P. 1
Paradigma imajinasi

Paradigma imajinasi

|Views: 25|Likes:
Published by Chafid Wahyudi

More info:

Published by: Chafid Wahyudi on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/06/2013

pdf

text

original

―Mengapa Tuhan tertawa di saat manusia berpikir? Sebab ketika manusia berpikir, kebenaran menghapus dirinya.

‖ (Milan Kundera) A. Pendahuluan Semangat zaman di era posmodern mungkin tak jauh-jauh amat dari apa yang digambarkan oleh Milan Kundera, ―Manusia berfikir, Tuhan pun tertawa‖. Sebuah parodi, dan mungkin ironi tentang rasionalitas, ketika kita berfikir tak harus berarti mencari kebenaran, melainkan mendengar Tuhan tertawa dan menertawankan diri. 1 Era yang beranjak dari modern ini sepertinya ingin mengencam rasionalitas yang terlalu serius memburu kebenaran. Cerita agung tentang rasionalitas mulanya dihadirkan Rene Descartes (1596-1649) yang menformulasikan sebuah prinsip, cogito ergo sum (aku berfikir, karena itu aku ada).2 Dengan prinsip ini, Descartes telah menjadikan rasio satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Formulasi Descartes ini pula yang menjadi titik awal untuk mengantarkan perkembangan ilmu pengetahuan modern yang kerap disebut Pencerahan (Aufklärung). Sejarah mencatat bahwa modernisme telah membawa

Dalam filsafat modern terdapat dua blok besar, yakni rasionalisme dan empirisisme. Rasionalisme menekankan bahwa pengetahuan murni dapat diperoleh melalui kemampuan rasio manusia itu sendiri. Oleh karenanya pengetahuan bersifat apriori. Sedangkan empirisisme menekankan bahwa pengetahuan sejati hanya dapat diperoleh melalui pengalaman empiris. Oleh karenanya pengetahuan bersifat aposteriori.

Sedangkan Immanuel Kant (m. 1804) menyatakan, pengetahuan adalah mungkin, namun metafisika adalah tidak mungkin, karena tidak disandarkan kepada panca indera. Bagi Kant, dalam metafisika tidak terdapat pernyataan-pernyataan sintetik-a priori seperti yang ada di dalam matematika, fisika, dan ilmu-ilmu yang berdasar kepada fakta empiris. Kant menamakan metafisika sebagai ―a transcendental illusion‖ (ilusi transenden). Masih
1 2

Muhammad al-Fayyadl, Derrida, (Yogjakarta: LkiS, 2011), xxi. Menurut Descartes adalah keliru jika dikatakan bahwa kebenaran dapat dicapai dengan sesuatu yang sudah pasti dan tidak dapat diganggu gugat. Menurutnya,untuk mencapai kebenaran, seseorang harus melepaskan diri dari segala macam prasangka, termasuk prasangka yang berupa keyakinan dari dogma-dogma agama. Sebagai gantinya, ia harus menggunakan rasio dan pengetahuan berdasarkan fakta. Lihat Horald Titus, PersoalanPersoalan Filsafat, terj. M. Rasjidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 78.

Kant‟s Theory of Knowledge. Bukan hanya dengan menyimpulkan berdasarkan apa yang kita ketahui. ―Antara Agama dan ilmu pengetahuan yang betul. 1968). Friedrich Nietzsche. hanya berkisar pada segala sesuatu yang dapat diserap pancaindera dan alat bantu belaka. whereas imagination embraces the entire world. 129. agama tidak bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan. Menurut epitemologi ini. Holmes H. Dalam magnum opus-nya. Robert C. Nietzsche menyatakan. merupakan representasi dasar-dasar epistemologi modernitas. Einstein (1879-1955) Humanisme. stimulating progress. Bahkan lebih dari itu ―Imagination is more important than knowledge. Human Science. dengan jenaka ia berseloroh bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang 3 4 Justus Harnock. M. (New York: Twayne Publisher. 5 Ibid. Keduanya menetap di bintang yang berbeda. terkadang scientific invention (Penemuan Ilmiah) juga melalui "imaji".3 Bagi Friedrich Nietzsche (1844-1900). filosof brilian berkebangsaan Jerman. sempat kagum memandang posisi manusia dalam proses pencarian pengetahuan. For knowledge is limited. Nora Burhanuddin Manusia dan Problem Pengetahuan Immanuel Kant. giving birth to evolution‖. ―seseorang tidak dapat mempercayai dogma-dogma agama dan metafisika ini jika seseorang memilih metode-metode yang ketat untuk meraih kebenaran di dalam hati dan kepada seseorang. tidak terdapat keterkaitan. .‖5 Pernyataan-pernyataan di atas. 142-45. (London: Macmillan. 1995). Holup.menurutnya. bahkan permusuhan.. metaphysicial assertion are without epistemological value (pernyataanpernyataan metafisika tidak memiliki nilai epitemologis). rasionalitas adalah satu-satunya ilmu (knowledge) yang otentik. Positivisme [Revitalisasi Teori Ilmu Al-Ghazali] Oleh M. Karakteristik epistemologi yang demikian itu.‖4 Nietzsche juga menegaskan perbedaan ruang lingkup antara agama dan ilmu pengetahuan. Padahal sebenarnya masih banyak realitas lain yang memerlukan penelitian lebih mendalam sebagai upaya untuk mengungkapkan selubung misterinya. Critique of Pure Reason. persahabatan. Ditengah dunia yang benal dengan klaim kebenaran tentang perlunya sebuah alternatif dalam merengkuh kebenaran. trans.

tepat-salahnya. benar-tidaknya. selalu sama. Dalam babakan sejarah Eropa. jangan kau pikirkan Zat Tuhan!” menjadi senjata paling ampuh memberangus filsafat ini. Dan ini adalah penegasan bahwa bidang filsafat selalu universal: mencakup segala hal. Apesnya ia selalu memunculkan pelbagai pertanyaan yang tak semuanya bisa dijawab sendiri. seolah mereka ingin melempangkan jalan bagi dominasi wahyu sebagai satu-satunya perangkat mengenali Tuhan. Hadits Nabi. Meski dalam babakan sejarah. selalu saja ada resistensi sebagian sarjana untuk berusaha mengeliminasi komponen Tuhan dalam perbincangan filsafat. sebagai makhluk yang berakal. dengan ―memfilsafatkan‖ Tuhan seolah kita sedang masuk ke dalam ranah yang tak pernah benar-benar kita yakini kebenarannya.[2] Ini mengapa filsafat selalu terdefinisikan sebagai al-bahts „an al-wujûd min haits huwa al-maujud: membahas eksistensi dari sisi ia ada. selalu ada tiga komponen yang dilibatkan: Tuhan. manusia dan alam semesta.[1] Dalam perbincangan filsafat. ia tak mau sekedar disebut bodoh atau tak berpengetahuan. sebagai makhluk yang berakal. terlalu banyak yang absurd dalam metafisika. khususnya Islam. . karena sedari awal saya meyakini bahwa manusia. dan ini adalah legitimasi filsafat dalam diri manusia. Mengapa? Karena filsafat adalah kecenderungan alami untuk mempertanyakan ―lingkungan‖ di sekitarnya.membingungkan. Terlebih wacana gereja ini coba dipaksakan dan bertentangan dengan fakta di lapangan. Dengan kata lain. Argumen mereka. Ketiga komponen ini menjadi objek yang tiada henti untuk dieksplorasi sedalam-dalamnya. bagaimanapun caranya. termasuk Tuhan! Tegasnya. Saya katakan terpaksa. Dengan ini. selalu otomatis mempertanyakan wacana yang ia terima. “Renungi alam semesta. Yakni. yang sejatinya demi meneguhkan kekudusan Tuhan. manusia akan selalu berpotensi memikirkan segala hal. statemen Aristoteles yang berangkat dari observasi sempurna di masanya agaknya meruntuhkan anggapan ini. Kita kemudian mengenal The Dark Age yang selalu mengilustrasikan bagaimana dominasi gereja demikian menggurita sehingga membantai banyak ilmuwan yang ―terpaksa‖ mempertanyakan otoritas gereja. namun toh filsafat metafisika selalu saja mengemuka. Namun. Ia bersikukuh bahwa manusia selalu punya potensi berfilsafat dalam dirinya. ada masa ketika akal manusia coba diberangus dengan kuasa agama. tak ada kuasa manusia untuk menghindarkan dirinya dari memikirkan lingkungannya.

in the analitic of finitude. menawarkan proses yang memadai dan penting bagi sebuah kehadiran agar membuatnya . Seolah Tuhan. Bahkan untuk mengakui eksistensi Tuhan. Sebagai gerakan perlawanan. karena ia adalah makhluk yang membuat setiap pengetahuan menjadi mungkin dalam dirinya. Berawal dari Italia. Ini mengapa ajaran agama harus selalu tersampaikan sesuai dengan akal. Man. Kelompok ini kemudian antipati pada agama yang telah mengkebiri akal sehat mereka. Ia melanjutkan: ―. yang sejatinya diam-diam mereka terima. Manusia. Humanisme. imagination. Selebihnya gagal. it is a question of revealing the conditions of knowledge on the basis of the empirical contents given it. hanya berhasil menjadi persiapan masuknya gelanggang baru dalam sejarah Eropa: rennaissance. Eropa masuk panggung sejarah humanistic periode. seorang filosof Perancis yang concern dalam bidang psikologi.Babakan sejarah itu kemudian berbalik menjadi gerakan antitesisnya. memory). But did not the human nature of the eighteenth– century empiricist play the same role? In fact. setelah Konstantinopel (sekarang Istanbul) dikuasai Dinasti Ottoman. harus menjadi ―korban‖ kesalahan manusia dalam menyampaikan pesan-pesan ketuhanan. adalah pasangan aneh antara empirik dan transendental. since he is a being such that knowledge will be attained in him of what renders all knowledge possible. tentu menyimpan getirnya. Benar. what was being analysed then was the properties and forms of representation which made knowledge in general possible (it was thus that Condillac defined the necessary and sufficient operations for representation to deploy itself as knowledge: the reminiscence. dalam analisa terbatas. pun mereka enggan. Tetapi. Kurang lebih ini yang disampaikan Michel Foucault. Tapi problem tak berhenti.‖[3] Humanisme Kebangkitan tak mampu memahami manusia. saat itu harga diri manusia kembali utuh. Ini ekses buruk pengajaran agama yang salah. sebagai gerakan mengagungkan kembali posisi manusia sebagai makhluk berakal. self-conciousness. is strange empirico-transcendental doublet. yang tak bersalah dalam hal ini. Mereka ateis. apa yang telah dianalisis di sana hanyalah perangkat dan bentuk-bentuk kehadiran yang semata membuat pengetahuan secara umum jadi mungkin (karena itu Candillac.. bukankah kondisi abad18 juga memainkan peran ini? Faktanya. para sarjana menggiatkan kembali tardisi berfilsafat Yunani. they were not able to conceive of man. now that the site of analysis is no longer representation but man in his funitude.

Itu tuntutan masa sekarang katanya. Namun idenya absurd karena mencoba memahami manusia tak lebih dari seperti natural laws lainnya. mampu menjawabnya. harus terbangun dengan pondasi yang sepenuhnya baru.‖ Tambahnya. Nyatanya tidak! Ia bahkan melanjutkan bahwa pengetahuan. terma human science sedikit absurd menurut Foucault. sebagai gerakan yang bukan hanya mengembalikan harkat manusia sebagai makhluk berakal. Ini sebuah pertanyaan demi mengungkap prasyarat sebuah pengetahuan dalam basis fakta empirik yang mengitarinya. saya usulkan sistem komplit seputar sains ini. Usaha memanusiakan manusia ini akhirnya memberikan ide segar untuk mencetuskan human science. dengan pelbagai perangkat ilmu modern. ―Human science.[5] Menarik ketika Alexis Carrel. harus mampu didasarkan pada fakta empiris. Sekarang tak cukup hanya semacam itu. si jenius itu. Pada akhir karyanya Man The Unknown ia berkesimpulan bahwa sejatinya pengetahuan kita seputar manusia sangatlah minim. dianggap tokoh pertama yang menggelontorkannya dalam karya A Treatise of Human Nature. Foucault. usaha ini bisa dipahami sebagai jawaban tuntutan era itu saat sebelumnya manusia demikian direndahkan dan tercerabut kebebasan akalnya. seperti kenangan. menegaskan keabsurdan ini. Ujarnya. melainkan juga seharusnya mampu memberikan gambaran utuh seputar manusia dan memahaminya. memori). Apapun usaha kita. Ujarnya. ilmuwan Perancis yang memenangkan hadiah nobel tahun 1912 dalam bidang psikologi dan kedokteran. Analisa seputar manusia tak lagi hanya sebuah kehadiran.sebagai pengetahuan itu sendiri. Nyatanya. ―Alam manusia hanyalah merupakan sains tentang manusia. jika kita mau jujur. kesadaran diri.‖[4] Secara psikologis. termasuk seputar manusia dan posisinya. Paling krusial tentunya tentang manusia yang seharusnya Humanisme. Dengan kata lain. tapi manusia dalam keterbatasannya itu sendiri. filosof kawakan Skotlandia. Ia masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Ia paling mentok ke body of discourse saja!‖ Bukankah tuntutan Humanisme sebelumnya adalah pengetahuan utuh seputar manusia? Sehingga. Namun alasan ini rasanya tak menjadi tameng pembela konsep ini. akan menemui . David Hume. imajinasi. tak sampai tingkatan body of knowledge. sekedar wacana jelas tak mencukupi. pun mengakui bahwa Humanisme dan Renaissance sebagai sebuah kesatuan dalam gelanggang menggapai pengetahuan belum finis. ―Prinsip-prinsip alam manusia. tetapi sampai sekarang masih disiasiakan.

sosiologi. Ini langkah awal saya sebelum nantinya menawarkan solusinya dengan teori pengetahuan yang saya adopsi dari turats Islam klasik. David Hume berambisi menerapkan mekanisme yang matematis an sich dalam wacana kemanusian. pertanyaan yang menggelayut di kepala para perintisnya adalah: mengapa kita tak menerapkan standar yang sama dalam membahas manusia sehingga memberi kepastian wacana seperti yang berhasil dilakukan pada alam semesta? Ini sebenarnya kata kuncinya. antropologi. Dilthey dan Neo-Kantian bersikukuh bahwa ambisi ini tak tepat. Ketika alam semesta berhasil dieksplorasi habis-habisan dan mencapai titik kepastian yang meyakinkan. manusia sejatinya makhluk yang tak benar-benar kita pahami. mari saya paparkan pada Anda bagaimana kinerja human science. Karena ini. Argumen Dilthey ini bertahan dari satu dekade ke yang lainnya. Man the unknown![6] Human Science dan Problemnya Untuk lebih memantapkan informasi di atas. Ambisi ini tentunya mengharuskan mereka menerapkan kepastian matematis sebagai sebuah legitimasi disebut sains. Ini timbul karena alam semesta memiliki kepastian tertentu yang berbeda dari fenomena manusia. jika human science ingin disebut science. Human science secara sederhana didefinisikan sebagai sebuah sains tertentu yang membahas secara khusus aksi dan tingkah manusia. akan menimbulkan kerancuan yang luar biasa. Menarik. Pada akhirnya. Namun usaha ini terhadang oleh kecenderungan positivisme dalam sains yang diimani banyak ilmuwan. Mengapa? Karena eksplorasi seputar manusia tentunya membutuhkan metode yang berbeda dari yang diterapkan pada alam semesta. Manusia adalah entitas yang tak dipahami. Mudahnya. kemunculan human science sangat kontroversi. Ketika satu metode diterapkan dalam dua bidang yang berkarakter lain. meski pada arus lain kemunculan psikologi. ia juga harus berkecenderungan positivisme dalam metodologi dan wacananya.tembok buntu dalam usaha memahami manusia. Karena itu. ketika menggunakan terma science. dan ekonomi sebagai ilmu-ilmu yang . sejatinya para pelopornya berusaha memberi jawaban atas kesenjangan yang selama ini dirasa dalam pembahasan seputar manusia.

