Cirebon Glass Painting

Kumpulan Artikel Lukisan Kaca
Contributed by Halimi Saturday, 14 July 2007 Last Updated Thursday, 06 March 2008

(DIKUMPULKAN DARI BERBAGAI MEDIA ONLINE) Maestro Pelukis Kaca Cirebon Menyusuri Masa Depan Oleh Matdon Yang masih bertahan dari kesenian tradisional Cirebon selain sintren dan tarling, tampaknya hanya lukisan kaca, meskipun harus diakui pula para seniman lukisan kaca Cirebon sama saja dengan seniman Cirebon lainnya, megapmegap dan memprihatinkan. Seni tradisi melukis dengan media kaca sebenarnya sudah berkembang beberapa abad yang lalu, dan mengalami perkembangan pasang surut, di mana kemudian para senimannya menemukan beberapa gaya gambar kaca yang khas. Konon lukisan kaca ini berasal dari China yang dibawa oleh para pedagang ke wilayah Cirebon , namun secara pasti tidak ada yang mengetahui sejarahnya. Di keraton dan beberapa rumah penduduk Cirebon ditemukan gambar kaca yang diduga dibuat awal abad ke-19. Menurut Haryadi Suadi, seorang pengamat lukisan kaca Cirebon, tema dan gaya lukisan kaca Cirebon dipengaruhi budaya China, Islam dan cerita wayang. Pengaruh China sangat kuat lantaran sejak abad ke-16 Kota Udang ini telah disinggahi para pedagang dari China yang tanpa sengaja telah memperkenalkan ragam seni kepada penduduk pribumi, sehingga timbul gagasan di kalangan perupa tradisional untuk membuat gambar di atas kaca dan menirunya. Pengaruh Islam yang disebarkan oleh para wali juga menjadi ciri dari lukisan kaca Cirebon . Bahkan setelah pengaruh China , gambar-gambar yang dihasilkan seniman tradisional selalu berhubungan dengan Islam seperti gambar kabah, masjid dan kaligrafi berisi ayat-ayat Alquran atau Hadis. Adapun pengaruh cerita wayang berasal dari pertunjukan wayang yang diperagakan para wali untuk menyebarkan agama Islam. Kuatnya kepercayaan tokoh wayang yang baik, membuat para pengrajin lukisan kaca selalu menampilkan tokoh seperti Kresna, Arjuna, Rama, Lesmana, dan lain-lain. Menuju Masa Depan Seni gambar kaca mengalami pasang surut. Zaman keemasan sejak abad ke-19 sampai awal abad ke-20 atau hingga tahun 1950-an, menurut Haryadi, pernah dialami. Ini bisa dibuktikan pada masa itu hampir semua rumah di Cirebon terdapat gambar kaca, bukan hanya untuk hiasan melainkan berfungsi dan diyakini sebagai penolak bala. Dan sejak 1960-an nasib mereka pun mulai merana. Namun awal 1980-an, kembali lukisan kaca menggeliat dan mengalami perkembangan yang bagus, terhitung sejumlah seniman kaca mulai menyadari bahwa seni tradisional ini perlu dikembangkan dan dilestarikan. Dua di antara maestro pelukis kaca Cirebon adalah Rastika dan Sugro, yang saat ini tengah melakukan pameran berdua di Galeri Adira Jl Kiaracondong 33 c Bandung sejak 3 Agustus hingga akhir bulan. Pameran ini mengundang perhatian sejumlah pengamat dan perupa di Bandung . Pameran ini tidak lepas dari jasa Haryadi yang kesengsem dengan lukisan kaca. Pengamat dari FSRD ITB ini pernah menyuguhkan lukisan kaca ini di Bentara Budaya Jakarta tahun 1989. Di Bandung, sejumlah pengamat berdecak kagum melihat kepiawaian dua maestro ini. Betepa tidak, konon karena dua maestro ini gambar kaca Cirebon kembali naik ke panggung seni yang agung, popularitasnya mulai diperhitungkan kembali. Saat ini terdapat nama-nama seniman gambar kaca Cirebon antara lain Bahendi, Astika, Eryudi, Dedi Sukandi, Kasman, Raffan Hasyim, Sartono Ciptanto, Salim Hasyim, Toto Sunu, Masaji, Lipi, dan lain-lain. Mengamati seni lukis kaca Cirebon atau gambar kaca ini, kita bisa melihat keindahan yang dahsyat, apalagi jika ditanyakan kesulitan-kesulitan cara membuatnya. Tentu dibutuhkan latihan yang serius dan telaten agar menghasilkan gambar yang rapi, indah, dan bermakna. Melalui pameran dua maestro ini diharapkan seni lukis kaca Cirebon dapat lebih berkembang dan diperhatikan sebagai sebuah warisan budaya leluhur, lepas dari persoalan pengaruh China dan Islam, untuk masa depan seni tradisi tentunya.n Penulis adalah seniman, tinggal di Bandung SUARA PEMBARUAN DAILY Lukisan Kaca Makin Kaya Tema Lukisan kaca diperkirakan sudah berkembang pada akhir abad ke-19. Tema yang dipilih biasanya tokoh-tokoh wayang atau kaligrafi. Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai pajangan saja, lukisan kaca masih terpaku pada pakem dan tradisi. Kini lukisan kaca bisa mewakili ekspresi pelukis bahkan keadaan zaman. Fenomena itulah yang terlihat dari pameran lukisan di atas kaca yang digelar di Bentara Budaya Jakarta , Jl Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat. Pameran yang bertema "Tradisi dan Perkembangannya" ini berlangsung hingga 17 Juli 2004. Pameran ini diikuti oleh sejumlah seniman dari Cirebon , Bandung , Yogyakarta, dan Bali . Keberagaman tema terlihat pada sejumlah karya meskipun pelukisnya berasal dari daerah yang sama. Fenomena ini makin menarik jika dilihat dari pilihan tema. Mereka tampaknya tidak lagi berkutat pada tradisi. Para pelukis mulai menaruh minat pada tema-tema yang lebih bebas. Tak terkecuali politik, kritik sosial dan humor. Sebagian dari mereka mungkin malah lebih berani dan nakal dari pelukis kanvas.
http://durian19-arts.com Powered by Joomla! Generated: 29 August, 2008, 10:51

"Saya sekarang punya sekolah khusus melukis di atas kaca dan memahat kayu. sikap. Selain dia belajar menyungging wayang dan memahat. dan agar jangan sampai kering. Nampak beberapa dari 40-an karya terbarunya yang kebanyakan buatan tahun 2002. karikatur bisa mencerminkan kredo. dengan lukisan kacanya merambah tema baru: humor. pola hias yang memukau. Bakat melukisnya memang menonjol sejak masih kanak-kanak. lukisan karya Maryono. digelar secara tunggal di Galeri http://durian19-arts. Rastika juga membuka cakrawala baru bagi para pelukis yunior. menyeleksi. Teknik melukis di atas kaca memang tak semudah melukis di kanvas. Pelukis kaca senior Rastika (62) belajar melukis dengan media kaca sejak dia berusia 10 tahun. Rastika belajar melukis dari dalang Sudarga Lesek. dia menyindir konflik seputar pemilihan presiden. Namun berangkat dari satu titik bernama kreativitas. binatang paksi nagaliman. Sementara lukisan kaca adalah murni pikiran sang pelukis yang acapkali dianggap kenthir atau agak kurang waras. Lukisan yang terdapat pada akaca itu lalu diberi bingkai yang berukir dengan warna kuning emas. Lukisan lain karya Maryono tak kalah pedas. 2003 Humor dalam Lukisan Kaca Cirebon Rastika Sumber: Yayasan Seni Rupa Indonesia | Januari 2003 Setelah puluhan tahun menjelejah dan mengulang tema lama: wayang. Kreativitas juga menjadikan lukisan kaca terus mengalami perkembangan. visi dan misi serta karakter sebuah surat kabar. Jateng yang kini bermukim di Cirebon ." kata Toto Sunu (43) alias Priyanto Sunu. Selain pelukis senior kelahiran Cirebon . pembaruan juga pergeseran. pelukis kelahiran Purwokerto. Kaca di bagian depan memperlihatkan detail-detail lukisan yang indah. Saat ini. dia menggambar tokoh politik berpidato di hadapan orang-orang yang sedang tertidur. Lewat judul Rebutan Dhingklik Ongklak-angklik (Berebut Kursi ). warna. Di lukisan itu. pelukis kelahiran 12 Juli 1938 ini tampaknya cukup akrab dengan kritik sosial. Ada pula suasana segar lewat gambar-gambar tyang lucu penuh humor. 10:51 . kaligrafi. tapi kalau di atas kaca harus dihapus semuanya. banyak pelukis kaca yang mempertahankan pakem dan unsur tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun. dalam katalog. Menurut Toto Sunu. dengan pongah. muncul semangat revivalitas (kebangkitan kembali) lukisan di atas kaca yang berkembang terengah-engah dan kembang kempis karena kurangnya kegiatan pameran lukisan jenis ini dan minimnya promosi dan apresiasi. Di sini saya juga membuka bimbingan Tari Topeng. sinis. Maryono sekaligus mewakili perkembangan baru atau pergeseran minat seniman lukis kaca terhadap pilihan tema. menuangkan ide. Januari 30.5 meter lebih. Meskipun hanya tamatan SMP. Padahal. Menurut kurator Ipong Purnama Sidhi. dan mulai menekuni lukisan kaca. orang bisa menikmati keelokan garis. Di balik selembar kaca. teknik melukis di atas kaca telah ditekuninya selama puluhan tahun.Cirebon Glass Painting Simak saja. kata Ipong. Tak ubahnya sebuah karikatur yang dimuat pada sebuah surat kabar." tutur Rastika yang hanya sekolah sampai di kelas V SD. tokoh pewayangan.com Powered by Joomla! Generated: 29 August. Pelukis kelahiran Yogyakarta 22 Juni 1958 ini memang masih menaruh minat pada dunia pewayangan. Di bagian. Objek lukisan Giyanto menampilkan tokoh ningrat duduk di kursi sambil memangku dua perempuan. Kalau ada kesalahan di atas kanvas bisa ditimpa dengan cat. "Melukis di atas kaca tingkat kesulitannya cukup tinggi. Judul Obral Janji sedikit banyak menjelaskan pandangannya terhadap aktivitas politikus. Ipong menambahkan corak. hingga buraq. kaligrafi. Pertemuannya dengan Menparpostel (waktu itu) Joop Ave dan pelukis Hariadi Sutadi dari ITB membuka kesempoatan untuk berpameran bersama sejumlah pelukis lain. gaya termasuk tema terus mengalami pertumbuhan. Kreatif dalam mengolah. Dia terbiasa melukis di atas kaca berukuran sekitar 1. dan kemudian melukis di atas kaca di bawah binbingna dalang Maruna. Melukis di atas kaca berarti melukis terbalik. mengeksekusi dalam teknik gambar yang prima. 2008. karya pelukis Subandi Giyanto yang berjudul Melik Nggendong Lali. Cirebon . Tahun 1984 berpameran di Bentara Budaya Jakarta dan diulang kembali tahun 1996. Tetapi menyapa secara santun dengan kritik-kritik yang tepat sasaran. usaha mengkritik. Sementara kaca bagian belakang tempat menggoreskan kuas yang sudah dibubuhi cat ditutup dengan tripleks. Lain lagi. Tetapi Giyanto cukup kreatif dengan kritik sosial terhadap penguasa. sebuah lukisan pada selembar kaca ternyat abisa menjadi wadah yang menampung uneg-uneg. Awalnya melukis objek pemandangan dan potret. Bedanya. kini seniman Rastika (60) dari desa Gegesik Kulon. dan satwa. Kamis. itulah ditampilkan panorama alam.

Lukisan lain mengisahkan bandakawan sedang ngamen tarling. 3. putri Laut Selatan. Gunungan bagian muka menyajikan lukisan bumi. Ceblok.buahan. Meskipun pakem pewarnaan telah diajarkan. Gareng. Sebagai tanda untuk pergantian jejeran (adegan/babak). Rastika benarbenar telah mencapai kemampuan seorang empu. drop out SMP yang lumpuh kaki dan kemana-mana menggunakan kursi roda. 4 diantaranya sama sama dengan tokoh punakawan dalam wayang purwa. yang mempunyai makna pohon hidup. dan lain-lain). dan burung lainnya. membantu menciptakan efek tertentu (menghilang/berubah bentuk). 10:51 . Oleh karena tema itu belum lazim dalam pakem seni lukis kaca Cirebon . kaya dan indah. "Kalau saya menggambar orang mabok. yang pola dasarnya dibuat ayahnya. Digunakan untuk menggambarkan pohon. bahwa setiap lukisannya selalu digarap bersama anaknya. Ada yang menuduh plagiat. Kusdono (20). antara lain. Dikalangan penonton pameran. itu tidak bermaksud mengeritik siapapun. halilintar. kera. Rastika menampilkan cerita Petruk sedang nenggak minuman didepan gerbang kraton Cirebon.Cirebon Glass Painting Candrika-Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) 11-19 Januari 2003. banteng. burung merak. kelahiran Purwokerto belajar melukis sungging wayang di Solo. Semar. seperti halnya layar yang dibuka dan ditutup pada pentas sandiwara. hasil akhirnya tidak lepas dari sifat Kusdono yang perasa dan lembut. Duala. belum semantap lukisan-lukisan kaca yang menjadi trade mark dia selama ini. Pasalnya. (Yusuf Susilo Hartono) Sementara Noto Carito (53). Lukisan ini mengangkat cerita rakyat Cirebon : Lukas Baurna putra Jaka Larang. yaitu wayang. tata visual lukisan Rastika memang beda dibanding dengan sebelumnya. Kalau sudah menyangkut hak cipta.yang pada awalnya adalah media dakwah Islam . Tempat kunci atau umpak gapura bergambarkan bunga teratai.maka secara visual. berbeda dengan misalnya 10-20 tahun lalu. Diluar humor. pembebasan. Fungsi dari gunungan ada 3 yakni: 1. elegan. Dalam dunia pewayangan Cirebon. yaitu motif wadasan dan mega mendung Lima tahun belakangan ini. Dipergunakan dalam pembukaan dan penutupan. pada lukisan humir itu ia tetap mempertahankan ciri lukisan kaca Cirebon selama ini. halilintar. gunung. bertugas mewarnai lukisan. M Hum. hawa atau udara. Tapi Rastika mengaku. Yogya dan Purwokerto. Soegito Purbo Carito. Seperti yang diakui sendiri. koleksi TL Cooper. 2. Kemudian dia mendapat bimbingan dari dalang terkenal Banyumas. Ini merupakan sengkalan yang berbunyi geni dadi sucining jagad yang mempunyai arti 3441 dibalik menjadi 1443 tahun Saka. Disebut gunungan karena bentuknya seperti gunung yang berisi mitos sangkan paraning dumadi. selebihnya Curis. memang kita tidak bisa humor memang. Kata kayon melambangkan semua kehidupan yang terdapat di dalam jagad raya yang mengalami tiga tingkatan yakni: 1. Di tengah-tengah pepohonan terdapat gambar makara atau banaspati ( wajah raksasa dari depan). Pada wayang. samudera. guruh. Jumlah 9 melambangkan jumlah walisanga. mediumnya berbeda. Noto Carito sering berpameran dalam acara pekan wayang nasional di Jakarta. bandakawan terdiri dari 9 tokoh.com Powered by Joomla! Generated: 29 August. lukisan ini menimbulkan pro kontra. Mungki disitulah kunci. dan tidak sedikit yang bilang tidak. Drs Eddy Hadi Waluyo. Rastika untuk pertama kali mengetengahkan lukisan repro seri Barikan dari Gegesik yang terdiri dari 16 bingkai atas inisiatif Iwan Ramlan dari Fortune selalu pemrakarsa pameran. gapura dengan dua raksasa. Jaman dulu lukisan ini dipajang dirumah orang hajatan (nikah. Kusdono. dari karya asli pelukis Gegesik Sitisiwan (1865-1948) sepanjang 10 meterX 90 cm. Boleh jadi sense of humor Rastika ini adalah suatu bentuk katarsis. dan yang asli ada gambar pria dan wanita. Ia merepro dari repro offset Lontar dengan ukuran 100 X 10 Cm. sunatan. yang semuanya dikerjakan Rastika sendiri. Seperti dikatakan oleh peneliti dan pengamat lukisan kaca. Bitarota." ungkap Rastika. Di kanan-kiri pepohonan terlihat gambar harimau. Di balik gunungan terlihat sunggingan yang menggambarkan api sedang menyala. yaitu asal mulanya kehidupan ini dan disebut juga kayon. Petruk (alias Cungkring) dan Bagong. Saya hanya menanggapi keadaan akhir-akhir ini saja. sedang diatas gapura digambarkan pepohonan yang banyak cabangnya dengan dedaunan dan buah. Bagalbuntung. atau ngamen. hal lain yang menarik dari pameran ini. sambil memangku perempuan molek. (FA/U-5) GUNUNGAN DALAM WAYANG Dalam setiap pergelaran wayang baik wayang golek maupun wayang kulit selalu ditampilkan gunungan. yang sedang dikader. dengan detil-detail yang rumit. mengapa tata visual lukisan kaca visual Rastika sekarang. yang orang mengartikan pohon Kalpataru. Tanam tuwuh (pepohonan) yang terdapat di dalam gunungan. Raja Jin Tanjung Karoban dengan Rara Bulan. 2008. angin. Gunungan tersebut diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1443 Saka. Rastika mampu mengambarkan bentuk-bentuk yang luwes. http://durian19-arts.

karena telah banyak pelukis kaca yang beroperasi. Makara yang terdapat dalam pohon Kalpataru dalam gunungan tersebut berarti Brahma mula. Lukisan hewan yang terdapat di dalam gunungan ini menggambarkan hewan. menggambarkan proses bercampurnya benda-benda untuk menjadi satu dan terwujudlah alam beserta isinya. tradisionil maupun geometris yang digabungkan menggunakan timah sebagai pengikatnya. art glass terbagi dalam empat macam. Salah satunya Hariyanto di Jl Banua Anyar RT 6 No 10 Banjarmasin. Makna kayon adalah hidup yang melalui mati. Kaca patri ini sudah dikenal di Indonesia puluhan tahun yang lalu. 3. sekarang hanya dalam prolog dalang saja. Banyu (air). dan Bantala (bumi-tanah).Cirebon Glass Painting 2. namun tak lepas dari objeknya berupa flora dan fauna sehingga memberikan kesan natural dan alami. kaca patri kini kembali digemari lagi. Kaca patri bisa dilihat pada bangunan peninggalan Belanda yang saat ini masih berdiri. secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh sang dalang. kaca lukis dan kaca befel (kaca yang bagian pinggirnya dipoles). Kaca patri merupakan mozaik kaca warna yang membentuk berbagai pola natural. Konsep desainnya tidak terpaku pada gaya lama. Lukisan bunga teratai yang terdapat pada umpak (pondasi tiang) gapura. Oleh karenanya. Begitu juga dengan kaca lukis dan kaca ukir. pintu. partisi pada bangunan rumah tinggal. yaitu sarinya api yang dilukiskan sebagai halilintar. Seperti di Rumah Makan Pawakha di Jl Jafri Zam Zam Banjarmasin. hal itu terlihat dari banyaknya order yang masuk maupun http://durian19-arts. kaca hiasan dan kaca untuk pencahayaan (terutama untuk rumah bertingkat) serta bangunan arsitektural lain yang menonjolkan seni pada elemen kacanya. lima zat yakni: Banu (sinar-udara-sethan). Art glass banyak diterapkan pada panel jendela. Tahun 2000. kaca ukir. bapak satu anak ini tahun 1991 bekerja di Surabaya dalam bidang art glass. sedang Banu merupakan zat makanan utamanya. Bayu (angin). Untuk mengasah ilmunya tersebut. Mulai dari pengukuran kaca hingga proses produksi (finishing) dilakoninya. Di bawah bendera usaha Berkah art Glass. 2008. kesannya juga lebih hidup karena umumnya berupa flora dan fauna. Bayu. Di samping memiliki nilai artistik. Dapat pula disebut bukit atau gunung yang melambangkan sumber hidup dan penghidupan. Seiring dengan berjalannya waktu. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha Bhuta. sarinya bumi yang dilukiskan dengan tanah di bawah gapura. dan Bantala. Kayon dapat pula diartikan pohon hidup atau pohon budhi tempat Sang Budha bertapa. dimana elemen interior ini menjadi bagian melekat dari gaya arsitektur bangunan pada masa itu yang kini dikenal dengan nama art deco. yakni kaca patri.com Powered by Joomla! Generated: 29 August. dan sarinya air yang digambarkan dengan atap gapura yang menggambarkan air berombak. yakni tempat pertumbuhan hidup. desainnya bervariasi mengikuti perkembangan. menurut kepercayaan hindu. dia membuka usaha di Banjarmasin karena melihat peluangnya cukup baik. Kayon dapat disamakan dengan pohon kalpataru atau pohon pengharapan. motif pada kaca patri tidak melulu terikat oleh pola tradisional/antik atau geometris tapi ke pola natural/alami dan abstrak ekspresif. desain seni grafis pun turut mendukung perkembangannya. Untuk mendapatkan lukisan kaca kini tidaklah sulit. mempunyai arti wadah (tempat) kehidupan dari Sang hyang Wisnu. Berkumpulnya Brahma mula dengan Padma mula kemudian menjadi satu dengan empat unsur. Banyu. semua jenis pekerjaan yang berhubungan dengan art glass dikuasainya. Kehidupan manusia yang dulu digambarkan pada kaca pintu gapura pada kayon.hewan yang terdapat di tanah Jawa. kaca lukis terdapat pada dinding penyekat untuk memisahkan dua tempat. Dari kelima zat tersebut bercampur menjadi satu dan terwujudlah badan kasar manusia yang terdiri dari Bani. Dalam jangka enam bulan. dimana kaca patri menjadi elemen yang tidak terpisahkan. dinding penyekat. atau hidup di alam fana. yang bermakna bahwa benih hidup dari Brahma. Dalam prakteknya. warnanya serasi sehingga enak dipandang mata. Bani (Brahma-api). Gunungan atau kayon merupakan lambang alam bagi wayang. 10:51 . 12 Oktober 1973 itu sejak kecil memang sudah memiliki bakat melukis. Tampil Beda Dengan Art Glass Seni lukis kaca kini menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam dekorasi interior rumah agar tampil beda. Pria kelahiran Banyuwangi. Kaca berlukiskan kehidupan air itu memberikan kesan sejuk dan terasa lebih hidup. Dengan bekal keahlian yang dimiliki itulah ia mulai kerja mandiri. Bakatnya itu baru tersalurkan selepas sekolah yang ketika itu mengambil jurusan teknik mesin. usaha yang digelutinya makin menanjak.

Nugroho. kereta keraton. dan tema.5 juta/m2 dengan jaminan tidak akan lepas sepanjang masa.'' terang Ipong. perkembangan lukisan kaca di Cirebon pun mengalamai revitalisasi. Namun. pemerhati lukisan kaca. dan Subandi Giyanto. Baru? ''Berbeda dengan lukisan kaca tempo dulu yang berobjek tokoh pewayangan. Solo. Wartono Gino. sehingga menghasilkan teknik gambar yang prima dan baru. (Benny Benke-81a) Minggu. Magelang . Para pelanggan umumnya dari kalangan menengah atas yang mengandalkan kualitas dan kepercayaan.'' tambahnya.'' kata Ipong. Waged." tandasnya. Tak sedikit pengusaha dan pejabat yang menjadi pelanggannya. 10:51 . acara tersebut ditujukan untuk menjaga dan merangsang perkembangan lukisan di atas kaca yang cenderung kurang mendapat perhatian publik. dan mulai tumbuh pada abad IX di Eropa. Menurut Ipong Purnama Sidhi. tergantung dari bahan dan jenis pengerjaannya. Dan sebagaimana pelukis kaca dari Jateng dan Yogyakarta. dan spiritualitas masyarakat Cirebon .com Powered by Joomla! Generated: 29 August. Ya. Sekarang ini.sungguh menawarkan keindahan tersendiri. Dwi Sunaryo. Kegiatan di Bentara Budaya Jakarta . kaligrafi Islam. ketepatan waktu sangat diperhatikan. memamerkan karyanya dengan interpretasi baru. Salah satunya di Grand Palace . Sagio. Dengan mengusung tema ''Tradisi Dan Perkembangannya. dan Toto Sunu sebagai pelukis kaca terbaik dari Cirebon saat ini. kereta singa barong. darti ks Copyright © 2003 Banjarmasin Post Interpretasi Baru Lukisan Kaca SENIMAN lukis kaca dari Jateng dan Yogyakarta . Lisa Novianti. lukisan kaca -yang menurut Mira Sidharta. yang terus mengalami pertumbuhan. lukisan kaca Cirebon cenderung mengambil tema wayang. ia juga memberikan garansi apabila terjadi kerusakan. Lukisan Kaca Cirebon Berbeda dengan pelukis kaca dari Jateng (Solo) yang biasa melukis di atas kaca dari depan dan mengandaikan kaca layaknya kanvas. sembari menyebut Cirebon adalah pusat lukisan kaca di Indonesia. dan sejenisnya. Maryomo. namun untuk kaca lukis dan lainnya produk dalam negeri. ''Menjaga dan merangsang sebuah wilayah kesenian yang tidak populer di dunia global sekarang ini. Hermin Istiariningsih. Barden Kurnianto. pasarannya sudah menyeluruh di wilayah Kalsel dan Kalteng. gaya.Memang." ujarnya dalam pembukaan pameran. pembaruan. dan Bantul. Benyamin Adrianto. Hani Handoko. namun juga menyatu dengan tradisi budaya dan sebagai media ekspresi para pelukisnya. paksi naga liman. Lalu mengapa lukisan kaca dapat tumbuh pesat di Cirebon ? ''Karena di Cirebon. salah seorang dewan kurator pameran. Itu antara lain karena secara historis hampir di setiap kultur di mana lukisan ini tumbuh senantiasa diawali dengan menggambar wayang. dan masjid. 2008. 11 Juli 2004 Tak Sekadar Berkaca pada Lukisan Kaca DAHULU lukisan bermedium kaca selalu identik dengan wayang.'' pameran itu juga diramaikan oleh para pelukis kaca dari Cirebon dan Bali . dan pergeseran. gambar masjid. buroq. "Pokoknya kepuasan pelanggan menjadi prioritas. Bahan baku (kaca) yang digunakan untuk kaca patri diimpor. lanjut dia. Atau dalam bahasa sederhana. sembari menunjuk karya Maryono dari Muntilan berjudul ''Rebutan Dhingklik Ongklak-Ongklik'' (berebut kursi). Wonogiri. semua art glass yang ada merupakan hasil karyanya. pola mega mendung. dalam kasus lukisan di atas kaca. Sebutlah misalnya daerah seperti http://durian19-arts. Dia menyebut Rastika sebagai sesepuh lukisan kaca Cirebon . seragam. pelukis kaca dari Cirebon justru melukis kaca dari belakang. Sulasno. Jl Palmerah Selatan Jakarta Pusat itu dimulai Kamis (8/7) malam kemarin hingga 17 Juli mendatang.Cirebon Glass Painting luasnya pasaran. Retno Lawiyani. Gunungkidul. Sehingga. Untuk kaca patri dipatok seharga Rp1. sosial keagaamaan. Bandi. lihatlah para pelukis kaca dari Jateng dan Yogyakarta . Dalam hal ini. yaitu dari Wonosobo. Sedang kaca ukir/lukis Rp450 ribu/m2 hingga Rp4 juta/m2. ikut meramaikan ajang ''Pameran Lukisan di Atas Kaca''. seperti Tries Ponowady yang melukis di atas permukaan botol kaca. para seniman muda menggubah karya sesuai dengan fenomena terkini. lukisan kaca tidak hanya berfungsi sebagai elemen pajangan. adalah bukan perkara mudah. ''Pada abad ke-19. Cat yang digunakan pun anti gores sehingga tidak akan mengelupas. lukisan kaca berubah menjadi pendokumentasian kehidupan seni budaya. di dalam kesunyian justru tumbuh sebuah revitalitas atau kebangkitan kembali sebuah karya yang meliputi corak. Kini.

Ia kemudian menemukan teknik memakai airbrush atau menggunakan cat thiner pada permukaan kaca. di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). di mana manusia-manusia berpadu dengan manusia wayang. atau Nagasepaha. Mereka terbiasa menjadikan karya orang sebagai mal untuk kemudian ditiru persis sebagaimana adanya. ini sejenis cat untuk besi. banyak seniman Cirebon yang masih memandang karyanya sebagai kerajinan belaka. Begitu pun pelukis senior seperti Maryono asal Magelang. Petruk. Tokoh Rama dan Laksamana tetap saja digambarkan sebagaimana kita saksikan dalam pewayangan yang dua dimensi.com Powered by Joomla! Generated: 29 August. http://durian19-arts. Kemudian yang terasa fantastik. Toto Sunu memamerkan teknik tiga dimensi dengan kaca. Api tiba-tiba seperti disemprotkan dari dalam kaleng untuk kemudian membakar bidang kaca. Dalam pameran ini Toto menampilkan tiga lukisannya yang berjudul Ketika Manusia Berubah. Buleleng. Toto Sunu menyulut semprotan cat piloks dengan korek api. 8-17 Juli 2004. Pelukis seperti I Ketut Santosa. APA yang dilakukan Toto Sunu memang kemudian seperti menjadi patron golongan pelukis muda Cirebon . kita seolah-olah sedang benar-benar berhadapan dengan sebuah kolam dengan teratai dan ikan-ikan yang cantik. Toto Sunu sebenarnya seorang pendesain yang piawai. Jawa Barat (Jabar). Dan tradisi itu dilanjutkan sampai kini oleh anak-cucunya. Tetapi cobalah menyimak pameran "Lukisan di Atas Kaca Tradisi dan Perkembangannya". stereotipe pikiran tadi tidak sepenuhnya benar. Ia tetap menggarap figur punakawan dalam pewayangan seperti Semar." kata Toto Sunu. termasuk pengembangannya oleh Rastika. Mereka tidak hanya mengikuti berbagai teknik yang ditemukan Toto Sunu. Ia pernah membuat semacam maket kilang minyak Balongan di Indramayu dengan bahan-bahan bekas. Kamis (8/7) malam di BBJ. Pada galibnya kemudian medium kaca dalam sejarah seni rupa di Indonesia hampir identik dengan gambar-gambar klasik dengan dunia wayang sebagai sumber inspirasinya. Lukisan kaca Cirebon yang diperkirakan lahir sekitar abad ke-15 juga bermula dari penggalan-penggalan kisah pewayangan yang lalu dimanfaatkan sebagai media peneguhan agama. dan Ikan Koi. Sejak tahun 1927 ketika Jro Dalang Diah mengembangkan lukisan kaca di Nagasepaha . ia sudah menggambar wayang. Bahkan. seolah tak bisa beranjak dari cat Kuda Terbang. tak lain dari keponakan Jro Dalang Diah. Sikap semacam inilah yang tampaknya masih kental pula melanda para pelukis Nagasepaha. Sebelumnya para pelukis kaca di Cirebon . 10:51 . Karya serupa ia ulangi lagi pada lukisan berjudul Pemilu. walau sebenarnya api itu bermanfaat untuk mengeringkan cat. Dalam istilah Toto Sunu. Dalam kondisi seperti itu tak salah jika disebut Toto Sunu telah melakukan pembaruan secara teknik dan tematik terhadap lukisan-lukisan di atas kaca. memang mencoba memasukkan peristiwa kontemporer ke dalam karyanya. tetapi pada lukisan Ikan Koi misalnya. 2008. Sikap ini amat penting karena berpengaruh sangat kuat terhadap cara pandang seniman terhadap karyanya sendiri. "Jadi karya bukan sebagai ekspresi pribadi. Para pelukis Cirebon dipelopori pelukis Toto Sunu (43) mengembangkan motif-motif naturalistik dengan pencapaian teknik yang pantas dicatat. Teknik yang "ditemukan" Toto Sunu sangat sederhana. Ia memang belum sampai pada tingkatan menjadikan kaca sebagai ilusi optik. Dalam lukisan berjudul Ramayana.Cirebon Glass Painting Cirebon . "Ini kan hanya untuk pertunjukan saja." kata Toto Sunu. secara agak demonstratif saat memeragakan melukis di atas kaca. Maket itu pun banyak diminati para kolektor. Bali . "Karena sifat kaca yang tembus pandang. tetapi masih ada saja yang masih melukis dengan cara meniru bentukbentuk lukisan yang sudah ada. tetapi juga banyak yang kemudian mencoba meneladani sikap kepelukisannya. Ia hanya perlu melukis pada tiga bidang kaca yang kemudian disusun secara depan-belakang. maka ketika kita memandang lurus saja seperti sudah mendapatkan dimensi yang lain. ia melukiskan potret seorang gadis Bali pada permukaan bidang kacanya. Gareng. Lantaran itu eksplorasi secara teknik dan tematik seperti tak berjalan. selain karya ini rata-rata berukuran besar 245 x 141 cm. Sebutlah lukisan berjudul Cewek Cafe misalnya. kehidupan yang dikisahkan Santosa merupakan kisah-kisah masa kini. Selain tentu terdapat lukisan di atas kaca bermotif kaligrafi dengan pesan yang sama. Sesungguhnya ia tidak saja seorang perupa yang bisa begitu cepat bekerja di atas bidang kaca. Eksplorasi Toto Sunu sejak awal tahun 90-an silam tak berhenti di situ. toh ia tetap setengah hati melepaskan diri dari tema dan figur wayang. sebagaimana banyak dimanfaatkan dalam sulap. Kendati Samudra lebih realistik. hanya melakukan eksplorasi secara tematik. dan kaca ketiga memberi latar belakang." kata Toto Sunu. I Ketut Samudra mungkin sedikit lebih maju. namun tetap mengguratkan figur-figur wayang. kaca tengah untuk memberi dimensi kedalaman. kemudian di belakang digambarkan tokoh Rama dan Laksamana sedang mengejar kijang emas. Rumah Kumuh. dan Bagong. Maka yang tampak kemudian kaca terdepan sebagai bidang permukaan.

" kata Hardiman. Sayangnya. Kisahnya.000. Jika perkembangan lukisan kaca di kedua daerah ini dipercaya berkembang sejak masuknya Islam ke Jawa.000. Di Nagasepaha kini terdapat sekitar 18 pelukis wayang kaca. salah satu tangan dari tokoh wayang yang digambarnya hilang. Para pelukis hanya dianggap sebagai perajin. selain mendalang Jro Dalang Diah juga membuat lukisan dari kaca. katanya sih biar gampang dapat kredit dari bank. para seniman Nagasepaha perlahan mulai menetapkan harga yang wajar pada hasil karyanya. Dalang Diah mengerik lukisan perempuan Jepang itu. lukisan itu seakan merangkul seluruh tubuh kita untuk kemudian menjadi bagian di dalamnya. pada tahun 1927 seorang bernama Wayan Nitia memesan lukisan kaca bermotif wayang kepada Dalang Diah di Desa Nagasepaha.000. Tapi suatu kali pasti dan itu waktunya tidak bisa diduga." ujar Hardiman. 2008. (CAN) Rabu. Buleleng (Bali). di Nagasepaha sejarahnya berbeda. yaitu lukisan kaca dari Yogyakarta dan Cirebon . Harga "barang kerajinan". "Ini salah satu cara menanamkan rasa kesenimanan pada mereka. "Makanya kemudian kelompok ini berstatus usaha dagang. Jika lukisan dikerjakan dalam dua hari maka diperhitungkan upahnya 2 x Rp 8. Di daerah Yogyakarta dan Cirebon sejak dulu banyak terdapat pelukis jenis ini. (putu fajar arcana) http://durian19-arts." tutur dia. "Katanya ia bermaksud untuk mengetahui cara melukis di atas permukaan kaca. mereka memberi harga Rp 200." kata Hardiman. Cara pandang seperti ini berimbas jauh pada penghargaan terhadap karya seniman. Bulan April 2000 mendatang misalnya mereka akan berpameran di Museum Puri Lukisan Ubud. "Maka harga lukisan di situ berkisar pada angka Rp 20.com Powered by Joomla! Generated: 29 August. Hardiman. dalam keluarga besar Jro Dalang Diah-kakek mereka yang menurunkan keterampilan melukis di atas kaca-terdapat sebuah persekutuan dagang. "Kami anggap tidak cukup dengan melukis saja. Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan Jepang dengan pakaian kimono. Namun. pihaknya setiap waktu berupaya menanamkan rasa kesenimanan terhadap para seniman Nagasepaha. Sampai ia menghasilkan ratusan lukisan dengan media kaca dan motif wayang. "Waktu itu Jro Dalang menyamakan antara melukis di kaca dengan melukis di kertas. Padahal Gubernur Dewa Made Beratha berkali-kali menekankan agar potensipotensi kultural seperti lukisan kaca ini menjadi andalan masyarakat desa untuk ambil bagian dalam hiruk-pikuk pariwisata Bali . sejak usia lima tahun belajar melukis dari kakeknya. media kaca tetap terbuka terhadap berbagai eksplorasi teknik. Untuk lukisan ukuran 40 x 50 cm misalnya. tentu berbeda dari "barang seni". bukan sekadar perajin. Jro Dalang Diah memang akhirnya berhasil melukis wayang di atas kaca. Namun. tetapi juga membuat wayang kulit. Jawa Barat. Bahwa mereka pencipta. 10:51 . Sejak saat itulah. Ia masih tetap nyambi bekerja membantu suaminya di ladang." ujar peneliti lukisan wayang kaca Nagasepaha. Nurining membeli selembar kaca seharga Rp 4. Jangan merasa sebagai perajin. meski sehari-hari melukis. keahlian ini hanya ditekuni keluarga Jro Dalang Diah. Sementara masyarakat sekitar tampak tidak tertarik. Usaha dagang ini tidak hanya bergerak di bidang lukisan. Menurut penelitian Hardiman. Nitia membawa contoh sebuah lukisan di atas kaca hadiah seorang temannya dari Jepang. lukisan wayang kaca Nagasepaha ditangani oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan. dari yang selama ini dikenal masyarakat. Padahal. Sampai kini lukisan itu masih disimpan. ia juga tetap bekerja di sawah. Sejak tiga tahun terakhir. Ketut Santosa (25). Kita juga ambil pekerjaan seperti mengukir rumah.000.Cirebon Glass Painting Menurut dia." tutur Santosa ketika ditemui pekan lalu di sela-sela kunjungan tahunan Gubernur Bali Dewa Made Beratha ke desa-desa. *** TAMPAKNYA ada kekeliruan mendasar dalam memandang lukisan kaca Nagasepaha. melukis di atas kaca di Bali pertama kali dilakukan oleh seorang dalang bernama Jro Dalang Diah alias I Ketut Negara (91) pada tahun 1927. ukiran. "Cuma sekarang saya belum lagi menemukan yang baru. seorang ibu setengah baya asal Desa Nagasepaha. yakni UD Disain Baru. 2 Februari 2000 Lukisan Wayang Kaca Nagasepaha KADEK Nurining (32). Begitu pula sepupunya. serta melukisi kaca-kaca rumah. Nurining masih tak yakin bisa hidup dari melukis. Kelompok usaha keluarga ini berkesempatan memamerkan produknya di hadapan gubernur." ujar Hardiman. Saking bingungnya. Namun. *** LUKISAN kaca bukan barang baru di Indonesia . kita tidak sekadar menghadapi bayang sendiri yang dipantulkan permukaan kaca. Lukisan Nagasepaha bisa memperkaya khasanah lukisan kaca. belakangan berkat binaan dari Jurusan Seni Rupa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Singaraja. Sekarang kalau kita berdiri di hadapan lukisan Toto Sunu. Hardiman mengatakan.

10:51 .com Powered by Joomla! Generated: 29 August.Cirebon Glass Painting http://durian19-arts. 2008.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful