You are on page 1of 15

EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN Kesetaraan Gender dalam Pembagian Kerja

Disusun Oleh:

Fahmiyah Sifatil Izza 105040100111085 Kelas B

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keterbatasan modal merupakan permasalahan yang paling umum terjadi dalam usaha, terutama bagi usaha kecil seperti usahatani. Ciri khas dari kehidupan petani adalah perbedaan pola penerimaan, pendapatan, dan pengeluarannya. Hasil produksi hanya diterima petani setiap musim sedangkan pengeluaran harus diadakan setiap hari, setiap minggu atau kadang-kadang dalam waktu yang sangat mendesak seperti kematian, pesta perkawinan dan selamatan lain. Petani kaya dapat menyimpan hasil panen untuk kemudian dijual sedikit demi sedikit pada waktu diperlukan sedangkan petani gurem. Peningkatan aktifitas dalam pertanian juga mempunyai keterkaitan dengan adanya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. Perempuan sebenarnya sudah berperan dalam pengadaan pangan untuk keluarga, namun fenomena ini menjadi suatu hal yang dianggap serius. Bentuk keterlibatan tersebut ditandai melalui dua proses yaitu meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja dan juga meningkatnya bidang pekerjaan yang dapat dimasuki oleh pekerja perempuan. Kaum perempuan sangat berperan penting dalam pengembangan sektor pertanian di pedesaan. Ketidakadilan gender pada perempuan terjadi karena pembangunan mengabaikan aspek manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam pembangunan. Oleh karena itu, kesetaraan gender merupakan persoalan pokok pembangunan yang akan memperkuat dan memajukan pembangunan pertanian. Salah satu hal yang mendasar bagi pembangunan pertanian adalah dengan adanya kebijakan dari pemerintah bagi permasalahan yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Pengarusutamaan Gender merupakan sebuah strategi dalam mencapai keadilan dan kesetaraan gender.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimana kesetaraan gender dalam pembagian kerja pada keluarga petani ladang? 1.3 Tujuan Untuk mengetahui kesetaraan gender dalam pembagian kerja pada keluarga petani ladang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Gender Gender menurut pendapat Wood (2001) yang dicuplik oleh Mugniesyah (2005) merupakan suatu bentukan atau kontruksi sosial mengenai perbedaan peran, fungsi, serta tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan serta bagaimana laki-laki berperilaku maskulin dan perempuan berperilaku feminin menurut budaya yang berbeda-beda. Relasi gender secara lebih luas dapat dikatakan sebagai sebuah faktor penentu yang dapat menentukan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, sumberdaya, kesehatan, harapan hidup, dan kebebasan dalam bergerak dan kebebasan dalam menentukan pilihan. Relasi gender dapat berubah dan berbeda dari satu budaya, kawasan dan wilayah tertentu. Istilah gender merupakan penafsiran masyarakat tentang perbedaan peranan, fungsi, dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan bentukan yang terjadi dalam waktu yang lama mengikuti perkembangan zaman dan lingkungan masyarakat sehingga menjadi suatu kebudayaan yang kerapkali mempengaruhi interaksi antar-masyarakat (lakilaki dan perempuan) (Fakih 1996). Konsep gender diartikan sebagai perbedaan-perbedaan (dikotomi) sifat perempuan dan laki-laki yang dikontruksikan oleh sistem nilai budaya dan struktur sosial dimana perempuan dan laki-laki menjadi anggotanya dan kemudian menentukan peranan dan status perempuan dan laki-laki dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan bernegara. Sehubungan dengan hal tersebut, analisis gender perlu dilakukan dalam tingkatan keluarga, masyarakat, dan negara. Di tingkat keluarga atau rumahtangga, analisis gender dilihat dari (1) pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki dalam kegiatan produktif, reproduktif, dan pengelolaan kelembagaan masyarakat serta curahan waktu dalam kegiatan tersebut, (2) akses dan kontrol perempuan terhadap sumberdaya keluarga (lahan, anak, harta, dan pendidikan). Di tingkat masyarakat, analisis gender menyoroti akses dan kontrol laki-laki serta perempuan terhadap sumberdaya yang mencakup

informasi, kredit, teknologi, pendidikan/penyuluhan/ pelatihan, sumberdaya alam, peluang bekerja, dan berusaha, sementara di tingkat negara atau pemerintahan dapat dipelajari melalui kebijaksanaan pembangunannya. Perbedaan gender sesungguhnya tidak menimbulkan permasalahan sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun, yang menjadi persoalan adalah jika perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana baik laki-laki maupun perempuan menjadi korban dalam sistem tersebut. Perbedaan gender dapat menimbulkan permasalahan seputar ketidakadilan gender yang mencakup stereotipe, beban kerja, subordinasi, marjinalisasi, dan kekerasan.

2.2 Peran dan Relasi Gender Peran gender adalah peranan yang dilakukan perempuan dan laki-laki sesuai status, lingkungan, budaya, dan struktur masyarakatnya. Adapun yang dimaksud dengan peranan gender adalah perilaku yang diajarkan pada setiap masyarakat, komunitas, dan kelompok sosial tertentu yang menjadikan aktivitas, tugas-tugas, dan tanggungjawab tertentu dipersepsikan sebagai peran perempuan dan laki-laki. Moser (1993) berpendapat seperti yang telah dicuplik oleh Mugniesyah (2006) mengemukakan adanya tiga kategori peranan gender yaitu: 1. Peranan produktif, yakni peranan yang dikerjakan perempuan dan laki-laki untuk memperoleh bayaran/upah secara tunai atau sejenisnya. Termasuk produksi pasar dengan suatu nilai tukar, dan produksi

rumahtangga/subsisten dengan nilai guna, tetapi juga suatu nilai tukar potensial. Contohnya: kegiatan bekerja baik di sektor formal maupun informal. 2. Peranan reproduktif, yakni peranan yang berhubungan dengan

tanggungjawab pengasuhan anak dan tugas-tugas domestik yang dibutuhkan untuk menjamin pemeliharaan dan reproduksi tenaga kerja yang menyangkut kelangsungan tenaga. Contoh: melahirkan, memelihara

dan mengasuh anak, mengambil air, memasak, mencuci, membersihkan rumah, memperbaiki baju, dan lain sebagainya. 3. Peranan pengelolaan masyarakat dan politik. Peranan ini dibedakan ke dalam dua kategori berikut: a. peranan pengelolaan masyarakat (kegiatan sosial), yang mencakup semua aktivitas yang dilakukan dalam tingkat komunitas sebagai kepanjangan peran reproduktif, bersifat sukarela (volunteer), dan tanpa upah. b. pengelolaan masyarakat politik, yakni peranan yang dilakukan pada tingkat pengorganisasian komunitas pada tingkat formal secara politik, biasanya dibayar (langsung ataupun tidak langsung), dan meningkatkan kekuasaan atau status. Peranan gender berhubungan dengan relasi gender yang menurut Agarwal (1994) dalam Mugniesyah (2006) diartikan sebagai suatu hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki yang terlihat pada lingkup gagasan, praktik dan representasi yang meliputi pembagian kerja, peranan, dan alokasi sumberdaya antara laki-laki dan perempuan.

2.3 Kesetaraan dan Keadilan Gender Menurut konsep ILO dalam Mugniesyah (2007), pengertian tentang keadilan gender (gender equity) merupakan keadilan perlakuan bagi laki-laki dan perempuan berdasar pada kebutuhan-kebutuhan mereka, mencakup perlakuan setara atau perlakuan yang berbeda akan tetapi dalam koridor pertimbangan kesamaan dalam hak-hak, kewajiban, kesempatan-kesempatan, dan manfaat. Selanjutnya, kesetaraan gender (gender equality) adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan untuk mengembangkan kemampuan personal mereka dan membuat pilihanpilihan tanpa pembatasan oleh seperangkat stereotipe, prasangka, dan peran gender yang kaku. Dalam hal ini kesetaraan gender bukanlah berarti laki-laki dan perempuan menjadi sama, akan tetapi pada hak-hak, tanggungjawab, dan kesempatan mereka yang tidak ditentukan karena mereka terlahir sebagai laki-laki dan perempuan.

2.4 Usahatani dan Rumatangga Pertanian Definisi usahatani menurut Rifai dalam Soehardjo (1973) ialah setiap organisasi dari alam tenaga kerja dan modal, yang ditujukan pada produksi di lapangan pertanian. Ketatalaksanaan organisasi itu sendiri diusahakan oleh seseorang atau sekumpulan orang. Dari batasan itu dapat diketahui bahwa usahatani terdiri atas manusia petani (bersama keluarganya), tanah (bersama dengan fasilitas yang ada di atasnya seperti bangunan-bangunan, saluran air), dan tanaman ataupun hewan ternak. Usahatani merupakan unit usaha yang dilakukan oleh petani dalam mempengaruhi komponen agroekosistem dan interaksinya untuk mendapatkan hasil dalam bentuk tanaman, ternak, ikan baik di lahan basah maupun lahan kering, dimana hasilnya dimaksudkan untuk digunakan oleh keluarganya sendiri atau dijual untuk mencapai status sosial serta untuk konservasi tanah, air, dan keanekaragaman hayati. Kemudian menurut Fardiyanti dalam Sunarso (2005) usahatani adalah kegiatan pertanian yang mengorganisasikan alam, tenaga kerja, dan modal yang ditujukan untuk produksi di bidang pertanian. Usahatani merupakan kegiatan yang memanfaatkan faktor produksi (sumberdaya modal, tenaga kerja dan alam) dalam proses produksinya untuk diolah guna menghasilkan produk yang berguna bagi kelangsungan hidup manusia baik dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan secara subsisten ataupun secara komersil. Sehubungan dengan rumah tangga pertanian, Nurhilailah (2003) dalam Hartomo (2007) menyatakan bahwa rumah tangga pertanian adalah rumah tangga yang sekurang-kurangnya satu anggota rumah tangganya melakukan kegiatan bertani atau berkebun, menanam tanaman kayu-kayuan, budidaya ikan, melakukan perburuan atau penangkapan satwa liar, mengusahakan ternak seperti unggas atau berusaha dalam jasa pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya dijual atau untuk memperoleh pendapatan atau keuntungan atas resiko sendiri. Roger dan Shoemaker dalam Hartomo (2007) menyatakan terdapat tiga karakteristik yang melekat pada masyarakat petani sebagai adopter inovasi yaitu status sosial ekonomi, kepribadian, dan perilaku komunikasi. Karakteristik sosial ekonomi meliputi umur, tingkat pendidikan, tingkat

melek huruf, status sosial, mobilitas sosial, luas lahan, orientasi usaha, dan sikap terhadap kredit. Karakteristik kepribadian diantaranya empati, dogmatisme, sikap terhadap perubahan, sikap terhadap resiko, aspirasi (terhadap pekerjaan dan pendidikan), serta motivasi, sementara perilaku komunikasi mencakup partisipasi sosial, integrasi sosial, perilaku kosmopolit, serta kontak dengan penyuluh, dan media massa. Berpijak dari konsep tersebut, maka karakteristik petani adalah ciri-ciri yang melekat pada individu petani yang dapat membedakannya dengan petani lainnya. Dalam penelitian ini karakteristik pribadi petani akan dibatasi pada lingkup: (1) pendidikan formal yang dialami petani, (2) umur, (3) pengalaman berusahatani, (4) pendapatan, dan (5) tingkat kekosmopolitan petani.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Kesetaraan gender dalam pembagian kerja pada keluarga petani ladang Dalam masyarakat patriarkhi, hubungan pembagian kerja tidak

menampakkan pola keseimbangan. Dalam pekerjaan, laki-laki lebih dihargai dibandingkan pekerjaan perempuan. Pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan sangat sedikit mendapatkan penghargaan. Hal ini diakibatkan oleh kontruksi sosial berdasarkan tubuh perempuan dan laki-laki. Pembagian yang tidak seimbang ini banyak dirasakan oleh kaum perempuan hingga melahirkan beban kerja. Dengan demikian, kondisi kaum perempuan banyak diintimidasi oleh sistem patriarkhi, sedangkan kaum laki-laki lebih banyak menguasai kerja-kerja disektor publik. Kesepakatan yang dibuat laki-laki akan melahirkan budaya patriarkhi. Budaya patriarkhi ini akan tetap hidup dan terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat yang bias gender. Dengan kondisi seperti ini, maka akan muncul suatu aturan yang menegaskan bahwa perempuan diposisikan sebagai bidan atau perawat dalam konsep pemikiran laki-laki, sehingga perempuan sering disebut dengan makluk hidup yang menempati kelas dua. Dengan kondisi seperti ini, posisi dan status perempuan semakin terpojokkan dan termarginalisasikan dari kehidupan yang seharusnya dibangun bersama. Selain posisi yang terpinggirkan, posisi kelas dua yang diberikan oleh budaya patriarkhi kepada kaum perempuan juga sangat mempengaruhi kinerja dan keberadaan kaum perempuan sebagai manusia yang berinteraksi dalam masyarakat patriarkhi. Dengan demikian, pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan menjadi tidak memadai atau berkualitas. Munculnya anggapan bahwa pekerjaan perempuan tidak berkualitas disebabkan oleh nilai-nilai dalam masyarakat patriarkhi yang menganggap kaum perempuan tidak bisa bekerja. Kaum perempuan hanya bisa menerima dan menikmati hasil dari pekerjaan yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Hal ini dikarenakan Seperti yang terjadi oleh budaya patriarkhi yang memposisikan kaum lakilaki sebagai pemimpin dan pencari nafkah bagi perempuan. Dengan

demikian, posisi perempuan hanya dianggap sebagai pembantu atau perawat yang melakukan pekerjaan sebatas melayani kepentingan laki-laki.

Munculnya anggapan yang menyudutkannpekerjaan yang dilakukan oleh perempuan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) bentuk fisik lakilaki dan fisik perempuan, dimana fisik perempuan dikatakan tidak sekuat tubuh laki-laki yang dimitoskan tidak kuat dalam bekerja; (2) perempuan adalah makhluk yang berperasaan halus, lemah-lembut, suka sifatnya menata. Faktor-faktor tersebut mengakar dengan sangat kuat, sehingga perempuan selalu diberikan pekerjaan yang ringan atau yang bersifat pekerjaan melayani dan merawat. Meskipun demikian, pekerjaan melayani dan merawat telah mengekang keberadaan kaum perempuan dalam kurungan domestisasi, sedangkan kaum laki-laki bebas lepas menguasai, merancang, mengisi dunia publik yang lebar dengan beragam warna. Pembagian kerja gender adalah pola pembagian kerja antara pasangan suami-istri yang disepakati bersama, serta didasari oleh sikap saling memahami dan saling mengerti. Pembagian kerja tersebut diciptakan oleh pasangan dalam keluarga pada sektor publik dan sektor domestik. Pembagian kerja tersebut tidak dilakukan berdasarkan konsep tubuh laki-laki dan tubuh perempuan, melainkan atas kerjasama yang harmonis dalam membangun keluarga. Semenjak masa kanak-kanak, pembagian kerja menurut jenis kelamin dan telah disosialisasikan dalam keluarga pada setiap individu. Hal ini dilakukan agar seorang individu mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya dalam keluarga, dan bahkan dalam masyarakat. Atau dengan kata lain, pola sosialisasi yang diterapkan dalam keluarga akan membentuk kepribadian seseorang. Berkaitan dengan hal itu, Mead dalam Hadar (1989: 32) mengatakan bahwa sesungguhnya pria dan wanita adalah makhluk yang belajar berperilaku, mereka sebagai orang dewasa tergantung dari pengalamanpengalaman di masa kanak-kanak. Pengalaman yang didapatkan dari proses belajar di masa kecil akan terus mengiringi pola tingkah laku seseorang dalam berinteraksi dengan keluarga dan orang lain.

10

Pembagian kerja secara seksual oleh laki-laki dan perempuan telah menjadi kesepakatan masyarakat awam atas tubuh perempuan dan tubuh laki-laki, sehingga akan muncul nilai-nilai dan norma yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan, baik dalam keluarga dan lembaga masyarakat. Pada umumnya anak laki-laki berorientasi pada jenis pekerjaan yang biasa dilakukan setiap hari sedangkan anak perempuan lebih banyak berorientasi kepada ibunya. Faktor-faktor tersebut menumbuhkan kesadaran gender pada keluarga petani ladang untuk menerapkan praktik pembagian kerja yang seimbang, baik di dalam maupun di luar rumah. Pembagian kerja tersebut juga melahirkan nilainilai dan sikap yang menghargai dan memposisikan istri (perempuan) tanpa menimbulkan ketimpangan gender pada keluarga petani ladang tersebut. Hal ini dapat ditandai dengan beberapa hal, seperti tidak adanya marginalisasi, serta tidak adanya subordinasi perempuan dan budaya patriarkhi dalam hubungan keluarga. Selanjutnya, pola pembagian kerja yang terjadi dalam keluarga petani ladang justru memposisikan laki-laki (suami) sebagai pencari nafkah keluarga dan memposisikan istri sebagai mitra kerjasama, termasuk dalam pengambilan keputusan keluarga. Posisi perempuan (istri) tetap sebagai penanggung jawab tugas-tugas rumahtangga secara khusus, akan tetapi dalam pekerjaan yang bersifat umum, suami akan melibatkan diri untuk melakukannya atau dan tidak jarang suami terlibat dalam pekerjaan rumahtangga, seperti membersihkan pekarangan rumah, membakar sampah, atau menimba air. Peran gender yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan akan menciptakan suasana yang tidak harmonis dan tidak adil bagi keduanya. Peran gender harus ini dilakukan dalam landasan kemanusiaan, sebagai manusia yang mempunyai kelebihan dan kelemahan secara kodrati. Peran gender yang harus dimainkan oleh individu dan masyarakat adalah peran yang saling memahami, saling membantu, dan saling menghargai setiap perbedaan yang terdapat pada diri manusia maupun dalam masyarakat, tanpa mempertimbangkan perbedaan bentuk tubuh yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

11

Peran gender yang dilakukan oleh masyarakat dari dulu hingga sekarang ini selalu merujuk pada konsep patriarkhi, sehingga memunculkan peran gender yang tidak seimbang. Peran yang tidak seimbang tersebut memunculkan ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum perempuan. Banyak kaum perempuan yang menjadi korban ketidakadilan gender yang berjalan dalam masyarakat. Akibat perlakuan tersebut, muncul konflik berupa tuntutan keadilan bagi kaum perempuan yang dikenal dengan konsep emansipasi. Emansipasi merupakan suatu konsep dimana kaum perempuan menuntut haknya disesuaikan dengan keberadaan laki-laki yang terlalu berkuasa dalam segala aspek kehidupan. Penempatan kaum perempuan yang tidak seimbang akan menciptakan ketidak harmonisan dalam membina kehidupan rumahtangga dan masyarakat. Selain itu, peran gender yang tercipta juga akan membuat kondisi yang keruh, karena tidak adanya penghargaan, pengertian, dan pemahaman yang selalu merujuk pada aturan yang disepakati oleh kaum laki-laki. Masyarakat patriarkhi senantiasa mengaitkan konsep tubuh yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan, dimana perbedaan tersebut telah melahirkan sebuah pemikiran masyarakat yang membuat aturan main gender berdasarkan konsep tubuh, bukan melihat pada penempatan individu berdasarkan kemanusiaan. Konsep tubuh ini selalu dipergunakan oleh masyarakat sehingga menciptakan stereotipe yang berbeda bagi lakilaki dan perempuan. Stereotipe gender yang didasarkan konsep tubuh tersebut sangat mempengaruhi peranan gender yang dilakukan oleh masyarakat. Peranan gender yang dilakukan bertahun-tahun diserap dan menjadi baku dalam pola pikir masyarakat, sehingga menimbulkan peranan gender yang tidak seimbang. Peranan gender yang tidak seimbang ini lebih dirasakan oleh kaum perempuan daripada kaum laki-laki yang tidak memiliki banyak tuntutan dan aturan. Hal ini mengakibatkan kaum lelaki cenderung dapat membela diri dengan mengatakan bahwa sektor domestik adalah kodrat perempuan. Kalimat tersebut sangat sering ditemui, dan bahkan dianggap sebagai kebenaran objektif dari realitas sosial yang ada, khususnya dalam keluarga. Karena pada dasarnya, proses pengambilan peran gender ini dimulai

12

dalam keluarga sebelum memasuki sistem sosial yang lebih luas. Secara tidak langsung, dapat dikatakan bahwa keluarga menjadi institusi yang meneruskan peran gender yang tidak seimbang kepada generasi selanjutnya. Peran gender yang tidak seimbang ini tidak akan terjadi pada keluarga yang mempunyai pola pikir positif dan sikap saling bekerjasama tanpa melihat perbedaan bentuk tubuh laki-laki dan perempuan. Selain itu, pola pikir praktis dan sederhana bagi keluarga yang tidak mengecap pendidikan tinggi akan menciptakan keharmonisan peranan gender, seperti yang terdapat pada lokasi penelitian. Budaya gender yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya selalu merujuk pada konsep patriarkhi yang telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat dalam sisi penerapannya. Akan tetapi, jika budaya gender ini juga disisipkan dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat, akan mewujudkan kinerja atau peranan gender yang seimbang antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak akan muncul pembedaan pria dan wanita secara sosial yang disebut peran gender. Peran gender yang dibedakan oleh masyarakat tersebut mempunyai sifat yang dinamis, atau dapat dikatakan dapat berubah dalam strata ataupun kondisi sosial yang berbedabeda dalam masyarakat. Dalam konteks ini, peran gender yang maksud adalah peran gender yangmerat kaitannya dengan pembagian kerja. Selain itu, penelitian ini juga mencari bentuk-bentuk pembagian kerja yang seimbang pada keluarga petani ladang. Karena secara alami, laki-laki dan perempuan dilihat sebagai sumber daya manusia yang harus mendapatkan perlakukan yang sama. Berpatokan pada pembagian kerja gender yang seimbang yang terjadi dalam keluarga petani ladang, ditemukan adanya kekaburan (diffusiness) nilai dalam konsep pembagian kerja yang jelas di antara keduanya. Kekaburan pembagian kerja pada keluarga petani ladang terjadi karena dimasukinya sektor domestik oleh kaum laki-laki. Demikian pula sebaliknya, sektor publik yang dipantaskan bagi laki-laki juga dimasuki oleh perempuan (istri), sehingga dalam pembagian kerja tersebut, laki-laki dan perempuan dapat memasukinya dan melakukan berbagai aktifitas, baik dalam sektor domestik dan publik.

13

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Peran gender yang dilakukan oleh masyarakat dari dulu hingga sekarang ini selalu merujuk pada konsep patriarkhi, sehingga memunculkan peran gender yang tidak seimbang. Peran yang tidak seimbang tersebut memunculkan ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum perempuan. Penempatan kaum perempuan yang tidak seimbang akan menciptakan ketidak harmonisan dalam membina kehidupan rumahtangga dan masyarakat. Selain itu, peran gender yang tercipta juga akan membuat kondisi yang keruh, karena tidak adanya penghargaan, pengertian, dan pemahaman yang selalu merujuk pada aturan yang disepakati oleh kaum laki-laki.

4.2 Saran Ketidaksetaraan gender bagi peran wanita perlunya di perhatikan agar terciptanya keadilan antara laki-laki dan wanita dalam mencari tambahan perekonomian. Selain sebagai ibu rumah tangga, wanita juga memiliki peranan dalam penanggulangan kemiskinan.

14

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. Pendekatan Teoritis. http://repository.usu.ac.id. Di akses pada tanggal 28 Mei 2012.
Fakih, Mansoer. 1997. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nurlian, dan Harmona Daulay. 2008. Kesetaraan Gender dalam Pembagian Kerja Pada Keluarga Petani Ladang (Studi Kasus Analisa Isu Gender pada Keluarga Petani Ladang di Desa Cot Rambong, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya, NAD). http://repository.usu.ac.id. Di akses pada tanggal 28 Mei 2012.
Sadawi, Nawal, L. 2001 Perempuan Dalam Budaya Patriarkhi. Jakarta: Pustaka Pelajar.

15