You are on page 1of 11

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang Masalah Dalam konteks belajar dan mengajar di sekolah, termasuk belajar mengajar pendidikan jasmani, sering diungkapkan dua konsep sebagai pedoman dan alat guru mengajar yaitu konsep didaktik dan metodik. Didaktik merupakan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan telaah tentang azas-azas mengajar. Sedangkan metodik lebih memusatkan kajian pada cara-cara untuk menerapkan azas-azas mengajar mengajarkan mata pelajaran tertentu. Lebih luas dapat dikatakan, ketika seorang guru mengajar pendidikan jasmani, maka seorang guru harus mampu menggunakan azas mengajar dengan menerapkan sebagai ilmu pengetahuan yang memfokuskan kajian tentang cara-cara penerapan azas-azas tersebut. Guru yang profesional dalam pengajarannya akan mampu menerapkan azas atau prinsip atau dasar mengajar, yang sebenarnya azas tersebut terkandung usaha guru untuk menciptakan atau mengatur kondisi belajar mengajar, agar siswa giat dan optimal dalam menggapai tujuan belajarnya. Penerapan azas mengajar sebaiknya dirancang terlebih dahulu bersamaan dengan pembuatan RPP, meski sering juga terjadi azas pengajaran muncul bersamaan saat proses pengajaran berlangsung. Penggunaan azas mengajar disini lebih memotivasi siswa yang progresi belajarnya tinggi. dalam

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana konsep didaktik metodik pengajaran penjas? 2. Bagaimana Azas-azas Didaktik? 3. Bagaimana Metode Mengajar dalam pengajaran penjas?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Mengetahui bagaimana konsep didaktik metodik dalam pengajaran penjas 2. Mengetahui azas-azas didaktik dalam pengajaran penjas 3. Mengetahui meetode mengajar dalam pengajaran penjas.

1|Page

BAB II ISI

2.1 Konsep Didaktik Dikdaktik berasal dari bahasa Yunani, yaitu didasko asal kata didaskein atau pengajaran yang berarti perbuatan atau aktivitas yang menyebabkan timbulnya kegiatan baru pada oran lain. didaktikus berarti pandai mengajar, sedangkan didaktika berarti gaya mengajar. Menurut pengertian baru, didaktik diartikan sebagai ilmu yang memberi uraian tentang kegiatan proses mengajar yang menimbulkan proses belajar. Dari sudut pandang ini, didaktik mengandung dua macam kegiatan yakni kegiatan mengajar dan kegiatan belajar. Baik murid maupun guru, kedua-duanya aktif sehingga terwujud kegiatan mengajar dan kegiatan belajar bersama-sama. Agar proses belajar mengajar dimaksud membuahkan hasil yang diharapkan, baik murid maupun guru perlu memiliki sikap, kemampuan dan keterampilan yang mendukung proses belajar mengajar itu. Didaktika dapat dibagi atas didaktik umum dan didaktik khusus. Didaktik umum memberikan prinsip-prinsip yang umum yang berhubungan dengan penyajian bahan pelajaran agar siswa dapat menguasai suatu bahan pelajaran. Prinsip-prinsip ini berlaku bagi semua mata pelajaran. Sedangkan didaktik khusus membicarakan tentang cara mengajarkan mata pelajaran tertentu dimana prinsip didaktik umum digunakan. 2.2 Azas-azas Didaktik 2.2.1 Azas Motivasi Motivasi merupakan segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Dalam hubungan dengan didaktik, seorang guru perlu memperhatikan siswa agar mau belajar dengan penuh makna. Oleh karena itu perlu diusahakan oleh guru untuk mempengaruhi siswanya, sehingga dalam diri siswa timbul suatu alasan, suatu motif untuk belajar seperti apa yang diharapkan guru tersebut. Motivasi belajar selalu berhubungan dengan tujuan pelajaran yang jelas dan penting untuk dilaksanakan karena akan memenuhi harapan, cita-cita dan kebutuhannya. Usaha untuk membangkitkna motivasi belajar pada diri siswa dapat ditempuh dengan berbagai cara pendekatan, antara lain dengan memberi angka, hadiah, sering memberi ulangan, pujian, dan lainnya. Seorang guru perlu mengenal
2|Page

karakteristik para siswanya, sehingga guru dpat mengembangkan suatu cara untuk membangkitkan motivasi siswa untuk belajar sesuai dengan inividu/siswa dan kelasnya. Contoh penerapan azas motivasi dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani sebagai berikut: 1. Menjelaskan tujuan pengajaran dan kegunaan pelajaran, misalnya permainan bola voli berguna untuk perkembangan fisisk, mental, emosional, dan sosial para siswa. 2. Mendemonstrasikan setiap konsep gerak yang menjadi bahan pelajaran, sehingga para siswa tertarik untuk melakukannya. Sudah tentu cara mendemonstrasikan konsep gerak itu harus benar dan menarik seperti penggunaan gambar-gambar yang menarik yang akan membangkitkan rasa ingin tahu para siswa. Masih banyak cara untuk membangkitkan motivasi belajar siswa dan setiap situasi pengajaran akan berlainan cara pendekatannya.

2.2.2 Azas Aktivitas Azas aktivitas adalah azas untuk mengaktifkan fisik dan psikis siswa yang sedang belajar. Azas ini sangat penting dalam mengajar pendidikan jasmani. Tujuan yang diharapkan untuk menguasai keterampilan gerak melalui latihan atau perbuatan yang nyata secara berulang-ulang. Sebagai contoh ketika siswa belajar melempar, maka ia harus aktif melakukan gerak lempar, dan bukan dilakukan lewat penjelasan secara verbal. Yang lebih utama adalah dominasi pada konsep berfikir yang berkaitan dengan bagaimana cara melempar. Lewat perlakuan secara langsung, maka akan terbentuk kemampuan yang berkembang secara bertahap. Contoh penerapan azas aktivitas dalam pembelajaran pendidikan jasmani disekolah dengan materi bola kaki dilakukan seperti dibawah ini. 1. Sebelum memulai pelajaran, sebaiknya guru menanyakan lebih dulu siapa yang telah mengetahui dan mampu melakukan gerakan menendang dengan menggunakan punggung kaki. Langkah berikutnya adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk menjelaskan secara rinci dan

mendemonstrasikan secara langsung di depan kelas 2. Kemudian beri kesempatan pada siswa lainnya untuk menanggapi penjelasan dan demonstrasi pas bawah bola voli dari rekan itu.
3|Page

Metode yang tepat untuk menerapkan azas aktivitas adalah metode diskusi, tanya jawab, tugas, dan metode praktek. Selain itu tidak tertutup kemungkinan untuk menerapkan bebagai gaya mengajar seperti diskoveri atau gaya penemuan masalah.

2.2.3 Azas Individualitas Dengan adanya keragaman latar belakang siswa, maka dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani perlu menerapkan azas individualitas. Artinya guru dalam menyampaikan bahan pelajaran pendidikan jasmani harus disesuaikan dengan perbedaan kemampuan individu siswa. Hal ini memungkinkan setiap individu/siswa maju menurut kemampuannya masing-masing. Dalam pengajaran klasikal tentunya sulit untuk menerapkan azas ini, karena adanya keterbatasan waktu, biaya, tenaga, alat, dan lainnya. Namun demikian sebagai guru harus berusaha seoptimal mungkin untuk mengembangkan kemampuan setiap siswa dengan potensi-potensi dan kecepatan masing-masing siswa. Contoh penerapan azasindividualitas dalam proses belajar mengajar

pendidikan jasmani adalah: 1. Guru mengelompokkan siswa dengan kemampuan kondisi fisiknya, dan jenis kelaminnya. Selanjutnya memberikan tugas-tugas kelompok berdasarkan karakteristik kelompoknya.

2.2.4 Azas Peragaan Dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani, azas ini memungkinkan siswa lebih cepat memahami suatu konsep gerak yang diajarkan. Oleh karena siswa dapat melihat dan mengamati konsep gerak itu secara kongkret atau langsung. Yang dimaksud peragaan adalah memberikan variasi dalam cara-cara guru mengajar dengan mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata baik dalam bentuk benda aslinya maupun tiruan sehingga murid-murid dapat mengamati dengan jelas dan pengajaran lebih tertuju untuk mencapai hasil yang diinginkan. Azas peragaan telah cukup lama dikenal orang tapi belum sampai pada pengamatan dunia sekitar. Ilmu dan pengetahuan hanya dicari dari buku-buku, akibatnya sekolah menjauhkan diri dari dunia penghidupan dan kenyataan, dan menjadi persemaian verbalisme.
4|Page

Contoh penerapan azas peragaan dalam proses mengajar pendidikan jasmani adalah sebagai berikut : 1. Guru menggunakan macam-macam alat peraga, seperti gambar pemain sepak bola yang sedang menendang bola ke arah gawang, keseluruhan maupun bagian gambar kaki yang sedang menendang itu terlihat jelas.

2.2.5 Azas Apersepsi Azas apersepsi berhubungan dengan cara menyampaikan pelajaran, yakni menghubungkan dengan apa yang telah dikuasai siswa. Apersepsi adalah menyatukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki dan dengan demikian dapat memahami dan dapat menafsirkannya. Untuk memahami sampai sejauhmana bahan pelajaran yang akan diajarkan sudah dimiliki atau dikuasai siswa, guru dapat mengajukan beberapa pertanyaan mengenai bahan pelajaran itu.

2.2.6 Azas Sosialisasi atau Kerjasama Azas sosialisasi sangatlah penting artinya dalam mewujudkan suasana sosial sehingga anak-anak terdorong untuk belajar lebih tekun, bekerja lebih cermat dan semangant demokrasi semakin tumbuh. Pengajaran yang hanya mengutamakan perkembangan individual tidak akan menguntungkan anak dan masyarakat dimana anak itu hidup. Usaha-usaha guru dalam melaksanakan azas sosialisasi antara lain:

Memberi pelajaran berupa tugas-tugas kelompok kepada murid-murid, misalnya membuat taman percontohan, peternakan, belajar di laboratorium, perpustakaan dan lain-lain.

Menyelenggarakan diskusi panel guna membahas sesuatu masalah atau kesulitan-kesulitan pemecahannya. bahan pelajaran untuk mencari penyelesaian dan

Mengadakan kegiatan sosial seperti pengabdian sosial, pameran sekolah, karyawisata, porseni dan sebagainya.

2.2.7 Azas Pengulangan Untuk memperoleh keterampilan gerak yang baik diperlukan latihan-latihan yang berulang-ulang secara sistematis, sehingga pemahaman konsep-konsep gerak
5|Page

akan menetap dalam ingatan siswa dan timbul suatu otomatisasi keterampilan gerak yang dipelajarinya. Oleh karena dalam mengajarkan keterampilan gerak, guru hendaknya sering mengadakan pengulangan terhadap bentuk keterampilan gerak yang diajarkan, agar bentuk keterampilan gerak itu dikuasai dan dimiliki secara menetap dalam diri siswa.

2.2.8 Azas Evaluasi Evaluasi atau penilaian adalah mengukur/menilai sampai dimana tujuan pengajaran telah dicapai, baik dari sudut pandang murid maupun dari sudut guru. Ruang lingkup kegiatan evaluasi ini mencakup penilaian terhadap kemajuan/hasil belajar murid-murid dalam aspek pengetahuan, keterampilan serta sikap setelah mengikuti program pengajaran. Dengan evaluasi yang tepat, cermat dan obyektif terhadap hasil belajar murid merupakan cara yang efektif untuk mengecek kemajuan anak dan sekaligus untuk mempertinggi prestsi belajarnya di samping menjadi alat pengontrol bagi guru sendiri tentang cara mengaharnya. Evaluasi yang baik akan membimbing murid dalam menilai serta memahami pelajaran yang diperoleh disamping juga introspeksi terhadap dirinya sendiri sehingga membuka jalan untuk mahu dengan tenaga, kesungguhan dan kepercayaan pada diri sendiri.

2.3 Metode Mengajar (Konsepsi Metodik) Metode mengajar dalam hal ini adalah cara menyajikan bahan pelajaran, khususnya bahan pelajaran yang terkait dengan pebelajaran gerak, agar dikuasai siswa.

2.3.1 Metode Keseluruhan/Global/Whole Method Metode keseluruhan adalah cara menyajikan bahan ajar dengan menampilkan keterampilan secara utuh, dalam pelaksanaannya, metode global ini mengikuti urutan sebagai berikut : 1. Pembukaan : tahap memperkenalkan keterampilan yang akan dipelajari. Bisa dilakukan dengan cara uraian lisan, demonstrasi langsung, penayangan gambar atau foto, atau hanya lembaran tugas.

6|Page

2. Percobaan : tahap dimana semua siswa mencoba menguasai keterampilan yang dimaksud dengan cara melakukan sendiri secara utuh dari keseluruhan rangkaian keterampilan yang akan dipelajari. 3. Review : guru mengundang siswa untuk saling mengungkapkan masalah-masalah yang ditemukan selama percobaan. 4. Percobaan : anak diberi kesempatan mencoba kembali dengan tujuan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang masih dibuat. 5. Pemantapan : pada tahap ini hendaknya guru sudah semakin spesifik dalam memberikan umpan balik yang berguna memantapkan keterampilan.

2.3.2 Metode Bagian/Parsial/Part Method Metode Bagian/Parsial/Part Method adalah menyajikan bahan ajar dengan cara dibagi-bagi dari mulai yang terkecil, kemudian digabungkan hingga menjadi suatu bahan ajar yang utuh. Tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1. Pembukaan : memberikan pengertian yang utuh tentang materi atau keterampilan yang akan dipelajari. Lebih khusus lagi untuk memperlihatkan kepada siswa bagaimana keterampilan yang dimaksud terdiri dari bagian-bagian yang digabungkan. 2. Analisis : tahap untuk mengenali bagian-bagian yang menbangun suatu keterampilan, bagaimana urutannya, dan apa fungsi dari masing-masing bagian. Anlisis ini bermanfaat juga untuk melatih anak dalam melihat bagaimana suatu keterampilan terbangun. 3. Melatih : melatih bagian-bagian secara berurutan. 4. Sintesis : setelah setiap bagian yang membangun suatu keterampilan dapat dikuasai, kemudian dilanjutkan dengan latihan keseluruhan. Meskipun setiap bagian telah dikuasai, namun biasanya untuk meyatukan kedalam satu keterampilan yang utuh bagi anak merupakan hal yang sulit terutama bagi anak yang mempunya kemampuan dasar yang rendah. Oleh karena itu pelaksanaan tahap ini memerlukan waktu yang cukup, dengan pemberian umpan yang cukup pula.

7|Page

2.3.3 Metode Keseluruhan-bagian/Whole-part Method/Global Parsial Metode Keseluruhan-bagian (Whole-part Method) adalah campuran dari kedua metode yang sudah ada, dengan mengabungkan kelebihan-kelebihan dari keduanya. Pelaksanaan metode ini adalah : 1. Pembukaan : sama seperti yang diuraikan dalam metode keseluruhan 2. Percobaan : sama seperti dalam pelaksanaan percobaan dalam metode keseluruhan, yakni pelaksanaan praktek secara keseluruhan. 3. Review : hingga tahap ini seluruh rangkaian yang ditempuh pada metode keseluruhan masih sama. Bedanya, review untuk metode campuran akan menekankan pada masalah-masalah yang dihadapi siswa sebagai suatu unit yang terpisah agar dapat dilatih secara terpisah pula.pengkoreksian atau diskusi yang dilakukan dalam tahap ini bersifat individual, sehingga setiap anak akan melihat kekurangannya masing-masing. 4. Melatih Tangan : kesalahan-kesalahan yang masih terjadi atau ditemukan dari tahap percobaan keseluruhan diminta untuk dilatih lagi oleh setiap siswa secara bagian. 5. Sintesis : latihan bagian yang dilaksanakan diatas, setelah dirasa cukup, segera dilanjutkan dengan latihan keseluruhan lagi. Jika setiap kesalahan atau kelemahan sudah dapat diperbaiki maka segera anak mencoba lagi secara keseluruhan. 6. Pemantapan : tahap pemantapan dilakukan berganti-ganti antara latihan ke latihan keseluruhan, kemudian kembali ke latihan bagian dan seterusnya.

2.3.4 Metode Progresif Metode progresif adalah cara mengajar yang memecah bahan latihan atau keterampila dlam beberapa bagian. Namun metode ini berbeda sifatnya dengan metode bagian. Yang harus dilakukan adalah mencoba menentukan inti (core) dari keterampilan yang bersangkutan. Inti itulah yang kemudian dijadikan bagian pertama. Dalam mengajar lompat jauh gaya lenting misalnya, sikap melenting di udara dianggap sebagai intinya. Yang harus dilakukan berikutnya adalah menetapkan tahapan-tahapan latihan yang disusun secara pogresif. Artinya tahapan pertama mengandung bagian yang lebih kecil dari pada tahap berikunya semakin lama tahapan latihan semakin lengkap.
8|Page

2.3.5 Metode Latihan Padat dan Terdistribusi Latihan padat dicirikan dengan tidak adanya waktu istirahat diantara ulangan. Misalnya, jika tugas latihan adalah lari 30 menit, tugas itu akan diselesaikan tanpa istirahat. Sedangkan latihan terdistribusi tugas tersebut diselesaikan dengan cara membaginya menjadi beberapa bagian. Setiap bagian akan diselingi istirahat. Tidak selamanya kedua metode tadi dapat dibedakan secara tegas. Patokannya adalah, latihan padat biasanya mengurangi waktu istirahat di antara latihan atau ulangan, sedangkan latihan terdistribusi mempunyai istirahat lebih panjang diantara waktu-waktu latihan atau ulangan. Perbedaan nyata dari kedua latihan tersebut adalah pengaruh rasa capai terlebih pada metode padat. Akibatnya, akan menurunkan penampilan pada ulangan penampilan berikutnya dan mungkin malah mengganggu proses belajar. Untuk tujuan meningkatkan keterampilan, latihan terdistribusi dinilai lebih efektif.ampaikan

9|Page

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Azas atau didaktik adalah prinsip-prinsip tentang cara menyampaikan materi pelajaran agar dapat dipahami dan dimiliki oleh para siswa. Azsa-azas didaktik meliputi Azas motivasi, aktivitas, individualitas, peragaan, apersepsi, kerjasama, pengulangan, dan evaluasi. Dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani, penerapan azas-azas itu saling berakaitan serempak. Seorang guru yang menginginkan tugasnya itu berhasil, hendaknya tidak mengabaikan penerapan azas-azas didaktik dalam pengajarannya. Konsepsi metodik sama saja dengan metode mengajar, yang dalam pembahasan ini adalah cara menyajikan bahan pelajaran, khususnya bahan pelajaran yang terkait dengan pembelajaran gerak agar dikuasai siswa. Metode ini di bagi menjadi lima, yakni metode bagian, keseluruhan, progresif, praktek berdistribusi, dan praktek padat. Penerapan semua metode terseut selalu terkait dengan karakteristik materi yang akan disajikan dan kemampuan anak untuk belajar atau berlatih.

10 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Hj. Juliantine Tite, M.Pd; Drs H. Subroto Toto, M.Pd; Dr. Yudiana Yunyun, M.Pd, 2012. Belajar dan Pembelajaran Penjas. FPOK-UPI, Bandung.
http://santridaruz.blogspot.com/2008/05/metodik-didaktik.html

11 | P a g e