You are on page 1of 5

Anak Sopir Mikrolet Jago Debat Inggris

25 Apr 2011

Berita Kota Nasional

JAKARTA, BK Siapa bilang anak orang tidak kava dilarang berprestasi Bukcinva. banyak orang sukses berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Termasuk, prestasi yang diraih Egi Ryan Aldino (17) yang homu menjadi anak seorang sopir mikrolet, tapi berhasil meraih prestasi dan segudang beasiswa. Berkat, prestasinya membuka lebar-lebar kesempatan dirinvj untuk ikut dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nevjeri (SMFTN). Pada jalur SMPTN itu. Egi mengaku lebih memilih jurusan Hubungan Internasional di Universitas Indonesia dan jurusan Teknik di Institut Teknologi Bandung. Selain itu. Egi juga mendapat beasiswa dari Dana BOS yang diterima sebesar Rp 350.000 tiap bulan. Uang beasiswa itu benar-benar dimanfaatkan Egi untuk mem bantu mengurangi biaya sekolah orangtuanyi. Ayah sjvj. Saud Hutabarat bekerja menjadi sopir Mikrolet 37 jurusan Pulogadung Senen. Sedangkan ibu saya, Espina Tamba hanya ibu rumah tangga. Sava diberi pesan oleh orangtua saya untuk menjadi orang yang sukses. Makanya saya benar-benar memanfaatkan kesempatan bisa bersekolah di SMKN vang menjadi sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional," terang Egi vang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara itu. Egi memang salah satu siswa kami vang berprestasi. Kami memang selalu mendukung siswa vang unggul dari sisi akademik dan kegiatan ckstrakulikuler untuk terus mengasah kemampuannya, seperti kegiatan ckstrakulikuler don beri beasiswa," ujar Kepala SMKN 4. WahidinBancf. Dengan beasiswa, siswa mendapatkan uang sebesar Rp 250.000 per bulan sesuai dengan besaran uang SPP tiap bulannya. Dengan cara itu banyak siswa vang terbantu don memiliki prestasi yang membanggakan," jelas Wahidin Pelajar kelas 3, SMKN -) Jalan Rorotan 6, No 5, Cilincing, Jakarta Utara itu telah memiliki berbagai prestasi, seperti Desember 2009 lalu menjadi juara pertama lomba debat Bahasa Inggris tingkat SMA se-Jakarta Utara. Kemudian, Agustus 2010 Ulu mendapat juara i lomba debat 6ahasa Inggris tingkat Jakarta, dan juara 4 lomba debat Bahasa Inggris tingkat nasional pada November 2010 lalu. Menurutnya, berprestasi tidak harus sesuai dengan jurusan sekolahnya, yaitu Jurusan Elektronik Industri. Saya masuk ke dalam club itu untuk mengasah kemampuan conversation Bahasa Inggris. Lagipula sejak SMP, saya memang senang mata pelajaran Bahasa Inggris. Temyata kegiatan ekstrakulikuler itu membuahkan hasil vang membanggakan, ujar Egi.

Keahlian berbahasa Inggris yang dimiliki semakin tcrasah setelah dia mengikuti kegi.!cm di English Club vang dilakukan tiga kali seminggu. Sava ikut kompetisi debat Bahasa Inggris itu karena didaftarkan oleh alumni. Awalnya saya tidak mengira akan menjadi juara, tetapi mungkin karena mengikutinya dengan serius membuahkan hasil yang memuaskan, tutur Egi. Perolehan prestasi itu tidak membuat Egi puas. Pada awal Mei 2011 ini. Egi akan mengikuti debat dengan materi Hukum Internasional di Universitas Indonesia yang diselenggarakan oleh Asosiasiation Law Student. Siswa yang tinggal di Jalan Kayu Tinggi, Gang Beringin 3, Cakung, Jakarta Timur itu akan mencoba peruntukkannya dalam kompetisi di luar jurusan sekolahnya. Saya senang mengikuti kompetisi seperti itu untuk memperluas wawasan. Saya nggak mau lulus dari sekolah ini hanya bermodalkan ilmu kejuruan saja. Dengan demikian, saya akan menjadi siswa yang memiliki bekal yang cukup untuk masa depan nanti. Semoga berhasil ya Eg ge

Penulis lahir di Batu 2 Desember 1974. Lulusan terbaik fakultas MIPA IPB 1997 dari Jurusan Statistika ini bekerja selama tiga tahun di Jakarta sebagai data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute. Ia selanjutnya merambah karir di New York City selama 10 tahun. Pencinta yoga, sastra. dan seni teater ini meninggalkan NYC Juni 2010 dengan posisi terakhir sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. 9 Summers 10 Autumns adalah novel pertama yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya sebagai anak seorang sopir di Kota Batu ke New York City. Buku pertamanya Melankoli Kota Batu berupa kumpulan fotografi dan narasi puitis, didekasikan untuk Kota Batu. Iwan saat ini tinggal di Batu, Jawa Timur. Kesuksesan kerja dan karier cemerlang di New York, Amerika Serikat tidak membuat Iwan Setyawan enggan kembali ke kampung halamannya di Kota Apel Malang, Jawa Timur. Ia memutuskan berhenti dan pulang ke Indonesia. Waktu saya memutuskan berhenti dan kembali ke Indonesia banyak yang Tanya, are you crazy? ujar Iwan saat tampil di Kick Andy. Dengan tenang, pria kelahiran di Batu-Malang pada 2 Desember 1974 ini, menceritakan bahwa tujuannya bekerja sampai ke New York adalah untuk mencari uang agar bisa memiliki kamar tidur sendiri. Ini adalah obsesi terbesarnya. Maklum, Iwan adalah keluarga sederhana. Ayahnya yang hanya sopir angkot yang tak punya cukup dana untuk bisa membuatkan kamar yang layak untuk anak-anaknya. Iwan tinggal di rumah berukuran enam kali tujuh meter, dimana ia harus berbagi tempat dengan orang tua dan 4 saudari perempuannya. Dengan susah payah dalam masalah pembiayaan, Iwan bisa lulus sekolah bahkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Dalam kurun waktu 4 tahun, kuliahnya di Fakultas MIPA, Jurusan Statistika selesai dan menjadi lulusan terbaik di tahun 1997. Ia bekerja selama tiga tahun di Jakarta sebagai data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute. Ia selanjutnya merambah karier di New York City.

Berkat upaya dan keinginan kuat untuk keluar dari kemiskinan keluarganya, ia berhasil mendapatkan pekerjaan di Amerika sebagai Senior Manager Operations. Selama 10 tahun meniti karier di negeri Paman Sam, ia akhirnya bisa menduduki jabatan bergengsi, yaitu sebagai Director Internal Client Management Data Analysis and Consulting Nielsen Consumer Research New York, Amerika Serikat. Pencinta yoga, sastra. dan seni teater ini meninggalkan NYC Juni 2010 dengan posisi terakhir tersebut. Meski dalam perjalanan karier yang demikian bagus, tapi Iwan memilih jalannya sendiri. Iwan tinggalkan kota Big Apple New York, dengan segala kemeriahannya dan memilih kembali ke kota Apel Malang, Jawa Timur. Di sini, saya ingin berterima kasih pada semua orang yang mendukung saya. Dan saya ingin melakukan sesuatu yang touch people, tegasnya. 9 Summers 10 Autumns

Di kaki Gunung Panderman, di rumah berukuran 6 x 7 meter, seorang anak laki-laki bermimpi. Kelak, ia akan membangun kamar di rumah mungilnya. Hidup bertujuh dengan segala sesuatu yang terbatas, membuat ia bahkan tak memiliki kamar sendiri. Cerita tentang kesuksesan selalu menggugah inspirasi. Setelah semua rintangan dapat dilalui, dan hidup yang dulu terasa pahit dan kadang menyakitkan berubah menjadi kebahagiaan, di saat itulah perjalanan hidup seseorang menarik untuk dipelajari. Maka, lewat buku yang dikemas dengan gaya tutur novel ini Iwan Setyawan ingin berbagi inspirasi kepada pembaca. 9 Summers 10 Autumns adalah novel pertama yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya sebagai anak seorang sopir di Kota Batu ke New York City. Buku pertamanya Melankoli Kota Batu berupa kumpulan fotografi dan narasi puitis, didekasikan untuk Kota Batu. Iwan saat ini tinggal di Batu, Jawa Timur. Novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata perjalanan hidup Iwan yang berasal dari keluarga paspasan. Ayahnya seorang sopir angkot yang hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP. Sedangkan ibunya yang tidak tamat SD, digambarkan Iwan sebagai cermin kesederhanaan yang sempurna. Iwan memiliki 4 saudara perempuan yang disebutnya 4 pilar kokoh. Iwan mengisahkan, di rumahnya yang mungil dan hampir tak berhalaman, ia dan 4 saudara perempuannya (2 kakak dan 2 adik), serta ibu dan bapaknya, berbagi dua kamar tidur, satu ruang tamu kecil, satu dapur, dan satu kamar mandi. Ia menulis, Sebagai anak laki satu-satunya, aku

selalu berpindah-pindah tempat tidur. Dari kamar ibu bapakku, kamar kakak perempuanku, ruang tamu, dapur, sampai tidur dengan kakek nenek di rumah bambu mereka yang berlantai tanah, di sebelah rumah kami. Kondisi itu berlangsung hingga ia menginjak masa remaja. Ia pun bermimpi ingin punya kamar sendiri suatu saat nanti. Aku selalu menginginkan sebuah kamar, bisa menutup pintunya dan mengarungi malam sendiri. Namun meminta kamar sendiri pada saat itu bukan hanya permintaan yang sangat bodoh, tapi juga pertanyaan yang tak berhati, katanya. Lantaran sering batuk-batuk pada malam hari, bapaknya membuatkan ranjang dari bambu. Ranjang ini ditempatkan di sudut ruang tamu, di dekat pintu dapur, di depan kamar orangtuanya. Ranjang bambu berukuran kira-kira 0,5 x 1,5 meter itu adalah ranjang pertamaku, tulisnya. Hidup dalam kondisi yang serba kekurangan, ternyata tidak mematahkan semangat Iwan juga kakak dan adiknya untuk menggapai cita-cita yang tinggi. Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran dan mencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar sayur, tulis Iwan. Ia berkeyakinan bahwa pendidikan dapat membentangkan jalan keluar dari penderitaan dan mengubah hidup seseorang. Dalam novel ini, jelas tergambar sosok ibu yang berperan besar dalam membangun karakter dan mengisi pendidikan anak-anaknya. Iwan menggambarkan sosok ibunya cukup detail, sehingga pembaca bisa belajar banyak dari tokoh ini. Ia menceritakan, ibunya membangun ide untuk menabung. Ibunya juga pintar mengatur berapa liter nasi yang harus ditanak tanpa tersisa keesokan harinya, kapan keluarganya harus makan daging, ayam, atau tempe. Iwan mengungkapkan, ibunya tahu barang apa yang harus digadaikan untuk membeli sepatu baru bagi anaknya dan mengatur pembayaran uang sekolah. Dia menghadirkan demokrasi berbagi di tengah pergulatan hidup. Ibuku adalah cermin kesederhanaan yang sempurna di mata kami dan kesederhanaan inilah yang menyelamatkan kami, papar Iwan menggambarkan ibunya. Kemiskinan rupanya tak menggoyahkan hati sang ibu. Melalui pendidikan, ibunya yakin, anakanaknya akan memiliki masa depan yang cerah. Karena itu, ia gigih berjuang agar anak-anaknya tetap sekolah. Ibu ngotot semua anaknya, termasuk yang perempuan, harus sekolah sampai universitas, tutur Iwan. Lulus dari SMAN 1 Batu dengan prestasi yang baik, Iwan mendapat undangan khusus untuk kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Berita itu disambut gembira oleh keluarganya. Namun di sisi lain, ia gamang terhadap biaya kuliah yang harus mereka tanggung. Tak ingin anak lelakinya kehilangan kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi, sang ayah menjual satusatunya angkot yang selama puluhan tahun telah menghidupi keluarga ini. Setelah tak memiliki angkot lagi, ayah Iwan kemudian menjadi sopir truk. Iwan diterima di jurusan Statistika, salah satu jurusan favorit di IPB. Mahasiswa yang berhasil masuk jurusan ini semuanya memiliki IPK tinggi di Tingkat Persiapan Bersama. Karena itu tingkat persaingannya pun sangat ketat. Mulanya ia sempat grogi dan merasa tak yakin dapat memenuhi harapan orangtuanya. Ia mengungkapkan kekhawatirannya itu.

Setelah tingkat dua, persaingan menjadi semakin tajam dan tak sedikit mahasiswa yang harus mengulang atau drop-out. Aku mungkin salah satu siswa terbaik di Batu, tapi di sini aku menjadi sangat kecil di tengah siswa berprestasi lainnya: siswa teladan nasional, finalis olimpiade matematika internasional, juara karya ilmiah nasional, dan sederet prestasi panjang lainnya. Dalam kegalauan hatinya, ibunya menenangkan Iwan dengan mengatakan, Coba dulu, belajar yang rajin, jangan takut. Nasihat sang ibu memberi keyakinan bahwa menjalani proses adalah menjalankannya sekarang, saat ini, dengan kerja keras dan melepaskan ketakutan akan hasil yang didapat. Kegagalan ataupun keberhasilan sebuah proses adalah dimensi lain yang akan melahirkan pelajaran baru untuk proses selanjutnya. Alhasil, Iwan berhasil menjadi lulusan terbaik dari fakultas MIPA jurusan Statistika pada 1997. Berikutnya, perjalanan Iwan menuju tangga kesuksesan dimulai. Setelah lulus dari IPB, Iwan diterima bekerja di AC Nielsen Jakarta sebagai data analyst selama dua tahun, lalu di Danareksa Research Institute (DRI). Tak lama berkarier di DRI, Iwan mendapat tawaran yang sulit dia tolak, yaitu sebagai data processing executive di Nielsen International Research di New York, AS. Ia tak pernah bermimpi mendatangi New York, terlebih mendapat kesempatan karier di perusahaan multinasional di negara Paman Sam itu. Nmaun, berkat kerja keras dan ketekunan, ia berhasil melampaui mimpinya. Setelah 8 tahun berkarier di New York, Iwan berhasil menduduki posisi tinggi, sebagai Director Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. Karena kerinduannya yang dalam pada tanah kelahirannya, Batu, di tahun ke-10 Iwan memutuskan untuk berhenti dari perusahaan ini dan memilih kembali ke Indonesia. Aku ingin membangun sebuah kamar kecil, di Tanah Airku, janjinya. Namun tak selamanya gemerlap lampu-lampu New York dapat mengobati kerinduan akan rumah kecil dan Tanah Airnya. Dan pada akhirnya, cinta keluargalah yang menyelamatkan semuanya.