You are on page 1of 10

RANCANGAN UNDANG-UNDANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DAN ANCAMAN TERHADAP KEBEBASAN BEREKSPRESI, BERKUMPUL, DAN BERSERIKAT

Indonesia telah memilih demokrasi konstitusional sebagai sistem pemerintahannya, sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (2) UUD 45 “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Adapun demokrasi di Indonesia yang bergerak dalam ruang yang dibatasi hukum, memiliki nilai dasar dan moral yang berasal dari Pancasila sebagai norma dasar yang terkandung dalam pembukaan UUD. Sebagai sebuah falsafah kehidupan yang terbuka dan tidak kaku, Pancasila dipandang menuntut penerapan yang konteksual, aktual, dan dinamis. Dalam konteks keindonesiaan, hingga saat ini tidak ditemukan rumus baku untuk menetapkan sebuah kebijakan yang kemudian melahirkan sikap dan posisi yang sesuai koridor nilai-nilai Pancasila. Sehingga dalam upaya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dibutuhkan dialog yang terus menerus dalam jangka panjang. Dengan alasan tersebut, pengaturan tentang kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berserikat oleh warga negara harus dimaknai. Indonesia sebagai negara telah mengatur kebebebasan berekspresi, berkumpul, dan berserikat dalam Pasal 28 UUD 45 yang kemudian diamandemen pada tahun 2000 silam. Dalam Pasal 28 UUD 45 sebelum amandemen, redaksi “Kebebasan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”, dimaknai sebagai jaminan kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat yang diberikan oleh negara. Sedangkan setelah amandemen, melalui Pasal 28E ayat (3) yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”, esensi kebebasan berserikat diperluas tidak lagi sebagai pemberian negara melainkan hak asasi manusia yang melekat bagi setiap warga negara. Kebebasan berserikat sebagai hak asasi manusia disepakati sebagai salah satu prinsip utama dalam penegakkan demokrasi.

Dengan salah satu konsideran yang menyatakan bahwa. dan menyatakan pikiran baik dalam bentuk partai politik maupun non politik (organisasi kemasyarakatan. Amandemen UUD 45 (1999 – 2004). menghargai. dijelaskan pengertian Ormas sebagai berikut. legislatif dan yudikatif yang hanya akan bermakna bila terdapat kewenangan untuk saling mengimbangi di antara cabang kekuasaan itu. yayasan. menghormati.A.Jaminan HAM perihal hak-hak masyarakat sipil untuk berpolitik (berserikat. dan sekaligus menjamin tercapainya tujuan nasional. Drs. berkumpul. perkumpulan) bagi warga sebagai wujud aspirasi masyarakat luas yang tidak bisa diabaikan. keharusan adanya jaminan oleh negara terkait kebebasan berserikat. berpendapat bahwa kebebasan berserikat. berkumpul dan mengeluarkan pendapat. berkumpul. dan mengeluarkan pendapat) juga tidak luput demi mendapatkan tempat dalam aturan hukum di Indonesia. freedom of assembly and freedom of speech. Penegasannya adalah. M. dan menjunjung tinggi prinsip dan tujuan Piagam Perserikatan BangsaBangsa serta Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia”. pemerintah menetapkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Dalam Bab I (Ketentuan Umum) Pasal 1. “organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat Warganegara Republik . “bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional. Dilanjutkan lagi olehnya tentang pembagian kekuasaan antara eksekutif.P. menjamin keberhasilan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. Ketua PAH I BP-MPR. Jakob Tobing. Disebutkan dalam pertimbangan bahwa organisasi kemasyarakatan merupakan sarana untuk menyalurkan pendapat dan pikiran bagi anggota masyarakat Warga negara Republik Indonesia yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam keikutsertaannya secara aktif demi mewujudkan masyarakat Pancasila berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dalam rangka menjamin pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa. adalah conditio sine qua non (prasyarat mutlak) bagi tegaknya mekanisme checks and balances yang dianut dalam UUD 45. freedom of association.. Organisasi Kemasyarakatan Dalam Undang-undang Dasar hukum mengenai keberadaan Ormas di Indonesia telah diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 1985.

UU Ormas di Era Orde Baru Sejarah menceritakan bahwasanya keberadaan UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan merupakan buah tangan pemerintahan di rezim Orde Baru. Hal ini tertuang dalam Pasal 8 yang berbunyi.Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kegiatan. melainkan turut mewajibkan Ormas berhimpun dalam satu wadah yang sejenis untuk memudahkan proses pembinaan pemerintah terhadap Ormas terkait. pemerintahan Orde Baru kala itu tidak memedulikan fenomena sosial-politik dan budaya dengan fenomena hukum. untuk melaksanakan UU Nomor 8 Tahun 1985 dibuatlah Peraturan Pemerintah yang mengatur ketentuan pelaksanaan Undang-undang tersebut dalam PP Nomor 18 Tahun 1986 Tentang Pelaksanaan UU Nomor 8 Tahun 1985 Tentang Organisasi Kemasyarakatan yang terdiri dari 30 pasal. Sehingga dimunculkanlah UU Ormas pada tahun 1985 yang didasari Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1983. Kemudian. Kebijakan ini dinilai pula turut menyalahi semangat penegakkan HAM yang telah disahkan Majelis Umum (MU) PBB dalam bentuk Kovenan Internasional . profesi. “Untuk lebih berperan dalam melaksanakan fungsinya. Pemerintah tidak hanya mencukupkan Ormas sekedar terdaftar sebagai badan hukum di Departemen Kehakiman dan Pengadilan Negeri setempat.” Dari sini bisa dilihat pengakuan pemerintah terhadap keberadaan Ormas yang diharapkan untuk turut berperanserta dalam pembangunan nasional. lengkap dengan mekanisme pembekuan dan pembubaran Ormas oleh pemerintah. fungsi. pemerintah berupaya mengontrol dan menekan Ormas. untuk berperanserta dalam pembangunan dalam rangka mencapai tujuan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Berdasarkan Pancasila. agama. dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa pengamat berpendapat. Dengan dalih penegakkan stabilitas keamanan dan ketertiban negara. Organisasi Kemasyarakatan berhimpun dalam satu wadah pembinaan dan pengembangan yang sejenis”. Oleh pemerintah saat itu. Ormas dianggap sebagai alat yang sangat efektif dalam pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan dimana terdapat penguasa yang bertindak sebagai pengatur di dalamnya.

namun terpaksa diadakan karena kebutuhan rezim Orde Baru yang ingin menerapkan konsep “wadah tunggal”. Dalih kebebasan berserikat yang tertuang . Namun pada sisi yang lain. dikatakan pula bahwa bentuk Ormas sebenarnya tidak memiliki tempat dalam kerangka hukum di Indonesia. Setelahnya. fungsi dan perannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seringkali diabaikan. gerakan reformasi yang pada tahun 1998 mencapai puncaknya telah mendorong warga negara untuk menegakkan kembali upaya pemajuan dan perlindungan HAM. yang lampirannya memuat “Pandangan dan Sikap Bangsa Indonesia terhadap Hak Asasi Manusia”. Reaksi warga negara seperti ini dinilai wajar. Koalisi Kebebasan Berserikat dalam salah satu tulisannya menegaskan bahwa UU Nomor 8 Tahun 1985 lahir dalam semangat mengontrol dan merepresi dinamika organisasi masyarakat. filosofi. warga negara yang di masa sebelumnya mengalami ketakutan untuk bersikap kritis kemudian bangkit dan bergerak menjalankan fungsi penyeimbang di tengah kekuasaan eksekutif. kebebasan yang diidam-idamkan selama ini secara perlahan tapi pasti mampu menjadi sebuah kekuatan besar yang menggerakkan opini masyarakat dan berkembang menjadi ancaman bagi eksistensi pemerintahan yang berkuasa saat itu juga. Upaya pemajuan dan perlindungan HAM pasca reformasi mendapat sambutan dari pemerintah. dan yudikatif. Bahkan. masyarakat seakan-akan saling berlomba untuk mendirikan Ormas. Alasan motif pendirian. seiring rezim yang berganti dengan keran demokrasi yang terbuka lebar.tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights) pada 23 Maret 1976. dalam hal ini Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang mengesahkan Ketetapan MPR Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Di setiap daerah. Kritik dan koreksi terhadap gaya pemerintahan Orde Baru yang otoritarian di masa silam gencar dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki hubungan rezim yang baru dengan penegakkan HAM. terutama bila menghitung masa tigapuluh dua tahun kepemimpinan rezim yang menggigit nilai-nilai kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat. legislatif. tujuan. UU Ormas dan Relevansinya Terhadap Sosiopolitik Saat Ini Dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia.

