KATA PENGANTAR

Om Swastyastu Berkat asung wara nugraha Ida Syang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, maka makalah yang berjudul : Museum Tekstil Bali di Karangasem ini dapat disusun dan diselesaikan tepat pada waktunya walaupun masih diakui jauh dari sempurna Makalah ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan MK Studio 2 Program Studi Aksitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana, karena itu penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, tanpa penulis sebutkan satu persatu.

Denpasar, Agustus Penulis

Bunga Mulia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara penghasil tekstil terbesar di dunia yang memiliki keanekaragaman corak tradisional maupun modern. Berbagai jenis pakaian yang unik dan spesifik tersebar di sekitar 3.000 pulau besar maupun kecil di nusantara. Puspa ragam jenis bahan, teknik pengolahan, warna, motif dan komposisi merupakan ciri tersendiri dari tekstil Indonesia. Bali sebuah pulau kecil dengan 8 Kabupaten dan 1 Kota dan mayoritas penduduk beragama Hindu dan adat budaya yang mentradisi memiliki keanekaragaman corak tekstil yang khusus di setiap daerah. Corak tekstil Bali berkembang dari era Bali Aga, Bali Kuno, era penjajahan, era kemerdekaan serta Bali modern yang menjadi ciri identitas bagi daerah masing-masing. Dalam perkembangannya tekstil Bali mendapat pengaruh dari provinsi disekitarnya di Indonesia maupun dan luar negeri, termasuk dipengaruhi oleh perkembangan pariwisata. Tekstil sebagai kebutuhan pokok manusia merupakan hash budaya mengalami perkembangan dari masa ke masa, dan bentuk sederhana berupa serat kemudian berkembang menjadi benang dan kain. Disamping itu peralatan yang digunakan juga semakin berkembang, sesuai dengan teknologi dan tuntutan pada masanya. Dalam kebudayaan Bali, tekstil tidak hanya digunakan sebagai sandang penutup tubuh manusia, namun juga memiliki nilai-nilai sakral yang digunakan pada upacara keagamaan. Selain itu tekstil Bali juga digunakan untuk menghiasi bangunan suci seperti Pura, sekaligus sebagai wastra dan patung-patung didalamnya. Penggunaan motif dan tekstil yang ada lebih yang dipengaruhi oleh ketentuan-ketentuan dalam unsur agama di Bali. Tri Hita Karana sebagai pedoman tata kehidupan di Bali memberikan satu klasifikasi bagi penggunaaan tekstil itu sendiri. Hubungan antara manusia dengan Tuhan menentukan penggunaan tekstil Bali pada bangunan suci. Perayaan upacara

adat yang dilaksanankan menurut tingkatan utama, madya dan nista memberikan perbedaan dari kompleksitas penggunaan tekstil yang beragam. Material, motif, dan teknik pembuatannya berbeda dengan tekstil yang digunakan manusia. Penggolongan jenis tekstil berdasarkan kasta dihasilkan dari suatu hubungan antara manusia dengan manusia lainnya. Konsep kosmologi dari alam juga memberikan karakteristik baik dari segi motif dan warna. Warna merah digunakan untuk arah mata angin selatan, arah distanakannya Dewa Brahma, begitu pula dengan warna hitam uang ditujukan untuk Dewa Wisnu pada arah utara. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, pengetahuan menenun tekstil di Bali juga berkembang dengan ditemukannya Alat Tenun Mesin, sehingga produksi tekstil dapat memenuhi kebutuhan masyarakat maupun pasar internasional. Perkembangan pariwisata yang semakin pesat juga memberi kemajuan pada sektor industri khususnya industri tekstil sebagai komoditi ekspor yang berupa kain dan pakaian jadi.

Jenis-jenis tekstil tradisional Bali ada bermacam-macam dan berkembang menjadi satu nilai lebih mewakili daerahnya masing-masing. Kain geringsing, kain cepuk, kain songket, kain endek, dan lain sebagainya, merupakan jenis kain tradisional Bali yang memiliki ciri khas dan nilai filsalfah tersendiri. Dalam perkembangannya, motif yang terdapat dalam tekstil Bali mengandung nilai-nilai filosofis yang kental dan setiap lembaran tekstil yang ada. Motif-motif tersebut dapat diambil dari lingkungan sekitar tempat mereka hidup maupun dari ceritera kepahlawanan yang hingga kini masih dipuja oleh masyarakat seperti ceritera Ramayana dan Mahabharata. Perubahan sosio kultural saat ini mengakibatkan perubahan bagi kehidupan sosial itu sendiri. Perbedaan yang paling mendasar adalah penggunaan tekstil Bali saat ini tidak lagi dibedakan dari kelas sosial, tapi dibedakan dari tekstil yang digunakan sehari-hari dan saat upacara adat. pakaian sehari-hari menjadikan masyarakat Bali tampil sebagai masyarakat

modern, namun tetap menjadikan tradisi sebagai akar identitas budaya yang dianutnya. Dalam perkembangannya dirasakan untuk membuat tekstil tradisional dengan peralatan yang sederhana diperlukan material, tenaga kerja, waktu yang relatif lama dan mahal, sehingga sasat ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat cenderung mulai menggunakan material dan peralatan yang lebih modern. Disamping itu adanya ketersediaan tekstil dipasar dalam kapasitas mencukupi menjadikan masyarakat memilih sebagai konsumen dibandingkan sebagai perajin tekstil. Hal ini mengakibatkan masyarakat semakin berorientasi pada kehidupan praktis sehingga semakin menurun minat masyarakat Bali terhadap pengetahuan akan tekstil. Banyak masyarakat Bali yang tidak tahu tekstil tradisiohal mereka, apalagi cara membuatnya. Para perajin yang berniat menggeluti pengetahuan akan tekstil tradisional dengan motif-motif yang mengandung nilai budaya didalamnya semakin langka. Begitu juga dengan kuantitas produk tekstil tradisional Bali. Berdasarkan data statistik jumlah perusahaan yang bergerak di bidang industri tekstil semakin menurun. Tahun 2001 junlah perusahaan tekstil ada 196 perusahaan, dengan 14.664 orang pekerja. Tahun 2004 jumlah perusahaan tekstil di Bali mencapai 30 perusahaan dengan 1.391 orang pekerja. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka diperlukan suatu wadah untuk melestarikan, memperagakan, mempertahankan dan mengembangkan tekstil Bali khususnya seperti yang dilakukan oleh negara lain yang sangat menghargai kekayaan warisan budayanya. Salah satu wadah yang relevan untuk mendukung usaha ini adalah Museum Tekstil Bali. Kabupaten Karangasem merupakan salah satu kebupaten di Bali yang memiliki nilai historis terhadap tekstil tradisional Bali, Desa Gelgel yang menjadi tempat asal mula pembuatan kain songket untuk keluarga kerajaan Masyarakatnya masih menjunjung tinggi nilai warisan leluhurnya dan masih memegang reputasi ketradisionalannya. Secara umum penghasilan daerah

lebih banyak dari sektor perdagangan daripada sektor pariwisata, karena Lombok melalui pelabuhan Padagbai. Sebuah Museum Tekstil mampu merangkum, memperagakan, melestarikan serta mengembangkan tekstil di Indonesia, disamping untuk kepentingan pendidikan, penelitian, serta objek wisata sekaligus sebagai usaha penyelamatan terhadap tradisi dari benda warisan budaya bangsa. Dengan adanya Museum Tekstil Bali di Karangasem ini diharapkan dapat menjadi wadah pengumpulan, pelestarian, peragaan dan pengembangan kualitas wawasan mengenai tekstil tradisional Bali di Bali, di Indonesia dan di dunia.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:  Bagaimana mewujudkan suatu museum tekstil yang mampu „merangkum, menampung, dan mengembangkan kuantitas dan kualitas jenis tekstil tradisional Bali?  Bagaimana perencanaan museum ini sehingga mampu menjadi objek studi, objek wisata, objek pelestarian sekaligus sebagai peningkatan dan pengembangan kualitas wawasan masyarakat tentang tekstil Bali?  Bagaimana teknik penyajian koleksi untuk pemeliharaan, perawatan dan pengembangan tekstil Bali? 1.3 Tujuan 13.1 Tujuan Penulisan Tujuan dan penulisan itu adalah menyusun landasan konsepsual perancanaan sebuah bangunan Museum Tekstil Bali di Karangasem yang akan dipergunakan sebagai acuan dalam tahap desain selanjutnya.

13.2 Tujuan Perencanaan Tujuan dari perencanaan ini adalah menyusun dan mewujudkan suatu rancangan Museum Tekstil Bali di Karangasem yang mampu mewadahi kegiatan perangkuman, pelestarian, peragaan, serta pengembangan wawasan dan pengetahuan mengenai tekstil Bali dengan menyediakan sarana pameran, pelayanan umum, pelayanan edukasi yang aman, nyaman, kompak, dan menyatu antar fungsinya, sehingga dapat menunjukkan kualitas tekstil Bali yang dipamerkan didalam bangunan museum ini dan mewarisi kegiatan budaya berupa produksi tekstil tradisional Bali yang merupakan kegiatan masyarakat pada waktu lampau.

1.4 Metode Penelitian 1.4.1 Teknik Pengumpulan Data Teknik yang dipergunakan untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk dapat menjawab permasalahan mengenai Museum tekstil adalah: 1. Data Primer Data primer adalah data yang dikumpulkan peneliti langsung dan sumbernya, dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengumpul data. Data Primer dapat diperoleh melalui:  Obseivasi Metode ini merupakan teknik pengamatan dimana peneliti melakukan pengamatan dan pencatatan yang sistematik terhadap subjek penelitian. Subjek yang diteliti adalah sejarah, proses, serta peralatan yang digunakan dalam pembuatan tekstil Bali yang dilakukan pada beberapa tempat produksi tekstil Bali. Observasi dilakukan juga dengan mengamati museum-museum yang ada di Bali untuk mengetahui karakteristik meseum

Wawancara dan diskusi Wawancara merupakan alat pengumpul data untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara dilakukan dengan petugas meseum Bali dan dengan produsen dan pengerajin tekstil Bali

2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, yang dalam hal ini peneliti bertindak hanya sebagai pemakai data karena tidak langsung memperoleh data langsung dan sumbernya. a. Studi Literatur Pengumpulan data penunjang sebagai bahan pertimbangan proses perencanaan dan perancangan yang terdiri dari buku-buku, dan lain-lain. b. Studi Banding Melakukan studi banding museum tekstil di daerah dan negara lain melalui internet.

1.4.2 Teknik Pembahasan Teknik yang akan digunakan dalam melakukan pembahasan adalah metode deskriptif, yaitu dengan melakukan pembahasan secara bertabap dari masalah yang bersifat makro atau umum menuju masalah yang bersifat mikro atau lebih detail atas dasar studi literatur, studi banding, dan observasi. Setiap tahapan dianalisa secara terintegrasi dan lengkap untuk kemudian memberikan masukan kepada pembahasan tahap berikutnya. Pada tahap analisa ini keluaran yang diharapkan menjadi suatu konsep yang mendasari perencanaan Museum Tekstil Bali. Kemudian pembahasan lebih lanjut dijabarkan dalam bentuk desain. Seluruh tahapan pembahasan selalu dilakukan pengevaluasian dan mengalaxni feedback control pada setiap bagiannya sehingga data-data yang belum ditampilkan segera dapaat disiapkan, metode dan penganalisaan dapat diklasifikasi secepatnya, serta konsep perencanaan dapat dihasilkan dengan lebih tepat.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1. Tinjauan Umum Museum 2.1.1. Sejarah Perkembangan Museum Sejarah perkembangan Museum di dunia dapat ditelusuri sejak awal dari Yunani. “Museum” berasal dari bahasa Yunani “Muse” yang berarti sembilan Dewi Yunani kuno yang menguasai seni murni dan ilmu pengetahuan. Jadi Museum di jaman itu merupakan suatu ruangan yang dipergunakan bagi dewi-dewi kesenian. Secara umum perkembangan museum dapat djelaskan sebagai berikut: Manusia mempunyai naluri alamiah untuk melakukan pengumpulan (collecting instict). Sejak 85.000 tahun silam sudah merupakan tukang himpun, terbukti penelitian para arkeolog pada gua-gua di Eropa dimana pernah berdiam manusia Neanderthal (Lembah Neander), dan ditemukan benda-benda koleksi pertama berupa kepingan batu yang disebut oker dan banyak benda yang aneh-aneh. Awalnya disebut dengan curio cabinet, yang menjadi sejarah museum pertaima kali. Pada jaman pertengahan, museum merupakan tempat memajang koleksi pribadi milik bangsawan, dan orang kaya yang makmur. Museum merupakan tempat ajang prestise bagi pemiliknya. Pada jaman itu museum juga pernah diartikan sebagai kumpulan ilmu pengetahuan dalam bentuk karya tulis pada jaman ensiklopedis. Setelah jaman Renaissance orang-orang di Eropa Barat mulai mendalami ilmu pengetahuan tentang alam dan manusia juga jagat raya disekitarnya. Di Indonesia berdirinya museum pertama kali dipelopori oleh berdirinya Basaviasch Genootchap Van Kujnsten en Wateschaapen pada tanggal 24 April 1778, dengan tujuan memajukan kesenian dan ilmu pengetahuan. Perkumpulan ini menjadi pusat pertemuan kalangan sarjana pada saat itu dan pernah menjadi tuan rumah Pacific Science Congress.

Saat ini Bataviasch Genootchap Van Kujnsten en Wateschaapen telah berganti nama menjadi museum nasional, yang merupakan museum tertua di Indonesia. Sebenarnya terdapat lagi museum nasional di daerah lain tetapi terhalang masalah biaya dan perawatan koleksi. Perhatian pemerintah terhadap permuseuman meningkat, terbukti dengan adanya Proyek

Rehabilitasi dan Perluasan museum yang menjangkau seluruh daerah di Indonesia.

2.1.2. Pengertian Museum Museum muncul untuk keperluan pendidikan, dan atau untuk pengadaan kegunaan koleksi permanen yang bersifat estetik. Ada beberapa rumusan mengenai pengertian museum. Sebuah museum adalah: 1. Satu lembaga untuk merawat benda-benda dengan aman, dan untuk menginterpretasikan benda-benda itu melalui riset dan penelitian.(Edwin . Colbert). 2. Satu bangunan permanen, diatur sesuai minat umum, untuk maksud pelestarian, studi dan diperkaya dengan berbagai makna dalam arti khusus, memajangkan kepada umum karena benda-benda dan spesimen

kulturalnya memberikan kenikmatan dan petunjuk: koleksi-koleksi artistik, bersejarah, ilmiah, kebun-kebun raya dan kebun binatang, akuarium dan contoh lainnya, perpustakaan umum dan lembaga arsip umum yang menyediakan ruang-ruang pameran permanen, dianggap museum (Dewan Museum Internasional, 1960) Selanjutnya dengan definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, Museum mempunyai ruang lingkup yang sangat luas yang memberikan perlindungan terhadap benda-benda yang bernilai sejarah dan budaya, untuk dapat dikenali, diteliti dan dipelajari melalui riset dan pameran untuk meningkatkan pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan masyarakat.

2.1.3. Fungsi, Peranan dan Tugas Museum 2.13.1. Fungsi Museum Secara umum menurut Direktorat Jenderal Kebudayaan, Museum memiliki sembilan fungsi yang merupakan rumusan ICOM sebagai berikut: 1. Mengumpulkan dan mengamankan warisan alam dan budaya 2. Dokumentasi dan penelitian ilmiah 3. Konservasi dan preservasi 4. Penyebaran dan pemerataan ilmu untuk umum 5. Pengenalan dan penghayatan kesenian 6. pengenalan kebudayaan antara daerah dan antar bangsa 7. Visualisasi warisan alam dan budaya 8. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia 9. Pembangkit rasa bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa Fungsi tersebut menunjukkan bahwa warisan sejarah budaya dan warisan sejarah alam perlu dipelihara dan diselamatkan. Dengan demikian dapat dibina nilai-nilai budaya nasional yang dapat memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal harga diri dan kebanggaan nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan nasional.

2.1.3.2. Peranan Museum Museum mempunyai peranan terhadap masyarakat sebagai berikut: 1. Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah 2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum 3. Pusat peningkatan apresiasi budaya 4. Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa 5. Sumber inspirasi 6. Objek wisata 7. Media membina pendidikan sejarah alam, ilmu pengetahuan dan budaya 8. Suaka alam dan suaka budaya 9. Cermin sejarah alam dan kebudayaan

2.1.3.3. Tugas Museum Tugas Museum seperti yang tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 079/0/1975, pasal 726 dan 727 adalah sebagai berikut: a) Tugas Pengumpulan Koleksi yang dikumpulkan adalah benda-benda yang memenuhi syarat untuk dijadikan benda koleksi umum b) Tugas Penyelidikan Museum mengumpulkan benda-benda koleksi baik untuk pameran maupun objek studi yang termasuk dalam lingkup penelitian c) Tugas Pemeliharaan Tugas pemeliharaan menyangkut memberi keterangan tertulis bagi setiap benda koleksi dan memelihara benda koleksi museum dengan cara konservasi, preservasi dan restorasi. d) Tugas Pengamanan Tugas pengamanan adalah menjaga benda-benda koleksi agar tidak rusak terutama oleh manusia baik dengan cara preventif maupun dengan cara represif. e) Tugas Penerangan Dilakukan dengan cara mengadakan pameran yang merupakan kegiatan khas pada museum f) Tugas Pendidikan Memberikan penjelasan bagi pengunjung, terutama mengenai benda-benda koleksi yanng dipamerkan di museum dengan memberikan bimbingan, petunjuk dan ceramah. g) Tugas Publikasi Menyelenggarakan penerbitan hasil-hasil penelitian koleksi museum melalui majalah, brosur dan lain-lain.

2.1.4. Klasifikasi Museum Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan no. 079 tahun 975, museum dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa pertimbangan: 2.1.4.1 Status Museum  Museum Pemerintah, adalah museum yang berada dibawah naungan pemerintah, dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan direktorat Jendral Kebudayaan. Dapat dibagi menjadi museum yang dikelola oleh Pemerintah Pusat dan yang dikelola oleh Pemerintah Daerah baik tingkat I maupun tingkat II  Museum swasta, adalah museum yang dimiliki oleh pihak swasta, baik secara perorangan maupun organisasi/ perkumpulan/ yayasan

2.1.4.2. Tingkat Museum  Museum nasional adalah museum yang memiliki ruang lingkup pelayanan serta operasional yang meliputi wilayah nasional. Koleksinya terdiri dari kumpulan benda yang berasal dari, mewakili, dan berkaitan dengan bukti material manusia dan atau lingkungannya dan seluruh wilayah Indonesia yang bernilai nasional.   Museum Regional Propinsi, adalah museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan benda yang berasal dari wilayah propinsi tertentu Museum lokal yaitu museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan benda yang berasal dan wilayah kabupaten atau kotamadya tententu.

2.1.4.3. Kategori Museum Kategori museum menurut luas publik, yaltu:    Museum Umum (melayani masyarakat umum) Museum Khusus (melayani masyarakat tententu) Kategori museum menurut benda-benda kolek-si, yaltu: Museum umum, adalah museum yang mengkoleksi benda-benda secara umum yang terdiri dari kumpulan bukti material dan atau lingkungannya

yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak terbatas pada benda-benda tertentu saja.  Museum khusus adalah museum yang membatasi koleksi pada bendabenda tertentu saja, yang terdiri dari kumpulan bukti material atau lingkungannya yang berkaitan dengan satu cabang seni, satu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.1.4.4. Tipe Museum Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 093/0/1979, museum dapat digolongkan menjadi beberapa tipe yaitu tipe A,B dan C. Penggolongan ini berdasarkan atas: A. Segi kependudukan B. Segi Etnis C. Segi Politik Keamanan D. Segi Pariwisata E. Segi Potensi Ketenagaan F. Segi Penerimaan Dana Rutin dan Pembangunan Daerah G. Segi Kebudayaan

2.1.5. Benda-benda koleksi museum 2.1.5.1 Syarat-syarat Benda Museum a. benda-benda koleksi harus memiliki nilai-nilai budaya (Cultural Value) dalam hal ini untuk nilai ilmiah (Scientific Value) baik dalam ilmu alam, ilmu sosial dan budaya. Disamping itu benda koleksi harus memiliki nilai keindahan (Aesthetic value) terutama untuk mesium seni rupa. b. Benda-benda koleksi harus memiliki identifikasi dapat diterangkan baik wujudnya (morfologis) tipe, gaya, fungsi dan sebagainya. c. Harus dapat dianggap sebagai suatu monumen atau suatu tanda peringatan peristiwa bersejarah. d. Harus dapat dianggap sebagai dokumen dalam arti suatu bukti kenyataan dan adanya bukti kehadiran.

2.1.5.2 Cara Mendapatkan Koleksi       Merupakan benda penemuan di lapangan Dengan cara membeli Sumbangan sukarela atau pemberian hibah Barang sitaan dan pengadilan Barang titipan untuk dirawat dan dilindungi Barang pameran untuk pameran temporer dan keliling

2.1.5.3 Jenis Koleksi Museum Benda-benda koleksi museum dapat berupa benda-benda etnografi, arkeologi, naskah, buku karya seni, benda grafika (foto, peta asli atau reproduksi yang bisa dijadikan dokumen), diorama (gambaran bentuk tiga dimensi), benda-benda sejarah alam (flora, fauna, batuan dan mineral), replika, miniatur.

2.1.5.4 Bahan Koleksi Museum Karakter bahan koleksi terdiri dari dua kelompok, yaitu:  Kelompok benda organik Merupakan benda-benda yang berasal dari bahan alam (organik), mengandung selulosa. Sangat sensitif terhadap iklim, asam dan serangan hama atau serangga. Bahan-bahan itu antara lain: kayu, tekstil (katun dan linen), daun lontar, kertas, bahan organik sepenti gading, tanduk dan kulit binatang.  Kelompok Benda Khusus Benda yang diniaksud adalah lukisan, yang terdiri dari kanvas, kertas, atau bahan lain dengan perekat, cat lukisan baik cat minyak atau cat air, dan coating atau lapisan-lapisan. Sangat sensitif terhadap pengaruh cahaya dan iklim, sangat sensitif terhadap udara dan kadar garam tinggi.

2.1.5.5 Kerusakan Koleksi Tabel 2.1 Kerusakan koleksi
iklim Cahaya Serangga Mikroorganisme Pencemaran Atmosfer lemahnya rekat membusuknya bahan perekat rangsang karat daya Benda yang tidak sensitif terhadap cahaya Logam, batu, menyebabkan kerusakan pada benda-benda yang mengandung selulosa yang protein, terkandung dalam bendadan yang Merupakan sejenis tumbuhan kecil termasuk bakteri yang mengeluarkan asam sulfat sebagai penyubur tumbuhan jamur. - Sulfur ruangan yang menyebabkan proses pelunturan atau pelapukan - Karbon dioksida (C02) berupa beracun gas yang

kaca, keranik dan berlian

pada lawat logam buramnya dan kaca semakin ketatnya kanvas lukisan

gelas - Benda sensitif terhadap cahaya - Dapat mencapai

benda organik - Silver 150 pada fish, kertas,

berbahaya bagi koleksi, bersifat berat

lax, yaitu: kulit, kayu, Tidak dari 50

buku dan tekstil

bambu - Crocoaches boleh lux (kecoa): wall,

sehingga selalu berada pada

kulit dan buku

dataran rendah - Sisa pembakaran yang debu arang, berupa atau bila

yaitu; lukisan, - Termits (nyap): barang cetakan dan lainnya. kayu buku dan tekstil - Cloths moth (ngengat):segala jenis kain - Dermistid beetle (sebangsa kumbang) kulit wall,

menempel pada tekstil, kulil

dan kertas akan sulit untuk

dibersihkan.

2.1.5.6 Perawatan Koleksi Perawatan koleksi adalah kegiatan pencegahan terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleb faktor-faktor perusak yang telah diuraikan diatas antara lain : Tabel 2.2 Perawatan koleksi Iklim
Kelembaban relatif sesuai berbagai koleksi 45yang bagi jenis antara 60%,

Cahaya
Mencegah terjadinya penyinaran langsung khususnya pada tekstil. Lukisan, minyak benda-benda kertas, cat pada

Serangga
Dengan zat kimia anti hama yang menguap suhu dapat pada normal

Mikroorganisme
Perlu filterisasi dan penjagaan temperatur tetap ideal. agar udara

Polusi Udara
Mencegah terjadinya terpaan langsung mengenai benda. dipikirkan filteriasi Perlu usaha udara angin

yang dilakukan pada ruang

kelembaban udara dengan Dehumidifyer, sedangkan suhu udara 20-24°C yang diatur dapat dengan dialur

kedap suara. Zat kimia adalah diklorobenzana, karbondisulfida. karbontetra kldorida, dan tersebut

kanvas, kayu dan lukisan cat air. Sinar buatan

masuk ke ruangan untuk mendapatkan udara bersih.

(lampu) pada objek yang paling peka terhadap sebaiknya cahaya paling

Humidifyer

metil bromida

dekat berjarak ±40 cm. Untuk

mencegah resapnya ultraviolet dipasang dapat reflektor

yang dicatat dengan oksida atau

titanium triokrida.

2.1.6. Penyajian Koleksi 2.1.6.1. Perencanaan dan Metode Pameran Dalam merencanakan suatu pameran perlu diperhatikan persyaratan-persyaratan sebagai berikut :  Adanya tema pameran  Pemilihan benda-benda koleksi yang akan dipamerkan  Desain sarana seperti ruangan, vitrin, panel, disesuaikan dengan benda-benda yang dipamerkan di ruang yang telah tersedia  Jenis bahan yang digunakan  Sedangkan agar tercapainya maksud penyajian berdasarkan tema, perlu dipertimbangkan metode paineran yaitu :  Metode pendekatan romantik, yaitu cara-cara penyajian benda-benda koleksi sehingga dapat mengungkapkan suasana tertentu yang berhubungan dengan benda-benda yang dipamerkan untuk menggugah suasana dan kenyataan, membangkitkan perhatian pengunjung.  Metoda pendekatan tematik, yaitu cara penyajian benda-benda koleksi sehingga dapat mengungkapkan dan memberikan informasi ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan benda-benda museum yang dipamerkan.  Metoda pendekatan Estetis, yaitu penyajian benda-benda koleksi sehingga dapat meningkatkan pernyataan-pernyataan terhadap nilai-nilai keindahan dan benda warisan budaya atau koleksi agar dapat terungkapkan.

2.1.6.2. Bentuk Pameran Jika dilihat dari bentuk pamerannya, maka pameran museum dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:  Pameran tetap (permanent exibition), sistem pengelolaannya tetap

diselenggarakan sekurang-kurangnya dalam waktu 3 tahun.  Pameran temporer (temporary exibition), lamanya satu hari sampai satu bulan. Sistem golongan selalu berubah dengan mengambil tema khusus.

 Pameran keliling (traveling exibition) dilakukan di luar museum dengan jangka waktu tertentu dan variasi waktu yang relatif singkat dengan mengambil tema khusus.

2.1.6.3. Sistematika Pameran Penyajian yang baik akan memudahkan pengunjung memahami isi pameran. Ada beberapa sistem penyajian atau penataan datam koleksi pemeran yaitu : a. Berdasarkan fungsinya, koleksi yang dipamerkan dan ditata berdasarkan fungsi yang sama b. Berdasarkan jenisnya, misalnya pameran batik saja c. Berdasarkan materialnya, sistem penyusunannya berdasarkan materi atau bahan koleksi, misalnya pameran dan bahan besi saja. d. Berdasarkan tempat asal atau geografis, berdasarkan asal atau tempat bendabenda tersebut.

2.1.6.4. Sistem Tata Pameran Pameran di museum hendaknya bertitik tolak dari 3 unsur yang sangat berhubungan dan dijadikan dasar pertimbangan dalam penataan pameran yaitu :

2.1.7. Persyaratan Bangunan Museum 2.1.7.1. Lokasi Museum Nilai lokasi merupakan faktor terpenting dalam menentukan lokasi museum, pemilihan lokasi dapat dilakukan melalui berbagai pertimbangan-pertimbangan. Syarat utama yang harus dipenuhi adalah accessibility, dimana museum harus berlokasi pada suatu areal yang mudah dicapai oleh bermacam-macam kendaraan maupun pejalan kaki. Dalam pamilihan lokasi museum ada bermacam-macam kriteria secara garis besar ada dua jenis kriteria yaitu :

Kriteria menurut sistem historis Berdasarkan nilai sejarah memiliki kriteria sebagai berikut : 1. Lokasi bernilai historis yang secara planologis jawabkan 2. Lokasi yang bernilai historis yang relevan terhadap nilai koleksi 3. Lokasi bernilai historis menurut sejarah bangunan, pelaku maupun peranannya. dapat dipertanggung

Kriteria menurut Sistem Kegiatan Masyarakat 1. Lokasi yang dihubungkan dengan nilai lingkungan Center. 2. Lokasi yang dihubungkan dengan yang bersifat Community

kedekatannya terhadap pusat pendidikan (sekolab-sekolah, universitas, gelanggang remaja dll) 3. Lokasi yang dihubungkan dengan daerahdaerah yang masih baru berkembang,

2.1.7.2. Kesehatan Lingkungan      Tidak dekat dengan daerah industri Bebas banjir Tidak terlalu dekat dengan laut atau sungai Mempunyai cukup ruang terbuka Jauh dari sumber api, pompa bensin, dan lain-lain.

2.1.7.3. Bangunan Museum a. Bangunan utama (ruang pameran) hanis dapat :     Manual benda-benda koleksi yang akan dipamerkan Mudah dicapai dari luar maupun dari dalam Memiliki daya tarik sebagai bangunan pertama yang dikunjungi Sistem keamanan yang baik, baik dari segi konstruksi, spesifikasi ruang maupun kriminalitas. b. Bangunan audittorium harus mudah dicapai umum dan dapat dipakai untuk ruang pertemuan, diskusi dan ceramah. c. Bangunan khusus terdiri dari laboratorium konservasi, studio preparasi, storage harus :   Terletak pada daerah tenang Memiliki sistem keamanan yang baik dari segi konstruksi maupun spesifikasi ruang

d. Bangunan Administrasi harus :   Terletak strategis baik terhadap pencapaian umum maupun terhadap bangunan lain. Mempunyai pintu khusus

2.1.7.4. Kelengkapan Keamanan Konstruksi Bangunan Museum a. Perencanean Bencana Alam Berupa rencana detail tertulis yang ditujukan kepada staf museum bila terjadi bencana alam. Informasi mengenai siapa pihak yang dihubungim prioritas penyelamatan dan bagaimana reaksi terhadap bencana alam. b. Asuransi dan kontrak c. Tempat Penyimpanan yang aman, harus memperhatikan :  Keamanan tempat penyimpanan, harus terisolasi, aman, dan ada pengontrolan terhadap akses masuk, bukan multiple use area, tidak mempunyai kantor atau workshop pameran terkunci rapat, dan tersambung secara baik dengan pusat sistem keamanan.  Kontrol terhadap hama dimana tekstil dan benda koleksi lainnya sangat rawan terhadap hama. Diharuskan ada kontrol rutin terhadap koleksi.  Intensitas cahaya untuk tekstil banya boleh berkisar antara 50-100 lux. Untuk ruang penyimpanan (storage) menggunakan cahaya yang paling ringan dan sensitif. Bila intensitas cahaya melebihi 100 mx, maka diharapkan koleksi disimpan dalam lemari atau kabinet yang melindunginya dari cahaya langsung.  Ventilasi dan AC; storage dari museum memerlukan filtrasi udara, temperatur yang tetap dan kelembaban relatif. Ketiga sistan ini penting untuk dimonitor dalam suatu ruang khusus.  Proteksi terhadap air; bila mungkin storage bebas dari pipa air yang tidak perlu. Koleksi membutuhkan ruang storage dengan ketinggian lebih tinggi sekitar 10-12 inchi dan harus dilindungi dengan lemari, kotak dan rak tertutup.

 Perlindungan terbadap api; Sistem dry sprinkler diperlukan pada storage dan area pameran. Tipe dari sistem pemadam kebakaran dipilih berdasarkan, konstruksi bangunan, nilai barang koleksi dan standar.

2.2. Tinjauan Tekstil 2.2.1. Pengertian dan Sejarah Tekstil Tekstil berasal dari kata “texere” yang berarti menenun. Tekstil adalah kain yang diperoleh dengan cara manintal, menenun, merajut, menganyam, atan membuat jala benang yang diperoleh dari berbagai serat. Hingga sekarang masih banyak tekstil yang dibuat dengan cara menenun, meskipun banyak kain bisa dihasilkan dengan cara lain seperti menganyam, merenda dan merajut. Pada tekstil berasal dari berbagai jenis bahan penutup tubuh, bahkan dedaunan dan serat pohon sekalipun. Dengan perkembangan peradaban manusia, dan karena kebutuhan untuk melindungi tubuh dari kondisi iklim maupun lingkungan, maka usaha pengetahuan akan tekstil mulai tercipta. Dibuatlah alat-alat tekstil sederhana untuk menghasilkan jenis kain yang sederhana pula. Lama kelamaan mulai muncul mesin untuk membuat tekstil untuk kemudahan manusia dalam membuat tekstil.

2.2.2. Bahan Baku Tekstil Bahan baku tekstil adalah serat, dimana bahan baku serat dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu : 1. Serat alami : serat yang berasal dari nabati (kapas, goni, henep, flax), hewani (wol, sutera), serat asbes. 2. Serat buatan : nilon, poliester, rayon, dan sebagainya.

22.3 Karakteristik Tekstil
Sifat-sifat Tekstil Bahan Alami tenunnya terasa empuk baik sebagai isolasi panas sangat higroskopik dan baik daya tahannya terhadap warna Bahan Buatan lebih kuat elastisitas yang tinggi stabilitas terhadap Kerusakan Tekstil Lingkungan Kelembaban tinggi Pencemaran Cahaya Biotik Jamur Insekta

panas cukup baik

2.2.4 Jenis Tekstil berdasarkan teknik pembuatannya
Kain Tenun Dibuat dengan saling menyilangkan dua kelompok benang tetapi ada juga kain tenun yang meyilangkan 5 benang dan 3 benang Kain Rejut Dibuat dengan cara menautkan satu benang pada benang lain dengan menggunakan jarum Kain Renda Anyaman Sama dengan rajut, hanya kain yang dihasilkan lebih renggang Memerlukan sekurang-kurangnya 3 macam benang. Anyaman yang dihasilkan rapat seperti tali sepatu, tekstil hias, penutup tali. Tali Jala Dibuat dengan tangan, lubangnya dapat berbentuk segi empat atau segi enam.

2.3. Tinjauan Tekstil di Indonesia Kepulauan Indonesia terkenal dengan kain dekorasi seperti batik dan ikat. Masyarakat Indonesia mempunyai keterampilan yang tinggi untuk membuat motif dari desain tekstil yang unik dan spesifik. Desain dari tekstil Indonesia tidak hanya merefleksikan keanekaragaman etnik di daerah Indonesia sendiri tetapi juga mengadopsi kultur luar, terutama India dan Cina. Sebagai tradisi dan alat tukar, tekstil Indonesia memiliki nilai yang penting secara ritual dan dikenakan saat upacara keagamaan seperti upacara beranjak dewasa dan pernikahan. Pengaruh negara luar yang paling besar adalah dari India dan Cina, selain itu juga Arab dan Islam India, dan nantinya Kristen Eropa, memberikan pengaruh yang besar bagi tekstil Indonesia. Yang paling cepat menerima pengaruh ini adalah penduduk yang tinggal dekat dengan pantai. Sedangkan penduduk yang tinggal di dataran tinggi mengalami perkembangan setelah adanya penjajahan Belanda. Pemerintah mulai mempunyai pabrik lokal sendiri. Banyak desain yang

merefleksikan nilai tukar nasional dan regionalisme, namun tetap memperhatikan simbol kultur dalam status multikultur.

2.4. Simpulan / Spesifikasi Umum Museum Tekstil Tabel 2.6
Fungsi Fungsi dari Museum Tekstil adalah sebagai wadah untuk mengumpulkan, memelihara, menambah pengetahuan, memperagakan dan mengembangkan produk tekstil untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan hiburan, yang merupakan peninggalan budaya dan tanda evolusi manusia. Tujuan Tujuan dari Museum Tekstil adalah untuk mengumpulkan, memelihara, memperagakan, serat merawat produk tekstil serta menambah wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat terhadap pentingnya tekstil sebagai produk budaya sehingga mampu menjadi objek studi, objek wisata, objek pelestarian sekaligus sebagai peningkatan dan pengembangan pemasaran tekstil baik secara regional, nasional, maupun internasional Lingkup Pelayanan   Sasaran Pelayanan

Adalah masyarakat umum, dengan kategori umur, jenis kelamin, kondisi fisik dan kepentingan yang berbeda Sifat pelayanan

Pelayanan bersifat sosial namun untuk kelangsungan museum itu sendiri tetap ada biaya administrasi. Pelayanan komersial terdapat pada fasilitas pendukung museum tekstil seperti toko cinderamata kantin dan fasilitas rental seperti auditorium Sistem Pengelolaan Ruang Lingkup Batasan Masalah Pengelolaan museum tekstil ada yang dijalankan oleh pihak pemerintah dan atau swasta yang berbadan hukum dan membentuk sebuah yayasan yang bertugas menghimpun dana maupun koleksi untuk kelangsungan museum. Ruang lingkup dari Museum Tekstil ini adalah kegiatan pendidikan, pelestarian, dan pengembangan tekstil. Aspekfisik  Objek dipamerkan - Produk tekstil yang  Jenis kegiatan Kegiatan yang berbeda pada setiap daerah dan negara memberikan  Lokasi Berdasarkan nilai sejarah memiliki kriteria sebagai berikut : 1. Lokasi bernilai historis yang secara planologis dapat dipertanggungjawabkan 2. Lokasi yang bernilai historis yang relevan terhadap koleksi tekstil 3. Lokasi bernilai historis menurut sejarah bangunan, pelaku maupun peranannya.

output berbeda pada fasilitas yang ada di masing-masing museum hasil studi banding. Kegiatan yang dilayani berupa

(dikategorikan menurut waktu dan daerah asalnya)

Kriteria rnenurut sistem kegiatan masyarakat (civic system) 1. Lokasi yang dihubungkan dengan nilai lingkungan yang bersifat Community

yang dibuat dengan

kegiatan pameran, kegiatan edukasi,

alat tenun, baik alat tenun bukan mesin maupun alat tenun mesin. - Alat tekstil (alat

kegiatan konservasi, dan kegiatan pertunjukan (sementara).  Fasilitas Museum, melingkupi : - Fasilitas pameran dan koleksi - Fasilitas konservasi tekstil. - Fasititas edukasi - Fasilitas seminar/pertunjukn/kelas - Fasilitas pengelola - Fasilitas maintenance . - Fasilitas penunjang lainnya yang mendukung fungsi Museum administrasi untuk

Center. 2. Lokasi yang dihubungkan dengan kedekatannya terhadap pusat pendidikan (sekolah-sekolah, universitas, gelanggang remaja dll.) 3. Lokasi yang dihubungkan dengan daerah-daerah yang masih harus berkembang, berbagai keuntungan dapat dicapai, seperti :  Tanah/bangunan yang relatif murah  Tingkat pencemaran yang rendah (sedikit debu, kebisingan dan lain-lain)  Kesempatan perencanaan yang lebih luas  Lokasi yang dikaitkan dengan usaha-usaha pengembangan kerajinan yang ada - Peruntukan lokasi harus jelas dan sesuai dengan peraturan yang ada yaitu Peraturan Bangunan dan Master Plan yang ada.

tenun bukan mesin dan mesin) - Proses/sejarah dan perkembangan tekstil alat tenun

Tekstil (fasilitas komersial seperti toko, kantin, dll).

3.3. Tinjauan Tekstil Bali 3.3.1 Sejarah Perkembangan Tekstil di Bali

Sejarah perkembangan tekstil di Bali berdasarkan periodisasi waktu adalah sebagai berikut : a. Masa Prasejarah Tekstil Bali telah dikenal sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan masa perundagian . Pada saat ini tekstil yang dibuat masih sangat sederhana, berupa bahan-bahan alam seperti kulit binatang, dedaunan, dan serat tanaman. Ragam biasa yang mulai berkembang adalah hias geometri, tetumbuhan, manusia dan binatang. b. Masa Bali Aga (abad I-abad VIII) Selanjutnya adalah hubungan yang erat antara Bali dengan Jawa yang berlangsung sejak abad ke-8 meyebarkan kesenian di Bali, termasuk seni menenun yang diperkirakan mendapat pengaruh dari Jawa. Bentuk kesenian yang ada saat itu belum pasti diketahui namun berdasarkan prasati Bebetin tahun 896, telah ada kesenian wayang dan topeng yang menggunakan busana yang gemerlapan. Prasasti ini dibuat oleh pegawai kerajaan Singhamandawa pada bulan X, pada masa pemerintahan raja Ugrasena di Bali. c. Masa Bali Kuna (abad VIII-abad XIV) Pada akhir abad ke-10, raja Dharma Udayana mengambil permaisuri dari Jawa Timur, bernama Mahendradatta, yang juga dikenal sebagai Sri

Gunapriyadharmapatni. Pada masa pemerintahannya pujangga istana menggubah cerita Sansekerta ke dalam bahasa Jawa Kuna. Mahabharata dan Ramayana menjadi lakon yang populer dalam pentas kesenian dan menjadi tema dalam ragam hias kain Bali. Selain dari ceritera Hindu, Cina juga banyak membawa pengaruh pada kebudayaan Bali. Hubungan Bali dengan Cina dipastikan sudah berlangsung sejak lama dilihat dari berjenis-jenis barang yang berasal dari singan barong Cina yang muncul pada dinasti Tang pada abad 7 sampai abad 10. Berjenis-Jenis patra atau ragam hias kain-kain Bali terutama prada, merupakan bukti pengaruh kebudayaan

Cina. Penganah ragam hias dari Barat didominasi oleh ragam hias bangun berulang, kuta mesir dan patra ulanda. d. Masa Bali Pertengahan (abad XIV - abad XIX) Hubungan antara Bali dan Jawa memuncak setelah jatuhnya Majapahit ke tangan Islam. Pada masa itu banyak orang keturunan Majapahit yang berpindah ke Bali dan menurunkan kesenian mereka mulai dari tangga nada gamelan hingga penggunaan cerita dan busana dalam sendratari. Penggunaan hiasan kain dan hiasan kepala banyak diturunkan dari Jawa. Antara abad ke-16 dan ke-19 yaitu pada masa kejayaan kerajaan Bali dengan raja seperti Dalem Waturenggong dan seterusnya, kesenian Bali mencapai puncak keemasan. Hal ini terbukti dengan banyaknya diciptakan seni pertunjukan yang terpelihara dengan baik seperti gambuh, topeng, wayang, arja, dan lain-lain. Semua pertunjukan ini menggunakan busana kain songket atau prada yang sangat gemerlapan. Berbagai teknik menenun kain Bali diperkirakan tumbuh pesat saat itu, dengan banyaknya kerajinan tenun seperti tenun kain Geringsing di Tenganan Pegringsingan dan kain Cepuk di Nusa Penida. Sementara itu pengerajin istana terus mengembangkan kain songket model baru dengan berbagai ragam hias yang tercipta di kawasan istana tersebut. e. Pada masa Bali Baru (abad XIX - sekarang) Pada awal tahun 1930-an, seorang pelukis bernama Walter Spies sering menyaksikan kesenian Bali dan menganggapnya sebagai hiburan bagi wisatawan asing yang datang ke Bali. Pertunjukannya angat megah dan dapat mendatangkan banyak uang sehingga mereka mampu memelihara kesenian tradisional itu dengan baik. Pada tahun 1931, pemerintah Hindia Belanda mengirimkan misi kesenian Bali keluar negeri pada Paris Colonial Exhibition. Misi itu benar-benar menggemparkan masyarakat Eropa. Data-data yang dikumpulkan pada saat itu memperlihatkan bahwa misi kesenian itu menggunakan kain prada dan songket serba gemerlapan dan penari Barong dan Rangda menggunakan kain Cepuk. Sebaliknya pada tahun 1940-an Bali menerima suatu bentuk kesenian modern berupa tari janger yang merupakan tarian muda-mudi dengan menggunakan busana modern seperti celana panjang, kameja, sepatu dan topi hitam. Sedangkan

para wanita penari janger menggunakan kostum dari kain sutera dan kain tenun singapura. Mulai tahun 1966, perkembangan kesenian Bali terutama kerajinan menenun cukup menonjol. Disamping motivasi kuat dan agama, kebidupan kesenian Bali didukung oleh program pemerintah untuk memelihara, melestarikan dan mengembangkan kesenian Bali.

3.3.2

Fungsi dan Peranan Tekstil di Bali

Secara umum fungsi dan peranan tekstil di Indonesia dan di Bali yaitu : 1. Mat pelindung dari suhu, panas dan cuaca 2. Estetika, keindahan 3. Etika, untuk menutupi bagian tubuh agar tidak merasa malu 4. Segi sosial, prestise, susunan tingkatan masyarakat dijadikan simbol kekayaan, keberadaan, kemampuan, dan kebanggaan 5. Segi ekonomi, sebagai alat tukar 6. Fungsi budaya, untuk dipakai pada upacara adat dan kegiatan sakral lainnya. 7. Mitos kebudayaan / kepercayaan, ada nilai-nilai yang sifatnya sakral dan mempunyai kekuatan berdasarkan kepercayaan.

Fungsi dan Peranan tekstil di Bali adalah : Berdasar pada filsafat fungsi yang berdasar pada Tri Angga, yaitu sikap dasar yang percaya di dunia ini mempunyai tiga tingkatan atau bagian yang penting yaitu kepala, badan, kaki. Dalam pengklasifikasiannya maka dapat dibedakan menjadi tingkatan berdasarkan Tri Hita Karana yaitu Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alamnya terlihat sangat jelas dalam penggunaan tekstil tradisional Bali. Dalam upacara adat Bali, kain-kain tekstil Bali menghiasi Sanggah Bangunan. Hiasan manusia untuk laki-laki dan perempuan berbeda jenisnya, sesuai dengan asal, jenis, sifat dan raga yang mamakainya. Pada saat ini berjenis-jenis kain Bali juga manpunyai fungsi yang amat sangat penting dalam upacara, seperti upacara, piodalan, potong gigi dan ngaben. Di

samping itu kain-kain Bali juga digunakan untuk berbagai macam dekorasi dan yang paling menonjol untuk pertunjukan atau tarian.

3.3.3

Klasifikasi Tekstil Tradisional Bali

A. Parahyangan Hubungan antara manusia dengan Tuhan di Bali sangat erat dan menyatu dengan sosial religi dan lingkungannya. Contoh dari penggunaan tekstil untuk klasifikasi Parahyangan ini adalah wastra yang digunakan pada merajan, pura, untuk pakaian tugu/pelinggihnya. Merupakan kain-kain yang dibagi lagi menjadi bagian kepala badan dan kaki, seperti ider-ider, pajen sabuk, lamak, dan wastra. Lamak misalnya, pola dan ukurannya berbeda tergantung dimana dan upacara apa dan siapa yang dipuja di suatu Pura. Motif dan warna dari suatu tekstil tradisional Bali yang dibalutkan pada patung-patung perwujudan Tuhan juga melambangkan prosesi dan keberadaan Tuhan.

B. Pawongan Tekstil Bali sebagai pakaian adat maupun ritual masyarakat Bali. Dilihat dari daerah asa1nya, masing-masing jenis tekstil Tradisional Bali mempunyai keistimewaan tersendiri baik dari segi bahan maupun motif; serta cara pembuatannya. Klungkung yang terkenal dengan songkelnya, Gianyar dengan endeknya, dan Nusa Penida dengan kain cepuknya. Dari segi status sosial/kasta, maka dapat dibedakan menjadi pakaian ritual brahmana sebagai orang suci, pakaian kerajaan seperti songket dan geringsing, pakaian ritual rakyat biasa seperti kain cepuk dan bebali.

C. Palemahan Karakter dan tekstil Bali dijelaskan dari warna, material dan polanya. Korelasi antara kosologi dan dewa penjaga arah mata anginnya dapat dilihat dari warnawarna tekstil Bali yang diletakkan di Pura yang menyungsung dewanya atau terletak diarah mata angin tersebut. Selain itu sekarang berkembang kepercayaan bahwa kain yang suci adalah kain putih kuning dan semakin gelap warnanya maka

nilainya semakin rendah (berbahaya, magis). Kain poleng merupakan salah satu perwujudan tekstil Palemahan, dimana biasanya dibalutkan pada pepohonan maupun bebatuan yang dianggap sakral.

3.3.4

Pakaian Tradisional Bali

Tekstil tradisional di Bali lebih merupakan kain yang sederhana. Untuk masyarakat Bali kain (tekstil) tradisional mereka mewakili nilai identitas budaya dan religius, dimana jenis tekstil tertentu memberikan perbedaan kelahiran, umur, jenis kelamin, status dan kasta. Bahan tekstil tradisional juga digunakan dalam berbagai kegiatan sakral dan ritual, yang menjadi lambang kebaikan dan kejahatan yang selalu berimbang.

3.3.1 Pakaian Ritual/Adat Masyarakat Bali Pakaian adat masyarakat Bali terdiri dari beberapa ukuran panjang dan berbagai macam ukuran. Pakaian mereka tidak dijahit secara khusus namun hanya dijahit sedemikian rupa dan dililitkan pada badan. Anak laki-laki dan pria dewasa menggunakan kamben dengan kancut panjang yang hampir menyentuh tanah. Sedangkan anak perempuan dan wanita dewasa melilitkan kambennya seketat mungkin dengan pemakaian searah jarum jam. Dalam beberapa upacara, digunakan pakaian dalam seperti Tapih/sinjang. Kampuh/Saput dipakai disekitar pinggul atau dada oleh para pria, sampai ke lutut Sabuk (umpal) ditambahkan pada saput untuk mengencangkannya. Sabuk atau pekekek merupakan kain panjang yang dililitkan pada badan dan dikaitkan. Destar digunakan oleh para pria sebagai penutup kepala. Wanita Bali menggunakan sabuk/setagen pada bagian tubuhnya untuk memegang kamben, dan penutup dada (anteng) dililitkan pada tubuh bagian atas. Sewaktuwaktu mereka juga menggunakan selendang. Sampai tahun 1930-an, wanita Bali biasanya setengah telanjang pada tubuh bagian atas pada kehidupan sehariharinya. Namun selalu tertutup saat acara ke Puda atan turut berpartisipasi dalam kehiatan masyarakat. Saat ini pakaian wanita Bali digantikan dengan kebaya yang berasal dari Jawa yang dipertimbangkan sebagai busana Nasional.

3.3.5 Bahan dan jenis Tekstil di Bali Bahan baku untuk tekstil di Bali adalah kapas atau kapuk. Namun semakin lama di Bali bahan ini semakin langkah. Sekarang bahan baku utama mereka adalah benang. Untuk itu para pengerajin biasanya membeli benang pada toko-toko yang sudah tersedia. Jenis benang yang digunakan untuk kain tenun tradisional Bali antara lain benang Bali, benang sutera, benang DMC, benang perak dan benang emas. Benang Bali terutama digunakan untuk menenun kain geringsing. Bahan utama dari benang Bali adalah kapas Keling yang dikerjakan sendiri oleh pengerajin. Sedangkan benang yang lain dapat diperoleh di toko dan dikerjakan pewarnaannya oleh pengerajin. Pada daerah Bali, berdasarkan teknik pengerjaannya dikenal kain tradisional Bali tenun dan prala. Untuk kain tenun tradisional Bali terdapat beberapa jenis yang dapat dibedakan Tabel 3.4 Ragam hias
Ragam Hias  ragam hias geometri Fungsi Ditinjau dari Kain tenun Polos (tanpa ikat) Proses pengerjaan sangat sederhana, baik lungsin maupun pakan tidak mengalami proses ikat hanya diwarnai saja dan dikombinasikan dengan benang sulam atau benang emas. Kain tenun ikat tunggal Proses pengenaan untuk membentuk

fungsinya terdiri dari:  pakaian wanita dan laki-laki saat

ragam hias flora

upacara  Pakaian penari  Hiasan bangunan pada

motifnya diterapkan sistem ikat yaitu dengan mengikat benang pakan dan mengatur benang pakan pada saat menenun

tradisional  ragam hias fauna saat upacara

Kain tenun ikat ganda

Proses pengerjaan dengan dua ikatan yaitu dengan mengikat benang pakan dan bengan lungsin, Dalam menentukan ragam hiasnya, penenun memperhatikan pada saat nganyi dan nyuntik. Pada saat itu kedudukan benang lungsin diatur, selanjutnya pada saat menenun posisi benang pakan mulai diatur serta dipadukan dengan benang lungsin hingga terbentuklah motif yang diinginkan.

Ragam hias  ragam hias manusia

Fungsi Kain tenun songket

Proses pengerjaan Proses pengerjaannya dalam membentuk ragam hias menerapkan sistem nyuntik. Benang lungsin dihitung menurut pembagian sesuai dengan ragam bias, kemudian

dimasukkan satu persatu pada serat dengan cara disuntik. Masing-masing suntikan

dibandul dengan benang guwun yang diberi tangkai yang bernama gegilik. Bahan pakan mempunyai berbagai macam warna,

kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam suatu tempat yang dinamakan pecoban/coba lalu dilanjutkan dengan proses menenun.

3.3.6. Jenis Kain Tradisional Bali Tabel 3.6 Jenis Kain Tradisional Bali
Kain geringsing berasal dari Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem Merupakan tekstil khas Bali dan merupakan ikat ganda yang sangat sulit dan pembuatannya sangat mendetail. Kain geringsing memiliki ciri khas yaitu warnanya yang merah kecoklatan, warna kulit telur dan hitam kebiruan, yang diwarna dengan tumbuhanlokal yaitu Akar sunti merah (Morinda citrifoloa) dan taum atau indigo (biru). Dahulu tersebarpersepsi bahwa warna itu dibuat dari darah manusia namun lama kelamaan isu itu hilang karena tingkat pendidikan masyarakat yang semakin tinggi. Geringsing sangat penting bagi masyarakat Bali, sebagai penolak bala, dan diluar Tanganan dipakaisaat potong gigi. Jenis motifnya : Geringsing Wayang Kebo, Wayang Putri, genggogangan, teteledan, lubeng, cecempakan, cemplong, talidandan, pepare, batun tuwung, enjekan siap, dingding ai, dingding sigading, sitan pegat, sanan empeg, dll.

Kain songket berasal dari Klungkung (Gelgel)

Tenunan benang songket ditunjukan bagi kaum yang berkasta karena keindahan konfigurasi dari benang emasnya. Puri dari produksi songket masih dapat ditemukan di daerah kerajaan dan lingkungan brahmana di Karangasem (Amlapura, Sidemen), Buleleng (Bubunan, Bratan)Mengwi (Blayu) dan Negara (Jembrana) Digunakan sebagai sarung yang berkembang paling akhir. Penghasiln endek selain Bali adalah Lombok. Sekarang kain endek menjadi kain yang paling populer dan lebih relevan dalam dunia fashion dan desain. Motif kepala kala dan wayang hampir punah dan digantikan oleh motif geometri. Kepopulerannya tidak hanya di Bali melainkan ke seluruh daerah Indonesia dan mancanegara.

Jenis motifnya: Songket baintangan tatumbakan, prombon papunggakan, ebun sangkun, bungan semangi, belah ketupat.

Jenis motifnya: Endek polos, endek kembang, endek kaketusan, endek wayang, gigin baong, endek batun timun, cecawangan.

Cain Cepuk Berasal dari Nusa Penida

Kain tenun katun berwarna merah yang digunakan sebagai pengganti geringsing dan prada Kain cepuk digunakan saat upacara korban, ngaben dan yang paling penting adalah sebagai pakaian pelindung yang digunakan oleh penari Rangda. Asal kain Cepuk ini dari Kerambitan dan Nusa Penida. Namun sekarang di Tanglad Nusa Penida menjadi pusat produksi kain cepuk, sehingga kain cepuk daplat ditemukan dipasar-pasar besar di Bali.

Jenis motifnya: Cepuk arjuna, cenana kawi, pancit genggong, cepuk sari, cepuk padma, kali anti

Kain Bebali

Berperan baik sekali sebagai pakaian adat maupun perlengkapan upacara agama

Jenis motifnya: Wali cekordi, bin wali bias membab

Kain keling,

Kain yang dipakai di pinggang

kain poleng, kain lumlum, kain wangsu1 (gedogan)

dan dada dengan pola kotak-kotak hitak putih (poleng) dan pola lingkaran kecil (wangsul/gedogan) digunakan pada upacara manusa yadnya seperti 3 bulanan dan upacara potong gigi. Kain poleng merupakan simbol Rwa Bhineda, antara siang malam, kejahatan dan kebaikan

Kain prada

Prada merupakan kain tenun dengan dekorasi dedaunan emas. Secara tradisional diproduksi untuk kalangan kerajaan dan digunakan pada saat potong gigi dan pernikahan. Polsa desain dari kain prada ini pertamatama digambar dengan pensil dan ditutupi dengan lem, lalu daun lembaran emas ditempelkan.

Motif kain prada: Stiliran bunga, tumbuhan, burung, wewayangan. Bagian siku dihiasi dengan sriliran swastika sebagai simbol Hindu Bali, selain simbol pengaruh budaya Cina.

3.3.7 Nilai-nilai dari tekstil Tradisional Bali Tekstil Bali tidak hanya berfungsi utama sebagai sandang untuk perlindungan manusia terhadap kondisi luar dan estetika tetapi juga memiliki nilai-nilai tambahan yang sangat penting dan sakral Nilai-nilai itu antara lain : 1. Nilai sejarah Kain yang merupakan salah satu wujud kebudayaan material muncul pertama kali pada masa bercocok tanam dunana pada masa itu masyarakat sudah mempunyai tempat tinggal tetap dan sudah pandai membuat rumah. Kehidupan yang ada pada saat itu adalah kehidupan yang komunal dimana ada suatu peraturan bersama yang mengikat. Kerajinan tangan seperti menenun sangat mengalami kemajuan. 2. Nilai teknologi Material yang lahir pertama kali sebagai kain adalah kulit kayu atau binatang dengan teknik dipukul-pukul dengan alat pemukul dari batu agar seratnya lebih

lembut. Sejalan dengan perkembangan masyarakat di Indonesia dan di Bali pada khususnya saat masa perundagian dimana ditandai dengan kemajuan teknologi yang pesat, kain telah dikenal dan dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari atau sebagai sarana upacara pada saat itu. Pada masa itu dibuatlah suatu alat tenun untuk membuat kain yang masih bersifat tradisional yang bercorak khas Bali. 3. Nilai budaya Arti kain dalam kehidupan masyarakat tradisional Bali sendiri adalah kamen atau wastra yaitu nama selembar kain penutup badan bagian bawah, juga merupakan hasil produksi kerajinan rumah tangga yang dimiliki orang Bali dengan ragam hias Bali. Ditinjau dari jenis pemakainya yaitu pria dan wanita termasuk juga pakaian dewasa dan pakaian orang tua. Sedangkan dari lapisan sosial yang berdasarkan kasta terbagi menjadi pakaian untuk warna Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Pergaulan yang ada menjadi bertingkat-tingkat dan dalam penggunaan pakaian adatnya, kaum Brahmana memiliki disiplin yang berbeda dengan nilai kaum Ksatria. Pakaian yang digunakan juga sangat berbeda. Hal ini tampak jelas dalam buku Manawa Dharma Sastra dalam sloka 41,42,44 sebagai berikut: “Setiap sisia memahami pakaian yang sesuai dengan golongannya, pakaian atas berupa kulit menjangan kutub, menjangan tutul, kambing, dan sedangkan pakaian bawah terdiri dari wool rami atau rajutan.” “Ikat pinggang bagi Brahmana terdiri dari rumputan munja berlapis tiga, halus dan lembut bagi Ksatria dari tali busur panah sedangkan waisya dari serat rumput murwa atau benang rami.” “Bengang yadnya prawira bagi seorang Brahmana terdiri atas tiga katun melintang ke kanan sedangkan bagi ksatria terdiri atas benang sutera dan bagi waisya terdiri atas benang wool.”. Kain Bali juga dipergunakan sebagai lambang kekayaan, prestise, kepemimpinan, lambang kewibawaan dan lainnya. Dalam berbagai upacara adat di lingkungan keluarga hingga meluas ke luar, kain Bali sebagai produk tekstil Bali terlihat berbagai bentuk corak dan nilai prestise yang ada bila digunakan oleh orang yang berbeda.

Tekstil tradisional Bali juga dipergunakan dalam seni pertunjukan dimana memberikan nilai tukar tinggi terhadap kain tradisional Bali dalam misi pertukaran budaya ke luar negeri. Penggunaan tekstil Bali sebagai pakaian pertunjukan pun mempunyai pakem tersendiri dalam kegiatan kesenian Bali.

3.4

Peralatan Tenun Tradisional Bali

Tabel 3.6 Peralatan Tenun Tradisional Bali Nama Pamispipan Jantra Undar Fungsi Membersihkan biji kapas memintal benag Membentangkan benang pada proses menenun Gambar

sebelum digulung Peleting Penyinan Menggulung benang Mengatur panjang pendeknya kain dalam bentuk sarung Tunda Sebagai tempat kelos

benang kain Sumpil Merenggangkan pinggiran kain Tenun cagcag Peralatan tradisional Bali untuk menenun Jeriring Mengencangkan dan benang Apit Tempat menggulungkan kain Pengeredegan Dipakai pada saat persiapan, saat ngeliying. serat

Untuk

orang

yang

berkasta biasnya lebih halus dan rapi Belide Mempererat jalinan serat saat menenun Por Berada di belakang badan pengerajin untuk meritangkan benang Perorogan Memberi bunyi yang khas saat pengerjaan tenun sehingga tidak cepat membuat bosan

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful