You are on page 1of 24

MAKALAH Disusun guna memenuhi tugas semester pendek mata kuliah mikrobiologi

Disusun Oleh : Ubay Dillah Luhur Pambudi Morgan Wikanto Aditya Nur Arofik ( A11000657 ) ( A11000661 ) ( A11000659 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN 2012

A. SISTEM DERMATOMUSKULOSKELETAL 1. Kelainan oleh cacing a) Cutaneus larva migrans (creeping eruption) 1) Epidemiologi Terdapat di daerah tropis dan subtropis terutama di daerah perkebunan Penyebaran : kosmopolitan , di daerah anjing dan kucing hidup berkeliaran 2) Morfologi Penyebab : 1. Ancylostoma braziliensis 2. Ancylostoma caninum 3. Strongyloides stercoralis 3) Kelainan yang ditimbulkan (tanda dan gejala ) Melihat gejala klinik yang ada ada gambaran berkelok-kelok di bawah kulit Ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium biopsi kulit Gatal-gatal pada tempat larva melakukan penetrasi Timbul papula diikuti eritema seperti gambar ular berkelok-kelok di bawah kulit Migrasi melalui aliran darah timbul gejala paru, eosinophilia 4) Siklus hidup

5) Cara pencegahan Jangan berhubungan dengan kucing terutama pada anak kecil Cacing yang keluar dari tubuh anjing atau

kucing harus dimusnahkan Tinja kucing dan anjing harus ditimbung tanah

6) Pengobatan Obat anthelmintik : Thiabendazole Infeksi sekunder Krim antigatal Penyemprotan /spray topical dengan es ethyl chlorida membunuh larva, mati rasa untuk mengurangi gatal dan nyeri Rendam hipoklorit 7) Pencegahan Jangan berhubungan dengan kucing terutama pada anak kecil Cacing yang keluar dari tubuh anjing atau tangan dan kaki dalam larutan : antibiotik

kucing harus dimusnahkan Tinja kucing dan anjing harus ditimbung tanah

b) Swimmeritch 1) Epidemiologi Daerah tempat masuknya serkaria penyebab dermatitis : nyeri menusuk, panas, diikuti eritema 2) Morfologi 3) Kelainan / penyakit yang ditimbulkan ( tanda dan gejala) Iritasi awal ditandai dengan makula kecil ditempat penetrasi, gatal hebat papula , pada hari ke dua atau ke tiga. Berlangsung selama 2 minggu. 4) Siklus hidup

5) Cara pencegahan Mengurangi kontak dengan air tawar Menggunakan coppler sulfat atau moluscicida untuk disebarkan sepanjang tepi danau air tawar 6) Pengobatan Dapat diberikan Trimeprazine Mengurangi rasa gatal, dengan obat lokal

2. Kelainan oleh protozoa a) Oriental Sore (borok) 1) Klasifikasi

Hospes Definitif Hospes Intermediate

: Manusia : Lalat Phlebotomus

Distributor geografik :Asia, Afrika, Eropa (sekitar L. Tengah), Amerika Tengah dan Selatan 2) Morfologi 3) Kelainan / penyakit yang ditimbulkan ( tanda dan gejala) Masa Tunas : 2minggu 3 tahun Habitat : jaringan kulit dan kadang-kadang menyerang selaput mukosa papula ulkus 4) Siklus hidup 5) Pencegahan Anjing dan hewan pengerat lain merupakan sumber infeksi Dianjurkan menutup luka penderita Pemberantasan vektor Dianjurkan memaki kelambu dari repelent pada waktu tidur 6) Pengobatan B. SISTEM SYARAF 1. Neisseria meningitide a. Klasifikasi Kingdom Filum Class Ordo Genus Spesies b. Morfologi : Bacteria : Proteobacteria : Beta Proteobacteria : Neisseriales : Neisseria : Neisseria meningitides Salep yang mengandung paromomisin Alopurinol

c. Kelainan / penyakit yang ditimbulkan ( tanda dan gejala ) Muncul gejala mendadak dengan sakit kepala yang terusmenerus, muntah, dan leher kaku dan hal ini dapat berkembang ke arah koma hanya dalam waktu beberapa jam. d. Siklus hidup e. Pencegahan Kasus klinis dari meningitis hanya memperlihatkan sedikit sumber infeksi, dan isolasi hanya menjadi kegunaan yang terbatas. Lebih penting lagi adalah pengurangan kontak personal pada populasi yang memiliki tingkat carrier yang tinggi. Hal ini dapat dicapai dengan menghindari kepadatan populasi. Polisakarida spesifik dari kelompok A, C, Y, dan W-135 dapat menstimulasi respon antibodi dan melindungi orang yang rentan untuk melawan infeksi. f. Pengobatan Penicillin G adalah obat yang dipilih untuk mengobati penyakit ini. Chlorampenicol atau cephalosporin generasi ketiga seperti cefotaxime atau ceftriaxone digunakan untuk orang yang alergi terhadap penicillin. Rifampin 600 mg 2 kali sehari selama 2 hari secara oral ( atau minocycline 100 mg setiap 12 jam ) dapat menghilangkan keberadaan carrier dan bekerja sebagai chemoprophylaxis. 2. Listeria monocytogenes a. Klasifikasi Kingdom Filum Class Ordo Family : Bacteria : Firmicutes : Basilli : Bacillales : Listeriaceae

Genus Spesies b. Morfologi

: Listeria : Listeria monocytogene

c. Kelainan / penyakit yang ditimbulkan ( tanda dan gejala ) d. Siklus hidup e. Pencegahan Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan, namun makanan yang dimasak, dipanaskan dan disimpan dengan benar umumnya aman dikonsumsi karena bakteri ini terbunuh pada temperatur 75C. Resiko paling besar adalah kontaminasi silang, yakni apabila makanan yang sudah dimasak bersentuhan dengan bahan mentah atau peralatan (misalnya alas pemotong) yang terkontaminasi. f. Pengobatan

C. SISTEM RESPIRASI 1. Trematoda paru (Paragonimus westermani) a) Morfolologi b) Hospes Hospes definitif : manusia, binatang pemakan ketam HP I HP II : Keong air : Ketam Morfologi Morfologi telur

c) Tanda dan gejala Di dalam paru-paru P. westermani menyebabkan timbulnya reaksi jaringan yang nyata yaitu dengan infiltrasi leukosit eosinofil neutrofil. Gejala klinis tergantung dari jumlah cacing dalam tubuh hospes definitive. Ketika

kista pecah timbul batuk-batuk disertai meningkatnya produksi sputum yang kental dengan bercak-bercak darah dan nyeri dada. Cacing dewasa dalam bentuk kista di paru paru Batuk kering batuk darah Cacing dewasa dapat imigrasi ke alat-alat tubuh yang lain abses d) Cara pencegahan e) Pengobatan D. SISTEM DIGESTIF Parasit pada system digestif yang disebabkan oleh cacing usus : 1. Nematoda Usus a. Ascaris lumbricoides ( Askariasis ) 1) Klasifikasi Hospes Phylum Kelas Ordo Family Genus Species 2) Morfologi Cacing jantan berukuran sekitar10-30 cm, sedangkan betina sekitar22-35 cm. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). : manusia : Nematoda : Secernentea : Ascaridida : Ascarididae : Ascaris : Ascarislumbricoides Prazikuantel, bitionol

Pada cacing betina, pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi.

3) Siklus hidup

4) Penyakit dan gejala yang ditimbulkan Penyakitnya disebut ascariasis. Keluhan yang sering dirasakan penderita adalah sakit perut, demam, mual, muntah dan kurang nafsu makan. Menurut Harold W.Brown, pernah dilaporkan adanya penyakit yang disebabkan adanya Ascaris lombricoides tergantung pada lokasi yang diinvasi cacing tersebut yaitu: Encephalitis danmeningitis; dugaan mungkin larva cacing tersebut masuk ke otak Pancreatitis hemoragik; cacing tersebut

menyumpat ampullavateri Peritionitis; cacing tersebut menembus usus dan sampai kerongga peritoneum 5) Patologi dan gejala klinis Larva

Terjadi pada saat migrasi larva ke paru paru perdarahan kecil pada dinding alveolus, batuk, demam dan eosinofilia , Loefflers syndrome. Cacing dewasa Infeksi ringan gangguan gastrointestinal ringan (mual, nafsu makan kurang, diare atau konstipasi) Infeksi berat malabsorpsi malnutrisi obstruksi usus

(terutama pada anak-anak) Efek serius 6) Pencegahan Hendaknya pembuangan tinja (feces) pada W.C yang baik. Pemeliharaan lingkungan. Penerangan melalui sekolah,organisasi kebersihan perorangan dan

kemasyarakatan oleh guru-guru dan pekerjapekerja kesehatan. Hendaknya jangan menggunakan faces sebagai pupuk kecuali sudah dicampur dengan zat kimia tertentu. 7) Pengobatan Pengobatan perorangan Piperasin, Albendazol Pengobatan missal Syarat : * Obat mudah diterima masyarakat * Aturan pemakaian sederhana * Mempunyai efek samping yang minim * Bersifat polivalen Pirantel pamoat, mebendazol,

* Murah 8) Epidemiologi Di Indonesia 60-90% terutama pada anak anak: Kurangnya pemakaian jamban keluarga pencemaran , tanah dengan tinja Adanya kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk Kondisi geografis tanah liat, kelembaban tinggi dan suhu 25o 30o C. Produksi telur yang cukup tinggi ( 240,000 eggs/ day/ female ). Siklus hidup yang mudah

b. Oxyuris vermicularis (Enterobius vermicularis) 1) Klasifikasi Hospes Distribusi geografis daerah dingin Phylum Kelas Ordo Family Genus Species 2) Morfologi Mulutnya dikelilingi 3 bibir dan tidak ada kapsul buccal. Individu jantan panjangnya sampai 5mm. : Nematoda : Secernentea : Strongylida : Oxyuridae : Enterobius : Enterobiusvermicularis : Manusia : Kosmopolitan, terutama di

ekornya melengkung ke arah ventral dan alaecaudal lateral mengelilingi ujung. Individu betina panjangnya sampai 13

mm.individu betina yang matang bentuknya

seperti kumparan dan mempunyai ekor yang langsing memanjang dan runcing 3) Siklus hidup

4) Penyakit dan gejala yang ditimbulkan Penyakitnya Oxyuriasis, berbahaya. Gejala klinis, terjadi karena iritasi diantara anus,perineum daun vagina, akibat migrasi cacing dalam jumlah banyak ketempat-tempat tersebut Akibatnya penderita terganggu tidurnya, lemah, nafsu makan berkurang, dan berat badan turun 5) Diagnosa Sering terjadi pada anak-anak rasa gatal di sekitar anus pada waktu malam Ditegakkan dengan pemeriksaan Lab. Anal Swab telur 6) Pencegahan Daerah disekitar anus hendaknya dicuci bersih. disebut penyakit Enterobiasis ini umumnya atau tidak

Penderita,khususnya anak-anak harus memakai celana yang rapi,sehingga mencega kontak

dengan garukan tangan atau pemindahan telurtelur ketempat-tempat lainnya. Melindungi makanan dari kontaminasi debu

7) Pengobatan Pirvinium, Mebendazol 8) Epidemiologi Penyebarannya lebih luas dari cacing lain Penularannya ; - Dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah perianal (Autoinfeksi), atau tangan menyebarkan telur ke orang lain - Debu - Retrofeksi melalui anus : larva dari telur yang menetas di sekitas anus masuk kembali ke dalam usus c. Trichuris trichiura 1) Hospes Distribusi geografis : Manusia : Kosmopolitan terutama

daerah panas dan lembab 2) Morfologi 3) Siklus hidup 4) Patologi dan gejala klinis * Infeksi ringan tidak menimbulkan gejala * Infeksi berat cacing tersebar di seluruh kolon dan rektum terlihat prolapsus rektum Cacing yang membenamkan kepalanya ke mukosa usus trauma iritasi & peradangan serta perdarahan mukosa usus. Cacing mengisap darah hospes Anemia

* Gejala : Diare, Anemia, BB turun, prolapsus rektum 5) Diagnosa * Menemukan telur pada Tinja * Menemukan cacing pada prolapsus rektum 6) Pencegahan 7) Pengobatan Mebendazol, Albendazol, Oksantel Pamoat 8) Epidemiologi Karena adanya kontaminasi tanah dengan tinja 2. Cestoda Usus a. Taenia Sagita 1) Klasifikasi Hospes definitive : manusia

Hospes intermediate : Sapi, kerbau Distribusi geografis : Eropa, Timur tengah, Afrika, Asia, Amerika, Indonesia Bali, Jakarta 2) Morfologi Cacing dewasa panjangnya 4-10 m. Memiliki 1000 2000 proglotid. Memiliki scoleks dengan diameter 1 2mm. Mempunyai 4 penghisap tanpa hook

3) Siklus hidup

4) Patologi dan gejala klinis Cacing dewasa proglotid dalam tinja atau keluar melalui anus sakit ulu hati, perut merasa tidak enak, mual, muntah, mencret, pusing, eosinofilia Proglotid sampai ke appendiks, atau terdapat ileus 5) Diagnosa Menemukan proglotid yang bergerak aktif dalam tinja atau bergerak spontan Menemukan telur dalam tinja

6) Pencegahan Menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderita. Mencegah kontaminasi tanah dan rumput dengan tinja manusia. Memeriksa daging sapi, ada tidaknya cysticercus. Memasak daging sampai sempurna.

Mendinginkan sampai -10o C sampai 5 hari cycticercus dapat rusak.

7) Pengobatan prazikuantel 8) Epidemiologi Sangat ditentukan oleh : Cara penduduk memakan daging (sapi/ kerbau) Cara memelihara ternak

b. Taenia Solium 1) Hospes definitive : manusia : Kosmopolitan kecuali

Hospes intermediate : Babi Distribusi geografis negara-negara Islam 2) Morfologi Cacing dewasa panjangnya 4-10 m.\ Memiliki 1000 2000 proglotid. Memiliki scoleks dengan diameter 1 2mm. Mempunyai 4 penghisap tanpa hook.

3) Siklus hidup

4) Patologi dan gejala klinis

Cacing dewasa rasa tidak enak di perut, nyeri ulu hati, mual, muntah, mencret, sakit kepala, eosinofilia Larva Sistiserkosis Pada manusia : jaringan sub kutis, mata, jaringan otak, otot, otot jantung, hati, paru dan rongga perut.

5) Diagnose Menemukan telur dan proglotid pada tinja penderita Sistiserkosis CT Scan

6) Pengobatan Prazikuantel 7) Epidemiologi Tergantung pada : 3. Trematoda Usus a. Amubiasis 1) Hospes Distribusi geografis : Manusia : Kosmopolitan, terutama di Kebiasaan hidup penduduk Cara menyantap daging babi Pendidikan mengenai kesehatan Pendidikan mengenai beternak

daerah tropik dan beriklim sedang 2) Morfologi 1. Bentuk hystolitica tropozoit 2. Bentuk minuta metasiklik 3. Pre kista 4. Bentuk kista 3) Siklus hidup tropozoit

4) Patologi dan gejala klinis a) Intestinal Amubiasis kolon akut

Desentri amuba - diare (berak-berak encer) - tinja berlendir dan berdarah - tenesmus anus Ulkus bervariasi ukurannya Amubiasis kolon kronis

- Gejala usus ringan - Diare diselingi dengan obstipasi - Di sekitar ulkus terjadi peradangan, penebalan diding usus Ameboma b) Ekstra intestinal Hematogen (aliran darah) Per kontinuitatum (langsung) Karena Abses hati yang pecah a. Rongga pleura dan Paru b. Rongga perut c. Dinding perut d. Menembus dinding perut sampai ke kulit e. Sekitar anus f. Perineum 5) Pencegahan Personal higien Environmental sanitation

6) Pengobatan Emetin Hidroklorin Klorokuin

Antibiotik Tetrasiklin,Eritromisin Metronidazol

E. SISTEM GENITOURINARIA Parasit pada system genitourinaria 1. Tricomonas Vaginalis a. Klasifikasi Hospes Distribusi geografis b. Morfologi : manusia : Kosmopolitan

c. Kelainan yang ditimbulkan ( tanda dan gejala ) Degenerasi deskuamasi sel epitel vagina Leukosit meningkat di vagina Sekret vagina mengalir keluar vagina gejala Fluor Albus (Leukorrhea) Dapat reda sendiri Vaginitis, dinding vagina memerah dan meradang, keluhan pada waktu kencing Pada Infeksi berat : a. timbul perdarahan-perdarahan kecil b. Fluor albus banyak, tampak berwarna putih kekuningan atau putih kelabu dan berbusa c. Infeksi dapat menyebabkan uretritis Pada pria, infeksi biasanya terjadi tanpa gejala dapat menyebabkan uretritis, prostitis dan prostato vesikulitis.

d. Siklus hidup

e. Pencegahan f. Pengobatan Metronidazol g. Epidemiologi Trikomoniasis vagina ditemukan dimana-mana Pada pria umumnya lebih sedikit Perlu pengobatan segera bagia suami istri yang terkena Trikomoniasis F. SISTEM CARDIOVASKULER 1. Borrelia burgdorferi a. Klasifikasi Kelas : Spirochaetes Order : Spirochaetales Genus : Borrelia Spesies: B. Burgdorferi Spesies bakteri Gram negatif Dominan b. Morfologi Burgdorferi Borrelia salah satu dari beberapa bakteri patogen yang dapat bertahan hidup tanpa besi, setelah diganti semua enzim besi-belerang yang cluster dengan : di Amerika Utara, tetapi juga ada di Eropa

enzim yang menggunakan mangan, sehingga menghindari masalah banyak bakteri patogen hadapi dalam memperoleh besi. Burgdorferi Borrelia dapat menyebar ke seluruh tubuh selama penyakit dan telah ditemukan di kulit, jantung, sendi, sistem saraf perifer, dan sistem saraf pusat c. Siklus hidup d. Kelainan yang ditimbulkan ( tanda dan gejala) Gejala awal mungkin berupa demam, sakit kepala, kelelahan, depresi, dan ruam kulit bundar karakteristik disebut eritema Migrans. Waktu tidak diobati, gejala

kemudian dapat melibatkan sendi, jantung, dan sistem saraf pusat e. Pencegahan Kutu-kutu yang disebutkan di atas harus dihapus segera,

sebagai penghapusan dalam 36 jam bisa menurunkan harga transmisi untuk mendekati nol. Pakaian pelindung

termasuk topi dan kemeja lengan panjang dan celana panjang yang terselip di kaus kaki atau sepatu. Pakaian berwarna terang membuat centang lebih mudah terlihat sebelum melekatkan dirinya. Orang harus menggunakan perawatan khusus dalam menangani dan membiarkan hewan peliharaan di luar ruangan dalam rumah karena mereka bisa membawa kutu ke dalam rumah. . Penurunan populasi rusa dapat dari waktu ke waktu membantu mematahkan siklus reproduksi kutu rusa dan kemampuan mereka untuk berkembang di daerah pinggiran dan pedesaan. Suatu pendekatan organik yang tidak biasa

untuk mengendalikan kutu dan pencegahan penyakit Lyme adalah melibatkan penggunaan Ayam Guinea

peliharaan. Ayam Guinea adalah konsumen rakus serangga dan araknida dan memiliki kesukaan khusus untuk

kutu.Menggunakan Localized dari Ayam Guinea peliharaan dapat mengurangi ketergantungan pada metode

pengendalian hama-kimia f. Pengobatan Antibiotik merupakan pengobatan utama untuk penyakit Lyme; pengobatan antibiotik yang paling tepat tergantung pada pasien dan tahap penyakit ini. Antibiotik pilihan

adalah doksisiklin (pada dewasa)., Amoksisilin (pada anakanak), eritromisin (untuk wanita hamil ) dan ceftriaxone, dengan perawatan yang berlangsung 14-28 hari. Alternatif pilihan yang cefuroxime dan cefotaxime.. Pengobatan wanita hamil adalah serupa, tetapi tetrasiklin tidak boleh digunakan. Penyakit Lyme pada pasien hamil tidak dapat diobati dengan antibiotik pilihan pertama, doxycycline , karena berpotensi berbahaya untuk janin. Sebaliknya, eritromisin biasanya diberikan itu kurang efektif melawan penyakit tetapi tidak berbahaya untuk janin. Sebuah plasebo-terkontrol berbagai pusat studi klinis

menunjukkan bahwa 3 minggu pengobatan dengan ceftriaxone intravena, diikuti oleh 100 hari pengobatan dengan amoksisilin oral tidak memperbaiki gejala apapun lebih dari hanya 3 minggu pengobatan dengan

ceftriaxone. Para peneliti mencatat bahwa hasilnya tidak harus dievaluasi setelah pengobatan antibiotik awal melainkan 6-12 bulan sesudahnya. 2. Brucella melitensis a. Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Order : Bakteri : Bakteri : Bakteri Alpha : Rhizobiales

Keluarga Genus Spesies

: Brucellaceae : Brucella : B. melitensis

Karakteristik Bakteri gram negatif,kecil,ramping, tidak memiliki flagel maupun kapsul. Nama penyakit: Coccobacillus brucellosis Menyerang domba, sapi, terutama kambing dan bersifat zoonosis Pada hewan menyebabkan sterilisasi, mastitis, epipimitis, dan aborsi. Pada manusia menyebabkan demam malta. b. Morfologi Kuman Brucella tersebar di seluruh dunia terutama di negara mediterania seperti Asia dan Amerika Latin. B. melitensis dapat hidup di dalam tanah yang lembab

selama 72 hari, di dalam susu 17 hari dan dalam air laut 25 hari. Berdasarkan hal ini penyebaran kuman pada ternak/manusia mungkin sekali terjadi. c. Siklus hidup d. Kelainan yang ditimbulkan ( tanda dan gejala ) Diawali dengan septisemia lalu mengarah ke demam undulant dengan penekanan pada rasa sakit otot,

berkeringat (sering kali dengan karakeristik bau jerami basah) dan arthralgia bermigrasi dan mialgia. Juga disertai kelemahan, anemia, sakit kepala, depresi dan rasa sakit otot dan tubuh. e. Pencegahan Cara utama pencegahan brucellosis adalah dengan

menggunakan kebersihan teliti dalam memproduksi produk susu mentah, atau dengan proses pasteurisasi semua susu

yang dapat dicerna oleh manusia, baik dalam bentuk tak berubah atau sebagai turunan, seperti keju. Cara lain adalah dengan imunisasi aktif pada binatang sebagai sumber infeksi dengan vaksinasi. Strain kuman yang digunakan dalam pembuatan vaksin ini adalah B. abortus strain 19 yang sudah dilemahkan untuk sapi dan B. melitensis strain Rev I untuk biri-biri dan kambing. Imunisasi aktif pada manusia terhadap infeksi Brucella masih bersifat eksperimental. f. Pengobatan Antibiotik seperti tetrasiklin, rifampisin dan streptomisin dan gentamisin aminoglikosida efektif terhadap bakteri Brucella. Namun, penggunaan lebih dari satu antibiotik yang diperlukan selama beberapa minggu, karena bakteri mengeram di dalam sel. Perlakuan standar untuk orang dewasa adalah suntikan harian intramuskular streptomisin 1 g selama 14 hari dan doksisiklin oral 100 mg dua kali sehari selama 45 hari (bersamaan).Gentamisin 5 mg / kg secara injeksi intramuskular sekali sehari selama 7 hari adalah pengganti yang diterima saat streptomisin tidak tersedia atau sulit untuk mendapatkan rejimen lain yang banyak digunakan