You are on page 1of 7

Kalimantan Tengah - Indonesia

Ambun dan Rimbun adalah dua remaja laki-laki kakak-beradik. Mereka tinggal bersama ibunya di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah. Sejak ayahnya meninggal, kehidupan mereka menjadi miskin. Meski demikian, kedua kakak beradik itu tetap saling menyayangi. Kemana pun pergi, mereka selalu bersama-sama. Pada suatu hari, Ambun dan Rimbun pergi merantau ke sebuah negeri untuk mengubah nasib keluarga mereka. Dalam perantauan, Ambun berhasil menjadi menantu raja di negeri itu. Apa yang terjadi sehingga Ambun dapat menikah dengan putri raja? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Ambun dan Rimbun berikut ini. *** Konon, pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, hiduplah seorang janda bersama dua orang anak laki-lakinya yang sudah remaja. Anak pertamanya bernama Ambun, sedangkan anak keduanya bernama Rimbun. Banyak orang di kampung itu mengira mereka saudara kembar, karena wajah dan perawakan keduanya mirip sekali. Namun sebenarnya mereka bukanlah saudara kembar, karena umur keduanya selisih satu tahun. Ambun dan Rimbun adalah anak yang rajin dan hormat kepada orang tua. Setiap hari mereka membantu ibunya mencari kayu bakar ke hutan dan menjualnya ke pasar. Pada suatu sore, Rimbun melihat abangnya termenung seorang diri di beranda rumah mereka. “Bang! Apa yang sedang Abang pikirkan?” tanya Rimbun. “Abang sedang memikirkan nasib keluarga kita. Kalau setiap hari hanya mencari kayu bakar, kehidupan kita tidak akan pernah membaik,” keluh Ambun. “Lalu, apa rencana Abang?” tanya Rimbun. “Abang akan pergi merantau untuk mengubah nasib keluarga kita. Banyak orang di kampung ini kehidupannya menjadi lebih baik sepulangnya dari merantau,” jelas Ambun. “Wah, kalau begitu, Adik akan ikut Abang,” kata Rimbun.

Tapi Ibu berpesan. kedua kakak-beradik itu menyampaikan niat mereka kepada sang Ibu. Bu! Tapi. ingat! Senjata ini hanya boleh kalian gunakan jika dalam keadaan mendesak. kalian harus menghormati orang lain dan jangan berpisah. Mendengar hal itu.” kata Ambun dan Rimbun serentak. Kalau Adik ikut. Bu? Apakah ibu mengizinkan kami pergi?” Ambun kembali bertanya. Kalaupun harus berpisah. Setelah itu. Ia memasak empat belas buah ketupat dan empat belas butir telur ayam untuk mereka berdua. termasuk celana dan baju mereka yang terbuat dari kulit kayu. “Sebenarnya Ibu merasa berat mengizinkan kalian pergi. kalau memang kalian bersikukuh akan pergi. kami berdua bisa jaga diri dan saling menjaga. “Tidak. hendaknya kalian saling mengabari.“Jangan.” cegah Ambun. Ambun dan Rimbun bersiap-siap untuk berangkat dan berpamitan kepada sang Ibu tercinta.” kata Rimbun mengizinkan adiknya ikut serta. Menurutnya. apa yang dikatakan kedua putranya itu memang benar. Bang! Adik harus ikut Abang. “Bagaimana. “Baiklah.” tegas Rimbun bersikukuh ingin pergi merantau bersama Abangnya. Kalian masih terlalu muda untuk merantau. tetapi di satu sisi. lalu mengoleskannya di ubun-ubun mereka seraya berdoa: “Semoga Ranying Hatalla Langit (semoga Tuhan melidungi kalian berdua). bahwa merantau dapat memperbaiki kehidupan keluarga mereka. Dik! Kamu di sini saja menemani ibu. kalau begitu. kasihan ibu ditinggal sendiri. Air mata . Malam harinya. ia mengambil beberapa butir beras dan mencelupkannya ke dalam air.” ujar sang Ibu. Suasana haru pun menyelimuti hati sang Ibu dan kedua putranya itu.” pesan sang Ibu seraya mencium kening kedua putra tercintanya. umur mereka masih sangat muda. Ia bingung bagaimana menyikapi keinginan kedua putranya. Ambun dan Rimbun segera menyiapkan segala keperluan mereka. “Baiklah.” sahut Rimbun. Ibu khawatir terhadap keselamatan kalian berdua di rantau. “Terima kasih. Yang satu berlilitkan kain merah dan yang satunya lagi berlilitkan kain kuning. “Senjata pusaka ini adalah peninggalan almarhum ayah kalian. Sementara sang Ibu sibuk menyiapkan makanan untuk bekal mereka di jalan. “Iya. Bu! Kami akan selalu mengingat pesan Ibu. Yang berlilitkan kain merah diserahkan kepada Ambun. sedangkan yang berlilitkan kain kuning diberikan kepada Rimbun. Keesokan harinya. Tapi. “Baik. perempuan paruh baya itu membuka sebuah peti besi kecil berisi dua bilah dohong (keris pusaka) yang bentuk dan ukurannya sama. Ibu mengizinkan.” jawab sang Ibu dengan berat hati. Bu!” ucap keduanya serentak dengan perasaan gembira. sang Ibu hanya terdiam.” Saat tengah malam. Masing-masing mendapat tujuh buah ketupat dan tujuh biji telur ayam.

Ketika matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur. Saat hari menjelang siang. Nak! Nanti kalian kemalaman di jalan. barulah ia menyadari ternyata bekalnya sudah habis. sedangkan warangkanya ditancapkan di bagian kaki kuburan itu. Saat menghampiri rumah itu. cepatlah kembali menemani Ibu di sini!” pesan sang Ibu. Tanpa berpikir panjang. Namun.” pikirnya dengan perasaan gembira. sedang apa.. Usai mencium tangan sang Ibu. Agar nenek itu tidak terkejut. Beberapa saat kemudian. Ia pun mencoba mengobati adiknya dengan memberinya minuman dari berbagai macam air akar-akaran. perutnya terasa lapar. Sang Ibu berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan mengiringi kepergian kedua putranya. menuruni lembah. Ketupat dan telur pemberian sang Ibu mereka makan sedikit-sedikit. “Wah. Ambun dan Rimbun berjalan mendaki gunung. Ambun mencabut dohong adiknya. ia melihat kepulan asap tidak jauh dari tempatnya berada. mereka berhenti untuk beristirahat. terlihatlah sebuah rumah di tengah hutan. Mereka tidak kuat menahan rasa haru. Ketika memasuki hari ketujuh. “Rimbun. Setelah bungkusan itu terbuka. Nek?” tanya Ambun. Tidak terasa air matanya pun bercucuran membasahi pipinya. Ambun melanjutkan perjalanan dengan menyusuri hutan lebat. Mereka berjalan mengikuti arah matahari terbenam. tidak satu pun yang mampu menyembuhkannya. Demikian pula kedua orang kakak-beradik itu. Setelah keduanya menghilang di tikungan jalan kampung. Melihat kondisi adiknya itu. “Berangkatlah.sang Ibu tidak dapat dibendung lagi. Sementara kain berwarna kuning pembungkus dohong itu diikatkan pada nisannya. “Baik. Bu! Kami akan segera kembali jika sudah berhasil. Ia sangat menyesal dan merasa bersalah karena telah mengizinkan adiknya ikut serta. Setelah menguburkan jazad adiknya. barulah ia masuk ke dalam rumah. . sudah berhari-hari mereka berjalan. Ia lalu memanjat pohon besar dan tinggi tempatnya berteduh itu.. Ambun menjadi panik..” jawab keduanya serentak. Tidak terasa. Sesampainya di atas. Rimbun akhirnya meninggal dunia. Hatinya pun mulai cemas. adik tercintanya benar-benar telah menghembuskan nafas terakhirnya.!” teriak Ambun memecah kesunyian di tengah hutan. ia melihat seorang nenek sedang mengumpulkan kayu bakar di samping rumahnya. Dengan diselimuti perasaan sedih. Saat malam tiba. Setelah beberapa lama berjalan. “Hemm. ia pun mendehem. dan menyeberangi sungai.. Ia pun membuka bungkusan makanannya di bawah sebuah pohon besar dan tinggi. keduanya pun pergi meninggalkan kampung halaman mereka. Adikku! Jangan tinggalkan Abang. Mata dohong itu ditancapkan di bagian kepala. Rimbun mendadak jatuh sakit. mereka kembali melanjutkan perjalanan. Namun apa hendak diperbuat. pasti ada orang di sana. ia segera turun dari atas pohon lalu berjalan menuju ke arah kepulan asap. Ambun segera menggali lubang untuk kuburan adiknya. Setelah itu. Jika sudah berhasil. karena kelelahan berjalan jauh.

Nek! Ambun ada satu permintaan. “Senjata pusaka peninggalan ayahku. Ambun menemui si Nenek. Suatu hari. “Maaf. Setiap hari Ambun membantunya untuk mencari kayu bakar. Ambun pasti dapat mengatasinya. perempuan tua itu mengizinkan Ambun untuk tinggal bersamanya. Cucuku! Kamu akan dihukum gantung jika gagal memetik bunga melati itu. Ia ingin sekali mengikuti sayembara itu. Keesokan harinya. “Siapa engkau ini anak muda? Kenapa bisa sampai ke tempat ini?” nenek itu balik bertanya. Oleh karena merasa kasihan. Hampir setiap minggu ada pengawal istana yang mengantarkan makanan untuknya.“Mengumpulkan kayu bakar. Si Nenek pun yakin dan percaya dengan kata-kata Ambun. kedua utusan tersebut memberitahukan kepadanya bahwa raja akan mengadakan sayembara memetik bunga melati. hampir semalaman tidak dapat memejamkam matanya. Nek. Si Nenek pun sangat menyayangi Ambun seperti cucunya sendiri. datanglah dua orang utusan dari istana Sang Sambaratih membawa makanan untuk si Nenek. dan mengizinkannya untuk mengikuti sayembara tersebut. nenek malang itu masih mendapat perhatian dari sebagian keluarga istana. “Oh jangan. Meskipun dikucilkan dari istana. maka dia akan mendapat hukuman gantung.” cegah si Nenek. Pada suatu hari. Ambun sudah bersiap-siap berangkat menuju istana untuk mengikuti sayembara tersebut. “Nek. lalu ia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga sampai di tempat itu. Akan tetapi jika gagal. Si Ambun yang mendengar kabar itu. sambil mengumpulkan kayu bakar. maka dia akan dijadikan menantu raja.” kata Ambun.” jawab nenek itu. “Apakah itu. “Nenek tidak usah khawatir. “Nenek berduka cita atas meninggalnya adikmu.” kata nenek itu dengan perasaan haru. dan menyerahkannya kepada putri raja.” kata si Ambun seraya memperlihatkan senjata dohongnya. Nek. Senjata ini dapat menolong jika diperlukan. “Benda apa ini. bolehkah Ambun mengikuti sayembara itu?” tanya Ambun. Cucuku?” tanya si Nenek penasaran. Keesokan harinya.” jelas Ambun. Ia diusir karena pernikahannya dengan almarhum suaminya yang berasal dari rakyat biasa. “Saya Ambun. . nenek itu bercerita kepada Ambun bahwa sebenarnya ia adalah bagian dari keluarga Kerajaan Sang Sambaratih.” jawab Ambun. Cucuku?” tanya si Nenek penasaran. Barangsiapa yang dapat melompat dari halaman rumah istana sampai ke atap istana untuk mengambil bunga melati. Sebelum kembali ke istana.

Pesta pernikahannya dilangsungkan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam. Seminggu setelah pernikahan mereka. Namun atas bantuan Ambun dengan senjata dohongnya. Ambun dinikahkan dengan putri raja. penonton sudah penuh sesak dan para peserta sudah bersiap-siap mengikuti sayembara. ketujuh pangeran tersebut dapat dikalahkan. Ambun segera meneteskan air kehidupan itu ke tulangtulang adiknya yang sudah terpisah-pisah. Namun. sang Ibu tetap bersedih karena kehilangan Rimbun anak bungsunya. Oleh karena tidak ingin melihat ibunya bersedih. Nenek dapat menyaksikan Ambun menjalani hukuman gantung. Raja yang menyaksikan peristiwa itu langsung berdiri sambil bertepuk tangan dengan penuh kekaguman. Mereka pun menyatakan perang kepada raja Sang Sambaratih. pengawal yang diutus ke Bukit Kamiting telah kembali dengan membawa Danun Kaharingan Belom. Kini giliran Ambun yang akan memperlihatkan kesaktiannya. Selama dalam perjalanan. Akhirnya. para penonton bertepuk tangan disertai dengan suara ejekan. ia pun menemukan ibunya. Mereka meragukan kemampuan Ambun. Sementara ketujuh pangeran tersebut merasa tidak puas. Menjelang sore. Jangankan Ambun yang hanya orang kampung. Dengan secepat kilat. raja Sang Sambaratih menyerahkan kekuasaannya kepada Ambun. dengan suara nyaring Ambun berteriak memanggil ayahnya sambil mencabut dohong pusaka yang terselip dipinggangnya. Ketika Ambun memasuki arena. Satu per satu pangeran tersebut mengeluarkan kesaktiannya. Daging dan kulitnya pun kembali seperti semula. yaitu tujuh pangeran dari kerajaan bawahan Kerajaan Sang Sambaratih. Oleh karena sayang kepada Ambun. Maka berangkatlah mereka berdua menuju istana. Ambun bersama beberapa orang pengawalnya menyusuri jalan yang pernah dilaluinya ketika ia berangkat merantau. Pada suatu hari. . Ambun bersama ibu dan para pengawalnya pergi mencari kuburan Rimbun.” bujuk Ambun. namun tak seorang pun yang berhasil melompat ke atap istana dan memetik bunga melati. Ambun segera memerintahkan sebagian pengawalnya untuk menggali kuburan itu. tulang-tulang itu menyusun diri. Setelah menemukan kuburan Rimbun. Ambun tetap tenang dan berkonsentrasi penuh. Ambun berusaha mencari ibunya. Setibanya di halaman istana. Akhirnya Rimbun hidup lagi. dan si Ambun sendiri. Ambun melejit ke atas atap memetik bunga melati itu dan menyerahkannya kepada tuan putri yang duduk di samping raja. Seketika itu pula suara tepuk tangan dan teriakan penonton bergemuruh bagaikan membelah bumi.“Bersediakah Nenek menyaksikan sayembara itu. Keluarga Ambun kini telah berkumpul kembali. Tidak lama kemudian. Peserta sayembara tersebut terdiri dari delapan orang. Sejak dinobatkan menjadi raja. dan memerintahkan sebagian yang lain untuk mencari Danum Kaharingan Belom (air kehidupan) di Bukit Kamiting. para pangeran saja tidak satu pun yang berhasil melalui ujian itu. di satu sisi. karena sudah tua. Sementara si Ambun meminta kepada si Nenek untuk mendoakannya agar dapat meraih kemenangan. Namun dengan penuh percaya diri. melainkan suara kekaguman melihat kesaktian Ambun. Alangkah bahagianya sang Ibu saat melihat anaknya kembali dan berhasil menjadi raja. dan saat itu adalah pertemuan terkahir kita. Setelah tujuh hari tujuh malam berjalan. Saat mengambil ancangancang. Jika seandainya Ambun gagal. si Nenek senantiasa diselimuti perasaan cemas. Suara teriakan penonton bukan lagi suara ejekan. nenek itu pun memenuhi keinginan Ambun.

keutamaan memelihara keutuhan keluarga dan keutamaan memiliki kemauan kuat untuk mengubah nasib. Pertama. dengan tekad kuat. dkk. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Tunjuk Ajar Melayu. Setelah berhasil di perantauan. keutamaan memiliki kemauan kuat untuk mengubah nasib. keutamaan memelihara keutuhan keluarga. H. Anonim.wikipedia. Mereka senantiasa saling menyayangi. diakses tanggal 25 Juli 2008). Sifat ini tercermin dalam kehidupan keluarga Ambun.” (http://id. Hal ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Ambun.org/wiki/Kalimantan_Tengah. berkasih sayang jadikan amanah ke mana pergi engkau pelihara supaya hidupmu beroleh berkah Kedua. kerja keras dan ketabahannya. Ambun tetap bersemangat dan meneruskan perjalanannya pergi merantau. *** Demikian cerita Ambun dan Rimbun dari Kalimantan Tengah. Aspul. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu. Ambun mengajak keluarganya hidup bersama di istana Kerajaan Sang Sambaratih dengan penuh kebahagiaan. “Kalimantan Tengah. Akhirnya. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit Adicita. 2006. Jakarta: Grasindo. Dikatakan dalam untaian syair Melayu: wahai ananda dengarkan petuah. Hal ini dapat dilihat ketika adiknya meninggal dunia di tengah perjalanan. Tenas. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Ambun dan Rimbun untuk selalu bekerja keras dan tabah menghadapi berbagai macam kesulitan.Setelah itu. Pelajaran lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa dalam kehidupan keluarga sebaiknya saling mendoakan antara anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga lainnya. (Samsuni/sas/89/0708) Sumber: • • • Isi cerita diadaptasi dari Fansuri. Ambun segera mencari ibunya yang tinggal di kampung dan menghidupkan kembali adiknya yang sudah meninggal dunia. Ambun berhasil mengubah nasib keluarganya. menghormati dan saling menjaga. Hal ini ditunjukkan sikap Ibu Ambun dan si Nenek yang senantiasa mendoakan si Ambun agar terhindar dari malapetaka dan berhasil mencapai keinginannya. . Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah. Effendy.