You are on page 1of 17

MENJADI PEMIMPIN YANG LUAR BIASA

Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orangorang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Kepemimpinan secara umum adalah kemampuan untuk memberi pengaruh pada orang lain, sehingga mereka melakukan apa yang menjadi keinginan sang pemimpin. Singkatnya kepemimpinan adalah pengaruh. Chris Widener dalam bukunya berjudul : character Traits of Extraordinary Leaders menurai ciriciri pemimpin yang luar biasa. Apakah saat ini anda jadi seorang pemimpin, calon pemimpin atau sebagai bawahan? Apapun kedudukan kita saat ini kita pasti ingin tahu bagimana menjadi seorang pemimpin yang berkarakter. 1. INTEGRITAS Adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikatakan dan dilakukan. Integritas membuat seorang pemimpin dipercaya. Integritas membuat orang orang lain mengandalkan anda sebagai pemimpin. Integritas adalah penepatan janji-janji. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikui anda adalah : bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa anda akan membawa mereka menuju ke tujuan yang dijanjikan. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang memiliki integitas? Bila ya, maka anda layak menjadi pemimpin yang luar biasa. 2. OPTIMISME Tidak akan orang yang mau mengikuti anda, bila anda memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik dan mereka dapat mencapai tempat itu. Apakah anda melihat gelas itu separuh kosong? Bila ya, anda seorang pesimis. Apakah anda melihat gelas itu separuh berisi? Bila ya, anda seorang optimis. Apakah anda melihatnya sebagai segelas penuh; yaitu separuh berisi air dan separuh lagi berisi udara? Maka anda adalah seorang yang super optimis. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang optimis? Bila ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. 3. MENYUKAI PERUBAHAN Pemimpin adalah mereka yang meilhat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasikannya pada para pengikutnya. Jika anda tidak berubah, anda tidak akan tumbuh. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang meicu perubahan? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. 4. BERANI MENGHADAPI RISIKO

Kapanpun kita mencoba sesuatu yang baru, kita pasti mengambil risiko. Keberanian untuk mengambil risiko adalah bagian dari pertumbuhanyang teramat penting. Kebanyakan orang akan menghindari risiko. Karena itu, mereka bukan pemimpin. Para pemimpin menghitung risiko dan keuntungan yang ada dibalik risiko. Mareka mengkomunikasikannya pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang lebih baik. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang berani mengambil risiko? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. 5. ULET Kecenderungan dari pengikut adalah mereka mengikut saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang kedua atau ketiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, Jika anda gagal di langkah pertama, sudahlah menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain. Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan selalu akan berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang ulet? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. 6. KATALISTIS Seorang pemimpin adalah seorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zona kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan gairah, antusiasme, dan tindakan dari para pengikut. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang mampu menggerakkan orang lain? Jika ya, anda layak menjadi pemimpin yang luar biasa. 7. KOMIT DAN BERDEDIKASI

Para pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin yang senantiasa bekerja dan berdedikasi, karena mereka melihat betapa pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang komit dan senantiasa mencurahkan perhatian anda pada tujuan? Jika ya, anda layak menjadi pemimpin yang luar biasa. Gaya kepemimpinan itu akan menentukan aktivitas para pengikutnya dan apabila gaya kepemimpinan tersebut berhasil diterapkan dengan baik maka merupakan motivator bagi orang lain untuk dapat bekerja lebih baik sehingga dapat menimbulkan semangat dan kegairahan kerja dimana akhirnya produktivitas kerja diharapkan meningkat. Jadi, seorang pemimpin dalam memotivasi dan mengarahkan karyawan hendaknya memiliki ciri khas atau gaya kepemimpinan tertentu, karena gaya kepemimpinan mencerminkan tindakan seorang pemimpin dalam memotivasi, mengarahkan dan mempengaruhi par apengikutnya. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menggunakan gaya kepemimpinan yang tepat sehingga secara langsung dapat menumbuhkan motivasi kerja dalam meningkatkan produktivitas. Semoga anda mampu menjadi pemimpin yang luar biasa dan bekarakter..!!!!!

GEREJA KATOLIK KUNO? SIAPA BILANG?

I. Gereja Katolik kurang melakukan evangelisasi?


Kardinal Avery Dulles, SJ pernah mengatakan, Tanyakan kepada umat Kristen apakah mereka mempunyai prioritas yang tinggi dalam menyebarkan iman mereka: 75% dari umat Protestan konservatif mengatakan ya, dan 57% dari konggregasi Amerika keturunan Afrika mengatakan ya, sedangkan yang mengatakan ya pada paroki- paroki Gereja Katolik hanya 6%. Tanyakan jika mereka mensponsori aktivitas evangelisasi setempat: 39% dari jemaat Protestan konservatif mengatakan ya, 16% jemaat Amerika keturunan Afrika mengatakan ya, dan hanya 3% dari paroki-paroki Katolik mendukungnya. Mother Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network) stasiun televisi Katolik terbesar di dunia pernah mengatakan Berikan kepada saya 10 orang Katolik yang mempunyai semangat yang sama seperti umat saksi-saksi Yehuwa, maka saya akan dapat merubah dunia. Itu adalah dua komentar dari orang-orang yang mempunyai andil dalam menyebarkan iman Katolik. Keduanya ingin mengatakan bahwa seluruh umat Katolik harus mempunyai semangat dalam menyebarkan iman Katolik. Namun, patut disayangkan bahwa ada sebagian dari elemen dalam Gereja Katolik, baik di tingkat anak-anak muda, keluarga, maupun di tingkat paroki, tidak terlalu menaruh perhatian besar pada karya-karya misi dan evangelisasi, walaupun tugas pewartaan adalah perintah Kristus sendiri. Jangankan memikirkan evangelisasi, bahkan ada sebagian dari umat Katolik yang mungkin tidak terlalu perduli terhadap apa yang dipercayainya. Bahkan ada sebagian yang mengatakan bahwa Gereja Katolik itu telah ketinggalan jaman, Gereja Katolik itu kuno.

II. Gereja Katolik kuno?


1. Sisi negatif dari Gereja Katolik kuno
Berapa kali kita mendengar dari begitu banyak anak muda, yang mengatakan bahwa

Gereja Katolik kuno, apa-apa tidak boleh, terlalu kaku, terlalu prosedural, terlalu berorientasi kepada hirarki, kurang cepat merespon kebutuhan umat. Berapa banyak keluarga Katolik yang tidak terlalu perduli dengan pendidikan iman Katolik bagi anak-anak mereka? Gereja Katolik adalah kuno juga sering diartikan sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan, karena tidak dapat mengikuti perkembangan jaman. Dan masih banyak nada-nada sumbang lain yang terdengar cukup lantang dan minta perhatian yang serius.

2. Menempatkan pengertian Gereja Katolik kuno dengan semestinya.


Sering sekali kita memberikan suatu istilah yang mempunyai konotasi negatif dalam satu sisi kehidupan, namun dalam sisi kehidupan yang lain, kata yang sama mempunyai konotasi yang positif. Ada orang yang mengatakan bahwa mobil yang lama ketinggalan zaman, namun orang lain penggemar mobil kuno mengatakan bahwa semakin kuno sebuah mobil, maka semakin baik. Para pengumpul barang antik akan setuju bahwa guci yang lama terutama yang berasal dari kekaisaran Cina abad-abad awal sampai pertengahan mempunyai nilai yang begitu tinggi. Bahkan satu guci porselen Qianlong berukuran 40 cm dari abad 18 terjual dengan harga 51 juta Euro atau sekitar 600 milyar. Dengan demikian, kata kuno tidak selalu jelek, bahkan menjadi begitu bernilai. Dalam hal ini, kita perlu melihat bahwa iman yang kuno juga bernilai, karena justru membuktikan keasliannya.

3. Iman yang kita pegang adalah kuno namun tetap relavan sampai akhir zaman.
Kalau kita meneliti, lebih jauh, maka iman kekristenan yang kita pegang adalah berdasarkan sesuatu yang kuno, yang bahkan mulai dari permulaan manusia, yaitu Adam dan Hawa. Dan kemudian perjalanan kisah keselamatan yang kuno ini terus berlanjut ke Habel, Noah, Abraham, Ishak, .. Musa, Daud, .. Yesus, para rasul, Gereja Katolik melalui penerus rasul Petrus dan penerus para rasul, yaitu Paus dan para Uskup serta para imam dan kemudian berlanjut kepada seluruh umat beriman pada masa saat ini sampai akhir zaman. Bukankah dengan demikian, iman kita adalah berdasarkan warisan dari pendahulu kita di dalam iman, yang sungguh sangat kuno? Apakah dengan demikian iman kita menjadi salah? Tentu saja tidak, karena iman yang kuno ini didukung oleh wahyu Allah sendiri yang dituliskan di dalam Alkitab. Mari sekarang kita melihat definisi iman serta kaitannya dengan perkembangan iman dalam dunia modern.

a. Definisi iman
Iman, berasal dari kata pistis (Yunani), fides (Latin) secara umum artinya adalah persetujuan pikiran kepada kebenaran akan sesuatu hal berdasarkan perkataan orang lain, entah dari Tuhan atau dari manusia. Persetujuan ini berbeda dengan persetujuan dalam hal ilmu pengetahuan, sebab dalam hal pengetahuan, maka persetujuan diberikan atas dasar bukti nyata, bahkan dapat diukur dan diraba, namun perihal iman, maka persetujuan diberikan atas dasar perkataan orang/ pihak lain. Namun meskipun dari pihak lain, kita dapat yakin akan kebenarannya, sebab pihak

lain tersebut adalah Allah sendiri. Maka iman yang ilahi (Divine Faith), adalah berpegang pada suatu kebenaran sebagai sesuatu yang pasti, sebab Allah, yang tidak mungkin berbohong dan tidak bisa dibohongi, telah mengatakannya. Dan jika seseorang telah menerima/ setuju akan kebenaran yang dinyatakan Allah ini, maka selayaknya ia menaatinya. Maka tepatlah jika Magisterium Gereja Katolik menghubungkan iman dengan ketaatan dan mendefinisikannya sebagai berikut: Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan ketaatan iman (Rom16:26; lih. Rom1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan[1] dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran[2] Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.[3] Maka dalam hal ini iman tidak berupa perasaan atau pendapat, tetapi merupakan sesuatu yang tegas, perlekatan akalbudi dan pikiran yang tak tergoyahkan kepada kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Maka motif sebuah iman yang ilahi adalah otoritas Tuhan, yaitu berdasarkan atas Pengetahuan-Nya dan Kebenaran-Nya. Jadi, kita percaya akan kebenaran- kebenaran itu bukan karena pikiran kita mampu sepenuhnya memahaminya atau kita dapat melihatnya, namun karena Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Benar menyatakannya. Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah ini diberikan melalui Sabda-Nya, yaitu yang disampaikan kepada kita umat beriman melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, sesuai dengan yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang kepadanya Kristus telah memberikan kuasa untuk mengajar dalam nama-Nya. Nah, untuk menerima kebenaran yang dinyatakan Allah ini, diperlukan kasih karunia dari Allah sendiri, dan untuk menanggapinya dengan ketaatan, diperlukan kerjasama dari pihak kita manusia. Selanjutnya, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, KGK 1814 Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah (Dei Verbum5).Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. Orang benar akan hidup oleh iman (Rom 1:17) Iman yang hidup bekerja oleh kasih (Gal 5:6).

b. Pengajaran iman yang baik tidak muncul tiba-tiba, namun berakar kuat dalam Tradisi.
Sering sekali orang mengatakan bahwa kita harus mengikuti perkembangan zaman.

Namun, pokok-pokok iman tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, karena iman yang baik senantiasa berakar kuat dalam Sabda Tuhan, baik yang lisan maupun yang tertulis (lih. 2Tes 2:15). Cardinal Newman, dalam bukunya An Essay on the Development of Christian Doctrines, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajaran yang dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan mengubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh Kardinal Newman dalam Gereja Katolik, sehingga karena ia menempatkan kebenaran di atas segalanya, akhirnya Kardinal Newman berpindah dari gereja Anglikan ke Gereja Katolik. Inilah sebabnya, pengajaran iman yang baik adalah iman yang berdasarkan ajaran kuno, dalam pengertian pengajaran yang dipercaya oleh jemaat perdana dan diteruskan oleh umat Allah dari generasi ke generasi. Dengan demikian, kita tidak dapat membuat ajaran-ajaran baru yang tidak pernah diajarkan di Alkitab maupun oleh para Bapa Gereja, yang mewakili jemaat perdana. Kebenaran dalam iman bukanlah berdasarkan sesuatu yang baru namun berdasarkan sesuatu yang kuno. Dengan demikian kebenaran iman menjadi suatu jalinan benang yang terjalin erat satu sama lain dan tak terpisahkan. Atau sama seperti pohon kecil yang bertumbuh menjadi pohon besar, dengan batang pohon yang sama, dengan ranting-ranting yang semakin besar dan banyak, namun tetap bergantung pada batang pohon yang sama, sehingga menghasilkan buah-buah yang limpah. Tanpa parameter ini, maka akan sulit bagi seseorang untuk meyakini bahwa apa yang diimaninya adalah sungguh-sungguh benar. Tanpa parameter ini, maka ajaran iman yang dianggap benar pada masa dulu dapat saja dianggap salah pada masa ini dan dapat menjadi benar di kemudian hari. Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu ajaran tentang Perjamuan Suci. Alkitab dan jemaat perdana mempercayai bahwa Kristus hadir secara nyata (Tubuh, Jiwa dan ke-Allahan-Nya) dalam rupa roti dan anggur: 1) St. Ignatius dari Antiokhia (110), adalah murid dari rasul Yohanes. Ia menjadi uskup ketiga di Antiokhia. Sebelum wafatnya sebagai martir di Roma, ia menulis tujuh surat kepada gereja-gereja, berikut ini beberapa kutipannya: a. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, dia mengatakan, Di dalamku membara keinginan bukan untuk benda-benda materi. Aku tidak menyukai makanan dunia Yang kuinginkan adalah roti dari Tuhan, yaitu Tubuh Kristus dan minuman yang kuinginkan adalah Darah-Nya: sebuah makanan perjamuan abadi.[4] b. Dalam suratnya kepada jemaat di Symrna, ia menyebutkan bahwa mereka yang tidak percaya akan doktrin Kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi sebagai heretik/ sesat: Perhatikanlah pada mereka yang mempunyai pandangan beragam tentang rahmat Tuhan yang datang pada kita, dan lihatlah betapa bertentangannya pandangan mereka dengan pandangan Tuhan . Mereka pantang menghadiri perjamuan Ekaristi dan tidak berdoa, sebab mereka tidak mengakui bahwa

