You are on page 1of 2

Data utama untuk bahan diskusi 1 Diagnosis/Gambaran Klinis: Asma bronchiale, sesak napas disertai batuk berdahak

dengan napas berbunyi (meng i), keadaan umum baik, sesak napas kambuh terutama saat malam dan pagi hari saat cuaca dingin. 2 Riwayat Pengobatan: Pernah berobat ke puskesmas terutama jika terjadi serangan. Obat yang diberikan berupa inhalasi (nebulizer). Beberapa saat setelah diberikan obat akan membaik t etapi sesak napas sering timbul kembali. 3 Riwayat Kesehatan/Penyakit: Pasien sudah pernah mengalami gejala serupa sebelumnya sejak usia 9 tahun, dioba ti di puskesmas, sembuh dengan obat inhalasi. 4 Riwayat Keluarga: Ibu pasien memiliki sakit serupa 5 Riwayat Pekerjaan: Pelajar 6 Lain-lain: Kondisi fisik dan sosial untuk mencari faktor pencetus asma Daftar Pustaka Hasil Pembelajaran Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio Subyektif: Pasien mengeluh sesak napas disertai batuk berdahak dengan napas berb unyi (mengi). Keluhan terutama terjadi saat malam dan pagi hari saat cuaca dingi n. Pasien memiliki riwayat sakit serupa sejak usia 9 tahun. Ibu pasien juga memi liki sakit yang sama dengan pasien. Obyektif: Hasil pemeriksaan fisik dan foto ronsen toraks PA mendukung diagnosis asma bronchiale. Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan: ○ Gejala klinis (sesak napas, napas berbunyi atau mengi, batuk berdahak) ○ Pemeriksaan fisik (auskultasi toraks wheezing, ekspirasi memanjang) ○ Gambaran ronsen toraks yang khas (spatium intercostae melebar) Assessment (penalaran klinis): Asma bronchiale menurut American’s Thoracic Societ y dikutip dari Barata Wijaya (1990) adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatn ya respons trakhea dan bronkhus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan. Gambaran patologisnya berupa ko nstraksi otot polos jalan nafas, penebalan mukosa karena edema dan infiltrasi se luler, serta pengentalan mukus yang tidak normal di dalam lumen jalan nafas, seh ingga terjadi penyumbatan oleh mukus. Dari berbagai penyebab obstruksi jalan naf as, kontraksi otot polos adalah yang paling mudah disembuhkan sedangkan edema da n infiltrasi seluler membutuhkan pengobatan dalam jangka lama dengan obat-obat a ntiinflamasi. Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara ya ng paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan de ngan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberi an bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkat an FEV1 (forced expiratory volume in one second) atau FVC (forced vital capacity ) sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Pemeriksaan spirometri tid ak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai ber at obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriks aan spirometrinya menunjukkan obstruksi. Beratnya asma dapat diklasifikasikan da lam : ringan, sedang dan berat tergantung gejala-gejala. Sistem skoring diberika n untuk mengklasifikasikan tersebut.

Tabel Penilaian Keperahan Asma (Skoring) Gejala Penggunaan Bronkhodilator Variabilitas PEFR (APE) Terjaga malam hari 4 Gejala tiap hari 3

Pendidikan: Asma bronkiale merupakan penyakit yang bersifat turunan sehingga kepada pasien d an keluarganya diminta untuk memahami faktor pencetus yang dapat menimbulkan ser angan. Kar ena prinsip pengobatan asma adalah menghilangkan obtruksi jalan napas dengan seg era. Pengobatan: Pengobatan dengan bronkodilator sudah sesuai dengan standar yang ditentukan.Gejala < tiap hariperminggu < tiap minggu atau waktu olah raga Tidak ada serangan selama 3 bulan 1 – 4 x / hari < tiap hari < per minggu tidak selama 3 bulan > 25 % 15 – 25 % 3 10 – 15 % 2 6 – 10 % 1 < 6 % 0 Dikutip dari Assagaf H & Mukty A. Konsultasi ini merupakan upaya agar komplikasi yang mungkin terjadi pada asma da pat dihindari. . 1995 Skore maksimum : 12 Asma ringan : 1 – 5 Asma sedang : 6 – 8 Asma berat : 9 – 12 Variabilitas PEFR PEFR APE 2 1 0 > 4 x / hari 4 : Harga PEFR tertinggi – harga PEFR terendah X 100 % Harga PEFR tertinggi : Peak Expiratory Flow Rate : Arus Puncak Ekspirasi Plan: Diagnosis: Upaya diagnosis belum optimal. Konsultasi: Dijelaskan secara rasional perlunya konsultasi dengan spesialis Penyakit Dalam. tetapi belum dilakukan spirometri sebagai gold standard. Meskipun gejala klinis dan riwayat penyakit menun jukkan asma bronchiale.