You are on page 1of 5

TEORI KEPEMIMPINAN SITUASIONAL Suatu pendekatan terhadap kepemimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin memahami perilakunya, sifat-sifat bawahannya,

dan situasi sebelum menggunakan suatu gaya kepemimpinan tertentu. Pendekatan ini mensyaratkan pemimpin untuk memiliki keterampilan diagnostik dalam perilaku manusia. Kepemimpinan situasional merupakan gaya kepemimpinan yang selalu berusaha menyesuaikan dengan situasi dan kondisi organisasi, serta bersifat fleksibel dalam menyesuaikan atau beradaptasi dengan kematangan bawahan dan lingkungan kerja.

Dalam menerapkan teori kepemimpinan situasional, manajer harus didasarkan pada analisis terhadap situasi yang dihadapi pada suatu saat tertentu dan

mengidentifikasikan kondisi anggota atau anak buah yang dipimpinnya. Kondisi bawahan merupakan faktor yang penting. Selain sebagai individu, bawahan juga sebagai kekuatan kelompok yang kenyataannya dapat menentukan kekuatan pribadi yang dimiliki seorang pemimpin. Model Kepemimpinan Situasional Ada dua model kepemimpinan situasional disini yang akan dibahas, yaitu Model Kepemimpinan Kontingensi Fielder dan Model Kepemimpinan Situasional Hersey dan Blanchard. 1. Model Kepemimpinan Kontingensi Fielder Model kepemimpinan kontingensi berpendapat bahwa prestasi kelompok tergantung pada interaksi antara gaya kepemimpinan dan situasi yang mendukung.

Kepemimpinan dilihat sebagai suatu hubungan yang didasari oleh kekuatan dan pengaruh. Fielder memberikan perhatian mengenai pengukuran orientasi

kepemimpinan dari seorang individu. Ia mengembangkan Least-Preffered CoWorker (LPC) untuk mengukur dua gaya kepemimpinan: a. Gaya berorientasi tugas, yang mementingkan tugas atau otoritatif. b. Gaya berorientasi hubungan, yang mementingkan hubungan kemanusiaan.

Sedangkan kondisi situasi terdiri dari tiga variabel utama, yaitu: a. Hubungan pemimpin-anggota, yaitu derajat baik/buruknya hubungan antara pemimpin dan bawahan. b. Struktur tugas, yaitu derajat tinggi/rendahnya strukturisasi, standarisasi, dan rincian tugas pekerjaan. c. Kekuasaan posisi, yaitu derajat kuat/lemahnya kewenangan pemimpin atas kewenangan formal yang dimiliki, seperti memberikan penghargaan dan mengenakan sanksi. Kombinasi antara situasi yang dihadapi oleh pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang tepat akan menentukan efektivitas kepemimpinan. Yang dimaksud dengan perilaku yang tepat adalah dalam situasi apa perilaku pemimpin berorientasi pada tugas dan dalam situasi apa perilaku pemimpin berorientasi pada hubungan. Perilaku pemimpin yang berorientasi pada hubungan akan efektif dalam situasi yang moderat misalnya pemimpin yang menghadapi situasi ketika derajat variabel situasi hubungan pemimpin dan bawahan rendah, tetapi kedua variabel yang lain derajatnya tinggi. Atau dalam situasi lain yaitu variabel situasi posisi kewenangan pemimpin derajatnya rendah, tetapi variabel yang lain derajatnya tinggi. Kesimpulan dari model kepemimpinan kontingensi ini adalah perilaku kepemimpinan yang efektif tidak berpola pada salah satu gaya tertentu, melainkan dimulai dengan mempelajari situasi tertentu pada saat tertentu. Yang dimaksud situasi tertentu adalah adanya tiga variabel yang dijadikan dasar sebagai perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada tugas atau hubungan, tetapi tidak berarti bahwa seorang yang perilaku kepemimpinannya berorientasi pada tugas tidak pernah berorientasi pada hubungan. 2. Model Kepemimpinan Situasional Hersey dan Blanchard Berbeda dengan teori Filder yang kurang memperhitungkan karakteristik bawahan, teori ini justru memusatkan perhatian analisisnya pada pihak bawahan. Pada intinya teori ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada

dua hal, yaitu pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa (kedewasaan) para bawahan yang dipimpin.

Penekanan model kepemimpinan situasional menurut Hersey dan Blanchard adalah pada pengikut-pengikut dan tingkat kematangan mereka. Para pemimpin harus menilai secara benar atau secara intuitif mengetahui kematangan pengikutpengikutnya dan kemudian menggunakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tingkatan tersebut. Tingkat kematangan karyawan (maturity) diartikan sebagai tingkat kemampuan karyawan untuk bertanggung jawab dan mengarahkan perilaku dalam bentuk kemauan.

Manajer yang menghadapi kelompok dengan tingkat kematangan tinggi hendaknya lebih banyak memberi kebebasan kepada kelompok untuk mengarahkan dan memecahkan masalah dengan pengarahan terbatas (perilaku hubungan).

Sebaliknya, bila salah seorang anggota mempunyai kematangan rendah dalam melaksanakan tugas harus banyak diberi pengarahan bimbingan (perilaku tugas).

Terdapat empat model gaya kepemimpinan yang dimiliki manajer berdasarkan tingkat kematangan karyawan.

a. Mengatakan (telling) Gaya kepemimpinan yang mengarahkan merupakan respon kepemimpinan yang perlu dilakukan oleh manajer pada kondisi karyawan lemah dalam kemampuan, minat, dan komitmen, sementara organisasi menghendaki penyelesaian tugastugas yang tinggi. Dalam situasi seperti ini manajer disarankan memainkan peran directive yang tinggi, memberi saran bagaimana menyelesaikan tugas-tugas itu tanpa mengurangi intensitas hubungan sosial dan komunikasi antara pimpinan dan bawahan.

b. Menjual (selling) Pada kondisi karyawan menghadapi kesulitan menyelesaikan tugas-tugas, serta takut untuk mencoba melakukannya, manajer harus memproporsikan struktur tugas dengan tanggung jawab karyawan. Selain itu, manajer harus menemukan hal-hal yang menyebabkan karyawan tidak termotivasi serta masalah-masalah

yang dihadapi karyawan. Pada kondisi ini, karyawan sudah mulai mampu mengerjakan tugas-tugas dengan lebih baik sehingga akan memicu perasaan timbulnya over confident. Kondisi ini memungkinkan karyawan menhadapai permasalahan baru yang muncul. Oleh karena itu, setelah memberikan pengarahan, manajer harus memerankan gaya menjual dengan mengajukan beberapa alternatif pemecahan masalah.

c. Menggalang partisipasi (participation) Respon manajer dengan menggalang partisipasi harus diperankan ketika karyawan telah memiliki tingkat kemampuan tinggi akan tetapi tidak memiliki kemauan untuk melakukan tanggung jawab. Ketidakmauan atau ketidakyakinan mereka untuk melakukan tugas/tanggung jawab seringkali disebabkan karena kurangnya keyakinan pada diri sendiri. Dalam kasus seperti ini pemimpin perlu membuka komunikasi dua arah, serta secara aktif mendengarkan dan mendukung usaha-usaha yang dilakukan para bawahan.

d. Mendelegasikan (delegating) Selanjutnya, untuk tingkat karyawan dengan kemampuan dan kemauan yang tinggi, maka gaya kepemimpinan yang sesuai adalah gaya delegasi. Dengan gaya delegasi ini pimpinan sedikit memberi pengarahan maupun dukungan karena karyawan dianggap sudah mampu dan mau melaksanakan tugas atau tanggungjawabnya. Karyawan diperkenankan untuk melaksanakan sendiri dan memutuskan tentang bagaimana, kapan, dan dimana pekerjaan mereka harus diselesaikan. Pada gaya delegasi ini tidak terlalu diperlukan adanya komunikasi dua arah.

Dapat disimpulkan dari teori kepemimpinan situasional menurut Hersey dan Blanchard, perilaku kepemimpinan seseorang dalam menghadapi kelompok secara keseluruhan harus berbeda dengan menghadapi individu anggota kelompok, demikian pula perilaku kepemimpinan manajer dalam menghadapi tiap-tiap individu harus berbeda tergantung tingkat kematangannya.

Daftar Pustaka:

Rivai, Veithzal. 2004. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta : Rajawali Pers Siagian, Sondang P. 2003. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : PT Rineka Cipta