dan terukur secara induktif. Hesse. Muncul arus postpositivisme yang berusaha meyakinkan para ilmuwan bahwa kepastian dalam sains pun layak dipertanyakan. dan objektif. peralihan linguistik dalam filsafat sains seperti tergambarkan pada karya-karya akhir Wittgenstein. Sampai saat ini. keraguan yang berkelanjutan terhadap teori sistem dan aplikasinya pada organisme yang begitu komplek seperti manusia. Toulmin. Sehingga human science yang mengandaikan perhitungan matematis masih sangat layak diperdebatkan. perdebatan legitimasi human science belum selesai. Belum dicapai kata sepakat seputar keabsahannya namun dalam titik tertentu semua cabang ini sedikit berhasil mewacanakan metodenya yang saintis dalam eksplorasi fenomena manusia. dan sarjana lain yang mempertanyakan status kebenaran mutlak dalam sains dan seberapa jauh hubungannya dengan realitas ekstralinguistik. Ia lebih merupakan cara pandang pada pengetahuan. positivisme yang diwacanakan sebagai prasyarat mutlak sebuah sains pun tergugat. Meski. apalagi absolut. kenapa pula mempermasalahkan kepastian human science sebagai sebuah sains? Saat positivisme berusaha mewacanakan bahwa sains yang benar-benar sains harus memenuhi kriteria kepastian mutlak dalam hipotesanya yang diantaranya harus bersifat empiris. usaha keras dalam . Perlu dicatat. standar kepastian mutlak tentu tak bisa diaplikasikan secara radikal pada sains. mereka tak mampu menjawab bahwa benang merah dari setiap sains adalah objektif. namun cabang dan turunannya begitu saja meruyak laris. Karena itu sama saja memberangus semua sains yang terbukti kurang tepat.membahas fenomena manusia tetap saja meruyak. perdebatan seputar human science berkisar pada postpositivisme ini. meski pada kurun berikutnya mungkin saja terbukti benar. bahwa postpositivisme bukan satu aliran dengan kesepakatan proposisi tunggal. Kuhn. Artinya. Ketika kepastian sains dipertanyakan. Sampai akhirnya. Ketiga. Paling tidak postpositivisme memiliki empat arus dalam beberapa dekade ini. di sisi lain postpostivisme berusaha menggelontornya. Kedua. Implikasinya kemudian akan disuarakan oleh Quine. Dengan kata lain. Mereka menambahkan bahwa setiap teori dalam sains yang muncul seringkali dapat teranulir dengan teori berikutnya yang lebih mutakhir. Pertama. Sedang fenomena manusia yang demikian relatif itu terlalu naif kita ukur dengan hitungan matematis. Toh itu masih disebut sains. matematis. Yang terakhir memberikan contoh bahwa Biologi pun sampai sekarang tak mampu memberi jawaban pasti seputar fenomena biologis: kematian. matematis. Dan ini dimiliki oleh semua ilmu yang disebut sains.

by drawing up an inventory of everything in the sciences of man that is mathematicizable. and supposing that everything that is not susceptible of such a formalization has not yet attained to scientific positivity. or. because the methods applied to it arc above all those comperhension. Karenanya . Biasanya. sebaliknya. on the contrary. ia secara jenius memampangkritisi metodologi human science. Juga karena itu sendiri selalu tak cocok dengan kutub umumnya pengetahuan. Dreyfus dan Paul Rabinow. the attempt is made to define it in terms of mathematics: either by trying to bring it as near to mathematics as possible.mengembangkan teori seputar aktivitas manusia yang mencakup ide-ide soal tujuan dan aktivitas acak manusia. by trying to distinguish very carefully between the domain of the mathematicizable and that other domain which is regarded as irreducible to the former because it is the locus of interpretation. Keempat. Ia menulis: ―We must now sketch out the form of this positivity.‖[8] Kita sekarang harus melukiskan bentuk positivisme human science ini. usaha ini terlihat ambisius karena berupaya mematematika-kan fenomena yang sepenuhnya cair dan relatif: fenomena manusia. usaha itu dengan cara mendefinisikannya dalam perhitungan yang matematis: baik mencoba membawanya sedekat mungkin pada bentuk. Usually. dan meyakini bahwa segala hal yang tak tersemat semacam formalisasi ini tak mencapai positivisme sains. dengan berusaha memilah dengan begitu teliti antara domain yang berkarakter matematis dan selainnya yang dianggap tak memadai ke matematis karena itu adalah lokus penafsiran. usaha Heidegger dan Gadamer dalam filsafat hermeneutik demi membangun epistemologi fundamental yang menyuarakan kebenaran apodiktik (apodictic truths). Michel Foucault: Beyond Structuralism and Hermeneutics. melukiskan detil-detil segalanya dalam sains tentang manusia yang matematis. performa dan teori-teori matematika. Sebagai tokoh yang tergambar melalui buku karya Hubert L.[7] Foucault dalam The Order of Things berusaha memaparkan kinerja human science ini. atau. Seperti yang saya paparkan di atas. because it finds itself wound around the clinical pole of knowledge. karena semua metode yang diaplikasikan padanya memancarkan semua pemahaman ini.

yang kami masih sebut “human science” meski sebelum kita tahu dalam batasan dan logika apa itu disebut sains) memiliki sebuah relasi pada matematika: seperti domain pengetahuan lain. in order to conform to convention. bisa menggunakan matematika sebagai perangkatnya. namun dalam batasan tertentu jelas matematika juga masih layak dipergunakan dalam beberapa level human science. agar mampu mengaplikasikan formalisasi ini dan demi mendefinisikan level-level yang bisa ditampilkan.ambisi ini menemukan kesulitannya tersendiri—jika enggan mengatakan mustahil. It is undoubtedly of the greatest importance to know those tools. Ini mengapa penulis bibliografi Foucault masih menganggapnya sebagai ilmuwan human science. menyempurnakan teori ini. sains ini masih. Ini juga dirasakan Foucault yang memaksanya harus mengkritiknya secara langsung dan berujar: ―Such analyses are wearysome not only because they are hackneyed but. sudah tak relevan. make use of mathematics as tool. in certain conditions. terutama dalam ambisi para pengelunya yang terkesan idealis.‖[9] Analisis semacam di atas cukup meletihkan bukan hanya karena sudah usang tapi. saya harus berkata jujur bahwa dalam beberapa kondisi dan prosedurnya. beberapa prosedur dan hasilnya bisa dibentuk demikian. Tak diragukan pula demikian pentingnya mengetahui pelbagai perangkat ini. meski Foucault meragukan keabsahan mutlak metodologi human science yang menggunakan perangkat matematika sebagai pirantinya demi menyingkap fenomena manusia. to be able to practise those formalizations and to define the levels upon which they can be performed. because they lack relevance. dalam titik tertentu. above all. . Bahkan ia dianggap sebagai tokoh yang. these sciences may.. yang paling utama. some of their procedures and a certain number of their results can be formalized. Saya pribadi. semisal beberapa proseduralnya yang biasanya induktif dan gaya pemaparan hasilnya yang bisa pula matematis. tak sepenuhnya menolak human science sebagai sains yang layak diapresiasi. Dengan kata lain. Namun. Jelas tak ada keraguan bahwa bentuk pengetahuan empiris yang aplikatif pada manusia ini (dan. masih meragukan dan kurang valid. dalam beberapa kondisi. demi mengikuti istilah konvensional. we may still term ‗human sciences‘ even before we know in what sense and within what limits they can be called ‗sciences‘) has a relation to mathematics: like any other domain of knowledge. Certainly there can be no doubt that this form of empirical knowledge which is applicable to man (and which.

how Fechner defined the logarithmatic relation between the growth of sensation and that of excitation.Meski. dan gagasan-gagasan dari sebuah teori. manfaatnya dalam memproyeksikan aktivitas. melainkan itu buah hasil pengalaman manusia yang terikat ruangwaktu. dalam titik tertentu aplikasi matematika jelas tak bisa diterapkan secara radikal dan universal pada setiap fenomena manusia. Foucault melanjutkan bahwa meski aplikasi demikian memungkinkan. prosedur. Atau. Ia masih menyimpan kebenaran dan turut andil dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. sebagai sebuah amanat ilmiah. dan kevalidan datanya. mampu mengaplikasikan perhitungan teori kemungkinan pada politik. filosofmatematikawan Prancis penemu metode condorcet. atau paling tidak. Ujarnya bahwa aplikasi ini hanya mengambil possiblities of mathematicization semata. how contemporary psyco-logist make use of information theory in order to understand the pheno-mena of learning. . ataupun objektivikasi. ide.. faktorfaktornya. Saya sengaja memaparkannya agak panjang karena saya meyakini bahwa suatu teori harus terbangun dan teranalisis dari dua sisi minimal. Dia melanjutkan: ―. pertama. menjelaskan hubungan logaritmatik antara berkembangnya sensasi dan berkembangnya eksitasi.[10] Al-Ghazali dan Positivisme Sains Demikian sekilas perjalanan panjang humanisme yang memunculkan human science sebagai salah satu produk era humanistic periode di Eropa. bagaimana kita mendedahkan inti. bagaimana Fechner. mengkritiknya baik dari dalam. bagaimana psikolog logika kontemporer menggunakan teori informasi demi memahami fenomena pembelajaran.‖ Tak diragukan secara historis manfaat untuk mengetahui bagaimana Condorcet. saya meyakini bahwa karakter matematis dalam human science ini tak sepenuhnya salah. Dan kedua. bagaimana kita menyorot lika-liku sejarah kemunculannya. dan bila memungkinkan. Lebih jelasnya. dan bagaimana teori itu bermetamorfosa sebagai sebuah produk zaman yang sah. Foucault mencontohkan beberapa aplikasi matematika dalam human science yang tentu saja tak bisa kita ingkari kevalidan. autentivikasi. boleh juga dianggap semacam de-mathematicization. dan fenomena manusia secara umum. metodologi. psikolog Jerman.it is no doubt of interest historically to know how Condorcet was able to apply the calcualtion of probabilities to politics. Paradigma ini berangkat dari konsensus umum ilmu pengetahuan bahwa teori apapun tak akan muncul dari ruang hampa.

Berangkat dari sebuah imajinasi dasar—kata Albert Einstein. Dan dari premis-premis ini saya ingin membangun proyek saya. fisika. Proyek saya ini tentu tak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa ada fenomena borrowing and influence—konsepsi ini jika diaplikasikan secara radikal menimbulkan pengkaburan orisinalitas—dan fenomena pencurian ide dari sarjana satu ke yang lain. yakni logika Aristoteles. ada pengembangan ide dasar dari sebuah teori. dan ada kemiripan. secara psikologis jika berkaitan dengan relasi Islam dan Barat. namun ini terjadi saat objek-objek suatu teori tak universal. Saat era Yunani tak mengenal beragam teori rumit—semisal kimia Jabir bin Hayyan. kedokteran Ibnu Sina. Manusia telah muncul sejak dulu. dan. polatingkah manusia secara umum dan di semua zaman. musik Al-Farabi. Demikian pula. dan tak merata. yakni manusia. bahkan kesamaan. atau lebih spesifiknya. ilmu biologi. Ini mendorong saya berandai-andai: mungkinkah gagasan dasar ini saya temukan di teks-teks turats klasik. Demikianlah. atom. dominasi kebenaran universal. dan eksklusifitas yang justru ditentang Islam itu sendiri. tentu konsepsi di atas tak dapat dipertanggungjawabkan karena menimbulkan monopoli kebenaran. dan ilmu modern lain yang belum ditemukan secara sempurna di era Islam. atau tepatnya gagasan dan ide. memang ada fenomena semacam itu dalam beberapa kasus. ekonomi. Ya. antropologi. akan memunculkan sikap superioritas. aljabar Khawarizmi. kimia. dan teoriteori filsafat Yunani yang lainnya. “Imagination is more important than knowledge”—bahwa objek humanisme dan human science sangat klasik: manusia. human science dan spirit humanisme telah terpatri pada para sarjana klasik. sosiologi. Saat kita mengetahui bahwa objek humanisme dan human science demikian universal. Kepastian atau yang disebut positivisme sains—yang bercirikan rasional-empirik dan diantaranya matematika—dapat kita temukan dalam Maqashid al-Falasifah karya Al-Ghazali. Ia berujar: . dan fakta ini mengusik saya untuk menemukan dan membuktikan bagaimana kecenderungan. Ide dasarnya jelas telah ada. Tepatnya. dan masih banyak lagi—maka peradaban era Islam di masa kejayaannya mengenalnya. mengalami perkembangannya di era Barat. pada karya-karya Al-Ghazali sebagai concern utama saya. spesifikasi pengetahuan universal.

”[11] “Ketahuilah bahwa akal tak akan benar kecuali dengan syariat. Demikian batasan akal. dari mana akal mendapat legitimasinya dalam menyuarakan kebenaran? AlGhazali berdalih bahwa sejatinya syariat dan akal itu menyatu.“Adapun matematika (riyadliyyat). namun setelah terbangun kita baru menyadari bahwa semua itu tak nyata. Demikian Al-Ghazali dikenal. sedang akal adalah syariat di dalamnya. Kita sering bermimpi sesuatu. Akal bagaikan dasar sedang syariat seperti bangunan. . Kita sering melihat bulan tampak kecil. yakni bahasan seputar penghitungan dan teknik bangunan..” Allah berfirman menceritakan karakter akal. matematika dalam konteks ini. “Dan sungguh datang kepada kalian dari Allah cahaya dan kitab yang jelas. Ini yang disebut positivisme sains. dan rumus-rumus matematika sepenuhnya positif: pasti benar. konsepsi. Ujarnya bahwa kekuatan akal terbesar bersumber dari pandangan. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Selamanya dasar tak akan cukup tanpa ada bangunan. sedang syariat tak akan jelas kecuali dengan akal. Keduanya sanling menguatkan. prosedur.” Mungkin ada yang menyangsikan ini karena dalam Al-Munqidz min al-Dhalal Al-Ghazali sempat mengalami ekstase dan saat itu ia ―dikenal‖ sedang mengingkari akal karena nyatanya akal tak menjamin kebenaran. padahal itu sejatinya jauh lebih besar. maka sama sekali tak mengandung unsur yang bertentangan dengan akal. atau lebih spesifiknya. Itulah agama yang lurus. dan saling menguatkan. Jika demikian. Artinya. bahkan menyatu. Saat kita mengakui bahwa syariat Tuhan sepenuhnya benar. sedang bangunan tak akan kokoh selama tak ada dasar. ia berargumen bahwa selamanya matematika tak mengandung unsur yang bertentangan dengan akal. jalan-jalan kedamaian dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan izinNya. juga mengandung kepastian. kita juga harus mengetahui bahwa ternyata akal pun sepenuhnya benar karena itu anjuran Quran. Allah menunjukkan dengannya orang-orang yang ikut keridla‟annya. “Itu fitrah Allah yang ia tancapkan pada manusia di atasnya. Juga tak pula bisa diingkari. Keduanya tak mungkin saling tubruk. Syariat adalah akal dari luarnya. Allah berfirman. Keduanya benar. ”[12] Saat Al-Ghazali mengatakan bahwa matematika adalah ilmu yang tak pantas diingkari. sedang mata sering menipu.

Al-Ghazali sebagai seorang pemikir sering kali menyebarkan ide-idenya berserakan di pelbagai karyanya. Al-Ghazali memisalkan bahwa kebenaran yang sejati adalah seperti kita meyakini bahwa bilangan sepuluh pasti lebih besar dari bilangan tiga. Namun aku sama sekali tak ragu akan kepercayaanku karena memandang itu. Al-mahsusat berkata. Al-Ghazali tak . Lantas tampak padaku bahwa ilmu hakekat adalah ilmu yang mampu menyingkap objek dengan tanpa meninggalkan keraguan sedikitpun. dan aku menyaksikannya.” Ia pun merubahnya menjadi ular. tetapi tiga lebih banyak daripada sepuluh dengan dalih bahwa aku mampu merubah tongkat ini menjadi ular. Dalam Al-Munqidz ia menulis mengenai ambisinya dalam menggapai hakekat sekaligus menarapkan standar hakekat kebenaran menurut dia: “. Ini kata kuncinya. Andai ada orang berkata padaku.Saya pikir. Jika kita cermat memahami redaksi ini dan mengkompromikannya dengan redaksi yang seolah dia mengingkari akal. Aku sungguh telah tahu bahwa bilangan sepuluh lebih banyak daripada tiga. tongkat menjadi ular. Karena itu. menangkap Al-Ghazali seharusnya dilakukan dengan membaca seluruh. Oleh para ahli mantiq keyakinan semacam ini disebut sebagai badihi. dan nyatanya setelah terbangun kamu yakin bahwa itu tak nyata. bahwa dalam Al-Munqidz Al-Ghazali juga selanjutnya berdialog imajiner dengan almahsusat yang telah terbukti tak kuat. karyanya yang tersisa.maka harus menggapai hakekat ilmu apakah itu. hal itu tak menimbulkan keraguan sedikitpun. „Tidak. Coba kamu rasakan. maka tak mungkin. setelah dialog imajiner itu. Benar. anggapan ini berawal dari kekurangcermatan memahami redaksi Al-Ghazai sekaligus tak mampu mengkompromikan satu karya dengan karya yang lain. Bahkan sepi dari kesalahan seharusnya disertai keyakinan yang andaikata ditantang untuk menampakkan kesalahannya misalnya oleh orang yang mampu merubah batu menjadi emas..”[13] Ini standar kebenaran menurut Al-Ghazali. maka kita akan menemukan kebenarannya. Adapun ragu terhadap keyakinanku sebelumnya. Itu titik kelemahan akalmu!‖ Namun perlu dicatat. Aku hanya mungkin takjub bagaimana dia mampu melakukan keajaiban itu. bukan hanya di satu karya. ―Kenapa kamu mendustakanku dan mempercayai akalmu? Sedangkan akal tak lebih baik dariku. atau sebagian besar. dan hatipun tak akan menerima kemungkinan salah itu. Kamu pernah bermimpi. Yakni tanpa melakukan pemikiran kita telah meyakini kebenarannya karena itu sama sekali tak terbantahkan. tak disertai kemungkinan salah dan dugaan.

[14] Di poin ini jelas. melainkan juga itu mengandung kepastian. Dalam Critique of Pure Reason. sehingga meragukan banyak hal yang dianggapnya dulu yakin. Dan al-badihah adalah istilah klasik dan paling dasar dari positivisme ini. Perlu dicatat bahwa saya tak bermaksud mengatakan bahwa semua yang diklaim para ilmuwan sebagai sains yang positif. atau a priori dalam bahasa Immanuel Kant. mencapai titik kepastian yang absolut. terbukti kevalidannya. itu juga mengandung kepastian yang absolut. banyak sekali teori sains yang memang terbukti salah.menyebutkan bahwa dirinya pun tak yakin dengan kepercayaannya bahwa bilangan sepuluh lebih besar dari tiga. ia menegaskan bahwa elemen-elemen dasar matematika sepenuhnya a priori: tak bisa diingkari kebenarannya. ia memberikan keyakinan yang sempurna dalam perhitungan. dianggap sebagai ilmu yang paling pasti. Melainkan ia hanya mengalami ekstase sehingga mengkaburkan seluruh keyakiannnya pada panca indera. ujarnya. Al-Ghazali tak mampu meragukan albadihah karena bukan hanya itu fitrah dari Allah. Dengan kata lain. ini berawal dari karakter dasar matematika yang bersifat al-badihah menurut istilah klasik. atau tepatnya al-badihah. dalam pengembangan . Sampai sini berarti kita mampu membangun argumen bahwa akal. Meski. Pertanyaannya: mengapa matematika menurut AL-Ghazali tak layak diingkari karena itu tak bertentangan dengan akal? Menjawabnya. saya akan mendedahkan karakter dasar dan kinerja matematika. Matematika. Al-Ghazali tak meragukan akan al-badihah semisal bilangan sepuluh lebih besar dari tiga. Ini pula yang menginspirasikan saya bahwa Al-Ghazali pun sejak dini mengindikasikan adanya positivisme sains. Sejatinya. dan teruji ketepatannya dengan tanpa perlawanan. positivisme sains yang tak layak untuk diragukan. Tapi yang ingin saya katakan bahwa di alam raya ini ada sebuah kepastian. Apa yang terjadi setelahnya? Al-Ghazali menuturkan bahwa setelah itu dia disembuhkan oleh Allah karena cahaya yang tercampakkan olehNya dalam hati sehingga ia pun kembali meyakini banyak hal yang dharuri. oleh para pakar. Tapi ia hanya mencapai ekstase yang membuatnya sakit parah selama dua bulan. positivisme sains yang juga telah disinggung Al-Ghazali.

Tegasnya. ada banyak bagian yang tak a priori. dan memberikan keyakinan. atau sebutlah sebagai de-mathematicization menurut istilah Foucault. Ada yang berpendapat di aliran darah. matematika bisa disebut a priori karena konsep dasarnya memang demikian. tapi dipandang dari sisi bahwa sains terus berkembang dan sampai sekarang belum mencapai titik kesempurnaan dalam semua bidang. positif. kematian di antara hal yang tak diketahui manusia. hati. biologi tak mampu menjawab secara memuaskan fenomena kematian karena sampai sekarang pun belum ditemukan kata akhir yang meyakinkan soal ruh. saya katakan: kematian dipercaya sebagai fenomena tercerabutnya ruh dari tubuh. memang tak bisa memberikan kepastian mutlak. Namun. jika bisa mempertahankan sifat a priori-nya dalam tiap tingkatan levelnya. Ya. akan membuat semua struktur dan bangunan matematika pun a priori. mulai era klasik sampai sekarang. Namun intinya matematika dalam karakter dasarnya sama sekali a priori. jika kita memakai standar possibilities of mathematicization. matematika memang tetap berkecenderungan positivisme. urat. Level-level tinggi matematika yang oleh Kant disebut tak lagi a priori sejatinya karena tiap tingkatannya status a priori-nya diabaikan. Atau. Ini karena dalam kaedah mantiq dikatakan bahwa almurakkab min al-yaqin yaqin: tiap yang tersusun dari sesuatu yang pasti akan menimbulkan kepastian pula. atau karena bidang garapan sains tertentu melewati medan yang sewajarnya. Ketika seorang menderita penyakit kronis yang tak mungkin disembuhkan. a priori. Perlu dicatat bahwa sejumlah kritikan ilmuwan yang mengusung postpositivisme sains sejatinya mengkritik bangunan-bangunan sains yang tak mencapai standar positivisme.matematika selanjutnya ke level yang lebih tinggi. di samping rizki dan jodoh. jika lebih ilmiah. atau menyebar ke seluruh bagian tubuh. al-badihah. Tegasnya. Padahal. Fenomena ilmu biologi yang menurut postpositivisme tak mampu memberi kepastian dalam fenomena kematian sejatinya di antara contoh terapan sains yang melewati medan. dokter yang ahli bisa saja memperkirakan sampai berapa kira-kira orang itu akan bertahan hidup. atau ada beberapa kesalahan dalam menyusun. Dan ini tak . Level-level kelanjutan dalam matematika. jantung. Dalam teologi agama. dan menemukan kepastiannya. semisal AIDS.[15] Secara analitik. hasil ini pun bisa dianggap kemajuan yang berarti dalam sains. dan mendaki tiap tingkatan dalam matematika. biologi pun mampu memberikan jawaban seputar kemungkinan-kemungkinan umur manusia. pasti. para ilmuwan masih memperdebatkan di mana posisi ruh sejatinya.

hlm. New York: State University of New York Press.[16] [1] Immanuel Kant. [11] Al-Ghazali. hlm.. Maqashid al-Falasifah. cit. 349. op. [5] Michel Foucault.. London: University of California Press. 348-349. [7] Donald Polkinghorne. Demikian bagaimana revitalisasi konsep Al-Ghazali dan didialogkan dengan konsep modern sungguh memberikan konklusi yang sangat menarik. 1995. Methodology for The Human Sciences.. hlm. hlm. [10] Ibid. hlm.. [2] Philosophy of Humanism [3] Michel Foucault. Inventing Human Science. hlm. 1983. hlm. Ma‟arij al-Quds. Critique of Pure Reason. 349. 46. [8] Michel Foucault. [12] Al-Ghazali. cit..mengharuskan mengeliminasi biologi dari sains tentunya karena belum memberi kepastian terukur. 343. . 2. The Order of Things. tnp. [6] Alexis Carrel. 318-319. [4] Christopher Fox. hlm. Ix-x & 1-3. Cet. 31-32. op. hlm. [9] Ibid. hlm. hlm. tnp cet.

Ada beberapa sub-judul sejatinya yang belum tertuliskan. cit. Al-Munqidz min Al-Dhalal.. [16] Makalah terpaksa dihentikan karena penulis masih membutuhkan waktu demi menguak dan merevitalisasi konsep Al-Ghazali lainnya. hlm.[13] Al-Ghazali. 28-29. hlm. . op. 26. Di antaranya Al-Ghazali dan Gradasi Ilmu. [15] Immanuel Kant.. hlm. [14] Ibid.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->