http://pwkpersis.wordpress.

com/2008/05/27/al-fakhru-al-razi/

Al-Fakhru Al-Râzî:
Upaya mengenal sosok ulama (mufassir) sekaligus ilmuwan (mutakallim)*
Oleh: Arif Rahman Hakim* “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat“. Pendahuluan Sebagai salah satu khazanah ilmu pengetahuan islam, tafsir menduduki posisi yang sangat urgen sekali. Pasalnya, ia memiliki fungsi untuk mempelajari kata demi kata dan susunan kalimat ayat-ayat al-Qur’an guna mengetahui maksud Allah dalam memfirmankan ayat-ayat-Nya.[1] Pemahaman terhadap maksud tersebut berimbas kepada pengaplikasian ayat-ayat al-Qur’an —terutama ayat-ayat tentang hukum. Jika salah dalam memahami maksud dari suatu ayat maka tentu akan mengakibatkan salahnya pengaplikasian dari ayat tersebut, dan tentu saja itu adalah kesalahan yang fatal. Berdasarkan kepada dasar yang dijadikan patokan dalam menafsirkan al-Qur’an, di dalam istilah ilmu tafsir, tafsir dibagi menjadi dua macam yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi. Tafsir bi al-ma’tsur berdasarkan kepada, pertama, ayat al-Qur’an lainnya yang semakna dan mengandung penjelasan dari ayat yang dimaksud. Kedua, berdasarkan kepada hadits-hadits Nabi Saw., shahabat dan tabi’in (generasi umat islam awal) yang terjamin ke-shahîh-annya.[2] Sedangkan tafsir bi al-ra’yi, tafsir ini berdasarkan kepada ijtihad seorang mufassir dalam menafsirkan suatu ayat.[3] Dan tentu saja ijtihad tersebut bertopang kepada ilmuilmu yang bisa dijadikan pijakan dalam menafsirkan al-Qur’an, seperti ilmu bahasa Arab misalnya yang meliputi nahwu, sharf, balaghah dan lain sebagainya.[4] Selain itu juga mufassir tersebut haruslah memenuhi beberapa syarat tertentu yang membuatnya layak dan pantas untuk menafsirkan al-Qur’an dengan ijtihadnya.[5] Setiap ijtihad tentu tidak luput dari benar atau salah. Karena kemampuan berpikir manusia yang terbatas. Terlebih lagi jika emosi (hawa nafsu) sudah intervensi dalam kegiatan berpikir, maka emosilah yang akan menguasai pikiran dan akan menghasilkan pikiran-pikiran yang mengikuti emosi dan tentu saja hal itu akan jauh dari kebenaran. Itulah yang terjadi dengan tafsir bi al-ra’yi. Tidak sedikit dari para ahli bid’ah yang membut tafsir al-Qur’an dengan mengutamakan akal mereka yang tidak bersandarkan kepada ilmu pengetahuan yang seharusnya. Mereka lebih diwarnai dengan keinginan mereka memperkuat pendapat alirannya. Hawa nafsu yang lebih dominan mewarnai tafsir

Ia pun dinisbahkan kepada al-Syafi’i karena selain bermadzhabkan syafi’i di dalam fikihnya. Ia pertama kali berguru kepada ayahnya sendiri Dhiya al-Dîn yang lebih dikenal dengan gelarnya yaitu Khathib al-Ray. Sehingga para ulama menamai tafsir semacam ini deengan tafsir bi al-ra’yi al-mamdûh. ia pun salah seorang ulama yang tercantum dalam al-thabaqât al-syâfi’iyyah. Perjalanannya dalam mencari ilmu Al-Fakhru al-Râzî dikenal sebagai seorang ulama yang ahli di segala bidang ilmu. Bermula dari kota kelahirannya al-Ray. Karena memang berdasarkan kepada dasar dan pijakan ynag jelas yaitu ilmu.[6] Tetapi adanya tafsir-tafsir yang lebih mengutamakan untuk memperkuat pendapatpendapat aliran mereka itu. Tetapi ia paling lama tinggal di negeri Khawarizm lalu kemudian diam menetap di kota Harah[12] sampai wafatnya. sehingga tidak segan-segan penulisnya menjelaskan makna ayat-ayat mutasyabihât dan mengkritik penafsiran ahli sunnah yang tidak menggunakan akal dalam menafsirkan al-Qur’an.[8] Maka selain itu ia pun dinisbahkan juga kepada al-qurasyi karena memang ia pun keturunan bangsa quraisy sebagaimana nenek moyangnya Abu Bakar. karena ayahnya terkenal sebagai seorang khatib di al-Ray. lalu ke Bukhara[11] kemudian ke Irak. dan Syam. Dan Al-Razi[9] merupakan nisbah kepada tempat kelahirannya yaitu al-Ray. Di dalam pencarian ilmunya. . karena ia adalah salah seorang keturunan sahabat Rasulullah sekaligus al-Khulâfa al-Râsyidîn yang pertama Abu Bakar al-Shidiq. ia tidak hanya singgah di satu tempat saja. Dirinya dinisbahkan ke al-Bakri. tentu tidak menafikan adanya tafsir bi al-ra’yi yang objektif dan sesuai dengan akidah yang benar. ini menunjukkan banyaknya bidang ilmu yang digelutinya selain itu juga menandakan gurunya yang banyak dan bergudang-gudang buku yang telah habis di bacanya. Dan diantara tafsir semacam ini ialah al-tafsîr al-kabîr Mafâtîh al. bin Ali al-Tamimi al-Bakri alQurasyi al-Thabarstani al-Razi al-Syafi’i. sehingga tafsir semacam ini mendapatkan stempel atau label tafsir bi al-ra’yi almadzmûm dari para ulama ahli tafsir. Biografi Fakhru al-Dîn al-Râzî adalah gelar (laqab) seorang ulama besar yang bernama Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin al-Husen bin al-Hasan.mereka. kemudian pindah ke Khurasan[10]. Isinya memperkuat akidah mu’tazilah. Untuk tafsir bi al-ra’yi al-madzmûm ini bisa kita ambil contoh seperti Tanzîhu al-Qur’ân ‘ani al-Mathâ’in karya al-Qadhi Abdu al-Jabbar seorang mu’tazili. Ini menandakan ia termasuk salah seorang ulama besar madzhab syafi’i. Ia dilahirkan di kota al-Ray[7] pada tanggal 25 Ramandhan tahun 544 H. Selain dikenal dengan gelarnya Fakhru al-Dîn ia pun dikenal juga dengan nama Ibn Khathib al-Ray.Ghaib karya seorang mufassir sekaligus mutakallim besar syaikh Fakhru alDîn al-Râzî.

Setelah ayahnya meninggal dunia. Banyak sekali tema-tema dialog yang ia pilih dengan penduduk di sana diantaranya tentang ilmu kalam. ayahnya dari Abu Muhammad al Husen bin Mas’ud al-Fara al-Baghawi.[15] Demikian juga di bidang fikih jika dirunut guru-guru ke atasnya maka akan sampai kepada imam al-Syafi’i. al-Baghawi dari al-Qadhi Husen al-Maruzi. ia berguru kepada al-Kamal al-Sam’ani walaupun tidak lama. al-Maruzi dari al-Qafal al-Maruzi. seperti berikut ini: Al-Fakhru al-Râzî dari ayahnya Dhiya al-Din. karena selain ilmu Hikmah yang dipelajari darinya. Lalu ia pun kembali ke al-Ray dan mulai mempelajari ilmu hikmah. Abu Ishaq dari Abu Abbas bin Rabih. Khawarizm termasuk salah satu tempat yang disingahinya dalam rangka menuntut ilmu. al-Anmathi dari Abu Ibrahim al-mazani dan al-mazani dari imam al-Syafi’i. Tetapi tidak seperti sebelumnya dimana ia belajar dengan cara berguru kepada seorang syaikh. Ia pergi ke Khurasan.[13] Setelah membaca dan menguasai ilmu-ilmu pokok dan dasar seperti fikih. ayahnya dari Abu al-Qasim Sulaiman bin Nashir al-Anshari. di luar kepala. di sini ia menuntut ilmu dengan cara langsung berinteraksi dan banyak mengadakan dialog dengan penduduk negeri itu. ilmu falak dan kimia. Kehidupannya begitu sederhana. Di sana ia membaca dan mempelajari karya-karya Ibnu Sina dan Al-Farabi. seperti berikut: Al-Fakhru al-Râzî dari ayahnya. Abu Abbas dari Abu al-Qasim alAnmathi. ushul fikih dan lainnya. Abu Ishaq dari Abu al-Husen al Bahili. al-Qafal dari Abu Yazid al-Maruzi. Dalam mempelajari ilmu ini ia berguru kepada Majdu al-Din al-Jabali salah seorang ulama besar di zamannya. barulah ia mulai mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu thabî’ah lainnya seperti kedokteran. Abu al-Qasim dari Imam al-Haramain Abu al-Ma’ali al-Juwaini. Cukup lama ia berguru kepada Majdu al-Din al-Jabali. Sebelumnya al-Fakhru al-Râzî adalah seorang yang bisa dikatakan miskin. Cara seperti ini ia lakukan juga ketika ia singgah di daerah ma wara al-Nahar (daerah seberang sungai Jihun di Khurasan). tetapi ketika ia keluar dari Bukhara dan saat menuju ke . Abu Yazid dari Abu Ishaq alMaruzi. madzhab dan akidah. Imam al-Haramain dari Abu Ishaq al-Isfirayaini. Al-Asy’ari dari Abu Ali al-Jubai seorang mu’tazili tetapi kemudian al-Asy’ari kembali ke madzhab ahli sunnah wa al-jama’ah yang ia yakini kebenarannya. [16] Perhatiannya terhadap ilmu kalam bisa dibilang tinggi terbukti dengan dihapalnya seluruh isi kitab al-Syâmil karya Imam al-Haramain tentang ilmu kalam. Abu al-Husen dari syaikh al-Sunnah Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari. ilmu kalam pun ia pelajari.[14] Perlu diketahui bahwa di dalam mempelajari ilmu kalam jika dirunut rangkain sanadnya mulai dari ayahnya sampai ke guru-guru di atasnya akan sampai langsung ke Abu al-Hasan al-Asy’ari sebagaimana yang ia sebutkan di dalam kitabnya Tahshil AlHaq.

al-Quthb al-Mishri. Ia banyak menguasai berbagai disiplin ilmu seperti tafsir. Bahkan bukan hanya syair-syari bahasa Aarab saja yang ia rangkai dengan begitu indahnya. Banyak sekali karya-karyanya di segala bidang pengetahuan yang dikuasainya. Selain majlis pengajaran di mana ia mengajarkan ilmu-ilmunya. pasti tempatnya akan dipenuhi oleh murid-muridnya dari segala daerah. difasilitasi oleh pemerintah ketika itu. susunan bahasanya yang indah dan ilmunya yang dalam membuat orang-orang termangu-mangu setiap kali mendengarkan nasehat-nasehatnya.Khurasan kebetulan ia bertemu dengan Muhammad bin Tukusy sultan Khawarizm pada waktu itu. fikih. terutama oleh para generasi setelahnya. Setiap kali al-Fakhru al-Râzî mengadakan majlis pengajaran. Ketika sultan bertemu dengannya dan mengetahui keilmuannya yang begitu luas dan mendalam sang sultan pun menjadikan dan mengangapnya sebagai kerabat dekat sehingga hal tersebut jelas mengangkat derajat sosial al-Fakhru al-Râzî. ushul fikih. bahasa persia pun ia jadikan sebagai alat untuk mengungkapkan perasaannya dalam rangkaian syair yang indah. Di barisan terdepan ia dikekelingi oleh murid-murid seniornya. Kiprahnya dalam mengajar dan karya-karyanya Al-Fakhru al-Râzî adalah salah seorang ulama yang paling hebat dan unggul di zamannya. Lisannya yang fasih. Setelah kaya ia pun menetap di Harah sampai wafatnya. ilmu falak. diantaranya seperti Zainu al-Din al-Kasysyi. kedokteran. Kegiatannya dalam mengajar. Ilmu-ilmu naql maupul aql ia kuasai sehingga tidak berlebihan jika banyak sekali para pelajar yang berbondong-bondong untuk belajar dan menuntut ilmu darinya. Itulah yang dilakukan al-Fakhru al-Râzî. Majlisnya ini kerap kali dihadiri oleh para raja dan pembesar juga pejabat kerajaan di samping rakyat jelata yang samasama ingin mendengarkan nasehat-nasehatnya yang bisa menenangkan hati mereka dan menghilangkan dahaga spiritual yang mereka alami. hikmah. filsafat. entah sudah berapa liter tinta yang dihabiskannya untuk mencurahkan ilmu-ilmunya ke atas kertas agar bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia. Seorang ulama besar tintanya tidak akan pernah kering untuk menorehkan seluruh pengetahuannya ke atas kertas. dan Syihabu al-Din al-Naisaburi. Berikut karya-karya al-Fakhru al-Râzî menurut bidang ilmu yang digelutinya:[17] . Ia pun diberi banyak harta. Pihak kerajaan banyak membangun sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk kegiatan mengajarnya. ilmu kalam. ia pun sering kali mengadakan majlis pengajian umum untuk semua orang. Pada barisan kedua dan selanjutnya dikekelingi oleh para penuntut ilmu dimana setiap barisan menunjukkan tingkatan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki si murid. juga ilmu bahasa.

Zabdatu Al-Afkar ‘Umdatu Al-Nazhar 3. Al-Mahshul Fi ‘Ilmi Ushuli Al-Fiqh 5. Al-Khamsin Fi Ushuli AlDin 8. Al-Ikhtiyarat Al-’Alaiyyah Fi Al-Ta’tsirat Al-Samawiyyah 4. Tafsir Asmai Al-Lah AlHusna Wa 1. Al-Thariqah Al-’Alaiyah Fi Al-Khilaf 7. Al-Mahshul Fi Al-Fiqh 4. Tanbihu Al-Isyarah Fi AlUshul 3. Mushadarat Eqlides 7. Tafsir Al-Fatihah Yang Ia Tulis Secara Terpisah Dari Tafsir Kabirnya 3. Abthalu Selesai) Tauhid: 2. Al-Khalqu Wa Al-Ba’tsu 8. Risalah Fi Al-Huduts 6. Al-Ma’alim Fi Ushulu AlDin Al-Qiyas (Tdk . Al-Mulakhkhash Fi AlFalsafah 10. Al-Tafsir Al-Shagir Yang Diberi Nama Asrar Al-Tanzil Wa Anwar Al-Ta’wil Ilmu Kalam Dan Filsafat: 1. Mabahits Al-Jadal 6. Nihayatu Al-’Uqul Fikih Dan Ushul Fikih: 1. Mabahits Al-Wujud Wa AlAdam 5. Al-Qadha Wa Al-Qadar 3. Risalah Jauhar Al-Fard 12. Lawami’ Al-Bayyinat Fi Tafsir Asmai Al-Lahi Wa Al-Shifat 5. Al-Maudi’ah Fi Ba’dhi Suwari Al-Qur’an 11. Al-Tafsir Al-Kabir Yang Diberi Nama Mafatih Al-Ghaib 2. Al-Ma’alim Fi Ushuli AlFikih 2. Al-Zabdah Fi ‘Ilmi AlKalam 13. Al-Arba’in Fi Ushuli Al-Din 4. ‘Ushmatu Al-Anbiya 9. Thariqatun Fi Al-Khilaf 9. Al-Ayatu Al-Bayyinat 11. Al-Muhasshal Fi ‘Ilmi AlKalam 10.Tafsir: 1. Al-Thariqah Fi Al-Jadal 2.

Ihkamu Al-Ahkam Hikmah: 11. Masail Al-Thibb 6. Risalah Fi Al-Nubuwat 13. Irsyadu Al-Nazhair Ila Lathaifi Al-Asrar Fi ‘Ilmi Al-Kalam Kedokteran Dan Fisika: 1. Risalah Fi Al-Tanbih ‘Ala Ba’dhi Al-Asrar 9. Tahdzibu Al-Dalail Wa ‘Uyunu Al-Masail Fi ‘Ilmi Al-Kalam 17. Syarhu Al-Isyarat 15. Tahshil Al-Haq 12. Siraju Al-Qulub 4. Lubabu Al-Isyarat 12. Al-Mathalib Al-’Aliyah Fi Al-Hikmah 3. Naftsah Mashdur 1. Syarhu (Tidak Selesai) Saqti Al-Zanad 4.14. Syarhu Kuliyati Al-Qanun 1. Al-Firasah 8. Syarhu Al-Mufashshal Li Al-Zamakhsyari (Tidak Selesai) 2. Al-Milal Wa Al-Nihal 10. Al-Jami’ Al-Kabir Fi AlThibb (Tidak Selesai) 7. Al-Nabdh 3. Muntakhab Tinklusya 2. Al-Akhlaq 16. Syifau Al-’Ayi Mina AlKhilaf . Al-Risalah Al-Shahibiyyah 14. Fi Al-Hindasah 4. Fi Al-Raml 5. Dirastu Al-Ijaz Fi Dirayati Al-I’jaz Lain-Lain: 16. ‘Uyunu Najariyah Al-Masail Al- 6. Al-Bayan Wa Al-Burhan Fi Al-Radd ‘Ala Ahli Al-Zaigh Wa AlThugyan Fi ‘Ilmi Al-Kalam 15. Fadhail Al-Shahabah Al13. Al-Risalah Al-Majdiyah 2. Muakhadzatu Al-Nuhah 5. Syarhu Wajizi Al-Ghazali (Tidak Selesai) 3. Al-Mabahits Al-’Imadiyah Fi Al-Mathalib Al-Ma’adiyah 7. Al-Lathaif Al-Ghiyatsiyah 5. Al-Tasyrih Mina Al-Ra’si Ila Al-Halqi 8.

[18] sebagaimana bunyi hadits Nabi Saw.6. Tidak tanggung-tanggung ia pun mengatakan bahwa al-Fakhru al-Râzî merupakan salah seorang mujaddid yang diutus Allah di setiap awal abad. Al-Riyadh Al-Muannaqah 7.[20] Komentar terhadap seseorang apalagi seorang ulama besar yang tentunya menjadi sorotan setiap orang.[19] Berbeda dengan komentar Syihabu al-Din Abu Syamah dalam kitabnya al-Dzail. Selama komentar tersebut berdasarkan hal-hal yang obyektif. seperti perkataannya ketika menyebut nama nabi Muhammad Saw dengan sebutan Muhammad al-Badi (seorang baduy). Al-Mabahits Masyriqiyyah 21. Tetapi hal tersebut bukanlah hal yang negatif karena kedekatannya itu bukan karena . Syarhu Nahji Al-Balaghah (Tidak Selesai)Risalah Fi Dzammi Al-Dunya Rasyidin 17. Memang benar bahwa al-Fakhru al-Râzî dekat dengan para penguasa pada waktu itu. Menurutnya itu bukanlah karakter seorang ulama. Diantaranya. Baik itu komentar yang baik maupun yang buruk. banyak celaan yang dilontarkan kepadanya. Ditambah lagi dengan ucapan-ucapannya yang dianggap tidak sopan. Ia sering bersama-sama dan menemani para penguasa ketika itu dan menyenangi keduniaan. Risalah Fi Al-Su’al 18. sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya yang terkenal. bahwa menurutnya tidak ada komentar yang menerangkan tentang kelebihannya. Ta’sisu Al-Taqdis 19. Oleh karena sifatnya itu. Manaqib Al-Imam AlSyafi’i 20. al-Daudi di dalam Thabaqât al-Mufassirîn sangat memuji beliau ia mengatakan bahwa al-Fakhru al-Râzî adalah seorang yang paling ahli atau mumpuni di bidang ilmu-ilmu akal di zamannya dan pemikiran juga salah seorang ahli ilmu syari’at. baik itu yang baik maupun yang buruk merupakan hal yang wajar. Al- Komentar Para Ulama Seorang yang hebat seperti al-Fakhru al-Râzî ini tentu tidak akan terlepas dari komentar para ulama lainnya baik yang sezaman ataupun generasi sesudahnya. Dll.

saat sakit (menjelang wafat) ia sempat berwasiat yang didiktekan kepada muridnya Ibrahim bin abu Bakar al-Ashfahani yang berisikan dua poin besar. Dalam penjelasan itu diterangkan bahwa al-Fakhru al-Râzî berkata: Aku telah sering menggunakan metode-metode ilmu kalam dan filsafat. Ia pun menyesal karena telah begitu mendalam mempelajarinya. melainkan dari penguasa itu sendiri. Dan menurutku sebaikbaiknya metode adalah metode yang disuguhkan al-Qur’an. (QS. Dan kedekatan mereka dengannya itu diakrenakan kagum akan kebesaran dan ketingian ilmunya. Bahwa ia pernah mendengar al-Quthb alThaughani berkata. Karen toh ia mendatkan harta yang melimah itu karena kesenangan sang sultan kepadanya sebagai ulama besar pada zamannya. maka ia berwasiat kepada siapa saja yang . dan aku tidak pernah mendapatkan metode tersebut bisa menghilangkan dahaga bagi yang haus dan menyembuhkan rasa sakit orang yang sakit. bahwa ia pernah mendengar al-Fakhru al-Râzî mengungkapkan penyesalannya. Juga dalam firman-Nya: “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya“.[21] Ibnu Katsir mengutip penjelasan Ibnu al-Atsir mengenai penyesalan al-Fakhru alRâzî mengenai dirinya yang begitu seriusnya mempelajari ilmu kalam. 42:11) dan firman-Nya: “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)“. 35:10(. Penyesalannya itu terungkap sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Shalah. Kekayaan yang dimiliki oleh al-Fakhru al-Râzî dari sultan Khawarizm waktu itu merupakan anugrah dari Allah yang patut disyukuri. Karena cinta dunia yang menghinakan itu ialah kecintaan terhadap dunia yang melebihi segalanya hatta cinta kepada Allah sekali pun. (QS. Kaya bukan berarti cinta dunia. ia baru menyadari akan kelemahan metode-metode ilmu tersebut di dalam mencapai kebenaran. (QS. 19:65)[23] Selain penyesalannya.(QS. Dan perlu diketahui bahwa yang melakukan pendekatan bukanlah dari pihaknya. Bacalah tentang metode itsbat[22] (affirmasi) dalam firman Allah:” (Yaitu) Yang Maha Pemurah. Dan bacalah tentang metode nafi (negasi) dalam firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia“. yang bersemayam di atas ‘Arsy“. bahwa tulisan dan karyanya yang begitu banyak sehingga ia sendiri pun tak tahu berapa jumlahnya juga ia pun tak tahu apakah tulisan dan karyanya itu sudah terjamin kebenarannya ataupun belum. Pertama. Al-Fakhru al-Râzî berkata sambil menangis: “Andaikan aku tidak pernah mempelajari dan bergelut dengan ilmu kalam sebelumnya“.tujuan yang negatif. Menjelang Wafatnya Setelah ia bergelut begitu lama dengan ilmu kalam dan filsafat. 20:5). dan bukan karena yang lainnya (hal-hal yang bersifat politis).

Dan terus mendesak untuk menguasai Irak secara keseluruhan. Setelah sakitnya itu. Karena salah satu ciri seorang pecinta duni adalah ia hanya memperhatikan keuntungan dirinya sendiri saja tanpa pernah mau memeperhatikan keadaan orang lain di sekitarnya.[24] Situasi dan Kondisi Sosio-Politik Lahirnya Dinasti Saljuk (bangsa Turki) pada abad kelima hijriyah berbarengan dengan maraknya aliran-aliran pemikiran yang saling berbentrokan satu sama lain. menggambarkan bahwa al-Fakgru al-Razi bukan seorang yang egois. dan tasawwuf. Mereka sering saling menghujat satu sama lain. Pada abad ini Dinasti Abbasiyah yang semula sebagai penguasa dunia islam. Ketika ia lebih mengutamakan kebenaran dari pada kemasyhuran namanya. Kedua. Ia wafat di Harah pada hari senin tanggal 1 Syawal (‘Idul Fitri) tahun 606 H. Dari isi wasiatnya di atas kita bisa menepis komentar sebagian ulama terhadapnya yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yang cinta dunia. maka ia meminta agar orang tersebut mendo’akan kebaikan untuknya.membacanya lalu menemukan dan terbukti bahwa apa yang ditulisnya itu benar. maka hendaklah dibuang dan jangan diikuti. Ia menyebutkan bahwa sebabnya ialah karena racun yang dimasukkan ke dalam minuman al-Fakhru al-Râzî oleh sekte al-Karamiyah yang bermusuhan dengannya. sedang berada dalam tahap paling kritis dari masa-masa kemundurannya. ia mewasiatkan agar semua orang memperhatikan perawatan dan pendidikan anak-anak juga tidak lupa ia mengingatkan tentang menjaga aurat. Al-Fakhru al-Râzî kemudian wafat. Al-Fakhru alRâzî sering memperlihatkan kesalahan-kesalahan keyakinan mereka itu dan mencelanya. Di mana syi’ah (sebagai sebuah negeri kecil) sudah berhasil menguasai daerah-daerah kekuasaan yang strategis. mu’tazilah. syi’ah. Hal tersebut ternyata . Ibnu Katsir mengutip penjelasan Syihabu al-din Abu Syamah tentang sebab kematian al-Fakhru al-Râzî. Tetapi hal tersebut masih bisa terbendung karena Dinasti Abbasiyah ketika itu masih mempunyai seorang pemimpin yang tangguh yaitu al-Qâdir. Mereka pun naik pitam dan akhirnya berencana untuk membunuhnya dengan memasukkan racun ke dalam minumannya. Di samping itu perhatiannya yang besar terhadap pendidikan masyarakat luas yag ia titiktekankan pada pendidikan anak-anak dan moral pada waktu itu. Maka ia berpesan tentang hal itu bahwa hendaklah semua orang dalam menjalankan tugas berat itu bertawakkal kepada Allah kemudian meminta bantuan kepada penguasa (pemerintah). filsafat. Al-Fakhru al-Râzî pun meninggal dunia. Seperti ahli sunnah. Dan akhirnya rencana mereka itu berhasil. Tetapi jika sebaliknya ditemukan kesalahan dari tulisannya itu. ia rela orang lain mengkritik dan mengoreksi kembali semua tulisannya dan dengan lapang dada menerima jika memang ada kesalahan yang terdapat dalam hasil penelitiannya itu selama ini.

kimia. Singkatnya para raja Dinasti Saljuk ini sangat memperhatikan kegiatan keilmuan para ulama khusunya para ulama sunni. Selain itu dari segi politik mereka akan mendapatkan banyak pendukung dari para ulama sunni untuk melawan musuh-musuh mereka dan yang paling utama ialah syi’ah. kedokteran sampai say’ir-say’ir indah. Jurjan. Perkembangan ilmu pengetahuan tersebut diantaranya adalah imbas dari perpecahan daerah kekuasaan dan perpecahan umat menjadi beberapa sekte dan aliran pemikiran. Khawarizm. Pasalnya al-Qâim khalifah Dinasti Abbasiyah waktu itu meminta bantuan bala tentara kepada kerajaan Dinasti Saljuk untuk membantunya membendung aksi revolusi yang digelar oleh orang-orang syi’ah. Dengan kesempatan itu mereka bisa masuk ke Bagdad dan mengusir Dinasti Buwaih dari sana.[25] Maka tidak aneh kalau al-Fakhru al-Râzî mendapatkan perhatian yang khusus dari raja Turki pada waktu itu yaitu Muhammad bin Tukusy. kembali situasi mulai memanas dan merongrong kekuasan Dinasti Abbasiyyah. ilmu falak. Demikian juga setiap aliran dan sekte yang ada saling berlomba- . Mereka sudah menguasai beberapa daerah strategis seperti al-Ray. Mereka sangat memperhatikan gerakan-gerakan ahli sunnah. Pada abad tersebut.tak berlangsung lama. Dengan banyaknya kerajaan-kerajaan kecil itu membuat mereka saling bersaing satu sama lain. tafsir. Azarbejan dan sisanya masih dikuasai oleh kerajaan Dinasti Buwaih. Mulai dari literatur ilmu-ilmu syari’at seperti fikih. Akhirnya kesempatan untuk menguasai daerah-daerah yang mereka idamkan itu datang juga. fisika. ilmu kalam. Asfahan. Ia tidak bisa membendung pemberontakan Dinasti Buwaih (syi’ah) pada masa tersebut. Mereka banyak membangun sekolah-sekolah untuk tempat para ulama sunni mengajar dan menyebarkan ilmunya. Syiraz. ushul fikih. membuat simpati para raja dan pejabat yang berkuasa pada waktu itu. setelah al-Qâdir meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya alQâ’im. Qazwain. Dan pencetus gerakan islamisasi Dinasti Saljuk ini adalah seorang ulama sunni al-Mâtûridî. filsafat. Dari segi keyakinan Dinasti Saljuk ini menganut paham ahli sunnah. Karena ia tidak setangguh ayahnya. ilmu-ilmu thâbi’ah seperti biologi. Munculnya Dinasti Saljuk ke pentas sejarah ikut mewarnai suasana politik ketika itu. Karena paham itulah yang mereka terima ketika pertama kali mempelajari islam. Thabarstan. Hamdan. Hal itu disebabkan karena mereka pertama kali belajar islam kepada para ulama sunni. Karena al-Fakhru al-Râzî sebagai seorang ulama sunni juga disebabkan oleh keilmuannya yang begitu luas. umat islam sudah kaya dengan literatur.

Ia sering kali menerangkan dengan panjang lebar kesalahan pendapat dan pemikiran suatu aliran sesat. Selain itu.[29] . karena terkadang terlalu jauh dan menyimpang dari tujaun awal yaitu menerangkan maksud dari setiap ayat-ayat al-Qur’an. al-Qur’an pun menerangkan bahwa akal sehat manusia akan hilang bersamaan dengan semakin tenggelamnya ke dalam pencarian kebenaran dengan metode yang lemah. Al-Fakhru al-Râzî dan Tafsir al-Qur’an Sebagai seorang ulama besar.[27] Di dalam tafsirnya. dan manusia. ia pun menggunakan metode para ilmuwan alam ketika menjelaskan tentang alam semesta ini. tetapi hanya dijawab dengan jawaban yang singkat dan alakadarnya yang sebenarnya tidak sesuai dengan permasalahan yang sebenarnya. Dan melarangnya untuk lebih jauh tertarik ke jurang pertentangan.[26] Ia pun mengutip perkataan al-Fakhru al-Râzî yang menunjukkan hal tersebut: Aku telah mencoba metode-metode ilmu kalam dan filsafat. Yang memerlukan sanggahan yang sangat detail dan terpeirnci. Abu Syuhbah mengungkapkan bahwa yang menjadi sebab al-Fakhru al-Râzî menyusun tafsirnya ialah diantaranya untuk menjelaskan betapa tingginya hikmah alQur’an jika dibandingkan dengan metode filsafat dan ilmu kalam.lomba menghasilkan karya-karya baru untuk membantah pemikiran lawannya. Tetapi tentu saja dengan tetap memperhatikan paham ahli sunnah. Di samping juga warisan dari gerakan-gerakan penerjemahan buku-buku asing pada masa-masa sebelumnya tentu tidak bisa kita lewatkan peranannya sebagai langkah awal dalam memperkaya literatur-literatur yang ada juga menstimulus para pemikir dan ilmuwan pada masa itu untuk memodifikasi dan memasukan pemikiran mereka ke dalam karya barunya. Dr. maka ia pun menggunakan metode yang sama yang digunakan oleh para filosof dan mutakallimin dalam melawan argumenargumen musuh. ternyata tidak aku temukan dari metode-metode tersebut faedah yang aku temukan dalam al-Qur’an. al-Fakhru al-Râzî mengerahkan segala pemikirannya untuk membela akidah yang benar dan melawan pemikiran-pemikiran lain yang mencoba menganggu gugat akidah islam yang yang sudah terbukti kebenarannya itu. Selain itu. Sehingga tidak aneh kalau umat islam pada saat itu mempunyai banyak literatur. Karena al-Qur’an menunjukkan kepada manusia untuk berserah diri akan keagungan dan kemuliaan Allah Swt. langit. ia tidak melupakan al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan sekaligus obyek penelitiannya. bumi. hewanhewan.[28] Yang menjadi kritikan para ulama dalam metodenya menafsirkan al-Qur’an. Ia menjelaskan tentang bintang-bintang. dan hanya Qur’an lah yang mampu menunjukkan manusia kepada jalan yang benar dengan pasti dan terjaga dari kesalahan. Karena mereka menggunakan akal dalam berargumen.

ia akan melakukannya sehingga sering kali tafsirnya tidak sesuai dengan yang seharusnya (untuk menerangkan maksud lafadz tersebut dalam ayat al-Qur’an). ia sangat dipengaruhi oleh keadaan perpecahan umat Islam saat itu. juga ilmu syari’at seperi fikih. Jadi yang dimaksud dengan “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”. sifat-sifat-Nya. ilmu alam.[30] Walaupun tafsir tersebut banyak yang mengkritik dari segi cara al-Fakhru al-Râzî yang terkadang berlebihan dalam menafsirkan suatu ayat. fikih dan lain-lain. ushul fikih. Karena secara asasi kitab itu sudah memenuhi syarat untuk disebut kitab tafsir. umat Islam terpecah menjadi sekte-sekte (aliran). Setiap kali ia menemukan hubungan dari lafadz al-Qur’an dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya. Sehingga ia sendiri menyebutkan bahwa dari surat al-Fâtihah ini mengandung 10. Pokoknya semua permasalahan yang dianggap . balaghah.Bisa dikatakan tafsir al-Fakhru al-Râzî ini mencakup semua bidang ilmu. ilmu kalam (pemikiran).[33] Tentang ta’awwudz ini ditinjau pula dari segi bahasa. Sehingga tidak aneh kalau Ibnu ‘Athiyah mengatakan bahwa di dalam kitabnya itu terdapat segala sesuatu kecuali tafsirnya itu sendir. Di antara kelebihannya ialah isinya yang mencakup segala macam jenis ilmu itu sehingga menyerupai ensiklopedia. Dari aspek keyakinan.000 faedah dan permasalahan yang bisa digali. Surat yang begitu pendek itu bisa menjadi sebuah kitab yang cukup tebal. Di satu sisi hal tersebut dianggap sebagai kekeurangan oleh sebagian ulama tetapi sebagiannya lagi memandang justru hal tersebut merupakan salah satu dari kelebihan yang dimilikinya.[32] Contohnya ketika menafsirkan kalimat ta’awwudz. Maka lebih tepat jika tafsirnya itu disebut sebagai ensiklopedia ilmu pengetahuan yang mencakup segala bidang ilmu. Sekte-sekte Islam yang sudah jelas sesat itu ia masukkan dalam memaknai berlindung kepada Allah. Isinya ternyata bukan hanya tafsir saja. Walaupun isinya hanya tafsir surat al-Fâtihah secara menyendiri (yang pada edisi sekarang sudah dimasukkan ke dalam tafsir kabirnya). Setiap aliran ini mempunyai kesesatan yang berbeda-beda. fi’il malah sampai ke penjelasan yang bersifat filosofis yaitu tentang apa yang menyebabkan fa’il marfu’. masalah taqdir dan pemahamanpemahaman lainnya yang jelas jauh dari pemahaman islam yang benar.[31] Sebagai contoh. ialah berlindung kepada Allah dari segala hal yang dilarang. Ketika membahas dari segi bahasa ini sampai melebar ke pembagian isim. baik itu aspek bahasa. ada yang karena perbedaan dalam memahami Dzat Allah. Mulai dari ilmu kalam. kita bisa melihat dari penafsiranya tentang surat al-Fâtihah). Hal itu karena memang sesuai dengan tabi’atnya sebagai seorang yang ahli di segala bidang ilmu. maf’ul manshub dan mudhaf ilaih majrur dari segi i’rabnya. ilmu bahasa seperti nahwu. baik itu yang bersifat keyakinan ataupun amal perbuatan. tetapi secara obyektif tafsir tersebut tetap mempunyai kelebihan-kelebihan tersendiri (baca: ciri khas) dibandingkan dengan tafsir yang lain. Di sana pun dibahas segala aspek yang ada kaitannya dengan isi surat tersebut.

Ia mengkomentari bahwa kisah itu betul-betul bukan berasal dari Islam dan sama sekali bertentangan dengan akidah islam. al-mufâraqât[37] dan al-shifât[38]. tafsir ini hampir sama sekali bersih dari kisah-kisah israiliyat. Maka penulisannya kemudian dilanjutkan oleh Najmu al-Din al-Qamuli. ketika membahas tentang kalimat ta’awwudz hanya sedikit mengulas fikihnya. Sebenranya ia hanya sampai pada surat al-Anbiya saja. Adapun selebihnya.[34] Warna fikih dari tafsirnya pun terlihat kental. cara membacanya dan semua yang berhubungan dengan permasalahan fikih. Husen al-Dzahabi. Ternyata penulisan tafsirnya itu tidak selesai atau dengan kata lain ia tidak sempat menafsirkan seluruh surat al-Qur’an yang terdiri dari 114 surat itu. Walaupun memang ada itu hanya untuk menunjukkan kesalahannya saja tidak lebih dari itu. penulisannya diteruskan oleh Syihabu al-din al-Khaubi akan tetapi ia pun tidak sampai menyelesaikannya dengan sempurna. Dan bisa dikatakan masih kalah dengan tafsir al-Fakhru Râzî.[41] Al-Fakhru al-Râzî pun tidak lupa untuk menerangkan kesesuaian antara isi ayatayat al-Qur’an dengan suratnya.[39] Selain itu juga. [43] Penutup Al-Fakhru al-Râzî adalah seorang ulama sekaligus ilmuwan yang jika dikaji ketokohannya tidak cukup hanya dengan beberapa halaman makalah ini. Ia berargumen bahwa dengan ke-Mahakuasa-an-Nya Allah mampu menciptakan segala hal yang mungkin.[42] Ada yang sangat penting yang harus kita ketahui tentang tafsir kabir-nya ini. Tetapi setelah pembagian itu ia langsung menerangkan bahwa pembagian tersebut bukan berarti menegasikan bahwa tidak ada alam lain kecuali hanya tiga macam itu saja sebagaimana yang dianut oleh para filosof. yaitu mengenai penulisannya. hukum membacanya. Setiap permasalahan itu ia sebutkan setiap ikhtilaf yang ada beserta argumen masing-masing madzhab.[35] Warna ilmu kalamnya bisa terlihat ketika ia menafsirkan kata al-âlamîn dengan definisi ilmu kalam yaitu setiap yang ada selain Allah (kullu maujud siwa al-Lâh). Dan ia memilih salah satunya yang menurutnya râjih. Ketika membahas kalimat ta’awwudz mengenai fikihnya ia bagi menjadi 13 permasalahan. Dan menerangkan pembagian alam menjadi tiga macam menurut pembagian ilmu kalam. Penulis jadi .ada hubungannya dengan satu bidang ilmu tertentu akan ia bahas sampai sedetail mungkin dan tuntas. Yaitu. Muh. al-mutahayiz[36].[40] Bisa kita lihat salah satu contohnya tentang komentarnya setelah mencantumkan satu kisah tentang Harut dan Marut dua malaikat yang diturunkan ke bumi untuk menjalani ujian dari Allah (menurut kisah tersebut). Jika dibandingkan dengan tafsir al-Qurthubi yang terkenal dengan fikih orientednya. bahwa Malaikat itu makhluk yang selalu ta’at kepada Allah dan tidak pernah menentang perintah-Nya walaupun hanya sekali. Sebagaimana menurut penjelasan Dr. Mulai dari kapan waktu membacanya.

Harta memberikan kita potensi dan kesempatan untuk selalu berbuat baik kepada sesama. kita harus menyadari bahwa akal sangatlah terbatas kekuatannya. yang boleh dan tidak). Kita harus bisa membedakan antara mempelajari dengan memperdalam. Dengan fikih. apa saja yang membatalkan keduanya dan lain sebagainya. Pelajarilah semua ilmu pengetahuan karena bagaimanapun itu sangat berguna terutama bagi kita sendiri. Apakah ini sah atau tidak dan sebagainya yang selalu mengajak kita untuk berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Karena bagaimanapun akal kita sangatlah terbatas. Karena cinta dunia mempunyai arti negatif yaitu melupakan kecintaannya kepada Allah. jika kita sudah mencapai tahap memperdalam maka tentu itu memerlukan spesialisasi. intelektual (menghapal tata cara. Oleh karena itu haruslah selalu ditopang oleh dasar-dasar dan sumber-sumber yang berasal dari wahyu. Karena kekurangan referensi di samping memang kelemahan kekuatan gaya bahasa penulis sendiri dalam mengungkapkannya.khawatir justru dengan makalah ini membuat namanya terlihat kecil. 2. 4. emosi (selalu berniat yang baik dan ikhlash untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan). Dengan kata lain mendikotomi ilmu. Dengan harta justru bisa membawa manusia memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. juga sistematis pengajarannya (metode penulisan fikih ulama terdahulu) yang selalu mengajarkan kepada kita mana yang boleh dan mana yang tidak. Dan itulah yang disebut fikih. Di sini betapa Fikih begitu dirasakan sebagai dasar ilmu yang harus kita pelajari terlebih dahulu dari pada ilmu yang lainnya. Ketika kita sudah jauh terperosok dalam kesombongan dalam menggunakan akal kita. syarat dan rukun dari suatu ritual ibadah) sampai fisik (banyak menggerakan badan) kita. kita sedari kecil dididik untuk mematangkan semua potensi yang ada pada diiri kita. 3. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. cara berwudlu. Bahwa dalam mencari ilmu kita tidak usah memilah-milah mana ilmu agama dan mana ilmu umum. Sebagus apapun metode yang dipakai belum tentu dan belum pasti akan bisa mengantarkan kita kepada kebenaran yang absolut. Mulai dari kekuatan spiritual (moral. Sejak kecil kita sudah diajarkan oleh orang tua kita bagaimana caranya sholat. Diantaranya: 1. Kebenaran yang bisa membuat kita bahagia dunia dan akhirat. ‘Ala kulli hal ada beberapa poin yang bisa kita jadikan bahan pelajaran yang sangat beharga. membedakan mana yang benar dan salah. karena selain itu menyangkut dengan praktek ibadah ritual kita. Dalam mempelajari ilmu-ilmu akal dan pemikiran. . Kaya bukan berati cinta dunia. Dan tidak mungkin bisa kita perdalam semua bidang ilmu dengan intensif.

Akhirnya hanya kepada Allah penulis kembalikan kebenaran itu. h. Ibid. h. Mengetahui hadits-hadits Nabi Saw yang shahîh. juga anggota Divisi ALIGA Dewan Buhuts Islamiyyah FOSPI. Malah kedekatan kita dengan instansi pemerintah justru bisa mempermudah kegiatan kita dalam menyebarkan dan mengajak orang untuk menuju kebenaran yang absolut. al-Isrâilyyât wa al-Maudhû’ât fî Kutubi al-Tafsîr. cet. Ibid. Dar al-Kutub al-’Ilmiyah. hal. Manna’ al-Qathan. [3] [4] [5] Ibid. Beirut. t. Husen al-Dzahabi. Manahil al-’Irfân fi ‘Ulumi al-Qur’ân. Kajian Mufassirin. b. Bulan Bintang. 1408 H. Muh.. vol. 1 Bandung 1999. 43-44. Mabâhits fi ‘Ulumi al-Qur’ân. h. * Penulis adalah mahasiswa fakultas Akidah & Filsafat tingkat IV Universitas al-Azhar. Pernah menjadi koordinator Bid.. Jakarta.IV. 4 September 2003 sore hari di sekretariat FOSPI. Dr. Muh. cet. 14 [2] Dr. Muhammad Abdu al‘Adzim al-Zarqani. 202.. I. op.. Mengetahui keumuman makna bahasa Arab dengan memperhatikan setiap perubahan makna pada setiap ayat.. 265. Dr. dan mantan ketua Majlis Tafkir Pesantren Persatuan Islam no. Taklim FOSPI 2001-2002. Dekat dengan pemerintah juga bukan hal yang ‘aib. cet. Husen al-Dzahabi. h... 1993. VI. M. 163. Sekarang juga sebagai anggota kelompok kajian Dakwah dan Tarbiyyah Islamiyyah IBÂDURRAHMÂN. Hasby ash-Shiddieqy. hal. [1]M. hal. 55.5. III. Maktabah al-Sunnah. Mengetahui pendapat-pendapat shahabat dalam tafsir al-Qur’ân c. 1995.. hal. Abu Syuhbah. alTafsîr wa al-Mufasirûn. Wal alLâhu a’lamu bil al-shawwâb. 1996. 265 Muhammad Abdu al. Banyak fasilitas yang kita perlukan dari pemerintah untuk menjaga ruang gerak kita agar aman dari gangguan sekaligus melegitimasi kegiatankegiatan kita dalam mengajarkan kebenaran (agama). * Coretan singkat ini dipresentasikan pada acara Bidang Taklim FOSPI.56 Diantara syarat tersebut adalah: a. hal. pada hari Kamis. Maktabah Wahbah.th. . 26 Ibid. . hal. Muhammad Abdul ‘Adzim al-Zarqani. Dr.cit.. Karena Dia lah sumber kebenaran yang selalu kita cari guna memperoleh kebahagian yang abadi. Muhammad Abu Syuhbah. 347.‘Adzim al-Zarqani. Kairo. Ilmu-ilmu al-Qur’ân. Kairo.

1. Pendahuluan. Kairo. vol. hal. hal.th. hal. 1993... 292 [18] [19] Al-Daudi. Abu Daud dan al-Hakim) Ibnu Katsir. hal. 214 “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini di setiap awal seratus tahun (abad) seorang mujaddid” (HR. Abu Syuhbah. t..67 [20] Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah. cit. hal. cit. op. pendahuluan Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah. 1972. Thabaqâtu al-Mufassirîn. hal. Dr.. hal. pendahuluan [14] [15] [16] [17] Al-Qifthi. Kairo. AlDaudi. hal. hal. op. op. th. Al-Daudi. op. Târîkhu al-Hukamâ. cit.. t. op. op. Muassasah al-Târîkh al-Arabi. Iran sekarang. Beirut. Dan [22] .d. 214. cit. 215 [21] Di dalam ilmu kalam. 133 [9]Nisbah [10] sima’I bukan qiyasi. Al-Qifthi. Mesir. hal. al-Bidâyah wa al-Nihâyah. Muqaddimah Tafsîr Mafâtih al-Ghaib.. ketika menetapkan suatu affirmasi ataupun negasi biasanya dengan mengunakan qiyas manthiqi. 400 Sebuah kota dekat Teheran. cit. AlDaudi. 291 Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah. op. cit.. 350) Salah satu di antara kota-kota terbesar yang terdapat di daerah Ma Wara’a al-Nahar (sungai Jihun) [11] [12] [13] Sebuah kota yang terletak di kawasan Afghanistan sekarang. cit. op. op. op. Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah. Mengetahui apa yang seharusnya ia tafsirkan dengan merujuk kepada aturan syar’i. cit. hal. cit. Adapun dalam mengaffirmasikan suatu sifat bagi Allah dalam ilmu kalam adalah menggunakan metode qiyas al-ghaib ‘ala al-syahid. Mu’assasah al-Khanji. hal. Maktabah Wahbah. hal. cit. Pendahuluan. [6] [7] [8] Dr. Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah. Di dalamnya terdapat dua negeri kecil (bisa disebut kota) Naisabur dan Harah. Sebah negeri yang luas berbatasan salah satunya dengan Irak dan India.. Husen al-Dzahabi. Muh. (Mu’jam al-Buldân juz II hal.. 216. hal.. pendahuluan Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah.

cit. 105 Dr. 68 Ibnu Katsir. 3 [33] [34] [35] [36] Lihat Ibid. cit. vol. hal. op. cit. hal 134 . hal. [23] [24] [25] Ibnu Katsir. 302 Dr.. Ibid. hal. 134 Lihat Al-Fakhru Al-Râzî. bagaimana mungkin Dzat yang Maha Sempurna disamakan (diqiyaskan dengan makhluk biasa).. Jeddah.. op. 6. hal. Muh.. 59-63 Segala yang menempati ruang. 299 Dr. op. hal. hal. cit. 134 Ibid. op. op. hal 53 Ibid. hal. hal. hal. Ibid. op. Husen al-Dzahabi.. Abu Syuhbah. 67. I. op. 134 . Dr. Abu Syuhbah. Dr... Diantaranya. Husen al-Dzahabi.metode seperti banyak kelemahannya. Husen al-Dzahabi. op. Muh... hal. 6. Di sini ada isyarat bahwa alFakhru al-Razi lebih condong kepada metode para ulama salaf dalam mengaffirmasi atau menegasikan sifat bagi Allah. ‘Âlam Ma’rifah. Kairo.. Abdu al-Majid Abu al-Futuh Badawi.. th. hal. 303. cit. hal. Al-Târîkh Al-Siyâsî wa al-Fikrî. [39] [40] Ibid.. Tafsîr Mafâtih al-Ghaib.. hal. Abu Syuhbah.cit. Muh.. Termasuk di dalamnya yang terdiri dari beberapa bagian (al-jism) atau pun yang menyendiri/berdiri sendiri (al-jauhar) [37] [38] Al-Jauhar al-Fard yaitu berupa esensi Al-’Aradh yaitu yang tidak bisa ada kecuali harus bersama yang lain/menempel pada al-jism. 6 Dr. Dr. 134 Dr.cit. cit. Abu Syuhbah. Abu Syuhbah. yaitu dengan mengikuti apa yang Allah firmankan sendiri tentang diri-Nya sendiri di dalam al-Al-Qur’an apa adanya tanpa berusaha menta’wilnya kepada makna yang lain. 1983. 7-11 [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] Dr. Ibid. hal.. 134 Muhammad Abdu al-’Adzim al-Zarqani. t. hal. hal. Mathba’ah al-Bahiyyah alMishriyyah. 3-4 Ibid.

cit. loc.[41] [42] [43] Al-Fakhru al-Râzî. hal. op. 22 Manna’ al-Qathan. Mabahits fi ‘Ulumi al-Qur’ân. III hal. th. Muh. vol. Riyadh. cit. hal. 368 Dr. 367- 368 . Husen Al-Dzahabi. Manna’ al-Qathan. Ibid. 299-301.. hal... t.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful