You are on page 1of 5

TUGAS TINJAUAN SUMBER Fenomena Fans Club.

Sebuah Kajian Budaya Pop

Disusun Oleh NIM Jurusan

: Aris Setyawan : 1010373015 : Etnomusikologi

INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA Jurusan Etnomusikologi

Ada apa dengan budaya pop atau pop culture? Begitu pentingkah ia sehingga harus dibahas oleh banyak orang, termasuk akan dibahas dalam karya tulis ilmiah berjudul Fans Club. Sebuah Kajian Budaya Pop ini? Kalau boleh dibilang penting, apalagi bagi ranah Etnomusikologi. Karena etnomusikologi harus mengupas tuntas berbagai fenomena musik dan kebudayaan masyarakat pemilik musik tersebut, sedangkan budaya pop adalah budaya massa, budaya dominan masa kini. Wajarlah jika etnomusikologi harus menempatkan budaya pop sebagai concern utama pengkajiannya. Dalam rangka mengkaji budaya pop inilah penulis memutuskan mengkaji fenomena yang luar biasa, mengenai adanya fans club atau kelompok penggemar musik. Kenapa ini bisa disebut fenomena? Karena hampir semua orang melakukannya, semua orang menyukai musik, dan setiap orang akan memiliki cara tersendiri untuk mengapresiasi musik yang disukainya tersebut. Mulai dari hanya mendengarkan musiknya dan merasa cukup, hingga ada para pendengar yang tak sebatas mendengarkan musik tersebut, namun lantas menggemari dan menggilai sang artist pembuat karya. Sebagai makhluk sosial yang ingin berkumpul, lantas para penggemar ini berkumpul dan membuat sebuah kelompok penggemar. Fans club. Contoh luar biasanya fans club ini adalah saat Nazriel Irham atau akrab dipanggil Ariel, vokalis band Noah (dulu Peterpan) ditahan kepolisian karena kasus menyebarnya video porno sang vokalis tersebut. Meski masyarakat Indonesia menganggap video porno tersebut adalah tindak asusila yang harus dikecam, namun toh para fans dari Ariel tetap mencintai, menggilai, mendukung sang vokalis hingga mereka dengan rajin menjenguk sang idola di luar tembok penjara. Lalu karya tulis ini juga akan menjadi semacam studi komparasi dalam ranah etnomusikologi. Dimana akan dikomparasikan fenomena kelompok penggemar di budaya pop, dengan kelompok penggemar di budaya tradisi yang bahkan ternyata sudah ada. Untuk mendukung premis ini akan digunakan data

dari pustaka yang sudah ada, misalnya dari RM Soedarsono yang menjabarkan bahwa tiap pujangga atau dalang sekalipun selalu memiliki kelompok penggemar yang mengikuti tiap sepak terjang mereka. Bahkan kaum perempuan seolah rela diperistri dan dijadikan gundik hanya agar dapat dekat dengan sang seniman. Fenomena yang kadang diluar nalar ini tentu membuat bingung, dan akhirnya memunculkan pertanyaan: Sebenarnya para penggemar yang tergabung dalam Fans Club ini menggilai karya dari sang seniman, atau sang senimannya sendiri? Apa yang membuat mereka menjadi fanatis? Pesona dari karya seninya, atau kharisma dari sang senimannya? Pertanyaan inilah yang akhirnya mengerucutkan karya tulis ilmiah ini menjadi kajian etnomusikologi. Dengan premis dasar dari teori Psikologi Musik profesor Djohan, ditambah literatur dan data lain. Karya tulis ilmiah ini akan mencoba menjabarkan pengaruh musik pada kondisi psikologis pendengarnya. Bahwa aspek utama yang membuat seseorang memutuskan menggemari sebuah musik (dan menggemari artist pembuatnya) adalah efek musikal dari karya tersebut. Namun tentu saja kajian dalam karya ini tak hanya berhenti pada efek musikalitas saja, sebab fenomena budaya pop ini memang akan terkait dengan banyak isu. Sepeti postmodernisme, kapitalisme, ideologi, kondisi sosial, dan itu semua adalah kajian dari Etnomusikologi, karena tugas dari disiplin ilmu ini untuk mengkaji musik dan korelasinya dengan kondisi sosio kultural. Untuk itu diperlukan riset lebih lanjut dalam melengkapi karya tulis ilmiah ini, dan proses itu akan terjadi seiring waktu. Sementara itu dibawah ini adalah data pendukung berupa sumber literatur yang berhasil dikumpulkan.

Buku Sumber: 1. Jeremy Wallach, Modern Noise. Fluid Genres Popular Music in Indonesia. 1997-2001. Sebuah karya ilmiah yang baik membutuhkan data yang konkrit dan faktual. Data yang digunakan boleh data primer atau hasil penelitian langsung, maupun data sekunder atau kajian pustaka menggunakan hasil penelitian yang sudah ada. Untuk melengkapi data karya tulis mengenai Fans Club ini, akan digunakan data sekunder dari buku riset etnografi karya Jeremy Wallach berjudul Modern Noise. Fluid Genres Popular Music in Indonesia. 19972001. Buku ini akan menjabarkan peta besar musik populer di Indonesia dari tahun 1997-2001. Karena metode penelitian yang digunakan penulisnya adalah Etnografi, maka data yang didapatkan tentu lengkap dan rinci ke segala aspek. Dari situ penulis akan mendapatkan data mengenai musik-musik populer dan para fans atau penggemarnya. 2. RM Soedarsono, Judul Buku Belum Diketahui. Penulis memutuskan menggunakan buku karya Profesor Seodarsono untuk melengkapi karya tulisnya karena diputuskan bahwa karya tulis ilmiah ini akan menjadi sebuah studi komparasi dalam kajian etnomusikologi. Penulis akan mengkomparasikan bahwa ternyata fenomena fans club atau penggemar ini tak hanya terjadi di era modern atau postmodern. Namun juga terjadi di masa lampau, di era pujangga dan tradisi keraton. Penulis sempat mengetahui Profesor Soedarsono memiliki karya yang mengulas kehidupan pujangga maupun para dalang, dimana setiap senimannya selalu memiliki fans atau penggemar. Namun sayang penulis belum menemukan judul buku tersebut dan sedang dalam proses mencarinya. Dari buku tersebut akan diperoleh data untuk studi komparasi.

3. Theodor Adorno, The Culture Industry. Karya tulis ilmiah ini juga akan menjadi sebuah kajian pop culture atau budaya pop. Dimana budaya itulah yang dominan sekarang ini, seluruh budaya lain termasuk budaya tradisi yang dianggap adiluhung sekalipun harus tunduk dibawahnya. Maka pop culture bisa dianggap bertanggung jawab menggiring banyak orang menjadi fans atau penggemar bagi musisi tertentu. Dari buku ini kita akan mengetahui peta perkembangan pop culture lalu mencoba menelaah perkembangan budaya pop tersebut di Indonesia. 4. Yasraf Amir Piliang, Multiplisitas dan Diferensi. Pop culture akhirnya sampai pada titik nadirnya: postmodernisme. Era dimana segalanya adalah hiperrealitas dan mengalami kekosongan makna. Begitulah budaya pop, termasuk fenomena fans club atau kelompok penggemar yang menggilai para musisi dengan begitu luar biasa, bahkan kadang diluar nalar. Yasraf Amir Piliang adalah salah satu pemikir postmodernisme terbaik di Indonesia, bukunya ini akan mengkaji humanisme dalam pengaruh postmodernisme. Agar karya tulis ini dapat menjabarkan korelasi postmodernisme dan fenomena fans club. 5. Djohan, Psikologi Musik. Buku ini akan mengerucutkan karya tulis ilmiah ini menjadi kajian etnomusikologi dengan cara menjabarkan korelasi antara musik dan psikologi. Bahwa musik ternyata mampu memberi efek psikologis tertentu pada pendengarnya. Akan memerlukan riset lebih untuk mengetahui kondisi faktual sebenarnya dari pengaruh musik pada kondisi psikologis para fans atau penggemar musik tertentu. Namun buku karya Djohan ini agaknya cukup menjadi dasar atau tonggak bagi premis bahwa musik mempengaruhi psikologis seseorang, hingga akhirnya premis dasar ini menjadi awal riset lanjutan.