Analisis Asam Cuka Perdagangan

m:val="0" m:val="0" m:val="centerGroup" m:val="1440" m:val="subSup" m:val="undOvr" Pembuatan Larutan Standar NaOH dan H2C2O4 Untuk mentitrasi asam cuka (CH3COOH) digunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai titran. Larutan NaOH ini dibuat dengan melarutkan sebanyak 4 gram padatan NaOH menjadi 1000 mL larutan. Massa NaOH yang diperlukan untuk membuat larutan 0.1 N diketahui dari perhitungan berikut : Konsentrasi NaOH = 0,1 N = 0,1 M (karena NaOH merupakan basa valensi 1) Volume larutan yang dibuat = 1 L Massa molar NaOH = 40 gram/mol Massa NaOH = mol x massa molar = Volume x Molaritas x massa molar = 1 L x 0, 1 mol/L x 40 gram/mol = 4 gram Sebelum digunakan untuk mentitrasi asam cuka, larutan NaOH ini distandarisasi terlebih dahulu karena NaOH merupakan zat yang mudah terkontaminasi, bersifat higroskopis sehingga mudah menarik uap air dari udara dan juga mudah bereaksi dengan CO2 dalam udara. Di mana pada kedua proses ini menyebabkan penimbangan sejumlah tertentu NaOH tidak akan memberikan kepastian massa yang sesungguhnya, karena jumlah air dan CO2 yang diserap oleh NaOH tidak diketahui dengan pasti. Hal ini mengakibatkan kensentrasi NaOH yang dihasilkan juga tidak tepat. Dengan demikian apabila menggunakan NaOH sebagai pereaksi dalam suatu titrasi maka zat tersebut harus distandarisasi sebelumnya. Untuk menstandarisasi larutan NaOH ini digunakan larutan asam oksalat 0,1N, larutan ini digunakan sebagai larutan standar primer karena larutan ini tidak bersifat higroskopis dan memiliki berat ekuivalen yang tinggi sehingga dapat mengurangi kesalahan dalam penimbangan zat. Pembuatan larutan standar H2C2O4 0,1 N dilakukan dengan melarutkan 0,6303 gram kristal H2C2O4 menjadi 100 mL. Penentuan massa H2C2O4 yang akan digunakan dalam pembuatan larutan H2C2O4 0,1 N sesuai perhitungan berikut : Konsentrasi H2C2O4 = 0,1 N = 0,05 M (karena H2C2O4 merupakan asam valensi 2) Volume larutan yang dibuat = 100 mL Massa molar H2C2O4 = 126,07gram/mol Massa H2C2O4 = mol x massa molar = Volume x Molaritas x massa molar = 0,1 L x 0, 05 mol/L x 126,07 gram/mol = 0,6303 gram Standarisasi larutan NaOH dilakukan dengan titrasi menggunakan indikator fenolftalein (trayek pHnya 8,2-10). Pemilihan indikator felnolftalein karena pada standarisasi ini merupakan titrasi asam lemah (H2C2O4) dan basa kuat (NaOH) sehingga titik ekivalennya diatas 7 dan berada pada trayek indikator fenolftalein. Pada standarisasi ini NaOH digunakan sebagai titran sementara asam oksalatnya sebagai titrat karena mengingat indikator yang digunakan adalah fenolftalein sehingga ketika PP ditambahkan pada asam oksalat, akan menunjukkan warna bening. Ketika pada titik ekivalen, akan terjadi perubahan dari bening menjadi merah muda. Jika asam oksalat yang digunakan sebagai titran dan NaOH sebagai titrat maka akan terjadi perubahan warna dari merah muda ke bening. Pada dasarnya, perubahan warna dari

bening ke merah muda lebih mudah diamati daripada perubahan warna dari merah muda ke bening. Dan juga penggunaan asam oksalat sebagai titran kemungkinan besar akan menyebabkan kesalahan titrasi yang besar karena terjadi kelebihan penambahan titran hingga melewati titik ekivalen. Kelebihan titran ini disebabkan karena kesulitan mengamati perubahan warna dari merah muda ke bening. Asam oksalat kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan PP menghasilkan larutan bening. NaOH ditempatkan sebagai titran karena pada saat terjadi titk ekivalen lebih mudah diamati yaitu dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah muda. Jika asam oksalat ditempatkan sebagai titran maka kita akan sulit menentukan titik akhir titrasinya karena akan sangat sulit mengamati perubahan warna dari merah muda menjadi bening. Standarisasi NaOH dengan Menggunakan H2C2O4 Berdasarkan data percobaan yang kami lakukan, data volume titran yang didapatkan pada proses standarisasi yaitu 10,20 mL, 10,35 mL, 10,22 mL, dimana rata-rata volume titran adalah 10,26 mL. Menurut kajian tipe kesalahan statistik, data yang kami dapatkan termasuk tidak tepat dan tidak teliti. Hal ini dikarenakan data volume titran yang didapatkan memiliki kedapatulangan rendah (kesalahan acak besar) hanya berkisar 10,20 mL sampai 10,35 mL sehingga data tersebut tidak tepat. Kemudian rata-rata yabg didapatkan adalah 10,067 mL berarti data tidak teliti karena nilai rata-rata percobaan jauh dengan nilai rata-rata teoritis yaitu 10,00 mL. Dari titrasi yang telah dilakukan diperoleh rata-rata volume NaOH yang digunakan dalam titrasi dengan 10 mL H2C2O4 0,1 N adalah 10,26 mL. Dengan demikian dapat dihitung konsentrasi NaOH sesuai perhitungan berikut : Volume NaOH (V1) = 10,26 mL Volume H2C2O4 (V2) = 10 mL Normalitas H2C2O4 (N2) = 0,1 N V1 x N1 = V2 x N2 N1 = V2 x N2 /V1 = 10 mL x 0,1 N / 10,26 mL = 0,097 N Pengkonversian Kadar Asam Cuka Menjadi Normalitas Untuk menganalisis asam cuka dalam cuka perdagangan dapat dilakukan dengan titrasi netralisasi. Titrasi ini merupakan titrasi alkalimetri, proses titrasi dengan larutan standar basa untuk mentitrasi asam bebas. Dalam titrasi ini digunakan buret yang berukuran 25 mL dengan tingkat ketelitian 0,05 mL. Set alat titrasi ditunjukkan pada Gambar 02. Terlebih dahulu perlu ditentukan perkiraan konsentrasi asam cuka yang akan dititrasi tersebut. Pada label asam cuka yang digunakan tercantum kadar asam cuka 25%. Persen yang dimaksud adalah persen berat/volum (b/v). Dalam perhitunngan diasumsikan (massa jenis) asam cuka perdagangan tersebut = 1 gram/mL. Konsentrasi asam cuka dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut. M = [rho (gram/mL)x kadar zat x 1000mL/L] / Massa molar (gram/mol) = [1 grma/mL x 25/100 x 1000 mL/L] / 60 gram / mol = [ 1 x 25/100 x 1000 mL/L] / 60 = 4,17 mol/L = 4,17 M N = M x n = 4,71 M x 1 = 4,71 N Karena dalam titrasi ini, digunakan standar NaOH yang konsentrasinya + 0,1 N sehingga larutan asam cuka ini perlu diencerkan terlebih dahulu agar konsentrasinya menjadi + 0,1 N. Dalam percobaan ini dilakukan 40 kali pengenceran asam cuka (dari volume 25 mL menjadi 1000 mL).

pOH = ½ pKw – ½ pKa – ½ log Cg Pada saat titik ekivalen telah ditambahkan 10. Kemudian ratarata yang didapatkan adalah 10.75 x 105 [H+] = akar Ka x Ca pH = .17 M) diencerkan terlebih dahulu. Alasan digunakan indikator PP dapat dilihat dalam perhitungan berikut. Setelah penambahan titran sampai sebelum titik ekivalen. Penentuan Kadar Asam Cuka Berdasarkan data percobaan yang kami lakukan.32 x 10-3 = 2. Hal ini dikarenakan data volume titran yang didapatkan memiliki kedapatulangan tinggi yaitu hanya berkisar antara 10.01/20.76 + log 9/1 = 5. Pada saat titik ekivalen.000 mL NaOH. Oleh karena itu penggunaan indikator fenolftalein pada percobaan ini sudah tepat karena pada titik ekivalen terletak pada trayek pH PP> Dalam titrasi ini.65) = 8.2 – 10 dimana berwarna bening pada kondisi asam dan merah pada kondisi basa.log [OH-] Misalkan telah ditambahkan 10. Hal ini bertujuan untuk mengefisienkan NaOH yang akan digunakan sebagai penitrasi. pH = 7 + 2. pOH = . di mana warna merah tersebut tetap bertahan selama lebih dari 30 detik ataupun ketika dikocok.100 mL NaOH. sistem larutan adalah buffer dan pH larutan dihitung dari konsentrasi asam sisa dan garam yang terbentuk. pOH = . Pada pengenceran ini.050 mL.9/19 M. 10. Pada titik awal.1 N.7 berarti masih pada trayek pH PP.100 = 3.log 0.1/19 M dan 9.38 + (-0.067 mL berarti data teliti karena nilai rata-rata percobaan sangat dekat . Ka = 1. sehingga pH larutan dihitung dari garam yang terbentuk. Setelah titik ekivalen. Menurut kajian tipe kesalahan statistik.log akar 1.100 mL sehingga data tersebut dapat dikategorikan tepat. titrasi dihentikan ketika warna titrat (pada labu erlenmeyer) menunjukkan perubahan warna dari bening menjadi merah.log akar Ka x Ca pH = . data volume titran yang didapatkan yaitu 10.050 mL. pH = 4. Warna titrat saat titrasi dihentikan ditunjukkan pada Gambar 03.100 M. sistem larutan yang terbentuk menjadi basa kuat dan pH dihitung dari sisa basa kuat. di mana rata-rata volume titran yang digunakan adalah 10. sehingga konsentrasi asam lemah sisa dan garam yang terbentuk masing-masing adalah 0. sehingga konsentrasi garam yang terbentuk 1/20 mL. dan 10.01/20.050 mL sampai 10. larutan yang terbentuk adalah suatu garam yang terhidrolisis.30 pH = 10. a. di mana sebanyak 25 mL larutan asam cuka perdagangan diencerkan menjadi 1000 mL.73 d. sehingga konsentrasi NaOH sisa adalah 0. larutan hanya mengandung asam lemah dan pH larutan diturunkan dari konstanta disosiasi asam (Ka) dan konsentrasinya.067 mL.100 mL.75 x 10-5x 0.88 b.71 c.Titrasi Asam Cuka Dengan NaOH Titrasi asam cuka ini dilakukan pada konsentrasi + 0.1 = -log 1.000 mL NaOH.73. Pada proses titrasi ini digunakan indikator phenolptalein (PP) dengan trayek pH 8. Sehingga larutan asam cuka perdagangan ini (yang konsentrasinya + 4. pH = pKa + logCg/Ca Misalkan telah ditambahkan 9. data yang kami dapatkan termasuk tepat dan teliti. Kelebihan penambahan 1 tetes titran hanya akan memberikan pH di bawah 10. dilakukan pengenceran sebanyak 40 kali.7 Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa pH pada titik ekivalen adalah 8.

g. 2.1 N. Apabila tidak sesuai dengan konsentrasi titran (konsentrasi asam cuka terlalu tinggi) bisa dilakukan pengenceran sehingga didapat konsentrasi 0.000 mL. Kami tidak yakin dengan kadar asam cuka yang tertera pada label cuka perdagangan. c. b.4%. h...0977 N = 0.9080 M Gram CH3COOH = 3. JAWABAN PERTANYAAN 1.? V NaOH .17 M x 1 = 1. i. Sambil menggoyang-goyangkan labu.0977 M = 3.1 N.234 x 100% = 23.17 N Larutan kemudian diencerkan 20 kali sehingga diperoleh konsentrasi asam cuka + 0. dipipet 10 mL larutan asam cuka (yang telah dititrasi) dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. sedangkan NaOH sebagai titran. Oleh karena itu maka kami melakukan analisis asam cuka dalam cuka perdagangan secara titrimetri. Terlebih dahulu NaOH 0. N CH3COOH 10.17 M N = M x n = 1. SIMPULAN Dari hasil percobaan yang dilakukan maka dapat ditarik kesmpulan sebagai berikut: 1.dengan nilai rata-rata teoritis yaitu 10.097 N V CH3COOH= 10. j.. Prosedur percobaan sederhana penentuan kadar asam cuka dalam cuka perdagangan adalah: a.5 mg/mL = 0. Ditambahkan 2-3 tetes indikator fenolptalein. Dimasukkan larutan NaOH yang telah distandarisasi sebagai zat peniter (titran) ke dalam buret. 2. Asam oksalat sebagai titrat.4 %. Dibuat larutan NaOH dengan konsentrasi 0.1 N.067 mL N CH3COOH= .. V NaOH = 10.. Indikator yang digunakan dalam titrasi adalah indikator fenolftalein (PP).1 N. Ditentukan konsentrasi asam cuka yang akan dititrasi dengan mengkonversi % asam cuka dari label botol kemasan kedalam normalitas (N).1 N. Penentuan konsentrasi asam cuka perdagangan. d. diteteskan sedikit demi sedikit larutan NaOH ke dalam labu erlenmeyer dan diamati perubahan warna dari indikator. Titrasi dihentikan ketika titik akhir titrasi dicapai. f. Konsentrasi NaOH hasil standarisasi dihitung.. e.0977 M. pada keadaan netral atau kelebihan sedikit basa. Perhitungannya adalah sebagai berikut. Diulangi titrasi minimal sebanyak 3 kali. N NaOH = V CH3COOH . Molaritas CH3COOH = 40 x 0..067 mL N NaOH = 0.17 mol/L = 1.067 mL x N CH3COOH N CH3COOH = 0.9080 mmol/mL x 60 mg/mmol = 234. yang ditandai dengan perubahan warna indikator dari tidak berwarna menjadi merah..097 N = 10. Kadar asam cuka dalam cuka perdagangan yang didapatkan melalui percobaan adalah 23.1 N distandardisasi dengan H2C2O4 0. M = [rho (gram/mL)x kadar zat x 1000mL/L] / Massa molar (gram/mol) = [1 grma/mL x 10/100 x 1000 mL/L] / 60 gram / mol = [ 1 x 10/100 x 1000 mL/L] / 60 = 1.067 mL x 0...234 gr/mL Persentase CH3COOH (b/v) = 0. Dengan menggunakan pipet volume... Konsentrasi larutan standar basa yang perlu disiapkan jika kadar asam asetat pada cuka sekitar 10% adalah 0. Fungsi .1 N. Dibuat larutan standar Asam Oksalat (H2C2O4) dengan konsentrasi 0.

Titrasi asam-basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan pengamatan dengan indicator bila pH pada titi ekivalen antara 4-10. Sebaliknya alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asm dengan menggunakan baku basa. Demikian juga titik akhir titrasi akan tajam pada titrasi asam tau basa lemah jika pentitrasian adalah basa atau asam kuat dengan perbandingan tetapan disosiasi asam lebih besar dari 10. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa). pH larutan berubah secara khas. pH berubah secara dratis bila volume titrasinya mencapai titik ekivalen. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetric adalah sebagai berikut : 1. titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. . http://elangbiru3004. dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas). Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indicator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yyang dianalisis dan larutan standar.blogspot. Selama titrasi asam-basa . Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Dasar Teori Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti. Umumnya indicator yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH. dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif. Pada umumnya. Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat. Tujuan Percobaan Mahasiswa mampu membuat dan membakukan larutan baku basa menggunakan senyawa sekunder yang berupa padatan Mahasiswa mampu menetapkan kadar asam cuka perdagangan untuk mengetahui apakah kadar yang tertera pada etiket cuka perdagangan sudah sesuai dengan kadar yang sebenarnya II. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa.html STANDARDISASI LARUTAN NaOH dan PENENTUAN ASAM CUKA PERDAGANGAN m:val="0" m:val="0" m:val="centerGroup" m:val="1440" m:val="subSup" m:val="undOvr" STANDARDISASI LARUTAN NaOH dan PENENTUAN ASAM CUKA PERDAGANGAN I. Analisa titrimetri atau analisa volumetric adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti.com/2011/05/analisis-asam-cuka-perdagangan.pengenceran ini adalah untuk meminimalisir jumlah titran yang akan digunakan dalam titrasi.

Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”. volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.Erlenmeyer 250 ml . 4. kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut.Mortir & Samper .Kompor listrik Bahan: . Indikator atau alat lain yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. 3. Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. 2. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.Corong . labu tentukur. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai.Statif. klem . III. Cara Mengetahui Titik Ekuivalen.Pipet volum . Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. misalnya larutan natrium tiosulfat pada pembakuan larutan iodium. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent. Baku sekunder adalah bahan yang telah dibakukan sebelumnya oleh baku primer. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi. dan kemudian digunakan untuk membakukan larutan standar. Dengan menggunakan data volume titrant.Cawan porselein . Alat dan Bahan Alat: . Harus ada indicator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika. Larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti atau baku primer dan sekunder dengan kemurnian tinggi.Neraca Analitik .Gelas ukur 10 ml . Alat pengukur volume kuantitatif seperti buret. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang kuantitatif/stokiometrik. 2. Memakai indicator asam basa. Alat-alat yang digunakan pada analisa titrimetri ini adalah sebagai berikut : 1. 1. 3. dan pipet volume yang telah di kalibrasi. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.Buret 50 ml . pada saat inilah titrasi kita hentikan. Baku primer adalah bahan dengan kemurnian tinggi yang digunakan untuk membakukan larutan standar misalnya arsen trioksida pada pembakuan larutan iodium.Gelas piala .2. baik secara kimia maupun secara fisika. Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.Pipet tetes . Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan.Labu takar 1000 ml .Labu takar 100 ml . Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.

Pembakuan larutan NaOH Siapkan alat dan bahan ↓ Timbang ± 450 mg asam oksalat.0001 g NaOH kristal ↓ Larutkan dalam air bebas CO2 hingga volume 1000 ml b.Aquadest . tutup dan gojog sampai larut ↓ Masukkan kedalam erlenmeyer 250 ml .Asam Oksalat .Asam cuka perdagangan ..Indicator PP IV. gerus jika perlu ↓ Masukan ke dalam labu takar 100 ml ↓ Tambahkan air bebas CO2 ad 100 ml. CARA KERJA a. Pembuatan larutan NaOH Siapkan alat dan bahan ↓ Timbang 4.NaOH .

↓ Tambahkan 2 tetes indikator fenolftalein ↓ style="" !--[if !mso]-Titrasikan dengan larutan NaOH hingga warna berubah menjadi merah muda style="" !--[if !mso]-Titrasi dilakukan 2 kali ↓ c.0 ml asam cuka perdagangan ↓ Masukan dalam labu takar 100 ml.0 ml larutan encer di atas dalam erlenmeyer ↓ Tambahkan 2 tetes indikator fenolftalein ↓ Titrasi dengan larutan baku NaOH. hingga diperoleh warna menjadi . lalu encerkan dengan aquadest bebas CO2 hingga volume 100 ml. Menetapkan kadar asam cuka perdagangan Siapkan alat dan bahan ↓ Ambil 10. gojog ↓ Masukan 10.

8 mg 2.35 ml N NaOH = 0.35 ml V. 2. ekuivalen = 2 Grek = V N Massa Asam Oksalat joinstyle="miter" eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" eqn="sum @0 1 0" eqn="sum 0 0 @1" eqn="prod @2 1 2" eqn="prod @3 21600 pixelWidth" eqn="prod @3 21600 pixelHeight" eqn="sum @0 0 1" eqn="prod @6 1 2" eqn="prod @7 21600 pixelWidth" eqn="sum @8 21600 0" eqn="prod @7 21600 pixelHeight" eqn="sum @10 21600 0" v:ext="edit" aspectratio="t" src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image001.1 N Asam oksalat (H2C2O4)  Mr = 90 .png" o:title="" chromakey="white" VN Massa asam oksalat = V. 8.012. 17 ml . Penimbangan: Berat cawan + asam oksalat : 56. Titrasi Volume larutan NaOH (titran) : i.6 mg Berat cawan kosong : 55. Label asam cuka perdagangan yang digunakan: …….1 N x (90 :2) = 450 mg Molaritas dan Normalitas larutan NaOH 1. N.4):2 = 8.1N N NaOH = 2 ml N : 8.3 ml ii.8 mg Berat asam oksalat : 451.4 ml rata-rata = (8.3+8.merah muda ↓ Titrasi dilakukan 2 kali V.N titrat (As Oksalat) 8. BE = 100 ml x 0.. 8.560. N titran (NaOH) =2 V .35 ml x N = 2 x 10ml x 0. Titrasi Volume larutan NaOH (titran) : i.24 N Penetapan kadar asam cuka perdagangan 1. 17 ml ii. Hasil Analisis Perhitungan massa Asam Oksalat yang ditimbang yaitu : Diketahui Normalitas Asam Oksalat = 0.

Pengambilan atau pencuplikan sampel (sampling). Perhitungan dan penafsiran pengukuran Pada praktikum ini cara pembuatan larutan baku NaOH 0.448 % VI.1 N. Penentuan kadar ini menggunakan metode asidimetri dan alkalimetri dengan larutan NaOH 0. yaitu: 1. Teliti sampai 1 bagian dalam 1000 2. Pengukuran 4. Pada proses praktikum standarisasi larutan NaOH dan penentuan kadar asam cuka perdagangan ini selalu menggunakan cara titrasi atau titrimetri.png" o:title="" chromakey="white" 100% src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image004.1 N perlu menggunakan air yang terbebas dari CO2. Tujuan dari praktikum ini sama seperti apa yang telah tertulis pada tujuan praktikum. karena penetapan kadar secara titrimetri atau volumetri mempunyai kelebihan dibanding secara gravimetri. serta tidak memerlukan pekerjaan yang menjemukan seperti pengeringan dan . yaitu menetapkan kadar asam cuka atau asam asetat perdagangan.png" o:title="" chromakey="white" 100% src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image005.png" o:title="" chromakey="white" 100% = src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image006.png" o:title="" chromakey="white" = 60 src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image003. Karena CO2 akan mempengaruhi dari hasil reaksi yang akan terjadi pada titrasi. cepat.Maka dapat diperoleh perhitungan sebagai berikut: Asam asetat (CH3COOH): BM = 60 BE (CH3COOH) = src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS %7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image002. Pembahasan Dalam praktikum standardisasi larutan NaOH dan penetapan kadar Asam cuka perdagangan ini. karena metode ini masuk ke dalam metode Titrimetri atau Volumetri.png" o:title="" chromakey="white" x 100% = 2. Mengubah analit menjadi suatu bentuk sediaan yang sesuai untuk pengukuran 3. Analisis kuantitatif terhadap suatu sampel terdiri atas empat tahapan pokok: 1. Sehingga perlu adanya standarisasi larutan NaOH terlebih dahulu supaya mendapatkan larutan NaOH dengan konsentrasi 0. yang nantinya digunakan untuk melarutkan NaOH. Penentuan kadar asam cuka perdagangan ini digunakan untuk mengetahui kebenaran kadar yang tertera pada etiket asam cuka yang dijual dipasaran. yang dimana analisis kuantitatif fokus kajiannya adalah penetapan banyaknya suatu zat tertentu (analit) yang ada dalam sampel. metode yang digunakan adalah analisis kuantitatif. Alat sederhana.1 N sebagai titran. yakni memilih suatu sampel yang mewakili dari bahan yang dianalisis 2.

8 mg Berat asam oksalat : 451. Kemudian untuk pembakuannya lebih kurang 450 mg Asam Oksalat(H2C2O4) ditimbang secara saksama yang sebelumnya telah dikeringkan. N. karena NaOH yang tersedia adalah masih berbentuk kristal. Pada saat mendidihkan air untuk membuang Co2 yaitu setelah mendidih.012. ekuivalen = 2 Grek = V N Massa Oksalat src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image001. Molaritas dan Normalitas larutan NaOH Penimbangan: Berat cawan + asan oksalat : 56. tutup labu takar 100 ml dan gojog sampai larut. Yang kemudian dari titrasi tersebut maka didapatkan data sebagai berikut ini. masukkan ke dalam labu ukur 100 ml untuk pengenceran/dilarutkan. N Massa asam oksalat = V.3 ml iv. Pada saat titrasi berlangsung.6 mg Berat cawan kosong : 55.1 N adalah sebanyak 4.560.0001 gr NaOH kristal dilarutkan dalam air bebas CO 2 hingga volume 1000 ml dalam labu ukur. Karena jika terlambat pada saat mengunci kran. mulut gelas beker yang berisi air bebas CO2 tersebut ditutup dengan plastik yang diikat menggunakan benang kasur. kemudian direndam dalam air yang menggenang. Senyawa yang digunakan sebagi larutan baku atau untuk pembakuan harus senyawa dengan kemurnian yang tinggi 3. Indikator atau alat lain untuk mengetahui selesainya titrasi Hal pertama dilakukan adalah pembuatan larutan NaOH.8 mg Titrasi Volume larutan NaOH (titran) : iii. Cara kerja pada pembuatan larutan baku NaOH 0.png" o:title="" chromakey="white" V. akan mengurangi ketepatat pada saat pembacaan volume NaOH yang digunakan sebagai titrat. Alat pengukur volume seperti buret. 8. Hal tersebut ditujukan agar air lebih cepat dingin. pipet volume. 8. Pembuatan larutan dimulai dengan merebus air atau mendidihkan air (aquadest)sampai terbebas dari CO2.4 ml rata-rata = (8. Setelah itu ambil 10 ml dan masukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml lalu ditetesi dengan indikator PP.4):2 = 8. BE = 100 ml x 0..3+8. Ada beberapa hal yang diperlukan dalam analisis secara titrimetri ini.35 ml . 450 mg asam oksalat digerus jika perlu. dan labu takar yang ditera secara teliti (telah dikalibrasi) 2.penimbangan berulang-ulang. Perhitungan massa Asam Oksalat yang ditimbang yaitu : Diketahui Normalitas Asam Oksalat = 0.1 N Asam oksalat (H2C2O4)  Mr = 90 . yaitu: 1. perlu koordinasi yang baik antara mata dan jari-jari tangan kiri untuk segera menghentikan atau mengunci kran pada buret.1 N x (90 :2) = 450 mg Kemudian. hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat akan mencapai titik ekuivalent. Selanjutnya dititrasi dengan larutan NaOH hingga warna berubah menjadi merah muda.

Larutan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan baku NaOH diatas. Pada percobaan ini menetapkan asam cuka perdagangan untuk mengetahui apakah kadar yang tertera pada etiket cuka perdagangan sudah sesuai dengan kadar yang sebenarnya. Label asam cuka perdagangan yang digunakan:………. N titran (NaOH) =2 V . Yang kemudian diperoleh data sebagai berikut: 1. dan diencerkan dengan air suling bebas CO2hingga volumenya tepat 100 ml. PP sendiri bersifat asam lemah.4). Analisis dilakukan secara alkalimetri yaitu dengan cara menitrasi larutan asam asetat perdagangan dengan larutan baku NaOH. lalu dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml.35 ml x N = 2 x 10ml x 0.V. maka larutan tersebut sudah dapat digunakan untuk menentukan kadar asam cuka perdagangan. warna merah jambu adalah pengaruh dari PP.(tdk diketahui) 2. hingga diperoleh perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah jambu.png" o:title="" chromakey="white" . maka dilakukan langkah yang selanjutnya yaitu menetapkan kadar asam cuka perdagangan dengan cara mengambil 10 ml asam cuka perdagangan dengan pipet volume.N titrat (As Oksalat) 8.35 ml N NaOH = 0. Fenolftealin mempunyai pKa 9. Setelah kita mengetahui normalitas dari larutan NaOH. karena syarat suatu indikator adalah asam atau basa lemah yang berubah warna diantara bentuk terionisasinya dan bentuk tidak terionisasinya. Struktur PP akan mengalami penataan ulang pada kisaran pH ini karena proton dipindahkan dari struktur fenol dari PP sehingga pH-nya meningkat akibat akan terjadi perubahan warna. dan ditambah dengan 2 tetes indikator PP. 17 ml Maka dapat diperoleh perhitungan sebagai berikut: Asam asetat (CH3COOH): BM = 60 BE (CH3COOH) = src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS %7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image002. Setelah larutan baku NaOH tersebut jadi. Titrasi Volume larutan NaOH (titran): a. Kemudian memasukkan 10 ml larutan encer tersebut ke dalam labu erlenmeyer 250 ml.png" o:title="" chromakey="white" 100% src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image004.png" o:title="" chromakey="white" 100% src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image005.4 (perubahan warna antara pH 8. Setelah terjadi perubahan warna untuk yang pertama kali.24 N Proses titrasi dilakukan sampai muncul perubahan warna dari yang tidak berwarna menjadi berwrna merah jambu. Dan titrasi ini dilakukan sebanyak 2 kali. 17 ml b.1N N NaOH = 2 ml N : 8. titrasi langsung dihentikan dan NaOH yang berkurang langsung dicatat.png" o:title="" chromakey="white" = 60 src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image003.4 – 10.

Normalitas dari larutan baku NaOH yang dipakai yaitu 0. b. Kadar asam asetat pada larutan NaOH = 2. Intinya perbedaan hasil titrasi disebabkan oleh : a. 2009. Cilacap : STIKES Al-Irsyad Al-Islaimyyah Purba.100% = src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image006. Daftar a Pustaka Indratmoko. 2. Anonim. Kesimpulan 1. Hadyana.png" o:title="" chromakey="white" x 100% = 2. 2004. 2010. Ilmu Kimia untuk SMU Kelas 2 Jilid 2A. 2009 http://dxcommunitypha1. Sutresna.1989. Dalam produksi cuka tidak sesuai dengan label yang di siratkan pada label c. Jakarta : Ganeca Exact Pudjaatmaka. ERLANGGA: Jakarta. Wayan. Adanya perbedaan massa jenis yang mencolok dari masing-masing cuka sampel. Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. d. Panduan Belajar Kimia Kelas XI semester 2 Program Ilmu Pengetahuan Alam.wordpress.wmz" o:title="" 7. Pintar Kimia Jilid 3 untuk SMU Kelas 3. Petunjuk Praktikum Kimia Farmasi II.448 % b/v 6. Kadar asam asetat atau asam cuka perdagangan sebenarnya adalah 6. 2003.24N 3. http://belajarkimia. Singaraja. Jakarta : Erlangga. online 29 Maret 2010 basa/.448 % VII. Septiana dan Taufan Ratri Harjanto.1 N 4.com/2009/01/definisi-asam-basa-arrhenius/. Soma. KIMIA UNTUK UNIVERSITAS. Perubahan skala buret yang tidak konstan. Michael 1995.57 % src="file:///C: %5CDOCUME%7E1%5Ckomputer%5CLOCALS%7E1%5CTemp %5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image007. Nana. Massa Asam Oksalat yang ditimbang adalah 450 mg 5. . Normalitas Asam Oksalat yang dipakai adalah 0. Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator.com/2009/04/06/praktek-kimia-titrasi-asamonline 29 Maret 2010 Arrhenius. VIII.

air dianggap bersih dan layak untuk diminum. sehingga di alam umumnya berada dalam keadaan tidak murni. Air alam mengandung berbagai jenis zat. di mana akan membentuk kompleks dengan logam-logam tersebut. EDTA (ethylene diamine tetraacetic) merupakan suatu kompleks kelat yang larut ketika ditambahkan ke dalam suatu larutan yang mengandung kation logam tertentu seperti Ca2+ dan Mg2+. 2009 http://pdfdatabase. Keadaan itu dapat menurunkan kualitas air sampai ke tingkat tertentu dan membuat air tidak berfungsi lagi sesuai dengan tujuan penggunaannya. Air adalah pelarut yang baik. sehingga dapat melarutkan zat-zat dari batu-batuan yang berkontak dengannya.com/2008/11/22/titrimetri/ . Senyawa-senyawa kalsium dan magnesium ini relatif sukar larut dalam air. Air sadah sementara yaitu air yang kesadahannya disebabkan oleh kalsium dan magnesium dari karbohidrat dan bikarbonat.blogspot.1 Latar Belakang Semua makhluk hidup di bumi ini butuh air. zat. Jika kandungan bahan-bahan dalam air tersebut tidak mengganggu kesehatan. dan energi terdalam air oleh kegiatan manusia.com/index. Pencemaran air dapat terjadi karena masuknya makhluk hidup. SiO2 dan sebagainya. Air sadah adalah air yang di dalamnya terlarut garam-garam kalsium dan magnesium air sadah tidak baik untuk mencuci karena ion-ion Ca2+ dan Mg2+ akan berikatan dengan sisa asam karbohidrat pada sabun dan membentuk endapan sehingga sabun tidak berbuih. 2008). Dimana air yang banyak mengandung ion-ion kalsium dan magnesium dikenal sebagai air sadah. Na2SO4. . NaCl. Manfaat penentuan kesadahan sementara dan kesadahan permanen yaitu untuk mengetahui tingkat kesadahan air karena air sadah dapat menimbulkan kerak sehingga dapat menyumbat pipa saluran air panas seperti radiator yang digunakan dalam mesin-mesin pertanian. Air sadah dibagi menjadi dua yaitu air sadah sementara dan air sadah tetap. sehingga dengan prinsip ini nilai kesadahan air dapat dianalisis.php?q=titrasi+asam+basa+larutan+kimia.Anonim. Bahan-bahan mineral yang dapat terkandung dalam air karena kontaknya dengan batubatuan tersebut antara lain: CaCO3. CaSO4. online 29 Maret 2010 Aisyah. online 29 Maret 2010 http://shochichah. MgCO3.html Penentuan Kadar Kesadahan Air dengan Metode Titrasi EDTA BAB I PENDAHULUAN 1. sedangkan air sadah permanen atau tetap disebutkan oleh garam kalsium sulfat dan klorida. 2008 http://rgmaisyah.wordpress.com/2010/04/standardisasi-larutan-naoh-dan. MgSO4. Ketika ditambahkan suatu indikator EBT ke dalam larutan yang mengandung kompleks tersebut maka akan menghasilkan perbahan warna pada pH tertentu. Air merupakan pelarut yang sangat baik. baik yang larut maupun yang tidak larut serta mengandung mikroorganisme. air dikatakan tercemar jika terdapat gangguan terhadap kualitas air sehingga air tersebut tidak dapat digunakan untuk tujuan penggunaannya. sehingga senyawa-senyawa ini cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau precipitation yang kemudian melekat pada logam (wadah) dan menjadi keras sehingga mengakibatkan timbulnya kerak (Bintoro.

khususnya Ca2+. Fe. 2008). Kesadahan atau hardness adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air. di mana sabun ini diendapkan oleh ion-ion yang saya sebutkan diatas.4 Manfaat Pembuatan makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kesadahan serta cara yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan tersebut. Mg2+. Oleh karena itu penetapan kesadahan hanya diarahkan pada penentuan kadar Ca2+ dan Mg2+. sehingga tidak dapat membentuk emulsi secara efektif. Kesadahan sementara . maka arti dari kesadahan dibatasi sebagai sifat / karakteristik air yang menggambarkan konsentrasi jumlah dari ion Ca2+ dan Mg2+. Atau dapat juga disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak) seperti Al. Kesadahan total didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek) ion Ca2+ dan Mg2+ tiap liter sampel air (Anonim. Air sabun akan membentuk emulsi atau sistem koloid dengan zat pengotor yang melekat dalam benda yang hendak dibersihkan. atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Kation-kation polivalen lainnya juga dapat mengendapkan sabun. sehingga keaktifan/ daya bersih sabun menjadi berkurang atau hilang sama sekali. Oleh karena senyawa-senyawa kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam air. Bagaimana pengertian kesadahan yang sebenarnya? 2. maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau presipitat yang akhirnya menjadi kerak. Penyebab air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+. kesadahan air didefinisikan sebagai kemampuan air untuk mengendapkan sabun. Pengertian kesadahan air adalah kemampuan air mengendapkan sabun. Mengetahui pengertian dari kesadahan 2. Kesadahan terutama disebabkan oleh keberadaan ion-ion kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) di dalam air. Sabun adalah zat aktif permukaan yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air. Senyawa kalsium dan magnesium bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya busa dalam air. BAB II ISI 2.1. Bagaimana metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan? 1. sehingga air sabun dapat berbusa. Kesadahan ada dua jenis. Mengetahui metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan 1.1 Pengertian Kesadahan Pada awalnya. Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat.1 Tinjauan Pustaka 2. maka peran kesadahannya dapat diabaikan. yang dinyatakan sebagai CaCO3. yaitu (Giwangkara.3 Tujuan 1. Keberadaannya di dalam air mengakibatkan sabun akan mengendap sebagai garam kalsium dan magnesium. Karena penyebab dominan/utama kesadahan adalah Ca2+ dan Mg2+.1. 2008) : 1. klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil. Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal sebagai “air sadah”. 1. Mn. tetapi karena kation polivalen umumnya berada dalam bentuk kompleks yang lebih stabil dengan zat organik yang ada.2 Perumusan Masalah 1.

semua kesadahan adalah kesadahan karbonat dan kesadahan noncarbonate tidak ada. bergantung kepada sumber dan perlakuan dimana air telah subjeknya. Kesadahan tetap Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam klorida. Reaksinya: CaCl2 + Na2CO3 → CaCO3 (padatan/endapan) + 2NaCl (larut) CaSO4 + Na2CO3 → CaCO3 (padatan/endapan) + Na2SO4 (larut) MgCl2 + Ca(OH)2 → Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaCl2 (larut) MgSO4 + Ca(OH)2 → Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaSO4 (larut) Ketika kesadahan kadarnya adalah lebih besar dibandingkan penjumlahan dari kadar alkali karbonat dan bikarbonat. Kesadahan sementara ini dapat / mudah dieliminir dengan pemanasan (pendidihan). serta dapat diperoleh dalam keadaan murni. Kesadahan mungkin terbentang dari nol ke ratusan miligram per liter. Cu (II). EDTA mengikat logam melalui empat karboksilat dan dua gugus amina. 1990).1 Struktur EDTA CO2 (gas) + H2O (cair) + MgCO3 (endapan) Terlihat dari strukturnya bahwa molekul tersebut mengandung baik donor elektron dari atom oksigen maupun donor dari atom nitrogen sehingga dapat menghasilkan khelat bercincin sampai dengan enam secara serempak (Khopkar. dan Co (III) (Anonim. Merupakan suatu senyawa asam amino yang secara luas dipergunakan untuk mengikat ion logam logam bervalensi dua dan tiga. karena adanya sejumlah tidak tertentu dalam air. CaCl2. apabila kadar kesadahan lebih dari ini disebut “kesadahan non-karbonat”. Etilendiamintetrasetat atau yang dikenal dengan EDTA. MgCl2. sulfat dan karbonat. MgSO4.Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam bikarbonat. Gambar 2. 2. Reaksinya: Ca(HCO3)2 → dipanaskan → CO2 (gas) + H2O (cair) + CaCO3 (endapan) Mg(HCO3)2 → dipanaskan → 1.1. Mg(HCO3)2. merupakan senyawa yang mudah larut dalam air. sebaiknya distandardisasi terlebih dahulu.3 Metode Titrasi EDTA Kesadahan total yaitu ion Ca2+ dan Mg2+ dapat ditentukan melalui titrasi dengan EDTA sebagai titran . EDTA berupa senyawa kompleks khelat dengan rumus molekul (HO2CCH2)2NCH2CH2N(CH2CO2H)2. Fe (III). sehingga terbentuk encapan CaCO3 atau MgCO3. Kesadahan tetap dapat dikurangi dengan penambahan larutan soda – kapur (terdiri dari larutan natrium karbonat dan magnesium hidroksida) sehingga terbentuk endapan kaslium karbonat (padatan/endapan) dan magnesium hidroksida (padatan/endapan) dalam air. Ketika kesadahan kadarnya sama atau kurang dari penjumlahan dari kadar alkali karbonat dan bikarbonat.2 EDTA EDTA adalah kependekan dari ethylene diamin tetra acetic. Tetapi dalam penggunaannya. 2.1. seperti Ca(HCO3)2. 2008). yang kadar kesadahannya eqivalen dengan total kadar alkali disebut “ kesadahan karbonat. 2. EDTA membentuk kompleks kuat terutama dengan Mn (II). misal CaSO4.

7H2O) atau 644 mg magnesium chloride (MgCl2 . larutan menjadi berwarna merah muda.dan menggunakan indikator yang peka terhadap semua kation tersebut. oleh karena itu EDTA direkomendasikan.1 adalah satu berkompromi kepuasan.1 Alat dan Bahan 3.2 Bahan 1. Ion magnesium harus muncul untuk menghasilkan suatu titik akhir dari titrasi. 6H2O ) ke dalam 50 mL aquades. Pada pH lebih tinggi. 2) Jika garam magnesium dari EDTA tidak ada.179 g garam disodium dari ethylenediaminetetraacetic aciddihydrate (reagen analitis) dan 780 mg magnesium sulfat (MgSO4 . dilarutkan 1. Bagaimanapun. atau hidroksida magnesium. Kejadian total tersebut dapat dianalisis secara terpisah misalnya dengan metode AAS (Automic Absorption Spectrophotometry) (Abert dan Santika. larutan akan berubah dari berwarna merah muda menjadi berwarna biru yang menandakan titik akhir dari titrasi. Penentuan Ca dan Mg dalam air sudah dilakukan dengan titrasi EDTA. Hentikan penambahan larutan buffer ketika 1 atau 2 mL ditambahkan ke sampel . 3.1. EBT yang dihaluskan bersama NaCl padat kadangkala juga digunakan sebagai indikator untuk penentuan Ca ataupun hidroksinaftol. Kemudian ditambahkan ke dalam campuran ini 16. pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator Eriochrom Black T (EBT). Bagikan larutan buffer menggunakan pipet. CaCO3. Jika EDTA ditambahkan sebagai satu titran.1. Jika sejumlah kecil Eriochrome Hitam T atau Calmagite ditambahkan ke suatu larutan mengandung kalsium dan ion-ion magnesium pada satu pH dari 10.1. Asam Ethylenediaminetetraacetic dan garam sodium ini (singkatan EDTA) bentuk satu kompleks kelat yang dapat larut ketika ditambahkan ke suatu larutan yang mengandung kation logam tertentu. Satu pembatas dari 5 min disetel untuk jangka waktu titrasi untuk memperkecil kecenderungan ke arah CaCO3 pengendapan. Mg(OH)2 . Seharusnya Ca tidak ikut terkopresitasi dengan Mg. BAB III METODOLOGI 3. dan ketika semua magnesium dan kalsium telah manjadi kompleks. Kejelasan dari titik. kalsium dan magnesium akan menjadi suatu kompleks.9 g ammonium klorida (NH4Cl) dalam 143 mL ammonium hidroksida (NH4OH).9 g NH4Cl dan 143 mL NH4OH dengan pengadukan dan diencerkan sampai 250 mL dengan aquades. Adanya gangguan Cu bebas dari pipa-pipa saluran air dapat di masking dengan H2S.1 Alat Peralatan yang digunakan adalah seperangkat alat titrasi dan peralatan gelas yang biasa digunakan dalam laboratorium kimia analitik. Mg(OH)2 akan mengendap. Ditetapkan pH dari 10.0 ± 0. Untuk mememastikankan ini. dan karena perubahan celup warnai di ketinggian pH hargai. Larutan buffer: 1) Dilarutkan 16.akhir banyak dengan pH peningkatan. 12. Kemudian ditambahkan 1.0 ± 0. pH tidak dapat ditingkat dengan tak terbatas karena akibat bahaya dengan kalsium karbonat mengendap. kompleks garam magnesium netral dari EDTA ditambahkan ke larutan buffer. 1984).25 g garam magnesium dari EDTA (yang telah distandardisasi) dan diencerkan ke dalam 250 mL aquades. sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan indikator murexide. Simpan larutan 1) atau 2) dalam suatu plastik atau gelas borosilicate.

EDTA Titrant standar.1 pada titik akhir titrasi.tidak berhasil menghasilkan satu pH dari 10. Senyawa ini bersifat stabil di larutan air dan menghasilkan perubahan warna yang sama seperti Eriochrome Black T. maka lebih baik simpan di polyethylene atau gelas botol borosilicate. mungkin indikator dalam keadaan tidak baik.723 g disodium ethylenediaminetetraacetate dihydrate. 1. Karena titran mengekstrak kation dan menghasilkan kesadahan dari wadah gelas plastik. 2) Inhibitor II.1 (AWAS: NaCN adalah sangat beracun). 3) MgCDTA : garam magnesium dari 1. : Larutkan 5 g sulfida sodium nonahydrate (Na2S + 9 H2O) atau 3.7 g Na2S + 5H2O dalam 100 mL aquades. 3) Preparasi salah satu buffer ini dengan mencampurkan 55 mL HCl dengan aquades 400 mL dan kemudian. dimana berakibat memberikan titik akhir yang tidak jelas.0 ±0. ini biasanya memaksudkan bahwa satu agen complexing yang sesuai diperlukan. Tambahkan 2 tetes per 50 mL larutan untuk di titrasi. 1) Eriochrome Black T (EBT): Garam sodium dari asam 1-(1-hydroxy-2-naphthylazo)-5-Nitro-2naphthol-4-sulfonic. 2-cycclohexanediamine tetraacetic asam. Dipersiapkan campuran kering dari indikator ini dan satu garam inert tersedia secara komersial.1 N NaOH. 3) Indikator 1 dan 2 dapat digunakan dalam bentuk serbuk kering untuk menghindari kelebihan indikator. juga disebut dengan etilendiamintetraasetat (EDTA). Sebagai contoh.5 g pada 100 g 2.01 M : Timbang 3. 1. Jika warna titik akhir dari indikator ini tidak jelas dan tajam. Larutkan 0. Tambahkan 250 mg per 100 mL sampel dan larutkan sebelum menambahkan larutan buffer. Berikut adalah agen complexing tersebut: 1) Inhibitor I : Sesuaikan sampel asam ke pH 6 atau lebih tinggi dengan larutan buffer atau 0.10 g Calmagite pada 100 mL aquades. larutan alkalin dari Eriochrome Black T sensitif terhadap oksidasi dan mengandung air atau larutan alkohol adalah tidak stabil. yaitu perubahan warna yang tajam pada titik-akhir. Gunakan 1 mL per 50 mL larutan untuk di titrasi. . 1. Standarkan dengan larutan kalsium standar (2e) sebagaimana diuraikan dalam pada 3b di bawah. 0. Tambahkan 250 mg NaCN (bentuk serbuk). Agen Complexing: Adakalanya air mengandung ion yang bertentangan memerlukan penambahan suatu agen complexing yang sesuai untuk memberikan satu titik akhir.0 ± 0.methoxymethanol (juga disebut Ether ethylene glycol monomethyl).2’. dan diencerkan pada 1000 mL. Indikator: Banyak jenis dari larutan indikator telah diakui dan mungkin dipergunakan kalau ahli analisa mempertunjukkan bahwa mereka menghasilkan nilai akurat.2”-nitrilotriethanol (juga disebut triethanolamine) atau 2. aduk dengan perlahan dan tambahkan 300 mL 2-aminoethanol (bebas dari alumunium dan logam lebih berat). Kesulitan utama dengan larutan indikator adalah kerusakan oleh waktu. 2) Calmagite: Asam 1-(1-hydroxy-4-metil-2-phenylazo)-2-naphthol-4-sulfonic. Tambahkan 5 g garam magnesium dari EDTA dan encerkan hingga 1 L dengan aquades. Larutkan 0. Kalau inhibitor NaCN tidak menunjukan ketajaman pada titik akhir. larutkan di dalam aquades. Sesuaikan volume kalau perlu. Tambahkan buffer secukupnya untuk menyesuaikan ke pH 10.

NaOH.3 Perhitungan Kesadahan (EDTA) seperti mg CaCO 3 /L = (A x B X 1000)/ mL sampel Dimana: A = mL untuk sampel dan B = mg CaCO 3 ekivalen dengan 1.1. Pada titik akhir secara normal akan muncul warna biru. ambil suatu sampel dalam jumlah yang besar. gunakan air yang telah di destilasi. Biasanya 1 mL akan cukup untuk memberikan pH dari 10.00 mL EDTA titrant. Larutan Kalsium standar : Ditimbang 1. a. Jika sampel cukup ada tersedia dan pengganggu tidak ada. 3.2 Prosedur Kerja 1. Encerkan 25.00 mg CaCO3 . Titrasi dari sample : Pilih satu volume sampel yaitu yang kurang dari 15 mL EDTA titrant dan dititrasi selama 5 menit. Cahaya matahari dan cahaya dari lampu fluoresen sangat dianjurkan karena cahaya-cahaya tersebut dapat menunjukkan titik-titik berwarna merah pada larutan yang berwarna biru pada saat titik akhir titrasi. didestilasi ulang atau air yang telah diionisasi dari volume yang sama dengan sampel. dan indikator telah ditambahkan sebelumnya. Natrium hidroksida. sebagaimana diuraikan pada poin c di bawah.0 ke 10. Pembuatan air limbah dan air limbah sampel : Digunakan asam nitrat-asam sulfat atau asam nitrat. dan indikator. Sampel dengan kesadahan rendah : Untuk air dengan kesadahan rendah (kurang dari 5 mg / L). Tambahkan 200 mL aquades dan aduk untuk beberapa menit untuk mengusir CO2 . Tambahkan larutan standar EDTA titrant perlahan-lahan dari satu microburet dan dimulai dari blanko.1.0 mL sampel ke dalam 50 mL aquades didalam kaserol porselin atau wadah lain yang sesuai. Munculnya satu warna titik-akhir yang tajam didalam titrasi biasanya diartikan bahwa satu inhibitor harus ditambahkan dalam titik ini. Tambahkan beberapa tetes dari indikator metil merah. c. Ambil beberapa volume dari EDTA untuk blanko dari volume dari EDTA yang digunakan untuk sampel. Tambahkan beberapa tetes indikator pada rentang 3 sampai 5. 3. b. Tambahkan 1-2 mL larutan buffer. 1 mL = 1. inhibitor. 1 N. 100-1000 mL. diukur dari waktu dari penambahan buffer. Tambahkan standar EDTA Titrant perlahan-lahan. 0. dan tambahkan 3N NH4OH atau 1+1 HCL hingga larutan berwarna orange. dengan pengadukan. seperti yang diperlukan. dimana sejumlah serupa dari larutan buffer. buffer. BAB IV . f. Encerkan ke dalam 1000 mL dengan aquades. tingkatkan keakuratan dengan meningkatkan ukuran sampel. untuk dititrasi dan ditambahkan dengan sejumlah besar inhibitor. hingga warna kemerah-merahan hilang. 1.asam perchloric encer.000 g serbuk CaCO3 anhidrat ke dalam satu 500 mL Erlenmeyer. tambahkan secara perlahan 1+1 HCL hingga semua CaCO3 telah larut. Tambahkan 1-2 tetes larutan indikator atau formulasi indikator secukupnya. 1.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. Konsep Dasar Kimia Analitik.. 1990. EDTA pertama kali akan membentuk kompleks dengan Ca2+ dan kemudian dengan Mg2+. 1984. UI-Prees. 2008. Saptorahardjo. Surabaya Bintoro.. Air sadah atau air keras adalah air yang H2In. Sri Sumestri. dan menghasilkan kompleks berwarna biru.+ 2H+  (biru) BAB V PENUTUP 5. Di pH 10 indikator akan berada di dalam bentuk HInd2. EDTA Titrant ditambahkan melalui satu buret. S.9 10.1 Kesimpulan 1. Pertama EDTA (H2Y2-) akan kompleks dengan ion kalsium. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan pada air adalah dengan metode titrasi EDTA. Water Hardness: EDTA Titrimetric Method. yaitu ditandai oleh warna merah berganti warna biru: 2) EDTA + CaIn. umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. ITS Press. terdapat ion-ion yang menyebabkan sabun sulit menghasilkan busa terutama ion Ca2+ dan Mg2+. Dimana Kesadahan total didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek) ion Ca2+ dan Mg2+ tiap liter sampel air. Jakarta http://ginoest.+ Ca2+ CaIn. Indikator yang dipergunakan di percobaan ini adalah Eriochrome Hitam T. EDTA akan kompleks dengan kalsium dan indikator menjadi lepas. E.blogsome. 2. New York USA Albert dan Santika. 2008.(Ind mewakili indikator).+ 2H+ Pada titik akhir. M.wordpress. Selanjutnya pada saat indicator bereaksi dengan Mg2+ akan memberikan satu kompleks merah. Penentuan Kesadahan Sementara dan Kesadahan Permanen.1. Seperti pada titrasi apapun kita akan perlu satu indikator untuk menentukan ketika semua Ca2+ dan Mg2+ telah membentuk kompleks dengan EDTA (titik akhir titrasi).PEMBAHASAN Prosedur umum untuk awal percobaan ini dengan satu contoh air mengandung mineral yang berisi kalsium dan magnesium. Metode Penelitian Air.com Giwangkara. 2008. http://persembahanku. Penerjemah : A.com/2010/03/23/17/ Kesadahan air adalah kandunganmineral-mineral tertentu di dalam air. Setelah pH disesuaikan dan indikator ditambahkan. Untuk mengasuransikan bahwa semua kation tinggal di dalam solusi dan itu pekerjaan indikator dengan baik. EDTA adalah satu agen chelating itu dapat mendonorkan elektron (Aturan Lewis) yang kemudian akan membentuk satu kompleks dengan ion logam (Asam Lewis).+ CaEDTA (merah) . http://aabin.com/2006/09/29/mengapa mandi dipantai boros sabun Khopkar.wordpress. membentuk satu kompleks merah: 1) H2In. Kesadahan merupakan sifat kimia yang dimiliki air dimana. satu penyangga biasanya menyesuaikan pH ke 9.

Reaksi yang terjadi adalah : Ca(HCO3)2 (aq) –> CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g) Air sadah tetap Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion bikarbonat. magnesium nitrat (Mg(NO3)2). Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga. sehingga diharapkan kation Ca2+ dan Mg2+ dapat diikat resin. dan magnesium sulfat (MgSO4). yang menyumbat saluran pipa dan keran. magnesium klorida (MgCl2). Zeolit memiliki rumus kimia Na2(Al2SiO3O10). Untuk menghilangkan kesadahan biasanya digunakan berbagai zat kimia. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral. air yang digunakan harus terbebas dari kesadahan. Selain ion kalsium dan magnesium. Ion Ca2+ dan Mg2+ akan ditukar dengan ion Na+ dan K+ dari zeolit. CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) –> CaCO3 (s) + 2NaCl (aq) Mg(NO3)2 (aq) + K2CO3 (aq) –> MgCO3 (s) + 2KNO3 (aq) Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air tersebut telah terbebas dari ion Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain air tersebut telah terbebas dari kesadahan. berdasarkan jenis anion yang diikat oleh kation (Ca2+ atau Mg2+). sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. namun dapat menyebabkan beberapa masalah. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3. yaitu air sadah sementara dan air sadah tetap. Secara teknis. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa tersebut akan mengendap pada dasar ketel. Resin adalah zat polimer alami ataupun sintetik yang salah satu fungsinya adalah dapat mengikat kation dan anion tertentu.memiliki kadar mineral yang tinggi.2H2O. air sadah dilewatkan melalui suatu wadah yang berisi resin pengikat kation dan anion. sehingga air tersebut terbebas dari kesadahan. Dalam industri. sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali busa. Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun. kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian. kalsium sulfat (CaSO4). Cara yang lebih kompleks adalah melalui titrasi. Air yang mengandung ion atau senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air. sehingga air tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. NO3. air tersebut akan terbebas dari kesadahan. zeolit mempunyai struktur tiga dimensi yang memiliki pori-pori yang dapat dikewati air. Cara paling mudah untuk mengetahui air yang selalu anda gunakan adalah air sadar atau bukan dengan . penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Air yang mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap.2H2O atau K2(Al2SiO3O10). yaitu Na2CO3 (aq) atau K2CO3 (aq). Pada industri yang menggunakan ketel uap. Dengan demikian. sabun akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah. ataupun dengan menggunakan resin penukar ion Air sadah digolongkan menjadi dua jenis. Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum. Untuk membebaskan air tersebut dari kesadahan. atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2). Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk mengendapkan ion Ca2+ dan atau Mg2+. karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya dengan cara pemanasan. harus dilakukan dengan cara kimia. Dalam air lunak. Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2). Pereaksi yang digunakan adalah larutan karbonat. kalsium nitrat (Ca(NO3)2). Air sadah sementara Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-).dan SO42-. misalnya dapat berupa ion Cl-. dan air sadah yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan zat-zat kimia tertentu. Proses penghilangan kesadahan air yang sering dilakukan pada industri-industri adalah melalui penyaringan dengan menggunakan zat-zat sebagai berikut : Resin pengikat kation dan anion.

kalaupun berbuih. Pada dasar tong sudah dibuat keran.menggunakan sabun.org/wiki/Kesadahan_air . spserti mencuci. artinya anda tidak dapat menggunakan zeolit yang sama selamanya. http://id. Jika ternyata setelah dilakukan pemanasan. Untuk menghilangkan kesadahan sementara ataupun kesadahan tetap pada air yang anda gunakan di rumah dapat dilakukan dengan menggunakan zeolit. Air yang akan anda gunakan dilewatkan pada zeolit terlebih dahulu. Anda cukup menyediakan tong yang dapat menampung zeolit. maka sabun akan sukar berbiuh. mandi dan keperluan masak. Ketika air yang anda gunakan adalah air sadah. Air yang telah dilewatkan pada zeolit dapat anda gunakan untuk keperluan rumah tangga.wikipedia. berbuihnya sedikit. berarti air yang anda gunakan adalah air sadah tetap. Zeolit memiliki kapasitas untuk menukar ion. Sehingga pada rentang waktu tertentu anda harus menggantinya. sabun tetap sukar berbuih. Kemudian untuk mengetahui jenis kesadahan air adalah dengan pemanasan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful