You are on page 1of 18

BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFARAT NOVEMBER 2012

ATELEKTASIS

OLEH : STEVEN S. KATUUK C111 09 884 PEMBIMBING dr. Juanita Rante La’bi Sulle KONSULEN Prof. Dr.dr. Bachtiar Murtala, Sp.Rad (K)

DISUSUN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN RADIOLOGY FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

Rad (K) dr. dr. Muhammad Ilyas. Bachtiar Murtala Sp. Sp. Dr. dr. Juanita Mengetahui. November 2012 Penguji \ Konsulen Pembimbing Prof. Dr.Rad(K) . Makassar. Ketua Bagian Radiologi FK-UH Prof. Katuuk Stambuk : C111 09 884 Judul Refarat : Atelektasis Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hassanuddin.HALAMAN PENGESAHAN Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa : Nama : Steven S.

.... V............................................................. ..................................... Gambaran klinis...................... . III.......... 12 VIII... Pendahuluan ............................................. ....................................................................................... 11 c.............................................................................................................................. XI...... ......... IV........................ i Lembar Pengesahan............................................................................................................................................ ................................................6 b......................................................................................................................................................... TB Lama aktif....... 3 Patofisiologi......................................................... Prognosis....................................... 13 IX... Tumor Paru...............................10 b..................................................................................................................................................................... X...............7 VI.............................................................11 VII...... 5 Diagnosis................................. ............................ iii I.....................................ii Daftar isi............................ .........................................................14 Lampiran pustaka .................13 Daftar Pustaka........................ Kesimpulan. Gambaran radiologi....... 1 2 Anatomi................ Differensial diagnosis.... Efusi Pleura.... ................................................................ 10 a............................................... 6 a............... Insidens......................................................................................................................... II................DAFTAR ISI Halaman Judul................................................................. Penatalaksanaan..........................................................................

Atelektasis akut dan massive tidak jarang terjadi pada kasus pasca bedah toraks maupun bedah rongga abdomen bagian atas. atau seluruh paru. cairan. PENDAHULUAN Atelektasis adalah suatu keadaan paru atau sebagian paru yang mengalami hambatan berkembang secara sempurna sehingga aerasi paru berkurang atau sama sekali tidak berisi udara. Biasanya atelektasis merupakan akibat suatu kelainan paru yang dapat disebabkan oleh bronkus tersumbat yang berasal dari dalam seperti tumor. atau pembesaran kelenjar/Sebagian besar gambaran radiologic pada atelektasis adalah pengurangan volume bagian lobaris. dan radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus. Pemberian obat narkotik dan sedative dalam dosis tinggi juga dapat menimbulkan atelektasis akut massive. maka bagian paru sekitarnya mengalami suatu emfisema kompensasi yang kadang-kadang begitu hebat sehingga terjadi herniasi hemitorak yang sehat kearah hemitoraks yang atelektasis. seperti pada pneumotoraks dan efusi pleura. maupun adanya kompresi paru dari luar. 4 . Dengan adanya atelektasis. Atelektasis juga dapat menjadi akut dan kronik. dan juga aneurysma yang mengakibatkan atelektasis obstruktif. Atelektasis dapat terjadi pada wanita atau pria dan dapat terjadi pada semua ras. Tetapi terdapat juga atelektasis nonobstruktif. Dalam hal ini. tumor. dan akibatnya member gambaran kurangnya aerasi sehingga member gambaran radiopaque dengan penarikan mediastinum ke arah atelektasis. sedangkan diagfragma tertarik ke atas dan sela iga menyempit. 1 Himpitan saluran pernapasan yang disebabkan oleh pembesaran limfe nodus. Atelektasis lebih sering terjadi pada anak yang lebih muda dari pada anak yang lebih tua dan remaja.ATELEKTASIS I. Kolaps ini dapat meliputi sub segmen paru atau seluruh paru. segmental. disebut sebagai atelektasis pasif. Tidak tercukupinya surfaktan juga dapat menyebabkan atelektasis. 2 Atelektasis berkenaan dengan kolaps dari bagian paru. Stenosis dengan penyumbatan efektif dari suatu bronkus lobar mengakibatkan atelektasis (kolaps) dari suatu lobus.

21.4.4.87 (tahun 2003).24 (tahun 2002). 3 Atelektasis pascaoperasi sangat umum. INSIDENS Insiden dari post operative atelectasis adalah 80%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10.17 .99 (tahun 2000).5%). Sebagian besar kasus melibatkan lobus kuru bawah (66%). Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah. Di Jerman 6 juta penduduk. Di Indonesia insiden terbesar terjadi pada 1998. Insiden dan prevalensi gangguan ini tidak terdokumentasi dengan baik. secara keseluruhan terdapat 74. Sejak pertama kali ditemukan. Di Inggris sekitar 2. 6.17 Menurut penelitian pada tahun 1994.66 (tahun 2001). tetapi hanya 20% yang secara klinis signifikan.19 per 100.1 juta penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis yang perlu pengobatan dan pengawasan secara komprehensif. Di Amerika serikat diperkirakan 5. Ini merupakan angka yang cukup besar yang perlu mendapat perhatian dari perawat di dalam merawat klien dengan penyakit paru yang mengalami atelektasis secara komprehensif bio psiko sosial dan spiritual.5 juta penduduk menderita penyakit paru yang mengalami atelektasis.4 juta penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis.17 Penderita penyakit paru yang mengalami atelektasis pertama kali di Indonesia ditemukan pada tahun 1971.000 penduduk dan CFR = 2%. jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah. Atelektasis lobar juga umum. 19.II. Prognosis atelektasis lobar sekunder untuk obstruksi endobronkial tergantung pada pengobatan keganasan. tetapi kolaps lobus kanan bawah (22%) dan lobus kanan atas (11%) juga tercatat.6. dengan Incidence Rate (IR) = 35.6. Dalam atelektasis pasca operasi.17%. dan 23. Mortalitas Morbiditas pasien tergantung pada penyebab yang mendasari atelektasis. namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15. kondisi umumnya membaik. Dari hasil 200 pasien chest radiographs yang diperiksa secara berturutturut pada ICU. sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia. ditemukan 18 kasus dari kolaps lobaris (8.

duktus alveolaris dan sakkus alveolaris terminalis.5 sampai 1 cm. Bronkiolus terminalis mempunyai diameter kurang lebih 1 mm.III. Percabangan ini berjalan terus-menerus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis. namun jika seluruh alveolus yang . Bronkiolus tidak diperkuat oleh kartilago tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara sampai pada tingkat ini disebut saluran penghantar udara karena fungsinya menghantarkan udara ke tempat pertukaran gas terjadi. ANATOMI Gambar dibawah ini menunjukkan anatomi dari system respirasi: Gambar 1. Alveolus hanya selapis sel saja. Terdapat sekitar 23 percabangan mulai dari trakea sampai sakkus alveolaris terminalis. Alveolus dipisahkan dari alveolus di dekatnya oleh septum. Asinus atau kadang disebut lobulus primer memiliki diameter 0. Lubang pada dinding ini dinamakan pori-pori Kohn yang memungkinkan komunikasi antara sakkus. yaitu bronkiolus yang tidak mengandung alveoli.1 Anatomi Paru-paru normal (dikutip dari kepustakaan 5) Dari gambar dapat kita lihat bahwa cabang utama bronkus kanan dan kiri akan bercabang menjadi bronkus lobaris dan bronkus segmentalis. 4 Setelah bronkiolus terdapat asinus yang merupakan unit fungsional dari paruparu. Asinus terdiri atas bronkiolus respiratorius.

ventilasi yang adekuat serta perfusi ke dinding alveolus. Bronkus Sinistra . Panjangnya masuk kedalam hilus pulmonis kira-kira 2. menyilang di sebelah ventral oesophagus. Hal ini disebabkan oleh desakan dari arcus aortae pada ujung caudal trachea ke arah kanan. Bronkus sekunder yang menuju ke lobus superior letaknya ke lobus disebelah cranial a. mempunyai bentuk yang lebih besar. Ateria pulmonalis pada mulanya berada di sebelah inferior.Pada tepi lateral batas trachea dan bronkus terdapat lymphonodus tracheobronchialis superior dan pada bifurcatio trachea (di sebelah caudal) terdapat lymphonodus tracheobronchialis inferior. dan penyakit lainnya.pulmonalis .5 cm dan setinggi vertebra thoracalis VI. lebih pendek dan letaknya lebih vertikal daripada bronkus sinistra. Terdiri dari bronkus dextra dan bronchus sinistra. masing-masing menuju ke lobus superior. enzim biosintetik utamanya alfa anti tripsin. Cabang bronkus yang menuju berada di sebelah medius dan lobus inferior bronkus 4 caudal a.berjumlah sekitar 300 juta itu dibentangkan akan seluas satu lapangan tennis. dan lobus inferior. Vena Azygos melengkung di sebelah cranialnya. kemudian berada di sebelah ventralnya. Defisiensi surfaktan. Selanjutnya sekunder tersebut mempercabangkan bronkus tertier yang menuju ke segmen pulmo. enzim biosintesis serta mekanisme inflamasi yang berjung pada pelepasan produk yang mempengaruhi elastisitas paru menjadi dasar patogenesis emphysema. Di sinilah letak peranan surfaktan sebagai lipoprotein yang mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi saat inspirasi sekaligus mencegah kolaps saat ekspirasi. kecepatan regenerasi. disebut letak bronkus hyparterialis . lalu di sebelah dorsalnya dan akhirnya berada di sebelah inferiornya sebelum bronkus bercabang menuju ke lobus superior dan lobus inferior. ductus thoracicus. 4 Bronkus Dextra.Berada disebelah caudal arcus aortae. Pada mulanya berada disebelah superior arteri pulmonalis. mempunyai diameter yang lebih kecil. dan aorta thoracalis. 4 Alveolus pada hakikatnya merupakan gelembung yang dikelilingi oleh kapiler-kapiler darah. 4 Pembentukan surfaktan oleh sel pembatas alveolus dipengaruhi oleh kematangan sel-sel alveolus.Bronkus merupakan percabangan dari trachea. lobus medius. tetapi bentuknya lebih panjang daripada bronkus dextra. sehingga benda-benda asing mudah masuk ke dalam bronkus dextra.4 . Membentuk tiga cabang (bronkus sekunder). Batas antara cairan dengan gas akan membentuk suatu tegangan permukaan yang cenderung mencegah ekspansi pada saat inspirasi dan cenderung kolaps saat ekspirasi.pulmonalis.

jika obstruksi berlanjut dapat mengakibatkan fibrosis dan bronkiektasis.5. emboli paru. hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi sehingga arterial mengalami hipoksemia. Pada stadium awal.16 Platlike atelektasis (Focal atelectasis) Disebut juga discoid atau subsegmental atelektasis. PATOFISIOLOGI Atelektasis Obstruktif Berhubungan dengan obstruksi bronkus. infeksi saluran pernafasan bagian bawah dengan horizontal atau “platlike”. Jaringan hipoksia hasil dari transudasi cairan ke dalam alveoli menyebabkan edema paru.6. Kerusakan parenkim paru pun dapat menyebabkan atelektasis sikatrik yang membuat tarikan tarikan yang bila terlalu banyak membuat paru kolaps. darah melakukan perfusi paru tanpa udara. tipe ini sering ditemukan pada penderita obstruksi bronkus dan didapatkan pada keadaan hipoventilasi. Surfaktan mengandung phispolipid dipalmitoy phosphatidyicholine. Berkurang atau tidaknya produksi surfaktan biasanya terjadi pada ARDS. sedangkan replacement atelektasis dapat disebabkan oleh tumor seperti bronchialveolar carcinoma. Efusi pleura maupun pneumothorax menyebabkan atelektasis pasif. kapiler darah akan mengabsorbsi udara di sekitar alveolus.IV. ataupun akibat trauma paru sehingga alveoli tidak stabil dan kolaps.5. yang mencegah atelektasis komplit. Atelektasis adhesive lebih sering dihubungkan dengan kurangnya surfaktan. Ketika paru paru kehilangan udara. Efusi pleura yang mengenai lobus bawah lebih sering dibanding dengan pneumothorax yang sering menyebabkan kolaps pada lobus atas. bentuknya akan menjadi kaku dan mengakibatkan dyspnea.16 Atelektasis Non-Obstruktif Penyebab utama yaitu oleh karena tidak adanya hubungan antara pleura viseralis dan pleura parietalis. yang mencegah kolaps paru dengan mengurangi tegangan permukaan alveoli. dan menyebabkan retraksi paru dan akan terjadi kolaps dalam beberapa jam. pneumonitis radiasi.6. Atelektasis minimal dapat terjadi karena ventilasi .

5 Sebab utama dari atelektasis adalah penyumbatan sebuah bronkus. Meskipun atelektasis dianggap menjadi penyebab paling umum dari demam pasca operasi awal. pasien biasanya dating dengan tachypnea dan hypoxia. Bronkus adalah 2 cabang utama dari trakea yang langsung menuju ke paru-paru. Atau bronkus bisa tersumbat oleh sesuatu yang menekan dari luar. Jika saluran pernafasan tersumbat. Atelektasis ini biasanya pada bagian basal (bawah) paru ataupun segmen tertentu. leukositosis ringan dan tachypnea. tumor atau benda asing yang terhisap ke dalam bronkus.16 Postoperative atelektasis Atelektasis merupakan komplikasi yang umum terjadi pada pasien yang melakukan anastesi ataupun bedah dapat mengakibatkan atelektasis karena disfungsi dari diafragma dan berkurangnya aktivitas surfaktan. hiperoxia. iskemia. 3. Perlahan-lahan berkembang atelektasis mungkin asimtomatik atau mungkin hanya menyebabkan gejala ringan. demam.6.5. dan syok juga dapat terjadi. Dalam atelektasis yang akibat dari obstruksi bronchial dengan kehilangan yang signifikan dari parenkim paru. pasien bisa datang dengan keadaan low-grade fever. Penyumbatan juga bisa terjadi pada saluran pernafasan yang lebih kecil. bukti yang ada bertentangan. Sindrom lobus tengah sering asimtomatik. udara di dalam . Oklusi bronkial yang cepat dengan area besar kolaps paru menyebabkan nyeri pada sisi yang terkena.regional yang tidak adekuat dan abnormalitas formasi surfaktan akibat hipoksia. tiba-tiba mengalami dyspnea. dan ada tidaknya komplikasi infeksi. seperti tumor atau pembesaran kelenjar getah bening. Gambaran Klinis Manifestasi Klasis dari atelektasis. dan ekspos berbagai toksin. takikardia. mereka tidak menemukan bukti klinis yang mendukung konsep bahwa atelektasis berhubungan dengan demam pasca operasi awal Kebanyakan gejala dan tanda-tanda yang ditentukan oleh kecepatan dengan yang terjadi oklusi bronkial. 12 Atelektasis dapat terjadi pasca operasi mengikuti prosedur perut toraks atau atas. Perubahan dalam oxigenasi dan ventilasi mungkin tidak terlihat. Hipotensi.16 V. Penyumbatan bisa disebabkan oleh adanya gumpalan lendir. dan sianosis. ukuran daerah yang terkena paru-paru.5. Pada atelektasis ringan. DIAGNOSIS 1. dalam sebuah studi oleh Mavros et al.

demam .3 Atelektasis dapat didiagnosa dengan adanya : Direct Sign : Vascular crowding Peningkatan densitas Pergeseran septum mendekati lesi Indirect Sign : Pergeseran hilus Diagfragma terangkat Narrowing of rib cag Gambar 2. .Peningkatan frequensi pernapasan (tachypneu). Manifestasi klinis atelektasi : . serum.Peningkatan denyut jantung (tachycardia) . pada gambar diatas adalah atelektasis subsegmental menunjukkan gambaran kolaps dari paru akibat kompresi tumor. 1. 3. (dikutip dari kepustakaan 3) .peningkatan tekanan darah. Gambaran Radiologis Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan dari hasil pemeriksaan fisik. lendir dan kemudian akan mengalami infeksi.alveoli akan terserap ke dalam aliran darah sehingga alveoli akan menciut dan memadat. Jaringan paru-paru yang mengkerut biasanya terisi dengan sel darah.Berkurangnya breathing sound .2 Tampak perselubungan homogen pada seluruh hemitoraks dextra.5 Faktor resiko terjadinya atelektasis: - Pembiusan (anestesia)/pembedahan Tirah baring jangka panjang tanpa perubahan posisi Pernafasan dangkal 5 Penyakit paru-paru. 6 2. Foto thorax x-ray menunjukan adanya daerah bebas udara diparu-paru yang perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti CT Thorax untuk mengetahui penyebab sumbatan.sulit bernapas (dyspneu) .

menyebabkan alveoli (kantong udara kecil di paru-paru) menciut. Perhatikan peningkatan densitas pada lobus kiri atas (Dikutip dari kepustakaan 3) Sindroma Lobus Medialis Sindroma lobus medialis merupakan atelektasis jangka panjang. (Dikutip Dari Kepustakaan 3) Gambar 3. (A) Postoperative.Gambar 3. Atelectasis.8 .8. dimana lobus media (tengah) dari paru-paru kanan mengkerut. Characteristic bibasilar platelike atelectasis (arrows). jaringan parut dan bronkiektasis. dapat berkembang menjadi pneumonia yang tidak dapat sembuh total dan peradangan kronis.2 (B) Lobar collapse. Paru-paru yang tersumbat dan mengkerut. Penyebabnya biasanya adalah penekanan bronkus oleh suatu tumor atau pembesaran kelenjar getah bening.9 Atelektasis Percepatan Atlektasis percepatan biasanya terjadi pada pilot pesawat tempur. Penerbangan dengan kecepatan tinggi akan menutup saluran pernafasan yang kecil.1.

genangan cairan dan paru yang mengkerut (atelektasis). (Dikutip dari kepustakaan 18) Gambar 3.Mikroatelektasis Tersebar Atau Terlokalisasi Pada keadaan ini. Perhatikan anak panah berwarna merah. mereka akan mengalami sindroma gawat pernafasan.3 CT scan thorax memperlihatkan efusi bilateral. Surfaktan adalah zat yang melapisi alveoli dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan.8 Gambaran CT Thorax Atelektasis dapat dilihat sebagai berikut: Gambar 3. (Dikutip dari kepustakaan 18) . sistem surfaktan paru terganggu.2 Gambaran Atelektasis Hasil CT Scan menunjukkan adanya kanker paru-paru. Bila bayi prematur kekurangan surfaktan. sehingga mencegah pengkerutan.

7 Contoh gambaran radiologis pada efusi pleura : Tampak perselubungan homogen setinggi ICS 4 pada hemitoraks sinistra.5.1.Gambar 3. yaitu pada gambaran radiologis efusi pleura masif dapat terjadi shift kearah yang berlawanan dari yang sakit sedangkan pada atelektasis tertarik ke bagian yang sakit.4 gambaran CT thorax menunjukkan adanya atelektasis (dikutip dari kepustakaan 18) VI. dan batas Sinistra jantung Cor Sulit dinilai Tulang-tulang intake Usul : Foto thorax Lateral Sinistra CT Thorax Gambar 4. diagfragma. DIFFERENTIAL DIAGNOSIS 1.1 Foto Efusi pleura dari cairan pleural yang bermanifestasi pada hemitoraks sinistra dan membentuk meniscus sign berupa sinus kostoprenicus yang tumpul pada foto thorax PA diatas (Dikutip dari kepustakaan 1) .3. Efusi Pleura Pada foto thorax yang mengalami efusi pleura dan atelektasis mempunyai beberapa perbedaan dan persamaan. yang menutupi sinus.

Tumor Paru Perbedaan mendasar antara atelektasis dan tumor pada gambaran radiologis tumor paru menyebabkan penekanan dan shifting ke arah pembesaran tumor dan dapat dilihat pada gambar radiologi dibawah ini: 1.2 Tampak bayangan radiopaque berbatas tegas pada bagian lobus tengah dextra paru. Tumor paru yang berasal dari jaringan paru (Dikutip dari kepustakaan 9) 3.3 pada gambar radiologi diatas tampak perselubungan homogen pada paru sinistra disertai dengan kavitas dan garis-garis fibrotik kesan kp dextra lama aktif (Dikutip dari kepustakaan 1) .2. garis fibrosis yang menyebabkan retraksi hilus ke atas Cor : bentuk dan ukuran dalam batas normal Kedua sinus dan diagfragma baik Tulang-tulang intak Kesan : KP dupleks lama aktif 1. TB Lama aktif Gambaran Radiologi TB Lama aktif: Tampak Bercak berawan pada lapangan paru dextra atas yang disertai cavitas. bintikbintik kalsifikasi.10 Tampak perselubungan homogen yang berbatas tegas pada daerah paru dextra Cor : Bentuk dan ukuran dalam batas normal Kedua sinus intake dan diagfragma baik Tulang-tulang intak DD : Pneumonia / Atelektasis Usul : CT Thorax Gambar 4.3 Gambar 4.3.

influenzae. Tujuan pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup. ampisilin.Oksigenasi Terapi oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan emfisema . per rektal atau inhalasi. pneumonia. Terapi antimikroba dengan tetrasiklin. Bronkodilator mungkin diresepkan per oral.Teknik terapi fisik untuk memelihara dan meningkatkan ventilasi pulmonari d. subkutan. untuk memperlambat kemajuan proses penyakit.Medikasi ini mencakup antagonis β-adrenergik (metoproterenol.Bronkodilator 7.Pencegahan dan pengobatan cepat terhadap infeksi c. Organisme yang paling sering adalah S.14 Terapi simptomatik : . Metilxantin dapat juga menyebabkan gangguan gastrointestinal seperti mual dan muntah. intravena. dan perangsangan sisten saraf pusat. Medikasi inhalasi dapat diberikan melalui aerosol bertekanan.11 .Tindakan pengobatan untuk memperbaiki ventilasi dan menurunkan upaya bernapas b.Bronkodilator berfungsi untuk mendilatasi jalan nafas karena sediaan ini melawan edema mukosa maupun spasme muskular dan membantu mengurangi obstruksi jalan nafas serta memperbaiki pertukaran gas.14 Secara Khusus. dan untuk mengatasi.VII.Pengobatan Infeksi Pasien dengan emfisema rentan dengan infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi seperti sputum purulen. batuk meningkat dan demam. amoksisilin atau trimetoprim-sulfametoxazol (Bactrim) mungkin diresepkan.Dukungan psikologis f. isoproterenol) dan metilxantin (teofilin.Pemeliharaan kondisi lingkungan yang sesuai untuk memudahkan pernapasan e.9. disritmia jantung.9. aminofilin). Pendekatan terapeutik mencakup: a.9. yang menghasilkan dilatasi bronkial.7.11 .Penyuluhan pasien dan rehabilitasi yang berkesinambungan g. PENATALAKSANAAN Terapi konservatif : Secara Umum. obstruksi jalan napas untuk menghilangkan hipoksia. nebuliser.Bronkodilator mungkin menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan termasuk takikardia. H. dan Branhamella catarrhalis.11.

2 Penyebab dari atelektasis bisa bersifat obstruktif maupun non-obstruktif. empiema. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati. Secara radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan dari lobus. 13. Pemilihan pengobatan secara tepat (konservatif atau pembedahan) dapat memperbaiki prognosis penyakit.3 .7. kelainan yang biasa mengikutinya kausa dari Post TB Lama. prognosisnya jelek. 12. PROGNOSIS Kelangsungan Hidup Prognosis pasien atelektasis tergantung pada berat-ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. serta tumor paru yang menjadi faktor pencetus dari atelektasis tersebut.9.13. KESIMPULAN Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang dangkal.15 Kelainan Organ Kelainan organ pada atelektasis biasanya terjadi akibat shift dari organ mediastinum serta trakea ke arah yang sakit. Penyebab obstruktif bisa berasal dari dalam saluran pernapasan maupun luar saluran pernapasan.11 VIII. Kematian pasien tersebut biasanya karena pneumonia. 2 Diagnosa atelektasis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisil. survivalnya tidak akan lebih dari 5-10 tahun.berat. hemoptisis. Efusi pleura massive. Sedangkan penyebab non-obstruktif adalah oleh adanya kompresi jaringan paru atau pengembangan alveoli yang tidak sempurna dan akhirnya mengalami kolaps. Hipoksemia berat diatasi dengan konsentrasi oksigen rendah untuk meningkatkan tekanan oksigen hingga antara 65 dan 80 mmHg. dan lain-lain.15 IX. payah jantung.1. 2.

blogspot. Monsenifar.com/article/296468-differential 15. Makassar . T. 2007. “Gangguan Sistem pernapasan : Penyakit paru restriktif” dalam Patofisologi dan konsep klinis penyakit Edisi 6 vol. Jakarta:Balai Penerbit FKUI. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam FKUI Edisi V Jilid III. “Pleural Effusion”. Anonymous. Maria M. Page 1-5 4.2012.2006.al. “Disease of pleura”.html 9.X.2005. dan Tumor Paru”. Ahuja. 2254 11. et. Hal 802-804 5.Misbahuddin.com/article/296468-clinical#a0218 13. Maddapa T.medscape. In Chest radiography. S. http://liburanrame. Jakarta:Balai Penerbit FKUI..blogspot. hal 6 . Aru W.2008. New York: McGraw Gill Lange. Djojodibroto. 43. Pradip R. “Pulmonologi : Tumor Paru”. Lexington:University of Kentucky.2012 http://emedicine.broward. Jakarta: EGC.2009. Dalam Lecture Notes Radiologi Edisi kedua. Tsuei. 7. Blog Gambaran tumor dan kanker paru-paru. Betty.”Atelectasis differential diagnosis”. Hal 108-16.medscape.com/2010/02/atelektasis-atelectasis.60-3.2010. Atelektasis. “Atelectasis”. Hal.United Kingdom:University of Cambrigde. Radiologi 3. Page 189-207 6.Hal. Anonymous. Patel. “Efusi Pleura. Adnan. Free Medical and health journal. Dalam Farmakologi dan terapi FKUI Edisi V.2. J. http://webhome. http://emedicine. In Case study in Medical Imaging. 2.medscape. Frans Liyadi S. J.2012. Price. http://emedicine. “Athelectasis”. Dalam Respiratory Medicine.html 10. D. DAFTAR PUSTAKA 1. Ali. Hal 231-233 3. Jakarta:Erlangga.htm 14. Page 35.2008. S. Dalam Radiologi diagnostik Edisi Kedua. Z. Maddapa. Gunawan.com/article/296468-overview 16.”Overview of atelectasis”.” Medical Surgical and emergency”.2012. 2012. 8.”Penyakit yang sering melibatkan paru-paru”.2011. Jakarta:Interna Publishing. http://rsudcurup. “Efusi Pada foto saluran pernapasan”.edu/~jlarson/EmergencyNursing/04MedSurg/02_Respiratory /25ClinicalManifestationsofAtelectasis. In Pulmonary pathophysiologi. Bagian Radiologi FKUH.hal 92 12. Rasad.com/2011/10/tumor-paru.1980. Sudoyo. “Saluran Napas:Bronkodilator”. 2006.”Journal of Atelectasis Clinical Presentation”. Jakarta:Penerbit buku kedokteran EGC. Sylvia A. Anil T.

Accesed on December 25. Theodorou. International Journal of Surgery Case Reports.2011. D.com/article/296468-overview.medscape.sciencedirect. Last update : August 25. Atelectasis. Available from http://emedicine. 18. Madappa Tarun.17. Page 74-77/ http://www.2009.com/science/article/pii/S2210261211001271 . 2012.