You are on page 1of 11

Persilangan Pada Tanaman Jagung

Kelompok 4

Muhammad Ikbal Ahmad Aonillah

150510110043 150510110044

Nurul Tresna Mulya 150510110045 Bayu Tresna Wijaya 150510110046

UNIVERSITAS PADJADJARAN
NOVEMBER 2012

Latar Belakang
Tanaman jagung mempunyai komposisi genetik yang sangat dinamis karena cara penyerbukan bunganya menyilang. Fiksasi gen-gen unggul (favorable genes) pada genotipe yang homozigot justru akan berakibat depresi inbreeding yang menghasilkan tanaman kerdil dan daya hasilnya rendah. Tanaman yang vigor, tumbuh cepat, subur, dan hasilnya tinggi justru diperoleh dari tanaman yang komposisi genetiknya heterozigot.

Untuk itu diperlukan teknik persilangan yang menghasilkan keturunan jagung yang heterozigot, sehingga produktifitas jagung maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan.

Biologi Bunga
Morfologi pokok jagung 1. Jagung adalah tanaman semusim yang mengambil masa lebih kurang 3 bulan untuk matang. 2..Akar sokong pada pangkal batang menolong menyokong pokok. 3. Batang runggal, berbentuk silinder, panjang dan ditutupi dengan upih daun dan mempunyai buku yang lebih rapat dekat pada pangkal. 4. Daun tirus dan panjang dengan urat yang selari. 5. Rambut jagung (jambak bunga jantan) yang terdapat di hujung batang pokok menghasilkan biji-biji debunga sebelum bunga betina matang. 6. Tongkol yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung. 7. Jambak bunga betina (stil) yang panjang dan berupa sutera terdapat di tongkol muda dan menerima cepu bunga jantan. 8. Pembuahan adalah dibantu oleh angin. 9. Biji atau kernal mengandungi tiga bahagian yaitu, perikarpa, endosperma dan embrio. Bunga Pada Jagung Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordia stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina.Demikian pula halnya primordia ginaecium pada apikal bunga, tidak berkembang dan menjadi bunga jantan (Palliwal 2000). Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel

vegetatif, dua gamet jantan dan mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras. Karena adanya perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di atas dan bawah dan ketidaksinkronan matangnya spike, maka pollen pecah secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih. Rambut jagung (silk) adalah pemanjangan dari saluran stylar ovary yang matang pada tongkol. Rambut jagung tumbuh dengan panjang hingga 30,5 cm atau lebih sehingga keluar dari ujung kelobot. Panjang rambut jagung bergantung pada panjang tongkol dan kelobot. Tanaman jagung adalah protandry, di mana pada sebagian besar varietas, bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking). Serbuk sari (pollen) terlepas mulai dari spikelet yang terletak pada spike yang di tengah, 2-3 cm dari ujung malai (tassel),kemudian turun ke bawah. Satu bulir anther melepas 15-30 juta serbuk sari. Serbuk sari sangat ringan dan jatuh karena gravitasi atau tertiup angin sehingga terjadi penyerbukan silang. Dalam keadaan tercekam (stress) karena kekurangan air, keluarnya rambut tongkol kemungkinan tertunda, sedangkan keluarnya malai tidak terpengaruh. Interval antara keluarnya bunga betina dan bunga jantan (anthesis silking interval, ASI) adalah hal yang sangat penting. ASI yang kecil menunjukkan terdapat sinkronisasi pembungaan, yang berarti peluang terjadinya penyerbukan sempurna sangat besar. Semakin besar nilai ASI semakin kecil sinkronisasi pembungaan dan penyerbukan terhambat sehingga menurunkan hasil. Cekaman abiotis umumnya mempengaruhi nilai ASI, seperti pada cekaman kekeringan dan temperatur tinggi. Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan menempel pada rambut tongkol. Hampir 95% dari persarian tersebut berasal dari serbuk sari tanaman lain, dan hanya 5% yang berasal dari serbuk sari tanaman sendiri. Oleh karena itu, tanaman jagung disebut tanaman bersari silang (cross pollinated crop), di mana sebagian besar dari serbuk sari berasal dari tanaman lain. Terlepasnya serbuk sari berlangsung 3-6 hari, bergantung pada varietas, suhu, dan kelembaban. Rambut tongkol tetap reseptif dalam 3-8 hari. Serbuk sari masih tetap hidup (viable) dalam 4-16 jam sesudah terlepas (shedding). Penyerbukan selesai dalam 24-36 jam dan biji mulai terbentuk sesudah 10-15 hari.

Setelah penyerbukan, warna rambut tongkol berubah menjadi coklat dan kemudian kering

Bunga Jantan

Bunga Betina

Teknik Hibridisasi Buatan Pada garis besarnya persilangan mencakup kegiatan (1) persiapan bahan dan alat, (2) kastrasi, (3) emaskulasi, (4) Isolasi, (5) pengumpulan serbuk sari, (6)

penyerbukan dan (7) pelabelan.

Bahan dan Alat Persilangan


Persiapan Bahan dan Alat Sebagai persiapan untuk melakukan kastrasi dan penyerbukan silang perlu disediakan alat-alat antara lain : pisau kecil yang tajam, gunting kecil, pinset dengan ujung yang runcing, jarum yang panjang dan lurus, alkohol (75-85%) atau spiritus dalam botol kecil untuk mensterilkan alatalat tersebut wadah untuk tempat benang sari, sikat kecil untuk mengeluarkan serbuk sari dari benang sari, kuas untuk meletakkan serbuk sari di atas kepala putik dan kaca pembesar untuk memeriksa kebersihan kepala putik.

Untuk membungkus bunga sebelum dan sesudah dilakukan penyerbukan dapat dipakai kantong dari kain, kelambu, kantong plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil untuk pernafasan (peredaran udara) atau isolatif, sesuai dengan ukuran bunga. Selain itu perlu disediakan label dari kertas yang tebal dan kedap air. Labellabel tersebut diberi nomor urut menggunakan pinsil atau bolpoint yang tintanya tidak luntur karena air. Untuk keperluan penyerbukan silang antara jenis-jenis tertentu sebaiknya kertas label mempunyai warna tertentu, misalnya untuk persilangan A X B warna labelnya merah, untuk A X C warna labelnya putih, untuk D X B warnanya hijau dan seterusnya dengan warna lain.

Pelaksanaan Persilangan
Dalam melakukan persilangan pada tanaman jagung terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan, diantaranya: Kastrasi Kastrasi adalah kegiatan membersihkan bagian tanaman yang ada di sekitar bunga yang akan diemaskulasi dari kotoran, serangga, kuncup-kuncup bunga yang tidak dipakai serta organ tanaman lain yang mengganggu kegiatan persilangan. Membuang mahkota dan kelopak juga termasuk kegiatan kastrasi. Kastrasi umumnya menggunakan gunting, pisau atau pinset.

Emaskulasi Emaskulasi adalah kegiatan membuang alat kelamin jantan (stamen) pada tetua betina, sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Emaskulasi terutama dilakukan pada tanaman berumah satu yang hermaprodit dan fertil. Cara emaskulasi tergantung pada morfologi bunganya. Pada tanaman

jagung biasa digunakan metode pencelupan dengan air panas, air dingin atau alcohol. Cara emaskulasi untuk jenis bunga ini adalah dengan mencelupkan bunga ke dalam air hangat yang mempunyai temperatur tertentu, biasanya antara 43-53 0 C selama 1-10 menit. Cara ini mahal dan tidak praktis. Hal yang sama bisa dilakukan pada air dingin atau alkohol.

Isolasi Isolasi dilakukan agar bunga yang telah diemaskulasi tidak terserbuki oleh serbuk sari asing. Pengisolasian dilakukan dengan membungkus bunga betina dengan kertas tahan air atau kantung yang digunakan untuk menyungkup bunga jantan. Untuk mempersiapkan tetua jantan, dipilih bunga jantan yang belum pecah pollennya. Bunga jantan disungkup dengan kertas tahan air agar ketika pollen

reseptif tidak berterbangan terbawa angin. Tetua betina dipilih dari bunga betina yang masih kecil. Bunga betina dipotong bagian ujungnya kira-kira 5 sm dari ujung bunga agar rambut bunga yang tidak lain adalah putik dapat tumbuh dengan serempak. Setelah dipotong, bunga betina diisolasi dengan plastic agar tidak terkontaminasi oleh pollen yang tidak diinginkan. Pengisolasian dilakukan secara bersamaan dengan penyerbukan. Kantung bisa terbuat dari kertas tahan air, kain, plastik, selotipe dan lain-lain. Ukuran kantung disesuaikan dengan ukuran bunga tanaman yang bersangkutan. Kantong tersebut harus memenuhi syarat-syarat berikut : 1. Kuat dan tahan hujan lebat dan panas terik matahari. 2. Tidak mengganggu pernafasan bunga yang dibungkus 3. Bila terkena air hujan dapat lekas kering, airnya dapat lekas menguap 4. Bahan yang dipakai untuk kantong tidak enak rasanya, agar tidak dimakan oleh serangga atau binatang-binatang lainnya. 5. Kantongnya cukup besar, sehingga bila ada hujan turun, bunganya tidak akan menempel pada kantong. Kantong tersebut dapat berbentuk silinder, yang

