You are on page 1of 16

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah S.W.

T, karena atas rahmat dan hidayah-Nya panulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul ”Meningokel Nasofrontal dan hidrosefalus”. Ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada Dr. Yahya Ari Pramono, Sp. BS atas bimbingan dalam penulisan laporan kasus ini. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah dalam rangka memenuhi salah satu syarat kelulusan pada Kepaniteraan Klinik (KKS) di bagian Bedah Syaraf Kedokteran Universitas Islam Malang-RSUD ”Kanjuruhan” Kepanjen Malang. Penulis menyadari laporan kasus ini masih memiliki kekurangan, untuk itu kritik dan saran penulis harapkan dalam rangka penyempurnaan penulisan laporan kasus ini. Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Malang, Mei 2012

Penulis

agen kimia. Pada perang korea dokter AS dikirim khusus untuk mengangani trauma vaskuler sebagai bagian dari apa yg disebut “Battle Injury”.walau waktu itu kurang memuaskan. antaralain kekuatan mekanik. perdarahan dan/atau skar atau hambatan dalam fungsi organ. agen elektromagnet. LATAR BELAKANG Trauma atau kecelakaan merupakan hal yang sering dijumpai dalam kehidupan sekarang dari trauma atau kecelakaan adalah luka. Dalam prakteknya nanti seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis penyebab. asfiksia dan trauma emboli.Hallowel berhasil malakukan penjahitan arteri brachialis yg robek (dengan slick). ilmu bedah vascular berkembang seirama dgn perkembangan zaman dimana dulunya rekenstruksi vaskuler terbatas ligasi atau penjahitan sederhana bagian pembuluh yg robek. Beberapa abad silam penanganan terhadap pendarahan akibat adax trauma vaskuler hanya berupa pengikatan pembuluh darah (ligasi). sekarang ini para pakar ilmu . aksi suhu. Agen penyebab trauma diklasifikasikan dalam beberapa cara. Thn 1759. Pembedahan vaskuler berkembang maju dengan adanya perang terutama PD II. Sama dgn cabang2 ilmu kedokteran lainnya.1. sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan trauma.BAB I PENDAHULUAN 1.

1. diagnosis dan penatalaksanaan rupture vena femoralis ? 1.4. pemeriksaan fisik. TUJUAN Mengetahui etiologi. MANFAAT I.4. pemeriksaan fisik.bedah vascular berupaya mencari.2. diagnosis dan penatalaksanaan rupture vena femoralis .2 Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti Menambah wawasan mengenai penyakit bedah khususnya rupture vena kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit bedah orthopedi.3. 1. BAB II . RUMUSAN MASALAH Bagaimana etiologi. patogenesis. patogenesis.4. meneliti penggunaan “graft” yg komplikasinya minimal.1 femoralis I.

S : 50 Tahun : laki-laki : Petani : SD : Islam : Menikah : Sumbermanjing wetan : 15 april 2012 Tanggal Pemeriksaan : 16 april 2012 II. ANAMNESIS Anamnesis diperoleh dari auto anamnesis dari penderita sendiri tanggal 16 april 2012. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Status.I. Keluhan Utama : Luka di paha kanan. Riwayat Penyakit Sekarang : . 2. 1.Perkawinan Alamat Tanggal masuk : Tn.

Pasien datang ke UGD RSUD Kanjuruhan Kepanjen pada tanggal 15 april diantar oleh keluarganya dengan keluhan luka benda tajam pada paha sebelah kanan disertai dengan perdarahan. di bokor pasien mendapat perawatan luka kemudian dari bokor langsung dikirim ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen. pasien menggunakan senjata tajam sejenis celurit yang di gunakan untuk memotong ranting di letakkan di dahan diatas pasien. Riwayat trauma sebelumnya Pasien tidak pernah mengalami trauma yang sama sebelumnya 4. Riwayat operasi Pasien tidak pernah menjalani operasi sebelumnya 5. pasien mengaku tidak jatuh dari pohon dan tidak pingsan saat kejadian. PEMERIKSAAN FISIK . 3. kemudian saat pasien hendak mengambil celurit. celurit tersebut jatuh dan mengenai paha sebelah kanan pasien. pasien dipuskesmas tidak mendapatkan perawatan luka dan langsung dikonsulkan ke bongkor. dan ½ jam kemudian pasien dibawa ke puskesmas oleh temannya. Kronologis kejadiannya pada hari minggu tanggal 14 april 2012 pasien sedang memanjat pohon untuk memotong ranting. Riwayat penyakit keluarga Disangkal III.