058. pemerintah membutuhkan sebuah isu yang mampu melegitimasi kebijakannya tersebut. upaya di atas hanya akan melahirkan hasil nihil. Pemerintah yang merasa harus menjaga kewibawaannya. di tingkat provinsi 14.413 . Beberapa diantaranya bahkan lebih sering menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban. Alasan Ormas Anarkis dibalik RUU Ormas Beberapa bulan terakhir ramai dibahas oleh berbagai kalangan dan media nasional mengenai usulan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk merevisi UU Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang selama ini menjadi dasar hukum bagi warga negara untuk membentuk perkumpulan dalam bentuk organisasi kemasyarakatan.dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik menjadi landasan pendirian tanpa perijinan resmi sesuai aturan hukum yang berlaku. Bila syarat ini tidak terpenuhi. Pertimbangan mengenai usulan revisi tersebut dilatarbelakangi opini yang menganggap UU Ormas Nomor 8 Tahun 1985 sudah tidak relevan lagi untuk mengimbangi gerak organisasi kemasyarakatan yang semakin dinamis. bermunculan Ormas-ormas yang rentan menjadi corong bagi pemangku kepentingan tertentu untuk mencapai tujuan politis. Akibatnya. Hal ini bisa dilihat dari upaya pemerintah dan DPR untuk mengganti atau merevisi UU Nomor 8 Tahun 1985 sebagai strategi utama dengan menempatkannya dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) periode 2005-2009 yang tidak mengalami pembahasan sedikitpun. yakni sebanyak 65. Untuk mengurangi reaksi negatif dalam upaya pengendalian Ormas. 9. Kenyataan di lapangan. mengenai Ormas yang tidak selamanya menjadi garda terdepan dalam memberikan contoh hidup berdemokrasi yang baik menambah bobot pertimbangan pemerintah untuk segera mendudukkan fungsi Ormas seperti yang dikehendaki. Meskipun. mendapatkan stigma sebagai Ormas yang menjalankan agenda pihak asing. mau tak mau mencari jalan untuk mengendalikan laju gerak Ormas yang semakin tak terkendali. dalam upaya pengendalian Ormas pemerintah sudah dipastikan akan menghadapi penolakan yang masif akibat telah lamanya kebebasan berserikat ini berjalan.577. atau Ormas yang giat mendiskreditkan pemerintah. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sempat merilis jumlah Ormas yang tercatat di Indonesia. Rinciannya.

Mencabut UU Ormas.106 Ormas. Ahad (4/3/2012) lewat pernyataannya yang mendesak pemerintah untuk segera membuat undang-undang keormasan agar bisa menyikapi Ormas yang dinilai anarkis. lebih . menyampaikan keberatannya. Kalla memberi contoh. Bukan Merevisi Sejak revisi UU Ormas masuk dalam Prioritas Prolegnas 2011 dan telah resmi menjadi RUU Usul Inisiatif DPR melalui Rapat Paripurna DPR 21 Juli 2011. apabila Ormas yang bermasalah dibubarkan. Hal ini dipertegas oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md. akan menyulitkan pengendalian terhadap Ormas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah yang luar biasa dari data di atas menurut Kepala Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa. Ketakutan perihal RUU Ormas yang membawa semangat rezim seperti Orde Baru. selama ini pemerintah kebingungan untuk membubarkan Ormas anarkis karena tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan harus berhadapan ancaman pelanggaran HAM. Mahfud melanjutkan. kepada Tempo. Bagi Kalla yang penting adalah menindak tegas pelaku kekerasan bukan membubarkan organisasinya. Isu anarkisme kelompok (Ormas) yang menjadi dasar pemerintah untuk merevisi UU Ormas yang lama justru malah mendapatkan lebih banyak penolakan. Beberapa pengamat menyatakan tindak kekerasan yang dilakukan oknum anggota Ormas tidak efektif untuk dijadikan alasan pembubaran Ormas terkait. berbagai elemen Ormas baik keagamaan maupun yang tidak. Politik dan Perlindungan Masyarakat Kementerian Dalam Negeri (Kesbangpolinmas Kemendagri). Alasan pemerintah untuk merevisi UU Ormas semakin kuat manakala di saat yang hampir bersamaan bermunculan isu penolakan dari berbagai elemen masyarakat terhadap beberapa Ormas yang dinilai anarkis dalam menjalankan aktivitasnya. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Eryanto Nugroho menyatakan bahwa tindakan tegas terhadap Ormas pembuat onar tidak ada kaitannya dengan RUU Ormas yang sedang dibahas di DPR. Eryanto menambahkan bahwa untuk menghukum oknum Ormas yang bertindak anarkis cukup dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).Ormas dan di tingkat kabupaten dan kota mencapai 42. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla turut melontarkan pernyataan senada. Tantribali Lamo. tidak ada jaminan pengurus yang lama tidak membentuk Ormas yang baru dikemudian hari.

negara dapat masuk kedalam wilayah manifestasinya. nelayan). dsb. yaitu forum externum. Agak sedikit berbeda dengan HTI. Masih menurut Ismail. tidak boleh menerobos masuk kedalam wilayah internal (forum internum) mereka yang termasuk dalam organisasi kemasyarakatan itu. Jakob Tobing. Drs. panti jompo. melalui undang-undang sebatas dalam rangka menjaga ketenteraman dan ketertiban. dan menyatakan pendapat. sektoral (kelompok tani. UU Ormas tidak layak untuk direvisi melainkan harus dicabut. 9. menjelaskan bahwa negara tidak boleh membatasi sebuah ormas keagamaan bila itu menyangkut wilayah hubungan hati nurani umat dengan imannya. KKB berpendapat RUU Ormas ingin menggeneralisasi semua bentuk organisasi yang ada hanya dengan menggunakan satu label. Konferensi Wali Gereja (KWI) yang diwakili Romo Benny Susetyo menyatakan RUU Ormas yang sedang diuji ke publik sangat terasa mewakili paradigma pemerintah yang ingin terlalu ingin mengintervensi kepada kehidupan ormas. Jumat (18/11/2011). KKB mengambil contoh mulai dari Pasal 1. Oleh karena itu setiap bentuk pengaturan perundang-undangan atas kebebasan berserikat. KKB melihat kerancuan RUU Ormas dalam pengaturan seluruh bentuk Ormas dikarenakan tidak adanya definisi yang jelas terhadap istilah Ormas itu sendiri. Penyematan satu label ini mencakup semua organisasi yang selama ini menginduk kepada Kementerian Sosial (yayasan yatim piatu.). berkumpul. dan 10 yang dari kesemuanya tidak . kesehatan (Posyandu. Sekelompok organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Kebebasan Berserikat (KKB) lebih tegas dalam mengkritisi RUU Ormas. Terkait hal ini Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto mengangkat salah satu pasal yang mewajibkan Ormas berasaskan tunggal Pancasila. M. dsb. Kementerian Dalam Negeri (Ormas). Kepada Republika. Jakob melanjutkan. Ismail menyatakan bahwa asas tunggal merupakan manivestasi kegagalan dari rezim Orde Baru dengan segala kebobrokannya. rezim tersebut tumbang karena memaksakan Pancasila sebagai asas tunggal dan mengembalikan asas tersebut sama dengan mengingkari semangat reformasi.. dan semua bentuk organisasi yang dibentuk oleh masyarakat. Menurut KKB.banyak diutarakan sebagai dasar kegelisahan.). 8. 4. yakni Ormas.P. Pernyataan keberatan Ormas keagamaan seperti KWI terhadap RUU Ormas sangat wajar diutarakan karena terkait dengan hubungan dimensi internal (forum internum) dan eksternal (forum eksternum) dalam kehidupan kebersamaan.A. Kementerian Hukum dan HAM (LSM).

Kebebasan berserikat dan berkumpul sesungguhnya cukup dinaungi UUD Pasal 28 yang dalam kacamata hukum kedudukannya lebih tinggi dari Undang-undang dan Peraturan Pemerintah. LSM. dan Perhimpunan menyatakan pendapatnya untuk menolak RUU Ormas dan mencabut UU Ormas Nomor 8 Tahun 1985. KKB mewakili seluruh Ormas. Ada beberapa hal yang harus dibahas demi mendapatkan kejelasan tentang fenomena kedudukan Ormas dimata hukum. . RUU Yayasan dan RUU Perkumpulan UU Ormas harus dicabut dan bukan direvisi. dari keseluruhan RUU Ormas terlalu banyak masalah yang harus dipecahkan. berkumpul. semangat penyusunan RUU Ormas yang dicurigai ingin mengembalikan kewenangan mengekang kebebasan berserikat seperti rezim Orde Baru.ditemukan definisi dan batasan yang jelas tentang bagaimana bentuk organisasi atau perkumpulan bisa dikategorikan sebagai Ormas. seharusnya pemerintah mencukupkan diri untuk fokus pada pengesahan kedua RUU tersebut di atas. hukum Indonesia menyediakan jenis badan hukum berbentuk Yayasan yang diatur melalui UU Yayasan. dan berserikat. hukum Indonesia menempatkan pada badan hukum Perkumpulan yang hingga saat ini masih diatur dalam peraturan kuno Staatsblad 1870 Nomor 64 Tentang PerkumpulanPerkumpulan Berbadan Hukum (Rechtspersoonlijkheid van Vereenigingen). RUU Perkumpulan dan RUU Yayasan lebih memiliki dasar hukum daripada RUU Ormas. Karena itu. RUU Perkumpulan dan RUU Yayasan telah masuk dalam Prolegnas 2010-2014. Terlebih lagi. Sedangkan untuk organisasi yang memiliki keanggotaan. Maka. Mulai dari terminologi Ormas yang terlalu luas. Pasal-pasal pembekuan dan pembubaran dalam UU Ormas juga diartikan sebagai pasal karet yang multi tafsir. hingga tumpang tindihnya payung hukum yang melindungi kebebasan berserikat. Lahirnya UU Ormas yang baru hanya berpotensi menimbulkan gangguan dalam penerepan kebebasan berserikat dan berkumpul sebagai bagian dari bentuk ekspresi masyarakat yang demokratis. Untuk organisasi tanpa anggota. KKB menyimpulkan. Kerangka hukum yang disediakan untuk organisasi kemasyarakatan di Indonesia terbagi menjadi 2 (dua) jenis. UU Ormas memuat ancaman pembekuan dan pembubaran yang memaksa tanpa menjelaskan mekanisme peradilan yang seimbang. Kecacatan dalam UU Ormas begitu jelas mengancam kebebasan berekspresi. Yayasan.

republika.co. http://budisansblog.com/pusatdata/detail/2651/nprt/775/uu-no-8-tahun-1985organisasi-kemasyarakatan 4.com/read/news/2012/02/17/82224/Kalla-Tak-Setuju-FPI-Dibubarkan/1 6. UU Nomor 16 Tahun 2001 . http://www.hukumonline. UU Nomor 8 Tahun 1985 16.html 9.DAFTAR PUSTAKA 1. http://metrotvnews. PP Nomor 18 Tahun 1986 17. International Covenant on Civil and Political Rights 15.id/berita/nasional/umum/11/11/18/luurcj-hti-tolak-asas-tunggalpancasila-di-ruu-ormas 3.or.com/read/detail/1831365/kemendagri-desak-uu-ormas-diganti 11.hukumonline. http://www. http://www.com/2012/04/18/analisis-cost-benefit-of-ruu-organisasikemasyarakatan/ 10.com/read/2012/02/17/173316/1845443/10/wow-kemendagri-catatjumlah-ormas-di-indonesia-65577?nd992203605 7.com/klinik/detail/cl6163/prosedur-pendirian-perkumpulanberbadan-hukum 8. UU Nomor 12 Tahun 2005 14.id/2012/02/16/jubir-hti-pemerintah-diskriminasi-terhadap-fpi/ 2. http://birokrasi. http://news. Staatsblad 1870 Nomor 64 13. Pasal 28 UUD 1945 18. Draft RUU Perkumpulan 19.com/2012/03/ruu-ormas-dan-konsolidasi-demokratis. http://www.detik. http://nasional.inilah. Draft RUU Ormas 12.com/berita/baca/lt4f1840ec4719c/ormas-berbasis-keagamaanpreteli-ruu-ormas 5.kompasiana.hukumonline.blogspot. http://hizbut-tahrir.