Ekaristi adalah Tubuh dari Juru Selamat kita Yesus Kristus, Tubuh yang telah menderita demi dosa-dosa kita, dan yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa[5] c. Dalam suratnya kepada jemaat di Filadelfia, ia mengatakan pentingnya merayakan Ekaristi dalam kesatuan dengan Uskup, Karena itu, berhati-hatilah untuk merayakan satu Ekaristi. Sebab hanya ada satu Tubuh Kristus, dan satu cawan darah-Nya yang membuat kita satu, satu altar, seperti halnya satu Uskup bersama dengan para presbiter [imam] dan diakon.[6] 2) St. Yustinus Martir (sekitar tahun 150-160). Ia menjadi Kristen sekitar tahun 130, oleh pengajaran dari para murid rasul Yohanes. Pada tahun 150 ia menulis Apology, kepada kaisar di Roma untuk menjelaskan iman Kristen, dan tentang Ekaristi ia mengatakan: Kami menyebut makanan ini Ekaristi, dan tak satu orangpun diperbolehkan untuk mengambil bagian di dalamnyakecuali jika ia percaya kepada pengajaran kami Sebab kami menerima ini tidak sebagai roti biasa atau minuman biasa; tetapi karena oleh kuasa Sabda Allah, Yesus Kristus Penyelamat kita telah menjelma menjadi menjadi manusia yang terdiri atas daging dan darah demi keselamatan kita, maka, kami diajar bahwa makanan itu yang telah diubah menjadiEkaristi oleh doa Ekaristi yang ditentukan oleh-Nya, adalah Tubuh dan Darah dari Kristus yang menjelma dan dengan perubahan yang terjadi tersebut, maka tubuh dan darah kami dikuatkan.[7] 3) St. Irenaeus (140-202). Ia adalah uskup Lyons, dan ia belajar dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes. Dalam karyanya yang terkenal, Against Heresies, ia menghapuskan pandangan yang menentang ajaran para rasul. Tentang Ekaristi ia menulis, Dia [Yesus] menyatakan bahwa piala itu, adalah Darah-Nya yang darinya Ia menyebabkan darah kita mengalir; dan roti itu, Ia tentukan sebagai Tubuh-Nya sendiri, yang darinya Ia menguatkan tubuh kita.[8] 4) St. Cyril dari Yerusalem (315-386), Uskup Yerusalem, pada tahun 350 ia mengajarkan, Karena itu, jangan menganggap roti dan anggur hanya dari penampilan luarnya saja, sebab roti dan anggur itu, sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan kita, adalah Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun panca indera kita mengatakan hal yang berbeda; biarlah imanmu meneguhkan engkau. Jangan menilai hal ini dari perasaan, tetapi dengan keyakinan iman, jangan ragu bahwa engkau telah dianggap layak untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus.[9] 5) St. Augustinus (354-430), Uskup Hippo, mengajarkan, Roti yang ada di altar yang dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan, adalah Tubuh Kristus. Dan cawan itu, atau tepatnya isi dari cawan itu, yang dikonsekrasikan dengan Sabda Tuhan, adalah Darah Kristus.Roti itu satu; kita walaupun banyak, tetapi satu Tubuh. Maka dari itu, engkau diajarkan untuk menghargai kesatuan. Bukankah roti dibuat tidak dari saru butir gandum, melainkan banyak butir? Namun demikian, sebelum menjadi roti butir-butir ini saling terpisah, tetapi setelah kemudian menjadi satu dalam air setelah digiling[dan menjadi roti][10] Martin Luther sendiri mempercayai bahwa Kristus hadir secara nyata, walaupun dia berpendapat bahwa roti dan anggur tersebut juga mempunyai substansi roti dan anggur. Dengan kata lain, kehadiran Kristus secara nyata adalah bersama-sama

dengan roti dan anggur. Atau roti dan anggur yang telah diberkati mempunyai dua substansi, yaitu roti dan anggur serta Kristus sendiri. Kemudian pada tahun 1529, Martin Luther berdebat dengan Zwingli pada konfrensi di Marburg untuk mempertahankan bahwa Kristus hadir secara nyata dalam roti dan anggur. Kita dapat melihat ajaran Martin Luther dalam Small Catechism bagian VI, yang ditulisnya sendiri sebagai berikut:[11] VI. The Sacrament of the Altar As the head of the family should teach it in a simple way to his household. What is the Sacrament of the Altar? It is the true body and blood of our Lord Jesus Christ, under the bread and wine, for us Christians to eat and to drink, instituted by Christ Himself. Where is this written? The holy Evangelists, Matthew, Mark, Luke, and St. Paul, write thus: Our Lord Jesus Christ, the same night in which He was betrayed, took bread: and when He had given thanks, He brake it, and gave it to His disciples, and said, Take, eat; this is My body, which is given for you. This do in remembrance of Me. After the same manner also He took the cup, when He had supped, gave thanks, and gave it to them, saying, Take, drink ye all of it. This cup is the new testament in My blood, which is shed for you for the remission of sins. This do ye, as oft as ye drink it, in remembrance of Me. What is the benefit of such eating and drinking? That is shown us in these words: Given, and shed for you, for the remission of sins; namely, that in the Sacrament forgiveness of sins, life, and salvation are given us through these words. For where there is forgiveness of sins, there is also life and salvation. How can bodily eating and drinking do such great things? It is not the eating and drinking, indeed, that does them, but the words which stand here, namely: Given, and shed for you, for the remission of sins. Which words are, beside the bodily eating and drinking, as the chief thing in the Sacrament; and he that believes these words has what they say and express, namely, the forgiveness of sins. Who, then, receives such Sacrament worthily? Fasting and bodily preparation is, indeed, a fine outward training; but he is truly worthy and well prepared who has faith in these words: Given, and shed for you, for the remission of sins. But he that does not believe these words, or doubts, is unworthy and unfit; for the words For you require altogether believing hearts. Lebih lanjut dalam Augsburg Confession / Confessio Augustana (25 Juni 1530), di

artikel X tentang Perjamuan Allah (of the Lords Supper), diajarkan bahwa gereja Lutheran percaya bahwa Tubuh dan Darah Kristus adalah sungguh-sungguh hadir di dalam, dengan, dan dalam rupa roti dan anggur dari sakramen tersebut dan menolak siapapun yang mengajarkan yang lain.[12] Namun, apa yang dipercayai oleh Martin Luther tidak dipercayai oleh Ulrich Zwingli maupun John Calvin. Yang pertama percaya bahwa Ekaristi hanya sebagai simbol, yang kedua percaya bahwa Kristus hadir secara nyata hanya secara spiritual. Dan kemudian, kalau kita melihat, ajaran yang berbeda-beda tentang Ekaristi diajarkan oleh begitu banyak denominasi Kristen. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana umat Allah dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak?

c. Pengajaran iman yang baik harus dipastikan kebenarannya.


