P. 1
perahu-kertas

perahu-kertas

5.0

|Views: 414|Likes:
Published by Oktaviana'Panca Adi

More info:

Published by: Oktaviana'Panca Adi on Nov 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2015

pdf

text

original

Undang-undang Republ i k I ndonesi a Nomor 19 Tahun 2002

Tent ang Hak Ci pt a
Li ngkup Hak Ci pt a
Pasal 2:
1. Hak Ci pta merupakan hak eksklusi f bagi Penci pta atau Pemegang Hak
Ci pta untuk mengumumkan atau memperbanyak ci ptaannya, yang
t i mbul secar a ot omat i s set el ah suat u ci pt aan di l ahi r kan t anpa
mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangan-undangan
yang berlaku.
Ket ent uan Pi dana:
Pasal 72:
1. Barangsi apa dengan sengaj a melanggar dan tanpa hak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49
Ayat (1) dan Ayat (2) di pi dana dengan pi dana penj ara masi ng-masi ng
pal i ng si ngkat 1 (satu) bul an dan/ atau denda pal i ng sedi ki t Rp
1.000.000,00 (satu j uta rupi ah), atau pi dana penj ara pali ng lama 7
(tuj uh) tahun dan/ atau denda pali ng banyak Rp 5.000.000.000,00
(li ma mi li ar rupi ah).
2. Barangsi apa dengan sengaj a menyi arkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
hak ci pta atau hak terkai t sebagai di maksud pada Ayat (1) di pi dana
dengan pi dana penj ara pali ng lama 5 (li ma) tahun dan/ atau denda
pali ng banyak Rp 500.000.000,00 (li ma ratus j uta rupi ah).
D ee
PERAH U K ERTAS
© 2009, Dee / Dewi Lestari
Edi t or :
Hermawan Aksan
Pr oof Reader :
Jenny Jusuf
Reza Gunawan
Desai n Sampul :
Kebun Angan
www.kebun-angan.com
Tat a Let ak I si :
I revi tari
Kont ak Dee:
Jenny Jusuf +62-817 992 8558
Emai l: j 3nnyj usuf@yahoo.com
Pener bi t :
Bentang Pustaka Truedee Pustaka Sej ati
Jl. Pandega Padma no 19 Jl. Raj awali no 2
Yogyakarta 55824 Bandung 40184
Telp. (0274) 517373/ Faks. (0274) 541441 Telp/ Faks. (022) 86062273
Emai l: bentangpustaka@yahoo.com Emai l: truedeepustaka@gmai l.com
Di st r i but or :
Mi zan Medi a Utama
Jl. Ci nambo (Ci saranten Wetan) no 146
Uj ung Berung – Bandung 40294
Telp. (022) 7815500 / Faks. (0220 7802288
Emai l: mi zanmu@bdg.centri n.net.i d
Cetakan I : Agustus 2009
Kat al og Dal am Ter bi t an
Dee
Perahu Kertas/ Dee. - Cetakan I - Bandung: Truedee Pustaka Sej ati ,
Agustus 2009.
(xi i ) + (444) hlm. ; 20 cm
I SBN: 978-979-1227-78-0
Di cetak di I ndonesi a
v
Daftar Isi
Terima Kasih ... vii
Dari mereka, para pembaca ... xi
1. Jalan yang Berputar 1
2. Pindah ke Bandung 11
3. Mother Alien 23
4. Lingkaran Suci 31
5. Sebatang Pisang Susu 41
6. Hunusan Pedang Es 49
7. Bulan, Perjalanan, Kita 57
8. Memulai dari yang Kecil 65
9. Proyek Percomblangan 72
10. Kurator Muda 80
11. Sakola Alit 88
12. Jenderal Pilik & Pasukan Alit 97
13. Rencana Besar Wanda 106
14. Buku Harta Karun 116
15. Mencari Ketulusan 126
16. Salah Berharap 137
17. Tiga Kata Saja 145
18. Kepergian dan Kehilangan 154
19. Tragedi Pesta Noni 164
20. Kebohongan Gigantis 172
21. Hampa yang Menyakitkan 180
22. Pulang ke Ubud 190
23. Menangkap Bintang 198
24. Pembeli Pertama 207
25. Hadiah dari Hati 216
26. Lembaran Baru 225
vi
27. Janji Adalah Janji 234
28. AdVocaDo 243
29. Bumi pun Berputar 252
30. Agen Non-Aquarius 262
31. Arisan Toilet 272
32. Ninja Asmara 282
33. Kekuatan Mencinta 293
34. Malam Terakhir di Ujung Tahun 304
35. Pangeran Sejati 316
36. Reuni Kelompencapir 325
37. Tabir yang Tak Bisa Ditembus 336
38. Penculikan Paling Indah 345
39. Karya Bersama 355
40. Menemukan Oasis 365
41. Buku dan Pameran 374
42. Kastil yang Masih Berdiri Tegak 385
43. Cincin Dalam Kotak Perak 395
44. Cinta Tak Berujung 406
45. Bayangan Itu Punya Nama 414
46. Hati Tak Perlu Memilih 423
Epilog 433
“Melajulah Perahu Kertasku ...” 435
Dari mereka, para pembaca ... 441
Tentang Penulis 443
vi i
Terima Kasih …
Sebagaimana pelayaran sebuah perahu dimungkinkan karena
aneka faktor pendukung dan j uga awak kapal yang andal,
Perahu Kertas i ni pun ti dak bi sa berlayar ke genggaman
Anda j i ka saya ti dak di dukung dan di bantu oleh:
Ogi n, Teh Enny, dan Berna—kru keci l Li gar Nyawang
yang dengan seti a mengantar, menj emput, menj aga, dan
membuatkan saya makanan saat menuli s selama 60 hari .
Si ang dan malam.
Teman-teman kos di Tubagus I smai l: Di an, Anda, dan
Nurul. I bu Ni nong yang sudah sudi meneri ma saya dan
proyek “gi la” i ni di rumah kosnya.
Para narasumber yang sudah membantu memperkaya
data yang di butuhkan ceri ta i ni —dari mulai bahasa Bali ,
bahasa Belanda, peta Pantai Ranca Buaya, sampai i si perut
duni a peri klanan: Nyoman Sudi ra M.Si ., Ki b Roby & Di ah,
Anto Motul z, Mul ki “Seuri eus”, Paul Hehuwat, Janna
Soekasah, Oom Bayu Seto.
Para pi hak yang, tanpa i de dan penawaran dari mereka,
Per ahu Ker tas ti dak akan tergeli ti k dari ti dur panj angnya:
Ruzi e Fi ruzi e, PT Hypermi nd (Mbak Verra, Berli n, Yasmi n,
Fari d, dan kawan-kawan), PT Excelcomi ndo (Mas Adi , dan
kawan-kawan). Dan, PT I ndosat, yang telah meneruskan
hi dupnya versi di gi tal Per ahu Ker tas.
Teman-teman di Truedee: Ummy, Si gi t, Ruri , Endah,
Aris, Syaeful, dan Yeni. Tim “peneliti” naskah: Jenny Jusuf—
yang sudah membant u pr oofr eadi ng, dan Hermawan
Aksan—teri ma kasi h banyak atas edi tan dan sarannya yang
cermat. Ti m desai n yang tetap seti a membantu lahi rnya
buku-buku saya: Fahmi beserta Kebun Angan, dan Evi
I revi tari .
vi i i
Mi tra penerbi t yang telah sudi bersi nergi dalam proyek
i ni , Bentang Pustaka: Salman, Putri , Mas Gangsar, dan se-
mua staf.
Para pembaca awal Per ahu Ker tas (d/ h Kugy & Keenan):
anak-anak kos Patrakomala 57, Miund, Arian13, Eka Sitorus,
Riko “Mocca”, dan seterusnya—maaf, saya sudah tidak ingat
satu demi satu, yang jelas respons kalian yang begitu positif
membuat saya t er us ber semangat unt uk t et ap
mempertahankan ceri ta i ni .
Keluarga saya terci nta: D’Si mangunsong. Teri ma kasi h
ekstra untuk adi k saya, Ari na ali as Dede, yang membantu
menyi apkan pr i nt-out dr aft Per ahu Ker tas yang tebalnya
nyari s li ma senti . Kakakku, Key Mangunsong—yang sej ak
dulu imannya ekstra tebal pada naskah ini. Keluargaku yang
baru: Papa John, Mama Wi etj e, Sharen & Ki cky.
Para pengunj ung blog Journal of 55-Days (www.dee-
55days.blogspot.com) yang sudah i kut menyaksi kan proses
lahirnya Per ahu Ker tas, para pembaca yang sudah membeli
versi digital, dan semua yang sudah mau bersabar menunggu
versi cetaknya.
Anakku tersayang, Keenan Avaloki ta Ki rana, yang sudah
bersabar menunggu i bunya pulang saat harus mengeti k se-
hari an penuh di tempat kos, yang kelembutan serta ke-
ceriaannya selalu meluluhkan hati, dan tahukah kamu, bah-
wa namamu di ambi l dari tokoh utama di buku i ni ?
Suami sekali gus sahabatku, Reza Gunawan, yang ke-
hadi rannya tak hanya memberi i nspi rasi dan darah segar
pada ceri ta i ni , tapi j uga penyemangat dan penyembuh se-
l ama perj al anan 60 hari yang penuh magi s Namun,
terkadang begi tu melelahkan. Teri ma kasi h untuk hadi ah
e-book Steve Manni ng, untuk menjadi produser dari proyek
i ni , untuk antusi asme dan ci ntanya yang tulus bagi Per ahu
Ker tas. Dan, teri ma kasi h telah mewuj udkan sebuah hi dup
i x
penuh makna dan kej uj uran yang bukan ada di negeri
dongeng, melai nkan di si ni dan saat i ni . I love you.
Terakhi r, wahai semua teman kampusku yang nama-
namanya sudah saya pi nj am tanpa i zi n untuk di abadi kan
dalam ceri ta i ni , i ni lah kesempatan kali an untuk numpang
beken ... teri ma kasi h kembali . -
D
xi
Dari mereka,
para pembaca ...
Yui : Saya baca Per ahu Ker tas dengan nggak sengaj a. Sebelumnya saya
belum pernah baca karya Dee, dan jujur, Per ahu Ker tas adalah karya Dee
yang pertama saya baca. TAPI I I ... Per ahu Ker tas membuat saya langsung
memburu karya-karya Dee yang lai n. I ni novel i nspi r i ng banget, dan
walaupun sudah baca, saya tetap pi ngi n beli versi cetaknya. Saya sampai
sudah baca 3x sej ak pertama saya dapat novel i ni di HP.
Ri cas Dwi Cahyo: Nangi s, ketawa sendi ri , senyum sendi ri , saya alami
saat baca novel ini. Amazi ng! Karakter tokoh yang kuat, penempatan titik
emosi onal yang sangat bai k. Alur ceri ta yang menyayat adalah bumbu hi -
dangan i sti mewa Per ahu Ker tas. Tak banyak penuli s yang bi sa menyatu-
padukan ci nta keluarga, sahabat, dan kekasi h, menj adi sebuah hi dangan
ri ngan sekali gus padat, edukati f dan i nspi rati f. Two thumbs up!
Emaknya Far ah: Lebi h “ri ngan” dari Supernova dan lebi h “berat” di -
banding chi ckli t or teenli t. One thi ng yang aku r eali zed, ternyata Dee juga
penuh pengetahuan, ya. Top, dah (lagi ngebayangi n wuj ud Keenan dan
Kugv kuIuu dIjudIIn hIm!).
Rahmayant i Husna: Per ahu Ker tas adalah kisah cinta yang tidak biasa.
Pertama kali membaca ki ta menduga ceri tanya akan bi asa saj a seperti
novel pop yang sel ama i ni seri ng bermuncul an, tapi semaki n ki ta
membaca, semaki n dalam ... maka ki ta akan tahu “kei sti mewaannya”, se-
maki n ceri ta i tu menj adi ceri ta dari seorang Dewi Lestari secara keselu-
ruhan.
Tar y: Per ahu Ker tas membuat “kertas” menjadi i sti mewa karena alurnya
yang menyentuh hati dan menyadarkan bahwa hi dup adalah ti dak hanya
satu warna saja. By the way, I love the idea that Dee used name “Keenan”
i n thi s novel. Remi nds me of her lovely son.
Dwi Agust r i ani : Aku selalu menyenangi tiap tulisan dari Dee. Dan sekali
lagi , Per ahu Ker tas membuatku terpi kat. Dee, cara menuli smu GUE ba-
ngeL, deh. SA¡UT! Membucu Per ahu Ker tas seperti membaca sebagi an
ki sah hi dupku. Sangat mengi kat secara psi kologi s. Ri ngan Namun, begi tu
bermakna ....
xi i
May’s: Per ahu Ker tas memIIIkI hIosoh LenLung sebuuh pIIIhun duIum
hi dup, alurnya membawa ki ta mengali r, dan selesai membaca ki ta bi sa
dapat ‘sesuatu’. That’s why i t becomes so i nter esti ng. GOOD JOB, DEE!
Two thumbs up for you!
Jaf f : Over all, enj oyed the stor y : ) Keren, Dee ... Keren ...
Saf ar : Per ahu Ker tas merupakan kekuatan yang membuat hidup menjadi
ti dak pernah terl ambat. Semuanya hanya perputaran. Seperti yang
di sampai kan Dee, ki ta selalu menuj u satu ti ti k dengan di ri ki ta sendi ri ,
hanya saja terkadang ki ta mesti melalui berbagai jalan, termasuk menjadi
bukan di ri ki ta sendi ri .
Sat r i a: AjuIIIIIIIIIIIIIb ... bungeL! Benur-benur unIk pIus menvenLuh! Kok
ada ya, ceri ta yang uni k gi ni ?
Hol yshi ne: Ternyata menj adi di ri sendi ri tuh butuh banget perj uangan.
Berkaca dalam ceri ta i ni . Thanks, Dee, buat ceri tanya yang bi ki n aku j adi
nangi s.
Ni ght -Bug: Dee, Per ahu Ker tas-mu benar-benar bi ki n emosi nai k turun
waktu membacanya. Belum pernah aku membaca novel yang bi sa meng-
aduk-aduk emosi kayak gi ni . Benar-benar karya yang sangat enak di -
nikmati. Terus berkarya, ya. Bikin lagi cerita ringan tapi sarat emosi kayak
gi ni .
Deeah Sur ya: Awal baca bagi an pertama aku merasa i ni bukan Dee ba-
nget. Coz bahasanya gaya-gaya ABG gi tu. Atau mungki n karena tokohnya
yang baru lulus SMA, ya? Baca seterusnya, baru deh yakin kalau itu tulisan
Dee. Bahasanya penuh makna dan beri si . Jadi seru bacanya. Nggak salah
kalau Dee memang benar-benar penuli s terfavori t.
Ast r a-si ma: Kertas ... / Di j adi kan i a perahu … / Perahu kertas ... /
Mengali r tenang dan menyentuh ... / Membuatmu berpi ki r dan beri rama
i ndah .../ Perahu kertasmu i ni tak akan melepuh oleh ali ran ai r, Dee /
Selalu ada, mengena ....
Et cha: 1 kata tapi banyak alasan untuk ceri ta i ni = i nspi r i ng. Membantu
saya untuk mengerti dan berhenti berlari , sekali gus belaj ar melepaskan.
[ Komentar-komentar i ni di ambi l dari blog “Journal of a 55-days Novel”.
Bagi Anda yang tergerak untuk i kut bersuara,
si lakan mampi r ke www.dee-55days.bl ogspot .com]
1
1.
JALAN YANG BERPUTAR
Amst er dam, Juni 1999 ...
Tidak ada alasan untuk meninggalkan Amsterdam pada mu-
si m panas. I ni lah masa terbai k untuk bersepeda di seki tar
Lei dseplei n dan Dam Square sambi l meni kmati si nar mata-
hari yang merupakan surga tahunan bagi warga kota. I a
masi h i ngi n duduk di pi nggi r pantai Blomendahl berbekal
kanvas dan alat luki s, atau meni kmati loIIe terleerd
1
di
salah satu kafe di 9 Straatjes dari pagi hi ngga sore bersama
buku sketsanya.
Sambi l mengosongkan bari s terakhi r bukunya dari rak
yang bergantung di sampi ng tempat ti dur, pertanyaan yang
sama seminggu terakhir ini berulang dalam kepalanya: umur -
ku bar u j alan delapan belas, tapi kenapa aku mer asa ter -
lalu lelah untuk semua i ni ?
Pi ntu di bali k punggungnya berderi t pelan.
“Nee
2
, Keenan. Jangan bebani kopermu dengan buku.
Bi ar Oma yang ki ri m semua bukumu ke Jakarta.”
1
Kopi susu atau café latte.
2
Ti dak.
2
Keenan tersenyum ti pi s, urung membereskan buku-buku
tadi . Hati nya terusi k. Oma mengatakan i tu seolah-olah i a
tak akan pernah kembali ke rumah i ni .
Keenan tahu saat i ni akan hadi r tak terelakkan. Hanya
keajai ban yang bi sa membatalkannya kembali ke I ndonesi a.
Bertahun-tahun, Keenan berharap dan berdoa keaj ai ban i tu
akan datang. Keaj ai ban tak datang-datang. Hanya sesekali
telepon dari Mama yang memuji sketsa-sketsa yang ia kirim,
tanpa ucapan tambahan yang menyi ratkan kalau i a bi sa
terus ti nggal di Amsterdam, menemani Oma yang berj uang
agar ti dak di gusur ke panti j ompo karena di anggap terlalu
tua untuk hi dup sendi ri , meluki s di salah satu bangku di
Vondelpark, tumbuh besar menj adi seni man-seni man yang
i a kagumi dan banyak berseli weran di kota i ni .
Keaj ai ban yang di mi li ki Keenan punya tanggal kedalu-
warsa. Cukup enam tahun saj a. Orangtuanya bertengkar
hebat semi nggu sebelum akhi rnya memutuskan bahwa i a,
anak pertama mereka, di lepas ke negeri orang. Padahal
Keenan ti dak merasa di negeri orang. Bukankah di kota i ni
mamanya di lahi rkan dan menj adi peluki s, sampai akhi rnya
pergi ke I ndonesi a dan berhenti menj adi peluki s? Keenan
ti dak tahu persi s apa yang terj adi . Bagai mana mungki n
orangtuanya, sumber dari bakat meluki s yang mengali r da-
lam darahnya, j ustru i ngi n memadamkan apa yang mereka
wari skan?
Papa khawati r Amsterdam akan menghi dupkan seorang
seni man dalam di ri anaknya. Kenapa Papa takut? Keenan
dulu bertanya. Kar ena otakmu ter lalu pi ntar untuk cuma
j adi peluki s, j awab ayahnya. Keenan pun bertanya-tanya,
haruskah di a mulai menyabotase ni lai -ni lai nya sendi ri di
sekolah agar papanya keli ru? Tapi , untungnya, sebelum i tu
terj adi , Papa dan Mama sepakat. Di a di i zi nkan bersekolah
di Amsterdam untuk enam tahun. Hanya enam tahun.
3
Dua ribu lebih hari berlalu dan Keenan merasa enam ta-
hun sesi ngkat kedi pan mata.
“Mungki n i ni saj a yang sebai knya kamu bawa, vent
3
,”
Oma menyerahkan dua buah buku bertuliskan 2500 Latihan
Soal UMPTN, “supaya j i j
4
bi sa belaj ar di pesawat.”
“Ja
5
, Oma.” Keenan menyambut dua buku tebal i tu dan
berencana untuk meni nggalkannya di kolong tempat ti dur
begi tu Oma keluar kamar nanti .
“Oma tunggu kamu di mej a makan, ya.” Perempuan tua
i tu berdi ri , membereskan blus moti f pai sley-nya yang ber-
kerut, mengencangkan j epi t yang mencapi t rambutnya yang
sudah putih tapi masih lebat. Oma tersenyum. Keriput tidak
menyusutkan kecanti kan dari waj ahnya. Oma sangat mi ri p
Mama. Keenan mendadak merasakan kangen yang menjadi-
kan kepulangannya ke Jakarta ti dak terlalu buruk.
“Oma j adi masak?”
“Br uinebonen soep
6
dan kaas br odje
7
. Sesuai pesananmu.
Oma kan ni et fer get
8
, vent. Oma selalu pegang j anj i .”
Satu malam pada musi m di ngi n pertamanya di rumah
i ni , pemanas rumah mereka rusak. Oma mendekapnya dan
membungkusnya dalam seli mut tebal. Mereka berdua ber-
tahan seperti i tu di sofa. Menunggu pagi . Untuk pertama
kali nya j uga mereka merasakan kedekatan seperti dua sa-
habat yang saling menjaga. Malam itu, Oma janji tidak akan
menangi s kalau satu saat Keenan pulang ke I ndonesi a. Dan
Keenan pun i kut berj anj i tanpa tahu betapa beratnya me-
megang j anj i i tu.
3
Panggi lan untuk anak laki -laki .
4
Kamu.
5
Ya.
6
Sup kacang merah.
7
Roti kej u.
8
Ti dak bi sa lupa.
4
Keenan memandangi neneknya yang berj alan menuj u
mej a makan. Sudut mulut Oma selalu tampak tersenyum
dan membuat air mukanya selalu ramah, langkahnya masih
tegap meski memelan setahun belakangan i ni . Dari celah
pi ntu yang sedi ki t membuka, Keenan memandangi Oma
membereskan taplak mej a yang sudah rapi dan duduk me-
natap sup kacang merah yang mengepul di wajahnya. Sekali-
pun samar, Keenan dapat melihat mata tua itu berkaca-kaca,
dan dalam gerakan cepat Oma tampak menyusut sesuatu
dari uj ung matanya.
Keenan menutup pintu kamar. Tak lama, seluruh ruangan
i tu tampak kabur. Berkali -kali Keenan mengerj apkan mata,
tapi ai r di pelupuknya seperti ti dak bi sa berhenti .
Jakar t a, Jul i 1999 ...
Cewek bertubuh mungil itu tak henti-hentinya bergerak, ber-
j i ngkat, kadang melompat, bahkan kaki nya menendangi
udara. Padahal kegi atannya hanyalah mengemas buku ke
dalam dus, tapi dia memutuskan untuk mengombinasikannya
dengan berj oget.
Kupingnya tersumbat ear phone yang mengumandangkan
musi k new wave koleksi abangnya. Di a baru lulus SMA se-
bulan yang lalu, tapi selera musi knya sama dengan anak
SMA lima belas tahun yang lalu. Semua orang selalu bilang,
yang namanya Kugy i tu luarannya doang up-to-date, tapi
dalamannya out-of-date. Yang dikatai malah cuek cenderung
bangga. Kugy tetap bersi keras bahwa musi k tahun ’80, ter-
kecuali fashi on-nya, sangat keren dan geni us.
“Kar ma-kar ma-kar ma-kar ma-kar ma Chameleon ... you
come and go ... you come and gooo ...” Kugy mengi pas-
ngi pas sebuah buku sambi l menandak-nandak. I a berusaha
5
keras ti dak meli hat cermi n karena kelebatan bayangannya
saj a sudah membuat i a i ngi n terpi ngkal -pi ngkal . Jelek
banget, decaknya. Terkagum-kagum sendi ri .
Dari luar, adi k perempuannya, Keshi a, mengetuk-ngetuk
pi ntu. Setelah semeni t ti dak ada hasi l, Keshi a yang ti dak
sabar mulai menggedor-gedor.
¨Kugv! WoooI! Adu LeIepon, Luh!¨
Ada suara dewasa berceletuk pelan dari belakang, “Kak
Kugy.” Terdengar penekanan pada kata ‘‘Kak’’.
Keshi a meli ri k i bunya sambi l melengos. Beli au ti dak
bosan-bosannya mengi ngatkan untuk memanggi l Kugy de-
ngan tambahan ‘kak’. Masalahnya, kelakuan kakak perem-
puannya yang satu itu kurang layak untuk menyandang titel
‘‘kakak’’.
Pi ntu penuh sti ker di hadapan Keshi a membuka. Kugy
melongok dengan sebelah ear phone-nya menj untai . Bukan-
nya buru-buru mengangkat telepon, di a malah menengok ke
ibunya dulu, “Ma, gimana kalau aku ganti nama jadi Karma?
Kan tetap dari ‘K’. Jadi nggak menyalahi aturan rumah i ni .”
Keshi a i kut menengok ke i bunya dengan tatapan putus
asa, “Tuh, kan, Ma? Di a aneh banget, kan?”
I bunya hanya mengangkat bahu sambi l terus membaca.
“Punya anak li ma saj a manggi lnya suka ketukar-tukar, apa-
lagi ada yang mau ganti nama. Malas, ah. Nanti saj a kalau
Mama sudah tua, sudah pi kun. Jadi nggak ngaruh. Mau
Karma, kek, mau Karno ... terserah.”
Keshi a di buat melongo. Di a mulai menyadari dari mana
keanehan Kugy i tu berasal.
Dengan logat Bri ti sh yang di buat-buat, Kugy menj awab
telepon. “Kar ma Chameleon speaki ng. Who i s thi s?”
Ada beberapa deti k kosong sampai terdengar j awaban
dari uj ung telepon. “Gy? Noni , ni h. Emang lu sangka si apa
yang nelepon? Ratu I nggri s?”
6
Mendengar suara Noni , mata Kugy langsung berbi nar.
Noni adalah sahabatnya sej ak keci l. Di alah orang yang pa-
li ng menunggu-nunggu Kugy selesai berkemas supaya bi sa
langsung cabut ke Bandung. Noni j uga orang yang pali ng
repot, persi s seperti pani ti a penyambutan di kampung yang
mau kedatangan pejabat tinggi. Dia yang mencarikan tempat
kos bagi Kugy, menyi apkan j emputan, bahkan menyusun
daftar acara mereka selama semi nggu pertama. Si ngkatnya,
Noni adalah seksi si buknya.
“Jadi ke sini, nggak? Entar kamar kos lu keburu gua lego
ke orung IuIn!¨ Suuru NonI vung meIengkIng Lujum begILu
kontras menggantikan suara Boy George yang halus dari ku-
pi ng Kugy.
“Santai lah sedi ki t, Bu Noni . Legali sasi STTB ke sekolah
aj a gua belum sempat ....”
“HA? Orang lai n tuh sudah dari berabad-abad yang lalu
IeguIIsusI STTB-nvu, Luhu!¨
“I tu jelas nggak mungkin. Yang namanya STTB baru ada
waktu angkatan abang gua sekolah ....”
“Kapan mulai beres-beres, Gy? Buku-buku lu yang ba-
nyak banget i tu di paket aj a ke Bandung, nggak usah bawa
sendi ri . Bagasi mobi lnya Eko kan keci l, nanti nggak bakal
muat. Lu bawa baj u-baj u aj a, ya? Ti ket kereta api udah pe-
san, belum? Lagi penuh lho. Ntar terpaksa beli di calo. Sa-
yang dui t.”
“Non, lu tuh lebi h cerewet dari ti ga nyokap gua di j adi i n
satu. Seri us.”
“Mi nggu depan, pokoknya nggak mau tahu, lu harus
udah sampai di Bandung. Mobil Eko udah gua suruh masuk
bengkel dulu biar nggak mogok pas ngejemput lu ke stasiun.
Habi s i tu ki ta langsung keli li ng buat belanj a kebutuhan lu.
Kamar lu udah gua sapu-sapu dari kemari n. Pokoknya tahu
beres, deh.”
7
“Tapi lu j uga lebi h raj i n dari ti ga pembantu gua di j adi i n
satu.”
¨Dusur unuk gIIu!¨
“Kurang aj ar lagi ....”
¨¡vu! Kurung ujur!¨
“Gi mana si h, gua. Payah banget.”
Noni ti ba-ti ba tertawa. “Kok lu j adi marahi n di ri lu sen-
dIrI!¨
“I ya, ya?” Kugy i kut tertawa. “Supaya menghemat energi
lu, Non. Kan lu udah capek bantui n gua. Udah capek
ngurusi n si Eko dan Fuad-nya yang ngadat melulu i tu ...”
¨Emung! Kudung-kudung mendIngun nge-date pake se-
peda kumbang dari pada Fi at kuni ng i tu. Lebi h seri ng si
Fuad mogok dari pada si Kombi kawi n.”
¨Wuuhuhu! Puruh bungeL, dong! MendIng kuIo ¡uud bIsu
beranak, mi ni mal kali an bi sa j adi peternak Fi at ...” Kugy
tergelak-gelak. Komba dan Kombi adalah pasangan hamster
peli haraan Noni dan pacarnya, Eko. Pasangan Komba dan
Kombi ini tidak henti-hentinya beranak sampai-sampai Noni
dan Eko sempat punya profesi baru yakni pedagang
hamster .
“Ya udah, mi nggu depan pokoknya gua tunggu di Ban-
dung, ya. Jangan lupa: STTB, pesan ti ket KA, packi ng, pa-
ketin buku-buku lu, payung lipat yang dulu lu pinjam, jaket
j i ns gua—masi h di lu kan, ya? Terus ...”
Kugy menj auhkan gagang telepon sebentar dari kupi ng-
nya, menunggu sayup suara Noni selesai bi cara sambi l
pi ndah-pi ndah saluran teve.
“Gy? Udah di catat semua? Kugy?”
Kugv buru-buru menvumbur LeIepon kembuII. ¨SIup! Sum-
puI keLemu mInggu depun, vu!¨
Saat pembi caraan telepon i tu usai , Kugy terki ki k-ki ki k
sendi ri . Sahabatnya yang satu i tu memang luar bi asa. Ke-
8
luarganya sendi ri bahkan ti dak usah repot mengurus i ni -i tu
keti ka Kugy harus bersi ap kuli ah di Bandung. Noni mem-
bereskan hampi r segala persi apan Kugy dengan bai k dan
sukarela. Dari mereka keci l memang selalu begi tu. Orang-
orang bi lang, Noni seperti mengasuh adi k, padahal mereka
seumuran.
Noni yang anak tunggal dan Kugy yang dari keluarga be-
sar adalah sahabat kari b yang sali ng melengkapi sej ak TK.
Kedua ayah mereka sama-sama meri nti s kari er di perusa-
haan yang sama, dan hubungan kedua keluarga i tu terj ali n
akrab semenj ak hari pertama mereka berj umpa. Seperti di -
sengaj a, kedua ayah mereka pun selalu di tugaskan ber-
barengan.
Noni dan Kugy tumbuh besar bersama, selalu ti nggal di
kompleks perumahan yang sama, pi ndah dari satu kota ke
kota lai n hampi r selalu bersamaan: Uj ungpandang, Bali k-
papan, Bontang, dan berakhi r di Jakarta saat mereka kelas
1 SMP. Pada tahun i tu, untuk pertama kali nya mereka ber-
pi sah. Ayah Noni yang duluan pensi un, memi li h ti nggal di
Subang untuk menghabi skan hari tuanya, dan Noni kemu-
di an di sekolahkan di Bandung. Sementara ayah Kugy tetap
ti nggal di Jakarta bersama keluarganya.
Meski Noni selalu tampak lebih dewasa dan teratur ketim-
bang Kugy yang serampangan, sesungguhnya Kugy memiliki
keteguhan yang ti dak di mi li ki Noni . Sej ak keci l, Kugy tahu
apa yang di mau, dan untuk hal yang i a suka, Kugy seolah-
olah bertransformasi menj adi sosok yang sama sekali ber-
beda.
Pi li hannya mengambi l j urusan Sastra adalah buah dari
ci ta-ci tanya yang i ngi n j adi penuli s dongeng. Pi li hannya
kuli ah di kota lai n adalah buah dari khayalannya untuk hi -
dup mandi ri . Di luar dari peri lakunya yang serba spontan,
Kugy merencanakan dengan matang perj alanan hi dupnya.
9
I a tahu alasan di bali k semua langkahnya, dan benar-benar
seri us menangani i mpi annya.
Dari SD, Kugy raj i n menabung, dan semua hasi l ta-
bungannya dibelikan buku cerita anak-anak, dari mulai cer-
gam stensi lan sampai buku dongeng klasi k yang mahal.
Kemudi an i nvestasi i tu i a putarkan lagi melalui usaha pe-
nyewaan, sampai bukunya terus bertambah banyak. Jadi lah
Kugy pemilik taman bacaan termuda di kompleksnya, sekali-
gus yang tergalak. Seperti predator di hutan rimba, ia mem-
buru para penyewa ‘‘nakal’’ dengan sepeda mi ni nya, hi ngga
mereka tersudut dan ti dak ada cara lai n agar berhenti di -
kej ar-kej ar selai n mengembali kan buku.
Kugy melakoni dengan tekun segala kegiatan yang ia ang-
gap menunj ang ci ta-ci tanya. Kugy menj adi Pemi mpi n Re-
daksi maj alah sekolah dari mulai SMP sampai SMA. I a di -
kenal sebagai pi oni r dengan i de-i de segar bagi kehi dupan
buIeLIn sekoIuh, Iu nekuL memburu puru hgur pubIIk beLuIun
untuk di wawancarai dengan pendekatan yang profesi onal,
yang lalu di tuangkan ke dalam bentuk arti kel yang seri us.
Dengan raj i n i a mengi kuti segala perlombaan menuli s di
maj alah-maj alah, lalu bekerj a sebai k dan sekeras mungki n,
untuk akhi rnya keluar menj adi j uara. Sampai -sampai Kugy
hafal juri-juri mana yang biasa dipakai dan bagaimana selera-
nya.
Tidak semua orang menganggap menjadi penulis dongeng
layak di sebut sebagai ci ta-ci ta. Kugy j uga tahu i tu. Semaki n
i a beranj ak besar, Kugy sadar bahwa sebuah ci ta-ci ta yang
dianggap layak sama dengan profesi yang pasti menghasilkan
uang. Penuli s dongeng bukan salah satunya. Untuk i tu, se-
panj ang hi dupnya Kugy berupaya membukti kan bahwa i a
bi sa mandi ri dari buku dan menuli s.
Dalam kamarnya yang bergabung dengan taman bacaan
di loteng rumah, Kugy menyusun balok demi balok mi mpi -
10
nya. Suatu hari i a bukan hanya seorang kolektor buku do-
ngeng. I a akan menuli s dongengnya sendi ri , kendati j alan
yang di tempuhnya harus berputar-putar.
11
Jakar t a, Agust us 1999 ...
“Keenan mana, Ma?” t anya pri a i t u dengan gel i sah.
Badannya, yang tinggi dan masih tegap untuk umurnya yang
memasuki kepala li ma, hanya berbalutkan kaus puti h polos
dan celana olahraga. Langkah-langkah beratnya hi li r mudi k
sedari tadi .
“Pali ngan j uga masi h ti dur,” j awab i stri nya santai . Kon-
sentrasi nya lebi h terpusat pada dua gelas beri si kopi susu
panas yang sedang i a aduk.
“Gimana, sih. Kok kayaknya kita yang lebih antusias me-
nunggu pengumuman UMPTN daripada pesertanya sendiri,”
dumel suami nya.
¨Eh, ILu, korunnvu duLung!¨ seru IsLrInvu keLIku Iu men-
dengar gesekan kertas koran di depan pi ntu.
Seperti balap lari, mereka buru-buru ke pintu depan dan
langsung membuka halaman tengah koran yang padat de-
ngan bari san nama-nama.
¨¡nI numunvu! DIu musuk!¨ IsLrInvu berseru dengun suuru
tercekat sambi l menunj uk satu nama.
2.
PINDAH KE BANDUNG
12
Antara percaya dan ti dak, pri a i tu pun meyaki nkan di ri -
nya berkali-kali, bahwa memang cuma ada satu nama seperti
i tu: K E E N A N. Tercetak j elas.
“Ki ta bangunkan saj a di a,” uj arnya ti dak sabar.
“Ah, nggak usah. Bi ar di a ti dur sepuas-puasnya. Kasi han
Keenan, dari kemari n begadang terus,” i stri nya menyergah
dengan senyum mengembang, “toh hari ini dia sudah mem-
buat ki ta semua lega.”
Padahal Keenan sudah tahu apa yang terjadi. Tidak mung-
ki n menutup teli nga dari suara apa pun di rumah mungi l
i ni . Sambi l meri ngkuk dan memeluk lutut, Keenan menera-
wang di atas tempat ti dur, bertanya-tanya pada di ri nya
sendiri: apakah ia salah karena tidak merasakan kebahagiaan
yang sama? Apakah ia puas atas kesuksesannya menyenang-
kan orang lai n? Dan apakah i a cukup berduka atas peng-
khi anatannya pada di ri sendi ri ?
Di depan kanvas, mata Keenan terpaku. Mendapatkan
lembar kosong i tu sebagai j awaban pertanyaan hati nya.
Dua belokan dari rumah Kugy, ada sebuah kali. Meski berair
cokelat, arus kali i tu mengali r lancar dan ti dak mampat se-
perti kebanyakan kali di Kota Jakarta. Kugy menyadari se-
suatu ketika baru pindah ke Jakarta, di mana pun ia tinggal,
i a selalu menemukan ai r mengali r dekat rumahnya. Seolah-
olah ada yang mengi ngi nkan agar kebi asaannya yang satu
i tu terus berj alan.
Kugy i ngat betul bagai mana sej arah kebi asaan i tu ber-
mula. Waktu itu keluarganya masih tinggal di Ujungpandang.
Rumah mereka yang berseberangan dengan laut membuat
Kugy keci l banyak menghabi skan hari -hari nya di pantai .
Adalah Karel, abangnya yang paling besar, yang pertama kali
13
memberi tahu bahwa zodiak Kugy adalah Aquarius. Simbol-
nya ai r. Kugy keci l lalu berkhayal di ri nya adalah anak buah
Dewa Neptunus yang di utus untuk ti nggal di daratan. Se-
perti mata-mata yang ruti n melapor ke markas besar, Kugy
percaya bahwa i a harus menuli s surat untuk Neptunus dan
melaporkan apa saj a yang terj adi dalam hi dupnya.
I a mengi ri m suratnya yang pertama saat mulai bi sa me-
nuli s sendi ri . Kugy meli pat surat i tu menj adi perahu lalu
dihanyutkan ke laut. Hampir setiap sore Kugy selalu mampir
ke pantai, mengirimkan surat-surat berisi cerita atau gambar
untuk Neptunus.
Kugy protes keras saat keluarga mereka harus pi ndah
kota, yang artinya tak ada pantai lagi dekat rumah. I a ngam-
bek berkepanj angan sampai akhi rnya Karel menj elaskan
bahwa selama ada ali ran ai r, di mana pun i tu, Kugy tetap
bi sa mengi ri m surat ke Neptunus. Semua ali ran ai r akan
menuj u ke laut, begi tu kata Karel sambi l menyusutkan li -
nangan ai r mata di pi pi Kugy.
“Ai r sungai bakal sampai ke laut?”
Karel mengangguk.
“Ai r empang bakal sampai ke laut?”
Karel mengangguk lagi .
“Ai r selokan bakal sampai ke laut?”
Karel masi h mengangguk.
Barulah Kugy teryakinkan. Kendati bukan lagi dekat laut,
rumah mereka yang berpi ndah-pi ndah selalu dekat sesuatu
yang mampu meyaki nkan Kugy bahwa surat-suratnya tetap
sampai pada Neptunus. Termasuk rumah mereka yang dekat
kali di Jakarta.
Namun, kebi asaan i tu mengendur sei ri ng waktu. Kugy
yang beranj ak besar pun sadar bahwa besar kemungki nan
Dewa Neptunus i tu ti dak ada, bahwa surat-suratnya sampai
ke laut sudah dalam bentuk serpi han mi kron yang tak lagi
14
bermakna, atau bahkan ti dak sampai sama sekali . Namun,
Kugy j uga ti dak bi sa menj elaskan bagai mana di lubuk hati -
nya ia masih ingin percaya. I a tidak bisa menjelaskan bagai-
mana bati nnya di buat damai dengan menyaksi kan perahu-
perahu kertas i tu hanyut terbawa ai r.
Pagi i tu i a berdi ri di tepi kali . Hi ruk-pi kuk kerumunan
anak kampung dari pelosok gang berdengung di teli nganya.
Namun, Kugy tak terganggu. Matanya tak lepas mengamati
aliran air cokelat di bawah kakinya. Perlahan, ia mengeluar-
kan sesuatu dari kantong celana. Sebuah perahu kertas.
Kugy ti dak i ngat kapan terakhi r i a menghanyutkan perahu
di sana. Terlalu lama i a lupa tugasnya sebagai mata-mata
dunia air. Entah kenapa, kepergiannya kali ini menggerakkan
i a kembali menuli s. Sebuah surat pendek beri si sebari s
kali mat:
Nus,
Scuc pindch le ßcndunq. I'll Ind mu strecm.
Sampai ketemu.
Berbarengan dengan batu, kai l, daun, dan segala yang
di cemplungkan tangan-tangan keci l di sebelahnya, sebuah
perahu kertas melaj u tak terganggu.
Seorang anak SMP berambut i kal tampak berlari dan ber-
gegas memasuki pagar rumahnya yang terbuat dari kayu
bercat puti h. Gari s-gari s mukanya yang tegas dan runci ng
di kombi nasi kan dengan kuli t puti h tapi gosong kemerahan
aki bat terpaan si nar matahari membuatnya persi s seperti
turi s peselancar di pi nggi r Pantai Kuta. Rumah asri yang
terletak di daerah hi j au di Jakarta Ti mur i tu tampak le-
15
ngang. Anak lak-laki itu melihat sekeliling dengan khawatir.
Napasnya baru melega keti ka mobi l orangtuanya ternyata
masi h terparki r di dalam garasi . Langkahnya pun meri ngan
saat i a membuka pi ntu.
¨Mu! Keenun beIum berungkuL, kun?¨ Lunvunvu sekeLIku,
memasti kan.
I bunya tersenyum dan menggeleng. “Belum. Tapi kamu
harus mandi dulu baru bi sa i kut antar abangmu ke sta-
si un.”
Keenan melangkah keluar dari kamarnya dan nyengi r
meli hat adi knya yang deki l bermandi kan keri ngat. “Tapi
j elek-j elek gi tu, Jeroen banyak yang naksi r, Ma.”
Muka Jeroen bersemu merah. Pikirannya melayang pada
surat-surat dan foto-foto yang seri ng di seli pkan di tasnya
oleh cewek-cewek di sekolah, dan i a menebak-nebak mana
yang ki ra-ki ra di temukan oleh abangnya.
“Untung kamu ti dak di si ni , Nan. Mama sudah kayak
resepsi oni s pri badi ngangkati n telepon buat di a,” celetuk
i bunya lagi . Di am-di am i a mengamati kedua anak laki -laki -
nya yang terpaut j arak umur enam tahun, dan menyadari
betapa berbeda keduanya. Jeroen yang ekstrover, atleti s,
di plomati s, senang bergaul dan berorgani sasi , adalah cetak
biru ayahnya. Sementara Keenan yang introver, halus, tidak
menyukai keramai an, dan lebi h senang menyendi ri untuk
meluki s, adalah cetak bi ru di ri nya. Namun, Keenan dan
Jeroen saling menjaga dan mengagumi seperti magnet yang
lekat erat. Bagi Jeroen, Keenan adalah idolanya nomor satu.
Dan Keenan menyayangi Jeroen lebi h dari apa pun. Jeroen
seperti orang patah hati keti ka Keenan harus pergi ke
Amsterdam, dan ki ni i a harus melepas abangnya lagi untuk
bersekolah di Bandung.
“Ma, aku bolos sehari , deh. Aku j uga mau ke Bandung.
Ketemu Mas Eko,” rengek Jeroen. Permohonannya sudah
16
di tolak mentah oleh ayahnya, dan ki ni i a mencoba celah
lai n, yakni lewat i bunya.
Sayang, i bunya tetap menggeleng. “Nggak bi sa, Roen.
Kamu harus sekolah.”
“Mama yaki n saya di j emput Eko?” tanya Keenan.
“Ya i yalah. Mama sudah telepon langsung ke Eko. Me-
mangnya kenapa?”
“Saya nggak i ngat mukanya, di a j uga pasti sama. Kami
LerukhIr keLemu kun wukLu SD!¨
Jeroen Iungsung menvumbur senung, ¨Nuh! ¡Lu dIu, Mu!
Kalau aku i kut, aku nanti bi sa kasi h tahu Mas Eko yang
mana.”
I bu mereka tersenyum melihat usaha keduanya. Eko ada-
lah sepupu Keenan yang sej ak SMA bersekolah di Bandung
dan ki ni mereka akan berkuli ah di kampus yang sama. Se-
masa keduanya masi h SD, sebelum Keenan berangkat ke
Amsterdam, Keenan dan Eko bersahabat kari b. Baru seka-
rang lagi mereka akan bertemu setelah terpi sah seki an
lama.
“Alasan kamu memang masuk akal, Nan. Tapi Eko sudah
Mama pesankan untuk bawa tulisan nama kamu. Jadi, biar-
pun kali an ti dak hafal muka, kali an pasti akan bertemu,”
j awab i bunya sambi l mengerli ng ke arah Jeroen.
Terdengar suara pintu kamar membuka, dan melangkah-
lah keluar ayahnya yang masih berkemeja dan dasi lengkap.
I a pun telah minta izin dari kantornya demi melepas Keenan
ke Bandung.
“Semua barang kamu sudah siap, Nan?” tanyanya sambil
merai h kunci mobi l dari mej a.
“Sudah, Pa.” Keenan berdi ri di sampi ng satu tr avel
bag.
“I tu saj a?”
“Si sanya di paket ke Bandung,” ti mpal i bunya. Dan ujung
17
matanya menunj uk ke sudut yang penuh sesak oleh tum-
pukan dus beri si alat luki s.
Ayahnya menghela napas. Ri ak pada ai r mukanya ti dak
bi sa di sembunyi kan, dan Keenan meli hatnya dengan j elas.
Ada suasana mendung yang seketi ka menggantung di
ruangan i tu. Satu demi satu pun melanj utkan kegi atannya
masi ng-masi ng tanpa suara.
Bandung, Agust us 1999 ...
Ti dak ada yang lebi h dahsyat dari pada gabungan geri mi s
hujan di luar dan selimut hangat di dalam kamar. Demikian
pri nsi p Kugy. Meri ngkuk di tempat ti dur sepanj ang sore
sambi l bermi mpi i ndah adalah mi si nya sore i tu. Sayangnya,
i a lupa mengunci pi ntu.
Cahaya dari luar seketi ka menerangi kamarnya yang te-
maram. Langkah tergesa dan suara bernada tinggi mengacau-
kan suasana hening yang membungkus Kugy seperti kepom-
pong.
¨Gv! Bungun! PergI, vuk!¨
Seli mut yang tampak menggunduk i tu tak bergerak.
“Gy, Eko udah di depan. Si Fuad nggak bi sa di mati i n,
enLur mogok. Yuk, cepeLuuun!¨
Kugy menyahut dengan gumaman tak j elas.
Noni terpaksa mengambi l ti ndakan lebi h ekstrem. De-
ngan gesi t i a menyi ngkap seli mut dan memerci k-merci kkan
ai r dari gelas di sebelah tempat ti dur.
Kugv menghIndur, geIugupun. ¨Penverunguuun! ¡nvusI
ruung prIvuuuuL!¨
“Nggak usah berlagak, deh. Ayo, bangun.”
Kugy terduduk dengan paksa, mata terpejam sebelah dan
rambut semrawut. “Non, berhubung kamar ki ta bakal se-
18
belahan setidaknya dalam empat tahun ke depan, gua jelas-
kan satu aturan yang sangat penting, oke. Tidur siang adalah
momen sukruI buuL guu. Bonus hujun, IugI! Hurusnvu Iu mu-
suk ke si ni pun j alannya pake lutut dan sungkem dulu ke
kaki tempat ti dur ....”
“Ki ta j emput sepupunya Eko ke stasi un, yuk. Jam li ma
keretanya nyampe. Lu mau pakai baju yang mana? Biar gua
si api n,” Noni seperti tak mendengar khotbah penti ng
Kugy.
Kedua mata Kugy terbuka. “Bentar ... bentar. Kenapa kok
gua harus i kut? I tu kan sepupu si Eko, lu yang pacarnya si
Eko, kenapa gua harus dilibatkan segala?” Kugy berseru pu-
tus asa.
“Soalnya ... Si Fuad ngadat lagi . Kalo mogok harus ada
yang dorong. Untuk dorong ki ta butuh tenaga.”
Kugy menganga tak percaya, “Jadi ... gua dibangunin dari
ti dur suci gua untuk j adi cadangan tenaga ngedorong si
Fuad?”
“Ya i yalah. Buat apa lagi ?”
¨Ngguk sopun, bener-bener ngguk sopun! Guu cumu dI-
anggap kuli dorong mobi l ...,” sambi l menggerutu Kugy ba-
ngun.
“Mau pakai baj u yang mana?”
¨Yung InI!¨ Kugv menunjuk pukuIun vung menempeI dI
tubuhnya. Celana bati k selutut yang sudah mengusam, dan
kaus kegedean bertuliskan “Lake Toba” yang sudah tipis dan
lentur seperti lap dapur.
“Yah, j angan gi tu-gi tu amat, dong, Gy. Lu ngambek, ya?”
“Oh, nggak. Gua cuma berdandan sesuai kasta gua aj a.
KuII dorong mobII. Avo, cubuL!¨ suhuL Kugv seruvu menvum-
bar j aket j i ns di gantungan.
Noni memandang temannya dengan khawati r. Rambut
sebahu Kugy sebagi an nai k ke atas seperti di sasak setengah
19
j adi . Baj unya mendekati compang-campi ng. Jaket j i ns ke-
gombrongan mi li k Karel yang di gondol Kugy deti k-deti k
terakhi r sebelum di a berangkat ke Bandung i tu pun tentu
ti dak membantu. Belum lagi , j am tangan plasti k Kura-kura
Ninja yang nyaris tak pernah lepas dari pergelangan tangan-
nya. Lalu sandal khusus kamar mandi dari bahan plasti k
berwarna pi nk elektrik seolah menyempurnakan “keajaiban’’
penampi lan Kugy sore i tu.
Namun, Kugy berj alan mantap keluar menantang duni a,
di sambut Eko yang kontan meri ngkuk-ri ngkuk tertawa me-
li hat pemandangan nyentri k i tu.
¨Gv! ¡u kuvuk gembeI buru gIIu! Keren!¨ LerIuk Eko sem-
bari merogoh-rogoh ransel mencari kamera. “Si ap ... satu,
dua, ti ga, pose!”
Dengan cepat Kugy langsung membengkungkan kedua
lengannya seperti atlet bi naraga.
“Sip. Gua cetak 5R, nanti gua pajang di mading kampus.”
Eko tersenyum puas.
“10R lah, Ko. Standar maj alah, dong.”
“Orang gila lu layanin, ya makin senanglah dia. Lihat tuh,
mukanya hepi gi tu ....” Noni menunj uk Kugy yang sedang
mematut-matut di ri di spi on mobi l Eko, mulai menyadari
betapa aneh dandanannya, dan mulai tertawa-tawa bahagi a
tanda meni kmati .
Meli hat i tu, Eko j uga mulai khawati r. “Lu tahu betapa
gua menghargai setiap liter bensin, kan, Gy? Dan gua nggak
bisa matiin mesin mobil karena takut mogok. Tapi gua akan
merelakan li ma meni t buat lu untuk ganti baj u. Kalau lu
mau,” kata Eko penuh penekanan. Dia sebetulnya sudah bisa
menduga pi li han Kugy.
“Dari pada bensi n li ma meni t lu habi skan buat tunggu
gua ganti baj u, mendi ngan lu konversi j adi dui t terus beli i n
guu mInum. JudI kuII gumpung huus! Yuk!¨
20
Jawaban tegas Kugy menuntaskan kontroversi sore i tu,
dan meluncurlah Fi at 124S kuni ng i tu memecah ai r di atas
j alanan Kota Bandung yang basah.
Lautan penumpang kereta api telah melewati ti ga sekawan
i tu sej ak sepuluh meni t yang lalu, tapi mereka belum j uga
menemukan objek jemputannya. Noni dan Kugy sudah mu-
lai resah.
“Lu yakin dia pakai kereta jam lima? Kok nggak muncul-
muncul?” tanya Kugy pada Eko yang celingak-celinguk tiada
henti .
“Gua yaki n di a pakai kereta yang i ni . Masalahnya, gua
nggak tahu mukanya.”
“HAH?” teri ak Kugy dan Noni hampi r berbarengan.
“Kok kamu nggak bawa tuli san atau apa, kek?” cecar
Noni .
Eko nyengi r masam. “He-he, keti nggalan, Non.”
¨Ampun, deh! KuIuu bIIung durI LudI kun uku bIsu curI
kerLus sumu puIpen!¨ omeI NonI.
“Tenang ... muka sepupuku tuh uni k, kok ... pokoknya
gi mana, ya ... hmm ....”
“Kapan kali an terakhi r ketemu?” tanya Kugy.
“Waktu SD,” Eko menj awab setengah menggumam.
Kugy dan Noni langsung berpandang-pandangan. Noni
memutuskan untuk lanj ut mengomel, sementara Kugy ber-
gegas ke arah muka stasi un.
DurI juuh, Kugv membuIIkkun budun. ¨KO! SIupu numu
sepupu lu?”
¨Keenun!¨
“KEENAN?”
Bersamaan dengan i tu muncul serombongan orang yang
21
menghalangi pandangan keduanya. Kugy berharap i a tak
salah mendengar. “Keenan ... Keenan ...,” ulangnya sendirian
sambi l terus berj alan.
Tak jauh dari sana, seseorang merasa namanya dipanggil.
Keenan merasa sumbernya adalah perempuan yang sedang
bergerak ke arahnya. Keenan mengamati dengan saksama.
I a yaki n belum pernah berkenalan dengan cewek satu i tu
seumur hi dupnya. Tepatnya, i a belum pernah menemukan
orang dengan penampi lan seaneh i tu.
Ragu, Keenan mendekati , menj aj arkan langkahnya de-
ngan kaki keci l yang melangkah besar-besar dan terburu-
buru. “Permi si ....”
Kugy berhenti , tertegun menatap orang yang tahu-tahu
muncul di sampi ngnya dan ki ni mengadang persi s di ha-
dapan.
Keenan mengamati sekali lagi . Perempuan mungi l se-
tinggi dagunya, kelihatan seperti anak SMP, gaya berbusana
tidak ada juntrungnya, rambut seperti orang baru kesetrum,
kedua mata membelalak seperti mengancam. Mendadak
Keenan menyesal telah memanggi l.
“Ada apa, ya?” tanya Kugy dengan suara di besar-besar-
kan. Berusaha sangar.
Setengah mati Keenan menahan senyum geli nya yang
spontan i ngi n membersi t. Ternyata i a berhadapan dengan
anak kuci ng yang berusaha j adi si nga.
“Nggak pa-pa. Saya salah mengenali orang. Saya pi ki r
tadi nya kamu ... emm ... maaf, ya.” Keenan mulai bi ngung
menjelaskan, dan akhirnya hanya tersenyum lebar lalu ambil
langkah seri bu. Namun, dalam hati i a tahu, i a ti dak akan
pernah melupakan waj ah i tu.
Kugy pun hanya mengangguk keci l, lalu berj alan lagi ke
arah bilik informasi yang menjadi tujuannya. Napasnya baru
lepas setelah i a yaki n orang i tu sudah hi lang j auh di bali k
22
punggungnya. Sej uj urnya, i a ti dak keberatan salah di kenali .
Laki -laki tadi adalah makhluk tertampan yang pernah i a
temui sej ak tokoh Therri us dalam komi k Candy-Candy.
Namun, harus selalu waspada dengan semua makhluk sok
akrab, tegas Kugy dalam hati . Lebi h bai k konsentrasi men-
cari sepupu Eko nan malang, i a pun memoti vasi di ri . Ber-
usaha melupakan apa yang baru i a li hat.
23
Noni dan Eko, yang mulai putus asa menunggu di tempat
sama, akhirnya berjalan ke teras depan stasiun. Suasana mu-
lai lengang, ti nggal segeli nti r orang yang tersi sa.
“Aku coba telepon ke rumah tanteku, deh. Si apa tahu
memang di a pakai kereta yang lai n. Pi nj am HP ya, Non.
Pulsa cekak, ni h.”
Sambi l memberengut, Noni menyerahkan ponsel nya.
Namun, tangannya tergantung di udara, karena tiba-tiba ter-
dengar suara yang sangat i a kenal bergaung lewat speaker
seantero stasi un.
“Panggi lan untuk Keenan penumpang KA Parahyangan
dari Jakarta, sekali lagi , saudara Keenan, sepupu dari Eko
Kurni awan, di tunggu oleh saudara Eko yang ci ri -ci ri nya se-
bagai berikut: rambut cepak berjambul Tintin, tinggi 175 cm,
kuli t cokelat sedang, mata besar bulu mata lenti k, pakai
kaus Li mpbi zki t, di temani oleh dua cewek cakep ....”
Noni dan Eko melongo. Keduanya menoleh ke belakang,
melihat Kugy di bilik informasi sedang menguasai mikrofon.
Tak lama seorang petugas datang tergopoh-gopoh untuk me-
3.
MOTHER ALIEN
24
ngendalikan situasi. Seorang anak kurang ajar rupanya telah
menjajah daerah kekuasaannya saat ia pergi sebentar ke ka-
mar mandi barusan.
Tak hanya Noni dan Eko yang ikut menoleh, seorang pe-
muda yang berdiri tak jauh dari mereka pun ikut melongok.
Dan ki ni orang i tu yaki n bahwa perempuan aneh yang ki ni
tengah di usi r petugas i tu memang orang sama yang me-
manggi l namanya tadi .
Sambi l tertawa ri ang, Kugy menghampi ri Noni dan Eko.
“Ha-ha ... salah sendi ri posnya di ti nggal ....”
Dari arah lain, tampak satu sosok mendekati mereka ber-
ti ga.
Baru saj a Keenan mau mengucap “permi si ” untuk yang
kedua kali nya, matanya tertumbuk pada wajah yang kali i ni
rasanya i a sungguhan kenal.
“Eko?” panggi lnya setengah meragu.
“Keenan?” Eko membalas sama ragunya.
Keduanya tercenung memandangi satu sama lain. Dalam
kori dor memori masi ng-masi ng, i ngatan mereka berkej aran
menuju ke sembilan tahun lalu. Dalam ingatan Keenan, Eko
adalah anak berbadan besar cenderung tambun, peri ang,
bermata canti k seperti anak perempuan dengan bulu mata
lebat dan lenti k. Dalam i ngatan Eko, Keenan adalah anak
bule berambut kecokelatan, kurus dengan tungkai -tungkai
panj ang, bersorot mata teduh dan selalu tersenyum ramah,
tapi j arang bi cara. Dan sekarang Keenan menj ulang ti nggi
dan tegap, rambutnya yang diikat tak lagi cokelat melainkan
hi tam pekat, tampak terj urai sedi ki t melewati pundak. Ha-
nya sorot matanyalah yang tak berubah, yang sej ak keci l
membuat Keenan tampak l ebi h dewasa dari umurnya.
Keenan pun tak akan mengenali sepupunya j i ka saj a ti dak
menemukan kedua mata bundar yang di naungi bulu-bulu
lenti k yang sej ak dulu menj adi ci ri khas Eko, yang mem-
25
buatnya dulu dipanggil ‘‘Si Cowok Cantik’’. Sekarang sepupu-
nya sudah ti dak bulat lagi seperti bola, malah lebi h mi ri p
pelati h Itness.
Jarak sembilan tahun itu seketika melumer ketika kedua-
nya berdekapan sambi l tertawa bersama, menyadari bahwa
sej ak tadi mereka ternyata berdi ri bersi si an.
“Bener j uga kata Tante Lena, lu udah maki n kayak seni -
mun sekurung!¨ seru Eko sumbII menepuk buhu Keenun.
“Kenali n, Nan. I ni cewek gua, Noni . Dan i ni sahabatnya
Noni ....”
Hanya Kugy yang tampak menyi mpan kepani kan saat
berkenalan dengan Keenan. Waj ahnya bersemburat merah
saat i a mengulurkan tangan, “Hai . Kugy ....”
Keenan tersenyum lebar menyambut tangan mungi l de-
ngan muka yang ki ni merunduk malu i tu. Betulan seperti
anak kuci ng. “Hai . Akhi rnya kenalan j uga.”
“Memangnya kali an udah ketemu?” komentar Eko me-
li hat pemandangan ganj i l i tu. Kugy yang tahu-tahu melem-
pem seperti kerupuk disiram air, sementara ekspresi Keenan
seperti orang yang menangkap basah sesuatu.
¨BeIum!¨ Keduunvu menjuwub kompuk. Mereku berduu
berpandangan lalu tertawa.
¨Suduh!¨ ruIuL keduunvu IugI, jugu bersumuun. Dun me-
reka tertawa lagi .
“Gi mana, si h?” Eko dan Noni mulai merasa ada konspi -
rasi di bali k i ni semua.
“Mungki n ki ta sudah ketemu di kehi dupan lampau ....”
ti mpal Kugy cepat.
“Yup. Dan dulu dia galak sekali.” Keenan ikut menambah-
kan, mantap.
Eko melengos melihat keduanya, malas mempermasalah-
kan apakah dua orang i tu seri us atau bercanda. “Dari dulu
26
dia udah hancur gini belum dandanannya?” celetuknya sam-
bi l menunj uk Kugy.
¨Oh, seIuIu!¨ Keenun nvengIr.
Kugy ikut mengekeh, bangga. Percaya dirinya sudah kem-
bali . Seketi ka ada keakraban yang j uga mencai rkan j arak
dan waktu di antara mereka berempat, seolah mereka telah
berkenalan j auh lebi h lama dan bukannya barusan.
Tak lama kemudian, hujan kembali mengguyur Kota Ban-
dung. Sebuah Fi at warna kuni ng terang tampak berusaha
keras keluar dari parkiran stasiun. Noni di belakang kemudi,
sementara keti ga temannya mendorong di belakang. Tubuh
mungi l Kugy di api t oleh kedua lelaki besar di ki ri -kanan,
tapi j elas suara lantangnya yang berfungsi sebagai mandor.
I a berteriak-teriak sekuat tenaga untuk membakar semangat,
sampai akhi rnya Fi at i tu berhasi l kembali melaj u dengan
tenaga mesi n. Bukan manusi a.
Deri ng telepon meraung-meraung di kori dor kos-kosan i tu
sej ak tadi , bersahutan dengan derap kaki yang berlari dan
LerIukun beruIung-uIung: ¨Ngguk usuh dIungkuuuL! ¡Lu buuL
suvuuu!¨
Kugy menyambar kop telepon dan terengah menyapa,
“Halo ....”
“Hai , Sayang.”
“Hai , Jos ....”
“Kamu baru j oggi ng? Tumben raj i n.”
“Bukan. Baru dorong mobi l.”
“Hah?”
“Huj an-huj anan lagi . Gede banget.”
“HAH? Kok bi sa?”
“Bi asa. Fuad lagi penyaki tan, sementara Eko harus j em-
27
put sepupunya ke stasi un, yang dari Belanda i tu lho, terus
mereka butuh aku untuk dorong mobi l kalau-kalau mogok.
Eeeh ... dasar si Fuad, beneran mogok di a.”
¨GIIu vu sI Eko! Ngguk udu orung IuIn, upu? Musu kumu
yang mereka andalkan? Di stasi un kan banyak kuli . Bayar
kek buat dorong mobi l, ngemodal di ki t. Nanti kalau kamu
ßu guru-guru kehujunun, memungnvu sI Eko uLuu sI ¡uud
bi sa ganti i n kamu kuli ah?”
“Jos, nggak pa-pa, kok. Yang dorong beneran kan Eko
sama sepupunya. Aku cuma nyumbang spi ri t sama akti ng
ngedorong doang.”
“Tapi tetap huj an-huj anan, kan?”
“I ya, si i i h ....”
¨Nuh, ILu dIu!¨ Dun bunjIrun kuIImuL berIkuLnvu Lerus
mengali r tanpa j eda.
Kugy menunggu sambi l memanyunkan mulut dan me-
meras uj ung-uj ung kausnya yang basah. I a memang tak
akan pernah bisa menang jika beradu mulut dengan Joshua,
pacarnya sej ak dua tahun terakhi r. Kendati begi tu, Joshua
pun seri ngkali mati kutu j i ka berhadapan dengan Kugy.
Bukt i nya, di a har us mer el akan namanya yang i ndah
‘‘di rusak’’ menj adi “Oj os”, dan hanya Kugy satu-satunya di
duni a yang berani melakukan i tu.
Bagi Kugy, ungkapan opposite attr act adalah yang paling
sempurna untuk menggambarkan dinamikanya dengan Ojos.
Tak ada satu pun temannya yang percaya bahwa keduanya
bisa jadian, begitu juga dengan teman-teman Ojos. Keduanya
bertolak belakang hampi r dalam segala hal. Ojos yang neci s
dan j ago basket adalah puj aan banyak cewek di sekolah ka-
rena kegantengannya, mobi lnya yang keren, dan si kapnya
yang sesuai primbon Pr i nce Char mi ng. Membukakan pintu,
membawakan sei kat bunga, dan makan malam di restoran
mewah bertemankan si nar li li n, adalah standar prosedur
28
Oj os. Di si si yang berbeda, Kugy pun termasuk sosok
populer di sekolah karena akti vi tas dan pergaulannya yang
luas. Tapi Kugy berasal dari kutub yang berbeda. Kugy di -
kenal dengan j ulukan Mother Ali en. I a di anggap duta besar
dari semua makhluk aneh di sekolah. Semuanya tak habi s
pi ki r, bagai mana mungki n Pr i nce Char mi ng dan Mother
Ali en bi sa bersatu?
Ti dak j uga Oj os, atau Kugy, tahu j awabannya. Mungki n
karena Kugy begitu berbeda dengan semua cewek yang per-
nah di pacari nya, Oj os begi tu terkesi ma meli hat bagai mana
Kugy begi tu santai dan berani menj adi di ri nya sendi ri , se-
mentara cewek-cewek lai n si buk mencari muka hanya su-
paya Ojos mau mengajak mereka makan atau nonton barang
sekali saja. Kugy sendiri tak pernah menganggap Ojos serius
mendekati nya karena menyadari betul perbedaan mencolok
di antara mereka berdua. Kugy tak sadar, si kapnya j ustru
membuat Oj os semaki n penasaran.
Kugy tak akan pernah lupa hari mereka jadian. Pada sore
i tu, huj an pun turun sama lebatnya. Dan Oj os keburu me-
neri ma tantangan Kugy untuk bertandang ke rumahnya pa-
kai kendaraan umum. Datanglah Ojos di depan pintu, basah
kuyup karena gengsi bawa payung, rambut rapi nya layu di -
ti mpa ai r huj an, dan sei kat mawar puti hnya berantakan
tergencet punggung orang di Metro Mini. Dan kali itu, Kugy
melihat Ojos dengan pandangan lain, bukan lagi anak manja
yang di puj a-puj a satu sekolah, melai nkan seseorang yang
si ap berkorban demi pi li han hati nya. Dan hati Kugy pun
akhi rnya memi li h.
Hampi r dua tahun mereka pacaran, dan mereka tetap
dua manusi a yang bertolak belakang. Di mata Kugy, Oj os
yang perhatian dan cerewet kadang-kadang berfungsi sebagai
penata hidupnya dan kaki-kaki yang membantunya menjejak
bumi saat terlalu lama berada di duni a khayal. Di mata
29
Oj os, Kugy yang cuek dan seenaknya terkadang menj adi
pengi ngat bagi di ri nya untuk bersi kap santai dan terbuka
bagi segala kej utan dalam hi dup.
Cukup banyak penyesuai an yang mereka pelaj ari selama
dua tahun i ni . Salah satu tri k yang di pelaj ari Kugy kalau
Ojos sedang kambuh cerewetnya adalah menjauhkan sedikit
gagang telepon lalu mencari kesibukan lain, dan kini ia ma-
si h asyi k memeras uj ung-uj ung baj unya.
“Gy? Kugy? Denger nggak?”
Kugy tersadar dan buru-buru mendekatkan gagang tele-
pon. “Kenapa? Sori tadi kresek-kresek ....”
“Tadi aku bi lang, lai n kali kamu nai k taksi aj a ke mana-
mana, jangan percaya deh sama si Fuad. Udah sering kamu
di kerj ai n mobi l satu i tu.”
“Ogah, ah. Naik taksi mahal. Kalau dorong Fuad, udahan-
nya malah suka di j aj ani n mi num sama Eko.”
Oj os menghela napas. Putus asa. “Ya udah. Terserah.
Ganti baj u gi h, nanti masuk angi n. Oh, ya, kapan dong
kamu beli HP baru? Masa kalau mau telepon harus ke kosan
terus. Kan enakan ngobrol di kamar.”
Ponsel Kugy, produk second keluaran empat tahun yang
lalu, sudah tak berfungsi lagi layarnya. Selama i ni i a ter-
paksa menggantungkan nasi b pada feel i ng, dari mul ai
urusan memencet nomor sampai menerima telepon. Alhasil,
Kugy kehabi san banyak pulsa karena salah sambung, dan
tak berhasi l menghi ndari telepon-telepon yang tak di i ngi n-
kan karena ti dak tahu si apa gerangan yang meneleponnya.
“Aku nabung dulu, ya, Jos. Aku lagi bi ki n cerpen, ni h.
Kali i ni aku mau coba ki ri m ke maj alah. Jadi ada peng-
hasi lan. Malu mi nta sama Bokap. Lagi an kalo buat HP ka-
yaknya nggak akan di kasi h.”
“Kamu lagi bi ki n ceri ta apa?”
30
“Aku lagi bikin cerpen cinta gitu. Kalau dimuat, honornya
cukupan beli HP baru.”
“Pasti di muat. Kamu kan hebat. Ceweknya si apa dulu
...”
“Oh, ya, aku j uga lagi bi ki n dongeng tentang sayur-
sayuran. Jadi gi ni , tokoh utamanya Pangeran Lobak dari
keraj aan Umbi , lalu tokoh antagoni snya penyi hi r namanya
Nyi Kunyi t dari negeri Rempah ...”
Oj os punya tri k j i ka Kugy sedang berceloteh tentang
duni a khayal yang tak i a mengerti , yakni menj auhkan
gagang telepon sedi ki t dan mencari kesi bukan lai n. Oj os
mul ai membuka-buka t umpukan maj al ah ot omot i f di
hadapannya, sementara mulutnya sesekali membuka, “Oh,
ya? Hmm. Oooh. Ya, ya. Hmm. Oh, ya? Hmm ....”
“Seru, kan? Hebat nggak ceri taku? Jos? Halo?”
Oj os t ersadar dan buru-buru mendekat kan gagang
LeIepon. ¨Wow! GIIu. Seru bungeL! Yu uduh, kumu mundI,
gi h. Besok aku telepon lagi ya, Sayang. Bye!”
¨Duh!¨ buIus Kugv. Buru suju Kugv henduk bungkIL
berdi ri , tahu-tahu selembar handuk telah di lemparkan ke
pangkuannya.
“Diomelin sama Ojos, ya?” tanya Noni yang sudah berdiri
di depan Kugy.
“Yah, biasalah. Kayak nggak tahu aja. Dia kan jelmaan lu
dalam bentuk laki -laki ,” uj ar Kugy sambi l terkekeh.
“Nanti malam di aj ak makan sama Eko. Gabung, yuk.”
Kugy menelan ludah. “Pakai Fuad lagi ?”
“Fuad tewas. Besok masuk bengkel dulu. Rencananya Eko
dan Keenan mampi r ke si ni pakai angkot, nanti ki ta j alan
kaki aj a cari yang dekat-dekat, atau pesan makanan lewat
telepon.”
¨TerImu kusIh vu, Tuhun! Mukun gruLIs! Ngguk pukuI
dorong!¨ Kugv meIonjuk gIrung dun menghIIung dI buIIk
pi ntu kamar mandi .
31
Di ruangan tamu yang di gunakan bersama i tu, tampak kar-
ton pi pi h lebar bekas pi zza menganga terbuka. Sebuah teve
yang tak di tonton menyala dengan suara sayup. Empat
orang duduk di lantai, berbincang asyik sambil tertawa-tawa,
dengan dus pi zza kosong sebagai pusat bagai kan kawanan
I ndi an yang mengeli li ngi api unggun.
“Kugy ... gi li ran lu kasi h i de.”
“Oke,” Kugy berdehem, “di li ngkaran suci i ni , sebutkan
hal pali ng aneh yang pernah ki ta lakukan. Ayo, yang j uj ur,
vu!¨
“Maaf, sebetulnya gua kurang setuj u,” Noni angkat ta-
ngan, “karena bagi Kugy semua hal nggak ada yang aneh,
termasuk yang pali ng aneh sekali pun untuk ukuran orang
normal.”
Mereka tergelak-gelak, termasuk Kugy. “I tu memang apes-
nya lu aj a, Non. Dan untung di gua,” celetuk Kugy.
Noni berpikir sejenak. “Waktu SD gua pernah ikut drama
sekolah, dan dapat peran j adi .... Pak Raden. Lengkap
dengan kumi s palsu.”
4.
LINGKARAN SUCI
32
Semua terki ki k-ki ki k.
¨Securu hsIk Iu memung kurung cocok, Non.¨
“Tapi karakter pas banget.”
Gi li ran Keenan. “Hmm. Li psync lagu Meggy Z. Lengkap
dengan j oget.”
Pengakuan Keenan disambut sunyi. Semua terlongo, tak-
j ub.
Melihat reaksi itu, Keenan merasa perlu memberikan pen-
jelasan. “Jadi, waktu itu ada malam kesenian di sekolah gua
di Amsterdam, dan karena mereka tahu gua dari I ndonesia,
gua diminta menyumbangkan satu kesenian yang khas I ndo-
nesi a. Yah, cuma i tu yang gua bi sa. Tapi mereka suka ba-
nget. Satu sekolah i kut j oget.”
“Lagu yang mana?”
“Saki t Gi gi .”
Sunyi lagi . Ti ba-ti ba terdengar suara tepuk tangan yang
di prakarsai oleh Eko. Tak lama, yang lai n mengi kuti .
“Teri ma kasi h, teri ma kasi h,” Keenan membungkuk hor-
mat.
Gi li ran Kugy. Anak i tu berpi ki r keras. Betul kata Noni ,
pi ki rnya, berhubung hampi r semua yang i a lakukan cen-
derung aneh, susah sekali memi li h satu.
“Ayo, dong. Lama banget, si h,” desak Eko tak sabar.
“Bentar, bentar. Susah banget, nih,” gumam Kugy. Muka-
nya berkerat-kerut tanda berpi ki r keras.
“Mau di bantu, Gy?” Tahu-tahu Noni memberi usul.
“Please.”
“Kugy suka kirim surat ke Dewa Neptunus,” ungkap Noni
sambi l menahan geli .
Ali s Keenan seketi ka bertemu. “Gi mana caranya?”
“Oh, gampang. Dulu, waktu rumah gua masi h di dekat
pantai , ya gua hanyutkan di laut. Sesudah i tu di hanyutkan
saj a di segala ali ran ai r, karena semua ali ran ai r bermuara
33
ke laut.” Kugy langsung duduk tegak dan menj elaskan de-
ngan semangat.
“Terus, tuj uannya lu ki ri m surat apa?” Eko bertanya.
“Teman-teman, sudah saatnya kali an tahu bahwa gua
i ni sebetulnya ...,” Kugy menahan napas, suaranya bergetar
“... ali en.”
Sunyi yang lebih mencekam, atau tepatnya mencekik, se-
ketika memberangus mereka. Eko sudah mau mati menahan
semburan tawa.
“Gua sebetulnya anak buah Neptunus yang di ki ri m ke
Bumi untuk j adi mata-mata,” papar Kugy lagi , “dan, SE-
CARA KEBETULAN SEKALI , zodi ak gua Aquari us. Aj ai b,
kan?” tambahnya dengan mata berbi nar-bi nar.
“Sama, dong. Gua j uga Aquari us,” sahut Keenan.
“Yo! Br otha’!” Kugy kontan menj abat tangan Keenan.
Eko membelesakkan kepalanya ke dalam bantal. Tertawa
terpi ngkal-pi ngkal. “Kok gua serasa ada di tengah ali en
nati on gi ni , ya?” cetusnya dari dalam benaman bantal.
“Betul, kan? Tantangan i ni memang nggak relevan buat
si Kugy,” kata Noni lagi , “ayo, gi li ran kamu, Ko.”
“Dengan segala hormat, tapi hal paling aneh yang pernah
gua lakukan adalah ... naksi r Kugy.”
Keenan terbahak keras, di i kuti Kugy yang sampai ter-
guli ng di lantai . Sementara mulut Noni menganga tak per-
caya, “Kamu pernah naksi r Kugy? Ka—kapan?”
“Yah, waktu aku kelasnya sebelahan sama dialah, pas ke-
las 2 SMP. Untung kamu udah keburu pindah, Sayang. Jadi
nggak perlu i kut menyaksi kan ai b i ni ,” Eko menepuk bahu
Noni , “tenang, Non. Langsung menyesal, kok. Dulu aku se-
ri ng ke taman bacaannya Kugy. Bi sa naksi r karena seti ap
ketemu Kugy selalu pas di a lagi baca buku. Begi tu ngobrol
... bubur juIun!¨ Eko pun LergeIuk-geIuk.
34
“Terus, kok kali an bi sa ... j adi an?” Keenan perlahan me-
nunj uk Eko dan Noni .
Eko langsung pasang tampang seri us. “Sebetulnya ci nta
sejati gua adalah Noni, Nan. Gua udah naksir dia dari kelas
1 SMP ....”
¨AIuh! GombuI! KenuI uju beIum!¨ semproL NonI. ¨Kumu
kan kenal aku j ustru setelah aku pi ndah. Gara-gara pernah
ketemu aku di rumah Kugy, kan? Yang mungki n waktu i tu
kamu masi h j adi pelanggan seti a taman bacaannya dalam
rungku pe-de-ku-Le! Buru deh, sok ukrub, sok uduh nuksIr
aku dari kelas 1, padahal aku yaki n kamu tahu aku aj a
nggak,” cerocos Noni sengi t.
“Ya’elah, Non. Dendam banget, sih. Namanya juga usaha.
Boki s di ki t kan bi asa. Yang penti ng hasi lnya ...” Eko mem-
buj uk-buj uk.
“Jadi kali an di comblangi n Kugy?” tanya Keenan lagi .
¨Boro-boro!¨ KuII InI Eko dun NonI suLu suuru.
Kugy menggeleng, “Sori . Aku pali ng anti percomblangan
dan segala usaha perj odohan lai nnya,” sahutnya kalem.
“Si Semprul satu i ni j ustru orang yang pali ng meng-
halang-halangi , tahu nggak?” sambar Eko lagi . “Masa di a
pernah bi lang ke Noni kalo gua i tu spesi es berbahaya?”
“Yah, gua kan cuma menganali sa dari stati sti k pengem-
balian buku lu, Ko. Dan judul-judul apa yang lu pinjam. No
har d feeli ng, dong.”
¨Tuh! KebungeLun ngguk dIu? Musu prospek guu dI-
hancurkan gara-gara tr ack r ecor d kartu anggota taman
bacaan?”
“Memangnya Eko pi nj am buku apa aj a?” tanya Keenan
pada Kugy. Betulan penasaran.
“Dua tahun j adi anggota masa cuma pi nj am Godam si
Puter a Peti r ? Dan lebi h dari sepuluh kali di a pi nj am yang
j udulnya Anak Rabaan Setan,” j awab Kugy, “terakhi r-ter-
35
ukhIr muIuh uduh ngguk dIbuIIkIn! GImunu uku ngguk cu-
ri ga?”
Menyusul seketika ledakan tawa Keenan dan Noni. Wajah
Eko merah padam. Kali i ni i a terpaksa bungkam.
Kugy berdehem lagi . “Nah. Berhubung segala sesuatu
yang berhubungan dengan gua adalah keren adanya, j adi
gua nggak aneh. Dan Eko, yang harusnya lebih aneh karena
bi sa suka sama orang aneh bahkan j adi anggota perpus-
takaan orang aneh dengan pilihan buku yang aneh, akhirnya
juga jadi nggak aneh. Kalau begitu, pemenang lingkaran suci
kali i ni adalah ....”
¨Keenun!¨ Mereku berLIgu berseru kompuk.
Malam i tu di tutup dengan Keenan yang memperagakan
li psync lagu Saki t Gi gi -nya Meggy Z.
“Hai . Boleh masuk?”
Kugy yang sedang mengetik di komputer terkejut melihat
Keenan muncul di pi ntu kamarnya yang setengah terbuka.
“Lho. Belum pulang?” tanya Kugy sambi l meli ri k j am
yang sudah menunj ukkan pukul sepuluh lewat.
“Pi ngi nnya, si h. Tapi nggak enak ganggu yang pacaran.
Cuma bi ngung j uga bengong di luar.”
Kugy pun segera membukakan pi ntu. “Si lakan masuk,
Meneer .”
Keenan meli hat seki tar, tampak terkesan.
“Kenapa? Kamarku rapi, ya? Nggak matchi ng sama yang
punya.”
“I ya. Saya nggak sangka,” j awab Keenan j uj ur. Matanya
lalu berlabuh pada sebuah pi gura beri si kan foto keluarga
Kugy.
“Keluarga besarku. The ‘K’ fami ly. Li ma bersaudara.
36
Nama depannya dari ‘K’ semua,” Kugy menj elaskan, “I ni
abangku paling besar, Karel. Kakak perempuanku, Karin. I ni
abangku yang cuma beda setahun sama aku, Kevi n. Dan
adi k bungsuku, Keshi a.”
“Nama kamu yang pali ng uni k, ya.”
“Tepatnya, yang pali ng aneh,” Kugy tergelak, “kayaknya
waktu itu orangtuaku habis bahan. Masih untung nggak jadi
Karbol.”
“Tapi kamu yang pali ng canti k.”
Mendadak kerongkongan Kugy seperti tercekat. Tangan-
nya serta-merta menunj uk ke arah rak buku tempat koleksi
komi k dan buku dongengnya berbari s rapi , demi mengali h-
kan pembi caraan. “I ni sebagi an keci l koleksi ku. Yang di ru-
mah j auh lebi h banyak.”
“Kata Eko, kamu suka nuli s dongeng, ya?”
“I ya. Hobi sej ak keci l.”
“Tuli san kamu udah banyak?”
“Kalau kuanti tas si h banyak, tapi pembaca nggak ada.
Dan bukannya tulisan baru bermakna kalau ada yang baca?”
Kugy tertawa keci l, “Sej auh i ni si h cuma di ni kmati sendi ri
aj a.”
“Kenapa gi tu?”
“Si apa si h yang mau baca dongeng?” Kugy terkekeh lagi .
“Mungkin aku harus jadi guru TK dulu, supaya punya pem-
baca. Mi ni mal dongengku bi sa di bacakan di kelas.”
“Banyak penuli s ceri ta dongeng yang bi sa terkenal, dan
nggak harus j adi guru TK dulu untuk punya pembaca.”
Senyum simpul mengembang di wajah Kugy, seolah-olah
hendak menj awab pertanyaan klasi k yang sudah i a hafal
mati jawabannya. “Keenan, umurku 18 tahun, kuliah jurusan
Sastra, kepingin jadi penulis serius dan dihargai sebagai pe-
nuli s seri us. Orang-orang di li ngkunganku kepi ngi n j adi
j uara menuli s cerpen di maj alah dewasa, atau j uara lomba
37
novel Dewan Kesenian Jakarta, dan itu menjadi pembuktian
yang di anggap sah. Sementara i si kepalaku cuma Pangeran
Lobak, Peri Seledri , Penyi hi r Nyi Kunyi t, dan banyak lagi
tokoh-tokoh sej eni s. Di umurku, harusnya aku nuli s ki sah
ci nta, ki sah remaj a, ki sah dewasa ....”
“Banyak ceri ta dongeng yang i si nya ki sah ci nta.”
“I ntinya adalah: semua itu nggak matching! Antara umur-
ku, prohIku, cILu-cILuku, pembukLIun vung hurus uku ruIh,
dan i si kepala i ni .”
“Saya masi h nggak ngerti .” Keenan meli pat tangannya di
dada.
“Waktu aku keci l, punya ci ta-ci ta i ngi n j adi penuli s do-
ngeng masi h terdengar lucu. Begi tu sudah besar begi ni , pe-
nulis dongeng terdengar konyol dan nggak realistis. Setidak-
nya, aku harus j adi penuli s seri us dulu. Baru nanti setelah
mapan, lalu orang-orang mulai percaya, aku bi sa nuli s do-
ngeng sesuka-sukaku.”
“Jadi ... kamu i ngi n menj adi sesuatu yang bukan di ri
kamu dulu, untuk akhi rnya menj adi di ri kamu yang asli ,
begi tu?”
“Yah, kal au memang harus begi tu j al annya, kenapa
nggak?”
“Bukannya itu yang nggak matching?” tanya Keenan lagi,
taj am.
“Asal kamu tahu, di negara i ni , cuma segeli nti r penuli s
yang bi sa cari makan dari nuli s tok. Kebanyakan dari me-
reka punya pekerj aan lai n, j adi wartawan kek, dosen kek,
copy wr iter di biro iklan kek. Apalagi kalau mau jadi penulis
dongeng! SekuIIpun uku serIus mencInLuI dongeng, LupI pe-
nuli s dongeng bukan pekerj aan ‘seri us’. Nggak bi sa ma-
kan.”
“Tadi kamu makan pizza. Nggak ada masalah, kan? Arti-
nya kamu bi sa makan.”
38
“Aku harus bi sa mandi ri , punya penghasi lan yang j elas,
baru setelah i tu ... TER-SE-RAH,” nada suara Kugy mulai
tinggi, “aku nggak tahu kamu selama ini ada di planet mana,
tapi di planet bernama Reali tas i ni , aturan mai nnya ya
begi tu.”
Keenan terdi am. Di kepalanya meli ntas gulungan-gu-
lungan kanvas bertorehkan luki san yang i a ti nggalkan di
Amsterdam. “Betul. Memang begi tu aturan mai nnya,” gu-
mamnya.
Keduanya membisu, cukup lama hingga suasana di kamar
i tu terasa menj engahkan.
“Saya tunggu di luar, ya. Siapa tahu Eko bentar lagi mau
pulang.” Keenan pun berj alan ke arah pi ntu.
“Sebentar,” sergah Kugy, “aku mau kasi h pi nj am kamu
sesuatu.” I a lalu membuka lemari keci l di bagi an bawah
mej a belaj arnya dan mengeluarkan bundel tebal berukuran
A-4 yang di j i li d ri ng logam.
Keenan meneri ma bundel yang di sodorkan padanya. Di
sampul depannya tertuli s: “Kumpulan Dongeng Dari Peti
Aj ai b—Oleh: Kugy Karmachameleon”.
“Aku punya peti kuno, dikasih sama Karel, abangku. Ben-
tuknya kayak peti harta karun yang ada di komi k-komi k.
Karel bi lang, peti i tu di ambi l dari perahu karam, dan i si nya
gulungan-gulungan naskah sej arah yang j adi hancur karena
terendam air laut. Aku senang sekali dapat peti itu, dan aku
bertekad untuk mengisinya ulang dengan naskah-naskah do-
ngeng buatanku, supaya peti i tu kembali beri si kan sesuatu.
Aku menuli s dengan super semangat. Bertahun-tahun. Dan
jadilah bundel itu. Silakan kamu baca-baca. Kamu bisa kem-
bali kan kapan pun kamu mau.”
Keenan menatap Kugy, kehi langan kata-kata. Di usapnya
sampul depan bundel i tu dengan hati -hati .
“Barang itu belum pernah berpindah tangan sebelumnya.
39
Aku juga nggak tahu kenapa bisa tergerak meminjamkannya
sama orang yang baru aku kenal tadi sore,” ucap Kugy
pelan.
“Makasi h. Dan maaf kalau tadi saya ....”
“Baru beberapa tahun yang lalu aku tahu kalau peti i tu
di beli Karel dan ayahku di toko barang anti k, di Jalan
Surabaya, di Jakarta. Peti itu bukan peti harta karun. Bukan
j uga dari kapal karam. Sama seperti Neptunus yang ti dak
ada, dan surat-suratku yang mungki n cuma j adi mai nan
i kan, atau j adi sampah yang bi ki n sungai banj i r,” Kugy me-
natap Keenan taj am, “dan i tulah kenyataan di planet ber-
nama Reali tas i ni .”
Keenan kembali kehi langan kata-kata. Keheni ngan kem-
bali membungkus ruangan i tu.
Namun, ada satu hal yang mengusik Keenan, dan ia me-
mutuskan untuk bertanya. “Nama lengkap kamu Kugy
Karmachameleon?”
“Bukan. Kugy Ali sa Nugroho.”
“Jauh, ya?”
Malam itu, Keenan terjaga hingga larut. I a tenggelam dalam
duni a khayal Kugy yang membawanya j auh ke Negeri Anti -
gravi ti a yang menggantung di selapi s langi t sebelum bulan,
ke bawah tanah tempatnya Joni Gorong si undur-undur
penggali , ke duni a sayur-mayur tempat Worteli na menj adi
penari balet yang ternama.
Keenan menyadari betapa berharganya bundel yang ada
di tangannya i tu. Seti ap helai bernapaskan semangat dan
rasa percaya yang begi tu kuat. Sebagi an besar naskah i tu
di tuli s Kugy menggunakan komputer, tapi ada banyak j uga
yang ia tulis dengan tangan. Bahkan beberapa kali Kugy ke-
40
dapatan mencoba menggambar, membuat i lustrasi atas
tokoh-tokohnya sendi ri .
Ada rasa haru yang spontan membersi t keti ka Keenan
meli hat usaha Kugy i tu. Anak i ni adalah penuli s yang luar
biasa, tapi dia sama sekali tidak bisa menggambar, komentar-
nya dalam hati . Keenan lalu merai h buku sketsanya yang
masi h baru, merai h peralatannya yang masi h tersi mpan di
dalam tas, dan i a mulai menggambar dengan tekun. Sepan-
j ang malam, Keenan membuat puluhan sketsa sekali gus.
Saat ayam berkokok dari kejauhan, Keenan baru berhenti.
Tersadar bahwa baru kali i tulah i a menggambar begi tu ba-
nyak untuk seseorang yang baru di kenalnya tadi sore.
41
Bandung, Sept ember 1999 ...
Dari kej auhan Kugy seketi ka bi sa mengenali sosok i tu. Tu-
buh yang menj ulang ti nggi dengan rambut melewati bahu
yang di i kat satu. Di punggungnya tergandul ransel merah
marun dengan emblem huruf “K” warna hi tam yang di j ahi t
di tengah-tengah. Dia satu-satunya yang berambut gondrong
di tengah anak-anak angkatan baru yang di potong cepak
gara-gara i kut opspek. Di a memi li h ti dak i kut opspek dari -
pada kehi langan kunci rnya i tu—satu-satunya peni nggalan
otenti k dari Amsterdam yang terbawa sampai ke Bandung,
katanya begi tu.
“Hey, Kay ....”
“Hey ... another Kay.” Keenan tertawa lebar sambi l
seki las mengacak rambut Kugy. “Baru mandi , ya?”
Kugy langsung manyun. “Segi tu keli hatannyakah?”
“Oh, j elas sekali . Rambut kamu masi h basah, dan kamu
keli hatan agak cemerlang dari bi asa.”
Kugy manyun lagi . “Tumben aku ketemu kamu di kam-
5.
SEBATANG PISANG SUSU
42
pus. Kalau bukan ki ta berempat punya ri tual nonton mi d-
ni ght seti ap Sabtu, kayaknya aku nggak akan ketemu kamu
di mana-mana lagi . Si buk, ya?”
Keenan menebarkan pandangannya ke sekitar, mengang-
kat bahu seki las. “Saya di kampus hanya seperlunya aj a.
Nggak terlalu suka nongkrong-nongkrong.”
Kugy ingin berceletuk: pantas saja. Hampir setiap hari ia
melewati Fakultas Ekonomi , tempat Keenan berkuli ah. Dan
hampi r seti ap hari i a melongok untuk meli hat keberadaan
ransel merah marun bertuliskan huruf “K” itu. Kugy bahkan
sempat curiga jangan-jangan Keenan sebetulnya kuliah lewat
j alur Uni versi tas Terbuka.
“Kalau makan si ang di kampus—masi h bermi nat?” tanya
Kugy.
“Tergantung si apa yang ngaj ak.”
Kugy menggelengkan kepala, “Jawaban yang salah. Harus-
nya: tergantung si apa yang bayar.”
“Jadi , saya bakal di trakti r, ni h?”
“Ada satu tempat makan yang wajib dijajal. Jangan ngaku
anak kampus deh kalau belum pernah ke sana ....”
“Enak banget, ya?”
“Bukan. Murah banget.”
“Oh. Pantesan nraktir ...,” gumam Keenan sambil menge-
keh pelan.
Warung nasi dengan di ndi ng bambu i tu tampak padat.
Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan pras-
manan. Keenan berhenti sejenak untuk membaca plang yang
tergantung di pi ntu: “Warteg Pemadam Kelaparan”.
Mereka lalu duduk di poj ok dekat j endela, bersebelahan
dengan pi sang susu yang di gantung bertumpuk.
43
Keenan sungguhan terpana meli hat nasi yang meng-
gunung sampai nyari s tumpah dari pi nggi ran pi ri ng Kugy.
“Keci l-keci l makannya banyak j uga, ya,” komentarnya.
“Menurut survei : selai n nari k becak dan gali kubur, pe-
kerjaan mengkhayal dan menulis ternyata juga butuh asupan
kalori ti nggi ,” sahut Kugy, lalu mencabut dua pi sang susu
yang bergantung di sebelah kepalanya.
Keenan menatap adegan itu dengan decak kagum. “Kamu
memang makhluk penuh kej utan.”
¨Oh! Aku musIh punvu kejuLun IuIn. SebenLur ...,¨ Kugv
merogoh kunLong depun runseInvu, ¨ ... Lu-duuu!¨
“Handphone?” Keenan memi ci ngkan mata.
¨Buru!¨ Kugv LerLuwu Iebur, ¨HusII kerInguL sendIrI! Cer-
penku dimuat. Honornya cukup buat beli HP baru dan trak-
ti r kamu makan si ang sekarang.”
“Wah, kejutan baru lagi. Selamat, ya,” Keenan menyalami
Kugy, “mau baca cerpennya, dong.”
Kugy tampak gelagapan. Mendadak ia merasa gugup. Se-
sungguhnya, salah satu alasan ia sering lewat-lewat fakultas
Keenan adalah untuk memberi kan maj alah yang memuat
cerpennya, yang sudah ia siapkan di dalam ranselnya dan ia
bawa seti ap hari . Kugy lalu membongkar tasnya dan me-
nyerahkan maj alah yang sudah agak ri ngsek i tu. “I ni , aku
sudah si apkan satu untuk kamu.”
Keenan meneri manya dengan mata berbi nar. “Kugy
Karmachameleon ... j adi penuli s betulan. Hebat.”
Kugy tergelak, “Aku memang sudah mengusulkan ke
mamaku untuk ganti nama jadi Karma. Tapi belum ada tang-
gapan.”
“Saya boleh kasi h tahu kamu sesuatu? Menurut saya,
kamu penuli s yang sangat bagus.”
Muka Kugy memerah. “Baca aj a belum, kok bi sa bi lang
bagus ....”
44
“Saya bukan ngomongi n cerpen kamu, tapi dongeng-
dongeng kamu.”
Mendadak Kugy merasa mati gaya. Mati langkah. I a ter-
sadar, satu hal langka telah terjadi: dirinya salah tingkah.
Benar-benar tidak tahu harus merespons apa. Akhirnya Kugy
mencomot satu lagi pisang susu. Mengunyahnya lahap.
“Kamu terakhi r makan kapan, si h? Lapar berat, ya?”
“Aku suka luki san-luki san kamu.”
“Memangnya kamu udah li hat?”
“Belum. Justru i tu. Belum li hat aj a suka, apalagi kalau
udah li hat,” Kugy terkekeh sendi ri . I a merasa waj ahnya se-
maki n panas, dan omongannya semaki n ngaco.
“Kalau gitu, habis makan siang, kita ke tempat saya, yuk.
Saya mau kasi h li hat luki san-luki san saya.”
Kugy mengangguk. Ada senyum spontan yang tak bisa ia
tahan. Mendadak ia mensyukuri celetukan asalnya tadi. Men-
dadak i a i ngi n cepat-cepat menuntaskan makan si ang i ni .
Tempat kos Keenan terletak agak jauh dari kampus mereka.
Sebuah rumah peni nggalan zaman Belanda yang di keli li ngi
pepohonan ri ndang. Berbeda dengan tempat kos Kugy dan
Noni yang padat, tempat kos Keenan hanya di i si oleh be-
berapa orang saja. Kamar-kamarnya berukuran luas dengan
langi t-langi t yang ti nggi .
Napas Kugy seketi ka tertahan keti ka pi ntu besar i tu ter-
buka dan Keenan menyalakan sakelar lampu. Rel-rel kawat
bersaling silang di bawah plafon dengan lampu-lampu halo-
gen keci l yang bergantungan menerangi beberapa spot tem-
pat luki san-luki san Keenan yang terpaku di di ndi ng atau
didirikan begitu saja di atas lantai. Kamar dengan ubin abu-
abu itu tampak lengang karena tidak banyak perabot. Hanya
45
satu tempat ti dur, lemari pakai an keci l yang di atasnya di -
letakkan sebuah mini compo, dan meja belajar besar tempat
alat-alat gambar Keenan berj aj ar rapi .
“Nan ..., harusnya kamu bukan kuli ah Manaj emen, tapi
Seni Rupa ...,” gumam Kugy sambi l pelan-pelan melangkah
masuk, “dan ini lebih pantas disebut galeri ketimbang kamar
kos ....”
Keenan membawa Kugy berkeliling melihat lukisan-lukisan-
nya, seperti orang pameran. “I ni j udulnya: Sunset fr om the
Rooftop ... i ni j udulnya: Hear t of Bli ss ... yang i ni : The Shady
Mor ni ng ... yang i ni : Si lent Confessi on ... dan i ni ....”
“Yang i ni yang pali ng aneh,” potong Kugy, menunj uk lu-
kisan yang hanya seperti gradasi warna dan garis-garis halus
seperti lari k-lari k kapas. “Yang lai n ada gambar orangnya
semua. Cuma i ni yang nggak ada.”
“Tebak j udulnya apa.”
“Gi la, i tu si h mi ssi on i mpossi ble, namanya. Mana mung-
ki n ketebak.”
“Luki san yang satu i ni j angan di pi ki r, tapi harus di rasa.
Apa perasaan yang muncul keti ka kamu li hat luki san i ni ?
I tulah j udulnya.”
Kugy menatap luki san i tu lekat-lekat. Lalu i a memej am-
kan mata. Lama. Lantas terdengar napasnya mengembus,
dan setengah berbi si k i a mengucap, “Bebas.”
Gi li ran Keenan yang terpaku. Perlahan, i a membali k lu-
ki san yang berdi ri di lantai i tu, dan menunj uk j udul yang
tertera di bali knya.
Kugy melongo. “Fr eedom?”
“Sumpah ... saya sama sekali nggak sangka kamu bi sa
menebak setepat i tu,” Keenan garuk-garuk kepala, “i ni ke-
betulan yang aneh.”
Kugy menggeleng, “Aku nggak percaya kebetulan. I ni
pasti karena kita dulunya sama-sama utusan Neptunus. Wak-
46
tu i tu, ki ta di bekali telepati . Cuma, sebelum di ki ri m ke
Bumi , ki ta di bi ki n amnesi a. Supaya seru,” katanya mantap.
Keenan manggut-manggut. “Bi sa j adi . Boleh j uga teori -
nya.”
“Ehm, tapi untuk pertanyaan yang satu i ni aku nggak
mau menggunakan kemampuan telepati,” Kugy nyengir, “se-
betulnya i ni gambar apa, ya?”
“Luki san i ni menggambarkan sudut pandang seekor bu-
rung di angkasa saat terbang. Di a ti dak meli hat batas apa-
apa, ti dak meli hat peri ntang apa-apa, ti dak teri kat oleh
Bumi . Bebas. Total.”
Pandangan Kugy yang tadi melekat pada lukisan perlahan
berali h pada Keenan, i a seperti tergerak untuk menanyakan
sesuatu. “Boleh tahu kapan kamu meluki snya?”
“Waktu tahu saya lolos UMPTN.”
“Kamu ... sebetulnya ... terpaksa kuliah di sini, ya?” ucap
Kugy hati -hati . Ti dak yaki n apakah pertanyaan i tu pantas
di aj ukan, tapi mulutnya seperti tak bi sa di tahan.
Keenan menatap Kugy bali k, tebersi t senyum geti r di
wajahnya. “Nggak matching,” ujarnya pendek, “antara minat,
cita-cita, dan keinginan orangtua. Harus membuktikan bah-
wa saya bisa mandiri lewat melukis, sementara kesempatan-
nya tidak pernah dikasih.” I a lalu mengangkat bahu, “Mung-
ki n harus dengan cara yang kamu bi lang dulu. Berputar
menj adi sesuatu yang bukan ki ta, demi bi sa menj adi di ri
ki ta lagi .”
I ngatan Kugy kembali ke momen di kamar kosnya dulu.
Barulah ia mengerti, sesungguhnya waktu itu Keenan mem-
bicarakan dirinya sendiri. Dan kesunyian yang sama kembali
hadi r di antara mereka.
“Dan ... karena kamu sudah berhasi l menebak j udul lu-
kisan ini, saya mau kasih hadiah.” Air muka Keenan kembali
menghangat.
47
“Nggak percaya kalau ki ta bi sa telepati , ya? Aku tuh bu-
kan nebak, tauk ... tapi ...” celotehan Kugy tahu-tahu
berhenti . Di hadapannya terbentang lembar pertama buku
sketsa yang dibuka Keenan. Perlahan, Kugy meraih buku itu.
Membuka lembar demi lembar. “I ni ...?”
Keenan menunj uk satu per satu sketsa tersebut. “Pa-
ngeran Lobak ... Peri Seledri ... Worteli na ... Nyi Kunyi t ...
Joni Gorong ... Hopa-Hopi ... dan ini lembah tempat mereka
ti nggal ...” dengan asyi k Keenan menj elaskan. Setetes ai r
ti ba-ti ba j atuh di lembar sketsanya. Keenan kontan terdi am
dan mendongak, mendapatkan Kugy yang sudah berlinangan
ai r mata.
“Aduh. Maaf. Gambarnya kena, ya? Sori ...,” Kugy si buk
menyeka ai r mata di pi pi nya.
“Nggak pa-pa, nggak masalah, kok. Justru ... kamu nggak
pa-pa?” tanya Keenan khawati r.
Kugy teri sak, antara tertawa dan menangi s. “Hi -hi . Aku
cengeng, ya? Tapi ... seumur hi dup belum pernah ada yang
membuatkan i lustrasi buat dongengku ... bagus banget lagi
... aku ... nggak tahu harus ngomong apa ....”
Keenan tersenyum. “Ceri ta kamu yang bagus. I nspi rati f.
Makanya saya tergerak untuk bi ki n sketsa.”
“I ni ... boleh aku pinjam dulu?” Kugy mendekap buku itu
di dadanya dengan penuh harap.
“Buku i tu buat kamu, Gy. Ambi l aj a.”
Tak ada yang bi sa menahan Kugy untuk memel uk
Keenan, ti dak j uga di ri nya sendi ri . Pelukan spontan i tu ha-
nya berlangsung dua deti k karena Kugy langsung beri ngsut
mundur dengan muka merah padam. “Makasih ...,” bisiknya
nyari s tak terdengar.
Keduanya di am bergemi ng, antara ri kuh dan tak tahu
harus berbuat apa. Sampai akhi rnya Kugy memecah ke-
kakuan i tu dengan merogoh saku celananya.
48
“Untuk sementara ... aku cuma bi sa kasi h kamu i ni .”
Keenan menerima benda yang disodorkan Kugy. Sebatang
pi sang susu yang di bawa dari Pemadam Kelaparan. “Oke.
Saya anggap ki ta i mpas,” ucapnya sambi l tersenyum keci l.
49
Fi at kuni ng i tu berdesakan dengan mobi l-mobi l lai n yang
menyusuri Jalan Dago pada malam Mi nggu. Kugy dan
Keenan di bangku belakang. Eko mengemudi, di sampingnya
ada Noni yang tengah bertelepon dengan seseorang.
Noni mematikan ponselnya dengan lega. “Guys, Mas I tok
berhasi l dapat empat ti ket, bari san agak depan, si h. Tapi
lumayan dari pada lu manyun.”
“Sebagai geng mi dni ght yang profesi onal, ki ta memang
hurus punvu koneksI kuvuk Mus ¡Lok. HIdup Mus ¡Lok!¨ seru
Eko.
¨HIduuup!¨ Terdengur Kugv menvuhuL puLrIoLIk durI beIu-
kang.
Sepuluh meni t kemudi an, mobi l i tu memasuki parki ran
Bandung I ndah Plaza. Dan keempatnya pun langsung ber-
gegas ke lantai pali ng atas.
Seorang pri a kurus berkacamata menyambut mereka,
Mas I tok, penj aga toko kaset langganan Eko yang suka me-
nyambi menj adi pengantre ti ket bi oskop buat mereka. “I ni
buat Mas Eko sama Mbak Noni,” ia menyerahkan dua tiket,
“nah, i ni buat Mas Keenan dan pacarnya ....”
6.
HUNUSAN PEDANG ES
50
Keempatnya sali ng berpandangan, lalu tertawa bersama.
Mas I tok meneri ma honornya lalu berlalu dari sana, tanpa
tahu apa yang membuat keempat anak i tu tertawa.
“Gawat,” komentar Eko geli . “Gara-gara keseri ngan non-
ton mi dni ght bareng, ki ta berempat nanti bi sa j adi double
date beneran.”
¨AmIIIn!¨ Terdengur Keenun menvuhuL durI beIukung.
Empat-empatnya tertawa lagi . Tapi Kugy sedi ki t merasa
terusik dengan celetukan itu. Diam-diam, ia melirik Keenan
yang berj alan di sampi ngnya. Mencari sesuatu, mencari se-
macam petunj uk entah apa. I a sendi ri tak mengerti . Tahu-
tahu Keenan meliriknya balik. Cepat-cepat Kugy membuang
muka ke sembarang arah, menemukan mesi n popcor n se-
bagai obj ek perhati an baru yang lebi h aman.
“Mau popcor n, Gy?” Keenan bertanya.
Kugy merasa tak punya pi li han selai n mengangguk.
“Ko, lu duluan aja. Gua beli popcor n dulu bareng Kugy,”
kata Keenan pada Eko yang berj alan di depannya.
¨SIp!¨ juwub Eko, Iu pun meIenggung menuju ruungun
teater bersama Noni .
“Yuk,” Keenan beruj ar ri ngan pada Kugy, lalu menggan-
deng tangannya.
Kugy tak yaki n apakah Keenan menyadari perubahan
yang terjadi. Dalam hati, sungguh Kugy berharap langkahnya
yang berubah tersendat dan otot tangannya yang berubah
tegang ti dak terdeteksi .
Jakar t a, Okt ober 1999 ...
Sudah cukup lama perempuan itu berdiri dekat pesawat tele-
pon di ruang tamunya sendiri. Tangannya memegang sebuah
buku telepon yang terbuka, j emari nya bergerak-gerak tanda
51
geli sah. Kalau bukan demi sopan santun, sebetulnya aku
ti dak har us melakukan i ni , pi ki rnya. Puluhan tahun telah
berlalu, tapi tetap i a merasa hal i ni ti dak mudah. Sambi l
menelan ludah, akhi rnya i a membulatkan tekad dan me-
mencet tombol-tombol i tu: 0-3-6-1 ....
“Halo, selamat sore.” Terdengar suara laki-laki remaja di
uj ung sana.
“Selamat sore. Bi sa bi cara dengan Pak Wayan? I ni dari
I bu Lena, Jakarta.”
Tak lama terdengar sayup suara i tu memanggi l, “Po-
yaaan ...
9
ada telepon dari Jakartaaa ....”
Telepon itu kembali diangkat dan kali ini terdengar suara
lelaki menyapa.
“Wayan?” panggi lnya hati -hati .
Sej enak sunyi . “Lena?” Suara lelaki i tu terdengar tak ya-
ki n.
“I ya, i ni Lena. Apa kabar?”
“Kabar bai k. Tumben sekali kamu telepon.” Seti ap kata
di lontarkan dengan kaku.
“Aku mau bi cara soal Keenan. Di li buran semesternya
nanti , di a kepi ngi n sekali pergi ke tempatmu di Ubud ....”
“ Keenan sudah l ama bi l ang. Sej ak di a masi h di
Amsterdam, di a j uga pernah meneleponku soal i tu,” potong
Wayan.
“Tapi aku ti dak enak kalau ti dak langsung mi nta i zi n
sama kamu.”
“Keenan sudah kuanggap seperti anakku sendi ri . I ni
rumahnya j uga. Kapan pun di a i ngi n kemari , sudah pasti
kuteri ma.” Nada i tu berubah tegas.
“Mudah-mudahan di a ti dak akan merepotkan ....”
“Keenan tidak pernah merepotkan. Seluruh keluargaku di
9
Poyan: Panggi lan si ngkat untuk paman yang bernama Wayan.
52
sini malah senang kalau dia datang.” Lagi-lagi nada itu tegas
memotong, seolah Wayan i ngi n percakapan i tu cepat usai .
Lena menghela napas. “Teri ma kasi h kalau begi tu.”
“Cuma satu yang i ngi n aku pasti kan. Ayahnya memberi
i zi n Keenan kemari , kan?”
“Sudah. Adri sudah kasi h i zi n ...”
“Oke. Ti dak ada masalah lagi kalau begi tu.”
Sunyi lagi. Lena pun tahu sudah saatnya pembicaraan itu
di sudahi .
Bandung, Okt ober 1999 ...
Keenan menai ki anak tangga eskalator sekali gus dua-dua,
menyusuli orang-orang yang berdiri diam di kanan-kiri, ber-
usaha ti ba di lantai pali ng atas secepat-cepatnya. Saat i a
sampai, sudah ada Eko dan Noni berdiri sambil mengacung-
kan ti ga lembar ti ket bi oskop.
“My man. Ri ght on ti me. Pintu bioskopnya udah dibuka,
LupI hImnvu beIum muIuI, kok,¨ sumbuL Eko.
“Tenang. Mi numan buat lu udah gua beli i n,” kata Noni ,
menunj ukkan sekantong plasti k beri si mi numan kotak dan
makanan ri ngan.
“Sori banget telat, ya. Tadi gua keti duran,” uj ar Keenan
dengan napas yang masi h terengah. Ti ba-ti ba i a tersadar
sesuatu. Ada yang kurang di si tu. “Si Keci l mana?”
“Kugy kedatangan tamu agung dari Jakarta. Bi asaaa ...,”
seloroh Noni .
Keni ng Keenan berkerut. “Tamu agung? Maksudnya?”
“Cowoknya di a, si Oj os, lagi ngapeli n di a ke Bandung.
Jadi nggak mungki nlah gabung sama geng mi dni ght ki ta
i ni ,” ti mpal Eko.
“Kalau Oj os si h pasti candle li ght di nner gi tu, deh ....”
53
“I ya. Satu-satunya kesempatan Kugy nai k kasta dari Pe-
madam Kelaparan,” Eko terkekeh.
Keenan terdiam sejenak. “Gua baru tahu Kugy punya pa-
car. Di Jakarta?”
Noni mengangguk, “Pacarnya dari SMA.”
“Galak,” Eko menambahkan.
“Nggak, ah ...,” sanggah Noni .
“Ke semua teman ceweknya nggak. Ke semua teman
cowoknya? Wui i i h ... galakan Oj os dari pada menwa kam-
pus.”
“Pengalaman pri badi , ya? I tu karena Oj os bi sa men-
deteksi , cowok-cowok mana yang di am-di am naksi r Kugy,
tauk,” ledek Noni sambi l menoyor bahu Eko.
¨UngkIL Leruuuus!¨ Eko LergeIuk. ¨BerurLI Ojos bukun
cuma galak kayak menwa, tapi j uga sensi kayak herdernya
poli si ....”
Percakapan i tu berlanj ut terus hi ngga keduanya me-
masuki ruangan bi oskop, dan Keenan hanya mengi kuti dari
belakang dengan mulut terkunci .
¨KEENAN!¨
Suara yang ia kenal. Nada ceria yang ia hafal. Derap lang-
kah setengah berlari yang khas. Namun, entah kenapa, kali
i ni Keenan agak enggan menoleh ke belakang. Di tari knya
napas dalam-dalam sebelum ia akhirnya membalikkan pung-
gung.
“Hai , Gy.”
¨HuI, huI. GImunu muIum MInggu kemurIn? Seru vu, hIm-
nya? Noni sampai kemi mpi -mi mpi gi tu. Sori ya, aku nggak
gabung. Udah makan malam belum? Pemadam Kelaparan
yuk ...,” dengan semangat ti nggi Kugy menyerocos.
54
“Saya masi h kenyang, dan harus cepat pulang. Banyak
tugas. Nggak pa-pa, ya?” Keenan meni mpali ri ngkas.
“No pr oblemo,” Kugy tersenyum lebar, “sebetulnya si h
aku kepi ngi n ngobrol, tapi ya udah, nanti -nanti aj a.”
“Tentang?”
“Mmm ...,” Kugy berpi ki r sej enak, “udah hampi r dua
mi nggu aku kasi h maj alah yang ada cerpenku i tu, tapi ...
he-he ... kok, kamu belum komentar,” Kugy mesem-mesem,
“nggak maksa, si h ... cuma penasaran aj a.”
Keenan menarik napas panjang untuk kedua kali. “Boleh
j uj ur?” tanyanya.
¨Hurus, dong!¨ seru Kugv munLup.
“Saya nggak suka.”
Letupan dalam hati Kugy mendadak seperti di banj ur ai r
dingin. Padam. Air mukanya seketika berubah, meski ia ber-
usaha tampi l tenang.
“Buat orang yang nggak tahu kamu, cerpen i tu mungki n
bagus. Tapi saya merasa dongeng-dongeng kamu j auh lebi h
otenti k, lebi h ori si nal, dan lebi h mencermi nkan kamu yang
sebenarnya. Dalam cerpen i tu, saya ti dak menemukan di ri
kamu. Yang saya temukan adalah penuli s yang pi ntar me-
rangkai kata-kata, tapi nggak ada nyawa,” sambung Keenan
lagi .
Seluruh persendian tubuh Kugy serasa dikunci. Kata-kata
Keenan seolah menyulapnya menj adi patung. I a cuma bi sa
merasakan air ludahnya tertelan seperti bola bakso yang tak
sempat terkunyah.
“Maaf ya, Gy. Kalau memang kamu kepi ngi n saya j uj ur,
ya i tulah opi ni saya. Nggak kurang, nggak lebi h.”
Kugy mengangguk keci l. “Makasi h udah j uj ur,” ucapnya
pelan.
Tak lama kemudi an, Keenan pami t pulang, dan Kugy te-
tap berdi ri di tempatnya. Merenungi kata demi kata yang
55
menusuknya bagai hunusan pedang es. Menyaki tkan sekali -
gus membekukan. Membuatnya bungkam tanpa bi sa me-
lawan.
Malam i tu Kugy terj aga lama di tempat ti dur. Telentang
menghadap langit-langit kamar kosnya dengan pikiran yang
terus berputar dan hati yang teraduk-aduk. I a tak mengerti
mengapa komentar Keenan meni nggalkan dampak yang
begi tu dalam. I a j uga tak mengerti mengapa i a begi tu me-
nunggu-nunggu pendapat Keenan, seolah pendapat manusia
satu itulah yang terpenting. I ronisnya, semua orang terdekat-
nya, termasuk Oj os, menyukai dan memuj i -muj i cerpennya.
Hanya Keenan yang begi tu tegas dan tanpa tedeng ali ng-
ali ng menyatakan ti dak suka.
Sehari an Kugy bertanya dan bertanya: apa yang salah?
Bagai mana mungki n Keenan menyebutnya penuli s yang
cuma pi ntar merangkai kata tapi tak bernyawa? Padahal i a
setengah mati mengerj akan ceri ta pendek i tu. Seti ap kata
di pi li hnya dengan cermat dan teli ti . I a menuli s dengan plot
vung suduh dIuLur upIk. SeLIup konßIk dImuncuIkun dengun
momen yang sudah di perhi tungkan. I a hafal mati formula
dan teori dari pedoman membuat ceri ta yang bai k dan be-
nar. Mungki nkah selera Keenan yang ‘‘salah’’?
Kugy terduduk tegak. Membuka maj alah yang memuat
cerpennya, dan mulai membaca dari awal hingga akhir. Lalu
ia menyalakan komputer, membuka salah satu Ile dongeng-
nya, dan juga membacanya saksama. Kugy mulai menyadari
sesuatu. Dalam dongengnya, i a seolah berlari bebas, sesuka
hati . Dalam cerpen i tu, i a seperti berj alan meni ti tali , ber-
hati -hati dan penuh kendali . Dan ada satu perbedaan yang
kini menjadi sangat jelas baginya: dalam dongengnya ia ber-
56
ceri ta untuk memuaskan di ri nya sendi ri , sementara dalam
cerpennya i a berceri ta untuk memuaskan orang lai n.
I ngatannya pun kembali mundur ke siang tadi, dan kem-
bali ia rasakan perih sayatan kata-kata Keenan. Namun, kali
i ni Kugy i kut merasakan kebenarannya.
57
Bandung, Desember 1999 ...
Tempat kos yang lengang i tu semaki n terasa sepi karena
hampi r semua penghuni nya sudah kembali ke kota masi ng-
masing untuk menikmati liburan semester. Hanya segelintir
yang tersi sa.
Keenan memasukkan barang-barang terakhirnya sebelum
tas i tu resmi di amankan dengan gembok keci l.
Pintu kamarnya yang setengah terbuka tahu-tahu terbuka
lebar. Bimo, teman kosnya, muncul sambil menenteng tr avel
bag. “Hai , Nan. Jadi mau i kut ke Jakarta pakai mobi l gua,
nggak? Masi h ada tempat untuk satu lagi .”
Keenan menggeleng. “Nggak, Bi m. Gua pakai kereta api
nanti sore. Udah beli ti ket. Salam buat anak-anak, deh.”
Bimo yang sudah mau beranjak pergi mendadak menahan
langkahnya, seperti teri ngat sesuatu. “Oh, ya ... selamat,
ya.”
“Untuk?”
“Kata anak-anak, I P lu terti nggi satu angkatan. Nggak
7.
BULAN, PERJALANAN, KITA
58
percuma lu di sebut Si luman Kampus, kerj anya pulang me-
lulu, ngerem di kamar kayak beruang,” Bi mo terkekeh.
Keenan hanya tersenyum seki las, entah harus merasa
bangga atau tersi ndi r. Tapi i a cukup suka sebutan i tu. Si -
luman Kampus.
Begi tu Fi at kuni ng i tu menepi , Keenan yang sudah me-
nunggu di teras depan langsung menghampi ri bagasi mobi l
dan memasukkan tasnya. Baru setelah membuka pi ntu, i a
tersadar akan satu sosok yang ti dak i a duga kehadi rannya.
“Kugy? Kamu ke Jakarta hari i ni j uga?” tanya Keenan
heran.
“Hai, Nan. Aku tukeran tiket sama Eko,” jawab Kugy ber-
seri -seri .
Keenan ganti menatap Eko, “Gua pi ki r, Fuad di ti ti p ke
Noni dan lu pulang ke Jakarta hari i ni sama gua.”
“Ternyata gua baru bi sa ke Subang lusa, Nan. Jadi Eko
nemeni n gua dulu di Bandung,” Noni menj elaskan.
“Oh. Oke.” Keenan berkata pendek.
Sebersi t perasaan aneh menyusupi hati Kugy, yang me-
lengkapi kecurigaannya selama ini. Tadinya Kugy berasumsi
bahwa sebulan ini Keenan banyak menyendiri karena belajar
mati -mati an, dan i tu memang di bukti kan oleh I P terti nggi
yang di rai hnya. Tapi baru sore i ni Kugy merasakan adanya
alasan lai n. I a merasa di hi ndari oleh Keenan.
Tanpa banyak bi cara, Keenan mengempaskan tubuhnya
di j ok belakang. Tungkai kaki nya yang panj ang membuat
lututnya selalu nyari s beradu dengan j ok depan. Dengan
ekor matanya, Kugy mengamati. Sebagaimana ia mengamati
sepatu Keenan yang kali i ni tampak baru di cuci bersi h, se-
bagai mana i a tahu Keenan sedang mengenakan kemej a j i ns
59
lengan panj ang yang dulu di pakai saat menggandeng ta-
ngannya di bi oskop, sebagai mana i a hafal aroma sampo
yang meruap dari rambut Keenan yang tergerai. Kugy meng-
amati dan mengi ngat i tu semua. Untuk apa, i a pun tak me-
ngerti . Namun, semua i tu melekat dalam memori nya, telah
lama menghantui nya, tanpa bi sa i a kendali kan.
Keenan memejamkan matanya sejak sepuluh menit pertama
kereta api i tu bertolak dari Stasi un Bandung. I a terbangun
oleh karena haus yang menggigit dan hening yang dirasakan
terlalu lama dari seharusnya. Saat matanya membuka, kereta
i tu memang sedang berhenti di sebuah stasi un keci l. Dan
Kugy ti dak ada di sebelahnya.
Dari kasak-kusuk orang di sekeliling, Keenan menyimpul-
kan bahwa kereta itu sudah berhenti lama di sana, dan keter-
lambatan i ni mulai menggeli sahkan banyak penumpang.
Penasaran, Keenan pun memutuskan untuk keluar dan
bertanya langsung pada petugas.
“Muhun. Ada kereta yang anj lok, Cep. Jadi ki ta tertahan
di si ni , mungki n setengah j am sampai sej am. Belum ada
pemberi tahuan.” Petugas stasi un i tu menj elaskan. Di atas
kepalanya tergantung plang: Stasiun Citatah. Kereta itu bah-
kan belum menempuh separuh perj alanan.
Langi t mulai remang, pertanda sore mulai menua. Awan
mendung yang sejak tadi bergelantungan mulai merintikkan
selapi s geri mi s ti pi s. Meski di anj urkan menunggu di dalam
kereta, Keenan merasa tak i ngi n kembali ke sana cepat-
cepat. I a mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang
seki ranya membuat perasaannya tertari k. Dan matanya ter-
tumbuk pada pelataran depan stasi un.
“Cep! Jungun juuh-juuh!¨
60
Sayup, Keenan mendengar petugas tadi memperingatkan-
nya. Namun, i a merasa kaki nya terundang untuk keluar,
menuj u j alanan pedesaan yang setengah becek, berhi askan
satu-dua warung kopi yang mulai menyalakan lampu petro-
maksnya untuk menyambut gelap malam.
Di sebuah warung, Keenan berhenti . Aneka gorengan
yang terpajang di sana tampak menarik, belum lagi bersisir-
si si r pi sang susu yang kuni ng masak tampak bergelantung
di kayu penyangga tendanya.
“Mangga, ngopi dulu, Den.” I bu tua pemilik warung me-
nyapa ramah.
Baru saja Keenan hendak duduk di bangku kayu itu, tiba-
ti ba dari si si seberangnya muncul kepala dan kedua tangan
mungi l yang sedang merai h pi sang susu.
“Kugy?”
¨HeI! Uduh bungun? Kok bIsu nvumpe sInI jugu?¨ Kugv
heran bukan mai n.
“Hmm. Radar Nept unus—mungki n?” cet us Keenan,
antara geli dan takj ub. I a pun duduk di sebelah Kugy dan
memesan secangki r kopi panas. Keduanya l angsung
mengobrol dan tertawa-tawa, tak habis pikir bagaimana me-
reka bi sa berakhi r di tempat yang sama tanpa j anj i an.
“Sebentar ... sebentar ...” ti ba-ti ba Kugy memotong pem-
bicaraan. Wajahnya tampak siaga seolah-seolah sesuatu akan
menyeruak muncul.
“Ada apa?” Keenan i kut meli hat ke sekeli li ng.
“Bau i ni ... kamu ci um, nggak?” Kugy mengendus-
endus.
“Kamu kentut?”
¨Bukun!¨ Kugv memberenguL, ¨¡nI buu Lunuh vung buru
kena hujan ... kecium, nggak?” Kugy lantas menghirup napas
dal am-dal am, berkal i -kal i , dan mukanya seperti orang
ekstase. “Sedaaaaap ...,” gumamnya.
61
Keenan i kut mengendus, dan mulai i kut menghi rup. “Gy
... tambah lagi wangi kopi , ni h ... hmmm ... enaaak ....”
Kugy mencomot kuli t pi sang, “Tambah lagi ni h wangi
pi sang ... asoooy ....”
Keduanya si buk membaui i ni -i tu, tanpa menyadari i bu
pemi li k warung sudah mulai waswas meli hat kelakuan me-
reka.
“Geri mi s, wangi tanah kena huj an, kopi , dan pi sang ...
dahsyat. Aku nggak bakal lupa kombi nasi i ni .” Kugy ter-
senyum lebar, kilau di matanya kian bersinar tertimpa sinar
lampu.
“Stasi un Ci tatah, warung, lampu templok, dan ... kamu.
Saya j uga nggak bakal lupa.”
Mendengar itu, Kugy termangu. I a merasa tergerak untuk
mengatakan sesuatu, tapi li dahnya kelu. I a i ngi n bertanya,
apakah intuisinya benar? Bahwa Keenan dengan halus telah
menghi ndari nya. Bahwa ada keanehan yang terj adi antara
mereka berdua, tapi entah apa. Namun, Kugy tak tahu harus
memulai dari mana.
Kembali dalam keheningan, mereka duduk diam. Keenan
menyeruput kopinya perlahan. Begitu juga Kugy dengan teh
panasnya. Namun, kali i ni heni ng i tu ti dak menj engahkan.
Seti ap deti k berguli r sej uk dan khi dmat, seperti tetes huj an
yang ki ni turun satu-satu.
“Nan ... kamu benar soal cerpenku i tu,” ti ba-ti ba Kugy
memecah sunyi , “aku nggak menj adi di ri ku sendi ri . Aku
bikin cerita itu untuk cari duit, untuk cari pengakuan doang
....”
Keenan mengangkat kepalanya, menatap balik pada Kugy
yang tengah menatapnya lekat-lekat.
“Makasi h, ya. Kalau bukan karena kamu berani j uj ur
sama aku, mungki n aku nggak akan menyadari i tu semua.
Nggak berarti aku bakal berhenti nuli s cerpen sama sekali ,
62
si h. Tapi sekarang aku bi sa meli hat di ri ku apa adanya, di
mana kelemahanku, dan di mana kekuatanku.”
Senyum mengembang di waj ah Keenan. Hangat. “Gy,
j alan ki ta mungki n berputar, tapi satu saat, entah kapan,
kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat,
kamu akan j adi penuli s dongeng yang hebat. Saya yaki n.”
Kugy menghela napas, pandangan matanya mengembara.
“Geri mi s, meluki s, menuli s ... satu saat nanti , ki ta j adi di ri
ki ta sendi ri ,” gumamnya lambat, seperti mengej a. Seperti
mengucap doa.
Dari jauh terdengar pengumuman bahwa kereta api akan
segera di berangkatkan. Mereka berdua pun beranj ak dari
sana. Tanpa terburu-buru. Menapaki tanah becek dengan
hati -hati . Tepat sebelum kereta berj alan, kaki mereka men-
j ej ak gerbong.
Di gang antargerbong yang sempit dan berguncang keras,
keduanya berdiri sejenak. Kugy bisa merasakan jarak Keenan
yang begitu dekat di punggungnya, membaui aroma minyak
wangi yang samar terci um dari kemej anya, dan terasa se-
sekali waj ah Keenan menyentuh rambutnya.
Meski tempat mereka berdi ri sangat beri si k, Kugy dapat
mendengar Keenan berbi si k di sela-sela rambutnya yang
berkibar ditiup angin. Entah Keenan berbisik untuknya, un-
tuk di ri nya sendi ri , atau untuk mereka berdua. Namun, de-
ngan j elas Kugy menangkap ti ga kata yang di bi si kkan
Keenan: “Bulan, perj alanan, ki ta ....”
Baru keti ka duduk di bangkunya yang bersebelahan de-
ngan j endela, Kugy menyadari bahwa bulan bersi nar ben-
derang di angkasa. Tanpa bisa ditahan, Kugy merasa pelupuk
matanya menghangat, dan pandangannya berkaca-kaca. I ngin
rasanya ia membungkus bisikan Keenan tadi, menyimpannya
di hati . Ti ga kata yang tak sepenuhnya i a pahami , tapi nyata
i a alami saat i ni . Bulan. Perj alanan. Mereka berdua.
63
Sudah sej am Oj os menunggu di kafe i tu, segala macam mi -
numan dan donat aneka rasa sudah i a pesan sampai perut-
nya penuh sesak. Dan akhi rnya bergaunglah pengumuman
bahwa kereta api Parahyangan yang di tumpangi Kugy telah
ti ba. Segera i a beranj ak dari sana dan menunggu di mulut
pi ntu keluar.
Dari j auh Oj os sudah bi sa mengenali sosok mungi l i tu.
Rambut sebahunya yang tergerai beradu dengan ransel besar
yang seolah menenggelamkan tubuh keci lnya, belum lagi
j aket j i ns yang sudah bi sa di pasti kan hasi l mi nj am saki ng
kebesarannya. Namun, sesuatu di balik kekacauan berbusana
itulah yang membuat sosok itu mencuat di mana pun ia ber-
ada. Dari j arak seperti i ni pun Oj os bahkan sudah bi sa me-
li hat hi dupnya bi nar kedua mata i tu, merasakan hangat ke-
hadirannya, tawanya yang lepas tanpa beban ... kening Ojos
tahu-tahu berkerut. Matanya memicing. Ada seseorang yang
berj alan di sebelah Kugy. Orang yang ti dak i a kenal. Sak-
sama, Oj os mengamati , seperti menj alankan scanni ng. Ke-
ni ngnya semaki n berkeri ut.
¨Ojos!¨ Kugv meIumbuIkun Lungun, IuIu menghumpIrInvu
setengah berlari .
“Hi , Babe,” Oj os merai h pi nggang Kugy, dan mengecup-
nya di pipi. Sigap, ia melepaskan ransel dari bahu Kugy lalu
menyampi rkan barang besar i tu di bahunya.
“Jos, kenali n. I ni sepupunya Eko ....”
“Keenan.” Keenan langsung mengulurkan tangan dan ter-
senyum ramah.
“Hai . Joshua.” Oj os menyambut tangan i tu. Sebelah ta-
ngannya tak lepas merangkul Kugy.
“Sampai ketemu semester depan, ya, Gy. Selamat me-
nuli s.”
64
“Selamat meluki s. Jangan lupa ....” Kugy menempelkan
kedua telunj uknya di ubun-ubun seperti antena.
Seketika Keenan tertawa renyah. “Radar Neptunus ...,” ia
lalu i kut menempelkan kedua telunj uk di ubun-ubun.
Mata Ojos tak lepas mengamati itu semua, bahkan ketika
Keenan sudah pamit pulang dan membalik pergi. Ada gelom-
bang yang tertangkap oleh radarnya. Gelombang yang meng-
i syaratkan keti dakberesan, si tuasi yang ti dak aman. Dan
Oj os ti dak merasa nyaman.
65
Mej a makan dengan empat kursi i tu baru di i si ti ga orang,
satu kursi masi h kosong. Meski hanya berti ga, suasana di
meja makan itu terasa semarak. Dua bersaudara laki-laki itu
mengobrol tanpa henti seolah sudah tahunan tak bertemu.
I bu mereka sesekali meni mpali , atau i kut tertawa bersama.
Terdengar suara pintu depan terbuka, dan seseorang me-
masuki ruang makan, duduk di kursi keempat.
“Hai , Pa ...,” Jeroen dan Keenan menyapa.
“Maaf ya, kali an j adi menunggu. Tamu i tu sudah Papa
suruh datang ke kantor saj a, tapi di a maksa datang ke si ni
karena udah nggak ada waktu lagi , katanya.”
“I t’s okay.” Lena tersenyum sambi l menuangkan teh pa-
nas ke cangkir suaminya. “Keenan punya pengumuman buat
kamu, tuh.”
“Oh, ya? Apa, Nan?” tanya ayahnya sambil meminum teh
i tu sedi ki t demi sedi ki t.
Keenan melirik ibunya, seperti ragu untuk bicara. “Mmm
... I P saya 3,7 semester i ni .”
“Terti nggi di angkatannya,” Lena menambahkan dengan
senyum berseri .
8.
MEMULAI DARI YANG KECIL
66
“Bagus,” sahut ayahnya datar, ditambah sedikit manggut-
manggut. Namun, ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan
membersit di wajahnya. “Sudah kubilang kamu memang co-
cok kuli ah di Ekonomi . 0,3 lagi untuk I P sempurna, semes-
ter depan ki ra-ki ra bi sa?”
“Mungki n,” j awab Keenan pendek.
“Apa pun yang kamu butuh, komputer baru, buku-buku
referensi ... bi lang saj a. Nanti Papa si apkan.”
“Saya mau mi nta waktu.”
Cangki r teh i tu segera di letakkan di mej a. “Maksud
kamu?”
“Saya mi nta ekstra semi nggu dari j atah li buran kuli ah.”
“Di a mi nta waktu lebi h lama di Ubud ...” Lena berusaha
menj elaskan.
“Aku ngerti maksudnya,” potong ayahnya taj am. “Kamu
mi nta i zi n semi nggu bolos kuli ah, gi tu?”
Keenan mengangguk.
“Buat Papa, kuli ah kamu harus j adi pri ori tas. Dan kamu
sudah membuktikan itu di semester ini. Lalu ... kamu malah
mi nta hadi ah berupa ... bolos kuli ah?”
Keenan mengangguk lagi .
“Aneh. Nggak ngerti ,” ayahnya geleng-geleng kepala,
“lalu, barusan kamu bilang mau meningkatkan I P kamu sam-
pai 4, gimana itu bisa terjadi kalau belum apa-apa langsung
bolos semi nggu?”
“Saya kan nggak j anj i , Pa. Saya cuma bi lang: mungki n.”
“Nan, j angan mulai sok pi ntar, ya ....”
“Pa, saya nggak minta macam-macam. Saya nggak minta
kendaraan. Saya nggak mi nta komputer baru. Saya nggak
minta buku apa-apa. Saya cuma minta waktu tambahan satu
mi nggu di tempat Pak Wayan.” Nada bi cara Keenan mulai
mengeras.
“Tapi mi nta bolos i tu namanya ‘macam-macam’. Se-
67
mInggu IugI! BuuL upu sIh kumu Iumu-Iumu umuL dI
Ubud?”
“Saya udah kasi h enam bulan buat Papa. Dan sekarang
saya cuma mi nta satu mi nggu ....”
“Memangnya kamu kuli ah buat saya?” sergah ayahnya.
Keenan tak menj awab, hanya menghela napas, seolah
menghadapi pertanyaan retori s yang semua orang di si tu
tahu j awabnya.
Tawa canda yang tadi semarak seperti menguap tanpa
bekas, berganti dengan ketegangan yang sunyi. Empat orang
duduk kaku tanpa suara.
“Aku yaki n Keenan nanti bi sa mengej ar keti nggalan satu
mi nggunya,” akhi rnya Lena berkata.
“Terserah,” sahut suami nya setengah menggumam, lalu
berdi ri dan pergi .
Semua perlengkapannya sudah terkemas rapi . Begi tu j uga
dengan Jeroen yang bahkan sudah si ap packi ng sej ak dua
hari yang lalu. Di a akan menemani abangnya beberapa hari
di Ubud, sebelum menyusul teman-temannya yang study
tour di Kuta. Jeroen mengaku bisa mati bosan di Ubud yang
sepi , tapi i a rela mengorbankan beberapa hari li burannya
demi menghabi skan waktu bersama Keenan.
Hanya ada satu hal yang Keenan i ngi n lakukan sebelum
di a pergi ke bandara sebentar lagi . Di bukanya buku keci l
beri si kan daftar nomor telepon teman-temannya, mencari
satu nama.
“Halo ....” Suara remaj a cewek menyambutnya.
“Selamat pagi , bi sa bi cara dengan Kugy?”
Suara dari uj ung sana terdengar ri uh, berlatar belakang
sekIun bunvuk orung vung berbIcuru. ¨Kugvvv! TeIepooon!¨
68
¨DI kumur mundI kuvuknvu!¨ Terdengur udu suuru perem-
puan yang menyahut.
¨Gv! ¡umu umuL sIh? Beruk, vu? TeIepon, Luh!¨ Adu suuru
laki -laki meni mpali .
Lalu terdengar langkah kaki berderap menuruni tangga.
¨Enuk uju, IugI dI uLus, Luuk! BenLuuur!¨
¨BerurLI sIupu Luh vung dI kumur mundI? Kok buu? WoI!
Adu vung kenLuL, vu? Nguku!¨
“Halo,” akhi rnya terdengar suara Kugy menyapa.
“Hai , Gy.”
Mata Kugy membundar seketi ka. “Keenan?”
“I ya. Rame banget di rumah kamu. Lagi ada acara?”
“Oh, nggak. Ti ap hari memang begi ni ,” Kugy tertawa
kecil, “kamu ... apa kabar? Kok, tumben telepon? He-he, bu-
kannya nggak boleh, lho. Cuma aneh aj a. Bukan aneh
gi mana, si h. Cuma ... yah ....” Kugy mulai salah ti ngkah.
“Saya mau ke Bali , mungki n sampai sebulan. Mau pa-
mi tan.”
“Oh ....”
“Habis ini saya juga mau telepon Eko atau Noni. Pamitan
j uga,” gugup Keenan menambahkan. “Mau oleh-oleh apa?”
“Hmm. Apa, ya?” Kugy berpikir-pikir, “Kaus barong udah
punya li ma, sarung pantai ada ti ga, mi ni atur papan surInq
ada satu ....”
“Kacang asi n?”
¨Aku Luhu!¨ seru Kugv, ¨SesuuLu vung ngguk boIeh dI-
beli .”
“Jadi di curi ?”
Kugy tergelak, “Bukan. Sesuatu yang harus di bi ki n.”
“Oke,” Keenan tersenyum, “saya j anj i .”
Terasa ada sesuatu yang mengali ri darahnya. Kugy me-
rasa hangat. Terasa ada sesuatu yang menari ki kedua ujung
bi bi rnya. Kugy merasa i ngi n terus tersenyum. Seki las Kugy
69
meli hat bayangannya di lemari kaca, dan merasa tolol sen-
di ri .
“Gy ... udah harus cabut, ni h. Sori nggak bi sa telepon
lama-lama. Bai k-bai k, ya. Sampai ketemu semester depan.”
“Si p. Sampai ketemu semester depan.” Dan telepon i tu
di tutup dari uj ung sana. Kugy meletakkan gagang telepon
dengan hati -hati , lalu terduduk lama. Percakapan telepon
barusan tak sampai dua meni t, tapi serasa waktu telah me-
lemparkan j angkarnya dan berhenti di sana. Dan ki ni per-
lahan Kugy mencabut j angkar tadi , kembali ke ruang ke-
luarga rumahnya, kembali bersama kegaduhan yang ruti n
berlangsung di sana.
Ubud, Desember 1999 ...
Meski terletak di Desa Lodtunduh yang agak jauh dari pusat
kota, semua orang di Ubud tahu keberadaan kompleks ke-
luarga satu i tu. Di sana ti nggallah Pak Wayan dan keluarga
besarnya, di sebuah tanah berbuki t-lembah yang di lewati
sungai dengan luas hampi r li ma hektar. Semua anggota ke-
luarga i tu menj adi seni man-seni man besar. Ada yang men-
dalami luki s, uki r, patung, tari , bahkan peraj i n perhi asan.
Seolah-olah semua ragam seni di Bali memi li ki waki lnya
masi ng-masi ng di keluarga tersebut. Satu bulan di tempat
keluarga Pak Wayan membayar seluruh keri nduan Keenan
terhadap seni, sekaligus mengisi baterainya untuk berbulan-
bulan ke depan.
I bunya adalah sahabat lama Pak Wayan, dan Keenan me-
ngenal sosok pria itu sejak kecil. Pertemuannya dengan Pak
Wayan terbilang jarang, tapi amat membekas di hati. I a ber-
temu dengan pri a i tu hanya j i ka i bunya mengunj ungi pa-
meran luki san Pak Wayan di galeri di Jakarta. I ni lah kun-
70
jungan pertamanya ke Desa Lodtunduh, tempat yang selama
i ni cuma i a li hat dari foto-foto yang di ki ri mi Pak Wayan.
Keenan langsung jatuh cinta pada tempat itu. I a merasa bisa
ti nggal selamanya di sana.
Sejak pindah ke Amsterdam, baru kali inilah Keenan ber-
temu langsung dengan Pak Wayan lagi . Keduanya tak ber-
henti berkorespondensi . Keenan selalu mengi ri mkan foto-
foto luki sannya, begi tu j uga dengan Pak Wayan. Keenan
bahkan berkorespondensi dengan beberapa keponakan Pak
Wayan yang seumur dengannya, dan mereka akrab seperti
saudara meski belum pernah bertemu langsung. Kedatangan-
nya kali i ni memang lebi h terasa seperti mengunj ungi ke-
luarga di kampung halaman.
Ti dak seti ap hari Keenan menghabi skan waktunya untuk
meluki s, terkadang i a merasa cukup puas hanya menontoni
aneka kegi atan seni yang di lakukan sanak-saudara i tu. Se-
hari an i ni i a cuma mengunti t Banyu, salah satu keponakan
Pak Wayan, yang sedang mengerj akan pesanan patung.
Pak Wayan berdi ri tak j auh dari sana, tempat Keenan
j ongkok di sebelah Banyu dengan mata nyari s tak ber-
kedi p.
“Tertari k belaj ar mahat, Nan? Seri us sekali .”
Keenan tertawa ri ngan. “Cuma mengagumi , Poyan. Saya
belum pernah coba. Poyan sendi ri —bi sa memahat?”
Pak Wayan ganti an tertawa sambi l memampangkan ke-
dua telapaknya, “I ni j ari kuas. Bukan j ari perkakas. Bi ar
saj alah i tu j adi j atahnya Banyu dan bapaknya.”
“Di coba saj a, Nan. Si apa tahu cocok ...,” Banyu i kut
meni mpali .
Keenan melihat sekelilingnya. Bonggol-bonggol kayu dan
perkakas pahat yang berserakan. Ai r mukanya mulai me-
nunj ukkan ketertari kan.
“Sudah, tunggu apa lagi ? Mumpung bapaknya si Banyu
71
j uga lagi di si ni . Jadi kamu bi sa tanya-tanya. Karya mereka
ini bahkan disegani di Desa Mas, pusatnya seni patung,” Pak
Wayan i kut memanas-manasi .
“Oke, oke. Hari ini saya nonton dulu aja, Poyan,” sambil
mesem-mesem Keenan berkata. I a pun kembali menontoni
Banyu dengan seti a.
Menj elang petang, Keenan kembali masuk ke studi o patung
keluarga Pak Putu. Kali i ni i a cuma sendi ri an di sana. Di
studi o i tulah Pak Putu dan anaknya, Banyu, bi asa bekerj a.
Hanya terpi sahkan sepetak taman dengan studi o luki s Pak
Wayan.
Ada banyak bahan mentah berbagai ukuran yang terong-
gok di sana. Keenan mengenali beberapa. Ada kayu sono-
keling, kayu kamboja, kayu suar, kayu belalu, kayu ketapang,
dan beberapa elemen tambahan seperti akar, serat, serta
ranti ng-ranti ng. Setelah membolak-bali k beberapa bahan,
Keenan akhirnya mengambil sepotong kayu yang berukuran
agak keci l.
Memulai dari yang keci l, pi ki rnya. Tak lama kemudi an,
Keenan mengambi l posi si , menyi apkan perkakas yang i a
butuhkan, dan mulai memahat. Sampai larut malam i a tak
keluar-keluar dari sana.
72
Jakar t a, Desember 1999 ...
Kugy punya kesi bukan baru sekarang. I a kembali seperti
anak sekolah yang punya tugas prakarya. I a memfotokopi
semua sketsa dari Keenan, lalu memotongnya menj adi
kotak-kotak. Pr i nter keci l di kamarnya tak henti -henti ber-
bunyi , mencetak seluruh dokumen dongengnya. Setelah se-
mua siap, Kugy mulai menggabungkan teks-teks dongengnya
dengan sketsa-sketsa Keenan, membuat semacam buku
buatan tangan. Dan ia mengerjakan setiap detail dengan se-
penuh hati .
Ada satu tanggal yang mengi nspi rasi nya untuk membuat
buku i tu. Tanggal i tu j ugalah yang mendorongnya untuk
bekerj a dengan semangat penuh. Kugy sudah meli ngkari
tanggal i tu di kalendernya. Tanggal yang hanya terpaut se-
hari dari ulang tahunnya sendi ri .
9.
PROYEK PERCOMBLANGAN
73
Kut a, mal am t ahun bar u 2000 ...
Keenan memutuskan keluar dari ‘‘gua beruang’’-nya, turun
gunung dari Ubud. Malam i ni i a i kut dengan Banyu dan
Agung ke Kuta untuk bertahun baru. Jalan Legi an penuh
sesak dengan orang-orang, mobi l-mobi l bahkan nyari s tak
bergerak. Hampir setiap kafe dipadati pengunjung yang sam-
pai tumpah ruah ke trotoar j alan. Mereka berti ga bahkan
harus bi cara dengan berteri ak-teri ak.
“Jadi , ki ta mau ke mana?” seru Banyu pada keduanya.
Mobi l mereka sudah di parki r di sebuah rumah dan mereka
memutuskan untuk j alan kaki .
Keenan mengangkat bahu, berdi ri di pi nggi r j alan saj a
sudah terasa sedang berpesta saki ng ramai nya. Sej uj urnya,
i a malah i ngi n cepat pulang ke Lodtunduh.
Agung menunj uk satu kafe di poj okan j alan. “Ke si tu
suju! ¡Lu LempuLnvu PurLu, Lemun suvu, kILu pusLI bIsu dupuL
meju!¨
Mereka berti ga akhi rnya bergerak menuj u kafe temaram
berhiaskan ornamen-ornamen Buddha yang hanya beberapa
puluh meter dari tempat mereka berdi ri tadi . Namun, lang-
kah Keenan sempat tersendat keti ka i a meli hat wartel keci l
yang menyempi l di antara toko-toko.
¨Agung, Bunvu, sebenLur vu. Ngguk sumpuI IImu menIL!¨
seru Keenan sambi l memasuki wartel i tu. Ada satu bi li k
yang kosong. Keenan segera merogoh dompetnya, mencari
catatan keci l yang i a seli pkan.
Nomor telepon seluler yang i a hubungi tersambung ke
kotak suara. I a mencoba satu nomor lagi .
“Halo ....”
Keenan masih ingat suara itu. Suara yang juga mengang-
kat telepon dari nya terakhi r kali .
“Halo, bi sa bi cara dengan Kugy?”
74
“Sebentar, ya,” suara i tu menyahut mani s. Dan saat kop
telepon dijauhkan, suara manis itu berubah menjadi teriakan
IunLung, ¨Kugvvv! BuuL kumu IugI, nIh! Cupek deh ngung-
kuLIn LeIepon buuL orung IuIn Lerus! Kok ngguk udu vung
telepon aku si h dari tadi ?”
¨Uduh, LerImu nusIb uju!¨ Adu suLu orung Lerdengur me-
nyahut.
“Dasar ABG. Entar tuaan di ki t kamu bakal males teri ma
telepon, tauk.”
“Kalo teleponnya buat orang lai n melulu, nggak usah
nunggu tua, sekarang j uga udah males.”
Lalu terdengar suara derap kaki menuruni tangga. Se-
j enak kemudi an telepon i tu berpi ndah tangan. “Halo?”
Keenan spontan tersenyum. Sepotong ‘‘halo’’ yang baru
saja i a dengar sudah cukup membuat suasana hati nya kem-
bali cerah.
“Kamar kamu di lantai atas, ya? Saya selalu dengar kamu
lari -lari turun tangga.”
“Keenan?” Kugy hampir melonjak dari tempat duduknya.
¨HuI! Apu kubur?¨
“Kabar baik. Saya lagi di Kuta, mau tahun baruan dengan
keponakan-keponakannya Pak Wayan. Tadi ti ba-ti ba i nget
kamu, dan kepi ngi n nelepon. Saya pi ki r kamu nggak bakal
ada di rumah. Nggak ada acara?”
“Tawaran banyak, tapi aku tolak semua,” Kugy terke-
keh.
“Ada acara di rumah?”
“Nggak j uga. Aku lagi ada kerj aan.”
Mata Keenan membesar, “Sebegi tu penti ngnya sampai
melewatkan tahun baruan segala?”
“ Hmm ... begi t ul ah,” j awab Kugy sambi l mel i r i k
j emari nya yang masi h bersaputkan si sa lem aki bat kegi atan
tempel menempelnya sej ak beberapa hari terakhi r.
75
“Di si ni kan lebi h awal sej am, dan sebentar lagi udah
mau j am 12. Jadi ... selamat tahun baru, ya, Keci l. Jangan
cepat gede, nanti nggak seru lagi .”
Entah mengapa, omongan Keenan yang setengah ber-
canda i tu malah membuat Kugy terharu. “Makasi h. Selamat
tahun baru j uga,” ucapnya setelah menelan ludah terlebi h
dulu.
“Saya sebetulnya pi ngi n ceri ta banyak. Tapi begi tu nele-
pon, malah bi ngung. Mungki n nanti aj a kalau ki ta ketemu
di Bandung lagi , ya.”
Dalam hati , Kugy merasakan sebersi t kecewa. Agaknya
percakapan telepon ini tidak akan lebih dari dua menit lagi.
“Oleh-oleh buatku—nggak lupa, kan?”
“Kaus barong?” gurau Keenan, yang langsung disahut ge-
lak tawa di uj ung sana. Sementara i tu pi ki rannya melayang
pada satu benda yang hampi r tak lepas dari tangannya be-
berapa hari terakhi r i ni , yang membuat Pak Wayan dan
Banyu geleng-geleng kepala saking seriusnya Keenan mengu-
lik benda satu itu, bolak-balik dihaluskan dan disempurnakan
seti ap hari .
“Pokoknya kamu utang Pemadam Kelaparan kalau sampai
nanti cuma bawai n kaus barong, atau sarung pantai , atau
mi ni atur papan surInq ....”
“Kacang asi n?”
“Seneng amat si h sama kacang asi n.”
“Saya bakal bawai n i tu semua, plus sesuatu yang saya
bi ki n. Jadi , ki ta tetap nge-date ke Pemadam Kelaparan. Gi -
mana?”
“Setuj u,” uj ar Kugy berseri -seri .
Tak lama kemudi an, telepon i tu di sudahi . Kembali Kugy
meli ri k j am. Dugaannya benar. Telepon dua meni t i tu kem-
bali terj adi . Dan kembali Sang Waktu membuang sauhnya,
berhenti di sana. Dan kembali Kugy mendapatkan di ri nya
76
tertambat dalam ruang dan waktu yang membeku, tempat
segala kenangan tentang mereka di kri stalkan.
Bandung, Januar i 2000 ...
Tiga orang i tu menduduki meja kebangsaan mereka dengan
membawa pi ri ng masi ng-masi ng. Keti ganya j uga membawa
ki sah masi ng-masi ng seputar kegi atan mereka selama li -
buran semester.
Eko memulai dengan menceri takan program penyem-
buhan yang telah di j alani Fuad. “Fuad udah ganti mesi n,
ibarat orang nyawanya diganti baru. Sekarang Fuad bodinya
doung 1zq, LupI IsInvu uduh MIruhorI.¨
“Yang dalam bahasa I ndonesi a arti nya adalah ...?”
“Stati sti k mogok Fuad akan menurun dan hi dup kali an
lebi h tenteram,” demi ki an penutup dari Eko.
¨Horeee!¨ Kugv dun NonI bersoruk.
“Lu ngapai n aj a, Gy?” tanya Noni .
“Gua banyak di rumah. Merenungi nasi b.”
“Nggak ada yang lebi h menari k?” Eko melengos.
“Gua j uga lagi bi ki n ....” Kugy terdi am sej enak, merasa
ti dak perlu melanj utkan.
“Gantung amat,” celetuk Noni .
“Lu ngapai n aja, Non?” Kugy balas bertanya, cepat-cepat
mengali hkan bola panas i tu.
Wajah Noni seketi ka cerah seperti di sorot lampu, seperti
hendak menyampaikan berita spektakuler yang disimpannya
sej ak tadi . “Gua udah ceri ta di ki t ke Eko soal i ni , dan di a
j uga setuj u kalo rencana i ni sangat bri li an.”
Mata Kugy ikut berbinar. Duduknya menegak. “Kayaknya
seru, ni h ...,” desi snya penasaran.
“Di mulai dengan Latar Belakang Masalah,” celetuk Eko.
77
“Oke. Latar Belakang Masalah. Ehm. Jadi begi ni ,” Noni
mulai memaparkan, “selama i ni ada keti mpangan di geng
kita. Lu punya pacar, gua punya pacar, cuma Keenan doang
yang jomblo. Dan anak itu kayaknya terlalu antisosial untuk
cari pacar sendi ri . Jadi ....”
Napas Kugy mendadak tertahan.
“Jadi ... Neng satu ini mau mencoba peruntungannya jadi
Mak Comblang,” timpal Eko seraya menyentuh sekilas ujung
hi dung Noni .
“Gua punya saudara, sepupu nggak langsung sih, tapi hu-
bungan ki ta lumayan deket. Di a lama ti nggal di Melbourne.
Sekarang i ni di a lagi cuti kuli ah, pulang ke I ndonesi a buat
magang di perusahaan bokapnya. Dia mau main ke Bandung
mi nggu depan. Pas banget momennya dengan Keenan pu-
lang dari Bali ,” Noni melanj utkan.
Badan Kugy rasanya semakin tidak rileks. “Terus?” tanya-
nya.
“Terus ... ya, mereka berdua mau dipertemukan, gitu lho,
Jeng Kugy,” Eko menyambar.
“Memangnya Keenan mau di comblangi n gi tu? Kok gua
nggak yakin,” kata Kugy. I a sungguh tidak bisa memaksakan
di ri untuk tampak antusi as dengan proyek Noni .
“Jangan ketahuan, dong. Semuanya harus na-tu-ral,”
Noni mengeja, “yang tahu percomblangan ini cukup kita ber-
ti ga doang.”
“Kali an berdua aj a, deh. Gua nggak bakat nyomblangi n
orang. Stati sti k kegagalan gua seratus persen,” sahut Kugy
malas. Tubuhnya yang tadi tegak ki ni kembali bersandar ke
kursi .
“Lu kok pesi mi s gi tu, Gy,” tukas Eko. “Bayangkan, nanti
ki ta bi sa tr i ple-date. Gua dan Noni , lu dan Oj os, Keenan
dan—si apa namanya?”
“Wanda.”
78
“…dan Wanda. Seru, kan?”
“Yah, gua hargai optimisme lu. Tapi udahlah, mereka ber-
dua ketemu aj a belum. Belum tentu nyantol. Nggak usah
mengkhayal tr i ple-date dulu,” kata Kugy, hampi r tak bi sa
menutupi nada suaranya yang berubah ketus.
“Bukannya lu yang selama i ni seorang pengkhayal profe-
si onal? Aneh,” komentar Eko.
Noni terkekeh, “Kalo cuma soal nyantol, gua yaki n me-
reka bakal nyantol.”
“Oh, ya?” Kugy menyahut sangsi .
“Li hat aj a nanti ,” Noni tersenyum si mpul.
Bukan hanya karena pembi caraan di Pemadam Kelaparan
tadi siang, sudah beberapa minggu belakangan ini Kugy me-
rasa ada yang ti dak beres dengan di ri nya. Meski rasanya
sudah di uj ung li dah, Kugy belum bi sa mengurai kan apa
yang sesungguhnya terj adi . Ti dak j uga pada di ri nya sendi ri .
I a merasa sudah saatnya bicara dengan seseorang. Kugy ber-
harap bi sa memperoleh kej elasan dengan seti daknya mem-
berani kan di ri untuk berceri ta.
Di ketuknya pi ntu Noni yang setengah terbuka, “Non ...
lagi si buk?”
Noni tengah berbi cara dengan seseorang di ponselnya.
Namun, i syarat tangannya menyuruh Kugy untuk masuk.
Kugy pun duduk menunggu di sudut tempat ti dur.
“Oke ... weekend depan udah pasti , ya? Perlu di j emput?
Ya. Nanti aku sama Eko j emput kamu ke hotelmu aj a, baru
kita jalan bareng. I ya ... nanti ada teman-temanku juga. Oke.
SumpuI keLemu, vu! Take car e ... bye!” Noni meletakkan
ponselnya, “Sori , Gy. Gua baru teleponan sama Wanda.
What’s up?”
79
Mendengar nama i tu, kembali rasa ti dak nyaman me-
rambati tubuh Kugy. I a merasa maki n ti dak beres. Di tatap-
nya Noni yang juga menatapnya dengan tatapan menunggu.
Entah kenapa, ti ba-ti ba Kugy merasa Noni bukanlah orang
yang tepat untuk di aj ak bi cara masalah i ni , ti dak dengan
adanya proyek percomblangan yang seperti nya betul-betul
di seri usi sahabatnya i tu.
“Kenapa, Gy?” Noni bertanya lagi .
“Nggak. Nggak jadi. Gua lupa mau ngomong apa. He-he.
Sori ,” Kugy pun bangki t berdi ri .
“Yakin?” Noni mengamati air muka sahabatnya. “Hari ini
lu banyak gantung, deh.”
“Mungkin udah saatnya gua bertobat dan banyak berbuat
bai k,” cetus Kugy asal sambi l ngeloyor pergi .
“Dasar gi la,” Noni nyengi r, lalu menutup pi ntu kamar-
nya.
80
Lewat pukul li ma, Kugy baru sampai ke tempat kosnya. I a
baru saj a kembali dari pertemuan Klub Kakak Asuh yang
mengundangnya untuk menjadi pengajar sukarela di sebuah
sekolah dasar darurat. Sekolah i tu akan di namai “Sakola
Alit” dan akan mengambil tempat di alam terbuka di daerah
perbuki tan Boj ong Koneng. Tepatnya, mereka tak punya
dana cukup untuk menyewa bangunan dan terpaksa melak-
sanakan kegi atan belaj ar mengaj ar di saung-saung ladang
atau di bawah pohon.
“Kamu nggak percaya kan di kota secanggih Bandung ini
masi h ada anak-anak yang nggak bi sa baca tuli s, padahal
umur mereka sudah sembi lan-sepuluh tahun?” kata Ami
pada Kugy di pertemuan tadi .
“Jadi , ki ta harus mulai dari mana?” Kugy bertanya.
“Ki ta akan bagi ti ap kelas sesuai kemampuan mereka
masing-masing. Kelas paling dasar hanya akan belajar mem-
baca, menghi tung, dan menggambar. Persi s pelaj aran anak
TK. Tapi dalam satu kelas umurnya bisa bervariasi, dari mu-
lai empat tahun sampai sepuluh tahun.”
10.
KURATOR MUDA
81
Kugy terdiam mendengar penjelasan itu. Matanya tak le-
pas mengamati foto-foto anak-anak yang akan di bi na oleh
Ami dan teman-temannya.
“Kamu pikirkan dulu aja, Gy. Kita berkomitmen mengajar
mereka empat hari semi nggu. Jadi lumayan menyi ta wak-
tu.”
“Berapa sukarelawan yang sudah terkumpul sekarang?”
“Dua orang, termasuk aku.”
“Anak yang harus di aj ar?”
“Dua puluh dua.”
Kugy terdi am lagi . “Oke, aku kabari dalam mi nggu i ni ,
ya.”
Sepanjang perjalanan pulang, Kugy tak bisa menanggalkan
wajah anak-anak itu dari ingatannya. Perhatiannya baru ter-
ali h saat i a membuka pi ntu kamar dan meli hat ada setum-
puk benda asi ng di tempat ti dur. Kugy menyalakan lampu.
MuLunvu pun LerbeIuIuk. ¨Nooon!¨ konLun Kugv berLerIuk.
Terdengar ada suara yang menyahut dari kamar sebelah.
Tak lama, Noni muncul di pi ntu.
“Keenan ke si ni ?” tanya Kugy segera.
“I ya, tadi di a mampi r sama Eko, cari lu, tapi nggak ada.
Di a ti ti p oleh-oleh, tuh. Udah li hat, ya?”
Kugy mengangguk, menatap kaus putih bergambar barong
dan sarung hi tam bercorak yang terli pat rapi . Di atasnya
tergeletak papan surInq mi ni dan sekotak kacang asi n.
“Nanti malam gua sama Eko janjian mau ke tempat kos-
nya. Mau i kut, nggak?”
¨Muu! Muu!¨ Kugv menjuwub seLenguh berseru. Tuk sung-
gup menyembunyi kan kegembi raan yang membeludak.
Keti ka Noni sudah keluar, Kugy membuka laci mej a
belaj arnya. Sekadar mengecek buku buatan tangannya yang
kini sudah rampung. Sesuatu serasa merekah di hatinya. Tak
sabar rasanya menanti malam datang.
82
“Udah siap, Gy?” Noni melongok ke kamar Kugy dan sedikit
terperanj at, “tumben lu agak cakepan.”
“Nggak ... bi asa aj a, kok.” Gugup, Kugy merapi kan baj u
terusan hitam selututnya. Baju terbaik yang pernah ia miliki
dan tak pernah keluar lemari saki ng i sti mewanya. Tahu-
tahu, Kugy menyambar j aket j i ns Karel dan buru-buru me-
ngenakannya.
“Yaaah ... rusak lagi, deh,” Eko tertawa, “tapi lebih sesuai
dengun hLruh Iu, Gv.¨
Tiba-tiba sesosok perempuan tak dikenal muncul di balik
punggung Eko dan Noni . Tubuh semampai i tu melangkah
anggun dalam j i ns ketat dan tank-top. Sepatu wedge yang
tebal dan trendi tampak serasi dengan tas keci l yang i a pe-
gang. Rambut panj ang i tu tampak tertata rapi seperti baru
keluar dari salon. Semi li r parfum uorcl terci um di udara
ti ap kali perempuan i tu bergerak. Dan semua i tu membuat
Kugy terpaku.
“Gy, kenali n. I ni sepupu gua, Wanda,” Noni berkata.
“Wanda,” i a mengulang namanya dengan nada merdu
bak resepsi oni s kantor.
Kugy meneri ma uluran tangan Wanda. Tampak bari san
kuku terlapi s cat bi ru metali k yang berki lau terti mpa si nar
lampu. Kugy pun menyadari, bola mata Wanda dilapisi lensa
kontak bi ru yang serasi dengan warna kukunya. Seti ap i nci
penampi lan Wanda seperti di rencanakan dengan matang.
Satu hal yang rasanya mustahi l di lakukan Kugy.
“Non, shall we?” Wanda memutar tubuhnya menghadap
Noni .
“Gua nyusul bentar lagi . Kali an duluan aj a ke depan,”
ujar Kugy. Dan ketika tiga orang itu pergi, Kugy mengempas-
kan tubuhnya ke tempat ti dur. Perasaannya campur aduk.
83
Ada kegeli sahan yang nyari s tak bi sa i a tahankan. Segala
sesuatu tentang Wanda, rencana Noni , dan aneka kemung-
ki nan yang bi sa terj adi malam i ni , seperti melumpuhkan
si stemnya. Dan Kugy akhi rnya memutuskan sesuatu.
I a berlari ke depan, menemui teman-temannya yang su-
dah menunggu di mobi l, membuat alasan palsu yang mem-
batalkan kepergiannya ke tempat kos Keenan. Sebagai ganti,
Kugy meri ngkuk di tempat ti durnya semalaman.
Dari dalam kamar, Keenan sudah bisa mendengar Fuad me-
nepi . Tak lama, i a mendengar langkah-langkah kaki men-
dekati kamarnya. Keenan pun segera berdi ri , membuka
pi ntu. Sej enak i a menyadari detak j antungnya yang sedi ki t
bertambah cepat, seolah menganti si pasi sesuatu.
Pi ntu terbuka. Tampak Noni dan Eko nyengi r selebar-
lebarnya.
“Si Keci l mana?” tanya Keenan langsung.
Terdengar suara hak sepatu beradu dengan ubin dari ke-
j auhan, menuj u arah mereka. “Sor r y, guys. I j ust dr opped
my contact. Untung ketemu lagi ....”
Keenan terheran-heran meli hat seorang cewek ti nggi tak
di kenal berj alan ke arah mereka dengan mata berkedi p-
kedi p seperti orang keli li pan. I a ganti menatap Noni dan
Eko, memi nta penj elasan.
“Nan, ini Wanda. Sepupu gua dari Melbourne. Kamu per-
nah dengar Galeri Warsi ta di Menteng, nggak? Nah, ayah
Wanda i tu pemi li knya. Wanda senang luki san j uga. Di a po-
koknya ngerti banget soal yang seni -seni gi tu. Gua bi lang
j uga ke di a kalo lu hobi meluki s. Wanda ceri tanya lagi
hunti ng luki san di Bandung, lho,” Noni menyerocos seperti
tukang obat sedang promosi .
84
Dengan gestur agak kaku, Keenan berkenalan dengan
Wanda. Sementara di belakang punggung Wanda, Eko men-
deli k-deli k penuh maksud, memi nta di undang masuk.
“Oh, sori . Masuk, yuk ...,” gelagapan Keenan menyi lakan
sambil membuka pintunya lebar. “Maaf agak berantakan, ya.
Belum sempat beres-beres setelah pulang dari Bali ....”
Tanpa menunggu penjelasan Keenan selesai, Wanda lang-
sung menerobos masuk. Matanya sudah terkunci pada
luki san-luki san yang menyebar di seluruh penj uru ruangan
i tu. Bak seorang kurator profesi onal, i a menelaah luki san
demi luki san dengan teli ti . Perhati annya begi tu terpusat
seolah yang lai n sudah melesak ke perut Bumi dan ti nggal
i a sendi ri bersama luki san-luki san Keenan.
Dengan bi ngung Keenan memandangi kegi atan Wanda
yang menekuni lukisannya seperti hendak menelanjangi. Se-
mentara di li hatnya Eko dan Noni mesem-mesem di poj ok
kamar. Keenan merasakan banyak tanda tanya di udara ma-
lam i ni .
“Kamu sudah pernah pameran?” tanya Wanda pada
Keenan, sementara matanya terus terpaku pada luki san.
“Belum ....”
“Luki san kamu sudah pernah masuk galeri ?”
“Belum ....” Keenan menggeleng lagi. “Saya melukis hanya
karena hobi aj a, masi h i seng-i seng.”
“Ah. Such a shame,” Wanda tersenyum ti pi s, “kamu sa-
ngat, sangat berbakat.”
“Oh, ya?” Ali s Keenan mengangkat. “Menurut kamu—
luki san-luki san i ni cukup layak masuk galeri ?”
“Layak?” kali i ni Wanda mendongak menatap Keenan,
tergelak halus, “harusnya kamu cari nafkah dari meluki s.”
Ai r muka Keenan berubah seketi ka. I a mulai melangkah
mendekati Wanda dan menyimak ucapannya sungguh-sung-
guh.
85
“Kamu peluki s potret yang sangat bagus. Semua obj ek
kamu hi dup, mendetai l, guratan dan gari s kamu tegas,
akurat. Dan uni knya, kamu menggabungkan luki san potret
dengan abstrak dalam satu fr ame. Abstrak kamu juga sangat
kuat. Bi asanya, peluki s hanya kuat di salah satu, tapi kamu
kuat di keduanya. I mpr essi ve,” tutur Wanda dengan decak
kagum.
Keenan menelan ludah. Baru kali i tu seseorang mengo-
mentari luki sannya dengan sangat seri us. Kunj ungan i ni
mendadak menj adi menari k.
Malam i tu, Noni dan Eko terpaksa menggantungkan na-
si b perut mereka pada Mas-Mas pengantar pi zza. Wanda
dan Keenan mengobrol soal duni a luki san dengan asyi knya
hingga tak menggubris desakan Noni dan Eko untuk makan
malam di luar.
Sambi l menyuap potongan pi zza ke mulut, Noni men-
j ulurkan sebelah tangannya di am-di am, mengaj ak Eko ber-
salaman. Mi si mereka berhasi l.
Sej ak tadi , Kugy tetap terj aga di kamar. Berbagai kegi atan
sudah i a lakukan untuk mendi straksi , tapi pi ki rannya tetap
terikut dengan Fuad, menuju tempat kos Keenan, dan men-
ci ptakan seri bu satu skenari o tentang apa gerangan yang
terj adi malam i ni . Ti dak mungki n ada cowok nor mal yang
tidak ter tar ik dengan Wanda ... tapi Keenan mungkin beda,
di a meli hat kuali tas yang lai n ... tapi cowok tetap saja co-
wok ... tapi mungki n Wanda membosankan, nggak ser u,
dan nggak nyambung ... tapi kalau secanti k i tu, si apa lagi
yang peduli soal ser u dan nyambung ... dan benak Kugy
pun tak berhenti berceloteh.
Saat pi ntu kamar sebelahnya kedengaran membuka, me-
86
lonjaklah Kugy dari tempat ti dur. Berdi ri di dekat pi ntu ka-
marnya dengan lagak malas-malasan.
“Belum ti dur, Gy? Tadi katanya banyak kerj aan, terus
sakit perut, terus mau tidur cepat,” kata Noni sambil melirik
Kugy yang bersandar di dinding sambil menguap-nguap dan
garuk-garuk kepala.
“Baru mau ti dur, ni h. Tadi nuli s dulu,” Kugy menguap
lagi , “gi mana debut Mak Comblang ki ta? Sukses?”
“Dari skala 1-100, nilai gua 95. Yang 5 sisanya hanya un-
tuk j aga-j aga si apa tahu Keenan atau Wanda mendadak
amnesi a,” cetus Noni mantap.
Kugy terkekeh, “Opti mi s banget si h ente. Emangnya
Keenan mau sama ti pe cewek Barbi e kayak Wanda gi tu?”
“Kugy dar li ng, Wanda i tu kurator muda. Bokapnya yang
punya Galeri Warsita di Menteng,” jelas Noni dengan senyum
kemenangan, “awalnya memang si Keenan kayak sedi ki t
alergi , tapi begi tu Wanda mulai ngomentari n luki sannya ...
dIu berubuh kuvuk orung dIsIrep! SukIng IupuduruLunnvu me-
reka berdua ngobrol, yang ada ki ta batal makan ke luar,
cuma order pi zza, dan gua sama Eko akhi rnya mi nggat ke
warnet. Gi la, ki ta di angguri n kayak tembok.”
Kugy i kut tertawa. Namun, terasa tawar dan sumbang.
Li dahnya seperti kelu untuk memberi kan tanggapan apa
pun. Akhi rnya i a memi li h permi si ti dur.
Ada sesuatu yang remuk di hati Kugy, dan pecahan-pe-
cahannya seolah menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya
meri ngkuk memeluk guli ng menahan pedi h. Dan segala ke-
resahan dan kebi ngungannya selama i ni j uga i kut memun-
cak, meledak, hi ngga kesedi han i tu tak tertanggungkan lagi .
Buti r demi buti r ai r mata pun mulai melelehi pi pi nya.
Sej enak Kugy mengangkat mukanya, meli ri k buku do-
ngeng buatannya yang ki ni tergeletak di mej a. I a langsung
mengernyi t. Mendadak i a merasa bodoh. Buku i tu tampak
87
buruk. Dan Kugy pun membenamkan mukanya kembali ke
dalam guli ng. Jengah meli hat hasi l karyanya sendi ri .
Dalam benaman guli ng i tu, untuk pertama kali nya Kugy
menyadari ... i a telah j atuh ci nta pada Keenan.
Pagi i tu, Kugy bangun dengan mata sembap. Terpaksa i a
membungkus es batu dalam sapu tangan lalu mengompres-
kannya ke mata. Dengan satu mata yang terbuka, i a mem-
buka catatannya lalu memencet sederet nomor di ponsel-
nya.
“Ami? Hai, ini Kugy. Aku udah memutuskan ... iya ... aku
mau jadi pengajar di Sakola Alit. Mulai secepatnya bisa? I ya
... aku si ap, kok.”
Setelah pembi caraan i tu selesai , Kugy mengembuskan
napas lega. I a harus berbuat sesuatu. I a harus mencari ke-
si bukan. I a i ngi n melupakan pedi h i tu, apa pun caranya.
Dan tawaran Ami mendadak menj adi ti ket keluar yang pa-
li ng bai k.
I a lalu teri ngat sesuatu. Sebuah benda buatannya yang
sudah terbungkus rapi dengan kertas kado. Kugy mengam-
bi lnya dari dalam laci . Membuka lemari pakai annya yang
bergabung dengan beberapa dus keci l beri si barang-barang
bekas. Kugy membuka salah satu dus lalu menjebloskan ben-
da i tu di sana. Belum cukup puas, di benamkannya lagi dus
kecil itu di dalam tumpukan benda lain. Sementara ini, Kugy
i ngi n sekali melupakan benda i tu. Perasaan i tu.
88
Angkutan kota Colt L-300 yang sudah tua dan kepayahan
nanj ak i tu hanya mengantarkan mereka berti ga sampai di
mulut sebuah j alan setapak. Matahari pagi terasa hangat
menyentuh kuli t muka setelah seki an lama mereka ter-
perangkap dalam mobi l.
Kugy, Ami, dan I cal sejenak saling berpandangan sebelum
mereka menuruni j alan tanah i tu. I ni adalah hari pertama
mereka resmi mengaj ar di Sakola Ali t. Ti dak ada yang bi sa
membayangkan apa yang akan mereka hadapi . Sambi l me-
nenteng masi ng-masi ng sebuah papan tuli s keci l dan me-
nyandang ransel yang penuh sesak dengan alat tuli s dan
buku-buku, ketiga orang itu mulai melangkah memasuki ja-
lan menurun yang dinaungi rimbunan pohon bambu di kiri-
kanan.
Setelah kurang lebih setengah jam berjalan kaki, sampai-
lah mereka di sebuah masjid. Banyak anak kecil berlarian di
sekitarnya. Seorang bapak berpeci yang sedang duduk sambil
merokok, cepat-cepat bangki t berdi ri dan menyambut me-
reka.
11.
SAKOLA ALIT
89
“Neng Ami ... kumaha
10
, Neng? Damang
11
?” Bapak i tu
menj ulurkan uj ung tangannya untuk menyalami Ami .
“Pak Somad, kenalkan, i ni teman-teman saya yang nanti
ikut ngajar,” Ami memperkenalkan ketiga temannya satu per
satu, “Pak Somad ini yang membantu mengumpulkan anak-
anak dari kampung si ni ,” Ami lalu ganti an mengenalkan.
“Muhun
12
,” sahut Pak Somad, “hari ini baru ada lima be-
las anak, Neng. Sisanya mungkin baru besok atau lusa. Mak-
lum, banyak yang sambi l kerj a j uga.”
“Nggak apa-apa, Pak. Ki ta mulai sekarang aj a. Saungnya
di sebelah mana, ya?”
“Oh, mangga, mangga.
13
Di antar ku Bapa
14
,” buru-buru
Pak Somad memati kan rokok kreteknya lalu mulai me-
manggi li anak-anak yang tercerai -berai di seki tar masj i d.
Tak lama, mereka pun berj alan beramai -ramai menuj u se-
buah saung yang berukuran cukup besar di pi nggi r ladang
cabai .
Sekumpulan anak i tu akhi rnya di bagi dalam ti ga kelas.
Ami kebagi an di saung besar, I cal mendapat tempat di se-
buah saung agak keci l yang terpi sah seki tar seratus meter,
dan Kugy kebagi an di bawah pohon.
Kugy pun bergegas menyiapkan ‘‘ruang kelas’’-nya. Meng-
gelar ti kar plasti k untuk mereka semua duduk, menyandar-
kan papan tuli snya di pohon, dan membagi kan buku serta
alat tulis. Di hadapannya kini sudah ada lima anak dari mu-
lai umur empat sampai sembilan tahun. Semuanya mengaku
ti dak bi sa membaca dan menuli s. Sej enak Kugy menghela
napas, mereka-reka harus memulai dari mana.
10
Bagai mana.
11
Sehat.
12
Betul.
13
Si lakan, si lakan.
14
Oleh Bapak.
90
“Selamat pagi ,” sapa Kugy semani s mungki n. Tak ada
yang menj awab. Ada yang asyi k mencari kutu di kepala te-
mannya, ada yang langsung merobek kertas dari bukunya
dan bi ki n kapal-kapalan, ada yang kerjanya teri ak-teri ak te-
rus memanggi li temannya di saung sebelah, dan ada j uga
yang menatapnya bergemi ng seperti meli hat hantu.
Keri ngat di ngi n Kugy menetes.
Laki-laki setengah baya itu berjalan menuju ruang kantornya
yang terletak di bi langan Menteng, Jakarta Pusat. I a hanya
mengenakan kemeja linen dan celana kain, dan begitulah ia
bi asa berkantor sehari -hari . Kantornya hanya satu ruangan
dari keseluruhan galeri yang luas i tu. Galeri mi li knya me-
mang galeri terbesar di Jakarta. I a menj alankannya hanya
berdua dengan sahabatnya, Syahrani , yang j uga sudah pu-
luhan tahun menj adi kolektor karya seni , dan akhi rnya me-
nikah dengan seorang perupa terkenal yang karya patungnya
pun menghi asi berbagai sudut galeri i tu.
“Selamat pagi , Pak Hans,” sekretari snya menyapa.
“Pagi , Mi a. Wanda sudah di dalam?”
“Sudah, Pak. Dari setengah j am yang lalu.”
Laki -laki i tu meli ri k j am tangannya, “Wah, raj i n banget
di a. Pantas tadi langsung hi lang dari rumah sehabi s sa-
rapan.”
“Mor ning, Hans. Mor ning, Mia,” seorang ibu berkacamata
menghampi ri mereka. Meski nyari s polos tanpa ri asan, wa-
j ahnya tampak cerah. Hanya seoles ti pi s li psti k merah tua
mewarnai bi bi rnya. Selendang bati k membungkus lehernya
seperti syal.
“Met pagi , Ran. Gi mana pameran patung Teguh di Jer-
man? Sukses?” Hans menyapa mi tranya.
91
“Wonder ful. They love i t, those str ange bules,” Syahrani
tertawa ringan, “so, how’s our young and beautiful cur ator ?
Di a nelepon aku semalam. Seperti nya di a semangat banget,
tuh. Katanya banyak dapat luki san bagus di Bandung.”
“Tapi kali ini dia agak aneh,” Hans geleng-geleng kepala,
“dia bahkan nggak mau kasih aku sneak pr evi ew. Tadi pagi
kami sarapan bareng di rumah, lalu di a langsung meng-
hi lang. Ternyata sudah duluan kemari , dari setengah j am
yang lalu malah.”
“Oh, ya? Let’s see what she got, then.” Syahrani ter-
senyum dan menggosokkan kedua telapak tangannya seolah
hendak menganti si pasi sebuah kej utan.
Hans pun membuka pi ntu kantornya yang sedari tadi
tertutup, melangkah masuk bersama mi tranya.
Wanda menyambut keduanya dengan senyum merekah.
Semuanya tampak sudah rapi i a persi apkan, termasuk pro-
yektor yang sudah menyala dan terhubung ke laptop-nya.
Wanda langsung menghampi ri Syahrani dan memeluknya,
“Tante Rani , I mi ss you so much ....”
“Mi ss you too, dear . Papi mu ceri ta, kamu semangat ba-
nget mau presentasi pagi ini,” kata Syahrani sambil menjawil
pi pi Wanda.
Wanda mengangguk mantap, lalu tanpa banyak bicara ia
langsung memulai mempresentasikan slide-slide foto lukisan
yang sudah i a persi apkan. Wanda memulai dengan karya
peluki s pali ng seni or terlebi h dahulu, hi ngga foto demi foto
berlalu, dan Wanda tiba pada koleksi terakhirnya. Napasnya
sej enak di hela sebelum mulai memberi kan ulasan. Wanda
tampak sedikit tegang. “Yang ini adalah karya pelukis muda.
Menurut saya dia sangat gifted. Karyanya segar, otentik. De-
ngan manaj emen yang bai k, menurut saya di a bi sa punya
prospek luar bi asa.”
92
“Si apa namanya? Keenan?” tanya Syahrani sambi l mem-
baca-baca arsi p yang sudah di persi apkan Wanda di mej a.
“I ya. Di a yang temannya Noni di Bandung i tu, Papi .”
Wanda berkata sambi l meli ri k ayahnya.
“Sudah pernah pameran?” tanya ayahnya.
Wanda menghela napas. I a sudah menduga pertanyaan
i tu pasti muncul. “Belum,” j awabnya.
“Pernah masuk di galeri mana?” Syahrani i kut bertanya.
Pertanyaan kedua yang pasti muncul. “Belum pernah,”
j awab Wanda lagi .
Syahrani dan Hans berpandang-pandangan. “Well,” Hans
berdehem, “kalau soal di a berbakat, saya setuj u. Otenti k?
Bi sa j adi . Tapi , anak i ni keli hatannya masi h berproses dan
belum mencapai ti ti k kematangannya sebagai peluki s. Saya
lihat dia seperti masih mencari identitas. Kasih satu-dua ta-
hun lagi , mungki n di a baru layak masuk ke Warsi ta.”
Ekspresi Wanda seketi ka berubah. Mulutnya mengerut.
“Papi , tapi saya yaki n di a punya sesuatu. He’s li ke a r aw
di amond ....”
“Persis,” sahut ayahnya santai, “r aw—mentah. Dia bagus,
tapi mentah.”
“Saya setuj u dengan semua poi n kamu, Hans,” Syahrani
angkat bi cara, “tapi ada faktor lai n yang bi sa j adi perti m-
bangan, yai tu kej eli an Wanda meli hat talenta baru. Warsi ta
memang terkenal dengan koleksi karya-karya pelukis mapan,
tapi nggak ada salahnya galeri i ni j uga memulai membuka
peluang untuk peluki s baru. I ni bi sa j adi kredi t buat ki ta
j i ka kelak peluki s i ni berkembang bagus.”
Hans tersenyum keci l, “Sudah ada berapa puluh peluki s
baru yang antre ingin masuk sini dan kita tolak, lalu kenapa
yang satu i ni bi sa mendapat perkecuali an?”
“Karena di a berbeda, Papi ,” Wanda menyambar tegas.
Syahrani sekilas memeriksa arsip Keenan sekali lagi. Ada
93
selembar foto Keenan di sampi ng luki sannya yang i kut di -
lampi rkan di sana. “Karena ... I thi nk our Wanda li kes
hi m.”
Muka Wanda langsung merah padam. Mulutnya si ap
membuka, tapi i a kehi langan kemampuannya berkata-kata.
“Bercanda, Sayang,” cepat Syahrani menambahkan sambil
tertawa halus. “Anak i ni memang berbakat. Dan saya pi ki r
di a layak di beri kesempatan.”
Hans mengangkat bahunya ri ngan. “Oke. Ki ta li hat saj a
nanti perkembangannya.”
Napas Wanda melega. Meski ia masih terusik dengan apa
yang di lontarkan padanya barusan, senyum puas yang me-
nyembul di waj ahnya sungguh tak bi sa i a tahan.
Bandung, Febr uar i , 2000 ...
Rasa pegal yang mulai menyerang kaki nya menunj ukkan
bahwa sudah cukup lama i a berdi ri di sana. Keenan mulai
berpi ki r barangkali sudah saatnya i a menyerah dan pulang.
Namun, i a mengedarkan pandangannya sekali lagi , meneli ti
waj ah-waj ah yang lalu-lalang di seki tarnya. Akhi rnya, tam-
pak sekelebat si luet yang i a cari . Rambut sebahu yang ter-
gerai, jaket jins yang hampir setiap hari dipakai, ransel yang
tampak ti dak proporsi onal karena ukurannya terlalu besar
unLuk Lubuh pemukuInvu .... ¨Kugv!¨ Keenun berseru.
Yang di panggi l malah terus berj alan. Terpaksa Keenan
mengej ar dan menari k tangannya.
Kugy memej amkan mata sebelum berbali k dan menyetel
muku poIos, ¨HeIoooo! Rekun ugen! Apu kubur?¨
Keenan menatapnya tak percaya. “Kamu ke mana aj a?”
“Ada ...,” j awab Kugy bergumam.
“Gy, saya tuh nggak pernah betah lama-lama di kampus.
94
Tapi gara-gara nyari i n kamu, hampi r seti ap hari saya nong-
krong di sini, nunggu di tempat yang sama, dan kamu nggak
pernah nongol,” uj ar Keenan. “Kamu si buk banget, ya?”
Baru pertama kali i tu Kugy mendengar nada bi cara
Keenan terdengar agak emosi onal, ti dak lagi kalem seperti
bi asa. Di a seperti orang yang sungguh-sungguh kehi langan.
“Yah, lumayan sibuk ...,” Kugy kembali menjawab dengan
suara berkumur.
“Ulang tahun kamu udah lewat,” kata Keenan dengan
nada menyesal.
“Ulang tahun kamu j uga,” balas Kugy pelan. “Maaf ya,
nggak sempat kasi h selamat. Tapi waktu i tu aku udah ti ti p
pesan ke Eko.”
“Nggak bi sa ngomong sendi ri ?”
Kugy menelan ludah. Pertanyaan i tu di lontarkan dengan
halus, tapi sorot mata Keenan begi tu menusuk, dan Kugy
merasa seperti tertuduh. “Waktu itu kan pas Wanda lagi da-
tang ke Bandung, dan aku nggak mau ganggu. Kali an ber-
empat kan ada acara sendi ri —”
“Dan saya ngundang kamu j uga,” potong Keenan, “saya
nggak pernah bikin acara itu untuk eksklusif berempat, kok.
Gy, kamu sahabat saya, nggak mungki n saya—”
“Nan, kadang-kadang sahabat yang bai k i tu j ustru harus
tahu di ri ,” Kugy ganti an menyambar, “aku kan udah bi lang,
karena j ustru nggak mau ganggu makanya aku—”
“Kamu sebetulnya kesal sama saya, ya?”
“Kesal—soal apa?” tanya Kugy tegang.
Keenan mengangkat bahu, “Nggak tahu. Yang jelas alasan
‘nggak mau ganggu’ i tu kok kedengarannya agak basi , ya.”
Kugy terdiam. Mana mungkin bisa jujur, batinnya. Justru
alasan j uj urnya yang bakal j adi j uara basi .
“Saya sebetulnya punya sesuatu buat kamu. Tadinya saya
mau kasi h untuk hadi ah ulang tahun kamu ....”
95
“I t’s okay, Nan. Kapan-kapan aja,” sahut Kugy cepat, sam-
bi l mengusahakan senyum lebar di mulutnya.
“Malam mi nggu i ni ki ta mau nonton mi dni ght kayak
bi asa. I kut, yuk. Kamu selalu di tanyai n sama Mas I tok,
tuh.”
“Ki ta—berempat?” Kugy bertanya hati -hati .
“Mungkin berlima. Katanya weekend ini Wanda mau da-
tang lagi ke Bandung.”
“Li hat nanti , ya. Aku usahai n,” ucap Kugy dengan nada
yang dibuat serileks mungkin. Dua r atus per sen pasti nggak
bakalan i kut, sambungnya dalam hati .
“Luki san saya bakal masuk ke Galeri Warsi ta,” Keenan
menambahkan, “gara-gara i tu Wanda bolak-bali k terus ke
Bandung.”
MuLu Kugv membeIIuk, ¨Wuh! SeIumuL, vu!¨ kuII InI Iu
sungguhan tulus mengatakannya. “Keenan Aquaneptuni a-
mani a ... j adi peluki s beneran. Hebat.”
Keenan tergelak. “Sej ak kapan nama saya j adi Keenan—
apa tadi ? Kleptomani a?”
“Aquaneptumania. Resmi ditahbiskan barusan,” Kugy nye-
ngi r. “Beneran ... aku i kut senang. Kamu memang pantas
kok masuk galeri seperti Warsi ta. Cuma masalah waktu.”
“Makan bareng, yuk. Saya trakti r. Pemadam Kelaparan?”
Kugy menghela napas. Perutnya sudah keroncongan sejak
tadi . Dan ti dak ada manusi a lai n yang pali ng i deal untuk
menemani nya makan si ang selai n Keenan. “Hmm ... sori .
Aku harus cabut, ada j anj i dengan Ami dari Klub Kakak
Asuh. Kapan-kapan, ya?”
Keenan sejenak terdiam mendengar respons Kugy. “Udah
dua kali kamu ngomong ‘kapan-kapan’ ke saya hari i ni .
Moga-moga nggak ada yang keti ga kali ,” ucapnya pelan.
Kugy tak berani menatap Keenan langsung. Perasaan se-
perti tertuduh i tu kembali menyerangnya. “Duluan, ya,”
96
kembali setengah berkumur Kugy berkata, dan cepat-cepat
i a berlalu dari sana. Kaki nya melangkah besar-besar, mata-
nya terus menekuni aspal. Kalau nggak begi ni , kamu akan
ter j ebak ter us, Kugy. Seperti merapal mantra, Kugy meng-
ulang-ulang kali mat i tu dalam hati nya.
97
Bandung, Mar et 2000 ...
Pria berkacamata itu sudah siaga berdiri dengan empat tiket
bi oskop di tangan. Ada beberapa helai ti ket lagi tersi mpan
di kantong belakang ki ri dan kanan. I ni sudah menj adi pe-
kerj aan tetapnya hampi r seti ap malam Mi nggu. Sej ak Eko
sering menitip beli tiket midnight, banyak teman-teman Eko
lainnya yang juga ikut memakai jasanya, sampai-sampai dia
harus mulai mengerahkan beberapa teman untuk ikut mem-
bantu.
¨Mus ¡Lok!¨
Pri a i tu menoleh. Tampak rombongan Eko muncul di
tangga eskalator.
“Nah, i ni buat Mas Eko dan Mbak Noni , i ni buat Mas
Keenan dan ... Mbak Pacar Baru.” Tanpa beban, I tok me-
nyerahkan ti ket i tu masi ng-masi ng dua lembar ke tangan
Eko dan Keenan.
Mereka berempat spontan tertawa.
“Nama saya Wanda, Mas. Tapi nggak pa-pa j uga kalau
12.
JENDERAL PILIK & PASUKAN ALIT
98
di sebut ‘Mbak Pacar Baru’,” celetuk Wanda sambi l menger-
li ng ke arah Keenan yang berdi ri di sebelahnya dengan
muka memerah.
“Mbak Kugy nggak pernah i kut lagi , ya, Mas Keenan?
Resmi putus nih ceritanya?” I tok mesem-mesem dengan ta-
tapan haus gosi p.
“Mas I tok, j angan aneh-aneh, deh. Beli i n ti ket bi oskop
aj a,” Eko mulai protes.
“Hebat Mas Keenan, ya. Mentang-mentang ganteng, pa-
carnya ganti-ganti, cantik-cantik lagi,” I tok masih terus ber-
komentar.
Transaksi pun berjalan seperti biasa, dan cepat-cepat me-
reka berlalu dari hadapan Mas I tok sebelum manusi a i tu
terus mengorek-ngorek i nfo ti dak penti ng.
“Memangnya—kamu pernah pacaran sama Kugy?” tanya
Wanda pelan.
Keenan hanya menggeleng. Entah kenapa, i a ti dak ber-
selera untuk panj ang lebar menj elaskan.
“Kugy dan Keenan pacaran itu selamanya hanya akan ada
di otak Mas I tok seorang,” Eko menambahkan sambi l ter-
kekeh. Dalam hati nya, Keenan merasa tersenti l dengan
ucapan Eko, sekali pun tahu bahwa temannya hanya ber-
canda.
“Tauk tuh Kugy. Si buk banget sekarang. Di a j adi guru
relawan buat sekolah darurat gi tu, hampi r ti ap hari ngaj ar.
Pulangnya sore terus, habis itu nggak pernah keluar kamar,”
Noni berceri ta.
“Aneh. Emangnya dia ngajar sampai malam? Memangnya
ada layar tancap midnight di Bojong Koneng? Kalo kata gua,
ada faktor si buk dan sok si buk,” Eko meni mpali lagi .
“Nan, ar e you okay?”
Keenan tersentak dengan pertanyaan Wanda yang ti ba-
ti ba, dan i a pun tersadar bahwa Wanda memperhati kannya
99
saksama sejak tadi. Sebagai jawaban, Keenan tersenyum se-
ki las.
“Beli popcor n, yuk,” Wanda tahu-tahu menggamit tangan-
nya, dan mereka berdua berj alan menuj u mesi n popcor n di
dekat sana.
Keenan seolah terempas ke lorong waktu. Semua i ni
terasa seperti dejavu. I a mengenal adegan ini. Malam Ming-
gu, tempat yang sama, mesin popcor n yang sama. Bedanya,
orang yang bergandengan dengan tangannya waktu itu ada-
lah Kugy.
Bandung, Apr i l 2000 ...
Sambil rebahan di atas karpet, Ojos mengamati wajah pacar-
nya sej ak tadi . Rambutnya yang semaki n panj ang, kaus
“Lake Toba”—seragam ti dur favori tnya—sudah semaki n lu-
suh, celana pendek bati knya yang berkeri ut-keri ut, mata
bundarnya tampak seri us menekuni buku J.R.R. Tolki en
yang tebalnya mi nta ampun. Oj os pernah bercanda, buku
setebal i tu lebi h cocok buat senj ata melawan anj i ng galak
keti mbang buat bacaan. Seumur hi dupnya, Oj os tak mem-
bayangkan akan bi sa membaca sepuluh persen saj a dari
j umlah buku yang di baca Kugy.
Mulai merasa di amati , Kugy pun mengangkat mukanya.
“Mau baca j uga, Jos? Aku ada Donal Bebek ....”
Oj os menggeleng. Kugy pun kembali pada bacaannya.
Oj os kembali mengamati . Ruangan i tu kembali heni ng.
Lama.
“Gy ....”
“Hmm?”
“Ar e you okay?”
Kugy menatap Oj os, “I ’m okay. Kenapa, Jos?”
100
“Kamu j adi lebi h di am akhi r-akhi r i ni . Ada yang kamu
pi ki ri n?”
Kugy seperti terusik mendengar pertanyaan itu, tapi cepat
i a tersenyum. “Nggak ada. Pali ng-pali ng soal Sakola Ali t.
Muri d ki ta tambah banyak sekarang.”
“Kamu si buk banget ngurusi n sekolah i tu.”
“Aku betah ngaj ar di sana. Anak-anak i tu ....” Kugy ber-
decak, “kadang-kadang aku yang merasa banyak belajar dari
mereka.”
“Tapi kamu sekali-sekali harus memperhatikan diri kamu
j uga, dong. Kamu tambah kurus.”
“Makanku tetap sadi s, kok.”
“I ya, tapi akti vi tas kamu j uga gi la-gi laan. Kamu harus
i sti rahat. Badan kamu sampai habi s, gi tu.”
“Bukan. I tu karena anakonda di perutku juga tambah be-
sar ....”
“Gy, aku seri us.”
“Jos, I ’m okay,” tandas Kugy, “... oke?” Tak lama, Kugy
kembali tenggelam dalam bacaannya, dan ruangan i tu kem-
bali heni ng.
“Gy ....”
“Hmm?”
“Kamu butuh li buran.”
“Li buran apa?”
“Ki ta ke Si ngapur, yuk. Weekend aj a. Omku baru beli
apartemen di daerah Orchard. Ki ta bi sa stay di sana.”
“Nggak punya uang.”
“Aku bayari n.”
“Nggak mau.”
“Waktu kamu dari Seni n sampai Jumat di habi skan buat
anak-anak i tu. Aku cuma mi nta satu weekend doang. Masa
si h kamu nggak bi sa kasi h?”
101
“Jos, hari i ni malam Mi nggu, dan aku bareng sama
kamu. Apa bedanya?”
“Kamu nggak bareng sama aku,” Oj os berkata pedas,
¨kumu bureng sumu ToIkIen!¨ Dun Iu pun bungkIL berdIrI,
meni nggalkan ruang i tu dan Kugy yang termangu.
Hari Mi nggu pagi . Ti dak bi asanya Oj os bangun sepagi i tu.
Tapi karena di a j anj i menemui Noni yang ruti n lari pagi di
Gasibu, Ojos pun dengan terpaksa menyeret badannya untuk
menyeti r ke daerah Gedung Sate. Nongkrong di dekat pen-
j ual mi numan sambi l menunggu Noni menyelesai kan pu-
taran terakhi rnya.
Tak lama, Noni datang menghampi ri , langsung meneng-
gak ai r mi neral botol yang sudah di sedi akan Oj os.
“Hebat banget si h lu, Non. Baru malamnya nonton mi d-
ni ght, kok bi sa pagi nya udah j oggi ng lagi ,” komentar Oj os.
“Masi h kurang kurus ni h, Jos. Dua ki lo lagi , deh. Lagi
kej ar target.”
Ojos melengos. “Apa lagi si h yang mau di kurusi n? Dasar
cewek-cewek. Nggak ngerti gue. Temen lu tuh yang jadi ku-
rus padahal nggak j oggi ng.”
“Maksud lu—Kugy?”
“I tu dia yang pingin gue tanya sama lu, sampai gue bela-
belai n bangun nyubuh begi ni ,” ai r muka Ojos berangsur se-
ri us. “Di a kenapa si h, Non?”
“Kenapa memangnya?”
“Lu kan ti ap hari ketemu di a. Merasa ada yang aneh
nggak, si h?”
Noni berpi ki r sej enak. “Mmm. Di a memang j arang j alan
sama ki ta akhi r-akhi r i ni . Si buk sama Ami di Sakola Ali t.
102
Ti ap hari kayaknya di a kecapean kali , ya. Sama gua aja jadi
j arang ngobrol. Kalo ada yang penti ng-penti ng doang.”
“Selai n Sakola Ali t, ki ra-ki ra ada faktor lai n nggak?”
Noni berpi ki r lagi , lalu mengangkat bahu.
“Di a ...,” Oj os seperti berat mengatakannya, “nggak lagi
dekat sama cowok lai n, kan?”
Keni ng Noni kontan berkerut. “Cowok lai n? Setahu gua
nggak ada.”
Ojos kelihatan menimbang-nimbang, seperti ingin meng-
ungkapkan sesuatu yang lebi h berat lagi . “Kalo dengan
Keenan ... di a nggak—”
Spont an, Noni t er gel ak, sampai hampi r t er sedak.
“Aduuuh ... lu kena si ndrom Mas I tok j uga ternyata.”
“Si apa tuh Mas I tok?”
“Never mind,” Noni mengibaskan tangannya, “setahu gua,
mereka berdua memang dekat, nyambung, tapi nggak ada
apa-apa. Keenan malah lagi naksi r-naksi ran sama sepupu
gua yang dari Melbourne i tu.”
“Oh, ya? Mereka udah j adi an?”
“Belum, si h. Pali ng bentar lagi ,” Noni terkekeh, “gua lho
Mak Comblang-nya.” Tak lupa i a menambahkan dengan
nada bangga.
I nformasi Noni terasa membawa sedi ki t ketenangan bagi
Oj os, tapi kecemasan i tu tak sepenuhnya hi lang. “Gue ti ti p
Kugy, ya, Non. Kalau ada ada apa-apa, tolong kabari n gue.”
“Lu tenang aj a, Jos. Mungki n Kugy memang lagi fokus
banget ke kegiatan barunya itu. Kan dia memang gitu anak-
nya. Kalo udah suka sesuatu, suka j adi asyi k sendi ri .”
Namun, ingatan Ojos kembali ke adegan di Stasiun Gam-
bi r malam hari i tu. Sorot mata Kugy, sorot mata Keenan,
dan gaya antena yang seolah-olah merupakan bahasa sandi
antara mereka berdua. Dalam hatinya, Ojos yakin ia tak per-
nah salah. Radarnya tak pernah salah.
103
Di butuhkan waktu delapan kali pertemuan untuk meluluh-
kan hati mereka, muri d-muri d Kugy yang ki ni berj umlah
sebelas orang itu. Sedikit di antara mereka yang lancar ber-
bahasa I ndonesi a. Hampi r semuanya terus-terusan meng-
gunakan bahasa Sunda. Sementara Kugy sama sekali ti dak
bi sa berbahasa Sunda. Setelah dua mi nggu, masi ng-masi ng
pi hak mulai sali ng mempelaj ari . Ki ni , anak-anak i tu mau
lebi h banyak memakai bahasa I ndonesi a, dan Kugy pun di -
aj ari secara ti dak langsung i sti lah-i sti lah Sunda oleh anak-
anak itu. Alhasil, bahasa Sunda Kugy yang centang perenang
menj adi salah satu hi buran favori t mereka.
Selain menjadikan dirinya sendiri dagelan, Kugy akhirnya
menemukan cara lai n untuk memoti vasi mereka belaj ar
membaca. Awalnya, Kugy membawa setumpuk buku-buku
dongeng klasik, termasuk koleksi Donal Bebeknya yang ber-
j ubel. Terkaget-kagetlah Kugy keti ka mengetahui bahwa
anak-anak i tu ti dak mengetahui sama sekali keberadaan
Thumbeli na, Putri Salj u, Ci nderella, Praj uri t Ti mah, dan
tokoh-tokoh dongeng kl asi k l ai nnya. Donal Bebek dan
Mickey Mouse pun hanya sebatas tahu gambar di kaus saja.
Dan tersadarlah ia, bahwa dunia kanak-kanaknya dan dunia
anak-anak di Sakola Ali t sangat j auh berbeda.
Kugy akhirnya membuat perjanjian dengan anak-anak itu,
setiap kali mereka berhasil naik tingkat membaca, maka Kugy
membuatkan dongeng tentang mereka. Seluruh tokohnya di-
ambi l dari masi ng-masi ng anak, lengkap dengan ornamen-
ornamen pendukung yang ada dalam kehi dupan mereka.
¨Bu Kugv! Suvu muu judI JenderuI!¨ Seorung unuk meng-
acungkan tangannya sambi l membusungkan dada keti ka
Kugy pertama kali menceri takan rencananya i tu di depan
kelas.
104
Dalam hati nya, Kugy bersorak gembi ra. Anak i tu, Pi li k,
adalah anak yang pali ng tua dan di segani di antara muri d-
muri d lai n. Usi anya sembi lan tahun, dan belum bi sa baca
tulis. Seminggu pertama, Kugy habis dipelonco oleh Pilik. I a
tak berhenti -henti berceletuk, tertawa keras-keras, mengo-
mentari Kugy dengan bahasa Sunda yang tak dimengertinya,
dan Kugy sadar sedang di perolok-olok.
Walau sempat mangkel luar bi asa, Kugy tahu anak i tu
sesungguhnya cerdas dan berj i wa pemi mpi n. Tak heran,
Pi li klah yang pali ng bersemangat menyambut i de dongeng
Kugy, dengan catatan: i a harus j adi tokoh utama, ali as j adi
Jenderal.
¨SeLuju! JenderuI PIIIk! SIupu vung muu IkuLun IugI?¨ Lu-
nya Kugy pada semua.
Melihat Pilik begitu antusias, yang lain pun langsung ikut
mengajukan diri. Maka hari itu, terbentuklah: Jenderal Pilik
dan Pasukan Ali t. Ada j uga Hogi si Ayam Pelung Keramat,
Palmo si Kambing Nekat, Gogog si Anjing Jago Renang, dan
tokoh-tokoh hewan yang diadopsi dari peliharaan mereka di
rumah. Seti ap hari sepulang sekolah, Kugy menyempatkan
di ri bermai n bersama mereka di kampung. Dan seti ap hari
pula, ia menuliskan petualangan mereka dalam sebuah buku
tuli s. Kendati dengan kemampuan baca yang terbata-bata,
anak-anak i tu selalu ri uh bersorak-sorai dan bertepuk ta-
ngan menyemangati satu sama lain ketika mereka bergiliran
membaca dongeng mereka sendiri. Sejak hari itu, Pilik men-
j adi sahabat seti anya. Dan Kugy menj adi i dola mereka se-
mua.
Sore i tu, setelah semua muri dnya pulang, kembali Kugy
duduk di saung keci lnya, menuli skan ki sah petualangan
Jenderal Pi li k dan Pasukan Ali t. Dari kej auhan terdengar
kokok ayam pelung yang lantang dan panj ang. “Hogi ...,”
gumam Kugy. Dan tangannya spontan mencoret-coret
105
gambar ayam j antan dengan bulu-bulu hi tam berki lau yang
mekar sempurna. Tiba-tiba tangannya berhenti. “Lho ... kok
j adi kayak Stegosaurus ...,” gumamnya sendi ri an.
“Ngapai n, Gy?”
Kugy terlonj ak kaget mendengar suara yang ti ba-ti ba
muncul dari belakang.
“Eh, si I cal. Gua pikir Pak Somad lagi razia saung,” Kugy
terkekeh, “gua lagi i seng-i seng bi ki n i lustrasi . Tapi gagal
total.”
“Ya, kata Ami , metode dongeng lu sukses berat,” puj i
I cal, lalu matanya melirik coretan tangan Kugy, “tapi jangan
di paksai n pakai gambar, deh.”
Kugy tergelak. “Untuk soal satu i tu, gua tahu di ri , kok.
Gambar ayam purbakala i ni cukup gua, lu, dan Tuhan aj a
yang tahu.”
“Gua punya teman, jago banget ngegambar. Mungkin dia
bi sa sekali -sekali ki ta undang j adi guru gambar di si ni .”
“Anak Seni Rupa? I TB?”
“Bukan. Anak kampus ki ta, kuli ah di Manaj emen. Di a
satu kos sama Bi mo, sobat gua.”
Jantung Kugy seketi ka seperti di tusuk.
“Nanti gua coba hubungi lewat Bi mo, deh. Si apa j uga
yang nggak terketuk hati nya li hat gambar lu i tu, Gy,” uj ar
I cal geli .
Kugy i kut tersenyum, tapi senyuman i tu sudah berubah
masam. Seperti nya i a tahu si apa yang I cal maksud. Susah
payah ia berlari, menghindar, dan menenggelamkan diri da-
lam duni a baru i ni . Ti ba-ti ba saj a, orang i tu akan di undang
lagi untuk bergabung. Kalau sampai i tu terj adi , Kugy tak
tahu harus lari ke mana lagi .
106
Jakar t a, Mei 2000 ...
Kugy ti dak bi sa lari kali i ni . Gara-gara pulang ke Jakarta
nebeng Fuad yang ki ni sudah bi sa menempuh perj alanan
luar kota, Kugy tak bisa menghindar ketika Noni mengajak-
nya mampi r ke Galeri Warsi ta.
“Apa maksud dan tuj uan ki ta ke sana, si h?” Kugy ber-
tanya setengah protes, “Beli luki san? Kagak mampu. Li hat
luki san Keenan? Udah seri ng. Jadi , apa?”
“I ni namanya: suppor t, Sayang. Kita harus menunjukkan
dukungan ki ta pada Keenan. I ni hari bersej arah buat di a,”
Noni berpi dato, “bayangi n, pertama kali luki sannya masuk
galeri, eeh ... langsung ke galeri besar kayak gitu. Nggak se-
mua peluki s muda bi sa punya kesempatan kayak Keenan.
Masa ki ta nggak bangga sebagai sahabat-sahabatnya?”
Meski mukanya kurang rela, dalam hati Kugy setuj u de-
ngan semua yang di ucapkan Noni . I a hanya malas meng-
hadapi adegan-adegan yang seki ranya bakal pedas di mata.
“Ki ta cuma mampi r bentar, kan? Ngeli hat luki sannya di -
paj ang terus ki ta pulang?” Kugy memasti kan sekali lagi .
13.
RENCANA BESAR WANDA
107
Eko sedi ki t terbatuk, “Jadi gi ni , Gy. Sore i ni akan ada
acara high tea di galeri untuk memperkenalkan koleksi baru-
nya Warsita, salah satunya lukisan Keenan. Nanti bakal ada
peluki s-peluki s, wartawan, kolektor, kurator ....”
Kugv Iungsung pucuL pusI. ¨KuIIun kok Legu, sIh! BIIung-
bIIung, dong! Guu kuvuk nupI buron begInI ....¨
Kepala Eko langsung menoleh ke belakang. “Lu adalah
manusi a pali ng cuek dan pe-de yang gua tahu. Masa gentar
sama acara gi tu doang? Bukan acara besar, kok. Kata
Wanda, cuma seki tar li ma puluh orang yang di undang ....”
“Li ma puluh?” Kugy setengah berteri ak. “Gua pokoknya
Lunggu dI mobII!¨
“Yah ... j angan gi tu, dong, Gy. Lu keli hatan oke, kok
....”
¨Kuguk udu!¨ Lukus Kugv. ¨KuIIun uju vung Lurun, guu
Lunggu dI mobII. TILIk!¨
Namun, bukan j atahnya Kugy untuk bi sa kabur hari i ni .
Saat Fuad ti ba di pelataran parki r galeri , mereka berti ga
langsung di sambut oleh Wanda dan Keenan yang datang
semobi l dan j uga baru parki r.
“Hi , guys. Thanks ya udah mampi r,” Wanda menyapa
mereka. Kali ini baju Wanda serba si lver , serasi dengan tas,
sepatu, dan kuku-kuku. Ri asan waj ahnya lengkap seperti
penyanyi mau pentas.
Kugy meli ri k bajunya sendi ri . Ada sebersi t penyesalan di
hati nya. Kalau saj a i a tahu akan di bawa ke Galeri Warsi ta
dulu, i a pasti akan lebi h membenahi dandanannya. Namun,
bukan j atahnya untuk tampi l si ap hari i ni . I a harus pasrah
dengan kaus eks-pani ti a Fun Bi ke yang sablonannya sudah
memudar dan resmi tercantum dalam daftar “calon lap
mobi l” Oj os yang si ap di culi k dari lemari pakai annya seti ap
saat.
Keenan langsung menghampi ri Kugy dengan sumri ngah,
“Hai , Gy. Saya nggak nyangka kamu i kut.”
108
“Aku juga nggak,” Kugy tersenyum masam. Rasanya ingin
i a menci ut j adi semut lalu mi nggat dari si tu. Mi nggat dari
Wanda yang seperti artis I bu Kota siap naik panggung, dari
Keenan yang berkemej a rapi dan terli hat sangat tampan,
dari pemandangan j emari Wanda yang meli ngkar di lengan
Keenan, dari Noni dan Eko yang tampaknya sangat bangga
dengan keberhasi lan proyek perj odohan mereka. Namun,
bukan j atahnya untuk bi sa mi nggat hari i ni .
Di poj okan i tu, terdapat mej a besar tempat berbagai aneka
teh dan mi numan di hi dangkan, lengkap dengan penganan
kecil yang ditata apik di nampan-nampan perak. Di sanalah
Kugy bercokol, meminum bercangkir-cangkir teh dan menge-
nyangkan perutnya dengan kue-kue yang tinggal comot dari
tempat i a berdi ri .
“Memang kamu nggak boleh di kasi h makan grati s, bi ki n
rugi pani ti a.”
Kugy menoleh, mendapatkan Keenan yang sudah berdi ri
di sampi ngnya. “I ni modus operasi standar mahasi swa ku-
rang gi zi ...,” Kugy menyahut susah payah, mulutnya masi h
penuh dengan kue.
Keenan menatapnya hangat, “Saya senang kamu bisa da-
tang.”
Kugy mau tak mau tersenyum. Selalu ada kesejukan yang
mengali ri tubuhnya ti ap kali meli hat tatapan i tu. “Aku ter-
haru lihat lukisan kamu dipajang tadi. Buatku, lukisan kamu
yang pali ng bagus dari semua yang ada di galeri i ni ,” ucap
Kugy polos, “mmm ... tapi aku nggak ngerti apa-apa soal
luki san. I ni si h cuma selera, dan mungki n, yah, karena
kamu sahabatku,” tambahnya sambi l mesem-mesem.
109
Keenan bali k tersenyum, “Kamu nggak perlu ngerti lu-
ki san untuk suka luki san. Cukup pakai hati aj a.”
Mendengar kalimat Keenan, napas Kugy langsung meng-
hela. “Setuj u. Pakai hati saj a,” i a pun meni mpali pelan.
“Mas I tok nyangka ki ta putus.”
Teh yang baru di seruput Kugy nyari s tersembur lagi ke-
luar dari mulutnya. “Ha-ha-ha ... di j agat raya i ni mungki n
cuma Mas I tok yang tahu kapan kita jadian. Kita berdua aja
nggak tuh ....”
“Sekarang, di a nyangka saya pacaran sama Wanda.”
Tawa Kugy masih berlanjut, tapi berangsur hambar, hing-
ga akhi rnya surut sama sekali . “Si apa tahu Mas I tok i tu se-
benarnya cenayang. Di a bi sa meli hat apa yang terj adi di
masa depan ...” Kugy menelan ludah, “Kamu—nggak tertarik
pacaran sama Wanda?”
Keenan tak langsung menj awab. Matanya berali h pada
Wanda yang berdiri di ujung ruangan dan tampak sibuk ber-
bi cara dengan orang-orang. Kugy mengi kuti arah mata
Keenan. Dan ki ni mereka berdua menatap obj ek yang
sama.
“Kalo aku j adi cowok ..., bego banget kalo nggak suka
sama Wanda ...” gumam Kugy.
“Mungkin aja cowok sebego itu ada,” gumam Keenan ba-
li k.
Darah Kugy terasa berdesi r. Ada yang melonj ak dalam
hati nya. “Jadi ... kamu—”
Namun, arah mata Keenan mendadak berubah. “Keluarga
saya datang. Sori , saya ti nggal dulu, ya, Gy ....”
Kugy terpaksa mengangguk, menelan apa yang i ngi n i a
ucapkan, dan membi arkan Keenan melesat ke arah pi ntu
depan. Matanya ikut mengamati. Kugy sudah pernah melihat
keluarga Keenan dari foto, tapi baru kali i ni lah i a meli hat
langsung. I bunya yang orang Belanda tampak lebi h canti k
110
dari foto, berbaju serba putih, dengan rambut panjang yang
di gelung ke atas. Ayahnya menj ulang ti nggi seperti Keenan,
juga tampak gagah dengan jas biru tua yang dipadu dengan
j i ns. Ada seorang anak remaj a laki -laki berambut i kal yang
i kut bersama mereka, mukanya mi ri p Keenan tapi dengan
kuli t lebi h gelap. “Jeroen ...,” desi s Kugy sendi ri an.
Bersamaan dengan i tu, tampak seseorang yang i kut ber-
gabung, menyalami mereka satu-satu dengan senyuman
canti k. Wanda. Mulut Kugy langsung manyun.
Tahu-tahu tangan Kugy ada yang menari k. “I tu ortunya
Keenan. Si ni , gua kenali n,” kata Eko yang muncul di sam-
pi ngnya bersama Noni .
“Tante Lena, Om Adri, Jeroen, apa kabar?” Eko menyapa
keti ganya.
“Hai , Eko,” sapa Lena sambi l memeluk keponakannya,
“hai , Noni ....”
“I ni Kugy, Tante. Sahabatnya Noni,” Eko memperkenalkan
Kugy yang berdi ri di belakangnya.
Lena langsung menoleh ke arah Keenan, “Ooh ... ini yang
namanya Kugy?”
Keti ga anak i tu, plus Wanda, langsung berpandang-pan-
dangan mendengar nada mencuri gakan yang terlontar dari
i bunya Keenan.
“Keenan ceri ta banyak tentang kamu, Kugy. Katanya
kamu suka menuli s ceri ta, ya?
Kugy nyengir lebar, antara gugup dan senang, “I ya, Tante
....”
“Keenan kagum sekali dengan ceri ta-ceri ta buatan kamu.”
Kugy pun kontan berdehem. “Ehm. Di a memang fans
saya, Tante. Tapi sayangnya sampai sekarang cuma di a
doang yang nge-fans, yang lai n nggak ... ha-ha ....”
Semua orang di situ ikut tertawa, kecuali Wanda. “Tante,
Om, mari saya antar keli li ng,” aj aknya sambi l menari k le-
111
ngan Keenan hi ngga semua orang terpaksa i kut bergerak.
Mata Kugy tak bi sa lepas dari kuku-kuku bercat perak yang
meli ngkar erat di lengan Keenan bagai kan rantai besi .
Tibalah mereka di depan empat lukisan Keenan yang su-
dah terbingkai indah dan tergantung rapi di panel. Keempat-
nya tampak berkilau disorot oleh lampu halogen. Terdengar
suara Lena yang tercekat, dan mata itu berkaca-kaca. Semen-
tara suami nya hanya berdi ri bergemi ng. Seketi ka Lena me-
rangkul Keenan dan berbi si k, “I k ben er g tr ots op j ou.
15
Mama bangga sekali , vent.”
“Ada agenda apa lagi , ya? Ki ta harus ke mana lagi seka-
rang?” tanya ayah Keenan pada Wanda.
Wanda menatapnya bi ngung. “Mmm ... nggak ada apa-
apa lagi , Om. Si lakan saj a li hat-li hat. Mungki n Om dan
Tante mau mi num? Ki ta ada teh, wi ne ....”
“Maaf, saya nggak bi sa terlalu lama,” uj ar ayah Keenan
lagi , “Lena, li ma belas meni t lagi ki ta j alan, ya?”
“Mama bisa pulang dengan saya. Kalau Papa mau duluan,
si lakan saj a,” sambar Keenan.
Ada ketegangan yang seketika merembet dan menginfeksi
semua.
“Jeroen, kamu nanti i kut saya?” tanya ayahnya.
Jeroen tampak gelagapan, “Mmm ... aku mau jalan-jalan
sama Mas Eko dulu, Pa.”
Suasana tak nyaman i tu di selamatkan oleh seorang pe-
layan yang hadi r di antara mereka dan menawarkan ma-
kanan dan minuman. Eko, Noni, Kugy, dan Jeroen langsung
menyi bukkan di ri dengan kegi atan mengunyah.
“Kamu duluan saj a, Dri . Aku nanti i kut Keenan,” Lena
berkata pada suami nya, “aku mau li hat-li hat lebi h lama di
si ni .”
15
Saya selalu bangga padamu
112
“Nai k apa kali an nanti ? Memangnya Keenan ada ken-
daraan?”
“Nanti pakai mobi l saya, Om,” Wanda cepat meni mpali .
Kunyahan Kugy langsung berhenti mendengar i tu.
“Oke. Terserah kali an,” kata ayahnya si ngkat. Tak lama,
i a benar-benar berlalu dari tempat i tu.
Meski Keenan berusaha bersi kap waj ar, semua yang di
sana merasakan perubahan sikapnya. Seolah ada awan men-
dung yang menggantungi Keenan dan tak kunj ung-kunj ung
pergi , bahkan hi ngga acara sore hari i tu selesai .
Wanda tak langsung beranj ak sesudah mengantar i bu dan
adi k Keenan pulang. I a dan Keenan duduk di beranda de-
pan, di bawah pergola yang beratapkan tanaman merambat
Mandevilla dengan bunga-bunga putih yang menjuntai, ber-
temankan dua gelas ai r yang sedari tadi tak mereka sen-
tuh.
“Papa kamu nggak setuj u kamu meluki s, ya?” tanya
Wanda memecah keheni ngan.
Keenan menggeleng. “Dari keci l, yang saya suka cuma
meluki s. Tapi , nggak tahu kenapa, Papa kayak alergi sama
segala sesuatu yang ada hubungannya dengan luki san.
Mama juga dulu pelukis, tapi sejak menikah Mama berhenti.
Papa nggak kepingin saya tinggal terus di Amsterdam karena
takut saya j adi seni man. Papa pi ki r dengan saya kuli ah
Manaj emen, hobi meluki s bi sa hi lang dengan sendi ri nya.
Tahunya ....”
“Kamu malah ketemu aku,” Wanda menyambung.
Keenan menghela napas. Geti r. “Dan keti ka luki san saya
bisa masuk ke galeri seperti Warsita, saya yakin Papa shock.
Mungki n di a merasa terancam.”
113
“Papa kamu pasti punya bi sni s sendi ri , ya?”
“I ya, di a punya perusahaan tr adi ng, ekspor-i mpor. Di a
bangun semuanya sendi ri dari nol. Kok, kamu tahu?”
“Papi ku j uga sama. Dan aku anak tunggal. I know the
pr essur e,” Wanda tersenyum, “untungnya, aku suka dengan
bi sni snya Papi . Dan aku pi ngi n banget seri us di bi sni s seni .
Tapi tetap saj a, aku j uga harus kerj a keras membukti kan
sama Papi dan Tante Rani kalau aku sanggup ikut menjalan-
kan Warsi ta.” Perlahan, Wanda meletakkan tangannya di
atas tangan Keenan, “Ki ta sebetulnya senasi b,” ucapnya se-
tengah berbi si k. “Nan, kalau boleh aku tahu, apa yang se-
benarnya pali ng kamu i ngi nkan?”
Keenan menoleh, menatap Wanda lekat-lekat. “Menj adi
di ri saya sendi ri ,” j awabnya tegas. “Begi tu ada kesempatan,
saya nggak takut ninggalin ini semua. Satu-satunya yang bi-
kin saya bertahan cuma karena saya masih bergantung pada
Papa. Saya belum mandi ri .”
“Dengan meluki s, kamu bi sa mandi ri . Aku yaki n sama
kemampuan kamu. Cuma masalah waktu.”
Keenan tersenyum seki las. “Yah, berarti ti nggal tunggu
si apa yang mau beli luki san-luki san i tu, kan?”
“You’r e absolutely r i ght,” Wanda mengangguk. I a lantas
terdi am dan matanya menerawang, tapi otaknya berputar
keras memi ki rkan sesuatu.
Sekembali nya dari rumah Keenan, semalaman Wanda
terbari ng di tempat ti durnya. Berpi ki r dan berpi ki r. Ter-
susunlah sebuah rencana yang akan i a j alankan secepatnya.
Wanda tak sabar menunggu pagi ti ba.
Dari pukul setengah sepuluh pagi , Wanda sudah ti ba di ga-
leri . Menelusuri daftar panj ang j ari ngan kolektor dan pe-
114
langgan Warsi ta, menandai sederet nama. Jemari nya yang
lenti k mulai menari -nari di atas tuts telepon, menghubungi
nama-nama i tu satu per satu.
“Om Hali m? I ni Wanda, Om. Katalog Warsi ta yang baru
sudah diterima? Di bagian belakang ada koleksi dari pelukis
baru, namanya Keenan, sudah sempat di li hat? I ya, di a me-
mang masi h baru, Om. Tapi prospeknya bagus, kok ....”
“Apa kabar, Tante Li en? I ni Wanda dari Warsi ta. Dari
katalog baru ki ta, ki ra-ki ra sreg sama yang mana, Tante?
Kalau aku sih rekomen pelukis baru, yang namanya Keenan,
ada di bagian belakang. Mmm. Belum, Tante, dia belum pa-
meran, tapi ....”
Sehari an, Wanda dengan tekun meneleponi satu-satu
orang yang ada dalam daftarnya, hingga akhirnya ia menye-
rah. Tak satu pun dari mereka yang tertari k untuk ber-
i nvestasi pada luki san Keenan. Alasannya semua sama,
Keenan masi h terlalu muda dan belum punya rekor yang
meyaki nkan.
Wanda menelaah daftarnya sekali lagi. Semua orang yang
i a kontak adalah pemai n-pemai n lama yang sudah terbi asa
mengoleksi luki san peluki s ternama. Barulah Wanda me-
nyadari tantangan yang di maksud ayahnya. Ayahnya benar.
Galeri Warsi ta bukanlah tempat yang cocok untuk luki san
Keenan, setidaknya untuk masa sekarang ini. Wanda meng-
gi gi ti bi bi rnya, otaknya pun berputar lagi . I a harus mengu-
bah strategi nya.
Jemari nya kembali menari di atas tuts telepon, tapi kali
ini ia tak lagi melihat daftar yang sudah disusunnya. I a me-
neleponi teman-temannya sendi ri .
“Pasha, ini gue, Wanda. Gue minta tolong, ya? Gue cuma
butuh data lo doang buat customer li st gue. Nggak ... lo
nggak perlu beli luki san ... tapi ceri tanya elo yang beli .
Boleh, ya, Say? Thanks ....”
115
“Vi rna? Dear , would li ke to ask you for a favor . Gue
mau beli lukisan, tapi gue nggak bisa pakai data gue sendiri.
Jadi, atas nama lo boleh, ya? Gue cuma pinjam data doang,
kok ....”
Dalam waktu si ngkat, empat luki san Keenan terj ual su-
dah. Di bel i ol eh empat orang yang berbeda. Namun,
kesemuanya di bayar oleh satu orang yang sama: Wanda.
116
Bandung, Juni 2000 ...
Ji p CJ-8 yang di kendarai Bi mo dan Keenan berhenti di se-
buah puskesmas kecil yang punya parkiran cukup untuk satu
mobi l.
“Gila, ini sih tempat gua biasa pergi off-r oad sama anak-
anak klub,” celetuk Bi mo sambi l mengedarkan pandangan.
Matanya berhenti di satu bukaan j alan. Sempi t dan curam.
“Kata I cal, kita ikutin jalan ini, kira-kira setengah jam, terus
nanti ada masj i d. I cal nunggu ki ta di sana,” uj arnya seraya
sesekali menyi bak dedaunan bambu yang menggempur me-
reka dari ki ri -kanan.
Di kepalanya, Keenan membayangkan si keci l Kugy yang
menempuh j alan i ni seti ap hari nya demi mengaj ar. Hati nya
mendadak terenyuh.
Di masjid yang dimaksud, I cal sudah menunggu mereka.
Dan mereka berj alan kaki lagi menuj u ladang cabai tempat
saung mereka mengaj ar. Tak lama, mereka ti ba di sebuah
saung bambu. Ada Ami yang langsung menyambut Keenan
dan Bi mo.
14.
BUKU HARTA KARUN
117
“I tu tempat gua ngaj ar,” I cal menunj uk saung keci l yang
terletak di tengah buki t. “Kugy ngaj ar di sana,” tangan I cal
lalu menunj uk pohon beri ngi n besar yang di bawahnya ter-
dapat sepuluhan anak lesehan di atas ti kar.
Dari kejauhan, Keenan bisa melihat siluet Kugy yang me-
munggungi nya. Tangan keci lnya bergerak-gerak li ncah se-
perti sedang memperagakan sesuatu.
“Ki ta nggak ada i katan apa-apa, lho, Nan. Karena ceri ta-
nya kamu pengaj ar tamu, kapan pun kamu mau ngaj ar,
kamu bi sa datang. Ti dak ada keharusan waktu atau apa
pun,” Ami menj elaskan.
“Anak-anak i ni semangat banget pi ngi n belaj ar gambar,
tapi kita satu pun nggak ada yang bisa. Asal lu muncul sekali-
sekali aj a, mereka pasti udah senang,” I cal menambahkan.
“Saya ngaj ar di kelas si apa dulu, ni h?” tanya Keenan se-
raya menyandangkan ransel beri si peralatan gambar yang
sudah i a bawa.
I cal dan Ami sali ng berpandangan. “Bebas. Terserah
kamu aj a,” j awab Ami .
“Saya ke sana dulu, ya,” Keenan menunjuk ke arah pohon
beri ngi n. Tempat yang pali ng i ngi n i a datangi sej ak tadi .
Keenan muncul tepat saat Kugy sedang beraksi sebagai dom-
ba Garut si ap ngamuk yang ceri tanya akan di kalahkan oleh
Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Masih dalam posisi menung-
ging dengan kedua tangan membentuk tanduk, Kugy terpaku
saat mengenali ransel marun beri ni si al “K” yang tahu-tahu
muncul di depan mukanya. Sepasang sepatu yang i a kenal.
Kedua tungkai kaki yang rasanya tak asi ng. Cepat-cepat,
Kugy berdi ri , mendapatkan Keenan yang tersenyum si mpul
sambi l membuat tanda antena dengan kedua j ari nya.
118
“Agen Keenan Klappertaartmani a si ap beroperasi ,” sapa
Keenan dengan posi si tegap seperti perwi ra.
“Kata sandi ?” tanya Kugy. Mukanya seri us.
“Pi sang susu.”
Kugy tampak berpikir keras. “Hmm. Baiklah. Silakan ber-
gabung.” Mukanya berubah cerah seperti bi asa, “Anak-
Anuuuk! KILu keduLungun guru Lumu. Numunvu ... Kung
Keenun!¨
Keenan mengernyit. Nama itu terdengar aneh di kuping-
nya.
“Rangginang
16
?” Seorang anak berceletuk, disambut pekik
tawa yang lai n.
“Eh, Pi li k. Kamu belum tahu Kang Keenan i ni bi sa apa.
Dia bisa gambar apa saja yang kalian mau—dalam waktu ti-
duk IebIh durI suLu menIL!¨
Keenan mengernyi t lagi .
“Satu meni t teh sakumaha
17
?” Pi li k bertanya kembali .
“Satu menit itu enam puluh detik. Jadi kalian harus ber-
hi tung satu sampai enam puluh, bareng-bareng semuanya.
Yang belum bi sa, i kuti saya. Tapi semua harus i kut meng-
hi tung. Si aaap?”
¨S¡AAAP!¨ Anuk-unuk ILu menjuwub serempuk.
“Kali an mau di buatkan gambar apa, ayo?” Keenan ber-
tanya seraya bersi aga di sampi ng kertas besar dan spi dol
yang sudah berdi ri tegak di atas sandaran kayu yang i a
bawa.
¨Gumbur sI HogI!¨ seorung unuk berLerIuk.
Keenan mengernyi t untuk yang keti ga kali . “Apa tuh
‘Hogi ’?” bi si knya pada Kugy.
“Ayam jago, besar, hitam, pokoknya ganteng. Oke?” Kugy
16
Sej eni s makanan ri ngan khas Jawa Barat terbuat dari beras.
17
Seberapa.
119
lalu berali h lagi pada muri d-muri dnya, “Si ap berhi tung,
bar udak
18
! SuLu ... duu ... LIgu ... empuL ... IImu ...¨
Beramai -ramai mereka menghi tung sampai enam puluh.
Di hi tungan keempat puluhan, Keenan sudah ongkang-
ongkang kaki . Gambar ayam pesanan mereka sudah si ap.
Tercenganglah anak-anak i tu meli hat gambar ayam yang
tampak hidup muncul di hadapan mereka dalam waktu sing-
kat. Mereka bersorak-sorai kesenangan. Langsung terlontar-
lah bertubi -tubi permi ntaan beri kutnya untuk Keenan.
¨Gumbur roboL!¨
¨Gumbur pesuwuL!¨
¨Gumbur Puk Somud!¨
Sehari an i tu Keenan meladeni permi ntaan mereka. Ti ap
gambar selalu di sambut cengangan kagum dan sorak-sorai .
Hari i tu, kehadi ran Keenan di tengah mereka bak seorang
super star di antara para pemuj a. Gambar-gambar yang i a
buat terpaksa di bagi -bagi kan untuk mereka bawa pulang.
Dan mereka menerimanya dengan bangga seolah baru men-
dupuL Lundu Lungun durI bInLung hIm LerkenuI.
“Kang Keenan sering-sering datang, ya?” pinta Pilik sam-
bi l memasukkan gulungan gambar dari Keenan ke dalam
tasnya yang terbuat dari karung bekas tepung terigu. “Nanti
bi ki ni n gambar saya sama Pasukan Ali t.”
Keenan tak sepenuhnya paham apa yang dimaksud Pilik,
tapi tak urung i a mengangguk.
“Oh, ya. Saya Jenderal Pi li k. Tong hi lap
19
!” Pi li k mem-
busungkan dadanya lalu menj abat tangan Keenan dengan
mantap. I a lantas berlari -lari keci l menyusul teman-teman-
nya. “Pasukaaan ... dagoan euy!
20

Keenan menoleh ke arah Kugy. “Saya nggak ngerti, entah
18
Anak-anak.
19
Jangan lupa.
20
Tunggu, dong.
120
kamu yang selalu berhasi l membuat orang-orang j adi ke-
bawa aneh, atau memang kamu selalu berj odoh dengan
orang-orang aneh.”
Kugy terkikik. “Anak itu memang ‘ajaib’. Dulu kami sem-
pat jadi musuh bebuyutan. Tapi begitu berhasil kutaklukkan,
sekarang malah j adi kompak banget sama aku. Satu kelas
j uga i kutan kompak, karena mereka semua nurut sama
Pi li k.”
“Apa rahasi anya, Agen Karmachameleon?” Keenan ber-
tanya dengan tampang seri us.
Dengan tak kalah seri us, Kugy menyambar sesuatu dari
dalam tasnya bagaikan menghunus pedang. “I ni rahasianya,
Agen PoIIerLjesmunIu!¨ seru Kugv, dI Lungunnvu Lergenggum
sebuah buku tuli s lecek.
“Apa i tu? Manual Manusi a Aneh?”
Kugy langsung duduk di sampi ng Keenan. Matanya ber-
kilat-kilat pertanda semangatnya menyala-nyala. “Lihat, Nan.
I ni adalah seri petualangan yang kubuat selama aku menga-
j ar di si ni . Tokohnya adalah muri d-muri dku sendi ri . Dulu
mereka males banget belajar baca, terus aku bikin perjanjian
dengan mereka. Aku j anj i akan membuatkan dongeng ten-
tang mereka, tapi mereka harus mau belaj ar baca, supaya
nanti mereka bi sa baca ki sah petualangan mereka sendi ri .
Dan j adi lah i de i ni : Jenderal Pi li k dan Pasukan Ali t. Semua
tokoh dalam seri al i ni aku ambi l dari kehi dupan mereka
sendi ri . Ni h, ada Hogi si Ayam Pelung Keramat ... Palmo si
Kambi ng Nekat ... Gogog si Anj i ng Jago Renang ... Somad
Sang Pendekar Tanpa Tanda- Tanda ....” Kugy
memperli hatkan halaman demi halaman dengan semangat,
“anak-anak i ni nggak kenal yang namanya Teddy Bear,
Barney, atau Elmo. Dan mereka cuma bengong waktu aku
kasih tahu soal Snow White, Peter Pan, Red Riding Hood ...
tapi , begi tu aku bi sa membuat sesuatu dari duni a mereka
121
sendi ri , sesuatu yang mereka kenal, mendadak kayak ada
sesuatu yang di hi dupkan dalam di ri mereka. Seperti ada
kebanggaan, harapan, semangat ...,” Kugy sampai berhenti
mengatur napasnya, “seperti ada keaj ai ban.”
Keenan pun menghela napas panj ang. Tersadar bahwa
napasnya sedari tadi i kut tertahan karena terhanyut ceri ta
Kugy. “Kamu hebat,” decaknya, “itu memang keajaiban. Saya
bi sa merasakan, anak-anak tadi nyaman banget dengan di ri
mereka sendi ri . Kamu berhasi l memanci ng karakter mereka
keluar. Mereka j adi percaya di ri , punya harga di ri . Punya
kebanggaan.”
Kugy menggeleng, “Mereka yang hebat. Aku cuma saksi
mata yang kebetulan numpang lewat. Nggak tahu Sakola Alit
bi sa bertahan di si ni sampai kapan. Tapi aku merasa ber-
syukur banget punya kesempatan i ni .”
Keenan menatap ki lauan di bola mata Kugy. Dan Kugy
menatap balik kedua mata jernih itu tanpa ada rasa jengah.
Lama mereka terdi am. Hanya angi n yang berbunyi lewat
gemeri si k daun. Hanya serangga-serangga pohon yang ter-
dengar bersahut-sahutan. Mereka berdua hanya sali ng me-
natap tanpa suara.
“Saya kehi langan kamu,” ucap Keenan akhi rnya, nyari s
berbi si k.
Kugy merasa matanya akan berkaca-kaca, seiring dengan
arus perasaan yang begi tu kuat, yang seolah hendak men-
jebol dadanya. Dan, sungguh, ia tidak tahu harus merespons
apa. Sorot mata Keenan seperti merenggut semua perbenda-
haraan kata di benaknya. Akhi rnya, Kugy memi li h untuk
menunduk.
“Sesama agen harus sali ng mendukung. Sebentar lagi
kamu bakal j adi peluki s profesi onal. Waktu aku di Warsi ta,
aku sempat dengar Wanda cerita. Dia bilang, kalo kamu me-
mang i ngi n seri us j adi peluki s, kamu harus meluangkan
122
waktu banyak untuk nambah koleksi luki san kamu. Terus,
kamu harus pameran, keli li ng-keli li ng. Kamu nggak akan
sempat lagi gambar di bawah pohon seperti begi ni ,” tutur
Kugy dengan nada yang di buat setenang mungki n, “per-
j alananku masi h panj ang di bandi ng kamu. Kamu sudah ke-
temu orang yang bisa mendukung impian kamu,” Kugy mu-
lai merasa kata-kata i tu membebani mulut, tapi i a harus
tetap mengucapkannya, “ci ta-ci ta hi dup kamu lebi h penti ng
dari apa pun. Ki ta i ni punya mi si , Nan. Makanya ki ta di -
ki ri m ke si ni oleh Neptunus. Dan sebentar lagi kamu ber-
hasi l. Jangan sampai rusak di tengah j alan hanya gara-gara
kita cuma menuruti keinginan sendiri doang,” Kugy menelan
ludah, tak tahu harus bi lang apa lagi , “yang namanya bus
satu perusahaan i tu ti dak boleh sali ng menyali p.”
Ti ba-ti ba Kugy merasa dagunya di angkat. Kembali me-
nemukan tatapan Keenan yang menembus j antung.
“Gy, saya nggak ngerti kamu ngomong apa,” ucap Keenan
lembut, “makasih kamu udah mau ngertiin soal impian saya,
cita-cita saya, dan kesempatan yang sekarang ini sedang da-
tang untuk saya. Tapi di luar i tu semua, saya kehi langan
kamu. Kamu menghi lang akhi r-akhi r i ni .”
Halus, Kugy menj auhkan waj ahnya, hi ngga genggaman
j ari Keenan di dagunya lepas. “Aku nggak ke mana-mana,
kok,” j awab Kugy li ri h sembari mengusahakan sebuah se-
nyum, “sekarang kamu tahu di mana markasku. Tinggal cari
aku di bawah pohon i ni .”
Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Ami
muncul dari arah belakang. “Gy, Nan, pulang, yuk? Mum-
pung Bimo masih nungguin di depan. Kita sesak-sesakan aja
berli ma kayak pi ndang,” aj ak Ami sambi l terkekeh.
¨Yuk!¨ Kugv bungkIL berdIrI.
Tahu-tahu tangan Keenan menahannya. “Saya dan Kugy
123
pulang naik angkot, Mi. Kalian duluan aja pakai mobil Bimo.
Jadi nggak perlu kayak pi ndang. Oke?”
“Yaki n?” tanya Ami l agi . Di l i hatnya kontras antara
Keenan yang tampak yakin dan Kugy yang ragu. Sebetulnya
Kugy sudah i ngi n protes, tapi genggaman tangan Keenan
yang mencengkeram kuat di pergelangannya seperti meng-
i syaratkan di a untuk di am di tempat.
“Yaki n. Ki ta nai k angkot aj a,” Kugy akhi rnya bersuara.
¨Duh, AmI!¨
Setelah bayangan Ami menjauh, Keenan melepaskan geng-
gamannya. “Sebagai upah kamu ngi lang, hari i ni saya mau
sehari an booki ng kamu.”
“Coba kontak ke manaj er saya dulu, namanya Mami
Noni . Mumpung sekarang lagi low-season, j adi bi sa dapat
harga murah,” Kugy nyengi r sambi l mendorong bahu
Keenan pelan.
Si sa hari i tu mereka habi skan di j alan, bersama-sama.
Mereka berj alan-j alan ke toko buku, i seng-i seng ke Kebun
Bi natang di Taman Sari , ngopi sore di Jalan Dago, hi ngga
akhi rnya Keenan mengantar Kugy pulang ke kosannya.
Di depan gerbang besi bercat puti h i tu mereka berdua
berdi ri . Langi t mulai gelap dan lampu-lampu di taman de-
pan mulai menyala. Sahut-sahutan serangga malam lamat-
lamat terdengar.
“Keci l, saya pulang dulu, ya. Hari i ni sangat, sangat me-
nyenangkan. Makasih untuk semuanya,” ucap Keenan. Nada-
nya terasa berat. Kaki nya terasa berat untuk bergerak.
“Sebagai bonus sudah booki ng aku sehari an i ni , aku ada
kenang-kenangan untuk kamu,” Kugy menyerahkan buku
lecek beri si kan ki sah petualangan Pi li k.
Keenan tampak terkej ut meneri manya. “Gy ... tapi i ni
harta karun kamu ....”
124
“Nggak pa-pa. Buku i tu udah habi s. Aku lagi nuli s di
buku baru.”
“Tapi ... masa buku yang lama i ni di kasi h ke saya?”
Keenan masi h tak percaya.
“Cuma i tu yang bi sa aku kasi h. Aku j uga seneng banget
hari i ni ,” ucap Kugy berseri -seri .
Serta-merta lengan Keenan terentang, dan Kugy terpana
keti ka i a sudah ada dalam rengkuhan Keenan. Sej enak se-
kuj ur tubuh Kugy kaku bagai papan. Matanya pun masi h
membelalak. Pi ki rannya bertanya-tanya, apa gerangan yang
terjadi? Hingga perlahan panas tubuh Keenan mulai meram-
bat, mencairkan otot-otot Kugy yang tadi terkunci, memejam-
kan kelopak matanya yang tadi terbuka, dan dengan segenap
hati i a mulai meresapi bahwa di ri nya sedang di peluk.
Beberapa deti k kemudi an, pelukan i tu melonggar, lalu
lepas. Keenan tersenyum samar dan mengacak rambut Kugy
sekilas. Mulai salah tingkah. “Kamu baik-baik, ya, Kecil,” gu-
mam Keenan. Cepat, i a membali kkan punggung dan pergi .
“Kamu j uga,” Kugy menggumam bal i k. Ti dak yaki n
Keenan mendengar suaranya atau ti dak. Namun, i a yaki n
degup j antungnya terdengar saat tubuhnya di rengkuh oleh
Keenan tadi, sebagaimana ia juga mendengar degup jantung
Keenan.
Di bawah sinar lampu mejanya, Keenan membuka buku tulis
pemberi an Kugy. Berderetlah tuli san tangan keci l-keci l dan
rapi seperti dicetak. I a membaca kisah demi kisah. Tergelak-
gelak sendi ri . Tuli san Kugy mampu menghadi rkan pertun-
j ukan si nema di otaknya, yang memutar alur ceri ta dan
menghi dupkan tokoh-tokohnya seolah mereka semua me-
wuj ud nyata. Keenan tak bi sa berhenti membaca.
125
Perhati annya tahu-tahu tertumbuk pada coretan tangan
Kugy. Keenan tak bi sa menebak makhluk apa i tu yang ber-
usaha di gambar Kugy kalau saj a i a tak meli hat tuli san
“Hogi” di bawahnya. Di beberapa halaman berikutnya, tam-
pak Kugy mencoba lagi . Menggambar manusi a berpeci de-
ngan struktur tak proporsional, dan di bawahnya tercantum
keterangan “Somad Sang Pendekar”. Dari guratannya,
Keenan bi sa membayangkan betapa Kugy berusaha keras
untuk menggambar. I a bi sa membayangkan ai r muka Kugy
yang seri us, seolah sedang menci pta luki san mahakarya.
Rasa haru tahu-tahu merembesi hati Keenan.
Buku i tu pun di tutup. Lalu Keenan menggeser kursi nya
ke depan kanvas kosong yang stand by di sebelah meja. Su-
dah lama kanvas i tu kosong. Sej ak i a pulang ke I ndonesi a,
belum pernah lagi Keenan tergerak untuk membuat luki san
baru. Namun, malam ini ia merasakan dorongan itu. Seolah
ada sesuatu yang memi nta di j emput olehnya. Apa i tu,
Keenan tak tahu pasti . I a hanya memasrahkan tangan-ta-
ngannya bergerak, menari dan menoreh di atas kekosongan,
hi ngga sesuatu i tu mewuj ud perlahan di atas kanvasnya.
Keenan meluki s dan meluki s, hi ngga pagi ti ba.
126
Pukul dua si ang. Lazi mnya, kos-kosan baru kembali ber-
penghuni setelah sore. Eko ti dak kaget meli hat betapa sepi -
nya tempat kos itu, apalagi penghuninya memang cuma lima
orang. Yang aneh justru ketika salah satu penghuni di kosan
i tu malah ada di tempat. Bahkan sudah berhari -hari ti dak
muncul di kampus sama sekali .
Pintu kamar itu dibukakan dari dalam. Keenan berdiri di
hadapannya, masi h dengan rambut acak-acakan dan mata
setengah terbuka.
“Gi le. Baru bangun lu?”
“Hmm,” Keenan menggumam, lalu kembali mengempas-
kan tubuhnya ke tempat ti dur.
“Kata Bi mo udah beberapa hari i ni lu nggak kuli ah.
Kenapa bi sa gi tu, Bos?”
Tangan Keenan menunj uk ke arah kanvas.
“Wow. Luki san baru? Ck-ck-ck ... sadi s. Luki san keren
gi la,” Eko berdecak kagum.
“Yang i tu belum selesai ....”
“Wah. Lukisan belum selesai yang keren gila,” Eko cenge-
15.
MENCARI KETULUSAN
127
ngesan. “Anyway, gua datang ke si ni sebetulnya sebagai
pengantar pesan dari Wanda yang udah beberapa hari i ni
nyari i n elu. Di a bi lang, di a punya kabar superpenti ng buat
lu, tapi lu nggak bisa dihubungi. Dia juga bilang, udah saat-
nya lu punya HP. Dan, sore ini Wanda bakal datang ke Ban-
dung khusus buat nemui n lu.”
“Ada apa, ya?”
Eko mengangkat bahu. “Mana gua tahu. Tapi kayaknya
penting banget. Jadi, siang ini gua nganterin lu ke toko HP,
oke?”
“Ogah,” Keenan menj awab dengan suara berkumur ka-
rena mulutnya masi h membenam di bantal.
“Dasar seni man gaptek. Di era mi leni um i ni , sungguh
absurd adanya kalo lu nggak punya HP.”
“Males. Belum butuh.”
“Anyway yang kedua: lu sebetulnya udah j adi an belum
sama Wanda?”
Kali i ni Keenan melepaskan mukanya dari bantal. Per-
lahan, i a duduk tegak di atas tempat ti dur.
“Oke, oke. Gua ralat pertanyaan gua. Sebetulnya, lu suka
nggak si h sama di a?” Eko bertanya lagi .
“Gua sebetulnya lebi h tertari k dengan ... kenapa lu bi sa
tahu-tahu nanya gi tu?” Keenan bertanya bali k.
“Well, udah hampi r li ma bulan kali an kenal dan j alan
bareng. Jelas-j elas kali an nyambung. Jelas-j elas di a selalu
bela-belain nemuin lu, bahkan dialah orang yang paling ber-
jusu buuL kurIer Iu. Dun jeIus-jeIus ... dIu ... Wundu, gILu!
Kurang apa lagi sih cewek satu itu? Cowok sehat mana yang
nggak ngiler ngacak-ngacak tanah lihat dia?” tutur Eko ber-
api -api . “Sooo?”
“So—what?” Keenan menyahut polos.
Kening Eko kontan berkerut. “Nan, udah saatnya lu jujur
sama gua. Ar e you str ai ght?”
128
Keenan tergelak pelan, “Terakhi r gua cek si h i ya.”
“Harus ada sesuatu yang nggak beres kalo lu sampe
nggak suka sama Wanda.”
“Gua bukannya nggak suka. Sama sekali gua nggak ada
masalah dengan Wanda. Di a bai k, pi ntar, dewasa, dan lu
bener, untuk urusan seni , gua ngerasa nyambung banget.
Di a j uga banyak bantu gua. Gua sadar i tu. Urusan canti k?
Nggak usah di perdebatkan. Orang buta j uga mungki n tahu
kalo di a canti k. Tapi ... untuk j adi an ...,” Keenan menghela
napas, “nggak tahu, ya. Ada sesuatu tentang di a yang gua
belum yaki n.”
Eko menatapnya tak percaya. “Man! Kalo ternyata lu bu-
kan gay, lu adalah cowok hetero yang sangat nggak tahu
dIrI! Nun, uduh berupu muIum MInggu dIu vung duLung ke
Bandung ngapeli n lu? Lu bertapa di gua beruang berapa
hari doang aj a, di a yang bela-belai n nyusuli n. Apa yang
bi ki n lu nggak yaki n, si h?”
Keenan menggeleng, “Nggak tahu. Pokoknya ada sesuatu
yang rasanya belum ... pas.”
Eko mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Nyerah,
deh. Nveruh!¨ Iu pun bungkIL berdIrI, ¨Yung jeIus, kuIo Iu
ternyata nggak punya feeli ng sama di a, j angan j uga lu nge-
gant ungi n, apal agi ngasi h har apan. Nggak fai r buat
Wanda.”
Siang itu, akhirnya Keenan pergi makan ditemani sepupu-
nya. Mereka tak lagi membahas masalah tadi . Namun, se-
pulangnya Eko, barulah Keenan termenung di kamarnya.
Aki bat pembi caraan i tu, i a j adi terpi cu untuk merenungkan
lebi h dalam peri hal hubungannya dengan Wanda. Untuk
pertama kali nya Keenan di paksa berhadapan dengan pe-
rasaannya.
129
Malam i tu, Wanda memberani kan di ri untuk pergi ke tem-
pat Keenan sendi ri an tanpa di pandu Eko dan Noni . Se-
panj ang j alan, i a berharap-harap cemas ti dak tersasar. Dan
akhi rnya i a berhasi l. Wanda tersenyum sendi ri saat ti ba di
depan pintu gerbang tempat kos Keenan. Tak sabar rasanya
i a mengumumkan kabar bai k i tu.
Tak lupa, Wanda mengecek bayangannya di kaca sebelum
masuk. Baj unya kali i ni serba merah, dengan rok j i ns mi ni
yang memamerkan tungkainya yang jenjang. Riasannya ma-
si h sempurna. Semuanya tampak beres.
Diketuknya pintu itu hati-hati. “Keenan? I t’s me. Wanda,”
panggi lnya merdu.
Beberapa deti k kemudi an, pi ntu i tu terbuka. Keenan,
yang mengenakan kemeja putih dengan wajah bersih sehabis
mandi, menyambutnya dengan senyum lebar. Napas Wanda
sontak tertahan.
“Hai , Wanda. Kamu canti k banget,” puj i Keenan tulus.
Wanda tersi pu, senyum senangnya tak bi sa di bendung.
“You look ver y handsome as well,” ucapnya malu-malu.
“Dan kalo di gabung, ki ta berdua kayak bendera. Si ap di -
kerek,” Keenan tertawa renyah, “masuk, yuk. Saya ada ke-
j utan buat kamu.”
Wanda memeki k keci l, “Kej utan buatku?”
Keenan tak menj awab. I a hanya menangkupkan kedua
tangannya di atas mata Wanda, lalu mengarahkan langkah
gadi s i tu ke hadapan kanvas. Setelah i tu, barulah Keenan
melepaskan tangannya.
Lama Wanda mematung. Menatap lukisan di hadapannya
tanpa berkedi p.
“Kamu suka? Baru banget saya selesai kan.”
“Nan ... thi s i s i t,” bi si k Wanda, “thi s i s the r eal YOU.”
“Maksud kamu?”
Wanda memegangi dadanya yang sesak oleh rasa kagum,
130
“Oh, gosh. Papi pasti akan berkomentar lai n kalau li hat lu-
ki san kamu yang i ni ....”
“Memangnya Papi kamu sempat berkomentar apa soal
luki san saya?”
“Oh, nggak, Papi suka luki san kamu, tapi Papi bi lang
kamu masi h harus menggali potensi kamu lagi untuk me-
nemukan ... apa, ya?” Wanda langsung keli hatan geli sah,
“Mmm ... your si gnatur e. Your ‘X’ factor . Sesuatu yang
benar-benar menjadi kekuatan kamu. Dan menurutku, kamu
menemukannya di luki san i ni .”
“Kamu kok nggak pernah ceri ta soal i tu?”
Cepat Wanda mengutas sebuah senyum lalu menggeng-
gam tangan Keenan, “Well, aku punya kabar yang lebih pen-
ti ng lagi buat kamu. Ready?”
Keenan mengangguk.
Kaki Wanda pun berjinjit, dan ia berbisik tepat di kuping
Keenan, “Luki san kamu di Warsi ta ... laku terj ual. Empat-
empatnya.” Di tangan Keenan, Wanda menyelipkan selembar
cek atas nama Galeri Warsi ta.
Kali i ni Keenan yang mematung lama. Berusaha men-
cerna kata-kata Wanda yang rasanya sangat suli t di percaya.
Keenan mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya. Lukisan-
nya ... empat-empatnya ... laku ter j ual. I a tahu betul apa
arti nya i tu. Tak ada yang bi sa mengukur kebahagi aan yang
i a rasakan. Langkah terakhi r menuj u i mpi annya terwuj ud
sudah.
Perlahan, Keenan melepaskan jemarinya yang digenggam
Wanda. Sebagai ganti , i a mendekap Wanda sepenuh hati .
“Makasi h untuk kesempatan yang kamu kasi h,” desi snya,
“saya nggak bi sa bi lang apa-apa lagi .”
Wanda merapatkan tubuhnya, tenggelam lebi h dalam ke
pelukan Keenan. “I ni sudah lebih dari cukup,” bisiknya lem-
but.
131
Keenan dan Wanda memi li h makan malam di salah satu
restoran di puncak Kota Bandung, di daerah pegunungan
yang berpemandangan lampu kota. Meski duduk di bagi an
dalam restoran, angi n di ngi n tetap terasa menusuk saat
semi li rnya menyentuh kuli t.
“Kamu kedi ngi nan?” tanya Keenan khawati r. Sedari tadi
di li hatnya Wanda mengusap-usap lututnya yang terbuka.
“Lumayan,” Wanda mengangguk, “aku boleh pi ndah du-
duk di dekat kamu, ya.”
Sebelum di i yakan, Wanda sudah duluan beranj ak ke se-
belah Keenan. Di bangku panj ang i tu, Wanda leluasa me-
numpangkan setengah tubuhnya, dan tanpa ragu lengannya
langsung meli ngkar memeluk pi nggang Keenan.
Saat itu juga Keenan langsung merasa tubuhnya berubah
kaku. Ri si dengan posi si Wanda yang tahu-tahu menempel
seperti anak kanguru.
“Ehm. Maksud saya, kalau memang kamu kedi ngi nan,
kamu bi sa pakai j aket saya,” uj ar Keenan ki kuk.
“Never mi nd. Begi ni lebi h hangat,” sahut Wanda seraya
mempererat pelukannya.
Keenan kehi langan argumen. Namun, poros tubuhnya
tetap tegang pertanda tak nyaman.
Wanda mulai merasakan si nyal i tu. Pelukannya pun me-
longgar. “Ar e you okay? Kamu risi ya kalo pacaran di depan
umum?”
Seketi ka Keenan melepaskan lengan-lengan Wanda yang
membeli t tubuhnya. “Wanda, sori banget. Saya nggak mau
kamu salah paham. Tapi ... rasanya, ki ta belum pernah se-
pakat untuk pacaran,” ucapnya hati -hati .
Ai r muka Wanda langsung berubah. Tubuhnya beri ngsut
menj auh. “Well ... nggak semua pacaran harus di mulai de-
132
ngan proses nyatai n, kan? Aku pi ki r, selama i ni ki ta berdua
... memang ....” Kali mat Wanda mulai tersendat, matanya
berkaca-kaca. “Have I been embar assi ng myself? Jadi ...
kamu ... nggak suka sama aku?”
“Bukan gi tu,” sergah Keenan cepat, “gi mana mungki n
saya nggak suka sama kamu? Kamu bai k, kamu perhati an,
kamu banyak banget bantui n saya ... tapi , memangnya ki ta
harus langsung pacaran?”
Bi bi r Wanda kontan mengatup, rahangnya tampak me-
ngeras. “Nan, aku udah kerja keras untuk kamu dan lukisan
kamu. Semua ucapan kamu barusan bi ki n hati aku saki t.”
Mendengar itu, serta-merta Keenan merangsak mendekat.
Wanda sampai terlonjak kaget. Tak siap mengantisipasi. Di-
tatapnya mata Wanda dalam-dalam sambi l bertanya, “Se-
lama ini kamu bantu saya karena lukisan saya—atau karena
saya?”
Wanda menelan ludah, gugup. Namun, ia berusaha keras
mengendalikan kegentarannya. “Keenan, I ’m a pr ofessional,”
desi snya. “Luki san kamu sangat bagus, prospek kamu luar
bi asa, bahkan lebi h dari yang kamu sadari . Tapi i tu semua
nggak ada hubungannya dengan perasaan aku.”
Tatapan Keenan yang menghunjam sama sekali tidak ber-
kurang i ntensi tasnya. “Terus, perasaan kamu sendi ri gi -
mana?” tanyanya. Tenang dan taj am.
Wanda pun memberani kan di ri menentang sorot mata
Keenan. Sudah tak bisa mundur, pikirnya. “I ’m i n love wi th
you,” i a akhi rnya berkata. Jelas dan tegas.
Sesuatu terasa bergetar dalam hati Keenan. Tatapan mata-
nya melunak. Lama sudah Keenan berusaha menyelami dua
bola mata yang selalu di lapi si lensa kontak berwarna-warni
itu, mencari sesuatu yang selama ini belum ia temukan. Ke-
tulusan. Sekalipun masih samar, Keenan merasa ada sesuatu
yang barusan muncul dalam di ri Wanda. Sesuatu yang be-
133
lum pernah i a temui sebelumnya. Barangkali , i tulah ke-
tulusan yang di cari nya.
“Terus, perasaan kamu sendi ri gi mana?” Wanda meng-
ulang pertanyaan persi s sama yang di aj ukan Keenan tadi .
Bedanya, ia mengutarakannya dengan lebih tenang dan per-
caya di ri .
Gi li ran Keenan yang menelan ludah.
Cahaya li li n yang kekuni ngan menerpa waj ah Kugy. Kom-
bi nasi antara langi t malam, remang kafe tenda i tu, dan ca-
haya li li n, membuat i a tampak sangat canti k di mata Oj os
yang tak lepas mengamati sej ak tadi . Waj ah pacarnya i tu
j uga keli hatan sendu. Sorot matanya melayang j auh entah
ke mana.
“Mi ki ri n apa, si h?”
Kugy sedi ki t tersentak. Namun, senyumnya berangsur
terbi t meli hat tampang Oj os yang cemberut. “Kenapa? Aku
sering ngelamun, ya? Maaf, ya, Jos. Akhir-akhir ini aku me-
mang lagi agak tulali t.”
“Kamu ada masalah?”
“Nggak,” Kugy menggeleng, “tepatnya, nggak tahu. Pe-
rasaanku suka agak aneh aj a belakangan i ni .”
“Ada hubungannya dengan aku?”
Kugy lama menatap Oj os sebelum akhi rnya menj awab,
“Nggak.”
“Gy, aku merasa ki ta kurang banget quali ty ti me berdua.
Pi ngi n banget deh ki ta j alan bareng ke mana, li buran kek
....”
“Maksud kamu ke Si ngapur?” Kugy melengos, “Aku kan
udah bi lang, aku nggak mau.”
“Nggak ..., nggak harus Si ngapur. Kalo ke Bali aj a, gi -
134
mana?”
“Berdua?”
“Ki ta bi sa pergi rame-rame. Anak-anak di Jakarta pada
pi ngi n cabut, kok. Yang j elas, di sana ki ta berdua bi sa
bener-bener ri leks, have fun—”
“Aku nggak punya uang,” potong Kugy, “tabunganku si h
ada, tapi bukan buat li buran. Aku mau nabung beli laptop.”
Ti ba-ti ba, Oj os meletakkan sesuatu di atas mej a. Mata
Kugy memi ci ng. Dua lembar ti ket pesawat.
“Jos ... kamu beli i n aku ti ket?”
“Nggak ada lagi alasan untuk kamu ngomong nggak.
Oke?” tegas Oj os dengan senyum mengembang.
“Memangnya—mau berangkat kapan?”
“Kita berangkat awal bulan depan. Cabut hari Jumat, pu-
lang Mi nggu. Nanti aku langsung antar kamu ke Bandung
pakai mobi l. Pokoknya semua beres, aku yang ar r ange.
Kamu ti nggal bawa tas sama badan doang.”
Kugy menghela napas. Di li hatnya ekspresi Oj os yang
sangat berharap. Tak habis akal, Ojos lantas mengambil tiket
i tu dari mej a lalu menempelkannya di j i dat. Memasang
muka memelas seperti anak anj i ng hi lang i nduk. “Please,
Gy? Wuf ... wuf ... wuf ....”
Kugy pun tertawa, dan mengangguk.
Hampi r tengah malam saat sedan hi tam i tu kembali me-
masuki halaman parki r hotel di daerah Ci umbuleui t tempat
Wanda menginap. Keenan menemaninya berjalan hingga ke
lobi. Perapian yang menyala di sana tampak mulai menyurut
api nya. Sofa-sofa kosong tanpa tamu. Pi ano gr and hi tam
yang semalaman tadi berdenti ng pun sudah terkunci .
“Kamu ke kamar aj a duluan. Saya tunggu di si ni . Bentar
135
lagi taksi saya j uga datang,” kata Keenan.
Wanda menggeleng. “Aku mendi ngan kedi ngi nan di si ni ,
dari pada kehi langan momen sama kamu,” uj arnya pelan.
“Lai n kali , i ngat-i ngat kalo i ni Kota Bandung. Pakai rok
mi ni malam-malam gi ni hanya di sarankan bagi yang udah
kebal dan terlati h nahan angi n kayak bencong di Jalan
Veteran.”
“Kamu tuh, kok nggak romanti s banget si h sama aku,”
raj uk Wanda manj a, “masa aku malah di samai n sama ben-
cong?”
“Lho, si apa yang nyamai n?” Keenan tergel ak pel an,
“Cuma ngi ngeti n aj a, lai n kali kamu lebi h bai k pakai celana
panj ang, bawa j aket atau sweater .”
“Lai n kali i tu kapan?” panci ng Wanda lagi .
Keenan pura-pura berpi ki r dengan muka j ahi l. “Mmm.
Malam Mi nggu depan?”
Wanda langsung berseri -seri . Kaki nya berangsur maj u,
kedua tangannya lantas di gantungkan di leher Keenan, “So,
ki ta—pacaran?”
Keenan tersenyum si mpul. Lembut, i a menari k lepas ta-
ngan Wanda, mengecup jemarinya pelan. “Kita jalani pelan-
pelan, ya.”
Meski api perapi an berada beberapa meter di belakang,
tampak j elas mata Wanda berbi nar benderang. Di ngi nnya
malam bahkan si rna. Seluruh tubuhnya di j alari hawa ba-
hagi a yang terasa begi tu hangat.
Terdengar suara mobi l memasuki pelataran lobi . Taksi
yang di pesan Keenan sudah datang. Baru saj a i a mau ber-
bali k melangkah, tahu-tahu tangannya di tahan.
“You know what?” Wanda berkata li ri h, “Kamu nggak
perlu pulang malam i ni ke kos. Kamu bi sa di si ni sama
aku.”
Keenan hanya tersenyum lalu mengecup halus keningnya,
136
“Pelan-pelan, Wanda.”
Tak lama, taksi i tu melaj u pergi meni nggalkan hotel.
Wanda masi h terpaku di tempatnya. Rasanya i ngi n i a me-
lesat menembus atap saki ng gembi ranya. Ti ba-ti ba i a ter-
ingat seseorang. Noni. I a harus menelepon Noni. Malam ini
j uga.
137
Kugy merogoh kantongnya dan mengambil anak kunci kecil
i tu, membuka sendi ri gembok pagar tempat kosnya. I a su-
dah menganti si pasi kepulangannya yang larut malam dan
sudah mengaj ukan di ri nya sebagai j uru kunci malam i ni .
Deretan kamar di kori dor i tu sudah gelap, ti rai -ti rai su-
dah tertutup. Namun, di li hatnya lampu kamar Noni masi h
menyala, bahkan terdengar suara bernada ti nggi khas Noni
yang sedang mengobrol dengan terpeki k-peki k.
Baru saj a tangannya mau mendarat di handel pi ntu ka-
marnya, pintu Noni terbuka. Mata sahabatnya itu membela-
Iuk segur seperLI buru mukun rujuk cube. ¨Gv! Tebuk upu
vung buru suju LerjudI! TudIII ... burusuuun ... muIum InIII ...
aduh, nggak boleh beri si k, ya? Nggak kuat ni i i h ...”
“Lu kebelet pi pi s?” tanya Kugy, meli hat Noni yang sam-
pai membungkuk-bungkuk seperti menahan sesuatu.
“Bukan, gi la. Gua baru di telepon sama Wanda. Aduuuh
... seneng banget gua ....” Noni terki ki k-ki ki k sendi ri , “Tadi
Wanda sama Keenan kencan berdua, gitu. Terus, nggak tahu
gi mana, pokoknya Wanda akhi rnya nembak si Keenan ...
16.
SALAH BERHARAP
138
monyong, ya? Dasar cowok-cowok sekarang. Bikin susah aja.
Kok bukan si Keenan yang nembak duluan, coba? Emang
dia makhluk aneh sih, kayak elu. Nggak bisa ditebak maunya
apa. Terus ....” Noni mengambi l napas, mengatur antara
tawa dan kata-kata yang berbalapan di mulutnya.
Sementara i tu mulut Kugy seperti memahi t. Jantungnya
terasa berdebar lebi h kencang menunggu kelanj utan ceri ta
Noni .
“Terus, habi s di tembak gi tu, Keenan ngomong gi ni ke
Wanda: ‘nggak mungki n saya nggak suka sama kamu.’ Ya
IvuIuuh! ¡ucu bungeL deh sI Keenun. GeII guu dengernvu.
Terus, mereka pulang ke hotelnya Wanda. Oh my God ...
gi la, i ni romanti s banget ....” Noni menempelkan kedua ta-
ngannya di pipi, “Di dekat perapian, Gy ... nggak ada siapa-
sIupu IugI ... cumu mereku berduu ... duh, Eko puvuh, nIh!
Nggak pernah ngaj ak gua ke tempat kayak gi tu. Yang ada
Pemudum KeIupuruuun 'muIu!¨
“Terus, Non?” desak Kugy, mulai tak sabar.
¨Mereku judIun,¨ kuLu NonI berserI-serI. ¨Tu-duuuu! Pro-
vek berhusII! CunggIh bungeL guu judI Muk CombIung!¨ Iu
lalu menari -nari keci l.
Kugy merasa sebagi an dari di ri nya menguap. Hampa.
“Terus?” tanyanya lagi .
“Gy, lu kok nggak kasi h selamat atau apa gi tu ke gua?”
Noni bertanya heran meli hat reaksi Kugy yang di ngi n.
“Congr ats, Mak Comblang Mi leni um. Terus, apa lagi
ceri tanya?”
“Lu bayangin aja sendiri. Di tempat yang segitu romantis,
pakai perapi an segala, cuma berdua, lagi j atuh ci nta. Nga-
pai n lagi gua tanya-tanya?” uj ar Noni sewot. “Lu kok nggak
antusi as, si h? I ni kan proyek ki ta bersama.”
Kugy menggeleng keci l. “Sei ngat gua, i tu proyek lu dan
Eko. Tapi apa pun yang terj adi gua i kut senang,” tuturnya
139
ri ngkas. “Gua masuk duluan, ya. Capek banget. Ni te, ni te.”
Tanpa menunggu reaksi lebi h panj ang lagi dari Noni , Kugy
langsung melangkah masuk ke kamarnya. Menutup pi ntu.
Bahkan untuk menyalakan lampu saj a, Kugy tak punya
daya. Dalam gelap, i a berdi ri mematung. Terli ntas j elas di
kepalanya sore hari di Galeri Warsi ta, saat Keenan dan i a
sama-sama memandangi Wanda dari kej auhan, dan ter-
dengar j elas di kupi ngnya waktu i tu, apa yang di ucapkan
Keenan .... Kugy menggeleng, barangkali waktu i tu i a salah
menangkap, atau i a salah berharap ... meli ntas j elas di
kepalanya si ang hari di bawah pohon beri ngi n dekat ladang
cabe, saat Keenan berkata bahwa i a kehi langan di ri nya,
Kugy takkan lupa cara Keenan menatapnya .... Kugy pun
menggeleng, barangkali waktu itu ia salah melihat, atau lagi-
l agi sal ah berharap. Dan terl i ntasl ah petang di pi ntu
gerbang, saat ia mendapatkan dirinya dipeluk, degup jantung
yang terasa berdenyut bersama .... Kugy pun menggeleng,
barangkali waktu i tu i a salah. Selama i ni i a salah.
Terakhir, ingatannya berlabuh pada bisikan Keenan yang
i a si mpan, yang i a kenang hampi r seti ap malam. Ti ga kata
yang selalu menj adi penyej uk bagi hati nya. Bulan, per -
j alanan, ki ta. Kugy menggeleng lagi . Bulan yang sama ada
di angkasa malam i ni . Namun, rasanya lai n sekali . Mem-
bayangkannya saja terasa begitu pedih di mata. Kugy meng-
usap matanya yang basah. Sekali. Dua kali. Dan berapa kali
pun ia mengusap, air mata itu tak kunjung berhenti menga-
li r.
Jakar t a, Jul i 2000 ...
Layar ponselnya yang berwarna ti ba-ti ba menyala. Waj ah
Wanda sekonyong-konyong cerah bagai matahari si ang bo-
140
long. Si gap, di tutupnya pi ntu kamarnya yang tadi setengah
membuka. I a i ngi n meni kmati telepon i tu tanpa di ganggu.
“Hai , Sayang. Kamu lagi ngapai n? I mi ss you alr eady.
Aku lagi bengong di kamar. Kamu ke si ni , dong,” Wanda
tertawa ri ngan, “j ust ki ddi ng, Sweeti e. Kamu harus raj i n
meluki s di Bandung. Karena, bentar lagi aku mau atur su-
paya kamu bi sa pameran.”
Di uj ung sana, Keenan pun tertawa. “Justru karena i tu
saya telepon kamu sekarang.”
Tawa Wanda pudar. “Jadi , kamu telepon aku untuk
urusan bi sni s doang?”
Keenan kontan nyengir. “Jangan sensitif gitu, dong. Kata-
nya profesi onal.”
“Ya, udah. Mau ngomongi n apa?” tanya Wanda ketus.
“Saya kepi ki r apa yang pernah kamu bi lang, bahwa di
lukisan saya yang terbaru ada karakter yang berbeda dengan
luki san saya yang lai n. Saya j uga ngerasa gi tu. Saya cuma
mau mi nta pendapat kamu aj a, kalau saya bi ki n luki san
seri al dengan tema yang sama, gi mana?”
“I de bagus,” komentar Wanda pendek.
“Sej ak tahu luki san saya laku, perspekti f saya benar-
benar berubah. Saya merasa maki n yaki n untuk mengambi l
j alan i ni .”
Duduk Wanda menegak, “Jalan apa maksud kamu?”
“Saya cuma mau meluki s. Mungki n sudah saatnya saya
memperti mbangkan untuk benar-benar mandi ri . Selesai se-
mester i ni saya akan coba bi cara sama Papa untuk nggak
usah meneruskan kuli ah.”
“Kamu tahu apa arti nya i tu, kan, Nan?” uj ar Wanda de-
ngan penekanan, “Kamu akan menggantungkan di ri se-
penuhnya ke penj ualan luki san kamu. Kamu nggak bi sa
mai n-mai n.”
“Saya memang nggak mai n-mai n,” tegas Keenan.
141
“Dan aku j uga nggak mai n-mai n soal pameran. Kamu
harus siapkan dua puluhan lukisan, tiga puluh lebih bagus,”
sambung Wanda.
Bayangan akan pameran membuat darah Keenan ter-
pompa adrenali n. Semangatnya memuncak. “Oke, si ap,”
j awabnya mantap.
“Aku kasi h kamu waktu enam bulan. Demi kamu, aku
mau panj angi n cuti kuli ahku satu semester lagi .”
Terdengar napas panj ang Keenan mengembus. “Wanda,
kamu udah banyak banget bantui n saya ... kadang-kadang,
saya ngerasa nggak enak ....”
“Nan, this is how I am,” potong Wanda, “kalo aku sayang
dan yaki n sama seseorang, aku nggak akan tanggung-tang-
gung. Kamu nggak perlu merasa nggak enak. Aku nggak
mi nta apa-apa, j ust ... love me. Okay?”
Terdengar sunyi di uj ung sana. “Nan?” panggi l Wanda.
“Kamu mau ngomong sesuatu ... atau ... speechless?”
“Sori , saya beneran nggak tahu mau ngomong apa,” j a-
wab Keenan akhi rnya.
“Nggak pa-pa. Lama-lama aku biasa, kok. Mungkin kamu
ekspresi fnya hanya di depan kanvas. Tapi nggak di depan
aku,” Wanda berkata, separuh menyi ndi r.
Sunyi lagi di uj ung sana.
Wanda melengos. “Ya udah, kayaknya aku malah bi ki n
kamu nggak nyaman. Ki ta ngomongi n yang lai n aj a kalo
gi tu.”
Tanpa menunggu terlalu lama, pembi caraan mereka lan-
car lagi seperti ali ran sungai . Dan walau akhi rnya per-
cakapan telepon i tu di tutup dengan mani s, Wanda sedi ki t
gondok. I a mulai terganggu dengan si kap Keenan yang se-
olah j engah seti ap kali percakapan mereka mulai menyi ng-
gung soal perasaan. Seolah-olah kata ‘‘ci nta’’ dan ‘‘sayang’’
ada dalam daftar tabu Keenan. Dari pertama kali mereka
142
dekat hi ngga resmi j adi an pun, belum pernah satu kali pun
Keenan mengungkapkan perasaannya secara terbuka.
Ponsel Wanda berderi ng lagi . “Ya, Vi rna? What’s up?
Hmm. Sori , gue emang lagi bete. What? Duh, lo bi ki n gue
tambah bete, deh ....”
“Sori banget, ya,” sahut Vi rna, “gue bener-bener nggak
ada tempat buat nyimpan lukisan itu. Sebetulnya Pasha juga
sama. Di a nggak enak aj a sama lo. Jadi ki ta berdua sama-
sama nggak bi sa nampung, Say.”
Wanda berdecak kesal. “Cuma ni ti p gi tu aj a masa nggak
bi sa, si h? Lo taro di kamar ti dur lo, kek. Gantung di kamar
mandi , kek.”
“Lo pi ki r i tu poster ukuran A3? Lagi an di ndi ng rumah
gue i tu di kuasai nyokap gue. Di a nggak demen luki san mo-
dern. Tahu sendi ri seleranya kayak apa, luki san kudalah ...
i kan koi ... nenek-kakek gue ...,” Vi rna membela di ri , “di
tempat lo masa nggak ada space? Rumah lo kan segede-gede
apaan tauk.”
“Bukan gi tu. Masalahnya—” Wanda cepat-cepat menelan
kembali kata-katanya. Peri hal i ni cukup di a sendi ri yang
tahu. “Ya udah. I t’s okay. Besok gue suruh orang untuk
ambi l lagi , deh. Sekali an luki san yang ada di Pasha.”
Selepas telepon dari Virna usai, Wanda berkeliling rumah-
nya sendi ri . Mencari ‘‘tempat persembunyi an’’ yang aman.
Dan pencariannya pun berakhir di kamarnya sendiri: kolong
tempat ti dur.
Di saung tempat Ami mengaj ar, keti ganya berkumpul. Ami
bahkan seperti ingin menangis ketika hendak menyampaikan
kabar yang sudah i a si mpan sej ak tadi .
143
“Kugy, I cal ... Sakola Ali t akhi rnya di loloskan untuk i kut
perlombaan antar-SD se-Kecamatan.”
Kugy dan I cal langsung melonjak kegirangan. I cal bahkan
sampai berlari mengeli li ngi saung sambi l bersorak-sorai .
Kugy pun tak kalah, i kutan di belakangnya.
“Aku tahu, ki ta di i zi nkan i kut karena mereka si mpati ,
atau kasi han, atau karena mereka juga yaki n ki ta nggak ba-
kal menang,” Ami terkekeh, “aku nggak ambi l pusi ng. I ni
bukan soal kalah dan menang. Tapi keti ka anak-anak Ali t
bi sa parti si pasi dan ketemu dengan peserta dari sekolah
lai n, pasti semangat mereka terpacu lagi untuk seri us se-
kolah. I ni akan menjadi pengalaman yang baru buat mereka.
Jadi , ki ta akan i kut lomba baca pui si , lomba menyanyi pu-
puh Sunda, dan lomba mengarang. Hari i ni ki ta tentukan
si apa-si apa yang i kutan, ya,” lanj ut Ami lagi .
¨SIup Lempur!¨ Kugv berseru. ¨¡ombunvu kupun dun dI
mana, Mi ?”
“Hari Sabtu mi nggu depan. Di Taman Lalu Li ntas.”
Kugv berLepuk-Lepuk Lungun sukIng gembIrunvu, ¨AsvIIIk!
Mereka semua pasti senang banget bi sa sekali an mai n di
sana.” Beberapa saat kemudi an, ekspresi mukanya berubah.
Kugy teri ngat sesuatu. “Sebentar ... Sabtu depan?”
“I ya, Gy. Kenapa?”
“Aku—ada j anj i mau ke luar kota.”
Ami menggi gi t bi bi rnya. “Wah. Kalau tanpa kamu, ki ta
berdua pasti kerepotan. Bukan cuma soal menemani , tapi
kalau anak-anak tahu kamu nggak akan i kut, mereka pasti
nggak semangat. Kamu tuh panutan mereka, Gy.”
Kugy berpikir keras. “Kasih waktu sampai Senin, ya. Tapi
aku usahakan banget untuk i kut.”
“Please, ya, Gy. Karena hari Senin kita udah harus mulai
nyi api n anak-anak,” kata Ami penuh harap.
Kugy meli ri k j am tangannya. Oj os sedang dalam per-
144
j alanan ke Bandung. Ji ka i a memutuskan untuk membatal-
kan kepergi annya ke Bali , entah apa yang akan terj adi
malam i ni .
Keenan berdiri memandangi lukisannya sendiri. Lukisan de-
ngan objek sebelas anak kecil. Sepuluh sedang berbaris me-
lingkar, dan seorang anak dengan topi caping hadir di depan
bari san sebagai pemi mpi n. Di bagi an belakang kanvas,
Keenan menuli skan j udul: “Jenderal Pi li k dan Pasukan
Ali t”.
Keenan memperhati kan guratan kuasnya sendi ri . I ni bu-
kan masalah tekni k, pi ki rnya. Ada sesuatu dalam obj ek-
obj ek i tu yang membuat luki san yang satu i ni mencuat di -
bandi ngkan luki san-luki sannya yang lai n. Sesuatu yang
meremangkan bulu kuduk. Sesuatu yang membangki tkan
gej olak dalam bati n si apa pun yang meli hatnya.
I a melangkah mundur, mengamati sekali lagi. Kehidupan.
Keenan akhi rnya menyi mpulkan dalam hati . Luki san i ni
begi tu berenergi . Ada kehi dupan yang di pancarkan dengan
sangat kuat dan menyentuh.
Matanya lantas tertumbuk pada satu benda di mej a
belaj arnya. Buku tuli s kumal yang di beri kan Kugy beberapa
bulan yang lalu. Keenan teri ngat apa yang pernah i a ucap-
kan, bahwa buku tuli s i tu merupakan harta yang harusnya
di si mpan Kugy sendi ri . Tak pernah i a sangka, di ri nyalah
yang menjadi penemu harta karun i tu. Kugy telah mewari s-
kan sesuatu yang sangat berharga, melebi hi perki raan me-
reka berdua.
145
Film komedi yang ditonton mereka barusan bahkan tak sang-
gup membuat tawanya lepas seperti biasa. Sepanjang malam,
dari mulai saat perj alanan, makan malam, sampai bubaran
bioskop, Kugy berada dalam status siaga. Terus meraba-raba
momen yang ki ra-ki ra tepat untuk menj adi celahnya bi cara
pada Oj os.
¨Mbuk Kugv!¨ TIbu-LIbu Lerdengur seseorung memunggII-
nya.
Kugy menoleh. Mas I tok, agen pengantre tiket langganan-
nya Eko, melambaikan tangan dengan tawa lebar. Kugy pun
balas melambai .
“Ke mana aj a, Mbak? Kok udah nggak pernah nonton
mi dni ght rame-rame lagi? Mas Eko seringnya berdua doang
sama Mbak Noni .”
“Kita udah ganti aktivitas, Mas. Sekarang seringnya main
gapleh rame-rame,” j awab Kugy asal.
¨Suvu dIujuk dong, Mbuk!¨ Mus ¡Lok Lerbuhuk, ¨KIruIn
gara-gara Mbak Kugy sama Mas Keenan putus, terus pada
punya pacar baru, kelompoknya j adi pecah. I ni pacar baru-
nya, Mbak?”
17.
TIGA KATA SAJA
146
Oj os dan Kugy serentak membeku kaku mendengar
omongan Mas I tok yang tanpa tedeng ali ng-ali ng i tu. “Bu-
kun, Mus. ¡nI edIsI Iumu. DuIuun, vu!¨ Kugv buru-buru me-
nyudahi , lalu menggandeng tangan Oj os pergi dari si tu.
Sepanj ang perj alanan, Oj os memasang muka cemberut.
Bungkam seri bu bahasa. Saat mobi lnya sampai di depan
tempat kos Kugy, barulah Ojos bersuara. “Ada sesuatu yang
belum pernah kamu bi lang ke aku, dan aku perlu tahu?”
tanyanya.
“Tentang apa?” balas Kugy pelan. Perasaannya mulai ti -
dak enak.
“Gy, Mas I tok i tu mungki n orang pali ng sok tahu se-
duni a, tapi aku yaki n di a punya alasan sampai bi sa bi lang
begi tu. Memangnya ada apa antara kamu dan Keenan?”
Kugy diam sejenak. “Nggak ada apa-apa,” jawabnya pen-
dek.
Ojos menggeleng. “Gue mungkin orang paling cemburuan
di dunia, tapi radar gue nggak pernah salah. Udah, deh. Ju-
j ur aj a. Lo suka sama di a, kan? Di a j uga suka sama lo?”
Hati Kugy terasa menci ut. Kalau Oj os sudah mulai me-
makai ‘gue-lo’ padanya, berarti anak itu marah betulan. “Jos,
Keenan udah punya pacar. Aku j uga udah punya pacar.
Kami berdua cuma sahabatan. Nggak lebi h, nggak kurang.”
“Suka ya suka aj a. Nggak ada urusan punya pacar atau
nggak,” tandas Oj os lagi .
“Aku nggak bi sa i kut ke Bali ,” ti ba-ti ba Kugy menceplos.
I a bahkan kaget sendiri begitu kata-kata itu terlontar begitu
saj a dari mulutnya.
“What?” Oj os tersentak.
“Sakola Ali t i kut perlombaan antar-SD hari Sabtu depan.
Nggak mungkin kalau aku sampai nggak ikut. Aku tahu kamu
udah beli ti ket dan udah si api n semuanya. Tapi aku benar-
benar nggak bi sa. Ki ta li burannya kapan-kapan aj a ya—”
147
“Gue kok nggak yaki n yang namanya ‘kapan-kapan’ i tu
bakal ada,” potong Oj os dengan nada ti nggi .
Kugy terdi am. Banyak hal berkecamuk di benaknya, tapi
li dahnya seperti kelu. Ti dak tahu harus bereaksi apa.
Terdengar Oj os menghela napas berat. “Gue capek j adi
nomor keseki an dalam hi dup lo. Sej ak lo di Bandung, gue
ngerasa maki n terpi nggi r. Lo kayak punya duni a sendi ri .
Kayaknya cuma gue yang usaha buat ngerti i n lo, Gy. Cuma
gue yang usaha buat ki ta berdua.”
Mata Kugy mulai terasa panas. Dadanya mulai terasa se-
sak.
“Dari pertama kita jadian, gue selalu berusaha ngejar du-
nia lo. Tapi lo bukan cuma lari, lo tuh terbang. Dan lo suka
lupa, gue masi h di Bumi . Kaki gue masi h di tanah. Gi mana
ki ta bi sa terus jalan kalo tempat ki ta berpi jak aja beda,” tu-
tur Oj os geti r.
Ai r mata Kugy mulai merembesi pi pi . Satu demi satu.
Namun, mulutnya masi h belum bi sa berkata-kata.
“Lo suka sama Keenan, Gy? Lo j atuh ci nta sama di a?”
Li nangan ai r mata di pi pi Kugy maki n deras. Perlahan,
i a menggeleng, “Apa pun perasaanku sama Keenan, aku sa-
yang banget sama kamu ....”
“I ni memang bukan cuma soal Keenan, tapi pri ori tas
buat gue di hidup elo. Sekarang, kita bikin semuanya seder-
hana aj a, Gy. Berangkat hari Jumat depan sama gue, atau
lo tetap di Bandung. Pilih yang mana?” Ojos bertanya lugas.
Namun, nada i tu terdengar peri h, suara i tu bergetar.
“Tapi ... tapi aku bener-bener nggak bi sa berangkat.
Sabtunya kan aku harus ... apa ki ta nggak bi sa pergi hari
lai n—”
“Sederhana, kan, Gy? Lagi -lagi gue yang harus berkor-
ban,” gumam Oj os pahi t.
148
Kugy terdi am lagi . Hanya terdengar i sakan pelan.
“Pergi dengan gue hari Jumat, atau semuanya selesai
sampai di si ni ,” Oj os menandaskan ulang.
“Kenapa harus pakai ulti matum begi ni , si h? Kenapa
nggak bisa diundur aja? I ni bukan pilihan, Jos. I ni namanya
memojokkun!¨ seru Kugv puLus usu.
Ojos menatap pacarnya dalam-dalam, lalu berkata pelan,
“Karena kalo lo emang sayang sama gue, sekarang j uga lo
bi sa tahu j awabannya. Bahkan dari tadi harusnya lo udah
tahu. Pembi caraan i ni nggak perlu ada, Gy.”
Meski keduanya sama-sama membi su, suasana di dalam
mobi l i tu pengap oleh berbagai macam emosi dan pe-
rasaan.
Akhirnya, Ojos membukakan pintu Kugy. “Gue tunggu lo
di ai r por t hari Jumat si ang. Pesawat ki ta take-off j am ti ga.
Kalo lo nggak datang, berarti semuanya selesai ,” ucapnya
li ri h.
Sebelum keluar dari mobil, Kugy menatap Ojos sekali lagi
dengan matanya yang basah. Dalam waktu yang sedemikian
si ngkat, semua kenangan mereka selama hampi r ti ga tahun
terki las bali k. Kugy pun berlari masuk, menerobos kamar-
nya. Sesak di dadanya tak tertahankan lagi , dan Kugy me-
nangis sepuasnya. I a sudah tahu apa yang akan ia putuskan.
Dan i a menangi s untuk perpi sahan yang belum terj adi .
Namun, akan terj adi .
Kedua pasangan i tu akhi rnya memutuskan untuk meng-
habiskan malam Minggu mereka dengan berkumpul bersama
di tempat kos Keenan. Dua kotak martabak asi n dan mani s
yang sudah hampir ludes isinya mengambil tempat di tengah
li ngkaran mereka duduk. Noni dan Wanda tampak seri us
149
berdi skusi . Noni berencana untuk merayakan ulang tahun-
nya yang ke-20 bulan September depan di rumah Wanda.
Rumah di daerah Kebayoran Baru i tu punya taman yang
luas, cocok dengan konsep gar den par ty yang i ngi n di buat
Noni . Karena acara i tu cukup besar, Noni mempersi apkan
dari j auh-j auh hari , di bantu oleh Wanda yang terkenal se-
bagai par ty maker andal.
Wanda sibuk mencatat ini-itu, lalu menyerahkan catatan-
nya pada Noni .
“Buset ... lu gape banget, si h,” Noni terkagum-kagum
membaca catatan Wanda.
“Bikin acara beginian doang sih makanan gue sehari-hari.
Hampir semua acara di Warsita gue yang koordinasi. Nggak
perlu sewa EO,” Wanda tersenyum bangga. “Pokoknya kalo
lo ada detai l tambahan lagi , kabari n aj a, nanti gue yang
atur.”
Sambi l memeti k gi tar dan berselonj or santai , Eko pun
i kut berceletuk, “Di am-di am ternyata Wanda punya bakat
mandor. Penampilannya juga makin lama makin kayak man-
dor.”
“Excuse me?” Wanda mendeli k, “Coba perjelas, apa yang
di maksud dengan ‘penampi lan mandor’?”
Permainan gitar Eko langsung memelan. Tersadar bahwa
dirinya baru saja menyenggol dawai Wanda yang paling sen-
sitif, yakni masalah penampilan. Namun, mulut jahil Eko tak
sanggup di berangus. “Mmm ... gua perhati i n, maki n hari
dandanan lu maki n santai , sementara dulu kan lu Mi ss
Matchi ng abi s,” Eko cengengesan, “kuku lu udah nggak
warna-warni , terus sekarang baj u lu kayaknya kegedean se-
mua—kalo dulu kekeci lan, he-he. Kaus gede banget i tu lu
dapet dari mana, coba?”
“Punya Keenan.”
“Jaket yang tadi lu pake punya si apa?”
150
“Punya Keenan.”
Noni pun tak dapat menahan tawa keci lnya. “Hi -hi ...
bener banget kata Eko, sebetulnya gua juga udah pingin ko-
mentar. Dandanan lu maki n mi ri p Kugy, Wan. Pantes aj a,
IormuIunvu uduh sumu. Buju-buju dupeL mInjem!¨
Ekspresi Wanda berubah drasti s. Apalagi meli hat Eko
yang langsung terbahak-bahak mendengar celetukan Noni .
Melihat itu, Keenan cepat-cepat berusaha menetralisasi, “Se-
betulnya gua yang minta ke Wanda, kalau di Bandung men-
di ngan pakai baj u yang prakti s-prakti s aj a, kan di ngi n ....”
¨WoI! Adu perbeduun besur unLuru berdundun prukLIs dun
berdandan a la Kugy. Kalo kata gua, dia lebih cocok di kate-
gori yang kedua,” Eko ngakak-ngakak lagi .
Muka Wanda kontan memerah. Meski i a berusaha i kut
tertawa, suasana hatinya rusak berantakan sudah. Sepanjang
si sa malam i tu, ti nggal Keenan yang kena getahnya, semen-
tara Eko dan Noni pami t pulang duluan.
¨NvebeIIn bungeL sIh Eko! Sok ngerLI fashi on. Kayak di a
aja yang paling bener pakai baju. Noni juga, nyama-nyamain
aku sama Kugy. Memangnya aku separah i tu?” gerutu
Wanda panj ang lebar.
Keenan tak berkomentar dan membi arkan Wanda me-
lampiaskan kekesalannya. I a memilih membuka buku sketsa
lalu asyik mencorat-coret. Menjadi pendengar sekaligus tem-
pat sampah yang bai k.
Namun, Wanda seperti tak mau berhenti. “Aku cuma se-
kali -sekali doang pakai baj u kamu. I tu j uga kalo memang
kepepet. Sementara kalo Kugy itu udah jadi style, jadi tr ade-
mar k!” ci bi rnya sewot. “I nget nggak waktu Kugy datang ke
Warsi ta? Emangnya mungki n aku pakai baj u kayak gi tu?
I di h. Gi la aj a ....”
“Ngapain sih masalah gitu doang diributin?” Keenan men-
dongak, mukanya menunj ukkan bahwa i a mulai terganggu.
Sudah hampi r sej am topi k omelan Wanda ti dak berubah.
151
Wanda terdi am. Meraj uk. “Aku cuma sebel aj a. Kok, di -
bandi ngi nnya sama Kugy. Kugy kan ancur banget—”
“Buat saya, di a bai k-bai k aj a,” potong Keenan tegas.
“Buat saya, kamu j uga bai k-bai k aj a. Mau Mi ss Matchi ng,
mau nggak, saya nggak ambi l pusi ng.”
“Tapi Kugy kan—”
“Sebenarnya kamu ada apa sih sama Kugy?” Keenan ber-
tanya agak keras.
“Kamu ada apa sama Kugy?” Wanda malah bertanya
bali k.
Keenan mengerutkan keni ng.
“Aku udah li hat j udul luki san kamu yang baru. ‘Ali t’ i tu
nama sekolah tempat Kugy ngaj ar, kan? Kamu teri nspi rasi
gara-gara di a? Hebat banget i tu anak sampai di bi ki nkan lu-
ki san segala,” uj ar Wanda si ni s.
Keenan menghela napas, dongkol. “I ya, memang saya
buat luki san i tu dari ceri ta yang Kugy buat tentang anak-
anak di sekolahnya. Terus?”
“Nan, aku mungki n kolokan, but I ’m not stupi d. I ’m not
bli nd. Aku li hat gi mana cara kamu meli hat di a. Baj u-baj u
yang kamu suruh aku pakai ... dan sekarang lukisan itu. You
have feeli ngs for her , don’t you?” Wanda bertanya taj am.
Kali i ni Keenan terdi am.
“Don’t you?” cecar Wanda lagi .
“Wanda, i ni mulai konyol. Kamu cuma cemburu ber-
lebi han—”
“You’r e damn r ight I am! Dan udah selayaknya aku cem-
buru. Memangnya kamu pi ki r aku nggak tahu kalo kamu
sebenarnya sedang berusaha mengubah aku j adi di a? Well,
I tell you thi s: you wi ll fai l! Karena aku bukan di a, dan
ngguk ukun pernuh muu judI dIu!¨ Wundu menunduskun.
Dadanya turun nai k saki ng emosi nya.
Keenan menatap Wanda lama. “Wanda, kamu bebas per-
152
caya apa pun yang kamu mau. Saya nggak bi sa mengubah
anggapan kamu. Hanya kamu sendiri yang bisa. Kalau kamu
merasa begi tu soal saya dan Kugy, saya teri ma. Saya nggak
bisa bikin kamu yakin sama saya. Hanya kamu sendiri yang
bi sa,” ucapnya datar.
“Bullshi t,” desi s Wanda.
“Mau saya antar pulang?” Keenan bangki t berdi ri .
Wanda menepis tangan Keenan yang mencoba menggamit
bahunya. “Ada yang bi sa kamu lakukan supaya aku yaki n,”
Wanda lantas menentang mata Keenan lurus-lurus, “lihat ke
mataku, and say that you love me.”
Keenan tampak terkej ut mendengar tantangan Wanda.
Namun, kedua mata mereka telanj ur beradu, dan tak bi sa
lagi Keenan menghi ndar.
“I t’s so simple, Nan. Aku hanya mau dengar kamu bilang
ti ga kata i tu,” bi si k Wanda. Jarak mereka hanya terpaut se-
kian senti. Sorot matanya memburu Keenan ke dasar hatinya
yang terdalam.
Mulut Keenan tampak setengah membuka, otot-otot
mukanya t egang sepert i bersi ap mengat akan sesuat u.
Namun, setelah seki an lama, tetap tak ada sepatah kata
keluar. Hanya embusan udara kosong yang terbata-bata.
Wanda menggigit bibirnya yang bergetar menahan tangis.
Air matanya pun tak terbendung lagi. Dalam sekejap, isakan-
nya meledak. Wanda langsung menyambar tasnya dan ber-
lari menuj u pi ntu.
Secepat ki lat, Keenan menahan tangannya. “Wanda ...
suvu mohon, jungun pergI ... muuhn suvu ...¨
Bercampur dengan senggukan, Wanda berteri ak, “Maaf?
Damn i t, Keenun! Aku ngguk buLuh muuI kumu. I just want
you to love me. Why can’t you j ust love me?”
Lagi , Keenan tak bi sa menj awab. I a hanya menari k
Wanda ke arahnya, berusaha memeluk Wanda yang me-
153
ronta, menghi raukan kepalan-kepalan ti nj u lemah yang di -
lancarkan Wanda dengan frustrasi , hi ngga akhi rnya Wanda
menyerah. Menangi s sej adi -j adi nya di dal am pel ukan
Keenan.
Baru kali i tu Keenan merasa sedemi ki an pi lu. Rasa ber-
salah yang sangat kuat terasa memenuhi seluruh rongga
tubuhnya sampai ke tulang, dan i a merasa sesak luar bi asa.
Dan yang membuat hati nya lebi h pedi h lagi , meski desakan
i tu begi tu kuat, tetap Keenan tak bi sa memaksakan mulut-
nya mengatakan apa-apa. Hanya lengannya yang semaki n
erat mendekap, j emari nya tak henti membel ai rambut
Wanda, berusaha menenangkan i sakannya yang terus men-
j adi . Keenan terus berharap dalam hati , semoga i tu cukup.
154
Bandung, Agust us 2000 ...
Terdengar langkah kaki berlari di koridor, semakin lama se-
maki n dekat, dan ternyata langkah i tu berhenti di depan
pi ntu kamarnya. Menyusul ketukan bertubi di pi ntu.
“Masuk ...,” kata Kugy, matanya tak lepas dari layar kom-
puter.
¨Gv!¨ NonI menerobos musuk, mukunvu punIk. ¨¡u puLus
sama Oj os?” tembaknya tanpa basa-basi .
Kugy menatap Noni tanpa bersuara, lalu mengangguk
keci l.
“Ya, ampun. Kenapa? Kok bi sa? Gua baru teleponan
sama Oj os. Di a sedi h banget. Kok lu nggak langsung bi lang
sama gua? Sebetulnya kalian ada apa, sih? Lu kenapa?” Per-
tanyaan Noni berentet seperti peluru senapan otomati s.
Kugy benar-benar tak tahu harus menjawab apa. I a hanya
mengangkat bahu. “Memang udah saatnya kali, Non,” sahut-
nya pendek.
“Kok jawaban lu gitu sih, Gy? Kok lu nggak terbuka sama
18.
KEPERGIAN DAN KEHILANGAN
155
gua? Gua kan sayang banget sama kali an berdua. Gua i kut
sedih, tauk,” kata Noni kecewa. “Kalian kan pasangan legen-
dari s, bi ki n orang-orang ngi ri , kali an tuh cocok banget ...”
Kugy tersenyum getir. “Please, deh, Non. Gua sama Ojos
i tu bedanya kayak langi t dan sumur. Semua i ni kayak bom
waktu yang ti nggal tunggu meledak.”
Tampang Noni langsung berubah seri us. “Gy, lu sahabat
gua. Gua pasti belain elu. Tapi terus terang, kali ini gua nge-
li hat lu memang j adi berubah. Lu kayak sengaj a menari k
diri. Ojos juga ngerasa gitu, dan dia udah lama ngomong ke
gua. Di a ngerasa ada sesuatu yang aneh. Gua dan Eko j uga
ngerasa kehi langan lu,” Noni terdi am sej enak, “gua nggak
enak ngomong gi ni . Tapi sebagai sahabat, gua harus j uj ur
sama lu. Ki ta semua kehi langan Kugy yang dulu.”
Lama Kugy membisu. Dalam benaknya ia berusaha keras
untuk merangkai penj elasan demi penj elasan, tapi yang i a
temukan hanya sebongkah benang kusut. I a tak tahu lagi
harus memulai dari mana. Semua sudah bercampur aduk.
“Thanks for your concer n, Non,” kata Kugy akhi rnya, “tapi
gua bai k-bai k aj a, kok. Gua nggak tahu Kugy yang dulu i tu
yang mana. Tapi i ni lah gua. Kalau memang ternyata ber-
ubah, ya teri malah gua apa adanya. Sama seperti gua me-
neri ma lu, Eko, Oj os, Keenan ... apa adanya. Menurut gua,
i tu yang bi sa ki ta lakukan sebagai sahabat.”
Jelas terlihat ekspresi protes di muka Noni, tapi kata-kata
Kugy seperti membungkam mulutnya. Noni pun bangkit ber-
di ri . “Whatever , Gy. Terserah,” uj arnya di ngi n.
Pi ntu kamar i tu kembali menutup. Kugy termenung di
kursi komputernya. Seki las i a meli hat bayangannya di cer-
min. I a mengerti kehilangan yang dimaksud Noni. Sama se-
perti sahabatnya, ia pun merasakan kehilangan itu. Namun,
Kugy tak tahu harus ke mana mencari . Semua terlalu kusut
bagi nya.
156
Jakar t a, Agust us 2000 ...
Atmosfer di ruangan i tu terasa mengi mpi t. Di mej a makan
segi empat yang kosong tanpa makanan i tu, Keenan dan
ayahnya duduk berhadap-hadapan. I bunya duduk di tengah-
tengah seumpama wasi t ti nj u yang mengamati pertarungan
dengan tegang. Sementara Jeroen mengurung diri di kamar,
i a pali ng ti dak tahan mendengar orang bertengkar.
“I nilah yang membuat saya nggak pernah setuju dia pergi
ke AmsLerdum! ¡nI!¨ uvuh Keenun berkuLu IunLung, ¨¡enu ...
li hat anak kamu, di a pi ki r di a si apa? Berani -berani mi nta
berhenti kuli ah hanya gara-gara luki sannya laku segeli nti r.
Dia nggak mikir bahwa saya, bapaknya, sudah setengah mati
banting tulang buat bayar seluruh biaya sekolahnya dari dia
kecil sampai sekarang,” ayahnya lalu menoleh pada Keenan,
¨buwu sInI kuIkuIuLor! KILu hILung-hILungun sIupu vung
keluar bi aya pali ng besar. Bi sa nggak kamu bayar Papa un-
tuk mengganti kan uang sekolah kamu dari cek yang kamu
LerImu durI WursILu? Avo! KILu hILung!¨
Dari waj ahnya, Keenan tampak sudah mau meletus, tapi
i a menahan di ri , mengeraskan rahangnya kuat-kuat. “I ni
bukan soal uang, Pa,” ujarnya tertahan. “Sampai kapan pun
saya nggak bi sa mengganti kan semua yang sudah Papa ka-
si h. Tapi saya benar-benar nggak kuat lagi untuk pura-pura
betah kuli ah. Saya nggak kuat meneruskan sesuatu yang
saya nggak suka. Sementara hati saya ada di tempat lai n.”
“Apa si h masalah kamu? Tanpa banyak usaha saja kamu
bIsu dupuL ¡P puIIng LInggI! Apu susuhnvu kumu Leruskun
kuli ah?” tanya ayahnya gemas.
“I tu bukan dunia saya, Pa,” Keenan menyahut pelan, “bu-
kan i tu j alan hi dup yang saya mau.”
Adri tertawa keci l , menggel eng-gel engkan kepal anya.
157
“Kamu tahu apa tentang hi dup? Kamu masi h dua puluh ta-
hun. Kumu ngguk Luhu upu-upu!¨
“Saya cukup tahu bahwa hi dup yang sekarang i ni saya
j alankan adalah hi dup yang Papa mau, bukan yang saya
mau,” kata Keenan geti r. “Saya i ngi n berhenti kuli ah mulai
dari semester depan. Dan saya ti dak akan membebani Papa
lagi . Saya akan cari uang dan membi ayai hi dup saya sen-
di ri .”
¨Keenun! Let op j e woor den!
21
” Lena menyambar se-
keti ka, “ga ni et al te ver .
22
Jangan asal ngomong kamu ....”
Adri pun sontak bangki t berdi ri , menatap anaknya tak
percaya. “Kamu—kamu belum tahu seuj ung kuku pun ten-
Lung hIdup! Jungun pIkIr suvu Lerkesun dengun usuhu kumu
yang sok kepi ngi n mandi ri i tu. Kamu nggak tahu apa yang
kamu hadapi di luar sana—”
“Maaf, saya bukannya mau menyaki ti kali an berdua de-
ngan keputusan saya i ni , tapi saya betul-betul nggak bi sa
maksai n di ri lagi ,” sela Keenan tegas.
Lena sudah i ngi n berbi cara, tapi tangan suami nya ter-
angkat menahannya, “Oke. Kalau memang i tu yang kamu
mau, silakan.” Suara Adri terdengar tegas dan garang. “Mu-
lai deti k i ni , saya berhenti membi ayai kamu. Mandi ri lah
sana. Si lakan kamu rasakan sendi ri hi dup yang sebenarnya.
Kamu urus di ri kamu sendi ri . Saya ti dak mau tahu lagi .”
¡enu pun Luk bIsu menuhun dIrI IugI, ¨AdrI! Kumu jugu
j angan i kutan ngawur. Ki ta bi carakan lagi semua i ni bai k-
bai k ....”
Keenan malah i kut bangki t berdi ri . “Sudah, Ma. Het i s
goed zo
23
. Memang itu yang saya inginkan. Saya mau beres-
beres sekarang, lalu pulang ke Bandung,” uj arnya tenang.
21
Berhenti bi cara.
22
Jangan kelewatan.
23
Kalau memang begi tu, ti dak apa-apa.
158
“Ya. Biarkan dia pergi,” Adri menyahut, “jangan ditahan-
tahan.”
¨AdrI! Keenun! KuIIun berduu sumu suju, kerus kepuIu
dun gengsI LInggI!¨ proLes ¡enu. ¨Avo, duduk IugI, bukun
begi tu cara menyelesai kan masalah i ni . Pasti ada j alan ke-
luar yang lebi h bai k.”
Namun, bai k Keenan maupun ayahnya ti dak tertari k un-
tuk duduk kembal i . Keduanya tetap berdi ri di tempat
masi ng-masi ng dengan sorot mata beradu.
“Laat maar zi tten
24
, Lena. Ki ta li hat saj a nanti , si apa
yang akan kembali ke pi ntu rumah i ni , merengek mi nta
maaf, dan menelan kembali semua ucapannya,” ucap Adri
di ngi n.
Keenan tersenyum samar. “Ya, ki ta li hat saj a nanti .”
Bandung, Agust us 2000 ...
Sekembalinya ke Bandung, Keenan tak menunda-nunda lagi
rencananya. I a sadar bahwa i a tengah melakukan perom-
bakan hi dup besar-besaran. Perasaannya bercampur antara
semangat sekali gus gentar. Namun, Keenan tahu i a tak bi sa
mundur lagi .
Sel ama l i bur j eda semester i ni , bol ak-bal i k Keenan
mengurus surat pengunduran dirinya ke bagian administrasi
kampus. Dibantu Bimo, Keenan pun pindah dari tempat kos-
nya dulu ke tempat kos yang j auh lebi h keci l, di dalam se-
buah gang di daerah Sekeloa, yang ongkos sewanya berkali
li pat lebi h murah di bandi ngkan tempat kosnya yang dulu.
Keenan mulai menata ulang hi dupnya di Bandung. Cek
dari Warsi ta tak di sentuhnya sama sekali . I a hanya berni at
24
Bi arlah ki ta tunggu dulu
159
mencai rkannya j i ka kelak kondi si nya sudah sangat kepepet.
Keenan hanya mengandalkan si sa tabungan pri badi yang i a
mi li ki . Sebagai konsekuensi nya, i a tahu di ri nya ti dak bi sa
lagi bergaya hi dup seperti dulu. Segalanya berubah seka-
rang.
Bimo meletakkan dus yang terakhir ke lantai. Kamar kos
keci l i tu bahkan terlalu sesak rasanya menampung mereka
berdua. Buru-buru Bi mo membuka pi ntu agar udara segar
masuk.
“Lu adalah orang pali ng gi la yang pernah gua tahu,”
Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya, “entah itu karena lu
nekat atau bloon, tapi gua salut sama keberani an lu.”
Keenan hanya nyengi r sambi l mengusap-usap kepalanya
sendi ri , “Gua j uga nggak ngerti i ni gi la atau malah waras.
Yang jelas, i ni lah rasanya hal pali ng benar yang pernah gua
lakukan.”
“Lu emang sinting nggak kepalang. I P terbaik dua semes-
Ler berLuruL-LuruL, ee ... muIuh cubuL! TrunsIer IImu duIu,
kek. Kasihani orang-orang kayak gua yang I P-nya satu koma
gi ni ,” Bi mo tergelak.
“Tenang. Selama gua masi h di Bandung, gua pasti bi sa
bantui n lu. Udah tahu harus cari gua ke mana, kan?”
Keenan tersenyum.
“Si apa aj a yang udah tahu lu di si ni ?”
“Belum ada si apa-si apa lagi .”
“Eko?”
Keenan menggeleng.
Bagi Bi mo, i tu menj adi petunj uknya untuk ti dak perlu
bi lang pada si apa-si apa soal kepi ndahan Keenan. Banyak
pertanyaan yang muncul di kepalanya, tapi Bi mo merasa
lebi h bai k menunda hi ngga saat yang tepat. “Angkatan ki ta
akan kehi langan si lumannya,” Bi mo menghela napas seraya
menepuk bahu Keenan.
160
“Siapa tahu setelah nggak jadi mahasiswa, gua malah jadi
macan kampus.”
“Gua mohon j angan, Nan. Bentar lagi ada cewek-cewek
ungkuLun buru, dun guu oguh bersuIng sumu Iu, monvong!¨
Bi mo tergelak lagi , dan tak lama kemudi an i a pami t pulang.
Sepeni nggal Bi mo, Keenan termenung di kamar barunya
yang terletak sendirian di loteng. Juntaian tali jemuran yang
sali ng si lang di depan j endelanya akan menj adi peman-
dangan ruti n seti ap hari . Kuci ng-kuci ng yang berj emur
santai di atap tetangga akan menjadi teman setianya. Udara
panas i ni akan i a hi rup sampai entah berapa lama. Barang-
barangnya yang padahal tak banyak i tu bahkan terasa me-
nyesaki saki ng keci lnya kamar i tu. Namun, untuk pertama
kali nya setelah pulang ke I ndonesi a, Keenan merasakan ke-
bebasan.
Kugy memutuskan mengambi l semester pendek bulan i ni .
Terkadang, ia merasa keputusannya itu adalah usaha pelarian
dari suasana ti dak enak yang mengungkungnya keti mbang
melulu keputusan akademi s. Lebi h bai k membenamkan di ri
dalam pelajaran dan tugas menumpuk ketimbang berhadapan
dengan Noni yang menj aga j arak, Eko yang j uga i kut meng-
hi lang, Keenan yang lebi h tak tentu ri mbanya, dan perasaan
bersalahnya pada Oj os yang belum surut-surut j uga.
Sepulang dari kampus dan mengaj ar di Ali t si ang i tu,
Kugy benar-benar penat dan ingin langsung cepat mendarat
di kasur. Namun, langkahnya yang gegap gempita berangsur
menj adi pelan dan berj i ngkat keti ka i a meli hat si Fuad ter-
parkir di halaman tempat kosnya. Sehati-hati mungkin, Kugy
menyeli nap masuk menuj u kamarnya.
¨Gv!¨ Eko muncuI dI hudupunnvu durI buIIk pInLu kumur
161
Noni. Bertepatan dengan Kugy yang sudah membuka handel
pi ntu kamar. “Manusi a satu i ni ... lama ngi lang,” sambung
Eko lagi .
Mau tak mau Kugy melayani dulu basa-basi i tu. “Lu kali
yang ngilang. Gua kan di sini terus,” katanya sambil nyengir
lebar.
“Masa? Kok, ti ap kali gua ke si ni lu j uga nggak pernah
ada. Ti ap gua aj ak pergi lu nggak pernah mau. Kata anak-
anak, lu ambi l SP, ya? Pi ngi n cepat lulus terus ni nggali n
kita, ya?” Eko menoyor jidat Kugy pelan, “Huuuh ... curang.
Ke mana aj a, si h? Kangen tauk.”
“I ya, gua juga kangen. Tapi gua sibuk banget belakangan
i ni , Ko,” j awab Kugy j uj ur. Jangankan untuk mai n dengan
Eko dan teman-temannya yang lai n, ti dur si ang pun sudah
j adi kesempatan langka bagi nya.
“Sibuk boleh sibuk, tapi minggu depan sempatkan datang,
ya?”
“Datang ke mana?” tanya Kugy.
“Ultah Noni. Masa lu belum tahu, sih?” Eko berdecak ge-
mas, “Dia kan mau bikin acara di Jakarta, gede-gedean. Kita
j ustru mau berangkat ke Jakarta sore i ni , di a mau si ap-
si api n acaranya ....”
Mendengar Eko berbi cara dengan seseorang, Noni i kut
menongolkan di ri . Mukanya tampak berubah keti ka tahu
orang yang ngobrol dengan Eko ternyata Kugy. “Hei , Gy.
Baru pulang?” sapanya enggan.
“Hai , Non,” j awab Kugy setengah bergumam.
Eko melihat Noni dan Kugy bergantian. “Kayaknya kalian
berdua perlu bi cara, deh. Gua tunggu di depan aj a, ya.” I a
pun langsung melenggang dari sana, tanpa memeduli kan
pelototan dari kedua perempuan i tu.
“Katanya mi nggu depan mau bi ki n acara, ya? Seru,
dong,” Kugy mencoba membuka pembi caraan. Kaku.
162
“I ya. Mudah-mudahan. Semua teman gua udah pada
tahu, kok. Anak-anak yang dari Jakarta udah mau datang.
Sebagi an anak-anak dari Bandung j uga pada i kut,” sahut
Noni dengan penekanan, seolah-olah menunj ukkan fakta
bahwa Kugy secara i roni s malah menj adi orang yang bela-
kangan tahu.
Kugy menyadari betul maksud yang tersi mpan di bali k
i ntonasi Noni . “Sori ya, gua tahu pembi caraan ki ta terakhi r
agak kurang enak. Juj ur, gua j uga nggak nyaman j adi
di ngi n-di ngi nan sama lu begi ni . Sekali lagi maaf ya, Non.
Kayaknya memang gua yang nggak sensi ti f dan j adi terlalu
cuek sama lu, sama kali an.”
Noni mengangkat mukanya dan menatap Kugy. I a pun
menyadari dirinya terlalu sayang pada makhluk aneh di ha-
dapannya i tu, dan tak mungki n i a marah berlama-lama.
“I t’s okay, Gy. Gua j uga mi nta maaf kalo terlalu nyam-
purin urusan lu sama Ojos. Gua yakin lu pasti punya alasan
lu sendiri, dan gua nggak berhak ngutak-ngatik. Gimanapun
juga, lu tetap sahabat gua,” kata Noni. Seulas senyum mulai
terbi t di waj ahnya. “Tapi , gua bol eh r equest sesuatu,
nggak?”
“Anythi ng,” Kugy membalas tersenyum.
“Gua mi nta lu datang ke pesta ultah gua mi nggu depan,
ya. Lu adalah sobat gua terlama, Gy. Lu tahu gua dari keci l
sampai umur kepala dua begi ni . Sangat berarti buat gua
kalo lu bi sa hadi r. Please?” Noni memohon.
“Gua pasti datang,” j awab Kugy mantap.
Noni langsung menghambur memeluk Kugy. “Jangan ngi-
lang lagi ya, ‘Nyet,” bi si knya.
“Kecuali kalo lagi berburu pi sang,” bi si k Kugy lagi .
Noni tertawa. “Gua cabut ke Jakarta dulu. Gua tunggu
mInggu depun dI rumuh Wundu, vu!¨
Kugy menelan ludah. Jantungnya terasa mengkeret se-
163
ki an senti . “Rumah Wanda?” i a berusaha meyaki nkan pen-
dengarannya.
“Yup. Gua bi ki n gar den par ty, mi nj em halaman rumah-
nya Wanda yang segede setan. Pokoknya bakal mantap ba-
nget. Wanda yang jadi EO-nya. Tugas lu ti nggal datang dan
have fun, oke?¨ kuLu NonI cerIu. ¨Duh, Gv! See you next
week!”
Kugy balas melambai. Lama memandangi Noni yang ber-
lari -lari keci l dengan ri ang gembi ra sampai bayangan sa-
habatnya i tu menghi lang di bali k pi ntu gerbang. Terasa ada
beban baru yang menghunj am pundak Kugy begi tu tahu di
mana pesta itu diadakan. Benaknya seketika bergerak maju,
membayangkan suasana pesta i tu nanti , dan aneka peman-
dangan yang sekiranya akan menusuk mata. Kugy masuk ke
kamarnya dengan langkah terseret. Sore i ni terasa semaki n
penat.
164
Wanda nyari s pi ngsan keti ka di bawa masuk ke tempat kos
Keenan yang baru. Untung saja i a masih sanggup mengum-
pulkan kekuatan untuk bertahan duduk di atas kasur ti pi s
di si tu.
“Nan, kamu ngapai n sampai harus ti nggal di tempat ka-
yak gi ni ? Aku hargai banget keberani an kamu untuk ber-
henti kuli ah demi seri us meluki s, tapi ... i ni ... ekstrem
numunvu! Kumu ke JukurLu uju. NunLI uku vung curIkun
tempat,” buj uk Wanda sambi l sesekali mengelap waj ahnya
sendi r i dengan t i su. Bandung memang l ebi h sej uk
di bandi ngkan Jakarta, tapi kamar Keenan yang berada di
loteng dan beratapkan asbes itu terpanggang sinar matahari
si ang hi ngga terasa panas dan pengap.
“Saya lebi h bai k di Bandung, Wan. Bi aya hi dup di si ni
lebi h murah. Dan saya bi sa mempersi apkan di ri untuk me-
lukis tanpa banyak diganggu,” ujar Keenan sambil membuka
jendela dan pintu lebar-lebar agar ada angin yang berembus
masuk.
“Gi mana mungki n kamu mel uki s di t empat busuk
19.
TRAGEDI PESTA NONI
165
begi ni ?” tukas Wanda, tangannya tak henti -henti mengi pas-
ngi pas muka. “Keluargaku punya vi lla di Puncak. Nanti aku
bi sa bi lang Papi kalo kamu mau ti nggal di si tu dulu buat
meluki s. Aku yaki n Papi bakal kasi h i zi n. Gi mana?”
“Nggak usah. Di si ni enak j uga kok kalo sudah malam.
Bisa lihat langit luas, tinggal selonjoran aja di luar,” Keenan
tersenyum, “mau coba?”
Wanda melengos. “Mau berapa lama kamu ti nggal di
si ni ?”
Keenan mengangkat bahu, “Nggak tahu. Yang pasti ,
begi tu saya sudah punya cukup modal dari hasi l penj ualan
luki san, saya pasti cari tempat ti nggal yang lebi h bai k. Tapi
saya nggak mi ki ri n i tu dulu sekarang. Yang penti ng saya
mempersi apkan di ri untuk pameran, meluki s sebanyak-
banyaknya.”
“Mentang-mentang obj ek luki san kamu anak-anak me-
larat, jadi kamu harus ikut-ikutan melarat, ya?” kata Wanda
ketus seraya meli pat tangannya di dada.
Keenan mengeraskan rahangnya, mengumpul kan ke-
sabaran. “Saya bi sa antar kamu pulang ke hotel kalau me-
mang kamu udah nggak betah di si ni . Ki ta ketemu besok
untuk bareng ke Jakarta. Oke?”
“Kamu nanti nginap di mana kalau di Jakarta? Kamu kan
nggak bisa pulang ke rumahmu. Aku bukain kamar di hotel,
ya? Aku nanti temeni n kamu.”
“Nggak usah. Saya ti nggal di tempat Bi mo.”
Mendengar jawaban Keenan, Wanda pun bangkit berdiri.
“Ya udah, terserah. Aku mau pulang sendiri aja. Kita ketemu
besok,” katanya pendek.
Keenan tahu Wanda sedang merajuk. Namun, ia memilih
untuk ti dak menahannya dan membi arkan Wanda pergi .
Di depan pintu, tahu-tahu Wanda berbalik. Mukanya me-
rah padam. Antara kepanasan dan kesal. “You know what,
166
Nan? Aku udah nggak bi sa ngi tung berapa cowok yang se-
tengah mati berj uang ngedeketi n aku hanya untuk dapat
sepuluh persen perhatian yang aku kasih ke kamu. Mungkin
Eko dun NonI memung benur. Kumu memung ... uneh!¨
Punggung i tu lantas berbali k sekali gus, bergegas pergi .
“Wan ... hati -hati ….”
Terdengarlah suara batok kepala beradu dengan kayu.
Keenan kontan meringis. “Atap di atas tangga itu rendah
banget. Kamu harus nunduk—”
Namun, Wanda sudah tak mau dengar apa-apa. Suara
hak sepatunya terdengar beradu buru-buru dengan tangga.
Kekesalannya dengan tempat i tu lengkap sudah.
Kesempatan untuknya li bur akhi rnya ti ba. Walaupun cuma
sehari, Kugy memanfaatkan waktu luang itu sebaik-baiknya.
Setelah sehari an bermalas-malasan dan mai n ke warnet,
Kugy pergi ke supermarket sendi ri an untuk mengi si lemari
makanannya yang sudah kosong. Sambi l bersenandung,
Kugy menenteng keranj ang belanj anya ke bagi an mi numan
untuk memborong j us buah kesukaannya.
Terperanj atlah i a meli hat Wanda sedang berbelanj a,
mengambil minuman yang sama. Kugy cepat-cepat kabur ke
area lai n. Namun, perasaannya mengatakan bahwa Wanda
j uga berj alan ke arah yang sama. Tepat di belakangnya.
Kugy si buk berdoa supaya Wanda ti dak mengenali sosok-
nya.
Di area perabot rumah tangga, Kugy pun terpoj ok. Tak
bisa menghindar lagi. Wanda sedang berjalan lurus ke arah-
nya. Spontan, Kugy mencomot segagang sapu. Meli ndungi
mukanya di balik ijuk hitam. Langkah itu terdengar semakin
dekat. Kugy berusaha mengi ngat-i ngat mi mpi si al apa yang
167
di alami nya tadi malam hi ngga hari i ni bi sa berbelanj a di
supermarket yang sama dengan Wanda, dengan jalur belanja
yang sama pula.
“Kugy?” Suara i tu menyapa sekali gus bertanya.
Terpaksa, Kugy menurunkan gagang sapu i tu. Meng-
hudupI Wundu dengun Luwu seIebur mungkIn. ¨HuI, Wundu!
Belanj a sapu j uga?”
“Nggak. Aku cuma lewat aj a,” Wanda tersenyum mani s,
“sapunya gede banget, Gy. Buat nyapu j alan?”
“Buat terbang,” Kugy membalas dengan senyum yang le-
bi h mani s. “Sampai kapan di Bandung?”
“Nanti juga udah pulang ke Jakarta. Bareng Keenan. Aku
lagi belanj a buat di a, ni h. Kasi han, di a kan suka kerj a sam-
pai malam, suka nggak ada makanan,” Wanda lantas me-
nunj ukkan keranj angnya yang sudah penuh sesak.
“Kalo sebanyak i tu si h di a pasti butuh bantuan. Nanti
aku bantu ngabi si n deh,” Kugy terkekeh.
Kening Wanda berkerut. “Memangnya kamu tahu tempat
ti nggal di a yang baru?”
“Memangnya dia pindah dari tempat kosnya?” Kugy gan-
ti an terheran-heran.
Senyum mani s kembali menghi asi muka Wanda. “Kamu
nggak tahu, ya? Keenan udah berhenti kuliah. Dia mau total
meluki s. Dan di a pi ndah kos.”
Mulut Kugy otomati s menganga. “Keenan berhenti ku-
li ah? Kok—di a—nggak kasi h tahu, ya?” ucapnya terbata.
“Kayaknya di a cuma kasi h tahu orang-orang dekat aj a,”
ujar Wanda sambil mengangkat bahu. “Anyway, dia lagi si-
buk mempersi apkan di ri buat pameran. Sesudah i tu di a
akan pi ndah ke Jakarta, bareng sama aku. Karena sesudah
itu kami berdua harus keliling bareng untuk promosi lukisan-
nya,” tuturnya ri ngan, “di a masi h ri but sama keluarganya
gara-gara keputusannya berhenti kul i ah. Makanya …,”
168
Wanda mengembuskan napas panj ang, mukanya tampak
pri hati n, “selai n aku, di a nggak punya si apa-si apa lagi
sekarang.”
Kugy l ama terdi am. Berusaha mencerna keterangan
Wanda satu per satu. “Salam buat Keenan, ya.” Kugy akhir-
nya berkata pelan.
Wanda mengangguk. “Kamu datang ke acaranya Noni ,
kan? I t’s goi ng to be fun. Noni, Eko, aku, dan Keenan, akan
j adi host-nya.”
“Aku usahakan,” jawab Kugy ringkas. I a pun pamit pergi
dari situ. Kugy berjalan pulang untuk menenangkan hatinya
vung bergejoIuk. ¡u Luk bIsu mendehnIsIkun perusuunnvu.
Benang kusut i tu terasa tambah kusut. Kugy sungguhan
kaget dengan keputusan Keenan, sekali gus kecewa karena
tak di beri tahu langsung. I a pun patah hati mengetahui ke-
dekatan Wanda dan Keenan yang sedemi ki an dalam. Men-
dadak, Kugy merasa bodoh. Selama ini ia menyangka punya
tempat spesial dalam hidup Keenan. Ternyata ia salah. Diri-
nvu kInI Luk IebIh durI hgurun Luk berurLI.
Jakar t a, Sept ember 2000 ...
Halaman luas dengan kolam renang i tu mulai di penuhi
orang-orang yang berseliweran. Obor-obor mulai dipancang-
kan di taman, dan mej a-mej a beri si makanan mulai meng-
ambi l posi si . Wanda tampak yang pali ng si buk hi li r mudi k
mengatur i ni -i tu.
Noni menyaksi kan persi apan acaranya sendi ri dengan
muka tegang. Di kelompok perkawanan mereka, selai n
Wanda yang dijuluki “Miss Matching”, dan Kugy yang dikenal
sebagai “Mother Ali en”, Noni menyandang gelar sebagai
“Madam Perfect”. Bagi Noni , segala sesuatu harus sempurna
169
dan bebas er r or . Tahu-tahu si kutnya di senggol oleh Eko.
“Kamu tuh, ri leks dong, Sayang. Jangan segalanya di -
pi ki ri n. Kan udah banyak yang bantui n. Ada aku, Wanda,
Keenan …,” celetuk Eko.
“Anak-anak pasti datang nggak, ya? Kalo tahu-tahu nanti
sepi gi mana, Ko? Kok, sampai j am segi ni masi h belum ada
yang nelepon atau kasi h kabar. Yang dari Bandung kalo
tahu-tahu pada ngebatali n pergi gi mana, ya?” rentet Noni
geli sah.
“Ya udah, ki ta pesta sendi ri aj a. Makan sampai bego,”
Eko tertawa.
¨Kumu jungun bIkIn Lumbuh Legung, dong!¨ NonI cem-
berut.
¨SouInvu, uku uduh Luhu kumu! DILunggupIn kumu LeLup
stres, dibercandain kamu stres juga, ya mendingan bercanda-
lah. Mi ni mal aku yang hepi .”
“Kugy datang kan, ya?” kata Noni sambil menggigit kuku-
nya.
“Pasti lah. Gi la aj a kalo sampai di a nggak muncul.”
“Medali nya udah si ap, kan, Ko?”
¨Beres!¨
Bandung, Sept ember 2000 ...
Sudah setengah jam lebih Kugy memandangi ransel besarnya
yang tergeletak di lantai dalam keadaan kosong. Sudah se-
dari tadi seharusnya ransel itu terisi. Sudah sedari tadi pula
di ri nya harus bersi ap dan berangkat ke stasi un kereta api .
Namun, sedari tadi Kugy di am di tempat duduknya. Mem-
bayangkan apa yang terj adi j i ka i a ti dak datang, sekali gus
apa yang terj adi i a j i ka hadi r di pesta i tu.
Ji ka i a ti dak datang, Noni pasti kecewa. Dan maki n ge-
170
naplah kesi mpulan sahabatnya i tu bahwa i a memang ber-
ubah, menghi ndar, dan menjauh. Ji ka i a datang, hati nyalah
yang remuk.
Kugy membuka jaketnya, melemparkannya ke lantai, lalu
mengempaskan tubuhnya ke kasur. Setengah dari di ri nya
kesal sendi ri , menyadari betapa manusi a satu i tu telah me-
ngacaukan hidupnya, membuat ia kehilangan kemampuannya
untuk cuek dan berlagak tak peduli. Keenan telah membuat-
nya seperti orang lumpuh.
Setengah dari di ri nya pun takj ub dan terpana. Baru kali
i tu i a menyadari betapa dalam perasaannya untuk Keenan
dan betapa j auh hati nya telah j atuh. Dan sebagai kesi m-
pulan, Kugy tahu bahwa i a akhi rnya memi li h ti dak pergi .
“Maaf ya, Non …” bi si knya sendi ri an.
Jakar t a, Sept ember 2000 ...
Halaman i tu ki ni di padati manusi a. Li li n dan obor menyala
di segala sudut. Musik berdegup dari pengeras suara. Semua
orang tampak meni kmati suasana. Namun, muka Noni
masi h seperti baj u tak di setri ka.
Untuk keseki an kali nya, Noni mendatangi Eko. “Udah
telepon ke rumahnya? Di a udah sampai ?” tanyanya resah.
“Kata orang rumahnya, dia nggak jadi ke Jakarta. Kalau-
pun i ya, pasti langsung ke si ni , dan nggak pulang dulu,”
j awab Eko, berusaha setenang mungki n.
“Nggak j adi ke Jakarta?” Mata Noni membelalak.
“MUNGKI N, Noni . Mungki n nggak j adi . Nggak ada yang
tahu pasti, oke?” Eko berusaha meredam kegelisahan pacar-
nya, “HP-nya mati dari tadi . Telepon di tempat kos j uga
nggak ada yang angkat.”
“ Ket er l al uan deh Kugy …,” Noni ber kat a l i r i h.
171
Kekecewaan tak bi sa di sembunyi kan dari waj ahnya.
Terdengar suara seseorang memanggi l mereka dari ke-
juuhun. ¨NonI! Eko! BenLur IugI LIup IIIIn! SIup-sIup dI dekuL
sInI, vuk!¨ seru Wundu.
Lunglai , Noni berj alan ke dekat mej a tempat kuenya
nanti di paj ang. Wanda berdi ri di sana sambi l senyum-
senyum.“Hi , guys. Aku punya bonus buat kali an,” Wanda
menyambut mereka dengan dua gelas beri si champagne.
“Dom Peri gnon. Aku ambi l satu botol dari lemari nya Papi .
Ssst, diam-diam ya, ini khusus buat kita doang, lho,” Wanda
ceki ki kan sendi ri .
Eko mengambi l satu gelas. Sementara Noni menggeleng,
“Buat lu aj a, Wan,” katanya dengan muka enggan.
“Oh, come on, gi r l! Have fun! Kenapa sih muka lo kusut
banget?” tanya Wanda seraya menenggak i si gelas yang di -
tolak Noni .
“Ki ta mulai aj a ti up li li nnya, yuk?” aj ak Noni langsung.
“Oke. Semuanya udah siap, kan?” Wanda pun meletakkan
gelasnya yang sudah kosong dalam sekejap itu. “Medali yang
mau di kasi h ke Kugy udah ada, Ko?”
Tangan Eko spontan merogoh ke kantong belakangnya.
Memastikan barang itu ada. Noni punya ide sejak lama ingin
mengalungkan medali -medali an untuk Kugy pada pesta
ulang tahunnya yang ke-20 i ni sebagai tanda persahabatan
mereka. Sebuah medali emas yang mereka berdua pesan di
toko olahraga, bertuli skan: Sahabat Ter bai k dan Ter awet.
Eko menelan ludah. Meski medali itu telah terparkir dengan
bai k di kantongnya, i a ti dak yaki n benda satu i tu akan pu-
nya manfaat malam i ni .
“Pakai aja medalinya buat ganjal meja,” gumam Noni se-
raya ngeloyor pergi .
172
Ti dak ada yang tahu bahwa sebetulnya pesta ulang tahun
Noni itu sudah rusak berantakan. Sebagian besar tamu yang
di undang dari luar Jakarta ti dak datang. Dan yang pali ng
fatal adalah ketidakhadiran Kugy. Prosesi penyerahan medali
“Sahabat Terbaik dan Terawet” yang telah disiapkan matang
oleh Noni tidak terjadi. Namun, keempat sekawan itu mam-
pu bersandiwara dengan baik, hingga tamu-tamu yang hadir
merasa pesta i tu berj alan bai k-bai k saj a. Yang ganj i l hanya-
lah Noni yang menghi lang dengan cepat, mengaki batkan
acara usai lebi h di ni dari yang di perki rakan. Pukul sepuluh,
hampi r semua tamu sudah pulang. Segeli nti r orang saj a
yang tersi sa, dan sebagi an besar adalah pegawai -pegawai
dari rumah Wanda sendi ri .
Keenan mendatangi Eko yang sedang ikut gotong-royong
membereskan kursi . “Ko, Noni mana, si h?” tanyanya.
“Mi gr ai ne,” Eko melengos, “bi asalah, si Madam Perfect
satu i tu. Nggak tahan stres. Masi h untung lari nya cuma ti -
duran, nggak ngadu-ngadui n kepala ke tembok.”
“Lu yaki n Noni nggak apa-apa?”
20.
KEBOHONGAN GIGANTIS
173
Eko mengangguk, “Tadi udah tidur, kok. Dan ada kakak-
nya yang nemeni n j uga,” j awabnya, “kayaknya j ustru elu
yang harus ngej agai n seseorang.”
“Si apa?”
Eko tak langsung menjawab. Dari bawah kolong meja, ia
mengeluarkan sebotol Dom Peri gnon yang sudah ti ga per-
empat kosong. “Kalo tadi nggak gua si ta, udah pasti botol
i ni keri ng sampai tetes terakhi r. Ti nggal j adi vas bunga.”
“Wanda ...?” Keenan terenyak. “Di a di mana?”
Eko mengangkat bahu. “Mendi ngan lu cari di a sekarang
dan langsung antar ke kamarnya. Kalau sampai Om Hans
li hat anaknya mabok champagne hasi l curi an, wah ... ki ta
semua pasti kena.”
Keenan cepat mengedarkan pandangannya. “Oke, gua cari
di a.”
Tampak si luet dua orang sedang berj oget di poj okan dekat
kolam renang, di i ri ngi alunan musi k dari plat yang masi h
aktif berputar. Keenan seketika mengenali keduanya: Wanda
dan I van, DJ pesta malam i tu.
“Hi, babe ... kamu ke mana aja?” Berseri-seri, Wanda me-
nyapa Keenan. Gerakannya tampak terhuyung-huyung.
Justru I van yang kelihatan tersentak, dan langsung buru-
buru melepaskan tangannya yang meli ngkar di pi nggang
Wanda. “Hai , Nan. Whassup ...,” sapanya, berusaha santai .
Keenan tak menj awab. Tangannya langsung merentang,
mengaj ak Wanda pergi . “Wanda, kamu mabok,” tandasnya
langsung. “Saya antar kamu ke kamar. Sekarang.”
Wanda menyambut tangan Keenan sambil sempoyongan.
Berat tubuhnya seketi ka di j atuhkan ke dekapan Keenan. “I
can’t walk ...,” bi si knya di kupi ng Keenan.
174
“Kalau kamu masi h bi sa j oget, kamu pasti masi h bi sa
j alan. Ayo,” dengan nada tegas, Keenan melepaskan rang-
kulan Wanda lalu menggandengnya.
Susah payah, Wanda pun berusaha mengi kuti langkah
Keenan. “Nan ... j angan cepat-cepat dong,” raj uknya.
Namun, Keenan tak menghiraukan, ia terus berjalan dengan
i rama yang sama, dan tangannya tak lepas menggi ri ng
Wanda.
Sesampainya di depan kamar Wanda, Keenan baru meng-
henti kan langkahnya. “Kamu nggak seharusnya mi num se-
banyak i tu. Kontrol sedi ki t, kenapa si h?” tegurnya pedas.
Wanda menatap lurus-lurus mata Keenan, dan malah ter-
senyum. “Kamu marah karena aku mi num, atau karena—
I van?” tanya Wanda, dan senyumnya terus melebar, “Ar e
you j ealous?”
“Dari yang saya lihat, I van cuma efek samping. Penyebab
utamanya karena kamu kebanyakan mi num. Kamu ber-
untung ayah kamu belum pulang,” tandas Keenan lagi .
Wanda tertawa ri ngan, “Ah, he wouldn’t know the
di ffer ence. Papi lebi h jago membaca luki san dari pada anak-
nya sendi ri ....”
“Kamu harus istirahat, Wanda. Minum air putih yang ba-
nyak. Mandi air panas dulu kalau perlu,” ujar Keenan seraya
membukakan pi ntu kamar i tu. “Saya pulang dulu, ya.”
“What?” Wanda langsung menari k Keenan masuk, lalu
menuLup pInLu kumurnvu. ¨Kumu ngguk boIeh puIung!¨
Sejenak Keenan melirik pintu yang sudah tertutup di ba-
lik punggungnya. Dan seperti membaca gerak mata Keenan,
Wanda cepat menyel i nap dan bersandar menghal angi
pi ntu.
“Wanda ... please ... j angan kayak anak keci l ... saya
harus pergi ,” uj ar Keenan setengah mengeluh.
“Why? Kenapa harus pergi? Aku mau kamu temenin aku.
175
Dan kamu kan pacarku. I want you to stay.”
“Karena kamu lagi nggak sober , that’s why,” Keenan ber-
kata lagi , “dan saya nggak mau ki ta melakukan hal yang
bodoh hanya karena kamu mabok.”
Mendengar perkataan Keenan, Wanda tertawa lepas.
¨Aku Luh kuvuk pucurun sumu homo, Luhu ngguk!¨ kuLunvu
lantang. Dengan gerakan sekali gus, Wanda merangkul leher
Keenan, “Kamu bi sa bayangi n apa yang di lakukan cowok
kayak I van kalau di a punya kesempatan i ni ? Di kamar i ni ,
berdua sama aku?” bi si knya dengan bi bi r yang di tempelkan
di atas bi bi r Keenan.
Sontak, Keenan menahan napas, menari k j auh lehernya.
“Wanda, tolong dengar bai k-bai k. Bukannya saya nggak
mau, dan bukannya saya nggak ngerti kesempatan apa yang
saya punya. But you’r e dr unk. Thi s i s not r i ght.”
¨TuIk! You’r e such a hypocr ite!” teriak Wanda kesal. “Gue
ngguk mubok uju Io ngguk pernuh muu! Ngguk usuh pukuI
alasan sober atau nggak. You never wanted me. You never
loved me. You never di d! Padahal gue udah mati -mati an
mengusuhukun seguIunvu buuL eIo! Gue uduh muu kusIh
semuunvu buuL eIo!¨
Keenan terdi am. Walaupun i a tahu Wanda ti dak sedang
dalam keadaan sepenuhnya sadar, tak urung kata-kata i tu
kembali mengusi k rasa bersalahnya. Lembut, i a berusaha
menari k Wanda dan mendekapnya. Namun, Wanda sudah
terlalu emosional. Ditepiskannya tangan Keenan dengan ka-
sar.
¨Gue ngguk buLuh dIhIbur! Gue ngguk buLuh dIkusIhunI!
Gue ogah terus ngemis-ngemis perhatian sama lo kayak orang
ngguk punvu hurgu dIrI! PergI, sunu!¨ Wundu berLerIuk muruh,
tangannya mengacung tegas menunjuk ke arah pintu. “Pulang
uju ke Bundung, buIIk ke koLuk subun busuk ILu! PergI!¨
Keenan berusaha mencamkan pada dirinya sendiri bahwa
176
Wanda sedang dipengaruhi alkohol, bahwa ia tidak sungguh-
sungguh mengucapkan i tu semua. Dengan nada sewaj ar
mungki n, Keenan mencoba pami t dengan sopan, “Ya, udah.
Kamu istirahat malam ini, ya. Saya akan mampir ke sini lagi
besok ....”
“Apa bedanya besok sama malam ini? Memangnya kalau
besok lo j adi mau sama gue?” sambar Wanda dengan nada
yang semaki n ti nggi , “For get i t, Keenun! Ther e wi ll be no
tomor r ow for you!”
Dengan gerakan sempoyongan, Wanda lantas membung-
kuk, menyi bak bed cover tempat ti durnya yang menj untai
menyentuh lantai , lalu menari k keluar gulungan-gulungan
kurLon besur. ¨AmbII InI! Buwu puIung IugI!¨ Wundu mengem-
paskan benda-benda i tu.
Kerongkongan Keenan seperti tercekat. Perasaannya lang-
sung tak enak. Di ambi lnya satu gulungan i tu, membuka se-
di ki t lapi san karton pembungkusnya. Begi tu Keenan tahu
bahwa gulungan i tu adalah kai n kanvas, seketi ka lututnya
terasa lemas. Jantungnya berdegup kencang. Keenan me-
nyadari j umlah gulungan karton i tu pun persi s sama ...
empat. Jumlah luki sannya yang di paj ang di Galeri Warsi ta
dan di laporkan telah laku terj ual.
Dengan sedi ki t gemetar, Keenan menghampi ri Wanda.
“Tolong jelaskan sebi sa kamu, kenapa luki san saya bi sa ada
di si ni ?” tanyanya dengan suara tertahan.
¨Kurenu ... IukIsun Io dIbeII sumu GUE! Puus?¨
Keenan mematung. Berusaha mencerna kali mat Wanda.
Berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Pikiran-
nya merangkaikan semua kejadian selama ini, menghubung-
kannya dengan i ntui si yang selama i ni tak pernah bi sa i a
j elaskan. Peri sti wa demi peri sti wa terhubung, dan i a seolah
menyaksikan sebuah kebohongan menggelembung, merekah
ki an besar, dan ki ni berdi ri lurus-lurus di hadapan. Keenan
serta-merta memali ngkan muka, tak kuat meli hat Wanda.
177
Saat menyaksi kan perubahan ai r muka Keenan, mulai
ti mbul rasa pani k di hati Wanda. “Nan ..., aku nggak ber-
maksud j ahat. Aku cuma i ngi n nolong kamu ...,” katanya
terbata.
Keenan merasa kebohongan i ni terlalu gi ganti s untuk i a
cerna. Kepalanya berputar. Hati nya teraduk-aduk. Galeri
Warsi ta, cek i tu, rasa percaya di ri nya, keyaki nannya untuk
mel uki s ... i mpi annya musnah satu demi satu dal am
hi tungan deti k.
Sei ri ng dengan kedoknya yang i kut meluruh, ai r mata
pun mulai membasahi mata Wanda. Kemarahannya yang
tadi meledak-ledak berganti dengan esktrem menjadi tangi s
tersengguk-sengguk. “Nan ... I ’m sor r y ... aku tahu itu salah.
Please under stand, aku sayang banget sama kamu ... don’t
leave ... please ....” Wanda tahu-tahu melorot, bersimpuh di
atas kedua lututnya, memeluk kaki Keenan.
Kembal i Keenan hanya mematung. Matanya mel i ri k
Wanda yang menangi s menj adi -j adi sambi l merangkul erat
pahanya. Terasa celana panj angnya melembap karena ai r
mata. Namun, Keenan tak mampu bereaksi apa-apa, i ngi n
bi cara pun ti dak. Kegalauan yang i a rasakan ternyata me-
lampaui amarah, melampaui segala reaksi emosi yang i a
kenal.
Lama Keenan membi arkan Wanda tersedu-sedan sambi l
meratapkan segala penyesalannya, hi ngga perlahan, Keenan
melepaskan rangkulan tangan Wanda di kaki nya, lalu me-
nari knya lagi untuk kembali berdi ri .
“Keenan ... please, say somethi ng, anythi ng ... kamu
boleh marah-marah kayak apa aja, aku rela, aku siap terima,
tapi j angan pergi ....”
Keenan memungut gulungan-gulungan i tu dengan hati
remuk redam. “Uang kamu akan saya kembali kan. Utuh.
178
Dan saya akan bawa pulang lagi semua lukisan ini,” katanya
li ri h.
Wanda menatapnya pi lu. “Nan ... j angan pergi ...”
“Kamu bi sa bel i l uki san-l uki san i ni , Wanda,” desi s
Keenan sambil membuka pintu, “tapi kamu nggak akan per-
nah bi sa membeli saya.” Di panggulnya keempat luki san i tu,
berj alan pergi dan tak menoleh lagi .
Bandung, Sept ember 2000 ...
Ada li ma si li nder karton yang sudah di bawanya ke kantor
ekspedi si i tu: empat luki san yang i a bawa dari rumah
Wanda, dan satu i kut di tambahkannya: luki san “Jenderal
Pi li k dan Pasukan Ali t”.
“Formulirnya sudah selesai?” Petugas itu bertanya sambil
melirik formulir yang sedari tadi diberikannya pada Keenan
tapi tak kunj ung di i si .
“Sebentar, Pak ...” j awab Keenan. Di li hatnya sekali lagi
keli ma si li nder yang sudah tergulung dan teri kat rapi i tu.
Dengan berat, akhi rnya i a melengkapi formuli r pengi ri man
paket tersebut.
Setelah formuli r di kembali kan, petugas tadi mengecek
sekali kelengkapan i si an Keenan. “Ubud—Bali , ya? Ti ga-
empat hari sudah sampai ,” gumamnya. “Ada yang bi sa di -
bantu lagi ?”
Keenan menggeleng.
Petugas lai n pun datang untuk mengambi l gulungan-
gulungan i tu.
“Pak ... tolong hati-hati,” sela Keenan cemas, “bisa tolong
ditempel stiker ‘fragile’? Dan jangan sampai kena air. Tolong
ya, Pak. Makasi h.”
179
Sambi l tersenyum makl um, petugas i tu menyi apkan
sti ker-sti ker petunj uk yang di mi nta Keenan.
Sampai keli ma benda i tu di masukkan ke gudang, mata
Keenan tak lepas mengawasi. Sejenak lagi, kelima lukisannya
akan berlayar ke Pulau Dewata, dan Keenan merasa benar-
benar seperti hendak melepaskan mereka ke khayangan.
Entah kapan bi sa meli hatnya lagi .
Dalam hati , i a telah mengucapkan selamat ti nggal pada
i mpi annya, pada luki sannya. Namun, apakah i a sungguhan
si ap, Keenan tak berani lagi memeri ksa. Yang i a tahu dan
yaki ni , luki san-luki san i tu akan berada di tangan yang bai k.
Saat i ni , i tulah yang lebi h penti ng.
180
Setengah j am yang lalu, kamar i tu masi h gelap. Sekarang
cahaya lampu sudah membayang dari ti rai j endela, dan
papan berhuruf warna-warni yang tergantung di pintu sudah
bertuli skan: NONI ADA. Kugy memandangi kamar i tu de-
ngan hati kecut.
Sudah tiga hari sejak pesta ulang tahun itu, dan baru ma-
lam ini Noni kembali dari Jakarta. Mereka belum bicara lagi
sejak itu. Tepatnya, Kugy tak punya cukup keberanian untuk
menghubungi Noni . Sampai hari i ni pun li dahnya masi h
kelu, tak tahu harus bi lang apa.
Pi ntu i tu membuka. Noni keluar dari dalam membawa
kantong sampah yang si ap di buang. Kugy pun tersentak.
Namun, sudah terlambat untuk bergerak ke mana-mana.
Noni mengangkat mukanya sedikit, menyadari bahwa ada
Kugy sedang berdi ri di kori dor. Cepat, mata Noni berpali ng
ke arah lai n.
“Hai , Non ...,” Dengan suara pelan dan sedi ki t bergetar,
Kugy menyapa.
Noni tak menjawab, melirik pun tidak. I a berjalan keluar
seolah Kugy tak punya wuj ud.
21.
HAMPA YANG MENYAKITKAN
181
Sempat meli ntas di pi ki ran Kugy untuk mengej ar Noni
dan berbicara lebih panjang, tapi kakinya terasa kaku. I a tak
punya cukup nyali . Akhi rnya Kugy masuk ke kamarnya. I a
sadar, sebuah perang dingin resmi dimulai. Dan entah kapan
akan berakhi r.
Pukul sepuluh malam. Lambungnya ri uh rendah seolah te-
ngah berlangsung pertandi ngan bola. Terakhi r di a makan
adalah tadi siang, dan tampaknya lambungnya tak akan men-
dapat olahan baru sampai besok si ang lagi .
Keenan menepuk-nepuk pelan perutnya, berbi si k sen-
di ri an, “Sabar, ya. Jangan masuk angi n dulu, karena saya
harus li hat langi t.”
Terduduklah Keenan di dekat j emuran yang bi sa i a da-
tangi dengan cuma membuka jendela kamar. Di sana ia bisa
memandang hamparan atap rumah lai n beserta pendar-
pendar lampu di ri mba gang yang padat i ni .
Keenan menengadah. Dari tempat i a duduk, langi t tam-
pak berhi askan sali ng-si lang tali j emuran, beberapa kolor
dan j i ns ti dak keri ng yang tampak masi h di angi n-angi nkan.
Ti dak apa-apa, pi ki rnya. Memandang angkasa malam ada-
lah peli pur sederhana yang membantunya sedi ki t merasa
lebi h bai k.
Sesungguhnya, Keenan tak keberatan dengan rasa lapar
i ni . Bagi nya, i tulah bagi an dari konsekuensi yang harus di -
tanggungnya dengan mengi ri t seti ap rupi ah dari si sa uang-
nya yang tak seberapa lagi. Namun, tak ada yang bisa meng-
obati kekosongan j i wanya. Dan rasa kosong i ni l ebi h
menyaki tkan dari apa pun.
Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia
i ni ti dak cukup membeli nya, pi ki r Keenan geti r. Uang me-
182
mang tidak akan pernah bisa jadi ukuran. Rasa percaya dan
uang ada di di mensi yang sama sekali lai n. Ki ni i a yaki n
i tu.
Ludahnya terasa memahi t. Baru kali i ni i a merasa pri -
hati n pada di ri nya sendi ri . Kalau bi sa, i a i ngi n mengi ri m
kembang tanda dukaci ta. Tak punya r asa per caya ... tak
ada kebanggaan ... hampa. Dan kembali Keenan merenung:
bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya ber-
arti ti dak ada apa-apa. Ti dak ada apa-apa harusnya berarti
ti dak ada masalah. Termasuk rasa saki t.
Sayup-sayup terdengar lagu dari kaset yang di putar di
kamarnya:
“Far e thee well my br i ght star
I t was a br i ef, br i lli ant mi r acle di ve
that whi ch I looked up to and I clung to for dear li fe
... your last dr amati c scene agai nst a ni ght sky stage.”
Mendadak sesuatu menyusupi hampanya. Rasa sedi h.
Masa gemi lang i tu datang, sekej ap, dan tak lebi h dari se-
buah drama besar. Dan Keenan merasa seperti aktor malang
yang bermi mpi melampaui skenari onya.
Ti ba-t i ba waj ah neneknya di Amst erdam mel i nt as.
Keenan teri ngat hari terakhi r mereka bersama, saat Oma
memasakkannya sup kacang merah yang mereka ni kmati
dalam heni ng. Kesedi han yang mereka berdua si mpan dan
tak tuntas terungkapkan. Keenan mengkhayalkan bi sa kem-
bali ke sana malam i ni , meni nggalkan semuanya tanpa ke-
cuali. Namun, kedua kakinya hanya sanggup mengantarkan-
nya ke atap i tu. Tak bi sa lebi h j auh lagi . I ngatan akan Oma
dan langi t malam berbaur. Semuanya lebur dan tampak
kabur dari mata yang basah oleh ai r mata.
183
Bandung, Okt ober 2000 ...
Kugy tak bisa melupakan pagi ini. Untuk pertama kalinya ia
pi ndah mengaj ar ke saung baru yang di bangun oleh orang-
orang kampung. Keberadaan Sakola Ali t serta konsi stensi
Ami dan kawan-kawan akhi rnya menari k si mpati penduduk
seki tar. Berkat gotong-royong warga, satu saung baru di -
di ri kan. Mereka khawati r kegi atan belaj ar mengaj ar di
Sakola Ali t terganggu karena musi m huj an sudah ti ba, se-
mentara mereka tahu bahwa ada kelas yang selama i ni di -
j alankan di bawah pohon.
Meski semua anak senang dan bersemangat dengan tem-
pat baru mereka, tak urung muka anak-anak pagi i tu kusut
karena hari i ni mereka belaj ar perkali an dan pembagi an.
Kugy mengamati anak di di knya yang tampak mutung dan
tak bergai rah. I a sendi ri mulai i kut putus asa. Belum ber-
hasi l mendapatkan cara yang lebi h kreati f untuk mengaj ar.
Ti ba-ti ba seorang muri dnya, Dadi , berlari ke arah saung
dengan tergesa. Wajahnya berseri-seri, tangannya menunjuk
ke arah belakang. Tawanya merekah, memampangkan gi gi
seri nya yang ompong. “Bu Ugi i i i ... ada Pak Guru Rang-
gi nang ...,” serunya lantang.
Ranggi nang? Kugy bertanya dalam hati . Saat i a me-
longok ke arah yang di tunj uk Dadi , sadarlah i a si apa yang
di maksud anak i tu. Dan sungguhan Kugy tak si ap. “Keenan
…,” desi snya.
Sej enak Kugy menunduk, memej amkan mata, berusaha
mengumpulkan tenaga dan kekuatan. Dalam sekej ap, tawa
segar muncul di wajahnya, dan ia pun menyapa dengan ceria,
¨HuIo, Puk Guru! SeIumuL duLung dI keIusku vung buru!¨
Keenan tersenyum. Ada kehangatan yang seketi ka me-
menuhi rongga hati nya meli hat tawa lebar Kugy yang khas.
Keenan menamakannya “tawa pengampun”, karena layaknya
184
matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan
senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun
membawa efek yang sama bagi di ri nya. Kehangatan yang
lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan mur-
ni .
Setel ah Keenan mendekat, barul ah Kugy menyadari
perubahan yang terj adi . Keenan tampak lebi h kurus. Dan
kedua matanya menunjukkan bahwa ia lelah. Kugy pun me-
nyadari , perubahan yang sama j uga terj adi pada di ri nya
sendi ri .
“Apa kabar, Kecil?” sapa Keenan. “Kamu kok tambah ke-
ci l ....”
“Pemadam Kelaparan baru nai ki n harga soalnya, j adi
asupan makanan ke badanku agak berkurang,” Kugy ter-
kekeh. “Kamu j uga kurusan. Kamu bai k-bai k?”
Keenan mengangkat bahu sambi l nyengi r. “Lumayan,”
j awabnya si ngkat.
Kehadi ran Keenan seketi ka membawa suasana berbeda.
Semua anak merasa Keenan adalah penyelamat yang akan
membebaskan mereka dari pelaj aran yang memusi ngkan
pagi itu. Pilik langsung menandak-nandak kegirangan sambil
berLerIuk, ¨Gumbur! Gumbur! Gumbur!¨
Kugv menggeIeng-geIengkun kepuIu, ¨Ngguk, ngguk! Ku-
li an tetap harus belaj ar Matemati ka ....”
Ucapan Kugy di sambut ri uh protes.
Keenan mengambil sepotong kapur dan mulai menggam-
bar. Dengan cepat, i a menggambar enam layang-layang.
“Ayo, di hi tung, layang-layangnya ada berapa?”
Anak-anak i tu berhi tung dari satu sampai enam.
“Sekarang ... Pilik ceritanya harus bagi dua layang-layang
i ni dengan Dadi ,” Keenan menari k gari s, “Jadi , Pi li k punya
berapa, dan Dadi punya berapa?”
¨TIgu!¨ Mereku menjuwub serempuk.
185
Di sudut saung Kugy tersenyum. Tampaknya hari i tu i a
harus membi arkan kelasnya di ambi l ali h oleh Keenan.
Kelas Kugy bubar agak lebi h si ang dari bi asanya. Persi s se-
perti kunj ungan Keenan sebelumnya, layaknya penggemar
bertemu idola, dengan berbagai cara anak-anak itu menahan
Keenan lebi h lama agar lebi h banyak menggambar.
Sebubarnya anak-anak, Kugy dan Keenan gotong royong
membereskan saung.
“Kadang-kadang aku berharap kamu j adi pengaj ar tetap
di si ni ,” kata Kugy.
“Supaya?”
“Ya, supaya anak-anak ada yang mengajarkan menggam-
bar, dan sepertinya lewat gambar banyak sekali cara penga-
j aran kreati f yang bi sa kamu lakukan, yang aku sendi ri
nggak sanggup ....”
“Oh. Ki rai n bi ar ki ta ti ap hari ketemu,” celetuk Keenan
j ahi l.
Kugy tergelak. “Ya, i tu boleh j uga j adi bonus. Aku nggak
keberatan ketemu kamu ti ap hari .”
“Saya j uga nggak.”
Keduanya terdi am sej enak. Kugy tahu-tahu meletakkan
ransel yang tadi nya sudah si ap di sandangkan di bahu.
“Kamu ke mana aj a si h, Nan?”
“Ada,” sahut Keenan setengah menggumam.
“Kok nggak bi lang-bi lang kamu pi ndah tempat kos?”
“Ceri tanya panj ang, Gy.”
“Kamu bi sa mulai ceri ta sekarang,” tegas Kugy sambi l
duduk bersi la.
“Saya udah nggak kuli ah lagi dari awal semester. Saya
mengundurkan di ri ,” Keenan bertutur sekenanya.
186
“Ya, aku tahu. Dari Wanda ...” Kugy menyahut lirih. “Ke-
luarga kamu gi mana? Mereka setuj u?”
“Saya belum ketemu mereka lagi. Ayah saya sangat tidak
setuj u pasti nya.”
Lama Kugy termenung. Segari s senyum lalu membersi t
di waj ahnya. “Kamu ber ani banget , Nan. Aku sal ut .
Akhirnya, demi melukis kamu mengambil keputusan sebesar
i tu,” ucapnya tulus.
“Saya nggak meluki s lagi .”
Kugy nyaris mencelat dari lantai. “Ke—kenapa?” tanyanya
terbata.
“Saya salah selama i ni , saya pi ki r meluki s adalah j alan
hi dup saya, tapi ternyata bukan,” j elas Keenan dengan da-
tar.
“Tapi ... bukannya kamu mau pameran? Aku sempat ke-
temu Wanda, dan di a ceri ta kalau kamu lagi konsentrasi
mel uki s, terus kamu bakal kel i l i ng-kel i l i ng, pi ndah ke
Jakarta ...”
Keenan tersenyum samar. “Dia cuma bercanda. Pameran,
galeri , keli li ng-keli li ng ... semuanya cuma bercanda.”
“Aku nggak ngerti ...,” Kugy menggelengkan kepala, “mak-
sud kamu ... rencana pameran i tu nggak pernah ada?”
“Om Hans sej ak awal sebetulnya nggak setuj u luki san
saya masuk ke Warsi ta, karena menurutnya karya saya be-
lum matang. Tapi karena Wanda yang mi nta, luki san saya
bi sa lolos.”
“I ya ... tapi kan ... luki san kamu pada akhi rnya laku.
EmpuL-empuLnvu dIbeII orung! ¡Lu kun berurLI bukLI kuIuu
IukIsun kumu memung dImInuLI!¨
“Oleh satu orang tepatnya,” Keenan berkata getir, “Wanda.
Di a yang ternyata membeli semua luki san saya, dan di -
sembunyi kan di rumahnya. Saya nggak sengaj a tahu. Di a
yang kelepasan gara-gara mabok waktu ulang tahun Noni .”
187
Kugy menatapnya tak percaya, “Jadi ... selama i ni ...”
“Selama ini semuanya nggak lebih dari cerita cewek kaya
yang jatuh hati sama seorang pemimpi. Tapi ini bukan salah
siapa-siapa kok, Gy,” Keenan tersenyum samar, “saya nggak
menyalahkan Wanda, apalagi Om Hans. Saya yang terlalu
bego.”
“Bukan berarti kamu harus mengorbankan i mpi an kamu
gi tu aj a dong, Nan. Masa cuma gara-gara seorang Wanda
kamu j adi berhenti meluki s ...,” protes Kugy tak tertahan-
kan.
“I ni bukan masalah Wanda,” potong Keenan keras, “kamu
bisa bayangin? Saya sudah mengundurkan diri dari sekolah,
saya sudah keluar dari rumah. Dengan nai f dan yaki nnya
saya merasa bi sa membukti kan sama keluarga saya, sama
orang-orang, kalau saya mampu mandi ri dari meluki s—”
¨Yu kuIo gILu bukLIkun, dong!¨ Kugv buIus memoLong,
“Kenapa malah berhenti ?” Kugy menatap Keenan tak me-
ngerti , “Nan, kamu adalah peluki s pali ng hebat yang aku
tahu. Terserah Om Hans mau ngomong apa, Wanda punya
moti vasi apa, kolektor-kolektor i tu punya peni lai an apa ...
buatku, kamu meluki s dengan seluruh j i wa kamu, dan i tu
vung penLIng!¨
“Gy ... kalau saya memang peluki s yang sehebat yang
kamu kira, udah dari dulu-dulu Om Hans langsung melolos-
kan luki san saya. Nggak usah pakai di buj uk-buj uk sama
Wanda segala. Dan kalau memang saya pelukis yang sebagus
yang kamu ki ra, waktu pameran katalog barunya Warsi ta
sudah pasti ada yang membeli luki san saya. Nggak perlu
Wanda yang sampai pura-pura beli .”
“Jadi, cuma gara-gara penilaian satu galeri, dan sekelom-
pok orang yang entah si apa, kamu mengorbankan semua
mi mpi kamu. Gi tu?” Nada bi cara Kugy ki an merunci ng.
“Wake up, Gy,” Keenan melengos, “Warsi ta bukan se-
188
kadar galeri . Dan orang-orang i tu adalah kolektor luki san
yang berpengalaman. Kamu atau Eko bisa aja bilang lukisan
saya bagus karena kali an teman-teman saya. Tapi orang-
orang i tu lebi h tahu.”
Kugy menggeleng lagi. “No. YOU wake up! Nggak peduli
galeri bilang apa, nggak peduli orang-orang itu punya penga-
laman apa, harusnya kamu yaki n sama di ri kamu sendi ri .”
“Bener banget,” balas Keenan tegas. “Saya harus bangun
dan lihat kenyataan. Dan ini realitasnya. Lukisan saya cuma
jadi sarana seorang Wanda yang cuma mau pe-de-ka-te. Dan
ketololan sayalah yang memungki nkan di a melakukan i tu
semua.”
“Kamu bi lang i ni bukan masalah Wanda, tapi dari tadi
kamu bolak-balik selalu kembali mengungkit dia dan galeri-
nya. Justru aku yang nggak meli hat bahwa i ni soal Wanda
uLuu WursILu. ¡nI uduIuh souI kumu dun kevukInun kumu!¨
ujar Kugy setengah mengeluh. “Nan ... selama ini kamu yang
menginspirasi aku untuk tetap yakin pada impian-impianku.
Gara-gara kamu aku semangat bi ki n dongeng lagi . Aku
nggak rela kamu menyerah gi tu aj a—”
¨Suvu ngguk pernuh mInLu judI punuLun sIupu-sIupu!
Nggak usah menambah beban saya dengan omongan seperti
ILu!¨ Keenun menukus. SeLenguh membenLuk.
Seketika Kugy bungkam. Dengan sedikit gemetar, tangan-
nya membereskan si sa barangnya yang tercecer, lalu i a me-
nyandangkan tasnya di bahu. Bersi ap pergi dari sana. “Ter-
nyata selama i ni aku keti nggi an meni lai kamu ...,” desi snya
tanpa lagi menatap Keenan. Tak lama, langkah-langkahnya
yang besar membawa Kugy dengan cepat menghi lang di
bali k ri mbunan bambu. I a berj alan buru-buru tanpa me-
noleh.
Di tempatnya, Keenan duduk di am dan hanya sanggup
menatapi . Banyak kata yang i a sesali tapi telanj ur terucap.
189
Namun, untuk menahan Kugy, ia bahkan tak punya percaya
diri yang cukup untuk itu. Angin dingin yang berembus me-
nyentuh kuli tnya seolah menembusi pori , memasuki nadi ,
dan meni nggalkan perasaan kehi langan yang menj alar ke
seluruh tubuh. Mendadak, Keenan menggigil. Tak hanya ke-
hi langan, i a pun merasa di ti nggalkan.
190
Sendi ri an di kamarnya, Kugy mulai menuli s seperti orang
kesetanan. Malam i tu i a berni at menumpahkan semuanya
dalam lembaran-lembaran kertas kosong. Dalam sekej ap,
bi dang petak puti h i tu teri si penuh oleh tuli san tangannya.
Sambi l menuli s, tak j arang ai r matanya i kut terseli nap, me-
ni nggalkan j ej ak-j ej ak ti nta yang memecah di atas kertas.
Kugy tak tahu itu air mata sedih atau marah, dan ia tak lagi
peduli .
Baru pada lembar keti ga, kecepatan menuli snya mulai
melambat. Perasaan yang tadi campur aduk mulai menunjuk-
kan waj ah asli nya. Seharusnya i a bersukaci ta saat tahu hu-
bungan Keenan dan Wanda usai . Seharusnya i a lega keti ka
tahu Keenan tidak jadi pindah ke Jakarta dan meninggalkan
di ri nya gara-gara harus mempromosi kan luki san. Tapi ter-
nyata ti dak. Kugy pun tersadar, i ni lah patah hati yang se-
sungguhnya. Hati nya pernah hancur keti ka tahu Keenan
harus bersama orang lai n, tapi hati nya baru benar-benar
patah keti ka tahu bahwa Keenan bukanlah sosok yang se-
lama i ni i a ci nta.
22.
PULANG KE UBUD
191
Pada lembar keti ganya, Kugy mulai menangi s sedi h. Ti -
dak banyak lagi yang i a tuli s. Hanya beberapa bari s penye-
salan. Kugy menyadari , selama i ni i a telah menci ptakan
sendi ri i lusi tentang Keenan dan menci ntai i lusi i tu. Ke-
nyataannya, Keenan rapuh dan lemah.
Terdengar suara pi ntu di kamar sebelah membuka. Tak
lama, terdengar langkah Noni di koridor. Mendengar suara-
suara i tu, Kugy menelan ludahnya yang terasa pahi t. Tak
hanya i a kehi langan ci ntanya, i a pun telah kehi langan Noni
dan Oj os gara-gara ci nta i tu. Orang-orang yang i a ci nta.
Di li patnya lembar-lembar kertas tadi , di bentuknya men-
j adi ti ga perahu kertas.
Di seberang kampus, ada sebuah permukiman yang dilewati
kali . I tulah ali ran ai r terdekat yang bi sa Kugy temukan.
Pagi itu, sebelum kuliah, Kugy menyempatkan diri mam-
pi r ke kali . Terdapat beberapa anak keci l yang sedang asyi k
menangkapi kecebong. Kugy beri ngsut maj u, menj auhi me-
reka. I a tak i ngi n mi si penti ngnya gagal secara prematur
hanya karena anak-anak tadi tak jadi menangkapi kecebong,
dan malah lebi h tertari k pada barang yang i ngi n i a hanyut-
kan.
Setelah merasa berada di j arak aman, barulah Kugy ber-
henti dan mendekat ke tepi kali . Dari dalam ranselnya, i a
mengeluarkan ti ga perahu kertas. Tak ada saluran lai n, tak
ada teman bi cara lai n ... hanya Neptunus, bati nnya.
Satu demi satu, i a mengapungkan perahu-perahu kertas-
nya ke kali .
Sesuatu seperti lepas dari hatinya seiring dengan melaju-
nya perahu-perahu tadi . Kugy merasa lebi h lega bernapas.
Seki an lama sudah ri tual i ni terkubur, dan di butuhkan
192
seki an banyak peri sti wa untuk membangki tkannya kembali .
Kugy lupa betapa melegakannya perasaan ini, saat cerita dan
beban hati nya di hanyutkan ai r menuj u lautan. Betapapun
j auhnya perj alanan i tu.
Bandung, November 2000 ...
Hari pertama di bulan November. Keenan di kagetkan oleh
kedatangan Bi mo yang muncul di tempat kosnya pagi -pagi .
“Hai , Nan ... apa kab—?” Bi mo sampai menghenti kan
kali matnya keti ka sepenuhnya menyadari apa yang i a li hat,
“gi la, lu kurus banget, Nan.”
Keenan, yang berdiri di pintu, hanya tersenyum. I tu ada-
lah komentar klasik yang selalu ia terima setiap kali bertemu
dengan teman kampusnya.
“Hai , Bi m. Masuk, yuk,” sapa Keenan seraya membuka
pi ntu kamarnya lebi h lebar, menyi lakan Bi mo masuk.
“Gua mau ngasi h i ni ,” Bi mo menyerahkan sepucuk
amplop puti h.
Keenan meneri ma surat i tu dan seketi ka mengenali tu-
li san tangan yang tertera. Alamat pengi ri m di sampul bela-
kung umpIop ILu mengonhrmusI duguunnvu. SuruL durI Puk
Wayan di Ubud, di ki ri mkan ke alamat kosnya yang lama.
“Surat i ni ... kapan sampai ?” tanya Keenan.
“Sebetulnya udah cukup lama, Nan. Mungkin hampir dua
mi nggu. Tapi baru sampai ke tangan gua semi ngguan yang
lalu. Dan baru sekarang gua baru sempat ke si ni . Sori , ya,”
j elas Bi mo.
“Nggak apa-apa. Thanks, Bi m. Harusnya gua aj a yang
ambi l ke sana. Nggak perlu sampai lu ke si ni ....”
BImo LergeIuk. ¨¡hu! ¡u bIsu Luhu udunvu suruL InI durI
mana? Telepati? HP lu kagak punya, kosan ini kagak punya
193
LeIepon! Nun ... nun ... kuvuknvu Iu uduh kekurusun sumpuI
otak lu agak ci ut ...”
“Oh, i ya. Bener j uga ...” Keenan i kut mesem-mesem.
“Sarapan, yuk. Gua yang traktir. Kapan lu terakhir makan
enak?”
Keenan berpi ki r, lalu menggelengkan kepala. “Kalau soal
enak, kayaknya si h makanan gua enak-enak aj a. Tapi kalau
enak dan mahal ... hmm ... gua sampai udah nggak i nget
LerukhIr kupun. OLuk uduh cIuL!¨
BImo Lerkekeh. ¨SIup! MuhuI dun enuk i t i s then!”
Acara sarapan bersama Bimo ternyata berlanjut hingga men-
j elang sore. Keenan kembali menj enguk kampus dan nong-
krong seharian bersama teman-teman lamanya. Keenan ter-
sadar betapa i a meri ndukan kebersamaan semacam i tu.
Sejak insiden di rumah Wanda, ia lama menyendiri dan me-
ngurung di ri bak seorang pertapa. Kedatangan Bi mo benar-
benar terasa bagai angi n segar di tengah atmosfer j i wanya
yang pengap.
Keenan membuka jendela kamar kosnya lebar-lebar. Tem-
pat ini pun butuh angin segar setelah seharian tertutup dan
terpapar panas matahari siang. I a menimang-nimang amplop
i tu, bertanya-tanya adakah surat i tu menj adi angi n segar
berikutnya. Keenan menggeleng sendirian, seolah menyesali
pi ki rannya sendi ri . I a lelah berharap.
Tanpa pi ki r panj ang lagi , Keenan membuka surat i tu.
Terdapat dua lembar kertas surat bertulis tangan dan selem-
bar kertas tambahan. Seketi ka Keenan terenyak keti ka me-
nyadari apa kertas i tu. Langsung i a membaca dengan ter-
gesa-gesa. Setelah selesai , Keenan pun mematung. Lama.
Keenan memandangi kertas-kertas di pangkuannya.
Pi ki rannya masi h berusaha mencerna dan hati nya berusaha
194
beradaptasi dengan berbagai lonjakan perasaan yang sontak
muncul ketika membaca surat dari Pak Wayan. Untuk kedua
kali nya, Keenan membaca surat tersebut. Kali i ni dengan
lebi h lambat.
Pak Wayan menceri takan betapa kagetnya di a keti ka di -
ki ri mi luki san-luki san Keenan yang seperti j atuh dari langi t
saki ng tak terduganya. Sekali pun di surat pengantarnya
Keenan menuliskan sejelas-jelasnya bahwa itu semua adalah
kenang-kenangan sekali gus tanda teri ma kasi h untuk apa
yang di dapatnya selama di Bali , Pak Wayan merasa ada se-
suatu yang luar bi asa yang telah terj adi dalam hi dup
Keenan. Namun, Pak Wayan ti dak berhasi l menghubungi
Keenan untuk bertanya langsung.
Salah satu luki san Keenan yang pali ng di suka oleh Pak
Wayan lantas di beri rangka kayu dan di paj ang begi tu saj a
di studi onya. Beberapa mi nggu kemudi an, luki san i tu men-
curi perhatian seorang kolektor lukisan dan ia tertarik ingin
membeli . Pak Wayan sudah mengatakan bahwa luki san i tu
tidak dijual, tapi orang itu benar-benar gigih dan bersikeras
i ngi n membeli . Pak Wayan bi lang, orang i tu seperti terkena
ci nta buta. Jatuh hati habi s-habi san pada luki san Keenan.
Pak Wayan lalu mi nta maaf j i ka di ri nya lancang, tapi
kata hatinya mengatakan untuk melepaskan lukisan Keenan
pada orang tersebut. Dalam suratnya, Pak Wayan menuli s:
“... seper ti cinta yang satu har i ber talian tanpa bisa dijelas-
kan, saya mer asa luki san i tu menemukan j odohnya. Saya
kenal bai k dengan or ang yang membeli luki san kamu i tu,
makanya saya yaki n luki san i tu ber ada di tangan yang
tepat. Dia membelinya bukan semata-mata untuk investasi,
tapi kar ena ci nta.”
Keenan lanjut membaca: “Lukisan yang satu itu memang
sangat bagus dan r ohnya kuat. Sekali pun saya sendi r i
i ngi n sekali menyi mpannya, saya j uga ti dak mau meng-
195
hambat r ezeki kamu. Semoga uang i ni bi sa ber manfaat
banyak. Kapan kamu pulang ke r umahmu di Ubud? Saya
dan keluar ga besar di si ni selalu menghar apkan kamu pu-
lang. Tolong ber i kabar secepatnya setelah kamu mener ima
sur at i ni .”
Kembali Keenan memandangi selembar kertas yang di -
seli pkan di dalam dua lembar surat tadi . Selembar cek se-
ni lai ti ga j uta rupi ah. Di sana di tuli skan keterangan: Pem-
beli an luki san: “Jender al Pi li k dan Pasukan Ali t.”
Si sa hari i tu di habi skan Keenan dalam perenungan. Sore
berganti malam. Langit jingga berganti hitam. Dan ia masih
merenung. Banyak yang berkecamuk di benaknya. Hal-hal
yang tadi nya tak terli ntas dan tak di gubri s. Ada keraguan,
t r auma, dan gent ar . Namun, kal i mat sat u i t u t er us
mengi ang-ngi ang: Kapan kamu pulang ke r umahmu di
Ubud?
Jakar t a, November 2000 ...
Perempuan i tu ti dak sanggup menahan ali ran ai r matanya.
Mereka berjanji bertemu pada jam tatkala ia hanya sendirian
dan semua orang lain sedang berada di luar rumah. Hatinya
seketika tersayat dan teriris melihat anaknya sendiri muncul
sembunyi-sembunyi seperti narapidana kabur dan takut ter-
tangkap.
Keenan pun terpaksa membi arkan i bunya menghabi skan
seperempat j am pertama pertemuan mereka untuk me-
nangi s.
“Tapi ... kamu ... sehat-sehat kan, Nan?” Lena kemudi an
bertanya patah-patah.
“Sehat, Mam. Biarpun jadi kurus gini, saya nggak pernah
saki t, kok,” j awab Keenan, berusaha santai .
196
“Kamu bi sa pulang kapan pun kamu mau. Percaya sama
Mama. Papa kamu pasti melunak. Di luarnya saja dia keras,
tapi sebenarnya di a kehi langan sekali sama kamu ....”
Keenan tersenyum ti pi s. “Saya i ngi n ketemu Mama hari
i ni bukan karena saya kepi ngi n pulang ke rumah. Tapi ...
saya j ustru i ngi n pami t.”
Lena langsung tersentak. “Pami t? Ke mana?”
Keenan tak segera menj awab. I a mengeluarkan amplop
berisi surat dari Pak Wayan dan menyerahkannya pada ibu-
nya. “Tolong baca i ni , Ma.”
Lena pun mulai membaca. Napas panj angnya menghela
keti ka i a sampai pada akhi r surat. I a seketi ka tahu arti per-
temuan i ni . Perpi sahan yang kedua kali akan segera terjadi .
Namun, kali ini, ada semacam kelegaan karena ia tahu anak-
nya akan terj aga dengan bai k.
“Saya akan tinggal dengan Pak Wayan,” ujar Keenan man-
tap, “lusa saya berangkat.”
Lena menatap anak sulungnya dari matanya yang ter-
saput ai r. Menyadari betapa bocah keci lnya telah tumbuh
besar menj adi seorang laki -laki dewasa yang memi li ki j alan
hidup sendiri. Sejenak lagi Keenan terbang dengan sayapnya,
menuj u tempat dan kehi dupan yang i a pi li h. Ti dak di ri nya,
atau si apa pun, yang mampu membendung kepakan sayap-
sayap i tu.
Suara Lena bergetar saat i a mengucap, “Bai k-bai k di
sana, ya? Jangan bi ki n susah Pak Wayan.”
Keenan menelan ludah. Sangat kentara i bunya berusaha
kelihatan tegar demi dirinya. Mata Keenan mulai panas. Pan-
dangannya mulai mengabur. Keenan terpaksa mengatur
napasnya terlebi h dahulu sebelum bi sa lanj ut berkata-kata.
“Saya ada satu permi ntaan lagi , Ma ....”
“Apa i tu?”
“Tolong j angan bi lang si apa-si apa saya ada di Ubud.
197
Bahkan Jeroen nggak perl u tahu. Cukup Mama yang
tahu.”
Lena merasa dadanya sesak.
“Saya benar-benar ingin memulai halaman baru. Dari nol
lagi. I ni jalan hidup saya, Ma. Dan saya nggak mungkin kem-
bali ke penj ara yang sama.”
Lama Lena tercenung, sampai akhirnya kepalanya meng-
angguk. Berat.
Perlahan, Keenan bangki t berdi ri . Mengecup keni ng i bu-
nya, dan mendekapnya erat. Seti ap buli r deti k berguli r pe-
nuh arti . Hanya heni ng dan ai r mata yang j atuh sesekali
dari mata keduanya.
198
Ubud, November 2000 ...
Dua puluh jam Keenan terduduk dalam bus yang mengantar-
kannya dari Bandung hi ngga termi nal Ubung. Selama dua
puluh jam, matanya tetap membeliak terjaga. Sesuatu dalam
perj alanan i ni membuatnya geli sah sekali gus bersemangat.
Keenan menyadari, ini adalah salah satu keputusan terbesar
yang pernah dibuatnya selama hidup. Dalam hati ia pun me-
rasa, sesuatu yang besar akan menanti nya di Ubud.
Dari jendela bus, tampak Pak Wayan dan keponakannya,
Agung, menunggu di termi nal. Keenan langsung mengenali
dua sosok yang sama-sama ti nggi besar i tu hi li r mudi k me-
makai setelan lengkap: sarung, kemej a, dan udeng. Seperti
habi s baru selesai upacara.
“Poyan! Agung!¨ Keenun meIumbuIkun Lungun begILu
mengi nj akkan kaki ke tanah.
Serta-merta terbit tawa cerah di wajah Pak Wayan, semen-
tara Agung dengan gesi t langsung berlari menghampi ri
Keenan dan membantu membawakan tasnya.
23.
MENANGKAP BINTANG
199
“Agung, rupanya ada yang harus cepat-cepat ki ta kasi h
makan sebelum di a di li ri k sama anj i ng-anj i ng seluruh Bali
karena di sangka tulang berj alan,” Pak Wayan terkekeh.
Keenan i kut terkekeh, “Setuj u, Poyan. Saya nggak nolak
di kasi h makan, apalagi kalau dalam waktu dekat.”
Pak Wayan tergelak seraya merangkul Keenan erat-erat,
“Saya senang sekali kamu pulang ke si ni . Keluarga di Ubud
sudah menunggu.”
Hati Keenan berdesi r mendengarnya. Haru. I a pun ter-
sadar betapa i a meri ndukan konsep i tu: pulang, dan ...
keluar ga.
Mobi l i tu ti ba di sebuah gerbang kayu ti nggi yang di api t
pohon-pohon ri ndang dan semak-semak tanaman rambat
yang tumbuh besar dan rapat. Di bali k gerbang kayu i tu
langsung terlihat puncak pura yang mencuat hingga tampak
dari j alan. Di lahan hektaran i tulah ti nggal keluarga besar
Pak Wayan dalam beberapa rumah terpi sah. Terdapat pula
sekurang-kurangnya tiga studio kerja besar yang menampung
segala macam aktivitas dan barang-barang seni yang digarap
oleh keluarga seni man i tu.
Napas Keenan sontak tertahan meli hat gerbang kayu i tu
lagi. Rumahnya yang baru. I a tak bisa membendung senyum
yang menyunggi ng otomati s di mulutnya.
Pak Wayan ti dak melebi h-lebi hkan keti ka mengatakan
bahwa sel uruh kel uarganya tel ah menunggu. Lagi -l agi ,
Keenan harus terenyak haru keti ka meli hat keluarga Pak
Wayan berkumpul di teras saat mobi l mereka ti ba di ha-
laman depan kompleks i tu.
200
“Beli
25
! Apu kubur?¨ Bunvu, suIuh suLu keponukun Puk
Wayan yang akrab dengan Keenan, langsung menyongsong
dan merangkul Keenan dengan hangat. Di susul Pak Putu,
ayah Banyu, l al u yang l ai nnya. Waj ah-waj ah yang tak
asi ng.
“Kamar kamu yang dulu sudah dibersihkan. Sekarang di-
tambah lemari pakai an, karena katanya Keenan sudah mau
tinggal terus di sini, ya?” ujar I bu Ayu berseri, adik ipar Pak
Wayan sekali gus i bu kandung dari Agung.
“I ya, Bu. Rencananya begitu,” jawab Keenan dengan tawa
lebar. “I ni , saya bawakan oleh-oleh sedi ki t dari Bandung,
Bu. Buat semua yang di sini,” Keenan pun menyerahkan se-
kantong besar aneka makanan yang i a sempatkan beli di
toko oleh-oleh sebelum menai ki bus kemari n.
“Mata kamu keli hatan capek sekali , Nan,” celetuk Pak
Nyoman, adi k Pak Wayan yang j uga sama-sama peluki s.
“Di j alan saya nggak bi sa ti dur, Pak. Saya belum ti dur
dari kemari n. Tapi rasanya masi h oke, kok,” sahut Keenan.
¨Wuh! Kumu hurus cepuL IsLIruhuL kuIuu gILu,¨ sumbur
I bu Ayu, “Ti dur dulu saj a. Nanti malam baru di bangunkan
untuk makan sama-sama, ya?”
“Boleh, Bu. Terima kasih banyak,” Keenan menjawab de-
ngan anggukan semangat. I a sama sekali ti dak keberatan
dengan i de i tu. Begi tu kaki nya kembali ke rumah i ni , se-
luruh sistemnya seolah melepas beban dan ketegangan yang
menumpanginya sejak berangkat, hingga lelah tubuhnya pun
akhi rnya terasa.
¨¡uhde!¨ punggII ¡bu Avu. ¨ToIong kumu unLur Keenun
dulu, j angan lupa nanti si apkan mi num.”
Ali s Keenan sedi ki t berkerut. Nama i tu asi ng. Dan se-
sosok asi ng yang sedari tadi berdi ri malu di poj ok, tertutup
25
Beli : Panggi lan untuk laki -laki (saudara/ umum).
201
orang-orang, menyeruak keluar. Menatap Keenan sambil se-
tengah menunduk.
“Keenan, kenalkan, i ni Luhde Laksmi . Keponakan saya
dari keluarga di Ki ntamani ,” j elas Pak Wayan. “Luhde j uga
akan tinggal di sini. Dia dititipkan oleh bapaknya, Pak Made
Suwi tna, yang datang berkunjung waktu tahun baru. Waktu
kamu li buran terakhi r kali kemari . I ngat?”
Keenan mengangguk. I a i ngat Pak Made, sepupu Pak
Wayan yang juga koreografer tari Bali yang sangat terkenal.
Sej enak i a mengamati Luhde. Seki las, Luhde seperti remaj a
perempuan pada umumnya. Tubuhnya mungi l, dan si kap
malu-malunya membuat ia tampak makin ringkih. Yang men-
cuat adalah rambut panj angnya yang di bi arkan terurai me-
lewati bahu hingga menyerupai selendang hitam yang meng-
gantung hi ngga pi nggul. Namun, meski tampak ri ngki h dan
pemalu, kedua mata besar i tu berbi nar penuh rasa i ngi n
tahu. Keenan tertegun. Ada sesuatu yang tak asi ng dari so-
sok yang baru pertama kali i a temui i tu. Entah apa.
“Lagaknya saj a pemalu. Padahal di a banyak tahu,” sam-
bung Pak Wayan lagi sambi l terkekeh.
Muka Luhde langsung memerah. “Mari, Beli. Saya antar,”
ucap Luhde sambi l cepat-cepat berj alan. Meski i a berkata
dengan volume pelan, tapi terdengar j elas suara i tu begi tu
beni ng seperti embun.
“Panggi lnya ‘Keenan’ saj a,” sahut Keenan.
Dengan sungkan, Luhde mengangguk.
“I stirahat dulu, Nan. Nanti malam kita bicara-bicara lagi.
Santai saja. Kamu tidak perlu ke mana-mana lagi,” ujar Pak
Wayan sambi l menepuk bahu Keenan.
Keenan menatap wajah-wajah itu sekali lagi. Memastikan
bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sudah terlalu lelah ia ber-
mi mpi .
202
Bandung, November 2000 ...
Eko memandangi Noni yang sedang membereskan isi lemari
pakai annya. Belakangan i ni kegi atan mereka sudah banyak
bergeser. I a dan Noni lebi h banyak menghabi skan waktu
berdua. Masi h ada beberapa kelompok teman yang seri ng
j alan bareng dengan mereka, tapi rasanya ti dak pernah lagi
sama.
“Mau sampai kapan si h kali an di em-di eman begi ni ?”
Ti ba-ti ba Eko berceletuk.
Noni terpaku sejenak. Tapi dengan cepat, ia kembali me-
neruskan kegiatannya melipat baju. “Maksud kamu—aku dan
Kugy?”
“I ya,” j awab Eko setengah melengos. “Memangnya enak
kayak begi ni ? Padahal kali an satu kos. Aku kan j adi serba
salah mau menempatkan diri. Kamu pacarku, Kugy sahabat-
ku, tapi kali an nggak sali ng ngomong.”
Noni mengangkat bahu. “Habi s mau gi mana? Apa kamu
nggak li hat kayak apa di a sekarang? Negurnya aj a males.”
Dagu Noni menunj uk ke arah j endela.
Eko menengok sedi ki t ke luar, di li hatnya Kugy baru saj a
pulang. Mukanya yang lucu ki ni mengeras sehi ngga ke-
li hatan j udes. Matanya cekung seperti orang kelelahan. I a
lebi h mi ri p rumah angker. Pendi am, muram, seakan-akan
beban duni a ada di pundaknya.
“Males nggak lu kalo di a tampangnya kayak gi tu ti ap
hari ,” celetuk Noni lagi . “Udah deh, Ko. Aku si h merasa
percuma. Udah pasti ki ta nggak akan bi sa bali k lagi kayak
dulu. Kugy tuh udah berubah banget.”
“Kenapa ya di a?”
“Sej ak ngaj ar di Ali t, terus putus sama Oj os, di a j adi
berubah banget. Aku j uga nggak ngerti . Dan di a kayaknya
nggak mau terbuka sama aku. Ya, udah.”
203
Eko menatap Noni lurus-lurus. “Kamu nggak kehilangan,
apa? Kenapa si h kamu nggak coba ngedeketi n di a, kek,
ngaj ak ngobrol pelan-pelan, kek ....”
Noni bali k menatap Eko. Taj am. “Harusnya, di a yang
coba ngedeketin aku, ngajak aku ngobrol pelan-pelan, minta
muuI kurenu ngguk duLung ke ucuruku. Bukun sebuIIknvu!¨
Eko terdi am. Di bi arkannya Noni kembali si buk dengan
mulutnya yang memberengut.
“Non ...,” ucapnya pelan setelah seki an lama heni ng,
“kamu tahu nggak, ki j ang yang lari nya cepat kayak ki lat,
bi sa beku kayak patung kalau ketemu si nga ....”
¨Kumu ngguk nvumbung!¨
“Maksudku, saki ng ketakutannya ki j ang i tu sama si nga,
dia malah kehilangan kemampuannya untuk lari. Dia malah
nggak bi sa gerak sama sekali .”
“Terus ... hubungannya apa dengan aku?”
“Pernah nggak kamu kepi ki r, saki ng merasa bersalahnya
Kugy sama kamu, dia jadi kayak kijang itu. Dia malah nggak
bisa ngapa-ngapain. Dia jadi kaku, diam, dan menutup diri,
bukun kurenu dIu vung kepIngIn. TupI ILu reßeks vung ngguk
bi sa di a lawan, saki ng merasa salah sama kamu. Di a j adi
takut ngedeketi n kamu.”
Noni gantian terdiam lama. Lalu, sambil melipat bajunya
yang terakhi r, i a pun bergumam, “Please deh, Ko. Nggak
usah sok nganalisis kayak psikolog. Dari dulu kamu memang
selalu ngebelai n di a. Di mata kamu, Kugy memang nggak
pernah salah.” Dan usai berkata demi ki an, Noni bergegas
pergi meni nggalkan kamarnya. Meni nggalkan Eko yang ter-
bengong-bengong sendi ri . Bertanya-tanya, apa gerangan
yang i a lakukan hi ngga Noni j adi korslet begi tu.
204
Ubud, November 2000 ...
Di bawah naungan bale
26
, Keenan diam mematung. I ni ada-
lah mi nggu keti ga i a ti nggal di Lodtunduh. Keenan mulai
merasa tak ada bedanya dengan gerombolan ayam kampung
yang dipelihara Pak Wayan di halaman belakang. Disembelih
tidak, dijual telurnya tidak, hanya dibiarkan saja berkeliaran
bebas sampai tua. Barangkali Pak Wayan cuma membutuh-
kan kehadi ran mereka, suara mereka, gerak-geri k mereka
untuk menghi dupkan suasana. Terkadang, Keenan merasa
gerombolan ayam itu bahkan lebih berguna dari dirinya. Se-
kalipun setiap hari ia berusaha membantu pekerjaan rumah
apa pun sebi sanya, tetap i a ti dak merasa berguna. Keenan
mulai merasa lelah dan frustrasi dengan semua ini. Kebaikan
dan ketulusan Pak Wayan beserta seluruh keluarganya justru
membuat i a semaki n ti dak enak hati . Selama ti ga mi nggu,
i a hanya menumpang ti dur dan makan. Dan bukan untuk
i tu i a seharusnya di si ni . Seharusnya i a ... ber kar ya.
Di hadapannya sudah ada kanvas polos, di sampi ngnya
berserakan semua peralatan meluki s. Ti ap pagi i a menyi ap-
kan perangkat yang sama di tempat yang sama. Namun,
belum ada secercah pun dorongan di hati nya.
Ti ba-ti ba, dari belakang punggungnya, terdengar sesuatu
bergesek dengan lantai kayu. Keenan otomati s menoleh ke
belakang. Kaget meli hat Luhde sudah duduk bersi mpuh di
tangga bale. Luhde pun sama kagetnya. Tampangnya lang-
sung pucat seperti mali ng tertangkap basah.
“Hai, Tuan Putri. Kok bisa parkir di situ? Kapan muncul-
nya?” Keenan menyapa sambi l tertawa.
“Sudah—dari tadi,” jawab Luhde terbata. “Saya mau lihat
Keenan meluki s.”
26
Balai .
205
Keenan tergelak lagi . “Kamu nggak sayang waktu, apa?
Karena dari tadi berarti kamu cuma melihat saya melamun,
bukan meluki s.”
Luhde tersenyum. “Pelukis yang baik bisa mengungkapkan
semuanya, termasuk kekosongan sekali pun,” dengan suara-
nya yang lembut dan li ri h Luhde berkata.
Sej enak, Keenan tertegun. “Kamu tuh ... pendi am, tapi
sekali nya ngomong kok pi ntar banget, si h.”
Luhde pun beri ngsut, duduk di sebelah Keenan. “Kalau
pelukis-pelukis di sini biasanya punya satu sumber inspirasi.
Sepanjang hayatnya melukis, mereka akan melukis berdasar-
kan sumber yang sama. Tapi j ustru dengan begi tu, mereka
bisa mencapai tingkat penjiwaan paling tinggi. Mungkin hal
seperti i tu yang perlu Keenan cari .”
Kembali Keenan terpana mendengar kata-kata Luhde.
Sama sekali ti dak menyangka ucapan sedemi ki an bi j ak dan
bernas akan meluncur dari mulut gadis tujuh belas tahun di
hadapannya.
“Seperti Poman, i nspi rasi nya adalah sesaj en, akhi rnya
semua luki sannya adalah gambar sesaj en. Kalau Poyan,
i nspi rasi nya adalah upacara adat. Beli Banyu, sekali pun
luki sannya abstrak, tapi sumber i nspi rasi nya sebenarnya
adalah corak kai n Bali . Perhati kan saj a semua luki sannya.
I ya, kan?” dengan asyi k, Luhde berceloteh, “Kalau Keenan
sudah dapat ‘j odoh’-nya, pasti tangannya langsung lancar.
Dan luki sannya dari ke hari akan semaki n bagus.”
Keenan melongo. Jodoh?
“Setiap pelukis pasti memiliki ‘jodoh’-nya masing-masing.
Kalau mereka mau bertekun sekali gus berserah, pasti me-
reka akan menemukannya. Jadi, Keenan jangan cepat putus
asa. Kadang-kadang kanvas kosong j uga bersuara. Tanpa
kekosongan, si apa pun ti dak akan bi sa memulai sesuatu,”
lanj ut Luhde lagi .
206
Kali i ni Keenan ti dak tahan lagi . Sesuatu menyesak di
dadanya. Sudah lama i a i ngi n bi cara dengan seseorang ten-
tang kesuli tan dan tekanan yang i a alami . Dan mendadak,
hari i ni Luhde muncul seperti malai kat penolong yang me-
ngetuk pi ntu pertahanannya. “Luhde ... saya benar-benar
nggak tahu harus mulai dari mana ... saya ... bahkan nggak
yaki n saya bi sa meluki s lagi ...,” susah payah Keenan ber-
kata.
Luhde tak langsung merespons. I a mendekati kanvas ko-
song di hadapan Keenan. “I ni ... anggaplah i ni langi t ...,”
kat anya ser aya menyent uhkan j emar i nya di kanvas,
“seperti nya langi t i ni kosong. Tapi ki ta tahu, langi t ti dak
pernah kosong. Ada banyak bintang. Bahkan tidak terhingga
banyaknya. Keenan harus percaya i tu. Langi t i ni cuma
tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu,
Keenan akan menemukan banyak sekali bi ntang. Dan dari
sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan
ki ta.
“Saya akan berdoa supaya Keenan cepat menemukan
bi ntangnya,” ucap Luhde sambi l menundukkan kepala dan
menangkupkan tangannya di depan dada. Tak lama, i a
beri ngsut menuj u tangga, meni nggalkan Keenan sendi ri an
lagi di bale.
Sampai senj a, Keenan tak beranj ak dari sana. Berbari ng
telentang menghadap langi t, dan mencoba meli hat j auh ke
bali k awan, mencari sesuatu di sana.
207
Bandung, Desember 2000 ...
Pagi-pagi, sambil menyandang ransel besar yang gemuk ter-
isi buku, Kugy berjalan cepat meninggalkan tempat kos yang
sepi di ti nggal para penghuni nya untuk berli bur. I a benar-
benar ti dak buang waktu. Ti dak ada lagi li buran di agenda-
nya. I a kembali mengambil mata kuliah sebanyak-banyaknya
di semester pendek. Ki ni fokusnya hanya satu: cepat lulus.
Hampir tidak ada lagi yang menahannya di Bandung, se-
lai n kampus dan Sakola Ali t. Sebagi an besar i mpi annya,
masa-masa bahagi a persahabatannya sudah ti dak ada lagi .
Hubungannya dengan Noni tidak mengalami perbaikan. Sa-
habat yang di kenalnya sej ak keci l sekarang telah menj adi
orang asi ng.
Kugy pun merasa sudah berada di puncak keti dak-
nyamanan ti nggal di tempat kosnya, dengan j arak hanya
satu kamar dengan Noni yang sudah tak pernah bi cara de-
ngannya. Ti dak mungki n selamanya i a berlagak seolah-olah
Noni ti dak tampak. I a terlalu lelah untuk i tu. Di am-di am,
24.
PEMBELI PERTAMA
208
Kugy mulai mencari tempat kos baru yang akan segera i a
tempati begi tu semester baru di mulai .
Kugy pun nyaris berhenti menulis. Tak peduli lagi dengan
ambi si nya menj adi penuli s dongeng. Daya khayalnya ter-
ganti kan oleh rangkai an pi ki ran logi s yang bekerj a mekani s
bagai robot untuk belaj ar, belaj ar, dan hanya belaj ar.
Satu-satunya kegi atan menuli s yang tersi sa hanyalah
perahu-perahu kertas yang diapungkannya di kali. Kugy bah-
kan merasa surat-surat itulah yang membuat dirinya mampu
bertahan waras dan kuat. Ceri ta hati nya pada Neptunus
yang entah ada entah ti dak. Tak j adi masalah. Seti ap kali
meli hat perahu kertasnya bergerak terbawa arus kali , Kugy
kembali bi sa bernapas lega. Hati nya kembali lapang.
I a bercerita soal keluh-kesahnya, keresahan batinnya, dan
kerinduannya pada semua yang dulu begitu indah. Termasuk
keri nduannya pada Keenan.
Satu perahu kertas terlipat di dalam kantongnya. Akan ia
apungkan di kali nanti sebelum pergi ke kampus. Andai
perahu i tu di buka, maka hanya akan terbaca satu paragraf
pendek:
Neptunus, semua nelayan yang sedang mencar i ar ah
akan di ber i petunj uk oleh bi ntang di langi t. Semoga di a
menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalannya
pulang.
Ubud, Desember 2000 ...
Seti ap pagi , di bale yang sama, kanvas demi kanvas mulai
teri si . Jari dan kuas i tu tak pernah berhenti menari -nari ,
menorehkan gari s dan warna.
Awan-awan itu akhirnya berhasil tersibak, dan setiap hari-
nya Keenan bertemu dengan langit bersih yang siap dilukisi.
209
Satu benda yang sama selalu menemani nya. Sebuah buku
tuli s lecek penuh tuli san tangan. Dulu, tangan mungi l Kugy
yang menari-nari di tiap lembarnya. Kisah-kisah petualangan
Jenderal Pi li k dan Pasukan Ali t.
Dari teras rumah utama, Luhde di am mengamati bale
i tu.
“Poyan ...,” bi si knya pada Pak Wayan.
“Dia luar biasa berbakat, ya. Lukanya juga mulai sembuh.
Dia mulai kembali seperti Keenan yang dulu,” komentar Pak
Wayan, seolah mengetahui arah pi ki ran Luhde.
Luhde tersenyum menatap pamannya. Wajahnya berseri-
seri . “Keenan sudah menemukan bi ntangnya.”
Akhi r Desember ti ba. Bali mulai di penuhi oleh turi s, ter-
masuk Ubud. Hawa liburan pun ikut merasuk pada Keenan.
I a mulai merasa harus sej enak mengambi l ‘‘cuti ’’ si ngkat
dari aktivitas kreatifnya yang sangat menggebu-gebu selama
sebulan terakhir. Belakangan, ia lebih sering tertidur di bale
keti mbang meluki s. Namun, sore i tu, ti dur si angnya ter-
ganggu. Badannya ti ba-ti ba di guncang oleh Luhde.
¨Keenun ..., bungun! DI guIerI udu Lumu vung muu keLemu
kumu. Avo ... bungun!¨
Dengan berat, Keenan membuka matanya. Tanpa bi sa
mengurai apa gerangan yang terj adi , tangannya sudah di -
tari k oleh Luhde, dan tampak Banyu sudah si ap dengan se-
peda motor untuk mengantarkannya ke galeri .
¨Suvu nunLI nvusuI!¨ LerIuk ¡uhde berburengun dengun
suara deruan motor Banyu yang segera melesat menuj u ga-
leri dengan Keenan terbonceng di belakang.
Perj alanan dari rumah Pak Wayan ke galeri hanya ti ga
menit. Keenan bahkan belum sempat mengumpulkan nyawa-
210
nya. Masi h sambi l agak terhuyung, di a memasuki galeri ,
menemui Pak Wayan. “Ada tamu si apa, Poyan?” tanyanya
sembari menggosok-gosok mata.
¨Nuh, InI dIu peIukIsnvu. Buru bungun LIdur! Hu-hu-hu
...,” Pak Wayan malah menertawai nya keras-keras. Ada
seorang laki -laki muda yang berdi ri di sampi ngnya, i kut
senyum-senyum. Neci s meski hanya memakai kaus polos
dan jins. Tubuhnya tegap dan terawat. Wajah itu bersih dan
t ampan. Dari pengamat an seki an det i k, Keenan bi sa
menyi mpulkan i a pasti datang dari kota besar di luar Bali ,
kemungki nan besar Jakarta.
“Keenan, ini penggemar fanatik lukisanmu, yang membeli
luki sanmu pertama kali . Datang j auh-j auh dari Jakarta un-
tuk menanyakan karyamu yang baru. Saya yang beri tahu
kalau kamu sudah kembali ti nggal di si ni .”
Tergopoh-gopoh, Keenan l angsung memperkenal kan
di ri .
“Luki san kamu maki n matang sekarang,” puj i pri a i tu,
“saya terkagum-kagum sej ak tadi . Luar bi asa.”
“Teri ma kasi h,” sahut Keenan sambi l tersenyum lebar,
tak mampu menyembunyi kan rasa senang dan bangga yang
seketi ka menyeruak di hati nya. Untuk pertama kali nya i a
meli hat ada orang yang menyukai luki sannya dengan tulus.
“Luki san mana yang ki ra-ki ra Mas suka?” tanyanya sopan.
Pria itu menebar pandangannya, menyapu lukisan-lukisan
Keenan yang terpaj ang mengi tari tempat mereka berdi ri .
“Juj ur, saya nggak bi sa memi li h. Kalau boleh saya tanya,
sebenarnya semua luki san i ni rangkai an ceri ta, ya?”
Keenan mengangguk-anggukkan kepal a bersemangat.
“Betul sekali . Tokoh-tokohnya sama, cuma petualangannya
saja yang beda-beda. Saya terinspirasi oleh seri petualangan
anak-anak karya sahabat saya. Tema lukisan yang saya buat
211
disesuaikan dengan ceritanya. Lebih mirip ilustrasi, jadinya.
Hanya saj a dalam bentuk luki san.”
“I tu di a masalahnya,” pri a i tu tertawa ri ngan, “saya j adi
nggak bi sa mi li h. Kalau bi sa, saya kepi ngi n beli semuanya.
Jadi saya punya koleksi lengkap.”
“Kalau beli banyak, nanti dapat di skon menari k, Mas,”
canda Keenan sambi l terkekeh, “tapi , kalau boleh tanya
balik, sebetulnya apa sih yang membuat Mas tertarik dengan
luki san saya?”
Pri a i tu mengambi l ancang-ancang bi cara. Seolah meng-
anti si pasi pertanyaan yang sudah lama i a si apkan j awaban-
nya. “Pertama, tema lukisan kamu unik. Tidak umum, tulus,
dan tanpa pretensi. Kedua, menurut saya, gaya melukis kamu
i tu fr esh. Ori si nal. Rapi , i lustrati f, tapi ti dak terasa seperti
ilustrasi. Rasanya tetap seperti monumen tersendiri, dan bu-
kan pelengkap sesuatu. Keti ga, dan i ni yang pali ng penti ng,
luki san kamu punya roh yang kuat. Saya sudah hobi koleksi
lukisan sejak lama. Dan bagi saya, lukisan yang bagus adalah
luki san yang bi sa membuat orang merenung. Tapi luki san
kamu bukan cuma membuat orang merenung, malah bi sa
mengundang orang untuk masuk ke duni a kamu. I tu peng-
al aman apresasi yang luar bi asa. Kamu perlu tahu, j arang
sekali ada luki san yang punya keti ga unsur tadi sekali gus.”
Keenan menelan ludah. Tidak tahu harus bagaimana me-
nanggapi i tu semua.
“Dengan sangat terpaksa, saya harus mengambi l dua lu-
kisan saja hari ini. Tapi pastinya saya akan mengoleksi lebih
banyak luki san kamu,” sambung pri a i tu lagi , sambi l ber-
j alan ke arah luki san yang i a pi li h, “berapa harganya?”
Keenan menelan ludah lagi. Matanya melirik ke arah Pak
Wayan, meratap mi nta tolong.
212
Selembar cek bertuli skan 10 j uta tergeletak di atas mej a.
“Ti dak terlalu susah kan menentukan harga karya sen-
diri? Butuh pembiasaan, tapi makin lama nanti kamu makin
pi ntar, kok,” Pak Wayan tertawa keci l.
Keenan geleng-geleng kepala, “Saya masih nggak percaya,
Poyan. I ni pertama kali nya saya li hat langsung ada orang
yang beli lukisan saya.” Tiba-tiba Keenan mengambil tangan
Pak Wayan, menggenggamnya sambil menundukkan kepala,
“Poyan ... teri ma kasi h sekali buat semuanya. Saya nggak
tahu harus bi lang apa, atau melakukan apa. Kalau Poyan
nggak keberatan, saya i ngi n membagi setengah dari pen-
j ualan i ni dengan galeri .”
Dengan cepat, Pak Wayan menggeleng. “Nggak, nggak
ada i tu. Kamu peluki s baru, dan kamu sudah seperti anak
saya sendi ri . Kamu butuh uang i tu untuk bekalmu. Jangan
pi ki rkan dulu soal keuntungan galeri . Saya bi sa cari rezeki
dari karya saya sendi ri . Kalau memang saya benar-benar
butuh bantuanmu, saya akan bi lang. Tapi ti dak sekarang.
Oke?” uj arnya tegas.
Keenan merasa tak punya pi li han selai n mengangguk.
“Luhde, si ni kamu. Kok malah ngi nti p dari si tu,” Pak
Wayan memanggi l keponakannya yang sedari tadi hanya
berdi ri mengamati dari bali k parti si .
Tampak Luhde keluar pelan-pelan sambi l tersenyum
malu. Berj alan menghampi ri mereka.
“Kenapa ngi nti p? Naksi r sama tamu tadi , ya?” goda
Keenan.
¨Ng ... ngguk!¨ bunLuh ¡uhde, punIk.
“Eh, benar i tu si Keenan. Nanti kalau kamu cari j odoh,
cari yang seperti i tu. Ganteng, sukses, masi h muda ... ci nta
senI IugI!¨ ceIeLuk Puk Wuvun sumbII Lerbuhuk. ¨Jungun muu
sama yang kayak kita-kita ini. Kantongnya sakit asma, napas-
nvu suLu-suLu!¨
213
Wajah Luhde kian merah jambu. Dalam hatinya, ia sama
sekali ti dak sepakat dengan pamannya.
Ubud, mal am t ahun bar u 2001 ...
Akibat desakan semua orang, Keenan akhirnya setuju mem-
beli ponsel. Sambi l duduk di tepi pantai Ji mbaran, i a me-
ni mang-ni mang benda keci l yang masi h terasa asi ng di ta-
ngannya.
Tidak banyak data nomor telepon yang tersimpan di pon-
selnya. Hanya keluarga di Bali dan beberapa nama yang i a
pi ndahkan dari buku alamatnya yang lama.
Keenan meli ri k j am di layar ponselnya. Li ma meni t se-
belum pergantian tahun. Suara di belakangnya makin ingar-
bi ngar, berlomba dengan suara ombak yang terdengar dari
depan. Jempolnya bergerak, mencari satu nama i tu. Dan
begi tu nama i tu muncul di layar, i a tertegun sendi ri . Bati n-
nya menyapa spontan: Apa kabar kamu, Keci l?
Mendadak Keenan geli sah. I a ti dak yaki n apakah nomor
i tu masi h berlaku. Namun, entah mengapa, ada desakan
kuat untuk ... i a memencet tombol hi j au bergambar si mbol
telepon ... connecting. Keenan mengamati lekat satu kata itu
berkedi p dan berpendar di layarnya. Bi sakah i a berbi cara?
Sanggupkah ia ...? Tidak. Keenan memejamkan mata, jempol-
nya memencet tombol merah. Di sconnecti ng.
Jakar t a, mal am t ahun bar u 2001 ...
Sebagi an besar keluarganya tengah berkumpul di depan
teve. Sebagi an yang beracara sedang asyi k bermalam tahun
baru di berbagai tempat. Kugy termasuk yang berkumpul di
214
depan teve. Selain karena tidak ada undangan apa-apa untuk-
nya, ia memang malas keluar. Rasanya tidak ada yang lebih
menyenangkan selai n selonj oran kaki di sofa, makan ce-
mi lan, sambi l mengomentari apa pun yang muncul di layar
kaca lalu tertawa-tawa sendi ri .
Ti ba-ti ba Kugy terduduk tegak. “HP aku bunyi , ya?”
“Bukan. I tu suara dari teve,” komentar Kevi n pendek.
“HP aku di mana, sih?” Kugy mulai membongkari bantal-
bantal sofa. “Kev, ayo berdi ri bentar,” Kugy mendorong tu-
buh kakaknya, “kayaknya di duduki n sama kamu.”
¨Ngguk mungkIn! PunLuLku sensILII. PusLI kerusu kuIo udu
yang ganj al,” cetus Kevi n asal.
Tapi Kugy ti dak menyerah. I a terus mendorong tubuh
Kevi n dan mencari -cari di sela-sela sofa.
¨Aduh, Gv! Apuun sIh, nIh! Nvodok-nvodok ngguk jeIus!
Gunggu, Luuk!¨ omeI KevIn.
¨NIh, bener, kun? Huuuh! So much for sensi ti vi ty! Di et
uju duIu bIur punLuLnvu kecIIun!¨ Kugv Iungsung mengecek
ponselnya yang di temukan persi s di bawah Kevi n.
Kening Kugy berkerut. Nomor yang tak ia kenal. Namun,
matanya tak lepas mengamati deretan angka i tu. Rasanya
ada sesuatu di sana. Kugy pun mengi ri m pesan: I ni si apa?
Satu j am berlalu. Pesan i tu ti dak di balas.
Lena membuka pi ntu kamarnya, mendapatkan suami nya
masi h terduduk di depan teve yang menyala.
“Adri, kamu belum mau tidur? Sudah jam dua pagi, lho,”
katanya sambi l menguap.
Pria itu mendongak sejenak, mendapatkan istrinya sudah
berki mono dengan muka mengantuk. “Sebentar lagi . Kamu
215
duluan saj a ti dur. Acara tevenya bagus. Nanti saya nyusul
kalau sudah selesai , oke?” j awabnya lugas.
Lena mengi nti p layar teve seki las. Ti dak yaki n dengan
arti ‘‘bagus’’ yang dimaksud oleh suaminya. Tapi ia memilih
untuk ti dak mempermasalahkan dan kembali ke kamar.
Sepeni nggal i stri nya, Adri kembali menatap teve dengan
pandangan kosong, seperti yang i a lakukan sedari berj am-
j am yang lalu. Di dalam kepalanya ada program yang ber-
j alan sendi ri . Kenangan, pertanyaan, lamunan tentang satu
orang. Keenan.
Keenan ... di mana kamu sekar ang, Nak? Ber tahun bar u
di mana? Apakah kamu kesepian? Kelapar an? Kedinginan?
Dan ia hanya bisa menyapa dan menanyakan itu semua da-
lam hati . Dalam kesunyi an. Dalam keti adaan.
Setengah mati , Adri berusaha menahan. Hi ngga pada
satu ti ti k rasanya ti dak lagi tertahankan. Dan sebuti r ai r
mata pun berguli r di pi pi nya.
216
Bandung, Januar i 2001 ...
Belum genap semi nggu kepi ndahannya ke tempat kos baru.
Kugy masi h menyesuai kan di ri dengan li ngkungan dan
suasana yang berbeda. Jarak tempat kosnya kini lebih dekat
ke kampus, sehi ngga Kugy maki n leluasa untuk bolak-bali k.
Pas dengan programnya yang i ngi n secepat-cepatnya lulus.
Belum semua barang-barangnya tertata dengan rapi . Se-
ti ap sore, Kugy menci ci l beres-beres sendi ri an. Dan, entah
mengapa, i a mulai meni kmati kesendi ri an i ni . Sepi i ni .
¨Spudu! Yu-huu! Kulonuwun!” Terdengar teri akan ma-
nusi a yang mengganggu gendang teli nga.
Kugy segera meletakkan buku-bukunya dan bergegas me-
nuj u pi ntu. Eko?
Benar saj a. Begi tu pi ntu di buka, tampaklah Eko dengan
cengIrun Ieburnvu vung khus. ¨HuI, MoLher AIIen!¨
“EKO?” Kugy tercengang seperti betulan meli hat ali en.
“Kok—tahu gua di si ni ?”
“Tanya sama anak-anaklah,” jawab Eko ri ngan, “gua tadi
ti ba-ti ba i nget lu. Jadi kepi ngi n nengok. Kangen gua.”
25.
HADIAH DARI HATI
217
Kugy menghela napas, dibarengi senyum cerah yang lang-
sung mengembang. “Gua j uga kangen sama elu,” sahutnya
sungguh-sungguh.
¨SInI Iu, gIIu!¨ Dengun gerukun cepuL Eko merungkuIkun
tangannya ke leher Kugy dan mengacak-acak rambutnya.
Mereka berdua tertawa-tawa. “Ada yang perlu gua bantu,
nggak, Gy? Lu pasti masi h beres-beres, kan?”
“Bantui n beresi n buku sambi l bayari n gua makan nanti
malam, yuk.”
Eko langsung memonyongkan mulut. “Monyet,” dumel-
nya, “yang begi ni ni h yang bi ki n orang nyesel.”
Kugy t er bahak ker as. “ Sel amat dat ang di j ebakan
BuLmun!¨
Tak lama kemudi an, keduanya sudah berj ongkok sambi l
membereskan si sa barang Kugy yang masi h berserakan di
lantai .
“Noni tahu lu ke si ni , Ko?” Ti ba-ti ba Kugy bertanya.
“Nggak. Tapi nanti gua bi lang ke di a,” j awab Eko,
“kenapa?”
“Nggak pa-pa. Mmm ....” Kugy menghentikan kegiatannya
sej enak, meni mbang-ni mbang apakah akan meneruskan
kali matnya atau ti dak.
“Yes?” tanya Eko lagi .
“Selama i ni gua ngi ra, lu i kut ngej auhi n gua. Walaupun
gua sebetulnya pi ngi n banget bi sa ngobrol dan dekat sama
lu kayak dulu, tapi yah, gua ngerti posisi lu yang serba sulit,
karena lu pacarnya Noni , dan mau nggak mau harus
memperti mbangkan perasaan di a,” j elas Kugy li ri h. “Tapi ,
j uj ur, gua kehi langan banget sama kali an berdua.”
“You know what, Gy?” Eko menatapnya lurus-lurus, “Gua
seneng dan lega lu akhi rnya pi ndah kos. Karena seti daknya
gua punya jarak yang lumayan netral untuk bisa dekat sama
lu lagi . Gua bi sa temenan sama lu, ngunj ungi n lu sekali -se-
218
kuII, Lunpu guu hurus kesereL-sereL konßIk Iu sumu NonI.
Gua j uga kehi langan banget sama lu.
“Sekarang ini Noni masih berproses menyembuhkan sakit
hatinya. Gua nggak tahu sampai berapa lama. Dan walaupun
dia pacar gua, dan gua temenan sama lu dari kita ABG, gua
nggak mau mencampuri urusan kali an berdua. Gua percaya
kali an akan punya j alan sendi ri untuk menyelesai kan ma-
salah kalian. Yang penting buat gua sekarang, gua bisa tetap
dekat dengan kalian berdua, sesuai dengan apa yang selama
ini kita semua jalankan. Noni pacar gua, dan lu sahabat baik
gua. Apa pun yang terj adi di antara kali an berdua, nggak
akan mengubah arti lu dan Noni buat gua,” lanj ut Eko
tegas.
Kugy terdiam. Kehilangan kata-kata. “Makasih, Ko,” ucap-
nya setengah berbi si k, “seumur hi dup, gua nggak pernah
bi sa membayangkan jadi melankoli s di depan lu, tapi ... ke-
datangan lu hari ini, dan apa yang barusan lu bilang, adalah
hal teri ndah dalam hi dup gua sepanj ang tahun i ni .”
Eko tersenyum keci l. Namun, dalam hi tungan deti k, se-
nyumannya si rna. “Si alan ... tahun i ni kan baru j alan
sepuIuh hurI! Terung uju guu judI vung puIIng Induh,
monvong! Uduh guu bunLuIn Iu beres-beres, dIsuruh LrukLIr
Iu mukun, IugI! KepuruuuL!¨
Tawa mereka berdua pecah seketi ka.
“Tahun i ni baru j alan sepuluh hari , dan lu udah berhasi l
guu jebuk duu kuII! ¡nI perLundu buruk buuL hIdup Iu, Ko
....” Kugy tergelak-gelak di lantai .
“Yup, dan mimpi buruk gua sudah akan dimulai sebentar
IugI. ¡upur, nIh. Mukun, vuk!¨ Eko bungkIL berdIrI.
“Lho, kamar gua kan belum beres?” protes Kugy.
“Lu aj a sama keluarga melankoli s lu yang beresi n,” Eko
terkekeh. “Eh, ada recehan buat angkot, nggak?”
“Lu nggak bawa Fuad?”
219
“Ada. Tapi begi tu nyampe di depan kos lu, di a langsung
mogok gitu. Jadi, paling gua titip Fuad dulu di depan, nanti
pas mau pulang, gua mi nta tolong lu buat dorongi n di ki t.
Ya?”
Kugy memandang Eko geram. “Kok, gua mulai merasa
gua yang si al?”
Ubud, Febr uar i 2001 ...
Sebuah halaman baru resmi terbuka untuknya. Keenan men-
jalani hidup dengan ritme baru. Sepanjang hari kegiatannya
tak pernah lepas dari berkesenian dan berupacara, layaknya
anggota keluarga yang lai n. Ji ka tak si buk meluki s, i a tak
pernah luput membantu keluarga Pak Wayan, dari mulai
upacara ngagah hi ngga ngaben.
Ki ni , dengan fasi h Keenan memakai udeng dan sarung
Bali ke mana-mana. I a lebi h banyak berteman dengan
pemuda-pemuda asli , sesekali i kut nonton sabung ayam,
membaur bersama mereka tanpa merasa ri si dan cang-
gung.
Namun, dari semua orang, Pak Wayanlah yang pali ng
bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru ini. Keenan
sudah di anggap putranya sendi ri , seorang anak yang selalu
ia dambakan dan bisa ia banggakan. Keenan, yang tak hanya
berbakat di seni lukis, ternyata bisa memahat dengan halus.
Dengan cepat, i a mempelaj ari uki ran-uki ran dasar Bali se-
perti patr a kuta mesi r , taluh kakul, dan pungelan. Bahkan
kemampuannya melebi hi seni man-seni man muda setempat
yang seri ng berlati h di studi o keluarga Pak Wayan.
Keti ka luki san Keenan di puj i -puj i orang, Pak Wayanlah
yang merasa pali ng tersanj ung. Tanpa ragu dan permi si
dulu, i a selalu mengenalkan Keenan dengan berkata: “Ni ki
220
putr an ti ti ange ane lanang
27
, I Wayan Keenan.” Alhasi l,
Keenan yang terbengong-bengong mendengar nama barunya
i tu.
Ji ka tak sedang pergi ke mana-mana, Keenan hanya
menghabi skan waktunya di bale. Meluki s, atau sekadar
mengobrol dengan Luhde yang selalu seti a menemani nya.
“Keenan harus mulai belaj ar bahasa Bali .” Dengan gaya-
nya yang dewasa, Luhde mulai menasi hati .
“Boleh. Aj ari n, dong,” tantang Keenan.
¨Cobu IkuLI suvu, vu!¨ ¡uhde berdehem, “Cang boj ok
28
...”
“Cang boj ok ...”
“... car e boj og.
29

Dengan patuh dan serius, Keenan mengikuti, “Cang bojok
car e boj og.”
“Pi ntar,” Luhde manggut-manggut sambi l menahan se-
nyum.
“Arti nya apa?” tanya Keenan.
Tawa Luhde menyembur. “Artinya: saya jelek seperti mo-
nveL!¨ serunvu, IuIu Lerbuhuk-buhuk sendIrI.
Keenan gant i an manggut -manggut . “ Oooh ... i ya.
Memang, si h.”
Tawa Luhde kontan berhenti .
“Udah deh, kamu tuh nggak pantes j ahi l i n orang,”
Keenan terkekeh. “Makanya, nulis aja. Kan katanya mau jadi
penuli s terkenal.”
Luhde tersenyum, “I ya. Nanti seperti Keenan dan teman-
nya. Saya menuli s ceri ta, lalu Keenan buatkan luki san.”
Ucapan Luhde seperti membekukan udara. Keenan pun
terpaku.
27
I ni anak laki -laki saya yang pali ng besar.
28
Saya j elek.
29
Seperti monyet.
221
Luhde yang ti dak menyadari perubahan i tu, terus ber-
celoteh, “Di keluarga saya, semua orang bi sa bi ki n macam-
macam. Beli Banyu pandai memahat, Beli Agung pandai
meluki s, semua kakak kandung saya penari hebat. Cuma
saya yang ti dak seperti mereka. Tapi , menurut Poyan, se-
sungguhnya kata-kata j uga bi sa di luki s, di uki r, bahkan di -
tari kan. Jadi , saya tetap bi sa meluki s kata-kata sei ndah lu-
ki san, menguki r kata-kata secanti k uki ran, dan membuat
kata-kata menari gemulai seperti tari an.”
“Saya setuju dengan Poyan. Kamu punya bakat itu, tanpa
harus banyak usaha. Saya sendi ri seri ng terpesona dengan
kata-kata kamu,” puj i Keenan tulus. “Dan ... kamu seri ng
mengi ngatkan saya pada seseorang.”
“Kenangan i tu cuma hantu di sudut pi ki r. Selama ki ta
cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap
j adi hantu. Nggak akan pernah j adi kenyataan.”
Keenan tersentak dengan ucapan Luhde yang sama sekali
ti dak i a duga. Begi tu j uga dengan Luhde, yang seperti nya
pun ti dak berencana untuk melontarkan kali mat i tu.
“Maaf, ya. Saya bukan bermaksud lancang,” ucap Luhde
cepat, “tapi ... kalau boleh tahu, siapa sih yang menulis buku
i tu?” tanyanya sehati -hati mungki n. “Soalnya, saya per-
hati kan, Keenan nggak bi sa meluki s kalau buku i tu nggak
ada di dekat-dekat Keenan.”
“Di a sahabat saya waktu kuli ah,” j awab Keenan pendek.
“Orangnya pasti pi ntar dan j i wanya halus,” komentar
Luhde lagi .
Keenan ti dak menj awab.
“Sahabat kamu i tu perempuan, ya?”
“I ya.”
“Kali an pasti sangat dekat, ya?”
“Dulu si h i ya.”
“Kapan-kapan, boleh nggak saya di kenalkan sama di a?”
222
Kali ini Keenan mendongak, mengadu matanya langsung
dengan Luhde. “Untuk soal yang satu i tu, saya nggak bi sa
j anj i ,” sahutnya ketus.
“Kenapa?”
“Karena saya nggak yaki n akan ketemu di a lagi .”
Masi h banyak pertanyaan yang terpendam dalam benak
Luhde, pertanyaan yang sudah i a tumpuk dan si mpan sejak
l ama. Namun, nada pahi t yang terl ontar dari kal i mat
terakhir Keenan tadi membuat ia urung mengungkapkannya.
Mungki n memang t ak per l u i a menget ahui . Hanya
memahami . Karena tanpa perlu berkata-kata, Keenan telah
berceri ta banyak dari luki sannya, dari kesehari annya, dari
di amnya. Lebi h dari yang Keenan sadari .
Jakar t a, Febr uar i 2001 ...
Sekeluarnya dari ruang i tu, Lena membaca lagi lembaran
hasil laboratorium yang baru saja dianalisis dokter beberapa
meni t yang lalu, yang membuat suami nya di olehi -olehi se-
deret resep obat dan beraneka petuah i ni -i tu.
“Kok, bi sa begi ni , si h? Padahal kamu selalu di bawakan
makan dari rumah. Kegi atan kamu j uga nggak banyak ber-
ubah. Aku nggak ngerti , deh,” Lena geleng-geleng kepala
sendi ri . “Memangnya ada sesuatu yang aku nggak tahu?”
Adri menyalakan mesi n mobi l. “Maksud kamu?”
“Tadi dokter bi lang, bi sa j adi karena faktor stres. Mung-
ki n nggak kamu stres tentang sesuatu, dan kamu belum
ceri ta ke aku?” tanya Lena lagi .
“Ah, stres apa? Sekarang semua penyaki t di bi langnya
gara-gara stres,” komentar suami nya sambi l mel engos.
“Nggak ada apa-apa, kok.”
223
Sepanj ang perj alanan, dalam kompartemen pi ki rannya,
Ardi menyadari sesuatu. I a bisa memilih tidak terbuka pada
dokter, bahkan i stri nya, tapi i a ti dak bi sa membohongi
dirinya sendiri. Satu hal tidak pernah lepas dari pikirannya,
menggerogoti nya dari dalam secara pelan-pelan. Keenan.
Ubud, Mar et 2001 ...
Luhde sedang menyeduhkan kopi kayu mani s bagi seluruh
keluarga. Kegi atan ruti nnya seti ap hari , seti ap sore. Dan i a
nyari s menumpahkan termos beri si ai r panas yang sedang
i a pegang, karena ti ba-ti ba Keenan muncul dari belakang,
memegang kedua bahunya.
“Hei , mi nggu depan kamu ulang tahun, ya?” tembak
Keenan langsung.
Luhde membali k badan. Waj ahnya sekonyong-konyong
cerah. “Keenan kok tahu? Di beri tahu si apa?”
“Banyu.” Keenan pun tersenyum, “Mau delapan belas ta-
hun, ya? Udah bukan anak keci l lagi , ni h,” godanya. “Kamu
mau kado apa? Li psti k? Parfum?”
Luhde tersipu. “Nggak. Saya nggak mau yang seperti itu,”
uj arnya sambi l menangkupkan kedua tangannya di pi pi .
“Lho, kenapa? Kan biasanya perempuan seusia kamu mu-
lai kepingin dandan. Atau mau dibeliin baju? Nanti kita cari
ke Kuta, yuk.”
Luhde tambah kuat menggelengkan kepala. “Nggak ...
ngguk muu!¨ Tungunnvu sekurung suduh menuLup muku.
“Oke, oke. Jadi , maunya apa? Buku?”
Luhde terdiam sejenak. Berpikir. Pelan-pelan, ia menurun-
kan kedua tangannya dari pi pi . “Saya sudah tahu,” katanya
pelan. Dan Luhde pun mengutas senyum. Satu senyum yang
224
mengubah waj ah lucunya menj adi canti k dan ... dewasa.
“Saya i ngi n, satu karya Keenan yang di buat dengan se-
penuh hati ,” ucap Luhde. Jerni h dan j elas.
Keenan terenyak. Pertama, oleh kecanti kan Luhde yang
tak pernah i a sadari sebelumnya. Dan kedua, oleh kali mat
yang meski ia pahami betul maksudnya, rasanya tak sanggup
i a penuhi . Keenan menelan ludah. “Semua luki san saya di -
buat dengan sepenuh hati . Kalau kamu mengi ngi nkan salah
satu di antaranya, kamu boleh pi li h yang mana aj a. Atau
kalau kamu mau di buatkan khusus, saya j uga bersedi a me-
luki s untuk kamu.”
Luhde menggeleng lembut. “Semua lukisan itu dibuat de-
ngan ci nta Keenan pada seni . Tapi ada satu yang berbeda.
Begi tu saya meli hatnya, saya sampai meni ti kkan ai r mata.
Yang satu itu ... indah sekali. Dan dia menjadi indah karena
Keenan membuatnya dengan ci nta yang lebi h dalam dari
sekadar ci nta Keenan pada seni .”
Kal i i ni Keenan kehi l angan kemampuan unt uk
merespons.
Dalam sekej ap, Luhde berubah menj adi gadi s remaj a
yang pemalu. “Saya cuma i ngi n menyi mpannya. Ti dak ada
maksud lain. Kalau memang tidak mungkin, juga tidak apa-
apa. Maaf ya kalau saya sering lancang sama Keenan,” tutur-
nya dengan nada sesal. Cepat, Luhde mengangkat baki berisi
cangki r-cangki r kopi i tu dan berlalu dari sana.
Keenan tertegun di tempat. Satu dilema besar menyerang
hati nya. Di lema yang sebelumnya tak pernah ada.
225
Ubud, Mar et 2001 ...
Malam menj elang petang, saat semua orang sudah terlelap,
seseorang masi h berada di luar kamarnya. Menatap langi t
malam yang jernih, yang memunculkan serakan bintang tak
terhi ngga banyaknya.
Keenan duduk sendi ri an dengan posi si menengadah. I a
ingin mengenang malam-malam seperti ini, saat ia berbaring
di atap kamarnya di Bandung, menikmati jernih dan luasnya
angkasa, memi ki rkan orang yang sama.
Di tangannya tergenggam sebuah pahatan kayu sebesar
genggaman tangan. Sesuatu yang ia buat setahun lebih yang
lalu. Sesuatu yang tak pernah i a sempat beri kan. Sesuatu
yang i a bersi hkan hampi r seti ap hari , tapi cuma bi sa di -
ni kmati sendi ri . Pahatan i tu berbentuk hati yang di penuhi
reli ef abstrak menyerupai gelombang ai r di seluruh per-
mukaannya. Begi tu rapi dan detai l. Keti ka membuatnya, le-
her Keenan sampai saki t selama satu mi nggu. I a tersenyum
sendi ri an mengi ngatnya.
26.
LEMBARAN BARU
226
Diamati dan dirabanya lagi relief itu. Di antara motif ge-
lombang ai r tadi , tersembunyi lah dua i ni si al yang kalau di -
amati dengan saksama baru terbaca: K & K.
Mendadak, terdengar bunyi angin yang bertiup bagai seru-
li ng. Menggoyangkan kentungan-kentungan bambu yang
tergantung di tepi atap, yang seketi ka melantunkan be-
bunyi an merdu. Keenan bergi di k kedi ngi nan saat angi n i tu
mengembusi kuli tnya. Namun, i a masi h belum i ngi n beran-
j ak.
I a teri ngat bebunyi an i tu. Lebi h dari setahun yang lalu,
bercampur dengan satu lagu yang dulu ia putar hampir tiap
malam saat memahat sendi ri an di si ni . Lagu yang selalu
mengingatkannya pada orang yang sama. Pelan, hanya untuk
di dengar di ri nya sendi ri , Keenan mulai bersenandung:
“And my bi tter pi ll to swallow i s the si lence that I keep/
That poi sons me, I can’t swi m fr ee/ The r i ver i s too deep/
I am no wor se i n love wi th your ghost/ I n love wi th your
ghost ...”
Nada terakhi rnya menggantung di udara. Menyi sakan
suara bambu dan suara-suara dalam kepalanya. Keenan ter-
i ngat kata-kata Luhde. Kenangan hanyalah hantu di sudut
pikir. Dan selama ini, ia telah memelihara sebuah cinta pada
kenangan, pada wujud yang tak lebih dari bayangan, sekali-
pun Kugy adalah bayangan teri ndah yang pernah hi dup da-
lam hati nya.
Keenan memej amkan mata. Meresapi peri h yang me-
rasuki seluruh sel tubuh. Namun, ia pun tahu, sudah saatnya
i a melepaskan bayangan i tu. Keenan mengecup pelan pa-
hatannya. “Keci l ... mungki n i ni memang bukan untuk
kamu,” bisiknya. Baru sekali itu Keenan merasakan perihnya
perpi sahan yang di lakukan sendi ri an.
227
Hari hampi r pagi . Kokok ayam sudah terdengar dari ber-
bagai j urusan. Semburat matahari mulai terli hat, perlahan
menggeser j erni h langi t malam dan bi ntang-bi ntang.
Keenan tahu kamar i tu ti dak di kunci . Dan i a pun ti dak
berni at membangunkan si empunya kamar. Hati -hati , i a
membuka pi ntu kayu i tu. Melangkah sepelan mungki n.
Tampak Luhde tertidur pulas dengan wajah damai, tubuh-
nya terbungkus seli mut sampai leher, dan rambutnya yang
panj ang tergerai bebas di atas bantal.
Dengan gerakan serba lambat karena tak ingin menimbul-
kan suara, Keenan meletakkan pahatan kayu tadi di sebelah
Luhde, lalu berkata li ri h, “Selamat ulang tahun ....”
Bandung, Mei 2001 ...
Eko kembali j anj i an dengan Kugy di Pemadam Kelaparan.
Makan si ang bersama, seperti yang bi asa mereka lakukan
seti daknya dua kali semi nggu belakangan i ni . Sebuah ri tme
baru yang benar-benar menj adi oasi s bagi Kugy setelah se-
ki an lama. Ekolah satu-satunya sahabat terdekat bagi nya
sekarang.
Siang itu, Kugy membahas rencana pengambilan SKS-nya
dua semester ke depan. Apa yang i a rencanakan membuat
Eko tercengang-cengang.
¨Bungké Lokek! JudI Iu ngujuIn semInur durI semesLer
i ni ?” Mata Eko seperti mau lompat keluar dari wadahnya.
“Terus ... semester depan lu udah bi sa skri psi ?”
Kugy mengangguk sambi l tersenyum-senyum keci l.
“Wah, Gy ... waaah ...” Eko geleng-geleng kepala, “I ni
kurung ujur numunvu. Ngguk sopun! Dun InI ngguk eIu
bungeL!¨
Kugy memperlebar cengi rannya. “Coba tolong di perj elas,
228
maksudnya ‘nggak elu banget’ i tu, apa?”
“Gua tahu, lu kalo udah terobsesi sama sesuatu memang
kayak orang kesurupan j i n Prambanan, suka raj i n nggak
kIru-kIru. TupI ... InI ... bIdung ukudemIs IormuI, Gv! Munu
pernah lu segi la i ni sama sekolah? Napsu banget si h pi ngi n
cepeL beres! ¡nI ngguk normuI, Luuuuk!¨ omeI Eko punjung
lebar.
Kugy terbahak. “Berarti , selama i ni ki ta temenan sej ak
SMP masi h belum cukup untuk lu memahami gua luar da-
lam. Gua napsu pi ngi n cepet lulus bukan karena gua ci nta
kuli ah. Justru gua pi ngi n cepat-cepat keluar, makanya gua
ngebut gi la-gi laan.”
Eko mengeluarkan ‘‘ooh’’ panjang. Matanya mendelik pe-
nuh arti . “Jadi ... ceri tanya ada yang mau kabur dari
sesuatu, ni h?”
Kugy mengerutkan keni ng, “Kabur apaan, si h.” Namun,
sesuat u t er sent i l di dal am hat i nya ol eh ucapan Eko
barusan.
Ai r muka Eko berubah seri us. “Gy, gua nggak pernah
mau tanya macem-macem sama lu karena gua menghargai
pr i vacy lu. Gua tahu lu bukan ti pe orang yang di ki t-di ki t
curhat. Jadi, selama ini gua lebih banyak nunggu bola. Kalo
lu mau ceri ta, ya syukur. Kalo nggak, gua j uga nggak akan
maksa. Tapi , please, gua cuma mau tanya satu hal: ada apa
dengan lu sejak setahun yang lalu? Lu berubah drasti s, me-
nari k di ri , dan ki ta nggak pernah tahu kenapa.”
Lama Kugy menatap Eko, tanpa bi sa bersuara. Di teng-
gorokannya sudah membuncah aneka cerita yang siap mun-
tah keluar. Namun, lagi -lagi , i a merasa lumpuh. Kugy pun
menggeleng sambil tersenyum tipis, “Sori, ya, Ko. Gua masih
belum bi sa ceri ta.”
Eko menghela napas panj ang. “Lu nggak kangen masa-
masa geng mi dni ght ki ta zaman dulu, apa?”
229
“Kangen,” j awab Kugy pelan, “tapi gua j uga nggak ke-
beratan dengan kondi si sekarang. Kadang-kadang, rasanya
lebi h enak malah. Lebi h lega.”
“Terserah, deh,” sahut Eko seraya mengangkat bahu.
Keduanya terdi am.
“Gua kangen Keenan,” kata Eko ti ba-ti ba. “Di a ke mana,
ya?”
Hati Kugy seperti kena setrum di gardu li stri k begi tu
mendengar nama i tu di sebut. Sebi sa mungki n, i a berusaha
tampak tenang dan tak terpengaruh. “Lu kan sepupunya,
nggak bi sa tanya keluarganya yang di Jakarta?”
“Keluarganya aj a nggak tahu di a di mana.”
“Oh,” gumam Kugy pendek. Meski ai r mukanya tak ber-
ubah, tapi ti mbul gelombang besar dalam hati nya.
¨¡Lu unuk kuvuk hIIung dIcuIIk U¡O. Ngguk udu bekus!
Gi la, ya. Kok bi sa gi tu, si h? Gua nggak ngerti ...” tahu-tahu
Eko mendongak menatap Kugy, “lu berdua tuh emang orang
uneh! Yung suLu uduh mIngguL, vung suLu nIuL kubur! Kenupu
si h lu pada?”
Kugy tak kuat menahan senyum meli hat sewotnya Eko.
“Marah-marah kayak gi tu pertanda sayang, tauk.”
“Sayang-sayang ... nyebelin lu, Gy,” sahut Eko sambil ma-
nyun. “Tapi gua masi h bermi nat kok j adi temen lu lamaan
di ki t. Mungki n karena sayang, atau mungki n karena pada
dasarnya gua hobi mengoleksi spesies langka dan jelek kayak
lu.”
Kugy tertawa. “I love you, too.”
¨DIem!¨
Ubud, Okt ober 2001 ...
Ti dak sampai setahun. Luki san Keenan mulai ramai di -
bicarakan orang. Namanya mulai beredar di kalangan galeri
230
dan kolektor. Namun, Keenan belum berminat untuk masuk
ke pasaran galeri Jakarta, i a bertahan di galeri Pak Wayan
di Ubud. Beberapa kolektor yang pernah membeli karyanya
dengan raj i n menanyakan luki sannya yang terbaru, dan pe-
mi nat baru yang tertari k pada karyanya j uga terus ber-
tambah.
Namun, ti dak ada yang segesi t kolektor yang satu i tu.
Pembeli luki sannya yang pertama. I a bahkan seolah-olah
membaca si klus kreati vi tas Keenan. Jarang sekali i a ke-
duluan oleh pembeli lain. Sepertinya ia terobsesi untuk me-
ngumpulkan seri lengkap dari luki san seri al Keenan yang
sekarang mulai di gunj i ngkan di mana-mana.
Keenan sendiri merasa lucu ketika tahu lukisannya men-
j adi perebutan dan perbi ncangan. Di hadapannya terbuka
buku tabungan yang baru di bukakan oleh Pak Wayan. Se-
telah mengalami masa-masa tersuli tnya di Bandung, i a tak
pernah bermi mpi akan punya uang sebanyak i tu. Dan ti ba-
tiba Keenan tergerak untuk bertanya, “Poyan ... apa jadinya
kalau saya tahu-tahu mentok? Jenuh? Atau ... gimana kalau
orang-orang i tu yang bosan dengan luki san saya?”
Pak Wayan terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. I a
menarik kursi lalu duduk di hadapan Keenan. “Kita memang
ti dak pernah bi sa menduga selera kolektor. Ki ta j uga ti dak
pernah bi sa mengendali kan pendapat kurator. Mereka i tu
musiman seperti buah,” jawab Pak Wayan sambil tersenyum
lebar, “tapi , kekhawati ran kamu ada benarnya. Sebenarnya
di ri ki ta sendi ri lah yang pali ng susah di duga.
“Akan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi ke mana
semua i nspi rasi ku? Ti ba-ti ba kamu merasa di ti nggal pergi .
Hanya bi sa di am, ti dak lagi berkarya. Keri ng. Tapi ti dak
selalu i tu berarti kamu harus mencari obj ek atau sumber
i nspi rasi baru. Sama seperti j odoh, Nan. Kalau punya ma-
salah, ti dak berarti harus cari pacar baru, kan? Tapi rasa
231
ci nta kamu yang harus di perbarui . Ci nta bi sa tumbuh sen-
di ri , tapi bukan j ami nan bakal langgeng selamanya, apalagi
kalau ti dak di peli hara. Mengerti kamu?”
Karena ti dak yaki n, Keenan memi li h untuk menggeleng.
Pak Wayan berpi ki r sej enak. “Begi ni . Sekarang kamu se-
dang menj ali n ci nta dengan Jenderal Pi li k. Ceri ta-ceri ta i tu
menjadi sumber inspirasi kamu. Jodohmu. Supaya Jenderal
Pi li k bukan cuma hi dup di buku tuli s i tu, melai nkan di hati
kamu, ci nta i tu harus di peli hara. Selama Jenderal Pi li k be-
lum benar-benar hi dup dan mendarah dagi ng bersama
kamu, selama i tu kamu harus selalu hati -hati . Mengerti ?”
Kali i ni Keenan mengangguk. Namun, i a tak menduga,
betapa dalam makna yang tersembunyi dari percakapan sore
i tu.
Jakar t a, mal am t ahun bar u 2002 ...
Saat semua orang rumahnya sudah terti dur. Kugy memi li h
tetap terj aga di teras depan. Bertemankan obat nyamuk
bakar dan Santai , anji ng basset cokelatnya, yang sedari tadi
terti dur santai di kaki nya.
Dua kali tahun baru i a lewatkan tanpa resolusi apa-apa.
Berbeda dengan kebiasaannya yang gemar melakukan ritual
menuli s target dan khayalan di atas kertas lalu menyem-
bunyi kannya di satu tempat untuk di baca lagi pada malam
tahun baru berikutnya. Persis seperti Santai yang gemar me-
nyembunyi kan tulang di satu tempat, untuk satu hari kem-
bali i a gali dan ni kmati .
Namun, di hadapannya terl etak secari k kertas dan
pulpen. Hanya saj a bukan untuk resolusi . Setelah seki an
lama merenung, Kugy pun menyambar pulpen dan mulai
menuli s:
232
Neptunus, kali i ni saya benar -benar ber har ap sur at i ni
betulan sampai ke laut. Kenapa begi tu? Kar ena saya
kepingin jujur : saya kangen sekali. Saya kehilangan sekali.
Dan, saya mer asa, malam ini dia dekat sekali dengan laut.
Ti ti p salam, ya. Awas kalo nggak di sampei n. Saya mogok
j adi agen.
Kugy melipat kertas itu menjadi perahu. Baru siang nanti
i a bi sa menghanyutkannya di kali dekat rumah. Khusus un-
tuk malam i ni , i a harus memi ki rkan cara lai n. Kugy lalu
mendekapkan surat i tu di dadanya. Memej amkan mata.
Mengkhayalkan bentangan laut luas dan suara ombak. I a
pernah bi lang pada Keenan, suara ombak adalah lagu alam
yang pali ng merdu. Dan Kugy ki ni merasa mendengar
ombak bersahutan.
Di mana pun kamu ... semoga pesan i ni sampai , meski
tanpa per ahu ... aku sangat kehi langan kamu.
Sanur , mal am t ahun bar u 2002 ...
Di tepi pantai , Keenan melamun menatap ombak laut. Me-
nyadari bahwa akan selalu ada saat di mana ia merasa harus
berhenti , memi ki rkan sosok satu i tu.
Kamu pasti senang sekali kalau bi sa di si ni ... dekat de-
ngan laut ... kamu per nah bi lang, suar a ombak adalah
lagu alam yang pali ng mer du. Napas Keenan menghela
panj ang. Sedang apa kamu sekar ang, Keci l?
¨Keenun!¨ Suuru seorung prIu memunggIInvu. DIIkuLI de-
ngan suara perempuan yang j uga memanggi l namanya.
Keenan kembali di i ngatkan, i a sedang berada di tengah-te-
ngah pesta tahun baru di rumah mi li k teman bai k Pak
Wayan. Halaman belakang yang langsung menghadap pantai
memungki nkannya untuk sej enak meni kmati keluasan i ni
233
tanpa perlu di usi k kerumunan orang.
“Nan, ayo, ke dalam sebentar. Kamu di cari Pak Wayan,”
aj ak pri a i tu.
Sementara Luhde langsung beri ngsut ke si si Keenan dan
merangkul lengannya. I a begitu bersinar dan ceria malam ini.
Untuk pertama kali nya, Luhde menghadi ri sebuah pesta.
Namun, yang paling membahagiakannya adalah semata-mata
i a bi sa mel ewat kan pengal aman per t ama i ni dengan
Keenan.
“Maaf, ya. Saya sempat keluar sebentar dan ni nggali n
kamu. Nggak pa-pa, kan?” kata Keenan seraya mengelus pe-
lan punggung tangan Luhde.
“Ti dak apa-apa, dari tadi saya di temani ngobrol,” Luhde
meli ri k pri a di sebelahnya.
Keenan tertawa keci l, “Teri ma kasi h udah mau di ti ti pi n
Luhde, Mas. Semoga nggak kapok.”
“No pr oblem. Seru kok ngobrol sama Luhde. Pi ntar, dan
banyak kej utan,” sahut pri a i tu sambi l melempar senyum.
Hampir otomatis, Luhde langsung menunduk tersipu, se-
perLI reßeks puLrI muIu vung Iungsung menguncup jIku Ler-
senggol. Namun, dalam hati nya, i a senang bukan mai n.
Luhde tahu, pria itu bukan orang sembarangan. Dialah pem-
beli luki san Keenan yang pertama, dan ki ni pri a i tu dan
Keenan tak ubahnya dua orang sahabat. Seti ap kali datang
ke Bali , pri a i tu selalu mampi r ke galeri , menyempatkan
waktu untuk berj alan-j alan dan ngobrol bersama Keenan
dan keluarganya. Dan malam i ni , pri a i tu bahkan memi li h
bertahun baru bersama mereka di Bali .
Mereka berti ga lalu kembali ke rumah. Sambi l berj alan,
Keenan menyempatkan di ri untuk menoleh ke arah laut
untuk terakhi r kali nya. Dari kej auhan, si sa ti upan terompet
kertas masi h terdengar. Kembali mengi ngatkannya bahwa
tahun baru telah di mulai . Lembaran baru telah di buka.
234
Kepalanya pun berputar. Menghadap ke depan. Meni ng-
galkan pantai di belakangnya.
Jakar t a, Januar i 2002 ...
Kugy telah lulus semi nar dengan ni lai A. Dan i a meraya-
kannya dengan pulang ke Jakarta setelah berbulan-bulan ti-
dak pernah pulang. Pada Mi nggu si ang i tu, seluruh anggota
keluarganya komplet berkumpul di ruang teve. Keriuhan dan
lemparan celetukan menj adi ci ri khas seti ap kali “The K
Fami ly” berkumpul.
“Jadi , semester depan kamu ti nggal skri psi , Gy?” tanya
kakak perempuannya, Kari n.
“Yup!”
“Kevi i i n ... kok lu lelet, si i i h? D3 tapi udah mau empat
tahun dan masi h belum menunj ukkan gej ala kelulusan. Ka-
lah sama Kugy yang S1,” ti mpal Kari n lagi sambi l menj i tak
kepala Kevi n, adi k laki -laki nya.
¨Heh! Yung penLIng husII ukhIr!¨ buIus KevIn. ¨¡u IIhuL
dong, gue kan gaul, penuh prestasi , Kugy kan ner d. Ya te-
rang aj a di a cepet kuli ahnya. Nggak ada kegi atan lai n.”
27.
JANJI ADALAH JANJI
235
“Koleksi T-shi r t punILIu uju Iu bIIung presLusI! Kev ... Kev
...” celetuk Kugy.
“Kevi n – Si Pani ti a Sej uta Event,” Kari n menambahkan
sambi l terkekeh. “Nah, lu bi ki n kausnya, gi h. Nanti acara
apa pun lu cukup pakai satu kaus i tu aj a.”
“I ya, Kev. Kamu tuh kok j adi pani ti a terus toh? Bentar-
bentar minta izin nggak kuliah, bilangnya karena jadi panitia
gerak j alanlah ... lomba caturlah ... pameran motor ... ke-
juaraan bulutangkis ... fashion show ... kok, nggak ada habis-
nya,” komentar ayahnya sambi l lalu.
¨Terus, kusLunvu segILu Lerus, Pu. PunILIuuu ... Lerus!¨
Kugy terpi ngkal-pi ngkal.
¨¡u Luh vung uneh! Ngguk usvIk judI munusIu! Buru
kuIIuh LIgu Luhun uduh muu skrIpsI! Apuun, Luh?¨ proLes
Kevi n. “I tu namanya nggak meni kmati hi dup ....”
“Memangnya sesudah lulus nanti , kamu mau ngapai n,
Gy?” tanya Karel, abangnya yang pali ng besar.
¨Kerju, dong!¨
“Kerj a apa?” I bunya bertanya.
“Jadi panitia,” cetus adik bungsunya, Keshia, sambil ceki-
ki kan.
“Gy ... Gy ...” Kevi n ganti an geleng-geleng, “emangnya
enak cepet kerja? Kerja tuh capek, tauk. Enakan juga kuliah.
Tuh, entar hasi lnya kayak Kari n, badannya ti nggal tulang
sama dosa doang.”
¨¡u vung obesILus!¨ KurIn mendeIIk ke uruh KevIn.
“Gue bukannya gemuk, kakakku sayang. Tapi kurang
ti nggi ,” Kevi n membela di ri .
“Kamu bermi nat kerj a di bi dang apa, Gy?” tanya Karel
lagi .
“Hmm ... yang pasti harus ada nuli s-nuli snya, tapi kalau
bisa bukan wartawan, karena aku nggak terlalu bakat di jur-
nali sti k.”
236
“Lu bukannya mau j adi ... apa dulu, tuh? Tukang ...,”
Kevi n berusaha mengi ngat-i ngat, “tukang ....”
“Tukang ban,” cetus Keshi a lagi .
¨Tukung dongeng!¨ KevIn menepukkun Lungun. ¨¡Lu
dIu!¨
“Juru dongeng,” ralat Kugy sebal. “Entar aj a, kalo udah
tua, udah pensi un. Kalo di kerj ai n sekarang, mana ada dui t-
nya.”
Karel mengangkat alis. “Tumben Kugy mikirin duit,” ujar-
nya.
“Sekarang aku udah reali sti s,” kata Kugy sambi l ter-
senyum seki las. Ada rasa geti r di mulutnya saat kali mat i tu
terucap.
“Oke, aku akan bantu cari i n, ya. Ada temanku yang lagi
set-up perusahaan adver ti si ng sendiri, siapa tahu dia butuh
copy wr i ter . Nanti aku tanyakan. Mungki n kamu bi sa ma-
gang dulu, sambi l nunggu wi suda. Yang penti ng kamu se-
lesai kan skri psi kamu dulu semester i ni ,” kata Karel.
¨Muu! Muu! Ngguk dIgujI duIu jugu ngguk upu-upu!¨ su-
hut Kugy bersemangat.
“Baru semeni t yang lalu ngaku-ngaku reali sti s, sekarang
udah ngomong nggak usah di gaj i . Dasar lu mental relawan,
Gv! Munu bIsu kuvu?¨ komenLur KevIn sumbII LerLuwu-
tawa.
¨¡uguk Iu ... kuvuk punILIu udu uungnvu uju! KuIo durI ke-
pani ti aan lu yang seabrek i tu ada dui tnya, seratus ri bu aj a
sekali, sekarang lu udah punya rumah sendiri kaliii ...” Karin
tertawa lebi h keras lagi .
Namun, pi ki ran Kugy sudah terbang j auh, menuj u ke-
lulusannya, menuj u hari pertamanya bekerj a. Apa pun ... di
mana pun i tu ... yang penti ng i a bi sa keluar dan membuka
halaman baru.
237
Ubud, Mar et 2002 ...
Pak Wayan memandangi keponakan perempuannya yang
tengah tekun menuli s di bale. Tangan mungi l i tu tampak
asyik mencorat-coret di atas notes tebal yang selalu dibawa-
nya ke mana-mana. Meskipun sudah dibelikan satu set kom-
puter, Luhde tetap lebi h suka menuli skan ceri ta dengan ta-
ngan.
“De, sedang nuli s ceri ta apa kamu?” tanya Pak Wayan
lembut, seraya duduk depan Luhde.
“Ceri ta anak-anak, Poyan,” kata Luhde, dan tangannya
terus menuli s.
“Kamu masi h seri us i ngi n j adi penuli s, ya?”
“I ya, Poyan. Saya mau menuli s ceri ta anak-anak, nanti
Keenan yang buatkan gambarnya.”
Pak Wayan tertegun. Di pandangi nya lagi Luhde dengan
matanya yang berbi nar penuh semangat, keseri usan dalam
nadanya, seolah-olah i a tengah mencurahkan seluruh hi dup
dan j i wanya ke dalam kertas.
“De ... Poyan ka ngomong kej ep.
30

Luhde langsung meletakkan pulpennya, menutup buku-
nya. Ji ka Pak Wayan sudah mulai bi cara dalam bahasa Bali
padanya, berarti pamannya i tu sedang i ngi n membi carakan
sesuatu yang seri us. Kedua orang i tu lantas duduk berha-
dapan.
“Poyan mengerti, kamu sudah mulai dewasa. Hatimu su-
dah i ngi n pergi ke satu tempat, berlabuh, dan menetap.
Tapi , perj alanan hati i tu bukannya tanpa ri si ko.”
Wujuh ¡uhde sekeLIku bersemburuL meruh. Reßeks vung
selalu terj adi keti ka i a malu atau ri si . “Maksud Poyan
apa?”
30
Poyan i ngi n bi cara sebentar.
238
“Dari semua orang di rumah ini, Poyan yang paling dekat
dengan kali an berdua. Poyan bi sa merasakan perubahan di
antara kali an ...”
Keni ng Luhde berkerut tanda protes, “Si apa—?”
“… kamu dan Keenan,” Pak Wayan dengan lugas ber-
kata.
Luhde tak bersuara lagi . Hanya matanya saj a yang me-
ngerj ap gugup.
“Hati -hati , De. Pelan-pelan. Jatuh sedi ki t-sedi ki t, j angan
sekaligus. Belajar dari pengalaman pamanmu sendiri ...” ujar
Pak Wayan lembut. Namun, senyum samar di waj ahnya i tu
terli hat geti r.
Perlahan, Luhde mengangguk. I a tahu ki sah yang di -
maksud pamannya.
“Ti dak mudah menj adi bayang-bayang orang lai n. Lebi h
bai k, tunggu sampai hati nya sembuh dan memutuskan da-
lam keadaan jernih. Tanpa bayang-bayang siapa pun,” lanjut
Pak Wayan lagi. Ditepuknya bahu Luhde pelan, lalu beranjak
pergi dari sana.
Luhde mematung lama di tempatnya. Merenungi seki an
banyak hal yang otomati s berseli weran di dalam kepalanya
j i ka hal satu i tu di sentuh. Terakhi r, matanya berlabuh pada
buku tuli snya sendi ri . Menyadari apa yang selama i ni telah
ia usahakan dan upayakan dengan sepenuh hati. Menyadari
bayang-bayang apa yang dimaksud oleh pamannya. Matanya
pun terasa panas.
Bandung, Mei 2002 ...
Eko terlambat datang lagi. Padahal Noni sudah harus berang-
kat dari tempat kosnya sej ak sepuluh meni t yang lalu. Se-
tengah tahun terakhi r i ni , Noni mengaj ar les pri vat Bahasa
239
I nggri s untuk anak-anak SMP. Semi nggu sekali i a pergi ke
rumah salah satu murid lesnya untuk mengajar. Dengan wa-
j ah memberengut dan tangan meli pat di dada, Noni me-
nunggu di teras depan. Beberapa tasnya yang beri si kertas-
kertas dan buku-buku sudah terparki r di dekat kaki kursi .
Melihat pemandangan itu, Eko sudah langsung membaca
nasi b apa yang akan meni mpanya.
“Non—”
Noni mengangkat semua barang bawaannya. Bergegas
menuj u Fuad dengan mulut terkunci rapat.
“Si ni , aku bawai n ...”
“Nggak usah,” sambar Noni ketus. “Udah, langsung pergi
aj a. Aku udah telat banget, ni h.”
“Sori banget, Non ...”
¨KuIo kumu memung ngguk sunggup jempuL, bIIung dong!
Aku bisa naik angkot kok, atau naik taksi, atau nebeng sama
si apa kek. Tapi kalo gi ni kan j adwalku j adi berantakan. Ka-
si han muri d-muri dku j adi nunggui n. Kamu ke mana, si h?”
“Tadi ada emer gency, Non. Sori i i ... sori i i ...” Eko me-
mohon-mohon ampun.
“Emer gency apa?”
“Komputernya Kugy sempat cr ashed, sementara di a kan
udah mau si dang dua mi nggu lagi . Jadi tadi di a pani k ba-
nget, dan aku nolongi n di a bawai n komputernya ke tempat
servi s. Untung datanya bi sa selamat. Gi la. Nggak tahu apa
j adi nya deh kalo sampai harus ngeti k ulang lagi .”
Noni i ngat, sudah beberapa mi nggu belakangan i ni , Eko
bolak-bali k ke tempat kos Kugy dengan alasan membantu
anak itu skripsi. Bahkan pernah satu kali Eko terpaksa mem-
batalkan j anj i kencannya dengan Noni karena membantu
Kugy mengeti k sampai malam.
Sepanjang jalan dari tempat kosnya menuju rumah murid
lesnya, Noni di am membi su.
240
Fuad berhenti di tepi pagar rumah yang di tuj u. Eko me-
mati kan mesi n dan menatap Noni dengan putus asa, “Non
... ngomong, dong. Kamu kan bi asanya maki -maki , ngomel-
ngomel, apa kek ... jangan diam gitu, dong. Lebih baik kamu
marah-marahi n aku dari pada aksi bi su gi tu.”
Sambil menenteng tas-tasnya sendirian dengan susah pa-
yah, Noni keluar dari mobi l.
¨Non! Tunggu, dong! Aku bunLuIn! Kumu kenupu, sIh?¨
Eko buru-buru keluar dari mobi l menyusul Noni yang ber-
j alan cepat seperti orang mi nggat.
“Lebi h bai k, kamu tunggui n aj a tuh Kugy selesai si dang,
baru ketemu aku lagi . Percuma kalo sekarang-sekarang.
Buung-buung wukLu. MuIuh bIkIn hIdupku Lumbuh repoL!¨
tukas Noni pedas seraya terus berj alan.
Bandung, Juni 2002 ...
Sambil diiringi album Duran Duran dan berjoget-joget kecil,
Kugy mengecek lagi kelengkapan dokumennya untuk pre-
sentasi besok, termasuk catatan-catatan yang sudah i a buat
untuk menjawab aneka pertanyaan saat sidang. Memastikan
segala sesuatunya siap, termasuk dirinya. I a lalu mengembus-
kan napas panj ang. Hati nya si ap. Musi k i ni pun terasa ma-
ki n sedap.
“Aman terkendali ?” tanya Eko, j uga sambi l berj oget ke-
ci l.
“Delapan-enam, Komandan,” Kugy menj awab mantap
sumbII mengucungkun jempoI. ¨Eh, kILu bIkIn koreogruh,
yuk, Ko. Kayak j oget praj uri t gi tu.”
“Si apa takut?” kata Eko sambi l mengentak-entakkan ke-
pala. “Li hat ni h, Gy. Maksud gerakan kepala i ni ni h, gua
ceri tanya goyang-goyang kagum gi tu. Gua nggak nyangka
241
sobat gua j adi salah satu segeli nti r gerombolan laknat yang
lulus di bawah empat tahun.”
Mendadak Kugy menghenti kan j oget praj uri tnya. “Ko ...
makasih, ya,” ia berkata sungguh-sungguh. “Gua bener-bener
berutang budi sama lu. Nggak tahu apa j adi nya skri psi i ni
kalo nggak ada lu.”
“Udah gua bi lang, j angan sok melankoli s di depan gua.
Yang ada gua pi ngi n nyolok mata lu,” Eko terkekeh.
“Gua serius, gila,” kata Kugy lagi. “Kalo ada apa pun yang
bi sa gua bantu buat lu, please let me know, ya. I owe you
one.”
Mendengar i tu, Eko pun berhenti bergoyang. Di am, ber-
pi ki r. “Sebetulnya ... ada, si h. Gua pi ngi n mi nta tolong se-
suatu.”
“Anythi ng.”
“Gua minta lu bicara sama Noni setelah lu sidang. Baikan
lagi, gih,” Eko berubah serius, “Gua juga nggak jamin kalian
langsung bisa akur. Tapi setidaknya lu nyoba satu kali untuk
bi car a sama di a. Oke?” kat anya l embut . “ Buat gua?
Please?”
Dari semua kemungki nan permi ntaan Eko, Kugy pali ng
enggan membayangkan yang satu itu. Tapi janji adalah janji.
I a pun mengangguk.
Pi ntu i tu membuka, dan Noni langsung menyambutnya de-
ngan ucapan datar, “Ya. Ada apa?”
“Kamu masi h marah, Non?” tanya Eko hati -hati .
“Nggak penti ng,” j awab Noni pendek, “selama Kugy be-
lum si dang, apa pun j adi nggak penti ng ....”
“Besok di a si dang,” sela Eko, “kamu bi sa datang untuk
kasi h suppor t. Di a pasti seneng banget kalo kamu ada.”
242
“Di a atau kamu yang seneng?”
¨Non! KuIIun Luh Lemenun uduh berupu Luhun, sIh? Musu
kalah sama masalah begi ni an doang? Masalahnya apa j uga
nggak j el as, tahu-tahu di em-di eman, terus dua-duanya
sama-sama keras kepala. Heran,” Eko mulai dongkol.
“Buatku, masalahnya selalu j elas, yai tu: di a NGGAK
JE¡AS! That’s i t!” tegas Noni . “Dan yang bi ki n semua i ni
maki n-maki n menyebalkan adalah karena kamu selalu ada
dI pIhuk dIu!¨
“Noni ... i tu nggak benar sama sekal i . Aku nggak
berpi hak, j ustru aku kepi ngi n kali an—”
“Kamu tuh naif atau pura-pura polos, sih, Ko?” Noni ber-
decak ti dak sabar, “Ngaku aj a, kenapa si h?”
Eko mengerutkan ali s. “Ngaku apa?”
“Kamu naksi r di a dari SMP. Jauh sebelum ki ta pacaran.
I ya, kan? Dan sebagian dari diri kamu yang tergila-gila sama
Kugy tuh nggak berubah. Kamu selalu memuj a di a. Di a
nggak pernah salah buat kamu. Aku tahu kamu sayang ba-
nget sama aku, dan kamu pacarku, tapi sebagi an hati kamu
selalu ada buat Kugy. I ya, kan?” Noni setengah mati me-
nahan tangi s. Suaranya bergetar-getar. Apa yang selama i ni
i a tahan-tahan akhi rnya keluar j uga.
Eko mengungu Luk percuvu. ¨Non! DIu suhubuLku! Aku
suvung bungeL sumu munusIu gIIu ILu! TupI bukun suvung
yang seperti kamu sangka. Ampun, deh. Kamu kenapa,
si h?”
¨Tunvu sumu dIrI kumu sendIrI! Kumu Luh KENAPA?¨
seru Noni putus asa.
Pintu itu membanting di depan muka Eko. Dan seberapa
kali pun dia mengetuk dan memanggil-manggil, pintu itu tak
membuka.
243
SI DANG yang di lakukan secara terbuka i tu di tonton oleh
teman-teman terdekat Kugy. Ada Ami , I cal, Eko, Bi mo, dan
beberapa teman lai n. Hanya Eko yang menunggu sampai
pengumuman si dang. Mereka berdua duduk di bangku ta-
man dekat ruang si dang. Ti dak banyak bi cara. Dengan dua
gelas j us buah di tangan masi ng-masi ng, pandangan yang
sama-sama kosong, menunggu dengan tegang.
Mas Danar, petugas admi ni strasi yang sudah akrab de-
ngan Kugy, tahu-tahu melongokkan kepalanya dari dalam
kunLor. ¨Gv, pengumumunnvu uduh keIuur!¨ punggIInvu.
“Dari muka Mas Danar kayaknya lu dapet A, Gy ...” bisik
Eko yang berj alan di belakang Kugy.
“Kok, gua malah ngelihat di mukanya tergambar huruf C
... atau bahkan nggak lulus? Huuu ... tegang, ni h, Ko ...”
Kugy melangkah sambi l meri ngi s-ri ngi s.
“Ni h, saya tempel, ya. Si lakan baca sendi ri ,” kata Mas
Danar sambi l merekatkan kertas hasi l ni lai pengumuman
ti ga si dang yang di gelar tadi pagi .
Berhubung hanya ada ti ga nama di sana, dengan cepat
28.
ADVOCADO
244
Kugy menemukan namanya. I a dan Eko sama-sama terce-
ngang.
“A—plus?” teri ak Eko.
Kugy menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya
sudah mau terjun bebas keluar. “Kooo ... gua nggak percaya
....”
¨NIIuI Iu puIIng LInggI, monvong! KumpreL! BungsuL! He-
buL bungeL sIh Iuuu!¨ Eko berLerIuk kesenungun sumbII meng-
goyang-goyang bahu Kugy.
Spontan, Kugy membali k badan. Memeluk Eko erat.
“Thank you, ya, Ko. Kalo bukan karena lu, gua nggak akan
mungki n bi sa berhasi l hari i ni ,” bi si knya terharu.
Eko sempat tersentak kaget dengan reaksi yang ti ba-ti ba
i tu. Namun, lambat laun badannya yang mengunci mulai
mengendur, i a pun mendekap Kugy bali k. “Sama-sama, Gy.
Gua hepi banget buat lu ...” tahu-tahu satu tangannya men-
jitak kepala Kugy pelan, “eh, awas lu ya, jangan pakai acara
nangi s segala. Udah cukup gua j adi kacung lu dua bulan,
j angan sampai bi ki n gua malah terharu atas kesi alan gua
selama i ni ....”
Perlahan, Kugy melepaskan pelukannya. “Sesudah i ni ,
gua yang mengabdi j adi kacung lu,” katanya berseri .
Eko merogoh kantong, menyerahkan kunci mobi l. “Lu
bi sa mulai dengan j adi sopi r.”
“Del apan-enam, Komandan,” Kugy menyahut si gap.
“Mari , saya antar. Saya kasi h makan. Saya kasi h mi num.
Tapi nanti tetap saj a Komandan yang bayar.”
¨Anuk buuh ngehe emung Iu!¨ semproL Eko sumbII Ler-
gelak.
Dari kej auhan, seseorang mengamati keduanya berj alan
berangkulan. Noni .
Pagi tadi, ia merasa menyesal atas tuduhannya pada Eko.
Dan, tiba-tiba, ia juga tergerak untuk menemui Kugy ke kam-
245
pus demi memberikan dukungan. Dengan segala kegentaran
dan keengganan yang padahal masi h membebani hati nya,
Noni berhasil melawan itu semua untuk akhirnya datang ke
kampus dan mencari Kugy ke ruang si dang. Namun, apa
yang di li hatnya barusan memupuskan keduanya.
Sebagi an di ri nya remuk keti ka meli hat satu hal yang pa-
li ng i a takutkan ternyata menj adi kenyataan. Eko memang
mencintai Kugy. Dan, dari apa yang ia lihat barusan, seperti-
nya ci nta i tu ti dak hanya searah.
Noni berusaha keras untuk tetap kuat berj alan pergi de-
ngan tegak. Dadanya nai k turun, menahan tangi s. I a ber-
harap seandai nya saj a bi sa terbang dan cepat-cepat pergi
dari tempat i tu. I a ti dak kuat lagi .
Rasanya sudah lama sekali Kugy ti dak ke tempat i tu. Tem-
pat yang di huni nya dua tahun bersama Noni . Rumah per-
tamanya di Bandung. Dan tak lama lagi i a akan meni ng-
gal kan kota i ni . Kugy berdi am sebentar, memandangi
sudut-sudut di tempat kos itu. Sudut-sudut yang membang-
ki tkan rentetan kenangan di benaknya. Kugy lalu meng-
geleng kepala sendi ri an, seolah-olah i ngi n menepi s sesuatu.
Kembali melangkah menuj u kamar i tu. Seki las membaca
tuli san: NONI ADA.
Kugy mengetuk pi ntu. Tak lama, pi ntu membuka, dan
tampaklah Noni yang terkej ut bukan mai n. Sama sekali ti -
dak menyangka kedatangan Kugy.
Kugy mengangkat kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi, ter-
senvum seIebur mungkIn. ¨HeIo, Non! Apu kubur?¨
Noni ti dak bereaksi sama sekali . Hanya menatap Kugy
dengan tatapan ti dak mau di ganggu.
“Gua lulus si dang tadi pagi , Non. Dan Karel udah cari i n
246
gua kerja di Jakarta, gua mulai coba magang sambil nunggu
wi suda. Jadi , gua mau pami tan, sekali an pi ngi n ngobrol-
ngobrol aj a,” dengan nada secerah mungki n Kugy berceri ta.
“Hmm. Boleh masuk?” tanyanya hati -hati .
Namun, Noni bergemi ng di tempatnya. “Selamat buat
kelulusan lu. Tapi gua lagi banyak kerj aan. Sori ,” katanya
dengan nada datar.
“Ada yang bi sa gua bantu, nggak?” Kugy menawarkan
di ri .
Noni hanya menggeleng.
“Non ... sebenarnya gua pi ngi n bi cara sesuatu sama lu.
Gua pi ngi n ki ta temenan lagi kayak dulu. Gua mau mi nta
maaf atas semuanya. Selama i ni gua bi ngung mulai dari
mana ...” terbata-bata Kugy berusaha menj elaskan.
“Gy, gua hargai maksud lu,” sela Noni , “tapi buat gua,
semua itu udah jadi sejarah. Dan gua merasa lebih baik hu-
bungan ki ta kayak gi ni aj a. Jauh lebi h mudah buat gua.
Buat elu. Dan mungki n buat Eko.”
Sesuatu seperti menyodok hati nya ti ba-ti ba. Namun,
Kugy ti dak tahu pasti apa. “Kenapa gi tu, Non?”
Rahang Noni mengencang. I ngi n sekali rasanya i a mun-
tahkan semua kekesalannya selama i ni seperti berondongan
peluru. Namun, i a pun tak tahu harus memulai dari mana.
“Seumur hi dup gua temenan sama lu, gua harus mengakui
lu lebi h canti k, lebi h pi ntar, lu serba bi sa, tapi gua nggak
mau si ri k sama lu, karena gua sayang banget sama lu, Gy.
Tapi baru kali ini gua sakit hati sama lu, karena lu meman-
faatkan semua kelebihan lu untuk kepentingan lu sendiri ....”
Noni berkata dengan suara tertahan.
Kugy terlongo mendengar kali mat-kali mat i tu. Berusaha
mencerna, memahami, dan tetap belum ia temukan maksud
Noni yang sebenarnya.
“Gua tahu Eko memang simpati sama kondisi lu. Dia sa-
247
yang sama lu. Dulu ki ta semua j uga gi tu. Tapi j angan gara-
gara cuma ti nggal di a sendi ri an yang masi h nganggap lu,
terus lu merasa lebi h. Kalo lu memang punya hati , lu bakal
tahu menempatkan posi si lu di mana. Belagak temen, tapi
makan temen. Atau j adi orang asi ng, tapi nggak makan
temen. Gua sarankan lu pilih yang kedua. Karena gua nggak
punya tempat buat lu lagi , selai n posi si i tu.”
¨Non ... Iu suIuh sungku ... LoLuI!¨ Kugv sumpuI menuhun
napas saki ng kagetnya. “Gua nggak ada ni atan kayak gi tu
sama sekali ... nggak pernah ada apa-apa di antara gua dan
Eko selai n temenan doang ....”
“Oke. Gua mau mengaku satu hal sama lu,” potong Noni
tajam, “tadi siang gua datang ke kampus, mau kasih suppor t
untuk lu si dang. Nah, sekarang gi li ran gua mau tanya sama
lu,” muka Noni semaki n kencang, “pernah nggak Oj os me-
nemani gua dengan seti anya bermi nggu-mi nggu? Pernah
nggak gua meluk-meluk Oj os di depan umum?”
Kugy terkesi ap. Berusaha setengah mati memahami apa
yang tengah terj adi , apa yang Noni li hat, apa yang Noni
kira. “Astaga, Non ... maksud lu kejadian tadi siang di kam-
pus? Gua tuh ... ya ampun, Non ...,” Kugy nyaris kehilangan
kata-kata, “gua sobatan sama Eko udah hampi r sepuluh ta-
hun, ki ta udah kayak kakak-adi k. Mana bi sa lu samai n hu-
bungan gua dan Eko dengan hubungan lu dan Oj os?”
“Kalo lu memperhi tungkan perasaan gua, lu nggak perlu
membela di ri kayak gi tu. Lu cuma perlu tahu di ri . Jangan
sok polos, Gy. Eko selalu punya hati buat lu. Sekarang ting-
gal gi mana elunya aj a. Masi h nganggap gua ada atau
nggak.”
Kugy menunduk lunglai , mengi ngat perj alanannya se-
tahun ke belakang, dua tahun ke belakang, ti ga tahun ke
belakang ... mendadak i a lelah luar bi asa. “I tu adalah hal
pali ng tolol yang pernah gua denger dari lu,” ucapnya
248
pelan.
Hati Noni langsung tertusuk mendengarnya. Namun, i a
berusaha tampak tegar. “Nah, sekarang lu ngerti , kan?
Kenapa gua tadi bi lang nggak ada yang perlu di ubah dari
hubungan ki ta? Lebi h bai k gi ni , deh,” cetusnya di ngi n.
Kugy pun mengangguk. “I ya, lebi h bai k gi ni .”
Pi ntu i tu pun di tutup. Kugy pun membali kkan badan.
Pulang.
Begi tu sampai di tempat kosnya, Kugy ti dak buang
waktu. Malam i tu j uga, i a berkemas-kemas. I a akan pulang
ke Jakarta secepat mungki n. Ti dak ada lagi yang menahan-
nya di si ni . Sama sekali .
Malam i tu Kugy pun memutuskan, segala kenangan dan
perkara yang hanya akan membebani hati nya, i a buang
j auh-j auh. Noni resmi menj adi satu di antaranya.
Jakar t a, Agust us 2002 ...
Kugy mematut-matut di ri di kaca. Kegi atan yang telah di -
lakukannya bolak-bali k sej ak setengah j am yang lalu. Ba-
rangkali i ni lah rekor terlama i a bercermi n. Selama i ni bah-
kan ia jarang menggunakan jasa cermin karena tidak terlalu
peduli apa yang di li hatnya di sana. Namun, hari i ni , i a me-
rasa ada yang benar-benar ti dak beres.
Ada yang salah dengan rok selutut yang di kenakannya,
dengan sepatu hak li ma senti yang menempel di kaki nya,
dengan clutch bag i tu, dengan rambutnya yang mendadak
bervolume karena di -r oll sej ak pagi tadi .
“Gua kok ancur banget, si h?” keluhnya pada Kari n, yang
merupakan penyalur semua barang yang ki ni ada di badan-
nya i tu.
“Yang ancur adalah mata lu dan wawasan busana lu se-
lama i ni , Kugy. Kalo orang mau ngantor, supaya tampak
249
menari k, enak di li hat, dan profesi onal, ya begi ni dandanan-
nvu!¨
Karel, yang baru selesai sarapan, melongok dari pi ntu.
“Gy, berangkat, yuk—” Kali matnya terhenti . Karel bengong
menatap adi k perempuannya.
“Kamu—nggak salah i nfo, kan, Gy? Kamu bakal j adi co-
py-wr i -ter ,” ej a Karel penuh penekanan, “bukan fa-shi on
e-di -tor ! Jugu bukun re-sep-sIo-nIs! Dun bukun S-P-G!¨
Kari n mendeli k sewot. “Karel, i ni namanya STYLE, oke?
Sesuatu yang bukan keahli an kamu. So ... leave i t to the
exper t, please?”
“Kari n, aku udah seri ng ke kantor adver ti si ng tempat
Kugy nanti kerj a. Bosnya aj a ngej i ns kalo ke kantor. Dan
Kugy bakal di tempatkan di bagi an kreati f. Dalam hal i ni , I
am the exper t. So, please, j angan j adi kan adi k ki ta keli nci
percobaan fashi on-mu, oke?” balas Karel tegas.
¨Iine, Ine,¨ Kari n melengos, “udah j elas, masalahnya di
si ni adalah kesenj angan selera.”
GIIIrun Kugv bersoruk gIrung. ¨Hore! JudI uku pukuI buju-
ku aj a, ya?” I a pun berlari -lari masuk kamar untuk ganti
baj u.
Tak lama Kugy kembali dari kamarnya. “Kalo gi ni gi -
mana?” i a berdi ri di ruang makan, memi nta pendapat se-
mua.
Kugy, berdi ri dengan rok panj ang hi tam yang di beli nya
untuk si dang skri psi , kemej a puti h peni nggalan penataran
P-4, j aket j i ns Karel yang nyari s menutup tubuhnya seperti
sarung HP, dan tak lupa, j am tangan Kura-kura Ni nj a-nya
yang mencuat hi ngga rasanya menggaplok mata.
Karel menelan ludah, kembali meli ri k Kari n, memi nta
pertolongan.
250
Sebelum masuk, Kugy mengamati kantor i tu sej enak. Ter-
tera tuli san besar berwarna hi j au daun di di ndi ng batu:
AdVocaDo. Segalanya masi h serba baru. Berlokasi di derah
perumahan Jakarta Selatan, gedung mungi l dua lantai i tu
sangat arti sti k dan bergaya galeri . Desai nnya serba mi ni -
mali s, tapi ada aksen warna-warna berani seperti pi ntu dan
kusen serba merah, patung-patung logam dengan lapi s alu-
minium cemerlang. Kantor itu pun dilingkungi taman tropis
bergaya Bali yang ri mbun dan asri .
I nteri ornya ti dak kalah memukau. Dari mulai pencaha-
yaan hi ngga furni tur, Kugy segera tahu bahwa selera pemi -
li knya di atas rata-rata. Dan dari terli hatnya barang-barang
seni di mana-mana, dengan mudah Kugy menyi mpulkan
bahwa pemi li k kantor i ni seorang penci nta seni yang bukan
sembarangan.
Sambi l menunggu bersama Karel di sofa depan, mata
Kugy tak henti -henti nya j elalatan ke sana kemari , menga-
gumi calon kantor barunya.
Tak lama, seseorang berj alan keluar menghampi ri me-
reku. ¨KureI! HuI!¨
Karel langsung bangkit berdiri, dan keduanya berangkulan
akrab. Kugy spontan i kut berdi ri . Kaku. I a menyadari se-
suatu. Jarang sekali ia terkesiap melihat seseorang. Namun,
kehadi ran orang i tu memang seketi ka mengubah atmosfer
ruangan. Dal am benaknya, Kugy membayangkan sosok
Remi gi us Adi tya yang j auh lebi h tua. Tapi ternyata pemi li k
biro iklan AdVocaDo ini masih sangat muda, berpenampilan
gaul dengan kemej a lengan pendek, j i ns hi tam, dengan wa-
j ah tampan dan segar seperti baru keluar dari spa.
“Remi, kenalin, ini adik gua, Kugy,” Karel menyorongkan
Kugy ke muka.
“Remi gi us,” i a berkata ramah sambi l menj abat tangan
Kugy, “panggi l aj a Remi .”
251
Karel menggeleng cepat, “No ... no, panggi l ‘Pak’ Remi .”
Remi tertawa renyah. “No, Karel. Remi . Please.”
Kugy i kut tersenyum. “Kugy,” i a memperkenalkan di ri .
“Makasih banget ya buat kesempatannya,” kata Karel lagi.
“Mudah-mudahan di a nggak malu-malui n.”
“The K fami ly? Gua percayalah,” Remi tergelak, “resume
kamu j uga sangat bagus, kok,” tambahnya pada Kugy, “dan
kamu masuk pada saat yang tepat.”
“Oh, ya?” Kugy terlongo.
“Ki ta lagi banyak banget proyek baru, medi a campai gn,
pokoknya kenyang, deh. Sudah bi sa di pasti kan kamu lang-
sung si buk,” uj ar Remi santai , “yuk, kamu bi sa mulai seka-
rang. Saya kenali n dulu sama ti m yang lai n, ya.”
Kugy bisa merasakan telapak tangannya berkeringat per-
tanda gugup. Masih terbayang jelas suasana kampus, tempat
kosnya, Sakola Ali t. Rasanya semua i tu baru kemari n i a
alami . Dan sekarang i a sudah memulai sesuatu yang sama
sekali baru. Mendadak, Kugy ingin terbang kembali ke Ban-
dung saat i tu j uga.
252
Jakar t a, Sept ember 2002 ...
Kugy tak percaya bi sa lolos dari sebulan pertamanya di
AdVocaDo. I a resmi menyandang ti tel pegawai termuda ka-
rena dialah satu-satunya yang bekerja dengan status magang
sambil menunggu ijazah. Kugy ditempatkan di satu tim yang
dikepalai seorang cr eative dir ector yang juga membawahkan
beberapa ti m lai n di AdVocaDo. Ti m yang i a tumpangi ter-
di ri dari seorang ar t di r ector bernama Si ska, dan seorang
copy wr i ter seni or bernama I man.
Lantai bawah menj adi lantai area untuk bagi an account,
sementara departemen kreatif menghuni lantai dua. Suasana
lantai bawah lebi h terti b dengan orang-orang yang berbaj u
lebi h rapi , sementara lantai dua i ngar-bi ngar, urakan, dan
lebi h berantakan. Kugy adalah bagi an dari lantai dua, me-
nempati satu pojok berpartisi, dengan sebuah meja dan satu
set komputer.
Remi benar. I a memang langsung sibuk luar biasa. Seben-
tar-sebentar ada yang nongol di balik partisinya; “Gy, tolong
29.
BUMI PUN BERPUTAR
253
di -scan ya,” sambi l menyerahkan setumpuk gambar; “Gy,
tolong fotokopi i ni semua, ya,” sambi l menyerahkan se-
tumpuk dokumen; “Gy, gambar yang udah ditandain, tolong
di gunti ngi n, ya. ki ta mau buat dummy stor yboar d,” sambi l
menyerahkan setumpuk maj alah dan gunti ng keci l. Kugy
merasa, satu-satunya pekerj aan yang belum di peri ntahkan
padanya adalah membuat kopi atau teh, dan i tu pun hanya
karena sudah ada oIIce bou dan oIIce qirl. Kadang-kadang,
Kugy merasa lebih tepat disebut senior oIIce qirl ketimbang
seorang j uni or copy wr i ter .
Jam kerj anya pun tak tentu. Sementara para oIIce bou
dan oIIce qirl sudah bi sa pulang dari pukul enam sore,
Kugy kadang harus menetap sampai pukul sebelas malam,
apalagi kalau sudah menj elang presentasi pada kli en, pada-
hal saat presentasi nya nanti i a ti dak pernah di i kutsertakan.
Begi tu sampai di rumah, Kugy pun harus menghadapi
berondongan pertanyaan dari keluarganya yang begi tu ber-
semangat dengan karier barunya. Sebentar-sebentar ada saja
yang mengusi knya untuk bertanya; “Gy, gi mana kerj aan lu?
Betah, nggak?”; “Gy, udah bi ki n i klan apa aj a, ni h?”; “De-
nger-denger bos lu ganteng, ya?”. Kugy selalu menjawab apa
adanya, bahwa selama bekerja di AdVocaDo ia semakin ahli
menggunti ng, memotong, dan cekatan memfotokopi . Dan
semua i tu kelak berguna j i ka i a memutuskan untuk bi ki n
kios fotokopi sendiri. Kadang, semua pertanyaan itu ia jawab
dengan dengkuran, menggeletak di sofa ruang tamu dan ter-
ti dur sampai pagi .
Jumat. Hari yang pali ng di tunggu oleh Kugy karena berarti
selepas hari i ni i a akan punya dua hari untuk bermalas-
malasan. Setidaknya, di akhir pekan besok, ia terbebas tugas
254
karena belum ada lagi pi tchi ng yang mendesak. Pi ki rannya
sudah melayang ke akhir hari, ke tempat tidur, bermain de-
ngan Santai , dan melalap tumpukan komi k Jepangnya yang
sudah begi tu banyak tertunda.
Namun, si ang i ni i a harus terj ebak dalam rapat i nternal,
membahas sebuah produk permen cokelat yang berencana
akan kampanye besar-besaran. Sementara Kugy tahu keter-
li batannya tak akan lebi h dari menggunti ng dan men-scan.
Sambi l mengaduk-aduk secangki r kopi nya, Kugy berusaha
memasang tampang menyi mak, padahal i a sudah mau mati
bosan.
I man berusaha keras meyakinkan Remi atas usulan kon-
sepnya, “Tapi teks i ni catchy banget, Bos. Memang banyak
yang terpaksa di persi ngkat, supaya ada ruang buat vi sual.
Tapi pesannya kan tetap j elas.”
Remi berpi ki r, “I ya, si h. Tapi ... kenapa, ya? Saya kok
merasa belum ... kena. Udah banyak i klan produk sej eni s
yang pakai angle sama.”
“Kalo konsep tim kita sih lebih condong ke narasi, supaya
mengukomodusI muunvu kIIen vung kepIngIn hLur produknvu
bi sa maksi mal keluar. Tammi es Bar—cokelat Swi ss, r eal
car amel, cr i spy wafer , hazelnut cr ème, bla-bla-bla ... ki ta
push aj a semua keterangan i tu,” usul Fani , dari ti m lai n.
Remi menggeleng. “Basi , ah. Dan kayaknya nggak cocok
buuL prohI segmen vung mereku Lembuk.¨
“I ya, tapi , kan mau kli ennya gi tu. Di a pi ngi n kuali tas
cokelatnya tersampaikan, karamelnyalah, wafernya, rasanya,
gumbur kemusunnvu. KuIo bukun nurusI uLuu Leks gruhs, upu
lagi ?” desak I man.
Gi na, account di r ector , berdehem, “Teman-teman, tanpa
bermaksud bi ki n kali an tambah stres, tapi sebenarnya i ya,
saya cuma mau ngi ngeti n kalo mereka memang sengaj a
pi tchi ng dengan produk yang susah. Tapi , begi tu yang satu
255
i ni gol, semua produk mereka bakal lari ke ki ta. Tahun i ni
produsennya mau launchi ng empat produk di I ndonesi a.
Tammi es Bar cuma kasus uj i coba doang. Tapi sekali gus
yang pali ng menentukan.”
“Jadi , ki ta maj u pakai yang mana, ni h? Ti m saya, I man,
atau Fani ?” tanya Tasya, ti m terakhi r yang j uga presentasi -
nya di tolak mentah-mentah oleh Remi .
Remi menghela napas. “Sor r y, guys. Saya masi h belum
puas.”
Muka-muka protes langsung bermunculan. Kerj a keras
mereka beberapa hari bi sa j adi percuma, bahkan harus
mengulang lagi dari awal. Remi menebarkan pandangan,
tatapan-tatapan geli sah yang menunggu keputusannya. Ke-
cuali yang satu i tu. Mata Remi tertumbuk pada Kugy yang
tampak mengaduk-aduk kopi di uj ung mej a sana, dengan
satu si ku menopang dagunya yang sudah mau roboh, dan
kelopak setengah menggantung pertanda ngantuk nyari s
pi ngsan.
“Saya pi ngi n tahu pendapat yang belum bi cara. Kugy,
menurut kamu gi mana?”
Mendengar namanya disebut, seketika kantuknya melesat
kabur. Kugy terduduk tegak. “Kenapa ... pendapat? Tentang
apa, ya?”
Yang lai n langsung ceki ki kan meli hat pemandangan ko-
mi kal i tu. Antara Kugy yang bagai kan muri d tertangkap ba-
sah ti dur di kelas, dengan Remi yang bagai kan guru ki ller
si ap menghukum.
“I klan Tammi es Bar. Apa pendapat kamu?” Remi meng-
ulang. Suara i tu menaj am.
¨Oh! MusIh ngomongIn vung LudI?¨ suhuL Kugv poIos.
Cekakak-cekikik di ruang itu makin menjadi. Benar-benar
hi buran, pi ki r mereka semua.
“Menurut kamu ... dari keti ga konsep tadi ... mana ...
256
yang ... paling mengena?” Remi sengaja melambatkan tempo
bi caranya, seolah menj elaskan pada anak keci l.
Kugy diam sejenak, memeras otaknya agar memutar balik
memori tentang rapat yang sudah berlangsung sej ak sej am
yang lalu i tu, yang mudah-mudahan masi h tersi mpan di
kepalanya. “Mmm ... saya nggak suka tiga-tiganya,” akhirnya
i a berkata.
Suara ketawa-ketiwi sontak lenyap. Muka-muka jahil tadi
berubah seri us dalam sekej ap.
“Oke. Alasan kamu?” tanya Remi penasaran.
“Menurut saya, ti ga-ti ganya standar.”
Suasana yang sudah heni ng tadi sekarang beku. Tatapan
taj am menghunj am Kugy dari ki ri -kanan.
Kali i ni kantuknya benar-benar si rna, dan Kugy mulai
sadar apa yang barusan i a utarakan, plus konsekuensi nya.
Tapi sudah kepalang basah untuk mundur. Terpaksa i a me-
lanj utkan, “Ti ga konsep tadi memang padat i nfo, tapi cere-
wet. Secara vi sual, ti ga-ti ganya memenuhi syarat tapi nggak
nendang. Kalau saya j adi penonton, saya nggak kepi ngi n
beli , tuh. Bi asa-bi asa aj a soalnya. Nggak bi ki n ngi ler. Ki ta
harus membuat Tammies Bar ini bikin orang penasaran dan
kepi ngi n coba.”
I man tidak tahan lagi, “Teori sih gampang. Tapi realisasi
konsepnya gi mana?” cetusnya dengan nada ti nggi .
Kugy terdi am. Sumpah, aku j uga nggak tahu, balasnya
dalam hati . Namun, semua orang di ruangan i tu sudah me-
nanti j awabannya seperti si nga-si nga kelaparan. Terlalu ga-
nas dan buas untuk diberi jawaban ‘‘tidak tahu’’. Dan akhir-
nya, Kugy memilih untuk menceletukkan apa pun yang lewat
di pi ki rannya pertama kali .
“Gi ni ... bayangkan: ti ba-ti ba muncul backgr ound hi tam,
sunyi, tanpa musik, tanpa suara, seperti teve kita mendadak
mati, tapi tidak ... muncullah selapis wafer, lalu mengalirlah
257
hazelnut cr ème, lalu selapi s wafer lagi , lalu melelehlah ca-
r amel, lalu mencairlah lapisan cokelat, menutupi semuanya,
lalu berjatuhanlah butiran r i ce cr i spy, lalu cokelat itu mem-
beku. Dengan efek bunyi yang dramati s. Seperti waktu
I ceman mau membekukan satu Gotham Ci ty. Terakhi r, co-
kelat i tu terbungkus. Tammi es Bar. Dan muncul satu ka-
li mat: Kelezatan Tanpa Banyak Kata.”
Ruangan itu tetap sunyi. Namun, sunyi yang kali ini lain.
Semuanya hanyut bersama vi suali sasi i de Kugy dalam pi -
ki ran mereka masi ng-masi ng.
“Tagli ne-nya oke,” Fani berkata li ri h. Mukanya masi h ti -
dak rela, tapi i a sungguhan suka.
“Nggak standar,” Tasya mengakui . “Saya suka efek teve
mendadak mati itu,” lanjutnya lagi, “dan efek I ceman tadi—
whatever i t i s. But i t’s memor able.”
“Jujur, gua kayaknya jadi pingin beli, tuh. Ngebayanginnya
aja ngiler,” celetuk Siska. “Pe-er berat memang jadi di visual,
tapi gua optimis bisa banget dikejar.”
Gina terkekeh, “Ekonomis pula. Nggak usah pakai ji ngle,
over dub, dan sebagai nya.”
I man meli ri k ke arah Remi . Di i kuti oleh semua mata.
Ti nggal di a yang belum bersuara.
Remi menepukkan tangannya ke mej a, “Si p. Done, deal.
Tammies Bar, Kelezatan Tanpa Banyak Kata, efek dan visual
persi s dengan apa yang di deskri psi kan Kugy. Langsung j a-
lan, ya? Khusus untuk pi tchi ng i ni , saya mau Kugy j adi
pr oj ect leader . Si ap-si ap presentasi , ya, Gy. Good luck,”
Remi pun berdi ri , menatap Kugy hangat dan menepuk ri -
ngan bahunya, “… and good j ob.”
Kugy merasa darahnya mendadak hangat. Dan kete-
gangan yang tadi mengunci tubuhnya berangsur mencai r.
Mukanya berangsur berseri . Kugy sadar, barangkali i ni lah
258
akhir kariernya menjadi petugas prakarya AdVocaDo, sekali-
gus hari pertamanya sungguhan “bekerj a”.
Lena langsung melesat ke rumah saki t begi tu i a mendapat
kabar dari kantor suami nya. Setengah berlari , kaki nya me-
langkah terburu-buru di kori dor, mencari kamar tempat
Adri di observasi . Tak lama, Jeroen pun datang menyusul,
masi h dengan seragam sekolah.
Di kamar i tu, suami nya terbari ng dalam posi si setengah
duduk. Waj ahnya pucat. Namun, tampak j elas i a berusaha
keli hatan bai k-bai k saj a.
“Hai, Lena ... Jeroen ...” sambutnya dengan senyum yang
di paksakan muncul.
“Papa kenapa? Saki t apa?” tanya Jeroen pani k.
“Nggak pa-pa ... cuma str oke ri ngan. Ni h ... tangan yang
kanan tahu-tahu aj a nggak bi sa gerak. Tapi sebentar j uga
normal lagi kok. I ni udah mulai bisa gerakin jari dikit-dikit,”
j awab Adri , berusaha menenangkan anaknya.
“Str oke i tu kenapa si h, Ma?” Jeroen ganti an bertanya
pada i bunya.
“Macam-macam, Sayang. Bi sa karena terlalu capek, atau
stres, atau ....” Lena bahkan tak sanggup menyelesai kan ka-
li matnya karena masi h terengah dan shock, meski i a j uga
berusaha tampak tenang, kekhawatiran mendalam yang ter-
pancar di mukanya tak bi sa di sembunyi kan.
Adri bisa melihat itu. “Aku nggak pa-pa. Betul. Fisioterapi
beberapa mi nggu aj a pasti udah bi sa normal lagi ,” ucapnya
lagi sambil mengelus lengan istrinya dengan sebelah tangan.
“Semuanya akan normal lagi ....” I a mengulang, lebih seperti
untuk menenangkan di ri nya sendi ri .
Lena termenung. Baginya, ini lebih dari sekadar masalah
259
hsIoLerupI. ¡u IebIh mengkhuwuLIrkun upu vung Luk Lerucup,
apa yang tersembunyi kan, dan apa yang masi h akan terus
membayangi keluarga mereka dari hari ke hari .
Ubud, Sept ember 2002 ...
Sedari tadi tangannya sudah menggenggam kuas blok.
Kanvas putih sudah siap di hadapannya. Namun, tak sesapu
pun warna tergores di sana. Tangannya seperti lumpuh.
Sej ak i a kembali meluki s lagi dua tahun lalu, baru kali i ni
Keenan merasa buntu. Perasaan i tu sungguh asi ng. Bahkan
menakutkan.
Keenan dapat merasakan energi kegeli sahan yang ber-
gerak menyusupi tubuhnya. Lambat laun, ki an merasuk.
Keenan mulai resah. Langi t sore yang cerah pun tak ada
makna baginya hari ini. Ada yang salah. Namun, rasanya tak
bi sa menunj uk apa-apa, si apa-si apa.
Tampak Banyu berj alan melewati bale. Keenan langsung
memunggIInvu, ¨Bunvu! ¡uhde ke munu, vu?¨
“Dia tadi pergi ke pura kota. Sebentar lagi pulang,” jawab
Banyu sambi l terus melenggang.
Barangkali karena belum ada Luhde, pikir Keenan. Biasa-
nya jika dia ada di sini, semuanya baik-baik saja. Akhirnya
i a memutuskan untuk berbari ng, dan menunggu. Namun,
badannya bolak-balik terus seperti kepanasan. Keresahan itu
makin tidak tertahankan. Keenan hanya menunggu, dan me-
nunggu ....
“Keenan ... kamu cari saya, ya?” Suara Luhde muncul
dari belakang.
Serta-merta Keenan bangki t, mukanya lega bukan mai n.
“De, kamu kok lama banget si h pergi nya?” uj ar Keenan se-
raya menari k tangan Luhde.
260
Luhde terkej ut dengan sambutan ekstra hangat i tu.
“Keenan sudah menunggu dari tadi? Maaf, ya. Mmm ... me-
mangnya ki ta j anj i an?”
Keenan tertawa lepas. “Nggak, ki ta memang nggak j an-
j i an. Tapi hari i ni rasanya aneh. Seperti ada yang kurang.
Dan nggak tahu kenapa, saya merasa kehi langan kamu.
Aneh rasanya kamu nggak ada menemani saya di si ni .”
Luhde menelan ludah. Tak pernah membayangkan kata-
kata itu akan terlontar dari mulut Keenan. Belum usai kaget-
nya, i a di kej utkan lagi dengan Keenan yang tahu-tahu me-
rebahkan kepala di pangkuannya.
“Damai sekali rasanya kalau sudah begi ni ...” gumam
Keenan. Matanya memej am.
Tubuh Luhde menegang. Namun, di bi arkannya Keenan
yang tampak begi tu ri leks beralaskan si mpuhan kaki nya.
Pelan-pelan, Luhde berusaha membi asakan di ri nya dengan
kondi si i tu, pemandangan i tu.
“De, kok saya nggak bi sa meluki s hari i ni , ya?” Ti ba-ti ba
Keenan bersuara. “Hati saya hampa, kepala saya kosong.
Nggak ada yang mengali r keluar seperti bi asanya.”
“Waj ar kalau Keenan j enuh. Sudah berbulan-bulan ham-
pi r ti dak pernah berhenti berkarya,” ucap Luhde.
“Mungkin saya jenuh, ya?” sahut Keenan, “tapi ... gimana
kalau ternyata bukan sekadar jenuh? Mungkin nggak saya—”
Dan Keenan rasanya tidak bisa meneruskan ucapannya.
“Kadang-kadang langi t bi sa keli hatan seperti lembar hi -
tam yang kosong. Padahal sebenarnya ti dak. Bi ntang kamu
tetap ada di sana. Bumi hanya sedang berputar,” Luhde me-
lanj utkan dengan lembut.
Keenan mengembuskan napas panj ang, berharap bahwa
memang benar demikian. Digenggamnya tangan Luhde, lalu
di letakkan di atas dadanya. “Nggak tahu apa j adi nya kalau
nggak ada kamu,” bi si knya.
261
Mereka berdua kembali ke dalam keheni ngan. Namun,
sepotong bisikan itu terasa bergaung memenuhi seluruh pe-
losok ruang bati n Luhde. Belum pernah i a mendengar
Keenan mengutarakan perasaannya segamblang i tu, sej elas
i tu. Belum pernah Luhde merasa sebahagi a i ni . Perlahan,
satu tangannya bergerak, menelusuri rambut Keenan. Mem-
belai nya dengan penuh perasaan. Luhde berharap, dalam
setiap gerakan jemarinya, Keenan dapat merasakan apa yang
i a rasakan.
262
Jakar t a, Sept ember 2002 ...
Begi tu kaki nya melangkah ke lobi kantor, Kugy langsung
mendapat pesan untuk menemui Remi di ruangannya. Kugy
meli ri k j am. Aki bat persi apan presentasi Tammi es Bar, su-
dah empat hari terakhi r i a masuk kantor di atas pukul se-
belas siang. Setiap malam ia harus bekerja sampai larut, dan
Kugy benar-benar ti dak sanggup membuka mata sebelum
pukul delapan pagi. Kugy tidak heran kalau hari ini ia bakal
dapat teguran.
“Si ang, Kugy. Si lakan masuk,” Remi menyambutnya de-
ngan ceri a. Di dalam ruangan i tu ternyata j uga sudah ada
Gi na, account di r ector .
“Sori , ya. Saya agak telat. Kemari n, sesudah presentasi ,
badan saya rasanya capek banget. Jadi , di rumah saya se-
ngaj a ti dur terus, takut saki t,” j elas Kugy polos.
“Oh, ya. Kamu memang harus jaga kesehatan, Gy. Bener-
bener j angan sampai saki t. Soalnya ...,” Gi na tersenyum
si mpul, i a meli ri k Remi .
30.
AGEN NON-AQUARIUS
263
“Tammi es Bar gol. Kli en ki ta suka banget sama konsep
kamu. Mereka mau launch kampanye besar-besaran,” Remi
melanj utkan.
“Mereka j uga kepi ngi n j alan dengan ki ta untuk semua
produk barunya. Tapi ...” Gina berdehem, “mereka kepingin
i de yang secemerlang Tammi es Bar, konsep yang out of the
box, fr esh, j adi ....”
Remi langsung menyambar, “Ki ta mau kamu yang j adi
pr oj ect leader untuk produk-produk mereka.”
Kugy ternganga. “Saya? Tapi ... kok ... kenapa saya?”
“Karena, saya pi ki r kamu punya syarat i tu semua. I de
kamu fr esh, out of the box, dan j ustru karena kamu anak
baru, kamu belum banyak di storsi i ni -i tu. Kamu punya ka-
rakter yang pas untuk spi ri t kli en i ni . Dan j arang-j arang
j uga ki ta punya kli en yang memi li h untuk nggak ‘mai n
aman’. Jadi , saya pi ki r, si nergi mereka dan kamu bakal co-
cok banget,” papar Remi lugas.
“Tapi ... saya belum pengalaman ... presentasi aj a baru
i kutan sekali ....”
“Kan kamu punya ti m, dar li ng? Ya, mereka pasti bantu
kamulah,” uj ar Gi na sambi l tertawa ri ngan.
Kugy berusaha mencerna ucapan yang barusan ia dengar.
Di a—punya ti m? Dari tukang fotokopi , ti ba-ti ba sekarang
di a punya ti m sendi ri ? Dalam hati nya, i a sudah i ngi n me-
lorot ke lantai , terpi ngkal-pi ngkal. Walaupun i a tahu Remi
dan Gi na ti dak mai n-mai n, semua i ni terlalu lucu bagi nya.
Namun, i a berusaha setengah mati menunj ukkan muka se-
ri us.
“Oke,” Kugy menghela napas, bi ngung mau berkomentar
apa, “j adi —”
“Jadi , kalau ki ta meeti ng lagi , kamu punya kerj aan lai n
selai n ngelamun dan nahan ngantuk,” cetus Remi di barengi
senyum keci l.
264
“Congr ats, vuuu!¨ GInu menumbuhkun.
Tak lama, Kugy keluar dari ruangan i tu. Kembali ke po-
j ok keci lnya. Cekakak-ceki ki k sendi ri an sepuasnya di sana.
Sudah setengah jam Kugy menunggu taksinya yang tak kun-
j ung datang. I ni lah ri si ko j i ka pulang pada waktu standar
orang-orang bubaran kantor, yakni kompeti si kendaraan
umum yang sangat ketat. Namun, Kugy terlalu lelah untuk
mencoba alternati f lai n selai n taksi . I a hanya i ngi n duduk
tenang di jok belakang, bahkan kalau mungkin tertidur, dan
tahu-tahu sudah sampai di rumah.
“Katanya mau pulang cepat.”
Kugy menoleh ke sampi ng. Remi tengah berdi ri di si si -
nya. Berpakai an lebi h rapi dari bi asa.
“Taksi saya belum datang-datang,” jawab Kugy, “mau ada
acara lagi , ya? Rabu gaul?” Kugy terkekeh.
“Tadinya memang mau ada appointment. Tapi dibatalkan.
Kamu mau pulang, ya? Saya antar sekali an, yuk? Taksi nya
di -cancel aj a.” Dan sebelum Kugy sempat membuka mulut,
Remi sudah keburu berbicara pada Anita, resepsionis kantor,
untuk membatalkan pesanan taksi Kugy. Dan sebelum Kugy
merancang basa-basi untuk merespons aj akan tersebut,
Remi sudah keburu berkata, “Tunggu di sini, ya. Saya ambil
mobil.” Sebentar kemudian, dia sudah menghilang. Kembali
lagi bersama mobi lnya di pelataran lobi , pi ntu depan yang
sudah di bukakan, t i nggal menunggu Kugy mel angkah
masuk.
Kugy memasuki mobi l Remi dengan sedi ki t canggung.
Walaupun Remi senanti asa bersi kap ri leks kepada para ba-
wahannya, Kugy tetap sungkan j i ka harus di antar pulang
265
oleh bosnya sendi ri . Namun, Remi tampak datar dan bi asa-
bi asa saj a. Kugylah yang akhi rnya memutuskan untuk me-
redam kecanggungannya sendi ri .
Mobi l i tu bersi h sekali . Wangi j ok kuli t meruap ber-
campur pengharum mobi l. Alunan musi k berkumandang
sayup. Dan, mendadak telinga Kugy siaga. “Dead Or Alive?”
tanyanya langsung. Mulutnya pun langsung i kut bernyanyi ,
“You spi n me r i ght r ound ... baby, r i ght r ound, li ke a
r ecor d, baby, r i ght r ound, r ound r ound ....”
“Kok—kamu tahu grup ini? Suka New Wave juga?” tanya
Remi, takjub. “Memang dulu kamu udah lahir waktu zaman-
nya lagu i ni ?”
“Ya udahlah,” Kugy tergelak. “Tapi orang-orang bi lang
saya memang kelainan. I ni tuh musik yang saya dengar dari
keci l, dan selera musi k saya, nggak tahu kenapa, dari dulu
nggak berubah-rubah sampai sekarang. Saya kayak stuck di
musi k ’80. Nggak bi sa dengar yang lai n,” Kugy menj elas-
kan.
“I ya. I tu unik,” Remi pun manggut-manggut setuju, “tapi
saya nggak terlalu kaget. Karel sudah bilang kalau kamu me-
mang uni k.”
“Dalam kasus saya, kata ‘uni k’ i tu seri ngnya merupakan
ungkapan halus dari kata ‘aneh’.”
“Bagi saya, hi dup terlalu si ngkat untuk di lewatkan de-
ngan bi asa-bi asa saj a. Saya orang yang sangat apresi ati f
terhadap segala sesuatu yang uni k, aneh, dan nggak bi asa,”
Remi berkata tenang, “mungki n karena i tu j uga saya mau
teri ma kamu kerja di AdVocaDo. I ntui si saya bi sa membaui
‘keanehan’. Dan ternyata betul, saya nggak salah pi li h.”
Senyum Kugy melebar tanpa bi sa i a tahan. “Remi , ma-
kasi h ya untuk kesempatannya j adi pr oj ect leader . Saya sa-
dar banget, modal saya sebetulnya cuma beruntung—”
Remi langsung menggeleng. “Kalau kamu menang lotere,
i tu baru namanya cuma modal beruntung. Tapi kamu lai n,
266
kamu memang punya bakat alam. Kamu hanya ti nggal j adi
di ri kamu sendi ri , dan j adi lah kamu di posi si kamu yang
sekarang. Yang orang-orang seperti kamu butuhkan sebenar-
nya cuma kesempatan.”
Kugy cuma bi sa manggut-manggut pelan tanpa suara.
Terlalu salah tingkah untuk berkata apa-apa. Kugy melempar
pandangannya ke j endela sebagai di straksi , mengamati lalu
li ntas yang padat dan nyari s ti dak bergerak pada j am bu-
baran kantor i ni .
“Kamu buru-buru banget harus pulang?” Remi bertanya.
“Memangnya kenapa?”
“Macetnya parah, ni h. Mendi ngan ki ta tunggu sampai
agak lengang baru j alan lagi . Keberatan, nggak?”
“Nggak …,” Kugy menggeleng pelan.
Remi menunj uk sebuah kafe yang terletak di tepi j alan,
hanya seratus meter dari posisi mobil mereka. “Kita mampir
ke sana dulu aj a, yuk? Kopi nya lumayan enak.”
“Oke,” Kugy mengangkat bahu ringan. Namun, dalam hati-
nya ia tercengang-cengang sendiri. Hari yang aneh, pikirnya.
Tak hanya i a ti ba-ti ba nai k pangkat drasti s, i a j uga di antar
pulang dan di aj ak nongkrong oleh bos nomor satunya. Tak
sabar rasanya i ngi n menuli s surat laporan untuk Neptunus.
Selepas dua cangki r cappucci no, dua porsi es kri m, dan se-
piring besar kentang goreng, mereka tak ubahnya dua teman
sebaya yang berbincang asyik tanpa jarak dan hierarki. Kugy
lupa perbedaan umur mereka yang terpaut delapan tahun,
dan kasta pangkat mereka yang bagai kan bumi dan langi t—
yang satu anak magang lulus kemari n sore, yang satunya
lagi pemi li k perusahaan.
Kugy berceri ta dari mulai masa keci lnya hi ngga ter-
267
dampar di AdVocaDo karena kesenangannya berurusan de-
ngan kata-kata. Seperti bi asa, i a berceri ta dengan gaya pen-
dongengnya yang bersemangat dan berapi-api. Remi bereaksi
dari mulai mendengarkan serius, melongo, tersenyum, sam-
pai terpi ngkal-pi ngkal.
“Mulai menyesal kan merekrut aku j adi pegawai ?” Kugy
bertanya kocak sambi l berkacak pi nggang. I a sudah benar-
benar nyaman menj adi di ri nya sendi ri di hadapan Remi .
“Sebagai pegawai, saya tetap merasa kamu salah satu aset
pali ng menj anj i kan yang pernah saya temukan. Sebagai te-
man, i ya, kayaknya saya mulai menyesal ...,” Remi terkekeh
geli , “tapi saya j uga mau dong j adi agen rahasi a Neptunus
....”
“Zodi ak kamu apa?”
“Li bra.”
Kugy menggeleng dengan tampang seri us, “Susah. Salah
satu syarat dasar j adi agen Neptunus adalah berzodi ak
Aquari us. Kalau Li bra, j adi agen apa ya cocoknya?”
“Agen BULOG ... kerj anya ni mbang beras.”
“Boleh. Karena agen Neptunus j uga butuh makan nasi ,
toh? Apalagi aku. Jadi ki ta asas sali ng membutuhkan aj a.”
“Kayaknya nggak i mbang, Gy. Saya kasi h kamu nasi ,
kamu kasi h saya apa? Ai r laut?”
“Seafood,” jawab Kugy mantap, “buat teman makan nasi.
Gi mana? Keren nggak, tuh?”
“Oke. Besok malam, ya? Kita di nner di restoran seafood.
Ada yang enak banget di Radi o Dalam. Ki ta j alan j am 6-an
aj a dari kantor.”
Kugy merasa kej adi an di lobi tadi berulang. Ji ka di -
ibaratkan permainan silat, tanpa ia sempat mengambil kuda-
kuda, dengan si gap dan li hai Remi sudah memasukkan se-
rangan berkali -kali . Dan Kugy kalah telak. Tak sempat
268
bersi ap dan tak sanggup melawan. Perlahan, kepalanya
mengangguk. Meneri ma aj akan Remi .
Bandung, Sept ember 2002 ...
“Permi si ... Mbak Noni ?”
Noni yang sedang menyapu kamarnya langsung menyan-
darkan sapunya ke di ndi ng dan menghampi ri pi ntu. Maha-
siswa angkatan baru bernama Ellen yang sekarang menghuni
kamar sebelahnya sedang berdi ri sambi l memegang sesuatu
di tangannya.
“I ya, Ellen. Kenapa?”
“Mbak, tadi aku baru beres-beres lemari . Terus ada satu
dus yang keti nggal an. I si nya cuma kertas-kertas sama
barang-barang bekas gi tu. Tadi nya mau kubuang, tapi un-
tungnya aku sempat periksa lagi. Aku menemukan ini, Mbak
...” Ellen menyerahkan benda yang di pegangnya. Kotak
persegi panj ang berlapi s kertas kado warna bi ru polos.
Noni menyambutnya dengan keni ng berkerut. Benda i tu
cukup tebal dan berat. Bentuknya mi ri p buku atau album
foto.
“Yang dulu ti nggal di kamar i ni kan temannya Mbak
Noni , ya? Mungki n i tu punya di a, Mbak,” kata Ellen lagi .
“Saya belum pernah li hat barang i ni sebelumnya, si h,”
Noni mengangkat bahu, “tapi nggak pa-pa, saya simpan saja.
Nanti kalau ketemu orangnya akan saya tanyakan. Makasi h
ya, Ellen.”
Sepeni nggal tetangga barunya, Noni meni mang-ni mang
benda i tu di pangkuannya sambi l merenung. Sudah pasti
barang i ni mi li k Kugy, pi ki rnya. Dan Noni merasa keti ban
sial karena mau tak mau menjadi orang yang harus ketitipan
barang Kugy yang keti nggalan.
269
Seli ntas tebersi t kei ngi nan untuk membuka bungkusan
itu, tapi Noni ragu. Akhirnya ia membuka laci meja belajar-
nya, menyi mpan benda i tu di sana. Nggak usah di pi ki r i n.
Noni pun kembali menyambar sapu yang tersandar di di n-
di ng.
Jakar t a, Sept ember 2002 ...
Kugy menghi tungi cangkang udang di kedua pi ri ng mereka.
“Kamu kalah dua,” katanya pada Remi .
“Tapi di klasemen kerang rebus, kamu kalah ti ga,” balas
Remi yang sedari tadi menghi tungi cangkang kerang.
“Kalo i tu bukan salahku, tapi keti mpangan porsi dari
restoran i ni . Kalo di pi ri ngku ada ekstra sepuluh kerang,
pasti semuanya j uga kumakan, tauk,” protes Kugy.
¨¡Lu numunvu nusIb!¨ RemI nvengIr. ¨JudI, mukun suvu
udah cukup banyak buat j adi agen Neptunus, nggak?”
“Sebentar, sebentar,” Kugy berpikir. “Dalam primbon per-
aturan agen, andai kan agen non-Aquari us i ngi n bergabung,
maka syarat-syaratnya adalah: pertama, harus j ago makan
seafood ....”
“Yang i tu udah lolos, dong,” sela Remi .
Kugy memandangi lagi pi ri ng-pi ri ng kosong hasi l per-
j uangan mereka sej am terakhi r. “Oke, boleh, deh. Syarat
pertama lolos. Kedua, harus bi sa bi ki n perahu kertas ....”
“Si ni , saya bukti kan,” kata Remi seraya menyambar se-
Iembur pumßeL menu vung LergeIeLuk sebuguI uIus mukun dI
atas mej a. Dengan cekatan, i a meli pat-li pat kertas i tu, dan
tak lama kemudi an j adi lah sebuah perahu.
¨Wuh! HebuL!¨ Kugv berLepuk Lungun. ¨SvuruL keduu Io-
Ios!¨
Remi menggosokkan kedua telapak tangannya dengan
mata berbinar, “Saya mulai optimis, nih. Apa syarat berikut-
nya?”
270
Kugy berpi ki r lagi , dan berpi ki r. Terakhi r, i a tersenyum
lebar-lebar. “Belum di susun sampai syarat keti ga ... hehe,
menyusul, ya.”
¨HRD-nvu puvuh!¨ omeI RemI bercundu, ¨PuduhuI uduh
semunguL, nIh!¨
“Secepatnya saya bawa peri hal persyaratan i ni ke forum
departemen HRD Kerajaan Bawah Laut. Nanti dikabari lagi,
ya, Mas. Sabar ... sabar,” uj ar Kugy sok seri us.
Mendadak, ruangan i tu j adi temaram. Beberapa lampu
di mati kan. Keduanya pun tersadar, restoran i tu sudah mau
tutup. Para pelayan sudah berdi ri memandangi mereka de-
ngan senyum di paksakan. Sopan, sekali gus i ngi n mengusi r.
Sambi l menahan tawa geli , keduanya beranj ak dari sana.
Kugy ti ba di rumahnya pukul sebelas lebi h.
“Salam untuk Karel, ya,” kata Remi sebelum Kugy keluar
dari mobi l.
“Nanti aku sampai kan,” Kugy mengangguk, “makasi h ya
makan malamnya.” Pi ntu pun membuka, dan setengah kaki
Kugy sudah melangkah keluar.
Ti ba-ti ba Remi menahannya, “Gy, bentar. Ti ti p i ni , ya,”
katanya sambil menyerahkan perahu kertas yang tadi ia lipat
di restoran.
“I ni buat apa?” tanya Kugy heran.
“Buat kamu hanyutkan besok. Saya i ngi n ki ri m pesan
buat Neptunus,” Remi menj awab halus, di i kuti sorot mata
yang menghangat.
Kugy tertegun meli hat gradasi perubahan i tu. “Mmm ...
pesan? Well, berarti kamu harus nulis sesuatu di kertas ini,”
sahutnya cepat. Kugy menyadari di ri nya mulai gugup.
“No pr oblem, si ni , saya tuli s dulu,” uj ar Remi santai . I a
menyalakan lampu, mengambi l pulpen dari tasnya, mem-
buka li patan kertas, menuli s sebentar di atas dashboar d,
melipat ulang perahu itu dan memberikannya kepada Kugy.
271
“Dan karena kamu kuri rnya, kamu boleh baca i si pesan
saya, kok,” tambah Remi lagi . Dan sorot mata i tu, entah
kenapa, ki an membuat Kugy gugup.
“Sebetulnya di larang melakukan surat-menyurat sampai
lamaran kerja positif dikabulkan, tapi ... aku coba, ya. Cuma
nggak j anj i lhooo ...” Kugy tertawa, si ap menutup pi ntu.
“I t’s okay,” Remy mengangkat bahu, “namanya j uga
usaha. Bye, Gy. Sampai besok.”
“Bye!” Kugy melambaikan tangan. Memandangi mobil itu
melaj u hi ngga hi lang di ti kungan j alan. Tanpa menunggu
lebi h lama, di bukanya li patan-li patan perahu kertas i tu,
membaca tulisan Remi yang tertera di bagian belakang pam-
ßeL resLorun, dIperbunLukun penerungun Iumpu juIun:
Makasih sudah mengir imkan agen Kugy ke kantor saya,
dan membuat malam i ni menjadi malam yang sangat me-
nyenangkan. Saya nggak kepi ngi n-kepi ngi n amat kok j adi
agen, saya lebi h kepi ngi n di temani makan lagi sama agen
kamu yang satu i tu. Mudah-mudahan di a mau.
Kugy pun mematung bersama selembar kertas di tangan-
nya. Di hati nya terasa ada kebi ngungan, kegugupan, dan
j uga ... rasa senang. Kugy tak bi sa menentukan mana yang
lebih dominan. Ketiganya bercampur jadi satu. Entah nama-
nya apa. Kugy merasa satu-satunya penawar yang jitu adalah
... ti dur.
272
Jakar t a, Okt ober 2002 ...
Untuk pertama kali nya Kugy i kut acara gather i ng bi ro-bi ro
periklanan. Sebagai anak baru dan anak bawang, inilah ma-
lam pertamanya bergaul dan beri nteraksi dengan sesama
pekerj a peri klanan, meli hat langsung tokoh-tokoh yang se-
lama i ni hanya i a kenal namanya saj a, dan berkenalan de-
ngan orang-orang dari berbagai kantor, dari mulai yang se-
ni or sampai sesama anak bawang.
Acara yang berlangsung di sebuah wi ne lounge i tu di -
hadi ri hampi r seratus orang. Sedari tadi penganan yang di -
suguhkan adalah gelas-gelas berisi anggur merah dan putih,
serta makanan-makanan ri ngan berukuran mungi l yang di -
edarkan di atas baki .
Perut Kugy yang belum di i si nasi mulai menunj ukkan
reaksi pemberontakan.
“I man ... di si ni nggak bi sa pesan nasi , ya?” bi si knya
pada I man.
I man kontan tertawa. “I ni wi ne lounge, Neng. Dan kalo
31.
ARISAN TOILET
273
udah jam segini kayaknya mereka udah nggak menyediakan
makan besar. Kecuali kalo lu keluar dan cari nasi goreng di
pi nggi r j alan.”
“Oke, deh. Thanks i nfonya,” j awab Kugy masam. I a me-
nebar pandangan. Semua orang kelihatannya tidak ada yang
bermuka kelaparan seperti di ri nya. Entah karena mereka
lebih berpengalaman sehingga sudah mengantisipasi dengan
makan malam duluan, atau pergaulan dan wi ne kadang-
kadang bi sa mengenyangkan perut. Yang j elas, ti dak bagi -
nya.
Matanya lantas tertumbuk pada Remi . Manusi a satu i tu
seperti madu yang dikerubungi para lebah. Yang melingkari-
nya semua perempuan. Tampak jelas mereka berusaha sekali
mencuri perhati an Remi dengan mengobrol, atau melucu,
atau apa pun, hanya sekadar supaya Remi mengali hkan se-
bentar tatapannya dan meladeni barang satu atau dua kali -
mat. Mereka yang baru bergabung berkesempatan untuk
sejenak menyerobot, cium pipi kiri-kanan, sambil melingkar-
kan tangan mereka sej enak di pi nggang Remi . Namun, se-
sudah satu ‘‘ti ket sosi al’’ i tu berlalu, mereka kembali harus
menunggu giliran. Kugy menontoni itu semua sampai akhir-
nya tersenyum geli .
Entah apa yang mengarahkan tatapan Remi , ti ba-ti ba
saja matanya menemukan Kugy yang tengah mengamatinya.
Buru-buru, Kugy membuang muka. Jantungnya seperti men-
ci ut mendadak. Malu-malui n, pi ki rnya. Dan Kugy tambah
geli sah keti ka menyadari bahwa Remi keluar dari li ngkaran
lebahnya, berj alan menuj u tempat i a berdi ri .
“Kok sendi ri an, Gy? Nggak mi ngle?” tanya Remi yang
sekarang sudah berdi ri di sampi ngnya.
“Lagi cari makanan,” Kugy menj awab dengan cengi ran
lebar.
“Tuh ...” Remi menunjuk baki berisi roti-roti mungil dan
274
,keri pi k yang di saj i kan sej umput-sej umput di mangkok ker-
tas.
“Cari yang porsi nya lebi h ni at,” sahut Kugy sambi l me-
nepuk perutnya, “anakonda-ku mulai aksi huru-hara, ni h.
Kayaknya nggak mungkin lagi disumpal makanan basa-basi.
Aku pami t duluan, ya. Mau cari makan aj a.”
“Saya temani , ya? Li ma belas meni t? Saya pami tan dulu
sama orang-orang. Ketemu di pi ntu depan, ya.” Remi pun
melesat pergi .
Kugy tergagap mau mengatakan sesuatu, tapi manusia itu
sudah lenyap di kerumunan orang. Gi la, ngomong ‘‘i ya’’ aja
belum. I a berdecak takj ub atas kegesi tan Remi .
Sambi l menunggu Remi , Kugy pergi ke toi let. Di depan
cermi n, sekumpulan perempuan sedang berj aj ar memper-
bai ki dandanan mereka. Semuanya ti dak ada yang i a kenal.
Namun, dengan cepat, Kugy bi sa mengi kuti pembi caraan
massal yang sedang terj adi di sana.
¨SIuIun. MukIn gunLeng Luh orung!¨
“Gua mau di kerem semi nggu sama di a.”
“Gua sebulan. Hayo?”
“Lu tahu Sandy, AE-nya Vi aAd? Di a sempat sukses lho
nge-date sama Remi .”
Beberapa dari mereka langsung mangap. “Haa? Sandy?”
“Damn! Lucky gi r l!”
“Faktor bemper depan, tuh ....”
Mereku LergeIuk bersumu. ¨¡IsIk Io!¨
“Tapi , cuma sebatas kencan doang, nggak sampai pa-
caran.”
“I yalah, segede-gedenya toket, mau dibawa sampai mana,
si h? Akhi rnya kan yang ngaruh tetap faktor kepala.”
“Bo, please, deh. Di ndi ng sekarang pada punya kupi ng,”
seseorang berceletuk dengan setengah berbi si k, “Jadi , mak-
275
sud lo, Sandy nggak punya otak? Oops!” Tawanya langsung
berderai , di i kuti semua temannya.
“Well, si apa pun yang cuma modal bodi doang, nggak
bakalan lama. I ni kan zaman i nner beauty.”
“I ye, maksudnya apa yang ada di ‘i nner ’-nvu buju eIo!¨
Mereka tertawa lagi .
“Jadi , sekarang Remi lagi nggak deket sama si apa-si apa?
Sti ll eli gi ble?”
“Kayaknya masi h. Mata-mata gua di Alpukat si h belum
ngelapor apa-apa.”
“Eh, nggak ada anak Alpukat, kan?” Tiba-tiba satu orang
berceletuk.
Kugy langsung memali ngkan kepalanya ke arah tembok.
‘‘Alpukat’’ adalah julukan gaul untuk AdVocaDo. Diam-diam,
Kugy bersyukur dengan status anak barunya sehingga muka-
nya belum di kenal dalam li ngkup pergaulan tersebut.
“Bo, nggak ngaruhlah kalo pun di a lagi ada pacar. Se-
beIum junur kunIng berdIrI, kompeLIsI musIh Lerbuku!¨
¨HurI gInIII ... junur kunIng uduh ngguk nguruh! SebeIum
BENDERA KUN¡NG berdIrI, kompeLIsI LeLup Lerbuku!
Huhu!¨
¨NujIs Io!¨
Seusai mendapat gilirannya masuk ke kamar mandi, Kugy
cepat-cepat menyelinap keluar. Hawa di dalam toilet itu pe-
ngap rasanya. Bukan karena temperatur, tapi karena per-
saingan ketat demi atensi seorang Remigius Aditya. Sungguh
i a ti dak sangka, manusi a i tu sebegi tu populernya. Meli hat
bagaimana Remi begitu diminati, Kugy tidak bisa memutus-
kan haruskah ia merasa beruntung atau justru sial. Andaikan
perempuan-perempuan i tu tahu bahwa dalam li ma meni t
di ri nya akan keluar makan bersama Remi , Kugy ragu bi sa
keluar dari toi let tadi dalam keadaan utuh.
276
Kugy baru saja melahap tandas sepiring nasi goreng, dan ia
sudah ngi ler meli hat roti bakar yang di pesan Remi . “Aku
mau pesan j uga, ah ..,.” katanya seraya celi ngak-celi nguk
mencari pelayan.
“Dahsyat, ya, makan kamu. Tapi saya bingung, larinya ke
mana semua, ya? Badan mungil tapi kok muat sih makanan
sebanyak gi tu?” Remi tak habi s pi ki r.
“Ususku di mana-mana. Kalo tanganku di belek, ketemu-
nya juga usus,” seloroh Kugy. Tak lama, ia memesan setam-
puk roti bakar dan segelas cokelat panas.
“Cewek-cewek pasti ngi ri sama kamu,” komentar Remi
lagi .
Spontan, tawa Kugy menyembur. “Malam i ni aku bi sa
bi lang kalo ucapan kamu ada benarnya, tapi bukan karena
faktor makanku. Tapi ...,” Kugy mencoba menelan tawanya,
“j ustru karena teman makanku.”
Remi mengerutkan keni ngnya. “Maksud kamu?”
“Aku baru sadar aku sedang makan dengan the most
wanted eligible bachelor yang dipuja-puja dan diperebutkan
hampir semua cewek di acara tadi,” Kugy terkikik geli, “sam-
pai ada forum ari san yang bahas kamu di toi let tadi .”
Remi tersenyum sambi l melengos. “Apa, si h. Nggak pen-
ti ng,” katanya seraya mengi baskan tangan.
“Memang,” sahut Kugy, “tapi lucu aj a. Karena kayaknya
cuma aku satu-satunya yang nggak nyadar betapa ...,” nada
i tu meragu, antara melanj utkan atau ti dak, “... betapa ber-
harganya kesempatan ini,” Kugy menahan napas, “setidaknya
dari kacamata mereka,” cepat-cepat i a menambahkan.
Remi menatap Kugy. Tatapan yang sama keti ka Remi
memberi kan perahu kertas di mobi lnya beberapa mi nggu
277
yang lalu. Dan kembali Kugy merasakan kegugupan sama
menyerangnya.
“Saya lebih senang kalau kamu nggak nyadar. Kamu bisa
j adi di ri sendi ri , saya j uga. Dan menurut saya i tulah yang
pali ng menyenangkan dari pertemuan ki ta selama i ni ,” kata
Remi lembut.
Kugy menelan ludah. “Setuj u, menj adi di ri sendi ri i tu
memang yang pali ng enak,” i a menyahut sekenanya.
Sambil menyeruput teh panas, Remi pun berkata ringan,
“Mereka yang justru nggak tahu betapa berharganya kesem-
patan i ni buat saya.”
Bertepatan dengan i tu, roti bakarnya datang. Kugy lang-
sung menyantap dengan lahap. Antara masi h lapar dan
upaya mengompensasi salah tingkah. Dalam hatinya, ia mu-
lai merasa ada yang ti dak beres dengan i ni semua. Dengan
Remi . Dengan di ri nya.
Ubud, November 2002 ...
Di bale tempat i a menghabi skan ratusan hari nya, Keenan
duduk bersandar pada ti ang kayu. Sama seperti hari -hari
sebelumnya. Namun, segalanya tak lagi sama. Bali tak lagi
sama.
Bom yang meledak di Kuta sebulan yang lalu tak hanya
meledakkan satu tempat saj a. Seolah ada kabut asap yang
terus tersi sa, bertengger, dan menyeli muti sei si Bali . Me-
nyi hi r pulau bahagi a i ni menj adi pulau kecemasan. Semua
orang bi cara tentang masa depan Bali . Masa suram yang
akan menj elang.
Meski seluruh keluarganya selamat karena tak ada yang
tinggal di Kuta, duka yang sama tetap terasa di rumah besar
Pak Wayan. Tak ada yang luput dari si hi r i tu. Termasuk
278
Keenan. Bedanya, Keenan telah merasakan kesuraman da-
lam bati nnya bahkan sebelum bom meledak di Kuta dan
mengubah segalanya.
Untuk keseki an kali , Keenan membolak-bali k buku tuli s
itu dengan resah. Semua halaman sudah habis ia baca, bahkan
berkali -kali dan tak terhi tung lagi . Semua ceri ta sudah habi s
i a wuj udkan ke dalam luki san. Yang tersi sa dari buku i tu
hanyalah selembar terakhir yang kosong. Dan itu jugalah yang
sudah i a hadapi beberapa bulan terakhi r i ni . Kanvas kosong.
Hampir semua orang berkomentar senada, “Objek lukisan
kamu selama i ni sudah senyawa dengan kamu. Kenapa
kamu harus bi ngung mau meluki s apa?” Dan di ri nya hanya
bi sa di am. Bagai mana bi sa i a menj elaskan bahwa semua
yang ia lukis adalah karya Kugy di sebuah buku tulis kumal,
dan keti ka semua ki sah dalam buku i tu habi s ... habi slah
i nspi rasi nya.
Bukannya Keenan ti dak mencoba beri maj i nasi di luar
buku Kugy. Sudah ratusan kali i a coba, tapi tetap saja ti dak
bisa. Bukan dirinya yang ikut dalam petualangan itu, bukan
di ri nya yang menuli s semua ceri ta i tu. Dan semua puj i an
yang orang sampai kan untuk luki sannya ki ni j ustru terasa
menyudutkan, membawanya pada satu kesi mpulan, bahwa
i a ti dak ada apa-apanya tanpa buku i tu. Satu kenyataan
yang begi tu mengeri kan.
Tepat dua tahun sejak kedatangannya ke Lodtunduh. Te-
pat dua tahun i a memulai segalanya di bale i ni . Hati nya
gentar membayangkan bahwa segalanya pun bi sa berakhi r
di si ni .
“Ada apa dengan kamu, Gus? Kenapa kondi si mu menurun
sekali . Kamu kembali seperti waktu pertama kali datang
279
kemari,” ucap Pak Wayan sehati-hati mungkin. Keenan tam-
pak seperti boneka kaca yang pecah ji ka sedi ki t saja tersen-
ti l.
Semi li r angi n mengembus, melewati mereka berdua,
menggoyang kentungan bambu. Bebunyian yang kini bahkan
terasa peri h menusuk hati nya. Keenan rasanya tak sanggup
berkata-kata. Hanya menunduk dan memandangi lantai kayu
di bawah kaki nya.
“Kamu bisa cerita apa saja pada Poyan,” kata Pak Wayan
lagi , “tapi kalau kamu belum merasa si ap, ti dak apa-apa.
Saya ti dak akan memaksa.”
“Sebenarnya—” susah payah Keenan berusaha mengurai -
kan kebekuan yang mengadangnya selama i ni , “sebenarnya
saya i ngi n bi cara, Poyan. Tapi ti dak tahu mulai dari mana
... saya …,” matanya mengerj ap-ngerj ap bi ngung.
“Keti daktahuan adalah awal yang bai k. Segala sesuatu
di awal i dengan ti dak tahu, i kuti saj a ...,” Pak Wayan
menepuk lembut bahu Keenan.
“Semuanya hi lang, Poyan. Semuunvu! BegILu suju! Suvu
nggak bisa melukis. Saya nggak tahu harus melukis apa lagi
....”
“Kamu ti dak sendi ri an, Nan. Semua orang sedang ber-
kabung di pulau i ni .”
Keenan menggeleng keras, “Bukan cuma karena i tu,
Poyan!” sergahnya. “Sudah lama saya nggak bi sa meluki s.
Saya benar-benar buntu. Seperti ada yang mati di dalam
si ni ,” Keenan menunj uk dadanya sendi ri , “dan kalau saya
nggak menghasi lkan apa-apa, saya merasa nggak berguna
ti nggal di si ni .” Setengah meratap, i a berkata.
“Gus, semua orang di si ni sudah menganggap kamu ke-
luarga. Meluki s atau ti dak, kehadi ranmu berarti buat kami .
Ngerti? Jangan bebankan hal seperti itu pada dirimu sendiri.
Ti dak satu kali pun saya pernah mensyaratkan sesuatu su-
280
paya kamu bisa tinggal di sini. I ni rumahmu. Dan ingat, se-
mua peluki s pun pernah mengalami apa yang kamu hadapi
sekarang. Saya j uga pernah. Bahkan bertahun-tahun, Gus.
Tapi bukan berarti ki ta harus menyerah. Meluki s adalah j a-
lan yang saya pilih, jodoh saya. Dan bukannya itu juga jalan
yang kamu pi li h?”
Kepala Keenan semaki n dalam merunduk. Hati nya tam-
bah remuk mendengar i tu semua.
“Gus, bersabar. Jangan bebani dirimu seperti ini. Rumah-
mu di si ni . Kamu ti dak usah lari lagi ,” tegas Pak Wayan.
Keenan mendongak, nanar menatap pri a yang sudah di -
anggapnya ayah sendi ri , memohon pertolongan. “Buku i tu
habi s, Poyan,” bi si knya.
Pak Wayan terkesi ap. Seter gantungkah i tu di a? Setelah
di am beberapa saat, Pak Wayan pun berkata pelan, “Mau
tidak mau, buku itu harus ada yang meneruskan, Gus. Atau,
kamulah yang berusaha mencari ‘bi ntang’ baru. Mengerti
maksudku? Tidak mudah, saya tahu. Sekarang ini, terimalah
saja kalau kamu belum bisa melukis lagi. Jalan itu akan ter-
buka dengan sendi ri nya.”
Jauh di dalam hati nya, Pak Wayan sangat memahami
kepedihan Keenan. Luka yang sama pernah dialaminya. Pu-
luhan tahun yang lalu. Susah payah, i a berusaha bangki t,
tertati h-tati h, mencari sesuatu yang baru untuk mengganti -
kan bi ntang hati nya, i nspi rasi nya. Ki ni i a sudah kembali
berdiri tegak. Namun, ia sadar, bintang yang sama tak akan
pernah kembali untuk yang kedua kali .
Jakar t a, November 2002 ...
Sej ak pagi tadi , Adri merasa ada yang ti dak beres dengan
tubuhnya. I a bangun pagi dengan rasa lelah yang luar biasa.
281
Dan lelah i tu tak kunj ung pergi meski pun i a sudah sarapan
dan senam ri ngan, seperti yang bi asa i a lakukan seti ap hari
untuk menyegarkan badannya. Meski pun begi tu, Adri tetap
memi li h pergi ke kantor. I a ti dak i ngi n Lena curi ga dan
mempertanyakan soal kesehatannya j i ka i a memi li h ber-
i sti rahat di rumah.
“Pak Adri , ada telepon dari Pak Ong dari Malaysi a.”
Suara sekretari snya terdengar dari i nterkom telepon.
Adri mengangkat telepon dan mulai berbi cara dengan
relasi nya. Setelah dua meni t berbi cara, tangan kanannya
yang memegang gagang telepon tahu-tahu gemetar. Dan da-
lam hi tungan deti k, gemetar i tu berubah menj adi bergetar.
Dalam kekagetannya, Adri segera memencet tombol speaker
karena tangannya tak bi sa lagi memegang telepon.
“Maaf, Pak Ong, seperti nya saya harus menelepon Anda
kembali ... saya ....” Dan ti ba-ti ba sesuatu seperti menyapu
seluruh tubuhnya, mengi sap kekuatannya. Dalam sekej ap,
Adri melorot j atuh ke lantai . Tubuhnya terbuj ur kaku. Tak
bergerak lagi .
282
Ubud, Desember 2002 ...
Kali ini Keenan berusaha. Benar-benar berusaha. Memutus-
kan bahwa i a ti dak akan menyerah kalah pada kebuntuan-
nya. Buku tulis itu disimpannya di kamar dan tak pernah ia
bawa lagi ke mana-mana. Keenan mencamkan pada di ri nya
sendiri bahwa jiwa seorang seniman adalah jiwa yang bebas,
bukan j i wa yang terpenj ara atau tergantung. I a i ngi n ter-
bebas dari buku i tu. Sudah saatnya.
Keenan pun meluki s, dan meluki s.
Ada Luhde yang duduk setia di sampingnya. “Kuas-kuas-
nya saya bersi hkan, ya,” kata gadi s i tu sambi l mengambi li
kuas-kuas Keenan yang sudah mengeras. Satu pekerj aan
yang sudah bi asa i a lakukan sej ak keci l dengan telaten ka-
rena seri ng membantu saudara-saudaranya yang peluki s.
“Makasi h, De,” sahut Keenan. Dan sej enak i a berhenti ,
mengamati Luhde yang dengan tekun mencuci kuas-kuasnya.
“Kamu seperti malai kat ....” Kali mat i tu terlontar begi tu saj a
tanpa bi sa i a tahan. Ekspresi murni yang bergerak dari hati .
32.
NINJA ASMARA
283
Luhde mendongak. “Saya senang melihat Keenan melukis
lagi ,” ucapnya tulus.
Keenan tersenyum, “Saya meluki s untuk kamu.”
Cepat, Luhde menunduk. Pi pi nya bersemu merah. “Ya,
tapi Keenan j uga meluki s untuk di ri Keenan sendi ri ,” kata-
nya setengah berbisik. Namun, bibirnya tak kuasa memben-
tuk senyuman.
Keenan meletakkan kuas yang sedang ia pegang. Sesuatu
mendorongnya untuk bergerak mendekati Luhde. Duduk di
hadapan gadi s i tu. Dengan pelan dan khi dmat, Keenan ber-
kata, “Ti ti ang tr esne teken Luhde
31
.”
Tangan Luhde yang tadinya sibuk bergerak langsung ber-
henti . Jantungnya seperti berhenti berdegup. Dua tahun i a
menanti . Dua tahun i a berharap. Dua tahun i a mendekat,
mencurahkan apa pun yang ia mampu dan ia sanggup beri-
kan. Baru kali itulah ia mendengar Keenan mengungkapkan
perasaannya. Langsung dan sederhana.
Luhde mengangkat mukanya perlahan-lahan. Menatap
mata Keenan dengan perasaan campur aduk. Antara ba-
hagi a, haru, dan tersi pu.
Keenan menahan napas meli hat kei ndahan yang terben-
tang di hadapannya. Dan sesuatu menggerakkannya untuk
terus mendekat. Mengecup lembut bi bi r Luhde.
Jakar t a, Desember 2002 ...
AdVocaDo ki ni punya topi k hangat yang selalu di ulas si apa
pun, di mana pun, dan kapan pun: Kugy. Ti dak hanya po-
puler karena di anggap pr odi gy atas i de-i denya yang gi la,
Kugy juga punya julukan baru, yakni “Si Ninja Asmara”. Ju-
31
Saya ci nta pada Luhde.
284
lukan i tu khusus di perolehnya karena ti dak ada satu pun
yang menyangka sarjana kemarin sore berjam tangan Kura-
kura Ni nj a telah berhasi l mematahkan hati banyak perem-
puan yang selama i ni mengi ncar Remi .
Kedekatan Remi dan Kugy selama dua bulan terakhir su-
dah terlalu kentara untuk di abai kan. Hampi r seti ap hari
Remi terli hat mengantar Kugy pulang. Seti daknya dua atau
ti ga kali dalam semi nggu, mereka pergi bersama untuk ma-
kan malam. Kugy, duduk di jok depan mobil Remi, menjadi
sebuah pemandangan yang di saksi kan hampi r seti ap hari
oleh satu kantor.
Sementara itu, Si Ninja Asmara sendiri tak ambil pusing,
bahkan tak menyadari bahwa di ri nya tengah j adi sorotan.
Bagi Kugy, tugasnya yang bertumpuk terlampau menyi ta
waktu dan tak sempat lagi i a memi ki rkan lej i tan kari ernya
yang mengagetkan semua orang. Dan bagi nya, Remi adalah
teman jalan yang begitu menyenangkan hingga membuatnya
tak lagi peduli akan kompeti si di luar sana. Kugy ti dak me-
rasa ada dalam sebuah kompeti si apa-apa. Di ri nya ti dak
merasa punya target atau agenda untuk dekat dengan Remi.
Semuanya mengali r begi tu saj a. Dan urat cueknya terlalu
kuat untuk memusi ngkan apa kata orang.
Malam i tu, teman-teman kantornya berencana untuk
clubbi ng ramai -ramai . Meski tadi nya enggan, Kugy di daulat
untuk i kut. Akhi rnya bergabunglah i a dengan segerombolan
orang dalam gelap remang di i ri ngi dentuman musi k yang
menekan jantung. Banyak wajah yang tak asing. Kebanyakan
ia temui waktu acara gather i ng bulan lalu. Ada sekelompok
perempuan yang j uga i a kenali . Ar i san Toi let, Kugy men-
j uluki dalam hati .
Kugy bi sa bertahan agak lama kali i ni karena i a sudah
dat ang dengan per si apan makan mal am sebel umnya.
Namun, lewat dua j am, i a mulai geli sah. Perut kenyang
285
tidak berarti menjadi betah. Sementara hampir semua orang
sudah pindah medan kesadaran, Kugy, yang cuma numpang
berdi ri sej ak tadi , menj adi pi hak terasi ng karena “nggak
nyambung”. Pelan-pelan ia beringsut, dengan rencana kabur
secara bertahap.
Tahu-tahu, badannya berbenturan dengan bahu sese-
orung. ¨SorI, sorI ...,¨ Kugv reßeks memInLu muuI. Buru suju
i a mencoba melangkah ke arah lai n, sudah ada sosok baru
yang menghalangi j alannya. Kugy mencoba mundur, dan
ternyata berbenturan lagi dengan badan seseorang. Akhirnya
Kugy tersadar, i a sedang di kepung.
“Kamu yang namanya Kugy?” Salah satu dari mereka ber-
tanya.
Kugy mengamati muka i tu, dan mengenali nya sebagai
anggota Ari san Toi let. “I ya, saya Kugy ...,” katanya sambi l
mengangguk. Curi ga.
“Yang lagi magang di AdVocaDo, kan?” Ada yang ber-
tanya lagi .
Kugy mengangguk.
“Remi ke mana? Kok nggak bareng?” Seseorang yang lain
lagi bertanya.
“Ng—nggak, nggak tahu,” jawab Kugy. I a mulai tidak nya-
man dengan interogasi ini. Kugy benar-benar tidak tahu apa
maksud mereka.
“Udah lama pacaran sama Remi ?” Nada i tu ketus dan
menusuk.
“Nggak pacaran kok ...,” Kugy menggelengkan kepala. Bi-
ngung.
“Kalo i ya j uga nggak pa-pa, j angan j adi mi nder gi tu,
dong. SeIumuL, vuu!¨ Ucupun ILu dIburengI dengun senvum.
Senyum yang ti dak menyenangkan.
“I ya, kok bisa, sih? Susuknya keluaran dari dukun mana,
Jeng?” Yang bertanya pun tergelak sendi ri .
286
¨Eh, jungun suIuh. JImuL dese Luh jum Lungunnvu, Iho!
Makanya lu semua pada beli . Cari di Pasar Baru, gi h. Lu
cari j am Spi derman, lu Superman, lu cari j am Barbi e ...
pokoknvu jum pIusLIk vung noruk!¨
“Menurut maj alah Vogue, that i s so 2002, you know!”
Dan mereka tertawa.
Kugy mulai merasa teri nti mi dasi dengan percakapan se-
tengah bercanda setengah cari gara-gara tersebut. Yang jelas,
bagi nya semua i tu mulai ti dak lucu. I a kepi ngi n kabur se-
cepatnya. Namun, langkahnya di bendung dari kanan-ki ri ,
dan Kugy tak bi sa bergerak.
Tahu-tahu, ada lengan yang menyeruak li ngkaran i tu,
menggami t dan menari k tangan Kugy keluar.
Remi berdi ri dengan senyuman kari smati knya, menatap
mereka semua dengan sopan, “Sori , pi nj am Kugy-nya, ya.”
Lalu, seolah sudah ratusan kali melakukannya, Remi me-
meluk pi nggang Kugy dengan luwes, merapatkan tubuh
Kugy ke arah tubuhnya. “Pulang, yuk,” katanya ri ngan. Dan
j emari nya membelai rambut depan Kugy.
Tak hanya mereka yang terlongo, Kugy pun kaget bukan
mai n. Namun, i a menj aga agar kekagetannya ti dak terbaca.
Kugy lalu tersenyum manis pada Remi, menggenggam balik
tangan Remi yang melingkar di pinggangnya, “Yuk,” katanya
dengan anggukan kecil, pandangannya pun beralih ke Arisan
Toi let, “duluan, ya ...,” i a berkata dengan nada seramah
mungki n seraya berlalu dari sana.
Sesampai nya di luar, keduanya tertawa terpi ngkal-pi ng-
kal.
“Lihat nggak muka cewek yang tadi berdiri di sebelahku?
AsII kuvuk cecuk bunLuLnvu copoL!¨ seru Kugv sumbII me-
megangi perutnya yang terkocok, “What a show! Benar-
benur brIIIun!¨
287
Remi melihat jam tangannya, “Baru jam satu, nih. Makan
bubur dulu, yuk.”
“Boleh,” kata Kugy ri ang. Dan mereka berj alan menuj u
parki ran. Barulah Kugy menyadari sesuatu, dari dalam club
tadi sampai mobi l, tangan Remi tak lepas-lepas dari pi ng-
gangnya.
Bubur yang tadi menggunung di mangkok sudah lenyap,
yang tersi sa hanyalah lapi san ti pi s, yang i tu pun masi h di -
sendoki Kugy dengan semangat.
“Kalau saya j adi tukang bubur, saya bakal j adi kan kamu
br and ambassador . Kamu dapat omzet sepuluh persen dan
makan grati s seseri ng dan sebanyak apa pun yang kamu
mau. Dan saya cuma mi nta kamu makan persi s kayak gi tu
di depan pengunj ung. Mereka pasti ngi ler luar bi asa, dan
kepi ngi n nambah bi arpun udah kenyang,” uj ar Remi yang
sedari tadi memperhati kan Kugy.
“Dasar orang i klan,” celetuk Kugy. Ganti an mengamati
Remi yang masih menghabiskan buburnya. “Sejak kapan sih
kamu tertari k ke duni a adver ti si ng?” tanyanya penasaran.
“Dari lulus kuliah. Saya mulai magang seperti kamu, jadi
j uni or ar t di r ector . Terus saya pernah nggak sengaj a j adi
pr oj ect leader satu produk, dapat kli en yang gede banget,
dan mereka suka banget sama ide saya. I klan yang saya buat
j uga sukses. Saya malah dapat awar d tahun i tu, dan se-
sudahnya hampi r seti ap tahun dapat penghargaan terus.
Saya lalu keluar dari tempat kerja saya yang lama, coba-coba
bi ki n sendi ri . Untungnya kli en-kli en saya yang lama terus
mendukung, makanya AdVocaDo bi sa seperti sekarang.”
Kugy manggut-manggut. I a i ngat sederet plakat peng-
288
hargaan Remi terpaj ang di di ndi ng kantor. Mereka semua
bi lang, dulu Remi di anggap pr odi gy duni a peri klanan.
“Tapi, ini memang pekerjaan yang selalu kamu inginkan?
Atau ada passi on lai nkah?” tanya Kugy lagi .
Remi menggeleng. “I ni duni a saya. Dari keci l saya tuh
udah j ago bi ki n dagangan orang laku, Gy. Orangtua saya,
saudara-saudara saya, ti ap mereka bi ki n apa saj a, mereka
suka i seng tanya sama saya, terus saya kasi h i de-i de untuk
bi sni s mereka, eh ... semuanya sukses. Waktu sekolah dan
kuliah juga sama, saya sering bantu event sekolah atau kam-
pus, semuanya berhasil. Dan saya puas banget mengerjakan-
nya.”
“Wow,” Kugy berdecak kagum, “kamu orang yang sangat,
sangat beruntung. Kamu menci ntai pekerj aan kamu, dan
kamu j uga sukses di bi dang yang kamu ci ntai . Pasti banyak
banget yang ngi ri sama kamu.”
“Mungki n,” Remi mengangkat bahu, “yang j elas saya
cuma ngi ri sama satu.”
“Si apa?”
“Peluki s.”
Kugy seperti tersenti l mendengarnya. “Peluki s? Kok—
bi sa?”
“Lukisan adalah hiburan saya yang paling menyenangkan,”
Remi menjelaskan, matanya berbi nar, “para peluki s i tu bi sa
melahi rkan duni a baru lewat j i wa mereka ... berkata-kata
dengan gambar ... warna ... komposi si ...,” i a menghela
napas panjang, “kalau saya dilahirkan kembali, saya kepingin
j adi peluki s.”
Kugy terdi am. Semua yang di ceri takan Remi mengi ngat-
kannya pada seseorang.
“Kalau kamu? Kalau di lahi rkan lagi , mau j adi apa?”
Kugy menj awab mantap, “I kan paus.”
289
Ubud, Desember 2002 ...
Luhde terbangun lebi h pagi dari bi asanya. Entah kenapa.
Ti ba-ti ba saj a i a terlonj ak dari tempat ti dur. Perasaannya
tak enak.
Pelan-pelan, i a bangki t dari tempat ti dur. Berj alan ke
luar. Belum ada siapa-siapa yang terlihat. Namun, kupingnya
mendengar sesuatu. Dari arah bale.
Saat i a mendekat, barulah j elas suara apa i tu. Dan ter-
kej utlah Luhde keti ka meli hat apa yang terj adi . Keenan te-
ngah berdi ri ... menyobek luki sannya sendi ri . Luki san yang
baru di buatnya beberapa hari lalu.
¨Keenun!¨ seru ¡uhde sumbII Lergopoh berIurI nuIk ke
bale. “Kenapa kamu?”
Keenan tertegun meli hat Luhde yang muncul tanpa di -
duganya. Tangannya masi h menggenggam kanvas yang su-
dah tercabi k menj adi dua.
“Ke—kenapa lukisannya disobek?” Luhde bertanya, cemas
dan takut.
“Luki san i ni nggak bagus,” j awab Keenan datar.
“Tapi ... itu lukisan Keenan yang pertama lagi setelah se-
ki an lama ... dan menurutku, luki san i tu bagus ... apanya
yang salah?” ratap Luhde kebi ngungan.
“De, saya nggak bi sa meluki s seperti dulu lagi ,” kata
Keenan li ri h.
¨KuLu sIupu? Keenun ngguk boIeh ngomong begILu! Kumu
hurus kusIh kesempuLun pudu dIrI kumu sendIrI! Kenupu Iu-
ki sannya harus di rusak?” desak Luhde bercampur tangi s.
Direbutnya cabikan kanvas itu dari tangan Keenan. “Kenapa
di rusak?” tangi snya lagi .
“Karena ... lukisan itu ...,” Keenan tergagap, tak bisa men-
jelaskan. Bagaimana bisa ia mengungkapkannya tanpa meng-
hancurkan hati Luhde? Bahwa lukisan itu tak memiliki nya-
290
wa dan kekuatan yang sama? Bahwa lukisan itu tak sanggup
menggerakkan dan mewaki li hati nya sebagai mana luki san-
luki sannya yang dulu?
Dan Luhde pun tak bisa lagi berkata-kata. I a sungguh tak
mengerti, dan sebagian dirinya tidak terima. Pertama kalinya
Keenan meluki s ... untuknya. Dan luki san i tu berakhi r de-
ngan tercabi k menj adi dua.
“Masih pagi sekali, De. Anginnya dingin. Kamu masuk ke
kamar lagi saj a.” Cuma i tu yang bi sa Keenan bi lang. I a pun
membalikkan punggungnya, menatap pekarangan yang sepi,
yang j auh lebi h mudah di hadapi keti mbang waj ah Luhde
yang pi lu.
“Saya i ngi n di si ni ,” bi si k Luhde. Hati -hati , di dekati nya
sosok laki -laki yang amat di ci ntai nya i tu. Memeluknya per-
lahan dari belakang. Membenamkan ai r matanya di sana.
Jakar t a, Desember 2002 ...
Lena termenung di pi nggi r tempat ti dur rumah saki t. Adri
baru melewati masa kri ti s selama dua hari , dan hari i ni i a
sudah mulai si uman. Sesekali terj aga dan membuka mata,
meski tubuh i tu tetap kaku seperti papan. Str oke yang kali
i ni menyerangnya j auh lebi h kuat di bandi ngkan serangan
yang pertama. Dokter bahkan meragukan kondi si nya akan
kembali seratus persen seperti semula. Di butuhkan ke-
ujuIbun, mereku bIIung. BerbuIun-buIun hsIoLerupI pun pu-
ling hanya akan mengembalikan tujuh puluh sampai delapan
puluh persen kondi si suami nya. Bahkan, kenyataan bahwa
Adri masi h hi dup pun sudah harus di kategori kan sebagai
keaj ai ban. Mudah-mudahan keaj ai ban i ni berlanj ut, kata
mereka lagi .
Saat seperti inilah baru sepi itu terasa. Jeroen baru akan
kembali ke rumah saki t setelah j am sekolahnya usai nanti
291
siang. Di ruangan itu, hanya dirinya dan suaminya yang ter-
bari ng tak bersuara.
Lena bangki t berdi ri . Membelai -belai rambut suami nya.
Dan i a putuskan untuk berbi si k di teli nga suami nya, meng-
aj ukan pertanyaan-pertanyaan yang selama i ni belum ter-
j awab: ada apa sebenar nya? Apa yang selama i ni kamu
sembunyi kan? Apa yang bi sa kubantu?
Lama Lena berdiri seperti itu, terus membelai-belai halus,
dan berbisik di telinga suaminya, sampai akhirnya ekor mata-
nya menangkap sesuatu. Kelopak mata Adri kembali mem-
buka.
Lena segera menatapnya, tersenyum, lantas menggenggam
tangan yang terasa kaku bagai kawat i tu. “Hai ...,” sapanya
lembut.
Mata i tu mengerj ap. Berceri ta. Memohon.
Lena membelai waj ah suami nya, “Aku di si ni ... kamu
akan sehat lagi ... kamu akan bai k-bai k lagi seperti dulu
...,”
Mata i tu mengerj ap lebi h cepat. Semaki n sarat dengan
pesan. Tapi tak ada satu bunyi pun yang keluar.
Lena mulai membaca sorot yang geli sah i tu. “Apa yang
bi sa aku bantu, Dri ?”
Dengan segala daya yang entah dari mana, otot-otot
muka Adri mulai bergerak. Sedi ki t demi sedi ki t. Mulut i tu
bergetar, mengel uarkan bunyi kerongkongan yang ter-
tahan.
“Kkk ... kk ... kee ....”
Lena terkesi ap. Tangannya langsung memencet tombol
untuk memanggi l perawat. “I ya, apa, Adri ? Kamu mau bi -
lang apa?” Lena mendekatkan kupi ngnya ke depan mulut
Adri agar bi sa mendengar lebi h j elas.
Dengun suuru LerImpIL dun beIenggu hsIk vung Luk me-
mungki nkannya untuk berbi cara, Adri berusaha setengah
292
mati untuk mengucapkan satu kata i tu: “Kkk ... kee ... nan
...”
Begi tu kata i tu terucap, mata Adri kembali memej am.
Otot-otot waj ahnya kembali menegang.
Lena pun terenyak di tempat duduknya. Keenan? I tukah
penyebabnya? Selama i ni , Adri ti dak menunj ukkan ke-
peduli an sama sekali tentang keberadaan Keenan, bahkan
mengi ngatkannya berkali -kali untuk ti dak pernah mencari
Keenan, sampai anak itu yang menghubungi mereka duluan.
Sej ak Keenan pergi , tak satu kali pun Adri membahas ma-
salah Keenan, bahkan menyebut namanya pun tidak. Seolah-
olah memori nya sudah i a ri ngkus dan bekukan hi ngga satu
hari nanti , saat Keenan yang kembali ke rumah dan me-
mohon maaf. Sesuai dengan apa yang di maui nya.
Mendadak, Lena di serang perasaan bersalah yang men-
dalam. Di alah satu-satunya yang tahu ke mana Keenan
pergi . Di alah satu-satunya yang tahu pasti bahwa anak i tu
baik-baik saja. Sementara, suaminya bertahan dalam ketidak-
tahuan, dalam sikap tak mau tahu dan tak mau peduli. Pada-
hal, selama ini, mungkin saja Adri terus bertanya-tanya, dan
akhi rnya tergerogoti dari dalam oleh pertanyaan yang tak
ada j awaban: di mana Keenan?
Tak ada j alan lai n, pi ki r Lena. I a harus menj emput
Keenan pulang.
293
Sejak pernikahannya dengan Adri, Lena belum pernah meng-
i nj akkan kaki nya lagi di Pulau Bali . Dua puluh satu tahun
yang lalu adalah terakhi r kali nya. Perasaan yang luar bi asa
asi ng meli puti nya begi tu pesawat yang di tumpangi nya ber-
si si an dengan laut, si ap mendarat. Ti balah i a di Bandara
Ngurah Rai, disambut alunan gending Bali yang sayup-sayup
berkumandang dari kotak-kotak pengeras suara. Lena ti dak
pernah tahu apakah di ri nya si ap kembali ke si ni . Ada pe-
rasaan ingin berbalik pulang ke Jakarta, perasaan menyesal,
sekali gus rasa ri ndu yang hebat.
Lena tak sanggup membayangkan apa rasanya di per-
j alanan nanti , meli hat begi tu banyak hal yang dapat mem-
bangki tkan kenangan-kenangan yang selama i ni sudah ber-
hasi l i a kubur rapat-rapat. Kenangan saat i a masi h ti nggal
di pulau i ni , saat i a masi h meluki s, saat i a masi h bersama
Wayan.
Sebelum melangkahkan kaki ke gerbang luar, Lena duduk
terlebih dahulu untuk menenangkan diri. Mengingatkan diri-
nya untuk ti dak terbelenggu perasaan-perasaan yang tak
33.
KEKUATAN MENCINTA
294
menentu, yang hanya akan menj ebaknya ke dalam perang-
kap masa lalu. Mencamkan dalam hati nya bahwa i a datang
kemari hanya untuk menj emput anaknya. Cukup i tu yang
perlu ia ingat. Nanti malam, ia sudah kembali pulang. Lepas
dari tempat i ni . Lepas dari kenangan i ni .
Menit demi menit. Meter demi meter. Perjalanan yang men-
cabik-cabik hatinya sejak tadi akhirnya tiba di puncak. Sam-
pai lah i a di gerbang depan rumah i tu. Lena ti dak tahu ke-
kuatan mana yang bisa menggiring dirinya kembali ke sana,
untuk sekadar mampu berdiri tegak menunggu pintu itu ter-
buka.
Penj aga rumah yang membukakan pi ntu memi nta Lena
untuk menunggu di teras depan. Tak l ama, terdengar
langkah-langkah yang mendekati . Bahkan dari tempo ber-
jalannya, Lena sudah tahu siapa gerangan yang datang meng-
hampi ri .
“Halo, Wayan,” sapanya dengan senyum.
Pak Wayan tertegun. Lama.
“Saya mau ketemu dengan Keenan,” ucap Lena lagi .
“Apa ada masalah?” tanya Pak Wayan dengan suara ter-
tahan.
“Adri masuk rumah saki t. Kena str oke,” j elas Lena pen-
dek.
Pak Wayan tertegun sej enak. “Sebentar, saya panggi lkan
Keenan,” desisnya. Pijakan kakinya seolah ingin membelesak
menembus lantai. Sesaat, ia bahkan merasa sedang bermim-
pi. Segalanya meluruh di hadapan perempuan itu. Kekuatan-
nya, pertahanannya, bahkan di ri nya tak lagi sama ji ka Lena
ada. I a merasa tersesat di rumahnya sendiri. Meski limbung,
Pak Wayan berj alan ke belakang, memanggi l Keenan.
295
Tak pernah terli ntas di benak Keenan, i bunya akan duduk
ber sama di a di bal e, ber t emankan angi n dan suar a
kentungan bambu. Kangen dan pi lu bercampur j adi satu.
“Mama i ngat, kamu pernah bi lang, kamu ti dak mau pu-
lang ke penjara yang sama. Mama juga ngerti, inilah rumah-
mu sekarang. Tapi, Mama nggak mungkin pulang ke Jakarta
tanpa kamu,” Lena berkata.
Keenan mengangguk, berat. “Saya pasti pulang, Ma.
Nggak mungkin saya membiarkan Papa, Mama, dan Jeroen,”
uj arnya pelan, “saya hanya nggak kebayang apa yang saya
kerj akan nanti di Jakarta. Saya udah nggak kuli ah. Di si ni
pun saya nggak bi sa meluki s lagi . Saya nggak bi sa apa-apa
untuk bantu Mama.”
“Mama cuma butuh kamu ada. I tu saja,” tegas Lena, “dan
i tu j uga yang di butuhkan papamu. Cuma nama kamu yang
di a sebut, Nan. Seluruh badannya lumpuh, tapi di a bi sa
mengucapkan nama kamu. Cuma kamu yang di a tunggu.”
Hati Keenan remuk redam mendengarnya. “Apa pun, Ma.
Apa pun yang Papa mi nta, yang Papa butuhkan dari saya,
akan saya penuhi sebi sa saya.”
“Ki ta berangkat malam i ni pakai pesawat terakhi r, ya?
Mama nggak bi sa ti nggal lebi h lama lagi ,” Lena menggeng-
gam tangan anaknya.
Keenan bangkit dan merangkul ibunya. “Saya beres-beres
sekarang j uga,” bi si knya.
Perpi sahan yang terj adi begi tu cepat tak di duga-duga ter-
nyata sanggup membuat seorang Luhde bertransformasi .
Dengan tegar dan tenang, ia membantu Keenan bersiap. Tak
296
ada rengekan, atau raj ukan, bahkan pertanyaan. Seolah i a
sudah bersi ap untuk hari i tu ti ba. Hari i tu Luhde menjelma
menj adi perempuan dewasa pada usi anya yang baru sem-
bi lan belas tahun.
I a menyerahkan setumpuk baj u yang sudah di li pat rapi
pada Keenan, “I ni yang terakhir dari lemari. Kalau memang
masi h ada yang keti nggalan, nanti saya ki ri m ke Jakarta.”
Keenan meneri manya dengan pi lu. Si kap Luhde yang
demi ki an j ustru membuat hati nya tambah hancur.
“Semua barang Keenan yang ada di studio sudah diberes-
kan oleh Beli Agung. Kalau memang tidak terlalu berat, bisa
Keenan bawa malam i ni j uga. Kalau ti dak, nanti bi sa me-
nyusul, sekali an dengan barang-barang yang lai n,” Luhde
menebarkan pandangannya, mengecek kamar itu sekali lagi,
mencari barang-barang yang masi h terlupa. “Semuanya su-
dah si ap,” i a mengangguk mantap, “mari , saya bantu bawa
sebagi an.”
Keenan tak tahan lagi . Di letakkannya kembali tas yang
sudah di angkat Luhde.
“Saya akan kembali ke si ni , De. Saya j anj i . Begi tu ayah
saya sembuh, dan keluarga saya sudah kembali bai k-bai k,
saya j anj i akan pulang kemari . Saya akan kembali untuk
kamu,” ucap Keenan sungguh-sungguh. “Maaf, saya nggak
bi sa kasi h apa-apa ... di bandi ngkan dengan semua yang su-
dah kamu kasi h selama saya di si ni ....”
“Kamu sudah pernah ada j uga sudah cukup,” potong
Luhde.
“Saya akan kembali ,” ulang Keenan lagi .
Luhde menatap Keenan, matanya mulai berkaca-kaca,
suaranya mulai gemetar, “I kuti saj a kata hati kamu. Ke
mana pun itu. Hati tidak bisa bohong,” ucapnya lirih, “kalau
memang kamu ti dak kembali , saya mengerti .”
297
“Luhde, tolong, j angan bi cara seperti i tu. Ti ti ang me
j anj i
32
,” ucap Keenan sungguh-sungguh.
Seutas senyum haru muncul di waj ah Luhde. “Keenan
nggak percaya, ya? Mendengar Keenan punya ni at begi tu,
benar-benar sudah lebih dari cukup untuk saya. Tanpa perlu
di bukti kan. Sebentar saj a Keenan ada di si ni , sudah mem-
buat di ri saya lebi h berarti .”
Keenan mendekap Luhde. Lembut seolah mendekap ka-
pas puti h yang halus, sekali gus erat seolah i a tak i ngi n me-
lepas. “Tunggu saya, ya,” bi si k Keenan tepat di kupi ngnya.
Perlahan, Luhde melepaskan pelukan Keenan. I a merai h
sesuatu yang sej ak tadi di bawanya dalam bungkusan kai n.
“I ni ... kamu bisa bawa lagi,” Luhde menyerahkan benda itu
ke genggaman tangan Keenan.
Seketika Keenan mengenali benda yang diberikan Luhde.
I a pun terperanj at. “Kenapa di kembali kan ke saya? I ni kan
untuk kamu.”
Luhde menunduk. Perih sekali rasanya harus jujur. “Saya
tahu. Bi arpun Keenan sudah lama kasi h i ni untuk saya, se-
l al u saya merasa benda i ni bukan mi l i k saya. Entah
kenapa.”
“Luhde Laksmi , li hat i ni bai k-bai k,” Keenan mengangkat
dagu Luhde, menatapnya lurus-lurus. Dibukanya bungkusan
kai n yang menutupi uki ran i tu, di bukanya telapak tangan
Luhde, kemudi an i a letakkan uki ran i tu di atasnya. “I ni .
Saya beri kan pada kamu untuk yang kedua kali nya. Ti dak
akan ada yang keti ga kali ,” Keenan pun tersenyum.
Luhde ikut tersenyum. Sebulir air mata mengalir di pipi-
nya.
“Saya pergi , ya,” ucap Keenan seraya mengelus rambut
Luhde. Mengecup bi bi rnya, dan mendekapnya sekali lagi .
32
Saya sudah berj anj i .
298
Dalam dekapan Keenan, Luhde mendekap uki ran i tu di
dadanya. Erat, seolah tak mau berpisah, karena ia tahu, hati
ti dak pernah bi sa berbohong.
I a tahu waktunya tak banyak. Dalam beberapa j am, perem-
puan i tu akan kembali hi lang dari hi dupnya. Meski seluruh
sel tubuhnya tergetarkan oleh perasaan gentar, Wayan sadar
i a tak punya kesempatan lai n selai n saat i ni .
Keenan masih membereskan barang-barangnya di kamar,
dan Lena tengah menunggu sendi ri an di serambi rumah
utama. Wayan berj alan menghampi ri nya. Lena, yang men-
dengar suara langkah kaki , langsung menoleh ke belakang.
Dan i a lebi h kaget lagi keti ka mendapatkan Wayan sedang
berj alan mendekati nya, menggeser kursi , dan duduk di ha-
dapannya.
“Kamu ti dak perlu bi cara apa-apa, Lena,” kata Wayan
segera, “kamu hanya perlu mendengar. Dan apa yang i ngi n
kusampaikan tidak banyak.” Wayan memberanikan diri me-
natap ke dalam mata Lena, terlepas dari darahnya yang se-
perti berhenti mengali r hanya dengan duduk sedekat i ni
dengan perempuan yang begi tu di ci ntai nya.
“Dua puluh tahun aku habi skan cuma untuk melupakan
kamu. Tapi tidak sedetik pun aku menyesal. Keenan, adalah
ci nta kedua teri ndah yang pernah kualami setelah kamu.
Aku menyayangi di a seperti anakku sendi ri . Aku berteri ma
kasi h untuk kesempatan yang kamu dan Adri beri kan, se-
hi ngga di a bi sa menj adi bagi an hi dupku seperti sekarang.
Lewat kehadi ran Keenan, aku belaj ar memaafkan di ri ku,
kamu, Adri, dan semua yang dulu kita lalui.” Seiring dengan
ali ran kali mat yang telah di pendamnya puluhan tahun,
Wayan merasa hati nya melega.
299
“Jangan pernah beri tahu Keenan kalau aku sangat men-
ci ntai i bunya. Bi ar saj a di a memandang aku tak lebi h dari
sekadar sahabat lama orang tuanya,” Wayan pun beranj ak
berdi ri , “semoga Adri cepat sembuh.”
“Wayan ...,” sergah Lena, “aku ... mi nta maaf.”
“Kamu nggak perlu mi nta apa-apa, Lena. Semuanya aku
lepaskan untuk kamu.” Wayan tersenyum ti pi s.
Sesuatu seolah membuncah i ngi n keluar dari dadanya,
Lena nyari s tak bi sa berdi ri dan berucap, tapi i a pun tahu
kesempatan i ni mungki n tak akan ada lagi . I a harus bi cara.
“Aku harus meninggalkan kamu waktu itu. Aku tidak mung-
kin mengorbankan Keenan dalam perutku. Dan keputusanku
bukan karena Adri ... bukan karena hatiku yang memilih dia
... tapi karena kandunganku ....”
“Lena ... sudah. Aku tahu. Aku mengerti . Dan aku
bahagi a kamu memi li h untuk mempertahankan Keenan.”
“Antara aku dan Adri waktu i tu—”
“Apa pun yang terj adi antara kali an berdua, ti dak lagi
penti ng buatku sekarang. Kali an sudah membukti kannya
dengan bertahan bersama sekian lama. Aku senang dia mam-
pu menyayangi dan mengurusmu dengan bai k,” Wayan
mengatur napasnya yang menyesak, “hati kamu mungki n
memi li hku, seperti j uga hati ku selalu memi li hmu. Tapi hati
bi sa bertumbuh dan bertahan dengan pi li han lai n. Kadang,
begi tu saj a sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cu-
kup.”
Lena merasakan kedua matanya panas, tapi tak ada ai r
mata yang keluar.
“Kami semua mendoakan kali an dari si ni ,” kata Pak
Wayan. I a mengelus seki las punggung tangan Lena di atas
mej a, lalu berbali k pergi .
Lena kembali duduk sendi ri an di serambi . Tetap tak ada
ai r mata yang keluar, meski hati nya kembali menangi skan
300
tangisan panjang yang telah menghantuinya puluhan tahun.
Tangisan yang selamanya harus terkurung dalam kesunyian.
Tangi san yang harus kembali di kuburnya dalam-dalam.
Suasana di rumah i tu tak lagi sama. Sesuatu telah hi lang.
Semua orang bi sa merasakannya.
Selepas kepergi an Keenan dan Lena, ti nggallah Luhde
dan Pak Wayan, duduk di bale. Berseli mutkan kabut tebal
perasaan mereka masi ng-masi ng.
“Jadi ... i tu meme-nya Keenan,” uj ar Luhde, menyesah
kabut yang bergantung sej ak mereka pertama kali duduk di
sana. “Canti k, ya. Sama canti knya dengan yang di luki san
Poyan,” lanjut Luhde sambil membayangkan wajah di lukisan
pamannya. Lena puluhan tahun yang lalu. Satu-satunya lu-
ki san potret Lena yang masi h di si mpan oleh pamannya.
“Kenapa Poyan tidak kasih lihat lukisan itu ke meme-nya
Keenan? Kapan lagi di a datang kemari ? Bagai mana kalau
di a ti dak pernah ke si ni lagi ....”
“Sudahlah, De,” sela Pak Wayan, “ti dak ada gunanya
lagi .” Laki -laki i tu pun berdi ri dan berj alan menj auh.
Luhde memandangi punggung pamannya dengan pe-
rasaan sesal. I a ti dak bermaksud membuat pamannya ber-
tambah sedi h. Kedatangan Lena tadi pasti nya sudah me-
morak-porandakan hati pamannya, menguak l uka-l uka
berumur puluhan tahun. I a menyesal telah menambahkan
duka yang tak perlu, hanya karena tak sanggup menahan
di ri untuk bertanya.
Semenjak pamannya berpisah dengan Lena, pria itu tidak
pernah j atuh ci nta lagi . I a memi li h hi dup sendi ri dan ti dak
meni kah dengan perempuan mana pun. Bagi nya, Lena
adalah yang terakhi r dan tak terganti kan. Lebi h bai k hi dup
301
sendi ri dari pada hi dup dalam kebohongan, begi tu kata pa-
mannya selalu.
Poyan terkenal dengan luki san-luki san upacara Bali nya,
tapi orang-orang terdekatnya tahu, obj ek i tu hanyalah pe-
lari an belaka. Luki san Poyan yang dulu j auh lebi h bagus,
begi tu kata mereka yang tahu. Dulu, Poyan hanya meluki s
perempuan. Satu perempuan yang sama. Entah ke mana
luki san-luki san i tu sekarang. Tersebar di kolektor atau ter-
si mpan entah di mana. Yang j elas, pamannya ti dak pernah
lagi meluki s seperti dulu. I a bahkan sempat berhenti ber-
tahun-tahun. Dari semua luki san yang dulu i a buat, hanya
satu yang masi h di si mpannya. Dan dari satu luki san yang
tersi sa i tulah Luhde mengenalnya. Lena. Perempuan yang
begi tu di ci ntai Poyan dan tak pernah bi sa di mi li ki nya.
Bi ntang j atuh yang menggeli nci r pergi dari tangannya
dun Luk pernuh IugI bIsu Iu Lungkup, begILuIuh dehnIsI Poyan
atas ki sah ci ntanya dengan Lena. Dan sepanj ang hi dupnya,
Poyan berdi am dalam kesendi ri an dan kenangan. Ci ntanya
pada Lena cukup untuk menemaninya sekali dan selamanya,
pamannya pernah berkata. Bahkan cukup bagi Poyan untuk
mencintai Keenan seperti anaknya sendiri, meski karena ke-
hadi ran Keenanlah i a harus berpi sah dengan Lena.
Lekat, Luhde memandangi punggung pamannya yang
ki an menghi lang di gelap malam dan bersatu dengan ba-
yangan pepohonan. Dari pri a i tulah i a belaj ar tentang ke-
kuatan hati , kekuatan menci nta. Dan hari i ni , hati nya i kut
di uj i .
Jakar t a, Desember 2002 ...
Kugy terpaksa pulang larut lagi dari kantor. Sambi l me-
nunggu taksi pesanannya, i a nyari s ti dur duduk di sofa lobi
302
saking letihnya. Tiba-tiba pintu terbuka, empat orang masuk
dengan suara gaduh. Mereka membawa luki san besar yang
terbungkus karton.
Tampak satpam kantor mengarahkan empat orang i tu
untuk mencopot luki san besar di di ndi ng belakang mej a
resepsi oni s, lalu memasangkan luki san yang baru di sana.
Kegaduhan pun berlanj ut, Pak Satpam dengan semangat
memberI komundo, ¨Yu! Yu! Geser kIrI sedIkIL ... kebunvukun
... vu! Yu! KusIh kunun buwuh ... sLop! Cukup! MunLup!¨
“Wui h ... cakepan gambar yang baru, ni h,” satpam i tu
lantas berkomentar di i ri ngi decak kagum.
Kugy tergerak untuk berdi ri dan i kut meli hat. Mulutnya
pun menganga. “I ni —i ni luki san dari mana, Pak?” tanyanya
tergagap.
“Dari rumah Pak Remi , Bu. Di suruh di pi ndahi n ke si ni .
Sengaj a malam-malam supaya nggak ganggu orang kerj a,
katanya,” satpam i tu menj elaskan. Tak lama, rombongan
pengangkut tersebut pergi .
Dalam hati , Kugy bersyukur semua orang i tu cepat ber-
lalu dan i a bi sa berdi ri sendi ri an di sana. Menatap luki san
yang diterangi lampu spot itu sepuasnya. Seumur hidupnya,
belum pernah i a terpana seperti i ni . Seolah hati nya di -
renggut oleh luki san i tu, dan terperangkaplah i a dalam ma-
gi s sebuah kehi dupan lai n.
Sesuatu dalam lukisan itu terasa tak asing. Kawanan anak
kecil, bermain bersama hewan-hewan. Sederhana, tapi begitu
bernyawa dan bersuara. Seakan-akan di ri nya ada di sana,
bermain bersama, merasakan kebahagiaan dan cerahnya du-
ni a mereka.
“Aduh,” Kugy terkaget sendi ri , “kok j adi nangi s, si h ...,”
omelnya pelan seraya menyeka matanya yang tahu-tahu
basah. Dan ti ba-ti ba hati nya di landa ri ndu yang luar bi asa
dalam. I a teri ngat Sakola Ali t. Muri d-muri dnya. Pi li k.
303
Mata Kugy lalu mencari -cari nama peluki s di bi dang
besar indah itu. Tidak ada nama tertulis. Hanya inisial kecil
di uj ung kanan bawah: KK.
304
Jakar t a, Desember 2002 ...
Baru sehari Keenan tiba di Jakarta dan langsung menunggui
di rumah sakit terus-menerus, semua orang seketika melihat
perbai kan yang pesat dari kondi si ayahnya. Meski Adri be-
lum bisa bicara dan bergerak banyak, kehadiran Keenan se-
olah menyulut api semangat hidupnya. Air mukanya tampak
mulai segar, dan hampi r selalu ada perkembangan baru da-
lam hi tungan j am.
Lena sedang mengurus i zi n agar suami nya bi sa di bawa
pulang ke rumah. I a yaki n, keaj ai ban yang dulu di sebut-
sebut oleh dokter, telah hadi r. I a telah menj emputnya pu-
lang. Keluarganya kembali utuh.
Di tepi tempat ti dur ayahnya berbari ng, Keenan duduk
sejak kemarin malam. Tak lepas mengamati dan mengawasi.
Tak pernah i a bayangkan, pri a yang begi tu gagah, energi k,
dan gesi t, bi sa terbari ng tak berdaya seperti i tu. Keenan
ingin memastikan dirinya ada setiap kali ayahnya membuka
mata dan memanggil dengan suara lemah yang lebih berupa
34.
MALAM TERAKHIR DI UJUNG TAHUN
305
erangan. Namun, Keenan tahu namanyalah yang selalu di -
sebut.
Pi ntu membuka pelan, Lena masuk dengan hati -hati .
“Nan, besok Papa boleh kita bawa pulang,” katanya berseri-
seri .
Keenan mengembuskan napas lega.
“Mama sudah dapat rekomendasi suster yang bi sa bantu
merawat Papa di rumah. Fi si oterapi nya j uga sudah bi sa di -
mulai pelan-pelan.”
“Ma ...,” Keenan ingin bertanya sesuatu, ragu, “kantornya
Papa siapa yang ngurus?” I tulah satu pertanyaan yang paling
enggan i a tanyakan, tapi cepat atau lambat pasti akan ter-
ungkap. Keenan tahu persi s bagai mana kantor i tu bergan-
tung pada ayahnya. Usaha tr adi ng yang dijalankan ayahnya
i tu murni mi li knya seorang. Di alah orang nomor satu dan
penentu di kantor tersebut. Tak ada yang bisa menggantikan
posisinya. Entah berapa lama kantor itu bisa bertahan tanpa
kehadi ran ayahnya.
Ekspresi Lena kontan berubah drasti s. Sama seperti
Keenan, ia pun menghindari pembahasan mengenai hal satu
itu, meski tahu bahwa cepat atau lambat mereka berdua ha-
rus membicarakannya. Lena lalu menggeser kursi, duduk di
hadapan Keenan, menggenggam tangan anaknya.
“Nan ... Mama tahu kita tidak punya banyak pilihan, tapi
untuk sekarang, lebi h bai k ki ta fokus saj a pada kesehatan
Papa. Kamu nggak perlu terlalu memi ki rkan soal kantor—”
“Papa sudah satu mi nggu lebi h di si ni , Ma,” potong
Keenan. “Waktu berj alan terus tanpa mau tahu. Harus ada
yang mau mengambi l ali h, kalau nggak ... semuanya beran-
takan. Termasuk ki ta.”
Lena pun menunduk. Berharap di ri nya tak perlu meng-
ucapkan satu permintaan itu. Satu hal yang selama ini meng-
306
ganj al dan sudah menyesak i ngi n keluar, tapi i a tak pernah
tega memi ntanya pada Keenan.
“Saya akan menggantikan Papa,” Keenan tiba-tiba berujar
li ri h.
Lena mendongak. Terperangah.
“Saya nggak tahu harus mulai dari mana, Ma. Tapi saya
akan coba sebi sa saya,” lanj ut Keenan.
Lena mempererat genggaman tangannya, “Dari semua
orang di duni a i ni yang bi sa Papamu percaya untuk meng-
ganti kan di ri nya, hanya kamu orangnya. Kamu pasti bi sa,
Nan.” Namun, bersamaan dengan mengucapkan kalimat itu,
hati Lena pun tersayat. I a tahu betapa mahal pengorbanan
yang di beri kan anaknya. Keenan lagi -lagi terpaksa mem-
bunuh semua mi mpi nya, ci ta-ci tanya. Menanggalkan kuas,
kanvas, dan ci ntanya.
Jakar t a, mal am t ahun bar u 2003 ...
Semi li r angi n pantai mengembus halus, terasa hangat di
kuli t, walaupun waktu sudah bergerak lebi h sej am dari te-
ngah malam. Dengan kaki telanjang, Kugy duduk di ayunan.
Kaki nya mengayuh setengah menyeret, memai nkan pasi r
dengan j emari nya.
“Kamu j adi keli hatan kayak anak keci l kalau duduk di
ayunan,” cetus Remi yang berdi ri di belakangnya.
“Hei , kok nggak di dalam?” Kugy membali kkan badan,
menunjuk cottage yang ingar-bingar oleh anak-anak kantor.
Berdasarkan i ni si ati f beberapa orang, yang di sambut oleh
sebagi an besar lai nnya yang kebetulan ti dak punya acara
khusus, mereka bertahun baru bersama di Ancol. Menyewa
satu cottage besar dan membuat acara sendi ri .
307
“Sumpek,” jawab Remi pendek, lalu berjalan menghampiri
Kugy, mendorong ayunannya pelan.
“I ya, enak di si ni , dengar suara laut. Lagu alam pali ng
merdu.”
“Setuj u. Tahun lalu saya j uga tahun baruan di pantai .
Ombaknya j auh lebi h merdu dari i ni .”
“Oh, ya? Di mana?”
“Di Sanur.”
“Tahun lalu, aku mengkhayal kepi ngi n tahun baruan di
pantai —dari teras rumah,” Kugy terkekeh.
“Tahun i ni kesampai an, dong. Akhi rnya bi sa ke pantai
j uga.”
Kugy mengangguk l ucu, “Yup. Ancol dul u. Mudah-
mudahan tahun depan bi sa upgr ade j adi Sanur.”
“Nggak usah nunggu tahun depan kalo cuma mau ke
Sanur. Mau kapan? Yuk, saya temeni n,” kata Remi sambi l
tersenyum.
“Mi nggu depan?”
“Ayo.”
“Mmm ... bulan depan?”
“Ayo.”
“Tengah tahun?”
“Ayo.”
“Kok ‘ayo’ terus, si h? Kamu ni h, nggak ada perlawanan
banget,” Kugy tergelak. Dan ti ba-ti ba kursi ayunannya ber-
putar. Remi telah memutarnya hi ngga mereka berdua ki ni
berhadapan.
Remi lalu membungkukkan badannya, mendekatkan wa-
j ahnya pada waj ah Kugy. “Ke mana pun i tu, dari mulai wa-
rung nasi goreng sampai Pantai Sanur ... kapan pun itu, dari
mulai hari ini sampai nggak tahu kapan, selama bisa bareng
sama kamu, saya mau.”
Kugy terkesi ap. Pi ki rannya berusaha mengej ar apa yang
308
di katakan Remi , sekali pun hati nya sudah tahu. Sudah lama
tahu. “Remi ... kamu i tu ... atasanku ...,” uj arnya terbata.
Remi mengangguk. “I ya, saya tahu i ni semua menyalahi
etika perkantoran mana pun. Saya mempersulit posisi kamu.
Juga mempersulit diri saya sendiri. Tapi, kalau cuma karena
i tu saya j adi nggak j uj ur pada hati saya sendi ri , buat saya
i tu lebi h nggak masuk akal.”
Kugy menelan ludah, “Tapi ... kamu ... temannya Karel
....”
“Kamu ada masalah kalau pacaran sama cowok yang le-
bi h tua? Pacaran sama teman abang kamu?” Remi terse-
nyum si mpul.
Mendengar kata “pacaran”, j antung Kugy berdegup lebi h
kencang dan tubuhnya mengunci . Tegang. Kugy berusaha
menenangkan hatinya, mengatur napasnya. Berusaha sebisa
mungki n menatap Remi dengan tenang dan berkata tanpa
gemetar, “Aku ada masalah pacaran dengan siapa pun kalau
aku belum benar-benar tahu apa yang sebenarnya di a rasa-
kan.”
Tampak air muka Remi berubah. Manusia yang biasanya
selalu tampil rileks dan luwes itu kini terlihat gelisah. Mulut-
nya setengah membuka, tapi tak ada kata-kata yang terlon-
tar. Dengan gugup, ia membuang pandangannya sebentar ke
arah lai n, seolah mengumpulkan kekuatan untuk bi cara.
“Kamu ...,” suara i tu bergetar, “… kamu adalah alasan
baru saya ke kantor seti ap hari . Kamu bi ki n saya semangat
... bi ki n saya ketawa ... bi ki n saya kepi ngi n melakukan
banyak hal ... bikin saya nyaman ...,” Remi berhenti sejenak,
menenangkan j antungnya yang j uga berdebar tak keruan,
“kamu ... bukan cuma bi ki n saya kagum, tapi j uga j atuh
ci nta.”
Giliran Kugy yang kehilangan pertahanan, kehilangan ke-
mampuan untuk berpura-pura tenang. Dalam hati nya, ter-
309
j adi perseteruan hebat. Untuk pertama kali nya i a ber-
hadapan dengan sebuah dilema yang sebelumnya tak pernah
ada. Sebelum ini, ia tahu persis siapa yang ia idamkan, impi-
kan, dan harapkan. Namun, ki ni semuanya tak j elas lagi .
Yang i a tahu, Remi begi tu dekat, nyata, dan terj angkau.
Remi hadi r dalam hari -hari nya, bukan mi mpi nya.
“Kamu sadar nggak, si h? Saya tergi la-gi la sama kamu,”
bi si k Remi halus.
Kugy ti dak yaki n di ri nya bi sa berkata-kata. Namun,
untuk pertama kali nya, Kugy meli hat sosok di hadapannya
i tu dalam makna yang berbeda. I a hanya berharap Remi
bi sa meli hat i tu. Membaca dari matanya. Di lema hati nya
telah usai . Hati nya telah memi li h.
Seakan mendengar apa yang tak terucap, Remi pun ter-
senyum lembut. I a bergerak mendekat, menghampi ri waj ah
Kugy, mendaratkan bibirnya di atas bibir Kugy. Menciumnya
dengan segala perasaan yang selama i ni i a pendam.
Suara ombak yang menyapu dari belakang menyeli muti
mereka berdua dalam alunan merdu yang tak berkesudahan.
Namun, suara yang sama seolah mengi ngatkan Kugy akan
sesuatu. Dalam hati , i a mengucapkan selamat ti nggal pada
satu nama yang begitu lama melekat di hatinya. Melepaskan-
nya pada angi n dan ombak. Menghanyutkannya di ai r laut.
Merel akannya l epas bersama mal am terakhi r di uj ung
tahun.
Di teras rumahnya, Keenan berdi am sendi ri an. Meni mang-
ni mang telepon selulernya di genggaman. Meli hat sederet
nomor yang sedari tadi terpampang di layar ponselnya dan
tak kunjung ia hubungi. Nomor satu itu selalu disimpannya,
tanpa pernah tahu apakah nomor i tu masi h berlaku atau
310
ti dak. I a hanya i ngi n menyi mpannya, meli hatnya sesekali .
Seperti malam i ni .
Meski ki ni j arak mereka mendekat, ti dak lagi terpi sah
lautan, Keenan malah merasa mereka menj auh. Entah
kenapa.
Keci l, kamu j auh sekali r asanya. Semoga kamu masi h
mengi ngat saya.
Bandung, Januar i 2003 ...
Hari pertama perkuli ahan setelah li buran selesai . Hari per-
tama dari semester terakhi r bagi Noni , dan j uga Eko.
Noni mulai menyorti r dan mengepak buku-buku per-
kuliahan awal yang sudah tidak dibutuhkannya lagi. Kamar-
nya sudah seperti gudang yang sesak dengan barang-barang
yang bertahun-tahun tak terpakai tapi di bi arkan bertahan
hanya karena i a selalu sayang membuang barang. Penyaki t
yang selalu di protes Eko dan memberi nya predi kat tam-
bahan, yakni : “Tukang Pulung”.
Sudah hampir setengah jalan ia menyortir, tiba-tiba mata-
nya terbentur pada satu barang yang i a j ebloskan di laci
berbulan-bulan yang lalu tanpa pernah di li ri k lagi . Sebuah
bi ngki san berwarna bi ru yang terti nggal di kamar Kugy lalu
di ti ti pkan padanya.
Noni mengambi l benda i tu dan meletakkannya di pang-
kuan. Pasti i ni kado dari Oj os, yang terti nggal atau sengaj a
di ti nggal oleh Kugy, duganya dalam hati . Tangannya ber-
gerak i ngi n membuka, tapi Noni mengurungkan ni at i tu.
Bi arpun barang i ni tercecer bahkan gelagatnya seperti di -
buang, tetap i ni urusan pri badi Kugy, pi ki r Noni . Tapi ...
masa aku mau si mpan ter us di si ni ? Akhi rnya, tanpa pi ki r
panj ang, Noni membukanya.
311
Sebuah scr apbook. Tanpa judul. Di dalamnya direkatkan
potongan-potongan gambar. Seti ap gambar bersebelahan
dengan ceri ta yang di tuli s tangan. Noni seketi ka mengenali
tulisan itu. Tulisan tangan Kugy. Noni pun mengenali cerita-
ceri ta yang di tuli s di sana. Kumpulan ceri ta yang di buat
Kugy bertahun-tahun tanpa pernah i a publi kasi kan, hanya
di pamerkannya ke beberapa orang, termasuk di ri nya.
Di halaman pertama, terlekatlah fotokopi tuli san tangan
Kugy sewaktu keci l. Noni pun hafal tuli san i tu. Kugy seri ng
menuli skannya di buku-buku dongeng koleksi nya, terutama
pada buku-buku yang ia anggap spesial. Sebuah kutipan dari
W.B Yeats:
¨MurI Lerus muju, huI Juru-juru Dongeng!
Tangkaplah seti ap sasaran tuj uan hati . Dan j angan takut.
Segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar,
Dan Bumi hanyalah sebuti r debu di bawah telapak kaki
ki ta.”
Noni i ngat, Kugy keci l amat bangga dengan kuti pan i tu.
Waktu i tu Kugy bi lang padanya, “Non, aku i ngi n j adi Juru
Dongeng.” Sementara Noni sendi ri belum mengerti maksud
tuli san i tu apa. Tapi Kugy sudah.
Di sampul pali ng belakang, terdapat seli pan yang bi sa
dipakai untuk menyimpan sesuatu. Noni tidak akan menge-
ceknya jika saja ujung kertas putih yang diselisipkan di sana
ti dak menyembul keluar. Di ambi lnya kertas i tu. Sebuah
amplop puti h, beri si sehelai kartu. “Happy Bi r thday?” gu-
mam Noni sendi ri an. Si apa yang ulang tahun?
Noni lantas membuka kartu i tu dan membaca tuli san
Kugy:
Har i i ni aku ber mi mpi .
Aku ber mimpi menuliskan buku dongeng per tama-
ku.
312
Sej ak kamu membuatkanku i lustr asi -i lustr asi i ni ,
aku mer asa mi mpi ku semaki n dekat.
Belum per nah sedekat i ni .
Har i i ni aku j uga ber mi mpi .
Aku ber mi mpi bi sa selamanya menuli s dongeng.
Aku ber mi mpi bi sa ber bagi duni a i tu ber sama
kamu dan i lustr asi mu.
Ber sama kamu, aku ti dak takut lagi menj adi pe-
mi mpi .
Ber sama kamu, aku i ngi n member i j udul bagi
buku i ni .
Kar ena hanya ber sama kamu, segalanya ter asa
dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya
benar . Dan Bumi hanyalah sebuti r debu di bawah
telapak kaki ki ta.
Selamat Ulang Tahun.
Keenan! Noni langsung menduganya. Tak mungkin salah
lagi . Buku i ni pasti di peruntukkan bagi Keenan. Noni me-
li hat tanggal yang tertera di sudut kanan atas: 31 Januar i
2000.
Tangannya yang memegang kartu itu mendadak melemas.
Noni cukup mengenal Kugy untuk mengetahui kedalaman
kata-kata yang ditulisnya, perasaan sedahsyat apa yang men-
dorongnya. Pelan-pelan, Noni merangkai kan semuanya.
Pelan-pelan, Noni tahu, mengapa dulu Kugy selalu meng-
hi ndar, mengapa Kugy ti dak datang ke pestanya, mengapa
Kugy akhi rnya memi li h pi sah dengan Oj os, mengapa Kugy
seperti orang tertekan. Pelan-pelan, i a paham. Semuanya.
Di seli pkannya lagi kartu i tu dengan hati -hati . Noni sam-
pai ingin menangis karena miris. Tiga tahun bukanlah waktu
yang si ngkat untuk memendam dan di am.
313
Eko berlari tergopoh-gopoh menuju kamar Noni seusai me-
maki rkan Fuad di halaman depan. “Noon ... Nooon ...,”
panggi lnya sambi l berlari .
Noni segera keluar kamar. “Kenapa, Ko?”
¨Burusun Nvokup kusIh Luhu, Keenun uduh dI JukurLu!¨
Noni terenyak. “Di a—di Jakarta? Pulang ke rumahnya?”
“I ya. Di a pulang karena Oom Adri kan saki t parah. Kata
Nyokap, selama i ni ternyata di a di Bali ,” Eko menj elaskan
dengan semangat, “aku pokoknya harus ketemu manusia itu.
AsII, pokoknvu uku ucuk-ucuk Luh unuk!¨ Eko berLerIuk ke-
gi rangan, “Pas banget ya di a pulang? Jadi , di a bi sa dateng
ke acara ki ta bulan depan.”
“Ko ... aku j uga mau ke Jakarta,” Noni berkata li ri h.
“Kamu mau i kut ketemu Keenan?”
“Aku mau ketemu Kugy.”
Gi li ran Eko yang terenyak. “Kamu ... yaki n? Kamu udah
si ap?”
Noni mengangguk. “Aku mau mi nta maaf.”
Jakar t a, Januar i 2003 ...
Keenan memandangi bayangannya sendi ri dalam cermi n
yang tergantung di tembok kamarnya. Sudah semi nggu i ni
i a menj alani ruti ni tas yang sama. Menatap bayangannya
yang terbungkus dalam kostum yang terasa asi ng. Celana
kain, kemeja rapi, sepatu loafer , ia bahkan mengantongi se-
helai dasi yang kadang-kadang di butuhkan.
I a bangun setiap pagi dan bekerja di kantor ayahnya. Ber-
kendara bersama j utaan manusi a Jakarta lai n yang pergi
314
bekerj a dan pulang pada waktu yang sama. Tak j arang i a
pulang setelah makan malam. Selai n untuk menyi asati ma-
cet, begi tu banyak yang harus i a pelaj ari .
Betapa waktu berj alan cepat di si ni . Berlari dan mem-
banj i r. Jauh berbeda dengan hari -hari nya di Ubud di mana
waktu terasa hanya berjalan, bahkan menetes. Keputusannya
untuk segera mengambi l ali h tugas ayahnya telah menyi ta
semua energi dan fokusnya. I a bahkan belum merasa me-
luangkan waktu yang cukup untuk hidup di rumah, bersama
orangtua dan adi knya.
Satu-satunya hiburan yang membuat hatinya sejuk hanya-
lah pemandangan ayahnya yang ki an membai k dari hari ke
hari. Setiap pagi, di kursi roda, ia melepas Keenan pergi de-
ngan senyum. Dan jika ia pulang, Jeroen selalu menyempat-
kan diri untuk menungguinya, demi mengobrol sebentar se-
bel um t i dur . Dan mamanya yang sel al u memast i kan
segalanya bai k, segalanya cukup.
Selai n keluarganya, tak satu pun teman dan saudaranya
yang sempat i a temui . I a bahkan belum mengontak si apa
pun. Terlalu lama ia hilang hingga Keenan tidak tahu harus
memulai dari mana. Napasnya mendadak menghela. Eko. I a
teri ngat sepupunya satu i tu. Dan betapa i a meri ndukannya.
Kugy ... Keenan pun terduduk di tempat ti dur. Begi tu
keluar dari Pulau Bali, ia sudah merasa dihadapkan lagi de-
ngan segala kenangan tentang Kugy. Di angkasa ... di awan
... di j al anan ... semua memori dan perasaan seol ah
berlomba-lomba untuk bangkit. Walaupun kini kemungkinan
untuk bertemu Kugy j auh lebi h besar, tetap Keenan ti dak
men gi n gi n k an n ya. Sedapat mun gk i n t i dak
mengi ngi nkannya.
Keenan meraupkan tangannya ke muka. Berharap andai
ada satu cara, satu penghapus besar yang bisa membersihkan
otaknya dari kenangan i tu, sebersi t perasaan yang selalu
315
bercokol dan mengusiknya dari waktu ke waktu, yang mem-
buatnya terkadang merasa bersalah pada Luhde. Mendadak,
Keenan gemas sendi ri . Mengapa manusi a satu i tu begi tu
susah di lupakan?
I a lalu bangkit berdiri. Mengecek bayangannya sekali lagi.
Kemudian berangkat pergi. Masuk ke pusaran waktu Jakarta
yang cepat. Berharap dengan demi ki an, bayangan Kugy ter-
enyahkan j auh-j auh.
316
Hari Mi nggu. Hari kemerdekaan bagi Kugy. Dalam arti , i a
bi sa ti dur semerdeka-merdekanya. Namun, ti ba-ti ba, bahu-
nya diguncang-guncang seseorang. Dan mengukur dari mata-
nya yang masi h sangat berat, Kugy tahu bahwa hari masi h
terlalu pagi untuk bangun.
¨Gvvv ... bunguuun! Bunguuun! WooIII!¨
Kugy seketika curiga dirinya masih mimpi. I a hafal betul
teri akan-teri akan barbar i tu, tapi ... mana mungki n! Kugy
lantas menari k seli mutnya lebi h ti nggi .
¨Gvvv!¨ Suuru ILu kIun meIengkIng. ¨Bungun, dooong!
Tegu bungeL sIh, guu uduh juuh-juuh duLeng, nIh!¨
Kugy memaksakan kelopak matanya membuka. “Non?”
gumamnya tak percaya. I a terduduk langsung. Dan serta-
merta, Noni mendekapnya. Lengkaplah mi mpi aneh i ni , pi -
ki r Kugy. Masi h li nglung.
¨Gv ... muuhn guu, vu. SorI bungeL unLuk semuunvu,¨
bi si k Noni di kupi ngnya. Dan tak l ama, Noni mul ai
tersengguk-sengguk.
“Non, elu kenapa?” Kugy bertanya bi ngung.
35.
PANGERAN SEJATI
317
“Gua baru ngerti sekarang. Tiga tahun, Gy. Dan gua baru
ngerti ... sori , ya ...” kata Noni di sela i sakannya.
“Ti ga tahun—apaan?” Kugy tambah bi ngung.
Perlahan, Noni melepaskan rangkulannya, lalu merai h
tasnya, menyerahkan sebuah bungkusan pada Kugy. “Maaf,
Gy. I ni gua bungkus ulang. Gua kepaksa buka. Barang i ni
keti nggalan di kamar kos lu yang lama.”
Kugy tercengang meli hat benda i tu kembali ke hadapan-
nya. Badai besar seketi ka menyapu hati nya. Kepala Kugy
pelan menggeleng. “Nggak semesti nya buku i ni kembali ke
gua, kok, Non. Lu ambi l lagi aj a, di si mpan, atau di apai n
kek, terserah,” katanya geti r.
Noni menggel eng. Si ap mel edakkan t angi s beri kut .
“Kenapa lu nggak pernah ngomong, Gy? Kalau dulu gua
tahu tentang perasaan lu, pasti nggak begi ni ....”
“Sebetulnya gua selalu pingin kasih tahu, Non ... tapi gua
ngerasa nggak bi sa apa-apa keti ka lu dan Eko berencana
untuk mengenalkan Wanda ke Keenan ... dan gua lihat misi
kalian berhasil ... sementara gua sendiri masih pacaran sama
Oj os ... gua bi ngung mau bi lang apa, mau bersi kap apa ...
lebi h bai k gua j auh sekali an dari kali an semua ....” Mata
Kugy mulai berkaca-kaca. “Dan soal Eko ....”
Tangi s Noni meledak tak tertahan. “Gy ... gua yang harus
minta maaf soal itu. Sebegini lama kita sahabatan, gua nggak
pernah mau mengakui kalau gua selalu cemburu sama lu, gua
selalu merasa ada di bawah bayang-bayang lu ... makanya,
begitu Eko kelihatannya masih merhatiin dan dekat sama lu,
reaksi gua j adi berlebi han ... padahal di a nggak ada maksud
apa-apa. Gua cemburu ngelihat persahabatan kalian, ngelihat
kalian tetap deket. Sementara gua sama lu malah jauh,” Noni
menerangkan sambi l berurai ai r mata.
Kugy tak sanggup bi cara lagi . Hanya memeluk Noni dan
mengusap-usap punggung sahabatnya.
318
¨¡u muuhn guu kun, Gv?¨
¨AsuI Iu jugu muuhn guu, Non,¨ kuLu Kugv IIrIh.
Keduanya berpelukan lama. Mencai rkan apa yang sudah
membeku selama hampi r ti ga tahun.
“Gua j uga mau kasi h tahu sesuatu ...” bi si k Noni .
“Bahwa lu sebenarnya Batman?”
Noni nyari s tersedak karena ledakan tawa yang bentrok
dengun Isuk LungIs. ¨Monvong!¨ mukInvu peIun, ¨BerILu se-
ri us, ni h ...”
“Oke, oke. Apa?” Kugy meli pat tangannya, si ap mende-
ngar.
“Berhubung ortu-ortu udah mendesak, yah, you know
lah, j adi ...,” Noni berdehem, “bulan Februari depan, tepat
pada hari Valenti ne, gua dan Eko tunangan.”
Kugy melongo. “Gua ... kok ... kayaknya lebih siap dengar
kalo lu sebenarnya Batman.”
Noni terpi ngkal-pi ngkal sambi l menghapusi ai r matanya,
¨Dusur orung gIIu ... guu kungen bungeL sumu Iu!¨
Kugy tersenyum. Tergerak sekali lagi untuk memeluk
Noni. “Selamat ya, Non. So happy for you. Emang udah ja-
tah kali an berdua untuk sali ng menghancurkan hi dup satu
sama lai n,” selorohnya, “kali an memang pasangan pali ng
serasi . Gua bahagi a, dua sahabat gua bi sa j alan bareng se-
j auh i ni . You guys tr uly deser ve i t.”
“Makasi h, Gy,” sahut Noni , “but, you know what? Se-
betulnya, dari dulu, gua dan Eko merasa lu dan Keenan
adalah pasangan pali ng serasi . Kali an tuh sama-sama aneh
... ancur ... nggak j elas—”
¨¡u memujI uLuu menghInu sIh, Non? Yung jeIus, dong!
Jungun seLenguh-seLenguh gILu!¨ Lukus Kugv sok guIuk.
Noni nyengi r, “Jadi , kalau satu saat kesempatannya ada,
lu akan kasi h buku i tu ke Keenan?”
319
Waj ah Kugy berubah seri us. I a lalu menggeleng. “Buku
i tu hanya bi sa gua kasi h ke seseorang yang bakal mengi si
hati gua selamanya. Dan, seperti nya orang i tu bukan di a.”
Noni terdiam. I ngin rasanya mengatakan pada Kugy, bah-
wa Keenan telah pulang, bahwa Kugy ki ni berada satu kota
dengannya. Namun, lidahnya kelu. Biarlah Kugy tahu sendiri
satu saat nanti , bati nnya.
“Sekarang, giliran gua mau kasih tahu sesuatu,” Kugy ter-
senyum cerah. I a keli hatan berbunga-bunga.
Noni menyadari perubahan ai r muka sahabatnya. “Lu—
IugI juLuh cInLu, vu? SIuIun. Sumu sIupu, huvo? BIIung!¨
¨Non ... guu punvu pucur!¨ Kugv IuIu jIngkruk-jIngkruk
sendi ri , kegi rangan.
Noni menj eri t hi steri s. “Si apaaaa?”
¨Bos guu sendIrI! Hu-hu!¨ Kugv LerLuwu-Luwu.
Noni mengernyi t. “Kalo gua Batman, lu I nem Pelayan
SeksI! BIsu-bIsunvu judIun sumu bos sendIrI. Ngehe emang
Iu!¨ TupI Luk Iumu NonI IkuL LerLuwu, “I ’m happy for you,
too. Kenali n, dong.”
“Pasti lah. Nanti pas acara tunangan lu, gua aj ak di a,
ya?”
¨AsvIIIk!¨ NonI berLepuk Lungun. TIbu-LIbu, dengun ge-
rakan gesi t i a mengalungkan sesuatu di leher Kugy.
“Eh, eh, eh ... apaan, ni h?” Kugy kaget dengan benda
asi ng yang tahu-tahu tergantung di lehernya.
“Selamat. Kamu berhasi l j adi j uara satu. Ti dak ada yang
menggeser posi si lu buat gua, Gy,” ucap Noni sambi l ter-
senyum ceri a.
Kugy membaca tuli san di medali emas i tu. Sahabat Ter -
baik dan Ter awet. Napasnya langsung tertarik ulur panjang-
panj ang. Setengah mati menahan haru. “Seri us, Non ... gua
tetap lebi h si ap kalo lu sebenarnya Batman ...,” desi s Kugy.
320
Sesampai nya di depan pagar rumah i tu, Eko langsung ber-
temu muka dengan tantenya yang sedang menyi rami ta-
naman pot di seki tar gazebo taman.
¨TunLe ¡enu!¨ punggIInvu.
Lena segera meletakkan penyemprot di tangannya, dan
menghampi ri Eko dengan tangan membentang. “Ekooo ...
ya, ampun. Apa kabar kamu?”
“Bai k, Tante,” Eko balas merangkul tantenya. “Mama
kasi h tahu aku, katanya Keenan—”
¨SETAN A¡AS KEPARAT!¨ Tuhu-Luhu udu suuru kerus
yang berteri ak dari arah rumah.
¨TOKA¡ BERANTAKAN!¨ SponLun, Eko membuIus.
Reßeks berIkuLnvu uduIuh memInLu muuI pudu LunLenvu,
“Maap, maap, Tante ... i tu bukan memaki , tapi ungkapan
sayang—” Sebelum kali matnya selesai , Eko sudah keburu
di tubruk dan di rangkul.
Keenan dan Eko, berpelukan, tertawa-tawa, dan tak
henti-hentinya saling mengumpat. Lena meringis-ringis sen-
di ri mendengar pertukaran maki an antara kedua anak i tu.
Tak lama kemudi an, mereka masuk ke rumah, ke kamar
Keenan.
Setelah kenyang bertukar makian, sepanjang siang kedua-
nya bertukar cerita. Saling tercengang dan takjub atas cerita
masi ng-masi ng.
“Jadi, lu skripsi semester ini? Tengah tahun lulus? Yeah!
Welcome to the r eal wor ld!” Keenan menepuk bahu Eko.
“Bi asa aj a kali . Tepat waktu, si h, tapi standarlah. Masi h
ada yang lebi h gi la dari pada gua. Rekan ali en lu, tuh. Kugy
udah lulus dari tahun lalu. Udah kerj a. Sukses pula,” tutur
Eko.
321
Ada sentakan dalam hati nya begi tu mendengar nama i tu
di sebut. “Kugy? Kerj a di mana di a?” tanya Keenan.
“Di perusahaan adver tising, gitu. Jadi copywr iter . Sesuai-
lah dengan bi dangnya.”
Keenan mengangkat ali s, “Gua pi ki r bi dang di a adalah
nuli s dongeng.”
“Nan? Hello? Please, deh. HurI gInI nuIIs dongeng! ¡u
kata ki ta hi dup di negeri peri ?” Eko terbahak. “Lha elu ...
si apa yang bakal nyangka seor ang Keenan bi sa j adi
busi nessman di I bu Kota?”
Sentakan kedua dalam hati nya. “Well, gua si h berharap
i ni cuma sementara. Yang j elas, untuk sekarang i ni , gua
nggak ada pi li han, Ko. Keluarga gua nggak punya pi li han,”
Keenan berkata, berat.
Eko gantian menepuk bahu sepupunya. “Gua ngerti, man.
Apa pun yang bi sa gua bantu, let me know, oke?”
Keenan tersenyum, “Jangan ge-er, ya. Tapi ngeli hat lu
doang, tanpa lu perlu ngapa-ngapai n, rasanya hi dup gua
kembali normal.”
“Gombal gi la,” Eko memonyongkan mulut, “sej ak kapan
j uga hi dup lu normal?”
“Good poi nt,” Keenan mengangguk sepakat. “Kapan ya
gua bi sa ketemuan sama lu dan Noni ? Ki ta j alan ke mana
kek ....”
¨SIup! ApuIugI NonI dun Kugv buru rujukun. Kun pus,
tuh.”
“Ruj ukan? Memangnya mereka kenapa?” tanya Keenan.
Badannya langsung menegak.
“Lu nggak tahu? Sejak pesta ultahnya Noni mereka nggak
pernuh ngomongun IugI. NvurIs LIgu Luhun! BuvungIn uju.
Aj ai b nggak, tuh.”
Sentakan yang keti ga kali . Keenan masi h belum bi sa
bereaksi netral dengan memori malam satu i tu. “Kenapa
Noni dan Kugy bi sa sampai gi tu, ya?” gumamnya.
322
Eko tak menjawab, hanya mengangkat bahu. I a i ngi n bi -
lang bahwa Noni telah berceri ta padanya soal kado ulang
tahun yang tak pernah sempat Kugy beri kan, tentang pe-
rasaan yang Kugy pendam bertahun-tahun, dan bagai mana
perasaan tersebut menjadi alasan utamanya untuk menying-
ki r dari pertemanan mereka waktu i tu. Namun, Eko j uga
ragu, apakah hal i tu ada gunanya. Keenan sudah punya ke-
kasi h di Ubud. Kugy sudah punya kehi dupan sendi ri . Ji ka
ada satu hal yang i a dambakan, hanyalah mereka berempat
bisa bersahabat lagi. I tu saja sudah cukup. Kalaupun Keenan
harus tahu, bi arlah i a tahu sendi ri , bati n Eko.
“Anyway, good luck buat Februari , ya. Gua pasti hadi r,”
uj ar Keenan seraya merangkul bahu Eko.
“Hadir? Setelah ngilang segitu lama, gua bakal membiar-
kan lu CUMA hadi r?” Eko melengos.
“Abi s ngapai n, dong?”
“Lu bakal jadi best man gua di sana. Alias ... tukang cin-
ci n.”
Tawa Keenan menyembur. “Satu kehormatan buat gua.
Tapi , asal lu tahu, ‘best man’ dan ‘tukang ci nci n’ i tu adalah
dua hal yang nggak nyambung.”
Eko berpi ki r sej enak. “Jadi , harusnya ... ‘r i ng man’?”
Setelah bermi nggu-mi nggu kerj a lembur, tubuh Kugy me-
nyerah kalah. Pada hari ulang tahunnya, Kugy terpaksa me-
rIngkuk dI LempuL LIdur kurenu sukIL ßu. DuIum huLI, Kugv
bersyukur. I a sudah mendengar desas-desus bahwa satu kan-
tor bermaksud mengerjai nya habi s-habi san hari i ni , dan i su
utamanya justru bukan dalam rangka perayaan ulang tahun,
melai nkan gara-gara i a ki ni resmi menjadi pacar Bos Besar.
Ulang tahunnya hanyalah alat tumpangan strategi s di mana
323
semua kawannya punya kesempatan untuk meluapkan emosi
dan ekspresi apa pun atas hubungan barunya dengan Remi.
Entah i tu sekadar mengucapkan selamat, meni mpuk pakai
telur, membanj ur ai r, dan seterusnya.
Sehari an penuh i a hanya teronggok di tempat ti dur, ber-
t i mbunkan bant al dan gul i ng. Kugy meni kmat i bet ul
i sti rahat i ni . Ti ba-ti ba terdengar suara ketokan di pi ntu.
Kugy meli ri k j am. Bahkan belum pukul tuj uh malam.
¨MusIh kenvung! Aku mukun muIumnvu nunLI uju!¨ seru
Kugy tanpa beranj ak dari kasur.
Namun, pi ntu i tu tetap membuka. Dan muncullah Remi ,
dengan wajah bersinar diterangi lilin kecil. Kugy mengangkat
badannya sedi ki t. Remi ? Kue tar ?
Remi masuk hati -hati , membawa kue tar cokelat keci l
dengan satu li li n yang menyala, sei kat bunga aster segar,
bernyanyi pelan, “Happy bir thday to you ... happy bir thday
to you ....”
Kugy langsung terduduk tegak. Antara kaget dan i ngi n
tertawa. Namun, ia terpaksa menunggu Remi menyelesaikan
dulu lagunya, dan kemudi an meni up li li n yang di sorongkan
ke mukanya. Usai lilin itu padam, tawa Kugy langsung lepas,
¨Kumu, Luh! Apu-upuun sIh, pukuI prosesI gInIun seguIu?¨
“Kenapa memangnya? Ada masalah?”
Kugy menggeleng cepat, pi pi nya merah padam. “Aku
malu. Ki kuk kalo di perlakukan kayak gi ni ,” uj arnya pelan.
“Aneh,” balas Remi geli , “tukang khayal tapi kena j urus
cemen gi ni aj a ki kuk. Kelamaan j omblo, ya?” i a lantas me-
ngecup keni ng Kugy, “Selamat ulang tahun ya, Kugy-ku.
Badan kamu masi h hangat.”
Kugy menempelkan telapak tangannya di keningnya sen-
di ri , “I ya, ternyata masi h. Tapi rasanya aku udah bai kan,
kok. Apalagi setelah kamu muncul bawa kue dan bunga
barusan. Lumayan ada bahan ledekan,” Kugy terkekeh.
324
“Saya punya sesuatu yang bi sa bi ki n kamu sej ukan,”
lantas Remi mengeluarkan kotak hi tam rampi ng dari kan-
tong celananya, “i ni ... hadi ah ulang tahun untuk kamu.”
Kugy terbengong-bengong meli hat kotak yang terbuka di
hadapannya. Seuntai gelang yang terdiri dari batu-batu mu-
ngi l berwarna bi ru cemerlang.
“Benda i ni barangkali nggak akan matchi ng dengan j am
Kura-kura Ni nja kamu. Tapi , tolong di pakai , ya?” Remi lalu
memasangkan gelang i tu di pergelangan ki ri Kugy. “I ni
namanya batu lapis lazuli,” ia menerangkan, “warna birunya
pali ng menyerupai bi ru laut. Jadi , kalau kamu kangen
pantai, kangen laut, kamu bisa lihat warna birunya di gelang
i ni .”
Kali i ni Kugy hanya di mampukan untuk di am dan me-
nelan ludah.
“Kenapa lagi sekarang?” Remi tersenyum seraya mengelus
pi pi Kugy.
“Aku nggak tahu kamu sedang pakai j urus apa, tapi ...
aku belum pernah dapat hadi ah sei ndah i ni ,” bi si k Kugy. I a
lalu menggerakkan tubuhnya yang masi h lemah untuk
mendekap Remi seerat mungki n, “Makasi h, ya. Aku akan
pakai ti ap hari .”
“Saya nggak pakai j urus apa-apa, Gy,” Remi balas ber-
bi si k, “I j ust love you. Sesederhana i tu.”
Dalam dekapan Remi , Kugy menyadari sesuatu. Keenan
mungki n adalah Pangerannya saat i a masi h berumur 18 ta-
hun. Sebuah dongeng indah. Namun, inilah kenyataan seder-
hana yang membangunkannya dari ti dur panj ang dalam
alam dongeng. Remi lah Pangeran Sej ati nya. Remi nyata,
ada, dan menci ntai nya.
325
Jakar t a, Febr uar i 2003 ...
Jumat sore. Acara pertunangan Noni dan Eko di mulai dua
jam dari sekarang. Berhubung tak sempat lagi pulang ke ru-
mah, Kugy sudah membawa semua perlengkapannya ke
kantor. Dan i a baru saj a keluar dari toi let untuk berganti
baj u dan berdandan sebi sanya. Kugy mematut di ri di kaca,
mengecek penampi lannya sekali lagi . I a mengenakan gaun
beledu selutut warna biru tua. Gaun pertama yang dibelinya
lagi setelah bertahun-tahun. Kugy jatuh ci nta pada gaun i tu
karena potongannya yang sederhana hingga ia tak canggung
untuk berangkat dari kantor dengan gaun i tu, sekali gus cu-
kup mewah hi ngga i a ti dak perlu merasa mi nder untuk
menghadiri resepsi pertunangan sekalipun. Terakhir, ia me-
ngenakan gelang lapi s lazuli yang di hadi ahkan Remi . Kugy
pun tersenyum puas. Cukup satu benda mungil itu saja me-
li ngkar di pergelangannya, i a langsung merasa segalanya
sempurna.
36.
REUNI KELOMPENCAPIR
326
Kugy lalu menghampiri Remi ke ruangannya. “Remi, yuk,
udah jam li ma, ni h. Macet lho di jalan. Acaranya kan mulai
setengah tuj uh.”
Remi , yang sedang berbi cara di ponsel, langsung me-
nyudahi pembi caraannya cepat-cepat, lalu menatap Kugy
sambi l tercekat.
“Yuk?” Kugy mengajak sekali lagi sambil tersenyum lebar,
“Kok bengong?”
Napas panj angnya menghela, dan Remi menggi gi t bi bi r-
nya geli sah. “Oke, saya bengong karena dua hal. Pertama,
kamu ... sumpah, canti k banget ....”
Senyum Kugy tambah sumri ngah, “Dan yang kedua?”
“Saya nggak bi sa i kut.”
“Ha?” Kugy berseru kaget. “Tapi —tapi kan kamu udah
junjI muu nemenIn uku! KILu kun junjIun durI duu mInggu
vung IuIu!¨
Remi menghampi ri Kugy, meremas kedua bahunya. “Gy,
sori , barusan banget agency dari Vector Poi nt telepon, me-
reku IngIn suvu presenLusI hnuI ke kIIen kILu hurI InI. Bos
mereka harus ke luar negeri besok pagi . Jadi nggak ada
waktu lagi .”
Kugy sudah mau nangis rasanya. “Remi ... tapi ini sobat-
sobatku dari keci l ... aku kepi ngi n banget ngenali n kamu ke
mereka ... dan acara i ni penti ng buatku ....”
“Gy, kalau memang saya bisa, saya pasti pergi. Tapi saya
benar-benar nggak bi sa. I ’ll make i t up to you. Saya j anj i .”
Kugv merusu kepuLusun ILu suduh hnuI dun Luk udu gunu-
nya lagi di a merengek dan berkeluh kesah. Remi ti dak bi sa
i kut dan di ri nya harus mencoba reali sti s. Perlahan, Kugy
mengangguk.
Remi mengambil tangan Kugy dan menciumnya, “Malam
i ni saya di waki li oleh si bi ru i ni aj a, ya,” uj arnya sambi l
mengusap gelang yang meli ngkar di pergelangan Kugy.
327
Keenan tergopoh-gopoh keluar dari mobil, dan langsung me-
lesat memasuki rumah Eko. Tante Erni—ibunya Eko—sudah
menunggunvu dI pInLu beIukung. ¨Nun! OuIuh! Kenu muceL,
ya? Untung masi h keburu. Ayo, masuk dari si ni . Acaranya
sudah mulai. I ni, kotak cincinnya, kamu pegang,” seru Tante
Erni seraya menyerahkan kotak keci l ke tangan Keenan.
Keenan menyusup dan menyi si p di sela-sela punggung
orang-orang hi ngga akhi rnya ti ba di sebelah Eko dan Noni .
Seluruh otot muka Eko langsung melonggar keti ka me-
lihat Keenan akhirnya hadir tepat waktu. Tapi mereka sudah
tak sempat lagi mengobrol, hanya saling lempar senyum dan
kode-kode j arak j auh.
Dari pintu depan, Kugy, yang juga baru datang, berjuang
untuk bisa menembus kerumunan tamu. Apalagi kerumunan
sanak saudara yang berbari s di pali ng depan adalah lapi san
yang paling alot untuk ditembus. Namun, Kugy tak mau ke-
hilangan momen. I a ingin melihat pertukaran cincin itu dari
dekat.
Gi li ran otot muka Noni yang melonggar keti ka meli hat
Kugy tahu-tahu menyeruak muncul dari kerumunan orang,
melambai-lambai kecil. Manusia satu itu muncul juga, pikir-
nya lega. Tak terbayang j i ka Kugy kembali menghi lang dan
melewatkan pertunangannya.
Kugy menarik napas haru. Noni terlihat begitu cantik da-
lam kebaya merah j ambu, dan Eko terli hat gagah dengan
setelan j asnya. Pertukaran ci nci n pun akan segera di mulai .
Semua orang menanti keluarnya kotak keci l yang akan di -
buka oleh Eko. Dan seketi ka ... napasnya tertahan. Kugy
mengerjapkan mata, meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang
berhalusi nasi atau kena ti puan opti k. Demi apa pun, Kugy
sangat mengenali orang yang berdi ri di sebelah Eko, yang
328
menyerahkan kotak ci nci n padanya, dan bagai mana orang
i tu tertawa ... cara i a menatap Eko dan Noni ... matanya
yang bersi nar hangat ... Kugy menggel engkan kepal a
sendi ri an. I ni nggak mungki n.
Pada saat yang bersamaan, sebuah i ntui si menggi ri ng
mata Keenan memandang ke arah tempat Kugy berdi ri . I a
tertegun. Juga ti dak yaki n dengan pengli hatannya. Seluruh
rongga tubuhnya seketika teraliri oleh hawa hangat. Rasanya
utuh dan damai. Cuma satu orang yang mampu membuatnya
seperti i tu. Dan orang i tu tak perlu melakukan apa-apa lagi
selai n hadi r dan ada. Namun, Keenan masi h terlalu sukar
memercayai matanya. Apa yang i a li hat terlalu i ndah untuk
di percaya.
Keti ka kedua mata mereka akhi rnya sali ng menemukan,
barulah keduanya yaki n bahwa mereka ti dak berhalusi nasi .
Deti k i tu j uga Kugy rasanya i ngi n lari , secepat-cepatnya
dan sejauh-jauhnya. Namun, pada saat yang bersamaan, ke-
dua kaki nya seperti beku. Tertancap kaku di lantai tempat
i a berdi ri . Dan Kugy tetap mematung seperti i tu keti ka
Keenan akhi rnya bergerak mendekat.
Keenan bagai melangkah di lautan kala badai . Namun,
seperti terhi pnoti s, kaki nya terus di gerakkan untuk men-
dekat. “Kugy?” panggi lnya pelan, “Apa kabar?” Hanya i tu
yang sanggup i a katakan.
“Bai k,” j awab Kugy pendek. Hanya i tu yang sanggup i a
j awab.
Ti ba-ti ba, kerumunan orang mendesak mereka. Para
tamu mulai bergerak menyalami Eko dan Noni . Pandangan
keduanya terhalangi orang-orang yang lalu lalang di antara
mereka berdua.
Keenan terperanj at dengan kehi l angan ti ba-ti ba i tu.
Panik, ia lantas meraih tangan Kugy, membuat anak itu ber-
seru kaget karena ti ba-ti ba badannya tertari k maj u.
329
“Sori, Gy. Kamu kaget, ya?” Buru-buru, Keenan meminta
maaf. Kebi ngungan sendi ri atas reaksi nya tadi . Sebuah pe-
rasaan kehi langan yang rasanya tak si ap di alami nya lagi .
“Nggak pa-pa, Nan,” Kugy mencoba tersenyum.
Keenan i kut tersenyum. Senyuman mereka pertama kali
lagi setelah seki an lama. “Ki ta salami n mereka, yuk,” aj ak
Keenan sambi l terus menggandeng tangan Kugy.
Eko dan Noni sudah melambai-lambai melihat Kugy dan
Keenan yang berj alan menghampi ri . Muka keduanya cerah
bukan mai n.
¨WoI! My Ri ng Man! Dan lu ...,” Eko merangkul Kugy,
“my r i ng wor m.”
¨Aduh! Senung, vu! KILu ngumpuI IugI berempuL!¨ NonI
berseru gembi ra.
Kugy memandangi keduanya dengan tawa lebar sekaligus
LuLupun penuh Lunvu, ¨¡vu, vu? Ngguk nvungku! Ngguk udu
pertanda nggak ada beri ta, tahu-tahu ki ta berempat lagi .”
“I ya, setuj u,” Keenan mendeli k penuh arti ke arah Eko
dan Noni , “pani ti a reuni nya canggi h, ni h.”
Eko langsung menggamit tangan Noni. “Oke, kita berdua
keliling-keliling dulu, bersosialisasi dululah, biasaaa ...,” ujar
Eko sambi l cengengesan, “kali an makan dulu kek, ngobrol
kek, nanti kalo udah agak sepi kita ngumpul berempat, ya?”
Dan cepat-cepat, Eko dan Noni berlalu dari hadapan Kugy
dan Keenan. Meni nggalkan mereka berdua dengan segala
kecanggungan yang ada.
“Makan, Gy?” Keenan menawarkan, basa-basi. Rasa lapar-
nya sudah mencelat hi lang begi tu i a meli hat Kugy tadi .
Kugy menggeleng, enggan. Dalam ruang bati nnya yang
kini berkecamuk, tak ada ruang lagi untuk memikirkan ma-
kanan. “Bentar lagi , deh. Kamu lapar, ya?”
“Nggak. Saya juga nggak kepingin makan,” jawab Keenan
j uj ur.
330
Akhirnya mereka berdua duduk di taman belakang rumah
Eko, berbekalkan dua gelas es buah yang j uga tak kunj ung
di sentuh.
“Aku nggak nyangka,” Kugy membuka suara, memecah
kecanggungan yang sudah mulai terasa melumpuhkan, “akan
ketemu kamu dengan format kayak begi ni ,” i a tersenyum
lalu mengerling pada Keenan yang mengenakan jas tiga kan-
ci ng warna hi tam dengan dasi berwarna perak tua. Rambut
Keenan, yang dulu di bi arkan tumbuh panj ang, ki ni pendek
dan rapi .
“Nggak pantes, ya?” sahut Keenan di i kuti tawanya yang
renyah.
Kugy tak menj awab, karena i a tak mungki n mengatakan
j awaban yang j uj ur: bahwa Keenan keli hatan begi tu lai n,
bahwa Keenan tak pernah berhenti membuatnya terpukau.
“Saya juga nggak nyangka ketemu kamu dalam ... gaun,”
Keenan berkomentar ragu-ragu. Kamu maki n canti k, sam-
bungnya dalam hati . “Kamu membuat saya yaki n bahwa
Charles Darwi n memang benar. Evolusi i tu memang bi sa
terj adi .”
¨MonveL!¨ semproL Kugv sumbII LerLuwu.
“Ya, persi s. I tu di a. Dari monyet berantakan sampai j adi
manusi a canti k bergaun velvet,” seloroh Keenan di i kuti ge-
lakan tawa.
Namun, dengan cepat, mereka kembali terdi am. Suara-
suara yang menderu dalam bati n masi ng-masi ng masi h ter-
lampau bi si ng, tapi begi tu susah untuk di ungkap.
“Kamu ke mana aja?” tanya Kugy akhirnya, setelah sekian
lama pertanyaan i tu menggantung di benaknya.
“Ke Bali,” jawab Keenan lugas. Terlalu banyak kisah yang
tertunda. I a tak tahu lagi harus mengawali dari mana.
Kugy tersenyum pahi t mendengar j awaban i tu. “Ke Bali .
Begi tu saj a? Semudah i tu kamu ngi lang, nggak ada kabar,
331
terus kamu ti nggal ngomong ‘ke Bali ’ kayak orang baru pu-
lang li buran,” Kugy meni mpali datar, tapi sesuatu dalam
nada suaranya terasa taj am menuki k.
“Nggak semudah i tu, Gy. Saya nggak sekadar pergi , ngi -
lang dan li buran,” Keenan menatap Kugy bali k, geti r. “Saya
pergi untuk memulai sesuatu yang baru. Saya pergi ke mana
suara hati saya memi li h. Dan gi mana pun cara saya pergi
dulu, i tu adalah pi li han yang terbai k waktu i tu. Saya nggak
menyesal sedi ki t pun,” lanj utnya tegas.
Kugy rasanya tak sanggup untuk lanjut bertanya. Keenan
telah memi li h untuk meni nggalkan mereka semua, meni ng-
galkan di ri nya, tanpa kabar. I tu adalah pi li hannya, bukan
kesalahannya. Ti dak ada yang salah, bati n Kugy. Mungki n
aku yang memang ter lalu ber har ap.
“Terus ... kenapa kamu kembali lagi ke si ni ? Apa karena
pi li han hati kamu j uga?” tanya Kugy pelan.
“Bukan,” Keenan menj awab. Apa adanya.
“Kalau gi tu, buat apa kembali ke si ni ?” Suara Kugy ki ni
terdengar peri h. “Kenapa mal ah ni nggal i n pi l i han hati
kamu?”
“Saya pulang untuk keluarga saya. Papa saya saki t, Gy.
Lumpuh gara-gara str oke. Kalau bukan karena i tu, j uj ur,
saya mungki n nggak akan pernah kembali ke si ni lagi ,” j a-
wab Keenan pahit, “saya sekarang kerja di kantor papa saya.
Papa sedang terapi terus. Kondi si nya udah j auh lebi h bai k.
Kalaupun saya sekarang harus mengambi l ali h posi si nya,
mudah-mudahan nggak untuk selamanya.”
“Aku turut pri hati n, ya, Nan. Aku benar-benar nggak
tahu kalau papa kamu saki t,” kata Kugy sungguh-sungguh,
perlahan ia menatap Keenan, “tapi, kalau papa kamu baikan,
sesudah i tu kamu akan pergi lagi ? I kut suara hati kamu
lagi ?”
332
Keenan terdi am. Tatapan Kugy menyadarkannya bahwa
hatinya ingin berada di dua tempat. Dan meski hatinya telah
i a j aga rapi untuk seseorang yang menanti nya nun j auh di
sana, pertemuan singkat dengan Kugy langsung menjungkir-
bali kkan apa yang selama i ni i a bangun dengan hati -hati
dan susah payah.
Meli hat Keenan yang membi su, Kugy menghela napas.
Batinnya berteriak semakin menjadi-jadi. Buat apa dia kem-
bali ? Buat apa muncul sejenak lalu menghi lang lagi nanti ?
Sementara sej enak saj a kehadi ran Keenan mampu meng-
obrak-abri k seluruh tatanan hati nya. Jemari Kugy bergerak,
menggenggam untai an batu keci l yang meli ngkar di per-
gelangan tangan ki ri nya, berusaha mencari kekuatan di
sana.
“Gelang kamu bagus. Lapi s lazuli ?”
Kugy tersentak mendengar komentar Keenan yang tak
terduga. I a cuma mengangguk, dan tak bi sa menolak keti ka
Keenan meraih pergelangannya, mengamati gelangnya lebih
saksama.
“I ni gelang yang pali ng cocok buat agen rahasi a Neptu-
nus,” ucap Keenan sambi l tersenyum keci l, i a meli ri k Kugy,
“bukan Neptunus yang kasi h, kan?”
Kugy menggeleng. “Pacarku yang kasi h,” jawabnya spon-
tan. Lebi h cepat di a tahu, lebi h bai k.
“Oh,” sahut Keenan pendek, berusaha menyamarkan ge-
taran dalam suaranya, “berarti di a memang memahami
kamu dengan bai k. Teman kerj a?”
“I ya.”
“Copy wr i ter j uga?”
“Di a atasanku.”
Keenan membunyikan “oh” pendek yang kedua kali. “Le-
bi h tua, dong?”
333
“I ya.”
“Di a seri us sama kamu?”
Kugy mengangkat bahu, “Yang j elas, aku nggak pernah
mai n-mai n.”
Kali i ni Keenan bahkan tak tergerak untuk menyahuti
apa pun.
Kugy menghela napas. Gi li rannya. I a meni mang-ni mang
dari celah mana pertanyaan i ni bi sa di lontarkan. “Perem-
puan Bali kan ayu-ayu, ada yang nyantol, nggak?” tanyanya
dengan nada yang di upayakan terdengar ri ngan.
Keenan mengangguk. “Pacar saya sekarang memang
orang Bali asli. Keponakannya Pak Wayan,” ujarnya langsung.
“Di a masi h muda, tapi kepri badi annya sangat dewasa.”
“Peluki s j uga?” ti mpal Kugy, berusaha antusi as.
Keenan menatap Kugy sej enak. “Bukan. Di a suka me-
nuli s. Seperti kamu.”
Kugy merasa mulutnya mendadak pahi t. “Oh, ya? Di a
suka nuli s apa?”
“Di a ...,” Keenan menerawang, “di a sastrawati yang
sangat alami , secara tuli san dan li san. Ngobrol dengan di a
... rasanya kayak lagi baca buku petuah-petuah bi j ak. Di a
bi sa menuli s apa saj a. Tapi sekarang i ni di a kepi ngi n
menuli s ceri ta anak-anak.”
I ngin rasanya Kugy berkomentar, sekadar untuk memberi-
kan kesan wajar, tapi ia tidak sanggup. Ada sayatan di hati-
nya. Pedi h. Tanpa sepenuhnya i a sadari , j emari nya kembali
bergerak, menggenggam gelang bi runya. “Aku senang kamu
pulang. Setengah mati cari mitra kerja, nih. Kehidupan agen
ruhusIu LIduk IugI seru Lunpu kehudIrunmu!¨ Menduduk,
Kugy berkata ri ang.
“Nah, sekarang kamu pi ki r. Gi mana caranya saya bi sa
eksis terus jadi agen, sementara satu-satunya orang di dunia
yang menganggap saya agen rahasi a Neptunus, ya, cuma
334
kamu doang? Tanpa kamu, status agen rahasi a saya nggak
berlaku.” Keenan menj awi l uj ung hi dung Kugy.
Kugy tersenyum lebar. Akhirnya, semua kembali normal.
Selama mereka ti dak lagi menyentuh urusan hati mereka
yang pali ng dalam, semua bai k-bai k saj a. Dan ki ni mereka
bebas berbicara apa pun, tentang perjalanan dan kehidupan
Keenan di Lodtunduh, ceri ta pekerj aan Kugy di kantor ...
dan pembi caraan mereka seakan tak ada habi snya. Tak
terasa, tamu di rumah Eko sudah menyusut setengah.
Suasana menj adi lengang.
¨WoI, PerkumpuIun Orung Aneh! Uduh ngubIsIn nusI
berapa pi ri ng?” Eko ti ba-ti ba menepak punggung keduanya
dari belakang. Tampak Noni datang menyusul. Mereka ber-
empat ki ni duduk bersama di atas ubi n.
“Gerah ya pake baj u begi ni ? Coba bi sa pake kaus oblong
sama sarung,” Eko mengeluh sambi l membuka j asnya.
“Terus mi num kopi tubruk sama si ngkong goreng, de-
ngeri n radi o AM, bahas harga sayur-mayur dan j adwal pa-
nen ladang ...,” Keenan melanj utkan.
¨GenIus!¨ seru Kugv. ¨GImunu kuIo reunI InI kILu buuL
dengan tema ... Kelompencapi r
33
?”
Eko mengernyit melihat keduanya, “Gua kok lebih setuju
memakai tema ‘Ali en Ressurecti on’, ya?”
¨Aku seLuju dengun Ide KeIompencupIr! Aku pInjum kos-
Lum ke Mumu kumu, vu!¨ NonI berkuLu pudu Eko, dun Iung-
sung lari ke dalam rumah. Kembali lagi membawa empat
kaus dan empat sarung.
Tak lama, semua pakaian mereka berganti. Empat cangkir
mi numan panas. Sepi ri ng makanan keci l. Malam berlalu
33
Si ngkatan dari : Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pi rsawan. Si aran
i nformasi bagi petani dan nelayan di I ndonesi a yang sempat ruti n
di tayangkan di TVRI pada masa pemeri ntahan Presi den Suharto.
335
terlalu cepat. Terlalu si ngkat untuk mengi ri ngi obrolan me-
reka dan keri nduan mereka akan satu sama lai n. Tanpa te-
rasa, ayam j antan berkokok dari kej auhan, membukti kan
berguli rnya malam yang terlalu cepat untuk mereka ber-
empat.
336
Jakar t a, Mar et 2003 ...
Kegi atan Noni dan Eko di kampus yang mulai melonggar
memungki nkan mereka berempat cukup seri ng berkumpul.
Setidaknya dua minggu sekali mereka menyempatkan untuk
bertemu. Dan mi nggu i ni , rumah Keenan yang mendapat
gi li ran.
Lena sangat gembi ra menyambut mereka semua. Sudah
lama i a ti dak meli hat Keenan bergaul dengan teman-teman
lamanya. Dan bagi nya i tu pertanda bahwa Keenan mulai
kerasan hidup di Jakarta. Saking senangnya, Lena rela mem-
bi ki nkan begi tu banyak makanan sampai -sampai mej a
makannya nyari s tak muat lagi .
Empat-empatnya bengong meli hat mej a makan yang pe-
nuh sesak i tu.
“Ma, ki ta kan cuma berempat?” tanya Keenan, “I ni si h
mukunun buuL skuIu kendurIun!¨
“Keenan lupa memperhi tungkan peli haraan ki ta semua,
Tante,” sambar Eko, “Kugy pelihara anakonda, saya pelihara
37.
TABIR YANG TAK BISA DITEMBUS
337
ular naga, Noni punya keluarga si nga, Keenan ngasuh rom-
bongan tunawi sma—”
¨Mus Eko!¨ Jeroen keIuur durI kumurnvu.
“Jeroen?” Eko benar-benar pangling. Anak SMP yang ke-
cil itu kini sudah menjulang tinggi, hampir menyamai tinggi
badannya. Jeroen sudah masuk SMA sekarang. “Kamu—
peli hara apaan bi sa j adi segede gi ni ?”
Jeroen terkekeh, “Peli hara grup ronggeng.”
Lena mendelik, “Memang nih anak satu. Pacarnya banyak
bener. Pusi ng deh, Tante di rumah merangkap resepsi oni s.
Telepon krang-kri ng terus nyari i n Jeroen. Dan orangnya
beda-beda semua.”
“Lho, nggak pa-pa, Tante. I tu untuk mengimbangi abang-
nya yang nasi bnya agak lai n,” ti mpal Eko lagi .
Ti ba-ti ba terdengar suara roda berputar. Ayah Keenan
keluar dari kamarnya. Tangannya sudah bergerak lancar me-
mutar roda. I a tersenyum ramah menyapa semuanya. Walau-
pun bi caranya agak pelan, arti kulasi nya sudah j elas dan
mendekati normal. Sesampai nya di dekat mej a, Adri pun
mi nta di bantu berdi ri . I a berj alan hati -hati menuj u kursi .
“Ayahnya Keenan sekarang sudah bi sa jalan lagi , hampi r
semua sudah bisa kembali seperti dulu, tapi masih pelan-pe-
lan,” Lena menerangkan dengan bangga.
Kugy mengamati semua itu dengan saksama. I ni r upanya
pengor banan Keenan. Mudah-mudahan memang ti dak un-
tuk selamanya—sekalipun itu berarti Keenan mungkin akan
pergi lagi entah ke mana. Mendadak muncul sayatan pedi h
lagi di hati nya. Namun, Kugy memi li h untuk ti dak meng-
indahkan. Malam seperti ini terlalu berharga untuk dilewat-
kan dengan kepedi han.
338
“Kali an duluan, deh. Besok pagi kan kali an masi h harus ke
Bandung. Bi ar gua yang nganteri n Kugy,” uj ar Keenan di
beranda depan.
“Yaki n?” tanya Noni dan Eko hampi r berbarengan.
“Nggak ngerepoti n?” Kugy menyusul bertanya.
Keenan menggeleng mantap, lalu melepas keduanya pu-
lang. Ti nggal i a, Kugy, dan bebunyi an serangga malam.
“Gy, saya sebenarnya pingin ngomong sesuatu. Bagi saya,
hal i ni sangat pri badi , dan hanya menyangkut ki ta berdua.
Makanya saya nggak pi ngi n ngomong di depan Noni dan
Eko.”
Meski tetap tampi l tenang, Kugy kontan ti dak keruan.
Jantungnya berdegup kencang.
Keenan menatap Kugy dalam-dalam. “Gy, saya harus ber-
teri ma kasi h sama kamu.”
“Untuk?” Dan Kugy meli hat Keenan mengeluarkan se-
suatu dari bali k punggungnya. Benda yang i a bawa sej ak
mereka beranj ak ke serambi tadi .
“Kamu sudah memi nj amkan sesuatu yang sangat ber-
harga buat saya. Tapi barang ini harus saya kembalikan lagi,
karena i ni memang mi li k kamu.” Keenan lalu menyerahkan
sebuah buku tuli s yang ki ni sudah kumal.
Kugy tercengang, tak percaya i a akan meli hat buku i tu
lagi . “Jenderal Pi li k?” tanyanya bergetar.
“Buku ini pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup
saya,” Keenan berkata lembut, “dan kamu akan tahu kenapa.
Tapi saya nggak mau ngasi h tahu dengan cara yang bi asa-
bi asa aj a.”
Kugy tambah bi ngung. Buku kumal i tu di teri manya de-
ngan perasaan campur aduk, “Jadi ... selama i ni , kamu me-
nyi mpan buku i ni terus? Waktu kamu di Bali j uga?”
“Dan saya baca hampir tiap hari,” Keenan menambahkan.
339
I a tersenyum. “Kamu sadar nggak? Kamu akan j adi penuli s
dongeng yang luar bi asa.”
Kerongkongan Kugy tercekat. Sudah lama sekali ti dak
ada yang mengatakan hal itu padanya, bahkan menyinggung
secui l pun tentang duni a satu i tu. Termasuk di ri nya sen-
di ri .
“Kali i ni , saya i ngi n memi nta satu hal lagi dari kamu,”
ucap Keenan separuh berbi si k. “Saya i ngi n mi nta satu hari
saj a. Saya i ngi n mengaj ak kamu ke satu tempat. Kapan
kamu bisa, kasih tahu saya. Nanti kamu akan ngerti kenapa
buku i tu begi tu penti ng buat hi dup saya.”
Kugy tak paham apa yang Keenan maksud, tapi tak
urung kepalanya mengangguk.
Hari Sabtu pagi . Pukul tuj uh kurang li ma, Keenan sudah
nongkrong di ruang tamu Kugy. Tak lama kemudi an, Kugy
keluar. Masi h dengan rambut basah dan mata yang melek
terpaksa.
“Ternyata kamu memang serius gilanya. Bener-bener ha-
rus j am tuj uh, ya?” sapa Kugy dengan j alan yang masi h se-
di ki t sempoyongan.
“Hari i ni cuma ada satu aturan yang berlaku,” uj ar
Keenan sok tegas, “aturan saya.”
“Aku mau di perbudak seperti Eko dan Fuad memper-
budakku bertahun-tahun, ya?” tanya Kugy lunglai .
“Pokoknya hari i ni tugas kamu cuma satu, Gy: percaya
sama saya. Oke. Aturan pertama, membawa beberapa baj u
cadangan. Udah?” Keenan mengecek.
“Udah.”
“Bagus. Aturan kedua: HP mati . Dari mulai ruang tamu
i ni , sampai nanti kamu kembali lagi ke si ni .”
340
“Si ap.”
Beberapa menit kemudian, mereka berangkat dari rumah
Kugy. Sepanj ang j alan, Kugy keasyi kan mengobrol sampai -
sampai tak sadar mobil itu sudah sampai di mulut tol Cikam-
pek.
“Nan,” gumamnya, setelah mendeteksi keanehan yang
terj adi , “ngomong-ngomong, ki ta mau ke mana, si h?”
Keenan nyengir. “Tujuan pertama pagi ini: Bandung. Kita
j enguk Pi li k.”
¨Ke Bundung? PIIIk?¨ Kugv Lerperunguh. ¨Horeee!¨ LerIuk-
nya sambi l melompat-lompat di tempat duduknya. Satu
mobi l terguncang-guncang.
Sudah ti ga j am mereka menempuh perj alanan, menembusi
j antung Kota Bandung, terus ke arah utara.
“Nan, aku nggak ngerti ,” kata Kugy, “kok, kamu kepi ki r
buat j enguk Pi li k segala, si h? Padahal kamu cuma dua kali
ketemu mereka. Harusnya i de menj enguk i ni munculnya
dari aku, guru mereka, yang hampir ketemu tiap hari selama
dua tahun.”
“Udah, deh. Nggak usah tanya-tanya,” Keenan menyahut
santai , “i tu j uga bagi an dari kej utan hari i ni .”
Mobil Keenan mendekati lokasi kampung Pilik. Jalan se-
tapak menuj u Sakola Ali t sudah keli hatan. “Saya harus
parki r di si ni kan, ya?” tanya Keenan keti ka meli hat plang
puskesmas yang dulu menj adi patokannya.
“I ya ... tapi , bi asanya ada pos j aga Mang Sukri di si ni ...
ke mana, ya?” Kugy celi ngukan. Mereka berdua keluar dari
mobi l. Dulu, di sebelah puskesmas i tu ada saung dari kayu
yang merangkap pos ronda. Saung kayu yang bi asanya di -
gawangi oleh Mang Sukri ki ni sudah tak ada. Puskesmas
341
keci l i tu pun tampak sepi , tak terawat. Seperti sudah tak
terpakai berbulan-bulan.
“Gy, daerah ini kayaknya berubah,” gumam Keenan sam-
bi l meli hat sekeli li ng.
Kugy ikut menebarkan pandangan. Keenan benar. Daerah
i tu sudah berubah. Jalan setapak menuj u Sakola Ali t men-
j adi lebi h besar, rumput-rumput pun sudah gundul, seperti
sering dilalui kendaraan. Sekumpulan pohon bambu rimbun
yang bi asanya meneduhi mobi l yang parki r di tempat i tu
sudah ti dak ada lagi . Si nar matahari menerpa langsung,
membuat semuanya keli hatan lebi h gersang.
Mereka mulai menapaki j alan. Pemandangan yang me-
reka temui ki an asi ng saj a. Mereka berpapasan dengan ba-
nyak pekerj a yang mengangkuti pasi r, semen, batu-batu.
Dan terkej utlah mereka keti ka setengah kampung tempat
Pi li k bermuki m sudah rata dengan tanah. Hamparan tanah
merah terbentang luas. Tak ada rumah penduduk. Tak ada
l adang. Hanya truk-truk besar, mesi n backhoe, mesi n
pengaduk semen, dan para pekerja yang hilir mudik di lahan
besar i tu.
Kugy dan Keenan melongo melihat itu semua. Sakola Alit
hi lang tanpa bekas.
Tanpa buang waktu, mereka mencari penduduk yang ma-
si h tersi sa, dan bertanya sana-si ni .
“Bade di damel j anten perumahan
34
,” j awab salah satu
orang yang berhasi l Kugy cegat. Seorang pengangkut kayu
bakar.
“Rumah-rumah di sini pada ke mana, Pak?” tanya Keenan.
“Atos ngar alih. Sadayana atos digusur
35
,” Bapak itu men-
j awab seraya merentangkan tangannya.
“Ke mana?” desak Kugy lagi .
34 Akan di j adi kan perumahan.
35 Sudah pi ndah. Semuanya sudah di gusur.
342
“Duka atuh, Neng. Da pabur encay ....
36
” I a mengangkat
bahu.
“Upami Bapa ter ang teu Pak Usep ayeuna di mana
37
?”
Dengan agak terbata-bata, Kugy berusaha berkomuni kasi
dalam bahasa Sunda.
“Oh. Pak Usep anu gaduh kebon sampeu
38
?”
“Muhun, muhun. Anu putr ana nami na Pi li k
39
,” Kugy
mengangguk-angguk antusi as.
“Pak Usep mah kagusur ka caket susukan
40
, Neng.” De-
ngan pri hati n, bapak i tu berkata.
Kugy tahu benar “susukan” yang di maksud. Sebuah kali
keci l yang nyari s keri ng dan kotor. Tempat i tu ti dak terlalu
j auh dari pembuangan sampah.
“Kamu tahu tempatnya, Gy?” tanya Keenan.
Kugy mengangguk. “Kita susul ke sana, yuk,” gumamnya.
I a sudah bi sa membayangkan kondi si seperti apa yang di -
hadapi Pi li k dan keluarganya. Setelah mengucapkan teri ma
kasi h, keduanya bergegas pergi .
Dan bayangan Kugy ti dak salah. Malah lebi h buruk. Ada
beberapa gubuk yang berdiri di pinggir kali tersebut. Gubuk-
gubuk reyot yang tak layak di sebut rumah. Satu-dua orang
tampak lalu lalang di seki tar gubuk.
¨¡Lu Puk Usep!¨ Kugv berseru.
¨Neng UgI!¨ Puk Usep Luk kuIuh LerkejuL. ¡u Iungsung me-
longok ke dalam gubuknya, “Bu ... bu ... kadieu, enggal! I eu,
aya gur u-gur una Pi li k
41

Seorang i bu berdaster lusuh keluar dari si tu. Seolah me-
36
Ti dak tahu, Non. Soalnya berpencar.
37
Kalau Bapak tahu nggak Pak Usep sekarang ada di mana?.
38
Yang punya kebon si ngkong.
39
Betul, betul. Yang anaknya bernama Pi li k.
40
Pak Usep tergusur ke dekat kali .
41
KemurI, cepuL! ¡nI udu guru-gurunvu PIIIk!.
343
li hat malai kat, i a menghambur ke arah Kugy, memeluknya
erat. “Bu Ugi ... si Pi li k, Bu ...,” tangi snya serta-merta.
Tubuhnya berguncang. Pak Usep hanya bi sa di am dan
tertunduk sedi h.
Seketi ka i tu j uga, Kugy dan Keenan tahu, ada sesuatu
yang ti dak beres.
Kembali hanya mereka berdua ditemani embusan angin dan
gemeresi k bambu. Dari tempat mereka berdi ri , kebi si ngan
pembangunan r eal estate i tu hanya terdengar sayup-sayup.
Sesekali burung berseli weran, berki cau, lalu hi nggap di atas
ni san kayu yang terpancang di hadapan mereka berdua.
Pilik beristirahat di sana. Sebuah makam seadanya. Yang
tersi sa hanya kenangan suaranya yang gaduh, lari nya yang
gesi t, rambutnya yang gundul, dan si nar matanya yang cer-
dus. Semuunvu berpuLur buguIkun hIm duIum kepuIu Kugv.
Sement ar a ser i bu sat u penyesal an muncul di benak
Keenan.
Di tangannya, Keenan menggenggam sebuah buku ta-
bungan, yang akan di hadi ahkan bagi Pi li k dan Sakola Ali t.
Uang yang i a si si hkan dari hasi l penj ualan luki sannya se-
lama i ni . Dengan geti r i a memandangi ni san i tu, menyadari
betapa i roni snya reali tas saat harus bersandi ng dengan du-
ni a dongeng. Kei ndahan duni a Jenderal Pi li k dan Pasukan
Ali t yang terwuj udkan dalam semua karyanya, serta ke-
nyataan hi dup seorang anak bernama Pi li k bi n Usep yang
harus tergusur karena keluarganya tak punya bukti ke-
pemilikan tanah, harus tinggal dalam sebuah gubuk di ping-
gi r pembuangan sampah, dan menderi ta ti fus ti ga bulan
yang lalu tanpa mampu mencari pertolongan medis. Puskes-
mas sudah lama di tutup. Pak Usep bi lang, tak sampai se-
344
mi nggu, kondi si Pi li k turun drasti s, dan akhi rnya tubuh
keci lnya menyerah. Pi li k pergi membawa mi mpi nya untuk
bi sa masuk SMP.
“Coba kalau aku sempat nengoki n di a ... aku beneran
nggak tahu, Nan ... aku j uga hi lang kontak dengan Ami ...
padahal ... Pi li k ... mesti nya di a punya kesempatan ... anak
i tu pi ntar ...,” Kugy berkata tersendat-sendat.
Har usnya kesempatan i tu ada. Keenan terduduk pi lu,
merangkul Kugy yang bersi mpuh sambi l teri sak.
“Aku sering kangen sama Pilik ... sama anak-anak ... tapi
aku udah nggak pernah sempat lagi nengok mereka ... aku
masih punya satu buku tulis petualangan Pasukan Alit yang
bahkan mereka belum sempat baca ...,” tangis Kugy lagi, lalu
membenamkan kepalanya dalam rengkuhan Keenan. Mena-
ngi skan semua penyesalan yang tersi sa dalam hati nya.
“Suatu saat mereka pasti baca, Gy,” sahut Keenan li ri h,
“kamu j angan berhenti menuli s.”
Sesaat, Keenan merasa terempas kembali ke masa lalu.
Kala i a dan Kugy masi h berbagi mi mpi yang sama. Saat
yang mereka butuhkan hanyalah alam dan satu sama lai n.
Saat sebuah momen sederhana bersama Kugy dapat meng-
kri stal dan hi dup lestari dalam hati nya. Namun, waktu ber-
j alan dan Bumi berputar, membawa mereka begi tu j auh.
Reali tas dan dongeng terpi sahkan tabi r yang rasanya tak
akan pernah bi sa i a tembus.
345
Kugy termenung mel i hat buku tabungan yang di bawa
Keenan. Beraneka ragam perasaan melanda hati nya. Antara
haru, terkej ut, dan geti r. Kugy tak menyangka betapa ki sah
yang i a tuli s telah berperan begi tu besar dalam hi dup
Keenan. I a terharu dengan kesungguhan Keenan untuk ber-
teri ma kasi h padanya, pada Sakola Ali t, dan Pasukan Ali t.
Namun, ia juga getir melihat kenyataan bahwa niat baik me-
reka semua tak sanggup menolong Jenderal Pi li k.
“Kamu akan kasi h uang i ni ke mereka, Nan?” tanya
Kugy.
“Ya. Ke Pak Usep, Pak Somad, dan semua keluarga Pa-
sukan Ali t yang kena gusur,” j awab Keenan tegas, “saya
nggak mungki n menyi mpannya lagi . Uang i ni sudah saya
anggap menj adi hak mereka.”
“Lalu ... kita mau ngapain lagi sekarang?” Kugy mengusap
waj ahnya. Penat.
“Saya masi h mau mengaj ak kamu ke suatu tempat.
Aturan hari i ni masi h berlaku, Gy,” Keenan tersenyum
sambi l mengusap pelan tangan Kugy.
38.
PENCULIKAN PALING INDAH
346
Kugy mengangguk pasrah. I a tak punya cukup tenaga un-
tuk protes. Tak cukup kemauan. Apa pun rencana Keenan,
i a hanya i ngi n di am di mobi l dan mengi kuti ke mana arah
nasi b membawanya.
Tak lama, mobi l SUV i tu pergi meni nggalkan daerah
Boj ong Koneng, lalu keluar dari Kota Bandung.
Kugy terti dur separuh terakhi r perj alanan entah ke mana
i tu. I a hanya tahu bahwa mobi l mereka pergi mengarah
Kota Garut, lalu terus ke Selatan menuj u Pameungpeuk.
Sisanya ia tak sadarkan diri. Tertidur pulas dengan sandaran
j ok merebah ke belakang.
Matanya terbuka ketika mobil Keenan akhirnya berhenti.
Pertama-tama, Kugy meli hat angkasa luas yang terbentang
dari kaca mobil. Langit berwarna kemerahan. Menyala bagai
di sulut api . Arakan-arakan awan tampak merona j i ngga di -
tel an ufuk Barat. Hal kedua yang di sadari nya adal ah
deburan ombak yang dahsyat dari arah bawah. Hal keti ga,
Kugy menyadari bahwa Keenan ti dak ada di sampi ngnya.
Sontak, Kugy terduduk. Tersadarlah i a bahwa mobi l i tu
tengah terparkir di atas tebing berumput hijau. Di hadapan-
nya terhampar laut luas. Dan di bawah sana, tampak ombak
berputar dan berpusar, sali ng memecah dan mengempas,
menyapu hamparan karang dengan buih putih. Cepat-cepat,
Kugy keluar dari mobi l.
Belum tuntas rasa kagetnya, Kugy masi h harus terpana
meli hat ratusan kelelawar yang ti ba-ti ba mengepak ber-
samaan dari bawah tebing, membentuk segomplok awan hi-
tam yang sejenak memenuhi langit. Terkesiap dengan semua
kei ndahan yang mendadak hadi r di depan matanya, Kugy
hanya bi sa terduduk di atas rumput.
347
¨KecII!¨ Suuru Keenun berLerIuk memunggIInvu.
Kugy menoleh ke samping. Tampak Keenan melambaikan
tangan dari sebuah saung beratapkan ilalang. Kugy langsung
berlari -lari menghampi ri nya.
“Nan? Ki ta sebenarnya di mana, si h?” Kugy bertanya
keras.
“Selamat datang di Ranca Buaya,” Keenan tersenyum
lebar, “i ni bagi an dari peraturan saya hari i ni , yai tu kamu
harus rela di culi k ke mana pun. Saya pernah ke pantai i ni
nggak sengaj a, bareng Bi mo dan anak-anak kampus. Saya
langsung jatuh cinta. Bertahun-tahun pingin ke sini lagi, tapi
nggak pernah sempat. Baru sekarang bi sa kembali lagi .
Sama kamu. So, enjoy.” I a lalu menyorongkan minuman di-
ngi n yang di bawanya dalam cool box.
Kugy mengambi l mi numan yang di sodorkan Keenan.
Muka protesnya perlahan berubah. “Well, Agen Keenan
Si malakamani a, aku harus mengakui , i ni adalah penculi kan
yang sangat menyenangkan,” Kugy terkekeh, “cheer s.”
“Cheer s.”
Keduanya lalu duduk di pi nggi r tebi ng, beralaskan rum-
put dan bertemankan dua mi numan kaleng di ngi n, me-
ni kmati matahari terbenam hi ngga pupus di telan malam.
Menghayati keluasan Samudra I ndia yang membentang dari
tempat mereka duduk.
Menj elang gelap, SUV i tu turun dari tebi ng, menuj u
bagi an pantai landai tempat beberapa pedagang makanan
berjualan. Malam yang masih muda terlihat jernih. Taburan
bintang muncul tanpa perlawanan awan. Dan bulan bersinar
megah dalam masa purnamanya.
“I ni ... adalah mi i nstan pali ng enak yang pernah aku
coba seumur hi dup,” komentar Kugy seraya melahap mi
rebus yang di pesannya. I a sudah memasuki mangkuk yang
kedua.
348
Keenan meli ri k bungkusan bekas mi i nstan yang masi h
tergeletak di mej a. “Emang, ada bedanya, ya?”
“Jelas ada,” kata Kugy yaki n, “faktor pertama adalah
nggak makan dari si ang, faktor kedua adalah ... i ni warung
dengan pemandangan teri ndah yang pernah aku kunj ungi .
Restoran paling mahal di Jakarta aja kalah sama warung ini.
I ya, nggak?”
“Setuj u,” Keenan pun bergerak ke mangkoknya yang ke-
dua, “j adi , nggak nyesel kan di culi k?”
Kugy berhenti mengunyah. “Kalo boleh tahu, maksud
kamu hari i ni sebetulnya apa si h, Nan?”
Keenan i kut berhenti , sej enak menatap Kugy. “Beresi n
dulu makannya. Nanti saya kasih tahu. Tapi nggak sekarang,
dan nggak di si ni .”
Mata Kugy langsung membeli ak. “Jadi ... ki ta masi h
pi ndah tempat lagi ?”
Keenan mengangguk, “Dua puluh meter ke depan.”
Pantai Ranca Buaya hampir seluruhnya dibingkai oleh ham-
paran karang, kecuali satu cerukan yang di pakai sebagai
pelabuhan kapal nelayan, yang letaknya persi s di depan
warung-warung makanan. Dekat dari sana, masi h tersi sa
sebagi an keci l pantai kosong yang ti dak di parki ri perahu.
Di bagian itu, Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan
untuk merendam kaki mereka dalam ai r laut, di atas pasi r
pecahan kerang berwarna kri m kekuni ngan. Ratusan anak
ombak berki lau perak di ti mpa si nar bulan. Karang-karang
keci l bermunculan, tampak mengi lap di sepuh bui h ombak.
Selai n mereka berdua, tak ada lagi orang di sana.
349
Setelah kenyang bermai n ombak, Kugy mendamparkan
tubuhnya di atas pasi r. “Kenyang begi ni ... pali ng enak
ti dur,” celetuknya.
“Mau di bi ki ni n tempat ti dur nggak?” Keenan bertanya.
“Gi mana caranya?”
Keenan melesat ke mobi lnya, kembali membawa ember
keci l dan sekop.
¨Yu, umpun! Kumu muu berLunI? Kok, buwu sekop se-
gala?” Kugy tergelak.
“Nggak usah banyak tanya adalah salah satu aturan yang
berlaku hari i ni ,” Keenan menj awab santai , lalu si buk me-
ngerj akan sesuatu.
“Kamu ngapain, sih?” Masih dalam posisi telentang meng-
hadap langi t, Kugy bertanya.
Mendadak, tubuhnya terangkat. Keenan menggendongnya
tanpa di sangka-sangka.
¨Nuuun! Kumu ngupuIIIn?¨ LerIuk Kugv, sponLun.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya mengempas kembali
ke pasi r, ke dalam sebuah lubang dangkal.
“I ni tempat ti dur yang nggak bi sa di dapatkan di hotel
termahal sekali pun. Tempat ti dur pasi r. Alami ah dan j uga
LerupeuLIk kurenu punvu eIek reßeksIoIogIs,¨ seperLI Lukung
obat Keenan menerangkan, sambi l terus meni mbuni Kugy
dengan pasi r yang di sendoknya dengan ember.
Yang di kubur ti dak protes, malah terki ki k-ki ki k geli . Bu-
ti ran pasi r yang menghambur menggeli ti k saraf-saraf kuli t-
nya.
“Gi mana tempat ti durnya, Keci l? Asyi k, kan?” Keenan
tersenyum penuh kemenangan.
“Hotel bi ntang li ma lewaaat ...,” desah Kugy seraya me-
mej amkan mata. Setelah tubuhnya terti mbun pasi r, Keenan
lalu i kut berbari ng di sebelahnya.
350
“Jelas lewatlah. I ni namanya hotel bi ntang sejuta,” sahut
Keenan, “r oom ser vi ce-nya I ndomi e rebus sama teh tawar,
Iuus kumur seIuus-Iuusnvu, LempuL LIdur reßeksI, dun li ve
musi c nonstop ... suara ombak. Lagu alam pali ng merdu.”
Mendengar kali mat Keenan yang terakhi r, Kugy sontak
menoleh. “Kamu kok—?”
“Kamu boleh menganggap i ni hadi ah ulang tahun ter-
tunda, kamu boleh menganggap ini perayaan kecil reuni kita
berdua, kamu boleh menganggap i ni apa pun ...,” Keenan
beringsut mendekat, menatap lekat Kugy yang telentang ter-
tutup pasi r, “yang j elas, i ni ungkapan teri ma kasi h untuk
semua i nspi rasi berharga yang sudah kamu kasi h untuk
saya.”
Kugy merasa sekujur tubuhnya kaku. Dan timbunan pasir
yang mengurungnya semaki n membuat i a merasa tak ber-
daya. Tak bi sa bergerak, tak j uga bi cara, hanya menatap
bali k waj ah Keenan yang memayungi nya dengan j arak yang
begi tu dekat.
“Keci l ... saya selalu i ngat kata-kata kamu. Kamu pali ng
suka sama suara ombak. Moga-moga kamu senang, ya, di
si ni ,” lanj ut Keenan lagi .
“I ni —” Kugy hampi r tak sanggup melanj utkan, “i ni ha-
di ah pali ng i ndah yang pernah aku teri ma seumur-umur.
Makasi h, ya.”
Keenan menggeleng, “Saya yang berterima kasih, Gy. Dan
saya masi h punya satu hadi ah lagi . Aturannya j uga sama,
kamu harus nurut apa pun yang saya suruh. Oke? Sekarang,
tutup mata.”
Kugy menurut meski gugup bukan mai n. Dalam kondi si
mata terpejam, ia dapat jelas merasakan wajah Keenan men-
dekat. Napasnya yang terasa hangat meniupi kulit mukanya.
351
Jantungnya berdebar kencang dan rasanya ia ingin mencelat
keluar dari tempat ti dur pasi rnya, tapi Kugy sungguhan ti -
dak sanggup bergerak.
“ Buka mul ut kamu ....” Dengan l embut , Keenan
memi nta.
Ragu, Kugy membuka mulutnya perlahan. Sesuatu me-
nyentuh bi bi rnya, dan memasuki rongga mulutnya. Kugy
hafal bau i tu. Napasnya yang tadi tertahan seketi ka melega.
Tapi i a tak bi sa bi cara lagi karena mulutnya sudah penuh
terj ej al.
“Pi sang susu kesukaanmu,” Keenan tertawa keci l. “Saya
bawa sesi si r, tuh.”
Sambil mengunyah, Kugy berkomentar, “Panitianya cang-
gi h, ni h. Kamu kok i ngat semuanya si h, Nan?”
Keenan menempelkan kedua telunj uknya di ubun-ubun
menyerupai antena. “Radar Neptunus,” celetuknya ri ngan.
“Oke, rekan agenku. Main cour se udah, sekarang desser t,
terus apa lagi sesudah i ni ?” tanya Kugy.
Air muka Keenan berubah serius. “Gy, perjalanan ke sini
kan butuh enam jam dari Bandung. Tiga jam lagi ke Jakarta-
nya. Kalau ki ta paksakan pulang malam i ni pasti capek ba-
nget. Gi mana kalau ki ta pulang besok subuh menj elang
sunr i se?”
“Terus, ki ta ti dur di mana? Nggak beneran di ‘tempat ti -
dur’ i ni , kan?”
“Tenang. Saya penculik bertanggung jawab, kok,” Keenan
pergi lagi ke mobilnya, kembali membawa dua sleeping bag.
“Ki ta bi sa gelar i ni di saung belakang, atau di pantai j uga
boleh. Terserah kamu, Nona Keci l.”
“Hmm ... hmmm ...,” Kugy berpi ki r-pi ki r, “kalau aku si h
pi ngi nnya di si ni , tapi , aman nggak, ya?”
“Aman,” j awab Keenan mantap, “pani ti a penculi kan j uga
sudah menganti si pasi soal keamanan.”
352
“Oh, ya? Gi mana caranya?”
“Berdoa.”
Noni mengerutkan keni ng saat meli hat nomor tak di kenal
menghubungi ponselnya. Namun, i a memutuskan untuk
mengangkatnya. “Halo?”
“Hai . I ni dengan Noni ?”
Suara cowok yang ti dak i a kenal. “I ya, betul,” kata Noni ,
“i ni dengan si apa?”
“I ni Remi ....” Remi berpi ki r sej enak, “mmm ... pacarnya
Kugy.”
¨Oh!¨ NonI kugeL sendIrI. Numu ILu LIduk usIng. Kugv
sudah menyebutkannya berkali -kali . Yang i a ti dak sangka-
sangka adalah Remi meneleponnya tanpa hujan tanpa angin.
Pukul sebelas malam.
“Maaf, ya, ganggu malam-malam, saya tadi dapat nomor
telepon kamu dari adiknya Kugy. Mau tanya, kira-kira kamu
tahu nggak Kugy di mana? Seharian ini HP-nya nggak aktif,
dan orang rumahnya nggak ada yang tahu di a pergi ke
mana.”
“Wah, saya j uga nggak tahu,” kata Noni j uj ur.
“Kata adi knya, Kugy lagi seri ng ngumpul sama teman-
teman kampusnya. Barangkali Noni tahu sesuatu?”
“Sebetulnya yang di maksud Keshi a dengan ‘teman kam-
pus’ itu ya termasuk saya juga, sih,” sahut Noni sambil nye-
ngir, “kita dulu punya geng berempat gitu, Mas Remi. Bela-
kangan memang lumayan sering main bareng lagi. Tapi hari
i ni setahu saya nggak ada j adwal ngumpul, tuh.”
“Ke mana ya di a? Kok sampai ngi lang tanpa kabar?” ta-
nya Remi cemas.
“Mas Remi , kalo kata aku, Kugy pasti bai k-bai k aj a. Di a
353
kan memang suka aneh. Besok pali ng j uga udah muncul
lagi ,” Noni terkekeh.
Entah mengapa, omongan Noni tidak membuat Remi ber-
tambah tenang. Sebali knya, kepalanya j ustru maki n pu-
si ng.
Tak ada yang membangunkannya. Kugy membuka mata dan
menemukan langi t yang sudah semu kemerahan. Cepat-
cepat i a mengeluarkan di ri dari sleepi ng bag. Saat i a me-
noleh ke sampi ng, sleepi ng bag Keenan sudah tergulung
rapi , dan penghuni nya entah ada di mana. Ti nggal i a sen-
di ri an di saung i tu.
Kugy pun berjalan mendekati pantai. Angkasa seperti ter-
belah dua. Semu kemerahan di ufuk ti mur, dan sebagi an
lagi masi h bi ru tua, menyi sakan j ej ak malam dan kawanan
bintang. Sementara bulan masih menyala perak, bundar ba-
gai kan sebuti r muti ara yang bertengger di tepi langi t, si ap
j atuh di telan mulut faj ar. Tak j auh dari nya, tampak si luet
Keenan tengah berdi ri menghadap pantai .
Menyadari Kugy yang ada di dekatnya, Keenan pun me-
noleh. Mendapatkan Kugy yang samar di terangi cahaya la-
ngi t, tersenyum padanya. Rambutnya yang halus berki bar
di ti up angi n. Di matanya, kei ndahan pagi yang sej ak tadi i a
ni kmati ti ba-ti ba memperoleh sai ngan.
“Selamat pagi , Nona Keci l.”
“Pagi, Meneer Penculik,” Kugy menyapa balik seraya ber-
j alan ke si si Keenan.
“Sini, deh,” Keenan menarik tangan Kugy lembut, “aturan
terakhir yang nggak boleh kamu protes. I zinkan saya seperti
ini sebentar aja,” bisiknya, lalu perlahan Keenan bergerak ke
belakang punggung Kugy, merangkulkan kedua tangannya,
354
memeluk Kugy dari belakang. Di kupingnya, Keenan berkata,
“Ke mana pun hi dup membawa ki ta berdua, saya harus j u-
j ur, karya kamu menj adi i nspi rasi terbesar saya. Kalau bo-
leh, saya i ngi n terus berbagi karya dengan kamu. Kugy, Ke-
ci l, mau nggak kamu nuli s dongeng lagi ?”
Kugy menelan ludah. “Aku mau, asal kamu mau melukis
lagi .”
“Aku mau. Demi Pi li k,” bi si k Keenan. Demi kamu.
“Demi Pi li k,” Kugy balas berbi si k. Dan demi kamu.
Keheni ngan seakan memi li ki j antung. Denyutnya terasa
satu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sej enak berayun
di udara, lalu bagai kan gelombang ai r bi si kan i tu mengali r,
sampai akhi rnya berlabuh di hati .
Tanpa di sadari , Keenan mempererat pelukannya. Meni k-
mati denyutan heni ng. Karena hanya saat mereka bersama,
i a bi sa menci ci pi keabadi an. Meski hanya sesaat.
355
Sesampainya di rumah, yang pertama kali Kugy lakukan ada-
lah menelepon Remi . Dan reaksi pertama yang i a teri ma
adalah di marahi .
“Kamu sadar apa yang kamu perbuat pada saya?” tanya
Remi dengan suara tertahan. Jelas i a berusaha meredam
emosi nya, yang andai saj a bi sa di lepas, barangkali i a sudah
berkata-kata dengan nada ti nggi . “Kamu udah nyi ksa saya,
bi ki n saya stres, nggak bi sa ngapa-ngapai n selai n nyari i n
kamu ke siapa pun yang saya bisa, selain nunggu kabar dari
kamu yang saya tunggui n sampai subuh dan nggak ada
j uga.”
Kugy terkesi ap. “Remi ... sori ....”
“Kamu sadar, nggak? Satu menit telepon dari kamu, bah-
kan ti ga puluh deti k aj a, akan membuat keadaan i ni j auh
berbeda.”
“I ya ... aku tahu ... tapi ....”
“Kamu keterlaluan, Gy.” Remi berkata di ngi n, tapi me-
nusuk.
39.
KARYA BERSAMA
356
“Semuanya mendadak, Remi . Aku ke Bandung ... dan
tahu-tahu bekas muri dku meni nggal ... j adi aku ....”
“Oke, Gy, apa pun alasan kamu, saya terima. Tapi bukan
i tu yang j adi masalah. Apa yang bi ki n kamu sampai nggak
kasih kabar sama sekali? Apa yang terjadi sampai HP kamu
nggak akti f sehari semalam?”
“Soalnya ...,” Kugy memej amkan mata kuat-kuat. Aku
nggak mungki n bi lang. “Soalnya HP-ku keti nggalan di ka-
mar,” kata-kata i tu akhi rnya meluncur, “dalam keadaan
mati . Sori . Aku memang teledor.”
Terdengar sunyi dari uj ung sana, lalu helaan napas pan-
j ang. “Sekali lagi kamu ngi lang begi tu, Gy, dan ada apa-apa
dengan kamu, saya nggak yaki n bi sa memaafkan di ri saya
sendi ri .”
“Remi ... aku nggak kenapa-napa kok ....”
“Dan gi mana caranya saya tahu i tu kalau kamu nggak
bi sa di hubungi ? Percuma, Gy.”
Kugy tak bi sa berkata apa-apa lagi .
“Gy, satu hari kamu akan sadar kalau saya nggak bi sa
kehilangan kamu. Kamu ... terlalu berharga buat saya. Kamu
nggak bisa membayangkan betapa kesiksanya saya kemarin.
Tolong, j angan pernah lagi kamu ngi lang kayak gi tu.”
Tanpa bisa Kugy kendalikan, air mata tahu-tahu saja me-
rembesi pi pi nya. Ucapan Remi menyadarkannya akan se-
suatu.
“Ya, udah. Yang penti ng kamu udah pulang. Nggak ada
yang lebih penting dari itu,” Remi berkata, seolah menasihati
di ri nya sendi ri , “kamu sehat, Sayang? Capek? Masi h se-
di h?”
“Aku baik-baik,” Kugy berkata dengan nada tertekan, ber-
usaha meredam j ej ak tangi snya.
“Nanti malam saya ke rumah, ya.”
“I ya. Aku tunggu, ya,” Kugy menyahut. Dan begi tu tele-
357
pon dari Remi berakhi r, i a terduduk lama, mengusapi ai r
matanya yang turun satu-satu dan seperti tak mau berhenti.
I a menyadari, semalam ia telah berkesempatan untuk pulang
ke negeri dongengnya. Sebuah duni a yang sempurna dan
perasaan cinta yang rasanya abadi. Namun, inilah kenyataan
yang sesungguhnya. I ni lah hi dup yang i a j alani . Meski tak
sei ndah negeri dongeng, tapi di ri nya sudah memi li h.
Pahi t, Kugy kembali menyadari bahwa Keenan hanyalah
pangeran negeri dongengnya. Ki sah mereka berdua hi dup
dalam khayalan i ndah yang tak mungki n terwuj ud. Remi
adalah kenyataannya. Dekat, terjangkau, dan jelas-jelas men-
ci ntai nya. Kugy pun ti dak yaki n bi sa memaafkan di ri nya
sendiri jika ia harus menyakiti Remi. Ketidakjujurannya kali
i ni sudah lebi h dari cukup.
Hari Seni n. Menj elang pulang kantor, Keenan ti dak tahan
lagi . Setelah menahan berj am-j am ti dak menghubungi anak
satu i tu, si stem tubuhnya seolah mengi syaratkan kehausan
yang amat sangat. Sekadar untuk mendengar suaranya, tawa-
nya, ceki ki knya. I a lantas menghubungi ponselnya.
“Hai , Nona Keci l. Lagi ngapai n?”
“Meneer PencuIIk!¨ Suuru ILu Lerdengur begILu rIung.
“Aku masih di kantor. Dan baru mikirin kamu. Tadinya aku
mau SMS.”
“Oh, ya?” Ganti an suara Keenan yang menj adi ri ang.
“Ada apa, Gy?”
“Si ap-si ap, ya,” Kugy berdehem, “hari i ni ... aku nuli s
IugI! SerIuI JenderuI PIIIk i s baaack!” teri aknya.
Bola mata Keenan seketi ka berbi nar-bi nar. Sesuatu ter-
sulut dalam hati nya begi tu mendengar teri akan Kugy. “Gy,
saya punya i de, dengar bai k-bai k ya, nanti kasi h tahu pen-
358
dapat kamu, sejujur-jujurnya ...,” kata Keenan serius. “Setiap
kamu selesai menuli s satu ki sah, saya akan membuatkan
i lustrasi nya dalam bentuk luki san. Saya nggak tahu persi s
gi mana bentuk akhi rnya, entah j adi buku atau pameran,
atau keduanya, yang jelas kita kerja bareng. Selama ini Jen-
deral Pi li k cuma di kenal lewat luki san saya aj a, tapi orang-
orang nggak tahu i de pelopornya apa. Menurut saya, sudah
saatnya kamu juga tampil keluar, sebagai pencipta serial ce-
ri ta Jenderal Pi li k dan Pasukan Ali t.”
Kugy terenyak. “Jadi—kita—punya karya bersama?” ucap-
nya tak percaya.
“Keci l, sebelum kamu tahu pun, bagi saya, ki ta sudah
berkarya bersama. Bedanya, kali ini kita melangkah bareng-
bareng. I tu pun kalau kamu memang bersedia, Gy. Akan jadi
satu kehormatan besar buat saya.” Dengan penuh kesung-
guhan, Keenan berkata.
Lama Kugy ti dak menyahut. I a butuh waktu untuk men-
cerna semua i tu. Mendadak, i mpi annya terasa mendekat,
terasa mungki n. Sesuatu yang tadi nya i a pi ki r terlalu ti nggi
dan muluk, ti ba-ti ba membumi . Berada tepat di hadapan.
Dan yang i a butuhkan hanya keberani an untuk melangkah.
“Oke. Kapan ki ta mulai ?” Mantap, Kugy akhi rnya ber-
suara.
Jakar t a, Apr i l 2003 ...
Dibutuhkan seminggu untuk Kugy menyelesaikan setiap seri
Jenderal Pi li k dan Pasukan Ali t. Dan i tu mengharuskan
Keenan untuk menj emput naskah baru seti ap mi nggunya.
Khusus untuk seri al satu i ni , Kugy menuli s dengan tangan
dalam buku tulis, sebagaimana yang dilakukannya di Sakola
Ali t dulu. Baru setelah i tu, Keenan menyuruh sekretari snya
359
untuk mentranskri p naskah Kugy ke dalam dokumen kom-
puter.
Banyak jam kantor yang Kugy bajak untuk berkhayal dan
menulis serialnya. Omongan-omongan sumbang mulai mun-
cul dari sana si ni . Si ndi ran-si ndi ran halus menjadi ruti ni tas
baru yang i a teri ma seti ap hari .
“Yah, gi tu deh, fenomena anak bau kencur, semangatnya
j uga tai -tai ayam.”
“Otak bri li an tapi nggak di dukung profesi onali sme sama
aj a bo’ong.”
“Pr odi gy ternyata punya j adwal kedaluwarsa j uga, ya.”
Dan kupi ng Remi lah yang pali ng panas mendengar se-
mua i tu. I a tahu persi s kemampuan Kugy. Kalau saj a anak
i tu sedi ki t berusaha, semua pekerj aannya akan kelar dalam
sekej ap mata. Masalahnya, fokus Kugy tersedot tanpa si sa
untuk sesuatu yang ia tidak tahu. Jika di kantor, Kugy selalu
kedapatan bekerja di mejanya dengan sungguh-sungguh, tapi
tugasnya ti dak ada yang selesai .
Hari i ni Remi terpaksa menegur Kugy.
“Gy, saya udah nggak bisa minta waktu tambahan lagi ke
klien. Mereka udah harus syuting seminggu lagi. Nggak bisa
nggak. Tapi sampai sekarang, stor yboar d belum ada, kon-
sepnya j uga masi h gonta-ganti melulu. Kamu kan pr oj ect
leader . Keputusan harus datang dari kamu. Kalo kamu
nggak bi sa fokus, satu ti m kamu berantakan.”
Kugy bergemi ng menatap Remi . Entah bagai mana harus
mengatakannya, bahwa i a memang belum mengerj akan apa
pun sampai detik ini. Entah bagaimana bisa mengungkapkan
bahwa Remi sudah saatnya untuk ti dak terlalu bergantung
padanya, ti dak terus-terusan menj adi kannya pr oj ect leader ,
karena Kugy sendi ri ti dak bi sa mengendali kan energi dan
perhati annya yang teri sap ke dalam pusaran kuat di mensi
Jenderal Pi li k. Rasanya i a seperti zombi e di kantor. Tubuh-
360
nya ada di sana tapi hanya cangkang kosong belaka. Semen-
tara i si nya berada di tempat lai n, mengerj akan hal lai n.
“Kamu ada masalah apa, si h?” tanya Remi lagi .
Mata Kugy mulai berkedip-kedip, tanda ia berpikir keras.
“Aku sedang ada proyek baru ...,” katanya pelan.
“Proyek?” Remi mengerutkan ali s.
“Aku sedang bi ki n seri al dongeng.”
Remi seketika mengembuskan napas panjang, mengusap-
usap waj ahnya. “Gy, kayaknya saya nggak perlu mengi ngat-
kan kamu soal prioritas. Kamu udah cukup gede untuk bisa
menyusun skala prioritas kamu sendiri. Yang saya khawatir-
kan, kamu nggak bi sa memi lah antara profesi dan ... hobi ,”
uj arnya taj am, “saya nggak kepi ngi n ngomong begi ni . Tapi
kamu di gaj i di si ni untuk menci ptakan konsep i klan, bukan
j adi penuli s dongeng. Terserah kalau di rumah kamu mau
menghabi skan semalam suntuk untuk bi ki n dongeng. Tapi
bukan di si ni . Tugas kamu di si ni adalah memenuhi target
dan deadli ne kamu ... tepat waktu.”
Kugy hanya bi sa di am. I a sadar di ri , posi si nya sangat le-
mah. Ti dak ada gunanya membela di ri . Dari kacamata apa
pun, i a j elas bersalah karena mengesampi ngkan pekerj aan-
nya.
“Jadi kapan stor yboar d bi sa beres?”
“Secepatnya.”
“Sore i ni . Sebelum j am enam.” Tegas, Remi menutup
pembi caraan mereka.
Pukul setengah enam sore, Kugy menyerahkan hasi l pe-
kerj aannya. Remi membolak-bali k sketsa-sketsa i tu.
“Ternyata ... kalau memang kamu mau, kamu bisa, kan?”
katanya sambi l tersenyum keci l.
361
Kugy balas tersenyum. Tawar.
“Malam i ni ki ta di nner , yuk? Seafood?”
Kugy mengangguk. Samar.
Malam i tu, di restoran seafood langganan mereka, Remi
memutuskan untuk mendesak Kugy agar bicara sejujur-jujur-
nya. Di genggamnya kedua tangan Kugy erat-erat, “Kali i ni ,
kamu harus terbuka, ya,” ucapnya sungguh-sungguh, “se-
betulnya kamu punya masalah apa?”
Kugy menatap Remi, kembali dengan tatapan yang sama.
Begi tu banyak yang i ngi n terucap, tapi ti dak bi sa di ungkap.
I a ti dak yaki n Remi akan mengerti .
“Nggak ada masalah. Aku cuma keasyikan nulis dongeng.
Kamu benar, kok. Masalahku barangkali hanya nggak bi sa
memi lah mana hobi dan mana profesi .”
“Gy, sebenarnya kamu masalah nggak dengan kondi si
ki ta yang sekantor?”
Kugy menggeleng perlahan. “Sekantor dengan kamu me-
mang mengundang banyak tantangan, tapi nggak pernah
j adi masalah buatku,” gumamnya.
“Kamu nggak ada masalah dengan si apa pun di kan-
tor?”
“Nggak, sama sekali ,” j awab Kugy lagi .
“Kamu udah nggak betah kerj a?”
Kali i ni Kugy tertohok. I a merasakan kebenaran dalam
kali mat Remi . “Dari keci l, satu-satunya yang aku kepi ngi n
hanyalah j adi penuli s dongeng,” akhi rnya Kugy berusaha
menguraikan kejujuran yang selama ini begitu sukar ia bagi,
“aku tahu, kedengarannya pasti konyol, bego, infantil. Mana
ada orang sampai umur segi ni masi h punya ci ta-ci ta kayak
gi tu. Mungki n aku j uga kedengaran nggak tahu di ri . Aku
punya kerjaan sebagus ini, tapi malah disia-siakan. Masalah-
nya ... belakangan i ni , aku menyadari sesuatu. Aku nggak
bi sa maksai n di ri menyukai apa yang sebetulnya bukan
362
mi natku, walaupun aku mampu. Aku j uga nggak bi sa pura-
pura lupa dengan ci ta-ci taku, i mpi anku. Bi arpun satu duni a
ngegoblok-gobloki n aku, tapi memang i ni yang aku mau.
Aku pingin jadi penulis dongeng. Dari dulu sampai sekarang
... nggak berubah.”
“Jadi, demi cita-cita itu, kamu mau mengorbankan karier
kamu?” Remi bertanya hati -hati .
“Kalau memang perlu, i ya, aku mau,” Kugy mengangguk
pasti . “Kalau ada satu celah keci l untuk aku bi sa mewuj ud-
kan i mpi anku, pasti aku akan kej ar. Dan aku rela ni nggali n
pekerj aanku sekarang ...,” sej enak Kugy berhenti , “Remi ,
celah i tu akhi rnya ada ...,” i a berkata nyari s berbi si k. “Aku
memang belum bi sa ceri ta banyak. Tapi , yang j elas, aku
nggak mau menyi a-nyi akan kesempatan i tu.”
“Kamu yaki n?” desak Remi lagi .
“Aku yaki n, suatu saat, apa yang sekarang kamu bi lang
hobi , akhi rnya bi sa j adi profesi ku yang baru. Barangkali
uangnya nggak banyak, tapi aku nggak peduli ,” Kugy meng-
hela napas, “mungki n kamu nggak bakalan pernah ngerti —”
“Saya ngerti,” sergah Remi. “Saya justru sangat mengerti,”
ulangnya penuh penekanan. “Kamu mau r esi gn, Gy?”
Tatapan Kugy berubah nanar. Dalam sekejap, semua yang
telah i a lewati terki las bali k dalam benaknya. Setahun ter-
akhi r kari ernya di AdVocaDo, pertemuannya dengan Remi ,
semua konsep yang berhasil ia cetuskan, semua proyek yang
berhasi l i a pi mpi n, begadang bermalam-malam, hari -hari
kurang ti dur, Ari san Toi let, perahu kertas yang di ti ti pkan
Remi padanya, malam bersej arah di pi nggi r Pantai Ancol,
dan ki ni i a harus kembali berhadapan dengan Remi untuk
satu keputusan besar. Meni nggalkan AdVocaDo. Tempat i a
bersuaka saat i ngi n meni nggalkan kehi dupan lamanya di
Bandung.
363
Dengan berat, Kugy mengangguk. “Aku merasa lebih baik
ti dak bertahan. Rasanya i ni lebi h bai k buat kamu, buat ti m
yang lai n, dan yang pasti ... lebi h bai k j uga buatku.”
“Saya nggak akan menghalangi kamu.”
Seketi ka, ada beban raksasa yang terangkat dari hati nya.
Kugy sendi ri ti dak menyangka sedemi ki an besar arti ke-
putusannya i tu. Senyum cerah terbi t alami ah di waj ahnya.
I a menggenggam bali k tangan Remi , mengecupnya. “Remi
... makasih kamu udah mengerti. Aku nggak tahu lagi harus
bi lang apa.”
“Kamu memang nggak perlu bi lang apa-apa. Sebagai
atasan, saya sedi h karena kehi langan salah satu anak buah
terbai k. Tapi sebagai orang yang menci ntai kamu, saya ba-
hagi a karena kamu berhasi l memi li h yang terbai k untuk hi -
dup kamu,” Remi tersenyum lembut.
“Aku akan menyelesai kan semua proyek yang udah se-
tengah j alan. Baru sesudah i tu aku resmi mengundurkan
di ri . Kalo gi tu gi mana, Sayang?” Kugy bertanya dengan
ekspresi j enaka.
Remi menggeleng. “Kalo cuma itu patokannya, seminggu
lagi juga kamu udah bisa kelarin semuanya. Kamu akan aku
tahan sampai ... hmm,” Remi senyum-senyum kecil, “sampai
outi ng kantor ke Bali . Bulan Mei i ni .”
“Oho-ho, kalo urusan outing sih, udah nggak jadi pegawai
pun aku dengan nggak tahu malunya bakal tetap i kutan,”
Kugy terbahak.
Si sa malam pun mengali r dengan i ndah. Remi sendi ri
tersadar akan sesuatu malam i ni . Keputusan Kugy untuk
keluar dari AdVocaDo ternyata melegakan hati nya, tanpa i a
duga-duga. Untuk pertama kali nya, Remi merasa bebas un-
tuk menci ntai Kugy tanpa ada beban apa-apa. Untuk per-
tama kali nya, i a terbebas dari keteri katan profesi onal yang
364
selama i ni membayangi hubungan mereka. Dan malam i tu,
tekadnya semaki n bulat untuk membahagi akan dan men-
dukung Kugy, ke mana pun kekasihnya ingin melangkah dan
menggapai impiannya. Dari sekian bulan mereka resmi ber-
pacaran, Remi belum pernah sebahagi a dan seri ngan i ni
melangkah.
Ubud, Apr i l 2003 ...
“Poyan ...” Luhde memanggi l pamannya hati -hati .
“Ada apa, De?”
Luhde sejenak ragu untuk meneruskan atau tidak. Sudah
berbulan-bulan i a ti dak meli hat Keenan. Sementara, selama
setahun kemari n mereka bertemu seti ap hari tanpa kecuali .
Hati nya tersi ksa bukan mai n. Ri ndunya seolah tak terperi .
Dan i a menyadari segala keterbatasan kondi si mereka.
Namun, rasanya Luhde tak mampu bertahan sebegi ni lama
tanpa bertemu Keenan.
“Jakarta i tu seberapa j auh dari si ni , Poyan?”
“Kalau nai k pesawat hanya satu setengah j am,” kata pa-
mannya sambi l terus meluki s.
Luhde teri ngat tabungannya yang tak seberapa. “Kalau
dengan bus?”
“Sehari semalam,” kata Wayan lagi . I a lantas meli ri k ke-
ponakannya. “Kamu mau ke Jakarta? Buat apa? Nggak ada
gunanya. Lebi h bai k di si ni , menunggu Keenan yang da-
tang,” katanya langsung.
Dalam hati, Luhde terperanjat mendengar omongan yang
tak di sangka-sangka i tu. Cepat-cepat, i a menyeli nap keluar
dari studi o pamannya.
365
Sel at Sunda, Mei 2003 ...
Tekad hati nya bulat sudah. Dengan mengandalkan semua
tabungannya, Luhde berangkat nai k bus ke Jakarta. Poyan
sedang pergi ke Lombok selama semi nggu, dan i tulah ke-
sempatannya untuk melaksanakan perj alanan nekat i ni .
Di ni hari , sambi l memandangi lautan dari atas feri yang
menyeberangkannya ke Pul au Jawa, Luhde meri ngkuk
sendirian di atas kursi kayu di dek kapal. Menutupi kakinya
yang kedinginan dengan jaket. Seumur hidupnya, belum per-
nah ia menginjakkan kaki di luar Pulau Bali. I a tidak punya
secercah bayangan pun tentang kondi si Kota Jakarta selai n
apa yang dilihatnya di teve. Hanya satu carik kertas bertulis-
kan alamat rumah Keenanlah yang menj adi patokannya.
Luhde hanya bi sa berdoa i a terli ndungi selama perj alanan
i ni .
Matanya dipejamkan kuat-kuat. Berusaha tidak memikir-
kan hal-hal lai n kecuali berada di rumah Keenan sore
nanti .
40.
MENEMUKAN OASIS
366
Jakar t a, Mei 2003 ...
Uangnya hanya tersi sa seratus ri bu rupi ah. Luhde tak tahu
lagi apa yang harus ia perbuat jika ia sampai tidak menemu-
kan alamat rumah Keenan. Dengan segala keleti han aki bat
perjalanan panjang dan jantung yang berdebar-debar tegang,
Luhde memencet bel rumah serba puti h i tu.
Seorang perempuan membuka pi ntu. Luhde kenal betul
waj ah i tu.
“Selamat sore, I bu Lena,” sapanya sopan. Satu tangannya
menenteng tas beri si baj u, satu tangannya lagi menenteng
kantong plasti k beri si oleh-oleh.
Lena menatap gadi s di hadapannya. Nyari s tak percaya.
“Kamu—keponakannya Wayan, kan? Luhde?”
“Betul, Bu,” Luhde menj awab. Lega bukan mai n. Nasi b-
nya terselamatkan sudah.
Keenan seperti meli hat hantu keti ka mendapatkan Luhde
berdiri di teras depan rumahnya, berdiri santun menyambut
kedatangannya. Sementara Keenan hampi r saj a menabrak
tembok garasi saki ng kagetnya. Tergopoh-gopoh, i a turun
dari mobi l.
“Luhde?” desi s Keenan.
Meli hat Keenan kembali di hadapannya, Luhde bahkan
tak mampu bergerak. Hanya bola matanya saj a yang ki an
bersi nar mengi kuti seti ap gerak Keenan yang melangkah
mendekati nya.
“Kamu—kenapa bi sa ada di si ni ?” tanya Keenan takj ub.
Perlahan, mengelus pi pi Luhde, seolah-olah i ngi n meyaki n-
kan sekali lagi bahwa Luhde memang ada.
Gadi s i tu tersenyum, lalu mengambi l tas komputer yang
367
tersampi r di bahu Keenan. “Mari , bi ar saya yang bawa-
kan.”
Deti k i tu j uga Keenan langsung mendekap Luhde.
Mi nggu malam. Hari i ni telah menj adi hari penj emputan
naskah. Sebuah ri tual yang di tunggu-tunggu Kugy seti ap
mi nggunya. Keenan akan muncul di depan pi ntu, dan
Keshi a, adi knya, langsung mengeluarkan sej uta gaya demi
menarik perhatian Keenan yang ditaksirnya diam-diam, dan
Kugy akan punya sej uta bahan ej ekan baru yang bi sa di -
pakai nya untuk mengerj ai Keshi a. Kugy sendi ri di am-di am
punya kesempatan mengi si baterai hati untuk semi nggu ke
depan. Tak sabar rasanya menunggu Mi nggu malam ti ba.
Namun, Kugy merasa ada yang aneh dengan hari Minggu
ini. Sejak pagi hingga petang, ia belum mendapat kabar apa-
apa dari Keenan. Akhirnya Kugy memutuskan untuk menele-
pon duluan.
“Halo, rekan agen. Udah siap bertugas belum?” Kugy me-
nyapa ceri a.
“Hai , Gy.” Suara Keenan terdengar kaku.
“Jam berapa mau ke si ni , Nan?” tanya Kugy lagi .
“Mmm ...,” Keenan mengembuskan napas berat dan pan-
jang. “Malam ini saya nggak bisa, Gy. Mungkin baru minggu
depan. Maaf, ya.”
Kugy ti ba-ti ba merasa dadanya sesak. Suara Keenan ter-
dengar begi tu j auh sekarang, seolah terpi sahkan banyak se-
kat. “Oke, mi nggu depan j uga nggak apa-apa. Tapi , kalau
boleh tahu, kenapa kamu nggak bisa datang malam ini? Ada
urusan?”
“Saya ada tamu dari Bali ,” Keenan berkata, canggung,
“pacar saya yang dari Ubud.”
368
“Oooh ...,” gumam Kugy panj ang. Sama sekali ti dak me-
nyangka. Matanya terpejam sebentar, mencari kekuatan. “No
pr oblemo!” dalam hati Kugy bangga dengan nada suaranya
yang terdengar wajar, “tapi, berarti kita agak mulur, ya. Soal-
nya, mi nggu depan malah aku yang pergi .”
“Oh, ya? Ke mana?”
“Ada acara outi ng bareng kantor, ke Bali .”
Bali ? Keenan menelan ludah. “Nggak masalah, Gy,” kata
Keenan dengan nada seri leks mungki n, “mungki n sesudah
kamu pulang, saya bi sa kasi h kamu kabar bai k.”
Otot Kugy menegang. Kabar bai k, katanya? Kugy men-
j eri t dalam hati . Jangan-j angan ....
“Saya berhasi l menghubungi salah satu kolektor luki san
saya yang punya penerbitan buku. Dia sangat tertarik waktu
saya kasih tahu soal proyek kita. Dan dia fans berat Jenderal
Pi li k sej ak lama. Kalau memang ternyata di a tertari k me-
nerbi tkan, berarti ki ta maki n dekat lagi dengan i mpi an ki ta
punya karya bareng,” Keenan menerangkan dengan sema-
ngat.
Senyum lebar seketi ka menghi asi waj ah Kugy. “Nan,
andai kan aku mercon, sekarang aku udah meledak, ni h.”
“Untung bukan,” Keenan terkekeh, “kalo kamu hancur
berantakan, proyek i ni j uga bubar j alan.”
Kugy i kut tertawa. “Ya udah, deh. Sampai ketemu dua
mi nggu lagi , berarti . Salam buat ...?”
“Luhde.”
“Ya. Salam buat Luhde,” Kugy mengulang.
“Oke. Dah, Keci l.”
“Dah.” Kugy menutup telepon rumahnya pelan-pelan. I a
tahu, i a bahagi a bukan mai n mendengar kabar dari Keenan
tentang kemungki nan seri alnya di terbi tkan menj adi buku.
Namun, pada saat yang bersamaan, percakapan tadi j uga
membuatnya sedi h. Lagi -lagi , Kugy merasa tertampar oleh
369
kenyataan. Seakan hidup terus-terusan ingin mengingatkan-
nya bahwa ada sekat antara mereka berdua yang tak di -
tembus. Dan ia hanya bisa menerima dan mengikhlaskannya.
Hati mereka telah memi li h.
Di gazebo taman rumah Keenan, mereka duduk berdua. Me-
ni kmati ti upan angi n malam Jakarta yang hawanya sedang
suam-suam.
“Kamu kepanasan, ya,” ujar Keenan sambi l menyeka bu-
tir keringat di pelipis Luhde. “Angin di sini nggak seperti di
Ubud.”
“Memang nggak. Tapi rasanya malah lebi h enak,” ucap-
nya sambi l meli ri k Keenan malu-malu, “soalnya bi sa dekat
dengan kamu.”
“Saya merasa bersalah sama kamu.”
“Kenapa?” Luhde bertanya heran.
“De, saya di si ni ngantor, bahkan sampai hari Sabtu.
Nggak seperti di Ubud. Ki ta bi sa bareng terus sehari an.
Kamu udah hampir tiga hari di Jakarta, belum satu kali pun
saya sempat ngajak kamu jalan-jalan. Kamu cuma nungguin
saya pulang kantor seti ap hari .”
“Sama sekali saya nggak keberatan,” sela Luhde, “saya
senang di si ni . Bi sa bantu meme-nya Keenan. Jeroen j uga
bai k. Saya seri ng di ajak jalan-jalan di seki tar si ni . Dan, bi ar
hanya ti ga-empat j am sehari saya bi sa ketemu Keenan, su-
dah lebi h dari cukup. Keenan j angan merasa bersalah. Saya
yang datang mendadak, di hari kerj a, j adi memang sudah
ri si ko saya.”
“Luhde, Luhde ....” Keenan geleng-geleng kepala seraya
mengelus-elus rambut Luhde yang tergerai . “Saya masi h
370
nggak habis pikir, kamu kok bisa nekat ke Jakarta sendirian.
Gi mana kalau Poyan tahu?”
“Saya akan pulang sebelum Poyan kembali dari Lombok,”
sahut Luhde cepat.
“Kapan Poyan pulang?”
“Tiga hari lagi. Lusa saya pulang, pakai bus, jadi sebelum
Poyan sampai —”
“Lusa kamu pulang. Tapi tidak boleh lagi pakai bus,” po-
tong Keenan tegas.
Luhde menatap cemas. Bagai mana mungki n, uangnya
bahkan tak cukup untuk nai k bus yang nyaman.
“Kamu akan saya antar. Ki ta ke Bali pakai pesawat,”
Keenan melanj utkan.
Mata Luhde membundar. “Keenan—akan i kut ke Bali ?”
Keenan tertawa kecil sambil mengangkat bahu. “Daripada
ki ta di Jakarta berhari -hari dan cuma punya waktu bareng
ti ga-empat j am, lebi h bai k saya yang ke Bali . Bi ar saya di
sana cuma sebentar, tapi ki ta akan punya waktu sehari an.
Saya janji, nggak akan membocorkan rahasia ini pada Poyan.
Asal kamu mengi zi nkan saya mengantar ke Lodtunduh.”
“Kalau saya petasan, sekarang i ni saya sudah meledak
saki ng bahagi anya,” cetus Luhde. Pi pi nya bersemu merah.
Keenan terkesi ap. Baru semalam, i a mendengar kali mat
serupa terlontar dari mulut Kugy. Entah apa arti nya i ni .
Sanur , Mei 2003 ...
Matahari yang teri k membuat pi pi Kugy seperti tomat ra-
num. Sudah sehari an i a di j emur, tapi anak i tu ti dak ter-
ganggu. I a tetap li ncah ke sana kemari mencoba segala ma-
cam permai nan. Sehabi s melayang-layang di udara dengan
par asai li ng, i a mencemplung ke laut dengan banana boat
371
yang terguli ng dua kali , mencoba j et ski , dan apa saj a yang
tersedi a. Kugy dengan semangat mencoba semuanya.
“Perhati an, teman-teman semua,” Dani , pani ti a rom-
bongan, kembali berbi cara melalui pengeras suara, “sehabi s
dari si ni , acara ki ta adalah shoppi ng di Kuta, di lanj utkan
dengan makan malam di Ji mbaran.”
Pengumuman i tu langsung di sambut dengan ri uh ren-
dah.
“Males belanj a, ah,” Kugy berbi si k pada Remi .
“Pi ngi nnya ngapai n, dong?”
“Aku pi ngi n motret. Udah berat-berat pi nj am kamera
dari Karel, tapi dari tadi belum sempat hunti ng obj ek foto.
Di Kuta si h mau motret apa? Toko?”
Bola mata Remi berkilat, seperti mendapat ide. “Kita ka-
bur aj a, yuk,” i a berbi si k bali k.
¨AsvIk!¨ ¡de ILu Iungsung dIsumbuL gembIru oIeh Kugv.
“Gi mana caranya?”
“Gampang. Ki ta cari tr anspor t di pi nggi r j alan, terus
cabut. Nanti malam tinggal nyusul mereka ke Jimbaran. Gi-
mana?”
¨¡uksunukun!¨ seru Kugv berupI-upI. ¨TupI ... kILu pergI
ke mana?”
Remi hanya tersenyum tanpa menj awab.
Ubud, Mei 2003 ...
Beberapa hari ini tampak perubahan besar pada Pak Wayan.
I a keli hatan bergembi ra, ri ang, dan bersemangat. Semua
orang tahu penyebabnya: Keenan.
Semenjak Keenan menginjakkan kaki lagi ke Lodtunduh,
hari -hari bersantai di bale sambi l mengobrol sehari an de-
ngan Keenan pun kembali lagi . Tak hanya Luhde yang me-
372
rasa bahagi a dengan kepulangan Keenan, Wayan pun me-
nemukan oasi s yang selama i ni i a ri ndukan. Meski i a sadar
semua i tu hanya akan berlangsung dalam hi tungan hari
saj a.
Si ang i tu, Keenan dan Banyu sedang pergi ke Denpasar,
mengurus tiket pulangnya ke Jakarta yang mengalami penun-
daan. Sementara Luhde sedang pergi ke pura. Sendirian, Pak
Wayan meni kmati sore hari nya di galeri .
Sebuah mobi l Ki j ang yang ti dak i a kenal tahu-tahu me-
nepi di depan galeri . Pak Wayan keluar menghampi ri . Dan
betapa kagetnya i a keti ka mengenali sosok yang keluar dari
pi ntu depan.
“Remi? Apa kabar? Kapan sampai di Bali? Kok nggak ka-
si h kabar sebel umnya?” tanyanya l angsung memberon-
dong.
“Memang rencananya mau kasi h kej utan untuk Pak
Wayan,” Remi tertawa. Kedua pri a i tu sali ng berangkulan,
akrab.
“Ke mana saj a? Lama sekali nggak muncul,” kata Pak
Wayan lagi .
“Tahun i ni pekerj aan di kantor banyak sekali , Pak. Ke-
betulan aj a kantor saya lagi outi ng ke Bali , j adi saya bi sa
kabur sebentar mampi r ke Ubud, sekali an li hat-li hat.”
“Mari , mari . Masuk dulu,” aj ak Pak Wayan segera. “Eh,
kamu sendi ri an kemari ?”
“Berdua, Pak. Tapi teman saya mau j alan-j alan sendi ri
sambi l foto-foto. Kalau rombongan yang lai n sekarang se-
dang di Kuta,” jelas Remi seraya melangkah masuk ke dalam
galeri .
Mereka lalu berj alan bersama mengi tari galeri i tu, sem-
bari Pak Wayan menerangkan satu demi satu luki san yang
terpampang. Usai meli hat semua, Remi pun bertanya, “Lu-
ki san Keenan belum ada lagi , Pak?”
373
Pak Wayan menghela napas. Remi belum menyer ah juga,
pi ki rnya. “Belum ada,” j awabnya si ngkat.
“Sebenarnya di a menghi lang ke mana si h, Pak?”
“Keenan ... hmmm ... di a ...,” Pak Wayan tampak ragu-
ragu, “di a ada urusan keluarga yang sangat mendesak akhi r
tahun kemari n, dan harus kembali ke rumahnya. Dulu di a
pernah berpesan agar saya ti dak memberi tahu si apa pun
tentang kepergi annya. Jadi , saya mi nta maaf, Remi . I ni
masalah j anj i .”
Remi menatap lelaki i tu lekat. “Pak, saya menghargai
j anj i Bapak. Tapi , bagi saya, Keenan bukan sekadar peluki s
yang luki sannya saya beli , di a sudah saya anggap adi k saya
sendi ri . Saya heran, kok di a menghi lang begi tu saj a, dan
berhenti berkarya. Sudah lama sekali sej ak terakhi r karya
di a di j ual di si ni . Hampi r setahun di a berhenti meluki s.”
“Ya, sudah. Begi ni saja. Saya akan mi nta i zi n dulu untuk
memberi tahu nomor kontaknya ke kamu. Kalau di a setuju,
saya akan menghubungi kamu secepatnya,” akhi rnya Pak
Wayan berkata. Tergugah meli hat kesungguhan Remi .
“Terima kasih, Pak. Saya sangat menunggu kabar tentang
Keenan,” kata Remi lagi .
Sudah berbulan-bulan Wayan menutupi kabar tentang
Keenan dari semua kolektor yang menghubunginya. Namun,
Remi gi us memang berbeda. Dalam hati nya, Wayan ti dak
nyaman dengan semua ini, ditambah dengan kenyataan bah-
wa sekarang Keenan juga ada di Bali. I a berharap Remi dan
Keenan dapat bertemu kembali , entah bagai mana caranya.
374
Ubud, Mei 2003 ...
Entah mengapa, intuisinya terusik ketika melihat pura ini di
perj alanan tadi . Sebuah pura yang keci l dan sepi , terletak
persi s di tepi j alan. Ti dak ada yang i sti mewa j i ka di amati
sekilas pintas. Namun, Kugy merasa harus berhenti di sana,
membi arkan Remi pergi ke galeri langganannya sendi ri an.
Dengan kamera pi nj aman yang bergantung di leher, Kugy
mulai mencari -cari sudut-sudut menari k yang bi sa menj adi
objeknya. Gayanya sudah seperti fotografer profesional. Me-
nyadari kemampuannya yang mi nus dalam menggambar,
belakangan ini Kugy mulai terpikir untuk mengompensasinya
dengun benLuk IuIn, vuknI IoLogruh.
Tiba-tiba lensanya berhenti pada satu objek. Saking indah-
nya, sejenak Kugy tak bisa bereaksi apa-apa selain melongo.
Seorang gadis Bali tengah bersimpuh sambil menata sesajen
yang dibawanya. Gadis itu lalu menyalakan dupa, mengambil
sepucuk bunga, dan mengayunkannya pelan di udara dengan
penuh perasaan. Seperti seorang penari . Matanya terkatup,
41.
BUKU DAN PAMERAN
375
mulutnya merapalkan sesuatu. I a tengah berdoa. Ada pe-
rasaan haru yang menyerbunya ketika melihat pemandangan
i tu. Waj ah ayu gadi s i tu tampak begi tu tulus. Bagai kan se-
buah si mbol hi dup pengorbanan dan pengabdi an. Kugy be-
lum pernah meli hat sesuatu yang sebegi tu menggugah.
I a baru tersadar keti ka gadi s i tu mulai membuka mata.
Cepat-cepat Kugy membi di k kameranya, memotretnya, ber-
kali -kali , tak mau kehi langan satu momen pun.
Seperti tahu sedang di amati , gadi s i tu menoleh. Men-
dapatkan Kugy yang sedang berlutut tak j auh dari si tu.
Buru-buru i a berdi ri , bergegas pergi .
¨HeI, Mbuk! Jungun pergI duIu!¨ Kugv segeru mengejur-
nya. Langkah gadis itu menyurut. “Maaf ya, saya nggak per-
mi si dulu. Cuma i seng, kok. Saya lagi belaj ar motret. Maaf
sekali lagi, ya,” ucap Kugy sungguh-sungguh. I a lantas meng-
ulurkan tangannya dan tersenyum ramah. “Kenalkan, saya
Kugy, dari Jakarta.”
Gadis itu ikut tersenyum seraya menyambut uluran tangan
Kugy. Malu-malu. “Nama saya Luhde,” ucapnya pelan.
Hati Kugy terlonj ak mendengar nama i tu. “Luhde? Ke-
betulan, saya punya teman yang nama pacarnya Luhde lho,”
kelakarnya.
“Orang Bali yang namanya Luhde kan banyak. Bukan
saya saj a,” sahut Luhde sambi l tertawa keci l.
“Oh, gi tu, ya,” ti mpal Kugy polos, “kamu ti nggal di desa
i ni ?”
Luhde mengangguk. “Saya ti nggal dengan keluarga pa-
man saya. Asli nya saya dari Ki ntamani . Kalau Mbaknya
mengi nap di Ubud, atau si nggah saj a?”
“Saya menginap di Sanur. Ramai-ramai dengan satu kan-
tor. Sekarang sih hanya singgah sebentar saja. Nanti malam
ada acara lagi di Jimbaran,” jelas Kugy, “tapi, jangan panggil
‘Mbak’, dong. Kugy aj a.”
376
“Kugy?” Dengan canggung, Luhde mencoba.
“Nah, gi tu,” Kugy tergelak, “kamu lucu banget, si h.”
Luhde i kut tertawa. Tak lama, kedua perempuan i tu du-
duk bersama di pelataran pura. Mengobrol i ni -i tu dengan
luwesnya, seperti dua teman lama. Luhde terkesan dengan
Kugy yang begitu ceria, menyenangkan, pintar, dan mandiri.
Semua kualitas yang ia dambakan. Sebaliknya, Kugy tersen-
tuh dengan kehalusan, kecerdasan, dan kedewasaan Luhde.
I a tak menyangka gadi s yang terli hat lugu i tu mempunyai
pemikiran yang bijak dan mendalam, perasaannya halus se-
kali gus taj am, dan Luhde punya banyak kei ngi nan untuk
maj u.
Keduanya makin antusias ketika tahu bahwa mereka ber-
bagi hobi yang sama, yakni menuli s.
“Kugy sedang membuat buku ceri ta? Wah, hebat sekali ,”
mata Luhde berbi nar-bi nar, “kapan di terbi tkan?”
“Masi h belum tahu kapan. Tapi mudah-mudahan sudah
ada kabar mi nggu depan. Yah, semoga aj a gol. I ni ci ta-ci ta
saya dari keci l,” j awab Kugy bersemangat.
“Saya j uga punya ci ta-ci ta sama dari keci l. Tapi saya
ti dak tahu karya saya mau di apakan, mau di kemanakan,
mungki n hanya akan saya si mpan sendi ri ,” sahut Luhde
li ri h.
“Kamu menuli s apa? Fi ksi j uga?”
“Saya juga lagi senang bikin cerita anak-anak. Saya ingin
mengangkat hi kayat kuno Bali , tapi di kemas lagi dalam
ki sah kanak-kanak. Banyak hal bai k dari kebudayaan Bali
yang bisa diangkat. Bukan cuma melayani turis. Tapi seperti-
nya orang-orang tidak tertarik untuk tahu,” Luhde menjelas-
kan.
Kugy menggeleng. “Ki ta nggak pernah tahu kalau nggak
di coba. Kamu j angan berhenti nuli s,” lalu Kugy merogoh
ranselnya, mengeluarkan pulpen dan secari k kertas. Kugy
377
lantas menuli skan alamat lengkap, nomor telepon, dan e-
mai l. “Luhde, kalau ada sesuatu yang i ngi n kamu ki ri mkan,
ceri ta-ceri ta kamu atau apa saj a, tolong j angan segan-segan
untuk mengirimkannya ke saya. Atau kalau kamu suatu hari
berencana ke Jakarta, j angan lupa mampi r. I ni , supaya
kamu nggak nyasar, saya juga tuliskan patokan jalannya se-
kali an, ya,” dengan seri us Kugy menuli skan semuanya de-
ngan lengkap.
Luhde terpana meli hat tangan Kugy yang menari -nari di
atas kertas. I a menahan napas melihat tulisan itu. “Lengkap
sekali. Kugy sangat baik. Terima kasih banyak,” katanya de-
ngan suara bergetar.
“Nanti , kalau buku saya benar-benar j adi terbi t, kamu
akan saya ki ri mkan satu kopi . Mau?”
¨Muu! BeLuI, vu. Jungun sumpuI Iupu,¨ pInLu ¡uhde penuh
harap. I a lalu ganti an menuli skan alamatnya.
“Luhde Laksmi ,” gumam Kugy membaca kertas yang di -
berikan Luhde. “Nama kamu cantik sekali. Pas dengan orang-
nya.”
“Kugy perempuan tercantik yang pernah saya lihat,” balas
Luhde, tulus.
“Makasi i i h ...,” Kugy tertawa lepas, “ngomong-ngomong,
mata kamu normal, kan?”
Luhde hanya tersenyum dan mengangguk, perlahan men-
dekapkan cari kan kertas dari Kugy ke dadanya.
Ti ba-ti ba tampak sebuah mobi l berhenti di seberang j alan.
Suara klakson berbunyi pendek satu kali. Kugy segera bang-
ki t berdi ri , mengemasi ransel dan kameranya. “Saya udah
di j emput. Kamu di si ni aj a. Bi ar saya nyeberang ke depan.
Sampai ketemu lagi, ya. Jangan lupa hubungi saya kalau ada
apa-apa. Saya senang sekali kenalan dengan kamu hari ini,”
Kugy lalu merangkul Luhde.
378
“Saya j uga sangat senang. Sampai ketemu lagi ,” ucap
Luhde. Tubuhnya kaku. “Teri ma kasi h, ya, Kugy.”
Kugy tertawa kecil. “Terima kasih apa? Saya belum kasih
apa-apa sama kamu. Justru saya yang harus teri ma kasi h
sama kamu. Udah mau saya foto.”
Luhde tak bi sa berkata apa-apa lagi . Hanya tangannya
ki an erat menggenggam cari kan kertas i tu. Tanpa berkedi p,
di pandangi nya dari j auh Kugy yang melambai kan tangan,
menyeberangi j alan, lalu masuk ke dalam mobi l yang lang-
sung melaj u i tu.
Luhde lalu berj alan ke depan. Memandangi punggung
mobil itu hingga menghilang. Dan tetap ia berdiri di tempat-
nya, menatap ke arah yang sama, walau yang dilihatnya kini
tinggal debu jalanan saja. Luhde ingin berlari rasanya, entah
ke mana.
Begi tu meli hat tuli san tangan tadi , Luhde langsung tahu
si apa yang i a hadapi . Tak mungki n salah lagi . Bagai mana
bi sa i a ti dak hafal tuli san tangan i tu, bertahun-tahun i a
membacanya, meresapi berlembar-lembar cerita yang ditulis-
kan oleh tangan yang sama dalam sebuah buku tuli s usang.
Bagaimana bisa ia tidak hafal. Keenan selalu membawa buku
i tu ke mana-mana, menj adi kannya bi ntang i nspi rasi selama
karier melukisnya yang cemerlang di Ubud. Keenan melukis
dengan penuh ci nta, dengan hati dan nyawa.
Kugy ti dak akan menyangka betapa dalam rasa teri ma
kasihnya tadi. Luhde berterima kasih atas pertemuan mereka,
berteri ma kasi h atas kesempatan meli hat sosok i tu secara
langsung. Luhde bersyukur karena ki ni i a tahu apa yang
menj adi alasan Keenan bi sa menj angkarkan hati nya begi tu
dalam. Dan, meski dengan susah payah, Luhde berusaha
mensyukuri kepedi han yang menyayat hati nya sekarang.
Deti k i ni .
379
Luhde berbali k. Kembali ke pura. Kembali bersembah-
yang. Dan kali ini ia tak menahan apa-apa. Kekuatannya le-
nyap. Tak sebuti r ai r mata pun sanggup i a bendung. Dan
Luhde memutuskan untuk membiarkan segalanya mengalir.
Apa adanya.
Hari terakhi rnya di Ubud. Sore nanti , Keenan sudah harus
terbang kembali ke Jakarta. Begi tu selesai berkemas, i a
keliling-keliling mencari Luhde. Di mana-mana Luhde tidak
keli hatan.
Keenan bi sa merasakan, Luhde menghi ndari nya sej ak ke-
mari n. I a keli hatan lebi h pendi am, seperti memendam se-
suatu. Setelah mencari ke sana kemari, Keenan menemukan-
nya mengurung diri di kamar. Lama Keenan mengetuk-ngetuk
pi ntu, hi ngga akhi rnya pi ntu i tu di bukakan.
“De, kamu kenapa? Saki t?”
Luhde menggeleng.
“Jadi ?”
Luhde cuma di am.
“Beberapa j am lagi saya udah harus ke ai r por t. Kalau
kamu punya unek-unek, sampaikan sekarang. Jangan malah
aksi bi su gi tu. Saya nggak tenang pergi dari si ni . Nanti ...
kamu i kut ke ai r por t, kan?”
Luhde menggeleng lagi . “Lebi h bai k saya nggak i kut
mengantar,” gumamnya.
“Kamu kenapa, si h? Kamu marah? Kesal sama saya? Bi -
lang, dong,” buj uk Keenan. Namun, Luhde malah tersenyum
padanya. Senyuman yang asi ng. Keenan belum pernah me-
li hat ekspresi semacam i tu di waj ah Luhde. Begi tu berj arak.
“Saya nggak mungki n begi ni terus,” ucap Luhde separuh
berbisik, “melepas kepergian kamu, tanpa tahu kapan kamu
akan kembali , dan apakah kamu mau kembali ....,”
380
“Luhde, ngomong apa si h kamu?” protes Keenan.
“Keenan ti dak harus kembali lagi kalau memang ti dak
mau. Jangan terbeban oleh j anj i Keenan pada saya.”
“De, selama i ni ki ta bertahan karena ki ta sali ng percaya.
Apa jadi nya kalau kamu sendi ri mulai ragu-ragu seperti i ni .
Kamu nggak percaya lagi sama saya?” tanya Keenan, mulai
gusar.
Luhde tergagap. “Saya percaya kamu akan selalu ber-
usaha menepati j anj i kamu ... tapi , sampai kapan Keenan
bi sa bertahan begi tu terus?”
“Kamu kayak nggak kenal saya,” Keenan berkata putus
asa, “kalau kamu percaya sama saya, berarti kamu j uga ha-
rus percaya bahwa j anj i i tu bi sa bertahan. Tolong, bantu
saya. Saya nggak akan kuat kalau hanya berusaha sendirian,”
pi nta Keenan lagi .
Luhde tampak tercekat. Badannya gemetar halus, me-
nahan sesuatu. Justr u aku i ngi n membantumu.
“De, j angan nangi s,” bi si k Keenan lembut.
Ti ba-ti ba gadi s i tu menghambur, memeluk Keenan erat.
“Saya memang egoi s, saya ti dak mau kehi langan kamu. Ti -
dak mau ...,” tangi snya pi lu.
Keenan tetap ti dak mengerti apa yang membuat Luhde
begi tu galau. Namun, i a tak i ngi n mempersoalkannya lagi .
I a hanya i ngi n menghi bur dan menenangkan Luhde.
Sementara kata-kata yang sama terus berulang dari mulut
Luhde, mengi si segala ruang yang ada di antara mereka, di
kamar i tu: “Saya ti dak mau kehi langan kamu ....”
Jakar t a, Mei 2003 ...
Minggu Malam. Saatnya Keenan menjemput naskah Jenderal
Pilik yang sempat tertunda. Namun, malam ini, ia sekaligus
381
menj emput Kugy untuk pergi makan malam.
“Dari baj u kamu, kok, mencuri gakan, si h? Memangnya
kita mau makan di mana?” tanya Kugy melihat Keenan yang
muncul dengan sweater tur tle neck hi tam. Rambut Keenan
yang sudah agak panj ang masi h terli hat basah. I a tampak
begi tu segar dan ... tampan. Terdengar sayup-sayup Keshi a
yang menjerit histeris. Sedari tadi anak satu itu sudah nong-
krong untuk mengi nti p kedatangan Keenan.
“Yang j elas bukan di warung I ndomi e,” kata Keenan ka-
lem.
“Ganti baj u bentar, ya. Jangan sampai salah kostum,
ni h,” Kugy menatap di ri nya sendi ri yang hanya memakai
kaus oblong dan j i ns.
¨HIdup DurwIn! SekuII IugI, LernvuLu evoIusI ILu memung
udu! Tumben-Lumben seorung Kugv KurmuchumeIeon me-
ngenal konsep ‘salah kostum’,” komentar Keenan geli .
Kugy langsung manyun. “Sayang Karel udah ti nggal di
rumahnya sendi ri sekarang. Jadi j aketnya nggak ada yang
bisa dibajak,” ujarnya sambil ngeloyor pergi, “kasih tahu tuh
sama Darwi n, sementok i tulah evolusi ku, tauk.”
Keenan memi li h sebuah restoran Jepang terkenal di Hotel
MuIIu. Kugv Iungsung pucuL. ¨Nun, kumu vung bener uju! ¡nI
sIh IungIL sumu sumur bedunvu dengun wurung ¡ndomIe!¨
omelnya.
“Kamu, tuh. Udah pernah mengunjungi hotel bintang se-
j uta, tapi masi h mi nder ngeli hat tempat begi ni an doang,”
sahut Keenan ri ngan.
“Awas kalo nggak bawa duit cukupan, ya,” kata Kugy was-
was.
“Dasar mental Pemadam Kelaparan.”
382
Mereka berdua mendapat tempat duduk di dekat jendela.
Dari bali k buku menu Keenan meli ri k dan bertanya, “Gy,
ngerti nggak mau pesan apa? Atau mau saya yang—” Mulut-
nya tiba-tiba terkunci. Apa yang ia lihat membekukan segala-
nya. Kugy, tengah asyi k membaca menu, setengah menun-
duk, dan bagai mana penerangan di restoran i tu menyentuh
wajahnya membuat ia kelihatan amat cantik. Bibirnya merah
tanpa pulasan li psti k, ali snya hi tam seperti arang, matanya
berkilau, dan semuanya itu seperti dilukis di atas kulit pucat-
nya yang j erni h dalam remang si nar lampu. Sementara
j emari nya yang mungi l asyi k bermai n-mai n dengan uj ung
rambutnya yang sehalus rambut bayi i tu.
Kugy memang tak pernah berubah. Bahkan sejak pertama
kali mereka bertemu, saat i a di j emput di stasi un kereta.
Li ma tahun si lam. Keenan tak pernah lupa saat i tu. Setelah
seki an lama, i a menyadari bahwa i a sudah menyukai Kugy
sejak perjumpaan mereka yang pertama. Kugy yang unik. I a
seolah-olah mencuat dari lautan banyak orang, di mana pun
i a berada.
“Aku pesan ...” Kugy berpi ki r keras, lama, “hmm. Gi ni ,
deh. Apa pun yang kamu pesan, kali kan dua.”
“Strategi bagus,” Keenan nyengi r.
Seusai memesan, Keenan lantas memberikan cangkir ber-
isi ocha panas ke tangan Kugy. “Saya sengaja bawa kamu ke
si ni , karena rasanya ki ta layak merayakan sesuatu.”
“Dan ... apakah itu?” Kugy menggosokkan kedua tangan-
nya, bersemangat.
“Ki ta sudah punya penerbi t ... dan pameran sekali gus.”
Kugy terlonj ak dari tempat duduknya. “Kamu ... kamu
nggak bo’ongi n aku, kan?”
Keenan menebarkan pandangannya ke sekeliling restoran,
“Saya ngaj ak ke si ni cuma buat ngebo’ongi n kamu doang?
Come on.”
383
Kugy menutupkan tangannya ke muka, menj eri t dalam
bekupun LeIupuknvu. ¨GIIuuuu ... uku ngguk percuvu! Nuuun!
Thi s i s a dr eam come tr ue!”
“I t i s, Gy. Mi mpi ki ta berdua j adi kenyataan.” Keenan
tersenyum sambi l menghela napasnya. “Orang yang saya
temui namanya Pak Gi nanj ar, di a salah satu pembeli awal
luki san saya. Selai n punya penerbi tan, di a j uga kolektor lu-
kisan, bahkan punya saham di beberapa galeri. Pak Ginanjar
tertarik banget waktu tahu saya melukis serial Jenderal Pilik
lagi , tapi ... yang membuat di a mati -mati an tertari k dengan
proyek i ni adalah keti ka tahu bahwa kamu, penci pta dan
penuli s seri al Jenderal Pi li k dan Pasukan Ali t, akan ber-
kolaborasi langsung dengan saya. Saya sempat kasi h li hat
juga foto-foto lukisan Jenderal Pilik yang baru dan sebagian
naskah kamu. Pak Gi nanj ar punya i de untuk bi ki n dua ma-
cam buku. Yang satu untuk konsumsi umum, formatnya se-
perti buku ceri ta bi asa, i lustrasi nya akan di buat lebi h ri -
ngan—mungkin saya akan coba pakai cat air. Nah, yang satu
lagi formatnya buku seni, bentuknya coffee table book, yang
isinya adalah cerita kamu plus lukisan saya dari awal sampai
yang terbaru. Rangkaian pameran bakal dibuat untuk mem-
promosi kan buku i ni . Dan, Gy, i ni akan menj adi pameran
tunggal saya yang pertama ....”
“Dan peluncuran bukuku yang pertama,” Kugy berkata,
tercekat.
“No,” Keenan menggeleng, “dua buku sekali gus, r emem-
ber ? Dua buku kamu akan di luncurkan berbarengan.”
Kugy gantian menghela napas panjang. Semua ini rasanya
sukar di percaya. Terlalu i ndah untuk di percaya.
“Mi nggu depan, Pak Gi nanj ar i ngi n ketemu kamu. Ki ta
nanti pergi barengan, ya?” lalu Keenan mengangkat cangki r
ocha-nya, “cheer s, Gy. Untuk Pi li k.”
384
“Untuk Pi li k,” Kugy tersenyum hangat, “dan ... untuk
ki ta.”
“Untuk ki ta.”
385
Remi meli ri k j am tangannya. Sudah lewat li ma meni t dari
j anj i pertemuannya. Tak bi asanya i a terlambat. Apalagi i ni
hari Minggu. I a tidak punya alasan kuat untuk muncul tidak
tepat waktu. Namun, perjalanannya menuju hotel ini sempat
terhambat karena ada keramaian lalu lintas tak terduga aki-
bat parki ran mobi l yang berbondong-bondong ke pameran
besar dekat sana.
I a membuka pesan di ponselnya, memasti kan sekali lagi
lokasi meeti ng-nya. “Oke ... coffee shop ...,” gumamnya sen-
di ri an. Dan pi ntu li ft membuka. Remi bergegas melangkah
keluar. Bertubrukan dengan seseorang yang mau masuk ke
li ft.
“Sori ...,” katanya cepat, nyari s berbarengan dengan pri a
yang di tubruknya, yang sama-sama j uga mengucap maaf.
“Mas Remi ?”
Remi yang sedari tadi menunduk, sontak mendongak
mendengar namanya di panggi l. Terkesi ap bukan kepalang
ketika mengenali pria di hadapannya. “Keenan?” I a bertanya,
ragu.
42.
KASTIL YANG MASIH BERDIRI TEGAK
386
“Apa kabar, Mas? Saya benar-benar nggak nyangka bi sa
ketemu di si ni ...,” Keenan menj abat tangan Remi erat-
erat.
Remi masi h bengong. Tak lama, i a merangkul Keenan.
“Saya yang lebih nggak nyangka lagi ... hampir setahun saya
cari kamu. Kamu—kok, bi sa di si ni ?”
“Saya sekarang tinggal di Jakarta, Mas. Sejak akhir tahun
kemari n.”
“Masi h meluki s?”
Keenan tertawa lebar. “Baru mulai lagi ,” j awabnya sum-
ri ngah.
RemI Iungsung menepuk buhunvu. ¨Bugus! Bugus! ¡Lu
yang saya tunggu-tunggu. Saya mau li hat-li hat, dong.”
“Boleh, Mas. Sekarang i ni saya malah mau mempersi ap-
kan pameran, di bantu oleh Pak Gi nanj ar.”
“Wah, curang kamu. Kok, Pak Gi nanj ar duluan yang di -
kontak. Lupa ya sama pembeli pertama?” seloroh Remi .
“Nggak mungki n lupalah, Mas,” Keenan terkekeh, “tapi
saya harus cari waktu yang tepat untuk ketemu Mas Remi .
Sebetulnya, sejak minggu lalu, waktu Pak Wayan kasih tahu
kalau Mas Remi datang ke galeri, saya sudah kepingin sekali
mengontak. Tapi begi tu sampai di Jakarta, masi h banyak
banget kerj aan, j adi saya tunda.”
“Kamu kerj a apa di si ni ?”
“Saya sedang bantu ayah saya, Mas. Beliau lagi sakit. Dan
sekarang saya menj alankan perusahaannya. Tr adi ng com-
pany.”
Remi melongo untuk yang kedua kali. “Kamu ... di perusa-
haan tr adi ng?”
“Nggak ada pantes-pantesnya, ya, Mas?” Keenan nyengir.
“Yah, mudah-mudahan cuma sementara. Ayah saya sudah
mulai membai k, kok. Tapi masi h belum tahu berapa lama
lagi saya harus terus kerj a di kantor,” j elas Keenan lagi .
387
“Keenan, ki ta harus j anj i ketemuan, nggak bi sa nggak,”
kata Remi tegas. “Setelah berbulan-bulan nunggui n kabar
kamu, seti daknya saya berhak untuk satu kali ngopi ba-
reng.”
“Pasti , Mas,” kata Keenan, “tapi kartu nama saya ke-
ti nggalan. Bareng dompetnya. Makanya sekarang saya mau
ke mobil dulu untuk ngambil. Dicatat di HP aja, ya.” Keenan
lantas mengej akan nomor telepon selulernya.
“No pr oblem, kartu nama saya j uga habi s, i ni nomor
saya, ya.” Remi ganti an menyebutkan nomornya.
“Lagi ada acara di si ni , Mas?”
“Saya ada meeti ng di coffee shop. Kamu?”
“Saya sedang di nner dengan teman saya.”
“Oke. Saya tunggu kabar dari kamu, ya? Mi nggu i ni ?”
“Boleh. Dalam mi nggu i ni .” Keenan mengangguk man-
tap.
Li ft i tu lalu kembali menutup. Di dalamnya, Keenan
geleng-geleng kepala. Takj ub sendi ri . Seki an lama berusaha
menutupi j ej ak, malam i ni i a harus bertemu dengan Remi
dengan cara yang sama sekali ti dak di duga. Barangkali me-
mang sudah waktunya, pi ki r Keenan.
Sementara i tu, dalam perj alanannya menuj u coffee shop,
pi ki ran Remi masi h terpaku pada pertemuannya dengan
Keenan tadi. Masih sulit memercayai apa yang terjadi. Hidup
dengan tak tertebaknya mengantarkan Keenan begi tu saj a di
depan mukanya pada suatu malam, padahal seki an lama su-
dah ia mencari Keenan dengan segala macam cara. Tidak ada
yang kebetulan, pikir Remi, terlepas dari kesanggupan dirinya
memahami makna besar di bali k pertemuan i tu.
388
Remi ti dak mai n-mai n dengan ni atnya. I a menel epon
Keenan, antusi as i ngi n bertemu.
“Nanti sore kebetulan saya akan pergi ke daerah kantor
kamu, kalau kamu ada waktu kosong, saya i ngi n mampi r
seki tar sej am, bi sa?”
“Oke, Mas. Nanti kalau udah dekat kantor, telepon aj a.
Saya nggak ke mana-mana, kok,” j awab Keenan.
Dan Remi memang menepati janjinya. I a tiba tepat waktu.
Terlongo-longo, i a memasuki ruangan kerj a Keenan. “Ter-
nyata, kamu benar-benar di rektur,” celetuknya terkesi ma.
“Memang Mas sangka apa? Satpam?” Keenan tertawa ke-
ci l.
“Saya masih nggak habis pikir. Bukannya dulu kamu per-
nah bi lang, kamu nggak suka dan nggak bakat bi sni s?”
“Well, sampai sekarang sebetulnya juga masih gitu, kok,”
Keenan tersenyum kecut, “ah, udah deh, ceri tanya pan-
j ang.”
“Waktu saya j uga masi h sej am. Ayolah,” buj uk Remi .
Akhi rnya Keenan menyerah, menceri takan semua. Dari
mulai kisah Galeri Warsita sampai ayahnya yang jatuh sakit.
Alhasi l, Remi tambah terlongo-longo.
“I tu ... ceri ta yang luar bi asa. Saya sama sekali nggak
nyangka,” Remi geleng-geleng, “selama di Bali , kamu ke-
li hatannya nggak punya masalah apa-apa. Tapi sej uj urnya,
saya selalu merasa ada sesuatu yang i sti mewa dalam proses
hi dup kamu. Termasuk waktu kamu tahu-tahu lenyap dari
peredaran. Saya yaki n, sesuatu yang besar pasti terj adi .”
Lagi -lagi , Keenan tersenyum kecut. “Udah, deh. Ngo-
mongin yang lain aja,” katanya sambil mengibaskan tangan,
“lebi h bai k sekarang dengar ceri ta Mas Remi .”
Remi mengangkat bahu. “Hmm ... nggak banyak yang
bisa saya ceritakan, plus, sebentar lagi saya juga udah harus
j alan.”
389
“Tentang pekerj aan, mungki n? Love li fe?” Keenan nye-
ngi r.
Mendadak, ai r muka Remi berubah. Berseri -seri . “Hmm,
untuk yang terakhi r kamu sebut barusan, sebetulnya saya
punya ceri ta. Tepatnya, sebuah rencana. Dan saya belum
pernah kasi h tahu si apa-si apa soal i ni . Termasuk yang ber-
sangkutannya sendi ri .”
“Wah, seru, ni h,” Keenan terkekeh.
“Saya ... lagi terpikir untuk tunangan. Atau, yah, melamar
dulu.”
AIIs Keenun mengungkuL. ¨Wow! SeIumuL vu, Mus. BIur-
pun saya belum kenal orangnya. Yang pasti, dia cewek yang
sangat beruntung. Kapan-kapan, kenali n, ya.”
“Sebetulnya, waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan ke-
marin, dia ikut dengan saya ke Ubud. Tapi sayangnya nggak
i kut mampi r ke galeri gara-gara di a mau memotret di pura.
Kamu ... wah ... kamu juga pasti cocok sama dia. Dia sangat
menyenangkan, cerdas, pokoknya ...,” Remi sampai harus
mengatur napasnya, “di a sangat i sti mewa buat saya.”
Keenan tersenyum lebar. “Saya percaya, Mas. You must
be so i n love.”
“I am,” Remi tersenyum lebar, “belum pernah merasa
seperti i ni . Seumur hi dup saya.”
“Dan, sepanj ang hi dup saya, nggak akan saya lupakan
bantuan Mas Remi dulu. Kalau bukan karena Mas Remi ter-
tarik sama lukisan Jenderal Pilik saya yang pertama, mung-
ki n saya sudah berhenti meluki s. Jadi , kalau Mas Remi bu-
tuh bantuan apa pun, soal rencana besar i tu, atau apa pun,
kasi h tahu, ya. Si apa tahu saya bi sa bantu,” ucap Keenan
sungguh-sungguh.
“Keenan, kamu nggak berutang apa pun. Justru satu ke-
hormatan bi sa punya karya pertama kamu,” uj ar Remi se-
raya merangkul hangat bahu Keenan. Tak lama kemudi an,
390
dua orang itu berpisah. Tanpa tahu betapa besar persamaan
di antara mereka berdua.
Ubud, Mei 2003 ...
Luhde menyandarkan kepalanya di di ndi ng, memandangi
pamannya yang duduk memunggungi nya. Sudah beberapa
hari ini pamannya giat melukis. Mungkin karena baterainya
sempat teri si dengan kedatangan Keenan beberapa waktu
lalu. Sudah beberapa hari ini, Luhde malah tidak bisa tidur.
Hati nya resah. Nyari s ti dak pernah tenang. Dan, sama se-
perti pamannya, i tu pun di sebabkan kedatangan Keenan.
“Poyan ....”
“Ada apa, De?”
“Bagai mana ki ta bi sa tahu kapan waktunya untuk me-
nyerah, dan kapan waktunya untuk bertahan?”
Mendengar pertanyaan Luhde, Pak Wayan berbal i k.
“Poyan j uga ti dak pernah tahu,” j awabnya lugas.
“Dulu, Poyan memutuskan untuk menyerah. Membiarkan
meme-nya Keenan memilih orang lain. Kapan Poyan merasa
bahwa i tulah keputusan yang tepat?”
“De, sej uj urnya, apakah i tu menyerah, atau j ustru ber-
tahan ... Poyan ti dak pernah tahu. Bahkan sampai hari i ni .
Apakah i ni menyerah namanya? Barangkali betul begi tu.
Tapi dalam apa yang di sebut menyerah, Poyan terus ber-
tahan. Poyan ti dak tahu. Tapi hi dup yang tahu.”
Luhde menggigit bibirnya. I a ingin mengucapkan sesuatu,
sekali gus gentar dengan reaksi pamannya nanti . Namun, de-
sakan i tu sangat kuat. “Poyan ... j angan marah kalau saya
ngomong begi ni , tapi ... saya nggak mau j adi seperti Poyan.
Atau seperti meme-nya Keenan. Sepuluh, dua puluh tahun
dari hari i ni , saya masi h terus-terusan memi ki rkan orang
yang sama. Bi ngung di antara penyesalan dan peneri maan.”
391
Wayan terdi am mendengar luncuran kali mat dari mulut
keponakannya. I a seperti dicekoki segenggam pil pahit sekali-
gus. Geti r, pedi h, tapi i a merasakan kebenaran dalam kata-
kata Luhde. “Kamu benar. Jangan jadi seperti Poyan,” ujar-
nya li ri h.
“Tapi , bagai mana saya bi sa memutuskan i tu?” ratap
Luhde.
“De, Poyan percaya hi dup i ni sudah di atur. Ki ta ti nggal
melangkah. Sebi ngung dan sesaki t apa pun, semua sudah
di si apkan bagi ki ta. Kamu ti nggal merasakan saj a,” Wayan
berkata lembut, “rasakan saja, De. Kamu pasti tahu jawaban-
nya. Begi tu j uga dengan di a. Ti dak ada yang bi sa me-
maksakan, apakah Keenan memang untuk kamu atau ...
untuk orang lai n.”
Jantung Luhde serasa berhenti berdegup. Poyan sudah
tahu.
“Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga
janji, atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia me-
mi li h untuk tetap bersamamu, hati nya ti dak bi sa di paksa
oleh apa pun, oleh si apa pun.”
Luhde menunduk. Menyembunyi kan matanya yang ber-
kaca-kaca. I a memahami apa yang di ucapkan pamannya.
Yang belum i a pahami adalah, mengapa harus sesaki t i ni
rasanya?
Jakar t a, Mei 2003 ...
Seperti bi asanya, hampi r seti ap malam Mi nggu, i a meng-
i nj akkan kaki di teras rumah i ni . Namun, malam i ni terasa
lai n. Remi menyempatkan di ri untuk sej enak menatap
langit-langit, kursi, meja, ubin, semua yang ada di teras itu.
Karena malam i ni mungki n akan menj adi malam yang ber-
392
sej arah, dan teras i ni menj adi saksi nya. Badannya ti ba-ti ba
menggigil sejenak. Dan saat Kugy keluar dengan tawa ceria-
nya, mendadak perut Remi terasa mulas.
“Hai , Sayang,” sapa Kugy, tangannya menggenggam se-
tumpuk foto, “ki ta mau j alan-j alan ke mana malam i ni ?”
“Belum tahu,” kata Remi, setelah menelan ludah berkali-
kali, “rasanya sih, saya lagi agak malas ke mana-mana. Tapi,
ki ta li hat nanti ya. Kalau cuma di si ni , nggak pa-pa j uga,
kan?”
“Nggak masalah,” sahut Kugy ri ngan. “Aku mau kasi h
li hat foto-fotoku di Bali . Lumayan lho hasi lnya,” lanj utnya
sambi l cengengesan.
Dengan semangat, Kugy memperli hatkan hasi l karyanya
satu per satu. Remi mengamati sambi l mengomentari , “Oh,
i ya ... bagus, hmm, yang i ni j uga bagus ....” Namun,
pi ki rannya ti dak melekat pada foto Kugy barang satu pun.
Remi si buk bertanya-tanya dalam hati . Apakah sekar ang
saat yang tepat? Ya. Har us sekar ang. Atau minggu depan?
Jangan. Tapi , si apa tahu lebi h bai k. Mungki n bukan di
r umahnya. Di tempat lai n. Di mana? Kapan? Malam i ni ?
¨Nuh! Yung InI master pi ece-nvu!¨ TIbu-LIbu Kugv me-
nahan sej umlah foto.
Remi terkagetkan dari lamunannya.
“Eng-i ng-eng ....” Kugy menj aj arkan foto-foto i tu.
“Wow ... ya, ya, yang i ni memang ... sebentar,” keni ng
Remi berkerut, diamatinya lagi objek foto-foto itu lebih sak-
sama, “saya kenal sama perempuan i ni ,” gumamnya.
“Luhde?” sebut Kugy ragu-ragu. “Kamu kenal Luhde?”
¨Yu! ¡uhde! DIu ILu keponukunnvu Puk Wuvun vung guIerI-
nya saya datangi waktu di Ubud,” Remi tertawa sendi ri ,
“j adi , saya ketemu pamannya, kamu malah ketemu ke-
ponakannya. Lucu.”
“Jadi ... kamu kenal Luhde i ni ?” Kugy masi h tak per-
caya.
393
“Saya udah kenal keluarga i tu lumayan lama. Waktu i tu
saya malah sempat tahun baruan dengan Luhde dan ke-
luarganya, tahun ....” Remi mengi ngat-i ngat, “tahun 2000.
Waktu i tu di a masi h ABG,” Remi terkekeh, “di a pacaran
sama pelukis favoritku, itu lho, yang lukisannya saya pajang
di foyer kantor.”
Tiba-tiba sesuatu menusuk hati Kugy. Lukisan itu. “Remi,
kalau boleh tahu, si apa si h peluki snya?” tanya Kugy tegang,
“sei ngatku, cuma ada i ni si al KK di luki san i tu.”
“Namanya Keenan. Lukisannya semua tentang anak-anak.
Bakatnya luar biasa. Saya penggemar fanatiknya,” Remi men-
j elaskan, lancar, tanpa beban. “Luki san di a sempat meng-
hilang dari peredaran hampir setahun. Orangnya juga nggak
tahu di mana. Padahal dulu kami cukup seri ng ketemu.
Ti ba-ti ba, mi nggu lalu saya ketemu di a, benar-benar nggak
senguju! TernvuLu dIu suduh pInduh ke JukurLu. Suvu sempuL
mai n ke kantornya sebentar. Di a bi lang, baru-baru i ni di a
meluki s lagi . Bahkan katanya mau pameran.”
Ada gempa yang mengguncang hati nya seketi ka. Pan-
dangan Kugy berubah nanar. Rasanya di a hafal ki sah i tu.
Lebi h dari sekadar hafal ... aku mengenalnya. Keenan.
Luhde. Keenan dan Luhde. Selama i ni ....
Remi mengamati perubahan air muka Kugy dan bingung
sendi ri . Kugy keli hatan tegang.
“Gy, sebetulnya, malam i ni ada yang i ngi n saya sampai -
kan ke kamu.” Dengan hati -hati sekali , Remi berkata. Otot-
otot muka Kugy masi h tampak kaku, memelototi nya tanpa
suara. “Gy?” panggi l Remi lembut, “kamu nggak pa-pa?”
Kugy menatap Remi, miris. I a ingin berusaha mengatakan
“tidak apa-apa” dengan nada sewajar mungkin. I a ingin ber-
usaha agar apa yang baru saj a di dengarnya dapat lewat
tanpa bekas bagai semi li r angi n. I a i ngi n berusaha malam
i ni kembali normal. I a i ngi n i tu semua. Namun, i a ti dak
sanggup.
394
Kugy ingat perasaan ini. Sama seperti ketika ia tahu soal
Wanda dulu. Bedanya, kali i ni i a begi tu menyukai Luhde.
Bahkan, jatuh sayang. Dan meski selama ini ia yakin bahwa
hatinya sudah berubah, lagi-lagi ia harus menyadari dengan
cara yang geti r, bahwa hati nya belum berubah. Di hati nya,
ternyata Keenan masi h menj adi Pangeran, bertakhta dalam
sebuah kasti l i mpi an yang masi h berdi ri tegak hi ngga deti k
i ni .
Namun, kehadi ran Luhde meruntuhkan segalanya bagi
Kugy. Kasti lnya hancur rata dengan bumi . Dan Kugy tak
punya pi li han lagi . Mer eka pasti sangat menci ntai . Mer eka
pasti akan sangat bahagi a ber dua. Luhde seper ti seor ang
malai kat.
“Sayang, kamu kenapa?” Suara Remi menggugahnya.
Dengan berat, Kugy terpaksa berkata, “Remi ... maaf ya,
aku ingin sendirian dulu malam ini. Aku nggak marah sama
kamu, atau apa pun. Tapi , aku benar-benar butuh waktu
sendi ri dulu. Maaf sekali lagi , ya.”
Remi lama menatap Kugy. “Oke, kalau memang i tu yang
kamu butuhkan,” sahutnya li ri h.
Tak lama kemudi an, Remi pulang, berusaha berbesar
hati. Pasti akan ada saatnya, ia membatin. Mungkin minggu
besok ... mungki n mi nggu depan ... pasti ada saatnya.
395
Jakar t a, Juni 2003 ...
Keenan muncul di ruang tamu rumah Kugy lebi h awal. Se-
perti bi asa, Keshi a yang mengkhususkan di ri untuk mem-
buka pi ntu. Sore i tu, Keenan memakai kemej a li nen puti h
lengan pendek dan j i ns bi ru. Cukupan untuk membuat
Keshia kabur ke kamarnya dengan muka merah padam, dan
di dalam sana i a j i ngkrak-j i ngkrak kegi rangan sendi ri an.
Keenan tampak ri leks sekali gus bersemangat. Hari i ni i a
j anj i membawa Kugy untuk menemui Pak Gi nanj ar, yang
juga sama-sama sudah tidak sabar ingin bertemu Kugy. Jika
semuanya berjalan sesuai rencana, dalam minggu ini mereka
bahkan sudah bi sa menandatangani kontrak kerj a sama
untuk penerbitan dongeng serial Jenderal Pilik dan Pasukan
Ali t.
Tak lama, Kugy keluar menemui Keenan. Wajahnya agak
lebi h pucat dari bi asa.
43.
CINCIN DALAM KOTAK PERAK
396
“Hai, Nan,” sapanya, “kok, cepat amat datangnya? Bukan-
nya baru j am tuj uh ki ta j anj i sama Pak Gi nanj ar?”
“Saya pi ngi n ngaj ak kamu makan es kri m dulu,” cetus
Keenan berseri -seri .
Kugy tersenyum samar, lalu mengangguk.
“Kamu bai k-bai k aj a?”
Kugy kembali mengangguk, kembali melempar senyum.
Segalanya har us ter kendali , i a mencamkan dalam hati .
Sepanjang jalan, Kugy lebih banyak diam. Hanya Keenan
yang akti f melempar berbagai topi k obrolan, dan i a hanya
menanggapi sekenanya. Sesampainya di parkiran restoran es
kri m favori t mereka di Kemang, beban di hati nya terasa
ki an menyesak. Keti ka mereka melangkah keluar mobi l,
Kugy j uga merasa langkah kaki nya bertambah berat.
Mereka berdua lantas memasuki restoran, duduk di tepi
j endela. Geri mi s keci l turun di luar sana. Kugy membuang
pandangannya ke j endela, mengamati huj an.
Keenan mengamati Kugy diam-diam. Sinar mata itu tam-
pak sedang berlari dari sesuatu. Keenan menyadari sepenuh-
nya keganj i lan yang berlangsung sej ak tadi . “Kugy, kamu
beneran nggak pa-pa?” tanyanya, memasti kan sekali lagi .
“Beneran,” Kugy tersenyum cepat. Untungnya, ia tersela-
matkan oleh buku menu yang datang ke mej a mereka.
“Pesanan seperti biasa?” tanya Keenan, yang dibalas ang-
gukan bi su dari Kugy. I a lalu memesan menu reguler me-
reka berdua. Sepiring besar ucIue dengan empat macam es
kri m dan saus cokelat. Sepuluh meni t kemudi an, pi ri ng i tu
datang bersama dua sendok keci l dan dua gelas ai r puti h.
Kugy mengambil sendok kecilnya dengan sedikit enggan.
Perutnya mendadak kehi langan sensor lapar.
“Gy, ada apa, si h?” Keenan bertanya setelah heni ng me-
li puti mereka seki an lama.
397
“Kamu yang kenapa. Kok, nanya i tu melulu dari tadi ,”
Kugy berusaha santai .
Keenan menatap kedua mata Kugy. “Keci l, kamu nggak
pernah pi ntar bersandi wara.”
Kugy tersentak mendengar ucapan Keenan. Perlahan, i a
meletakkan sendoknya. Lama Kugy menunduk. Berusaha
menerjemahkan badai di batinnya ke dalam kata-kata. “Nan
... boleh nggak aku mi nta i sti rahat menuli s dulu?” akhi rnya
Kugy berkata.
“Menuli s Jenderal Pi li k maksud kamu?” sahut Keenan,
“Boleh aj a, Gy. I ni kan proyek kamu j uga. Kamu sesuai kan
saja dengan kenyamanan kamu. Saya bisa minta waktu yang
lebi h mundur ke Pak Gi nanj ar. Nggak masalah,” lanj ut
Keenan, “kamu butuh waktu berapa lama ki ra-ki ra? Se-
mi nggu?”
Kugy menatap Keenan, geli sah. “Sebulan?” pi ntanya.
Keni ng Keenan kontan berkerut. “Sebulan? Kamu ya-
ki n?”
Kugy menggeleng. “Mungki n lebi h,” sahutnya li ri h, “aku
nggak tahu pasti .”
Keenan i kut meletakkan sendoknya. “Kugy Karmacha-
meleon, kali ini kamu harus jujur. Ada masalah apa sebenar-
nya?”
Kerongkongan Kugy tercekat, seperti ada sebongkah
duri an menyumbat lehernya. “Aku ...,” susah payah Kugy
berkata, “aku ... nggak mau ketemu kamu dulu untuk
beberapa waktu. Ada beberapa hal yang harus aku bereskan
...,” napasnya tertahan, “dengan di ri ku sendi ri . Nanti kalau
udah waktunya, ki ta pasti ketemu lagi .”
“Boleh tahu apa yang harus kamu bereskan?” tanya
Keenan lembut.
Kugy menggeleng. “Nggak sekarang. Sekarang ... aku
cuma mau pulang.”
398
Keenan menatap sepi ri ng penuh es kri m di hadapannya,
mengingat janji dengan Pak Ginanjar dalam dua jam lagi, ia
lalu mengembuskan napas berat. “Oke. Saya antar kamu pu-
lang.”
Kugy menggeleng lagi . “Nggak usah, Nan. Aku mau pu-
lang sendiri pakai taksi. Maaf ya aku udah bikin kamu repot.
Aku j uga nggak bermaksud bi ki n kamu bi ngung. Tapi ....”
“Kugy, saya antar kamu pulang. Sekarang,” Keenan me-
nyela dengan nada yang mulai mengeras.
Gelengan kepala Kugy tambah kuat. I a bahkan bangki t
berdi ri . “Nggak. Aku mau pulang sendi ri , Nan. Kamu boleh
marah sama aku. Tapi aku benar-benar harus pergi . Maaf
ya ....” Kugy langsung bali k badan, setengah berlari menuj u
pi ntu restoran, melesat pergi ke tepi j alan, mencegat taksi ,
sebelum Keenan sempat mengej arnya.
Begitu duduk di dalam taksi, impitan di dadanya seketika
melonggar. Kugy kembali bisa bernapas. Sigap, disambarnya
HP dari dalam tas, langsung memati kannya. I a hanya i ngi n
sendi ri . I a hanya i ngi n sepi .
Ter nyata aku ti dak kuat ... aku ti dak kuat ... berulang-
ulang, Kugy meratap dalam hati .
Langi t sudah menggelap keti ka taksi i tu memasuki pe-
rumahan tempat Kugy ti nggal. “Mbak ... Mbak ... i ni udah
sampai di kompleksnya, rumahnya sebelah mana, Mbak?”
Sopir taksi itu memanggil-manggil Kugy yang tertidur di jok
belakang.
Kugy terbangun dengan kaget. “Oh, sori ... sori ... belokan
pertama langsung kanan, Pak. Rumah kedua sebelah ki ri .”
Sopi r i tu menurut. “Yang ada sedan hi tam i tu, Mbak?”
tanyanya seraya menunj uk sebuah mobi l hi tam yang ter-
399
parki r di depan rumah Kugy.
Sedan hi tam? Tubuh Kugy sontak lemas lunglai . Remi ?
“Ya. Di sini aja, Pak.” Kugy keluar dari taksi dengan eng-
gan. Rasanya i ngi n meloncat masuk lagi dan pergi entah ke
mana. Ti dak i ngi n bertemu dengan si apa-si apa. Tapi sudah
terlambat. Remi, yang menunggu di teras depan, sudah me-
li hat kedatangan Kugy.
“Sayang, kok HP kamu mati ?” tanyanya langsung. “Tadi ,
akhi rnya saya mengandalkan feeli ng aj a. Langsung mampi r
ke si ni . Untung kamu cepat pulang.” Remi memeluk Kugy.
Tubuh i tu kaku. “Kamu—nggak pa-pa?” tanyanya.
Kugy rasanya i ngi n meledak mendengar pertanyaan i tu
lagi . “Nggak apa-apa,” j awabnya si ngkat.
“Kamu mau ganti baj u dulu?” Remi bertanya lagi .
“Nggak usah,” Kugy tersenyum, lalu duduk di kursi. “Ada
apa, Remi ?”
Remi agak terkejut dengan reaksi yang tidak biasanya itu.
I a mengamati ekspresi Kugy, berusaha mencari perbedaan,
tapi ti dak menemukan apa-apa. Sej enak Remi mengatur
napas. I ni saatnya. Kalau i ngi n j adi kej utan, i ni saatnya.
“Sebetulnya ada yang i ngi n saya sampai kan ke kamu
malam i ni ,” dengan hati -hati sekali Remi berkata. “Saya
nggak tahu apakah malam i ni saat yang tepat atau bukan.
Dan kapan pun saat yang di sebut ‘tepat’ i tu, pada akhi rnya
saya pasti harus bicara sama kamu. Cepat atau lambat. Hari
ini atau minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan.
Sama aj a, Gy. Jadi , tolong dengar kata-kata saya ...,” Remi
tahu-tahu berlutut di hadapan Kugy.
Kerongkongan Kugy tercekat. Rasa keselak i tu datang
lagi. Gempa itu terulang kembali. Tanpa disadari, punggung-
nya mundur, menempel pada sandaran kursi .
Dari kantong celananya, Remi mengeluarkan sebuah ko-
tak berwarna perak. “Kugy Ali sa Nugroho, saya nggak tahu
400
apakah ci nci n i ni pas dengan j ari kamu atau nggak, saya
nggak sempat ngukur, cuma ngi ra-ngi ra. Tapi yang saya
tahu, cinta kitalah yang paling pas untuk hidup saya. Cincin
i ni saya tawarkan untuk kamu teri ma, untuk kamu pakai .
Tapi sebetulnya, yang saya tawarkan adalah hati saya, hidup
saya. Kalau kamu mau berbagi itu semua, tolong terima cin-
ci n i ni .”
Ci nci n i tu telah Remi sodorkan, begi tu dekat dengan
j emari Kugy. Namun, Kugy tak bereaksi . Remi mendongak,
mendapatkan Kugy yang tampak terkesi ap. Di a sungguhan
kaget. Hati-hati, Remi mengambil tangan kiri Kugy. Meraih
j ari mani snya, lalu memasukkan ci nci n i tu perlahan-lahan.
“Gy ... ci nci nnya pas,” bi si k Remi tertahan. Lembut, i a
mengecup j ari Kugy yang ki ni di li ngkari sebuah ci nci n ber-
matakan berli an r ose cut.
Dada Kugy menyesak. Napasnya mulai satu-satu. Seti ap
kata yang diucapkan Remi seperti balok beton yang mengim-
pi t dadanya. Dan ci nci n berki lau yang tersemat di j ari nya
itu bagaikan hantaman godam yang menjadi gong dari rang-
kaian balok beton yang menghunjaminya. Kugy memejamkan
mata. Semua yang ia alami dan ia dengar hari ini berada di
luar kesi apannya, kekuatannya. Bi bi rnya mengunci . Pung-
gungnya terus menj auh hi ngga melekat erat pada sandaran
kursi .
Remi mulai membaca gelagat aneh i tu. Mulai merasa
pani k. Gelagapan. “Gy ... sori , saya nggak bermaksud bi ki n
kamu shock,” ujarnya gugup. “Look, kamu nggak perlu jawab
apa-apa sekarang. Saya ngerti. Kamu mungkin butuh waktu.
Apa pun yang kamu butuhkan, please let me know. Oke?”
Kugy masih tidak bereaksi. Masih menatap Remi dengan
nanar dan tubuh kaku.
“Kamu butuh waktu sendi ri dulu? Saya bi sa pergi se-
bentar. Kalau nanti kamu sudah si ap, kasi h tahu aj a. Nanti
saya akan ke si ni lagi ,” tanya Remi sehalus mungki n.
401
Kugy mengangguk pelan. Masi h tanpa suara.
“Oke. Saya ti nggal dulu, ya? Please call me.” Remi lalu
berdi ri , mengecup keni ng Kugy, dan beranj ak dari sana.
Begi tu mobi l Remi menghi lang dari depan rumahnya.
Kugy langsung menghambur masuk ke rumah, mengunci
di ri di kamar. Ti dak keluar lagi .
Pukul sebelas malam. Tahu-tahu bel rumahnya berbunyi .
Karel bergegas keluar kamar. Baru ti ga bulan i a pi ndah ke
rumah barunya itu. Belum banyak yang tahu alamat tempat
tinggalnya yang sekarang. Tamu yang berkunjung selarut ini,
tanpa pemberi tahuan, patut di waspadai .
Karel mengi nti p seki las dari ti rai . Ti dak ada mobi l. Ke-
palanya melongok untuk mengi nti p lebi h j auh. Matanya
memicing, berusaha mengenali sosok yang tengah berdiri di
depan pi ntu, membawa satu tas.
“Kugy?” Karel terperanjat. Cepat-cepat ia membuka pintu.
“Kugy ... ngapai n? Kamu sama si apa?”
Kugy, dengan muka kusut, menghadap abangnya dengan
mengi ba. “Karel ... aku mau j adi parasi t dulu di si ni . Boleh,
ya?”
Sudah ti ga hari sejak kejadi an di restoran es kri m i tu. Kugy
masi h belum bi sa di hubungi . Keenan ti dak tahu lagi si apa
yang bisa ia mintai keterangan. Noni adalah upaya terakhir-
nya.
“Non ... kapan ke Jakarta?” Pertanyaan pertama Keenan
begi tu telepon i tu di angkat.
“Mmm ... lusa. Kenapa, Nan? Kok, suara lu tegang ba-
nget?” tanya Noni curi ga.
402
“Gua mau ketemuan sama lu, ya. Ada yang pi ngi n gua
tanya.”
“Soal?”
“Kugy.”
“Kenapa Kugy?”
“Di a ngi lang. Lu tahu di a di mana?”
“Nggak. Kenapa si h tuh anak? Kayaknya lagi hobi ngi -
lang, ya?” Noni tertawa keci l, teri ngat kej adi an Remi yang
j uga pernah meneleponnya, melaporkan hal serupa. “Lu
udah tanya orang rumahnya?”
“Udah. Kayaknya mereka kompakan untuk nggak kasi h
tahu. Mungki n Kugy yang sengaj a nggak kepi ngi n di cari .”
“Yah, kalo gi tu, bi ari n aj alah. Lagi nyepi kali . Entar j uga
pulang lagi ,” ti mpal Noni santai .
“Kalo cuma soal pulang lagi sih, gua juga yakin dia bakal
pulang sendiri. Tapi bukan cuma itu masalahnya. Gua tetap
pi ngi n ketemu lu. Kayaknya ada sesuatu yang perlu ki ta
obroli n soal Kugy. Oke? Lusa, ya?” desak Keenan lagi .
Noni menelan ludah. Belum pernah ia mendengar Keenan
begi tu bersi kukuh.
Rumah dengan model townhouse i tu hanya punya dua ka-
mar, luas bangunannya pun ti dak terlalu besar, tapi lebi h
dari cukup untuk Karel huni sendi ri an. Kehadi ran satu
orang tambahan saj a seharusnya menj adi kan rumah i tu se-
marak, apalagi kalau manusi anya adalah Kugy. Namun, ke-
hadi ran adi knya selama ti ga hari di sana malah membuat
suasana jadi mendung. Kugy benar-benar berbeda dari biasa-
nya. Anak i tu j adi pendi am, murung, dan lebi h banyak me-
ngurung di ri . Tempat kesukaannya adalah balkon keci l di
bagi an belakang rumah, tempat menj emur pakai an. Kugy
403
bi sa berj am-j am nongkrong di sana. Entah melamunkan
apa.
Terdengar suara langkah kaki beradu dengan anak tangga
besi . Adi knya baru turun dari balkon belakang.
“Gy, makan malam dulu, yuk. Aku bawai n nasi goreng,
ni h,” aj ak Karel.
“Belum lapar,” kata Kugy pendek.
“Nggak mungkin banget kamu belum lapar. Ayo, makan,”
Karel menaruh bungkusan itu langsung ke atas piring Kugy,
kemudi an mengambi lkan pi ri ng dan sendok. Setelah i tu,
Karel mulai makan duluan. “Makan, Gy,” aj aknya lagi .
Dengan lunglai, Kugy membuka bungkusannya, menyuap
beberapa sendok. Ogah-ogahan. Kugy hanya menghabi skan
setengah, lalu berhenti , membungkus kembali si sa nasi go-
rengnya. Kembali di am.
Karel mengamati nya tanpa berkomentar. Setelah meng-
habi skan nasi nya, barulah Karel angkat bi cara. “Kamu mau
sampai berapa lama di si ni ?” tanyanya kalem.
Kugy mengangkat bahu. “Belum tahu. Kenapa? Kamu
mulai sebel ya li hat aku di si ni ?”
Karel tertawa keci l, “Nggak. Bukan i tu masalahnya. Tapi
aku mulai sebel karena kamu nggak ngomong-ngomong.” I a
lantas meli pat tangannya di dada, “Aku nggak akan sebel
lagi kalau kamu mau ceri ta. Jadi , cepetan ceri ta. Seka-
rang.”
Kugy menatap abangnya. Tatapan orang meratap mi nta
tolong. Begitu banyak yang ingin ia muntahkan keluar. Kugy
pun sudah lelah menyi mpan semuanya sendi ri an. “Kamu
harus tanya aku sesuatu dulu ...,” kata Kugy setengah ber-
bi si k.
Dalam kepala Karel, berseli weran begi tu banyak per-
tanyaan. Tahu-tahu, matanya menangkap ki lauan ci nci n
404
yang terterpa sinar lampu. Benda mungil yang melingkar di
j ari mani s ki ri adi knya i tu serta-merta mencuri perhati an
Karel. “Ci nci n i tu dari Remi ?” i a pun bertanya spontan.
Kugy memang hanya butuh satu pertanyaan. Pertanyaan
apa saj a. Ti dak j adi masalah. I a hanya i ngi n di bantu untuk
membuka pi ntu bendungan yang sudah i ngi n j ebol. Dari
mulutnya, mengali rlah lancar semua ceri ta. Ki sah yang su-
dah berusia empat tahun lamanya, dari mulai Keenan, Ojos,
Remi , Luhde, hi ngga ci nci n di j ari nya.
“Karel ... aku bi ngung. Aku bi ngung sama di ri ku sendi ri .
Aku nggak ngerti kenapa aku bereaksi begi ni keti ka Remi
kasih cincin ini. Apa yang salah dengan dia?” kata Kugy pu-
tus asa, “aku j uga nggak ngerti kenapa aku sampai kayak
begi ni waktu tahu soal Luhde. Padahal kan, harusnya ...
harusnya ....”
“Menurut kamu, yang harusnya terj adi gi mana?” tanya
Karel lembut.
“Harusnya ... aku senang. Harusnya aku bahagi a untuk
Keenan karena dia punya seseorang kayak Luhde. Harusnya
aku j uga bahagi a karena punya seseorang kayak Remi . Ha-
rusnya ... aku senang dapat ci nci n i ni . Tapi ....”
“Tapi ?”
“Tapi ... kok, aku malah di si ni ?” ratap Kugy, “Kok, aku
malah kabur?”
“Kugy, kepala kamu akan selalu berpi ki r menggunakan
pola ‘harusnya’, tapi yang namanya hati selalu punya aturan
sendi ri ,” kata Karel sambi l tersenyum. “I ni urusan hati , Gy.
Berhenti berpi ki r pakai kepala. Secerdas-cerdasnya otak
kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. De-
ngeri n aj a hati kamu.”
Tertegun Kugy mendengar kali mat Karel. Perlahan, ke-
palanya menggeleng. “Karel, aku bingung banget. Aku nggak
405
tahu lagi hatiku bilang apa,” ucapnya tertahan, “pokoknya ...
pokoknya ....”
“Pokoknya apa?”
“Pokoknya ... nggak mungkin aku nyakitin Remi. Dan aku
nggak akan pernah rela kalau Keenan sampai nyaki ti n
Luhde.”
Karel mengangguk. “Oke. Kalau i tu memang betul kata
hati kamu, i kuti saj a. Nggak akan pernah mungki n salah.”
I a lalu berdi ri , menepuk pi pi adi knya.
Kugy memandangi abangnya yang mengambi li pi ri ng-pi -
ri ng kotor dari mej a. “Karel ...,” panggi lnya.
“Kenapa, Gy?”
Kugy tak tahu harus bi lang apa. Kembali hanya meman-
dangi abangnya dengan sorot meratap yang penuh makna
dan tanya.
Karel menghampi ri adi knya. “Di belakang kompleks i ni
ada sungai keci l. Kamu bi ki n perahu kertas, gi h. Curhat ke
Neptunus. Siapa tahu ada jawaban.” I a tersenyum kecil, lalu
beranjak masuk ke kamarnya. Meninggalkan Kugy sendirian
di mej a makan.
Sebari s kali mat Karel terus mengi ang. Kalau memang
betul i tu kata hati kamu, i kuti saj a.
406
Noni sudah sampai duluan di restoran es kri m di bi langan
Kemang, tempat ia janjian dengan Keenan. Tak sampai lima
meni t menunggu, mobi l SUV Keenan memasuki parki ran.
Tampak Keenan keluar dari mobi l, masi h memakai setelan
kantor.
“Hai , Pak Di rektur Muda. Ganteng amat,” sapa Noni .
“Nggak sempet ganti baj u, Non. Tadi ada meeti ng, terus
langsung ke sini,” kata Keenan seraya mengempaskan tubuh-
nya ke sofa.
Noni geleng-geleng kepala. “Gua masih harus menyesuai-
kan diri dengan Keenan yang Direktur. Aneh banget rasanya
denger lu baru meeti ng, nggak Keenan banget,” i a terge-
lak.
“Yang gua banget apa, dong?” tanya Keenan sambi l nye-
ngi r.
“Mi salnya, Non, sori , gua baru begadang semaleman
gara-gara ngelukis’ atau ‘Non, sori, gua baru selesai pameran
di galeri anu’ atau kalaupun harus pakai i sti lah ‘meeti ng’:
‘Non, sori , gua baru selesai meeti ng sama Kugy untuk pe-
44.
CINTA TAK BERUJUNG
407
ngembangan ali en nati on cabang Jakarta Ti mur.” Lantas,
Noni terki ki k-ki ki k sendi ri .
Ekspresi Keenan langsung berubah begi tu nama satu i tu
di sebut. “Non, ada apa dengan Kugy sebenarnya? Lu tahu
sesuatu?”
“Seminggu ini gua belum teleponan lagi sama dia,” sahut
Noni .
“Bukan cuma soal seminggu ini, Non. Feeling gua, kayak-
nya ada sesuatu yang lebi h lama dari i tu,” Keenan mem-
buang pandangannya ke jendela, ingatannya kembali ke sore
itu, di tempat dan meja yang sama, saat Kugy tahu-tahu me-
ni nggalkannya, berlari mencegat taksi , dan tak pernah ada
kabar lagi sesudah itu. “Eko pernah cerita, lu dan Kugy sem-
pat nggak sali ng ngomong selama hampi r ti ga tahun. Boleh
tahu ada apa antara kali an waktu i tu?”
Noni terkesi ap mendengar permi ntaan Keenan. Teri ngat
kado bersampul bi ru yang terti nggal di kamar kos Kugy.
Kartu ucapan itu. “Memangnya ... lu ngerasa ada hubungan-
nya dengan Kugy ngi lang?” tanya Noni , sedi ki t enggan.
Keenan mengangkat bahu. “Nggak tahu. Tapi gua merasa
akan sangat terbantu kalau lu bi sa ceri ta soal i tu. Nggak
tahu kenapa.”
Lama Noni terdi am. Akhi rnya, i a memutuskan. “Ceri ta
gua dan Kugy bisa menyusul belakangan. Tapi, ada satu hal
yang berhubungan dengan i tu, dan ... udah saatnya gua
harus j uj ur,” Noni berhenti sebentar, “Nan, i ni nggak
gampang gua omongi n, j adi , mendi ngan gua t embak
langsung aj a: Kugy ci nta sama lu.” Tampak i a tertegun
sendi ri sesudahnya, l antas menggel engkan kepal a, “Eh,
salah, salah,” Noni meralat, “Kugy ci nta mati sama lu.”
Napas Keenan langsung tersendat.
“Dari waktu di a masi h pacaran sama Oj os. Dari sebelum
408
lu ketemu Wanda. Dan gua yakin, perasaan dia masih nggak
berubah, sampai hari i ni .”
Ganti an, Keenan membi su. Lama.
“Gua nggak tahu persi s apa yang terj adi sampai di a ngi -
lang. Tapi lu bener. Kemungki nan besar ada hubungannya
dengan i tu semua,” lanj ut Noni lagi .
“Hubungan dia dengan cowoknya gimana?” tanya Keenan.
Noni kembali menggeleng. “Nggak tahu persi s, Nan.
Waktu gua datang ke rumahnya lagi sejak kita diem-dieman,
she seemed to be so in love. But who knows? Segala sesuatu-
nya bi sa berubah,” Noni terdi am sebentar, “dan mungki n
justru karena ada beberapa hal langka di dunia ini yang su-
sah berubah,” sambungnya pelan.
“Di a di mana, ya, Non?” tanya Keenan. Pandangannya
kembali menerawang ke j endela.
Noni i kut terdi am. Tampak berpi ki r keras. Mendadak,
ali snya terangkat. “Nan ... ki ta kok bego banget. Tanya
cowoknvu uju!¨
“Lu kenal?”
“Kenal. Gua ada nomor teleponnya.”
¨Yu uduh! TeIepon, gIh!¨
“Nah, masalahnya ...,” Noni berdehem, “pulsa gua yang
nggak ada.”
Keenan menghela napas. “I ni berarti bukan soal bego
atau nggak bego. I ni masalah kesejahteraan sosial. Pantesan
dari tadi lu cuma mi ssed call doang bi sanya.”
“Pakai HP lu aj a. Tapi , nanti gua yang ngomong, oke?”
Noni lalu membuka buku alamat di ponselnya, “Ni h, gua
di kte, ya. Kosong ... delapan ... satu ....”
Keenan memencet nomor yang Noni sebutkan. Jempolnya
lalu menekan tombol “call”. Ti ba-ti ba, muncullah sebari s
nama di layarnya: Remi gi us Adi tya.
409
“Remi ?” gumamnya tak percaya.
“Lho. Lu kenal?” Noni i kut bertanya.
Nada i tu tersambung. Tak lama, terdengar ucapan ‘halo’
dI ujung sunu. Reßeks, Keenun menveruhkun ponseInvu pudu
Noni .
“Halooo? Mas Remi ? Hai , i ni Noni , Mas. Temannya
Kugy. I ya ... i ni memang pakai HP-nya Keenan. Aku j uga
baru tahu kalau Mas Remi ternyata kenal sama Keenan.
Lha, ki ta semua memang teman-teman kuli ahnya Kugy,
Mus. ¡h, buru pudu Luhu, vu! Ampuuun ...¨ NonI LerLuwu-
tawa. “Naaah, i tu di a. Ki ta j uga lagi nyari i n Kugy, Mas.
Ki rai n Mas Remi tahu di a di mana ...”
Keenan termenung. Celotehan bernada ti nggi khas Noni
seolah memantul ke ruang hampa. I a tak lagi peduli apa yang
di bi carakan Noni di telepon. Hanya i a sendi ri an di dalam
ruang hampa i tu, berpusar dalam kenangan dan potongan
ingatan. Rekaman kalimat-kalimat Remi saat mampir ke kan-
tornya kembali menggaung di benak Keenan ... kamu j uga
pasti cocok sama di a ... di a sangat i sti mewa buat saya ...
belum per nah mer asa seper ti i ni , seumur hi dup saya ...
Keenan menunduk, memejamkan matanya. Remi, orang yang
sangat i a hormati , ternyata adalah kekasi h Kugy.
Keenan lalu teri ngat rencana besar yang di bi carakan
Remi . Ludah di mulutnya terasa geti r. Pembi caraan mereka
kembali berulang, termasuk kali mat yang i a lontarkan pada
Remi ... kalau Mas Remi butuh bantuan apa pun, kasi h
tahu, ya. Si apa tahu saya bi sa bantu.
Noni tahu-tahu mengembalikan ponselnya. Menyadarkan
Keenan dari lamunan dalam ruang hampanya. “Mas Remi
j uga keli mpungan nyari i n di a. Nggak tahu di a ada di mana.
Gawat nih, Kugy.” Noni berdecak. “By the way, gimana cara-
nya kok lu bi sa kenal sama Mas Remi ?”
Keenan tersentak. Teri ngat sesuatu. “Non ... gua harus
410
cabut. Nanti gua telepon dan ceri tai n semua. Oke?”
“Lu mau ke mana?”
“Kalo orang rumahnya nggak mau bi lang Kugy ada di
mana, nggak jadi masalah. Yang perlu gua cari tahu sebetul-
nya adalah alamat rumah barunya Karel. Dan i tu pasti
ngguk ukun LerIuIu susuh. Duh!¨ Secepat ki lat, Keenan me-
lesat pergi dari sana.
“Kumpeni gi la.” Noni menyadari sepi ri ng besar es kri m
akan menuj u mej a i tu, dan harus i a habi skan sendi ri an.
Sudah hampi r gelap keti ka Keenan sampai di rumah i tu.
Karel sendi ri yang membukakan pi ntu. I a tampak terkej ut
meli hat kedatangan Keenan.
“Mas Karel, Kugy-nya ada?” tanya Keenan sopan. Pasti
ada.
Karel tak langsung menj awab. I a keli hatan sedang ber-
pikir. “Kamu aja yang nyusulin dia, ya,” akhirnya ia berkata
sambi l membali k badan, menunj uk satu pi ntu, “di a lagi di
tempat j emuran belakang. Kamu ke pi ntu i tu. Ada tangga
besi di dekat sana. Kamu nai k aj a. Kugy ada di atas.”
Keenan mengangguk. Langsung menuj u tangga yang di -
maksud Karel, menai ki nya hati -hati .
Balkon belakang i tu hanya berbentuk dak beton. Sebuah
kursi dan meja plastik terparkir di sana. Tampak siluet Kugy
duduk memunggungi nya. Kepalanya menengadah, menatap
langit senja. Rambutnya tergerai di sandaran kursi, berkibar
halus di ti up angi n.
Keenan menahan napas. “Keci l ....”
Si luet i tu terduduk tegak seketi ka. Kugy menoleh, men-
dapatkan Keenan sudah berdi ri di hadapannya. “Kamu ...
kok ... bi sa ada di si ni ?” i a bertanya, terbata.
411
“Radar Neptunus,” j awab Keenan ri ngkas seraya terse-
nyum seki las. I a lalu berj alan mendekati Kugy. Berj ongkok
di depannya. “Kenapa harus ngi lang, Gy?” tanyanya halus.
“Aku j uga nggak tahu kenapa,” Kugy menggelengkan ke-
pala, “ti ap hari aku di si ni , cuma untuk cari tahu kenapa.
Dan masi h belum tahu j awabannya.”
“Saya mau bantu kamu. Boleh?” Keenan lantas merai h
tangan Kugy. “Empat tahun saya kepi ngi n bi lang i ni : Kugy
Karmachameleon, saya ci nta sama kamu. Dari pertama kali
ki ta ketemu, sampai hari i ni , saya selalu menci ntai kamu.
Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat
ci nta i ni ada uj ungnya.”
Kugy terenyak. Pandangannya mulai mengabur. Matanya
terasa panas oleh ai r mata yang i ngi n berguli r turun tapi
masi h i a tahan.
“I tu satu hal. Masi h ada lagi yang harus saya bi lang,”
Keenan mengatur napasnya, “saya sudah tahu soal Remi ,
Gy. Kalau saya harus merelakan kamu untuk seseorang,
cuma di alah orangnya. Nggak ada lagi . Di a orang yang sa-
ngat, sangat bai k. Kamu beruntung.”
“Kamu j uga,” desi s Kugy, “aku nggak sengaj a ketemu
Luhde di Ubud. Kami sempat mengobrol di pura. Dia ... dia
seperti malai kat turun dari langi t. Kamu beruntung, Nan.
Jangan pernah melepaskan di a.”
Keenan terkesi ap mendengar Kugy menyebut nama
Luhde. Namun, pembi caraan Remi di kantornya kembali
berulang ... waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan
kemar i n, di a i kut dengan saya ke Ubud, tapi sayangnya
nggak i kut mampi r ke galer i gar a-gar a di a mau memotr et
di pur a. Kali i ni , Keenan akhi rnya mengerti . Si kap Luhde
yang berubah drasti s setelah pulang dari pura. Si kap Kugy
yang j uga berubah setelah kembali dari Bali . Akhi rnya i a
memahami .
412
“Luhde nggak layak di saki ti ,” desi s Kugy lagi .
“Remi j uga,” ti mpal Keenan li ri h.
Kugy menunduk, mengerj apkan mata. I a hampi r ti dak
bisa melihat apa-apa lagi dari matanya yang kian mengabur.
Hari semaki n gelap. Angi n semaki n halus. Hati nya semaki n
peri h.
“Banyak sekali yang i ngi n saya lakukan bareng kamu,
Gy,” bi si k Keenan.
Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. “Bisa. Pasti bisa.
Ki ta tetap bi sa bi ki n buku bareng, kan? Dan aku tetap bi sa
j adi sahabatmu.” Kugy nyari s tersedak mengucapkan kata
terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali
adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menam-
pung seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari
i tu. Begi tu luas laut yang membentang dalam hati nya.
Namun, lagi -lagi , harus i a tahan.
“I ya. Kita tetap bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu
menj adi sahabat terbai k,” Keenan menelan ludah. Kali mat
i tu begi tu susah di ucapkan. Apalagi keti ka segenap hati nya
berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya, pada Luhde,
pada Remi . Ji ka i ni memang bantuan yang Remi butuhkan,
sama seperti keti ka Remi menolongnya dulu, maka i a akan
menggenapkannya.
“Nan ...,” Kugy menggenggam balik tangan Keenan, suara-
nya maki n li ri h, “banyak yang aku i ngi n bi lang ke kamu.
Banyak yang i ngi n aku kasi h. Tapi , nggak apa-apa, nggak
usah. Mungki n memang bukan j atahku. Bukan j atah ki ta.
Kamu turun, ya, Nan. Pulang.”
Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu
di bi carakan. Hanya akan membuat hati nya maki n terluka.
“Kamu j uga j angan kelamaan di si ni , Gy. Udah malam.”
Keenan menyentuh pi pi Kugy seki las. Perlahan, berj alan
413
pergi .
Ai r mata Kugy akhi rnya j atuh berguli r, membuat pan-
dangannya kembali terang, meski langi t sudah gelap, dan
Keenan ti nggal bayangan hi tam yang berj alan menj auh.
“Nan ...,” panggi lnya.
“Ya?” Keenan berbali k.
“Aku nggak kepi ngi n, sepuluh ... dua puluh tahun lagi
dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat
kamu.” Kugy merapatkan tangannya di dada.
Keenan tercekat mendengarnya. “Nggak, Gy. Nggak akan.
Kalau saya bi sa, kamu j uga bi sa.”
“Dan kamu yaki n bi sa?” tangi s Kugy.
“Pasti ....” Suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, ke-
bi mbangan, dan kegentaran. Namun, i a tak mungki n lagi
mundur. Satu-satu, dituruninya tangga besi itu. Lenyap dari
pandangan Kugy. Har us ada yang bi sa, bati nnya, kalau
ti dak .... Keenan menggosok matanya yang berkaca-kaca. I a
tak bi sa mengi ngat, kapan hati nya pernah sepi lu i ni .
Di tempat yang sama, Kugy menangi s bi su. I a berj anj i ,
inilah tangisan terakhirnya untuk Keenan, sekaligus tangisan
yang pali ng menyaki tkan. I a bahagi a sekali gus patah hati
pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bah-
wa mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka ti-
dak mungki n bersama.
414
Keesokan hari nya, Kugy memutuskan keluar dari tempat
persembunyiannya. Berhenti menjadi parasit di rumah Karel.
Kembali pulang ke rumah. Dan orang pali ng pertama yang
i a hubungi adalah Remi .
Hanya dibutuhkan satu telepon untuk mendaratkan Remi
ke rumahnya. Pria itu tak menunggu lebih lama lagi. Begitu
Kugy menghubunginya, Remi langsung berangkat malam itu
j uga menemui Kugy.
Remi datang membawa seberondong pertanyaan yang
sudah si ap i a gencarkan. Namun, semuanya buyar pada
deti k pertama i a meli hat Kugy. Sebagai ganti , i a hanya
mendekap Kugy. Lama. Ri buan pertanyaannya mengkri stal
menj adi satu tanya, “Kamu kenapa, Gy?”
Segala sesuatu yang di persi apkan Kugy i kut buyar. Me-
leleh dan meluruh dalam dekapan Remi . Segalanya meng-
kri stal menj adi satu pernyataan, “Maafkan aku, ya.”
Remi melonggarkan dekapannya, meraih tangan kiri Kugy.
Ci nci n i tu masi h di sana. I a mengembuskan napas lega.
45.
BAYANGAN ITU PUNYA NAMA
415
“Remi , sekarang aku si ap,” kata Kugy, tegas. “Waktu i tu,
aku memang kaget. Nggak si ap. Tapi sekarang, aku si ap
buat ngejalanin apa saja sama kamu. Buatku, ini adalah ba-
bak baru.”
Remi menatap Kugy lurus-lurus. Mengadu bola matanya.
Mencari keyaki nan di sana. “Kamu yaki n, Gy?” tanyanya
memasti kan.
Kugy menghela napasnya. “Yaki n,” j awabnya mantap.
Remi terus mengej ar sesuatu dalam kedua bola mata
Kugv. ¨Gv, suvu menghurguI konhrmusI kumu. TupI ... suvu
nggak mungkin bohong sama kamu. Saya masih perlu kamu
yaki nkan. Saya j uga nggak tahu gi mana caranya,” dengan
berat Remi berkata, “keputusan kamu untuk tahu-tahu le-
nyap bi ki n saya kaget banget. Dan, j uj ur, saya masi h bi -
ngung sampai sekarang. Tapi saya j uga j anj i sama di ri saya
sendi ri untuk menghargai proses kamu. Saya nggak akan
maksa kamu untuk bi cara atau ceri ta. Hanya kalau kamu
si ap. Tapi , sekali lagi , saya butuh di yaki nkan. Saya nggak
yaki n sanggup menghadapi si tuasi seperti kemari n lagi . Ti -
dak untuk kedua kali nya, Gy.”
Kugy menelan ludah. I a paham pembuktian apa yang di-
maksud Remi . Namun, i a j uga ti dak tahu harus memulai
dari mana. “Kalau gi tu, apa yang bi sa aku lakukan? Apa
yang perlu kamu dengar supaya kali i ni kamu bi sa yaki n?”
tanya Kugy setengah memohon.
Remi menggeleng. “Saya j uga nggak tahu, Gy,” sahutnya
pelan. “Mungki n cuma kamu yang bi sa tahu.”
Mendengar kali mat Remi , seketi ka sesuatu berkecamuk
dalam hati dan benak Kugy. Namun, Kugy sadar, pada
babak baru i ni , i a tak punya banyak pi li han. I a tahu apa
yang akan ia putuskan pada akhirnya. Sejernih berlian yang
berki lau di j ari nya. Dan Kugy tak mau buang waktu lagi .
416
“Aku i ngi n kasi h kamu sesuatu,” ucap Kugy. Jantungnya
terasa berdegup lebi h kuat.
Remi mengernyi tkan keni ng. “Sesuatu—?”
“Tunggu sebentar, ya.” Kugy pergi beranj ak dari sana.
Masuk ke kamar ti durnya. Di sebelah tempat ti durnya, ada
sebuah mej a keci l. Kugy membuka laci pali ng atas. Sesuatu
yang belum lama kembali padanya, setelah bertahun-tahun
menghi lang, dan ki ni akan meni nggalkannya lagi . Dan
semoga ia ber ada di tangan yang tepat, Kugy berdoa dalam
hati .
Kugy lalu kembali menemui Remi . Menyerahkan benda
i tu ke tangannya. Sej enak Kugy memej amkan mata. I ni lah
saatnya. “Remi, dongeng adalah segalanya buat aku. I mpian-
ku yang paling tinggi. Dan ... ini adalah sesuatu yang paling
mendekati i mpi an i tu. Sekarang, aku masi h membuatnya
pakai tangan. Entah kapan, tapi mudah-mudahan, satu saat
nanti aku bisa berbagi sebuah buku dongeng betulan dengan
kamu. Tapi , sebelum buku i tu ada, i ni lah benda pali ng ber-
harga buatku. Belum pernah berpi ndah tangan satu kali
pun.” Kugy menelan ludah lagi . “Hari i ni , aku i ngi n mem-
bagi nya dengan kamu. Karena, aku j uga berharap bi sa ber-
bagi hidupku dengan—” Kugy rasanya tak bisa melanjutkan.
Dadanya makin sesak. “Hanya dengan kamu,” akhirnya Kugy
berkata.
Remi terkesiap. Lama. Sepanjang ingatannya, tak pernah
ada yang mengatakan hal sei ndah i tu padanya. I a baru ter-
sadar ketika melihat Kugy menangis. Remi langsung mereng-
kuh tubuh mungil itu lagi, “Kenapa nangis, Gy? Saya paling
nggak bi sa li hat kamu nangi s ....”
Dalam i sakannya, Kugy membi si k, “Aku nangi s bukan
karena sedi h ....”
Dengan lembut, Remi membelai-belai rambut Kugy, “Apa
417
pun alasannya, saya di si ni untuk kamu. Makasi h untuk
buku i ni . Makasi h kamu sudah membagi mi li k kamu yang
pali ng berharga. Makasi h sudah meyaki nkan saya.”
Saat i tu Kugy memang bukan menangi s karena sedi h,
tapi bukan j uga karena bahagi a. Sej uj urnya, Kugy sendi ri
ti dak tahu kenapa.
Enam bulan sudah semenj ak kedatangannya kembali ke
Jakarta. Ayahnya telah berubah drasti s. Manusi a i tu telah
menjadi bukti hidup bahwa mukjizat itu ada. Seseorang yang
terkapar lumpuh sama sekali , dengan predi ksi kerusakan
fatal di sana si ni , berhasi l sembuh dan berfungsi seperti
sedi a kala. I a telah lama meni nggalkan kursi roda dan alat
bantu apa pun. Seti ap pagi , i a bahkan sudah melakukan ak-
ti vi tas senam ri ngan, sesuatu yang di lakukannya seti ap hari
saat i a masi h sehat dulu. Segala sesuatunya memang sudah
hampi r seperti dulu, kecuali satu. Kembali ke kantor. I tulah
satu-satunya hal yang masi h belum di sarankan dokter.
Semua orang tahu, Keenanlah penyebab sekali gus pe-
nawar yang kemudi an mendatangkan keaj ai ban tersebut.
Tak hanya mendampingi ayahnya kapan pun ia bisa, Keenan
bahkan menggantikan fungsi operasional ayahnya setiap hari
di kantor. Memasti kan perekonomi an keluarga mereka ma-
si h bi sa berj alan seperti bi asa.
Namun, Keenan pun tahu, saat i ni pasti ti ba. Keaj ai ban
yang satu hari harus berhadapan dengan kejujuran. Dan tak
ada yang tahu pasti , mana yang akan keluar sebagai peme-
nang.
Hati -hati , Keenan membuka pi ntu kamar orangtuanya.
Tampak ayahnya sedang duduk sendi ri an di tempat ti dur,
membaca buku.
418
“Pa ...,” panggi lnya pelan.
“Masuk, Nan. Ada apa?” Adri meletakkan buku yang i a
pegang, sekali gus menanggalkan kacamata bacanya.
Keenan lantas duduk di sampi ng ayahnya. “Pa, saya ha-
rus bi cara tentang sesuatu. Tentang pekerj aan.”
“Ada masalah apa di kantor?” tanya Adri langsung.
Keenan menelan ludah, lalu menggeleng. “Nggak ada ma-
salah, Pa.”
“Jadi ?”
“Saya yang punya masalah,” Keenan berkata li ri h, “saya
nggak tahu sampai kapan bi sa bertahan—” Keenan berhenti
sej enak. Dan akhi rnya, i a mengatakan sesuatu yang selama
i ni sudah mengganj al lama di tenggorokannya, yang seti ap
harinya ia tahan, yang setiap harinya ia tunda, dan sekarang
tak bi sa i a membendungnya lagi : “Pa, saya i ngi n kembali
meluki s.”
Adri berusaha mencerna kalimat anaknya. Berusaha mem-
baca ekspresi di waj ahnya. Berusaha mengerti konsekuensi
apa yang mengi kuti pernyataan Keenan. “Kamu i ngi n ber-
henti dari kantor?” tanya Adri dengan nada ragu.
Berat, Keenan mengangguk.
“Tapi ... kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa menjalan-
kan—”
“Saya akan tetap menj alankan tugas saya sampai Papa
benar-benar puli h. Atau sampai ada orang lai n yang bi sa
menggantikan saya. Tapi, intinya ...,” Keenan menelan ludah
untuk yang keseki an kali , “saya nggak mungki n selamanya
bertahan di kantor. Saya mau meluki s lagi .”
“Kenapa? Apa masalahnya?” desak Adri lagi .
Keenan menatap ayahnya, tak berkedip. “Papa masih per-
lu tahu alasannya?”
Perlahan, Adri menggeleng. “Papa tahu. Kamu memang
selalu i ngi n meluki s. Cuma Papa yang selalu susah me-
419
neri ma.”
Keenan ganti an bertanya, pertanyaan yang tahunan i a
tunda, i a tahan, dan sekarang tak bi sa i a membendungnya
lagi . “Kenapa, Pa? Apa masalahnya? Sej ak keci l saya selalu
berusaha membukti kan sama Papa, bahwa meluki s adalah
duni a saya. Tapi Papa selalu menanggapi seperti tembok.
Papa menutup mata, menutup teli nga, dan benar-benar
nggak mau tahu. Saya nggak pernah mengerti kenapa.
Kenapa?”
Adri tak tahu dari mana harus menj elaskan. Ceri ta yang
sudah berkarat tapi menghantui nya selama puluhan tahun.
Duni a luki san adalah penghubung Lena dengan ci nta lama
yang seperti tak mengenal kata mati. Dunia lukisan kembali
menjadi penghubung anaknya dengan seseorang yang selalu
ingin ia hindari entah karena perasaan bersalah, atau justru
karena perasaan tersai ngi . Dan semua i tu pernah begi tu
membutakannya hingga ia ingin membunuh potensi Keenan
dengan cara apa pun. Namun, Adri tidak punya kesanggupan
untuk menceri takannya.
“Semua salah Papa, Nan,” Adri mengucap li ri h, “Papa
yang nggak berusaha memahami kamu, berusaha mengurung
kamu, dan nggak pernah memberi kamu kebebasan menjadi
di ri kamu sendi ri . Sementara kamu ... kamu sudah berani
mengorbankan i mpi an kamu, demi bi sa kembali ke si ni ,
mengurus keluarga i ni .”
“Selamanya, saya akan tetap melakukan hal yang sama.
Dengan si tuasi Papa waktu i tu, pulang ke si ni bukanlah pi -
li han bagi saya, bukan j uga pengorbanan,” sergah Keenan,
“tapi sekarang, saya i ngi n kembali memi li h.”
Adri tersenyum. “Di mata Papa, semua i tu terbali k, Nan.
Kamu nggak perlu memilih untuk melukis. I tulah diri kamu.
Selamanya.”
Mata Keenan mengerjap. Napasnya tercekat. “Jadi ... saya
420
boleh—?”
“Kapan pun kamu siap, kamu bisa berhenti,” Adri berkata
lembut, “j angan khawati r tentang apa-apa. Papa pasti bi sa
cari jalan lain. Papa yakin,” napas Adri mengembus panjang,
tak pernah terbayangkan i a akan mengucapkan hal yang
satu i ni , “kamu bahkan bi sa kembali ke Bali , kalau i tu yang
kamu mau.”
Darah Keenan berdesi r mendengarnya. Hati nya bergun-
cang hebat. Bahkan dalam mi mpi sekali pun, i a tak pernah
berani membayangkan ayahnya akan sampai pada kerelaan
seperti i tu. Tubuh Keenan pun bergerak maj u, lengannya
membuka, merengkuh ayahnya. Untuk pertama kali nya da-
lam belasan tahun, i a merasa di pahami . Dan memahami .
Bahwa apa yang tak terucap terkadang tak lagi penti ng.
Keenan tidak ingin menuntut penjelasan lebih lanjut. Semua-
nya sudah cukup. Akhi rnya Keenan bi sa merasakan ci nta
itu, kasih sayang itu, dan kebebasan yang akhirnya lahir da-
lam hubungan mereka berdua.
Sehari sebelum akhir pekan. Keenan sudah tuntas mengepak
barang-barangnya. Memasti kan kembali ti ket pesawat yang
tersi mpan di kantong depan ranselnya.
Tekadnya bulat sudah. I a akan ke Bali, ke Ubud, kembali
ke Lodtunduh. Entah untuk berapa lama. Yang jelas, sesuatu
yang baru akan berawal di sana. Tak ada lagi yang bi sa
mengi katnya kembali ke si ni .
Keenan menoleh ke belakang sebelum memasuki taksi .
Ayahnya, ibunya, dan Jeroen, berdiri melepas kepergiannya.
Dan kali ini, mereka semua tersenyum. Mereka semua meng-
i khlaskan. Tanpa kecuali .
421
Sayap-sayapnya membentang tanpa penghalang. I a bebas
sudah.
Malam i ni , Remi menyusun tempat-tempat yang i ngi n i a
kunj ungi dengan Kugy esok hari . Ada pameran weddi ng,
dan beberapa venue yang kata orang-orang bagus dan unik.
Entah kapan rencana besar i tu terwuj ud, i a masi h belum
berani mendesak Kugy, tapi tak ada salahnya meli hat-li hat
dan mempelaj ari . Dari SMS terakhi r yang i a teri ma, Kugy
bahkan sudah setuj u dengan rencananya besok. Remi ter-
senyum puas.
Menj elang tengah malam, masuk lagi sebuah pesan dari
Kugy: Kata Rhoma I r ama, begadang j angan begadang.
Apalagi kalo cuma gar a-gar a keasyi kan br owsi ng. Kata
Kugy Nugr oho, ti dur yuk cepat ti dur . Jangan lupa baca
buku dongeng dulu. Di kasi h buat di baca, tauk! Met bobo,
Sayang. See you tomor r ow.
Remi tertawa kecil membacanya. Mematikan laptop yang
sedari tadi memang di pakai nya untuk br owsi ng. I seng, i a
mengambi l buku dongeng buatan Kugy. Satu-satunya buku
dongeng yang i a punya.
Halaman demi halaman, Remi pun berdecak kagum. Tre-
nyuh. I lustrasi yang i ndah. Ceri ta yang hi dup. Dan betapa
Kugy membuat seti ap j engkal dari buku i tu dengan ci nta.
Remi bi sa merasakannya.
Tibalah ia pada halaman terakhir. Sampul tebal yang tam-
pak polos. Namun, ada sesuatu yang keli hatan menyembul
keluar. Selapi s kertas puti h yang hanya terli hat uj ungnya
saj a. Tanpa beban, Remi menari k kertas i tu keluar. Sebuah
amplop. Mendadak, ada keraguan yang muncul dalam hati -
nya. Entah kenapa. Remi merasa ti dak yaki n benda i tu se-
ngaj a di letakkan di sana untuk i a temukan.
422
Namun, pada saat yang sama, i a j uga merasa tergerak
untuk membuka amplop itu, mengambil kartu di dalamnya.
Keni ngnya seketi ka mengerut. Happy Bi r thday? bati nnya.
Sekali lagi , Remi membali k amplop i tu, mencari sebuah
nama. Ti dak ada. Perasaan Remi semaki n ti dak enak. I a ti -
dak bi sa lupa, Kugy pernah berkata, benda i tu belum ber-
pi ndah tangan sebelumnya. Tapi mengapa i a menemukan
sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun?
Remi lalu membaca, bari s demi bari s tuli san Kugy yang
berj ej er rapi seperti pasukan semut. Pi ki rannya tersangkut
dan terantuk pada beberapa kata ... i lustr asi ... ber bagi ...
hanya ber sama kamu ... dan terakhi r, i a tertumbuk pada
satu tanggal. 31 Januari 2000. Tanggal itu. Tahun itu. Pem-
bi caraan terakhi rnya dengan Noni dari satu nomor telepon
seoIuh mengonhrmusI kecurIguunnvu sejuk LudI. Dun Iu vukIn
ki ni .
Semuanya mendadak j elas. Reaksi dramati s Kugy keti ka
meli hat foto Luhde. Kebi mbangannya selama i ni . Kepala
Remi j atuh menunduk. Semua i ni terlalu pahi t dan saki t.
Namun, i a akhi rnya bi sa memahami sesuatu yang mem-
bayangi hubungan mereka tanpa pernah bisa ia sentuh. Tan-
pa pernah i a bi sa beri nama.
Sekarang, semuanya j elas. Bayangan i tu sudah punya
nama. Keenan.
423
Semua anggota keluarganya berkelakuan aneh sej ak tadi
pagi. Ada yang mesem-mesem, ada yang cekikik-cekikik, ada
yang bersi ul-si ul tanpa sebab. Kugy menyadari i tu semua
tanpa tahu harus merespons apa.
Sej am sebelum i a di j emput, barulah Kari n bersuara.
“Denger-denger, ada yang mau ke weddi ng exhi bi ti on, ya?”
Kakak perempuannya i tu berceletuk.
“Jangan yang mewah-mewah, ya, Nak. Sederhana saj a,
yang penting bermakna.” Tahu-tahu ayahnya ikut berkomen-
tar sambi l berj alan lalu.
“Papa apaan, si h?” protes Kugy segera.
“Gy, EO-nya i n-house aj a,” ti ba-ti ba Kevi n menyambar,
“gue sanggup, kok. Gue udah punya ti m sendi ri , ni h. Oke?
Oke? Oke?”
Mata Kugy langsung mencari Keshi a. Ti nggal si bungsu
satu i tu yang belum i kut berkomentar. Kalau sampai di a
i kutan juga ... Keshi a duduk di uj ung sofa, menatapnya de-
ngan nakal. “Kalo gi tu Keenan boleh buatku, dong,” cetus
anak i tu ri ngan.
46.
HATI TAK PERLU MEMILIH
424
Muku Kugv Iungsung meruh pudum. ¨Mu!¨ Iu memunggII
i bunya, si ap memuntahkan protes, “Lagi pada kenapa si h
orung-orung dI rumuh InI? Noruk!¨
“Gy, kamu mau pakai kebaya atau gaun? Kalau kebaya,
ke temannya Mama aja, Bu Sugianto. Bagus deh buatannya,
murah lagi ....”
Mulut Kugy menganga. “Mama kok i kut terli bat j uga,
si h?” tukasnya.
¨¡ho ... kILu semuu kun IngIn mendukung!¨ suhuL Ibu-
nya.
“Mendukung apa?” tanya Kugy lagi .
“Booo ... please, deh!” sambar Kari n, “Lu sangka si apa
yang pali ng pani k di rumah i ni begi tu tahu adi k gue beren-
cunu unLuk meIungkuhI gue!¨
¨JeIus punIkIuh! DIu vung ngeIuurIn moduI puIIng besur
buat kecantikan di rumah ini, tapi justru yang paling beran-
takan yang dapat j odoh duluan,” ledek Kevi n, lalu di a ter-
pi ngkal-pi ngkal sendi ri .
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Remi. Kugy mengembuskan
napas lega. Tepat pada saat bola panas sedang berpindah ke
Kari n. Cepat-cepat i a angkat kaki dari ruang keluarga, pi n-
dah ke ruang tamu.
“Hai . Udah dekat rumah, ya?” tanya Kugy.
“Belum. Gy, sori, saya nggak bisa jemput. Kalau kita jan-
jian langsung ketemu aja gimana?” Remi menyahut di ujung
sana.
“Nggak pa-pa. Aku bi sa bawa mobi l. Ki ta ketemu di pa-
meran?”
“Kalau hari i ni nggak j adi ke pameran, nggak pa-pa?”
Remi balas bertanya.
Kugy tertegun. “Jadi ... ketemu di mana?”
425
I a tak akan lupa tempat i tu. Ayunan i tu. Malam perganti an
tahun. Di sanalah segalanya bermula. Kugy menanggalkan
kedua sandalnya, membi arkan telapak kaki nya menyentuh
pasir. Angin pantai yang hangat berembus meniup kulit, me-
ngi barkan rok panj ang yang i a kenakan. Langi t tampak di -
gantungi tumpukan awan mendung, sore ini sepertinya akan
di tutup oleh huj an.
“Gy ....”
Kugy berbali k badan. Remi berj alan ke arahnya dengan
senyum samar, tangan kanannya menj i nj i ng satu kantong
kertas. Ada sesuatu yang ganj i l dengan i ni semua. Namun,
i a ti dak tahu apa.
“Kenapa harus ketemu di si ni ?” tembak Kugy langsung.
Remi tak menj awab. I a menggandeng tangan Kugy, per-
lahan mendudukkannya di atas ayunan. Dengan lembut, ta-
ngannya mulai mendorong. Mengayun Kugy ke depan dan
ke belakang tanpa suara. Hanya bunyi deri t engsel besi
ayunan dan bunyi ombak-ombak keci l yang beradu dengan
benteng tembok dekat kaki mereka.
“Hampi r setahun saya kenal kamu, ya, Gy.” Remi akhi r-
nya bi cara.
Kaki Kugy yang tadi nya menggantung tahu-tahu me-
nancap kukuh di pasir. Ayunan itu berhenti mengayun. Kem-
bali , Kugy membali k badan. “Remi ... please, tell me. Kok,
kamu ti ba-ti ba aj a pi ngi n ke si ni ?”
Remi melepaskan pegangannya pada tali ayunan, berlutut
di depan Kugy. Wajahnya setengah menunduk. Dan ia mem-
bi su. Cukup lama untuk membuat Kugy tambah curi ga de-
ngan semua i ni .
“Remi ... ada apa?” tanya Kugy sekali lagi .
“Saya ...,” Remi susah payah berbicara, “saya ... mau me-
ngembali kan sesuatu.” Tangannya lalu merai h kantong ker-
tas yang di sandarkan di ti ang ayunan.
426
Kugy meneri manya dengan ragu. Seki las, i a mengi nti p
i si nya. Tercenganglah Kugy saat mengenali buku dongeng
pemberi annya. “Kenapa di kembali kan?” tanyanya bi ngung.
“Karena ... ini.” Remi menyerahkan selembar amplop pu-
ti h beri si kartu.
Segala sesuatu terasa berhenti bagi Kugy. Deti k, detak,
geri k dan gerak. I a hanya bi sa menatap benda satu i tu. Se-
suatu yang hampi r i a lupa, tapi ternyata ti dak. Cukup se-
detik yang ia butuhkan untuk kembali mengenalinya. Meng-
i ngat apa yang i a tul i s, dan kepada si apa tul i san i tu
di tuj ukan.
“Buku ini harusnya untuk Keenan, kan?” tanya Remi lem-
but. “Kugy ... Kugy ... kenapa harus sampai kabur segala?”
Segala sesuatu terasa berhenti bersuara bagi Kugy. Ke-
cuali suara Remi yang berbi cara padanya sehalus angi n.
“Saya i ngi n tanya sama kamu, Gy,” ucap Remi . “Apakah
Keenan pernah memi nta buku i ni dari kamu?”
Kugy bahkan tak bi sa menemukan suaranya sendi ri . I a
hanya bi sa menggeleng.
“Lalu ... kenapa saya harus memi nta untuk bi sa kamu
kasi h?”
Sesuatu berhasi l bergerak. Menembus kebi suan dan ke-
bekuan yang mengunci Kugy. Sebuti r ai r mata.
Seolah menyentuh boneka porselen, dengan teramat ha-
lus Remi menggenggam telapak ki ri Kugy, tempat ci nci n
pemberi annya meli ngkar. “Apakah kamu pernah mi nta ci n-
ci n i ni dari saya?”
Buti r kedua. Dan Kugy kembali menggeleng.
“Lalu ... kenapa saya yang harus minta supaya kamu mau
pakai ?”
Kugy hampir tak bisa bernapas. Berusaha menekan isak-
nya sekuat tenaga. Namun, ia tidak berhasil. I sak pelan kini
berhasi l menembus kebi suan dan kebekuan.
427
Masi h dengan kehalusan yang sama, kali i ni Remi me-
nari k lepas ci nci n di j ari Kugy. Hati -hati . “Kalau nggak
begi ni , saya akan selalu memi nta kamu untuk menci ntai
saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya me-
mi nta. Cari lah orang yang nggak perlu memi nta apa-apa,
tapi kamu mau memberi kan segala-segalanya.”
Bahu Kugy berguncang tanpa bi sa lagi i a tahan. “Tapi ...
orang i tu kan kamu ... aku ... aku nggak pernah mi nta apa-
apa ... tapi ... tapi , kamu kasi h semuanya ...,” Kugy berkata
terengah, di sela i sakan dan desakan yang begi tu kuat me-
nyesak di dadanya.
“I ya, Gy,” Remi mengangguk sambi l mengusap ai r mata
di pi pi Kugy, “kamu mungki n sudah ketemu. Saya yang be-
lum,” suara Remi mulai bergetar. “Saya yang belum ...,”
ucapnya lagi , separuh berbi si k. Seolah i a sedang memberi
tahu di ri nya sendi ri .
Remi lalu bangki t, sej enak mendekap Kugy yang masi h
teri sak, dan i a melangkah pergi .
Kebekuan dan kebi suan runtuh sudah. Meski segalanya
tampak mendung dan murung, sesuatu berhasi l mencai r di
antara mereka. Kej uj uran. Dan seolah bergerak bersama-
sama, langi t pun mulai meri nti kkan huj an. Apa yang lama
tak terungkap akhi rnya pecah, meretas, dan Bumi melebur
bersamanya.
Ubud, Juni 2003 ...
Sudah dua malam Keenan ti ba di rumah Pak Wayan. Dan
baru sore inilah Luhde kembali dari Kintamani. Luhde tam-
pak terkej ut meli hat kehadi ran Keenan yang sudah me-
nunggunya di bale.
428
Keenan sontak berdi ri meli hat Luhde. Waj ahnya berseri .
Tangannya merentang, si ap mendekap. Namun, Luhde
hanya berdi ri di tempatnya. Tersenyum dan mengangguk
sopan.
“De, saya akan kembali di si ni . Saya akan ti nggal lagi di
Ubud,” dengan sumri ngah Keenan berkata. “Saya akan
mengurus kepi ndahan saya pelan-pelan. Malam i ni saya
akan pulang dulu ke Jakarta dengan pesawat terakhi r. Tapi
mulai minggu depan, saya akan tinggal lebih lama lagi, sam-
pai akhi rnya ...,” Keenan menangkupkan kedua tangannya
di pi pi Luhde, “saya nggak perlu j auh lagi dari kamu.”
Senyum Luhde melebar. “Saya i kut berbahagi a,” katanya
lugas.
Keenan mulai merasa ada sesuatu yang ti dak beres.
“Kamu kenapa, De?”
Luhde menunduk sebentar, seperti mengumpulkan ke-
kuatan. Saat i a mendongak, sorot mata i tu berubah total.
“Saya perlu tahu sesuatu. Kenapa Keenan i ngi n bersama
saya?”
Keenan tergagap mendengar pertanyaan yang sama sekali
tak di duganya. Lama akhi rnya i a baru bi sa menj awab. “Ka-
rena ... saya sudah memi li h kamu.”
Sekujur tubuh Luhde terasa melunglai, dan setengah mati
ia berusaha tetap tegak berdiri. Namun, jauh di dalam hati-
nya, Luhde sudah si ap mendengar j awaban i tu. “Keenan
tunggu di si ni sebentar, ya. Ada yang perlu saya ambi l di
kamar,” ucapnya li ri h. Dan i a bergegas pergi .
Tak lama, Luhde kembali .
Dalam kebi ngungannya, Keenan pun melanj utkan apa
yang tak sempat i a ucapkan karena keburu buyar oleh per-
tanyaan Luhde barusan. “De, saya i ngi n kamu i kut ke Ja-
karta. Temani saya dulu di sana. Nanti ki ta kembali ke si ni
bareng-bareng. Kamu mau?”
429
Lagi , Luhde hanya tersenyum. Dan perlahan kepalanya
menggeleng. “Saya ti dak si ap i kut Keenan,” j awabnya lem-
but, tapi tegas. “Malam i ni saya mau kembali ke Ki nta-
mani .”
“Oke. Kalau gi tu, kapan kamu si ap? Saya akan nunggu
kamu,” kata Keenan lagi .
Senyum i tu tak surut dari waj ah Luhde. “Keenan cuma
buang-buang waktu,” sahutnya. Dan nada i tu menegas.
“De, semua waktu saya sekarang untuk kamu. Mau di -
buang ke mana lagi ? Konsep ‘buang-buang waktu’ nggak
berlaku lagi sekarang. Semuanya buat kamu,” uj ar Keenan
putus asa.
“Keenan lebih baik pulang ke Jakarta. I tu jauh lebih ber-
guna. Apa yang Keenan cari bukan di si ni .”
Keenan menatap Luhde, berusaha mengerti apa yang di -
pancarkan di sana, karena i a sungguhan tak mengerti . “De
... maksud kamu apa? Kamu nggak mau saya di si ni ?”
Dengan runut dan seperti mengurut, Luhde berkata,
“Saya, i ngi n melepas Keenan pergi . Sebelum ki ta berdua
berontak, dan j adi sali ng benci . Atau bersama-sama cuma
karena menghargai . Keenan mengerti ?”
Kali i ni Keenan benar-benar terenyak. Belum pernah i a
meli hat Luhde begi tu tegas. Begi tu tegar. “De ... tolong ...,”
“Keenan yang tolong saya, ya,” sela Luhde, “tolong ambil
ini lagi.” Sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan ia
seli pkan kembali ke genggaman sang pembuatnya. Pahatan
berbentuk hati dengan reli ef gelombang ai r. Sesuatu yang
pernah i a begi tu dambakan, sesuatu yang pernah i a mi nta
dan akhirnya diberikan. Namun, Luhde sadar kini, yang bisa
i a mi li ki hanyalah pahatan kayu berbentuk hati . Bukan hati
yang sebenarnya. Sementara yang sesungguhnya i a damba
bukanlah pahatan itu, melainkan sesuatu yang tidak pernah
bi sa i a mi li ki seutuhnya.
430
Pahit, Keenan menggeleng, menolak. “De, saya sudah ka-
si h i ni untuk kamu. Seti daknya kamu sudi untuk sekadar
menyi mpan barang i ni . Tolong.”
Kembali senyuman yang sama menghi asi waj ah Luhde.
“Bahkan bukan nama saya yang kamu uki r,” desi snya, “tapi
... Keenan bai k sekali sudah pernah mau memi nj amkan.
Teri ma kasi h.”
Keenan tak tahu lagi harus berkata apa. Segalanya seperti
j alan buntu. “De ... kalau memang saya harus pergi , saya
rela. Tapi , tolong kasi h tahu saya sekali lagi ... kenapa?”
desaknya, meratap.
“Saya belajar dari kisah hidup seseorang. Hati tidak pernah
memilih. Hati dipilih. Jadi, kalau Keenan bilang, Keenan telah
memilih saya, selamanya Keenan tidak akan pernah tulus
mencintai saya. Karena hati tidak perlu memilih. I a selalu tahu
ke mana harus berlabuh,” Luhde menggenggam tangan Keenan
sejenak, “yang Keenan cari bukan di sini.”
Keenan terdiam. Seiring angin yang bertiup serupa tiupan
seruling, mendadak benaknya terisap ke masa lalu. Kembali
ke malam saat ia mendengar angin berbunyi serupa, meng-
goyangkan kentungan bambu yang tergantung di tepi atap
bale. Malam di mana ia membuat pilihan. Ucapan Luhde
menyadarkannya. I a hanya memilih untuk memberikan se-
onggok kayu berukir, sementara apa yang mendorongnya
untuk mengukir tak pernah bisa ia berikan. Keenan me-
ngatupkan matanya erat-erat. Semua ini terlalu getir untuk ia
telan. Namun, inilah kejujuran.
“De ... maafkan saya ...,” bisik Keenan. Tubuhnya gemetar
halus. Bola matanya berkaca-kaca.
Luhde tak menjawab. Hanya seutas senyum hangat yang
terus mengembang. Sorot matanya jernih bagai mata air. Tak
ada dendam. Tak ada kesedihan. Tak ada yang dimaafkan. I a
lalu berbalik pergi. Hanya geraian rambut hitamnya yang
melambaikan perpisahan.
431
Keenan berdiri termangu menatap itu semua. Sebutir air
matanya mengalir. Diusapnya pelan. Dan ia pun beranjak dari
sana.
Dari kej auhan, seseorang memandangi mereka berdua.
Pak Wayan merasa di ri nya terpecah menj adi dua. Sebagi an
di ri nya hancur bersama Luhde. Dan sebagi an lagi bahagi a
tak terhi ngga untuk Keenan. Akhi rnya, Keenan mendapat
kesempatan yang tak pernah ia miliki dua puluh tahun yang
lalu. Kesempatan untuk di pi li h ci nta, dan berserah pada
ali ran yang membawanya. Ke mana pun i tu. Hati selalu
tahu.
Jakar t a, Jul i 2003 ...
Keenan menyi apkan ranselnya. Ransel marun beri ni si al “K”
yang i a pakai sej ak kuli ah. Mendudukkannya di j ok depan.
Sementara i a duduk di belakang kemudi . Sej enak Keenan
menengadah meli hat langi t pagi yang cerah.
Tak ada lagi yang mengi katnya di mana pun. Ti dak di
sini. Tidak di Bali. Untuk pertama kalinya, Keenan mencicipi
penuh arti kebebasan. Dan hari i ni , i a memutuskan untuk
pergi bersama angi n. Bebas, seolah tanpa tuj uan. Namun,
angi n selalu bergerak ke satu tempat.
Jawa Bar at , Jul i 2003 ...
Hari sudah sore saat i a ti ba ke tempat i ni . Kembali untuk
yang keti ga kali nya. Tak ada lagi tempat yang lebi h tepat
untuk ia kunjungi. Keenan langsung memarkirkan mobilnya
432
di tebi ng, bersi ap menyambut gua kelelawar di bawah sana
memuntahkan i si perutnya sej enak lagi .
Deburan ombak yang berderu dan bertempur di bawah
sana menggetarkan sekali gus mendamai kan. Keenan telen-
tang menghadap angkasa hi ngga warnanya mulai berubah
j i ngga. Rasanya, i a bi sa di sana selamanya. Tempat i ni
begi tu sepi . Hanya alam dan di ri nya yang berbari ng hi ngga
entah kapan. Keenan tak lagi berencana.
Ti ba-ti ba saj a, pandangannya menggelap. Sebuah ransel
j atuh tepat di sampi ng kepalanya. Mata Keenan memi ci ng.
Mencoba mengenali sosok yang berdi ri di atasnya.
“Kata sandi ?” Orang i tu bertanya pelan.
Keenan tersenyum. “Klapertaart.”
“Hah? Keparat?”
“Pi sang susu.”
“Oke. Lolos.”
“Kok, kamu bi sa sampai di si ni ?” tanya Keenan.
“Aku j uga mau tanya hal yang sama. Tapi kayaknya ki ta
berdua sudah tahu j awabannya.”
“Radar Neptunus,” Keenan tersenyum lebar. Secerah hati-
nya yang mendadak merekah, dan terus-menerus mengem-
bang seolah ti ada tepi .
Pandangannya kembali tak terhalang. Orang itu kini ikut
berbari ng di sebelahnya. Kugy. Dan sepanj ang i ngatan
Keenan, langi t tak pernah sei ndah i tu.
433
Har i i ni ...
Di tengah laut biru yang beriak tenang, segugus tangan mu-
ngi l meluncur keluar dari bi bi r kapal nelayan. I a sengaj a
i kut menumpang demi menghanyutkan perahu kertasnya.
Ti dak dari empang. Ti dak dari kali . Ti dak dari sungai keci l.
Kali ini ia ingin melepaskannya di tengah laut. Suratnya ter-
akhi r untuk Neptunus.
Neptunus,
Tahunan nggak nuli s sur at ke mar kas. Jangan
mar ah, ya.
Tapi kami memang mau ber henti j adi agen.
Ti dak ada lagi r ahasi a. Ti dak ada lagi mi mpi .
Kar ena mi mpi i tu sudah kami j alani . Sekar ang.
Selama-lamanya.
K&K.
(dan satu lagi K keci l ... masi h di per ut)
EPILOG
434
Perahu kertas bergoyang sendirian. Perlahan ditinggalkan
perahu kayu yang bertolak kembali ke bibir pantai, mengan-
tarkan Kugy yang segera berlari turun memecah ai r. Sese-
orang sudah berdiri menunggunya dengan tangan terentang,
siap merengkuh lalu mengangkat tubuh mungilnya ke udara.
Keenan.
... Perahu kertas bergoyang sendi ri an.
435
“Melajulah Perahu Kertasku ...”
Apakah ki ra-ki ra hubungan antara Katyusha, Popcor n,
I ndi go Gi rls, dan Reali ty Bi tes? Dalam pengerti an umum
mungki n tak ada. Tapi dalam hi dup saya, keempatnya
bermakna luar bi asa.
Yang pertama adalah penuli s tahun ’80-an yang pernah
terkenal dengan karya-karyanya di maj alah remaj a, salah
satunya maj alah HAI . Yang kedua adalah j udul komi k
Jepang sepanjang 26 seri yang ditulis oleh Yoko Shoji. Yang
ketiga adalah duo penyanyi/ gitaris perempuan asal Amerika,
terdi ri dari Emi ly Sali ers dan Amy Ray, yang di kenal luas
dengan lagu-lagu berli ri k cerdas sekali gus pui ti s. Yang ke-
empuL uduIuh juduI hIm produksI Luhun 1¤¤q, dIbInLungI
oleh Wi nona Ryder dan Ethan Hawke.
Keempat-empatnya jelas berbeda satu sama lain dan ter-
sebar dalam rentang waktu yang cukup panj ang. Namun,
keempat-empatnya sama-sama “bertanggung j awab” dalam
menghadi rkan novel i ni ke tangan Anda.
Saya masih SD saat membaca cerbung “Ke Gunung Lagi”
karya Katyusha di maj alah HAI . Saya, yang saat i tu sudah
hobi menuli s, sebetulnya masi h terlalu keci l untuk bi sa
mengapresi asi i si ceri tanya. Namun, ada magnet yang me-
nari k saya untuk membacanya, mengi kuti dengan seti a se-
tiap minggu, dan ikut jingkrak kegirangan ketika kakak saya
berhasi l mengoleksi lengkap cerbung tersebut dan mem-
bundelnya j adi satu. Keli ncahan dan keluwesan Katyusha
menj adi daya tari k utama dari cerbung “Ke Gunung Lagi ”.
Namun, ada satu faktor lagi yang menj adi candu terkuat
bagi saya: for matnya. Ceri ta bersambung, ataupun seri al,
j i ka memang i si nya mengi kat dan menari k, akan menj erat
436
pembacanya dal am sebuah pengal aman adi ksi yang
menyenangkan; bagaimana kita secara bertahap ikut tumbuh
bersama para tokoh dan berempati pada ki sah mereka,
sensasi yang di t i mbul kan ol eh r asa penasar an dan
menunggu, plus rasa puas saat penanti an panj ang ki ta
berakhi r, di tutup dengan helaan napas panj ang saat bari s
terakhi r usai ki ta baca. Dari pengalaman membaca “Ke
Gunung Lagi ”, saya bertekad dalam hati : satu saat, saya
akan menuli s ki sah dengan format cerbung.
Waktu SMA, teman sebangku saya, Yasep (a.k.a Joshep),
meyaki nkan saya berulang-ulang bahwa komi k Popcor n
sangat seru dan wajib dibaca. Termakan bujuk rayunya, saya
lalu mulai mengi kuti satu demi satu dari ke-26 buku karya
Yoko Shoj i i tu. Dan hasi lnya? Sebuah adi ksi baru. Sebagai -
mana yang di ti mbulkan oleh komi k-komi k Jepang berkuali -
tas dan bergenre sej eni s, bersama Popcor n saya hanyut
dalam perj alanan bak r oller coaster di mana saya tertawa,
menangi s, bahagi a, haru, jatuh ci nta, patah hati , sei ri ng de-
ngan perj alanan para tokohnya. Belum lagi debat dan di s-
kusi berj am-j am yang saya habi skan bersama Joshep demi
mendi skusi kan dan bertukar pengalaman masi ng-masi ng
saat membaca Popcor n. Gaya penuturan, penyusunan plot,
serta pengembangan drama dalam komi k tersebut sangat
memukau saya. Dan, lagi -lagi , sebuah ki sah berseri . Dari
Popcor n, saya bertekad lagi : suatu saat, saya i ngi n menuli s
kisah dengan spirit yang serupa, yang bersamanya saya bisa
i kut tumbuh bersama tokoh-tokoh saya, menyaksi kan me-
reka bertransformasi dari remaj a i ngusan sampai menj adi
manusi a-manusi a dewasa.
Saya baru memulai kuli ah di Unpar saat saya men-
dengarkan kaset I ndi go Gi rls untuk pertama kali . Album
yang saya beli berj udul Swamp Opheli a. Kedahsyatan li ri k
lagu I ndi go Gi rls—khususnya lagu-lagu yang di ci ptakan
437
Emi ly Sali ers—berefek kuat bagi saya, yang waktu i tu baru
mulai serius mencipta lagu sembari berkarier musik bersama
tri o Ri da, Si ta, Dewi . Li ri k I ndi go Gi rls adalah j eni s li ri k
yang seti ap kali ki ta si mak ulang selalu memunculkan la-
pisan dan makna baru. Tipe lirik yang memang saya gemari.
Ada banyak lagu mereka yang saya kagumi , tapi entah
mengapa, ada satu lagu berj udul “Mystery” yang dengan
mi steri usnya mampu mengi nspi rasi saya untuk menuli s.
TepuLnvu, duu burIs kuIImuL. ¡ebIh spesIhk IugI, z· poLong
kata. Dan dari sana, saya menuli s ki sah panj ang berj udul
Per ahu Ker tas yang terdiri dari sekurang-kurangnya 86.500
kata. Beri kut potongan li ri knya:
“Maybe that’s all that we need i s to meet
i n the mi ddle of i mpossi bi li ti es.
Standi ng at opposi te poles,
equal par tner s i n a myster y.”
Melalui bari s-bari s i tu, saya pun menci ptakan kedua to-
koh utama saya, Kugy dan Keenan, yang berdi ri di dua ku-
tub berlawanan dan pada akhirnya harus bertemu di tengah
segala kemustahi lan.
MusIh durI bungku kuIIuh, suuL ILu hudIrIuh hIm vung cu-
kup j adi perbi ncangan. Di I ndonesi a, sebetulnya yang lebi h
terkenal adalah soundtr ack-nya, dan di album i tulah Li sa
Loeb muncul perdana dengan lagunya “Stay”. Sebagai peng-
gemar Wi nona Ryder, saya merasa cukup terpanggi l untuk
menonLon hImnvu. Reali ty Bi tes mengi sahkan tentang per-
gelutan sarjana-sarjana kemarin sore yang harus menghadapi
reali tas hi dup antara mencari kerj a demi eksi stensi dan
mempertahankan mi mpi demi i deali sme. Barangkali ti mi ng
yang tepat karena pada saat itu pun saya sedang jadi maha-
sIswu. Suvu merusu LerkeLuk dengun IsI hIm ILu. SeLIup durI
438
kita punya mimpi, punya hobi, dan punya kata hati, tapi tak
semua dari ki ta berkesempatan untuk menj adi kannya pro-
fesi. Dari Reality Bites, saya bertekad ingin bercerita tentang
pergelutan yang serupa.
Tahun 1996. Tanpa tahu ramuan persi snya, tanpa bi sa
merunut pasti mata rantai kimiawi yang terjadi, berdasarkan
bekal inspirasi empat unsur tadi saya mulai menulis sebuah
cerita bersambung berjudul “Kugy & Keenan”. Saat itu, tren
cerbung sudah memudar dari majalah-majalah remaja. Ter-
paksa saya mensi mulasi nya sendi ri di dalam benak saya.
Seolah-olah saya punya pembaca di luar sana yang menanti
ki sah demi ki sah saya muncul seti ap mi nggunya di sebuah
maj alah i maj i ner. Dan, akhi rnya saya memang punya pem-
baca: orang-orang rumah saya sendi ri . Menjadi penuli s me-
rangkap tukang pos, saya mengeti k dengan tekun lalu me-
ngi ri mkan hasi l pr i nt out-nya door to door . Dalam arti
sebenarnya. Saya mengetuki pintu kamar kakak-kakak saya,
anak-anak kos, lalu mencekoki mereka dengan “Kugy &
Keenan” secara ruti n. Dan benar, racun i tu mulai bekerj a.
Tiba-tiba malah saya yang kemudian ditagih untuk menyetor
ceri ta lanj utan. Dengan bersemangat saya pun menuli s dan
menuli s.
Tepat di bab ke-34 dari 40 bab yang di rencanakan, saya
berhenti . Bensi n saya habi s. “Kugy & Keenan” pun me-
masuki tidur panjang. Yang tersisa hanyalah keyakinan bah-
wa suatu saat saya pasti akan menyelesaikannya. Tidak tahu
kapan.
Tahun 2007, sebuah perusahaan content pr ovi der ber-
nama Hypermind menghubungi saya. Mereka ingin mengon-
versi buku-buku saya ke dalam format di gi tal, di perdagang-
kan lewat perusahaan telekomuni kasi seluler, dan pada
akhi rnya para pembaca bi sa membaca novel saya melalui
layar ponsel mereka. Dalam pembi caraan si ang i tu, saya
439
ti ba-ti ba teri ngat “Kugy & Keenan”. Naskah yang terbari ng
mati suri selama sebelas tahun. Spontan, saya menawarkan
pada Hypermi nd untuk ti dak fokus pada buku-buku saya
yang sudah ada, melai nkan naskah yang sama sekali baru.
Yang belum ada di pasaran. Spontan, mereka pun tertari k.
Tentu saja hal itu menjadi nilai lebih bagi semua pihak, ter-
masuk saya—yang membutuhkan insentif alias pemicu untuk
menyelesai kan utang yang begi tu lama tertunda.
Nyari s bersamaan dengan i tu, saya di hadi ahi sebuah e-
book oleh Reza. Panduan menulis buku dalam waktu 14 hari
oleh Steve Manni ng. Terbi asa menuli s novel dalam waktu
bulanan bahkan tahunan, saya sama sekali skepti s dengan
panduan tersebut. Namun, kondi si yang serba kepepet ka-
rena deadli ne yang di mi nta oleh Hypermi nd, saya pun me-
mutuskan untuk bereksperi men dengan “Kugy & Keenan”
dan metode Steve Manning. Saya lantas meresmikan sebuah
proyek “bunuh di ri ”, yakni menuli s novel sepanj ang 75.000
kata dalam waktu 55 hari kerj a. Ti dak, saya ti dak menerus-
kan dari bab 34 sebagai mana yang saya ti nggalkan sebelas
tahun yang lalu. Saya menuli skannya ulang dari nol. Dan,
memubli kasi kan proses kreati fnya hari per hari lewat blog.
A total, wacky exper i ment.
Saya lalu mencari “markas besar”, atau semacam “kantor”
tempat saya bi sa menuli s tenang tanpa di ganggu apa pun.
Sebuah kamar kos di daerah Tubagus I smail berhasil ditemu-
kan. Di keli li ngi mahasi swi -mahasi swi betulan sebagai te-
tangga sangatlah membantu saya untuk menghi dupkan
suasana kemahasi swaan dalam Per ahu Ker tas. Alhasi l, 60
hari bekerj a dan novel i ni selesai dengan konten 86.500
sekian kata. Saya pun memutuskan mengubah judulnya, dari
Kugy & Keenan menj adi Per ahu Ker tas—menyoroti obj ek
metaforik yang saya rasa lebih cocok menjadi benang merah
untuk menj ahi t potongan ki sah di dalamnya.
440
Pada Apri l 2008, Per ahu Ker tas resmi di lansi r sebagai
novel di gi tal pertama oleh XL, dan masi h tercatat sebagai
novel di gi tal terlari s hi ngga ki ni . Namun, bagi saya pri badi ,
prestasi yang lebih besar lagi adalah: inilah salah satu tapak
langkah saya untuk menj adi penuli s li ntas usi a, li ntas seg-
men. Saya sadar, genre maupun karakteri sti k novel i ni
barangkali akan menjadi kejutan bagi banyak pembaca saya,
tapi saya memang ti dak pernah bermi nat untuk terperang-
kap dalam satu lintasan tertentu saja. Di mata saya, setapak
i ni masi h panj ang dan berwarna-warni .
Semoga Anda meni kmati Per ahu Ker tas sebagai mana
saya meni kmati seti ap deti k proses penuli sannya hi ngga i a
akhi rnya ‘melaj u’ dalam bentuk kertas dan cetakan ti nta.
I kuti proses kelahi ran Per ahu Ker tas hari per hari di
blog: Journal of a 55-days Novel (www.dee-55days.blogspot.
com).
D
441
Dari mereka,
para pembaca ...
Cel : Saya membaca Per ahu Ker tas lewat Blackberry saya. Sej ak halaman
pertama, saya tidak bisa berhenti dan terus membaca sampai bab terakhir.
I was addi cted. Gaya bahasa yang ri ngan dan penggambaran yang j elas
membuat saya bermai n dengan “theatr e of mi nd” saya; membayangkan
kos Kugy dan Keenan, rumah mereka, kantor mereka, luki san-luki san
Keenan, suasana di Ubud, sampai Pantai Ranca Buaya. Bi g applause for
Dee yang menyelesai kan ceri ta luar bi asa i ni dalam 55++ days ....
Amazi ng Fi et ha: Mbak Dee, makasi h udah bi ki n Per ahu Ker tas. Aku
terharu banget, j adi i ngat sama mi mpi -mi mpi yang tertunda. Jadi i ngat
sama cita-cita dan khayalan yang belum sempat diwujudkan. I ngin rasanya
mengej ar mi mpi i tu kembali . Jadi semangat lagi .
Ri eez88: Per ahu Ker tas membuatku sehari an tak menghi raukan hal-hal
penti ng lai n yang harus aku lakukan. Aku bi sa memahami Keenan bahwa
Kugy seperti dr ug bagi nya. Dee seakan menci ptakan duni a baru bagi ku
unLuk seLIup kurvunvu! TIduk LerIuIu beruL, berkurukLer, kudung membuuLku
merasa romanti s, kadang tertawa sendi ri , bahkan menangi s ....
EsdoubLeU: Seru, terharu, dan membuat ketagi han. Seki las, tampak
standar (temanya: ci nta), tapi bagi saya, ceri ta Per ahu Ker tas seperti
membuka cakrawala baru. Ketika cinta ga kesampaian, yang ada hanyalah
kerelaan hati untuk meneri ma, dan mengharapkan si di a bahagi a. Meski
latar belakang kotanya banyak (Jakarta, Bandung, Bali, dan Belanda), tapi
tidak menjadikan ceritanya penuh dengan detail-detail yang ga perlu. Ma-
lah sebaliknya, cerita seperti mengalir. Lucu, dan unik. Mana ada sih coba,
novel sej eni s yang menceri takan tokoh utama ceweknya urakan, berci ta-
ci ta j adi penuli s dongeng, dan merasa di ri nya agen Neptunus? Seolah,
gengsi dan ci tra di ri j adi sesuatu yang ga terlalu penti ng lagi .
St el l a: I j ust wanna say that I love your Per ahu Ker tas. Had a har d
ti me not to fall i n love wi th Keenan. Congr ats!
Cl ar i ss: Bagus banget. Rasanya seti ap Kugy sedi h aku j adi i kut berkaca-
kaca. Nggak cuma ceri ta ci nta aj a, tapi ada makna supaya seti ap orang
yaki n sama i mpi annya.
Dyah: Suka banget dengan karakter Kugy. Cantik, cuek, tapi untuk urusan
442
masa depan di a rencanakan dengan bai k. Bumbu ceri tanya, seperti ke-
lakuan Keshi a, bi ki n senyum-senyum sendi ri . Lai nnya, j angan tanya, ber-
kaca-kaca deh mata :) Novel yang mengharukan dan memberi kan se-
mangat untuk merai h i mpi an.
Di an: Menari k j uga ceri tanya. Ada Pasukan Ali t, Kugy yang pi ntar bi ki n
ceri ta tapi ga bi sa gambar, Keenan yang pi ntar meluki s tapi ga bi sa bi ki n
ceri ta, terus ada Wanda yang naksi r Keenan tapi Keenan ga ada mi nat.
Wanda yang cantik sempurna, anak orang kaya, yang membuat Kugy min-
der kurenu udu huLI sumu Keenun. Keren ubIes, dech!
Pi i : Keren. Cuma i tu yang bi sa gue bi lang setelah membaca Per ahu
Ker tas. By the way, thanks for gi vi ng thi s spi r i t.
[ RI CKOFTHETI ME] : Perahu Kertas ... hmm. Seperti dongeng Kugy.
Seperti luki san Keenan. Ada j i wa di dalamnya. Begi tu kuat.
Yoeyha: Ada kesedi han, ada kegembi raan, ada kegalauan, ada kebaha-
gi aan, bercampur dan mengali r menuj u Sang Neptunus. Good stor y ....
Ar chr ei n Kee: Thi s book makes me not gi vi ng up. Aku pali ng suka
quote: “berputar menj adi sesuatu yang bukan ki ta demi menj adi di ri ki ta
lagi .” That i nspi r es me. Perahu Kertas awesome ... keren. Yang udah beli
atau nebeng baca nggak bakal nyesel.
[ Komentar-komentar i ni di ambi l dari blog “Journal of a 55-days Novel”.
Bagi Anda yang tergerak untuk i kut bersuara,
si lakan mampi r ke www.dee-55days.bl ogspot .com]
443
Tentang Penulis
Dewi Lestari , yang bernama pena
Dee, lahir di Bandung, 20 Januari
1976. Novel Per ahu Ker tas i ni
sudah lebi h dulu di lansi r dalam
versi di gi tal (WAP) pada Apri l
2008, dan ki ni di terbi tkan atas
kerj a sama antara Truedee Books
dan Bentang Pustaka.
Naskah yang awalnya di tuli s
pada 1996 dan sempat ‘mati suri ’ selama 11 tahun i ni
akhirnya ditulis ulang oleh Dee pada akhir 2007, menjadikan
Per ahu Ker tas sebagai novel pertamanya yang bergenre
populer. Keci ntaan Dee pada format cerbung dan komi k
drama serial telah menginspirasinya untuk menuliskan cerita
memi kat i ni .
Kiprah Dee dalam dunia kepenulisan telah membawanya
ke berbagai aj ang sastra bergengsi di dalam maupun luar
negeri . Beberapa prestasi dan penghargaan yang baru-baru
InI dIperoIehnvu unLuru IuIn: Top 88 MosL ¡nßuenLIuI
Women i n I ndonesi a (Globe Asi a), The Most Outstandi ng
Woman 2009 (Kementeri an Pemberdayaan Perempuan &
Kantor Beri ta Antara). Nama Dee j uga muncul sebagai
peri ngkat pertama dalam polli ng nasi onal “Penuli s Perem-
puan Pali ng Di kenal di I ndonesi a” tahun 2009.
Per ahu Ker tas adalah karya Dee yang keenam sesudah
Super nova: Ksatr ia, Puter i, dan Bintang Jatuh, Super nova:
Alcr, Supernotc: Petir, IilosoI Kopi, dcn Rectoterso.
Ki ni , Dee dan keluarga mungi lnya menetap di Jakarta.
444
Beri nteraksi lah dengan Dee di :
dee-idea.blogspot.com Fanpage: Dewi Lestari ID: deelestari

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->