Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

1

ANALISIS STANDAR ISI MATA PELAJARAN IPS
MAKALAH
Disusun untuk disampaikan dalam Kegiatan Workshop “Reaffirmed Social Studies as the Integrated Science”

Oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Didi Pramono Moh. Saiful Fatwa Noviani Achmad Putri Agung Nugroho Doni Harfiyanto Siti Nurindah Sari NIM 0301512007 NIM 0301512010 NIM 0301512011 NIM 0301512024 NIM 0301512033 NIM 0301512041

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2012
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 2

RANGKUMAN EKSEKUTIF

A. Analisis Kajian Standar Isi Jenjang SMP/MTS Analisis terhadap Standar Isi pada jenjang SMP/MTs menghasilkan permasalahan-permasalahan dalam beberapa aspek. Standar Kompetensi dan kompetensi dasar lebih banyak dipahami sebagai materi yang harus diberikan di sekolah tanpa pengembangan lebih lanjut yang disesuaikan dengan kondisi sekolah. Pemahaman seperti itu berakibat pada pembelajaran guru lebih berorientasi pada materi, bukan pada kompetensi dan lebih banyak berdasar pada buku teks, bukan pada dokumen standar isi. Melihat alokasi Jam Pelajaran untuk mapel IPS tingkat SMP dapat dikatakan ideal dalam pembagian jam pelajaran IPS jika dibanding dengan mapelmapel lain, khususnya rumpun mapel Matematika dan IPA. Alokasi Jam Pelajaran mapel IPS empat jam per minggu, alokasi ini sama dengan mapel Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Namun jika dibandingkan dengan materi mapel IPS, alokasi waktu untuk mapel IPS kurang proporsional. Materi mapel IPS yang mencakup Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, dan Geografi, cukup banyak. Terdapat sebaran materi yang tidak merata yang semestinya proporsi sebaran materi Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi merata pada setiap semester dan kelas. Dalam penerapannya, pada Standar Isi ditentukan bahwa substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu” (Permendiknas RI No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi). Di beberapa sekolah, mapel IPS diajarkan secara parsial, materi Sosiologi diajarkan oleh guru dengan latar belakang pendidikan Sosiologi, materi Sejarah diajarkan oleh guru dengan latar belakang pendidikan Sejarah. Hal ini jelas melanggar dokumen Standar Isi, IPS tidak lagi diajarkan secara terpadu. Penggunaan Kata Kerja Operasional dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) banyak sekali menggunakan kata kerja operasional mendeskripsikan dan mengidentifikasi. Peserta didik hanya dituntut untuk bisa mendeskripsikan dan mengidentifikasi, tanpa ada praktek yang justru akan memberikan pengalaman belajar yang optimal.
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 3

Muatan materi dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ditemui beberapa materi yang tidak runtut dalam penyusunannya, materi pada kelas VIII Semester 2. Standar kompetensi “memahami kegiatan perekonomian di Indonesia”, Ketidakruntutan penyampaian materi juga dapat ditemui pada SK dan KD kelas IX Semester 1. Standar kompetensi menyebutkan “memahami kondisi perkembangan negara di dunia. Keterkaitan Antara Materi Pelajaran dengan Tujuan Pendidikan Nasional. Materi-materi pelajaran yang tercantum dalam SK dan KD dapat dikatakan sudah menuju pada perwujudan tujuan pendidikan nasional. Yang perlu menjadi fokus perhatian adalah penilaian hasil belajar tidak yang mempedulikan tujuan pendidikan nasional tetapi tujuan mata pelajaran (Hamid Hasan, 2008: 110). Konsep dalam IPS juga tidak jelas apakah konsep Kurikulum IPS terpadu, korelasi, atau terpisah-pisah. Walaupun diberi nama IPS terpadu akan tetapi dalam kenyataannya SK dan KD tetap terpisah-pisah antara Sejarah, Ekonomi, Geografi, dan Sosiologi, sehingga materi yang tercantum dalam SK dan KD tidak berurutan. Beban belajar juga mencakup pemberian penugasan, baik penugasan terstruktur maupun penugasan mandiri tidak terstruktur. Waktu untuk penugasan terstruktur maupun penugasan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik SMP/MTs maksimal 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran bersangkutan (Permendiknas RI No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi).

B. Analisis Kajian Standar Isi Jenjang SMA/MA Analisis terhadap Standar Isi pada jenjang SMA/MA menghasilkan permasalahan-permasalahan dalam beberapa aspek salah satunya dalam hal kajian naskah atau dokumen, yaitu sebagai berikut: Pertama, Struktur Kurikulum dan Beban Belajar dari masing-masing kelas yaitu Kelas X pada mata pelajaran sejarah dan geografi dengan alokasi waktu hanya 1 jam pelajaran saja. Hal ini tentu sangat menyulitkan di dalam pengelolaannya. Oleh sebab itulah mata pelajaran sejarah dan geografi di kelas X direkomendasikan untuk ditambah masing-masing dari 1 jam pelajaran menjadi 2 jam pelajaran. Kelas XI dan XII Program IPA: mata pelajaran sejarah pada program ini diberi alokasi waktu hanya 1 jam saja, untuk itu mata pelajaran tersebut pada program ini direkomendasikan juga untuk
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 4

ditambah dari 1 jam pelajaran menjadi 2 jam pelajaran. Kelas XI dan XII Program IPS: Mata pelajaran ekonomi pada program ini direkomendasikan ditambah dari 4 jam menjadi 5 jam. Adanya materi akuntasi dan ekonomi lingkungan sebagai core program IPS menyebabkan mata pelajaran ini harus

memiliki waktu yang cukup agar kompetensi yang disyaratkan tercapai. Kedua, Dokumen Kurikulum dari masing-masing jenjang yaitu terkait dengan a) Sequens: Terdapat sequens materi yang tidak berurutan, baik SK dan KD tingkat SD, SMP dan SMA. Sequens untuk SMA nampak tidak jelas dalam mata pelajaran Sejarah di Jurusan IPA dan Bahasa sebaiknya disamakan dengan sequens pada jurusan IPS. Hal ini penting agar ada penyeragaman materi sebab misi pelajaran sejarah adalah membangun jati diri bangsa dengan menanamkan nilai-nilai kebangsaan; b) Materi (content): Pada umumnya materi mata pelajaran IPS dan alokasi waktu yang disediakan kurang proporsional. Waktu yang diberikan sangat singkat sedangkan materi yang harus diberikan cukup banyak. Ketiga, Penyusunan Program Silabus dan RPP: Guru dalam menyusun Silabus dan RPP belum banyak memperlihatkan kekhasan pada satuan pendidikannya sesuai dengan tuntutan pada kurikulum KTSP. Keempat, Penggunaan Kata Kerja Operasional dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD): masih banyak yang

menggunakannya kata kerja operasional berunsur tidak aktif terhadap pembelajaran di kelas. Implikasinya bagi pembelajaran adalah peserta didik hanya dituntut untuk bisa mendeskripsikan dan mengidentifikasi, tanpa ada praktek yang justru akan memberikan pengalaman belajar yang optimal. Kelima, Muatan Materi dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD: Materi-materi yang tertuang dalam SK dan KD sarat akan nilai-nilai, dikembangkan dari yang mudah/sederhana menuju materi yang kompleks. Namun banyak ditemui dalam penjabaran materi SK dan KD tidak runtut dari hal yang umum ke khusus melainkan terpencar-pecar penyebarannya. Keenam, Keterkaitan Antara Materi Pelajaran dengan Tujuan Pendidikan Nasional: Sistem Pendidikan Nasional, Standar Nasional Pendidikan, dan aturan-aturan lain tentang pendidikan bermuara pada Tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 5

kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Seyogyanya pengembangan kurikulum juga mengacu pada tujuan pendidikan nasional. Materi-materi pelajaran yang tercantum dalam SK dan KD dapat dikatakan sudah menuju pada perwujudan tujuan pendidikan nasional. Hampir seluruh materi dalam IPS memberi pengaruh terhadap perkembangan individu untuk menjadi warga negara atau masyarakat yang mempunyai potensi seprti diatas. Yang perlu menjadi fokus perhatian adalah penilaian hasil belajar tidak yang mempedulikan tujuan pendidikan nasional tetapi tujuan mata pelajaran.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

6

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pendidikan nasional diarahkan dapat mengembangkan kemampuan bangsa Indonesia dan mengembangkan potensi agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan yang bermutu mengacu pada kriteria minimal sistem pendidikan yang berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti yang tercantum dalam Satandar Nasional Pendidikan. Standar Nasional Pendidikan memiliki tujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Terdapat delapan kriteria mutu pendidikan dalam Standar Nasional Pendidikan yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi kelulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan (Mulyasa, 2009:21). Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi kelulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu, yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran dan silabus pembelajaran (Mulyasa, 2009:21). Standar isi dituangkan dalam peraturan pemerintah (PP) Republik Indonesia nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kalender pendidikan/akademik. Kerangka dasar yang dimuat pada standar isi terdapat lima kelompok mata pelajaran antara lain mata pelajaran agama dan akhlak mulia, mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, mata pelajaran Ilmu pengetahuan, dan teknologi, mata pelajaran estetika, dan mata pelajaran jasmani olahraga kesehatan, pada mata pelajaran ilmu pengetahuan terdapat beberapa macam ilmu pengetahuan salah satunya adalah ilmu pengetahuan sosial atau disingkat dengan IPS dan pendidiakan ilmu penegtahuan sosial.
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 7

Ilmu pengetahuan sosial adalah seperangkat peristiwa, fakta, konsep, generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial (Akbar, 2010:84). Mata pelajaran IPS (ilmu pengetahuan sosial pada jenjang SD/MI) memuat materi mengenai sejarah, geografi, ekonomi. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS (ilmu pengetahuan sosial) memuat materi mengenai sejarah, geografi, sosiologi, dan ekonomi. Pada jenjang SMA/MA mata pelajaran IPS (ilmu pengetahuan sosial) memuat materi mengenai sejarah, sosiologi, geografi, dan ekonomi. Pembelajaran bidang studi IPS di sekolah-sekolah pada tahun 1950-an tidak terdengar keluh kesah dari kalangan guru IPS (Ilmu pengetahuan sosial) maupun para siswa jurusan IPS di SMA (sekolah Menengah Atas) mengenai betapa tersudutnya posisi peserta didik yang memilih jurusan IPS dalam dunia kerja. Guru IPS juga cukup leluasa melakukan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran IPS di sekolah-sekolah dalam kedudukan sebagai guru kelas, namum pada tahun 1970 sampai sekarang ketika setiap sekolah dituntut harus memiliki jurusan antara lain jurusan Bahasa, jurusan IPA dan jurusan IPS. Pada peserta didik yang memilih jurusan IPS di sekolahnya muncul perasaan rendah diri, pada peserta didik yang terpaksa memilih jurusan IPS. Peserta didik yang memilih jurusan IPS tidak mempunyai persaaan bangga ketika menjadi siswa jurusan IPS, karena melihat kenyatan bahwa siswa yang memilih jurusan IPA bisa meneruskan belajar di perguruan tinggi pada fakultas-fakultas manapun, sementara pada siswa yang memilh jurusan IPS tidak bisa meneruskan belajar di perguruan tinggi pada fakultas-fakultas teknik maupun kedokteran, kebidanan yang berbasis ilmu-ilmu pasti alam. Guru yang mengajar bidang studi IPS juga memiliki perasaan rendah diri dan frustasi karena melihat betapa rendahnya minat siswa untuk belajar ilmu pengetahuan sosial. Kebanyakan para siswa beranggapan belajar ilmu pengetahuan sosial itu membosan hanya penuh dengan hafalan dan teori-teori saja, untuk itu siswa tidak berminat untuk belajar bidang studi IPS apabila dilihat dari bidang studi IPS yang memuat materi menganai sejarah, sosiologi, geografi dan ekonomi. Para guru yang mengajar bidang studi IPS juga mengeluh karena sedikit minat siswa yang mau mengikuti belajar tambahan berupa les mata pelajaran IPS. Pada saat sekarang kurikulum sering diartikan dalam artian sempit yaitu pengaturan mengenai mata pelajaran. Oleh karena itu ketika kurikulum akan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 8

dikembangkan maka yang dipermasalahkan adalah kedudukan suatu mata pelajaran. Tantangan yang diidentifikasi adalah kekurangan pemahaman atau penguasaan terhadap materi pelajaran dari suatu mata pelajaran tertentu. Para pengembang kurikulum berdialog untuk menyelesaikan berapa jam pelajaran untuk mata pelajaran matematika, IPA, IPS, dan sebagainya. Pertanyaan mengenai manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum sesuai dengan tujuan pendidikan nasional tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya ketika deliberasi dilakukan untuk menentukan konten kurikulum. Kiranya tidak terlalu slah jika dikatakan bahwa tujuan pendidikan hanyalah pernyataan yang tertulis secara hukum tanpa punya kekuatan apapun. Para pengembang kurikulum tidak mengkaji ini ketika menentukan posisi mata pelajaran ataupun menentukan model kurikulum. Penilaian hasil belajar tidak juga mempedulikan tujuan pendidikan nasional tetapi tujuan mata pelajaran. Tujuan mata pelajaran tidak dikembangkan dari tujuan pendidikan nasional (Hasan, 2008: 103). Dokumen Standar Isi menjadi fokus evaluasi kurikulum. Berbagai ketetapan yang tertuang pada dokumen Standar Isi perlu dikaji dan dievaluasi untuk melihat kesesuaiannya dengan perkembangan masyarakat, berbagai teori pendidikan, dan kurikulum. Evaluasi terhadap Standar Isi harus mampu mengungkapkan konsistensi internal antara berbagai ketetapan seperti pengelompokan mata pelajaran sebagai indikator dari ide pendidikan dan kurikulum, pikiran tentang struktur kurikulum, prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang ditetapkan dengan pengelompokan mata pelajaran dan struktur kurikulum, beban belajar dan kalender pendidikan. Oleh karena itu, kajian evaluasi kurikulum terhadap dokumen Standar Isi adalah suatu yang penting (Hasan, 2008: 103). Disinilah peran strategis mahasiswa dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), untuk melakukan evaluasi dan dilanjutkan dengan memberikan solusi atas berbagai temuan masalah dalam Standar Isi. Makalah ini mengupas kelemahan-kelemahan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, baik dari segi dokumen maupun penerapannya di lapangan. Tidak berhenti disitu, ide-ide kreatif juga merupakan lahan garapan yang termuat dalam makalah ini.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

9

B. Rumusan Masalah 1. Apa kelemahan-kelemahan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi? 2. Bagaimana upaya untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi?

C. Tujuan 1. Menganalisis kelemahan-kelemahan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. 2. Memberikan solusi untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.

D. Manfaat 1. Manfaat Teoretis a. Memberikan wawasan, pengetahuan, dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga mereka dapat memberikan dukungan terhadap pengembangan kurikulum masa depan. 2. Manfaat Praktis a. Memberikan arahan dan masukan bagi para pengembang kurikulum, khususnya mata pelajaran IPS. b. Memberikan acuan dasar dalam pelaksanaan pembelajaran IPS di sekolah dasar dan menengah.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

10

BAB II KAJIAN TEORETIS

A. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi lulusan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender akademik. Struktur kurikulum untuk pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri dari: a) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; b) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; c) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; d) kelompok mata pelajaran estetika; dan e) kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan. Beban belajar berisi: a) konsep penyelenggaraan pendidikan menggunakan sistem paket dan sistem kredit semester; b) alokasi waktu kegiatan tatap muka per jam, per minggu, dan per tahun pada masing-masing satuan pendidikan; dan c) jenis penugasan dan proporsi pemberian penugasan dalam pembelajaran. Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan, dan penyusunannya berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik dalam satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

B. Ilmu pengetahuan Sosial IPS adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan

penyederhanaan, adaptasi, seleksi, dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, dan Ekonomi (Puskur, 2001 : 9). Materi pelajaran IPS merupakan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 11

penggunaan konsep-konsep dari ilmu sosial yang terintegrasi dalam tema-tema tertentu. Misalkan materi tentang Pasar, maka harus ditampilkan kapan atau bagaimana proses berdirinya (Sejarah), dimana pasar itu berdiri (Geografi), bagaimana hubungan antara orang-orang yang berada di pasar (Sosiologi), bagaimana kebiasaan-kebiasaan orang menjual atau membeli di pasar

(Antropologi) dan berapa atau jenis-jenis barang yang diperjualbelikan (Ekonomi). IPS menggambarkan interaksi individu atau kelompok dalam masyarakat baik dalam lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Interaksi antar individu dalam ruang lingkup lingkungan mulai dari yang terkecil misalkan keluarga, tetangga, rukun tetangga atau rukun warga, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara dan dunia. Karakteristik tujuan IPS menurut Bruce Joyce (dalam Naskah Kebijakan Kurikulum IPS, 2007 :14-15) memiliki tiga katagori yaitu : 1. Pendidikan kemanusiaan. 2. Pendidikan kewarganegaraan. 3. Pendidikan intelektual. Pendidikan kemanusiaan memiliki arti bahwa IPS harus membantu anak memahami pengalamannya dan menemukan arti atau makna dalam kehidupannya. Dalam tujuan pertama ini terkandung unsur pendidikan nilai. Guru dapat

menyajikan materi IPS dalam tujuan ini misalkan dalam materi lingkungan keluarga,. ditanyakan kepada siswa mengenai pekerjaan apa yang ia lakukan di keluarga dan mengapa ia melakukan pekerjaan tersebut. Siswa mungkin akan menjawab dari pengalamannya sebagai anak yang paling besar harus membimbing adik-adiknya. Ia melakukan hal tersebut misalkan karena timbulnya rasa tanggung jawab. Pendidikan kewarganegaraan mengandung arti bahwa siswa harus dipersiapkan untuk berpartisipasi secara efektif dalam dinamika kehidupan masyarakat. Siswa memiliki kesadaran untuk meningkatkan prestasinya sebagai bentuk tanggung jawab warga negara yang setia pada negara. Pendidikan nilai dalam tujuan ini lebih ditekankan pada kewarganegaraan. Materi yang disajikan, misalnya ketika berbicara tentang lingkungan sekolah, maka anak diminta untuk belajar dengan baik. Mereka adalah generasi penerus yang akan menggantikan generasi sekarang.
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 12

Pendidikan intelektual mengandung arti bahwa anak membutuhkan untuk memperoleh ide-ide yang analitis dan alat-alat untuk memecahkan masalah yang dikembangkan dari konsep-konsep ilmu sosial. Dalam memecahkan masalah anak akan dihadapkan pada upaya mengambil keputusan sendiri. Dengan peningkatan kematangan, anak harus belajar untuk menjawab pertanyaan dengan benar dan menguji ide-ide kritis dalam situasi sosial. Misalnya, dalam materi tentang pasar, siswa dihadapkan pada masalah tentang mana yang lebih baik belanja di pasar tradisional atau swalayan apabila ibunya ingin membeli sayuran. Dalam

pemecahan masalah dan pengambilan keputusan tersebut siswa akan dihadapkan berbagai pertimbangan, seperti jarak pasar dari rumah, ongkos yang digunakan, perbandingan harga sayuran di pasar tradisional dan swalayan, dan lain-lain. Jack R. Fraenkel (dalam Naskah Kebijakan Kurikulum IPS, 2007 :14-15) membagi tujuan IPS dalam empat kategori yaitu : 1. Pengetahuan 2. Keterampilan 3. Sikap 4. Nilai Pengetahuan adalah kemahiran dan pemahaman terhadap sejumlah informasi dan ide-ide. Tujuan pengetahuan ini membantu siswa untuk belajar lebih banyak tentang dirinya, fisiknya dan dunia sosial. Misalnya, siswa dikenalkan dengan konsep apa yang disebut dengan lingkungan alam, lingkungan buatan, keluarga, tetangga, dan lain-lain. Keterampilan adalah pengembangan kemampuankemampuan tertentu sehingga digunakan pengetahuan yang diperolehnya. Beberapa keterampilan yang ada dalam IPS adalah : a. Keterampilan berpikir yaitu kemampuan mendeskripsikan, mendefinisikan, mengklasifikasi, membuat hipotesis, membuat generalisasi, memprediksi, membandingkan dan mengkontraskan, dan melahirkan ide-ide baru. b. Keterampilan akademik yaitu kemampuan membaca, menelaah, menulis, berbicara, mendengarkan, membaca dan meninterpretasi peta, membuat garis besar, membuat grafik dan membuat catatan. c. Keterampilan penelitian yaitu mendefinisikan masalah, merumuskan suatu hipotesis, menemukan dan mengambil data yang berhubungan dengan masalah,
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 13

menganalisis data, mengevaluasi hipotesis dan menarik kesimpulan, menerima, menolak atau memodifikasi hipotesis dengan tepat. d. Keterampilan sosial yaitu kemampuan bekerjasama, memberikan kontribusi dalam tugas dan diskusi kelompok, mengerti tanda-tanda non-verbal yang disampaikan oleh orang lain, merespon dalam cara-cara menolong masalah yang lain, memberikan penguatan terhadap kelebihan orang lain, dan

mempertunjukkan kepemimpinan yang tepat. Sikap adalah kemahiran mengembangkan dan menerima keyakinankeyakinan, interes, pandangan-pandangan, dan kecenderungan tertentu. Sedangkan nilai adalah kemahiran memegang sejumlah komitmen yang mendalam, mendukung ketika sesuatu dianggap penting dengan tindakan yang tepat.

C. Kurikulum KTSP Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Bab 1 Pasal 1 Ayat (15) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah “kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.” KTSP merupakan

penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah (Muslich 2007, hlm. 17). Komponen diaantaranya: 1. Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kurikulum merupakan suatu sistem yang terdiri dari unsur-unsur yang disebut sebagai komponen kurikulum. Komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan mendukung yang merupakan dasar utama dalam mencapai tujuan pendidikan. Sebagaimana Panduan Penyusunan KTSP yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), KTSP ada empat komponen, yaitu (1) tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, (2) struktur dan muatan KTSP, (3) kalender pendidikan, dan (4) silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP (dikutip dari panduan penyusunan KTSP lengkap 2008, hlm. 148-151).
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 14

dan

Struktur

Kurikulum

Tingkat

Satuan

Pendidikan,

Dengan adanya keempat komponen KTSP tersebut, maka tingkat satuan pendidikan atau sekolah, seperti kepala sekolah dan guru diberikan kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi sekolahnya

berdasarkan visi, misi dan tujuan sekolah. Karena masing-masing sekolah dipandang lebih mengetahui tentang kondisi nyata satuan pendidikannya. 2. Struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

D. Jurnal Penelitian Penelitian Edy Sutrisna, 2012 tentang Strategi guru dalam pembelajaran IPS (Studi eksploratif pelaksanaan pembelajaran IPS di SMP wilayah kabupaten Pati), menyimpulkan bahwa Pemberlakuan KTSP sebagai kurikulum yang berbasis pada kompetensi menuntut diterapkannya strategi dan metode pembelajaran yang mampu mengantarkan peserta didik mencapai sejumlah kompetensi tertentu. IPS sebagai mata pelajaran yang memiliki tujuan mulia, yaitu mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang baik, seharusnya diajarkan kepada siswa melalui strategi dan metode yang tepat dengan memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih cenderung menggunakan strategi pembelajaran ekspositori; penggunaan sumber dan media pembelajaran yang kurang variatif; dan pendekatan terpadu dalam pembelajaran IPS tidak dapat direalisasi oleh para guru karena berbagai kendala. Penelitian Sutimah dan Prof. Ace Suryadi,M.Sc.,Ph.D tentang Dampak Implementasi Standar Isi dan Standar Proses terhadap hasil UASBN tahun 2009/2010 pada Sekolah Dasar di Jambi, menyimpulkan bahwa standar isi dan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 15

standar proses mempunyai hubungan dan pengaruh yang positif serta signifikan terhadap hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional. Ujung tombak dalam mengimplementasikan standar isi dan standar proses adalah guru, karena guru merupakan elemen yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. Kerangka dasar dan struktur kurikulum harus dipahami, sehingga guru akan dengan mudah untuk melaksanakan perencanaan pembelajaran. Apabila perencanaan

pembelajaran dilakukan secara tepat, maka proses pembelajaran dan evaluasi dapat berjalan dengan baik. Untuk menunjang hal tersebut peran pengawas dan kepala sekolah sangat dibutuhkan untuk memantau dan mensupervisi serta memberikan arahan dan bimbingan kepada guru, sehingga hasil evaluasi belajar siswa (UASBN) dari tahun ke tahun semakin meningkat. Penelitian Yer J. Thao, Department of Curriculum and Instruction, Graduate School of Education, Portland State University, Portland, USA tentang Bicultural Literacy Curriculum yang menyimpulkan bahwa this article examines the literacy issues in public school in the United States, and points out that current programs do not have a meaningful cultural connection to bicultural and bilingual students. The findings indicate that literacy must become part of bicultural and bilingual students’ reality in order to empower them. The pedagogical content of literacy must acknowledge bicultural and bilingual students’ culture so they can make connections to learning literacy. In order to help bicultural and bilingual students acquire the necessary academic skills to succeed on high-stakes tests that are demanded by No Child Left Behind Law, public schools need to infuse home culture literacy as part of literacy programs and practices.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

16

BAB III PEMBAHASAN

A. ANALISIS KAJIAN STANDAR ISI JENJANG SD/MI Analisis terhadap Standar Isi pada jenjang SD menghasilkan permasalahanpermasalahan dalam beberapa aspek salah satunya dalam kajian naskah atau dokumen, diantaranya: 1. Struktur Kurikulum Berdasarkan analisis terhadap dokumen kerangka dasar dan struktur
kurikulum SD/MI ditemukan ketentuan yaitu pada butir c tertulis : ”Pembelajaran pada kelas I s.d III dilaksanakan melalui pendekatan tematik sedangkan pada kelas IV s.d VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran.” Kelas III merupakan awal untuk pelaksanaan pendekatan mata pelajaran di kelas IV, maka pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas III lebih diorientasikan kepada penguatan dasar dasar mata pelajaran sebagai persiapan untuk pendekatan mata pelajaran secara utuh di kelas IV. Hal ini dimungkinkan karena materi pokok bahan ajar kelas III sudah lebih tinggi untuk dikembangkan melalui tematik (litbang, 2007:11).

2. Alokasi waktu Berdasarkan analisis terhadap dokumen Standar isi SD/MI Dalam pembagian waktu, mata pelajaran IPS kurang sesuai atau kurang proporsional dengan materi IPS yang ada. Dengan waktu yang cukup singkat sedangkan materi yang harus diberikan cukup banyak. Hal ini akan mengakibatkan guru dalam menyampaikan hanya ingin menghabiskan materi saja,

mengesampingkan paham atau tidaknya peserta didik. Dalam mata pelajaran IPS antara materi dengan alokasi waktu hendaknya proporsional, mengingat banyaknya ruang lingkup materi sehingga perlu ditambah alokasi waktunya, sebaliknya apabila alokasi waktu tetap seperti apa yang ada sekarang perlu adanya penyederhanaan ruang lingkup materi. 3. Muatan materi dalam SK, KD Materi-materi yang ada pada SK KD hendaklah berkesesuaian antara KD yang satu dengan yang lainnya, dalam arti dapat disusun dari tahap yang mudah kemudian menuju ke yang sulit atau dapat pula bertahap berurutan sesuai tema.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

17

Akan tetapi pada kenyataannya terdapat ketidak runtutuan. Berikut dapat dilihat beberapa contoh urutan KD yang kurang sesuai urutannya. Misalnya pada SD Kelas 3 Semester 2 dimana urutannya yang semula menguraikan KD nomor 2.3 “jual beli di lingkungan rumah dan sekolah”, baru kemudian pada KD selanjutnya dibahas KD nomor 2.4 “sejarah uang.” Alangkah lebih runtut jika menempatkan “sejarah uang” pada KD nomor 2.3 baru kemudian “jual beli dilingkungan rumah dan sekolah” pada KD nomor 2.4. Karena dengan begini peserta didik akan lebih mengetahui bagaimana asal usul sejarah uang dengan memahami kegunaan, nilai uang, lalu mengetahui contoh-contohnya dengan kegiatan jual beli disekitar sekolah maupun rumah. Selain itu terdapat sebaran materi yang tidak merata, yang seharusnya sebaran materinya seimbang terdiri dari sejarah, geografi, ekonomi pada setiap kelas. Akan tetapi contohnya pada SD kelas V sebagian besar materinya adalah sejarah. 4. Kaitan materi dengan tujuan nasional pendidikan Tujuan pendidikan sekolah dasar adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar bagi siswa dalam mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, serta mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama. Materi yang disampaikan ditujukan hanya untuk kemampuan yang dipersyaratkan oleh disiplin ilmu saja. Analisis terhadap Standar Isi pada jenjang SD selanjutnya dpat dikaji dalam hal pelaksanaan di lapangan, hasil kajian tersebut diantaranya:
a. Keragaman Pelaksanaan Terdapat beragam pelaksanaan KTSP di sekolah-sekolah, khususnya keragaman dalam pelaksanaan di setiap jenjang. Ada sekolah yang

melaksanakan sekaligus semua jenjang yaitu di SD langsung dilaksanakan dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 (litbang, 2007:17), ada pula yang berjenjang dimulai dari kelas dua maupun kelas tiga sampai kelas 6.

b. Struktur Kurikulum
Pelaksanaan Pembelajaran Tematik di kelas I s.d III tidak berjalan sesuai dengan ketentuan Standar Isi, karena guru-guru mengalami kesulitan dalam menyusun silabus sesuai dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

18

Dasar (KD) yang ditetapkan dalam Standar Isi. Selain itu guru-guru mengalami kesulitan dalam mengalokasikan waktu yang harus dipergunakan dalam seminggu, karena tidak ada ketentuan alokasi waktu untuk setiap tema yang ditetapkan. Hal ini disebabkan guru-guru belum memahami esensi dan praktek pembelajaran tematik (litbang, 2007:12)

c. Beban belajar Beban belajar untuk kegiatan tatap muka per minggu bagi kelas IV sampai dengan kelas VI dirasakan kurang, karena perlu penambahan alokasi jam belajar untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Diusulkan agar jumlah jam tatap muka untuk kelas IV s.d VI menambah lama belajar per jam pelajaran dari 35 menit menjadi 40 menit tanpa menambah beban belajar tatap muka per minggu.

B. Analisis Kajian Standar Isi Jenjang SMP/MTS Analisis terhadap Standar Isi pada jenjang SMP/MTs menghasilkan permasalahan-permasalahan dalam beberapa aspek, diantaranya: 1. Prinsip Pengembangan Kurikulum Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip: a) berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya; b) beragam dan terpadu; c) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; d) relevan dengan kebutuhan kehidupan; e) menyeluruh dan berkesinambungan; f) belajar sepanjang hayat; g) seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah (Permendiknas RI No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi). Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum di atas bukanlah hal yang bersifat anti kritik, konsep ideal selalu dipertentangkan dengan fakta di lapangan. Masalah pertama dapat dijumpai pada prinsip poin (a), yang bisa juga dikaitkan dengan prinsip poin (b) dan (d). Kasus yang terjadi di daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat menggugurkan dua point di atas.
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 19

Daerah perbatasan terdiri dari populasi penduduk yang berasal dari dua daerah/dua suku yang berbeda, Jawa dan Sunda. Bahkan bisa jadi suatu daerah di Jawa Tengah perbatasan mayoritas penduduknya adalah Suku Sunda, sebut saja di Kabupaten Brebes khususnya kecamatan Salem, Bantarkawung, dan Buaran. Masalah terjadi ketika muatan lokal yang diberikan di sekolah justru adalah Bahasa Jawa. Masyarakat yang mayoritas Suku Sunda akan mengalami kesusahan ketika belajar Bahasa Jawa. Kehidupan sehari-hari mereka menggunakan bahasa ibu, yakni Bahasa Sunda. Secara administratif mereka memang termasuk penduduk Jawa Tengah, namun secara budaya mereka adalah orang Sunda. Dengan demikian, apakah kurikulum telah disusun berdasarkan pada potensi peserta didik, perkembangan kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya? Dan, apakah kurikulum telah disusun secara seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah? Serta, apakah kurikulum telah dikembangkan secara relevan dengan kebutuhan kehidupan? Hamid Hasan (2008: 110) menyatakan bahwa ide untuk kurikulum (dalam hal ini KTSP) harus pula memperhatikan kebutuhan daerah, keunggulan dan kelemahan yang ada di sekitar sekolah baik dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, kehidupan keagamaan, dan aspek kehidupan lainnya. Ditambahkan juga oleh Hamid Hasan (2008: 112) bahwa prinsip pengembangan kurikulum itu merupakan aplikasi dari prinsip pendidikan yang menghendai agar pendidikan berdasarkan akar budaya dan tidak mencabut peserta didik dari lingkungan sosial-budayanya. Yer J. Thao (2011) menambahkan bahwa: “Literacy has a very important role in the public school to give power to bicultural and bilingual students, so they can maintain a sense of cultural, language, and identity balance between their home culture and the dominant culture. Bicultural and bilingual students have struggled to make a connection through public school literacy programs that have been washed to remove cultural identity”. Secara garis besar, Yer J. Thao menghendaki bahwa dalam penyusunan kurikulum juga harus memperhatikan budaya masyarakat setempat. Kurikulum diharapkan dapat menjadi sarana untuk melestarikan jiwa berbudaya (sense of culture) yang seimbang antara budaya lokal dan budaya arus utama. Penguasaan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 20

yang baik terhadap budaya masyarakat menjadikan peserta didik memiliki daya juang untuk melawan budaya-budaya asing yang mengikis budaya lokal. Standar Kompetensi dan kompetensi dasar lebih banyak dipahami sebagai materi yang harus diberikan di sekolah tanpa pengembangan lebih lanjut yang disesuaikan dengan kondisi sekolah. Pemahaman seperti itu berakibat pada pembelajaran guru lebih berorientasi pada materi, bukan pada kompetensi. Hal ini terjadi disebabkan penyampaian materi IPS di sekolah lebih banyak berdasar pada buku teks, bukan pada dokumen standar isi. Sehingga KTSP yang dikembangkan di sekolah belum menggambarkan KTSP yang memiliki ciri khas sekolah atau daerah tersebut. Sebab buku-buku teks yang digunakan lebih banyak memaparkan materi yang masih bersifat umum yang bisa berlaku pada semua sekolah atau daerah (Depdiknas, 2007). Selain itu, poin (c) juga merupakan wacana yang perlu dikritisi dan di evaluasi ulang. Kecenderungan di lapangan adalah beberapa guru dengan tingkat usia lanjut kurang dapat mengikuti perkembangan teknologi, ditambah dengan kapabilitas sekolah untuk menyediakan pembelajaran berbasis IT yang tidak merata. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum merupakan konsep ideal yang masih memerlukan upaya serius dalam upaya mewujudkannya. Hal ini juga didukung oleh penelitian Edy Sutrisna, 2012 tentang Strategi guru dalam pembelajaran IPS (Studi eksploratif pelaksanaan pembelajaran IPS di SMP wilayah kabupaten Pati), menyimpulkan bahwa Pemberlakuan KTSP sebagai kurikulum yang berbasis pada kompetensi menuntut diterapkannya strategi dan metode pembelajaran yang mampu mengantarkan peserta didik mencapai sejumlah kompetensi tertentu. IPS sebagai mata pelajaran yang memiliki tujuan mulia, yaitu mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang baik, seharusnya diajarkan kepada siswa melalui strategi dan metode yang tepat dengan memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih cenderung menggunakan strategi pembelajaran ekspositori; penggunaan sumber dan media pembelajaran yang kurang variatif; dan pendekatan terpadu dalam pembelajaran IPS tidak dapat direalisasi oleh para guru karena berbagai kendala. Hal inilah yang mengakibatkan pembelajaran IPS untuk beberapa orang mengatakan
21

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

membosankan sehingga perlu setrategi-setrategi khusus mengelola pembelajaran IPS sehingga dapat bervariatif lagi. 2. Struktur Kurikulum Alokasi Jam Pelajaran untuk mapel IPS tingkat SMP dapat dikatakan ideal, ideal dalam arti proporsi pembagian jam pelajaran IPS jika dibanding dengan mapel-mapel lain, khususnya rumpul mapel Matematika dan IPA. Alokasi Jam Pelajaran mapel IPS empat jam per minggu, alokasi ini sama dengan mapel Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Namun jika dibandingkan dengan materi mapel IPS, alokasi waktu untuk mapel IPS kurang proporsional. Materi mapel IPS yang mencakup Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, dan Geografi, cukup banyak. Selain alokasi waktu yang tidak proporsional, terdapat juga sebaran materi yang tidak merata. Semestinya proporsi sebaran materi Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi merata pada setiap semester dan kelas. Misalnya IPS SMP, pada kelas VII semester 1 materi Sejarah sangat sedikit, hanya ada dalam satu KD dan itupun berada dalam SK yang lebih cocok untuk Geografi. Permasalahan juga muncul dalam penerapannya, dalam Standar Isi ditentukan bahwa substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu” (Permendiknas RI No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi). IPS terpadu terdiri dari beberapa ilmu sosial, diantaranya Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, dan Geografi. Di beberapa sekolah, mapel IPS diajarkan secara parsial, materi Sosiologi diajarkan oleh guru dengan latar belakang pendidikan Sosiologi, materi Sejarah diajarkan oleh guru dengan latar belakang pendidikan Sejarah. Hal ini jelas melanggar dokumen Standar Isi, IPS tidak lagi diajarkan secara terpadu. Salah satu penyebabnya adalah masih minimnya guru dengan latar pendidikan sarjana pendidikan IPS, sehingga pembelajaran IPS harus diampu oleh guru dari masing-masing bidang. IPS di SMP diorganisasikan menjadi IPS Terpadu, sehingga berimplikasi pada tugas guru yang mengajar. Dalam hal bagaimana guru IPS di SMP mengajar terjadi keragaman. Ada sekolah yang mengajarkan IPS di SMP dipegang oleh satu orang. Konsekuensinya, guru tersebut harus`mengajar sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi. Pelaksanaan seperti itu beralasan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 22

bahwa mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang satu, bukan mata pelajaran yang dipisah-pisahkan walaupun materinya bersumber dari sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi. Selain itu ada pula SMP yang mengajarkan IPS, dipegang oleh beberapa orang guru sesuai dengan disiplinnya, yaitu sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi. Jadi pelaksanaan pengajaran IPS dibagi ke dalam empat bidang studi. Alasan pelaksanaan yang demikian pertama untuk pemerataan guru mata pelajaran (sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi), kedua pentingnya profesionalisme penguasaan materi oleh guru. Mata pelajaran apabila diajarkan oleh guru yang bukan disiplinnya akan menjadi kurang berkualitas, misalnya sejarah diajarkan oleh guru yang berlatar belakang pendidikan geografi atau sebaliknya (Depdiknas, 2007). 3. Penggunaan Kata Kerja Operasional dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada jenjang SMP/MTs banyak sekali menggunakan kata kerja operasional mendeskripsikan dan mengidentifikasi. Kata “mendeskripsikan” berarti menjelaskan,

memaparkan, menggambarkan, atau menerangkan. Dalam konteks ini berarti peserta didik setelah mengikuti pembelajaran diharapkan dapat memahami kemudian menjelaskan kepada orang lain tentang materi yang telah diperolehnya. Kata “mengidentifikasi” berarti mengenali, menentukan, atau menetapkan ciri/karakteristik atas suatu hal. Dalam konteks ini berarti peserta didik setelah mengikuti pembelajaran diharapkan dapat mengenali suatu hal, fenomena, benda-benda tertentu, dan lain sebagainya. Implikasinya bagi pembelajaran adalah peserta didik hanya dituntut untuk bisa mendeskripsikan dan mengidentifikasi, tanpa ada praktek yang justru akan memberikan pengalaman belajar yang optimal. Tes yang digunakan pun masih banyak mengukur aspek kognitif pada jenjang yang lebih rendah misalnya kemampuan untuk menyebutkan. Penggunaan bentuk tes yang demikian disebabkan oleh pemahaman yang salah tentang materi IPS. Materi IPS dipahami sebagai materi yang hapalan saja, sehingga tes yang digunakan pun lebih menekankan pada hapalan (Depdiknas, 2007). Selain itu pembelajaran yang berlangsung juga tidak memenuhi konsep PAIKEM, karena bisa jadi
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 23

pembelajaran

yang

diselenggarakan

guru

akan

terjebak

pada

model

pembelajaran ceramah dengan minim variasi. Ditambah IPS merupakan mapel memiliki muatan materi yang banyak. Guru akan terfokus pada bagaimana menyelesaikan penyampaian materi pada peserta didik dengan jatah waktu yang telah dialokasikan selama masa studi tertentu. Kondisi tersebut di atas diperparah dengan orientasi guru yang hanya mengacu pada buku teks, kurikulum hanya wacana sepintas lalu yang diabaikan begitu saja dalam pelaksanaan pembelajaran. Buku teks dianggap sudah mewakili kurikulum, sehingga guru merasa tidak perlu mengkaji lebih dalam tentang isi dan amanat kurikulum. Kondisi ini jelas salah, karena seharusnya guru sendiri yang harus menjabarkan dan mengembangkan kurikulum. Perlu diwaspadai mengenai sistem “kejar tayang” yang kadang dilakukan oleh beberapa guru, karena ini memungkinkan terjadinya pengabaian terhadap penangkapan peserta didik atas materi yang disampaikan. 4. Muatan Materi dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Materi-materi yang tertuang dalam SK dan KD sarat akan nilai-nilai, dikembangkan dari yang mudah/sederhana menuju materi yang kompleks. Namun ditemui beberapa materi yang tidak runtut dalam penyusunannya, semisal materi pada kelas VIII Semester 2. Standar kompetensi menyebutkan “memahami kegiatan perekonomian di Indonesia”, kompetensi dasarnya terdiri dari: a) Mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai sumber daya dalam kegiatan ekonomi, serta peranan pemerintah dalam upaya penanggulangannya; b) Mendeskripsikan pelaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia; c) Mendeskripsikan fungsi pajak dalam perekonomian nasional; dan d) Mendeskripsikan permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar. Perrtanyaan yang muncul, lalu bagian mana yang tidak runtut? Mari kita cermati poin (a), (c), dan (d). Materi tentang pajak merupakan materi tingkat lanjut dari kegiatan perekonomian, jika dibandingkan dengan materi mengenai permintaan dan penawaran. Permintaan dan penawaran merupakan dasar dalam kegiatan perekonomian, yaitu kegiatan yang terjadi dalam pasar. Seyogyanya materi permintaan dan penawaran diajarkan terlebih dahulu,
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 24

kemudian secara berturut-turut diajarkan materi tentang pelaku-pelaku ekonomi, pajak, dan permasalahan angkatan kerja dan upaya penanggulangannya. Ketidak runtutan penyampaian materi juga dapat ditemui pada SK dan KD kelas IX Semester 1. Standar kompetensi menyebutkan “memahami kondisi perkembangan negara di dunia”, kompetensi dasarnya terdiri dari: a) mengidentifikasi ciri-ciri negara berkembang dan negara maju; b)

mendeskripsikan Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia. Secara kasat mata dapat dikatakan bahwa materi pada poin (a) dan (b) tidak runtut, semestinya poin (b) diajarkan terlebih dahulu dari pada poin (a). Logikanya, konsep negara berkembang dan negara maju salah satunya disebabkan oleh Perang Dunia II. Perang Dunia II memberikan dampak multi dimensional terhadap kehidupan, salah satunya bidang ekonomi. Negara-negara yang kalah perang kemudian menjadi pailit. Di bidang politik, pasca Perang Dunia II banyak negara-negara terjajah yang melakukan nasionalisasi/merdeka, karena negara penjajah kalah dalam Perang Dunia II. Kondisi demikian dimanfaatkan negara terjajah untuk melakukan perjuangan kemerdekaan secara lebih intensif. Negara yang baru merdeka merupakan negara-negara yang dapat dikategorikan negara berkembang. Lebih lanjut dijabarkan dalam naskah akademik tentang kajian kebijakan kurikulum mapel IPS (2007), bahwa urutan yang digunakan dalam IPS SMP tidak jelas konsepnya apakah konsep Kurikulum IPS terpadu, korelasi, atau terpisah-pisah. Walaupun diberi nama IPS terpadu akan tetapi dalam kenyataannya SK dan KD tetap terpisah-pisah antara Sejarah, Ekonomi, Geografi, dan Sosiologi, sehingga materi yang tercantum dalam SK dan KD tidak berurutan. Ada upaya untuk memadukan dalam suatu tema yang diuraikan dalam KD yang beragam, misalnya KD tersebut ada aspek sejarah dan Geografi. Tetapi cara memadukan KD tersebut kurang tepat. Misalnya pada kelas VII semester 1 KD nomor 1.1. Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan dan nomor 1.2. Mendeskripsikan kehidupan pada masa pra-aksara di Indonesia. Kedua KD tersebut tidak saling terkait. Jika melihat SK nomor 1, materi lebih dekat dengan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 25

Geografi sedangkan KD nomor 1.2. berisi materi Sejarah. Pada sisi lain ada SK yang hanya Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi. Seperti pada Kelas VII semester 2, SK nomor 4, 5, dan 6. Standar kompetensi nomor 4 berisi materi Geografi, SK nomor 5 berisi materi Sejarah dan SK nomor 6 berisi materi Ekonomi. 5. Keterkaitan Antara Materi Pelajaran dengan Tujuan Pendidikan Nasional Sistem Pendidikan Nasional, Standar Nasional Pendidikan, dan aturanaturan lain tentang pendidikan bermuara pada Tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Seyogyanya pengembangan kurikulum juga mengacu pada tujuan pendidikan nasional. Materi-materi pelajaran yang tercantum dalam SK dan KD dapat dikatakan sudah menuju pada perwujudan tujuan pendidikan nasional. Yang perlu menjadi fokus perhatian adalah penilaian hasil belajar tidak yang mempedulikan tujuan pendidikan nasional tetapi tujuan mata pelajaran (Hamid Hasan, 2008: 110). 6. Beban Belajar Dalam penyelenggaraan pendidikan dikenal istilah sistem paket dan sistem kredit semester (SKS). Penyelenggaraan pendidikan SMP/MTs memang belum dikenai kewajiban untuk menerapkan SKS, namun boleh dan bisa saja menerapkan SKS jika SMP/MTs bersangkutan sudah dapat dikategorikan sebagai sekolah Mandiri, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), atau Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak sekolah yang sudah menyandang predikat RSBI atau SBI yang belum siap menyelenggarakan pendidikan dengan sistem SKS. Beban belajar juga mencakup pemberian penugasan, baik penugasan terstruktur maupun penugasan mandiri tidak terstruktur. Waktu untuk penugasan terstruktur maupun penugasan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik SMP/MTs maksimal 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran bersangkutan (Permendiknas RI No. 22 tahun 2006 tentang Standar
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 26

Isi). Sekali lagi, ini merupakan konsep ideal yang perlu konsistensi dalam penerapannya.

C. ANALISIS KAJIAN STANDAR ISI JENJANG SMA/MA Analisis terhadap Standar Isi pada jenjang SMA/MA menghasilkan permasalahan-permasalahan dalam beberapa aspek salah satunya dalam hal kajian naskah atau dokumen, yaitu sebagai berikut: 1. Struktur Kurikulum dan Beban Belajar Struktur program merupakan bagian penting dalam sebuah proses pembelajaran karena dari sanalah dapat terbentuk sistem kegiatan belajar mengajar yang diharapkan dapat berhasil secara maksimal. Berdasarkan kajian yang dilakukan terhadap struktur program SMA, terdapat beberapa temuan. a. Kelas X Pada kelas X, terdapat mata pelajaran yang waktunya sangat sempit , yaitu mata pelajaran sejarah dan geografi dengan alokasi waktu hanya 1 jam pelajaran saja. Hal ini tentu sangat menyulitkan di dalam pengelolaannya. Berbagai persiapan yang harus dilakukan guru, termasuk memberikan apersepsi kepada siswa dalam sebuah mata pelajaran sungguh tidak memungkinkan bila hanya dialokasikan dengan 1 jam pelajaran (45 menit). Mata pelajaran sejarah tidak hanya menginformasikan berbagai fakta dan kejadian semata. Mata pelajaran ini menuntut siswa informasi/fakta/kejadian selalu mengkaji

secara cerdas dan arif sehingga menghasilkan

kesimpulan dari materi tersebut secara proporsional. Penanaman nilai-nilai sejarah pada siswa juga harus diberikan mata pelajaran ini melalui KBM yang variatif dan bermakna. Oleh sebab itulah mata pelajaran sejarah di kelas ini direkomendasikan untuk ditambah dari 1 jam pelajaran menjadi 2 jam pelajaran. Mata pelajaran geografi juga direkomendasikan untuk menambah jumlah jam pelajaran dari 1 jam pelajaran menjadi 2 jam pelajaran. Selain persiapan yang harus dilakukann guru dalam sebuah pembelajaran, materi geografi juga sangat kompleks. Kondisi geografis Indonesia yang sangat unik menyebabkan kajian geografi menjadi sesuatu yang harus didiskusikan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 27

antara siswa dan guru secara komprehensif sehingga hasil pembelajaran ini membuat siswa memahami,menghargai, dan mencintai negara mereka. Peristiwa alam yang banyak terjadi di Indonesia seperti tsunami, gempa bumi, banjir, gunung meletus, dan longsor mengharuskan mata pelajaran geografi memberikan informasi kepada siswa dan mendiskusikannya. b. Kelas XI dan XII Program IPA Mata pelajaran sejarah pada program ini diberi alokasi waktu hanya 1 jam saja. Untuk itu, mata pelajaran ini pada program ini direkomendasikan juga untuk ditambah dari 1 jam pelajaran menjadi 2 jam pelajaran. Program IPA yang berorientasi pada sains bukan berarti tidak memerlukan mata pelajaran sejarah. Mata pelajaran sejarah pada program IPA atau pada

program lainnya tidak boleh dipandang sebagai sebuah kajian materi yang hanya menambah beban siswa, melainkan harus menjadi alat perekat bangsa sebab melalui sejarahlah seseorang atau suatu bangsa dapat belajar dari kesalahan atau mengacu pada sebuah keberhasilan. Hal yang harus

dilakukan adalah bagaimana menjadikan pelajaran ini sebagai sebuah pembelajaran yang variatif dan bermakna bagi anak. c. Kelas XI dan XII Program IPS Mata pelajaran ekonomi pada program ini direkomendasikan ditambah dari 4 jam menjadi 5 jam. Adanya materi akuntasi dan ekonomi lingkungan sebagai core program IPS menyebabkan mata pelajaran ini harus memiliki waktu yang cukup agar kompetensi yang disyaratkan tercapai. 2. Dokumen Kurikulum Standar isi Mata Pelajaran IPS yang memuat Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar terdapat dua masalah yaitu sequens dan isi atau content. a. Sequens Sequens yang digunakan tidak jelas konsepnya apakah menggunakan pendekatan kronologis, kausalitas, tematis, dan lainnya. Ketidakjelasan penggunaan konsep sequens berdampak pada materi yang tidak jelas urutannya, apakah diurut berdasarkan keluasan ruang lingkup materi, unsur kronologi waktu atau yang lainnya. Terdapat sequens materi yang tidak berurutan, baik SK dan KD tingkat SD, SMP dan SMA. Berikut ini beberapa
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 28

contoh urutan SK dan KD yang tidak jelas urutannya. Sequens untuk SMA nampak tidak jelas dalam mata pelajaran Sejarah di Jurusan IPA dan Bahasa sebaiknya disamakan dengan sequens pada jurusan IPS. Hal ini penting agar ada penyeragaman materi sebab misi pelajaran sejarah adalah membangun jati diri bangsa dengan menanamkan nilai-nilai kebangsaan. b. Materi (content) Pada umumnya materi mata pelajaran IPS dan alokasi waktu yang disediakan kurang proporsional. Waktu yang diberikan sangat singkat sedangkan materi yang harus diberikan cukup banyak. Misalnya jumlah mata pelajaran sejarah di Program IPA SMA hanya satu jam sementara materi yang harus diberikan cukup banyak. Begitu pula pelajaran Geografi pada kelas 1 hanya diberikan waktu 1 jam. Begitu pula dalam mata pelajaran Ekonomi, KD pada mata pelajaran ekonomi kelas XII IPS terlalu padat. Pada Kelas X materi pelajaran ekonomi terlalu banyak, alokasi jamnya tidak cukup. 3. Penyusunan Program Silabus dan RPP Guru dalam menyusun Silabus dan RPP belum banyak memperlihatkan kekhasan pada satuan pendidikannya. Tuntutan KTSP yang harus

memperlihatkan situasi dan kondisi sekolah atau daerah semestinya menjadi bahan dalam materi pelajaran. Hal ini terjadi dikarenakan perumusan indikator dan tujuan belum dirumuskan sendiri oleh guru. Ada kecenderungan, guru-guru membuat indikator mengcopy dari buku teks yang mencantumkan indikator dari masing-masing materi yang akan disampaikan. Selain itu guru harus bisa membedakan rumusan indikator dan tujuan, sehingga tidak rancu dalam merumuskan silabus dan RPP. Pemahaman terhadap perbedaan indikator dan rumusan tujuan, ada perbedaan antara guru dan pengawas di lapangan. Hal ini dapat menyulitkan guru dalam merumuskan Silabus dan Indikator, karena kedudukan pengawas sebagai penilai kinerja guru. 4. Penggunaan Kata Kerja Operasional dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada jenjang SMA/MA banyak sekali menggunakan kata kerja operasional mendeskripsikan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 29

dan

mengidentifikasi.

Kata

“mendeskripsikan”

berarti

menjelaskan,

memaparkan, menggambarkan, atau menerangkan. Dalam konteks ini berarti peserta didik setelah mengikuti pembelajaran diharapkan dapat memahami kemudian menjelaskan kepada orang lain tentang materi yang telah diperolehnya. Kata “mengidentifikasi” berarti mengenali, menentukan, atau menetapkan ciri/karakteristik atas suatu hal. Dalam konteks ini berarti peserta didik setelah mengikuti pembelajaran diharapkan dapat mengenali suatu hal, fenomena, benda-benda tertentu, dan lain sebagainya. Implikasinya bagi pembelajaran adalah peserta didik hanya dituntut untuk bisa mendeskripsikan dan mengidentifikasi, tanpa ada praktek yang justru akan memberikan pengalaman belajar yang optimal. Berdasarkan hasil analisis penggunaan kata operasional pada mata pelajaran IPS tingkat SMA masih sangat sedikit sekali penggunaan kata kerja operasional yang dapat mengakibatkan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Penggunaan kata kerja operasionla yang dapat melibatkan siswa aktif pada mata pelajaran Sosiologi dari kelas X-XII terdapat tiga indikator yang dapat membuat siswa aktif. Pada mata pelajaran Ekonomi kata kerja operasional yang digunakan cukup banyak untuk membuat siswa aktif terutama dalam bab pembahasan memahami penyususnan siklus akutansi persahaan jasa, hampir semua menggunakan kata kerja operasional melakukan yang dapat berakibta aktif terhdap kegiatan pembelajaran. Pada mapel sejarah hampir secara keseluruhan masih

menggunakan kata kerja menganalisis dan mendeskripsikan sehingga kurang sekali melibatkan siswa katif dalam pembelajaran. Pada mata pelajaran Antropologi sudah ada beberapa kata kerja operasional yang membuat siswa aktif diantaranya dengan kata kerja operasional melakukan, menunjukkan sikap, melakukan studi etnografi, dan mengkomunikasikan hasil studi. Pada mata pelajaran Geografi masih terhitung sedikit kata kerja yang membuat siswa aktif yaitu hanya kata kerja operasional yang muncul mempraktikkan pada SK mempraktikkan ketrampilan dasar membuat peta.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

30

5. Muatan Materi dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Materi-materi yang tertuang dalam SK dan KD sarat akan nilai-nilai, dikembangkan dari yang mudah/sederhana menuju materi yang kompleks. Namun ditemui beberapa materi yang tidak runtut dalam penyusunannya, misalnya pada mata pelajaran Sosiologi pada indikator di SK 1 dan SK 2. Pada indikator SK 2 menerangkan bahwa tentang sosialisasi, harusnya lebih dahulu diletakkan sebelum indikator nilai dan norma, karena terjadinya sosialisasi pertama kali terjadi di dalam kelurga sehingga perlu disampaikan sebelam individu terjun ke masyarakat dan berinteraksi ke lingkungan masyarakat. 6. Keterkaitan Antara Materi Pelajaran dengan Tujuan Pendidikan Nasional Sistem Pendidikan Nasional, Standar Nasional Pendidikan, dan aturanaturan lain tentang pendidikan bermuara pada Tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Seyogyanya pengembangan kurikulum juga mengacu pada tujuan pendidikan nasional. Materi-materi pelajaran yang tercantum dalam SK dan KD dapat dikatakan sudah menuju pada perwujudan tujuan pendidikan nasional. Hampir seluruh materi dalam IPS memberi pengaruh terhadap perkembangan individu untuk menjadi warga negara atau masyarakat yang mempunyai potensi seprti diatas. Yang perlu menjadi fokus perhatian adalah penilaian hasil belajar tidak yang mempedulikan tujuan pendidikan nasional tetapi tujuan mata pelajaran (Hamid Hasan, 2008: 110). Analisis terhadap Standar Isi pada jenjang SMA selanjutnya dpat dikaji dalam hal pelaksanaan di lapangan, hasil kajian tersebut diantaranya: a. Pemahaman Standar Isi Secara teoretis sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No. 22 bahwa standar isi merupakan cakupan lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian sekolah atau satuan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 31

pendidikan diminta untuk menjabarkan materi sebagaimana yang ada dalam standar isi disesuaikan dengan kondisi sekolah. Pemahaman standar isi di lapangan terdapat dua bentuk pelaksanaan. Bentuk pertama yaitu Standar Kompetensi dan kompetensi dasar lebih banyak dipahami sebagai materi yang harus diberikan di sekolah tanpa pengembangan lebih lanjut yang disesuaikan dengan kondisi sekolah. Pemahaman seperti itu berakibat pada pembelajaran guru lebih berorientasi pada materi, bukan pada kompetensi. Hal ini terjadi disebabkan penyampaian materi IPS di sekolah lebih banyak berdasar pada buku teks, bukan pada dokumen standar isi. Sehingga KTSP yang dikembangkan di sekolah belum menggambarkan KTSP yang memiliki ciri khas sekolah atau daerah tersebut. Sebab buku-buku teks yang digunakan lebih banyak memaparkan materi yang masih bersifat umum yang bisa berlaku pada semua sekolah atau daerah. Bentuk kedua, sekolah yang mencoba memahami standar isi sebagai kompetensi yang harus dikembangkan di sekolah. Materi yang ada di dalam dokumen KTSP hanyalah merupakan materi standar yang harus

dikembangkan oleh guru atau satuan pendidikan. Dalam pengembangannya ini melihat kekhasan dari satuan pendidikannya atau daerahnya. Model pengembangan seperti ini berarti sekolah telah mengembangkan KTSP sebagaimana yang dikehendaki. b. Keragaman Pelaksanaan Pelaksanaan KTSP di sekolah-sekolah terdapat keragaman, khususnya keragaman dalam pelaksanaan di setiap jenjang. Ada sekolah yang melaksanakan sekaligus semua jenjang yaitu di SD langsung dilaksanakan dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 ; di SMP dari kelas VII sampai dengan kelas IX; dan di SMA dari kelas X sampai dengan kelas XII. Selain itu ada pula sekolah-sekolah yang melaksaakan secara berjenjang perkelas, misalnya di SMP pada tahun 2006 dilaksanakan hanya di kelas VII dan di kelas VIII pada tahun 2007 sedangkan di kelas IX baru akan dilaksanakan pada tahun 2008. Begitu pula halnya di SMA, pelaksanaan di kelas X pada tahun 2006, kelas XI tahun 2007, dan kelas XII baru tahun 2008.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

32

Keragaman pelaksanaan tersebut memiliki berbagai alasan. Sekolah yang melaksanakan KTSP secara keseluruhan pada semua jenjang beralasan agar kurikulum yang dilaksanakan di sekolah tersebut seragam dan merasa siap untuk melaksanakannya. Sedangkan sekolah yang melaksanakan secara berjenjang dengan alasan mengkuti peraturan sebagaimana diatur dalam Permendiknas no. 23 yang mengatakan pelaksanaan KTSP dilakukan secara berjenjang dan membolehkan bagi sekolah yang siap untuk melaksanakan di seluruh jenjang. Alasan lainnya adalah ketidaksiapan sekolah-sekolah tersebut untuk melaksanakan KTSP secara menyeluruh pada semua jenjang. c. Sosialisasi KTSP belum merata Berdasarkan temuan di lapangan khususnya ketika dilakukan berbagai pelatihan yang berkenaan dengan pelaksanaan KTSP baik yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan (Propinsi/Kabupaten/Kota) maupun oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di berbagai daerah, tidak jarang ditemukan guru yang belum paham tentang KTSP. Bila ditelusuri kegiatan sosialisasi ini berawal dari beberapa orang guru dari berbagai daerah diundang oleh BSNP. Kemudian mereka dijadikan penatar KTSP untuk tingkat nasional dan daerah. Informasi itu diestafetkan kembali di tingkat propinsi sampai daerah. Di daerah tidak seluruh guru dapat mengikuti kegiatan sosialisasi. Kalaupun ada, baru pada tataran MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) bagi mereka yang aktif di MGMP. Sebenarnya estafet informasi itu sudah baik, namun tatkala mereka kembali ke sekolah masing-masing, guru yang diharapkan jadi mediator untuk guru-gurunya di sekolah tidak dan atau kurang memberikan informasi yang telah didapatnya itu. Pada akhirnya tidak sedikit sekolah mengundang para pejabat terkait diundang, mulai dari Kepala Sekolah, Subdin Dikdasmen, Pengawas, dan Pakar Kurikulum untuk menjelaskan tentang dokumen KTSP. Tetapi kegiatan ini hanya dilaksanakan oleh sekolah yang memiliki dana. Bagi sekolah yang tidak memiliki dana, jelas KTSP hanya sebatas yang mereka dengar sehingga pehamanan pada KTSP sangat minim. Demikian juga dengan pedoman petunjuk teknis KTSP yang belum disosialisasikan menambah kaburnya implementasi kurikulum. Pada akhirnya tidak seluruh sekolah sudah menerapkan KTSP.
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 33

d. Tugas Guru Mengajar Guru yang mengajar IPS di SMA mengikuti pada pengorganisasian materi kurikulum IPS. Pengajaran IPS di SMA dalam implementasi penugasan guru tidak terjadi perubahan sebagaimana halnya di SMP, karena pengorganisasian materi IPS di SMA sudah terpisah-pisah secara disiplin. Jadi ada guru yang secara khusus`mengajar sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi. e. Guru masih berorientasi pada buku teks, tidak mengacu pada dokumen kurikulum Dokumen kurikulum (KTSP) yang dikeluarkan oleh BSNP melalui dinas pendidikan, baik tingkat pusat dan daerah telah menyebar ke berbagai sekolah sebagai pelaksana dan pengembang kurikulum. Berbagai media, cara dan sarana untuk menyebarkan kurikulum itu telah ditempuh oleh BSNP, seperti workshop, pelatihan, seminar, dan lain sebagainya. Sasaran dari penggunaan berbagai media dan kegiatan itu diharapkan agar pelaksana kurikulum (guru) memahami dan melaksanakan proses belajar mengajar yang mengacu pada kurikulum. Tetapi berdasarkan penemuan di lapangan ketika melakukan pelatihan-pelatihan yang berkenaan dengan PBM, masih banyak guru dalam PBM tidak mengacu pada kurikulum. Mereka lebih memilih pada buku teks yang dianggap sudah menjabarkan kurikulum. Untuk itu tidak jarang guru yang tahu kurikulum hanya pada batas wacana, bukan pada dokumen kurikulum yang sebenarnya. Buku teks menjadi sarana yang memadai dalam menjabarkan kurikulum. Kondisi ini jelas salah, karena seharusnya guru sendiri yang harus menjabarkan dan mengembangkan kurikulum.

D. RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI DAN SBI) Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang menyiapakan peserta didik berdasarkan Standar Nasional pendidikan (SNP) Indonesia dan bertaraf Internasionjal sehingga diharapkan lulusanya memiliki kemampuan daya saing internasional. Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional merupakan sekolah /madrasah yang sudah memenuhi
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 34

seluruh Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-Operation and Development dan/atau negara maju lainnya yng memeliki daya saing di forum internasional. Tujuan program RSBI meliputi: 1. Tujuan Umum a. Meningkatkan kualitas pendidikan nasional sesuai dengan amanat tujuan Nasional dalam pembukaan UUD 1945, pasal 31 UUD 1945, UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, PP No. 19 tahun 2005 tentang SNP (Standar Nasional Pendidikan), dan UU No 17 Tahun 2007 tentang rencana Pembangunan jangka Panjang Nasional yang menetapkan Tahapan Skala prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Ke-1 tahun 2005-2009 untuk meningkatkan kualitas dan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan. b. Memberi peluang pada sekolah yang berpotensi untuk mencapai kualitas bertaraf nasional pelayanan pendidikan. c. Menyiapkan lulusan yang mampu berperan aktif dalam masyarakat global. 2. Tujuan Khusus Menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi yang tercantum di dalam Standar Kompetensi lulusan yang dipercaya dengan Standar Kompetensi Lulusan berciri internasional. RSBI/SBI adalah sekolah yang berbudaya Indonesia, karena kurikulumnya ditujukan untuk pencapaiana indikator kinerja kunci minimal sebagai berikut: a. Menerapkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). b. Menerapakan sistem satuan kredit semester di SMA/SMK/MA/MAK. c. Memenuhi Standar Isi. d. Memenuhi Standar Kompetensi Lulusan. RSBI dalam melaksanakan kurikulum dan proses pembelajaran

menggunakan asas-asas sebagai berikut: 1. Menggunakan kurikulum yang berlaku secara nasional dengan mengadaptasi pada kurikulum sekolah di negara lain. 2. Mengajarkan bahasa asing, terutama penggunaan bahsa Inggris, secara terintegrasi dengan mata pelajaran lainnya. Metode pengajaran 2 bahasa ini
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 35

dapat dilaksanakan dengan 2 kategori yaitu Subtactive Bilingualism (beri penjelasan oleh penulis) dan Additive Billingualism yang menekankan pendekatan dua bahasa. 3. Pengajaran dengan pendekatan dual language menekankan perbedaan adanya bahasa akademik dan bahasa sosial yang pengaturan bahasa pengantarnya dapat dialokasikan berdasarkan subjek maupun waktu (beri penjelasan oleh penulis). 4. Menekankan keseimbangan aspek perkembangan anak meliputi aspek kognitif (intelektual), aspek sosial dan emosional, dan aspek fisik. 5. Mengintegrasikan kecerdasan majemuk (multiple Intelligence) termasuk Emotional Intelligence dan Spritula Intellegence ke dalam kurikulum. 6. Mengembangkan kurikulum terpadu yang berorientasi pada materi, kompetensi, nilai dan sikap serta perilaku (kepribadian) 7. Mengarahkan siswa untuk mampu berpikir kritis, keatif dan analitis, memiliki kemampuan belajar (learning how to learn) serta mampu mengambil keputusan dalam belajar penyusunan kurikulum ini didasarkan prinsip “understanding by design” yang menekankan pemahaman jangka panjang “(enduring Understanding)’. Pemahaman (Understanding) dilihat dari 6 aspek yaitu: Explain, Interperet, Apply, Perspective, Empathy, self knowledge 8. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dapat menggunakan sistem paket dan kredit semester 9. Dapat memberikan program magang untuk siswa SMA, MA, dan SMK 10. Menekankan kemampuan pemanfaatan Information and Communication Technology (ICT) yang terrintegrasi dalam setiap mata pelajaran Kurikulum, Proses Pembelajaran, dan Penilaian SBI Selain memenuhi Standar Isi, memenuhi SKL, dan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), serta menerapkan sistem satuan kredit semester di SMP/MTs, model kurrikulum SBI ini memenuhi: 1. Sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di mana setiap saat siswa bisa mengakses transkripnya masing-masing; 2. Muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari muatan pelajaran yang sama pada sekolah unggul dari salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; dan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 36

3. Menerapkan standar kelulusan sekolah/madrasah yang lebih tinggi dari Standar Kompetensi Lulusan. Proses pembelajaran disesuaikan dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik yang memenuhi Standar Proses. Selain itu, proses pembelajaran ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci tambahan sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran pada semua mata pelajaran menjadi teladan bagi

sekolah/madrasah lainnya dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur,
kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa entrepreneural, jiwa patriot, dan jiwa inovator;

2. Diperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; 3. Menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran; 4. Pembelajaran mata pelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan menggunakan bahasa Inggris, sementara pembelajaran mata pelajaran lainnya, kecuali pelajaran bahasa asing, harus menggunakan bahasa Indonesia; dan 5. Pembelajaran dengan bahasa Inggris untuk mata pelajaran kelompok sains dan matematika untuk SD/MI baru dapat dimulai pada Kelas IV. Dalam proses pembelajaran selain menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, juga bisa menggunakan bahasa lainnya yang sering digunakan dalam forum internasional, seperti bahasa Perancis, Spanyol, Jepang, Arab, dan China. Penilaian dilakukan untuk mengendalikan mutu pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas kinerja pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Penilaian terhadap peserta didik dilakukan oleh para guru untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan yang memenuhi Standar Penilaian. Selain itu, proses penilaian diperkaya penilaian kinerja pendidikan dengan model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. Pada awalnya sekolah bertaraf internasional diterapkan agar tercipta para siswa yang memiliki daya saing internasional dan dunia pendidikan

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

37

memiliki standar system pendidikan yang sama dan bisa bersaing dengan Negara lain. Pentahapan atau fase dalam pengembangan Program rintisan SMA bertaraf internasional. Tahap pengembangan rintisan SMA berataraf Internasional ada 3 tahap, yaitu: 1. Tahap Pengembangan (3 Tahun Pertama) No 1 Komponen Standar isi dan Kompetensi lulusan a. Standar Isi Profil yang diharapkan  Mengembangkan KTSP dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris  Melakukan adaptasi dengan kurikulum sekolah salah satu Negara maju dengan kondisi dan kesiapan sekolah  Hasil pemetaan kurikulum dioperasikan dalam KTSP, silabus, Rpp, perangkat pembelajaran, media dan sumber ajar, an perangkat pendudukung internasional  Merintis kemitraan dengan sekolah atau lembaga sertifikasi pendidikan internasional  Minimal merumuskan SKL sesui standar nasional

Pendidikan (SNP) dan yang tertuang dalam permen diknas No. 23 tahun 2006 b. Kompetensi lulusan  Menambah komponen SKL yang telah ada dengan mengadaptasi/mengadopsi internasional SKL yang bercirikan

2. Tahapan Pemberdayaan (2 Tahun, Tahun Ke-4 dan Ke-5) No 1 Komponen Kurikulum Profil yang diharapkan  Sekolah melaksanakan dan meningkatkan kualitas hasil yang sudah dikembangkan pada tahap pendampingan  Sekolah melakukan refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan untuk keperluan penyempurnaan  Sekolah merealisaikan program kemitraan dengan sekolah

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

38

mitra dalam dan luar Negeri serta lembaga sertifikasi pendidikan internasional

3. Tahap Mandiri (Tahun ke-6) No 1 Kurikulum Sekolah dapat secara mandiri melaksanakan kurikulum program SMA bertaraf internasional (SMABI) yang dikembangkan pada tahap sebelumnya

Stereotype sekolah bertaraf internasional saat ini, sekolah dengan level internasional memiliki kekhasan sendiri bagi setiap orang yang diantaranya adalah: a. Biaya sekolah yang mahal Sekolah dengan taraf internasional dilambangkan dengan sekolah yang mahal karena sekolah-sekolah ini membutuhhkan ssarana yang membutuhkan biaya besar seperti untuk alat bantu pengajaran yang canggih dan berkualitas. Tetapi, hal tersebut mengakibatkan tidak semua anak bisa masuk sekolah ini, yang pintar tetapi bukan dari kelas atas menjadi tidak bisa mendapatkan pendidikan dari sekolah dengan konsep iinternasional. b. Hanya orang kaya yang bisa masuk Dengan biaya sekola yang mahal berarti hany aorang kaya saja yang bisa menjadi siswa di sekolah ini. Walaupun ada yang mendapat besiswa, para siswa dari kalangan biasa akan terpengaruh dari lingkungan yang sangat berkelas ini dan akan mempengaruhi dalam kegiatan belajar. Bukannya focus pada pelajaran tetapi bisa saja para siswa sibuk saling menunjukkan kekayaan orang tuanya. c. Sarana sekolah yang nyaman Biaya yang mahal akan berbanding lurus dengan sarana sekolah yang nyaman sperti adanya AC, jumlah siswa yang tidak banyak sehingga kegiatan belajar mengajar akan nyaman dan kondusif. d. Bahasa pengantar bahasa Inggris Ketika sekolah memiliki konsep internasional maka bahasa yang digunakan adalah bahsa internasional yaitu bahsa inggris. Hal ini akan dianggap para pendidik di sekolah tersebut ahli mengajar dengan bahsa internasional dan
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 39

para siswa jago berbahasa inggris. Karena sampai saat ini bahsa internasional terkesan membanggakan. Sekolah bertaraf internasional menjadi sekolah penuh prestise bukan fokus pada pendidikan, tetapi pada nilai-nilai material dan terkadang menjadi lupa akan nilai-nilai nasional atau bahkan nilai kedaerahan karena sekolah dengan konsep ini seperti sangat bertujuan pada ke-global-an tanpa mempedulikan nilai-nilai tardisional. Orang-orang yang sebagian besar dari kalangan atas akan menjadi kurang fokus pada pendidikan melainkan kebanggaan dari alamamter sekolah tersebut. Kelebihan Sekolah Bertaraf Internasional Dimulai dengan pikiran orang-orang terhadap sekolah dengan taraf internasional ini setidaknya terdapat beberapa kelebihan yaitu: a. Tujuan Dasar dari tujuan ini sangat bagus, membuat hasil lulusannya berdaya saing internasional dan berpikir secara global juga tidak akan kalah saing dengan Negara lain. b. Sekolah menjadi kreatif Dengan menjadikan sekolah menjadi sekolah bertaraf internasional membuat sekolah ini harus memikirkan konsep yang diusung dengan taraf internasional dan berdaya saing tinggi. Hal ini membuat para sekolah menjadi kreatif untuk membentuk suatu konsep yang bertaraf internasional, entah itu sertifikasi keterampilan yang diakui oleh beberapa Negara, kerja sama dengan sekolah yang ada di luar negeri, perpustakaan yang lengkap dan maju, dan hal lainnya yang bisa dibanggakan dan sesuai dengan konsep sekolah tersebut. c. Bahasa pengantar adalah bahasa internsional Tidak seperti sekolah dengan konsep yang sebelumnya, bahasa pengantar ketika kegiatan belajar mengajar adalah bahasa inggris. Hal ini membuat para siswa dapat menghadapi dunia global dan mendapat persiapan karena terbiasa menggunakan bahasa internasional. d. Guru yang kreatif Dengan adanya sekolah dengan konsep internasional membuat para guru tidak bisa tetap dengan konsep pengajaran yang dulu. Para guru harus lebih
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 40

kreatif lagi agar sesuai dengan konsep sekolah yang ada. Para guru harus bisa menggunakan alat bantu ajar yang canggih. Para guru harus membuat suasana belajar tidak biasa sehingga harus benar-benar mempersiapkan materi ajar yang akan diajarkan setiap harinya. Para guru tidak bisa hana dengan mengajar secara terpusat dan para siswa yang mendengarkan seharian penuh. Para guru harus melibatkan para siswanya dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa menjadi aktif. e. Menggunakan alat bantu pengajaran yang canggih Dengan menggunakan alat bantu pengajaran yang canggih seperti laptop, lcd, infocus sehingga dapat menunjang kegiatan belajar mengajar. Para siswa dapat lebih mudah memahami dan kegiatan belajar mengjar pin menjadi tidak membosankan. Kegiatan belajar mengajar tidak akan hanya berkutat dengan buku dan apapn tulis tetapi aka lebih dinamis. f. Siswa yang cerdas Apabila sarana ini dapat digunakan dan dianfaatkan dengan benar maka hasilnya siswa akan memiliki lingkungan yang kondusif dan emndukung untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Asalkan para siswa benar-benar dapat menyerap semua hal-hal baik di sekolah dengan konsep internasional. Bukannya sibk dengan nilai prestise yang ada dalam sekolah ini. Kekurangan sekolah bertaraf internasional Ketika ada kelebihan pasti selalu ada kekurangan seperti sekolah bertaraf internasional ini yaitu sebagai berikut : a. Bahasa pengantar bahsa Inggris Bahasa pengantar yang digunakan di sekolah bertaraf internasional adalah bahsa inggris. Hal ini dapat membuat para siswa lupa akan nilai-nilai keIndonesiaan dan lebih bangga apabila bisa berkomunikasi dengan bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia. Padahal mampu menguasai bahasa asing belum tentu menguasai ilmu yang lainnya. Terkadang penguasaaan yangmasih rendah tetapi kebanggaannya sudah melebihi kemampuan yang ada. Para siswa tidak akan berkurang nilai cintanya terhadap negeri sendiri.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

41

b. Guru yang kurang maksimal dalam pengajaran Para guru harus siap dan mampu untuk mengajarkan setiap pelajaran menggunakan bahasa inggris. Hal ini belum tentu para guru bisa dengan mudahnnya menyampaikan materi yang seharusnya diajarkan tidak sperti jika menggunakan bahasa Indonesia. Para guru tidak bisa dengan cepat mempelajari bahasa asing yang jarang mereka gunakan apalagi untuk mengajar. Hal seperti ini dapat mengakibatkan para siswa tidak bisa menangkap dengan baik isi dari pelajaran tersebut. Mengunakan bahasa Indonesia saja sudah cukup sulit dimengerti ditambah apabila belajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa inggris. Alasan kenapa Sekolah Bertaraf Internasional lebih baik dihentikan Dengan stereotype yang ada dankekurangan yang muncul dari sekolah dengan system seperti ini mengakibatkan sekolah bertaraf internasional lebih baik dihentikan sampai semuanya benar-benar disiapkan dan sesuai target dan sasaran. Alasannya sebagai berikut : a. Persiapan menuju SBI yang kurang Penelitian, persiapan yang kurang dalam membentuk sekolah ini akan membuat pelaksanaannya pun kurang maksimal. Karena acuannya pun seperti tidak ada sehingga para pihak yang terlibat kurang memahami dengan benra konsep ini. Sehingga sesuatu yang kurang disiapkan tidak akan bagus hasilnya. b. Diskriminasi sekolah Sekolah baertaraf internasional dengan berbagai hal-hal prestise membuat sekolah memiliki kasta dengan sekolah yang belum bisa bertaraf internasional, yang ditakutkn adalah bukan bersaing secara kualitas pendidikan tetapi malah bersaing secara kualitas sarana dan prsarana. c. Persyaratan TOEFL untuk para pengajar Karena bahasa pengantarnya adalah bahasa inggris maka para pengajat diharuskan memiliki nilai TOEFL lebih atau sama dengan 300 sedangkan pengaruhnya kecil bila dihubungkan dengan kemampuan mengajar dalam bahsa inggris. Sekolah bertaraf internasional yang seharusnya benar-benar disiapkan sehingga tidak ada kebingungan dlam penerapannya apalagi jika sudah
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 42

dilaksanakan setengah jalan. Banyak yang akan terbuang dengan sia-sia mulai dari pengadaan peralatan, persiapan dari sekolah sehingga para siswa yang menjadi kebingungan dengan system pengajaran yang ada. Padahal sebenarnya sekolah yang tetap memegang konsep nasional dan kedaerahan tetap bisa bersaing dengan Negara ain karena nila-nilai nsional tidak kalah bagusnya diabndingkan nilai-nilai yang bersifatglobal. Bahkan,

sebenarnya banyak dari Negara asing yang tertarik dengan nilai-nilai kedaerahan. Yang diperlukan adalah meningkatkan kualitas agar lebih baik lagi dengan tetap menjunjung nilai kedaerahan, local soul, global power.

E. SOLUSI TERHADAP KAJIAN KELEMAHAN-KELEMAHAN PERMEN NOMOR 22 TAHUN 2006 TERHADAP STANDAR ISI Berdasarkan uraian masalah terhadap pelaksanaan standar isi IPS, maka perlu dilakukan berbagai pemecahan masalah sebagai berikut : 1. Sosialisasi KTSP Sosialisasi KTSP hendaknya tidak hanya mengandalkan pada instansi yang bersifat struktural seperti BSNP, Dinas Pendidikan (Propinsi, Kabupaten, Kota), dan lain-lain. Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah lebih bersifat pro aktif dalam melaksanakan sosialisasi. Hendaknya sekolah sendiri secara internal melakukan sosialisasi KTSP. Sekolah dapat menggunakan guru yang telah dilatih untuk menjadi instruktur di sekolahnya dalam pelatihan KTSP. Hal terpenting adalah adanya kepedulian dari Kepala Sekolah untuk melakukan pelatihan KTSP di sekolahnya. Dengan cara demikian maka sosialisasi KTSP akan semakin merata. 2. Dokumen Dokumen standar isi yang memuat Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar perlu ditata kembali. Dalam penataan tersebut harus memperhatikan landasan-landasan kurikulum yang akan dipakai. Sequens materi harus jelas landasan konsepnya. Misalnya pada tingkat SD diorganisasikan secara terpadu. Sedangkan pada tingkat SMP ada dua pilihan, yaitu pertama, kalau ingin mengembangkan IPS Terpadu, maka SK dan KD yang dikembangkan harus lebih menggunakan pendakatan tematis. Kedua, apabila disiplin pada masingMakalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 43

masing ilmu sosial masih nampak maka menggunakan model pengorganisasian yang korelasi. Sedangkan untuk tingkat SMA pengorganisasian materi digunakan dengan pendekatan terpisah-pisah, artinya sejarah diajarkan sebagai sejarah, ekonomi sebagai ekonomi, sosiologi sebagai sosiologi, dan geografi sebagai geografi. Selain pengorganisasian materi yang jelas, hal yang harus dilakukan adalah sequens dan content harus jelas. Materi yang dicantumkan harus disederhanakan dan proporsional. Tidak ada pengulangan materi pada jenjang berikutnya dan tidak ada penumpukkan materi pada semester-semester tertentu. Sequens bisa dilihat dari aspek kronologi, tingkat kesulitan, dan keluasan materi. Mulai dari penyajian materi yang mudah, sedang hingga sulit dipahami. Begitu pula dalam keluasan materi, mulai dari ruang lingkup yang kecil hingga ke ruang lingkup yang meluas. 3. Penyusunan Program Silabus dan RPP Untuk mengatasi kesulitan guru dalam merumuskan Silabus dan RPP, hendaknya perlu dilakukan pelatihan-pelatihan mengenai bagaimana menyusun Silabus dan RPP yang baik. Agar guru dapat menyusun Silabus dan RPP yang baik hendaknya guru dapat mengenal dan mengidentifikasi apa yang menjadi ciri khas sekolah dan daerahnya. Harus ada pedoman penyusunan Silabus dan RPP baik yang bersifat umum maupun yang bersifat lokal. Pemahaman guru terhadap kekhasan lokal perlu adanya sosialisasi dengan pihak pemda, dinas pendidikan dan sekolah. Pemda harus`menetapkan apa yang menjadi keunggulan lokal dari daerah tersebut yang akan dituangkan dalam program pendidikan. Program pemda tersebut kemudian disosialisasikan kepada sekolah melalui dinas pendidikan. 4. Struktur Program Struktur program mata pelajaran IPS hendaknya proporsional antara lingkup materi dengan alokasi waktu yang disediakan. Perlu ditata ulang struktur program mata pelajaran IPS. Apabila ruang lingkup materi akan tetap seperti sekarang maka perlu ditambah alokasi waktunya. Sebaliknya apabila alokasi waktu tetap seperti yang tercantum sekarang maka sebaiknya ruang lingkup materi disederhanakan. Penyederhanaan materi harus menekankan pada materi-materi yang bersifat esensial.
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 44

5. Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam mata pelajaran IPS hendaknya lebih menekankan pada aktivitas siswa. Metode pembelajaran yang dilakukan hendaknya yang menuntut berbagai jenjang kemampuan siswa. Jenjang kemampuan siswa yang dituntut tidak hanya pada level yang rendah, misalnya kemampuan menghafal. Berbagai keterampilan berpikir dapat dikembangkan, misalnya kemampuan berpikir kritis dilakukan dengan metode diskusi, kemampuan melakukan penelitian atau obserbasi menggunakan metode proyek, kemampuan afektif menggunakan metode role playing atau sosio drama, dan contoh-contoh yang lainnya. Agar guru dapat menguasai berbagai metode mengajar maka perlu dilakukan pelatihan tentang berbagai metode mengajar dalam mata pelajaran IPS. 6. Penilaian Penilaian berfungsi untuk mengukur ketercapaian kompetensi, indikator dan tujuan yang telah ditetapkan dalam silabus dan RPP. Penilaian yang dikembangkan hendaknya tidak terbatas pada penggunaan tes saja. Guru harus menggunakan berbagai model alat penilaian, seperti asesmen kinerja, portofolio, dan jenis-jenis penilaian non tes. Penetapan penggunaan alat penilaian tergantung kepada rumusan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam mata pelajaran IPS berbagai keterampilan dapat dikembangkan, misalnya keterampilan sosial menggunakan alat penilaian skala sikap, keterampilan penelitian menggunakan asesmen portofolio, dan yang lainnya. Pembuatan RPP dan Silabus yang sesuai dengan standar isi dapat menghasilkan suatu evalaluasi dalam pembelajaran tersebut menjadi optimal. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Sutimah dan Prof. Ace Suryadi,M.Sc.,Ph.D tentang Dampak Implementasi Standar Isi dan Standar Proses terhadap hasil UASBN tahun 2009/2010 pada Sekolah Dasar di Jambi, menyimpulkan bahwa standar isi dan standar proses mempunyai hubungan dan pengaruh yang positif serta signifikan terhadap hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional. Ujung tombak dalam mengimplementasikan standar isi dan standar proses adalah guru, karena guru merupakan elemen yang terlibat secara langsung dalam pembelajaran. Kerangka dasar dan struktur kurikulum harus dipahami, sehingga guru akan dengan mudah untuk
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 45

melaksanakan perencanaan pembelajaran. Apabila perencanaan pembelajaran dilakukan secara tepat, maka proses pembelajaran dan evaluasi dapat berjalan dengan baik. Untuk menunjang hal tersebut peran pengawas dan kepala sekolah sangat dibutuhkan untuk memantau dan mensupervisi serta memberikan arahan dan bimbingan kepada guru, sehingga hasil evaluasi belajar siswa (UASBN) dari tahun ke tahun semakin meningkat. 7. Sarana Pembelajaran Sarana pembelajaran sangat penting dalam menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran. Pada umumnya sarana pembelajaran IPS sangat penting. Untuk memecahkan hal demikian maka sebaiknya guru menggunakan sarana pembelajaran yang ada di lingkungan sekitar. Misalnya apabila sekolah tersebut dekat dengan pasar maka gunakanlah untuk mempraktekan pelajaran ekonomi dan sosiologi. Dalam mata pelajaran ekonomi guru dapat menugaskan kepada siswa untuk mempraktekan bagaimana jual beli dan pertukaran barang. Pelajaran sosiologi dapat mempraktekan materi bagaimana interaksi sosial yang terjadi di pasar. Begitu pula apabila ada situs-situs sejarah yang dekat guru dapat menjadikan sarana pembalajaran mata pelajaran sejarah. Mata pelajaran Geografi dapat melihat bagaimana kondisi geografis yang dekat dengan sejarah. Misalnya apabila di dekat sekolah ada kawasan yang penuh dengan batuanbatuan maka guru dapat menggunakan daerah tersebut untuk praktek mengenal berbagai jenis batuan. Dengan cara penggunaan sarana yang demikian, maka model pembelajaran yang digunakan oleh guru lebih melihat kepada apa yang dapat dilihat langsung oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Model seperti ini dikenal dengan istilah Contextual Teaching Learning (CTL). 8. Kualifikasi Guru Kurangnya guru yang berkualifikasi dalam mata pelajaran IPS dapat dilakukan melalui pengangkatan guru yang sesuai dengan bidangnya. Selain itu, guru yang ada dan berlatar belakang bukan IPS dapat diberikan semacam pelatihan secara intensif mengenai materi IPS dan bagaimana cara pembelajarannya. Cara seperti ini dilakukan dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru IPS.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

46

BAB IV PENUTUP

A. SIMPULAN Dari hasil kajian konsep dan implementasai kurikulum IPS jenjang pendidikan dasar dan menengah, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Konsep pengembangan kurikulum masa depan mata pelajaran IPS sebaiknya isinya lebih menekankan pada muatan materi kurikulum yang berlandaskan pada konsep multikultur dan nilai-nilai humanistik. Konsep tersebut menonjolkan prinsip keadilan sosial, pembebasan, kearifan lokal, ekonomi rakyat, nasionalisme, dan kearifan masa lampau untuk melangkah ke masa depan. 2. Pelaksanaan kurikulum mata pelajaran IPS, masih ditemukan berbagai permasalahan, yaitu yang berkaitan dengan isi dokumen kurikulum, utamanya tentang Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Selain permasalahan dokumen kurikulum, permasalahan dalam implementasi

kurikulum terutama masalah belum optimalnya guru dalam menyusun program silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), struktur program yang tidak seimbang antara alokasi waktu dengan jumlah Kompetensi Dasar (KD), strategi pembelajaran yang masih satu arah, penilaian berbasis kelas yang kurang variatif, dan sarana pembelajaran yang masih minim, serta kualifikasi guru yang masih rendah.

B. REKOMENDASI Berkaitan dengan kesimpulan di atas, ada beberapa rekomendasi untuk kebijakan pengembangan kurikulum masa depan mata pelajaran IPS, yaitu: 1. Jangka Pendek a. Perlu menata ulang Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) sesuai dengan proporsi dan pemerataan distribusi pada tiap jenjang serta dipergunakan lagi lebih banyak kata kerja operasional yang dapat membuat siswa lebih aktif lagi. b. Perlu pelatihan dan sosialisasi untuk peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru di berbagai jenjang pendidikan.
Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS 47

c. Perlu ada konsistensi antara pengembangan kurikulum mata pelajaran IPS dengan penilaian hasil belajar. d. Pemerintah diharapkan memperluas akses bagi setiap satuan pendidikan untuk meningkatkan fasilitas pembelajaran IPS yang memadai dan berkesinambungan. 2. Jangka Panjang Pengembangan kurikulum masa depan mata pelajaran IPS harus memiliki landasan filosofi yang jelas dengan berlandaskan aspek-aspek multikultur, nilai-nilai humanis, prinsip keadilan dan pembebasan, serta terjaganya kearifan lokal.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

48

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPS. Jakarta: 2007. Hasan, Hamid. 2008. Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Krisbiyanto Jujuk. 2011. Model pembelajaraan IPS terpadu di Sekolah Menengah Pertama Kesatrian 1 Yayasan Pendidikan Kesatrian 67 Semarang. (Tesis). Semarang: UNNES. Mulyasa, E. 2009. Implentasi kurikulum tingkat satuan pendidikan kemandirian guru dan kepala sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Diperbanyak oleh Biro Hukum dan Organisasi. Su’ud, Abu. 2008. Revitalisasi Pendidikan IPS. Semarang: UNNES. Suryadi A dan Sutimah. 2010. Dampak Implementasi Standar Isi dan Standar Proses terhadap Hasil UASBN 2009/2010 pada Sekolah Dasar di Kota Jambi. Dalam Jurnal Pendidikan. No.1. Halaman 1-11. Sutrisno, Edy. 2012. Strategi Guru dalam Pembelajaran IPS (Studi Eksploratif Pelaksanaan Pembelajaran IPS di SMP – Wilayah Kabupaten Pati). Dalam Jurnal Pendidikan. No.1. Halaman 1-54. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 T entang Sistem Pendidikan Nasional. www.artikata.com diakses pada Hari Sabtu, 8 September 2012 pukul 15.00 WIB. Thao, Yer J. 2012. Bicultural Literacy Curriculum (1-5). Portland, USA: Creative Education Department of Curriculum and Instruction, Graduate School of Education Portland USA.

Makalah | Analisis Standar Isi Mata Pelajaran IPS

49

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful