You are on page 1of 8

"Kami Tidak Dapat Jabatan atau Naik Pangkat Sehabis Demo" Tugas dan kewajiban utama kami (mahasiswa)

adalah belajar, belajar dan belajar, bukan untuk demo, demo dan demo. ... Kami mahasiswa sangat dirugikan kalau kami harus keluar kampus untuk berdemo, karena meninggalkan jam kuliah. Kami mahasiswa keluar kampus untuk berdemo kalau nurani kami mendengar dan melihat rakyat (para orang tua kami) menderita, dan aspirasinya tidak lagi didengar penguasa negeri ini. Penguasa hari ini hanya mau tunduk dan taat mendengar masukan dan aspirasi gerombolan koruptor, para bandar narkoba...

0inShare

OMK-Teologia-Esensi Politik
OPINI | 07 June 2012 | 12:55 Dibaca: 207 Komentar: 2 Nihil

Anak muda sudah jenuh melihat berita-berita di berbagai media, semuanya mengangkat tentang kebobrokan sistem pemerintahan di Negara Indonesia, namun tetap masih ada segelintir anak muda yang perduli dengan persoalan itu. Mudah-mudahan energi positifnya dapat menular ke yang lain. Dia adalah imam (pastor) dan mantan uskup dari Serikat Sabda Allah (SVD) yang berhenti pada Januari 2005 dengan alasan kesehatan yang tidak menentu. Tetapi sebulan kemudian Vatikan membebastugaskannya dari jabatan uskup karena terlibat dalam politik praktis. Untuk membela yang tertindas!! Pada masa kini orang dewasa (para pendahulu kita) mulai menyadari pentingnya peranan orang muda Katolik dalam membangun kehidupan menggereja dan masyarakat yang lebih baik. Orang muda Katolik sering dijuluki sebagai bunga Gereja dan harapan bangsa, sebab di pundak orang muda Katolik juga terpatri berjuta harapan semua pihak baik keluarga, Gereja maupun bangsa dan negara. Masa muda merupakan masa yang penuh tantangan sejalan dengan siapa orang muda Katolik, bagaimana dengan perkembangan imannya sebagai anggota Gereja Katolik dan fungsi mereka dalam hidup menggereja dan berbangsa. Iman orang muda Katolik kepada Allah Tritunggal sedang berada dalam tahap peralihan yakni dari iman yang diwariskan oleh orang tua menuju kedewasaan iman Katolik yang sejati. Hidup Katolisitas orang muda Katolik membutuhkan refleksi dan perjuangan, sebab menjadi anggota Gereja Katolik tidak hanya sekedar Katolik, tetapi harus terlebih dahulu beriman kepada Allah Tritunggal dan selalu berusaha merefklesikan atau menghayati-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Iman Katolik tidak bersifat statis, tetapi dinamis dan selalu berkembang. Kemampuan berefleksi akan iman dalam Yesus Kristus, membuahkan hasil yang semakin lama semakin dewasa dalam iman Katolik. Namun kenyataannya tidak demikian, sebab kekatolikan orang muda Katolik mayoritas atas warisan dari orang tua. Sejak masih bayi orang muda Katolik sudah dibaptis dan menerima agamanya tanpa sikap kritis, sehingga belum sepenuhnya mampu mempertanggungjawabkan identitasnya sebagai

anggota Gereja Katolik. Di bidang katekese belum menghasilkan buah seperti yang diharapkan oleh Gereja. Oleh karena itu, di bidang katekese perlu ditingkatkan dan lebih aktif dalam menanamkan nilai-nilai Katolisitas yang kontekstual, melalui pengkaderan orang muda Katolik menjadi bagian dalam tugas pelayanan Gereja di tengah dunia. Orang muda Katolik saat ini hendaknya mempersiapkan diri menjadi bagian dalam perjuangan bangsa melalui keaktifan dalam kehidupan berpolitik. Keluarga-keluarga Katolik sekarang ini hanya membentuk orang muda Katolik, sebagai generasi yang hanya menerima keadaan iman Katolik yang kurang dipertanggungjawabkan dan menerima kehidupan sosial dan politik yang sulit, bukan berjuang untuk mengatasinya. Akibatnya, banyak orang muda Katolik mudah pindah iman dan agama, kerena belum menemukan eksistensi imannya dalam komunitas Katolik. Orang muda Katolik kurang dipersiapkan secara matang untuk menghadapi kerasnya kehidupan, malah lebih cenderung tenggelam pada urusan pribadi dalam mengejar kesenagan untuk diri sendiri, sehingga kehilangan daya kritis dan bahkan rasa kepedulian terhadap nasib bangsa. Pembiasan politik tidak lagi demi kepentingan bersama, melainkan kepentingan individu atau kelompok. Orang muda Katolik sekarang ini tidak mau bersusah payah tetapi ingin bersenang-senang untuk menikmati hasil kerja keras orang tua. Kegiatan sekolah, kuliah, kerja dan jalan-jalan ke mall atau aktivitas fun yang artinya, kegembiraan sudah membuat orang muda Katolik merasa cukup. Kemungkinan yang ada kurang dilihat atau kalau pun dilihat kurang dimanfaatkan seperti mengikuti perkumpulan Mudika, kegiatan Legio Maria, persekutuan karismatik Katolik, kegiatan PMKRI, Karang Taruna, WKRI, KMK dan lain sebagainya untuk mengembangkan hidup Katolisitasnya. Sebagai umat Katolik yang sejati, dituntut keaktifan dalam mengembangkan hidup Katolisitasnya agar lebih realistis sebagai pengikut Yesus Kristus. Dalam hidup beriman sebagian besar orang muda Katolik bersikap acuh tak acuh dan bahkan menjadi korban dari penyakit sosial termasuk juga yang dikenal dengan ateisme moderen. Pengaruh negatif tersebut, orang muda Katolik menganggap bahwa agama hanya suatu formalitas, sehingga kurang berminat membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti perayaan ekaristi kurang serius dan kurangnya pengetahuan agama Katolik dan bahkan penghayatan imannya pun sangat dangkal. Bicara tentang politik orang muda Katolik lebih cenderung beranggapan bahwa politik itu kotor, sehingga merasa segan untuk berdekatan dengan masalah politik. Kalau dicermati dengan baik, sebagian besar orang muda Katolik hampir tidak mau peduli terhadap kehidupan berpolitik, bahkan menganggap urusan politik sebagai sesuatu yang tabu, padahal dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar ditentukan oleh kebijakan politik.

Dengan problematika di atas, penulis menyadari betapa pentingnya peran orang muda Katolik sekarang ini untuk membangun dan memperjuangkan kepentingan hidup bersama khususnya di bidang politik, meskipun ada sikap apatis tetapi memcoba untuk berusaha mengimbau orang muda Katolik untuk menjadi bagian di bidang politik. Oleh karena itu, penulis ingin menggali potensi-potensi orang muda Katolik sebagai harapan masa depan Gereja dan bangsa. Dalam hal ini juga, penulis ingin mendalami lebih spesifik tentang politik dalam perspektif Gereja Katolik, sebab sebagai petugas pastoral tidak boleh buta tentang politik. Di bidang politik merupakan salah satu lahan untuk berpastoral, tidak hanya secara intern tetapi juga ekstern. Orang muda Katolik nampaknya belum sepenuhnya menghayati imannya sebagai umat Katolik, sebab dasar iman mereka masih warisan oleh orang tua, dan bahkan mempertanggung jawabkan imannya pun dalam kehidupan sehari-hari masih mudah goyah. Sekalipun mereka sudah dibaptis tetapi iman mereka kepada Allah Tritunggal masih dangkal. Kenyataannya iman mereka masih dapat dipengaruhi oleh iman orang lain dan bahkan mudah pindah iman dan agama. Orang muda Katolik belum sepenuhnya mengerti kekhasan ajaran iman Gereja Katolik. Sebagai warga masyarakat majemuk, orang muda Katolik mesti mau hidup membaur dan berkarya bukan hanya bagi Gereja Katolik, tetapi juga bagi masyarakat, sebab orang muda Katolik juga adalah warga negara Republik Indonesia. Seperti termaktub dalam surat Yakobus: Apakah gunanya, jika seseorang menyatakan bahwa ia mempunyai iman padahal tidak mempunyai perbuatan (Yak 2:14). Semangat hidup Katolisitas tidak hanya diterima, direfleksikan, dipelajari, dihayati tetapi harus dikonkretkan dalam kehidupan sehari-hari, melalui sifat dan tingkah laku setiap anggota Gereja. Salah satu perwujudan hidup katolisitas orang muda Katolik adalah keterlibatan aktif dan menjadi bagian hidup berpolitik. Seorang politikus Katolik dan penggiat orang muda Katolik dalam berpolitik harus dengan sungguh-sungguh menemukan dan memiliki makna dalam hidup bernegara. Romo Dr. Eddy Kristiyanto, OFM menegaskan bahwa: Semua agamawan sadar, bahwa Allah itu politis. Jika orang mengeluarkan dari kitab-kitab suci agama kandungan dan makna politis, maka akan ditemukan bahwa begitu banyak lobang dalam kitab suci. Kandungan dan makna politis di sini adalah sikap Diri Allah yang berada di samping, mendampingi dan menyertai. Mengingat Allah itu politis di hadapan kenyataan ciptaan-Nya, maka segenap ciptaan (terutama manusia, yang adalah citra Allah sendiri), tidak ada pilihan lain. Manusia perlu bersikap politis. Tegasnya, bersikap politis merupakan sakramen, yakni tanda dan sarana yang mengantar pada pembebasan dan peyelamatan.

Secara tegas politik diartikan sebagai pelayanan dan perwujudan kasih Allah untuk mengusahakan kesejahteraan bersama dengan mengikuti dan meneladani Yesus Kristus yang memiliki kepedulian dan semangat politik, terutama politik solidaritas bagi mereka yang lemah, miskin dan tersingkir untuk menghadirkan kesejahteraan dan keselamatan. Setiap orang muda Katolik dipanggil untuk membangun Gereja Katolik dan masyarakat, sebagaimana yang pernah diseruhkan dalam semangat moral oleh almarhum Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ menjadi seratus persen Katolik dan seratus persen warga negara Indonesia tetap relevan direnungkan. Dalam hal ini merupakan suatu pelayanan yang total, baik di lingkungan Gereja Katolik maupun di wilayah negara. Orang muda Katolik mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan Gereja dan tanah airnya. Keterlibatan orang muda Katolik dalam kehidupan berpolitik merupakan perwujudan iman mereka sebagaimana misi Yesus Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20: 28). Oleh karena itu, orang muda Katolik hendaknya menjadi bagian dalam suatu organisasi yang ada baik dalam komunitas Katolik maupun dalam masyarakat umum untuk dijadikan sebagai wadah dan kancah pembelajaran. Orang muda Katolik harus mau dan mampu membangun komunikasi dengan orang dewasa yang sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman berpolitik. Dengan mengikuti dan menjadi bagian dalam suatu organisasi, di situ orang muda Katolik dapat ikut membangun persatuan sebagai satu bangsa dan tanah air, sehingga pengembangan Katolisitas orang muda Katolik tidak hanya di lingkungan Gereja Katolik, tetapi juga di wilayah sosial dan politik. Dengan demikian, orang muda Katolik mau dan mampu menjadi saksi Kristus di tengah-tengah masyarakat majemuk. Dalam pembahasan sikripsi ini, penulis dapat membatasi tema lebih terfokus pada pengembangan Katolisitas orang muda Katolik yang berhubungan dengan peran mereka dalam hidup berpolitik. Menjadi orang muda Katolik yang integral mereka harus memenuhi tiga unsur yaitu Muda, Katolik, dan Indonesia. Ketiga unsur itu harus integral, utuh, ada dalam diri orang muda Katolik. Orang muda Katolik harus menjadi sepenuh-penuhnya beriman Katolik dalam bimbingan Roh Kudus dan seutuhutuhnya berjiwa Indonesia pribumi. Minimal yang bisa dilakukan OMK tetap menunjukan kepedulian dengan belajar berorganisasi, dan itu dasar politik dalam sub kecil.
Surat Gembala (SG) Uskup Sibolga, Mgr. Dr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap., 21 September 2012 TIDAK MALAS DALAM IMAN. Suara Kenabian yang semakin jelas dan tegas, kepada seluruh masyarakat Tapteng: agar para pejabat Pemkab Tapteng dan pengusaha korporasi dan para pendukungnya, yg MENINDAS HAK-HAK RAKYAT, serta para pelaku KAMPANYE BUSUK menjadi tergugah hatinya untuk membaharui dirinya menuju panggilan kepada pertobatan yang otentik untuk kembali kepada Tuhan.

(1) Mengapa tidak boleh malas dalam iman? SG: Perlu kita ingat bahwa sekarang iman itu sering kita hayati dalam kegelapan dan kadang mengalami cobaan yang berat (2) Cobaan berat apa dan bagaimana? SG: Tapi pertama-tama mari kita perhatikan tetangga dan orang-orang yang kita jumpai setiap hari yang menderita entah karena apapun (3) Untuk apa iman harus dipraktikkan? SG: Hidup kita yang telah dibaharui, tentu dapat juga menggugah hati sesama dan mendorong mereka untuk membaharui dirinya. NikS (01.x.12)

Peranan Gereja Katolik dalam Bidang Sosial Politik

29092005
(Narasumber: Pst. Teddy Aer, MSF. Host: Rocky & Silka) Rocky: Pandangan Gereja di masyarakat, tidak boleh masuk ke dalam bidang sospol, apakah pandangan ini benar? pandangan romo? Romo: pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Bagi Gereja Katolik, bidang sospol adalah juga kebon anggur Tuhan dimana Gereja diutus untuk bekerja juga di situ. Dalam pandangan Gereja Katolik yang tidak boleh terlibat dalam bidang politik secara praktis adalah para imam Gereja/para pastor, tetapi yang lain: umat, awam, didorong oleh Gereja untuk berani terlibat dalam bidang sospol. Kenapa para Pastor tidak boleh terlibat dalam sospol, ada 2 alasan mendasar: 1. Para pastor sebagai gembala harus bersikap netral, tidak boleh memihak, harus objektif mengayomi & membimbing semuanya. Tidak akan membeda-bedakan. 2. Kalau pastor terlibat dalam salah satu bidang politik praktis dalam partai politik tertentu, yang membahayakan adalah tindakan pastor bisa membutakan hati nurani umat, contoh di Indonesia, saya sebagai Pastor ikut partai A, tapi ada umat yang sebenarnya pilihannya ikut partai B, tapi karena melihat pastornya di partai A, dia akhirnya ikutan-ikutan ke A, padahal hatinya di B. Itu yang membutakan hati nuraninya. Kemudian Rumusan Gereja Katolik yang menyatakan tidak boleh ikut dalam sospol harus diluruskan. Hanya para pastor yang tidak boleh melakukan politik praktis, tetapi umat didorong untuk terlibat dalam politik praktis. Umat sangat didorong untuk bisa ikut ambil peran secara aktif dalam karya-karya di bidang sospol. Lalu, para pastor, ngapain? Pastor tetap memberi perhatian dalam bid sospol, tetapi dalam kapasitas & tugas dia sebagai Pastor yaitu mendampingi umat yang ambil peran dalam bidang politik, menjadi teman perjalanan bagi umat yang berperan itu. Kenapa? Supaya dalam kerangka ini, umat yang berperan dalam politik itu berjalan sesuai dengan ajaran Gereja Katolik mengenai peran-peran dalam Gereja Katolik. Ini bukan supervisi, tapi lebih pada teman perjalanan, yang berdiri di samping bagi mereka yang bergerak di bidang politik. Rocky: Umat juga harus batasan-batasan agar tidak menyalahi aturan Gereja Katolik. Batasan-batasan atau rujukan apa yang bisa digunakan oleh umat agar tidak menyalahi aturan tersebut? Romo: Ada sejumlah dokumen tentang Ajaran Sosial Gereja, mengenai keterlibatan-keterlibatan Gereja dalam bidang-bidang sosial termasuk politik, kalau mau menyimpulkan dari 12 ajaran Gereja itu, keterlibatan seorang Katolik dalam bidang sospol mempunyai satu tujuan membangun bonum commune (latin),artinyamembangun masyarakat atau komunitas yang lebih baik. Itu tujuan yang harus dicapai atau menjadi arah ketika orang memilih atau mau mengambil peran terlibat dalam politik. Ketika orang terlibat dalam bidang politik, namun dia mau mencari keuntungannya sendiri itu adalah hal yang keliru, dia mau mencari kebaikan bagi diri sendiri, itu keliru. Gereja Katolik tegas mengatakan maka tujuannya adalah membangun masyarakat/komunitas yang lebih baik bukan membangun diri atau kelompok mu yang lebih baik. Itu batasan yang digunakan oleh Gereja Katolik. Rocky: Kenapa di umat kita masih ada keengganan untuk mau terlibat dalam bidang sospol?

Romo: Di awal sudah dikatakan bahwa yang secara tegas dilarang dalam keterlibatan berpolitik praktis adalah para imam/pastor. Misalnya keterlibatan dalam partai tertentu. Bahwa dia terlibat/berminat dalam politik secara umum, silakan, tetapi yang sekarang terjadi, larangan yang tadinya hanya terjadi di kalangan para pastor, entah bagaimana dan entah siapa yang memulai, larangan ini ditarik sepanjang-panjangnya sampai rumusannya muncul Gereja Katolik dilarang berpolitik. Itu keliru. Pastor dilarang berpolitik, itu pun masih keliru, tidak begitu pas. Bahwa pastor dilarang berpolitik praktis, itu benar!! Sekali lagi, pandangan larangan itu ditarik sepanjang-panjangnya, sehingga rumusannya Gereja Katolik tidak berpolitik, Gereja Katolik melarang, itu salah, kesalahpahaman ini yang pelan-pelan menjadi semakin mengakar. Itu yang mengakibatkan secara umum keengganan orang Katolik untuk terlibat dalam bidang politik. Jangankan terlibat, berbicara soal politik pun menjadi enggan dan males berbicara dan menganggap ini bukan karya Gereja. Akibatnya: 1. 2. Sedikit yang terlibat dalam bidang politik. Ketika ada seorang Katolik,yang terlibat dlm bidang politik dia tidak dikatakan melaksanakan berkarya untuk Gereja, orang itu dianggap berkarya di luar tembok Gereja. Itu konsekuensi yang terjadi dari pandangan Gereja Katolik tidak berpolitik itu.

Rocky:

Lalu,

nilai-nilai

apa

yang

harus

dibawa

oleh

seorang

umat

dalam

bidang

sospol

ini?

Romo: Seperti kita ketahui bahwa Yesus Kristus datang ke dunia membawa misi dari Allah Bapa, membawa kabar keselamatan/kabar baik dari Allah. Tugas Kristus itu yang diterima dari Bapa, diteruskan Yesus kepada murid-muridnya. Para murid bertugas mewartakan kabar baik di dalam seluruh kehidupan ini termasuk dalam bidang sospol. Maka bagi seorang Katolik yang terlibat dalam bidang sospol nilai yang dibawa oleh dia bahwa dia adalah murid Yesus yang membawa kabar baik, mewartakan kabar baik di dalam bidang sospol. Kabar baik itu apa? Seperti apa? Bentuk konkrit dari kabar baik itu adalah yang dirumuskan dalam tujuan itu, yaitu terbangunnya dan terwujudnya masyarakat yang lebih baik. Kabar baik dalam bentuk itu menjadi sangat konkrit, ketika seorang Katolik dalam keterlibatannya dalam bidang sospol mengupayakan, bentuknya bisa macam-macam, kehidupan masyarakat yang lebih baik, di situ dia mengemban amanat Kristus. Ketika seorang Katolik dalam kewenangannya dia merumuskan sebuah peraturan daerah supaya daerah menjadi lebih baik, di situ dia mengemban amanat Kristus, ketika seorang Katolik di Balikpapan ini bekerja di dalam kantornya, dalam keterlibatannya memperjuangkan keputusan-keputusan untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik, di situ dia mengemban misi Kristus. Rocky: Jadi apapun keputusan-keputusan yang diambil untuk menjadikan orangg lebih baik, meskipun bukan dalam lingkungan Gereja, itu berarti implementasi dari pewartaan yang dimaksud tadi, ya? Romo: Betul, berangkat dari imannya yang mengimani Yesus Kristus, diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Silka: Romo, setelah kita mengetahu fakta-fakta, bhw sebenarnya kita tidak dilarang untuk terjun ke dunia sospol, apa yang harus kita lakukan sebagai umat Katolik, sebagai Imam, dan sebagai Gereja Katolik di bidang sospol di masa mendatang? Romo: Paradigma yang berpendapat, Gereja Katolik dilarang terlibat dalam bidang sospol. Itu harus diubah. Bid sospol yang dianggap barang haram, harus diubah. Kita harus punya paradigma pemikiran adalah sospol adalah kebun anggur Tuhan dan kita diutus ke situ. Yang kedua, atas dasar perubahan paradigma itu yang harus diperbuat ke depan adalah kita berani terlibat, karena ketika paradigmanya berubah, tapi kitanya tidak terlibat sama saja tidak akan terjadi apa-apa. Kita harus berani terlibat. Masyarakat yang lebih baik adalah tanggungjawab kita semua. Nota pastoral dari KWI bulan November 2004 menggarisbawahi bahwa: masyarakat yang lebih baik adalah tanggungjawab kita bersama. Baik buruknya masyarakat adalah juga tanggungjawab Gereja Katolik, artinya ketika kehidupan sospol buruk, kendati orang Katolik mengatakan tidak terjun, tetap dia ikut bersalah, karena dia tidak mau terlibat. Kehidupan bermasyarakat yang lebih baik juga tanggung jawab orang Katolik, dalam tugas dan kapasitasnya masing-masing dalam fungsinya di masyarakat. Semua harus berani terlibat. Itu dua point yang mendasar untuk ke depan yang harus terjadi. Kenapa harus terjadi, tidak bisa ditunda, harus mulai sekarang. Secara jujur, dalam arti tertentu ada begitu banyak ketinggalan yang terjadi, karena paradigma yang salah tadi. Silka: Apa harapan-harapan Gereja Katolik terhadap organisasi politik yang bernafaskan Katolik ini?

Romo: Harapan bagi orang Katolik yang terlibat, adalah berani mewujudkan tujuan itu, berani memegang idealisme itu, kendali sulit, sungguh harus melawan arus masyarakat, arus yang umum terjadi, yang penting saya, yang lain terserah, yang penting saya senang sendiri, yang lain terserah. Atau istilah kerennya jaman sekarang ini Emang Gue Pikirin (EGP). Dia harus berani mengubah idealisme itu, menjadi seorang idealis dalam bidang sospol untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Itu yang saya pikir harapan paling dasar untuk semua orang tidak hanya orang Katolik, tapi kepada siapapun yang terlibat dalam bidang sospol. Silka: Romo sendiri cukup lama terlibat dalam bidang sospol, ada pesan untuk orang Katolik yang baru mau terlibat dalam bidang ini? Romo: Mari kita wujudkan kemauan untuk terlibat, dan kita punya dasar yang sangat kuat tentang keterlibatan ini, yaitu Allah sendiri. Allah menunjukan kabar baik dengan terlibat dalam kehidupan manusia. Yesus meninggalkan tahta di surga, dan menjadi manusia, terlibat dalam kehidupan. Kita pun diajak untuk berani terlibat, sekarang dan jangan ditunda-tunda. (csw

Sabtu lalu (14/07), ada kegiatan Sosialisasi Empat Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (Pancasila, UUD Negara RI tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) bertempat di GKPB Fajar Pengharapan Bandung. Saya sangat mengapresiasi dengan terselenggaranya kegiatan tersebut (maklum baru petama kali ikutan) untuk itu, saya sampaikan terima kasih kepada MPR-RI, PGI (Depera PGI), Keluarga Masa Depan Cerah (DMC), GKPB Fajar Pengharapan, dan PGIW Jabar yang sudah memberi kesempatan kepada kaum muda Kristen menambah wawasan perihal 4 pilar tersebut. Kesimpulan yang saya dapat dari sosialisasi tersebut yaitu: Sesi pertama, Mensosialisasikan 4 pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, di antaranya: 1. Pancasila: ideologi negara RI yang harus dipahami bersama secara terbuka dengan mengembangkan wacana dan dialog di dalam masyarakat sehingga dapat menjawab tantangan Indonesia masa kini dan masa depan. Pancasila harus dipertahankan dan diperjuangankan dalan tindakan nyata, sehingga mencapai tujuan yang dicitacitakan. 2. UUD Negara RI tahun 1945: sumber hukum tertinggi yang menjadi pedoman dan norma hukum yang dijadikan sumber hukum bagi peraturan perundangan yang berada di bawahnya. Proses amandemen UUD 45 harus mempertimbangan kepentingan bersama, sehingga tidak mengubah bentuk NKRI. 3. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI): negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undnagundang. NKRI adalah harga mati! Ketika NKRI harus dipertahankan maka diperlukannya perjuangan untuk senantiasa bersatu. 4. Bhinneka Tunggal Ika: semboyan yang mempersatukan karena bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan majemuk, terdiri atas berbagai suku, bahasa, budaya, agama, dan adat istiadat. Kemajemukan itu merupakan kekayaan dan kekuatan, sekaligus menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Kemajemukan adalah anugerah yang harus dipertahankan, dipelihara, dan dikembangkan. Ingat, kemajemukan (perbedaan) bukanlah senjata permusuhan, tetapi justru di sanalah letak kepelbagaian yang memberi warna tersendiri agar saling bersatu sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Keempat pilar tersebut merupakan nilai-nilai luhur bangsa yang menjadi ciri karakter bangsa Indonesia, di mana di dalamnya terkandung harapan agar masyarakat memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan kehidupan yang demokratis, sejahtera, dan bermartabat sesuai amanah konstitusi.

Selain itu dalam sesi pertama ini disampaikan pula beberapa pokok pikiran oleh Sekum PGI (Pdt. Gomar Gultom, M.Th.) yang berkaitan dengan 4 pilar tersebut (justru di sinilah wawasan saya terbuka), seperti: 1. Keadaan Indonesia saat ini sangatlah memprihatinkan, di mana meningkatnya semangat intoleransi, mobokrasi dan budaya kekerasan, lemahnya penegakkan hukum, korupsi dan kemiskinan, serta terjadinya krisis baik moral, kepemimpinan,keteladanan, dan lain sebagainya. 2. Kegagalan negara merupakan cermin kegagalan masyarakat, yang mana salah satunya adalah kegagalan agama dalam menjalankan misinya untuk menyelamatkan kehidupan. (Gambaran dari agama yang mengalami disfungsi). 3. Perlu pengingatan kembali akan cita-cita/tujuan Negara RI, yaitu: Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia Memajukan kesejahteraan umum Mencerdaskan kehidupan bangsa Ikut serta menjaga perdamaian dunia atas dasar perdamaian abadi dan keadilan social. 1. Dikaitkan dengan kita, sebagai umat Kristen, muncul pertanyaan Gereja, masihkah berperan? salah satunya, sudahkah gereja membebaskan dan membawa damai? (jawaban ada dalam diri kita masing-masing, sebagai bahan perenungan sebagai warga Negara RI dan warga jemaat gereja Tuhan) 2. Realita keadaan gereja saat ini adalah di mana gereja mengalami keterbelahan kehidupan ibadah dan kehidupan sosial, bahkan gereja disibukkan dengan persoalan internal. (cukup memprihatinkan bukan?) 3. Perlu disadari dan diwujudnyatakan Gereja akan keterlibatan sosial a. Gereja harus ikut bicara dalam masalah sosial ekonomi: - Sosial ekonomi bukan semata soal hukum alam tetapi soal tanggung jawab manusia - Gereja harus mendesak hati nurani manusia - Sosial ekonomi masuk dalam tugas pastoral gereja (Kol. 1:9: Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.) b. Keterlibatan sosial merupakan bagian dari pewartaan gereja: - Tidak ada evangelisasi tanpa keterlibatan sosial - Tidak ada perwartaan iman tanpa perjuangan keadilan Akhir kata Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. (Yeremia 29 :7). Sesi kedua membahas Kesadaran Pluralitas dan Peran Pemuda Kristen, yakni: 1. Berdasarkan buku Sutasoma karya Mpu Tantular, kesadaran pluralitas sudah ada sejak jaman kerajaan kuno, terutama pada masa Majapahit, sehingga muncul sebuah kalimat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa. 2. Melihat situasi kekinian bangsa Indonesia sangat mencemaskan di mana masyarakat cenderung mengedepankan kepentingan kelompoknya, suku, agama, aliran politik yang diikuti dan lain sebagainya yang berakibat fatal bagi kesatuan Negara RI. 3. Perlu diketahui, berdasarkan laporan tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia tahun 2010, 39 kasus seputar rumah ibadah, konflik atau ketegangan yang melibatkan konflik antarumat beragama masih mendominasi yaitu 32 kasus (82%) sedangkan 4 kasus (10%) melibatkan konflik internal umat beragama seperti internal umat Muslim dan internal umat Kristiani. Dari 32 kasus konflik rumah ibadah dalam klasifikasi antarumat beragama merupakan konflik antarumat Muslim dan umat Kristiani, yaitu berupa keberatan umat Muslim terhadap keberadaan gereja/tempat ibadah umat Kristiani. Sedangkan pada 2011 terdapat 36 kasus. Perbedaan yang sangat mencolok adalah bahwa pada 2010 hanya ada 2 rumah ibadah bukan gereja (yaitu mushola) yang mengalami masalah, sementara di tahun 2011 ada 26 gereja dan 10 masjid; 4 dari 10 masjid yang dipermasalahkan adalah masjid Ahmadiyah. 4. Buku Sistem Sosial Indonesia menulis bahwa Bhinneka Tunggal Ika masih lebih merupakan suatu cita-cita yang masih harus diperjuangkan oleh segenap warga Negara Indonesia daripada sebagai kenyataan yang benar-benar hidup di dalam masyarakat. 5. Bagaimana peran (gereja) Pemuda Kristen? Kita ketahui bersama bahwa wajah bangsa Indonesia diliputi pelbagai persoalan, khususnya dalam dinamika kehidupan politik yang tak pernah berkesudahan. Selain itu muncul kegelisahan terhadap sebagian besar orang muda Katolik/Kristen saat ini, yang hampir tidak mau peduli terhadap kehidupan politik. Kegiatan sekolah, kuliah, kerja, dan jalan-jalan ke mal atau aktivitas fun sudah membuat mereka merasa cukup. Bicara politik bukan urusan kami, bikin pusing! (sumber dari lahirnya buku OMK ikut gerakan politik? Siapa takut?!). 6. Bagaimana seharusnya kita berperan? Memenuhi tanggung jawab individu (bdk. Yeremia 29 : 5-6) Memenuhi tanggung jawab sosial (bdk. Yeremia 29 : 7) Hindari fanatisme beragama yang sempit (Orang Katolik sejati adalah 100% orang Indonesia, 100% Katolik _Soegija) Sesi tanya jawab Kegiatan ini dihadiri oleh kaum muda gereja, yang di antaranya ada beberapa yang menyampaikan pertanyaan ataupun pernyataan, sebagai berikut: Tanya : Apakah pengaruh 4 pilar berbangsa dan bernegara ini terhadap kontrol sosial masyarakat, padahal jika dilihat, banyak anak muda, perempuan yang menggunakan pakaian mini (tidak sesuai dengan budaya Indonesia)? Jawab : Budaya satu daerah dengan daerah lainnya berbeda (contoh : budaya berpakaian di Aceh dan Papua) itu menghasilkan kontrol sosial yang berbeda. Namun harus diakui bahwa kebiasaan kita, Indonesia mengalami pergeseran budaya yang disebabkan oleh pengaruh budaya Barat. Tanya : Agama yang diakui Indonesia terdapat 6 agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu), keberadaan agama-agama tersebut terasa belum membawa Indonesia ini ke dalam etika sosial atau norma sosial yang beragama, apakah penyebabnya? Jawab : Soal agama itu menjadi urusan personal setiap manusia. Etika atau norma sosial yang belum beragama, itu disebabkan karena kurangnya keseriusan dari pejabat, dalam hal ini masyarakat membutuhkan keteladanan pemimpin negara. Tanya : Apa tanggapan kita terhadap penyimpangan yang dilakukan pemerintah (korupsi)? Jawab : Kita jangan terjebak dengan hal demikian, penyimpangan yang terjadi itu sudah terjadi, justru yang perlu dipikirkan bagaimana kita menjadi pemuda yang idealis, peduli terhadap negara dalam bentuk aksi. Tanya : Langkah-langkah praktis apa yang harus dilakukan pemuda guna mensosialisasiakan 4 pilar berbangsa dan bernegara? Jawab : Pertanyaan tersebut cukup memprihatinkan, bukan saatnya mencari teladan tetapi justru pemuda harus menjadi teladan, saatnya beraksi untuk kesejahteraan bangsa dan negara. Tanya : Kenapa Indonesia yang lebih dulu merdeka dibandingkan Singapura, belum sesejahtera Negara mereka? Jawab : Umur kemerdekaan suatu negara tidak menjamin kesejahteraan negara tersebut. Kesejahteraan didasarkan faktor kesadaran dan harapan serta tahapan guna mencapai tujuan, sesuai dengan ideologi bangsa. Tanggapan lainnya : Budaya malu merupakan salah satu pembelajaran yang tepat. Jangan selalu berpendapat bahwa orangtua/pemimpin itu adalah teladan pemuda, namun mulailah dari pemuda yang menjadi teladan yang memiliki HATI, OTAK dan NYALI bagi semua orang.

Jangan menjadi pemuda yang hidup beragamanya hanya sekedar aktifisial, butuh perubahan paradigma bahwa hidup beragama tidak identik dengan kesibukan agamanya masing-masing Ketika kita menghendaki perubahan terjadi atas bangsa Indonesia ini, marilah kita memulai dari diri kita sendiri kemudian di keluarga, lingkungan, barulah bangsa dan negara ini berubah ke arah yang baik (damai sejahtera sesuai Yer 29 : 7). Malam harinya saya merenung, beginilah perenungan saya: Kegiatan ini dihadiri oleh kaum muda Kristen, muncul pertanyaan apa yang harus dilakukan kaum muda Kristen terhadap sosialisai 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut? Pertanyaan tersebut mengusik diri saya sendiri (sebagai kaum muda Kristen). Mencoba berpikir dengan jernih dan hasilnya saya menemukan jawaban seperti ini : Sosialisasi adalah bentuk kegiatan yang gampang/ mudah, yang menjadi sulit adalah justru ketika harus mewujudnyatakan hasil sosialisasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Saya kira sebagai kaum muda Kristen yang notabene adalah kaum minoritas di bangsa Indonesia harus mampu menjadi teladan yang dimulai dari diri sendiri, yang berdampak baik bagi kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia (mulai peka dan peduli akan keberadaan masyarakat sekitar, tidak egosentris) #susah sich tapi harus berupayakan :D Ketika NKRI adalah harga mati, maka kaum muda Kristen seharusnya turut ambil bagian dalam mempertahankan NKRI tersebut, dengan memperjuangkan perubahanperubahan ke arah yang baik (menjaga lingkungan, tidak terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab). Bhinneka Tunggal Ika adalah perwujudan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama, budaya dan lain sebagainya, kaum muda Kristen harus berani menyatakan bahwa perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang guna menciptakan persatuan bangsa dan negara (menghargai adanya pluralitas, tergabung dalam Lintas Iman). Menurut saya, dengan 2 pilar tersebut (NKRI & BHINNEKA TUNGGAL IKA) cukup bagi kaum muda Kristen untuk tidak tinggal diam terhadap kondisi bangsa dan negara, banyak hal yang bisa dilakukan, tidak harus besar, melalui hal-hal kecil pun kita mampu mewujudkan kesejahteraan negara kita (bdk. Yeremia 29 : 7 Berdoa dan berusaha). Contoh kongkrit : melalui sosialisasi ini, yang dihadiri oleh kaum muda Kristen yang terdiri dari berbagai gereja (interdenominasi) dapat membentuk jejaring atau jaringan komunikasi sebagai wujud/wadah kesatuan kaum muda Kristen (walau hari itu, saat sosialisasi belum terbentuk). Dengan dimulai bersatunya kaum muda Kristen, saya yakin akan banyak ide-ide kebersamaan guna mensejahterakan bangsa dan negara Indonesia, minimal di daerah tempat tinggal kita (minimal berarti setia dari hal-hal kecil). Bukan hanya ide namun mewujudnyatakannya dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, kaum muda Kristen tidak hanya disibukkan oleh kegiatan gereja saja, namun mulai memiliki rasa kepedulian terhadap bangsa dan negara Indonesia sehingga kaum muda Kristen mampu turut ambil bagian dalam mempertahankan NKRI dan mewujudkan BHINNEKA TUNGGAL IKA (ingat!.. Beda itu indah loh :D) Harapan di kemudian hari, setelah adanya kegiatan tersebut di wilayah Bandung dan sekitarnya, saya mengharapkan akan adanya : 1. Rencana tindak lanjut (terbentuknya jejaring kaum muda Kristen antar gereja) dalam koordinasi PGIW Jawa Barat 2. Respons positif dari rekan-rekan kaum muda dengan membentuk forum persaudaran yang peduli terhadap bangsa dan Negara Indonesia (tidak terikat pada satu agama) Akhir kata : Jangan katakan kita, kaum muda Kristen itu tidak dapat melakukan apa-apa karena Tuhan sendiri yang memampukan kita untuk melakukan yang baik bagi bangsa kita.. Saatnya beraksi! Salam semangat perjuangan dan kesatuan! Sumber : Para Pembicara Sosialisai 4 Pilar _Bandung, 190712_