kapiler refil normal < 3 detik. disertai dengan perdarahan.penonjolan abnormal dan angulasi (-). PRIMARY SURVEY Airway Breathing Circulation Disability Exposure : tidak ada gangguan jalan nafas : Pernafasan 20 x/mnt : tekanan darah 110/70 mmHg.. pupil isokor : Suhu 36. krepitasi (-). RESUME Tn. sakit bila digerakkan. sensibilitas (+).7oC B. SECONDARY SURVEY Status lokalisata: Regio femur Look : Tampak adanya luka dengan ukuran ± 7 x 5 cm dengan tepi rata (+) . suhu rabaan normal. di bokor pasien mendapat perawatan luka kemudian dari bokor langsung dikirim ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen selama di UGD RSUD Kanjuruhan pasien mendapatkan obat analgetik dan perawatan luka. Nadi 94 x/mnt : GCS E4 V5 M6. tampak gerakan terbatas (+). oedem sekitar (+). ½ jam setelah kejadian pasien dibawa ke puskesmas. gangguan persarafan (-).A. Pada pemeriksaan fisik. gerakan abduksi dan adduksi (-). A. pasien di puskesmas tidak mendapatkan perawatan dan langsung dikirim ke bokor. pada regio femoralis . Feel : Nyeri tekan setempat (+). NVD (neurovaskuler disturbance) (-).S laki-laki 50 tahun datang ke UGD RSUD Kanjuruhan Kepanjen diantar oleh keluarganya dengan keluhan trauma benda tajam pada paha sebelah kanan. Move : Gerakan aktif dan pasif terhambat. terlihat vena femoralis ruptur (+).

Operatif Reposisi luka dan debridemant Edukasi pasien tentang sakit yang dialami pasien Analgetik antibiotik b. Medikamentosa . dan. Ureum.. nyeri tekan setempat (+). PLANNING DIAGNOSA • Planning pemeriksaan – – Foto rontgen. DIAGNOSA KERJA Ruptur Vena Femoralis distal dextra dan Ruptur Musculus Vastus Medialis dextra G.GDS. Kreatinin • Planning Terapi 1.dan terlihat vena femoralis ruptur (+). Lateral Lab : DL.anterior dextra didapatkan luka terbuka (+) ± 7x5 cm. Non medikamentosa • • • 2.tampak gerakan terbatas (+) F.SGPT. CT. SGOT. Non operatif a. BT.

dan fasia lata. dan batas lateral oleh otot sartorius. fasia berkisi. Lantai cekung terbentuk mendasari longus adduktor. digambarkan pada gambar di bawah. pectineus. Perbatasan unggul segitiga dibentuk oleh ligamentum inguinalis. Ruptur Vena femoralis adalah robek. pecah dan terputusnya suatu pembuluh darah. jaringan subkutan. batas medial oleh longus adduktor. Vena femoralis adalah pembuluh darah yang datang menuju serambi jantung yang bersifat tipis dan elastis terletak dalam segitiga femoralis di daerah inguinalfemoralis. Puncak segitiga yang dibentuk oleh sartorius melintasi otot longus adduktor. Atap segitiga terdiri dari kulit.1 Definisi Ruptur adalah robek. dan otot iliopsoas. .BAB III PEMBAHASAN RUPTUR VENA FEMORALIS 3. adduktor brevis. Lihat gambar di bawah ini. pecah dan terputusnya suatu pembuluh darah vena femoralis.

perdarahan dan/atau skar atau hambatan dalam fungsi organ. 2. sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan trauma.1. agen elektromagnet. kateterisasi transfemoral bahkan penyuntikan intravena dapat menimbulkan bencana pembuluh darah. bila menyertai suatu fraktur pembuluh darah dapat terjepit atau tertarik melampaui daya elastisitas pembuluh darah tersebut. 3. Iatrogenik-intervensi arteriografi. Benturan langsung. antaralain kekuatan mekanik.. Agen penyebab trauma diklasifikasikan dalam beberapa cara. trauma tumpul dan trauma iatrogenik. terlebih lagi bila dalam bentuk pecahan peluru. . Trauma tajam-luka tembak menyebabkan kerusakan pembuluh darah karena daya penetrasi dgn kecepatan tinggi. ruptur pada vena femoralis merupakan cedera yang sering terjadi akibat trauma vascular disebabkan oleh suatu kekerasan fisikk maupun kecelakaan baik dalam bentuk trauma tajam. Mekanisme trauma dapat berupa: 1. aksi suhu. Luka tusuk benda-benda berujung tajam ataupun luka bacok akibat suatu kecelakaan ataupun perkelahian tidak jarang menyebabkan trauma vascular. kateterisasi jantung. agen kimia. Dalam prakteknya nanti seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis penyebab. 3. asfiksia dan trauma emboli. terjepit. Trauma tumpul-yg sering adalah akibat kecelakan lalu lintas. ETIOLOGI Menurut sejarah. Hasil dari trauma atau kecelakaan adalah luka.

3. PATOGENESIS Vena femoralis yg mengalami trauma. serta pembentukan thrombus dan kompresi jaringan di sekitarnya. terbentuk hemaoma. 3. Manifestasi klinik yg timbul merupakan akibat terhentinya aliran darah ke distal seperti hilangnya pulsasi arteri bgian distal dan iskemi jaringan.2. luka tembak.Ruptur vaskuler komplet Ruptur vaskuler komplet umumnya disebabkan o/ luka bacok atau iris kadang disebabkan o/ luka tusuk atau trauma tumpul. konsekuensinya terjadi 3 type kerusakan. Pd keadaan ini pembuluh darah putus total sehingga kedua ujung terpisah satu sama lain. Patah tulang dapat menyebabkan trauma vaskuler macam ini. rupture vaskuler inkomplet dan trauma vascular tertutup. Peristiwa ini justru memperbesar defe.3.1. Manifestasi klinik berupa hematoma dgn . Sifat khas pembuluh darah sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh untuk menghentikan pendarahan yaitu konstriksi dan retraksi kedua ujung. yaitu: Ruptur vascular komplet. terjadi perdarahan.3. sehingga perdarahan sulit untuk berhenti. Ruptur vascular inkomplet Ruptur vaskuler inkomlet banyak disebabkan o/ luka tusuk.3. Segera setelah trauma. 3. sedangkan bagian pembuluh darah yang rupture mengalami retraksi dan konstriksi terbatas.

arah dan waktu yg tepat sangat membantu diagnosa. Manifestasi lanjut berupa “false aneuryme” yaitu hematoma dengan pembentukan jaringan fibrous disekitarnya. Trauma Vascular Tertutup Trauma tumpul merupakan penyebab trauma vaskuler tertutup dimana pembuluh darah terjepit diantara dua frakmen tulang atau teregang. 4. 3. pulsasi vena bagian distal dan adanya ischemia merupakan manifestasi klinik yang perlu diperhatikan. Perdarahan. . Aneurysma palsu ini membesar secara progresif. Akibat yang didapat terjadi pada pembuluh darah berupa trombosis intra luminal karena kerusakan lapisan intima yang robek ini menjadi klep sehingga menutup aliran darah. dapat teraba fulsasi diatasnya. Manifestasi klinik adalah pulsasi arteri bagian distal berkurang sampai hilang iskemia tanpa disertai perdarahan pada daerah trauma. Pulsasi bagian distal tidak menghilang.perdarahan yg sukar berhenti. hematoma subintima juga dapat menyebabkan obstruksi dan bila teregang timbul spasme. Bila trauma ini juga merobek vena di dekatnya akan terjadi fistula arteriovenosa dimana terjadi pengaliran darah dari arteri ke vena akibat adanya perbedaan tekanan intra luminal.3.Hilangnya atau berkurangnya pulsasi vena bagian distal dari daerah trauma. DIAGNOSA Anamnesis tentang mekanisme trauma.3. macam trauma. Fteeark menulis beberapa tanda atau gejala yg menggambarkan adanya trauma vascular terutama vena yaitu: 1.

Adanya perdarahan rekuren dari luka.1. PENANGANAN Penanganan trauma vena dibagi atas penangan darurat yg ditujukan pada perdarahan definitive yg ditujukan langsung terhadap pembuluh darah.Kulit pucat. 8. Secara khusus penanganan darurat ditujukan kepada membatasi atau menghentikan perdarahan dari luka.Adanya bising sistolis diatas hematoma. 5. 4.Sensibilitas bagian distal berkurang. 7. . 3. 5. 5. suhu pada perabaan lebih dingin dibandingkan dengan sisi sehat.adanya hematoma yang berpulsasi.Adanya riwayat perdarahan banyak pd daerah luka. 6. Cara-cara sederhana yg dapat dikerjakan bila ada perlukaaan dengan perdarahan (P3K Vasculer).Penganganan Darurat Secara umum penanganan bertujuan memperbaiki dan mempertahankan keadaan optimal pasien misalnya dengan memberikan cairan intravena dalam bentuk apapun bila ditemukan tanda-tanda shock.Shok yang terjadi setelah mengalami trauma pada daerah pembuluh besar harus dicurigai adanya trauma vascular.2.

Penekanan langsung.2. “Pressure points”.Penanganan Definitif. Mengangkat bagian yang mengalami trauma lebih tinggi dari pada posisi jantung dapat membantu mengurangi atau menghentikan perdarahan vena. Bila kehilangan sebagian jaringan pembuluh darah atau sengaja dibuang karena rusak maka “grafting” merupakan pilihan. Ruptur komplet. Tempat penanganan adalah puskesmas atau rumah sakit dengan fasilitas yg lengkap (tergantung fasilitas dan interfensi bedah yg harus dikerjakan).. Tampon (“packing”) bila cara diatas tidak dapat mengatasi perdarahan terutama pembuluh darah yg letaknya dalam digunakan kain kasa atau verban steril dimasukkan ke dalam luka dalam jumlah secukupnya. seperti v. . 3. Donor biasanya diambil dari vena. Ligasi dapat saja dikerjakan bila sirkulasi kolateral cukup.Saphena magna. Penyambungan vena dikerjakan bila disebabkan oleh trauma tajam tanpa kehilangan jaringan pembuluh darah. 2. Penekanan ini dikerjakan selama lima menit. 5. Adalah tempat penekanan pada vena yang dapat menghambat pengaliran darah ke bagian distal 4. 1. Bila sirkulasi kolateral tidak atau meragukan maka penyambungan atau penggunaan graft merupakan pilihan. Pengguanaan graft dari vena harus dipasang terbalik mengingat dalam vena tungkai terdapat klep.1. Elevasi.

sebaiknya dengan “patch graft” u/ mencegah penyempitan lumen. Sebelum tindakan perlu menentukan apakah lesi pembuluh darah ini dijahit atau diligasi. Setelah itu arteri dan vena ditangani masing-masing sesuai dijelaskan sebelumnya. PROGNOSA Beberapa faKtor yang turut menentukan keberhasilan pembedahan vaskuler yaitu: . 6. Pada oblik dan transversal langsung dijahit sedangkan pada linier terlebih dua sisi. Fistula arteriovenosa. Ligasi sebaiknya dihindarkan pada vena femoralis komunis dan vena poplitea. Pada Keadaan ini penentuan panjang kerusakan perlu karena tindakan terbaik adalah reseksi. 3.2. Ruptur inkomlet. faktor-faktor pembekuan darah vena lebih kurang disbanding arteri sehingga perdarahan dari vena lebih sulit dikontrol dibandingkan dari arteri. satu sisi atau dua sisi. Kelebihan vena adalah mempunyai kolaterale lebih banyak. kemuadian dipasang graft. Trauma tertutup. Bentuk robekan dapat linier. oblik atau transversal. Keadaan ini merupakan komplikasi dari rupture inkomplet arteri dan vena letaknya berdekatan dimana terjadi pengaliran sebagian darah arteri ke dalam vena. Tindakan yang dikerjakan u/ trauma vena adalah ligasi atau penjahitan atau penyambungan pd vena tetentu. disamping vena-vena besar intra abdominal dan intra torakal. Dinding vena jauh lebih tipis daripada arteri.

P 440-444. http://annsilva.wordpress.• • • • • Waktu antara kejadian sampai waktu melakukan pembedahan. Du Plessis DJ. Great Britain. The Bath Press. Jakarta. 1986. Fasilitas rumah sakit. Synopsis of Surgical Anatomy. Bentuk kerusakan pembuluh vena. Diakses tanggal 24 April . 2012. Keadaan umum penderita.com/2010/03/13/vaskuler/. Anatomi Klinik Edisi 6. 3. Snell. 2009. Decker GAG. Richard S. 2006. Ada tidaknya infeksi pasca bedah. 2. Trauma jaringan vasculer. EGC. 12 Th Edition. DAFTAR PUSTAKA 1. Jhunz.

4. 5. Diakses tanggal 24 April 2012.. edisi 26. Jakarta. 1996 6. Fraser. EndovasculerWidya Medika. . Kamus Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Repair of spontaneous or traumatic vein rupture. Diakses tanggal 23 April 2012. Dorland. Traumatic rupture of femoral vein. Jakarta. Steven R.