You are on page 1of 20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Gangguan-gangguan psikis yang sekarang dikenal sebagai skizofrenia, untuk pertamakalinya diidentifikasi sebagai “demence precoce” atau gangguan mental dini oleh Benedict Muler (1809-1873), seorang dokter kebangsaan belgia pada tahun 1890. Konsep yang lebih jelas dan sistematis diberikan oleh Emil Kraepelin (1856-1926), seorang psikiatri jerman pada tahun 1893. Kraepelin menyebutnya dengan istilah “dimentia praecox”. Menurut Kraepelin, dimentia praecox merupakan proses penyakit yang disebabkan oleh penyakit tertentu dalam tubuh. Dimentia praecox meliputi hilangnya kesatuan dalam pikiran, perasaan, dan tingkah laku. Penyakit ini muncul pada usia muda dan ditandai oleh kemampuan-kemampuan yang menurun yang akhirnya menjadi disintegrasi kepribadian yang kompleks. Gambaran Kraepelin tentang dimentia paecox ini meliputi pola-pola tingkah laku seperti delusi, halusinasi, dan tingkah laku yang aneh. Eugen Bleuler (1857-1939), seorang psikiater swiss, memperkenalkan istilah skizofrenia . Istilah ini berasal dari bahasa yunani schitos artinya terbelah, terpecah, dan pren yang artinya pikiran. Secara harafiah, skizofrenia berarti pikiran/jiwa yang terpecah/terbelah. Bleuler lebih menekankan pola perilaku, yaitu tidak adanya integrasi otak yang mempengaruhi pikiran, perasaan, dan afeksi. Dengan demikian tidak ada kesesuaian antara pikiran dan emosi, antara persepsi terhadap kenyataan yang sebenarnya.
1

PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gngguan Jiwa di Indonesia III) menempatkan skizofrenia pada kode F20. Skizofrenia termasuk dalam kelompok psikosis fungsional. Psikosis fungsional merupakan penyakit mental secara fungsional yang non organis sifatnya, hingga terjadi kepecahan kepribadian yang ditandai oleh desintegrasi kepribadian dan maladjustment sosial yang berat, tidak mampu mengadakan hubungan sosial dengan dunia luar, bahkan sering terputus sama sekali denga realitas hidup (lalu menjadi ketidakmampuan secara sosial). Hilanglah rasa tanggung jawabnya dan terdapat gangguan pada fungsi intelektualnya. Jika perilakunya tersebut menjadi begitu abnormal dan irrasional, sehingga dianggap bisa membahayakan orang lain dan dirinya sendiri, yang secara hukum disebut gila..

B. Rumusan Masalah Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu: 1. Apa konsep dasar atau definisi dari skizofrenia ? 2. Apa jenis dari skizofrenia ? 3. Apa itu skizofrenia residual ? 4. Apa gejala dan diagnosa skizofrenia residual ? 5. Bagaimana saja gejala dari skizofrenia residual ? 6. Bagaimana skizofrenia? 7. Apa yang dapat diberi untuk mengobati penderita skizofrenia residual ? pandangan atau perspektif ilmu lain tentang

2

3 .yaitu tujuan umum dan tujuan khusus : 1.C.Tujuan Umum Adalah agar masyarakat secara umumnya dan kita sebagai konselor secara khusus mampu melakukan tindakan terbaik untuk membantu penderita skizofrenia residual yang ada di tengah masyarakat. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini ada dua. 2.Tujuan Khusus Adalah untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Kesehatan Mental sebagai syarat untuk ujian akhir semester bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut.

Menurut Kartono (2002. halusinasi. Sedangkan gejala negatifnya antara lain seperti avolition (menurunnya minat dan dorongan). depersonalisasi dan kebelahan atau kepecahan struktur kepribadian. berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan. 2006. termasuk berpikir dan berkomunikasi. hal. afek yang datar. 2008) 2. Skizofrenia adalah kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan (psikosis). delusi. kehidupan afek dan menggangu relasi personal. menerima dan 4 . Tampak bahwa gejala-gejala skizofrenia menimbulkan hendaya berat dalam kemampuan individu berfikir dan memecahkan masalah. gangguan kognitf dan persepsi.BAB II SKIZOFRENIA RESIDUAL A. Gangguan ini di tandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau. distorsi realita dan ketidakmampuan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari. 243) Skizofrenia adalah kondisi psikologis dengan gangguan disintegrasi. serta regresi aku yang parah. Menurut Strausal et al (dalam iman setiadi. 3) Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Kesemuanya mengakibatkan pasien skizofrenia mengalami penurunan fungsi ataupun ketidakmampuan dalam menjalani hidupnya. sangat terhambat produktivitasnya dan nyaris terputus relasinya dengan orang lain. serta terganggunya relasi personal. Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu. halusinasi. Konsep Dasar Skizofrenia Skizofrenia merupakan gangguan yang ditandai dengan disorganisasi kepribadian yang cukup parah. pikiran yang abnormal dan menggangu kerja dan fungsi sosial (DSMIV-TR. khayalan (kepercayaan yang salah). Sedangkan menurut definisi lain adalah sebagai berikut: 1. hal.

Jenis hebrefenik Yaitu jenis skizofrenia yang permulannya perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. seperti afeksi dan kognitif. 2. Gangguan proses berpikir biasanya ditemukan. 2007) 3. penulis menyimpulkan bahwa Skizofrenia adalah gangguan jiwa serius yang bersifat psikosis sehingga penderita kehilangan kontak dengan kenyataan dan mempengaruhi berbagai fungsi individu. B. Skizofrenia simplex Yaitu skizofrenia yang sering timbul pertama kali pada masa pubertas (pada beberapa kasus). yaitu sebagai berikut: 1. 5 . Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir. Jenis – Jenis Skizofrenia Terdapat berbagai macam skizofrenia. Skizofrenia adalah penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamine. sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsangan panca indera) (Arif. waham dan halusinasinya jarang sekali ada. 2006). merasakan dan menunjukkan emosi dan berperilaku dengan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial (Durand dan Barlow. gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi.menginterpretasikan realitas. Gejala utamanya adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Dari beberapa definisi di atas.

yaitu: a. Hal ini dilakukan penderita karena adanya waham kebesaran dan atau waham kejar ataupun tema lainnya disertai juga dengan halusinasi yang berkaitan. 5. Gaduh Gelisah Katatonik. ganguan emosi serta gangguan psikomotor. merupakan gangguan di mana penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali pada lingkungan. penderita mudah tersinggung. tidak ada gejala waham dan halusinasi. Jenis katatonik Yaitu jenis skizofrenia yang timbulnya pertama kali antara umur 1530 tahun. Skizofrenia jenis katatonik terbagi menjadi 2. 4. merupakan skizofrenia jenis katatonik di mana terdapat hiperaktivitas. Jenis Paranoid Jenis skizofrenia ini agak berbeda dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya jenis penyakit. biasanya akut serta didahului oleh stres emosional. suka menyendiri. Skizofrenia jenis ini melibatkan aspek psikomotorik. Jenis Skizo-Afektif Yaitu jenis skizofrenia yang selain gejala-gejalanya yang menonjol secara bersamaan juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania 6 . Skizofrenia Residual Yaitu jenis skizofrenia dengan gejala mengalami gangguan proses berpikir. Stupor Katatonik. Gejala yang muncul di antaranya adalah mutisme (kadang-kadang mata tertutup) dan muka tanpa mimik b. tetapi tidak disertai dengan emosi dan rangsangan dari luar. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia. gangguan afek dan emosi. cemas.3. 6. Jenis ini mulai sesudah umur 30 tahun. agak congkak dan kurang percaya pada orang lain. Namun.

tidak ada gejala waham dan halusinasi. misalnya perlambatan psikomotorik. serta oleh afek yang tidak wajar (inapropriate) atau tumpul (blunted). modulasi suara. C. walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Konsep Skizofrenia Residual Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis) yang luas. sikap pasif dan ketiadaan inisiatif. Adapun menurut DSM-IV sebagai berikut: A. Terlebih dahulu akan dibahas mengenai penegakan diagnosa skizofrenia. afek yang menumpul. fisik. perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk. serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik.menyertai. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia. Gejala dan Diagnosa Skizofrenia Residual Gejala dari skizofrenia residual berupa gejala “negatif” dari skizofrenia yang menonjol. Gejala Karakteristik: dua (atau lebih) berikut. kontak mata. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang foundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi. komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka. kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan. Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa efek tetapi mungkin juga seringkali timbul lagi. dan sosial budaya. Skizofrenia residual adalah skizofrenia yang diawali dengan gejala positif. Gejala waham dan halusinasi dapat muncul tapi tidak menonjol. Namun. aktivitas menurun. masing-masing ditemukan untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil): 7 . namun minimal dalam waktu satu tahun terakhir telah timbul gejala negatif. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara. dan posisi tubuh. D.

atau perawatan diri.1) Waham 2) Halusinasi 3) Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoherensi) 4) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas 5) Gejala negatif yaitu pendataran afektif. kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal. Disfungsi sosial/pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan. 8 . akademik. Durasi: tanda gangguan terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan. alogia. hubungan interpersonal. harus termasuk 1 bulan fase aktif (yang memperlihatkan gejala kriteria A) dan mungkin termasuk gejala prodormal atau residual. adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja. C. D. manik atau campuran yang telah terjadi bersama-sama gejala fase aktif atau (2) jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif. atau pekerjaan yang diharapkan). Penyingkiran gangguan skizoafektif atau gangguan mood: gangguan skizoafektif atau gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena: (1) tidak ada episode depresif berat. durasi totalnya relatif singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual. satu atau lebih fungsi utama seperti pekerjaan. Pada 6 bulan tersebut. atau tidak ada kemauan (avolition) Catatan: Hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengomentari perilaku atau pikiran pasien atau dua lebih suara yang saling bercakap-cakap satu sama lainnya. B.

biasanya bersifat mistik atau mukjizat. atau –Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara) atau 9 . tindakan atau penginderaan khusus). –“thought insertion or withdrawal” = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal). (tentang “dirinya” secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau pikiran. – “delusion perception” = pengalaman inderawi yang tak wajar. yang bermakna sangat khas bagi dirinya. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif Sedangkan menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia yang ke-III sebagai berikut: a) – “thought eco” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan walaupun isinya sama tapi kualitasnya berbeda. Penyingkiran zat/kondisi medis umum F. c) Halusinasi auditorik: –Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilkau pasien. dan –“thought broadcasting” = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya. atau – “delusion of influence” = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar – “delusion of passivity” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar.E. b) – “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.

atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: a) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas ataupun disertai oleh ide-ide yang berlebihan yang menetap atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus. tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. tidak berbuat sesuatu.Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi. dan penarikan diri secara sosial. c) Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal). posisi tubuh tertentu (porturing). mutisme dan stupor. biasanya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosialdan menurunnya kinerja sosial. bicara yang jarang dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar. Diagnosa skizofrenia residual digunakan pada pasien yang telah sembuh dari gejala yang menonjol seperti delusi. misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu. b) Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau pembicaraannya tidak relevan atau neologisme. negativisme. bermanifestasi sebagai hilangnya minat. fleksibilitas cerea.–Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh pasien d) Waham-waham menetap lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil. d) Gejala-gejala negatif seperti sikap sangat apatis. sikap larut dalam diri sendiri. hidup tak bertujuan. halusinasi atau perilaku yang terdisorganisasi tapi masih memperlihatkan bukti yang ringan akan adanya proses 10 .

bicara terdisorganisasi. Adapun cara penegakan diagnosa menurut DSM-IV sebagai berikut: a. dan posisi tubuh. pengalaman persepsi yang tidak lazim). afek yang menumpul. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia. kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan. b. Diagnosa Depresi pasca skizofrenia merupakan salah satu diagnosa banding dari skizofrenia residual. atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut. c. depresi kronis. dan perilaku katatonik terdisorganisasi atau katatonik yang menonjol. Keduanya mempunyai kesamaan yakni gejala skizofrenia yang masih ada tapi tidak lagi mendominasi atau menonjol. b. Tidak terdapat demensia atau penyakit gangguan otak organik lain. Gejala “negatif” dari skizofrenia yang menonjol. Selain itu. kontak mata. sikap pasif dan ketiadaan inisiatif. Namun terdapat 11 . halusinasi. modulasi suara. Terdapat terus bukti-bukti gangguan seperti yang ditunjukkan oleh adanya gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang tertulis dalam kriteria A untuk skizofrenia. Tidak adanya waham. misalnya perlambatan psikomotorik.berjalannya penyakit seperti afek datar atau kurangnya komunikasi. ditemukan dalam bentuk yang lebih lemah (misalnya keyakinan yang aneh. PPDGJ-III memberikan pedoman diagnostik untuk skizofrenia residual yakni harus memenuhi semua kriteria dibawah ini untuk suatu diagnosis yang meyakinkan: a. aktivitas menurun. d. perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk. komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia.

Perubahanan atau kerusakan pada sistem saraf sentral. Adapun gejala utama depresi yakni mood yang depresif. kehilangan minat dan kegembiraan. Integrasi kepribadian sangat miskin dan ada kompleks inferior yang berat. gagasan tentang rasa bersalah atau tidak berguna. Tipe kepribadian yang schizothyim (dengan jiwa yang cendrung menjadi schizofren) dan bentuk jasmaniah asthenis (tidak berdaya atau bertenaga). Gangguan pada sistem kelenjer adrenal dan kelenjer dibawah otak. ego dan super ego. mempunyai kecendrungan kuat menjadi schizofren. b. c. Sebab-sebab psikologis: a. nafsu makan berkurang. Lebih dari separuh julah penderita schizofrenia mempunyai keluarga psikotis (sakit jiwa tau mental). adanya ide bunuh diri. 3. Faktor Penyebab Faktor yang menyebabkan skizofrenia residual diantara lain adalah : 1. Selain itu gejala lainnya dari depresi adalah konsentrasi dan perhatian berkurang. Konflik diantara Id. 2. pandangan masa depan yang suram dan pesimis. gejala negatif timbul dan penurunan yang nyata dari gejala waham dan halusinasi sedikitnya sudah melampaui kurun waktu 1 tahun. atau berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan penurunan aktivitas. Penegakan diagnosa depresi pasca skizofrenia tentu saja pasien harus memenuhi gejala depresi selama 2 minggu. Proses klimakterik dan gangguan-gangguan menstruasi. harga diri dan kepercayaan diri berkurang. c. Selain itu. pasien telah menderita skizofrenia selama 12 bulan terakhir sedangkan pada skizofrenia residual. Adanya kebiasaan-kebiasaan infantil yang buruk dan salah. tidur terganggu.perbedaan yang jelas diantara keduanya. 12 . Sebab-sebab organis: a. 4. b. E.

Hal ini berkaitan dengan perspektif kognitif yang menjelaskan bahwa patologi terjadi karena keyakinan dan proses kognitif yang salah. hal yang juga relevan adalah perilaku keluarga yang patologis. 2006). Sementara itu teori keluarga menjelaskan bawah beberapa pasien skizofrenia sebagaimana orang mengalami penyakit non-psikiatrik berasal dari keluarga dengan disfungsi. Jika skizofrenia ditilik dari perspektif humanistik. yaitu antara bayi dan caregivernya (McGlashan. Prinsip reward dan punishment pada proses belajar juga akan terkait dengan pengaktualisasian potensi yang dibatasi jika individu terlalu banyak mendapat punishment saat belajar. Demikian juga dengan anggota keluarga lainnya yang mungkin akan menjadi external object relations pertama bagi si bayi (bila bayi tumbuh di lingkungan keluarganya). sehingga patologi muncul. diyakini bahwa skizofrenia bukanlah gangguan yang terjadi secara langsung dan tiba-tiba melainkan merupakan hasil suatu proses panjang. Selain itu. Interaksi bayi dengan pengasuh atau bahkan ibunya (yang menjadi primary object) harus menghasilkan ruang psikologis yang memadai untuk pertumbuhan kepribadiannya. Perspektif Berbagai cara dilakukan untuk memahami dan mengatasi skizofrenia. Arif. khususnya perspektif psikodinamik dan perkembangan. Respon positif terhadap keberadaan bayi tersebut akan meneguhkan dan membentuk kepribadian yang sehat pada bayi tersebut. Dalam perspektif psikologis. yang bisa jadi karena proses belajar yang salah juga. Dari perspektif behavioral dijelaskan bahwa patologi terjadi karena proses belajar yang salah. yang secara signifikan meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi oleh pasien skizofrenia (makalah pembahas).F. maka pasti ada 13 . Kepribadian yang sehat ini kelak ditandai dengan coping yang baik terhadap masalah yang dihadapi. Proses berakar pada gangguan relasi yang paling awal. Gangguan dini dalam relasi ini kemudian mengakibatkan kerentanan dan berujung pada kerusakan yang berat bagi individu yang bersangkutan.

manusia akan sehat secara holistik jika mampu menyeimbangkan seluruh aspek kesehatan yang dimiliknya (Adz Zakiey. Menurut perspektif spiritual Islami. 2007). kesehatan spiritual. kesehatan sosial. 2007). 14 . Sementara jika ditilik dari perspektif spiritual Islami. kesehatan finansial.pembatasan aktualisasi diri yang berlebihan pada diri penderita gangguan psikotik ini (Alwisol. Dari penjabaran di atas. jelas bahwa diperlukan multiperspektif untuk menjelaskan skizofrenia secara tepat. dan kesehatan fisik. penderita gangguan psikotik adalah hasil dari ketidakseimbangan kesehatan mental.

Memang obat tertentu (terutama obat antipsikotik baru) telah dinyatakan efektif secara spesifik terhadap gejala “negatif” pada gangguan psikotik.6 Selain itu. tetapi bukti yang mendukung pendapat ini masih tidak konsisten. sehingga dapat menginduksi gejala ekstrapiramidal juga hiperprolaktinemia yang menonjol. Menurut data penelitian. Risperidon adalah suatu obat antipsikotik dengan aktivitas antagonis yang bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 (5-HT2) dan pada reseptor dopamin tipe 2 serta antihistamin (H1). Klozapin termasuk obat antipsikotik atipikal yang juga mempunyai aktivitas antagonis yang bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 (5-HT2) dan antagonis lemah pada reseptor dopamin tipe 2 juga bersifat antihistamin (H1). 15 . obat ini efektif mengobati gejala positif maupun negatif. berbeda dengan klozapin. PENGOBATAN Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk masing-masing subtipe skizofrenia. maka adapun pengobatan yang disarankan kepada pasien obat-obat antipsikotik golongan atipikal yang dapat meningkatkan dopamin di mesokortikal. Efek samping berupa gejala ekstrapiramidal sangat minimal. namun mempunyai sifat antagonis α-1 adrenergik yang bisa menimbulkan hipotensi ortostatik dan sedatif. risperidon dianggap senyawa antipsikotik “atipikal secara kuantitatif” karena efek samping neurologis ekstrapiramidalnya kecil pada dosis harian yang rendah. dilaporkan terjadinya agranulositosis dengan insiden 1-2% ditambah harganya yang mahal. Klozapin adalah obat lini kedua yang jelas bagi pasien yang tidak berespon terhadap obat lain yang sekarang ini tersedia. gejala “negatif” lebih menonjol. Meskipun demikian. Pada skizofrenia residual.BAB III PENANGANAN BAGI PENDERITA SKIZOFRENIA RESIDUAL A. Pengobatan hanya dibedakan berdasarkan gejala apa yang menonjol pada pasien. Risperidon senyawa antidopaminergik yang jauh lebih kuat.

Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi. kemampuan memenuhi diri sendiri. terapi kelompok. Suatu konsep penting didalam psikoterapi adalah perkembangan hubungan terapeutik yang dialami psien adalah “aman”. atau bahkan tahunan. topik penting yang dibahas di dalam terapi keluarga adalah proses pemulihan khususnya lama dan kecepatannya. Setelah pemulangan. meningkatkan rasa persatuan dan meningkatkan tes realitas bagi pasien dengan skizofrenia. bukannya sesi. Selanjutnya diarahkan kepada berbagai macam penerapan strategi menurunkan stres dan mengatasi masalah dan pelibatan kembali pasien ke dalam aktivitas. Terapi kelompok biasanya memusatkan pada rencana. Di dalam konteks hubungan profesional.Selain terapi obat-obatan. Terapi perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial. dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien. Pusat dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. jarak emosional antara ahli terapi dan pasien. masalah. latihan praktis. psikoterapi individual. fleksibilitas adalah penting dalam menegakkan hubungan kerja dengan pasien. bulanan. atau mengingat ulang tahun pasien. psikoterapi untuk seorang pasien skizofrenia harus dimengerti dalam hitungan dekade. Psikoterapi individual membantu menambah efek terapi farmakologis. terapi berorientasi keluarga. dan komunikasi interpersonal. juga bisa diterapkan terapi psikososial yang terdiri dari terapi perilaku. Ahli psikoterapi sering kali memberikan interpretasi yang terlalu cepat terhadap pasien skizofrenia. 16 . Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial. Ahli terapi mungkin akan makan bersama. Perilaku adaptif didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan sehingga frekuensi maladaptif atau menyimpang dapat diturunkan. Terapi berorientasi keluarga cukup berguna dalam pengobatan skizofrenia. dan hubungan dalam kehidupan nyata.

Mandred Bleuler menyatakan bahwa sikap terapeutik terhadap pasien adalah dengan menerima mereka bukannya mengamati mereka sebagai orang yang tidak dapat dipahami dan berbeda dari ahli terapi 17 . ingin memahami pasien dan akan coba melakukannya dan memiliki kepercayaan tentang kemampuan pasien sebagai manusia.Tujuan utama adalah untuk menyampaikan gagasan bahwa ahli terapi dapat dipercaya.

Pengobatan hanya dibedakan berdasarkan gejala apa yang menonjol pada pasien. Pada skizofrenia residual.BAB IV PENUTUP A.Selain dengan metode pemberian obat. Kesimpulan Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis) yang luas. dan sosial budaya. 18 . tidak ada gejala waham dan halusinasi. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara. Namun. maka adapun pengobatan yang disarankan kepada pasien obat-obat antipsikotik golongan atipikal yang dapat meningkatkan dopamin di mesokortikal. Skizofrenia residual adalah skizofrenia yang diawali dengan gejala positif. serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik. serta oleh afek yang tidak wajar (inapropriate) atau tumpul (blunted).Memang obat tertentu (terutama obat antipsikotik baru) telah dinyatakan efektif secara spesifik terhadap gejala “negatif” pada gangguan psikotik. fisik. namun minimal dalam waktu satu tahun terakhir telah timbul gejala negatif. ada juga dengan pemberian terapi bagi penderita skizofrenia tipe residual. gejala “negatif” lebih menonjol. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang foundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi. walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk masing-masing subtipe skizofrenia. tetapi bukti yang mendukung pendapat ini masih tidak konsisten.

19 . agar penulis dapat lebih baik lagi kedepannya. oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.Dan penulis juga berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca secara umum dan khususnya bagi penulis sendiri.B. Saran Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan.

Fitri Fauziah dkk. Jakarta : Penerbit Erlangga. Wiramiraja Sutarjo. Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham. S. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Durand. V. Jakarta:PPDGJ III.2005. 20 . dkk. Jeffrey. Refika Aditama. 2006.Kepustakaan Arif.A. Skizofrenia: Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung: Penerbit Afrika Aditama. Psikologi Abnormal. Maslim R. 1998. Mark dan David H. Intisari Psikologi Abnormal.Nevid. Iman Setiadi. 2007.2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barlow. Skizofrenia. Bandung: PT. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.