You are on page 1of 359

PENJELASAN

PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL


PENJELASAN I SOSIALISASI DAN PENYEBARAN INFORMASI
PENJELASAN II FASILITASI DAN PELATIHAN
PENJELASAN III MUSYAWARAH-MUSYAWARAH PNPM MANDIRI PERDESAAN
PENJELASAN IV JENIS DAN PROSES PELAKSANAAN
BIDANG KEGIATAN PNPM MANDIRI PERDESAAN
PENJELASAN V PELAKU PNPM MANDIRI PERDESAAN
PENJELASAN VI PENULISAN USULAN DAN VERIFIKASI
PENJELASAN VII PEMANTAUAN, PENGAWASAN, EVALUASI
DAN PELAPORAN
PENJELASAN VIII SISTEM PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT
PENJELASAN IX PENDANAAN DAN ADMINISTRASI KEGIATAN
PNPM MANDIRI PERDESAAN
PENJELASAN XI PENATAAN KELEMBAGAAN
PENJELASAN XII PENGADAAN BARANG DAN JASA
(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN I
SOSIALISASI DAN PENYEBARAN INFORMASI

Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 1
PENJELASAN I

SOSIALISASI DAN PENYEBARAN INFORMASI



Sosialisasi dan penyebaran informasi dalam PNPM Mandiri Perdesaan merupakan upaya untuk
memperkenalkan dan menyebarluaskan informasi mengenai program dan pelaksanaan PNPM
Mandiri Perdesaan kepada masyarakat. Upaya ini juga diharapkan menjadi media pembelajaran
mengenai konsep, prinsip, prosedur, kebijakan, tahapan pelaksanaan dan hasil pelaksanaan
PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat luas.

Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat penerima manfaat langsung kegiatan, yakni
Rumah Tangga Miskin; para pelaku program; instansi atau lembaga pendukung pelaksana
PNPM Mandiri Perdesaan lainnya, baik dari kalangan pemerintah dan swasta; serta kelompok
masyarakat umum lainnya.

Hasil yang diharapkan dari proses sosialisasi dan penyebaran informasi adalah dimengerti dan
dipahaminya konsep, prinsip prosedur, kebijakan dan tahapan pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan secara utuh, khususnya masyarakat di lokasi program sebagai pelaku sekaligus
sasaran penerima program, masyarakat umum, instansi atau lembaga lainnya. Dengan
demikian, upaya pelembagaan dan pengintegrasian prinsip serta prosedur program dalam
masyarakat dan sistem pemerintahan regular, dapat berjalan optimal.

Guna mencapai pemahaman yang utuh tentang PNPM Mandiri Perdesaan di lokasi program,
serta dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat luas terhadap
keberadaan program, maka dalam pelaksanaannya, proses sosialisasi dan penyebaran
informasi ini harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan oleh berbagai pihak. Baik dalam
berbagai kesempatan dan kegiatan yang khusus dibuat oleh program maupun kesempatan dan
kegiatan lain terdapat di setiap lokasi program.


1.1. PELAKU-PELAKU SOSIALISASI

Guna mengoptimalkan maksud dan tujuan tersebut diatas, perlu dibentuk dan ditetapkan
pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan sosialisasi dan penyebaran
informasi PNPM Mandiri Perdesaan di setiap tingkatan. Pihak-pihak tersebut dapat
berasal dari para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan serta kader masyarakat secara
partisipatif dan swadaya, yang kemudian disebut sebagai Tim Sosialisasi.

1.1.1. Tim SosiaIisasi NasionaI

Tim Sosialisasi Nasional terdiri dari perwakilan Tim koordinasi PNPM Mandiri
Perdesaan Nasional dan Sekretariat Nasional PNPM Mandiri Perdesaan, serta
Konsultan Manajemen Nasional (KM-Nasional). Tim koordinasi dapat menunjuk
perwakilan dari unsur-unsur tersebut sebagai bagian dari tim kerjanya.

Tugas dan tanggung jawab tim adalah: (1) menyusun petunjuk teknis
pelaksanaan sosialisasi dan penyebaran informasi; (2) menyusun agenda
(rencana kerja) sosialisasi dan penyebaran informasi di tingkat pusat yang
dijadikan rujukan bagi daerah; (3) menyusun dan menyiapkan anggaran untuk
pelaksanaan sosialisasi dan penyebaran informasi; (4) mengoordinasikan

Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 2
kebijakan program sosialisasi dan penyebaran informasi ke daerah; (5)
melaksanakan sosialisasi di tingkat pusat dan daerah; (6) memantau dan
mengevalusi pelaksanaan sosialisasi dan penyebaran informasi, baik di tingkat
pusat maupun daerah; dan (7) menyusun laporan pelaksanaan program
sosialisasi dan penyebaran informasi, yang diintegrasikan dalam laporan bulanan
program.

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tim ini bertanggung jawab kepada Satuan
Kerja/ Pembina Program PNPM Mandiri Perdesaan.

1.1.2. Tim SosiaIisasi Daerah

Tim Sosialisasi Daerah terdiri dari Tim Sosialisasi Provinsi dan Tim Sosilisasi
Kabupaten. Setiap tim terdiri dari unsur-unsur Tim koordinasi Provinsi dan
Kabupaten, Sekretariat PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi dan Kabupaten, serta
dari KM-Nasional di Provinsi (KM-Prov) dan Fasilitator Kabupaten. Tim ini
dikoordinir oleh Tim koordinasi Provinsi untuk tingkat Provinsi dan Tim koordinasi
Kabupaten di masing-masing lokasi.

Tugas dan tanggung jawab tim adalah: (1) menyusun agenda (rencana kerja)
sosialisasi dan penyebaran informasi di daerah; (2) menyusun dan menyiapkan
anggaran untuk pelaksanaan sosialisasi dan penyebaran informasi di daerah; (3)
melaksanakan sosialisasi dan penyebaran informasi di tingkat daerah; (4)
memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program sosialisasi dan penyebaran
informasi di daerahnya; dan (5) menyusun laporan pelaksanaan program yang
diintegrasikan dalam laporan bulanan KM-Prov dan Fasilitator Kabupaten.

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tim ini bertanggung jawab kepada
konsultan di atasnya dan Satuan Kerja/ Pembina Program PNPM Mandiri
Perdesaan.

1.1.3. PeIaksana Teknis SosiaIisasi di Lapangan

Pelaksana Teknis Sosialisasi dapat terdiri dari unsur-unsur perangkat Kecamatan
dan Desa, Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PjOK), Fasilitator
Kecamatan, Pendamping Lokal (PL), Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD),
Fasilitator Desa (FD) atau Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), dan
didukung oleh Badan Perwakilan Desa (BPD), Tim Pengelola dan Pemelihara
Prasarana (TP3), Tim Pemantau, dan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di
wilayah tersebut. Pelaksana teknis sosialisasi di lapangan ini bertugas
melaksanakan kegiatan sosialisasi dan penyebaran informasi kepada masyarakat
langsung di kecamatan dan desa, dengan didukung oleh Tim Sosialisasi
Kabupaten.

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tim ini bertanggung jawab kepada
masyarakat dan konsultan di atasnya. Upaya pelaksanaan sosialisasi di lapangan
menjadi salah satu indikator penilaian kinerja.

Tokoh-tokoh masyarakat, seperti pemuka agama, tokoh adat atau tokoh pemuda,
yang ada di perdesaan, seringkali merupakan tokoh panutan yang dipercaya
dalam ucapan maupun tindakannya. Oleh sebab itu, keberadaan tokoh-tokoh
tersebut menjadi salah satu pendukung kegiatan sosialisasi dan penyebarluasan

Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 3
informasi program. Hubungan yang baik dan intensif dengan tokoh-tokoh tersebut
dapat meningkatkan keberhasilan kegiatan sosialisasi dan penyebaran informasi
PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat.

1.1.4. Rapat koordinasi Tim SosiaIisasi

Para anggota tim perlu melakukan Rapat koordinasi Tim Sosialisasi secara
berkala. Rapat koordinasi ini dimaksudkan sebagai wadah pertemuan para
anggota tim untuk tujuan-tujuan berikut: (1) mengumpulkan/memetakan
pelaksanaan sosialisasi dan penyebaran informasi yang telah dilakukan; (2)
mengevaluasi program yang telah dilakukan dengan membahas kelemahan dan
kekuatannya; (3) membahas rencana kegiatan/tindak lanjut sosialisasi dan
penyebaran informasi dengan mengacu pada program yang telah ada; dan (4)
apabila dirasa perlu, merumuskan kembali kemungkinan perubahan strategi
sosialisasi dan penyebaran informasi.

Rapat koordinasi Tim Sosialisasi Pusat dapat dilangsungkan bersamaan dengan
Rapat koordinasi di tingkat Provinsi atau Rapat koordinasi di tingkat Kabupaten
yang telah ada atau terjadwal. Rapat koordinasi di tingkat Pusat dapat dilakukan
bersamaan dengan Rapat Pimpinan KM-Nasional, yang diadakan secara regular
setiap tiga bulan. Secara umum, materi rapat dalam setiap pertemuan adalah
perkembangan pelaksanaan program sosialisasi di daerah. Materi ini dapat
dibagi ke dalam tiga topik, yaitu:

a. Program sosialisasi yang telah dilaksanakan
b. Kelemahan dan kekuatan program yang telah terlaksana baik secara teknis
maupun substansi serta rekomendasi untuk pelaksanaan kegiatan
selanjutnya
c. Rekomendasi untuk rencana aksi program sosialisasi selanjutnya

1.2. MEDIA SOSIALISASI
Upaya sosialisasi dan penyebaran informasi dapat dilakukan melalui dua cara, yakni:

Pertemuan Langsung
Media nformasi, dengan menggunakan media komunikasi/ informasi dan media
alternatif lain, termasuk kegiatan promosi yang sifatnya terbuka untuk umum.

1.2.1. PERTEMUAN LANGSUNG
Sosialisasi dan penyebaran informasi melalui pertemuan langsung dilakukan di
setiap tingkatan, mulai dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten sampai
kecamatan dan desa, bahkan di dusun-dusun/kelompok. Selain dalam
pertemuan-pertemuan formal yang sengaja diadakan dalam rangka pelaksanaan
program, sosialisasi dan penyebaran informasi juga dapat dilakukan inter-
personal/kelompok kecil secara informal atau memanfaatkan forum-forum
pertemuan yang telah ada sebelumnya di lokasi.

Pertemuan sosialisasi dan penyebaran informasi yang sengaja diadakan dalam
rangka PNPM Mandiri Perdesaan adalah sebagai berikut:

a. Pertemuan Sosialisasi di Provinsi
b. Pertemuan Sosialisasi di Kabupaten
c. Sosialisasi di Kecamatan melalui Musyawarah Antar-Desa

Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 4
d. Sosialisasi di Desa melalui Musyawarah Desa
e. Sosialisasi di Dusun dan Kelompok Masyarakat, sekaligus sebagai media
penggalian gagasan dari masyarakat

(Lebih lengkap mengenai tujuan, hasil yang diharapkan dan proses
pelaksanaannya lihat Penjelasan III PTO tentang Musyawarah-Musyawarah
PNPM Mandiri Perdesaan)

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan ketika melaksanakan kegiatan sosialisasi
dan penyebaran informasi melalui forum-forum pertemuan, antara lain:

Tentukan tujuan/ hasil yang ingin dicapai dari sosialisasi yang akan dilakukan
Pastikan persiapan penyelenggaraan pertemuan (lihat Ceklis Persiapan
Penyelenggaraan Pertemuan Sosialisasi)
Pastikan ketersediaan materi yang akan diinformasikan atau disampaikan
(lihat Ceklis nformasi PNPM Mandiri Perdesaan untuk disampaikan dalam
Pertemuan Sosialisasi).
Kesiapan untuk penyampaian materi seperti: metode, media atau alat yang
digunakan
Evaluasi hasil sosialisasi yang dilakukan untuk melihat tingkat
keberhasilanya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan pegangan bila akan
melakukan sosialisasi lanjutan. Lihat Bagan Alir Sosialisasi (Gambar
Halaman 20)

(Metode, media atau alat yang digunakan dalam sosialisasi dan penyebaran
informasi melalui pertemuan, lihat Penjelasan III PTO tentang Musyawarah-
Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan. Sedangkan tentang teknik fasilitasi
dalam suatu pertemuan, lihat Penjelasan II PTO tentang Fasilitasi dan
Pelatihan)

Untuk membantu memastikan agar proses sosialisasi dan penyebaran informasi
PNPM Mandiri Perdesaan melalui forum-forum pertemuan ini berjalan lancar dan
tidak ada informasi yang terlewatkan, maka perlu dibuat ceklis tentang persiapan
yang harus dilakukan dan informasi-informasi yang perlu disampaikan.

Ceklis tersebut dapat dikembangkan sendiri sesuai kebutuhan dan kondisi di tiap-
tiap daerah atau tujuan pertemuan. Namun demikian, sebagai acuan awal dapat
menggunakan ceklis berikut ini.















Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 5






















































CEKLIS PERSIAPAN
PERTEMUAN SOSIALISASI
Tingkat Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa


Siapkan Undangan (minimal dua minggu sebelum pelaksanaan
pertemuan. si undangan menyebutkan waktu, tempat dan tujuan
pertemuan)

Undangan ditandatangani oleh yang berhak mengundang (Di tingkat desa
dan kecamatan, dibuka peluang bagi masyarakat yang berminat untuk
hadir)

Konfirmasi/ Pemberitahuan Kehadiran Peserta (minimal 2 hari sebelum
pelaksanaan

Tempat dan Peralatan telah tersedia dan cukup memadai

Konsumsi sesuai perkiraan jumlah peserta

Materi dan Bahan yang akan dibagikan telah tersedia sesuai perkiraan
jumlah peserta

Materi dan Bahan untuk presentasi telah disiapkan dengan baik

Materi pendukung sosialisasi untuk ditempel di tempat/ ruang pertemuan
(poster, buletin, dll) telah tersedia

Pengupayaan alat dokumentasi

Adakan pertemuan dengan penyelenggara dan penyaji lainnya untuk
membicarakan rincian pelaksanaan pertemuan dan peran masing-masing

Jadwal Acara

Tempat diatur berbentuk huruf U, seandainya memungkinkan

Pengupayaan alat dokumentasi




Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 6






















































CEKLIS INFORMASI PNPM MANDIRI PERDESAAN
UNTUK DISAMPAIKAN DALAM PERTEMUAN SOSIALISASI



Latar BeIakang, Tujuan, KeIuaran dan Sasaran PNPM Mandiri Perdesaan

Prinsip-Prinsip PNPM Mandiri Perdesaan

Bertumpu pembangunan manusia Kesetaraan Keadilan Gender
Otonomi Demokratis
Desentralisasi Transparansi dan Akuntabel
Berorientasi pada masyarakat miskin Prioritas
Partisipasi Keberlanjutan
Ketentuan Dasar PNPM Mandiri Perdesaan

Desa Berpartisipasi
Kriteria dan Jenis Kegiatan dalam PNPM Mandiri Perdesaan
Jenis Kegiatan yang Dilarang dalam PNPM Mandiri Perdesaan
Jumlah dan Mekanisme Usulan Kegiatan
Swadaya
Pelestarian Kegiatan
Kesetaraan dan Keadilan Gender
Sanksi
Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Lembaga, Pemerintahan Lokal
Pendampingan Masyarakat dan Pemerintahan Lokal
Pendanaan
Sumber dan Alokasi Dana PNPM Mandiri Perdesaan
Mekanisme Pencairan dan Penyaluran Dana
Sumber dan Alokasi Dana TPK, UPK dan Proses PNPM Mandiri
Perdesaan
Fungsi dan Peran PeIaku PNPM Mandiri Perdesaan

Tahapan PeIaksanaan Program

Perencanaan Kegiatan
Pelaksanaan Kegiatan
Pengendalian Kegiatan
Pemantauan
Pelaporan
Pelestarian Kegiatan

Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 7


a. Pertemuan SosiaIisasi di Provinsi dan Kabupaten

Di tingkat provinsi dan kabupaten, forum-forum pertemuan langsung yang
diselenggarakan dalam rangka sosialisasi ataupun pertemuan PNPM Mandiri
Perdesaan, yaitu:

Pertemuan SosiaIisasi di Provinsi. Pertemuan ini diselenggarakan oleh
Tim koordinasi untuk menyosialisasikan dan menyebarkan informasi
mengenai kebijakan program, dengan mengundang para pemangku
kepentingan PNPM Mandiri Perdesaan dan khalayak luas. KM-Provinsi
harus dapat memfasilitasi upaya penyampaian kebijakan-kebijakan dasar
pelaksanaan program dengan baik. Pertemuan ini didukung dengan
pertemuan sosialisasi di tingkat Kabupaten.

Pertemuan SosiaIisasi di Kabupaten. Pertemuan ini bertujuan untuk
menyampaikan teknis atau tahapan pelaksanaan kegiatan program di
lapangan kepada aparat di tingkat kabupaten.

Rapat Dengar Pendapat dengan LegisIatif (Hearing). Pertemuan ini
dibuat untuk menyosialisasikan program dan hasilnya kepada anggota
legislatif agar terjadi pemahaman dan kesamaan persepsi mengenai
program guna menghasilkan komitmen dalam pendanaan, perluasan dan
pengintegrasian program ke dalam sistem pembangunan reguler.

b. Pertemuan SosiaIisasi Lain

Sosialisasi dan penyebaran informasi harus dilakukan terus-menerus secara
berkesinambungan, tidak hanya melalui forum resmi untuk PNPM Mandiri
Perdesaan, tetapi juga dalam pertemuan-pertemuan lain secara formal dan
informal. Baik yang dirancang sendiri maupun dengan memanfaatkan forum-
forum pertemuan yang telah ada. Forum-forum pertemuan lain yang dapat
dijadikan media sosialisasi dan penyebaran informasi PNPM Mandiri
Perdesaan diantaranya:

Rapat koordinasi Instansi (dan Antar-Instansi) di Provinsi dan
Kabupaten. Konsultan perlu lebih proaktif (melakukan pemetaan) jadwal
rapat setiap instansi dan mencari celah yang dapat dimanfaatkan untuk
memfasilitasi kegiatan sosialisasi dan penyebaran informasi program.

Target/ Sasaran : Aparat instansi terkait
Waktu Pelaksanaan : Sesering mungkin

Forum Seminar/ Diskusi Terbuka atau Lokakarya. Forum-forum ini juga
sangat efektif untuk sosialisasi program kepada khalayak umum. Konsultan
dapat memfasilitasi pelaksanaan forum-forum tersebut ddan bekerjasama
dengan berbagai pihak yang konsen terhadap upaya pemberdayaan
masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. Konsultan juga dapat
memanfaatkan forum seminar/diskusi/lokakarya yang akan diselenggarakan
pihak lain untuk mensosialisasikan program.


Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 8

Target/ Sasaran : Aparat terkait, LSM, akademisi,
usahawan, media massa dan masyarakat
pemerhati isu tersebut
Waktu Pelaksanaan : 2-4 kali dalam setahun

SosiaIisasi kepada KaIangan Akademisi. Selain menyosialisasikan
program, keuntungan lain dari sosialisasi ke kalangan akademisi adalah
diperolehnya saran/ masukan demi perbaikan pelaksanaan program, juga
bantuan upaya peningkatan kapasitas masyarakat dan pelaku program di
lapangan.

1) Konsultan dapat mengundang staf Lembaga Pengabdian
Masyarakat (LPM) dari perguruan tinggi di lokasi tugas untuk
bertukar pengalaman dalam bidang pemberdayaan masyarakat,
baik dalam Rapat koordinasi Konsultan atau forum-forum yang
dibuat sendiri.

2) Konsultan dapat mengundang kalangan akademisi untuk
melakukan studi banding atau penelitian dan pengabdian
masyarakat/ Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) di lokasi PNPM
Mandiri Perdesaan secara swadaya, atau dengan menjadi
narasumber (mendorong pelaku program lain menjadi narasumber)
bagi kegiatan diskusi di kalangan mahasiswa. Hal ini dapat
dilakukan mengingat visi-misi LPM dan kegiatan pengabdian
masyarakat Perguruan Tinggi memiliki kesamaan tujuan dengan
PNPM Mandiri Perdesaan.

Target/ Sasaran : Kalangan akademisi
Waktu Pelaksanaan : Disesuaikan dengan jadwal akademik

Untuk pertemuan sosialisasi lainnya ini, materi sosialisasi yang perlu
disiapkan juga harus lebih beragam, seperti:

1) Materi untuk dibagikan ke peserta
i. Booklet Profil Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan per
provinsi/kabupaten/kecamatan (sesuai kebutuhan), diantaranya
berisi kilasan informasi PNPM Mandiri Perdesaan secara umum;
cakupan lokasi dan alokasi dana di wilayah yang bersangkutan;
tingkat partisipasi masyarakat; kemajuan tahapan
kegiatan/penyerapan dana; hasil-hasil kegiatan; kemajuan
peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (SDM) dan jumlah
SDM yang telah mendapat peningkatan kapasitas; serta
masalah/kendala yang dihadapi. Berkaitan dengan hal ini,
konsultan dan fasilitator harus secara periodik memperbaharui
booklet tersebut, minimal setiap tiga bulan
ii. Map Paket nformasi PNPM Mandiri Perdesaan
iii. Brosur program (bila tersedia).

2) Materi untuk ditempel/dipasang di ruang pertemuan
i. Poster-poster program
ii. Alur tahapan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan

Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 9
iii. Foto-foto hasil kegiatan
iv. Grafik tingkat partisipasi masyarakat (terutama RTM dan kaum
perempuan)

3) Materi untuk presentasi
i. Slideshow/powerpoint/ yang berisi nformasi umum PNPM Mandiri
Perdesaan dan informasi khusus sesuai tujuan yang ingin dicapai
dan peserta pertemuan
ii. Videoshow kegiatan di lokasi masing-masing/film yang dimiliki.

c. Pertemuan SosiaIisasi di Kecamatan dan Desa

Sosialisasi dan penyebaran informasi di tingkat Kecamatan dan desa yang
sengaja diadakan dalam rangka PNPM Mandiri Perdesaan adalah:

Musyawarah Antar-Desa (MAD) SosiaIisasi, yang merupakan pertemuan
masyarakat antardesa untuk menyampaikan informasi mengenai tujuan,
prinsip, kebijakan, prosedur maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan
PNPM Mandiri Perdesaan. MAD Sosialisasi juga merupakan pertemuan
untuk menentukan kesepakatan-kesepakatan antardesa dalam
melaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan.

Musyawarah Desa (Musdes) SosiaIisasi sebagai ajang sosialisasi atau
penyebaran informasi PNPM Mandiri Perdesaan di tingkat Desa.

(Metode, media atau alat yang digunakan dalam pelaksanaan sosialisasi di
Kecamatan melalui Musyawarah Antar-Desa (MAD), di Desa melalui
Musyawarah Desa (MD) dan di Dusun, dapat dibaca dalam Penjelasan III
PTO tentang Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan,
sedangkan tentang teknik memfasilitasi dalam suatu pertemuan lihat
Penjelasan II PTO tentang Fasilitasi dan Pelatihan)

Agar proses sosialisasi dan penyebaran informasi di tingkat
masyarakat/kelompok berjalan optimal, fasilitator perlu melakukan hal-hal
berikut:

Pemanfaatan Forum:
1) Selain melalui forum-forum pertemuan yang diagendakan program,
manfaatkan forum-forum pertemuan yang ada di masyarakat seperti
rapat-rapat aparat desa dan aparat kecamatan, arisan
2) Manfaatkan setiap kesempatan bertemu dengan sekumpulan
masyarakat di pos ronda, lapangan olah raga, tempat pengajian,
persekutuan, misa, perayaan (selamatan/kendurian) atau tempat-tempat
berkumpul masyarakat lainnya, untuk sosialisasi dan penyebaran
informasi PNPM Mandiri Perdesaan

Undangan:
3) Gunakan cara-cara yang lazim dilakukan di masyarakat (seperti:
menggunakan kentongan, diumumkan melalui masjid, gereja, radio
komunitas, atau media lainnya) untuk mengundang masyarakat di
setiap pertemuan

Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 10
4) Bila menggunakan undangan tertulis, usahakan undangan tersebut juga
di tempel di papan-papan informasi. Dengan begitu, setiap orang
merasa berhak untuk hadir
5) Tidak boleh melakukan pertemuan sosialisasi hanya dengan kelompok
dari kalangan tertentu saja atau sengaja tidak melakukan sosialisasi
kepada kelompok tertentu

Bahasa dan Pengeras Suara:
6) Gunakan bahasa yang sederhana dan dimengerti masyarakat. Bila
perlu, gunakan bahasa lokal
7) Dalam penyampaian informasi kepada masyarakat, gunakan simbol-
simbol, istilah atau pepatah yang ada di masyarakat, sehingga mudah
untuk diingat
8) Di beberapa lokasi, masyarakat lebih cepat menangkap informasi yang
disampaikan dengan suara (audio). Oleh sebab itu, pastikan
menggunakan pengeras suara agar semua peserta dapat mendengar
informasi yang disampaikan

KeberIanjutan Informasi:
9) nformasi PNPM Mandiri Perdesaan jangan sekedar disampaikan begitu
saja dalam satu kali pertemuan, tetapi perlu diberikan pemahaman
kepada masyarakat secara terus-menerus. Misalnya tentang daftar
kegiatan yang tidak dapat didanai oleh PNPM Mandiri Perdesaan
(negative list); mengapa kegiatan-kegiatan tersebut tidak boleh didanai;
mengapa proses atau tahapan PNPM Mandiri Perdesaan dirasakan
cukup panjang; mengapa ada dana yang sifatnya hibah dan ada
pinjaman yang harus dikembalikan; mengapa harus ada musyawarah
untuk menentukan usulan prioritas; mengapa dana tidak dibagi rata
saja; dan lain-lain
10) Masyarakat pada dasarnya akan tertarik, menerima informasi suatu
program yang datang dari luar dan akan mau berperan serta
memberikan kontribusinya jika mereka merasakan ada manfaat yang
dapat diambil. Untuk itu, perlu diberikan pemahaman kepada
masyarakat bahwa PNPM Mandiri Perdesaan merupakan salah satu
jembatan bagi masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhannya
dengan memberi contoh lokasi terdekat yang pernah melaksanakan
PNPM Mandiri Perdesaan sebelumnya (PPK) dengan hasil yang baik.

1.2.2. SOSIALISASI MELALUI MEDIA INFORMASI

Selain melalui pertemuan-pertemuan langsung dengan masyarakat, pelaku
PNPM Mandiri Perdesaan didorong untuk melakukan sosialisasi dan penyebaran
informasi melalui media-media informasi lainnya. Dewasa ini, cukup banyak
media informasi yang berkembang di masyarakat dan dapat digunakan sebagai
media penyebarluasan informasi, baik media informasi tradisional maupun
modern. Beberapa media informasi yang dapat digunakan adalah:

a. Media VisuaI
Papan nformasi
Papan nformasi (P) merupakan tempat untuk menempelkan informasi
yang perlu diketahui masyarakat. Selain sebagai sarana informasi, P juga
merupakan sarana pembelajaran (edukasi) prinsip transparansi dan

Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 11
akuntabilitas bagi masyarakat dan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di
lokasi tersebut. Untuk itu, pelaku PNPM Mandiri Perdesaan harus
memastikan keberadaan P di setiap lokasi dan ketersediaan informasinya
bagi masyarakat.

Melihat kegunaannya yang besar bagi masyarakat dan pelaku program,
maka P harus dikelola dan dipelihara dengan baik:
1) P harus dibuat menarik perhatian dan membangkitkan rasa ingin tahu
warga. Baik dari tata warna P itu sendiri, maupun tata letak, dan ragam
informasi yang disajikan.
2) nformasi yang disajikan dapat berupa informasi mengenai kegiatan
yang sedang berlangsung di desa, perkembangannya, masalah yang
timbul, dan informasi lain yang dianggap perlu diketahui warga, seperti
undangan rapat di kelurahan, arisan, pengajian, lomba-lomba atau
acara lain (bila ada), dan juga Buletin yang telah dibaca oleh pelaku
PNPM Mandiri Perdesaan atau media cetak lain yang informasinya
bermanfaat.
3) nformasi yang ditampilkan tidak harus diketik dengan mesin tik atau
komputer, tetapi bisa juga ditulis tangan dengan rapi dan indah, atau
berupa gambar-gambar menarik yang dapat mewakili informasi yang
akan disampaikan.
4) Karena sifatnya untuk memberikan informasi (termasuk perkembangan
tahapan dan jadwal-jadwal kegiatan), maka informasi di P harus selalu
diperbarui secara berkala, minimal sebulan sekali. P tidak boleh
dibiarkan kosong, apalagi rusak dan tidak terurus. Karena bila rusak
atau tidak terurus, maka minat warga untuk mendapatkan informasi
program melalui P akan menurun, dan fasilitator dinilai telah
mengabaikan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi
5) Untuk menjaga kelangsungan dan memastikan ketersediaan informasi
di P secara rutin, maka Fasilitator Kecamatan, PjOK, dan pelaku lain,
dapat memprakarsai pembuatan tim kerja untuk memelihara dan
mengelola P secara swadaya, baik dengan membuat tim kerja baru
ataupun dengan mengaktifkan tim-tim yang telah ada di desa dan
kecamatan.
6) P dan informasi yang ditempel harus terlindung dari hujan dan terhindar
dari kemungkinan dirusak/dirobek. Bentuk dan desain informasi
diserahkan sepenuhnya kepada pengelola P sesuai dengan kreasi
masing-masing, asalkan menarik perhatian.
7) Lengkapi selalu P dengan alamat untuk pengaduan, saran dan
informasi program, yakni:
i. SMS Pengaduan dan nformasi Pusat: 021-70417954
ii. Nama dan Nomor Telepon Fasilitator Kecamatan dan
Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PjOK)
8) Untuk mengantisipasi warga yang kurang memiliki minat baca atau
belum dapat membaca sama sekali, maka Fasilitator Kecamatan, PjOK
dan pelaku lainnya, dapat sesekali mengajak warga untuk berkumpul di
depan P guna menjelaskan apa yang diinformasikan dalam P tersebut.





P
e
n
j
e
l
a
s
a
n

I
:

S
o
s
i
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

P
e
n
y
e
b
a
r
a
n

I
n
f
o
r
m
a
s
i















































































































1
2

L
a
y
o
u
t

P
a
p
a
n

I
n
f
o
r
m
a
s
i

B
e
n
t
u
k

L
a
n
d
s
c
a
p
e




P
A
P
A
N

I
N
F
O
R
M
A
S
I

P
N
M
P

M
A
N
D
I
R
I

P
E
R
D
E
S
A
A
N

D
E
S
A

A
n
d
a
I
a
n

K
E
C
A
M
A
T
A
N

B
e
n
c
h
m
a
r
k

K
A
B
U
P
A
T
E
N

C
o
n
t
o
h

-

P
R
O
V
I
N
S
I

S
a
m
p
e
I


P
r
i
n
s
i
p
/

P
r
o
s
e
d
u
r

P
N
P
M

M
a
n
d
i
r
i
:

R
e
k
a
p

K
e
u
a
n
g
a
n
:

K
e
u
a
n
g
a
n

U
P
K
/

R
e
k
e
n
i
n
g

U
P
K
/

P
e
r
t
a
n
g
g
u
n
g
j
a
w
a
b
a
n

k
e
u
a
n
g
a
n

T
P
K
/

R
e
k
a
p

k
e
s
e
l
u
r
u
h
a
n

d
a
n
a
/

d
l
l

P
e
n
g
u
m
u
m
a
n

P
e
n
t
i
n
g
:

p
e
n
c
a
i
r
a
n

d
a
n
a
/

p
r
o
s
e
s

&

h
a
s
i
l

l
e
l
a
n
g
/

k
e
m
a
j
u
a
n

k
e
g
i
a
t
a
n
/

d
a
f
t
a
r

p
e
k
e
r
j
a
/

H
O
K
/

i
n
s
e
n
t
i
f
/

p
e
l
a
t
i
h
a
n
/

u
d
a
n
g
a
n

m
u
s
y
a
w
a
r
a
h
/

h
a
s
i
l

v
e
r
i
f
i
k
a
s
i
/

i
n
f
o

l
a
i
n

(
d
a
f
t
a
r

h
a
n
s
i
p
/

t
i
m

s
e
p
a
k

b
o
l
a
,

d
l
l
)


S
P
P
/

U
E
P
:

K
e
l
o
m
p
o
k
/

a
n
g
g
o
t
a

p
e
n
e
r
i
m
a

S
P
P

a
t
a
u

U
E
P
/

n
a
m
a
-
n
a
m
a

b
a
k
a
l

p
e
n
e
r
i
m
a

p
i
n
j
a
m
a
n


S
P
P
/

U
E
P
:

T
i
n
g
k
a
t

a
t
a
u

a
n
g
k
a

p
e
n
g
e
m
b
a
l
i
a
n
/

s
e
r
u
a
n

m
e
m
b
a
y
a
r
/

s
a
n
k
s
i
-
s
a
n
k
s
i

B
u
I
e
t
i
n
/

B
r
o
s
u
r
:

B
u
l
e
t
i
n

P
P
K
/

B
u
l
e
t
i
n

w
a
r
g
a
/

B
u
l
e
t
i
n

K
a
b
u
p
a
t
e
n
/

B
r
o
s
u
r
/

d
l
l













H
a
s
i
I

M
u
s
y
a
w
a
r
a
h
/

A
c
a
r
a

L
a
i
n
:

H
a
s
i
I

M
D

I

D
e
s
a

A
:





B
e
r
i
t
a

A
c
a
r
a


M
A
D
:






































F
o
t
o
-
F
o
t
o

K
e
g
i
a
t
a
n

P
N
P
M

d
a
n

W
a
r
g
a


S
u
a
r
a

W
a
r
g
a
:

P
u
i
s
i
/

k
a
r
i
k
a
t
u
r
/

c
e
r
i
t
a

m
e
n
a
r
i
k
/

p
a
n
t
u
n
/

d
l
l

K
O
N
T
A
K
/

P
E
N
G
A
D
U
A
N
:

S
M
S











:

0
2
1
-
7
0
4
1
7
9
5
4

F
-
K
e
c









:

F
T
-
K
e
c







:

P
j
O
K










:



Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 13
TabeI 1. Jenis Informasi, Frekuensi, Waktu, Lokasi dan
Penanggung Jawab Penayangan Informasi pada PI

Jenis Informasi Frekuensi Waktu Lokasi Penanggung
Jawab
- Prinsip & kebijakan PNPM
Mandiri Perdesaan
- Jadwal sosialisasi di setiap desa
- Pengurus TPK/ KPMD terpilih
- Sanksi-sanksi
- Rencana penggunaan DOK
- Tugas & tanggung jawab TPK/
KPMD
1x Setelah MAD Kecamatan
dan semua
desa
FK,
PjOK,BKAD
TPK
- Rencana kerja KPMD
- Jadwal MD
1x Setelah
pelatihan
KPMD
Desa dan
semua
dusun
FK, KPMD,
TPK
- Daftar gagasan dari dusun/
kelompok
- Nama utusan dusun/ kelompok
yang
ke MD
1x Setelah
pertemuan di
dusun/
kelompok
Desa dan
semua
dusun
FK, PL,
KPMD, TPK
- Daftar harga barang/ material
- Perhitungan bunga pinjaman
- Rincian penggunaan DOK

1x setiap
pertanggung-
jawaban
4-6 minggu
setelah MAD
Kecamatan
dan semua
desa/
dusun
Fas-Kab, FK,
BKAD, UPK,
TPK
- Usulan desa yg maju ke MAD
- Nama utusan desa ke MAD
- Nama calon pengurus UPK
- Nama calon pengamat (tokoh
kecamatan)
- Sanksi-sanksi
1x


Setelah MD Kecamatan,
semua
desa/
dusun
BKAD, TPK,
KPMD, PL,
FK
- Hasil/ rekomendasi Tim Verifikasi

1x Setelah
verifikasi
Kecamatan,
semua
desa
BKAD, PL,
FK, PjOK
- Berita acara MAD
- Ranking usulan desa penerima
BLM
- Pengurus UPK terpilih
- Daftar usulan yang disetujui
- SPC
- Laporan akhir penggunaan DOK
1x Setelah MAD
& MAD
Kecamatan,
semua
desa/
dusun
PjOK, FK,
BKAD, PL,
KPMD, TPK
- Struktur tim pelaksana
- Rencana kerja tim pelaksana

1x Setelah tim
pelaksana
terbentuk
Semua
desa/
dusun
FK, KPMD,
PL, TPK
- Kuotasi harga barang
- Berita acara penawaran barang
- Surat perjanjian dengan supplier
1x Setelah tender Kecamatan,
semua
desa/
dusun
PjOK, FK,
BKAD, TPK
- Dokumen-dokumen pencairan
dana

Setiap tahap
pencairan
Setelah dana
cair
Kecamatan,
desa/
dusun
FK, BKAD,
UPK, KPMD,
PjOK, TPK,
PL


Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 14
Jenis Informasi Frekuensi Waktu Lokasi Penanggung
Jawab
- Desain teknis dan denah
lokasinya
1x Awal tahap
pelaksanaan
Desa/
dusun
FK, TPK,
KPMD, PL
- Rincian penggunaan dana oleh
TPK/UPK
- Foto kopi rekening UPK
- Rincian realisasi anggaran biaya
Setiap bulan Tahap
pelaksanaan
Kecamatan,
semua
desa/
dusun
BKAD, UPK,
FK, TPK, PL
- Daftar pekerja, besar insentif dan
rincian pembayaan HOK
Setiap ada
pembayaran
Tahap
pelaksanaan
Semua
desa/
dusun
FK, BKAD,
TPK, KPMD,
PL
- Laporan rekap keseluruhan dana Setiap bulan Tahap
pelaksanaan
Semua
desa/
dusun
FK, BKAD,
TPK, KPMD,
PL
- Daftar nama anggota kelompok
SPP dan rincian alokasi modal/
pinjaman per anggota
1x Tahap
pelaksanaan
Semua
desa/
dusun
FK, UPK,
TPK, KPMD,
PL, Ketua
Kelompok
- Rencana dan realisasi
pengembalian (tabel cicilan per
bulan)
- Fotokopi rekening UPK untuk
Pengembalian
Setiap bulan Tahap
pelaksanaan
Semua
desa/
dusun
KPMD, TPK,
Ketua
Kelompok
- Rekap laporan penggunaan dana
pertanggungjawaban akhir
Setiap bulan Tahap
pelaksanaan
Semua
desa/
dusun
FK, BKAD,
UPK, TPK,
PL
- Buletin PNPM Mandiri Perdesaan Setiap dua
bulan
Tahap
pelaksanaan
Semua
desa
BKAD,
KPMD, TPK,
FK, PL

Poster
Poster menjadi media yang dapat menarik perhatian, baik karena
ukurannya yang relatif besar, layout gambar yang menarik, serta pesan
yang disampaikan. Oleh sebab itu, konsultan/fasilitator didorong untuk
menempel poster-poster PNPM Mandiri Perdesaan di tempat umum/di
tempat terbuka/di keramaian, agar dapat dilihat oleh masyarakat umum.
Poster-poster program juga harus selalu dipasang di kantor-kantor
konsultan/fasilitator dan tempat-tempat musyawarah berlangsung.

Spanduk
Spanduk menjadi salah satu alternatif media komunikasi yang sangat efektif
dalam menyampaikan pesan, memberitahukan sesuatu, meningkatkan
penyadaran dan membangkitkan motivasi masyarakat. Misalnya untuk
mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan, meningkatkan
kesadaran warga untuk turut menjaga/melestarikan hasil-hasil kegiatan,
mengajak warga agar membayar pinjaman tepat waktu, dan lain-lain.

Untuk tujuan itu, pelaku PNPM Mandiri Perdesaan didorong membuat
spanduk atau dapat memfasilitasi masyarakat/lembaga/unit kegiatan lain
dalam pembuatan spanduk guna kepentingan/kelancaran kegiatan program
dan di tempatkan ditempat umum/di tempat terbuka/di keramaian.


Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 15

Pembuatan spanduk hendaknya memperhatikan:
1) Maksud/tujuan yang ingin dicapai/disampaikan
2) Tempat dan target penerima informasi; forum diskusi (di ruangan) atau
masyarakat luas (tempat umum/jalan raya)
3) Gunakan kalimat singkat, padat, jelas, tegas, maksimal 12 kata agar
mudah diingat
4) Buat layout/ desain dengan tata warna menarik. Perhatikan hal-hal
berikut:
i. Antara warna kain dan tulisan harus kontras, misalkan: warna
kain putih, warna tulisan hitam atau biru tua
ii. Gunakan bentuk huruf (font) dan ukuran huruf yang besar agar
terbaca dari jauh
iii. Hindari tulisan berwarna biru, bisa membuat mata pedih!!!
iv. Hindari pemakaian warna-warna yg banyak digunakan di
sekitar lokasi pemasangan. Misalnya; spanduk warna hijau
dengan tulisan kuning diantara rindangnya pepohon sebuah
taman.
BuIetin
Selain sebagai media pembelajaran, buletin merupakan media yang efektif
untuk berbagi pengalaman/ praktik terbaik (best practices) pelaksanaan
program di lokasi. Oleh sebab itu, selain didorong untuk aktif
menyampaikan informasi perkembangan kegiatan dan kisah menarik dari
lokasi masing-masing untuk dimuat dalam buletin yang dibuat di tingkat
nasional, perlu diupayakan pengadaan buletin lokal (warga) secara
swadaya, yang disesuaikan dengan kebutuhan informasi masyarakat lokal.

Konsultan di daerah, bahkan fasilitator, dapat membuat buletin sederhana
untuk warga dengan cara berikut:

1) Cantumkan logo PNPM Mandiri Perdesaan
2) Siapkan nama yang akrab di kalangan warga
3) Tentukan rubrikasi tergantung jumlah halaman (minimal satu halaman
bolak-balik), kebutuhan informasi/info.... yang perlu diketahui warga.
4) Kumpulkan data-data/materi informasi untuk disajikan pada periode
tertentu, dapat meliputi:
i. Progres kegiatan, best practices, dan lain-lain
ii. Peristiwa yang paIing menarik di desa/lokasi kerja, yang bisa
menjadi contoh, baik contoh buruk ataupun bagus. Bisa
mengenai proses penggalian gagasan, musyawarah, partisipasi,
pengerjaan kegiatan fisik, kinerja kelompok Simpan Pinjam
kelompok Perempuan (SPP), penyelesaian masalah, dukungan
aparat, hasil kegiatan, kinerja tim pemelihara, atau inovasi-
inovasi lain.
iii. Temuan hasiI kunjungan lapangan ke kecamatan atau desa-
desa
iv. Informasi kunjungan dari luar kabupaten, misal Konsultan dari
provinsi/ Jakarta atau lainnya
v. Informasi Iain yang perlu diketahui oleh warga (jadwal
musyawarah/kelompok yang belum membayar pinjaman, dll)


Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 16
vi. Foto-foto yang berkaitan dengan artikel/ tulisan yang
ditampilkan atau foto bebas untuk rubrik khusus seperti Foto
Galeri
5) Sajikan (dapat diketik atau ditulis tangan) intisari informasi dengan
singkat, jelas dan dengan bahasa yang mudah dipahami warga.
6) Buletin yang telah dibuat dapat digandakan dan disebarkan kepada
masyarakat, juga dapat ditempel di papan informasi

Surat Kabar
Selain sebagai media sosialisasi dan penyebaran informasi, media cetak
(surat kabar, majalah, tabloid, buletin) atau media massa lain, dapat
berfungsi sebagai kontrol pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Surat kabar merupakan media cetak yang tepat untuk sosialisasi PNPM
Mandiri Perdesaan, karena akses masyarakat terhadap media ini cukup
tinggi. Konsultan dan fasilitator diharapkan dapat mengupayakan
penyebaran informasi kegiatan program melalui surat kabar.
1) dentifikasi surat kabar/media massa lain di lokasi kerja, terutama yang
memiliki rubrik pemberdayaan masyarakat
2) Jajaki kerja sama dengan media massa dengan cara:
i. Menulis artikel berkaitan dengan pelaksanaan program dan
mengirimkannya ke media tersebut
ii. Membuat press release secara reguler
iii. Mengundang sebanyak-banyaknya wartawan media massa lokal
(termasuk radio) dalam setiap pelaksanaan Rapat koordinasi
konsultan di tingkat Provinsi atau di Kabupaten
iv. Konsultan dan Tim koordinasi di daerah dapat membawa serta
wartawan pada saat melakukan supervisi-monitoring ke lokasi
program guna menyaksikan secara langsung kegiatan
masyarakat dan program

Situs Web/ BIog
Upaya meningkatkan pengenalan dan pemahaman program, pembelajaran
transparansi dan akuntabilitas publik, salah satunya juga dapat dilakukan
melalui situs web/blog. Konsultan dan fasilitator dapat berkreasi untuk
menyampaikan informasi dengan membangun situs blog/web sederhana
atau memanfaatkan situs-situs web yang telah ada. Konsultan dan fasilitator
harus aktif mendukung ketersediaan informasi dan cerita untuk ditayangkan
di situs resmi PNPM Mandiri Perdesaan.

Untuk mendukung upaya tersebut, maka diharapkan pelaku di lapangan
dapat:

1) Mensosialisasikan keberadaan situs resmi PNPM Mandiri Perdesaan
kepada para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan/stakeholder di lokasi
masing-masing, menciptakan budaya mengakses informasi dan
melakukan komunikasi melalui situs tersebut secara berkala
2) Mengirimkan fakta dan data, berita, cerita lapangan, gambar/foto dan
informasi kegiatan di lokasi masing-masing, secara berkala
3) Berperan aktif dalam melakukan diskusi secara online di saluran Forum
Diskusi dalam situs resmi PNPM Mandiri Perdesaan


Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 17
4) Mencantumkan alamat situs PNPM Mandiri Perdesaan; alamat informasi
dan pengaduan, serta e-mail kontak dan pengaduan pada setiap
dokumen cetakan

b. Media Audio

Di beberapa lokasi, masyarakat lebih cepat menangkap informasi yang
disampaikan melalui media audio seperti radio. Terdapat tiga jenis radio yang
dapat dijadikan saluran sosialisasi dan penyebaran informasi program, yakni
Radio Komunitas, Radio Publik/ Pemerintah, dan Radio Komersil/ Swasta.

Dari ketiga jenis radio tersebut, Radio Komunitas merupakan media audio
yang paling memungkinkan digunakan di perdesaan, karena berada lebih
dekat dengan komunitas dan berada dalam jangkauan frekuensi radio warga
di perdesaan. Radio Publik dan Radio Komersil dapat menjadi salah satu
saluran sosialisasi dan penyebaran informasi mulai di tingkat kecamatan
sampai provinsi.

Untuk mencapai tujuan tersebut, fasilitator, konsultan dan Tim koordinasi
dapat berperan lebih aktif dalam menjalin kerja sama dengan stasiun radio
yang berada di wilayahnya, untuk kepentingan sosialisasi dan menanamkan
rasa memiliki masyarakat terhadap program:
dentifikasi radio yang berbasis di lokasi kerja
Manfaatkan acara-acara interaktif, yang memungkinkan pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan menyampaikan informasi program, seperti acara kirim-
kirim salam/ pesan atau "request" lagu. Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan,
misalnya, dapat menyisipkan undangan musyawarah desa atau
pengumuman singkat tentang kegiatan atau pelaksanaan program
Lakukan pendekatan dan jajaki kerja sama dengan pihak pengelola radio.
Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan dapat memfasilitasi pembuatan program
acara reguler berupa: dialog (talkshow) dipadu dengan acara kirim-kirim
salam/pesan atau "request" lagu.

1.2.2. MEDIA ALTERNATIF
Guna lebih mendekatkan PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat luas,
maka konsultan di lapangan harus dapat memanfaatkan setiap forum-forum
pertemuan (sekecil apapun) sebagai media untuk kepentingan sosialisasi dan
penyebaran informasi.

a. Pameran dan Bazaar

Konsultan dapat menjajaki kemungkinan untuk memanfaatkan sejumlah
kegiatan yang digagas dan diselenggarakan Pemerintah Daerah atau pihak
swasta sebagai media promosi program, seperti Pameran Pembangunan
Tahunan di daerah, Pameran Teknologi Tepat Guna (TTG), pameran
kerajinan dan sejumlah pameran yang menggelar potensi daerah lainnya.

Dalam pameran, selain informasi umum mengenai program, juga penting
untuk menampilkan foto-foto kegiatan dan hasil yang diperoleh. Di lokasi
dimana terdapat pengrajin penerima SPP atau kegiatan ekonomi, konsultan
diharapkan memfasilitasi dan menampilkan hasil kerajinan mereka (bazaar)
di ajang pameran tersebut, serta menyediakan katalog kelompok pengrajin


Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 18
yang berisi informasi kelompok, kegiatan kelompok dan hasil produksinya.
Akan lebih menarik perhatian pengunjung bila dalam setiap pameran
diadakan lomba/kuis dengan hadiah sederhana dan demo pembuatan
beberapa produk yang diperagakan oleh sipembuat.

b. Pentas Seni dan Budaya/ Pekan OIahraga dan Kesenian

Pentas seni-budaya dan Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) juga dapat
dimanfaatkan sebagai media sosialisasi. Salah satunya dengan menampilkan
pelaku program yang memiliki kemampuan seni-budaya dalam konteks
Wakil PNPM Mandiri Perdesaan, atau dengan menyelipkan hal-hal yang
berkaitan dengan informasi program dalam kegiatan seni-budaya yang
digelar oleh pihak lain.

c. Perpustakaan

Dalam upaya menyosialisasikan dan menyebarkan informasi program,
konsultan/fasilitator ddiharapkan dapat mendorong pengadaan perpustakaan
sederhana atau tempat khusus, terutama di setiap kantor KM-Prov, Fas-Kab
dan UPK, untuk menampilkan materi-materi cetakan, seperti:

Laporan Bulanan Program, yang dibuat oleh konsultan/fasilitator
Laporan Tahunan Program, yang diproduksi di tingkat nasional
Map Paket nformasi Program, yang diproduksi di tingkat nasional
Profil Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan per provinsi/per kabupaten/per
kecamatan, tergantung tingkat wilayah
Buletin-buletin Program, baik yang diproduksi oleh nasional maupun lokal
Buku-buku yang diproduksi oleh program (buku PTO dengan Penjelasan
dan Formulirnya, buku panduan teknis, petunjuk sederhana, cerita
pengalaman terbaik/best practices, dll)
Buku-buku lain produksi umum tetapi bermanfaat sebagai bahan rujukan
Materi cetakan lainnya: leaflet/brosur/flipchart, poster, dll

Perpustakaan atau tempat khusus tersebut harus terlihat dan dapat menarik
perhatian


1.3. EVALUASI

Hasil-hasil sosialisasi dan penyebaran informasi perlu dievaluasi oleh Tim Sosialisasi di
setiap tingkatan, serta oleh konsultan/fasilitator yang melakukan kunjungan lapangan ke
setiap lokasi. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk melihat apakah tujuan sosialisasi dan
penyebaran informasi dapat mencapai sasaran, seperti di bawah ini.











Penjelasan I: Sosialisasi dan Penyebaran Informasi 19
Gambar Bagan AIir SosiaIisasi



Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan dalam proses evaluasi adalah mencari
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut, untuk kemudian dicarikan solusinya:

1. Kegiatan sosialisasi dan penyebaran informasi apa saja yang telah dilakukan? Apakah
sesuai jadwal. Bila belum, apa kendalanya?
2. Apakah tujuan dari kegiatan-kegiatan sosialisasi dan penyebaran informasi tersebut sudah
tercapai? Bila tidak, apa penyebabnya, dimana letak kekurangannya?
3. Apakah kegiatan-kegiatan sosialisasi dan penyebaran informasi yang dilakukan telah
mencapai sasaran/target yang diharapkan? Bila tidak, kenapa?
4. Apakah materi sosialisasi dan penyebaran informasi yang dibutuhkan telah terpenuhi? Bila
tidak, dimana letak kekurangannya dan kenapa?
5. Apakah metode penyampaian sosialisasi dan penyebaran informasi yang dipakai sesuai
dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai? Bila tidak, metode seperti apa yang harus
digunakan untuk setiap kegiatan sosialisasi dan penyebaran informasi?
6. Apakah waktu pelaksanaan sosialisasi dan penyebaran informasi yang dijadwalkan itu tepat,
sehingga dapat diakses oleh sebanyak-banyaknya warga? Bila tidak, kapan sajakah waktu
yang tepat untuk melakukan tiap-tiap kegiatan sosialisasi dan penyebaran informasi?
7. Khusus untuk melihat pengelolaan dan pemeliharaan Papan nformasi, dapat dilakukan
upaya pemetaan dan pemantauan dengan menggunakan Form 67m dan Form 69i dalam
Formulir Petunjuk Teknis Operasional PNPM Mandiri Perdesaan
8. Apakah kendala yang dihadapi dalam kegiatan-kegiatan sosialisasi dan penyebaran
informasi tersebut lebih disebabkan oleh masalah teknis atau kinerja pelaku?



(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN II
FASILITASI DAN PELATIHAN


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

1
PENJELASAN II

FASILITASI DAN PELATIHAN



FASILITASI

Dalam melaksanakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan
(PNPM Mandiri Perdesaan), masyarakat difasilitasi atau dipandu oleh Fasilitator. Fasilitasi
dalam PNPM Mandiri Perdesaan mengandung pengertian membantu dan menguatkan
masyarakat agar dapat dan mampu mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhannya
sesuai dengan potensi yang dimiliki. Untuk memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan
PNPM Mandiri Perdesaan diperlukan cara atau teknik fasilitasi.

2.1. Fungsi dan Kemampuan FasiIitator
Secara umum pelaku proses fasilitasi sering disebut fasilitator. Dalam PNPM Mandiri
Perdesaan; Fasilitator Kecamatan , Fasilitator Kabupaten dan aparat berperan sebagai
fasilitator dari luar masyarakat, sehingga dalam pemberdayaan masyarakat dipahami
sebagai pendamping. Sedangkan Pendamping Lokal, Kader Pemberdayaan
Masyarakat serta seluruh pelaku PNPM Mandiri Perdesaan yang berasal dari
masyarakat setempat juga berperan sebagai fasilitator yang dipahami sebagai Kader
Pemberdayaan. Sebagai pendamping masyarakat, pada waktu tertentu harus siap
mundur dari perannya dan memandirikan para Kader Pemberdayaan.

2.1.1. Fungsi FasiIitator
Agar dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik maka seorang Fasilitator
perlu menyadari dan memahami empat fungsi seorang fasilitator di masyarakat yaitu :

(a) Sebagai Narasumber
Artinya seorang fasilitator harus mampu menyediakan dan siap dengan
informasi-informasi termasuk pendukungnya yang berkaitan dengan program,
dalam hal ini PNPM Mandiri Perdesaan. Seorang fasilitator harus mampu
menjawab pertanyaan, memberikan ulasan, gambaran analisis maupun
memberikan saran atau nasehat yang kongkrit dan realistis agar mudah
diterapkan.

(b) Sebagai Guru
Fungsi sebagai guru seringkali dibutuhkan untuk membantu masyarakat dalam
mempelajari dan memahami keterampilan atau pengetahuan baru dalam upaya
pemberdayaan masyarakat dan pelaksanaan program. Sebagai fasilitator harus
mampu menyampaikan materi yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi dan
bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat serta mudah diterapkan tahap
demi tahap.

(c) Sebagai Mediator
(i) Mediasi potensi
Seorang fasilitator diharapkan dapat membantu masyarakat memediasi
sehingga masyarakat bisa mengakses potensipotensi dan sumber daya
yang dapat mendukung pengembangan dirinya, misalnya: sektor swasta,
perguruan tinggi, LSM, peluang pasar.
(ii) Mediasi berbagai kepentingan


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

2
Seorang fasilitator diharapkan juga dapat berperan sebagai orang yang dapat
menengahi apabila diantara kelompok atau individu di masyarakat terjadi
perbedaaan kepentingan. Perlu diingat fungsi ini bukan berarti fasilitator yang
memutuskan tetapi hanya perlu mengingatkan masyarakat tentang
konsistensi terhadap berbagai kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.
Arti lain adalah menyesuaikan berbagai kepentingan untuk mencapai tujuan
bersama. Jika diperlukan seorang fasilitator bisa membantu masyarakat
dengan memberikan berbagai alternatif kesepakatan dalam menyesuaikan
berbagai kepentingan demi tercapainya tujuan bersama. Untuk itu seorang
fasilitator harus netral dan tidak memihak kepada salah satu kelompok saja.

(iii) Sebagai Perangsang atau Penantang (Challenger)
Sering ditemui bahwa masyarakat jarang mengetahui dan mengenal potensi
dan kapasitasnya sendiri. Untuk itu seorang fasilitator harus mampu
merangsang dan mendorong masyarakat untuk menemukan dan mengenali
potensi dan kapasitasnya sendiri. Dengan fungsinya tersebut fasilitator
mampu mendorong masyarakat sehingga dapat melaksanakan berbagai
kegiatan pembangunan secara mandiri. Tetapi di satu sisi, seorang fasilitator
harus dapat berfungsi sebagai animator yakni ketika masyarakat sudah
secara penuh /mandiri dapat memutuskan segala sesuatu tanpa bayang-
bayang intervensi fasilitatornya.


2.1.2. Kemampuan FasiIitator

Agar dapat menjalankan fungsi-fungsi diatas maka seorang fasilitator perlu dibekali
dan memiliki beberapa kemampuan antara lain :

(a) Kepemimpinan
Seorang fasilitator juga akan menjalankan fungsi kepemimpinan di masyarakat
sehingga seharusnya memiliki kapasitas untuk membuka visi, membimbing,
memberi motivasi, menggerakkan sekaligus berperan sebagai mediator antar
warga masyarakat danpihak lain yang diperlukan. Beberapa upaya yang dapat
dilakukanuntuk meningkatkan kepemimpinan antara lain:
(i) Dengan menambah pengetahuan melalui pelatihan-pelatihan.
(ii) Belajar sendiri dengan banyak membaca buku.
(iii) Banyak menimba atau mempelajari pengalaman dari luar (studi banding,
seminar- seminar)
(iv) Harus tanggap, dapat menjabarkan ide-ide, konsep dan kebijakan.
(v) Melatih diri dengan berpikir kreatif, berpikir orisinal dan selalu berwawasan
masa depan visionary.
(vi) Tahan dan berjiwa besar menerima kritik dari luar.

(b) KonseptuaI
Yang dimaksud kemampuan konseptual adalah kemampuan menerjemahkan
pemikiran dan konsep yang rumit menjadi mudah diterima/dipahami oleh
masyarakat serta merangsang lahirnya ide-ide baru untuk perubahan di
masyarakat yang positif.

(c) Komunikasi
Termasuk dalam kemampuan komunikasi yang dibutuhkan adalah:
(i) Kemampuan menyampaikan pesan atau informasi
Fasih dan jelas dalam menyampaikan pesan, informasi, ide atau gagasan
(intervensi informasi) kepada masyarakat merupakan syarat mutlak seorang


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

3
fasilitator dalam menjalankan proses fasilitasi. Dengan kemampuan itulah
fasilitator akan dapat menjelaskan dan memberikan kontribusi kepada
anggota dan kelompok masyarakat.

(ii) Menjadi pendengar yang aktif
Jika seorang fasilitator mampu menjadi pendengar yang aktif maka sangat
memungkinkan akan tahu apa yang terjadi dan peka terhadap perasaan dan
emosi dibalik ungkapan kata yang disampaikan oleh masyarakat. Dengan
mengetahui apa yang terjadi dan peka terhadap perasaan dan emosi dibalik
ungkapan kata yang disampaikan oleh masyarakat menjadi dasar untuk
mengambil sikap dan tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Untuk
menjadi pendengar yang baik dan aktif diperlukan suatu pengendalian
terhadap emosi atau perasaan diri serta bisa menghargai setiap pendapat
dan gagasan yang disampaikan masyarakat.

(iii) Bertanya efektif dan terarah
Dengan bertanya secara efektif akan memudahkan seorang fasilitator untuk
belajar dan mengerti apa yang terjadi serta sekaligus dapat memberi
pemahaman untuk dapat memilih dan menemukan alternatif tindakan.
Bertanya efektif dan terarah dapat dilakukan jika fasilitator telah menguasai
dan memahami program yang disampaikan.

(iv) Kemampuan daIam pengembangan masyarakat
Beberapa kemampuan yang termasuk dalam kelompok ini adalah:

1) MengenaI isu-isu IokaI
Seorang fasilitator perlu memahami benar serta menghayati isu-isu yang
berkaitan dengan pemberdayaan sehingga mengenal apa yang harus
dan bisa dilakukan oleh masyarakat.

2) Kemampuan identifikasi
Kemampuan mengidentifikasi potensi, masalah, hambatan dan fenomena
yang terjadi merupakan awal dan bekal seorang fasilitator dalam
melakukan pemberdayaan dan fasilitasi di masyarakat. Kemampuan ini
diperlukan untuk pendekatan kepada masyarakat agar program (PNPM
Mandiri Perdesaan) berjalan optimal.

3) Kemampuan anaIitis
Melalui proses analitis maka seorang fasilitator akan dapat
mengantisipasi masalah, menemukan berbagai alternatif penyelesaian
serta mampu menjadi prakarsa dalam upaya pemberdayaan.

4) Adaptasi partisipatif
Menyesuaikan diri dengan kondisi, harapan dan karakteristik masyarakat
dalam PNPM Mandiri Perdesaan merupakan bekal yang sangat positif
dalam fasilitasi. Hal tersebut diharapkan dapat memberi manfaat berupa
keterlibatan dan rasa memiliki dari masyarakat terhadap PNPM Mandiri
Perdesaan serta dapat mendorong keberhasilan pelaksanaan program.
Di sisi lain keberadaan masyarakat sebagai orang dewasa menuntut
fasilitator untuk dapat melibatkan pemikiran dan aksi mereka agar dapat
memberi kontribusi terhadap pelaksanaan program.





Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

4
5) Berpandangan positif ke depan (visioner)
Selalu berpandangan secara positif dalam banyak hal sehingga tidak
mudah terjebak pada pengambilan posisi pada setiap masalah secara
sebagiansebagian dan hanya didasarkan pada kepentingan
sesaat/jangka pendek saja, tetapi segala sesuatu dipandang secara utuh
didasarkan pada tujuan yang jauh ke depan.

6) Kemampuan meIakukan aksi sebagai akumuIasi kemampuan teknis
Seringkali dengan kata saja dirasa tidak cukup karena di beberapa hal
menuntut bukti. Begitupun dengan masyarakat, seorang fasilitator perlu
sesekali melakukan sesuatu sebagai wujud sebuah pernyataan untuk
bukti keberadaan dan kepedulian terhadap masyarakat. Untuk itu,
fasilitator perlu memiliki kemampuan teknis sbb:
a. Tahu dan mampu bagaimana sesuatu harus dikerjakan
b. Ahli dalam bidangnya dan berpengalaman
c. Paham akan ketentuan/peraturan yang berlaku
d. Mampu mengendalikan proses pelaksanaan pekerjaan
e. Secara fisik dan mental siap menghadapi tugas operasional
f. Memiliki daya tahan, ketekunan, keuletan dalam penyelesaian tugas.

7) Kemampuan hubungan antar manusia (human relationship)
Seorang fasilitator harus memiliki kapasitas untuk membina hubungan
yang harmonis dengan masyarakat. Berkaitan dengan bagaimana
memperlakukan dan berinteraksi dengan mereka serta menempatkan
mereka dengan prinsip kesetaraan.


2.2. Proses FasiIitasi di Masyarakat

Terdapat beberapa langkah atau tahapan dalam memfasilitasi masyarakat melakukan
suatu program, yaitu:

2.2.1 Tahap Identifikasi dan Penjajakan AwaI
Proses awal dari fasilitasi yang harus dilakukan fasilitator adalah menemukenali
masyarakat, mencakup pemahaman tentang kondisi permasalahan, potensi yang
dimiliki serta lingkungan sosial, ekonomi dan budayanya dalam rangka
mendapatkan kebutuhan-kebutuhan masyarakat terhadap program
pemberdayaan. Bagi Fasilitator yang biasanya berasal dari luar lokasi penerima
program, tahap ini sangat penting dan sangat membantu dalam kelancaran
menjalankan tugas-tugasnya. dentifikasi wilayah dapat dilakukan melalui
kunjungan ke desa-desa untuk mengamati (observasi) maupun mewawancarai
masyarakat guna mengetahui kondisi, potensi serta kebiasaan yang berkembang
di masyarakat tersebut. Pada tahap ini fasilitator sekaligus dapat
memperkenalkan dirinya kepada masyarakat, melakukan pendekatan kepada
tokoh-tokoh kunci yang berpengaruh, serta menjelaskan keberadaan dirinya
sebagai seorang fasilitator yang akan membantu masyarakat dalam program
PNPM Mandiri Perdesaan.









Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

5



























a. Cakupan Penjajakan AwaI :

i. Kegiatan penjeIasan umum
Kegiatan ini memberikan penjelasan umum tentang prinsip dan tata cara
penyelenggaraan kegiatan. Penjelasan secara umum tersebut dilakukan mulai
dari kecamatan, desa/kelurahan, RW, sampai kelompok komunitas yang
ditujukan kepada :
x Aparat kecamatan,
x Aparat pemerintah desa/kelurahan dan pengurus lembaga komunitas di
lingkungan desa,
x Aparat RW dan pengurus lembaga komunitas di tingkat dusun/RW,
x Tokoh masyarakat serta perwakilan kelompok komunitas.

ii. Pembentukan tim peIaku
Kegiatan pembentukan tim pelaku (yang terdiri dari calon-calon kader/KPM-
D/K) dilakukan pada tingkat RW/komunitas. Kegiatan ini pada tingkat RW /
komunitas dan dilakukan dengan wawancara semi terstruktur terhadap warga
yang diusulkan oleh aparat maupun komunitas. Tujuan dari pembentukan tim
pelaku adalah: (1) tersosialisasikannya gambaran umum kegiatan yang akan
dilaksanakan, (2) terbentuknya tim Kader Pemberdayaan Masyarakat
Desa/Kelurahan (selanjutnya disingkat KPM-D/K) di setiap dusun/RW, (3)
diperolehnya gambaran umum kondisi masyarakat.





Tujuan Identifikasi/Penjajagan AwaI:
a. Menemukenali hubungan sebab akibat masalah kemasyarakatan yang
ada di tingkat RT, RW dan desa serta memahami arah kecenderungan
perubahan yang berlangsung didalamnya.
b. Menyusun kriteria untuk menetapkan prioritas penanganan masalah
dengan perhitungan peluang dan daya dukung pembangunan terhadap
pengembangan kesejahteraan masyarakat dan menjadi masukan dalam
menyusun prioritas penanganan masalah secara berjenjang serta
menyusun rencana penataan kawasan desa.
c. Menyusun prioritas penanganan masalah dan mengembangkan program
pembangunan pada skala dusun/RW yang realistis dan terukur yang akan
dilaksanakan pada jangka pendek, menengah dan jangka panjang
(sekaligus sebagai bahan untuk kegiatan Menggagas Masa Depan Desa/
MMDD) dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang akan
dilaksanakan oleh masyarakat melalui lembaga yang ditunjuk.
d. Menyusun aturan main dan mekanisme kerja sama dengan pihak ketiga
serta penentuan instansi atau pelaku terkait dalam penanganan masalah.
e. Menyusun rencana detail penanganan program jangka pendek dan
menengah desa yang meliputi aspek teknis, mobilisasi sumber daya dan
mekanisme pelaksanaan pembangunan, pengelolaan fisik, pemantauan
keuangan serta pertanggungjawaban pelaksanaan.
f. Menetapkan standar proposal kegiatan di desa/kelurahan.



Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

6



















































b. Langkah-Iangkah Penjajakan AwaI:
Dari tujuan kegiatan diatas, tahap penjajakan awal dilaksanakan dalam langkah-
langkah yang meliputi :

HasiI yang diharapkan:
a. Keluaran yang diharapkan dari tahap ini adalah sejumlah data dan
informasi langsung tentang kondisi umum di dusun, desa/kelurahan dan
kecamatan.
b. Sejumlah data dan informasi langsung tentang masalah kemiskinan di
dusun, desa/kelurahan, serta kecamatan.
c. Lembaga-lembaga di lingkungan dusun/RW dan desa/kelurahan; para
tokoh masyarakat, serta perwakilan kelompok di tingkat kecamatan;
memiliki gambaran umum tentang prinsip-prinsip dan tata cara
penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui
pengembangan kegiatan di dusun, desa dan antar desa.
Catatan Khusus:
1. Sebelum melakukan penjajakan awal, fasilitator sebaiknya perlu
mengetahui gambaran umum kondisi dusun/desa/kecamatan,
terutama yang berkenaan dengan aspek-aspek yang khas dari
masyarakat bersangkutan, seperti tradisi/adat, budaya, kebiasaan, pola
perilaku, struktur sosial masyarakat.

2. Pada tahap awal, tanggapan masyarakat secara umum cenderung menilai
PNPM Mandiri Perdesaan adalah bantuan dan masyarakat hanya tinggal
pakai. Oleh karena itu, fasilitator perlu secara jelas dan bertahap
menerangkan, secara formal maupun informal, tentang pembangunan
yang bersifat top down dan bottom up, dengan contoh-contoh nyata dan
mudah dipahami, Hal ini bisa dilakukan dengan cara membandingkan
terhadap hal-hal yang pernah terjadi di lingkungan dusun/desa sendiri
berkenaan dengan dua pendekatan pembangunan tersebut.

3. Jika Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan (KMPD/K) telah
terbentuk, dalam pertemuan berkala tim pelaku, sebaiknya terdapat
agenda acara untuk mengkaji tanggapan atas perkembangan lapangan.
Pembahasan dilaksanakan dengan mengkaitkan perkembangan lapangan
dan prinsip-prinsip serta tata cara penyelenggaraan PNPM Mandiri
Perdesaan. Hal itu dimaksudkan untuk mempertajam pemahaman dari
anggota tim pelaku , baik yang berkenaan dengan prinsip serta tata cara
kegiatan maupun tentang kondisi komunitas itu sendiri serta tentang
kemungkinan-kemungkinan langkah pemecahan/pendekatan kepada
warga.

4. Fasilitator dan KPM-D/K perlu mencermati tingkat keterlibatan setiap
anggota tim pelaku dalam kegiatan. Selain itu, KPM-D/K pun perlu
mengembangkan hubungan lebih mendalam melalui intensitas komunikasi
dengan para anggota. Hal itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kondisi
saling mengenal saling percaya dalam tim.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

7
i. Persiapan
Langkah persiapan ini merupakan titik tolak dari keempat langkah selanjutnya.
Artinya hasil dari langkah ini digunakan pada langkah pengenalan dan penjajakan
awal di tingkat desa, pengenalan dan penjajakan awal di tingkat dusun,
pengenalan dan penjajakan awal di tingkat desa/kelurahan dan kecamatan, serta
pembentukan tim pelaku.

Tujuan
Memastikan kesiapan tim fasilitator dalam menjalankan kegiatan penjajakan awal
dan mengenalan awal kepada masyarakat.

HasiI yang Diharapkan
1. Produk Teknis
x Panduan pengumpulan data sekunder dan observasi langsung tentang
masyarakat yang bersangkutan (akan dijelaskan pada Buku Saku Fasilitator
tentang Cara Menyusun Data Sekunder dan Observasi)
x Kerangka acuan wawancara semi-terstruktur untuk mengumpulkan data dan
informasi serta untuk menjajaki mitra potensial yang akan menjadi tim
pelaku.
x Memastikan kesiapan tim fasilitator dalam menjalankan kegiatan penjajakan
awal dan pengenalan awal kepada masyarakat.

2. Kondisi yang diharapkan pada tahap ini
Tim fasilitator berhasil menyusun panduan pengambilan data sekunder dan
observasi langsung, serta kerangka acuan wawancara dengan masyarakat,
sehingga secara psikologis tim fasilitator merasa siap untuk melakukan
kegiatan-kegiatan berikutnya dalam rangka pengenalan dan penjajakan awal.



























Langkah-Iangkah kegiatan
5 Menyusun jenis data dan informasi yang dibutuhkan, mencakup: data
orang miskin/Rumah Tangga Miskin, sarana/prasarana dasar yang ada di
dusun/desa dan kondisi serta penggunaannya, data tentang ekonomi
(pendapatan rumah tangga keluarga miskin, penggolongan status sosial
ekonomi, tingkat pengangguran, jenis-jenis lapangan pekerjaan yang ada
di dusun/desa/kecamatan, potensi ekonomi yang bisa dikembangkan,
tataguna lahan, kelembagaan masyarakat yang ada di desa/kelurahan,
kecamatan, potensi desa/kelurahan, dan RW/dusun, Rencana Tata
Ruang Kawasan Perdesaan/Perkotaan (RTRKP).
5 Pengelompokan jenis data yang dibutuhkan pada tingkat
Desa/kelurahan, dusun/RW, dan kelompok komunitas, yang meliputi :
x Tempat (sumber) memperoleh data
x Cara (metodologi) memperoleh data, seperti wawancara semi-
struktur, dokumen/arsip yang ada di sumber data, pengamatan
langsung
5 Menyusun kerangka acuan wawancara semi-struktur, yang terdiri atas :
x Kerangka acuan wawancara untuk mengumpulkan data, yang
dipadukan dengan penjelasan umum tentang prinsip dan tata cara
penyelenggaraan kegiatan.
x Kerangka acuan wawancara untuk menjajaki calon mitra potensial
yang akan menjadi tim pelaku kegiatan RW/Komunitas.



Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

8

















ii. PeIaksanaan
(i) PengenaIan dan penjajakan awaI di tingkat Dusun/RW
Penekanan dari langkah ini adalah upaya tim Fasilitator untuk memahami
secara umum kondisi dan gambaran dusun/RW yang bersangkutan, serta
menjajaki dan melakukan upaya-upaya awal dalam pembentukan tim pelaku.

Tujuan
a. Tersosialisasikannya gambaran awal dan umum tentang kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan di antara aparat dusun/RW dan para pengurus
lembaga-lembaga di lingkungan dusun/RW, serta para tokoh masyarakat
di tingkat dusun/RW.
b. Diperolehnya gambaran umum kondisi setiap dusun/RW.

HasiI yang diharapkan :
a. Produk Teknis
x Sejumlah data dan informasi langsung tentang kondisi umum setiap
dusun/RW.
x Sejumlah data dan informasi langsung tentang masalah PNPM Mandiri
Perdesaan setiap dusun/RW.
b. Kondisi yang diharapkan terjadi pada tahap ini adalah :
x Lembaga-lembaga di lingkungan dusun/RW, para tokoh masyarakat
tingkat dusun/RW, serta perwakilan kelompok di setiap dusun/RW
memiliki gambaran umum tentang prinsip-prinsip dan tata cara
penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan
PNPM Mandiri Perdesaan.
x Aparat dusun/RW, para tokoh masyarakat di tingkat dusun/RW serta
perwakilan kelompok di setiap dusun/RW bersedia menindaklanjuti
kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan dengan membentuk tim pelaku
kegiatan PNPM di setiap dusun/RW.








Catatan Fasilitator:
5 Tim fasilitator harus menyadari bahwa panduan wawancara yang
disusunnya bersifat terbuka dan fleksibel. Artinya, panduan tersebut
tidak kaku, harus memberi kemungkinan untuk berkembang sesuai
kondisi di lapangan
5 Kegiatan persiapan ini juga mempunyai makna khusus kepada fasilitator
dan tim KPM-D/K. Bagaimanapun juga penjajakan awal merupakan
kegiatan pertama kali tim. Biasanya muncul kekakuan-kekakuan dan
ketegangan-ketegangan dalam diri individu maupun tim KPM-D/K dalam
keseluruhan tahap persiapan sangat penting artinya bagi kesiapan
psikologis tim.
5 Untuk memudahkan pekerjaan, fasilitator dan tim KPM-D/K dapat
mengelompokkan jenis data-data yang dibutuhkan dalam suatu matriks
atau bagan.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

9


























(ii) Penjajagan Kebutuhan di tingkat keIompok-keIompok di dusun/
komunitas
Kegiatan ini merupakan kegiatan pertama kali yang langsung berinteraksi
dengan masyarakat yang sebenarnya, yang nantinya akan menjadi tumpuan
kegiatan pemberdayaan itu sendiri. Jika tim Fasilitator berhasil menampilkan
suasana dan citra yang menarik tentang keseluruhan kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan di desa/kelurahan, maka
hal tersebut akan menjadi pintu masuk yang menguntungkan bagi kegiatan-
kegiatan dan tahap-tahap selanjutnya.

Tujuan
a. Tersosialisasikannya gambaran awal dan umum tentang kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan di antara para pejabat, RT, tokoh masyarakat, serta
beberapa warga yang dianggap mewakili kelompok-kelompok yang ada di
dusun/komunitas.
b. Mendapatkan penajaman atas gambaran umum kondisi setiap
dusun/komunitas.

HasiI yang diharapkan :
1. Produk Teknis
x Sejumlah data dan informasi langsung tentang kondisi umum setiap
dusun/komunitas dari masyarakat di tingkat kelompok-kelompok di
dusun/komunitas (contoh kelompok tani dan kelompok peternak)
x Sejumlah data dan informasi langsung tentang masalah yang terkait
dengan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan setiap dusun/komunitas dan
masyarakat di tingkat kelompok-kelompok di dusun/komunitas.
2. Kondisi yang diharapkan terjadi pada tahap ini adalah :
Catatan Fasilitator:
Biasanya di masyarakat sering terjadi dominasi kaum laki-laki atas kaum
perempuan, sehingga masyarakat yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan pada
langkah ini, baik aparat dusun/RW, pengurus lembaga di lingkungan
dusun/RW maupun tokoh masyarakat, sebagian besar kaum laki-laki.
Akibatnya adalah keengganan kaum perempuan untuk terlibat pada proses
selanjutnya. Hal ini kurang menguntungkan pada proses-proses tahap
berikutnya. Oleh karena itu tim KPM-D/K sebaiknya mencermati hal ini, dan
mulai mencoba mencari peluang-peluang yang dapat dipakai sebagai titik
masuk ke masalah tersebut pada kegiatan dan tahap berikutnya.
Langkah-Iangkah kegiatan
5 Mengumpulkan dokumen/arsip yang dibutuhkan dari lembaga
dusun/RW, untuk mendapatkan data sesuai acuan yang direncanakan
pada langkah persiapan.
5 Melakukan wawancara semi-terstruktur dengan aparat dusun/RW,
pengurus lembaga di lingkungan dusun/RW, dan tokoh masyarakat.
5 Meminta nama dan identitas warga yang dapat menjadi narasumber
kunci, narasumber pilihan, serta warga yang dapat dijadikan tim pelaku
5 Melakukan pengamatan langsung secara umum pada lokasi dusun/RW
tersebut untuk mendapatkan penguatan dan penajaman atas
pemahaman yang sudah diperoleh dari data-data sekunder.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

10
x Aparat RT dan beberapa warga yang dianggap mewakili kelompok-
kelompok yang ada di dusun/komunitas memiliki gambaran umum
tentang prinsip-prinsip dan tata cara penyelenggaraan kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kegiatan terkait
PNPM Mandiri Perdesaan.
x Aparat RT dan beberapa warga yang dianggap mewakili kelompok-
kelompok yang ada di komunitas serta masyarakat pada umumnya,
bersedia menindaklanjuti kegiatan pengembangan kegiatan yang terkait
PNPM Mandiri Perdesaan dengan mendukung tim pelaku di setiap RW.






































(iii) PengenaIan dan penjajakan awaI di tingkat desa/keIurahan
Walaupun penekanan langkah ini adalah pada tingkat desa/kelurahan, tetapi
pada prakteknya langkah ini justru mulai dari tingkat kecamatan. Secara
umum langkah ini berbeda dengan langkah-langkah yang ada pada tahap
lainnya karena pada tahap ini tidak dimulai dan bertumpu dari bawah ke atas
tetapi dilakukan sebaliknya. Hal tersebut dilakukan berkaitan dengan upaya
membuka pintu-pintu struktural.
Catatan Fasilitator:

Pada saat mewancarai warga, mereka yang akan diwawancarai dipilih secara
acak dengan kriteria sebagai berikut :

5 Dianggap memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas
dibanding komunitasnya. Mereka biasa disebut narasumber kunci,
Kebanyakan dari mereka adalah :
5 Orang luar yang sudah lama tinggal di lingkungan pemukiman tersebut,
misalnya guru, dokter, pedagang, pendatang lain.
5 Warga yang memiliki kedudukan di tengah komunitas, misalnya pemuka
agama, aparat desa/kelurahan, aparat RW, tokoh masyarakat.
5 Warga yang menonjol dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan
komunitas.
5 Dianggap mewakili keadaan suatu kelompok yang berada di lingkungan
komunitas. Pembagian kelompok tersebut didasarkan atas jenis
kelamin, jenis pekerjaan, dan tingkat ekonomi. Mereka biasanya disebut
narasumber pilihan.
Langkah-Iangkah kegiatan

5 Melakukan wawancara semi-terstruktur dengan aparat RT, beberapa
warga yang terpilih dan dianggap mewakili kelompok (RTM) di
dusun/komunitas tersebut,
5 Melakukan cek silang terhadap ajuan aparat dusun/RW, pengurus
lembaga di lingkungan dusun/RW dan tokoh masyarakat tentang warga
yang dicalonkan menjadi KPM-D/K. Meminta nama dan identitas warga
yang dapat menjadi KPM-D/K.
5 Melakukan pengamatan langsung secara umum ke Desa/Kelurahan
tersebut (dengan cara transek) untuk mendapatkan penguatan dan
penajaman atas pemahaman yang sudah diperloleh dari data-data
sekunder.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

11

Tujuan
a. Tersosialisasikannya gambaran awal dan umum tentang kegiatan
pengembangan yang akan dilaksanakan di antara aparat desa/kelurahan
dan para pengurus lembaga-lembaga di lingkungan desa/kelurahan serta
tokoh masyarakat di tingkat desa/kelurahan dan kecamatan.
b. Diperolehnya gambaran umum kondisi desa/kelurahan secara
keseluruhan.

HasiI yang Diharapkan:
a. Produk Teknis
x Sejumlah data dan informasi langsung tentang kondisi umum di tingkat
desa/kelurahan, termasuk kondisi kemiskinan yang dihadapi dan RTM.
x Sejumlah data dan informasi langsung tentang masalah
sarana/prasarana dasar, pendidikan, kesehatan, sosioekonomi di
tingkat desa/kelurahan.

b. Kondisi yang diharapkan terjadi pada tahap ini adalah :
x Lembaga-lembaga di lingkungan desa/kelurahan, para tokoh
masyarakat tingkat desa/kelurahan memiliki gambaran umum tentang
prinsip-prinsip dan tata cara penyelenggaraan kegiatan memberdayaan
masyarakat melalui PNPM Mandiri Perdesaan.
































Langkah-Iangkah kegiatan

5 Mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dari kantor
kecamatan, untuk mendapatkan data sesuai dengan acuan yang
direncanakan pada langkah persiapan,
5 Melakukan wawancara semi-struktur dengan aparat kecamatan,
5 Mengumpulkan dokumen/arsip yang dibutuhkan dari kantor
desa/kelurahan, untuk mendapatkan data sesuai acuan yang
direncanakan pada langkah persiapan dan untuk melengkapi data-data
yang belum didapatkan dari dokumen kantor kecamatan,
5 Melakukan wawancara semi-terstruktur dengan aparat desa/kelurahan
dan pengurus lembaga komunitas di lingkungan desa/kelurahan.
5 Meminta nama dan identitas para ketua RW/Kepala Dusun (Kadus) dan
tokoh masyarakat.
5 Melakukan pengamatan langsung secara umum ke desa/kelurahan
tersebut (dengan cara transek) untuk mendapatkan penguatan dan
penajaman atas pemahaman yang sudah diperoleh dari data-data
sekunder.

Catatan Fasilitator:
Tim fasilitator dan KPM-D/K sebaiknya menyadari betul bahwa keseluruhan
kegiatan di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan tersebut, baik
pengumpulan data skunder maupun wawancara semi-terstruktur, sekaligus
merupakan upaya awal dalam mensosialisasikan PNPM Mandiri Perdesaan.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

12

2.2.2 PenyebarIuasan dan Pendampingan
a. SosiaIisasi dan PenyebarIuasan Informasi
Sosialisasi Penyebarluasan informasi merupakan salah satu tahap awal
proses kegiatan dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan
pemahaman kepada masyarakat yang menyangkut keseluruhan aspek
program, yang dilakukan oleh Fasilitator dan Pendamping Lokal maupun
KPM-D/K. Dengan penyebarluasan informasi ini diharapkan, setelah
masyarakat memahami program dan tumbuh kesadaran serta motivasi untuk
mendukung dan melaksanakan program dengan penuh tanggung jawab.

Tujuan :
a. Masyarakat memahami secara umum kondisi, masalah dan potensi lokasi
yang meliputi aspek sosioekonomi, dan fisik lingkungannya.
b. Masyarakat memahami kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui
PNPM Mandiri Perdesaan yang akan dilaksanakan di wilayahnya.
c. Masyarakat bersedia menindaklanjuti pelaksanaan pemberdayaan
masyarakat melalui program bidang sarana prasarana dasar, pendidikan,
kesehatan, sosioekonomi dan peningkatan kapasitas.

Proses penyebaran informasi dapat dilakukan secara bertahap seperti :

i. Tingkat Desa / KeIurahan
Tujuan :
a. Masyarakat memahami secara umum kondisi dan masalah serta
kondisi sosioekonomi yang ada di lingkungannya.
b. Masyarakat memahami kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui
PNPM Mandiri Perdesaan.
c. Masyarakat bersedia menindaklanjuti pelaksanaan kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui PNPM Mandiri Perdesaan.

HasiI yang diharapkan :
a. Kesepakatan jadwal pelaksanaan sosialisasi kegiatan tingkat
dusun/RW,
b. Adanya umpan balik dan penajaman terhadap temuan lapangan
hasil penjajakan awal,
c. Kondisi yang diharapkan yaitu :
x Adanya pemahaman warga tentang kebijakan, prinsip-prinsip,
prosedur/tata cara dan alur kegiatan pelaksanaan kegiatan
PNPM Mandiri Perdesaan, serta kesepakatan-kesepakatan antar
desa dalam melaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan.
x Adanya pemahaman warga masyarakat tentang pelaku-pelaku
PNPM Mandiri Perdesaan, pembentukan perangkat
kelembagaan masyarakat yang akan merencanakan,
melaksanakan dan mengelola serta mengembangkan program di
tingkat desa/kelurahan dan RW/dusun.

Langkah-Iangkah kegiatan :
a. Melakukan kajian keseluruhan hasil penjajakan awal dan masing-
masing dusun/komunitas (RW) sebagai hasil satu kesatuan.

b. Mendapatkan dan membuat beberapa kesimpulan umum dari hasil-
hasil penjajakan awal tersebut, misalnya tentang kesamaan kondisi
beberapa jenis kegiatan bidang sarana prasarana, rata-rata tingkat


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

13
sosioekonomi masyarakat, jenis mata pencaharian yang dominan.
Hal ini perlu karena bingkai pikiran fasilitator tentang keseluruhan
hasil-hasil penjajakan awal dari semua dusun/komunitas akan
sangat membantu dalam memandu peserta pertemuan untuk
menemukan pentingnya kegiatan pemberdayaan masyarakat
melalui kegiatan-kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.

c. Bersama dengan tenaga KPM-D/K, melakukan persiapan presentasi
materi sosialisasi, yang meliputi :
x Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan
kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan (sarana prasarana,
kesehatan, pendidikan, peningkatan kapasitas, simpan pinjam
untuk kelompok perempuan/SPP); prinsip-prinsip, tata cara dan
aturan kegiatannya.
x nformasi tentang berbagai program pemerintah lainnya, baik
yang datang dari lintas sektor di dalam Pemda, maupun dari
pihak ketiga seperti swasta, LSM, dan lembaga sosial lainnya.
x Pembentukan kelembagaan masyarakat yang akan
merencanakan, melaksanakan pembangunan dan pengelolaan
serta pengembangan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di
tingkat pengelola serta mengembangkan program di tingkat
desa/kelurahan; pentingnya proses, tahapan, tatacara dan alur
kegiatannya.
x Melakukan pembagian tugas di antara tim, meliputi siapa yang
akan membantu mempersiapkan pertemuan, menyajikan hasil-
hasil penjajakan tim, mencatat pertanyaan-pertanyaan dan
usulan-usulan yang muncul terhadap hasil analisis temuan
lapangan, mengamati keseluruhan jalannya pertemuan dan
mencatat proses dan hasilnya.
x Memfasilitasi tim KPM-D/K untuk mempersiapkan presentasi
hasil-hasil penjajakan awal, misalnya penyiapan bagan potensi
dan masalah bidang sarana prasarana, kesehatan, pendidikan,
sosioekonomi, dan lingkungan alam dalam gambar-gambar besar
yang siap ditampilkan dalam forum; menentukan alur topik
presentasi, mempersiapkan alat tulis pendukung.
x Menghubungi pihak-pihak yang terkait dalam penyelenggaraan
pertemuan.
x Menyelenggarakan pertemuan atas kerja sama dengan lembaga
desa/kelurahan untuk membahas :
i. Pengertian, kebijakan, prinsip-prinsip, prosedur dan alur
kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan
kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan, serta konteks kegiatan
pertemuan ini dalam kaitannya dengan kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui PNPM Mandiri Perdesaan.
ii. Proses, tahapan, tata cara dan alur kegiatan pemilihan dan
pembentukan pelaku-pelaku di tingkat desa dan kecamatan
serta keterlibatan kelembagaan masyarakat yang akan
merencanakan, melaksanakan dan mengelola serta
mengembangkan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di
desa/kelurahan dan dusun/komunitas.
iii. Hasil analisis temuan-temuan lapangan penjajakan awal dari
masing-masing dusun/komunitas, termasuk didalamnya
adalah pengkajian ulang seperti memeriksa kembali hasil
analisis, tanggapan, penambahan dan pengurangan beberapa


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

14
informasi serta analisisnya dan perumusan ulang hasil
analisis.
iv. Pentingnya pengembangan bidang sarana prasarana, sosial
dan ekonomi, kesehatan, pendidikan untuk mengantisipasi
hasil analisis tersebut diatas.
v. Menyepakati jadwal sosialisasi kegiatan tingkat
dusun/RW/komunitas.


ii. Kegiatan Tingkat di Dusun / RW
Tujuan :
a. Masyarakat memahami secara umum kondisi dan masalah sarana
dan prasarana, kesehatan, pendidikan, lingkungan serta kondisi
sosioekonomi yang ada di lingkungannya.
b. Masyarakat memahami latar belakang, tujuan, kebijakan, prinsip-
prinsip, mekanisme dan prosedur, serta jenis-jenis kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kegiatan-
kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.
c. Masyarakat bersedia secara aktif terlibat langsung dalam kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan.

HasiI yang diharapkan :
a. Keluaran yang diharapkan yaitu :
x Kesepakatan jadwal pelaksanaan pertemuan tingkat RW/dusun
x Adanya perwakilan aparat RW, pengurus lembaga di lingkungan
RW, aparat RW, perangkat dusun (Kadus), dan tokoh
masyarakat, dan perwakilan warga untuk menjadi anggota tim
pemetaan sosial dusun/RW dan pendataan dasar (baseline
survey)
x Adanya umpan balik dan penajaman terhadap temuan lapangan.
b. Adanya pemahaman warga tentang kebijakan, prinsip-prinsip, tata
cara/prosedur dan alur kegiatan pelaksanaan pemberdayaan
masyarakat melalui pengembangan kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan.

Langkah Kegiatan :
a. Bersama tim Fasilitator melakukan persiapan presentasi materi
sosialisasi, yang meliputi :
x Jenis-jenis kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui
pengembangan sarana prasarana, kesehatan, pendidikan, sosio
ekonomi, prinsip-prinsip, tata cara dan alur kegiatannya.
x Pemilihan calon pelaku-pelaku dan perangkat kelembagaan
masyarakat yang akan terlibat dalam merencanakan,
melaksanaan pembangunan dan mengelola serta
mengembangkan bidang kimpraswil di tingkat desa/kelurahan
dan RW/komunitas; pentingnya proses, tahapan, tata cara dan
alur kegiatannya.
b. Melakukan pembagian tugas diantara tim Fasilitator, meliputi siapa
yang akan membantu mempersiapkan pertemuan, menyajikan hasil-
hasil penjajakan tim, mencatat pertanyaan dan usulan yang muncul
terhadap hasil analisis temuan lapangan, mengamati seluruh
jalannya pertemuan dan mencatat proses dan hasilnya.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

15
c. Memfasilitasi tim KPM-D/K untuk mempersiapkan presentasi hasil
penjajakan awal, misalnya menyiapkan bagan hasil pemetaan
potensi dan masalah sarana dan prasana, kesehatan, pendidikan,
sosioekonomi dalam gambar besar yang siap ditampilkan dalam
forum, menentukan alur topik presentasi, mempersiapkan alat tulis
pendukung.
d. Menghubungi pihak-pihak yang terkait dalam penyelenggaraan
pertemuan sosialisasi.
e. Menyelenggarakan pertemuan yang membahas kerjasama dengan
lembaga RW dan dusun, meliputi :
x Pengertian, prinsip-prinsip, prosedur/tata cara dan alur kegiatan
pemberdayaan masyarakat dalam PNPM Mandiri Perdesaan
serta konteks kegiatan pertemuan ini dalam kaitannya dengan
kegiatan.
x Proses, tahapan, tata cara dan alur kegiatan pemilihan KPM-D/K
dan pembentukan tim yang akan merencanakan, melaksanakan
dan mengelola serta pengembangan program.
x Hasil analisis temuan lapangan penjajakan awal dari masing-
masing RW/dusun termasuk didalamnya adalah pengkajian ulang
seperti memeriksa kembali hasil analisis, tanggapan,
penambahan dan pengurangan beberapa informasi serta
analisisnya dan perumusan ulang hasil analisis.
x Pentingnya pengembangan program bidang sarana prasaran,
kesehatan, pendidikan, sosioekonomi, dan peningkatan kapasitas
untuk mengantisipasi hasil analisis tersebut diatas,
x Menyepakati perwakilan dari utusan RW/dusun, pengurus
lembaga di lingkungan RW, RT dan tokoh masyarakat untuk
menjadi tim pemetaan dan pendataan dasar (baseline survey).
x Mengevaluasi pertemuan bersama KMPD/K yang meliputi: hasil
pertemuan, proses pertemuan dan partisipasi peserta pertemuan.

iii. Tingkat KeIompok/Komunitas
Tujuan :
a. Masyarakat memahami secara umum kondisi, potensi dan
masalahnya serta kondisi sosial ekonomi yang ada di
lingkungannya
b. Masyarakat memahami kegiatan pemberdayaan masyarakat
secara partisipatif
c. Masyarakat bersedia menindaklanjuti pelaksanaan kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kegiatan
dalam PNPM Mandiri Perdesaan

HasiI yang diharapkan :
a. Keluaran yang diharapkan, yaitu :
x Kesepakatan jadwal pelaksanaan pertemuan pembentuk tim
pemetaan dan pendataan dasar (baseline survey).
x Adanya perwakilan komunitas menurut jenis kelamin, jenis
pekerjaan dan tingkat ekonomi untuk menjadi tim pemetaan.
x Adanya umpan balik dan penajaman terhadap temuan
lapangan hasil penjajakan awal.





Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

16
b. Kondisi yang diharapkan, yaitu :
x Adanya pemahaman warga tentang prinsip-prinsip, tata cara
dan alur kegiatan pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan.
x Adanya pemahaman warga tentang pembentukan perangkat
kelembagaan masyarakat yang akan merencanakan,
melaksanakan dan mengelola serta mengembangkan
kegiatan di tingkat desa/kelurahan dan dusun,
RW/komunitas.

Langkah-Iangkah Kegiatan :
1. Bersama dengan tim melakukan persiapan presentasi materi
sosialisasi, yang meliputi: kegiatan pemberdayaan masyarakat
melalui pengembangan kegiatan sarana-prasarana, kesehatan,
pendidikan, sosioekonomi; prinsip-prinsip, tata cara dan alur
kegiatannya.
2. Pembentukan perangkat kelembagaan masyarakat yang akan
merencanakan, melaksanakan pembangunan dan pengelolaan
kegiatan di tingkat desa/kelurahan dan RW/komunitas;
pentingnya proses, tahapan, tata cara dan alur kegiatannya.
3. Melakukan pembagian tugas diantara pelaku, meliputi siapa yang
akan membantu mempersiapkan pertemuan, menyajikan hasil-
hasil penjajakan tim, mencatat pertanyaan-pertanyaan dan
usuan-usulan yang muncul terhadap hasil analisis temuan
lapangan, mengamati keseluruhan jalannya diskusi dan mencatat
proses dan hasilnya.
4. Memfasilitasi KPM-D/K untuk mempersiapkan presentasi hasil-
hasil penjajakan awal, misalnya menyiapkan bagan potensi dan
masalah bidang kegiatan dan gambar-gambar besar yang siap
ditampilkan dalam forum, menentukan alur topik presentasi,
mempersiapkan alat-alat tulis pendukung.
5. Menghubungi pihak-pihak yang terkait dalam penyelenggaraan
pertemuan.
6. Menyelenggarakan diskusi bersama dengan lembaga RT dan
komunitas lainnya yang berpengaruh untuk membahas :
x Pengertian, prinspi-prinsip dan alur kegiatan pembentukan
perangkat pemberdayaan masyarakat, serta konteks kegiatan
pertemuan ini dalam kaitannya dengan kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan.
x Proses, tahapan, tata cara dan alur kegiatan pemilihan dan
pembentukan tim-tim pelaku dan perangkat kelembagaan
masyarakat yang akan merencanakan, melaksanakan dan
mengelola serta mengembangkan kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan di tingkat desa/kelurahan dan RW/komunitas.
x Hasil analisis temuan-temuan lapangan penjajakan awal dari
masing-masing setiap komunitas. Termasuk di dalamnya
adalah pengkajian ulang seperti memeriksa kembali hasil
analisis, tanggapan, penambahan dan pengurangan
beberapa informasi serta analisisnya, dan perumusan ulang
hasil analisis.
x Pentingnya pengembangan bidang kegiatan untuk
mengantisipasi hasil analisis tersebut di atas.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

17
x Menyepakati perwakilan dari komunitas berdasarkan jenis
kelamin, jenis pekerjaan, dan tingkat ekonomi untuk menjadi
tim pemetaan sosial dan pendataan dasar (baseline survey).
x Menyepakati jadwal pertemuan pembentukan tim pemetaan
sosial dan pendataan dasar (baseline survey) di tingkat
kelompok.
x Mengevaluasi pertemuan bersama tim yang meliputi: hasil
pertemuan, proses pertemuan dan partisipasi peserta
pertemuan.













































Catatan Fasilitator:
Perlu dipahami dengan baik oleh Fasilitator beberapa poin tentang proses
sosialisasi sebagai berikut:
5 Sosialisasi adalah proses yang tidak hanya dilakukan pada awal saja,
melainkan suatu kegiatan yang terus menerus dan
berkesinambungan.
5 Sosialisasi dan kegiatan penyebaran informasi perlu direncanakan
dengan baik (agendanya, topiknya, paket informasi yang didesain
dengan baik, sasarannya, dan waktunya) agar lebih efektif. Sebelumnya
perlu ada penjajagan kebutuhan informasi.
5 Sosialisasi bukan sekedar memberitahu suatu informasi, melainkan
juga proses penyadaran diri (self awareness), membangun
kesadaran kritis dari masyarakat, dan membuka akses informasi.
Sehubungan dengan itu, proses sosialisasi bukan diawali dengan
informasi baru dari luar (tidak tiba-tiba menjelaskan program baru),
melainkan membahas permasalahan hidup masyarakat terlebih
dahulu/berangkat dari apa yang mereka rasakan dan mereka butuhkan,
dan kaitannya dengan apa yang akan dijawab oleh Program.
5 Sosialisasi dalam PNPM Mandiri Perdesaan perlu dimengerti sebagai
proses yang tidak berdiri sendiri, melainkan upaya untuk
menyingkronkan dan mengintegrasikan dengan prorgam lain yang
ada. Oleh karena itu, fasiltiator perlu menggali informasi tentang
program lain yang masuk ke desa/kelurahan dan bagaimana agar tidak
terjadi tumpang tindih dengan PNPM Mandiri Perdesaan.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

18
b. Pendampingan
b.1. Tujuan Pendampingan
Tujuan pendampingan adalah:
1. berkembangnya kemampuan tokoh masyarakat menjadi perintis,
penggerak dan pelaksana pembangunan.
2. tumbuhnya kemampuan masyarakat untuk berkontribusi dalam
pembangunan yang dilandasi semangat kebersamaan.
3. berkembangnya kemampuan organisasi/kelembagaan masyarakat
dalam penyelenggaraan pembangunan.
4. meningkatnya kemampuan masyarakat dalam menggali dan
menghimpun potensi lokal dalam suatu organisasi.
5. meningkatnya jumlah pelaku pembangunan oleh masyarakat serta
peningkatan keberhasilan dalam pengelolaannya.

b.2. Tahapan Pendampingan
i. Fase Persiapan
Persiapan merupakan kegiatan awal yang dilakukan dalam rangka
melakukan pendampingan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat
kepada kelompok sasaran. Persiapan pendampingan merupakan
langkah penting yang sering kali diabaikan atau kurang mendapat
porsi perhatian yang cukup, yang mengakibatkan banyak kasus
pendampingan tidak berjalan dengan baik. Persiapan pendampingan,
dari pengalaman selama ini menunjukkan dapat menyumbang
keberhasilan program pemberdayaan. Adapun langkah-langkah
persiapan meliputi :
x dentifikasi lokasi (data primer dan data sekunder)
x Melakukan orientasi/sosialisasi dan proses pemahaman kegiatan
kepada kelompok sasaran.
x dentikasi kebutuhan pendampingan/fasilitasi (need assessment):
bentuk/jenis pendampingan/fasilitasi.
x Review/analisis hasil need assessment (apa dan siapa melakukan
kegiatan apa),
x Penetapan arah program kegiatan
x Perumusan tindakan (pilihan metode yang digunakan, waktu yang
tepat, sumber daya yang diperlukan).
x Merumuskan indikator keberhasilan pendampingan
(partisipatif).
x Penetapan standar teknis (aturan main) operasional.
x Penyusunan rencana program pelaksanaan
x Merancang proses pendampingan (jadwal, tempat, waktu, materi,
pemeran).
x Pembentukan tim pelaksana kegiatan
x Pembekalan teknis kepada tim pelaku di setiap tingkatan (dusun,
desa, kecamatan, kabupaten, provinsi).
x Penyusunan mekanisme koordinasi dan sinkronisasi
pelaksanaan kegiatan
x Penyusunan mekanisme pengaduan masyarakat dan sistem
pengendalian kegiatan.

ii. Fase PeIaksanaan
Pelaksanaan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam upaya
merealisasikan perencanaan yang telah dirumuskan pada tahap
persiapan. Kegiatannya adalah:


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

19
x Menyampaikan posisi dan perannya sebagai Fasilitator dalam
masyarakat (tidak mengambil keputusan, masyarakat yang berperan
utama, serta batasan lainnya yang tidak akan dilakukan oleh
Fasilitator)
x Menjelaskan tentang fase pelaksanaan pada masyarakat dan
pemangku kepentingan lainnya (aparat desa/pemerintah daerah, tim
koordinasi kecamatan/kabupaten, instansi terkait)
x Memfasilitasi masyarakat dalam merumuskan mekanisme
penggalian gagasan.
x Memfasilitasi penentuan skala prioritas berdasarkan proposal
masyarakat, mekanisme dan prosedur penyerapan dan pemanfaatan
dana, mekanisme pelaksanaan kegiatan berdasarkan proposal yang
disetujui.
x Memfasilitasi masyarakat dalam merumuskan sistem monitoring
dan pengendalian pelaksanaan kegiatan secara partisipatif,
x Memfasilitasi perumusan mekanisme penanganan dan
pengaduan masyarakat.
x Memfasilitasi proses penyusunan sistem pemeliharaan dan
pengelolaan pembangunan pasca program.
x Memfasilitasi sistem evaluasi pelaksanaan kegiatan.
x Menjaga proses (pengendalian) dan aturan main agar sesuai
dengan kesepakatan bersama (tetap partisipatif, tidak ada dominasi,
ada kerjasama yang baik, agar tujuan yang diharapkan).
x Mencatat proses pelaksanaan yang berlangsung (permasalahan,
solusi, kekuatan dan kelemahan).
x Melakukan monitoring dan evaluasi bersama untuk mengukur
tingkat pencapaian (indikator yang sudah disepakati).

iii. Pasca Pendampingan
Pada kegiatan ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
x Menginformasikan hasil yang diperoleh kepada pihak-pihak yang
terkait.
x Mengevaluasi kegiatan pendampingan/fasilitasi (keberhasilan dan
kegagalan) terhadap pendayagunaan: sumberdaya, metode, teknik
yang digunakan, dan kelompok sasaran (kemampuan dan
kaderisasi).
x Merumuskan perbaikan program pendampingan/fasilitasi.
x Merencanakan tindak lanjut (siklus pembelajaran yang terus
menerus).

b.3. RefIeksi/EvaIuasi HasiI
Setelah melalui berbagai tahapan di atas, ajaklah masyarakat untuk
mengukur, mengevaluasi dan menganalisis langkah-langkah yang telah
dilakukan sebelumnya untuk menemukan langkah-langkah strategis
selanjutnya.










Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

20





























2.3. FasiIitasi DaIam Pertemuan Masyarakat
Salah satu bentuk aktivitas masyarakat dalam mengikuti PNPM Mandiri Perdesaan
adalah menyelanggarakan pertemuan-pertemuan musyawarah di tingkat kelompok,
dusun, desa dan antar desa atau kecamatan. Pertemuan-pertemuan masyarakat ini
akan difasilitasi oleh fasilitator desa dan/ atau fasilitator kecamatan serta Pendamping
Lokal.

2.3.1. Fungsi dan peran seorang fasilitator dalam suatu pertemuan masyarakat
adalah:
(a) Menyampaikan tujuan dan memandu jalannya pertemuan.
(b) Memotivasi peserta untuk mengemukakan pendapat.
(c) Memandu peserta dalam mengambil suatu keputusan.

2.3.2. Faktor-Faktor Fasilitasi yang Perlu Diperhatikan dalam Suatu Pertemuan:
(a) Penguasaan materi yang akan disampaikan
(b) Penguasaan terhadap karakteristik dan tipe peserta yang hadir.
(c) Teknik komunikasi:
(i) Penampilan; pakaian tidak mencolok, rapi dan disesuaikan dengan
peserta yang hadir.
(ii) Gunakan bahasa yang sederhana (kalau bisa bahasa setempat)
sehingga mudah dimengerti.
(iii) Jangan terlalu cepat ketika berbicara.
(iv) Perlu pengaturan suara, sesuikan dengan kondisi tempat atau
ruangan yang penting bisa didengarkan semua peserta.

Enam KesaIahan Pendampingan yang Sering Terjadi

1. Kegiatan pendampingan dilakukan, tetapi hanya sebagai formalitas saja. Hal ini
mungkin terjadi karena fasilitator kurang berkomitmen pada metode
pemberdayaan masyarakat.
2. Fasilitator secara sengaja atau pun tidak sengaja mendorong masyarakat untuk
menerima pendapat atau saran fasilitator sendiri.
3. Mengurui, karena merasa fasilitator lebih tahu.
4. Fasilitator terlalu pasif, tidak mau mengganggu pemikiran orang. Mungkin kurang
percaya diri, atau mungkin takut disebut intervensi.
5. Menghakimi, terlalu cepat mengambil kesimpulan, kurang sabar. Fasilitator tidak
memberi waktu cukup untuk berdialog dan membahas alternatif. Fasilitator tidak
bisa menerima kesalahan atau kekurangsempurnaan pekerjaan yang dilakukan
orang desa/masyarakat sehingga langsung diambil alih kembali olehnya.
6. Fasilitator tidak mengembangkan diri sendiri. Tidak memperdalam ilmu
pendampingan/fasilitasi atau pun belajar ilmu baru. Akibatnya ketika program
sudah selesai, dan dia harus keluar dari program, merasa diri tidak siap
Catatan Fasilitator:
Untuk lebih memperdalam pemahaman tentang Pendampingan, dapat membaca
Panduan Pendampingan yang sudah ada.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

21
(v) Gunakan contoh-contoh yang sering terjadi keseharian sebagai
analogi menjelaskan suatu konsep.
(vi) Beri kesempatan peserta untuk bertanya.
(vii) Bersikap netral tidak boleh hanya memihak satu orang atau
kelompok tertentu saja.
(viii) Jangan memaksakan ide atau gagasannya sendiri atau
mempengaruhi peserta untuk mengikuti ide-idenya.
(ix) Tidak diperkenankan membuat keputusan sendiri.
(d) Teknik penanganan konflik
2.4. FasiIitasi Untuk EvaIuasi Kegiatan
Evaluasi merupakan cara untuk menilai hasil kegiatan fasilitasi yang dicapai. Evaluasi
dilakukan setelah melaksanakan kegiatan. Dengan evaluasi Fasilitator dan masyarakat
bisa mengetahui kendala-kendala yang kita hadapi dalam menyelenggarakan
pertemuan. Dan yang lebih penting, masyarakat dapat mengetahui apakah tujuan telah
tercapai atau belum.

Langkah-Iangkah menyeIenggarakan evaIuasi
1. Siapkan bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan evaluasi.
2. Bukalah kegiatan evaluasi dengan menanyakan perasaan dan pendapat warga
terhadap pertemuan yang telah dilakukan.
3. Ajaklah warga untuk menyepakati hal-hal yang akan dievaluasi.
4. Ada beberapa hal yang sebaiknya dijadikan bahan evaluasi:
5. Apakah tujuan diadakannya pertemuan tercapai?
6. Kalau tujuan tidak tercapai, apa yang membuat tujuan itu tidak tercapai?
7. Kendala-kendala apa yang ditemukan selama mempersiapkan dan melaksanakan
pertemuan?
8. Apakah kerja sama di antara warga berjalan lancar?
9. Buatlah tolok ukur untuk menilai gagal tidaknya kegiatan yang telah dilakukan.
Fasilitator dan tim KPM-D/K dapat membuat kotak semacam ini:

Aspek yang dievaIuasi Yang
direncanakan
Kenyataan PenjeIasan

Tujuan



Kendala



Kerjasama



10. Ajaklah kelompok sasaran untuk membuat rencana tindak lanjut. Hasil evaluasi yang
telah dilakukan sebaiknya dijadikan pertimbangan buat kita dalam membuat rencana
tindak lanjut. Dengan demikian, rencana tindak lanjut yang dibuat betul-betul
melanjutkan kegiatan yang telah dilakukan.
11. Mintalah salah seorang warga untuk menuliskan hasil evaluasi dan rencana tindak lanjut
yang telah dibuat. Tulisan ini sebaiknya disimpan baik-baik agar warga mudah
membacanya kembali bila diperlukan.




Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

22
PELATIHAN

2.5. Umum
Pelatihan merupakan bagian tak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan. Pada setiap tahapan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan akan
terjadi proses transfer pengetahuan dan ketrampilan antar pelaku program dan
masyarakat, sehingga terjadi proses pembelajaran. Pendekatan pelatihan dalam PNPM
Mandiri Perdesaan menggunakan pola pembelajaran andragogi (pembelajaran orang
dewasa) dengan metode yang partisipatif. Untuk meningkatkan kualitas pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan, ada dua jenis strategi pelatihan yang akan digunakan yaitu:

(a) PeIatihan Pra Tugas
Para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di masyarakat seperti: KPM-D/K, Tim
Pengelola Kegiatan, Tim Penulis Usulan, Pendamping Lokal, Tim Verifikasi, dan
Unit Pengelola Kegiatan sebelum menjalankan tugasnya akan mendapat pelatihan
terlebih dahulu. Pelatihan kepada mereka ini lebih banyak akan dipandu dan
diberikan oleh Fasilitator Kecamatan dan Fasilitator Kabupaten. Dengan demikian
Fasilitator Kecamatan dan Fasilitator Kabupaten harus mempunyai kompetensi
atau pengetahuan dan ketrampilan sebagai seorang pelatih.

(b) PeIatihan Lanjutan
Sebagai bentuk pendampingan dan dukungan teknis di lapangan, Fasilitator dan
Konsultan perlu memberikan tambahan pengetahuan dan ketrampilan serta
pengembangannya kepada pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di masyarakat.
Tambahan pengetahuan dan ketrampilan ini dapat diberikan melalui pelatihan
lanjutan dengan menggunakan beberapa metode seperti dengan OJT (on-the-job-
training), ST (in-service-training), kaji silang, asistensi, focus group disscussion
(FGD), pembimbingan individu untuk penanganan masalah, curah pendapat,
simulasi. Model Pelatihan Lanjutan diberikan kepda pelaku PNPM Mandiri
Perdesaan sambil menjalankan tugas-tugasnya. Pelatihan ini dilakukan secara
rutin sesuai dengan kebutuhan dengan waktu dan materi yang sangat bervariasi
untuk setiap pelaku PNPM Mandiri Perdesaan. Dengan demikian dituntut bagi
Fasilitator dan konsultan dapat memperkirakan kebutuhan materi apa yang perlu
disampaikan dalam pelatihan lanjutan kepada pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di
masyarakat.





















Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

23


















































0(72'(3(/$7,+$1/$1-87$1

1. In-Service Training (IST)
In-Service Training adalah pelatihan yang diselenggarakan pada seluruh kesempatan
untuk melatih se-kelompok peserta selama pelaksanaan tugas. Kesempatan utama
terjadi pada setiap rapat bulanan. Bisa juga termasuk kesempatan untuk memanggil
seluruh orang untuk diberi sedikit pelajaran tambahan misalnya cara mengisi format
evaluasi. Untuk In-Service Training, konsultan seharusnya menyiapkan rencana pelajaran
seperti untuk pelatihan resmi yang lain, tidak hanya sekedar bertanya mau belajar apa?
Semua aturan pelatihan berlaku: partisipasi peserta, cara menggunaan pertanyaan,
kualitas alat peraga, kualitas suara, kendala ruangan, kualitas bahan, kesempatan
praktek, pemberian umpan balik, sikap positif, pemberian contoh, dan lain-lain.

2. On-the-Job-Training (OJT)
OJT dilaksanakan di tempat kerja, dan biasanya dilakukan untuk tim kecil atau untuk
masyarakat setempat. OJT dilakukan pada saat kunjungan kerja berdasarkan kebutuhan
lokal, sehingga tidak selalu tahu OJT mana akan diberikan. Lebih sering OJT dilakukan
apabila dinilai ada kegiatan yang belum dikerjakan dengan baik, misalnya pemasangan
batu pengunci untuk jalan Telford.
Process OJT cukup sederhana, terdiri dari empat langah:
1. Siapkan orang yang mau dilatih (agar mau belajar)
2. Sampaikan kegiatan (pelatih memberi contoh)
3. Coba dilakukan sendiri oleh pekerja (sampai mampu)
4. Tindak lanjut (umpan balik dan pembimbingan, bila perlu)
Tentu saja, sebelum pelatihan dimulai pelatih telah memikirkan urutan pekerjaan, hal-hal
yang harus diperhatikan, dan cara mengukur keberhasilan.
3. Studi Banding
Studi banding adalah proses berkunjung ke tempat lain untuk belajar dari hasil baik atau
buruknya. Sebelum mulai konstruksi jalan, sekelompok masyarakat pergi ke desa lain
untuk melihat contoh jalan yang baik (atau yang jelek), agar bisa dipertimbangkan dalam
pekerjaan mereka. Studi banding bisa digunakan untuk hal yang teknis maupun yang
nonteknis. Bisa digunakan untuk hal-hal obyektif maupun yang subyektif (misalnya datang
ke desa yang sangat bersemangat masalah pemeliharaan). Fasilitator yang
merencanakan studi banding harus menyiapkan pula pertanyaan yang akan
memaksimalkan pelajaran. Studi banding tidak hanya berjalan-jalan, akan tetapi harus
sangat jelas apa keistimewaan tempat yang dikunjungi.

4. Kaji Silang (Cross-Visit)
Fasilitator dapat menyusun acara kaji silang untuk memperkaya pengalaman kelompok
yang dipendampingan/fasilitasi. Pada acara kaji silang, sejumlah orang dapat
mengunjungi lokasi lain untuk mempelajari hasil kelompok lain. Beda dengan Studi
Banding biasa, pada acara Kaji Silang kelompok pengunjung sekaligus menilai kualitas
pekerjaan kelompok yang dikunjungi dan memberi umpan balik kepada mereka. Pada lain
kesempatan, kelompok yang dikunjungi menjadi kelompok pengunjung dan dapat menilai
dan memberi umpan balik kepada kelompok lain. Tujuan tidak hanya mendapat penilaian
dan umpan balik, tetapi juga menambah pengalaman sebagai seorang pemeriksa.
Diharapkan pengalaman ini dapat membantu mereka menilai pekerjaan sendiri.



Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

24



























































0(72'(3(/$7,+$1/$1-87$1

5. Pembimbingan Individu untuk Mengatasi Masalah
Pembimbingan dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang timbul di lapangan,
terutama pada orang lapangan yang belum dapat melakukan suatu tugas semestinya.
a. Melakukan pemberian umpan balik, termasuk penjelasan mengapa kegiatan ini
diperlukan, dan permintaan untuk memperbaiki kinerja.
b. Memberi umpan balik netral Plus, termasuk bertanya mengapa kurang
c. baik, meminta perubahan spesifik, dan menyatakan bahwa kita siap membantu.
d. Bila hasil belum memuaskan, kita melakukan analisis pembimbingan, yaitu mencari
faktor yang mungkin menyebabkan prestasi rendah. Ada 16 jenis faktor yang perlu
dipikirkan sendiri, termasuk Rewards & Punishment, faktor luar, kompetensi, dan
kepentingan kegiatan dalam pandangan orang yang bersangkutan. Faktor bisa
diperbaiki, atau perlu melakukan langkah berikutnya.
e. Mengadakan pertemuan Pembahasan Pembimbingan berempat mata, untuk
menyepakati adanya masalah, identifikasi alternatif solusi, dan menyepakati Action
Plan. Melakukan Action Plan menjadi tanggung jawab orang yang mempunyai
masalah. Hasil selalu diamati.
6. Pembimbingan Individu untuk Menyampaikan Ilmu Baru
Pada saat tertentu, fasilitator harus mengalihkan informasi kepada individu. Hal ini
mungkin terjadi di lapangan, mungkin di kantornya, mungkin di kantor, atau mungkin di
tempat lain.
a. Fasilitator membantu peserta mencari motivasi, tahu kepentingan materi bagi diri
sendiri
b. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk berpikir sendiri, tidak harus
semua informasi disampaikan Fasilitator
c. Fasilitator membantu peserta berantisipasi, memikirkan masalah yang mungkin bisa
timbul
d. Fasilitator memberi umpan balik terhadap kinerja, tanpa timbul efek negatif
e. Fasilitator menghindari pemikiran yang negatif, termasuk pemikiran peserta
f. Fasilitator menjaga status peserta di depan masyarakat atau temannya
g. Fasilitator memperhatikan ketepatan waktu dan lamanya pembimbingan; jangan
dipaksakan terlalu panjang atau memaksakan peserta terlambat pulang.
h. Fasilitator membangkitkan motivasi mereka sebagai pembimbing, karena ada banyak
ilmu yang harus dialihkan kepada masyarakat.
i. Fasilitator menjadi contoh baik bagi mereka.

7. Diskusi KeIompok Terfokus (Focus Group Discussion)
Focus Group Discussion adalah pembahasan kelompok yang dibatasi topiknya, agar
topik tersebut menjadi sasaran tunggal pembahasannya. Jumlah anggota bervariasi,
tetapi dalam konteks Fasilitator, merupakan satu kelompok besar seperti seluruh
Fasilitator Desa, seluruh BPD, seluruh tim pemantauan, dan sebagainya. Topik untuk
dibahas bisa ditentukan oleh fasilitator atau dalam kasus tertentu dapat diputuskan oleh
kelompok sendiri. Topik sebaiknya merupakan topik yang ada banyak pendapat yang
berbeda, sehingga diskusi Waktu yang disediakan harus cukup lama, minimal satu jam
misalnya, atau mungkin lebih. Siapa yang menjadi fasilitator pembicaraan harus mampu
menjaga kesempatan berpartisipasi agar diskusi tidak didominasi satu orang atau satu
kelompok kecil. Diskusi sebaiknya ada kesimpulan dan rencana tindak lanjut, tetapi
kesimpulan juga bisa perlu informasi lebih banyak, sehingga ada orang yang ditugaskan
untuk mencari informasi tersebut. Hasil yang ada seharusnya tertulis dan diumumkan
secara transparan.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

25









































2.6. Jenis PeIatihan Untuk PeIaku PNPM Mandiri Perdesaan di Masyarakat
Pelatihan ini dilakukan kepada pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di masyarakat
sebagai bekal untuk menjalankan tugas-tugasnya. Pelatihan-pelatihan tersebut adalah
sebagai berikut:

2.6.1. PeIatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa/KeIurahan (KPM-D/K)

(a) Pelatihan Pra Tugas
(i) Tujuan:
Pelatihan bagi KPM-D/K dimaksudkan untuk memberikan
pembekalan dan peningkatan kemampuan serta ketrampilan KPM-
D/K dalam memfasilitasi masyarakat untuk mengelola PNPM Mandiri
Perdesaan pada setiap tahapan.
(ii) Waktu dan peserta:
/ (Tujuh) hari efektif
(iii) Peserta
Seluruh KPM-D/K sekecamatan

0(72'(3(/$7,+$1/$1-87$1


8. Simulasi
Simulasi adalah suatu percobaan, dimana orang bermain dalam peran yang tidak seperti
biasa (misalnya KPM-D/K mencoba main sebagai anggota tim verifikasi), atau dalam
situasi khusus (tim verifikasi melakukan simulasi tentang bagaimana memberi umpan
balik negatif ke desa). Hal itu dilakukan agar peserta lebih memahami kendala dalam
melakukan hal-hal yang disimulasikan. Untuk membuat simulasi yang efektif, pemain
peran maupun peserta lain harus jelas aturan mainnya posisi yang disimulasikan,
kemudian dengan sendirinya akan timbul perasaan dan kesulitan yang dihadapi dalam
peran tersebut. Kalau simulasi terlalu jauh, sulit untuk bermain secara realistis. Simulasi
harus diproses begitu selesai untuk memaksimalkan pelajaran yang didapat. Sebagai
fasilitator simulasi, Fasilitator harus menyiapkan aturan dan membimbing pemain. Bila
perlu, tiap orang diberi instruksi secara tertulis sebagai referensi, tetapi instruksi masih
umum kalau semua ditentukan oleh fasilitator, pemain tidak bisa berimprovisasi.

9. Curah Pendapat
Kegiatan ini digunakan untuk merangsang dan menunda penilaian. Biasanya digunakan
untuk masalah yang tidak terlalu umum dan tidak terlalu sempit. Kalau masalah sempit,
peserta langsung terlalu spesifik. Curah pendapat mempunyai aturan main tertentu:
a. Ketua menjaga semua peraturan dan menjaga partisipasi.
b. Semua orang menyarankan apa saja, yang kemudian ditulis di papan.
c. Tidak dinilai dan tidak boleh dikritik.
d. Semua gagasan diterima, walaupun kelihatan tidak ada gunanya.
e. Tidak ada penilaian terhadap kebaruan gagasan yang dicari adalah gagasan yang
efektif, bukan yang baru saja.
f. Boleh menggunakan seluruh teknik Berpikir ke Samping. Ketua boleh menyarankan
teknik untuk mencari gagasan baru.
g. Kelompok optimal terdiri dari 6 s.d. 15 anggota.
h. Waktu dibatasi. Biasanya 30 menit, tetapi bisa lebih cepat atau lambat. Berhenti bila
sudah puas.
i. Tempat disusun supaya kelihatan khusus.
j. Peserta tidak boleh berpidato.
k. Peserta tidak boleh mengembangkan gagasan yang sudah diusulkan.
l. Peserta wajib menyumbang gagasan, termasuk ketua.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

26

(iv) Pemandu/ peIatih:
Fasilitator Kecamatan dan PjOK dapat dibantu Fasilitator Kabupaten

(v) HasiI yang diharapkan:
1) KPM-D/K mengetahui dan memahami tentang latar belakang,
tujuan, prinsip, kebijakan dan tahapan atau mekanisme PNPM
Mandiri Perdesaan sebagai pengelolaan program
pemberdayaan masyarakat yang integratif di tingkat desa.
2) KPM-D/K memiliki visi sebagai kader pembaharu di masyarakat
dan mengetahui serta memahami tugas & tanggungjawabnya.
3) KPM-D/K menguasai teknik-teknik fasilitasi pertemuan-
pertemuan masyarakat dalam tahapan kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan, termasuk perencanaan desa secara partisipatif dan
teknik Menggagas Masa Depan Desa (MMDD) untuk
penyusunan RPJMDes.
4) KPM-D/K mempunyai ketrampilan memberikan pendampingan
dan pembimbingan kepada masyarakat agar mampu
mengelola PNPM Mandiri Perdesaan secara mandiri.
5) KPM-D/K menguasai administrasi dan pelaporan yang
diperlukan di tingkat desa/kelurahan.
6) KPM-D/K mampu menyusun dan mempunyai rencana kerja
untuk melakukan tugas dan tanggungjawabnya.

(vi) Materi PeIatihan
Materi yang dibahas dalam pelatihan KPM-D/K paling tidak meliputi:
1) Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan (latar belakang, tujuan,
sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan), sebagai proses pemberdayaan masyarakat
(Sumber: Petunjuk Teknik Operasional/PTO).
2) Tugas dan tanggung jawab KPM-D/K (Sumber: Penjelasan 5
PTO, tentang Tugas dan Tanggung jawab Pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan).
3) Pengetahuan dan ketrampilan sederhana yang berkaitan
dengan teknis kegiatan a.l: Ekonomi, Kesehatan, Pendidikan,
Peningkatan Ketrampilan, dan sarana prasarana (Sumber:
Penjelasan 4 PTO, tentang jenis-jenis kegiatan). Bagi KPM-D/K
yang akan bertanggung jawab terhadap hal teknis, akan diberi
tambahan pelatihan khusus yang berkaitan dengan hal-hal
teknis oleh FT- Kec dibantu oleh FT - Kab.
4) Teknik pendataan awal, termasuk pemetaan RTM secara
partisipatif, data dasar dan profil desa.
5) Teknik fasilitasi dalam pertemuan-pertemuan masyarakat,
termasuk perencanaan desa secara partisipatif (lihat Acuan
teknik fasilitasi penggalian gagasan dan musyawarah khusus
perempuan), dan fasilitasi MMDD untuk penyusunan
RPJMDes.
6) Teknik Fasilitasi proses PNPM Mandiri Perdesaan/ Cara
pendampingan dan pembimbingan kepada masyarakat agar
mampu mengelola PNPM Mandiri Perdesaan secara mandiri.
7) Pengelolaan Administrasi, pengisian formulir kegiatan,
pengelolaan keuangan dan evaluasi hasil.
8) Cara-cara pengawasan dan pengendalian kegiatan termasuk
mekanisme penanganan pengaduan dan permasalahan serta


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

27
penanganan konflik (Sumber: Penjelasan 7 PTO, tentang
Pemantauan, evaluasi dan pelaporan, Penjelasan 8 PTO
tentang Penanganan Pengaduan dan Masalah)
9) Cara penyebarluasan informasi (Sumber; Penjelasan 1 PTO
tentang sosialisasi)

(vii) Proses PeIatihan
i Persiapan, meliputi:
1) Memastikan waktu dan tempat pelatihan.
2) Memastikan konsumsi peserta dan akomodasi peserta.
3) Membuat undangan pelatihan kepada KPM-D/K terpilih,
memastikan undangan telah tersebar serta kepastian
kehadiran dalam pelatihan.
4) Bertukarpikiran/konsultasi dengan Fasilitator Kabupaten untuk
membuat jadwal, kurikulum pelatihan (mengacu pada petunjuk
yang telah ada), membuat materi atau bahan yang akan
disampaikan dalam pelatihan, menentukan metode evaluasi
pelatihan.
5) Menyiapkan alat tulis dan alat bantu lainnya yang diperlukan
dalam pelatihan.
i Pelaksanaan, meliputi:
1) Pembukaan pelatihan: sambutan, perkenalan, penjelasan
tujuan pelatihan, harapan peserta mencapai tujuan,
pengorganisasian kelas, tata tertib, pola ulasan harian
2) Test Awal, Rencana Pembelajaran, Pendampingan Kelompok,
Evaluasi Harian
3) Memberikan penjelasan dan pemahaman konsepsi PNPM
Mandiri Perdesaan (latar belakang, tujuan, sasaran, prinsip,
kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri Perdesaan)
4) Memberikan penjelasan tugas dan tanggung jawab KPM-D/K,
hak dan kewajibannya, apa yang boleh dilakukan dan apa yang
tidak boleh dilakukan, mulai dari tahap perencanaan kegiatan
sampai dengan tahap pelestarian.
5) Memberikan pengetahuan dan ketrampilan sederhana yang
berkaitan dengan teknis kegiatan a.l ekonomi, kesehatan,
pendidikan dan saranaprasarana.
6) Memberikan pengetahuan dan ketrampilan memfasilitasi
pertemuan-pertemuan dengan masyarakat, termasuk
perencanaan desa secara partisipatif.
7) Memberikan pengetahuan dan ketrampilan melakukan
pengawasan, pengendalian pelaksanaan kegiatan termasuk
mekanisme penanganan pengaduan dan permasalahan serta
penanganan konflik.
8) Memberikan penjelasan mengenai cara-cara penyebarluasan
informasi PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat.
9) Memberikan pengetahuan cara koordinasi antar pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan di tingkat desa dan kecamatan serta sistem
pelaporan.
10) Membimbing dan memantau kunjungan lapangan KPM-D/K ke
setiap desanya untuk:
x Praktek lapangan metode/teknik fasilitasi pertemuan
masyarakat.
x dentifikasi kelompok-kelompok dan pertemuan
masyarakat yang ada di desa, serta menemui pengurus


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

28
kelompok untuk mengetahui jadwal pertemuan yang ada
dan rencana pertemuan untuk sosialisasi PNPM Mandiri
Perdesaan.
11) Membimbing pembuatan rencana kerja tindak lanjut sesuai
hasil kunjungan lapangan.
12) Membangun sikap dan komitmen keberpihakan kepada
masyarakat miskin.
13) Mendorong dan memberikan motivasi kepada KPM-D/K untuk
bersama-sama bekerja memberdayakan masyarakat desanya.
14) Membuat jadwal pertemuan rutin dengan semua KPM-D/K.
15) Ujian Akhir.

(b) Pelatihan lanjutan

Tahapan proses pelatihan lanjutan sebagai berikut:
(i) Persiapan, meIiputi:
1) Setiap kunjungan lapangan, Fasilitator Kecamatan mencatat
kesulitan, hambatan dan permasalahan yang dihadapi KPM-
D/K ketika menjalankan tugasnya.
2) Berdasarkan catatan kunjungan lapangan, Fasilitator
Kecamatan mengumpulkan KPM-D/K untuk membahas
hambatan, kesulitan dan permasalahan yang muncul dan
dialami KPM-D/K.
3) Dari hasil pembahasan bersama KPM-D/K pastikan
peningkatan ketrampilan atau pengetahuan apa yang
dibutuhkan untuk mengoptimalkan kinerja KPM-D/K.
4) Pastikan waktu pelatihan khusus untuk pendampingan/
pembimbingan tugas atau memanfaatkan kegiatan rutin dan
tempat pelatihan di dalam/luar ruangan.
5) Fasilitator Kecamatan menyusun materi dan bahan yang
dibutuhkan serta agenda pelatihannya.
6) Menyiapkan perlengkapan pelatihan dan alat bantu lainnya.

(ii) PeIaksanaan, meIiputi:
Pada waktu pertemuan KPM-D/K sekaligus untuk mendapatkan
tambahan ketrampilan dan pengetahuan, Fasilitator Kecamatan
dapat langsung memberikan pelatihan yang dibutuhkan. Namun jika
materi harus dipersiapkan maka dapat dilakukan di lain waktu,
dengan tahapan pelaksanaan sebagai berikut :
1) Memberikan penjelasan tujuan pelatihan.
2) Menyampaikan materi pelatihan sesuai metode dan medianya.
3) Mengadakan praktek lapangan terhadap materi yang
disampaikan (jika memungkinkan dan tergantung materi apa
yang dilatihkan).
4) Merangkum hasil pelatihan dan manfaatnya dalam tugas.
5) Mengagendakan kesepakatan tindak lanjut dari pelatihan untuk
meningkatkan efektivitas program.









Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

29






















Acuan Teknik FasiIitasi Forum Pertemuan

a. Persiapan

1. Menentukan tujuan diseIenggarakannya pertemuan.
Fasilitator dan Tim KPM-D/K atau PL perlu mendiskusikan dengan kelompok
sasaran tentang tujuan pertemuan. Tujuan pertemuan yang jelas akan membantu
fasilitator dalam mengerjakan hal-hal yang diperlukan dalam pertemuan. Tujuan
yang jelas juga akan membantu peserta yang diundang dapat memahami maksud
diadakannya pertemuan.

Untuk menghindari pembuatan tujuan yang muluk-muluk, Fasilitator/Tim KPM-D/K
dan PL bisa menggunakan SMART:
Specific = tidak terlalu luas
Measurable = dapat diukur
Achievable = dapat dicapai
Reasonable = masuk akal
Time-bound = ada batasan waktu

2. MenuIiskan peserta yang akan mengikuti pertemuan.
Peserta yang diundang hendaknya orang yang ada hubungannya dengan tujuan
pertemuan. Tujuan yang berbeda tentu menentukan peserta yang berbeda pula.

3. Menentukan di mana dan kapan pertemuan yang dapat mendorong peserta
pertemuan hadir.
Selain itu, penentuan tempat yang dipilih dapat mendukung ke arah tercapainya
tujuan. Jangan sampai memilih tempat yang bising, sulit dijangkau, dan banyak
gangguan lainnya.

4. Mengajak kader desa, pendamping setempat, maupun wakiI masyarakat
terIibat daIam menyusun kepanitiaan Iengkap dengan tugasnya.
Pekerjaan ini akan menjadi mudah kalau ada pembagian kerja. Susunlah pekerjaan
Catatan Fasilitator:
5 KPM-D/K dapat diibaratkan sebagai tangan kanan dari Fasilitator Kecamatan dan
merupakan ujung tombak pendampangan di desa-desa. Pemilihan KPM-D/K
merupakan kunci dan titik kritis pertama dalam proses penguatan pelaku di
desa.
5 Sering terjadi, pemilihan KPM-D/K tidak dipersiapkan dengan baik oleh Fasilitator
Kecamatan dan diserahkan begitu saja kepada masyarakat pada saat MAD.
Akibatnya, yang terpilih adalah orang-orang yang dekat dengan Kepala Desa, atau
orang yang berpengaruh di desa dan tidak memenuhi kriteria sebagai KPM-D/K.
5 Pelatihan apa pun yang diberikan kepada KPM-D/K tidak akan efektif jika orang-
orang yang terpilih tidak memenuhi kriteria yang diharapkan. Oleh karena itu,
tetapkan kriteria dan bahas bersama masyarakat model seleksi dan tujuan pemilihan
KPM-D/K sebelum acara MAD sehingga ketika MAD terjadi pemilihan sudah ada
calon-calon yang dianggap memenuhi kriteria yang ditetapkan.
5 Pelatihan KPM-D/K perlu didesain dan dialokasikan secara cukup waktunya, jika
dananya tidak cukup, lakukan penguatan-penguatan tambahan melalui ST dan OJT
secara berkala.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

30
yang harus dilakukan untuk menyelenggarakan pertemuan. Persilakan warga
masyarakat dan pihak yang terlibat untuk memilih salah satu pekerjaan dari susunan
kerja yang telah dibuat Fasilitator.

5. Menyusun jadwaI pekerjaan agar mudah diIihat dan diingat. Caranya, dengan
menulis apa pekerjaannya, kapan waktunya, dan siapa penanggungjawabnya.

6. Mempersiapkan aIat-aIat dan haI Iain yang diperIukan daIam pertemuan.
Biasanya pertemuan memerlukan alat tulis sehingga apa yang dibicarakan dalam
pertemuan tercatat dengan baik. Tak lupa siapkan pula daftar hadir peserta sehingga
mudah dihubungi untuk pertemuan selanjutnya.

7. Menyebarkan undangan kepada peserta pertemuan. Biasanya undangan itu
disampaikan dengan menggunakan surat undangan. Tapi jika tidak memungkinkan,
sampaikanlah undangan itu secara lisan. Sebaiknya undangan disampaikan 1(satu)
minggu sebelum acara dimulai.

b. PeIaksanaan

1. Bila di antara peserta belum saling mengenal, lakukan terlebih dahulu perkenaIan
(dengan menggunakan media permainan atau ice breaking) jika waktunya memadai.

2. Langkah seIanjutnya adaIah menjeIaskan tujuan diadakannya pertemuan.
Usahakan menjelaskannya dengan singkat dan mudah dipahami. Lakukanlah tanya
jawab agar peserta pertemuan betul-betul memahami tujuan pertemuan.

3. Membahas waktu dan acara pertemuan kepada peserta pertemuan. Pertemuan
itu memang Fasilitator, KPM-D/K dan atau PL yang mengadakan, tapi bukan berarti
tim Fasilitator boleh menentukan segalanya. Karena itu, lakukanlah diskusi untuk
menyepakati waktu, susunan acara, dan topik pembahasan, bila topik pembahasan
yang disepakati terlalu banyak, sebaiknya dipilih topik pembahasan yang paling
penting untuk didahulukan dibahas.

4. Mendiskusikan topik pembahasan yang teIah disepakati. Selama diskusi
berlangsung, sebaiknya ada salah seorang peserta yang menjadi notulen untuk
mencatat secara ringkas topik pembahasan yang sedang didiskusikan. Catatan ini
yang akan diberikan kepada peserta pertemuan setelah pertemuan dilakukan.

5. Jika diskusi telah selesai, tim Fasilitator meminta salah seorang peserta untuk
menyimpuIkan seIuruh pembicaraan yang diIakukan. Jika tidak ada yang
bersedia untuk menyimpulkan, Fasilitator bisa mengambil peran untuk
menyimpulkan hasil pertemuan kita.



Hasil dari klasifikasi kesejahteraan dan pemetaan sosial ini selanjutnya digunakan sebagai
alat bantu dalam menggali gagasan masyarakat untuk menentukan kegiatan-kegiatan apa
saja yang dapat memenuhi kebutuhan dan berguna bagi mayoritas keluarga miskin.

2.6.2. PeIatihan Pendamping LokaI
(a) Pelatihan Pra Tugas
Pengorganisasian dan penyelenggaraan pelatihan dikoordinir oleh
Fasilitator Kabupaten dengan berkoordinasi dengan TK PNPM Mandiri
Perdesaan Kabupaten. Pelatihan Pendamping Lokal diikuti oleh seluruh


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

31
Pendamping Lokal terpilih di seluruh lokasi kecamatan PNPM Mandiri
Perdesaan di kabupaten tersebut. Pelatihan Pendamping Lokal
diselenggarakan setelah semua kecamatan memiliki Pendamping Lokal
terpilih.
(i) Tujuan:
Pelatihan bagi Pendamping Lokal dimaksudkan untuk memberikan
pembekalan dan peningkatan kemampuan serta ketrampilan
Pendamping Lokal dalam memfasilitasi masyarakat untuk mengelola
pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan pada setiap tahapan.

(ii) Waktu dan tempat:
5 (lima) hari efektif di Kabupaten.

(iii) Pemandu/ peIatih:
Fasilitator Kecamatan dan Fasilitator Kabupaten.

(iv) HasiI yang diharapkan:
1) Pendamping Lokal mengetahui dan memahami konsepsi
PNPM Mandiri Perdesaan dan pengintegrasian program
pembangunan di tingkat kecamatan.
2) Pendamping Lokal memahami tugas dan tanggung jawabnya.
3) Pendamping Lokal terampil melaksanakan sosialisasi PNPM
Mandiri Perdesaan.
4) Pendamping lokal terampil dalam melakukan pendataan
dasar/baseline survey (termasuk RTM), analisis kondisi
masyarakat, dan penyusunan rencana kegiatan pendampingan
dan fasilitasi.
5) Pendamping Lokal mampu memfasilitasi pertemuan-pertemuan
dalam kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.
6) Pendamping Lokal mampu memfasilitasi
7) Pendamping Lokal mampu memberikan bimbingan/supervisi
kepada para KPM-D/K dan pelaku masyarakat (TPK)
masyarakatnya untuk kegiatan pemberdayaan, transparansi
dan manajemen.
8) Pendamping Lokal mampu mengelola permasalahan lapangan.
9) Pendamping Lokal mampu membantu masyarakat dalam
penulisan usulan, gambar teknis, RAB dan bimbingan teknis
pembangunan sarana prasarana.
10) Pendamping Lokal mampu membantu penulisan usulan
kegiatan ekonomi, pendidikan dan kesehatan, sarana
prasarana, peningkatan ketrampilan, serta mendampinginya.
11) Pendamping Lokal mampu membimbing pelaku PNPM Mandiri
Perdesaan di desa/kelurahan untuk membuat laporan dan
mengadministrasikan kegiatan termasuk dananya.
12) Pendamping Lokal mampu memonitor kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan di desa/kelurahan.
13) Pendamping mampu memfasilitasi pelaku PNPM Mandiri
Perdesaan dan masyarakat dalam mengevaluasi kegiatan
pemberdayaan dan penyusunan RKTL
14) Pendamping lokal mampu menyusun laporan dan
mengadministrasikan kegiatan pemberdayaan pada PNPM
Mandiri Perdesaan.




Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

32
(v) Materi PeIatihan
Materi yang diberikan dalam pelatihan Pendamping Lokal meliputi;
1) Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan dan pengintegrasian
program pembangunan di tingkat desa dan kecamatan
2) Tugas, tanggung jawab Pendamping Lokal dan komitmennya
dalam pengembangan masyarakat.
3) Teknik Fasilitasi proses pemberdayaan masyarakat dan
kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.
4) dentifikasi atau pemetaan sosial dan potensi desa.
5) Teknik pemetaan RTM dan baseline survey
6) Mekanisme penanganan masalah.
7) Strategi penyebarluasan informasi PNPM Mandiri Perdesaan
8) Strategi pengintegrasian program pembangunan
9) Proses perencanaan bersama masyarakat, pelaksanaan dan
pelestarian kegiatan.
10) Pengelolaan/manajemen pendampingan
11) Pengorganisasian masyarakat (community organizing)
12) Teknik mediasi dan advokasi
13) Mendesain dan mengelola pelatihan (teknik menyusun kajian
kebutuhan pelatihan, menyusun kurikulum dan lesson plan,
mengelola, pemantauan dan evaluasi pelatihan)
14) Agenda kerja rencana tindak lanjut.

(vi) Proses PeIatihan Pendamping LokaI
i Persiapan, meliputi:
1) Berkoordinasi dengan Camat dan PJOK serta pihak lain yang
terkait untuk mendapatkan dukungan bagi pelaksanaan
pelatihan.
2) Memastikan waktu dan tempat pelatihan.
3) Memastikan konsumsi peserta dan akomodasi peserta.
4) Membuat undangan pelatihan kepada Pendamping Lokal terpilih,
memastikan undangan telah tersebar dan kepastian kehadiran
dalam pelatihan.
5) Bertukar pikiran/konsultasi dengan Fasilitator Kabupaten untuk
membuat jadwal, penjajagan kebutuhan pelatihan, penyusunan
kurikulum pelatihan (mengacu pada petunjuk yang telah ada),
membuat materi atau bahan yang akan disampaikan dalam
pelatihan, dan menentukan metode evaluasi pelatihan.
6) Menyiapkan alat tulis dan alat bantu lainnya yang diperlukan
dalam pelatihan.
i Pelaksanaan, meliputi:
1) Pembukaan pelatihan: sambutan, perkenalan, penjelasan
tujuan pelatihan, harapan peserta mencapai tujuan,
pengorganisasian kelas, tata tertib, pola ulasan/review harian.
2) Test Awal, Rencana Pembelajaran, Pendampingan Kelompok,
Evaluasi Harian.
3) Memberikan penjelasan dan pemahaman konsepsi PNPM
Mandiri Perdesaan (latar belakang, tujuan, sasaran, prinsip,
kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri Perdesaan)
4) Memberikan penjelasan tugas dan tanggung jawab
Pendamping Lokal, hak dan kewajibannya, apa yang boleh
dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, mulai dari tahap
perencanaan kegiatan sampai dengan tahap pelestarian.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

33
5) Mengalihkan ketrampilan kepada Pendamping Lokal agar
mampu membantu masyarakat dalam penulisan usulan,
gambar teknis, RAB dan Bimbingan teknis pembangunan
sarana prasarana.
6) Mengalihkan ketrampilan kepada Pendamping Lokal agar
mampu membantu penulisan usulan kegiatan ekonomi,
pendidikan, kesehatan, peningkatan ketrampilan serta
mendampinginya.
7) Mengalihkan ketrampilan kepada Pendamping Lokal agar
mampu membimbing pelaku PNPM Mandiri Perdesaan
desa/kelurahan untuk membuat laporan dan
mengadministrasikan kegiatan termasuk dananya.
8) Mengalihkan pengetahuan dan ketrampilan memfasilitasi
pertemuan (pertemuan dengan masyarakat, termasuk
perencanaan desa secara partisipatif) perencanaan bersama
masyarakat, teknik fasilitasi menggagas masa depan desa dan
penyusunan RPJMDes serta proses perencanaan reguler
(musrenbang tingkat desa dan kecamatan),
9) Mengalihkan pengetahuan dan ketrampilan melakukan
pengawasan, pengendalian pelaksanaan kegiatan termasuk
mekanisme penanganan pengaduan dan permasalahan serta
penanganan konflik.
10) Memberikan penjelasan mengenai cara-cara penyebarluasan
informasi PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat
11) Membimbing pembuatan rencana kerja tindak lanjut
12) Menumbuhkan sikap dan komitmen keberpihakan kepada
masyarakat miskin.
13) Menumbuhkan motivasi untuk bersama-sama bekerja
memberdayakan masyarakat desanya.
14) Ujian Akhir.


(b) Pelatihan lanjutan
Tahapan proses pelatihan lanjutan sebagai berikut:
(i) Persiapan peIatihan, meIiputi:
1) Fasilitator Kecamatan dan Fasilitator Kabupaten mengamati
dan menilai kinerja Pendamping Lokal, berdasarkan uraian
tugas dan kenyataan di lapangan.
2) Fasilitator bertanya kepada Pendamping Lokal, pengetahuan
atau ketrampilan apa yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan
kinerjanya.
3) Pada waktu rapat bulanan Fasilitator Kecamatan, catatan
penilaian kinerja Pendamping Lokal, kelemahan dan
kekurangannya disampaikan untuk dibahas dengan Fasilitator
Kecamatan lainnya. Apakah ada persamaan dengan
kecamatan lain.
4) Bersama Fasilitator Kecamatan lain dan Fasilitator Kabupaten
menyiapkan materi yang dibutuhkan.
5) Memastikan waktu, tempat, dan jenis pelatihan pelatihan.
6) Mengevaluasi hasil pelatihan untuk menentukan apakah
kebutuhan telah dipenuhi.
(ii) PeIaksanaan
Pelaksanan pelatihan lanjutan dapat dilakukan bersama-sama untuk
semua kecamatan PNPM Mandiri Perdesaan, beberapa kecamatan


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

34
yang berdekatan atau melaksanakan sendiri di tingkat kecamatan
sesuai kondisi daerah maupun jenis ketrampilan atau pengetahuan
yang dibutuhkan. Memberikan penjelasan tujuan pelatihan.

Proses pelaksanaannya sebagai berikut:
1) Menyampaikan materi pelatihan yang dibutuhkan sesuai
metode dan medianya, (jika dilakukan di kecamatan yang
minimal hanya 1 Pendamping Lokal dapat disampaikan
sekaligus ketika mereka melaksanakan tugasnya)
2) Mengadakan praktek lapangan terhadap materi yang
disampaikan (jika memungkinkan dan tergantung materi apa
yang dilatihkan)
3) Merangkum hasil pelatihan dan manfaatnya dalam tugas
4) Mengagendakan kesepakatan tindak lanjut dari pelatihan untuk
meningkatkan efektivitas program.

2.6.3. PeIatihan Tim PengeIoIa Kegiatan (TPK)

(a) Pelatihan Pra Tugas
Setelah terpilih dan terbentuk, Tim pengelola Kegiatan membuat rencana
kerja sebagai bagian rencana tindak lanjut musyawarah desa ketiga.
Supaya TPK dapat melaksanakan tugasnya secara efektif, maka sebelum
melaksanakan tugasnya, diberikan pelatihan.

(i) Tujuan:
Menyiapkan TPK mampu menjalankan tugas dan tanggungjawabnya.

(ii) Waktu dan tempat:
1 (satu) - 2 (dua) hari efektif di kecamatan atau di desa.

(iii) Pemandu/peIatih:
Fasilitator Kecamatan dan PjOK

(iv) HasiI yang diharapkan:
1) TPK memahami dan memiliki persepsi yang sama tentang
PNPM Mandiri Perdesaan.
2) TPK mengetahui dan memahami fungsi, peran, tugas dan
tanggung jawabnya.
3) TPK mampu mendorong partisipasi masyarakat.
4) TPK mengetahui dan memahami mekanisme pengendalian
pelaksanaan kegiatan, pelaporan dan pertanggungjawaban.
5) TPK mengetahui dan memahami aspek manajemen, teknis dan
administrasi PNPM Mandiri Perdesaan.
6) TPK mampu membuat rencana kerja antara lain penetapan
jadwal pelaksanaan kegiatan, pengerahan tenaga kerja,
pengadaan bahan dan alat, pembagian tugas, pengelolaan
sumber dana serta membuat kesepakatan tertulis dengan
kelompok baik kelompok yang mengelola kegiatan ekonomi
dan simpan pinjam (rencana pengembalian, jasa dan sanksi),
maupun pengelolaan prasarana, pendidikan, kesehatan dan
pelatihan.
7) TPK mampu melakukan proses pencairan dana.
8) TPK mengetahui dan memahami aspek pelestarian kegiatan
PNPM Mandiri Perdesaan.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

35
9) TPK mampu melakukan pembukuan, pelelangan, penerimaan
bahan, membayar tenaga kerja.

(v) Materi PeIatihan
Materi minimal yang harus disampaikan pada pelatihan, yang
meliputi:
1) Prinsip-prinsip dan kebijakan PNPM Mandiri Perdesaan.
2) Fungsi dan peran serta tugas dan tanggung jawab TPK,
pengorganisasian, pengendalian (administrasi, organisasi dan
keuangan).
3) Jenis-jenis kegiatan dalam PNPM Mandiri Perdesaan dan
daftar larangan (ekonomi, kesehatan, pendidikan dan sarana
prasarana, dan peningkatan kapasitas).
4) Tahapan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan dari
perencanaan (penggalian gagasan, penulisan usulan, verifikasi
usulan), pelaksanaan (pengadaan tenaga kerja, pengadaan
alat, dll) dan pelestarian kegiatan.
5) Mekanisme dan prosedur pencairan dana.
6) Membangun Tim Kerja.
7) Pelaporan dan pertanggungjawaban.


(vi) Proses PeIatihan TPK
i Persiapan pelatihan, meliputi:
1) Memastikan waktu dan tempat pelatihan
2) Memastikan konsumsi peserta dan akomodasi peserta.
3) Membuat undangan pelatihan kepada anggota TPK terpilih,
memastikan undangan telah tersebar dan kepastian kehadiran
dalam pelatihan
4) Bertukar pikiran/konsultasi dengan Fasilitator Kabupaten untuk
membuat jadwal, kurikulum pelatihan (mengacu pada petunjuk
yang telah ada), membuat materi atau bahan yang akan
disampaikan dalam pelatihan, menentukan metode evaluasi
pelatihan.
5) Menyiapkan alat tulis dan alat bantu lainnya yang diperlukan
dalam pelatihan
i Pelaksanaan pelatihan, meliputi:
1) Pembukaan.
2) Penjelasan tentang prinsip-prinsip dan kebijakan PNPM
Mandiri Perdesaan.
3) Penjelasan tentang Fungsi dan peran serta tugas dan
tanggung jawab TPK, dalam pengorganisasian, pengendalian
(administrasi, organisasi dan keuangan).
4) Penjelasan tentang jenis-jenis kegiatan dalam PNPM Mandiri
Perdesaan dan daftar larangan, termasuk formulir-formulir yang
digunakan (ekonomi, kesehatan, pendidikan dan sarana
prasarana).
5) Penjelasan tentang tahapan PNPM Mandiri Perdesaan mulai
dari perencanaan kegiatan, pelaksanaan dan pelestarian
kegiatan.
6) Penjelasan mekanisme dan prosedur pencairan dan
penyaluran dana.
7) Membangun Tim Kerja.
8) Pelaporan dan pertanggungjawaban.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

36
9) Pembuatan Rencana Kerja dan Tindak Lanjut.

(b) Pelatihan Lanjutan

Tahapan untuk pelatihan lanjutan sebagai berikut:
(i) Persiapan, meIiputi:
1) Fasilitator Kecamatan mengidentifikasi kekurangan dan
kelemahan TPK ketika menjalankan tugasnya. dentifikasi
berdasarkan atas kunjungan lapangan Fasilitator Kecamatan,
laporan dari KPM-D/K, Pendamping Lokal maupun catatan
rekomendasi dari Fasilitator Kabupaten dan Konsultan lainnya.
2) Dari hasil identifikasi dan rekomendasi, Fasilitator Kecamatan
memastikan kebutuhan peningkatan ketrampilan untuk
mengoptimalkan kinerja TPK.
3) Fasilitator Kecamatan menyiapkan bahan dan materi untuk
pelatihan lanjutan

(ii) PeIaksanaan:
1) Fasilitator Kecamatan langsung memberikan materi
pelatihannya (tambahan ketrampilan/pengetahuan) kepada
pengurus TPK di desa sambil mereka melaksanakan tugasnya.
2) Jika dipandang kekurangan dan kelemahannya hampir merata
disemua TPK, maka dapat dilakukan bersamaan di tingkat
kecamatan.
3) Penyampaikan materi pelatihan sebaiknya sekaligus di
praktekkan.
4) Mengagendakan kesepakatan tindak lanjut dari pelatihan untuk
meningkatkan efektifitas program.

2.6.4. PeIatihan Tim PenuIis UsuIan (TPU)

(a) Pelatihan Pra Tugas
Tim Penulis Usulan sebelum menjalankan tugasnya perlu mendapatkan
penjelasan terlebih dahulu melalui pelatihan oleh Fasilitator Kecamatan di
tingkat desa. Pelatihan diberikan selama kurang lebih 1 - 2 hari efektif.

(i) Tujuan:
Tim penulis usulan mampu menyusun usulan yang diputuskan di
musyawarah khusus perempuan dan musyawarah desa kedua.

(ii) Waktu dan Tempat:
1 - 2 hari efektif di desa atau menyesuaikan.

(iii) Pemandu/peIatih:
Fasilitator Kecamatan dan PjOK.

(iv) HasiI yang diharapkan:
1) Peserta dapat memahami konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan
(latar belakang, tujuan, sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan
PNPM Mandiri Perdesaan).
2) Peserta dapat memahami peran dan tugasnya.
3) Peserta dapat menyusun usulan desa secara tertulis dan
memuat informasi penting, singkat, lengkap dan nyata ada di
lapangan.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

37

(v) Materi PeIatihan:
1) Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan (latar belakang, tujuan,
sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan).
2) Peran, Tugas dan tanggung jawab TPU.
3) Teknik penyusunan Menggagas Masa Depan Desa dan
RPJMDes.
4) Pemahaman tentang pemberdayaan masyarakat dan
pengembangan kegiatan pemberdayaan melalui bidang sarana
prasarana, pendidikan, kesehatan, sosioekonomi.
5) Cara penulisan usulan, cara survei, pengukuran dan pencarian
data pendukung (baseline survey) dan analisis kemiskinan di
desa.
6) Format usulan dan kelengkapannya (format RPJMDes).
7) Rencana pelaksanaan kegiatan.
8) Rencana Pelestarian hasil kegiatan.

(vi) Proses PeIatihan TPU
i Persiapan pelatihan, meliputi:
1) Memastikan waktu dan tempat pelatihan
2) Membuat undangan pelatihan kepada anggota TPU terpilih,
memastikan undangan telah tersebar dan kepastian kehadiran
dalam pelatihan
3) Bertukar pikiran/konsultasi dengan Fasilitator Kabupaten untuk
membuat jadwal, kurikulum pelatihan (mengacu pada petunjuk
yang telah ada). Membuat materi atau bahan yang akan
disampaikan dalam pelatihan, menentukan metode evaluasi
pelatihan.
4) Menyiapkan alat tulis dan alat bantu lainnya yang diperlukan
dalam pelatihan
i Pelaksanaan pelatihan, meliputi:
1) Pembukaan
2) Penjelasan singkat tentang PNPM Mandiri Perdesaan
3) Penjelasan tentang hak, tugas dan tanggung jawab TPU
4) Penjelasan tentang cara dan langkah-langkah penulisan usulan
5) Penjelasan penggunaan dan cara pengisian formulir
6) Penyusunan RKTL

(b) Pelatihan Lanjutan:
Tahapan untuk pelatihan lanjutan sebagai berikut:
(i) Fasilitator Kecamatan mengidentifikasi kekurangan dan kelemahan
TPU ketika menjalankan tugasnya. dentifikasi berdasarkan atas
kunjungan lapangan Fasilitator Kecamatan , laporan dari KPM-D/K,
Pendamping Lokal maupun catatan rekomendasi dari Fasilitator
Kabupaten dan Konsultan lainnya.
(ii) Dari hasil identifikasi dan rekomendasi, Fasilitator Kecamatan dan
langsung memberikan materi pelatihannya (tambahan
ketrampilan/pengetahuan) kepada TPU di desa sambil mereka
melaksanakan tugasnya (Jika pada saat kunjungan lapangan,
Fasilitator Kecamatan menemukan TPU mengalami kesulitan dalam
menjalankan tugasnya, langsung saja mereka diberi
penjelasan/pelatihan tambahan).


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

38
(iii) Jika dipandang kekurangan dan kelemahannya hampir merata
disemua TPK dan memungkinkan, maka dapat dilakukan bersamaan
di tingkat kecamatan.


2.6.5. PeIatihan Tim Verifikasi

(a) Pelatihan Pra Tugas
Sebelum melaksanakan tugasnya anggota Tim Verifikasi akan mendapat
pelatihan yang diberikan oleh Fasilitator Kecamatan dan dibantu oleh
Fasilitator Kabupaten. Penyelenggaraan pelatihan di kecamatan atau
tempat lain disesuaikan dengan kondisi setiap kecamatan atau kabupaten.
Waktu pelatihan kurang lebih antara satu-dua hari efektif.

(i) Tujuan:
Tim Verifikasi mampu melakukan pemeriksaan usulan kegiatan dan
membuat rekomendasi kepada Musyawarah Antar Desa Kedua.

(ii) Waktu dan tempat:
1-2 hari efektif di kecamatan atau menyesuaikan

(iii) Pemandu/peIatih:
Fasilitator Kecamatan dan PjOK dan dibantu Fasilitator Kabupaten.

(iv) HasiI yang diharapkan
Peserta mampu:
1) Memahami konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan (latar belakang,
tujuan, sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan)
2) Memahami peran dan tanggung jawabnya.
3) Memeriksa kelengkapan dokumen usulan.
4) Pemeriksaan lapangan untuk menilai kelayakan usulan.
5) Membuat rekomendasi hasil pemeriksaan usulan.

(v) Materi PeIatihan
i Materi pelatihan yang diberikan adalah:
1) Memahami konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan (latar belakang,
tujuan, sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan)
2) Uraian tugas dan tanggungjawab Tim Verifikasi.
3) Cara pemeriksaan usulan meliputi pemeriksaan dokumen
usulan dan pemeriksaan lapangan.
4) Teknik pemberian rekomendasi hasil pemeriksaan

(vi) Proses PeIatihan Tim Verifikasi
i Persiapan pelatihan, meliputi:
1) Memastikan waktu dan tempat pelatihan.
2) Memastikan konsumsi peserta.
3) Membuat undangan pelatihan kepada anggota Tim Verifikasi
terpilih, memastikan undangan telah tersebar dan kepastian
kehadiran dalam pelatihan.
4) Bertukarpikiran/konsultasi dengan F-Kab dan FT - Kab untuk
membuat jadwal, kurikulum pelatihan (mengacu pada petunjuk
yang telah ada), membuat materi atau bahan yang akan


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

39
disampaikan dalam pelatihan, menentukan metode evaluasi
pelatihan.
5) Menyiapkan alat tulis dan alat bantu lainnya yang diperlukan
dalam pelatihan.
i Pelaksanaan pelatihan, meliputi:
1) Pembukaan.
2) Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan (latar belakang, tujuan,
sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan).
3) Penjelasan tentang Peran, Tugas dan tanggung jawab Tim
Verifikasi.
4) Penjelasan tentang kriteria usulan.
5) Penjelasan tentang cara pemeriksaan dokumen dan
pemeriksaan lapangan.
6) Dalam pelatihan itu selanjutnya memilih ketua dan sekretaris
tim verifikasi kemudian menyusun rencana kerja dan tindak
lanjut pelaksanaan verifikasi.

(b) Pelatihan Lanjutan
Tahapan untuk pelatihan lanjutan sebagai berikut:
(i) Fasilitator Kecamatan mengidentifikasi kekurangan dan kelemahan
Tim Verifikasi menjalankan tugasnya, berdasarkan pemantauannya
dan catatan rekomendasi dari Fasilitator Kabupaten dan Konsultan
lainnya.
(ii) Dari hasil identifikasi dan rekomendasi, Fasilitator Kecamatan
langsung memberikan materi pelatihannya (tambahan ketrampilan/
pengetahuan) kepada Tim Verifikasi sambil mereka melaksanakan
tugasnya.

2.6.6. PeIatihan Unit PengeIoIa Kegiatan (UPK)
(a) Pelatihan Pra Tugas

(i) Tujuan:
Pengurus UPK mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

(ii) Waktu dan tempat:
5 hari efektif di kecamatan.

(iii) Pemandu/ peIatih:
F-Kec dan PjOK atau bisa dibantu F-Kab, FT dan FT Kab

(iv) HasiI yang diharapkan
Peserta mampu:
1) Memahami konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan (latar belakang,
tujuan, sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan).
2) Memahami peran dan tanggungjawabnya dan memiliki
komitmen tinggi untuk melaksanakannya secara positif.
3) Memahami ruang lingkup kegiatan yang ada di PNPM Mandiri
Perdesaan.
4) Melakukan proses pencairan dan pengelolaan penyaluran dana
PNPM Mandiri Perdesaan.
5) Melakukan bimbingan teknis dan pemeriksaan secara langsung
administrasi dan pelaporan pelaku desa.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

40
6) Mengelola kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat agar
terus tetap berkembang dan berkesinambungan secara
tim/partisipatif.
7) Mendorong transparansi dalam pengelolaan keuangan,
pengelolaan pinjaman, perkembangan program dan informasi
lainnya melalui papan informasi dan menyampaikan secara
langsung kepada pihak yang membutuhkan.
8) Melakukan penguatan kelompok peminjam dalam
kelembagaan, pengelolaan keuangan, pengelolaan pinjaman,
dan memfasilitasi pengembangan usaha kelompok atau
pemanfaat.
9) membuat perencanaan keuangan (anggaran) dan rencana
kerja sesuai dengan kepentingan program yang disampaikan
Pada MAD.
10) membuat pertanggung jawaban keuangan dan realisasi
rencana kerja pada MAD sesuai dengan kebutuhan . Bahan
laporan pertanggung jawaban disampaikan kepada seluruh
pelaku desa yang terkait langsung satu minggu sebelum
pelaksanaan.
11) melakukan evaluasi dan pemeriksaan langsung Rencana
Penggunaan Dana (RPD) dan Laporan Penggunaan Dana
(LPD) yang dibuat oleh desa dalam setiap tahapan proses
PNPM Mandiri Perdesaan dan sesuai dengan ketentuan.
12) memahami strategi pengembangan jaringan untuk mengakses
potensi yang ada di dalam maupun dari luar daerah kerjanya.
13) Mengadministrasikan dengan baik dan benar seluruh
perkembangan kegiatan yang ada di wilayah kerjanya dan
menyajikannya dalam laporan bulanan secara transparan.
14) Menganalisis perkembangan/hasil kegiatan serta memberikan
saran-saran pengembangan kepada para pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan dan masyarakat, memanfaatkan berbagai
sarana informasi yang ada dan atau menciptakannya.

(v) Materi PeIatihan
1) Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan (latar belakang, tujuan,
sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan).
2) Peran dan tanggung jawab UPK.
3) Berpikir positif dan membangun komitmen.
4) Ruang lingkup kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.
5) Mekanisme pencairan dan penyaluran dana PNPM Mandiri
Perdesaan.
6) Pengelolaan program secara partisipatif.
7) Pengembangan kelompok perguliran/SPP
8) Membangun jaringan kerja dan akses potensinya.
9) Administrasi keuangan, kegiatan dan pelaporannya.
10) Pengembangan Sistem nformasi yang transparan.

(vi) Proses PeIatihan UPK
i Persiapan pelatihan, meliputi:
1) Memastikan waktu dan tempat pelatihan.
2) Memastikan konsumsi peserta dan akomodasi peserta.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

41
3) Membuat undangan pelatihan kepada anggota UPK terpilih,
memastikan undangan telah tersebar dan kepastian kehadiran
dalam pelatihan.
4) Bertukarpikiran/konsultasi dengan F-Kab untuk membuat
jadwal, kurikulum pelatihan (mengacu pada petunjuk yang telah
ada) membuat materi atau bahan yang akan disampaikan
dalam pelatihan, menentukan metode evaluasi pelatihan.
5) Menyiapkan alat tulis dan alat bantu lainnya yang diperlukan
dalam pelatihan.
i Pelaksanaan pelatihan, meliputi :
1) Pembukaan pelatihan: Sambutan, Perkenalan, Penjelasan
tujuan pelatihan.
2) Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan (latar belakang, tujuan,
sasaran, prinsip, kebijakan dan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan).
3) Peran dan tanggung jawab UPK
4) Berpikir positif dan membangun komitmen.
5) Ruang lingkup kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan (ekonomi,
pendidikan, kesehatan dan sarana prasarananya).
6) Mekanisme pencairan dan penyaluran dana PNPM Mandiri
Perdesaan.
7) Pengelolaan program secara partisipatif.
8) Membangun jaringan kerja dan akses potensinya.
9) Administrasi kegiatan, keuangan dan pelaporannya.
10) Pengembangan sistem informasi yang transparan.
11) Pembuatan rencana kerja dan Tindak Lanjut.

(b) Pelatihan Lanjutan
Pada prinsipnya pelatihan lanjutan untuk UPK dapat lebih sering dan rutin
untuk dilakukan, karena biasanya mereka sama-sama berkantor di
kecamatan atau sekitarnya. Pelatihan lanjutan dapat langsung diberikan
oleh Fasilitator Kecamatan pada saat mereka bekerja, maupun bersama-
sama dengan UPK Kecamatan lain jika diperlukan.

Tahapan proses pelatihan lanjutan sebagai berikut:
(i) Fasilitator Kecamatan mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan
UPK ketika menjalankan tugasnya (menyusun penjajagan kebutuhan
pelatihan).
(ii) Fasilitator Kecamatan bertanya kepada UPK, pengetahuan atau
ketrampilan apa yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan kinerjanya.
(iii) Pada waktu rapat bulanan Fasilitator Kecamatan , catatan penilaian
kelemahan dan kekurangan UPK disampaikan untuk dibahas dengan
Fasilitator dari kecamatan lainnya dan F-Kab.
(iv) Bersama fasilitator Kecamatan lainnya dan F-Kab memastikan
kebutuhan peningkatan ketrampilan untuk mengoptimalkan kinerja
UPK.
(v) Bersama fasilitator dari kecamatan lain dan F-Kab menyiapkan
materi yang dibutuhkan.
(vi) Memastikan waktu pelatihan khusus atau memanfaatkan kegiatan
rutin - dan tempat pelatihan.
(vii) Menyampaikan materi pelatihan yang dibutuhkan sesuai metode dan
medianya, Mengadakan praktek lapangan terhadap materi yang
disampaikan (jika memungkinkan dan tergantung materi apa yang
dilatihkan).


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

42
(viii) Merangkum hasil pelatihan dan manfaatnya dalam tugas.
(ix) Mengagendakan kesepakatan tindak lanjut dari pelatihan untuk
meningkatkan efektifitas program.


2.6.7. PeIatihan Tim PemeIihara
(a) Pelatihan Pra Tugas
(i) Tujuan:
Tim Pemelihara mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

(ii) Waktu dan tempat:
1-2 hari efektif di desa atau di kecamatan (untuk semua desa) atau
menyesuaikan.

(iii) Pemandu/peIatih:
Fasilitator Kecamatan, KPM-D/K, Pendamping Lokal, dibantu
Fasilitator Kabupaten.

(iv) HasiI yang diharapkan
1) Memahami konsep dan strategi kemandirian pengelolaan aset
PNPM Mandiri Perdesaan dan pengelolaan kegiatan sarana
prasarana.
2) Memahami peran dan tanggung jawabnya dan memiliki
komitmen tinggi untuk melaksanakannya secara positif.
3) Memahami jenis prasarana dan konstruksi prasarana yang
dibangun, umur bangunan dan pengetahuan sipil bangunan
lainnya secara sederhana.
4) Mampu mengoperasikan hasil kegiatan dan membuat rencana
pemeliharaan serta pengembangan pengembangan kegiatan.
5) Mampu mendorong masyarakat dan kelompok penerima
manfaat melakukan pemeliharaan.
6) Memahami cara pemeriksaan hasil kegiatan prasarana yang
dibangun dan mengetahui bagian mana yang membutuhkan
pemeliharaan.
7) Mengadministrasikan dengan baik dan benar seluruh
perkembangan kegiatan yang ada di wilayah kerjanya dan
menyajikannya dalam laporan bulanan secara transparan.


(v) Materi PeIatihan
1) Konsep dan strategi pelestarian kegiatan dan aset PNPM
Mandiri Perdesaan (latar belakang, tujuan, sasaran, prinsip,
kebijakan dan tahapan).
2) Peran dan tanggung jawab.
3) Membangun komitmen tinggi yang dilaksanakan secara positif.
4) Ruang lingkup kegiatan sarana prasarana dalam PNPM
Mandiri Perdesaan.
5) Pengetahuan bangunan sipil di pedesaan, dampak
lingkungannya.
6) Cara pengelolaan kegiatan-kegiatan prasarana yang ada di
masyarakat agar terus tetap bermanfaat, berkembang dan
berkesinambungan.
7) Administrasi kegiatan dan penyajian pelaporannya.
8) Pembuatan rencana kerja dan tindak lanjut.


Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

43

(vi) Proses PeIatihan

i Persiapan pelatihan, meliputi:
1) Memastikan waktu dan tempat pelatihan.
2) Membuat undangan pelatihan kepada anggota Tim Pemelihara
terpilih, memastikan undangan telah tersebar dan kepastian
kehadiran dalam pelatihan
3) Bertukarpikiran/konsultasi dengan Fasilitator Kabupaten untuk
membuat jadwal, kurikulum pelatihan (mengacu pada petunjuk
yang telah ada),
4) Membuat materi atau bahan yang akan disampaikan dalam
pelatihan, menentukan metode evaluasi pelatihan.
5) Menyiapkan alat tulis dan alat bantu lainnya yang diperlukan
dalam pelatihan.
i Pelaksanaan pelatihan, meliputi:
1) Pembukaan dan penjelasan tujuan pelatihan,
2) Penyampaian materi-materi pelatihan seperti tersebut di atas,
3) Pembuatan rencana kerja dan tindak lanjut.

(b) Pelatihan Lanjutan
Tahapan untuk pelatihan lanjutan sebagai berikut:
(i) Fasilitator Kecamatan dan Pendamping Lokal serta KPM-D/K
mengidentifikasi kekurangan dan kelemahan Tim Pemelihara ketika
menjalankan tugasnya, atau dari hasil pemantauan dan catatan
rekomendasi F-Kab, FT - Kab dan Konsultan lainnya.

(ii) Dari hasil identifikasi dan rekomendasi, Fasilitator langsung
memberikan materi pelatihannya (tambahan ketrampilan/
pengetahuan) kepada Tim Pemelihara sambil mereka melaksanakan
tugasnya, (akan lebih efektif jika dibawa ke lokasi prasarana).


2.6.8. PeIatihan Pengembangan Kapasitas Masyarakat
Pelatihan ini dimaksudkan untuk mengembangkan potensi dan ketrampilan
tertentu dari anggota masyarakat sebagai alat memenuhi kebutuhan hidupnya
serta meningkatkan kualitas hidupnya. Materi pelatihan ini disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat yang perlu dikembangkan baik di bidang ekonomi,
kesehatan, ketrampilan dan lain-lain. Peserta pelatihan adalah anggota
masyarakat desa yang tergolong miskin tetapi mempunyai potensi atau dasar
ketrampilan tertentu yang dapat dikembangkan. Tempat dan waktunya
menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Fasilitator Kecamatan
memfasilitasi proses pelatihan ini dengan mencarikan nara sumber atau pelatih
yang benar-benar dipandang ahli dan berpengalaman dibidang yang akan
dilatihkan. Kegiatan ini dapat merupakan bagian dari usulan kegiatan
masyarakat jika memang benar-benar dibutuhkan. Selain itu dapat juga dibiayai
melalui dana operasional kegiatan atau sumber-sumber lain jika dipandang
sangat perlu oleh masyarakat dan ada kemungkinan dikembangkan.
Penyelenggaraan pelatihan pengembangan kapasitas masyarakat terutama
yang diluar usulan kegiatan masyarakat, dilakukan oleh UPK, BKAD yang
dikoordinasikan dengan Fasilitator Kecamatan dan PjOK. Sedangkan pelatihan
pengembangan kapasitas masyarakat yang merupakan usulan kegiatan yang
disetujui dalam MAD, dikelola oleh TPK.



Penjelasan II : Fasilitasi dan Pelatihan

44













Catatan Fasilitator:
5 Pelatihan yang akan diberikan kepada para pelaku harus didahului
dengan proses penjajakan kebutuhan pelatihan untuk mendapatkan
hasil yang paling optimal sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai,
situasi dan kondisi peserta, kesesuaian antara materi, metode dan
media yang digunakan, waktu, sarana dan peralatan yang tersedia.
5 Fasilitator dan KPM-D/K serta Pendamping Lokal perlu membuat sistem
pengelolaan pelatihan secara baik, dimulai dengan penyusunan rencana
yang sistematis untuk penguatan setiap pelaku, selalu memantau kinerja
pelaku baik pada saat pelaksanaan maupun pasca pelatihan.
5 Pelatihan akan berhasil guna jika fasilitator selalu melakukan evaluasi
secara rutin atas kinerja pelaku-pelaku yang telah dilatih dengan
menggunakan indikator yang dapat mengukur peningkatan sikap,
pengetahuan dan ketrampilan dari para pelaku.

(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN III
MUSYAWARAH-MUSYAWARAH
PNPM MANDIRI PERDESAAN

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

1
PENJELASAN III

MUSYAWARAH-MUSYAWARAH PNPM MANDIRI PERDESAAN


3.1. MAD SosiaIisasi

MAD sosialisasi merupakan pertemuan antar desa untuk sosialisasi awal tentang
tujuan, prinsip, kebijakan, prosedur maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan PNPM
Mandiri Perdesaan serta untuk menentukan kesepakatan-kesepakatan antar desa
dalam melaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan.

Tujuan : a. Mendiseminasikan informasi pokok PNPM Mandiri Perdesaan
meliputi tujuan, prinsip-prinsip, kebijakan, pendanaan, organisasi,
proses dan prosedur yang dilakukan,
b. Menginformasikan rencana program atau proyek dari kabupaten
yang benar-benar akan dilaksanakan di kecamatan,
c. Menginformasikan peIaku-peIaku PNPM Mandiri Perdesaan di
tingkat desa dan antar desa, seperti: TPK, TPU, KPMD, UPK dan
PL, BKAD, Setrawan Kecamatan,
d. Memilih dan menyepakati dua orang peserta menjadi Ketua dan
Sekretaris (NotuIis) MAD yang akan bertugas hingga akhir PNPM
Mandiri Perdesaan,
e. Menyepakati dan menetapkan aturan dan sanksi-sanksi yang
harus diterapkan dalam pelaksanan PNPM Mandiri Perdesaan,
f. Menyepakati jadwaI kegiatan musdes sosialisasi, peIatihan
KPMD dan MAD prioritas usulan.

Waktu : Sebelum pelaksanaan Musdes Sosialisasi atau selambat-lambatnya
dua minggu setelah fasilitator pertama kali ditugaskan di kecamatan
tersebut.

Tempat : Kantor Kecamatan atau Balai Pertemuan di Kecamatan, atau tempat
lain yang memungkinkan untuk penyelenggaraan pertemuan.

Peserta :

Camat dan staf terkait,
Wakil dari seluruh instansi sektoral kecamatan (SK),
Kades di lingkungan kecamatan,
BPD atau sebutan lainnya,
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM),
Wakil RTM dari setiap desa,
Wakil perempuan dari setiap desa,
Komite Sekolah,
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/Organisasi Massa (ormas),
Tokoh masyarakat, tokoh agama,
Anggota masyarakat lainnya yang berminat untuk hadir.

Pemandu :

Fasilitator Kecamatan dan PjOK (bisa dibantu oleh F-Kab).
Metode : Ceramah, curah pendapat dan diskusi.

Materi : Petunjuk Teknis Operasional,
Penjelasan 1 Petunjuk Teknis Operasional Kegiatan tentang
Sosialisasi,
Penjelasan 3 Petunjuk Operasional Kegiatan tentang Musyawarah-

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

2
Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan
Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional Kegiatan mengenai
Tugas, Tanggung jawab dan Proses Pemilihan Pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan.

Alat Poster dan lembar balik,
Peta Kecamatan,
Daftar hadir,
Alat bantu sosialisasi: VCD/DVD tentang PNPM, dsbnya.
Bahan-bahan untuk pemungutan suara secara tertutup (kertas, alat
tulis, dll).

Persiapan : 1. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD membuat
pertemuan awal dengan Camat dan unsur kecamatan.
Pertemuan menjelaskan tujuan MAD Sosialisasi,
merencanakan tanggal dan tempat pertemuannya,
2. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD
mengidentifikasi data program yang masuk ke desa-desa di
Kecamatan yang bersangkutan,
3. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD membuat
surat undangan yang ditandatangani oleh Camat. Seminggu
sebelum pelaksanaan, undangan sudah disebarkan luaskan
kepada wakil-wakil desa dan masyarakat umum melalui papan
informasi dan pertemuan-pertemuan informal yang ada di
desa,
4. Undangan harus memuat: waktu dan tempat pertemuan,
tujuan dan agenda pertemuan, serta wakil-wakil per desa
yang terdiri dari kepala desa, dua orang wakil BPD/atau nama
lain(jika sudah ada) dan tiga orang tokoh masyarakat (minimal
3 dari keenam wakil tersebut adalah perempuan). Dalam
undangan juga disebutkan bahwa terbuka kesempatan bagi
masyarakat lainnya yang berminat untuk hadir dalam MAD
Sosialisasi,
5. Memberitahukan kepada kepala desa bahwa tokoh
masyarakat yang akan hadir benar-benar wakil masyarakat.
6. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD memastikan
informasi akan diadakannya MAD Sosialisasi telah tersebar
dan diketahui oleh masyarakat, baik yang melalui undangan
resmi maupun pengumuman secara lisan dan tertulis. Hal ini
dilakukan dengan kunjungan ke desa maupun menanyakan
langsung kepada orang desa yang kebetulan datang ke
kecamatan,
7. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD menyiapkan
materi yang akan disampaikan, alat dan tempat yang akan
digunakan. Usahakan tempat duduk ditata menjadi setengah
lingkaran atau seperti huruf U.
8. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD memastikan
anggaran pembiayaan yang dibutuhkan dan notulen jalannya
kegiatan.
9. Fasilitator Kecamatan memberitahukan kepada F-Kab atau
FT-Kab mengenai tempat dan waktu akan
diselenggarakannya MAD Sosialisasi.


Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

3


Proses MAD SosiaIisasi
1. PjOK memberikan pengantar untuk menjelaskan maksud dan tujuan musyawarah,
2. Pembukaan oleh Camat atau yang mewakilinya,
3. PjOK menjelaskan agenda pertemuan musyawarah,
4. Penyampaian informasi PNPM Mandiri Perdesaan oleh Fasilitator Kecamatan (jika
sudah terbentuk BKAD, maka BKAD dapat membantu penyampaian informasi ini,
hal-hal yang perlu diinformasikan, lihat di PTO),
5. Tanya jawab dan klarifikasi terhadap hal-hal yang dianggap masih belum jelas
oleh peserta,
6. Memilih serta menetapkan Ketua dan Sekretaris MAD,
7. Membahas dan menyepakati penetapan sanksisanksi dalam pelaksanaan PNPM
Mandiri Perdesaan. Hasil kesepakatan harus ditulis sebagai bagian dari berita
acara dan ditempel pada papan informasi,
8. Membahas dan menyepakati penetapan jadwal Musdes Sosialisasi.
9. Fasilitator Kecamatan dan PjOK melanjutkan pertemuan dengan menjelaskan:
a. Proses pemilihan dan penetapan tokoh-tokoh kecamatan yang hadir dalam
pertemuan di MAD prioritas usulan untuk ditetapkan sebagai tim pengamat,
b. Proses penentuan wakil desa pada pertemuan MAD prioritas usulan,
c. Proses penentuan KPMD, TPU,
d. Proses penentuan PL,
e. Proses pencalonan UPK.
10. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD menjelaskan dan membahas
bersama mengenai dana operasional kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan, meliputi
kegunaannya dan besar pembiayaannya,
11. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD membacakan kembali hasil
pertemuan,
12. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD meminta kepada peserta agar
meneruskan informasi mengenai PNPM Mandiri Perdesaan secara informal
kepada anggota masyarakat lainnya,
13. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD membuat Berita Acara MAD
Sosialisasi,
(Lihat Lampiran Berita Acara Musyawarah/ Forum Pertemuan Form.1 )
14. Penutup.


HaI-haI yang harus Diperhatikan

Pastikan kehadiran RTM seluruh desa dalam mengikuti pertemuan di MAD
Sosialisasi,
Persiapkan secara baik dan lengkap media atau alat bantu serta materi (tulis
di kertas lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak orang dari
jarak yang relatif jauh guna memudahkan peserta pertemuan di musyawarah
antar desa sosialisasi memahami tujuan dan proses pelaksanaan PNPM
Mandiri Perdesaan),
Atur ruangan pertemuan sehingga memungkinkan peserta pertemuan untuk
berinteraksi secara aktif dan demokratis,
Hindari halhal yang bersifat dominasi terhadap proses pertemuan dari dan
oleh siapapun juga,
Fasilitator Kecamatan jangan memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan
yang belum diketahui persis kepastiannya, apalagi yang berkaitan dengan
kebijakan PNPM Mandiri Perdesaan,
Dokumentasikan secara baik proses dan hasil pertemuan MAD sosialisasi dan
disebarluaskan kepada masyarakat melalui papan-papan informasi yang

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

4
tersedia,
Dipastikan bahwa semua wakil desa sudah memahami betul tentang PNPM
Mandiri Perdesaan,
Memperbanyak berita acara hasil musdes dan dibagikan kepada desa-desa.
Hindari penggunaan bahasa asing, pergunakan bahasa dan kebiasaan lokal.



3.2. Musdes SosiaIisasi

Musdes Sosialisasi merupakan musyawarah masyarakat desa yang dilaksanakan
segera setelah MAD sosialisasi. Musyawarah ini juga masih bagian dari kegiatan
sosialisasi PNPM Mandiri Perdesaan di desa.

Tujuan : a. MemperkenaIkan PNPM Mandiri Perdesaan kepada BPD, aparat
pemerintah desa, tokoh masyarakat dan masyarakat umum di desa,
b. Memilih Ketua TPK sebagai penanggung jawab operasional kegiatan
di desa, Sekretaris dan Bendahara TPK,
c. Memilih dan menetapkan 2 orang KPMD yaitu 1 orang laki-laki dan 1
orang perempuan. Proses pemilihannya dapat dilihat dalam
Penjelasan 5,
d. Menyepakati dan menetapkan jadwaI musyawarah desa nformasi
hasil MAD prioritas usulan,
e. Menyepakati pembuatan dan Iokasi pemasangan Papan Informasi
PNPM Mandiri Perdesaan dan media informasi Iainnya,
Waktu : Setelah pelaksanaan MAD sosialisasi.

Tempat : Balai desa atau tempat pertemuan yang lazim dipakai.

Peserta :

Kepala desa dan aparat desa,
BPD atau sebutan lainnya,
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM),
Wakil RTM desa,
Wakil perempuan,
LSM/ormas,
Tokoh masyarakat, tokoh agama,
Anggota masyarakat lainnya yang berminat untuk hadir.

Pemandu :

Fasilitator Kecamatan dan PjOK.
Metode : Ceramah, curah pendapat dan diskusi.

Materi : Petunjuk Teknis Operasional
Penjelasan 1 Petunjuk Teknis Operasional Kegiatan mengenai
Sosialisasi
Penjelasan 3 Petunjuk Operasional Kegiatan tentang Musyawarah-
Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan
Penjelasan 5 Petunjuk Operasional Kegiatan mengenai Tugas,
Tanggung jawab dan Proses Pemilihan Pelaku PNPM Mandiri
Perdesaan.

Alat Poster dan lembar balik PNPM Mandiri Perdesaan
Daftar hadir
Alat bantu sosialisasi: VCD/DVD tentang PNPM, dsbnya

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

5
Bahan-bahan untuk melakukan pemungutan suara tertutup (kertas
dan alat tulis,dll).

Persiapan : 1. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD memastikan
kembali jadwal dan tempat pelaksanaan Musdes Sosialisasi dengan
Kepala Desa yang bersangkutan.
2. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD memastikan calon-
calon KPMD, PL, TPK, TPU hasil identifikasi sebelumnya dapat hadir
di musyawarah desa sosialisasi.
3. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD memastikan
informasi pelaksanaan musyawarah desa sosialisasi telah tersebar di
masyarakat, baik melalui papan-papan informasi atau media
pertemuanpertemuan yang ada di desa.
4. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD mengumpulkan
informasi yang berhubungan dengan desa yang akan dikunjungi
dalam rangka memfasilitasi pertemuan tersebut.
5. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD menyiapkan materi
yang akan disampaikan, alat dan tempat yang akan digunakan.
Usahakan tempat duduk ditata menjadi setengah lingkaran atau
seperti huruf U.
6. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD melakukan
penyeleksian awal calon KPMD dan calon TPK (acuan seleksi serta
wawancara calon KPMD dan calon TPK dapat dilihat dalam
penjelasan 5 PTO).
7. Fasilitator Kecamatan dan BKAD menuliskan nama-nama calon
KPMD dan nama-nama calon TPK hasil seleksi dalam kertas lebar
dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak orang.
8. Fasilitator Kecamatan dan BKAD memastikan tempat pertemuan dan
peralatan lainnya yang memungkinkan terselenggaranya pertemuan
secara efektif.
9. Fasilitator Kecamatan dan BKAD menyiapkan agenda pertemuan,
notulen pertemuan dan daftar hadir.


Proses Musdes SosiaIisasi
1. Sambutan oleh Kepala Desa yang sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan
pertemuan,
2. Penjelasan tentang PNPM Mandiri Perdesaan oleh PJOK bersama Fasilitator
Kecamatan dan BKAD dengan materi yang sudah dipersiapkan sebelumnya
termasuk hasil-hasil MAD Sosialisasi,
3. Tanya jawab dan klarifikasi terhadap hal-hal yang dianggap masih belum jelas
oleh peserta,
4. Menjelaskan kriteria KPMD dan pengurus TPK beserta uraian tugasnya termasuk
hak /insentif dan kewajibannya serta proses pemilihannya,
5. Memfasilitasi proses pemilihan KPMD. Penjelasan lebih lanjut mengenai proses
ini dapat dilihat dalam Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional,
6. Memfasilitasi proses pemilihan Ketua, Sekretaris dan Bendahara TPK. Penjelasan
lebih lanjut mengenai proses ini dapat dilihat dalam Penjelasan 5 Petunjuk Teknis
Operasional,
7. Menjelaskan dan meminta kesepakatan mengenai proses pembuatan, lokasi
pemasangan dan penanggung jawab papan-papan informasi PNPM Mandiri
Perdesaan yang ada di desa,
8. Menyampaikan rencana kegiatan selanjutnya sekaligus menutup acara
pertemuan,
9. Membuat Berita Acara Musdes Sosialisasi.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

6



HaI-haI yang harus Diperhatikan

Persiapkan materi (tulis di kertas lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca
oleh banyak orang dari jarak yang relatif jauh).
Gunakan media, alat bantu yang telah tersedia seefektif mungkin agar
masyarakat mudah memahami penjelasan tentang pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan.
Hindari penggunaan bahasa asing yang akan menyulitkan masyarakat dalam
memahaminya.
Pastikan masyarakat yang paling miskin dan perempuan ikut dalam pertemuan.


3.3. Pertemuan KeIompok untuk PenggaIian Gagasan

Perencanaan kegiatan di desa, dimulai dengan tahap penggalian gagasan sampai
dengan musdes perencanaan atau dikenal dengan istilah Menggagas Masa Depan
Desa (MMDD). Ada 2 tahap yang harus dilakukan dalam pertemuan kelompok untuk
penggalian gagasan yakni pertemuan dusun untuk pembuatan peta sosial dan
musyawarah penggalian gagasan itu sendiri. Kelompok yang dimaksud dalam proses
sosialisasi dan penggalian gagasan di sini adalah sekumpulan warga masyarakat
(kelompok laki-laki, perempuan, atau campuran) yang tergabung dalam:
1. katan kemasyarakatan yang berlatar belakang wilayah (misalnya RW/ RK/ RT/
Dusun/ Kampung atau yang lainnya).
2. Kelompokkelompok yang sudah ada (kelompok arisan, kelompok usaha
bersama, kelompok keagamaan, dan lain lain).
3. Pengelompokan masyarakat lainnya sesuai kondisi setempat.

Tujuan : a. Memperkenalkan PNPM Mandiri Perdesaan kepada kelompok
laki-laki, perempuan, atau campuran.
b. Melakukan pendataan dan memperbaharui data RTM.
c. Melakukan Penyusunan Peta Sosial.
d. Menggali gagasan kegiatan untuk diusulkan dalam musyawarah
khusus perempuan dan musyawarah desa perencanaan.
e. Menentukan utusan kelompok/dusun ke musyawarah khusus
perempuan dan musdes perencanaan.

Waktu : Setelah pelaksanaan musyawarah desa sosialisasi dan pelatihan
KPMD,

Tempat : Tempat pertemuan kelompok/dusun atau tempat lainnya,

Peserta :

Warga masyarakat dusun/kelompok,

Pemandu :

KPMD
Materi : Petunjuk Teknis Operasional.
Penjelasan 1 Petunjuk Operasional Kegiatan tentang Sosialisasi.
Penjelasan 2 Petunjuk Operasional Kegiatan tentang Fasilitasi dan
Pelatihan.
Penjelasan 3 Petunjuk Operasional Kegiatan tentang
Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

7


Alat Poster dan lembar balik PNPM Mandiri Perdesaan
Daftar hadir
Bahan-bahan untuk membuat peta (spidol, kertas plano,
isolasi/selotape)

Persiapan : 1. Menemukenali kelompokkelompok masyarakat yang ada di
dusun, baik itu kelompok laki-laki, perempuan ataupun campuran
(laki-laki dan perempuan).
2. Mematangkan rencana dan jadwal kerja yang dibuat, serta
memastikan jadwal pertemuan-pertemuan kelompok masyarakat
dusun (misalnya dengan menghubungi kepala dusun dan ketua
kelompok) supaya Fasilitator Kecamatan bisa ikut menghadiri
beberapa pertemuan ini.
3. Mendatangi tokoh-tokoh setempat yang dapat membantu
pelaksanaan sosialisasi dan penggalian gagasan serta
penyebarluasan informasi PNPM Mandiri Perdesaan.
4. Mengumpulkan informasi mengenai rencana pengembangan
daerah atau kegiatan pemerintah dan swasta di dalam dan di
sekitar desa tersebut.


Pertemuan Dusun Pembuatan Peta SosiaI
Penggalian gagasan adalah proses untuk menemukenali gagasan-gagasan
kegiatan atau kebutuhan masyarakat dalam upaya mengatasi permasalahan
kemiskinan yang dihadapi dan mengembangkan potensi yang ada di
masyarakat.

Tahap awal dari proses penggalian gagasan adalah mengadakan pertemuan
di dusun untuk membuat peta sosial kemiskinan bersama-sama dengan
warga dusun setempat. Metode atau teknik yang digunakan dalam
pembuatan peta sosial dalam pertemuan dusun sebagai berikut :

a. Penentuan KIasifikasi Kesejahteraan
Tujuan penentuan klasifikasi kesejahteraan adalah mengelompokkan
rumah tangga di desa dalam kategori kaya, menengah dan miskin menurut
kriteria dan istilah setempat. Hasil pengelompokan selanjutnya digunakan
untuk menggambarkan rumah tangga-rumah tangga yang ada di desa
pada sebuah peta. Dalam proses ini, fasilitator harus mendokumentasikan
kriteria dan daftar rumah tangga miskin.

Langkah-langkah penentuan klasifikasi kesejahteraan sebagai
berikut:
Masyarakat yang hadir diminta untuk mengungkapkan bagaimana
tingkatan kesejahteraan yang ada dalam masyarakat selama ini, atau
bagaimana mereka membedakan rumah tangga dalam komunitas desa
mereka, misalnya ada rumah tangga yang kaya, menengah atau miskin.
Jenis tingkatan yang disebutkan masyarakat dicatat.
Masyarakat yang hadir dibagi menjadi 3 kelompok diskusi; kelompok
diskusi tentang rumah tangga kaya, menengah, dan miskin.
Setiap kelompok diminta membuat sebuah gambar yang menjelaskan
tentang tingkat kesejahteraan sesuai topik bahasannya,(gambar
mengacu pada realitas yang ada di masyarakat)

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

8
Selesai membuat gambar, pandu setiap kelompok untuk mendiskusikan
ciri-ciri tingkat kesejahteraan sesuai topik bahasannya. Ciri-ciri yang
disepakati kemudian dituliskan dalam kertas.
Pemetaan RTM partisipatif: Masyarakat diminta untuk melakukan
pemetaan RTM partisipatif untuk lebih menjabarkan kategori miskin dan
sangat miskin. Pengertian Pemetaan RTM Partisipatif adalah
merumuskan kriteria dan mengidentifikasi nama kepala keluarga,
jumlah, dan lokasi RTM dan sangat miskin di dusun. Tujuan dari
Pemetaan adalah mendapatkan kriteria dan baseline data RTM yang
mendekati kenyataan tentang kelompok sasaran program. Pemetaan ini
juga bermanfaat untuk digunakan sebagai aspek yang dominan dalam
menentukan kelayakan suatu usulan oleh team verifikasi usulan.
Kegiatan ini dilakukan di dusun dan difasilitasi oleh KPMD di bawah
supervisi FK. Kegiatan ini dilakukan dengan tahap, pertama,
menggunakan alat penentuan kriteria dan kategori rumah tangga miskin
dan sangat miskin, dan kedua melakukan pemetaan berdasarkan
kriteria dan kategori itu.

Langkah-langkah untuk melakukan pemetaan RTM partisipatif adalah
sebagai berikut:
Fasilitator menampilkan kertas plano yang membagi kategori rumah
tangga miskin, yaitu miskin dan sangat miskin,
Peserta diminta untuk menentukan ciri-ciri, untuk menentukan ciri-ciri ini
peserta dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok miskin dan sangat
miskin atau bisa langsung dengan curah pendapat atau urun rembug.
Ciri-ciri yang telah disepakati dituliskan oleh fasilitator pada kertas plano,
ciri-ciri ini dikelompokkan menjadi kriteria dan dituliskan dalam lembar
formulir yang telah disediakan (seperti di bawah), untuk ciri-ciri yang
sama/serupa dipastikan ciri-ciri itu termasuk pada kriteria yang mana,
apakah miskin atau sangat miskin. Unsur yang menjadi kriteria misalnya
tentang kondisi rumah, kondisi penghuni rumah, kemampuan memenuhi
kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan. Unsur ini bisa dikembangkan
sesuai dengan kondisi lokal,
Kriteria ini selanjutnya dimasukkan dalam kategori miskin dan sangat
miskin, bisa salah satunya atau keduanya dengan memberi tanda
conteng (V),
Berdasarkan kriteria dan kategori itu peserta diminta untuk mengisi
formulir pendataan RTM tingkat dusun,
Formulir pendataan RTM yang sudah lengkap dipergunakan untuk
menyusun peta sosial dusun, penulisan usulan, verifikasi usulan,
musyawarah desa, dan musyawarah antar desa,
Kedua formulir ini menjadi bahan untuk penyusunan data dasar
kemiskinan tingkat desa dan kecamatan, oleh karena itu harus
diarsipkan dengan baik.












Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

9
Contoh FormuIir Kriteria dan Kategori RTM

Kategori (V)
No Kriteria
Miskin Sangat Miskin







Contoh FormuIir Pemetaan RTM

Kategori
No Nama AIamat
JumIah
Anggota
KeIuarga
Miskin Sangat Miskin








b. Penyusunan peta sosiaI / kemiskinan
Setelah membuat klasifikasi tingkat kesejahteraan, peserta pertemuan
dusun difasilitasi oleh KPMD untuk membuat peta sosial. Penyusunan peta
sosial dilakukan dengan menggambarkan dalam sebuah sketsa peta
dusun/desa tentang:
Kondisi geografis, sumber daya alam, fasilitas umum, dan potensi desa
lainnya, termasuk yang di luar batas desa tetapi membawa pengaruh besar
terhadap sosial ekonomi desa, seperti hutan, tambang, kebun, pabrik,
pasar, dan alur transportasi strategis. Peta atau sketsa ini dilengkapi
dengan hasil pemetaan rumah tangga miskin yang telah dilakukan
sebelumnya. Hasil penyusunan peta sosial dipakai untuk dasar menggali
gagasan masyarakat sesuai kebutuhan dan berguna bagi mayoritas RTM,
serta dapat digunakan sebagai alat bantu dalam melaksanakan dan
memantau tahapan PNPM Mandiri Perdesaan, seperti: penulisan usulan,
verifikasi, musyawarah desa dan musyawarah antar desa.
Langkah-langkah umum untuk melakukan penyusunan peta sosial adalah
sebagai berikut:
1. Jelaskan arti dari sketsa dusun/desa dan tujuan pembahasannya.
2. Mintalah peserta untuk menceritakan atau menggambarkan kondisi
fisik dusun/desanya, misalnya dengan melontarkan pertanyaan:
Bentuk dusun/desa ini persegi panjang ya. Dimana sih batas-
batasnya?.
3. Mintalah peserta menggambarkan desanya, mulai dari batas-batas
dengan dusun/desa lain, jalan utama dusun/desa, sungai, dan tempat-
tempat yang mudah untuk menjadi patokan.
4. Gambarkan di tanah atau lantai (gunakan biji, ranting, daun, dsb) untuk
menandai lokasi-lokasi itu. Sedangkan garis panjang bisa
menggunakan tali atau lidi.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

10
5. Setelah gambar dusun/desa selesai dibuat, pindahkan ke atas kertas
dengan spidol berwarna-warni. Cantumkan keterangan tanda simbol di
bawah gambar yang dibuat (lihat contoh visualisasi).
6. Gunakan hasil visual untuk mendiskusikan lokasi, persebaran, dan
kondisi dari hal-hal yang digambarkan; apa masalahnya; apa
potensinya; dsb.

c. Pembuatan diagram venn keIembagaan
Untuk melengkapi peta sosial yang telah dibuat, selanjutnya adalah
melakukan pemetaan lembaga-lembaga yang ada di dusun dan desa,
termasuk kelompok simpan pinjam perempuan, serta pola hubungan yang
ada. Dengan mengkaji sistem keorganisasian yang ada di masyarakat,
fungsi, peran, pengaruh lembaga-lembaga yang ada. Tujuan pemetaan
lembaga desa adalah agar masyarakat dapat memanfaatkan lembaga
yang ada untuk sarana memecahkan masalah yang dihadapi serta
mengoptimalkan potensi lingkungan yang dimiliki. Pemetaan lembaga
dengan menggunakan metode diagram Venn yaitu dengan menemukenali
lembaga yang paling dekat dengan lokasi masyarakat, kekuatan dan
potensinya, hubungan antar lembaga, serta peluang dan manfaatnya bagi
masyarakat.

Langkah-langkah umum membuat diagram venn kelembagaan adalah
sebagai berikut:
Jelaskan arti dari diagram venn dan tujuan pembahasannya.
Mintalah peserta untuk menyebutkan semua nama lembaga yang ada
di dusun/desa dan menjadi sumber informasi, pengetahuan dan
pembelajaran masyarakat.
Tuliskan setiap nama lembaga di atas potongan kertas berbentuk
bulat. Semakin besar bulatannya, semakin besar peran lembaga
tersebut sebagai sumber informasi, pengetahuan dan pembelajaran di
dusun/desa.
Siapkan sebuah papan tulis/kertas lebar dengan lingkaran di
tengahnya (tuliskan nama dusun/desa di tengah lingkaran tersebut).
Letakkan bulatan-bulatan bertuliskan nama lembaga di atas lingkaran
besar (dusun/desa). Semakin dekat dengan lingkaran dusun/desa
semakin sering (frekuensinya) lembaga tersebut memberikan
informasi, pengetahuan dan pembelajaran kepada masyarakat.
Setelah semua lembaga ditempelkan, hasilnya disebut sebagai
diagram venn.
Gunakan hasil visual ini untuk mendiskusikan peran lembaga-lembaga
yang ada di dusun/desa sebagai sumber informasi, pengetahuan dan
pembelajaran masyarakat;apa masalah dan potensinya; dan
sebagainya.

Musyawarah PenggaIian Gagasan
Tahapan berikutnya setelah pertemuan dusun pembuatan peta sosial adalah
musyawarah penggalian gagasan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam
penggalian gagasan adalah sebagai berikut:
a. Peta Sosial, data RTM, dan lembar diagram kelembagaan yang telah
disepakati ditampilkan dan dijelaskan kepada peserta oleh fasilitator, serta
sampaikan tentang visi program yang berupaya untuk mengurangi
kemiskinan pada RTM yang ada,
b. Fasilitator mengajak peserta untuk menemukenali masalah yang sering
dihadapi dan mengakibatkan sebagian warga masih miskin. Apa penyebab

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

11
masalah tersebut? Apa yang harus dilakukan, dibangun, disediakan?
Hasilnya dituliskan pada kertas plano,
c. Fasilitator mengajak peserta menemukan potensi serta sumber daya lokal
yang ada, pada peta yang ada diperlihatkan apakah sudah tercantum, jika
belum perlu dilengkapi sesuai lokasi yang ada,
d. Peserta diminta untuk menyampaikan gagasan kegiatan yang dapat
mengatasi masalah kemiskinan, dan didukung potensi/sumberdaya lokal,
sebagaimana yang ada pada peta sosial, gagasan yang disampaikan
peserta setelah disepakati dituliskan pada tabel di bawah ini, dan
digambarkan/diberi tanda mencolok (merah) pada lokasi sesuai peta sosial,
perlu disampaikan penegasan bahwa gagasan-gagasan yang disampaikan
peserta tidak terbatas pada kurun waktu saat ini, tetapi menjangkau
sampai dengan lima (5) tahun yang akan datang.
e. Tabel yang berisi gagasan-gagasan tersebut harus didokumentasikan
dengan baik.
f. Diskusikan dengan peserta untuk membahas setiap gagasan berdasarkan
kriteria-kriteria:
Lebih bermanfaat untuk rumah tangga miskin daripada untuk lainnya,
(sesuai tabel pemetaan RTM),
Berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan,
Bisa dikerjakan oleh masyarakat,
Didukung oleh sumber daya yang ada,
Memiliki potensi untuk berkembang dan berkelanjutan.

g. KPMD memandu pemilihan wakil kelompok yang dianggap mampu
mewakili aspirasi mereka untuk hadir pada musyawarah khusus
perempuan atau musdes perencanaan. Selesai pemilihan, KPMD
menegaskan kembali bahwa di samping wakil-wakil terpilih, terbuka
kesempatan bagi siapa saja yang berminat untuk hadir.
h. KPMD menjelaskan proses penentuan gagasan sebagai usulan desa akan
dilakukan pada musyawarah desa (khusus perempuan dan / atau
perencanaan).
i. KPMD membacakan gagasan yang muncul dan nama wakil-wakil dari
kelompok sekaligus menjelaskan kembali kepada peserta musyawarah
bahwa gagasan-gagasan dari masyarakat tidak otomatis mendapatkan
pendanaan dari PNPM Mandiri Perdesaan, tetapi harus dikompetisikan
dengan gagasan atau usulan lainnya. Pengambilan keputusan
pendanaannya akan dilakukan pada pertemuan MAD.
j. KPMD meminta kesepakatan dari yang hadir untuk melakukan pertemuan
lagi bila pertemuan pertama dianggap belum banyak yang hadir
mengemukakan gagasannya.
k. KPMD membuat Berita Acara proses sosialisasi dan penggalian gagasan
kelompok
l. Penutup.


Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

12

HaI-haI yang harus Diperhatikan

Persiapkan materi (tulis di kertas lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak
orang dari jarak yang relatif jauh).
Seluruh warga masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi dan mengajukan usulan
kegiatan secara berkelompok.
Sosialisasi dan penggalian gagasan bisa dilakukan pada pertemuan-pertemuan rutin
kelompok/dusun yang sudah ada. Paling sedikit ada dua kali pertemuan di setiap dusun (satu
pertemuan khusus dengan perempuan) di samping pertemuan-pertemuan kelompok.
Sosialisasi PNPM Mandiri Perdesaan di kelompok/dusun tidak harus dilakukan dalam suasana
pertemuan yang formal. Manfaatkan berbagai kesempatan untuk memperkenalkan PNPM
Mandiri Perdesaan, terutama ketika orang berkumpul.
Utamakan pertemuan kelompok yang sudah ada, baik kelompok formal maupun informal
misalnya kelompok tani, kelompok penebas, kelompok bakulan, kelompok arisan, kelompok
pengajian, kelompok kerja dan kelompok lainnya yang ada di desa.
Untuk pertemuan dusun, pilih waktu yang diperkirakan sebanyak mungkin masyarakat dapat
hadir.
Buat suasana pertemuan yang memungkinkan semua masyarakat merasa bebas untuk bertanya
dan mengemukakan gagasannya.
KPMD harus banyak memberi perhatian kepada masyarakat yang sulit untuk mengungkapkan
gagasannya.
Bila kelompok perempuan kurang aktif dalam mengungkapkan gagasannya, usahakan untuk
membuat pertemuan khusus perempuan secara informal atau adakan diskusi-diskusi dalam
kelompok kecil yang memungkinkan perempuan untuk menyampaikan gagasan secara
bersama.
Hindari intervensi yang mengharuskan masyarakat memenuhi keinginan orang lain yang tidak
cocok dengan keinginannya.
Pastikan diseminasi dan penggalian gagasan sudah dilakukan kepada seluruh masyarakat baik
laki-laki maupun perempuan.
Bila dirasa masyarakat yang kurang mampu belum mempunyai kesempatan yang cukup untuk
mengungkapkan gagasannya, lakukan pertemuan dengan melibatkan mereka.



3.4. Musyawarah Khusus Perempuan
Musyawarah khusus perempuan merupakan pertemuan di tingkat desa yang hanya
dihadiri oleh perempuan untuk membahas gagasan-gagasan yang berasal dari
kelompok-kelompok perempuan.

Tujuan : a. Menentukan usulan kegiatan yang merupakan aspirasi perempuan,
meliputi: kegiatan pembangunan prasarana, kegiatan peningkatan
kapasitas kelompok usaha ekonomi produktif, kegiatan bidang
kesehatan, kegiatan bidang pendidikan.
b. Menentukan usulan kegiatan simpan pinjam bagi kelompok simpan
pinjam perempuan yang masih berjalan aktif dan berusia minimal 1
tahun.
c. Memilih wakil perempuan untuk hadir dalam MAD prioritas usulan.
d. Memilih wakil perempuan yang akan terlibat dalam penulisan usulan
Waktu : Setelah penggalian gagasan di kelompok/dusun.

Tempat : Balai desa atau tempat pertemuan lainnya

Peserta :

Wakil-wakil perempuan dari dusun-dusun, wakil-wakil dari kelompok
perempuan yang ada di desa dan perempuan desa lainnya yang
berminat untuk hadir.

Pemandu :

KPMD (perempuan) dibantu oleh KPMD lainnya dan Fasilitator
Kecamatan .
Materi : Petunjuk Teknis Operasional

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

13
Penjelasan 1 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Sosialisasi
Penjelasan 2 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Fasilitasi dan
Pelatihan.
Penjelasan 3 Petunjuk Operasional Kegiatan tentang Musyawarah-
Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan
Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Tugas,
Tanggung jawab dan Proses Pemilihan Pelaku-pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan.

Alat Poster dan lembar balik PNPM Mandiri Perdesaan
Daftar hadir
Data RTM
Peta sosial
Peta lembaga
spidol, kertas plano, isolasi/selotape.

Persiapan : 1. KPMD memastikan informasi pelaksanaan Musyawarah Khusus
Perempuan telah tersebar di masyarakat, baik melalui papan-papan
informasi atau disampaikan secara lisan dalam pertemuan
pertemuan perempuan yang ada di desa.
2. Mengumpulkan informasi mengenai rencana pengembangan
daerah atau kegiatan pemerintah dan swasta di dalam dan di sekitar
desa tersebut.
3. KPMD mengidentifikasi dan menuliskan seluruh gagasan prioritas
yang berasal dari kelompok-kelompok perempuan pada kertas lebar
dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak orang dari jarak
yang relatif jauh.

Proses Musyawarah Khusus Perempuan
1. Penjelasan mengenai tujuan diadakannya Musyawarah Khusus Perempuan.
2. Penjelasan kembali hal-hal pokok mengenai PNPM Mandiri Perdesaan,
khususnya yang berkaitan dengan syarat/kriteria usulan, jenis kegiatan, swadaya,
dan sanksi.
3. Menyepakati jenis kegiatan sebagai usuIan perempuan dan usulan kegiatan
simpan pinjam khusus perempuan (bila ada) yang akan diajukan ke MAD
prioritas usulan.
a. KPMD membacakan gagasan-gagasan unggulan yang diperoleh dari
sosialisasi dan penggalian gagasan di kelompok-kelompok perempuan.
b. Peserta diajak untuk mengemukakan dan membahas permasalahan yang ada
di dusun/desa yang menyangkut kepentingan umum dengan tidak
mengabaikan masalah yang dihadapi oleh RTM yang ada di dusun/desa.
Pembahasan permasalahan dengan menggunakan alat bantu Analisis diagram
penyebab kemiskinan, hasil klasifikasi kesejahteraan dan peta sosial yang
dibuat dalam pertemuan dusun
c. Peserta menyepakati usulan kegiatan sebagai usulan perempuan yang akan
diajukan ke MAD prioritas usulan berdasarkan kriteria prioritas usulan.
Selanjutnya, peserta menyepakati usulan kegiatan simpan pinjam yang akan
diajukan ke MAD prioritas usulan.
d. KPMD menuliskan hasil kesepakatan tersebut pada formulir rekapitulasi usulan
hasil musyawarah khusus perempuan.
4. Pemilihan tiga wakil perempuan yang dianggap mampu menyampaikan aspirasi
perempuan, khususnya berkaitan dengan usulan yang diajukan untuk hadir pada
MAD prioritas usulan dan penetapan usulan.
5. Pemilihan wakil perempuan yang akan terlibat dalam penulisan usulan (bisa dipilih
dari wakil perempuan yang akan hadir dalam MAD prioritas usulan).

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

14
6. KPMD membacakan kembali seluruh hasil kesepakatan musyawarah khusus
perempuan dan menuliskannya dalam berita acara.
7. KPMD mengingatkan kepada seluruh peserta bahwa selain wakil perempuan
terpilih, semua berhak untuk hadir dalam musyawarah desa perencanaan.
8. Penutup.

Selengkapnya Iangkah-Iangkah yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Jelaskan maksud tujuan pertemuan dan penjelasan kembali tentang PNPM
Mandiri Perdesaan.
2. Tanyakan kepada peserta mengapa kita miskin ? (pendapat peserta mengenai
kondisi apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan),
3. Tuliskan sebab yang disebutkan peserta dalam kartu/kertas. Satu sebab/alasan
satu kartu. Jika peserta dapat menulis, minta mereka menuliskan sendiri. Namun
jika tidak dapat, fasilitator membantu menuliskan dan/ atau menggambar sebab
apa yang disebutkan peserta,
4. Tanyakan kembali kepada peserta apa penyebab (baik langsung maupun tidak
langsung) dari apa yang telah dituliskan dalam kartu tersebut, sampai ketemu
pada penyebab dasarnya,
5. Apa bila satu sebab/alasan ada kaitannya dengan sebab yang lainnya hubungkan
dengan tali. Bedakan alasan yang menjadi sebab dengan tanda panah keluar dan
yang menjadi akibat dengan tanda panah masuk,
6. Ajak peserta untuk menentukan bersama-sama apa saja yang menjadi penyebab
dasar,
7. Ajak peserta untuk diskusi mengenai bagaimana mengatasi setiap penyebab
dasar kemiskinan satu per satu, kegiatan apa yang bisa membantu menyelesaikan
penyebab masalah tersebut,
8. Tuliskan setiap gagasan kegiatan dalam tabel,
9. Diskusikan dengan peserta untuk membahas setiap gagasan berdasarkan kriteria-
kriteria:
a. Lebih bermanfaat untuk RTM daripada kelompok lain (sesuai tabel pemetaan
RTM),
b. Berdampak pada peningkatan kesejahteraan
c. Bisa dikerjakan masyarakat,
d. Didukung oleh sumber daya yang ada,
e. Memiliki potensi untuk berkembang dan berkelanjutan.
10. Untuk setiap kriteria tanyakan mengapa dan bagaimana melakukannya (dengan
contoh kongkrit), baru lakukan penilaian.



HaI-haI yang harus Diperhatikan

Pilih waktu yang diperkirakan sebanyak mungkin perempuan dapat hadir.
KPMD perlu memotivasi perempuan yang hadir dalam musyawarah khusus
perempuan untuk terus memperjuangkan usulannya.
Buat suasana pertemuan yang memungkinkan semua yang hadir merasa
bebas untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya.
KPMD harus banyak memberi perhatian kepada perempuan yang sulit
mengungkapkan pendapatnya.
Persiapkan materi (tulis di kertas lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca
oleh banyak orang dari jarak yang relatif jauh).



Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

15
3.5. Musdes perencanaan
Musdes perencanaan merupakan pertemuan masyarakat di desa yang bertujuan
untuk membahas seluruh gagasan kegiatan, hasil dari proses penggalian gagasan di
kelompok-kelompok/dusun. Bahan-bahan yang harus disiapkan adalah peta desa
hasil penggabungan semua peta dusun, rekap data RTM dusun, diagram Venn
kelembagaan, rekap gagasan semua dusun, rekap masalah semua dusun, dan usulan
kelompok perempuan.

Tujuan : a. Mengesahkan usulan-usulan kegiatan hasil Musyawarah Khusus
Perempuan dan menetapkan usulan-usulan kegiatan yang akan
diajukan desa ke MAD prioritas usulan.
b. Menetapkan enam wakil desa ke MAD prioritas usulan dan MAD
penetapan usulan,
c. Menetapkan TPU.
d. Menetapkan calon pengurus UPK
e. Menetapkan calon pengamat proses MAD.
Waktu : Setelah pelaksanaan Musyawarah Khusus Perempuan.

Tempat : Balai desa atau tempat pertemuan lainnya

Peserta :

Wakil dari dusun-dusun, wakil-wakil dari berbagai kelompok di desa
dan masyarakat umum lainnya yang berminat untuk hadir.

Pemandu :

KPMD dibantu oleh Fasilitator Kecamatan, PL, BKAD, PjOK

Materi : Petunjuk Teknis Operasional
Penjelasan 1 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Sosialisasi
Penjelasan 2 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Fasilitasi dan
Pelatihan.
Penjelasan 3 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Musyawarah-
Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan.
Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Tugas,
Tanggung jawab dan Proses Pemilihan Pelaku-pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan.
Alat Poster dan lembar balik PNPM Mandiri Perdesaan
Daftar hadir
Data RTM
Peta sosial
Peta lembaga
Spidol, kertas plano, isolasi/selotape, dll

Persiapan : 1. KPMD memastikan kembali jadwal dan tempat pelaksanaan
Musyawarah desa perencanaan dengan Kepala Desa yang
bersangkutan dan Ketua Tim Pelaksana.
2. KPMD memastikan informasi pelaksanaan Musyawarah desa
perencanaan telah tersebar di masyarakat, baik melalui papan-
papan informasi atau disampaikan secara lisan dalam pertemuan
pertemuan yang ada di desa.
3. KPMD, Fasilitator Kecamatan dan PjOK mengumpulkan informasi
mengenai rencana pengembangan daerah atau kegiatan
pemerintah dan swasta di dalam dan di sekitar desa.
4. KPMD menuliskan usulan-usulan hasil kesepakatan Musyawarah
Khusus Perempuan pada kertas lebar dengan huruf besar dan
mudah dibaca oleh banyak orang dari jarak yang relatif jauh.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

16
5. KPMD mengidentifikasi dan menuliskan seluruh gagasan prioritas
yang berasal dari kelompok laki-laki dan campuran pada kertas
lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak orang dari
jarak yang relatif jauh.
6. KPMD menyiapkan agenda pertemuan, notulen dan daftar hadir.
7. KPMD menyiapkan,materi yang akan disampaikan, alat dan tempat
yang akan digunakan. Usahakan tempat duduk ditata menjadi
setengah lingkaran atau seperti huruf U.
8. KPMD memastikan bahwa surat persetujuan desa untuk
membentuk/bergabung dalam BKAD telah ditandatangani kepala
desa/ketua BPD.


Proses Musdes Perencanaan
1. Pembukaan oleh Kepala Desa atau yang mewakilinya.
2. Penjelasan tujuan pertemuan oleh Ketua Tim Pelaksana.
3. Penjelasan kembali prinsipprinsip penting PNPM Mandiri Perdesaan serta
sanksi-sanksi yang sudah ditetapkan.
4. Penjelasan tentang rangkaian kegiatan perencanaan di desa mulai tahap
penggalian gagasan sampai dengan musdes perencanaan adalah kegiatan dalam
rangka menggagas masa depan desa (MMDD) yang outputnya adalah rancangan
RPJMDes dan RKPDes
5. Penjelasan kemungkinan sumber dana lain untuk membiayai usulan yang tidak
dapat didanai oleh PNPM Mandiri Perdesaan.
6. Perumusan dan penetapan peta sosial dan visi desa
7. Penetapan desa berupa surat keputusan kepala desa bergabung dalam BKAD
8. Penetapan usulan-usulan desa yang akan diajukan ke musyawarah antar desa
kedua.
a. Pembacaan dan pengesahan usulan-usulan hasil kesepakatan musyawarah
khusus perempuan tanpa dibahas kembali oleh musyawarah desa
perencanaan.
b. Penetapan usulan lainnya yang akan diajukan ke MAD Prioritas Usulan.
Pembacaan gagasan-gagasan unggulan hasil sosialisasi dan penggalian
gagasan di kelompok laki-laki dan kelompok campuran.
Peserta mengemukakan dan membahas permasalahan yang ada di desa
yang menyangkut kepentingan umum dengan tidak mengabaikan masalah
yang dihadapi oleh kelompok masyarakat miskin yang ada di desa.
Pembahasan usulan dengan menggunakan alat bantu hasil klasifikasi
kesejahteraan dan peta sosial pada pertemuan semua dusun.
Peserta menyusun skala prioritas dengan menggunakan alat prioritas
gagasan sebagaimana dalam Penjelasan 2 PTO mengenai Fasilitasi dan
Pelatihan, bagian acuan teknik fasilitasi dalam penggalian gagasan tentang
prioritas kegiatan
Peserta diminta memeriksa kembali usulan yang telah diprioritas dengan
peta usulan desa untujk memastikan usulan sesuai dengan kebutuhan.
Peserta menyepakati dan mengesahkan usulan yang akan diajukan
berdasarkan kriteria prioritas usulan. Kriteria prioritas dapat dilihat dalam
Penjelasan 2 Petunjuk Teknis Operasional Kegiatan.
c. KPMD menuliskan usulan hasil Musyawarah Khusus Perempuan yang telah
disahkan dan usulan hasil kesepakatan forum Musyawarah desa perencanaan
pada formulir rekapitulasi usulan desa yang sudah disediakan.
9. Pemilihan dan penetapan enam wakil desa ke MAD prioritas usulan dan MAD
penetapan usulan.
a. Mengingatkan peserta kembali mengenai:

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

17
Komposisi wakil desa ke MAD prioritas usulan: Kepala Desa, Ketua Tim
Pelaksana, dan empat orang wakil masyarakat. Minimal tiga dari enam
wakil tersebut adalah perempuan.
Wakil perempuan hasil kesepakatan Musyawarah Khusus Perempuan
mendapat prioritas utama untuk dipilih sebagai wakil perempuan ke MAD
prioritas usulan.
b. Peserta mengusulkan beberapa nama yang dianggap mampu menyampaikan
aspirasi masyarakat, khususnya berkaitan dengan usulan yang akan diajukan,
untuk dipilih sebagai wakil desa.
c. Peserta menetapkan wakil desa terpilih berdasarkan kesepakatan.
10. Pemilihan dan penetapan 3 orang sebagai anggota TPU, yang akan bersama-
sama dengan KPMD dan Ketua TPK menyusun usulan atau proposal kegiatan
yang telah ditetapkan dan disyahkan dalam Musyawarah desa perencanaan.
Upayakan ketiga orang tersebut mewakili kelompok-kelompok yang usulannya
diterima.
11. Pemilihan dan penetapan calon pengurus UPK (lihat penjelasan 5 PTO mengenai
tugas, tanggung jawab dan proses pemilihan pelaku-pelaku PNPM Mandiri
Perdesaan).
12. Pemilihan dan penetapan calon pengamat proses MAD (lihat penjelasan 5 PTO
mengenai tugas, tanggung jawab dan proses pemilihan pelaku-pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan).
13. Pembacaan seluruh hasil kesepakatan Musdes perencanaan dan menuliskannya
dalam berita acara.
14. Mengingatkan peserta bahwa selain wakil desa terpilih, siapa saja yang berminat
berhak ke MAD.
15. Penutup.


HaI-haI yang harus diperhatikan

Persiapkan secara baik dan lengkap media atau alat bantu serta materi (tulis di
kertas lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak orang dari
jarak yang relatif jauh).guna memudahkan peserta memahami tujuan dan
proses pertemuan.
KPMD harus mempersiapkan diri secara baik, khususnya teknik memfasilitasi
dalam penetapan usulan desa. KPMD perempuan dan laki-laki berbagi peran
dalam memfasilitasi proses.
KPMD minta bantuan orang lain menangani hal-hal yang perlu dilakukan untuk
memperlancar proses musyawarah sehingga KPMD bisa berkonsentrasi
sebagai fasilitator.
Segera setelah musyawarah selesai notulensi dan hasil keputusannya
dipasang di papan informasi.
Formulir-formulir yang sudah disediakan setelah Musyawarah desa
Perencanaan segera diisi.
Buat pengumuman pertemuan di papan informasi pada lokasi strategis.
Tempelkan peta sosial desa yang telah disiapkan.


3.6. MAD prioritas usuIan
MAD prioritas usulan adalah pertemuan di kecamatan yang bertujuan membahas dan
menyusun peringkat usulan kegiatan. Penyusunan peringkat didasarkan atas kriteria
kelayakan sebagaimana yang digunakan oleh TV dalam menilai usulan kegiatan.
Penyusunan prioritas usulan-usulan SPP dilakukan secara terpisah sebelum
penyusunan prioritas usulan-usulan desa lainnya.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

18

Tujuan : a. Memilih dan menetapkan pengurus UPK.
b. Menyusun dan menetapkan urutan atau peringkat usulan kegiatan
dari tiap desa sesuai dengan skala prioritas yang telah disepakati.
c. Menetapkan jadwal MAD penetapan usulan usulan serta waktu
penyelesaian pembuatan desain dan RAB.
d. Pertanggung jawaban penggunaan dana operasional kegiatan.
e. Mendapatkan umpan balik mengenai kualitas pendampingan F-
Kab, Fasilitator Kecamatan , PL dan pelaku-pelaku yang terlibat
dalam PNPM Mandiri Perdesaan.

Waktu : Setelah Musyawarah desa perencanaan, penulisan usulan dan
verifikasi seluruh usulan.

Tempat : Kantor Kecamatan atau Balai Pertemuan di Kecamatan, atau tempat
lain yang memungkinkan untuk penyelenggaraan pertemuan.

Peserta :

Camat dan staf terkait
nstansi dinas terkait tingkat kecamatan
Tim Pengamat
Enam orang wakil per desa: Kepala desa, Ketua Tim Pelaksana,
dan 4 orang wakil masyarakat.
Calon pengurus UPK
Anggota masyarakat lainnya yang berminat untuk hadir.

Pemandu :

Fasilitator Kecamatan dan PjOK (bisa dibantu oleh F-Kab).
Metode : Ceramah, curah pendapat dan diskusi.

Materi : Petunjuk Teknis Operasional
Penjelasan 1 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Sosialisasi
Penjelasan 2 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Fasilitasi dan
Pelatihan.
Penjelasan 3 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Musyawarah-
Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan.
Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Tugas,
Tanggung jawab dan Proses Pemilihan Pelaku-pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan.

Alat Poster dan lembar balik
Peta Kecamatan.
Daftar hadir
Bahan-bahan untuk melakukan pemungutan suara secara tertutup
(kertas, alat tulis, dll).

Persiapan : 1. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD telah membentuk
tim pengamat berdasarkan calon-calon yang diajukan desa untuk
menjaga proses MAD.
2. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD berkoordinasi
dengan Camat, merencanakan tanggal dan tempat pertemuan.
3. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD mengidentifikasi
data program yang masuk ke desa-desa di Kecamatan yang
bersangkutan.
4. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD membuat surat

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

19
undangan yang ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris MAD
mengetahui Camat atau yang mewakilinya. Seminggu
sebelumnya, undangan sudah disebarluaskan kepada wakil-wakil
desa yang sudah terpilih dan ditetapkan dalam Musyawarah desa
perencanaan serta masyarakat umum melalui papan informasi dan
pertemuan-pertemuan informal yang ada di desa.
5. Undangan harus memuat: waktu dan tempat pertemuan, tujuan
dan agenda pertemuan, serta wakil-wakil per desa yang terdiri dari
kepala desa, Ketua Tim Pelaksana dan empat orang wakil
masyarakat (minimal 3 dari keenam wakil tersebut adalah
perempuan). Dalam undangan juga disebutkan bahwa terbuka
kesempatan bagi masyarakat lainnya yang berminat untuk hadir
dalam MAD prioritas usulan.
6. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD memastikan
informasi akan diadakannya MAD prioritas usulan telah tersebar
dan diketahui oleh masyarakat, baik yang melalui undangan resmi
maupun pengumuman secara lisan dan tertulis. Hal ini dilakukan
dengan kunjungan ke desa maupun menanyakan langsung
kepada orang desa yang kebetulan datang ke kecamatan
7. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD mempersiapkan
materi yang akan disampaikan, alat dan tempat yang akan
digunakan. Usahakan tempat duduk ditata menjadi setengah
lingkaran atau seperti huruf U.
8. Daftar usulan dituliskan pada kertas lebar dengan tulisan yang
besar dan ditempelkan di dinding (atau media lainnya) agar
peserta mudah membacanya.
9. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD mempersiapkan
komposisi kelompok kecil untuk pembahasan usulan (diskusi
kelompok).
10. Fasilitator Kecamatan memberitahukan kepada Fasilitator
Kabupaten tempat dan waktu akan diselenggarakannya MAD
prioritas usulan.

Proses MAD prioritas usuIan
1. Pembukaan oleh Camat
2. Penjelasan tujuan pertemuan dan hasil yang akan dicapai dalam pertemuan oleh
Ketua MAD.
3. Penjelasan singkat mengenai proses yang sudah dilalui dan proses yang akan
dilakukan.
4. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD menegaskan kembali peran tiap
perwakilan dan tim yang hadir pada MAD prioritas usulan.
5. Pembentukan dan penetapan pengurus UPK (UPK).
a. Penjelasan tugas dan tanggung jawab UPK serta kriteria pengurus.
b. Calon-calon pengurus UPK tampil di muka forum untuk memperkenalkan diri
(nama, alamat, umur, pendidikan, pengalaman, dan kegiatan saat ini)
c. Peserta memilih dan menetapkan calon pengurus. Proses pemilihan calon
pengurus UPK dapat dilihat dalam penjelasan 5 PTO mengenai Tugas,
tanggung jawab dan proses pemilihan pengurus UPK.
d. MAD menyepakati masa kerja pengurus UPK dan besar gaji UPK, serta
aturan-aturan pokok kegiatan UPK
6. Penyusunan dan penetapan urutan prioritas usulan dipisahkan antara usulan-
usulan simpan pinjam perempuan dengan usulan-usulan lainnya. Usulan-usulan
simpan pinjam perempuan akan dibuat peringkatnya dengan alokasi maksimal
25% dari dana alokasi kecamatan, dengan ketentuan syarat kelayakan,
sedangkan usulan-usulan lainnya akan dikompetisikan dengan pembuatan

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

20
peringkat usulan dari alokasi minimal 75% dari dana alokasi kecamatan. Tahapan
penyusunan dan penetapan urutan /peringkat usulan sebagai berikut:
a. Presentasi Laporan Tim Verifikasi
Ketua Tim Verifikasi membacakan rekomendasi terhadap usulan-usulan
desa yang masuk. Dalam membacakan rekomendasi gunakan alat bantu
hasil klasifikasi kesejahteraan (termasuk hasil pendataan RTM) dari tiap
desa dan menunjukkan lokasi kegiatannya pada peta hasil pemetaan
sosial, dengan tujuan tiap peserta mengetahui gambaran tentang usulan
kegiatan yang akan dirangking/ dibuat peringkatnya.
Peserta memberikan tanggapan/pertanyaan terhadap rekomendasi tim
verifikasi.
Jawaban/klarifikasi pertanyaan oleh Tim Verifikasi.
Peserta diminta untuk menyepakati usulan-usulan yang akan dibahas
dalam diskusi kelompok dengan memperhatikan rekomendasi dari Tim
Verifikasi.
b. Pembahasan UsuIan di KeIompok
Pembahasan terpisah terlebih dahulu dilakukan terhadap usulan-usulan
simpan pinjaman kelompok perempuan.
Pembagian kelompok kecil :
1) Peserta dibagi dalam beberapa kelompok.
2) Utusan desa dipecah dalam kelompok berbeda.
Semua usulan yang sudah diverifikasi dan disepakati oleh peserta
MAD prioritas usulan dibagikan kepada masing-masing kelompok.
Setiap kelompok membahas usulan-usulan desa yang telah disepakati
sebelumnya (di luar usulan kegiatan simpan pinjam khusus untuk
kelompok perempuan).
1) Kriteria utama PNPM Mandiri Perdesaan yang perlu dinilai (secara
kualitatif):
i. lebih bermanfaat bagi RTM, EDLN GL ORNDVL GHVD WHUWLQJJDO
PDXSXQEXNDQGHVDWHUWLQJJDO
ii. berdampak langsung dalam peningkatan kesejahteraan
iii. dapat dikerjakan oleh masyarakat
iv. didukung oleh sumber daya yang ada
v. memiliki potensi berkembang dan berkelanjutan
2) Dalam pembahasan usulan, kelompok memperhatikan catatan dan
rekomendasi Tim Verifikasi.
i. Dari pembahasan usulan ini, tiap-tiap kelompok membuat urutan
prioritas pertama, kedua dan seterusnya berdasarkan kriteria
yang sudah disepakati.
ii. Urutan usulan tiap-tiap kelompok dituliskan pada sehelai kertas
yang sudah dibagikan sebelumnya dan hasilnya diserahkan
kepada Fasilitator Kecamatan.


HasiI pembahasan dan pembuatan peringkat di tiap-tiap keIompok
seIanjutnya dipIenokan (bahas terlebih dahulu peringkat usulan untuk kegiatan
simpan pinjam kelompok perempuan, setelah itu baru dilanjutkan untuk
pembahasan peringkat usulan bukan simpan pinjam kelompok perempuan):

a. Hasil urutan usulan tiap-tiap kelompok dibacakan dan dituliskan di kertas
plano oleh Fasilitator Kecamatan . Setiap kelompok melalui juru bicara yang
dipilih memberikan penjelasan yang diperlukan tentang hasil urutan mereka.
b. Para peserta mendiskusikan hasil ini, terutama bila ada yang tidak setuju atau
keberatan.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

21
c. Berdasarkan hasil urutan yang telah disepakati masing-masing kelompok dan
telah dipresentasikan dalam pleno kemudian diadakan penggabungan.
d. Cara penggabungan urutan prioritas usulan dari masing-masing kelompok
dapat dilakukan sebagaimana dalam gambar contoh A di bawah ini.
e. Bila tidak ada kesepakatan dalam penentuan prioritas usulan, lakukan
pemungutan suara. Acuan pemungutan suara adalah sebagai berikut:
Setiap utusan desa memilih beberapa usulan kegiatan untuk menghindari
hanya memilih usulan dari desanya sendiri. Jika jumlah usulan kurang
atau sama dengan 10 maka setiap utusan desa memilih 3 usulan
kegiatan yang berbeda, jumlah usulan antara 11 s/d 18 setiap utusan
memilih 5 usulan yang berbeda dan jika jumlah usulan diatas atau sama
dengan 19 setiap utusan desa memilih 7 usulan yang berbeda.
Selanjutnya dilakukan penjumlahan perolehan suara dari tiap-tiap usulan
kegiatan. Usulan yang paling banyak mendapatkan suara menenpati
peringkat pertama untuk dilakukan pembuatan atau penyempurnaan
desain atau rencana kegiatan dan RAB, sebelum ditetapkan
pendanaannya dalam MAD penetapan usulan.. Jumlah suara terbanyak
kedua menempati peringkat dua dan seterusnya.
7. Penyusunan Rencana Kerja dan Tindak Lanjut.
PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD menyampaikan kegiatan-
kegiatan lain yang harus dilakukan setelah MAD prioritas usulan untuk disepakati
jadwalnya. Kegiatan-kegiatan itu antara lain:
a. Tim penulis usulan melakukan revisi akhir usulan jika masih ada perubahan.
b. Utusan desa menyebarluaskan Berita Acara MAD prioritas usulan kepada
anggota kelompok di desa . Berita acara ditempelkan pada papan informasi.
c. Usulan yang tidak didanai PNPM Mandiri Perdesaan, diusulkan ke
Musrenbang Kabupaten. Perlu disusun suatu rumusan renstra kecamatan
sebagai draft dokumen.
d. Rencana (jadwal) pelaksanaan MAD penetapan usulan.
e. Pelatihan BKAD, UPK, Ketua TPK dan PJOK sebelum proses pencairan
dana.
f. UPK menyusun kegiatan.
8. Penyampain umpan balik dari forum mengenai kualitas pendampingan F-Kab,
Fasilitator Kecamatan , PL dan pelaku-pelaku yang terlibat dalam PNPM Mandiri
Perdesaan.
9. Mengingatkan kepada peserta MAD prioritas usulan bahwa usulan yang sudah
diprioritaskan tidak otomatis secara keluruhannya didanai oleh TPK.
10. Penutup.
a. Pembacaan kembali hasil dan keputusan rapat.
b. Pembacaan dan penanda tanganan Berita Acara MAD prioritas usuIan oleh
wakil-wakil desa.
c. Dibuat Daftar Prioritas Usulan Desa Calon Penerima Bantuan.
d. Pengamat kecamatan menyampaikan hasil pengamatannya selama diskusi
berlangsung.

Gambar Contoh A.
x Jumlah usulan ada 16, yaitu; usulan A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K,L,M,N,O,P
x Setiap kelompok membahas semua usulan dan memilih 10 usulan dan mengurutkan dari
yang paling tinggi peringkat/ rankingnya. Usulan paling tinggi peringkatnya diberi nilai 10,
peringkat dua dengan nilai 9, peringkat 3 nilai 8 dan seterusnya.







Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

22
HASIL URUTAN PRIORITAS USULAN DARI SETIAP KELOMPOK

Urutan
KeIom-
pok I

NiI
ai
Urutan
KeIom-
pok II

NiIai
Urutan
KeIom-
pok III

NiI
ai
Urutan
KeIom-
pok IV

NiIai
Urutan
KeIom-
pok V

NiI
ai
Usulan A 10 Usulan A 10 Usulan B 10 Usulan A 10 Usulan A 10
Usuan D 9 Usulan B 9 Usulan D 9 Usulan D 9 Usulan C 9
Usulan F 8 Usulan C 8 Usulan A 8 Usulan E 8 Usulan B 8
Usulan E 7 Usulan D 7 Usulan C 7 Usulan B 7 Usulan D 7
Usulan C 6 Usulan E 6 Usulan F 6 Usulan C 6 Usulan F 6
Usulan B 5 Usulan H 5 Usulan G 5 Usulan E 5 Usulan E 5
Usulan J 4 Usulan 4 Usulan E 4 Usulan 4 Usulan G 4
Usulan K 3 Usulan J 3 Usulan J 3 Usulan F 3 Usulan J 3
Usulan 2 Usulan K 2 Usulan M 2 Usulan G 2 Usulan H 2
Usulan M 1 Usulan L 1 Usulan P 1 Usulan J 1 Usulan M 1

JumIah NiIai : Ranking:
Usulan A = 10 + 10 + 8 +10 + 10 = 48
Usulan B = 5 + 9 +10 + 7 + 8 = 39
Usulan C = 6 + 8 + 7 + 6 + 9 = 36 V
Usulan D = 9 + 7 + 9 + 9 + 7 = 41
Usulan E = 7 + 6 + 4 + 5 + 5 = 27 V
Usulan F = 8 + 5 + 6 + 3 + 6 = 28 V
Usulan G = 0 + 4 + 5 + 2 + 4 = 5 V
Usulan H = 0 + 3 + 0 + 0 + 2 = 5 X
Usulan = 2 + 2 + 0 + 4 + 0 = 8 X
Usulan J = 4 + 1 + 3 + 1 + 3 = 12 V
Usulan K = 3 + 0 + 0 + 0 + 0 = 3 X
Usulan M = 1 + 0 + 2 + 0 + 1 = 4 X
Usulan P = 0 + 0 + 1 + 0 + 0 = 1 X

Jadi Urutan Prioritas usulan adalah sebagai berikut :
Prioritas Usulan A , Prioritas Usulan D , Prioritas Usulan B , Prioritas V Usulan C ,
Prioritas V Usulan F , Prioritas V Usulan E , Prioritas V Usulan G , Prioritas V Usulan J ,
Prioritas X Usulan , Prioritas X Usulan H , Prioritas X Usulan M , Prioritas X Usulan K
dan Prioritas X Usulan P.



Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

23

HaI-haI yang harus Diperhatikan

Pastikan hasil jumlah usulan yang akan dibahas pada diskusi kelompok
disepakati.
Setiap berkas usulan disusun lengkap dalam satu map untuk memudahkan
proses diskusi.
Setiap kelompok membahas usulan yang sama.
Selalu mengingatkan bahwa salah satu kebijakan dalam PNPM Mandiri
Perdesaan adalah berdasarkan prioritas kebutuhan, sehingga tidak semua
usulan harus diterima.
Pastikan bahwa peserta pertemuan paham mengenai hasil rekomendasi Tim
Verifikasi.
Usulan perempuan tidak berarti hanya kegiatan yang khusus bagi perempuan.
Beri kesempatan kepada wakil perempuan untuk mengungkapkan
pendapatnya.
Segala keputusan dihasilkan dari kesepakatan bersama.


Catatan untuk PjOK dan FasiIitator Kecamatan serta BKAD: PengeIompokan
Peserta MAD
Untuk diskusi kelompok dalam MAD prioritas usulan, sebaiknya sehari sebelumnya,
Fasilitator Kecamatan sudah mempersiapkan pembagian kelompok ini untuk
melancarkan proses. Fasilitator Kecamatan sudah mengetahui anggota utusan desa
(Kepala Desa, Ketua TPK, 3 wakil kelompok perempuan dan dua laki-laki wakil
masyarakat) Ketika mereka dipilih dalam Musyawarah desa. Contoh Cara
Pengelompokannya adalah sebagai berikut: (Contoh 10 desa).

KeIompok Diskusi
No. KIp I KIp II KIp III KIp IV KIp V
U 1 Kades A Ka.TPK. A Wkl.Pr. A Wkl. Pr.A Wkl. Pr.A
T 2 Wkl. Lk. A Kades. B Ka. TPK.B Wkl. Pr.B Wkl. Pr.B
U 3 Wkl. Pr.B Wkl. Lk. B Kades.C. Ka TPK.C Wkl. Pr. C
S 4 Wkl. Pr.C Wkl. Pr.C. Wkl. Lk.C. Kades D Ket. TPK.D
A 5 Wkl. Pr.D. Wkl.Pr. D Wkl. Pr.D Wkl. Lk.D Kades E
N 6 Ka TPK. E Wkl. Pr. E Wkl. Pr.E Wkl. Pr.E Wkl. Lk.E
7 Kades.F Ket.TPK. F Wkl. Pr.F Wkl. Pr.F Wkl. Pr.F
8 Wkl. Lk.F Kades G Ka TPK. G. Wkl. Pr.G. Wkl. Pr.G
D 9 Wkl. Pr.G Wkl. Lk.G Kades. H Ka.TPK.H Wkl.Pr.H
E 10 Wkl. Pr.H Wkl. Pr.H Wkl. Lk.H. Kades Ka.TPK. .
S 11 Wkl. Pr.. Wkl.Pr .. Wkl. Pr. Wkl.Lk.. Kades.J.
A 12 Ka.TPK.J. Wkl. Pr. J. Wkl. Pr.J Wkl. Pr.J. Wkl. Lk.J



PjOK dan Fasilitator Kecamatan serta BKAD sebelumnya bisa menyiapkan usulan
yang akan dibahas dalam pertemuan MAD sehingga semua usulan dibahas oleh setiap
kelompok.



Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

24

PROSES PENENTUAN KEGIATAN
DALAM MAD PRIORITAS USULAN




PLENO BAHAS
HASIL DISKUSI
KELOMPOK


KELOMPOK
DISKUSI

PERTEMUAN
MUSYAWARAH ANTAR
DESA
DAFTAR URUTAN PRIORITAS
USULAN KEGIATAN
TIM
VERIFIKASI




KELOMPOK
DISKUSI



KELOMPOK
DISKUSI

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

25

3.7. MAD Penetapan UsuIan
MAD penetapan usulan merupakan musyawarah untuk mengambil keputusan
terhadap usulan yang didanai melalui PNPM Mandiri Perdesaan. Keputusan
pendanaan harus mengacu pada peringkat usulan yang telah dibuat pada saat MAD
prioritas usulan.

Tujuan : a. Membahas dan menetapkan jenis kegiatan yang akan didanai oleh
PNPM Mandiri Perdesaan berikut besar dananya.
b. Menyusun jadwal pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan.
c. Menyepakati sanksi-sanksi dan tata cara perguliran yang akan
diterapkan selama pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di
wilayah kecamatan tersebut serta memilih minimal 3 orang wakil
MAD sebagai pengawas kinerja UPK dalam mengelola dana PNPM
Mandiri Perdesaan.
d. Membahas berbagai keluhan yang timbul selama proses di tahap
sosialisasi dan perencanaan.

Waktu : Setelah pembuatan dan pemeriksaan desain serta RAB.

Tempat : Kantor Kecamatan atau Balai Pertemuan di Kecamatan, atau tempat
lain yang memungkinkan untuk penyelenggaraan pertemuan.

Peserta :

Camat dan staf terkait
Ketua dan Sekretaris MAD.
nstansi dinas terkait tingkat kecamatan
Tim Pengamat
Enam orang wakil per desa: Kepala desa, Ketua Tim Pelaksana,
dan 4 orang wakil masyarakat.
Pengurus UPK
Seluruh KPMD dan PL
Anggota masyarakat lainnya yang berminat untuk hadir.

Pemandu :

Fasilitator Kecamatan dan PjOK serta BKAD (bisa dibantu oleh F-Kab).
Metode : Ceramah, curah pendapat dan diskusi.

Materi : Petunjuk Teknis Operasional

Alat Poster dan lembar balik
Daftar hadir
Bahan-bahan untuk melakukan pemungutan suara secara tertutup
(kertas, alat tulis, dll).
Dokumen usulan desa.

Persiapan : 1. Desa telah mengetahui dan menyetujui bentuk desain jenis
kegiatan dengan segala perubahannya yang akan dibawa ke MAD
penetapan usulan.
2. Menyiapkan undangan yang ditandatangani Ketua MAD dan
Sekretaris atau pengurus BKAD, diketahui Camat dan
menyampaikannya satu minggu sebelum pelaksanaan MAD
penetapan usulan.
3. Undangan harus memuat: waktu dan tempat pertemuan, tujuan dan
agenda pertemuan, serta wakil-wakil per desa yang terdiri dari

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

26
kepala desa, Ketua Tim Pelaksana dan empat orang wakil
masyarakat (minimal 3 dari keenam wakil tersebut adalah
perempuan). Dalam undangan juga disebutkan bahwa terbuka
kesempatan bagi masyarakat lainnya yang berminat untuk hadir
dalam MAD penetapan usulan.
4. Fasilitator Kecamatan , BKAD dan PjOK memastikan informasi akan
diadakannya MAD penetapan usulan telah tersebar dan diketahui
oleh masyarakat, baik yang melalui undangan resmi maupun
pengumuman secara lisan dan tertulis. Hal ini dilakukan dengan
kunjungan ke desa maupun menanyakan langsung kepada orang
desa yang kebetulan datang ke kecamatan
5. PJOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD mempersiapkan
agenda dan susunan acara serta peran masing-masing.
6. Daftar peringkat desa dituliskan pada kertas lebar dengan tulisan
yang besar dan ditempelkan di dinding (atau media lainnya) agar
peserta mudah membacanya.
7. Pendanaan, akomodasi, konsumsi, ATK, daftar hadir dan penataan
ruangan dipersiapkan dengan baik.


Proses MAD Penetapan UsuIan
1. Pembukaan oleh Camat
2. Penjelasan tujuan pertemuan dan hasil yang akan dicapai dalam pertemuan oleh
Ketua MAD.
3. PjOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD menjelaskan agenda acara
secara rinci, sebagai berikut:
a. Presentasi hasil perhitungan Tim Desain.
b. Penentuan kesepakatan jadwal pelaksanaan.
c. Penyusunan kesepakatan tentang sanksi-sanksi yang akan diberlakukan
selama pelaksanaan dilanjutkan dengan pembahasan tata cara perguliran
dan pemilihan wakil MAD sebagai pengawas UPK dalam mengelola dana
PNPM Mandiri Perdesaan.
d. Penyusunan Rencana Kerja dan Tindak Lanjut.
4. PjOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD menegaskan kembali peran tiap-
tiap perwakilan dan tim yang hadir pada MAD penetapan usulan.
5. Presentasi hasil perhitungan Tim Desain (TPU, KPMD, Ketua TPK, Fasilitator
Kecamatan , wakil kelompok pengusul)
a. Menjelaskan proses dan aturan main dalam PNPM Mandiri Perdesaan.
b. Penyampaian hasil perhitungan tim design yang telah dimusyawarahkan
antara masyarakat desa, Fasilitator Kecamatan dan PJOK.
c. Penjelasan secara rinci setiap jenis kegiatan di desa yang dapat didanai oleh
PNPM Mandiri Perdesaan.
d. Peserta memberikan tanggapan / pertanyaan terhadap hasil perhitungan Tim
Desain.
e. Jawaban / klarifikasi pertanyaan oleh Tim Desain.
f. Jika masih ada sisa dana tapi tidak cukup untuk membiayai satu usulan, maka
ada beberapa pilihan:
g. Menambah kegiatan dengan usulan prioritas berikutnya yang sudah
disepakati dengan penambahan biaya swadaya dari desa dan disetujui oleh
MAD.
Menambah volume kegiatan yang telah disepakati.
Sisa dana tidak dialokasikan sehingga dikembalikan ke kas negara.
Kesepakatan dalam penetapan desa dan jenis kegiatannya oleh MAD
penetapan usulan. (Penetapan ini diputuskan berdasarkan kesepakatan

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

27
penentuan peringkat/ranking usulan telah diambil pada pertemuan MAD
prioritas usulan).
6. Penentuan kesepakatan untuk jadwal pelaksanaan.
a. PJOK dan Fasilitator Kecamatan serta BKAD memberi penjelasan tentang
jadwal pelaksanaan setiap desa.
b. Dari penjelasan ini wakil-wakil dari desa mengajukan pertanyaan bila belum
jelas dan memusyawarahkan jadwal pelaksanaan yang terbaik untuk
disepakati.
c. PJOK mengambil kesimpulan dari hasil kesepakatan dan menetapkan Jadwal
pelaksanaan yang di sepakati.
7. Penyusunan kesepakatan tentang sanksi-sanksi yang akan diberlakukan selama
pelaksanaan dilanjutkan dengan pembahasan tata cara perguliran dan pemilihan
wakil MAD sebagai pengawas UPK dalam mengelola dana PNPM Mandiri
Perdesaan.
a. Peserta mendiskusikan sanksi-sanksi yang dapat diberlakukan selama
pelaksanaan, hal ini dilakukan agar terdapat keseimbangan antara hak dan
kewajiban desa dalam melaksanakan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.
b. Hasil diskusi dibacakan oleh sekretaris MAD/BKAD di pleno dan dituliskan
pada kertas lebar oleh Fasilitator Kecamatan.
c. Jika semua telah ditulis diputuskan secara musyawarah sanksi-sanksi yang
dapat dijadikan sanksi terhadap desa di wilayah kecamatan tersebut.
d. Apabila kesepakatan mengenai penentuan sanksi-sanksi tidak bisa dicapai
melalui musyawarah, maka dilakukan pemungutan suara.
e. Peserta membahas dan membuat kesepakatan tata cara perguliran yang
akan diberlakukan dengan tetap berdasarkan prinsip dan prosedur PNPM
Mandiri Perdesaan.
f. Peserta memilih minimal 3 orang wakil MAD sebagai pengawas UPK dalam
mengelola dana PNPM Mandiri Perdesaan.
8. Penyusunan Rencana Kerja dan Tindak Lanjut.
a. PjOK bersama Fasilitator Kecamatan dan BKAD menyampaikan kegiatan-
kegiatan lain yang harus dilakukan setelah MAD penetapan usulan.
b. MAD penetapan usulan menyepakati jadwal tersebut.
c. Kegiatan-kegiatan itu antara lain:
Utusan desa menyebarluaskan Berita Acara MAD penetapan usulan
kepada anggota kelompok di desa. Berita acara ditempelkan pada papan
informasi.
Usulan yang tidak didanai PNPM Mandiri Perdesaan merupakan
rumusan yang telah ditetapkan sebagai renstra kecamatan, diusulkan ke
Forum SKPD dan/atau Musrenbang Kecamatan dan Kabupaten.
Rencana (jadwal) pelaksanaan Musyawarah desa informasi hasil MAD.
Pelatihan Ketua TPK dan PJOK sebelum proses pencairan dana.
UPK menyusun kegiatan.

9. Penutup
a. Pembacaan kembali hasil dan keputusan MAD.
b. Pembacaan dan penandatanganan Berita Acara MAD penetapan usulan oleh
wakil-wakil desa termasuk kesepakatan Sanksi-sanksi dalam pelaksanaan
Program.
c. Pengamat kecamatan menyampaikan hasil pengamatannya selama diskusi
berlangsung.
d. Mengingatkan prinsip tranparansi PNPM Mandiri Perdesaan dan pengelolaan
dana PNPM Mandiri Perdesaan harus bebas dari kebocoran.
e. Jika ada, kotak pos TK PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten dan Propinsi,
juga diinformasikan.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

28
f. Dalam pelaksanaan kegiatan, papan nama harus dipasang di setiap lokasi.
Papan nama ini memberikan informasi tentang: jenis kegiatan, kelompok
penerima, jumlah penerima manfaat, volume kegiatan, biaya kegiatan (PNPM
Mandiri Perdesaan dan swadaya), perkiraan waktu mulai dan waktu selesai.
g. Dibuat Daftar Prioritas Usulan Desa Penerima Bantuan dan Surat Penetapan
Camat.


HaI-haI yang harus Diperhatikan

Setiap usulan jadwal pelaksanaan dan sanksi-sanksi ditulis secara lengkap.
Selalu mengingatkan bahwa prinsip-prinsip dalam PNPM Mandiri Perdesaan adalah
Pemihakan terhadap orang miskin, transparansi, partisipasi, desentralisasi, dan
demokratis, sehingga semua pelaksanaan diskusi ataupun keputusan harus
berdasarkan prinsip-prinsip tersebut.
Segala keputusan dihasilkan dari kesepakatan bersama.



3.8. Musyawarah Desa Informasi HasiI MAD
Musdes ini merupakan musyawarah sosialisasi atau penyebarluasan hasil penetapan
alokasi dana PNPM Mandiri Perdesaan yang diputuskan dalam MAD penetapan
usulan. Musyawarah desa informasi hasil MAD dilaksanakan di desa yang
mendapatkan dana maupun yang tidak mendapatkan dana PNPM Mandiri Perdesaan.

Tujuan : a. Menyosialisasikan kembali hasil penetapan alokasi dana PNPM
Mandiri Perdesaan yang diputuskan dalam MAD penetapan usulan.
b. Bagi desa yang mendapat alokasi dana, tujuan lainnya adalah:
Menetapkan susunan lengkap TPK.
Menyepakati besar insentif pekerja dan tata cara
pembayarannya.
Menyepakati jadwal pelaksaan tiap kegaitan yang akan
dilaksanakan.
Menyepakati sanksi-sanksi yang akan diberlakukan di desa
tersebut.
Menjelaskan mekanisme pengadaan bahan dan alat.
Menyepakati realisasi sumbangan atau kontribusi
masyarakat.
Membentuk tim khusus yang akan memantau pelaksanaan
PNPM Mandiri Perdesaan
Waktu : Setelah pelaksanaan MAD penetapan usulan.

Tempat : Balai desa atau tempat pertemuan lainnya

Peserta :

Wakil dari dusun-dusun, wakil-wakil dari berbagai kelompok di desa
dan masyarakat umum lainnya yang berminat untuk hadir.

Pemandu :

KPMD dibantu oleh Fasilitator Kecamatan, BKAD dan PjOK

Materi : Petunjuk Teknis Operasional
Penjelasan 1 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Sosialisasi
Penjelasan 3 Petunjuk Teknis Operasional tentang musyawarah-
musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan
Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Tugas,

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

29
Tanggung jawab dan Proses Pemilihan Pelaku-pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan.

Alat Poster dan lembar balik PNPM Mandiri Perdesaan
Daftar hadir
Spidol, kertas plano, isolasi/selotape.

Persiapan : 1. Memastikan kembali jadwal dan tempat pelaksanaan Musyawarah
desa informasi hasil MAD dengan Kepala Desa yang bersangkutan
dan Ketua Tim Pelaksana.
2. KPMD memastikan informasi pelaksanaan hasil Musyawarah Desa
Penetapan Usulan telah tersebar di masyarakat, baik melalui
papan-papan informasi atau disampaikan secara lisan dalam
pertemuanpertemuan yang ada di desa.
3. KPMD menuliskan keputusan MAD penetapan usulan pada kertas
lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak orang dari
jarak yang relatif jauh.
4. KPMD menyiapkan agenda pertemuan, notulen dan daftar hadir.
5. KPMD menyiapkan,materi yang akan disampaikan, alat dan tempat
yang akan digunakan. Usahakan tempat duduk ditata menjadi
setengah lingkaran atau seperti huruf U.

Proses Musyawarah Desa Informasi HasiI MAD
1. Pembukaan oleh Kepala Desa atau yang mewakilinya.
2. Penjelasan dan penginformasian pokok-pokok hasil diskusi MAD Penetapan
Usulan, yang meliputi:
a. Usulan desa yang disetujui pendanaannya PNPM Mandiri Perdesaan.
b. Usulan desa yang tidak mendapat pendanaan dari PNPM Mandiri Perdesaan,
ditekankan penyebab utama tidak mendapat bantuan dana. Perlu
disampaikan masih adanya peluang pendanaan terhadap usulan-usulan ini
dengan cara mengikuti mekanisme musrenbang.
c. Susunan pengurus UPK tugas dan tanggung jawabnya dalam PNPM Mandiri
Perdesaan.
d. Kewajiban-kewajiban, sanksi, prosedur harus diketahui oleh:
Kepala Desa
Ketua TPK
Kepala Dusun
Kelompok yang usulannya disetujui.
Warga/masyarakat pemakai sarana dan prasarana.
Kebijakan desa dalam rangka pengendalian pelaksanaan serta
pengembangan kegiatan pada masa yang akan datang.
3. Penjelasan kemungkinan sumber dana lain untuk membiayai usulan yang tidak
dapat didanai oleh PNPM Mandiri Perdesaan.
Bagi desa yang diputuskan tidak didanai, untuk selanjutnya dibuatkan berita acara
musyawarah desa informasi hasil MAD. Sedangkan bagi desa yang diputuskan
didanai melanjutkan pertemuan dengan agenda pertemuan sebagai berikut:
a. Pembentukan Ketua Bidang Kegiatan sebagai bagian TPK (lihat petunjuk V,
PTO tentang Pelaku-Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan).
b. Penetapan honor TPK dan pengalokasian dana operasional desa dalam
tahap pelaksanaan serta uraian tanggung jawab masing-masing,
c. Penetapan insentif pekerja dan cara pembayarannya, (sistem upah harian
atau sistem upah borongan)
d. Kesepakatan tentang jadwal pelaksanaan kegiatan, kemudian secara
rincinya diberikan wewenang kepada TPK untuk menyusun Rencana Kerja
Pelaksanaan

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

30
e. Kesepakatan tentang realisasi sumbangan/swadaya masyarakat.
f. Kesepakatan tentang pengelolaan dan pemeliharaan (Operation &
Maintenance) untuk prasarana/sarana beserta sanksi-sanksinya.
g. Penjelasan kembali prinsipprinsip penting PNPM Mandiri Perdesaan
terutama tentang perlunya keterbukaan dalam pengelolaan kegiatan dan
adanya hak masyarakat untuk melakukan pemantauan. Masyarakat secara
independen dapat melakukan pemantauan atau pengawasan dalam
pelaksanaan kegiatan. Untuk itu masyarakat dapat membentuk tim yang
akan mengawasi proses pelaksanaan kegiatan. Tim pemantau dari
masyarakat ini bersifat sukarela tanpa adanya pembiayaan dari program
untuk lebih menjamin independensi/kemandirian tim itu sendiri. Melalui
musyawarah desa informasi hasil MAD dapat difasilitasi pembentukan tim
pemantau ini.
h. Dibuat Berita Acara musyawarah desa informasi hasil MAD .


3.9. Musyawarah Desa "Pertanggung jawaban"
Musdes ini dimaksudkan untuk menyampaikan laporan pertanggung jawaban
pelaksanaan kegiatan oleh TPK kepada masyarakat. Musyawarah pertanggung
jawaban ini dilakukan secara bertahap minimal dua kali yaitu setelah memanfaatkan
dana PNPM Mandiri Perdesaan tahap pertama dan tahap kedua.

Tujuan : a. Melaporkan realisasi dari rencana kegiatan yang didanai PNPM
Mandiri Perdesaan.
b. Mempertanggung jawabkan semua pengeluaran keuangan yang
digunakan untuk:
Biaya-biaya bahan
Upah/ongkos
Honor
Pinjaman kepada kelompok (ekonomi)
Operasional dan lain-lain.
Mengevaluasi hasil pekerjaannya
c. Memperbaiki hal-hal yang dirasa kurang berjalan baik saat ini.
d. Membuat persiapan pelaksanaan tahap berikutnya.
Waktu : Setelah selesai satu tahap pencairan dana dari UPK ke TPK dan
sebelum pencairan tahap berikutnya. (minimal dilakukan dua kali sesuai
tahap pencairan dana).

Tempat : Balai desa atau tempat pertemuan lainnya.

Peserta :

Wakil dari dusun-dusun, wakil berbagai kelompok di desa,tokoh-tokoh
masyarakat, pelaku-pelaku yang pernah terlibat di dalam PNPM Mandiri
Perdesaan, tim pemantau dari masyarakat serta masyarakat umum
lainnya yang berminat untuk hadir.

Pemandu :

KPMD dibantu oleh Fasilitator Kecamatan , BKAD dan PjOK.
Materi : Petunjuk Teknis Operasional
Penjelasan 3 Petunjuk Teknis Operasional tentang musyawarah-
musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan
Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Tugas,
Tanggung jawab dan Proses Pemilihan Pelaku-pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan.
Proposal kegiatan, gambar desain dan RAB
Laporan perkembangan kegiatan dan penggunaan dana.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

31

Alat Daftar hadir
Spidol, kertas plano, isolasi/selotape, dll.

Persiapan : 1. Memastikan kembali jadwal dan tempat pelaksanaan dengan
Kepala Desa yang bersangkutan dan Ketua Tim Pelaksana.
2. KPMD menyiapkan agenda pertemuan, notulen dan daftar hadir.
3. KPMD memastikan informasi pelaksanaan dan agenda
Musyawarah desa pertanggung jawaban telah tersebar di
masyarakat, baik melalui papan-papan informasi atau disampaikan
secara lisan dalam pertemuanpertemuan yang ada di desa.
4. nformasi penting yang ingin disampaikan telah ditulis pada kertas
lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak orang dari
jarak yang relatif jauh.
5. KPMD membantu tim pelaksana kegiatan menyiapkan, materi yang
akan disampaikan, alat dan tempat yang akan digunakan.
Usahakan tempat duduk ditata menjadi setengah lingkaran atau
seperti huruf U.

Proses Musdes Pertanggung jawaban
1. Pembukaan oleh Kepala Desa atau yang mewakilinya.
2. Penyampaian dan penjelasan tugas yang telah dilakukan oleh pelaku-pelaku yang
terlibat dan kendala-kendala yang dihadapi.
3. Penyampaian dan penjelasan oleh TPK, mengenai:
a. Hasil pekerjaan/status kegiatan yang telah dilaksanakan.
b. Kendala-kendala yang dihadapi selama pelaksanaan serta alternatif
pemecahan yang telah diambil.
c. Penggunaan dana administrasi dan operasional kegiatan.
4. Penyampaian hasil pemantauan oleh Tim Pemantau dari masyarakat dilanjutkan
dengan tanya jawab dan klarifikasi (penjelasan).
5. Bila ditemukan masalah atau beberapa hal yang belum jelas, disepakati rencana
tindak lanjut penyelesaian sebelum memulai tahap pencairan berikutnya.
6. Bila pertanggung jawaban diterima forum, maka disepakati rencana kegiatan
pelaksanaan berikutnya.
7. Membuat berita acara hasil musyawarah
8. Penutup.

3.10. Musyawarah Desa "Serah Terima"
MDST merupakan bentuk pertanggung jawaban seluruh pengelolaan dana dan
kegiatan oleh TPK kepada masyarakat setelah pekerjaan/kegiatan selesai
dilaksanakan.

Tujuan : a. Melaporkan realisasi dari rencana kegiatan yang didanai PNPM
Mandiri Perdesaan.
b. Mempertanggung jawabkan semua pengeluaran keuangan yang
digunakan untuk:
Biaya-biaya bahan.
Upah/ongkos
Honor
Pinjaman kepada kelompok (ekonomi)
Operasional dan lain-lain.
Mengevaluasi hasil pekerjaannya
c. Menyerahkan hasil pekerjaan serta segala sesuatu yang berkaitan
dengan pekerjaan tersebut kepada masyarakat.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

32
Waktu : Setelah pelaksanaan semua kegiatan mencapai 100%.

Tempat : Balai desa atau tempat pertemuan lainnya.

Peserta :

Wakil dari dusun-dusun, wakil-wakil dari berbagai kelompok di desa,
tokoh-tokoh masyarakat, pelaku-pelaku yang pernah dan/atau masih
terlibat di dalam PNPM Mandiri Perdesaan, Tim Pemantau dari
Masyarakat serta masyarakat umum lainnya yang berminat untuk hadir.

Pemandu :

KPMD dibantu oleh Fasilitator Kecamatan , BKAD dan PjOK.

Materi : Petunjuk Teknis Operacional
Penjelasan 3 Petunjuk Teknis Operasional tentang musyawarah-
musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan
Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional mengenai Tugas,
Tanggung jawab dan Proses Pemilihan Pelaku-pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan.
Proposal kegiatan.
Laporan akhir kegiatan dan penggunaan dana.

Alat Daftar hadir.
Spidol, kertas plano, isolasi/selotape, dll.

Persiapan : 1. Memastikan kembali jadwal dan tempat pelaksanaan dengan
Kepala Desa yang bersangkutan dan Ketua Tim Pelaksana.
2. KPMD menyiapkan agenda pertemuan, notulen dan daftar hadir.
3. KPMD memastikan informasi pelaksanaan dan agenda
Musyawarah desa serah terima telah tersebar di masyarakat, baik
melalui papan-papan informasi atau disampaikan secara lisan
dalam pertemuan-pertemuan yang ada di desa.
4. nformasi penting yang ingin disampaikan telah ditulis pada kertas
lebar dengan huruf besar dan mudah dibaca oleh banyak orang dari
jarak yang relatif jauh.
5. KPMD membantu Tim Pelaksana Kegiatan menyiapkan,materi yang
akan disampaikan, alat dan tempat yang akan digunakan.
Usahakan tempat duduk ditata menjadi setengah lingkaran atau
seperti huruf U.

Proses Musdes Serah Terima
1. Pembukaan oleh Kepala Desa atau yang mewakilinya.
2. Penyampaian dan penjelasan tugas yang telah dilakukan oleh pelaku-pelaku yang
terlibat dan kendala-kendala yang dihadapi.
3. Penyampaian dan penjelasan serta pertanggung jawaban oleh TPK kepada
masyarakat, mengenai:
a. Hasil pekerjaan/status kegiatan yang telah dilaksanakan.
b. Kendala-kendala yang dihadapi selama pelaksanaan serta pemecahannya.
c. Penggunaan dana administrasi dan operasional
4. Penyampaian hasil pemantauan oleh Tim Pemantau dari masyarakat dilanjutkan
dengan Tanya jawab dan klarifikasi (penjelasan).
5. Bila ditemukan masalah atau beberapa hal yang belum jelas, disepakati rencana
tindak lanjut penyelesaian sebelum dilakukan serah terima kegiatan. Bila forum
menerima pertanggunjawaban tersebut, maka dilakukan penyerahan semua hasil
pekerjaan dari Tim Pelaksana kepada masyarakat yang diwakili tokoh masyarakat
dan kepala desa atau yang mewakilinya.

Penjelasan III: Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan

33
6. Pembahasan rencana pemeliharaan termasuk membentuk tim pemelihara yang
akan mengkoordinasikan pemeliharaan kegiatan-kegiatan.
7. Membuat Berita Acara hasil musyawarah
8. Penutup.

3.11. Musyawarah-Musyawarah Lainnya
Jika dipandang perlu, seperti; untuk penanganan masalah, pembahasan hal-hal
tertentu yang diperlukan dan lain-lainnya, maka dapat diselenggarakan musyawarah
di luar seperti tersebut di atas, baik di tingkat kelompok/dusun, desa atau antar desa.
Penyelenggaraan pertemuan-pertemuan lainnya dapat difasilitasi oleh KPMD, PL
Fasilitator Kecamatan , BKAD, PjOK atau lainnya dan hasil musyawarah dalam
pertemuan tersebut dituangkan dalam berita acara. Penyelenggaraan pertemuan
lainnya ini harus diselenggarakan secara terbuka dan melibatkan peran serta
masyarakat.



































(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN IV
JENIS DAN PROSES PELAKSANAAN
BIDANG KEGIATAN PNPM MANDIRI PERDESAAN


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 1
PENJELASAN IV

JENIS DAN PROSES PELAKSANAAN BIDANG KEGIATAN


Lingkup Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan pada prinsipnya adalah peningkatan
kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin perdesaan secara mandiri melalui
peningkatan partisipasi masyarakat (terutama masyarakat miskin, kelompok perempuan dan
komunitas/kelompok yang terpinggirkan), meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat
dan pemerintah, meningkatnya modal sosial masyarakat serta inovasi dan pemanfaatan
teknologi tepat guna.

Usulan kegiatan yang dapat didanai dalam PNPM Mandiri Perdesaan dapat diklasifikasikan
atas 4 jenis kegiatan yang meliputi : (1) kegiatan pembangunan atau perbaikan prasarana
sarana dasar yang dapat memberikan manfaat jangka pendek maupun jangka panjang
secara ekonomi bagi masyarakat miskin atau rumah tangga miskin, (2) peningkatan bidang
pelayanan kesehatan dan pendidikan termasuk kegiatan pelatihan pengembangan
ketrampilan masyarakat, (3) Kegiatan peningkatan kapasitas/ketrampilan kelompok usaha
ekonomi terutama bagi kelompok usaha yang berkaitan dengan produksi berbasis sumber
daya lokal. 4) Penambahan permodalan Simpan Pinjam untuk kelompok Perempuan (SPP)

Penentuan skala prioritas pendanaan kegiatan dilakukan masyarakat dalam musyawarah
antar desa dengan menetapkan sejumlah kriteria yang meliputi aspek manfaat, berdampak
terhadap peningkatan kesejateraan, dapat dikerjakan masyarakat, didukung sumber daya
yang ada dan upaya pelestarian kegiatan.

Prasarana dan sarana yang dipilih harus mendukung pengembangan kegiatan ekonomi
masyarakat atau peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan dalam bidang
kesehatan dan pendidikan. PNPM Mandiri Perdesaan tidak diperbolehkan untuk membiayai
beberapa kegiatan sebagaimana dicantumkan dalam daftar larangan (negative list).
Pelarangan ini didasarkan atas komitmen Pemerintah Repuplik ndonesia untuk mendukung
pelestarian lingkungan hidup, perlindungan hak anak, dan lebih memberikan perhatian
kepada masyarakat umum terutama masyarakat miskin.


Berikut penjelasan secara lengkap tentang daftar larangan dimaksud :
a. Pembiayaan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan militer atau angkatan bersenjata,
pembiayaan kegiatan politik praktis/partai politik,
Kegiatan ini dilarang dengan alasan bahwa hanya menguntungkan kelompok tertentu
saja dan jika dilakukan masyarakat umum dapat melanggar hukum dan mengganggu
keamanan umum.

b. Pembangunan/rehabilitasi bangunan kantor pemerintah dan tempat Ibadah,
Pembangunan kantor pemerintah adalah tanggung jawab Pemerintah, sedangkan
tempat ibadah terbatas hanya untuk golongan tertentu saja atau kelompok agama
tertentu saja, padahal dalam satu desa dan kecamatan terdiri dari beberapa pemeluk
agama. Sasaran PNPM adalah seluruh penduduk yang ada di desa atau kecamatan
lokasi program.

c. Pembelian chainsaw, senjata, bahan peledak, asbes dan bahan-bahan lain yang
merusak lingkungan (pestisida, herbisida, obat-obat terlarang dan lain-lain.),
PNPM Mandiri Perdesaan mendukung pelestarian alam dan melarang pembelian alat
dan bahan yang dapat merusak alam. Seperti chainshaw biasa dipakai untuk menebang
pohon di hutan, bahan peledak alam mengganggu keamanan dan kerusakan lingkungan,
asbes dapat mengganggu kesehatan antara lain menjadi penyebab kanker paru-paru.
Pestisida serta sejenisnya dapat merusak ekosistem dan kesehatan manusia.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 2
d. Pembelian kapal ikan yang berbobot di atas 10 ton dan perlengkapannya,
Kapal dengan kapasitas besar cenderung melakukan penangkapan ikan secara besar-
besaran. Perilaku ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut. Alat
penangkapan ikan yang sering dipakai pada kapal berkapasitas besar kebanyakan
menggunakan pukat harimau. Alat ini sangat merusak biota laut terutama terumbu
karang yang menjadi sumber makanann ikan. Karena dampak dari pengadaan kapal ini
cenderung merusak lingkungan maka PNPM Mandiri Perdesaan melarang untuk
membiayai pembelian kapal jenis ini.

e. Pembiayaan gaji pegawai negeri,
Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM Mandiri Perdesaan tidak boleh untuk
membiayai gaji/honor Pegawai Negeri karena mereka sudah mendapatkan alokasi gaji
dari pemerintah.

f. Pembiayaan kegiatan yang memperkerjakan anak-anak di bawah usia kerja,
Pemerintah ndonesia turut meratifikasi konvensi hak anak PBB. Batasan anak
berdasarkan Undang-Undang Perlindungan anak adalah di bawah 18 tahun. Oleh karena
itu PNPM Mandiri Perdesaan dilarang dengan tegas mendanai kegiatan-kegiatan yang
mempekerjakan anak-anak.

g. Kegiatan yang berkaitan dengan produksi, penyimpanan, atau penjualan barang-barang
yang mengandung tembakau,
PNPM Mandiri Perdesaan dan Pemerintah ndonesia turut mendukung kesepakatan
internasional untuk memerangi zat adiktif (zat yang menimbulkan kecanduan dan
merusak kesehatan) seperti tembakau, narkotika, dan obat terlarang lainnya. Sehingga
PNPM Mandiri Perdesaan tidak membiayai kegiatan apapun juga yang berkaitan dengan
tembakau secara khusus dan zat adiktif lainnya.

h. Kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas perlindungan alam pada lokasi yang telah
ditetapkan sebagai cagar alam, kecuali ada ijin tertulis dari instansi yang mengelola
lokasi tersebut,
PNPM Mandiri Perdesaan tidak membiayai kegiatan di lokasi perlindungan alam karena
turut mendukung pelestarian alam sebagaimana yang telah di atur di dalam Undang-
Undang.

i. Kegiatan pengolahan tambang atau pengambilan terumbu karang,
PNPM Mandiri Perdesaan melarang untuk membiayai pengolahan tambang dan
pengambilan terumbu karang karena kegiatan ini cenderung merusak alam. Kegiatan
penambangan yang dilakukan oleh masyarakat cenderung tanpa memperhatikan
dampak dari kerusakan alam tanpa rencana perbaikan atas kerusakan lingkungan yang
terjadi.

j. Kegiatan yang berhubungan pengelolaan sumber daya air dari sungai yang mengalir dari
atau menuju negara lain,
Pengelolaan sumber daya air sungai yang menuju ke negara lain memerlukan
persyaratan tertentu yang cukup sulit untuk dikerjakan atau dipenuhi oleh masyarakat.
Persyaratan- persyaratan ini diberlakukan agar tidak merugikan warga negara tetangga
atau untuk menghindari keluhan dari negara tetangga.

k. Kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan jalur sungai,
Pemindahan jalur sungai memerlukan perencanaan yang komprehensif. Perencanaan
yang matang ini dimaksudkan untuk mengeliminir dampak yang akan terjadi.
Perencanaan dan analisis dampak lingkungan memerlukan ketrampilan-ketrampilan
khusus. Mandiri Perdesaan melarang masyarakat untuk melakukan kegiatan ini
sekaligus untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan yang lebih parah.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 3
l. Kegiatan yang berkaitan dengan reklamasi daratan yang luasnya lebih dari 50 hektar
(Ha),
Kegiatan reklamasi daratan yang luasnya lebih dari 50 ha dapat berdampak pada
perubahan ekosistem. Karena dampaknya yang sangat luas dan rumit, maka perlu ada
perencanaan dan analisis dampak lingkungan yang sangat cermat. Mengingat tingkat
kesulitannya cukup tinggi PNPM Mandiri Perdesaan tidak mengijinkan masyarakat untuk
mengajukan usulan ini

m. Pembangunan jaringan irigasi baru yang luasnya lebih dari 50 Ha
Kegiatan ini memerlukan perencanaan yang memiliki tingkat ketelitian cukup tinggi.
Tanpa perencanaan yang baik risiko gagal sangat tinggi, apalagi dapat berdampak pada
kerusakan lingkungan yang bisa mengganggu kegiatan perkonomian suatu wilayah.
Mengingat tingkat kesulitannya cukup tinggi PNPM Mandiri Perdesaan melarang
masyarakat untuk mengajukan kegiatan ini.

n. Kegiatan pembangunan bendungan atau penampungan air dengan kapasitas besar,
lebih dari 10.000 meter kubik. Kegiatan ini memakan biaya yang sangat besar yang
mungkin melebihi bantuan PNPM Mandiri Perdesaan per kecamatan. Kapasitas sebesar
ini memerlukan lahan yang cukup luas serta memungkinkan ada proses ganti rugi lahan.
Kegiatan ini sudah memerlukan teknis khusus, tenaga khusus, dan perencanaan
kegiatan yang detail. Hal ini dimungkinkan sangat sulit dapat dilakukan oleh masyarakat.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 4
4.1. Bidang Prasarana

4.1.1. Dasar Pemikiran
Prasarana dan sarana di ndonesia dibutuhkan oleh masyarakat untuk
membuka akses informasi dan pemasaran terutama di daerah
tertinggal/terpencil. Meskipun demikian eksistensi program bukan hanya
sebatas membangun program fisik, namun lebih dimaksudkan menyiapkan
tatanan sosial masyarakat yang lebih baik sekaligus memberdayakannya agar
mampu mengakses manfaat program fisik secara optimal bagi perbaikan
pendidikan, kesehatan dan ekonom.

Penentuan skala prioritas pendanaan kegiatan dilakukan masyarakat dalam
musyawarah antar desa dengan mengacu pada sejumlah kriteria yang meliputi:
a. Aspek teknis,
b. Manfaat,
c. Keberpihakan kepada rumah tangga miskin,
d. Mendesak untuk dilaksanakan,
e. Didukung oleh sumber daya, serta
f. Upaya pelestarian kegiatan.


4.1.2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Secara umum tujuan pembangunan prasarana dan sarana adalah
pengembangan kemandirian masyarakat melalui peningkatan kapasitas
masyarakat dan kelembagaan dalam penyelenggaraan pembangunan desa
dan atau antar desa, serta peningkatan penyediaan prasarana dan sarana
sosial ekonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai bagian dari
upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan.

b. Tujuan Khusus
Membangun prasarana pendukung bagi desa-desa yang membutuhkan,
diperuntukkan :
Menciptakan lapangan kerja di desa, terutama bagi rumah tangga
miskin.
Meningkatkan kepedulian, perhatian/dukungan dan keikutsertaan
masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan.
Meningkatkan kualitas kegiatan dengan penggunaan teknologi
sederhana.
Meningkatkan kapasitas Tim Pengelola Kegiatan dan atau Tim
Pelaksana Pemeliharaan Prasarana, dalam pengelolaan kegiatan.
Meningkatkan keterampilan masyarakat desa dalam perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian, monitoring dan pemeliharaan prasarana,
dalam teknis pelaksanaan.

4.1.3. Sasaran dan Jenis Kegiatan
a. Sasaran Program
- Peningkatan Pendapatan Masyarakat
Peningkatan pendapatan masyarakat dalam kegiatan prasarana
dilakukan dengan memberi kesempatan kerja bagi masyarakat namun
memprioritaskan bagi rumah tangga miskin :
1) Pada tahap persiapan pelaksanaan kegiatan, dilakukan identifikasi
dan pendaftaran calon tenaga kerja dengan menggunakan Form
PTO Pendaftaran Tenaga Kerja (Form A) yang berfungsi untuk
memilah status calon tenaga kerja. Sebanyak mungkin melibatkan
tenaga kerja desa setempat untuk ikut partisipasi sehingga akan


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 5
memperoleh upah dari pekerjaan maupun upah pengumpulan
bahan.

Tenaga kerja dari luar hanya diperbolehkan apabila
keterampilan yang dibutuhkan tidak tersedia di desa.

2) Pencatatan rumah tangga miskin yang aktif dalam kegiatan
prasarana dan pendapatan yang diterima dihitung berdasar jumlah
Hari Orang Kerja (HOK), dan jumlah angkatan kerja.
3) Pengutamaan penggunaan bahan lokal. Kemungkinan kualitas
bahan lokal yang ada tidak sebagus bahan dari luar, tetapi
sepanjang masih memenuhi standar teknis, maka bahan lokal
tersebut perlu dimanfaatkan.


Bahan yang diambil setempat akan memberi kesempatan kerja
bagi masyarakat setempat dan identifikasi sumber bahan untuk
kegiatan desa yang akan datang, termasuk pemeliharaan.
Dengan penggunaan tenaga dan bahan lokal, uang tetap
berputar di dalam desa sendiri, dengan harapan jumlah modal
yang ada di desa meningkat.


- Peningkatan Partisipasi Masyarakat DaIam Kegiatan Prasarana
Peningkatan partisipasi masyarakat pada kegiatan prasarana dan
sarana bagi pelaku PNPM Mandiri Perdesaan Perdesaan, harus
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1) Metode perencanaan dan pelaksanaan kegiatan harus difokuskan
untuk menumbuhkan rasa memiliki oleh masyarakat yaitu :
i. Meningkatkan keahlian masyarakat terutama dalam bidang
teknis dan administrasi kegiatan prasarana
ii. Mengefektifkan lembaga-lembaga yang ada di desa, baik
formal maupun informal.
iii. Memperoleh kualitas desain dan pekerjaan yang sesuai
dengan standar teknis dan biaya yang efisien
2) Usulan didasarkan pada pandangan masa depan yang dihasilkan
secara musyawarah, dengan mengutamakan manfaat bagi rumah
tangga miskin.
3) Kegiatan yang dibangun tidak boleh ada dampak yang merusak
lingkungan dan merugikan masyarakat.
4) Sejauh mungkin memanfaatkan potensi sumber daya lokal, baik
sumber daya alam maupun sumber daya manusia setempat.
5) Tenaga kerja yang ikut partisipasi dalam kegiatan, dibayar insentif
secara penuh.


Upah tenaga kerja tidak boleh dipotong dengan alasan
apapun. Setiap pekerja harus menerima upah secara utuh,
kemudian setelah itu dapat disumbangkan.


6) Sistem perencanaan dan pengelolaan dibuat sederhana, agar
mudah dimengerti, mudah dikelola masyarakat sendiri, dan mudah
direvisi dengan alasan yang kuat.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 6
7) Segala informasi tentang perencanaan dan pelaksanaan kegiatan
diumumkan dan disampaikan kepada masyarakat seluas-luasnya.
8) Pemeliharaan prasarana dan sarana yang telah dibangun menjadi
tanggung jawab masyarakat bersama pemerintah desa.
9) Masyarakat harus dilatih untuk memelihara prasarana dan sarana
yang telah dibangun.
10) Harus terjadi alih teknologi dari FT-Kec kepada masyarakat baik
dalam perencanaan, pelaksanaan, dan cara pengelolaan
pemeliharaan, melalui pelatihan dengan cara bekerja sambil
belajar.

- Peningkatan Pemanfaatan TeknoIogi
Dalam penyusunan perencanaan teknis prasarana, diperlukan
pemilihan teknologi yang tepat, meliputi aspek teknik dan dampak
lingkungan. Dalam pemilihan teknologi yang akan digunakan, FT-Kec,
KPMD dan masyarakat harus memperhatikan hal-hal di bawah ini:
1) Teknologi dipilih yang sederhana, supaya dapat dikerjakan oleh
masyarakat setempat sehingga tidak perlu mendatangkan ahli atau
peralatan dari luar. Tim Pengelola Kegiatan juga akan mampu
mengerjakan kegiatan serupa apabila PNPM Mandiri Perdesaan
Perdesaan sudah selesai.


Tidak boleh membangun prasarana di luar kemampuan Tim
Pengelola Kegiatan (TPK) dan masyarakat. Yaitu semua jenis
prasarana yang membutuhkan ketelitian dalam perencanaan atau
teknologi yang canggih dan memiliki risiko kegagalan konstruksi
yang tinggi.


2) Menggunakan teknologi yang tepat, sehingga menghasilkan
prasarana yang bermutu yang dapat memberi manfaat yang cukup
berimbang dengan pengeluaran biaya.
3) Menggunakan teknologi dengan biaya murah tapi awet, sehingga
masyarakat dapat membangun prasarana secara optimal, mengingat
kebutuhan prasarana perdesaan pada umumnya lebih banyak
dibandingkan jumlah bantuan langsung masyarakat (BLM). Harga
bahan harus dicari yang paling rendah yang kualitasnya terpenuhi.
Caranya mengutamakan bahan lokal yang dikumpulkan tenaga lokal
yang pembayarannya dengan upah (HOK), dan jika terpaksa harus
membeli bahan dari pemasok maka dilakukan melalui mekanisme
pelelangan yang dilakukan secara partisipatif, transparan untuk
menghindari kolusi, korupsi serta nepotisme.


Harus diingat bahwa prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat
dan dibangun untuk kepentingan masyarakat sendiri, maka biaya
yang diberikan kepada tenaga kerja dianggap sebagai
perangsang atau insentif, bukan upah buruh.


4) Pada prinsipnya TPK berhak memilih teknologi yang dipakai asalkan
telah dinilai layak secara teknis oleh FT-Kec dan FT-Kab. Hak
memilih tersebut hanya dapat dibatasi apabila pilihannya melanggar
aturan atau kriteria.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 7
5) TPK diharapkan tidak terpaku pada standar teknis. TPK berhak
untuk memilih teknologi lain (non-standar) apabila masih sesuai
dengan kriteria PNPM Mandiri Perdesaan, yaitu manfaat sosial-
ekonomi, kelompok sasaran, ganti rugi, dampak lingkungan, dan
kelayakan teknis dan biaya. TPK boleh mengambil teknologi yang
sudah terbukti berhasil di tempat lain, walaupun belum biasa dipakai
disekitarnya.


Pada prinsipnya tidak ada larangan mutlak untuk tidak selalu
mengikuti petunjuk Teknis. Larangan pada umumnya diberikan
untuk prasarana yang dianggap kurang sesuai dengan kriteria,
terlalu mewah, atau di luar kemampuan desa untuk
melaksanakan.


6) Terbuka menerima masukan teknis dari berbagai sumber, baik dari
instansi terkait, lingkungan PNPM Mandiri Perdesaan atau dari luar,
sepanjang memenuhi kriteria PNPM Mandiri Perdesaan.

- Peningkatan Kapasitas Masyarakat
Peningkatan kapasitas masyarakat dilakukan pada setiap tahapan
kegiatan (perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan):
1) Tahap perencanaan/desain
Pada tahap ini dilakukan penguatan kapasitas kepada TPK, KPMD
dan masya-rakat yang berminat, meliputi: cara melakukan survei,
perencanaan dan penyusunan RAB.
2) Tahap pelaksanaan
Tahap ini dilakukan penguatan kapasitas kepada TPK, ketua
kelompok, tokoh masyarakat dan masyarakat yang terlibat pekerjaan
meliputi : cara melaksanakan pekerjaan sesuai standar teknis yang
ditentukan (trial),
3) Tahap pemeliharaan
Pada tahap ini dilakukan penguatan kepada Tim Pengelola
Pemeliharaan Prasarana (TP3) tentang organisasi dan teknis
pemeliharaan.

b. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang diusulkan untuk bidang prasarana dan sarana bersifat open
menu. Artinya masyarakat dapat mengusulkan apa saja sejauh usulan
tersebut tidak termasuk dalam negative list. Semua usulan masyarakat
semestinya sesuai dengan tujuan bidang prasarana dan sarana PNPM
Mandiri Perdesaan, yaitu benar-benar dibutuhkan masyarakat, diyakini
dapat mendukung peningkatan ekonomi, derajat kesehatan, pendidikan dan
peningkatan kapasitas masyarakat, serta memperhitungkan aspek
keberlanjutan (hasil berkualitas, bermanfaat dan dipelihara).

Contoh jenis prasarana dan sarana yang dapat didanai oleh PNPM Mandiri
Perdesaan, yaitu:
Jalan, antara lain:
1) Konstruksi perkerasan Telford
2) Konstruksi perkerasan Telasah
3) Konstruksi perkerasan Rabat Beton
4) Konstruksi perkerasan Sirtu
5) Tanah (pembukaan badan jalan)
6) Pengaspalan


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 8
7) Saluran Drainase
Jembatan, antara lain:
1) Jembatan Gantung
2) Jembatan Gelagar Baja
3) Jembatan Gelagar Kayu
4) Jembatan Beton
5) Jembatan Lengkung Batu atau Beton
6) Jembatan Banjir limpas
Pasar, Tempat Pelelangan kan
Air Bersih, antara lain:
1) PAH (Penampungan Air Hujan)
2) PMA (Perlindungan Mata Air)
3) Sumur bor
4) Sumur gali
5) Penjernihan air
6) Perpipaan
MCK (Mandi, Cuci dan Kakus)
Tambatan Perahu
Rakit Penyeberangan
Listrik
Pompa air
rigasi, antara lain:
1) Bendung
2) Saluran rigasi
3) Waduk
4) Tanggul Penahan Banjir
Pembangunan atau rehabilitasi gedung sekolah, posyandu, dan TK
TPT (Tembok Penahan Tanah)
TP (Tempat Pelelangan kan)


4.1.4. Mekanisme PengeIoIaan Kegiatan
Langkah-langkah proses pelaksanaan kegiatan prasarana dan sarana secara
garis besar meliputi penyusunan rencana kegiatan, persiapan pelaksanaan, dan
pelaksanaan.

a. Perencanaan Kegiatan Prasarana
Proses penyusunan rencana kegiatan prasarana dan sarana dimulai dari
persiapan survei hingga pembuatan RAB.

FT-Kab harus mengendalikan waktu yang diperlukan untuk proses
perencanaan ini. Pelaku utama dalam proses ini adalah TPK, KPMD,
Pendamping Lokal dan masyarakat yang berminat untuk belajar, dibantu
oleh FT-Kec.

Penyusunan perencanaan kegiatan prasarana dimulai dari usulan desa
yang mendapat ranking dan setelah mendapatkan nilai RAB yang pasti,
dilanjutkan ke usulan ranking berikutnya. Demikian seterusnya dan berhenti
bila dana bantuan yang dialokasikan untuk kegiatan per kecamatan, sudah
teralokasikan semua.

- Survei dan Pengukuran
Sebelum melakukan survei, KPMD, TPK/TPU dan masyarakat serta
Kades/BPD yang berminat, diberkan pelatihan dan penjelasan
mengenai:


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 9
1) Jadwal dan rencana survei.
2) Cara pengunaan format survei dan pengukuran antara lain SAP,
VAP, MAP, Lembar Perhitungan (take-off sheet), dan sketsa
lapangan.
3) Pengenalan peralatan yang dibutuhkan seperti patok, palu, meteran,
slang, clinometer, kompas, bak ukur, format, alat tulis.
4) Cara penggunaan alat yang akan digunakan antara lain clinometer,
kompas, dan leveling.
5) Pembagian tugas personil yang akan turut dalam survei.

Setelah mendapat pelatihan dan penjelasan, acara dilanjutkan
peninjauan lapangan untuk:
1) Mengamati kondisi lingkungan.
2) Memilih tata letak konstruksi di lapangan.
3) Melihat tingkat kebutuhan pelayanan.
4) Jika ternyata lokasi tidak layak secara teknis, maka dicari alternatif
yang layak. Apabila tidak ada alternatif yang layak, maka usulan ini
dianggap batal/gugur.

Hasil tinjauan lapangan pra survei digunakan untuk memilih jenis
konstruksi dengan prinsip sebagai berikut:
1) Sedapat mungkin konstruksinya sederhana dan harganya murah.
2) Sebanyak mungkin menggunakan tenaga dan material lokal.
3) Dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat dengan biaya
murah.
4) Kuat dan tahan lama.
5) Mudah dalam pengadaan/mobilisasi material, alat, dan tenaga.
6) Cocok dengan keadaan setempat.
7) Dapat memberi manfaat yang diinginkan.

Setelah konstruksi dipilih dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip di
atas maka pengukuran dan survei detail dapat dilakukan. Hasil
pengukuran dimasukan ke dalam format survei, seperti survei antar
patok (SAP), volume antar patok (VAP) dan Lembar Perhitungan
Volume (Take Off Sheet) dan mandays antar patok (MAP).

Hal-hal lain yang perlu disurvei karena akan berkaitan dengan desain
dan pelaksanaan adalah gambaran lokasi dan lingkungan di sekitar
prasarana seperti pemukiman, sawah, jalan, sungai, hutan.
1) Situasi lokasi dan tata letak prasarana meliputi ukuran letak
prasarana, ketinggian, ukuran letak dengan bangunan lain, dan
sebagainya.
2) Kondisi lingkungan calon prasarana seperti jenis tanah, kedalaman
tanah keras, topografi, air tanah, saluran air, material yang ada.
3) Akses masuk untuk mengangkut material dan peralatan.

- Desain
Desain dilakukan berdasarkan hasil survei dan pengukuran serta
tinjauan lapangan sebelum pra survei. Hal pokok dalam desain meliputi:
1) Menentukan jenis konstruksi dan klasifikasinya
2) Menghitung dimensi konstruksi sesuai dengan klasifikasinya.
3) Menentukan spesifikasi teknis dan dimensi (ukuran) sesuai dengan
kebutuhan seperti; kekuatan, ukuran, dan sebagainya.
4) Membuat sketsa hasil perhitungan.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 10

Batasan-batasan atau kaidah teknis desain yang perlu untuk
diperhatikan:
1. Jalan
x Lebar perkerasan jalan standar 3 m. Minimal 2,5 m. Kemiringan
punggung jalan minimal 3%.
x Lebar bahu jalan standar 1 m. Minimal 0,5 m. Kemiringan bahu
jalan minimal 5-6%.
x Lebar selokan minimal 0,5 m. Kedalaman selokan min. 0,5 m.
x Diameter gorong-gorong minimal 40 cm.
Jadi total lebar jalan daerah nomal, minimal = 4,0 m


2. Jembatan
x Panjang jembatan gelagar besi lantai kayu per rentang (span)
maksimal 16 m, karena sulit dalam pengawasan sambungan.
x Panjang bentang jembatan beton (monolit & komposit) total
maksimal 6 m, karena sulit dalam pengawasan mutu beton dan
kualitas pondasi.
x Jembatan beton pra tekan tidak boleh dipergunakan karena sulit
dalam pengawasan pelaksanaan.
Bentang adalah merupakan lebar keseluruhan, sedang Span
adalah merupakan lebar bagian dari bentang


3. Air Bersih Sumur Dalam (Sumur Bor)
x Harus ada data tentang sumber air di daerah yang bersangkutan
dari dinas terkait
x Terdapat informasi debit air yang mencukupi pemanfaat secara
kontinyu dari hasil pengukuran peralatan yang dapat
dipertanggungjawabkan
x Jenis lapisan tanah dan kedalaman sumber air, berkaitan dengan
kelayakan pengeboran
x Biaya yang berkaitan hal tersebut di atas menjadi tanggung
jawab masyarakat.



- Gambar
Gambar yang harus dibuat ada beberapa macam yaitu :
1) Peta desa yang menunjukkan letak prasarana, dilengkapi dengan
arah mata angin dan tata guna tanah, sehingga dapat menunjukkan
posisi prasarana terhadap lingkungan makro.
2) Peta situasi yang menunjukkan denah/lay-out prasarana, dilengkapi
dengan arah mata angin dan ukuran pokok prasarana, jarak
terhadap patokan ukur, dan tata guna lahan sekitar prasarana,
sehingga dapat menunjukkan posisi prasarana terhadap lingkungan
mikro.
3) Gambar teknik meliputi gambar bangunan induk dan bangunan
pelengkap yang masing-masing terdiri dari gambar tampak,
potongan, dan detail. Gambar teknik harus dilengkapi dengan arah
mata angin (untuk tampak atas), detail ukuran, jenis bahan, dan
spesifikasi khusus (misal; perbandingan campuran beton), dan
kondisi existing.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 11
4) Gambar tipikal dipakai biIa konstruksi yang akan dibangun
bentuknya sama pada sebagian atau keseluruhan pekerjaan.
5) Gambar teknik dan gambar tipikal harus dapat dipakai sebagai
acuan dan petunjuk yang jelas dalam pelaksanaan di lapangan.

Gambar tidak harus dibuat dengan bentuk standar dengan
menggunakan mesin gambar dan juru gambar. Gambar lebih baik
sederhana namun jelas serta mudah dimengerti.

- Perhitungan Pekerjaan
Pekerjaan dihitung berdasarkan gambar yang telah dibuat dan hasil
survei, dengan langkah sebagai berikut:
1) Menghitung volume pekerjaan menurut jenisnya (misal: kubikasi
pasangan batu, kubikasi galian tanah, dan sebagainya).
2) Menghitung kebutuhan bahan, tenaga, dan alat, setiap satuan jenis
pekerjaan. Hasil perhitungan ini kemudian digunakan sebagai dasar
untuk menghitung kebutuhan bahan, tenaga, dan alat untuk setiap
jenis pekerjaan dan seluruh pekerjaan.
3) Menghitung waktu pelaksanaan.
4) Menghitung penerima manfaat. Selama proses pembuatan Desain
dan RAB, KPMD harus membahas bersama masyarakat siapa saja
penerima manfaat, pemakai, pengguna dari prasarana yang akan di
bangun, dibuatkan daftar warga desa sebagai kelompok penerima
manfaat.
5) Jumlah warga desa dan warga desa lain yang memanfaatkan
6) prasarana dihitung. Dalam proposal informasi penerima manfaat ini
harus disertakan.

FT-Kec mengisi Form PTO - Penanganan Masalah Dampak Negatif
Lingkungan, dalam pengisian format ini, peran KPMD dan TPK
diharapkan sebesar mungkin. Sebaiknya mereka dilatih untuk mengisi
blangko, dan FT-Kec membantu dengan memberi umpan balik dan bila
perlu dengan pertanyaan yang sedikit memancing pemilihan masalah
yang paling rawan dan paling sering muncul.

Format Dampak Lingkungan diisi sebagai bagian inti dari desain yang
masuk dalam paket Surat Perjanjian. Perlu menjadi perhatian bahwa
dampak lingkungan merupakan bagian penting dalam pemeriksaan
desain dan saat kunjungan ke lapangan oleh FT-Kab, Konsultan
Manajemen Provinsi, Konsultan Nasional, Tim Koordinasi PNPM
Mandiri Perdesaan serta Misi Bank Dunia.

Perlakuan yang disebutkan dalam format ini harus muncul pada gambar
desain. Akan dilihat ketepatan pemilihan masalah dampak, kemudian
ketepatan perlakuan yang direkomendasikan.

Juga pada saat pelaksanaan, akan dilihat bagaimana tindakan di
lapangan:
1) Apakah dilaksanakan sesuai dengan perlakuan yang disarankan?
2) Bagaimana kualitas perlakuan?
3) Apakah berhasil mencegah dampak negatif atau mengurangi
kerusakan yang timbul?






Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 12
- Survei Sumber MateriaI
Sumber material lokal yang ada di wilayah kecamatan wajib disurvei
oleh FT-Kec untuk menentukan layak atau tidaknya material tersebut
dan seberapa besar deposit yang ada.

Jika di wilayah kecamatan tidak terdapat material yang memenuhi syarat
atau depositnya tidak mencukupi, maka dapat dipergunakan material
dari luar.

Material yang dinilai memenuhi syarat oleh FT-Kec perlu diambil sebagai
contoh dan ditunjukkan ke TPK, sehingga TPK tidak tertipu bila dikirim
material yang jelek oleh pemasok/supplier.

- Survei Harga
Sebelum menghitung RAB, KPMD dan TPK/TPU berkewajiban untuk
melakukan survei harga bahan dan peralatan, meliputi: jenis, kualitas,
ukuran, kapasitas, nama pabrik, (lihat uraian pada Panduan
PeIaksanaan Survei Harga Satuan Bahan/AIat, halaman berikut)
minimal di 3 lokasi pemasok yang memenuhi persyaratan.


Bagi daerah yang sangat sulit misal kepulauan, jika syarat minimal tidak
terpenuhi maka harus ada klarifikasi kebenarannya dari FT-Kab secara
tertulis.


Di samping itu perlu survei tenaga kerja. Hasil survei harga harus
diperiksa oleh FT-Kec dan dinilai kelayakannya oleh FT-Kab pada saat
memeriksa desain dan RAB. Pada saat penetapan dana pada
Musyawarah Antar Desa Penetapan Usulan hasil survei harga juga
harus ditunjukkan.

Hasil survei harga tersebut merupakan salah satu dasar untuk
menghitung RAB. Prinsip dari pemilihan bahan, alat dan tenaga kerja
adalah yang harganya paling murah namun kualitasnya memenuhi
syarat.

- Rencana Anggaran Biaya (RAB)
RAB adalah anggaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Untuk menghitung RAB dibutuhkan:
1) Hasil perhitungan kebutuhan bahan, tenaga, dan alat untuk setiap
jenis pekerjaan.
2) Harga bahan, tenaga, dan alat (baik beli atau sewa), yang didapat
dari hasil survei.
3) Biaya umum tiap desa (bukan tiap kegiatan) adalah untuk honor TPK
dan administrasi. Besarnya biaya tersebut setiap desa maksimal
sebesar 3 % dari alokasi dana kegiatan prasarana.

Nilai RAB didapat dari hasil penjumlahan perkalian antara kebutuhan
bahan, tenaga, dan alat dengan harga hasil survei, kemudian ditambah
dengan biaya umum.

Hasil desain dan RAB disosialisasikan ke masyarakat agar masyarakat
mengerti tentang pekerjaan bagaimana desain usulan mereka dan
berapa besar dana yang dibutuhkan.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 13
Biaya pengadaan bahan yang dikumpulkan atau diadakan melalui
kegiatan padat karya masyarakat desa dicantumkan pada kolom upah,
bukan kolom bahan di RAB.

Sedangkan untuk pengadaan Papan Proyek, Papan Informasi, dan
test laboratorium (jika dibutuhkan) dapat dikelompokkan dalam kolom
alat.

Rencana pelaksanaan terhadap isi kesanggupan masyarakat yang
tercatat pada Berita Acara Kesanggupan Swadaya/ Sumbangan
Masyarakat hasil kesepakatan atau musyawarah harus dituntaskan
dengan para penyumbang sebelum pembuatan RAB.

Jika terdapat sumbangan dari masyarakat yang berpengaruh pada
besarnya dana untuk kegiatan prasarana dapat diperhitungkan dan
dimasukkan ke dalam RAB. Sehingga dapat terlihat porsi dana PNPM
Mandiri Perdesaan dan porsi sumbangan masyarakat untuk kegiatan
prasarana (khusus sumbangan lahan tidak dimasukkan ke RAB tetapi
dilaporkan terpisah pada format yang disediakan PTO).

Hasil RAB dilampirkan dalam Dokumen Perencanaan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun RAB:
1. Dana yang telah dialokasikan untuk kegiatan prasarana tidak
boIeh dikurangi atau ditambah untuk alokasi dana kegiatan non-
prasarana.
2. Bila terjadi kekurangan dana dapat dilakukan revisi, jika revisi
tidak mungkin harus ditambah dengan swadaya. Sebaliknya bila
terjadi ada sisa dana tidak boleh dilimpahkan ke kegiatan lain,
tetapi harus tetap digunakan untuk penyempurnaan dan
penambahan kegiatan prasarana tersebut. Perlu diingat bahwa
setiap revisi harus dibicarakan melalui pertemuan desa dan
dimusyawarahkan jalan keluarnya.
3. Dana untuk kegiatan prasarana tidak boIeh digunakan untuk
membayar ganti rugi. Masalah ganti rugi harus diselesaikan oleh
masyarakat sendiri. Jika ada HBAH berupa tanah/pohon-pohon
untuk pembangunan prasarana harus ada bukti penyerahan
tertulis oleh pemilik/ pemegang kuasa yang disahkan oleh
Kepala Desa.


Semua hasil desain harus diperiksa oleh FT-Kab dengan menggunakan
Form PTO - Pemeriksaan Desain. Bila ada yang salah harus diberikan
catatan serta pengarahan yang jelas. Selanjutnya harus segera
diperbaiki dan diperiksa ulang sampai desain tersebut dinyatakan layak.

Hasil pemeriksaan desain wajib dilampirkan pada SPPB.


Jika terdapat desain yang dibuat secara mandiri oleh Tim Desa maka
FT-Kec berkewajiban melakukan pemeriksaan desain seperti yang
dilakukan FT-Kab. Selanjutnya peran FT-Kab pada situasi seperti ini
adalah melakukan verifikasi terhadap hasil pemeriksaan desain oleh
FT-Kec.




Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 14
b. PeIaksanaan Kegiatan Konstruksi
Proses pelaksanaan kegiatan konstruksi meliputi beberapa kegiatan yang
terkait di dalamnya, seperti persiapan, pelaksanaan fisik di lapangan,
pengadaan material, pengadaan alat dan pengendalian tenaga kerja, serta
pengendalian pengeluaran dana.

TPK harus melaksanakan kegiatan yang terkait di dalamnya secara
bersamaan sesuai dengan kebutuhan di lapangan yang dituangkan dalam
bentuk jadwal pelaksanaan, jadwal pengadaan material, kebutuhan alat dan
tenaga kerja. Ketua TPK bertanggung jawab atas kelancaran jalannya
kegiatan konstruksi, dibantu oleh satu atau beberapa orang mandor.

- Persiapan PeIaksanaan Kegiatan Konstruksi
Untuk menjamin kualitas pelaksanaan kegiatan, maka perlu adanya
persiapan yang matang dan terencana. Persiapan ini lebih ditujukan
kepada kesiapan dari aspek Sumber Daya Manusia (SDM) baik
masyarakat, TPK, dan seluruh pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di
tingkat kecamatan dan kabupaten.

Termasuk dalam masa persiapan ini adalah kegiatan pelatihan
pelatihan, seperti pelatihan untuk TPK. Dengan adanya persiapan
diharapkan seluruh unsur pelaku PNPM Mandiri Perdesaan dapat
melaksanakan seluruh kegiatan di lapangan dengan benar dan sesuai
prinsipprinsip PNPM Mandiri Perdesaan.

Pekerjaan persiapan pelaksanaan dapat dilakukan secara simultan
dengan pengajuan SPPB dan pencairan dana setelah penetapan dana
dalam Musyawarah Penetapan Usulan. Pekerjaan ini dilakukan oleh
TPK dibantu Fasilitator Kecamatan yaitu:
1) Menyusun jadwal pelaksanaan secara umum boleh dalam bentuk
diagram balok atau kurva S. Didalamnya termasuk pekerjaan
swadaya masyarakat.
2) Menyusun rencana pengadaan bahan meliputi pelelangan, jadwal
pengadaan, volume pengadaan, mobilisasi bahan, penempatan
bahan, dan tata cara pembayarannya. Tata cara selengkapnya
mengikuti penjeIasan 12 tentang Pengadaan Barang dan Jasa.
3) Menyusun rencana pengadaan alat, meliputi jadwal pengadaan,
mobilisasi alat jumlah alat, dan penempatan peralatan serta tata cara
pembayarannya. Tata cara selengkapnya mengikuti penjeIasan
Penggunaan AIat Berat pada halaman berikutnya.
4) Menyusun rencana pengadaan tenaga kerja, meliputi jadwal
pengadaan, jumlah tenaga kerja, mobilisasi tenaga kerja,
penempatan tenaga kerja, tata cara pembayaran tenaga kerja, dan
pendaftaran tenaga kerja. Tata cara selengkapnya mengikuti
penjeIasan Proses Pengerahan Tenaga Kerja pada halaman
berikutnya.
5) Menyusun jadwal pelatihan.
6) Menyusun rencana pencairan dana dan Rencana Penggunaan Dana
(RPD).
7) Mengadakan pembagian kerja TPK sesuai dengan fungsi dan tugas
masing-masing.
8) Memperbaiki patok ukur dan mempersiapkan lahan.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 15



Proses Pengerahan Tenaga Kerja

Selama periode persiapan rencana kegiatan, TPK harus menyiapkan daftar calon
pekerja, dengan mengutamakan pekerja dari golongan kurang mampu. Seluruh tenaga
kerja yang ingin bekerja berhak mendaftarkan diri sebagai calon tenaga kerja, termasuk
suami dan isteri bila kedua-duanya ingin bekerja. Untuk itu harus ada pengumuman
mengenai kesempatan untuk mendaftarkan diri bagi siapa saja yang berminat baik laki-
laki maupun perempuan. Pendaftaran tenaga kerja dilakukan dengan mengisi Form- A.
Jika jumlah tenaga kerja yang terdaftar lebih banyak dari pada kebutuhan sehari-hari,
tenaga tersebut diberi kesempatan kerja secara bergiliran yang akan diatur oleh ketua
pengelola dan kepala kelompok atau berdasarkan hasil kesepakatan.

Tenaga kerja terdiri dari pekerja biasa, tukang yang mempunyai suatu keterampilan yang
dibutuhkan seperti tukang batu atau tukang kayu, dan kepala kelompok. Satu kelompok
biasanya terdiri dari 20 pekerja biasa dan satu kepala kelompok. nsentif harian untuk
kepala kelompok dapat ditetapkan sedikit di atas insentif tukang.untuk pekerja biasa.
Sedangkan insentif seorang pekerja biasa lebih kecil dari insentif tukang.
nsentif PNPM Mandiri Perdesaan merupakan perangsang (bukan upah) yang dihitung
berdasarkan satu Hari-Orang-Kerja minimal selama 6 jam. Jika seseorang harus bekerja
sekian jam (lebih dari 6 jam), maka dapat dibayar lebih banyak dalam satu hari sesuai
dengan perbandingan jam minimal HOK.

Besarnya insentif ditentukan oleh musyawarah desa (dituangkan dalam Berita Acara)
dan tidak lebih dari upah pasaran setempat. Bila jumlah tenaga kerja berlebih, besarnya
insentif sedikit lebih rendah dari upah yang biasa berlaku di daerah setempat sehingga
memberi peluang kepada warga masyarakat yang belum bekerja. Bila merupakan
swadaya, bisa tanpa insentif atau dengan insentif lebih rendah.
Untuk pembayaran tenaga kerja boleh dipilih antara dua sistem, yaitu pembayaran
menurut :
x Kehadiran di Iapangan (Sistem Harian)
Untuk sistem harian, kepala kelompok mencatat kehadiran tiap pekerja pada
kelompoknya, dan hal ini dimasukkan pada Form B.

x Prestasi (sistem upah borongan)
Dengan sistem upah borongan, tenaga kerja dibayar sejumlah hari-Orang-Kerja
sesuai dengan prestasi kerja. Untuk menghitung jumlah hari orang kerja yang harus
dibayarkan untuk sistem prestasi ini, digunakan Form C (Daftar Perhitungan HOK
dan Sistem Upah Borong). Contoh Form C dapat dilihat pada Formulir Petunjuk
Teknis Operasional (PTO).
Selama pelaksanaan kegiatan pembangunan prasarana di lapangan, setiap mandor
yang ada diharuskan dapat selalu aktif dalam mengatur tenaga kerja maupun
mekanisme konstruksi. Karena Mandor tidak mendapat honor sebagimana anggota
TPK yang lain, maka kepada yang bersangkutan akan dibayar insentif dengan sistem
HOK harian berdasar kehadiran (daftar hadir). Formulir PTO Form B bisa
digunakan untuk pembayaran insentif kepada Mandor. Ketua TPK atau sekretaris
yang akan mengisi daftar hadir dari para Mandor. Besarnya insentif Mandor adalah
sama dengan insentif Kepala Kelompok.







Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 16
Panduan PeIaksanaan Survei Harga Satuan Bahan/AIat:

Hal-hal penting untuk diperhatikan:
1) Alamat lokasi survei
2) Nama responden yang memberi informasi
3) Tulis informasi bahan/alat secara jelas dan lengkap
a. Jenis bahan atau alat (contoh: batu agar dilengkapi dengan dengan asal atau warna
seperti batu gunung/putih, batu kali/hitam
b. Ukuran bahan (contoh: diameter besi ditulis besar diameternya kemudian diberi
keterangan gemuk atau kurus)
c. Kapasitas alat dan tahun pembuatan
d. Kualitas bahan (contoh: pipa ditulis S atau SN, juga nama pabrik pembuatnya)
4) Tulis kira-kira jarak dari lokasi survei material ke desa
5) Tulis harga sesuai informasi
6) ngat bahwa untuk batu, pasir, sirtu yang dicari adalah material yang memakai satuan
m3. Harus jelas yaitu m3 yang diukur secara terus menerus pada saat pelaksanaan,
tidak berdasar satuan rit = ... m3
7) Hasil survei agar dibahas dalam rapat TPK, KPMD/ KPMD, Kepala Desa/BPD dan
Masyarakat

Contoh: Survei Harga Bahan dan AIat

Desa : SUKSES
Kecamatan : Harapan
Kabupaten : Harapan Sukses PERODE SURVE : JUN 2005

Jenis bahan/aIat
Lokasi survei
Narasumber
Satuan
Harga di
Iokasi
aIat/bahan
(Rp)
Jarak ke Desa
SUKSES
(Km)
Ongkos angkut
per-satuan
(Rp)
Harga
terima di
tempat (Rp)

Pasir pasang
Ds. Molina
Akang
M3 22.000 20 2.000 24.000


Semen Gresik
Toko A,
Kotamubago
Ahong
Zak
(50 kg)
30.000 10 500 30.500


Batu
glondong/hitam D=
30 Cm
Masyarakat Desa
SUKSES,
Pak Karso, Kadi
M3 25.000 0,5 1.000 26.000
Pasir urug
Masyarakat Desa
SUKSES,
Pak Odi
M3 15.000 0,1 - 15.000


Pasir Pasang
Ds Damai
Ucup

Pasir Pasang
Toko Bersama
Sicoi

DST
Catatan: setiap jenis yang sama dilakukan minimal di 3 lokasi yang berbeda


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 17

Pelaksanaan survei selain ke toko, pemasok, juga dapat dilakukan ke pusat lokasi
pengambilan material (quarry) baik pada desa yang bersangkutan maupun desa lain.

Hasil survei harga satuan ini setelah dibahas dalam rapat TPK, KPMD/KPMD dan
Masyarakat, kemudian digunakan oleh TPK/KPMD sebagai bahan perencanaan (RAB,
rencana pengadaan bahan/alat) setelah diperiksa kewajaran dan kebenarannya oleh
Fasilitator Kecamatan dan atau FT-Kab. Hasil akhir dimasukkan ke FORM PTO - HasiI
Survei Harga Bahan / AIat.
Selain itu juga FT-Kab harus mempunyai survei harga satuan tingkat Kabupaten sebagai
pembanding. Diarsipkan di Kabupaten dan diberikan kepada FT-Kec.


Pendokumentasian dan Pengujian (Pengecekan)

Kuitansi seperti contoh pada lampiran, dapat digunakan untuk bukti pembayaran
bahan dan alat yang dibutuhkan, pengeluaran untuk administrasi, dan pembayaran
honor Tim Pengelola Kegiatan. Apabila membeli bahan atau alat dari toko, kuitansi
asli dari toko dapat digunakan tanpa menambah bentuk kuitansi lagi dari proyek.
Dokumen dan bukti-bukti pembayaran harus disimpan di arsip PNPM Mandiri
Perdesaan di desa, terjilid dengan Laporan Penggunaan Dana.

Setiap barang yang diterima harus ada catatan dan tanda terima yang berbentuk
seperti Bukti Penerimaan Barang. Tim Pengelola Kegiatan berhak dan wajib
memeriksa seluruh bahan dan alat yang diterima. Apabila tidak sesuai dengan
perjanjian, Tim Pengelola Kegiatan berhak untuk menolak pengiriman bahan tersebut.
Tim Pengelola Kegiatan harus mempunyai bukti penerimaan bahan dan alat, yang
terdiri atas buku material dan arsip nota-nota pengiriman. Buku material harus lengkap
dengan nomor bukti penerimaan bahan atau alat tersebut. Buku material dimaksudkan
untuk mencatat penerimaan semua pengiriman bahan dan alat, serta catatan-catatan
penting mengenai tanggal penerimaan dan volumenya. Contoh dapat dilihat pada
lampiran.

Bahan dan alat yang sudah diterima harus dijaga dengan baik dan lokasi penyimpanan
bahan tersebut harus diatur supaya tidak menghambat pelaksanaan pekerjaan. Alat
yang masih layak pakai pada waktu pekerjaan selesai dapat dimanfaatkan untuk masa
pemeliharaan dan berstatus sebagai inventaris desa.

Pembiayaan

1. Pembayaran honor kepada seluruh anggota Tim Pengelola Kegiatan didasarkan
atas hasil kesepakatan bersama antar anggota sesuai jumlah total yang tercantum
dalam RAB.

2. Pembayaran alat yang disewa harus lengkap dengan surat perjanjian sewa-
menyewa yang sederhana. Perjanjian tersebut disimpan di arsip Tim Pengelola
Kegiatan.

3. Tim Pengelola Kegiatan boleh menggunakan dana pelaksanaan untuk membayar
biaya test di laboratorium yang diperlukan menurut FT-Kec (antara lain : tes tanah,
tes kualitas air). Karena biaya tes tersebut sulit diperkirakan pada tahap survei,
maka dibuat perkiraan awal oleh FT-Kec dan dapat direvisi bila dianggap perlu.




Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 18

Penggunaan AIat Berat

Penggunaan mesin gilas untuk memadatkan timbunan atau permukaan jalan tidak
memerlukan pertimbangan khusus, sebab meskipun diijinkan untuk dipadatkan secara
manual hasil pemadatan manual jelas kurang baik.

Penggunaan alat berat yang lain (bulldozer, excavator, dan lain sebagainya) untuk
pekerjaan pembentukan badan jalan, penggalian tebing, penggalian saluran,
penggalian batu, dan sebagainya walaupun lebih mudah dan mungkin lebih murah
daripada dikerjakan secara tenaga manusia, perlu pertimbangan khusus agar tujuan
menciptakan kesempatan kerja tercapai dan dana proyek sebanyak mungkin terserap
di desa.


Mekanisme dalam penggunaan alat berat

1. FT-Kec menilai pekerjaan yang diusulkan untuk menentukan apakah layak untuk
dikerjakan oleh masyarakat. Bila dinilai layak untuk dikerjakan oleh masyarakat
tanpa menggunakan alat berat, FT-Kec memberi penjelasan kepada masyarakat
agar mengerti keuntungannya. Apabila dinilai layak untuk dikerjakan secara mesin
karena beratnya medan, keterbatasan waktu, atau pertimbangan biaya, tetap
diusahakan porsi untuk tenaga lokal sebesar mungkin.

Bila masyarakat kurang yakin bahwa pekerjaan dapat dikerjakan sendiri, boleh
diuji coba terlebih dahulu untuk menilai kemampuan. Bila masyarakat tetap minta
menggunakan alat berat walaupun menurut FT-Kec jelas tidak diperlukan, FT-Kab
dapat membantu menjelaskan kepada masyarakat.

2. Porsi untuk alat berat dibatasi pada tempat-tempat tertentu saja. Bila ternyata
diperlukan maka FT-Kec harus membuat Rencana Penggunaan Alat Berat berikut
analisisnya. Formulir dapat dilihat pada Lampiran.

3. Penggunaan alat berat harus dimusyawarahkan, dan keputusan dituangkan dalam
berita acara. Karena penggunaan alat berat dapat mengakibatkan kehilangan
kesempatan kerja bagi kelompok miskin maka keputusan penggunaan alat berat
tidak boleh dibuat oleh kelompok kecil saja. Selain itu, keputusan penggunaan alat
berat harus dilaporkan kepada FT-Kab yang berlatar belakang teknik bersama
format Rencana Penggunaan Alat Berat yang lengkap.

4. FT-Kec membantu Tim Pengelola Kegiatan untuk membuat perjanjian
penggunaan alat berat dan harus diusahakan mendapat persyaratan harga yang
paling menguntungkan masyarakat. Faktor yang perlu dipertimbangkan adalah
mobilisasi, sistim pembayaran, kemungkinan mobilisasi dibagi beberapa proyek,
dan pertanggungjawaban atas kerusakan.




Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 19

c. PeIaksanaan Kegiatan Konstruksi Prasarana dan Sarana
Pelaksanaan kegiatan konstruksi di lapangan akan dilaksanakan oleh
masyarakat sendiri yang dipimpin oleh Ketua TPK. FT-Kec mempunyai
tanggung jawab untuk memfasilitasi bagaimana hal ini dapat dilaksanakan
dengan baik oleh masyarakat. Harus diciptakan suasana serta tujuan untuk
membangun desa sendiri yang berbeda dengan bekerja pada proyek
komersial. Kegiatan pelaksanaan konstruksi di lapangan harus didasari
dengan azas "Dari, OIeh, dan Untuk Masyarakat", sehingga ada rasa
memiliki terhadap kegiatan konstruksi di lapangan.

Kualitas seluruh prasarana diharapkan cukup baik, sehingga manfaat
prasarana tersebut dapat dinikmati dalam jangka waktu yang lama oleh
masyarakat. Masa pemakaiannya berkaitan erat dengan kualitas
konstruksi, operasional prasarana dan pemeliharaannya. Semakin baik
konstruksi awal, semakin lama prasarana dapat berfungsi.

Dalam pelaksanaan kegiatan konstruksi di lapangan harus dilakukan
beberapa hal, antara lain:
- Persiapan konstruksi: Tim Pengelola Kegiatan harus mengatur tugas
dan tanggung jawab tiap anggota. Persiapan rencana kerja sesuai
dengan kebutuhan, baik gambar rencana, jadwal pelaksanaan, bahan,
peralatan serta tenaga kerja. Bila jumlah material sesuai kebutuhan
minimal, dan peralatan serta angkatan kerja telah siap, maka harus
dilakukan rapat pra pelaksanaan konstruksi.

- Rapat pra peIaksanaan: Dalam rapat pra pelaksanaan, FT-Kec atau
Pendamping Lokal memberikan pengarahan teknis kepada mandor dan
para pekerja bagaimana tata cara pelaksanaan yang diinginkan sesuai
dengan petunjuk teknis agar didapat hasil pekerjaan yang memenuhi
standar yang telah ditentukan. KPMD harus mencatat setiap langkah
kegiatan sebagai dasar pengendalian pelaksanaan. Rapat pra
pelaksanaan tersebut direncanakan sesuai dengan target yang akan
dicapai, misalnya untuk minggu pertama pekerjaan apa saja yang akan
dilaksanakan, siapa yang akan bertanggung jawab terhadap pengadaan
tenaga kerja, dan siapa yang bertanggungjawab terhadap pengadaan
alat kerja. Hal ini untuk memudahkan dalam pelaksanaan di lapangan.
Hasil rapat pra-pelaksanaan menjadi acuan langkah kerja di lapangan
yang telah disepakati bersama antara FT-Kec, Tim Pengelola Kegiatan,
Mandor dan KPMD.

- PeIaksanaan Konstruksi: Pada saat pelaksanaan konstruksi, para
pelaksana harus mematuhi langkah-langkah yang telah disepakati
dalam Rapat Pra Pelaksanaan. Apabila kenyataan di lapangan
memerlukan perubahan dari rencana, mandor harus melaporkan kepada
Ketua TPK dan KPMD. KPMD bertugas mengawasi jalannya pekerjaan
pada tiap kegiatan serta membantu dengan cara memberikan saran
kepada para mandor setempat, mengenai apa-apa yang perlu diperbaiki
serta mencatat hal-hal yang diperlukan untuk dikonsultasikan kepada
FT-Kec dan sebagai bahan untuk Rapat Evaluasi Tim Pengelola
Kegiatan.

- Rapat EvaIuasi Tim PengeIoIa Kegiatan: diharapkan dapat
dilaksanakan setiap minggu, dimaksudkan untuk mengevaluasi kegiatan
konstruksi selama satu minggu berjalan, apakah sudah sesuai dengan
yang direncanakan atau apakah kegiatan di lapangan masih belum


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 20
mencapai target mingguan, maupun apa saja yang menjadi kendala di
lapangan, apakah faktor material yang kurang mendukung, atau
peralatan tidak memadai atau mungkin cara kerja dari tim pengelola
kegiatan dan masyarakat yang tidak disiplin. Rapat evaluasi mingguan
harus membahas setiap permasalahan/kendala yang terjadi di lapangan.

KPMD sebagai pengawas memberikan masukan-masukan dari hasil
pencatatannya selama mengawasi kegiatan konstruksi. Hasil rapat
evaluasi harus menghasilkan pemecahan/jalan keluar untuk mengatasi
permasalahan yang terjadi, untuk diperbaiki dalam kegiatan konstruksi
minggu selanjutnya. Dalam rapat evaluasi juga dibuat rencana kerja
minggu selanjutnya

- Dokumentasi Foto: Dokumentasi foto kegiatan prasarana dibuat
berdasarkan kemajuan kegiatan yaitu 0%, 50% dan 100% sesuai
dengan ketentuan yang terdapat pada PTO.

- Transparansi: Seluruh kegiatan prasarana mulai dari survei,
perencanaan, pelaksanaan hingga pelestarian harus dilakukan secara
transparan. Tujuannya agar masyarakat dapat berpartisipasi,
membantu, mengawasi, dan merasa memiliki terhadap prasarana yang
telah dibangun. Transparansi dalam kegiatan pembangunan prasarana
dituangkan pada papan informasi yang diatur dalam Papan nformasi
tentang sosialisasi.

- PenyeIesaian Kegiatan: Penyelesaian kegiatan yang dimaksud disini
meliputi penyelesaian pembangunan prasarana. Batas waktu
penyelesaian ditentukan berdasar jadwal yang telah ditetapkan di awal
atau ketentuan dari Departemen Keuangan berkaitan dengan batas
pencairan dana di KPPN, ketentuan yang dikeluarkan dari Sekretariat
Pusat, atau sesuai batas akhir penugasan FT-Kec.

d. PengendaIian KuaIitas Prasarana dan Sarana
Untuk menjaga kualitas perlu dilakukan tindakan khusus oleh FT-Kec.
Tindakan khusus yang utama adalah mengharuskan Tim Pengelola
Kegiatan untuk lebih bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan lebih
transparan kepada masyarakat, serta mendorong masyarakat untuk secara
aktif turut serta mengawasi dan menjaga kualitas pelaksanaan.

Hal-hal di bawah ini merupakan pelajaran dari pengalaman pada kegiatan
serupa. Diharapkan seluruh kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh FT-Kec
dan seluruh unsur yang terkait dengan PNPM Mandiri Perdesaan dalam
rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan prasarana dan sarana.
Dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pemeliharaan
terdapat aturan yang membantu pelaku-pelakunya mengendalikan program,
supaya hasilnya sesuai dengan harapan.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, terdapat kiat-kiat atau cara untuk
meningkatkan kuaIitas prasarana yang dibangun. Kiat ini telah
dibuktikan ratusan kali, sehingga semua FT-Kab dan FT-Kec bertanggung
jawab untuk mematuhi aturan ini dengan cara yang digambarkan atau cara
lain yang lebih baik lagi. Di bawah ini adalah dua puluh aturan khusus untuk
meningkatkan kualitas yang harus diterapkan di lapangan oleh Fasilitator
dan masyarakat.




Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 21
- Targetkan kuaIitas, bukan kuantitas Kebiasaan di desa adalah
mengejar target fisik, karena dianggap sebagai kesempatan yang
jarang terjadi dan kapan lagi bisa membangun prasarana itu yang
dibutuhkan. Di pemerintah pun sudah biasa mengejar target yang telah
ditetapkan dalam DPA. Padahal tidak ada tekanan untuk menentukan
target yang sangat tinggi. Dalam pembicaraan dengan TPK dan
masyarakat, aparat Pemda Kabupaten dan Fasilitator harus mengatur
pembicaraan, supaya tidak memberi kesan mengejar target fisik.
- Tegas dari awaI Pengawas berkecenderungan untuk membiarkan
pekerjaan yang kurang baik pada awal konstruksi, tetapi hal ini akan
mempersulit usaha untuk meningkatkan kualitas. Sangat sulit untuk
meningkatkan kualitas di tengah program. Lebih baik untuk mulai
dengan sangat ketat.
- Manfaatkan musim kemarau Sebagian besar prasarana PNPM
Mandiri Perdesaan lebih mudah dibangun pada musim kemarau.
Pengangkutan bahan dan alat lebih mudah jika belum hujan.
Pemadatan tanah tidak mungkin bila tanah sudah terlalu basah. Petani
juga ingin bercocok tanam kalau hujan sudah turun, sehingga sering
kesulitan dalam hal pengerahan tenaga kerja.
- MuIai dengan penyuIuhan Sebelum kegiatan dimulai di desa,
dimulai dengan penyuluhan kepada seluruh masyarakat yang akan
terlibat dalam pelaksanaan. Tidak hanya anggota TPK atau aparat
desa. si penyuluhan menyentuh hal-hal peraturan , prinsip kualitas dan
transparan, peranan TPK dan konsultan, dan langkah-langkah dalam
pelaksanaan.
- Beri peIatihan dan pembimbingan secara kontinyu Karena tenaga
kerja kurang terampil dan TPK belum memiliki keterampilan dalam
pengelolaan pembangunan prasarana, maka perlu diadakan kegiatan
pelatihan secara kontinyu oleh FT-Kec maupun aparat kecamatan dan
kabupaten. Peningkatan kemampuan masyarakat dan TPK adalah
salah satu tujuan utama . Pembimbingan termasuk penggunaan Buku
Bimbingan di tiap desa.
- Periksa desain - Sebagian masalah lapangan dapat diantisipasi dan
diperbaiki kalau desain dan RAB diperiksa sebelum dimasukkan pada
Surat Penetapan Camat. Pada formulirnya ada sepuluh hal yang perlu
diperiksa oleh konsultan yang lebih senior, termasuk kejelasan dan
kelengkapan gambar, perhitungan volume, kewajaran harga, dan
penggunaan alat berat.
- Gunakan sistem triaI Sistem trial adalah cara yang dapat digunakan
untuk melatih masyarakat sambil meningkatkan kualitas konstruksi.
Dalam pelaksanaan sistem trial contoh harus betul-betul dibuat dengan
kualitas yang memenuhi segala persyaratan teknis, karena contoh
merupakan batas maksimal kualitas yang akan dikejar oleh masyarakat.

Sistem triaI terdiri dari tiga Iangkah:
1) Contoh dibuat bersama fasilitator teknis. Orang yang ikut
membuat contoh adalah tokoh masyarakat (TPK, kepala kelompok,
KPMD, kepala dusun, tim pemantau, dan hanya beberapa
masyarkat biasa). Fasilitator ikut bekerja, dan memberi instruksi
kepada mereka. Untuk jalan, panjang bagian contoh cukup 10 - 20
meter saja.
2) "TriaI", atau percobaan oleh masyarakat di bawah pimpinan orang
yang membuat contoh di atas. Setelah trial selesai (sekitar 100
meter jalan, misalnya), kualitas dinilai FT-Kec. Jika kualitas masih
kurang baik, harus dilatih lagi dan diperiksa lagi.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 22
3) Jika kualitas telah baik, berarti masyarakat sudah mampu
mengerjakannya dengan kualitas baik, sehinggaa pelaksanaan
dapat diteruskan dengan pengawasan normal. Kalau kualitas
menjadi kurang baik, ada bagian yang ditrial sebagai bukti
masyarakat mampu bekerja dengan lebih baik.

Sistem trial akan lebih efektif (lebih berhasil) apabila dibuat contoh tiap
tahap. Di bawah ini trial pada pekerjaan jalan:
1) Contoh pembentukan badan jalan,
2) Contoh penghamparan pasir,
3) Contoh pemasangan batu utama dan pinggir,
4) Contoh lengkap dengan batu pengunci.

Contoh sebaiknya dibuat seawalnya. Contoh tidak perlu digilas dan
tidak menggunakan lapisan penutup. Perlu ada contoh dan trial untuk
tiap macam situasi yang dihadapi. Pada bagian di daerah sawah atau
rawa dibuat contoh dan trial sendiri. Trial tidak diperlukan untuk bagian
yang sangat kecil, yang dapat diawasi langsung oleh FT-Kec sendiri.

Sistem trial harus diterapkan untuk jenis prasarana selain jalan. Jika
ada pembuatan banyak MCK, MCK pertama dapat dianggap sebagai
trial. Untuk jenis lain, kegiatan kunci harus ditrial, misalnya pengadukan
beton. FT-Kec perlu menganalisis kegiatan-kegiatan yang perlu ditrial.
- BeIi aIat-aIat yang bermutu Penghematan biaya untuk peralatan
sering menjadi penghematan yang palsu, karena mempengaruhi
produktivitas dan kualitas konstruksi. FT-Kec harus mendorong TPK
untuk beli peralatan yang mutunya lebih tinggi, agar tahan lama dan
memudahkan pelaksanaan. ni juga termasuk peralatan seperti kereta
dorong yang belum biasa digunakan oleh masyarakat.
- Ketat daIam penerimaan bahan Tim Checker harus dilatih supaya
dapat menentukan bahan yang memenuhi spesifikasi, dan mereka harus
dibimbing supaya berani menolak bahan yang tidak sesuai mutu atau
volumenya. Pemasok sering mengirim bahan pada waktu FT-Kec tidak
ada di tempat, dan mencoba menipu masyarakat jika checker tidak
mampu.
- Lakukan sertifikasi Sertifikasi adalah cara yang dapat digunakan
oleh FT-Kec untuk mendorong TPK dalam hal peningkatan kualitas.
Pada prinsipnya, tiap pekerjaan dinilai. Pekerjaan yang dinilai sesuai
dapat dibayar langsung, tetapi pekerjaan yang kurang baik harus
diperbaiki dulu. Kemajuan fisik didasarkan pekerjaan yang sudah
selesai dan dinilai layak untuk dibayar. Pada papan informasi
ditempelkan grafik kemajuan fisik sesuai dengan hasil sertifikasi.
Pengisian formulir sertifikasi dijelaskan di bawah dan contoh formulirnya
dapat dilihat pada Form PTO - Sertifikat Penerimaan Pekerjaan.

Untuk mengendalikan kualitas pelaksanaan, kualitas prasarana yang
dibangun perlu ditinjau secara berkala. Hasil peninjauan ini dapat
dituangkan oleh FT-Kec pada sebuah formulir pemeriksaan, untuk
selanjutnya dianalisis oleh FT-Kab. Hasil tersebut berfungsi pula
sebagai alat penyuluhan kepada masyarakat desa, mandor, dan PjOK,
supaya kualitas prasarana yang dibangun dapat ditingkatkan.

Sebagai upaya pengendalian, FT-Kab akan melakukan pengecekan ke
lapangan/desa yaitu minimal 2 desa pada tiap kecamatan yang dipilih
secara random dan dilaksanakan pada saat kegiatan telah selesai
100%.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 23

Tiap jenis pekerjaan dinilai tetapi untuk pekerjaan yang rumit kegiatan
dapat digabungkan. Pekerjaan yang dinilai oleh FT-Kec telah sesuai
untuk dibayar dapat langsung dilunasi, tetapi pekerjaan yang kurang
baik harus diperbaiki dulu. Kemajuan fisik yang dilaporkan didasarkan
pekerjaan yang sudah selesai dan dinilai layak untuk dibayar. Pengisian
formulir sertifikasi dijelaskan di bawah dan contoh formulirnya dapat di
lihat pada lampiran. Pada papan informasi ditempelkan grafik kemajuan
fisik sesuai dengan hasil sertifikasi. Formulir terdiri dari dua bagian:
1) Bagian atas untuk jenis pekerjaan yang dapat diterima
2) Bagian bawah untuk bahan atau alat yang dapat diterima

Kedua bagian ini diisi dengan jenis pekerjaan atau bahan yang sudah
siap untuk dinilai. Untuk tiap jenis dicantumkan volumenya dan lokasi
pekerjaan. Untuk bahan, disebutkan lokasi dimana bahan tersebut akan
digunakan, walaupun mungkin belum dipasang atau dihampar.
Kemudian, FT-Kec akan menilai kelayakannya. Yang layak ditulis
"dapat diterima" dan yang belum layak disebut alasannya. Format
tersebut disimpan di arsip Tim Pengelola Kegiatan sebagai bukti bahwa
bagian atau bahan tersebut telah diterima dengan baik oleh FT-Kec.

Grafik kemajuan fisik yang telah dibuat ditempelkan pada papan
informasi. Tujuannya adalah agar seluruh masyarakat tahu hasil
penilaian dan tahu kemajuan proyek. Perhatian masyarakat ditarik ke
masalah target kualitas. Untuk jenis lain, selain jalan, boleh dibuat grafik
dengan memilih indikator atau pengelompokan kegiatan yang tepat.

Penggunaan langkah Sertifikasi ini tidak dimaksudkan untuk
memperlambat pembayaran kepada Tim Pengelola Kegiatan. FT-Kec
boleh menunda penilaian jika tidak sempat menilai pekerjaan dan
menyetujui pembayaran tanpa dinilai apabila Tim Pengelola Kegiatan
telah terbukti mampu mengerjakan tugas serupa. Sebaliknya, jika
kualitas bagian yang diusulkan TPK untuk pembayaran sering tidak
sesuai persyaratan, langkah ini tidak boleh ditinggalkan.
- Kembangkan KPMD/KPMD KPMD dipilih oleh masyarakat untuk
membantu Fasilitator Kecamatan secara penuh di lapangan. KPMD
adalah seorang pemuda yang berbakat teknis dan administrasi dan ingin
belajar dari FT, selain mengikuti tiap jenis pelatihan yang ada di desa.
Dia dapat membantu konsultan pada waktu konsultan tidak ada di
tempat, dengan misalnya mengumpulkan data untuk laporan. KPMD
dibiayai dari biaya Dana Operasional Kegiatan(DOK).
- Laporkan masaIah Di tiap desa masalah pasti akan timbul.
Masalah-masalah tersebut perlu dilaporkan kepada PjOK dan Fasilitator
Kabupaten supaya mereka dapat memperhatikan desa yang ada
masalah pada waktu mereka berkunjung ke lapangan. Mereka dapat
memberi masukan yang membantu fasilitator dan TPK, walaupun
mereka mampu menyelesaikan masalah sendiri. Diharapkan tidak ada
masalah yang baru muncul pada waktu ada kunjungan resmi dari aparat
provinsi atau Sekretariat, karena masalah tersebut seharusnya sudah
ditangani fasilitator yang sudah ada di lapangan. Hal-hal yang belum
dilaporkan dianggap masalah Fasilitator Kecamatan; hal-hal yang sudah
dilaporkan dianggap masalah bersama.
- Periksa kuaIitas fisik Terdapat Form PTO - Pemeriksaan Fisik
untuk membantu seluruh pelaku, termasuk unsur Pemerintah Daerah,
Fasilitator dan Konsultan, TPK, dan pemeriksa dari instansi yang
melakukan audit.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 24
- Jamin bahwa orang Iapangan pegang gambar    Bagaimana orang
dapat membangun sesuatu sesuai desain jika gambar desain
disembunyikan? Gambar desain harus ada di lapangan sebagai
pegangan pelaku, dan pada saat kegiatan selesai disimpan di kantor
desa. Tidak banyak bermanfaat bila disimpan di lemari selama
pelaksanaan. Jika ada perubahan, dicatat langsung di gambar desain.
- Buat berita acara revisi biIa ada perubahan    Perubahan adalah
sesuatu yang sangat biasa dan wajar, tetapi perlu didokumentasikan
agar dapat dipertanggungjawabkan secara teknis maupun administratif.
Pembuatan dokumen seharusnya dilakukan sebelum perubahan
dijalankan di lapangan.
- Bukukan pengeIuaran secara Iangsung    Pekerjaan dapat dikelola
dengan baik jika pengeluaran dana dikendalikan dengan baik, dan
pengendaliannya mulai dari pencatatan seluruh penerimaan dan
pengeluaran dana di buku kas. Dengan mudah, pengelola dapat
melihat sisa dana yang masih ada dan berapa jumlah dana yang dipakai
untuk segala transaksi. Jika tidak dibukukan dengan cepat, seperti
terbang pada saat kabut kental. Tidak tahu akan menabrak gunung, dan
bendahara tidak tahu akan kehabisan dana.
- Gunakan aIat berat secara rasionaI    Rasional dalam kasus ini
berarti penggunaan alat berat dapat dipertanggungjawabkan ada
dasar perhitungan jam pemakaian dan biaya, secara teknis jelas alat
betul-betul diperlukan dan wajar, dan masyarakat tidak keberatan bila
dana dipakai untuk alat untuk sebagian pekerjaan, daripada
dipadatkaryakan. Untuk kegiatan seperti penggilasan permukaan jalan,
harus menghitung kebutuhan alat, dan mengatur penggunaan di
beberapa lokasi untuk mengoptimalkan dana mobilisasi alat.
- Pasang dan manfaatkan patok    Patok dipasang untuk membantu
orang membangun suatu prasarana sesuai dengan rencana. Dimensi
tidak berubah, rute tidak berpindah-pindah. Apalagi untuk bangunan
seperti fondasi jembatan dan sebagainya, dimana toleransi perubahan
dimensi sangat kecil.
- Sesuaikan tujuan supervisi sesuai sistem pembayaran    Kalau
tenaga kerja dibayar dengan sistem harian, produktivitas harus diawasi
dengan baik, karena kerja keras atau kerja malas-malasan pekerja
dibayar upah yang sama. Kalau tenaga kerja dibayar dengan sistem
upah borong, kualitas harus diawasi dengan baik, karena pembayaran
hanya tergantung pencapaian target, bagaimana pun kualitasnya.
- Jangan kompromikan hukum teknis    Kekuatan beton, misalnya,
merupakan faktor terpenting dalam desain jembatan beton. Tidak boleh
plat ditipiskan, atau rasio campuran diperlunak, atau tulangan besi
diperjarang dalam pelaksanaan. Hal itu akan mengakibatkan suatu
malapetaka. Orang awam mungkin akan minta hukum teknis
dikompromikan untuk mengatasi masalah kekurangan anggaran proyek.
Ada hal yang dapat dikompromikan dan ada yang tidak dapat
dikompromikan, dan perencana dan pengelola harus mampu
membedakannya.

e. PengendaIian KuaIitas Bahan
Bahan yang dipakai harus memenuhi standar, misalnya:
Untuk Pekerjaan Jalan, digunakan batu belah yang keras, bukan batu
pipih atau batu berpori dan memiliki minimal tiga bidang permukaan,
Untuk Pekerjaan Jembatan; untuk fondasi digunakan batu belah yang
keras dengan campuran spesi yang memenuhi Standar ndustri
ndonesia (S),


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 25
Untuk Prasarana Air Bersih, digunakan pipa yang memenuhi standar
dari S.

Tim Pengelola Kegiatan harus selektif dalam pengadaan bahan. Bila
material yang dikirim ke desa tidak sesuai dengan pesanan, TPK harus
menolak bahan tersebut dan minta diganti sesuai dengan pesanan. KPMD
dan Pendamping Lokal harus selalu memantau kualitas bahan yang dikirim
ke desa.

f. PengendaIian Dimensi
Untuk mencapai kualitas pelaksanaan konstruksi yang baik, dimensi
(ukuran) prasarana harus selalu dikendalikan sesuai dengan gambar
rencana. Untuk menjaga dimensi perlu diperhatikan dan dibahas dari awal
sejak rapat pra-pelaksanaan (pre-construction meeting), dan selanjutnya
diawasi pada saat pelaksanaan antara lain seperti pada:

Pekerjaan Jalan :
1) Kemiringan permukaan badan jalan (punggung sapi),
2) Ketebalan lapisan pasir, pasangan batu (telford/telasah) dan
ketebalan sirtu,
3) Lebar perkerasan,
4) Kedalaman, lebar atas, dan lebar dasar saluran drainase.

Untuk menjaga ukuran pada pekerjaan jalan harus dibuat
Boowplank/Mal dari papan/kayu :
1) Mal untuk kemiringan badan jalan, ketebalan pasir dan batu serta
lebar perkerasan
2) Mal untuk ketebalan pasir dan batu
3) Mal untuk dimensi saluran

Pekerjaan Air Bersih :
1) Dimensi pipa harus sesuai dengan S,
2) Dimensi BPT (Bangunan Pelepas Tekan),
3) Kedalaman sumur bor,
4) Jenis pompa air (bila menggunakan pompa)

Pekerjaan Irigasi Desa :
1) Dimensi saluran,
2) Ketebalan pasangan batu kali,
3) Bangunan terjun,
4) Bangunan bagi

Pada setiap kunjungan ke lapangan FT-Kab/FT-Kec/Pendamping Lokal
harus meminta catatan pemeriksaan ukuran oleh KPMD. Bila ukuran dalam
pelaksanaan telah sesuai dengan Gambar Rencana, maka pekerjaan dapat
terus dilaksanakan.

g. Revisi Desain dan RAB
Bila terjadi perubahan rencana pekerjaan yang realisasinya akan
menyebabkan terjadinya pengurangan atau penambahan terhadap target
volume pekerjaan atau terhadap spesifikasi, jenis konstruksi pekerjaan
harus dibuat Berita Acara Revisi. Adapun proses pembuatan revisi adalah
sebagai berikut:
Dimulai dengan pembahasan terlebih dahulu oleh TPK dan hasilnya
harus mendapatkan persetujuan dari FT-Kec.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 26
Sebelum pelaksanaan pekerjaan, pembuatan revisi harus sudah selesai
dibuat dengan menggunakan Form PTO - Berita Acara Revisi.
Adanya revisi harus diberitahukan kepada masyarakat dengan cara
terbuka dan Berita Acara Revisi dipasang pada papn informasi.

Bila FT-Kec atau FT-Kab menjumpai adanya kesalahan prosedur yaitu
terdapat pekerjaan yang dilaksanakan berubah dari desain, namun tidak
ada Berita Acara Revisi maka pekerjaan harus dihentikan, dan dapat
dilanjutkan kembali setelah proses revisi terpenuhi termasuk sosialisasinya
ke masyarakat. Lain halnya jika terjadi penyimpangan maka pekerjaan
harus dihentikan dan dilakukan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku
di PNPM Mandiri Perdesaan.

Di samping itu FT-Kab wajib menyarankan revisi, jika berdasarkan
pertimbangan teknis hasil kunjungan lapangan dipastikan terdapat kegiatan
mempunyai kemungkinan tidak berhasil atau mengalami kegagalan. Namun
demikian pertimbangan teknis harus langsung disampaikan secara terbuka
kepada masyarakat.

FT-Kab dalam pemeriksaan fisik dan administrasi harus memastikan bahwa
seluruh perubahan telah dituangkan dalam Berita Acara Revisi. Setiap
bentuk perubahan baik terhadap target, desain, spesifikasi, dan lain-lain
dianggap tidak syah bila tidak dilengkapi dengan Berita Acara Revisi.
Perubahan tanpa adanya Berita Acara Revisi merupakan kelalaian atau
pelanggaran.

h. Pemeriksaan
- Pemeriksaan KuaIitas Fisik Pekerjaan
Pemeriksaan kualitas fisik di lapangan, menggunakan beberapa formulir
pemeriksaan, antara lain pemeriksaan mutu konstruksi dan dimensi.
Perlu masyarakat menyadari bahwa prasarana yang dibangun adalah
untuk kepentingan mereka, bukan proyek pemerintah atau untuk orang
lain, dengan demikian masyarakat akan berusaha melaksanakan
kegiatan konstruksi dengan kualitas yang baik, karena akan memberikan
manfaat dalam waktu yang panjang. FT-Kec memberikan bimbingan
teknis bagaimana pengelolaan pelaksanaan konstruksi, serta cara-cara
melaksanakan pekerjaan di lapangan sesuai dengan ketentuan. Sangat
diperlukan ketegasan dari FT-Kec sejak mulai pelaksanaan.

- FormuIir Pemeriksaan Fisik Lapangan, diisi oleh FT-Kec atau orang
lain yang mempunyai keahlian dalam bidang teknis yang bersangkutan.
Blangko formulir telah disediakan pada Form PTO Pemeriksaan Fisik
Prasarana.

- Untuk peniIaian kuaIitas teknis diuraikan hal-hal yang harus diperiksa
menurut jenis prasarana. Untuk setiap hal tersebut, penilai memilih satu
dari lima kategori penilaian, yaitu:

Cukup Jika kualitas telah memenuhi segala syarat
teknis
Agak kurang Jika terdapat kesalahan atau kekurangan kecil
yang harus diperbaiki untuk memenuhi syarat
teknis
Kurang Jika masih terdapat banyak kekurangan yang
harus diperbaiki
BeIum diperiksa Jika hal tersebut belum dikerjakan, atau


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 27
pemeriksa belum dapat melihat dan menilai hal
tersebut
Tidak ada Jika hal tersebut tidak ada pada prasarana yang
sedang dilaksanakan, misalnya untuk penilaian
gorong-gorong ternyata tidak ada gorong-gorong

Yang diharapkan adalah kualitas yang memenuhi standar dan tahan
lama. Pada lampiran disediakan petunjuk singkat mengenai hal-hal yang
diperiksa dengan cara yang digunakan untuk menilai setiap item.

Formulir-formulir yang telah diisi diserahkan kepada Tim Pengelola
Kegiatan dan arsip pemeriksa agar mereka dapat meningkatkan kualitas
dan memperbaiki hal-hal yang dinilai kurang baik.

- Pemeriksaan KuaIitas Manajemen Konstruksi
Keberhasilan pelaksanaan pekerjaan administrasi dan fisik proyek
tergantung pada bagaimana Tim Pengelola Kegiatan dalam mengatur
dan mengelola sumber daya yang ada dalam melaksanakan pekerjaan
sehari-hari, dibawah bimbingan dan bantuan FT-Kec.

Penggunaan Ceklis Manajemen Konstruksi ini dimaksudkan untuk
menilai apakah Tim Pengelola Kegiatan telah mengerti dan
melaksanakan tugasnya dengan baik, yang mencakup kegiatan
persiapan pelaksanaan, mengatur pelaksanaan di lapangan dan
mengendalikan pelaksanaan proyek. Dari hasil penilaian ini akan
mendorong proses alih pengetahuan dalam pengelolaan proyek dari FT-
Kec ke Tim Pengelola Kegiatan yang pada akhirnya dalam banyak hal
keputusan-keputusan dapat diambil dan diputuskan oleh Tim Pengelola
Kegiatan sendiri dengan didasari pengetahuan dan pemahaman yang
benar sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan.

Ceklis Manajemen Konstruksi dapat diisi oleh FT-Kec, FT-Kab dan
PJOK. Blangko formulir telah disediakan pada Form PTO
Pemeriksaan Kualitas Manajemen Konstruksi. Nama, pemeriksa dan
tanggal pemeriksaan dicatat pada bagian bawah dan persentase
kemajuan kegiatan dicatat pada bagian atas.

Untuk penilaian kualitas pengelolaan diuraikan hal-hal yang harus
diperiksa menurut jenis kegiatan. Untuk setiap hal tersebut, penilai
memilih satu dari empat kategori penilaian, yaitu:

Cukup Jika kualitas telah memenuhi sesuai dengan
persyaratan teknis
Agak kurang Jika terdapat kesalahan atau kekurangan kecil
yang harus diperbaiki untuk memenuhi sesuai
persyaratan teknis
Kurang Jika masih terdapat banyak kekurangan yang
harus diperbaiki
Tidak ada Jika hal tersebut tidak ada atau belum
dilaksanakan

Pada lampiran disediakan petunjuk-petunjuk singkat mengenai hal-hal
yang diperiksa dengan cara yang digunakan untuk menilai setiap item.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 28
Ceklis yang telah diisi diserahkan kepada Tim Pengelola Kegiatan dan
arsip pemeriksa agar mereka dapat meningkatkan kualitas dan
memperbaiki hal-hal yang dinilai kurang baik.

i. Dokumentasi Kegiatan
Dokumentasi foto seluruh kegiatan dari PNPM Mandiri Perdesaan sebagian
besar menjadi tanggungjawab FT-Kec/F-Kec, meskipun demikian untuk
kepentingan arsip desa, maka Tim Pengelola Kegiatan juga perlu membuat
foto-foto sendiri.

Pada akhir periode pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan, Fasilitator
Kecamatan harus memastikan adanya dokumentasi foto yang disusun
dalam satu album khusus, dengan ketentuan :
Foto-foto yang ditampilkan merupakan foto PNPM Mandiri Perdesaan di
Kecamatan yang bersangkutan. Bukan kumpulan foto dari setiap desa
penerima PNPM Mandiri Perdesaan, namun sudah merupakan hasil
seleksi dari semua arsip foto yang ada. Tetapi tidak boleh hanya foto
dari satu desa saja.
Setiap foto perlu diberikan catatan atau keterangan ringkas.
Foto yang ditampilkan meliputi :
1) Foto kondisi 0%, 50%, 100% yang diambil dari sudut pengambilan
yang sama.
2) Foto yang memperlihatkan orang sedang bekerja secara beramai-
ramai.
3) Foto yang memperlihatkan peran serta perempuan dalam kegiatan
prasarana.
4) Foto yang memperlihatkan pembayaran secara langsung kepada
masyarakat.

j. PenyeIesaian Kegiatan
Penyelesaian kegiatan yang dimaksud adalah penyelesaian dari tiap jenis
kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai pertanggungjawaban TPK
kepada masyarakat. Langkah-langkah dalam penyelesaian kegiatan
sebagai berikut:

Laporan PenyeIesaian PeIaksanaan Kegiatan (LP2K)
LP2K adalah laporan untuk menyatakan bahwa seluruh jenis kegiatan
telah selesai dilaksanakan (kondisi 100%) yang ditandatangani oleh
ketua TPK dan FT-Kec serta siap diperiksa oleh PjOK.

Pada saat LP2K akan ditandatangani, maka seluruh administrasi baik
pertanggungjawaban dana maupun jenis administrasi lainnya sudah
dilengkapi dan dituntaskan, termasuk realisasi kegiatan dan biaya
(RKB).

Lembar LP2K yang sudah ditandatangani diserahkan pada PjOK
dengan tembusan kepada Fasilitator Kabupaten, untuk mendapatkan
tindak lanjut berupa pemeriksaan di lapangan. Form L2PK terdapat
pada buku Formulir PTO.








Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 29
ReaIisasi Kegiatan dan Biaya (RKB)

RKB dimaksudkan untuk melaporkan hasil nyata tentang apa saja yang
telah dilaksanakan di lapangan didalamnya termasuk penggunaan dana
bantuan PNPM Mandiri Perdesaan di desa. RKB ini dibuat dan disusun
oleh TPK bersama kader desa yang dibantu oleh FT-Kec/F-Kec.
Didalam realisasi kegiatan dan biaya harus dibuat secara terpisah
antara sub-sub-sub kegiatan.

Ketentuan dalam pembuatan RKB:
1) dibuat sesuai dengan kondisi terlaksana di lapangan,
2) sesuai dengan catatan yang ada pada buku kas umum,
3) berkaitan erat dengan gambar-gambar purna laksana
4) menunjukkan target akhir dari pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan di desa.

Harus dihindari sikap yang hanya menyalin atau menulis ulang RAB
awal tanpa melihat realisasi yang sedang terjadi di lapangan. Pada
prinsipnya pembuatan RKB hanyalah merekap atau merangkum seluruh
catatan penggunaan dana dan pelaksanaan kegiatan yang dibuat
selama pelaksanaan. Jika terdapat konstribusi swadaya masyarakat
selama periode pelaksanaan, harus dicantumkan.

RKB merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dari LP2K,
sehingga harus sudah dapat diselesaikan sebelum LP2K
ditandatangani. RKB juga akan banyak manfaatnya untuk menjelaskan
terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada saat pemeriksaan
atau audit. Pada kegiatan pembangunan prasarana perincian volume
dan biaya yang tercantum pada format RKB harus sesuai

Gambar-gambar yang dilampirkan dalam dokumen penyelesaian yaitu
denah atau lay out, peta situasi, detail konstruksi dan lain-lain yang juga
bagian adari RKB, harus dibuat sesuai dengan kondisi yang ada atau
terlakasana di lapangan. Harus dihindari melampirakan gambar-gambar
disain dalam dokumen penyelesaian tanpa menyesuaikan dengan
kondisi yang terjadi di lapangan. Jika terjadi perubahan di lapangan, di
samping dilakukan perubahan pada gambar juga harus dituangkan
dalam berita acara revisi. Form RKB terdapat pada buku Formulir PTO.

Surat Pernyataan PenyeIesaian PeIaksanaan Kegiatan (SP3K)
SP3K dimaksudkan untuk melaporkan secara resmi bahwa pelaksanaan
kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di desa dinyatakan selesai. SP3K ini
ditandatangani oleh Ketua TPK dan PjOK serta diketahui Kepala Desa
dan Camat atas nama Bupati.

Kegiatan tambahan atau lanjutan yang bersumber dana dari luar PNPM
Mandiri Perdesaan baru dapat dimulai setelah diterbitkan SP3K,
misalnya : pengaspalan seluruh ruas jalan melalui dana APBD,
pemasangan dinding pasangan batu oleh pengairan pada saluran
irigasi.

Seluruh kegiatan lanjutan yang dilaksanakan setelah diterbitkannya
SP3K bukan lagi menjadi tanggung jawab dari Tim Pengelola Kegiatan
PNPM Mandiri Perdesaan. PjOK harus memastikan bahwa kegiatan
yang diserahterimakan atau yang tercantum dalam SP3K benar-benar
telah memenuhi ketentuan yang berlaku, sesuai dengan RKB, gambar-


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 30
gambar purna laksana sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan,
catatan-catatan tentang kegiatan yang sesuai dengan fakta di
masyarakat.

Jika dalam pemeriksaan di lapangan ditemui adanya kekurangan dalam
pelaksanaan termasuk dalam hal administrasi maka PjOK dapat
memberikan kesempatan waktu kepada Tim Pengelola Kegiatan untuk
melakukan perbaikan terlebih dahulu. Baru kemudian SP3K dapat
ditandatangani. Termasuk syarat dalam pengesahan SP3K adalah
pekerjaan dapat diterima masyarakat dan Tim Pengelola Kegiatan harus
sudah membuat dan merumuskan bersama masyarakat mengenai
rencana pelestarian. Form SP3K terdapat pada buku Formulir PTO.

Dokumen PenyeIesaian
Dokumen penyelesaian merupakan satu buku yang berisi:
1) Surat Pernyataan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan(SP3K),
2) Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (LP2K),
3) Realisasi Kegiatan dan Biaya (RKB) dan lampiran pendukung
lainnya.

Dokumen tersebut harus sudah dapat diselesaikan oleh TPK bersama
Fasilitator Kecamatan dan KPMD desa untuk didistribusikan oleh PjOK
selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal ditandatanganinya
LP2K. Jika sampai batas waktu tersebut dokumen penyelesaian belum
bisa dituntaskan maka Ketua TPK, Fasilitator Kecamatan dan PjOK
harus membuat Berita Acara keterlambatan dan Kesanggupan
penyelesaiannya untuk disampaikan kepada TK-PNPM Mandiri
Perdesaan Kabupaten dan Fasilitator Kabupaten.

Pendistribusian dari dokumen penyelesaian ini dilaksanakan oleh PjOK
dibantu oleh Fasilitator Kecamatan. Biaya pembuatan dari dokumen
penyelesaian seluruhnya dimasukan pada Biaya Umum dari Alokasi
dana PNPM Mandiri Perdesaan di desa, sehingga sejak tahap
perencanaan sudah dialokasikan besarnya biaya ini secara wajar.

Pembuatan Berita Acara Status PeIaksanaan Kegiatan (BASPK)
pada kondisi khusus
Apabila sampai batas waktu penyelesaian ternyata kegiatan
pembangunan prasarana belum dapat diselesaikan, atau dana belum
disalurkan seluruhnya, maka Ketua TPK dan Fasilitator Kecamatan
dengan diketahui oleh Kepala Desa membuat Berita Acara Status
Pelaksanaan Kegiatan (BASPK) sebagai pengganti LP2K. BASPK
menunjukkan kondisi hasil pelaksanaan kegiatan yang dicapai pada saat
itu.

Jika sudah dibuat BASPK maka tidak perlu lagi dibuat LP2K. SP3K tetap
harus dibuat setelah seluruh kegiatan telah dituntaskan (100%) sebagi
bukti selesainya pekerjaan. Lampiran yang harus dibuat jika muncul
BASPK, sama dengan LP2K, yaitu realisasi kegiatan dan biaya hingga
saat itu maupun gambar-gambar purna laksana hingga saat itu. Form
BASPK terdapat pada buku Formulir PTO.

k. PemeIiharaan
Pasca penyelesaian kegiatan merupakan tahap pasca pelaksanaan
pembangunan yang wajib dioperasikan dan dipelihara oleh desa. Agar
kegiatan pembangunan prasarana, mempunyai nilai manfaat yang dapat


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 31
terus berlangsung dan berkembang. Kesanggupan desa untuk memelihara
hasil kegiatan tersebut sudah termasuk pada kriteria pengajuan usulan desa
pada musyawarah desa (merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
usulan desa) dan MAD.

Tujuan
1) Menjamin terpelihara serta berkelanjutannya fungsi sarana dan
prasarana yang telah dibangun dengan kemampuan masyarakaat
sendiri.
2) Meningkatkan berfungsinya kelembagaan masyarakat di desa dan
kecamatan dalam pengelolaan program.

Kegiatan PemeIiharaan Prasarana
Prasarana yang telah dibangun oleh perlu diperiksa secara rutin,
kemudian kekurangan-kekurangannya diperbaiki secara kelompok.
Pemeliharaan untuk prasarana ini dapat ditangani dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
1) Langkah pertama dalam pemeliharaan adalah penentuan bagian
yang harus dipelihara, yaitu dengan cara menginventarisasi bagian-
bagian prasarana yang mudah rusak akibat penggunaannya.
2) Dari inventarisasi masalah-masalah tersebut, ditentukan hal mana
yang dapat diperbaiki dengan sumber daya alam dan sumber daya
manusia yang ada di desa.
3) Yang diluar kemampuan masyarakat, harus dilaporkan kepada
Kepala Desa dan Camat dengan tembusan kepada dinas terkait di
kabupaten (misalnya jika terjadi kerusakan jembatan atau longsor
besar) untuk meminta pertimbangan dan nasihatnya.
4) Kelompok-kelompok pemeliharaan harus memilih waktu yang paling
tepat untuk mengidentifikasikan masalah, misalnya pada prasarana
jalan pada saat sehabis hujan besar (atau lebih baik lagi pada waktu
hujan deras) atau arus sungai paling kuat untuk prasarana
Jembatan.
5) Prioritas penanganan tidak dapat dilepaskan dari penentuan waktu
yang paling tepat untuk pemeliharaan, yang tergantung jenis
masalah:
i. Keadaan yang berbahaya harus segera ditangani dan
penggunaan prasarana dibatasi/dihentikan sampai keadaan
diperbaiki.
ii. Masalah yang akan mengakibatkan kerusakan besar atas
pemilikan pribadi masyarakat desa (rumah, lahan produktif),
harus segera ditangani, seperti peluapan air yang akan merusak
tanaman di ladang sebelah jalan, atau longsor yang mengancam
rumah penduduk.
iii. Masalah yang akan menyebabkan kerusakan yang lebih luas
dan lebih besar harus segera ditangani, seperti masalah
drainase jalan yang tidak berfungsi.
iv. Adapun masalah yang sebaiknya menunggu cuaca yang baik
demi kualitas perbaikan, asal tidak merugikan masyarakat kalau
menunggu (misalnya pemasangan gorong-gorong baru, atau
pembuatan subteras)
6) Melalui musyawarah desa dipilih tim pemeliharaan dan disyahkan
oleh Kepala Desa, yang terdiri dari beberapa unit:
i. Unit yang menentukan kebutuhan untuk pemeliharaan, sekaligus
yang menilai kembali apakah bagian yang dibutuhkan untuk
dipelihara telah ditangani dengan baik.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 32
ii. Unit yang menugaskan masyarakat untuk memperbaiki hal-hal
yang harus diperbaiki, apakah individu atau kelompok,
iii. Unit yang mengawasi dan membimbing masyarakat dalam
kegiatan pemeliharaan, dan tentu saja orang tersebut harus
terlatih atau sudah memiliki kemampuan teknis,
Tim Pemelihara bertanggung jawab kepada musyawarah desa
melalui musyawarah pertanggungjawaban pemeliharaan prasarana
yang dilakukan secara periodik sesuai kebutuhan.

Sistem PemeIiharaan
Untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan pada tiap jenis prasarana,
telah disediakan fomulir guna membantu Tim Pengelola Pemeliharaan
Prasarana (TP3) di desa. Formulir Daftar Bagian Prasarana Yang Rusak
dan Perlu Dipelihara untuk mencatat kebutuhan pemeliharaan secara
sistematis, yang dapat dilihat pada Form PTO.

Formulir Daftar Bagian Prasarana Yang Rusak dan Perlu Dipelihara diisi
oleh TP3 secara berkala atau sesuai waktu yang diperlukan, dengan
cara sebagai berikut:
1) Memeriksa dan mengamati jenis kerusakan pada bangunan
prasarana.
2) Sambil mengamati, dicatat pada formulir tentang keadaan tiap
masalah yang diamati.
3) Di bagian bawah, ditulis catatan mengenai lokasi/bagian bangunan
tiap jenis prasarana yang perlu diperbaiki.
4) Pada waktu survei identifikasi pemeliharaan, diisi dengan kode:
1 = masalah ringan
2 = masalah sedang
3 = masalah berat

Kode ditentukan sesuai dengan pentingnya masalah, bukan besarnya
pekerjaan yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah.

Penentuan Prioritas PemeIiharaan
TP3 akan menentukan prioritas berdasarkan kriteria-kriteria yang
diuraikan di atas, ditambah pertimbangan beban pekerjaan dan
pemerataan beban pada kelompok-kelompok masyarakat. Jika
pemeliharaan ditangani melalui pengurus RT (Rukun Tetangga), survei
dan penentuan prioritas dapat dilakukan oleh RT masing-masing, dan
TP3 dapat menilai keberhasilan tiap RT.

Langkah-Iangkah PemeIiharaan
1) Prioritas untuk pemeliharaan ditentukan oleh TP3.
2) Dibuat jadwal pekerjaan dan disepakati penanggung jawabnya,
berfungsi sebagai kepala kelompok pemeliharaan.
3) Hasil pemeliharaan oleh RT atau kelompok diperiksa oleh unit yang
mengawasi dan membimbing kegiatan pemeliharaan dalam TP3.
4) Bagian yang sudah diperbaiki dengan baik dapat ditandai dengan
"X" pada formulir survei.

PeIatihan PemeIiharaan
FT-Kec dibantu FT-Kab wajib memberikan pelatihan kepada anggota
TP3 pada waktu pelaksanaan kegiatan hampir selesai. Dalam acara
tersebut, TP3 diberi materi meliputi:
1) Kepentingan pemeliharaan,
2) Organisasi dan pengelolaan pemeliharaan,


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 33
3) Teknik pemeliharaan, seperti teknik melakukan inventarisasi
masalah dan teknik memperbaikinya.
4) Cara menghitung besaran iuran untuk pemeliharaan tiap jenis
prasarana yang dibutuhkan.

Pada penjelasan di bawah diuraikan pengembangan tentang
pengelolaan pemeliharaan dan permasalahan yang terkait
pemeliharaan, penyusunan dimaksudkan untuk memberikan gambaran
tentang pemeliharaan dan dipakai sebagai pandangan baru terhadap
pemeliharaan yang dilengkapi dengan langkah-langkah untuk
mensukseskan pemeliharaan prasarana dalam rangka pelestarian.

Tujuh Langkah Mensukseskan PemeIiharaan Prasarana Desa
Tujuh langkah di bawah ini didasarkan pada sudut pandang baru
tentang pemeliharaan. Para pemeriksa prasarana adakalanya memiliki
asumsi yang salah. Yang sebenarnya mereka lihat di lapangan bukan
bukti/fakta bahwa pemeliharaan tidak dilakukan, tetapi bukti/fakta bahwa
prasarana tidak dibangun dengan baik. Seringkali yang sebenarnya
terjadi adalah kesalahan desain daripada kesalahan dalam
pemeliharaan. Atau barangkali yang sering terjadi adalah tidak
dilakukannya pengendalian kualitas pelaksanaan secara ketat. Yang
paling sering terjadi dalam masalah pemeliharaan adalah lebih
disebabkan oleh kualitas atau volume bahan yang kurang memadai.

Ada bukti dari lapangan bahwa umumnya masyarakat mau memelihara
prasarana yang manfaatnya dapat mereka rasakan. Hanya saja upaya
pemeliharaan yang dilakukan masih sangat terbatas, dan bahkan masih
jauh dari yang diharapkan.

Jika tujuh langkah di bawah ini dapat dilaksanakan dengan sungguh-
sungguh, maka hampir dipastikan bahwa upaya pemeliharaan yang
dilakukan oleh masyarakat akan jauh lebih baik dari sebelumnya.
Padahal pengeluaran biaya dan tenaga tidak jauh berbeda. Dengan
mengikuti ketujuh langkah ini diharapkan akan berhasil mengubah sikap
terhadap kebutuhan dan tanggung jawab pemeliharaan.

1) Langkah pertama adaIah perubahan sudut pandang.
Pada saat menemukan masalah di lapangan jangan langsung
memutuskan disebabkan oleh kurangnya kegiatan pemeliharaan.
Karena mungkin saja masalah yang muncul disebabkan oleh desain
yang salah, pengendalian kualitas yang rendah atau karena kualitas
dan volume bahan yang kurang tepat. Dengan kata lain, ketika
pemeriksaan dilakukan maka yang harus dipikirkan dari awal adalah
masalah kualitas prasarana. Karena prasarana desa seharusnya
dibangun dengan teknik yang dapat meminimalkan upaya
pemeliharaan. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah
punggung sapi, saluran pinggir, pelandaian tebing, jarak antara
sumber air dan peresapan, cat antikarat, dan sebagainya.

Dengan demikian, para fasilitator, pemerintah, dan konsultan atau
lainnya jika melakukan kunjungan harus selalu mengangkat dan
mengutamakan masalah kualitas dan sekaligus menjelaskan
alasannya. Alangkah baiknya bila ada contoh jelek pada prasarana
lain di sekitarnya.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 34
Bagi juru desain, tidak boleh melupakan hal-hal yang akan
menyelamatkan kegiatan proyek. Harus digambar secara eksplisit
agar jelas.

Bagi pemeriksa desain, jangan menyetujui desain yang belum jelas
atau lengkap. Hal itu tidak mendidik masyarakat tentang kualitas.

2) Langkah kedua adaIah adanya Penanggung jawab pemeIiharaan
prasarana.
Untuk turut serta dalam kegiatan pemeliharaan yang rutin (setiap
sekian minggu sekali) seringkali masyarakat memandang sebagai
pekerjaan yang membosankan. Karena itu perlu dibentuk tim
penanggung jawab pemeliharaan prasarana. Tokoh masyarakat
yang sangat dihargai karena ilmunya, usianya atau keberhasilannya,
diutamakan untuk direkrut menjadi anggota tim penanggung jawab
pemeliharaan. Pada dasarnya masyarakat akan dapat memahami
kepentingan pemeliharaan, asalkan dijelaskan oleh tokoh yang
dihormati.

Tim penanggung jawab (jumlahnya tidak penting) hanya memantau
proses dan hasil pemeliharaan. Jika diberitahukan bahwa
pemeliharaan sangat diperlukan, maka tim ini akan membantu
menggerakkan masyarakat lain.

3) Langkah ketiga adaIah adanya tim dan metode kerja Iapangan.
Untuk mewujudkan pemeliharaan prasarana yang efektif dan tepat
waktu, desa harus mempunyai organisasi atau tim yang akan rajin
terjun ke lapangan untuk mencari data tentang status dan kebutuhan
pemeliharaan. Tim ini akan lebih sesuai jika diisi oleh tenaga muda
yang potensial (Tim Pemuda). Sudah ada metodologi dan formulir
untuk mencatat kebutuhan (nventarisasi Bagian Jembatan yang
Perlu Dipelihara, mirip dengan metode SAP/VAP/MAP yang telah
diberikan pada pelatihan untuk perencanaan jalan.

Tim ini membuat jadwal kunjungan, atau memanfaatkan kesempatan
ideal untuk melihat kebutuhan, misalnya pada saat hujan deras
untuk prasarana jalan dan jembatan. Pada saat hujan dapat melihat
apakah saluran yang ada kurang besar atau terlalu aliran air terlalu
deras, terdapat air yang mengalir di tengah jalan, apakah fondasi
jembatan diserang air, dan sebagainya. Untuk sumber air bersih
dan irigasi harus dilihat pada saat sulit air, tetapi untuk prasarana
bendungan justru harus dilihat pada saat akan banjir.

Jadi sifat yang paling penting untuk tim ini adalah rajin terjun ke
lapangan, walaupun jauh maupun hujan. Hasil kunjungan dibahas
bersama dalam tim. Selanjutnya tim melaporkan hasilnya kepada tim
penanggung jawab. Sebaiknya, hasilnya ditempel secara transparan
di papan informasi.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 35



4) Langkah keempat adaIah adanya peIatihan teknik.
Tim-tim yang dimaksudkan di atas perlu diberi pelatihan tentang dua
hal, yaitu mengenai tugasnya dan tentang teknik pemeliharaan. Hal
tersebut akan berbeda untuk kedua jenis tim.
i. Untuk Tim Penanggung jawab. Tim ini harus mengerti bahwa
tugas mereka adalah memimpin pertemuan, membuat laporan
kepada masyarakat, dan menjelaskan rencana pemeliharaan.
Untuk menjelaskan rencana pemeliharaan harus mengetahui
teknik-teknik yang biasa dipakai, walaupun tidak perlu ahli sekali.
ii. Untuk Tim Pemuda. Untuk terjun ke lapangan, tim ini perlu
menerapkan format-format inventarisasi, dapat menentukan
prioritas, pintar mengantisipasi masalah, dan bersemangat.

Kedua tim ini tidak dimaksudkan sebagai tenaga yang akan
melaksanakan kegiatan pemeliharaan. Pelaksanaan pekerjaan
pemeliharaan tetap dilakukan oleh masyarakat. Sebagai anggota
masyarakat, tentunya anggota tim ini dapat juga turut bekerja dalam
kegiatan pemeliharaan. Masyarakat yang bekerja dalam kegiatan
pemeliharaan tersebut, mungkin saja masih awam terhadap hal-hal
teknis. Karena itu masyarakat juga harus dilatih agar pekerjaannya
lebih bermutu.

Semua pelatihan yang dimaksudkan harus dilakukan oleh fasilitator
teknik atau fasilitator kecamatan dibantu oleh petugas dinas teknik
dan petugas kecamatan. Pada umumnya pelatihan sejenis ini tidak
perlu banyak biaya, karena dilakukan langsung di desa dan lebih
baik lagi bila langsung di lapangan. Dalam hal pelatihan ini,
sebaiknya melibatkan pendamping lokal dan fasilitor desa sebagai
instruktur pembantu.
Apakah setiap prasarana perIu tim sendiri, atau dapat digabung
untuk beberapa prasarana?
Jawabannya, boleh satu tim, dan juga boleh digabung untuk beberapa
prasarana. Hal ini tergantung pada volume pekerjaan, keahlian dalam tim,
lokasi prasarana dan jumlah pemanfaat. Sebenarnya relatif lebih mudah
membentuk tim untuk memelihara air bersih karena pemanfaatnya jelas dan
mudah dihitung. Sebaliknya lebih sulit mencari orang untuk memelihara
prasarana yang dinikmati semua, seperti jalan.
Pada prinsipnya tidak ada pembatasan jumlah tim. Tim-tim ini dapat saja aktif
untuk semua prasarana yang dibangun oleh suatu proyek. Sebaiknya tidak perlu
tim tersendiri. Akan lebih teratur, efektif, dan komprehensif bila ada tim
gabungan yang menangani semua jenis prasarana, dari mana pun sumbernya.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 36

5) Langkah keIima adaIah memantau prasarana Iama.
Langkah kelima ini mirip dengan langkah pertama, yaitu mencoba
mengubah sikap orang seperti: konsultan, fasilitator, dan aparat
yang berkunjung ke lapangan. Pada saat melakukan kunjungan
lapangan, seringkali mereka memeriksa dan mencatat banyak hal
tetapi tidak pernah menanyakan tentang pemeliharaan atau status
prasarana yang dibangun pada tahun-tahun yang lalu.

Biasanya yang diperhatikan adalah konstruksi baru yang dipandang
lebih menarik dan cantik bila difoto. Sementara itu masyarakat
selalu melihat apa yang dilakukan oleh para pengunjung (konsultan,
fasilitator, aparat) dan akan digunakan sebagai contoh. Jika para
pengunjung yang seringkali dijadikan teladan ini tidak peduli
masalah pemeliharaan bagaimana dengan masyarakat itu sendiri
yang belum tentu mengerti tentang pentingnya pemeliharaan.

Bisa dibayangkan, bagaimana respons masyarakat bila setiap
kunjungan dimulai dengan pemeriksaan prasarana yang dikerjakan
satu atau dua tahun sebelumnya. Dengan memantau atau
memeriksa prasarana lama yang telah dikerjakan pada tahun-tahun
sebelumnya, tentunya akan mendorong penanganan pemeliharaan
yang lebih baik. Apalagi bila dikaitkan dengan Langkah ke enam di
bawah ini.

6) Langkah keenam adaIah adanya sanksi karena tidak
memeIihara.
Langkah keenam adalah sanksi bagi desa yang tidak melakukan
pemeliharaan rutin. Disarankan ada sanksi bagi desa yang tidak
melakukan pemeliharaan rutin. Rapat BKAD/Musyawarah Antar
Desa dapat menyepakati aturan sanksi, dan informasi ini perlu
disebarluaskan. Contoh sanksi termasuk:
i. Desa yang tidak memelihara prasarana tidak berhak lagi
mengikuti kompetisi.
ii. Atau desa yang tidak memelihara prasarana ditetapkan batas
biaya maksimal yang dapat diusulkan.
iii. Sanksi bisa lebih spesifik tentang lokasi (dusun), tentang jenis
proyek, atau yang lainnya.

Sebaiknya tidak perlu terkena sanksi untuk peristiwa yang luar biasa,
seperti banjir 50-tahunan, atau pemeliharaan yang memerlukan
biaya besar.

Siapa yang berhak untuk mengatakan bahwa prasarana tidak cukup
dipelihara? Pertanyaan ini mungkin paling sulit untuk dijawab. Yang
berhak mengambil keputusan adalah BKAD/Musyawarah Antar
Desa, tetapi BKAD sendiri tidak akan turun melihat semua desa.
Karena mungkin saja ada unsur bias didalam melakukan penilaian.
Semakin besar jumlah desa yang digagalkan karena terkena sanksi,
akan semakin besar porsi dana untuk desa yang masih
berpartisipasi.

BKAD dapat mengorganisasi proses penilaian yang melibatkan tim
kecil yang terdiri dari wakil desa lainnya, dan setiap desa dikunjungi
oleh dua tim agar penilaian dapat dibandingkan.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 37
Juga dimungkinkan adanya naik banding bagi desa yang dinilai
jelek, seperti pada saat kurang setuju dengan penilaian tim verifikasi.
Untuk tugas ini FT-Kab dapat membantu, tetapi bukan merupakan
solusi yang sustainable. Melainkan hanya digunakan untuk memberi
contoh tentang cara tepat dalam melakukan penilaian.

7) Langkah ketujuh adaIah adanya dana pemeIiharaan.
Alangkah baik bila disediakan dana khusus untuk masalah
pemeliharaan, terutama untuk pemeliharaan prasarana yang di luar
kemampuan desa dari segi volume atau biayanya. Hal ini dengan
asumsi bahwa dana yang ada di desa masih sangat terbatas. Untuk
jenis proyek tertentu, mungkin dapat mengumpulkan dana
pemeliharaan yang cukup besar, tetapi untuk jenis proyek lainnya
mungkin sangat sulit.

Untuk mengurangi timbulnya ketergantungan dana dari pemerintah,
dibuat prasyarat yang harus dipenuhi sebelum dana tambahan
dipertimbangkan:
i. Organisasi pemeliharaan ada dan aktif
ii. Terjadi pertemuan rutin
iii. Tim kecil pemuda dapat disertakan untuk melakukan survei atas
kebutuhan pemeliharaan
iv. Masyarakat sudah menyumbang sesuai kemampuannya.

Dalam hal ini perlu juga diitegaskan bahwa dana pemeliharaan tidak
boleh disediakan dari biaya konstruksi. Banyak desa yang
beranggapan bahwa dana pemeliharaan tidak diperlukan. Meskipun
demikian, ada juga desa yang memerlukan dana pemeliharaan jauh
di atas kemampuan desa.

Jika dana pemeliharaan sudah disediakan pada saat konstruksi,
pasti akan dihabiskan untuk hal-hal yang tidak perlu atau relevan.
Orang yang bertanggung jawab dalam pengelolaan dana ini akan
dicurigai dan menjadikan semakin beratnya tugas Tim Pengelola
Kegiatan.






Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 38
4.2. KEGIATAN BIDANG PELAYANAN PENDIDIKAN

4.2.1. Dasar Pemikiran
Bidang pendidikan merupakan salah satu jenis kegiatan yang dapat dipilih
masyarakat secara demokratis pada Musyawarah Desa dan Musyawarah Antar
Desa. Sejalan dengan prinsip open menu, semua jenis kegiatan pendidikan
formal dan non formal (termasuk pelatihan ketrampilan masyarakat) bertujuan
untuk meningkatkan kapasitas rumah tangga miskin.

4.2.2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mempercepat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan
menitikberatkan pada pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan
kualitas pendidikan, dan peningkatan kapasitas rumah tangga miskin
perdesaan sebagai bagian dari upaya mempercepat pengentasan
kemiskinan.

b. Tujuan Khusus
Meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa miskin/anak putus sekolah
dengan prioritas menyelesaikan pendidikan dasar 9 tahun melalui
pemberian beasiswa.
Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar melalui bantuan -
prasarana dan sarana pendidikan, peningkatan kualitas guru dan
metode pengajaran.
Meningkatkan kepedulian orang tua siswa rumah tangga miskin dan
komite sekolah terhadap pentingnya pendidikan.
Meningkatkan kapasitas rumah tangga miskin perdesaan melalui
pelatihan bagi pemuda putus sekolah, ibu-ibu rumah tangga untuk
menciptakan daya saing dan lapangan kerja.

4.2.3. Sasaran Dan Jenis Kegiatan
a. Sasaran Program
Kelompok penerima manfaat kegiatan pendidikan adalah rumah tangga
miskin, anak rumah tangga miskin usia sekolah, sekolah dasar/M dan
SMP/MTs, guru, dan Komite Sekolah di lokasi PNPM Mandiri Perdesaan.

b. Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan pendidikan yang dapat didanai oleh PNPM Mandiri
Perdesaan dikategorikan dalam empat bagian , yaitu :

Beasiswa
Bantuan beasiswa diperuntukkan bagi murid/siswa belajar/anak dari
rumah tangga miskin dalam mendukung pelaksanaan program
pendidikan wajib belajar 9 tahun. Ketentuan beasiswa :
1) Penerima beasiswa tersebut tidak sedang mendapatkan beasiswa
dari sumber lain.
2) Beasiswa dimanfaatkan untuk iuran bulanan sekolah, biaya
praktikum, biaya ujian dan pembelian perlengkapan sekolah
(seperti: buku dan alat tulis, buku-buku pelajaran).
3) Jangka waktu beasiswa disesuaikan dengan jenjang pendidikan
penerima beasiswa.
4) Pemberhentian beasiswa, dilakukan atas persetujuan Musyawarah
Desa
5) Pemberian bantuan beasiswa diinformasikan kepada seluruh warga
masyarakat termasuk, setiap orang tua penerima beasiswa melalui
papan informasi.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 39
6) Setiap orang tua dari penerima beasiswa wajib memotivasi anaknya
untuk belajar.

Mekanisme pengeIoIaan beasiswa :
1) Pemberian dana beasiawa yang lebih dari satu tahun dikelola oleh
Pokja Pendidik di Kecamatan. (Lihat poin 4.2.5 tentang Pengelolaan
Dana Multiyears)
2) Beasiswa yang berupa iuran sekolah, dapat dibayarkan langsung
(dari rekening Pokja Pendidikan) ke sekolah tiap 6 bulan.
3) Pembayaran beasiswa harus didukung dengan bukti-bukti
pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan seperti daftar
penerima beasiswa, bukti transfer, dan kuitansi yang dikeluarkan
pihak sekolah.
4) Proses pembayaran harus diketahui semua pihak, antara lain:
BKAD, UPK, Fasilitator Kecamatan, TPK, Kades, Kadus, Komite
Sekolah.
5) Pembayaran dana beasiswa sekolah harus dilengkapi surat
perjanjian dengan pihak sekolah. Salah satu isi dari perjanjian
tersebut adalah dapat ditariknya kembali beasiswa apabila penerima
beasiswa tidak dapat melanjutkan sekolahnya.
Peningkatan Pelayanan Pendidikan
Pelayanan pendidikan adalah kegiatan pendidikan yang meliputi akses,
mutu dan manajemen pendidikan. Untuk memudahkan masyarakat
(rumah tangga miskin) mendapatkan akses pelayanan pendidikan, maka
PNPM Mandiri Perdesaan memberikan bantuan pendanaan kepada
lembaga penyelenggara pendidikan (sekolah, penyelenggara program
paket belajar, sekolah terbuka, sekolah filial/kelas jauh, atau lembaga
pelayanan pendidikan lainnya). Dalam pelaksanaan pengelolaan
bantuan kegiatan ini lebih transparan, TPK wajib melibatkan Komite
Sekolah.

Ketentuan peningkatan peIayanan pendidikan:

1) Sekolah/lembaga penerima bantuan adalah sekolah/lembaga
pendidikan tingkat dasar wajib belajar 9 tahun, dengan kondisi:
i. prasarana dan sarananya kurang memadai/layak untuk
mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar
ii. jumlah tenaga pengajarnya kurang memadai
iii. khusus sekolah formal harus mempunyai Komite sekolah.
iv. tercatat pada dinas pendidikan


1. Daftar calon penerima beasiswa harus sudah tersedia pada saat
MKP dan Musdes Perencanaan
2. Bantuan perlengkapan dan peralatan sekolah diserahkan secara
langsung oleh TPK kepada semua penerima beasiswa dengan
disaksikan orang tua, Kepala Desa, BPD, dan Komite Sekolah dan
menandatangani Daftar Tanda Terima. Fasilitator Kecamatan
memastikan bahwa bantuan tersebut diterima secara utuh.
3. Usulan yang telah ditetapkan pada Musyawarah Antar Desa
penetapan usulan, dipastikan oleh Fasilitator Kecamatan agar
tidak tumpang tindih dengan program lain dan tidak bertentangan
dengan rencana pendidikan setempat


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 40

2) Bantuan peningkatan pelayanan pendidikan digunakan untuk :
i. pembelian bahan-bahan penunjang belajar mengajar di
sekolah,seperti: buku wajib belajar, dan alat peraga sederhana.
ii. pelatihan guru (pengembangan metode belajar yang
menyenangkan dan pengembangan media belajar) .
iii. penambahan insentif bagi guru honorer/guru bantu dan
pembayaran honor guru baru (tambahan).
iv. pembangunan/perbaikan/perawatan gedung sekolah (ruang
kelas, perpustakaan,laboratorium, kamar mandi/wc, tempat cuci
tangan, ruang Unit Kesehatan Sekolah dan ruang guru)
v. pembelian meubelair



Pelatihan Keterampilan Masyarakat
Bantuan Pelatihan ketrampilan masyarakat dipergunakan untuk
meningkatkan kemampuan rumah tangga miskin sesuai dengan
potensi,bakat dan minat yang dimilikinya sehingga menciptakan daya
saing dan peluang tenaga kerja antara lain: kursus menjahit,bengkel
otomotif, sablon,buta aksara dll. Ketentuan bantuan pelatihan
keterampilan adalah sebagai berikut:
1) Persyaratan bantuan biaya pelatihan ketrampilan adalah anggota
rumah tangga miskin usia kerja produktif.
2) Bantuan dipergunakan untuk: pembelian peralatan dan bahan-
bahan kursus/pelatihan,membayar honor instruktur, transportasi dan
kebutuhan lain yang relevan.
3) Besarnya bantuan biaya kursus /pelatihan disesuaikan dengan
kebutuhan riil dan harga setempat .
4) Kewajiban penerima bantuan adalah mengikuti pelatihan/kursus
sampai selesai dan melakukan alih keterampilan yang dimiliki
kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkan.

Pengembangan wawasan dan kepedulian.
Bantuan pengembangan wawasan dan kepedulian dimaksudkan untuk
meningkatkan pemahaman bagi rumah tangga miskin tentang
pentingnya pendidikan baik formal maupun non formal. Bentuk bantuan
kegiatan dapat berupa kampanye pendidikan, pertemuan komite
sekolah, dan lokakarya desa dengan tema-tema seperti: gender,
lingkungan, hak anak, bahaya penggunaan obat-obat terlarang, bahaya
a) Pembangunan dan perbaikan sekolah/perpustakaan mengacu
pada ketentuan standar teknis yang ada.
b) Bantuan guru honorer sebaiknya bersifat multiyears untuk
menjamin ketersediaan tenaga guru. Persyaratan, proses seleksi
dan besarnya honor guru ditentukan oleh masyarakat pada
Musyawarah Antar Desa berdasarkan konsultasi dengan kepala
sekolah dan Komite sekolah.
c) Besarnya honor guru disesuaikan dengan standar UMR setempat
yang berlaku.
d) BKAD menugaskan Badan Pengawas UPK dan Tim Pemantau
melakukan pengawasan dan pemantauan guna menjamin
efektifitas pengelolaan dana dan pelaksanaan pelayanan
pendidikan yang diberikan pada masyarakat. Hasil kerja Tim
Pengawas dan Tim Pemantau dilaporkan pada rapat BKAD/MAD
dan Musdes.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 41
pestisida dan pupuk kimia, hak-hak sipil masyarakat, antisipasi konflik,
pendidikan dan kesehatan.

4.2.4. Mekanisme PengeIoIaan Kegiatan
a. Perencanaan
Tahapan perencanaan kegiatan pendidikan meIiputi:

Sosialisasi
Sosialisasi dilakukan di tingkat kecamatan, desa, dusun, kelompok, dan
Komite Sekolah. Sosialisasi tidak hanya pada forum forum pertemuan
resmi tetapi juga pertemuan informal di masyarakat. Maksud dari
sosialisasi ini adalah agar tujuan, sasaran, jenis kegiatan dan
mekanisme bidang layanan pendidikan dimengerti masyarakat.

Penggalian gagasan bidang pendidikan
Penggalian gagasan difasilitasi oleh KPMD dibantu oleh Fasilitator
Kecamatan/PL dengan menggunakan peta sosial dan kalender musim
yang dibuat dalam musyawarah dusun dan desa. Peta sosial dibuat
bersama masyarakat dusun dan desa dengan melibatkan komite
sekolah, guru dan kepala sekolah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggalian gagasan untuk
bidang pendidikan masyarakat:
1) Fasilitator Kecamatan melakukan koordinasi dengan Kantor Cabang
Dinas Pendidikan di kecamatan dan pihak sekolah agar memberikan
informasi kepada Komite Sekolah untuk mengikuti proses
penggalian gagasan.
2) dentifikasi calon penerima manfaat bantuan pendidikan dilakukan
oleh KPMD dengan melibatkan kades, kadus dan anggota Komite
Sekolah setempat. dentifikasi meliputi jumlah rumah tangga miskin,
jumlah anak putus sekolah dan yang terancam putus sekolah, anak
usia sekolah yang belum sekolah, jumlah pengangguran, dan
sebagainya.
3) Jenis kegiatan bidang pendidikan terutama beasiswa dan honor guru
akan lebih efektif jika diberikan lebih dari satu tahun (multiyears).
Dana multiyears juga dapat diberikan dalam lingkup kecamatan,
artinya semua desa dalam satu Kecamatan memilih pola multiyears.
Keputusan bantuan multiyears dilakukan oleh masyarakat sendiri
setelah mereka mendapatkan informasi mengenai manfaat dan
permasalahan yang akan timbul.

Manfaat bantuan multiyears antara lain:
i. Target bidang pendidikan untuk penyelesaian pendidikan dasar
6 (enam) atau 9 (sembilan) tahun tercapai.
ii. Memastikan ketersediaan tenaga guru.
iii. Memperkuat kelembagaan Komite Sekolah (organisasi, uraian
kerja, mekanisme dan tata kerja, kapasitas pengurus)



Catatan:
Masyarakat perlu mendiskusikan sendiri mekanisme pengelolaan
bantuan pendidikan multiyears untuk menjamin keberlanjutan
pengelolaan keuangan secara akuntabel dan transparasi pada
pasca program (dimana tidak ada fasilitator Kecamatan di lokasi
PNPM Mandiri Perdesaan).


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 42

Penulisan usulan
Proposal kegiatan pendidikan masyarakat berisi tentang jenis kegiatan,
pemanfaat, cara pelaksanakan kegiatan, keterkaitan dengan pihak
lainnya, perkiraan RAB, rencana pelestarian dan pengembangannya.
Narasumber dalam penulisan usulan adalah kantor cabang dinas
pendidikan, komite sekolah, kepala sekolah, guru dan kelompok
pengusul

Verifikasi Usulan
Hal yang perlu diperhatikan dalam proses verifikasi usulan bantuan
peningkatan pelayanan pendidikan dan beasiswa :
1) Tim verifikasi melakukan diskusi dengan komite sekolah, kepala
sekolah dan guru untuk memastikan bahwa usulan kegiatan benar-
benar dibutuhkan oleh rumah tangga miskin. Jika belum ada Komite
sekolah perlu dipastikan sekolah akan membentuknya sebelum MAD
pendanaan.
2) Memastikan bahwa jenis usulan kegiatan tidak tumpang tindih
dengan pendanaan sumber lain.
3) Untuk pemberian beasiswa perlu dipastikan bahwa penerima
beasiswa adalah rumah tangga miskin dan tidak menerima bantuan
dari sumber lain.
4) Besarnya beasiswa yang dibutuhkan dan bersifat multiyears
5) Beasiswa dianggarkan pada Rencana Anggaran Sekolah agar dapat
diketahui rencana penggunaannya.






b. PeIaksanaan kegiatan
Proses Pelaksanaan kegiatan pendidikan masyarakat adalah:
Pelaksanaan kegiatan pendidikan masyarakat dilakukan oleh TPK.
Untuk mengelola kegiatan ini TPK dapat membentuk bidang pendidikan.
Sebelum melaksanakan kegiatan, TPK bidang pendidikan harus dilatih
terlebih dahulu. Pelatihan dilakukan oleh Fasilitator Kecamatan/PL
dengan materi: kebijakan PNPM Mandiri Perdesaan, alur tahapan
kegiatan, jenis-jenis kegiatan pendidikan masyarakat, tugas TPK bidang
pendidikan, dan administrasi keuangan.
Penyusunan rencana kerja dan pencairan dana difasilitasi oleh
Fasilitator Kecamatan dan PL dengan mengacu pada proposal.
Pengadaan bahan dan alat mengikuti proses yang ada
Penyaluran dana bidang pendidikan diberikan kepada penerima manfaat
oleh TPK bidang pendidikan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Sertifikasi kegiatan pendidikan masyarakat dilakukan oleh Fasilitator
Kecamatan dengan melibatkan cabang Dinas Pendidikan setempat
dengan memperhatikan kemungkinan pelestarian dan pengembangan
kegiatan tersebut.
Serah terima kegiatan pendidikan masyarakat dilakukan oleh TPK
kepada masyarakat melalui forum Musyawarah Desa. Dokumen serah
terima disusun oleh TPK bersama KPMD dan pengurus kelompok
kegiatan. Beberapa jenis kegiatan pendidikan perlu dilestarikan
sehingga pada forum ini perlu dibentuk Tim Pemelihara.

Fas. Kab memastikan kegiatan pendidikan yang diusulkan
masyarakat tidak didanai oleh Dinas Pendidikan dan atau
Departemen Agama Tingkat Kabupaten.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 43

4.2.5. PengeIoIaan Dana Multiyears
Bantuan dana PNPM Mandiri Perdesaan yang bersifat multiyears (lebih dari 1
tahun) membutuhkan pengelolaan secara khusus melalui suatu Kelompok Kerja
(Pokja) Pendidikan di tingkat Kecamatan yang keanggotaannya dipilih secara
transparan dan demokratis serta bertanggung jawab pada Musyawarah Antar
Desa. Untuk memastikan akuntabilitas, maka Pokja Pendidikan disarankan
beranggotakan minimal 3 orang yang terdiri dari Ketua dan anggota. Pengurus
Pokja berasal dari unsur UPK, Komite Sekolah, TPK, Tokoh Masyarakat,
pemerhati pendidikan, dan dibentuk pada MAD Prioritas usulan. MAD/BKAD
memberikan wewenang kepada Badan Pengawas UPK untuk mengontrol
penggunaan dana pendidikan.


a. Tugas Utama Pokja dan Bidang Pendidikan adaIah:
Mengelola bantuan multiyears (khususnya dalam pencairan dana) pada
program dan setelah berakhirnya PNPM Mandiri Perdesaan.
1) Membuka rekening Pendidikan dengan specimen 3 orang yaitu
ketua Pokja dan 2 orang anggota terdiri dari unsur UPK, dan salah
satu Tokoh Masyarakat yang dipilih dalam MAD Penetapan usulan.
2) Menyalurkan dana kegiatan pendidikan berdasarkan Surat
Penetapan Camat (SPC)
3) Mengadministrasikan keuangan dan kegiatan penyaluran dana di
Kecamatan.
Melakukan mediasi dan koordinasi dengan pihak pemerintah (Cabang
Dinas Pendidikan Kecamatan) untuk peningkatan pelayanan pendidikan.
Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan bantuan Pendidikan
PNPM Mandiri Perdesaan.

Catatan: Keterlibatan UPK sebagai salah satu penanda tangan rekening
pendidikan (Pokja) dimaksudkan untuk fungsi pengawasan.

b. Pencairan dan PenyaIuran Dana Multiyears
Mekanisme pencairan dan penyaluran dana pendidikan multiyears,
keanggotaan Pokja dan specimen rekening pendidikan disepakati dalam
MAD Penetapan Usulan. Secara garis besar mekanisme pencairan dan
penyaluran dana pendidikan multiyears sebagai berikut:
TPK mengajukan RPD total kegiatan pendidikan ke UPK sesuai total
anggaran yang disetujui pada MAD Penetapan usulan.
UPK menyalurkan dana kegiatan pendidikan kepada TPK
berdasarkan RPD Total yang diajukan.
TPK membuka rekening kolektif Pendidikan di Kecamatan yang
dikelola oleh Pokja Pendidikan.
TPK mengajukan RPD sesuai kebutuhan dan dilampiri daftar penerima
manfaat ke Pokja Pendidikan.
Pencairan kedua dan seterusnya disertai LPD yang harus diverifikasi
terlebih dahulu oleh UPK dan Fasilitator Kecamatan (bila masih
bertugas) untuk memastikan bahwa RPD yang diusulkan tidak
melampaui anggaran satu tahun.
Setelah diperiksa, maka pokja mencairkan dana ke TPK sesuai RPD
yang diajukan.






Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 44
Penting:
R Pokja hanya berwenang mencairkan dana berdasarkan rencana
anggaran tahunan TPK yang telah disetujui MAD Penetapan Usulan atau
forum yang diberi kewenangan oleh MAD untuk mencairkan dana
tersebut.
R Pencairan dana dilaksanakan berdasarkan RPD yang diusulkan TPK
setelah diperiksa oleh Fasilitator Kecamatan (bila masih bertugas)



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 45
Alur Mekanisme Penyaluran Dana Pendidikan Multiyears





4.2.6. PENGEMBANGAN DAN KEBERLANJUTAN
a. Bantuan dana PNPM Mandiri Perdesaan untuk bidang pendidikan
berbentuk hibah sehingga keberlanjutannya menjadi tanggung jawab
penerima manfaat dan masyarakat. Keberlanjutan kegiatan sudah harus
dipikirkan dan direncanakan sejak pada tahap perencanaan kegiatan.
b. Fasilitator Kecamatan memfasilitasi TPK untuk memperoleh bantuan teknis
maupun keuangan ke Kantor Cabang Diknas Pendidikan Kecamatan
maupun sumber lain.
c. Fasilitator Kecamatan memfasilitasi UPK untuk mengalokasikan dana
beasiswa yang bersumber dari sebagian jasa keuntungan perguliran UEP
maupun SPP.
d. Fasilitator Kecamatan melakukan koordinasi dengan lembaga keuangan
dan asuransi setempat untuk menjajagi kemungkinan asuransi pendidikan
sebagai salah satu model pelestarian yang ditawarkan ke
BKAD/Musyawarah Antar Desa.
e. Fasilitator Kabupaten melakukan rekapitulasi usulan pendidikan hasil MAD
dalam wilayah kerjanya dan memfasilitasi Pokja Pendidikan Kecamatan
dengan pemerintah daerah, swasta, dan LSM yang peduli dengan masalah
pendidikan.












5(.83. 5(.3(1',',.$1
(3 SPESIMEN)

TPK
5
3
'

7
2
7
$
/

5
3
'

7
2
7
$
/



5
3
'

6
(
6
8
$
,

.
(
%
8
7
8
+
$
1

/
3
'

5
3
'

6
(
6
8
$
,

.
(
%
8
7
8
+
$
1

/
3
'


'(6$
.(&$0$7$1


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 46
4.3. BIDANG LAYANAN KESEHATAN

4.3.1. Dasar Pemikiran
Sejalan dengan kebijakan Pemerintah melalui program MENUJU INDONESIA
SEHAT 2010 yang mempunyai tujuan meningkatkan kesadaran,kemauan,dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal, PNPM Mandiri Perdesaan mengembangkan kegiatan
peningkatan peran serta masyarakat melalui penyadaran dan perubahan
perilaku, penyediaan bantuan bidang layanan kesehatan masyarakat
khususnya sasaran rumah tangga miskin. Kegiatan bidang layanan kesehatan
ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan
membantu mengatasi permasalahan kesehatan bagi rumah tangga miskin,
seperti: dengan adanya perubahan perilaku tidak sehat menjadi perilaku hidup
bersih dan sehat, perbaikan gizi, meningkatnya akses pelayanan kesehatan
melalui pembangunan polindes dan posyandu, penyediaan obat dan
peningkatan kapasitas kader kesehatan masyarakat, serta penciptaan
lingkungan hidup yang sehat melalui pembangunan sarana dan prasarana
kesehatan (sanitasi dan air bersih), adanya dana/tabungan jaminan
pemeliharaan kesehatan yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Dengan Kegiatan layanan bidang kesehatan diharapkan peningkatan kualitas
sumber daya manusia sehingga mempercepat pencapaian target Millenium
Development Goals (MDGs)

4.3.2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Meningkatkan kesejahteraan rumah tangga miskin dengan meningkatkan
derajat kesehatan rumah tangga miskin, melalui peningkatan peran seta
masyarakat dan mendekatkan bidang pelayanan kesehatan dasar yang
murah, mudah dan terjangkau, serta dapat dikelola mandiri oleh
masyarakat.

b. Tujuan Khusus
Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup bersih
dan sehat serta lingkungan yang sehat.
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan
kesehatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasannya.
Penyediaan pelayanan kesehatan yang lebih berorientasi untuk
pencegahan penyakit dan pengobatan sederhana.
Mendukung upaya pencegahan penyakit menular.
Mengembangkan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi rumah tangga
miskin, yang dikelola oleh kelompok masyarakat secara mandiri yang
sederhana, mudah dipahami dan mudah dikelola serta dapat
dipertanggung-jawabkan oleh masyarakat.

4.3.3. Sasaran dan Jenis Kegiatan
a. Sasaran Program
Kelompok penerima manfaat kegiatan kesehatan adalah rumah tangga
miskin di lokasi PNPM Mandiri Perdesaan

b. Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan kesehatan yang dapat didanai oleh PNPM Mandiri
Perdesaan dikategorikan dalam empat bagian , yaitu :

PenyuIuhan Kesehatan
Bertujuan untuk :


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 47
1) Meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan.
2) Meluruskan pemahaman masyarakat yang salah terhadap masalah
kesehatan
3) Meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengatasi
permasalahan kesehatan
4) Meningkatkan peran serta melalui peningkatan perilaku hidup bersih
dan sehat.
5) Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang
kesehatan, termasuk cara mengatasinya
6) Memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa pencegahan
dini (preventif) lebih baik daripada pengobatan penyakit (kuratif).

Contoh:
Anggapan sebagian masyarakat bahwa diare pada balita merupakan
gejala awal dari proses perkembangan otaknya (tambah pintar).
Sehingga usaha pengobatan sering kali tidak dilakukan, akibatnya
banyak kasus anak meninggal karena kekurangan cairan yang
disebabkan lambatnya pertolongan, anggapan masyarakat bahwa
wanita hamil tidak boleh makan ikan lele, udang nanti bayinya akan
bongkok sehingga ibu dan janin malnutrisi, kebiasaan cuci tangan yang
kurang benar hanya membasuh tangan saja dlsb.

Penyuluhan kesehatan dilakukan dengan cara :
1) Penyediaan alat/media informasi tentang kesehatan seperti poster,
leaflet, papan slogan, CD/VCD dengan tema kesehatan, buku-buku
mini seri kesehatan,
2) Penyuluhan langsung atau kampanye kesehatan, melalui pertemuan
masyarakat, pendidikan kesehatan di sekolah/ UKS.
3) Memanfaatkan media penyebaran informasi yang ada (tertulis dan
elektronik).
4) Penyuluhan dengan demonstrasi / Praktek Cuci Tangan Bersama
untuk kelompok ibu dan siswa SD
5) Penyuluhan melalui wadah lomba misal lomba, Majalah Dinding
dengan tema kesehatan untuk siswa, lomba karya tulis/pidato tema
kesehatan.

Peningkatan KuaIitas PeIayanan Kesehatan Masyarakat
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat dilakukan
dengan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan (pos pelayanan
terpadu/posyandu, poliklinik desa/polindes, Pos Obat Desa/POD dan
ambulan desa), penyelenggaraan pelatihan ketrampilan bagi para kader
kesehatan dan dukun bayi untuk wilayah yang belum terjangkau bidan
desa. Selain itu asupan makanan tambahan untuk ibu hamil rumah
tangga miskin yang kurang gizi, Bayi/Balita rumah tangga miskin kurang
gizi, kegiatan pemeriksaan penunjang dan munisasi yang bukan
sasaran program DepKes/DinKes namun diperlukan masyarakat untuk
pencegahan suatu penyakit (misal munisasi Hepatitis untuk siswa yang
belum mendapatkan imunisasi Hepatitis)

Peningkatan Kesehatan Lingkungan
Peningkatan kesehatan lingkungan dilakukan, melalui beberapa bentuk
kegiatan :
1) Penyediaan prasarana kesehatan lingkungan yang memadai, guna
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, melalui
pembangunan dan peningkatan kualitas sarana air bersih dan
sanitasi (model jamban sesuai kondisi daerah setempat dan


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 48
ketersediaan sarana air bersih). Pilihan sarana sanitasi dapat berupa
(mandi cuci kakus/MCK, cubluk, jumbleng, pembuatan atau
perbaikan saluran air kotor, pembangunan tempat cuci tangan di
sekolah atau di Posyandu) .
2) Pelatihan bagi PL dan KPMD tentang pencegahan penyakit menular,
seperti pelatihan uji kualitas air, penanganan malaria, DBD, HV
/Aids.

Peningkatan Kesehatan Mandiri
Bentuk kegiatan yang dikembangkan dalam kegiatan peningkatan
kesehatan mandiri, antara lain :
1) Tabungan kesehatan sebagai Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Mandiri
2) Tanaman obat keluarga (Toga) dan apotik hidup, mengembangkan
pengobatan tradisional
3) Pembentukan dan atau memanfaatkan kelompok kesehatan
masyarakat seperti: posyandu lansia, dan dasa wisma

4.3.4. Mekanisme PengeIoIaan Kegiatan
a. Perencanaan
Beberapa kegiatan yang dikembangkan dalam perencanaan, meliputi:
SosiaIisasi
Dalam pelaksanaan sosialisasi, informasi yang perlu disampaikan
kepada masyarakat (rumah tangga miskin) antara lain:
1) Masalah kesehatan masyarakat pada lingkup kecamatan atau desa
(data dan informasi masalah kesehatan ini dapat diperoleh dari
Puskesmas dan atau Dinas Kesehatan setempat, menggali data
langsung dari masyarakat secara partisipatori melalui umpan
pertanyaan-pertanyaan).
2) Dampak yang diakibatkan dari masalah kesehatan apabila tidak
segera diatasi.
3) Bentuk-bentuk kegiatan peningkatan pelayanan kesehatan
masyarakat dan kesehatan lingkungan yang dapat dikembangkan
oleh masyarakat.
4) Bantuan pendampingan kepada masyarakat dari Fasilitator
Kecamatan, PL dan tenaga medis dari Puskesmas dalam
mengembangkan kegiatan kesehatan.

PenggaIian gagasan
Dalam proses penggalian gagasan, masyarakat difasilitasi oleh KPM-
D/K, yang dibantu oleh Fasilitator Kecamatan/PL, bertujuan untuk:
1) Menyadarkan masyarakat tentang masalah kesehatan yang mungkin
akan mereka hadapi.
2) Mengajak masyarakat untuk mengidentifikasi masalah-masalah
kesehatan yang sedang mereka hadapi.
3) Mengajak masyarakat untuk merumuskan bentuk-bentuk kegiatan
pencegahan dan penanggulangan penyakit serta penanganan
kesehatan lingkungan.

Tahapan dan langkah-langkah proses penggalian gagasan:
1) Tahap Persiapan
Fasilitator Kecamatan, PL dibantu oleh tenaga medis Puskemas dan
atau Dinas Kesehatan menyusun paket informasi kesehatan. Paket
informasi tersebut memuat masalah-masalah kesehatan, upaya
pencegahan dan penanggulangan penyakit, pemanfaatan tenaga
medis dan bentuk-bentuk pelayanan kesehatan, pola hidup sehat


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 49
(makan makanan bergizi, penimbangan balita dan pemeriksaan ibu
hamil secara rutin, dll), serta pentingnya penanganan kesehatan
lingkungan.

2) Tahap PeIaksanaan
-Membagikan paket informasi kesehatan.
-Membuat peta sosial bersama warga masyarakat, peta sosial
tersebut dilengkapi dengan legenda (simbol/tanda) aspek kesehatan
yang mencakup:
i. rumah tangga miskin yang memiliki balita dan balita yang kurang
gizi.
ii. rumah tangga miskin yang termasuk pasangan usia subur (PUS).
iii. rumah tangga miskin PUS yang mengikuti program KB.
iv. Sumber air bersih dan sumber air yang dimanfaatkan rumah
tangga miskin.
v. Sarana dan akses sanitasi yang dimiliki dan dimanfaatkan rumah
tangga miskin.
vi. Fasilitas atau pusat pelayanan kesehatan yang ada
vii. Wilayah yang sering terkena dan atau pernah wabah penyakit
dalam jangka waktu 5 tahun terakhir (misal diare,
hepatitis/kuning, Demam berdarah, cikungunya, flu burung).
viii. rumah tangga miskin yang telah dan sedang terkena penyakit
menular.
ix. Wilayah endemis malaria, kusta dan TBC.

Fasilitator Kecamatan, PL dan KPMD harus menyiapkan dokumen
yang berisi data dan informasi tentang aspek kesehatan meliputi
jumlah rumah tangga miskin, jumlah keluarga, jumlah PUS, jumlah
anak balita/batita, sumber air bersih, sarana sanitasi, fasilitas atau
pusat pelayanan kesehatan, wilayah yang sering dan pernah terkena
wabah penyakit dalam 5 tahun terakhir, rumah tangga miskin yang
telah dan sedang terkena wabah penyakit menular, dan sebagainya.

-Menemukenali masalah dan kebutuhan kesehatan, dengan cara:
i. Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan kesehatan dengan
menggunakan format/alat peraga atau dengan metaplan secara
partisipatoris.
ii. Mengelompokkan sebab munculnya masalah kesehatan pada
rumah tangga miskin ke dalam 4 (empat) kategori, yaitu: (a)
kurang pengetahuan atau pemahaman tentang kesehatan, (b)
tidak ada atau kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan, (c)
lingkungan yang tidak sehat, (d) kesulitan membiayai
pengobatan atau tidak memiliki jaminan kesehatan.
iii. Memfasilitasi peserta dalam menentukan penyebab masalah
kesehatan terbanyak pada pengelompokan kategori tersebut di
atas sebagai dasar penentuan prioritas kegiatan kesehatan.
iv. Pembentukan kelompok masyarakat yang menangani kegiatan
kesehatan masyarakat, yang terdiri dari unsur wakil masyarakat
dan kader kesehatan.

PenuIisan UsuIan
Proposal kegiatan kesehatan masyarakat berisi tentang masalah
kesehatan, jenis kegiatan, pemanfaat, cara pelaksanakan kegiatan,
perkiraan RAB, rencana pelestarian dan pengembangannya.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 50
Verifikasi usuIan
Tim verifikasi akan melakukan penilaian kelayakan proprosal,
memastikan kegiatan kesehatan yang diusulkan tidak tumpang tindah
dengan program lain yang sejenis, dan kunjungan lapangan untuk
memberikan umpan balik. Dalam pelaksanaanya, Tim verifikasi harus
melibatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas dan atau Dinas
Kesehatan setempat.

Penyusunan Desain dan RAB
Usulan kegiatan yang masuk prioritas MAD, ditindaklanjuti dengan
penyusunan RAB. Khusus untuk usulan kegiatan pembangunan
prasarana dan sarana kesehatan masyarakat, harus disertai dengan
desain, dan RAB yang disusun harus mengacu pada desain yang ada.
Dalam menyusun desain dan RAB, harus dikonsultasikan dengan
petugas dari Puskesmas dan atau Dinas Kesehatan setempat.

b. PeIaksanaan
Tahapan Persiapan PeIaksanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam persiapan pelaksanaan kegiatan
kesehatan, yaitu:
1) Pelatihan KPMD
Pelatihan ini bertujuan agar KPMD dapat memfasilitasi pelaksanaan
kegiatan, pengelolaan keuangan/ administrasi kegiatan, dan
pendampingan pada kelompok sasaran. Pelatihan KPMD dilakukan
oleh Fasilitator Kecamatan, PL, dan petugas Puskesmas dan atau
Dinas Kesehatan setempat.
2) Penyusunan rencana kerja dan pencairan dana.
Setelah pelatihan, Fasilitator Kecamatan dan PL memfasilitasi
KPMD dalam menyusun rencana kerja dan pencairan dana kegiatan.
Rencana tersebut selanjutnya disampaikan kepada TPK, agar TPK
dapat menyusun tahapan pencairan dana.
Khusus untuk kegiatan kesehatan masyarakat yang bersifat
multiyears, rencana kerja dan pencairan dana disusun maksimal
untuk jangka waktu tiga (3) tahun.

Tahapan PeIaksanaan
1) Pencairan dana, dilakukan dari TPK kepada kelompok masyarakat
yang mengelola dana bantuan kegiatan kesehatan masyarakat.
2) Pendampingan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Dalam proses
pendampingan harus melibatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas
setempat serta bidan desa.
3) Pengadaan bahan dan alat. Bahan dan alat kesehatan yang akan
diadakan harus dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan dari
Puskesmas dan atau Dinas Kesehatan. Pelaksanaan pengadaan
barang dan jasa dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
(penjelasan X).
4) Penyaluran bantuan kegiatan kesehatan masyarakat dari TPK, tidak
diberikan langsung ke rumah tangga miskin penerima manfaat,
melainkan diberikan kepada kelompok pengelola kegiatan kesehatan
masyarakat.
5) Pengelolaan dana bantuan dilakukan harus sesuai dengan aturan
yang disepakati dalam kelompok.

Sertifikasi Kegiatan
Sertifikasi kegiatan kesehatan masyarakat dilakukan oleh Fasilitator
Kecamatan dengan melibatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas dan


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 51
Dinas Kesehatan setempat dengan memperhatikan kemungkinan
pelestarian dan pengembangan kegiatan tersebut.

Serah Terima Kegiatan
Serah terima kegiatan kesehatan masyarakat dilakukan oleh TPK
kepada masyarakat melalui forum Musyawarah Desa. Dokumen serah
terima disusun oleh TPK bersama KPMD dan pengurus kelompok
kegiatan.

4.3.5. Pengembangan dan PeIestarian Kegiatan
Pelestarian kegiatan kesehatan masyarakat mencakup:
a. Penyediaan dan pelatihan kader kesehatan sebagai pelaksana kegiatan
secara berkelanjutan.
b. Peningkatan pemanfaatan hasil kegiatan kesehatan masyarakat oleh
masyarakat
c. Peningkatan peran dan fungsi kelompok kegiatan dan tenaga medis dalam
pemeliharaan fasilitas prasarana sarana kesehatan, dan peralatan medis.
d. Penyediaan dukungan dana APBD, swadaya masyarakat dan sumber lain
yang tidak mengikat untuk operasional kegiatan kesehatan masyarakat.

Untuk menjamin keberlanjutan kegiatan kesehatan, upaya-upaya yang dapat
dilakukan antara lain:
a. Pergantian dan pelatihan KPMD bidang kesehatan secara periodik yang
disepakati dalam Musdes.
b. Menyepakati kontribusi masyarakat dalam mendukung pelaksanaan dan
pengembangan kegiatan kesehatan.
c. BKAD mengorganisir terselenggaranya pertemuan antar desa untuk
membahas kegiatan dan hasil kegiatan bidang kesehatan.

Contoh:
Agar masyarakat dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian dan
pengembangan kegiatan kesehatan masyarakat, maka cara yang dapat
dikembangkan yaitu:

1. Melakukan kerja sama antara kegiatan ekonomi produktif dengan
kegiatan kesehatan (mis. hasil usaha ekonomi produktif atau SPP
sebagian disisihkan untuk mendanai kegiatan kesehatan).

2. Kelompok kegiatan kesehatan mengembangkan kegiatan ekonomi
produktif. (misalnya dana dana yang terkumpul di Posyandu
dipinjamkan kepada keluarga miskin dalam bentuk ternak. Hasil
ternak dibagi dua dengan posyandu. Posyandu membentuk unit
usaha penyewaan alat pesta dan hasilnya untuk operasional).

3. Membangun jaringan kerja sama dengan lembaga lain (LSM,
perguruan tinggi, dan Pemerintah setempat.

4. Membangun dan menumbuhkan rasa kemandirian untuk mengatasi
permasalahan kesehatan dengan iuran/pengumpulan dana simpan
pinjam jaminan pemeliharaan kesehatan.








Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 52
KEGIATAN PENINGKATAN KAPASITAS/ KETERAMPILAN KELOMPOK EKONOMI

Kegiatan kelompok usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh rumah tangga miskin
merupakan kegiatan yang akan berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan
pendapatan rumah tangga miskin. Selain tambahan modal hal yang diperlukan untuk
peningkatan usaha adalah peningkatan kapasitas pelaku usaha.

Kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelompok UEP adalah jenis kegiatan yang berkaitan
langsung dengan peningkatan kapasitas anggota kelompok usaha ekonomi dan yang
akan berdampak langsung peningkatan usaha masyarakat.

Dalam kegiatan ini tidak disediakan tambahan permodalan namun sebagai upaya
penurunan rumah tangga miskin maka disediakan komponen pendanaan untuk
peningkatan kapasitas rumah tangga miskin. Kegiatan peningkatan kapasitas dapat
dilakukan melalui: pelatihan-pelatihan, pengenalan alat produksi yang baru, pelatihan
teknologi produksi, pelatihan manajemen, dan sebagainya.

4.4.1. Tujuan dan Ketentuan Dasar
a. Tujuan Umum
Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi pelaku
kegiatan UEP di pedesaan, meningkatan kualitas teknologi produksi,
meningkatkan kapasitas dalam penggunaan teknologi tepat guna,
memberikan kemudahan akses informasi pasar, dan sebagainya.

b. Tujuan Khusus
Mempercepat proses pemenuhan kebutuhan peningkatan kapasitas
pengelolaan usaha skala mikro di pedesaan terutama pelaku yang
berasal dari rumah tangga miskin.
Memberikan kesempatan pelaku usaha mikro untuk akses berbagai
informasi pasar, informasi pasokan bahan baku, informasi teknologi, dan
informasi lain yang mendukung kegiatan usaha yang telah ada.
Mendorong penguatan kelembagaan kelompok usaha mikro dipedesaan
terutama aspek manajemen.

c. Dasar-dasar PengeIoIaan Kegiatan
Kemudahan, artinya masyarakat miskin yang mempunyai kegiatan
usaha dan tergabung dalam kelompok dengan mudah dan cepat
mendapatkan pelayanan peningkatan kapasitas sesuai dengan
kebutuhan.
Dampak secara langsung kepada pelaku usaha golongan rumah tangga
miskin.
Pengembangan Usaha , artinya setiap keputusan pendanaan harus
berorientasi pada peningkatan kapasitas untuk pengembangan usaha
yang sesuai dengan kegiatan usaha yang dimiliki.
Akuntabilitas, artinya dalam melakukan pengelolaan dana peningkatan
kapasitas harus dapat dipertanggung jawabkan secara transparan
kepada masyarakat.

4.4.2. Ketentuan Pendanaan
Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) adalah dana yang disediakan oleh
Program untuk mendanai kegiatan peningkatan kapasitas kelompok UEP
dengan ketentuan :
a. Pendanaan tidak boleh bersifat individu tetapi bersifat kelompok masyarakat
dalam satu desa maupun lintas desa, jika lintas desa maka masyarakat
memutuskan sebagai salah satu usulan desa.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 53
b. Kelompok penerima manfaat adalah kelompok masyarakat yang
mempunyai anggota dengan kebutuhan peningkatan kapasitas/ketrampilan
yang sama sehingga mudah dikelola dalam pendanaanya.
c. Pendanaan bukan untuk pengadaan sarana usaha dan modal kerja bagi
kelompok.
d. Pendanaan dapat digunakan untuk pengadaan sarana yang bertujuan untuk
peningkatan kapasitas, pelatihan ketrampilan, bengkel teknologi tepat guna,
dan sebagainya yang kepemilikannya diatur dan diputuskan oleh Tim
Pelestarian.

4.4.3. Sasaran Bentuk Kegiatan.
a. Sasaran Program
Sasaran program adalah peningkatan kapasitas anggota kelompok yang
tergolong rumah tangga miskin dalam menjalankan usaha sehingga usaha
berkembang dan memberikan peningkatan pendapatan rumah tangga
miskin.

b. Bentuk Kegiatan
Bentuk kegiatan peningkatan kapasitas dapat dilakukan melalui :
pelatihan- pelatihan, pengenalan alat produksi yang baru, pelatihan
teknologi produksi, pelatihan manajemen, dan sebagainya.
Bentuk kegiatan diutamakan untuk kegiatan yang memenuhi kriteria; (i)
lebih bermanfaat bagi rumah tangga miskin yang telah mempunyai
usaha; (ii) berdampak langsung untuk peningkatan pendapatan; (iii) bisa
dikerjakan oleh masyarakat; (iv) didukung oleh sumber daya yang ada di
masyarakat; (v) mendukung perkembangan dan berkelanjutan usaha;
(vi) meningkatkan kapasitas teknis dengan membuka kesempatan untuk
mencoba teknologi tepat guna yang baru; (vii) memecahkan masalah
yang dihadapi termasuk masalah rendahnya produktivitas usaha yang
dijalankan; (viii) memberi kesempatan masyarakat untuk meningkatkan
pengetahuan tentang usaha;

Contoh contoh kegiatan :
1) Pelatihan penggunaan teknologi pemintalan sutera.
2) Pelatihan teknologi pembibitan bagi petani coklat.
3) Pengadaan mesin peraga pengeringan padi bagi balai latihan yang
dikelola kelompok tani.
4) Pelatihan teknologi tepat guna untuk pembuatan jaring bagi
kelompok nelayan .
5) Pelatihan teknologi tepat guna untuk pengepakan : hasil produksi,
hasil perikanan, dsb.
6) Pelatihan teknologi produksi. manajemen, pemasaran.


4.4.4. Mekanisme PengeIoIaan Kegiatan
Mekanisme pendanaan BLM untuk Peningkatan Kapasitas Kelompok Usaha
Ekonomi Produktif dengan tahapan sebagai berikut :

a. MAD SosiaIisasi
Fasilitator melakukan sosialisasi tentang adanya kegiatan Peningkatan
Kapasitas Kelompok Usaha Ekonomi dengan menjelaskan mekanisme,
ketentuan dasar, instrumen yang harus dipersiapkan, dan sebagainya.
Dalam MAD sosialisasi ini Fasilitator diwajibkan memberikan contoh-contoh
kegiatan, memberikan informasi-informasi lembaga atau institusi yang dapat
dijadikan alternatif peningkatan kapasitas, dsb.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 54
b. Musyawarah Desa SosiaIisasi

Dalam melakukan sosialisasi di desa selain menegaskan tentang materi
sosialisasi yang disampaikan pada MAD Sosialisasi juga diharapkan telah
mempunyai gambaran awal tentang pelaku yang mempunyai usaha skala
mikro atau kelompok usaha ekonomi produktif yang ada di desa yang
membutuhkan peningkatan kapasitas, kebutuhan-kebutuhan anggota rumah
tangga miskin dikaitkan dengan usaha yang dijalani, pemberian media-
media musyawarah dusun untuk penggalian gagasan yang terkait dengan
peningkatan kapasitas kelompok UEP

c. Musyawarah Dusun diIakukan dengan mekanisme sebagai berikut :
Melakukan musyawarah di dusun dengan tujuan identifikasi pada
rumah tangga miskin dan kelompok UEP yang ada di dusun untuk
menemukan kebutuhan peningkatan kapasitas yang sesuai dengan
kegiatan usaha yang dijalankan. Hasil identifikasi dan penggalian
gagasan di musyawarah dusun yang diharapkan adalah:
Daftar kelompok UEP yang memerlukan peningkatan kapasitas
untuk usaha yang dilakukan dengan usulan jenis kegiatan yang
diajukan.
Daftar individu anggota rumah tangga miskin yang memerlukan
peningkatan kapasitas dengan usulan jenis kegiatan yang diajukan.
Daftar individu ini akan dikompilasi pada tingkat desa dan jika dari
dusun-dusun lain mempunyai usulan kegiatan yang sama maka
dapat dijadikan sebagai usulan desa.
Membuat hasil identifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas dan
digunakan untuk bahan dalam Musdes penetapan usulan.
Hasil identifikasi kebutuhan mencakup paling tidak nama-nama identitas
rumah tangga miskin dan kelompok, bentuk usaha, lama usaha, bentuk
kebutuhan peningkatan kapasitas.

d. Musyawarah Desa
Hasil tahapan seleksi di tingkat desa adalah :
Kompilasi hasil pertemuan tingkat dusun sebagai bahan seleksi ditingkat
desa. Dalam kompilasi dapat dilakukan penggolongan bentuk kegiatan,
jenis usaha yang dilakukan, kelompok usaha, dsb.
Penentuan usulan bentuk kegiatan yang akan didanai melalui
musyawarah dengan keputusan usulan dalam desa atau cluster desa.
Jika terjadi kebutuhan peningkatan kapasitas kelompok UEP dengan
lokasi antar desa atau cluster desa maka keputusan usulan dilakukan
oleh salah satu desa.
Pembentukan kelompok pengusul dan pembentukan pengelola sebagai
penanggung jawab kelompok kegiatan.
Penentuan Usulan Desa tersebut adalah proses penentuan keputusan
usulan desa yang akan dikompetisikan di tingkat kecamatan.
Pembuatan Usulan kelompok adalah tahapan yang menghasilkan
proposal singkat kelompok yang akan dikompetisikan di tingkat
kecamatan. Penulisan usulan kelompok dilakukan oleh Kelompok dan
dibantu oleh Tim Penulis Usulan atau pelaku lainnya. Dalam penulisan
usulan peningkatan kapasitas kelompok UEP paling tidak harus memuat
beberapa hal sebagai berikut :
1) Sekilas kondisi kelompok pengusul dan profil kegiatan kegiatan yang
telah dilakukan oleh anggota rumah tangga miskin anggota
kelompok pengusul
2) Usulan bentuk kegiatan dengan alasan yang mendasari.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 55
3) Daftar calon pemanfaat untuk dana yang diusulkan dilengkapi
dengan peta sosial. Selanjutnya Usulan tersebut digunakan sebagai
bahan tim verifikasi dan akan dikompetisikan, jika usulan tersebut
diputuskan untuk didanai maka akan dibuat proposal yang lebih
lengkap dan detail termasik RAB.
Uraian kegiatan yang diusulkan yang mencakup :
1) Latar belakang kebutuhan dan proyeksi kegiatan usaha setelah
mendapatkan peningkatan kapasitas.
2) Pendanaan yang mencakup: sumber pendanaan (swadaya, bantuan
pemerintah lokal, BLM) dan penggunaan dana (pengadanaan
prasarana-sarana, tenaga ahli, penyelenggaraan pelatihan), tahapan
pendanaan, pertanggung jawaban pendanaan.
3) Materi/kurikulum peningkatan kapasitas.
4) Nara sumber dan tenaga ahli yang bertanggung jawab.
5) Jadwal pelaksanaan.
6) Rencana Pelestarian Kegiatan.
Kompilasi kebutuhan peningkatan kapasitas dalam satu desa menjadi
satu paket kegiatan yang terdiri dari kebutuhan kelompok usaha
ekonomi ataupun kelompok rumah tangga miskin.
Kelompok UEP yang dimaksud tidak terbatas pada kelompok yang telah
menjadi pemanfaat dana bergulir yang dikelola UPK tetapi juga memberi
kesempatan pada kelompok UEP lain yang ada di lokasi masing-
masing.

e. Verifikasi.
Proses Verifikasi dilakukan pada seluruh usulan desa dengan tahapan
sebagai berikut:
Penetapan instrumen/media dan mekanisme verifikasi kegiatan
peningkatan kapasitas kelompok UEP.
Proses Pelaksanaan Verifikasi dilakukan sebagai berikut
1) Melakukan pengujian dokumen usulan dan validasi kebutuhan
secara langsung dengan kelompok pengusul dan anggota yang akan
ditingkatkan kapasitasnya.
2) Evaluasi singkat oleh Tim Verifikasi tentang beberapa hal
diantaranya :
i. Kesesuaian kebutuhan
ii. Kewajaran kebutuhan
iii. Tingkat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan
iv. Tingkat kesulitan untuk memenuhi pendanaan
v. Kelembagaan kelompok pengusul.
vi. Manfaat usulan kegiatan secara langsung bagi
rumah tangga miskin atau masyarakat pada umumnya.
vii. Prospek pelestarian dari tiap-tiap individu atau kelompok.
viii. Berita Acara Hasil Verifikasi dengan rekomendasi-rekomendasi
hasil evaluasi.

f. MAD Prioritas
Tahapan ini merupakan tahapan evaluasi akhir dengan model kompetisi
berdasarkan pertimbangan hasil verifikasi. Prioritas penilaian ditekankan
pada kelompok yang lebih mengutamakan calon pemanfaat yang bersifat
dalam kategori rumah tangga miskin, peningkatan kapasitas pelaku usaha
mikro secara langsung, dampak peningkatan usaha, manfaat-manfaat lain
bagi masyarakat.





Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 56
g. Pembuatan DetaiI UsuIan dan RAB.
Setelah melakukan perankingan dan diputuskan kemungkinan masuk dalam
kegiatan yang akan didanai maka selanjutnya dilakukan pembuatan secara
detail usulan dan RAB atas kegiatan yang diusulkan dengan format Detail
Usulan dan RAB paling tidak mempunyai muatan sebagai berikut :
Sekilas kondisi kelompok pengusul dan profil kegiatan kegiatan yang
telah dilakukan oleh anggota rumah tangga miskin anggota kelompok
pengusul.
Bentuk kegiatan yang didanai.
Daftar calon pemanfaat untuk dana yang diusulkan dilengkapi dengan
peta sosial.
Uraian kegiatan yang diusulkan yang mencakup :
1) Latar belakang kebutuhan dan proyeksi kegiatan usaha setelah
mendapatkan peningkatan kapasitas
2) Pendanaan yang mencakup: sumber pendanaan (swadaya, bantuan
pemerintah lokal, BLM) dan penggunaan dana (pengadaan
prasarana-sarana, tenaga ahli, penyelenggaraan pelatihan)
3) Materi/kurikulum peningkatan kapasitas.
Jika memerlukan pengadaan sarana peningkatan kapasitas maka
mekanisme pengadaan mengacu pada aturan yang berlaku di program.
Rencana Kerja dan Tindak lanjut setelah pelaksanaan pendanaan atau
rencana pelestarian.

h. MAD Penetapan UsuIan
Dalam tahapan ini menghasilkan keputusan pendanaan yang akan
dituangkan dalam SPC.

i. PengeIoIaan di tingkat KeIompok
Hal-hal yang dikelola ditingkat kelompok meliputi:
Dokumen-dokumen proses, dokumen pendanaan/kuitansi
Administrasi realisasi pelaksanaan
Daftar prasarana-sarana yang digunakan

























Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 57









MAD
Sosialisasi
Musdes
Sosialisasi
MUSYAWARAH DUSUN
Musyawarah Desa
MAD
Prioritas UsuIan

Penetapan, Penulisan Usulan
Dan Paket Usulan Desa
Verifikasi Usulan

Musdes
nformasi Hasil
MAD
Musdes
Pertanggungjawaban
PELESTARIAN
KEGIATAN
RPD,Pencairan,
Pelaksanaan,dan
LPD kegiatan
SUPERVS
DAN
MONTORNG
MAD
Penetapan UsuIan
ALUR KEGIATAN
PENINGKATAN KAPASITAS
KELOMPOK UEP
Pertemuan Penggalian
gagasan dan identifikasi
Kelompok UEP dan
Kebutuhan peningkatan
kapasitas
Pembuatan
Detail usulan dan
RAB Usulan.
Persiapan
Penyaluran


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 58
4.5. KEGIATAN SIMPAN PINJAM UNTUK KELOMPOK PEREMPUAN (SPP)

Kegiatan Simpan Pinjam untuk Kelompok Perempuan (SPP) merupakan kegiatan
pemberian permodalan untuk kelompok perempuan yang mempunyai kegiatan simpan
pinjam.

4.5.1. Tujuan dan Ketentuan
a. Tujuan Umum
Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi
kegiatan simpan pinjam pedesaan, kemudahan akses pendanaan usaha
skala mikro, pemenuhan kebutuhan pendanaan sosial dasar, dan
memperkuat kelembagaan kegiatan kaum perempuan serta mendorong
pengurangan rumah tangga miskin dan penciptaan lapangan kerja.

b. Tujuan Khusus :
Mempercepat proses pemenuhan kebutuhan pendanaan usaha ataupun
sosial dasar.
Memberikan kesempatan kaum perempuan meningkatkan ekonomi
rumah tangga melalui pendanaan modal usaha.
Mendorong penguatan kelembagaan simpan pinjam oleh kaum
perempuan.

4.5.2. Ketentuan Dasar
a. Kemudahan, artinya masyarakat miskin dengan mudah dan cepat
mendapatkan pelayanan pendanaan kebutuhan tanpa syarat agunan .
b. TerIembagakan, artinya dana kegiatan SPP disalurkan melalui kelompok
yang sudah mempunyai tata cara dan prosedur yang baku dalam
pengelolaan simpanan dan pengelolaan pinjaman.
c. Keberdayaan, artinya proses pengelolaan didasari oleh keputusan yang
professional oleh kaum perempuan dengan mempertimbangkan pelestarian
dan pengembangan dana bergulir guna meningkatkan kesejahteraan.
d. Pengembangan, artinya setiap keputusan pendanaan harus berorientasi
pada peningkatan pendapatan sehingga meningkatkan pertumbuhan
aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan.
e. AkuntabiIitas, artinya dalam melakukan pengelolaan dana bergulir harus
dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.

4.5.3. Ketentuan Pendanaan BLM.
Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) adalah dana yang disediakan
untuk mendanai kegiatan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) per
kecamatan maksimal 25 % dari alokasi BLM.

a. Sasaran, Bentuk Kegiatan dan Ketentuan KeIompok SPP
Sasaran Program
Sasaran program adalah rumah tangga miskin yang produktif yang
memerlukan pendanaan kegiatan usaha ataupun kebutuhan sosial
dasar melalui kelompok simpan pinjam perempuan yang sudah ada di
masyarakat.

Bentuk Kegiatan
Bentuk kegiatan SPP adalah memberikan dana pinjaman sebagai
tambahan modal kerja bagi kelompok kaum perempuan yang
mempunyai pengelolaan dana simpanan dan pengelolaan dana
pinjaman.




Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 59
b. Ketentuan keIompok SPP
Ketentuan kelompok SPP adalah:
Kelompok yang dikelola dan anggotanya perempuan, yang satu sama
saling mengenal, memiliki kegiatan tertentu dan pertemuan rutin yang
sudah berjalan sekurang-kurangnya satu tahun.
Mempunyai kegiatan simpan pinjam dengan aturan pengelolaan dana
simpanan dan dana pinjaman yang telah disepakati.
Telah mempunyai modal dan simpanan dari anggota sebagai sumber
dana pinjaman yang diberikan kepada anggota.
Kegiatan pinjaman pada kelompok masih berlangsung dengan baik.
Mempunyai organisasi kelompok dan administrasi secara sederhana.

4.5.4. Mekanisme PengeIoIaan
Mekanisme tetap mengacu pada alur kegiatan program akan tetapi perlu
memberikan beberapa penjelasan dalan tahapan sebagai berikut :

a. MAD SosiaIisasi
Dalam MAD Sosialisasi dilakukan sosialisasi Ketentuan dan Persyaratan
untuk kegiatan SPP sehingga pelaku-pelaku tingkat desa memahami
adanya kegiatan SPP dan dapat memanfaatkan.

b. Musdes SosiaIisasi
Dalam Musdes Sosialisasi dilakukan sosialisasi Ketentuan dan Persyaratan
untuk kegiatan SPP di tingkat desa sehingga pelaku-pelaku tingkat desa
memahami adanya kegiatan SPP dan melakukan persiapan proses
lanjutan.

c. Musyawarah Dusun
Proses identifikasi kelompok melalui musyawarah di dusun/kampung
dengan proses sebagai berikut :
dentifikasi kelompok sesuai dengan ketentuan tersebut di atas termasuk
kondisi anggota.
Kader melakukan identifikasi perkembangan kelompok SPP dan
melakukan kategorisasi kelompok yang terdiri dari: Kelompok Pemula,
Kelompok Berkembang dan Kelompok Siap. Proses kategorisasi
kelompok mengacu pada ketentuan kategori perkembangan kelompok.
Menyiapkan daftar pemanfaat setiap kelompok beserta jumlah
kebutuhan dan Daftar rumah tangga miskin yang akan menjadi
pemanfaat.
rumah tangga miskin yang belum menjadi anggota kelompok agar
dilakukan tawaran dan fasilitasi untuk menjadi anggota kelompok
sehingga dapat menjadi pemanfaat.
Hasil musyawarah dusun dituangkan dalam berita acara dilampiri:
1) Daftar kelompok yang diidentifikasi,
2) Kelompok SPP dengan daftar pemanfaat yang diusulkan,
3) Peta sosial dan peta rumah tangga miskin,
4) Rekap kebutuhan pemanfaat.

d. Musyawarah Desa dan MKP
Musyawarah ini merupakan tahapan seleksi di tingkat desa adalah:
Penentuan Usulan Desa untuk kegiatan SPP melalui keputusan
Musyawarah Khusus perempuan (MKP). Hasil keputusan dalam MKP
merupakan usulan desa untuk kegiatan SPP.
Hasil keputusan diajukan berdasarkan seluruh kelompok yang diusulkan
dalam paket usulan desa.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 60
Penulisan Usulan kelompok adalah tahapan yang menghasilkan
proposal kelompok yang akan dikompetesikan di tingkat kecamatan.
Dalam penulisan usulan SPP paling tidak harus memuat hal sebagai
berikut :
1) Sekilas kondisi kelompok SPP
2) Gambaran Kegiatan dan Rencana yang menjelaskan kondisi
anggota, kondisi Permodalan, kualitas pinjaman, kondisi
operasional, Rencana Usaha dalam satu tahun yang akan datang,
Perhitungan Rencana Kebutuhan Dana,
3) Daftar calon pemanfaat untuk dana yang diusulkan dilengkapi
dengan peta sosial dan peta rumah tangga miskin.

e. Verifikasi
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses verifikasi kegiatan SPP
adalah :
Penetapan FormuIir Verifikasi.
Penetapan formulir verifikasi merupakan proses penyesuaian dengan
contoh format formulir yang telah tersedia. Contoh format formulir masih
harus disesuaikan dengan kondisi lokal namun tidak mengurangi prinsip
dasar penilaian dengan model CAMEL (Capital, Assets , Management,
Earning dan Liquidity) yaitu : penilaian tentang permodalan, kualitas
pinjaman, manajemen, pendapatan dan likuiditas. Contoh Formulir ada
di formulir PTO.

Proses PeIaksanaan Verifikasi
Verifikasi kelompok SPP mencakup beberapa hal sebagai berikut :
1) Pengalaman Kegiatan Simpan Pinjam
2) Persyaratan Kelompok
3) Kondisi Kegiatan Simpan Pinjam, dengan penilaian :
Permodalan
Kualitas Pinjaman
Administrasi dan Pengelolaan
Pendapatan
Likuiditas (pendanaan jangka pendek)
4) Penilaian khusus rencana kegiatan.
5) Jumlah rumah tangga miskin sebagai calon pemanfaat diverifikasi
dengan daftar rumah tangga miskin.
6) Penilaian Kategorisasi Kelompok.




















Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 61
Kategorisasi Tingkat Perkembangan KeIompok :

TabeI Indikator
Perkembangan KeIompok SPP
Indikator Nilai = 1 Nilai = 2 Nilai = 3 Nilai = 4


Ikatan
pemersatu
katan pemersatu
adalah domisili
atau geografis
atau keluarga
katan pemersatu
kegiatan
kemasyarakatan /
ekonomi/ simpan
pinjam kurang
dari satu tahun
katan pemersatu
kegiatan simpan
pinjam antara
satu tahun
sampai tiga tahun
katan pemersatu
kegiatan simpan
pinjam lebih dari
3 tahun
Kegiatan
anggota untuk
tujuan bersama
Belum
mempunyai
kegiatan secara
rutin
Mempunyai
kegiatan tetapi
belum terencana
dengan baik


Mempunyai
kegiatan simpan
pinjam yang
masih berjalan
dengan baik.
Mempunyai
kegiatan simpan
pinjam yang terus
berkembang
dengan baik



Pengurus
Belum
mempunyai
pengurus yang
disepakati oleh
anggota
Pengurus belum
mempunyai
pertemuan tetapi
belum secara
rutin
Pengurus
mempunyai
pertemuan rutin
tetapi belum
mempunyai
agenda
pertemuan
terencana
Pengurus
mempunyai
pertemuan rutin
dan mempunyai
agenda
pertemuan yang
terencana
dengan baik.

Aturan
keIompok
Belum ada
kesepakatan
untuk mencapai
tujuan bersama
Mempunyai
kesepakatan
untuk mencapai
tujuan bersama
tetapi tidak
secara tertulis
Mempunyai
aturan tertulis
tetapi belum
seluruhnya
dilaksanakan
Mempunyai
AD/ART yang
telah
dilaksanakan
dengan baik


Iuran anggota
Belum
mempunyai iuran
anggota secara
wajib/tetap
Mempunyai iuran
tetapi belum
mencukupi untuk
operasional
kelompok
Mempunyai iuran
wajib dan
sukarela untuk
operasional
kelompok
Mempunyai iuran
wajib , iuran
sukarela dan
simpanan
sebagai modal
usaha kelompok


Administrasi
keIompok

Belum
mempunyai
administrasi
secara tertulis

Mempunyai
administrasi
tertulis tetapi
belum
mempunyai
laporan tertulis
Mempunyai
administrasi
tertulis dan
mempunyai
laporan tertulis
tetapi belum
secara rutin
dipertanggung-
jawabkan
Mempunyai
administrasi
tertulis dan
mempunyai
laporan tertulis
dan secara rutin
dipertanggung-
jawabkan

Dengan memperhatikan indikator-indikator tersebut di atas dan memberikan
nilai pada setiap indikator kemudian menjumlahkan nilai maka terhadap
kelompok dapat dikategorisasi menjadi :
KeIompok PemuIa adalah jika hasil penjumlahan nilai tipa-tiap
indikator sampai dengan 9 (sembilan).
KeIompok Berkembang adalah jika hasil penjumlahan nilai tiap-tiap
indikator antara 10 (sepuluh) sampai dengan 18 (delapan belas)
KeIompok Siap/Matang adalah jika hasil penjumlahan nilai tiap-tiap
indikator diatas 18 (delapan belas)

7). Pembuatan Berita Acara (BA) Hasil Verifikasi, dalam BA tersebut
mencantumkan rekomendasi rekomendasi termasuk jumlah usulan
kelompok apakah sudah dalam kewajaran, keterlibatan rumah
tangga miskin sebagai pemanfaat, dan kategorisasi perkembangan
kelompok



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 62
f. MAD Prioritas UsuIan.
Tahapan ini merupakan tahapan evaluasi akhir dengan model prioritas
kebutuhan dengan mempertimbangkan hasil verifikasi. Prioritas penilaian
ditekankan pada kelompok yang lebih mengutamakan calon pemanfaat
kategori rumah tangga miskin.

Dalam tahapan prioritas kebutuhan ini menilai usulan-usulan kelompok yang
tergabung dalam paket usulan desa. Penilaian dilakukan dengan basis
usulan kelompok sehingga jika ada kelompok yang tidak layak maka tidak
secara otomatis menggugurkan paket usulan desa tersebut, kelompok yang
dianggap layak tetap mendapatkan pendanaan sampai jumlah kuota BLM
terpenuhi.

Pemeringkatan dilakukan pada seluruh kelompok SPP tanpa
memperhatikan asal desanya, sehingga ranking prioritas yang diperoleh
merupakan peringkat kelompok bukan peringkat paket usulan desa atau
desa.

Hasil pemeringkatan kelompok SPP sudah dapat menunjukkan kebutuhan
pendanaan BLM untuk SPP sehingga sudah dapat ditentukan kelompok-
kelompok layak yang akan didanai dari BLM. Untuk kelompok yang layak
dan akan didanai BLM, tahap selanjutnya adalah melakukan
penyempurnaan dokumen usulan misalnya: KTP dan Perjanjian Pinjaman.
Prioritas kebutuhan kelompok SPP agar mempertimbangkan :
Keterlibatan rumah tangga miskin sebagai anggota dan pemanfaat
Kategori tingkat perkembangan kelompok
Hasil Penilaian kelayakan kelompok pengusul yang dituangkan dalam
Berita Acara TM Verifikasi.
Pertimbangan lain yang mendukung pengurangan jumlah rumah tangga
miskin dan peningkatan kesempatan kerja/usaha.

g. MAD Penetapan UsuIan
Pada tahapan ini keputusan pendanaan mencakup penentuan pendanaan
usulan dengan menentukan kelompok-kelompok yang telah memenuhi
syarat pemeringkatan dapat didanai dengan dana BLM. Dalam MAD
penetapan usulan ini, dimungkinkan adanya kelompok yang didanai sesuai
dengan MAD Prioritas Usulan mengundurkan diri sehingga peringkat
selanjutnya yang akan menerima, jika terjadi tidak sama jumlah kebutuhan
pada kelompok terakhir maka agar diputuskan melalui musyawarah. Bagi
kecamatan yang telah mengelola dana bergulir maka pada MAD ini dapat
juga dilakukan proses MAD Perguliran.

h. Penetapan Persyaratan.
Penetapan persyaratan pinjaman yang tertuang dalam Perjanjian Pinjaman
paling tidak mencakup hal-hal :
Penentuan jasa pinjaman dengan ketentuan: Besar jasa pinjaman
ditentukan berdasarkan bunga pasar untuk pinjaman pada lembaga
keuangan pada wilayah masing-masing. Sistem perhitungan jasa
pinjaman menurun atau tetap.
Jangka waktu pinjaman sumber dana BLM maksimal 12 bulan
Jadwal angsuran dana BLM paling tidak diangsur 3 kali angsuran dalam
12 bulan dengan memperhatikan dengan siklus usaha baik pada tingkat
pemanfaat maupun tingkat kelompok.
Angsuran langsung dari kelompok ke UPK.



Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 63
i. Pencairan Dana :
Ketentuan pencairan dana BLM dengan ketentuan sebagai berikut :
Pencairan melalui desa sesuai dengan ketentuan program dilampiri
SPPB dengan bukti penyaluran KW2.
Pencairan dilakukan sekaligus (100%) pada setiap kelompok.
Dalam saat yang bersamaan ketua TPK memberikan dana SPP setelah
dikurangi Operasional UPK 2% dan Operasional Desa 3% dengan
Bukti Kuitansi yang ditandatangani oleh Ketua Kelompok sebagai
penerima dan UPK sebagai Pengelola Kegiatan. Tujuan kuitansi ini
adalah kelompok telah menerima langsung dari UPK dan selanjutnya
mengembalikan kepada UPK.
Kelompok membuat Perjanjian Pinjaman dengan UPK sebagai lampiran
kuitansi penerimaan dana.
Kelompok menyerahkan kuitansi/tanda terima uang per pemanfaat
kepada UPK.

j. PengeIoIaan Dokumen dan Administrasi di UPK
Pengelolaan kegiatan di tingkat UPK meliputi :
Pengelolaan Dokumen UPK mencakup beberapa hal sebagai berikut :
Pengelolaan data kelompok dan peminjam/pemanfaat, Pengelolaan
Proposal Penulisan Usulan dengan peta sosial, Pengelolaan dokumen
penyaluran : kuitansi, SPPB.
Pengelolaan Administrasi meliputi: Rekening Pengembalian SPP, Buku
Bantu Bank SPP, Buku Kas Harian SPP, Kartu pinjaman.
Pengelolaan PeIaporan sebagai berikut : Laporan Realisasi Penyaluran,
Laporan Perkembangan Pinjaman SPP, Laporan Kolektibilitas SPP,
Necara, Laporan Operasional.

k. PengeIoIaan Dokumen dan Administrasi di KeIompok
Hal-hal yang dikelola ditingkat kelompok meliputi: data-data peminjam,
dokumen pendanaan/kuitansi di kelompok maupun pemanfaat, administrasi
realisasi pengembalian pinjaman ke UPK, administrasi penyaluran dan
pengembalian/kartu pinjaman pemanfaat dan administrasi pinjaman
pemanfaat.

I. Penetapan Daftar Tunggu
Usulan kegiatan kelompok SPP yang belum terdanai oleh BLM tetapi telah
dianggap layak dapat didanai dengan dana bergulir. Jika dana bergulir tidak
mencukupi maka kelompok layak dapat ditetapkan sebagai kelompok
tunggu yang dilaporkan dalam daftar tunggu kelompok. Daftar tunggu ini
ditetapkan dengan Berita Acara. Selain menetapkan daftar tunggu juga
menetapkan mekanisme dan persyaratan dalam pendanaan kelompok yang
termasuk daftar tunggu.

m. PeIestarian Dan Pengembangan Kegiatan
Pelestarian kegiatan SPP mengacu pada ketentuan pengelolaan dana
bergulir dengan mempertimbangkan ketentuan akses BLM yang telah
disepakati dalam MAD yang mencakup :
PeIestarian Kegiatan
Dasar-dasar dalam rangka mewujudkan pelestarian kegiatan adalah :
1. Adanya dana kegiatan SPP yang produktif dan bertambah
jumlahnya untuk penyediaan kebutuhan pendanaan masyarakat
miskin.
2. Adanya pelestarian prinsip PNPM Mandiri - Perdesaan terutama
keberpihakan kepada orang miskin dan transparansi.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 64
3. Penguatan kelembagaan baik dalam aspek permodalan ataupun
kelembagaan kelompok.
4. Pengembangan layanan kepada masyarakat
5. Pengembangan permodalan.

Pengembangan KeIompok
Pengembangan kelompok SPP diarahkan sebagai lembaga pengelola
simpanan dan pinjaman yang profesional, akuntabel sehingga mampu
menarik minat kerja sama lembaga lain sebagai lembaga penyalur dan
pengelola pinjaman. Pengembangan kelembagaan kelompok SPP,
secara badan hukum dapat menjadi Koperasi Simpan Pinjam. Fasilitasi
pengembangan kelompok dapat didasarkan pada tingkat perkembangan
kelompok maupun fungsi kelompok yang dijelaskan dalam Pengelolaan
Dana Bergulir.


Penjelasan IV: Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan PNPM MANDIRI - PERDESAAN 65





MAD
Sosialisasi
Musdes
Sosialisasi
MUSYAWARAH DUSUN
Musyawarah Desa
Musyawarah Khusus
Perempuan
(Seleksi Kelompok)
MAD
Prioritas UsuIan
Penetapan,
Penulisan Usulan
Dan Paket Usulan
Desa
Verifikasi Usulan

Musdes
nformasi Hasil
MAD
Musdes
Pertanggungjawaban
PENGEMBALIAN SPP
DAN PENGELOLAAN
DANA BERGULIR
RPD,Pencairan,
Pelaksanaan,dan
LPD kegiatan
SUPERVS
DAN
MONTORNG
MAD
Penetapan UsuIan
ALUR KEGIATAN SPP
Pertemuan Penggalian
gagasan dan identifikasi
Kelompok SPP
Penyempurnaan
Dokumen Usulan
SPP yang akan
didanai
MAD Perguliran
Persiapan
Penyaluran
(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN V
PELAKU PNPM MANDIRI PERDESAAN

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 1
PENJELASAN V

PELAKU PNPM MANDIRI PERDESAAN


Masyarakat desa terutama dari rumah tangga miskin merupakan sasaran dari PNPM
Mandiri Perdesaan sekaligus juga sebagai pelaku utama dari setiap tahapan pelaksanaan
PNPM Mandiri Perdesaan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian.
Sedangkan pelaku-pelaku lainnya dari aparat dan konsultan di tingkat desa, kecamatan,
kabupaten dan seterusnya lebih berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan pembina agar
tujuan, prinsip, kebijakan, prosedur dan mekanisme PNPM Mandiri Perdesaan dapat
tercapai dan dilaksanakan secara benar dan konsisten.

Tugas dan tanggung jawab pelaku PNPM Mandiri Perdesaan adalah sebagai berikut :

5.1. PeIaku PNPM Mandiri Perdesaan di Desa

5.1.1. KepaIa desa
Peran Kepala Desa adalah sebagai pembina dan pengendali kelancaran serta
keberhasilan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di desa. Bersama BPD,
kepala desa menyusun peraturan desa yang relevan dan mendukung
terjadinya proses pelembagaan prinsip dan prosedur PNPM Mandiri
Perdesaan sebagai pola pembangunan partisipatif, serta pengembangan dan
pelestarian aset PNPM Mandiri Perdesaan yang telah ada di desa. Kepala
desa juga berperan mewakili desanya dalam pembentukan badan kerja sama
antar desa.

Tugas dan Tanggung jawab KepaIa Desa :
a. membantu dalam memasyarakatkan tujuan, prinsip dan kebijakan PNPM
Mandiri Perdesaan kepada masyarakat di wilayahnya
b. mewakili desanya dalam urusan kerja sama antar desa di dalam MAD
c. mengoordinasikan seluruh kegiatan pembangunan yang ada di desa
d. mengoordinasikan pelaksanaan dan hasil pendataan RTM setiap dusun
e. membantu dan mendorong terlaksananya MMDD dan pemanfaatan hasil
MMDD dalam penyusunan RPJMDes serta tahapan pelaksanaan lain di
desa
f. mendorong dan memfasilitasi terbentuknya Badan Kerja sama Antar Desa
(BKAD)
g. turut menyelesaikan perselisihan dan permasalahan yang terjadi dalam
masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan.
h. memeriksa setiap laporan, termasuk laporan penyelesaian akhir kegiatan
PNPM Mandiri Perdesaan baik fisik, administrasi dan keuangan,
i. menandatangani dokumen-dokumen yang diperlukan seperti: Surat
Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB), Surat Kesanggupan
Menyelesaikan Pekerjaan, dan Surat Pernyataan Penyelesaian
Pelaksanaan Kegiatan (SP3K).

5.1.2. Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan, BPD atau sebutan lainnya
berperan sebagai lembaga yang mengawasi proses setiap tahapan PNPM
Mandiri Perdesaan, mulai dari sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan sampai
pelestarian di desa. Selain itu juga berperan dalam melegalisasi atau
mengesyahkan peraturan desa yang berkaitan dengan pelembagaan dan
pelestarian PNPM Mandiri Perdesaan di desa.



Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 2
Tugas dan Tanggung jawab BPD adaIah :
a. membantu dalam memasyarakatkan tujuan, prinsip dan kebijakan PNPM
Mandiri Perdesaan kepada masyarakat desa,
b. memberikan pengawasan secara langsung maupun tidak langsung
terhadap pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di wilayahnya
c. mengusulkan, merumuskan dan menyetujui peraturan-peraturan desa
(perdes) yang mendukung pelestarian manajemen pembangunan
partisipatif dan mengembangkan hasil-hasil kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan di wilayahnya,
d. mengusulkan dan menyetujui keputusan desa untuk bergabung dalam
BKAD
e. memberikan saran-saran perbaikan pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan di forum-forum resmi di desa atau di kecamatan,
f. membangun kerja sama yang sinergis dengan kepala desa dalam rangka
mensukseskan keberhasilan PNPM Mandiri Perdesaan sesuai ketentuan
yang berlaku :
mencari sumber dana APBD & swasta
membangun kerja sama antar desa
menggalang swadaya masyarakat

5.1.3. Tim PengeIoIa Kegiatan (TPK)
TPK berasal dari anggota masyarakat yang dipilih melalui musyawarah desa
yang secara umum mempunyai fungsi dan peran untuk mengelola dan
melaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan. TPK terdiri dari Ketua sebagai
penanggung jawab operasional kegiatan di desa, mengoordinasikan
pelaksanaan kegiatan di lapangan dan pengelolaan administrasi serta
keuangan program. Sekretaris dan Bendahara membantu Ketua TPK
terutama dalam masalah administrasi dan keuangan. Jika memang
diperlukan, TPK dapat menambah tenaga atau anggota sesuai bidang
kegiatan yang diperlukan. Tambahan anggota atau tenaga dapat dipilih pada
saat musyawarah desa informasi hasil musyawarah antar desa penetapan
usulan.

Tugas dan Tanggung jawab TPK adaIah :
a. mengelola dan melaksanakan kegiatan yang didanai oleh PNPM Mandiri
Perdesaan secara terbuka dan melibatkan masyarakat, dalam hal :

pembuatan rencana kerja detail dan Rencana Penggunaan Dana
(RPD) untuk memanfaatkan biaya pelaksanaan kegiatan.
penyiapan dokumen administrasi sesuai ketentuan pada buku PTO
dan penjelasannya.
pembuatan rencana dan pelaksanaan proses pengadaan bahan dan
alat, mengoordinasikan tenaga kerja, pembayaran insentif dan bahan
sesuai ketentuan.
memastikan bahwa tenaga kerja berasal dari RTM diutamakan.
pemeriksaan hasil kerja dan penerimaan bahan kemudian
mengajukan sertifikasi untuk mendapat persetujuan dari Fasilitator
Kecamatan,
pengawasan dan pengendalian kualitas pekerjaan,
pembuatan laporan bulanan,
b. menyelenggarakan musyawarah desa yang diperlukan termasuk
musyawarah dalam rangka perubahan kegiatan jika terjadi perubahan
pekerjaan,
c. menyelenggarakan dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban
dana PNPM Mandiri Perdesaan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 3
setiap tahap pencairan dana melalui pertemuan musyawarah desa dan
menempelkan data di papan informasi,
d. menyelenggarakan dan melaporkan pertanggungjawaban seluruh
penggunaan dana PNPM Mandiri Perdesaan dan hasil akhir pelaksanaan
kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan melalui pertemuan musyawarah desa,
e. membuat dan menandatangani Surat Pernyataan Penyelesaian
Pelaksanaan Kegiatan (SP3K) bersama PJOK.
f. membuat rencana operasional dan pemeliharaan aset hasil kegiatan
PNPM Mandiri Perdesaan.

Ketua TPK
Ketua TPK sebagai penanggung jawab operasional kegiatan di desa. Tugas
dan tanggung jawabnya adalah:
a. melaksanakan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan di desa
b. menjelaskan maksud dan tujuan PNPM Mandiri Perdesaan kepada
masyarakat
c. memeriksa dan menandatangani rencana kerja detail dan RPD
d. memeriksa dan menandatangani hasil sertifikasi setiap tahapan kegiatan
bersama Fasilitator Kecamatan
e. memimpin TPK dalam rapat perencanaan, pra pelaksanaan dan evaluasi.
f. memeriksa buku kas umum dan mendorong penyelenggaraan
administrasi yang tertib dan transparan.
g. membuat dan menandatangani Berita Acara Revisi hasil musyawarah
desa, jika terjadi perubahan pekerjaan dari rencana.
h. menandatangani berkas-berkas penarikan dan pencairan dana.
i. memeriksa dan menandatangani laporan bulanan.
j. menandatangani Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB), Buku Kas
Umum, Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (LP2K), Surat
Kesanggupan Menyelesaikan Pekerjaan (SF-Kab), Surat Pernyataan
Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (SP3K),
k. mendorong setiap kelompok penerima manfaat untuk bertanggung jawab
dalam operasional dan pemeliharaan kegiatan yang sudah dibangun atau
dikerjakan
l. mempelajari dan menanggapi terhadap catatan Fasilitator Kecamatan di
Buku Bimbingan, meneruskan bimbingan kepada anggota TPK yang
bersangkutan,
m. wajib menyampaikan informasi yang dibutuhkan untuk keperluan audit
PNPM Mandiri Perdesaan

Sekretaris
Tugas dan tanggung jawab sekretaris TPK meliputi:
a. membantu Ketua TPK dalam melaksanakan tugas-tugas administratif
b. mengisi formulir, membuat surat serta administrasi lain yang diperlukan
oleh TPK
c. menyajikan informasi tentang kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan dan
laporan penggunaan dana kepada masyarakat melalui papan informasi,
d. memperbarui informasi dan laporan penggunaan dana yang ditempel
dalam papan informasi
e. mengadministrasikan dan mengarsipkan seluruh dokumen dan berkas
administrasi PNPM Mandiri Perdesaan,
f. menghitung HOK dan besarnya insentif berdasarkan daftar hadir pekerja
dari mandor atau kepala kelompok
g. membantu Ketua TPK dalam pengisian format Laporan Bulanan,
h. memelihara / menjaga semua arsip.
i. mengikuti pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh Fasilitator Kecamatan

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 4
j. membuat catatan seluruh aktivitas dan administrasi yang berkaitan
dengan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan

Bendahara
Tugas dan tanggung jawab bendahara TPK meliputi :
a. menyimpan dan menjaga uang kas kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan
b. menyiapkan kuitansi-kuitansi setiap pembayaran dalam kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan,
c. melaksanakan pembayaran insentif langsung kepada pekerja/masyarakat
dan pembayaran bahan kepada suplier setelah diketahui dan disetujui
oleh Ketua TPK,
d. melaksanakan pencatatan pada Buku Kas Umum setiap penerimaan dan
pengeluaran sesuai dengan penggunaannya dan aturan yang telah
ditetapkan,
e. membantu Ketua TPK membuat Rencana Penggunaan Dana (RPD) dan
Laporan Penggunaan Dana (LPD)
f. melengkapi LPD dengan semua bukti-bukti pembayaran dan nota
penerimaan barang,
g. menyiapkan administrasi untuk pengajuan dan pengambilan dana PNPM
Mandiri Perdesaan,
h. menyiapkan data-data keuangan PNPM Mandiri Perdesaan sebagai
bahan pembuatan laporan bulanan oleh Ketua TPK,
i. menjaga dan memelihara arsip semua tanda bukti pembelian dan
pembayaran
j. mengikuti pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh Fasilitator Kecamatan

Kriteria Anggota TPK
Kriteria yang diperlukan untuk menjadi anggota TPK meliputi :
a. warga desa setempat, terutama yang dikenal dan mengenal sebagian
besar warga desa.
b. mempunyai cukup waktu untuk melaksanakan tugasnya.
c. mempunyai pengetahuan tentang peta desa dan arah pembangunan
desa, serta peduli terhadap pembangunan di desanya.
d. sabar dan mampu mengendalikan diri/ memiliki moralitas yang tinggi
e. menghargai pendapat orang lain dan tidak memihak kepada kelompok
tertentu.
f. diterima dan dihargai semua kalangan masyarakat.
g. lancar dalam melaksanakan tugas-tugas administratif

Kriteria khusus untuk tenaga/anggota tambahan adalah : mempunyai
pengalaman dibidang kegiatan yang didanai PNPM Mandiri Perdesaan di
desa tersebut.

Proses pemiIihan TPK :
Untuk mendapatkan anggota TPK yang memenuhi kriteria, berikut acuan
pemilihannya :
a. sebelum pelaksanaan musyawarah desa sosialisasi,
memastikan informasi kebutuhan TPK telah tersebar di masyarakat
baik melalui papan informasi maupun media informasi lainnya.
nformasi yang diumumkan menerangkan bahwa pemilihan pengurus
TPK dilakukan pada musyawarah desa Sosialisasi.
melakukan identifikasi kebutuhan TPK dengan menampung nama-
nama calon TPK dari setiap desa.

b. pada saat pelaksanaan Musyawarah Desa sosialisasi,
menjelaskan peran, tugas tanggung jawab dan kriteria TPK

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 5
menuliskan daftar nama calon TPK hasil identifikasi
memfasilitasi peserta musyawarah desa untuk membahas calon-calon
TPK yang sudah ada, apakah akan ditambah atau dikurangi
berdasarkan kriteria yang ada. Calon-calon hasil pembahasan ini
selanjutnya diminta maju ke depan untuk menunjukkan komitmen dan
kesanggupan menjalankan tugas-tugasnya, sebelum ditetapkan
sebagai calon TPK yang akan dipilih langsung oleh peserta
musyawarah desa.
memfasilitasi proses pemilihan TPK secara tertutup, dimana setiap
peserta musyawarah desa memilih satu nama calon untuk jabatan
ketua. Selanjutnya dilakukan perhitungan suara. Nama calon yang
mendapatkan suara terbanyak ditetapkan sebagai ketua TPK. Proses
ini diulangi kembali untuk memilih sekretaris dan bendahara.

5.1.4. Tim PenuIis UsuIan (TPU)
TPU berasal dari anggota masyarakat yang dipilih melalui musyawarah desa.
Peran TPU adalah menyiapkan dan menyusun gagasan-gagasan kegiatan
yang telah ditetapkan dalam musyawarah desa dan musyawarah desa
khusus perempuan menjadi usulan desa. Anggota TPU dipilih oleh
masyarakat berdasarkan keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan jenis
kegiatan yang diajukan masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya, TPU
melakukan bersama-sama KPMD dan/ atau pengurus kelompok pengusul.

Anggota TPU terdiri dari:
Tiga (3) orang warga desa yang dipilih ditambah dengan KPMD yang
sebelumnya telah membantu proses penggalian gagasan

Tugas dan Tanggung jawab TPU
Tugas dan tanggung jawab TPU sebagai berikut:
a. mencari dan menyiapkan data-data pendukung seperti; peta desa, jumlah
penduduk termasuk penduduk miskin, hasil pendataan RTM dll
b. menyiapkan formulir-formulir yang dibutuhkan dan lampiran-lampiran lain
yang menjadi persyaratan usulan,
c. melakukan kunjungan ke lokasi usulan kegiatan dan penerima manfaat
untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang rencana kegiatan
yang diusulkan, termasuk melakukan survei dan pengukuran jika memang
diperlukan,
d. memastikan nilai dan bentuk swadaya yang akan diberikan masyarakat
untuk usulan kegiatan yang diajukan ke MAD
e. menuliskan data-data yang telah didapat dan mengisi formulir-formulir
penulisan usulan yang disediakan berdasarkan datadata tersebut.
f. menyusun formulir-formulir penulisan usulan beserta lampiran yang
disyararatkan menjadi satu proposal usulan kegiatan berdasarkan
ketentuan yang ada dalam PNPM Mandiri Perdesaan,
g. bersama Fasilitator Kecamatan melakukan survei harga sebagai dasar
pembuatan dan/atau penyempurnaan RAB.
h. bersama Fasilitator Kecamatan melakukan survei dan pengukuran di lokasi
kegiatan.
i. dibantu Fasilitator Kecamatan menyempurnakan usulan yang
mendapatkan rangking atas pada waktu MAD prioritas usulan, yaitu
penyempurnaan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan desain teknis.
j. dibantu Fasilitator Kecamatan, BKAD dan pelaku lainnya
menyempurnakan usulan desa (hasil MMDD) berkaitan dengan
sinkronisasi dokumen perencanaan reguler desa (RPJMDes dan RKPDes).



Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 6
Kriteria Anggota TPU
Kriteria untuk menjadi anggota TPU adalah :
a. anggota TPU adalah warga desa setempat
b. memiliki sikap mental yang positif : jujur, tekun, bertanggung jawab
c. mempunyai pengalaman atau keahlian yang berkaitan dengan jenis
kegiatan dalam PNPM Mandiri Perdesaan (sesuai usulan jenis kegiatan
yang disepakati dalam MAD ),
d. lancar membaca dan menulis
e. bersedia meluangkan waktu untuk melaksanakan tugas
f. menyertakan adanya perempuan dan wakil dari kelompok pengusul,

Proses PemiIihan Anggota TPU
Anggota TPU diutamakan berasal dari anggota kelompok pengusul. Dalam
melaksanakan tugasnya, TPU dibantu oleh KPMD
Acuan pemilihan TPU sebagai berikut :
a. menjelaskan kepada peserta tentang peran, tugas dan tanggung jawab
serta kriteria TPU,
b. minta kepada peserta untuk mengajukan nama yang dipandang
memenuhi kriteria yang ada
c. menuliskan nama-nama calon yang diajukan peserta
d. memfasilitasi peserta untuk memilih 2 orang pada Musyawarah Desa
Khusus Perempuan (MKP) sesuai jumlah usulan dan minimal 1 orang
pada musyawarah desa perencanaan (yang hanya menghasilkan 1
usulan) dari sekian banyak yang dicalonkan untuk menjadi anggota TPU.

5.1.5. Tim Pemantau
Tim pemantau adalah warga desa yang secara sukarela menjalankan fungsi
pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan yang
ada di desa. Keanggotaannya berasal dari anggota masyarakat yang dipilih
melalui musyawarah desa. Jumlah anggota tim pemantau sesuai dengan
kebutuhan dan kesepakatan saat musyawarah. Hasil pemantauan kegiatan
disampaikan saat musyawarah desa dan antar desa (jika diperlukan).
Pembiayaan kegiatan pemantauan berasal dari swadaya masyarakat yang
dibahas melalui musyawarah desa.

Tugas dan Tanggung jawab Tim Pemantau
a. memantau dan membantu penyebarluasan informasi termasuk
pembaharuan informasi di papan informasi
b. melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan administrasi TPK
c. memantau dan mengawasi penyelenggaraan musyawarah pertanggung
jawaban dan serah terima
d. memantau dan memeriksa setiap penarikan dana dari UPK serta setiap
transaksi pembayaran/pengeluaran dana dari TPK
e. memantau dan memeriksa bahan dan alat yang dibeli atau disewa.
Pemantauan bukan hanya menyangkut volume tetapi juga kualitasnya.
f. memeriksa proses pengadaan bahan dan alat, termasuk surat-surat
penawaran dan perjanjian maupun mengunjungi toko-toko atau lokasi
sumber bahan yang dibeli.

5.1.6. Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa/KeIurahan (KPMD)
KPMD adalah warga desa terpilih yang memfasilitasi atau memandu
masyarakat dalam mengikuti atau melaksanakan tahapan PNPM Mandiri
Perdesaan di desa dan kelompok masyarakat pada tahap perencanaan,
pelaksanaan maupun pemeliharaan. Sebagai kader masyarakat tentunya
peran dan tugas membantu pengelolaan pembangunan di desa diharapkan
tidak terikat oleh waktu. Jumlah KPMD disesuaikan dengan kebutuhan desa

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 7
dengan mempertimbangkan keterlibatan atau peran serta kaum perempuan
dan RTM. Untuk itu aspek kerelawanan, mau meluangkan waktu, kejujuran
diharapkan ada pada diri para kader atau KPMD. Selanjutnya kader
masyarakat sebagai tenaga teknis juga perlu dibentuk dalam rangka
membantu memfasilitasi penulisan usulan dan/ atau pelaksanaan kegiatan
prasarana infrastruktur yang diusulkan masyarakat.

Tugas dan Tanggung jawab KPMD
Secara umum tugas dan tanggung jawab KPMD adalah :
a. memfasilitasi pelaksanaan pendataan RTM dan penyusunan peta sosial
pada saat musyawarah dusun,
b. mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk proses penggalian
gagasan, seperti : data kelompok masyarakat yang ada di desa, data
penduduk miskin, hasil pendataan RTM dan data pendukung lainnya,
c. menyebarluaskan dan mensosialisasikan PNPM Mandiri Perdesaan
kepada masyarakat desa.
d. memastikan terlaksananya tahap-tahap kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan
di desa mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian.
e. mendorong dan memastikan penerapan prinsip-prinsip dan kebijakan
PNPM Mandiri Perdesaan setiap tahapan PNPM Mandiri Perdesaan di
desa, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian.
f. mengikuti pertemuan bulanan dengan PL yang difasilitasi oleh Fasilitator
Kecamatan untuk membahas kendala dan permasalahan yang muncul
serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
g. membantu dan memfasilitasi proses penyelesaian masalah perselisihan di
desa.
h. mengefektifkan penggunaan papan informasi di desa dan dusun
i. mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam pelaksanaan
kegiatan, termasuk dalam pengawasan.
j. mensosialisasikan sanksi dan keputusan lainnya yang telah ditetapkan
dalam Musyawarah Antar Desa dan Musyawarah desa kepada
masyarakat.

Tahapan Tugas KPMD

Tahap Perencanaan
a. menggali gagasan masyarakat dalam rangka meningkatkan
kesejahteraanya
b. mencatat dan menginventarisir gagasan masyarakat pada waktu
penggalian gagasan sebagai bahan untuk pembahasan di Musyawarah
desa perencanaan usulan desa
c. membantu Tim Pengelola Kegiatan dan Kepala Desa mulai dari
persiapan sampai selesainya penyelenggaraan pertemuan musyawarah di
desa.
d. memfasilitasi pertemuan-pertemuan musyawarah desa,
e. menyusun usulan desa bersama Tim Penulis Usulan
f. melakukan survai dan mengumpulkan data pendukung usulan, termasuk:
kesediaan swadaya, perkiraan jumlah penerima manfaat, perkiraan
besarnya biaya kegiatan sebagai bahan penulisan usulan
g. menginformasikan kepada masyarakat hasil keputusan Musyawarah Antar
Desa prioritas usulan dan penetapan usulan yang didanai PNPM Mandiri
Perdesaan
h. membantu Fasilitator Kecamatan dalam memfasilitasi proses penyusunan
desain dan rencana anggaran biaya kegiatan yang masuk prioritas untuk
didanai.


Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 8
Tahap PeIaksanaan
a. membantu Tim Pengelola Kegiatan dalam penyelenggaraan Musdes
Pertanggung jawaban dan Musyawarah Desa Serah Terima (MDST)
b. memfasilitasi masyarakat dalam Musdes Pertanggung jawaban dan
MDST
c. memberikan masukan dan bimbingan teknis yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan pekerjaan di lapangan
d. membantu TPK dalam pembuatan administrasi yang tertib dan benar
e. memfasilitasi dan mendorong masyarakat dalam memenuhi apa yang
menjadi hak dan kewajibannya, termasuk dalam kesediaan adanya
swadaya dan pengembalian pinjaman dalam kaitan kelompok SPP
maupun pinjaman perguliran
f. membantu TPK dalam melakukan pengawasan dan pengendalian mutu
pelaksanaan kegiatan simpan pinjam perempuan, pendidikan, kesehatan
dan pelatihan peningkatan ketrampilan usaha kelompok.
g. membantu TPK dalam pengawasan pekerjaan di lapangan, pengendalian
kualitas dan produktifitas pekerjaan kegiatan prasarana
h. membantu TPK untuk memfasilitasi proses pengadaan barang dan alat
i. membantu mengawasi pekerjaan di lapangan, terutama pengendalian
kualitas dan produktifitas pekerjaan, seperti mencatat pekerjaan-pekerjaan
yang tidak sesuai dan melaporkan kepada TPK dan Fasilitator Kecamatan

Tahap PeIestarian
a. memfasilitasi masyarakat desa dalam pengajuan usulan dari dana
pengembalian pinjaman bergulir
b. memfasilitasi masyarakat desa agar tetap berpedoman pada prinsip dan
tujuan PNPM Mandiri Perdesaan dalam memanfaatkan dana bergulir,
c. membangkitkan motivasi masyarakat dalam pelestarian dan
pengembangan hasil kegiatan
d. membantu TPK dalam pembentukan tim pemelihara dan kelompok
pemeliharaan
e. memantau hasil dan operasional kegiatan serta kondisi kegiatan
prasarana yang telah dibangun terutama bagian mana yang
membutuhkan pemeliharaan
f. memfasilitasi proses pemeliharaan terhadap prasarana yang dibangun

Kriteria KPMD
Kriteria KPMD adalah sebagai berikut :
a. warga desa setempat, dan bertempat tinggal di desa yang bersangkutan
b. bukan kepala desa atau perangkat desa maupun suami/ istrinya
c. bukan anggota BPD maupun suami/istrinya
d. mempunyai waktu yang cukup dan sanggup melaksanakan tugas-
tugasnya
e. jujur, bertanggung jawab dan bersedia bekerja secara sukarela
f. bisa membaca dan menulis

Proses PemiIihan KPMD
Pemilihan KPMD dilakukan pada saat Musdes sosialisasi. Pada saat
Fasilitator Kecamatan melakukan orientasi di desa-desa dan sebelum
Musdes sosialisasi diadakan, perlu diinformasikan akan kebutuhan tenaga-
tenaga potensial dari desa yang siap bekerja membantu masyarakat
berpartisipasi dalam PNPM Mandiri Perdesaan secara sukarela. Acuan
proses pemilihan KPMD sebagai berikut :




Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 9
a. Persiapan PemiIihan :
mengidentifikasi kebutuhan KPMD dengan melakukan observasi dan
wawancara kepada tokoh-tokoh masyarakat, Kepala Desa, BPD atau
lembaga desa lainnya sekaligus sosialisasi PNPM Mandiri Perdesaan
menginformasikan kebutuhan KPMD kepada semua orang dengan
secara lisan dan tertulis melalui pengumuman yang ditempel di papan
informasi. Nama-nama hasil identifikasi dan siapa saja yang berminat
dan mendaftarkan diri dicatat.

b. Proses PemiIihan
pemilihan KPMD dilaksanakan pada saat Musdes Sosialisasi
sebelum proses pemilihan dilakukan, fasilitator dalam pertemuan
musyawarah desa menginformasikan tentang kriteria, aspek
kerelawanan, kejujuran serta tugas dan tanggung jawab yang akan
diemban oleh KPMD.
ajak peserta musyawarah desa untuk menentukan berapa jumlah
KPMD (minimal 2 KPMD, diharapkan untuk tiap-tiap dusun ada kader
dusun)
ajak peserta untuk menentukan kriteria tambahan yang lebih
diutamakan yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan
kemasyarakatan.
fasilitasi peserta musyawarah untuk memilih KPMD sesuai kriteria
yang telah ditentukan dan yang telah disepakati bersama.
jumlah KPMD terpilih harus memperhatikan keseimbangan antara
kader laki-laki dan kader perempuan.

5.2. PeIaku PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan

5.2.1. C a m a t
Camat atas nama Bupati berperan sebagai pembina pelaksanaan PNPM
Mandiri Perdesaan pada desa-desa di kecamatan. Selain itu Camat juga
bertugas untuk mengesahkan usulan-usulan kegiatan yang telah disepakati
dalam MAD untuk didanai melalui PNPM Mandiri Perdesaan, dalam bentuk
Surat Penetapan Camat (SPC).

Tugas dan Tanggung jawab Camat
a. bertanggung jawab terhadap pelaksaaan PNPM Mandiri Perdesaan di
wilayah kecamatan
b. mengoordinasikan seluruh kegiatan pembangunan yang ada di
kecamatan
c. menyelenggarakan MAD
d. bersama Fasilitator Kecamatan dan PjOK mensosialisasikan PNPM
Mandiri Perdesaan di wilayah kecamatan
e. memonitoring dan mengevaluasi laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan dari semua desa
f. membantu penyelesaian masalah PNPM Mandiri Perdesaan yang timbul
di wilayahnya,
g. melayani urusan administratif, antara lain : menandatangani surat
penetapan tim verifikasi, pengurus UPK, usulan kegiatan, Surat
Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB), Surat Penetapan Camat (SPC)
dan Surat Pernyataan Penyelesaian Kegiatan (SP2K) yang dibuat oleh
Ketua TPK dan Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK), dll
h. memantau proses pemeliharaan dan rencana pengembangan hasil
kegiatan serta pengembalian pinjaman dana bergulir,
i. menilai kinerja program di Desa dan kecamatan,

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 10
j. bertanggung jawab terhadap pengelolaan seluruh dokumen kegiatan
PNPM Mandiri Perdesaan baik yang bersifat keuangan dan non
keuangan.
k. mendorong dan memfasilitasi terbentuk dan berkembangnya Badan Kerja
sama Antar Desa (BKAD).


5.2.2. Penanggung Jawab OperasionaI Kegiatan (PjOK)
PjOK adalah seorang Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan Masyarakat atau
pejabat lain yang mempunyai tugas pokok sejenis di kecamatan yang
ditetapkan berdasar Surat Keputusan Bupati dan bertanggung jawab atas
penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan
PNPM Mandiri Perdesaan di kecamatan.


Tugas dan Tanggung jawab PJOK adaIah :
a. melaksanakan koordinasi dengan Fasilitator Kecamatan dan Tim
Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten mengenai pelaksanaan
PNPM Mandiri Perdesaan di daerahnya,
b. melaksanakan kegiatan manajemen PNPM Mandiri Perdesaan, yang
meliputi aspek-aspek kegiatan sosialisasi, perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengendalian,
c. memproses pengajuan dana dari UPK ke KPPN serta memantau proses
pencairannya,
d. menyelenggarakan rapat rutin bulanan bersama Fasilitator Kecamatan dan
pelaku PNPM Mandiri Perdesaan lainnya yang bertujuan untuk membahas
kemajuan kegiatan, masalah-masalah dan penyelesaiannya,
e. membuat laporan bulanan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan ke TK.
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten dengan tembusan kepada Camat,
f. melaksanakan pengawasan teknis dan administrasi,
g. melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja UPK dan TPK ,
h. bersama Fasilitator Kecamatan memfasilitasi pelaksanaan MAD
i. memantau dan/atau memfasilitasi kegiatan musyawarah desa di
wilayahnya,

5.2.3. Unit PengeIoIa Kegiatan (UPK)
UPK adalah unit yang mengelola operasional kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan di kecamatan dan membantu BKAD mengoordinasikan
pertemuan-pertemuan di kecamatan. Pengurus UPK terdiri dari ketua,
sekretaris dan bendahara. Pengurus UPK berasal dari anggota masyarakat
yang diajukan dan dipilih berdasarkan hasil musyawarah desa .

Tugas dan Tanggung jawab UPK :
a. bertanggung jawab terhadap seluruh pengelolaan dana PNPM Mandiri
Perdesaan di kecamatan,
b. bertanggung jawab terhadap pengelolaan administrasi dan pelaporan
seluruh transaksi kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan,
c. bertanggung jawab terhadap pengelolaan dokumen PNPM Mandiri
Perdesaan baik yang bersifat keuangan maupun non keuangan,
d. bertanggung jawab terhadap pengelolaan dana bergulir
e. melakukan pembinaan terhadap kelompok peminjam
f. melakukan sosialisasi dan penegakan prinsip-prinsip PNPM Mandiri
Perdesaan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian PNPM
Mandiri Perdesaan bersama dengan pelaku lainnya.

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 11
g. melakukan administrasi dan pelaporan setiap transaksi baik keuangan
ataupun non-keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan
program.
h. membuat perencanaan keuangan (anggaran) dan rencana kerja sesuai
dengan kepentingan program yang disampaikan pada BKAD/MAD
i. membuat pertanggung jawaban keuangan dan realisasi rencana kerja
pada BKAD/MAD sesuai dengan kebutuhan. Bahan laporan pertanggung
jawaban disampaikan kepada seluruh pelaku desa yang terkait langsung
satu minggu sebelum pelaksanaan.
j. melakukan evaluasi dan pemeriksaan langsung Rencana Penggunaan
Dana (RPD) dan Laporan Penggunaan Dana (LPD) yang dibuat oleh
desa dalam setiap tahapan proses PNPM Mandiri Perdesaan dan sesuai
dengan ketentuan.
k. melakukan bimbingan teknis dan pemeriksaan secara langsung
administrasi dan pelaporan pelaku desa.
l. membuat draft aturan perguliran yang sesuai dengan prinsip dan
mekanisme PNPM Mandiri Perdesaan untuk disahkan oleh BKAD/MAD
dan menegakkan dalam pelaksanaan dengan tujuan pelestarian dana
bergulir.
m. menyiapkan dukungan teknis bagi terbentuknya kerja sama dengan pihak
luar/pihak lain dalam kaitannya dengan pengembangan potensi wilayah.
n. melakukan penguatan kelompok peminjam dalam kelambagaan,
pengelolaan keuangan, pengelolaan pinjaman, dan memfasilitasi
pengembangan usaha kelompok atau pemanfaat.
o. membantu pengembangan kapasitas pelaku program melalui pelatihan,
bimbingan lapangan, dan pendampingan dalam setiap kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan.
p. mendorong transparansi dalam pengelolaan keuangan, pengelolaan
pinjaman, perkembangan program dan informasi lainnya melalui papan
informasi dan menyampaikan secara langsung kepada pihak yang
membutuhkan.
q. melakukan fasilitasi (bersama pelaku lain) penyelesaian permasalahan-
permasalahan yang menyangkut perencanaan, pelaksanaan, dan
pelestarian PNPM Mandiri Perdesaan.

Kriteria Pengurus UPK
Pengurus UPK terdiri dari Ketua, Bendahara dan Sekretaris dengan kriteria
sebagai berikut :
a. memiliki sikap mental yang baik : jujur, bertanggung jawab dan dapat
dipercaya,
b. pendidikan minimal SLTA,
c. memiliki kemampuan di bidang administrasi dan keuangan,
d. dapat diterima oleh masyarakat,
e. bukan pegawai negeri, staf kecamatan atau aparat desa,
f. mempunyai cukup waktu dan kesungguhan

Proses PemiIihan UPK
Pemilihan UPK dilakukan pada MAD Prioritas Usulan, berdasarkan usulan
masing-masing desa sesuai hasil MD Perencanaan Usulan. Mekanisme
pemilihannya sebagai berikut :
a. Fasilitator Kecamatan menjelaskan tentang tugas, tanggung jawab dan
kriteria pengurus UPK,
b. menuliskan nama-nama yang telah diajukan tiap-tiap desa di kertas plano,
c. menyampaikan latar belakang calon-calon pengurus UPK, dan
mempersilahkan calon yang diusulkan berdiri,
d. meminta kesediaan dan persetujuan kepada setiap calon untuk dipilih,

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 12
e. menjelaskan tata cara pemilihan pengurus, yaitu dengan pemungutan
suara secara tertutup. Setiap desa memilih 2 nama untuk mengatasi
kecenderungan setiap desa memilih calonnya sendiri,
f. setiap utusan dari desa yang sama berkumpul untuk memilih 2 orang
dengan menuliskannya di atas kertas tanpa sebutkan nama desa yang
memilih,
g. pemilihan dimulai dari ketua, kemudian tuliskan jumlah suara yang
diperoleh setiap calon dan yang mendapatkan suara terbanyak menjadi
ketua,
h. ulangi dengan proses yang sama untuk pemilihan Sekretaris dan
Bendahara,

5.2.4. Tim Verifikasi (TV)
Tim Verifikasi adalah tim yang dibentuk dari anggota masyarakat dan instansi
terkait yang memiliki pengalaman dan keahlian khusus, baik di bidang teknik
prasarana, simpan pinjam, pendidikan, kesehatan dan pelatihan ketrampilan
masyarakat sesuai usulan kegiatan yang diajukan dalam musyawarah desa
perencanaan usulan. Peran tim verifikasi adalah melakukan pemeriksaan
serta penilaian usulan kegiatan semua desa peserta PNPM Mandiri
Perdesaan dan selanjutnya membuat rekomendasi kepada BKAD/MAD
sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan.

Tugas dan Tanggung jawab Tim Verifikasi adaIah :
a. memeriksa kelengkapan dokumen setiap usulan yang diajukan masing-
masing desa,
b. melakukan observasi lapangan untuk memeriksa kesesuaian yang ditulis
dalam usulan dengan fakta di lapangan,
c. memeriksa kesesuaian usulan dengan kriteria dan tujuan PNPM Mandiri
Perdesaan, serta bersama dengan BKAD memeriksa keterkaitan usulan
antar desa sebagai suatu konsep pengembangan wilayah.
d. menyampaikan usulan kegiatan kepada Fasilitator Kabupaten agar
dilakukan pemeriksaan kembali,
e. membuat rekomendasi terhadap hasil pemeriksaan usulan kegiatan
f. menyampaikan dan menjelaskan rekomendasi hasil pemeriksaan usulan
kegiatan kepada peserta MAD

Kriteria Tim Verifikasi
Kriteria anggota Tim Verifikasi adalah sebagai berikut:
a. anggota masyarakat yang memiliki pengalaman dan keahlian khusus, baik
dibidang teknik prasarana, keuangan, perbankan, simpan pinjam,
pendidikan, kesehatan dan pelatihan ketrampilan masyarakat sesuai
dengan usulan yang diajukan,
b. sanggup meluangkan waktu sesuai dengan kebutuhan kegiatan verifikasi
yang diperlukan,
c. diutamakan berasal dari penduduk setempat (desa, kecamatan atau
paling jauh dari kabupaten)
d. mempunyai wawasan yang cukup dan bersikap netral atau tidak memihak
salah satu atau beberapa desa saja,
e. jumlah personil antara 5 s/d 10 orang

Proses Pembentukkan Tim Verifikasi
a. Fasilitator Kecamatan dan PjOK dibantu PL dan BKAD memperkirakan
keahlian yang dibutuhkan untuk verifikasi berdasarkan jenis usulan yang
diajukan ke Musyawarah Antar Desa,
b. Fasilitator Kecamatan mengidentifikasi orang-orang yang memenuhi
syarat sesuai keahlian yang dibutuhkan, yaitu dengan konsultasi secara

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 13
informal dengan tokoh-tokoh desa/kecamatan untuk mendapatkan
masukkan siapa saja yang mampu melakukan verifikasi sesuai kriteria
sebagaimana di atas,
c. menghubungi orang-orang yang sudah teridentifikasi, menjelaskan secara
informal tentang PNPM Mandiri Perdesaan, maksud kedatangan dan
mewawancarai tentang keahlian dan pengalaman yang dimiliki serta
konfirmasi kesediaan (punya cukup waktu) jika nantinya ditetapkan
sebagai anggota tim verifikasi. Jika orang yang keahliannya dibutuhkan
tidak ditemukan di kecamatan, Fasilitator Kecamatan dapat minta bantuan
ke Fasilitator Kabupaten untuk mendapatkan tenaga yang dibutuhkan,
d. merekapitulasi dan catatan tentang calon anggota tim verifikasi diajukan
ke Fasilitator Kabupaten untuk memastikan kesesuaian keahlian dan
ketrampilan calon anggota tim verifikasi dan usulan dari semua desa
e. Fasilitator Kabupaten membuat catatan terhadap calon anggota tim
verifikasi dan menandatangani daftar anggota TV untuk dipilih dan
ditetapkan pada rapat di kecamatan.
f. mengadakan rapat di kecamatan untuk menentukan dan menetapkan tim
verifikasi yang dihadiri oleh; Camat, PjOK, Fasilitator Kecamatan,
Fasilitator Kabupaten, para calon anggota TV, PL, BKAD dan tokoh-tokoh
masyarakat lainnya,

Rapat pembentukan TV difasilitasi oleh Fasilitator Kecamatan dengan agenda
sebagai berikut:
a. pembukaan oleh camat
b. penjelasan singkat dan jelas tentang PNPM Mandiri Perdesaan
c. penjelasan tentang tugas tanggung jawab dan kualifikasi serta hak dan
kewajiban tim verifikasi
d. penjelasan jenis usulan dari masing-masing desa
e. pembahasan kebutuhan anggota tim verifikasi sesuai dengan jenis usulan
dan jangkauan wilayah serta faktor sosial budaya lainnya (berapa orang)
sekaligus menentukan siapa saja yang akan ditetapkan menjadi anggota
tim verifikasi berdasarkan daftar calon yang sudah ada
f. jika sudah ada kata sepakat, selanjutnya dibuatkan berita acara dan
ditetapkan oleh camat atas nama bupati.


HaI-HaI yang PerIu Diperhatikan

x Pembentukan tim verifikasi harus mempertimbangkan adanya
keseimbangan dan keterlibatan perempuan sebagai wujud penerapan
salah satu prinsip dan kebijakan dalam PNPM Mandiri Perdesaan.
x Pembentukan TV harus benar-benar berdasarkan kualifikasi yang
dibutuhkan.
x Jika anggota TV ada yang membantu proses penulisan usulan di desa,
pastikan orang tersebut tidak memeriksa usulan yang mereka bantu.



5.2.5. Tim Pengamat
Tim pengamat adalah anggota masyarakat yang dipilih untuk memantau dan
mengamati jalannya proses diskusi MAD, serta memberikan masukan / saran
agar dapat berlangsung secara partisipatif.




Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 14
Tugas dan Tanggung jawab Tim Pengamat :
a. hadir dalam MAD untuk mewakili kecamatan bukan mewakili desanya
masing-masing.
b. mengamati proses diskusi MAD prioritas usulan dan penetapan usulan
serta memberikan masukan/saran agar dapat berlangsung secara
partisipatif.
c. menyampaikan hasil pengamatan proses diskusi sebagai masukan
menjelang proses pengambilan keputusan dalam MAD dan ikut
menyebarluaskan hasil kesepakatan musyawarah kepada warga
kecamatan.
d. membantu mengatasi konflik-konflik yang mungkin terjadi antara lain desa
yang kecewa karena usulannya tidak lolos dalam diskusi MAD.

Kriteria Tim Pengamat
Tim Pengamat berjumlah minimal 5 orang atau sejumlah desa yang ikut
dalam diskusi MAD dengan kriteria sebagai berikut:
a. anggota Tim Pengamat adalah warga kecamatan setempat.
b. memiliki wawasan luas sehingga dapat memberikan pertimbangan yang
obyektif/netral dalam pembahasan usulan.
c. diterima keberadaannya di masyarakat dan aktif dalam kegiatan-kegiatan
kemasyarakatan.
d. ditetapkan melalui MAD prioritas usulan.

Proses PemiIihan
a. masyarakat memilih calon pengamat berdasarkan kriteria yang ada pada
saat MAD prioritas usulan. Orang yang dipilih sebagai calon anggota tim
pengamat tidak harus berasal dari desanya,
b. setelah semua desa mengajukan nama-nama calon, Fasilitator
Kecamatan dan PJOK mengkaji semua calon yang sudah dipilih.
c. Fasilitator Kecamatan dan PJOK menetapkan orang-orang yang menjadi
anggota Tim Pengamat dengan pertimbangan kriteria yang telah
ditentukan.

5.2.6. Pendamping LokaI (PL)
PL adalah tenaga pendamping dari masyarakat yang membantu Fasilitator
Kecamatan untuk memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan
dan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan
dan pelestarian. Di setiap kecamatan ditempatkan satu orang PL.

Tugas dan Tanggung jawab :
a. melakukan pemantapan terhadap pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan di desa sesuai dengan pengaturan tugas dari Fasilitator
Kecamatan.
b. membantu Fasilitator Kecamatan dalam melaksanakan pemeriksaan
kegiatan di lapangan.
c. membantu Fasilitator Kecamatan dalam melakukan bimbingan pada
KPMD mengenai kegiatan pemberdayaan, transparansi dan manajemen.
d. membantu Fasilitator Kecamatan dalam melaksanakan pelatihan kepada
TPK dan masyarakat.
e. memberikan bimbingan dan masukan atau saran teknis maupun non
teknis kepada Tim Pengelola Kegiatan.
f. membuat gambar kerja sesuai petunjuk FT-Kec dan membantu dalam
pembuatan gambar desain dan gambar purna laksana.
g. membimbing dan memberi penjelasan kepada masyarakat mengenai
cara-cara menjaga kelestarian lingkungan.

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 15
h. memberikan bimbingan dan masukan tentang cara-cara administrasi,
pembukuan serta pengarsipan Tim Pengelola Kegiatan.
i. membantu dan membimbing Tim Pengelola Kegiatan dalam penyiapan
serta proses pra audit.
j. mengumpulkan informasi tentang aspek non teknis antara lain :
partisipasi, memeriksa keluhan masyarakat untuk disampaikan kepada
Fasilitator Kecamatan.
k. membimbing KPMD dalam menginventarisasi kebutuhan masyarakat
dalam kaitannya dengan rencana jangka panjang masyarakat.
l. memfasilitasi proses pemeliharaan hasil kegiatan, pengembangan dan
pelestariannya, serta pengembalian pinjaman dana bergulir.

Kriteria Pendamping LokaI
a. warga kecamatan setempat, terutama yang dikenal dan mengenal
sebagian besar warga masyarakat,
b. minimal berpendikan setingkat SMU atau sederajat
c. diutamakan mantan fasilitator pemberdayaan masyarakat
d. bukan aparat pemerintah desa atau suami/ istrinya,
e. mempunyai waktu yang cukup dan sanggup melaksanakan tugas-
tugasnya,
f. diterima semua kalangan masyarakat serta tidak memihak kepada
kelompok tertentu saja,
g. peduli terhadap pembangunan di desa dan antar desa,

Proses PemiIihan Pendamping LokaI
PL dipilih dari KPMD terbaik yang proses pemilihannya dilakukan pada saat
pelatihan KPMD. Proses pemilihannya sebagai berikut :
a. sebelum pemilihan, disampaikan kepada peserta bahwa pada MD
sosialisasi juga akan memilih calon PL dengan kriteria dan tugas
tanggung jawabnya sebagaimana di atas. Perlu dijelaskan bahwa PL
yang terpilih juga mempunyai kesempatan dicalonkan kembali sebagai
calon PL,
b. selesai pemilihan segera dilanjutkan dengan penentuan 2 calon PL (satu
laki-laki dan satu perempuan)
c. setelah semua desa mengajukan calon-calon PL yang ditentukan dalam
MD sosialisasi, maka Fasilitator Kecamatan dan PjOK segera menyeleksi
semua calon PL sehingga menghasilkan sekurang-kurangnya 6 orang
calon PL (3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan)
d. Fasilitator Kecamatan dan PjOK menyelenggarakan pertemuan dengan
KPMD dan menjelaskan hasil seleksi terhadap semua calon PL sampai
menghasilkan 6 calon tersebut,
e. Pertemuan tersebut, memilih dan menetapkan calon terbaik untuk
menjadi PL.

5.2.7. FasiIitator Kecamatan (FasiIitator Kecamatan)
Fasilitator Kecamatan merupakan pendamping masyarakat yang berperan
memfasilitasi masyarakat dalam setiap proses tahapan, mulai dari
sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian serta membimbing
KPMD atau pelaku-pelaku lainnya di desa dan kecamatan.

Tugas dan Tanggung jawab FasiIitator Kecamatan :
a. menyebarluaskan dan mensosialisasikan PNPM Mandiri Perdesaan
kepada masyarakat dan aparat desa/kecamatan
b. memfasilitasi KPMD dalam pendataan RTM

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 16
c. menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) pelaksanaan kegiatan
bersama masyarakat dimulai dari proses sosialisasi hingga pelestarian
kegiatan.
d. memastikan dan memfasilitasi terlaksananya tahapan-tahapan PNPM
Mandiri Perdesaan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan
pelestarian dengan tetap memperhatikan penerapan prinsip-prinsip
PNPM Mandiri Perdesaan
e. memberikan pelatihan-pelatihan dan bimbingan kepada masyarakat dan
pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di desa dan kecamatan (KPMD,
PL, Tim Pengelola Kegiatan/ TPK, Unit Pengelola Kegiatan/ UPK, Tim
Penulis Usulan, Tim Pengawas dll.)
f. memberikan pelatihan-pelatihan dan bimbingan peningkatan kapasitas
pemerintahan lokal baik di desa dan antar desa (BPD, Kepala desa,
aparat kecamatan, dll.)
g. memfasilitasi pembentukan dan pengembangan Badan Kerja sama Antar
Desa (BKAD)
h. melakukan pengawasan dan verifikasi terhadap proses pencairan dan
penggunaan dana PNPM Mandiri Perdesaan untuk dapat dipastikan
penggunaannya secara terbuka dan sesuai dengan kebutuhan dan
keadaan yang sebenarnya.
i. memfasilitasi dan membantu survei lapangan terhadap usulan kegiatan
simpan pinjam dan kegiatan yang menunjang kualitas hidup seperti
bidang pendidikan dan kesehatan (di luar bangunan atau prasarana).
j. identifikasi kebutuhan bantuan teknis terhadap usulan kegiatan simpan
pinjam, pendidikan dan kesehatan yang diperlukan
k. mengidentifikasi kebutuhan pengetahuan dan ketrampilan yang
diperlukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat
l. mengadakan pelatihan secara sederhana dan mudah dimengerti
masyarakat berdasarkan atas hasil identifikasi kebutuhan pengetahuan
dan ketrampilan
m. membantu Pendamping UPK dalam membimbing pengembangan hasil
kegiatan ekonomi dari pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan
sebelumnya dan kegiatan simpan pinjam.
n. mendorong terciptanya mekanisme kontrol atau pengawasan oleh
masyarakat sendiri
o. melakukan evaluasi bersama masyarakat terhadap pelaksanaan program
dan kinerja pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di kecamatan dan desa
p. melaporkan realisasi RKTL, kemajuan kegiatan, masalah dan upaya
penanganannya kepada Fasilitator Kabupaten dengan tembusan kepada
Camat u.p. PjOK
q. mengadakan rapat koordinasi bulanan di kecamatan
r. menghadiri rapat koordinasi bulanan di kabupaten dan menyampaikan
laporan perkembangan kegiatan
s. menjunjung tinggi kode etik fasilitator dan konsultan serta siap
diberhentikan jika melakukan pelanggaran terhadap kode etik tersebut.
t. memastikan pengelolaan dana di UPK sesuai prosedur dan ketentuan,
dan secara berkala melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan kas
dan rekening.
u. mengumpulkan SPM dan SP2D serta melaporkan realisasi penggunaan
dana dalam rangka pelaporan SA Fasilitator Kabupaten.

5.2.7.1. FasiIitator Teknik (FT-Kec)
FT-Kec merupakan pendamping masyarakat yang berperan
memfasilitasi masyarakat dalam setiap proses tahapan, mulai
dari sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian serta

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 17
membimbing KPMD atau pelaku-pelaku lainnya di desa dan
kecamatan khususnya dalam bidang teknis.

Tugas dan Tanggung jawab FT-Kec :
a. membantu dan memberikan bimbingan teknis kepada seluruh
KPMD
b. menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut yang disesuaikan
dengan rencana pelaksanaan kegiatan masyarakat/desa
c. memfasilitasi dan membantu melakukan kegiatan survei dan
pengukuran usulan kegiatan prasarana (termasuk usulan
sarana kesehatan dan pendidikan, seperti: bangunan sekolah,
bangunan pelayanan kesehatan)
d. membantu dan memberikan bimbingan teknis dalam membuat
desain dan gambar konstruksi, perhitung volume dan
kebutuhan bahan/peralatan, jadwal pelaksanaan dan RAB
usulan prasarana sesuai kaidah-kaidah teknis dengan
memperhatikan dampak lingkungan
e. membantu mengidentifikasi kebutuhan yang diperlukan
terhadap usulan kegiatan prasarana, seperti pengadaan bahan
dan alat, penggunaan alat berat dan melakukan supervisi
dalam pelaksanaannya.
f. memberikan pelatihan teknis konstruksi secara sederhana
kepada kader teknis dan masyarakat yang melaksanakan
pekerjaan konstruksi pembangunan prasarana/sarana
g. melakukan review RKTL dikaitkan dengan jadwal pelaksanaan
kegiatan di masyarakat serta memfasilitasi penanganan
masalah berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan fisik di
lapangan.
h. membantu FT-Kab dalam memeriksa kualitas dan kuantitas
serta mengeluarkan dan mengesahkan sertifikasi terhadap
penerimaan bahan dan alat, hasil pekerjaan atau konstruksi
bangunan dan penyelesaian pekerjaan prasarana
i. memfasilitasi pembentukan tim pemelihara kegiatan sejak awal
pengajuan usulan dan memberikan pelatihan untuk operasional
dan pemeliharaan prasarana yang dibangun
j. membantu menghubungkan dengan para pihak terkait, baik
instansi pemerintah maupun swasta yang berkaitan dengan
jenis usulan kegiatan prasarana yang ada baik di wilayah
kecamatan maupun kabupaten
k. tugas atau aktifitas lain yang diperlukan masyarakat dan tidak
bertentangan dengan prinsip dan prosedur PNPM Mandiri
Perdesaan berkaitan dengan kegiatan prasarana
l. melaporkan kemajuan penyelesaian masalah yang berkaitan
dengan bidang tugas bimbingan teknis dan upaya penanganan
yang telah dilakukan
m. mengadakan rapat koordinasi bulanan di kecamatan
n. menghadiri rapat koordinasi bulanan di kabupaten dan
menyampaikan laporan perkembangan kegiatan secara rutin
o. menjunjung tinggi kode etik fasilitator dan konsultan serta siap
diberhentikan jika melakukan pelanggaran terhadap kode etik
tersebut.

5.2.8. Setrawan Kecamatan
Setrawan Kecamatan diutamakan pegawai negeri sipil di lingkungan
kecamatan yang dibekali dengan kemampuan khusus untuk dapat
melaksanakan tugas akselerasi perubahan sikap mental di kalangan

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 18
lingkungan pemerintah dan perubahan tata kepemerintahan serta
mendampingi masyarakat, khususnya dalam manajemen pembangunan
partisipatif. Dalam hal tertentu, pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah
daerah dapat ditugaskan.

Tugas dan tanggung jawab Setrawan Kecamatan adaIah sebagai berikut:
a. menyebarluaskan dan mensosialisasikan pembangunan partisipatif
kepada masyarakat dan aparat desa/kecamatan
b. memfasilitasi penyusunan Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL)
pelaksanaan kegiatan bersama masyarakat dimulai dari proses sosialisasi
hingga pelestarian kegiatan
c. memandu proses musrenbang kecamatan
d. memberikan informasi kebijakan pemerintah kabupaten dalam
musrenbang desa
e. mendorong kerja sama antara masyarakat dengan pihak ketiga/swasta
dalam pelaksanaan pembangunan
f. mendampingi utusan kecamatan dalam musrenbang kabupaten
g. memastikan dan memfasilitasi terlaksananya tahapan pembangunan
sesuai dengan mekanisme pembangunan reguler (Undang-undang No. 25
Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional)
h. memberikan pelatihan dan bimbingan peningkatan kapasitas pemerintah
desa.
i. memfasilitasi dan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat baik untuk
peningkatan kapasitas masyarakat maupun peningkatan kapasitas
pemerintahan desa.
j. memfasilitasi penyusunan perdes yang partisipatif
k. mendorong terciptanya mekanisme kontrol atau pengawasan oleh
masyarakat sendiri.
l. melakukan koordinasi dengan setrawan kabupaten dalam pelaksanaan
kegiatan
m. mensosialisasikan hasil musrenbang kabupaten ke masyarakat dan
aparat desa dan kecamatan
n. menyampaikan laporan bulanan di lokasi tugas tentang kemajuan
pelaksanaan kegiatan, masalah dan kendala, serta rencana dan realisasi
kegiatan kepada setrawan kabupaten.

Kriteria Setrawan Kecamatan
a. umur 23 52 tahun
b. pendidikan, minimal SLTA atau sederajat
c. pegawai negeri sipil
d. memiliki pemahaman yang baik mengenai berbagai peraturan perundang-
undangan yang berkaitan dengan pembangunan perdesaan,
pemerintahan desa dan kelembagaan masyarakat desa, seperti:
UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional
PP No 72 tahun 2006 tentang desa dan PP No 73 tahun 2006 tentang
kelurahan
PP No 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
UU No. 32 tahun 2005 tentang Pemerintah Daerah
UU No. 5 tahun 2007 tentang Penataan Lembaga Kemasyarakatan
Permendagri No.4/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan
Desa
e. memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep pendampingan
f. memiliki pemahaman yang baik mengenai sosial budaya setempat
g. memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep pemberdayaan
masyarakat

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 19
h. memiliki kemampuan teknik memfasilitasi
i. memiliki kemampuan teknik berkomunikasi yang efektif
j. memiliki kemampuan memecahkan konflik dan masalah
k. memiliki kemampuan memandu perencanaan partisipatif
l. memiliki kemampuan melakukan monitoring dan evaluasi
m. memiliki kemampuan menyusun laporan
n. memiliki kemampuan melakukan koordinasi
o. memiliki kemampuan melakukan lobi atau pendekatan

5.2.9. BADAN PENGAWAS UPK (BP-UPK)
BP-UPK adalah badan yang ditetapkan oleh MAD Prioritas Usulan untuk
melakukan pengawasan pelaksanaan tugas-tugas dan tanggung jawab UPK
sehari-hari.

Tugas dan Tanggung jawab :
a. melakukan pemeriksaan dan evaluasi transaksi, bukti transaksi, dokumen-
dokumen, pelaksanaan administrasi dan pelaporan pengelolaan
keuangan dan pinjaman yang dikelola oleh UPK.
b. melakukan pengawasan terhadap ketaatan UPK pada prinsip dan
mekanisme PNPM Mandiri Perdesaan
c. melakukan pengawasan ketaatan UPK terhadap aturan-aturan MAD,
termasuk aturan perguliran.
d. memantau Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Pengurus UPK
e. memantau Realisasi anggaran UPK dan rencana kerja UPK.
f. memantau Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab tim lain yang dibentuk
MAD dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan.
g. menyampaikan Laporan Pelaksanaan Tugasnya kepada MAD/BKAD.

Kriteria Anggota Badan Pengawas UPK
a. relawan yang mempunyai komitmen dalam pengembangan kapasitas
masyarakat.
b. jujur dan bertanggung jawab.
c. dapat diterima dan dihargai dengan baik oleh anggota masyarakat.
d. bukan aparat kecamatan dan aparat desa.
e. berpengalaman dalam administrasi dan pelaporan (program).
f. tidak pernah terlibat secara langsung atau tidak langsung berkaitan
dengan penyalahgunaan dana program masyarakat

Susunan Organisasi Badan Pengawas UPK
a. Anggota BP-UPK dipilih dari masyarakat dengan keputusan MAD, dan
pengesahannya dengan SP Camat !
b. Susunan organisasi inti adalah Ketua dan Anggota , susunan organisasi
tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.
c. Jumlah anggota BP UPK harus ganjil dan paling banyak jumlah anggota
BP-UPK adalah 5 orang, dan salah satu dari anggota disepakati sebagai
Ketua BP UPK

Proses PemiIihan Anggota Badan Pengawas UPK
a. Calon anggota Badan Pengawas diusulkan dan dipilih secara langsung
dari masyarakat baik dari wakil desa, calon pengurus UPK, atau
masyarakat lain yang dianggap memenuhi kriteria.
b. wakil desa yang tidak terpilih sebagai anggota dan ketua forum MAD dan
calon pengurus UPK yang tidak terpilih sebagai pengurus atau anggota
masyarakat lainnya yang hadir dalam MAD, merupakan bakal calon
badan pengawas.
c. Proses Pemilihan sebagai berikut :

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 20
fasilitator pertemuan MAD menjelaskan secara terbuka tugas dan
tanggung jawab Badan Pengawas, kriteria, tatacara pemilihan Badan
Pengawas, dan memfasilitasi kesepakatan jumlah badan pengawas.
fasilitator pertemuan MAD mengumumkan secara tertulis dan terbuka
siapa saja calon-calon Badan Pengawas.
proses pemilihan dengan pemungutan suara secara tertutup dengan
setiap wakil desa memilih 2 nama dalam kertas pemilihan tanpa
mencantumkan identitas .
hasil pemilihan diranking dan dipilih sesuai dengan kesepakatan
jumlah badan pengawas.
masyarakat yang terpilih sebagai pengawas segera berkumpul dan
menentukan ketua badan pengawas.
susunan Badan Pengawas UPK ditetapkan dengan Surat Keputusan
Camat.
d. Pergantian dan pemberhentian Badan Pengawas UPK diatur dalam
kesepakatan MAD

5.2.10. Badan Kerja sama Antar Desa (BKAD)
BKAD adalah sebuah lembaga yang dibentuk atas dasar kesepakatan antar
desa di satu wilayah dalam satu kecamatan dan atau antar kecamatan
dengan tujuan untuk melindungi dan melestarikan hasil-hasil program yang
terdiri dari kelembagaan UPK, prasarana-sarana, hasil kegiatan bidang
pendidikan, hasil kegiatan bidang kesehatan, dan perguliran dana.

BKAD berfungsi untuk melakukan tugas pokok sebagai lembaga pengelola
partisipasi masyarakat, kegiatan antar desa, aset produktif, serta program-
program dari pihak ketiga.

Dalam hubungan dengan lembaga-lembaga bentukan PPK (UPK, BP-UPK,
TV, TPK, dan lain-lain) BKAD menjadi jalan keluar dari masalah status dan
payung hukum. BKAD menjelaskan tentang status kepemilikan, keterwakilan,
dan batas kewenangan.

Dalam kaitan dengan UPK, maka fungsi BKAD adalah merumuskan,
membahas, dan menetapkan rencana strategis untuk pengembangan UPK
dalam bidang micro finance, pelaksanaan program, dan pelayanan usaha
kelompok. BKAD juga berperan dalam pengawasan, pemeriksaan, serta
evaluasi kinerja UPK. Tugas Pokok dan Fungsi BKAD diuraikan dalam
Penjelasan X.


5.3. PeIaku PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten

5.3.1. B u p a t i
Bupati merupakan pembina Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
Kabupaten, Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PjOK) serta
bertanggung jawab atas pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di
kabupaten, termasuk melakukan kaji ulang terhadap peraturan daerah yang
berkaitan dengan pengaturan desa sesuai komitmen awal yang telah
disepakat

Tugas dan Tanggung jawab Bupati adaIah :
a. menetapkan Ketua dan anggota Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
Kabupaten,
b. menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Penanggung jawab
Operasional Kegiatan Kabupaten (PjOKab), Bendahara Pengeluaran,

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 21
pejabat Penandatangan SPM, para Penanggung Jawab Operasional
Kegiatan (PjOK) untuk setiap kecamatan penerima PNPM Mandiri
Perdesaan.
c. mengoordinasikan semua kegiatan pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat dalam rangka mensukseskan pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan

5.3.2. TIM Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten (TK PNPM Mandiri
Perdesaan KAB)
Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten dibentuk berdasarkan
Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Bupati selaku Penanggung Jawab
PNPM Mandiri di Kabupaten guna melakukan koordinasi pelaksanaan PNPM
Mandiri Perdesaan . untuk melakukan pembinaan pengembangan peran serta
masyarakat, pembinaan administrasi dan fasilitasi pemberdayaan masyarakat
pada seluruh tahapan program. TK-PNPM Mandiri Perdesaan Kab juga
berfungsi dalam memberikan dukungan koordinasi program antar instansi,
pelayanan dan proses administrasi di kabupaten. Dalam melaksanakan fungsi
dan perannya, TK PNPM Mandiri Perdesaan Kab dibantu oleh sekretariat
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten.

Tugas dan Tanggung jawab Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
Kabupaten :
a. menjaga pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di daerahnya agar
sesuai dengan tujuan PNPM Mandiri Perdesaan,
b. menyelenggarakan sosialisasi di Kabupaten untuk menjelaskan tujuan
dan prosedur PNPM Mandiri Perdesaan kepada semua pelaku yang
terlibat di Kabupaten,
c. melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan disertai tindak lanjut,
d. menerima dan menganalisis laporan dari PjOK untuk setiap aspek
kegiatan, penyiapan masyarakat, persiapan kegiatan, perencanaan teknis,
pemberdayaan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan serta program
pemeliharaan,
e. melaksanakan rapat-rapat evaluasi dan koordinasi di Kabupaten,
f. menyusun laporan bulanan atau triwulan untuk disampaikan kepada
Bupati dengan tembusan kepada Tim Koordinasi PNPM Mandiri
Perdesaan Propinsi, termasuk pembahasan masalah, kendala, serta
rekomendasi.
g. memberikan masukan dalam pembinaan fasilitator PNPM Mandiri
Perdesaan melalui keikutsertaan dalam: pengendalian dan evaluasi
kinerja, koordinasi, dukungan administrasi, penyediaan ruang kerja,
pemberian akses data dan kebijakan sesuai ketentuan yang berlaku.
h. menilai kinerja program di Desa, Kecamatan dan Kabupaten,
i. Bertanggungjawab terhadap pengelolaan seluruh dokumen kegiatan baik
keuangan maupun non keuangan.

5.3.3. Penanggung jawab OperasionaI Kabupaten (PJO-Kab)
PJO-Kab adalah seorang pejabat di lingkungan Badan Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa atau pejabat lain yang mempunyai tugas pokok sejenis
di kabupaten yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Bupati

Tugas dan Tanggung jawab Penanggung jawab OperasionaI
Kabupaten :
a. sebagai pelaksana harian Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
kabupaten dan Kepala Sekretariat PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 22
b. bertanggung jawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan
keberhasilan seluruh kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di kabupaten
c. melaporkan hasil penyusunan SA kepada sekretariat nasional PNPM
Mandiri Perdesaan melalui tim koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
Provinsi pada setiap bulan
d. melaksanakan koordinasi dengan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan
didaerahnya
e. melaksanakan kegiatan manajemen PNPM Mandiri Perdesaan yang
meliputi aspek kegiatan sosialisasi, perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, pengendalian dan pelestarian
f. menyelenggarakan rapat rutin bulanan untuk membahas kemajuan
kegiatan, masalah-masalah dan penyelesaiaannya
g. membuat laporan periodik dan insidental kepada tim koordinasi PNPM
Mandiri Perdesaan Kabupaten
h. menyeleksi, mengawasi dan mengevaluasi kinerja konsultan yang berada
wilayah tugasnya
i. membantu dalam penyelesaian pengaduan dan penanganan masalah
j. melaksanakan pengawasan teknis dan administrasi
k. melakukan supervisi dan monitoiring pada setiap bulannya
l. memberikan masukan dalam pembinaan fasilitator PNPM Mandiri
Perdesaan melalui keikutsertaan dalam: pengendalian dan evaluasi
kinerja, koordinasi, dukungan administrasi, penyediaan ruang kerja,
pemberian akses data dan kebijakan sesuai ketentuan yang berlaku.

5.3.4. Satuan Kerja (Satker) PNPM Mandiri Perdesaan
Satker PNPM Mandiri Perdesaan di daerah adalah satuan kerja yang
bertanggung jawab terhadap penggunaan anggaran/barang yang juga
melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Satker terdiri atas sekretaris
daerah sebagai kuasa pengguna anggaran (KPA), pejabat
struktural/fungsional pada bagian keuangan Kantor/Dinas PMD atau instansi
lain yang menangani PNPM Mandiri Perdesaan sebagai penerbit SPM, Kasie
Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) atau pejabat lain di kecamatan yang
setingkat sebagai penerbit SPP (atau disebut PjOK), dan staf pada
Kantor/Dinas PMD atau instansi lain yang menangani PNPM Mandiri
Perdesaan sebagai Bendahara Pengeluaran,

Tugas dan Tanggung jawab Satker di Daerah
a. Menerbitkan dokumen proyek yang dibutuhkan untuk kepentingan
pencairan dana program sesuai DPA
b. Mengadministrasikan dokumen proyek dan alat bukti pengeluaran
c. Melakukan rekap penyerapan dana (DPA)
d. Membuat laporan secara berkala sesuai dengan standar akuntansi
instansi (SA)
e. Bertanggung jawab terhadap pemeriksaan/audit

5.3.5. Setrawan Kabupaten
Setrawan kabupaten adalah pegawai negeri sipil yang dibekali kemampuan
khusus untuk dapat melaksanakan tugas akselerasi perubahan sikap mental
di kalangan lingkungan pemerintah, mengkoordinasi dan memfasilitasi
setrawan kecamatan serta mendampingi masyarakat, khususnya dalam
manajemen pembangunan partisipatif

Tugas dan Tanggung jawab Setrawan Kabupaten
a. melakukan sosialisasi pembangunan partisipatif kepada pemerintah
daerah, DPRD, dan pelaku-pelaku pembangunan partisipatif lainnya di
kabupaten

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 23
b. melakukan koordinasi dengan dinas/instansi teknis kabupaten untuk
melakukan identifikasi dan penyelarasan program-program pembangunan
kabupaten
c. memberikan pelatihan setrawan kecamatan
d. memberikan pelatihan peningkatan kemampuan pemerintahan desa
e. melakukan koordinasi dengan setrawan kecamatan dalam pelaksanaan
kegiatan pembangunan perdesaan
f. melakukan monitoring dan evaluasi kinerja dari setrawan kecamatan
g. memfasilitasi terbentuknya pertemuan forum lintas pelaku di kabupaten
h. memfasilitasi musyawarah rencana pembangunan kabupaten
i. bersama-sama tim verifikasi kabupaten melakukan verifikasi terhadap
usulan dari musrenbang kecamatan
j. menyusun dan menyampaikan laporan bulanan tentang kemajuan
pelaksanaan kegiatan, masalah dan kendala, rekomendasi, serta rencana
dan realisasi kegiatan kepada satuan kerja.
k. memfasilitasi kerja sama antara pemerintah kabupaten dengan pihak
ketiga
l. mendampingi utusan kabupaten dalam musrenbang provinsi
m. mensosialisasikan hasil musrenbang provinsi ke SKPMD
n. memberi masukan kepada Bappeda dalam penyusunan Rencana Kerja
Pemerintah (RKP)
o. memberi masukan kepada SKPMD dalam penyusunan Rencana Kerja
(Renja)

Kriteria Setrawan Kabupaten
a. umur 23 52 tahun
b. pendidikan minimal sarjana atau sederajat
c. pegawai negeri sipil (PNS)
d. memiliki pemahaman yang baik mengenai UU No 25 tahun 2004
e. memiliki pemahaman yang baik mengenai PP No 72 tahun 2006 tentang
desa dan PP No 73 tahun 2006 tentang kelurahan
f. memiliki pemahaman yang baik mengenai PP No 58 tahun 2005
g. memiliki pemahaman yang baik mengenai UU 32 tahun 2005 tentang
pemerintah daerah
h. memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep pendampingan
i. memiliki pemahaman yang baik mengenai sosial budaya setempat
j. memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep pemberdayaan
masyarakat
k. memiliki kemampuan teknik memfasilitasi
l. memiliki kemampuan teknik berkomunikasi yang efektif
m. memiliki kemampuan memecahkan konflik dan masalah
n. memiliki kemampuan memandu perencanaan partisipatif
o. memiliki kemampuan melakukan monev
p. memiliki kemampuan menyusun laporan
q. memiliki kemampuan melakukan koordinasi
r. memiliki kemampuan melakukan lobi atau pendekatan

5.3.6. FasiIitator Kabupaten (Fas-Kab)
Fas-Kab adalah supervisor manajerial profesional yang berkedudukan di
Kabupaten dengan fungsi untuk memastikan seluruh proses tahapan kegiatan
mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian berjalan dengan
baik serta memberikan bimbingan atau dukungan teknis dan manajemen
kepada pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di kecamatan dan desa. Fas-Kab
juga berperan sebagai fasilitator bagi pemerintahan daerah dalam melakukan
kajian terhadap peraturan-peraturan daerah yang relevan dengan PNPM
Mandiri Perdesaan. Dalam menjalankan perannya, Fas-Kab harus melakukan

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 24
koordinasi dengan Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten yang
ada di wilayah kerjanya.

Tugas dan Tanggung jawab FasiIitator Kabupaten adaIah :
a. mensosialisasikan PNPM Mandiri Perdesaan kepada Pemerintah Daerah,
DPRD, pelaku PNPM Mandiri Perdesaan kabupaten lainnya,
b. memberikan bantuan teknis kepada TK PNPM Mandiri Perdesaan Kab
dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di kabupaten,
c. memberikan dukungan teknis dan pembimbingan kepada Fasilitator
Kecamatan dalam pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan
termasuk memberikan rekomendasi dan membantu penanganan
permasalahan yang muncul.
d. memastikan pelaksanaan MMDD yang berisi potensi, masalah, dan
gagasan RTM untuk membantu penyempurnaan dan/atau penyusunan
RPJMDes Partisipatif .
e. memfasilitasi terbentuk terbentuk dan berkembangnya BKAD serta forum
lintas pelaku di masyarakat.
f. melakukan koordinasi dan membina jaringan kerja dengan aparat/instansi
terkait, tokoh masyarakat, LSM, Perguruan Tinggi dan lain-lain dalam
rangka mendukung penyebarluasan informasi, keterbukaan dan
pengawasan pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.
g. melakukan koordinasi dengan Dinas/nstansi Teknis Kabupaten
(Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan,
Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan Nasional, Dinas Perindustrian, Dinas
ketenagakerjaan, Dinas Koperasi dll) untuk mengidentifikasi program-
program lain di luar PNPM Mandiri Perdesaan supaya tidak terjadi
tumpang tindih.
h. memeriksa kualitas dan kelengkapan usulan kegiatan sebelum diprioritas
usulankan dalam MAD.
i. melakukan pemeriksaaan dan evaluasi terhadap pelaksanaan proses
kegiatan serta pengelolaan keuangan di UPK dan TPK
j. melakukan kunjungan lapangan untuk supervisi dan monitoring, untuk
memastikan penerapan prinsip-prinsip PNPM Mandiri Perdesaan serta
kebijakan dalam setiap tahapan PNPM Mandiri Perdesaan, mulai dari
tahap perencanaan, pencairan dan penggunaan dana PNPM Mandiri
Perdesaan, pelaksanaan serta pelestarian.
k. mengadakan pertemuan bulanan dengan Fasilitator Kecamatan untuk
menerima dan memeriksa laporan bulanan, membahas permasalahan
atau kendala yang terjadi memberikan peningkatan kapasitas fasilitator,
dan wajib membuat agenda dan melaksanakan In-Service Training pada
setiap rakor bulanannya
l. mendokumentasikan dan mengarsipkan semua, laporan, rekaman
kegiatan, tertulis, gambar/foto, film/video dengan baik dan benar
m. bersama melakukan evaluasi bulanan kinerja Fasilitator Kecamatan
dengan indikator yang telah disepakati, kemudian melaporkan kepada
Koordinator Manajemen Propinsi
n. membantu Fasilitator Kecamatan memberikan pelatihan dan bimbingan
kepada masyarakat dan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di kabupaten,
kecamatan dan desa
o. membuat laporan bulanan sesuai dengan ketentuan program kepada
Konsultan Manajemen Nasional melalui Koordinator Manajemen Propinsi
dan TK PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten
p. membuat laporan akhir penyelesaian kegiatan
q. melaporkan perkembangan kegiatan beserta realisasi penggunaan dana
kepada Bupati melalui tim koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan u/p
PJOKab

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 25
r. merekam dan mendokumentasikan SPM, SP2D dan menyiapkan SA,
serta melaporkan kepada Setnas PNPM Mandiri Perdesaan melalui
Koordinator Manajemen Provinsi pada setiap bulan
s. menjunjung tinggi kode etik fasilitator dan konsultan serta siap
diberhentikan jika melakukan pelanggaran terhadap kode etik tersebut

5.3.6.1. FasiIitator Teknik Kabupaten (FT-Kab)
FT-Kab adalah supervisor manajerial profesional yang berkedudukan
di tingkat Kabupaten dan berperan sebagai supervisor atas hasil
kualitas teknik kegiatan prasarana infrastruktur perdesaan, mulai dari
perencanaan desain dan RAB, survei dan pengukuran, pelaksanaan
serta operasional dan pemeliharaan. Sebagai supervisor, FT-Kab
melakukan sertifikasi dan harus memastikan pelaksanaan kegiatan
prasarana infrastruktur selesai dengan baik dan tepat waktu dengan
tetap mengacu kepada prinsip prosedur PNPM Mandiri Perdesaan
serta sesuai kaidah atau standar teknik prasarana. FT-Kab juga
berperan dalam memberikan bimbingan atau dukungan tentang
kaidah dan standar teknis prasarana perdesaan kepada pelaku
PNPM Mandiri Perdesaan di kecamatan dan desa. Dalam
menjalankan perannya, FT-Kab harus melakukan koordinasi dengan
Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten yang ada di
wilayah kerjanya.

Tugas dan Tanggung jawab FT-Kab :
a. membantu dan memberikan bimbingan kepada FT-Kec agar
dapat melakukan pembimbingan kepada seluruh KPM-D/Tdi
desa secara reguler.
b. menyusun daftar harga satuan setempat berdasarkan survey
pada beberapa leveransir/suplier dan daftar harga satuan yang
dikeluarkan Dinas Pekerjaan Umum Daerah/nstansi teknis
lainnya, sebagai bahan rujukan masyarakat dalam
merencanakan pembiayaan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.
c. mengendalikan kegiatan survei dan pengukuran usulan kegiatan
prasarana dan sarana (termasuk usulan sarana kesehatan dan
pendidikan, seperti: bangunan sekolah, bangunan pelayanan
kesehatan) yang difasilitasi oleh FT-Kec
d. membantu dan memberikan bimbingan teknis kepada FT-Kec
dalam memfasilitasi penyusunan desain dan gambar konstruksi,
perhitungan volume dan kebutuhan bahan/peralatan, jadwal
pelaksanaan dan RAB usulan prasarana sesuai kaidah-kaidah
teknis dengan memperhatikan dampak lingkungan
e. melakukan pemeriksaan desain dan RAB
f. mengendalikan kegiatan-kegiatan identifikasi kebutuhan yang
diperlukan terhadap usulan kegiatan prasarana, seperti
pengadaan bahan dan alat, penggunaan alat berat dan
melakukan supervisi dalam pelaksanaannya.
g. mendesain materi pelatihan teknis konstruksi secara sederhana
yang akan difasilitasi oleh FT-Kec bagi KPMD dan masyarakat
sebagai persiapan dan pelaksanaan kegiatan prasarana serta
operasinal dan pemeliharaan.
h. melakukan review RKTL kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan
dikaitkan dengan jadwal pelaksanaan kegiatan di masyarakat.
i. memfasilitasi penanganan masalah berkaitan dengan kemajuan
pelaksanaan fisik di lapangan, termasuk permasalahan kegiatan
lainnya.

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 26
j. melakukan supervisi proses sertifikasi yang dilakukan oleh FT-
Kec terhadap penerimaan bahan dan alat, hasil pekerjaan atau
konstruksi bangunan dan penyelesaian pekerjaan prasarana.
k. melakukan pengambilan sample terhadap sertifikasi bahan dan
pekerjaan minimal 2 desa / kecamatan yang ditentukan
berdasarkan random dengan tujuan untuk verifikasi atas
sertifikasi yang dilakukan oleh FT-Kec
l. memberikan informasi mengenai ketersedian bahan, alat, dan
tenaga ahli, untuk jenis pekerjaan yang spesifik / sulit yang akan
dilaksanakan oleh masyarakat
m. melakukan evaluasi terhadap Rencana Pembelajaran Mandiri
yang dilakukan oleh FT-Kec setiap bulanan dan melaporkan
hasilnya kepada Kordinator Manajemen Provinsi.
n. melakukan bimbingan khusus untuk FT-Kec yang kinerja dan
kompetensi perlu ditingkatkan sesuai dengan hsail penilaian
kinerja, dan melaporkan hasilnya kepada Kordinator Manajemen
Provinsi
o. mengadakan pertemuan bulanan dengan Fasilitator Kecamatan
untuk membahas laporan kemajuan masing-masing kecamatan,
memberikan umpan balik terhadap laporan bulanan kecamatan,
membahas permasalahan atau kendala yang terjadi, serta
memberikan bimbingan dalam rangka peningkatan kapasitas
fasilitator, dan wajib membuat agenda dan melaksanakan ST
pada setiap rakor bulanannya
p. melaporkan kemajuan penanganan masalah yang berkaitan
dengan bidang teknis dan upaya penanganan yang telah
dilakukan kepada TK PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten dan
tembusan kepada Kordinator Manajemen Provinsi.
q. menyusun dan menyampaikan laporan perkembangan kegiatan
secara rutin/bulanan atgaupun insidentil kepada Kordinator
Manajemen Provinsi
r. mentaati kode etik fasilitator dan konsultan serta siap
diberhentikan jika melakukan pelanggaran terhadap kode etik
tersebut.

5.3.7. Pendamping UPK
Pendamping UPK adalah konsultan yang bertugas melakukan penguatan
UPK dan lembaga pendukung agar akuntabel secara kelembagaan.
Pendampingan yang diberikan dalam aspek pengelolaan dan pinjaman,
aspek penguatan kelembagaan, aspek pengembangan jaringan serta
lembaga pendukung. Pendamping UPK akan lebih berfokus pada penguatan
dan pengembangan UPK potensial, tetapi juga memberikan bantuan teknis
dan rekomendasi dalam penyehatan UPK kategori kurang potensial.

Tugas dan Tanggung jawab Pendamping UPK
a. memfasilitasi penguatan UPK dan kelompok masyarakat dalam bidang
Pengelolaan Keuangan dan Pengelolaan Pinjaman.
b. melakukan fasilitasi penguatan kelembagaan UPK dan kelompok
masyarakat
c. memfasilitasi terbentuk dan berkembangnya BKAD
d. memfasilitasi pengembangan sistem perguliran dana pada wilayah desa
ataupun kecamatan.
e. Melakukan evaluasi kondisi UPK dan kelompok serta melakukan
pemeringkatan.
f. memfasilitasi penguatan kelompok dalam kelembagaan dan usaha.

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 27
g. memfasilitasi jaringan kerja sama dengan lembaga pembiayaan, lembaga
penyedia program dan sebagainya dalam peningkatan permodalan dan
pengembangan usaha.
h. memfaslitasi pelatihan UPK dan kelompok masyarakat termasuk
penyiapan modul-modul pelatihan.
i. memfasilitasi pengembangan jaringan kerja sama antar UPK
j. memantau perkembangan UPK dan Kelompok .
k. melakukan inventarisasi dan kajian perkembangan lembaga keuangan
mikro dan ekonomi lokal.
l. memberikan dukungan teknis serta rekomendasi kepada F-Kab dalam hal
penguatan dan pengembangan UPK
m. menyusun laporan analisis tentang kinerja keuangan dan pinjaman UPK


5.4. PeIaku PNPM Mandiri Perdesaan di Provinsi

5.4.1. Gubernur
Gubernur merupakan penanggungjawab pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan di provinsi serta pembina Tim Koordinasi PNPM Mandiri
Perdesaan Provinsi.

Tugas dan Tanggung jawab Gubernur
Gubernur sebagai penanggung jawab pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan
di provinsi memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain :
a. mensosialisasikan maksud dan tujuan PNPM Mandiri Perdesaan sebagai
salah satu model pemberdayaan masyarakat
b. menetapkan ketua dan anggota Tim Koordinasi Provinsi
c. melakukan pembinaan kepada Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
Provinsi
d. melakukan pengawasan kinerja Tim koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
Provinsi

5.4.2. Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi (TK-PNPM Mandiri
Perdesaan Provinsi)
TK-PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi dibentuk oleh Gubernur yang berfungsi
dan berperan dalam melakukan pembinaan pengembangan peran serta
masyarakat, pembinaan administrasi dan fasilitasi pemberdayaan masyarakat
pada seluruh tahapan program serta memberikan dukungan pelayanan dan
proses administrasi di provinsi. Dalam melaksanakan fungsi dan perannya,
TK PNPM Mandiri Perdesaan Prop dibantu oleh sekretariat PNPM Mandiri
Perdesaan Provinsi

Tugas dan Tanggung jawab TK PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi :
a. menjaga pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di daerahnya agar
sesuai tujuan prinsip, dan mekanisme PNPM Mandiri Perdesaan
b. menyelenggarakan sosialisasi di provinsi untuk menjelaskan tujuan dan
prosedur PNPM Mandiri Perdesaan kepada semua pelaku yang terlibat di
provinsi.
c. melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan disertai tindak lanjut
d. melaksanakan rapat-rapat evaluasi dan koordinasi di provinsi,
e. menyusun laporan triwulan untuk disampaikan kepada Gubernur dengan
tembusan kepada Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Pusat,
termasuk pembahasan masalah, kendala, serta rekomendasi.
f. memberi masukan untuk pembinaan konsultan dan fasilitator PNPM
Mandiri Perdesaan melalui keikutsertaan dalam: mekanisme rekruitmen,

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 28
penempatan/relokasi/demobilisasi, pengendalian dan evaluasi kinerja,
koordinasi, dukungan administrasi, penyediaan ruang kerja, pemberian
akses data dan kebijakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
g. menilai kinerja program di desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi.

5.4.3. Penanggung Jawab OperasionaI Provinsi (PjO-Prov)
PjO-Prov adalah seorang pejabat di lingkungan Badan Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa atau pejabat lain yang mempunyai tugas pokok sejenis
di provinsi yang ditetapkan berdasar Surat Keputusan Gubernur.

Tugas dan Tanggung jawab PJO-Prov
a. sebagai pelaksana harian Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
Provinsi yang merangkap sebagai Kepala Sekretariat PNPM Mandiri
Perdesaan Provinsi
b. bertanggung jawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan
keberhasilan seluruh kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di Provinsi
c. melaksanakan koordinasi dengan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di
daerahnya
d. melaksanakan kegiatan manajemen PNPM Mandiri Perdesaan, yang
meliputi aspek-aspek kegiatan sosialisasi, perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan pelestarian
e. menyelenggarakan rapat rutin bulanan untuk membahas kemajuan
kegiatan, masalah-masalah dan penyelesaiannya
f. membuat laporan periodik dan insidentil kepada TK PNPM Mandiri
Perdesaan Provinsi tentang SP2D, SPM, SA dan dilaporkan kepada
Seknas PNPM Mandiri Perdesaan
g. melaksanakan pengawasan teknis dan administrasi
h. memberi masukan dalam pembinaan konsultan dan fasilitator PNPM
Mandiri Perdesaan melalui keikutsertaan dalam: mekanisme rekrutmen,
penempatan/ relokasi/ demobilisasi, pengendalian dan evaluasi kinerja,
koordinasi, dukungan administrasi, penyediaan ruang kerja, pemberian
akses data dan kebijakan sesuai dengan yang berlaku

5.4.4. KonsuItan Manajemen Provinsi (KM Prov)
Untuk menjamin efektivitas dan efisiensi serta memastikan dukungan
manajemen teknis bagi konsultan PNPM Mandiri Perdesaan di lapangan,
akan ditempatkan konsultan di provinsi lokasi PNPM Mandiri Perdesaan.
Tiap unit KM di provinsi akan ditempatkan seorang koordinator yang dibantu
oleh beberapa orang tanaga spesialis dan staf pendukung lainnya.

Tugas dan Tanggung jawab KM Provinsi
a. memimpin suatu gugus manajemen lapangan yang akan
mengoordinasikan dan mengendalikan kegiatan fungsional konsultan
PNPM Mandiri Perdesaan di lapangan;
b. melakukan pemantauan dan supervisi kegiatan sosialisasi, perencanaan,
pelaksanaan dan pelestarian kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan;
c. melakukan pemantauan dan supervisi, serta mengoordinasikan upaya dan
tindak lanjut pelestarian kegiatan;
d. mengoordinasikan pengendalian mutu teknis dari seluruh kegiatan PNPM
Mandiri Perdesaan di wilayah koordinasinya;
e. membuat laporan periodik dan insidentil kepada Tim Koordinasi PNPM
Mandiri Perdesaan Provinsi tentang SP2D, SPM, SA dilaporkan kepada
Seknas PNPM Mandiri Perdesaan
f. memberikan dukungan manajemen dalam penanganan masalah di
lapangan;

Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 29
g. melakukan pengendalian fungsional konsultan pada lingkup wilayah
kerjanya;
h. membangun tim kerja antar konsultan PNPM Mandiri Perdesaan di
wilayah kerjanya;
i. memantau dan melakukan koordinasi penilaian kinerja konsultan pada
lingkup wilayah kerjanya
j. mengembangkan jaringan kerja sama, fasilitasi dan komunikasi antar
lembaga, termasuk instansi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha,
lembaga swadaya masyarakat dan lain-lain,
k. menyampaikan laporan reguler dan insidentil pelaksanaan tugas dan
tanggung jawabnya kepada Sekretariat Nasional, serta mengendalikan
pelaporan kemajuan kegiatan beserta kendala di lapangan kepada
Sekretariat nasional dengan tembusan kepada Sekretariat Nasional
PNPM Mandiri Perdesaan.

5.4.5. Province-Based Monitoring (PBM)
PBM adalah suatu lembaga independen yang berperan untuk mengamati,
mengumpulkan informasi, dan membuat laporan hasil temuannya kepada
pelaku PNPM Mandiri Perdesaan sebagai wujud dari prinsip transparansi
dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan

Tugas dan Tanggung jawab PBM :
a. melakukan pemantauan pada minimal 3 kecamatan dan 6 desa bergilir
b. menggali informasi dari masyarakat desa dan pihak terkait.
c. melakukan pengamatan langsung pada setiap tahapan perencanaan,
pelaksanaan kegiatan, pengendalian dan pelestarian
d. melakukan cross-check pada setiap hasil temuan untuk validitas informasi
dan berbagai sumber termasuk masyarakat, pemerintah dan konsultan.
e. melakukan pemantauan keuangan dan mengecek pembukuan pada
kecamatan dan desa
f. menyediakan informasi mengenai:
masalah umum yang terjadi pada lokasi tertentu
masalah spesifik yang dihadapi oleh beberapa lokas tertentu
perubahan jangka pendek dan menengah yang dicapai selama
berlangsung program
g. menyampaikan laporan jika ada informasi yang membutuhkan
penanganan mendesak kepada Koordinator Manajemen Provinsi
(KMProv) dengan tembusan Sekretariat Nasional
h. menyampaikan presentasi hasil temuan pada Rakor provinsi setiap
bulannya.

5.5. PeIaku PNPM Mandiri Perdesaan NasionaI

5.5.1. Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan NasionaI (TK PNPM Mandiri
Perdesaan NasionaI),
Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Nasional terdiri dari unsur
Kementrian Bidang Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementrian Bidang
Perekonomian, Departemen Dalam Negeri, Bappenas, Departemen
Keuangan, Departemen Pekerjaan Umum, dan instansi terkait. Tugas TK
PNPM Mandiri Perdesaan Nasional adalah melakukan perencanaan dan
pengendalian program PNPM Mandiri Perdesaan yang terdiri dari tugas
administratif dan tugas teknis operasional. Dalam melaksanakan tugas
administratif dan operasional, TK-PNPM Mandiri Perdesaan Nasional dibantu
oleh Sekretariat Nasional PNPM Mandiri Perdesaan.



Penjelasan V: Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan 30
5.5.2. Sekretariat NasionaI
Sekretariat Nasional dipimpin oleh seorang Penanggungjawab Kegiatan
dengan didukung oleh beberapa staf profesional. Fungsi dan perannya adalah
menjaga proses perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian PNPM Mandiri
Perdesaan secara nasional agar dapat berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip,
kebijakan, prosedur dan mekanisme PNPM Mandiri Perdesaan.

Tugas dan Tanggung jawab Sekretariat NasionaI adaIah :
melakukan supervisi monitoring dan evaluasi pelaksanaan program,
pengendalian secara fungsional terhadap fasilitator dan konsultan serta
memberikan rekomendasi untuk perumusan kebijakan PNPM Mandiri
Perdesaan.
a. memantau dan memfasilitasi upaya pemeliharaan pelaksaan PNPM
Mandiri Perdesaan oleh masyarakat yang tidak didanai lagi oleh PNPM
Mandiri Perdesaan (phase out);
b. menyiapkan manual dan penjelasan teknis sebelum program
dilaksanakan;
c. menyiapkan rancangan, bahan, materi, pelaksanaan Training of Trainers
(TOT) dan pelaksanaan pelatihan kepada konsultan PNPM Mandiri
Perdesaan dan pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perdesaan lainnya;
d. menyiapkan pelaksanaan penyebarluasan informasi melalui seminar
dan/atau workshop;
e. melakukan supervisi dan monitoring pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan di lapangan dalam rangka memberikan dukungan mulai
kecamatan sampai provinsi dalam aspek teknis dan manajemen,
memberikan panduan strategi pelatihan, dan technical backstopping
f. memberikan dukungan dan strategi penanganan pengaduan baik keluhan
atau permasalahan yang berdampak luas pada masyarakat, serta tindak
lanjut penanganannya;
g. melakukan evaluasi program mencakup, pencapaian tujuan dan sasaran
program, termasuk sasaran fisik dan sosial ekonomi;
h. menyusun dan menyampaikan laporan bulanan yang dikonsolidasikan
dari laporan konsultan, termasuk temuan-temuan dari pamantauan dan
kegiatan supervisi, kepada TK-PNPM Mandiri Perdesaan Nasional sesuai
dengan format yang disepakati;
i. membantu dan memberikan masukan secara profesional, menyangkut
teknis dan manajemen, termasuk perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, dan pelaporan, sehingga dapat digunakan sebagai landasan
dalam pengambilan keputusan oleh TK-PNPM Mandiri Perdesaan
Nasional;
j. melakukan seleksi dan rekrutmen serta mengusulkan penempatan sesuai
dengan karakteristik dan latar belakang konsultan pendamping;
k. melakukan evaluasi kinerja terhadap seluruh konsultan pendamping.


(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN VI
PENULISAN USULAN DAN VERIFIKASI


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 1
PENJELASAN VI

PENULISAN USULAN DAN VERIFIKASI

Penjelasan V terdiri dari dua bagian yaitu Penulisan Usulan Desa dan Verifikasi. Bagian
penulisan usulan berisi penjelasan tentang bagaimana menuliskan usulan desa yang telah
ditetapkan dalam Musyawarah Desa Prioritas Usulan. Sedangkan bagian verifikasi berisi
penjelasan tentang bagaimana proses verifikasi dilakukan terhadap usulan-usulan desa
sebelum dibahas dalam MAD Prioritas Usulan.

6.1. PenuIisan UsuIan Desa

6.1.1. Umum

Tujuan : Agar gagasan kegiatan masyarakat yang telah disepakati dan
diputuskan dalam Musdes Perencanaan tercatat secara sistematis
sehingga memudahkan untuk diperiksa kelayakannya oleh tim verifikasi
sebelum dibahas dalam MAD Prioritas Usulan.

Waktu : Setelah pelaksanaan Musdes Perencanaan


Pelaku :

- Tiga (3) orang warga masyarakat terpilih. Proses pemilihan dapat
dilihat dalam Penjelasan V PTO mengenai Tugas, Tanggung Jawab
dan Proses Pemilihan Pelaku-Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan.
- Tiga (2) orang Kader Pembangunan Masyarakat Desa (KPMD)
yang sebelumnya telah membantu proses penggalian gagasan.

6.1.2. Ketentuan UsuIan
Setiap desa boleh mengajukan paling banyak 3 (tiga) usulan, meliputi:
a. Penyediaan prasarana sosial ekonomi bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat, dengan kriteria seperti berikut:
1) Mempunyai manfaat yang memadai terhadap peningkatan ekonomi,
derajat kesehatan dan pendidikan, yang berdampak positif terhadap
peningkatan kualitas hidup terutama bagi rumah tangga miskin
(RTM).
2) Secara teknis layak dikerjakan oleh masyarakat.
3) Tidak termasuk dalam negative list (daftar larangan).


b. Perluasan kesempatan berusaha dan peluang pengembangan usaha bagi
masyarakat miskin, meliputi:
1) Kegiatan Peningkatan Kapasitas Usaha Ekonomi Produktif (UEP),
mengacu pada Penjelasan V.
2) Kegiatan Simpan Pinjam bagi Kelompok Perempuan. Kegiatan ini
hanya bisa diajukan oleh kelompok perempuan yang mempunyai
ikatan pemersatu dan saling mengenal diantara anggotanya minimal
satu tahun, mempunyai modal, ada kegiatan yang sedang berjalan,
serta mempunyai administrasi kelompok walaupun secara
sederhana. Mengacu dalam Penjelasan V.
c. Peningkatan kualitas hidup masyarakat miskin melalui bidang pendidikan
dan kesehatan, termasuk juga kegiatan pelatihan untuk pengembangan
kemampuan masyarakat. Mengacu pada Penjelasan IV. Tentang Jenis-jenis
kegiatan.



Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 2
6.1.3. Persiapan
a. Anggota TPU berkumpul untuk mendapatkan penjelasan dari Fasilitator
Kecamatan dan/atau PjOK tentang tujuan, proses dan sistematika penulisan
usulan serta formulir-formulir yang digunakan termasuk cara pengisiannya.
b. Salah seorang KPMD memandu untuk menyusun jadwal dan rencana kerja.
c. Menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, seperti: Berita Acara keputusan
Musdes Perencanaan tentang gagasan-gagasan yang disetujui dan
ditetapkan, formulir-formulir yang dibutuhkan, alat-alat tulis, kertas dan
bahan serta data pendukung lainnya.
d. Membuat rekapitulasi daftar gagasan kegiatan yang disetujui dan ditetapkan
dalam Musdes Perencanaan.
e. Masing-masing anggota TPU mempelajari daftar kegiatan yang telah
ditetapkan menjadi usulan desa.

6.1.4. PeIaksanaan
a. Sesuai jadwal yang telah disusun melihat lokasi kegiatan yang diusulkan
dan/atau mendatangi kelompok pengusul.
b. Membahas dengan masyarakat atau kelompok pengusul tentang gagasan-
gagasan yang telah disetujui dalam Musdes Perencanaan, antara lain:
alasan mengusulkan kegiatan, pandangan ke depan dari masyarakat atau
kelompok pengusul terhadap kegiatan tersebut jika nantinya diputuskan
akan terdanai, jumlah penerima manfaat, jenis atau konstruksi bangunan
yang diinginkan (misal jembatan: kayu, beton atau lainnya) perkiraan
dampak lingkungan yang terjadi dan bagaimana rencana
penanggulangannya
c. Mengidentifikasi kemungkinan yang akan terjadi jika usulan kegiatan
disetujui untuk didanai dan dilaksanakan, sepert: apakah ada lahan,
bangunan, atau tanaman yang terkena proyek atau kegiatan. Kemudian
membahas bersama masyarakat bagaimana solusinya apakah masyarakat
akan menyumbangkan sebagai bentuk swadaya atau pemilik lahan,
bangunan, atau tanaman mendapatkan ganti rugi dengan tidak
menggunakan dana PNPM Mandiri Perdesaan. Selanjutnya dibuatkan surat
pernyataan yang ditandatangani oleh seluruh pemilik lahan, bangunan dan
tanaman bahwa tidak ada masalah terhadap lahan, bangunan dan tanaman
yang akan terkena proyek atau kegaitan dan mereka tidak akan menuntut
ganti rugi dengan menggunakan dana PNPM Mandiri Perdesaan.

Penanganan Kompensasi Tanah Atau Asset Lain
Aturan mengenai penanganan kompensasi atas tanah atau aset lain
sangat spesifik di PNPM Mandiri Perdesaan. Aturan ini harus dijelaskan
secara lengkap dan tepat kepada masyarakat pada saat musyawarah
desa sosialisasi. Masyarakat berhak untuk minta kompensasi atas
pengorbanan lahan atau aset lain demi kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan. Walaupun demikian, masyarakat dapat menyumbangkan
lahan atau aset lain secara sukarela demi kepentingan umum, dengan
persyaratan proses didokumentasikan dengan baik. Proses yang
digambarkan di bawah ini wajib dilakukan. Fasilitator harus mengikuti
aturan tentang persetujuan pelaksanaan bila ada lahan atau aset lain
yang terkena kegiatan. Proses kompensasi harus sudah terpenuhi
sebelum kegiatan dapat dilaksanakan.
Tujuan
Pembelian tanah untuk PNPM Mandiri Perdesaan harus diminimalkan.
Tidak boleh orang kehilangan tempat tinggal akibat terkena kegiatan.
Usulan harus ditinjau kembali secara teliti untuk meminimalkan dampak


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 3
negatifnya dengan mengubah lokasi prasarana. Pelebaran daerah milik
jalan harus ditinjau dengan teliti, agar tidak diperlebar lebih dari standar
teknis. Tanah (atau aset lain) dapat diperoleh melalui cara:
1. Sumbangan suka reIa
Sesuai dengan kebiasaan setempat, masyarakat dapat
menyumbang tanah atau asset lainnya dan/atau pindah dari
lahannya tanpa kompensasi;
2. Sumbangan dengan ganti rugi.
Penyumbang berhak mendapat kompenasi.
Peraturan pemberian kompenasi menjamin bahwa seluruh orang, tanpa
mempertimbangkan status pemilikan lahan, dibantu untuk meningkatkan
atau paling sedikit menyamakan, tingkat kehidupan, pendapatan, atau
kapasitas produksi dibanding keadaan sebelum adanya kegiatan.
Apabila asset yang dikorbankan merupakan kurang dari 20% asetnya,
fasilitator tidak harus mengikuti peraturan pada butir b. tentang
persetujuan proyek di bawah ini.

Pengertian Kompensasi
Desa akan menjamin bahwa salah satu cara di bawah ini digunakan
untuk memberi kompensasi kepada masyarakat yang mengorbankan
aset demi kepentingan kegiatan (dana BLM tidak boleh digunakan untuk
kompensasi):
1. tanah diganti dengan tanah lain yang sama tingkat produksinya,
atau dengan aset produktif lain yang sama nilainya
2. pemberian bahan dan bantuan tenaga untuk mengganti bangunan
permanen yang hilang
3. tanaman yang hilang atau rusak diganti sesuai nilai pasar
4. kompensasi jenis lain yang dapat diterima oleh orang yang
dikorbankan

Langkah-Iangkah peIaksanaan kompensasi
a. Proses Konsultasi
Desa menjamin bahwa seluruh masyarakat yang terkena proyek telah
dikonsultasikan pada suatu rapat desa. Pada rapat tersebut masyarakat
diingatkan mengenai hak untuk menerima kompensasi serta alternatif
cara memberi kompensasi.
Notulen berisi pokok diskusi yang terjadi dan perjanjian yang dicapai,
termasuk :
1. khusus sumbangan sukarela, nama penyumbang dan detail-detail
sumbangan;
2. khusus pengorbanan dengan kompensasi, nama-nama orang
penerima kompensasi, serta detail mengenai jenis dan tingkat
kompensasi, sesuai tabel di bawah ini:





Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 4
Rekapitulasi Ganti Rugi
Jumlah Aset
yg Terkena
Besarnya
Kompensasi
Perjanjian yg
dicapai
1. Lahan pertanian
(m)

2. Luas lahan lain yang
terkena (m).
3. Rumah atau
bangunan lain yg
hilang. (unit/m)

4. Tanaman yang
terkena

5. Tanda tangan yang
terkena dan kepala
desa

6. Catatan mengenai
keluhan-keluhan
yang disampaikan
oleh orang yang
terkena

7. Peta lokasi yang
menunjukkan aset
yang terkena


Fasilitator akan menyampaikan salinan dari catatan di atas kepada orang
yang terkena proyek, untuk konfirmasi secara langsung keinginan dan
permintaan mereka perihal kompensasi, persetujuan yang telah terjadi,
dan keluhannya (bila ada).
b. Persetujuan Proyek
Apabila ada pemberian ganti rugi, fasilitator harus memfasilitasi agar:
1. persetujuannya ditunda sampai orang yang terkena proyek puas
dengan kompensasi yang akan diberikan
2. pelaksanaan ditunda sampai pemberian ganti rugi selesai
3. apabila lebih dari 200 orang terkena kegiatan dan perlu
kompensasi, rencana kompensasi disiapkan untuk kemudian
disetujui oleh Tim Koordinasi Pusat, sebelum kegiatan disetujui.
c. Keluhan dan Penuntutan
Diusahakan seluruh keluhan dapat diselesaikan di desa. Apabila belum
dapat diselesaikan, keluhan dan penuntutan terhadap aturan,
pelaksanaan pemberian kompensasi yang diuraikan pada notulen rapat
desa, atau pelanggaran yang lain dapat disampaikan oleh orang yang
terkena atau wakilnya ke tingkat kecamatan. Apabila masih belum
selesai, dapat diajukan kepada Bupati untuk mendapatkan keputusan.
d. Verifikasi
Notulen rapat desa dan bukti penerimaan ganti rugi harus berada di arsip
desa, siap diperiksa oleh Fasilitator Kecamatan, Fasilitator Kabupaten,
atau petugas audit.





Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 5
d. Memastikan nilai kebutuhan setiap anggota kelompok atau kelompok
pengusul kegiatan simpan pinjam untuk data pembuatan Rencana usulan.
Form. Rencana Kegiatan Kelompok Simpan Pinjam.
e. Memastikan kepada masyarakat atau kelompok pengusul tentang
besarnya swadaya yang akan disumbangkan jika usulan kegiatannya
disetujui untuk didanai PNPM Mandiri Perdesaan. Jika masyarakat sudah
menyepakati nilai dan bentuk swadayanya, buat berita acara kesanggupan
masyarakat berswadaya, ditandatangani oleh wakil anggota masyarakat
yang ditunjuk oleh masyarakat sendiri dengan diketahui kepala desa.
f. Selesai kunjungan lapangan di lokasi atau kelompok pengusul, semua
anggota TPU berkumpul untuk menuliskan usulan masyarakat dalam bentuk
proposal. Langkah-langkah yang dilakukan, yaitu:
Merumuskan uraian singkat dan jelas informasi dan data-data yang
berkaitan dengan usulan kegiatan yang telah dikumpulkan dari
masyarakat.
Membuat perkiraan biaya yang dibutuhkan dan desain sederhana untuk
kegiatan prasarana, pendidikan, kesehatan dan pelatihan ketrampilan
masyarakat sesuai konstruksi yang diinginkan masyarakat apakah
masuk kategori besar, sedang atau kecil menurut pandangan
masyarakat.
Membuat Rencana kegiatan kelompok SPP untuk kegiatan simpan
pinjam perempuan sebagai dasar penilaian kelayakan kemungkinan
keberhasilannya.
Menuliskan dan memasukkan data-data yang telah diperoleh pada
waktu kunjungan lapangan ke dalam format-format usulan yang telah
disediakan.
Menyampaikan dan menginformasikan usulan yang sudah ditulis
kepada kelompok pengusul dan TPK untuk di tanda tangani dan
disampaikan di tingkat kecamatan agar dapat dilakukan verifikasi,
Usulan tertulis perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat
dengan ditempel di papan informasi atau media lainnya.


6.1.5. Format UsuIan
Format suatu usulan desa atau proposal pada dasarnya terdiri dari dua bagian,
yaitu pokok usulan dan lampiran.
a. Pokok usulan merupakan informasi gambaran atau uraian tentang jenis
usulan kegiatan, yang terdiri dari:
Uraian singkat, padat dan jelas yang dapat menggambarkan latar
belakang, alasan dan tujuan dari kegiatan yang diusulkan.
Siapa yang mengusulkan (masyarakat dusun, kelompok laki-laki,
perempuan atau kelompok campuran).
Ukuran atau volume kegiatan.
Bentuk, model atau konstruksi seperti apa yang diusulkan (misalnya:
usulan prasarana jembatan dengan konstruksi jembatan kayu atau
beton, usulan simpan pinjam jangka waktu pengembalian berapa
lama, cara mengangsurnya tiap bulan, tiap tiga bulan atau bagaimana).
Lokasi atau tempat usulan kegiatan dilaksanakan.
Jumlah penerima manfaat secara langsung maupun yang tidak
langsung.
Uraian singkat padat dan jelas tentang manfaat yang dapat diambil dari
hasil kegiatan yang akan dilaksanakan, siapa yang akan memanfaatkan
paling besar atau yang menjadi sasaran langsung, Seberapa besar
kemungkinan kegiatan dapat memberikan manfaat langsung kepada
RTM, bagaimana keterlibatan perempuan dan RTM.


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 6
Uraian singkat padat dan jelas tentang kesanggupan swadaya
masyarakat.
Rencana Anggaran Biaya yang dibutuhkan kelompok pengusul kegiatan
simpan pinjam atau uraian perkiraan nilai atau biaya kegiatan prasarana
menurut masyarakat termasuk ukuran besar, sedang atau kecil, dapat
dikerjakan oleh masyarakat atau tidak serta bagaimana rencana
pengerjaannya (besarnya insentif tenaga kerja), pengadaan bahan dan
alatnya.
Uraian singkat, padat dan jelas tentang rencana tindak lanjut untuk
operasional dan pemeliharaan atau pengembangannya.
Nama dan tanda tangan semua anggota Tim Penulis Usulan, menyetujui
Ketua TPK sebagai penanggung jawab operasional dan mengetahui
Kepala Desa.
Contoh :
Desa Ingin Maju, 15 Mei 2008
UsuIan dituIis oIeh:
1. Si Amir (KPMD) .........
2. Si Tari (anggota TPU/KPMD) .........
3. Si Badi (Anggota TPU) .........
4. Si Tuti ( anggota TPU/ wakiI keIompok) ........


Menyetujui Mengetahui


( Ketua TPK ) ( KepaIa Desa )

b. Lampiran terdiri dari atas data-data pendukung dari pokok usulan meliputi:
Salinan berita acara keputusan musyawarah desa khusus perempuan
untuk menyepakati usulan dari perempuan,
Salinan berita acara keputusan Musdes Perencanaan tentang
penetapan usulan kegiatan desa,
Rekapitulasi usulan kegiatan desa yang ditetapkan dalam Musdes
Perencanaan
Data umum desa yang menggambarkan atau mencantumkan jumlah
penduduk desa laki-laki, perempuan, RTM, jumlah anak putus sekolah,
anak usia sekolah tidak sekolah, jumlah ibu hamil, jumlah balita kurang
gizi, jumlah Sarana Air Bersih, jumlah jamban keluarga, luas wilayah,
pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perdesaan seperti nama-nama KPMD,
Tim Pengelola Kegiatan dan lain-lain dengan format bebas
menggunakan uraian atau tabel/matrik atau bentuk lainnya.
Sketsa peta sosial desa dengan menunjukkan lokasi kegiatan.
Berita acara kesanggupan swadaya
Surat pernyataan tidak menggunakan ganti rugi dengan dana PNPM
Mandiri Perdesaan (untuk usulan yang relevan)
Daftar penerima manfaat langsung (Untuk kegiatan simpan pinjam
menyebutkan nilai atau besarnya biaya yang dibutuhkan disertai dengan
tanda tangan).
Untuk usulan kegiatan SPP dilampiri daftar calon pemanfaat dan daftar
RTM per desa.

Contoh satu bendel usulan atau proposal desa adalah sebagai berikut:
a. Sampul muka proposal. Pada prinsipnya informasi yang perlu dituliskan
dalam sampul adalah; jenis kegiatan yang diusulkan, nama desa,
kecamatan dan kabupaten. Bentuk dan warnanya bebas.


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 7
b. Surat pengantar. Pada prinsipnya merupakan tulisan pengantar dari desa
untuk mengirimkan usulan kegiatan yang akan dibahas pada forum antar
desa yang disusun dan ditanda tangani oleh Ketua Tim Pengelola Kegiatan
sebagai penanggungjawab operasional kegiatan di desa dan mengetahui
Kepala Desa.
c. Pokok Usulan Kegiatan
d. Lampiran


Catatan:
x Jika desa mengajukan 3 usulan maka harus membuat 3 proposal usulan
kegiatan dengan uraian seperti tersebut di atas.
x Dokumen dibuat rangkap dua, satu dikirim ke PjOK untuk dibahas di MAD
Prioritas Usulan (sebelumnya dilakukan verifikasi) dan satunya untuk arsip
desa.




Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 8
AIur PenuIisan UsuIan


Penetapan usulan Desa hasil
kesepakatan Musyawarah
Khusus Perempuan dan Musdes
Perencanaan
Daftar setiap kegiatan yang
masuk ke desa dicatat sesuai
format yang ada



Maksimum 3 usulan, tiap usulan
hanya terdiri atas 1 jenis /paket
kegiatan
x Formulir Usulan Desa
x Formulir pendukung lainnya
yang ditetapkan dalam
REKAPI7ULASI
USULAN
DESA
PROPOSAL DESA


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 9

6.2. Verifikasi UsuIan

6.2.1. Umum

Tujuan : a. Memeriksa apakah setiap usulan yang akan dibahas dalam MAD
Prioritas Usulan telah memenuhi syarat atau kriteria yang sudah
ditentukan.
b. Melihat kesesuaian kebutuhan atau kelayakan dari semua usulan
desa.
c. Memberikan rekomendasi kelayakan suatu usulan sebagai dasar
pengambilan keputusan dalam MAD Prioritas Usulan.

Tim verifikasi tidak berhak mengambil keputusan didanai atau
tidaknya suatu usulan desa.

Waktu : Setelah usulan-usulan ditulis, selambat-lambatnya satu minggu
sebelum MAD Prioritas Usulan

Pelaku :

Tim verifikasi.


6.2.2. Persiapan
a. Pembentukan tim verikasi. Penjelasan lebih lanjut mengenai siapa dan
bagaimana proses pemilihannya dapat dilihat dalam Penjelasan V PTO
mengenai Tugas, Tanggung Jawab dan Proses Pemilihan Pelaku-Pelaku
PNPM Mandiri Perdesaan.

b. Fasilitator Kecamatan, PjOK dibantu Pendamping Lokal memastikan semua
usulan/proposal desa telah terkumpul di kecamatan dan siap diverifikasi.

c. Sebelum menjalankan tugasnya, Tim Verifikasi mendapat pelatihan terlebih
dahulu yang diberikan oleh Fasilitator Kecamatan dan Fasilitator Kabupaten.
Proses dan materi pelatihan dapat dilihat pada Penjelasan 2 PTO mengenai
Fasilitasi dan Pelatihan, serta materi yang terkait dengan prasarana.


6.2.3. PeIaksanaan
Verifikasi dilakukan terhadap semua usulan desa. Fasilitator Kecamatan dan
PjOK membagikan usulan-usulan kegiatan dan formulir pemeriksaan kepada
anggota tim verifikasi untuk diperiksa. Proses verifikasi dilakukan dalam lima
tahapan yang memerlukan waktu kurang lebih 3-4 minggu tergantung dari
banyaknya usulan dan sangat dipengaruhi oleh kesiapan tim, efektifitas kerja
tim, kondisi geografis.

Lima tahapan proses verifikasi sebagai berikut:
a. Pemeriksaan dokumen usuIan kegiatan di kecamatan
Hari ke 1-2
Anggota Tim Verifikasi berkumpul di kecamatan untuk memeriksa
kelengkapan dokumen atau administrasi usulan kegiatan. Pemeriksaan
dengan menggunakan formulir atau ceklis yang sudah disediakan. si ceklis
tersebut adalah:
Sesuai dengan keputusan Musdes Perencanaan dan sudah ditanda
tangani oleh Ketua TPK dan Kepala desa
Tidak termasuk jenis kegiatan yang masuk dalam daftar larangan
Tidak tumpang tindih dengan rencana program lain


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 10
Ada Salinan berita acara keputusan Musyawarah Desa khusus
perempuan untuk mensepakati usulan dari perempuan.
Ada Salinan berita acara keputusan Musdes Perencanaan tentang
penetapan usulan kegiatan desa.
Ada Rekapitulasi usulan kegiatan desa yang ditetapkan dalam Musdes
Perencanaan
Ada Data umum desa yang menggambarkan atau mencantumkan
Jumlah penduduk desa laki-laki, perempuan, RTM, jumlah anak putus
sekolah, anak usia sekolah tidak sekolah, jumlah ibu hamil, jumlah balita
kurang gizi, jumlah Sarana Air Bersih, jumlah jamban keluarga, luas
wilayah, pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perdesaan seperti nama-nama
KPMD, Tim Pengelola Kegiatan dan lain-lain dengan format bebas
menggunakan uraian atau tabel/matrik atau bentuk lainnya.
Ada Sketsa peta sosial desa dengan menunjukkan lokasi kegiatan.
Ada Berita acara kesanggupan swadaya.
Ada Surat pernyataan tidak akan membayar ganti rugi dengan dana
PNPM Mandiri Perdesaan (untuk usulan yang relevan).
Ada Daftar penerima manfaat langsung (Untuk kegiatan simpan pinjam
menyebutkan nilai atau besarnya biaya yang dibutuhkan disertai dengan
tanda tangan).

Catatan:
Jika usulan masih terdapat kekurangan dokumen yang diperlukan atau
belum lengkap maka usulan dikembalikan ke desa agar dilengkapi dalam
waktu maksimal 3 hari dilampiri catatan tim verifikasi terhadap
kekurangannya.

Hari 3-8
Semua anggota tim verifikasi berkumpul untuk membahas dan membuat
catatan serta rekomendasi terhadap semua usulan dari sisi kelengkapan
dokumentasi serta kesesuaian dengan kriteria/prosedur yang sudah
ditentukan dalam PNPM Mandiri Perdesaan. Pada tahap ini sengaja diberi
kelonggaran waktu untuk antisipasi pengembalian usulan ke desa untuk
dilengkapi kekurangannya, kemudian diserahkan kembali ke tim verifikasi
dan di cek kembali kelengkapannya.

Hari ke 9
Dokumen usulan berikut catatan/rekomendasi hasil pemeriksaan tim
verifikasi diserahkan kepada Fasilitator Kabupaten untuk mendapatkan
pengecekan kembali sehingga lebih dapat dipastikan usulan telah sesuai
dengan kriteria dan prinsip prosedur PNPM Mandiri Perdesaan.

b. Pengecekan kembaIi oIeh FasiIitator Kabupaten
Hari 10-15
Fasilitator Kabupaten memeriksa kembali semua dokumen usulan dan
mempelajari catatan dan rekomendasi yang telah diberikan oleh tim
verifikasi. Berdasarkan hasil pengecekan kembali, Fasilitator Kabupaten
melakukan:
dentifikasi terhadap usulan-usulan desa yang memerlukan lebih banyak
perhatian berkaitan dengan bentuk atau konstruksi yang diinginkan
masyarakat, sehingga apakah nantinya memerlukan tenaga ahli atau
cukup bisa diawasi oleh Fasilitator Kecamatan, perkiraan biaya dan
apakah dapat dikerjakan oleh masyarakat desa.
Pemeriksaan usulan apakah tumpang tindih dengan rencana program
yang sudah ditentukan dalam rencana pembangunan daerah/kabupaten


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 11
(terutama kepastian pelaksanaan rencana pembangunan daerah
tersebut).
Pembuatan catatan-catatan terhadap semua usulan dan rekomendasi
tim verifikasi.
Pembuatan jadwal kegiatan kunjungan lapangan bersama tim verifikasi
terutama pada lokasi-lokasi yang memerlukan perhatian khusus dan
pemeriksaan yang seksama.
Menyerahkan kembali semua usulan desa dan catatan-catatannya
kepada tim verifikasi termasuk jadwal kunjungan lapangan Fasilitator
Kabupaten.

c. Kunjungan Iapangan (pemeriksaan Iapangan)
Hari ke 16-22
Berdasarkan hasil catatan catatan pada waktu pemeriksaan dokumen dan
pengecekan ulang oleh Fasilitator Kabupaten, Tim Verifikasi menyusun
jadwal dan melakukan kunjungan lapangan ke desa-desa peserta PNPM
Mandiri Perdesaan. Dalam kunjungan lapangan ke desa tidak harus semua
anggota tim verifikasi bersamaan ke satu desa, tetapi dapat dibagi
beberapa tim kecil dengan komposisi yang disesuaikan dengan jenis usulan
yang akan diverifikasi oleh tim tersebut.

Fasilitator Kecamatan memfasilitasi pembagian anggota tim agar dapat
dipastikan setiap jenis usulan diverifikasi oleh anggota tim verifikasi yang
mempunyai keahlian atau pengalaman dibidang usulan yang diverifikasi.

Pemeriksaan lapangan dilakukan dengan metode atau cara
observasi/pengamatan langsung dan wawancara dengan masyarakat
pengusul dan informan lainnya. Hal-hal yang diamati dan ditanyakan melalui
wawancara adalah sebagi berikut:
Apakah usulan sesuai dengan Musdes Perencanaan
Kebenaran daftar calon penerima manfaat.( termasuk nilai kebutuhan
yang diajukan untuk kegiatan simpan pinjam)
Masyarakat atau kelompok penerima manfaat dilibatkan atau
mengetahui pada waktu penulisan usulan
Bagaimana proses sosialisasi PNPM Mandiri Perdesaan yang telah
dilaksanakan di masyarakat, alasan apa masyarakat mengajukan usulan
dan manfaat apa yang dapat diambil jika kegiatan yang diusulkan dapat
dilaksanakan, dan apa rencana masyarakat selanjutnya setelah
kegiatan dilaksanakan.
Apakah ada tuntutan ganti rugi dan bagaimana penanganannya.
Apakah benar kesanggupan masyarakat untuk berswadaya seperti yang
tertuang dalam berita acara.
Apakah kegiatan memungkinkan untuk dilaksanakan pada lokasi atau
kelompok pengusul (untuk kegiatan prasarana apakah nanti
memerlukan desain yang rumit dan sulit, untuk dan simpan pinjam
apakah besar kemungkinan berhasil, sudah punya pengalaman
sebelumnya, kelompok minimal 1 tahun berjalan dan mempunyai
kegiatan, untuk usulan pendidikan dan kesehatan bagaimana rencana
operasional dan keberlanjutannya, untuk pelatihan masyarakat apakah
bisa meningkatkan ketrampilan masyarakat).
Bagaimana rencana pengerjaan dan pemanfaatan/operasional kegiatan
serta rencana pemeliharaan dan pelestarian
Kelayakan lingkungan: apakah kegiatan tidak membahayakan
lingkungan atau sebaliknya apakah lingkungan sekitar mendukung
kegiatan yang diusulkan.


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 12
Khusus kegiatan SPP verifikasi kelompok dilakukan dengan
menggunakan Form. Lembar Verifikasi Kelompok Simpan Pinjam
dengan menjumlah hasil penilaian (scoring).
Verifikasi pemanfaat SPP dilakukan dengan cara membandingkan daftar
calon pemanfaat dengan data RTM.

d. DiaIog dengan masyarakat
Selesai melakukan wawancara dengan masyarakat dan pengamatan
langsung di rencana lokasi kegiatan di tiap-tiap desa, selanjutnya tim
verifikasi melakukan dialog dengan masyarakat pengusul dan anggota
masyarakat desa lainnya untuk menyampaikan catatan-catatan yang
nantinya akan dijadikan sebagai bahan pembuatan rekomendasi sekaligus
sebagai umpan balik. Melalui dialog ini diharapkan terjadi interaksi aktif
antara masyarakat dengan tim verifikasi melalui forum tanya jawab dan
pembahasan catatan hasil pemeriksaan. Masyarakat dapat memberikan
tanggapan dan masukan atau upaya perbaikan terhadap kekurang-
lengkapan usulannya sebelum tim verifikasi membuat rekomendasinya.

e. Pembuatan rekomendasi
Hari 23-25
Semua anggota tim verifikasi berkumpul di kecamatan untuk merangkum
hasil catatan-catatannya, baik dari hasil pemeriksaan dokumen maupun
pemeriksaan langsung di lapangan. Selanjutnya dibuatkan kesimpulan
sebagai rekomendasi yang akan diberikan terhadap semua usulan kegiatan
yang telah diverifikasi dan ditanda tangani oleh semua anggota tim
verifikasi. Hasil penilaian kelayakan usulan harus diperiksa oleh Fasilitator
Kecamatan yang berkaitan dengan aspek teknis usulan kegiatan.





Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 13
AIur Verifikasi UsuIan
Proses Penulisan
usulan desa oleh
Tim Penulis Usulan
dentifikasi Kebutuhan
Tim Verifikasi oleh
Fasilitator Kecamatan
dan PjOK

Proses Verifikasi
MUSYAWARAH ANTAR DESA
PRIORITAS USULAN
Pembentukan Tim
Verifikasi
Usulan desa/
proposal kegiatan
Pengecekan ulang oleh Fasilitator Kabupaten
Pemeriksaan Lapangan
Dialog dan umpan balik kepada dengan masyarakat
Pembuatan rekomendasi
Pemeriksaan dokumen usulan di kecamatan


Penjelasan VI Penulisan Usulan dan Verifikasi 14

6.2.4. Penutup
Hal-hal lain yang belum diatur dan dianggap perlu, dapat ditentukan lebih lanjut
melalui Musyawarah Desa, Musyawarah Antar Desa dan kesepakatan dalam
Tim Verifikasi sesuai dengan kebutuhan dan ciri karakteristik daerah masing-
masing sepanjang tidak menyimpang dan bertentangan dengan Petunjuk
Teknis Operasional atau Penjelasan ini.

Beberapa formulir yang digunakan dalam pelaksanaan verifikasi dapat dilihat
pada lampiran. Jika dianggap perlu maka tim verifikasi bersama Fasilitator
Kecamatan dan dibantu oleh Fasilitator Kabupaten dapat membuat formulir
sendiri guna melengkapi atau menyempurnakan formulir yang ada, disesuaikan
dengan kondisi dan kebutuhan setempat serta jika telah disepakati bersama.


Kegiatan yang termasuk daIam Daftar Larangan (Negative List) adaIah:

i Pembangunan maupun rehabilitasi bangunan kantor dan tempat ibadah.
i Pembiayaan atau pembayaran gaji pegawai negeri.
i Pembelian kapal ikan yang berbobot di atas 10 ton dan perlengkapannya.
i Pembelian chainsaw, senjata, bahan peledak, asbes dan bahan-bahan lain
yang dapat merusak lingkungan.
i Pembiayaan kegiatan yang mempekerjakan anak-anak di bawah usia kerja.
i Pembiayaan kegiatan politik praktis atau keperluan partai politik.
i Pembiayaan dalam bentuk apapun juga (apa saja) yang berkaitan dengan
militer atau angkatan bersenjata.
i Pembelian pupuk kimiawi, obat pertanian kimiawi (insektisida, pestisida,
hebersida, dan sebagainya).
i Beberapa jenis kegiatan yang dilarang atau dibatasi sesuai ketentuan
dalam PTO dan atau Penjelasannya, namun belum tercantum dalam daftar
ini.








(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN VII
PEMANTAUAN, PENGAWASAN, EVALUASI
DAN PELAPORAN

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 1
PENJELASAN VII

PEMANTAUAN, PENGAWASAN, EVALUASI, DAN PELAPORAN


Kegiatan pengendalian dalam PNPM Mandiri Perdesaan terdiri dari pemantauan,
pengawasan, evaluasi dan pelaporan. Dalam buku Penjelasan V ini, penjelasan dibedakan
menjadi dua bagian, yaitu:
Bagian pertama tentang pemantauan, pengawasan dan evaluasi
Begian kedua tentang pelaporan.

7.1. Pemantauan, Pengawasan dan EvaIuasi

7.1.1. Pengertian
a. Pemantauan
Adalah kegiatan pengumpulan informasi secara periodik untuk melihat
kinerja semua pelaku program dan memastikan seluruh kegiatan dapat
dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan serta sesuai dengan
prinsip dan prosedur program.

b. Pengawasan
Adalah kegiatan yang dilakukan untuk menjaga kualitas dan volume
pelaksanaan kegiatan dan sebagai langkah antisipatif terhadap upaya
penyimpangan atau penyelewengan

c. EvaIuasi
Adalah suatu kegiatan untuk menilai hasil pelaksanaan program yang telah
dilakukan dan bagaimana realitas dari apa yang telah dilakukan tersebut.

Berdasarkan pengertian yang diuraikan di atas, kegiatan pemantauan,
pengawasan dan evaluasi adalah kegiatan yang saling bertalian dan saling
mendukung. Hasil dari kegiatan pemantauan dan pengawasan adalah input
untuk evaluasi terhadap pelaksanaan program.

7.1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud pemantauan, pengawasan dan evaluasi dalam program adalah:
a. Membantu para pelaku program (masyarakat, aparat pemerintah, konsultan
dll) mengetahui kemajuan dan perkembangan yang telah dicapai oleh
program;

b. Membantu para pelaku program untuk mengecek apakah suatu kegiatan
berhasil diselesaikan sesuai dengan rencana atau tidak;
Membantu pelaku program untuk mengambil tindakan perbaikan atas
masalah yang ditemukan di lapangan;
Mendokumentasikan berbagai pengalaman yang muncul didalam
pelaksanaan program dan dapat mengambil pelajaran dari pengalaman
yang terjadi tersebut.

Tujuan pemantauan, pengawasan dan evaluasi dalam program adalah:
a. Memastikan pemanfaatan dana PNPM Mandiri Perdesaan agar sesuai
dengan prinsip, mekanisme dan prosedur;
b. Memastikan agar hasil-hasil selama tahap perencanaan diperoleh melalui
proses dan mekanisme yang benar,
c. Agar hasil kegiatan yang dilaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan membawa
manfaat langsung bagi peningkatan kesejahteraan RTM secara signifikan,

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 2
d. Memastikan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan,
e. Menjaga agar kualitas dari setiap kegiatan yang dilaksanakan memenuhi
kriteria yang telah ditetapkan,
f. Memastikan setiap pelaku PNPM Mandiri Perdesaan dapat menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya secara baik sesuai dengan fungsinya masing-
masing.

7.1.3. Prinsip-Prinsip Pemantauan, Pengawasan dan EvaIuasi

Pelaksanaan pemantauan, Pengawasan dan evaluasi perlu didasarkan pada
kejujuran, motivasi dan keinginan yang kuat dari para pelaku. Kegiatan ini harus
dianggap sebagai alat yang penting untuk memperbaiki program. Prinsip-prinsip
dalam pelaksanaan pemantauan, pengawasan dan evaluasi sebagai berikut:
1. Obyektif dan profesionaI
Pelaksanaan pemantauan, pengawasan dan evaluasi dilakukan secara
profesional berdasarkan analisis data yang lengkap dan akurat agar
menghasilkan penilaian secara obyektif dan masukan yang tepat terhadap
pelaksanaan kebijakan. Pelaku program wajib melaporkan informasi
seakurat mungkin. nformasi harus diuji silang dengan sumber lain untuk
menjamin keakurasiannya. nformasi yang akurat dan berdasarkan fakta dari
sumber terpercaya yang dapat membantu untuk memperbaiki program.

2. Transparan
Pemantauan, pengawasan dan evaluasi harus dilakukan di suatu lingkungan
yang mendorong kebebasan berbicara yang bertanggung jawab. Hasil
pemantauan dan evaluasi harus diketahui oleh banyak orang terutama
pihak-pihak yang terlibat dalam proses ini.

3. Partisipatif
Semua pelaku program, terutama masyarakat, fasilitator dan konsultan
harus bebas untuk berpartisipasi dan melaporkan berbagai masalah yang
dihadapi serta memberikan kontribusinya untuk perbaikan program.

4. AkuntabeI
Pelaksanaan pemantauan, pengawasan dan evaluasi harus dapat
dipertanggungjawabkan secara internal maupun eksternal.
5. Berorientasi SoIusi
Pelaksanaan pemantauan, pengawasan dan evaluasi serta pembahasanan
hasil-hasilnya diorientasikan untuk menemukan solusi atas masalah yang
terjadi dan karena itu dapat dimanfaatkan sebagai pijakan untuk peningkatan
kinerja.
6. Terintegrasi
Kegiatan pemantauan, pengawasan dan evaluasi yang dilakukan Konsultan
maupun fasilitator harus menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling
melengkapi. Selain itu, kegiatan pemantauan, pengawasan dan evaluasi
oleh konsultan maupun fasilitator juga harus terintegrasi dengan kegiatan
pemantauan dan pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat. Konsultan
maupun fasilitator tidak mungkin melakukan pengawasan dan pemantauan
kegiatan di lapangan setiap saat sehingga peran masyarakat untuk
memantau dan mengawasi program menjadi penting. Tim
pemantau/pengawas dari masyarakat adalah mitra dan kepanjangan tangan

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 3
konsultan dan fasilitator dalam melakukan monitoring dan evaluasi program
di tingkatan desa maupun kecamatan.

7. Berbasis indikator kinerja
Pelaksanaan pemantauan, pengawasan dan evaluasi dilakukan berdasarkan
kriteria atau indikator kinerja, baik indikator masukan, proses, keluaran,
manfaat maupun dampak program.
7.1.4. Dukungan untuk MeIakukan Pemantauan, Pengawasan dan EvaIuasi

1. Karena pemantauan, pengawasan dan evaluasi dibuat untuk melihat
perkembangan serta capaian program di lapangan, maka kegiatan di
lapangan harus sudah dirumuskan dalam bentuk perencanaan yang jelas
termasuk target capaian dan tujuannya. Dokumen-dokumen perencanaan
haruslah lengkap dan mudah diakses.

2. Sebelum pemantauan, pengawasan dan evaluasi dilakukan, terlebih dahulu
harus ada perencanaan yang jelas untuk keperluan apa pemantauan,
pengawasan dan evaluasi dilakukan, siapa yang harus dilibatkan, obyek
apa yang akan dipantau, indikator penilaian serta manfaat apa yang ingin
diperoleh dari kegiatan ini.


7.1.5. Indikator Kinerja Program

Sebelum melakukan pemantauan, pengawasan dan evaluasi terlebih dahulu
indikator keberhasilan yang ingin dicapai dalam program harus diketahui.

ndikator yang digunakan dalam program adalah:

1. Indikator Input
Digunakan untuk mengukur jumlah sumberdaya (dana/anggaran, SDM,
peralatan/sarana-prasarana, material lainnya) yang digunakan untuk
mencapai tujuan program.

2. Indikator Proses
Untuk menggambarkan perkembangan/aktivitas yang dilakukan/terjadi
dalam pelaksanaan kegiatan.

3. Indikator KeIuaran (Output)
Untuk mengukur keluaran yang dihasilkan dari suatu kegiatan, sejauhmana
terlaksana sesuai rencana.

4. Indikator HasiI (Outcome)
Untuk menggambarkan hasil nyata dari keluaran suatu kegiatan.

5. Indikator Dampak (Impact)
Digunakan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian tujuan umum dari
program.

Penjabaran dari indikator-indikator tersebut di atas tertuang dalam dokumen
tersendiri.





Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 4
7.1.6. Kegiatan Pemantauan, Pengawasan dan EvaIuasi

1. Berdasarkan Subyeknya
Berdasarkan subyek pelaksana kegiatan pemantauan, pengawasan dan
evaluasi dalam program dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu
internal dan eksternal.

Pemantauan, pengawasan dan evaluasi internal didefinisikan sebagai
kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku baik yang terlibat secara langsung
maupun tidak langsung dalam program, yaitu:

a. Masyarakat dan pelaku di desa
b. Fasilitator dan konsultan di kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional
c. Aparat kecamatan
d. Tim Koordinasi Kabupaten, Provinsi dan Pusat.

Pemantauan, pengawasan dan evaluasi eksternal didefinisikan sebagai
kegiatan yang dilakukan secara independen oleh pihak luar.

Untuk kegiatan pemantauan dan pengawasan eksternal, program melibatkan
secara khusus beberapa lembaga, yaitu:
a. Lembaga Swadaya Masyarakat melalui kegiatan Province-Based
Monitoring (PBM);
b. Wartawan melalui kegiatan Program Pelibatan Media Massa dalam
Pemantauan (PPMMP) PNPM-Mandiri Perdesaan;
c. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP);
d. Badan Pengawas Daerah (Bawasda).

Untuk kegiatan evaluasi terhadap indikator dampak, program melibatkan
pihak luar yang dibantu oleh staff program untuk melakukan Survey/Studi
Dampak terhadap pelaksanaan program. Pihak luar dimaksud bisa berasal
dari perguruan tinggi, lembaga penelitian maupun LSM yang berkompeten.

2. Berdasarkan Waktu
Berdasarkan waktu, kegiatan pemantauan, pengawasan dan evaluasi yang
dilakukan dalam program adalah:

a. Secara Rutin
Pemantauan, pengawasan dan evaluasi secara rutin merupakan
tanggung jawab seluruh konsultan, fasilitator, aparat dan masyarakat
termasuk perangkat desa didalamnya. Mereka secara terus-menerus
wajib melakukan pemeriksaan untuk bisa mengetahui apakah kegiatan
program sudah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan yang ada.

Selain itu, program juga mengajak lembaga independen yang khusus
diminta untuk melakukan pemantauan secara rutin.

Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk:
Pemantauan partisipatif oleh masyarakat
Supervisi rutin (kunjungan lapangan ) konsultan (pusat, provinsi dan
kabupaten)
Peninjauan internal oleh fasilitator terhadap pengelolaan kas dan
rekening
Pemantauan oleh pemerintah yang berwenang dan terlibat langsung
dalam program
Pemantauan ndependen oleh LSM melalui kegiatan PBM

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 5
Pemantauan ndependen oleh wartawan melalui kegiatan PPMMP-
PNPM Mandiri Perdesaan

b. Secara BerkaIa
Kegiatan pemantauan, pengawasan dan evaluasi yang dilakukan secara
berkala adalah:

Misi Supervisi Bank Dunia
Kegiatan ini dilakukan dua kali dalam setahun. Yang terlibat dalam misi
ini adalah staff Bank Dunia, Tim Koordinasi/ Sekretariat Nasional PNPM
Mandiri Perdesaan Pusat. Kadangkala, pihak lain seperti LSM ataupun
spesialis teknik dilibatkan untuk ikut juga adalam program ini. Misi ini
secara umum mengkaji isu-isu tertentu yang dihadapi program
(misalnya: partisipasi, manajemen, pendampingan teknis, persiapan ke
tahap berikutnya, dan sebagainya) dan juga mengevaluasi keseluruhan
kemajuan yang telah dibuat dalam program ini.

Monitoring Bersama Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan
Pusat
Kegiatan ini dilakukan maksimal dua kali dalam setahun. Yang terlibat
dalam kegiatan ini adalah TK-PNPM Mandiri Perdesaan Pusat dan
Daerah. Kegiatan ini secara umum bertujuan untuk melihat kemajuan
kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di lapangan dan dukungan
pemerintah.

Audit InternaI
Audit internal dilakukan secara berkala terutama oleh konsultan
nasional, konsultan provinsi dan konsultan kabupaten dengan
melakukan penilaian dan pemeriksaan terhadap proses pelaksanaan
kegiatan program serta pengelolaan dananya baik di UPK, TPK
maupun kelompok. Tujuan dari audit internal ini adalah :

1) Memberikan penilaian dan rekomendasi terhadap proses
pelaksanaan pengawasan dan pengendalian internal di setiap
tingkatan konsultan sesuai dengan Sistem Pengawasan nternal
dalam program (desentralisasi dan berjenjang).
2) Memberikan penilaian dan rekomendasi terhadap kualitas
pelaksanaan dari setiap tahapan kegiatan serta pelaksanaan
prinsip-prinsip program.
3) Memberikan penilaian terhadap tertib administrasi dan laporan
keuangan UPK serta mengetahui lebih awal adanya indikasi
penyalahgunaan dana.
4) Setelah dilakukan peninjauan secara periodik terhadap hasil
pemeriksaan dan penilaian (audit) yang dilakukan oleh setiap
tingkatan konsultan (KM Nasional sampai dengan KM Provinsi)
serta Fasilitator Kabupaten, diharapkan tersusun rekomendasi
yang dapat menjadi bahan masukan untuk perbaikan program
selanjutnya.

Audit EksternaI oIeh BPKP
Kegiatan ini dilakuan sekali dalam setahun dan dilakukan di beberapa
provinsi terpilih sebagai sampel.

Audit EksternaI oIeh Bawasda
Audit ini dilakukan secara insidentil sesuai kebutuhan.


Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 6
c. Akhir Kegiatan atau SikIus
Pada akhir kegiatan dan/atau siklus tertentu, program akan melakukan
kegiatan yang diberi nama dengan kegiatan Survey/Studi Dampak
Program. Melalui lembaga penelitian ataupun perguruan tinggi,
dilakukan survei terhadap rumah tangga untuk mengetahui dampak dari
program pada kesejahteraan rumah tangga dan kemiskinan serta
perubahan sikap dan tingkah laku dari pemerintahan di tingkat lokal.
Survei tersebut biasanya tidak dilakukan di setiap provinsi.

d. Secara InsidentiI
Kegiatan pemantauan maupun evaluasi yang dilakukan secara insidentil
adalah:

Pemantauan penanganan pengaduan dan masaIah.
Salah satu aspek penting dari sistem pemantauan PNPM Mandiri
Perdesaan adalah pemantauan terhadap proses penanganan
pengaduan dan masalah. Program telah memiliki sistem penanganan
pengaduan dan masalah yang mengatur langkah-langkah dalam
mencatat dan menelusuri setiap pengaduan, masalah, atau
pertanyaan tentang program. Tujuannya adalah untuk memantau dan
memastikan proses penanganan masalah ataupun pertanyaan sudah
dijawab dengan segera, melakukan investigasi dan penyelesaian
masalah bila diperlukan.

EvaIuasi Tematik
Secara insidentil akan dilakukan evaluasi tentang aspek tertentu
dalam program. Obyek yang dievaluasi adalah tema-tema tertentu
yang ada dan terjadi dilapangan.

7.1.7. Metode Pemantauan, Pengawasan dan EvaIuasi

Metode untuk melakukan kegiatan pemantauan, pengawasan dan evaluasi
dalam progrm secara garis besar dibagi menjadi partisipatif dan konvensional.

1. Metode Partisipatif
Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, kegiatan pemantauan,
pengawasan dan evaluasi yang terbaik adalah yang dilakukan sendiri oleh
masyarakat. Dalam hal ini masyarakat adalah pemilik proses dari suatu
kegiatan program sekaligus yang paling merasakan dampak langsung dari
program. Mereka bertanggung jawab untuk memantau dan mengawasi
proses kegiatan program tersebut.

Program mewajibkan konsultan untuk memfasilitasi adanya pemantauan
yang dilakukan secara partisipatif bersama masyarakat. Untuk itu, konsultan
lapangan wajib mengidentifikasi beberapa orang yang mempunyai
kemampuan dan kemauan untuk dilatih dan diberdayakan menjadi Tim
Pemantau. Tim Pemantau ini berjumlah antara 3-5 orang dan akan bertindak
sebagai fasilitator yang memfasilitasi dan menggerakkan masyarakat
termasuk pelaku dalam melakukan proses pemantauan, pengawasan dan
evaluasi dengan teknik-teknik partisipatif.







Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 7






























Dari proses ini diharapkan masyarakat termasuk pelaku di desa mampu
menemukenali sendiri masalah-masalah yang terjadi sekaligus menemukan
solusi bagi perbaikan program di wilayahnya. Sesuai dengan prinsip-prinsip
dari pemantauan, pengawasan dan evaluasi di program, tidak perlu ada
yang dipersalahkan jika muncul suatu masalah di lapangan yang
memerlukan tindakan perbaikan. Dengan demikian, kegiatan pemantauan,
pengawasan dan evaluasi bukanlah sebuah kegiatan untuk mencari-cari
kesalahan dan penghakiman bagi orang-orang yang dianggap lalai dalam
melaksanakan program, tapi merupakan bagian dari proses pembelajaran
dan pemberdayaan di masyarakat.

Seluruh pelaku terutama konsultan, baik nasional, provinsi, kabupaten
maupun fasilitator di kecamatan dalam melakukan pemantauan,
pengawasan dan evaluasi rutinnya haruslah menggunakan metode
partisipatif. Konsultan harus memfasilitasi proses pemantauan dan
pengawasan yang dilakukan bersama masyarakat. Dalam proses ini,
konsultan adalah fasilitator yang menggerakkan masyarakat termasuk
pelaku untuk menemukenali masalah-masalah yang terjadi dan sekaligus
solusi perbaikannya melalui proses refleksi maupun diskusi dalam forum
Focus Group Discussion (FGD)/ Kelompok Diskusi Terarah (KDT). Seluruh
proses kegiatan pemantauan, pengawasan dan evaluasi ini adalah media
pembelajaran bagi masyarakat dan On the Job Training (OJT) bagi Tim
Pemantau dan kelompok-kelompok pemantau yang telah terbentuk
sebelumnya.

Contoh metode partisipatif yang bisa digunakan:

Participatory RuraI AppraisaI (PRA) dan Penggunaannya daIam
Pemantauan & EvaIuasi
ALAT PRA PENGGUNAAN
Pemetaan/sketsa desa Untuk memperlihatkan kesesuaian lokasi dan tipe
perubahan di lokasi yang dipantau
Diagram Venn Untuk memperlihatkan perubahan yang terjadi
didalam hubungan antar kelompok, lembaga
maupun individu
Catatan petani, matriks
keluarga dan sumber
daya kelompok
Menjelaskan perubahan dalam kehidupan petani,
keluarga, kelompok beserta perubahan sumber
daya yang dimilkinya
Dinamika kelompok Untuk mendapatkan respon secara langung
terhadap proyek/kegiatan yang dipantau
menyangkut; apa yang mereka inginkan untuk
diraih (tujuan), apa yang telah mereka perbuat,
apa yang masih dibutuhkan, perubahan apa yang
telah dirasakan dan seterusnya.
Pembuatan diagram
sebab-akibat (pohon
masalah; pohon solusi)
Melihat sejauh mana proyek telah sesuai dengan
permasalahan yang ada atau belum
Kunjungan lapangan Melihat secara langsung bentuk/kegiatan proyek
Foto-foto Untuk memperlihatkan perubahan berdasarkan
rentetan kejadian yang dipotret
Diagram jaringan kerja Memperlihatkan perubahan didalam tipe dan
kadar kontak/hubungan antara kelompok
masyarakat dengan pelayanan/program yang
dipantau

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 8
Selain itu, di tingkat kecamatan, dengan telah terbentuknya BKAD yang
salah satu tugasnya adalah melakukan pengawasan dan mendorong
partisipasi masyarakat melakukan pengawasan terhdap pengelolaan
kegiatan maka diharapkan tugas pengawasan akan semakin optimal.

2. Metode KonvensionaI
Kegiatan pemantauan, pengawasan maupun evaluasi secara konvensional
utamanya digunakan untuk suatu kegiatan yang berkaitan dengan indikator
kinerja pelaku program.


PERBEDAAN
KONVENSIONAL DENGAN PARTIPASIPATIF

Aspek KonvensionaI Partisipatif
Siapa
(who)
Biasanya oleh para ahli eksternal Masyarakat, staf proyek, fasilitator
Apa (what) ndikator keberhasilan ditentukan
terlebih dahulu, terutama biaya
dan output dari suatu proses
Masyarakat dengan difasilitasi
fasilitator proyek menentukan
indikator keberhasilannya, yang
dapat mencakup output dari suatu
proses
Bagaimana
(how)
Berfokus pada objektivitas ilmiah;
menjauhkan penilai dari
partisipan; keterlambatan,
keterbatasan akses terhadap
hasil
Metode sederhana disesuaikan
dengan kondisi lokal, adanya
keterlibatan masyarakat didalam
proses
Kapan
(when)
Biasanya berdasarkan waktu
yang ditentukan oleh proyek
Bisa setiap waktu berdasarkan
kebutuhan dan kesepakatan pihak-
pihak yang terlibat.
Mengapa
(why)
untuk mengetahui keadaan dan
dampak kegiatan sebagai dasar
perbaikan atau replikasi
Memberdayakan masyarakat
melalui keterlibatan aktif mereka
dalam kegiatan pemantauan dan
evaluasi; mengambil langkah
perbaikan dalam program


7.1.8. Penyampaian HasiI Pemantauan, Pengawasan dan EvaIuasi

Hal penting dalam proses pemantauan, pengawasan dan evaluasi adalah
penyusunan laporan. Laporan ini berguna untuk menyusun rencana tindak
lanjut dari permasalahan-permasalahan yang ditemukan.

1. Penyusunan Laporan HasiI Pemantauan dan Pengawasan
Konsultan maupun fasilitator yang melakukan pemantauan dan pengawasan
harus menyusun laporan paling lambat lima (5) hari setelah pulang dari
supervisi rutinnya.

Laporan setidaknya harus memuat hal-hal sebagai berikut:

a. Maksud dan tujuan
b. Lokasi yang dipantau.
c. Aspek/fokus pemantauan.
d. Kesimpulan hasil pemantauan dan pengawasan untuk setiap pencapaian
hasil dari aspek yang dipantau.
e. Temuan-temuan khusus terkait hal-hal yang bersifat positif dan
penyimpangan serta alasannya/analisanya mengapa hal itu terjadi.

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 9
f. Rekomendasi tindak lanjut atau apa yang sudah dan harus dilakukan
kemudian berkaitan dengan hal tersebut.

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan laporan adalah:
a. JeIas
Laporan harus mudah dibaca dan dipahami. Sedapat mungkin gunakan
kata-kata yang sederhana, mudah dimengerti, dan menggunakan bahasa
yang baik dan benar.

b. Singkat
Jangan berikan terlalu banyak informasi yang tidak berguna. Berikan
informasi singkat namun tertus-menerus akan diingat. Laporan yang
singkat akan jauh lebih menarik untuk mengundang orang agar
membacanya dibandingkan dengan laporan yang panjang.

c. Menggunakan tabeI dan grafik untuk memperIihatkan struktur data.
d. KesimpuIan seIaIu berdasarkan fakta yang diIaporkan, dan tidak
muncuI di bagian akhir saja.

2. Penyampaian Laporan HasiI Pemantauan dan Pengawasan

Secara umum penyampaian laporan hasil pemantauan dan pengawasan
baik dari kegiatan supervisi rutin, berkala maupun insidentil diserahkan
maksimal lima hari kerja setelah pulang dari lapangan. Secara khusus, tata
cara penyampaian laporan diatur sebagai berikut:

Pengirim Penerima Waktu Keterangan
Fasilitator
Kecamatan (FK)
Fasilitator
Kabupaten
Menyesuaikan waktu
batas akhir laporan
bulanan.
Laporan menjadi
lampiran dalam laporan
bulanan
Fasilitator
Kabupaten
KM Prov. Menyesuaikan waktu
batas akhir laporan
bulanan.
Laporan menjadi
lampiran dalam laporan
bulanan
Spesialis di
Provinsi
(termasuk KM-
Prov)
KM Prov. Lima hari kerja
setelah kunjungan
lapangan
Laporan ini dilampirkan
untuk rencana
kunjungan lapangan
bulan selanjutnya
kepada Satker
Pembinaan PNPM
Mandiri Perdesaan
KM Prov. KT KM Nas. Menyesuaikan waktu
batas akhir laporan
bulanan.
Laporan ini dilampirkan
untuk rencana
kunjungan lapangan
bulan selanjutnya
kepada Satker
Pembinaan PNPM
Mandiri Perdesaan
Spesialis/Tenaga
Ahli KM Nasional
KT KM Nas. 5 hari kerja setelah
kunjungan lapangan

Catatan: Laporan sebaiknya juga diberikan kepada pihak-pihak yang terlibat
dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi ini.

3. Tindak Lanjut Laporan HasiI Pemantauan dan Pengawasan

Hasil kegiatan pemantauan dan pengawasan harus dibahas dan
ditindaklanjuti. Penerima laporan harus memberikan umpan balik terhadap
laporan yang diterimanya kepada pengirim laporan untuk kemudian

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 10
ditindaklanjuti kembali (berdialog). Supervisor harus melakukan supervisi
terhadap pelaksanaan rekomendasi tindak lanjut dari hasil pantauannya.






















7.2. PeIaporan

Salah satu tugas penting dari pengendalian program adalah pelaporan tentang hasil
kegiatan yang telah dilakukan. Para pelaku program, khususnya fasilitator/konsultan
bertanggung jawab untuk membuat laporan seakurat mungkin dan tepat waktu kepada
supervisor. Laporan juga merupakan salah satu instrumen yang dapat dipergunakan
dalam rangka pemantauan dan evaluasi.

AIur PeIaporan
Alur pelaporan merupakan mekanisme penyampaian laporan dari fasilitator di
lapangan kepada supervisor sebagai wujud pertanggungjawaban atas
tugasnya. Supervisor wajib mengumpulkan, mengkonsolidasikan dan
menganalisis data dari wilayah kerjanya serta melaporkan hasilnya pada setiap
bulan kepada supervisor di atasnya. Alur pelaporan tersebut dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

















Bagan AIur
Pemantauan dan Pengawasan
Tugas Pemantau/pengawas Tugas Supervisor
Mengkaji laporan/temuan
Membuat catatan dan
rekomendasi tindak lanjut
temuan
Memantau pelaksanaan
rekomendasi tindak lanjut
temuan
Melakukan
pemantauan dan
pengawasan
Menyusun laporan
hasil pemantauan dan
pengawasan
Menindaklanjuti
rekomendasi tindak
lanjut temuan dari
supervisor

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 11

Pengirim Penerima Tembusan
TanggaI
Penerimaan
KPMD, TPK &
UPK
Fasilitator
Kecamatan
Tanggal 1 setiap bulan
Fasilitator
Kecamatan
Fasilitator
Kabupaten
x PjOK
x Fasilitator
Kecamatan
sebagai arsip
Tanggal 7
setiap bulan
Fasilitator
Kabupaten
KM Prov. x TK-Kab
x Fasilitator
Kabupaten
sebagai arsip
Tanggal 15
setiap bulan
KM Prov. KT KM Nas. x TK-PNPM
Mandiri
Perdesaan
Propinsi
Tanggal 21 setiap
bulan
KT KM Nas Satker
Pembinaan
PNPM Mandiri
Perdesaan
Tanggal 28 setiap
bulan



PeIaporan Pada Tingkat Desa

Pada tingkat desa, KPMD dan TPK bertugas membantu Fasilitator Kecamatan
menyusun dan membuat laporan. Laporan dari KPMD dan TPK akan menjadi
bahan Fasilitator Kecamatan dalam menyusun laporan pelaksanaan PNPM
Mandiri Perdesaan di wilayah tugasnya. Laporan yang dikirimkan oleh KPMD
dan TPK maksimal harus diterima Fasilitator Kecamatan tanggal 1 setiap
bulannya. Dalam menyusun laporannya, KPMD/TPK dipandu dengan mengisi
formulir di bawah ini:

x Form. 70.a : Laporan Masalah yang Dihadapi (Tk. Desa)
x Form. 72 : Laporan Kegiatan dan Rencana KPMD/K


Selain dua form yang rutin harus diisi setiap bulannya, KPMD/TPK juga
membantu dalam mengisi form-form yang dibutuhkan dalam melihat
perkembangan pelaksanaan program di desa yang bersangkutan. Fasilitator
Kecamatan akan mendampingi dan membimbing KPMD/TPK dalam menyusun
laporan dan mengisi form-form yang dimaksud.


PeIaporan pada Tingkat Kecamatan

Pada tingkat kecamatan, Fasilitator Kecamatan dan UPK bertanggung jawab
membuat laporan kepada Fasilitator Kabupaten. Fasilitator Kecamatan juga
diwajibkan mengirim copy laporan kepada PJOK dan menyimpan satu copy
untuk dirinya sendiri.

Laporan yang dikirimkan disusun berdasarkan hasil peninjauan laporan dari
KPMD dan TPK. Laporan yang disusun haruslah akurat dan tepat waktu.
Kemudian laporan tersebut harus didiskusikan dengan Fasilitator Kabupaten di
saat pertemuan koordinasi bulanan.


Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 12
Laporan kegiatan Fasilitator Kecamatan dibuat dalam bentuk narasi dan tidak
lebih dari 10 halaman saja. Sebagai lampiran, Fasilitator Kecamatan harus
melengkapi laporannya dengan mengisi form-form dibawah ini:
a. Form. 72 : Laporan Kegiatan dan Rencana Kegiatan FK
b. Form. 73 : Laporan Kemajuan Tingkat Kecamatan
c. Form. 70.b : Laporan Penanganan Masalah PNPM Mandiri Perdesaan

Selain tiga form yang rutin harus dilampirkan setiap bulannya tersebut,
Fasilitator Kecamatan juga berkewajiban mengisi form-form yang dibutuhkan
dalam melihat perkembangan pelaksanaan program di kecamatan yang
menjadi wilayah tugasnya. Namun tidak semua form-form yang yang diisi
tersebut harus dilampirkan dalam laporan bulanan. Fasilitator Kecamatan
berkewajiban menyimpan dan mengarsipkannya untuk sewaktu-waktu
diperlukan dalam kegiatan Pemeriksaan, Pemantauan maupun Evaluasi.

Di luar buku Penjelasan ini, bentuk maupun format Laporan Bulanan Fasilitator
Kecamatan akan diatur dalam panduan tersendiri.


PeIaporan pada Tingkat Kabupaten

Pada tingkat kabupaten, Fasilitator Kabupaten bertanggung jawab membuat
laporan dan disampaikan kepada korprov dengan tembusan kepada TK PNPM
Mandiri Perdesaan Kabupaten.


Laporan yang dikirimkan disusun berdasarkan hasil peninjauan dan analisa
terhadap laporan Fasilitator Kecamatan. Laporan harus disusun secara jujur,
akurat dan ringkas serta tidak boleh lebih dari 10 halaman dalam bentuk narasi.
Laporan tersebut selanjutnya perlu disampaikan secara lisan dan didiskusikan
pada pertemuan koordinasi bulanan.

Sama seperti laporan yang disampaikan Fasilitator Kecamatan, dalam laporan
yang dikirimkan Fasilitator Kabupaten kepada KM Prov harus melampirkan
form 70.c. tentang Laporan Rekap Penanganan Masalah PNPM Mandiri
Perdesaan. Selain form yang rutin harus dilampirkan setiap bulannya tersebut,
Fasilitator Kecamatan juga berkewajiban mengisi dan melengkapi form-form
yang dibutuhkan dalam melihat perkembangan pelaksanaan program di
kabupaten yang menjadi wilayah tugasnya. Namun tidak semua form-form
tersebut harus dilampirkan dalam laporan bulanan. Fasilitator Kabupaten
berkewajiban menyimpan dan mengarsipkannya untuk sewaktu-waktu
diperlukan dalam kegiatan Pemeriksaan, Pemantauan maupun Evaluasi.

Di luar buku Penjelasan ini, bentuk maupun format Laporan Bulanan Fasilitator
Kabupaten diatur dalam panduan tersendiri


PeIaporan PadaTingkat Provinsi
Pada tingkat provinsi, KM Prov bertanggung jawab membuat laporan kepada
Ketua Tim Konsultan Manajemen Nasional dengan tembusan kepada TK-
PNPM Mandiri Perdesaan tingkat provinsi.

Laporan yang dikirim harus disusun berdasarkan hasil peninjauan dan analisis
laporan dari para Fasilitator Kabupaten. KM Prov harus memanfaatkan data
yang ada didalam database di kantor provinsi. Laporan KM provinsi harus

Penjelasan VII: Pemantauan, Pengawasan, Evaluasi dan Pelaporan 13
akurat dan tepat waktu, singkat dan jelas. Panjang laporan tidak boleh lebih dari
10 halaman dalam bentuk penjelasan (tanpa lampiran).

Di luar Penjelasan ini, bentuk maupun format Laporan Bulanan KM Provinsi
diatur dalam panduan tersendiri


PeIaporan PadaTingkat NasionaI
Pada tingkat nasional Ketua Tim KM Nasional bertanggung jawab membuat
laporan PNPM Mandiri secara nasional yang ditujukan kepada Satker Nasional
Pembinaan PNPM Mandiri Perdesaan. Laporan yang dikirim harus disusun
berdasarkan hasil peninjauan dan analisa laporan dari para KM Prov. Ketua
Tim KM Nasional harus memanfaatkan data yang ada didalam database di
kantor nasional.

Di luar Penjelasan ini, bentuk maupun format Laporan Bulanan KM Nasional
diatur dalam panduan tersendiri

(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN VIII
SISTEM PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
1

PENJELASAN VIII
SISTEM PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT


8.1. Latar BeIakang dan Tujuan

8.1.1. Latar Belakang

Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan terdapat prinsip
transparansi dan partisipatif, yang mengandung arti bahwa semua
kegiatan/proses PNPM Mandiri Perdesaan (perencanaan, pengambilan
keputusan usulan kegiatan yang dibiayai dana bantuan PNPM Mandiri
Perdesaan, pelaksanaan dan pelestarian kegiatan) dilaksanakan secara
transparan (terbuka) dan melibatkan partisipasi masyarakat. Salah satu
indikator pelibatan masyarakat adalah adanya pengawasan yang dilakukan
masyarakat terhadap kegiatan/proses PNPM Mandiri Perdesaan.

Peran serta masyarakat dalam pengawasan ditunjukkan dengan adanya
pengaduan-pengaduan terhadap proses pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan. Bentuk pengaduan seringkali disampaikan berupa informasi
lisan maupun informasi tertulis yang ditujukan kepada pelaku-pelaku
PNPM Mandiri Perdesaan baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten,
kecamatan atau pun desa.

Pengaduan ini merupakan acuan yang sangat berarti bagi pelaku-pelaku
PNPM Mandiri Perdesaan di semua jenjang yang ada. Munculnya
pengaduan dari masyarakat justru dapat dijadikan sebagai dasar evaluasi
terhadap apa yang telah dilakukan, kesesuaian pelaksanaan dengan
prinsip dan tujuan PNPM Mandiri Perdesaan sehingga dapat meningkatkan
kualitas pelaksanaan kegiatan serta akan lebih memberikan manfaat yang
luas bagi masyarakat.

Pengaduan yang muncul jika dilihat dari asal dan substansinya sangat
beragam. Substansi pengaduan lebih banyak berupa permasalahan-
permasalahan yang timbul di lapangan, sehingga dibutuhkan penanganan
yang efektif, tepat waktu dan tepat sasaran. Untuk itu dibutuhkan adanya
tata cara atau prosedur sebagai acuan penanganan pengaduan tersebut .

Penanganan yang dilakukan terhadap pengaduan masyarakat, tidak harus
selalu dilakukan di tingkat pusat, tetapi dilakukan secara berjenjang sesuai
dengan ruang lingkup dan cakupan masalah yang muncul. Sehubungan
dengan hal tersebut menjadi sangat perlu diberikan kewenangan daerah
untuk memberikan tindak turun tangan sesuai dengan kewenangan yang
melekat pada tugas dan tanggung jawabnya.

8.1.2. Tujuan

Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat ini diharapkan dapat menjadi
panduan bagi Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan (Provinsi dan

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
2
Kabupaten) dan Konsultan serta Fasilitator dalam melakukan penanganan
pengaduan dan masalah yang antara lain berupa tanggapan, usulan
penanganan, umpan balik dan laporan perkembangan penanganan.

8.2. Asas dan Prinsip PengeIoIaan Pengaduan Masyarakat

Dalam pelaksanaan pengelolaan pengaduan masyarakat dikenal asas dan
prinsip - prinsip yang diatur sebagai berikut:

8.2.1. Asas Pengelolaan Pengaduan Masyarakat

Pengelolaan pengaduan masyarakat PNPM Mandiri Perdesaan menganut
asas DOUM (Dari, Oleh dan Untuk Masyarakat) yang mengandung arti
bahwa seluruh upaya penanganan masalah harus berawal dari kemauan
dan kesadaran masyarakat, oleh masyarakat dan untuk kepentingan
seluruh masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus diberikan motivasi
dan ruang yang lebih luas agar pro-aktif dan terlibat langsung dalam setiap
tahapan penanganan masalah sampai masalah dinyatakan selesai.

8.2.2. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pengaduan Masyarakat

Pengelolaan pengaduan masyarakat PNPM Mandiri Perdesaan mengacu
pada prinsipprinsip sebagai berikut:

a. Rahasia. dentitas orang yang melaporkan pengaduan atau masalah
harus dirahasiakan, kecuali yang bersangkutan menghendaki
sebaliknya. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi hak pelapor agar
merasa aman dan nyaman berkaitan dengan masalah yang telah
dilaporkannya.

b. Berjenjang. Semua pengaduan ditangani pertama kali oleh pelaku
PNPM Mandiri Perdesaan setempat. Jadi bila permasalahan muncul di
tingkat desa, maka pertama kali yang bertanggung jawab untuk
menanganinya adalah masyarakat desa tersebut difasilitasi oleh PjOK,
BKAD, Fasilitator Kecamatan, Pendamping Lokal, Kader Desa, dan
Kepala Desa. Pelaku di jenjang atasnya memantau perkembangan
penanganan. Bila pelaku di tempat tidak berhasil menangani
pengaduan, maka pelaku di jenjang atasnya memberi rekomendasi
penyelesaian atau bahkan turut memfasilitasi proses penyelesaiannya.

c. Transparan dan Partisipatif. Sejauh mungkin masyarakat harus
diberitahu dan dilibatkan dalam proses penanganan pengaduan
terhadap masalah yang ada di wilayahnya dengan difasilitasi oleh
fasilitator. Sebagai pelaku utama pelaksanaan PNPM Mandiri
Perdesaan, masyarakat harus disadarkan untuk selalu mengendalikan
jalannya kegiatan.

d. Proporsional. Penanganan sesuai dengan cakupan kasusnya. Jika
kasusnya hanya berkaitan dengan prosedur, maka penanganannya pun
harus pada tingkatan prosedur saja. Jika permasalahannya berkaitan

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
3
dengan prosedur dan pengaduan dana, maka masalah atau kasus yang
ditangani harus mengenai masalah prosedur dan penyalahgunaan
dana.

e. Objektif. Sedapat mungkin penanganan pengaduan ditangani secara
objektif. Artinya pengaduan-pengaduan yang muncul harus selalu diuji
kebenarannya melalui mekanisme uji silang sehingga tindakan yang
dilakukan sesuai dengan data yang sebenarnya. Tindakan yang
dilakukan bukan berdasarkan pemihakan salah satu pihak, melainkan
pemihakan pada prosedur yang seharusnya.

f. Kemudahan. Setiap anggota masyarakat terutama kelompok
perempuan dan laki-laki, harus mudah untuk menyampaikan
pengaduan/masalah.

g. Pengadu/pelapor dapat menyampaikan pengaduan ke jenjang yang
paling mudah dijangkau dengan menggunakan media/saluran
pengaduan yang telah dibangun oleh program atau yang telah ada di
lingkungannya.

h. Cepat dan akurat, Setiap pengaduan dan permasalahan perlu
ditangani/ditanggapi secara cepat dengan menggunakan informasi yang
akurat. Untuk itu penanganan pengaduan dan masalah diupayakan
penyelesaiannya pada tingkat yang terdekat.

Penanganan masalah perlu mempertimbangkan kekhasan di tiap wilayah
dan kearifan lokal sejauh tidak bertentangan dengan asas, prinsip dan
prosedur penanganan pengaduan dan masalah PNPM Mandiri Perdesaan.

8.3. PenggoIongan MasaIah

Penggolongan masalah dimaksudkan untuk memudahkan dalam setiap
pengelolaan pengaduan masyarakat. Adapun penggolongan tersebut
adalah sebagai berikut:

8.3.1 Masalah Implementasi Program

Masalah implementasi program adalah masalah yang terjadi disebabkan
oleh adanya pelanggaran prinsip dan prosedur, penyimpangan/
penyalahgunaan dana, intervensi (negatif), keadaan yang terjadi diluar
kemampuan manusia (force majeure) dalam pelaksanaan program di
lapangan. Untuk memudahkan pencatatan dan penanganannya, maka
masalah implementasi program dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu:

a. Kategori 1
Pengaduan atau masalah yang berkaitan dengan penyimpangan prinsip
dan prosedur program, dengan contoh antara lain:
x Tidak dilaksanakan Musyawarah Desa (MD) atau Musyawarah
Antar Desa (MAD) atau Musyawarah Khusus Perempuan (MKP).

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
4
x Pengelolaan dana oleh UPK atau TPK tidak transparan dan
masyarakat tidak diperkenankan mengetahui kondisi keuangan.
x Kegiatan sarana prasarana dengan nilai dana lebih dari
Rp.15.000.000,- tidak dilakukan proses lelang.
x Terjadi perubahan volume kegiatan setelah dana turun ke desa
tanpa ada berita acara revisi.

b. Kategori 2
Pengaduan atau masalah yang berkaitan dengan penyimpangan,
penyelewengan atau penyalahgunaan dana PNPM Mandiri Perdesaan,
dengan contoh antara lain:
x Terjadi pemotongan dana UEP/SPP oleh UPK pada saat
penyaluran dana.
x Fasilitator Kecamatan menggunakan/ meminjam dana DOK
untuk kepentingan pribadi.
x Suplier sudah menerima pembayaran tetapi tidak mengirimkan
barang.
x TPK menggunakan dana sarana prasarana untuk kepentingan
pribadi.
x Dana perguliran UEP/SPP dipinjamkan oleh UPK kepada pihak
yang tidak berhak.

c. Kategori 3
Pengaduan atau masalah yang berkaitan dengan tindakan intervensi
(negatif) yang merugikan masyarakat maupun kepentingan program
PNPM Mandiri Perdesaan, dengan contoh antara lain:
x Kepala desa memaksakan masyarakat untuk meloloskan
pengerasan jalan sebagai usulan desa.
x Camat mendesak forum MAD untuk meloloskan usulan air bersih
didesanya.
x Fasilitator Kecamatan dengan sengaja mengarahkan forum untuk
mengusulkan kegiatan fisik saja.

d. Kategori 4
Pengaduan atau masalah yang berkaitan dengan adanya kejadian yang
mengarah pada kondisi force majeure (suatu keadaan yang terjadi
diluar kemampuan manusia), dengan contoh antara lain:
x Jembatan hancur tersapu banjir.
x Kelompok tidak dapat membayar cicilan karena dananya
dirampok/ bencana alam.
x Terjadi gagal panen karena terserang hama.

Hal-hal yang diadukan seringkali tidak hanya terdiri dari satu kategori
permasalahan saja, tetapi juga mencakup kategori permasalahan
lainnya. Untuk itu dalam mengkategorikan suatu masalah perlu dilihat
aspek apa yang paling menonjol menjadi inti permasalahannya. Aspek
inilah yang dijadikan dasar untuk mengelompokkan jenis pengaduan
masuk dalam kategori 1,2,3 atau 4.


Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
5
8.3.2 Masalah Manajerial

Masalah manajerial adalah masalah yang muncul akibat pelaksanaan
sistem manajerial berkaitan dengan pembinaan dan pendampingan serta
dukungan administrasi program yang tidak optimal, dengan contoh antara
lain:
x Administrasi UPK tidak lengkap/tidak tertib/ belum memadai.
x Tim Pemelihara/pelestarian tidak berfungsi.
x Terjadi tunggakan atau kemacetan pengembalian UEP/SPP
(bukan karena penyimpangan prinsip dan prosedur, intervensi
negatif atau penyimpangan dana).
x Kinerja UPK / TPK rendah.
x Gaji Konsultan terlambat.
x Pekerjaan fisik terlambat (bukan karena penyimpangan prinsip
dan prosedur, intervensi negatif atau penyimpangan dana, tetapi
karena hujan atau material susah didapat, dan lain-lain).
x Partisipasi masyarakat dalam MD/MAD rendah.
x Kinerja Fasilitator Kecamatan/Konsultan rendah.

Penanganan masalah manajerial dilakukan oleh pihak yang bertanggung
jawab dalam pembinaan dan pendampingan yang ditangani secara
manajerial, baik oleh TK PNPM Mandiri Perdesaan maupun oleh konsultan
supervisor secara berjenjang. Pada tingkat provinsi dan pusat, SP2M
bertanggungjawab dalam hal pendataan, pengadministrasian dan
monitoring penyelesaian.

8.4. Derajat Penanganan MasaIah

Sejalan dengan prinsip berjenjang yang dianut dalam standar penanganan
pengaduan dan masalah, maka setiap masalah yang muncul ditetapkan
derajat penanganan masalah. Derajat masalah (DM) digunakan untuk
menentukan pada tingkat mana suatu masalah harus mendapat dukungan
yang optimal dalam rangka mendorong percepatan penyelesaian masalah.
Penentuan derajat masalah dilakukan oleh masyarakat, pelaku program,
konsultan lapangan bersama TK PNPM Mandiri Perdesaan/aparat terkait
melalui forum musyawarah secara berjenjang dan dievaluasi setiap bulan
atau sewaktu-waktu disesuaikan dengan progres, dampak dan tingkat
kesulitan masalah.

Penentuan derajat masaIah bukan berarti pengaIihan/peIimpahan
kewenangan penanganan masaIah kepada jenjang di atasnya. Artinya
jenjang dimana masaIah terjadi tetap harus menjadi peIaku utama
daIam proses penanganan masaIah sedangkan jenjang di atasnya
memberikan dukungan penanganan sesuai kebutuhan.
Derajat penanganan masalah diatur sebagai berikut :

a. Derajat 1
Derajat 1 merupakan upaya penanganan masalah pada tingkat desa
atau kecamatan. Semua pelaku program di tingkat desa (Tim
Penanganan Masalah, Masyarakat, Kades, BPD, TPK, KPMD, Tim

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
6
Monitoring/ pihak terkait, dan lain-lain) dan di tingkat kecamatan (Tim
Penanganan Masalah, Fasilitator Kecamatan, Pendamping Lokal,
Camat, PjOK, Aparat terkait, BKAD, Badan Pengawas UPK, Pengurus
UPK, Tokoh Masyarakat, dan lain-lain) mempunyai tugas dan tanggung
jawab untuk mendorong percepatan penanganan dan penyelesaian
masalah.

b. Derajat 2
Apabila penanganan masalah di tingkat desa dan kecamatan
memerlukan dukungan penanganan yang optimal oleh pelaku PNPM
Mandiri Perdesaan di tingkat kabupaten baik dari Fasilitator maupun TK
PNPM Mandiri Perdesaan/aparat/pihak terkait lainnya dalam rangka
mendorong percepatan penyelesaian masalah.

c. Derajat 3
Apabila kemajuan penanganan masalah pada tingkat desa atau
kecamatan/kabupaten memerlukan dukungan penanganan yang
optimal oleh pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di tingkat provinsi baik
dari konsultan maupun TK PNPM Mandiri Perdesaan/aparat/pihak
terkait lainnya dalam rangka mendorong percepatan penyelesaian
masalah.

d. Derajat 4
Apabila progres penanganan masalah pada tingkat desa atau
kecamatan/kabupaten/ provinsi memerlukan dukungan penanganan
yang optimal oleh pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di tingkat pusat
baik dari konsultan maupun TK PNPM Mandiri Perdesaan/aparat/pihak
terkait lainnya dalam rangka mendorong percepatan penyelesaian
masalah.


8.5. Sistem dan Prosedur Penanganan MasaIah

8.5.1. Sumber informasi

Pengaduan dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain: warga
masyarakat, tokoh masyarakat, kelompok masyarakat, LSM, ormas,
orsospol, aparat pemerintah, konsultan, wartawan, dan lain-lain, melalui :
x Surat/fax, telepon/sms, email, berita langsung kepada TK PNPM
Mandiri Perdesaan (Pusat, Provinsi, Kabupaten) dan Konsultan/
Fasilitator (Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kecamatan).
x Hasil pemantauan lapangan dari TK PNPM Mandiri Perdesaan,
konsultan, fasilitator atau pihak-pihak lainnya.
x Berita dari media massa (cetak dan elektronik).
x Hasil pemeriksaan/temuan BPKP dan Banwasda.
x Hasil pemeriksaan/temuan Badan Pengawas UPK dan BKAD.





Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
7
8.5.2. Tahapan Pengelolaan Pengaduan Masyarakat

Pengaduan yang muncul ditindaklanjuti melalui tahapan penanganan
sebagai berikut:

a. Registrasi dan Dokumentasi

Setiap pengaduan/masalah yang muncul, dimasukkan dalam buku arsip
(log book) dimaksudkan sebagai mekanisme kontrol. Halhal yang perlu
dicatat dan didokumentasikan antara lain :
i. Nomor arsip.
ii. No. surat (jika ada).
iii. Tanggal pengiriman dan penerimaan pengaduan.
iv. Sumber/asal pengaduan/pengirim/identitas pengiriman (nama,
alamat, usia, pekerjaan dan institusinya).
v. Lokasi dan waktu kejadian.
vi. si pengaduan berupa isu-isu apa saja yang disampaikan.
vii. Pelaku/subyek dan identitas yang diadukan, baik subyek yang
masuk dalam unsur pelaksana (aparat, konsultan, elit desa atau
masyarakat umum) atau subyek-subyek lainnya.

b. PengeIompokan dan Distribusi

Pengaduan yang telah dicatat atau diregistrasi dan didokumentasikan,
selanjutnya dikelompokkan berdasarkan :
i. Jenjang subyek yang diadukan.
ii. su pengaduan untuk menentukan kategori masalah.
iii. Status pengaduan, termasuk kasus lama, kasus lanjutan,
dampak ikutan dari masalah yang telah ada, ataukah informasi
informasi tambahan tentang masalah yang sudah ada.

Tahapan berikutnya adalah pendistribusian masalah sesuai dengan
jenjang kewenangan penanganan masalah, isu dan status pengaduan.
Jika ditemui kasus-kasus yang di pandang akan berdampak lebih luas
dari keberadaan kasus tersebut, maka pendistribusiannya disesuaikan
dengan luasan dampak yang diperkirakan muncul(lihat Lampiran 1).

c. Uji SiIang dan AnaIisis

Berdasarkan pengaduan/laporan yang diterima, maka dilakukan uji
silang untuk menguji kebenaran dari laporan/pengaduan tersebut. Uji
silang dapat dilakukan melalui pihakpihak terkait pada jenjang dimana
masalah terjadi untuk mendapatkan halhal berikut :
i. Kepastian pokok permasalahan yang muncul (subyek/pelaku,
lokasi, inti masalah, data kuantitatif, dan sebagainya).
ii. Kepastian status kasus, apakah sudah ditangani, sudah pernah
ditangani/ diselesaikan/dalam proses penanganan/dalam proses
uji silang/proses analisis, dan sebagainya.
iii. Mendapatkan informasi/data/fakta/bukti pendukung.


Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
8
Hasil uji silang terhadap pengaduan/laporan masalah merupakan
masukan untuk menganalisis permasalahan yang muncul sehingga
meningkatkan akurasi penyusunan alternatif penanganan. Hasil analisis
berupa rekomendasi tentang penanganan masalah dengan
menggambarkan :
i. Risalah permasalahan dari pengaduan.
ii. nformasi hasil uji silang (informasi pendukung).
iii. Risalah permasalahan hasil uji silang.
iv. Rekomendasi penanganan.


d. Tindak Turun Tangan

Tindak turun tangan didasarkan atas rekomendasi dari hasil uji silang
dan analisis yang dilakukan secara berjenjang sesuai dengan
kewenangan dari wilayah. Tindak turun tangan antara lain dapat
berupa :
i. Memfasilitasi masyarakat melaksanakan forum MD/MAD untuk
membahas permasalahan dan mencari alternatif solusi
penanganan. Pada forum ini bisa dibentuk tim khusus
penanganan masalah secara ad hoc yang mempunyai tugas
khusus untuk pro-aktif mendorong penanganan dan
penyelesaian masalah (dapat juga memanfaatkan tim yang
sudah dibentuk dalam program).
ii. Klarifikasi atau investigasi lanjutan dengan pihak/unsur terkait
untuk melengkapi fakta/bukti pendukung tentang inti
permasalahan.
iii. Penjelasan kembali kepada pelapor, tentang inti masalah setelah
dilakukan uji silang.
iv. Memberikan teguran dan atau sanksi kepada pelaku-pelaku yang
dinilai bersalah.
v. Menjelaskan kembali tentang prosedur yang seharusnya
dilakukan dan memfasilitasi ulang proses yang tidak sesuai
ketentuan.
vi. Jika ada unsur yang memenuhi tindak pidana dapat difasilitasi
penanganannya melalui prosedur hukum berdasarkan
kesepakatan masyarakat dalam forum MD/ MAD/rapat koordinasi.
vii. Membangun jaringan dengan Kepolisian/Kejaksaan/
Pengadilan/Aparat terkait/DPRD/LSM/lembaga yang bergerak di
bidang advokasi/Wartawan/media massa dalam rangka upaya
mendorong percepatan penanganan dan penyelesaian masalah.
viii. Berkaitan dengan kondisi force majeure, maka perlu difasilitasi
forum MD/ MAD untuk membicarakan langkah-langkah
penanganan sesuai ketentuan yang berlaku. Pada forum tersebut,
perlu dibentuk tim khusus untuk melakukan investigasi terlebih
dahulu tentang adanya force majeure. Hasil investigasi harus
dilaporkan kembali kepada masyarakat melalui forum
MD/MAD/media lainnya dan dilaporkan kepada pihak terkait
secara berjenjang.


Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
9
Jika pengaduan menyangkut pelanggaran kode etik oleh fasilitator dan
atau konsultan PNPM Mandiri Perdesaan, maka penanganannya juga
mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan dalam pola dasar
penanganan kode etik konsultan dan fasilitator PNPM Mandiri
Perdesaan .

e. Pemantauan Perkembangan PenyeIesaian MasaIah

Pemantauan dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan
penyelesaian masalah serta memastikan bahwa tindak turun tangan
yang dilakukan berjalan sebagaimana mestinya.

Pemantauan dapat dilakukan melalui kunjungan lapangan, surat, fax,
email, telpon, SMS, laporan mingguan atau bulanan/laporan
khusus/insidentil, dan lain-lain. Bila ditemukan bahwa langkahlangkah
yang telah diterapkan kurang efektif/tidak menghasilkan progres yang
berarti, maka segera mencari alternatif solusi lain dalam rangka
mendorong percepatan penanganan masalah.

f. Musyawarah Khusus Penanganan MasaIah

Musyawarah ini diadakan setelah proses tindak turun tangan terhadap
masalah telah dilakukan dan sesuai dengan prinsip dan prosedur
penanganan masalah. Keputusan dari musyawarah ini adalah :
i. Masalah dinyatakan selesai, ataukah
ii. Masalah dinyatakan belum selesai dengan rekomendasi :
9 Dilakukan proses penanganan ulang;
9 Alternatif solusi yang lain;
9 Pengananan masalah diproses melalui jalur hukum formal.

Hasil musyawarah harus dituangkan dalam Berita Acara Musyawarah
Khusus Penanganan Masalah. Hasil musyawarah disosialisasikan
kepada masyarakat melalui papan informasi/media lain dan kegiatan
masyarakat baik formal maupun informal.
Panduan yang dapat digunakan sebagai landasan atau tolok ukur
penyelesaian masalah hingga masalah dikatakan selesai dapat dilihat
pada Lampiran 3.

g. PeIaporan

Kompilasi tentang pengaduan yang muncul dan tindak lanjut
penanganan, baik yang telah ditangani maupun yang sedang dalam
proses penanganan oleh tiap jenjang, dilaporkan sebagai kelengkapan
dari laporan bulanan yang dilaksanakan secara berjenjang.
Berdasarkan laporan ini, jika ada masalah yang tidak dapat diselesaikan
atau proses penyelesaiannya berlarut-larut, maka jenjang diatasnya
atau pihak-pihak terkait lainnya dapat memantu penyelesaiannya.
Format laporan penanganan penyelesaian masalah dapat dilihat pada
Lampiran 4.


Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
10
Pelaporan dimaksudkan sebagai gambaran kemajuan penanganan
masalah yang terjadi di lapangan. Terkait dengan tugas dan tanggung
jawabnya, fasilitator dan konsultan juga memiliki tugas administratif
berupa pelaporan progres penanganan masalah secara berjenjang, baik
itu masalah implementasi maupun masalah manajerial. Alur pelaporan
dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Pengirim Penerima Tembusan
Periode
Laporan
Ketera
ngan
Fasilita
tor
Kecama
tan
Faskab PjOK
Mingguan
dan
Bulanan
Faskab KM
Propinsi
TK PNPM
Mandiri
Perdesaan
Kab.
Mingguan
dan
Bulanan
KM
Propinsi
KM
Nasional
TK PNPM
Mandiri
Perdesaan
Prop.

Bulanan
KM
Nasional
TK PNPM
Mandiri
Perde
saan
Pusat


Bulanan
Ada
laporan
insi
den
til jika
diminta

8.5.3. Penanganan MasaIah Pada Lokasi Phase Out

Masalah-masalah yang masih dalam proses penanganan pada suatu lokasi
yang telah berakhir masa pendampingan program (phase out), tetap
merupakan tanggung jawab masyarakat dan pemerintah daerah untuk
menyelesaikannya. Namun demikian, konsultan/fasilitator secara
berjenjang masih memiliki tanggung jawab dalam pendampingannya.
Mengingat bahwa untuk lokasi yang telah phase out sudah tidak terdapat
lagi fasilitator lapangan yang ditempatkan, maka dirumuskan strategi
penanganan khusus lokasi phase out sebagai berikut :

a. Untuk kecamatan yang telah phase out, secara manajerial tanggung
jawab pendampingan dan pemantauan oleh TK PNPM Mandiri
Perdesaan Kabupaten, Faskab, Camat dan Kepala Desa yang masih
mempunyai masalah.

b. Untuk kabupaten yang telah phase out, secara manajerial tanggung
jawab pendampingan dan pemantauan oleh TK PNPM Mandiri
Perdesaan Propinsi dan konsultan provinsi setempat.


Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
11
Agar semua masalah di lokasi phase out dapat ditangani secara baik, maka
teknis pelaksanaan penanganan dan distribusi tanggungjawab dilakukan
dengan tahapan sebagai berikut :

a. Pertemuan konsolidasi di semua jenjang baik di provinsi, kabupaten,
kecamatan maupun di desa sesuai kebutuhan untuk mengevaluasi
progres penanganan, menganalisis serta menyusun rekomendasi
langkah penanganan masalah.
b. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk membentuk dan
mengoptimalkan fungsi Tim Penanganan Masalah.
c. Proses penanganan pengaduan dan masalah tetap mengacu pada
prosedur penanganan pengaduan dan masalah yang berlaku.

Alur penanganan masalah pada lokasi phase out bisa dilihat pada
Lampiran 5.

8.6. Peran PeIaku PNPM Mandiri Perdesaan DaIam Penanganan MasaIah

Konsultan dan fasilitator pendamping sangat besar peranannya dalam
memfasilitasi masyarakat untuk melakukan penanganan masalah,
termasuk melakukan pemantauan terhadap proses penanganannya.
Adapun peran dan tugas tersebut adalah sebagai berikut :
a. Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPM-D)
Salah satu tugas penting KPM-D, yaitu memfasilitasi masyarakat dalam
penanganan permasalahan yang terjadi di desanya. Dalam memfasilitasi
suatu penanganan masalah perlu ditumbuhkembangkan kesadaran
masyarakat untuk selalu memantau atau melakukan kontrol terhadap
setiap langkah penanganannya. Untuk lebih memastikan penanganan
masalah tetap mengacu pada prinsip dan prosedur, maka setiap ada
permasalahan dan tindak lanjut penanganan yang telah dilakukan oleh
KPM-D agar dilaporkan kepada fasilitator kecamatan.

b. Pendamping LokaI
Tugas penting pendamping lokal dalam setiap penanganan
permasalahan, yaitu membantu dalam melakukan pendekatan kepada
masyarakat, proses klarifikasi, uji silang, investigasi dan menyiapkan
agenda pertemuan musyawarah desa sebagai salah satu media
pemecahan masalah.

c. FasiIitator Kecamatan (FasiIitator Kecamatan)
i. Melakukan analisis pemecahan masalah sampai strategi tindakan
yang harus dilakukan.
ii. Berkoordinasi dengan Faskab, dan bekerja sama dengan lembaga-
lembaga masyarakat seperti: lembaga advokasi hukum, LSM yang
bergerak di bidang korupsi atau bidang pemberdayaan masyarakat
dalam rangka pemecahan masalah yang tidak terselesaikan di tingkat
desa.
iii. Membuat rekomendasi dan rencana strategi penanganan yang terukur
dan dapat dilakukan oleh KPM-D atau pendamping lokal.

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
12
iv. Memfasilitasi pertemuan masyarakat di tingkat desa maupun antar
desa dalam proses penanganan permasalahan, serta mengundang
elemen-elemen masyarakat yang ada di wilayah kerjanya.
v. Bertanggung jawab penuh dalam proses penanganan permasalahan
sampai di nyatakan selesai.
vi. Melaporkan setiap permasalahan yang muncul dan tindak lanjut
penanganannya kepada jenjang di atasnya.

d. FasiIitator Kabupaten (Faskab)
i. Membantu Fasilitator Kecamatan dan jajaran di bawahnya dalam
membuat analisis sampai strategi tindakan penanganan, serta
membantu merencanakan tindakan penyelesaian masalah secara
tepat, cepat, dan terukur.
ii. Melakukan koordinasi dengan TK PNPM Mandiri Perdesaan
Kabupaten dan menjalin hubungan dengan pihak Kejaksaan,
Lembaga Advokasi Hukum, atapun LSM-LSM yang mempunyai
kepedulian terhadap pemberantasan korupsi atau pemberdayaan
masyarakat sebagai langkah antisipasi jika permasalahan harus
melibatkan lembaga-lembaga tersebut.
iii. Melakukan pemantauan terhadap langkah penanganan masalah yang
telah dilakukan oleh jenjang di bawahnya.
iv. Melakukan klarifikasi, uji silang dan investigasi kelapangan jika
masalah tidak terselesaikan di tingkat kecamatan atau berlarut-larut
dalam penyelesaiannya.
v. Memberikan laporan secara periodik kepada jenjang yang lebih tinggi.
vi. Bertanggung jawab penuh dalam penanganan masalah sampai
dinyatakan selesai.

e. KM Provinsi
i. Bertanggung jawab penuh terhadap tindak lanjut penanganan
masalah sampai selesai.
ii. Memberikan teguran kepada jajaran di bawahnya, bilamana yang
bersangkutan kurang memberikan dukungan dalam penyelesaian
masalah.
iii. Mengembangkan hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga
yang kompeten dan dapat di akses oleh jenjang di bawahnya dalam
rangka penyelesaian masalah.
iv. Berkoordinasi dengan Spesialis Penanganan Pengaduan dan
Masalah di kantor Propinsi dan Pusat berkenaan dengan
permasalahan yang krusial atau berdampak luas.

f. SpesiaIis Penanganan Pengaduan dan MasaIah (SP2M) di Tingkat
Provinsi
i. Membantu Faskab dan jajaran di bawahnya dalam membuat analisis
sampai strategi tindakan penanganan, serta mambantu
merencanakan tindakan penyelesaian masalah secara tepat, cepat,
dan terukur.
ii. Proaktif dalam memberikan informasi permasalahan dan dukungan
percepatan penyelesaian masalah di wilayah kerjanya.

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
13
iii. Berkoordinasi dan memberikan informasi atau laporan secara berkala
kepada KM Provinsi dan Spesialis Penanganan Pengaduan dan
Masalah di tingkat pusat.
iv. Menjalin hubungan dengan lembaga Kejaksaan, Kepolisian, Advokasi
hukum, LSM yang kompeten pada kasus Korupsi dan lembaga-
lembaga lainnya.
v. Mengagendakan pertemuan rutin bulanan dengan Faskab dan
Fasilitator Kecamatan pada wilayah kerjanya, serta berkoordinasi
secara aktif dengan KM Propinsi dan konsultan provinsi lainnya dalam
rangka percepatan penyelesaian masalah.
vi. Melakukan investigasi secara langsung terhadap permasalahan yang
bersifat krusial pada wilayah kerjanya.
vii. Mendorong dan memfasilitasi Faskab dan Fasilitator Kecamatan
melakukan koordinasi dengan lembaga hukum/lembaga yang
kompeten, terutama permasalahan yang krusial atau penyimpangan
dana program.
viii. Membuat rekomendasi guna penyelesaian masalah pada wilayah
kerjanya.
ix. Bertanggung jawab penuh sampai permasalahan di anggap selesai
pada wilyah kerjanya.
x. Memberikan masukan kepada KM Provinsi terhadap penilaian kinerja
konsultan.

g. SpesiaIis Penanganan Pengaduan dan MasaIah di Tingkat Pusat
i. Mengembangkan panduan praktis penanganan masalah.
ii. Memantau dan melakukan supervisi penanganan masalah maupun
keluhan dari lapangan dan khususnya berkoordinasi dengan Spesialis
Penanganan Pengaduan dan Masalah di setiap provinsi.
iii. Mengembangkan jaringan kerjasama dan komunikasi dengan LSM
untuk memfasilitasi pengaduan masyarakat bersama-sama dengan
Spesialis Penanganan Pengaduan dan Masalah di setiap provinsi.
iv. Mengkoordinasikan dan memfasilitasi pertemuan reguler penanganan
masalah di tingkat pusat dan provinsi.
v. Melakukan uji silang dan uji petik atau investigasi khusus secara
langsung terhadap pengaduan atau masalah yang serius/menonjol.
vi. Menghimpun informasi, analisis.
vii. data/informasi, serta merumuskan rekomendasi penyelesaian
masalah yang serius/menonjol.
viii. Menyiapkan laporan insidentil dan laporan bulanan penanganan
masalah berdasarkan laporan bulanan dari provinsi ataupun lokasi
PNPM Mandiri Perdesaan.
ix. Memantau tindak lanjut penyelesaian masalah dan memfasilitasi
upaya/proses hukum kasus penyimpangan dana PNPM Mandiri
Perdesaan bersama dengan pihak-pihak terkait.







Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
14

Lampiran 1

BAGAN ALIR
DISTRIBUSI INFORMASI PENGADUAN DAN TEMUAN MASALAH


PeIaku Tingkat Pusat






PeIaku Tingkat WiIayah / Propinsi








PeIaku Tingkat Kabupaten








PeIaku Tingkat Kecamatan







PeIaku Tingkat Desa












TK PNPM Mandiri
Perdesaan Pusat
KM Propinsi
FasiIitator
Kecamatan
KPM-D
Camat
TPK / Kades / BPD
atau nama Iainnya
TK PNPM Mandiri
Perdesaan
Propinsi
TK PNPM Mandiri
Perdesaan
Kabupaten
I
n
f
o
r
m
a
s
i

P
e
n
g
a
d
u
a
n

T
e
m
u
a
n

M
a
s
a
I
a
h

MASYARAKAT
Keterangan:
Garis Tujuan Pengaduan
Garis Distribusi
Garis Koordinasi
FasiIitator
Kabupaten
KM NasionaI

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
15

Lampiran 2


BAGAN ALIR
PENANGANAN PENGADUAN DAN MASALAH











































Keterangan:

Garis Alur Penanganan

Pengaduan / MasaIah
Uji SiIang /
KIarifikasi
Benar Tidak
Tindak Turun
Tangan
Jenjang PeIaku
di atasnya
SeIesai Tidak SeIesai
Diseminasi hasiI penanganan
kepada masyarakat
PeIaku Pada Jenjang
MasaIah

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
16
Garis Pemantauan
Penjelasan Lampiran 2

TINDAK TURUN TANGAN PENANGANAN
PENGADUAN DAN TEMUAN MASALAH


1. Lakukan uji silang/klarifikasi terhadap pengaduan dan temuan masalah.

2. Adakan pertemuan dengan masyarakat desa dan kecamatan.

3. Sampaikan informasi tentang adanya pengaduan dan temun masalah yang
terjadi.

4. Sampaikan hasil klarifikasi atau uji silang yang telah dilakukan.

5. Pastikan dengan peserta pertemuan tentang hasil klarifikasi yang telah dilakukan.

6. Jika hasil klarifikasi sudah dipastikan kebenarannya fasilitasi peserta untuk
membahas dan membuat langkah-langkah apa yang diperlukan.

7. Buat berita acara hasil pertemuan dan dilampirkan dengan daftar hadir
pertemuan tersebut.

8. Laksanakan langkah-langkah yang telah diputuskan dalam pertemuan
masyarakat desa tersebut.

9. Pantau/monitor terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan sampai dengan
permasalahan selesai.

10. Buat laporan hasil penanganan kepada pelaku jenjang di atasnya sampai
permasalahan selesai.

11. Jika masalah menjadi berlarut-larut dan tidak terselesaikan sampaikan kepada
jenjang di atasnya agar membantu upaya penanganannya.

















3(17,1*8178.',3(5+$7,.$1

a. Penanganan pengaduan dan atau masalah harus dilakukan secara
terbuka dan melibatkan masyarakat.
b. Pertemuan dengan masyarakat jangan hanya dilakukan dengan
kelompok masyarakat tertentu saja.
c. Pada saat klarifikasi: rahasiakan identitas orang yang membuat
pengaduan kecuali yang bersangkutan menghendakinya, jangan
terjebak lebih pada mencari orang yang mengadukan dan
melupakan isi pengaduannya.

Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
17
Lampiran 3
PANDUAN PENYELESAIAN MASALAH


Penanganan pengaduan atau masalah dinyatakan selesai, bila :

(a) Ada langkah-langkah nyata terhadap penanganan masalah meliputi:
(i) Jika kesalahan menyangkut penyimpangan prinsip dan prosedur
termasuk karena adanya intervensi yang merugikan masyarakat
maupun program, maka proses dan prosedur yang disimpangkan
atau kegiatan yang dilakukan berdasarkan intervensi negatif
tersebut telah dikembalikan sesuai dengan aturan atau prinsip-
prinsip yang seharusnya.
(ii) Kegiatan yang terbengkalai dapat diselesaikan sesuai dengan
rencana yang telah disepakati.
(iii) Jika ada penyimpangan dana maka dana yang disimpangkan
telah dikembalikan kepada pihak yang berhak dan digunakan
kembali sesuai peruntukkannya.
(iv) Bagi yang bersalah mendapatkan teguran dan sanksi yang
berlaku secara proporsional dan sesuai tingkat kesalahannya.
(v) Terhadap masalah yang penanganannya sudah sampai pada
wilayah hukum maka dinyatakan selesai jika prosesnya sudah
pada pihak pengadilan. Namun demikian konsultan dan fasilitator
dengan melibatkan masyarakat tetap harus memantau proses
perkembangannya. Sambil menunggu keputusan pengadilan,
konsultan dan fasilitator berkoordinasi dengan pemerintah
setempat untuk mencari jalan penyelesaian kegiatan dan/ atau
tetap memfasilitasi masyarakat untuk berupaya menyelesaikan
kegiatan atau pekerjannya.
(vi) Terhadap permasalahan yang dinyatakan benar-benar karena
kondisi force majeur, semaksimal mungkin tetap diupayakan
adanya langkah perbaikan terhadap kegiatan yang mengalami
kerusakan, baik melalui swadaya masyarakat atau pihak-pihak
lain yang memungkinkan membantu upaya perbaikan. Jika
kegiatan menyangkut pinjaman bergulir maka proses pengambilan
keputusannya harus didasarkan atas investigasi terlebih dahulu
untuk memastikan kebenarannya. Harus ada penjelasan kepada
masyarakat bahwa kejadian yang menimpa benar-benar diluar
kemampuan seorang manusia sehingga anggota masyarakat
yang lain benar-benar memahami dan tidak akan menuntut
perlakuan yang sama dengan mereka yang terkena kondisi force
majeur tersebut.

(b) Masyarakat menyatakan selesai dalam musyawarah khusus
penanganan masalah


Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
18
(c) Ada bukti-bukti pendukung dan saksi-saksi terhadap upaya
penanganan pengaduan yang dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya, seperti: kuitansi sebagai bukti pengembalian dana,
rekening bank, foto, Berita Acara Penanganan masalah. Jika
dikemudian hari ternyata ditemukan adanya ketidakbenaran terhadap
bukti-bukti dan saksi-saksi proses penanganan masalah, maka
masalah tersebut akan dibuka kembali dan dinyatakan belum selesai
P
e
n
j
e
l
a
s
a
n

V
I
I
I


:


S
i
s
t
e
m

P
e
n
g
e
l
o
l
a
a
n

P
e
n
g
a
d
u
a
n

M
a
s
y
a
r
a
k
a
t



1
9

L
a
m
p
i
r
a
n

4


P
R
O
G
R
A
M

N
A
S
I
O
N
A
L

P
E
M
B
E
R
D
A
Y
A
A
N

M
A
S
Y
A
R
A
K
A
T


M
A
N
D
I
R
I

P
E
R
D
E
S
A
A
N

L
A
P
O
R
A
N

P
R
O
G
R
E
S

D
A
N

R
E
K
O
M
E
N
D
A
S
I

P
E
N
A
N
G
A
N
A
N

M
A
S
A
L
A
H

































K
e
t
e
r
a
n
g
a
n
:

1
.

K
o
d
e

K
a
s
u
s
:

N
o
.

u
r
u
t
/

K
o
d
e

K
a
b
.
/

M
a
s
a
l
a
h

y
a
n
g

t
e
r
j
a
d
i

d
a
r
i

s
u
m
b
e
r

d
a
n
a

P
N
P
M

M
a
n
d
i
r
i

P
e
r
d
e
s
a
a
n

t
a
h
u
n

k
e

b
e
r
a
p
a
?

2
.

N
i
l
a
i

p
e
n
y
i
m
p
a
n
g
a
n

(
d
a
l
a
m

R
u
p
i
a
h
)

y
a
n
g

d
i
t
u
l
i
s

h
a
n
y
a

u
n
t
u
k

k
a
t
e
g
o
r
i

2

s
a
j
a

3
.

K
a
t
.

=

K
a
t
e
g
o
r
i

M
a
s
a
l
a
h
,

K
-
K
-
D

=

K
a
b
u
p
a
t
e
n


K
e
c
a
m
a
t
a
n


D
e
s
a
T
a
n
g
g
a
|
|
T
a
h
u
n

P
r
o
g
r
e
s

N
o

K
o
d
e

K
a
s
u
s

8
u
m
b
e
r

|
n
f
o
r
m
a
s
|
|

T
e
m
u
a
n

P
e
|
a
k
u

K
a
t
.

K
-
K
-
0

K
e
j
a
d
|
a
n

0
|
k
e

t
a
h
u
|

H
a
s
a
|
a
h

R
e
k
o
m
e
n
d
a
s
|

T
a
r
g
e
t

P
e
n
a
n
g
a
n
a
n

T
g
|
.

U
r
a
|
a
n











P
e
n
y
|
m
p
a
n
g
a
n

0
a
n
a

[

R
p
.

}

8
t
a
t
u
s

P
e
n
a
n
g
a
n
a
n

N
|
|
a
|

P
e
n
y
|
m
p
a
n
g
a
n

N
|
|
a
|

P
e
n
g
e
m
b
a
|
|
a
n

K
e
p
o
|
|
s
|
a
n
|

K
e
j
a
k
s
a
a
n
|

P
e
n
g
a
d
|
|
a
n
|















P
u
t
u
s
a
n

T
e
t
a
p
|

N
o
n

L
|
t
|
g
a
s
|

P
r
o
s
e
s
|
8
e
|
e

s
a
|
?

1

0
0
1

Z
3
2
1

3
1
3
0


0
D
Q
G
L
U
L

3
H
U
G
H
V
D
D
Q

1






















Penjelasan VIII : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat

20
Lampiran 5
PENANGANAN MASALAH
LOKASI PHASE OUT


(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN IX
PENDANAAN DAN ADMINISTRASI KEGIATAN
PNPM MANDIRI PERDESAAN

Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 1
PENJELASAN IX

PENDANAAN DAN ADMINISTRASI KEGIATAN
PNPM MANDIRI PERDESAAN


Pendanaan PNPM Mandiri Perdesaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pendanaan
tersebut dilakukan melalui proses penyaluran dan pencairan dana.

Pada prinsipnya, semua proses terkait dengan penyaluran dan pencairan dana PNPM
Mandiri Perdesaan di kecamatan dikelola dan diadministrasikan oleh Unit Pengelola
Kegiatan (UPK), sedangkan kegiatan pengelolaan dan pengadministrasian di desa
dilaksanakan oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK).

Administrasi kegiatan dimaksud adalah administrasi kegiatan yang dimulai dari proses
perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan, pengendalian kegiatan serta administrasi dan
pelaporan keuangan.


9.1. Pencairan Dana PNPM Mandiri Perdesaan

Pencairan dana PNPM Mandiri Perdesaan adalah aliran dana Bantuan Langsung
Masyarakat (BLM) kecamatan yang bersumber dari APBD melalui Kantor Kas
Daerah setempat dan APBN melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
(KPPN) ke kecamatan.

9.1.1. Sumber Dana BLM PNPM Mandiri Perdesaan
PNPM Mandiri Perdesaan merupakan program Pemerintah Pusat bersama
Pemerintah Daerah, artinya program ini direncanakan, dilaksanakan dan
didanai bersama-sama berdasarkan persetujuan dan kemampuan yang
dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Daerah.

Sumber dana berasal dari:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
c. Swadaya masyarakat
d. Partisipasi dunia usaha

9.1.2. Mekanisme Pencairan Dana BLM PNPM Mandiri Perdesaan
Pencairan dana dari KPPN ke kecamatan dilakukan melalui UPK. Pencairan
dana BLM dari APBN dilakukan melalui KPPN ke rekening kolektif dengan
nama Rekening Bantuan PNPM Mandiri Perdesaan pada bank pemerintah
setempat atau bank lainnya sesuai keputusan masyarakat. Tata cara dan
dokumen yang harus disiapkan dalam proses pencairan dana BLM yang
bersumber dari APBN akan diatur secara tersendiri melalui Peraturan Dirjen
Perbendaharaan, Departemen Keuangan serta Peraturan Dirjen PMD,
Departemen Dalam Negeri.
Sedangkan pencairan dana BLM yang bersumber dari APBD dilakukan
melalui Kantor Kas Daerah setempat ke rekening kolektif dengan nama
Rekening Bantuan PNPM Mandiri Perdesaan pada bank pemerintah
setempat atau bank lainnya sesuai keputusan masyarakat. Dana yang berasal
dari APBD harus dicairkan terlebih dahulu ke rekening kolektif BPNPM di
UPK, selanjutnya diikuti dengan pencairan dana yang berasal dari APBN.


Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 2
Fasilitator Kabupaten harus memastikan ketersediaan dana tersebut dan ikut
memfasilitasi proses pencairannya hingga masuk ke rekening UPK..
Nilai BLM yang akan dicairkan dari Kantor Kas Daerah selanjutnya
dicantumkan dalam Surat Perjanjian Pemberian Dana (SP2D). Total dana
yang akan dicairkan dari Kantor Kas Daerah adalah total nilai sesuai
ketentuan yang akan digunakan untuk membiayai usulan kegiatan yang
telah ditetapkan dalam Surat Penetapan Camat (SPC) di luar beban pajak
daerah.

Rekening Bantuan PNPM Mandiri Perdesaan dapat berupa rekening Giro
ataupun rekening Tabungan. Rekening tersebut dibuka dengan spesimen
tanda tangan:(1) Ketua UPK, (2) Fasilitator Kecamatan, dan (3) Wakil
Masyarakat yang telah ditetapkan dalam Musyawarah Antar Desa (MAD).
Setiap pergantian personil dari ketiga pihak tersebut harus dilakukan
penggantian spesimen tanda tangan. Apabila terjadi pergantian Fasilitator
Kecamatan dalam satu kabupaten, maka sambil menunggu penetapan dapat
dilakukan penggantian spesimen sementara dengan mengalihkannya kepada
Fasilitator Kabupaten.


9.2. PenyaIuran Dana PNPM Mandiri Perdesaan

Penyaluran dana PNPM Mandiri Perdesaan adalah aliran dana PNPM Mandiri
Perdesaan dari rekening kolektif di UPK ke desa melalui Tim Pengelola Kegiatan
(TPK) sesuai dengan rencana kegiatan dan kebutuhan dalam jangka waktu tertentu.

9.2.1. Mekanisme PenyaIuran Dana PNPM Mandiri Perdesaan
a. Sebelum penyaluran dana ke desa dilakukan, maka dibuat Surat
Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB) antara UPK dan TPK yang
diketahui oleh camat dan tiap-tiap kepala desa. SPPB memuat jenis-jenis
kegiatan yang akan dilaksanakan, dengan melampirkan dokumen-
dokumen sebagai berikut:

Lampiran dokumen kegiatan prasarana sarana meliputi :
Gambaran umum desa;
Peta desa yang menunjukkan lokasi kegiatan;
Peta sosial desa berdasarkan hasil penggalian gagasan;
Hasil penggalian gagasan berdasarkan kalender musim;
Hasil pemetaan Rumah Tangga Miskin (RTM);
Hasil verifikasi usulan desa;
Gambar rencana teknis yang dinyatakan layak oleh Fasilitator
Kecamatan atau Fasilitator Kabupaten.;
Formulir masalah dampak lingkungan;
Rencana Anggaran Biaya Detail;
Copy kontrak pengadaan bahan dan material serta sewa alat berat;
Foto 0% dari prasarana yang akan dibangun/direnovasi;
Jadwal pelaksanaan;
Surat pernyataan TPK yang menyatakan telah menerima swadaya
sesuai dengan yang dicantumkan dalam usulan desa;
Surat pernyataan sanggup memelihara prasarana yang akan
dibangun.

Lampiran dokumen kegiatan simpan pinjam dan peningkatan kualitas
hidup lainnya, yaitu:
Hasil pemetaan RTM;

Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 3
Peta sosial desa dan lokasi penerima manfaat;
Hasil penggalian gagasan dengan kalender musim;
Daftar penerima manfaat, besarnya nilai manfaat (SPP dan beasiswa),
dan jangka waktu pengembalian pinjaman (SPP);
Rencana teknis pelaksanaan kegiatan (penyaluran dana beasiswa,
pelatihan, posyandu, pemberian makanan tambahan,dan lain-lain.);
Jadwal pengembalian untuk kegiatan simpan pinjam;
Sanksi yang telah disepakati baik dalam musyawarah kelompok,
Musdes maupun MAD;
Swadaya kelompok;

b. Dokumen pengajuan tersebut diperiksa kelengkapan dan keabsahannya
oleh UPK dan Fasilitator Kecamatan. Kemudian UPK menyiapkan slip
penarikan dari rekening kolektif dan Kuitansi-2 (KW-2).

c. Penyaluran dana dari UPK ke TPK harus dilakukan sesuai dengan
kebutuhan dan jadwal pelaksanaan kegiatan desa. Kebutuhan dan jadwal
pelaksanaan kegiatan desa selanjutnya dituangkan dalam Rencana
Penggunaan Dana (RPD) yang disiapkan oleh Kader Pemberdayaan
Masyarakat (KPM) dan TPK tiap-tiap desa untuk selanjutnya diverifikasi
oleh UPK dan Fasilitator Kecamatan di kecamatan.

d. Setiap pengajuan penyaluran dana, TPK harus menyampaikan Laporan
Penggunaan Dana (LPD) dari RPD sebelumnya disertai dengan bukti-
bukti pertanggungjawabannya.

e. Sebelum penyaluran dana terakhir, TPK dan KPMD membuat Surat
Kesanggupan Menyelesaikan Pekerjaan (SKMP) yang ditandatangani
oleh TPK dan KPM.

f. Setelah kegiatan selesai 100 persen dan sebelum dilaksanakan
Musyawarah Desa Serah Terima (MDST), terlebih dahulu harus dilakukan
sertifikasi oleh Fasilitator Kecamatan terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan.

g. Sebelum dilakukan MDST, dokumen-dokumen pencairan dan
penggunaan dana harus sudah lengkap, diisi dengan benar sesuai
dengan fakta penggunaannya.


9.3. Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan

9.3.1. Administrasi dan PeIaporan Keuangan UPK
Administrasi dan pelaporan keuangan UPK adalah kegiatan untuk
mencatat/merekam semua kejadian/transaksi terkait dengan pengelolaan
keuangan di UPK mulai tahap penyusunan rencana anggaran, pembukuan
sampai penyusunan laporan keuangan. Pengadministrasian dan pelaporan
keuangan di tingkat kecamatan merupakan salah satu tugas utama UPK.
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mendorong transparansi dan
akuntabilitas khususnya dalam pengelolaan keuangan. Oleh sebab itu,
dibutuhkan pencatatan yang jelas, cermat dan akurat serta didukung oleh
bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selanjutnya pencatatan semua transaksi keuangan sampai dengan
penyusunan laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan formulir
standar keuangan yang terdiri dari buku kas harian, buku bank, buku

Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 4
inventaris, laporan arus dana, neraca, laporan operasional keuangan, laporan
perkembangan pinjaman dan laporan kolektibilitas sesuai formulir PTO.
Apabila dalam perjalanannya, UPK membutuhkan sistem pencatatan
transaksi lebih kompleks, maka dapat dikembangkan sistem pencatatan
double entry (jurnal, buku besar, lembar kerja neraca hingga menjadi neraca
saldo dan sebagainya).

Jenis-jenis Administrasi Keuangan dan Dana BerguIir UPK adaIah
sebagai berikut:
a. Buku Kas Harian
Buku kas harian adalah buku untuk mencatat semua transaksi harian baik
pemasukan maupun pengeluaran yang berkaitan dengan uang tunai.
Sesuai dengan penggolongan jenis dana yang dikelolanya, di UPK
terdapat 5 jenis buku kas harian yaitu buku kas harian Dana Operasional
Kegiatan (DOK), buku kas harian Bantuan PNPM Mandiri Perdesaan,
buku kas harian Operasional UPK, buku kas harian Usaha Ekonomi
Produktif (UEP) dan buku kas harian Simpan Pinjam Kelompok
Perempuan (SPP).

b. Buku Bank
Buku bank adalah buku untuk mencatat semua transaksi baik pemasukan
maupun pengeluaran yang berkaitan dengan uang di bank. Sesuai
dengan penggolongan jenis dana dan rekening yang dikelolanya, di UPK
terdapat 5 jenis buku bank yaitu buku bank DOK, buku bank Bantuan
PNPM Mandiri Perdesaan, buku bank Operasional UPK, buku bank UEP
dan buku bank SPP.

c. Buku Inventaris
Buku inventaris adalah buku untuk mencatat semua pembelian barang
inventaris UPK yang mencakup waktu pembelian, jumlah unit, harga
perolehan termasuk nilai penyusutannya.

d. Kartu Kredit/Pinjaman KeIompok
Kartu Kredit Kelompok adalah kartu untuk mencatat setiap penerimaan
angsuran dari kelompok oleh UPK. Dalam kartu ini tercantum jadwal
pembayaran dan besarnya angsuran. Kartu ini bisa juga berfungsi sebagai
bukti pembayaran disamping kuitansi penerimaan uang.

Jenis-jenis PeIaporan Keuangan UPK adaIah sebagai berikut:

a. Laporan Arus Dana
Laporan arus dana adalah laporan yang menggambarkan tentang sumber,
penggunaan dan perubahan dana dalam satu periode tertentu.
Yang dimaksud dengan sumber dana disini adalah semua dana yang
masuk ke UPK selain dana bergulir (revolving fund), seperti BLM dan
DOK, termasuk juga penerimaan bunga bank dari rekening BLM dan
rekening DOK.
Penggunaan dana adalah setiap pengeluaran dana yang terkait dengan
penyaluran BLM ke desa, penyaluran BLM menjadi operasional UPK serta
seluruh penggunaan dana DOK, termasuk pengeluaran pajak dan
administrasi bank yang timbul pada rekening BLM dan DOK.
Sedangkan perubahan dana adalah perubahan posisi saldo awal dan
saldo akhir dana karena adanya transaksi (dana masuk dana keluar)
yang terjadi dalam periode tertentu.

Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 5

b. Neraca
Neraca adalah laporan yang menjelaskan posisi keuangan UPK per
tanggal tertentu (akhir bulan atau akhir tahun/Desember XX).

c. Laporan OperasionaI Keuangan UPK
Laporan operasional keuangan adalah laporan yang menggambarkan
pendapatan dari pengembalian jasa pinjaman, bunga bank yang diterima,
dan lain-lain serta biaya operasional/non operasional UPK yang terjadi
selama satu periode.

Jenis-jenis PeIaporan Dana BerguIir UPK adaIah sebagai berikut:
a. Laporan Perkembangan Pinjaman
b. Laporan Kolektibilitas
c. Laporan Pinjaman Bermasalah
d. Laporan Perkembangan Kelompok
e. Laporan Jenis Kegiatan Kelompok
f. Laporan Pemetaan UPK
g. Laporan Penilaian Kesehatan UPK
h. Laporan Keuangan UPK Microfinance

Secara lebih terperinci, laporan-laporan ini akan dijelaskan pada
Penjelasan X PTO tentang Pengelolaan Dana Bergulir.










9.3.2. Administrasi Proses Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di UPK (Non-
Keuangan)
Administrasi proses kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan adalah kegiatan untuk
mencatat/merekam semua kejadian/peristiwa yang berkaitan dengan proses
PNPM Mandiri Perdesaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pemeliharaan dan pengendalian kegiatan. Pengadministrasian ini dilakukan
agar semua proses kegiatan dapat dipertanggungjawabkan dan dapat
dievaluasi.
Secara umum, jenis-jenis dokumen proses kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan dikelompokan menjadi dokumen perencanaan, dokumen
persiapan pelaksanaan, dokumen administrasi pelaksanaan, dokumen
administrasi penyelesaian, dokumen pemantauan dan evaluasi, dokumen
pemeliharaan serta pelaporan sesuai Buku Formulir PTO PNPM Mandiri
Perdesaan.

9.3.3. PengeIoIaan Kearsipan/Dokumen UPK
UPK diwajibkan menyimpan seluruh dokumen PNPM Mandiri Perdesaan baik
dokumen Keuangan ataupun Non Keuangan. Seluruh dokumen yang ada
adalah milik negara, oleh karena itu mengingat pentingnya dokumen-
dokumen tersebut maka setiap penghilangan atau penggelapan dokumen
mempunyai konsekuensi hukum sesuai dengan hukum yang berlaku.
Informasi keuangan yang lengkap dan benar dapat digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan, pemantauan dan evaluasi serta pengendalian kinerja.
Secara eksternal, penggunaan sistem akuntasi keuangan yang standar dan
dapat diperiksa kebenarannya akan menjadi instrumen pembangun
kepercayaan masyarakat dan bukti bahwa UPK telah mengelola keuangan
secara tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 6

Dalam pengelolaan dokumen, penggolongan dapat mengacu pada pola yang
dianggap baik, sederhana, lengkap serta mudah dalam pencariannya.

Pola pengelolaan dokumen PNPM Mandiri Perdesaan secara sederhana
dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Dokumen proses kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan adalah semua
dokumen yang berkaitan dengan proses PNPM Mandiri Perdesaan mulai
perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan dan pengendalian kegiatan.
Penyusunan dokumen ini berdasarkan urutan kegiatan dan atau menurut
nama desa.
b. Dokumen keuangan adalah semua pencatatan yang berkaitan dengan
transaksi keuangan serta bukti-bukti transaksi/kuitansi baik asli ataupun
fotocopy yang mencakup seluruh transaksi dari mulai tahapan pengajuan
dana ke KPPN, pencairan hingga penyaluran dana ke desa melalui TPK.
Dokumen keuangan diantaranya: dokumen perencanaan keuangan,
dokumen pencairan meliputi Surat Perintah Membayar (SPM), Surat
Permintaan Pembayaran Pembangunan (SPP), Surat Permintaan
Pembayaran (SP2), Berita Acara Penggunaan Dana Kegiatan (BAPDK),
Laporan Penggunaan Dana Kegiatan (LPDG), Kuitansi-1 (KW-1) dan
Surat Kesanggupan Menyelesaikan Pekerjaan (SKMP), bukti transaksi
(nota , faktur dan kuitansi, dan sebagainya), semua buku rekening, semua
buku catatan transaksi keuangan, semua laporan keuangan, dan
sebagainya. Untuk dokumen penyaluran dan perencanaan keuangan
disusun dalam file tersendiri secara terpisah. Sedangkan untuk dokumen
bukti transaksi keuangan disusun berdasarkan waktu kejadiannya dan
dikumpulkan dalam file menurut nama bulan.
c. Dokumen kegiatan pengelolaan dana bergulir adalah seluruh dokumen
yang menyangkut kegiatan pinjaman dan identitas peminjam, terdiri dari
daftar peminjam berikut kartu identitas, kartu pinjaman, buku pinjaman,
laporan perkembangan kelompok, laporan jenis kegiatan/usaha, laporan
pinjaman bermasalah dan sebagainya. Penyusunan dokumen ini
berdasarkan nama kelompok peminjam.
d. Foto-foto kegiatan diarsipkan untuk mendukung dokumen-dokumen
kegiatan dan disusun sesuai dengan tahapan kegiatan.

Pengelolaan dokumen tersebut menjadi tanggung jawab pengurus UPK
dibawah fasilitasi serta pengawasan oleh Fasilitator Kecamatan dan
PjOK. Setiap peminjaman dan pengembalian dokumen harus
diadministrasikan dengan baik. Demikian juga, setiap ada pergantian
pengurus UPK harus dilakukan serah terima dokumen. Dokumen PNPM
Mandiri Perdesaan tidak dibenarkan disimpan di rumah perseorangan,
kecuali untuk maksud penyelamatan dalam kondisi tertentu dengan
sepengetahuan dan persetujuan masyarakat.


9.4. Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di Desa

9.4.1. Administrasi dan PeIaporan Keuangan TPK
Administrasi dan pelaporan keuangan TPK adalah kegiatan untuk
mencatat/merekam semua kejadian/transaksi terkait dengan pengelolaan
keuangan di TPK mulai dari tahap penyusunan rencana anggaran,
pembukuan sampai penyusunan laporan keuangan. Pengadministrasian dan
pelaporan keuangan di tingkat desa merupakan salah satu tugas utama TPK.

Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 7
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mendorong transparansi dan
akuntabilitas khususnya dalam pengelolaan keuangan. Oleh karena itu
dibutuhkan pencatatan yang jelas, cermat dan akurat serta didukung oleh
bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selanjutnya pencatatan semua transaksi keuangan sampai dengan
penyusunan laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan formulir
standar keuangan yang terdiri dari buku kas harian, laporan penggunaan
dana, laporan fisik dan biaya, laporan penyaluran dana kegiatan pendidikan,
kesehatan dan SPP serta laporan sumber dana dan penggunaan sesuai
formulir PTO.

a. Buku Kas Umum
Buku kas umum adalah buku untuk mencatat semua transaksi pemasukan
(pencairan dana dari UPK) dan pengeluaran (pembayaran untuk kegiatan
prasarana sarana, kesehatan, pendidikan, SPP, dan peningkatan
kapasitas kelompok usaha) yang bersifat tunai di TPK.

b. Buku Kas Khusus
Buku kas khusus adalah buku untuk mencatat semua transaksi
berdasarkan jenis kegiatan, mencakup buku kas operasional TPK, buku
kas kegiatan prasarana sarana, buku kas kegiatan pendidikan, buku kas
kegiatan kesehatan dan buku kas peningkatan kapasitas kelompok
usaha.

c. Buku MateriaI (BM)
Buku material adalah tempat mencatat material/bahan yang telah diterima
dan bahan/material yang telah dibayar. Buku material berguna untuk
menyiapkan RPD, menyiapkan pembayaran, mengendalikan pengadaan
agar sesuai target, dan mengevaluasi pengadaan bahan. Bentuk buku
material sesuai dengan format Buku Material (BM) yang terdapat dalam
buku formulir. BM dibuat oleh Sekretaris TPK, ditutup setiap bulan
mengikuti buku kas. Setiap penutupan harus diperiksa oleh ketua TPK,
dan Fasilitator Kecamatan. Nomor bukti yang dicatat dalam BM adalah
nomor bukti penerimaan barang.

d. Rencana Penggunaan Dana (RPD)
RPD adalah suatu dokumen yang memuat rencana kebutuhan dana yang
akan dialokasikan untuk membiayai kegiatan sesuai dengan jadwal dan
target pelaksanaan kegiatan. RPD memuat rencana kebutuhan bahan,
alat, upah dan kebutuhan untuk penyaluran kegiatan SPP, pendidikan,
kesehatan dan peningkatan kapasitas kelompok usaha serta nilai uang
yang akan dibelanjakan. Besarnya nilai RPD tidak harus sama setiap
tahapan. Setelah disusun oleh TPK, RPD harus diperiksa oleh KPM dan
Tim Pemantau serta diketahui oleh kepala desa. Selanjutnya RPD
tersebut diajukan ke UPK untuk diverifikasi oleh UPK, Fasilitator
Kecamatan dan PjOK sebelum mendapatkan persetujuan pencairan dana.

e. Laporan Penggunaan Dana (LPD)
LPD adalah suatu dokumen yang memuat pertanggungjawaban TPK
untuk setiap dana yang telah dicairkan dari UPK berdasarkan RPD yang
disetujui sebelumnya. LPD dibuat oleh TPK dan disetujui oleh Kepala
Desa sebelum diserahkan ke UPK untuk diperiksa oleh UPK, Fasilitator
Kecamatan dan PjOK. LPD yang diajukan harus dilampiri dengan bukti-
bukti transaksi pembayaran yang dapat dipertanggungjawabkan.


Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 8
9.4.2. Administrasi Proses Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di TPK (Non
Keuangan)
Administrasi proses kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di TPK adalah
kegiatan untuk mencatat/merekam semua kejadian/peristiwa yang berkaitan
dengan proses PNPM Mandiri Perdesaan khususnya di desa tersebut, mulai
dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemeliharaan
kegiatan.

Secara umum, jenis-jenis dokumen proses kegiatan PNPM Mandiri
Perdesaan dikelompokan menjadi dokumen perencanaan, dokumen
persiapan pelaksanaan, dokumen administrasi pelaksanaan, dokumen
administrasi penyelesaian, dokumen pemantauan dan evaluasi, dokumen
pemeliharaan serta pelaporan sesuai yang terdapat pada Buku Formulir PTO
PNPM Mandiri Perdesaan.

9.4.3. PengeIoIaan Kearsipan/Dokumen TPK
TPK dan kepala desa diwajibkan menyimpan seluruh dokumen PNPM Mandiri
Perdesaan baik dokumen Keuangan ataupun Non Keuangan. Seluruh
dokumen yang ada adalah milik negara, oleh karena itu mengingat
pentingnya dokumen tersebut maka setiap penghilangan atau penggelapan
dokumen mempunyai konsekuensi hukum sesuai dengan hukum yang
berlaku.

Dalam pengelolaan dokumen, penggolongan dapat mengacu pada pola yang
dianggap baik, sederhana, lengkap dan mudah dalam pencariannya.

Pola pengelolaan dokumen PNPM Mandiri Perdesaan di TPK secara
sederhana dapat dilakukan dengan menggolongkan dan menyusun dokumen
berdasarkan tahapan kegiatan dari tahap perencanaan, pelaksanaan,
pemeliharaan dan pengendalian kegiatan. Sedangkan untuk dokumen
keuangan seperti bukti transaksi dapat disusun berdasarkan waktu kejadian
dan dikumpulkan dalam satu file menurut bulan.

Foto-foto kegiatan dapat diarsipkan untuk mendukung dokumen-dokumen
kegiatan dan disusun sesuai dengan tahapan kegiatan.





















Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 9






HaI-haI Penting daIam
PengeIoIaan Keuangan oIeh TPK

x Pembayaran insentif harus diberikan secara langsung kepada setiap orang yang
bekerja, baik sistim upah harian maupun sistim borongan/target.

x TPK tidak boleh mengeluarkan biaya untuk konsultan dan fasilitator, UPK, seluruh
aparat pemerintah dan seluruh unsur yang terkait baik langsung maupun tidak
langsung dengan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.

x Pembayaran kepada pemasok (supplier) dilakukan sesuai jadwal yang telah
ditetapkan dan disepakati dalam kontrak pengadaan bahan atau kontrak sewa.
Fasilitator Kecamatan dan kabupaten harus memantau proses kemajuan pengadaan
tersebut.

x Dana Kas PNPM Mandiri Perdesaan dilarang dipegang/dititipkan kepada pihak
manapun juga atau disimpan dalam rekening manapun. Dana tersebut hanya boleh
dipegang Bendahara sebagai Kas TPK, dengan mengupayakan agar dana kas
tersebut tidak terlalu besar dan tidak terlalu lama ada pada bendahara. Oleh karena
itu, berapa besaran dana yang dipegang oleh bendahara harus mempertimbangkan
rencana pengeluarannya baik dari segi waktu maupun jumlah (kapan dan berapa).
Semua penerimaan dan pengeluaran harus segera dibukukan.

x Bukti-bukti pembayaran yang telah dijilid dalam berkas LPD harus dikirim ke UPK
dalam rangka pengajuan pencairan dana. UPK dan Fasilitator Kecamatan wajib untuk
memeriksa arsip dan pembukuan TPK secara berkala (minimal mingguan), dan dapat
meminta fotocopy bukti pembayaran dalam rangka tugasnya sebagai pengendali dan
pembina TPK.

x Untuk menegakkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, UPK dan TPK diwajibkan
untuk mempublikasikan laporan keuangan. Publikasi dapat dilakukan melalui forum-
forum musyawarah yang melibatkan masyarakat, baik forum resmi sesuai tahapan
PNPM Mandiri Perdesaan maupun forum formal/informal lainnya atau dimuat dalam
papan informasi yang ditempatkan di lokasi yang mudah diakses oleh masyarakat.


Penjelasan IX: Pendanaan dan Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan 10
Mekanisme Pencairan Dana BLM dari KPPN ke UPK
KPA,
Penerbit SPM,
Bendahara,
KABUPATEN
Pengaiuan SPM :
Tahapan Penyaluran
sesuai Kriteria
Kecamatan
SP2D Lb 3
K
E
C
A
M
A
T
A
N
DESA
Pengaiuan
Pencairan Dana
Kredit Rekening
BO KPPN
KC BI
Kredit Rekening
Pengaiuan
Pencairan Dana
K P P N
Perintah Pembayaran
Perintah
Pembebanan
PPK/PjOK
U P K / MAD
Perianiian
Pendanaan
Kelompok Masyarakat
Pencairan Sesuai
Kebutuhan
Pengaiuan SPP :
Tahapan Penyaluran
sesuai Kriteria
Kecamatan. Lampiran :
SPC, BAPDK, KW-1
dan Iotocopy rekening
kolektiI BPNPM yang
diveriIikasi oleh
Fasilitator Kabupaten

AIur PenyaIuran Dana PNPM dari Rekening KoIektif ke Desa
Uang masuk
ke
Kas TPK
UPK
Catatan kegiatan
yang harus
dibayar
Pembayaran
Bukti-bukti Pembukuan
Saldo Kas
Penyiapan
masih
habis
Tahap
pencairan
SPPB+ RPD+LPD + KW
2 + SKMP tahap akhir
Proses penyelesaian
t ahap terkahir
1,2,dst.

(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN X
PENGELOLAAN DANA BERGULIR

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir i

DAFTAR ISI



DAFTAR ISI i iv
DAFTAR TABEL V
10.1 Pedoman Pengelolaan Dana Bergulir Bagi UPK 1
10.1.1. Kebijakan Umum 1
a. Pengertian 1
b. Tujuan 1
c. Sasaran 1
d Ketentuan Dasar 2
10.1.2. Mekanisme Pengelolaan 3
a. Kelembagaan 3
b. Ketentuan Pendanaan 3
c. Tahapan Pengelolaan 4
d. Penetapan Persyaratan 4
10.1.3. Efektifitas Perguliran 6
a. Anggaran Biaya 6
b. Estimasi Pendapatan 6
c. Tingkat Pengembalian 6
d. Cakupan Wilayah 7
10.1.4. Penentuan Wilayah Perguliran 7
a. Perguliran Wilayah Kecamatan 7
b. Perguliran di Wilayah Desa 7
c. Perguliran di Wilayah Pemekaran 7
10.1.5. Kelembagaan UPK 8
a. UPK sebagai pengelola dana bergulir 8
b. Pengurus UPK 8
c. Kelembagaan Pendukung UPK 8
d. Pertanggungjawaban UPK 8
e. Perencanaan Pendapatan 8
f. Ketentuan Pendanaan Operasional 8
g. Ketentuan Penggunaan Surplus 9
h. Ketentuan Pendanaan Kelembagaan Pendukung UPK 9
i. Ketentuan Penghapusan Pinjaman 10
1. Ketentuan Hapus Buku 10
2. Ketentuan Hapus Mutlak 10
3. Syarat Penghapusan Pinjaman 10
j. Ketentuan Pengelolaan Hadiah Bank 11
k. Pengendalian 11
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir ii

10.1.6. Pelaporan Kegiatan Dana Bergulir 12
a. Laporan Perkembangan Pinjaman 12
b. Laporan Kolektibilitas Pinjaman 13
c. Laporan Perkembangan Kelompok 14
d. Laporan Pinjaman Bermasalah 15
e. Laporan Jenis Usaha/Kegiatan Kelompok 16
f. Laporan Keuangan Khusus Kegiatan Dana Bergulir 17
10.2. Panduan Fasilitator 20
10.2.1. Fasilitasi Kelompok 20
a. Kategori Kelompok 20
1. Kategori Faktor Pemersatu 20
2. Kategori Jenis Kelompok 20
3. Kategori Perkembangan Kelompok 20
4. Kategori Fungsi Kelompok 22
b. Fasilitasi Penguatan Kelembagaan 22
1. Berdasarkan Jenis kelompok 22
2. Berdasarkan Kategori Perkembangan Kelompok 22
3. Berdasarkan Fungsi Kelompok 22
c. Fasilitasi Pengembangan Kegiatan/Usaha Kelompok 23
1. Kelompok Simpan Pinjam 23
2. Kelompok Usaha Bersama 23
3. Pengembangan Jaringan 23
d. Perubahan Kelompok 24
e. Alur Pengembangan Kelompok 25
10.2.2. Pengelolaan Pinjaman Bermasalah 26
a. Tujuan 26
b. Prinsip 26
c. Pengertian Pinjaman Bermasalah 27
d. Penggolongan Permasalahan 27
1. Permasalahan Kelembagaan Kelompok 27
2. Permasalahan Microfinance 28
3. Permasalahan Penyelewengan 28
4. Permasalahan Force Majeure 28
e. Mekanisme Pengelolaan 28
1. Identifikasi dan Laporan 28
2. Pembentukan Tim Penyehatan Pinjaman 28
3. Penentuan Aspek dan Scoring Indikator Penilaian 29
f. Penentuan Aspek Penilaian 29
1. Aspek Penilaian Kelembagaan 29
2. Penilaian Aspek Kemampuan 29
3. Contoh Hasil Penilaian 30
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir iii

g. Penentuan Bobot Hasil Penilaian 31
h. Penentuan Kategori Pinjaman Bermasalah 31
1. Kategori A : Kelembagaan Baik - Kemampuan Baik 31
2. Kategori B : Kelembagaan Baik Kemampuan Kurang 32
3. Kategori C : Kelembagaan Kurang Kemempuan Kurang 32
4. Kategori D : Kelembagaan Kurang Kemampuan Kurang 32
5. Katehori E : Penyelewengan Dana 32
6. Kategori F : Force Majeure 32
i. Validasi 32
h. Penentuan Pola Penyelesaian 32
1. Pola I : Penjadwalan Ulang 33
2. Pola II : Restrukturisasi Pinjaman 33
3. Pola III : Pengurangan Kewajiban 33
4. Pola IV : Kompensasi 33
5. Pola V : Aspek Hukum/Litigasi 33
6. Contoh Tabel Kategori dan Pola Penyelesaian 33
10.2.3. Pengembangan Jaringan 34
a. Mekanisme Pengembangan Jaringan 34
b. Jenis-jenis Kerja Sama Jaringan 34
c. Lembaga-lembaga Mitra Kerja Sama 35
d. Fungsi Kerja Sama 35
e. Hal-hal Yang Harus Dipersiapkan 35
f. Asosiasi UPK 35
10.3 Penilaian UPK 37
10.3.1. Pemetaan UPK 37
a. Penilaian Aspek Kuantitatif 37
1. Risiko Pinjaman 37
2. Produktivitas/Potensi Pendapatan 38
b. Aspek Kualitatif Pengelolaan 39
c. Hasil dan Kategori Pemetaan 40
1. Aspek Kuantitatif 40
2. Aspek Kualitatif 40
d. Fasilitasi Penguatan Hasil Pemetaan 40
10.3.2. Penilaian Kesehatan UPK 41
a. Pengertian 41
b. Tujuan 41
c. Ruang Lingkup Penilaian 42
1. Aspek Kelembagaan 42
2. Aspek Kuantitatif 42
d. Penilaian Indikator 42
1. Aspek Kelembagaan 42
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir iv

2. Aspek Kuantitatif 44
e. Nilai Kesehatan 46
f. Tabel Penilaian Kesehatan UPK 46
1. Lembar Penilaian Kelembagaan 46
2. Lembar Penilaian Kelembagaan Pendukung UPK 48
3. Lembar Penilaian Aspek Pengelolaan Keuangan 50
4. Lembar Penilaian Aspek Pengelolaan Pinjaman 51
5. Nilai Kesehatan UPK 52
6. Kategori Kesehatan UPK 53






Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir v

DAFTAR TABEL


Bab Nama Tabel Hal.
10.2.1. Fasilitasi Kelompok
1. Tabel Indikator Perkembangan Kelompok 21
2. Skema Alur Pengembangan Kelompok 25
10.2.2. Pengelolaan Pinjaman Bermasalah
1. Tabel Contoh Hasil Penilaian Kelembagaan 30
2. Tabel Contoh Hasil Penilaian Kemampuan 31
3. Tabel Pola Penyelesaian 34
10.3.1. Pemetaan UPK
1. Tabel Penilaian Indikator Kualitas Pinjaman 38
2. Tabel Penilaian Potensi Pendapatan 38
3. Tabel Penilaian Aspek Kualitatif Pengelolaan 39
10.3.2. Penilaian Kesehatan UPK
1. Tabel Penilaian Kelembagaan UPK 46
2. Tabel Penilaian Kelembagaan Pendukung UPK 48
3. Tabel Penilaian Aspek Pengelolaan Keuangan UPK 50
4. Tabel Penilaian Aspek Pengelolaan Pinjaman UPK 51
5. Tabel Nilai Kesehatan UPK Aspek Kelembagaan 52
6. Tabel Nilai Kesehatan UPK - Aspek Kuantitatif 52
7. Tabel Kategori Kesehatan UPK Aspek Kelembagaan 53
8. Tabel Kategori Kesehatan UPK Aspek Kuantitatif 53


Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 1


PENJELASAN X
PENGELOLAAN DANA BERGULIR

10.1. Pedoman Pengelolaan Dana Bergulir Bagi UPK.
Dalam memberikan dukungan terhadap PNPM Mandiri Perdesaan yang mempunyai
tujuan percepatan penanggulangan kemiskinan maka kegiatan pengelolaan dana
bergulir menjadi salah satu kegiatan yang memberikan kemudahan bagi RTM untuk
mendapatkan permodalan dalam bentuk kegiatan SPP yang dijelaskan dalam
Penjelasan IV (Jenis dan Proses Pelaksanaan Bidang Kegiatan). Dengan tujuan
pelestarian dana bergulir baik SPP dan UEP (yang berasal dari PPK) agar sesuai
dengan prinsip, tujuan dan mekanisme maka akses dana bergulir selanjutnya diatur
dalam penjelasan ini bersamaan dengan Penjelasan PTO IX (Pendanaan dan
Administrasi Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan) dan Penjelasan XI (Penataan
Kelembagaan). Ketiga penjelasan tersebut juga digunakan sebagai pedoman
pengelolaan keuangan dan pengelolaan dana bergulir untuk lokasi yang tidak lagi
dalam PNPM Mandiri Perdesaan. Dalam penjelasan ini laporan keuangan dana
bergulir (Formulir 84d dan 84e) dipisahkan dari pelaporan dana BLM (Formulir
No.83).

10.1.1. Kebijakan Umum

a. Pengertian
Pengertian dana bergulir adalah seluruh dana program dan bersifat
pinjaman dari UPK yang digunakan oleh masyarakat untuk mendanai
kegiatan ekonomi masyarakat yang disalurkan melalui kelompok-
kelompok masyarakat.

b. Tujuan
Kegiatan pengelolaan dana bergulir PNPM Mandiri Perdesaan
bertujuan:
1. Memberikan kemudahan akses permodalan usaha baik kepada
masyarakat sebagai pemanfaat maupun kelompok usaha;
2. Pelestarian dan pengembangan dana bergulir yang sesuai
dengan tujuan program;
3. Peningkatan kapasitas pengelola kegiatan dana bergulir di tingkat
wilayah pedesaan;
4. Menyiapkan kelembagaan UPK (dan lembaga pendukung lainnya)
sebagai pengelola dana bergulir yang mengacu pada tujuan
program secara akuntabel, transparan dan berkelanjutan;
5. Peningkatan pelayanan kepada RTM dalam pemenuhan
kebutuhan permodalan usaha melalui kelompok pemanfaat.

c. Sasaran
1. Jenis Kelompok
Sasaran jenis kelompok dalam kegiatan dana bergulir adalah :
Kelompok Simpan Pinjam (KSP): adalah kelompok yang
mempunyai kegiatan pengelolaan simpanan dan pinjaman
dengan prioritas kelompok yang mempunyai anggota RTM;
Kelompok Usaha Bersama (KUB): adalah kelompok yang
mempunyai kegiatan usaha yang dikelola secara bersama oleh
anggota kelompok, dengan prioritas kelompok yang
mempunyai anggota RTM;
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 2

Kelompok Aneka Usaha: adalah kelompok yang anggotanya
Rumah Tangga Miskin yang mempunyai usaha yang dikelola
secara individual oleh anggota.

2. Fungsi Kelompok
Sasaran fungsi kelompok dalam melayani pemanfaat dana
bergulir dibedakan menjadi :
Kelompok Chanelling (penyalur) adalah kelompok yang hanya
menyalurkan pinjaman dari UPK kepada pemanfaat tanpa
mengubah persyaratan dan ketentuan yang ditetapkan oleh
UPK.
Kelompok Executing (pengelola) adalah kelompok yang
mengelola pinjaman dari UPK secara mandiri sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh kelompok, selanjutnya
memberikan pelayanan kepada pemanfaat sesuai dengan
kesepakatan antara kelompok dan pemanfaat.

d. Ketentuan Dasar
Pengelolaan kegiatan dana bergulir dilakukan mengarah pada
pelestarian dan pengembangan dana bergulir dengan ketentuan dasar
sebagai berikut:
1. Pelestarian Kegiatan Dana Bergulir
Pelestarian penyediaan dana permodalan bagi usaha mikro
adalah upaya yang mengaraah pada pengembangan dana
bergulir untuk permodalan usaha mikro pada wilayah program.
Penyediaan dana permodalan tersebut merupakan kebutuhan
prioritas masing-masing wilayah pada saat pelaksanaan program
sehingga BLM telah dialokasikan sesuai dengan prioritas
kebutuhan masyarakat. Penyediaan dana bergulir tersebut
merupakan hak masyarakat yang berdomisili pada wilayah
program sehingga dalam upaya pelestarian dana bergulir tidak
diperkenankan memindahkan hak pelayanan kepada masyarakat
keluar lokasi wilayah. Bentuk kegiatan dana bergulir adalah tetap
menyediakan dana permodalan bagi pelaku usaha mikro di
masyarakat bukan menggunakan dana untuk menjalankan suatu
usaha pada sektor riil sehingga dalam upaya pelestarian dana
bergulir tidak diperkenankan untuk mendanai kegiatan sektor riil
yang dijalankan oleh UPK.
2. Kemudahan akses pendanaan usaha bagi RTM.
Kemudahan akses pendanaan bagi usaha mikro yang dilakukan
oleh RTM yang tidak mempunyai akses langsung pada lembaga
keuangan formal maupun informal.
3. Pelestarian Prinsip Pengelolaan
Prinsip-prinsip pengelolaan dana bergulir harus tetap mengacu
pada prinsip PNPM Mandiri Perdesaan.
4. Pelestarian Kelembagaan
Pengelolaan dana bergulir usaha mikro harus tetap menggunakan
ketentuan kelembagaan yang ada sesuai dengan ketentuan
PNPM Mandiri Perdesaan seperti: UPK, kelompok peminjam
(bukan peminjam secara individu), tim verifikasi, dan sebagainya.
5. Pengembangan Kelompok
Dalam pengelolaan dana bergulir usaha mikro harus tetap
memperhatikan pengembangan kelompok yang mempunyai
anggota RTM. Misalnya memberikan kesempatan kepada
kelompok untuk menambah permodalan melalui pembagian
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 3

keuntungan UPK dengan Insentif Pengembalian Tepat Waktu
(IPTW).

10.1.2. Mekanisme Pengelolaan
Mekanisme pengelolaan merupakan tahapan-tahapan yang harus
diterapkan dalam pengelolaan dana bergulir mulai dari perencanaan sampai
dengan pertanggungjawaban. Akses dana bergulir mempunyai karakteristik
yang berbeda dengan akses dana BLM hal ini di dasari oleh beberapa
kondisi di antaranya: sifat kepemilikan dana oleh masyarakat, model
kompetisi antar kelompok peminjam bukan antar kegiatan, kelembagaan
yang terlibat dengan mekanisme hubungan langsung antara kelompok
peminjam dan UPK, dan kebutuhan pola perguliran yang sesuai. Perbedaan
karakteristik tersebut tidak diperbolehkan bertentangan dengan tujuan,
prinsip, ketentuan dasar program, sehingga dibutuhkan mekanisme yang
sesuai yang didasari oleh :

a. Kelembagaan Pengelola (Secara detail dalam Penjelasan XI)
Kelembagaan pengelola dana bergulir yang harus ada paling tidak
sebagai berikut:
1. Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD)
BKAD merupakan lembaga tertinggi dalam pengambilan keputusan
pengelolaan dana bergulir di tingkat kecamatan melalui MAD.
2. Unit Pengelola Kegiatan (UPK)
Lembaga yang dibentuk oleh BKAD atau MAD untuk mengelola
kegiatan dana bergulir .
3. Tim Verifikasi (TV)
TV adalah lembaga yang bertugas untuk melakukan verifikasi
proposal usulan kelompok yang akan didanai. Tim ini dibentuk dan
ditentukan melalui MAD atau BKAD.
4. Badan Pengawas UPK (BP-UPK)
BP-UPK adalah lembaga yang dibentuk BKAD atau MAD untuk
melakukan monitoring , supervisi dan pengawasan kepada UPK.
5. Tim Penyehatan Pinjaman
Tim Penyehatan Pinjaman dibentuk untuk mendorong pelestarian dan
pengembangan dana bergulir melalui penyehatan pinjaman
bermasalah . Tim ini bersifat ad-hoc sesuai dengan kebutuhan untuk
melakukan penyehatan pinjaman melalui pola-pola penyelesaian yang
sesuai dengan kondisi pinjaman bermasalah dan permasalahan
kelompok. Tim ini dibentuk oleh BKAD atau MAD.

b. Ketentuan Pendanaan
Ketentuan pengelolaan mengacu pada AD/ART, aturan perguliran dan
SOP UPK yang telah disepakati. Ketentuan pendanaan dalam
pengelolaan dana bergulir minimal harus memuat hal-hal berikut :
1. Dana perguliran UEP dapat digunakan untuk pendanaan kegiatan
UEP dan SPP. Sedangkan dana perguliran SPP hanya digunakan
untuk pendanaan kegiatan SPP;
2. Tidak diperbolehkan memberikan pinjaman secara individu;
3. Kelompok yang didanai meliputi: Kelompok Simpan Pinjam dan
Kelompok Usaha Bersama, Kelompok Aneka Usaha dengan
pemanfaat RTM;
4. Kelompok peminjam dana bergulir harus mempunyai kategori
kelompok berkembang atau siap;
5. Kegiatan verifikasi dilakukan sesuai dengan jenis kelompok;
6. Adanya perjanjian pinjaman antara UPK dan Kelompok;
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 4

7. Jadwal angsuran disesuaikan dengan fungsi kelompok (kelompok
penyalur atau kelompok pengelola) dan siklus usahanya;
8. Pembebanan jasa pinjaman sesuai dengan bunga pasar pinjaman
diwilayah masing-masing;
9. Kelompok dapat diberikan IPTW sebagai stimulan.

c. Tahapan Pengelolaan
Tahapan pengelolaan mengacu pada mekanisme pendanaan dana
bergulir dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Pengajuan Usulan Pinjaman Kelompok
Kelompok membuat usulan dan mengajukan usulan kepada UPK
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh MAD atau BKAD.
2. Evaluasi Singkat Usulan Pinjaman oleh UPK
UPK melakukan evaluasi singkat tentang latar belakang kelompok,
kondisi saat ini kelompok, riwayat pinjaman kelompok pada UPK,
rencana usaha dan rencana penggunaan dana pinjaman. Evaluasi
singkat ini disampaikan bersama dengan usulan kelompok kepada
Tim Verifikasi.
3. Verifikasi oleh Tim Verifikasi
Tim verifikasi melakukan verifikasi usulan sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan oleh BKAD atau MAD.
4. Keputusan Pendanaan
5. Keputusan pendanaan dilakukan oleh Tim yang telah ditetapkan oleh
BKAD atau MAD dan sesuai dengan ketentuan pendanaan yang telah
ditetapkan oleh BKAD atau MAD.

d. Penetapan Persyaratan
Penetapan persyaratan mengacu pada ketentuan sebagai berikut :
1. Persyaratan Kelompok :
Kelompok yang mengajukan pinjaman dari dana perguliran
minimal kategori Kelompok Berkembang.
Kelompok yang telah lunas dan mengajukan lagi harus dinilai
kondisi pinjaman sebelumnya dengan ketentuan :
- Jika mempunyai catatan tanpa tunggakan dapat
mengajukan jumlah yang lebih besar dari pinjaman
sebelumnya
- Jika mempunyai catatan tunggakan sampai dengan
kolektibilitas II dapat mengajukan jumlah yang sama dengan
pinjaman sebelumnya.
- Jika mempunyai catatan tunggakan di atas kolektibilitas II
dapat mengajukan maksimal 75 % dari pinjaman
sebelumnya
Kelompok executing dapat mengajukan gabungan pinjaman
untuk tujuan chanelling (hanya menyalurkan) dan pinjaman
untuk tujuan executing (dikelola secara mandiri).

2. Persyaratan Khusus Kelompok Executing.
Persyaratan kelembagaan kelompok sebagai berikut :
- Kelompok berbengalaman mengelola simpanan dan
pinjaman minimal 3 tahun
- Kelompok telah menjadi nasabah UPK minimal satu tahun
dengan kondisi tidak pernah ada tunggakan.
- Mempunyai aturan /AD-ART kelembagaan secara tertulis.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 5

- Mempunyai Aturan Pengelolaan Simpanan yang mencakup
jenis-jenis simpanan yang dikelola, bunga simpanan dan
sebagainya.
- Mempunyai Aturan Pengelolaan Pinjaman yang mencakup
persyaratan pinjaman, jumlah pinjaman, jangka waktu dan
sebagainya.
- Tunggakan pinjaman rata-rata maksimal 20 % dari pinjaman
yang dikelola.
- Maksimal pinjaman yang dikelola secara mandiri adalah 300
% dari simpanan dan modal yang ada di kelompok.

Mekanisme pengajuan kelompok sebagai berikut :
- Mempunyai persetujuan dari Kepala Desa/Lurah (pada
lokasi domisili kelompok) untuk mengajukan sebagai
kelompok executing dana bergulir yang dikelola oleh UPK
dan akan digunakan untuk melayani masyarakat miskin atau
anggota RTM di lokasi wilayah pelayanan kelompok atau
anggota kelompok
- Telah dilakukan Sertifikasi layak sebagai kelompok
executing oleh Fasilitator Kabupaten atau Pendamping
UPK. Pada lokasi yang tidak mempunyai pendampingan
PNPM-Mandiri Perdesaan sertifikasi dilakukan oleh Asosiasi
atau Forum UPK.
- Keputusan pendanaan dilakukan oleh MAD/BKAD
- Kelompok melaporkan pemanfaatan dana yang dipinjam
dari UPK kepada Kepala Desa/Lurah yang memberikan
persetujuan dan UPK setiap bulan.
- Kepala Desa/Lurah dan UPK melakukan evaluasi
pemanfaatan dana dan jika ditemukan pelanggaran maka
dapat mengajukan usulan penghentian sebagai kelompok
executing kepada MAD/BKAD.

3. Penentuan jasa pinjaman dengan ketentuan :
Besaran jasa pinjaman ditentukan berdasarkan referensi bunga
pasar untuk pinjaman untuk lembaga keuangan pada wilayah
masing-masing.
Sistem perhitungan jasa pinjaman menurun (sliding rate) atau
tetap (flat rate).

4. Jangka waktu pinjaman sebagai berikut :
Untuk kelompok penyalur (chanelling) maksimal 18 bulan.
Untuk kelompok pengelola (executing) maksimal 36 bulan.

5. Jadwal angsuran dengan sumber dana bergulir mengacu pada
fungsi kelompok yaitu :
Kelompok penyalur (chanelling) paling tidak 2 kali angsuran
dalam 12 bulan.
Kelompok pengelola (executing) dapat diberikan pola jadwal
sebagai berikut :
- Hanya membayar jasa pinjaman saja maksimal 24 bulan
dan jasa pinjaman dibayar setiap bulan;
- Angsuran pokok dan jasa pinjaman dilakukan minimal 12
bulan dengan tahapan minimal 3 kali dalam 12 bulan.
- Kelompok bebas menerapkan jadwal angsuran kepada
pemanfaat (harian, mingguan, atau bulanan)
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 6


6. Penetapan Daftar Tunggu Kelompok
Usulan kegiatan pinjaman yang belum terdanai baik dari BLM
maupun dana perguliran dapat ditetapkan sebagai kelompok
tunggu yang dilaporkan dalam daftar tunggu kelompok. Daftar
tunggu ini ditetapkan dengan Berita Acara. Selain menetapkan
daftar tunggu juga menetapkan mekanisme dan persyaratan dalam
pendanaan kelompok yang termasuk daftar tunggu.

10.1.3. Efektivitas Perguliran
Untuk membentuk pola perguliran yang efektif dan sesuai dengan cakupan
wilayah, maka perguliran dapat dilakukan di wilayah kecamatan atau di
wilayah desa untuk UPK yang secara operasional tidak dapat dilakukan
pada tingkat kecamatan berdasarkan keputusan BKAD atau MAD dengan
mempertimbangkan anggaran biaya UPK, perkiraan pendapatan jasa
pinjaman, tingkat pengembalian dan cakupan wilayah dengan penjelasan
sebagai berikut:

a. Anggaran Biaya
Anggaran biaya yang akan dikeluarkan dalam satu periode mendatang
(dalam satu tahun). BP-UPK harus melakukan evaluasi anggaran biaya
apakah realistis sebelum melakukan persetujuan MAD atau BKAD.
Anggaran biaya ini akan menjadi beban pendanaan UPK sehingga dapat
diketahui apakah UPK mampu mendanai anggaran tersebut dikaitkan
dengan mekanisme dalam pelestarian dan pengembangan dana bergulir.
Jika (secara wajar) UPK dinilai tidak mampu maka harus dilakukan
pertimbangan-pertimbangan efisiensi, misalnya :
1. Jumlah pengurus tidak harus tiga orang, bisa satu atau dua orang
tetapi penentuan tetap oleh MAD atau BKAD.
2. Tidak harus mempunyai kantor tersendiri yang memerlukan biaya
operasional atau (jika memungkinkan) mendapatkan fasilitas secara
cuma-cuma dari pihak kecamatan.
3. Tidak mendanai pertemuan-pertemuan yang tidak berkaitan langsung
dengan pengelolaan dana bergulir.

b. Estimasi Pendapatan
Adalah perkiraan pendapatan yang akan diterima oleh UPK baik yang
bersifat pendapatan operasional maupun non-operasional. Hal-hal yang
harus dipertimbangkan dalam melakukan perkiraan pendapatan adalah
diantaranya :
1. Perkiraan pendapatan jasa pinjaman yang rasional artinya dengan
melakukan evaluasi rencana pendapatan dari saldo pinjaman yang
produktif (pengembaliannya lancar). Kesalahan yang sering terjadi
pada saat membuat estimasi pendapatan jasa pinjaman adalah
estimasi pendapatan dihitung berdasarkan saldo pinjaman yang ada
secara keseluruhan sehingga menjadi terlalu besar.
2. Perkiraan pendapatan non-operasional misalnya bunga tabungan
dengan menghitung estimasi rata-rata pengendapan dana di bank.

c. Tingkat Pengembalian
Adalah realisasi pengembalian dibandingkan dengan target
pengembalian, hal ini perlu dipertimbangkan karena berkaitan langsung
dengan perputaran permodalan dan pendapatan jasa pinjaman.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 7

Pertimbangan tingkat pengembalian ini juga dapat digunakan sebagai
data historis kelompok atau desa dalam kaitannya dengan target
perguliran atau sanksi lokal.
d. Cakupan wilayah
Adalah wilayah pelayanan dan pembinaan UPK kepada kelompok yang
menyangkut pertimbangan : jarak antara lokasi UPK dengan lokasi
pelayanan, kondisi geografis, tingkat kesulitan pencapaian lokasi,
tingkat biaya untuk mencapai lokasi, dan tingkat keamanan wilayah.
10.1.4. Penentuan Wilayah Perguliran
Dengan mempertimbangkan efektivitas perguliran tersebut di atas MAD atau
BKAD dapat menentukan pola perguliran yang sesuai sebagai berikut:
a. Perguliran Wilayah Kecamatan
Perguliran di tingkat kecamatan dapat dilakukan oleh UPK jika secara
kemampuan pendanaan operasional mendukung, potensi pendapatan
mencukupi dan cakupan wilayah pelayanan memungkinkan. Penetapan
pola perguliran ini oleh MAD atau BKAD dengan mengacu ketentuan
Ketentuan Dasar dan Mekanisme Pengelolaan diatas.

b. Perguliran Di Wilayah Desa
Perguliran di wilayah desa adalah pemanfaatan dana bergulir yang
dikelola di tingkat desa atau gabungan beberapa desa/kelompok.
Keputusan tentang perguliran di wilayah desa dilakukan dalam MAD
dengan mempertimbangkan pendapatan jasa pinjaman, anggaran biaya
operasional, cakupan wilayah, kondisi dana yang ada, tingkat
pengembalian pinjaman, dan pertimbangan yang mendukung lainnya.
Jika MAD memutuskan pola perguliran wilayah desa, pengelolaannya
dapat dilakukan oleh UPK wilayah desa atau oleh forum perguliran yang
dibentuk MAD atau BKAD. MAD atau BKAD dapat
menunjuk/menentukan kelompok executing yang dianggap memenuhi
persyaratan dan mampu. Mekanisme perguliran di wilayah desa dengan
pengelolaannya harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
mengacu pada ketentuan dasar, memenuhi ketentuan pendanaan,
dilakukan Verifikasi atas usulan, persetujuan pendanaan kelompok oleh
forum perguliran, pengawasan dilakukan oleh masyarakat dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh MAD atau BKAD
c. Perguliran di Wilayah Pemekaran
Perguliran di wilayah pemekaran dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Jika pada wilayah pemekaran telah terbentuk UPK yang dapat
menjalankan secara operasional sesuai dengan ketentuan program
baik dalam kelembagaan, pendanaan operasional secara mandiri,
kapasitas pengurus memenuhi persyaratan dan sebagainya maka
wilayah perguliran secara terpisah dapat diputuskan oleh MAD
kecamatan awal (induk). Keputusan MAD juga harus mencakup
pembagian pinjaman pada kecamatan pemekaran. Selanjutnya pada
kecamatan pemekaran membentuk BKAD sesuai dengan ketentuan
program.
2. Jika pada wilayah pemekaran belum terbentuk UPK yang dapat
menjalankan secara operasional maka perguliran masih dilakukan
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 8

pada kecamatan awal (induk) dengan ketentuan MAD tetap sesuai
kondisi kecamatan awal dengan seluruh perwakilan desa. BKAD
merupakan kerja sama antar desa yang lintas kecamatan dan UPK
melayani wilayah lintas kecamatan. Pada pola ini tidak diperlukan
pembagian pinjaman.

10.1.5. Kelembagaan UPK
a. UPK merupakan pengelola dana bergulir yang berasal dari program
(PPK, PNPM-PPK dan PNPM-Mandiri Perdesaan) dengan mekanisme
sesuai dengan ketentuan BKAD atau MAD yang mengacu pada tujuan
dan prinsip program.
b. Pengurus UPK adalah masyarakat yang telah dipilih dan terlibat secara
langsung bertanggung jawab dalam pelaksanaan operasional sehari-
hari. Paling tidak pengurus UPK satu orang. Struktur organisasi dan
kebutuhan jumlah pengurus dapat disesuaikan dengan kebutuhan
cakupan wilayah tugas dan kebutuhan beban tugas.
c. Dalam pengelolaan dana bergulir UPK, didukung oleh lembaga
pendukung paling tidak oleh Tim Verifikasi dan Badan Pengawas UPK
dengan ketentuan kelembagaan dan operasional diatur dalam AD/ART
BKAD. Pendanaan operasional bersifat pendanaan dukungan tugas
bukan bersifat insentif yang tetap setiap bulan.
d. UPK setiap tahun anggaran diwajibkan menyampaikan rencana kerja
dan pertanggungjawaban kepada BKAD atau MAD. Dalam rencana
kerja wajib disampaikan Perencanaan Keuangan termasuk
perencanaan pendapatan dan biaya.
e. Perencanaan pendapatan bukan perencanaan alokasi (pembagian porsi
pendapatan) tetapi perhitungan perkiraan pendapatan dalam satu tahun
sehingga tidak diperbolehkan dilakukan pembagian alokasi pendapatan
sebelum diperhitungkan seluruh biaya dan risiko. Perencanaan
pendapatan jasa pinjaman harus mempertimbangkan beberapa kondisi
sebagai berikut:
1. Estimasi pendapatan dari jumlah pinjaman produktif (Jumlah
pinjaman saat ini dikurangi pinjaman kolektibilitas V dikurangi
estimasi pengembalian ditambah estimasi perguliran baru);
2. Tingkat Pengembalian Pinjaman rata-rata dalam tahun terakhir;
3. Besaran persentase (%) jasa pinjaman.
f. Ketentuan pendanaan Operasional UPK berdasarkan pada ketentuan
sebagai berikut :
1. Untuk lokasi yang mempunyai alokasi BLM maka pendanaan
operasional UPK menggunakan dana operasional UPK yang
berasal dari BLM terlebih dahulu selanjutnya jika masih dibutuhkan
subsidi pendanaan operasional dapat menggunakan dana hasil
pengelolaan dana bergulir.
2. Biaya Honor/insentif Pengurus UPK ditentukan dengan
pertimbangan kewajaran yang sesuai dengan tugas dan tanggung
jawab, sebagai referensi agar menggunakan rata-rata
honor/insentif UPK pada suatu wilayah (misalnya kabupaten,
regional kabupaten atau provinsi) dan ketersediaan anggaran
operasional.
3. Biaya Administrasi & Umum mencakup untuk pembelian supplies
kantor, biaya sewa kantor, listrik, telefon dan sebagainya.
4. Biaya transportasi bukan bersifat tunjangan tetap sehingga
diberikan berdasarkan kehadiran kantor atau pelaksanaan tugas.
5. Biaya Insentif penagihan dapat diberikan maksimal 5 % dari jasa
pinjaman yang dapat ditagih untuk pinjaman kategori Kolektibilitas
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 9

V. Untuk pinjaman lancar s/d Kolektibilitas IV tidak diberikan insentif
karena merupakan tanggung jawab tugas pengurus UPK.
6. Pendanaan pembelian inventaris dan aktiva tetap dengan
pertimbangan kebutuhan operasional dan pertimbangan
ketersediaan dana.
7. Biaya Penghapusan Pinjaman dapat dilakukan sesuai dengan
realisasi penghapusan dan tidak diperbolehkan mengelola
cadangan penghapusan secara terpisah (mengelola dana
cadangan dengan melakukan pembebanan biaya tanpa adanya
penghapusan pinjaman). Realisasi penghapusan pinjaman sebagai
dasar pembebanan biaya.
8. Tidak diperbolehkan untuk memberikan insentif/honor/tunjangan
apapun kepada aparat baik langsung maupun tidak langsung.
9. Biaya Lain-lain adalah biaya yang dikeluarkan oleh UPK yang tidak
termasuk biaya yang disebutkan tersebut di atas.
10. Jumlah biaya yang dikeluarkan UPK maksimal adalah 75 % dari
Pendapatan UPK.
g. Penggunaan Surplus Operasional UPK tahunan setelah
mempertimbangkan risiko pinjaman (sesuai dengan Laporan
Kolektibilitas) mengacu ketentuan sebagai berikut :
1. Perhitungan Surplus Operasional dibuat berdasarkan tutup buku
secara tahunan, bagi UPK yang belum melakukan tutup buku secara
tahunan tidak diperkenankan melakukan pembagian Surplus
Operasional;
2. Penambahan Modal minimal 50 % dari surplus tahunan;
3. Bantuan Langsung RTM (mengacu daftar RTM) minimal 15 % dari
surplus tahunan;
4. Pengembangan kelembagaan yang mencakup penguatan status
kelembagaan dan peningkatan kapasitas pelaku masyarakat
maksimal maksimal 10% dari surplus tahunan. Ketentuan
penggunaan ini diputuskan oleh MAD;
5. Bonus Pengurus UPK maksimal yang lebih rendah daripada 5 % dari
surplus atau maksimal 2 kali honor/insentif yang diterima setiap
bulan;
6. Nilai Surplus Operasional setelah dikurangi Bantuan Langsung RTM,
Pembagian Pengembangan Kelembagaan, dan Bonus pengurus
UPK merupakan Surplus Ditahan.
h. Ketentuan pendanaan kelembagaan pendukung UPK mengacu sebagai
berikut :
1. Pendanaan Tim Verifikasi Perguliran maksimal 0,5 % dari dana yang
akan digulirkan dan dibebankan pada biaya lain-lain;
2. Pendanaan Badan Pengawas UPK maksimal 5 % dari anggaran
biaya tahunan UPK dan diberikan pada saat pelaksanaan
Pengawasan UPK dan bukan bersifat insentif bulanan. Pembebanan
biaya pada Biaya Lain-lain;
3. Pendananan Tim Penyehatan Pinjaman maksimal 2 % dari nilai
tunggakan di atas 6 bulan yang berhasil ditagih dan dibebankan
pada biaya lain-lain;
4. Pendanaan pemberian IPTW (Insentif Pengembalian Tepat Waktu)
dapat diberikan untuk pengembangan permodalan kelompok bukan
untuk individu pengurus kelompok atau bukan untuk jasa penagihan.
Pendanaan ini diberikan setelah kelompok melunasi seluruh
kewajiban secara tepat waktu;
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 10

5. Pendanaan Kelembagaan BKAD bersifat subsidi pendanaan
kegiatan yang berasal dari surplus operasional UPK dan termasuk
dalam pembagian surplus untuk Pengembangan Kelembagaan.
i. Ketentuan Penghapusan Pinjaman diatur sebagai berikut :
Penghapusan Pinjaman digolongkan dalam dua jenis penghapusan
sebagai berikut :
1. Hapus Buku adalah penghapusan pokok pinjaman dari pembukuan
UPK sehingga tidak tampak dalam laporan keuangan Neraca
Program. Masyarakat melalui UPK masih mempunyai hak tagih
(pokok, jasa dan denda pinjaman yang tertunggak) pada peminjam
sehingga UPK tetap melakukan pencatatan sebagai catatan
administratif untuk melakukan penagihan atau pola penyelesaian lain
sesuai dengan hasil ketentuan Pengelolaan Pinjaman Bermasalah.
Tujuan dari hapus buku ini adalah agar Laporan keuangan tidak
dibebani oleh pinjaman yang tidak produktif. Sebagai akibat dalam
penghapusan ini adalah Biaya Penghapusan yang akan berdampak
pada perolehan laba maupun kumulatif laba ditahan. Dengan
dilakukan hapus buku perhitungan jasa pinjaman tidak dibebankan
lagi, namun demikian penyelesaian total tunggakan (pokok, jasa
pinjaman dan denda) yang telah ada tetap harus diselesaikan oleh
peminjam. Penyelesaian dapat dilakukan secara individu maupun
kelompok. Hasil pengembalian dari pinjaman hapus buku merupakan
Pendapatan Operasional Lainnya bagi UPK Terhadap kelompok
yang dihapuskan dan individu yang tercatat sebagai pemanfaat yang
tidak menyelesaikan kewajiban tidak diperkenankan sebagai
pemanfaat pada perguliran selanjutnya dan UPK harus membuat
sejenis daftar hitam (black list) kelompok dan peminjam yang
disampaikan pada MAD atau BKAD.
2. Hapus Mutlak adalah penghapusan pokok pinjaman dan hak tagih
yang diakibatkan oleh force majeure (bencana alam, kerusuhan, dan
sebagainya) atau meninggalnya pemanfaat. Masyarakat melalui
keputusan MAD telah merelakan seluruh kewajiban untuk tidak
ditagih lagi. Sebagai akibat dalam penghapusan ini adalah Biaya
Penghapusan yang akan berdampak pada perolehan laba maupun
kumulatif laba ditahan.
3. Syarat penghapusan pinjaman:
Pinjaman yang akan dihapuskan merupakan pinjaman
bermasalah yang telah dilakukan pengelolaan sesuai dengan
ketentuan Pola Penanganan Pinjaman Bermasalah. Realisasi
penghapusan pokok pinjaman sebagai dasar pembebanan
biaya.
Ketentuan penghapusan mempertimpangkan surplus yang
telah diperoleh agar tetap terjadi pelestarian permodalan
(pokok pinjaman awal yang diterima pada wilayah tersebut).
Penghapusan pinjaman akibat force majeure (misalnya:
bencana alam, kerusuhan dan sebagainya) yang memerlukan
pendanaan yang akan mengurangi pokok pinjaman awal maka
ketentuan penghapusan harus melibatkan keputusan
pemerintah atau pemerintah daerah dengan membentuk Tim
Khusus untuk melakukan evaluasi rencana penghapusan
tersebut.
Mekanisme keputusan pada tingkat kecamatan mengacu pada
hasil pengelolaan pinjaman bermasalah.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 11

Perkembangan laporan pinjaman hapus buku tetap harus
dibuat dan dipertanggungjawabkan oleh UPK kepada
masyarakat melalui MAD atau BKAD.
Dokumen hapus mutlak harus tetap disimpan oleh UPK dan
merupakan dokumen program.
j. Pengelolaan Hadiah Bank dengan ketentuan:
1. Hadiah yang diperoleh dari rekening yang dikelola oleh UPK
merupakan hak masyarakat bukan hak pengurus UPK karena dana
di rekening merupakan dana masyarakat.
2. Penentuan penggunaan hadiah diputuskan melalui MAD .
3. Jika hadiah berupa barang dan ditetapkan akan digunakan sebagai
inventaris UPK maka dilakukan perhitungan nilai hadiah dan
disetarakan dengan harga perolehan kemudian dicatat (dibukukan)
sebagai pendapatan lain-lain senilai harga perolehan (nilai
perolehan) yang disepakati selanjutnya atas inventaris tetap
dilakukan penyusutan.
4. Jika diperlukan biaya dalam perolehan tersebut maka diperhitungkan
dalam nilai perolehan.
5. Jika hadiah diputuskan untuk dijual maka diakui seluruhnya sebagai
pendapatan lain-lain.
k. Pengendalian
1. Pengendalian kelembagaan mengacu pada Penjelasan tentang
Kelembagaan sehingga bagi lokasi yang telah mempunyai jenis dan
bentuk kelembagaan yang tidak sesuai dengan Penjelasan tersebut
segera melakukan penyesuaian pada kesempatan Musyawarah
Antar Desa PNPM-Mandiri Perdesaan. Fasilitator tingkat Kecamatan
dan/atau Kabupaten bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi
dan fasilitasi penataan kelembagaan dan proses penyesuaian yang
sesuai dengan ketentuan program.
2. Jika fasilitator (kecamatan dan kabupaten), P-UPK, specialis
(provinsi dan nasional) , dan tim koordinasi (kabupaten, provinsi dan
pusat) dalam supervisi, monitoring dan evaluasi untuk pengelolaan
dana bergulir menemukan yang hal-hal tidak sesuai dengan
ketentuan program atau mengancam pelestarian dapat memberikan
rekomendasi-rekomendasi yang mengarah kepada perbaikan
(misalnya : penghentian operasional sementara sampai ada upaya
perbaikan yang sesuai ketentuan program, atau penggantian
pengurus UPK).
3. Fasilitator kecamatan dan kabupaten mempunyai tanggung jawab
melakukan fasilitasi kepada pemerintah daerah untuk melakukan
perlindungan aturan/ketentuan sesuai dengan program yang telah
dibuat oleh masyarakat melalui perangkat peraturan yang dibuat oleh
pemerintah daerah. Dalam perlindungan aturan/ketentuan tidak
diperbolehkan adanya kebijakan-kebijakan yang mengatur hal-hal
yang teknik operasional yang merupakan hak/porsi keputusan
masyarakat namun demikian untuk mencegah keputusan
masyarakat yang dianggap dapat merugikan pelestarian agar
diberikan ketentuan/kebijakan batasan-batasan yang wajar.
(misalnya: maksimal honor pengurus UPK, tidak diperbolehkan
pendanaan insentif/honor/tunjangan kepada Camat/Kepala
Desa/Perangkat pemerintah daerah lainnya dalam kaitan dengan
pembinaan)
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 12


10.1.6. Pelaporan Kegiatan Dana Bergulir.

a. Laporan Perkembangan Pinjaman (Formulir 80)

1. Tujuan
Tujuan laporan perkembangan pinjaman adalah untuk mengetahui
perkembangan kegiatan pinjaman dari dana BLM maupun dana
bergulir secara per bulanan. Indikator utama yang dapat dihasilkan
secara langsung dari laporan ini adalah saldo pinjaman, tingkat
pengembalian pinjaman dan jumlah tunggakan. Dengan demikian
laporan ini menunjukkan hasil kegiatan pinjaman (SPP dan UEP).

2. Format Laporan
Format Laporan Perkembangan Pinjaman adalah sama mulai dari
tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional, kolom lokasi
dilaporkan secara berjenjang tingkat kecamatan kolom lokasi
menunjukkan desa-desa dalam kecamatan, tingkat kabupaten kolom
lokasi menunjukkan kecamatan-kecamatan dalam kabupaten, tingkat
provinsi kolom lokasi menunjukkan kabupaten-kabupaten dalam
provinsi, dan tingkat nasional kolom lokasi menunjukkan provinsi
sebagai berikut :
Lokasi adalah lokasi yang dilaporkan.
Alokasi Pinjaman yaitu menunjukkan seluruh alokasi pinjaman
yang dilakukan pada wilayah yang dilaporkan. Alokasi
pinjaman ini mencakup dana awal dan dana perguliran secara
kumulatif sehingga dapat dikatakan sebagai indikator omzet
pinjaman yang telah disalurkan pada wilayah tersebut.
Target Pengembalian Kumulatif sampai dengan bulan ini yaitu
target yang harus dicapai berdasarkan jadwal angsuran yang
telah disepakati atas alokasi pinjaman. Target ini merupakan
kumulatif target seluruh alokasi pinjaman pada wilayah
tersebut.
Realisasi Pengembalian sampai dengan bulan lalu adalah
kumulatif pengembalian dari target pengembalian sampai
dengan bulan ini sehingga indikator ini merupakan hasil
pengembalian baik pokok maupun bunga sampai dengan bulan
lalu.
Realisasi Pengembalian bulan ini adalah jumlah angsuran yang
diterima pada bulan ini baik pengembalian pokok maupun
pendapatan bunga.
Realisasi Pengembalian sampai dengan bulan ini adalah
kumulatif seluruh pengembalian yang diterima baik pokok
pinjaman maupun bunga sampai dengan bulan ini.
Saldo Pinjaman adalah dana pinjaman yang masih beredar di
masyarakat yang dapat dihitung dari jumlah alokasi pinjaman
dikurangi oleh jumlah realisasi pengembalian sampai dengan
bulan ini.
Tingkat pengembalian (dalam %) adalah realisasi
pengembalian sampai dengan bulan ini dibandingkan dengan
target pengembalian kumulatif sampai dengan bulan ini.
Tunggakan Pengembalian sampai dengan bulan ini adalah
jumlah seluruh tunggakan yang masih ada di masyarakat
dihitung dari target pengembalian kumulatif dikurangi dengan
realisasi pengembalian sampai dengan bulan ini.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 13


3. Fungsi Laporan Perkembangan Pinjaman
Fungsi Laporan Perkembangan Pinjaman berbeda dalam berbagai
tingkatan wilayah dan dapat dijelaskan sebagai berikut :
Tingkat Kecamatan :
- Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan penerapan
sanksi lokal baik pada tingkat desa maupun kelompok.
- Dapat digunakan sebagai indikator potensi pendapatan
dalam penyusunan anggaran pendapatan dan biaya UPK.
- Dapat digunakan sebagai indikator pinjaman bermasalah.
Tingkat kabupaten :
- Dapat digunakan sebagai acuan penilaian rata-rata
pengembalian kecamatan dalam wilayah kabupaten.
- Memberikan informasi kondusif atau tidak kondusif yang
berkaitan dengan program - program dengan kegiatan
penyaluran pinjaman.
- Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan kategori
kecamatan bermasalah

b. Laporan Kolektibilitas Pinjaman (Formulir 81)

1. Tujuan
Tujuan Laporan Kolektibilitas Pinjaman adalah untuk mengetahui risiko
pinjaman bukan berdasarkan risiko tunggakan tetapi risiko pinjaman
basis kelompok, sehingga dapat dikatakan bahwa laporan kolektibilitas
menunjukkan kualitas kelompok peminjam. Dalam laporan kolektibilitas
satu kelompok hanya mempunyai satu tingkatan kolektibilitas. Laporan
ini dapat digunakan untuk menhgetahui NPL (Non Performing Loan)
atas dana bergulir yang dikelola UPK

2. Format Laporan
Format Laporan Kolektibilitas Pinjaman adalah sama mulai dari tingkat
kecamatan sampai dengan tingkat nasional , kolom lokasi dilaporkan
secara berjenjang tingkat kecamatan kolom lokasi menunjukkan desa-
desa dalam kecamatan, tingkat kabupaten kolom lokasi menunjukkan
kecamatan-kecamatan dalam kabupaten, tingkat provinsi kolom lokasi
menunjukkan kabupaten-kabupaten dalam provinsi, dan tingkat
nasional kolom lokasi menunjukkan provinsi sebagai berikut :

Lokasi adalah lokasi yang dilaporkan.
Saldo Pinjaman Bulan ini adalah jumlah pinjaman yang masih
beredar di masyarakat dan harus sesuai dengan Laporan
Perkembangan Pinjaman.
Kolektibilitas I adalah jumlah pinjaman yang ada di kelompok lancar
(tanpa tunggakan) untuk kolektibilitas ini dihitung risiko pinjaman di
kelompok sebesar 1 % artinya pinjaman yang ada pada kelompok
kategori ini mempunyai risiko pinjaman sebesar 1 % dari saldo
pokok yang ada di kelompok.
Kolektibilitas II adalah jumlah pinjaman yang ada di kelompok yang
mempunyai tunggakan satu sampai dua bulan untuk kolektibilitas
ini dihitung risiko pinjaman di kelompok sebesar 10 % artinya
pinjaman yang ada pada kelompok kategori ini mempunyai risiko
pinjaman sebesar 10 % dari saldo pokok yang ada di kelompok.
Kolektibilitas III adalah jumlah pinjaman yang ada di kelompok
yang mempunyai tunggakan tiga sampai empat bulan untuk
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 14

kolektibilitas ini dihitung risiko pinjaman di kelompok sebesar 25 %
artinya pinjaman yang ada pada kelompok kategori ini mempunyai
risiko pinjaman sebesar 25 % dari saldo pokok yang ada di
kelompok.
Kolektibilitas IV adalah jumlah pinjaman yang ada di kelompok
yang mempunyai tunggakan lima sampai enam bulan untuk
kolektibilitas ini dihitung risiko pinjaman di kelompok sebesar 50 %
artinya pinjaman yang ada pada kelompok kategori ini mempunyai
risiko pinjaman sebesar 50 % dari saldo pokok yang ada di
kelompok.
Kolektibilitas V adalah jumlah pinjaman yang ada di kelompok
yang mempunyai tunggakan di atas enam bulan untuk kolektibilitas
ini dihitung risiko pinjaman di kelompok sebesar 100 % artinya
pinjaman yang ada pada kelompok kategori ini mempunyai risiko
pinjaman sebesar 100 % dari saldo pokok yang ada di kelompok.
Total merupakan total saldo pinjaman dan jumlah pinjaman tiap-
tiap kolom kolektibilitas.
Resiko Pinjaman adalah persentase risiko pinjaman sesuai dengan
kategori kolektibilitas .
Jumlah Pinjaman adalah total pinjaman kategori tiap-tiap
kolektibilitas pinjaman.
Jumlah Cadangan Risiko Pinjaman adalah perkalian antara risiko
pinjaman dengan jumlah pinjaman pada tiap-tiap kolektibilitas.
Rasio Cadangan Risiko Pinjaman adalah total jumlah cadangan
risiko pinjaman dibagi dengan total jumlah pinjaman kemudian
dikalikan 100 %

3. Fungsi Laporan Kolektibilitas
Fungsi Laporan Kolektibilitas di antaranya :
Sebagai laporan pemetaan kualitas kelompok pada tiap-tiap lokasi.
Sebagai acuan dalam fasilitasi penyehatan pinjaman.
Sebagai dasar perhitungan Rasio risiko pinjaman sebagai bahan
pertimbangan untuk penentuan tingkat bunga dan pembagian
surplus usaha.
Sebagai bahan dalam penentuan sanksi lokal.

c. Laporan Perkembangan Kelompok (Formulir 84-A)

1. Tujuan
Tujuan Laporan Perkembangan Kelompok adalah untuk mengetahui
kondisi perkembangan seluruh kelompok yang masih aktif sebagai
nasabah UPK (baik yang didanai dari sumber PPK maupun PNPM -
Mandiri Perdesaan) dalam satu periode pelaporan yang digunakan
sebagai bahan evaluasi dan kebutuhan penguatan kelompok.

2. Format Laporan
Format Laporan Perkembangan Kelompok adalah sama mulai dari
tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional, kolom lokasi
dilaporkan secara berjenjang tingkat kecamatan kolom lokasi
menunjukkan desa-desa dalam kecamatan, tingkat kabupaten kolom
lokasi menunjukkan kecamatan-kecamatan dalam kabupaten, tingkat
provinsi kolom lokasi menunjukkan kabupaten-kabupaten dalam provinsi,
dan tingkat nasional kolom lokasi menunjukkan provinsi sebagai berikut :
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 15

Lokasi adalah lokasi yang dilaporkan
Jumlah Kelompok Awal adalah jumlah seluruh kelompok (secara
kumulatif) yang dinadai oleh BLM berdasarkan SPC dana BLM.
Jumlah Kelompok yang dilayani saat Ini adalah jumlah kelompok yang
masih menerima manfaat pada saat ini. Kelompok yang telah lunas
tidak termasuk dalam laporan ini.
Jenis Kelompok adalah jumlah tiap-tiap jenis kelompok yang sesuai
dengan kategori/golongan jenis kelompok yang telah ditentukan.
Jenis kelompok ini dibagi menjadi : kelompok aneka usaha (KAU),
kelompok Usaha Bersama (KUB), Kelompok Simpan Pinjam (KSP)
Campuran dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Jumlah
jenis kelompok ini harus sama dengan jumlah kelompok yang dilayani
saat ini.
Tingkat Perkembangan Kelompok adalah data perkembangan
kelompok berdasarkan katagori tingkat perkembangan yang sesuai
dengan ketentuan. Tingkat perkembangan kelompok dibagi menjadi:
pemula, berkembang dan mantap/siap. Jumlah tingkat perkembangan
kelompok ini harus sama dengan jumlah kelompok yang dilayani saat
ini.
Fungsi Kelompok adalah data tentang fungsi kelompok yang
dibedakan menjadi penyalur (chanelling) dan pengelola (executing) .
Jumlah fungsi kelompok ini harus sama dengan jumlah kelompok yang
dilayani saat ini.
Peningkatan Jumlah Kelompok adalah jumlah kelompok yang dilayani
saat ini dikurangi dengan jumlah kelompok awal.
Pertumbuhan Jumlah Kelompok adalah peningkatan jumlah kelompok
dibagi dengan jumlah kelompok awal dikalikan 100 %.

3. Fungsi Laporan Perkembangan Kelompok
Fungsi Laporan Perkembangan Kelompok ini adalah sebagai berikut :
Sebagai data base kondisi kelompok untuk kebutuhan fasilitasi
pengembangan kelompok
Sebagai indikator hasil fasilitasi kelompok
Sebagai indikator pelayanan kegiatan pinjaman

d. Laporan Pinjaman Bermasalah (Formulir 84 C)

1. Tujuan
Tujuan Laporan Pinjaman Bermasalah adalah untuk mengetahui
kelompok pinjaman yang bermasalah dalam satu periode pelaporan yang
dapat digunakan sebagai bahan evaluasi, pembinaan dan penyehatan
kelompok yang mempunyai pinjaman bermasalah.

2. Format Laporan
Format Laporan Perkembangan Kelompok adalah sama mulai dari
tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional, kolom lokasi
dilaporkan secara berjenjang tingkat kecamatan kolom lokasi
menunjukkan desa-desa dalam kecamatan, tingkat kabupaten kolom
lokasi menunjukkan kecamatan-kecamatan dalam kabupaten, tingkat
provinsi kolom lokasi menunjukkan kabupaten-kabupaten dalam provinsi,
dan tingkat nasional kolom lokasi menunjukkan provinsi sebagai berikut :
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 16

Lokasi adalah lokasi yang dilaporkan
Jumlah Kelompok dalam wilayah.
Jumlah Kelompok Bermasalah kolektibilitas di bawah 5.
Jumlah Kelompok Bermasalah kolektibilitas 5.
Jumlah Kelompok Bermasalah dengan penyebab permasalahan
adalah kelembagaan
Jumlah Kelompok Bermasalah dengan penyebab permasalahan
adalah microfinance
Jumlah Kelompok Bermasalah dengan penyebab permasalahan
adalah penyalahgunaan
Jumlah Kelompok Bermasalah dengan penyebab permasalahan
adalah force majeure
Jumlah Pinjaman Bermasalah dengan kolektibilitas di bawah 5.
Jumlah Pinjaman Bermasalah dengan kolektibilitas 5.
Total Pinjaman Bermasalah

3. Fungsi Laporan Pinjaman Bermasalah
Fungsi Laporan Perkembangan Kelompok ini adalah sebagai berikut :
Sebagai data base kondisi kelompok bermasalah yang digunakan
acuan Pengelolaan Pinjaman Bermasalah.
Sebagai indikator kondisi kelompok bermasalah.
Sebagai indikator kualitas pengelolaan kelompok

e. Laporan Jenis Usaha/Kegiatan Kelompok (Formulir 84 D)

1. Tujuan
Tujuan laporan jenis usaha kelompok adalah untuk mengetahui informasi
tentang jenis usaha kelompok yang didanai sebagai bahan fasilitasi
penguatan oleh berbagai pihak.

2. Format Laporan
Format Laporan Jenis Kegiatan/Usaha Kelompok adalah sama mulai dari
tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional, kolom lokasi
dilaporkan secara berjenjang tingkat kecamatan kolom lokasi
menunjukkan desa-desa dalam kecamatan, tingkat kabupaten kolom
lokasi menunjukkan kecamatan-kecamatan dalam kabupaten, tingkat
provinsi kolom lokasi menunjukkan kabupaten-kabupaten dalam provinsi,
dan tingkat nasional kolom lokasi menunjukkan provinsi sebagai berikut :

Lokasi adalah lokasi yang dilaporkan.
Jumlah Kelompok yang dilayani saat ini adalah jumlah kelompok yang
masih menikmati fasilitas pinjaman.
Jenis Kegiatan/Usaha Kelompok adalah kegiatan atau usaha yang
dijalankan oleh kelompok dengan pembagian sebagai berikut :
Kelompok Simpan Pinjam adalah kelompok yang mempunyai kegiatan
pengelolaan Simpanan dan pengelolaan Pinjaman.
Kelompok Usaha Bersama/Aneka Usaha adalah kelompok yang
menjalankan kegiatan/usaha pada sektor riil. Khusus untuk jenis
kelompok Aneka Usaha penggolongan jenis usaha didasarkan pada
kecenderungan anggota/pemanfaat dalam menjalankan
kegiatan/usahanya dan dibedakan menjadi :
o Aneka Jasa adalah jenis kegiatan yang menghasilkan jasa.
Misalnya: usaha bengkel, usaha salon, usaha warung makan.
o Perdagangan Umum adalah jenis kegiatan perdagangan
secara umum. Misalnya : perdagangan hasil bumi,
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 17

perdagangan hasil perikanan, perdagangan hasil perkebunan,
perdagangan sembako/kelontong.
o Aneka Industri adalah jenis kegiatan/usaha yang memproses
bahan baku menjadi barang jadi (siap dijual). Misalnya :
kelompok kerajinan rumah tangga, kelompok pembuatan
genting/batubata, kelompok pengolahan makanan.
o Pertanian/perkebunan adalah kegiatan/usaha proses
pertanian/perkebunan yang menghasilkan hasil-hasil
pertanian/perkebunan. Misalnya : kelompok petani sayur,
kelompok petani buah.
o Peternakan adalah kegiatan/usaha dalam bidang peternakan.
Misalnya : kelompok peternak sapi, kelompok peternak ayam.
o Perikanan/kelautan adalah kegiatan/usaha dalam bidang
perikanan baik dalam penangkapan maupun budidaya hasil
perikanan. Misalnya : kelompok penangkap ikan, kelompok
budidaya rumput laut, kelompok budidaya lele/udang.

3. Fungsi Laporan Jenis Kelompok
Fungsi laporan jenis kegiatan/usaha kelompok adalah sebagai berikut :
Sebagai database jenis kegiatan kelompok untuk kepentingan
fasilitasi pengembangan usaha
Sebagai informasi untuk instansi sektoral dalam pengembangan
jaringan program sektoral.
Memperkaya profil UPK dalam pengembangan kegiatan
masyarakat.


f. Laporan Keuangan Khusus Kegiatan Dana Bergulir
Laporan keuangan Dana Bergulir - UPK dalam bentuk laporan keuangan
Neraca Dana Bergulir dan Laporan Laba/ Rugi. Laporan keuangan tersebut
merupakan instrumen akuntabilitas pengelolaan seluruh dana bergulir.
Dalam pelaksanaan pembuatan laporan keuangan microfinance UPK dapat
mengacu pada pola administrasi yang telah ada (model buku kas harian)
atau membuat administrasi dengan double entry (jurnal).

1. Tujuan
Memberikan informasi secara khusus hasil pengelolaan keuangan
dan pengelolaan pinjaman dana bergulir dengan format pelaporan
keuangan lembaga keuangan mikro.

2. Fungsi Laporan Keuangan
Fungsi laporan keuangan pengelolaan dana bergulir sebagai
informasi tentang pengelolaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan
kebutuhan sebagai berikut :
Kebutuhan UPK secara internal adalah untuk mengetahui
indikator-indikator perkembangan pengelolaan secara periodik
(misalnya: setiap bulan)
Kebutuhan eksternal adalah untuk memenuhi pihak lain misalnya
BP-UPK, BKAD, pihak lain yang akan melakukan kerja sama
dengan UPK.
Sebagai bahan analisis keuangan dengan lembaga sejenis
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 18


3. Jenis Laporan Keuangan

Neraca Microfinance (Formulir 84 E)
Adalah laporan posisi keuangan yang menggambarkan jumlah
aktiva dan pasiva pada saat tertentu sesuai dengan
penggolongannya.
- Aktiva :
o Kas adalah posisi saldo uang tunai yang ada setelah
dilakukan cash opname untuk setiap jenis dana
(Operasional, UEP, SPP, dsb)
o Bank adalah posisi saldo dana bank sesuai dengan print-
out setiap rekening bank (Operasional, UEP, SPP, dan
sebagainya)
o Saldo pinjaman adalah posisi jumlah pinjaman yang
beredar di masyarakat pada saat pelaporan sesuai dengan
jenis pinjaman (UEP, SPP, dsb)
o Biaya Dibayar Dimuka adalah seluruh pengeluaran yang
mempunyai manfaat lebih dari satu periode pelaporan,
misalnya : biaya sewa kantor.
o Inventaris adalah aktiva tetap yang dibeli dan mempunyai
manfaat lebih dari satu periode pelaporan keuangan.
o Aktiva lain-lain adalah seluruh aktiva yang tidak dapat
digolongkan pada jenis aktiva yang telah disebutkan di
atas.

- Pasiva :
o Hutang adalah kewajiban atau sumber dana yang bersifat
pinjaman baik berupa jangka pendek dan menengah atau
panjang yang harus dikembalikan.
o Modal alokasi adalah sumber dana awal yang dialokasikan
untuk kegiatan microfinance. (dalam hal ini BLM untuk
UEP dan SPP - awal) ditambah dengan 2 % dana BLM.
o Modal lain-lain adalah komponen sumber dana lain yang
dapat dikategorikan sebagai modal .
o Surplus/Defisit Ditahan adalah jumlah surplus/defisit yang
digunakan untuk penambah modal, yang berasal dari hasil
kegiatan tahun-tahun sebelumnya.
o Surplus/Defisit Berjalan adalah jumlah surplus/defisit yang
terjadi dalam periode laporan keuangan.

Laporan Rugi/Laba (Formulir 84 D)
Adalah laporan pendapatan dan biaya atas kegiatan yang
dijalankan pada periode tertentu sehingga menghasilkan laba
atau rugi.
- Pendapatan
o Pendapatan Operasional adalah pendapatan yang
diperoleh dari jasa pinjaman atas pinjaman yang diberikan
kepada peminjam.
o Pendapatan Non Operasional adalah pendapatan yang
bunga bank diperoleh dari rekening yang dimiliki oleh
UPK.
o Pendapatan Lain-lain adalah pendapatan selain
pendapatan operasional maupun non-operasional,
misalnya: denda, penjualan inventaris, penjualan hadiah.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 19


- Biaya
o Biaya Dana adalah biaya yang dikeluarkan yang berkaitan
dengan sumber dana atau modal kerja untuk pendanaan
pinjaman, misalnya: UPK menerima dana program kerja
sama dengan pihak luar yang dibebani tingkat bunga yang
disepakati.
o Biaya Operasional adalah seluruh biaya yang dikeluarkan
untuk mendanai kegiatan UPK dalam pengelolaan dana
bergulir secara langsung, misalnya: honor, administrasi &
umum, transpor, sewa kantor, penyusutan.
o Biaya Penghapusan Pinjaman adalah realisasi
penghapusan pinjaman yang dikeluarkan oleh UPK pada
periode tersebut.
o Biaya Non-Operasional adalah seluruh pengeluaran biaya
yang tidak termasuk dalam golongan tersebut di atas.

- Laba/rugi
Adalah hasil pengurangan biaya terhadap pendapatan. Jika
Pendapatan lebih besar daripada biaya maka disebut laba jika
sebaliknya disebut rugi.

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 20


10.2. Panduan Fasilitator

10.2.1. Fasilitasi Kelompok
Fasilitasi kelompok merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Fasilitator
Kecamatan dalam kaitan dengan penguatan kelompok, penguatan
kelembagaan dan penguatan kegiatan/usaha. Kegiatan fasilitasi dapat
dilakukan baik secara langsung (misalnya: menghubungkan pembeli produk
yang dihasilkan, memberikan pelatihan administrasi, dan sebagainya)
maupun tidak langsung (memberikan informasi-informasi yang berkaitan
dengan penguatan kelompok misalnya : memberikan informasi lembaga
pelatihan yang berhubungan dengan usaha atau memberikan informasi
penyedia modal, dan sebagainya).

a. Kategori Kelompok.
Kategori kelompok sasaran kegiatan dana bergulir adalah kategori
kelompok pemanfaat berdasarkan:
1. Kategori Faktor Pemersatu (faktor pengikat) kelompok
Kelompok berdasarkan faktor pemersatu kelompok dibedakan
menjadi :
Kegiatan Ekonomi adalah kelompok terbentuk dengan alat
pemersatu kegiatan ekonomi, misalnya mengelola usaha secara
bersama.
Kegiatan Kemasyarakatan adalah kelompok terbentuk dengan
alat pemersatu kegiatan sosial atau kemasyarakatan, misalnya
kegiatan arisan, pengajian, kebaktian dan sebagainya.
Geografis/Wilayah adalah kelompok yang terbentuk dengan alat
pemersatu yaitu lokasi geografis.

2. Kategori Jenis Kelompok
Pembedaan jenis kelompok berdasarkan kegiatan usaha kelompok
yang telah dilakukan dibedakan menjadi :
Kelompok Aneka Usaha adalah kelompok pelaku usaha yang
usahanya dikelola secara individu masing-masing dan tergabung
sebagai kelompok pemanfaat BLM dan dana bergulir. Misalnya
kelompok usaha disekitar pasar..
Kelompok Usaha Bersama (KUB) adalah kelompok pelaku usaha
yang mengelola usaha dalam satu manajemen atau pengelolaan.
Misalnya kelompok peternak sapi dan kelompok pengrajin.
Kelompok Simpan Pinjam (KSP) adalah kelompok yang
mempunyai kegiatan simpanan dan pinjaman. Kelompok ini
dibedakan menjadi Kelompok SPP dan Kelompok Campuran.

3. Kategori Perkembangan Kelompok
Pembedaan kategori kelompok bertujuan untuk menggolongkan
kelembagaan kelompok berdasarkan perkembangan kelompok
kesiapan kelompok dalam mengelola dana bergulir sebagai berikut :
Kelompok Pemula adalah jika hasil penjumlahan nilai indikator
sampai dengan 9 (sembilan).
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 21

Kelompok Berkembang adalah jika hasil penjumlahan nilai
indikator antara 10 (sepuluh) sampai dengan 18 (delapan belas)
Kelompok Siap/Matang adalah jika hasil penjumlahan nilai
indikator di atas 18 (delapan belas)

Perhitungan nilai dengan melakukan penjumlahan indikator pada
masing-masing indikator-indikator : ikatan pemersatu, kegiatan
kelompok, pengurus, aturan iuran dan administrasi pada kelompok.
Tabel indikator dan nilai untuk melakukan kategorisasi sebagai berikut :
Tabel Indikator Perkembangan Kelompok
Indikator nilai = 1 nilai = 2 nilai = 3 nilai = 4

Ikatan Pemersatu
ikatan
pemersatu
adalah domisili
atau geografis
atau keluarga
ikatan pemersatu
kegiatan
kemasyarakatan
atau ekonomi
kurang dari satu
tahun
ikatan pemersatu
kegiatan
kemasyarakatan
atau ekonomi
antara satu tahun
sampai tiga tahun
ikatan pemersatu
kegiatan
kemasyarakatan
atau ekonomi lebih
dari 3 tahun
Kegiatan
Anggota Untuk
Tujuan Bersama
belum
mempunyai
kegiatan secara
rutin
mempunyai
kegiatan tetapi
belum terencana
dengan baik
mempunyai
kegiatan secara
rutin
mempunyai
kegiatan secara
rutin dan
terencana dengan
baik

Pengurus
belum
mempunyai
pengurus yang
disepakati oleh
anggota
pengurus
mempunyai
pertemuan tetapi
belum secara rutin
pengurus
mempunyai
pertemuan rutin
tetapi belum
mempunyai
agenda pertemuan
terencana
pengurus
mempunyai
pertemuan rutin
dan mempunyai
agenda pertemuan
yang terencana
dengan baik.

Aturan
Kelompok
belum ada
kesepakatan
untuk mencapai
tujuan
mempunyai
kesepakatan untuk
mencapai tujuan
bersama tetapi
tidak secara tertulis
mempunyai aturan
tertulis tetapi
belum seluruhnya
dilaksanakan
mempunyai ad/art
yang telah
dilaksanakan
dengan baik

Iuran Anggota
belum
mempunyai
iuran anggota
secara
wajib/tetap
mempunyai iuran
tetapi belum
mencukupi untuk
operasional
kelompok
mempunyai iuran
wajib dan sukarela
untuk operasional
kelompok
mempunyai iuran
wajib dan
simpanan sebagai
modal usaha
kelompok


Administrasi
Kelompok

belum
mempunyai
administrasi
secara tertulis

mempunyai
administrasi tertulis
tetapi belum
mempunyai laporan
tertulis
mempunyai
administrasi
tertulis dan
mempunyai
laporan tertulis
tetapi belum
secara rutin
dipertanggung
jawabkan
mempunyai
administrasi
tertulis dan
mempunyai
laporan tertulis
dan secara rutin
dipertanggung
jawabkan

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 22

4. Kategori Fungsi Kelompok
Pembedaan fungsi kelompok bertujuan untuk menggolongkan
kelembagaan kelompok berdasarkan fungsi pelayanan kepada
pemanfaat atau masyarakat. Fungsi kelompok dibedakan menjadi :
Kelompok Chanelling (penyalur) adalah kelompok yang hanya
menyalurkan pinjaman dari UPK kepada pemanfaat tanpa
mengubah persyaratan yang ditetapkan oleh UPK.
Kelompok Executing (pengelola) adalah kelompok yang
mengelola pinjaman dari UPK secara mandiri sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh kelompok kepada pemanfaat.

b. Fasilitasi Penguatan Kelembagaan adalah penguatan kelembagaan
kelompok yang sesuai dengan ketentuan program. Fasilitasi penguatan
kelembagaan dapat dilakukan atas dasar beberapa hal diantaranya:

1. Berdasarkan Jenis Kelompok
Fasilitasi jenis kelompok difokuskan pada perubahan jenis Kelompok
Aneka Usaha menjadi Kelompok Simpan Pinjam atau Kelompok
Usaha Bersama. Kelompok Aneka Usaha harus difasilitasi menjadi
jenis Kelompok Simpan Pinjam atau Kelompok Usaha Bersama
dengan langkah fasilitasi sebagai berikut :
Melakukan identifikasi dan evaluasi kecenderungan aktivitas
kegiatan atau usaha anggota yang tergabung dalam kelompok.
Menentukan jenis kelompok berdasarkan hasil evaluasi
kecenderungan
Melakukan penguatan lanjutan jika disepakati segabai kelompok
simpan pinjam sehingga memenuhi persyaratan sebagai lembaga
executing.

2. Berdasarkan Kategori Perkembangan Kelompok
Fasilitasi kategori kelompok diarahkan dengan tujuan peningkatan
status kategori kelompok. Misalnya kelompok pemula menjadi
kelompok berkembang, kelompok berkembang menjadi kelompok
siap.
3. Berdasarkan Fungsi Kelompok
Fasilitasi fungsi kelompok diarahkan pada penguatan kelembagaan
Kelompok Simpan Pinjam dari Chanelling (penyalur) menjadi
Executing (pengelola).Tujuan kelompok sebagai lembaga pengelola
pinjaman adalah untuk memperkuat permodalan kelompok,
memperluas pelayanan pinjaman masyarakat serta mempersingkat
waktu proses pelayanan. Sebagai lembaga pengelola pinjaman,
kelompok dapat melakukan pengelolaan dana bergulir secara mandiri.
Kelompok dalam hal ini dapat melakukan seleksi pemanfaat pinjaman,
penentuan jumlah angsuran, penentuan tingkat bunga, penentuan
jadwal angsuran, dan penentuan persyaratan pinjaman.

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 23

c. Fasilitasi Pengembangan Kegiatan/usaha Kelompok adalah upaya
yang dapat membantu pengembangan kegiatan kelompok berdasarkan
pada jenis kelompok. Fasilitasi pengembangan kegiatan kelompok
berdasarkan pada jenis kelompok yaitu Kelompok Simpan Pinjam
sebagai pengelola pinjaman (executing) dan Kelompok Usaha Bersama.
Kegiatan fasilitasi dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Kelompok Simpan Pinjam
Penguatan Organisasi dengan fasilitasi Pembuatan AD/ART,
fasilitasi Pembuatan SOP, dan sebagainya.
Penguatan Pengelolaan Keuangan dengan fasilitasi penguatan
administrasi dan pelaporan keuangan, fasilitasi peningkatan
permodalan dengan pengembangan jaringan, fasilitasi
peningkatan simpanan anggota, dan sebagainya.
Penguatan Pengelolaan Pinjaman dengan fasilitasi pembuatan
aturan dan mekanisme penyaluran pinjaman, fasilitasi penentuan
persyaratan pinjaman, fasilitasi Pengelolaan Pinjaman
Bermasalah, dan sebagainya.

2. Kelompok Usaha Bersama
Penguatan Organisasi/manajemen dengan melakukan fasilitasi
peningkatan kapasitas pengurus dan anggota kelompok dalam
organisasi ataupun manajemen.
Penguatan Pengelolaan Usaha :
- Aspek Pemasaran yang mencakup kualitas produk, jaringan
distribusi, strategi promosi, persaingan harga jual dan
sebagainya.
- Produksi/Operasi yang mencakup masalah supply bahan baku,
proses produksi (sistem, kapasitas sarana dan kapasitas
sumber daya manusia) dan sebagainya.
- Pengelolaan keuangan : (i) berupa administrasi dan pelaporan
keuangan; dan (ii) Peningkatan permodalan yang mencakup
permodalan untuk pengambangan sarana/prasarana maupun
modal kerja.

3. Pengembangan Jaringan
Fasilitasi pengembangan jaringan diarahkan pada pengembangan
kegiatan atau usaha kelompok dengan penekanan pada penyediaan
informasi-informasi kepada kelompok yang mendukung
kegiatan/usaha yang mencakup informasi :
Bantuan Teknis misalnya: lembaga-lembaga pelatihan, instansi
terkait penyedia pelatihan, lembaga swadaya masyarakat.
Permodalan misalnya: bank, lembaga keuangan, program-
program bantuan.
Usaha misalnya: penyediaan bahan baku, jaringan pemasaran,
diversifikasi usaha.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 24


d. Perubahan Kelompok
Tujuan perubahan kelompok adalah meningkatan kualitas kelompok
melalui proses sebagai berikut :

1. Penggabungan kelompok
Adalah pembentukan kelompok baru berdasarkan penggabungan
lebih dari satu kelompok peminjam. Tujuan penggabungan kelompok
baru agar kelompok menjadi lebih sehat dan lebih baik. Jika
penggabungan kelompok ini dilakukan sesama kelompok peminjam
maka harus mendapatkan persetujuan BKAD/MAD atau telah diatur
dalam ketentuan perguliran yang disetujui oleh BKAD/MAD.
2. Pemekaran kelompok
Adalah pemecahan satu kelompok peminjam menjadi lebih dari satu.
Tujuan pemekaran agar kelompok lebih sehat dan lebih baik.
Pemecahan kelompok ini biasanya terjadi karena wilayah pelayanan.
3. Penambahan anggota kelompok
Adalah penambahan jumlah anggota kelompok dari yang sudah ada
dengan tujuan membentuk kelompok yang lebih sehat dan
menambah jumlah pemanfaat.
4. Pengurangan anggota kelompok
Adalah pengurangan jumlah anggota kelompok dari yang sudah ada
dengan tujuan membentuk kelompok yang sehat dan berdasarkan
ketentuan kesepakatan kelompok.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 25

e. Alur pengembangan kelompok












KELOMPOK MASYARAKAT
KATEGORISASI PERKEMBANGAN :
1. IKATAN PEMERSATU
2. TUJUAN BERSAMA
3. KEPENGURUSAN
4. ATURAN KELOMPOK
5. IURAN ANGGOTA
6. KUALITAS ADMINISTRASI
KELOMPOK PEMULA KELOMPOK
BERKEMBANG
KELOMPOK SIAP
KELOMPOK BERDASAR
DOMlSlLl
KELOMPOK BERDASAR
AKTlVlTAS EKONOMl
PENGGOLONGAN
KELOMPOK USAHA
BERSAMA
KELOMPOK ANEKA
USAHA
KELOMPOK
SIMPAN PINJAM
BADAN HUKUM :
1. KOPERASI
2. PT
FUNGSI CHANELLING FUNGSI EXECUTING
KELOMPOK BERDASAR
AKTlVlTAS SOSlAL
BADAN HUKUM :
KOPERASI SIMPAN PINJAM
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 26

10.2.2. Pengelolaan Pinjaman Bermasalah
Pinjaman bermasalah disebabkan oleh berbagai sumber masalah dan
memerlukan penanganan yang sesuai. Penyelesaian pinjaman bermasalah
saat ini masih mengandalkan pada penagihan yang dirasakan memerlukan
waktu dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa materi pola penyelesaian
pinjaman bermasalah telah diterapkan di lapangan. Namun hasilnya masih
belum optimal yang disebabkan terutama oleh tidak berfungsinya
kelembagaan kelompok, terbatasnya pendanaan operasional, dan provokasi
yang bersifat negatif.

Pada sisi lain pola penyelesaian pinjaman bermasalah disamaratakan pada
semua pinjaman bermasalah tanpa dilakukan identifikasi, verifikasi maupun
validasi penyebab permasalahan sehingga sering pola penyelesaian yang
diterapkan tidak sesuai dengan penyebab permasalahan dan
mengakibatkan tidak tuntasnya penyelesaian.

Upaya-upaya hukum yang dilakukan dalam penyelesaian pinjaman
bermasalah sering menghadapi kendala persyaratan aturan dan tahapan
yang belum dipersiapkan sesuai dengan ketentuan sehingga sering
dikembalikan dengan alasan belum memenuhi syarat dilanjutkan kasusnya,
yang mengakibatkan masyarakat mempunyai keengganan untuk melakukan
proses hukum.

a. Tujuan
Tujuan pengelolaan pinjaman bermasalah adalah :
1. Melestarikan dan mengembangkan dana bergulir agar tetap
memberikan manfaat kepada masyarakat khususnya masyarakat
miskin yang membutuhkan permodalan usaha.
2. Menguatkan kelembagaan UPK dalam pengelolaan pinjaman yang
mempunyai akuntabilitas sehingga diharapkan UPK menjadi lembaga
pengelola pinjaman (microfinance instritution) yang dipercaya oleh
berbagai pihak.
3. UPK mempunyai pola pengelolan pinjaman bermasalah yang sesuai
dengan kesepakatan lokal, diketahui secara transparan oleh
masyarakat, pola penyelesaian sesuai dengan permasalahan, dan
memberikan rasa keadilan.
4. Meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa dana yang tertanam
pada pinjaman bermasalah merupakan hak masyarakat seluruh
kecamatan sehingga terjadinya pinjaman bermasalah merupakan
tanggung jawab masyarakat secara keseluruhan.

b. Prinsip
Prinsip prinsip pengelolaan pinjaman bermasalah :
1. Hak dan kewajiban masyarakat.
Dana bergulir merupakan milik masyarakat sehingga seluruh
masyarakat mempunyai hak untuk memanfaatkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku dan masyarakat mempunyai kewajiban untuk
pelestarian pengembangan dana bergulir.
2. Transparansi
Pengelolan pinjaman bermasalah harus dikelola secara transparan
dengan pelibatan masyarakat secara luas.
3. Kesesuaian
Pola penyelesaian pinjaman bermasalah harus sesuai dengan
permasalahan yang mendasari serta sesuai dengan kemampuan
masyarakat sampai dengan tingkat pemanfaat.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 27

4. Kesepakatan
Penyelesaian pinjaman bermasalah merupakan kesepakatan
kelompok dengan Tim Penyehatan atau UPK yang dibuat dengan
beberapa tahapan secara transparan.
5. Kesadaran Hukum
Meningkatkan kesadaran hukum melalui advokasi yang sesuai dengan
hak masyarakat dan pembelajaran proses hukum dan ADR
(Alternative Dispute Resolution).

c. Pengertian Pinjaman Bermasalah
Dalam lembaga keuangan/bank, pinjaman bermasalah didasarkan pada
tingkat kolektibilitas yang aturannya ditentukan oleh Bank Indonesia.
Tingkat kolektibilitas tersebut mencakup permasalahan: manajemen
peminjam, tingkat pertumbuhan industri, pengembalian, permodalan,
coverage jaminan dan sebagainya. Penilaian Tingkat Kolektibilitas
tersebut sulit diterapkan pada program masyarakat yang berkaitan
dengan pengelolaan dana bergulir dengan nasabah kelompok khususnya
kegiatan pinjaman program karena selain pengguna tingkat kelompok
(dengan berbagai jenis, usaha, fungsi dan tingkat perkembangan
kelompok) masih terdapat beberapa faktor lainnya di antaranya :
permodalan sulit dinilai, jaminan tidak ada, tidak ada negative list
sektor usaha. Untuk menjembatani kebutuhan tentang definisi Pinjaman
Bermasalah yang sesuai dengan program maka pinjaman bermasalah
dibatasi berdasarkan kelancaran pembayaran kelompok kepada UPK
dengan ketentuan adalah :
1. Tunggakan angsuran di atas 3 bulan untuk jadwal pinjaman yang
diangsur tiap bulan.
2. Tunggakan angsuran di atas 4 bulan untuk jadwal pinjaman per
triwulan.
3. Tunggakan angsuran di atas 7 bulan untuk jadwal pinjaman per 6
bulan.
4. Tunggakan akibat tidak berfungsinya kelompok: kelompok bubar,
konflik pengurus dan sebagainya.

Keempat hal tersebut memang belum memperhatikan hal-hal yang
bersifat kondisi usaha baik kelompok ataupun individu pemanfaat.
Identifikasi Pinjaman bermasalah berawal dari data pinjaman yang ada di
UPK, Laporan Perkembangan Pinjaman dan Laporan Kolektibilitas. Hasil
identifikasi sebagai instrument verifikasi dan validasi kondisi pada tingkat
kelompok yang dilakukan oleh UPK dengan Tim Verifikasi.

d. Penggolongan Permasalahan
Permasalahan pinjaman bermasalah dapat dilakukan penggolongan
penyebab pinjaman bermasalah sebagai berikut :
1. Permasalahan Kelembagaan Kelompok: adalah permasalahan yang
disebabkan oleh kurang berfungsinya kelembagaan-kelembagaan
yang dibangun oleh program sebagaimana mestinya yaitu :
Permasalahan Tingkat Kelompok Peminjam yang disebabkan
oleh bubarnya kelompok, pengurus tidak aktif, aktivitas kelompok
tidak ada,dan sebagainya.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 28

Permasalahan Tim Verifikasi yang tidak berfungsi dengan
semestinya dan mengakibatkan terjadinya kelompok fiktif,
kelompok tidak ada usaha, dsb.
Pengurus kelompok mempunyai itikad untuk tidak
mengembalikan.
Pemanfaat dari kelompok Simpan Pinjam atau Aneka Usaha
mempunyai itikad untuk tidak mengembalikan.

2. Permasalahan micro-finance adalah permasalahan yang disebabkan
oleh kemampuan keuangan kelompok baik yang disebabkan oleh
permasalahan usaha/kegiatan maupun itikad pada tingkat
kelompok/pemanfaat sehingga mengakibatkan pengembalian ke UPK
terkendala dengan kondisi sebagai berikut :
Kondisi keuangan atau usaha kelompok tidak mampu
mengembalikan.
Kondisi keuangan atau usaha pemanfaat tidak mampu
mengembalikan .
Kesalahan pada penentuan jadwal pengembalian yang tidak
sesuai dengan siklus usaha kelompok maupun pemanfaat.

3. Permasalahan Penyelewengan adalah permasalahan yang
diakibatkan adanya penyelewengan dana yaitu:
Penyelewengan atau pemotongan pada saat alokasi dana
pinjaman ke kelompok oleh TPK,dsb sehingga
kelompok/pemanfaat hanya mengakui dana yang diterima saja.
Penyelewengan atau pemotongan pada saat alokasi dana ke
pemanfaat oleh pengurus kelompok sehingga pemanfaat hanya
membayar kewajiban sesuai dengan yang diterima.
Penyelewengan pengembalian oleh pengurus kelompok, TPK
(bagi lokasi yang menggunakan TPK), dan sebaginya.
Adanya kelompok Fiktif.

4. Permasalahan Force Majeure adalah permasalahan diakibatkan oleh
bencana alam, huru hara, perang dan kematian pemanfaat atau
musibah yang bersifat bukan akibat dari kurangnya antisipasi risiko
usaha. Contoh risiko usaha adalah gagal panen, ternak mati,
perampokan, kebakaran lokasi usaha, dsb.

e. Mekanisme Pengelolaan
Mekanisme pengelolaan pinjaman bermasalah dengan tahapan sebagai
berikut :

1. Identifikasi dan Laporan.
Identifikasi dilakukan sesuai dengan data kondisi kelompok peminjam
yang ada di UPK berdasarkan : Kartu Pinjaman/Kredit, Laporan
Perkembangan Pinjaman dan Laporan Kolektibilitas serta data
pendukung lainnya ( misalnya : surat panggilan dan laporan
penagihan oleh UPK) Berdasarkan data tersebut secara khusus UPK
bersama dengan Badan Pengawas UPK membuat Laporan Pinjaman
Bermasalah kepada BKAD /MAD. Selanjutnya atas dasar laporan
tersebut jika diperlukan dibentuk Tim Penyehatan Pinjaman.

2. Pembentukan Tim Penyehatan Pinjaman
Pertimbangan pembentukan Tim Penyehatan Pinjaman ditentukan
oleh jumlah pinjaman bermasalah dalam rupiah, jumlah kelompok,
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 29

kemampuan pendanaan operasionalnya. Tim Penyehatan
diperbolehkan melibatkan unsur pelaku-pelaku yang dianggap mampu
menyelesaikan atau menyehatkan kondisi pinjaman dengan ketentuan
tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan prinsip dan tujuan
program.

3. Penentuan Aspek dan Scoring Indikator Penilaian
Penentuan aspek dan indikator penilaian merupakan kesepakatan
kebutuhan aspek-aspek yang harus dinilai oleh Tim Penyehatan
Pinjaman sebagai acuan dalam menentukan kategorisasi kelompok
pinjaman bermasalah secara transparan dan akuntabel sehingga
penilaian aspek dapat secara obyektif.

f. Penentuan Aspek Penilaian
Penentuan aspek penilaian merupakan langkah awal dalam melakukan
kategorisasi kelompok yang sesuai dengan permasalahan kelompok
sehingga diharapkan pola penyelesaian dapat diberikan sesuai dengan
permasalahan kelompok masing-masing:
1. Aspek Penilaian Kelembagaan
Aspek penilaian kelembagaan ditekankan untuk melakukan penilaian
fungsi kelembagaan kelompok yang mempengaruhi pengembalian
pinjaman kepada UPK ini berdasarkan indikator-indikator kondisi dan
fungsi kelompok. Contoh aspek penilaian kelembagaan adalah :
Kewajaran dalam Penggunaan Pinjaman dan Administrasi :
- Apakah Pinjaman yang diterima digunakan untuk tujuan yang
sesuai dengan proposal yang diajukan?
- Apakah kelompok melakukan administrasi dan pelaporan yang
memadai dalam menggunakan pinjaman?
Kepatuhan
- Apakah dilakukan pembayaran-pembayaran yang sesuai
dengan kesepakatan minimal 2 kali angsuran kepada UPK?
- Apakah pengurus kelompok menghadiri pertemuan-pertemuan
pembinaan, pertemuan kelompok dalam rangka pengembalian
pinjaman ?
Kemauan Pengurus Kelompok
- Apakah secara terbuka dan jujur kepada UPK mengungkapkan
permasalahan-permasalahan dalam kaitannya dengan
pengembalian ?
- Apakah telah ada upaya yang serius oleh pengurus kelompok
untuk mengembalikan Pinjaman ?
- Apakah pengurus kelompok menunjukkan rasa bertanggung
jawab atas permasalahan kelompok ?

2. Penilaian Aspek Kemampuan
Aspek penilaian kemampuan kelompok merupakan penilaian kondisi
kelompok didasarkan oleh indikator-indikator yang mempengaruhi
hasil usaha/kegiatan dan kondisi keuangan. Secara garis besar
indikator tersebut dibedakan menjadi faktor-faktor internal dan faktor-
faktor eksternal. Contoh aspek penilaian kelembagaan (dapat
dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan) adalah
sebagai berikut :

Faktor-faktor Internal :
Merupakan penyebab kemampuan pengembalian yang berasal dari
usaha yang didanai di antaranya:
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 30

- Hasil Usaha dan permodalan kelompok: apakah hasil usaha dan
permodalan kelompok secara keseluruhan dinilai mampu
mengembalikan pinjaman ?
- Manajemen: apakah pengelolaan usaha/kegiatan dilakukan
dengan baik sesuai dengan kondisi usaha?
- Apakah ada dukungan anggota (misalnya: ikatan tanggung
renteng) dalam kelompok dikaitkan penyelesaian pinjaman ?
- Apakah aktivitas/kegiatan kelompok mendukung pengembalian
kepada UPK (misalnya adanya pertemuan dalam kaitan dengan
usaha kelompok) ?

Faktor-faktor Eksternal:
Merupakan penyebab kemampuan pengembalian yang berasal
dari faktor eksternal usaha/kegiatan yang didanai oleh pinjaman :
- Kondisi Pasar: apakah kondisi pasar mampu menyerap
produk/jasa yang dihasilkan ?
- Kondisi Lingkungan Sosial: apakah lingkungan kelompok
mendukung berkembangnya usaha kelompok.
- Kondisi Alam : apakah kondisi alam yang ada mendukung usaha
yang dilakukan ?

3. Contoh Hasil Penilaian
Setelah menentukan aspek penilaian dan indikator penilaian langkah
selanjutnya adalah menentukan scoring masing-masing aspek
menilaian Dengan mengacu pada contoh di atas dan menentukan
pembobotan misalnya: nilai 3 jika indikator dinilai baik, nilai 2 jika
indikator dinilai cukup, dan nilai 1 jika indikator dinilai kurang, maka
contoh hasil indikator di atas sebagai berikut :

Contoh Hasil Penilaian Kelembagaan :
Aspek
Penilaian
Indikator Penilaian
Hasil
Nilai
1 penggunaan pinjaman
3
Kewajaran
2 Administrasi 1
3 pembayaran angsuran 2 Kepatuhan
4 kehadiran pertemuan 2
5 keterbukaan/transparansi 2
6 upaya serius 3

Kemauan
pengurus
7 tanggung jawab 3

Total Nilai
16

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 31


Contoh Hasil Penilaian Kemampuan :
Kriteria
Penilaian
Unsur Penilaian
Hasil
Nilai
1
hasil usaha dan
permodalan
2
2 Manajemen 1
3 dukungan anggota 2


faktor internal
4
aktivitas/kegiatan
kelompok
2
5 kondisi pasar 2
6 lingkungan sosial 2

faktor eksternal
7 kondisi alam 2

Total Nilai
13

g. Penentuan Bobot Hasil Penilaian
Dari penentuan penilaian dengan skala 1 sampai dengan 3 dengan
mengacu contoh tersebut di atas Aspek Kelembagaan yang mempunyai
jumlah indikator 7 (tujuh) mempunyai nilai minimal 7 dan maksimal 21,
sedangkan Aspek Kemampuan dengan jumlah indikator 7 (tujuh)
mempunyai nilai minimal 7 dan maksimal 21.

Dari hasil kemungkinan-kemungkinan nilai tiap aspek tersebut dapat
digolongkan kedalam tingkatan BAIK maupun KURANG. Misalnya dalam
contoh di atas tingkatan BAIK untuk Aspek Kelembagaan dengan nilai
minimal adalah 15 dan untuk Aspek Kemampuan dengan nilai minimal
adalah 15 , dan dinilai kurang jika hasil scoring tidak memenuhi nilai
tersebut. Dengan mengacu contoh tersebut di atas maka hasil penilaian
kelompok tersebut adalah Aspek Kelembagaan BAIK dan Aspek
Kemampuan KURANG.

h. Penentuan Kategori Pinjaman Bermasalah
Setelah melakukan penentuan aspek penilaian, indikator penilaian,
penentuan penilaian dan penggolongan hasil penilaian maka langkah
selanjutnya adalah melakukan kategorisasi pinjaman bermasalah dengan
ketentuan :

1. Kategori A adalah pinjaman bermasalah kelompok yang mempunyai
hasil penilaian aspek Kelembagaan BAIK dan aspek Kemampuan
BAIK. Kelompok katagori ini mungkin terjadi karena jadwal angsuran
tidak sesuai dengan siklus usaha sehingga walaupun semua
komponen baik tetapi masih tidak dapat mengembalikan biasanya
kesalahan pada penentuan jadwal angsuran.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 32

2. Kategori B adalah pinjaman bermasalah pada kelompok yang
mempunyai hasil penilaian aspek Kelembagaan BAIK dan aspek
Kemampuan KURANG. Kelompok katagori ini mungkin terjadi karena
aspek kemampuan usaha baik pada tingkat pemaanfaat maupun
kelompok mempunyai masalah atau permodalan kelompok tidak
mampu memenuhi kewajiban yang telah ditentukan, misalnya
kelompok tidak mempunyai tabungan kelompok yang dapat digunakan
sebagai dana talangan/sementara untuk membayar angsuran.
3. Kategori C adalah pinjaman bermasalah pada kelompok yang
mempunyai hasil penilaian aspek Kelembagaan KURANG dan aspek
Kemampuan BAIK. Kelompok katagori ini mungkin terjadi karena
kapasitas pengurus atau peran pengurus yang tidak mendukung
sehingga walaupun mempunyai potensi kemampuan yang baik tetapi
tidak melunasi kewajiban.
4. Kategori D adalah pinjaman bermasalah pada kelompok yang
mempunyai hasil penilaian aspek Kelembagaan KURANG dan aspek
Kemampuan KURANG. Kelompok katagori ini mungkin terjadi
disebabkan terutama tidak berfungsinya Tim Verifikasi pada saat
proses pendanaan sehingga tidak dapat melakukan antisipasi dengan
baik.
5. Kategori E adalah pinjaman bermasalah akibat dari penyelewengan
dana di antaranya: pemotongan pada saat pemberian,
penyalahgunaan pengurus, kelompok/pemanfaat fiktif, dan
sebagainya. Jika penyelewengan dilakukan oleh Pengurus UPK maka
administrasi penyaluran atau pengembalian kelompok sesuai dengan
yang diterima atau yang telah diangsur oleh kelompok sehingga
kelompok tidak dibebankan akibat penyelewengan oleh Pengurus
UPK tetapi jika penyelewengan dilakukan oleh pengurus kelompok
maka tetap menjadi tanggungan kelompok, namun demikian tetap
difasilitasi penyelesaian sampai tingkat kecamatan.
6. Kategori F adalah pinjaman bermasalah yang disebabkan oleh
adanya force majeure (musibah). Penentuan penyebab force majeure
melalui pernyataan resmi pemerintah, pemerintah daerah atau dari
lembaga yang berkompeten. Penentuan tingkat force majeure ini
dapat ditetapkan pada tingkat kelompok maupun pemanfaat. Misalnya:
jika musibah hanya terjadi pada beberapa anggota ataupun satu
anggota maka perlakukan force majeure hanya pada yang terkena
musibah saja bukan pada seluruh anggota kelompok.

i. Validasi
Validasi adalah proses pembuktian lapangan tentang kondisi
kelompok sebenarnya sehingga UPK/Tim Penyehatan/Tim Verifikasi
dapat melakukan penilaian dengan indikator yang telah ditetapkan
sampai dengan penentuan kategori pinjaman A s/d F tersebut di atas.
Laporan validasi adalah Hasil Kategori Pinjaman dengan beberapa
catatan yang diperoleh dari lapangan pada saat proses validasi.

j. Penentuan Pola Penyelesaian
Pola Penyelesaian merupakan kajian yang terpenting dalam upaya
penyelesaian Pinjaman Bermasalah setelah menentukan Kategori
Pinjaman. Pola ini merupakan kesepakatan antara UPK/Tim
Penyehatan/Tim Verifikasi dan kelompok peminjam sebelum
diputuskan oleh MAD. Pola ini bertujuan memberikan rasa adil dan
transparan atau dapat dikatakan sebagai kesepakatan dalam upaya
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 33

penyelesaian pinjaman bermasalah. Pola Penyelesaian yang dapat
ditawarkan adalah:

1. Pola I : dengan Penjadwalan Ulang adalah melakukan penjadwalan
ulang atau membuat jadwal angsuran yang baru sesuai dengan
kondisi usaha kelompok. Dalam pola ini kemungkinan akan terjadi
perpanjangan jangka waktu pinjaman, perubahan pola angsuran
tanpa mengubah jumlah angsuran.
2. Pola II : dengan Restrukturisasi Pinjaman adalah melakukan
perubahan pola angsuran yang dikaitkan dengan realitas
penggunaan dana. Restrukturisasi ini memungkinkan terjadinya
perubahan jadwal angsuran dengan perpanjangan waktu pinjaman,
perubahan pola angsuran misalnya dari bulanan menjadi triwulan,
perubahan jumlah angsuran dan juga dilakukan persyaratan
pinjaman yang baru.
3. Pola III : dengan Pengurangan Kewajiban adalah pola penyehatan
pinjaman bermasalah yang memberikan pengurangan jasa
pinjaman jika mempunyai itikad pengembalian pokok dengan jasa
pinjaman secara sekaligus seluruhnya untuk tunggakan pokok dan
jasa pinjaman. Pola ini bisa digunakan untuk penyebab force
majeure dengan memberikan pengurangan pokok atau jasa
pinjaman sampai dengan 100 %.
4. Pola IV : Kompensasi adalah pola penyehatan pinjaman
bermasalah dengan cara melakukan kompensasi harta. Pola ini
diterapkan pada pinjaman bermasalah akibat penyelewengan dana.
Besaran kompensasi paling tidak harus sesuai dengan jumlah dana
yang diselewengkan. Dalam kompensasi harta ini diutamakan
adalah barang yang mudah dijual dan mempunyai nilai jual yang
baik. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kompensasi di
antaranya adalah:
Adanya kesepakatan tertulis antara UPK dengan individu yang
menyalahgunakan dana, yang berisi bahwa telah terjadi
penggunaan sejumlah dana, ketidaksanggupan mengganti
dana secara tunai, dan bersedia melakukan kompensasi
harta/barang yang dimilikinya (tercantum adanya pasal yang
menyatakan bahwa barang/harta tersebut miliknya dan bebas
sengketa) dengan sepengetahuan istri/suami atau
keluarganya.
Adanya pernyataan kuasa menjual barang (misalnya dengan
cara lelang) tersebut dengan harga minimal (sesuai harga
pasar yang wajar) dan hasil penjualan digunakan untuk
mengembalikan dana yang diselewengkan, jika hasil penjualan
kurang dari dana yang diselewengkan maka kekurangan tetap
sebagai kewajiban yang harus dilunasi oleh penyeleweng.
Adanya batas waktu kompensasi untuk selanjutnya jika
melewati batas waktu tersebut maka diselesaikan lewat jalur
hukum.
Jika harta yang dikompensasikan merupakan harta tetap
(misalnya bangunan atau tanah) yang memerlukan
peningkatan status kepemilikan maupun pengamanan yang
bersifat yuridis maka agar dikonsultasikan kepada notaris.
5. Pola V : Aspek hukum/litigasi adalah pola penyehatan yang akan
diselesaikan dengan penyelesaian hukum, pola ini biasanya
digunakan untuk permasalahan penyelewengan dana atau
diterapkan kepada pemanfaat/kelompok yang tidak mempunyai
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 34

itikad yang baik. Dalam melakukan proses hukum harus
dikonsultasikan kepada ahli hukum apakah termasuk perkara
pidana atau perdata.
6. Contoh Tabel Kategori dan Pola Penyelesaian
Contoh tabel ini merupakan kombinasi Pola Penyelesaian terhadap
Kategori Pinjaman bermasalah, dimana penentuan tetap harus
berdasarkan keputusan MAD/TIM Penyehatan, dalam tabel
dibawah ini bersifat tawaran yang harus disesuaikan dengan
kondisi wilayah masing-masing. Tawaran Tabel Pola
Penyelesaian sebagai berikut:

Kategori Pinjaman Alternatif Pola Penyelesaian
KATEGORI A I, II dan III
KATEGORI B I, II dan III
KATEGORI C I, II dan V
KATEGORI D IV dan V
KATEGORI E IV dan V
KATEGORI F I, II dan III


10.2.3. Pengembangan Jaringan
Pengembangan jaringan bertujuan untuk perluasan cakupan pemenuhan
kebutuhan masyarakat miskin dalam memperbaiki taraf kehidupan melalui
penyediaan program-program baik untuk peningkatan kapasitas maupun
penyediaan pemenuhan kebutuhan prasarana/sarana dasar serta
merupakan unsur penting dalam pelestarian hasil kegiatan program
khususnya kegiatan pelestarian dan pengembangan dana bergulir.
a. Mekanisme Pengembangan Jaringan dapat dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut :
1. Identifikasi Kebutuhan dapat dilakukan dengan cara :
Melakukan FGD (Focus Group Discussion) di masyarakat untuk
mengetahui kebutuhan apa yang dirasakan.
Melakukan perbandingan (prasarana-sarana, teknologi, dan
sebagainya) dengan wilayah lain.
Mengikuti Standar yang telah ditentukan yaitu standar yang dapat
dipertanggung jawabkan sebagai acuan. Misalnya standar air
bersih, standar penggunaan Teknologi Tepat Guna (TTG) dan
sebagainya.
2. Membuat profil kebutuhan sesuai dengan hasil identifikasi.
3. Membuat profil UPK atau profil kelompok atau profil kegiatan yang
telah dan sedang dilakukan UPK.
4. Membuat profil UPK atau profil kelompok.
5. Melakukan identifikasi dan menghubungi lembaga-lembaga penyedia
program atau yang menjadi calon mitra kerja sama.
6. Membuat Proposal kerja sama.

b. Jenis Jenis Kerjasama Jaringan
Jenis-jenis kerja sama tergantung pada kebutuhan dan ketersediaan
lembaga mitra kerja sama yaitu:
1. Kerjasama dibidang Bantuan Teknis misalnya: pelatihan penggunaan
TTG, pelatihan peternak, pelatihan pembibitan tanaman.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 35

2. Kerja sama dibidang Program misalnya: program pertanian terpadu,
program peningkatan efisiensi hasil perikanan.
3. Kerja sama dibidang Pendananan misalnya: pemberian modal kerja
pada kelompok, pemberian pendanaan investasi pada kelompok, kerja
sama penambahan modal pada UPK.

c. Lembaga-lembaga Mitra Kerja sama
Lembaga-lembaga yang dapat dijadikan mitra kerja sama adalah :
1. Pemerintah ataupun Pemerintah Daerah yang menyediakan program-
program pemerintah maupun pemerintah daerah.
2. Lembaga Sektoral misalnya Dinas-dinas yang ada di daerah yang
sesuai dengan bidangnya.
3. Swasta dengan program Corporate Social Responsibility (CSR).
4. Lembaga Keuangan dengan kerja sama pemenuhan kebutuhan
pendanaan permodalan usaha masyarakat.

d. Fungsi Kerja sama
Kerjasama dengan pihak lain baik kelompok maupun UPK dapat
berfungsi sebagai :
1. Chanelling artinya hanya sebagai penyalur program kerja sama yang
telah ditentukan oleh lembaga penyedia program sehingga kelompok
atau UPK hanya menyalurkan saja tanpa mempunyai tanggung jawab.
Misalnya: penyaluran obat-obatan dasar, penyaluran pendanaan
peternakan, penyaluran pendanaan bencana, dan sebagainya.
2. Executing artinya kelompok atau UPK diberikan tanggung jawab
sebagai pengelola kerja sama dengan aturan yang sesuai dengan
ketentuan kelompok atau UPK dengan model ini UPK atau Kelompok
mempunyai risiko-risiko yang harus ditanggung.

e. Hal-hal yang harus dipersiapkan
Untuk melakukan kerja sama makan UPK maupun Kelompok harus
mempersiapkan beberapa hal di antaranya :
1. Legitimasi dan Akuntabilitas Kelembagaan
- Legalitas Status kelembagaan
- Organisasi
- AD/ART
2. Mekanisme Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan
- Administrasi
- Pelaporan
- Pertanggungjawaban
3. Key Sucess Factors lainnya
- Faktor faktor kapasitas pengurus
- Faktor faktor masyarakat yang kondusif
- Dsb.
4. Mutual Benefit
Pada dasarnya kerja sama akan menghasilkan benefit-benefit masing-
masing lembaga yang bekerja sama sehingga UPK maupun Kelompok
harus menyampaikan beberapa benefit (keuntungan) jika bekerja
sama.

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 36

f. Asosiasi UPK
Asosiasi UPK merupakan forum pelaku UPK untuk tujuan penguatan dan
pengembangan aspek teknis pengelolaan bukan aspek kebijakan atau
policy yang merupakan kewenangan BKAD atau MAD sehingga dapat
dijadikan sebagai jembatan untuk hal-hal sebagai berikut :
1. Meningkatkan akses pengetahuan (knowledge),
2. Menambah ketrampilan pengelolaan (skill),
3. Memenuhi standar sikap sebagai individu-individu pengelola yang
profesional dan akuntabel (attitude).
4. Menambah informasi tentang lembaga-lembaga penyedia program,
bentuk kerja sama, lembaga penyedia bantuan teknis, dan
sebagainya.
5. Membuat needs assesment untuk penguatan UPK baik yang bersifat
kelembagaan (misalnya: perlindungan oleh pemerintah daerah)
maupun individu pengurus (misalnya: kebutuhan pelatihan) maupun
masyarakat (misalnya: kebutuhan program)

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 37


10.3. Penilaian UPK
Penilaian UPK yang dimaksud adalah melakukan evaluasi kondisi UPK dalam
melakukan pengelolaan keuangan dan pengelolaan dana bergulir, hal ini perlu
dilakukan dengan alasan bahwa UPK tidah disiapkan secara khusus untuk
mengelola keuangan secara umum tetapi hanya mengelola keuangan yang berkaitan
dengan program. Dalam melakukan penilaian dibuat dalam dua tahap yaitu :
Pemetaan UPK dan Penilaian Kesehatan UPK.

Pemetaan dilakukan dengan cara melakukan evaluasi kondisi UPK pada waktu-
waktu atau saat tertentu sehingga diketahui potensinya khususnya dalam
melakukan pengelolaan dana bergulir. Hasil pemetaan ini digunakan untuk
kebutuhan penguatan selanjutnya. Penilaian dilakukan pada rasio pinjaman
tertunggak dan jumlah dana yang masih produktif (bank,tunai dan pinjaman). Pada
pemetaan ini belum dilakukan evaluasi terhadap pendapatan dan biaya. Hasil
penilaian disebut Kategori UPK.

Penilaian Kesehatan UPK dilakukan dengan melakukan evaluasi kondisi UPK pada
periode tertentu. Evaluasi dilakukan pada hasil pengelolaan keuangan, hasil
kegiatan dana bergulir dan evaluasi kelembagaan yang sesuai dengan program.
Ketiga komponen tersebut dievaluasi dan dinilai kemudan hasil penilaian disebut
Tingkat Kesehatan UPK.

10.3.1. Pemetaan UPK

Pemetaan UPK yang mengelola dana bergulir dilakukan pada 2(dua) aspek
kondisi UPK yaitu Aspek Kuantitatif yang terdiri dari : 1) Risiko Pinjaman;
(2) Produktivitas atau Potensi Pendapatan dan Aspek Kualitatif
Pengelolaan dengan ketentuan pemetaan mengacu pada langkah sebagai
berikut :
a. Penilaian Aspek Kuantitatif
1. Risiko Pinjaman (Kolektibilitas)
Aspek risiko pinjaman atau kolektibilitas menunjukkan kualitas pinjaman
yang dikaitkan dengan jumlah tunggakan di atas 6 bulan dibandingkan
dengan total saldo pinjaman.
% 100 u
S
T
R
; dimana:
R = Resiko Pinjaman; T = Total Tunggakan di atas 6 bulan;
dan S = Total Saldo Pinjaman
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 38


Tabel: Penilaian Indikator Kualitas Pinjaman
Saldo Pinjaman (Nilai = 3) (Nilai = 2) (Nilai = 1)
lebih dari Rp.1
milyar
kurang dari 50 %
antara
50 % s/d 70 %
lebih dari 70
%
lebih dari Rp.500
juta s/d Rp.1
milyar
kurang dari 40 %
antara
40 % s/d 60 %
lebih dari 60
%
lebih dari Rp.100
juta s/d Rp.500
juta
kurang dari 30 %
antara
30 % s/d 50 %
lebih dari 50
%
kurang dari
Rp.100 juta
kurang dari 10 %
antara
10 % s/d 40 %
lebih dari 40
%

Contoh: Jika dalam suatu kecamatan ada pinjaman sebesar Rp.600 juta
dengan hasil perhitungan risiko pinjaman 50 % maka kecamatan tersebut
memiliki Nilai : 2 .
2. Produktivitas/Potensi Pendapatan
Penilaian aspek produktivitas adalah menghitung saldo pinjaman di
masyarakat yang mempunyai potensi produktif yaitu saldo pinjaman yang
tertunggak maksimal enam bulan ditambah dengan jmulah dana bergulir
yang ada di kas dan bank. Penilaian ini bertujuan untuk menghitung prospek
dana yang masih dapat dianggap mempunyai potensi pendapatan jika
dikelola dengan benar
Tabel: Penilaian Potensi Pendapatan
No. Penilaian
Sisa pinjaman produktif
ditambah dana perguliran
1. nilai = 3 lebih dari Rp.500 juta
2. nilai = 2
antara Rp.100 juta s/d Rp.500
juta
3. nilai = 1 kurang dari Rp.100 juta



Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 39

Contoh :
Saldo pinjaman di masyarakat yang dianggap produktif adalah Rp.300 juta,
dana tunai yang ada di kas sebesar Rp.15 juta serta dana di bank masih
terdapat saldo sebesar Rp.190 juta. Nilai dana produktif yang dikelola
sebesar : Rp.300 juta+Rp.15 juta+Rp.190 juta = Rp 505 juta. Sesuai tabel di
atas, maka kecamatan tersebut mempunyai nilai = 3.
b. Aspek Kualitatif Pengelolaan
Penilaian aspek kualitaatif mengelolaan adalah mengevaluasi kondisi
kuatitatif pengelolaan program dalam suatu wilayah. Penilaian ini juga dapat
digunakan sebagai informasi awal apakah pada wilayah tersebut pelaku-
pelaku pengelola program bersifat kondusif atau tidak dalam melakukan
pelestarian program. Pelaku yang dievaluasi menyangkut masyarakat, UPK
dan juga Aparat pemerintahan.

Mekanisme penilaian dengan melakukan scoring pada enam indikator yang
tersebut dibawah ini kemudian menjumlahkan masing-masing dan dibagi
dengan 6. Tabel penilaian sebagai berikut :

Indikator (Nilai = 3) (Nilai = 2) (Nilai = 1)
Penanganan
Masalah Dana
Tidak ada masalah dana;
atau Penanganan masalah
berhasil sehingga dana
diamankan.
Penangan masalah telah
dilakukan tetapi masih
belum berhasil.
Ada masalah tetapi
tidak ditangani.
Kualitas
Administrasi
Administrasi cukup lengkap
untuk pembuatan laporan
dan pengelolaan kegiatan
UPK.
Terdapat kesulitan dalam
pembuatan laporan atau
pengelolaan UPK karena
administrasi kurang
lengkap atau akurat.
UPK tidak mampu
membuat laporan
dan tidak mampu
mengelola
kegiatannya karena
administrasi sangat
lemah (atau tidak
ada)
Aktivitas
Pengurus UPK
Pengurus UPK sering dan
secara rutin melakukan
kegiatan di kantor UPK
Pengurus UPK kadang-
kadang tidak hadir di
kantor UPK pada saat
harus hadir.
Pengurus UPK tidak
melakukan kegiatan
di kantor UPK.
Prinsip
Program
Dalam
Perguliran
Prinsip program masih
diperhatikan dalam proses
perguliran dan manajemen,
termasuk transparansi dan
berpihak pada orang miskin.
Kadang-kadang prinsip
program kurang
diperhatikan dalam proses
perguliran.
Prinsip program
sudah tidak
diperhatikan oleh
UPK.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 40



c. Hasil dan Kategori Pemetaan dengan dibedakan pada aspek kuantitatif dan
aspek kualitatif pengelolaan dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Aspek Kuantitatif
Hasil Pemetaan adalah penjumlahan nilai masing-masing score
sehingga masing-masing aspek yaitu aspek kuantitatif (dengan
menjumlahkan penilaian risiko pinjaman dan produktifitas) dan aspek
kualitatiif mempunyai nilai maksimal 6. Berdasarkan hasil penilaian aspek
kuanatitatif tersebut maka UPK dapat dikategorikan menjadi:
Kategori A: adalah UPK yang mempunyai pinjaman lebih dari Rp 300
Juta dengan hasil pemetaan lebih dari 4.
Kategori B: adalah UPK yang mempunyai pinjaman sampai dengan
Rp 300 Juta dengan hasil pemetaan lebih dari 4.
Kategori C: adalah UPK yang mempunyai pinjaman lebih dari Rp 300
Juta dengan hasil pemetaan sampai dengan 4.
Kategori D: adalah UPK yang mempunyai pinjaman sampai dengan
Rp 300 Juta dengan hasil pemetaan sampai dengan 4

2. Aspek Kualitatif.
Hasil penilaian aspek kualitatif pengelolaan dengan menjumlah masing-
masing indikator kemudian membagi dengan 6 sehingga mempunyai nilai
rata-rata. Nilai rata-rata maksimal adalah 3. Berdasarkan penilaian aspek
kualitatif UPK dikategorikan menjadi :
Kategori Kuat mempunyai nilai diatas 2
Kategori Lemah mempunyai nilai 1 s/d 2

d. Fasilitasi Penguatan Hasil Pemetaan.
Hasil kategorisasi masing-masing aspek digunakan sebagai dasar
kebutuhan penguatan terhadap UPK untuk dapat dikembangkan lebih lanjut.
Misalnya, jika hasil penilaian Aspek Kualitatif mempunyai kategori Lemah
maka diperlukan fasilitasi penyehatan kelembagaan meliputi :
1. Memfungsikan kembali UPK
2. Membentuk dan memfungsikan Badan Pengawas
3. Membentuk Tim Penyehatan Pinjaman
Prosedur
Program
Dalam
Perguliran
Prosedur program masih
diikuti dalam proses
perguliran dan manajemen,
termasuk musyawarah
perguliran, pemilihan
pengurus, dan pembuatan
laporan.
Kadang-kadang prosedur
program tidak diikuti
dalam proses perguliran
dan manajemen UPK.
Prosedur program
pada umumnya tidak
diikuti lagi.
Dukungan
Aparat
Kecamatan
Aparat mendukung kegiatan
UPK dan melakukan
pemantauan, pembinaan,
dan fasilitas.
Aparat cenderung
membiarkan kegiatan UPK.
Aparat tidak
mendukung
pelestarian pinjaman
atau melakukan
intervensi yang
negatif.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 41

4. Peningkatan aspek kualitatif dalam pengelolaan meliputi penanganan
masalah dana, kualitas administrasi, aktivitas pengurus, prinsip dan
prosedur PNPM Mandiri Perdesaan dalam perguliran serta dukungan
aparat kecamatan.
5. Penyehatan pinjaman ke arah perbaikan kolektibilitas dan produktivitas
dengan cara membuat Tim Penyehatan yang berpedoman pada
Pedoman Pengelolaan Pinjaman Bermasalah yang telah disepakati.

10.3.2. Penilaian Kesehatan UPK

Kelembagaan UPK sepanjang program telah mengalami perubahan dari
Unit Pengelola Keuangan (PPK I) menjadi Unit Pengelola Kegiatan sejak
PPK II sampai dengan PNPM saat ini. UPK bertanggung jawab dalam
pengelolaan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dan pengelolaan
dana bergulir.
Khusus UPK pengelola dana bergulir dilakukan pemetaan UPK dengan
tujuan sebagai dasar untuk menentukan pola penguatan dan mengetahui
potensi pengembangan kegiatan micro finance yang sesuai dengan kondisi
UPK. Dengan demikian pemetaan bukan sebagai penilaian yang bersifat
penilaian kondisi pengelolaan (rating) tetapi sebagai identifikasi UPK untuk
penguatan selanjutnya.
Pada PPK III kelembagaan UPK dalam tahapan institusionalisasi
(pelembagaan) diarahkan sebagai lembaga pelaksana pengelola program
untuk masyarakat selain pengelola kegiatan pendanaan usaha skala mikro
(microfinance) dan dalam tahap ini program juga memberikan dukungan
penguatan melalui Konsultan Pendamping UPK dengan fokus penguatan
adalah Penguatan Kelembagaan, Penguatan dalam Pengelolaan Keuangan,
dan Penguatan dalam Pengelolaan Pinjaman. Sebagai evaluasi terhadap
penguatan UPK tersebut maka dilakukan Penilaian Kesehatan UPK yang
bersifat Rating.
a. Pengertian
Penilaian kesehatan UPK adalah proses penilaian yang dilakukan
terhadap UPK dalam hal : kelembagaan, pengelolaan keuangan, dan
pengelolaan pinjaman yang sesuai dengan tujuan, prinsip dan
kelembagaan program.

b. Tujuan
Tujuan Penilaian Kesehatan UPK adalah :
1. Untuk mengetahui kinerja Kuantitatif yaitu kinerja keuangan dan
kinerja pengelolaan dana bergulir.
2. Untuk mengetahui kinerja Kelembagaan yang berfungsi untuk
mengelola keuangan dan pinjaman.
3. Untuk membuat kategorisasi penilaian UPK yang standar secara
nasional dan sesuai dengan kelembagaan program.
4. Untuk memberikan informasi yang standar tentang kondisi UPK
kepada pihak lain yang akan bekerja sama atau membentuk jaringan
dengan UPK.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 42


c. Ruang Lingkup Penilaian
Proses penilaian kesehatan dilakukan dengan melakukan pengujian
aspek-aspek yang dianggap mendukung dalam pengelolaan program
pelestarian , meliputi :

1. Aspek Kelembagan : melakukan penilaian apakah kelembagaan UPK
dan pendukung mempunyai sistem/aturan yang memadai untuk
pengelolaan program dan pelestarian, mempunyai kapasitas SDM
yang mendukung, proses yang transparan, dan hasil akuntabel.
Penilaian kelembagaan ini tidak hanya lembaga UPK saja tetapi
termasuk lembaga pendukung yang menjamin operasionalisai UPK
yang meliputi :
MAD/BKAD sebagai pemegang keputusan tertinggi masyarakat
dalam menentukan kebijakan UPK;
Tim Verifikasi sebagai lembaga pendukung untuk proses
perencanaan kegiatan;
Badan Pengawas UPK sebagai lembaga pengawas secara
operasional UPK.

Dengan dilakukannya penilaian kelembagaan pendukung tersebut
diharapkan akan memberikan standar kelembagaan UPK yang
memadai dalam kaitan dengan pengelolaan program dan pelestarian
program baik yang berasal dari pemerintah ataupun lembaga-lembaga
lain.

2. Aspek Kuantitatif : yaitu melakukan penilaian dari hasil kinerja yang
terdiri dari :
Kinerja Keuangan : melakukan penilaian sistem/aturan
pengelolaan keuangan yang mencakup proses perencananan,
pelaporan dan hasil (performance) pengelolaan. Dalam penilaian
aspek ini menekankan kesiapan UPK dalam mengelola keuangan
program apapun atau proyek apapun dikemudian hari, karena
penilaian didasarkan pada pengelolaan transaksi keuangan yang
normatif dengan standar minimal.
Kinerja Pengelolaan Pinjaman : melakukan penilaian
sistem/aturan perguliran, kondisi permodalan dan hasil
(performance) pengelolaan pinjaman. Hasil penilaian aspek ini
memberikan indikasi tentang kesiapan UPK dalam mengelola
kegiatan pinjaman baik secara kualitatif dan kuantitatif, sehingga
dapat diketahui prospek pinjaman yang dikelola pada masa
mendatang.

d. Penilaian Indikator
Penilaian indikator adalah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
melakukan penilaian masing-masing indikator penilaian penilaian sebagai
berikut. Hasil Penilaian Indikator disebut Total Nilai. Langkah-langkah
penilaian indikator sebagai berikut :

1. Aspek Kelembagaan yang terdiiri dari :
Kelembagaan UPK :
- Lakukan penilaian kapasitas pengurus dengan cara melakukan
wawancara langsung kepada pengurus tentang pemahaman
tugas dan tanggung jawab masing-masing termasuk tentang
pemahaman: pengelolaan keuangan, pengelolaan pinjaman,
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 43

pengembangan kelembagaan UPK, pengembangan kelompok
dan pengembangan jaringan UPK dan Kelompok.
- Lakukan penilaian untuk operasional UPK apakah Kelembagaan
UPK mempunyai hari kerja yang memadai sesuai dengan
kebutuhan pelayanan, mempunyai rencana kerja yang
mendukung, mempunyai sistem pengelolaan dokumen yang
mendukung dan mempunyai papan informasi/media lain yang
mendukung dan transparan.
- Lakukan penilaian untuk aturan pengelolaan keuangan, apakah
UPK mempunyai perencanaan keuangan secara tertulis yang
memadai, apakah UPK mempunyai administrasi yang memadai
dan dilakukan dengan tertib, dan apakah UPK mempunyai
Pelaporan Keuangan yang sesuai dengan ketentuan dan
memadai.
- Lakukan penilaian tentang likuiditas, apakah UPK dapat
memenuhi pendanaan perguliran sesuai dengan rencana dan
memenuhi biaya operasional secara normal dalam tiga bulan
terakhir.
- Lakukan penilaian tentang aturan perguliran, apakah aturan
perguliran tertulis dan pelaksanaan sesuai dengan prinsip dan
tujuan program, apakah aturan perguliran tertulis memuat
persyaratan kelayakan kelompok dan diterapkan secara benar,
apakah aturan perguliran tertulis memuat aturan jasa pinjaman,
jangka waktu dan jadwal angsuran dan diterapkan secara benar,
apakah aturan perguliran tertulis memuat aturan pengelolaan
pinjaman bermasalah dan diterapkan secara benar, dan
sebagainya.

Kelembagaan Pendukung UPK :

- Kelembagaan MAD atau BKAD :
o Lakukan penilaian mekanisme dan pola perwakilan
mendukung prinsip program terutama transparan dan
keberpihakan kepada orang miskin.
o Lakukan penilaian aturan pengangkatan dan pemberhentian
pengurus dan anggota.
o Lakukan penilaian dengan wawancara kepada pengurus dan
anggota apakah memahami fungsi dan tanggung jawab.
o Lakukan penilaian apakah AD/ART yang dibuat sesuai
dengan tujuan dan prinsip program.

- Kelembagaan Badan Pengawas UPK :
o Lakukan penilaian mekanisme seleksi, penetapan dan
penggantian anggota/ketua dilakukan secara transparan dan
akuntabel dan dibuat secara tertulis.
o Lakukan penilaian dengan wawancara langsung apakah
anggota dan ketua memahami tugas dan tanggung jawab.
o Lakukan penilaian apakah mempunyai mekanisme kerja yang
jelas dan dibuat secara tertulis.
o Lakukan penilaian tentang mekanisme pelaporan apakah
sudah transparan dan akuntabel.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 44


- Kelembagaan Tim Verifikasi
o Lakukan penilaian mekanisme seleksi, pemilihan dan
penggantian dilakukan secara transparan, akuntabel dan
dibuat tertulis.
o Lakukan penilaian dengan wawancara langsung apakah
anggota dan ketua memahami tugas dan tanggung jawab.
o Lakukan penilaian mekanisme kerja jelas dan dibuat secara
tertulis.
o Lakukan penilaian tentang hasil verifikasi apakah akuntabel.

- Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) :
o Apakah AD/ART ditetapkan dengan MAD.
o Lakukan penilaian apakah AD/ART memuat pasal-pasal yang
mendukung pelestarian dan pengembangan dana/kegiatan.
o Lakukan penilaian apakah AD/ART berpihak pada masyarakat
miskin.
o Lakukan penilaian apakah memuat pasal-pasal hak dan
kewajiban dan perlindungan kepada pengurus UPK secara
wajar.
o Lakukan penilaian apakah AD/ART sesuai tujuan dan prinsip
program.
o Lakukan penilaian apakah AD/ART memuat pasal-pasal yang
mengatur kelembagaan UPK dan kelembagaan pendukung
sesuai dengan tujuan dan prinsip program.
o Lakukan penilaian apakah AD/ART disebarluaskan secara
transparan.
o Lakukan penilaian apakah AD/ART berfungsi dan diterapkan
secara bertanggung jawab.

2. Aspek Kuantitatif
Adalah melakukan penilaian kinerja aspek keuangan dan hasil pengelolaan
dana bergulir . Sebagai acuan penilaian adalah laporan keuangan
microfinance dan laporan pengelolaan dana bergulir yang telah disampaikan
dalam bab tersebut diatas. Penilaian kinerja dilakukan dengan membuat
perhitungan rasio-rasio keuangan, dampak kualitas dana bergulir terhadap
keuangan dan sebagainya yang terdiri dari :

Kinerja Keuangan
- Rasio Pendapatan
o Jumlah pendapatan jasa pinjaman dalam satu tahun (disetarakan
dalam satu tahun) kemudian dibagi dengan rata-rata pada saldo
pinjaman akhir bulan dalam satu tahun.
o Jumlahkan total pendapatan (operasional dan non-operasional)
dalam satu tahun (disetarakan dalam satu tahun) kemudian dibagi
dengan rata-rata saldo pinjaman pada akhir bulan dalam satu
tahun.

- Rasio Biaya
o Jumlahkan biaya operasional dalam satu tahun (disetarakan dalam
satu tahun) kemudian dibagi dengan rata-rata saldo pinjaman pada
akhir bulan dalam satu tahun.
o Jumlahkan total biaya (operasional dan non-operasional) dalam
satu tahun (disetarakan dalam satu tahun) kemudian dibagi dengan
rata-rata saldo pinjaman pada akhir bulan dalam satu tahun.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 45

o Jumlahkan biaya operasional dalam satu tahun (disetarakan dalam
satu tahun) kemudian dibagi dengan total jasa pinjaman pinjaman
dalam satu tahun (disetarakan dalam satu tahun)
o Jumlahkan total biaya (operasional dan non-operasional) dalam
satu tahun (disetarakan dalam satu tahun) kemudian dibagi dengan
total pendapatan (operasional dan non-operasional) dalam satu
tahun (disetarakan dalam satu tahun).

- Rasio Laba/Surplus
o Hitunglah laba/surplus operasional (total pendapatan operasional
dikurangi dengan total biaya operasional) dalam satu tahun
(disetarakan dalam satu tahun) kemudian dibagi dengan rata-rata
saldo pinjaman akhir bulan dalam satu tahun.
o Hitunglah laba/surplus akhir (total pendapatan dikurangi dengan
total biaya) dalam satu tahun (disetarakan dalam satu tahun)
kemudian dibagi rata-rata saldo pinjaman dalam satu tahun.
o Hitunglah laba/surplus akhir (total pendapatan dikurangi dengan
total biaya) dalam satu tahun (disetarakan dalam satu tahun)
kemudian dibagi total pendapatan (operasional dan non-
operasional) dalam satu tahun (disetarakan dalam satu tahun).

- Efektifitas Pengelolaan Dana
o Hitunglah rata-rata saldo kas dana perguliran pada akhir bulan
selama tiga bulan kemudian dibagi dengan rata-rata saldo
pinjaman akhir bulan dalam tiga bulan.
o Hitunglah rata-rata saldo bank perguliran pada akhir bulan selama
tiga bulan kemudian dibagi dengan rata-rata saldo pinjaman akhir
bulan dalam tiga bulan.
o Hitunglah nilai pembelian inventaris (harta tetap) dalam satu tahun
dibagi dengan laba/surplus dalam satu tahun (disetarakan dalam
satu tahun).

- Resiko Pinjaman
o Hitunglah nominal risiko pinjaman (laporan kolektibilitas) dibagi
dengan total pendapatan dalam satu tahun (disetarakan dalam satu
tahun).
o Hitunglah total realisasi biaya penghapusan dalam satu tahun
kemudian dibagi dengan risiko pinjaman.
o Hitunglah total realisasi biaya penghapusan dalam satu tahun
kemudian dibagi dengan total pendapatan dalam satu tahun
(disetarakan dalam satu tahun).

- Alokasi laba/surplus.
Hitunglah persentase laba/surplus yang ditahan untuk tambahan
modal dibagi dengan total laba/surplus.
Kinerja Pengelolaan Pinjaman

- Hasil Pengelolaan.
o Lakukan penilaian pertumbuhan permodalan dengan perhitungan
seluruh saldo pinjaman ditambah dana perguliran (kas dan bank)
saat penilaian dibagi dengan pinjaman dan dana perguliran tahun
lalu.
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 46

o Lakukan penilaian pertumbuhan kelompok dengan menghitung
jumlah kelompok peminjam/pemanfaat saat penilaian dibagi
dengan jumlah kelompok peminjam/pemanfaat tahun lalu.
o Lakukan penilaian untuk tingkat pengembalian sesuai dengan
Laporan Perkembangan Pinjaman terakhir.
o Lakukan penilaian untuk rasio risiko pinjaman sesuai dengan
Laporan Kolektibilitas terakhir.

e. Nilai Kesehatan
Proses penilaian sampai dengan mendapatkan nilai kesehatan dengan
melakukan tahapan sebagai berikut :
Melakukan penilaian indikator kemudian menjumlahkan untuk masing-
masing aspek penilaian. Hasil penjumlahan tiap-tiap aspek
dimasukkan dalam tabel Total Nilai pada masing-masing aspek
penilaian.
Perhitungan Nilai Konversi dilakukan dengan membagi Total Nilai
dengan Nilai Maksimal dan hasilnya dikalikan dengan angka 100.
Perhitungan Nilai Akhir dilakukan dengan mengalikan Nilai Konversi
dengan Bobot Penilaian masing-masing aspek penilaian.
Perhitungan Nilai Kesehatan dengan menjumlahkan Nilai Akhir
masing-masing aspek penilaian yaitu Aspek Kelembagaan ditambah
Aspek Kuantitatif kemudian dibagi 2. Atau rata-rata aspek
kelembagaan dan aspek kuantitatif.

f. Tabel Penilaian Kesehatan UPK
Penilaian Kesehatan UPK ditunjukkan dalam lembar-lembar penilaian UPK
berikut:
Lembar 1. LEMBAR PENILAIAN KELEMBAGAAN UPK
Baik Cukup Kurang
Aspek Penilaian
nilai = 3 nilai = 2 nilai = 1
Nilai
1
memahami dan mampu melaksanakan tugas
dan tanggung jawab setiap pengurus
ya Sebagian tidak

2
pemahaman pengurus tentang aturan
pengolaan keuangan
ya Sebagian tidak

3
pemahaman pengurus tentang aturan
pengolaan pinjaman
ya Sebagian tidak

4
pemahaman pengurus tentang
pengembangan kelembagaan UPK
ya Sebagian tidak

5
pemahaman pengurus tentang
pengembangan kelompok
ya Sebagian tidak

kapasitas
pengurus
6
pemahaman pengurus tentang
pengembangan jaringan kelompok dan
UPK
ya Sebagian tidak

operasional UPK 7
aktivitas hari kerja memadai sesuai dengan
kebutuhan
ya tidak

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 47

Baik Cukup Kurang
Aspek Penilaian
nilai = 3 nilai = 2 nilai = 1
Nilai
8
mempunyai rencana kerja yang jelas dan
tertulis
ya tidak

9
mempunyai sistem pengelolaan dokumen
yang baik
ya tidak

10
mempunyai papan informasi dan media
lainnya yang mendukung dan transparan
ya tidak

11
mempunyai perencenaan keuangan secara
tertulis
ya tidak
12
mempunyai administrasi yang memadai dan
dilakukan dengan tertib
ya tidak
aturan
pengelolaan
keuangan
13
mempunyai pelaporan yang sesuai dengan
ketentuan dan memadai
ya tidak
Likuiditas 14
mampu memenuhi rencana penyaluran
pinjaman dan operasional 3 bulan terakhir
ya tidak
15
kesesuaian aturan dan mekanisme dengan
tujuan, prinsip PNPM - Mandiri Perdesaan ya tidak
16
memuat dan menerapkan persyaratan
kelayakan kelompok ya tidak
17
memuat dan menerapkan aturan jasa
pinjaman, jangka waktu, dan jadwal
angsuran ya tidak
18
memuat dan menerapkan mekanisme
verifikasi yang memadai dan transparan ya tidak
19
memuat dan menerapkan aturan
pengelolaan pinjaman bermasalah ya tidak
aturan
perguliran dan
penerapan
20
memuat dan menerapkan prinsip
pengelolaan pinjaman yang transparan ya


tidak
total nilai

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 48

Lembar 2. LEMBAR PENILAIAN KELEMBAGAAN PENDUKUNG UPK
Baik Cukup Kurang
Aspek Penilaian
nilai = 3 nilai = 2 nilai = 1
Nilai
1
mekanisme dan pola perwakilan
mengakomodasi masyarakat miskin
Ya tidak
2
aturan pengangkatan dan pemberhentian
pengurus diatur dalam AD/ART
Ya

tidak
3
pengurus dan anggota memahami fungsi
dan tanggung jawab
Ya sebagian tidak
Musyawarah Antar
Desa/ BKAD
4
AD/ART sesuai dengan tujuan dan
prinsip-prinsip program.
Ya tidak
5
mekanisme seleksi, penetapan dan
penggantian BP - UPK secara tertulis
Ya

tidak
6
anggota dan ketua mempunyai
pemahaman tugas dan tanggung jawab
Ya sebagian tidak
7
mempunyai mekanisme kerja yang jelas
dan tertulis
Ya tidak
Badan Pengawas
UPK
8
mempunyai mekanisme pelaporan yang
transparan dan akuntabel
Ya tidak
9
mempunyai mekanisme seleksi,
penetapan dan penggantian secara
tertulis
Ya

tidak
10
anggota dan ketua mempunyai
pemahaman tugas dan tanggung jawab
Ya sebagian tidak
11
mempunyai mekanisme kerja yang jelas
dan tertulis
Ya tidak
Tim Verifikasi
12
hasil penilaian tim dapat dinilai wajar,
transparan dan akuntabel
Ya sebagian tidak
13
ditetapkan dengan musyawarah antar
desa
Ya tidak
14
memuat pasal-pasal yang mendukung
pelestarian dan pengembangan
dana/kegiatan
Ya sebagian tidak
15
pasal-pasal berpihak dan melindungi
masyarakat miskin
Ya tidak
16
memuat hak dan kewajiban /
perlindungan kepada pengurus UPK
Ya tidak
Anggaran
Dasar/Anggaran
Rumah Tangga
(AD/ART)
17
memuat aturan yang sesuai dengan
tujuan, asas, prinsip dan mekanisme
program.
Ya

tidak
Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 49

18
memuat dan mengatur seluruh
kelembagaan yang mendukung UPK
Ya tidak
19
AD/ART disebarluaskan secara
transparan
Ya tidak
20
AD/ART berfungsi dan diterapkan secara
bertanggung jawab
Ya tidak
total nilai -

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 50


Lembar 3. LEMBAR PENILAIAN ASPEK PENGELOLAAN KEUANGAN
Baik Cukup Kurang
Aspek Penilaian nilai = 3 nilai = 2 nilai = 1
nilai
1
pendapatan jasa pinjaman terhadap rata-
rata saldo pinjaman (periode 1 tahun)
lebih dari
20 %
10% s/d
20 %
kurang
dari 10 %

Rasio
Pendapatan
2
total pendapatan terhadap rata-rata saldo
pinjaman (periode 1 tahun)
lebih dari
30 %
20% s/d
30 %
kurang
dari 20 %

3
biaya operasional terhadap rata-rata saldo
pinjaman (periode satu tahun)
kurang
dari 25 %
25% s/d
50%
lebih dari
50%

4
total biaya terhadap rata-rata saldo
pinjaman (periode tahun)
kurang
dari 30 %
30% s/d
50%
lebih dari
50%

5
total biaya operasional terhadap
pendapatan jasa pinjaman/tahun
kurang
dari 50 %
50% s/d
75%
lebih dari
75%

Rasio Biaya
6 total biaya terhadap total pendapatan/tahun
kurang
dari 60 %
60% s/d
80%
lebih dari
80%

7
laba/surplus operasional terhadap rata-rata
saldo pinjaman /tahun
lebih dari
20%
10% s/d
20 %
kurang
dari 10%

8
laba/surplus akhir terhadap rata-rata saldo
pinjaman
lebih dari
10%
5% s/d 10
%
kurang
dari 5%

Rasio Laba /
Surplus
9
laba/surplus akhir terhadap total
pendapatan
lebih dari
15%
10% s/d
15 %
kurang
dari 10%

10
rasio rata-rata saldo kas terhadap rata-rata
saldo pinjaman
kurang
dari 3 %
3% s/d 5%
lebih dari
5%

11
rasio rata-rata saldo bank terhadap rata-rata
saldo pinjaman
kurang
dari 10 %
10% s/d
20%
lebih dari
20%

Efektivitas
Pengelolaan
Dana
12
rasio nilai pembelian inventaris terhadap
laba operasional dalam 1 tahun
kurang
dari 5 %
5% s/d
10%
lebih dari
10%

13
rasio risiko pinjaman dibandingkan dengan
pendapatan satu tahun
kurang
dari 25 %
25% s/d
50 %
lebih dari
50%

14
rasio realisasi biaya penghapusan terhadap
risiko pinjaman
kurang
dari 25 %
25% s/d
50 %
lebih dari
50%
Risiko Pinjaman
15
rasio realisasi biaya penghapusan pinjaman
terhadap pendapatan
kurang
dari 5 %
5% s/d
10%
lebih dari
10%

Alokasi
Keuntungan 16
rasio alokasi tambahan modal terhadap
keuntungan
lebih dari
50%
25% s/d
50 %
kurang
dari 25%

total nilai


Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 51

Lembar 4. LEMBAR PENILAIAN ASPEK PENGELOLAAN PINJAMAN
Baik Cukup Kurang
Aspek Penilaian nilai = 3 nilai = 2 nilai = 1
Nilai
1
pertumbuhan permodalan per tahun
lebih dari
10 %
5 % s/d 10
%
kurang
dari 5 %
2
pertambahan jumlah kelompok /pemanfaat
lebih dari
10 %
5 % s/d 10
%
kurang
dari 5 %
3
tingkat pengembalian
lebih dari
80 %
60 % s/d
80 %
di bawah
60 %
Hasil Pengelolaan
4
rasio kolektibilitas pinjaman (risiko
pinjaman )
s/d 20 %
20 % s/d
40 %
lebih dari
40 %

total nilai

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 52


Lembar 5. NILAI KESEHATAN UPK

5.a. Aspek Kelembagaan
Aspek Penilaian
total
nilai
(a)
nilai
maksimal
(b)
nilai
konversi
c = (a/b) x 100
bobot
penilaian
(d)
nilai akhir
e = c x d
Penilaian Kelembagaan
UPK
60 50%

Penilaian Kelembagaan
Pendukung UPK
60 50%



nilai kesehatan

5.b. Aspek Kuantitatif
Aspek Penilaian
total
nilai
(a)
nilai
maksimal
(b)
nilai
konversi
c = (a/b) x 100
bobot
penilaian
(d)
nilai akhir
e = c x d
Penilaian Pengelolaan
Keuangan
48 50%

Penilaian Pengelolaan
Pinjaman
12 50%



nilai kesehatan

Penjelasan X : Pengelolaan Dana Bergulir 53


Lembar 6. KATEGORI KESEHATAN UPK

6 a.Aspek Kelembagaan :
Kategori
Nilai Aspek
Kelembagaan
Kuat Minimal 75
Lemah Kurang dari 75

6.b. Aspek Kuantitatif :
Kategori
Nilai Aspek
Kuantitatif
Sehat Lebih dari 75
Cukup Sehat antara 60 s/d 75
Tidak Sehat Kurang dari 60

(PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL)
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PNPM)
MANDIRI PERDESAAN
TIM KOORDINASI
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)
(TK PNPM MANDIRI PERDESAAN)
JAKARTA
PENJELASAN XI
PENATAAN KELEMBAGAAN
1

PENJELASAN XI

PENATAAN KELEMBAGAAN


11.1. Latar BeIakang

Departemen Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat
dan Desa melaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan dengan menggunakan
pendekatan kelembagaan. Pendekatan kelembagaan menjadi pilihan dikarenakan
pertama, efisiensi pembiayaan program dapat dicapai, kedua, adanya partisipasi
masyarakat untuk menyeimbangkan kebutuhan dengan keterbatasan anggaran, dan
ketiga, adanya pemihakan bagi kaum miskin agar mereka terlibat dalam proses
kegiatan.

Dalam rangka penguatan kelembagaan, maka ada 2 unsur pokok yang harus
diperhatikan yaitu kegiatan kolektif di antara mereka, dan aturan main yang
disepakati. Kegiatan kolektif adalah agregasi kegiatan bersama berkaitan dengan
wujud hak ikut memiliki tiap anggota masyarakat, berjalannya keterwakilan sebagai
bagian dari mekanisme pemberian mandat oleh masyarakat, dan menjelaskan batas
kewenangan untuk mengukur manfaat dan biaya dari setiap pengambilan keputusan
oleh masyarakat. Aturan main yang disepakati adalah cara masyarakat mampu
mengurangi ketidakpastian, menjabarkan usaha keberhasilan, pedoman jalan keluar
bagi masalah bersama, serta mengurangi adanya penyimpangan anggota-
anggotanya. Untuk lebih mengoptimalkan kualitas keduanya, diperlukan pelaku dan
lembaga pengelola yang andal di masyarakat. Keandalan lembaga, selalu bertumpu
pada kualitas pengelolaan dan akuntabilitasnya di mata masyarakat sebagai
pemangku kepentingan.

PNPM Mandiri Perdesaan melahirkan lembaga pengelola yang cukup banyak baik
di desa maupun di kecamatan, diantaranya adalah TPK, kelompok SPP, kelompok
UEP, UPK, dan BP-UPK. Keberadaan lembaga pengelola ini pada umumnya
bersifat ad hoc/sementara (berkaitan dengan kebutuhan program), akan tetapi
seiring dengan pendampingan yang baik, dan dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat, maka beberapa lembaga pengelola telah menjadi lembaga permanen,
berkaitan dengan statutanya. Hal ini didukung kebijakan nasional.

Lembaga-lembaga ini mempunyai keunggulan yakni pada aspek kualitas kegiatan
kolektif selama ada program, hal ini tercermin dengan adanya penjelasan tentang
status kepemilikan, mekanisme keterwakilan dan batas kewenangan. Suatu skema
model penguatan kelembagaan perlu memadukan aspek dan unsur di atas dan
dikembangkan secara bertahap, terutama untuk menegaskan statuta dari lembaga-
lembaga lokal ini. Kelemahan mendasar dari lembaga bentukan program adalah
statuta, aturan dasar lembaga yang terabaikan, sehingga kelangsungan pasca
program diragukan. Selain aspek statuta, hal lain tentang kelemahan berkaitan
dengan legal standing dan keberlangsungan aktifitas bersama mereka.

Ditjen PMD telah mengeluarkan kebijakan tentang perlindungan dan pelestarian
hasil-hasil program. Di antara hasil-hasil program sebelumnya yang perlu dilestarikan
dan dikembangkan adalah lembaga pengelola yang ada di desa maupun di
kecamatan. Keberadaan lembaga pengelola di kecamatan/antar desa dikuatkan
secara legal dalam bentuk Badan Kerjasama Antar Desa (sesuai PP 72/2005).
Dengan ketentuan ini, UPK menjadi jelas dan kuat statutanya, terutama dalam
menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola pembangunan partisipatif antar
2

desa. Kebijakan ini telah tertuang dalam panduan penataan kelembagaan yang
telah disosialisasikan lewat workshop pengintegrasian dalam pembangunan reguler
akhir 2006 serta kebijakan tambahan Petunjuk Teknis Operasional PNPM Mandiri
Perdesaan.

Kelembagaan lokal yang kuat diharapkan mampu mengelola kegiatan secara lebih
efisien, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan program-
program terkait. Dalam rangka Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, maka
kegiatan ini diharapkan mampu menjadi bukti kesiapan kelembagaan masyarakat.
ntegrasi dengan kelembagaan formal di desa seperti dengan Pemerintahan Desa,
BPD dan kelembagaan masyarakat lain tentu sangat diharapkan.


11.2. Organisasi Kerja dan Skema Pengintegrasian

Peran organisasi kerja dalam pelembagaan sistem adalah sebagai pendorong dan
pelaksana kegiatan kolektif masyarakat. Fungsi organisasi kerja adalah menjalankan
dan mengembangkan relasi fungsional antar komponen di masyarakat. Organisasi
juga dapat berperan untuk melakukan eksperimen bagi pengembangan kepemilikan,
keterwakilan dalam pendelegasian, dan pengambilan keputusan kolektif. Organisasi
kerja menyediakan lahan bagi para pelaku untuk mematangkan kebiasaan dan
perumusan kesepakatan.

Organisasi kerja bentukan program adalah lembaga-lembaga yang dibentuk untuk
kebutuhan fungsional program. Dalam perkembangannya kini, organisasi kerja
organisasi kerja diharapkan mampu menjalankan dan mengelola tindakan mekanis
untuk dilakukan transformasi agar tumbuh menjadi kesadaran fungsional dan
kesadaran kritis. Untuk mencapai kemampuan ini perlu dilakukan kebijakan
penataan kelembagaan. Kebijakan penataan menyesuaikan perkembangan yang
terjadi di lapangan dan kebijakan serta peraturan perundangan yang ada. Kebijakan
penataan kelembagaan diwujudkan antara lain melalui penyediaan tenaga
pendamping, fasilitator, dan kegiatan pelatihan-pelatihan.

Ciri utama kelembagaan PNPM Mandiri Perdesaan nantinya meliputi fungsi
pengambilan keputusan kolektif, organisasi kerja sama antar desa, lembaga
kemasyarakatan, kader pemberdayaan masyarakat desa, dan badan usaha/badan
usaha milik desa. Ciri utama ini telah memadukan aspek kelembagaan lokal
dikaitkan dengan kebijakan dan peraturan perundangan yang ada.

Penataan sebagaimana di atas memadukan aspek statuta dan payung hukum.
Statuta menuntaskan status hak milik, delegasi dan keterwakilan, serta batas
kewenangan. Dalam penjabaran batas kewenangan, yang paling mendasar adalah
penjelasan tentang hubungan kelembagaan bersifat langsung dan hubungan yang
bersifat fungsional.

Pelembagaan sistem pembangunan partisipatif dalam pembangunan daerah
memerlukan adanya kelembagaan lokal yang tertata, andal, dan akuntabel. Salah
satu kelembagaan strategis pada tingkat antar desa adalah BKAD. Nilai strategis
BKAD terletak pada kemampuannya menjalankan fungsi perlindungan dan
pelestarian hasil-hasil PPK sekaligus kemampuannya untuk berkembang menjadi
organisasi kerja yang mengorganisasi pelaksanaan sistem pembangunan partisipatif
ke depan.

3

Dalam rangka pelembagaan organisasi kerja yang partisipatif, maka beberapa aspek
perlu dipertimbangkan terutama dikaitkan dengan model tahapan perkembangan
masyarakat terutama dikaitkan dengan model intervensi program. Aspek-aspek itu
adalah tindakan bersama, pengulangan lewat intervensi program (repetisi),
kebiasaan masyarakat, kesepakatan, aturan main, habitus, dan kolektifitas. Desain
ini mencoba mengatasi beberapa kelemahan akibat pendekatan dari atas yang
meniadakan partisipasi dan kegagalan kebijakan menangkap pola dasar masyarakat.





Gambar di atas menjelaskan mengenai desain pelembagaan organisasi kerja
dikaitkan dengan dukungan program.

Tindakan Bersama.
Rumusan dari tindakan bersama adalah suatu tingkatan proses yang
melibatkan masyarakat untuk hadir, terlibat secara aktif, dan menjadi bagian
penting dari pengambilan keputusan.
Tingkatan proses ini sekalipun tidak bisa mewadahi semua komponen, tetapi
ada saluran dan mekanisme dimana kesemuanya dapat melibatkan dan
mempercayakan kepada pihak lain, hal ini dikenali sebagai suatu bentuk
keterwakilan. Keterwakilan berjalan efektif manakala model komunikasi
dengan pihak yang diwakili bersifat dua arah/dual direction.
Hadir/existens adalah awal dari pelibatan diri terhadap adanya suatu tindakan
bersama. Dalam contoh model pengorganisasian masyarakat, proses
kehadiran perlu dimulai dengan sosialisasi yang tepat. Tanpa adanya
sosialisasi yang tepat gerakan menghindari makna mobilisasi akan sia-sia
belaka.
Terlibat secara aktif adalah bentuk keberanian menampilkan buah pikiran,
menyumbangkan tenaga, dana dan bahan-bahan lain untuk mendukung
terwujudnya suatu output kegiatan. Dimensi keterlibatan aktif adalah juga
Tindakan
bersama
Pelembagaan Organisasi Kerja

Repetisi
Kebiasaan
Masyarakat
Habitus
Kesepaka
tan
Aturan main
Organisasi
Kerja
Tindakan
Mekanis
Kesadaran
Fungsional dan
Relasional
Kesadaran
Kritis

Komit
men
Bersama/ko
lektif
itas

Dukungan Program
4

kerelaan untuk melakukan pengorbanan dari sumber daya yang dimiliki.
Menjadi bagian dari pengambilan keputusan berarti berperan serta dalam
merumuskan dan menetapkan keputusan. Dilema pengambilan keputusan
yang sering terjadi di masyarakat adalah adanya anggapan berakhirnya 'jam
tayang' justru pada saat akhir cerita dari lakon yang ditampilkan memerlukan
pelibatan segenap aktor. Keadaan ini menyebabkan pengambilalihan
kewenangan di tangan para pengambil keuntungan. Suatu keadaan yang
dilepaskan saat seharusnya pengambilan keputusan itu membutuhkan
pelibatan aktif peserta.
Dalam tahapan inisiasi, kegiatan identifikasi dan observasi terhadap kualitas
tindakan bersama oleh masyarakat perlu dilakukan. Contoh model yang bisa
dilihat adalah saat dilakukan kerja bakti warga, dalam banyak situasi
keterlibatan hanya berupa kehadiran. Dinamika sosial mestinya adalah proses
produksi dan reproduksi sosial, dimana masyarakat mampu mengembangkan
kolektifitasnya. Mengembangkan kolektifitas adalah titik temu antara
penyadaran, peningkatan kapasitas, dan pendayaan dengan kepemimpinan
partisipatif.

Repetisi
Repetisi adalah proses dimana terjadi pengulangan-pengulangan kegiatan
kolektif oleh masyarakat. Sifat repetisi dibedakan berdasarkan kualitas
kesadaran yang menyertainya. Pengulangan kegiatan dapat menyebabkan
tumbuhnya kesadaran kolektif. Akan tetapi kesadaran kolektif ini dapat
dibedakan berupa kesadaran mekanis-teknis dan kesadaran kritis. Tindakan
kolektif repetitif, akan berisiko pada kegagalan menemukan elan vitalnya
manakala pendekatan yang dipakai dominan berupa pendekatan mobilisasi
masyarakat. Dari hasil evaluasi pelaksanaan di lapangan gejala timbulnya
kesadaran mekanis-teknis ini sudah ditemukan di beberapa tempat.
Musyawarah musyawarah dianggap sebagai proses berulang yang
menjemukan dan membuang waktu mereka. Repetisi sebagai suatu proses
berulang kegiatan harus senantiasa diperbaharui makna, kepentingan, dan
manfaatnya bagi masyarakat. ntervensi dalam bentuk pengembangan model
pelatihan yang mampu menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat harus
diberikan.

Kebiasaan Masyarakat
Kebiasaan terbentuk oleh adanya tindakan kolektif repetitif yang biasanya
dibentuk melalui mobilisasi. Mobilisasi sebagai input terhadap proses
kegiatan, dibedakan berdasarkan pendekatan yang dipakai. Ada beberapa
pendekatan yang berasal dari teori mobilisasi dalam penerapannya bersifat
partisipatif, kerelaan dan memberdayakan. Risiko dari model pengembangan
teori mobilisasi adalah kegagalan merumuskan pendekatan partisipatif dan
kerelaan sosial, serta kegagalan merumuskan strategi pendampingan yang
tepat kepada masyarakat.
Sebagai contoh, PPK hadir sebagai program pada dasarnya bersifat
mobilisasi masyarakat. Mobilisasi artinya dalam komponen input di PPK
disediakan sistem, prinsip, mekanisme, dan prosedur program yang
diterapkan dari atas. Jika mobilisasi ini dilakukan berulang kali dalam periode
waktu yang lama maka secara perlahan masyarakat akan menjadikannya
sebagai kebiasaan. Ada contoh-contoh dari kebiasaan masyarakat yang telah
berjalan berabad-abad pada awalnya dibentuk melalui input yang bersifat
mobilisasi. Masyarakat dengan kreativitas yang dimiliki kemudian
mengembangkan, memperbaharui, memperbaiki, dan menyempurnakan
sebagian kebiasaan masyarakat. Beberapa upacara desa adat pada awalnya
5

juga bagian dari mobilisasi kerajaan pada waktu itu. Kegiatan pengajian di
desa-desa saat ini terutama pada desa yang bukan basis agama tradisional
pada awalnya juga dikembangkan melalui gerakan mobilisasi. Tetapi tapi
dalam perkembangan kemudian kegiatan itu menjadi kuat, lokal, dan
melembaga menjadi kebiasaan kolektif.

Kesepakatan
Kesepakatan adalah cara dimana masyarakat menetapkan persamaan-
persamaan diantara mereka dalam rencana tindakan yang akan dilakukan.
Kita mengenal bentuk-bentuk kesepakatan yang ada di masyarakat. Bentuk-
bentuk kesepakatan bisa dilihat dari sifat dan cakupan perikatannya, model
pemberian mandat dan delegasi yang dipilih, dan pilihan terhadap sanksi bagi
pelanggaran yang ada. Bentuk lain dari kesepakatan adalah bersifat tertulis
atau bersifat konvensional. Selain itu kesepakatan bisa dilihat dari perspektif
obligasi/kewenangan, serta konsep penetapan tujuan kolektif.
Contoh dari proses pembentukan kesepakatan adalah pada pertemuan warga,
yang menghasilkan kesepakatan terhadap sesuatu, misalnya tentang
penanganan masalah, penyelesaian konflik, atau merumuskan
pengembangan usaha. Kekuatan kesepakatan dapat dilihat dari kualitas
keterlibatan para partisipannya dan sampai sejauh mana kesepakatan
menyediakan perangkat/instrumen reward dan insentif bagi para loyalis dan
sanksi bagi para pelanggar. Kesepakatan adalah awal bagi terbentuknya
aturan main yang lebih kuat, mengikat dan mendorong pencapaian tujuan.

Habitus
Bentuk lanjut dari kebiasaan umum adalah habitus. Habitus adalah kebiasaan
masyarakat yang lebih cenderung bersifat permanen. Dalam kaitan ini habitus
adalah struktur mental kolektif dalam mengahadapi kehidupan sosial.
Tindakan kolektif itu sudah masuk dalam taraf tindakan kolektif dengan
perangkat nilai. Yang membedakan kesadaran mekanis-teknis dengan dengan
habitus adalah masuknya dimensi nilai yang mendasari tindakan kolektif yang
dilakukan. Perilaku dan tindakan sosial yang mengekspresikan adat adalah
contoh dari habitus. Kalau kesadaran teknis-mekanis bersifat temporer
berkaitan dengan adanya pengaruh kepentingan dan relasi kekuasaan, maka
habitus lebih mampu dan bersifat permanen sekalipun dipengaruhi oleh hal
yang sama. Sebagaimana disampaikan Bourdieu (1984), dialektika habitus
adalah produk internalisasi struktur dunia sosial, maka dalam kaitan ini
pembiasaan selama ini lewat kegiatan partisipasi masyarakat misalnya,
cenderung membuat pola umum kebiasaan, dan habitus dapat pula menjadi
fenomena kolektif.

Aturan Main
Bentuk lanjut dari kesepakatan adalah penetapan dengan kadar pengaruh
yang lebih kuat. Penguatan kesepakatan bisa bersifat formal maupun
informal/kultural. Penguatan bersifat formal jika kesepakatan itu memasuki
ranah hukum formal ataupun hukum daerah. Contoh yang paling jelas
tentang hal ini adalah AD-ART BKAD yang telah ditetapkan dengan SK
Bupati. Penguatan bersifat informal jika terdapat proses masuknya nilai dan
sebaran perikatan yang lebih besar, bisa karena meningkatnya pemahaman
partisipan atau bertambahnya anggota. Contoh dari penguatan bersifat
informal adalah kesepakatan warga banjar di Bali menjadi awik-awik, bahkan
dalam contoh lembaga adat Subak di Bali, awik-awik sudah dikuatkan
dengan SK Bupati, contoh yang kedua ini menjadikan proses penguatan
bentuk kesepakatan lembaga Subak cukup berkembang. Transformasi aturan
6

main di Bali relatif berjalan baik pada kasus Subak. Justru yang menjadi soal
tentang transformasi bukan pada aturan mainnya tetapi pada perubahan
basis nilai.


Komitmen SosiaI
Komitmen sosial adalah bentuk ketaatan kolektif terhadap tujuan bersama
yang telah dirumuskan oleh masyarakat/komunitas. Komitmen sosial ini
bertumpu pada habitus masyarakat dan aturan main yang telah dibentuk.
Sebenarnya komitmen tidak hanya sekedar perwujudan tekad terhadap
tujuan tetapi juga adanya tindakan terhadap perilaku yang menyimpang.
Penyimpangan dapat dikategorikan sebagai tindakan yang dapat
melemahkan komitmen. Manfaat dari adanya komitmen sosial adalah adanya
tertib sosial untuk mencapai tujuan bersama. Pada model transformasi sosial
yang dimobilisasi, tercapainya komitmen sosial adalah tujuan akhir dari model
yang dikembangkan. Pada umumnya model2 transformasi sosial yang
dikembangkan melalui beberapa program belum sampai pada tahapan
pembentukan komitmen sosial.
Pada kasus program pemberdayaan masyarakat misalnya, transformasi
berhenti hanya pada tahapan pembentukan kebiasaan dan kesepakatan
yang bersifat sementara. Tetapi kita dapat mencatat beberapa program yang
relatif berhasil misalnya lewat program PKK, BKKBN dan sebagainya.
ndikator keberhasilan proses transformasi sosial terlihat ketika program
berhenti berjalan tetapi masyarakat tetap menjalankan aktivitasnya
sebagimana ketika masih ada program, bahkan dengan pengembangan-
pengembangan. Sebagai program, tentu saja PPK juga dihadapkan pada
pilihan sulit seperti ini. Tantangannya tidak hanya sekedar tersedianya piranti
aturan main yang matang, tetapi juga sejauh mana di masyarakat sudah
terbentuk pola perilaku dan habitus sosial. Program bisa dimaknai sebagai
stimulan/insentif model yang suatu saat akan berakhir. Sistem, prosedur,
mekanisme, program PPK mendapat tantangannya ketika program/proyek
berakhir, apakah semua itu telah berhasil terinternalisikan ke dalam
masyarakat, membentuk kebiasaan, membentuk habitusnya ke depan.


11.3. Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD)

BKAD adalah organisasi kerja yang mempunyai lingkup wilayah antar desa,
berperan sebagai lembaga dalam mengelola perencanaan pembangunan partisipatif,
mengembangkan bentuk-bentuk kegiatan kerja sama antar desa, menumbuhkan
usaha-usaha pengelolaan aset produktif, serta mengembangkan kemampuan
pengelolaan program-program pengembangan masyarakat.

BKAD dibentuk berdasarkan UU 32/2004, PP 72 dan 73/2005, pada awalnya untuk
memenuhi kebutuhan bagi perlindungan dan pelestarian hasil-hasil PPK, sesuai
dengan Surat Edaran Mendagri pada Agustus 2006.

Sesuai PP 72 tahun 2005, bidang-bidang yang dapat dikerjasamakan adalah
peningkatan perekonomian masyarakat desa, peningkatan pelayanan kesehatan,
pendidikan, pemanfaatan sumberdaya alam dan kelestarian lingkungan, serta sosial
budaya. Bidang-bidang ini selaras dengan kegiatan yang selama ini telah dilakukan
melalui PPK/PNPM Mandiri Perdesaan.

7

Penjabaran tugas pokok dan fungsi BKAD di atas dilakukan berdasarkan hasil-hasil
pengalaman PPK/PNPM Mandiri Perdesaan. Hasil-hasil pengalaman PPK/PNPM
Mandiri Perdesaan tidak hanya aset produktif yang dikelola UPK, akan tetapi meliputi
sistem perencanaan, kegiatan antar desa, pengembangan aset produktif, serta
kemampuan mengelola program masyarakat.

BKAD juga mempunyai potensi untuk menjadi organisasi kerja yang
mengkoordinasikan fungsi kelembagaan masyarakat di tingkat komunitas. Konsep
pengakaran lembaga yang sudah menjadi komitemen dalam Pedum PNPM, harus
dapat diwujudkan dalam pengembangan lembaga kemasyarakatan yang
memadukan pola hubungan fungsional dan bertumpu pada akar lembaga komunitas.
Lembaga komunitas sebagai basis kekuatan BKAD ke depan dapat terdiri dari
RT/RW/dusun/jurong, nagari dsb. Dalam kaitan inilah maka BKAD dapat berfungsi
untuk menggerakkan kembali semangat revitalisasi lembaga lokal/adat. Pendekatan
pemberdayaan dalam CDD pada tahapan sekarang sudah mulai memadukan
penguatan modal sosial dan menumbuhkan solidaritas sosial. Penguatan modal
sosial dan solidaritas sosial akan menggerakkan peningkatan kegiatan kerja sama,
akses dan jaringan sosial, menggerakkan fungsi produksi dan reproduksi sosial dan
sebaginya. Pada konteks inilah maka menumbuhkan kembali semangat budaya lokal
menjadi tugas strategis BKAD.

Dalam menjalankan tugas pengelolaan perencanaan pembangunan partisipatif,
BKAD juga memerankan diri sebagai komponen penting unsur masyarakat yang
terlibat dalam pembahasan perencanaan di forum SKPD.

Beberapa fungsi yang dijalankan oleh lembaga seperti Tim Penulis Usulan, Tim
Pengelola Kegiatan,Tim Monitoring, Tim Pemelihara, adalah fungsi-fungsi yang
berjalan dengan relatif baik selama ada program. Pemikiran untuk menjaga
keberlanjutan fungsi didasarkan pada dua peluang. Peluang pertama dari aspek
keberlanjutan kelembagaan dan peluang kedua berasal dari potensi kerja sama
program. Keberlanjutan kelembagaan dipengaruhi di antaranya oleh ketersediaan
perangkat peraturan yang relevan. PP 72/2005 mengamanatkan tentang penetapan
dan pembentukan lembaga kemasyarakatan. Lembaga kemasyarakatan mewakili ciri
utama untuk mengidentifikasi lembaga lokal yang pada umumnya dibentuk melalui
proses mobilisasi. Fungsi-fungsi yang termasuk dalam lingkup lembaga
kemasyarakatan beberapa di antaranya adalah fungsi yang melekat pada lembaga
bentukan program.

Dalam pengertian inilah maka fungsi-fungsi TPU, TPK, TM, TP, akan dikuatkan
secara kelembagaan baik secara fungsi maupun legitimasi dalam kerangka lembaga
kemasyarakatan desa. Secara fungsi keberadaan lembaga-lembaga ini dapat tetap
bersifat sementara, justru untuk mengoptimalkan peran dan fungsi sesuai kebutuhan,
tetapi secara legitimasi melekat ke dalam lembaga permanen yang ada.


Secara gambar dapat dijelaskan sebagai berikut:

8




BKAD
Lembaga
Kemasyarakatan
(Lembaga
Pemberdayaan
Masyarakat)
Lembaga
Komunitas
Camat

Kades/BPD
Dusun,
RT/RW, Klp
sosial
KLP
UEP/SPP
BADAN USAHA MILIK
MASYARAKAT/
BUMIMAS
BUMDES
LEMBAGA ADAT
PENDAMPING USAHA
KADER PEMBERDAYAAN
DESA
P
E
N
D
A
M
PI
N
G

L
O
K
A
L
UPK
LEMBAGA
PENUN1ANG
Otonom
Koordinatif
Ko-operatif
Pembinaan
Langsung
Koordinatif
TPU, TPK,
TM, TP, BKM
9

11.3.1. FasiIitasi pembentukan BKAD dengan Iangkah sebagai berikut :

a. SosiaIisasi pembentukan BKAD pada MAD SosiaIisasi.
Sosialisasi dimaksudkan untuk memberikan penjelasan kepada wakil-
wakil masyarakat desa tentang badan kerja sama antar desa. Peserta
terdiri dari wakil desa sebagaimana dalam ketentuan PTO PNPM Mandiri
Perdesaan. Kegiatan sosialisasi ini dipandu oleh Fasilitator Kecamatan
dibantu PjOK. Sebagai narasumber adalah Camat, TK PNPM Mandiri
Perdesaan Kabupaten dan Fasilitator Kabupaten. Untuk kecamatan
phase out fasilitasi akan dilakukan oleh Fasilitator
Kabupaten/Pendamping UPK dibantu PJOK, sedangkan untuk kabupaten
phase out fasilitasi dilakukan oleh Pendamping UPK/KM-Prov dan TK
PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten setempat.

Agenda yang dibahas pada MAD sosialisasi meliputi pertama, UU
32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, PP 72/2005 tentang Desa, dan
PP 73/2005 tentang Kelurahan, SE Mendagri No 414.2/1402/PMD tahun
2006, serta peraturan daerah yang mengatur tentang pemerintahan desa,
dan kedua, rancangan integrasi BKAD sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Hasil dari kegiatan ini adalah adanya kesepahaman wakil-wakil desa
untuk mendorong pembentukan BKAD. Dokumen kesepahaman ini
tertuang dalam Berita Acara dengan dilampiri risalah dan daftar hadir.

b. SosiaIisasi pembentukan BKAD pada MD SosiaIisasi.
Sosialisasi dimaksudkan untuk memberikan penjelasan kepada
masyarakat desa tentang badan kerja sama antar desa yang telah
disosialisasikan dalam MAD. Peserta sebagaimana tertuang dalam PTO
PNPM Mandiri Perdesaan. Kegiatan sosialisasi ini dipandu oleh KPM-D/K
dan atau Fasilitator Kecamatan. Sebagai narasumber adalah PJOK,
Kades dan Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan.

Agenda yang dibahas pada sosialisasi meliputi pertama, UU 32/2004
tentang Pemerintahan Daerah, PP 72/2005 tentang Desa, dan PP
73/2005 tentang Kelurahan, SE Mendagri No 414.2/1402/PMD tahun
2006, serta peraturan daerah yang mengatur tentang pemerintah desa,
kedua, rancangan integrasi BKAD sesuai dengan amanat undang-
undang dimaksud. Agenda khusus yang dibahas di MD adalah keputusan
desa untuk membentuk/bergabung dalam BKAD. Keputusan ini tertuang
dalam Berita Acara hasil musyawarah.

Hasil dari kegiatan ini adalah adanya keputusan desa untuk membentuk
BKAD. Dokumen keputusan termasuk dokumen persetujuan dari BPD
tertuang dalam Berita Acara dengan dilampiri notulensi dan daftar hadir.

c. Pembentukan BKAD saat MAD Penetapan UsuIan
MAD ini dimaksudkan untuk menindaklanjuti keputusan MD sosialisasi
pembentukan BKAD. Kegiatan ini dipandu oleh Fasilitator
Kecamatan/Pendamping UPK dan dibantu oleh PJOK. Peserta terdiri
dari wakil desa sebagaimana tertuang dalam PTO PNPM Mandiri
Perdesaan. Sebagai narasumber adalah Camat, Kades dan Fasilitator
Kabupaten. Untuk kecamatan phase out fasilitasi akan dilakukan oleh
Fasilitator Kabupaten/Pendamping UPK dibantu PJOK, sedangkan untuk
10

kabupaten phase out fasilitasi dilakukan oleh Pendamping UPK/KM-Prov
dan TK PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten setempat.

Agenda pembahasan pada MAD adalah pertama, laporan hasil
keputusan MD tiap-tiap desa yang berkaitan dengan pembahasan
pembentukan BKAD. Kedua, pengumuman pembentukan BKAD
Kecamatan... (nama kecamatan) tertuang dalam berita acara. Ketiga,
pemilihan dan pembentukan pengurus BKAD. Pengurus BKAD dapat
terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Untuk fungsi-fungsi lainnya
dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan musyawarah.
Keempat, fasilitasi penyusunan AD/ART BKAD yang melibatkan peserta
wakil-wakil desa. Fasilitasi ini harus memperhatikan keterlibatan aktif
masyarakat. Fasilitator Kecamatan memfasilitasi pembentukan BKAD ini,
terhadap kecamatan yang tidak ada Fasilitator Kecamatan, fasilitasi
pembentukan dilakukan oleh Fasilitator Kabupaten.

11.3.1. Tugas Pokok dan Fungsi BKAD:

BKAD PNPM
Mandiri
Perdesaan
Dasar Pembentukan:
1. UU 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
2. PP 72 tahun 2005 tentang Desa dan PP 73 tahun 2005
tentang Kelurahan
3. SE Mendagri tentang Pelestarian dan Pengembangan
Hasil-Hasil PPK

Petunjuk Pelaksanaan dan Referensi:
1. Panduan Penataan Kelembagaan PNPM-PPK
2. PTO PNPM-PPK
3. Modul Pembentukan BKAD
4. Bahan Bacaan Kelembagaan
5. Materi Pengembangan Lapangan

Tujuan Umum Pembentukan: untuk menjaga keberlanjutan dan
pengembangan hasil-hasil PPK meliputi hasil kegiatan, sistem,
lembaga, dan asset produktif.



No.
Lingkup Tugas Umum serta Uraian
Tugas Pokok dan Fungsi BKAD
Kompetensi BKAD
1 Manajemen Pembangunan
Partisipatif

1. Meningkatkan kualitas
musyawarah-musyawarah yang
dilakukan masyarakat baik di
desa maupun antar desa.
2. Melakukan pengelolaan hasil-
hasil musyawarah desa dan antar
desa dalam kaitan pembangunan
partisipatif.
3. Menjembatani terwujudnya
penggalian gagasan yang lebih
berpihak kepada kebutuhan



1. Mampu melakukan
pengelolaan musyawarah
masyarakat.
2. Mempunyai kemampuan
mengorganisir dan
mengembangkan masyarakat.
3. Memahami proses penggalian
gagasan masyarakat.
4. Memahami syarat-syarat
kelembagaan partisipatif.
5. Mampu mendorong
11

No.
Lingkup Tugas Umum serta Uraian
Tugas Pokok dan Fungsi BKAD
Kompetensi BKAD
pengembangan wilayah antar
desa.
4. Mendorong terwujudnya
kelembagaan masyarakat yang
lebih partisipatif.
5. Memotivasi dan mendorong
kelompok RTM agar berperan
aktif dalam setiap kegiatan
perencanaan, pelaksanaan dan
pelestarian kegiatan.
6. Meningkatkan kapasitas pelaku-
pelaku yang ada di desa dan
kecamatan dalam kaitan
pengelolaan pembangunan
partisipatif.
7. Melakukan supervisi, monitoring,
evaluasi dan pelaporan setiap
perkembangan kegiatan.
8. Menjaga sistem, mekanisme,
aturan main, dan prinsip-prinsip
pembangunan partisipatif.
9. Mendorong lahirnya perdes
partisipatif berkaitan dengan
kelembagaan, dan hasil-hasil
pembangunan partisipatif.
10. Menjalin sinergitas dan
koordinasi dengan pemerintah
daerah, dunia usaha, dunia
pendidikan, legislatif dan pelaku
lainnya dalam rangka
memperkuat manajemen
pembangunan partisipatif.

terwujudnya kelembagaan
masyarakat partisipatif.
6. Mempunyai kecakapan
memotivasi RTM untuk lebih
terlibat dalam kegiatan.
7. Mempunyai kemampuan untuk
meningkatkan kapasitas
pelaku-pelaku di desa dan
antar desa.
8. Mempunyai kemampuan
melakukan supermonev-pel di
lapangan.
9. Mempunyai pemahaman yang
utuh terhadap model
pembangunan partisipatif
10. Mempunyai kecakapan
fasilitasi perdes partisipatif.
11. Mempunyai kemampuan
menjalin dan membina kerja
sama dengan pihak ketiga.
2 Manajemen Kegiatan Antar
Desa

1. Memfasilitasi pembahasan,
perumusan, dan penyusunan
kesepakatan-kesepakatan kerja
sama antar desa.
2. Memfasilitasi pelaksanaan
kegiatan kerja sama antar desa.
3. Melakukan identifikasi potensi
desa yang dapat dikembangkan
menjadi sentra pengembangan
ekonomi, sosial, dan budaya
antar desa.
4. Melakukan kelola informasi
potensi desa-desa dalam lingkup
wilayahnya.
5. Memfasilitasi penanganan dan
penyelesaian masalah



1. Mempunyai kecakapan
fasilitasi kesepakatan kerja
sama antar desa.
2. Mempunyai kemampuan
melaksanakan kerja sama
antar desa.
3. Mampu melakukan identifikasi
potensi desa.
4. Mempunyai kecakapan
mengelola informasi potensi
desa hasil identifikasi.
5. Mempunyai kecakapan
menangani perselisihan dan
masalah antar desa.
6. Mampu mendorong
berfungsinya lembaga desa
12

No.
Lingkup Tugas Umum serta Uraian
Tugas Pokok dan Fungsi BKAD
Kompetensi BKAD
perselisihan antar desa dan
masalah lain yang timbul dari
pelaksanaan kerja sama antar
desa.
6. Memfasilitasi keberlanjutan
fungsi-fungsi kelembagaan desa
dan antar desa dalam
pengelolaan kegiatan dan kerja
sama antar desa.
7. Mengelola informasi masyarakat
antar desa untuk menumbuhkan
semangat transparansi,
akuntabilitas, dan kerja sama.
8. Meningkatkan kapasitas pelaku-
pelaku yang ada di desa dan
antar desa dalam kaitan
pengelolaan kegiatan antar desa.
9. Mendorong pelaksanaan
pelestarian hasil-hasil kegiatan
desa dan antar desa.

dan antar desa dalam kaitan
kerja sama antar desa.
7. Mampu mengelola sistem
informasi untuk masyarakat.
8. Mempunyai kemampuan
mengorganisir kegiatan
pelestarian kegiatan.
3 Manajemen Aset Produktif

1. Memfasilitasi terbentuknya kerja
sama dengan pihak ketiga dalam
kaitan pengelolaan aset produktif,
sumber daya lokal, teknologi
tepat guna.
2. Mendorong pengembangan UPK
sebagai pengelola kegiatan yang
andal, dengan basis kegiatan
sebagai lembaga keuangan mikro
dan lembaga pengelola teknis
program.
3. Membantu dan mendorong
fasilitasi akses sumber bantuan
bagi kelompok/lembaga usaha
masyarakat baik produksi,
distribusi maupun pemasaran.
4. Mendorong terbentuknya
kelompok dan lembaga usaha
desa yang berbasis
pengembangan sumber daya
ekonomi lokal.
5. Melakukan kajian dan evaluasi
sederhana tentang pelaku-pelaku
ekonomi di wilayahnya.
6. Mendorong pengembangan BP-
UPK sebagai badan pengawas
dan pemeriksa keuangan UPK
yang andal dan dapat dipercaya.
7. Mendorong pengembangan


1. Mempunyai kemampuan
melakukan kerja sama dengan
pihak ketiga.
2. Mampu menyusun rencana
strategis untuk pengembangan
UPK dalam kaitan sebagai
lembaga keuangan mikro dan
pengelola teknis program.
3. Mampu melakukan akses ke
sumber bantuan sesuai
dengan kebutuhan.
4. Mampu memfasilitasi
pembentukan
kelompok/lembaga ekonomi
masyarakat.
5. Mampu melakukan kajian dan
evaluasi sederhana tentang
pelaku-pelaku ekonomi di
wilayahnya.
6. Mampu meningkatkan mutu
pemeriksaan dan pengawasan
keuangan oleh BP-UPK.
7. Mampu mendorong
berfungsinya lembaga
penunjang sesuai kebutuhan.
8. Mampu meningkatkan
efektifitas pelaksanaan sanksi
lokal.

13

No.
Lingkup Tugas Umum serta Uraian
Tugas Pokok dan Fungsi BKAD
Kompetensi BKAD
lembaga penunjang UPK sesuai
dengan kebutuhan tugas pokok
dan fungsi masing-masing.
8. Meningkatkan efektivitas
pemberlakuan dan pelaksanaan
sanksi lokal sebagai komitmen
bersama.
4 PengeIoIa program PNPM
maupun pihak ketiga

1. Melakukan koordinasi dengan
pihak kecamatan dan desa
berkaitan dengan perencanaan
dan pelaksanaan kegiatan.
2. Memotivasi pelaku-pelaku
kecamatan dan desa terkait
dengan pelaksanaan kegiatan.
3. Melakukan pemantauan setiap
tahapan kegiatan.
4. Mendorong kualitas partisipasi
dan keswadayaan masyarakat.
5. Melakukan evaluasi kinerja UPK
terkait dengan tugas sebagai
pengelola teknis program.
6. Mengkoordinasikan tugas
pemantauan kegiatan sarana
prasarana sosial dasar dan
ekonomi.
7. Mengkoordinasikan tugas
pengawasan terhadap
pelaksanaan pengelolaan teknis
program.
8. Meningkatkan kinerja tim
pelestarian yang telah terbentuk
dan mendorong pihak desa untuk
mengembangkan kegiatan
pelestarian hasil-hasil kegiatan.
9. Melakukan evaluasi secara
menyeluruh terhadap hasil kinerja
pengelolaan program, baik
pengelolaan teknis oleh UPK
maupun lembaga lainnya.



1. Mempunyai kemampuan
memimpin, manajerial, dan
evaluasi terhadap kegiatan
dan pelaku-pelaku kegiatan.
2. Mempunyai kecakapan
sosialisasi, fasilitasi,
pengorganisasian dan
pengembangan masyarakat.
3. Mempunyai kemampuan
advokasi kebijakan publik.
4. Mempunyai kemampuan
komunikasi publik lesan dan
tulisan secara memadai.




11.4. Unit PengeIoIa Kegiatan

Penataan kelembagaan UPK merupakan upaya untuk memperkuat aspek-aspek
kelembagaan berkaitan dengan perkuatan legalitas dan standar prosedur
operasional. Strategi ini dilakukan karena keberadaan UPK masih bersifat ad hoc.
Kedepan UPK menjalankan dan mengembangkan fungsi sebagai pengelola
keuangan dan pinjaman, pelaksana program dalam kaitan fungsi pengembangan
14

partisipasi masyarakat, serta penguatan dan pembinaan kelompok. Kedudukan UPK
perlu dikuatkan dalam hukum dan peraturan yang berlaku dalam kaitan hubungan
dengan kelembagaan desa dan antar desa lainnya, bahkan kerja sama dengan pihak
lain.

Strategi penataan UPK ini untuk memenuhi amanat peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Peraturan perundangan yang dimaksud adalah Undang-Undang
Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Peraturan Pemerintah nomor 72
tahun 2005 tentang Pemerintahan Desa, Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun
2005 tentang Kelurahan, serta Surat Edaran Mendagri nomor 414.2/1402/PMD tahun
2006 perihal Pelestarian dan Perlindungan Hasil-Hasil PPK.

11.4.1. Tujuan Penataan UPK
Penataan Kelembagaan UPK bertujuan untuk memperkuat legalitas dan
operasional UPK agar mampu mengembangkan diri sebagai pengelola
keuangan dan pinjaman, pelaksana program dalam kaitan fungsi
pengembangan partisipasi masyarakat, serta penguatan dan pembinaan
kelompok.

11.4.2. Strategi Penataan UPK
Strategi penataan kelembagaan UPK yang dilakukan meliputi :
a. Pelembagaan UPK PNPM Mandiri Perdesaan diarahkan kepada
kesepakatan kerja sama antar desa melalui BKAD, hubungan UPK
dengan lembaga lembaga lain di desa dan antar desa, dan penguatan
organisasi UPK dalam menjalankan peran dan fungsinya.
b. UPK dalam menjalankan kegiatannya wajib memiliki standar prosedur
organisasi yang memuat tentang pengelolaan perguliran, chanelling