You are on page 1of 15

PENDAHULUAN

KEANEKARAGAMAN HAYATI
KONSEP KEANEKARAGAMAN HAYATI

Apabila Anda mendengar kata “Keanekaragaman”, dalam pikiran anda mungkin


akan terbayang kumpulan benda yang bermacam-macam, baik ukuran, warna, bentuk,
tekstur dan sebagainya. Bayangan tersebut memang tidak salah. Kata keanekaragaman
memang untuk menggambarkan keadaan bermacam-macam suatu benda, yang dapat
terjadi akibat adanya perbedaan dalam hal ukuran, bentuk, tekstur ataupun jumlah.

Sedangkan kata “Hayati” menunjukkan sesuatu yang hidup. Jadi keanekaragaman


hayati menggambarkan bermacam-macam makhluk hidup (organisme) penghuni biosfer.

Keanekaragaman hayati disebut juga “Biodiversitas”. Keanekaragaman atau


keberagaman dari makhluk hidup dapat terjadi karena akibat adanya perbedaan warna,
ukuran, bentuk, jumlah, tekstur, penampilan dan sifat-sifat lainnya.

Sedangkan keanekaragaman dari makhluk hidup dapat terlihat dengan adanya


persamaan ciri antara makhluk hidup. Untuk memahami konsep keseragaman dan
keberagaman makhluk hidup pergilah Anda ke halaman sekolah. Amati lingkungan
sekitarnya! Anda akan menjumpai bermacam-macam tumbuhan dan hewan. Jika Anda
perhatikan tumbuhan-tumbuhan itu, maka Anda akan menemukan tumbuhan-tumbuhan
yang berbatang tinggi, misalnya: palem, mangga, beringin, kelapa. Dan yang berbatang
rendah, misalnya: cabe, tomat, melati, mawar dan lain-lainnya. Ada tumbuhan yang
berbatang keras, dan berbatang lunak. Ada yang berdaun lebar, tetapi ada pula yang
berdaun kecil, serta bunga yang berwarna-warni. Begitu pula Anda akan menemukan
tumbuhan-tumbuhan yang memiliki kesamaan ciri seperti: tulang daun menyirip atau
sejajar, sistem perakaran tunggang atau serabut, berbiji tertutup atau terbuka, mahkota
bunga berkelipatan 3 atau 5 dan lain-lain. Begitu pula pada hewan-hewan yang Anda
temukan, terdapat hewan-hewan yang bertubuh besar seperti kucing, sapi, kerbau, dan
yang bertubuh kecil seperti semut

serta kupu-kupu. Ada hewan berkaki empat, seperti kucing. Berkaki dua seperti ayam.
Berkaki banyak seperti lipan dan luwing. Juga akan tampak burung yang memiliki bulu
dan bersayap.

Di samping itu, Anda juga akan menemukan hewan yang hidupnya di air seperti:
ikan mas, lele, ikan gurame. Dan hewan-hewan yang hidup di darat seperti kucing,
burung dan lain-lain. Ada hewan yang tubuhnya ditutupi bulu seperti burung, ayam. Ada
yang bersisik seperti ikan gurame, ikan mas, dan ada pula yang berambut seperti kucing,
kelinci dan lain-lain.Hal itu membuktikan adanya keseragaman dan keberagaman pada
mahkluk hidup.
BEKANTAN
(Nasalis larvatus)

Bekantan merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi Undang-undang.
Penyebaran satwa ini sangat terbatas dan untuk kelangsungan hidupnya memerlukan
kondisi tertentu. Dibawah ini diuraikan secara singkat mengenai apa dan bagaimana
satwa ini, sehingga kita dapat melangkah untuk menjaga kelestariannya.
Nama- : Nasalis larvatus
Latin
Nama- : Proboscis Monkey
Inggris
Status : Dilindungi berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931
No. 134 dan No. 266 jo UU No. 5 Tahun 1990. Berdasarkan Red Data Book
termasuk dalam kategori genting, dimana populasi satwa berada di ambang
kepunahan.

Di Kalimantan , jenis kera ini dikenal juga dengan


Bentangan, Raseng dan Kahau. Bekantan
(Nasalis larvatus) adalah satwa yang tergolong ke
daIam ordo Primata, Famili Cercophithe Cidae,
Subfamili Coleginae. Satwa ini hidup endemik di
Tannan Nasional Gunung Palung dan hutan-hutan di
kepulauan Kalmantan. Tidak heran, apabila satwa ini
dan Orangutan (Pongo pygmaeus) menjadi satwa
primadona Taman Nasional Gunung Palung, sehingga
bekantan menjadi logo resmi dan narna buletin Balai
Taman Nasional Gurtung Palung (Nasalis). Bekantan
disebut sebagai Kera Belanda, karena memiliki hidung yang menonjol agak lebar
menggantung kedepan seperti hidung orang belanda. Selain itu binatang ini disebut juga
Bakara, Hakau, Rasung, Pika, Batangan atau dalam bahasa inggris biasa disebut Proboscis
Monkey. Selain mempunyai hidung yang panjang, Bekantan juga mempunyai morfologi yang
khas yaitu mempunyai selaput diantara jari kaki dan tangan serta sistem pencenaan yang
sama dengan rusa, jerapah. sapi, domba. dan kambing yang disebut Rominansia, dan juga
mempunyai sistem sosial yang unik dihabitatnya.Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan
spesies primata bukan-manusia yang unik dan dikategorikan dimorfisme seksual. Primata
diurnal ini endemik Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak, Brunei Darussalam). Tubuhnya
berwarna coklat kekuningan atau coklat kemerahan; kadang-kadang orang menyebut warna
tubuhnya jingga atau oranye. Jantan tidak hanya memiliki tubuh yang ukurannya lebih besar
daripada betina tetapi memiliki hidung berbentuk khas yang berbeda dari hidung betina.
Hidung si jantan berbentuk seperti umbi menggantung dan berukuran panjang, sedangkan
hidung si betina mancung saja, seperti layaknya hidung manusia. Karena warna tubuh dan
bentuk hidung demikian, masyarakat sering menyebut bekantan ini kera belanda.Primata ini
dikenal pandai berenang dan menyelam,bahkan juga sering terlihat sedang berjalan di
lumpur.Binatang ini hanya mau makan makanan di atas pohon sehingga pemeliharaan di
kebun binatang tergolong tidak mudah.
HABITAT
Habitat bekantan sangat terbatas pada tipe hutan rawa gambut,bakau serta sangat
tergantung pada sungai.Walaupun sebagian kecil ada yang hidup di hutan
Dipterocarpaceae dan hutan karangas namun masih berada di sekitar sungai. Hutan
yang disukai adalah hutan mangrove (bakau) di dekat muara sungai atau dataran rendah yang
dilalui sungai. Mereka biasa hidup berkelompok dengan anggota sampai 20 ekor. Mereka
memakan pucuk-pucuk daun dan buah tertentu. Yang paling disukai adalah buah pedada di
hutan mangrove.

GAMBAR 1.1 GAMBAR 1.2

Kebutuhan hutan ditepi sungai bagi bekantan adalah untuk tempat bermalam dan untuk
tempat berkomuikasi. Makanan yang dikonsumsi oleh bekantan terdiri dari buah?buahan,
bunga, jenis paku-pakuan, cendawan, larva insecta, dan rayap. Sedangkan makanan yang
paling disukai olehnya dan dijadikan sebagai makanan utamanya adalah Gauna Motleyana
dan Eugenia Spp. Jenis ini banyak tersebar dipinggiran sungai hingga jauh kedarat. Bekantan
memang pernilih dalam pencarian makanan yang di sukai terutama buah dan daun muda
pedada (Sonneratia lanceolata) yang tumuh di hutan bakau sepanjang sungai dekat pantai.
Selain itu mereka juga mengkonsunasi pucuk-pucuk dari pohon bakau tempat mereka
beristirat dan bermain.
SEKSUAL DIMORSPIM

Kera bekantan yang dilindungi dan dimasukan sebagai hewan vulnerable dalam Red List
of Threatened Animals tahun 1998, oleh International Union for Conservation of Nature
Ressources ini mencolok sekali menunjukan sexual dimorphism. Jenis yang jantan berbeda
sekali dengan jenis yang betina. Bekantan jantan berukuran besar, dengan panjang tubuh
sekitar ½ meter dan hidung yang besar sekali sampai suaranya sengau. Alat kelaminnya
terlihat jelas dan berwarna merah, sedangkan otot lengan dan pahanya berkembang baik.
Tetapi lapisan lemak terlihat jelas pada kulit perut dan bagian belakang, sehingga terkesan
bertubuh besar dan gemuk sebaliknya, bekantan betina tetap kecil meskipun sudah dewasa
bobot tubuhnya hanya sekitar separuh dari yang jantan ia mempunyai putting susu yang
memanjang.

Dimorphism juga tampak karena perbedaan umur. Warna tubuh akan beubah, sesuai
umur. Kalau masih bayi, tubuh dan muka bekantan berwarna coklat sampai kehitam-hitaman
sesudah remaja, tubuh itu bewarna cream kekuning-kuningan yang kotor, dengan muka
kecoklatan. Sesudah dewasa, ttubuh itu berubah menjadi kecoklatan, dengan muka dan bagian
atas kepala yang coklat yang kemerah-merahan. Warna yang mencolok ini terlihat kontras
dan memudahkan kita dalm membedakan bekantan dengan jenis kera lainnya. Bekantan yang
berekor itu tenyata mempunyai telapak tangan dan kaki yang berselaput diantara jari-jarinya.
Warnanya kehitaman. Selaput telapk ini memudahkan mereka meluncur dalam air.

Bekantan tergolong hewan pemakan daun dan buah-buahan termasuk bijinya bekantan
mememanfaatkan 55 jenis tumbuhan sebagai sumber pakan pada tahun 1985 ditemukan ]
bahwa bekantan tergolong pemakan yang selektif meskipun demikian mereka mampu
mengganti pola makan kalau tumbuhan pakan mereka sedang jarang. Tinggnya biomasa dan
kegemaran mereka memekan biji berbagai tumbuhan yang dominan, membuat mereka
mampu mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman vegetasi daerah pencarian
makanan mereka

Karena dedaunan yang mereka makan banyak sekali, mereka sangat tergantung pada air
untuk minum itulah sebabnya, mereka banyak dijumpai di hutan dekat tepian sungai, rawa,
dan daerah berair payau.

Dalam mencari gudang itulah mereka hidup berkelompok dengan jumlah anggota antara 3-
23 ekor.

Biasanya bekantan bangun di pohon tidurnya sekitar pukul 04.30 lalu mulai mebersihkan
diri dengan menggaruk tubuh dan mengutui bulunya. Saat matahari mulai terbit bekantan
sudah mulai turun meninggalkan pohon tidurnya untuk mencari makan di daerah vegetasi di
sekeliling pohon itu selanjutnya mereka akan memasuki hutan lebih dalam lagi jarak terjauh
yang ditempuh dalam melakukan kegiatan harian ini biasanya tidak lebih dari 500 meter
diukur dari tepian sungai. Kalau sudah tengah hari, bekantan bergerak kembali ke rarah
pinggir sunagi. Sekitar pukul 17.00 mereka sudah kembali lagi ke tepian singai untuk tidur.

Seluruh kegiatan mencari makanan kebanyakan dilakukan di atas pohon bekantan itu
bergerak dengan jalan melompat dari satu pohon ke pohon lain
CIRI-CIRI
Ciri khas
Seperti primata lainnya, hampir seluruh bagian tubuhnya ditutupi oleh rambut
(bulu), kepala, leher, punggung dan bahunya berwarna coklat kekuning-kuningan
sampai coklat kemerah-merahan, kadang-kadang coklat tua. Dada, perut dan ekor
berwarna putih abu-abu dan putih kekuning-kuningan.

Perbedaan antara jantan dan betina


• Jantan : Rambut pipi bagian belakang berwarna kemerah-merahan, bentuk
hidung lebih mancung
• Betina : Rambut pipi bagian belakang berwarna kekuning-kuningan,
bentuk hidung lebih kecil

Bagian wajah bekantan berwarna merah kecoklatan dan tidak berbulu, sedangkan
pada bayi wajah berwarna biru tua (Napier dan Napier, 1967). Kera jantan berhidung
besar ini diberi nama setempat bekantan atau Kera Belanda karena mirip dengan
Orang Belanda yang terbakar sinar matahari (MacKinnon, 1986).

Bulu tubuh bekantan kuning cokelat kemerah-merahan, terutama dibagian kepala dan
punggung. Di bagian lainnya bulu berwarna cokelat pucat dan kelabu putih, terutama di
bagian perut, dada dan ekor. Badannya ramping dan ekornya panjang, yang betina lebih kecil
daripada yang jantan. Suara jantan dewasa seperti sapi melenguh yang diperdengarkan ketika
memberi peringatan kelompoknya adanya bahaya.

REPRODUKSI
Jarak waktu perkawinan

Bekantan betina dapat memproduksi individu baru setiap tahun

Musim perkawinan

Bekantan melakukan perkawinan dari Februari sampai November

Jumlah individu baru yang dihaslkan

1 (rata-rata)

Massa kelahiran

490 gram (rata-rata)

Umur kemampuan untuk bereproduksi (betina)

1460 hari (rata-rata)

Umur kemampuan untuk bereproduksi (jantan)

7 tahun (rata-rata)

Setiap kali melahirkan dihasilkan seekor anak dari satu induk. Anak-anak ini dekat
dengan induk sampai menjelang dewasa. Perkembangbiakannya yang rendah dan perburuan
oleh manusia membuat populasi binatang ini terus menurun, ditambah parah oleh penebangan
hutan mangrove untuk dijadikan tambak atau diambil kayunya. Bekantan merupakan binatang
endemik yang dilindungi, dan terancam punah.

Masa kehamilan 166 hari atau 5-6 bulan dan hanya melahirkan 1 (satu) ekor
anak. Setelah berumur 4-5 tahun sudah dianggap dewasa. Bekantan hidup
berkelompok/sub kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seekor
Bekantan jantan yang besar dan kuat. Biasanya dalam satu kelompok berjumlah
sekitar 10 sampai 20 ekor.Akibat hidup berkelompok,maka akan terjadi persekutuan
kelompok. Perkelahian antar kelompok Bekantan (Nasalis larvatus) selain gara-gara
perebutan daerah pakan, dapat juga karena salah seekor jantan menggoda seekor betina
kelompok lain. Berebut betina ini dapat mengakibatkan kematian maupun keturunan yang
baru yang nantinya akan menciptakan dinamika baru.

TINGKAH LAKU
Perilaku Bekantan dapat terlihat dari tiga sifat dan sikap keseharian yang menjadi tolak
ukur perilaku bekantan, diantaranya adalah perilaku makan, tidur. dan bersosialisasi.
Bekantan makan diujung-ujung cabang, duduk pada awak cabang atau ranting. Salah satu
tangannya dipergunakan untuk berpegang pada cabang atau ranting di bagian atas, sedangkan
tangan lainnya meraih makanan. Kalau berada pada posisi yang sulit, kedua tangan akan
berfungsi untuk berpegang sedangkan makanan dapat diarnbil langsung dengan mulut.
Bekantan lebih menyukai pohon yang berada persis disamping sungai untuk tempat tidumya.
Dalam satu pohon bisa dihuni oleh satu kelempok yang kira-kira berjumlah 4-12 ekor.
Pernbentukan jumlah individu dalarn kelompok tempat tidur ini tergautung pada keadaan
pohon, seperti bentuk percabangan, tinggi pohon, kerirnbunan pohoo, serta jarak antara pohon
yang satu dengan lainnya. Sama halnya dengan jenis monyet lain, bekantan juga hidup
berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari beberapa ekor jantan dan betina dewasa, serta
beberapa ekor anak yang masih digendong oleh induknya. Besarnya kelompok tersebut sangat
dipengaruhi oleh jumlah persediaan makanan.

Bekantan aktif pada siang hari dan umumnya dimulai pagi hari untuk mencari
makanan berupa daun-daunan dari pohon rambai/pedada (Sonneratia alba), ketiau
(Genus motleyana), beringin (Ficus sp), lenggadai (Braguiera parviflora), piai
(Acrostiolum aureum), dan lain-laian.

Pada siang hari Bekantan menyenangi tempat yang agak gelap/teduh untuk
beristirahat. Menjelang sore hari, kembali ke pinggiran sungai untuk makan dan
memilih tempat tidur. Bekantan pandai berenang menyeberangi sungai dan menyelam
di bawah permukaan air.

PERSEBARAN BEKANTAN
Tipe hutan yang merupakan habitat persebaran bekantan secara umum telah diketahui,
yaitu hutan mangrove, hutan tepi-sungai dan hutan rawa gambut ((lihat Bennett 1988,
Alikodra 1997, Boonratana 2000). Hal ini didukung dengan laporan-laporan penelitian.
Status bekantan, perilaku makan, perilaku menjelajah, dan penggunaan habitat diteliti oleh
Salter et al. (1985) dan Bennet (1988) di hutan rawa gambut Sarawak, sedangkan ekologi
dan organisasi sosialnya diteliti oleh Bennett & Sebastian (1988) di hutan pantai campuran
Suaka Margasatwa Samunsam (Sarawak). Organisasi sosial, pola asosiasi antar-grup,
perilaku seksual, perilaku antipredator, perilaku mencari pakan, kepadatan populasi, ukuran
grup bekantan diteliti oleh Yeager (1989, 1990a, 1990b, 1991a, 1991b, 1992a, 1992b, 1993),
dan Yeager & Blondal (1992) di hutan rawa gambut dan asosiasi mangrove/nipah Taman
Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah). Perilaku-makan bekantan dipelajari oleh
Woods (1995) di lahan basah Suaka Margasatwa Danau Sentarum (Kalimantan Barat).
Kondisi populasi, sosioekologi, dan ekologi-makan bekantan diteliti oleh Bismark (1987,
1994, 1995) di hutan mangrove Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur). Bekantan di
Cagar Alam Pulau Kaget (Kalimantan Selatan) yang merupakan hutan mangrove menjadi
obyek penelitian mahasiswa Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor dan terutama
Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat. Di cagar alam ini, Soendjoto et al.
(1998a) membahas kondisi tiga jenis primata penghuni cagar alam (bekantan, monyet ekor-
panjang Macaca fascisularis, lutung hitam Trachypithecus cristatus) dan keanekaragaman
satwa lainnya, sedangkan Soendjoto et al. (1998b) menelaah vegetasi di cagar alam dan
kemungkinan penyebab peranggasan rambai.
Di Kalimantan Selatan, terdapat lima kawasan konservasi lainnya, selain Cagar
Alam Pulau Kaget, yang dihuni oleh bekantan (lihat Tabel 1). Kelima kawasan itu adalah
Cagar Alam Teluk-Kelumpang Selat-Laut Selat-Sebuku yang terletak di wilayah
administrasi Kabupaten Kotabaru, Cagar Alam Gunung Kentawan di wilayah Kabupaten
Hulu Sungai Selatan, Suaka Margasatwa Pleihari Tanah Laut di wilayah Kabupaten Tanah
Laut, Taman Wisata Alam Pulau Kembang di wilayah Kabupaten Barito Kuala, serta Taman
Hutan Raya Sultan Adam di wilayah Kabupaten Banjar, Tapin dan Tanah Laut. Walaupun
pada dasarnya kelima kawasan konservasi ini memiliki tipe hutan atau tipe habitat relatif
berbeda, penelitian terhadap bekantan penghuninya sangat jarang atau bahkan belum pernah
dilakukan intensif. Kegiatan yang pernah atau selama ini dilakukan di kawasan-kawasan
konservasi tersebut hanya sebatas inventarisasi dan pemantauan saja; pelaksana kegiatan
adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan atau lembaga
lain yang bekerja sama dengan BKSDA.

Tabel 1. Kawasan konservasi di Kalimantan Selatan dan keberadaan bekantan di dalamnya

No. Jenis dan nama SK Penetapan Luas Tipe Bekantan


kawasan (ha) hutan/habitat dijumpai
konservasi
A Kawasan Suaka
Alam
1 CA Teluk- SK Menteri Kehutanan No. 66.650 Mangrove Ya
Kelumpang, 329/Kpts-II/1987, 14-10-
Selat-Laut, Selat- 1987
Sebuku
2 CA Pulau Kaget SK Menteri Pertanian No. 63,60 Mangrove Ya
701/Kpts/ Um/11/1976, 06-
11-1976 jo. SK Menteri
Kehutanan & Perkebunan
No. 337/Kpts-II/ 1999, 24-
05-1999
3 CA Gunung SK Menteri Kehutanan & 257,90 Pegunungan Ya
Kentawan Perkebunan No. 336/Kpts-
II/ 1999, 24-05-1999
4 SM Pleihari SK Menteri Kehutanan No. 6.000 Pantai, rawa Ya
Tanah Laut 695/Kpts/ II/1991, 11-10- air tawar,
1991 mangrove,
B Kawasan
Pelestarian
Alam
5 TWA Pulau SK Menteri Pertanian No. 60 Mangrove Ya
Kembang 780/Kpts/ Um/12/11976,
27-12-1976
6 TWA Pleihari SK Menteri Kehutanan No. 1.500 Pantai, ?
Tanah Laut 695/Kpts/ II/1991, 11-10- mangrove,
1991 rawa air
tawar
7 Tahura Sultan Keppres No. 52/1989, 18- 112.000 Pegunungan Ya
Adam 10-1989
Sumber: BKSDA V 1998/1999
Keterangan:
CA = Cagar Alam; SM = Suaka Margasatwa; TWA =
Taman Wisata Alam; Tahura = Taman Hutan Raya; SK = Surat Keputusan

Bekantan ternyata juga dapat dijumpai di hutan atau habitat yang tidak termasuk
kawasan konservasi (Tabel 2). Yang menarik dari persebarannya di luar kawasan konservasi
adalah bahwa bekantan tidak hanya menghuni hutan rawa gambut, hutan mangrove, dan
hutan tepi-sungai saja. Soendjoto et al. (2000a) dan Soendjoto et al. (2000b) bahkan
menjumpai populasi bekantan yang mampu beradaptasi dan hidup di hutan rawa galam yang
alami dan di hutan karet yang berkembang dari kebun budidaya.
Hutan rawa galam merupakan hutan rawa air tawar yang didominasi oleh spesies
tumbuhan galam (Melaleuca cajuputi syn. M. leucadendron). Spesies tumbuhan berkayu ini
tumbuh alami dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang relatif ekstrim (air
masam, tanah miskin hara, dan mudah terbakar terutama pada musim kemarau).
Pendominasian spesies tumbuhan yang bisa mencapai tinggi 15 m dan diameter batang
(setinggi dada) 30 cm ini menjadikannya dikenal sebagai tumbuhan khas di lahan rawa.
Soendjoto et al. (2000a) mencatat bahwa pakan bekantan di habitat ini adalah pucuk daun
galam, kelakai (Stenochlaena palustris), dan piai (Acrostichum aureum).

Tabel 2. Persebaran bekantan di hutan/habitat yang tidak termasuk kawasan konservasi di


Kalimantan Selatan

No Tipe Kabupaten Lokasi


. hutan/habitat
1 Mangrove Barito Kuala Tatah Maiti/Paundangan
Banjar Kec. Aluh-aluh: Desa Muara Puduk
Kotabaru Pulau Anak Burung
2 Rawa air Barito Kuala Kec. Kuripan: Sungai Tabatan
tawar Tapin Pulau Kadap, Hutan/lahan di sebelan kiri dan kanan jalan angkutan-
batubara (sepanjang ± 30 km) yang menghubungkan ruas jalan
Banjarbaru-Rantau dengan Sungai Negara
Hulu Sungai Desa Balimau, Danau Bangkau
Selatan
3 Tepi-sungai Barito Kuala Kec. Anjir Muara: Pulau Bakut; Kec. Belawang: Simpang Papan,
Desa Bambangin; Kec. Kuripan: antara Sungai Tabatan dan Desa
Jambu; Kec. Marabahan: antara Muara Pulau dan Desa Palingkau
Tabalong Kec. Jaro: Hutan Lindung Batu Kumpai
Tanah Laut Sungai Kintap, Sungai Asam-asam
Tapin Sungai Tapin
Kotabaru Sungai Satui, Sungai Kusan
4 Rawa galam Barito Kuala Kec. Tabunganen: hutan antara Desa Tanggul Rejo dan Desa
Beringin Kencana; Kec. Tamban: Desa Koanda; Kec. Marabahan:
antara Desa Barambai Kolam Kiri dan Desa Antar Jaya
Tapin Pulau Pinang, Sungai Puting, Margasari
5 Kebun karet Tabalong Kec. Muara Uya: Desa Simpang Layung, Desa Uwie, Desa Binjai,
Desa Salikung, Desa Pasar Batu, Desa Mangkupum; Kec. Upau:
Desa Kaong, Desa Bilas; Kec. Haruai: Desa Batu Pulut; Kec.
Murung Pudak: Desa Jaing Hilir; Kec. Tanta: Desa Tanta
Keterangan:
Diolah dari Soendjoto et al. (2000a), Soendjoto et al. (2000b) dan
amatan penulis. Diperkirakan masih banyak persebaran bekantan yang
belum didata/didokumentasikan. Lokasi-lokasi lain di tujuh kabupaten
yang disebutkan pada tabel dan di tiga kabupaten/kota lainnya (yaitu
Banjarbaru, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah) belum pernah
penulis kunjungi.

Hutan karet adalah hutan yang didominasi oleh tumbuhan karet (Hevea
brasiliensis). Masyarakat setempat menggunakan istilah “kebun karet” untuk menyebut
lahan yang ditanami karet. Penyebutan ini wajar, karena memang karet merupakan tanaman
budidaya. Dalam perkembangan perladangan berpindah, tanaman karet merupakan tanda
bahwa sebidang lahan sudah dikuasai dan dikelola oleh seseorang. Namun, agar kebun karet
(istilah masyarakat) tidak dirancukan dengan kondisi kebun karet yang sebenarnya (dalam
hal ini adalah lahan yang ditanami karet melulu dengan komposisi tanaman seumur, seperti
yang diusahakan oleh perusahaan perkebunan karet), Soendjoto et al. (2000b) menyebut
“kebun karet” (istilah masyarakat) itu hutan karet. Alasannya adalah bahwa
1) tumbuhan yang tumbuh di “kebun” cenderung heterogen, walaupun karet masih
mendominasi; tumbuhan lain yang tumbuh antara lain loa (Ficus glomerata), rambung (F.
elastica), kujajing (F. fistulosa), langsat (Lansium domesticum), pampakin (Durio
kutejensis), kluwek (Pangium edule), sungkai (Peronema canescens), singkuang
(Dracontomelon costatum) dan rarawa (Buchanania arborescens).
2) komposisi karet tidak seumur; dengan kata lain tingkat pertumbuhannya terdiri atas
semai (tumbuhan yang tingginya lebih kecil atau sama dengan 2 m), pancang (tinggi lebih
besar 2 m dan diameter batang lebih kecil 10 cm), tiang (diameter batang 10-20 cm) dan
pohon (diameter batang lebih besar 20 cm),
3) umur rerata “kebun” di atas 40 tahun, sehingga secara alami “kebun” membentuk
suksesi hutan.
Pakan bekantan di hutan karet antara lain adalah pucuk daun karet, rambung dan bebuahan
(seperti loa, kluwek, kujajing).

HAL LAIN TENTANG BEKANTAN


Kemampuan untuk hidup
Kemampuan hidup ekstrem
23 tahun (maksimal)

Kemampuan hidup rata-rata


21 tahun (Jantan)

Makanan bekantan
Bekantan adalah pemakan serangga dan pemakan buah-buahan.Mereka lebih suka makan
buah-buahan,biji-bijian,dan pucuk-pucuk daun mangrove.

Predator bekantan
• Leopard
• Buaya

PENYELAMATAN BEKANTAN
(Nasalis larvatus)

I.
A. Jumlah populasi Bekantan yang ada sekitar 115 ekor dan Kera Ekor
Panjang 6 ekor. Pertumbuhan pohon Rambai secara keseluruhan
menunjukkan kondisi cukup baik, yang ditandai dengan daun yang
menghijau dan rimbun sepanjang tahun.
B. Kondisi Sekarang
Keberadaan Bekantan (Nasalis larvatus) di Cagar Alam Pulau Kaget banyak
mendapat perhatian dari berbagai kalangan mulai dari sejak ditetapkannya Kawasan
Cagar Alam Pulau Kaget sampai saat ini. Keterkaitan antara Bekantan dengan Pohon
Rambai (Soneratia casiolaris) sangat sulit dipisahkan, karena daun dan buah pohon
Rambai adalah merupakan makanan utama Bekantan. Selain itu pohon-pohon Rambai
menjadi tempat istirahat/tidur Bekantan diwaktu malam dan tempat bermain serta
mengasuh anak.

Pada awal Desember 1995 terjadi perubahan (penurunan) kondisi


pertumbuhan beberapa pohon Rambai yang ditandai dengan terjadinya peranggasan.
Dari waktu ke waktu jumlah pohon yang meranggas semakin bertambah, sehingga
banyak mendapat perhatian berbagai pihak. Yang lebih menarik ialah munculnya
berbagai perkiraan terhadap kemungkinan penyebab terjadinya kondisi seperti itu.
Kondisi pohon-pohon Rambai yang ada sekarang ini semuanya telah meranggas.

Hasil penelitian Fakultas Kehutanan UNLAM pada bulan Pebruari - Mei


1997 menunjukkan adanya kelebihan populasi Bekantan dari kemampuan
ketersediaan daun-daun pohon Rambai sebagai makanan utama. Dari pengamatan
dilapangan dijumpai 304 ekor Bekantan, 78 ekor Lutung dan 22 ekor Kera Ekor
Panjang, yang semuanya mengkonsumsi daun Rambai.

Apabila data tersebut dibandingkan dengan data Balai KSDA Wilayah V


tahun 1990, ternyata populasi Bekantan mengalami kenaikan sebesar 50,9868%
dalam kurun waktu selama tujuh tahun terakhir. Atau mengalami pertambahan
populasi rata-rata sekitar 7,28% setiap tahun.

C. UPAYA PENYELAMATAN BEKANTAN (Nasalis larvatus)

Memperhatikan daya dukung habitat yang semakin menurun, Kantor Wilayah


Departemen Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Kalimantan Selatan bersama
dengan Instansi Teknisnya telah mengambil beberapa langkah penanggulangan, guna
menyelamatkan Bekantan dari ancaman kekurangan makanan yang kemungkinan
pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.

Langkah-langkah tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah


TK. I Propinsi Kalimantan Selatan dan Pemerintah Daerah TK. II Barito
Kuala.

Ada dua kegiatan program yang dilaksanakan, yaitu:

1. Program Jangka Pendek


a. Penggiringan
b. Evakuasi
2. Program Jangka Panjang
a. Penyuluhan terpadu
b. Pembinaan/rehabilitasi habitat
c. Penelitian

Peraturan perundangan yang Berlaku


Undang-undang No. 5 Tahun 1990 pasal 21 ayat 2 menyatakan bahwa:
- setiap orang dilarang untuk :

a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut


dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.
b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang
dilindungi dalam keadaan mati.
c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain ke
dalam atau keluar Indonesia.
d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain
satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa
tersebut atau mengeluarkan dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam
atau di luar Indonesia.
e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki
telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

Ketentuan pidana

1. Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasal 21


ayat 2 tersebut di atas, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 5 (lima) tahun
dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat 2 tersebut di atas, dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah).

DAFTAR PUSTAKA

WWW.GOOGLE.COM
WWW.ALTAVISTA.COM

WWW.YAHOO.COM

WWW.TNGUNUNGPALUNG.COM

ID.WIKIPEDIA.CO.ID

WWW.BORNEOANDBIODIVERSITY.COM

WWW.MONGABAY.COM

WWW.NATIONALGEOGRAPHIC.CO.ID

WWW.DEPHUT.GO.ID

WWW.WWF.OR.ID

KEANEKARAGAMAN HAYATI
KALIMANTAN TENGAH
BEKANTAN
(Nasalis larvatus)

DISUSUN OLEH:
MUHAMMAD NASHIRUDDIN
ROMBEL X-8

SMA NEGERI 2 PAHANDUT