You are on page 1of 4

Catatan Kajian

Topik: QS 7:172-178 Tanggal: 10 November 2012 Fasilitator: Bapak Nasaruddin Umar E-Mail: emuchtar@gmail.com Blog: http://chippingin.wordpress.com

TOPIK: QS Al-Araf (7):172-178

wa-idz akhadza rabbuka min banii aadama min zhuhuurihim dzurriyyatahum wa-asyhadahum 'alaa anfusihim alastu birabbikum qaaluu balaa syahidnaa an taquuluu yawma alqiyaamati innaa kunnaa 'an haadzaa ghaafiliina 172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

aw taquuluu innamaa asyraka aabaaunaa min qablu wakunnaa dzurriyyatan min ba'dihim afatuhlikunaa bimaa fa'ala almubthiluuna 173. atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"

wakadzaalika nufashshilu al-aayaati wala'allahum yarji'uuna 174. Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

wautlu 'alayhim naba-a alladzii aataynaahu aayaatinaa fainsalakha minhaa fa-atba'ahu alsysyaythaanu fakaana mina alghaawiina 175. Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

walaw syi/naa larafa'naahu bihaa walaakinnahu akhlada ilaa al-ardhi waittaba'a hawaahu famatsaluhu kamatsali alkalbi in tahmil 'alayhi yalhats aw tatruk-hu yalhats dzaalika matsalu alqawmi alladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaa fauqshushi alqashasha la'allahum yatafakkaruuna 176. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayatayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

saa-a matsalan alqawmu alladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaa wa-anfusahum kaanuu yazhlimuuna 177. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.

man yahdi allaahu fahuwa almuhtadii waman yudhlil faulaa-ika humu alkhaasiruuna 178. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. Pak Nasaruddin Umar (Kelas Kajian Paramadina Pintu-pintu Kebahagiaan. Sabtu (atau Minggu, tergantung waktunya Pak Nasar) 12.00-14.00 WIB) membuka dengan mengucapkan doa yang demikian indah, Ya Allah, bukakanlah hati kami, agar kami bisa merasakan kehadiran-Mu dalam hidup kami. Allah itu sudah hadir, sudah dekat, namun kita yang masih merasa kehilangan, masih merasa jauh. Merasa. Karena itu doanya terucap demikian, agar kita dapat merasakan yang sebenarnya sudah ada. Ya Allah, bukakanlah hati kami, agar kami bisa merasakan kehadiran-Mu dalam hidup kami. Bagus ya?

Bahkan, sebenarnya kita sudah pernah tahu itu. Pada QS 7:172 diingatkan bahwa pernah ada dialog langsung antara kita dan Tuhan, yang sering dirujuk sebagai perjanjian primordial, ketika Tuhan bertanya: Alastu birabbikum bukankah Aku ini tuhanmu? Itulah suara yang pertama kita dengar (dengar secara spiritual). Suara Tuhan yang berdialog langsung dengan kita. Kemudian, kita terlahir ke dunia dan lantas kita (atau saya) lupa. Namun, sebenarnya tidak benar-benar lupa. Karena masih tersisa kerinduandisadari maupun tidakyang kerap tak terdefinisikan. Itulah kerinduan akan mendengar suara pertama yang pernah kita dengar. As sama (pendengaran) adalah sesuatu yang perlu kita asah kembali. Pendengaran bathin yang bila terasah bisa mendengar suara primordial tersebut. Pendengaran bathin tampaknya kurang populer ketimbang istilah mata/penglihatan bathin. Padahal, pendengaran merupakan komponen penting. Sebelum tercipta penglihatan, sudah tercipta pendengaran. Indera pertama yang dianugerahkan Tuhan kepada janin. Menunjukkan betapa penting sebenarnya pendengaran ini. Latihan memperhalus atau mempertajam pendengaran spiritual adalah salah satu hal penting yang perlu dilakukan bagi mereka yang ingin mendekatkan diri pada-Nya. (catatan: mungkin inilah yang disebut mendengarkan kata hati). Tak ada suara yang lebih indah dari suara sapaan Tuhan secara langsung. Yang tidak kita sadari adalah sebenarnya semua suara yang ada di alam ini sejatinya adalah tanda-tanda suara-Nya, atau adalah suara-Nya. Mereka yang memiliki kepekaan spiritual bisa mendengarnya. Mereka yang berkesadaran tinggi paham bila apa pun yang tersampaikan ke telinga mereka adalah dari-Nya dan senantiasa indah. Kebanyakan dari kita masih terselubung dan belum mampu menyadarinya. Namun, sekali lagi, kerinduan itu secara naluriah tetap ada. Merenungkan alam tafakkur alam, memang salah satu yang kerap disarankan, dan merupakan salah satu cara untuk mengasah kembali pendengaran bathin kita. Karena itu, ada orang-orang yang terkadang menyempatkan diri pergi ke alam terbuka, bukan untuk mencari sepi, tapi untuk mendengar kembali suara Ilahidari desiran angin, kicauan burung, deburan ombak, rintik hujan, dan sebagainya. Cara kedua yang disarankan adalah dengan membiasakan diri mendengarkan (atau sekaligus melafalkan) Al-Quran. Ayat mana pun, tidak perlu terlalu dipilih-pilih. Jadikan keseluruhan Al-Quran sebagai wird kita. QS Al-Hajj (22):35

alladziina idzaa dzukira allaahu wajilat quluubuhum waalshshaabiriina 'alaa maa ashaabahum waalmuqiimii alshshalaati wamimmaa razaqnaahum yunfiquuna 35. (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat, dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. Membiasakan pendengaran dan hati atas vibrasi dan frekuensi ini. QS Al-Anfaal (8):2

innamaa almu/minuuna alladziina idzaa dzukira allaahu wajilat quluubuhum wa-idzaa tuliyat 'alayhim aayaatuhu zaadat-hum iimaanan wa'alaa rabbihim yatawakkaluuna 2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Tentu saja yang disebut dengan ayat-ayat-Nya bukan semata ayat yang secara eksplisit tertera dalam kitab Al-Quran. Kata ayat dalam bahasa Arab secara luas berarti tanda. Mencakup semua yang tertangkap oleh indera, pikiran dan rasa kita. Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang terlintas di pikiran, apa yang terasa dalam hati. Bayangkan bila kita bisa menyadari bahwa itu adalah tanda-tanda-Nya, bahwa itu adalah Ia yang sedang berdialog dengan kita.

QS Fushshilat (41):53

sanuriihim aayaatinaa fii al-aafaaqi wafii anfusihim hattaa yatabayyana lahum annahu alhaqqu awa lam yakfi birabbika annahu 'alaa kulli syay-in syahiidun 53. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? Tanda-tanda di segenap penjuru dan pada diri mereka (baca: kita) sendiri. Ketika suasana hening, maka suara itu akan lebih mudah terdengar. Semakin hening, insya Allah semakin nyaring terdengar. Saat tahajud, pasang telinga baik-baik. Saat hening, apa yang terdengar oleh kita? Di tengah ketenangan malam, ada suarasuara alam, desir angin, suara jangkrik, rintik hujan. Dengarkan lebih baik lagi, dengan segala keheningan bathin, perhatian dan keberserahan diri. Sadarkah kita, semua yang kita dengar adalah suara-suara Tuhan? Mampukah kita mendengar sapaan Tuhan di balik pembacaan ayat, di balik suara alam, atau bahkan celotehan manusia? Itulah bahasa ayat. Selama ini kita cenderung mencari menggunakan mata/penglihatan. Padahal pendengaran bagi pemula seperti kita (baca: saya) sangatlah penting, bila mata belum sanggup untuk menyaksikan. Mari mulai lebih mengasah pendengaran.

Semoga bermanfaat. Lebih kurangnya, saya meminta maaf. Salaam.