P. 1
MANAJEMEN HUBUNGAN SEKOLAH – MASYARAKAT

MANAJEMEN HUBUNGAN SEKOLAH – MASYARAKAT

|Views: 396|Likes:

More info:

Published by: Megayana Yessy Maretta on Nov 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/23/2015

pdf

text

original

MANAJEMEN HUBUNGAN SEKOLAH – MASYARAKAT Disusun oleh : Lidia Lushinta Megayana Yessy M Meryanna R. Simanjuntak Morinda Daru M.

Lubis

R0109018 R0109019 R0109020 R0109021

ABSTRAK I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah dan tersedianya sarana prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah (sekolah), keluarga, dan masyarakat. Hal ini berarti mengisyaratkan bahwa orang tua murid dan masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk berpartisipasi, turut memikirkan, dan memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Sekolah dan masyarakat adalah faktor pendidikan yang saling mempengaruhi. Keduanya mempunyai hubungan timbal balik yang tidak dapat dipisahkan. Seorang anak didik setelah mendapat pendidikan di keluarganya akan segera berlanjut untuk mencari ilmu di sekolah. Dalam lingkungan yang baru ini peserta didik diberi berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Setelah itu ia akan beranjak ke lingkungan berikutnya, yaitu masyarakat, di sinilah ia akan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatnya ketika melakukan pendidikan di sekolah. Akan tetapi sering kali pendidikan yang diterima peserta didik di sekolah tidak sesuai dengan kebutuhan di masyarakat. Sehingga perlu diketahui sejauh mana pengaruh sekolah sebagai ladang pendidikan (formal) dalam mencetak generasi yang siap terjun ke tengah masyarakat, karena tidak jarang antara sekolah dan masyarakat tidak saling berinteraksi. Partisipasi yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauh mana masyarakat dapat diberdayakan dalam proses pendidikan di sekolah, karena pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan merupakan sesuatu yang esensial bagi penyelenggaraan sekolah yang baik. Oleh karena berbagai faktor di atas, lembaga pendidikan dituntut untuk memiliki team work yang solid antara pihak sekolah dengan pihak luar baik instansi atasan dan masyarakat yang dapat terwujud dengan adanya manajemen hubungan kerja sama sekolah dengan masyarakat yang baik. Makalah ini akan membahas tentang manajemen hubungan sekolah dan masyarakat yang penting dipelajari terutama oleh calon pendidik agar mampu menjalin kerja sama yang baik dengan masyarakat.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan manajemen? 2. Apakah yang dimaksud dengan humas? 3. Apakah yang dimaksud dengan manajemen humas? 4. Apa sajakah tugas pokok sekolah dan masyarakat dalam pendidikan? 5. Apa sajakah jenis-jenis hubungan sekolah dengan masyarakat? 6. Faktor-faktor apa sajakah yang mendukung hubungan sekolah dengan masyarakat? 7. Bagaimanakah teknik-teknik hubungan sekolah dengan masyarakat? 8. Apakah fungsi hubungan sekolah dan masyarakat? 9. Apakah peran masyarakat dalam sekolah? 10. Bagaimanakah model hubungan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui dan memahami tentang pengertian manajemen 2. Untuk mengetahui dan memahami tentang pengertian humas 3. Untuk mengetahui dan memahami tentang pengertian manajemen humas 4. Untuk mengetahui dan memahami tugas pokok sekolah dan masyarakat dalam pendidikan 5. Untuk mengetahui dan memahami jenis-jenis hubungan sekolah dengan masyarakat 6. Untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mendukung hubungan sekolah dengan masyarakat 7. Untuk mengetahui dan memahami teknik-teknik hubungan sekolah dengan masyarakat 8. Untuk mengetahui dan memahami fungsi hubungan sekolah dan masyarakat 9. Untuk mengetahui dan memahami peran masyarakat dalam sekolah 10. Untuk mengetahui dan memahami model hubungan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat

D. Manfaat Dapat memberikan tambahan wawasan serta referensi bagi peserta didik tentang manajemen hubungan sekolah dan masyarakat dalam pendidikan II. PEMBAHASAN A. Pengertian Manajemen Definisi Manajemen menurut para ahli, antara lain : 1. Menurut Dr. Sp. Siagian dalam buku “Filsafat Administrasi”, Manajemen dapat didefinisikan sebagai “kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain”. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa manajemen merupakan inti daripada administrasi karena memang manajemen merupakan alat pelaksana utama daripada adminsitrasi” 2. Menurut Ordway Tead yang disadur oleh Drs. HE. Rosyidi dalam buku “Organisasi dan Management“, definisi Manajemen adalah “proses dan kegiatan pelaksanaan usaha memimpin dan menunjukan arah penyelenggaraan tugas suatu organisasi di dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan “. Jadi dapat disimpulkan Manajemen adalah proses kegiatan dengan melalui orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu serta dilaksanakan secara berurutan berjalan ke arah suatu tujuan.

B. Pengertian Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Adapun pengertian manajemen humas adalah suatu proses dalam menangani perencanaan, pengorganisasian, mengkomunikasikan serta pengkoordinasian yang secara serius dan rasional dalam upaya pencapaian tujuan bersama dari organisasi atau lembaga yang diwakilinya. Dan untuk merealisasikan itu semua banyak hal yang harus dilakukan oleh humas dalam suatu lembaga pendidikan. Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi dengan tujuan meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktik pendidikan serta berupaya dalam memperbaiki sekolah. Hubungan dengan masyarakat yang juga disebut public relation adalah sebuah proses penetapan kebijakan, pelayanan serta tindakan-tindakan nyata berupa kegiatan yang melibatkan orang banyak agar orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut memiliki kepercayaan terhadap lembaga yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tersebut. Sejalan dengan perkembangan keilmuan, fungsi – fungsi manajemen telah mengalami penyederhanaan dalam pelaksanaannya, yaitu : 1. Perencanaan progam hubungan sekolah dan masyarakat Perencanaan meliputi kegiatan apa yang ingin dicapai, untuk mencapai tujuan tersebut dalam proses perencanaan manajemen

humas harus memperhatikan hal-hal seperti pembiayaan, cara, metode serta menganalisa kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Sebelum membuat suatu program atau kebijakan maka hubungan masyarakat melakukan analisa-analisa tentang keadaan serta kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat, untuk dapat menganalisa hal-hal tersebut maka langkah yang pertama adalah hubungan masyarakat harus mempunyai data serta informasi yang akan dijadikan bahan analisis sebelum membuat program atau kebijakan. Data serta informasi tersebut sangat penting dalam tahapan perencanaan untuk memahami serta mengetahui keadaan masyarakat. Selanjutnya dalam proses perencanaan ini adalah menetapkan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan, setelah mendapatkan data serta informasi yang dibutuhkan maka tahapan selanjutnya adalah menentukan program serta kebijakan yang akan dilaksanakan dalam proses penyelenggaraan pendidikan. 2. Pelaksanaan progam hubungan sekolah dan masyarakat Dalam tahap pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat dilakukan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya serta mengorganisasikannya. Mengorganisasikan adalah sebagai suatu keseluruhan dari proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugastugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk dapat menciptakan suatu organisasi yang dapat digerakan dalam suatu kesatuan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam penyelenggaraan pendidikan peran serta masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting, Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses penyelenggara pendidikan melakukan komunikasi dengan masyarakat sehingga dengan adanya komunikasi ini diharapkan adanya kerjasama serta dukungan yang optimal dari masyarakat, selain itu dalam tahap pelaksanaan kegiatan dilakukan pemberian informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh sekolah. 3. Pengawasan progam hubungan sekolah dan masyarakat Pengawasan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya, Pengawasan diperlukan untuk melihat sejauh mana hasil tercapai. Melalui kegiatan pengawasan Hubungan masyarakat ini kesalahan serta kelemahan yang terjadi selama proses pelaksanaan kegiatan dapat diketahui serta kemudian dapat mengatasi agar permasalahan-permasalahan yang ada selama proses kegiatan berlangsung tidak terulang kembali. Sebelum melakukan pengawasan, maka terlebih dahulu membuat standar kerja hubungan masyarakat, setelah adanya standar kerja hubungan masyarakat maka dilakukan evaluasi untuk mengetahui seberapa besar keberhasilan dari kegiatan yang telah dilakukan, melalui kegiatan evaluasi ini dapat diketahui apakan sasaran yang hendak dicapai dapat dilaksanakan dengan baik, setelah hal tersebut dilakukan maka kegiatan

selanjutnya adalah melaporkan kegiatan yang telah dilakukan, laporan dilakukan baik kepada pihak internal sekolah serta eksternal sekolah.

C. Pentingnya Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Betapa pentingnya hubungan sekolah dan masyarakat terutama di negara kita, dapat pula ditinjau dari sudut bagaimana hubungan antara keduanya, sebagai berikut : 1. Sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat ; sekolah bukan merupakan lembaga terpisah dari masyarakat. 2. Kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. 3. Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota – anggota masyarakat dalam bidang pendidikan. 4. Kemajuan sekolah dan kemajuan masyarakat saling berkorelasi ; keduanya saling membutuhkan. 5. Masyarakat adalah pemilik sekolah; sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. D. Tujuan Hubungan Sekolah dan Masyarakat Tujuan yang dimaksud adalah untuk menciptakan hubungan sekolah dengan masyarakat secara harmonis, untuk meningkatkan kemajuan pendidikan di sekolah. Disamping itu, agar masyarakat dapat mengambil manfaat dengan turut menikmati kemajuan yang dicapai oleh sekolah. Menurut Elsbree seperti yang dikutip oleh tim jurusan administrasi pendidikan (2003 : 152) tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut : 1. Untuk meningkatkan kualitas belajar dan pertumbuhan anak 2. Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat 3. Untuk mengembangkan antusiasme atau semangat saling bantu antara sekolah dengan masyarakat demi kemajuan kedua belah pihak. Ketiga tujuan tersebut mengambarkan adanya “two way traffic” atau dua arus komunikasi yang saling timbal balik antara sekolah dengan masyarakat. Hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan baik apabila terjadi kesepakatan antara sekolah dengan masyarakat tentang ‘policy” (kebijakan), perencanaan, program dan strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah. Dengan demikian tidak ada lagi “barrier” atau penghalang dalam melaksanakan program hubungan sekolah dengan masyarakat. E. Tugas Pokok Hubungan Sekolah dan Masyarakat Tugas pokok hubungan sekolah dengan masyarakat dalam pendidikan antara lain: 1. Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya. 2. Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang

3.

4. 5. 6.

memerlukannya. Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu. Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan. Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama. Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan untuk kemajuan pelaksanaan pendidikan.

F. Prinsip Hubungan Sekolah dan Masyarakat Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran, baik dalam arti sasaran masyarakat/orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan, maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Integrity Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu, dalam arti apa yang dijelaskan, disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik. Hindarkan sejauh mungkin upaya menyembunyikan (hidden activity) kegiatan yang telah, sedang dan akan dijalankan oleh sekolah, untuk menghindari salah persepsi serta kecurigaan terhadap sekolah. Biasanya sering terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. Oleh sebab itu sekolah harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan adanya salah persepsi, salah interpretasi tentang informasi yang disajikan dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap, sehingga dapat diterima secara rasional oleh masyarakat. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat/orang tua murid terhadap sekolah, atau dengan kata lain transparansi sekolah sangat diperlukan, lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini, masyarakat akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang sekolah. Bahkan tidak jarang penilaian dan persepsi yang disampaikan masyarakatan tentang sekolah sering tidak memiliki dasar dan data yang akurat dan valid. Persepsi yang demikian apabila tidak dihindari akan menyebabkan hal yang negative bagi sekolah, akibatnya sekolah tidak akan mendapat dukungan bahkan mungkin sekolah hanya akan menunggu waktu kematiannya. Karena dia tidak dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakatnya sendiri.

2.

Continuity Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat, harus dilakukan secara terus menerus. Perkembangan informasi, perkembangan kemajuan sekolah, permasalahanpermasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu muncul dan tumbuh setiap saat, karena itu maka diperlukan penjelasan informasi yang terus menerus dari sekolah untuk masyarakat/orang tua murid, sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan putraputrinya. Oleh sebab itu maka informasi tentang sekolah yang akan disampaikan kepada masyarakat juga harus di updating setiap saat. Informasi yang sudah out update akan memberikan kesan kurang baik oleh masyarakat kepada sekolah. Coverage Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek, factor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat, misalnya program ekstra kurikuler, kegiatan kurikuler, remedial teaching dan lain-lain kegiatan. Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap, akurat dan up to date. Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan, padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar. Oleh sebab itu informasi kemajuan sekolah, kegagalan/masalah yang dihadapi sekolah serta prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat. Akurat artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi yang diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif. Sedangkan up to date berarti informasi yang diberikan adalah informasi perkembangan, kemajuan, masalah dan prestasi sekolah terakhir. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat mencapai misi dan visi yang disusunnya. Simplicity Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar masyarakat setempat. Constructiveness Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif

3.

4.

5.

kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah serta mengerti dan memahami secara detail berbagai masalah (problem dan constrain) yang dihadapi sekolah. Apabila hal tersebut dapat mereka mengerti, akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Hal ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah (list of problems) yang perlu dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu. 6. Penyesuaian (Adaptability) Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas, kebiasaan, budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. G. Jenis – Jenis Hubungan Sekolah dan Masyarakat 1. Hubungan edukatif Hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu – raguan pendirian dan sikap pada diri anak. Antara sekolah yang diwakili guru dan orang tua tidak saling berbeda atau berselisih paham, baik tentang norma – norma etika maupun norma – norma sosial yang hendak ditanamkan kepada anak – anak didik mereka. 2. Hubungan kultural Yang dimaksud di sini adalah usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Kita mengetahui bahwa sekolah merupakan suatu lembaga yang seharusnya dapat dijadikan barometer bagi maju mundurnya kehidupan, cara berpikir, kepercayaan, kesenian, adat istiadat dari masyarakat lingkungan sekolah itu. Bahkan yang lebih diharapkan, sekolah dapat menjadi titik pusat dan sumber tempat terpancarnya norma – norma kehidupan yang baik bagi kemajuan masyarakat yang selalu berubah. Untuk itu diperlukan adanya hubungan kerja sama yang fungsional antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiata – kegitan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. 3. Hubungan institusional Hubungan kerja sama antara sekolah dan lembaga – lembaga atau instansi – instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti

hubungan kerja sama antara sekolah dengan sekolah – sekolah lain, dengan kepala pemerintahan setempat, dengan perusahaan – peusahaan negara maupun swasta, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.

H. Faktor Pendukung Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bisa berjalan baik apabila di dukung oleh beberapa faktor yakni: 1. Adanya program dan perencanaan yang sistematis. 2. Tersedia basis dokumentasi yang lengkap. 3. Tersedia tenaga ahli, terampil dan alat sarana serta dana yang memadai. 4. Kondisi organisasi sekolah yang memungkinkan untuk meningkatkan kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat.

I. Teknik – Teknik Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Ada sejumlah teknik yang kiranya dapat diterapkan lembaga pendidikan, teknik-teknik tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu teknik tertulis, teknik lisan, dan teknik peragaan, teknik elektronik. a) Teknik Tertulis. Hubungan antara sekolah dan masyarakat dapat dilakukan secara tertulis, cara tertulis yang dapat digunakan meliputi: - Buku kecil pada permulaan tahun ajaran. Buku kecil pada permulaan tahun ajaran baru ini isinya dijelaskan tentang tata tertib, syarat-syarat masuk, hari-hari libur, hari-hari efektif. Kemudian buku kecil ini dibagikan kepada orang tua murid, hal ini biasanya dilaksanakan di taman kanak-kanak (TK). - Pamflet. Pamflet merupakan selebaran yang biasanya berisi tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, dan kegiatan belajar. Pamflet ini selain di bagikan ke wali murid juga bias di sebarkan ke masyarakat umum, selain untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus untuk promosi lembaga. - Berita kegiatan murid. Berita ini dapat dibuat sederhana mungkin pada selebaran kertas yang berisi informasi singkat tentang kegiatankegiatan yang dilakukan di sekolah atu pesantren. Dengan membacanya orang tua murid mengetahui apa yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut, khususnya kegiatan yang dilakukan murid. - Catatan berita gembira. Teknik ini sebenarnya mirip dengan berita kegiatan murid, keduanya sama-sama ditulis dan disebarkan ke orang tua. Hanya saja catatan berita gembira ini berisi tentang keberhasilan seoran murid. Berita tersebut ditulis di selebaran kertas dan disampaikan kepada wali murid atau bahkan disebarkan ke masyarakat. - Buku kecil tentang cara membimbing anak. Dalam rangka menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang tua, kepala sekolah atau guru dapat membuat sebuah buku kecil yang sederhana

yang berisi tentang cara membimbing anak yang efektif, kemudian buku tersebut diberikan kepada orang tua murid. b) Teknik Lisan. Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat juga lisan, yaitu: - Kunjungan rumah. Dalam rangka mengadakan hubungan dengan masyarakat, pihak sekolah dapat mengadakan kunjungan ke rumah wali murid, warga atupun tokoh masyarakat. Melalui kunjungan rumah ini guru akan mengetahui masalah anak dirumahnya. Apabila setiap anak diketahui problemnya secara totalitas, maka program pendidikan akan lebih mudah direncanakan untuk disesuaikan dengan minatnya. Hal ini akan memperlancar mancapai tujuan program pendidikan sekolah tersebut. - Panggilan orang tua. Selain mengadakan kunjungan ke rumah, pihak sekolah sesekali juga memanggil orang tua murid datang ke sekolah. Setelah dating, mereka diberi penjelasan tentang perkembangan pendidikan di lembaga tersebut. Mereka juga perlu diberi penjelasan khusus tentang perkembangan pendidikan anaknya. - Pertemuan. Dengan teknik ini berarti sekolah mengundang masyarakat dalam acara pertemuan khusus untuk membicarakan masalah atau hambatan yang dihadapi sekolah. Pertemuan ini sebaiknya diadakan pada waktu tertentu yang dapat dihadiri oleh semua pihak yang diundang. Sebelum pertemuan dimulai acaranya disusun terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam setiap akan mengadakan pertemuan sebaiknya dibentuk panitia penyelenggara. c) Teknik Peragaan. Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan cara mengundang masyarakat melihat peragaan yang diselenggarakan sekolah. Peragaan yang diselenggarakan bias berupa pameran keberhasilan murid. Misalkan di TK menampilkan anak-anak bernyanyi, membaca puisi, atau biasanya di pesantren ketika mengadakan pengajian ditampilkan santri-santri yang hafal nadhom alfiyah. Pada kesempatan itu kepala sekolah atau guru atau juga pengasuh kalau di pondok pesantren dapat menyampaikan program-program peningkatan mutu pendidikan dan juga masalah atau hambatan yang dihadapi dalam merealisasikan program-program itu. d) Teknik Elektronik. Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik maka dalam mengakrabkan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat pihak sekolah dapat menggunakan sarana elektronik, misalkan dengan telpon, televisi, ataupun radio, sekaligus sebagai sarana untuk promosi pendidikan. Sekolah dan masyarakat merupakan dua jenis lingkungan yang berbeda, namun keduanya tidak dapat dipisahkan bahkan saling membutuhkan khususnya dalam upaya mendidik generasi muda. Berbagai persoalan yang dihadapi sekolah juga merupakan bagian dari persoalan masyarakat. Hal ini membutuhkan teamwork solid bidang kehumasan.

J. Fungsi Hubungan Sekolah dan Masyarakat Dalam penyelenggaraan pendidikan, hubungan masyarakat (Humas) memiliki beberapa fungsi. Onong U. Effendy (1992) mengemukakan tentang fungsi hubungan masyarakat yaitu : 1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi 2. Membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan public, baik public internal maupun eksternal. 3. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada organisasi. 4. Melayani publik dan menasehati pimpinan organisas demi kepentingan umum. Dari pendapat di atas mengenai fungsi humas, dapat dipaparkan bahwa fungsi yang pertmam humas merupakan fungsi manajemen, yaitu membantu manajemen untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan dengan jalam membina hubungan yang harmonis dengan pihakpihak yang berkepentingan yaitu publik internal serta publik eksternal, ini semua dilakukan dengan menggunakan komunikasi dua arah secara timbal balik sehingga tidak akan terjadi kesalahan informasi yang diperoleh dari pihak-pihak yang berkepentingan sehingga pada akhirnya humas membantu serta melayani masyarakat untuk mendapat dukungan berarti. K. Peran Masyarakat dalam Sekolah Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah dan tersedianya sarana dan prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan keluarga atau masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah (sekolah), keluarga dan masyarakat. Ini berarti mengisyaratkan bahwa orang tua murid dan masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk berpartisipasi, turut memikirkan dan memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Partisipasi yang tinggi dari murid dalam pendidikan di sekolah merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauh mana masyarakat dapat diberdayakan dalam proses pendidikan di sekolah adalah indikator terhadap manajemen sekolah yang bersangkutan. Pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan ini merupakan sesuatu yang esensial bagi penyelenggaraan sekolah yang baik (Kumars, 1989). Tingkat partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah ini nampaknya memberikan pengaruh yang besar bagi kemajuan sekolah, kualitas pelayanan pembelajaran di sekolah yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemajuan dan prestasi belajar anak-anak di sekolah. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Husein (1988) dalam penelitiannya bahwa siswa dapat belajar banyak karena dirangsang oleh pekerjaan rumah yang diberikan guru dan akan berhasil dengan baik berkat usaha orang tua mereka dalam memberikan dukungan.

Penelitian lain yang memperkuat apa yang dikemukakan di atas dinyatakan oleh Levine & Hagigust (1988) yang menyatakan bahwa lingkungan keluarga, cara perlakuan orang tua murid terhadap anaknya sebagai salah satu cara/bentuk partisipasi mereka dalam pendidikan dapat meningkatkan intelektual anak. Partisipasi orang tua ini sangat tergantung pada ciri dan kreatifitas sekolah dalam menggunakan pendekatan kepada mereka. Artinya masyarakat akan berpartisipasi secara optimal terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah sangat tergantung pada apa dan bagaimana sekolah melakukan pendekatan dalam rangka memberdayakan mereka sebagai mitra penyelenggaraan sekolah yang berkualitas. Hal ini ditegaskan oleh Brownell bahwa pengetahuan masyarakat tentang program merupakan awal dari munculnya perhatian dan dukungan. Oleh sebab itu orang tua/masyarakat yang tidak mendapatkan penjelasan dan informasi dari sekolah tentang apa dan bagaimana mereka dapat membantu sekolah (lebih-lebih di pedesaan) akan cenderung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, bagaimana mereka harus melakukan sesuatu untuk membantu sekolah. Hal tersebut sebagai akibat ketidakmengertian mereka. Di negara-negara maju, sekolah memang dikreasikan oleh masyarakat, sehingga mutu sekolah menjadi pusat perhatian mereka dan selalu mereka upayakan dipertahankan. Hal ini dapat terjadi karena mereka sudah meyakini bahwa sekolah merupakan cara terbaik dan meyakinkan untuk membina perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka. Mengingat keyakinan yang tinggi akan kemampuan sekolah dalam pembentukan anak-anak mereka dalam membangun masa depan yang baik tersebut membuat mereka berpartisipasi secara aktif dan optimal mulai dalam perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah, karena kesadaran yang tinggi dari masyarakat yang bersangkutan. Pentingnya keterlibatan orang tua/masyarakat akan keberhasilan pendidikan ini telah dibuktikan kebenarannya oleh Richard Wolf dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan (0,80) antara lingkungan keluarga dengan prestasi belajar. Penelitian lain di Indonesia juga telah membuktikan hal yang sama. Partisipasi yang tinggi tersebut nampaknya belum terjadi di negara berkembang (termasuk Indonesia). Honeyman dan Loxley menyatakan bahwa di negara berkembang sebagian besar keluarga belum dapat diharapkan untuk lebih banyak membantu dan mengarahkan belajar murid, sehingga murid di negara berkembang sedikit waktu yang digunakan dalam belajar. Hal ini disebabkan banyak masyarakat/orang tua murid belum paham makna mendasar dari peran mereka terhadap pendidikan anak. Bahkan Made Pidarta menyatakan di daerah pedesaan yang tingkat status sosial ekonomi yang rendah, mereka hampir tidak menghiraukan lembaga pendidikan dan mereka menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya kepada sekolah.

L. Model Hubungan Kerja Sama antara Sekolah dan Masyarakat 1. Melalui Komite Sekolah Perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dalam era reformasi dan era otonomi serta penyelenggaraan pendidikan sampai pada tingkat kabupaten /kota bahkan otonomi pada tingkat sekolah, memberikan keleluasan bagi setiap sekolah untuk berkreasi dan berinovasi dalam penyelenggaraan sekolah. Dengan demikian diharapkan akan memacu percepatan peningkatan mutu penyelenggaraan sekolah yang pada gilirannya mempercepat peningkatan mutu hasil belajar secara keseluruhan. Konsekuensi dari paradigma pendidikan yang memberikan otonomi sampai pada tingkat sekolah menuntut sekolah untuk memberdayakan semua sumber daya yang dimilikinya. Salah satu sumber daya yang sangat potensial dan dimiliki oleh sekolah adalah masyarakat dan orang tua murid. Di Amerika Serikat, pengembangan sekolah di pedesaan atau di daerah-daerah urban berada di tangan dewan masyarakat sekolah (SCC= School Community Council). Dewan ini terdiri dari unsur-unsur tenaga professional pendidikan dan anggota masyarakat, dalam rangka pengembangan staf. Aspek struktural dari pelibatan masyarakat berarti adanya kesamaan atau keseimbangan antar struktur yang terlibat dalam pembuatan keputusan. Aspek prosedural pelibatan masyarakat berarti mengandung makna adanya kesamaan masukan dari kelompok professional dan anggota-anggota masyarakat dalam menentukan aktivitas pengembangan staf untuk meningkatkan praktek-praktek penyelenggaraan sekolah yang berkualitas. Secara organisatoris dewan SCC ini memiliki tanggung jawab bersama sekolah untuk meningkatkan mutu pelayanan sekolah. Di sisi lain, SCC ini ternyata juga mempunyai tanggung jawab untuk melakukan analisis kebutuhan sekolah dan kebutuhan masyarakat melalui survei yang dilakukannya. Hasil analisis yang dilakukan dewan ini didiskusikan bersama pihak sekolah dengan melibatkan para ahli seperti konsultan dan sebagainya untuk diterjemahkan menjadi kebijakan dan program sekolah. Kebijakan model pelibatan masyarakat dalam pendidikan melalui lembaga SCC seperti di Amerika ini sebenarnya sudah sejak lama dikenal dan dilakukan oleh pendidikan dan persekolahan di Indonesia, mulai dari POM, POMG, BP3, hingga sekarang yang dikenal dengan Komite Sekolah. Tetapi hasilnya belum terlalu Nampak karena keterlibatan mereka lebih banyak pada membantu keuangan sekolah. Akhir-akhir ini pemerintah dalam hal ini Depdiknas membuat kebijakan baru dengan menggantiistila BP3 menjadi Dewan Pendidikan di Tingkat Kabupaten/Kotadan Komite Sekolah di tingkat Sekolah. Pemerintah (Depdiknas) pada saat ini memberikan peluang kepada sekolah dalam pemberdayaan masyarakat melalui suatu lembaga yang dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah

yaitu Dewan Sekolah atau Komite Sekolah. 2. Membina Kerjasama dengan Pemerintah/Masyarakat Secara Umum Dalam era otonomi sekolah, khususnya dengan implementasi pendekatan manajemen sekolah berbasis masyarakat, sekolah memang memiliki keleluasaan atau otonomi yang lebih luas. Otonomi pemerintahan yang berbasis pada pemerintah daerah Kabupaten/Kota meletakkan pembinaan dan penyelengaraan pendidikan berada di tingkat Kabupaten dan Kota, sehingga nampaknya peranan Pemerintah Propinsi dan pusat tidak dominan. Meskipun demikian bukan berarti pusat dan propinsi tidak memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan. Dalam paradigma otonomi seperti sekarang diperlukan kemampuan sekolah untuk membangun kerjasama yang harmonis dengan berbagai institusi pemerintahan mulai dari tingkat pusat sampai tingkat Kabupaten/Kota/Kecamatan bahkan Kelurahan. Di samping institusi pemerintahan, sekolah juga perlu membangun kerjasama yang sinergis dengan lembaga masyarakat seperti karang taruna, kepramukaan, dan berbagai lembaga LSM yang bergerak dalam membantu dan membangun pendidikan. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam kerjasama dengan lembaga ini adalah jangan sampai sekolah larut dan dapat dibawa kepada masalah-masalah lain selain untuk kepentingan pendidikan. Sekolah tidak boleh terbawa arus kepada kegiatan politik praktis dan kepentingan kelompok tertentu. Kerjasama dengan berbagai institusi tersebut di atas menjadi kemutlakan bagi sekolah dalam upaya mengembangkan sekolah secara optimal, sebab sekolah adalah lembaga interaksi social yang tidak bias lepas dari masyarakat secara keseluruhan, khususnya masyarakat di sekitarnya. Banyak hal yang tidak dapat dilakukan sekolah tanpa bantuan masyarakat tersebut. Berbagai bentuk kerjasama yang dapat dikembangkan dengan berbagai institusi tersebut antara lain : a. Pemberian atau penggunaan fasilitas bersama b. c. Pelaksanaaan kegiatan peningkatan kemampuan siswa Pemanfaatan sumber daya manusia secara mutualisme

3. Kerjasama Sekolah dengan Masyarakat Terorganisasi Pada saat ini banyak masyarakat yang mengikat dirinya dalam suatu kelompok organisasi, baik yang bersifat organisasi social, profesi maupun organisasi untuk komunitas tertentu yang bersifat kedaerahan maupun yang mementingkan laba. Dari berbagai organisasi tersebut diatas banyak sekali yang peduli terhadap pendidikan, tetapi tidak sedikit juga organisasi yang menjadi stressor bagi dunia pendidikan. Disadari bahwa organisasi-organisasi tersebut sangat besar peranannya dalam membantu pendidikan apabila diberdayakan secara optimal dan murni. Beberapa organisasi yang memfokuskan dirinya

terhadap pendidikan antara lain : a. Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) b. Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan Indonesia (ISMAPI) c. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) d. Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia e. Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKINS) f. Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN OTA) g. Himpunan Masyarakat Psikologi Indonesia (HIMAPSI) h. Kelompok Budayawan, Seni Tari dan Musik Organisasi tersebut sangat besar manfaatnya apabila sekolah mampu menjadikannya sebagai mitra bagi pengembangan dan peningkatan mutu sekolah, misalnya sekolah ingin meningkatkan implementasi manajemen berbasis sekolah yang berkualitas maka Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan Indonesia yang ada di masing-masing daerah dapat dimanfaatkan sebagai mitra, baik dalam pengembangan konsep, implementasi kegiatan maupun dalam pembinaan sehari-hari. Hal yang sama juga dapat dilakukan kerjasama dengan kelompok seni tari, misalnya jika sekolah menyelenggarakan ekstrakurikuler seni tari musik atau drama. Sangat mungkin suatu sekolah pada masa sekarang ingin meningkatkan peran guru disamping sebagai pengajar juga sebagai pembimbing. Untuk meningkatkan kemampuan guru tersebut sekolah dapat bekerjasama dengan asosiasi bimbingan ABKINS (Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia) atau dengan HIMAPSI (Himpunan Masyarakat Psikologi Indonesia). Dalam kenyataan sehari-hari sering terjadi organisasi masyarakat melaksanakan kegiatannya justru menggunakan sekolah sebagai sasarannya, seperti pengabdian masyarakat mereka tentang penyuluhan NARKOBA, hal ini harus dimanfaatkan oleh sekolah sebagai peluang dalam pembinaan siswa di sekolahnya. Oleh sebab itu tidak salah apabila sekolah selalu memprogramkan berbagai kegiatan tersebut sebagai upaya meningkatkan mutu di sekolah (pemahaman mutu di sini bukan sekedar nilai UAN). III. KESIMPULAN 1. Manajemen adalah proses kegiatan dengan melalui orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu serta dilaksanakan secara berurutan berjalan ke arah suatu tujuan. 2. Manajemen humas adalah suatu proses dalam menangani perencanaan,

pengorganisasian, mengkomunikasikan serta pengkoordinasian yang secara serius dan rasional dalam upaya pencapaian tujuan bersama dari organisasi atau lembaga yang diwakilinya. Dan untuk merealisasikan itu semua banyak hal yang harus dilakukan oleh humas dalam suatu lembaga pendidikan. 3. Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi dengan tujuan meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktik pendidikan serta berupaya dalam memperbaiki sekolah. 4. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah integrity, continuity, coverage, constructiveness, simplicity, dan penyesuaian. 5. Masyarakat ikut berperan dalam menentukan keberhasilan pendidikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->