P. 1
Etos Kerja Dalam Persfektif Islam

Etos Kerja Dalam Persfektif Islam

|Views: 11|Likes:
Published by Chandra Istiawan

More info:

Published by: Chandra Istiawan on Nov 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/31/2014

pdf

text

original

ETOS KERJA DALAM PERSFEKTIF ISLAM Oleh : H. Jazuli Suryadhi, S.Ag, M.SI.

* Abstract Sering muncul pernyataan bahwa bangsa Indonesia memiliki etos kerja yang rendah. Secara sosiologis kita harus mengakui bahwa umat Islam merupakan bagian terbesar dari bangsa ini. Bertolak dari realita ini, umat Islam Indonesia dengan ajaran Islamnya merupakan kelompok yang pertama kali bertanggungjawab terhadap pembinaan dan pengembangan etos kerja bangsa tercinta. Etos kerja yang rendah ini, ber-implikasi menempatkan umat Islam termarjinalisasi dalam ekonomi. Kelompok terbesar dari bangsa ini sering dikalahkan dalam bidang ekonomi oleh kelompok minoritas tanpa rnelalui perebutan kekuasaan,tetapi cukup melalui solidaritas antara sesama mereka. Untuk melakukan perbaikan ekonomi ini, etos kerja yang tinggj perlu dimiliki, disamping peningkatan sumber daya manusia dan ukhuwah islamiyah Padahal Rasulullah yang menjadi tokoh sentral umat Islam adalah seorang pengemban amanah yang luar biasa universal dan multikomplek. Beliau seorang pemimpin negara, Kepala rumah tangga, narasumber dari berbagai permasalahan ummat, seorang pengusaha, abul yatama (bapak dari banyak anak asuh) dll. Seluruh amanah tersebut sangat mustahil dapat terselesaikan tanpa didukung dengan etos kerja yang baik. Maka saat kita berbicara tentang etos kerja Islami, maka beliaulah orang yang paling pantas menjadi rujukan. Dan berbicara tentang etos kerja Rasulullah sama artinya dengan berbicara bagaimana beliau menjalankan peran-peran dalam hidupnya. Pendahuluan a. Konsep Kerja dalam Islam “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 105) “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib manusia sebelum mereka mengubah apa yang ada pada dirinya. (al-Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 11). “dan bahwasannya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (al-Qur’an Surat Al-Najm ayat 39). Kemuliaan seorang manusia itu bergantung kepada apa yang dilakukannya. Dengan itu, sesuatu amalan atau pekerjaan yang mendekatkan seseorang kepada Allah adalah sangat penting
http://www.mercubuana.ac.id

http://www. dan secara acuh tak acuh. keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara. sesempurna mungkin atau seoptimal mungkin “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib manusia sebelum mereka mengubah apa yang ada pada dirinya. tanpa pamrih. Ada dua tahapan yang harus dilakukan seseorang agar prestasi kerja meningkat dan kerjapun bernilai ibadah. (al-Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 11). apakah masuk golongan ahli syurga atau sebaliknya. sikap seenaknya. gigih dan penuh tanggungjawab namun jauh dari nilai-nilai keikhlasan akhirnya menjadi petaka. tetapi mengandung makna ibadah seorang hamba kepada Allah. Dengan kata lain. Ini berimplikasi bahwa ia tidak boleh melakukan sesuatu dengan sembrono. Kerja keras dan cerdas. menuju sukses di akhirat kelak. maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.serta patut untuk diberi perhatian. dari pagi hingga sore. setiap muslim akan berupaya maksimal dalam melakukan pekerjaannya. terus menerus tak kenal lelah. Betapa banyak para pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya dengan tekun. yaitu melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin. juga ada yang lebih penting yaitu merupakan jalan atau tiket dalam menentukan tahap kehidupan seseorang di akhirat kelak. bekerja maksimal dan Kepasifan dalam menghadapi pekerjaan membatasi seseorang tidak berusaha meningkatkan kemampuan profesionalismenya. la berusaha menyelesaikan setiap tugas dan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya dan berusaha pula agar setiap hasil kerjanya menghasilkan kualitas yang baik dan memuaskan. Dengan semangat ini.mercubuana. ia akan menjadi orang yang terbaik dalam setiap bidang yang ditekuninya. “dan bahwasannya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”.id .ac. Amalan atau pekerjaan yang demikian selain memperoleh keberkahan serta kesenangan dunia. Islam menempatkan kerja atau amal sebagai kewajiban setiap muslim. seorang muslim selalu melandasinya dengan mengharap ridha Allah. dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata. Kerja Ikhlas. muslim mesti menjadikan kerja sebagai kesadaran spiritualnya. Profesionalisme biasanya dijadikan ukuran dalam peningkatan prestasi di setiap pekerjaan. Sesuai dengan doa yang seringkali dibaca ‘fiddunya hasanah wafil akhiroti hasana…”Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu. (al-Qur’an Surat Al-Najm ayat 39). tetapi kerja mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri. Ukuran kerja keras adalah kesempatan berbuat. lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 105) Kedua. Ihsan berkaitan dengan etos kerja. Sehubungan dengan ini. Oleh sebab itu. optimalisasi nilai hasil kerja berkaitan erat dengan konsep ihsan. Kerja bukan sekedar upaya mendapatkan rezeki yang halal guna memenuhi kebutuhan hidup. Pertama. Dalam mengerjakan sesuatu. Bekerja dengan dilandasi keikhlasan adalah suatu keharusan agar materi dari hasil kerja didapat sementara pahala diraih. cerdas.Istilah ‘kerja’ dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam.

ac. kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta. “Wahai Rasulullah.mercubuana. andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah. maka kerja adalah ibadah. Oleh karena itu.” jawab Sa’ad. Bukankah Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya? Kisah di awal menggambarkan betapa besarnya penghargaan Rasulullah SAW terhadap kerja. supir. baik tutur katanya. maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari kerja. memelihara pandangan dan kemaluannya serta menunaikan tanggung jawab sosialnya seperti mengeluarkan zakat dan lainnya. itu juga fi sabilillah. kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia. Para sahabat kemudian bertanya. masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain. Bila kerja itu amal saleh. Golongan ini mungkin terdiri dari pegawai. “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil.Dengan kata lain. manusia teragung ini “rela” mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari yang melepuh lagi gosong. kategori ahli Syurga seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang mempunyai pekerjaan/jabatan yang tinggi dalam suatu perusahaan/instansi sebagai manajer. “Wahai Rasulullah. Dalam kisah lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. orang yang berkerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untuk kebaikan diri. http://www. mereka yang memelihara mata. itu adalah fi sabilillah. Tetapi sebaliknya Al-Quran menggariskan golongan yang baik lagi beruntung (al-falah) itu adalah orang yang banyak taqwa kepada Allah. kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.id . b. Jika membaca hadits-hadits Rasulullah SAW tentang ciri-ciri manusia yang baik di sisi Allah.” (HR Ath-Thabrani). Bekerja adalah manifestasi amal saleh. tanpa melakukan amalan sunnah yang banyak dan seumpamanya. Etos Kerja Rasulullah sebagai uswah (contoh) Rasulullah SAW menjadikan kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan. sampai-sampai dalam kisah pertama. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh. Dan bila kerja itu ibadah. Beliau bekerja untuk meraih keridaan Allah SWT. Rasulullah SAW. direktur.” Mendengar itu Rasul pun menjawab. maka alangkah baiknya. maka tidak heran bahwa diantara mereka itu ada golongan yang memberi minum anjing kelaparan. Kerja apapun itu selama tidak menyimpang dari aturan yang ditetapkan agama. Sifat-sifat di ataslah sebenarnya yang menjamin kebaikan dan kedudukan seseorang di dunia dan di akhirat kelak. “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. “Kenapa tanganmu?. khusyu sholatnya.Suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. keluarga. teknisi dalam suatu bengkel dan sebagainya. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata. itu adalah fi sabilillah. “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”. Rasul bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. tukang sapu ataupun seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.” tanya Rasul kepada Sa’ad. telinga dan lidah dari perkara yang tidak berguna. Demikian besarnya penghargaan beliau.

Sebagai Rasul. Usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik keemasan entrepreneurship Rasulullah SAW terbukti dengan “terpikatnya” konglomerat Mekah. Dalam posisi ini Rasul harus mendidik. Selama hidup tak kurang dari 28 kali Rasul memimpin pertempuran melawan kafir Quraisy. Dari usia 17 hingga sekitar 20 tahun adalah masa tersulit dalam perjalanan bisnis Rasul karena beliau harus mandiri dan bersaing dengan pemain pemain senior dalam perdagangan regional. Sebagai seorang pebisnis. dan Yahudi.dalam dua kisah tersebut. mengatur perekonomian.mercubuana. Khadijah binti Khuwailid. dan menjelaskan tak kurang dari 6666 ayat Alquran. Sebagai kepala negara dan pemimpin sebuah masyarakat heterogen. memberikan motivasi pada umatnya bahwa bekerja adalah perbuatan mulia dan termasuk bagian dari jihad. tujuh anak.ac. Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu berbuat sebelum beliau memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. teladan yang baik bagi seluruh manusia. Ketiga. Di tengah kesibukannya Rasul pun masih sempat bercanda dan menjahit sendiri bajunya. Maka saat kita berbicara tentang etos kerja islami. negeri yang saat ini meliputi Syria. menerima. http://www. maka beliaulah orang yang paling pantas menjadi rujukan. dan memenuhi tanggung jawab-lahir batin-terhadap para istri beliau. yang kemudian melamarnya menjadi suami. Adalah kenyataan bila Rasulullah SAW mampu menjalankan kelima perannya tersebut dengan sempurna. kesehatan. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap keluarganya. Hal ini sesuai dengan tugas beliau sebagai ushwatun hasanah. Sebagai panglima perang beliau harus mengorganisasi lebih dari 53 pasukan kaveleri bersenjata. Tak heran bila para ilmuwan. bahkan menjadi yang terbaik. dan menjadi hakim yang memutuskan berbagai pelik permasalahan umat-dari mulai pembunuhan sampai perceraian. Kelima. keamanan. Ada lima peran penting yang diemban Rasulullah SAW. Jordan. baik itu yang Muslim maupun non-Muslim. persedian logistik. sebagai kepala rumahtangga. membahagiakan. Tatkala memegang posisi ini Rasulullah SAW harus menerima kunjungan diplomatik “negara-negara sahabat”. menyampaikan. Kedua. Dalam kurun waktu tersebut beliau harus berdakwah menyebarkan Islam. menjadi guru (pembimbing) bagi para sahabat. dan setumpuk masalah lainnya.id . yaitu : Pertama. Harus memikirkan strategi perang. Peran ini beliau jalani selama 23 tahun. Dan beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun. Muhammad Sebagai Seorang Pedagang (2000: 5-12). Dan berbicara tentang etos kerja Rasulullah SAW sama artinya dengan berbicara bagaimana beliau menjalankan peran-peran dalam hidupnya. Oman. dan lainnya. menghapal. dan Bahrain. Nasrani. dan Lebanon. dan beberapa orang cucu. Rasul pun harus menata dan menciptakan sistem hukum yang mampu menyatukan kaum Muslimin. Sejak usia 12 tahun pamannya Abu Thalib sudah mengajaknya melakukan perjalanan bisnis ke Syam. Sebagai panglima perang. Keempat. transportasi. mencatat bahwa Rasul pun sering terlibat dalam perjalanan bisnis ke berbagai negeri seperti Yaman. menempatkan beliau sebagai orang yang paling berpengaruh. Afzalurrahman dalam bukunya.

maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari kerja. Selain itu muslim pun dalam dianjurkan mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh dan teliti sehingga rapi. Dan bila kerja itu ibadah. dan secara acuh tak acuh. indah. tertib dan bersesuaian dengan yang lain dari bagian-bagiannya.mercubuana. maka kerja adalah ibadah. (QS. Sirroh Nabawiyah. Allah SWT berfirman. Sehubungan dengan ini. *Ketua Harian DKM Masjid Manarul ‘Amal UMB *Ketua Yayasan Islam Syifa Fikriya. “Seni ciptaan Allah yang membuat dengan teliti (atqana) segala sesuatu” (QS.c. yaitu melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin. Bila kerja itu amal saleh. As-Sajdah ayat 7). Ihsan berkaitan dengan etos kerja. sebagaimana firman-Nya. “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya“. Ini berimplikasi bahwa ia tidak boleh melakukan sesuatu dengan sembrono. sikap seenaknya. Konsep Kerja dalam Islam. Kesimpulan Bekerja adalah manifestasi amal saleh.id . Allah mewajibkan atas segala sesuatu. optimalisasi nilai hasil kerja berkaitan erat dengan konsep ihsan. Bukankah Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya Seorang muslim dalam mengerjakan sesuatu selalu melandasinya dengan mengharap ridha Allah. Dr. Said Ramadhan Al-Buthy. Referensi : • • • Al-Qur’an dan Hadits cetakan Departemen Agama RI.ac. Asyraf Abd Rahman http://www. An-Naml ayat 88). sesempurna mungkin atau seoptimal mungkin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->