ASUHAN KEPERAWATAN BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI (BPH

)
§ Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat,disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa at au semua komponen prostat meliputijaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretrapars prostatika ( Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ). § BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebihtua dari 50 ta hun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasanaliran urinarius ( Marilyn n, E.D, 2000 : 671 ).

Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yangpasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang eratkaitannya dengan BPH adala h proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain : 1). Dihydrotestosteron Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel danstroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi . 2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunantestosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma. 3). Interaksi stroma - epitel Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunantransforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel. 4). Berkurangnya sel yang mati Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epiteldari kelenjar prostat. 5). Teori sel stem Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit ( Roger Kirby, 1994 :38 ).

4. Gejala Benigna Prostat Hiperplasia Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu : 1. Gejala Obstruktif yaitu : a. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika. b. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi. c. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing. d. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.

e. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas. 2. Gejala Iritasi yaitu : a. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan. b. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari. c. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

1. Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain 1). Anamnesa Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary TractSy mptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, termi naldribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan g ejalairitatif dapat berupa urgensi, frekuensi serta disuria. 2) Pemeriksaan Fisik § Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi da patmeningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidras i sampaisyok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik. § Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk menge tahuiadanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra simfis er padakeadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ball otemen danklien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui adatidaknya residual urin. § Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, strikt ururetra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis. § Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis § Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukankonsistensi sisti m persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat.Dengan rectal to ucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu : a). Derajat I = beratnya ± 20 gram. b). Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram. c). Derajat III = beratnya > 40 gram. 3) Pemeriksaan Laboratorium § Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien. § Pemeriksaan urin lengkap dan kultur. § PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaanadanya keganasan. 4) Pemeriksaan Uroflowmetri Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara obyektif panca ran urindapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian : a). Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif. b). Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line. c). Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif. 5) Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik a). BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang. b). USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume danbesar prostat jug a keadaan buli – buli termasuk residual urin. Pemeriksaandapat dilakukan secara transr ektal, transuretral dan supra pubik. c). IVP (Pyelografi Intravena) Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya hidronefrosi s.

Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik. Hipertermia. 4). Flowmetri menunjukkan pola obstruktif. 3). d). dan b erattanpa disertai penyulit. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah 5). Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis. kateter. Medikamentosa Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan. B. Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut . TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat ® 90 . Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli. 5) Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi 6) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan B. 3) Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan 4) Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. gelombang alfa blocker dangolongan supresor androgen. Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy 4). sedang. b). Obat yang digunakan berasal dari: phitoterapi(misalnya: Hipoxis rosperi. Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi. Sebelum Operasi . Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy c). Penatalaksanaan Modalitas terapi BPH adalah : 1).dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat. Klien dengan residual urin > 100 ml. infeksi urinaria. distensi kandung kemih. 2).d) Pemeriksaan Panendoskop Untuk mengetahui keadaan uretra dan buli – buli. dll). Rencana Asuhan Keperawatan 1. Kurang pengetahuan tentang kondisi . c). 3). Klien dengan penyulit. pembesaran prostat. e). irigasi kandung kemih sering. Observasi Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian setiaptahun tergantung keadaan klien 2). 2. kolik ginjal. Terapi medikamentosa tidak berhasil. Serenoa repens. Pembedahan Indikasi pembedahan pada BPH adalah : a). Termoterapi. Diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah sebagai berikut : Pre Operasi : 1)..prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi Post Operasi : 1) Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P 2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan. Pembedahan dapat dilakukan dengan : a). Perianal Prostatectomy d).95 % ) b). TerapiUlt rasonik .

Kriteria hasil . infeksi urinaria. Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik) R/ mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan b. Pertahankan selang bebasdari le kukan dan bekuan. 2). intermitten dengan dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli.10 ). f) Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik R / Menghilangkan spasme c. Tam pak rileks. Rencana tindakan dan rasional a) Kaji nyeri. b) Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis. distensi kandung kemih. R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem. 1). 1). perhatikan lokasi. Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut.tidur / istirahat dengan tepat. R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal . menunjukkan ketrampilan rel aksasidan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu. Tujuan Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara. memfokusksn kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. Tujuan Nyeri hilang / terkontrol. R / Menurunkan tegangan otot. d) Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik. pengubahan pos isi.kandung kemih dari pertumbuhan bakteri 5. Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urina R / Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi 3. intensitas ( skala 0 . 2). Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik. tidak teraba distensi kandung kemih 4) Rencana tindakan dan rasional 1. Kriteria hasil Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol. menurunkan resiko distensi / spasme buli . 1) Tujuan : tidak terjadi obstruksi 3) Kriteria hasil : Berkemih dalam jumlah yang cukup. c).pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik.a. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan. pembesaran prostat. yang cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ). R / Nyeri tajam. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli. kolik ginjal. 3).dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk berkontraksi secara adekuat.buli. Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal 4. R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih 2.

R / Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan. c). b) Kaji ulang proses penyakit. menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut.pengalaman pasien R/ Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi. nadiperifer teraba. 3). penurunan tekanan darah. Perhatikan keluaran 100-200 ml/. Serta dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktorpembekuan darah. contoh: Hb / Ht. 1). jumlah trombosi R/ Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan penggantian. Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya R/ Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu b). Pemeriksaan koagulasi. berpartisipasi dalam program pengobatan. Pantau masukan dan haluaran cairan. jumlah sel darah merah. Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah. b). R / Membantu pasien dalam mengalami perasaan. R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah e. perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan. Rencana tindakan dan rasional a). Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian. Rencana tindakan dan rasional a). pengisian perifer baik. pucat.Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda vital stabil. Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan. Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan. Kriteria hasil Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu. R/ Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian. diaforesis. Awasi tanda-tanda vital. 3).prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi 1). Kriteria hasil Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi. 2). . Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya. c). 3). Kurang pengetahuan tentang kondisi . Tingkatkan tirah baring dengan kepala lebih tinggi g). Rencana tindakan dan rasional a). R/ Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal. Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. membran mukosa lembab dan keluaranurin tepat. d. R/ Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik d). 2). Tujuan Pasien tampak rileks.

termasuk latihan nafas dalam.Klien akan tidur / istirahat dengan tepat. visualisasi. 5. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam. Sesudah operasi 1. 7. kateter. Pertahankan sistem kateter steril. . Rencana tindakan: 1. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam. Kriteria hasil: .Klien tidak mengalami infeksi. Rencana tindakan : 1. berikan perawatan kateter dengan steril. .Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang. untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih. 2. R / Menurunkan tegangan otot. . Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih. . Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik ) R / Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih. Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi . irigasi kandung kemih sering. 4. . .Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi. 8. 9.Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock. . 2. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang. R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan 3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan. II.Dapat mencapai waktu penyembuhan. memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. R/ Mengurang kemungkinan spasmus. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi. R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme.Ekspresi wajah klien tenang. Observasi tanda – tanda vital R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut. R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih. R / Mengurangi tekanan pada luka insisi 6. R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer. Kriteria hasil : . Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi.Tanda – tanda vital dalam batas normal.

jumlah. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas . bau. Tujuan: Tidak terjadi perdarahan. R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan .Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah . R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat . . Rencana tindakan: 1. .masukan dan haluaran dan warna urine R/ Deteksi awal terhadap komplikasi. R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih. laporkan tanda – tanda shock dan demam. R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan . . Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda – tanda perdarahan . 4. Kriteria hasil: .Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun . Rencana tindakan : .Klien menyatakan pemahaman situasi individual . 5. Pertahankan posisi urobag dibawah.Tanda – tanda vital dalam batas normal . Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam.R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. R/ Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal. 4. menurunkan perdarahan. . . Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik. Observasi tanda – tanda vital. 3. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan . R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik. 5. 6. 3. menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih 3. R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda – tanda perdarahan 2. R/ Mengidentifikasi adanya infeksi. R/ Mencegah sebelum terjadi shock.Urine lancar lewat kateter . Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter R/ Gumpalan dapat menyumbat kateter. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi . dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen . Observasi urine: warna. Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan Kriteria hasil: . pemeriksaan rektal atau huknah. Mencegah pemakaian termometer rektal.Klien tidak menunjukkan tanda – tanda perdarahan .Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual. untuk sekurang – kurangnya satu minggu . 4.

Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 46 minggu. R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup . . suasana tenang dengan mengurangi kebisingan . R/ Dapat menimbulkan perdarahan . Rencana tindakan: 1. R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur. Kriteria hasil: . 5. . Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup. Kriteria hasil: .Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan . R/. Rencana tindakan: 1. dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan. R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan 4 .1 . Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi. Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual . Ciptakan suasana yang mendukung. Untuk menjamin tidak ada komplikasi . R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat 3. R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan . Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu . Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dankejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu) R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual 3 . R / Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik. R/ Untuk mengetahui masalah klien . Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ). R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah . 2. 4. .Klien mengungkapan sudah bisa tidur . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi .Klien berpartisipasi dalam program pengobatan. 2. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur . . pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB 3. 6. 2 . R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan 4. 5. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh . . R/ Untuk membantu proses penyembuhan .Klien akan melakukan perubahan perilaku.

Etiologi Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. 2000.testoteron Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma. B. Hardjowidjoto S. 1. F. . Pedoman Diagnosis Dan Terapi. dr. C. PenerbitBuku Kedokteran EGC. M.G.. E. 1994. (1999).M and Alice. Rencana Asuhan Keperawatan : PedomanUntuk Perencanaan Dan Pe ndokumentasian Perawatan Pasien. Pengertian • BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius ( Marilynn. Dihydrotestosteron(DHT) Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi . 2. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. 1. Airlangga University Press.Penerbit Buku Kedokteran EGC. Surabaya Soeparman. Soetomo. 2). Long. Jilid II.Benigna Prostat Hiperplasia.. Marry.D. Jakarta.2000). Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.DAFTAR PUSTAKA Doenges. FKUI. Perubahan keseimbangan hormon estrogen . Lab / UPF Ilmu Bedah.. (Kapita Selekta. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain : 1). 1996. Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya. • Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. Jakarta.. 2000 : 671 ). Fakultas KedokteranAirlangga / RSUD. (1990). Jakarta 1.E.C.

epitel Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel. 1. Patofisiologi Peningkatan Sel Sterm Peningkatan 5 Alfa reduktase ProsesMenua Interaksi Sel Epitel dan Stroma Berkurangnya sel yang mati Ketidakseimbangan hormon ( Estrogen dan testoteron ) Penyempitan Lumen Ureter Protatika Menghambat Aliran Urina Retensi Urina Peningkata tekanan intra vesikal Hidro Ureter Hiperirritable pada bladder Hidronefritis buli Peningkatan Kontraksi Otot detrusor dari buli- . Teori kebangkitan Kembali (reawakening) atau reinduksi dari kemampuan mesenkim sinus urogenital untuk berproliferasi dan membentuk jaringan prostat.3). 3. Berkurangnya sel yang mati Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat. 5). 4). Interaksi stroma .

Satu lobus anterior 4. Prostat dilewati oleh : 1. Anatomi Dan Fisiologi Intermiten Urgensi Hesistensi Terminal Spincter externa mengelilingi urethra di bawah vesica urinaria pada wanita.Penurunanan Fungsi ginjal Hipertropi Otot detrusor. tetapi pada laki-laki terdapat kelenjar prostat yang berada dibelakang spincter penutup urethra. Satu lobus medial Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah kenari besar. Menonjolnya prostat dapat ditentukan dalam grade. yaitu 1. yang panjangnya 17 – 23 cm. cairan prostat ini memberi makanan kepada sperma. Sebab bila bulibuli penuh dapat terjadi kesalahan dalam penilaian. Dua lobus lateralis 2. Ada 3 cara untuk mengukur besarnya hipertropi prostat.5 inchi 2. 2. Dengan rectal toucher diperkirakan dengan beberapa cm prostat menonjol ke dalam lumen dan rectum.trabekulasi Terbentuknya Sekula-sekula dan difertikel buli-buli Frekuensi Disuria dribling 1. Rectal grading Recthal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli kosong. Normal beratnya prostat pada orang dewasa diperkirakan 20 gram. Vertical : 1. Ductus ejakulatorius. terdiri dari 2 buah berasal dari vesica seminalis bermuara ke urethra. Pembagian grade sebagai berikut : . Transversal : 1. Prostat mengekskresikan cairannya ke dalam urethra pada saat ejakulasi.25 inchi 3. letaknya di bawah kandung kemih. Satu lobus posterior 3.75 inchi Prostat terdiri dari 5 lobus yaitu : 1. Secara otomatis besarnya prostat adalah sebagai berikut : 1. Urethra itu sendiri. 4. Cairan ini memasuki urethra pars prostatika dari vas deferens. Anterior Posterior : 0.

Terhadap urethra Bila lobus medius membesar. 1 – 2 cm………. Pada proses yang lebih lama akan terjadi dekompensasi dari pada otot-otot yang hypertropi dan akibatnya terjadi atonia (tidak ada kekuatan) dari pada otot-otot tersebut. dimana muscle fibro menebal ini didapatkan bagian yang mengalami depresi (lekukan) yang disebut potensial divertikula. Sisa urine >150 cc………………… Grade 3 5.: Grade 3 5. Pengukuran ini dilakukan dengan cara. Sisa urine 0 cc………………. Sisa urine 50 – 150 cc……………. 0 – 1 cm………. dan oleh karena fiksasi ductus ejaculatorius maka perpanjangan akan berputar dan mengakibatkan sumbatan.…… Normal 2. Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopy dan sudah menjadi bidang dari urology yang spesifik.R (Trans Urethral Resection) Bila prostat besar sekali (grade 3-4) dapat dilakukan prostatektomy terbuka secara trans vesical. ini akan membentuk suatu post prostatika pouch. 3 – 4 cm………. Efek yang dapat terjadi akibat hypertropi prostat: 1. ini adalah kantong yang terdapat pada kandung kemih dibelakang medial lobe. maka terapi yang baik adalah T. 2 – 3 cm………. Bila kecil (grade 1). Sisa urine 0 – 50 cc……………. 1. Grade 2 4.U. kemudian dimasukkan catheter ke dalam kandung kemih untuk mengukur sisa urine. Sama sekali tidak bisa kemih…… Grade 4 6.1. Clinical grading dan Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine. Lebih 4 cm…….: Grade 0 2. biasanya arah ke atas mengakibatkan urethra pars prostatika bertambah panjang. pagi hari pasien bangun tidur disuruh kemih sampai selesai. Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra. Intra urethra grading. Terhadap vesica urinaria Pada vesica urinaria akan didapatkan hypertropi otot sebagai akibat dari proses kompensasi.… Grade 1 3.: Grade 1 3. 1.: Grade 4 Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena benjolan masuk ke dalam cavum rectum. . Kalau pembesaran terjadi pada medial lobus.: Grade 2 4. Dengan menentukan rectal grading maka didapatkan kesan besar dan beratnya prostat dan juga penting untuk menentukan macam tindakan operasi yang akan dilakukan. 1.

Gejala Benigne Prostat Hyperplasia Berdasarkan gradenya. 7. terbagi menjadi 4 grade yaitu : 1. Terjadi panas tinggi dan bisa menggigil. Incontinensia paradosal. Pada grade 3 (retensi urine) Ischuria paradosal. tetapi bila valve ini rusak maka tekanan diteruskan ke atas. 1. pelvis. 4. Dysuri nocturi bertambah berat. 4. Terhadap ureter dan ginjal Kalau keadaan urethra vesica valve baik. Kalau miksi merasa puas. Penderita merasa kesakitan. Ereksi lebih lama dari normal dan libido lebih dari normal. Pada grade 2 (residual) 1. Pada pemeriksaan fisik yaitu palpasi abdomen bawah untuk meraba ada tumor. Tidak bisa buang air kecil (kemih tidak puas). Pada grade 1 (congestic) 1. Mula-mula pasien berbulan atau beberapa tahun susah kemih dan mulai mengedan. 5. 1. 3. 5. 7. 2. Pada grade 4 Kandung kemih penuh. maka tekanan ke ekstra vesikel tidak diteruskan ke atas. 8. 1. akibatnya otot-otot calyces. 6. Bila miksi terasa panas. Terhadap sex organ Mula-mula libido meningkat. ureter sendiri mengalami hipertropy dan akan mengakibatkan hidronefrosis dan akibat lanjut uremia.Post prostatika adalah sebagai sumber dari terbentuknya residual urine (urine yang tersisa) dan pada post prostatika pouch ini juga selalu didapati adanya batu-batu di kandung kemih. Urine keluar menetes dan pancaran lemah. karena bendungan yang hebat. 1. Pada cytoscopy kelihatan hyperemia dari orificium urethra interna. Bisa terjadi infeksi karena sisa air kemih. 2. 4. 1. Nyeri pada daerah pinggang (menjalar ke ginjal). 6. 3. 2. 5. Lambat laun terjadi varices akhirnya bisa terjadi perdarahan (blooding) 1. Air kemih menetes secara periodik yang disebut over flow incontinensia. teatapi akhirnya libido menurun. . 2. 3. Nocturia Urine keluar malam hari lebih dari normal.

2000. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan. Gejala Iritasi yaitu : 1. Gejala Obstruktif yaitu : 1. 7. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari. 2.5. 3. 3. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu : 1. Komplikasi 1. Tidak boleh membawa kendaraan. 2. Latihan berat. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing. faeces harus lembek kalau perlu pemberian obat untuk melembekkan faeces. 6. Inkotinensia Batu kandung kemih Retensi urine Impotensi Epididimitis Haemorhoid. 2. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi. Dengan adanya infeksi penderita bisa menggigil dan panas tinggi sekitar Selanjutnya penderita bisa koma. 1. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. 3. prolaps rectum akibat mengedan Infeksi saluran kemih disebabkan karena catheterisasi Hydronefrosis Hal-hal yang harus dilakukan pada pasien setelah pulang dari rumah sakit adalah . Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas. hernia. 5. 6. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika. 6. Mengedan pada saat defekasi harus dihindari. mengangkat berat dan sexual intercourse dihindari selama 3 minggu setelah dirumah. 8. 1. Perdarahan 2. 4. 3. . 4. 40-41°C. 5. 9. Dari kapita selekta. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing. 2.

1. transuretral dan supra pubik. 1. Pemeriksaan Penunjang 1. Selain itu sistoscopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar prostat dengan mengukur panjang urethra pars prostatica dan melihat penonjolan prostat ke dalam urethra. • IVP (Pyelografi Intravena) Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya hidronefrosis. digunakan untuk memeriksa konsistensi. faal ginjal. serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang. namun pameriksaan ini jarang dilakukan karena mahal biayanya. Pemeriksaan Uroflowmetri Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. 1.Scan dan MRI Computed Tomography Scanning (CT-Scan) dapat memberikan gambaran adanya pembesaran prostat. 1. • • • 7. Pemeriksaan urin lengkap dan kultur. Menganjurkan banyak minum untuk mencegah statis dan infeksi dan membuat faeces lembek. volume dan besar prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual urin. Diagnosa banding . PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan. pemeriksaan ini dapat memberi gambaran kemungkinan tumor di dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas apabila darah datang dari muara ureter atau batu radiolusen di dalam vesica. 1. Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal. Secara obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian : • • • Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif. • • USG (Ultrasonografi). • Pemeriksaan Panendoskop Untuk mengetahui keadaan uretra dan buli – buli. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan darah lengkap.4. 1. Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif. 8. Pemeriksaan CT. sedangkan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memberikan gambaran prostat pada bidang transversal maupun sagital pada berbagai bidang irisan. Pemeriksaan sistografi Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine ditemukan mikrohematuria.

sedang. Jaringan yang direseksi hanya sedikit sehingga tidak terjadi perdarahan dan waktu pembedahan tidak terlalu lama. Rectoscope disambungkan dengan arus listrik lalu di masukkan ke dalam urethra. e). c). Kekakuan leher vesica disebabkan oleh proses fibrosis. gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen. Klien dengan residual urin > 100 ml. TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat ® 90 – 95 % ) Dilaksanakan bila pembesaran terjadi pada lobus medial yang langsung mengelilingi urethra. 1. Serenoa repens. 9. dan berat tanpa disertai penyulit. Kelemahan detrusor disebabkan oleh kelainan saraf (kandung kemih neurologik) misalnya : Lesi medulla spinalis. Klien dengan penyulit. 3). Terapi medikamentosa tidak berhasil. penggunaan obat penenang. Penatalaksanaan Modalitas terapi BPH adalah : 1). tumor di leher kandung kemih. Pembedahan dapat dilakukan dengan : a). b). Observasi Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien 2). Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.Kandung kemih di bilas terus menerus selama prosedur berjalan. dll). Pembedahan Indikasi pembedahan pada BPH adalah : a). sedangkan resistensi urethra disebabkan oleh pembesaran prostat jinak atau ganas. elastisitas leher kandung kemih dengan tonus ototnya dan resistensi urethra yang merupakan faktor dalam kesulitan miksi. Medikamentosa Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan.Oleh karena adanya proses miksi tergantung pada kekuatan kontraksi detrusor. Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut. batu di urethra atau striktur urethra. Obat yang digunakan berasal dari: phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi.Pasien mendapat alat untuk masa terhadap shock listrik dengan lempeng logam yang di beri pelumas di tempatkan . d).

Setelah TURP di pasang catheter Foley tiga saluran yang di lengkapi balon 30 ml. Termoterapi. Pengkajian Keperawatan Anamnesa Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) antara lain: 1.pada bawah paha. 4). perencanaan keperawatan. Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy Metode operasi terbuka. c).Tujuan dari irigasi konstan ialah untuk membebaskan kandung kemih dari ekuan darah yang menyumbat aliran kemih. Perubahan frekuensi berkemih. pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.Irigasi kandung kemih yang konstan di hentikan setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan dari kandung kemih. d). b). Terapi Ultrasonik.Kemudian catheter bisa dibilas biasa tiap 4 jam sekali sampai catheter di angkat biasanya 3 sampai 5 hari setelah operasi.Setelah balon catheter di kembangkan.Setelah catheter di angkat pasien harus mengukur jumlah urine dan waktu tiap kali berkemih. Pusing. Perianal Prostatectomy Dilakukan pada dugaan kanker prostat.Kepingan jaringan yang halus di buang dengan irisan dan tempat-tempat perdarahan di tutup dengan cauter. Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy Pada prostatectomy retropubic dibuat insisi pada abdominal bawah tapi kandung kemih tidak dibuka. . reseksi supra pubic kelenjar prostat diangkat dari urethra lewat kandung kemih. Nyeri pada daerah tindakan operasi. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Asuhan keperawatan pasien dengan hipertropi prostat melalui pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian keperawatan. Hipertermia. Kandung kemih diirigasi terus dengan alat tetesan tiga jalur dengan garam fisiologisatau larutan lain yang di pakai oleh ahli bedah. 2. catheter di tarik ke bawah sehingga balon berada pada fosa prostat yang bekerja sebagai hemostat. 1. Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi. 3. 1. insisi dibuat diantara scrotum dan rectum.Ukuran catheter yang besar di pasang untuk memperlancar pengeluaran gumpalan darah dari kandung kemih. 10.

Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli. Bibir kering. Flatus negatif. karsinoma maupun fimosis. Ekspresi wajah meringis. • Pemeriksaan Fisik Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah. dan pyelonefrosis. 16. Inkontinensia 10. • • • Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus. yaitu : a). Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah 1. 1.dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat. Puasa. kandung kemih penuh. Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram. 6. Pemasangan catheter tetap. 12. Gelisah. 9. 2. 7. kolik ginjal. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin. Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat. 13. b). distensi kandung kemih. Urgensi. infeksi urinaria. 11. Pre Operasi : 1. Dysuria Luka tindakan operasi pada daerah prostat. • Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui adanya hidronefrosis. 1. batu uretra. sebagai berikut : . Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH. pembesaran prostat. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok – septik. Derajat I = beratnya ± 20 gram. Bising usus negatif. Urine berwarna kemerahan. Derajat III = beratnya > 40 gram. striktur uretra. 8. Informasi kurang. 17. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. 5. Retensi. c). Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut. 15. nadi dan suhu. 14.4. Diagnosa keperawatan.

Tujuan : Klien mengatakan tidak ada keluhan. Rencana tindakan dan rasional 1) Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan. dengan kriteria : 1. Urgensi. 2. Kurang pengetahuan tentang kondisi . Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P 2. 2. Dysuria. Perubahan frekuensi berkemih. Tidak ada sumbatan aliran darah melalui catheter. Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis.3.. 4. 3. 3. Catheter tetap paten pada tempatntya. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan 4. Pemasangan catheter tetap.dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk berkontraksi secara adekuat. 3. kateter. ditandai dengan : 1. Post Operasi : 1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah 5. pembesaran prostat. R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih 2) Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urina . Urine berwarna kemerahan. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. irigasi kandung kemih sering. Tidak terjadi retensi pada saat irigasi. 5. informasi Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang 6. 4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan 1.prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi 6. Intervensi Pre Operasi 1) Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik. 5. Berkemih tanpa aliran berlebihan. 4.

1. kolik ginjal. intermitten dengan dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli. Tujuan : Nyeri hilang / terkontrol. pijatan . tidur / istirahat dengan tepat. Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik. pengubahan posisi. intensitas ( skala 0 – 10 ). punggung ) dan aktivitas terapeutik. 1. menunjukkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu. menurunkan resiko distensi / spasme buli – buli.kandung kemih dari pertumbuhan bakteri 5) Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik) R/ mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan 2) Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli. Kaji nyeri. yang cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ). infeksi urinaria. Tampak rileks. R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal . perhatikan lokasi. R / Nyeri tajam. Kritera hasil : Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan. R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem. distensi kandung kemih. 1. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut.R / Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi 3) Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal 4) Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung. Rencana tindakan dan rasional 1.

c). Pemeriksaan koagulasi. b). .R / Menurunkan tegangan otot. Tingkatkan tirah baring dengan kepala lebih tinggi R/ Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi. Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. Rencana tindakan dan rasional a). pengisian perifer baik. perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan. Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik R / Menghilangkan spasme 3) Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis. R/ Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik d). Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi. Serta dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktor pembekuan darah. Pantau masukan dan haluaran cairan. jumlah trombosit R/ Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan penggantian. Awasi tanda-tanda vital. diaforesis. jumlah sel darah merah. nadi perifer teraba. Berikan rendam duduk atau lampu penghangat bila diindikasikan. Tujuan : Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara. membran mukosa lembab dan keluaran urin tepat. R/ Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal. e). R/ Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian. 1. memfokusksn kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. Kriteria hasil : Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda vital stabil. R/ Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema serta meningkatkan penyembuhan ( pendekatan perineal ). pucat. 1. contoh: Hb / Ht. Perhatikan keluaran 100-200 ml/. penurunan tekanan darah.

Post operasi 1) Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P . Kaji ulang proses penyakit. Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya R/ Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu b). Tujuan : Pasien tampak rileks.4) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah. Rencana tindakan dan rasional a). R / Membantu pasien dalam mengalami perasaan.pengalaman pasien R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi. Kriteria hasil Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu. R / Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan. 1. c). R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah 5) Kurang pengetahuan tentang kondisi . Kriteria hasil Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya. Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan. berpartisipasi dalam program pengobatan. Rencana tindakan dan rasional 1. Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian. menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut. Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.

Klien akan tidur / istirahat dengan tepat. memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. 1. 2. untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih. R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan 1. termasuk latihan nafas dalam. 1. 5.Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam. Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik ) R / Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih. 3. 4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih. R / Mengurangi tekanan pada luka insisi 1. Kriteria hasil : 1. R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih. Tanda – tanda vital dalam batas normal. Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TURP. Ekspresi wajah klien tenang. R/ Mengurang kemungkinan spasmus. 1. Rencana tindakan : 1. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi. R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme. 1. R / Menurunkan tegangan otot. R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer. 1. visualisasi. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang. Observasi tanda – tanda vital R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam. 1. .

Kriteria hasil: 1. laporkan tanda – tanda shock dan demam. R/ Mencegah sebelum terjadi shock. 1. Tanda – tanda vital dalam batas normal . Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal. bau. 3. Observasi tanda – tanda vital. jumlah. 3) Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan . 3. Observasi urine: warna. kateter. Tujuan: Tidak terjadi perdarahan. R/ Mengidentifikasi adanya infeksi. Dapat mencapai waktu penyembuhan. Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi . irigasi kandung kemih sering. Urine lancar lewat kateter . Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik. Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock. 2. 1. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi. Pertahankan sistem kateter steril. 2.2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan. R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan. 1. berikan perawatan kateter dengan steril. Kriteria hasil: 1. R/ . Klien tidak menunjukkan tanda – tanda perdarahan . Klien tidak mengalami infeksi. Pertahankan posisi urobag dibawah. R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih. 1. R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi 1. Rencana tindakan: 1. Rencana tindakan: .

Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter R/ Gumpalan dapat menyumbat kateter. pemeriksaan rektal atau huknah. 1. Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dan kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu) R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual . Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas . 4) Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. 1. kemih 1. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan . Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual. Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam. Rencana tindakan : 1. untuk sekurang – kurangnya satu minggu . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual . menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan . 4. R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik. Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah . Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun . R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda – tanda perdarahan 1.masukan dan haluaran dan warna urine R/ Deteksi awal terhadap komplikasi. R/ Untuk mengetahui masalah klien . Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan Kriteria hasil: 1.1. 3. 1. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi . dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen . menurunkan perdarahan. Klien menyatakan pemahaman situasi individual . Mencegah pemakaian termometer rektal. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda – tanda perdarahan . R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat . 1. 2.

Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan . 2. Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi . Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan . Rencana tindakan: 1. R/. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter. Klien akan melakukan perubahan perilaku. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu. Kriteria hasil: 1. 2. 5) Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan . R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah . dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari. R/ Dapat menimbulkan perdarahan . Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu . R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan 1. 6) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi. 1. Klien mengungkapan sudah bisa tidur . R / Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik. Klien berpartisipasi dalam program pengobatan. R/ Untuk membantu proses penyembuhan . pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB 1. . Untuk menjamin tidak ada komplikasi . 3. Kriteria hasil: 1.1. Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup. 1. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh . R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan. 1.

Edisi : 9. Tom Shires dkk. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur. EGC . 1. Perpustakaan Nasional RI. 1998. Dasar-Dasar Urologi. Jong. Marry. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Schwartz. Surabaya 4. R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup . 1996.C. 2. Jakarta. Irawati. M. Wim De Jong. Jakarta. (1999).. 3. 1. DAFTAR PUSTAKA 1. Evaluasi Keperawatan. Modul Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan. 2000. Jakarta. dan Syamsuhidayat R. 1997.. B.M and Alice. R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan 1. 7. Jakarta. F. Rencana tindakan: 1.E. Hardjowidjoto S. C. Penerbit Buku Kedokteran EGC.3. . R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan . Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ). Jakarta. Wim de. Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .Benigna Prostat Hiperplasia. 2010. Asuhan keperawatan dalam bentuk perubahan prilaku pasien merupakan focus dari evaluasi tujuan. Editor : R. 2000. Doenges. perawat memberikan asuhan keperawatan.G. Ciptakan suasana yang mendukung. Arthur C. EGC . Editor. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien . yang pelaksanaannya berdasarkan rencana keperawatan yang telah disesuaikan pada langkah sebelumnya (intervensi). Cirebon. 8. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2000. Long. Kumpulan Kuliah. Penerbit Buku Kedokteran EGC.. 5. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan . Syamsuhidajat. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Katalog Dalam Terbitan (KTD). Implementasi Pada langkah ini. dkk. Basuki B Purnomo. S. R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat 1.. Guyton. Airlangga University Press. Editor : G. suasana tenang dengan mengurangi kebisingan . Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari. 1. 6. Edisi revisi : EGC .