You are on page 1of 22

KELOMPOK 9

SYEBA YOCHEBED NATALIA RIRIN PURBA NICKY SEPTIANA BRIAN PASA NABABAN ANASTASIA FEBIANA RAMOT ARIF BANAMTUAN CLARA CORINSTA LUCYANA CHRISNAWATI HELMY MARTHATIA NUBAN ERIKA AGUSTINA KASDJONO JACLY HOTMAN PARULIAN SARAGI ARGRACIA AMAHORU

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA FAKULTAS KEDOKTERAN

I.KLARIFIKASI KATA-KATA SULIT. 1.Urin : Cairan sisa metabolisme yang diekskresikan oleh ginjal. 2.Pool : Tempat pengumpulan perseroan. 3.Poliklinik : Tempat pelayanan kesehatan masyarakat secara umum. II.PERUMUSAN MASALAH. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apakah yang harus dokter dokter ketika menghadapi kasus seperti dalam skenario?(sanksi perusahaan) Apakah menkonsumsi alcohol mempengaruhi profesionalisme dalam bekerja? jelaskan! Apa saja kandungan dalam alkohol dan narkotika yang menyebabkan ketergantungan? Apa saja kandungan dalam alkohol dan narkotika yang menyebabkan hilangnya kesadaran seseorang ? Bagaimana seorang dokter menjaga kerahasiaan pasien ? Kapankah kerahasiaan itu dapat diungkapkan ?

III.CURAH PENDAPAT. 1.Yang harus dilakukan oleh dokter dan pihak majemen : * * * * * Memberi peringatan. Surat Teguran. Menonaktifkan supir tersebut ( pemecatan). Dokter memberikan Surat Keterangan Sakit kepada pihak manajemen. Mengetahui kronologi yang terjadi.

2.Mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang berlebihan tentu sangat mempengaruhi kinerja profesionalisme seseorang karena itu akan lebih baik baik apabila mengetahui waktu yang cocok untuk mengkonsumsinya.

3. Bahan dasar pembuatan heroin adalah getah buah candu (opium) dari Papaver somniferum, keluarga Papaveraceae, yang sudah tua tetapi belum masak. Dari getah kering ini diperoleh candu. Kandungan candu adalah alkaloida golongan narkotik, misalnya morfin, kodein, tebain, narsein, dan alkaloida non-narkotik, misalnya papaverin, narkotin, apomorfin. Sedangkan morfin adalah kandungan standar dari candu dan sediaannya yang lain seperti ekstrak, tingtur, serbuk, dll. Kandungan morfin dari candu sampai 10%. Codein, zat ini akan menimbulkan ketergantungan dan biasa di gunakan dalam dunia kedokteran untuk menekan batuk, dan penghilang rasa sakit.

4. Ethanol (alkohol), nikotin (tembakau). Zat-zat ini akan menekan sistem syaraf pusat, sehingga kesadaran orang yang memakai napza akan menurun. Morfin, akan mengurangi rasa sakit, mengurangi kecemasan, dan menimbulkan rasa ngantuk. Ethil-alkohol, zat ini bersifat merangsang, menenangkan, menghilangkan rasa sakit, membius, membuat gembira.

Sedativa atau sedatif-hipnotik merupakan zat yang dapat mengurangi fungsi sistem syaraf pusat. Sedativa dapat menimbulkan rasa santai dan menyebabkan ngantuk (sering disebut obat tidur).

5. * Dokter dapat membaca situasi dari anamnesis * Memenuhi KODEKI dan UU yang berlaku 6. Rahasia dapat di ungkapkan ketika berhadapan dengan hukum atau pun demi kepentingan hukum , selain itu juga menurut UU dan menyesuaikan dengan kontrak kerja Dokter.

IV.HIPOTESA dan MIND MAPPPING Adanya hubungan antara alkohol, narkoba, dan pekerjaan supir tersebut, dengan tingkat kesadaran.

