13

BAB 2
PEMBAHASAN


2.1. Pengertian Drainase
Drainase adalah suatu usaha untuk mencegah, mengeringkan, dan
mengeluarkan air yang masuk atau menggenangi suatu daerah tertentu. Drainase
diperlukan sebagai penunjang kelancaran dalam kegiatan penambangan. Sistem
drainase yang ada dilokasi tambang bawah tanah (Underground Mining)
dilaksanakan karena akumulasi air di dalam tambang yang harus dikeluarkan.
Tujuan drainase tambang adalah :
1. Mencegah terjadinya korosi pada peralatan tambang.
2. Mencegah terjadinya akumulasi (genangan) air di dalam tambang.
3. Menciptakan kondisi kerja yang aman dan nyaman di dalam tambang.
Secara hidrologi air dibawah permukaan tanah dapat dibedakanmenjadi air
pada daerah tak jenuh dan air pada daerah jenuh. Daerah tidakjenuh air umumnya
terdapat pada bagian teratas dari lapisan tanah dan dicirikanoleh gabungan tiga
fasa, yaitu :
1. Fasa padat (material atau butiran padatan).
2. Fasa cair ( air adsorbsi, air kapiler dan air infiltrasi).
3. Fasa gas.
Daerah ini dipisahkan dari daerah jenuh air oleh jaringan kapiler.
Daerahjenuh merupakan bagian dibawah zona tak jenuh. Air yang terdapat pada
zonaatau daerah jenuh inilah yang disebut Ground Water.

2.2. Sistem Drainase Tambang Terbuka
Air permukaan mengakibatkan erosi lereng pit, jalan angkut, pengendapan dan
pelunakan jalan angkut. Metode dasar pembuangan airmeliputi parit-parit
pembuangan air pada permukaan dan pada bagian dasartambang, saluran
horizontal, saluran vertikal atau metode kombinasi. Beberapa contoh metode
drainase :



13

1. Metode Siemens
Pada setiap jenjang dari kegiatan penambangan dipasang secara
vertikal pipa ukuran 8”, disetiap ujung bawah pipa tersebut diberi lubang-
lubang. Bagian ujung ini masuk ke dalam lapisan akuifer, sehingga air
tanah terkumpul pada bagian ini dan selanjutnya dipompa keatas dan
dibuang keluar daerah penambangan
2.Metode Elektro Osmosis
Bilamana lapisan tanah terdiri dari lempung, maka pekerjaan
pemompaan sangat sulit dilakukan, maka dipakai cara elektro
osmosis.Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda. Bila
elemen ini dialiri listrik maka air pori yang terkandung dalam batuan akan
mengalir menuju katoda yang kemudian terkumpul dan dipompa keluar.
3.Metode Pemotongan Air Tanah
Metode ini biasanya digunakan untuk mengamati kondisi air tanah,
dimana lapisan tanah yang digali sampai sebatas akuifer.
Denganterpotongnya aliran air tanah ini maka daerah hilir akan menjadi
kering.Lubang galian ditimbun kembali dengan material yang kedap air
atau dengan cara disemen.

2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Drainase Tambang
Beberapa faktor yang memengaruhi Perencanaan drainase tambang danyang perlu
diperhatikan antara lain daerah tangkapan hujan, curah hujan, debitlimpasan, dan
dimensi drainase.
2.3.1. Daerah Tangkapan Hujan (Catchment Area)
Catchment area adalah merupakan suatu area atau daerah tangkapan hujan
dimana batas wilayah tangkapannya ditentukan darititik-titik elevasi tertinggi
sehingga akhirnya merupakan suatu poligon tertutup yang mana polanya
disesuaikan dengan kondisi topografi,dengan mengikuti kecenderungan arah
gerak air (E.M Wilson). Penentuan daerah tangkapan hujan didasarkan pada peta
topografidaerah yang akan diteliti, daerah tangkapan hujan dibatasi oleh
punggungan bukit. Setelah ditentukan maka diukur luasnya.Hujan yang terjadi
dipermukaan bumi merupakan hasil dari suatudaur air. Daur air di muka bumi
secara garis besar terdiri dari penguapan, presipitasi dan pengaliran. Air yang
menguap terutama airlaut, akan naik ke atmosfir berubah menjadi awan dan
setelahmengalami berbagai proses kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke
permukaan bumi.Air yang jatuh ke permukaan bumi sebagian meresap ke
dalamtanah (infiltrasi) dan sebagian ditahan oleh tumbuhan (intersepsi)
dansebagian lagi akan mengisi cekungan dan lekukan dipermukaan bumidan
13

mengalir ke tempat yang lebih rendah. Disamping itu ada sebagian air hujan yang
jatuh akan menguap lagi (evaporasi) dan ada pula yang terserap oleh tumbuhan
(transpirasi).
Air hujan yang akan mempengaruhi secara langsung sistem drainase
adalah air hujan yang mengalir pada permukaan tanah (run off) ditambah
sejumlah air yang keluar dari proses infiltrasi air tanah. Semua air yang mengalir
ini tidak akan menjadi sumber dari suatu sistem drainase. Kondisi ini tegantung
dari daerah tangkapan hujannya dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
kondisi topografi,rapat tidaknya vegetasi serta keadaan geologi.
Penentuan luas daerah tangkapan hujan berdasarkan pada peta daerah yang
akan diteliti. Setelah tuga tersbut ditentukan, maka pengukuran luasnya
menggunakan planimeter dengan memperhatikan daerah aliran air limpasan yang
mengalir sesuai dengan kontur masing- masing daerah. Hasil dari pembacaan
planimeter kemudian dikalikandengan skala yang digunakan dalam peta sehingga
didapatkan luas tangkapan hujan dalam m2.

2.3.2. Curah Hujan
Curah hujan adalah banyaknya air hujan yang jatuh ke bumi persatu satuan
luas permukaan pada suatu jangka waktu tertentu . Curah hujan merupakan salah
satu faktor penting dalam suatu sistem drainase,karena besar kecilnya curah hujan
akan mempengaruhi besar kecilnya air limpasan (Sayoga ,R). Besar kecilnya
curah hujan dapat dinyatakan sebagai volume air hujan yang jatuh pada suatu
areal tertentu dalam jangka waktu relatif lama, oleh karena itu besarnya curah
hujan dapat dinyatakan dalam m3/satuan luas, secara umum dinyatakan dalam
tinggi air (mm). Curah hujan 10 mm berarti tinggi hujan yang jatuh pada areal
seluas 1 m2 adalah 10 liter. Angka-angka curah hujan yang diperoleh sebelum
diterapkan dalam rencana pengendalian air permukaan harus diolah terlebih
dahulu. Data curah hujan yang akan dianalisis adalah Curah hujan harian
maksimum dalam satu tahun selama 10 sampai 20tahun, dinyatakan dalam mm/24
jam. Analisis data curah hujanmeliputi:
1.Periode Ulang Hujan (PUH)
Periode ulanghujanadalahhujanmaksimum yang diharapkan terjadi
pada setiap n tahun (Soewarno). Jika suatu datacurah hujan mencapai
harga tertentu (x) yang diperkirakan terjadi satu kali dalam n tahun, maka
n tahun dapat dianggap sebagaiperiode ulang dari x. Perhitungan periode
ulang dapat dilakukandengan beberapa metode, tetapi metode yang paling
banyak dipakai di Indonesia adalah Metode Extreem Gumbel atau
lebihlazim disebut Metode Gumbel.
Rumus metode Gumbel adalah :
13

Periode Ulang (T) Reduksi Variansi (Yr)
2
5
10
20
50
100
0,3065
1,4999
2,2504
2,9702
3,9019
4,6001

Xr = X+

Yr− Yn

Keterangan :
Xr = Hujan Harian rencana maksimum (mm/24 jam) dengan ..th
X = Curah hujan rata – rata
δx = Standar deviasi
=[

]
1/2


δn = Expected standar deviasi
Yr = Variasi reduksi untuk PUH …… tahun
Yn = Expected mean
Nilai curah hujan maksimum rata-rata (x) dapat dihitung dengan
rumus :
x =

Dimana :
Xi = Curah hujan maksimum pada tahun x
N = Lama tahun pengamatan
Hubungan periode ulang dengan reduksi variansi dari variabel Y
ditunjukkan pada Tabel III.1

Tabel 2.1
Hubungan Periode Ulang Dengan Reduksi Variasi Dari Variabel Reduksi






13

Derajat Hujan
Intensitas Curah
Hujan (mm/menit)
Kondisi
Hujan sangat lemah 0,02
Tanah agak basah
atau dibasahi sedikit
Hujan lemah 0,02 – 0,05
Tanah menjadi
basah semuanya
Hujan normal 0,05 – 0,025
Bunyi curah hujan
terdengar


Tabel 2.2
Hubungan Antara Expected Standar Deviasi (δn) Dan Expected Mean ( yn)
Dengan Jumlah Data








2. Intensitas Curah Hujan
Intensitas curah hujan adalah besarnya air hujan yang jatuh
kepermukaan bumi pada satuan luas (Kensaku Takeda dan Suyono.S).
Dengan demikian apabila diketahui curah hujan 1 mm berarti curah hujan
tersebut adalah sama dengan 1 liter/m2. Jadi curahhujan merupakan
jumlah air hujan yang jatuh pada satu satuanluas. Satuan curah hujan
dinyatakan dalam mm sedangkan derajat curah hujan dinyatakan dalam
curah hujan per-satuan waktu dandisebut juga dengan intensitas hujan.
Keadaan curah hujan dapatdidefinisikan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 2.3
Keadaan dan intensitas curah hujan








n Yn δn
8,0000 0,4843 0,9043
9,0000 0,4902 0,9288
10,0000 0,4952 0,9496
11,0000 0,4996 0,9697
12,0000 0,5053 0,9833
13,0000 0,5070 0,9971
14,0000 0,5100 1,0095
15,0000 0,5128 1,0206
16,0000 0,5175 1,0316
13


Hujan deras 0,25 – 1,00
Air tergenang
diseluruh
permukaan tanah
dan terdengar bunyi
dari genangan
Hujan sangat deras > 1,00
Hujan seperti
ditumpahkan,
seluruh drainase
meluap









Besarnya intensitas hujan yang mungkin terjadi dalam kurun waktu
tertentu dihitung berdasarkan persamaan mononobe. Rumus menyatakan
bahwa nilai tingkat intensitas curah hujan yang diperbolehkan yaitu curah
hujan perbandingan rata-rata perhari terhadap lamanya hujan rata-rata
perhari. hujan dapat dihitungdengan rumus mononobe :
I =

(

)
2/3


Dimana :
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
Rt = Curah hujan rencana
t = Lama hujan (menit)

2.3.3. Debit Limpasan (Run Off)
Limpasan adalah semua air yang bergerak dari daerah pengaliranke suatu
aliran permukaan (surface stream) tidak memandang rutenya,apakah lewat rute
permukaan atau lewat dibawah permukaan tanah(surface atau sub surface ) ( C.D,
Soemarto ). Debit limpasan dapatdihitung dengan persamaan rasional berikut :
Q = 0.278 x C x I x A 14)
dimana :
Q= Debit limpasan (m3/detik)
13

NO KEMIRINGAN TATAGUNA LAHAN NILAI C
1
Datar, <3%
a. sawah dan rawa
b. hutan dan kebun
c. pemukiman dan taman
0,2
0,3
0,4
2
Menengah
3% - 5%
a. hutan dan kebun
b. pemukiman dan taman
c. alang-alang, sedikit tanaman
d. tanah gundul, jalan aspal
0,4
0,5
0,6
0,7
3 Curam, >15%
a. hutan dan kebun
b. pemukiman dan taman
c. alang-alang, sedikit tanaman
d. tanah gundul,jalan aspal, areal
penggalian & penimbunan
tambang
0,6
0,7
0,8
0,9-1

C= Koefisien limpasan (Tabel III.4)
I= Intensitas curah hujan (m/jam)
A= Luas catchment area (km2)

Tabel 2.4
Koefisien Limpasan Pada Berbagai Kondisi












- Perhitungan Head Total

 Head
Head merupakan besaran energi yang terdapat di dalam
persamaan neraca energi dari system aliran fluida. Persamaan ini
dikenal sebagai persamaan Bernoulli. Satuan dari setiap head
dalam persamaan ini adalah energi per satuan berat dari fluida,
misalnya ft-lb/lb atau cm-gr/gr. Secara umum satuan yang biasa
dipakai dalah satuan panjang dari kolom fluida, ft atau cm.Untuk
menghitung Head total dari suatu rangkaian pompa, dapat
digunakan rumus sebagai berikut :
13


Head total = Hs + Hf + Hd + Hv

Keterangan :
 Hs ( Static Head )
Adalah energi yang diakibatkan karena adanya
perbedaan tinggi antara permukaan fluida dengan pusat pompa.
Static head terdiri dari 2 jenis yaitu :
1. Static Suction Lift ( SL )
Adalah jarak pusat pompa dengan permukaan fluida
yang akan dihisap, dimana posisi pompa lebih tinggi
daripada permukaan fluida.
2. Static Suction Head ( SH )
Adalah jarak pusat pompa dengan permukaan fluida
yang akan dialirkan, dimana posisi pompa lebih rendah
daripada permukaan fluida.

 Hd ( Static Discharge Head )
Adalah jarak antara pusat pompa dengan permukaan
fluida yang keluar dari ujung pipa penyaluran setelah
sebelumnya melewati pompa.
 Hf ( Friction Head )
Adalah energi yang hilang pada aliran fluida karena
adanya gaya gesekan antara fluida dengan pipa.Fiction Head
terdiri dari :
1. Friction Head pada Suction Line, yaitu gaya gesek yang
terjadi sebelum fluida sampai ke pompa.
2. Friction Head pada Discharge Line, yaitu gaya gesek yang
terjadi setelah fluida melewati pompa.
Cara menghitung Hf adalah sebagai berikut :
Hf= f

13





Keterangan
Adalah koefisien gesekan Darcy Weisbach, harga f dapat
dihitung denganbeberapa macam cara antara lain :
a. Dari table yang dikeluarkan oleh pembuat pipa ( ini
adalah cara yangpaling mudah )
b. Dengan menggunakan diagram Moody
E
f = f ( Re, --- )
D

c. Dengan memakai rumus Empiris
1. Colebrook ( 1938 )

= 0,86 ln (

+

)
2. Persamaan Wood ( Desember 1966 )
f = a + b . Re
-
c


a = 0,94 ( E / D)0,225 + 0,53 ( E / D ), E / D
adalah kekasaran nisbi
b = 88 ( E / D )0,44
c = 1,62 ( E / D )0,134
3. Persamaan Jain ( 1975 )
1
f = -----------------------------------
E / D 5, 74
{ 2 log ( ------ + ------- ) }2
3 ,70 Re
0,9


Koefisien gesekan f merupakan fungsi dari bilangan
Reynold dan kekasaran nisbi. Hubungan ini
dirumuskan sebagai berikut :
13


Vp D VD u
Re = ------ = ------- ÷ ( v = ------ )
u v p

Re = Bilangan Reynolds
V = Kecepatan aliran fluida
D = Diameter pipa
, = ( rho ), rapat massa zat cair
· = ( mu ), kekentalan zat cair
´ = ( nu ), kentalan kinematik


• L
Adalah panjang pipa untuk penyaluran pipa
yang digunakan ( m )
• D
Adalah diameter pipa yang digunakan ( m )
• V
Adalah kecepatan aliran fluida ( m / s ) atau
( ft / s )
• g
Adalah specific gravity ( 9,81 m / s2 )

 Hv ( Velocity head )
Adalah energi yang diakibatkan oleh adanya
kecepatan alir fluida dan dapat diekuivalenkan dengan jarak
fluida dimana kecepatannya turun menjadi nol.

13




Rumus perhitungan Hv ini adalah :
V2
Hv = -------
2g



Rumus yang dipakai untuk menghitung Input Power adalah
sebagai berikut :

P
Ip = ------
ƞ


P, adalah Power atau daya pompa yang digunakan, P dapat
dihitung denganmenggunakan rumus :


Dengan Q = V . A


• Ip ( Input Power ), adalah kekuatan motor penggerak
pompa.

• P, adalah daya pompa yang digunakan ( watt )

•, adalah efesiensi pompa yang digunakan
•, , adalah massa jenis zat cair ( kg / m3 )
• g, percepatan gravitasi ( m / s2 )

• Q, debit pompa (m3 / s )

• Htot, adalah Head total pompa



Sign up to vote on this title
UsefulNot useful