diperkuat dengan kerangka dari kawat atau bambu. Bila bunga yang dibungkus itu kecil, cukuplah bunga itu ditutup dengan sebuah tudung plastik berukuran kecil. Pemilihan tetua betina dan tetua jantan disesuaikan dengan tujuan penyilangan. Jika penyilangan bertujuan untuk selfing, maka tetua jantan dan tetua betina dipilih dari varietas yang sama. Jika tujuan persilangan adalah crossing, maka tetua jantan dan betinanya berasal dari varietas yang berbeda.

Pengumpulan Serbuk Sari Pengumpulan serbuk sari dari tetua jantan dapat dimulai beberapa jam sebelum kuncup-kuncup bunga itu mekar. Serbuk sari adalah mahluk hidup, yang

mempunyai umur terbatas dan kemudian mati. dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain :

Mutu serbuk sari dapat

1. Kelembaban udara, pada kelembaban udara relatif yang tinggi serbuk sari tidak tahan disimpan lama. Penyimpanan serbuk sari di tempat lembab akan berakibat buruk, karena berpeluang berjangkit cendawan dan bakteri yang dapat

menyebabkan serbuk sari lekas mati. 2. Umur serbuk sari, makin tua umur serbuk sari, makin lamban akan perkecambahannya dan tabung sari yang terbentuk akan lebih pendek. Selain itu persentase butir-butir serbuk sari yang hidup akan terus menurun sampai pada suatu saat tidak ada serbuk sari lagi yang dapat berkecambah. 3. Suhu udara, pada tempat yang udaranya kering dan pada suhu rendah, serbuk sari dapat disimpan sampai beberapa minggu dalam keadaan tertutup. Di laboratorium, serbuk sari biasanya disimpan pada suhu antara 2-8 0C dan pada kelembaban udara antara 10% sampai 50%. Penyimpanannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: terlebih dahulu serbuk sarinya

dimasukkan ke dalam tabung gelas. Kemudian tabungnya diletakkan dalam exsicator (desiccator) yang telah diisi dengan CaCl2 atau dengan larutan H2SO4 pada konsentrasi tertentu, misalnya antara 10-70%. Maksudnya agar dapat

menyerap uap air dari udara cukup banyak. Untuk menyimpan serbuk sari bunga karet dari jenis No. PR 107 biasanya dipakai konsentrasi 27% H2SO4 dan untuk serbuk sari dari jenis karet No. AV 157 dipakai konsentrasi 35% H2SO4.

Penyerbukan Penyerbukan buatan dilakukan antara tanaman yang berbeda genetiknya. Penyerbukan dilakukan setelah putik dan benang sari tetua masak, bunga betina dan bunga jantan siap untuk diserbukkan. Penyerbukan dilakukan dengan memotong bunga jantan yang telah disungkup sebelumnya. Pollen bunga jantan dirontokkan ke dalam kertas tahan air yang digunakan untuk menyungkup. Pollen yang telah dikumpulkan, ditaburkan ke tetua betina yang telah ditentukan. Atau

bisa juga dengan mengguncangkan bunga jantan di atas bunga betina, sehingga polen jantan jatuh ke stigma bunga tetua betina yang telah diemaskulasi.

Pelabelan Pelabelan merupakan hal yang tidak boleh terlupakan karena menyangkut identitas hasil persilangan. Dalam sebuah label ditulis tetua betina, tetua jantan, tanggal penyerbukan, dan nama pemulia. Ukuran dan bentuk label berbeda-beda. Pada dasarnya label terbuat dari kertas keras tahan air, atau plastik. Pada label antara lain tertulis informasi tentang: (1) Nomor yang berhubungan dengan lapangan, (2) Waktu emaskulasi, (3) waktu penyerbukan, (4) Nama tetua jantan dan betina, (5) Kode pemulia/penyilang

Daftar Pustaka
Sujiprihati, S., M. Syukur, dan R. Yunianti. 2008. Pemuliaan tanaman. Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan Hotikultura IPB. Bogor. 356 hal. Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2009. Teknik pemuliaan tanaman. Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan Hotikultura IPB. Bogor. 284 hal. http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp10237.pdf http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp10232.pdf