Disinilah pentingnya adanya suatu otoritas, yang memberikan kepastian ajaran. Otoritas ini begitu penting, karena tanpa otoritas maka semua orang dapat mempunyai pendapat yang berbeda-beda akan ajaran iman. Otoritas ini bukanlah otoritas yang dibuat oleh manusia, namun otoritas yang bersifat Ilahi, karena diperintahkan sendiri oleh Kristus, ketika dia mengatakan Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Mt 16:19). Mengikat dan melepaskan adalah manifestasi dari otoritas. Otoritas inilah yang diberikan oleh Kristus kepada Petrus dan penerus rasul Petrus, yaitu para Paus. Dan otoritas untuk mengampuni dosa juga diberikan kepada para rasul serta para penerusnya, yaitu para uskup, sehingga Yesus mengatakan Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. (Yoh 20:23). Dengan dasar inilah, maka Gereja, melalui Magisterium Gereja diberikan kuasa atau otoritas oleh Kristus untuk menjadi pilar kebenaran. Dan hal ini ditegaskan kembali oleh rasul Paulus, yang mengatakan Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (ecclesia = Church = Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. (1Tim 3:15). Inilah sebabnya, ketika Magisterium Gereja memberikan pengajaran iman dan moral, maka kita sebagai umat Katolik harus mempercayainya dan mengikutinya. Kalau kita memilih-milih dan menentukan sendiri mana pengajaran yang terlihat masuk akal dan nama yang tidak, maka iman kita bukan lagi bersifat Ilahi atau adi-kodrati, namun bersifat manusiawi. Menjadi bersifat manusiawi, karena parameter akhir dalam menentukan kebenaran adalah diri sendiri. Dan kalau ini diterapkan, maka akan terjadi perpecahan di mana-mana, yang pada akhirnya melanggar perintah dari Kristus untuk menjaga persatuan umat Allah (lih. Yoh 17:21).

4. Kuno sekaligus modern


Seperti yang telah diterangkan di depan, maka kita dapat melihat bahwa Gereja Katolik senantiasa mengajarkan pokok-pokok iman yang berdasarkan wahyu Allah, baik yang tertulis yaitu Kitab Suci dan juga yang lisan yaitu Tradisi Suci, yang dijaga kemurniannya oleh Magisterium Gereja, sehingga kebenaran iman dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi secara konsisten dan murni. Namun, bukan

berarti bahwa kalau kita mempunyai iman yang kuno, maka kita dapat mengadaptasi cara evangelisasi secara modern. Justru penggabungan dua hal inilah yang didengung-dengungkan dalam konsili Vatikan II. Kita mendengar adanya dua kata kunci dalam konsili Vatican II, yaitu aggiornamento dan ressourcement.Ressourcement berasal dari bahasa Perancis yang berarti kembali ke sumber, baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci.Aggiornamento, berasal dari bahasa Italia, yang berarti updating atau pembaharuan. Pembaharuan di sini bukanlah membuat ajaran-ajaran baru yang tidak sesuai dengan Alkitab maupun Tradisi Suci, namun lebih ke arah metode evangelisasi, sehingga pengajaran iman Katolik yang begitu benar dan indah dapat disampaikan dengan lebih jelas, yang berarti orang dapat menerima pengajaran tersebut dengan jelas dan penuh kegembiraan. Pembaharuan di sini adalah metode penyampaian, yang disesuaikan dengan kondisi zaman, dan juga kondisi pendengar. Dengan memperhatikan kondisi zaman dan kondisi pendengar, maka kabar gembira dapat disampaikan secara lebih relevan, sehingga pendengar dapat mengkorelasikannya dengan kehidupan mereka masing-masing. Pembaharuan di sini bukanlah untuk membuat doktrin yang baru, namun menyesuaikan dengan alat bantu yang ada, seperti internet, video, dll. Dan hal ini diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II maupun Paus Benediktus XVI. Pada tahun 2009 pada hari komunikasi seluruh dunia yang ke-43, Paus Benediktus XVI mengatakan Saya ingin mendorong kaum muda Katolik untuk membawa kesaksian iman mereka ke dalam dunia digital.

III. Pelajarilah, hiduplah dan sebarkanlah!


1. Pelajarilah iman Katolik dengan sungguh-sungguh.
Bagai pepatah, Tak kenal maka tak sayang, maka kita harus mengenal dan mempelajari iman kita, agar dapat menjadikan iman kita ini bagian dari hidup, dan dapat kita bagikan kepada orang lain. Walaupun mempelajari iman Katolik membutuhkan banyak waktu, mengingat banyaknya sumber yang harus dipelajari, seperti dari kitab suci, dokumen-dokumen Gereja, tulisan para Bapa Gereja dan Para Kudus, dll namun ini merupakan hal yang sangat berguna dan tidak dapat diukur manfaatnya bagi keselamatan jiwa kita. Suatu kenyataan yang harusnya mendorong kita adalah bagaimana saudara-saudari kita dari agama Kristen lain yang justru kembali ke pangkuan Gereja Katolik setelah mempelajari kekayaan iman tersebut. Padahal kita sendiri yang Katolik belum tentu mengetahui dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Mempelajari iman Katolik bukan dimaksudkan hanya agar kita mengetahui sebatas kepala dan tidak turun ke hati. Sebab jika demikian kita akan mirip seperti orang Farisi yang rajin mempelajari Kitab suci, tetapi tidak menjiwai dan menerapkannya di dalam hidup. Mempelajari iman di sini berarti mendekati kebenaran dengan iman dan akal budi (faith and reason) (Di dalam pembukaan surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, yang berjudul Fides et Ratio (Faith and Reason), ia berseru, Iman dan akal budi adalah seperti dua sayap yang mengangkat roh manusia untuk mencapai kontemplasi kebenaran; dan Tuhan telah menempatkan di dalam hati manusia keinginan untuk mengetahui kebenaran- yaitu untuk mengenal dirinya sendiri-

sehingga dengan mengenal dan mengasihi Allah- semua orang, pria dan wanita dapat juga sampai pada kepenuhan kebenaran tentang diri mereka sendiri (bdk Kel33:18; Mzm 27:8-9; 63:2-3; Yoh 14:8; 1Yoh 3:2). Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth; and God has placed in the human heart a desire to know the truth- in a word, to know himself so that, by knowing and loving God, men and women may also come to the fullness of truth about themselves (cf. Ex 33:18; Ps 27:8-9; 63:2-3; Jn 14:8; 1Jn 3:2).)) dan dengan demikian, mengikuti Firman Tuhan sendiri yang mengatakan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat (1 Pet 3:15). Jika kita kurang memahami iman dan pengharapan kita, tentu sulitlah bagi kita untuk memberi pertanggunggan jawab tentang iman kita jika ada yang bertanya pada kita. Jadi mempelajari iman kita adalah suatu bentuk kerendahan hati, yang dimulai dari sikap ketaatan, menerima pernyataan wahyu Allah yang dipercayakan oleh Yesus Kristus kepada Gereja-Nya. Jika ada pengajaran yang belum kita mengerti, kita mohon karunia Roh Kudus untuk membimbing kita, namun kita harus percaya bahwa Roh Kudus itu telah lebih dahulu bekerja pada para Rasul dan kini terus bekerja di dalam para pengganti mereka, sehingga dengan kerendahan hati kita harus menerima sepenuhnya pengajaran Gereja. Dengan sikap ini, tentulah pada waktuNya, Tuhan akan membantu kita memahami pengajaran tersebut.

2. Hiduplah sesuai dengan iman Katolik.


Ingatlah bahwa iman Katolik adalah sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya urusan di gereja seminggu sekali. Hidup sesuai dengan iman Katolik inilah yang dimaksud dengan hidup kudus yang kita laksanakan di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan di mana saja. Dalam pelaksanaannya mungkin saja kita akan menghadapi tantangan, cemooh, atau bahkan kehilangan teman. Dalam hal ini ingatlah apa yang dikatakan Yesus untuk mereka yang dianiaya karena Dia, Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga (Mat 5:12). Hidup sesuai dengan iman Katolik adalah hidup dalam kekudusan (lihat artikel: Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus). Ini memang perjuangan bagi setiap kita. Iman kita harus selalu membawa perubahan diri kita ke arah yang lebih baik. Kita harus punya semangat seperti Rasul Paulus yang mengajarkan agar kita senantiasa taat dan mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (lih. Fil 2:12). Takut di sini maksudnya adalah hormat (reverence and awe) yang menggambarkan kasih kita sebagai anak-anak Allah untuk tidak melawan Allah Bapa kita,[13] baik dengan perkataan ataupun perbuatan. Hormat kepada Allah Bapa juga disertai dengan hormat kepada Yesus PuteraNya dan Gereja yang didirikanNya oleh kuasa Roh Kudus.

3. Sebarkanlah iman Katolik-mu.

Yesus menginginkan kita untuk menyebarkan kasihNya kepada seluruh dunia, sehingga dunia dapat dibawa kepada kebenaranNya, sebab Kristuslah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6). Jadi menyebarkan iman bukan hanya menjadi tanggungjawab para uskup, imam dan religius lainnya, tetapi menjadi tugas kita semua. Penyebaran iman ini adalah pertama-tama melalui teladan hidup dan bukan hanya dengan kata-kata. Ingatlah bahwa sebelum naik ke surga Yesus berkata, Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. (Mat 28:19-20). Pada hari Pentakosta, kita melihat bagaimana Roh Kudus berkarya di atas para Rasul sehingga mereka dapat bersaksi tentang Yesus dengan berani, sampai akhirnya berita Injil dapat tersebar ke seluruh bumi. Roh Kudus yang sama itu berada di Gereja Katolik, yang juga berarti tinggal di dalam hati kita, anggotaanggotanya.[14] Komuni kudus yang kita terima hendaknya menjadikan kita pembawa misi Kristus. Mari kita bagikan rahmat persekutuan dengan Tuhan ini kepada orang-orang lain, sehingga mereka-pun dapat mengenal dan mengasihi Allah.

IV. Gereja Katolik kuno, tapi senantiasa mengikuti perkembangan zaman.


Dari pemaparan di atas, maka kita dapat melihat bahwa memang Gereja Katolik kuno dari sisi pengajaran iman, karena pengajaran iman yang kuno dalam pengertian bersumber pada Sabda Allah tertulis (Alkitab) dan Lisan (Tradisi Suci), serta dijaga oleh Magisterium Gereja maka pengajaran iman dapat terjamin kebenarannya. Dengan demikian, umat Allah akan mempunyai kepastian akan imannya. Dengan berpegang pada pilar-pilar kebenaran ini, maka kesatuan umat Allah dapat terjaga, seperti yang diinginkan oleh Kristus di Yoh 17. Namun, kebenaran akan menjadi benda kuno dan tidak terpakai kalau tidak diwartakan. Oleh karena itu, seluruh umat Allah harus menyatukan derap langkah untuk membangun Gereja Katolik yang kita kasihi. Seluruh umat Allah dalam kapasitasnya masing-masing harus saling membantu agar semua umat dapat bertumbuh dalam kekudusan, serta menyebarkan kabar gembira, mengajarkan semua hal yang diperintahkan oleh Kristus . Mari, kita bersama-sama membangun Gereja Katolik yang kita kasihi sebagai manifestasi akan kasih kita kepada Allah. Biarlah Gereja-Nya menjadi terang dunia dan menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa.

Siapakah sesamaku?
SIAPAKAH SESAMAKU..?? Hukum Kasih mengajarkan kepada kita tentang cinta yang bersifat horisontal, yaitu kepada sesama. Pertanyaannya sebenarnya siapakah sesama itu? pertanyaan ini simpel tetapi cukup mendasar. Setiap hari kita sudah berkutat dan berbaur dengan orang lain disekitar kita yang kita sebut sebagai sesama. Entah itu itu teman, tetangga, orang asing yang setiap hari kita temui dan sebagainya. Sesama bagi bagi kebanyakan diantara kita sering kita pandang sebagai orang lain sebagai yang asing bagi kita, tetapi yang sebenarnya menurut Tuhan sesama harus kita lihat sebagai saudara. Yah....sebagai saudara, sebab kata saudara memiliki makna tersendiri, disana ada kedekatan, ada komunikasi dan yang lebih penting lagi dalam kata saudara ada keintiman. Memang kalau setiap kita bisa melihat dalam wajah sesama kita sebagai saudara kita sendiri, maka dunia kita ini akan menjadi cerah dan indah. Tidak ada lagi kebencian, perselisihan, perang dan sebagainya. Pada saat itu kita melihat sesama kita dengan mata kasih. Dengan mata kasih kita bukan saja melihat sesama kita sebagai saudara sendiri, tetapi malah sebagai diri kita sendiri, bahkan sebagai sosok Tuhan sendiri. Cinta yang diungkapkan dalam perbuatan secara konkrit, bukan teoritis. Kasih yang teoritis memang indah untuk dibicarakan, tetapi tidak membangun hidup. Kasih yang sejati dan riil berarti menjadikan sesama seperti saudara kita sendiri, bahkan seperti diri kita. Dan ini tidak mudah. Karena kepicikan manusia membuat batasan dan pagar, tembok dan garis pemisah antara sesama. Ajaran kasih dari Yesus mendobrak segala garis pemisah itu. Semua manusia siapapun dia itu, termasuk musuh kita adalah sesama saudara. Tuhan Yesus mendesak supaya kita berpikir tidak berpangkal pada diri sendiri, tetapi pada orang lain, terlebih yang menderita. Apa kata para nabi-nabi dan terutama Yesus Kristus sendiri tentang Allah? Menelusuri seluruh Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru akan kita temui bahwa Allah itu sungguh satu pribadi, seorang Bapa yang penuh cinta dan sayang yang prihatin akan nasib dan keselamatan manusia dan yang memberi kebebasan kepada anak-anakNya. Allah bukan satu kekuasaan impersonal (tak pribadi) atau kekuatan anonim (tanpa nama). Ia adalah satu pribadi, yang menyatakan diriNya, yang mempunyai rencana dan tujuan tertentu dengan manusia sebagai teman dialog dan sebagai sasaran rencanaNya. Sebagai pribadi Ia berkomunikasi dengan manusia sebagai AKU ~ ENGKAU. Dia yang tak kelihatan itu menyapa manusia sebagai sahabat. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Ia berhadapan dengan Nabi Musa, berbicara dengannya sebagai dua pribadi yang saling berhadapan berhadapan (AKU ~ ENGKAU), seperti seorang berbicara dengan temannya (bdk. Kel 33:11). Sepanjang sejarah Israel penuh bertaburan peristiwa dan kesempatan dimana Allah itu melibatkan DiriNya dari mereka, dan terus menerus mengundang manusia kepada keselamatan. Ia begitu dekat dengan manusia Israel, mengasihinya dengan segenap hati. Ia berjuang demi mereka, menguatkan mereka sehingga mereka dapat bertahan terhadap musuh-musuhnya. Tokoh Nabi Ayub pernah mengalami kesulitan tidak kecil dengan tokoh Allah ini. Siapa tidak akan tergerak hatinya untuk berpikir dan memikirkan Ayub, orang saleh itu digerogoti oleh penyakit kusta yang ngeri? Berhadapan dengan sahabatnya itu (Allah), Ayub berseru lantang ;dimana Allah sahabatku dulu? Meski perih rasanya, terbentang rupa-rupa tanda tanya, Ayub pada akhirnya tidak dapat melepaskan diri dari sahabatnya itu. Ia berucap : Aku tahu penebusku hidup. Allah, sahabatku akan membebaskan saya dari musuh-musuhku. Biar Allah itu sulit dimengerti, tindakannya melampaui daya tangkap manusia, namun saya boleh mempercayakan diri kepadaNya saja. Allah adalah satu pribadi yang dapat disapa dan dimintai pertolongan (bdk Luk 10:2; Maz 2:8, 27:4), dari Dia dapat dinantikan pengampunan (Mat 6:12), Dia tidak membeda-bedakan melainkan menerbitkan mataharinya untuk orang yang baik dan orang yang jahat juga (Mat 5:45). Dia adalah satu pribadi yang memiliki perasaan-perasaan hati yang halus, mempunyai telinga untuk mendengarkan dan mempunyai hati untuk merasakan dan menyelami. Menyaksikan nasib bangsa Israel, katanya kepada Musa: Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka.. ya Aku mengetahui penderitaan mereka (Kel 3:7). Lalu Ia mengutus Musa menghadap firaun untuk membebaskan Isarel. Ketika Israel ditawan di Babilon, dimana rasa putus asa dan tanpa harapan mulai menghinggapi Israel, Allah dengan perantaraan nabi-nabi menghibur mereka.Aku ini, Tuhan Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu jangan takut, Akulah yang menolong Engkau. (Yes 41:13-14). Allah cemburu bila Isarel tidak setia pada perjanjian yang telah diikat, yakni menjalin hubungan dengan dewa-dewi bangsa lain (bdk. Kel. 20:5 ; Ul. 5:9).

Allah adalah satu pribadi, hal ini ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dalam Wahyu Ilahi sebagai berikut : Dalam kebaikan dan kebijaksanaanNya Allah berkenan mewahyukan DiriNya dan menyatakan rahasia KehendakNya (bdk Ef 1:9). Berdasarkan kehendak ini, manusia melalui Kristus, Sabda yang menjadi daging, di dalam Roh Kudus, menemukan jalan kepada Bapa dan mengambil bagian dalam kodrat ilahi (bdk Ef 2:18; 2Ptr 1:4). Maka dengan Wahyu ini Allah yang tak kelihatan (bdk Kol 1:15; 1 Tim 1:17), karena cinta kasihNya yang melimpah ruah menyapa manusia sebagai sahabat (bdk Bar 3:38), guna mengundang dan menerima mereka ke dalam persekutuanNya.Maka, sesudah berbicara dengan pelbagai dan banyak cara melalui nabi, akhirnya pada hari-hari itu Ia berbicara kepada kita di dalam Puteranya (Ibr 1:1-2). Karena Ia mengutus PuteraNya, yaitu Sabda abadi, yang menerangi semua manusia, agar Ia berdiam di antara manusia dan menceriterakan kepada mereka isi hati Allah (bdk Yoh 1:1-18). Jadi Yesus Kristus, Sabda yang menjadi daging, diutus sebagai manusia kepada manusia, menuturkan firman Allah dan menyelesaikann karya keselamatan, yang diserahkan Bapa kepadaNya untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, seorang yang melihat Dia, melihat juga Bapa. (Wahyu Ilahi, no. 2, 4 dalam Tonggak Sejarah Pedoman Arah, hal. 294-296). Salah satu kekayaan agama Kristen yang menarik untuk disimak ialah Allah dipandang sebagai Bapa, Allah adalah Bapa. Allah diimani dan dihormati sebagai Allah yang maha kuasa, maha baik, maha adil, maha , itu juga diakui dan diimani oleh agama lain meski pengertian dan paham tentang semua sifat itu berlainan. Namun semua sebutan itu menempatkan Allah di atas singgasana yang tak dapat dihampiri oleh siapapun. Allah ditempatkan sangat jauh dari manusia. Ia sungguh melampaui manusia, sangat lain sekali dari manusia. Allah itu jauh sekali dari manusia. Dengan demikian Allah semacam itu hanya dapat disembah dengan rasa takut. Semangat perbudakanlah yang menjiwai manusia. Selain mengakui itu semua, agama Kristen mengakui dan mengimani Allah sebagai Bapa. Ia adalah Bapa. Manusia yang mempercayai itu sungguh-sungguh, akan menyembah Allah Bapa bukan dengan rasa takut sebagai seorang budak, melainkan dengan rasa hormat dan kagum, dengan cinta dan penuh percaya sebagai seorang anak. Mengenai hal ini sudah ditandaskan dalam surat kepada jemaat Roma : Sebab Roh, yang diberikan oleh Allah kepada saudarasaudara tidaklah membuat saudara menjadi hamba sehingga saudara hidup di dalam ketakutan. Sebaliknya Roh Allah itu menjadikan saudara anak-anak Allah. Dan dengan kuasa Roh Allah itu kita memanggil Allah itu Bapa, ya Bapaku (Rom 8:15). Mengapa demikian? Mengapa Allah adalah Bapa? Allah sendirilah yang menyatakan diriNya, sekurang-kurangnya dalam tindakan dan hubungannya dengan Israel nyata jelas Ia bertindak sebagai seorang Bapa. Beberapa data Perjanjian Lama dan kemudian Perjanjian Baru akan diketengahkan di bawah ini guna memperjelas pokok ini. Mula-mula Allah disebut Bapa atau tersirat sebagai bapa bagi seluruh bangsa Israel, dengan tekanan pada unsur kewibawaanNya. Sejarah Allah dengan umatNya Israel mengungkapkan hal itu. Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap Tuhan, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang menciptakan engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau? Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau? Ketika Tuhan melihat hal itu, maka Ia menolak mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya laki-laki dan perempuan (Ul 32:6.8.19). Di tempat lain ditunjukkan dan dikenangkan kebaikan dan belaskasih Allah, sang Bapa itu, sebagai berikut: Terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala. Demikianlah kami selain seperti orang najis dan segala kesalahan kami seperti kain kotor.Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkau Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami dan kami sekalian adalah buatan tanganMu. (Yes 64:5-8). Dalam nada yang hampir sama dikemukakan lagi: Pandanglah dari surga dan lihatlah dari kediamanMu yang kudus dan agung!..Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami dan Israel tidak mengenal kami. Ya Tuhan, Engkau sendiri Bapa kami, namaMu ialah Penebus kami sejak dahulu kala (Yes 63:15-16). Sepenggal kutipan yang penuh kata-kata halus mengharukan sekaligus mengekspresikan sifat kebapaan Allah terhadap Israel dapat kita baca dalam Kitab Hosea sebagai berikut: Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia dan dari Mesir Kupanggil anakKu itu. Makin Kupanggil mereka makin pergi mereka itu dari hadapanKu; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung. Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka ditanganKu, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka. Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih.

Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkatku dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan. Mereka haruis kembali ke tanah Mesir, dan Asyur akan menjadi raja mereka, sebab, akan memusnahkan palang-palang pintu mereka, dan akan memakan mereka di benteng-benteng mereka. UmatKu betah dalam membelakangi Aku; mereka memanggil kepada Baal dan berhenti meninggikan namaKu. Masakan Aku memberikan engkau hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adam, membuat engkau seperti Zeboim? Hatiku berbalik dalam diriku, belaskasihanKu bangkit serentak, Aku tidak akan melaksanakan murkaKu yang menyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan(Hosea 11:9). Pengertian Allah sebagai Bapa diteruskan dalam Perjanjian Baru. Ungkapan Allah Bapa mau menyatakan wibawa dan kuasa Allah namun sekaligus mengekspresikan dekatnya Allah dengan manusia. Allah sebagai Bapa manusia tidak mengandung implikasi lain selain bahwa sebagai Bapa Ia melindungi, memelihara, dan menyelenggarakan hidup manusia. Sebagai Bapa, Ia prihatin akan segala ciptaanNya, terlebih akan manusia. Lihatlah saja, burung-burung pipit saja tak hilang dari perhatianNya, apalagi anak manusia. Semuanya berada dalam jangkauan minat dan perhatianNya. Dua ekor burung pipit dapat dibeli dengan satu duit. Meskipun begitu tidak seekorpun yang jatuh ke tanah kalau tidak dikehendaki Bqapamu. Jumlah rambut dikepalapun sudah dihitung semuanya. Sebab itu janganlah takut! Kalian lebih berharga daripada burung pipit! (Mat 10:29-31). Sebagai seorang Bapa, Ia tahu baik-baik apa yang kita butuhkan dan apa yang tidak. Dalam mengungkapkan semua kebutuhan tak perlulah manusia bertele-tele dalam kata-kata sepertinya bukan berhadapan dengan Allah sebagai Bapa. Bapamu sudah tahu apa yang kalian perlukan, sebelum kalian memintanya (Mat 6:8). Ia bukanlah Allah yang tuli dan pekak. Apa yang manusia cemaskan untuk memperolehnya, menjadi perhatianNya juga. Makanan, minuman, pakaian? Bapa yang di surga tahu bahwa kalian memerlukan semuanya itu (Mat 6:32). Dalam keseluruhan Perjanjian Baru khususnya yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus sebagai penampakan Allah, Allah Bapa itu bukanlah Allah yang kejam. Sungguh lain sekali, Dialah Bapa yang menerima manusia sebagai Allah yang menyelamatkan, yakni: Allah yang tidak menuntut tetapi memberikan apa yang dibutuhkan manusia. Allah yang tidak menindas tetapi mengangkat dan menaikkan harga diri dan martabat manusia. Allah yang tidak melukai dan menyakitkan tetapi menyembuhkan luka penderitaan lahir batin, Allah yang tidak menyiksa tetapi mengampuni dan memberikan masa depan yang baru untuk mulai lagi, Allah yang tidak menghukum tapi membebaskan; Allah yang tidak menunggu sambil bersikap masa bodoh, tapi Allah yang selalu mengambil inisiatif dan prakarsa untuk keselamatan manusia. Dalam pelbagai kesempatan Allah itu berpaling kepada orang-orang berdosa. Dalam perumpamaan anak yang hilang (bdk. Luk. 15:11-32) sang Bapa membela anak bungsu yang hilang, dari pada anak sulung yang selalu ada di rumah dengan Bapa. Betapa besar kegembiraan yang meliputi Bapa kala si bungsu kembali. Pada kesempatan lain dalam diri Yesus, Ia berpaling dan dekat dengan para pemungut cukai (yang dicap pendosa) daripada dengan kaum Farisi yang menganggap diri suci dan bersih. Ia membela pezinah dan sebaliknya menentang para terdakwa yang berlagak suci dan bertindak demi mentaati hukum. Semua yang dikatakan di atas adalah sekaligus menggambarkan Allah yang mencintai, Allah yang berbelas kasih, Allah yang sabar, sebab Ia tidak mau seorangpun binasa (bdk. II Ptr 3:9). Yang menjadi tokoh utama dalam perumpamaan anak hilang pada hakekatnya bukan si anak bungsu, bukan si sulung, melainkan Sang Bapa. Perumpamaan itu menggambarkan hati kebapaan Allah yang mencintai, yang berbelas kasih, yang menerima anaknya kembali tanpa minta penjelasan tentang detil-detil perjalanannya hingga pulang. Masa lampau anaknya dan sifat brengseknya sama sekali tak digubris. Yang penting sekarang, saat ini; anakKu pulang. Sang Bapa gembira karenanya. Kegembiraan itu terungkap dalam pesta yang diadakan karena sang anak telah ditemukan. Memang benar apa yang dikatakan Paulus: Kasih itu sabar, kasih itu murah hati,tidak mencari keuntungan diri sendiri, (I Kor. 13;4-5) benar-benar tergambar dalam diri Sang Bapa. Ia penuh sabar sebab itu masa lampau anakNya yang hitam kelam tak diungkit-ungkit. Pesta yang diadakan, pakaian, cincin dan kasut buat si bungsu. Berapa banyak? Tak apa! Kasih itu murah hati. Itulah Allah yang mencintai, Allah Sang Bapa !!! Allah menarik untuk memperhatikan lebih lanjut perumpamaan anak hilang. Seperti sudah dikatakan pada bagian sebelumnya, tokoh sentral bukan anak bungsu, bukan pula anak sulung, melainkan Sang Bapa. Begitu si bungsu menyampaikan niatnya agar memperoleh harta pusaka

yang menjadi haknya, Sang Bapa meladeninya, tanpa banyak kata dan komentar. Yang sama ketika si bungsu menjual seluruh bagiannya lalu pergi ke negeri yang jauh. Sang Bapa tak banyak ribut apalagi mempersoalkan dan membesar-besarkan. Malah tak ada hasrat untuk mengejarnya agar membatalkan dan mengurungkan niatnya. Tepat kalau dikatakan bahwa Sang Bapa dalam hal ini memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anakNya. Dalam kehidupan beragama Katolik, Allah memberikan kebebasan penuh kepada manusia. Mengherankan memang! Dia Maha Kuasa, berdaulat atas manusia, namun tak pernah memaksakan kehendakNya terhadap manusia. Lebih lagi tak mendektekan saja keinginanNya terhadap manusia. Hl ini wajar, sebab cinta dan ketaatan yang dipaksakan jelas akan menghasilkan suatu pola hidup yang penuh dengan rasa takut, gerutu dan caci maki. Itu justru tak dikehendaki oleh Allah. RencanaNya terhadap manusia, betapa luhur dan maha penting sekalipun, selalu berupa tawaran terhadap manusia, suatu undangan untuk ditanggapi oleh manusia. Dengan akal budinya yang terang dan kehendak bebasnya manusia mendengarkan, mempertimbangkan dan memutuskan apa yang mau dilakukannya. Ia bebas memilih antara pelbagai kemungkinan yang tersedia. Juga terhadap Allah. Manusia diberi kebebasan penuh. Namun, bukan tanpa resiko. Sejarah penyelamatan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberikan banyak contoh. Kebebasan disalahgunakan, status sebagai bangsa terpilih dalam praksis jauh daripada sesestinya. Israel akhirnya harus meringkuk dalam tawanan di Babilon sebagai konsekuensi atas perilakunya dan penyalahgunaan kebebasannya. Namun pada akhirnya mereka dengan bebas pula berbalik dan bertobat, percaya lagi kepada Yahwe. Sama halnya dengan si bungsu dalam perumpamaan dengan anak hilang. Ia bebas meninggalkan Bapanya, bebas hidup di tanah pengasingan, dan akhirnya dia sendiri menerima dan mengalami nasibnya: jatuh melarat. Dengan bebas pula ia memutuskan untuk pulang ke rumah Bapa setelah menyadari keadaannya yang sebenarnya.Betapa banyaknya orang upahan Bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi di sini aku mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku dan berkata kepadanya Bapa aku telah berdosa. (Luk 15:17-18). Kebebasan dihargai tinggi dan dengan penuh semangat diusahakan oleh orang-orang zaman kita ini. Tidak salah! Namun dalam praksis hidup, kebebasan dimanfaatkan seolah-olah mereka mendapat izin untuk melakukan apa saja yang menyenangkan sekalipun jahat. Yang jahat tidak jarang dilakukan. Kebebasan sejati adalah lambang citra illahi didalam diri manusia. Kebebasan diberikan Allah agar manusia mempunyai keputusannya sendiri, mencari Penciptanya secara serta merta dan dengan bebas pula menentukan pola hidupnya sesuai dengan imannya akan Allah Pencipta. Martabat manusia menuntut agar manusia bertindak menurut pilihannya yang sadar dan bebas, berasal dari dalam, bukan berdasarkan dorongan yang buta atau karena paksaan dan tekanan dari luar. Mari kita mencintai sesama kita, terutama mereka yang termarginalkan secara ekonomi, pendidikan dan sosial. Semoga Tuhan beserta kita. (memet)

DASAR KEPEMIMPINAN DALAM KOMUNITAS GEREJA

I. Pendahuluan Receive the Gospel of Christ, whose herald you have become. Believe what you read; Teach what you believe; Practice what you teach. atau Terimalah buku Injil Kristus, yang mana kamu telah menjadi pengabarnya. Percayalah apa yang engkau baca; Ajarilah yang engkau percayai; Laksanakan apa yang engkau ajarkan adalah kalimat yang diberikan pada waktu pentahbisan diakon. Walaupun tidak semua orang

ditahbiskan menjadi diakon atau imam, namun kalimat indah ini dapat diterapkan pada kita semua, yang juga menerima perutusan sebagai murid Kristus pada saat kita menerima pembaptisan. Melalui Pembaptisan kita menerima mandat dari Kristus untuk menjadi imam, nabi dan raja. Kata-kata di atas juga dapat diterapkan sebagai dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja. Komunitas-komunitas di dalam Gereja harus mempunyai dasar kepemimpinan yang berdasarkan Injil Kristus, karena Injil Kristus adalah sumber, pegangan, rujukan, sehingga seseorang dapat menjadi pemimpin kristiani yang baik. Dengan demikian pesan Injil Kristus yang utama yaitu kasih harus kita pelajari, kita percayai, kita beritakan dan terutama harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, untuk menjadi pemimpin yang baik, maka seseorang harus terlebih dahulu dapat memimpin dan mengatur dirinya sendiri. Dan tidak ada cara yang lebih efektif untuk memimpin dan mengatur diri sendiri selain menyesuaikan hidup kita dengan ajaran Injil Kristus. Dalam konteks Gereja, maka setiap komunitas yang tergabung dalam Gereja Katolik haruslah menjaga persatuan dengan Gereja, sehingga masing-masing komunitas dapat membangun Gereja dari dalam. II. Terimalah buku Injil Kristus, yang mana kamu telah menjadi pengabarnya Pada waktu kita mengatakan bahwa kita menerima Injil Kristus, maka kita juga harus mengerti apa yang sebenarnya kita terima. Dengan mengerti pesan dalam Injil Kristus, maka kita dapat menyadari prinsip-prinsip kepemimpinan yang diinginkan oleh Kristus. Berikut ini adalah dasar-dasar kepemimpinan Kristiani yang dapat kita refleksikan, yaitu kepemimpinan berdasarkan: kasih, kerendahan hati, ketekunan, kebijaksanaan, dan persatuan. 1. Kasih adalah dasar dari semua karya kerasulan dan kepemimpinan kristiani. 29 Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. (Mk 12:29-31) Kalau kasih kepada Tuhan dan sesama adalah perintah yang utama dan tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum tersebut, maka hal ini juga berlaku sebagai dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja. Bahkan kalau kita membaca semua pesan dan perintah di Alkitab, maka kita menyadari bahwa semua perintah tersebut mempunyai dasar kasih, sehingga rasul Paulus mengatakan bahwa kalau seseorang dapat berbicara dengan semua bahasa manusia dan malaikat, dapat bernubuat, memiliki seluruh pengetahuan, memiliki iman, membagi-bagikan harta maupun menyerahkan diri untuk dibakar, namun tanpa kasih, maka semuanya menjadi tidak berguna (lih. 1 Kor 13:1-13). Jadi, kita dapat melihat supremasi kasih

yang mengatasi segalanya. Demikian pentingnya posisi kasih, sehingga St. Agustinus mengatakan jika seseorang memiliki kasih, maka orang tersebut dapat berbuat apapun. Hal ini disebabkan karena kasih yang dibicarakan oleh St. Agustinus adalah kasih yang supernatural (ilahi), kasih yang menempatkan kasih kepada Tuhan lebih dari segalanya. Kasih seperti inilah yang menjadi dasar spiritualitas dari setiap pemimpin Kristiani. Orang sering salah melangkah dengan mencoba aktif dalam kegiatan-kegiatan tanpa landasan spiritualitas yang baik. Atau dengan kata lain, orang sering mencoba untuk mengasihi sesama dengan cara aktif dalam kegiatan Gereja tanpa landasan kasih kepada Allah. Tanpa berlandaskan kasih Allah, seseorang yang mencoba aktif dalam evangelisasi tidak akan bertahan lama, karena tinggal menunggu waktu, maka akan terjadi keributan, ketidakcocokan dengan teman, dan akhirnya akan tercerai berai. Hal ini sama seperti membangun rumah di atas pasir (lih.Mt 7:26), yang tidak akan bertahan pada waktu badai menerpa. Jadi, untuk dapat melakukan evangelisasi maupun kepemimpinan, maka seseorang harus mengasihi Tuhan terlebih dahulu. Dengan demikian, semua kegiatan Gereja dan kegiatan evangelisasi adalah merupakan buah dari kasih kita kepada Allah. Yang terberkati bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan: The fruit of silence is prayer, the fruit of prayer is faith, t