1

AIDS

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang ditandai dengan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh. Penderita AIDS mudah diserang infeksi oportunistik (infeksi yang disebabkan oleh kuman yang pada keadaan sistem kekebalan tubuh normal tidak terjadi) dan kanker dan biasanya berakhir dengan kematian. Angka kejadian HIV/AIDS menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data WHO tahun 2002 terdapat lebih dari 25 juta orang di daerah Sub Sahara Afrika yang terinfeksi HIV. Meski telah dilakukan pencegahan, HIV terus menyebar ke seluruh dunia dengan perkiraan 14.000 infeksi baru setiap harinya. Di Indonesia terdapat kasus AIDS sebanyak 11.141 orang dengan kematian 2.369 orang (Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008)

Sejarah Penyakit AIDS, pertama kali ditemukan pada awal tahun 1980-an. Kebanyakan penderitanya adalah pria “gay”, sehingga pada waktu itu dinamakan “gay compromise syndrome” atau “gay-related immune deficiency”. Pada Juli 1982, jumlah kasus di Amerika Serikat dilaporkan berjumlah 452 orang. Pada akhir 1982, dilaporkan seorang anak yang yang menerima transfusi darah menderita AIDS dan akhirnya meninggal dunia. Kejadian ini menimbulkan dugaan bahwa AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh agen penular (infectious agent). Setelah itu juga diketahui bahwa penyakit ini tidak hanya terjadi di Amerika, dan tidak hanya terjadi pada “gay” tapi juga pada laki-laik dan perempuan yang normal. Pada bulam Mei 1983, grup peneliti dari Institute Pasteur, Prancis yang diketuai oleh Luc Montagnier berhasil mengisolasi virus yang diduga menjadi penyebab AIDS, dan virus ini kemudian diberi nama “lymphadenophaty-associated virus” (virus perusak limpa). Setahun berikutnya, Robert C. Gallo dan kawan-kawan dari National Cancer Institute, Amerika berhasil mengisolasi virus penyebab AIDS yang dinamakan HTLV-III (Human T cell Lymphotropic Virus, type 3). Dengan diisolasinya virus ini, semua orang optimis kalau AIDS bisa segera diatasi dengan menggunakan vaksin. Bahkan pada saat itu, sekretaris Healt and Human Service, Amerika Serikat, Margaret Hecker mengatakan bahwa vaksin yang siap uji akan diperoleh

. monosit. Gallo dan kawan-kawan berhasil mengisolasi retrovirus dari pasien AIDS. Limfosit T mempunyai pusat dan sel utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi kebanyakan fungsi-fungsi kekebalan. sehingga kelainan-kelainan fungsional pada Limfosit T akan menimbulkan tanda-tanda gangguan respon kekebalan tubuh. HIV-1 merupakan penyebab tersering AIDS. pada bulan Juli 2003 jurnal Nature Medicine menerbitkan edisi khusus yang menfokuskan pada HIV. Penerbitan ini bersamaan dengan International AIDS Society Conference on HIV Pathogenesis and Treatment yang diadakan di Paris pada Juli 2003 yang lalu. pada tahun 1986. Setelah HIV memasuki tubuh seseorang. ribuan peneliti di seluruh dunia telah ikut berperan dalam penelitian HIV. HIV dapat diperoleh dari limfosit terutama limfosit T. Dasar utama penyakit infeksi HIV ialah berkurangnya jenis sel darah putih (Limfosit T helper) yang mengandung marker CD4. Virus ini kemudian diberi nama HIV (Human Immunodeficiency Virus). Setahun berikutnya. Karena virus LAV dan HTLV-III adalah sama. microglia). Dikenal ada dua serotype HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2.6 juta. Penelitian mengenai HIV dimulai sejak tahun 1983. dimana grup peneliti Prancis yang diketuai oleh Luc Montagnier menduga bahwa ada hubungan antara retrovirus dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Robert C. Namun kenyataannya tidah semudah itu dan terbukti sampai sekarang belum ada vaksin yang ampuh. Jumlah pasien di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 5. Dan sekarang diperkirakan penderita AIDS berjumlah lebih dari 42 juta.000 pasien per hari. Dua puluh tahun telah berlalu sejak ditemukannya HIV. lebih dari 20 juta jiwa telah meninggal karena AIDS. sel glia. namun masalah AIDS masih belum terpecahkan. Penyebab HIV/AIDS Penyebab AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yakni sejenis virus RNA dalam genus Lentivirus dari famili Retroviridae. Sejak penemuannya. makrofag dan cairan otak penderita AIDS (sel dendrite. komite internasional untuk taksonomi virus (the International Committee on the Taxonomy of Viruses) sepakat untuk tidak memakai nama LAV atau HTLV-III. Sampai saat ini.2 dalam dua tahun mendatang. Lebih dari 125 ribu artikel tentang HIV telah dipublikasi. Dalam rangka peringatan 20 tahun penelitian HIV. Jumlah ini terus bertambah dengan kecepatan 15. astrosit. dan memberi nama baru yaitu HIV.

karena orang terinfeksi secara tidak disadari dapat menularkan kepada yang lainnya. tetapi yang terbukti penularannya adalah melalui darah. Penularan dari ibu hamil kepada janin yang dinkandungnya. Cara penularan HIV/AIDS ini dapat melalui : 1. Penerimaan darah atau produk darah melalui transfusi darah 3. infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan. demam berkepanjangan selama lebih dari satu bulan. jaringan atau air mani 5. minuman. dll. Orang yang terinfeksi tidak akan menunjukan gejala apapun dalam jangka waktu yang relatif lama (±5-10 tahun) setelah tertular HIV. herpes simpleks (kulit melepuh dan terasa nyeri) yang melebar dan bertambah parah. ketiak. makanan atau kontak biasa dalam keluarga. tindik. Orang tersebut masih tetap sehat dan bisa bekerja sebagaimana biasanya walaupun darahnya mengandung HIV. akupuntur. Hubungan seksual 2. yang teraba di bawah telinga. dan diare kronis selama lebih dari satu bulan Tanda-tanda tambahan (minor) meliputi batuk berkepanjangan selama lebih dari satu bulan. alat medis dan alat tusuk lain (tato. Penggunaan alat suntik. 6. Masa ini disebut masa laten. Penularan HIV/AIDS HIV dapat ditemukan pada semua cairan tubuh penderita. WC umum atau tempat kerja dengan penderita AIDS .3 Tanda dan Gejala HIV/AIDS Adanya HIV dalam tubuh seseorang tidak dapat dilihat dari penampilan luar. dan lipat paha. kelainan kulit (gatal). air mani dan cairan serviks/vagina saja. Masa inilah yang mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat. leher. Sampai saat ini belum terbukti penularan melalui gigitan serangga.) yang tidak steril 4. dan pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh. Penerimaan organ. sekolah. kolam renang. Dari masa laten kemudian masuk ke keadaan AIDS dengan gejala sebagai berikut: Tanda-tanda utama (mayor) meliputi penurunan berat badan lebih dari 10% dalam waktu singkat.

Belum lagi terdapat kondom yang cacat dan cara pemakaian yang salah. EFV (Efavirenz). atau menghindari berganti-ganti pasangan seksual C=Condom. pendidikan dan penyuluhan kesehatan tentang hal-hal yang berkaitan dengan HIV/AIDS Pengobatan HIV/AIDS Saat ini Sampai saat ini obat yang digunakan untuk HIV/AIDS adalah Antiretroviral Terapi (ART). Obat ini bekerja menghambat replikasi / perbanyakan virus HIV. Obat Antiretroviral Terapi (ART) antara lain : NRTI : AZT (Zidovudine). maka lebih mudah melakukan langkahlangkah pencegahannya. ABC (Abacavir) NtRTI : TDF (Tenofovir) NNRTI : NVP (Nevirapine). tidak melakukan hubungan seksual atau tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah B= Being faithful. bagi yang beresiko akan tetapi ternyata kondom juga tidak bisa mencegah penularan HIV 100 % karena pori-pori kondom yang lebih besar dari ukuran virus HIV.4 Pencegahan Penularan HIV/AIDS Dengan mengetahui cara penularan HIV dan sampai saat ini belum ada obat yang mampu memusnahkan HIV/AIDS. d4T (Stavudine). jangan menggunakan obat (Narkoba) suntik dengan jarum tidak steril atau digunakan secara bergantian E= Education. Obat ini terbukti efektif menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat HIV/AIDS. Jika kepatuhan penderita kurang maka dapat menyebabkan resistensi obat. ddI (Didanosine). Pencegahan HIV dapat dilakukan dengan rumusan ABCDE yaitu: A= Abstinence. Walaupun demikian obat ini tidak mampu membunuh HIV secara total dan berpotensi menimbulkan efek samping yang berat dan pemakaiannya harus setiap hari seumur hidup. D= Drugs injection. setia pada satu pasangan. DLV (Delavirdine) Fusion inhibitor : T20 . 3TC (Lamivudine).

Pengobatan suportif dimaksudkan untuk meningkatkan kondisi umum orang dengan HIV/AIDS (Odha). ada juga pengidap HIV/AIDS yang mengidap kanker. Pengobatan terhadap infeksi oportunistik dilakukan karena kekebalan tubuh Odha sangat menurun. misalnya kanker kelenjar getah bening (limfoma malignum). . herpes simpleks (9. vitamin.8 persen). Biasanya obat antiretroviral dipakai dalam dua atau tiga kombinasi untuk mencegah resistensi. SQV (Saquinavir). Namun. Penyakit yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) sampai sekarang masih ditakuti karena sangat mematikan. didapati infeksi karena jamur atau kandidiasis di mulut dan kerongkongan (8 persen). radang otak atau ensefalitis toksoplasma (17.6 persen). LPV/r (Lopinavir/Ritonavir booster) Pengobatan terbaru Beberapa ahli kesehatan berusaha mengembangkan vaksin HIV dengan tujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi HIV.3 persen). Jakarta. sitomegalovirus (28. Sementara itu. Odha dapat melakukan aktivitas layaknya manusia sehat. Selain penyakit tersebut. pengobatan antiretroviral dimaksudkan untuk mengurangi jumlah virus di dalam tubuh. dan kanker leher rahim (serviks). Cara yang ditempuh adalah pemberian gizi. Dengan cara ini. ada HIV tanpa gejala (asimtomatik) sehingga diagnosis ditegakkan berdasarkan tes antiHIV. obat. Pengobatan terhadap kanker itu dilakukan melalui standar terapi penyakit kanker. dan antiretroviral. Pengobatan suportif sangat perlu dan dapat dilaksanakan di rumah atau tempat pelayanan kesehatan yang sederhana. Yang sekarang banyak diupayakan adalah pengobatan suportif. IDV (Indinavir). radang paru-paru atau pneumonia p carinii (13.4 persen).5 - PI : NFV (Nelfinavir). Pada kasus di RS dr Cipto Mangunkusumo. dan kondisi psikososial yang baik. Pola infeksi oportunistik berbeda-beda bergantung pada pola mikroba dalam tubuh Odha dan kondisi lingkungannya.1 persen). Hanya saja keberhasilannya mengecewakan dan belum menunjukkan manfaat secara klinis. tuberkulosis (40. kanker ganas yang ditandai dengan perubahan warna kulit mencolok (sarkoma kaposi). Antiretroviral terdiri dari kombinasi golongan Nukleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI). RTV (Ritonavir). Non-Nukleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI) dan Protease Inhibitor (PI). pengobatan infeksi oportunistik. dan infeksi paru-paru atau histoplasmosis paru (2 persen).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberi izin perusahaan farmasi PT Indofarma Tbk mengimpor obat antiretroviral dari India. terapi ARV yang diterapkan sekarang yaitu kombinasi tiga obat.000 untuk keperluan sebulan. Kedua golongan obat ini bekerja pada tahap awal perkembangan virus. NRTI dan NNRTI menghambat terbentuknya RNA. Obat-obatan itu akan disebar ke rumah sakit di 21 kota di Indonesia.000." kata Samsuridjal. Dr Zubairi adalah Ketua Pelaksana Harian . saat proses perubahan Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) menjadi Ribo Nucleic Acid (RNA). "Untuk menggunakan obat antiretroviral perlu dipertimbangkan gejala klinis. Paket antiretroviral kombinasi tiga jenis obat yang semula harganya Rp 700. Aurobindo Pharma Ltd. Selain itu. turun menjadi Rp 650. harga obat antiretroviral di berbagai rumah sakit sama dengan di Pokdisus FKUI/RSCM. serta obat tunggal Zidovudine dan Fluconazole (obat jamur) yang diimpor dari Thailand. dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM. Obat itu diimpor dari perusahaan farmasi India. Meskipun demikian. seorang Odha memerlukan terapi antiretroviral bila mengalami sindrom HIV akut dan berada dalam tahap AIDS. berisi Lamivudine dan Zidovudine. Menurut dr Samsuridjal SpPD. Sedangkan obat tunggal (Zidovudine) turun dari Rp 300.000 menjadi Rp 280.6 NRTI dan NNRTI dipakai secara bersama-sama agar tubuh semakin kuat menghambat perkembangan (replikasi) virus. jumlah limfosit. penyaluran ke rumah sakit lain tetap harus melalui Pokdisus FKUI/RSCM.000.000 menjadi Rp 465. Lamivudine dan Nevirapine. Ketiga obat itu digabung dalam satu tablet Zidovex-LN. Impor dalam besar itu juga memudahkan distribusi obat itu ke berbagai rumah sakit. Dengan demikian. Di Jakarta dan Bandung terdapat masing-masing 20 dan 26 rumah sakit yang menerima pembagian. Sedangkan antiretroviral golongan PI berfungsi menghambat terbentuknya protein baru yang bakal menjadi virus baru. Jumlah yang diimpor perusahaan itu lebih banyak ketimbang yang diimpor Pokdisus FKUI/RSCM. sehingga tidak terpusat di Pokdisus FKUI/RSCM. jumlah virus. kombinasi ARV yang dianjurkan yaitu 2 NRTI dan 1 NNRTI atau PI.000. yakni Zidovudine. dan kemampuan pasien menggunakan obat dalam jangka panjang. Impor dalam jumlah besar itu membuat harga obat tersebut cenderung semakin murah. Harga Turun Sejak November lalu. Dr Samsuridjal adalah Koordinator Program Akses Diagnosis dan Terapi Kelompok Studi Khusus AIDS (Pokdisus) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/RSCM. menyatakan. Kombinasi dua turun Rp 500. Sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bagi negara dengan kemampuan dana terbatas. ada kombinasi ZidovexL. Menambahi keterangan tersebut.

diagnosis yang tepat. Menurut Zubairi. perlu ada penyuluhan. Gen ini bisa berupa antisense (DNA yang mempunyai barisan komplementari) dari salah satu enzim yang diperlukan untuk replikasi virus tersebut atau ribozyme yang berupa antisense RNA yang memiliki kemampuan untuk menguraikan RNA yang menjadi target. jika muncul efek samping yang berat. CD4. Kemung. Karena enzim yang . diare. Menurut dr Samsuridjal. Obat antiretroviral bukanlah sembarang obat yang bisa dipakai kapan saja. Terapi-gen Pendekatan lain yang dilakukan adalah terapi gen (gene therapy). pengobatan dilakukan dengan mengintroduksikan gen anti-HIV ke dalam sel yang terinfeksi HIV. Obat antiretroviral memiliki efek samping yang bisa ditoleransi. selama empat sampai enam bulan tidak terdeteksi lagi virus HIV ditubuhnya. Peresepan harus dilakukan dokter yang terlatih. Antisense yang diintroduksikan dengan vektor akan menjalani proses transkripsi menjadi RNA bersamaan dengan messenger RNA virus (mRNA).kinan lainnya.tukaran zat yang meliputi pembentukan dan penguraian zat organik dalam tubuh (metabolisme) yang disebabkan oleh PI. Dampaknya harus selalu dipantau oleh dokter yang meresepkannya. Evaluasi dapat dilakukan dengan menghitung kadar RNA dalam plasma darah. karena antiretroviral dipakai dalam jangka waktu yang lama. maka perlu penggantian obat. Terhadap pasien tanpa gejala. Artinya. Terapi antiretroviral harus merupakan pilihan Odha. Samsuridjal menegaskan bahwa antiretroviral bukan barang dagangan. biasanya diperiksa daya tahan tubuhnya (limfosit/CD4). setelah pasien memakai antiretroviral. pemantauan terus dilakukan karena sampai sekarang HIV belum bisa dihilangkan seratus persen. gangguan saraf pusat karena penggunaan Efapirenz (EFZ). kadar enzim hati SGPT/SGOT. Meskipun demikian. merusak hati. pembimbingan dan tes. Setelah itu. Yang juga harus diperhatikan adalah pembimbingan dalam hal finansial. maka yang bersangkutan sudah harus mendapat obat antiretroviral. sementara jumlah virus (viral load) lebih dari 55. Efek lain yaitu gangguan per. Jika jumlah limfosit/CD4-nya kurang dari 350 sel/mm3. dan kemerahan pada kulit karena pemakaian Nevirapine (NVP). yaitu rusaknya janin karena pemakaian EFZ. RNA antisense ini akan berinteraksi dengan mRNA dari enzim tersebut dan mengganggu translasi mRNA sehingga tidak menjadi protein. Saat ini ada 111 Odha yang tidak terdeteksi lagi virus di dalam darahnya setelah mendapat terapi anti retroviral. Efek samping yang sering dijumpai adalah anemia karena pemakaian AZT. Sebelum terapi ARV dilakukan.000 kopi/ml.7 Pokdisus AIDS FKUI/RSCM.

Los Angeles (UCLA) berhasil menekan infeksi HIV terhadap sel T (human T cell) dengan menggunakan siRNA terhadap protein CCR5 yang merupakan co-reseptor HIV. ribozyme juga menghalangi produski suatu protein tapi dengan cara menguraikan mRNAnya. Ini sangat berat terutama bagi penderita AIDS . Pendekatan yang dilakukan melalui RNA ini juga bagus dilihat dari segi imunologi. Pemikiran untuk memanfaatkan virus HIV sebagai vektor dalam proses gen transfer ini diwujudkan pertama kali pada tahun 1991 oleh Poznansky dan kawankawan dari Dana-Farber Cancer Institute. Sementara itu. otomatis HIV tidak akan berkembangbiak di dalam sel. retina. Baru-baru ini David Baltimore dari University of California. Hal lain yang penting dalam sistem ini adalah tingkat ekspresi gen yang stabil. yang akan membawa gen hanya kepada sel yang telah dan akan diinfeksi oleh HIV. dibutuhkan sistem pengantar gen (gene delivery) yang efesien. sehingga lebih mudah digunakan. Amerika. beberapa grup juga berhasil menghambat perkembangbiakan HIV dengan menggunakan ribozyme. karena tidak mengakibatkan respon imun yang tidak diinginkan. sistem harus bisa mengekspresikan gen yang dibawa dan tidak mengakibatkan efek yang berasal dari virus itu sendiri. sesuai dengan perkembangan penelitian HIV itu sendiri. Hal ini berbeda dengan pendekatan melalui protein yang menyebabkan timbulnya respon imun di dalam tubuh. Dalam penelitian ini.8 diperlukan untuk replikasi tidak berhasil diproduksi. Selain itu. tapi siRNA lebih spesifik dan hanya diperlukan sekitar 20 bp (base pair/pasangan basa). HIV digunakan sebagai sistem pengantar gen. dan otot. Sama halnya dengan antisense. Wenzhe Ho dari The Children Hospital of Philadelphia bekerjasama dengan Julianna Lisziewicz dari National Cancer Institute berhasil menghambat replikasi HIV di dalam sel dengan menggunakan anti-tat. Hal ini lebih didukung lagi dengan penemuan small interfering RNA (siRNA) yang berfungsi menghambat expressi gen secara spesifik. Walaupun belum sampai pada aplikasi secara klinis. HIV itu sendiri penjadi pilihan utama. Penutup Masalah AIDS adalah masalah yang masih panjang dan membutuhkan waktu yang lama untuk pemecahannya. Dari hasil percobaan dengan tikus. hati. yaitu antisense tat protein (enzim yang esensial untuk replikasi HIV). Untuk keperluan terapi gen ini. sampai saat ini telah berhasil dibuat vektor yang bisa mengekspresikan gen dengan stabil dalam jangka waktu yang lama pada organ seperti otak. Prinsipnya sama dengan antisense dan ribozyme. aplikasi vektor HIV untuk terapi gen bisa diharapkan. Untuk memenuhi syarat ini. Setelah itu penelitian tentang penggunaan HIV sebagai vektor untuk terapi gen berkembang pesat.

9 itu sendiri. Bagi yang belum terinfeksi tentunya selalu berusaha supaya tidak terinfeksi dengan menghindari perbuatan yang memberi peluang terinfeksi HIV. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful