BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Chlamydia termasuk satu di antara penyakit menular seksual yang sangat mudah ditularkan melalui seks bebas. Penyakit yang disebabkan oleh kuman (bakteri Chlamydia trachomatis) ini bisa menjangkiti pria dan wanita. Uniknya, seorang yang terkena kuman ini, tidak sadar telah terjangkiti. Oleh karena sering tidak menimbulkan gejala, infeksi ini mudah menyebar dan mungkin tanpa sadar dilewatkan ke pasangan seksual. Bahkan meskipun belum terinfeksi, penderita dapat menularkan penyakit ini pada pasangannya. Sekitar 75% infeksi pada wanita dan 50% pada pria tanpa gejala. Klamidia — dalam bahasa Indonesia-nya, kondisi ini mempunyai gejala mirip gonorrhea, walaupun bisa juga beraksi tanpa gejala. Chlamydia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena chlamydia yang tidak diobati dapat menyebabkan penyakit radang panggul (PID), subfertilitas, dan hasil reproduksi yang buruk pada beberapa perempuan. Di Amerika, chlamydia termasuk yang paling dapat diobati, tetapi termasuk salah satu penyakit menular seksual yang paling umum, telah menginfeksi sekitar empat juta orang setiap tahunnya. Chlamydia trachomatis juga merupakan salah satu infeksi bakterial menular seksual yang paling umum terjadi di Eropa. Angka kejadian pada orang muda yang aktif secara seksual umumnya antara 5% dan 10%. Jumlah kasus yang telah didiagnosis meningkat di negara-negara Eropa, dikarenakan peningkatan dan penggunaan tes yang lebih sensitif. Penyakit chlamydia ini bisa menyebabkan gangguan saluran seni (urethra) pada laki-laki, leher rahim (cervix) pada perempuan, jalur pelepasan dubur, tenggorokan, dan mata. Jenis tertentu dari bakteri ini hanya menginfeksi serviks dan uretra, sementara jenis lainnnya dapat menyebabkan penyakit
1

mata. Penyakit ini juga dapat menyebabkan artritis parah dan kemandulan pada pria. Chlamydia juga memfasilitasi penularan HIV. Meskipun mengakibatkan banyak kerumitan, namun dapat dicegah. Biaya untuk mengobati subfertilitas akibat chlamydia tinggi karena memerlukan operasi saluran tuba dan pembuahan in-vitro. Walaupun pengobatan murah dan efektif tersedia, kontrol chlamydia menantang karena kebanyakan orang tidak menunjukkan gejala.

1.2. Tujuan Makalah Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dalam kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior pada Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kedokteran Pencegahan, dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

1.3. Manfaat Makalah a. Memberikan informasi baru mengenai pencegahan infeksi chlamydia. b. Meningkatkan pemahaman penulis terkait dengan pencegahan infeksi chlamydia dalam hubungannya dengan ilmu kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran pencegahan, dan ilmu kedokteran komunitas.

2

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1. Pencegahan Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai hasil jangka menengah (intermediate impact) dari pendidikan kesehatan. Selanjutnya perilaku kesehatan akan berpengaruh pada meningkatnya indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran (outcome) pendidikan kesehatan. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel and Clark yaitu sebagai berikut: a. Promosi kesehatan (health promotion) Dalam tingkat ini, pendidikan kesehatan diperlukan misalnya

peningkatan gizi, kebiasaan hidup, perbaiki sanitasi lingkungan higiene perorangan, dan sebagainya. b. Perlindungan khusus (specific protection) Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus, pendidikan kesehatan sangat diperlukan terutama di negaranegara berkembang. Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai perlindungan terhadap penyakit pada dirinya maupun pada anak-anaknya masih rendah. c. Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment) Dikarenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, maka sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi dalam masyarakat. Bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa serta diobati penyakitnya. Hal ini menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Oleh sebab itu, pendidikan kesehatan sangat diperlukan pada tahap ini.

3

d. Pembatasan cacat (disability limitation) Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit, maka masyarakat tidak melanjutkan

pengobatannya sampai tuntas. Pengobatan yang tidak sempurna dapat mengakibatkan kecacatan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini. e. Rehabilitasi (rehabilitation) Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang pasien mengalami kecacatan. Untuk memulihkan cacatnya tersebut kadang diperlukan latihan-latihan tertentu. Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran orang tersrbut tidak melanjutkan latihan yang diperlukan. Di samping itu, pasien yang cacat kadang-kadang malu bergabung kembali dengan masyarakat akibat masyarakat yang mengucilkan mereka. Oleh karena itu, baik pasien dengan kecacatan maupun masyarakat penting memahami pendidikan kesehatan.

2.2. Infeksi Chlamydia 2.2.1. Penularan Bakteri Chlamydia trachomatis merupakan penyebab infeksi chlamydia. Chlamydia trachomatis adalah salah satu dari tiga spesies bakteri dalam genus Chlamydia, famili Chlamydiaceae, kelas Chlamydiae, filum Chlamydiae, domain Bacteria. Chlamydia trachomatis adalah agen chlamydia pertama yang ditemukan dalam tubuh manusia. Bakteri ini pertama kali diidentifikasi tahun 1907. Bakteri ini hanya dapat bertahan di sel-sel hidup, yang kemudian akan dibunuhnya. Penyakit chlamydia ini timbul 2-14 hari setelah terinfeksi. Jika sudah demikian penderita bisa mengidap penyakit ini selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun tanpa mengetahuinya. Chlamydia tersebar melalui hubungan intim dengan penderitanya, akan lebih rentan lagi jika Anda giat berganti pasangan. Pertukaran cairan tubuh (sperma misalnya) berpotensi menjadi sarana penyebaran penyakit ini.

4

2.2.2. Epidemiologi Insiden Chlamydia trachomatis pada kehamilan sangat bervariasi, dari 2% – 30%. Pada wanita dengan sosio ekonomi yang rendah ditemukan sebanyak > 20%. Sering ditemukan pada wanita dewasa aktif seksual dan berhubungan erat dengan usia muda pertama kali kontak seksual serta lamanya waktu aktifitas seksual. Dilaporkan Chlamydia trachomatis lebih tinggi pada trimester III dibanding trimester I dan II. Infeksi Chlamydia trachomatis yang ditemukan pada kehamilan 24 minggu mengakibatkan kejadian persalinan preterm 2 kali lebih sering pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan 3 kali lebih sering pada kehamilan kurang dari 35 minggu.

2.2.3. Gejala Gejala chlamydia pada wanita : • • • • • • Cairan vagina memiliki bau tak sedap Menstruasi yang menyakitkan Sakit perut dengan demam Nyeri saat berhubungan seks Gatal atau terbakar di dalam atau sekitar vagina Nyeri saat kencing

Gejala chlamydia pada pria : • • • • Jumlah urine sedikit, berwarna jernih atau berawan dari ujung penis Nyeri saat buang air kecil Terbakar dan gatal di sekitar pembukaan penis Nyeri dan pembengkakan di sekitar testis

2.2.4. Diagnosa Ada beberapa tes yang yang biasa digunakan dokter untuk mendiagnosis chlamydia. Dokter akan mengambil sampel dari uretra pada laki-laki atau

5

dari leher rahim wanita. Ada pula tes yang dilakukan untuk memeriksa kehadiran bakteri melalui sampel urin. Bagi wanita, akan mengalami kejang di perut bagian bawah, perubahan jadwal haid, sakit saat buang air kecil, pendarahan dan perubahan lendir pada alat kelamin. Sedangkan pada pria, akan mengeluarkan lendir pada kemaluan, sakit saat buang air kecil, sakit dan bengkak pada buah zakar. Bahkan pada wanita dan pria, infeksi pada dubur bisa terjadi tanpa sepengetahuan penderita. Penderita hanya akan merasakan sakit dan lendir pada dubur.

2.2.5. Penatalaksanaan Dokter akan memberikan antibiotik oral, biasanya azitromisin atau doksisiklin. Dokter juga akan merekomendasikan pasangan penderita diperlakukan serupa untuk mencegah infeksi ulang dan penyebaran lebih lanjut. Dengan pengobatan, infeksi harus jelas di sekitar satu atau dua minggu. Hal ini penting untuk menyelesaikan seluruh antibiotik yang diberikan, bahkan jika telah merasa lebih baik sekalipun. Wanita dengan infeksi chlamydia yang berat mungkin memerlukan rawat inap, antibiotik intravena, dan obat-obatan anti nyeri. Setelah minum antibiotik, penderita harus kembali diuji untuk memastikan infeksi sudah sembuh secara total. Disarankan jangan melakukan hubungan seks sampai yakin penderita dan pasangan sudah tidak memiliki chlamydia.

2.3. Pencegahan Infeksi Chlamydia Menurut Depkes RI (2006) langkah terbaik untuk mencegah IMS adalah menghindari kontak langsung, yaitu dengan cara sebagai berikut : 1. Menunda kegiatan seks bagi remaja (abstinensi) 2. Menghindari berganti-ganti pasangan seksual 3. Memakai kondom dengan benar dan konsisten

6

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan kasus infeksi chlamydia adalah sebagai berikut: A. Promosi kesehatan (health promotion) Dari semua pendekatan kontrol chlamydia yang memungkinkan, berhasil mencegah infeksi awal tetap merupakan yang paling efektif. Edukasi terhadap masyarakat dan profesional kesehatan sangat penting untuk pencegahan di semua tiga tingkatan (primer, sekunder, tersier), apalagi dengan tidak adanya vaksin yang efektif. Penyuluhan kesehatan dan pendidikan seks, sama seperti sifilis dengan penekanan pada penggunaan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan wanita bukan pasangannya. Target untuk pendidikan dan pencegahan terhadap chlamydia pada pasien adalah populasi remaja dan dewasa muda. Pantangan, menunda usia untuk terpajan hubungan seksual sejak awal membatasi jumlah pasangan seksual dan penggunaan kondom untuk pencegahan harus dipromosikan atau dianjurkan. Harus ditekankan. bahwa penyaringan untuk chlamidya dan penanganan infeksi pada tahap awal adalah metode penting untuk menurunkan proses penyakit yang umum pada wanita untuk untuk menurunkan infeksi pada bayi. Laporan pada instansi kesehatan setempat; laporan kasus wajib dilakukan di banyak negara bagian di AS, Kelas 2B. Isolasi tindakan kewaspadaan universal, bisa diterapkan untuk pasien rumah sakit. Pemberian terapi antibiotika yang tepat menjamin discharge tidak infektif; penderita sebaiknya menghindari hubungan seksual hingga kasus indeks, penderita atau pasangannya telah selesai diberi pengobatan yang lengkap. Disinfeksi serentak pembuangan benda-benda yang terkontaminasi dengan discharge uretra dan vagina, harus ditangani dengan seksama. Investigasi kontak dan sumber infeksi. Pengobatan profilaktik diberikan terhadap pasangan seks lain dari penderita, dan pengobatan yang sama diberikan kepada pasangan tetap. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi dan belum mendapat pengobatan sistemik, foto thorax perlu diambil pada usia 3 minggu dan diulang lagi sesudah 12-18 minggu untuk mengethaui adanya pneumonia chlamydia sub klinis.

7

B. Perlindungan khusus (specific protection) Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah. Namun, tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. Untuk itu, peru dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. Infeksi chlamydia merupakan salah satu infeksi seksual paling umum dan mudah menular, namun hingga kini belum ada vaksinnya. Karena itu, infeksi chlamydia baru bisa diobati dengan antibiotik dan belum ada pencegahan yang benar-benar efektif. Namun kini para ilmuwan telah berhasil memetakan DNA bakteri untuk dibuat vaksin pencegahannya. Dalam waktu dekat, pengembangan vaksin untuk mencegah infeksi bakteri tersebut akan bisa dibuat. C. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment) Chlamydia sering terjadi tanpa gejala, orang yang terinfeksi secara tidak sadar dapat menginfeksi pasangan seks mereka. Banyak dokter merekomendasikan bahwa semua orang yang memiliki lebih dari satu pasangan seks harus diuji untuk chlamydia secara teratur, bahkan tanpa adanya gejala. Infeksi chlamydia mengisi prasyarat umum untuk pencegahan penyakit dengan skrining, infeksi chlamydia yaitu sangat lazim, biasanya tanpa gejala, yang berhubungan dengan morbiditas yang signifikan, dapat diandalkan didiagnosis, dan diobati. Skrining program untuk Chlamydia trachomatis akan menjadi sangat penting dalam pencegahan jangka panjang gejala sisa. Pemeriksaan pada remaja putri yang aktif secara seksual harus dilakukan secara rutin. Pemeriksaan perlu juga dilakukan terhadap wanita dewasa usia di bawah 25 tahun, terhadap mereka yang mempunyai pasangan baru atau terhadap mereka yang mempunyai beberapa pasangan seksual dan atau yang tidak konsisten menggunakan alat kontrasepsi. Tes terbaru untuk infeksi
8

trachomatis dapat digunakan untuk memeriksa remaja dan pria dewasa muda dengan spesimen urin. Pencegahan terhadap opthalmia neonatorun perlu dilakukan dengan memberikan salep mata eritromisin 0,5 % atau tetrasiklin 1 % segera setelah bayi lahir. D. Pembatasan cacat (disability limitation) dan rehabilitasi (rehabilitasi) Biaya skrining hanya sebagian kecil dari biaya perawatan kesehatan yang timbul akibat komplikasi akibat infeksi chlamydia tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Strategi saat ini untuk mengendalikan Chlamydia trachomatis masih sangat tergantung pada klinik berbasis skrining pasien bergejala, dan belum berhasil. Perkembangan yang sangat sensitif dan spesifik tes amplifikasi asam nukleat untuk diagnosis infeksi chlamydia telah menjadi kemajuan penting dalam kemampuan untuk melakukan program-program berbasis populasi skrining untuk mencegah komplikasi. Khusus perempuan hamil yang terinfeksi chlamydia dapat diobati dengan eritromisin. Saat terinfeksi penyakit ini sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual, atau gunakan kondom untuk mencegah penularan berulang. Sumber daya dan pelaksanaan strategi pengendalian chlamydia nasional yang efektif membutuhkan kepemimpinan dan komitmen dari para pembuat kebijakan pelayanan kesehatan. Strategi nasional yang paling tepat cenderung bervariasi di seluruh negara, dan strategi nasional harus dikembangkan melalui konsultasi dengan organisasi medis profesional, penyandang dana, dan penyedia layanan kesehatan dan diagnostik.

9

BAB 3 KESIMPULAN

Chlamydia trachomatis merupakan penyebab infeksi genital non spesifik yang terbanyak sekarang ini dibandingkan dengan organisma lain, baik di negara maju maupun negara berkembang. Chlamydia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena chlamydia yang tidak diobati dapat menyebabkan penyakit radang panggul (PID), subfertilitas, dan hasil reproduksi yang buruk pada beberapa perempuan. Diperlukan indentifikasi/diagnosis dini dan pengobatan yang cepat dan tepat dalam usaha memutus mata rantai penularan dalam masyarakat dan mencegah sequele jangka panjang. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel and Clark yaitu promosi kesehatan (health promotion), perlindungan khusus (specific protection), diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), pembatasan cacat (disability limitation), dan rehabilitasi

(rehabilitation). Chlamydia merupakan penyebab utama infertilitas yang dapat dicegah, hanya saja intervensi pencegahan yang efektif kurang dipergunakan. Program memiliki beberapa efek, tetapi perlu dilaksanakan lebih baik dengan meningkatkan skrining, kerjasama penatalaksanaan dengan berbagai mitra dan perlunya ditingkatkan kesadaran individu, menjangkau populasi yang terkena dampak tidak merata, serta memperbaiki tingkat pengukuran. Banyak tantangan, tapi juga peluang kemajuan dalam menangani kesehatan masyarakat, tantangan sosial dan individu. Reformasi pelayanan kesehatan berupa keterlibatan dalam mengembangkan sistem penyediaan layanan kesehatan untuk mengatasi hambatan di tingkat lokal maupun nasional. Praktik-praktik seks aman adalah kunci untuk pencegahan melalui promosi kesehatan dengan edukasi masyarakat dan pelatihan profesional kesehatan.

10

Deteksi dini dan pengobatan melalui program skrining, pemeriksaan rutin orangorang yang beresiko dan pengawasan populasi kita bisa menghindari komplikasi. Strategi pengendalian chlamydia nasional yang efektif membutuhkan

kepemimpinan dan komitmen dari para pembuat kebijakan pelayanan kesehatan. Strategi nasional yang paling tepat harus dikembangkan melalui konsultasi dengan organisasi medis profesional, penyandang dana, dan penyedia layanan kesehatan dan diagnostik.

11

DAFTAR PUSTAKA

Daili SF, Makes WIB, Zubier F, Yudarsono J. 1997. Penyakit Menular Seksual. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta. Hutapea, Ramsi RR. 1993. Uretritis Non Gonore dalam Penyakit yang ditularkan Melalui Hubungan Seksual. Medan: FK-USU Harris JRW, Foster SM. 1991. Genital Chlamydial Infection, Clinical Aspects, Diagnosis, Treatment and Prevention in: Sexually Transmitted Diseases and AIDS. New York: Churcill Livingstone. Bonang G, Koeswardono. 1982. Mikrobiologi Kedokteran untuk Laboratorium dan Klinik. Jakarta: Gramedia. Anonim. 2004. Klamidia. Available from http://www.pppl.depkes.go.id

[Accessed 29 October 2012] WHO. 2006. Global Control of Sexually Transmitted Infection. Available from http://www.who.int/reproductivehealth/publications/general/lancet_5.pdf [Accessed 1 November 2012] ECDC. 2009. Chlamydia Control in Europe. Available from

http://www.ecdc.europa.eu/en/publications/Publications/0906_GUI_Chla mydia_Control_in_Europe.pdf [Accessed 1 November 2012] CDC. 2010. Chlamydia Prevention: Challenges and Strategies for Reducing Disease Burden. http://www.cdc.gov/about/grand-

rounds/archives/2010/download/gr-052010.pdf [Accessed 1 November 2012]

12