maupun lansia.    Kurangnya keikutsertaan tokoh masyarakat dalam memajukan kegiatan posyandu. Kurangnya

d. Threat Wilayah di Jatilawang tidak semua mudah dijangkaau dan ada yang jaraknya sangat jauh, sehingga mengakibaatkan sulit untuk melakukan koordinasi.  Tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan orang tua di wilayah Jatilawang berbeda-beda, selain itu tingkat usia juga dalam berbagai tingkat hal inilah yang membuat pemahaman serta pengertian juga berbeda.

B. Identifikasi Aspek Isu Strategis dari Hasil Analisis SWOT Dari hasil analisis SWOT, dapat disimpulkan permasalahan yang terjadi rendanya angka balita yang ditibang. Kurangnya edukasi dan pengetahuan dari orangtua inilah yang mengakibatkan rendahnya angka balita yang ditibang. Sementara itu, jika kita melihat ke masyarakat Jatilawang yang lebih banyak kekuatan yang dapat dioptimalkan. Kondisi ini terlihat dari kurang antusiasme warga terhadap masalah kesehatan, mereka kurang aktif dalam

penyuluhan kesehatan. Kurangnya keikutsertssn tokoh masyarakat dalam memajukan posyandu. Jika dilihat kekuatan dan kelemahan yang telah dianalisis, baik dari dalam dan luar Puskesmas, kader-kader dapat dibimbing untuk memaksimalkan informasi pentingnya menimbangkan balita secara rutin di posyandu diseluruh wilayah Jatilawang.

BAB III PEMBAHASAN ISU STRATEGIS DAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

A. Tinjauan Teoritis Balita Balita adalah anak usia kurang dari lima tahun sehingga bayi usia dibawah satu tahun juga termasuk dalam golongan ini. Menurut Persagi (1992), berdasarkan karakteristiknya, balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anak usia lebih dari satu tahun sampai tiga tahun yang dikenal dengan “ batita “ dan anak usia lebih dari tiga tahun sampai lima tahun yang dikenal dengan usia “ prasekolah”.Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Dengan kondisi demikian, sebaiknya anak balita diperkenalkan dengan berbagai bahan makanan. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa usia prasekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif lebih besar. Usia dibawah 5 tahun atau balita merupakan usia penting dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. Pada usia ini, anak masih rawan dengan berbagai gangguan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Secara psikologis, rentang usia ini sangat menentukan karakter anak. Jika anak sering diejek atau dicemooh, kemungkinan besar akan tumbuh menjadi anak yang tidak mempunyai kepercayaan diri. Anak yang selalu dimanja akan tumbuh menjadi anak yang selalu bergantung kepada orang lain. Demikian juga anak yang selalu ditekan dengan ancaman, anak akan tumbuh dengan ketakutan bahkan sampai depresi. Sebaliknya, anak yang dididik dengan pujian dan arahan yang benar, akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri karena sejak kecil dia merasa dihargai oleh lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.

Posyandu Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknnologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari keluarga berencana dari masyrakat,oleh masyrakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana. Salah satu kegiatan pisyandu adalah KIA. Dalam kegiatan posyandu hendaknya dipersiapkan 5 meja yang terdiri dari a. Meja pendaftaran balita, ibu hamil, ibu menyusui. b. Menimbang balita c. Mencatat hasil penimbangan d. Meberikan penyuluhan berdasarkan hasil penimbangan dan memberikan pelayanan terhadap ibu balita dan ibu hamil. e. Pelayanan kesehatan dan KB Penimbangan bayi dan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan. Penimbangan bayi dan balita dilakukan setiap bulan mulai umur 1bulan sampai 5 tahun di Posyandu. Setelah bayi dan balita dtimbang, catat hasil penimbangan di Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) atau Kartu Menuju Sehat (KMS) maka akan terlihat berat badannya naik atau tidak naik (lihat perkembangannya). Dalam kartu KMS dikatakan naik jika :      Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna pada KMS. Garis pertumbuhannya pindah ke pita warna di atasnya.

tidak naik jika : Garis pertumbuhannya menurun. Garis pertumbuhannya mendatar. Garis pertumbuhannya naik tetapi pindah ke pita warna yang lebih muda. Penimbangan dilakukan setiap bulan dan diukur berat badan tidak naik 1 (T1), tidak naik 2 (T2), tidak naik 3 (T3), selama 3 bulan berturutturut, dan naik 1 (N1), naik 2(N2). Manfaat Penimbangan

sistem pencatatan dan pelaporan Pencatatan adalah mencatat semua data yang diperlukan untuk mengetahui kesehatan balita dalam masa tumbuh kembang dengan menggunakan kartu ibu atau anak yang tersedia. Pelaporan adalah melapor semua data yang terdapat pada balita tersebut untuk memantau pertumbuhan dan perkembangannya dengan menggunakan formulir dan pelaporan lain yang berlaku. Evaluasi yaitu merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menilai hasil dari program yang dilaksanakan, karena dengan evaluasi akan diperoleh umpan balik (feed back) terhadap program atau pelaksanaan kegiatan. Tanpa adanya evaluasi sulit rasanya untuk mengetahui sejauh mana tujuan – tujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum (Notoatmojo, 2003). Untuk mendapatkan evaluasi yang tepat, adekuat dan sesuai dengan tujuan evaluasi, dapat digunakan beberapa pendekatan, salah satunya adalah dengan pendekatan sistem. Pendekatan sistem dapat dilakukan untuk suatu program kesehatan dimana penilaian secara komprehensif dapat dilakukan dengan menilai input, proses, dan output. Tujuan adalah untuk memberikan informasi data posyandu. Tahap-tahap pencatatan dan pelaporan a. Pencatatan dari posyandu oleh kader posyandu b. Pencatatan dari desa ke Puskesmas dikoordinasi kader posyandu SKDN merupakan indikator pokok dalam mengukur keberhasilan kegiatan penimbangan. Definisi SKDN S Yaitu jumlah balita yang ada diwilayah posyandu. K Yaitu jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS. D Yaitu jumlah balita yang ditimbang bulan ini. N Yaitu jumlah balita yang naik berat badannya. Adapun penggunaan data SKDN sebagai berikut : a Cakupan Program (K/S) Cakupan program (K/S) adalah : Jumlah Balita yang memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS) dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase K/S disini, menggambarkan berapa jumlah balita diwilayah tersebut yang telah memiliki KMS atau berapa besar cakupan

program di daerah tersebut telah tercapai. b Cakupan Kelangsungan Penimbangan (D/K) Cakupan kelangsungan penimbangan (D/K) adalah : Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu dalam dibagi dengan jumlahbalita yang telah memiliki KMS kemudian dikali 100%. Persentase D K disini, menggambarkan berapa besar kelangsungan penimbangan di daerah tersebut yang telah tercapai. c Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S) Cakupan partisipasi masyarakat (D/S) adalah : Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah kerja Posyandu kemudian dikali 100 %. Persentase D/S disini, menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah tersebut yang telah tercapai. d. Cakupan Hasil Penimbangan (N/D). Cakupan Hasil Penimbangan (N/D) adalah : Rata – rata jumlah Balita yang naik berat badan (BB) nya dibagi dengan jumlah balita yang ditimbang di Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase N/ D disini, menggambarkan berapa besar hasil penimbangan didaerah tersebut yang telah tercapai. e. Cakupan efektifitas kegiatan (N/S) Cakupan efektifitas kegiatan (N/S) adalah : Rata-rata jumlah balita yang naik berat badan (BB) nya dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase N/S disini, menggambarkan berapa besar hasil efektifitas kegiatan didaerah tersebut yang telah tercapai. Sistem pelaporan yang ada sekarang belum sesui, karena pencatatan dan pelaporan berat badan hanya dilaporkan timbang (T), padahal yang diharapkan pelaporan mulai dari T, T1,T2,T3 dan N1, N2 secara teratur sehingga bisa dinilai status gizi dari balita. Maka dari itu penimbangan yang rutin setiap bulan sangant diperlukan. Faktor-faktor yang berperan dalam angka kunjungan balita yang ditimbang antara lain : a. Peran orang tua Peran ibu balita dalam kegiatan posyandu dinilai masih rendah. Ibu balita yang tidak mau datang ke posyandu karena tidak mengetahui manfaat posyandu. Alasan ibu balita tidak membawa ke posyandu karena faktor

anak sakit atau sedang tidur atau anak takut ditimbang. Alasan lain ibu balita enggan berkunjung ke posyandu, khususnya ibu balita kelompok menengah ke atas karena merasa telah membawa anaknya ke dokter. Selain ibu balita dari kelompok menengah ke atas, ibu-ibu balita pendatang kurang aktif mengikuti kegiatan posyandu. Faktor pekerjaan ibu balita merupakan salah satu faktor penghambat ibu balita memanfaatkan penimbangan balita di posyandu. Ibu yang bekerja tidak membawa anaknya ke posyandu kemungkinan karena posyandu diselenggarakan pada hari kerja dan jam kerja. Kegiatan posyandu diselenggarakan mulai jam 9.00 hingga 12.00 pada hari kerja. Selain ibu bekerja, ibu balita pendatang merupakan ibu balita yang kurang aktif dalam kegiatan posyandu. Bagi ibu balita dari keluarga yang mampu merasa sudah membawa anaknya ke dokter, sehingga menganggap tidak perlu dibawa ke posyandu untuk penimbangan. b. Peran Kader Peran kader menjadi kader di setiap posyandu sangat bervariasi. Sebagian posyandu memiliki kader yang bermotivasi tinggi dan sebagian lagi kurang motivasinya. Menurut petugas kesehatan tidak semua kader menyadari perannya. Peran kader di posyandu setiap posyandu berbeda. Ada yang bagus sekali, ada yang sedang-sedang, tergantung masingmasing kadernya. Tugas kader dalam kegiatan posyandu adalah belum sepenuhnya menjalankan program 5 meja. Kader hanya melakukan pencatatan, penimbangan dan memberikan makanan tambahan. Kader di beberapa posyandu sangat jarang melakukan penyuluhan. Penyuluhan dilakukan oleh petugas kesehatan baik dari puskesmas maupun dinas kesehatan. Tugas lain kader adalah mengunjungi ibu balita yang tidak berkunjung ke posyandu untuk memberikan pembinaan. Peran kader tidak optimal kerena hubungan antara kader dengan tokoh masyarakat yang kurang harmonis. Ketidak harmonisan tersebut timbul anggapan, sehingga hanya kader yang menjadi motor penggerak dalam kegiatan posyandu. c. Peran Tokoh Masyarakat

Tokoh masyrakat sangat berperan dalam kegiatan posyandu Kepala desa bisa menanyakan kepada bidan atau kader tentang perkembangan posyandu di wilayahnya, terutama pada saat program pekan imunisasi nasional dan pemberian tablet vitamin A. d. Peran pelayanan kesehatan Peran petugas kesehatan cukup penting karena kehadiran petugas kesehatan menjadi salah satu daya tarik bagi ibu-ibu balita untuk berkunjung ke posyandu. Masyarakat mengharapkan keterlibatan petugas kesehatan ditingkatkan, karena masyarakat menginginkan posyandu memiliki pelayanan kesehatan yang lengkap. Peran petugas kesehatan dinilai kader cukup baik, namun kehadiran petugas kesehatan pada saat hari buka posyandu dinilai masih kurang. Hal ini dipengaruhi oleh kegiatan petugas pelayanan kesehatan yang bersamaan dengan kegiatan lain, sehingga waktu kadang berbenturan. Penyuluhan dari kader diharapkan dapat meningkatkan

pengetahuan ibu balita tentang manfaat penimbangan balita di posyandu setiap bulan, sehingga tercipta partisipasi masyarakat yang bersifat mandiri. Partisipasi masyarakat yang bersifat mandiri adalah setiap individu melakukan kegiatannya atas inisiatif dan keinginan dari individu yang bersangkuta karena rasa tanggung jawabnya untuk mewujudkan kepentingannya ataupun kepentingan kelompoknya. Kurangnya kemampuan kader dalam memberikan penyuluhan kemungkinan menyebabkan ibu balita kurang berminat untuk

mengunjungi posyandu. Ibu balita yang mampu lebih memilih untuk mengunjungi dokter untuk memantau pertumbuhan balitanya. Posyandu yang memiliki kader yang berpersepsi baik terhadap peran tokoh masyarakat dan petugas kesehatan serta dukungan sumber dana yang banyak dan dukungan sarana yang lengkap mempunyai angka capaian D/S yang cukup tinggi.

Untuk meningkatkan pemanfaatan posyandu perlu koordinasi lintas sektoral, karena jajaran pemerintah yang terlibat dalam posyandu masih terbatas

dari petugas puskesmas. Instansi lain seperti petugas kecamatan ataupun instansi yang lainnya belum terlibat dalam kegiatan posyandu. Instansi lain di kecamatan yang tergabung dalam tim Pokjanal sangat dibutuhkan keterlibatannya dalam pembinaan posyandu baik melalui lembaga PKK maupun melalui pembinaan terhadap kepala desa/lurah, kepala dusun ataupun kelian banjar. Tim Pokjanal Posyandu juga perlusecara aktif terlibat dalam kegiatan posyandu, serta dapat memfasilitasi kegiatan posyandu dan penentuan jadwal posyandu. Tim pokjanal juga dapat menjadi jembatan ibu balita dari pendatang untuk terlibat secara aktif di posyandu. Kebutuhan sarana yang memadai cukup mendesak karena menjadi salah satu faktor penghambat pemanfaatan pelayanan posyandu. Ibu balita tidak membawa anaknya ke posyandu karena anaknya takut ditimbang karena menggunakan timbangan gantung. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melengkapi sarana posyandu dengan timbangan yang membuat anak senang dan lebih nyaman saat ditimbang. Misalnya dengan memodifikasi tempat gantungan timbangan tersebut. Alat permainan juga dibutuhkan agar anak dapat bermain pada saat menunggu giliran untuk ditimbang. Hasil korelasi parsial juga menunjukkan bahwa motivasi kader mampu meningkatkan pemanfaatan penimbangan balita di posyandu (D/S), namun peningkatan motivasi harus ditunjang dengan kelengkapan sarana. Motivasi kader dalam kegiatan posyandu sangat diperlukan. Hal tersebut dikarenakan kader merupakan komponen yang penting dalam kegiatan posyandu. Motivasi sebagai suatu proses yang menghasilkan suatu intensitas, arah dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan. Kader yang mempunyai motivasi tinggi akan berupaya untuk mencapai tujuan kegiatan posyandu. pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposisi untuk menggunakan layanan, faktor-faktor yang

memungkinkan atau menghalangi pemanfaatan dan faktor kebutuhan perawatan. Pemanfaatan penimbangan balita di posyandu dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan faktor kebutuhan kader sebagai motor penggerak dalam kegiatan posyandu dan ibu balita sebagai kelompok sasaran posyandu serta dukungan dari petugas dan tokoh masyarakat diperlukan untuk menjalankan kegiatan tersebut. Faktor

predisposisi yang berhubungan dengan tingkat pemanfaatan penimbangan balita di posyandu (D/S) hanya umur dan pengetahuan kader. Pengetahuan kader

tentang kegiatan posyandu berhubungan positif dengan tingkat pemanfaatan penimbangan balita di posyandu (D/S). Permasalahan yang dihadapi pada masalah ini adalah kurang kesadaran oarang tua dalam menimbangkan anak balitanya ke posyandu, padahal dari penimbangan di posyandu itu nantinya pertumbuhan dan perkembangan balita dapat dinilai setiap bulan. Pemanfaatan pelayanan kesehatan memiliki tiga faktor yang berperan, yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor kebutuhan pemanfaatan pelayananan kesehatan bergantung pada faktor-faktor sosiodemografis, tingkat pendidikan, kepercayaan dan praktek kultural, diskriminasi jender, status perempuan, kondisi lingkungan, sistem politik dan ekonomi, pola penyakit serta sistem pelayanan kesehatan. Pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat sangat ditentukan oleh peran kader sebagai motor penggerak dan mendapatkan dukungan oleh tokoh masyarakat (TOMA). Hal tersebut dikarenakan salah satu tugas utama kader adalah menggerakkan masyarakat untuk datang ke posyandu. Peran pemerintah, termasuk petugas kesehatan, hanya sebagai fasilitator untuk lebih memberdayakan masyarakat dalam kegiatan posyandu. Kegiatan posyandu dikatakan meningkat jika peran serta masyarakat semakin tinggi yang terwujud dalam cakupan program kesehatan seperti imunisasi, pemantauan tumbuh kembang balita, pemeriksaan ibu hamil, dan KB yang meningkat.

B. Alternatif Pemecahan Masalah Jika diperoleh hasil D/S nya rendah maka diadakan penyuluhan

a)

Mengajak sasaran setiap bulan datang ke Posyandu. Dalam setiap

kunjungan, kader pendamping hendaknya selalu menghimbau dan mengajak keluarga sasaran agar mau membawa anaknya ditimbang setiap bulan di

Posyandu. Untuk meyakinkan keluarga sasaran, perlu disampaikan manfaat menimbang berat badan balita setiap bulan terhadap pertumbuhannya. b) Mengusahakan agar seluruh anak balita di wilayah tugasnya memiliki

KMS. Setiap balita harus mempunyai KMS sebagai alat monitoring pertumbuhan. Oleh karena itu kader pendamping harus mengusahakan agar seluruh anak balita dari keluarga sasaran yang didampingi dapat memperoleh KMS, dengan cara mengajukan usulan permintaan KMS kepada Bidan Poskesdes atau TPG Puskesmas. c) Peran kader pendamping sangat penting untuk memfasilitasi supaya

keluarga yang mempunyai balita yang berat badannya tidak naik 2 kali berturutturut, BGM dan balita gizi buruk bersedia dirujuk. Rujukan dilaksanakan oleh Kader Pendamping ke Poskesdes/Puskesmas. Bagi keluarga miskin biaya perawatan gizi buruk di Puskesmas atau Rumah Sakit ditanggung pemerintah melalui Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Askeskin). Di samping itu, kader pendamping agar menindaklanjuti pelayanan pasca rujukan, misalnya:

memberikan konseling sesuai dengan masalah. d) Kader pendamping menjalin kerjasama dengan Tokoh masyarakat, Tokoh

Agama, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A.

KESIMPULAN Dengan mengacu pada Profil Kesehatan Puskesmas Jatilawang pada tahun 2009dan melihat hasil pencapaian pembangunan kesehatan serta kinerja pembangunan sektor kesehatan maupun sektor terkait ditambah beberapa

permasalahan yang berhubungan dengan derajat kesehatan, perilaku masyarakat, lingkungan dan pelayanan kesehatan serta kinerja sektor kesehatan ditemukan beberapa masalah antara lain: Wilayah di Jatilawang tidak semua mudah dijangkau dan ada yang jaraknya sangat jauh, sehingga mengakibatkan sulit untuk melakukan koordinasi. Tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan orangtua balita di wilayah Jatilawang berbeda-beda, selain itu tingkat usia juga dalam berbagai tingkat hal inilah yang membuat pemahaman serta pengertian juga berbeda. B. 1. SARAN Untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan adalah dengan yang

melaksanakan sosialisasi secara terus-menerus kepada masyarakat

dilaksanakan oleh petugas Puskesmas bekerja sama dengan lintas program dan lintas sektoral. 2. Monitoring dan evaluasi kegiatan secara rutin untuk dapat diketahui

perkembangan kegiatan yang telah dilaksanakan dan segera mengetahui permasalahan yang ditemukan dalam bentuk laporan. 3. Adapun kegiatan yang perlu disusun dalam Rencana Tindak Lanjut (RTL)

dalam kegiatan Penyusunan Profil Kesehatan antara lain: validasi data, koordinasi lintas program dan sektoral dan penguasaan data bagi masing-masing pemegang program, sehingga dalam pemecahan masalah dan penyusunan rencana kegiatan bisa sesuai dengan kebutuhan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

1.

A.Harryanto Reksodiputro, Nugroho Prayogo, Eritropoesis, dalam Buku

Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3, Jakarta, Balai Penerbit FKUI, 2001: hal 493-496. 2. Arthur C Guyton,M.D, dalam Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 7,

Bagian I, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 1993, hal 53-61.

3.

Cathrine M. Baldy, Sel Darah Merah, dalam Patofisiologi Konsep Klinis

Proses-Proses Penyakit, Sylvia A.Price, Wilson, Lorraine M, alih bahasa Peter Anugraha, Buku 1,Edisi 4, Penerbit Buku Kedikteran, EGC, 2001, hal 231-238. 4. Thom J.Mansen and Kathryn L.McCance, Alteration of Hematologic Function, Http://www.Mosby.com/merlin/Hueter. 5. Anemia, Http://.Anemia.e.medicinehealth.com. 6. A.V. Hoffbrand MA, J.E. Petit MD, Kapita Selekta Haematologi, Edisi 2,

Jakarta: EGC, 1987 7. Mansjoer A. Triyanti K, savitri R, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga,

Jilid 1, Jakarta: Media Aesculapus; 2000: hal 547-553. 8. Hans Salonder, Anemia Aplastik, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,

Jilid II, Edisi 3, Jakarta, Balai Penerbit FKUI, 2001: Hal 501-507. 9. Bunn HF. Anemia, dalam: Isselbacher, Braundwald,Wilson et al (eds). Harrison’s principles of Internal Medicine, Edisi 13. Jakarta: EGC, 1999: hal 358-362.