Penanggulangan Dampak n Hukum Alkohol + Narkoba Faktor penyebab : *Sosial *Budaya

Edukasi

Etika dan Hukum *UU Kesehatan *UU Narkotika *KODEKI

Gejala-Gejala

V.TUJUAN PEMBELAJARAN. Mempelajari: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Faktor penyebab penggunaan alkohol dan narkotika. Gejala dari alkoholisme dan narkotika . Akibat dari penggunaan alkohol dan narkotika. Etika dan hukum tentang kesehatan, narkotika dan miras. Penanggulangan alkohol dan narkotika. Edukasi .

1.Faktor Penyebab Alasan Seseorang Memakai/Menggunakan Alkohol Narkoba, Narkotika & Zat Adiktif. Setiap orang yang menyalahgunakan zat-zat terlarang pasti memiliki alasan mereka masing-masing sehingga mereka dapat terjebak masuk ke dalam perangkap narkotika, narkoba atau zat adiktif. Berikut di bawah ini adalah faktor penyebab kenapa seseorang menjadi pecandu / pengguna zat terlarang : 1.Ingin terlihat gaya. Zat terlarang jenis tertentu dapat membuat pamakainya menjadi lebih berani, keren, percaya diri, kreatif, santai, dan lain sebagainya. Efek keren yang terlihat oleh orang lain tersebut dapat menjadi trend pada kalangan tertentu sehingga orang yang memakai zat terlarang itu akan disebut trendy, gaul, modis, dan sebagainya. 2. Komunitas Suatu kelompok orang yang mempunyai tingkat kekerabatan yang tinggi antar anggota biasanya memiliki nilai solidaritas yang tinggi. Jika ketua atau beberapa anggota kelompok yang berpengaruh pada kelompok itu menggunakan narkotik, maka biasanya anggota yang lain baik secara terpaksa atau tidak terpaksa akan ikut menggunakan narkotik itu agar merasa seperti keluarga senasib sepenanggungan. 3. Menghilangkan rasa sakit Seseorang yang memiliki suatu penyakit atau kelainan yang dapat menimbulkan rasa sakit yang tidak tertahankan dapat membuat orang jadi tertarik jalan pintas untuk mengobati sakit yang dideritanya yaitu dengan menggunakan obat-obatan dan zat terlarang.

4. Rasa ingin tahu Dengan merasa tertarik melihat efek yang ditimbulkan oleh suatu zat yang dilarang, seseorang dapat memiliki rasa ingin tahu yang kuat untuk mencicipi nikmatnya zat terlarang tersebut. 5.Ikut-Ikutan Orang yang sudah menjadi korban narkoba mungkin akan berusaha mengajak orang lain yang belum terkontaminasi narkoba agar orang lain ikut bersama merasakan penderitaan yang dirasakannya. Pengedar dan pemakai mungkin akan membagi-bagi gratis obat terlarang sebagai perkenalan dan akan meminta bayaran setelah korban ketagihan. Orang yang melihat orang lain asyik pakai zat terlarang bisa jadi akan mencoba mengikuti gaya pemakai tersebut termasuk menyalah gunakan tempat umum. 6.Jalan pintas untuk menyelesaikan masalah Orang yang dirudung banyak masalah dan ingin lari dari masalah dapat terjerumus dalam dunia narkotika, narkoba atau zat adiktif agar dapat tidur nyenyak, mabok, atau jadi gembira ria. 7. Sebagai bentuk pemberontakan Seseorang yang bandel, nakal atau jahat umumnya ingin dilihat oleh orang lain sebagai sosok yang ditakuti agar segala keinginannya dapat terpenuhi. Dengan zat terlarang akan membantu membentuk sikap serta perilaku yang tidak umum dan bersifat memberontak dari tatanan yang sudah ada. 8.Menghilangkan rasa bosan. Rasa bosan, rasa tidak nyaman dan lain sebagainya bagi sebagaian orang adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan ingin segera hilang dari alam pikiran. Zat terlarang dapat membantu seseorang yang sedang banyak pikiran untuk melupakan kebosanan yang melanda. Seseorang dapat mengejar kenikmatan dengan jalan mnggunakan obat terlarang yang menyebabkan halusinasi / khayalan yang menyenangkan. 9.Mencari Tantangan. Bagi orang-orang yang senang dengan kegiatan yang memiliki resiko tinggi dalam menjalankan aksinya ada yang menggunakan obat terlarang agar bisa menjadi yang terhebat, penuh tenaga dan penuh percaya diri. 10.Merasa Dewasa. Pemakai zat terlarang yang masih muda terkadang ingin dianggap dewasa oleh orang lain agar dapat hidup bebas, sehingga melakukan penyalah gunaan zat terlarang. Dengan menjadi dewasa seolah-olah orang itu dapat bertindak semaunya sendiri, merasa sudah matang, bebas orangtua, bebas guru, dan lain-lain.

Penyebab dari dalam diri dan kepribadian yang biasa di sebut faktor disposisi:

Ketidak mapuan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan Kepribadian yang lemah Kurangnya kepercayaan diri Ketidak mampuan mengendalikan diri Dorongan ingin tahu, ingin mencoba, ingin meniru dan ingin berpetualang Mengalami tekanan jiwa Tidak mempunyai tanggung jawab Tidak memikirkan akibat dari perbuatannya Ketidak tahuan akan bahaya narkoba Mengalami kesunyian, keterasingan dan kecemasan

Penyebab yang bersumber dari kehidupan masyarakat, merupakan juga faktor pemicu:

Masyarakat yang tidak acuh, tidak peduli Longgarnya pengawasan sosial masyarakat Banyak faktor pemicu ketegangan jiwa dalam masyarakat, seperti: kemacetan lalu-lintas, kenaikan harga-harga bahan pokok, polusi, banyaknya tindak kekerasan dan tindak kejahatan, ketidak pastian dan persaingan Lemahnya penegakan hukum Banyaknya pelanggaran hukum, penyelewengan dan korupsi Banyaknya pemutusan hubungan kerja Kemiskinan dan pengangguran Pelayanan masyarakat yang buruk Penegakan hukum yang lemah dan tidak adanya ketertiban dan kepastian hukum Menurunnya moralitas masyarakat Bergentayangannya pengedar narkoba yang mencari mangsa Lingkungan pemukiman yang tidak mempunyai fasilitas tempat anak bermain, menyalurkan hobinya serta kreatifitasnya Arus informasi dan globalisasi yang menyebarkan gaya hidup modern Proses perubahan sosial serta pergeseran nilai yang cepat

2.Gejala Alkoholisme dan Narkotika. Beberapa gejala dan tanda yang menjadi kriteria diagnosis dan gambaran klinis dari penyalahgunaan alkohol.

Ketidakmampuan untuk memutuskan atau berhenti minum alkohol Usaha berulang untuk mengontrol atau menurunkan minum yang berlebihan dengan tidak minum minuman keras, atau membatasi minum pada waktu tertentu Pesta minuman keras (tetap keracunan sepanjang hari atau minimal 2 hari) Menkonsumi lima takaran minuman keras Periode lupa ingatan untuk peristiwa yang terjadi selama terintokasi Terus minum walaupun ada gangguan fisik yang telah diketahui akibat penggunaan alkohol yang berlebihan Minum alkohol yang bukan minuman seperti bahan bakar Gangguan dalam fungsi sosial dan pekerjaannya akibat penggunaan alkohol. Perilaku psikologis yang bermakna secara klinis, contoh perilaku seksual atau agresif yang tidak tetap Satu atau beberapa tanda yang berkembang selama penggunaan alkohol Bicara cadel Inkoordinasi Gaya berjalan tidak mantap Gangguan atensi atau daya ingat

Beberapa gejala efek sementara dari alkohol :


Mual dan muntah Agitasi dan cemas Sakit kepala, gemetar atau kejang Gangguan halusinasi baik suara maupun penglihatan Tekanan darah tinggi Meningkatnya temperature tubuh Penurunan kesadaran

Perubahan Fisik :

Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo ( cadel ), apatis ( acuh tak acuh ), mengantuk, agresif. Bila terjadi kelebihan dosis ( Overdosis ) : nafas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, bahkan meninggal.

Saat sedang ketagihan ( Sakau ) : mata merah, hidung berair, menguap terus, diare, rasa sakit seluruh tubuh, malas mandi, kejang, kesadaran menurun. Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi keropos, bekas suntikan pada lengan.

Perubahan sikap dan perilaku : Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab. Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di kelas atau tempat kerja. Sering berpergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin. Sering mengurung diri, berlama lama di kamar mandi, menghidar bertemu dengan anggota keluarga yang lain. Sering mendapat telpon dan didatangi orang yang tidak dikenal oleh anggota keluarga yang lain Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga, mencuri, terlibat kekerasan dan sering berurusan dengan polisi. Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan pencurigaan, tertutup dan penuh rahasia.

3. Akibat Penggunaan Alkohol dan Narkotika.

NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya : 1. Komplikasi Medik : biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama. Pengaruhnya pada : a. Otak dan susunan saraf pusat : - gangguan daya ingat - gangguan perhatian / konsentrasi - gangguan bertindak rasional - gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi - gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja - gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik / buruk.

b. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru ( Bronchopnemonia ). pembengkakan paru ( Oedema Paru). c. Jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung. d. Hati : terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual. e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV / AIDS. Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi adalah : kencing nanah ( GO ), raja singa ( Siphilis ) dll.Dan juga pengguna NAPZA yang mengunakan jarum suntik secara bersama sama membuat angka penularan HIV / AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV / AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin. f. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan. g. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju lengan panjang. h. Komplikasi pada kehamilan : - Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS. - Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati - Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.

2.Dampak Sosial : Di Lingkungan Keluarga : Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung. Orang tua resah karena barang berharga sering hilang. Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib keluarga.

Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan.
4. Etika dan hukum tentang kesehatan, narkotika dan alkohol.

1. Jenis-jenis narkoba dan alkohol. NARKOTIKA : Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,hilangnya rasa, mengurangi Sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika terdiri dari 3 golongan: 1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja. 2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin. 3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Codein.

PSIKOTROPIKA : Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan

perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Psikotropika terdiri dari 4 golongan : 1. Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi. 2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Amphetamine. 3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.

4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh :Diazepam, Nitrazepam ( BK,DUM ).

ZAT ADIKTIF LAINNYA : Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi : 1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari hari dalam kebudayaan tertentu.

Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol : a. Golongan A : kadar etanol 1 5 % ( Bir ). b. Golongan B : kadar etanol 5 20 % ( Berbagai minuman anggur ) c. Golongan C : kadar etanol 20 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ). 2. Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin. 3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3 golongan: 1. GolonganDepresan (Downer ). Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya: Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ), Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas ). 2. Golongan Stimulan ( Upper ). Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain. 3. Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah

perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu. Contoh: Kanabis ( ganja ). Di dalam masyarakat NAPZA / NARKOBA yang sering disalahgunakan adalah : 1. Opiada, terdapat 3 golonagan besar : a. Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein. b. Opioda semisintetik : Heroin / putauw, Hidromorfin. c. Opioda sintetik : Metadon. Nama jalanan dari Putauw : ptw, black heroin, brown sugar. Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang tidak murni berwarna putih keabuan. Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw, yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon adalah zat yang digunakan oleh dokter sebagai penghilang sakit yang sangat kuat, misalnya pada opreasi, penderita cancer Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan ingin menyendiri untuk menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya sendiri, mereka merasa bahwa lingkungannya menjadi musuh. 2. KOKAIN : Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih mudah larut Nama jalanan :koka, coke, happy dust, chalie, srepet, snow / salju. Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam. Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.

3. KANABIS : Nama jalanan : cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, grass, bhang. Berasal dari tanaman kanabis sativa atau kanabis indica. Cara penggunaan : dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok. Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebihan (euphoria ), sering berfantasi / menghayal, aktif berkomunikasi, selera makan tinggi, sensitive, kering pada mulut dan tenggorokan. 4. AMPHETAMINE : Nama jalanan : seed, meth, crystal, whiz. Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet. Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air. Ada 2 jenis Amphetamine : a. MDMA ( methylene dioxy methamphetamine ) Nama jalanan : Inex, xtc. Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul. b. Metamphetamine ice Nama jalanan : SHABU, SS, ice. Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan alumunium foil dan asapnya dihisap atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus ( boong ). 5. ALKOHOL : Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi umbian yang mengahasilkan kadar alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan proses penyulingan sehingga dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi, bahkan 100 %. Nama jalanan : booze, drink. Efek yang ditimbulkan : euphoria, bahkan penurunan kesadaran

5. UNDANG UNDANG NO. 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA BAB II : DASAR, ASAS, DAN TUJUAN Pasal 2 Undang-Undang tentang Narkotika berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bagian Keempat : Penyimpanan dan Pelaporan Pasal 14 1. Narkotika yang berada dalam penguasaan industri farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus. 2. Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Narkotika yang berada dalam penguasaannya. 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyimpanan secara khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan jangka waktu, bentuk, isi, dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. 4. Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau ketentuan mengenai pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi administratif oleh Menteri atas rekomendasi dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan berupa: 1. Teguran; 2. Peringatan; 3. Denda administratif; 4. Penghentian sementara kegiatan; 5. Pencabutan izin. BAB IX : PENGOBATAN DAN REHABILITASI Bagian Kesatu : Pengobatan Pasal 53 1. Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter dapat memberikan Narkotika Golongan II atau Golongan III dalam jumlah terbatas dan sediaan tertentu kepada pasien sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

2. Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memiliki, menyimpan, dan/atau membawa Narkotika untuk dirinya sendiri. 3. Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mempunyai bukti yang sah bahwa Narkotika yang dimiliki, disimpan, dan/atau dibawa untuk digunakan diperoleh secara sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Bagian Kedua : Rehabilitasi Pasal 54 Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Pasal 55 1. Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. 2. Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. 3. Ketentuan mengenai pelaksanaan wajib lapor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 56 1. Rehabilitasi medis Pecandu Narkotika dilakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh Menteri. 2. Lembaga rehabilitasi tertentu yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat dapat melakukan rehabilitasi medis Pecandu Narkotika setelah mendapat persetujuan Menteri. Pasal 57 Selain melalui pengobatan dan/atau rehabilitasi medis, penyembuhan Pecandu Narkotika dapat diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau masyarakat melalui pendekatan keagamaan dan tradisional.

Pasal 58 Rehabilitasi sosial mantan Pecandu Narkotika diselenggarakan baik oleh instansi pemerintah maupun oleh masyarakat. Pasal 59 1. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 dan Pasal 57 diatur dengan Peraturan Menteri. 2. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial. BAB X : PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 60 1. Pemerintah melakukan pembinaan terhadap segala kegiatan yang berhubungan dengan Narkotika. 2. Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya: 1. memenuhi ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; 2. mencegah penyalahgunaan Narkotika; 3. mencegah generasi muda dan anak usia sekolah dalam penyalahgunaan Narkotika, termasuk dengan memasukkan pendidikan yang berkaitan dengan Narkotika dalam kurikulum sekolah dasar sampai lanjutan atas; 4. mendorong dan menunjang kegiatan penelitian dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan; dan 5. meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis bagi Pecandu Narkotika, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Pasal 61 1. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap segala kegiatan yang berkaitan dengan Narkotika. 2. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 1. Narkotika dan Prekursor Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; 2. Alat-alat potensial yang dapat disalahgunakan untuk melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika; 3. Evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu produk sebelum diedarkan;

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Produksi; Impor dan ekspor; Peredaran; Pelabelan; Informasi; Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 62 Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 63 Pemerintah mengupayakan kerja sama dengan negara lain dan/atau badan internasional secara bilateral dan multilateral, baik regional maupun internasional dalam rangka pembinaan dan pengawasan Narkotika dan Prekursor Narkotika sesuai dengan kepentingan nasional. BAB XI : PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN Bagian Kesatu : Kedudukan dan Tempat Kedudukan Pasal 64 1. Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, dengan UndangUndang ini dibentuk Badan Narkotika Nasional, yang selanjutnya disingkat BNN. 2. BNN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden. Pasal 65 1. BNN berkedudukan di ibukota negara dengan wilayah kerja meliputi seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. 2. BNN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai perwakilan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. 3. BNN provinsi berkedudukan di ibukota provinsi dan BNN kabupaten/kota berkedudukan di ibukota kabupaten/kota. Pasal 66 BNN provinsi dan BNN kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (3) merupakan instansi vertikal.

Pasal 67 BNN dipimpin oleh seorang kepala dan dibantu oleh seorang sekretaris utama dan beberapa deputi. 1. Deputi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membidangi urusan: 1. bidang pencegahan; 2. bidang pemberantasan; 3. bidang rehabilitasi; 4. bidang hukum dan kerja sama; 5. bidang pemberdayaan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai struktur organisasi dan tata kerja BNN diatur dengan Peraturan Presiden. 5 . Penanggulangan Pre-emtif : o pencegahan secara dini melalui kegiatan edukatif di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah . Preventif o Pencegahan lebih baik dari pada pengobatan. o Police hazard antara suplay dan demand. o Keterlibatan semua pihak terintegrasi . o Penyebaran informasi secara luas . o Pengawasan terhadap tempat hiburan dan yang berisiko. o Operasi kepolisian terhadap peredaran napza . Refresif o Tahap terakhir dengan tindakan hukum terhadap penyalahgunaan dan peredaran narkoba dan efek yang ditimbulkannya . o UU RI No 8 Thn 1981 KUH Pidana . Rehabilitasi o Upaya agar pasien kembali normal. o Rehabilitasi medik : sarana pelajaran kesehatan ssebagai rehab medik psikiatrik. o Rehabilitasi sosial : sarana pelajaran agama, sosial, dan pendidikan.

Beberapa bentuk penanggulanan Narkoba tambahan setelah Detoxification : Konseling, pasien atau keluarga melakukan konsultasi kepada psikolog, atau psikiater, kegiatan ini dapat membantu pasien terhindar dari kecanduan obat-obatan, kebiasaan atau perilaku terapi yang dijalankan akan membantu pasien apabila terjadi kambuh atau penarikan kembali terhadap obatobatan. Program Perawatan, program perawatan ini termasuk pendidikan umum dan sesi terapi yang difokuskan pada pembentukan ketenangan dan pencegahan kecanduan kembali. Self help groups meeting, seperti pertemuan kelompok khusus untuk ketergantungan obat Narkoba tingkat satu. Dengan sharing secara personal permasalahan yang terjadi dapat meningkatkan harga diri dari pasien, sehingga dapat mencegah dari kecanduan Narkoba. 6.Edukasi o Adanya seminar-seminar di sekolah-sekolah dan universitas untuk memberitahu kepada siswa dan siswi serta mahasiswa betapa berbahayanya mengkonsumsi narkoba dan alkohol. o Pengawasan dari orang tua terhadap perilaku dan pergaulan anaknya. o Penyuluhan ke desa-desa dan perumahan kumuh tentang bahaya narkoba dan permakaian alcohol secara berlebihan. o Memasang iklan tentang bahaya narkoba dan meminum alcohol di berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak.