You are on page 1of 23

ANALISIS JARINGAN

Sebuah jaringan terdiri dari sekelompok node yang dihubungkan oleh busur atau cabang Notasi : G = (N, A). N = himpunan node, A= himpunan busur. simbol node simbol busur Siklus : lintasan yang menghubungkan suatu node dengan node itu sendiri Pohon (tree) : grafik yang mempunyai lintasan yang menghubungkan pasangan-pasangan node, dimana siklus tidak terjadi. Busur maju i : busur yang meninggalkan node i Busur mundur i : busur yang menuju node i Model transportasi dapat juga direpresentasikan dan diselesaikan sebagai suatu jaringan. Sumber suatu jaringan : node awal Tujuan suatu jaringan : node akhir

Suatu hutan lindung tempat rekreasi dengan 1 pintu masuk dan 1 pintu keluar serta 5 stasiun / tempat pemberhentian
Node 1 = pintu masuk Node 7 = pintu keluar
2 2 1 4 3 5 1 4 3 5 2 4 7 4 1 7 6 5 7

Dari ilustrasi dapat diidentifikasi 3 macam persoalan :


Persoalan Rote Terpendek (Shortest Route) Persoalan Rentang Pohon Minimal (Minimal Spanning Tree) Persoalan Aliran Maksimum (Maximal Flow)

Shortest Route
Dari node 1 ke 7 ada beberapa lintasan Lintasan dengan bobot minimal adalah rute terpendek Bobot dapat berupa : jarak, waktu, atau ongkos transportasi Algoritma rute terpendek :
Algoritma Asiklis Algoritma Siklis (Dijkstra)

Algoritma Asiklis
Didasari oleh perhitungan rekursif Mis : uj = jarak terdekat dari node i ke node j, u1= 0 Nilai uj, j=1,2,...,n dihitung secara rekursif : jarak terdekat uj ke satu node i yang tepat mendahuluinya plus Uj = min , jarak dij antara node saat ini j ke node sebelumnya i
= min {ui + dij} i

Node j 1 2 3 4 5 6 7

Perhitungan uj U1 = 0 U2 = u1 + d12 = 0+2 = 2 dari 1 U3 = u1 + d13 = 0+4 = 4 dari 1 U4 = min{u1+d14, u2+d24, u3+d34} = min{5, 4, 5} = 4 dari 2 U5 = min{

Label [0, -] [2, 1] [4, 1] [4, 2]

Rute optimum diperoleh dengan dimulai dari node 7 dan menelusuri ke belakang menggunakan informasi Label. (7) [..., ...] (...) [..., ...] (...) ..... (1)

Algoritma Siklis (Dijkstra)


Iterasi 0 : node 1 memiliki label tetap [0, 1] Iterasi 1 : node 2, 3 dan 4 dapat dicapai secara langsung dari node 1
Lebel sementara [0+2, 1], [0+4, 1] dan [0+5, 1] Jarak terdekat : d = min{2, 4, 5} Node 2 diberi label tetap

Iterasi 2 : node 4 dan node 6 dapat dicapai secara langsung dari node 2
Lebel sementara [2+2, 2] dan [2+7, 2] serta [4, 1] dan [5, 1] Jarak terdekat : [4, 2] atau [4, 1] Node 4 diberi label tetap

Dst...

Minimal Spanning Tree


Contoh :
Perencanaan jaringan transportasi Perencanaan jaringan komunikasi berskala besar Perencanaan jaringan distribusi Pilihlah secara sembarang sebuah node, kemudian hubungkan node tersebut dengan node lain yang terdekat. Pilih node lain yang belum dihubungkan, yang jaraknya paling dekat dengan node yang sudah dihubungkan pada langkah sebelumnya. Kemudian hubungkan node ini. Ulangi langkah ini hingga semua node telah terhubung.

Penyelesaian :

Maximal Flow
Misal : total perjalan dalam hutan lindung dari pintu masuk hingga pintu keluar
Jumlah perjalanan perhari dibatasi untuk setiap jalur perjalanan (lihat gambar)
2 5 1 4 0 3 7 0 4 0 3 1 1 0 4 4 5 2 0 0 5 1 0 0 6 Dari stasiun 1 ke stasiun 2 dapat dilakukan 5 kali perjalanan, sebaliknya nol 6 0 9 0 0 7

1. Carilah lintasan dari sumber (1) ke tujuan (7) dengan kapasitas aliran positip (jika tidak ada berarti pola aliran yang sudah ada telah merupakan pola aliran optimum) 2. Periksalah lintasan tersebut untuk mendapatkan busur dengan kapasitas aliran terkecil (nyatakan kapasitas ini sebagai c*). Tingkatkan aliran pada lintasan tersebut sebesar c*. 3. Kurangkan kapasitas aliran semula dengan c* pada setiap busur pada lintasan yang dimaksud. Tingkatkan kapasitas aliran semula dengan c* pada setiap busur yang berlawanan arah dari lintasan tersebut, kembali ke langkah 1. Iterasi 1. Pilih lintasan 0 lintasan tersebut B E T, alirkan sebesar 5 pada

2 5 1 4 0 3 2 5 5 1 4 0 3 2 0 0 7 0 0

3 1 1 0 4 3 1 1 5 4 4 4 0 2 5 0 5 1 0 0 1 6 0 9 0 5 7 5 4 4 5 2 0 0 5 1 0 0 6 6 0 9 0 0 7

Iterasi 2 : Alirkan sebanyak 3 pada lintasan 0 A D T Dst...

PERENCANAAN JARINGAN KERJA


PERT (program evaluation and review technique) CPM (critical path method). Gabungan : PERT-type system Tujuan sistem ini Menentukan probabilitas tercapainya batas waktu proyek Menentukan lintasan kritis, agar jadwal dapat dicapai. Mengevaluasi akibat dari perubahan-perubahan program. Simbol kegiatan event (kejadian) dummy (kegiatan semu) Logika Ketergantungan Kegiatan B dapat dimulai bila keg. A selesai A B

a = ruang untuk nomor event


Notasi :
EET = earliest event occurrence time LET = latest event occurrence time EST = earliest activity start time EFT = earliest activity finish time LST = latest activity start time LFT = latest activity finish time t = duration time TF = total float (slack) FF = free float

b = EET c = LET

Perhitungan Perhitungan maju (Forward computation) Perhitungan mundur (Backward computation)

Kelonggaran Waktu (Float atau Slack)


Total float Free float

A tij

Total float aktivitas(i,j) = TF(i,j) = LET(j) - t(i,j) - EET(i) (j) Free float = FF(i,j) = EET(j) - t(i,j) - EET(i)

Kelonggaran Waktu (Float atau Slack) Ada dua jenis kelonggaran waktu : - total float - free float Total float adalah jumlah waktu dimana waktu penyelesaian suatu aktivitas dapat diundur tanpa mempengaruhi saat paling cepat dari penyelesaian proyek secara keseluruhan. Atau : Total float aktivitas(i,j) = TF(i,j) = LET(j) - t(i,j) - EET(i) Free float adalah jumlah waktu dimana penyelesaian suatu aktivitas dapat diundur tanpa mempengaruhi saat paling cepat dimulainya aktivitas yang lain atau saat paling cepat terjadinya event lain. Free float = FF(i,j) = EET(j) - t(i,j) - EET(i)

Contoh:
Suatu proyek terdiri dari 11 aktivitas yang sebagian besar merupakan kegiatan yang bergantung pada kegiatan yang lain. Kegiatan A (durasi =4), B (8) dan C (7) merupakan kegiatan awal yang dapat dikerjakan secara bersamasama. Kegiatan D (15) dapat dikerjakan apabila kegiatan A sudah selesai seluruhnya, kegiatan E (6) dan kegiatan F (12) menunggu selesainya kegiatan B, sedangkan bila kegiatan C sudah selesai maka dapat dilanjutkan ke kegiatan G (9). Bila kegiatan F dan G selesai dikerjakan dapat diteruskan mengerjakan H (11). Kegiatan I (3), J (10) dan K (5) merupakan kegiatan akhir, dimana kegiatan ini dapat dikerjakan apabila : - Kegiatan I setelah kegiatan D dan E selesai - Kegiatan J setelah kegiatan F selesai - Kegiatan K setelah kegiatan H selesai.

Peta Waktu dan Pengaturan Sumber


Kegiatan A B C D E F G H I J K Dummy
5 10 15 20 25 30 35

Perkiraan Waktu Penyelesaian Aktivitas (Duration Time)


Ada dua cara, yaitu : 1. Single duration estimate atau perkiraan waktu tunggal. Cara ini dapat digunakan apabila duration dapat diketahui dengan akurat dan tidak terlalu berfluktuasi. Pendekatan CPM menggunakan cara ini dengan menganggap bahwa setiap fluktuasi dapat diatasi dengan fungsi kontrol. 2. Triple duration estimate, yaitu cara perkiraan waktu yang didasarkan atas tiga jenis duration : To = optimistic duration, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu aktivitas jika tidak terjadi kesalahan pada pelaksanaan aktivitas itu (segala sesuatunya berjalan dengan baik sekali). Tm = most likely duration, yaitu waktu yang paling sering terjadi bila aktivitas dilakukan berulang-ulang (dalam kondisi normal). Tp = pessimistic duration, yaitu waktu yang dibutuhkan apabila terjadi kesalahan pada pelaksanaan aktivitas yang bersangkutan.

Cara ini merupakan dasar perhitungan untuk PERT yang mempunyai asumsi dasar bahwa jika suatu aktivitas dilakukan berkali-kali, maka actual times akan membentuk distribusi frekwensi Beta, dimana To dan Tp merupakan buntut (tail), sedangkan Tm adalah mode. To = optimistic duration Tm = most likely duration Tp = pessimistic duration

Te = (To + 4Tm + Tp) / 6


Te = expected duration

V = ((Tp-To)/6)2 SD = (Tp-To)/6 Z = (x Te)/SD Te dapat =


atau > atau < dari Tm
To

Tm

Tp

V = variance SD = standard deviasi X = lama waktu yang ditentukan Probabilitas = lihat tabel luas dibawah kurva normal dengan nilai z sudah diketahui

Penentuan Ongkos pada Penjadwalan Proyek


Hubungan ongkos dengan durasi
Cc Cn Titik percepatan Titik normal

Dc

Dn

Slope = (Cc-Cn)/(Dn-Dc)

Contoh :
D A C B E H F G
A B C D E F G H Kegiatan Normal Waktu 4 8 6 9 5 5 3 7 Ongkos 210 400 500 540 500 150 150 600 Percepatan Waktu 3 6 4 7 2 4 3 6 Ongkos 280 560 600 600 1100 240 150 750

1. Tentukan waktu penyelesaian normal dan ongkosnya 2. Tentukan waktu penyelesaian tercepat dan ongkosnya.