Puisi Untuk Ayah Tercinta

Oleh : Fajar Sunariyadi

dulu... kita bercerita besama dendangan rumput yang tengah bersuka ria juga siulan burung pipit diantara sudut sinar mentari kita berlomba mengucap harapan bersuka cita bergaduh-gaduh sendiri untuk mencoba membahagiakan diri kita berlari diantara detik-detik waktu sambil memikul derita dan kecambuk rasa sakit juga mengangkang kita dalam lelah dan ragu kau yang mengajariku mengayuh sepeda kau yang mengajakku ke tempat kau mencetak rejeki saat melihat kau tersenyum saat melihat lengkung pipi menghias di wajahmu kini kau pergi dan tak mungkin kembali hanya tinggalkan kisah dan tetesan air mata yang menghujam diri tangan ini ,berusaha melawanmu kaki ini, berusaha lari darimu mulut ini, bermunafik tentangmu pikiran ini, kurang ajar kepadamu ya tuhan.. seberapa besar dosa ini kepadanya dosa yang menumpuk tertimbun oleh dunia fana ini kenapa kau ambil dia dengan cepat, tuhan

ditinggalkan mu dengan rasa haru luar biasa jika dibayangkan kau berbaring dengan bisu mencoba harapkan cahaya yang benderang tertutup nisan yang kian rapuh termakan waktu bila terus terbayang engkaupun bisa hilang terlelap dalam tanah tinggalkan belulang dan kain kisah derita...urung sudah cerita masa depan berharap dirimu melayang ke tanah suci bersama ibu melihat aku bergelar sarjana melihat aku di tahta pelaminan melihat cucu mu bermain denganmu aku ingin melihatmu senang di usia senjamu walaupun di tubuh dua ras kebudayaan bergejolak dalam darah aku bersyukur memiliki ayah sepertimu siapa suka. ayah doaku selalu menyertaimu ..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful